Tugas Rekayasa Hidrologi Siti Kamariah
Tugas Rekayasa Hidrologi Siti Kamariah
REKAYASA HIDROLOGI
OLEH :
SITI KAMARIAH
2009026002
Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
anugerahNya penulisan Tugas Besar ini dapat terselesaikan dengan baik. Tidak
lupa saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
terlaksananya penulisan tugas ini hingga bisa tersusun dengan baik.
Tugas ini saya susun berdasarkan pengetahuan yang saya peroleh dari beberapa
buku dan media elektronik dengan harapan orang yang membaca dapat
memahami tentang Siklus Hidrologi, Metode Hidograf, dan Analisis Frekuensi.
Akhirnya, saya menyadari bahwa penulisan tugas ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun
demi perbaikan tugas ini di masa mendatang.
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
3
7. Analisis Frekuensi Curah Hujan ......................................................................... 26
7.1 Perhitungan analisis distribusi curah hujan dengan metode distribusi normal
dan distribusi gumbel :.................................................................................... 27
7.2 Perhitungan analisis distribusi curah hujan dengan metode distribusi log
normal dan distribusi log pearson 3 : .............................................................. 31
8. Pemilihan Jenis Sebaran .................................................................................... 37
9. Uji Kecocokan Sebaran ...................................................................................... 38
9.1 Uji Chi-Kuadrat ............................................................................................. 38
9.2 Uji Smirnov-Kolmogorov .............................................................................. 39
10. Distribusi Hujan Jam – Jaman ............................................................................ 41
11. Analisa Debit Banjir Rencana ............................................................................. 46
12. Penelusuran Banjir Di Waduk ............................................................................. 58
13. Pembuatan Peta ................................................................................................. 63
14. Peta daerah aliran sungai (DAS) manggis.......................................................... 81
15. Metode ITB ......................................................................................................... 82
15.1 Perhitungan ITB 1 ........................................................................................ 87
15.2 Perhitungan ITB 2 ........................................................................................ 92
16. Metode SCS ....................................................................................................... 97
16.1 Perhitungan SCS ....................................................................................... 101
17. Hidrograf ........................................................................................................... 106
17.1 Komponen Hidrograf .................................................................................. 106
18. Air Tanah .......................................................................................................... 111
19. Evapotranspirasi ............................................................................................... 116
19.1 Pengertian Evapotranspirasi ...................................................................... 116
19.2 Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Evapotranspirasi ............................... 116
19.3 Perhitungan Evapotranspirasi .................................................................... 117
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................. 128
4
1. Hidrologi Dalam Pengairan
Hidrologi singkatan dari hidro (air), dan logi (ilmu). Hidrologi adalah cabang ilmu
geografi yang mempelajari tentang gerakan air, penyebaran, dan kualitas air yang
ada pada permukaan bumi. Air adalah kebutuhan utama semua makhluk hidup,
termasuk manusia. Namun demikian, ketersediaan air yang dapat dimanfaatkan
bervariasi dari tempat ke tempat dipermukaan bumi ini.
2
1.3 Pengertian Siklus Hidrologi
Siklus Hidrologi yaitu proses pergerakan atau laju air dari bumi ke atmosfer dan
kembali lagi ke bumi yang berlangsung secara terus menerus atau berulang-
ulang. Karena bentuknya memutar dan berlangsung secara berkelanjutan yang
menyebabkan air dibumi seperti tidak pernah habis. Siklus hidrologi dibagi dalam
tiga macam yaitu :
a. Siklus pendek adalah dimana air laut mengalami penguapan lalu terjadi
kondensasi dan membentuk awan lalu terjadi hujan dan air jatuh lagi ke laut.
b. Siklus sedang adalah air laut mengalami penguapan lalu terjadi kondensasi
uap air lalu dibawa angin ke daratan dan membentuk awan, lalu terjadi hujan
di daratan dimana airnya menuju sungai atau danau kemudian kembali lagi ke
laut.
c. Siklus panjang adalah air laut mengalami penguapan lalu terjadi kondensasi
membentu awan didaratan sampai kepegunungan akibat terbawa angin lalu
terjadi salju, salju yang turun membentuk gletser, lalu mengalir ke sungai atau
danau atau masuk ke tanah kemudian kembali lagi ke laut.
1.4.1 Evaporasi
Merupakan proses penguapan air yang berasal dari perairan, naik itu perairan
darat ataupun perairan laut dan dipengaruhi oleh factor iklim dilingkungan
perairan, seperti temperature udara, kelembapan udara, dan kecepatan angin.
Didalam factor secara langsung berikut ini adalah factor-faktor yang akan
mempengaruhi penguapan, diantaranya sebagai berikut :
a. Temperatur apabila semakin tinggi temperature maka kemudian akan semakin
besar juga evaporasi.
3
b. Tekanan Uap apabila semakin tinggi tekenana pada uap air maka kemudian
akan semakin tinggi pula penguapan.
c. Kecepatan Angin apabila semakin cepat angin maka kemudian semakin besar
terjadi penguapan.
d. Kelembaban Udara. Apabila semakin tinggi adanya kelembapan udara maka
kemudian akan semakin rendah penguapan.
e. Lama Penyinaran matahari apabila semakin lama terkena penyinaran
matahari, maka kemudian semakin tinggi penguapan.
f. Intensitas radiasi matahari apabila semakin lama terkena intensitas radiasi
dari matahari, maka kemudian yang terjadi semakin tinggi penguapan.
1.4.2 Transpirasi
Pada dasarnya transpirasi adalah merupakan suatu proses pergerakan air pada
tanaman yang kemudian menguap, proses penguapannya terjadi pada bagian
daun, batang ataupun bunga. Tingkat transpirasi ini sangat bervariasi tergantung
pada kondisi cuaca, seperti suhu, kelembaban, ketersediaan dan juga intensitas
sinar matahari. Curah hujan dan jenis tanah serta saturasi, angin, kemiringan
tanah, dan juga ketersediaan air.
1.4.3 Evapotranspirasi
4
Sublimasi yaitu proses naiknya uap air ke atas atmosfer bumi. Sublimasi
merupakan proses perubahan es kutub atau di puncak gunung menjadi uap air,
tanpa harus melalui proses pencairan. Sublimasi ini juga tidak banyak penguapan
(evaporasi maupun transpirasi), namun meski sedikit etap aja sublimasi ini tetap
berkontribusi erat terhadap jumlah uap air yang naik ke atmosfer, namun jumlah
air yang di haasilkan menjadi lebih sedikit.
1.4.5 Kondensasi
1.4.6 Adveksi
1.4.7 Presipitasi
Presipitasi yaitu proses mencairnya awan hitam akibat adanya pengaruh suhu
udara yang tinggi. Pada tahan inilah terjadinya hujan. Sehingga awan hitam yang
terbentuk dari partikel es tersebut mencair dan air tersebut jatuh ke bumi menjadi
sebuah hujan.
5
Run Off merupakan proses pergerakan air dari tempat yang tinggi menuju ke
tempat yang lebih rendah yang terjadi di permukaan bumi. Proses pergerakan air
ini berlangsung melalui saluran-saluran air contohnya danau, got, muara, sungai,
laut hingga samudra. Dalam proses inilah air yang mengalami siklus hidrologi
akan kembali ke lapisan hidrosfer.
1.4.9 Infiltrasi
Proses pergerakan air ke dalam pori-pori tanah. Proses infiltrasi akan secara
lambat membawa air tanah untuk menuju kembali ke laut. Setelah melalui proses
run off dan infiltrasi, kemudian air yang telah mengalami siklus hidrologi akan
kembali berkumpul ke lautan. Dalam waktu yang berangsur-angsur, air tersebut
akan kembali mengalami siklus hidrologi yang baru, dimana diawali dengan
evaporasi dan itulah beberapa tahapan siklus hidrologi.
1.4.10 Perkolasi
Perkolasi adalah gerakan air dalam lapisan-lapisan tanah. Jika infiltrasi adalah
gerakan air meresap memasuki pori-pori tanah, maka perkolasi adalah gerakan air
di dalam lapisan tanah tersebut. Bayabgkan setetes air yang jatuh ke permukaan
bumi ketika terjadi hujan, saat air tersebut jatuh ke tanah dan menyerap masuk ke
dalam tanah, itu adalah fenomena infiltras. Sedangkan ketika air yang meresap
tersebut masuk lebih jauh ke dalam lapisan-lapisan tanah, maka itu adalah proses
perkolasi.
1.4.11 Groundwater
Air Tanah (Ground Water) adalah air yang bergerak didalam tanah yang terdapat
didalam ruang antar butir-butir tanah yang meresap ke dalam tanah dan
6
bergabung membentuk lapisan tanah yang disebut akifer. Lapisan yang mudah
dilalui oleh air tanah disebut lapisan permeable, seperti lapisan yang terdapat
pada pasir atau kerikil, sedangkan lapisan yang sulit dilalui air tanah disebut
lapisan impermeable, seperti lapisan lempung atau geluh. Lapisan yang dapat
menangkap dan leloloskan air disebut akuifer. Setelah itu perlahann-lahan kembali
ke laut dan melakukan kembali proses evaporasi dan seterusnya.
Di antara beberapa jenis oresipitasi, hujan adalah yang paling biasa diukur.
Pengukuran dapat dilakukan secara langsung dengan menampung air hujan yang
jatuh. Namun tidak mungkin menampung hujan di seluruh daerah tangkapan air.
Hujan di suatu daerah hanya dapat diukur di beberapa titik yang ditetapkan
dengan menggunakan alat pengukur hujan. Hujan yang terukur oleh alat tersebut
mewakili suatu luasan daerah di sekitarnya. Hujan terukur dinyatakan dengan
kedalaman hujan yang jatuh pada suatu interval waktu tertentu.
Alat penakar hujan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu penakar hujan
biasa (manual reingauge) dan penakar hujan otomatis (automatic raingauge).
Gambar dibawah adalah alat penakar hujan biasa, yang terdiri dari corong dan
botol penampung yang berada di dalam suatu tabung silinder. Alat ini ditempatkan
di tempat terbuka yang tidak dipengaruhi pohon-pohon dan gedung-gedung yang
ada disekitarnya. Air hujan yang jatuh pada corong akan tertampung di dalam
tabung silinder. Dengan mengukur volume air yang tertampung dan luas corong
akan dapat diketahui kedalaman hujan. Curah hujan kurang dari 0.1 mm dicatat
7
sebagai 0.0 mm yang harus dibedakan dengan tidan ada hujan yang dicatat
dengan garis (-). Pengukuran dilakukan setiap hari. Biasanya pembacaan pada
pagi hari, sehingga hujan tercatat adalah hujan yang terjadi selama satu hari
sebelumnya, yang sering disebut hujan harian. Dengan alat ini tidak dapat
diketahui kederasan hujan (intensitas) hujan, durasi (lama waktu) hujan dan kapan
terjadinya.
Alat ini lebih dikenal dengan penakar hujan OBS atau penakar hujan manual,
sedang di kalangan pertanian dan pengairan biasa disebut ombrometer. Sebuah
alat yang digunakan untuk menakar atau mengukur hujan harian. Penakar hujan
Obs ini merupakan jejaring alat ujur cuaca terbanyak di Indonesia.
8
2.2 Alat penakar hujan otomatis
Alat ini mengukur hujan secara kontinyu sehingga dapat diketahui intensitas hujan
dan lama waktu hujan. Ada beberapa macam alat penakar hujan otomatis yaitu
alat penakar hujan jenis pelampung, alat penakar hujan jenis timba jungkit, dan
alat penakar hujan jenis timbangan.
Gambar dibawah adalah alat penakar hujan jenis peampung. Hujan yang jatuh
masuk ke dalam tabung yang berisi pelampung. Jika muka air di dalam tabung
naik, pelampung bergerak ke atas dan bersamaan dengan pelampung tersebut
sebuah pena yang dihubungkan dengan pelampung melalui suatu tali
penghubung juga ikut bergerak. Gerakan pena tersebut memberi tanda pada
kertas grafik yang digulung pada silinder yang berputar. Jika tabung telah penuh,
secara otomatis seluruh air akan melimpas keluar melalui mekanisme sifon yang
dihubungkan.
9
b. Alat penakar hujan jenis timba jungkit
Gambar dibawah menunjukkan jenis alat ini, yang terdiri dari silinder
penampung yang dilengkapi dengan corong. Di bawah corong ditempatkan
sepasang timba penakar kecil yang dipasang sedemikian rupa sehingga jika
salah satu timmba menerima curah hujan sebesar 0,25mm, timba tersebut
akan menjungkit dan menumpahkan isinya ke dalam tangki. Timba lainnya
kemudian menggantikan tempatnya, dan kejadian serupa akan terulang.
Gerakan timba mengaktifkan suatu sirkuit listrik dan menyebabkan
bergeraknya pena pada lembaran kertas grafik yang dipasang pada suatu
silinder dan berputar sesuai dengan perputaran jarum jam.
