0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan68 halaman

Perencanaan Gedung Baja Tahan Gempa

Dokumen tersebut membahas perencanaan struktur gedung bertingkat 11 lantai dengan sistem baja Buckling Restrained Brace Frame berdasarkan SNI 1729:2020. Perencanaan struktur gedung dilakukan dengan program bantu ETABS untuk menentukan dimensi pelat, balok, kolom, penampang BRB, dan pondasi menggunakan tiang pancang prestressed concrete.

Diunggah oleh

Miftahul Huda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan68 halaman

Perencanaan Gedung Baja Tahan Gempa

Dokumen tersebut membahas perencanaan struktur gedung bertingkat 11 lantai dengan sistem baja Buckling Restrained Brace Frame berdasarkan SNI 1729:2020. Perencanaan struktur gedung dilakukan dengan program bantu ETABS untuk menentukan dimensi pelat, balok, kolom, penampang BRB, dan pondasi menggunakan tiang pancang prestressed concrete.

Diunggah oleh

Miftahul Huda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Institut

Teknologi
Kalimantan

PERENCANAAN GEDUNG
STRUKTUR BAJA TAHAN GEMPA
BERDASARKAN SNI 1729:2020
DENGAN MENGGUNAKAN
SISTEM STRUKTUR BUCKLING
RESTRAINED BRACE FRAME

Novira Yudia Padillah


NIM. 07171060

Andina Prima Putri, S.T., [Link]


Christianto Credidi Septino Khala, S.T., M.T.

Program Studi Teknik Sipil


Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Kalimantan
Balikpapan, 2021
Institut
Teknologi
Kalimantan

PERENCANAAN GEDUNG
STRUKTUR BAJA TAHAN GEMPA
BERDASARKAN SNI 1729:2020
DENGAN MENGGUNAKAN
SISTEM STRUKTUR BUCKLING
RESTRAINED BRACE FRAME

Muhammad Miftahul Huda


NIM. 07151025

Andina Prima Putri, S.T., [Link]


Christianto Credidi Septino Khala, S.T., M.T.

Program Studi Teknik Sipil


Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Kalimantan
Balikpapan, 2021
PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR

Dengan ini saya menyatakan bahwa isi sebagian maupun keseluruhanTugas


Akhir saya dengan judul Perencanaan Struktur Gedung Struktur Baja Tahan
Gempa Berdasarkan SNI 1729:2020 Dengan Menggunakan Sistem Buckling
Restrained Braced Frame adalah benar-benar hasil karya intelektual mandiri,
diselesaikan tanpa menggunakan bahan-bahan yang tidak diizinkan dan bukan
merupakan karya pihak lain yang saya akui sebagai karya sendiri. Semua referensi
yang dikutip maupun dirujuk telah ditulis secara lengkap pada daftar pustaka.
Apabila ternyata pernyataan ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi sesuai
peraturan yang berlaku.

Balikpapan, 23 Desember 2021

Novira Yudia Padillah NIM. 07171060


PERNYATAAN PERSETUJAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR
UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Institut Teknologi Kalimantan, saya yang bertanda


tangan di bawah ini :
Nama : Novira Yudia Padillah
NIM 07171060
Program Studi : Teknik Sipil
Jurusan : Teknik Sipil dan Perencanaan

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada


Institut Teknologi Kalimantan Hak Bebas Royalti Non-eksklusif (Non-exclusive
Royalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul :
Perencanaan Struktur Gedung Struktur Baja Tahan Gempa Berdasarkan
SNI 1729:2020 Dengan Menggunakan Sistem Buckling Restrained Braced
Frame
besera perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti
Noneksklutif ini, Institut Teknologi Kalimantan berhak menyimpan,
mengalihmediakan, mengelola dalam bentuk pangkaaln data (database), merawat,
dan memublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya
sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Balikpapan, 25 Desember 2021

Novira Yudia Padillah


07171060
LEMBAR PENGESAHAN

TUGAS AKHIR
Disusun untuk memenuhi syarat memperoleh
gelar Sarjana Teknik (S.T.)
pada
Program Studi S-1 Teknik Sipil
Jurusan Teknik Sipil dan
Perencanaan Institut Teknologi
Kalimantan

Judul Tugas Akhir

Perencanaan Struktur Gedung Struktur Baja Tahan Gempa Berdasarkan


SNI 1729:2020 Dengan Menggunakan Sistem Buckling Restrained Braced
Frame

Oleh :
Novira Yudia Padillah
NIM. 07171060

Disetujui oleh Tim Penguji Tugas Akhir :

1. Andina Prima Putri, S.T., [Link] Pembimbing I ………………..


2. Christianto C.S. Khala, S.T., M.T. Pembimbing II ………………..
3. Penguji 1
4. Penguji 2

BALIKPAPAN
JANUARI,
2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT, karena atas berkah dan rahmat-Nya, saya
dapat menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini yang berjudul:
“PERENCANAAN GEDUNG STRUKTUR BAJA TAHAN GEMPA
BERDASARKAN SNI 1729:2020 DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM
BUCKLING RESTRAINED BRACE FRAME”
Penulisan laporan Tugas Akhir ini merupakan salah satu syarat yang harus
ditempuh untuk menyelesaikan Program Sarjana di Program Studi Teknik Sipil,
Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Kalimantan (ITK)
Balikpapan, Untuk itu saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Andina Prima Putr, S.T., [Link] selaku Dosen Pembimbing Utama
2. Bapak Christianto Credidi Septino Khala, S.T., M.T. selaku Dosen
Pembimbing Pendamping.
3. Bapak Muhammad Hadid, S.T., M.T. selaku Koordinator Program Studi
Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan ITK.
4. Segenap Dosen Program Studi Teknik Sipil Jurusan Teknik Sipil dan
Perencanaan ITK.
5. Serta semua pihak yang terlibat dalam penyusunan Tugas Akhir ini.

Saya menyadari bahwa penyusunan laporan Tugas Akhir ini masih jauh dari
sempurna, kerena itu saya mengharapkan segala kritik dan saran yang
membangun. Semoga Tugas Akhir ini dapat memberikan manfaat bagi kita
semua. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Balikpapan, Desember 2021

Novira Yudia Padillah

v
PERENCANAAN GEDUNG STRUKTUR BAJA TAHAN GEMPA
BERDASARKAN SNI 1729:2020 DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM
BUCKLING RESTRAINED BRACE FRAME

Nama Mahasiswa : Novira Yudia Padillah


Nim 07171060
Dosen Pembimbing Utama : Andina Prima Putri, S.T., [Link]

ABSTRAK

Pada umumnya saat ini perencanaan gedung struktur baja yang telah
dibangun di Indonesia di rencanakan dengan berdasarkan pedoman SNI
1729:2015, namun saat ini telah dibuat peraturan baru mengenai perencanaan
gedung struktur baja yaitu SNI 1729:2020, sehingga perlu diketahui bagaimana
perencanaan gedung struktur baja menggunakan peraturan baru tersebut. Untuk
mengetahui hal tersebut dilakukan perencanaan mix-used building tingkat tinggi
yang berfungsi sebagai pusat perbelanjaan dan apartemen. Gedung ini akan
direncakan dengan sistem struktur baja 11 lantai dengan 2 lantai basement dan
dilokasikan di kota Aceh agar dapat mempresentasikan gedung struktur tinggi
yang berada pada wilayah gempa. Pemilihan material baja dilakukan karena
memiliki kelebihan dalam perencanaan gedung tingkat tinggi. Perencanaan ini
dilakukan dengan sistem struktur BRBF (Buckling Restrained Braces Frame).
Sistem BRBF ini digunakan karena berdasarkan penelitian terdahulu dapat
menyelesaikan permasalahan tekuk yang awamnya terjadi pada struktur material
baja. sebagai penahan beban lateral seismik utama digunakan
sistem Buckling Restrained Braces Frame. Perencanaan struktur gedung ini
dilakukan berdasarkan peraturan terbaru SNI 1729:2020 dan dilakukan
permodelan dan analisa struktur dengan menggunakan program bantu ETABS.
Setelah dilakukan permodelan dan analisa struktur berdasarkan SNI 1729:2020,
didapatkan hasil perencanaan yaitu, tebal pelat bondeks sebesar 0,75 mm, dimensi
balok induk lantai pada 2-11 WF 700 300 13 24, dimensi balok induk lantai pada
LG-GF menggunakan balok beton 400/600, dimensi kolom lantai pada 5 - atap
menggunakan CFT 500 500 16 16, dimensi kolom pada lantai 2-4 yaitu CFT 600
600 600 16 16, dimensi kolom lantai GF yaitu CFT 650 650 25 25 dan, dimensi
kolom basement KC 800.800. Digunakan penampang BRB dengan dimensi
casing HSS 300 300 16 16 dan dimensi steel core 20.2. Perencanaan pondasi
menggunakan prestressed concrete pile jenis spun pile D500 dengan kedalaman
15 meter.

Kata Kunci :
Buckling restrained brace frame, SNI 1729:2020, Perencanaan, beban seismik

vi
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................v
ABSTRAK..............................................................................................................vi
DAFTAR ISI..........................................................................................................vii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................ix
DAFTAR TABEL..................................................................................................xii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................3
1.3 Tujuan............................................................................................................3
1.4 Batasan Masalah............................................................................................4
1.5 Manfaat..........................................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................5
2.1 Umum............................................................................................................5
2.2 Buckling-Restrained Braces Frame (BRBF).................................................7
2.3 Analisis Pembebanan...................................................................................10
2.4 Kolom Komposit Concrete Filled Steel Tube (CFT)..................................13
2.5 Floordeck.....................................................................................................15
2.6 Sambungan..................................................................................................16
2.7 Struktur Bawah............................................................................................19
BAB III METODOLOGI PERENCANAAN........................................................24
3.1 Umum..........................................................................................................24
3.2 Diagram Alir Perencanaan...........................................................................24
3.3 Pengumpulan Data.......................................................................................25
3.4 Studi Literatur..............................................................................................26
3.5 Prelimninary Design....................................................................................26
3.6 Pembebanan.................................................................................................27
3.7 Permodelan dengan Program Bantu............................................................48
3.8 Analisis Struktur..........................................................................................48

vii
3.9 Kontrol Desain.............................................................................................49
3.10 Perencanaan Buckling-Restrained Brace Frame.......................................58
3.11 Perencanaan Sambungan...........................................................................61
3.12 Perencanaan Struktur Bawah.....................................................................62
3.13 Gambar Hasil Perencanaan.......................................................................68
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...............................................................70
4.1 Perhitungan Awal Struktur Sekunder..........................................................70
4.2 Perhitungan Awal Struktur Primer............................................................160
4.3 Analisis Pembebanan.................................................................................237
4.4 Permodelan Struktur..................................................................................244
4.5 Kontrol Desain...........................................................................................246
4.6 Perencanaan Sambungan...........................................................................259
4.7 Perencanaan Elemen Struktur Bawah........................................................279
4.8 Perencanaan Pondasi.................................................................................296
BAB V PENUTUP...............................................................................................310
5.1 Kesimpulan................................................................................................310
5.2 Saran..........................................................................................................311
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................312
LAMPIRAN...........................................................................................................vii

