0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan105 halaman

Pengaruh Pengetahuan Dewan Anggaran

Tesis ini membahas pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah dengan transparansi kebijakan publik sebagai variabel moderasi pada DPRD Kota Pematangsiantar. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah dan menguji apakah transparansi kebijakan publik memoderasi hubungan tersebut. Metode analisis yang digunak

Diunggah oleh

Dyah Putri Gayatri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan105 halaman

Pengaruh Pengetahuan Dewan Anggaran

Tesis ini membahas pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah dengan transparansi kebijakan publik sebagai variabel moderasi pada DPRD Kota Pematangsiantar. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah dan menguji apakah transparansi kebijakan publik memoderasi hubungan tersebut. Metode analisis yang digunak

Diunggah oleh

Dyah Putri Gayatri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PENGETAHUAN DEWAN TENTANG ANGGARAN

TERHADAP PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH DENGAN


TRANSPARANSI KEBIJAKAN PUBLIK SEBAGAI
VARIABEL MODERASI PADA DPRD
KOTA PEMATANGSIANTAR

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Magister


Akuntansi ([Link]) Konsentrasi Akuntansi Sektor Publik

ELIZA ARSHANDY
NPM : 1720050042

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
PENGARUH PENGETAHUAN DEWAN TENTANG ANGGARAN TERHADAP
PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH DENGAN TRANSPARANSI
KEBIJAKAN PUBLIK SEBAGAI VARIABEL MODERASI
PADA DPRD KOTA PEMATANGSIANTAR

ABSTRAK

Eliza Arshandy
NPM : 1720050042

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh pengetahuan


dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah, menguji dan
menganalisis pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap
pengawasan keuangan daerah yang dimoderasi oleh transparansi kebijakan publik.
Objek penelitian ini adalah DPRD Kota Pematangsiantar. Sampel pada penelitian
ini adalah 28 anggota DPRD Kota Pematangsiantar. Pengumpulan data dilakukan
dengan cara metode kuesioner. Metode analisis yang digunakan adalan structural
equation model partial least square (SEM-PLS). Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa pengetahuan dewan tentang anggaran berpengaruh
signifikan terhadap pengawasan keuangan daerah pada DPRD Kota
Pematangsiantar, transparansi kebijakan publik tidak memoderasi hubungan
antara pengetahuan dewan tentang anggaran dengan pengawasan keuangan daerah
pada DPRD Kota Pematangsiantar.

Kata kunci : pengetahuan dewan tentang anggaran, pengawasan keuangan daerah,


transparansi kebijakan publik.

i
THE INFLUENCE OF THE BOARD KNOWLEDGE ABOUT THE BUDGET
ON REGIONAL FINANCIAL SUPERVISION WITH
TRANSPARENCY OF PUBLIC POLICIES AS A
MODERATING VARIABLE AT DPRD
KOTA PEMATANGSIANTAR

ABSTRACT

Eliza Arshandy
NPM : 1720050042

The purpose of this research was to test and analyze the influence of the board
knowledge about the budget on regional financia supervisionl, to test and analyze
of the board knowledge about the budget on regional financial supervision which
is moderated by transparency public police. The object of this research is DPRD
Kota Pematangsiantar. The sample in this reseacrh was 28 member of Kota
Pematangsiantar. Data collection was carried out by means of the questionnaire
method. Methods used in this research were structural equation model partial
least square (SEM-PLS). The results of this study indicate the board knowledge
about the budget significantly influences on the regional financial supervision of
DPRD Kota Pematangsiantar, transparency public police does not moderate the
relationship between the board knowledge about the budget and the regional
financial supervision of DPRD Kota Pematangsiantar.

Keywords: knowledge, controller, transparency.

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas

berkat dan karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini dengan

judul “Pengaruh Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran Terhadap

Pengawasan Keuangan Daerah Dengan Transparansi Kebijakan Publik

Sebagai Variabel Moderasi Pada DPRD Kota Pematangsiantar”. Adapun

tesis ini disusun untuk memenuhi syarat penyelesaian pendidikan Program

Pascasarjana Program Studi Magister Akuntansi Konsentrasi Akuntansi Sektor

Publik di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

Dalam penulisan tesis ini penulis sadar akan keterbatasan dan

kemampuan yang ada, namun walaupun demikian penulis berusaha agar tesis ini

sempurna sesuai dengan yang diharapkan dan penulis menyadari bahwa penulisan

tesis ini tidak mungkin terlaksana tanpa bantuan, dorongan, bimbingan, serta

arahan dari berbagai pihak baik sifatnya moril maupun materil. Oleh karena itu,

penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Agussani, [Link]., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah

Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Syaiful Bahri, [Link]., selaku Direktur Program Pascasarjana

Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

3. Ibu Dr. Widia Astuty, S.E., [Link]., Ak., CA., QiA., CPAI., selaku Ketua

Program Studi Magister Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera

Utara dan merangkap sebagai Komisi Pembimbing II yang telah

iii
memberikan ilmu, dukungan, arahan, pemikiran, dan bimbingan kepada

penulis dalam penulisan tesis ini.

4. Ibu Dr. Eka Nurmala Sari, S.E., [Link]., Ak., CA., selaku Sekretaris Program

Studi Magister Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan

merangkap sebagai Pembanding yang telah memberikan ilmu, dukungan,

arahan, pemikiran, dan bimbingan kepada penulis dalam penulisan tesis ini.

5. Bapak Dr. Muhyarsyah, S.E., [Link]., selaku Anggota Komisi Pembimbing I

yang telah memberikan ilmu, dukungan, arahan, pemikiran, dan bimbingan

kepada penulis dalam penulisan tesis ini.

6. Bapak Dr. Irfan, S.E., [Link]., selaku Pembanding yang telah memberikan

ilmu, dukungan, arahan, pemikiran, dan bimbingan kepada penulis dalam

penulisan tesis ini.

7. Ibu Sri Rahayu, S.E., [Link]. (Cand. Dr) selaku Pembanding yang telah

memberikan ilmu, dukungan, arahan, pemikiran, dan bimbingan kepada

penulis dalam penulisan tesis ini.

8. Orangtua tercinta (Bapak Rahmad Diyanto Siregar dan Ibu Netta Dirtawaty)

yang selalu memberikan dukungan dalam doa, beserta saudara-saudara

terkasih (Syifa Fauziah dan Gani Nazriel Herlambang) yang sepenuh hati

memberikan motivasi kepada penulis selama kuliah hingga selesainya

penulisan tesis ini, dan seluruh keluarga besar yang juga selalu memberikan

doanya kepada penulis.

9. Seluruh Staf Pengajar dan Staf Administrasi di Pascasarjana Program Studi

Magister Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

iv
10. Bapak Dr. Darwin Lie, S.E., M.M., selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu

Ekonomi (STIE) Sultan Agung Pematangsiantar, seluruh Bapak dan Ibu

Dosen serta Staf Tata Usaha STIE Sultan Agung Pematangsiantar.

11. Ibu John Lidia, [Link], selaku Seksi Bidang Pendidikan Yayasan Perguruan

Sultan Agung Pematangsiantar.

12. Teman-teman satu angkatan di Magister Akuntansi, khususnya Konsentrasi

Akuntansi Sektor Publik yang memberi semangat serta bantuan dan

motivasi kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.

Semoga proposal tesis ini dapat bermanfaat bagi kita semua, serta penulis

menerima kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhir kata, penulis

mengucapkan banyak terima kasih dan semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa

memberkati dan menyertai kita semua.

Medan, Januari 2020


Penulis

Eliza Arshandy
1720050042

v
DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK

ABSTRACT

KATA PENGANTAR ......................................................................... i

DAFTAR ISI ....................................................................................... iv

DAFTAR TABEL ............................................................................... vi

DAFTAR GAMBAR ........................................................................... viii

BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................... 1

1.1. Latar Belakang Masalah ....................................................... 1

1.2. Identifikasi Masalah ............................................................. 5

1.3. Rumusan Masalah ................................................................ 5

1.4. Tujuan Penelitian ................................................................. 6

1.5. Manfaat Penelitian ............................................................... 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................... 7

2.1. Landasan Teori .................................................................... 7

2.1.1. Pengawasan Keuangan Daerah ................................ 7

2.1.2. Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran .................... 18

2.1.3. Transparansi Kebijakan Publik ................................ 24

vi
Halaman

2.2. Kajian Penelitian yang Relevan............................................ 30

2.3. Kerangka Berpikir................................................................ 33

2.4. Hipotesis .............................................................................. 36

BAB 3 METODE PENELITIAN ........................................................ 38

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................. 38

3.2. Populasi dan Sampel ........................................................... 39

3.3. Defenisi Operasional Variabel ............................................. 39

3.4. Teknik Pengumpulan data .................................................... 41

3.5. Teknik Analisis Data............................................................ 45

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................ 51

4.1. Hasil Penelitian ................................................................... 51

4.2. Pembahasan ........................................................................ 65

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ............................................... 73

5.1. Kesimpulan ......................................................................... 73

5.2. Saran ................................................................................... 74

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 76

LAMPIRAN

vii
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Perkembangan Hukum di Bidang Keuangan Daerah ..... 11

Tabel 2.2 Penelitian yang Relevan ................................................ 31

Tabel 3.1 Rencana Waktu Penelitian............................................. 38

Tabel 3.2 Variabel Penelitian ........................................................ 40

Tabel 3.3 Bobot Skala Likert ........................................................ 42

Tabel 3.4 Uji Validitas Variabel Pengetahuan Dewan Tentang

Anggaran (X) ............................................................... 43

Tabel 3.5 Uji Validitas Variabel Transparansi Kebijakan Publik

(Z) ................................................................................ 43

Tabel 3.6 Uji Validitas Variabel Pengawasan Keuangan Daerah

(Y) ............................................................................... 44

Tabel 3.7 Uji Reliabilitas Variabel Pengetahuan Dewan Tentang

Anggaran (X) ................................................................ 45

Tabel 3.8 Uji Reliabilitas Variabel Transparansi Kebijakan Publik

(Z) ................................................................................ 45

Tabel 3.9 Uji Reliabilitas Variabel Pengawasan Keuangan Daerah

(Y) ............................................................................... 45

Tabel 4.1 Pengumpulan Data ........................................................ 51

Tabel 4.2 Deskriptif Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ......... 52

Tabel 4.3 Deskriptif Responden Berdasarkan Usia........................ 52

Tabel 4.4 Deskriptif Responden Berdasarkan Masa Kerja ............. 53


viii
Halaman

Tabel 4.5 Deskriptif Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Akhir ............................................................................ 53

Tabel 4.6 Penyajian Data Angket Variabel Pengetahuan Dewan Tentang

Anggaran (X) ............................................................... 54

Tabel 4.7 Penyajian Data Angket Variabel Transparansi Kebijakan

Publik (Z) ..................................................................... 55

Tabel 4.8 Penyajian Data Angket Variabel Pengawasan Keuangan

Daerah (Y) ................................................................... 57

Tabel 4.9 R-square ....................................................................... 60

Tabel 4.10 f-square ........................................................................ 61

Tabel 4.11 Path Coefficient ........................................................... 63

ix
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ........................................................ 36

Gambar 3.1 Model Struktural PLS ................................................... 47

Gambar 4.1 Model Struktural PLS ................................................... 59

Gambar 4.2 Output R-square ........................................................... 60

Gambar 4.3 Output f-square ............................................................. 62

Gambar 4.4 Output Path Coefficient ................................................. 63

x
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Perubahan sistem politik, sosial dan kemasyarakatan serta ekonomi yang

dibawa oleh arus reformasi telah menimbulkan tuntutan yang beragam terhadap

pengelolaan pemerintah yang baik. Tuntutan ini perlu dipenuhi dan didasari

langsung oleh para manajer pemerintah daerah. Seiring dengan PP No. 105/2000

yang diganti menjadi PP No. 58/2005 mensyaratkan perlu diberlakukannya

pertanggungjawaban (akuntabilitas) dalam bentuk laporan keuangan (neraca

daerah, arus kas dan realisasi anggaran) oleh kepala daerah. Reformasi yang

diperjuangkan oleh seluruh lapisan masyarakat membawa perubahan dalam

kehidupan politik nasional maupun daerah. Salah satu agenda reformasi tersebut

adalah adanya desentralisasi keuangan dan otonomi daerah.

Pengawasan keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah

dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang

termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan

kewajiban daerah tersebut, dalam kerangka anggaran pendapatan belanja daerah

(APBD) (PP No. 105 Tahun 2000). Kegiatan pengawasan sebagai fungsi

manajemen bermaksud untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kegagalan

yang terjadi setelah perencanaan dibuat dan dilaksanakan. Dalam rangka

mewujudkannya, terlaksananya penyelenggaraan daerah yang baik, yaitu yang

transparan dan akuntabel, efektif dan efisien, serta profesional dan

11
12

bertanggungjawab. Akan tetapi yang terjadi di lingkungan DPRD belakangan ini

mengindikasikan bahwa masih minimnya pengawasan yang dilakukan oleh

DPRD. Salah satu sebab utamanya adalah tidak terselesaikannya pembangunan

Tugu Raja Sang Naualuh Damanik yang sudah direncanakan sejak tahun 2012.

Pada masa itu, Tugu Raja Sang Naualuh ditetapkan di Jalan Sang

Naualuh, di seputaran bundaran berhadapan dengan Taman Makam Pahlawan dan

Ramayana. Hefriansyah, melalui surat Walikota Siantar No:600/5289/X/2018

tertanggal 29 Oktober 2018, sukses memindahkan lokasi yang telah disepakati, di

Lapangan Merdeka ke Lapangan H Adam Malik.

Melalui kontrak, kemudian dikeluarkan surat perjanjian kerja konstruksi

No:00001/Kontrak/[Link]/1.03.0101/X/2018, tertanggal 19 Oktober 2018

dengan Anggaran APBD TA 2018 senilai Rp 1,8 Milyar. Pembangunan pelataran

dan landasan tempat berdirinya patung dilaksanakan tahun 2018, dengan

pembuatan dan pemasangan patung dilakukan pada tahun 2019, dengan sumber

dana APBD TA 2018 dan APBD TA 2019.

Saat ini pembangunan Tugu Raja Sang Naualuh terhenti dan tidak

dilanjutkan. Penyusunan anggaran harus diawasi mulai dari tahan perencanaan

anggaran, pelaksanaannya serta pelaporan. Pengawasan yang dilakukan oleh

anggota DPRD dilakukan untuk memastikan agar anggaran yang disusun sesuai

dengan perencanaan, menjaga agar pelaksaan APBD sesuai dengan anggaran yang

telah digariskan dan menjaga hasil pelaksanaan APBD benar-benar dapat

dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini, minimnya pengawasan yang dilakukan

DPRD sehingga dalam pelaksaan pembangunan Tugu Raja Sang Naualuh


13

terhenti. Dengan kata lain, ini adalah salah satu contoh kegagalan pemerintah

dalam mengelola dan mengawasi anggaran.

Pengawasan anggaran yang dilakukan oleh dewan dipengaruhi oleh

faktor internal dan faktor eksternal (Pramono, 2002). Faktor Internal adalah faktor

yang dimilki oleh dewan yang berpengaruh secara langsung terhadap pengawasan

yang dilakukan oleh dewan, salah satunya adalah pengetahuan tentang anggaran.

Pengetahuan anggota DPRD tentang anggaran yang diartikan sebagai

pengetahuan dewan terhadap mekanisme penyusunan anggaran mulai dari tahap

perencanaan sampai pada tahap pertanggungjawaban serta pengetahuan anggota

dewan tentang peraturan perundang-undangan yang mengatur pengelolaan

keuangan daerah (APBD). Dalam hal ini, pendidikan anggota DPRD yang rata-

rata sudah strata satu walaupun dari lulusan yang berbeda-beda diharapkan

mampu mengimplementasikan pengetahuan yang dimilikinya agar tidak terjadi

pemborosan anggaran yang berkelanjutan serta mengetahui prosedur pelaksanaan

tugas. Dari segi pengalaman, anggota DPRD Kota Pematangsiantar bukan berasal

dari instansi pemerintahan. Mereka dari latar belakang yang berbeda-beda dan

cukup bervasiasi.

Dalam hal yang berkaitan dengan tujuan untuk mengetahui faktor

eksternal dalam pengawasan keuangan daerah yaitu transparansi kebijakan publik.

