PROPOSAL
PENGARUH KOMPETENSI, DISIPLIN DAN TAMBAHAN PENGHASILAN TERHADAP
KINERJA ASN PADA DINAS PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN, KOPERASI
USAHA KECIL DAN MENENGAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR
TAHUN 2022
Proposal Penelitian Untuk Tesis S-2
Program Studi Magister Manajemen
Diajukan Oleh :
ANDRIANI SURYA NINGSIH
[Link].12954
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT TEKNOLOGI DAN BISNIS NOBEL INDONESIA
TAHUN 2022
PERSETUJUAN PROPOSAL PENELITIAN
PENGARUH KOMPETENSI, DISIPLIN DAN TAMBAHAN PENGHASILAN TERHADAP
KINERJA ASN PADA DINAS PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN, KOPERASI
USAHA KECIL DAN MENENGAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR
TAHUN 2022
Diajukan Oleh :
ANDRIANI SURYA NINGSIH
[Link].12954
Menyetujui,
Komisi Pembimbing
Pembimbing 1
Prof. Dr. H. Saban Echdar, S.E., [Link] Tanggal……………………
Pembimbing 2
Dr. Maryadi, S.E., M.M Tanggal……………………..
PENGESAHAN PROPOSAL PENELITIAN
PENGARUH KOMPETENSI, DISIPLIN DAN TAMBAHAN PENGHASILAN TERHADAP
KINERJA ASN PADA DINAS PERINDUSTRIAN, PERDAGANGAN, KOPERASI
USAHA KECIL DAN MENENGAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR
TAHUN 2022
Diajukan Oleh :
ANDRIANI SURYA NINGSIH
[Link].12954
Telah diseminarkan dan disetujui oleh Komisi Pembimbing
serta dinyatakan memenuhi syarat untuk melakukan penelitian
Menyetujui,
Komisi Pembimbing
Ketua Anggota
Prof. Dr. H. Saban Echdar, S.E., [Link] Dr. Maryadi, S.E., M.M
Mengetahui :
Direktur Program Pascasarjana Ketua Program Studi Magister Manajemen
Dr. Maryadi, S.E., M.M Dr. Sylvia, S.E., [Link]., Ak., C.A
iii
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tugas serta peran aparatur pemerintah dalam permbangunan semakin
kompleks sebagai akibat dati tuntutan perubahan zaman. Dalam menghadapi
berbagai tuntutan tersebut, bangsa Indonesia dihadapkan dengan berbagai masalah
dan tantangan dalam berbagai aspek pembangunan. Sumber daya manusia (SDM)
adalah faktor yang mempengaruhi kedudukan aparatur selaku perencanaan,
pengelola dan pelaksana program pembangunan yang mempunyai posisi penting
dan strategis. Pada dasarnya, sumber daya manusia digunakan sebagai fasilitator,
pemikir dan perencana dalam organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
Pemahaman sumber daya manusia dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu
pemahaman mikro dan makro. Sumber daya makro yaitu seseorang yang bekerja
pada perusahaan atau organisasi dan menjadi anggota organisasi tersebut,
bisaanya disebut sebagai karyawan, buruh, pekerja dan lain-lain. Secara makro
sumber daya manusia yaitu semua warga suatu Negara yang telah memasuki usia
produktif, baik telah ataupun yang belum bekerja. Aparatur sipil Negara
merupakan sumber daya manusia disektor pemerintahan yang bertanggung jawab
atas keberhasilan pelaksana pemerikntahan dan pembangunan nasional, karenanya
peranan pegawai sangat penting sebagai pelaksana kegiatan. Pegawai merupakan
modal organisasi yang harus dikelola dan dikembangkan agar mereka memiliki
kemampuan dan potensi untuk menghadapi tantangan di lingkungan kerja.
2
Secara umum, di dunia kerja, pada lembaga pemerintah terutama bidang
sumber daya manusia akan menghadapi masalah dalam mencapai tujuannya.
Instansi didirikan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam mencapai tujuannya,
masing-masing instansi dipengaruhi oleh perilaku dan sikap orang-orang dalam
instansi tersebut. Keberhasilan mencapai tujuan tersebut tergantung pada
keandalan dan kemampuan aparatur sipil Negara atau pegawai dalam
mengoperasikan unit-unit kerja yang terdapat di instansi tersebut, karena tujuan
instansi dapat tercapai melalui upaya para pelaku yang ada dalam setiap instansi.
Pengembangan potensi dan kualitas sumber daya manusia ini akan berkaitan
dengan kinerja karyawan yang adal dalam suatu organisasi.
Kinerja yang dimiliki oleh instansi pemerintahan pada dasarnya merupakan
suatu akibat dari pesyaratan kerja yang harus dipenuhi oleh pegawai dan aparatur
sipil Negara. Pegawai dan aparatur sipil negaraakan bersedia bekerja dengan
penug semangat apabila merasa kebutuhan baik sisik maupun nonofisik terpenuhi.
Organisasi dituntut agar menghasilkan kinerja baik secara individual maupun
secara kelompok. Untuk menunjang kinerja seseorang pegawai perlu memiliki
kompetensi, tambahan penghasilan dan disiplin sesuai yang diperlukan suatu
instansi pemerintah. Penepatan pegawai juga harus didasarkan pada job
description dan job specification yang telah ditentukan. Kinerja bisa diartikan
sebagai tingkat kerja atau keapuan seorang pegawai untuk emmenuhi persyaratan
pekerjaan yang ditentukan dala hal kualitas dan kuantitas. Kinerja bisa berarti
ukuran hasil kerja seseorang.
3
Dengan demikian, kinerja pegawai bisa diartikan sebagai suatu kondisi yang
menunjukkan kemampuan pegawai untuk melakukan tugasnya di tempat kerja dan
menggabarkan perilaku ereka dala aktivitas kerja. Beberapa elemen kinerja
pegawai dapat dilihat dari berbagai aspek yang dapat diklasifikan ke dala tingkat
kinerja tertentu, aspek-aspek tersebut antara lain efektivitas, keselaatan, dan
kepuasan pelanggan/yang dilayani. Tingkat efektivitas dapat dilihat dari sejauh
mana karyawan dapat menggunakan suber daya untuk melakukan tugas yang
direncanakan dan berbagai tujuan yang dapat dicapai. Tingkat efesiensi engukur
penggunaan suber daya yang tidak maksimal penggunaannya, maka akan semakin
rendah tingkat efisiensinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja antara lain adalah gaya
kepemimpinan, lingkungan kerja, kompetensi, dan disiplin. Kompetensi menurut
Dala Lubis (2018) yaitu berupa karakteristik dasar pegawai yang berhubungan
dengan efektivitas kinerja ditepat kerjanya. Kompetensi merupakan bagian dari
kepribadian yang melekat pada orang yang memiliki perilaku yang dapat
diprediksi dalam situasi yang berbeda dan memiliki tanggung jawab professional
yang berbeda. Baik atau buruknya kinerja pegawai bisa diukur melalui kriteria
atau standar yang digunakan. Efektivitas tingkat kinerja seseorang ditentukan oleh
tingkat kompetensi yang dimilikinya. Kompetensi menggambarkan pekerjaan
yang dilakukan oleh pegawai disetiap tingkat, menguraikan standar untuk setiap
tingkat dan menentukan karakteristik pengetahuan dan keterampilan yang
dibutuhkan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab secara efektif guna
mencapai standar kualitas professional dan menghasilkan kinerja yang baik.
4
Kompetensi aparatur sipil Negara bisa dicapai dengan memberikan pelatihan
berdasarkan kebutuhan kerja dan tujuan organisasi. Dala Riyanda (2017)
mengemukakan bahwa seorang pegawai mempunyai kompetensi yang tinggi jika
mempunyai keahlian, pengetahuan serta keterampilan. Selain kompetensi, disiplin
juga memberi pengaruh terhadap tingkat kinerja pegawai.
Disiplin. Menurut Dala Riyanda (2017) adalah fungsi operasional terpenting
dalam manajemen sumber daya manusia, semakin tinggi disiplin seseorang
semakin tinggi pula kinerjanya. Organisasi akan sulit mendapatkan hasil terbaik
apabila tidak didukung oleh disiplin para pegawainya. Disiplin adalah faktor
utama yang diperlukan dan dianggap sebagai alat untuk memperingati pegawai
yang tidak ingin mengubah karakter dan perilaku mereka. Apabila seorang
pegawai merasa bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, maka pegawai
tersebut memiliki disiplin yang baik. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
instansi pemerintah terutama kinerja pegawai, maka perlu adanya disiplin agar
pegawai bisa bekerja dengan baik dan maksimal salah satunya dengan
diberikannya Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) kepada aparatur sipil Negara
yang dapat memacu semangat pegawai dalam melaksanakan tugas dan tanggung
jawab atas pekerjaannya yang baik dan benar. Tambahan penghasilan pegawai
adalah salah satu faktor eksternal yang berpengaruh terhadap upaya peningkatan
kinerja pegawai. Tunjangan inilah merupakan salah satu implementasi pemberian
kompensasi atau imbalan yang layak atas kinerja atau prestasi kerja dengan kata
lain tunjangan kerja adalah penghargaan berupa tambahan penghasilan yang
5
diberikan kepada pegawai atas kinerjanya dengan tujuan untuk meningkatkan
semangat kerja pegawai.
Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 061 – 5449 Tahun
2019 tentang tata cara persetujuan menteri dalam negeri terhadap tambahan
penghasilan pegawai aparatur sipil Negara di lingkungan pemerintah daerah
bahwa pemberian tambahan penghasilan merupakan salah satu bentuk
penghargaan kepada aparatur sipil Negara yang memiliki dasar hukum, pedoman,
kriteria dan indikator penilaian yang terukur dan seragam serta berlaku
menyeluruh bagi pegawai sehingga dapat meningkatkan disiplin, disiplin, kinerja
dan kesejahteraan aparatur sipil Negara di lingkungan pemerintahan daerah.
Dengan disiplin dan tambahan penghasilan yang dimiliki oleh aparatur
pemerintah makan akan menunjukkan seberapa besar kompetensinya, dimana hal
ini berdampak pada kinerja aparatur tersebut. Kuncinya adalah kinerja dapat
tercapai sesuai harapan dengan disiplin dan tambahan penghasilan yang didukung
oleh kompetensi yang dimiliki oleh aparatur, sehingga pekerjaan bisa terlaksana
secara efektif dan efisien.
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha
Menengah mempunyai tugas yang cukup berat yakni melaksanakan tugas
pemerintahan di bidang koperasi, usaha kecil dan usaha menengah. Dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya, diperlukan pegawai dan aparatur sipil Negara
dengan kemampuan yang sesuai antara pekerjaan dan latar belakang
pendidikannya, disiplin kerja dan semangat kerja yang tinggi pula mengingat
tingginya beban kerja yang diemban. Menurut pengamatan awal penulis
6
kompetensi, disiplin, dan tambahan penghasilan yang dimiliki oleh ASN pada
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha Menengah
masih terbilang rendah. Dan ini tentu akan terdampak pada kinerjanya. Kinerja
aparatur secara kuantitas dapat dilihat dari program kerja yang belum
terealisasikan sesuai dengan target yang sudah ditetapkan organisasi.
Hasil observasi awal diketahui bahwa masih ada pegawai yang mendapat
pemotongan tambahan penghasilan berhubung karena pegawai tersebut
kehadiran/absensinya tidak maksimal dan tidak mengikuti apel pagi, apel sore,
keterlambatan ceklok dan tidak mengisi laporan kerja harian yang dimana tiap
pegawai diwajibkan menyelesaikan tugas pokok tiap hari kerja, dalam artian jika
para pegawai selalu terlambat dan cepat pulang tidak sesuai dengan aturan yang
ada, maka akan berpengaruh pada disiplin dan kompetensi mereka, berupa tugas
dan tanggung jawab yang harusnya mereka dapat kerja secara maksimal menjadi
tidak maksimal, karena banyak waktu yang terbuang akibatnya akan terjadi
keterlambatan pekerjaan yang seharusnya dapat terselesaikan dengan cepat akan
terkendala waktu karena kehadiran yang tidak tepat waktu, yang otomatis
berpengaruh pada kinerja para pegawai pada Dinas Perindustrian, Perdagangan,
Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha Menengah Kabupaten Kepulauan Selayar.
Melihat berbagai fenomena perilaku pegawai yang terjadi pada Dinas
Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha Menengah
Kabupaten Kepulauan Selayar, maka penulis tertarik untuk mengadakan suatu
penelitian dengan judul “Pengaruh Kompetensi, Disiplin, Tambahan
7
penghasilan Terhadap Kinerja ASN Pada Dinas Perindustrian, Perdagangan,
Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha Menengah Kabupaten Kepulauan Selayar”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut :
1. Bagaimana Kompetensi, Disiplin, Dan Tambahan Penghasilan Berpengaruh
Secara Parsial Terhadap Kinerja ASN Pada Dinas Perindustrian, Perdagangan,
Koperasi, Usaha Kecil Dan Usaha Menengah Kabupaten Kepulauan Selayar?
2. Bagaimana Kompetensi, Disiplin, Dan Tambahan Penghasilan Berpengaruh
Secara Simultan Terhadap Kinerja ASN Pada Dinas Perindustrian,
Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Dan Usaha Menengah Kabupaten
Kepulauan Selayar?
3. Variabel mana yang paling dominan berpengaruh terhadap Kompetensi,
Disiplin, Dan Tambahan Penghasilan Berpengaruh Terhadap Kinerja ASN
Pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Dan Usaha
Menengah Kabupaten Kepulauan Selayar?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Kompetensi, Disiplin, Dan
Tambahan Penghasilan Berpengaruh Secara Parsial Terhadap Kinerja ASN
Pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Dan Usaha
Menengah Kabupaten Kepulauan Selayar.
8
2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Kompetensi, Disiplin, Dan
Tambahan Penghasilan Berpengaruh Secara Simultan Terhadap Kinerja ASN
Pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Dan Usaha
Menengah Kabupaten Kepulauan Selayar.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis variabel mana yang paling dominan
pengaruh kompetensi, disiplin, dan tambahan penghasilan berpengaruh
terhadap kinerja ASN pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha
Kecil dan usaha Menengah Kabupaten Kepulauan Selayar
1.4. Manfaat Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Akademik
Diharapkan dapat memberi kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan di
bidang manajemen sumber daya manusia dengan menghadirkan konsep
Kompetensi, Disiplin, Tambahan Penghasilan Terhadap Kinerja ASN Dinas
Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha Menengah
Kabupaten Kepulauan Selayar.
2. Manfaat Praktis
Memberikan input bagi instansi Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi,
Usaha Kecil dan Usaha Menengah Kabupaten Kepulauan Selayar dalam
meningkatkan kinerja pegawai serta dapat dijadikan sebagai bahan informasi
dan referensi bagi pihak yang ingin melakukan penelitian lebih mendalam.
3. Manfaat Kebijakan
9
Diharapkan dapat berkontribusi pada Dinas Perindustrian, Perdagangan,
Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha Menengah Kabupaten Kepulauan Selayar.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Terdahulu
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kompetensi,
disiplin dan tambahan penghasilan terhadap kinerja pegawai pada Dinas
perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha Menengah
Kabupaten Kepulauan Selayar. Beberapa penelitian sebelumnya yang
menggunakan variabel yang sama dengan penelitian yang dilakukan saat
ini. Yang pertama adalah penelitian pengaruh kompetensi terhap kinerja
yang telah diteliti sebelumnya yang memiliki relevansi dengan penelitian
yang dilakukan antara lain :
Khaeriah et al. (2020) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh
Kompetensi, Kesadaran, Pelatihan, Infrastruktur dan Lingkungan Kerja
Terhadap Kinerja Pegawai pada Dinas Penanaman Modal, Pelayan
Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Kabupaten Barru. Penelitian ini
mengambil sampel sebanyak 50 orang pegawai. Analisis data
menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini membuktikan
bahwa kompetensi, Kesadaran, Pelatihan, Infrastuktur dan Lingkungan
Kerja mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja
10
Pegawai pada dinas Penanaman Modal, Pelayan Terpadu Satu Pintu dan
tenaga Kerja Kabupaten Barru.
Putra et a. (2020) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh
Kompetensi, Motivasi Kerja dan Budaya Organisasi Terhadap kinerja
Pegawai pada Dinas Perhubungan Kabupaten Polewali Mandar. Populasi
dalam penelitian ini berjumlah 60 orang, pengambilan sampel
menggunakan teknik sampling jenuh (sensus), analisis data menggunakan
analisis linier berganda. Dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh positif dan signifikan Kompensi, Motivasi Kerja dan
Budaya Organisasi secara parsial terhadap kinerja pegawai pada Dinas
Perhubungan Kabupaten Polewali Mandar, dan terdapat pengaruh positif
dan signifikan Kompensi, Motivasi Kerja dan Budaya Organisasi secara
simultan terhadap kinerja pegawai pada Dinas Perhubungan Kabupaten
Polewali Mandar, dan variabel kompetensi merupakan variabel yang
paling dominan.
Ardiansyah & Sulistiyowati (2018) telah melakukan penelitian
yang berjudul Pengaruh Kompetensi dan Kecerdasan Emosional Terhadap
Kinerja Pegawai. Populasinya adalah Pegawai Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Kabupaten Kuningan sebanyak 97 orang, dengan
menggunakan teknik sampling jebuh teknik pengumpulan data
menggunakan skala Likert. Teknis analisis data menggunakan analisis
linier berganda. Menurut penelitian yang dilakukan, variabel Kompetensi,
11
kecerdasan emosi memiliki pengaruh positif parsial dan simultan terhadap
kinerja pegawai.