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Sistem Struktur Baja Tahan Gempa....................................................5


Gambar 2. 2 Konfigurasi Sistem Rangka EBF........................................................7
Gambar 2. 3 Skema Mekanisme Buckling-Restrained Braces................................8
Gambar 2. 4 Penampang Melintang Buckling-Restrained Brace............................9
Gambar 2. 5 Backbone Curve................................................................................10
Gambar 2. 6 Bentuk Kolom Komposit..................................................................14
Gambar 2. 7 Perubahan Tekuk Akibat Adanya Inti Beton....................................15
Gambar 2. 8 Penampang Pelat floordeck...............................................................16
Gambar 2. 9 Jenis-jenis Sambungan Kaku............................................................17
Gambar 2. 10 Jenis Sambungan Sendi...................................................................17
Gambar 2. 11 Jenis-jenis Sambungan Las.............................................................19
Gambar 2. 12 Jenis Pondasi Dalam.......................................................................23
Gambar 3. 1 Diagram Alir Penelitian....................................................................25
Gambar 3. 2 Peta Spektra 0,2 Detik Untuk Periode Ulang Gempa 2500 Tahun...38
Gambar 3. 3 Peta Spektra 1 Detik Untuk Periode Ulang Gempa 2500 Tahun......39
Gambar 3. 4 Spektrum Respons Desain.................................................................41
Gambar 4. 1 Pelat Lantai Atap...............................................................................70
Gambar 4. 2 Penulangan Pelat Lantai Atap...........................................................71
Gambar 4. 3 Pelat Lantai 9.....................................................................................72
Gambar 4. 4 Penulangan Pelat Lantai 9.................................................................73
Gambar 4. 5 Pelat Lantai 5–8.................................................................................73
Gambar 4. 6 Penulangan Pelat Lantai 5-8..............................................................74
Gambar 4. 7 Pelat Lantai 4.....................................................................................75
Gambar 4. 8 Penulangan Pelat Lantai 4.................................................................76
Gambar 4. 9 Pelat Lantai 3P..................................................................................76
Gambar 4. 10 Penulangan Pelat Lantai 3P Bentang 2,5 m....................................77
Gambar 4. 11 Pelat Lantai 2 - 3 (Mall)..................................................................78
Gambar 4. 12 Penulangan Pelat Lantai 2 – 3.........................................................79
Gambar 4. 13 Tinjauan Pelat Lantai GF................................................................80

ix
Gambar 4. 14 Balok Induk Memanjang (Kiri).......................................................81
Gambar 4. 15 Balok Induk Melintang (Bawah).....................................................82
Gambar 4. 16 Balok Induk Memanjang (Kanan)...................................................83
Gambar 4. 17 Balok Induk Melintang (Atas).......................................................84
Gambar 4. 18 Denah Balok Lantai Atap................................................................87
Gambar 4. 19 Denah Balok Lantai 9......................................................................91
Gambar 4. 20 Denah Balok Lantai 5 – 8................................................................95
Gambar 4. 21 Denah Balok Lantai 4......................................................................99
Gambar 4. 22 Denah Balok Lantai Atap..............................................................102
Gambar 4. 23 Denah Balok Lantai 2 - 3..............................................................106
Gambar 4. 24 Layout Lift.....................................................................................117
Gambar 4. 25 Model Pembebanan Balok Penggantung Lift penumpang............118
Gambar 4. 26 Layout Lift Barang.........................................................................123
Gambar 4. 27 Potongan Melintang Ruang Luncur (Hostway).............................124
Gambar 4. 28 Model Pembebanan Balok Penggantung Lift barang....................125
Gambar 4. 29 Layout Lift Barang.........................................................................130
Gambar 4. 30 Model Pembebanan Balok Penumpu Eskalator............................131
Gambar 4. 31 Reaksi Pembebanan Balok Utama Tangga...................................148
Gambar 4. 32 Denah Balok Induk Tinjauan........................................................166
Gambar 4. 33 Zona Batas Regangan dan Variasi Faktor Reduksi ø....................171
Gambar 4. 34 Zona Batas Regangan dan Variasi Faktor Reduksi ø....................175
Gambar 4. 35 Zona Batas Regangan dan Variasi Faktor Reduksi ø....................179
Gambar 4. 36 Zona Batas Regangan dan Variasi Faktor Reduksi ø....................183
Gambar 4. 37 Zona Batas Regangan dan Variasi Faktor Reduksi ø....................198
Gambar 4. 38 Zona Batas Regangan dan Variasi Faktor Reduksi ø....................202
Gambar 4. 39 Zona Batas Regangan dan Variasi Faktor Reduksi ø....................206
Gambar 4. 40 Zona Batas Regangan dan Variasi Faktor Reduksi ø....................210
Gambar 4. 41 Penampang Kolom Komposit CFT dengan Profil HSS 500 × 500 ×
16..........................................................................................................................220
Gambar 4. 42 Diagram Interaksi Kolom..............................................................224
Gambar 4. 43 Penampang BRB...........................................................................233
Gambar 4. 44 Grafik Spektral Percepatan Gempa Kota Cane Aceh Tenggara. . .243

x
Gambar 4. 45 Denah Perencanaan Gedung Struktur Baja...................................245
Gambar 4. 46 Permodelan 3 Dimensi Struktur....................................................246
Gambar 4. 47 Pembesaran torsi tak terduga........................................................258
Gambar 4. 48 Sambungan Bresing – Kolom.......................................................259
Gambar 4. 49 Sambungan Balok Anak dengan Balok Induk..............................263
Gambar 4. 50 Sambungan Balok Induk dengan Kolom......................................267
Gambar 4. 51 Sambungan Kolom dengan Kolom...............................................273
Gambar 4. 52 Sambungan Kolom dengan Base Pelate.......................................274
Gambar 4. 53 Pondasi Tiang Pancang Tipe PC-1................................................300

xi
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Beban Hidup Terdistribusi Merata Minimum........................................27


Tabel 3.2 Kategori Risiko Bangunan.....................................................................31
Tabel 3.3 Faktor Arah Angin, Kd..........................................................................32
Tabel 3.4 Kategori Eksposur..................................................................................33
Tabel 3.5 Faktor Elevasi Permukaan Tanah, Ke.....................................................34
Tabel 3.6 Koefisien Tekanan Internal, GCpl...........................................................35
Tabel 3.7 Koefisien Eksposur Tekanan Velositas, Kh atau Kz................................35
Tabel 3.8 Koefisien Tekanan Dinding Cp.............................................................. 37
Tabel 3.9 Koefisien Situs Fa...................................................................................39
Tabel 3.10 Koefisien Situs Fv.................................................................................39
Tabel 3.11 Klasifikasi Situs...................................................................................42
Tabel 3.12 Kategori risiko bangunan gedung dan nongedung untuk beban gempa43
Tabel 3.13 Faktor Keutamaan Gempa...................................................................44
Tabel 3.14 Kategori Desain Seismik berdasarkan Parameter Respons Percepatan
pada Periode Pendek..............................................................................................44
Tabel 3.15 Kategori Desain Seismik berdasarkan Parameter Respons Percepatan
Pada Periode 1 detik...............................................................................................45
Tabel 3.16 Faktor Penting Tsunami untuk Hidrodinamika dan Beban Impak.......46
Tabel 3.17 Koefisien drag untuk struktur persegi................................................47
Tabel 4. 1 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Pelat Lantai 2 – Atap..........................79
Tabel 4. 2 Rekapitulasi Ketebalan Pelat Lanta LG- GF.......................................86
Tabel 4. 3 Rekapitulasi Hasil Perencanaan Balok Anak Arah – X......................109
Tabel 4. 4 Rekapitulasi Hasil Perencanaan Balok Anak Arah – Y......................111
Tabel 4. 5 Rekapitulasi Preliminary Design Balok Anak...................................112
Tabel 4. 6 Hasil Perhitungan Tulangan Balok BC-1..........................................192
Tabel 4. 7 Penampang Balok Induk Tipe BC-2...................................................218
Tabel 4. 8 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Kolom Lantai GF - Atap..................222
Tabel 4. 9 Output Gaya Dalam Kolom ETABS...................................................223
Tabel 4. 10 Output Gaya Dalam Momen SPColumn...........................................224
Tabel 4. 11 Rekapitulasi Perhitungan Tulangan Kolom Basement.....................232

xii
Tabel 4. 12 Hasil Data Tanah Berdasarkan N-SPT.............................................241
Tabel 4. 13 Total Berat Struktur Manual.............................................................244
Tabel 4. 14 Rasio Partisipasi Massa Struktur......................................................247
Tabel 4. 15 Perioda Struktur Hasil ETABS.........................................................249
Tabel 4. 16 Gaya Geser Dasar Akibat Beban Gempa..........................................251
Tabel 4. 17 Faktor Skala Gempa Dinamik...........................................................251
Tabel 4. 18 Faktor Skala Gempa Dinamik...........................................................251
Tabel 4. 19 Simpangan Antar Lantai yang Terjadi Akibat Beban Gempa Arah – X
............................................................................................................................. 253
Tabel 4. 20 Hasil Kontrol Simpangan Arah X Akibat Beban Gempa Arah – Y 253
Tabel 4. 21 Gaya Gempa Arah – X Tiap Lantai..................................................255
Tabel 4. 22 Gaya Gempa Arah – Y Tiap Lantai..................................................255
Tabel 4. 23 Perhitungan Koefisien Stabilitas ( θ ) Arah – X...............................256
Tabel 4. 24 Perhitugan Koefisien Stabilitas ( θ ) Arah – Y.................................257
Tabel 4. 25 Perhitungan Tipe Ketidakberaturan Torsi Arah – X.........................258
Tabel 4. 26 Data N-SPT Tanah............................................................................280
Tabel 4. 27 NSPT dan Korelasinya (J.E. Bowles, 1984).....................................280
Tabel 4. 28 Rekapitulasi Perhitungan σa.............................................................. 281
Tabel 4. 29 Rekapitulasi Penulangan Pelat Lantai Basement..............................291
Tabel 4. 30 Rekapitulasi Perhitungan Dimensi Sloof..........................................296
Tabel 4. 31 Nilai Rata-rata (Np) pada kedalaman antara 4D dan 8D..................297
Tabel 4. 32 Hasil Analisis ETABS untuk Kolom KC-1 Grid C13......................301

xiii
BAB I
PENDAHULUA
N

1.1 Latar Belakang


Peningkatan sarana dan prasarana infrastruktur merupakan aspek penting
dalam perkembangan dan pertumbuhan sosial ekonomi hampir pada seluruh kota
di Indonesia. Namun peningkatan sektor pembangunan infrastruktur ini
berbanding terbalik dengan ketersediaan lahan, sehingga untuk memenuhi
kebutuhan tersebut dibuatlah konsep pembangunan secara vertikal yang saat ini
semakin berkembang, hal tersebut mengakibatkan semakin banyak pula dinya
pembangunan gedung bertingkat tinggi .
Secara geografis Indonesia terletak diantara dua lempeng tektonik yang
aktif, yang mana hal tersebut menyebabkan Indonesia menjadi wilayah yang
rentan terhadap bencana gempa sehingga dalam perencanaan gedung bertingkat
tinggi ini perlu diperhatikan adanya tambahan beban lateral berupa beban gempa
yang bekerja pada struktur. Ketika bangunan tidak direncanakan untuk dapat
mengakomodir beban tambahan tersebut, maka akan ada risiko bangunan
mengalami keruntuhan secara tiba-tiba yang menajdi sangat besar. Sehingga
beberapa dekade terakhir telah dilakukan banyak penelitian untuk mendapatkan
sistem struktur penahan beban gempa yang paling efektif. Mengingat struktur baja
merupakan salah satu sistem struktur tahan gempa dengan kinerja yang dinilai
sangat baik, sebab karakterisitik material baja yang unik jika dibandingkan dengan
material struktur lainnya, sifat daktilitas dan kekuatan yang tinggi pada baja yang
menjadikan struktur baja sangak cocok untuk digunakan untuk daerah-daerah
dengan tingkat seismik yang tinggi maka dilakukan beberapa dari penelitian pada
struktur baja (Yurisman dkk., 2010)