Transparansi kebijakan publik merupakan prinsip yang menjamin kebebasan bagi

setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaran pemerintah

atau keterbukaan pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan keuangan

daerah sehingga dapat diketahui dan diawasi oleh DPRD dan masyarakat. Sampai
14

saat ini, kejelasan dan kelengkapan informasi masih kurang transparan dan sulit

untuk didapat baik melalui wawancara langsung maupun situs website. Seperti

kejelasan penggunaan anggaran yang belum di publish ke masyarakat, seberapa

besar keterserapannya dalam penggunaan APBD.

Dari beberapa penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti terdahulu

mendapatkan hasil penelitian yang berbeda-beda. Seperti penelitian yang

dilakukan oleh Isma Coryanata dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa

pengetahuan dewan tentang anggaran berpengaruh positif dan signfikan terhadap

pengawasan keuangan daerah. Hasil lainnya menunujukkan bahwa semua variabel

yang diturunkan yaitu akuntabilitas, partisipasi masyarakat, dan transparansi

kebijakan publik disebut dengan variabel pemoderasi, semuanya ikut

mempengaruhi hubungan antara pengetahuan dewan tentang anggaran dengan

pengawasan keuangan daerah secara signifikan. Sedangkan penelitian yang

dilakukan oleh Jufri Darma, dkk dengan hasil penelitian pengujian hipotesis 1

menunjukkan bahwa pengetahuan anggota dewan tentang anggaran tidak

berpengaruh secara signifikan terhadap pengawasan keuangan daerah. hasil

pengujian hipotesis 2 menunjukkan bahwa pengaruh antara pengetahuan anggota

dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah dimoderat

variabel partisipasi masyarakat.

Melihat ketidak konsistenan hasil beberapa penelitian tersebut dan

menyadari pentingnya pengetahuan dewan tentang anggaran dalam melakukan

pengawasan keuangan daerah serta transparansi kebijakan publik sebagai prinsip

untuk melakukan kebijakan publik, maka penulis tertarik untuk melakukan


15

penelitian dengan judul “Pengaruh Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran

Terhadap Pengawasan Keuangan Daerah Dengan Transparansi Kebijakan Publik

Sebagai Variabel Moderasi Pada DPRD Kota Pematangsiantar”.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis

mengidentifikasi masalah yang ada dalam penelitian ini adalah:

1. Minimnya pengawasan yang dilakukan oleh DPRD.

2. Pengetahuan anggota dewan terkait dengan sistem penganggaran belum

maksimal.

3. Minimnya kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam kejelasan

dan kelengkapan Informasi APBD.

1.3. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas,

maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah:

1. Apakah pengetahuan dewan tentang anggaran berpengaruh terhadap

pengawasan keuangan daerah pada DPRD kota Pematangsiantar.

2. Apakah transparansi kebijakan publik mampu memoderasi pengetahuan

dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah pada DPRD

kota Pematangsiantar.
16

1.4. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dijelaskan tujuan penelitian

ini adalah:

a. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh pengetahuan dewan tentang

anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah pada DPRD kota

Pematangsiantar.

b. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh pengetahuan dewan tentang

anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah dengan transparansi

kebijakan publik sebagai variabel moderasi pada DPRD kota

Pematangsiantar.

1.5. Manfaat penelitian

Adapun manfat penelitian ini adalah:

1) Pengembangan Ilmu

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan juga pengetahuan

bagi peneliti dan memberikan sumbangan terhadap pengembangan ilmu

pengetahuan khususnya dalam bidang Akuntansi Sektor Publik yang berkaitan

dengan pengetahuan, transparansi publik dan pengawasan keuangan daerah dan

sebagai referensi bagi peneliti lain yang berkeinginan melakukan penelitian

sejenis.

2) Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran agar

dapat meningkatkan pengawasan keuangan pada DPRD kota pematangsiantar dan

juga digunakan sebagai acuan untuk perbaikan pengawasan keuangan pada DPRD
17

kota pematangsiantar sehingga nantinya diharapkan dapat memberikan pelayanan

yang terbaik kepada masyarakat.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Pengawasan Keuangan Daerah

[Link]. Pengertian Pengawasan

Pengawasan sebagai salah satu fungsi manajemen dalam pencapaian

tujuan, memegang peranan yang sangat penting karena dengan adanya

pengawasan kemungkinan terjadinya penyimpangan dapat dicegah, sehingga

usaha untuk mengadakan perbaikan atau koreksi dapat segera dilakukan. Menurut

Terry dalam kutipan Winardi (2011, hal 395), pengawasan sebagai

mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi prestasi

kerja dan apabila perlu, menerapkan tindakan-tindakan korektif sehingga hasil

pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Menurut Siagian (2014,

hal 213), mengemukakan bahwa proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh

kegiatan organisasi untuk menjamin semua agar semua pekerjaan yang sedang

dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.

Sedangkan pengawasan atau penyelenggaraan pemerintah daerah

menurut peraturan pemerintah No. 79 Tahun 2005 Pasal 1 tentang Pedoman

Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah menyatakan

bahwa pengawasan atau penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah proses

kegiatan yang ditujukan untuk menjamin agar pemerintahan daerah berjalan

18
19

secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas maka penulis menyimpulkan

bahwa pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan

pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil sesuai dengan

kinerja yang ditetapkan tersebut.

[Link]. Keuangan Daerah dan Ruang Lingkupnya

Sejak masa reformasi masalah keuangan daerah merupakan masalah

yang banyak dibicarakan dalam konteks sektor publik. Halim (2001, hal 19),

mengartikan keuangan daerah sebagai semua hak dan kewajiban yang dapat

dinilai dengan uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa uang maupun

barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah sepanjang itu belum

dimiliki/dikuasai oleh Negara atau daerah yang lebih tinggi serta pihak-pihak lain

sesuai ketentuan/peraturan Undang-undang yang berlaku.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun

2005, tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dalam ketentuan umumnya

menyatakan bahwa keuanagan daerah adalah semua hak dan kewajiban dalam

rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang

termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan daerah tersebut. Kebijakan

keuangan daerah senantiasa diarahkan pada tercapainya sasaran pembangunan,

terciptanya perekonomian daerah yang mandiri sebagai usaha bersama atas asas

kekeluargaan berdasarkan demokrasi ekonomi yang berdasarkan Pancasila dan


20

Undang-Undang Dasar 1945 dengan peningkatan kemakmuran rakyat yang

merata.

Menurut Mamesah dalam Halim (2002, hal 19), menyatakan bahwa

keuangan daerah dapat diartikan sebagai semua hak dan kewajiban yang dapat

dinilai dengan uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa uang maupun

barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah sepanjang belum dimiliki oleh

negara atau daerah yang lebih tinggi serta pihak-pihak lain sesuai peraturan

perundangan yang berlaku.

Menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003, pada rancangan

Undang-Undang atau Peraturan Daerah tentang Laporan Keuangan Pemerintah

Pusat/Daerah disertakan atau dilampirkan informasi tambahan mengenai kinerja

instansi pemerintah, yakni prestasi dicapai oleh penggunaan anggaran sehubungan

dengan anggaran yang telah digunakan pengungkapan informasi tentang kinerja

ini adalah relevan dengan perubahan paradigma penganggaran pemerintah yang

ditetapkan dengan mengidentifikasikan secara jelas keluaran (outputs) dan setiap

kegiatan dari hasil (outcome) dari setiap program untuk keperluan tersebut, perlu

disusun suatu sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yang terintegrasi

dengan sistem akuntansi pemerintah tersebut sekaligus dimaksudkan untuk

menggantikan ketentuan yang termuat dalam Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun

1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, sehingga dihasilkan suatu

laporan keuangan dan kinerja yang terpadu.

Sedangkan pengertian keuangan daerah menurut Keputusan Menteri

Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 yang sekarang berubah menjadi


21

Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengurusan,

Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah Serta Tata Cara

Penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBD) adalah semua hak dan

kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat

dinilai dengan uang termaksud didalamnya segala bentuk kekayaan yang

berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah, dalam kerangka anggaran

pendapatan dan belanja daerah.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa

keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah yang dapat dinilai

dengan uang ataupun segala bentuk kekayaan daerah tersebut yang berhubungan

dengan hak, kewajiban dan juga penyelengaraan pemerintahan daerah tersebut.

[Link]. Undang-Undang Pelaksanaan Keuangan Daerah

Menurut Mahmudi dalam Forum Dosen Akuntansi Sektor Publik (2006,

hal 23), menyatakan bahwa perjalanan reformasi manajemen kauangan daerah,

dilihat dari aspek historis, dapat dibagi dalam tiga fase, yaitu era sebelum otonomi

daerah, era transisi otonomi, dan era pascatransisi.

Era pra-otonomi daerah merupakan pelaksanaan otonomi ala orde baru

mulai Tahun 1975 sampai 1999. Era transisi ekonomi adalah masa antara sebelum

1999 hingga 2004, dan era pascatransisi adalah masa setelah diberlakukannya

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-

Undang Nomor 1 Tahun 2004, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004, Undang-

Undang Nomor 32 dan 33 Tahun 2004.


22

Tabel 2.1
Perkembangan Hukum di Bidang Keuangan Daerah
Pra-Otonomi Daerah Transisi Otonomi Pascatransisi Otonomi
dan Desentralisasi
Fiskal 1999
Keputusan KDH
UU No. 5 Tahun 1974 UU No. 22 Tahun 1999
UU No. 17 Tahun 2003
UU No. 25 Tahun 1999
UU No. 1 Tahun 2004
PP No. 5 dan 6 Tahun PP No. 105 Tahun 2000 UU No. 15 Tahun 2004
1975
UU No. 25 Tahun 2004

Manual Administrasi Kepmendagri No. 29 PP No. 24 Tahun 2005


Keuangan Daerah Tahun 2002
PP No. 58 Tahun 2005

Peraturan Daerah
Permendagri No. 13
Tahun 2006

Permendagri No. 59
Keputusan KDH Tahun 2007

Sumber: Diolah dari Forum Dosen Akuntansi, 2007

Pada era reformasi, dalam manajemen keuangan daerah terdapat

reformasi pelaksanaan seiring dengan adanya otonomi daerah. Adapun peraturan

pelaksanaannya menurut Halim (2001, hal 3), telah dikeluarkan oleh pemerintah

yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang sekarang

berubah menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah

Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 yang sekarang berubah

menjadi Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan

Antara Pusat dan Pemerintah Daerah, adalah sebagai berikut:


23

a) Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan.

b) Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan

Pertanggungjawaban Keuangan Daerah.

c) Peraturan pemerintah Nomor 107 Tahun 2000 tentang Pinjaman Daerah.

d) Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tata Cara

Pertanggungjawaban Kepala Daerah.

e) Surat Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah tanggal 17 November 2000

Nomor 903/235/SJ tentang pedoman umum Penyusunan dan Pelaksanaan

APBD Tahun Anggaran 2001.

Berdasarkan peraturan-peraturan tersebut, karakteristik manajemen

keuangan daerah pada era reformasi antara lain:

a) Pengertian daerah adalah provinsi dan kota atau kabupaten.

b) Pengertian pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat lainnya.

Pemerintah daerah ini adalah badan eksekutif, sedangkan badan legislatif di

daerah adalah DPRD.

c) Perhitungan APBD menjadi satu dengan pertanggungjawaban kepala daerah

(Pasal 5 PP Nomor 108 Tahun 2000).

d) Bentuk laporan pertanggungjawaban akhir terdiri dari laporan perhitungan

APBD, nota perhitungan APBD, laporan aliran kas, dan neraca daerah

dilengkapi dengan kinerja berdasarkan tolak ukur Renstra (Pasal 38 PP

Nomor 105 Tahun 2000).


24

e) Pinjaman APBD tidak lagi masuk dalam pos pendapatan (yang menunjukkan

hak pemerintah daerah), tetapi masukan dalam pos penerimaan (yang belum

tentu menjadi hak pemerintah daerah).

f) Masyarakat termaksud dalam unsur-unsur penyusunan APBD disamping

pemerintah daerah yang terdiri atas kepala daerah dan APBD.

g) Indikator kinerja pemerintah daerah tidak hanya mencakup perbandingan

antara anggaran dengan realisasinya, perbandingan standar biaya dengan

realisasinya serta target dan persentase fisik proyek tetapi juga meliputi

standar pelayanan yang diharapkan.

h) Laporan pertanggungjwaban daerah pada akhir tahun anggaran yang

bentuknya laporan perhitungan APBD dibahas oleh DPRD dan mengandung

konsekuensi terhadap masa jabatan kepala daerah apabila dua kali ditolak

oleh DPRD.

Dalam peraturan di atas, terutama Peraturan Pemerintah Nomor 105

Tahun 2000, dapat dilihat 6 (enam) pergeseran anggaran daerah secara umum dari

era pra reformasi ke era pasca reformasi yaitu:

a) Dari vertical accountability menjadi horizontal accountability.

b) Dari traditional buget menjadi performance buget.

c) Dari pengendalian dan audit keuangan ke pengendalian dan audit keuangan

dan kinerja.

d) Lebih menerapkan konsep value for money.

e) Penerapan pusat pertanggjawaban.

f) Perubahan sistem akuntansi keuangan pemerintah.


25

Atas dasar itu maka pemerintah mengeluarkan PP Nomor 58 Tahun 2005

tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006

tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagai pengganti PP Nomor

105 Tahun 2000 dan Kepmendagri No.29 Tahun 2002.

PP No. 58 Tahun 2005 merupakan pengganti dari PP No. 105 Tahun

2000 tentang pengelolaan dan pertanggungjwaban kauangan daerah yang selama

ini dijadikan sebagai landasan hukum dan penyusunan APBD, pelaksanaan,

penatausahaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah. Substansi materi kedua

PP dimaksud, memiliki persamaan yang sangat mendasar khususnya landasan

filosofis yang mengedepankan prinsip efisiensi, efektifitas, transparansi dan

akuntabilitas. Sedangkan perbedaan, dalam pengaturan yang baru dilandasi

pemikiran yang lebih mempertegas dan menjelaskan pengelolaan keuangan

daerah, sistem dan prosedur serta kebijakan lainnya yang perlu mendapatkan

perhatian dibidang penatausahaan, akuntansi, pelaporan dan pertanggungjawaban

keuangan daerah.

Tujuan dikeluarkannya PP No. 58 Tahun 2005 dan Permendagri No. 13

Tahun 2006 adalah agar pemerintah daerah dapat menyusun Laporan Keuangan

sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yaitu PP No. 24 yang merupakan

panduan atau pedoman bagi pemerintah daerah dalam menyajikan keuangan yang

standar, bagaimana perlakuan akuntansi, serta kebijakan akuntansi.


26

[Link]. Konsep Pengawasan Keuangan Daerah (APBD)

Halim (2007, hal 52), mengartikan bahwa pengawasan keuangan daerah

yang dimaksud adalah pengawasan APBD, terutama jika dilihat dari komponen

utamanya, sehingga pengertian pengawasan APBD dapat diartikan sebagai segala

kegiatan untuk menjamin agar pengumpulan-pengumpulan pendapatan daerah,

dan pembelanjaan pengeluaran-pengeluaran daerah berjalan sesuai dengan

rencana, aturan-aturan dan tujuan yang telah ditetapkan. Adapun tujuan utama

pengawasan pada dasarnya adalah untuk membandingkan antara yang seharusnya

terjadi dengan yang sesungguhnya terjadi dalam rangka mencapai suatu tujuan

tertentu.

Halim (2012, hal 55-57), juga menjelaskan jenis-jenis pengawasan

APBD yang dapat dibedakan berdasarkan objek yang diawasi, sifat pengawasan,

dan metode pengawasannya. Pengawasan yang dilakukan oleh dewan

(pengawasan legislatif) dapat berupa pengawasan secara langsung dan tidak

langsung serta preventif dan reprensif. Pengawasan langsung dilakukan secara

pribadi cara mengamati, meneliti, memeriksa, mengecek sendiri di tempat

pekerjaan dan meminta secara langsung dari pelaksana dengan cara inspeksi.

Sedangkan pengawasan tidak langsung dilakukan dengan cara mempelajari

laporan yang diterima dari pelaksana. Pengawasan preventif dilakukan melalui

pre-audit yaitu sebalum pekerjaan dimulai. Pengawasan represif dilakukan

melalui post-audit dengan pemeriksaan terhadap pelaksanaan di tempat atau

inspeksi (Coryanata, 2007).