Yang kedua, beberapa penelitian tentang pengaruh disiplin kerja
terhadap kinerja yang mempunyai relevansi dengan penelitian yang
dilakukan yaitu :
Suwanto (2019) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh
Disiplin Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada
Rumah Sakit Umum Tangerang Selatan, penelitian ini merupakan
penelitian asosiasif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, sampel
yang digunakan sebanyak 57 orang karyawan dengann menggunakan
teknik sampel jenuh. Pengumpulan data menggunakan wawancara,
kuesioner, dokumentasi dan studi kepustakaan, analisis data menggunakan
uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas, uji multikolerasi, uji
heteroskedastisitas, regresi linier, koefisien determinasi dan uji signifikan
(uji t dan uji f). berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan disimpulkan
bahwa disiplin kerja dan motivasi kerja mempunyai pengaruh positif dan
stimultan terhadap kinerja pada rumah sakit umum Tangerang.
Topic penelitian Gesang (2017) adalah Pengaruh Disiplin Kerja,
Tekanan kerja dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Kantor
Administrasi Pertahanan Negara Kabupaten Kebumen. Menggunakan
penelitian kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah
sampel total atau sensus yaitu berjumlah 93 responden. Teknis analisis
datanya menggunakan uji validitas dan reabilitas, statistic deskriptif, uji
12
asumsi klasik, analisis regresi berganda dan uji hipotesis. Hasilnya
menggambarkan bahwa disiplin kerja dan lingkungan kerja secara parsial
berpengaruh terhadap kinerja pegawai, sedangkan stress kerja tidak
berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pegawai.
Ardi & Sukmasari (2016) dalam penelitiannya yang berjudul
Pengaruh Disiplin Kerja, Promosi Jabatan dan Kompensasi Terhadap
Kinerja Pegawai pada Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan
Olahraga Kabupaten Rembang. Data penelitian diperoleh melalui
kuesioner dan wawancara. Sampel yang digunakan terdiri dari 44
oresponden dan diolah melalui analisis deskriptif dan analisis statistic
kuantitatif menggunakan regresi untuk mengetahui pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen, setelah sebelumnya diuji validitas
dan reabilitasnya. Hasil uji menunjukkan bahwa peningkatan disiplin
kerja, promosi jabatan dan kompensasi akan diikuti peningkatan kinerja
karyawan, begitu pula sebaliknya. Kasus ini menunjukkan bahwa agar
kinerja karyawan meningkat diperlukan adanya pemerataan disiplin kerja,
peluang dalam promosi jabatan dan pemberian kompensasi yang sesuai
dengan keinginan karyawan.
Yang ketiga tambahan penghasilan, beberapa penelitian yang
relevan dengan penelitian yang dilakukan peneliti antara lain adalah
Penelitian yang dilakukan oleh Nurhukmi (2017). Tujuan penelitian yaitu
untuk mengetahui dan menganalisa seberapa besar pengaruh tunjangan
kinerja terhadap kinerja pegawai, disiplin kerja, dan kepuasan kerja pada
13
Kantor Kementerian Agama Kota Pangkalpinang dan untuk mengetahui
pengaruh variabel yang paling memiliki pengaruh terhadap kinerja
pegawai, disiplin kerja, dan kepuasan kerja. Penelitian ini menggunakan
metode deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian menyatakan bahwa
variabel tunjangan kinerja berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja
pegawai, disiplin kerja, dan kepuasan kerja. Seperti hasil yang telah
dijelaskan dari perhitungan uji t diketahui variabel tunjangan kinerja
terhadap kinerja pergawai sebesar 7.065 lebih besar dari t tabel 2.0032 dan
dengan signifikansi sebesar 0.000 lebih kecil dari taraf signifikansi 0.05,
dan tunjangan kinerja terhadap disiplin kerja sebesar 6.783 lebih besar
dari t tabel 2.032 dan dengan signifikansi sebesar 0.000 lebih kecil dari
taraf signifikansi 0.05.
14
2.2. Kinerja
2.2.1 Pengertian Kinerja
Efektifitas organisasi dapat dinilai melalui kinerja yang dihasilkan, kinerja
merupakan tolak ukur dalam menentukan ketepatan menempatkan personil pada
struktur organisasi dan kepegawaian. Oleh sebab itu, organisasi harus mengetahui
dan memahami kinerja pegawainya.
Kinerja menurut Sartika (2014) adalah pencapaian atau prestasi kerja
seseorang sesuai tugasnya. Hasil kerja seseorang atau kelompok pada sebuah
organisasi dikerjakan secra legal sesuai dengan wewenang serta tanggung
jawabnya agar tujuan organisasi tercapai tanpa melanggar hokum dan etika.
Sartika (2014) mengatakan bahwa kinerja (performance) adalah tentang
apa yang dikerjakan dan tidak dikerjakan oleh pegawai. Kinerja pegawai
umumnya meliputi kuantitas hasil, kualitas hasil, kehadiran dan kerjasama.
Sastrohadiwiryo (2013) mengatakan bahwa evaluasi kinerja merupakan
kegiatanyang dilakukan oleh manajemen atau tim evaluasi untuk mengevaluasi
kinerja dengan membandingkan kinerja dengan kinerja deskripsi pekerjaan pada
periode tertentu setiap akhir tahun.
Menurut Hardiansyah (2017) kinerja karyawan yaitu hasil dari kualitas
dan kuantitas pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai sesuai dengan tugas dan
tanggung jawabnya. Menurut Hardiansyah (2017) kinerja pegawai merupakan
salah satu faktor yang penting karena kemajuan organisasi tergantung dari sumber
daya manusia yang dimiliki. Jika kinerja meningkat maka keberhasilan mencapai
15
tujuan akan semakin terbuka, begitu sebaliknya, jika kinerja menurun maka akan
mengakibatkan kemunduran bagi organisasi.
2.2.2 Indikator Kinerja Pegawai
Beberapa indikator dalam mengukur kinerja pegawai menurut Setiawan
dan Kartika (2014) adalah sebagai berikut :
1. Ketepatan menyelesaikan tugas yaitu ketepatan manajemen jam kerja dan
akurasi pekerjaan yang dikerjakan oleh pegawai.
2. Kesesuaian jam kerja, karyawan bersedia untuk mematuhi peraturan
mengenai waktu datang/pulang kerja termasuk jumlah kehadiran.
3. Jumlah ketidakhadiran pegawai selama periode tertentu.
4. Kerjasama antar pegawai yaitu kemampuan dalam bekerja secra bersama-
sama agar mendapatkan hasil pekerjaan secara efisien dan efektif.
2.2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja
Berikut ini faktor Wirawan (2009) yang mampu mempengaruhi kinerja :
1. Faktor internal, faktir ini berasal dari dalam diri seseorang yang dibawa sejak
lahir seiring perkembangannya, misalnya bakat, sifat, fisik, dan kejiwaan.
Faktor yang didapatkan seperti pengetahuan, pengalaman, keahlian, etos kerja
dan disiplin kerja.
2. Faktor lingkungan internal organisasi, berupa dukungan dari dalam
organisasi, diantaranya visi misi organisasi, tujuan organisasi, sistem
16
manajemen, teknologi, strategi organisasi, kompensasi, kepemimpinan, dan
budaya organisasi.
3. Faktor lingkungan eksternal, berupa situasi atau peristiwa di lingkungan
eksternal organisasi diantaranya faktor ekonomi, politik, sosial budaya,
agama dan daya asing.
Kinerja menurut Mahmudi (2009) memiliki struktur yang berlapis dan
memiliki beberapa faktor yang mempengaruhinya. Berikut beberapa faktor yang
berpengaruh.
1. Faktor personal atau individual, berupa pengetahuan, keahlian, percaya diri,
disiplin, kompetensi, disiplin dan komitmen.
2. Faktor kepemimpinan, berupa kemampuan medisiplin, arahan, serta
dukungan dari manajer atau leader.
3. Faktor sistem, berupa sistem kerja, sarana dan prasarana kerja, proses
organisasi dan budaya kerja organisasi.
4. Faktor tim, berupa saling mendukung dan medisiplin satu sama lainnya,
kekompakan dan solidaritas tim.
5. Faktor situasional, berupa tekanan serta kondisi lingkungan eksternal dan
internal.
2.2.4 Efek Kinerja Pegawai
Dengan kinerja yang tinggi maka akan memberi dampak positif terhadap
beberapa hal, menurut Sedarmayanti (2007) kinerja karyawan berpengaruh pada :
1. Meningkatnya keterampilan dan kemampuan pegawai.
17
2. Meningkatkan kondisi, kualitas dan hasil kerja.
3. Mengembangkan dan memanfaatkan pegawai secara optimal sehingga
mereka mampu menarget level karir, promosi dan posisi jabatannya.
4. Mendorong terjalinnya hubungan yang sehat dan saling menguntungkan
antara atasan dan bawahan.
5. Karyawan memahami keseluruhan situasi organisasi dibudang kepegawaian
terutama kinerja pegawai.