Aliran permukaan pada daerah tangkapan air terjadi dalam beberapa bentuk yaitu:
1. Aliran limpasan pada permukaan tanah.
2. Aliran melalui parit atau selokan.
10
3. Aliran melalui sungai-sungai kecil.
4. Aliran melalui sungai utama.
Aliran limpasan pada permukaan terjadi selama atau setelah hujan dalam bentuk
lapisan air yang mengalir pada permukaan tanah. Aliran tersebut masuk ke parit
atau selokan yang kemudian mengalir ke sungai-sungai kecil dan selanjutnya
menjadi aliran sungi utamna. Karakteristik hidrologi dari daerah tangkapan air
dipengaruhi oleh luas, bentuk, relief, panjang sungai, dan pola drainase daerah
tangkapan.
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah daerah yang dibatasi oleh punggung-
punggung gunung/pegunungan dimana air hujan yang jatuh di daerah tersebut
akan mengalir menuju sungai utama pada suatu titik/stasiun yang ditinjau. DAS
ditentukan dengan menggunakan peta topografi yang dilengkapi dengan garis-
garis kontur. Untuk maksud tersebut dapat digunakan peta topografi, garis-garis
kontur dipelajari untuk menentukan arah dari limpasan permukaan. Limpasan
berasal dari titik-titik tertinggi dan bergerak menuju titik-titik yang lebih rendah
dalam arah tegak lurus dengan garis-garis kontur.
Panjang sungai diukur pada peta. Dalam memperkirakan panjang suatu segmen
sungai disarankan untuk mengukurnya beberapa kali dan kemudian dihitung
panjang reratanya. Panjang sungai adalah panjang yang diukur sepanjaang
sungai, dari stasiun yang ditinjau atau muara sungai sampai ujung hulunya.
11
Sungai utama adalah sungai terbesar pada daerah tangkapan dan yang
membawa aliran menuju muara sungai.
Data curah hujan dan debut merupakan data yang sangat penting dalam
perencanaan waduk. Analisis data hujan dimaksudkan untuk mendapatkan
besaran curah hujan. Perlunya menghitung curah hujan wilayah adalah untuk
penyusunan suatu rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian
banjir (Sosrodarsono & Takeda, 1977).
Metode yang digunakan dalam erhitungan curah hujan rata-rata wilayah daerah
aliran sungai (DAS) ada tiga metode, yaitu metode rata-rata aritmatik (aljabar,
metode polygon Thiessen dan metode Isohyet.
12
Dengan
n = Jumlah Stasiun
Metode Poligon Thiessen cocok untuk menentukan tinggi rata-rata hujan apabila
pos hujan tidak banyak dan tinggi hujan tidak merata. Metode ini memberikan
hasil yang teliti dibandingkan dengan metode arotmatik/rata-rata aljabar, namun
penentuan titik pengamatan akan mempengaruhi ketelitian yang didapat.
13
4.3 Metode Isohyet
Dalam perhitungan tugas akhir ini stasiun hujan di daerah yang ditinjau tidak
merata dan jumlah stasiun hujan yang dipakai sebanyak tiga buah stasiun hujan,
sehingga metode yang digunakan adalah metode Thiessen.
Dengan cara ini, kita harus menggambar dulu kontur tinggi hujan yang sama,
seperti gambar. Kemudian luas bagian di antara isohyet-isohyet yang berdekatan
kontur, dan nilai rata-ratanya dihitung sebagai nilai rata-rata timbang nilai kontur.
14
berfungsi sebagai dasar perhitungan perencanaan hidrologi untuk antisipasi setiap
kemungkinan yang akan terjadi.
Hujan Rencana merupakan kemungkinan tinggi hujan yang terjadi dalam kala
ulang tertentu sebagai hasil dari suatu rangkaian analisis hidrologi yang biasa
disebut dengan Analisis Frekuensi. Tujuan analisis frekuensi data hidrologi adalah
mencari hubungan antara besarnya kejadian ekstrim terhadap frekuensi kejadian
dengan menggunakan distribusi probabilitas/kemungkinan.
Ada dua macam data yang digunakan untuk analisis frekuensi, yaitu :
a. Data maksimum tahuna yaitu data yang pada setiap tahun diambil hanya satu
besaran maksimum yang dianggap berpengaruh pada analisis selanjutnya.
Series data ini sering disebut seri data maksimum (maximum annual series).
b. Seri partial yaitu dengan menetapkan satu besaran tersentu sebagai batas
bawah, selanjutnya semua besaran data yang lebih besar dari batas bawah
diambil dan dianalisis.
Statistik yang digunakan untuk analisis frekuensi adalah curah hujan rata-rata.
Curah hujan rata-rata didapatkan dengan mengambil rata-rata hitung (arithmetic
mean) dari penakaran pada penakar hujan area tersebut.
Nilai Rata-Rata
Dimana :
̅ = nilai rata-rata curah hujan
= nilai pengukuran dari suatu curah hujan ke 1
= jumlah data hujan
15
5.1 Menghitung Simpangan Baku (Standar Deviasi)
Jika penyebaran data sangat besar terhadap nilai rata-rata, maka nilai standar
deviasinya akan besar dan apabila penyebaran data sangat kecilterhadap nilai
rata-rata maka standar deviasinya akan kecil. Standar deviasi dihitung dengan
menggunakan rumus :
Dimana :
Sd = Standar deviasi curah hujan
̅ = Nilai rata-rata hujan
= Nilai pengukuran dari curah hujan ke
n = Jumlah data hujan
Koefisien variasi adalah nilai perbandingan antara standar deviasi dengan nilai
rata-rata suatu sebaran. Rumus koefisien sebaran adalah sebagai berikut :
Keterangan :
Cv = Koefisien variasi curah hujan
Sd = Standar deviasi curah hujan
̅ = Nilai rata-rata hujan
16
5.3 Koefisien Kemencengan
Dimana :
Cs = koefisien kemencengan curah hujan
= standar deviasi dari populasi curah hujan
Sd = standar deviasi dari sampel curah hujan
= nilai rata-rata dari data populasi curah hujan
X = nilai rata-rata dari data sampel curah hujan
Xi = curah hujan ke i
n = jumlah data curah hujan
a, = parameter kemencengan
Dalam analisis frekuensi data hidrologi baik data hujan maupun data debit sungai
terbukti bahwa sangat jarang dijumpai seri data yang sesuai dengan sebaran
17
normal. Sebaliknya, sebagian besar data hidrologi sesuai dengan jenis sebaran
yang lainnya. Masing-masing sebaran memiliki sifat-sifat khas sehingga setiap
data hidrologi harus diuji kesesuaiannya dengan sifat statistik masing-masing
sebaran tersebut. Pemilihan sebaran yang tidak benar dapat mengundang
kesalahan perkiraan yang cukup besar. Dengan demikian pengambilan salah satu
sebaran secara sembarang untuk analisis tanpa pengujian data hidrologi sangat
tidak [Link] besaran statistika yang telah dihitung dengan syarat
masing-masing jenis distribusi sesuai tabel.
Penentuan jenis sebaran yang akan digunakan untuk analisis frekuensi dapat
dipakai beberapa cara sebagai berikut :
( ) ( )
Dimana :
18
PX x = Probability Density Function
X = variabel acak kontinyu
e = 2,71828
Y = faktor reduksi Gumbel
Table 6.2 Reduced mean (Yn) untuk Metode Sebaran Gumbel Tipe 1
Table 6.3 Redused Standard Deviation (Sn) untuk Metode Sebaran Gumbel Tipe 1
19
Table 6.4 Reduced Variate (Yt) untuk Metode Sebaran Gumbel 1
20
Dimana :
X = hujan maksimum harian rata-rata
n = banyaknya jumlah data
d. Koefisien Kurtois
Koefisien kurtois adalah suatu nilai yang menunjukkan keruncingan dari bentuk
kurva distribusi, yang umumnya dibandingkan dengan distribusi nomal.
Persamaan koefisien kurtois adalah sebagai berikut :
Dimana :
Ck = Koefisien kurtois curah hujan
̅ = Nilai rata-ratadaari sampel curah hujan
Xi = curah hujan ke-i
n = jumlah data curah hujan
Sd = standar deviasi dari sampel curah hujan
21
6.2 Sebaran Normal
Sebaran normal banyak digunakan dalam analisis hidrologi, misal dalam analisis
frekuensi curah hujan, analisis statistik dari distribusi rata-rata curah hujan
tahunan, debit rata-rata tahunan dan sebagainya. Sebaran normal atau kurva
normal disebut pula sebaran Gauss.
Xt = ̅ + k + Sd
Dimana :
Xt = Curah hujan rencana dengan periode ulang t tahun (mm)
̅ = Nilai rata-ratadaari sampel curah hujan
Sd = standar deviasi
k = Faktor frekuensi
Sebaran log normal merupakan hasil transformasi dari sebaran normal, yaitu
dengan mengubah nilai variat X menjadi nilai logaritmik variat X. Sebaran log-
Pearson III akan menjadi sebaran log normal apabila nilai koefisien kemencengan
CS = 0,00. Secara matematis Probability Density Function dari sebaran log normal
ditulis sebagai berikut :
Dimana :
P (X) = Probability Density Function dari sebaran log normal
X = nilai variat pengamatan
22
X = nilai rata-rata dari logaritmik variat X, umumnya dihitung nilai rata-rata
geometriknya.
Distribusi Gumbel
Curah hujan rencana periode ulang t tahun :
Reduced variate :
Yt = -In {In (Tr-1)/Tr}
23
Dimana :
Xt = Curah hujan rencana dengan periode ulang t tahun (mm)
( ̅) = Nilai rata-rata dari sampel curah hujan
S = standar deviasi
Sn = standard deviation of reduced variated
Yt = reduced variated
Yn = mean of reduced variated
24
Table 6.6 Nilai Rata-Rata dari Reduksi Variat (Yn)
Distribusi Normal
Dimana :
Xt = Besarnya curah hujan dengan periode ulang T tahun.
( ̅) = Curah hujan rata-rata (mm)
Sd = Standar deviasi data hujan harian maksimum
25
Kt = Standard Variable untuk periode ulang t tahun yang besarnya diberikan
pada table 4.
Berikut data curah hujan yang akan dipakai untuk menghitung curah hujan
tahunan :
26
10 1993 90
11 1994 141.8
12 1995 82
13 1996 79.1
14 1997 94.6
15 1998 85
16 1999 117.1
17 2000 83.8
18 2001 101.6
19 2002 66.3
20 2003 87.7
21 2004 118.2
22 2005 108
23 2006 132.1
24 2007 94.4
25 2008 73
26 2009 60.2
27 2010 86.5
28 2011 105.5
29 2012 79.6
30 2013 96
31 2014 102.5
7.1 Perhitungan analisis distribusi curah hujan dengan metode distribusi normal
dan distribusi gumbel :
Table 7.2 Perhitungan Curah Hujan Metode Distribusi Normal dan Distribusi Gumbel
No. Tahun Xi (mm) Xi - Xrt (Xi - Xrt)2 (Xi - Xrt)3 (Xi - Xrt)4
1 1984 73.3 -21.1 443.7 -9346.6 196882.0
2 1985 105.6 11.2 126.2 1418.3 15935.6
3 1986 85.7 -8.7 75.1 -650.5 5636.1
4 1987 80.5 -13.9 192.2 -2665.1 36950.4
5 1988 108.9 14.5 211.3 3071.1 44639.4
27
6 1989 97.3 2.9 8.6 25.3 74.3
7 1990 89.4 -5.0 24.6 -122.4 607.4
8 1991 105.3 10.9 119.6 1307.7 14300.5
9 1992 94.3 -0.1 0.0 0.0 0.0
10 1993 90 -4.4 19.0 -83.1 362.9
11 1994 141.8 47.4 2250.1 106735.8 5063063.1
12 1995 82 -12.4 152.9 -1890.3 23372.7
13 1996 79.1 -15.3 233.0 -3556.7 54291.5
14 1997 94.6 0.2 0.1 0.0 0.0
15 1998 85 -9.4 87.7 -821.2 7690.3
16 1999 117.1 22.7 516.9 11752.0 267187.9
17 2000 83.8 -10.6 111.6 -1179.1 12456.6
18 2001 101.6 7.2 52.4 378.8 2740.8
19 2002 66.3 -28.1 787.6 -22104.1 620340.6
20 2003 87.7 -6.7 44.4 -296.0 1972.8
21 2004 118.2 23.8 568.1 13541.7 322772.0
22 2005 108 13.6 185.9 2535.2 34568.6
23 2006 132.1 37.7 1424.0 53734.1 2027681.3
24 2007 94.4 0.0 0.0 0.0 0.0
25 2008 73 -21.4 456.4 -9751.7 208339.8
26 2009 60.2 -34.2 1167.2 -39877.3 1362388.9
27 2010 86.5 -7.9 61.9 -486.4 3825.5
28 2011 105.5 11.1 124.0 1380.8 15375.8
29 2012 79.6 -14.8 218.0 -3218.5 47520.0
30 2013 96 1.6 2.7 4.4 7.2
31 2014 102.5 8.1 66.2 538.5 4380.6
Jumlah 2925.3 0.0 9731.5 100374.5 10395364.4
Rata-rata
(Xrt) 94.36
∑ni=1( i ̅)
√
n
18.01
28
Sebelum melakukan perhitungan menggunakan distribusi normal dan distribusi
gumbel, perlu diketahui nilai faktor frekuensi (nilai variable reduksi gauss) dan nilai
yn dan sn.