27

[Link]. Peran DPRD dalam Pengawasan Keuangan Daerah

Keputusan Menteri dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang

Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Kauangan Daerah

serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah,

Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah telah disebutkan dengan jelas bahwa

peran DPRD dalam pengawasan keuangan daerah ini yaitu melaksanakan

pengawasan terhadap pelaksanaan APBD, pengawasan yang dimaksud bukan

pemeriksaan keuangan, tetapi pengawasan agar lebih tercapai sasaran yang telah

ditetapkan. Pengawasan yang dilakukan oleh DPRD bukan pula pengawasan yang

bersifat teknis, namun pengawasan oleh DPRD (Pengawasan legislatif) yang bisa

dilakukan secara preventif dan represif, serta secara langsung maupun tidak

langsung sesuai dengan ruang lingkup tugas komisi yang dibidanginya.

Halim (2007, hal 51), juga berpendapat bahwa aspek pengawasan

keuangan daerah adalah suatu aspek yang meliputi seluruh tahap dalam proses

penganggaran, sehinga jika dikaitkan dengan siklus APBD, aspek pengawasan

APBD seharusnya dapat dilaksanakan dengan baik mulai dari tahap perencanaan,

pelaksanaan maupun pertanggungjawaban APBD. Hal ini sesuai dengan pendapat

Mardiasmo (2009, hal 61), yang mengemukakan bahwa anggaran harus juga

diawasi mulai dari tahap proses APBD tersebut, disebabkan karena pengawasan

merupakan tahap integral dengan keseluruhan tahap mulai dari perencanaan,

pelaksanaan hingga pelaporan APBD. Hal ini hanya untuk menjamin tercapainya

sasaran yang telah ditetapkan. Indriani dan Baswir dalam Utomo (2011) serta
28

Pramita dan Andriyani (2010) juga menyatakan bahwa pengawasan keuangan

daerah (APBD) harus dimulai dari proses perencanaan hingga proses pelaporan.

Fungsi pengawasan tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

1) Perencanaan

Tahap ini DPRD memiliki peran dalam melakukan kegiatan diantaranya yaitu

menampung aspirasi masyarakat, menetapkan petunjuk dan kebijakan publik

tentang APBD serta menentukan kebijakan strategi dan prioritas dari APBD

tersebut, melakukan klarifikasi (diskusi APDB dalam rapat paripurna) serta

mengambil keputusan dan pengesahan dalam APBD.

2) Pelaksanaan

Peran DPRD dapat direalisasikan dengan melakukan evaluasi terhadap APBD

yang dilaporkan secara kuarter dan melakukan pengawasan lapangan melalui

inspeksi dan laporan realisasi anggaran, termasuk juga evaluasi terhadap

revisi atau perubahan anggaran. Hal tersebut dikarenakan adanya masalah

yang sering timbul pada tahap implementasi yaitu banyaknya revsisi dan

perubahan APBD.

3) Pelaporan

Peran dari DPRD dapat diimplementasikan dengan mengevaluasi laporan

riwulan/bulanan atau realisasi APBD secara keseluruhan (APBD tahunan)

dengan memeriksa laporan, catatan APBD juga inspeksi lapangan serta

menindaklanjuti apabila terjadi kejanggalan dalam laporan

Pertaggungjawaban APBD.
29

2.1.2. Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran

[Link]. Pengertian Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran

Dalam menjalankan fungsi dan peran anggota dewan, kapasitas dan

posisi anggota dewan sangat ditentukan oleh kemampuan bargaining position

dalam menghasilkan sebuah kebijakan. Menurut Peraturan Pemerintah (PP)

Nomor 105 Tahun 2000 yang berubah menjadi PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang

Pengelolaan dan Pertanggungjawaban menjelaskan bahwa pengawasan atas

anggaran dilakukan oleh dewan, dewan berwenang memerintah pemeriksaan

terhadap pengelolaan anggaran. Menurut Yuniarsih dan Suwatno (2008, hal 23),

pengetahuan adalah suatu informasi yang dimiliki seseorang khususnya pada

bidang spesifik.

Kaho (2005, hal 81), mengemukakan bahwa pengetahuan yang luas dan

mendalam akan memberikan kemampuan untuk mengartikulasi segala

kepentingan rakyat serta menentukan cara yang lebih tepat dan efesien.

Pengetahuan tersebut juga erat kaitannya dengan pendidikan dan pengalaman,

sehingga dalam pengawasan keuangan daerah anggota DPRD harus memiliki:

1) Pengetahuan tentang proses penyusunan APBD.

2) Pelaksanaan dan pelaporan penyusunan APBD.

Pengalaman dan pengetahuan yang tinggi akan membantu seseorang

dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya sesuai dengan kedudukan

anggota DPRD sebagai wakil rakyat (Sopanah et al, 2007). Oleh karena itu, maka

pengetahuan yang akan dibutuhkan anggota dewan dalam melaksanakan

pengawasan keuangan daerah ini adalah pengetahuan dewan tentang anggaran.


30

Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Werimon, Ghozali dan

Nazir (2007) bahwa pengetahuan dewan tentang anggaran adalah kemampuan

dewan dalam hal menyusun anggaran (RAPBD/APBD) dan deteksi serta

identifikasi terhadap pemborosan atau kegagalan, dan kebocoran anggaran.

Winarna dan Murni (2007) juga mendefinisikan bahwa pengetahuan anggota

DPRD tentang anggaran dapat diartikan sebagai pengetahuan dewan terhadap

mekanisme penyusunan anggaran mulai dari tahap perencanaan sampai pada

tahap pertanggungjawaban serta pengetahuan dewan untuk melakukan

pengawasan guna mencegah terjadinya pemborosan atau kegagalan dalam

pelaksanaan APBD.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dewan tentang anggaran

adalah kemampuan anggota dewan tentang penyusunan anggaran (APBD)

berdasarkan pengetahuan maupun pengalamannya.

[Link]. Lembaga Legislatif Daerah (DPRD)

Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan

daerah, Lembaga Legislatif Daerah (dikenal dengan istilah DPRD) adalah

lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan

daerah yang memiliki fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan. Urusan wajib

yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan

urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi:

1) Perencanaan dan pengendalian pembangunan.

2) Perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan tata ruang.

3) Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.


31

4) Penyediaan sarana dan prasarana umum.

5) Penanganan bidang kesehatan.

6) Penyelenggaraan pendidikan.

7) Penaggulangan masalah sosial.

8) Pelayanan bidang ketenagakerjaan.

9) Fasilitas pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah.

10) Pengendalian lingkungan hidup.

11) Pelayanan pertanahan.

12) Pelayanan kependudukan dan catatan sipil.

13) Pelayanan administrasi umum pemerintahan.

14) Pelayanan administrasi penanaman modal.

15) Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya.

16) Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.

Lembaga legislatif daerah kota/kabupaten berada di setiap

kota/kabupaten di Indonesia. Anggota legislatif berjumlah 30 orang dengan masa

jabatan adalah 5 tahun dan berakhir bersamaan pada saat anggota legislatif yang

baru mengucapkan sumpah/janji.

[Link]. Tugas dan Wewenang

Tugas dan wewenang lembaga legislatif daerah adalah:

1) Membentuk Peraturan Daerah yang dibahas dengan pimpinan daerah untuk

mendapat persetujuan bersama.

2) Menetapkan APBD bersama dengan kepala daerah.


32

3) Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan

peraturan perundang-undangan lainnya, keputusan kepala daerah, APBD,

kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan

daerah dan kerjasama internasional di daerah.

4) Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala dan wakil kepala

daerah kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur.

5) Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap

rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan daerah.

6) Meminta Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) dalam

pelaksanaan tugas desentralisasi daerah yang baru mengucapkan

sumpah/janji.

Anggota legislatif daerah (DPRD) memiliki hak interpelasi, hak angket

dan hak menyatakan pendapat. Anggota legislatif daerah (DPRD) juga memiliki

hak mengajukan Rancangan Perda, mengajukan pertanyaan, menyampaikan usul

dan pendapat, membela diri, hak imunitas serta hak protokoler.

1) Hak anggaran

DPRD bersama kepala daerah menyusun dan membahas Rancangan

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) yang selanjutnya

ditetapkan dalam Peraturan Daerah. Hal ini dilakukan juga oleh dewan dalam

perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah

dilaksanakan. Hal tersebut masing-masing dilakukan oleh dewan dan

eksekutif pada RAPBD yang disampaikan oleh eksekutif kepada dewan

setiap akan berakhirnya anggaran yang sedang berjalan, RAPBD tersebut


33

dibahas dan disempurnakan yang akhirnya setelah disepakati maka

dituangkan dalam Perda. Perubahan anggaran dilakukan oleh dewan bersama

eksekutif pada triwulan ke III sebelum memasuki triwulan ke IV, dan

perhitungan APBD dilakukan selambat-lambatnya enam bulan setelah

berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan.

2) Hak mengajukan pertanyaan bagi masing-masing anggota

Setiap anggota DPRD dapat mengajukan pertanyaan kepada kepala daerah.

Pertanyaan dapat berbentuk tertulis maupun lisan. Kepala daerah dapat

menjawab pertanyaan anggota dewan tersebut secara tertulis maupun lisan

pula.

3) Hak meminta keterangan

Sekurang-kurangnya lima anggota dewan yang tidak hanya terdiri dari satu

fraksi dapat mengajukan usul kepada Dewan untuk meminta keterangan

tentang kebijaksanaan Kepala Daerah. Usul tersebut disampaikan kepada

pimpinan Dewan.

4) Hak meminta perubahan

Hak ini adalah untuk mengajukan perubahan terhadap rancangan Peraturan

daerah. Perubahan yang dimaksudkan bisa bersifat menambah, mengurangi

maupun menyempurnakan baik pasal maupun redaksi dari suatu rancangan

Peraturan Daerah yang sedang dibahas.

5) Hak mengajukan penyataan pendapat

Sekurang-kurangnya lima anggota dewan dapat mengajukan suatu usul

pernyataan pendapat atau usul lain, usul tersebut dapat disampaikan dalam
34

Sidang Pleno. Pembicaraan usul ini diakhiri dengan keputusan Dewan yang

menyatakan menerima atau menolak usul pernyataan pendapat tersebut.

Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan

Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD dalam melaksanakan tugas dan

wewenangnya, DPRD berhak meminta pejabat negara tingkat kota/kabupaten,

pejabat pemerintah daerah, badan hukum, atau warga masyarakat untuk

memberikan keterangan.

[Link]. Dimensi dan Indikator Pengetahuan

Dimensi itu mempunyai pengertian suatu batas yang mengisolir

keberadaan suatu eksistensi. Sedangkan indikator adalah variabel yang digunakan

untuk mengevaluasi keadaan atau kemungkinan dilakukan pengukuran terhadap

perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Dimensi dan indikator

yang digunakan dalam penelitian ini mengadaptasi teori yang diutarakan oleh

Yuniarsih dan Suwatno (2008, hal 23), yang dibagi kedalam dimensi dan

indikator seperti berikut:

1) Dimensi Pendidikan

Dengan indikator sebagai berikut:

a) Kesesuaian latar belakang pendidikan anggota dewan dengan pekerjaan.

b) Pengetahuan anggota dewan tentang prosedur pelaksanaan tugas.

c) Pemahaman anggota dewan terhadap prosedur pelaksanaan tugasnya.

2) Dimensi Pengalaman

Dengan indikator sebagai berikut:

a) Pengalaman kerja yang dimiliki anggota dewan.


35

b) Prestasi kerja yang dimiliki anggota dewan.

c) Ketenangan anggota dewan saat bekerja.

3) Dimensi Minat

Dengan indikator sebagai berikut:

a) Kehadiran.

b) Kepatuhan.

c) Sikap terhadap pekerjaan.

Sedangkan menurut Kaho (2005, hal 81), pengetahuan yang luas dan

mendalam akan memberikan kemampuan untuk mengartikulasi segala

kepentingan rakyat serta menentukan cara yang lebih tepat dan efisien.

Pengetahuan tersebut sangat erat kaitannya dengan indikator sebagai berikut:

1) Pendidikan.

2) Pengalaman.

2.1.3. Transparansi Kebijakan Publik

[Link]. Pengertian Transparansi

Transparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas. Seluruh

proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat diakses oleh

pihak-pihak yang berkepentingan dan informasi yang tersedia harus memadai agar

dapat dimengerti dan dipantau. Menurut Lalolo (2003, hal 13), transparansi adalah

prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh

informasi tentang penyelenggaraan pemerintah, yakni informasi tentang

kebijakan, proses pembuatan serta hasil yang dicapai.


36

Menurut Didjaja (2000, hal 261), transparansi adalah keterbukaan

pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan sehingga dapat diketahui oleh

masyarakat. Transparansi pada akhirnya akan menciptakan akuntabilitas antara

pemerintah dengan rakyat. Sedangkan menurut Mardiasmo dalam Kristianten

(2006, hal 45), menyebutkan transparansi adalah keterbukaan pemerintah dalam

memberikan informasi yang berkaitan dengan aktifitas pengeloaan sumber daya

publik kepada pihak yang membutuhkan yaitu masyarakat.

Dari beberapa pendapat ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwa

transparansi adalah keterbukaan pemerintah yang berisi peraturan-peraturan yang

dibuat untuk mencapai tujuan bersama.

[Link]. Pengertian Kebijakan Publik

Lingkup dari studi kebijakan publik sangat luas karena mencakup

berbagai bidang dan sektor seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, dan

sebagainya. Disamping itu dilihat dari hirarkinya kebijakan publik dapat bersifat

nasional, regional maupun lokal seperti undang-undang, peraturan pemerintah,

peraturan presiden, peraturan menteri, peraturan pemerintah daerah/provinsi,

keputusan gubernur, peraturan daerah kabupaten/kota, dan keputusan

bupati/walikota.

Secara Terminologi pengertian kebijakan publik (public policy) itu

ternyata banyak sekali, tergantung dari sudut mana kita mengartikannya. Easton

memberikan definisi kebijakan publik sebagai the authoritative allocation of

values for the whole society atau sebagai pengalokasian nilai-nilai secara paksa

kepada seluruh anggota masyarakat. Laswell dan kaplan juga mengartikan


37

kebijakan publik sebagai a projected program of goal, value, and practice atau

sesuatu program pencapaian tujuan, nilai-nilai dalam praktek-praktek yang

terarah.

Pressman dan Widavsky sebagaimana dikutip Budi Winarno (2002, hal

17), mendefinisikan kebijakan publik sebagai hipotesis yang mengandung

kondisi-kondisi awal dan akibat-akibat yang bias diramalkan. Kebijakan publik itu

harus dibedakan dengan bentuk-bentuk kebijakan yang lain misalnya kebijakan

swasta. Hal ini dipengaruhi oleh keterlibatan faktor-faktor bukan pemerintah.

Robert Eyestone sebagaimana dikutip Leo Agustino (2008, hal 6), mendefinisikan

kebijakan publik sebagai hubungan antara unit pemerintah dengan lingkungannya.

Banyak pihak yang beranggapan bahwa defeinisi tersebut masih luas untuk

dipahami, karena apa yang dimaksud dengan kebijakan publik dapat mencakup

banyak hal.

Sedangkan menurut Woll sebagaimana dikutip Tangkilisan (2003, hal 2),

menyebutkan bahwa kebijakan ialah sejumlah aktivitas pemerintah untuk

memecahkan masalah di masyarakat, baik secara langsung maupun melalui

berbagai lembaga yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Berdasarkan pendapat berbagai ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa

kebijakan publik merupakan tindakan berupa keputusan maupun peraturan yang

dibuat pemerintah yang bertujuan untuk memecahkan masalah publik maupun

kepentingan publik.
38

[Link]. Undang-undang tentang Keterbukaan Informasi Publik

Undang-undang No. 14 tahun 2008, tentang keterbukaan informasi

publik adalah salah satu produk hukum Indonesia yang dikeluarkan dalam tahun

2008 dan diundangkan pada tanggal 30 April 2008 dan mulai berlaku dua tahun

setelah diundangkan. Undang-undang yang terdiri dari 64 pasal ini pada intinya

memberikan kewajiban kepada setiap Badan Publik untuk membuka akses bagi

pemohon informasi publik untuk mendapatkan informasi publik, kecuali beberapa

informasi tertentu.

UU KIP, atau Undang-undang No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan

Informasi Publik sangat penting sebagai landasan hukum yang berkaitan dengan

(1) hak setiap orang untuk memperoleh informasi, (2) kewajiban Badan Publik

menyediakan dan melayani permintaan informasi secara cepat, tepat waktu, biaya

ringan/proporsional, dan cara sederhana, (3) pengecualian bersifat ketat dan

terbatas, (4) kewajiban Badan Publik untuk membenahi sistem dokumentasi dan

pelayanan informasi.

Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi

Publik menegaskan sebagaimana dalam pasal 28 F Undang-undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyebutkan bahwa setiap orang berhak

untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi

dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki,

dan menyimpan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang

tersedia.
39

Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi

Publik menggaris bawahi dengan tebal bahwa salah satu elemen penting dalam

mewujudkan penyelenggaraan negara yang terbuka adalah hak publik untuk

memperoleh informasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hak atas

informasi menjadi sangat penting karena makin terbuka penyelenggaraan negara

untuk diawasi publik, penyelenggaraan negara tersebut makin dapat

dipertanggungjawabkan. Hak setiap orang untuk memperoleh informasi juga

relevan untuk meningkatkan kualitas pelibatan masyarakat dalam proses

pengambilan keputusan publik. Partisipasi atau pelibatan masyarakat tidak banyak

berarti tanpa jaminan keterbukaan informasi publik.

Setiap badan publik mempunyai kewajiban untuk membuka akses atas

informasi publik yang berkaitan dengan badan publik tersebut untuk masyarakat

luas. UU KIP menjelaskan bahwa lingkup badan publik dalam undang-undang

meliputi lembaga eksekutif, yudikatif, legislatif, serta penyelenggara negara

lainnya yang mendapatkan dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

(APBN)/ Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan mencakup pula

organisasi nonpemerintah, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak

berbadan hukum, seperti lembaga swadaya masyarakat, perkumpulan, serta

organisasi lainnya yang mengelola atau menggunakan dana yang sebagian atau

seluruhnya bersumber dari APBN/APBD, sumbangan masyarakat dan/atau luar

negeri.

Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi

Publik disahkan pada tanggal 30 April 2008 di Jakarta oleh Presiden Dr. H. Susilo
40

Bambang Yudhoyono. Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang

Keterbukaan Informasi Publik diundangkan di Jakarta pada tanggal 30 April 2008

oleh Menkumham Andi Mattalatta.

Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi

Publik ditempatkan pada Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2008

nomor 61. Penjelasan atas Undang-undang nomor 14 tahun 2008 tentang

Keterbukaan Informasi Publik ditempatkan pada Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia nomor 4846, agar semua orang mengetahuinya.

[Link]. Indikator Transparansi

Prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk

memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi

mengenai kebijakan, proses pembuatan, pelaksanaan dan hasil yang dicapai.

Menurut Krina (2003, hal 17), indikator-indikator dan transparansi adalah sebagai

berikut:

1) Penyediaan informasi yang jelas tentang tanggung jawab.

2) Kemudahan akses informasi.

3) Menyusun suatu mekanisme pengaduan jika ada peraturan yang dilanggar

atau permintaan untuk membayar uang suap.

4) Meningkatkan arus informasi melalui kerjasama dengan media massa dan

lembaga non pemerintah.


41

Menurut Kristianten (2006, hal 73), menyebutkan bahwa transparansi

dapat diukur melalui beberapa indikator yaitu sebagai berikut:

1) Kesediaan dan aksestabilitas dokumen.

2) Kejelasan dan kelengkapan informasi.

3) Keterbukaan proses.

4) Kerangka regulasi yang menjamin transparansi.

Sedangkan transparansi merujuk pada ketersediaan informasi pada

masyarakat umum dan kejelasan tentang peraturan perundang-undangan dan

keputusan pemerintah, dengan indikator sebagai berikut:

1) Akses pada informasi yang akurat dan tepat waktu.

2) Penyediaan informasi yang jelas tentang prosedur dan biaya.

3) Kemudahan akses informasi.

4) Menyusun suatu mekanisme pengaduan jika terjadi pelanggaran.

2.2. Kajian Penelitian yang Relevan

Kajian penelitian yang relevan berisi tentang data hasil penelitian yang

pernah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya yang memiliki relevansi dengan

penelitian ini. Adapun beberapa penelitian terdahulu yang relevan sebagai berikut:
42

Tabel 2.2
Penelitian yang Relevan
Nama Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian
Isma Akuntabilitas, Variabel Independen: Hasil penelitian menunjukkan
Coryanata Partisipasi Pengetahuan Dewan bahwa pengetahuan dewan
(2012) Masyarakat dan tentang Anggaran tentang anggaran berpengaruh
Transparansi positif dan signfikan terhadap
Kebijakan Publik Variabel Dependen: pengawasan keuangan daerah.
Sebagai Pemoderasi Pengawasan Hasil lainnya menunujukkan
Hubungan Keuangan Daerah bahwa semua variabel yang
Pengetahuan diturunkan yaitu akuntabilitas,
Dewan Tentang Variabel Pemoderasi: partisipasi masyarakat, dan
Anggaran dan Akuntabilitas, transparansi kebijakan publik
Pengawasan Partsisipasi disebut dengan variabel
Keuangan Daerah Masyarakat, dan pemoderasi, semuanya ikut
Transparansi mempengaruhi hubungan antara
Kebijakan Publik pengetahuan dewan tentang
anggaran dengan pengawasan
keuangan daerah secara
signifikan.
Yuni Pengaruh Variabel Independen: Hasil penelitian menunjukkan
Setyawati Pengetahuan Pengetahuan bahwa pengaruh pengetahuan
(2010) Anggaran Anggota Anggaran Anggota anggaran anggota dewan terhadap
Dewan Terhadap Dewan pengawasan keuangan daerah
Pengawasan tidak dimoderasi oleh partisipasi
Keuangan Daerah Variabel Dependen: masyarakat. Hasil lainnya
(APBD) Dengan Pengawasan pengaruh pengetahuan anggaran
Partisipasi Keuangan Daerah anggota dewan terhadap
Masyarakat dan (APBD) pengawasan keuangan daerah
Transparansi tidak dimoderasi oleh transparansi
Kebijakan Publik Variabel Pemoderasi: kebijakan publik.
Sebagai Variabel Partisipasi
Pemoderasi Masyarakat dan
Transparansi
Kebijakan Publik
Amelia A. Pengaruh Variabel Independen: Hasil penelitian menunjukkan
A. Pengetahuan Pengetahuan Tentang pengetahuan tentang anggaran
Lambajang Tentang Anggaran, Anggaran, berpengaruh signifikan terhadap
Dkk Partsisipasi Partsisipasi pengawasan keuangan daerah.
(2018) Masyarakat, Masyarakat, Partisipasi masyarakat
Transparansi Transparansi berpengaruh signifikan terhadap
Kebijakan Publik, Kebijakan Publik, pengawasan keuangan daerah.
dan Akuntabilitas dan Akuntabilitas Transparansi kebijakan publik
Publik Terhadap Publik tidak berpengaruh terhadap
Pengawasan pengawasan keuangan daerah.
Keuangan Daerah Variabel Dependen: Akuntabilitas publik berpengaruh
Pada Dewan Pengawasan terhadap pengawasan keuangan
Perwakilan Rakyat Keuangan Daerah daerah. Variabel pengeetahuan
Daerah di Wilayah tentang anggaran, partisipasi
Sulawesi Utara masyarakat, transparansi
kebijakan publik, dan
akuntabilitas publik berpengaruh
secara simultan terhadap
pengawasan keuangan daerah.
43

Lanjutan Tabel 2.2


Mochtar Pengaruh Variabel Independen: Hasil dari penelitian ini
Cahya Pengetahuan Pengetahuan Dewan menunjukan bahwa variabel
Utama Dewan Tentang Tentang Anggaran pengetahuan dewan tentang
(2016) Anggaran Terhadap anggaran berpengaruh signifikan
Pengawasan Variabel Dependen: terhadap pengawasan keuangan
Keuangan Daerah Pengawasan daerah, dan variabel partisipasi
Dengan Variabel Keuangan Daerah masyarakat tidak berpengaruh
Pemoderasi terhadap hubungan pengetahuan
Partsisipasi Variabel Pemoderasi: dewan tentang anggaran dengan
Masyarakat dan Partsisipasi pengawasan dewan pada
Transparansi Masyarakat dan keuangan daerah, sedangkan
Kebijakan Publik Transparansi variabel transparansi kebijakan
(Studi Empiris pada Kebijakan Publik publik berpengaruh signifikan
DPRD Kabupaten terhadap hubungan pengetahuan
Klaten) dewan tentang anggaran dengan
pengawasan dewan pada
keuangan.
Elsi Pengaruh Variabel Independen: Dari hasil penelitian ini dapat
Arianti Pengetahuan Pengetahuan Dewan disimpulkan bahwa pengetahuan
(2017) Dewan Tentang Tentang Anggaran tentang anggaran berpengaruh
Anggaran Terhadap negative dan signifikan terhadap
Pengawasan pengawasan keuangan daerah
Keuangan Daerah Variabel Dependen: (APBD). Dari ketiga variabel
(APBD) Dengan Pengawasan moderating yang dapat
Political Keuangan Daerah mempengaruhi hubungan antara
Background, (APBD) pengetahuan tentang anggaran
Akuntabilitas dan pengawasan keuangan
Publik dan Variabel Moderasi: daerah (APBD) adalah political
Transparansi Political Background, background
Kebuijakan Publik Akuntabilitas Publik
Sebagai Variabel dan Transparansi dan akuntabilitas, sedangkan
Moderasi (Studi Kebuijakan Publik transparansi tidak berpengaruh.
Empiris Pada
DPRD Kabupaten
Pelalawan)
Jufri Pengaruh Variabel Independen: Hasil pengujian hipotesis 1
Darma, Pengetahuan Pengetahuan Dewan menunjukkan bahwa pengetahuan
Dkk Dewan Tentang Tentang Anggaran anggota dewan tentang anggaran
(2012) Anggaran Terhadap tidak berpengaruh secara
Pengawasan Variabel Dependen: signifikan terhadap pengawasan
Keuangan Daerah Pengawasan keuangan daerah. hasil pengujian
Dengan Partisipasi Keuangan Daerah hipotesis 2 menunjukkan bahwa
Masyarakat Sebagai pengaruh antara pengetahuan
Variabel Variabel Moderasi: anggota dewan tentang anggaran
Moderating Partisipasi terhadap pengawasan keuangan
Masyarakat daerah dimoderat variabel
partisipasi masyarakat.
44

Lanjutan Tabel II.2


Anida, Influence the Variabel Independen: The results of tests indicating that
Iswanto effectiveness and Influence the the effectiveness of regional
(2013) effeiciency of effectiveness, financial management influential
regional financial regional financial positive significantly to the
management and management, internal reliability of local government
internal control control system financial report with the value of
system against the against the reliability the coefficients of 1,33, efficiency
reliability of local regional financial management
government Variabel Dependen: negative effects significantly to
financial report local government the reliability of local government
financial report financial report with the value of
the coefficients of -3,28 and
internal control system measured
by internal control weakness
negative effects significantly to
the reliability of local government
financial report with the value of
the coefficients of -4,25.
Sumber: Berbagai Sumber Penelitian

2.3. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir merupakan penjelasan tentang bagaimana teori

berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah

yang penting.

Dalam menjalankan fungsi dan peran anggota dewan, kapasitas dan

posisi anggota dewan sangat ditentukan oleh kemampuan bargaining position

dalam menghasilkan sebuah kebijakan. Menurut Kaho (2005, hal 81),

pengetahuan yang luas dan mendalam akan memberikan kemampuan untuk

mengartikulasi segala kepentingan rakyat serta menentukan cara yang lebih tepat

dan efesien.

Pengalaman dan pengetahuan yang tinggi akan membantu seseorang

dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya sesuai dengan kedudukan

anggota DPRD sebagai wakil rakyat (Sopanah et al, 2007). Oleh karena itu, maka
45

pengetahuan yang akan dibutuhkan anggota dewan dalam melaksanakan

pengawasan keuangan daerah ini adalah pengetahuan dewan tentang anggaran.

Pengawasan anggaran yang dilakukan oleh dewan dipengaruhi oleh

faktor internal dan faktor eksternal (Pramono, 2002). Faktor Internal adalah faktor

yang dimiliki oleh dewan yang berpengaruh secara langsung terhadap

pengawasan yang dilakukan oleh dewan, salah satunya adalah pengetahuan

tentang anggaran. Pengetahuan anggota DPRD tentang anggaran dapat diartikan

sebagai pengetahuan dewan terhadap mekanisme penyusunan anggaran mulai dari

tahap perencanaan sampai pada tahap pertanggungjawaban serta pengetahuan

dewan untuk melakukan pengawasan guna mencegah terjadinya pemborosan atau

kegagalan dalam pelaksanaan APBD.

Beberapa penelitian yang menguji hubungan antara kualitas anggota

dewan dengan kinerjanya diantaranya dilakukan oleh Indradi (2001), Syamsiar

(2001), Sutamoto (2002), Sopanah (2002). Hasil penelitiannya membuktikan

bahwa kualitas dewan yang diukur dengan pendidikan, pengetahuan, pengalaman

dan keahlian berpengaruh terhadap kinerja dewan yang salah satunya adalah

kinerja pada saat melakukan fungsi pengawasan. Pendidikan dan pelatihan

berkaitan dengan pengetahuan untuk masa yang akan datang.

Yudono (2002), menyatakan bahwa DPRD akan mampu menggunakan

hak-haknya secara tepat, melaksanakan tugas dan kewajibannya secara efektif

serta menempatkan kedudukannya secara proporsional jika setiap anggota

mempunyai pengetahuan yang cukup dalam hal konsepsi teknis penyelenggaraan

pemerintahan, kebijakan publik, dan lain sebagainya. Pengetahuan yang


46

dibutuhkan dalam melakukan pengawasan keuangan daerah salah satunya adalah

pengetahuan tentang anggaran. Dengan mengetahui tentang anggaran diharapkan

anggota dewan dapat mendeteksi adanya pemborosan dan kebocoran anggaran.

Kemudian faktor eksternal adalah pengaruh dari luar terhadap fungsi

pengawasan oleh dewan yang berpengaruh secara tidak langsung terhadap

pengawaasan yang dilakukan oleh dewan, salah satunya adalah transparansi

kebijakan publik. Transparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas.

Seluruh proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat diakses

oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan informasi yang tersedia harus memadai

agar dapat dimengerti dan dipantau. Pengetahuan yang tinggi biasanya berbanding

lurus dengan pengawasan keuangan daerah yang baik. Akan tetapi, pengetahuan

yang tinggi dan pengawasan yang baik belum tentu transparan dan bisa diakses

publik. Oleh karena itu transparansi kebijakan publik diidentifikasi sebagai faktor

penguat dalam hubungan antara pengetahuan dengan pengawasan keuangan

daerah.

Pada penelitian Isma Coryanata (2012), transparansi kebijakan publik

mempengaruhi hubungan antara pengetahuan dewan tentang anggaran dengan

pengawasan keuangan daerah secara signifikan.

Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan di atas, maka dapat

digambarkan dalam kerangka konseptual sebagai berikut:


47

Pengetahuan Dewan Pengawasan


Tentang Anggaran Keuangan Daerah

Transparansi
Kebijakan Publik

Gambar 2.1
Kerangka Berpikir

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, dapat dinyatakan bahwa dalam

penelitian ini, variabel independen yang digunakan adalah pengetahuan dewan

tentang anggaran sedangkan variabel dependennya adalah pengawasan keuangan

daerah yang merupakan alat, dan variabel moderasi adalah transparansi kebijakan

publik.

2.4. HIPOTESIS

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap semua masalah

penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk

kalimat pertanyaan. Hipotesis menurut Sugiyono (2010, hal 64), adalah jawaban

sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah

penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan jawaban

sementara karena hipotesis pada dasarnya merupakan jawaban dari permasalahan

yang telah dirumuskan dalam perumusan masalah, sedangkan kebenaran dari

hipotesis perlu diuji terlebih dahulu melalui analisis data. Hipotesis dalam
48

penelitian ini menjelaskan hubungan dan pengaruh antara variabel terhadap

variabel dependen dan variabel moderasi.

1. Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran berpengaruh terhadap Pengawasan

Keuangan Daerah pada DPRD Kota Pematangsiantar.

2. Transparansi Kebijakan Publik memoderasi pengaruh Pengetahuan dewan

tentang anggaran terhadap Pengawasan Keuangan Daerah pada DPRD Kota

Pematangsiantar.
BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Pnelitian

3.1.1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)

di Kota Pematangsiantar. Kantor DPRD Kota Pematangsiantar berada di Jalan. H.

Adam Malik No. 1 Kelurahan Proklamasi Kecamatan Siantar Barat, Kota

Pematangsiantar .