6. Karywan memahami potensinya sehingga mereka dapat mengembangkan
diri.
2.3. Kompetensi
2.3.1 Pengertian Kompetensi
Manajemen sumber daya manusia adalah bagian dari manajemen yang
memfokuskan perhatiannya terhadap pengaturan sumber daya manusia dalam
kegiatan suatu organisasi.
Manajemen sumber daya manusia menganggap pegawai adalah kekayaan
utama organisasi yang harus dikelola dengan baik, sehingga tujuan organisasi
dapat tercapai secara efektif dan efisien, oleh karena itu, organisasi harus
menerapkan sebuah manajemen sumber daya manusia yang baik guna
menghasilkan pegawai yang memiliki kompetensi sumber daya manusia yang
handal.
Ide dasar kompetensi sebenarnya berasal dari Davis Mc Clelland melalui
tulisan yang cukup kontrofersial dalam jurnal American Psychologyst berjudul
18
Testing for Compotence Letter than for Intelligence. Kemudian banyak ahli yang
mengambangkan teori tentang kompetensi.
Freaden dan Nilson (2003) juga mengatakan kompetensi merupakan
kemampuan dalam mengerjakan pekerjaan secara produktif dengan orang lain dan
lingkungan mereka.
Kompetensi yang memadai sesuai dengan bidang pekerjaan dan tanggung
jawab seseorang dibutuhkan agar dapat melaksanakan tugas secara professional
yang diemban oleh pegawai atau karyawan.
Widowati (2017) mengatakan kompetensi merupakan kemampuan dalam
menyelesaikan pekerjaan atau tugas berdasarkan keterampilan dan pengetahuan
didukung dengan sikap kerja yang sesuai dengan pekerjaan tersebut. Sedangkan
Riyanda (2017) berpendapat bahwa apabila seorang pegawai memiliki
pengalaman kerja, latar belakang pendidikan yang mendukung profesi,
mempunyai keahlian atau pengetahuan dan mempunyai keterampilan, maka
pegawai tersebut dikategorikan sebagai pegawai yang memiliki kompetensi yang
tinggi.
2.3.2 Jenis-jenis Kompetensi
Jenis-jenis kompetensi menurut Hutapea dan Thoha (2008) terdiri atas :
1. Kompetensi teknis atau fungsional bisaa juga disebut hard skill/hard
competency yang berkonsentrasi pada kemampuan teknis pekerjaan yang
menggambarkan tanggung jawab, tantangan dan sasaran kerja yang harus
dicapai agar bisa berprestasi dengan baik.
19
2. Kompetensi perilaku, bisaa juga disebut kompetensi lunak (soft skill/soft
competency). Kompetensi perilaku lebih focus pada perilaku produktif yang
harus dimiliki dan dibuktikan seseorang melalui prestasi kerja.
3. Kompetensi pengetahuan atau keterampilan seseorang. Kompetensi ini
menekankan pada pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya.
2.3.3 Indikator Kompetensi
Kompetensi pegawai menurut Romberg (2017) dapat diukur melalui 4
indikator yaitu :
1. Pengalaman Kerja
2. Latar belakang pendidikan
3. Pengetahuan
4. Keterampilan
Pengalaman kerja Sutrisno (2009 berarti bahwa dasar bagi seseorang
menempatkan diri sesuai situasi, berani mengmabil resiko, berani menghadapi
tantangan, bertanggung jawab penuh dan bisa berkomunikasi dengan baik dengan
semua pihak, tetap menjaga produktifitas, kinerja dan kapasitas dalam bidangnya.
Menurut Sutrisno (2009) Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan
penguasaan teori dan keterampilan dalam pengambilan keputusan disetiap
kegiatan yang berkaitan dengan pencapaian tujuan. Hal ini dilakukan untuk
meningkatkan kontribusi pegawai dan mengembangkan sumber daya manusia
dalam menghadapi semua kemungkinan karena perubahan lingkungan (Riyanda,
2017).
20
Pengetahuan merupakan pengetahuan atau informasi seseorang pada
bidang tertentu. Keterampilan merupakan kemampuan dalam mengerjakan tugas
tertentu baik itu tugas fisik maupun mental.
2.3.4 Manfaat Kompetensi
Manfaat kompetensi dapat dilihat dari beberapa hal berikut :
1. Karyawan memiliki kesempatan meningkatkan pengetahuan melalui
pendidikan dan pelatihan.
2. Kompetensi yang dimiliki bisa memberi nilai tambah bagi pertumbuhan dan
pengembangan.
3. Meningkatkan keterampilan dan pemasaran pegawai.
4. Adanya hubungan yang jelas dengan pelajaran sebelumnya, kemampuan
berbagi baik itu keterampilan, nilai dan potensi untuk pengembangan karir.
5. Kejelasan pada karir pegawai, untuk mencapai sebuah posisi yang lebih
tinggu, seseorang dapat membandingkan kemampuannya saat ini dan
kemampuan yang dibutuhkan pada posisi yang lebih tinggi.
6. Penempatan sasaran sebagai sarana pengembangan karir menjadi jelas.
7. Evaluasi kerja lebih objektif dan standar umpan balik berbasis kemampuan
yang jelas.
Hal utama sistem kompetensi yakni sebagai alat penentu dalam memprediksi
keberhasilan kerja seorang pegawai. Pendekatan kompetensi dapat dijadikan
tolak ukur untuk menilai proses kerja seorang pegawai. Semakin tinggi
kompetensi yang dimiliki seorang pegawai maka akan berpengaruh positif
21
terhadap kinerjanya. Kinerja seorang pegawai bisa dilihat dari kompetensi
yang dimilikinya, oleh karena itu diharapkan pegawai memiliki kompetensi
yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab pekerjaannya sehingga
dapat menghasilkan kinerja yang maksiman di tempat tugasnya.
2.4. Disiplin Kerja
2.4.1 Pengertian Disiplin Kerja
Disiplin adalah bagian terpenting dari fungsi manajemen sumber daya
mannusia, apabila disiplin pegawainya tinggi, maka semakin tinggi pula
kinerjanya. Apabila kedisiplinan tidak diterapkan, maka organisasi, perusahaan
atau instansi tidak akan mencapai hasil yang maksimal sesuai yang diharapkan.
Disiplin menurut Simamora (2004) yaitu cara mengoreksi dan memberikan
sanksi atas pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang. Hasibuan (2006)
mengatakan bahwa disiplin kerja merupakan kesadaran dan keamanan seseorang
untuk mematuhi semua peraturan dan sosial yang berlaku.
Menurut Moenir (2002) disiplin kerja para petugas adalah suatu hal yang
didambakan oleh semua pihak. Kedisiplinan dapat diartikan apabila pegawai
dating dan pulang sesuai waktu, mengerjakan pekerjaan dengan baik, serta
mematuhi peraturan dan norma-norma sosial yang ada.
2.4.2 Indikator-indikator Kedisiplinan
Menurut Sudarmanto (2009) ada beberapa indikator disiplin kerja yakni :
22
1. Ketepatan waktu : setiap pegawai tiba di kantor tepat waktu.
2. Menggunakan peralatan kantor dengan baik : berhati-hati memakai peralatan
kantor menunjukkan seorang pegawai mempunyai disiplin kerja yang baik.
3. Tanggung jawab yang tinggi : pegawai mampu menyelesaikan tugas sesuai
dengan aturan dan penuh tanggung jawab.
4. Mematuhi peraturan kantor, misalnya berpakaian rapi, membuat ijin jika tidak
masuk kantor, mencerminkan disiplin yang tinggi.
Disiplin menunjukkan kondisi karyawan terhadap aturan-aturan yang ada.
Penerapan disiplin yang tinggi oleh Siagian berdampak terhadap :
1. Tingginya perhatian pegawai terhadap pencapaian tujuan perusahaan.
2. Tingginya semangat dan gairah kerja serta inisiatif para pegawai dalam
bekerja. Apabila pegawai dan karyawan memiliki semangat kerja yang tinggi
cenderung akan bekerja dengan lebih baik, tepat waktu, dan tidak pernah
membolos. Karyawan akan semangat untuk berangkat kerja sehingga disiplin
kerjanya menjadi lebih tinggi.
3. Tingginya tanggung jawab karyawan terhadap pekerjaannya.
4. Mempererat rasa memiliki dan rasa solidaritas yang tinggi dikalangan
karyawan.
5. Efisiensi dan produktivitas kerja meningkat. Disiplin kerja yang baik akan
meningkatkan efisiensi kerja semaksimal mungkin, tidak menghabiskan waktu
yang banyak bagi perusahaan untuk sekedar melakukan pembenahan diaspek
kesdisiplinan tersebut dan waktu dapat digunakan untuk mencapai tujuan.
23
2.4.3 Jenis-jenis Disiplin
Disiplin tidak hanya terpaku pada ketepatan waktu, ada beberapa jenis
disiplin yang sering kita lakukan. Widowati (2017) mengemukakan terdapat dua
jenis disiplin dominan yang menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan apa
yang diinginkan oleh organisasi.