1
Dalam perencanaan struktur baja tahan gempa pemasangan pengaku lateral
atau bracing menjadi salah satu alternatif untuk menahan besarnya gaya gempa
yang terjadi. Salah satu penelitian terkait pengaku yang telah berkembang sampai
saat ini adalah Sistem Rangka Tahan Tekuk (Buckling Restrained Braces Frame,
BRBF). Sistem BRBF merupakan pengembangan dari Sistem Rangka Bresing
Konsentrik (Concentrically Braced Frame, CBF). Strukur BRBF adalah inovasi
untuk menyelesaikan masalah tekuk yang dialami bracing yang mengalami gaya
tekan pada sistem CBF, karena ketika terjadi tekuk pada elemen, elemen struktur
tidak dapat bekerja kembali seperti yang diharapkan dan daktilitas pada material
baja tidak dapat dimanfaatkan secara optimal (Andarini dan Moestopo, 2013).
Sistem BRBF ini digunakan sebagai penahan beban lateral seismik utama pada
struktur. Bresing didesain memiliki kapasitas tekan yang hampir sama dengan
kapasitas tariknya. Sistem rangka ini telah banyak diaplikasijan di Amerika
Serikat dan juga Jepang. Selain itu hasil uji yang dilakukan Universitas California
terhadap sistem rangka pengaku BRBF menunjukkan kinerja yang baik setelah
diberi pembeban siklik sebab sistem ini menghasilkan perilaku histeristik yang
daktail, stabil, dan berulang-ulang.
Dalam merencanakan struktur bangunan tingkat tinggi serta tahan terhadap
beban gempa, faktor utama yang harus diperhatikan yaitu daktilitas, kekakuan,
serta kemampuan untuk menahan energi gempa tersebut. Daktilitas sendiri
merupakan kemampuan struktur atau komponennya untuk melakukan deformasi
inelastik bolak-balik berulang yang disebabkan oleh gaya gempa sehingga gedung
tidak langsung mengalami keruntuhan. Sehingga dalam perencanaan ini
digunakan material konstruksi berupa baja yang dianggap memiliki kekuatan yang
tinggi dan daktilitas yang baik. Selain dari sisi material yang digunakan perlu
diperhatikan juga dari aspek pengaku gaya lateral mengingat material baja lemah
terhadap gaya tekan sehingga penggunaan sistem pengaku lateral dapat menjadi
salah satu aspek penting dalam perencanaan bangunan struktur baja tahan gempa.
Pembangunan dan perencanaan konstruksi bangunan gedung di Indonesia
terutama baja pada umunya mengacu pada SNI 1729:2019, seiring dengan
berkembangnya pengetahuan maka telah dibuat peraturan baru yaitu SNI
1729:2020.
2
Dalam Tugas Akhir ini akan direncanakan sebuah gedung dengan konsep
mix-sed bulding yang berfungsi sebagai pusat perbelanjaan dan apartemen yang
terdiri dari struktur baja 11 laintai dengan 2 lantai basement yang berlokasi di
Kota Aceh. Perencanaan jumlah lantai dan lokasi ini dirancang sehingga bentuk
struktur dapat mempresentasikan gedung bertingkat tinggi dengan struktur baja
dan berada pada wilayah gempa. Sistem struktur direncanakan sebagai struktur
bangunan baja dengan pengaku lateral Sistem Rangka Bresing Tahan Tekuk
(Buckling Restrained Braced Frame – BRBF) tipe inverted-V braced.
Perencanaan struktur baja ini dilakukan berdasarkan pedoman dan peraturan baru
SNI 1729:2020 tentang Spesifikasi untuk bangunan gedung baja struktural.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka didaparkan rumusan masalah dari
penulisan Tugas Akhir ini adalah:
1. Bagaimana hasil perencanaan struktur utama (balok induk, kolom)
serta struktur sekunder (struktur atap, pelat lantai, balok anak, dan
tangga) dengan sistem rangka BRBF ?
2. Bagaimana hasil dari analisa struktur dan gaya-gaya yang bekerja pada
sturktur baja sistem BRBF?
3. Bagaimana hasil perencanaan struktur bawah dinding basement?
4. Bagaimana hasil analisa dan desain perencanaan gedung struktur baja
dalam bentuk gambar teknik ?

1.3 Tujuan
Tujuan penyusunan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui hasil perencanaan struktur utama (balok induk, kolom)
serta struktur sekunder (struktur atap, pelat lantai, balok anak, dan
tangga) dengan sistem rangka Buckling Restrained Braced Frame
menggunakan konfigurasi rangka inverted-V braced.
2. Mengetahui hasil analisa struktur dan gaya-gaya yang bekerja pada
perencanaan sturktur baja sistem BRBF.
3. Mengetahui hasil perencanaan struktur bawah dinding basement.
3
4. Mengetahui hasil gambar teknik yang sesuai dengan hasil analisa dan
desain struktur.

1.4 Batasan Masalah


Batasan masalah dalam penyusunan Tugas Akhir ini adalah:
1. Perencanaan gedung hanya meninjau struktur saja, tidak dilakukan
peninjauan analisis biaya, manajemen konstruksi, arsitektural maupun
studi kelayakan finansial bangunan.
2. Pekerjaan Mechanical Engineer (ME) dan Plumbing tidak termasuk
dalam perencanaan.
3. Tidak melakukan pembahasan detail mengenai metode pelaksanaan.

1.5 Manfaat
Manfaat penyusunan Tugas Akhir ini adalah:
1. Mahasiswa dapat merencakan struktur baja bangunan gedung
bertingkat sesuai dengan peraturan terbaru Tata Cara Perencanaan
Struktur Baja untuk Bangunan Gedung (SNI 1729:2020).
2. Mahasiswa dapat menerapkan materi yang telah diajarkan dalam
perkuliahan.
3. Sebagai pembelajaran bagi penulis dalam perencanaan konstruksi
rangka bresing tahan tekuk (BRBF).
4. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan terkait perencanaan gedung
bertingkat struktur baja berdasarkan SNI 1729:2020 menggunakan
sistem BRBF.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Umum
Struktur adalah himpunan atau kumpulan elemen-elemen yang tersusun
secara teratur, yang berfungsi untuk memikul dan meneruskan beban-beban yang
ditanggungnya dengan aman ke tanah. Di dalam struktur terdapat berbagai
elemen. Elemen Struktur adalah bagian dari strukutr yang memiliki fungsinya
masing-masing. Berdasarkan fungsi beban yang dipikul, elemen struktur
dibedakan menjadi, Pelat dan balok adalah elemen struktur lentur dan Kolom
adalah elemen struktur yang berfungsi untuk mendukung beban aksial tekan.
Menurut Heinz Frick (2006), prinsip-prinsip dasar dalam perencanaan
struktur tahan gempa adalah sebagai berikut:
1 Perencanaan bangunan tahan gempa haruslah terencana dan teratur secara
geometri. Bagian yang menahan beban dengan yang tidak harus dianggap
sebagai satu kesatuan yang saling mempengaruhi.
2. Bangunan harus dibuat seringan mungkin, maka harus diperhitungkan
bahan bangunan yang dipakai. Semakin berat bangunan,semakin besar
beban yang ditanggung oleh bagian bangunan yang menerima beban
(tiang/kolom) dan potensi kerusakan jika terjadi gempa bumi. Jika
bangunan semakin tinggi haruslah lebih ringan lagi. Bagian atap
bangunan yang berat akan membahayakan struktur dan penghuni di
bawahnya.
3. Struktur yang direncanakan haruslah sesederhana mungkin sehingga
jalur beban gaya yang meninggi (vertikal) maupun mendatar (horisontal)
dapat dimengerti dengan mudah, semakin sederhana struktur
bangunannya, maka akan semakin tahan terhadap guncangan gempa
yang keras.
4. Denah sebaiknya dirancang dengan sesimetris mungkin,seimbang
ukurannya antara bagian kiri dan kanan, depan dengan belakang
bangunan. Dapat pula berbentuk bujur sangkar maupun lingkaran penuh.
5. Struktur yang meninggi (vertikal), seperti tiang/ kolom, dan kuda-kuda,
24
ditempatkan sedemikian rupa,sehingga dapat menerima beban terbesar.

Semakin besar gaya vertikal, semakin besar pula ketahanan terhadap


gaya gempa yang berguncang dan memuntir ke segala arah.
6. Jika ada tangga, lift, eskalator, haruslah diletakkan sedekat mungkin
dengan pusat bangunan.
7. Potongan vertikal bangunan sebaiknya berbentuk segi empat.
8. Tinggi bangunan sebaiknya tidak melebihi empat kali lebar gedung.
9. Struktur bangunan sebaiknya dipilih yang monolit, berarti seluruh
konstruksi bangunan dikonstruksikan dengan bahan bangunan yang sama
karena pada saat terjadi gempa, bahan bangunan yang berbeda akan
memberikan reaksi yang berbeda pula.
[Link] pelat lantai pada bangunan bertingkat dengan ketebalan balok
sebaiknya lebih besar daripada biasanya utuk menghindari getaran
vertikal sejauh mungkin. Balok tidak boleh dibuat lebih besar daripada
tiang tumpuannya agar tidak terjadi ketegangan tambahan.
[Link] balok horisontal pada setiap tingkat dengan batang tarik diagonal
dapat meningkatkan kestabilan bangunan.
[Link] harus dibuat sesederhana dan sekuat mungkin agar tidak patah
pada saat gempa bumi. Sebaiknya membuat pelat lantai beton bertulang
dan pondasi lajur dengan balok lantai beton bertulang. Pondasi setempat
sebaiknya dihindari.
[Link] suatu bangunan pada saat terjadi gempa bumi tergantung pada
cara pembangunannya, bukan pada cara perencanaannya. Maka sangat
pentinglah manajemen atau pengaturan pembuatan serta pengawasan
pada saat pelaksanaan pembangunan yang menjamin kualitas bangunan.
Juga diperlukan pemeliharaan dan perawatan bangunan ketika bangunan
selesai dan nantinya digunakan.
[Link] suatu gedung dan melakukan pembangunan tambahan harus
dilakukan dengan cermat karena dapat mengubah kestabilan gedung
terhadap gempa bumi.

