PENGARUH PENGETAHUAN DEWAN TENTANG ANGGARAN
TERHADAP PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH DENGAN
TRANSPARANSI KEBIJAKAN PUBLIK SEBAGAI
VARIABEL MODERASI PADA DPRD
KOTA PEMATANGSIANTAR
TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Magister
Akuntansi ([Link]) Konsentrasi Akuntansi Sektor Publik
ELIZA ARSHANDY
NPM : 1720050042
PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
PENGARUH PENGETAHUAN DEWAN TENTANG ANGGARAN TERHADAP
PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH DENGAN TRANSPARANSI
KEBIJAKAN PUBLIK SEBAGAI VARIABEL MODERASI
PADA DPRD KOTA PEMATANGSIANTAR
ABSTRAK
Eliza Arshandy
NPM : 1720050042
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh pengetahuan
dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah, menguji dan
menganalisis pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap
pengawasan keuangan daerah yang dimoderasi oleh transparansi kebijakan publik.
Objek penelitian ini adalah DPRD Kota Pematangsiantar. Sampel pada penelitian
ini adalah 28 anggota DPRD Kota Pematangsiantar. Pengumpulan data dilakukan
dengan cara metode kuesioner. Metode analisis yang digunakan adalan structural
equation model partial least square (SEM-PLS). Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa pengetahuan dewan tentang anggaran berpengaruh
signifikan terhadap pengawasan keuangan daerah pada DPRD Kota
Pematangsiantar, transparansi kebijakan publik tidak memoderasi hubungan
antara pengetahuan dewan tentang anggaran dengan pengawasan keuangan daerah
pada DPRD Kota Pematangsiantar.
Kata kunci : pengetahuan dewan tentang anggaran, pengawasan keuangan daerah,
transparansi kebijakan publik.
i
THE INFLUENCE OF THE BOARD KNOWLEDGE ABOUT THE BUDGET
ON REGIONAL FINANCIAL SUPERVISION WITH
TRANSPARENCY OF PUBLIC POLICIES AS A
MODERATING VARIABLE AT DPRD
KOTA PEMATANGSIANTAR
ABSTRACT
Eliza Arshandy
NPM : 1720050042
The purpose of this research was to test and analyze the influence of the board
knowledge about the budget on regional financia supervisionl, to test and analyze
of the board knowledge about the budget on regional financial supervision which
is moderated by transparency public police. The object of this research is DPRD
Kota Pematangsiantar. The sample in this reseacrh was 28 member of Kota
Pematangsiantar. Data collection was carried out by means of the questionnaire
method. Methods used in this research were structural equation model partial
least square (SEM-PLS). The results of this study indicate the board knowledge
about the budget significantly influences on the regional financial supervision of
DPRD Kota Pematangsiantar, transparency public police does not moderate the
relationship between the board knowledge about the budget and the regional
financial supervision of DPRD Kota Pematangsiantar.
Keywords: knowledge, controller, transparency.
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini dengan
judul “Pengaruh Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran Terhadap
Pengawasan Keuangan Daerah Dengan Transparansi Kebijakan Publik
Sebagai Variabel Moderasi Pada DPRD Kota Pematangsiantar”. Adapun
tesis ini disusun untuk memenuhi syarat penyelesaian pendidikan Program
Pascasarjana Program Studi Magister Akuntansi Konsentrasi Akuntansi Sektor
Publik di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
Dalam penulisan tesis ini penulis sadar akan keterbatasan dan
kemampuan yang ada, namun walaupun demikian penulis berusaha agar tesis ini
sempurna sesuai dengan yang diharapkan dan penulis menyadari bahwa penulisan
tesis ini tidak mungkin terlaksana tanpa bantuan, dorongan, bimbingan, serta
arahan dari berbagai pihak baik sifatnya moril maupun materil. Oleh karena itu,
penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Agussani, [Link]., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah
Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Syaiful Bahri, [Link]., selaku Direktur Program Pascasarjana
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
3. Ibu Dr. Widia Astuty, S.E., [Link]., Ak., CA., QiA., CPAI., selaku Ketua
Program Studi Magister Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera
Utara dan merangkap sebagai Komisi Pembimbing II yang telah
iii
memberikan ilmu, dukungan, arahan, pemikiran, dan bimbingan kepada
penulis dalam penulisan tesis ini.
4. Ibu Dr. Eka Nurmala Sari, S.E., [Link]., Ak., CA., selaku Sekretaris Program
Studi Magister Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dan
merangkap sebagai Pembanding yang telah memberikan ilmu, dukungan,
arahan, pemikiran, dan bimbingan kepada penulis dalam penulisan tesis ini.
5. Bapak Dr. Muhyarsyah, S.E., [Link]., selaku Anggota Komisi Pembimbing I
yang telah memberikan ilmu, dukungan, arahan, pemikiran, dan bimbingan
kepada penulis dalam penulisan tesis ini.
6. Bapak Dr. Irfan, S.E., [Link]., selaku Pembanding yang telah memberikan
ilmu, dukungan, arahan, pemikiran, dan bimbingan kepada penulis dalam
penulisan tesis ini.
7. Ibu Sri Rahayu, S.E., [Link]. (Cand. Dr) selaku Pembanding yang telah
memberikan ilmu, dukungan, arahan, pemikiran, dan bimbingan kepada
penulis dalam penulisan tesis ini.
8. Orangtua tercinta (Bapak Rahmad Diyanto Siregar dan Ibu Netta Dirtawaty)
yang selalu memberikan dukungan dalam doa, beserta saudara-saudara
terkasih (Syifa Fauziah dan Gani Nazriel Herlambang) yang sepenuh hati
memberikan motivasi kepada penulis selama kuliah hingga selesainya
penulisan tesis ini, dan seluruh keluarga besar yang juga selalu memberikan
doanya kepada penulis.
9. Seluruh Staf Pengajar dan Staf Administrasi di Pascasarjana Program Studi
Magister Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
iv
10. Bapak Dr. Darwin Lie, S.E., M.M., selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi (STIE) Sultan Agung Pematangsiantar, seluruh Bapak dan Ibu
Dosen serta Staf Tata Usaha STIE Sultan Agung Pematangsiantar.
11. Ibu John Lidia, [Link], selaku Seksi Bidang Pendidikan Yayasan Perguruan
Sultan Agung Pematangsiantar.
12. Teman-teman satu angkatan di Magister Akuntansi, khususnya Konsentrasi
Akuntansi Sektor Publik yang memberi semangat serta bantuan dan
motivasi kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Semoga proposal tesis ini dapat bermanfaat bagi kita semua, serta penulis
menerima kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhir kata, penulis
mengucapkan banyak terima kasih dan semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa
memberkati dan menyertai kita semua.
Medan, Januari 2020
Penulis
Eliza Arshandy
1720050042
v
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK
ABSTRACT
KATA PENGANTAR ......................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ............................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ........................................................................... viii
BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ....................................................... 1
1.2. Identifikasi Masalah ............................................................. 5
1.3. Rumusan Masalah ................................................................ 5
1.4. Tujuan Penelitian ................................................................. 6
1.5. Manfaat Penelitian ............................................................... 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................... 7
2.1. Landasan Teori .................................................................... 7
2.1.1. Pengawasan Keuangan Daerah ................................ 7
2.1.2. Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran .................... 18
2.1.3. Transparansi Kebijakan Publik ................................ 24
vi
Halaman
2.2. Kajian Penelitian yang Relevan............................................ 30
2.3. Kerangka Berpikir................................................................ 33
2.4. Hipotesis .............................................................................. 36
BAB 3 METODE PENELITIAN ........................................................ 38
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................. 38
3.2. Populasi dan Sampel ........................................................... 39
3.3. Defenisi Operasional Variabel ............................................. 39
3.4. Teknik Pengumpulan data .................................................... 41
3.5. Teknik Analisis Data............................................................ 45
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................ 51
4.1. Hasil Penelitian ................................................................... 51
4.2. Pembahasan ........................................................................ 65
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ............................................... 73
5.1. Kesimpulan ......................................................................... 73
5.2. Saran ................................................................................... 74
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 76
LAMPIRAN
vii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Perkembangan Hukum di Bidang Keuangan Daerah ..... 11
Tabel 2.2 Penelitian yang Relevan ................................................ 31
Tabel 3.1 Rencana Waktu Penelitian............................................. 38
Tabel 3.2 Variabel Penelitian ........................................................ 40
Tabel 3.3 Bobot Skala Likert ........................................................ 42
Tabel 3.4 Uji Validitas Variabel Pengetahuan Dewan Tentang
Anggaran (X) ............................................................... 43
Tabel 3.5 Uji Validitas Variabel Transparansi Kebijakan Publik
(Z) ................................................................................ 43
Tabel 3.6 Uji Validitas Variabel Pengawasan Keuangan Daerah
(Y) ............................................................................... 44
Tabel 3.7 Uji Reliabilitas Variabel Pengetahuan Dewan Tentang
Anggaran (X) ................................................................ 45
Tabel 3.8 Uji Reliabilitas Variabel Transparansi Kebijakan Publik
(Z) ................................................................................ 45
Tabel 3.9 Uji Reliabilitas Variabel Pengawasan Keuangan Daerah
(Y) ............................................................................... 45
Tabel 4.1 Pengumpulan Data ........................................................ 51
Tabel 4.2 Deskriptif Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ......... 52
Tabel 4.3 Deskriptif Responden Berdasarkan Usia........................ 52
Tabel 4.4 Deskriptif Responden Berdasarkan Masa Kerja ............. 53
viii
Halaman
Tabel 4.5 Deskriptif Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Akhir ............................................................................ 53
Tabel 4.6 Penyajian Data Angket Variabel Pengetahuan Dewan Tentang
Anggaran (X) ............................................................... 54
Tabel 4.7 Penyajian Data Angket Variabel Transparansi Kebijakan
Publik (Z) ..................................................................... 55
Tabel 4.8 Penyajian Data Angket Variabel Pengawasan Keuangan
Daerah (Y) ................................................................... 57
Tabel 4.9 R-square ....................................................................... 60
Tabel 4.10 f-square ........................................................................ 61
Tabel 4.11 Path Coefficient ........................................................... 63
ix
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ........................................................ 36
Gambar 3.1 Model Struktural PLS ................................................... 47
Gambar 4.1 Model Struktural PLS ................................................... 59
Gambar 4.2 Output R-square ........................................................... 60
Gambar 4.3 Output f-square ............................................................. 62
Gambar 4.4 Output Path Coefficient ................................................. 63
x
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Perubahan sistem politik, sosial dan kemasyarakatan serta ekonomi yang
dibawa oleh arus reformasi telah menimbulkan tuntutan yang beragam terhadap
pengelolaan pemerintah yang baik. Tuntutan ini perlu dipenuhi dan didasari
langsung oleh para manajer pemerintah daerah. Seiring dengan PP No. 105/2000
yang diganti menjadi PP No. 58/2005 mensyaratkan perlu diberlakukannya
pertanggungjawaban (akuntabilitas) dalam bentuk laporan keuangan (neraca
daerah, arus kas dan realisasi anggaran) oleh kepala daerah. Reformasi yang
diperjuangkan oleh seluruh lapisan masyarakat membawa perubahan dalam
kehidupan politik nasional maupun daerah. Salah satu agenda reformasi tersebut
adalah adanya desentralisasi keuangan dan otonomi daerah.
Pengawasan keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah
dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang
termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan
kewajiban daerah tersebut, dalam kerangka anggaran pendapatan belanja daerah
(APBD) (PP No. 105 Tahun 2000). Kegiatan pengawasan sebagai fungsi
manajemen bermaksud untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kegagalan
yang terjadi setelah perencanaan dibuat dan dilaksanakan. Dalam rangka
mewujudkannya, terlaksananya penyelenggaraan daerah yang baik, yaitu yang
transparan dan akuntabel, efektif dan efisien, serta profesional dan
11
12
bertanggungjawab. Akan tetapi yang terjadi di lingkungan DPRD belakangan ini
mengindikasikan bahwa masih minimnya pengawasan yang dilakukan oleh
DPRD. Salah satu sebab utamanya adalah tidak terselesaikannya pembangunan
Tugu Raja Sang Naualuh Damanik yang sudah direncanakan sejak tahun 2012.
Pada masa itu, Tugu Raja Sang Naualuh ditetapkan di Jalan Sang
Naualuh, di seputaran bundaran berhadapan dengan Taman Makam Pahlawan dan
Ramayana. Hefriansyah, melalui surat Walikota Siantar No:600/5289/X/2018
tertanggal 29 Oktober 2018, sukses memindahkan lokasi yang telah disepakati, di
Lapangan Merdeka ke Lapangan H Adam Malik.
Melalui kontrak, kemudian dikeluarkan surat perjanjian kerja konstruksi
No:00001/Kontrak/[Link]/1.03.0101/X/2018, tertanggal 19 Oktober 2018
dengan Anggaran APBD TA 2018 senilai Rp 1,8 Milyar. Pembangunan pelataran
dan landasan tempat berdirinya patung dilaksanakan tahun 2018, dengan
pembuatan dan pemasangan patung dilakukan pada tahun 2019, dengan sumber
dana APBD TA 2018 dan APBD TA 2019.
Saat ini pembangunan Tugu Raja Sang Naualuh terhenti dan tidak
dilanjutkan. Penyusunan anggaran harus diawasi mulai dari tahan perencanaan
anggaran, pelaksanaannya serta pelaporan. Pengawasan yang dilakukan oleh
anggota DPRD dilakukan untuk memastikan agar anggaran yang disusun sesuai
dengan perencanaan, menjaga agar pelaksaan APBD sesuai dengan anggaran yang
telah digariskan dan menjaga hasil pelaksanaan APBD benar-benar dapat
dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini, minimnya pengawasan yang dilakukan
DPRD sehingga dalam pelaksaan pembangunan Tugu Raja Sang Naualuh
13
terhenti. Dengan kata lain, ini adalah salah satu contoh kegagalan pemerintah
dalam mengelola dan mengawasi anggaran.
Pengawasan anggaran yang dilakukan oleh dewan dipengaruhi oleh
faktor internal dan faktor eksternal (Pramono, 2002). Faktor Internal adalah faktor
yang dimilki oleh dewan yang berpengaruh secara langsung terhadap pengawasan
yang dilakukan oleh dewan, salah satunya adalah pengetahuan tentang anggaran.
Pengetahuan anggota DPRD tentang anggaran yang diartikan sebagai
pengetahuan dewan terhadap mekanisme penyusunan anggaran mulai dari tahap
perencanaan sampai pada tahap pertanggungjawaban serta pengetahuan anggota
dewan tentang peraturan perundang-undangan yang mengatur pengelolaan
keuangan daerah (APBD). Dalam hal ini, pendidikan anggota DPRD yang rata-
rata sudah strata satu walaupun dari lulusan yang berbeda-beda diharapkan
mampu mengimplementasikan pengetahuan yang dimilikinya agar tidak terjadi
pemborosan anggaran yang berkelanjutan serta mengetahui prosedur pelaksanaan
tugas. Dari segi pengalaman, anggota DPRD Kota Pematangsiantar bukan berasal
dari instansi pemerintahan. Mereka dari latar belakang yang berbeda-beda dan
cukup bervasiasi.
Dalam hal yang berkaitan dengan tujuan untuk mengetahui faktor
eksternal dalam pengawasan keuangan daerah yaitu transparansi kebijakan publik.
Transparansi kebijakan publik merupakan prinsip yang menjamin kebebasan bagi
setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaran pemerintah
atau keterbukaan pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan keuangan
daerah sehingga dapat diketahui dan diawasi oleh DPRD dan masyarakat. Sampai
14
saat ini, kejelasan dan kelengkapan informasi masih kurang transparan dan sulit
untuk didapat baik melalui wawancara langsung maupun situs website. Seperti
kejelasan penggunaan anggaran yang belum di publish ke masyarakat, seberapa
besar keterserapannya dalam penggunaan APBD.