3.1.2. Waktu Penelitian

Adapun waktu penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.1
Rencana Waktu Penelitian
Juli Agustus Sept Okt Nov Des Jan
Tahapan
No 2019 2019 2019 2019 2019 2019 2020
Penelitian
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pengajuan
Judul
2 Penyusunan
Proposal
3 Seminar
Proposal
4 Pengumpulan
Data
5 Pengolahan
Data
6 Penulisan
Laporan
7 Seminar Hasil
8 Penyelesaian
Laporan
9 Sidang Meja
Hijau
Sumber: Data Diolah

49
50

3.2. Populasi dan Sampel

3.2.1. Populasi

Populasi merupakan kelompok orang, kejadian, atau peristiwa yang

menjadi perhatian para peneliti untuk diteliti. Populasi pada penelitian ini adalah

anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang berjumlah 30 (tiga

puluh) orang di Kota Pematangsiantar.

3.2.2. Sampel

Sampel merupakan wakil dari populasi. Sampel pada penelitian ini

menggunakan simple random sampling, yaitu metode penarikan dari sebuah

populasi dengan cara tertentu sehingga setiap anggota populasi tadi memiliki

peluang yang sama untuk terpilih atau terambil (Kerlinger, 2006:188).

3.3. Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel merupakan jabaran dari variabel penelitian

secara ringkas. Adapun variabel yang terdapat dalam proposal tesis ini adalah

pengetahuan anggota dewan tentang anggaran, transparansi kebijakan publik dan

pengawasan keuangan daerah. Pengawasan keuangan daerah adalah semua hak

dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang

dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang

berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut, dalam rangka anggaran

pendapatan dan belanja daerah (APBD) (PP No. 105 Tahun 2000). Banyak faktor

yang mempengaaruhi pengawasan keuangan daerah, antara lain yaitu pengetahuan

dewan tentang anggaran dan transparansi kebijakan publik.


51

Pengetahuan dewan tentang anggara merupakan kemampuan dewan

dalam hal menyusun anggaran (RAPBD/APBD) dan mendeteksi serta indikasi

terhadap pemborosan atau kegagalan, dan kebocoran anggaran. Hal ini terkait

dengan pendidikan dan pengalaman anggota dewan (kaho, 2005). Transparansi

kebijakan publik merupakan keterbukaan pemerintah dalam membuat kebijakan-

kebijakan sehingga dapat diketahui oleh masyarakat. Hal ini terkait dengan

kesediaan dan aksestabilitas dokumen, kejelasan dan kelengkapan informasi,

keterbukaan proses, dan kerangka regulasi yang menjamin transparansi.

Adapun definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

Tabel 3.2
Variabel Penelitian
Variabel Definisi Indikator Skala
Pengawas Pengawasan APBD, terutama 1. Perencanaan Interval
Keuangan jika dilihat dari komponen 2. Pelaksanaan
Daerah utamanya, sehingga pengertian 3. Pelaporan
(Y) pengawasan APBD dapat
diartikan sebagai segala
kegiatan untuk menjamin agar
pengumpulan-pengumpulan
pendapatan daerah, dan
pembelanjaan pengeluaran-
pengeluaran daerah berjalan
sesuai dengan rencana, aturan-
aturan dan tujuan yang telah
ditetapkan. pengawasan
keuangan daerah (APBD)
harus dimulai dari proses
perencanaan hingga proses
pelaporan.
Halim (2007)
Utomo (2011)
Pramita dan Andriyani (2010)
Isma (2012)
52

Lanjutan Tabel 3.2


Pengetahuan Pengetahuan merupakan 1. Pendidikan Interval
(X) kemampuan dewan dalam hal 2. Pengalaman
menyusun anggaran
(RAPBD/APBD) dan deteksi
deteksi serta identifikasi
terhadap pemborosan atau
kegagalan, dan kebocoran
anggaran. Pengetahuan yang
luas dan mendalam akan
memberikan kemampuan
untuk mengartikulasi segala
kepentingan rakyat serta
menentukan cara yang lebih
tepat dan efesien. Ghozali dan
Nazir (2007)
Kaho (2005)
Transparansi Transparansi kebijakan publik 1. Kesediaan dan Interval
Kebijakan adalah keterbukaan pemerintah aksestabilitas
Publik dalam membuat kebijakan- dokumen
(Z) kebijakan sehingga dapat 2. Kejelasan dan
diketahui oleh masyarakat. kelengkapan
Atau dengan kata lain aktivitas Informasi
pemerintah untuk 3. Keterbukaan
memecahkan masalah di Proses
masyarakat, baik secara 4. Kerangka
langsung maupun melalui regulasi yang
berbagai lembaga yang menjamin
mempengaruhi kehidupan transparansi
masyarakat.
Didjaja (2000)
Tangkilisan (2003)
Sumber: Data Diolah Penulis.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data

yang diperoleh dan harus diolah kembali, yaitu kuesioner. Dalam melakukan

pengumpulan data yang berhubungan dengan yang akan dibahas dilakukan

langsung dilakukan dengan dengan cara metode kuesioner. Metode kuesioner

adalah teknik pengumpulan data melalui formulir berisi pertanyaan-pertanyaan


53

yang diajukan secara tertulis pada seseorang atau sekumpulan orang untuk

mendapatkan jawaban atau tanggapan serta informasi yang diperlukan.

Skala yang dipakai dalam penyusunan adalah skala likert. Skala likert

digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok

orang tentang fenomena sosial. Dalam Pengkurannya, setiap responden diminta

pendapatnya mengenai suatu pertanyaan dengan skala penilaian sebagai berikut:

Tabel 3.3
Bobot Skala Likert
Kategori Pertanyaan / Pernyataan Skala Likert
Sangat Setuju (SS) 5
Setuju (S) 4
Kurang Setuju (KS) 3
Tidak Setuju (TS) 2
Sangat Tidak Setuju (STS) 1
Sumber: Sugiyono (2010, hal 93)

Sebelum melakukan pengumpulan data, seluruh kuesioner harus

dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas.

1) Uji Validitas

Pengertian validitas adalah suatu alat ukur yang menunjukkan tingkat

ketepatan dari kesalahan suatu instrumen. Instrumen harus dapat mengukur apa

yang seharusnya diukur, jadi validitas menekankan pada alat ukur pengamatan.

Kegunaan validitas yaitu untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan

kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya.

Pengujian validitas menurut Sugiyono (2012, hal 126), adalah suatu ukuran yang

menunjukkan tingkat kevalidan dan keaslian suatu instrumen dianggap valid

mampu mengukur apa yang ingin diukur, dengan kata lain mampu memperoleh
54

data yang tepat dari variabel yang diteliti. Apabila nilai asymp. Sig < 0,05 maka

dan dinyatakan valid.

Berdasarkan hasil dari uji validitas pada penelitian ini adalah sebagai

berikut:

Tabel 3.4
Uji Validitas Variabel Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran (X)
Corrected item-
No. Pertanyaan r-tabel Hasil Uji
Total correlation
1. Butir Pertanyaan 1 0,822 0,30 Valid
2. Butir Pertanyaan 2 0,894 0,30 Valid
3. Butir Pertanyaan 3 0,710 0,30 Valid
4. Butir Pertanyaan 4 0,829 0,30 Valid
Sumber: Jawaban kuesioner data diolah oleh peneliti (2019)

Tabel 3.5
Uji Validitas Variabel Transparansi Kebijakan Publik (Z)
Corrected item-
No. Pertanyaan r-tabel Hasil Uji
Total correlation
1. Butir Pertanyaan 1 0,572 0,30 Valid
2. Butir Pertanyaan 2 0,695 0,30 Valid
3. Butir Pertanyaan 3 0,675 0,30 Valid
4. Butir Pertanyaan 4 0,750 0,30 Valid
5. Butir Pertanyaan 5 0,485 0,30 Valid
6. Butir Pertanyaan 6 0,328 0,30 Valid
7. Butir Pertanyaan 7 0,428 0,30 Valid
8. Butir Pertanyaan 8 0,395 0,30 Valid
9. Butir Pertanyaan 9 0,593 0,30 Valid
Sumber: Jawaban kuesioner data diolah oleh peneliti (2019)
55

Tabel 3.6
Uji Validitas Variabel Pengawasan Keuangan Daerah (Y)
Corrected item-
No. Pertanyaan r-tabel Hasil Uji
Total correlation
1. Butir Pertanyaan 1 0,793 0,30 Valid
2. Butir Pertanyaan 2 0,567 0,30 Valid
3. Butir Pertanyaan 3 0,812 0,30 Valid
4. Butir Pertanyaan 4 0,835 0,30 Valid
5. Butir Pertanyaan 5 0,503 0,30 Valid
6. Butir Pertanyaan 6 0,457 0,30 Valid
7. Butir Pertanyaan 7 0,559 0,30 Valid
8. Butir Pertanyaan 8 0,629 0,30 Valid
9. Butir Pertanyaan 9 0,855 0,30 Valid
Sumber: Jawaban kuesioner data diolah oleh peneliti (2019)

2) Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas merupakan alat ukur untuk mengukur suatu kuesioner

yang merupakan indikator dari variabel. Menurut Sugiyono (2012, hal 126), uji

reliabilitas merupakan terdapat persamaan dalam data dalam waktu yang berbeda,

atau digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan

menghasilkan data yang sama. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika

jawaban seseorang terhadap pertanyaan konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.

Menurut Nunnally dalam Ghozali (2016), menyatakan suatu konstruk atau

variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai cronbach alpha > 0,70.
56

Berdasarkan hasil uji SPSS 21.0 diperoleh perhitungan reliabel sebagai

berikut:

Tabel 3.7
Uji Reliabilitas Variabel Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran (X)
Cronbach’s Alpha N of Item Hasil Uji
0,928 4 Reliabel
Sumber: Jawaban Kuesioner Data Diolah Oleh Peneliti (2019)

Tabel 3.8
Uji Reliabilitas Variabel Transparansi Kebijakan Publik (Z)

Cronbach’s Alpha N of Item Hasil Uji


0,805 9 Reliabel
Sumber: Jawaban Kuesioner Data Diolah Oleh Peneliti (2019)

Tabel 3.9
Uji Reliabilitas Variabel Pengawasan Keuangan Daerah (Y)
Cronbach’s Alpha N of Item Hasil Uji
0,878 9 Reliabel
Sumber: Jawaban Kuesioner Data Diolah Oleh Peneliti (2019)

Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada tabel 3.7, 3.8, 3.9,di atas, dapat

terlihat bahwa variabel pengetahuan dewan tentang anggaran, transparansi

kebijakan publik, dan pengawasan keuangan daerah menunjukan bahwa semua

variabel mempunyai Crochbach Alpha (α) > 0,70. Hal ini berarti indikator dari

variabel dalam penelitian ini reliabel.

3.5. Teknik Analisis Data

Data ini akan dianalisis dengan pendekatan kuantitatif menggunakan

analisis statistik yakni partial least square – structural equestion model (PLS-

SEM) yang bertujuan untuk melakukan analisis jalur (path) dengan variabel laten.

Analisis ini sering disebut sebagai generasi kedua dari analisis multivariate

(Ghozali, 2009). Analisis persamaan struktural (SEM) berbasis varian yang secara
57

simultan dapat melakukan pengujian model pengukuran sekaligus pengujian

model struktural. Model pengukuran digunakan untuk uji validitas dan reliabilitas,

sedangkan model struktural digunakan untuk uji kausalitas (pengujian hipotesis

dengan model prediksi) (Abdillah, 2009).

Tujuan dari penggunaan (Partial Least Square) PLS yaitu untuk

melakukan prediksi. Yang mana dalam melakukan prediksi tersebut adalah untuk

memprediksi hubungan antar konstruk, selain itu untuk membantu peneliti dan

penelitiannya untuk mendapatkan nilai variabel laten yang bertujuan untuk

melakukan pemprediksian. Variabel laten adalah linear agregat dari indikator-

indikatornya. Weight estimate untuk menciptakan komponen skor variabel laten

didapat berdasarkan bagaimana inner model (model struktural yang

menghubungkan antar variabel laten) dan outer model (model pengukuran yaitu

hubungan antar indikator dengan konstruknya) dispesifikasi. Hasilnya adalah

residual variance dari variabel dari variabel dependen (kedua variabel laten dan

indikator) diminimunkan.

PLS merupakan metode analisis yang powerfull oleh karena tidak

didasarkan banyak asumsi dan data tidak harus berdistribusi normal multivariate

(indikator dengan skala kategori, ordinal, interval sampai ratio dapat digunakan

pada model yang sama). Pengujian model struktural dalam PLS dilakukan dengan

bantuan software Smart PLS ver. 3 for Windows. Berikut adalah model struktural

yang dibentuk dari perumusan masalah:


58

Gambar 3.I
Model Struktural PLS

Ada dua tahapan kelompok untuk menganalisis SEM-PLS yaitu analisis

model pengukuran (outer model), yakni (a) validitas konvergen (convergent

validity); (b) realibilitas dan validitas konstruk (construct reliability and validity);

dan (c) validitas diskriminan (discriminant validity) serta analisis model struktural

(inner model), yakni (a) koefisien determinasi (r-square); (b) f-square; dan (c)

pengujian hipotesis (Hair, Hult, Ringle, & Sarstedt, 2014).

Estimasi parameter yang didapat dengan (Partial Least Square) PLS

dapat dikategorikan sebagai berikut: kategori pertama, adalah weight estimate

yang digunakan untuk menciptakan skor variabel laten. Kategori kedua,

mencerminkan estimasi jalur (path estimate) yang menghubungkan variabel laten

dan antar variabel laten dan blok indikatornya (loading). Kategori ketiga adalah

berkaitan dengan means dan lokasi parameter (nilai konstanta regresi) untuk

indikator dan variabel laten. Untuk memperoleh ketiga estimasi tersebut, (Partial
59

Least Square) PLS menggunakan proses literasi tiga tahap dan dalam setiap

tahapnya menghasilkan estimasi yaitu sebagai berikut:

1. Menghasilkan weight estimate.

2. Menghasilkan estimasi untuk inner model dean outer model.

3. Menghasilkan estimasi means dan lokasi (konstanta).

Dalam metode (Partial Least Square) PLS teknik analisa yang dilakukan

adalah sebagai berikut:

1) Analisa outer model

Analisa outer model dilakukan untuk memastikan bahwa measurement

yang digunakan layak untuk dijadikan pengukuran (valid dan reliabel). Dalam

analisa model ini menspesifikasi hubungan antar variabel laten dengan indikator-

indikatornya. Analisa outer model dapat dilihat dari beberapa indikator:

a. Convergent Validity adalah indikator yang dinilai berdasarkan korelasi

antar item score/component score dengan construct score, yang dapat

dilihat dari standardized loading factor yang mana menggambarkan

besarnya korelasi antar setiap item pengukuran (indikator) dengan

konstraknya. Ukuran refleksif individual dikatakan tinggi jika berkorelasi

> 0,7 dengan konstruk yang ingin diukur, sedangkan menurut Chin yang

dikutip oleh Imam Ghozali, nilai outer loading antara 0,5-0,6 sudah

dianggap cukup.

b. Discriminant Validity merupakan model pengukuran dengan refleksif

indikator dinilai berdasarkan crossloading pengukuran dengan konstruk.

Jika korelasi konstruk dengan item pengukuran lebih besar daripada


60

ukuran konstruk lainnya, maka menunjukkan ukuran blok mereka lebih

baik dibandingkan dengan blok lainnya. Sedangkan menurut model lain

untuk menilai discriminant validity yaitu dengan membandingkan nilai

squareroot of average variance extracted (AVE).

c. Composite reliability merupakan indikator untuk mengukur suatu

konstruk yang dapat dilihat pada view latent variable coefficient. Untuk

mengevaluasi composite reliability terdapat dua alat ukur yaitu internal

consistency dan cronbach’s alpha. Dengan pengukuran tersebut apabila

nilai yang dicapai adalah > 0,70 maka dapat dikatakan bahwa konstruk

tersebut memiliki reliabilitas yang tinggi.

d. Cronbach’s Alpha merupakan uji reliabilitas yang dilakukan merupakan

hasil dari composite reliability. Suatu variabel dapat dinyatakan reliabel

apabila memiliki nilai cronbach’s alpha > 0,7.