Kemudian dilakukan perhitungan :
29
Table 7.3 Perhitungan Hujan Rencana Distribusi Normal
30
= 131.29
Curah hujan periode ulang 100 tahun :
X100 = 94.36 + 2.33 x 18.01
= 136.33
7.2 Perhitungan analisis distribusi curah hujan dengan metode distribusi log
normal dan distribusi log pearson 3 :
Table 7.5 Perhitungan Curah Hujan Metode Distribusi Log Normal dan
Distribusi Log Pearson III
31
10 1993 90 1.95 -0.01 0.0002 -0.000002 0.0000000
11 1994 141.8 2.15 0.18 0.0340 0.006267 0.0011556
12 1995 82 1.91 -0.05 0.0029 -0.000153 0.0000082
13 1996 79.1 1.90 -0.07 0.0048 -0.000330 0.0000228
14 1997 94.6 1.98 0.01 0.0001 0.000001 0.0000000
15 1998 85 1.93 -0.04 0.0014 -0.000054 0.0000021
16 1999 117.1 2.07 0.10 0.0103 0.001038 0.0001051
17 2000 83.8 1.92 -0.04 0.0019 -0.000086 0.0000038
18 2001 101.6 2.01 0.04 0.0016 0.000062 0.0000025
19 2002 66.3 1.82 -0.15 0.0213 -0.003099 0.0004518
20 2003 87.7 1.94 -0.02 0.0006 -0.000014 0.0000003
21 2004 118.2 2.07 0.11 0.0111 0.001168 0.0001230
22 2005 108 2.03 0.07 0.0044 0.000289 0.0000191
23 2006 132.1 2.12 0.15 0.0236 0.003624 0.0005566
24 2007 94.4 1.97 0.01 0.0001 0.000000 0.0000000
25 2008 73 1.86 -0.10 0.0108 -0.001124 0.0001169
26 2009 60.2 1.78 -0.19 0.0352 -0.006614 0.0012414
27 2010 86.5 1.94 -0.03 0.0009 -0.000028 0.0000008
28 2011 105.5 2.02 0.06 0.0031 0.000175 0.0000098
29 2012 79.6 1.90 -0.07 0.0044 -0.000293 0.0000194
30 2013 96 1.98 0.01 0.0002 0.000003 0.0000001
31 2014 102.5 2.01 0.04 0.0019 0.000082 0.0000036
Jumlah 60.99 0.00 0.20 0.0003 0.004
Rata-rata (Yrt) 1.97
Dimana :
Xt = Besarnya curah hujan dengan periode ulang T tahun.
( ̅) = Curah hujan rata-rata (mm)
Sd = Standar deviasi data hujan harian maksimum
32
Kt = Standard Variable untuk periode ulang t tahun yang besarnya diberikan
pada table 7.6
Table 7.6 Standard Variable (Kt) untuk Metode Sebaran Log Normal
∑ni=1( i ̅)
√
n
0.08
33
∑ ( ̅)
( )( )
∑ ( ̅)
( )( )( )
Perhitungan Hujan Rencana Periode 2,5,10,20,50 dam 100 tahun untuk distribusi
Log Normal, dengan langkah perhitungan :
34
Distribusi Log Pearson III
( )
( )
Bentuk kumulatif dari distribusi Log Pearson III dengan nilai variat X apabila
digambarkan pada kertas probabilitas logaritmik akan membentuk persamaan
garis lurus dengan bentuk sebagai berikut :
̅
Dengan
= nilai logaritmik dari x dengan periode ulang T
̅ = nilai rerata dari
Sy = deviasi standar dari
= faktor frekuensi, yang merupakan fungsi dari probabilitas dan koefisien
kemencengan seperti pada table dibawah
35
Table 7.8 Perhitungan Hujan Rencana Distribusi Log Pearson III
Untuk hasil perhitugan hujan rencana periode 2,5,10,20,50 dan 100 tahun dapat
dilihat pada Table untuk distribusi Log Pearson III.
Langkah-langkah perhitungannya adalah sebagai berikut :
36
a. Pada kolom 1, masukkan periode ulang yang digunakan.
b. Pada kolom 2, masukkan nilai K dari tabel 7.8 Distribusi Log Pearson III.
c. Pada kolom 3, hitung hujan rencana dengan rumus untuk periode ulang 2
( ) ( )
tahun : R .
37
9. Uji Kecocokan Sebaran
EF =n/G
= 31/ 6
= 5.166667
Interval Kelas = R / (G - 1)
= 81.60 / (6 – 1)
= 16.32
38
P6 = 92.84
Nilai Chi-Kuadrat
X2 = 163 / 31
= 5.253
Chi-Kritis
Derajat Kepercayaan (DK) = 3
α = 5%
Chi-Kritis = 7.815
Chi-Kuadrat = (5.253) < Chi-Kritis (7.815) (Memenuhi Syarat)
39
Table 9.2 Perhitugan Uji Smirnov-Kolmogorov
P(x) =
P(f) = (Xi - P'(x) =
m Xi m/ P(X<) P' (X<) D
Xrt)/Sd m / (n-1)
(n+1)
(4) = 1 - (7) = 1 - (8) = (4)
(1) (2) (3) (5) (6)
(3) (6) - (7)
1 60.20 0.03 0.97 -1.90 0.03 0.97 0.00
2 66.30 0.06 0.94 -1.56 0.07 0.93 0.00
3 73.00 0.09 0.91 -1.19 0.10 0.90 0.01
4 73.30 0.13 0.88 -1.17 0.13 0.87 0.01
5 79.10 0.16 0.84 -0.85 0.17 0.83 0.01
6 79.60 0.19 0.81 -0.82 0.20 0.80 0.01
7 80.50 0.22 0.78 -0.77 0.23 0.77 0.01
8 82.00 0.25 0.75 -0.69 0.27 0.73 0.02
9 83.80 0.28 0.72 -0.59 0.30 0.70 0.02
10 85.00 0.31 0.69 -0.52 0.33 0.67 0.02
11 85.70 0.34 0.66 -0.48 0.37 0.63 0.02
12 86.50 0.38 0.63 -0.44 0.40 0.60 0.03
13 87.70 0.41 0.59 -0.37 0.43 0.57 0.03
14 89.40 0.44 0.56 -0.28 0.47 0.53 0.03
15 90.00 0.47 0.53 -0.24 0.50 0.50 0.03
16 94.30 0.50 0.50 0.00 0.53 0.47 0.03
17 94.40 0.53 0.47 0.00 0.57 0.43 0.04
18 94.60 0.56 0.44 0.01 0.60 0.40 0.04
19 96.00 0.59 0.41 0.09 0.63 0.37 0.04
20 97.30 0.63 0.38 0.16 0.67 0.33 0.04
21 101.60 0.66 0.34 0.40 0.70 0.30 0.04
22 102.50 0.69 0.31 0.45 0.73 0.27 0.05
23 105.30 0.72 0.28 0.61 0.77 0.23 0.05
24 105.50 0.75 0.25 0.62 0.80 0.20 0.05
25 105.60 0.78 0.22 0.62 0.83 0.17 0.05
26 108.00 0.81 0.19 0.76 0.87 0.13 0.05
27 108.90 0.84 0.16 0.81 0.90 0.10 0.06
28 117.10 0.88 0.13 1.26 0.93 0.07 0.06
29 118.20 0.91 0.09 1.32 0.97 0.03 0.06
30 132.10 0.94 0.06 2.10 1.00 0.00 0.06
31 141.80 0.97 0.03 2.63 1.03 -0.03 0.06
40
Dmaks = 0.065
n = 31
α = 5%
Dkritis = 0.242
Dmaks < Dkritis
0.065 < 0.242 (Memenuhi syarat)
Koefisien Limpasan
41
Danau 0.018 1.00 0.02
Jumlah 2.416 - 1.78
C sub DAS II ∑
Nilai koefisien limpasan rerata untuk menentukan hijan netto/hujan efektif dan
perhitungan distribusi hujan jam-jaman. Perhitungan hujan efektif dapat dilihat
pada tabel di bawah untuk setiap sub DAS
Hujan
Kala Ulang Koefisien
No. Rencana (R) Hujan Efektif
(Tahun) Limpasan (C)
(mm)
(1) (2) (3) (4) (5) = (3) x (4)
1 2 92.81 1.06 98.36
2 5 108.69 1.06 115.20
3 10 118.11 1.06 125.18
4 20 125.47 1.06 132.98
5 50 136.86 1.06 145.05
6 100 144.30 1.06 152.93
42
Table 10.3 Perhitungan Hujan Efektif Sub DAS II
Perhitungan Hujan Efektif DAS II
Hujan
Kala Ulang Rencana (R) Koefisien
No. (Tahun) (mm) Limpasan (C) Hujan Efektif
(1) (2) (3) (4) (5) = (3) x (4)
1 2 92.81 0.74 68.29
2 5 108.69 0.74 79.98
3 10 118.11 0.74 86.91
4 20 125.47 0.74 92.33
5 50 136.86 0.74 100.71
6 100 144.30 0.74 106.18
Untuk kala ulang 5,10,20,50 dan 100 tahun digunakan rumus yang sama
dengan nilai hujan efektif sesuai dengan kala ulang yang ada.
43
Table 10.4 Perhitungan Distribusi Hujan Efektif Jam-Jaman Sub DAS I
Perhitungan Distribusi Hujan Efektif Jam-jaman DAS I
It Rt
0 0
0.55 0.55
0.35 0.14
0.26 0.10
0.22 0.08
0.19 0.07
0.17 0.06
44
Table 10.5 Perhitungan Distribusi Hujan Efektif Jam-Jaman Sub DAS II
Perhitungan Distribusi Hujan Efektif Jam-jaman DAS II
It Rt
0 0
0.55 0.55
0.35 0.14
0.26 0.10
0.22 0.08
0.19 0.07
0.17 0.06
45
11. Analisa Debit Banjir Rencana
46
Tp = 1.31 jam
e. Waktu dari puncak banjir sampai 0.3 kali debit puncak (T 0.3)
T0.3 = 1.82 jam
Pada kurva turun (Tp + T0,3 = 3,28 < t < Tp + T0,3 + 1,5T0,3
= 5,86)
T (jam) Qt (m3/det) T (jam) Qt (m3/det)
3.13 0.53 5.86 0.16
4 0.36 -
5 0.23 -
47
Pada kurva turun (t > Tp + T0,3 + 1,5T0,3 = 5,86)
T (jam) Qt (m3/det) T (jam) Qt (m3/det)
5.86 0.16 12 0.02
6 0.15 13 0.01
7 0.11 14 0.01
8 0.08 15 0.01
9 0.06 16 0.01
10 0.04 17 0.00
11 0.03 18 0.00
12 0.02 19 0.00
13 0.01 20 0.00
14 0.01 21 0.00
15 0.01 22 0.00
16 0.01 23 0.00
17 0.00 24 0.00
18 0.00 25 0.00
19 0.00 26 0.00
20 0.00 27 0.00
21 0.00 28 0.00
22 0.00 29 0.00
23 0.00 30 0.00
24 0.00 31 0.00
25 0.00 32 0.00
Ordinat hidrograf pada kurva naik dan kurva turun digabung, selanjutnya dihitung
volume limpasan dengan rumus :
( ) ( ( ) ) ( ( ) )
48
satuan (Qt) dan hasilnya adalah hidrograf satuan terkoreksi (Q koreksi) yang
digunakan untuk mencari debit maksimum periode ulang tertentu.
