0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan9 halaman

Proses dan Jenis Distilasi Kimia

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai distilasi, termasuk definisi distilasi, jenis-jenis distilasi seperti distilasi batch dan kontinu, hukum Dalton dan Raoult yang menjelaskan distilasi, faktor-faktor yang mempengaruhi operasi kolom distilasi, serta diagram-diagram yang berhubungan dengan keseimbangan uap-cair seperti diagram titik didih dan diagram keseimbangan uap-cair.

Diunggah oleh

Jihan Fauziyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan9 halaman

Proses dan Jenis Distilasi Kimia

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai distilasi, termasuk definisi distilasi, jenis-jenis distilasi seperti distilasi batch dan kontinu, hukum Dalton dan Raoult yang menjelaskan distilasi, faktor-faktor yang mempengaruhi operasi kolom distilasi, serta diagram-diagram yang berhubungan dengan keseimbangan uap-cair seperti diagram titik didih dan diagram keseimbangan uap-cair.

Diunggah oleh

Jihan Fauziyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Distilasi
Distilasi atau penyulingan adalah metode pemisahan bahan kimia
berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas)
bahan. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan
uap ini kemudian didinginkan kembali kedalam bentuk cairan. Zat yang
memiliki titik didih lebih rendah akan menguap terlebih dahulu. sedangkan zat
yang memiliki titik didih yang lebih tinggi akan mengembun dan akan
menguap apabila telah mencapai titik didihnya. Metode ini termasuk unit
operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada
teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada
titik didihnya (Treyball, 1980)
Distilasi termasuk proses pemisahan menurut dasar operasi difusi. Secara
difusi, proses pemisahan terjadi karena adanya perpindahan massa secara
lawan arah, dari fasa uap ke fasa cair atau sebaliknya, sebagai akibat adanya
beda potensial diantara dua fasa yang saling kontak, sehingga pada suatu saat
pada suhu dari tekanan tertentu, sistem berada dalam keseimbangan. (McCabe
dkk, 2018)
Proses destilasi bergantung pada tekanan uap campuran liquid, yaitu
tekanan keseimbangan yang dikeluarkan oleh molekul-molekul yang keluar
dan masuk pada permukaan liquid (Komariah dkk, 2009). Tekanan uap suatu
cairan akan meningkat seiring dengan bertambanya temperatur, dan titik
dimana tekan uap sama dengan tekanan eksternal cairan disebut sebagai titk
didih. Proses pemisahan campuran cairan biner A dan B menggunakan
distilasi dapat dijelaskan dengan hukum Dalton dan Raoult (Coulson, 1983).

2.1.1 Hukum Dalton


Menurut hukum Dalton, tekanan gas total suatu campuran biner,
atau tekanan uap suatu cairan (P), adalah jumlah tekanan parsial dari
masing-masing komponen A dan B (PA dan PB)
P = PA + PB (1)

2.1.2 Hukum Roult


Hukum Raoult menyatakan bahwa pada suhu dan tekanan tertentu,
tekanan parsial uap komponen A (PA) dalam campuran sama dengan
hasil kali antara tekanan uap komponen murni A (PAmurni) dan fraksi
molnya XA
PA = PAmurni . XA (2)
Sedang tekanan uap totalnya adalah
Ptot = PAmurni . XA + PBmurni . XB (3)
Dari persamaan tersebut di atas diketahui bahwa tekanan uap total
suatu campuran cairan biner tergantung pada tekanan uap komponen
murni dan fraksi molnya dalam campuran. (Coulson,1983)

Hukum Dalton dan Raoult merupakan pernyataan matematis yang dapat


menggambarkan apa yang terjadi selama distilasi, yaitu menggambarkan
perubahan komposisi dan tekanan pada cairan yang mendidih selama proses
distilasi. Uap yang dihasilkan selama mendidih akan memiliki komposisi yang
berbeda dari komposisi cairan itu sendiri. Komposisi uap komponen yang
memiliki titik didih lebih rendah akan lebih banyak (fraksi mol dan tekanan
uapnya lebih besar). Komposisi uap dan cairan terhadap suhu tersebut dapat
digambarkan dalam suatu grafik diagram fasa berikut ini (Treyball, 1980)