2) Analisis Inner Model

Analisis Inner Model biasanya juga disebut dengan (inner relation,

structural model dan substantive theory) yang mana menggambarkan hubungan

antara variabel laten berdasarkan pada substantive theory. Analisa inner model

dapat dievaluasi yaitu dengan menggunakan R-square untuk konstruk dependen,

Stone-Geisser Q-square test untuk predictive dan uji t serta signifikansi dari

koefisien parameter jalur struktural. Dalam pengevaluasi inner model dengan

(Partial Least Square) PLS dimulai dengan cara melihat R-square untuk setiap

variabel laten dependen. Kemudian dalam penginterpretasinya sama dengan

interpretasi pada regresi. Perubahan nilai R-square dapat digunakan untuk menilai
61

pengaruh variabel laten independen tertentu terhadap variabel laten dependen

apakah memiliki pengaruh yang substantive. Selain melihat nilai R-square, pada

model (Partial Least Square) PLS juga dievaluasi dengan melihat nilai Q-square

prediktif relevansi untuk model konstruktif. Q-square mengukur seberapa baik

nilai observasi dihasilkan oleh model dan estimasi parameter. Nilai Q-square

lebih besar dari 0 (nol) menunjukkan bahwa model mempunyai nilai predictive

relevance, sedangkan apanilai nilai Q-square kurang dari 0 (nol), maka

menunjukkan bahwa model kurang memiliki predictive relevance.

3) Uji Hipotesis

Dalam pengujian hipotesis dapat dilihat dari nilai t-statistik dan nilai

probabilitas. Untuk pengujian hipotesis yaitu dengan menggunakan nilai statistik

maka untuk alpha 5% nilai t-statistik yang digunakan adalah 1,96. Sehingga

kriteria penerimaan/penolakan hipotesis adalah Ha diterima dan H0 ditolak ketika

t-statistik > 1,96. Untuk menolak/menerima hipotesis menggunakan probabilitas

maka Ha diterima jika nilai probabilitas < 0,05.


BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1. Deskripsi Data

Penelitian ini dilakukan pada kantor DPRD Kota Pematangsiantar

dengan responden yang mengisi kuesioner penelitian adalah seluruh anggota

DPRD Kota Pematangsiantar periode 2014-2019. Jumlah populasi adalah 30

orang anggota DPRD dengan menggunakan metode sampel jenuh sehingga

seluruh populasi dijadikan sebagai sampel. Kuesioner dibagikan kepada anggota

DPRD sebanyak 30 kuesioner, dan kuesioner yang kembali kepada peneliti dalam

keadaan terisi sebanyak 28 kuesioner, sehingga data yang diinput adalah data dari

28 anggota DPRD Kota Pematangsiantar.

Berikut disajikan tabel penjelasan jumlah kuesioner yang akan digunakan

dalam penelitian ini:

Tabel 4.1
Pengumpulan Data
Keterangan Jumlah Persentase (%)
Kuesioner yang dibagikan 30 100
Kuesioner yang kembali 28 83,33
Kuesioner yang tidak kembali 2 16,67
Sumber: Data Diolah.

Berdasarkan Tabel 4.1 maka kuesioner yang digunakan dalam penelitian

ini adalah 28 kuesioner yang dikembalikan oleh responden.

62
63

[Link]. Karakteristik Responden

Adapun responden dalam penelitian ini berdasarkan jenis kelamin dapat

dilihat pada Tabel 4.2 berikut ini:

1) Jenis Kelamin

Adapun tingkat persentase dari 28 responden berdasarkan jenis kelamin,

maka dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.2
Deskriptif Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
Pria 22 78,57
Wanita 6 21,43
Total 28 100
Sumber: Data Diolah

Berdasarkan Tabel 4.2 di atas, menggambarkan bahwa responden

penelitian ini adalah mayoritas berjenis kelamin pria berjumlah 22 orang atau

78,57%.

2) Usia

Adapun tingkat persentase dari 28 responden berdasarkan usia, maka

dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.3
Deskriptif Responden Berdasarkan Usia
Umur Responden Jumlah Persentase (%)
< 30 Tahun 1 3,57
31 Tahun – 40 Tahun 3 10,71
41 Tahun – 50 Tahun 13 46,42
> 50 Tahun 12 42,85
Total 28 100
Sumber: Data Diolah.

Berdasarkan Tabel 4.3 di atas, dapat diketahui responden yang berusia

dibawah 30 tahun berjumlah 1 orang atau 3,57%, responden yang berusia 31 –

40 tahun berjumlah 3 orang atau 10,71%, responden yang berusia 41 – 50 tahun


64

berjumlah 13 orang atau 46,42%, dan responden yang berusia diatas 50 tahun

berjumlah 12 orang atau 42,85%.

3) Masa Kerja

Adapun tingkat persentase dari 28 responden berdasarkan masa kerja,

maka dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.4
Deskriptif Responden Berdasarkan Masa Kerja
Lama Berkerja Jumlah Persentase (%)
1 Tahun - 5 Tahun 18 64,28
> 5 Tahun 10 35,72
Total 28 100
Sumber: Data Diolah.

Berdasarkan Tabel 4.4 di atas, dapat diketahui bahwa mayoritas

responden memiliki masa kerja 1 tahun – 5 tahun, yaitu berjumlah 18 orang atau

64,28%. Sedangkan untuk responden dengan masa kerja lebih dari 5 tahun

sebanyak 10 orang atau 35,72%.

4) Tingkat Pendidikan Terakhir

Adapun tingkat persentase dari 28 responden berdasarkan pendidikan

terakhir, maka dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.5
Deskriptif Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir
Tingkat Pendidikan Terakhir Jumlah Persentase
SMA 9 32,14
D3/Akademi 1 3,57
Strata 1 15 53,57
Strata 2 3 10,71
Strata 3 0 0
Lain-lain 0 0
Total 28 100
Sumber: Data Diolah.
65

Berdasarkan Tabel 4.5 di atas, diketahui bahwa mayoritas responden

memiliki tingkat pendidikan terakhir S1 dengan jumlah 15 orang atau 53,57%.

Sedangkan untuk tingkat pendidikan terakhir D3/Akademi berjumlah 1 orang atau

3,57%

[Link]. Deskripsi Variabel Penelitian

Deskripsi dari setiap pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner akan

menampilkan opsi setiap jawaban responden terhadap butir pertanyaan yang

diberikan penulis terhadap responden.

1) Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran

Berikut ini merupakan deskripsi atau penyajian data dari variabel

pengetahuan dewan tentang anggaran yang dirangkum dalam tabel dibawah ini:

Tabel 4.6
Penyajian Data Angket Variabel Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran (X)
No F Jawaban
Pertanyaan Jumlah
Pert. % SS S KS TS STS

Anggota dewan mengetahui F 6 9 13 0 0


1 100%
cara penyusunan APBD % 21,42 32,14 44,42 0 0
Anggota dewan memahami F 3 16 9 0 0
2 pelaksanaan APBD yang 100%
dilakukan oleh eksekutif % 10,71 57,14 32,14 0 0

Anggota dewan mengetahui F 4 10 14 0 0


3 100%
jika terjadi kebocoran APBD % 14,28 35,71 50 0 0

Anggota dewan mampu F 2 16 10 0 0

4
mengidentifikasi 100%
pemborosan/kegagalan % 7,14 57,14 35,71 0 0
dalam pelaksanaan proyek
F 3,75 12,75 11,5 0,00 0,00
Rata -Rata 100,00
% 13,38 58,54 40,56 0,00 0,00

Berdasarkan Tabel 4.6 di atas, dinyatakan bahwa rata-rata responden

memilih setuju atas pertanyaan yang ditanyakan sebanyak 58,54%, sedangkan

sebanyak 44,42% responden menjawab kurang setuju. Hal ini menunjukkan


66

bahwa masih banyak anggota dewan yang belum mengetahui cara penyusunan

APBD, belum bisa memahami pelaksanaan APBD yang sebenarnya, belum bisa

mengetahui jika terjadi kebocoran dalam pelaksanaan APBD, dan belum mampu

mengidentifikasi pemborosan/kegagalan di dalam pelaksanaan proyek.

2) Transparansi Kebijakan Publik

Berikut ini merupakan deskripsi atau penyajian data dari variabel

transparansi kebijakan publik yang dirangkum dalam tabel dibawah ini:

Tabel 4.7
Penyajian Data Angket Variabel Transparansi Kebijakan Publik (Z)
No F Jawaban
Pertanyaan Jumlah
Pert. % SS S KS TS STS

Perlunya informasi kepada publik F 5 12 7 4 0


1 100%
tentang APBD % 17,85 42,85 25 14,28 0

Informasi mudah untuk diakses F 5 10 6 7 0


2 100%
oleh publik % 17,85 35,71 21,42 25 0

Laporan pertanggungjawaban F 5 12 7 4 0
3 100%
dibuat setiap periode % 17,85 42,85 25 14,28 0

Informasi yang disajikan kepada F 2 13 13 0 0


4 100%
publik sudah sesuai dengan fakta % 7,14 46,42 46,42 0 0

Kemudahan dalam akses F 6 8 14 0 0


5 100%
dokumen publik tentang anggaran % 21,42 28,57 50 0 0
Adanya akses publik pada F 6 16 6 0 0
6 informasi dan mekanisme 100%
% 21,42 57,14 21,42 0 0
pengaduan rakyat
Dilakukannya sosialisasi F 8 14 6 0 0
7 100%
mengenai perubahan APBD % 28,57 50 21,42 0 0
Kejelasan anggaran disusun F 10 13 5 0 0
8 berdasarkan Peraturan Perundang- 100%
% 35,71 46,42 17,85 0 0
undangan
Adanya peraturan yang kuat F 7 12 9 0 0
9 dalam penyusunan dan penetapan 100%
% 25 42,85 32,14 0 0
anggaran
F 6 12,22 8,11 0,00 0,00
Rata -Rata 100,00
% 21,49 11,49 28,96 0,00 0,00
67

Berdasarkan Tabel 4.7 di atas, dinyatakan bahwa rata-rata responden

memilih kurang setuju atas pertanyaan yang ditanyakan sebanyak 28,98%. Hal ini

menunjukkan bahwa masih minimnya informasi kepada publik yang berkenaan

dengan APBD, informasi yang diberikan masih sulit untuk diakses oleh publik,

laporan pertanggungjawaban yang dibuat setiap periode harus sesuai dengan

ketentuan yang berlaku, informasi yang disajikan kepada publik harus sesuai

dengan fakta dan analisis kebijakan yang telah diambil, masih sulitnya akses

dokumen publik tentang anggaran, masih sulitnya akses publik pada informasi

dan mekanisme pengaduan rakyat, belum maksimalnya penerapan yang dilakukan

untuk sosialisasi mengenai perubahan APBD, kejelasan anggaran yang disusun

harus berdasarkan peraturan Perundang-undangan, dan belum adanya peraturan

yang kuat dalam penyusunan dan penetapan anggaran.


68

3) Pengawasan Keuangan Daerah

Berikut ini merupakan deskripsi atau penyajian data dari variabel

pengawasan keuangan daerah yang dirangkum dalam tabel dibawah ini:

Tabel 4.8
Penyajian Data Angket Variabel Pengawasan Keuangan Daerah (Y)
No F Jawaban
Pertanyaan Jumlah
Pert. % SS S KS TS STS

Anggota dewan terlibat dalam F 5 12 7 4 0


1 penyusunan arah dan kebijakan 100%
umum APBD % 17,85 42,85 25 14,28 0

Aspirasi masyarakat menjadi F 5 10 6 7 0


2 dasar dalam rangka menyusun 100%
APBD % 17,85 35,71 21,42 25 0

Anggota dewan terlibat dalam F 5 12 7 4 0


3 100%
pengesahan APBD % 17,85 42,85 25 14,28 0
Anggota dewan dapat F 2 13 13 0 0
4 menjelaskan tentang APBD yang 100%
% 7,14 46,42 46,42 0 0
telah di sahkan
Anggota dewan terlibat dalam F 6 8 14 0 0
5 100%
memantau pelaksanaan APBD % 21,42 28,57 50 0 0
Anggota dewan aktif melakukan F 6 16 6 0 0
evaluasi terhadap laporan
6 100%
triwulan/bulanan yang dibuat % 21,42 57,14 21,42 0 0
eksekutif
Anggota dewan menanyakan F 8 14 6 0 0
7 100%
alasan adanya revisi anggaran % 28,57 50 21,42 0 0
Anggota dewan meminta F 10 13 5 0 0
keterangan atas laporan
8 pertanggungjawaban (LPJ) APBD 100%
yang disampaikan % 35,71 46,42 17,85 0 0
Bupati/Walikota
Anggota dewan menanyakan LPJ F 7 12 9 0 0
9 100%
APBD jika terjadi kejanggalan % 25 42,85 32,14 0 0

F 6 12,22 8,11 0,00 0,00


Rata -Rata 100,00
% 21,49 11,49 28,96 0,00 0,00

Berdasarkan Tabel 4.8 di atas, dinyatakan bahwa rata-rata responden

memilih setuju atas pertanyaan yang ditanyakan sebanyak 50,39%. Hal ini

menunjukkan bahwa anggota dewan memang sudah melakukan pengawasan

keuangan daerah seperti terlibat dalam penyusunan arah dan kebijakan umum
69

APBD, aspirasi masyarakat menjadi dasar dalam rangka menyusun APBD,

anggota dewan juga terlibat dalam pengesahan APBD, anggota dewan juga dapat

menjelaskan tentang APBD yang telah di sahkan, anggota dewan terlibat dalam

memantau pelaksanaan APBD, anggota dewan aktif melakukan evaluasi terhadap

laporan triwulan/bulanan yang dibuat eksekutif, anggota dewan menanyakan

alasan jika ada revisi anggaran, anggota dewan meminta keterangan atas laporan

pertanggungjawaban (LPJ) APBD yang disampaikan Bupati/Walikota, dan LPJ

APBD jika terjadi kejanggalan.

4.1.2. Uji Persyaratan Analisis

Berdasarkan data hasil kuesioner yang telah disajikan maka data

kualitatif kuesioner tersebut dijadikan data bentuk kuantitatif berdasarkan kriteria

yang sudah ditetapkan sebelumnya. Adapun data kuantitatif tersebut merupakan

data mentah dari masing-masing variabel dalam penelitan ini.

Dalam bagian ini, data-data yang telah dideskripsikan dari data-data

sebelumnya yang merupakan deskripsi data akan dianalisis. Analisis data dalam

penelitian ini menggunakan Structural Equation Model Partial Least Square

(SEM-PLS). Sebagai alternaitf covariance based SEM, pendekatan variance

based atau component based dengan PLS berorientasi analisis bergeser dari

menguji model kausalitas/teori ke component based predictive model (Ghozali,

2014, hal. 7). PLS merupakan metode analisis yang powerfull oleh karena tidak

didasarkan banyak asumsi dan data tidak harus berdistribusi normal multivariate

(indikator dengan skala kategori, ordinal, interval sampai ratio dapat digunakan

pada model yang sama). Pengujian model struktural dalam PLS dilakukan dengan
70

bantuan software Smart PLS ver. 3 for Windows. Berikut adalah model struktural

yang dibentuk dari perumusan masalah:

Gambar 4.I
Model Struktural PLS

Ada dua tahapan kelompok untuk menganalisis SEM-PLS yaitu analisis

model pengukuran (outer model), yakni (a) validitas konvergen (convergent

validity); (b) realibilitas dan validitas konstruk (construct reliability and validity);

dan (c) validitas diskriminan (discriminant validity) serta analisis model struktural

(inner model), yakni (a) koefisien determinasi (r-square); (b) f-square; dan (c)

pengujian hipotesis (Hair, Hult, Ringle, & Sarstedt, 2014).

[Link]. Analisis Model Struktural (Inner Model)

Analisis model struktural bertujuan untuk menganalisis hipotesis

penelitian. Minimal ada dua bagian yang perlu di analisis didalam model ini,

yaitu: koefisien determinasi dan pengujian hipotesis.


71

1) Koefisien determinasi (R-square)

R-square adalah ukuran proporsi variasi nilai yang dipengaruhi

(endogen) yang dapat dijelaskan oleh variabel yang mempengaruhinya (eksogen)

ini berguna untuk memprediksi apakah model adalah baik/buruk. Hasil r-square

untuk variabel laten endogen sebesar 0,75 mengindikasikan bahwa model tersebut

adalah substansial (baik); 0,50 mengindikasikan bahwa model tersebut adalah

moderat (sedang) dan 0,25 mengindikasikan bahwa model tersebut adalah lemah

(buruk).