24
2.2 Balok
Balok adalah komponen struktur yang bertugas meneruskan beban yang
disangga sendiri maupun dari plat kepada kolom penyangga. Balok menahan
gaya-gaya yang bekerja dalam arah transversal terhadap sumbunya yang
mengakibatkan terjadinya lenturan (Dipohusodo, 1994).
Menurut Nawy (1990), berdasarkan jenis keruntuhannya, keruntuhan
yang terjadi pada balok dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Kondisi Reganagan Seimbang
Tulangan tarik mulai leleh tepat pada saat beton mencapai
regangan batasnya dan akan hancur karena tekan. Pada saat awal
terjadinya keruntuhan, regangan tekan yang diijinkan pada saat serat tepi
yang tertekan adalah 0,003 sedangkan regangan baja sama dengan
regangan lelehnya yaitu εy = fy / Ec.
2. Penampang Terkendali Tekan
Keruntuhan ditandai dengan hancurnya beton yang tertekan. Pada
awal keruntuhan, regangan baja εs yang terjadi masih lebih kecil dari
pada regangan lelehnya εy. Dengan demikian tegangan baja fs juga
lebih kecil daripada tegangan lelehnya fy. Kondisi ini terjadi apabila
tulangan yang digunakan lebih banyak daripada yang diperlukan dalam
keadaan balanced.
3. Penampang Terkendali Tarik
Keruntuhan ditandai dengan terjadinya leleh pada tulangan baja.
Kondisi penampang yang demikian dapat terjadi apabila tulangan tarik
yang dipakai pada balok kurang dari yang diperlukan untuk kondisi
balanced

24
Gambar 2. 1 Penampang Tarik, Transisi, Tekan.
(Denavit dan Hajjar, 2012)
2.3 Pelat
Menurut Nawy (1998) pelat merupakan elemen horizontal utama yang
menyalurkan beban hidup maupun beban mati ke rangka pendukung vertikal dari
suatu sistem struktur. Di dalam konstruksi beton bertulang, pelat digunakan untuk
mendapatkan permukaan datar. Sebuah pelat beton bertulang merupakan sebuah
bidang datar yang lebar, yang mempunyai arah horizontal dengan permukaan atas
dan bawahnya sejajar atau mendekati sejajar. Pelat biasanya ditumpu oleh gelagar
atau balok beton bertulang (biasanya pelat dicor menjadi satu kesatuan dengan
gelagar tersebut), oleh dinding pasangan batu bata atau dinding beton bertulang,
oleh batang-batang struktur baja, secara langsung oleh kolom-kolom, atau
tertumpu secara menerus oleh tanah

2.4 Kolom
Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul
beban dari balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang
peranan penting dari suatu bangunan,sehingga keruntuhan pada suatu kolom
merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang
bersangkutan dan juga runtuh total (total collapse) seluruh struktur (Sudarmoko,
1996).

2.5 Beton
Beton adalah suatu campuran yang terdiri dari pasir, kerikil, batu pecah,
atau agregat-agregat lain yang dicampur menjadi satu dengan suatu pasta yang
terbuat dari semen dan air membentuk suatu massa mirip batuan. Terkadang, satu
atau lebih bahan aditif ditambahkan untuk menghasilkan beton dengan
karakteristik tertentu, seperti kemudahan pengerjaan (workability), durabilitas dan
waktu pengerasan. (Mc Cormac, 2004).
Beton bertulang merupakan gabungan logis dari dua jenis bahan: beton
polos yang memiliki kekuatan tekan yang tinggi akan tetapi kekuatan tarik yang
rendah dan batang-batang baja yang ditanamkan didalam beton dapat memberikan
kekuatan tarik yang diperlukan. (Wang, 1993)
Beton tidak dapat menahan gaya tarik melebihi nilai tertentu tanpa
mengalami retak-retak. Untuk itu, agar beton dapat bekerja dengan baik dalam

24
suatu sistem struktur, perlu dibantu dengan memberinya perkuatan penulangan
yang terutama 25 akan mengemban tugas menahan gaya tarik yang bakal timbul
didalam sistem (Dipohusodo, 1999:12).
Menurut Mc Cormac (2004), ada banyak kelebihan dari beton sebagai
struktur bangunan diantaranya adalah:
1. Beton bertulang mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap api dan air,
bahkan merupakan bahan struktur terbaik untuk bangunan yang banyak
bersentuhan dengan air. Pada peristiwa kebakaran dengan intensitas rata-
rata, batang-batang struktur dengan ketebalan penutup beton yang
memadai sebagai pelindung tulangan hanya mengalami kerusakan pada
permukaanya saja tanpa mengalami keruntuhan.
2. Beton memiliki kuat tekan lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan bahan
lain.
3. Salah satu ciri khas beton adalah kemampuanya untuk dicetak menjadi
bentuk yang beragam, mulai dari pelat, balok, kolom yang sederhana
sampai atap kubah dan cangkang besar.

lanjut, Mc Cormac (2004), juga menyatakan kekurangan dari


penggunaan beton sebagai suatu bahan struktur yaitu:

1. Beton memiliki kuat tarik yang sangat rendah, sehingga memerlukan


penggunaan tulangan tarik.

2. Beton bertulang memerlukan bekisting untuk menahan beton tetap


ditempatnya sampai beton tersebut mengeras.

3. Rendahnya kekuatan per satuan berat dari beton mengakibatkan beton


bertulang menjadi berat. Ini akan sangat berpengaruh pada struktur
bentang panjang dimana berat beban mati beton yang besar akan sangat
mempengaruhi momen lentur.

Dalam perencanaan struktur beton bertulang, beton diasumsikan tidak


memiliki kekuatan tarik sehingga diperlukan material lain untuk menanggung
gaya tarik yang bekerja. Material yang digunakan umumnya berupa batang-batang
baja yang disebut tulangan.

2.6 Analisis Pembebanan


24
Pembebanan struktur mengacu pada SNI 1727:2020 mengenai Beban
Desain Minimum dan Kriteria Terkait untuk Bangunan Gedung dan Struktur
[Link] pembebanan pada struktur gedung terdiri atas beban mati,
beban hidup, beban angin, dan beban gempa.

2.3.1 Beban Mati


Menurut SNI 1727:2020 beban mati adalah berat seluruh bahan
konstruksi bangunan gedung yang terpasang, termasuk dinding, lantai, atap,
plafon, tangga, dinding prastisi tetap, finishing, klading gedung, komponen
arsitektural dan struktur lainnya serta peralatan layan terpasang lain termasuk
berat derek dan sistem pengangkut material. Dalam mementukan beban mati
untuk perancangan, digunakan berat bahan dan konstruksi yang sebenarnya,
dengan ketentuan bahwa jika tidak ada informasi yang jelas, nilai yang harus
digunakan adalah nilai yang disetujui oleh pihak yang berwenang.

2.3.2 Beban Hidup


Dalam perencanaan beban hidup digunakan SNI 1727:2020 sebagai
acuan dimana beban hidup merupakan beban yang diakibatkan oleh pengguna dan
penghuni bangunangedung atau struktur lain yang tidak termasuk beban
konstruksi dan beban lingkungan. Beban hidup yang digunakan dalam
perancangan bangunan gedung dan struktur lain harus merupakan beban
maksimum yang diharapkan terjadi akibat penghunian dan penggunaan bangunan
gedung, akan tetapi tidak boleh kurang dari beban merata minimum yang di
tetapkan dalam Tabel 4.3.1 SNI 1727:2020.

2.3.3 Beban Angin


Beban angin adalah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian
gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara. Beban angin
ditentukan dengan menganggap adanya tekanan positif (angin tekan) dan negatif
(angin hisap) (PPIUG, 1983).
1. Kategori Risiko Bangunan
Bangunan dan struktur lainnya harus diklasifikasikan berdasarkan
risiko bagi kehidupan manusia, kesehatan, kesejahteraan yang terkai
dengan kerusakan atau kegagalan mereka dengan sifat hunian atau
penggunaan. Setiap bangunan atau struktur lainnya harus ditetapkan
24
untuk kategori risiko yang berlaku lebih tinggi atau kategori-kategori
lebih tinggi.

2. Kecepatan angin dasar, V


Kecepatan angin dasar (V), yang digunakan dalam menentukan
beban angin desain di bangunan gedung dan struktur lain harus
ditentukan dari instansi yang berwenang, sesuai dengan kategori risiko
bangunan gedung struktur. Angin harus diasumsikan datan dari segala
arah horizontal. Kecepatan angin dasar harus diperbesar jika catatan atau
pengalaman menunjukan bahwa kecepatan angin lebih tinggi daripada
yang ditentukan (SNI 1727:2020).

3. Kategori Eksposur
Untuk setiap arah angin yang diperhitungkan, eksposur arah
melawan angin didasarkan pada kekasaran permukaan tanah yang
ditentukan dari topogradi alam, vegetasi, dan fasilitas yang telah
dibangun.

4. Klasifikasi ketertutupan
Klasifikasi ketertutupan suatu bangunan ditentukan berdasarkan
penjalasan berikut yang mengacu pada SNI 1727:2020
a. Bangunan gedung tertutup
Bangunan gedung yang memiliki luas total bukaan pada setiap
dinidng, yang menerima tekanan eksternal positif, kurang dari atau
sama dengan 4 ft2 (0,37 m2) atau 1% dari luas dinding, dipilih yang
lebih kecil.
b. Bangunan gedung tertutup sebagian
Sebuah bangunan gedung yang memenuhi kondisi berikut:
(1) Luas total bukaan di dinding yang menerima tekanan eksternal
positif melebihi jumlah dari luas bukkan di keseimbangan
amplop bangunan gedung (dinding dan atap) dengan lebih dari
10%.