Jenis disiplin yang pertama adalah dalam hal waktu, jenis disiplin waktu
ini mudah dilihat dan dikontrol baik oleh manajemen yang bersangkutan maupun
oleh masyarakat. Disiplin terhadap jam kerja misalnya melalui sistem daftar
absensi yang baik atau sistem absen apel, dan dapat dipantau dengan tepat dan
cepat dan disiplin dalam hal kerja atau perbuatan.
Yang kedua adalah disiplin dalam hal kerja atau perbuatan yang isi
pekerjaan pada dasarnya terdiri dari metode pengajaran, prosedur kerjanya, waktu
dan jumlah unit yang telah ditetapkan dan mutu yang telah dibakukan. Keharusan
mematuhi aturan inilah yang disebut disiplin kerja.
Disiplin kerja harus selalu dipantau selama proses implementasi, disiplin
seharusnya menjadi perilaku standar setiap pegawai dalam sebuah organisasi.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penerapan disiplin kerja yaitu :
1. Adanya kejelasan pembangunan tugas atau pekerjaan agar diketahui oleh
pegawai.
2. Perlunya petunjuk kerja yang singkat padat dan lengkap.
3. Adanya kesadaran pegawai akan tugas dan tanggung jawabnya.
4. Perlakuan adil atas setiap pelanggaran yang terjadi.
24
5. Kesadaran pegawai akan kecerobohan dan kelalaiannya yang bisa merugikan
diri, organisasi dan orang lain.
Tujuan utama dari disiplin adalah untuk memaksimalkan hasil dengan
menghindari pemborosan waktu dan energy. Selain itu, disiplin berusaha
mencegah kerusakan atau kehilangan harta benda, mesin, peralatan dan
perlengkapan kerja yang disebabkan oleh kelalaian, senda gurau atau pencurian.
Disiplin berusaha untuk mengatasi kesalahan dan kelalaian yang disebabkan
karena kurang perhatian, ketidak mampuan dan keterlambatan.
Disiplin diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi yang lebih lanjut,
serta untuk menjaga efisiensi dengan mencegah dan mengoreksi tindakan-
tindakan individu dalam iktikad tidak baiknya terhadap kelompok, disiplin
berusaha untuk melindungi perilaku baik dengan menetapkan respon yang
dikehendaki.
2.5. Tambahan Penghasilan Pegawai
2.5.1. Pengertian Tambahan Penghasilan Pegawai
Istilah tambahan penghasilan pegawai atau tunjangan kerja termasuk hal
baru dikalangan Aparatur Sipil Negara. Istilah yang sering digunakan sebagian
besar ASN yaitu remunerasi. Remunerasi berkaitan dengan peningkatan
produktivitas dan kinerja sehingga dapat dijadikan disiplin bagi pegawai untuk
berprestasi. Dalam kamus besar bahasa Indonesia remunerasi dapat diartikan
sebagai upah yang diberikan sebagai jasa untuk pekerjaan yang telah dilakukan.
25
Secara harfiah, yang dimaksud dengan remunerasi yaitu sebagai payment
atau penggajian yang sudah ditetapkan dengan peraturan tertentu sebagai hal yang
rutin dilakukan atau sebagai timbal balik suatu pekerjaan yang telah dikerjakan.
Dalam konteks organisasi, remunerasi diartikan sebagai suatu tindakan balas jasa
atau imbalan yang diterima pekerja atau prestasi yang diberikan oleh pekerja
dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi (Pora, 2011)
Tambahan penghasilan bagi pegawai atau tunjangan kinerja terdapat pula
peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai tunjangan tambahan
penghasilan yang terdapat dalam PP 12/2019.
Pasal 58 ayat PP No.12/2019 menyatakan sebagai berikut:
1. Pemerintah Daerah dapat memberikan tambahan penghasilan kepada Pegawai
ASN dengan memperhatikan kemampuan Keuangan Daerah dan memperoleh
persetujuan DPRD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam penjelasan disebutkan bahwa persetujuan DPRD diakukan bersamaan
dengan pembahasan KUA
2. Tambahan penghasilan sebagaimana dimaksud di atas diberikan berdasarkan
pertimbangan beban kerja, tempat bertugas, kondisi kerja, kelangkaan profesi,
prestasi kerja, dan/atau pertimbangan objektif lainnya.
Dalam penjelasan dinyatakan:
1. Tambahan penghasilan berdasarkan beban kerja diberikan kepada Pegawai
ASN yang dibebani pekerjaan untuk menyelesaikan tugas yang dinilai
melampaui beban kerja normal.
2. Tambahan penghasilan berdasarkan tempat bertugas diberikan kepada
Pegawai ASN yang dalam melaksanakan tugasnya berada di Daerah
memiliki tingkat kesulitan tinggi dan Daerah terpencil.
3. Tambahan penghasilan berdasarkan kondisi kerja diberikan kepada Pegawai
ASN yang dalam melaksanakan tugasnya berada pada lingkungan kerja
26
yang memiliki resiko tinggi.
4. Tambahan penghasilan berdasarkan kelangkaan profesi diberikan kepada
Pegawai ASN yang dalam mengemban tugas memiliki keterampilan khusus
dan langka.
5. Tambahan penghasilan berdasarkan prestasi kerja diberikan kepada Pegawai
ASN yang memiliki prestasi kerja yang tinggi dan/atau inovasi.
6. Tambahan penghasilan berdasarkan pertimbangan objektif lainnya diberikan
kepada Pegawai ASN sepanjang diamanatkan oleh peraturan perundang-
undangan.
7. Pemberian tambahan penghasilan kepada Pegawai ASN daerah sebagaimana
dimaksud di atas ditetapkan dengan Perkada dengan berpedoman pada
Peraturan Pemerintah.
8. Dalam hal belum adanya Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud di
atas, Kepala Daerah dapat memberikan tambahan penghasilan bagi Pegawai
ASN setelah mendapat persetujuan Menteri.
9. Persetujuan Menteri sebagaimana dimaksud di atas ditetapkan setelah
memperoleh pertimbangan menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang keuangan.
10. Dalam hal Kepala Daerah menetapkan pemberian tambahan penghasilan
bagi Pegawai ASN tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud di
atas menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
keuangan melakukan penundaan dan/atau pemotongan Dana Transfer
Umum atas usulan Menteri.
Berdasarkan pengaturan dalam peraturan tersebut dapat dikatakan PP
12/2019 mengamanatkan pemberian tunjangan tambahan penghasilan bagi daerah
berdasarkan beban kerja, tempat bertugas, kondisi kerja, kelangkaan profesi,
prestasi kerja, dan pertimbangan obyektif lainnya.
Kriteria untuk pemberian tunjangan tambahan penghasilan diatur sendiri
dalam bentuk Peraturan Kepala Daerah. Pemberian tunjangan tambahan
27
penghasilan diberikan berdasarkan pertimbangan yang obyektif dengan
memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan memperoleh persetujuan
DPRD.
28
BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
3.1. Kerangka Konseptual
Marthins dan Jackson (2006) mengemukakan bahwa kinerja merupakan apa
yang dikerjakan atau tidak dikerjakan oleh seorang karyawan. Disebagian besar
pekerjaan, kinerja pegawai merupakan elemen-elemen yang mencakup kuantitas
dari hasil, kualitas dari hasil, ketepatan waktu dari hasil, kehadiran, dan
kemampuan berkolaborasi.
Kompentensi, disiplin dan tambahan penghasilan merupakan elemen yang
memegang peranan penting dalam pencapaian kinerja yang maksimal.
Dalam sebuah organisasi maupun instansi kompetensi yang dimiliki oleh
anggota organisasi atau instansi tersebut merupakan hal yang penting dan harus
selalu ditingkatkan. Kompetensi pegawai dianggap penting karena dengan
memiliki kompetensi yang mumpuni (baik), maka pekerjaan yang sedang
dilaksanakan akan berjalan dengan lancar.
Kompetensi merupakan karakteristik dasar seseorang yang memungkinkan
pegawai untuk bekerja dengan baik. Kompetensi yang dimaksud meliputi bagian
kepribadian yang dalam dan melekat pada seseorang dengan perilaku yang dapat
diprediksi dalam berbagai situasi dan tugas kerja.
Menurut Riyanda (2017) seorang pegawai mempunyai kompetensi yang
tinggi jika mempunyai pengalaman kerja, latar belakang pendidikan yang sesuai,
mempunyai pengetahuan dan keterampilan.
29
Faktor kedua yang mempengaruhi kinerja pegawai yaitu disiplin kerja.
Disiplin kerja akan berdampak pada kehidupan pribadi pegawai yang berpengaruh
terhadap organisasi. Organisasi harus mengawasi setiap tindakan dan perilaku
yang dilakukan oleh pegawai saat bekerja. Apabila ada tindakan penyelewengan
yang tidak sesuai dengan aturan maupun sesuatu yang dianulir dari fakta yang
ada, sebaiknya organisasi menetapkan hukuman bagi pegawainya.