(f) = Qt V
t V awal
Qa Qd1 Qd2 Qd3 Qtotal 1/kedalaman koreksi koreksi
(jam) (m3)
hujan (m3/d) (m3)
0 0.00 0.00 2766.27 0.86 0.00 2384.14
1 1.54 1.54 1839.05 0.86 1.32 1585.00
1.31 1.76 1.76 3567.23 0.86 1.52 3074.45
2 1.11 1.11 3037.33 0.86 0.96 2617.75
3 0.57 0.57 257.65 0.86 0.49 222.06
3.13 0.53 0.53 1387.29 0.86 0.45 1195.65
4 0.36 0.36 1061.90 0.86 0.31 915.21
5 0.23 0.23 602.02 0.86 0.20 518.86
5.86 0.16 0.16 77.84 0.86 0.14 67.09
6 0.15 0.15 466.69 0.86 0.13 402.22
7 0.11 0.11 335.18 0.86 0.09 288.88
8 0.08 0.08 240.73 0.86 0.07 207.47
9 0.06 0.06 172.89 0.86 0.05 149.01
10 0.04 0.04 124.17 0.86 0.03 107.02
11 0.03 0.03 89.18 0.86 0.02 76.86
12 0.02 0.02 64.05 0.86 0.02 55.20
13 0.01 0.01 46.00 0.86 0.01 39.65
14 0.01 0.01 33.04 0.86 0.01 28.47
15 0.01 0.01 23.73 0.86 0.01 20.45
16 0.01 0.01 17.04 0.86 0.00 14.69
17 0.00 0.00 12.24 0.86 0.00 10.55
18 0.00 0.00 10.23 0.86 0.00 8.82
19 0.00 0.00 6.48 0.86 0.00 5.58
20 0.00 0.00 2.34 0.86 0.00 2.02
21 0.00 0.00 1.68 0.86 0.00 1.45
22 0.00 0.00 1.21 0.86 0.00 1.04
49
23 0.00 0.00 0.50 0.86 0.00 0.43
24 0.00 0.00 0.00 0.86 0.00 0.00
25 0.00 0.00 0.00 0.86 0.00 0.00
Jumlah (m3) 16243.95 14000
Kedalaman Hujan (mm) 1.16 1.00
1.60
1.40
1.20
Debit (m3/detik)
1.00
0.80
0.60
0.40
0.20
0.00
0 5 10 15 20 25
Waktu (jam)
Dari perhitungan hidrograf satuan metode Nakayasu ini kemudian dihitung debit
banjir rencana kala ulang 10 tahun. Debit banjit rencana dihitung dengan cara
mengalikan distribusi hujan efektif jam-jaman dengan debit hidrograf satuan
terkoreksi.
51
Gambar 11. 2 Hidrograf Banjir Periode Ulang 10 Tahun Sub DAS 1
DAS 1 DAS 2
90.00
80.00
70.00
Debit (m3/detik)
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00
0 5 10 15 20 25
Waktu (jam)
52
e. Waktu dari puncak banjir sampai 0.3 kali debit puncak (T 0.3)
T0.3 = 0.79 jam
53
4 0.02 14 0.00
5 0.01 15 0.00
6 0.01 16 0.00
7 0.00 17 0.00
8 0.00 18 0.00
9 0.00 19 0.00
10 0.00 20 0.00
11 0.00 21 0.00
12 0.00 22 0.00
13 0.00 23 0.00
14 0.00 24 0.00
15 0.00 25 0.00
16 0.00 26 0.00
17 0.00 27 0.00
18 0.00 28 0.00
19 0.00 29 0.00
20 0.00 30 0.00
21 0.00 31 0.00
22 0.00 32 0.00
23 0.00 33 0.00
24 0.00 34 0.00
25 0.00 35 0.00
Ordinat hidrograf pada kurva naik dan kurva turun digabung, selanjutnya dihitung
volume limpasan dengan rumus :
( ) ( ( ) ) ( ( ) )
54
satuan (Qt) dan hasilnya adalah hidrograf satuan terkoreksi (Q koreksi) yang
digunakan untuk mencari debit maksimum periode ulang tertentu.
(f) = Qt V
t V awal
Qa Qd1 Qd2 Qd3 Qtotal 1/kedalaman koreksi koreksi
(jam) (m3)
hujan (m3/d) (m3)
0 0.00 0.00 937.11 0.85 0.00 794.55
0.80 0.65 0.65 406.18 0.85 0.55 344.39
1 0.48 0.48 714.40 0.85 0.40 605.72
1.59 0.20 0.20 239.18 0.85 0.17 202.79
2 0.13 0.13 263.48 0.85 0.11 223.40
2.781 0.06 0.06 42.61 0.85 0.05 36.13
3 0.05 0.05 131.01 0.85 0.04 111.08
4 0.02 0.02 61.39 0.85 0.02 52.05
5 0.01 0.01 28.76 0.85 0.01 24.39
6 0.01 0.01 13.48 0.85 0.00 11.43
7 0.00 0.00 6.31 0.85 0.00 5.35
8 0.00 0.00 2.96 0.85 0.00 2.51
9 0.00 0.00 1.39 0.85 0.00 1.18
10 0.00 0.00 0.65 0.85 0.00 0.55
11 0.00 0.00 0.30 0.85 0.00 0.26
12 0.00 0.00 0.14 0.85 0.00 0.12
13 0.00 0.00 0.07 0.85 0.00 0.06
14 0.00 0.00 0.03 0.85 0.00 0.03
15 0.00 0.00 0.01 0.85 0.00 0.01
16 0.00 0.00 0.01 0.85 0.00 0.01
17 0.00 0.00 0.00 0.85 0.00 0.00
18 0.00 0.00 0.00 0.85 0.00 0.00
19 0.00 0.00 0.00 0.85 0.00 0.00
20 0.00 0.00 0.00 0.85 0.00 0.00
21 0.00 0.00 0.00 0.85 0.00 0.00
22 0.00 0.00 0.00 0.85 0.00 0.00
23 0.00 0.00 0.00 0.85 0.00 0.00
55
24 0.00 0.00 0.00 0.85 0.00 0.00
25 0.00 0.00 0.00 0.85 0.00 0.00
Jumlah (m3) 2849.48 2416
Kedalaman Hujan (mm) 1.18 1
0.70
0.60
0.50
Debit (m3/detik)
0.40
0.30
0.20
0.10
0.00
0 5 10 15 20 25
Waktu (jam)
Dari perhitungan hidrograf satuan metode Nakayasu ini kemudian dihitung debit
banjir rencana kala ulang 10 tahun. Debit banjit rencana dihitung dengan cara
mengalikan distribusi hujan efektif jam-jaman dengan debit hidrograf satuan
terkoreksi.
56
Table 11.4 Debit Banjir Periode Ulang 10 Tahun DAS II
57
Gambar 11. 4 Hidrograf Banjir Periode Ulang 10 Tahun DAS II
40.00
35.00
30.00
Debit (m3/detik)
25.00
20.00
15.00
26,79
m3/det
10.00
5.00
0.00
0 5 10 15 20
Waktu (jam)
14.0 0 0.01
14.5 0.001 0.33
15.0 0.003 0.44
58
15.5 0.006 1.04
16.0 0.013 1.63
16.5 0.026 4.02
17.0 0.052 6.41
17.5 0.091 9.27
18.0 0.145 12.12
18.5 0.211 14.38
19.0 0.288 16.64
19.5 0.378 19.38
20.0 0.482 22.11
20.5 0.598 24.53
21.0 0.727 26.95
21.5 0.868 29.62
22.0 1.023 32.3
22.5 1.191 34.97
23.0 1.373 37.79
23.5 1.571 41.55
24.0 1.789 45.32
59
Gambar 12.1 Grafik Lengkung Kapasitas Bendali H.M. Ardans
Grafik Lengkung Kapasitas Bendali H.M Ardans
19.0
TAMPUNGAN
EFEKTIF
18.0
17.0 0,868749
16.0
15.0
TAMPUNGAN MATI
14.0
13.0
12.0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2
VOLUME (Juta m3)
Table
Elevasi
H (m) S (m3) Q (m3/det) + (Q × Δt)/2 (m3)
(m)
21.00 0.00 727087.27 0.00 727087.27
21.50 0.50 868474.90 3.82 875347.98
22.00 1.00 1023227.72 10.80 1042667.72
22.50 1.50 1191344.99 19.84 1227058.55
23.00 2.00 1373188.58 30.55 1428173.20
23.50 2.50 1571468.43 42.69 1648311.78
24.00 3.00 1788590.85 56.12 1889604.05
60
Table 12. 3 Perhitungan Penelusuran Waduk
61
2483.8 957324. 959808. 30666.7
17 0.58 0.69 21.84 8.52
6 20 06 6
1783.9 933374. 935158. 26433.2
18 0.41 0.50 21.75 7.34
1 78 70 8
1337.1 912428. 913765. 22730.5
19 0.33 0.37 21.68 6.31
2 10 22 9
894248. 895188. 19516.9
20 0.19 0.26 940.74 21.61 5.42
24 98 8
878462. 879039. 16726.5
21 0.13 0.16 577.34 21.56 4.65
42 76 6
864739. 865140. 14300.7
22 0.10 0.11 401.80 21.51 3.97
04 85 1
852341. 852631. 12799.7
23 0.06 0.08 290.49 21.47 3.56
06 55 9
840991. 841172. 11639.9
24 0.04 0.05 180.50 21.42 3.23
57 07 8
830594. 830695. 10577.5
25 0.02 0.03 101.08 21.38 2.94
57 65 0
821089. 821126.
26 0.00 0.01 37.33 21.35 2.67 9606.17
49 81
812407. 812407.
27 0.00 0.00 0.00 21.32 2.42 8718.98
83 83
804497. 804497.
28 0.00 0.00 0.00 21.29 2.20 7910.59
24 24
797320. 797320.
29 0.00 0.00 0.00 21.26 1.99 7177.15
09 09
790808. 790808.
30 0.00 0.00 0.00 21.24 1.81 6511.71
38 38
62
Gambar 12. 2 Hidrograf Peredaman Banjir di Waduk
80.00
60.00
Debit (m3/det)
40.00
Inflow
Outflow
20.00
0.00
0 10 20 30 40
Waktu (jam)
Langkah- langkah pembuatan Peta Daerah Aliran Sungai (DAS) Manggis adalah
sebagai berikut :
63
Untuk membuat project baru, maka cukup memilih template blank map pada
bagian my template.
3) Setelah dikoneksikan maka semua data dalam folder tersebut bisa digunakan
1) Setelah input data maka klik kanan pada ikon data frame
2) Pilih properties
3) Pilih properties Coordinate System
64
4) Pilih UTM
5) Pilih WGS 1984
6) Pilih WGS 1984 UTM Zone 50N
65
3) Setelah itu potong letakkan rectangle menyesuaikan dengan daerah yang ingin
dipotong
5) Setelah itu pilih ikon gunting, clip, tunggu hingga proses pemotongan selesai.
66
6) Maka layer hasil potongan akan muncul paling atas diawali prefi “clip…”,
matikan layer DEMNAS asli agar tidak membingungkan.
11.1.5 Fill
1) Buka arctoolbox
67
3) Maka akan muncul dialog box seperti di bawah ini
4) Pilih data demnas yang terpotong pada input surface raster. Pada output
surface raster pilih folder yang bukan default, maksudnya buat folder baru untuk
menaruh hasil pemrosesan fill ini agar tidak terjadi error.
5) Klik OK maka data hasil fill akan muncul di layer.
68
11.1.7 Basin
1) Buka arctoolbox
2) Pilih spatial analyst -> Hydrology -> Basin
3) Untuk input surface raster maka pilih data hasil pemrosesan flow direction
4) Tekan OK hingga data hasil pemrosesan muncul
69
Ini adalah konversi data dari raster menjadi polygon. Untuk mendapatkan aliran
sungai Manggis maka perlu menghapusnya satu per satu polygon tersebut. Untuk
langkah- langkahnya sebagai berikut :
3) Setelah itu matikan semua data selain data hasil konversi, untuk memudahkan
eliminasi polygon
70
4) Setelah dipilih dan dihapus, kemudian didapat bentuk polygon Manggis
5) Setelah itu, maka kita perlu kembali membuat polygon baru berdasarkan bentuk
DAS tersebut dengan cara convert features to graphic dan akan didapat hasil
konversinya sebagai berikut.
Kita sudah mendapatkan data raster hasil potongan DAS Manggis, selanjutnya
kita memproses ulang dengan proses fill dan flow direction, seperti yang
dijelaskan pada 11.1.5 dan 11.1.6
71
11.1.10 Flow Accumulation
1) Buka arctoolbox
2) Pilih spatial analyst -> Hidrology -> Flow accumulation
3) Pada input flow direction raster, pilih data raster yang sudah diproses flow
direction pada 11.1.6
4) Tekan OK maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini.
72
11.1.12 Stream Link
1) Buka arctoolbox
2) Pilih spatial analyst -> Hidrology -> Stream link
3) Pada input stream raster, pilih data hasil proses conditional yang telah
dilakukan pada 11.1.11 dan pada input flow direction raster pilih data hasil
proses flow direction yang telah dilakukan pada 11.1.9
4) Tekan OK maka akan muncul tampilan data hasil proses Stream link.
73
3) Pada input stream raster pilih data hasil proses stream link yang telah dilakukan
pada 11.1.13 dan pada input flow direction raster pilih data hasil proses flow
direction yang tekah dilakukan pada 11.1.9
4) Pilih metode Strahler
5) Tekan OK maka akan muncul tampilan data hasil prosesnya
74
11.1.15 Pengaturan Symbology
1) Klik kanan data hasil proses stream to feature
2) Pilih properties
3) Setelah itu masuk ke symbology, pilih kategori quantities -> Graduated symbols
4) Pada template pilih river dan pada value pilih grid_code, setelah itu klik OK
5) Maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini.
75
catatan: Jika ingin mengubah warna DASnya, dapat dilakukan dengan
mengatur propertiesnya.