Dari beberapa penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti terdahulu
mendapatkan hasil penelitian yang berbeda-beda. Seperti penelitian yang
dilakukan oleh Isma Coryanata dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa
pengetahuan dewan tentang anggaran berpengaruh positif dan signfikan terhadap
pengawasan keuangan daerah. Hasil lainnya menunujukkan bahwa semua variabel
yang diturunkan yaitu akuntabilitas, partisipasi masyarakat, dan transparansi
kebijakan publik disebut dengan variabel pemoderasi, semuanya ikut
mempengaruhi hubungan antara pengetahuan dewan tentang anggaran dengan
pengawasan keuangan daerah secara signifikan. Sedangkan penelitian yang
dilakukan oleh Jufri Darma, dkk dengan hasil penelitian pengujian hipotesis 1
menunjukkan bahwa pengetahuan anggota dewan tentang anggaran tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap pengawasan keuangan daerah. hasil
pengujian hipotesis 2 menunjukkan bahwa pengaruh antara pengetahuan anggota
dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah dimoderat
variabel partisipasi masyarakat.
Melihat ketidak konsistenan hasil beberapa penelitian tersebut dan
menyadari pentingnya pengetahuan dewan tentang anggaran dalam melakukan
pengawasan keuangan daerah serta transparansi kebijakan publik sebagai prinsip
untuk melakukan kebijakan publik, maka penulis tertarik untuk melakukan
15
penelitian dengan judul “Pengaruh Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran
Terhadap Pengawasan Keuangan Daerah Dengan Transparansi Kebijakan Publik
Sebagai Variabel Moderasi Pada DPRD Kota Pematangsiantar”.
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis
mengidentifikasi masalah yang ada dalam penelitian ini adalah:
1. Minimnya pengawasan yang dilakukan oleh DPRD.
2. Pengetahuan anggota dewan terkait dengan sistem penganggaran belum
maksimal.
3. Minimnya kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam kejelasan
dan kelengkapan Informasi APBD.
1.3. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas,
maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah:
1. Apakah pengetahuan dewan tentang anggaran berpengaruh terhadap
pengawasan keuangan daerah pada DPRD kota Pematangsiantar.
2. Apakah transparansi kebijakan publik mampu memoderasi pengetahuan
dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah pada DPRD
kota Pematangsiantar.
16
1.4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dijelaskan tujuan penelitian
ini adalah:
a. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh pengetahuan dewan tentang
anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah pada DPRD kota
Pematangsiantar.
b. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh pengetahuan dewan tentang
anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah dengan transparansi
kebijakan publik sebagai variabel moderasi pada DPRD kota
Pematangsiantar.
1.5. Manfaat penelitian
Adapun manfat penelitian ini adalah:
1) Pengembangan Ilmu
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan juga pengetahuan
bagi peneliti dan memberikan sumbangan terhadap pengembangan ilmu
pengetahuan khususnya dalam bidang Akuntansi Sektor Publik yang berkaitan
dengan pengetahuan, transparansi publik dan pengawasan keuangan daerah dan
sebagai referensi bagi peneliti lain yang berkeinginan melakukan penelitian
sejenis.
2) Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran agar
dapat meningkatkan pengawasan keuangan pada DPRD kota pematangsiantar dan
juga digunakan sebagai acuan untuk perbaikan pengawasan keuangan pada DPRD
17
kota pematangsiantar sehingga nantinya diharapkan dapat memberikan pelayanan
yang terbaik kepada masyarakat.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Pengawasan Keuangan Daerah
[Link]. Pengertian Pengawasan
Pengawasan sebagai salah satu fungsi manajemen dalam pencapaian
tujuan, memegang peranan yang sangat penting karena dengan adanya
pengawasan kemungkinan terjadinya penyimpangan dapat dicegah, sehingga
usaha untuk mengadakan perbaikan atau koreksi dapat segera dilakukan. Menurut
Terry dalam kutipan Winardi (2011, hal 395), pengawasan sebagai
mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi prestasi
kerja dan apabila perlu, menerapkan tindakan-tindakan korektif sehingga hasil
pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Menurut Siagian (2014,
hal 213), mengemukakan bahwa proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh
kegiatan organisasi untuk menjamin semua agar semua pekerjaan yang sedang
dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.
Sedangkan pengawasan atau penyelenggaraan pemerintah daerah
menurut peraturan pemerintah No. 79 Tahun 2005 Pasal 1 tentang Pedoman
Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah menyatakan
bahwa pengawasan atau penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah proses
kegiatan yang ditujukan untuk menjamin agar pemerintahan daerah berjalan
18
19
secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas maka penulis menyimpulkan
bahwa pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan
pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil sesuai dengan
kinerja yang ditetapkan tersebut.
[Link]. Keuangan Daerah dan Ruang Lingkupnya
Sejak masa reformasi masalah keuangan daerah merupakan masalah
yang banyak dibicarakan dalam konteks sektor publik. Halim (2001, hal 19),
mengartikan keuangan daerah sebagai semua hak dan kewajiban yang dapat
dinilai dengan uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa uang maupun
barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah sepanjang itu belum
dimiliki/dikuasai oleh Negara atau daerah yang lebih tinggi serta pihak-pihak lain
sesuai ketentuan/peraturan Undang-undang yang berlaku.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun
2005, tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dalam ketentuan umumnya
menyatakan bahwa keuanagan daerah adalah semua hak dan kewajiban dalam
rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang
termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan daerah tersebut. Kebijakan
keuangan daerah senantiasa diarahkan pada tercapainya sasaran pembangunan,
terciptanya perekonomian daerah yang mandiri sebagai usaha bersama atas asas
kekeluargaan berdasarkan demokrasi ekonomi yang berdasarkan Pancasila dan
20
Undang-Undang Dasar 1945 dengan peningkatan kemakmuran rakyat yang
merata.
Menurut Mamesah dalam Halim (2002, hal 19), menyatakan bahwa
keuangan daerah dapat diartikan sebagai semua hak dan kewajiban yang dapat
dinilai dengan uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa uang maupun
barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah sepanjang belum dimiliki oleh
negara atau daerah yang lebih tinggi serta pihak-pihak lain sesuai peraturan
perundangan yang berlaku.
Menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003, pada rancangan
Undang-Undang atau Peraturan Daerah tentang Laporan Keuangan Pemerintah
Pusat/Daerah disertakan atau dilampirkan informasi tambahan mengenai kinerja
instansi pemerintah, yakni prestasi dicapai oleh penggunaan anggaran sehubungan
dengan anggaran yang telah digunakan pengungkapan informasi tentang kinerja
ini adalah relevan dengan perubahan paradigma penganggaran pemerintah yang
ditetapkan dengan mengidentifikasikan secara jelas keluaran (outputs) dan setiap
kegiatan dari hasil (outcome) dari setiap program untuk keperluan tersebut, perlu
disusun suatu sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yang terintegrasi
dengan sistem akuntansi pemerintah tersebut sekaligus dimaksudkan untuk
menggantikan ketentuan yang termuat dalam Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun
1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, sehingga dihasilkan suatu
laporan keuangan dan kinerja yang terpadu.
Sedangkan pengertian keuangan daerah menurut Keputusan Menteri
Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 yang sekarang berubah menjadi
21
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengurusan,
Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah Serta Tata Cara
Penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBD) adalah semua hak dan
kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat
dinilai dengan uang termaksud didalamnya segala bentuk kekayaan yang
berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah, dalam kerangka anggaran
pendapatan dan belanja daerah.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa
keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah yang dapat dinilai
dengan uang ataupun segala bentuk kekayaan daerah tersebut yang berhubungan
dengan hak, kewajiban dan juga penyelengaraan pemerintahan daerah tersebut.
[Link]. Undang-Undang Pelaksanaan Keuangan Daerah
Menurut Mahmudi dalam Forum Dosen Akuntansi Sektor Publik (2006,
hal 23), menyatakan bahwa perjalanan reformasi manajemen kauangan daerah,
dilihat dari aspek historis, dapat dibagi dalam tiga fase, yaitu era sebelum otonomi
daerah, era transisi otonomi, dan era pascatransisi.
Era pra-otonomi daerah merupakan pelaksanaan otonomi ala orde baru
mulai Tahun 1975 sampai 1999. Era transisi ekonomi adalah masa antara sebelum
1999 hingga 2004, dan era pascatransisi adalah masa setelah diberlakukannya
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang-
Undang Nomor 1 Tahun 2004, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004, Undang-
Undang Nomor 32 dan 33 Tahun 2004.
22
Tabel 2.1
Perkembangan Hukum di Bidang Keuangan Daerah
Pra-Otonomi Daerah Transisi Otonomi Pascatransisi Otonomi
dan Desentralisasi
Fiskal 1999
Keputusan KDH
UU No. 5 Tahun 1974 UU No. 22 Tahun 1999
UU No. 17 Tahun 2003
UU No. 25 Tahun 1999
UU No. 1 Tahun 2004
PP No. 5 dan 6 Tahun PP No. 105 Tahun 2000 UU No. 15 Tahun 2004
1975
UU No. 25 Tahun 2004
Manual Administrasi Kepmendagri No. 29 PP No. 24 Tahun 2005
Keuangan Daerah Tahun 2002
PP No. 58 Tahun 2005
Peraturan Daerah
Permendagri No. 13
Tahun 2006
Permendagri No. 59
Keputusan KDH Tahun 2007
Sumber: Diolah dari Forum Dosen Akuntansi, 2007
Pada era reformasi, dalam manajemen keuangan daerah terdapat
reformasi pelaksanaan seiring dengan adanya otonomi daerah. Adapun peraturan
pelaksanaannya menurut Halim (2001, hal 3), telah dikeluarkan oleh pemerintah
yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang sekarang
berubah menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah
Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 yang sekarang berubah
menjadi Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pusat dan Pemerintah Daerah, adalah sebagai berikut:
23
a) Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan.
b) Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah.
c) Peraturan pemerintah Nomor 107 Tahun 2000 tentang Pinjaman Daerah.
d) Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tata Cara
Pertanggungjawaban Kepala Daerah.
e) Surat Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah tanggal 17 November 2000
Nomor 903/235/SJ tentang pedoman umum Penyusunan dan Pelaksanaan
APBD Tahun Anggaran 2001.
Berdasarkan peraturan-peraturan tersebut, karakteristik manajemen
keuangan daerah pada era reformasi antara lain:
a) Pengertian daerah adalah provinsi dan kota atau kabupaten.
b) Pengertian pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat lainnya.
Pemerintah daerah ini adalah badan eksekutif, sedangkan badan legislatif di
daerah adalah DPRD.
c) Perhitungan APBD menjadi satu dengan pertanggungjawaban kepala daerah
(Pasal 5 PP Nomor 108 Tahun 2000).
d) Bentuk laporan pertanggungjawaban akhir terdiri dari laporan perhitungan
APBD, nota perhitungan APBD, laporan aliran kas, dan neraca daerah
dilengkapi dengan kinerja berdasarkan tolak ukur Renstra (Pasal 38 PP
Nomor 105 Tahun 2000).
24
e) Pinjaman APBD tidak lagi masuk dalam pos pendapatan (yang menunjukkan
hak pemerintah daerah), tetapi masukan dalam pos penerimaan (yang belum
tentu menjadi hak pemerintah daerah).
f) Masyarakat termaksud dalam unsur-unsur penyusunan APBD disamping
pemerintah daerah yang terdiri atas kepala daerah dan APBD.
g) Indikator kinerja pemerintah daerah tidak hanya mencakup perbandingan
antara anggaran dengan realisasinya, perbandingan standar biaya dengan
realisasinya serta target dan persentase fisik proyek tetapi juga meliputi
standar pelayanan yang diharapkan.
h) Laporan pertanggungjwaban daerah pada akhir tahun anggaran yang
bentuknya laporan perhitungan APBD dibahas oleh DPRD dan mengandung
konsekuensi terhadap masa jabatan kepala daerah apabila dua kali ditolak
oleh DPRD.
Dalam peraturan di atas, terutama Peraturan Pemerintah Nomor 105
Tahun 2000, dapat dilihat 6 (enam) pergeseran anggaran daerah secara umum dari
era pra reformasi ke era pasca reformasi yaitu:
a) Dari vertical accountability menjadi horizontal accountability.
b) Dari traditional buget menjadi performance buget.
c) Dari pengendalian dan audit keuangan ke pengendalian dan audit keuangan
dan kinerja.
d) Lebih menerapkan konsep value for money.
e) Penerapan pusat pertanggjawaban.
f) Perubahan sistem akuntansi keuangan pemerintah.
25
Atas dasar itu maka pemerintah mengeluarkan PP Nomor 58 Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagai pengganti PP Nomor
105 Tahun 2000 dan Kepmendagri No.29 Tahun 2002.
PP No. 58 Tahun 2005 merupakan pengganti dari PP No. 105 Tahun
2000 tentang pengelolaan dan pertanggungjwaban kauangan daerah yang selama
ini dijadikan sebagai landasan hukum dan penyusunan APBD, pelaksanaan,
penatausahaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah. Substansi materi kedua
PP dimaksud, memiliki persamaan yang sangat mendasar khususnya landasan
filosofis yang mengedepankan prinsip efisiensi, efektifitas, transparansi dan
akuntabilitas. Sedangkan perbedaan, dalam pengaturan yang baru dilandasi
pemikiran yang lebih mempertegas dan menjelaskan pengelolaan keuangan
daerah, sistem dan prosedur serta kebijakan lainnya yang perlu mendapatkan
perhatian dibidang penatausahaan, akuntansi, pelaporan dan pertanggungjawaban
keuangan daerah.
Tujuan dikeluarkannya PP No. 58 Tahun 2005 dan Permendagri No. 13
Tahun 2006 adalah agar pemerintah daerah dapat menyusun Laporan Keuangan
sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yaitu PP No. 24 yang merupakan
panduan atau pedoman bagi pemerintah daerah dalam menyajikan keuangan yang
standar, bagaimana perlakuan akuntansi, serta kebijakan akuntansi.
26
[Link]. Konsep Pengawasan Keuangan Daerah (APBD)
Halim (2007, hal 52), mengartikan bahwa pengawasan keuangan daerah
yang dimaksud adalah pengawasan APBD, terutama jika dilihat dari komponen
utamanya, sehingga pengertian pengawasan APBD dapat diartikan sebagai segala
kegiatan untuk menjamin agar pengumpulan-pengumpulan pendapatan daerah,
dan pembelanjaan pengeluaran-pengeluaran daerah berjalan sesuai dengan
rencana, aturan-aturan dan tujuan yang telah ditetapkan. Adapun tujuan utama
pengawasan pada dasarnya adalah untuk membandingkan antara yang seharusnya
terjadi dengan yang sesungguhnya terjadi dalam rangka mencapai suatu tujuan
tertentu.
Halim (2012, hal 55-57), juga menjelaskan jenis-jenis pengawasan
APBD yang dapat dibedakan berdasarkan objek yang diawasi, sifat pengawasan,
dan metode pengawasannya. Pengawasan yang dilakukan oleh dewan
(pengawasan legislatif) dapat berupa pengawasan secara langsung dan tidak
langsung serta preventif dan reprensif. Pengawasan langsung dilakukan secara
pribadi cara mengamati, meneliti, memeriksa, mengecek sendiri di tempat
pekerjaan dan meminta secara langsung dari pelaksana dengan cara inspeksi.
Sedangkan pengawasan tidak langsung dilakukan dengan cara mempelajari
laporan yang diterima dari pelaksana. Pengawasan preventif dilakukan melalui
pre-audit yaitu sebalum pekerjaan dimulai. Pengawasan represif dilakukan
melalui post-audit dengan pemeriksaan terhadap pelaksanaan di tempat atau
inspeksi (Coryanata, 2007).
27
[Link]. Peran DPRD dalam Pengawasan Keuangan Daerah
Keputusan Menteri dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang
Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Kauangan Daerah
serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah,
Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah telah disebutkan dengan jelas bahwa
peran DPRD dalam pengawasan keuangan daerah ini yaitu melaksanakan
pengawasan terhadap pelaksanaan APBD, pengawasan yang dimaksud bukan
pemeriksaan keuangan, tetapi pengawasan agar lebih tercapai sasaran yang telah
ditetapkan. Pengawasan yang dilakukan oleh DPRD bukan pula pengawasan yang
bersifat teknis, namun pengawasan oleh DPRD (Pengawasan legislatif) yang bisa
dilakukan secara preventif dan represif, serta secara langsung maupun tidak
langsung sesuai dengan ruang lingkup tugas komisi yang dibidanginya.