Gambar 1 Komposisi Uap dan Cairan terhadap Suhu

2.2 Jenis-Jenis Distilasi


Proses distilasi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu: distilasi batch dan
distilasi kontinyu. Distilasi batch ini banyak digunakan di bidang seperti,
farmasi, minyak esensial dan beberapa produk minyak bumi. Pada kolom
distilasi batch, umpan mula-mula dituangkan kedalam ketel dan tak ada
lagi bahan yang ditambahkan sampai berakhirnya proses. Perbedaan pokok
dari kedua proses distilasi ini adalah bahan untuk distilasi kontinu, umpan
di alirkan masuk ke dalam kolom secara terus-menerus dan sehingga
membuat proses dalam kondisi steady state. Untuk proses batch, komponen
dengan titik didih lebih tinggi makin lama makin meningkat (Ratih dan Ali,
2015).
Keuntungan proses batch dibanding kontinyu, proses batch lebih fleksibel
daripada proses kontinu. Proses batch lebih disukai daripada proses kontinu
bila konsentrasi umpan berubah-ubah. Pada proses batch, pemisahan
campuran yang terdiri dari n komponen dapat dilaksanakan pada satu kolom
dengan menggunakan banyak tangki-tangki produk, sedang untuk distilasi
kontinyu diperlukan (n-1) kolom. Disamping keuntungan, ada kekurangan dari
distilasi batch yaitu perubahan yang terus menerus dari bahan umpan dan
dinamika kolom yang kompleks. Sangat sulit untuk menentukan perubahan
komposisi dengan waktu diseluruh bagian dari kolom distilasi batch pada
refluks rasio optimum dengan cara eksperimen karena kerumitan dinamika
kolom (Kreul dkk, 1999)
Menurut Soebagio (2005), ada 6 jenis destilasi, yaitu destilasi sederhana,
destilasi fraksionasi, destilasi uap, destilasi vakum, destilasi kering dan
destilasi azeotropik.
a. Destilasi Sederhana
Pada destilasi sederhana, dasar pemisahannya adalah perbedaan
titik didih yang jauh atau dengan salah satu komponen bersifat volatil.
Jika campuran dipanaskan maka komponen yang titik didihnya lebih
rendah akan menguap lebih dulu. Selain perbedaan titik didih, juga
perbedaan kevolatilan, yaitu kecenderungan sebuah substansi untuk
menjadi gas. Destilasi ini dilakukan pada tekanan atmosfer. Aplikasi
destilasi sederhana digunakan untuk memisahkan campuran air dan
alkohol.
b. Destilasi Fraksionasi
Fungsi destilasi fraksionasi adalah memisahkan komponen-
komponen cair, dua atau lebih, dari suatu larutan berdasarkan
perbedaan titik didihnya. Destilasi ini juga dapat digunakan untuk
campuran dengan perbedaan titik didih kurang dari 20 °C dan bekerja
pada tekanan atmosfer atau dengan tekanan rendah.
c. Destilasi Azeotrop
Azeotrop adalah campuran dari dua atau lebih komponen yang
memiliki titik didih yang konstan. Campuran azeotrop merupakan
penyimpangan dari hukum Raoult.
d. Destilasi Vakum
Destilasi vakum biasanya digunakan jika senyawa yang ingin
didestilasi tidak stabil, dengan pengertian dapat terdekomposisi
sebelum atau mendekati titik didihnya atau campuran yang memiliki
titik didih di atas 150 °C.
e. Destilasi Uap
Destilasi uap digunakan pada campuran senyawa-senyawa yang
memiliki titik didih mencapai 200 °C atau lebih. Distilasi uap dapat
menguapkan senyawa-senyawa ini dengan suhu mendekati 100 °C
dalam tekanan atmosfer dengan menggunakan uap atau air mendidih
f. Destilasi kering
Destilasi kering merupakan destilasi yang dilakukan dengan cara
memanaskan material padat untuk mendapatkan fase uap dan cairnya,
biasanya digunakan untuk mengambil cairan bahan bakar dari kayu
atau batu bara.

2.3 Keseimbangan Uap–Cair


Untuk dapat menyelesaikan persoalan distilasi harus tersedia data-data
keseimbangan uap-cair sistem yang dikenakan distilasi. Data
keseimbangan uap-cair dapat berupa tabel atau diagram (Komariah dkk,
2009).

2.3.1 Diagram Titik didih


Diagram titik didih adalah diagram yang menyatakan hubungn
antara temperatur atau titik didih dengan komposisi uap dan cairan
yang berkeseimbangan. Di dalam diagram titik didih tersebut terdapat
dua buah kurva, yaitu kurva cair jenuh dan uap jenuh. Kedua kurva ini
membagi daerah didalam diagram menjadi 3 bagian, yaitu :
1. Daerah satu fase yaitu daerah cairan yang terletak dibawah
kurva cair jenuh.
2. Daerah satu fase yaitu daerah yang terletak datas kurva uap
jenuh.
3. Daerah dua fase yaitu daerah uap jenuh dan cair jenuh yang
terletak di antara kurva cair jenuh dan kurva uap jenuh.