76
11.1.17 Input Data Tambahan
Data tambahan di sini maksudnya adalah data SHP yang digunakan untuk
memberikan informasi tambahan mengenai lahan- lahan apa saja yang berada di
daerah DAS yang kita buat. Selain itu kita bisa menganalisa seberapa luas lahan
tersebut untuk menjadi data tambahan dalam menganalisa dampaknya terhadap
DAS tersebut.
Data SHP dapat dimasukkan dengan meng-klik ikon add data kemudian
tambahkan data SHP yang telah di konekkan ke folder yang sudah dibuat.
Karena pada saat menambahkan data SHP belum ter-clip dengan DAS yang
dibuat, maka kita perlu memotong data SHP agar sesuai dengan DAS yang
dibuat. Langkah- langkahnya adalah sebagai berikut :
1) Pilih salah satu data SHP yang ingin di-clip pada daerah DAS
2) Buka geoprocessing, pilih clip
3) Pada input features pilih data SHP yang ingin di-clip pada DAS
4) Setelah itu tekan OK
77
5) Kemudian matikan data SHP yang sebelumnya (belum di-clip) agar data baru
hasil clip bisa terlihat.
Kita dapat meneNtukan panjang dan luas suatu area maupun panjang
keseluruhan garis sungai. Langkah- langkahnya adalah sebagai berikut:
78
4) Pilih ikon kiri ujung untuk menambahkan field baru, klik add field
5) Masukkan nama field baru dan tipe datanya, perlu diingat tipe data adalah
variabel yang akan memuat hasil perhitungan sehingga diperlukan tipe data
variabel yang bisa memuat hasil koma, maka pilih tipe data double
6) Setelah field baru terbentuk, klik kanan pada field tersebut dan pilih calculate
geometry
7) Pada tahap ini maka pilih property area jika ingin mencari luas total, pada
pilihan sistem koordinat pastikan memilih berdasarkan proyeksi dan bukan
berdasarkan geografi, jika tidak maka kita tidak bisa melakukan kalkulasi
8) Setelah itu tekan OK dan didapatkan hasilnya
79
9) Untuk mendapatkan hasil sum atau sigma keseluruhan, maka klik kanan pada
field dan klik statistic, lihat pada bagian sum
10) Terlihat bahwa sum area DAS Manggis sekitar 13,6 km2
80
14. PETA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) MANGGIS
81
15. Metode ITB
Untuk menganalisis hidrograf satuan sintetis pada suatu DAS dengan cara ITB
perlu diketahui beberapa komponen penting pembentuk hidrograf satuan sintetis
berikut 1) Tinggi dan Durasi Hujan Satuan. 2) Time Lag (TL), Waktu Puncak (Tp)
dan Waktu Dasar (Tb), 3) Bentuk Hidrograf Satuan dan 4) Debit Puncak Hidrograf
Satuan.
82
Tinggi hujan satuan yang umum digunakan adalah 1 inchi atau 1 mm. Durasi
hujan satuan umumnya diambil Tr = 1 jam, namun dapat dipilih durasi lain asalkan
dinyatakan dalam satuan jam (misal 0.5 jam, 10 menit = 1/6 jam). Jika durasi data
hujan semula dinyatakan dalam 1 jam, jika diinginkan melakukan perhitungan
dalam interval 0.5 jam, maka tinggi hujan setiap jam harus dibagi 2 dan
didistribusikan dalam interval 0.5 jam.
Dari karakteristik fisik DAS dapat dihitung dua elemen - elemen penting yang akan
menentukan bentuk dari hidrograf satuan itu yaitu 1) Time Lag (TL), 2) Waktu
puncak (Tp) dan waktu dasar (Tb). Selain parameter fisik terdapat pula parameter
non-fisik yang digunakan untuk proses kalibrasi.
Dimana:
TL = time lag (jam)
Ct = koefisien waktu (untuk proses kalibrasi)
L = panjang sungai (km).
Koefisien Ct diperlukan dalam proses kalibrasi harga Tp. Harga standar koefisien
Ct adalah 1.0, jika Tp perhitungan lebih kecil dari Tp pengamatan, harga diambil
Ct > 1.0 agar harga Tp membesar. Jika Tp perhitungan lebih besar dari Tp
pengamatan, harga diambil Ct < 1.0 agar harga Tp akan mengecil. Proses ini
diulang agar Tp perhitungan mendekati Tp pengamatan.
83
d. Waktu Puncak (Tp)
Tp = TL + 0.50 Tr
Untuk DAS kecil (A < 2 km2), menurut SCS harga Tb dihitung dengan :
Untuk DAS berukuran sedang dan besar harga secara teoritis Tb dapat berharga
tak berhingga (sama dengan cara Nakayasu), namun prakteknya Tb dapat
dibatasi sampai lengkung turun mendekati nol, atau dapat juga menggunakan
harga berikut :
ITB telah mengembangkan dua bentuk dasar HSS yang dapat digunakan yaitu
bentuk HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 sebagai berikut :
a. HSS ITB-1 memiliki persamaan lengkung naik dan lengkung turun seluruhnya
yang dinyatakan dengan satu persamaan yang sama yaitu :
1. Lengkung naik (0 ≤ t ≤ 1) :
( )
84
( ) { }
Dimana t = T/Tp dan q = Q/Qp masing-masing adalah waktu dan debit yang telah
dinormalkan sehingga t=T/ Tp berharga antara 0 dan 1, sedang q = Q/Qp.
Berharga antara 0 dan ∞ (atau antara 0 dan 10 jika harga Tb/ Tp=10).
Jika sangat diperlukan harga koefisien α dan β dapat dirubah, namun untuk lebih
memudahkan, proses kalibrasi dapat dilakukan dengan merubah harga koefisien
Cp. Harga standar koefisien Cp adalah 1.0, jika harga debit puncak perhitungan
lebih kecil dari debit puncak pengamatan, maka harga diambil Cp > 1.0 ini akan
membuat harga debit puncak membesar, sebaliknya jika debit puncak perhitungan
lebih besar dari hasil pengamatan maka harga diambil Cp < 1.0 agar harga debit
puncak mengecil.
Dari definisi hidrogrpf satuan sitetis dan prinsip konservasi massa, dapat
disimpulkan bahwa volume hujan efektif satu satuan yang jatuh merata di seluruh
DAS (VDAS) harus sama volume hidrograf satuan sintetis (VHS) dengan waktu
puncak Tp, atau 1000 ADAS = AHSS Qp Tp 3600 akibatnya
( )
Curah hujan satuan (1 mm), Tp= Waktu puncak (jam), ADAS = Luas DAS (km2)
dan AHSS = Luas HSS tak berdimensi yang dapat dihitung secara exact atau
secara numerik.
85
Prosedur pembuatan hidrograf satuan sintetis dengan Cara ITB akan digunakan
untuk menentukan bentuk hidrograf banjir DAS. Perhitungan dilakukan dengan
penjelasan sebagai berikut :
1) Bagian I, berisi Input data yang diperlukan seperti Luas DAS, Panjang Sungai
L dll.
3) Bagian-III berisi perhitungan Qp, Volume Hujan dan Tinggi Limpasan (DRO)
4) Bagian-IV terdiri dari kolom 1 s/d kolom 5 untuk menghitung bentuk ITB-1 dan
ITB-1 dengan penjelasan sbb :
b) Kolom Kedua : (Kolom-1 dibagi Tp) berisi absis kurva HSS tak berdimesi
(t=T/Tp), termasuk waktu puncak (t =1).
e) Jumlah seluruh Kolom Keempat adalah luas kurva HSS tak berdimensi.
N
A HSS ∑ A i (tanpa satuan) (10)
i 1
86
g) Kolom kelima berisi ordinat HSS berdimensi didapat dengan mengalikan
ordinat kurva HSS dengan Qp (Kolom-3 x Qp) , yaitu
Qi Q p q i (m3/sec) (12)
j) Jika VDAS volume hujan efektif satu satuan yang jatuh di DAS (V DAS = 1000
R ADAS), maka berdasarkan prinsip konservasi massa, volume hidrograf
satuan harus sama dengan volume hujan efektif DAS (VHSS = VDAS).
k) Jika VHSS dibagi Luas DAS (ADAS) didapat tinggi limpasan langsung HDRO,
yang nilainya harus mendekati 1 mm (tinggi hujan satuan)
VHSS
H DRO 1 (mm)
A DAS
87
6. Durasi hujan (Tr) = 0.5 jam
B. Perhitungan Waktu Puncak (Tp) dan Waktu Dasar (Tb)
1. Koefisien waktu (Cs) = 0.37
2. Time lag (tp) = 1.055 jam
3. Waktu puncak (Tp) = 1.305 jam
4. Waktu dasar
Tb = 10.555
Tb/Tp = 8.085 jam
88
4.500 3.447 0.17002 0.05525 0.25492 389.31786
5.000 3.830 0.11849 0.03842 0.17766 270.72969
5.500 4.213 0.08214 0.02659 0.12315 187.35807
6.000 4.596 0.05671 0.01833 0.08502 129.18825
6.500 4.979 0.03903 0.01261 0.05852 88.82683
7.000 5.362 0.02680 0.00865 0.04018 60.93866
7.500 5.745 0.01836 0.00592 0.02753 41.73104
8.000 6.128 0.01256 0.00405 0.01884 28.53558
8.500 6.511 0.00858 0.00277 0.01287 19.48883
9.000 6.894 0.00586 0.00189 0.00878 13.29666
9.500 7.277 0.00400 0.00129 0.00599 9.06413
10.000 7.660 0.00272 0.00088 0.00408 6.17434
10.500 8.043 0.00185 0.00060 0.00278 4.20322
11.000 8.426 0.00126 0.00041 0.00189 2.85980
11.500 8.809 0.00086 0.00028 0.00129 1.94483
12.000 9.192 0.00058 0.00019 0.00087 1.32205
12.500 9.575 0.00040 0.00013 0.00059 0.89837
13.000 9.958 0.00027 0.00009 0.00040 0.61027
13.500 10.341 0.00018 0.00006 0.00027 0.41444
14.000 10.724 0.00012 0.00004 0.00019 0.28137
14.500 11.107 0.00008 0.00003 0.00013 0.19099
15.000 11.490 0.00006 0.00002 0.00009 0.12961
15.500 11.873 0.00004 0.00001 0.00006 0.08794
16.000 12.256 0.00003 0.00001 0.00004 0.05966
16.500 12.639 0.00002 0.00001 0.00003 0.04046
17.000 13.022 0.00001 0.00000 0.00002 0.02744
17.500 13.405 0.00001 0.00000 0.00001 0.01861
18.000 13.788 0.00001 0.00000 0.00001 0.01262
18.500 14.171 0.00000 0.00000 0.00001 0.00855
19.000 14.554 0.00000 0.00000 0.00000 0.00580
19.500 14.937 0.00000 0.00000 0.00000 0.00393
20.000 15.320 0.00000 0.00000 0.00000 0.00266
20.500 15.703 0.00000 0.00000 0.00000 0.00181
21.000 16.086 0.00000 0.00000 0.00000 0.00122
21.500 16.469 0.00000 0.00000 0.00000 0.00083
22.000 16.852 0.00000 0.00000 0.00000 0.00056
22.500 17.235 0.00000 0.00000 0.00000 0.00038
23.000 17.618 0.00000 0.00000 0.00000 0.00026
89
23.500 18.001 0.00000 0.00000 0.00000 0.00017
24.000 18.384 0.00000 0.00000 0.00000 0.00012
24.500 18.767 0.00000 0.00000 0.00000 0.00008
25.000 19.150 0.00000 0.00000 0.00000 0.00005
25.500 19.533 0.00000 0.00000 0.00000 0.00004
26.000 19.916 0.00000 0.00000 0.00000 0.00002
26.500 20.299 0.00000 0.00000 0.00000 0.00002
27.000 20.682 0.00000 0.00000 0.00000 0.00001
27.500 21.065 0.00000 0.00000 0.00000 0.00001
28.000 21.448 0.00000 0.00000 0.00000 0.00001
28.500 21.831 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
29.000 22.214 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
29.500 22.597 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
30.000 22.980 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
30.500 23.363 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
31.000 23.746 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
31.500 24.129 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
32.000 24.512 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
32.500 24.895 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
33.000 25.278 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
33.500 25.661 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
34.000 26.044 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
34.500 26.427 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
35.000 26.810 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
35.500 27.193 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
36.000 27.576 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
36.500 27.959 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
37.000 28.342 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
37.500 28.725 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
38.000 29.108 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
38.500 29.491 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
39.000 29.874 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
39.500 30.257 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
40.000 30.640 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
AHSS = 1.98679 V = 14000.00000
DRO = 1.000
90
Waktu HSS Volume
44 11.44 8.02 6.39 5.39 4.71 Qtotal
(jam) ITB-1 Limpasan