Halim (2007, hal 51), juga berpendapat bahwa aspek pengawasan
keuangan daerah adalah suatu aspek yang meliputi seluruh tahap dalam proses
penganggaran, sehinga jika dikaitkan dengan siklus APBD, aspek pengawasan
APBD seharusnya dapat dilaksanakan dengan baik mulai dari tahap perencanaan,
pelaksanaan maupun pertanggungjawaban APBD. Hal ini sesuai dengan pendapat
Mardiasmo (2009, hal 61), yang mengemukakan bahwa anggaran harus juga
diawasi mulai dari tahap proses APBD tersebut, disebabkan karena pengawasan
merupakan tahap integral dengan keseluruhan tahap mulai dari perencanaan,
pelaksanaan hingga pelaporan APBD. Hal ini hanya untuk menjamin tercapainya
sasaran yang telah ditetapkan. Indriani dan Baswir dalam Utomo (2011) serta
28
Pramita dan Andriyani (2010) juga menyatakan bahwa pengawasan keuangan
daerah (APBD) harus dimulai dari proses perencanaan hingga proses pelaporan.
Fungsi pengawasan tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
1) Perencanaan
Tahap ini DPRD memiliki peran dalam melakukan kegiatan diantaranya yaitu
menampung aspirasi masyarakat, menetapkan petunjuk dan kebijakan publik
tentang APBD serta menentukan kebijakan strategi dan prioritas dari APBD
tersebut, melakukan klarifikasi (diskusi APDB dalam rapat paripurna) serta
mengambil keputusan dan pengesahan dalam APBD.
2) Pelaksanaan
Peran DPRD dapat direalisasikan dengan melakukan evaluasi terhadap APBD
yang dilaporkan secara kuarter dan melakukan pengawasan lapangan melalui
inspeksi dan laporan realisasi anggaran, termasuk juga evaluasi terhadap
revisi atau perubahan anggaran. Hal tersebut dikarenakan adanya masalah
yang sering timbul pada tahap implementasi yaitu banyaknya revsisi dan
perubahan APBD.
3) Pelaporan
Peran dari DPRD dapat diimplementasikan dengan mengevaluasi laporan
riwulan/bulanan atau realisasi APBD secara keseluruhan (APBD tahunan)
dengan memeriksa laporan, catatan APBD juga inspeksi lapangan serta
menindaklanjuti apabila terjadi kejanggalan dalam laporan
Pertaggungjawaban APBD.
29
2.1.2. Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran
[Link]. Pengertian Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran
Dalam menjalankan fungsi dan peran anggota dewan, kapasitas dan
posisi anggota dewan sangat ditentukan oleh kemampuan bargaining position
dalam menghasilkan sebuah kebijakan. Menurut Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 105 Tahun 2000 yang berubah menjadi PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban menjelaskan bahwa pengawasan atas
anggaran dilakukan oleh dewan, dewan berwenang memerintah pemeriksaan
terhadap pengelolaan anggaran. Menurut Yuniarsih dan Suwatno (2008, hal 23),
pengetahuan adalah suatu informasi yang dimiliki seseorang khususnya pada
bidang spesifik.
Kaho (2005, hal 81), mengemukakan bahwa pengetahuan yang luas dan
mendalam akan memberikan kemampuan untuk mengartikulasi segala
kepentingan rakyat serta menentukan cara yang lebih tepat dan efesien.
Pengetahuan tersebut juga erat kaitannya dengan pendidikan dan pengalaman,
sehingga dalam pengawasan keuangan daerah anggota DPRD harus memiliki:
1) Pengetahuan tentang proses penyusunan APBD.
2) Pelaksanaan dan pelaporan penyusunan APBD.
Pengalaman dan pengetahuan yang tinggi akan membantu seseorang
dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya sesuai dengan kedudukan
anggota DPRD sebagai wakil rakyat (Sopanah et al, 2007). Oleh karena itu, maka
pengetahuan yang akan dibutuhkan anggota dewan dalam melaksanakan
pengawasan keuangan daerah ini adalah pengetahuan dewan tentang anggaran.
30
Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Werimon, Ghozali dan
Nazir (2007) bahwa pengetahuan dewan tentang anggaran adalah kemampuan
dewan dalam hal menyusun anggaran (RAPBD/APBD) dan deteksi serta
identifikasi terhadap pemborosan atau kegagalan, dan kebocoran anggaran.
Winarna dan Murni (2007) juga mendefinisikan bahwa pengetahuan anggota
DPRD tentang anggaran dapat diartikan sebagai pengetahuan dewan terhadap
mekanisme penyusunan anggaran mulai dari tahap perencanaan sampai pada
tahap pertanggungjawaban serta pengetahuan dewan untuk melakukan
pengawasan guna mencegah terjadinya pemborosan atau kegagalan dalam
pelaksanaan APBD.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dewan tentang anggaran
adalah kemampuan anggota dewan tentang penyusunan anggaran (APBD)
berdasarkan pengetahuan maupun pengalamannya.
[Link]. Lembaga Legislatif Daerah (DPRD)
Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan
daerah, Lembaga Legislatif Daerah (dikenal dengan istilah DPRD) adalah
lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan
daerah yang memiliki fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan. Urusan wajib
yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan
urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi:
1) Perencanaan dan pengendalian pembangunan.
2) Perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan tata ruang.
3) Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat.
31
4) Penyediaan sarana dan prasarana umum.
5) Penanganan bidang kesehatan.
6) Penyelenggaraan pendidikan.
7) Penaggulangan masalah sosial.
8) Pelayanan bidang ketenagakerjaan.
9) Fasilitas pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah.
10) Pengendalian lingkungan hidup.
11) Pelayanan pertanahan.
12) Pelayanan kependudukan dan catatan sipil.
13) Pelayanan administrasi umum pemerintahan.
14) Pelayanan administrasi penanaman modal.
15) Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya.
16) Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.
Lembaga legislatif daerah kota/kabupaten berada di setiap
kota/kabupaten di Indonesia. Anggota legislatif berjumlah 30 orang dengan masa
jabatan adalah 5 tahun dan berakhir bersamaan pada saat anggota legislatif yang
baru mengucapkan sumpah/janji.
[Link]. Tugas dan Wewenang
Tugas dan wewenang lembaga legislatif daerah adalah:
1) Membentuk Peraturan Daerah yang dibahas dengan pimpinan daerah untuk
mendapat persetujuan bersama.
2) Menetapkan APBD bersama dengan kepala daerah.
32
3) Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan
peraturan perundang-undangan lainnya, keputusan kepala daerah, APBD,
kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan
daerah dan kerjasama internasional di daerah.
4) Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala dan wakil kepala
daerah kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur.
5) Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap
rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan daerah.
6) Meminta Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) dalam
pelaksanaan tugas desentralisasi daerah yang baru mengucapkan
sumpah/janji.
Anggota legislatif daerah (DPRD) memiliki hak interpelasi, hak angket
dan hak menyatakan pendapat. Anggota legislatif daerah (DPRD) juga memiliki
hak mengajukan Rancangan Perda, mengajukan pertanyaan, menyampaikan usul
dan pendapat, membela diri, hak imunitas serta hak protokoler.
1) Hak anggaran
DPRD bersama kepala daerah menyusun dan membahas Rancangan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) yang selanjutnya
ditetapkan dalam Peraturan Daerah. Hal ini dilakukan juga oleh dewan dalam
perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah
dilaksanakan. Hal tersebut masing-masing dilakukan oleh dewan dan
eksekutif pada RAPBD yang disampaikan oleh eksekutif kepada dewan
setiap akan berakhirnya anggaran yang sedang berjalan, RAPBD tersebut
33
dibahas dan disempurnakan yang akhirnya setelah disepakati maka
dituangkan dalam Perda. Perubahan anggaran dilakukan oleh dewan bersama
eksekutif pada triwulan ke III sebelum memasuki triwulan ke IV, dan
perhitungan APBD dilakukan selambat-lambatnya enam bulan setelah
berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan.
2) Hak mengajukan pertanyaan bagi masing-masing anggota
Setiap anggota DPRD dapat mengajukan pertanyaan kepada kepala daerah.
Pertanyaan dapat berbentuk tertulis maupun lisan. Kepala daerah dapat
menjawab pertanyaan anggota dewan tersebut secara tertulis maupun lisan
pula.
3) Hak meminta keterangan
Sekurang-kurangnya lima anggota dewan yang tidak hanya terdiri dari satu
fraksi dapat mengajukan usul kepada Dewan untuk meminta keterangan
tentang kebijaksanaan Kepala Daerah. Usul tersebut disampaikan kepada
pimpinan Dewan.
4) Hak meminta perubahan
Hak ini adalah untuk mengajukan perubahan terhadap rancangan Peraturan
daerah. Perubahan yang dimaksudkan bisa bersifat menambah, mengurangi
maupun menyempurnakan baik pasal maupun redaksi dari suatu rancangan
Peraturan Daerah yang sedang dibahas.
5) Hak mengajukan penyataan pendapat
Sekurang-kurangnya lima anggota dewan dapat mengajukan suatu usul
pernyataan pendapat atau usul lain, usul tersebut dapat disampaikan dalam
34
Sidang Pleno. Pembicaraan usul ini diakhiri dengan keputusan Dewan yang
menyatakan menerima atau menolak usul pernyataan pendapat tersebut.
Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan
Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD dalam melaksanakan tugas dan
wewenangnya, DPRD berhak meminta pejabat negara tingkat kota/kabupaten,
pejabat pemerintah daerah, badan hukum, atau warga masyarakat untuk
memberikan keterangan.
[Link]. Dimensi dan Indikator Pengetahuan
Dimensi itu mempunyai pengertian suatu batas yang mengisolir
keberadaan suatu eksistensi. Sedangkan indikator adalah variabel yang digunakan
untuk mengevaluasi keadaan atau kemungkinan dilakukan pengukuran terhadap
perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Dimensi dan indikator
yang digunakan dalam penelitian ini mengadaptasi teori yang diutarakan oleh
Yuniarsih dan Suwatno (2008, hal 23), yang dibagi kedalam dimensi dan
indikator seperti berikut:
1) Dimensi Pendidikan
Dengan indikator sebagai berikut:
a) Kesesuaian latar belakang pendidikan anggota dewan dengan pekerjaan.
b) Pengetahuan anggota dewan tentang prosedur pelaksanaan tugas.
c) Pemahaman anggota dewan terhadap prosedur pelaksanaan tugasnya.
2) Dimensi Pengalaman
Dengan indikator sebagai berikut:
a) Pengalaman kerja yang dimiliki anggota dewan.
35
b) Prestasi kerja yang dimiliki anggota dewan.
c) Ketenangan anggota dewan saat bekerja.
3) Dimensi Minat
Dengan indikator sebagai berikut:
a) Kehadiran.
b) Kepatuhan.
c) Sikap terhadap pekerjaan.
Sedangkan menurut Kaho (2005, hal 81), pengetahuan yang luas dan
mendalam akan memberikan kemampuan untuk mengartikulasi segala
kepentingan rakyat serta menentukan cara yang lebih tepat dan efisien.
Pengetahuan tersebut sangat erat kaitannya dengan indikator sebagai berikut:
1) Pendidikan.
2) Pengalaman.
2.1.3. Transparansi Kebijakan Publik
[Link]. Pengertian Transparansi
Transparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas. Seluruh
proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat diakses oleh
pihak-pihak yang berkepentingan dan informasi yang tersedia harus memadai agar
dapat dimengerti dan dipantau. Menurut Lalolo (2003, hal 13), transparansi adalah
prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh
informasi tentang penyelenggaraan pemerintah, yakni informasi tentang
kebijakan, proses pembuatan serta hasil yang dicapai.
36
Menurut Didjaja (2000, hal 261), transparansi adalah keterbukaan
pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan sehingga dapat diketahui oleh
masyarakat. Transparansi pada akhirnya akan menciptakan akuntabilitas antara
pemerintah dengan rakyat. Sedangkan menurut Mardiasmo dalam Kristianten
(2006, hal 45), menyebutkan transparansi adalah keterbukaan pemerintah dalam
memberikan informasi yang berkaitan dengan aktifitas pengeloaan sumber daya
publik kepada pihak yang membutuhkan yaitu masyarakat.
Dari beberapa pendapat ahli di atas, penulis menyimpulkan bahwa
transparansi adalah keterbukaan pemerintah yang berisi peraturan-peraturan yang
dibuat untuk mencapai tujuan bersama.
[Link]. Pengertian Kebijakan Publik
Lingkup dari studi kebijakan publik sangat luas karena mencakup
berbagai bidang dan sektor seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, dan
sebagainya. Disamping itu dilihat dari hirarkinya kebijakan publik dapat bersifat
nasional, regional maupun lokal seperti undang-undang, peraturan pemerintah,
peraturan presiden, peraturan menteri, peraturan pemerintah daerah/provinsi,
keputusan gubernur, peraturan daerah kabupaten/kota, dan keputusan
bupati/walikota.
Secara Terminologi pengertian kebijakan publik (public policy) itu
ternyata banyak sekali, tergantung dari sudut mana kita mengartikannya. Easton
memberikan definisi kebijakan publik sebagai the authoritative allocation of
values for the whole society atau sebagai pengalokasian nilai-nilai secara paksa
kepada seluruh anggota masyarakat. Laswell dan kaplan juga mengartikan
37
kebijakan publik sebagai a projected program of goal, value, and practice atau
sesuatu program pencapaian tujuan, nilai-nilai dalam praktek-praktek yang
terarah.
Pressman dan Widavsky sebagaimana dikutip Budi Winarno (2002, hal
17), mendefinisikan kebijakan publik sebagai hipotesis yang mengandung
kondisi-kondisi awal dan akibat-akibat yang bias diramalkan. Kebijakan publik itu
harus dibedakan dengan bentuk-bentuk kebijakan yang lain misalnya kebijakan
swasta. Hal ini dipengaruhi oleh keterlibatan faktor-faktor bukan pemerintah.
Robert Eyestone sebagaimana dikutip Leo Agustino (2008, hal 6), mendefinisikan
kebijakan publik sebagai hubungan antara unit pemerintah dengan lingkungannya.
Banyak pihak yang beranggapan bahwa defeinisi tersebut masih luas untuk
dipahami, karena apa yang dimaksud dengan kebijakan publik dapat mencakup
banyak hal.
Sedangkan menurut Woll sebagaimana dikutip Tangkilisan (2003, hal 2),
menyebutkan bahwa kebijakan ialah sejumlah aktivitas pemerintah untuk
memecahkan masalah di masyarakat, baik secara langsung maupun melalui
berbagai lembaga yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.
Berdasarkan pendapat berbagai ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa
kebijakan publik merupakan tindakan berupa keputusan maupun peraturan yang
dibuat pemerintah yang bertujuan untuk memecahkan masalah publik maupun
kepentingan publik.
38
[Link]. Undang-undang tentang Keterbukaan Informasi Publik
Undang-undang No. 14 tahun 2008, tentang keterbukaan informasi
publik adalah salah satu produk hukum Indonesia yang dikeluarkan dalam tahun
2008 dan diundangkan pada tanggal 30 April 2008 dan mulai berlaku dua tahun
setelah diundangkan. Undang-undang yang terdiri dari 64 pasal ini pada intinya
memberikan kewajiban kepada setiap Badan Publik untuk membuka akses bagi
pemohon informasi publik untuk mendapatkan informasi publik, kecuali beberapa
informasi tertentu.
UU KIP, atau Undang-undang No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan
Informasi Publik sangat penting sebagai landasan hukum yang berkaitan dengan
(1) hak setiap orang untuk memperoleh informasi, (2) kewajiban Badan Publik
menyediakan dan melayani permintaan informasi secara cepat, tepat waktu, biaya
ringan/proporsional, dan cara sederhana, (3) pengecualian bersifat ketat dan
terbatas, (4) kewajiban Badan Publik untuk membenahi sistem dokumentasi dan
pelayanan informasi.
Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik menegaskan sebagaimana dalam pasal 28 F Undang-undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyebutkan bahwa setiap orang berhak
untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi
dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki,
dan menyimpan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang
tersedia.
39
Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik menggaris bawahi dengan tebal bahwa salah satu elemen penting dalam
mewujudkan penyelenggaraan negara yang terbuka adalah hak publik untuk
memperoleh informasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hak atas
informasi menjadi sangat penting karena makin terbuka penyelenggaraan negara
untuk diawasi publik, penyelenggaraan negara tersebut makin dapat
dipertanggungjawabkan. Hak setiap orang untuk memperoleh informasi juga
relevan untuk meningkatkan kualitas pelibatan masyarakat dalam proses
pengambilan keputusan publik. Partisipasi atau pelibatan masyarakat tidak banyak
berarti tanpa jaminan keterbukaan informasi publik.
Setiap badan publik mempunyai kewajiban untuk membuka akses atas
informasi publik yang berkaitan dengan badan publik tersebut untuk masyarakat
luas. UU KIP menjelaskan bahwa lingkup badan publik dalam undang-undang
meliputi lembaga eksekutif, yudikatif, legislatif, serta penyelenggara negara
lainnya yang mendapatkan dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN)/ Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan mencakup pula
organisasi nonpemerintah, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak
berbadan hukum, seperti lembaga swadaya masyarakat, perkumpulan, serta
organisasi lainnya yang mengelola atau menggunakan dana yang sebagian atau
seluruhnya bersumber dari APBN/APBD, sumbangan masyarakat dan/atau luar
negeri.
Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik disahkan pada tanggal 30 April 2008 di Jakarta oleh Presiden Dr. H. Susilo
40
Bambang Yudhoyono. Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang
Keterbukaan Informasi Publik diundangkan di Jakarta pada tanggal 30 April 2008
oleh Menkumham Andi Mattalatta.
Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik ditempatkan pada Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2008
nomor 61. Penjelasan atas Undang-undang nomor 14 tahun 2008 tentang
Keterbukaan Informasi Publik ditempatkan pada Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia nomor 4846, agar semua orang mengetahuinya.
[Link]. Indikator Transparansi
Prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk
memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi
mengenai kebijakan, proses pembuatan, pelaksanaan dan hasil yang dicapai.
Menurut Krina (2003, hal 17), indikator-indikator dan transparansi adalah sebagai
berikut:
1) Penyediaan informasi yang jelas tentang tanggung jawab.
2) Kemudahan akses informasi.
3) Menyusun suatu mekanisme pengaduan jika ada peraturan yang dilanggar
atau permintaan untuk membayar uang suap.
4) Meningkatkan arus informasi melalui kerjasama dengan media massa dan
lembaga non pemerintah.
41
Menurut Kristianten (2006, hal 73), menyebutkan bahwa transparansi
dapat diukur melalui beberapa indikator yaitu sebagai berikut:
1) Kesediaan dan aksestabilitas dokumen.
2) Kejelasan dan kelengkapan informasi.
3) Keterbukaan proses.
4) Kerangka regulasi yang menjamin transparansi.
Sedangkan transparansi merujuk pada ketersediaan informasi pada
masyarakat umum dan kejelasan tentang peraturan perundang-undangan dan
keputusan pemerintah, dengan indikator sebagai berikut:
1) Akses pada informasi yang akurat dan tepat waktu.
2) Penyediaan informasi yang jelas tentang prosedur dan biaya.
3) Kemudahan akses informasi.
4) Menyusun suatu mekanisme pengaduan jika terjadi pelanggaran.
2.2. Kajian Penelitian yang Relevan
Kajian penelitian yang relevan berisi tentang data hasil penelitian yang
pernah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya yang memiliki relevansi dengan
penelitian ini. Adapun beberapa penelitian terdahulu yang relevan sebagai berikut:
42
Tabel 2.2
Penelitian yang Relevan
Nama Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian
Isma Akuntabilitas, Variabel Independen: Hasil penelitian menunjukkan
Coryanata Partisipasi Pengetahuan Dewan bahwa pengetahuan dewan
(2012) Masyarakat dan tentang Anggaran tentang anggaran berpengaruh
Transparansi positif dan signfikan terhadap
Kebijakan Publik Variabel Dependen: pengawasan keuangan daerah.
Sebagai Pemoderasi Pengawasan Hasil lainnya menunujukkan
Hubungan Keuangan Daerah bahwa semua variabel yang
Pengetahuan diturunkan yaitu akuntabilitas,
Dewan Tentang Variabel Pemoderasi: partisipasi masyarakat, dan
Anggaran dan Akuntabilitas, transparansi kebijakan publik
Pengawasan Partsisipasi disebut dengan variabel
Keuangan Daerah Masyarakat, dan pemoderasi, semuanya ikut
Transparansi mempengaruhi hubungan antara
Kebijakan Publik pengetahuan dewan tentang
anggaran dengan pengawasan
keuangan daerah secara
signifikan.
Yuni Pengaruh Variabel Independen: Hasil penelitian menunjukkan
Setyawati Pengetahuan Pengetahuan bahwa pengaruh pengetahuan
(2010) Anggaran Anggota Anggaran Anggota anggaran anggota dewan terhadap
Dewan Terhadap Dewan pengawasan keuangan daerah
Pengawasan tidak dimoderasi oleh partisipasi
Keuangan Daerah Variabel Dependen: masyarakat. Hasil lainnya
(APBD) Dengan Pengawasan pengaruh pengetahuan anggaran
Partisipasi Keuangan Daerah anggota dewan terhadap
Masyarakat dan (APBD) pengawasan keuangan daerah
Transparansi tidak dimoderasi oleh transparansi
Kebijakan Publik Variabel Pemoderasi: kebijakan publik.
Sebagai Variabel Partisipasi
Pemoderasi Masyarakat dan
Transparansi
Kebijakan Publik
Amelia A. Pengaruh Variabel Independen: Hasil penelitian menunjukkan
A. Pengetahuan Pengetahuan Tentang pengetahuan tentang anggaran
Lambajang Tentang Anggaran, Anggaran, berpengaruh signifikan terhadap
Dkk Partsisipasi Partsisipasi pengawasan keuangan daerah.
(2018) Masyarakat, Masyarakat, Partisipasi masyarakat
Transparansi Transparansi berpengaruh signifikan terhadap
Kebijakan Publik, Kebijakan Publik, pengawasan keuangan daerah.
dan Akuntabilitas dan Akuntabilitas Transparansi kebijakan publik
Publik Terhadap Publik tidak berpengaruh terhadap
Pengawasan pengawasan keuangan daerah.
Keuangan Daerah Variabel Dependen: Akuntabilitas publik berpengaruh
Pada Dewan Pengawasan terhadap pengawasan keuangan
Perwakilan Rakyat Keuangan Daerah daerah. Variabel pengeetahuan
Daerah di Wilayah tentang anggaran, partisipasi
Sulawesi Utara masyarakat, transparansi
kebijakan publik, dan
akuntabilitas publik berpengaruh
secara simultan terhadap
pengawasan keuangan daerah.
43
Lanjutan Tabel 2.2
Mochtar Pengaruh Variabel Independen: Hasil dari penelitian ini
Cahya Pengetahuan Pengetahuan Dewan menunjukan bahwa variabel
Utama Dewan Tentang Tentang Anggaran pengetahuan dewan tentang
(2016) Anggaran Terhadap anggaran berpengaruh signifikan
Pengawasan Variabel Dependen: terhadap pengawasan keuangan
Keuangan Daerah Pengawasan daerah, dan variabel partisipasi
Dengan Variabel Keuangan Daerah masyarakat tidak berpengaruh
Pemoderasi terhadap hubungan pengetahuan
Partsisipasi Variabel Pemoderasi: dewan tentang anggaran dengan
Masyarakat dan Partsisipasi pengawasan dewan pada
Transparansi Masyarakat dan keuangan daerah, sedangkan
Kebijakan Publik Transparansi variabel transparansi kebijakan
(Studi Empiris pada Kebijakan Publik publik berpengaruh signifikan
DPRD Kabupaten terhadap hubungan pengetahuan
Klaten) dewan tentang anggaran dengan
pengawasan dewan pada
keuangan.
Elsi Pengaruh Variabel Independen: Dari hasil penelitian ini dapat
Arianti Pengetahuan Pengetahuan Dewan disimpulkan bahwa pengetahuan
(2017) Dewan Tentang Tentang Anggaran tentang anggaran berpengaruh
Anggaran Terhadap negative dan signifikan terhadap
Pengawasan pengawasan keuangan daerah
Keuangan Daerah Variabel Dependen: (APBD). Dari ketiga variabel
(APBD) Dengan Pengawasan moderating yang dapat
Political Keuangan Daerah mempengaruhi hubungan antara
Background, (APBD) pengetahuan tentang anggaran
Akuntabilitas dan pengawasan keuangan
Publik dan Variabel Moderasi: daerah (APBD) adalah political
Transparansi Political Background, background
Kebuijakan Publik Akuntabilitas Publik
Sebagai Variabel dan Transparansi dan akuntabilitas, sedangkan
Moderasi (Studi Kebuijakan Publik transparansi tidak berpengaruh.
Empiris Pada
DPRD Kabupaten
Pelalawan)
Jufri Pengaruh Variabel Independen: Hasil pengujian hipotesis 1
Darma, Pengetahuan Pengetahuan Dewan menunjukkan bahwa pengetahuan
Dkk Dewan Tentang Tentang Anggaran anggota dewan tentang anggaran
(2012) Anggaran Terhadap tidak berpengaruh secara
Pengawasan Variabel Dependen: signifikan terhadap pengawasan
Keuangan Daerah Pengawasan keuangan daerah. hasil pengujian
Dengan Partisipasi Keuangan Daerah hipotesis 2 menunjukkan bahwa
Masyarakat Sebagai pengaruh antara pengetahuan
Variabel Variabel Moderasi: anggota dewan tentang anggaran
Moderating Partisipasi terhadap pengawasan keuangan
Masyarakat daerah dimoderat variabel
partisipasi masyarakat.
44
Lanjutan Tabel II.2
Anida, Influence the Variabel Independen: The results of tests indicating that
Iswanto effectiveness and Influence the the effectiveness of regional
(2013) effeiciency of effectiveness, financial management influential
regional financial regional financial positive significantly to the
management and management, internal reliability of local government
internal control control system financial report with the value of
system against the against the reliability the coefficients of 1,33, efficiency
reliability of local regional financial management
government Variabel Dependen: negative effects significantly to
financial report local government the reliability of local government
financial report financial report with the value of
the coefficients of -3,28 and
internal control system measured
by internal control weakness
negative effects significantly to
the reliability of local government
financial report with the value of
the coefficients of -4,25.
Sumber: Berbagai Sumber Penelitian
2.3. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan penjelasan tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah
yang penting.
Dalam menjalankan fungsi dan peran anggota dewan, kapasitas dan
posisi anggota dewan sangat ditentukan oleh kemampuan bargaining position
dalam menghasilkan sebuah kebijakan. Menurut Kaho (2005, hal 81),
pengetahuan yang luas dan mendalam akan memberikan kemampuan untuk
mengartikulasi segala kepentingan rakyat serta menentukan cara yang lebih tepat
dan efesien.
Pengalaman dan pengetahuan yang tinggi akan membantu seseorang
dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya sesuai dengan kedudukan
anggota DPRD sebagai wakil rakyat (Sopanah et al, 2007). Oleh karena itu, maka
45
pengetahuan yang akan dibutuhkan anggota dewan dalam melaksanakan
pengawasan keuangan daerah ini adalah pengetahuan dewan tentang anggaran.
Pengawasan anggaran yang dilakukan oleh dewan dipengaruhi oleh
faktor internal dan faktor eksternal (Pramono, 2002). Faktor Internal adalah faktor
yang dimiliki oleh dewan yang berpengaruh secara langsung terhadap
pengawasan yang dilakukan oleh dewan, salah satunya adalah pengetahuan
tentang anggaran. Pengetahuan anggota DPRD tentang anggaran dapat diartikan
sebagai pengetahuan dewan terhadap mekanisme penyusunan anggaran mulai dari
tahap perencanaan sampai pada tahap pertanggungjawaban serta pengetahuan
dewan untuk melakukan pengawasan guna mencegah terjadinya pemborosan atau
kegagalan dalam pelaksanaan APBD.
Beberapa penelitian yang menguji hubungan antara kualitas anggota
dewan dengan kinerjanya diantaranya dilakukan oleh Indradi (2001), Syamsiar
(2001), Sutamoto (2002), Sopanah (2002). Hasil penelitiannya membuktikan
bahwa kualitas dewan yang diukur dengan pendidikan, pengetahuan, pengalaman
dan keahlian berpengaruh terhadap kinerja dewan yang salah satunya adalah
kinerja pada saat melakukan fungsi pengawasan. Pendidikan dan pelatihan
berkaitan dengan pengetahuan untuk masa yang akan datang.
Yudono (2002), menyatakan bahwa DPRD akan mampu menggunakan
hak-haknya secara tepat, melaksanakan tugas dan kewajibannya secara efektif
serta menempatkan kedudukannya secara proporsional jika setiap anggota
mempunyai pengetahuan yang cukup dalam hal konsepsi teknis penyelenggaraan
pemerintahan, kebijakan publik, dan lain sebagainya. Pengetahuan yang
46
dibutuhkan dalam melakukan pengawasan keuangan daerah salah satunya adalah
pengetahuan tentang anggaran. Dengan mengetahui tentang anggaran diharapkan
anggota dewan dapat mendeteksi adanya pemborosan dan kebocoran anggaran.
Kemudian faktor eksternal adalah pengaruh dari luar terhadap fungsi
pengawasan oleh dewan yang berpengaruh secara tidak langsung terhadap
pengawaasan yang dilakukan oleh dewan, salah satunya adalah transparansi
kebijakan publik. Transparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas.
Seluruh proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat diakses
oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan informasi yang tersedia harus memadai
agar dapat dimengerti dan dipantau. Pengetahuan yang tinggi biasanya berbanding
lurus dengan pengawasan keuangan daerah yang baik. Akan tetapi, pengetahuan
yang tinggi dan pengawasan yang baik belum tentu transparan dan bisa diakses
publik. Oleh karena itu transparansi kebijakan publik diidentifikasi sebagai faktor
penguat dalam hubungan antara pengetahuan dengan pengawasan keuangan
daerah.
Pada penelitian Isma Coryanata (2012), transparansi kebijakan publik
mempengaruhi hubungan antara pengetahuan dewan tentang anggaran dengan
pengawasan keuangan daerah secara signifikan.
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan di atas, maka dapat
digambarkan dalam kerangka konseptual sebagai berikut:
47
Pengetahuan Dewan Pengawasan
Tentang Anggaran Keuangan Daerah
Transparansi
Kebijakan Publik
Gambar 2.1
Kerangka Berpikir
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, dapat dinyatakan bahwa dalam
penelitian ini, variabel independen yang digunakan adalah pengetahuan dewan
tentang anggaran sedangkan variabel dependennya adalah pengawasan keuangan
daerah yang merupakan alat, dan variabel moderasi adalah transparansi kebijakan
publik.
2.4. HIPOTESIS
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap semua masalah
penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk
kalimat pertanyaan. Hipotesis menurut Sugiyono (2010, hal 64), adalah jawaban
sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah
penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan jawaban
sementara karena hipotesis pada dasarnya merupakan jawaban dari permasalahan
yang telah dirumuskan dalam perumusan masalah, sedangkan kebenaran dari
hipotesis perlu diuji terlebih dahulu melalui analisis data. Hipotesis dalam
48
penelitian ini menjelaskan hubungan dan pengaruh antara variabel terhadap
variabel dependen dan variabel moderasi.
1. Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran berpengaruh terhadap Pengawasan
Keuangan Daerah pada DPRD Kota Pematangsiantar.