(2) Luas total bukaan di dinding yang menerima tekanan eksternal


positif melebih 4 ft2 (0,37 m2) atau 1% dari luas dinding,
mana yang lebih kecil, dan presentase bukaan di keseimbangan
24
amplop bangunan gedung tidak melebih 20%.

c. Bangunan gedung terbuka sebagian


Bangunan yang tidak memenuhi persyaratan sebagai bangunan
gedung terbuka, tertutup sebagian, atau tertutup.

d. Bangunan gedung terbuka


Bangunan gedung yang memiliki dinding setidaknya 80% terbuka.
Kondisi ini dinyatakan untuk setiap dinding oleh persamaan Ao ≥
0,8Ag

2.7 Shear Wall


4 Shear wall Gaya horizontal yang bekerja pada konstruksi gedung
sepertigaya-gaya yang disebabkan oleh angin ataupun beban gempa dapat diatasi
dengan berbagai cara. Daya pikul rangka kaku dari struktur ditambah dengan
kekuatan yang diberikan oleh dinding pasangan bata serta partisi-partisi yang
biasa dapat memikul beban angin. Namun demikian, apabila gaya horizontal pada
tiap elemen struktur gedung bertingkat yang bekerja karena suatu lubang atau
lorong vertikal yang menerus yang berfungsi sebagai jalur lift dibutuhkan suatu
perencanaan struktur yang khusus untuk mennahan beban lateral tersebut,
selanjutnya dinding geser berfungsi sebagai gelagar-gelagar kantilever yng terjepit
di dasarnya untuk menyalurkan beban-beban ke bawah hingga pondasi. Dinding
geser adalah slab beton bertulang yang dipasang dalam posisi vertikal pada sisi
gedung tertentu yang berfungsi menambah kekakuan struktur dan menyerap gaya
geser yang besar seiring dengan semakin tingginya struktur. Fungsi dinding geser
dalam suatu struktur bertingkat juga penting untuk menopang lantai pada struktur
dan memastikannya tidak runtuh ketika terjadi gaya lateral akibat gempa. Gedung
yang diperkaku dengan dinding geser dianggap lebih efektif daripada gedung
dengan rangka kaku, dengan mempertimbangkan pembatasan kehancuran,
keamanan secara keseluruhan dan keandalan struktur. Hal ini berdasarkan fakta
bahwa dinding geser dianggap lebih kaku daripada elemen rangka biasa sehingga
dapat menahan beban lateral yang lebih besar akibat gempa, dan di saat yang
bersamaan dapat membatasi simpangan antar lantai.

24
2.7.1 Fungsi Dinding Geser
Dinding geser harus memberikan kekuatan lateral yang dibutuhkan
untuk menahangaya gempa horizontal. Apabila dinding geser cukup kuat, ia akan
memindahkan gaya-gaya horizontal ini pada elemen berikutnya pada bagian
muatan dibawahnya.
Menurut Smith dan Coull (1991), dinding geser mempunyai kekakuan
yang baik karena mampu meredam deformasi akibat gempa. Sehingga kerusakan
struktur dapat dihindari.
Fungsi dinding geser ada dua, yaitu kekuatan dan kekakuan, artinya :
a) Kekuatan
 Dinding geser harus memberikan kekuatan lateral yang diperlukan untuk
melawan kekuatan gempa horizontal.
 Ketika dinding geser cukup kuat, mereka akan mentransfer gaya horizontal
ini ke elemen berikutnya dalam jalur beban di bawah mereka, seperti
dinding geser lainnya, lantai, pondasi dinding, lembaran atau footings.
b) Kekakuan
 Dinding geser juga memberikan kekakuan lateral untuk mencegah atap atau
lantai di atas dari sisi-goyangan yang berlebihan.
 Ketika dinding geser cukup kaku, mereka akan mencegah membingkai
lantai dan atap anggota dari bergerak dari mendukung mereka.
 Bangunan yang cukup kaku biasanya akan menderita kerusakan kurang
nonstruktural.

2.7.2 Dinding Geser Berdasarkan Bentuk dan Letak


Sistem dinding geser dapat dibagi menjadi system terbuka dan tertutup.
Sistem terbuka terdiri dari unsure linear tunggal atau gabungan unsure yang tidak
lengkap, melingkupi ruang asimetris. Contohnya L,X,T,V,Y atau H. Sedang
system tertutup melingkupi ruang geometris, bentuk-bentuk yang sering di jumpai
adalah bujur sangkar, segitiga, persegi panjang dan bulat. Bentuk dan penempatan
dinding geser mempunyai akibat yang besar terhadap perilaku structural apabila

24
dibebani secara lateral. Dinding geser yang diletakkan asimetris terhadap bentuk
bangunan harus memikul torsi selain lentur dan geser langsung.

Gambar 2. 2 Tata Letak Dinding Geser


(Smith dan Coull, 1991)

2.7.3 Jenis-jenis Dinding Geser


Dinding geser adalah struktur vertikal yang digunakan pada bangunan
tingkat tinggi. Fungsi utama dari dinding geser adalah menahan beban lateral
seperti gaya gempa dan [Link] geometrinya dinding geser dapat
diklasifikasikan dalam beberapa jenis yaitu :

1. Dinding Geser Kantilever/Free Standing Shear Wall


Adalah suatu dinding geser tanpa lubang-lubang yang membawa
pengaruh penting terhadap perilaku dari struktur gedung yang
bersangkutan. Dinding geser kantilever ada dua macam, yaitu dinding
geser kantilever daktail dan dinding geser katilever dengan daktilitas
terbatas.
Menurut Kiyoshi Muto “Aseismic design analysis of buildings”
1963:27 Karakteristik daya tahan dinding untuk tujuan perancangan
adalah:
 Dinding geser sebaiknya menerus ke atas.
 Untuk memperoleh dinding geser yang kuat, balok keliling dan
balok pondasi sebaiknya diperkuat.
 Bila dinding atas dan bawah tidak menerus (berseling) gaya
gempa yang ditahan oleh dinding harus disalurkan melalui lantai.

24
Gambar 2. 3 Dinding Geser Kantilever
(Amaral, 2016)

2. Dinding Geser dengan Bukaan/Opening Shear Wall


Pada banyak keaadaan, dinding geser tidak mungkin digunakan
tanpa beberapa bukaan di dalamnya untuk jendela, pintu, dan saluran-
saluran mekanikal dan elektrikal. Meskipun demikian, kita dapat
menempatkan bukaan-bukaan pada tempat di mana bukaan-bukaan
tersebut tidak banyak
mempengaruhi kekakuan atau tegangan pada dinding. Jika bukaan-
bukaan
tersebut kecil, pengaruh keseluruhannya sangat kecil tetapi tidak
demikian halnya bila bukaan-bukaan yang berukuran besar.
Bukaan sedikit mengganggu pada geser dukung struktur.
Perlawanan lentur struktur penopang bagian dasar kritis secara drastis
dikurangi dengan perubahan tiba-tiba dari bagian dinding ke kolom.

Gambar 2. 4 Dinding Geser dengan Bukaan


(Amaral, 2016)

24
3. Dinding Geser Berangkai/Coupled Shear Wall
Dinding geser berangkai terdiri dari dua atau lebih dinding
kantilever yang mempunyai kemampuan untuk membentuk suatu
mekanisme peletakan lentur alasnya. Antara dinding geser kantilever
tersebut saling dirangkaikan oleh balok-balok perangkai yang
mempunyai kekuatan cukup sehingga mampu memindahkan gaya dari
satu dinding ke dinding yang lain.

Gambar 2. 5 Dinding Geser Berangkai


(Amaral, 2016)

24
BAB III
METODOLOGI PERENCANAAN

3.1 Umum
Dalam penulisan tugas akhir ini digunakan metodologi yang jelas dan
sistematis dengan tujuan agar penulisan tugas akhir ini berjalan dengan baik dan
efektif. Metodologi ini membahas langkah-langkah yang digunakan dalam
penyelesaian tugas akhir ini.

3.2 Diagram Alir Perencanaan

Mulai

Studi Literatur

Pengumpulan Data

Prelimninary Design

Analisis Pembebanan

Analisis Struktur dan Permodelan


Menggunakan Program Bantu

A
B

24
B

A
Perencanaan Elemen Struktur

NOT OKE
Kontrol Desain

OKE
Penulangan

Dinding Geser

Hasil Analisis dan Kesimpulan

Gambar Teknik

Selesai

Gambar 3. 1 Diagram Alir Penelitian

3.3 Pengumpulan Data


Pengumpulan data merupakan data-data lapangan yang digunakan dalam
perencanaan. Dalam tugas akhir ini data yang digunakan meliputi gambar
eksisting gedung.
1. Data Gambar Rencana Gedung : Terlampir

25
3.4 Studi Literatur
Studi Literatur dilakukan untuk mendapatkan tata cara perencanaan dari
tugas akhir ini. Adapun literatur dan peraturan-peraturan yang digunakan sebagai
acuan dalam pengerjaan tugas akhir ini antara lain:
1. SNI 2847:2019 tentang Persyaratan Beton Strukturan untuk Bangunan
Gedung dan Penjelasan.
2. SNI 1727:2020 tentang Beban Desain Minimum dan Kriteria Terkait Untuk
Bangunan Gedung dan Struktur Lain

3.5 Prelimninary Design


Preliminary desain merupakan tahapan awal untuk menentukan dimensi
awal dari komponen struktur. Struktur bangunan yang akan direncanakan adalah
struktur bangunan beton yang gaya dalamnya akan dianalisa dengan
menggunakan program bantu.
Data Modifikasi Gedung
Lokasi Gedung : Balikpapan
Fungsi Gedung : Pusat Pertemuan dan Arsip
Jumlah Lantai : 10 Lantai +Atap
Struktur Utama : Struktur Beton Bertulang
Jenis Struktur : Dinding Geser
Mutu Baja : BJ 41
Mutu Beton : fc‟ 30 MPa

3.6 Pembebanan
Pada sub-bab ini akan dibahas mengenai analisis pembebanan pada
struktur yang direncanakan. Analisis pembebenana dilakukan untuk mengetahui
jenis dan besar setiap beban yang terjadi pada struktur. Berikut adalah
pembebenan yang terjadi pada struktur mengacu pada SNI 1727:2020.

3.6.1 Beban Mati


Beban mati adalah berat seluruh bahan konstruksi bangunan gedung yang
terpasang. Sesuai dengan SNI 1727:2020 Pasal 3.1.1 yang termasuk beban mati
adalah dinding, lantai, atap, plafon, tangga, dinding partisi tetap, finishing, kladig

26
gedung dan komponen arsitektural dan struktural lainnya serta peralatan layan
terpasang lain termasuk berat derek dan sistem pengangkut material.

3.6.2 Beban Hidup


Analisa beban hidup ditetapkan berdasarkan tabel berikut:
Tabel 3. 1 Beban Hidup Terdistribusi Merata Minimum (SNI 1727:2020
Tabel 4.3-1)

27
28
29
30
3.6.3 Beban Angin
Analisa beban angin pada perencanaan gedung ini mengacu pada SNI
1727:2020 pasal 27.2 dengan langkah sebagai berikut:
1) Menetapkan kategori risiko bangunan gedung berdasarkan tabel 3.2 Tabel
3. 2 Kategori Risiko Bangunan (SNI 1727-2020 Pasal 1.5.1)
Penggunaan atau Pemanfaatan Fungsi Kategori
Bangunan Gedung dan Struktur Resiko
Bangunan gedung dan struktur lain yang merupakan risiko rendah
untuk kehidupan manusia dalam kejadian kegagalan I

Semua bangunan gedung dan struktur lain kecuali mereka terdaftar


dalam kategori resiko I, III, dan IV II

Bangunan gedung dan struktur lain, kegagalan yang dapat


menimbulkan risiko besar bagi kehidupan manusia.

Bangunan gedung dan struktur lain, tidak termasuk dalam kategori


risiko IV, dengan potensi untuk menyebabkan dampak ekonomi
substansial dan atau gangguan massa dari hari-ke-hari kehidupan
sipil pada saat terjadi kegagalan.