0.000 0.000 0.000 0.000 0.00000
1.000 1.394 61.332 0.000 61.332 79417.67081
1.308 1.499 65.971 15.946 0.000 81.917 430890.34074
3.000 0.710 31.230 17.152 11.179 0.000 59.562 188260.58684
4.000 0.363 15.975 8.120 12.025 8.907 0.000 45.027 143611.33074
5.000 0.178 7.817 4.154 5.692 9.581 7.513 0.000 34.757 112724.42881
6.000 0.085 3.741 2.032 2.912 4.536 8.081 6.565 27.868 81433.17210
7.000 0.040 1.768 0.973 1.425 2.320 3.826 7.062 17.373 46401.50753
8.000 0.019 0.829 0.460 0.682 1.135 1.957 3.343 8.406 22573.41789
9.000 0.009 0.387 0.215 0.322 0.543 0.958 1.710 4.135 11012.58665
10.000 0.004 0.180 0.100 0.151 0.257 0.458 0.837 1.983 5257.19075
11.000 0.002 0.083 0.047 0.070 0.120 0.217 0.400 0.938 2479.46483
12.000 0.001 0.038 0.022 0.033 0.056 0.102 0.189 0.440 1160.69161
13.000 0.000 0.018 0.010 0.015 0.026 0.047 0.089 0.205 540.66360
14.000 0.000 0.008 0.005 0.007 0.012 0.022 0.041 0.095 250.97970
15.000 0.000 0.004 0.002 0.003 0.006 0.010 0.019 0.044 116.21484
16.000 0.000 0.002 0.001 0.001 0.003 0.005 0.009 0.020 53.71163
17.000 0.000 0.001 0.000 0.001 0.001 0.002 0.004 0.009 24.78830
18.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.001 0.002 0.004 11.42697
19.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.002 5.26283
20.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 2.42207
21.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 1.11400
22.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.51211
23.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.23532
24.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.10809
25.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.04963
26.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.02279
27.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.01046
28.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.00480
29.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.00220
30.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.00101
31.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.00046
32.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.00021
33.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.00010
34.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.00004
35.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.00002
91
36.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.00001
37.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.00000
38.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.00000
39.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.00000
40.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.00000
Volume Limpasan
m3 1126229.92050
Luas DAS
km2 14
Limpasan (DRO)
mm 80.44499432
Rasio Limpasan/Hujan
% 100.62%
92
Tb/Tp = 8.085 jam
93
9.000 6.894 0.03265 0.01143 0.04863 80.03354
9.500 7.277 0.02705 0.00948 0.04030 66.38616
10.000 7.660 0.02247 0.00788 0.03347 55.18730
10.500 8.043 0.01870 0.00657 0.02785 45.97264
11.000 8.426 0.01559 0.00548 0.02323 38.37134
11.500 8.809 0.01303 0.00458 0.01941 32.08600
12.000 9.192 0.01090 0.00384 0.01624 26.87715
12.500 9.575 0.00914 0.00322 0.01362 22.55132
13.000 9.958 0.00768 0.00271 0.01144 18.95164
13.500 10.341 0.00646 0.00228 0.00962 15.95057
14.000 10.724 0.00544 0.00192 0.00810 13.44407
14.500 11.107 0.00459 0.00162 0.00683 11.34706
15.000 11.490 0.00388 0.00137 0.00577 9.58980
15.500 11.873 0.00328 0.00116 0.00488 8.11495
16.000 12.256 0.00278 0.00098 0.00413 6.87528
16.500 12.639 0.00235 0.00083 0.00350 5.83182
17.000 13.022 0.00200 0.00071 0.00297 4.95231
17.500 13.405 0.00170 0.00060 0.00253 4.21002
18.000 13.788 0.00144 0.00051 0.00215 3.58275
18.500 14.171 0.00123 0.00044 0.00183 3.05204
19.000 14.554 0.00105 0.00037 0.00156 2.60250
19.500 14.937 0.00089 0.00032 0.00133 2.22128
20.000 15.320 0.00076 0.00027 0.00114 1.89765
20.500 15.703 0.00065 0.00023 0.00097 1.62262
21.000 16.086 0.00056 0.00020 0.00083 1.38865
21.500 16.469 0.00048 0.00017 0.00071 1.18942
22.000 16.852 0.00041 0.00015 0.00061 1.01961
22.500 17.235 0.00035 0.00012 0.00052 0.87473
23.000 17.618 0.00030 0.00011 0.00045 0.75103
23.500 18.001 0.00026 0.00009 0.00039 0.64530
24.000 18.384 0.00022 0.00008 0.00033 0.55486
24.500 18.767 0.00019 0.00007 0.00029 0.47744
25.000 19.150 0.00016 0.00006 0.00025 0.41111
25.500 19.533 0.00014 0.00005 0.00021 0.35424
26.000 19.916 0.00012 0.00004 0.00018 0.30543
26.500 20.299 0.00011 0.00004 0.00016 0.26352
27.000 20.682 0.00009 0.00003 0.00014 0.22751
27.500 21.065 0.00008 0.00003 0.00012 0.19654
94
28.000 21.448 0.00007 0.00002 0.00010 0.16989
28.500 21.831 0.00006 0.00002 0.00009 0.14694
29.000 22.214 0.00005 0.00002 0.00008 0.00000
29.500 22.597 0.00004 0.00002 0.00007 0.00000
30.000 22.980 0.00004 0.00001 0.00006 0.00000
30.500 23.363 0.00003 0.00001 0.00005 0.00000
31.000 23.746 0.00003 0.00001 0.00004 0.00000
31.500 24.129 0.00002 0.00001 0.00004 0.00000
32.000 24.512 0.00002 0.00001 0.00003 0.00000
32.500 24.895 0.00002 0.00001 0.00003 0.00000
33.000 25.278 0.00002 0.00001 0.00002 0.00000
33.500 25.661 0.00001 0.00001 0.00002 0.00000
34.000 26.044 0.00001 0.00000 0.00002 0.00000
34.500 26.427 0.00001 0.00000 0.00002 0.00000
35.000 26.810 0.00001 0.00000 0.00001 0.00000
35.500 27.193 0.00001 0.00000 0.00001 0.00000
36.000 27.576 0.00001 0.00000 0.00001 0.00000
36.500 27.959 0.00001 0.00000 0.00001 0.00000
37.000 28.342 0.00001 0.00000 0.00001 0.00000
37.500 28.725 0.00000 0.00000 0.00001 0.00000
38.000 29.108 0.00000 0.00000 0.00001 0.00000
38.500 29.491 0.00000 0.00000 0.00001 0.00000
39.000 29.874 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
39.500 30.257 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
40.000 30.640 0.00000 0.00000 0.00000 0.00000
A= 1.99975 V= 14512.55487
DRO = 1.037
95
6.000 0.159 7.004 2.782 3.041 3.879 8.045 5.374 30.125 92303.78412
7.000 0.106 4.658 1.821 1.951 2.423 3.272 7.030 21.154 59829.77025
8.000 0.071 3.140 1.211 1.277 1.554 2.044 2.859 12.084 36006.12648
9.000 0.049 2.140 0.816 0.849 1.017 1.311 1.786 7.919 23760.68189
10.000 0.033 1.473 0.556 0.572 0.677 0.858 1.146 5.281 15934.54453
11.000 0.023 1.022 0.383 0.390 0.456 0.571 0.750 3.571 10825.46928
12.000 0.016 0.715 0.266 0.268 0.311 0.385 0.499 2.443 7434.48970
13.000 0.011 0.503 0.186 0.186 0.214 0.262 0.336 1.687 5153.24403
14.000 0.008 0.357 0.131 0.130 0.148 0.180 0.229 1.176 3601.02315
15.000 0.006 0.254 0.093 0.092 0.104 0.125 0.158 0.825 2534.47079
16.000 0.004 0.182 0.066 0.065 0.073 0.088 0.109 0.583 1795.32563
17.000 0.003 0.131 0.047 0.046 0.052 0.062 0.077 0.414 1279.17316
18.000 0.002 0.095 0.034 0.033 0.037 0.044 0.054 0.296 916.27215
19.000 0.002 0.069 0.025 0.024 0.026 0.031 0.038 0.213 659.53993
20.000 0.001 0.050 0.018 0.017 0.019 0.022 0.027 0.154 476.88986
21.000 0.001 0.037 0.013 0.013 0.014 0.016 0.019 0.111 346.27069
22.000 0.001 0.027 0.010 0.009 0.010 0.012 0.014 0.081 252.41299
23.000 0.000 0.020 0.007 0.007 0.007 0.008 0.010 0.059 184.67071
24.000 0.000 0.015 0.005 0.005 0.005 0.006 0.007 0.043 135.57475
25.000 0.000 0.011 0.004 0.004 0.004 0.004 0.005 0.032 99.85465
26.000 0.000 0.008 0.003 0.003 0.003 0.003 0.004 0.024 73.77163
27.000 0.000 0.006 0.002 0.002 0.002 0.002 0.003 0.017 54.66034
28.000 0.000 0.004 0.002 0.001 0.002 0.002 0.002 0.013 40.61196
29.000 0.000 0.003 0.001 0.001 0.001 0.001 0.002 0.010 30.25357
30.000 0.000 0.002 0.001 0.001 0.001 0.001 0.001 0.007 22.59370
31.000 0.000 0.002 0.001 0.001 0.001 0.001 0.001 0.005 16.91368
32.000 0.000 0.001 0.000 0.000 0.000 0.001 0.001 0.004 12.69065
33.000 0.000 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.003 9.54296
34.000 0.000 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.002 7.19115
35.000 0.000 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.002 5.42993
36.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 4.10806
37.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 3.11383
38.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 2.36451
39.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 1.79865
40.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.00000
3
Volume Limpasan m 1128108.86901
2
Luas DAS km 14
Limpasan (DRO) mm 80.57920493
96
Rasio Limpasan/Hujan % 100.79%
Cara ini dikembangkan oleh Victor Mockus dari Soil Conservation Service salah
satu lembaga dibawah Departement Pertanian Amerika Serikat. Victor Mockus
mengembangkan Hidrograf satuan SCS berdasarkan hasil pengamatan dari
karakteristik hidrograf satuan alami yang berasal dari sejumlah besar DAS baik
yang berukuran besar maupun kecil di Amerika Serikat.
Hidrograf satuan tak berdemensi SCS adalah hidrograf sintetis yang di-
ekspresikan dalam bentuk perbandingan antara debit Q dengan debit puncak Qp
dan waktu t dengan waktu naik (time of rise) tp seperti Gambar . Tabel
memperlihatkan koordinat tidak berdimensi dari hidrograf satuan SCS. Pada
Gambar sumbu horizontal (sumbu-x) yang menunjukan satuan waktu (jam) yang
telah dinormalkan t=(T/Tp) sedang sumbut vertical (sumbu-y) menunjukan debit
yang telah dinormalkan q=(Q/Qp).
97
Gambar 16.2 Bentuk dan kurva massa HSS SCS Curvilinear
Dari peta DAS Sungai yang akan dianalisa, dapat diperoleh beberapa elemen-
elemen penting yang dapat digunakan menentukan bentuk dari hidrograf satuan
itu yaitu 1) Time Lag (TL), 2) Waktu puncak (Tp) dan waktu dasar (Tb).
Untuk menghitung HSS SCS diperlukan data karakteristik fisik DAS yang
bergantung dari rumus time lag yang dibgunakan. Beberapa karakteristik fisik DAS
yang umum digunakan antara alin adalah luas DAS, kemiringan sungai dan
panjang sungai.
98
Beberapa runus time lag yang dapat biasa digunakan yang biasa digunakan alam
kaitan dengan HSS SCS antara lain adalah Rumus Kirpirch (Untuk DAS Kecil),
Rumus Snyder dan Rumus SCS (agak kompleks). Dalam Pelatihan ini rumusan
time lag yang digunakan untuk menghitung HSS dengan cara SCS adalah rumus
time lag dari Snyder sbb
dimana :
Untuk durasi hujan satuan Tr (misal 1 jam), maka waktu puncak HSS SCS
didefiniskan sbb
Tp = TL + 0.50 Tr (3)
Tb = 5*Tp (5)
3) Debit Puncak
Jika harga waktu puncak dan waktu dasar diketahui, maka debit puncak hidrograf
satuan sintetis akibat tinggi hujan satu satun Re=1 mm yang jatuh selama durasi
hujan satu satuan Tr=1 jam, dapat dihitung sbb :
99
0.2083 A DAS
Qp = (8)
Tp
Dimana :
1) Bagian I, berisi Input data yang diperlukan seperti Luas DAS, Panjang Sungai
L dll.
3) Bagian-III berisi perhitungan Qp, Volume Hujan dan Tinggi Limpasan (DRO)
4) Bagian-IV terdiri dari kolom 1 s/d kolom 5 untuk menghitung bentuk HSS SCS
dengan penjelasan sbb :
100
e) Kolom Kelima berisi luas (volume) segmen HSS SCS berdimensi,
termasuk segmen sebelum dan sesudah Qp, dihitung dgn cara trapezium
Vi 3600
2
Q i Q i 1 Ti 1 Ti (m3)
f) Jumlah seluruh Kolom Kelima adalah luas kurva HSS SCS berdimensi.