Tabel 4.9
R-square
Original Sample Mean Standard
T Statistics P values
Sample (O) (M) Deviation
Pengawasan
Keuangan 0,618 0,701 0,086 7,171 0,000
Daerah

Gambar 4.2
Output R-Square
72

Dari tabel 4.9 di atas diketahui bahwa pengaruh X dan Z terhadap Y

dengan nilai r-square 0,618 mengindikasikan bahwa variasi nilai Y mampu

dijelaskan oleh variasi nilai X dan Z sebesar 61,80% atau dengan kata lain bahwa

model tersebut adalah moderat (sedang), dan 38,20% dipengaruhi oleh variabel

lain. Nilai probabilitas (p-values) yang didapat adalah 0,000 < 0,05 (signifikan),

dengan demikian model tergolong lemah.

2) f-Square

f-square adalah ukuran yang digunakan untuk menilai dampak relatif dari

suatu variabel yang mempengaruhi (eksogen) terhadap variabel yang dipengaruhi

(endogen). Kriteria penarikan kesimpulan adalah jika nilai f2 sebesar 0,02 maka

terdapat efek yang kecil (lemah) dari variabel eksogen terhadap endogen, nilai f2

sebesar 0,15 maka terdapat efek yang moderat dari variabel eksogen terhadap

endogen, nilai f2 sebesar 0,35 maka terdapat efek yang besar dari variabel

eksogem terhadap endogen.

Tabel 4.10
f-square
Original Sample (O) Sample Mean (M) Standard Deviation
XY 0,324 0,461 0,476
X*Z  Y 0,005 0,045 0,103
73

Gambar 4.3
Output f-Square

Berdasarkan tabel 4.10 di atas diketahui bahwa:

a) Pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan

keuangan daerah sebesar 0,324 mengindikasi bahwa terdapat efek yang

moderat (sedang).

b) Pengaruh variabel pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap

pengawasan keuangan daerah yang diomedrasi oleh transparansi kebijakan

publik mempunyai koefisien jalur sebesar 0,005 mengindikasi bahwa

terdapat efek yang lemah.


74

4.1.3. Pengujian Hipotesis

Pengujian ini adalah untuk menentukan koefisien jalur dari model

struktural. Tujuannya adalah menguji signifikansi semua hubungan atau pengujian

hipotesis.

Tabel 4.11
Path Coefficient
Original Sample Standard
T Statistics P values
Sample (O) Mean (M) Deviation
XY 0,565 0,576 0,272 2,076 0,038
X*Z  Y 0,065 0,051 0,162 0,399 0,690

Gambar 4.4
Output Path Coefficient
75

Berdasarkan Tabel 4.11 di atas, dapat dinyatakan bahwa pengujian

hipotesis adalah sebagai berikut:

1) Pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan

keuangan daerah mempunyai koefisien jalur sebesar 0,565. Ini menunjukkan

bahwa jika semakin tinggi tingkat pengetahuan dewan tentang anggaran,

maka semakin efektif pengawasan keuangan daerah yang dilakukan oleh

DPRD. Pengaruh tersebut mempunyai nilai probabilitas (p-values) sebesar

0,038 < 0,05, berarti pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap

pengawasan keuangan daerah adalah signifikan.

2) Pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan

keuangan daerah yang dimoderasi oleh transparansi kebijakan publik

mempunyai koefisien jalur 0,065 dan mempunyai nilai probabilitas (p-values)

sebesar 0,690 > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa transparansi kebijakan

publik tidak signifikan dalam mempengaruhi hubungan antara pengetahuan

dewan tentang anggaran dengan pengawasan keuangan daerah. Dengan

demikian, variabel transparansi kebijakan publik tidak memoderasi pengaruh

pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah.


76

4.2. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan oleh peneliti, maka dapat

dilakukan pembahasan sebagai berikut:

4.2.1. Pengaruh Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran Terhadap

Pengawasan Keuangan Daerah

Dari hasil analisis pengujian hipotesis diketahui bahwa pengetahuan

dewan tentang anggaran berpengaruh positif terhadap pengawasan keuangan

daerah yang dinilai dengan koefisien jalur sebesar 0,565. Nilai probabilitas yang

didapatkan adalah sebesar 0,038 < 0,05, sehingga H0 ditolak. Hal ini berarti

pengaruh variabel pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan

keuangan daerah adalah signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya

pengetahuan dewan tentang anggaran maka pengawasan keuangan daerah dapat

dilakukan. Tentunya dengan adanya pengetahuan yang dimiliki anggota dewan

berkenaan dengan APBD yang diawasi akan lebih memudahkan pekerjaan

anggota dewan tersebut. Karena pengawasan adalah rangkaian kegiatan

pemantauan, pemeriksaan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan yang

merupakan hal penting untuk dapat menjamin terlaksananya sebuah kegiatan agar

sesuai dengan rencana. Hal ini menunjukkan bahwa jika semakin tinggi tingkat

pengetahuan dewan tentang anggaran, maka semakin efektif pengawasan

keuangan daerah yang dilakukan oleh DPRD.

Dari hasil penelitian di atas, menunjukkan bahwa pengetahuan dewan

tentang anggaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengawasan

keuangan daerah. Pada objek penelitian, terdapat dua butir pertanyaan yang
77

memperoleh nilai tertinggi untuk jawaban setuju yaitu anggota dewan dapat

memahami pelaksanaan APBD yang sebenarnya harus dilakukan oleh eksekutif

dan anggota dewan mampu mengidentifikasi pemborosan/kegagalan di dalam

pelaksanaan proyek. Dalam hal ini nilai yang positif tersebut dapat dijadikan

prediksi bahwa jika semakin tinggi tingkat pengetahuan dewan tentang anggaran,

maka semakin efektif pengawasan keuangan daerah yang dilakukan oleh DPRD.

Nilai yang signifikan tersebut mengindikasikan bahwa tingkat pengetahuan dewan

tentang anggaran adalah nyata (berpengaruh besar) konstribusinya dalam

meningkatkan pengawasan keuangan daerah. Kondisi seperti itu berlaku general,

tidak hanya dalam penelitian ini yakni hanya pada sampel yang diteliti.

Temuan ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh

Utama (2015) menyatakan bahwa pengetahuan dewan tentang anggaran

berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengawasan keuangan daerah. Hasil

penelitiannya menunjukkan bahwa dengan adanya pengaruh pengetahuan dewan

tentang anggaran akan mempertahankan proses pengawasan keuangan daerah

sehingga dapat meningkatkan bentuk pengawasan keuangan daerah yang

dilakukan oleh anggota DPRD. Temuan ini juga sesuai dengan penelitian

sebelumnya yang dilakukan oleh Rustyaningsih (2013), menyatakan bahwa

pengetahuan dewan tentang anggaran berpengaruh dengan kualitas pengawasan

keuangan daerah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa semakin tinggi

pengetahuan dewan tentang anggaran yang dimilki oleh DPRD semakin baik pula

kualitas pengawasan keuangan daerah yang dihasilkan. Pengetahuan dan

kemampuan yang dimiliki oleh anggota dewan dalam melaksanakan pengawasan


78

yang berkaitan dengan pengawasan keuangan daerah, akan semakin baik

kesejahteraan kepada masyarakat.

Temuan ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh

Mochtar (2016), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kualitas anggota DPRD

dapat diukur dari pengetahuan yang dimilikinya akan mempengaruhi kinerja

DPRD khususnya pada saat melakukan pengawasan keuangan daerah. Padahal

salah satu kunci sukses keberhasilan pembangunan daerah terletak pada kualitas

anggota DPRD tersebut, dimana anggota DPRD memegang peran penting dalam

pengawasan keuangan daerah. Suatu daerah yang memiliki kualitas anggota

DPRD yang berpendidikan dan berpengalaman maka pengawasan keuangan

daerah yang dilakukan akan semakin meningkat sehingga terciptanya keberhasilan

daerah tersebut dalam pembangunan. Pengawasan merupakan tahap integral

dengan keseluruhan tahap pada penyusunan dan pelaporan APBD. Pengawasan

diperlukan pada setiap tahap, bukan hanya pada tahap evaluasi saja.

4.2.2. Pengaruh Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran Terhadap

Pengawasan Keuangan Daerah yang Dimoderasi Transparansi

Kebijakan Publik

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui pengaruh pengetahuan

dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah yang dimoderasi

oleh transparansi kebijakan publik mempunyai koefisien jalur 0,065 (positif).

Pengaruh tersebut mempunyai nilai probabilitas (p-values) sebesar sebesar 0,690

> 0,05, (tidak signifikan). Dengan demikian, variabel transparansi kebijakan

publik tidak memoderasi pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap


79

pengawasan keuangan daerah. Hal tersebut dapat terlihat dari jawaban responden

mengenai pertanyaan adanya akses publik pada informasi dan mekanisme

pengaduan rakyat, mayoritas menjawab setuju dan merupakan nilai tertinggi dari

butir pertanyaan yang lain. Untuk jawaban responden dengan nilai terendah

adalah informasi yang diberikan mudah diakses oleh publik. Hal ini berarti,

pelayanan informasi masih buruk. Pemerintah daerah belum membentuk pejabat

pengelola informasi dan dokumentasi seperti amanat UU KIP (Keterbukaan

Informasi Publik). Serta prosedur operasi standar untuk layanan informasi

umumnya belum ada di Kota Pematangsiantar.

Transparansi dalam pengelolaan keuangan daerah menjadi salah satu

faktor penting ketika dikaitkan dengan tujuan laporan keuangan yaitu menyajikan

informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja

keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam

membuat dan mengevakuasi keputusan mengenai alokasi sumber dana. Laporan

keuangan daerah disusun secara wajar agar bisa digunakan oleh pihak yang

membutuhkan informasi tersebut, dan dapat dipertanggungjawabkan oleh publik.

Perlu adanya transparansi dari keuangan daerah untuk mengantisipasi adanya

penyelewengan dan rekayasa dana oleh pihak yang bersangkutan, agar masyarakat

juga dapat mengetahui apakah keuangan negara telah digunakan dengan

semestinya atau tidak.

Salah satu aspek penting dalam implementasi kebijakan pembangunan

adalah adanya asas transparansi atau keterbukaan. Prasyarat ini adalah mutlak

mengingat dalam alam demokrasi saat ini masyarakat berhak mengetahui secara
80

lebih spesifik, konsep dan penerapan kebijakan macam apa dapat segera

diwujudkan dan sekaligus memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi hajat

hidup masyarakat itu sendiri. Karenanya disisi lain ketertutupan aparatur

pemerintah dalam memutuskan berbagai kebijakan dalam pembangunan akan

berdampak pada kurang efektifnya penerapan dalam kebijakan dan terhambatnya

proses pembangunan yang dijalankan. Sehingga boleh jadi ketertutupan justru

menimbulkan resistensi di masyarakat. Di tingkat daerah belum lama berselang

ada materi kebijakan makro yang menjadi bahan perdebatan, misalnya soal DASK

(dokumen anggaran satuan kerja) sebagai bagian tak terpisahkan dari budget

daerah (APBD), banyak pihak menganggap bahwa hal ini perlu disosialisasikan,

termasuk dalam ruang debat publik, sehingga masyarakat bisa mengetahui

darimana dan kemana anggaran belanja daerah dialokasikan dan bagaimana

pendistribusiannya.

Efektifitas sosialisasi kebijakan sebelumnya juga penting guna

pengawasan yang lebih baik dan efektif, artinya masyarakat juga akan turut

mengawasi. Sosialisasi juga jangan hanya sekedar formalitas dan kerangka kerja

saja, penjelasan yang lebih detail pada kenyataannya akan mampu

menyumbangkan legitimasi yang lebih kuat dari masyarakat terhadap setiap

kegiatan proyek-proyek pembangunan. Orientasi kerja dan kinerja aparatur juga

selayaknya harus lebih kepada urgensi kebutuhan masyarakat, ketimbang sekedar

formalitas pengalokasian dana pembangunan/proyek dalam setiap tahun anggaran

untuk proyek-proyek rutin, dalam hal APBD misalnya, selain ada fungsi alokasi,

maka fungsi fiskal anggaran tersebut harus optimal. Sehingga aparatur akan lebih
81

luwes lagi mengelola anggaran daerah, yang merupakan hasil optimal dari

partisipasi masyarakat. Demikian juga dengan sosialisasi Perda (Peraturan

Daerah), harus diumumkan secara jelas dan terbuka, sehingga anggota masyarakat

akan merasa “well-informed” dengan kebijakan pemerintah di daerahnya. Selama

ini tidak jarang masyarakat kurang mengetahui perda-perda apa saja yang

mengakomodir kepentingan yang lebih luas, dan apa saja manfaat perda-perda

yang telah dan akan dikeluarkan.

Transparansi dan good governance dalam hal kebijakan ada komitmen

terhadap pola kepemerintahan yang baik, yang dalam Peraturan Pemerintah No.

1/2000 dijelaskan bahwa keperintahan yang baik adalah yang mampu

mengembangkan dan menerapkan prinsip-prinsip profesionalitas, akuntabilitas,

transparansi, pelayanan prima, demokrasi, efisiensi, efektifitas supremasi hukum

dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat. Pemerintahan yang bijaksana

memiliki arti tidak sekedar mengandalkan legalitas hukum yang dimiliki untuk

menjalankan administrasi publik, akan tetapi juga berusaha menumbuhkan rasa

memiliki dan rasa tanggung jawab masyarakat terhadap proses administrasi dari

hasil-hasil pembangunan yang dicapai (Nisjar dalam Sedaemanji, 2004). Dengan

demikian transparansi adalah suatu prinsip atau karakteristik dalam

mengembangkan sistem pemerintahan yang baik.

Debat akademis budaya transparansi memang relatif baru bagi kita,

meskipun di negara-negara yang menganut paham demokrasi hal demikian

tidaklah tabu. Soal bagaimana proses pembelajaran seluruh lapisan masyarakat,

khususnya aparatur pemerintah dalam mewujudkan transparansi kebijakan publik,


82

semestinya dimulai dari aparatur pemerintahan sendiri, atau peran proaktif para

wakil rakyat di DPR maupun DPRD. Sementara itu dikalangan akademisi harus

dibiasakan untuk secara terbuka dan sportif mendiskusikan bagian-bagian dari

kebijakan pemerintahan, terutama yang langsung menyangkut hajat hidup orang

banyak.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh

Sopanah dan Mardiasmo (2003), Simson (2005), Elsi Arianti (2017). Peneliti

sependapat dengan penelitian terdahulu bahwa transparansi kebijakan publik

masih dalam tahap wacana dan implementasinya masih dalam tahap formalitas.

Yuni Setyawati (2010), hasil penelitiannya menyatakan bahwa

pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan

daerah tidak diperkuat dengan adanya transparansi kebijakan publik terutama

dengan adanya pengumuman kebijakan anggaran kepada masyarakat yang dapat

meningkatkan transparansi kemudahan masyarakat mengakses dokumen publik

tentang anggaran, laporan pertanggungjawaban tahunan tepat waktu, kebijakan

transparansi anggaran dapat mengakomodasi dan meningkatkan pendapat usulan

rakyat dan adanya sistem pemberian informasi kepada publik yang dapat

meningkatkan transparansi anggaran, artinya dengan adanya itu semua

pengetahuan dewan tentang anggaran semakin baik khususnya dalam pengawasan

keuangan daerah

Hasil penelitian ini sejalan dengan fakta yang penulis amati, di mana

dalam penerapan transparansi kebijakan publik di kota Pematangsiantar masih

sangat minim. Seperti sulitnya mengakses informasi yang berkenaan dengan


83

anggaran (APBD) di publik. Transparansi merupakan salah satu prinsip good

governance. Transparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas, seluruh

proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu diakses oleh pihak-

pihak yang berkepentingan dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat

dimengerti dan dipantau.


BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan

sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan dari penelitian mengenai pengaruh

pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah

dengan transparansi kebijakan publik sebagai variabel moderasi pada DPRD Kota

Pematangsiantar adalah sebagai berikut:

1. Pengetahuan dewan tentang anggaran berpengaruh signifikan terhadap

pengawasan keuangan daerah pada DPRD Kota Pematangsiantar. Hal ini

menunjukkan apabila semakin tinggi pengetahuan dewan tentang anggaran

yang dimiliki oleh DPRD semakin baik pula kualitas pengawasan keuangan

daerah yang dihasilkan.

2. Transparansi kebijakan publik tidak mampu memoderasi pengaruh antara

pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan

daerah. Hal ini berarti bahwa peran transparansi kebijakan publik tidak

dapat berjalan sesuai dengan apa yang apa yang diharapkan. Informasi yang

berkenaan dengan anggaran (APBD) perlu diakses oleh pihak-pihak yang

berkepentingan dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat

dimengerti dan di pantau publik.