Bangunan gabung dan struktur lain tidak termasuk dalam risiko III
kategori IV (termasuk, namun tidak terbatas pada, fasilitas yang
manufaktur, proses, menangani, menyimpan, menggunakan, atau
mambuang zat-zat seperti bahan bakar berbahaya, bahan kimia
berbahaya, limbah berbahaya atau bahan peledak) yang
menggandung zat beracun atau mudah meledak dimana kuantitas
material melebihi jumlah ambang batas yang ditetapkan oleh pihak
yang berwenang dan cukup untuk menimbulkan suatu ancaman
kepada publik jika dirilisa.

Bangunan gedung dan struktur lain, kegagalan yang dapat


menimbulkan bahaya bagi masyarakat. IV

Bangunan gedung dan struktur lain (termasuk, namun tidak terbatas

31
Penggunaan atau Pemanfaatan Fungsi Kategori
Bangunan Gedung dan Struktur Resiko
pada, fasilitas yang memproduksi, memproses, menangani,
menyimpan, menggunakan , atau membuang zat-zat berbahaya
seperti bahan bakar, bahan kimia berbahaya, atau limbah
berbahaya) yang berisi jumlah yang cukup dari zat yang sangat
beracun di mana kuantitas melebihi jumlah yang cukup dari zat
yang sangat beracun di mana kuantitas melebihi jumlah ambang
batas yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang cukup
menimbulkan ancaman bagi masyarakat jika dirilisa.

Bangunan gedung dan struktur lain yang diperlukan untuk


mempertahankan fungsi dari kategori risiko IV struktur lainnya.

2) Menentukan Kecepatan Angin Dasar, V


Kecepatan angin dasar, V, yang digunakan dalam menentukan beban angin
pada bangunan gedung dan struktur ditentukan dari Buku Peta Angin
Indonesia.

3) Menentukan Faktor Arah Angin, Kd


Faktor arah angin ditentukan berdasarkan tabel 3.3 berikut:
Tabel 3. 3 Faktor Arah Angin, Kd (SNI 1727:2020 Pasal 26.6)
Tipe struktur Faktor arah angin Kd

Bangunan gedung
Sistem Penahan Gaya Angin Utama (SPGAU) 0,85
Komponen dan Klading (K&K) 0,85
Atap lengkung 0,85
Kubah berbentuk bundar 1,0a
Cerobong, tangki, dan struktur serupa

32
Tipe struktur Faktor arah angin Kd
Persegi 0,90
Segi enam 0,95
Segi depalan 1,0a
Bundar 1,0a
Dinding solid yang berdiri bebas, peralatan bagian
atap, dan panel petunjuk solid yang berdiri bebas 0,85
serta panek petunjuk terkait
Panel petunjuk terbuka dan rangka terbuka bidang
0,85
Tunggal
Rangka batang menara
Segitiga, persegi, atau persegi panjang 0,85
Semua penampang lainnya 0,95

4) Menentukan Katagori Eksposur


Perhitungan eksporsur arah angin didasarkan pada kekasaran permukaan
tanah yang ditentukan dari topogradi alam, vegetasi, dan fasilitas yang
dibangun. Berdasarkan SNI 1727:2020 pasal 26.7.3 eksposur arah angin di
bedakan menjadi 3 kategori sebagai berikut:

Tabel 3. 4 Kategori Eksposur (SNI 1727:2020 Pasal 26.7.3)


Kategori Keterangan
Untuk bangunan gedung atau struktur lain dengan
tinggi atap rata-rata kurang dari atau sama dengan 30
ft (9,1m), Eksposur B berlaku bilamana kekasaran
Eksposur B permukaan tanah, sebagaimana ditentukan oleh
kekasaran permukaan B, berlaku di arah melawan
angin untuk jarak yang lebih besar dari 1.500 ft
(457m). untuk bangnan gedung atau struktur lain

33
Kategori Keterangan
dengan tinggi atap rata-rata lebih besar dari 30 ft
(9,1m), Eksposur B berlaku bilamana kekasaran
permukaan B berada dalam arah melawan angin
untuk jarak lebih besar dari 2.600 ft (792m) atau 20
kali tinggi bangunan atau struktur, pilih yang terbesar.
Semua kasus dimana Eksposur B atau Eksposur D
Eksposur C
tidak berlaku.
Eksposur D berlaku bilamana kekasaran permukaan
tanag, sebagaimana ditentukan oleh kekasaran
permukaan D, berlaku di arah melawan angin untuk
jarak yang lebih besar dari 5.000 ft (1.524 m) atau 20
kali tinggi bangunan gedung atau tinggi struktur, pilih
yang terbesar. Eksposur D juga berlaku bilamana
Eksposur D
kekasaran permukaan tanah dekat dari situs dalam
arah melawan angin adalah B atau C, dan situs yang
berada dalam jarak 600 ft (183 m) atau 20 kali tinggi
bangunan gedung atau tinggi struktur, pilih yang
terbesar, dari kondisi Eksposur D sebagaimana
ditentukan dalam kalimat sebelumnya.

5) Menentukan Faktor Topografi, Kzt


Efek peningkatan kecepatan angin ditentukan berdasarkan SNI 1727:2020
Pasal 26.8.

6) Menentukan Faktor Elevasi Permukaan Tanah, Ke

Tabel 3. 5 Faktor Elevasi Permukaan Tanah, Ke (SNI 1727:2020 Pasal 26.10.1)


Elevasi tanah di atas permukaan lau (Sea Level) Faktor elevasi
permukaan tanah
Ft m Ke
<0 <0 1,00
1000 0 0,96
2000 305 0,93

34
3000 610 0,90
4000 914 0,86
5000 1219 0,83
6000 1829 0,80
> 6000 > 1829 Lihat catatan 2

7) Menentukan Efek Hembusan Angin, G


Faktor efek hembusan angin berdasarkan SNI 1727:2020 pasal 26.11.1 untuk
bangunan gedung atau struktur lain yang kaku boleh diambil sebesar 0,85.

8) Menentukan Klasifikasi ketertutupan


Berdasarkan SNI 1727:2020 pasal 26.12 bangunan gedung harus
diklasifikasikan sebagai bangunan tertutup, tertutup sebagian, terbuka sebagian,
atau terbuka.

9) Menentukan Koefisien Tekanan Internal, GCpl


Koefisien tekanan internal ditentukan berdasarkan tabel berikut:
Tabel 3. 6 Koefisien Tekanan Internal, GCpl (SNI 1727:2020 Pasal 26.13)
Klasifikasi Kriteria untuk klasifikasi Tekanan Koefisien tekanan
Ketertutupan ketertutupan internal internal (GCpl)
Bangunan tertutup Ao kurang dari terkecil 0,01Ag Sedang -0,18
atau 4ft (0,37 m ) dan Aol/Ag ≤ 0,2
2 2
-0,18
Bangunan tertutup Ao > 1,1 Aol dan Ao > terkecil dari 0,01Ag Tinggi -0,55
sebagian atau 4ft2 (0,37 m2) dan Aol/Ag ≤ 0,2

Bangunan terbuka Bangunan yang tidak sesuai dengan - 0,18


sebagian klasifikasi tertutup, tertutup sebagian, atau Sedang - 0,18
klasifikasi terbuka
Bangunan terbuka Setiap dinding minimal terbuka 80% Diabaikan 0,00

10) Menentukan Koefisien Eksposur Tekanan Velositas, Kz atau Kh


Koefisien eksposur tekanan kecepatan ditentukan berdasarkan tabel berikut:
Tabel 3. 7 Koefisien Eksposur Tekanan Velositas, Kh atau Kz (SNI 1727:2020
Pasal 26.10.1)
Ketinggian di atas permukaan Eksposur

35
Tanah

Ft (m) B C D
0-15 0-4,6 0,57 (0,70)a 0,85 1,03
20 6,1 0,62 (0,70)a 0,90 1,08
25 7,6 0,66 (0,70)a 0,94 1,12
30 9,1 0,70 0,98 1,16
40 12,2 0,76 1,04 1,22
50 15,2 0,81 1,09 1,27
60 18,0 0,85 1,13 1,31
70 21,3 0,89 1,17 1,34
80 24,4 0,93 1,21 1,38
90 27,4 0,96 1,24 1,40
100 30,5 0,99 1,26 1,43
120 36,6 1,04 1,31 1,48
140 42,7 1,09 1,36 1,52
160 48,8 1,13 1,39 1,55
180 54,9 1,17 1,43 1,58
200 61,0 1,20 1,46 1,61
250 76,2 1,28 1,53 1,68
300 91,4 1,35 1,59 1,73
350 106,7 1,41 1,64 1,78
400 121,9 1,47 1,69 1,82
450 137,2 1,52 1,73 1,86
500 152,4 1,56 1,77 1,89

11) Menentukan Tekanan Velositas, qz atau qh


Tekenanan velositas atau kecepatan, qz dihitung dengan persamaan berikut:
q  0,00256K K K V 2 (lb/ft 2 ); V dalam mi/h
z z zt d
(3.1)
2 2
q  0,613K K K V (N/m ); V dalam m/s
z z zt d
(3.2)

Dengan
Kz = koefisien eksposur tekanan kecepatan

36
Kzt = faktor topografi
Kd = faktor arah angin
V = kecepatan angin dasar
qz = tekanan kecepatan pada ketinggian z

12) Menentukan Koefisien Tekanan, Cp atau CN


Nilai Koefisien Cp diambil dengan ketentuan permukan dinding di sisi angin
datang berdasarkan tabel berikut:

Tabel 3. 8 Koefisien Tekanan Dinding Cp (SNI 1727:2020 Gambar 27.3.1)


Koefisien tekanan dinding, Cp
Permukaan L/B Cp Digunakan dengan
Dinding di sisi angin datang Seluruh Nilai 0,8 qz
0-1 -0,5
Dinding di sisi angin pergi 2 -0,3 qh
≥4 -0,2
Dinding Tepi Seluruh Nilai -0,7 qh

13) Menghitung Tekanan Angin, P


Tekanan angin desain untuk sistem penahan angin utama bangunan gedung
pada semua ketinggian dalan N/m2 ditentukan dengan persamaan berikut:
(3.3)
p = qGCp – (GCpi)

Dengan:
q = qz untuk dinding di sisi angin pada ketinggian
zG = faktor efek hembusan angin
Cp = koefisien tekanan eksternal
GCpi = koefisien tekanan internal

37
3.6.4 Kombinasi Pembebanan
Kombinasi pembebanan yang digunakan akibat beban ultimate yang
mengacu pada SNI 1727:2020 antara lain:
1. 1,4D
2. 1,2D + 1,6L + 0,5(Lr atau S atau R)
3. 1,2D + 1,6(Lr atau S atau R) + (L atau 0,5W)
4. 1,2D + 1,0W + L + 0,5 (Lr atau S atau R)
5. 0,9D + 1,0W

3.7 Permodelan dengan Program Bantu


Permodelan dilakukan dengan menggunakan program bantu. Hal ini
dilakukan dengan membuat model struktur.