Menurut Kuvaas dan Dysvik (2009) Disiplin adalah pemberian daya
penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau
bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk
mencapai kepuasan. Selanjutnya, karyawan terdisiplin yang terlibat dalam
pekerjaan akan lebih bersedia mengambil tanggung jawab.
Faktor ketiga yang mempengaruhi kinerja adalah tambahan penghasilan.
Tambahan penghasilan atau tunjangan kerja yang diberikan PNS merupakan
tunjangan yang dibayarkan sesuai pencapaian kerja, sedangkan tunjangan
kemahalan merupakan tunjangan yang dibayarkan sesuai dengan tingkat
kemahalan berdasarkan indeks harga yang berlaku di daerah masing-masing.
Yohanes (2013) mengungkapkan tambahan penghasilan pegawai adalah
sebagai sarana medisiplin para pegawai untuk bekerja dengan kemampuan yang
optimal, yang dimaksudkan sebagai pendapatan ekstra di luar gaji yang telah
ditentukan. Pemberian tambahan penghasilan pada pegawai dimaksudkan agar
dapat memenuhi kebutuhan para pegawai dan keluarga mereka.
Berdasarkan hal tersebut maka kerangka konseptual penelitian ini dapat
digambarkan sebagai berikut :
30
Gambar 3.1 Kerangka Konseptual
Kompetensi (X1)
- Pengalaman kerja
- Latar belakang pendidikan
- Pengetahuan
- Keterampilan
Romberg (2007)
Kinerja (Y)
Disiplin (X2)
- Ketepatan penyelesaian tugas
- Ketepatan waktu - Kesesuaian jam kerja
- Menggunakan peralatan kantor - Tingkat kehadiran
dengan baik - Kerjasama antar pegawai
- Tanggung jawab yang tinggi Setiawan dan Kartika (2014)
- Ketaatan terhadap aturan
Sudarmanto (2009)
Tambahan Penghasilan (X3)
- Kelompok Jabatan
- Beban kerja
Keterangan :
Garis tipis hubungan secara Parsial
Garis tebal hubungan Secara Simultan
31
3.2. Hipotesis
Berdasarkan tinjauan pustaka serta kerangka pemikiran yang telah diuraikan
diatas, maka dapat dikemukakan beberapa hipotesis penelitian, yaitu :
1. Diduga bahwa, kompetensi, disiplin kerja dan tambahan penghasilan
berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap kinerja ASN pada
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha
Menengah Kabupaten Kepulauan Selayar.
2. Diduga bahwa, kompetensi, disiplin kerja dan tambahan penghasilan
berpengaruh positif dan signifikan secara simultan terhadap kinerja ASN pada
Dinas Perindutrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha
Menengah Kabupaten Kepulauan Selayar.
3. Diduga bahwa kompetensi merupakan variabel paling dominan berpengaruh
terhadap kinerja ASN pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi,
Usaha Kecil dan Usaha Menengah Kabupaten Kepulauan Selayar.
3.3. Definisi Operasional Variabel
Penelitian ini menguji dua variabel yaitu variabel independen dan variabel
dependen. Variabel independen dalam penelitian ini adalah kompetensi, disiplin
kerja dan tambahan penghasilan. Variabel dependen adalah kinerja pegawai.
Definisi operasional yang digunakan untuk penelitian ini kemudian
diuraikan menjadi indikator yang meliputi :
1. Variabel bebas (independent variabel). Variabel bebas (independent) adalah
variabel yang mempengaruhi, yang menyebabkan atau mengubah variabel terikat
32
(dependen). Variabel bebas (independent) yang digunakan dalam penelitian ini
adalah kompetensi (X1), disiplin (X2), tambahan penghasilan (X3).
2. Variabel terikat (dependent variabel). Variabel terikat (dependen) adalah
variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas (independent). Variabel terikat
(dependen) yang digunakan dalam penelitian ini adalah kinerja Pegawai (Y).
Definisi operasional variabel penelitian adalah penjelasan dari masing-masing
variabel yang digunakan dalam penelitian tentang pengaruh kompetensi, disiplin,
tambahan penghasilan terhadap kinerja pegawai bagian Dinas Perindustrian,
Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha Menengah Kabupaten Kepulauan
Selayar yaitu :
a. Kompetensi (X1) merupakan dapat dijadikan patokan untuk menilai proses
kerja ASN. Semakin tinggi kompetensi yang dimiliki seorang maka kinerjapun
akan meningkat. Riyanda (2017) indikator untuk mengukur kompetensi.
1. Pengalaman kerja
2. Latar belakang pendidikan
3. Memiliki keahlian/pengetahuan dan keterampilan
b. Disiplin (X2) menurut Hasibuan (2016) merupakan kesadaran dan keamanan
seseorang untuk mematuhi semua peraturan dan social yang belaku. Menurut
Sudarmanto (2009) indikator kedisiplinan yaitu :
1. Ketepatan waktu
2. Menggunakan peralatan kantor dengan baik
3. Tanggung jawab yang tinggi
4. Ketaatan terhadap aturan
33
c. Tambahan Penghasilan merupakan gambaran pembayaran tambahan pegawai
yang dikaitkan secara langsung dengan standar kinerja aparatur sipil Negara
yang ditetapkan pemerintah. Tambahan penghasilan pegawai dirumuskan
sebagai balas jasa yang memadai kepada pegawai yang prestasinya melebihi
standar yang telah ditetapkan. indikator-indikator yang digunakan untuk
mengukur tambahan penghasilan menurut Yohanes (2013) yaitu :
1. Kelompok jabatan
2. Penilaian prestasi kerja yang terdiri dari sasaran kerja dan perilaku kerja
3. Beban kerja
d. Kinerja pegawai (Y) kinerja merupakan salah satu faktor yang penting karena
kemajuan organisasi tergantung dari sumber daya manusia yang dimiliki.
Kinerja berupa hasil yang diperoleh seseorang atau sekelompok orang sesuai
dengan hak dan kewajiban yang diberikan kepadanya. Kinerja pegawai
meliputi jumlah hasil jumlah hasil, kualitas hasil, kuantitas hasil, ketepatan
waktu, tingkat kehadiran dan kemampuan kerjasama. Untuk mengetahui
tingkat kinerja pegawai menurut Setiawan dan Kartika (2014) dalam
Hardiansyah (2017) dapat diukur dengan menggunakan indikator berikut ini :
1. Ketepatan penyelesaian tugas
2. Kesesuaian jam kerja
3. Tingkat kehadiran
4. Kerjasama antar pegawai
34
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitiann
Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian survey dengan
pendekatan kuantitatif. Metode penelitian ini mengambil sampel dari satu
populasi dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Penelitian
ini merupakan penelitian kuantitatif karena data yang disajikan dalam penelitian
ini merupakan data dalam bentuk angka.
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada Dinas Perindustrian, Perdagangan,
Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha Menengah Kabupaten Kepulauan Selayar.
Dengan waktu penelitian yang akan dilakukan mulai bulan Maret sampai bulan
April 2022.
4.3 Populasi dan Sampel
Oleh Sugiono (tanpa tahun) dala Echdar (2017) populasi dan sampel adalah
wilayah generalisasi yang terdiri dari subjek yang memiliki kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari yang kemudian
disimpulkan.
Populasi penelitian yaitu seluruh ASN pada Dinas Perindustrian,
Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha Menengah Kabupaten Kepulauan
35
Selayar. Sampel dalam penelitian ini adalah mengambil seluruh populasi atau
sampel jenuh.
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 36 (Tiga Puluh Enam)
pegawai ASN, terdiri dari :
Tabel 4.1 Jumlah pegawai ASN pada Dinas
NO. BAGIAN PEKERJAAN JUMLAH
1. Kepala Dinas 1
2. Sekretaris 2
3. Perindustrian 4
4. Perdagangan 4
5. Koperasi 2
6. Usaha Kecil Menengah 4
7. Kemetrologian 4
8. Staf (PNS) 15
(Sumber : Bagian Umum dan Kepegawaian Dinas Perindustrian, Perdagangan,
Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Kepulauan Selayar)
4.4 Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan dua jenis sumber data, yaitu :
1. Data Primer
Data primer yaitu data yang didapatkan secara langsung dari responden
dilokasi penelitian sesuai dengan masalah yang diteliti. Data primer diperoleh
dengan membagikan kuesioner yang berisi beberapa pernyataan kepada
36
responden, selanjutnya responden mengisi pernyataan-pernyataan yang
terdapat dalam kuesioner.
2. Data Sekunder
Data sekunder berasal dari data primer yang telah diolah lebih lanjut. Data ini
diperoleh melalui studi dokumentasi dan jurnal penelitian yang dapat menjadi
referensi bagi penelitian ini.