N
VHSS V
i 1
i (m3)
g) Jika VHSS dibagi Luas DAS (ADAS) didapat tinggi limpasan langsung HDRO,
yang nilainya harus mendekati 1 mm (tinggi hujan satuan)
VHSS
H DRO 1 (mm)
A DAS
101
10. Waktu dasar
Tb = 6.528
Tb/Tp =5 jam
102
8.000 6.128 0.08193 0.02831 0.12445 202.092686 0.08251106
8.500 6.511 0.06590 0.02276 0.10010 162.510562 0.06636873
9.000 6.894 0.05298 0.01830 0.08047 130.605524 0.05335128
9.500 7.277 0.04256 0.01470 0.06465 104.912995 0.04286459
10.000 7.660 0.03418 0.01180 0.05192 84.239547 0.03442383
10.500 8.043 0.02744 0.00947 0.04168 67.615636 0.02763466
11.000 8.426 0.02202 0.00760 0.03345 54.255461 0.02217715
11.500 8.809 0.01767 0.00610 0.02684 43.523346 0.01779234
12.000 9.192 0.01417 0.00489 0.02152 34.905834 0.01427090
12.500 9.575 0.01136 0.00392 0.01726 27.988710 0.01144390
13.000 9.958 0.00911 0.00314 0.01384 22.438156 0.00917512
13.500 10.341 0.00730 0.00252 0.01109 17.985383 0.00735486
14.000 10.724 0.00585 0.00202 0.00889 14.414117 0.00589481
14.500 11.107 0.00469 0.00162 0.00712 11.550447 0.00472394
15.000 11.490 0.00376 0.00130 0.00571 9.254598 0.00378517
15.500 11.873 0.00301 0.00104 0.00457 7.414287 0.00303261
16.000 12.256 0.00241 0.00083 0.00366 5.939345 0.00242943
16.500 12.639 0.00193 0.00067 0.00294 4.757392 0.00194603
17.000 13.022 0.00155 0.00053 0.00235 3.810341 0.00155869
17.500 13.405 0.00124 0.00043 0.00188 3.051591 0.00124835
18.000 13.788 0.00099 0.00034 0.00151 2.443763 0.00099973
18.500 14.171 0.00079 0.00027 0.00121 1.956881 0.00080057
19.000 14.554 0.00064 0.00022 0.00097 1.566912 0.00064105
19.500 14.937 0.00051 0.00018 0.00077 1.254589 0.00051328
20.000 15.320 0.00041 0.00014 0.00062 1.004470 0.00041096
20.500 15.703 0.00033 0.00011 0.00050 0.804178 0.00032902
21.000 16.086 0.00026 0.00009 0.00040 0.643797 0.00026341
21.500 16.469 0.00021 0.00007 0.00032 0.515381 0.00021087
22.000 16.852 0.00017 0.00006 0.00025 0.412564 0.00016881
22.500 17.235 0.00013 0.00005 0.00020 0.330247 0.00013513
23.000 17.618 0.00011 0.00004 0.00016 0.264346 0.00010816
23.500 18.001 0.00009 0.00003 0.00013 0.211590 0.00008658
24.000 18.384 0.00007 0.00002 0.00010 0.169357 0.00006930
24.500 18.766 0.00006 0.00002 0.00008 0.135550 0.00005547
25.000 19.149 0.00004 0.00002 0.00007 0.108489 0.00004439
25.500 19.532 0.00004 0.00001 0.00005 0.086828 0.00003553
26.000 19.915 0.00003 0.00001 0.00004 0.069491 0.00002844
26.500 20.298 0.00002 0.00001 0.00003 0.055614 0.00002276
103
27.000 20.681 0.00002 0.00001 0.00003 0.044507 0.00001821
27.500 21.064 0.00001 0.00000 0.00002 0.035618 0.00001458
28.000 21.447 0.00001 0.00000 0.00002 0.028504 0.00001166
28.500 21.830 0.00001 0.00000 0.00001 0.022810 0.00000933
29.000 22.213 0.00001 0.00000 0.00001 0.018253 0.00000747
29.500 22.596 0.00001 0.00000 0.00001 0.014607 0.00000598
30.000 22.979 0.00000 0.00000 0.00001 0.011689 0.00000478
30.500 23.362 0.00000 0.00000 0.00001 0.009353 0.00000383
31.000 23.745 0.00000 0.00000 0.00000 0.007484 0.00000306
31.500 24.128 0.00000 0.00000 0.00000 0.005989 0.00000245
32.000 24.511 0.00000 0.00000 0.00000 0.004792 0.00000196
32.500 24.894 0.00000 0.00000 0.00000 0.003834 0.00000157
33.000 25.277 0.00000 0.00000 0.00000 0.003068 0.00000126
33.500 25.660 0.00000 0.00000 0.00000 0.002455 0.00000100
34.000 26.043 0.00000 0.00000 0.00000 0.001964 0.00000080
34.500 26.426 0.00000 0.00000 0.00000 0.001572 0.00000064
35.000 26.809 0.00000 0.00000 0.00000 0.001258 0.00000051
35.500 27.192 0.00000 0.00000 0.00000 0.001006 0.00000041
36.000 27.575 0.00000 0.00000 0.00000 0.000805 0.00000033
36.500 27.958 0.00000 0.00000 0.00000 0.000644 0.00000026
37.000 28.341 0.00000 0.00000 0.00000 0.000515 0.00000021
37.500 28.724 0.00000 0.00000 0.00000 0.000412 0.00000017
38.000 29.107 0.00000 0.00000 0.00000 0.000330 0.00000014
38.500 29.490 0.00000 0.00000 0.00000 0.000264 0.00000011
39.000 29.873 0.00000 0.00000 0.00000 0.000211 0.00000009
39.500 30.256 0.00000 0.00000 0.00000 0.000169 0.00000007
40.000 30.639 0.00000 0.00000 0.00000 0.000000 0.00000006
A= 2.85056 V = 21115.45104
DRO = 1.508
104
1.308 1.007 44.311 11.047 0.000 55.358 142511.924
2.000 0.904 39.787 11.517 7.749 0.000 59.054 202576.521
3.000 0.657 28.899 10.341 8.079 6.169 0.000 53.489 179272.924
4.000 0.448 19.700 7.511 7.254 6.432 5.210 0.000 46.107 153630.676
5.000 0.298 13.093 5.120 5.269 5.775 5.431 4.554 39.243 123569.029
6.000 0.195 8.592 3.403 3.592 4.195 4.877 4.748 29.406 90520.931
7.000 0.127 5.598 2.233 2.387 2.860 3.542 4.263 20.883 62903.667
8.000 0.083 3.630 1.455 1.567 1.900 2.415 3.096 14.064 42008.354
9.000 0.053 2.347 0.944 1.021 1.247 1.605 2.111 9.274 27593.420
10.000 0.034 1.515 0.610 0.662 0.813 1.053 1.403 6.055 17975.493
11.000 0.022 0.976 0.394 0.428 0.527 0.686 0.921 3.931 11653.815
12.000 0.014 0.628 0.254 0.276 0.341 0.445 0.600 2.543 7532.213
13.000 0.009 0.404 0.163 0.178 0.220 0.288 0.389 1.641 4858.130
14.000 0.006 0.259 0.105 0.114 0.142 0.186 0.252 1.058 3128.721
15.000 0.004 0.167 0.067 0.074 0.091 0.120 0.162 0.681 2012.720
16.000 0.002 0.107 0.043 0.047 0.059 0.077 0.105 0.438 1293.698
17.000 0.002 0.069 0.028 0.030 0.038 0.049 0.067 0.281 830.989
18.000 0.001 0.044 0.018 0.019 0.024 0.032 0.043 0.181 533.493
19.000 0.001 0.028 0.011 0.013 0.016 0.020 0.028 0.116 342.355
20.000 0.000 0.018 0.007 0.008 0.010 0.013 0.018 0.074 219.620
21.000 0.000 0.012 0.005 0.005 0.006 0.008 0.011 0.048 140.844
22.000 0.000 0.007 0.003 0.003 0.004 0.005 0.007 0.031 90.303
23.000 0.000 0.005 0.002 0.002 0.003 0.003 0.005 0.020 57.886
24.000 0.000 0.003 0.001 0.001 0.002 0.002 0.003 0.013 37.099
25.000 0.000 0.002 0.001 0.001 0.001 0.001 0.002 0.008 23.773
26.000 0.000 0.001 0.001 0.001 0.001 0.001 0.001 0.005 15.232
27.000 0.000 0.001 0.000 0.000 0.000 0.001 0.001 0.003 9.758
28.000 0.000 0.001 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 0.002 6.251
29.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 4.004
30.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 2.564
31.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.001 1.642
32.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 1.052
33.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.673
34.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.431
35.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.276
36.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.177
37.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.113
38.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.072
105
39.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.046
40.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000
Volume Limpasan m3 1129614.80037
Luas DAS km2 14
Limpasan (DRO) mm 80.68677145
Rasio Limpasan/Hujan % 100.92%
17. Hidrograf
Hidrograf adalah kurva yang memberi hubungan antara parameter aliran dan
waktu. Parameter tersebut bisa berupa kedalaman aliran (elevasi) atau debit
aliran; sehingga terdapat dua macam hidrograf yaitu hidrograf muka air dan
hidrograf debit. Hidrograf muka air dapat di transfuormasikan menjadi hidrograf
debit dengan menggunakan rating curve. Untuk selanjutnya yang dimaksud
dengan hidrograf adalah hidrograf debit kecuali apabila dinyatakan lain.
106
Waktu nol (zero time) menunjukkan awal hidrograf. Puncak hidrograf adalah
bagian dari hidrograf yamg menggambarkan debit maksimum. Waktu puncak
(time to peak) adalah waktu yang diukur dari waktu nol sampai waktu terjadinya
debit puncak. Sisi naik (rising limb) adalah bagian dari hidrigraf antara waktu nol
dan waktu capai puncak. Sisi turun (recession limb) adalah bagian dari hidrograf
yamg menurun antara waktu capai puncak dan waktu dasar. Waktu dasar (time
base) adalah waktu yang diukur dari waktu nol sampai waktu dimana sisi turun
berakhir. Akhir dari sisi turun ini ditentukan dengan perkiraan. Sisi resesi
mempunyai bentuk logaritma natural (In). Volume diperoleh dengan
mengintegralkan debit aliran dari waktu nol sampai waktu dasar. Pada kurva naik
dan kurva turun terdapat titik balik di mana kurva hidrograf berubah arah.
107
Bentuk hidrograf tersebut yang mempunyai waktu turun lebih lama dari waktu naik
disebabkan oleh tanggapan yang berbeda dari aliran permukaan, aliran antara
dan aliran air tanah seperti terlihat dalam Gambar 17.2. Aliran permukaan
memberikan kenaikan hidrograf dengan cepat dan besar, sementara dua aliran
naik dengan berangsur-angsur dengan waktu yang lebih lama. Superposisi dari
ketiganya menghasilkan hidrograf debit dengan sisi resesi yang panjang.
108
Hidrograf HSS Sub DAS Manggis I
1.80
1.60
1.40
1.20
1.00
0.80
0.60
0.40
0.20
0.00
0 5 10 15 20 25 30 35 40
100.00 0.00
90.00
50.00
80.00
100.00
70.00
60.00
150.00
50.00 200.00
40.00
250.00
30.00
300.00
20.00
10.00
350.00
0.00 400.00
0 5 10 15 20 25 30 35 40
109
Hyteograf
Reff
Jam Infil (mm) (mm)
1 68.89 68.89
2 43.40 17.91
3 33.12 12.56
4 27.34 10.00
5 23.56 8.44
6 20.86 7.38
7 0 0
8 0 0
9 0 0
10 0 0
11 0 0
12 0 0
13 0 0
14 0 0
15 0 0
16 0 0
17 0 0
18 0 0
19 0 0
20 0 0
21 0 0
22 0 0
23 0 0
24 0 0
25 0 0
26 0 0
27 0 0
28 0 0
29 0 0
30 0 0
31 0 0
32 0 0
33 0 0
34 0 0
35 0 0
110
36 0 0
37 0 0
38 0 0
39 0 0
40 0 0
Air tanah adalah air yang mengalir dibawah permukaan tanah yg kemudian
melalui media akuifer. Biasanya di hidro geologi. Air tanah berada di dalam siklus
hidrologi, lapisan dalam itu dinamakan akuifer.
Air tanah bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh sejumlah factor alam. Geologi dan
geomorfologi sangat menentukan prospek tanah di suatu daerah. Struktur geologi
mempengaruhi arah tanah, jenis gerakan dan ketebalan akuifer. Stratigrafi dari
beberapa lapisan batuan dapat berpengaruh pada jenis, kedalaman, dan
111
ketebalan akuifer. Litologi mempengaruhi permeabilitas akuifer dan konsentrasi
ion terlarut.