2. Transparansi Kebijakan Publik memoderasi pengaruh Pengetahuan dewan
tentang anggaran terhadap Pengawasan Keuangan Daerah pada DPRD Kota
Pematangsiantar.
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Pnelitian
3.1.1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
di Kota Pematangsiantar. Kantor DPRD Kota Pematangsiantar berada di Jalan. H.
Adam Malik No. 1 Kelurahan Proklamasi Kecamatan Siantar Barat, Kota
Pematangsiantar .
3.1.2. Waktu Penelitian
Adapun waktu penelitian dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.1
Rencana Waktu Penelitian
Juli Agustus Sept Okt Nov Des Jan
Tahapan
No 2019 2019 2019 2019 2019 2019 2020
Penelitian
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pengajuan
Judul
2 Penyusunan
Proposal
3 Seminar
Proposal
4 Pengumpulan
Data
5 Pengolahan
Data
6 Penulisan
Laporan
7 Seminar Hasil
8 Penyelesaian
Laporan
9 Sidang Meja
Hijau
Sumber: Data Diolah
49
50
3.2. Populasi dan Sampel
3.2.1. Populasi
Populasi merupakan kelompok orang, kejadian, atau peristiwa yang
menjadi perhatian para peneliti untuk diteliti. Populasi pada penelitian ini adalah
anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang berjumlah 30 (tiga
puluh) orang di Kota Pematangsiantar.
3.2.2. Sampel
Sampel merupakan wakil dari populasi. Sampel pada penelitian ini
menggunakan simple random sampling, yaitu metode penarikan dari sebuah
populasi dengan cara tertentu sehingga setiap anggota populasi tadi memiliki
peluang yang sama untuk terpilih atau terambil (Kerlinger, 2006:188).
3.3. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel merupakan jabaran dari variabel penelitian
secara ringkas. Adapun variabel yang terdapat dalam proposal tesis ini adalah
pengetahuan anggota dewan tentang anggaran, transparansi kebijakan publik dan
pengawasan keuangan daerah. Pengawasan keuangan daerah adalah semua hak
dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang
dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang
berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut, dalam rangka anggaran
pendapatan dan belanja daerah (APBD) (PP No. 105 Tahun 2000). Banyak faktor
yang mempengaaruhi pengawasan keuangan daerah, antara lain yaitu pengetahuan
dewan tentang anggaran dan transparansi kebijakan publik.
51
Pengetahuan dewan tentang anggara merupakan kemampuan dewan
dalam hal menyusun anggaran (RAPBD/APBD) dan mendeteksi serta indikasi
terhadap pemborosan atau kegagalan, dan kebocoran anggaran. Hal ini terkait
dengan pendidikan dan pengalaman anggota dewan (kaho, 2005). Transparansi
kebijakan publik merupakan keterbukaan pemerintah dalam membuat kebijakan-
kebijakan sehingga dapat diketahui oleh masyarakat. Hal ini terkait dengan
kesediaan dan aksestabilitas dokumen, kejelasan dan kelengkapan informasi,
keterbukaan proses, dan kerangka regulasi yang menjamin transparansi.
Adapun definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
Tabel 3.2
Variabel Penelitian
Variabel Definisi Indikator Skala
Pengawas Pengawasan APBD, terutama 1. Perencanaan Interval
Keuangan jika dilihat dari komponen 2. Pelaksanaan
Daerah utamanya, sehingga pengertian 3. Pelaporan
(Y) pengawasan APBD dapat
diartikan sebagai segala
kegiatan untuk menjamin agar
pengumpulan-pengumpulan
pendapatan daerah, dan
pembelanjaan pengeluaran-
pengeluaran daerah berjalan
sesuai dengan rencana, aturan-
aturan dan tujuan yang telah
ditetapkan. pengawasan
keuangan daerah (APBD)
harus dimulai dari proses
perencanaan hingga proses
pelaporan.
Halim (2007)
Utomo (2011)
Pramita dan Andriyani (2010)
Isma (2012)
52
Lanjutan Tabel 3.2
Pengetahuan Pengetahuan merupakan 1. Pendidikan Interval
(X) kemampuan dewan dalam hal 2. Pengalaman
menyusun anggaran
(RAPBD/APBD) dan deteksi
deteksi serta identifikasi
terhadap pemborosan atau
kegagalan, dan kebocoran
anggaran. Pengetahuan yang
luas dan mendalam akan
memberikan kemampuan
untuk mengartikulasi segala
kepentingan rakyat serta
menentukan cara yang lebih
tepat dan efesien. Ghozali dan
Nazir (2007)
Kaho (2005)
Transparansi Transparansi kebijakan publik 1. Kesediaan dan Interval
Kebijakan adalah keterbukaan pemerintah aksestabilitas
Publik dalam membuat kebijakan- dokumen
(Z) kebijakan sehingga dapat 2. Kejelasan dan
diketahui oleh masyarakat. kelengkapan
Atau dengan kata lain aktivitas Informasi
pemerintah untuk 3. Keterbukaan
memecahkan masalah di Proses
masyarakat, baik secara 4. Kerangka
langsung maupun melalui regulasi yang
berbagai lembaga yang menjamin
mempengaruhi kehidupan transparansi
masyarakat.
Didjaja (2000)
Tangkilisan (2003)
Sumber: Data Diolah Penulis.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data
yang diperoleh dan harus diolah kembali, yaitu kuesioner. Dalam melakukan
pengumpulan data yang berhubungan dengan yang akan dibahas dilakukan
langsung dilakukan dengan dengan cara metode kuesioner. Metode kuesioner
adalah teknik pengumpulan data melalui formulir berisi pertanyaan-pertanyaan
53
yang diajukan secara tertulis pada seseorang atau sekumpulan orang untuk
mendapatkan jawaban atau tanggapan serta informasi yang diperlukan.
Skala yang dipakai dalam penyusunan adalah skala likert. Skala likert
digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok
orang tentang fenomena sosial. Dalam Pengkurannya, setiap responden diminta
pendapatnya mengenai suatu pertanyaan dengan skala penilaian sebagai berikut:
Tabel 3.3
Bobot Skala Likert
Kategori Pertanyaan / Pernyataan Skala Likert
Sangat Setuju (SS) 5
Setuju (S) 4
Kurang Setuju (KS) 3
Tidak Setuju (TS) 2
Sangat Tidak Setuju (STS) 1
Sumber: Sugiyono (2010, hal 93)
Sebelum melakukan pengumpulan data, seluruh kuesioner harus
dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas.
1) Uji Validitas
Pengertian validitas adalah suatu alat ukur yang menunjukkan tingkat
ketepatan dari kesalahan suatu instrumen. Instrumen harus dapat mengukur apa
yang seharusnya diukur, jadi validitas menekankan pada alat ukur pengamatan.
Kegunaan validitas yaitu untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan
kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya.
Pengujian validitas menurut Sugiyono (2012, hal 126), adalah suatu ukuran yang
menunjukkan tingkat kevalidan dan keaslian suatu instrumen dianggap valid
mampu mengukur apa yang ingin diukur, dengan kata lain mampu memperoleh
54
data yang tepat dari variabel yang diteliti. Apabila nilai asymp. Sig < 0,05 maka
dan dinyatakan valid.
Berdasarkan hasil dari uji validitas pada penelitian ini adalah sebagai
berikut:
Tabel 3.4
Uji Validitas Variabel Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran (X)
Corrected item-
No. Pertanyaan r-tabel Hasil Uji
Total correlation
1. Butir Pertanyaan 1 0,822 0,30 Valid
2. Butir Pertanyaan 2 0,894 0,30 Valid
3. Butir Pertanyaan 3 0,710 0,30 Valid
4. Butir Pertanyaan 4 0,829 0,30 Valid
Sumber: Jawaban kuesioner data diolah oleh peneliti (2019)
Tabel 3.5
Uji Validitas Variabel Transparansi Kebijakan Publik (Z)
Corrected item-
No. Pertanyaan r-tabel Hasil Uji
Total correlation
1. Butir Pertanyaan 1 0,572 0,30 Valid
2. Butir Pertanyaan 2 0,695 0,30 Valid
3. Butir Pertanyaan 3 0,675 0,30 Valid
4. Butir Pertanyaan 4 0,750 0,30 Valid
5. Butir Pertanyaan 5 0,485 0,30 Valid
6. Butir Pertanyaan 6 0,328 0,30 Valid
7. Butir Pertanyaan 7 0,428 0,30 Valid
8. Butir Pertanyaan 8 0,395 0,30 Valid
9. Butir Pertanyaan 9 0,593 0,30 Valid
Sumber: Jawaban kuesioner data diolah oleh peneliti (2019)
55
Tabel 3.6
Uji Validitas Variabel Pengawasan Keuangan Daerah (Y)
Corrected item-
No. Pertanyaan r-tabel Hasil Uji
Total correlation
1. Butir Pertanyaan 1 0,793 0,30 Valid
2. Butir Pertanyaan 2 0,567 0,30 Valid
3. Butir Pertanyaan 3 0,812 0,30 Valid
4. Butir Pertanyaan 4 0,835 0,30 Valid
5. Butir Pertanyaan 5 0,503 0,30 Valid
6. Butir Pertanyaan 6 0,457 0,30 Valid
7. Butir Pertanyaan 7 0,559 0,30 Valid
8. Butir Pertanyaan 8 0,629 0,30 Valid
9. Butir Pertanyaan 9 0,855 0,30 Valid
Sumber: Jawaban kuesioner data diolah oleh peneliti (2019)
2) Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas merupakan alat ukur untuk mengukur suatu kuesioner
yang merupakan indikator dari variabel. Menurut Sugiyono (2012, hal 126), uji
reliabilitas merupakan terdapat persamaan dalam data dalam waktu yang berbeda,
atau digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan
menghasilkan data yang sama. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika
jawaban seseorang terhadap pertanyaan konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.
Menurut Nunnally dalam Ghozali (2016), menyatakan suatu konstruk atau
variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai cronbach alpha > 0,70.
56
Berdasarkan hasil uji SPSS 21.0 diperoleh perhitungan reliabel sebagai
berikut:
Tabel 3.7
Uji Reliabilitas Variabel Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran (X)
Cronbach’s Alpha N of Item Hasil Uji
0,928 4 Reliabel
Sumber: Jawaban Kuesioner Data Diolah Oleh Peneliti (2019)
Tabel 3.8
Uji Reliabilitas Variabel Transparansi Kebijakan Publik (Z)
Cronbach’s Alpha N of Item Hasil Uji
0,805 9 Reliabel
Sumber: Jawaban Kuesioner Data Diolah Oleh Peneliti (2019)
Tabel 3.9
Uji Reliabilitas Variabel Pengawasan Keuangan Daerah (Y)
Cronbach’s Alpha N of Item Hasil Uji
0,878 9 Reliabel
Sumber: Jawaban Kuesioner Data Diolah Oleh Peneliti (2019)
Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada tabel 3.7, 3.8, 3.9,di atas, dapat
terlihat bahwa variabel pengetahuan dewan tentang anggaran, transparansi
kebijakan publik, dan pengawasan keuangan daerah menunjukan bahwa semua
variabel mempunyai Crochbach Alpha (α) > 0,70. Hal ini berarti indikator dari
variabel dalam penelitian ini reliabel.
3.5. Teknik Analisis Data
Data ini akan dianalisis dengan pendekatan kuantitatif menggunakan
analisis statistik yakni partial least square – structural equestion model (PLS-
SEM) yang bertujuan untuk melakukan analisis jalur (path) dengan variabel laten.
Analisis ini sering disebut sebagai generasi kedua dari analisis multivariate
(Ghozali, 2009). Analisis persamaan struktural (SEM) berbasis varian yang secara
57
simultan dapat melakukan pengujian model pengukuran sekaligus pengujian
model struktural. Model pengukuran digunakan untuk uji validitas dan reliabilitas,
sedangkan model struktural digunakan untuk uji kausalitas (pengujian hipotesis
dengan model prediksi) (Abdillah, 2009).
Tujuan dari penggunaan (Partial Least Square) PLS yaitu untuk
melakukan prediksi. Yang mana dalam melakukan prediksi tersebut adalah untuk
memprediksi hubungan antar konstruk, selain itu untuk membantu peneliti dan
penelitiannya untuk mendapatkan nilai variabel laten yang bertujuan untuk
melakukan pemprediksian. Variabel laten adalah linear agregat dari indikator-
indikatornya. Weight estimate untuk menciptakan komponen skor variabel laten
didapat berdasarkan bagaimana inner model (model struktural yang
menghubungkan antar variabel laten) dan outer model (model pengukuran yaitu
hubungan antar indikator dengan konstruknya) dispesifikasi. Hasilnya adalah
residual variance dari variabel dari variabel dependen (kedua variabel laten dan
indikator) diminimunkan.
PLS merupakan metode analisis yang powerfull oleh karena tidak
didasarkan banyak asumsi dan data tidak harus berdistribusi normal multivariate
(indikator dengan skala kategori, ordinal, interval sampai ratio dapat digunakan
pada model yang sama). Pengujian model struktural dalam PLS dilakukan dengan
bantuan software Smart PLS ver. 3 for Windows. Berikut adalah model struktural
yang dibentuk dari perumusan masalah:
58
Gambar 3.I
Model Struktural PLS
Ada dua tahapan kelompok untuk menganalisis SEM-PLS yaitu analisis
model pengukuran (outer model), yakni (a) validitas konvergen (convergent
validity); (b) realibilitas dan validitas konstruk (construct reliability and validity);
dan (c) validitas diskriminan (discriminant validity) serta analisis model struktural
(inner model), yakni (a) koefisien determinasi (r-square); (b) f-square; dan (c)
pengujian hipotesis (Hair, Hult, Ringle, & Sarstedt, 2014).
Estimasi parameter yang didapat dengan (Partial Least Square) PLS
dapat dikategorikan sebagai berikut: kategori pertama, adalah weight estimate
yang digunakan untuk menciptakan skor variabel laten. Kategori kedua,
mencerminkan estimasi jalur (path estimate) yang menghubungkan variabel laten
dan antar variabel laten dan blok indikatornya (loading). Kategori ketiga adalah
berkaitan dengan means dan lokasi parameter (nilai konstanta regresi) untuk
indikator dan variabel laten. Untuk memperoleh ketiga estimasi tersebut, (Partial
59
Least Square) PLS menggunakan proses literasi tiga tahap dan dalam setiap
tahapnya menghasilkan estimasi yaitu sebagai berikut:
1. Menghasilkan weight estimate.
2. Menghasilkan estimasi untuk inner model dean outer model.
3. Menghasilkan estimasi means dan lokasi (konstanta).
Dalam metode (Partial Least Square) PLS teknik analisa yang dilakukan
adalah sebagai berikut:
1) Analisa outer model
Analisa outer model dilakukan untuk memastikan bahwa measurement
yang digunakan layak untuk dijadikan pengukuran (valid dan reliabel). Dalam
analisa model ini menspesifikasi hubungan antar variabel laten dengan indikator-
indikatornya. Analisa outer model dapat dilihat dari beberapa indikator:
a. Convergent Validity adalah indikator yang dinilai berdasarkan korelasi
antar item score/component score dengan construct score, yang dapat
dilihat dari standardized loading factor yang mana menggambarkan
besarnya korelasi antar setiap item pengukuran (indikator) dengan
konstraknya. Ukuran refleksif individual dikatakan tinggi jika berkorelasi
> 0,7 dengan konstruk yang ingin diukur, sedangkan menurut Chin yang
dikutip oleh Imam Ghozali, nilai outer loading antara 0,5-0,6 sudah
dianggap cukup.
b. Discriminant Validity merupakan model pengukuran dengan refleksif
indikator dinilai berdasarkan crossloading pengukuran dengan konstruk.