3.8 Analisis Struktur


Setelah permodelan struktur didapatkan kemudian dilakukan analisa
struktur untuk mendapatkan gaya dalam yang digunakan untuk merencanakan
struktur utama. Gaya dalam hasil analisa pada tahap ini meliputi gaya aksial, gaya
momen, gaya geser dan gaya torsi.

3.9 Kontrol Desain


Hasil analisis struktur dikontrol terhadap suatu batasan-batasan tertentu
sesuai dengan peraturan SNI 1727:2020 untuk menentukan kelayakan sistem
struktur tersebut. Adapun hal-hal yang harus dikontrol adalah sebagai berikut:
1. Kontrol berat bangunan hasil manual dengan program bantu.
2. Kontrol partisipasi massa.

3.9.1 Kontrol Desain Balok


Pada perencanaan elemen balok direncakan menggunakan profil IWF sesuai
dengan ketentuan SNI 1729:2020

a. Kontrol Klasifikasi Penampang


(2) Untuk Sayap (flange)
 Penampang kompak (    p )
b 2tf

 p  0,38
38
E
( 3 fy .24)

 Penampang non kompak (  p    r )

r  1,0E
fy (3.25)

(3) Untuk Badan (web)


 Penampang kompak (    p )
h
 E
 
tw (3.26)
p 3,76 f y

 Penampang non kompak (  p    r )

39
r  5,70 E
fy (3.27)

Jika   r , maka penampang termasuk penampang langsing, dimana:


 = faktor kelangsingan penampang
h = jarak bersih antara kedua sayap dikurangin radius pojok
tw = tebal badan balok
fy = tegangan leleh minimum
r = batas parameter lebar terhadap tebal untuk elemen nonkompak
p = batas parameter lebar terhadap tebal untuk elemen kompak
E = modulus elastisitas baja (200.000 MPa)

b. Kontrol Nominal Lentur Penampang


Konsep desain kapasitas lentur elemen balok mengacu pada SNI
1729:2020 bab F adalah sebagai berikut:
b M n  M u (3.28)

Keterangan:
b = faktor ketahanan untuk tekan = 0,90
Mn = kekuatan lentur nominal
Mu = kekuatan lentur perlu

(1) Kontrol dengan pengaruh tekuk lokal

 Penampang kompak
Mengacu pada
Mn  M p  Fy Zx (3.29)

Keterangan:
Fy = kuat leleh minimum baja
Zx = modulus penampang plastis terhadap sumbu x
Mn = kuat lentur nominal
Mp = Momen lentur penampang plastis

 Penampang nonkompak

40
M  M (  (  pf ) (3.30)
M 0,7S f)
n p p xy
  pf )
( r
f

Keterangan:
 pf = batas parameter kelangsingan untuk sayap kompak

rf = batas kelangsingan untuk sayap nonkompak

Sx = modulus elastis penampang terhadap sumbu x

(2) Kontrol terhadap tekuk torsi lateral


 Bentang pendek ( Lb  Lp )

Lp  1,76 ry E (3.31)
Fy

Kapasitas lentur pada bentang pendek:


Mn = Mp (3.32)

Keterangan:
Lp = batas panjang bentang pendek
Lb = panjang bentang antara dua pengaku lateral
ry = jari-jari girasi terhadap sumbu y
E = modulus elastisitas baja

 Bentang menengah (Lp ≤ Lb ≤ Lr)


2
 
E Jc  2 Jc  0,7Fy
L r  1,95r 
0,7Fy Sxho    6,76  (3.33)
 Sxho   E 
I y ho
rts 2 
2S x (3.34)

C 12,5M
maks
b
2,5M max  3M  4M  3MC (3.35)
A B

 L 
 Lb 
Mn  Cb M p  (M p  0,7Fy Sx ) p M (3.36)
p
 
   L r p 
L
41
 Bentang panjang (Lb > Lr)

42
Mn  Fcr Sx  M p (3.37)
2
C E Jc  L 2
Fcr   b 2 1   b (3.38)
L 0,078 Sxho  rts
 b

 rts 
Keterangan:
E = modulus elastisitas
J = konstanta Torsi
Sx = modulus penampang elsatis terhadap sumbu x
ho = jarak antar titik berat sayap
Cb = faktor modifikasi tekuk torsi lateral
Mmaks = nilai mutlak momen maksimum
MA = nilai mutlak momen pada titik ¼ bentang
MB = nilai mutlak momen pada titik tengah bentang
MC = nilai mutlak momen pada titik ¾ bentang

c. Kontrol Terhadap Nominal Geser


Konsep desain geser nominal elemen balok mengacu pada SNI
1729:2020 bab G sebagai berikut:
 vV n  V u (3.39)

Dengan kekuatan geser, Vn ditentukan sebagai berikut:


Vn  0,6Fy AwCv (3.40)

Dengan ketentuan nilai Cv sebagai berikut:

 Bila h / t w  kv E / Fy

1,10 maka, Cv =

1,0
kv E / Fy
 Bila1,10 kv E / Fy  h / tw  1,37

1,10 kv E / Fy
maka, Cv =
h / tw

 Bila h / tw  1,37
kv E / Fy
43
1,51kv E / Fy
maka, Cv =
h / t w 
2
Fy

Keterangan :
v = faktor ketahanan geser = 0,90
Vu = kuat geser
ultimate Vn = kuat geser
nominal
Fy = tegangan leleh minimum
Aw = luas badan, tebal keseluruhan dikalikan tebal badan
kv = koefisien tekuk geser pelat badan
Cv = koefisien kekuatan geser
h = jarak bersih antara sayap dikurang dengan jari-jari sudut
tw = ketebalan badan

3.9.2 Kontrol Desain Kolom


Dalam Tugas Akhir ini struktur kolom direncanakan dengan menggunakan
Concrete Filled Steel Tube (CFT) dengan profil Hollow Structural Section (HSS)
dengan perencanaan mengacu pada SNI 1729:2020 Bab I
3. Kuat tekan nominal kolom komposit
a. Kontrol luas penampang minimum profil baja
AS
AC  100% 
(3.41)
AS 1%

Keterangan:
AS = luas penampang baja
AC = luas penampang beton

b. Kontrol tebal minimum penampang persegi


Fy
tmin
b 3E
(3.42)

Keterangan:
tmin = tebal minimum penampang
44
fy = tegangan leleh minimal baja

45
E = modulus elastisitas

c. Kuat nominal tekan kolom komposit


 Penampang kompak (    p )
bf
 E
 
2t f (3.43)
p 2,26 Fy

 Penampang non kompak (  p    r )

r  3,00 E
Fy (3.44)

Adapun kuat nominal tekan diperhitungkan sebagai berikut:


 ES 
Pp  Fy As  C2 f'c Ac  Asr E  (3.45)
C 

Keterangan:
C2 = Koefisien perhitungan kekakuan efektif komposit (0,85)
 = faktor kelangsingan penampang
h = jarak bersih antara kedua sayap dikurangin radius pojok
tw = tebal badan balok
fy = tegangan leleh minimum
r = batas parameter lebar terhadap tebal untuk elemen nonkompak

p = batas parameter lebar terhadap tebal untuk elemen kompak


E = modulus elastisitas baja (200.000 MPa)

2. Momen nominal kolom


a. Kontrol penampang terhadap tekuk
lokal Cek Kelangsingan Penampang

 Penampang kompak
Mengacu pada
Mn  M p  Fy Zx (3.46)

Keterangan:

46
Fy = kuat leleh minimum baja
Zx = modulus penampang plastis terhadap sumbu x
Mn = kuat lentur nominal
Mp = Momen lentur penampang plastis

 Penampang nonkompak

M  M (  (  pf ) (3.47)
M 0,7S f)
n p p xy
  pf )
( r
f

Keterangan:
 pf = batas parameter kelangsingan untuk sayap kompak

rf = batas kelangsingan untuk sayap nonkompak

Sx = modulus elastis penampang terhadap sumbu x

b. Kontrol penampang terhadap tekuk lateral


 Bentang pendek ( Lb  Lp )

Lp  1,76 ry E (3.48)
Fy

Kapasitas lentur pada bentang pendek:


Mn = Mp (3.49)

Keterangan:
Lp = batas panjang bentang pendek
Lb = panjang bentang antara dua pengaku lateral
ry = jari-jari girasi terhadap sumbu y
E = modulus elastisitas baja

 Bentang menengah (Lp ≤ Lb ≤ Lr)


2
 
E Jc  2 Jc  0,7Fy
L r  1,95r 
0,7Fy Sxho    6,76  (3.50)
 Sxho   E 
I
rts 2h  y
o (3.51)
2S x

47
12,5M maks
Cb  (3.52)
2,5M max  3M  4M  3MC
A B

 L 
 Lb 
Mn  Cb M p  (M p  0,7Fy Sx ) p M (3.53)
p
 
  L r p 
L

 Bentang panjang (Lb > Lr)


Mn  Fcr Sx  M p (3.54)
2
C E Jc  L 2
Fcr   b 2 1   b (3.55)
L 0,078 Sxho  rts
 b

 rts 

Keterangan:
E = modulus elastisitas
J = konstanta Torsi
Sx = modulus penampang elsatis terhadap sumbu x
ho = jarak antar titik berat sayap
Cb = faktor modifikasi tekuk torsi lateral
Mmaks = nilai mutlak momen maksimum
MA = nilai mutlak momen pada titik ¼ bentang
MB = nilai mutlak momen pada titik tengah bentang
MC = nilai mutlak momen pada titik ¾ bentang

3. Kekuatan lentur dan aksial orde kedua


Perencanaan kekuatan lentur dan aksial orde kedua mengacu pada SNI
1729:2020 Bab I dan Lampiran 8
Mr  B1Mnt  B2 M lt (3.56)

Pr  Pnt  B2 Plt (3.57)

dengan:

B1 
C 
m
1 (3.58)
1 /P
e1
Pr

48
Cm  0,6  0,4(M1 / M 2 )
(3.59)

49
 2 EI *
Pe1  (3.60)
Lc1 2
1
B2  
(3.61)
1
Pstory
1 P
e story

Keterangan:
B1 = pengali untuk memperhitungkan efek P-
B2 = pengali untuk memperhitungkan efek P-∆
Mlt = momen orde pertama
Mnt = momen orde pertama dengan struktur terkekang
Mr = kekuatan lentur perlu orde ke dua
Plt = gaya aksial orde pertama
Pnt = gaya aksial orde pertama struktur terkekang
Pr = kekuatan aksial perlu orde kedua
α = 1,0 (DFBT)
Cm = faktor momen seragam ekuivalen
EI* = rigiditas lentur yang diperlukan
Lc1 = panjang efektif bidang lentur
Pstory = beban vertikal total
Pe story = kekuatan tekuk kritis elastis

4. Kontrol interaksi aksial-momen

Pr Pr
 0,2
Pc  c  (3.62)
Pn
Maka,

Pr
8M M ry 
 1,0 (3.63)
rx M
P c 9  M c 
cy 
x

Pr Pr
 0,2
Pc  c  (3.64)
Pn
Maka,

50
Pr M
rx M 
 ry  
1,0 (3.65)

2Pc   M cx M 
 cy 

Keterangan:
Pr = kekuatan aksial perlu
Pc = kekuatan aksial tersedia
Mr = Kekuatan lentur perlu
Mc = kekuatan lentur tersedia