2.3.2 Diagram Keseimbangan uap-cair


Diagram keseimbangan uap-cair adalah diagram yang menyatakan
hubungan keseimbangan antara komposisi uap dengan komposisi
cairan. Diagram keseimbangan uapcair dengan mudah dapat digambar,
jika tersedia titik didihnya.

2.3.3 Diagram Entapi-komposisi


Diagram entalpi-komposisi adalah diagram yang menyatakan
hubungan antara entalpi dengan komposisi sesuatu sistim pada tekanan
tertentu. Didalam diagram tersebut terdapat dua buah kurva yaitu
kurva cair jenuh dan kurva uap jenuh. Setiap titik pada kurva cair
jenuh dihubungkan dengan garis hubung “tie line” dengan titik tertentu
pada kurva uap jenuh, dimana titik-titik tersebut dalam keadaan
keseimbangan. Dengan adanya kedua kurva tersebut, daerah didalam
diagram terbagi menjadi 3 daerah, yaitu
1. Daerah cairan yang terletak dibawah kurva cair jenuh.
2. Daerah uap yang terletak diatas kurva uap jenuh.
3. Daerah cair dan uap yang terletak diantara kurva cair jenuh
dengan kurva uap jenuh
4. Dibawah kurva cair jenuh terdapat isoterm-isoterm yang
menunjukkan entalpi cairan pada berbagai macam komposisi
pada berbagai temperatur

2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Operasi Kolom Distilasi


Kinerja kolom destilasi ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya
(Komariah dkk, 2009):
1. Kondisi Feed (q)
Keadaan campuran dan komposisi feed (q) mempengaruhi garis
operasi dan jumlah stage dalam pemisahan. Itu juga mempengaruhi
lokasi feed tray.
2. Kondisi Refluks
Pemisahan semakin baik jika sedikit tray yang digunakan untuk
mendapatkan tingkat pemisahan. Tray minimum dibutuhkan di bawah
kondisi total refluks, yakni tidak ada penarikan destilat. Sebaiknya
refluks berkurang, garis operasi untuk seksi rektifikasi bergerak
terhadap garis kesetimbangan.
3. Kondisi Aliran Uap
Kondisi aliran uap yang merugikan dapat menyebabkan :
a. Foaming
Mengacu pada ekspansi liquid melewati uap atau gas.
Walaupun menghasilkan kontak antar fase liquid-uap yang
tinggi, foaming berlebihan sering mengarah pada terbentuknya
liquid pada tray.
b. Entrainment

Gambar 2 Entraintment
(Fatimura, 2017)
Mengacu pada liquid yang terbawa uap menuju tray di
atasnya dan disebabkan laju alir uap yang tinggi menyebabkan
efisiensi tray berkurang. Bahan yang sukar menguap terbawa
menuju plate yang menahan liquid dengan bahan yang mudah
menguap. Dapat mengganggu kemurnian destilat. Enterainment
berlebihan dapat menyebabkan flooding.
c. Weeping/Dumping

Gambar 3 Weeping
(Fatimura, 2017)
Fenomena ini disebabkan aliran uap yang rendah. Tekanan
yang dihasilkan uap tidak cukup untuk menahan liquid pada
tray. Karena itu liquid mulai merembes melalui perforasi.
d. Flooding
Terjadi karena aliran uap berlebih menyebabkan liquid
terjebak pada uap di atas kolom. Peningkatan tekanan dari uap
berlebih menyebabkan kenaikkan liquid yang tertahan pada
plate di atasnya.
Flooding ditandai dengan adanya penurunan tekanan
diferensial dalam kolom dan penurunan yang signifikan pada
efisiensi pemisahan.
Jumlah tray aktual yang diperlukan untuk pemisahan
khusus ditentukan oleh efisiensi plate dan packing. Semua
faktor yang menyebabkan penurunan efisiensi tray juga akan
mengubah kinerja kolom. Effisiensi tray dipengaruhi oleh
fooling, korosi, dan laju dimana ini terjadi bergantung pada
sifat liquid yang diproses. Material yang sesuai harus dipakai
dalam pembuatan tray.
Kebanyakan kolom destilasi terbuka terhadap lingkungan
atmosfer. Walaupun banyak kolom diselubungi, perubahan
kondisi cuaca tetap dapat mempengaruhi operasi kolom.
Reboiler harus diukur secara tetap untuk memastikan bahwa
dihasilkan uap yang cukup selama musim dingin dan dapat
dimatikan selama musim panas.
Gambar 4 Normal Operasi Distilasi
(Fatimura, 2017)