Jika korelasi konstruk dengan item pengukuran lebih besar daripada
60
ukuran konstruk lainnya, maka menunjukkan ukuran blok mereka lebih
baik dibandingkan dengan blok lainnya. Sedangkan menurut model lain
untuk menilai discriminant validity yaitu dengan membandingkan nilai
squareroot of average variance extracted (AVE).
c. Composite reliability merupakan indikator untuk mengukur suatu
konstruk yang dapat dilihat pada view latent variable coefficient. Untuk
mengevaluasi composite reliability terdapat dua alat ukur yaitu internal
consistency dan cronbach’s alpha. Dengan pengukuran tersebut apabila
nilai yang dicapai adalah > 0,70 maka dapat dikatakan bahwa konstruk
tersebut memiliki reliabilitas yang tinggi.
d. Cronbach’s Alpha merupakan uji reliabilitas yang dilakukan merupakan
hasil dari composite reliability. Suatu variabel dapat dinyatakan reliabel
apabila memiliki nilai cronbach’s alpha > 0,7.
2) Analisis Inner Model
Analisis Inner Model biasanya juga disebut dengan (inner relation,
structural model dan substantive theory) yang mana menggambarkan hubungan
antara variabel laten berdasarkan pada substantive theory. Analisa inner model
dapat dievaluasi yaitu dengan menggunakan R-square untuk konstruk dependen,
Stone-Geisser Q-square test untuk predictive dan uji t serta signifikansi dari
koefisien parameter jalur struktural. Dalam pengevaluasi inner model dengan
(Partial Least Square) PLS dimulai dengan cara melihat R-square untuk setiap
variabel laten dependen. Kemudian dalam penginterpretasinya sama dengan
interpretasi pada regresi. Perubahan nilai R-square dapat digunakan untuk menilai
61
pengaruh variabel laten independen tertentu terhadap variabel laten dependen
apakah memiliki pengaruh yang substantive. Selain melihat nilai R-square, pada
model (Partial Least Square) PLS juga dievaluasi dengan melihat nilai Q-square
prediktif relevansi untuk model konstruktif. Q-square mengukur seberapa baik
nilai observasi dihasilkan oleh model dan estimasi parameter. Nilai Q-square
lebih besar dari 0 (nol) menunjukkan bahwa model mempunyai nilai predictive
relevance, sedangkan apanilai nilai Q-square kurang dari 0 (nol), maka
menunjukkan bahwa model kurang memiliki predictive relevance.
3) Uji Hipotesis
Dalam pengujian hipotesis dapat dilihat dari nilai t-statistik dan nilai
probabilitas. Untuk pengujian hipotesis yaitu dengan menggunakan nilai statistik
maka untuk alpha 5% nilai t-statistik yang digunakan adalah 1,96. Sehingga
kriteria penerimaan/penolakan hipotesis adalah Ha diterima dan H0 ditolak ketika
t-statistik > 1,96. Untuk menolak/menerima hipotesis menggunakan probabilitas
maka Ha diterima jika nilai probabilitas < 0,05.
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.1. Deskripsi Data
Penelitian ini dilakukan pada kantor DPRD Kota Pematangsiantar
dengan responden yang mengisi kuesioner penelitian adalah seluruh anggota
DPRD Kota Pematangsiantar periode 2014-2019. Jumlah populasi adalah 30
orang anggota DPRD dengan menggunakan metode sampel jenuh sehingga
seluruh populasi dijadikan sebagai sampel. Kuesioner dibagikan kepada anggota
DPRD sebanyak 30 kuesioner, dan kuesioner yang kembali kepada peneliti dalam
keadaan terisi sebanyak 28 kuesioner, sehingga data yang diinput adalah data dari
28 anggota DPRD Kota Pematangsiantar.
Berikut disajikan tabel penjelasan jumlah kuesioner yang akan digunakan
dalam penelitian ini:
Tabel 4.1
Pengumpulan Data
Keterangan Jumlah Persentase (%)
Kuesioner yang dibagikan 30 100
Kuesioner yang kembali 28 83,33
Kuesioner yang tidak kembali 2 16,67
Sumber: Data Diolah.
Berdasarkan Tabel 4.1 maka kuesioner yang digunakan dalam penelitian
ini adalah 28 kuesioner yang dikembalikan oleh responden.
62
63
[Link]. Karakteristik Responden
Adapun responden dalam penelitian ini berdasarkan jenis kelamin dapat
dilihat pada Tabel 4.2 berikut ini:
1) Jenis Kelamin
Adapun tingkat persentase dari 28 responden berdasarkan jenis kelamin,
maka dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.2
Deskriptif Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
Pria 22 78,57
Wanita 6 21,43
Total 28 100
Sumber: Data Diolah
Berdasarkan Tabel 4.2 di atas, menggambarkan bahwa responden
penelitian ini adalah mayoritas berjenis kelamin pria berjumlah 22 orang atau
78,57%.
2) Usia
Adapun tingkat persentase dari 28 responden berdasarkan usia, maka
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3
Deskriptif Responden Berdasarkan Usia
Umur Responden Jumlah Persentase (%)
< 30 Tahun 1 3,57
31 Tahun – 40 Tahun 3 10,71
41 Tahun – 50 Tahun 13 46,42
> 50 Tahun 12 42,85
Total 28 100
Sumber: Data Diolah.
Berdasarkan Tabel 4.3 di atas, dapat diketahui responden yang berusia
dibawah 30 tahun berjumlah 1 orang atau 3,57%, responden yang berusia 31 –
40 tahun berjumlah 3 orang atau 10,71%, responden yang berusia 41 – 50 tahun
64
berjumlah 13 orang atau 46,42%, dan responden yang berusia diatas 50 tahun
berjumlah 12 orang atau 42,85%.
3) Masa Kerja
Adapun tingkat persentase dari 28 responden berdasarkan masa kerja,
maka dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.4
Deskriptif Responden Berdasarkan Masa Kerja
Lama Berkerja Jumlah Persentase (%)
1 Tahun - 5 Tahun 18 64,28
> 5 Tahun 10 35,72
Total 28 100
Sumber: Data Diolah.
Berdasarkan Tabel 4.4 di atas, dapat diketahui bahwa mayoritas
responden memiliki masa kerja 1 tahun – 5 tahun, yaitu berjumlah 18 orang atau
64,28%. Sedangkan untuk responden dengan masa kerja lebih dari 5 tahun
sebanyak 10 orang atau 35,72%.
4) Tingkat Pendidikan Terakhir
Adapun tingkat persentase dari 28 responden berdasarkan pendidikan
terakhir, maka dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.5
Deskriptif Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir
Tingkat Pendidikan Terakhir Jumlah Persentase
SMA 9 32,14
D3/Akademi 1 3,57
Strata 1 15 53,57
Strata 2 3 10,71
Strata 3 0 0
Lain-lain 0 0
Total 28 100
Sumber: Data Diolah.
65
Berdasarkan Tabel 4.5 di atas, diketahui bahwa mayoritas responden
memiliki tingkat pendidikan terakhir S1 dengan jumlah 15 orang atau 53,57%.
Sedangkan untuk tingkat pendidikan terakhir D3/Akademi berjumlah 1 orang atau
3,57%
[Link]. Deskripsi Variabel Penelitian
Deskripsi dari setiap pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner akan
menampilkan opsi setiap jawaban responden terhadap butir pertanyaan yang
diberikan penulis terhadap responden.
1) Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran
Berikut ini merupakan deskripsi atau penyajian data dari variabel
pengetahuan dewan tentang anggaran yang dirangkum dalam tabel dibawah ini:
Tabel 4.6
Penyajian Data Angket Variabel Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran (X)
No F Jawaban
Pertanyaan Jumlah
Pert. % SS S KS TS STS
Anggota dewan mengetahui F 6 9 13 0 0
1 100%
cara penyusunan APBD % 21,42 32,14 44,42 0 0
Anggota dewan memahami F 3 16 9 0 0
2 pelaksanaan APBD yang 100%
dilakukan oleh eksekutif % 10,71 57,14 32,14 0 0
Anggota dewan mengetahui F 4 10 14 0 0
3 100%
jika terjadi kebocoran APBD % 14,28 35,71 50 0 0
Anggota dewan mampu F 2 16 10 0 0
4
mengidentifikasi 100%
pemborosan/kegagalan % 7,14 57,14 35,71 0 0
dalam pelaksanaan proyek
F 3,75 12,75 11,5 0,00 0,00
Rata -Rata 100,00
% 13,38 58,54 40,56 0,00 0,00
Berdasarkan Tabel 4.6 di atas, dinyatakan bahwa rata-rata responden
memilih setuju atas pertanyaan yang ditanyakan sebanyak 58,54%, sedangkan
sebanyak 44,42% responden menjawab kurang setuju. Hal ini menunjukkan
66
bahwa masih banyak anggota dewan yang belum mengetahui cara penyusunan
APBD, belum bisa memahami pelaksanaan APBD yang sebenarnya, belum bisa
mengetahui jika terjadi kebocoran dalam pelaksanaan APBD, dan belum mampu
mengidentifikasi pemborosan/kegagalan di dalam pelaksanaan proyek.
2) Transparansi Kebijakan Publik
Berikut ini merupakan deskripsi atau penyajian data dari variabel
transparansi kebijakan publik yang dirangkum dalam tabel dibawah ini:
Tabel 4.7
Penyajian Data Angket Variabel Transparansi Kebijakan Publik (Z)
No F Jawaban
Pertanyaan Jumlah
Pert. % SS S KS TS STS
Perlunya informasi kepada publik F 5 12 7 4 0
1 100%
tentang APBD % 17,85 42,85 25 14,28 0
Informasi mudah untuk diakses F 5 10 6 7 0
2 100%
oleh publik % 17,85 35,71 21,42 25 0
Laporan pertanggungjawaban F 5 12 7 4 0
3 100%
dibuat setiap periode % 17,85 42,85 25 14,28 0
Informasi yang disajikan kepada F 2 13 13 0 0
4 100%
publik sudah sesuai dengan fakta % 7,14 46,42 46,42 0 0
Kemudahan dalam akses F 6 8 14 0 0
5 100%
dokumen publik tentang anggaran % 21,42 28,57 50 0 0
Adanya akses publik pada F 6 16 6 0 0
6 informasi dan mekanisme 100%
% 21,42 57,14 21,42 0 0
pengaduan rakyat
Dilakukannya sosialisasi F 8 14 6 0 0
7 100%
mengenai perubahan APBD % 28,57 50 21,42 0 0
Kejelasan anggaran disusun F 10 13 5 0 0
8 berdasarkan Peraturan Perundang- 100%
% 35,71 46,42 17,85 0 0
undangan
Adanya peraturan yang kuat F 7 12 9 0 0
9 dalam penyusunan dan penetapan 100%
% 25 42,85 32,14 0 0
anggaran
F 6 12,22 8,11 0,00 0,00
Rata -Rata 100,00
% 21,49 11,49 28,96 0,00 0,00
67
Berdasarkan Tabel 4.7 di atas, dinyatakan bahwa rata-rata responden
memilih kurang setuju atas pertanyaan yang ditanyakan sebanyak 28,98%. Hal ini
menunjukkan bahwa masih minimnya informasi kepada publik yang berkenaan
dengan APBD, informasi yang diberikan masih sulit untuk diakses oleh publik,
laporan pertanggungjawaban yang dibuat setiap periode harus sesuai dengan
ketentuan yang berlaku, informasi yang disajikan kepada publik harus sesuai
dengan fakta dan analisis kebijakan yang telah diambil, masih sulitnya akses
dokumen publik tentang anggaran, masih sulitnya akses publik pada informasi
dan mekanisme pengaduan rakyat, belum maksimalnya penerapan yang dilakukan
untuk sosialisasi mengenai perubahan APBD, kejelasan anggaran yang disusun
harus berdasarkan peraturan Perundang-undangan, dan belum adanya peraturan
yang kuat dalam penyusunan dan penetapan anggaran.
68
3) Pengawasan Keuangan Daerah
Berikut ini merupakan deskripsi atau penyajian data dari variabel
pengawasan keuangan daerah yang dirangkum dalam tabel dibawah ini:
Tabel 4.8
Penyajian Data Angket Variabel Pengawasan Keuangan Daerah (Y)
No F Jawaban
Pertanyaan Jumlah
Pert. % SS S KS TS STS
Anggota dewan terlibat dalam F 5 12 7 4 0
1 penyusunan arah dan kebijakan 100%
umum APBD % 17,85 42,85 25 14,28 0
Aspirasi masyarakat menjadi F 5 10 6 7 0
2 dasar dalam rangka menyusun 100%
APBD % 17,85 35,71 21,42 25 0
Anggota dewan terlibat dalam F 5 12 7 4 0
3 100%
pengesahan APBD % 17,85 42,85 25 14,28 0
Anggota dewan dapat F 2 13 13 0 0
4 menjelaskan tentang APBD yang 100%
% 7,14 46,42 46,42 0 0
telah di sahkan
Anggota dewan terlibat dalam F 6 8 14 0 0
5 100%
memantau pelaksanaan APBD % 21,42 28,57 50 0 0
Anggota dewan aktif melakukan F 6 16 6 0 0
evaluasi terhadap laporan
6 100%
triwulan/bulanan yang dibuat % 21,42 57,14 21,42 0 0
eksekutif
Anggota dewan menanyakan F 8 14 6 0 0
7 100%
alasan adanya revisi anggaran % 28,57 50 21,42 0 0
Anggota dewan meminta F 10 13 5 0 0
keterangan atas laporan
8 pertanggungjawaban (LPJ) APBD 100%
yang disampaikan % 35,71 46,42 17,85 0 0
Bupati/Walikota
Anggota dewan menanyakan LPJ F 7 12 9 0 0
9 100%
APBD jika terjadi kejanggalan % 25 42,85 32,14 0 0
F 6 12,22 8,11 0,00 0,00
Rata -Rata 100,00
% 21,49 11,49 28,96 0,00 0,00
Berdasarkan Tabel 4.8 di atas, dinyatakan bahwa rata-rata responden
memilih setuju atas pertanyaan yang ditanyakan sebanyak 50,39%. Hal ini
menunjukkan bahwa anggota dewan memang sudah melakukan pengawasan
keuangan daerah seperti terlibat dalam penyusunan arah dan kebijakan umum
69
APBD, aspirasi masyarakat menjadi dasar dalam rangka menyusun APBD,
anggota dewan juga terlibat dalam pengesahan APBD, anggota dewan juga dapat
menjelaskan tentang APBD yang telah di sahkan, anggota dewan terlibat dalam
memantau pelaksanaan APBD, anggota dewan aktif melakukan evaluasi terhadap
laporan triwulan/bulanan yang dibuat eksekutif, anggota dewan menanyakan
alasan jika ada revisi anggaran, anggota dewan meminta keterangan atas laporan
pertanggungjawaban (LPJ) APBD yang disampaikan Bupati/Walikota, dan LPJ
APBD jika terjadi kejanggalan.
4.1.2. Uji Persyaratan Analisis
Berdasarkan data hasil kuesioner yang telah disajikan maka data
kualitatif kuesioner tersebut dijadikan data bentuk kuantitatif berdasarkan kriteria
yang sudah ditetapkan sebelumnya. Adapun data kuantitatif tersebut merupakan
data mentah dari masing-masing variabel dalam penelitan ini.
Dalam bagian ini, data-data yang telah dideskripsikan dari data-data
sebelumnya yang merupakan deskripsi data akan dianalisis. Analisis data dalam
penelitian ini menggunakan Structural Equation Model Partial Least Square
(SEM-PLS). Sebagai alternaitf covariance based SEM, pendekatan variance
based atau component based dengan PLS berorientasi analisis bergeser dari
menguji model kausalitas/teori ke component based predictive model (Ghozali,
2014, hal. 7). PLS merupakan metode analisis yang powerfull oleh karena tidak
didasarkan banyak asumsi dan data tidak harus berdistribusi normal multivariate
(indikator dengan skala kategori, ordinal, interval sampai ratio dapat digunakan
pada model yang sama). Pengujian model struktural dalam PLS dilakukan dengan
70
bantuan software Smart PLS ver. 3 for Windows. Berikut adalah model struktural
yang dibentuk dari perumusan masalah:
Gambar 4.I
Model Struktural PLS
Ada dua tahapan kelompok untuk menganalisis SEM-PLS yaitu analisis
model pengukuran (outer model), yakni (a) validitas konvergen (convergent
validity); (b) realibilitas dan validitas konstruk (construct reliability and validity);
dan (c) validitas diskriminan (discriminant validity) serta analisis model struktural
(inner model), yakni (a) koefisien determinasi (r-square); (b) f-square; dan (c)
pengujian hipotesis (Hair, Hult, Ringle, & Sarstedt, 2014).