Morfologi relief permukaan bumi memengaruhi terjadinya dan arah gerakan air
tanah. Perubahan topografi permukaan memengaruhi kedalaman muka air tanah
dan arah gerakan air tanah. Morfogenesis mempengaruhi permeabilitas,
porositas, dan laiu infiltrasi. Karena ada hubungan yang kuat antara geologi-
geomorfologi dan kondisi tanah, maka geologi dan geomorfologi kondisi dapat
dipelaiari untuk menentukan distribusi potensi air tanah di suatu daerah.
Air tanah tidak dijumpai di semua tempat. Keterdapatan air tanah tergantung dari
ada tidaknya lapisan batuan yang dapat mengandung air tanah yang disebut
akuifer. Akuifer adalah formasi batuan yang dapat menyimpan dan melalukan air,
seperti misalnya pasir dan kerikil lepas. Akuifer ditemukan pada sejumlah lokasi.
Deposit glacial, pasir dan kerikil, kipas alluvial dataran banjir dan deposit delta
pasir semuanya merupakan sumberr air yang sangat baik.
Pada suatu akuifer, air tanah menempati lubang batuan yang dikenal sebagai pori-
pori batuan maupun lubang yang besar. Retakan mungkin terdapat dalam batuan
kristalin maupun batuan padat dan mungkin mempunyai ukuran kapiler maupun
subkapiler. Air yang disimpan dalam retakan disebut air celah dan air retakan.
Lubang-lubang yang besar merupakan ciri formasi batu kapur dan kadang-kadang
batuan gunung berapi. Pori-pori merupakan ciri batuan sedimen klasik dan bahan
butiran lainnya. Kapasitas penyimpanan/cadangan air suatu bahan ditujukan oleh
porositas yang merupakan nisbah volume rongga dengan volume total batuan
[Seyhan, 1990].
Jumlah air tanah yang dapat diperoleh di suatu daerah tergantung pada sifat sifat
akuifer yang ada di daerah tersebut serta pada luas cakupan dan frekwensi
imbuhan. Kapasitas suatu formasi untuk menampung air diukur dengan porositas,
yaitu perbandingan antara volume pori-pori terhadap volume total formasi tersebut
[Todd, 1980].
112
Pori-pori mempunyai perbedaan ukuran yang beraneka ragam, dari yang berupa
celah-celah submikroskopis pada lempung dan serpih, hingga yang berupa gua-
gua dan terowongan-terowongan pada batu kapur dan lava [Linsley dan Franzini,
1991].
Pada saat hujan itu ada air yang infiltrasi masuk kedalam permukaan dinamakan
air permukaan yang nanti akan keluar disuatu tempat, selanjutnya lapisan dalam
salah satu ciri daerah yang memiliki air tanah yaitu daerah yang memiliki porus
terhadap air itu adalah pasir.
Unmul memakai air tanah untuk memenuhi kebutuhan air di unmul. Salah satu
tempatnya adalah samping pertanian ada water treatment plan.
Air tanah sendiri biasa yang mempelajari sipil, geologi dan tambang. Yang jadi
masalah di sipil itu kalau ada yang bersinggunagan dengan air tanah kalau kita
mau bangun tapi ada basement contohnya midtown, bahkan ada gedung tertentu
yang basementnya lebih dari 2 lantai, maka kita akan berhadapat dengan air
tanah ini, maka dibutuhkan keahlian khusus.
Air tanah harus diambil untuk memenuhi kebutuhan kota itu sehingga berefek
pada penurunan muka tanah atau muka ai tanah.
Intrusi air laut ke tanah maka akan terjadi kerusakan di bawah tanah. Metode
untuk menanggulangi supaya air tanah tetap terjaga kebersihaan dan elevasinya.
Jika dipaksa maka akan terjadi penurunan air tanah (drow down).
Cara mengatasinya dengan memompa air keluar dari tanah, hingga muka air
tanah turun.
Air tanah sering membawa material, masuk ke daerah konstruksi, dan menganggu
daya dukung dari suatu konstruksi di daerah proyek dan bisa saja mengganggu
sumber air dari penduduk.
113
18. 1 Jenis air tanah
Air tanah biasa/air tanah bebas, permukaannya tidak tertekan, mengalir mengikuti
gravitasi tanpa paksaan
Air tanah yg keluar dengan paksaan, jika debitnya kecil maka debit tersebut
konstan dan tergantung seberapa besar sumber mata airnya.
Untuk pembuatan sumur setelah dibor sumur tersebut itu harus tetap diberi
screen, untuk membedakan air tanah yg digunakan masyarakat dan air tanah yg
digunakan untuk industry
Air tanah yang digunakan masyarakat dan air tanah yang digunakan untuk
industry harus dibedakan.
Akuifer bebas (unconfined aquifer) yaitu suatu akuifer yang mana muka air tanah
merupakan batas atas dari zona jenuh air.
Akuifer tertekan (confined aquifer) yaitu suatu akuifer yang terletak di bawah
lapisan kedap air (impermeabel) dan mempunyai tekanan lebih besar daripada
tekanan atmosfer.
Akuifer bocor (leakage aquifer) yaitu suatu akuifer yang terletak di bawah lapisan
setengah kedap air sehingga terletak antara akuifer bebas dan akuifer tertekan.
Akuifer menggantung (perched aquifer) yaitu akuifer yang mempunyai massa air
tanahnya terpisah dari massa air tanah induk oleh suatu lapisan yang relative
kedap air yang tidak begitu luas dan terletak di zona jenuh air.
Akuifer komposit.
114
Alat geolistrik untuk mengukur tegangan tanah, agar tau jenis tanahnya dengan
cara seberapa besar hantaran listrik yg terjadi pada 1 titik. Hantaran itu
diidentifikasikan lempung, batu, pasir. Alat geolistrik terbagi 2, multichannel dan
single channel.
Seorang engineering air harus tau apa efek dari air yg ada terhadap proyek yg
mau kita bangun. Kita harus tau apa yg ada di daerah yg mau kita bangun.
Vertical drain atau vakum konsolidasi.
115
19. Evapotranspirasi
( ) ( ) ( )( )
117
R = Radiasi gelombang pendek yang memenuhi batas luar atmosfer atau
angka angot (mm/hari)
Rn1= Radiasi bersih gelombang panjang (mm/hari)
f(t) = Fungsi suhu =
f(n/N) = 0,1 + 0,9 n/N
f(u) = Fungsi kecepatan angin pada ketinggian 2,00 m (m/dt)
118
c. Mencari data kelembaban relative (RH)
d. Mencari besaran (ed) berdasar nilai (ea) dan (RH)
e. Mencari besaran (ea-ed)
f. Mencari besaran f(ed) berdasar nilai ed
g. Mencari data letak lintang daerah yang ditinjau
h. Mencari besaran (Ra) dari tabel 7.2, berdasarkan data letak lintang
Tabel 19.2 Besaran Angka Angot (Ra) (mm/har) Untuk Daerah Indonesia,
antara 50 LU sampai 100 LS
119
Tabel 19.3 Besaran Angka Koreksi (c) Bulanan untuk Rumusan Pennman
Bulan C
Januari 1,1
Februari 1,1
Maret 1,0
April 0,9
Mei 0,9
Juni 0,9
Juli 0,9
Agustus 1,0
September 1,1
Oktober 1,1
November 1,1
Desember 1,1
Blaney- Criddle membutuhkan data berupa data suhu, jumlah jam pada siang hari,
serta koefisien dari tanaman empiris pada suatu wilayah. Data tersebut dihitung
dengan menggunakan rumus di bawah ini:
( )
Dimana:
p = Persentase harian siang rata- rata tahunan
Tmean = Suhu rata- rata harian
120
c = Angka koreksi
121
f. Hitung ET0
Diketahui LL: 4° LU
Penyelesaian:
122
1. Metode Pennman Modifikasi
Langkah- langkah penyelesaiannya adalah sebagai berikut:
a. Suhu bulanan rata- rata (t)
T = 26,84 °C
b. Besaran (ea), (W), (1-W) dan f(t)
dari hasil interpolasi pada Tabel 7.1
ea = 33,73
W = 0,76
1-W = 0,24
f(t) = 16,07
c. Kelembaban relatif (RH)
RH = 0,83
d. Besaran (ed)
ed = ea x RH
= 33,73 x 0,83
= 27,9976 mbar
e. Besaran (ea – ed)
(ea – ed) = 33,73 – 27,9976
= 5,7344 mbar
f. Besaran (fd)
F(ed) = 0,34 – 0,044 x (ed)0,5
= 0,34 – 0,044 x (27,9976)0,5
= 0,1072 mbar
g. Besaran (Ra)
Didapat dari Tabel 7.2
Ra = 15,5
h. Kecerahan matahari (n/N)
n/N = 0,66
i. Besaran (Rs)
Rs = (0,25 +(0,54 x n/N) x Ra)
123
= (0,25 + (0,54 x 0,66) x 15,5)
= 9,3992 mbar
j. Besaran f(n/N)
f(n/N) = 0,1 + (0,9 x n/N)
= 0,1 + (0,9 x 0,66)
= 0,694
k. Kecepatan angin rata- rata bulanan (u)
u = 155,57 x 0,0115741
= 1,8006 m/det
l. Besaran f(u)
f(u) = 0,27 x (1 + 0,864 x u)
= 0,27 x (1 + 0,864 x 1,8006)
= 0,6900
m. Besaran Rn1
Rn1 = f(t) x f(ed) x f(n/N)
= 16,07 x 0,1072 x 0,694
= 1,1952 mm/hari
n. Besaran c
Didapat dari Tabel 7.3
c =1
o. Menghitung ET0*
ET0* = (W x ((0,75 x Rs) – Rn1)) + ((1 – W) x f(u) x (ea – ed))
= (0,76 x ((0,75 x 9,3992) – 1,1952)) + ((0,24) x 0,6900 x 5,7344))
= 5,4053 mm/hari
p. Menghitung ET0
ET0 = ET0* x c
= 5,4053 x 1
= 5,4053 mm/hari
124
Urai Bulan
Sat
an Jan Feb Mar Apr Mei Jun
t °C 26,5 26,79 26,84 26,97 26,93 26,76
0,835 0,831 0,842 0,835 0,822
RH 7 4 0,83 9 7 9
28,93 27,70 27,99 29,75 29,09 27,62
ed mbar 61 97 76 31 61 15
ea - 5,688 5,619 5,734 5,545 5,720 5,944
ed mbar 9 3 4 4 4 5
F(ed 0,103 0,108 0,107 0,100 0,102 0,108
) mbar 3 4 2 0 7 8
Ra 14,3 15 15,5 15,5 14,9 14,4
n/N 0,48 0,55 0,66 0,77 0,75 0,67
7,281 8,205 9,399 10,31 9,759 8,809
Rs mbar 6 0 2 99 5 9
F(n/
N) 0,532 0,595 0,694 0,793 0,775 0,703
1,389 1,080 1,800 2,006 1,749 1,903
U m/det 0 3 6 4 1 5
0,594 0,522 0,690 0,738 0,678 0,714
F(U) 0 0 0 0 0 0
mm/h 0,879 1,035 1,195 1,276 1,279 1,227
Rn1 ari 4 6 2 2 8 2
C 1,1 1,1 1 0,9 0,9 0,9
mm/h 4,293 4,600 5,405 5,905 5,530 5,110
ETo* ari 2 2 3 8 4 6
mm/h 4,722 5,060 5,405 5,315 4,977 4,599
ETo ari 5 2 3 3 3 6
125
Ra 14,6 15,1 15,3 15,1 14,5 14,1
n/N 0,66 0,86 0,76 0,71 0,72 0,71
8,853 10,78 10,10 9,564 9,262 8,930
Rs mbar 4 74 41 3 6 9
F(n/
N) 0,694 0,874 0,784 0,739 0,748 0,739
1,954 2,726 3,292 3,549 2,778 2,726
U m/det 9 5 4 7 0 5
0,726 0,906 1,038 1,098 0,918 0,906
F(U) 0 0 0 1 1 0
mm/h 1,166 1,518 1,377 1,218 1,212 1,212
Rn1 ari 1 2 4 0 1 4
C 0,9 1 1,1 1,1 1,1 1,1
mm/h 5,212 6,399 6,256 5,933 5,489 5,216
ETo* ari 3 4 4 3 9 5
mm/h 4,691 6,399 6,882 6,526 6,038 5,738
ETo ari 1 4 0 6 9 1
126
= 5,5286 x 0,75
= 4,1465 mm/hari
127
TINJAUAN PUSTAKA
Astuti, Sri. 2010. Buku Ajar Hidrologi Hutan. Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Modul Pelatihan IP. 2013. Modul III Sythetic Unit Hydrograph. Pusat Rekayasa
Industri ITB. Bandung.
Tamrin. 2017. Sistem Drainase Daerah Dataran Rendah Teori dan Aplikasi.
Mulawarman University Press. Samarinda.
128