Gambar 5 Flooding
(Fatimura, 2017)
2.5 Distilasi Batch dan Distilasi Kontinyu
Dalam operasi distilasi batch, sejumlah massa larutan dimasukkan ke
dalam labu didih, kemudian dipanaskan. Selama proses berjalan, larutan akan
menguap dan uap yang terbentuk, secara kontinyu meninggalkan labu didih
untuk kemudian diembunkan. Salah satu ciri dari pemisahan dengan batch
adalah bahwa laju alir maupun komposisi dari umpan, produk distilat berubah
menurut waktu selama operasi pemisahan berlangsung. Pada distilasi batch,
umpan berupa uap yang secara kontinyu masuk melalui dasar kolom, karena
kolom distilasi batch dapat dipandang sebagai kolom yang tersusun dari
enriching section. Distilasi batch juga memiliki kapasitas yang rendah. Hal-
hal inilah yang menjadi perbedaan antara distilasi batch dengan distilasi
kontinyu. (McCabe dkk, 2018)

2.6 Rektifikasi dengan Refluks Konstan


Distilasi partaian menggunakan kolom rektifikasi yang ditempatkan di atas
labu didihnya (reboiler) akan memberikan pemisahan yang lebih baik dari
pada distilasi diferensial biasa, karena kolom rektifikasi menyediakan
terjadinya serangkaian tahap kesetimbangan. Dengan jumlah tahap
kesetimbangan yang lebih banyak, komposisi komponen yang mudah
menguap di fasa uap akan semakin besar atau dengan kata lain, pemisahan
yang diperoleh akan lebih baik. Kolom rektifikasi dapat berupa kolom dengan
baki (plate) atau dengan isian (packing). Di puncak kolom, sebagian cairan
hasil kondensasi dikembalikan ke dalam kolom sebagai refluks agar pada
kolom terjadi kontak antar fasa uap-cair. Jika nisbah refluks dibuat tetap,
maka komposisi cairan dalam reboiler dan distilat akan berubah terhadap
waktu. Untuk saat tertentu, hubungan operasi dan kesetimbangan dalam
kolom distilasi dapat digambarkan pada diagram McCabe- Thiele. (McCabe
dkk, 2018)

Gambar 6 Diagram McCabe-Thiele

Gambar 7 Diagram T-x-y Sistem Tak Ideal

Pada saat awal operasi (t = t0), komposisi Pada saat awal operasi (t = t0),
komposisi cairan di dalam reboiler dinyatakan dengan x0. Jika cairan yang
mengalir melalui kolom tidak terlalu besar dibandingkan dengan jumlah
cairan di reboiler dan kolom memberikan dua tahap pemisahan teroritik, maka
komposisi distilat awal adalah xD. Komposisi ini dapat diperoleh dengan
membentuk garis operasi dengan kemiringan L/V dan mengambil dua buah
tahap kesetimbangan antara garis operasi dan garis kesetimbangan seperti
yang ditunjukan pada Gambar II.3. Pada waktu tertentu setelah operasi (t = t1),
komposisi cairan di dalam reboiler adalah xW dan komposisi distilat adalah xD.
Karena refluks dipertahankan tetap, maka L/V dan tahap teoritik tetap. Secara
umum, persamaan garis operasi adalah sbb :
𝐿 𝐷𝑥𝐷𝑖
𝑦𝑖 = 𝑥1 +
𝑉 𝑉
Persamaan diatas jarang digunakan dalam praktek karena melibatkan
besaran L dan V yaitu laju alir cairan dan uap yang mengalir di dalam kolom.
Dengan mendefinisikan nisbah refluks, R, sebagian R = L/D, maka persamaan
diatas dapat diubah menjadi :
𝑅 𝑋𝐷𝑖
𝑦𝑖 = 𝑥1 +
𝑅+1 𝑅+1
Waktu yang diperlukan untuk distalasi curah menggunakan kolom
rektifikasi dengan refluks konstan dapat dihitung melalui neraca massa total
berdasarkan laju penguapan konstan, V, seperti ditunjukkan berikut ini :
𝑊0 − 𝑊
𝑡=
𝐿
𝑉 (1 − 𝑉 )

Anda mungkin juga menyukai