[Link]. Analisis Model Struktural (Inner Model)
Analisis model struktural bertujuan untuk menganalisis hipotesis
penelitian. Minimal ada dua bagian yang perlu di analisis didalam model ini,
yaitu: koefisien determinasi dan pengujian hipotesis.
71
1) Koefisien determinasi (R-square)
R-square adalah ukuran proporsi variasi nilai yang dipengaruhi
(endogen) yang dapat dijelaskan oleh variabel yang mempengaruhinya (eksogen)
ini berguna untuk memprediksi apakah model adalah baik/buruk. Hasil r-square
untuk variabel laten endogen sebesar 0,75 mengindikasikan bahwa model tersebut
adalah substansial (baik); 0,50 mengindikasikan bahwa model tersebut adalah
moderat (sedang) dan 0,25 mengindikasikan bahwa model tersebut adalah lemah
(buruk).
Tabel 4.9
R-square
Original Sample Mean Standard
T Statistics P values
Sample (O) (M) Deviation
Pengawasan
Keuangan 0,618 0,701 0,086 7,171 0,000
Daerah
Gambar 4.2
Output R-Square
72
Dari tabel 4.9 di atas diketahui bahwa pengaruh X dan Z terhadap Y
dengan nilai r-square 0,618 mengindikasikan bahwa variasi nilai Y mampu
dijelaskan oleh variasi nilai X dan Z sebesar 61,80% atau dengan kata lain bahwa
model tersebut adalah moderat (sedang), dan 38,20% dipengaruhi oleh variabel
lain. Nilai probabilitas (p-values) yang didapat adalah 0,000 < 0,05 (signifikan),
dengan demikian model tergolong lemah.
2) f-Square
f-square adalah ukuran yang digunakan untuk menilai dampak relatif dari
suatu variabel yang mempengaruhi (eksogen) terhadap variabel yang dipengaruhi
(endogen). Kriteria penarikan kesimpulan adalah jika nilai f2 sebesar 0,02 maka
terdapat efek yang kecil (lemah) dari variabel eksogen terhadap endogen, nilai f2
sebesar 0,15 maka terdapat efek yang moderat dari variabel eksogen terhadap
endogen, nilai f2 sebesar 0,35 maka terdapat efek yang besar dari variabel
eksogem terhadap endogen.
Tabel 4.10
f-square
Original Sample (O) Sample Mean (M) Standard Deviation
XY 0,324 0,461 0,476
X*Z Y 0,005 0,045 0,103
73
Gambar 4.3
Output f-Square
Berdasarkan tabel 4.10 di atas diketahui bahwa:
a) Pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan
keuangan daerah sebesar 0,324 mengindikasi bahwa terdapat efek yang
moderat (sedang).
b) Pengaruh variabel pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap
pengawasan keuangan daerah yang diomedrasi oleh transparansi kebijakan
publik mempunyai koefisien jalur sebesar 0,005 mengindikasi bahwa
terdapat efek yang lemah.
74
4.1.3. Pengujian Hipotesis
Pengujian ini adalah untuk menentukan koefisien jalur dari model
struktural. Tujuannya adalah menguji signifikansi semua hubungan atau pengujian
hipotesis.
Tabel 4.11
Path Coefficient
Original Sample Standard
T Statistics P values
Sample (O) Mean (M) Deviation
XY 0,565 0,576 0,272 2,076 0,038
X*Z Y 0,065 0,051 0,162 0,399 0,690
Gambar 4.4
Output Path Coefficient
75
Berdasarkan Tabel 4.11 di atas, dapat dinyatakan bahwa pengujian
hipotesis adalah sebagai berikut:
1) Pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan
keuangan daerah mempunyai koefisien jalur sebesar 0,565. Ini menunjukkan
bahwa jika semakin tinggi tingkat pengetahuan dewan tentang anggaran,
maka semakin efektif pengawasan keuangan daerah yang dilakukan oleh
DPRD. Pengaruh tersebut mempunyai nilai probabilitas (p-values) sebesar
0,038 < 0,05, berarti pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap
pengawasan keuangan daerah adalah signifikan.
2) Pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan
keuangan daerah yang dimoderasi oleh transparansi kebijakan publik
mempunyai koefisien jalur 0,065 dan mempunyai nilai probabilitas (p-values)
sebesar 0,690 > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa transparansi kebijakan
publik tidak signifikan dalam mempengaruhi hubungan antara pengetahuan
dewan tentang anggaran dengan pengawasan keuangan daerah. Dengan
demikian, variabel transparansi kebijakan publik tidak memoderasi pengaruh
pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah.
76
4.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan oleh peneliti, maka dapat
dilakukan pembahasan sebagai berikut:
4.2.1. Pengaruh Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran Terhadap
Pengawasan Keuangan Daerah
Dari hasil analisis pengujian hipotesis diketahui bahwa pengetahuan
dewan tentang anggaran berpengaruh positif terhadap pengawasan keuangan
daerah yang dinilai dengan koefisien jalur sebesar 0,565. Nilai probabilitas yang
didapatkan adalah sebesar 0,038 < 0,05, sehingga H0 ditolak. Hal ini berarti
pengaruh variabel pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan
keuangan daerah adalah signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya
pengetahuan dewan tentang anggaran maka pengawasan keuangan daerah dapat
dilakukan. Tentunya dengan adanya pengetahuan yang dimiliki anggota dewan
berkenaan dengan APBD yang diawasi akan lebih memudahkan pekerjaan
anggota dewan tersebut. Karena pengawasan adalah rangkaian kegiatan
pemantauan, pemeriksaan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan yang
merupakan hal penting untuk dapat menjamin terlaksananya sebuah kegiatan agar
sesuai dengan rencana. Hal ini menunjukkan bahwa jika semakin tinggi tingkat
pengetahuan dewan tentang anggaran, maka semakin efektif pengawasan
keuangan daerah yang dilakukan oleh DPRD.
Dari hasil penelitian di atas, menunjukkan bahwa pengetahuan dewan
tentang anggaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengawasan
keuangan daerah. Pada objek penelitian, terdapat dua butir pertanyaan yang
77
memperoleh nilai tertinggi untuk jawaban setuju yaitu anggota dewan dapat
memahami pelaksanaan APBD yang sebenarnya harus dilakukan oleh eksekutif
dan anggota dewan mampu mengidentifikasi pemborosan/kegagalan di dalam
pelaksanaan proyek. Dalam hal ini nilai yang positif tersebut dapat dijadikan
prediksi bahwa jika semakin tinggi tingkat pengetahuan dewan tentang anggaran,
maka semakin efektif pengawasan keuangan daerah yang dilakukan oleh DPRD.
Nilai yang signifikan tersebut mengindikasikan bahwa tingkat pengetahuan dewan
tentang anggaran adalah nyata (berpengaruh besar) konstribusinya dalam
meningkatkan pengawasan keuangan daerah. Kondisi seperti itu berlaku general,
tidak hanya dalam penelitian ini yakni hanya pada sampel yang diteliti.
Temuan ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Utama (2015) menyatakan bahwa pengetahuan dewan tentang anggaran
berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengawasan keuangan daerah. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa dengan adanya pengaruh pengetahuan dewan
tentang anggaran akan mempertahankan proses pengawasan keuangan daerah
sehingga dapat meningkatkan bentuk pengawasan keuangan daerah yang
dilakukan oleh anggota DPRD. Temuan ini juga sesuai dengan penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh Rustyaningsih (2013), menyatakan bahwa
pengetahuan dewan tentang anggaran berpengaruh dengan kualitas pengawasan
keuangan daerah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa semakin tinggi
pengetahuan dewan tentang anggaran yang dimilki oleh DPRD semakin baik pula
kualitas pengawasan keuangan daerah yang dihasilkan. Pengetahuan dan
kemampuan yang dimiliki oleh anggota dewan dalam melaksanakan pengawasan
78
yang berkaitan dengan pengawasan keuangan daerah, akan semakin baik
kesejahteraan kepada masyarakat.
Temuan ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Mochtar (2016), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kualitas anggota DPRD
dapat diukur dari pengetahuan yang dimilikinya akan mempengaruhi kinerja
DPRD khususnya pada saat melakukan pengawasan keuangan daerah. Padahal
salah satu kunci sukses keberhasilan pembangunan daerah terletak pada kualitas
anggota DPRD tersebut, dimana anggota DPRD memegang peran penting dalam
pengawasan keuangan daerah. Suatu daerah yang memiliki kualitas anggota
DPRD yang berpendidikan dan berpengalaman maka pengawasan keuangan
daerah yang dilakukan akan semakin meningkat sehingga terciptanya keberhasilan
daerah tersebut dalam pembangunan. Pengawasan merupakan tahap integral
dengan keseluruhan tahap pada penyusunan dan pelaporan APBD. Pengawasan
diperlukan pada setiap tahap, bukan hanya pada tahap evaluasi saja.
4.2.2. Pengaruh Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran Terhadap
Pengawasan Keuangan Daerah yang Dimoderasi Transparansi
Kebijakan Publik
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui pengaruh pengetahuan
dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah yang dimoderasi
oleh transparansi kebijakan publik mempunyai koefisien jalur 0,065 (positif).
Pengaruh tersebut mempunyai nilai probabilitas (p-values) sebesar sebesar 0,690
> 0,05, (tidak signifikan). Dengan demikian, variabel transparansi kebijakan
publik tidak memoderasi pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap
79
pengawasan keuangan daerah. Hal tersebut dapat terlihat dari jawaban responden
mengenai pertanyaan adanya akses publik pada informasi dan mekanisme
pengaduan rakyat, mayoritas menjawab setuju dan merupakan nilai tertinggi dari
butir pertanyaan yang lain. Untuk jawaban responden dengan nilai terendah
adalah informasi yang diberikan mudah diakses oleh publik. Hal ini berarti,
pelayanan informasi masih buruk. Pemerintah daerah belum membentuk pejabat
pengelola informasi dan dokumentasi seperti amanat UU KIP (Keterbukaan
Informasi Publik). Serta prosedur operasi standar untuk layanan informasi
umumnya belum ada di Kota Pematangsiantar.
Transparansi dalam pengelolaan keuangan daerah menjadi salah satu
faktor penting ketika dikaitkan dengan tujuan laporan keuangan yaitu menyajikan
informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja
keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam
membuat dan mengevakuasi keputusan mengenai alokasi sumber dana. Laporan
keuangan daerah disusun secara wajar agar bisa digunakan oleh pihak yang
membutuhkan informasi tersebut, dan dapat dipertanggungjawabkan oleh publik.
Perlu adanya transparansi dari keuangan daerah untuk mengantisipasi adanya
penyelewengan dan rekayasa dana oleh pihak yang bersangkutan, agar masyarakat
juga dapat mengetahui apakah keuangan negara telah digunakan dengan
semestinya atau tidak.
Salah satu aspek penting dalam implementasi kebijakan pembangunan
adalah adanya asas transparansi atau keterbukaan. Prasyarat ini adalah mutlak
mengingat dalam alam demokrasi saat ini masyarakat berhak mengetahui secara
80
lebih spesifik, konsep dan penerapan kebijakan macam apa dapat segera
diwujudkan dan sekaligus memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi hajat
hidup masyarakat itu sendiri. Karenanya disisi lain ketertutupan aparatur
pemerintah dalam memutuskan berbagai kebijakan dalam pembangunan akan
berdampak pada kurang efektifnya penerapan dalam kebijakan dan terhambatnya
proses pembangunan yang dijalankan. Sehingga boleh jadi ketertutupan justru
menimbulkan resistensi di masyarakat. Di tingkat daerah belum lama berselang
ada materi kebijakan makro yang menjadi bahan perdebatan, misalnya soal DASK
(dokumen anggaran satuan kerja) sebagai bagian tak terpisahkan dari budget
daerah (APBD), banyak pihak menganggap bahwa hal ini perlu disosialisasikan,
termasuk dalam ruang debat publik, sehingga masyarakat bisa mengetahui
darimana dan kemana anggaran belanja daerah dialokasikan dan bagaimana
pendistribusiannya.
Efektifitas sosialisasi kebijakan sebelumnya juga penting guna
pengawasan yang lebih baik dan efektif, artinya masyarakat juga akan turut
mengawasi. Sosialisasi juga jangan hanya sekedar formalitas dan kerangka kerja
saja, penjelasan yang lebih detail pada kenyataannya akan mampu
menyumbangkan legitimasi yang lebih kuat dari masyarakat terhadap setiap
kegiatan proyek-proyek pembangunan. Orientasi kerja dan kinerja aparatur juga
selayaknya harus lebih kepada urgensi kebutuhan masyarakat, ketimbang sekedar
formalitas pengalokasian dana pembangunan/proyek dalam setiap tahun anggaran
untuk proyek-proyek rutin, dalam hal APBD misalnya, selain ada fungsi alokasi,
maka fungsi fiskal anggaran tersebut harus optimal. Sehingga aparatur akan lebih
81
luwes lagi mengelola anggaran daerah, yang merupakan hasil optimal dari
partisipasi masyarakat. Demikian juga dengan sosialisasi Perda (Peraturan
Daerah), harus diumumkan secara jelas dan terbuka, sehingga anggota masyarakat
akan merasa “well-informed” dengan kebijakan pemerintah di daerahnya. Selama
ini tidak jarang masyarakat kurang mengetahui perda-perda apa saja yang
mengakomodir kepentingan yang lebih luas, dan apa saja manfaat perda-perda
yang telah dan akan dikeluarkan.
Transparansi dan good governance dalam hal kebijakan ada komitmen
terhadap pola kepemerintahan yang baik, yang dalam Peraturan Pemerintah No.
1/2000 dijelaskan bahwa keperintahan yang baik adalah yang mampu
mengembangkan dan menerapkan prinsip-prinsip profesionalitas, akuntabilitas,
transparansi, pelayanan prima, demokrasi, efisiensi, efektifitas supremasi hukum
dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat. Pemerintahan yang bijaksana
memiliki arti tidak sekedar mengandalkan legalitas hukum yang dimiliki untuk
menjalankan administrasi publik, akan tetapi juga berusaha menumbuhkan rasa
memiliki dan rasa tanggung jawab masyarakat terhadap proses administrasi dari
hasil-hasil pembangunan yang dicapai (Nisjar dalam Sedaemanji, 2004). Dengan
demikian transparansi adalah suatu prinsip atau karakteristik dalam
mengembangkan sistem pemerintahan yang baik.
Debat akademis budaya transparansi memang relatif baru bagi kita,
meskipun di negara-negara yang menganut paham demokrasi hal demikian
tidaklah tabu. Soal bagaimana proses pembelajaran seluruh lapisan masyarakat,
khususnya aparatur pemerintah dalam mewujudkan transparansi kebijakan publik,
82
semestinya dimulai dari aparatur pemerintahan sendiri, atau peran proaktif para
wakil rakyat di DPR maupun DPRD. Sementara itu dikalangan akademisi harus
dibiasakan untuk secara terbuka dan sportif mendiskusikan bagian-bagian dari
kebijakan pemerintahan, terutama yang langsung menyangkut hajat hidup orang
banyak.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh
Sopanah dan Mardiasmo (2003), Simson (2005), Elsi Arianti (2017). Peneliti
sependapat dengan penelitian terdahulu bahwa transparansi kebijakan publik
masih dalam tahap wacana dan implementasinya masih dalam tahap formalitas.