4.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data dalam penelitian ini
adalah melalui :
1. Kuesioner yaitu merupakan teknik pengumpulan data dengan memberikan
daftar pernyataan kepada responden. Kuesioner yang digunakan adalah model
pertanyaan tertutup, berupa format pertanyaan disertai pilihan jawaban,
sehingga responden bisa memilih salah satu jawaban yang ada. Pengukuran
yang digunakan adalah dengan skala penilaian Likert.
2. Studi pustaka atau dokumentasi yang digunakan dalam mengumpulkan data-
data pendukung untuk penelitian yang berupa dokumen-dokumen, dan
mempelajari berbagai macam buku, jurnal, dan informasi dari internet yang
berhubungan dengan penelitian.
4.6 Instrument Penelitian
Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai instrument penelitian, dalam
pengukurannya, setiap responden diminta pendapatnya mengenai suatu
37
pernyataan dengan skala Likert dari nilai 1 (satu) sampai 5 (lima) dengan
ketentuan Sangat Tidak Setuju (STS) nilai bobot 1, Kurang Setuju (KS) nilai
bobot 2 (dua), Bisaa Bisaa nilai bobot 3, Setuju (S) nilai bobot 4, dan Sangat
Setuju (SS) nilai bobot 5 (lima).
Untuk memperoleh hasil maksimal yang diinginkan maka dilakukan
pengujian instrument dengan menggunakan teknik pengujian data yaitu :
1. Uji Validitas
Uji validitas bertujuan untuk mengetahui validitas kuesioner. Validitas disini
berarti kuesioner yang digunakan mampu mengukur apa yang seharusnya
diukur. Apabila jawaban seseorang terhadap pertanyaan yang terdapat dalam
kuesioner konsisten atau stabil dari waktu ke waktu kuesioner tersebut
tergolong valid. Uji validitas ini bisa dilakukan dengan membandingkan nilai r-
hitung dengan nilai r-tabel. Nilai e hitung diambil dari output SPSS Cronbach
Alpha pada kolom Correlated Item-Total Correlation. Sedangkan nilai r table
diambil dengan menggunakan rumus df= n-2 (Ghozali, 2015)
2. Uji realibilitas
Uji realibilitas merupakan salah satu jenis uji kehandalan yang bertujuan untuk
mengetahui sejauh mana suatu alat ukur dapat diandalkan atau dipercaya. Uji
reabilitas semua item/pertanyaan yang digunakan dalam penelitian ini akan
menggunakan rumus cronbach alpha (koefisien alpha cronbach), jika nilai
alpha-cronbach > 0,6 maka rumus tersebut secara umum dianggap reliable
(Ghozali, 2015).
38
4.7 Alat Analisis
4.7.1. Metode Analisis Deskriptif
Metode analisis deskriptif adalah salah satu bentuk metode penganalisaan
data yang digunakan untuk mendeskripsikan hipotesis penelitian melalui
penjabawan hasil-hasil penelitian deskriptif.
4.7.2. Metode Analisis Kuantitatif
Metode analisis kuantitatif adalah menganalisis data dalam bentuk
bilangan atau angka-angka. Pendekatan model analisis yang digunakan yaitu
analisis regresi linier berganda.
4.7.3. Uji Asumsi Klasik
Apabila model penelitian telah memenuhi persyaratan yaitu lolos asumsi
klasik, maka berikutnya dilakukan pengujian regresi linier. Syarat yang harus
terpenuhi yakni data harus terdistribusikan secara normal dan tidak bersifat
multikolinieritas dan heteroskedastisitas.
Persamaan regresi berganda bisa digunakan apabila memenuhi asumsi
klasik untuk mendapatkan nilai pemeriksa yang tidak bisa dan efisien (best Linier
Ubisa Estimator/BLUE) dari suatu persamaan regresi berganda dengan metode
kuadran terkecil (least squares). Bentuk-bentuk uji asumsi klasik diatas, secara
rinci akan diuraikan dengan penjabaran sebagai berikut :
39
a. Uji Normalitas
Uji normalitas merupakan cara untuk menguji model regresi, variabel
dependen, variabel independen atau keduanya apakah memiliki distribusi
normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau
hamper normal. Normalitas bisa dideteksi dengan melihat penyebaran data
(titik) pada sumbu diagonal dari grafik.
b. Uji Multikolinieritas
Multikolinieritas adalah kondisi dimana satu atau lebih variabel independen
mempunyai kolerasi sempurna atau hamper sempurna dengan variabel
independen lainnya. Uji multikolinieritas digunakan untuk mengetahui apakah
model regresi menemukan kolerasi antar variabel independen tidak boleh
memiliki gejala multikolinieritas, atau tidak ada kolerasi antar variabel
independen.
c. Uji Heteroskedastisitas
Tujuan dari uji heteroskedasitisitas yaitu untuk menguji apakah terdapat
ketidaksamaan varians pada residual dari satu observasi ke observasi lainnya
dalam model regresi. Apabila varians residual dari satu pengamatan ke yang
lain konstan, itu disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut
heteroskedastisitas.
4.7.4. Analisis Regresi Linier Berganda
Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Regresi linier
berganda yaitu regresi dimana variabel dependen (Y) dihubungkan/dijelaskan
40
dengan lebih dari satu variabel (mungkin dua, tiga, dan seterusnya) tetapi
menunjukkan diagram hubungan linier.
Berdasarkan paradigm penelitian yang telah dikemukakan pada Bab II,
model persamaan regresi berganda untuk penelitian ini dapat digambarkan sebagai
berikut :
Y = α + b1 X1 + b2 X2 + b3X3…………… + baXa + e
Dimana
Y = Variabel Terikat (dependen)
A = Konstanta
B1 – bn = Koefisien Regresi
X1 – Xn = Variabel Bebas (Independen)
E = Error term dari variabel lain
Formulasi rumus regresi linier berganda dapat dijabarkan sebagai
berikut :
Y = α + b1 X1+ b2 X2 + b3X3 + e
Keterangan :
Y : Kinerja Pegawai
α : Konstanta (nilai Y apabila X1, X2, X3,
b : Koefisien regresi
X1 : Kompetensi
X2 : Disiplin Kerja
X3 : Tambahan penghasilan
e : error term dari variabel lain
41
4.8 Teknik Analisis Data
4.8.1. Uji t atau Uji Parsial
Uji parsial ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel independen
secara parsial terhadap variabel dependen. Uji t dilakukan dengan cara
membandingkan perbedaan antara nilai dua nilai rata-rata dengan standar error
dari perbedaan rata-rata dua sampel. Dengan cara :
a. t table lebih kecil dari r hitung maka variabel bebas berpengaruh terhadap
variabel terikat.
b. t table lebih besar dari r hitung maka variabel bebas tidak memiliki pengaruh
terhadap variabel terikat.
4.8.2. Uji f atau Uji Simultan
Pengujian pengaruh variabel independen secara bersama-sama (simultan)
terhadap perubahan nilai variabel dependen, dilakukan melalui pengujian terhadap
besarnya perubahan nilai variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh perubahan
nilai semua variabel independen, untuk itu perlu dilakukan uji F. Uji F atau
ANOVA dilakukan dengan membandingkan tingkat signifikasi yang ditetapkan
untuk penelitian dengan probability value dari hasil penelitian.
4.8.3. Uji Koefisien Determinasi
Uji Koefisien determinasi bertujuan untuk mengetahui dan mengukur
seberapa jauh pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen.
Ketepatan model diukur berdasarkan nilai kolerasi yang dipangkatduakan (R2).
42
Nilai koefisien determinan merupakan persentase dari R2 dengan interpretasi
semakin mendekati nilai 100% maka model yang digunakan semakin tepat dan
selisihnya dipengaruhi faktor lain yang tidak diteliti.
43
DAFTAR PUSTAKA
Andi, R. P., & Sukmasari, N. (2016). Pengaruh Disiplin Kerja, Promosi Jabatan
dan Kompensasi Terhadap Kinerja Pegawai Pada Dinas Kebudayaan
Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rembang. Ebbank, 7(2), 105-
110.
Ardiansyah, Y., & Sulistiyowati, L. H. (2018). Pengaruh Kompensasi dan
Kecerdasan emosional terhadap Kinerja Pegawai. Jurnal Inspirasi Bisnis
Dan Manajemen, 2(1), 91-100
Echdar, S. (2017). Metode Penelitian Manajemen dan Bisnis Panduan
Komprehensif Langkah Demi langkah Penelitian untuk Skripsi, Tesis, dan
Disertasi. Indonesia: Ghalia.
Ferdinand, 2011. Metode Penelitian Manajemen, Badan Penerbit. Universitas
Dipenogoro Semarang.
Gesang, D. T. (2017). Pengaruh Disiplin Kerja, Stes Kerja, dan Lingkungan Kerja
Terhadap Kinerja Pegawai Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten
Kebumen. Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Ghozali, I. (2015). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS (Ketiga).
Diponegoro: Universitas.
Hardiansyah, R. O. (2017). Pengaruh Etos Kerja, dan Disiplin Kerja Terhadap
Kinerja Pegawai (Studi Pada Pegawai Dinas Pekerjaan Umum Kota
Magelang). Yogyakarta : FE Universitas Negeri Yogyakarta.