3.10 Perencanaan Buckling-Restrained Brace Frame


Dalam Tugas Akhir ini perencanaan Buckling-restrained Brace Frame
mengacu pada AISC 341-05 yang terdiri dari beberapa bagian sebagai berikut:
1) Preliminary design penampang dan material BRBF
Dalam tahap ini dilakukan preliminary design mengenai Profil HSS
yang digunakan sebagai bresing serta steel core yang digunakan.
 Menentukan luas penampang inti baja, Asc
Pysc  Fysc ASC (3.66)

Keterangan
:
Fysc = tegangan leleh hasil pengujian
(MPa) Asc = luas batang baja inti (mm2)

 Menentukan lebar inti baja, bpl


Asc
bpl (3.67)
 tpl
Keterangan
:
bpl = lebar inti baja (mm)
Asc = luas batang baja inti (mm2)
tpl = tebal inti baja (mm)

2) Menentukan kapasitas tarik dan tekan maksimum


 Perhitungan Member force check, (Npl)
Npl  Asc  fy (3.68)
Keterangan :
51
Npl = Member force check
Asc = Luas penampang inti baja
fy = tegangan leleh inti baja

 Simpangan antar lantai elastik ( bx )

Pbx
bx  (3.69)
Lysc E
 Asc

Dengan,

Lysc  0,7L (3.70)

Keterangan:
Pbx = Kekuatan aksial
Lysc = Panjang bagian leleh
L = panjang bresing
E = modulus elastisitas baja
Asc = luas inti baja

 Simpangan antar lantai dalam kondisi elastik ( bm )

bmc  Cd bx (3.71)

Keterangan:
Cd = Faktor amplifikasi lenduran (Tabel 3.18)
Tabel 3. 18 Tabel Koefisien Desain untuk Pengaku Beban Lateral (Tabel R3-1
Appendix ANSI/AISC 341-05)

52
 Menentukan reganan rata-rata ( BRC )

 bm
2.0  (3.72)
BRC
Lysc

 Menentukan Adjusted Factor


Nilai Adjusted factor (  dan  ) ditentukan berdasarkan regresi
yang didapatkan dari kurva backbone yang telah dibuat berdasarkan
perhitungan yang telah dilakukan.

3) Perhitungan Kekuatan BRB


Pysc  Fysc  Asc (3.73)
 Kapasitas Tekan

Pu tekan  Pysc (3.74)


 Kapasitas Tarik 

(3.75)
Pu tarik  Pysc
 

53
3.11 Perencanaan Sambungan
Perancanaan sambungan dalam Tugas Akhir ini digunakan sambungan baut
dan sambungan las. Perencanaan sambungan dilakukan dengan acuan SNI
1729:2020
a. Sambungan baut
Perencanaan sambungan baut mengacu pada SNI 1729:2020 pasal J3.1 –
J3.7
 Kontrol Jarak Baut
Jarak Tepi minimum ditentukan berdasarkan tabel 3.18 Tabel 3. 19 Jarak
Tepi Minimum (SNI 1729:2020 Tabel J3.4M)
Diameter Baut (in.) Jarak Tepi Minimum
16 22
20 26
22 28
24 30
27 34
30 38
36 46
Di atas 36 1,25d

Jarak tepi maksimum = 12t atau 150 mm


Jarak minimum antar baut = 3d
Jarak maksimum antar baut = 14t atau 180 mm
Keterangan:
t = tebal bagian tersambung
d = diameter baut

 Kekuatan Rencana Baut


Kuat tarik dan geser:
Ru   Rn (3.76)
Rn  Fn Ab
(3.77)

Keterangan:
ø = faktor reduksi (0,75)
Rn = kuat tarik atau geser desain

54
Ru = kuat tarik atau geser izin
Fn = tegangan tarik nominal
Ab = luas tubuh baut
 Jumlah Baut
Vu
n (3.78)
Rn
Sambungan las
Perencanaan sambungan las mengacu pada SNI 1729:2020 pasal J2.4
Ru  Rn
(3.79)
Rn  Fnw Awe
(3.80)
Rn  FnBM ABM (3.81)

55
Keterangan:
ø = faktor reduksi (0,75)
Fnw = tegangan nominal logam las
FnBM = tegangan nominal logam dasar
Awe = luas penampang logam las
ABM = luas penampang logam dasar

311
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, R. dan Easterling, W. S. (2007) “Determination of Composite Slab


Strength Using a New Elemental Test Method,” Journal of Structural
Engineering, 133(9), hal. 1268–1277. doi: 10.1061/(asce)0733-
9445(2007)133:9(1268).
Andarini, R. D. dan Moestopo, M. (2013) “Kajian Eksperimental Bresing Tahan
Tekuk pada Bangunan Tahan Gempa di Indonesia,” Jurnal Teknik Sipil,
20(3), hal. 207. doi: 10.5614/jts.2013.20.3.5.
Apriani, W. (2012) Analisis Buckling Restrained Braces System Sebagai
Retrofitting Pada Bangunan Beton Universitas Indonesia Analisis
Buckling Restrained Braces System Sebagai Retrofitting Pada Bangunan
Beton. Depok.
Badrauddin, I. S. dkk. (2013) “Bresing Anti Tekuk Pada Struktur Bangunan Baja
Akibat Beban Gempa Dengan Menggunakan Software Midas Fea,” Jurnal
Teknik Pomits, 1(1), hal. 1–6.
Bowles, J. E. (1996) Compressibility of Soil. 5th ed, Civil Engineering Materials.
5th ed. Singapore: McGraw H. doi: 10.1007/978-1-349-13729-9_26.
Bradford, M. A., Loh, H. Y. dan Uy, B. (2002) “Slenderness limits for filled
circular steel tubes,” Journal of Constructional Steel Research, 58, hal.
243–252. doi: 10.1016/S0143-974X(01)00043-8.
Bruneau, M., Uang, C.-M. dan Sabelli, R. . (2015) Ductile Design of Steel
Structures.
Clark, P. dkk. (1999) “Design procedures for buildings incorporating hysteretic
damping devices,” 68th Annual Convention SEAOC, hal. 355–371.
Tersedia pada: [Link]
INFORM/CONTROL/SEAOC-PAPER/[Link].
Craig, R. F. (1987) Craig’s Soil Mechanics. fourth edi. New York: Spon Press.
Denavit, M. D. dan Hajjar, J. F. (2012) “Nonlinear Seismic Analysis of Circular
Concrete-Filled Steel Tube Members and Frames,” Journal of Structural
Engineering, 138(9), hal. 1089–1098. doi: 10.1061/(asce)st.1943-

312
541x.0000544.
Dewobroto, W. dan Harapan, U. P. (2015) “Rekayasa Komputer dalam Analisis
dan Desain Struktur Baja Studi Kasus Direct Analysis Method ( AISC
2010 ) Bagian II : Contoh Aplikasi Praktis Rekayasa Komputer
dalam Analisis dan Desain Struktur Baja Studi Kasus Direct Analysis
Method ( AISC 2010 ) 1 Bag,” (September).
Hardiyatmo, H. C. (2002) Mekanika Tanah 1. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Hirakawa, K. dkk. (2014) “Authors : Performance-based Design of 300 m Vertical
City „ Abeno Harukas .‟”
Husain, S., Juswan dan Hamzah (2011) “ANALISA PERBANDINGAN UMUR
STRUKTUR OFFSHORE SISTEM EBF DAN SISTEM CBF TIPE
JACKET,” 5, hal. 978–979.
Kersting, R. A., Fahnestock, L. A. dan López, W. A. (2015) “Seismic Design of
Steel Buckling- Restrained Braced Frames A Guide for Practicing
Engineers About the Review Panel,” NEHRP Seismic Design Technical
Brief, (11).
Kurniawan, R., Nurtanto, D. dan Hayu, G. A. (2018) “Studi Perbandingan
Perilaku Struktur Gedung Hotel Dafam Lotus Jember dengan
Menggunakan Moment Resisting Frame dan Eccentrically Braced Frame
Short Link,” Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan, (April 2018), hal. 13–
18.
McCormac, J. C. dan Csernak, S. F. (2006) Structural Steel Design. 5th ed, Book.
New Jersey: Pearson.
Merritt, S., Uang, C. M. dan Benzoni, G. (2003) “Subassemblage testing of star
seismic buckling-restrained [Link] TR-2003/04,” (May).
Okazaki, T. dkk. (2006) “Experimental Performance of Link-to-Column
Connections in Eccentrically Braced Frames,” Journal of Structural
Engineering, 132. doi: 10.1061/(ASCE)0733-9445(2006)132:8(1201).
Paulino, M. R. (2010) “Preliminary Design of Tall Buildings,” Thesis of
Worchester Polytchnic Institute.
Purba, V. E. dan Sianturi, N. M. (2013) “Kajian pemilihan pondasi sumuran

313
sebagai alternatif perancangan pondasi,” Jurnal Rancang Sipil, 2(1), hal.
42–49.
Rahayu, R. A. (2017) MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG
GOLDEN TULIP ESSENSIAL HOTEL BOJONEGORO DENGAN
MENGGUNAKAN SISTEM STRUKTUR BUCKLING Restrained Braced
Frames. Surabaya.
Setiawan, A. (2008) Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD. Diedit
oleh Lemerda Simarmata. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Simbolon, R. H. T. (2018) “STUDI NUMERIK PERILAKU LINK GESER
PROFIL WF DENGAN PENGAKU DIAGONAL BADAN TERHADAP
RASIO KETEBALAN DAN LEBAR SAYAP PADA SISTEM
STRUKTUR RANGKA BAJA BERPENOPANG EKSENTRIK (EBF)
TIPE K AKIBAT PEMBEBANAN SIKLIK,” 7(2).
Sofyan, M., Rokhman, A. dan Irlan, A. O. (2019) “Analisis Perbandingan Metode
Desain Pelat Beton Konvensional Terhadap Slab Steel Deck Komposit,”
Forum Mekanika, 8(1), hal. 36–42. doi:
10.33322/forummekanika.v8i1.428.
Wesley, L. D. (2009) Fundamentals of Soil Mechanics for Sedimentary and
Residual Soils, Fundamentals of Soil Mechanics for Sedimentary and
Residual Soils. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc. doi:
10.1002/9780470549056.
Xie, Q. (2005) “State of the art of buckling-restrained braces in Asia,” Journal of
Constructional Steel Research, 61(6), hal. 727–748. doi:
10.1016/[Link].2004.11.005.
Yurisman, Y. dkk. (2010) “Kajian Numerik Terhadap Kinerja Link Geser dengan
Pengaku Diagonal pada Struktur Rangka Baja Berpenopang Eksentrik
(EBF),” Jurnal Teknik Sipil, 17(1), hal. 25. doi: 10.5614/jts.2010.17.1.3.
Ziemian, R. D. dan Wiley, J. (2010) Guide To Stability Design Criteria for Metal,
Sixth Edition.

314
LAMPIRAN

vii
vii

Anda mungkin juga menyukai