Yuni Setyawati (2010), hasil penelitiannya menyatakan bahwa
pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan
daerah tidak diperkuat dengan adanya transparansi kebijakan publik terutama
dengan adanya pengumuman kebijakan anggaran kepada masyarakat yang dapat
meningkatkan transparansi kemudahan masyarakat mengakses dokumen publik
tentang anggaran, laporan pertanggungjawaban tahunan tepat waktu, kebijakan
transparansi anggaran dapat mengakomodasi dan meningkatkan pendapat usulan
rakyat dan adanya sistem pemberian informasi kepada publik yang dapat
meningkatkan transparansi anggaran, artinya dengan adanya itu semua
pengetahuan dewan tentang anggaran semakin baik khususnya dalam pengawasan
keuangan daerah
Hasil penelitian ini sejalan dengan fakta yang penulis amati, di mana
dalam penerapan transparansi kebijakan publik di kota Pematangsiantar masih
sangat minim. Seperti sulitnya mengakses informasi yang berkenaan dengan
83
anggaran (APBD) di publik. Transparansi merupakan salah satu prinsip good
governance. Transparansi dibangun atas dasar arus informasi yang bebas, seluruh
proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu diakses oleh pihak-
pihak yang berkepentingan dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat
dimengerti dan dipantau.
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan
sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan dari penelitian mengenai pengaruh
pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan daerah
dengan transparansi kebijakan publik sebagai variabel moderasi pada DPRD Kota
Pematangsiantar adalah sebagai berikut:
1. Pengetahuan dewan tentang anggaran berpengaruh signifikan terhadap
pengawasan keuangan daerah pada DPRD Kota Pematangsiantar. Hal ini
menunjukkan apabila semakin tinggi pengetahuan dewan tentang anggaran
yang dimiliki oleh DPRD semakin baik pula kualitas pengawasan keuangan
daerah yang dihasilkan.
2. Transparansi kebijakan publik tidak mampu memoderasi pengaruh antara
pengetahuan dewan tentang anggaran terhadap pengawasan keuangan
daerah. Hal ini berarti bahwa peran transparansi kebijakan publik tidak
dapat berjalan sesuai dengan apa yang apa yang diharapkan. Informasi yang
berkenaan dengan anggaran (APBD) perlu diakses oleh pihak-pihak yang
berkepentingan dan informasi yang tersedia harus memadai agar dapat
dimengerti dan di pantau publik.
84
85
5.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka dalam hal ini penulis dapat
menyarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Pengetahuan dewan tentang anggaran sangat penting dalam meningkatkan
pengawasan keuangan daerah. Anggota dewan tidak selalu paham tentang
anggaran namun rutinitas kerja dan pengalaman kerja menjadi media
pembelajaran yang lebih efektif dalam pengawasan keuangan daerah
(APBD), meakanisme kerja yang dilakukan oleh anggota DPRD
memberikan kontribusi dan media pembelajaran yang lebih efektif. Oleh
karena itu seluruh anggota DPRD sebaiknya mendapatkan pelatihan khusus
terutama mengenai APBD dan juga melanjutkan pendidikan khususnya di
bidang pemerintahan agar mereka lebih memahami dan mengetahui lebih
baik lagi tentang pengawasan keuangan daerah.
2. Sebaiknya transparansi kebijakan publik di Kota Pematangsiantar harus
lebih ditingkatkan dan diperbaiki karena kebijakan yang lebih transparan
akan mampu mengurangi kemungkinan anggota DPRD untuk berbuat tidak
benar sesuai fungsi dan tanggungjawabnya. Salah satu contoh konkrit untuk
mewujudkan transparansi kebijakan publik adalah menyampaikan laporan
pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip tepat
waktu dan disusun dengan mengikuti standar akuntansi pemerintahan yang
telah diterima secara umum dalam sebuah website agar dapat diketahui
publik dan juga yang membutuhkan informasi tersebut.
86
3. Diharapkan kepada peneliti lain agar dapat memperluas atau menambah
variabel penelitian, tidak hanya terbatas pada tiga variabel melainkan lebih
dari tiga variabel seperti political background, partisipasi masyarakat,
akuntabilitas publik. Selain itu peneliti selanjutnya juga dapat
memperpanjang waktu penelitian maupun mengambil atau memperbanyak
sampel penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Agam Fatchurrochman. 2002. Manajemen Keuangan Publik, Materi Pelatihan
Anti Korupsi. Indonesian Corporation Watch.
Agus, H. Pramono. 2002. Pengawasan Legislatif terhadap Eksekutif dalam
Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Tesis S2 Tidak di Publikasikan.
Malang: Program Pasca Sarjana Ilmu Administrasi Negara, Universitas
Brawijaya.
Amelia, A. A. Lambajang Dkk. 2018. Pengaruh Pengetahuan Tentang
Anggaran, Partsisipasi Masyarakat, Transparansi Kebijakan Publik, dan
Akuntabilitas Publik Terhadap Pengawasan Keuangan Daerah Pada
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di Wilayah Sulawesi Utara. Program
Magister Akuntasi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam
Ratulangi.
Anida, Iswanto. 2013. Influence the effectiveness and effeiciency of regional
financial management and internal control system against the reliability of
local government financial report. Unspecified thesis.
Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta.
Abdul Halim. 2001. Bunga Rampai Manajemen Keuangan Daerah. UUP AMP
YKPN. Yogyakarta.
.......... 2002. Akuntansi Sektor Publik: Akuntansi Keuangan Daerah. Jakarta:
Salemba Empat.
Abdul Halim., Supomo, Bambang., dan Kusufi, Muhammad Syam. 2012.
Akuntansi Manajemen (Akuntansi Manajerial). Edisi 2. Yogyakarta: BPFE
Anggota IKAPI.
Budi Winarno. 2002. Kebijakan Publik: Teori dan Proses. Edisi Revisi.
Yogyakarta: Media Presindo.
Deddy Mulyana, M.A., Ph.D. 2010. Suatu Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta:
Rosda.
87
88
Elsi Arianti. 2017. Pengaruh Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran Terhadap
Pengawasan Keuangan Daerah (APBD) Dengan Political Background,
Akuntabilitas Publik dan Transparansi Kebuijakan Publik Sebagai
Variabel Moderasi (Studi Empiris Pada DPRD Kabupaten Pelalawan).
JOM Fekon Vol. 4 No. 1 Februari.
Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999. Instruksi Presiden Tentang Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah.
Imam Ghozali. 2016. Aplikasi Multivariate Dengan Program IBM SPSS 23. Edisi
8. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Isma Coryanata. 2007. Akuntabilitas, Partisipasi Masyarakat dan Transparansi
Kebijakan Publik Sebagai Pemoderating Hubungan Pengetahuan Dewan
Tentang Anggaran dan Pengawasan Keuangan Daerah (APBD).
Simposium Nasional Akuntansi X: 1-24.
Jufri Darma, Dkk. 2012. Pengaruh Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran
Terhadap Pengawasan Keuangan Daerah Dengan Partisipasi Masyarakat
Sebagai Variabel Moderating. Jurnal Mediasi. Vol. 4. No. 1 Juni.
Leo Agustino. 2008. Dasar-dasar Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta.
Kaho, Josef Riwu. 2005. Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik
Indonesia: Identifikasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002. Permendagri Nomor 13
Tahun 2006. Permendagri Tentang tentang Pedoman Pengurusan,
Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah Serta Tata
Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBD).
Keputusan Presiden Nomor 74 Tahun 2001. Keputusan Presiden Tentang Tata
Cara Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah.
Krina, Loina Lalolo. 2003. Indikator dan Alat Ukur Prinsip Akuntabilitas,
Transparansi dan Partisipasi. Jakarta: Sekretariat Good Public
Governance Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
89
Mardiasmo. 2002. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta:
ANDI.
.......... 2006. Jurnal Akuntansi Pemerintahan. Vol 2. No 1 Mei. Perwujudan
Transparansi dan Akuntabilitas Publik Melalui Akuntansi Sektor Publik:
Suatu Sarana Governance.
.......... 2009. Pengawasan Pengendalian dan Pemeriksaan Kinerja Pemerintah
Daerah dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah. Yogyakarta: ANDI.
Mahmudi. 2006. Analisis Laporan Keuangan Pemerintah. Yogyakarta: Unit
Penerbit dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN.
Mochtar, Cahya Utama. 2016. Pengaruh Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran
Terhadap Pengawasan Keuangan Daerah Dengan Variabel Pemoderasi
Partsisipasi Masyarakat dan Transparansi Kebijakan Publik (Studi
Empiris pada DPRD Kabupaten Klaten). Publikasi Ilmiah.
Mustopa Didjaja. 2003. Manajemen Proses Kebijakan Publik, Formulasi,
Implementasi dan Evaluasi Kinerja. Jakarta: LAN dan Duta Pertiwi.
Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005. Peraturan Pemerintah Tentang
Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah.
.......... Nomor 58 Tahun 2005. Peraturan Pemerintah Tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah.
.......... Nomor Nomor 105 Tahun 2000. Peraturan Pemerintah Tentang
Pergeseran Anggaran Daerah.
Siagian, Sondang. P. 2014. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi
Aksara.
Simson, Warimon, Imam Ghozali, dan Mohammad Nazir. 2007. Pengaruh
Partisipasi Masyarakat dan Transparansi Kebijakan ublik Terhadap
Hubungan Antara Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran Dengan
Pengawasan Daerah (APBD). Simposium Nasioanal Akuntansi.
90
Sopanah. 2003. Pengaruh Partisipasi Masyarakat dan Transparansi Kebijakan
Publik Terhadap Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran dan
Pengawasan Keuangan Daerah. Tesis. Yogyakarta: Program Pasca
Sarjana Universitas Gajah Mada.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Tangkilisan, Hesel Nogi. 2003. Implementasi Kebijakan Publik. Yogyakarta:
Lukman Offset YPAPI.
Tjutju, Yuniarsih dan Suwatno. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia.
Bandung: Alfabeta.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003. Tentang Laporan
Keuangan Pemerintah Pusat/Daerah.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004. Tentang
Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Pemerintah Daerah.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004. Tentang
Pemerintahan Daerah.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2003. Tentang Susunan
Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD dalam melaksanakan tugas dan
wewenangnya, DPRD berhak meminta pejabat negara tingkat
kota/kabupaten, pejabat pemerintah daerah, badan hukum, atau warga
masyarakat untuk memberikan keterangan.
Winarna, Jaka dan Sri Murni. 2007. Pengaruh Personal Background, Political
Background dan Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran Terhadap Peran
DPRD dalam Pengawasan Keuangan Daerah. Simposium Nasional
Akuntansi X. Makasar.
Winardi. 2011. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta: PT Rineka Cipta.
91
Yuni Setyawati. 2010. Pengaruh Pengetahuan Anggaran Anggota Dewan
Terhadap Pengawasan Keuangan Daerah (APBD) Dengan Partisipasi
Masyarakat dan Transparansi Kebijakan Publik Sebagai Variabel
Pemoderasi (Studi Empiris di Karesidenan Surakarta). Tesis. Fakultas
Ekonomi Sebelas Maret, Surakarta.
LAMPIRAN
SURVEI PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH PADA DPRD
KOTA PEMATANGSIANTAR
IDENTITAS RESPONDEN
Nomor Responden : .............................................................. (diisi oleh peneliti)
Nama : ..............................................................
Jenis Kelamin : □Pria □ Wanita
Usia : ......... Tahun
Masa Jabatan : □< 1 Tahun □1-5 Tahun □> 5 Tahun
Pendidikan Terakhir : □SMA □D3/Akademi
□Strata 1 □Strata 2
□Strata 3 □Lain-lain
PETUNJUK PENGISIAN
1. Pada pertanyaan kuesioner, Bapak/Ibu diharapkan menjawab dengan
memberikan tanda check list (√) pada salah satu pilihan sesuai dengan
pengalaman anda.
STS : Sangat Tidak Setuju
TS : Tidak Setuju
KS : Kurang Setuju
S : Setuju
SS : Sangat Setuju
2. Isilah semua nomor pernyataan dalam kuesioner ini dan jangan ada yang
terlewatkan.
3. Tidak ada penilaian benar atau salah atas jawaban yang dipilih.
4. Atas kesediaan dan kerjasama Bapak/Ibu dalam pengisian pernyataan atau
kuesioner ini, saya ucapkan banyak terima kasih.
Pengetahuan
No. Pernyataan SS S KS TS STS
1. Saya mengetahui bagaimana cara
penyusunan APBD.
2. Pelaksanaan APBD yang sebenarnya harus
dilakukan oleh eksekutif dapat saya pahami.
3. Jika terjadi kebocoran dalam pelaksanaan
APBD, saya mengetahuinya.
4. Saya mampu mengidentifikasi
pemborosan/kegagalan di dalam
pelaksanaan proyek.
Transparansi Kebijakan Publik
No. Pernyataan SS S KS TS STS
1. Perlunya informasi kepada publik yang
berkenaan tentang anggaran (APBD).
2. Informasi yang diberikan mudah untuk
diakses oleh publik.
3. Laporan pertanggungjawaban dibuat setiap
periode sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
4. Informasi yang disajikan kepada publik
sudah sesuai dengan fakta dan analisis
kebijakan yang telah diambil.
5. Kemudahan dalam akses dokumen publik
tentang anggaran.
6. Adanya akses publik pada informasi dan
mekanisme pengaduan rakyat.
7. Dilakukannya sosialisasi mengenai
perubahan APBD.
8. Kejelasan anggaran disusun berdasarkan
Peraturan Perundang-undangan.
9. Adanya peraturan yang kuat dalam
penyusunan dan penetapan anggaran.
Pengawasan Keuangan Daerah
No. Pernyataan SS S KS TS STS
1. Saya terlibat dalam penyusunan arah dan
kebijakan umum APBD.
2. Bagi saya aspirasi masyarakat menjadi dasar
dalam rangka menyusun APBD.
3. Saya terlibat dalam pengesahan APBD.
4. Saya dapat menjelaskan tentang APBD yang
telah di sahkan.
5. Saya terlibat dalam memantau pelaksanaan
APBD.
6. Saya aktif melakukan evaluasi terhadap
laporan triwulan/bulanan yang dibuat
eksekutif.
7. Saya menanyakan alasan adanya revisi
anggaran.
8. Saya meminta keterangan atas laporan
pertanggungjawaban (LPJ) APBD yang
disampaikan Bupati/Walikota.
9. Saya menanyakan LPJ APBD jika terjadi
kejanggalan.
P1 P2 P3 P4 TKB1 TKB2 TKB3 TKB4 TKB5 TKB6 TKB7 TKB8 TKB9 PKD1 PKD2 PKD3 PKD4 PKD5 PKD6 PKD7 PKD8 PKD9
4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
4 4 4 5 5 4 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4
5 5 4 4 5 4 4 3 4 4 4 5 5 4 4 4 4 4 4 5 5 5
4 5 5 4 4 5 4 4 4 4 5 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5
4 4 4 4 5 5 4 4 5 4 4 4 4 4 5 4 4 5 5 4 4 4
4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 5 5 5 4 4 4 5 5 5
4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
4 4 4 4 5 5 5 3 5 5 5 5 5 4 5 5 4 4 4 4 5 5
5 4 4 4 5 5 5 4 4 5 5 5 5 5 5 4 4 4 5 2 5 5
5 4 4 3 4 4 5 3 3 4 3 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5
4 4 3 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4
5 4 5 4 4 3 4 4 5 4 5 5 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4
4 4 4 4 4 5 5 5 4 4 4 5 5 4 3 3 3 3 3 4 3 4
3 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 2 4 3
5 4 5 4 4 2 3 4 3 4 4 4 4 4 3 3 4 3 4 2 3 5
3 4 3 4 3 2 4 4 5 5 4 5 4 4 4 3 4 3 4 3 3 4
3 4 3 4 3 3 4 4 3 5 4 4 4 4 3 4 4 4 4 3 4 3
3 5 3 5 4 4 3 4 3 4 5 5 4 4 4 3 5 3 5 3 5 4
5 4 5 4 3 4 3 5 3 5 5 4 5 5 3 3 4 3 4 4 5 4
3 3 3 3 4 3 4 4 5 4 5 5 4 4 4 4 3 4 3 4 4 3
3 3 3 3 2 2 2 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3
3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 3 3 4 4
3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 4
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 5 4 3 4 3 3 4 3
3 3 3 3 2 2 2 3 3 4 4 3 3 5 4 4 3 4 3 2 4 3
3 3 3 3 3 2 2 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 3 3 2 5 4
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 5
3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 4 3 2 4 3