Khaeriah, K., Razak, M., & Alam, S. (2020). Pengaruh Kompetensi, Kesadaran,
Pelatihan, Infrastruktur dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai
pada Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga
Kerja. Nobel Management Review, 1(1), 1-8
Lubis, A. S. (2018). Pengaruh Kompetensi, Budaya Organisasi dan Etos Kerja
Terhadap Kinerja Pegawai Kantor Camat Batang Kuis Kabupaten Deli
Serdang. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2016 Tentang Pemberntukan dan Sususan
perangkat Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar.
Putra, D., Idris, M., & Maryadi, M. (2020). Pengaruh Kompetensi, Motivasi Kerja
dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai pada Dinas
Perhubungan Kabupaten Polewali Mandar. Jurnal Magister Manajemen
Nobel Indonesia, i(1), 49-56
44
Riyanda, M. (2017). Pengaruh Kompetensi dan Disiplin Kerja terhadap kinerja
pegawai pada dinas perizinan kota yogyakarta. Skripsi Manajemen
Universitas Negeri Yogyakarta.
Sartika, A. (2014). Pengaruh Kompetensi, Disiplin dan Pengalaman Kerja
terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan
Aset Daerah Kota Palu. Katalogis, 3(1).
Sedarmayanti. (2018). Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
Untuk Meningkatkan Kompetensi dan Produktivitas Kerja PT. Refika
Aditama.
Widowati, S. T. (2017). Pengaruh Kompetensi Pegawai, Semangat Kerja, Disiplin
Kerja, dan Lingkungan Kerja Fisik terhadap pelayanan di Kantor
Kecamatan Patean Kabupaten Kendal. Universitas Negeri Semarang.
Widowati, S. T. (2017). Pengaruh Kompetensi Pegawai, Semangat Kerja, Disiplin
Kerja, dan Lingkungan kerja Fisik terhadap Pelayanan di kantor
Kecamatan Patean Kabupaten Kendal. Universitas Negeri Semarang.
45
Lampiran 1.
KUESIONER PENELITIAN
PENGARUH KOMPETENSI, DISIPLIN DAN TAMBAHAN PENGHASILAN
TERHADAP KINERJA ASN PADA DINAS PERINDUSTRIAN,
PERDAGANGAN, KOPERASI,
USAHA KECIL DAN USAHA MENENGAH KABUPATEN KEPULAUAN
SELAYAR TAHUN 2022
Kepada:
Yth, Bapak/Ibu
di Tempat
Dengan Hormat,
Sehubungan dengan penyusunan Tesis dengan judul yang telah disebutkan di
atas, maka dengan hormat, saya : Nama : ANDRIANI SURYA [Link].
[Link].12954 Dinas Perhubungan, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Usaha
Menengah Kabupaten Kepulauan Selayar. Alamat pendidikan: Program Pasca Sarjana
(Magister Manajemen) Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia Memohon
kesediaan Saudara/i untuk mengisi kuesioner (daftar pernyataan) yang saya ajukan ini
secara jujur dan terbuka . Daftar pernyataan ini saya ajukan semata-mata untuk
keperluan penelitian sebagai salah satu syarat dalam rangka menyelesaikan jenjang
program studi Magister Manajemen (MM), Program Pasca Sarjana Institut Teknologi
dan Bisnis Nobel Indonesia Konsentrasi Manajemen sumber daya Manusia. Daftar
pertanyaan ini adalah terkait dengan kompetensi, disiplin dan tambahan penghasilan
terhadap kinerja pegawai bagian protokol dan komunikasi pimpinan sekretariat daerah
yang Saudara/i rasakan. Saya sangat menghargai atas segala partisipasi dan ketulusan
Bapak/Ibu dalam menjawab kuesioner ini dan saya sangat berterima kasih atas semua
kerjasamanya.
Hormat Saya,
Peneliti
Andriani Surya Ningsih
46
NIM: [Link].12954
47
Lampiran 2.
IDENTITAS RESPONDEN DAN KUESIONER
A. IDENTITASI RESPONDEN
Bersama ini kami mohon kesediaan Bapak/ibu untuk mengisi daftar kuesioner
yang diberikan. Atas kesediaan Bapak/Ibu merupakan bentuan yang sangat
berarti dalam menyelesaikan penelitian ini. Atas bantuan dan perhatian
Bapak/Ibu kami ucapkan terima kasih.
1. Jenis Kelamin : a. Laki-Laki (L) b. Wanita (W)
2. Umur Responden : …………. Tahun
3. Jabatan : …………..
4. Lama Menduduki jabatan ini : ………….. Tahun
5. Pendidikan terakhir : SMU D3
S1 Magister
B. PETUNJUK PENGISIAN
Jawablah setiap pernyataan ini sesuai dengan pendapat Bapak/Ibu/Saudara/
Saudari dengan sejujur0jujurnya, dan perlu diketahui bahwa jawaban kuesioner
ini tidak berhubungan dengan benar atau salah. SS = Sangat Setuju, S = Setuju,
KS = Kurang Setuju, TS = Tidak Setuju, STS = Sangat Tidak Setuju. Beri
tanda centang pada kolom yang sesuai dengan persepsi anda terkait pernyataan
yang diberikan.
48
1. Kompetensi
NO. PERNYATAAN JAWABAN
SS
S KS TS STS
PENGALAMAN KERJA
1. Semakin lama seseorang bekerja, semakin
banyak pengalaman yang dimiliki.
2. Pengalaman kerja yang saya miliki
membantu pekerjaan yang saya lakukan
saat ini.
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN
3. Latar belakang pendidikan saya sesuai
dengan bidang pekerjaan yang saya
kerjakan.
4. Latar belakang pendidikan saya membuat
saya mampu menganalisis pekerjaan yang
diberikan kepada saya.
PENGETAHUAN
5. Saya memiliki tingkat pengetahuan yang
cukup memadai terkait pekerjaan yang
saya kerjakan saat ini.
6. Saya mampu menguasai pekerjaan yang
diberikan kepada saya sesuai sengan
pengetahuan yang saya miliki.
KETERAMPILAN
7. Dengan keterampilan yang saya miliki
saya mampu menyelesaikan tugas yang
diberikan pimpinan kepada saya.
8. Saya berusaha semaksimal mungkin
menggunakan semua keterampilan yang
saya miliki untuk memperoleh hasil yang
optimal.
49
2. Disiplin
NO. PERNYATAAN JAWABAN
SS S KS TS STS
KETEPATAN WAKTU
1. Saya dating dan pulang kantor sesuai
dengan jam kerja.
2. Saya selalu mentaati peraturan 5 (lima)
hari jam kerja.
MENGGUNAKAN PERALATAN KANTOR DENGAN BAIK
3. Saya selalu merapikan peralatan kerja
setelah selesai dipakai.
4. Saya selalu menggunakan peralatan kantor
semaksimal mungkin sesuai kebutuhan.
TANGGUNG JAWAB YANG TINGGI
5. Saya selalu mengerjakan tugas dnegan
penuh rasa tanggung jawab.
6. Saya selalu mengerjakan tugas-tugas yang
diberikan sampai selesai setiap harinya.
KETAATAN TERHADAP ATURAN
7. Saya selalu membuat ijin jika tidak masuk
kantor sesuai peraturan yang berlaku.
8. Saya selalu mengenakan pakaian kerja dan
selalu rapi sesuai aturan.
50
3. Tambahan Penghasilan
NO. PERNYATAAN JAWABAN
SS S KS TS STS
KELOMPOK / KELAS JABATAN
1. Tambahan penghasilan diberikan sesuai
dengan jabatan/golongan.
2. Tambahan penghasilan diberikans sesuai
yang diharapkan.
BEBAN KERJA
3. Tambahan penghasilan yang diberikan
sesuai dengan beban kerja normal.
4. Saya dapat menyelesaikan laporan kinerja
setiap bulannya.
5. Saya bekerja sesuai dengan Tupoksi (tugas
pokok dan fungsi)
4. Kinerja Pegawai
NO. PERNYATAAN JAWABAN
SS S KS TS STS
KETEPATAN MENYELESAIKAN TUGAS
1. Hasil kerja sesuai dengan target yang
ditentukan.
2. Saya bekerja penuh perhitungan agar
pekerjaan selesai sesuai dengan tujuannya.
KESESUAIAN JAM KERJA
3. Setiap pekerjaan yang saya lakukan sesuai
dengan waktu yang ditetapkan.
4. Saya bekerja dengan memperhitungkan
waktu kerja yang berlaku.
51
TINGKAT KEHADIRAN
5. Saya selalu hadir dikantor sesuai dengan
waktu yang ditentukan.
6. Saya selalu meninggalkan kantor setelah
jam kerja selesai.
KERJASAMA ANTAR PEGAWAI
7. Saya memiliki hubungan kerjasama yang
baik dengan rekan kerja saya.
8. Saya dapat bekerja dalam tim.
__TERIMA KASIH__