84
85

5.2. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka dalam hal ini penulis dapat

menyarankan hal-hal sebagai berikut:

1. Pengetahuan dewan tentang anggaran sangat penting dalam meningkatkan

pengawasan keuangan daerah. Anggota dewan tidak selalu paham tentang

anggaran namun rutinitas kerja dan pengalaman kerja menjadi media

pembelajaran yang lebih efektif dalam pengawasan keuangan daerah

(APBD), meakanisme kerja yang dilakukan oleh anggota DPRD

memberikan kontribusi dan media pembelajaran yang lebih efektif. Oleh

karena itu seluruh anggota DPRD sebaiknya mendapatkan pelatihan khusus

terutama mengenai APBD dan juga melanjutkan pendidikan khususnya di

bidang pemerintahan agar mereka lebih memahami dan mengetahui lebih

baik lagi tentang pengawasan keuangan daerah.

2. Sebaiknya transparansi kebijakan publik di Kota Pematangsiantar harus

lebih ditingkatkan dan diperbaiki karena kebijakan yang lebih transparan

akan mampu mengurangi kemungkinan anggota DPRD untuk berbuat tidak

benar sesuai fungsi dan tanggungjawabnya. Salah satu contoh konkrit untuk

mewujudkan transparansi kebijakan publik adalah menyampaikan laporan

pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip tepat

waktu dan disusun dengan mengikuti standar akuntansi pemerintahan yang

telah diterima secara umum dalam sebuah website agar dapat diketahui

publik dan juga yang membutuhkan informasi tersebut.


86

3. Diharapkan kepada peneliti lain agar dapat memperluas atau menambah

variabel penelitian, tidak hanya terbatas pada tiga variabel melainkan lebih

dari tiga variabel seperti political background, partisipasi masyarakat,

akuntabilitas publik. Selain itu peneliti selanjutnya juga dapat

memperpanjang waktu penelitian maupun mengambil atau memperbanyak

sampel penelitian.
DAFTAR PUSTAKA

Agam Fatchurrochman. 2002. Manajemen Keuangan Publik, Materi Pelatihan


Anti Korupsi. Indonesian Corporation Watch.

Agus, H. Pramono. 2002. Pengawasan Legislatif terhadap Eksekutif dalam


Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Tesis S2 Tidak di Publikasikan.
Malang: Program Pasca Sarjana Ilmu Administrasi Negara, Universitas
Brawijaya.

Amelia, A. A. Lambajang Dkk. 2018. Pengaruh Pengetahuan Tentang


Anggaran, Partsisipasi Masyarakat, Transparansi Kebijakan Publik, dan
Akuntabilitas Publik Terhadap Pengawasan Keuangan Daerah Pada
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di Wilayah Sulawesi Utara. Program
Magister Akuntasi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam
Ratulangi.

Anida, Iswanto. 2013. Influence the effectiveness and effeiciency of regional


financial management and internal control system against the reliability of
local government financial report. Unspecified thesis.

Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka


Cipta.

Abdul Halim. 2001. Bunga Rampai Manajemen Keuangan Daerah. UUP AMP
YKPN. Yogyakarta.

.......... 2002. Akuntansi Sektor Publik: Akuntansi Keuangan Daerah. Jakarta:


Salemba Empat.

Abdul Halim., Supomo, Bambang., dan Kusufi, Muhammad Syam. 2012.


Akuntansi Manajemen (Akuntansi Manajerial). Edisi 2. Yogyakarta: BPFE
Anggota IKAPI.

Budi Winarno. 2002. Kebijakan Publik: Teori dan Proses. Edisi Revisi.
Yogyakarta: Media Presindo.

Deddy Mulyana, M.A., Ph.D. 2010. Suatu Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta:
Rosda.
87
88

Elsi Arianti. 2017. Pengaruh Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran Terhadap


Pengawasan Keuangan Daerah (APBD) Dengan Political Background,
Akuntabilitas Publik dan Transparansi Kebuijakan Publik Sebagai
Variabel Moderasi (Studi Empiris Pada DPRD Kabupaten Pelalawan).
JOM Fekon Vol. 4 No. 1 Februari.

Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999. Instruksi Presiden Tentang Akuntabilitas


Kinerja Instansi Pemerintah.

Imam Ghozali. 2016. Aplikasi Multivariate Dengan Program IBM SPSS 23. Edisi
8. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Isma Coryanata. 2007. Akuntabilitas, Partisipasi Masyarakat dan Transparansi


Kebijakan Publik Sebagai Pemoderating Hubungan Pengetahuan Dewan
Tentang Anggaran dan Pengawasan Keuangan Daerah (APBD).
Simposium Nasional Akuntansi X: 1-24.

Jufri Darma, Dkk. 2012. Pengaruh Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran


Terhadap Pengawasan Keuangan Daerah Dengan Partisipasi Masyarakat
Sebagai Variabel Moderating. Jurnal Mediasi. Vol. 4. No. 1 Juni.

Leo Agustino. 2008. Dasar-dasar Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta.

Kaho, Josef Riwu. 2005. Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik


Indonesia: Identifikasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002. Permendagri Nomor 13


Tahun 2006. Permendagri Tentang tentang Pedoman Pengurusan,
Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah Serta Tata
Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBD).

Keputusan Presiden Nomor 74 Tahun 2001. Keputusan Presiden Tentang Tata


Cara Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah.

Krina, Loina Lalolo. 2003. Indikator dan Alat Ukur Prinsip Akuntabilitas,
Transparansi dan Partisipasi. Jakarta: Sekretariat Good Public
Governance Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
89

Mardiasmo. 2002. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta:


ANDI.

.......... 2006. Jurnal Akuntansi Pemerintahan. Vol 2. No 1 Mei. Perwujudan


Transparansi dan Akuntabilitas Publik Melalui Akuntansi Sektor Publik:
Suatu Sarana Governance.

.......... 2009. Pengawasan Pengendalian dan Pemeriksaan Kinerja Pemerintah


Daerah dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah. Yogyakarta: ANDI.

Mahmudi. 2006. Analisis Laporan Keuangan Pemerintah. Yogyakarta: Unit


Penerbit dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN.

Mochtar, Cahya Utama. 2016. Pengaruh Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran


Terhadap Pengawasan Keuangan Daerah Dengan Variabel Pemoderasi
Partsisipasi Masyarakat dan Transparansi Kebijakan Publik (Studi
Empiris pada DPRD Kabupaten Klaten). Publikasi Ilmiah.

Mustopa Didjaja. 2003. Manajemen Proses Kebijakan Publik, Formulasi,


Implementasi dan Evaluasi Kinerja. Jakarta: LAN dan Duta Pertiwi.

Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005. Peraturan Pemerintah Tentang


Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah.

.......... Nomor 58 Tahun 2005. Peraturan Pemerintah Tentang Pengelolaan


Keuangan Daerah.

.......... Nomor Nomor 105 Tahun 2000. Peraturan Pemerintah Tentang


Pergeseran Anggaran Daerah.

Siagian, Sondang. P. 2014. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi


Aksara.

Simson, Warimon, Imam Ghozali, dan Mohammad Nazir. 2007. Pengaruh


Partisipasi Masyarakat dan Transparansi Kebijakan ublik Terhadap
Hubungan Antara Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran Dengan
Pengawasan Daerah (APBD). Simposium Nasioanal Akuntansi.
90

Sopanah. 2003. Pengaruh Partisipasi Masyarakat dan Transparansi Kebijakan


Publik Terhadap Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran dan
Pengawasan Keuangan Daerah. Tesis. Yogyakarta: Program Pasca
Sarjana Universitas Gajah Mada.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

Tangkilisan, Hesel Nogi. 2003. Implementasi Kebijakan Publik. Yogyakarta:


Lukman Offset YPAPI.

Tjutju, Yuniarsih dan Suwatno. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia.


Bandung: Alfabeta.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003. Tentang Laporan


Keuangan Pemerintah Pusat/Daerah.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004. Tentang


Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Pemerintah Daerah.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004. Tentang


Pemerintahan Daerah.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2003. Tentang Susunan


Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD dalam melaksanakan tugas dan
wewenangnya, DPRD berhak meminta pejabat negara tingkat
kota/kabupaten, pejabat pemerintah daerah, badan hukum, atau warga
masyarakat untuk memberikan keterangan.

Winarna, Jaka dan Sri Murni. 2007. Pengaruh Personal Background, Political
Background dan Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran Terhadap Peran
DPRD dalam Pengawasan Keuangan Daerah. Simposium Nasional
Akuntansi X. Makasar.

Winardi. 2011. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta: PT Rineka Cipta.


91

Yuni Setyawati. 2010. Pengaruh Pengetahuan Anggaran Anggota Dewan


Terhadap Pengawasan Keuangan Daerah (APBD) Dengan Partisipasi
Masyarakat dan Transparansi Kebijakan Publik Sebagai Variabel
Pemoderasi (Studi Empiris di Karesidenan Surakarta). Tesis. Fakultas
Ekonomi Sebelas Maret, Surakarta.
LAMPIRAN
SURVEI PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH PADA DPRD
KOTA PEMATANGSIANTAR

IDENTITAS RESPONDEN

Nomor Responden : .............................................................. (diisi oleh peneliti)

Nama : ..............................................................

Jenis Kelamin : □Pria □ Wanita

Usia : ......... Tahun

Masa Jabatan : □< 1 Tahun □1-5 Tahun □> 5 Tahun

Pendidikan Terakhir : □SMA □D3/Akademi

□Strata 1 □Strata 2

□Strata 3 □Lain-lain

PETUNJUK PENGISIAN

1. Pada pertanyaan kuesioner, Bapak/Ibu diharapkan menjawab dengan


memberikan tanda check list (√) pada salah satu pilihan sesuai dengan
pengalaman anda.
STS : Sangat Tidak Setuju
TS : Tidak Setuju
KS : Kurang Setuju
S : Setuju
SS : Sangat Setuju
2. Isilah semua nomor pernyataan dalam kuesioner ini dan jangan ada yang
terlewatkan.
3. Tidak ada penilaian benar atau salah atas jawaban yang dipilih.
4. Atas kesediaan dan kerjasama Bapak/Ibu dalam pengisian pernyataan atau
kuesioner ini, saya ucapkan banyak terima kasih.
Pengetahuan
No. Pernyataan SS S KS TS STS

1. Saya mengetahui bagaimana cara


penyusunan APBD.
2. Pelaksanaan APBD yang sebenarnya harus
dilakukan oleh eksekutif dapat saya pahami.
3. Jika terjadi kebocoran dalam pelaksanaan
APBD, saya mengetahuinya.
4. Saya mampu mengidentifikasi
pemborosan/kegagalan di dalam
pelaksanaan proyek.

Transparansi Kebijakan Publik


No. Pernyataan SS S KS TS STS

1. Perlunya informasi kepada publik yang


berkenaan tentang anggaran (APBD).
2. Informasi yang diberikan mudah untuk
diakses oleh publik.
3. Laporan pertanggungjawaban dibuat setiap
periode sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
4. Informasi yang disajikan kepada publik
sudah sesuai dengan fakta dan analisis
kebijakan yang telah diambil.
5. Kemudahan dalam akses dokumen publik
tentang anggaran.
6. Adanya akses publik pada informasi dan
mekanisme pengaduan rakyat.
7. Dilakukannya sosialisasi mengenai
perubahan APBD.
8. Kejelasan anggaran disusun berdasarkan
Peraturan Perundang-undangan.
9. Adanya peraturan yang kuat dalam
penyusunan dan penetapan anggaran.

Pengawasan Keuangan Daerah


No. Pernyataan SS S KS TS STS

1. Saya terlibat dalam penyusunan arah dan


kebijakan umum APBD.
2. Bagi saya aspirasi masyarakat menjadi dasar
dalam rangka menyusun APBD.
3. Saya terlibat dalam pengesahan APBD.

4. Saya dapat menjelaskan tentang APBD yang


telah di sahkan.
5. Saya terlibat dalam memantau pelaksanaan
APBD.
6. Saya aktif melakukan evaluasi terhadap
laporan triwulan/bulanan yang dibuat
eksekutif.
7. Saya menanyakan alasan adanya revisi
anggaran.
8. Saya meminta keterangan atas laporan
pertanggungjawaban (LPJ) APBD yang
disampaikan Bupati/Walikota.
9. Saya menanyakan LPJ APBD jika terjadi
kejanggalan.
P1 P2 P3 P4 TKB1 TKB2 TKB3 TKB4 TKB5 TKB6 TKB7 TKB8 TKB9 PKD1 PKD2 PKD3 PKD4 PKD5 PKD6 PKD7 PKD8 PKD9
4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
4 4 4 5 5 4 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4
5 5 4 4 5 4 4 3 4 4 4 5 5 4 4 4 4 4 4 5 5 5
4 5 5 4 4 5 4 4 4 4 5 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5
4 4 4 4 5 5 4 4 5 4 4 4 4 4 5 4 4 5 5 4 4 4
4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 5 5 5 4 4 4 5 5 5
4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
4 4 4 4 5 5 5 3 5 5 5 5 5 4 5 5 4 4 4 4 5 5
5 4 4 4 5 5 5 4 4 5 5 5 5 5 5 4 4 4 5 2 5 5
5 4 4 3 4 4 5 3 3 4 3 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5
4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
5 4 5 4 4 3 4 4 5 4 5 5 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4
4 4 4 4 4 5 5 5 4 4 4 5 5 4 3 3 3 3 3 4 3 4
3 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 2 4 3
5 4 5 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 2 3 5
3 4 3 4 3 2 4 4 5 5 4 5 4 4 4 3 4 3 4 3 3 4
3 4 3 4 3 3 4 4 3 5 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3
3 5 3 5 4 4 3 4 3 4 5 5 4 4 4 3 5 3 5 3 5 4
5 4 5 4 3 4 3 5 3 5 5 4 5 5 3 3 4 3 4 4 5 4
3 3 3 3 4 3 4 4 5 4 5 5 4 4 4 4 3 4 3 4 4 3
3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3
3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 3 3 4 4
3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 4
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 5 4 3 4 3 3 4 3
3 3 3 3 2 2 2 3 3 4 4 3 3 5 4 4 3 4 3 2 4 3
3 3 3 3 3 2 2 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 3 3 2 5 4
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 5
3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 3 2 4 3

Common questions

Didukung oleh AI

Menurut penelitian Rustyaningsih, pengetahuan dewan tentang anggaran berpengaruh terhadap kualitas pengawasan keuangan daerah. Semakin tinggi pengetahuan dewan, semakin baik pula kualitas pengawasan yang dilakukan .

Variabel dalam penelitian dianggap reliabel karena semua memiliki nilai Cronbach's Alpha > 0,70, menunjukkan konsistensi atau stabilitas pengukuran yang dilakukan .

Transparansi kebijakan publik belum mampu memoderasi pengaruh tersebut karena layanan informasi masih buruk dan pemerintah daerah belum membentuk pejabat informasi sesuai UU KIP. Informasi terkait APBD sulit diakses, sehingga menghambat keterbukaan yang diharapkan .

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu di bidang akuntansi sektor publik, khususnya yang berkaitan dengan pengetahuan, transparansi publik, dan pengawasan .

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah memiliki koefisien jalur 0,065 dengan p-value 0,690 yang berarti tidak signifikan. Dengan demikian, transparansi kebijakan publik tidak memoderasi pengaruh tersebut .

Distribusi masa kerja responden adalah 64,28% responden memiliki masa kerja 1-5 tahun, dan 35,72% memiliki masa kerja lebih dari 5 tahun .

Analisis model pengukuran meliputi uji validitas konvergen, reliabilitas dan validitas konstruk, serta validitas diskriminan. Sementara itu, analisis model struktural meliputi koefisien determinasi, f-square, dan pengujian hipotesis menggunakan SEM-PLS .

Faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan ini termasuk partisipasi masyarakat dan transparansi kebijakan publik. Namun, menurut penelitian, pengaruh ini belum konsisten. Dalam beberapa penelitian, misalnya, partisipasi masyarakat mampu memoderasi hubungan ini .

Rekomendasinya adalah memberikan pelatihan khusus kepada anggota DPRD mengenai APBD dan meningkatkan pendidikan mereka dalam bidang pemerintahan untuk memahami lebih baik pengawasan keuangan daerah .

Pengalaman anggota dewan berperan penting dalam mempengaruhi efektivitas pengetahuan anggaran. Kualitas anggota DPRD yang berpendidikan dan berpengalaman akan meningkatkan pengawasan keuangan daerah karena pengalaman kerja menjadi media pembelajaran efektif .

Anda mungkin juga menyukai