0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan19 halaman

Analisis Disfungsi Keluarga di Boyhood

Artikel ini menganalisis representasi disfungsi keluarga dalam film Boyhood dengan menggunakan metode semiotika Roland Barthes. Peneliti menganalisis 7 adegan yang menunjukkan disfungsi keluarga seperti orang tua yang otoriter, kekerasan ayah terhadap istri dan anak, serta bagaimana cinta dapat memperbaiki disfungsi tersebut. Hasilnya, representasi disfungsi keluarga dalam film Boyhood merepresentasikan kondisi keluarga yang sering terjadi di masyarak

Diunggah oleh

Mimi Kim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan19 halaman

Analisis Disfungsi Keluarga di Boyhood

Artikel ini menganalisis representasi disfungsi keluarga dalam film Boyhood dengan menggunakan metode semiotika Roland Barthes. Peneliti menganalisis 7 adegan yang menunjukkan disfungsi keluarga seperti orang tua yang otoriter, kekerasan ayah terhadap istri dan anak, serta bagaimana cinta dapat memperbaiki disfungsi tersebut. Hasilnya, representasi disfungsi keluarga dalam film Boyhood merepresentasikan kondisi keluarga yang sering terjadi di masyarak

Diunggah oleh

Mimi Kim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Journal of Discourse and Media Research

Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78


E-ISSN: 2830-313X

Analisis Semiotika Tentang Representasi Disfungsi Keluarga


Dalam Film Boyhood

Ludy Putra Anwar1 & Happy Wulandari2


Universitas Islam Riau1&2
Email Korespondensi: happywulandari@[Link]

Diterima: 12-03-2022 Disetujui: 12-03-2022 Diterbitkan: 12-03-2022

Abstrak
Konstruksi realitas yang ditampilkan didalam tentunya sedikit banyak
berakar dari realita yang benar terjadi di masyarakat. Penelitian bertujuan
untuk menganalisis representasi disfungsi keluarga dalam film Boyhood.
Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan semiotika
Roland Barthes yaitu meneliti tentang makna denotasi, konotasi dan mitos.
Peneliti menganalisis 7 scene yang mengandung adegan tentang disfungsi
keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi disfungsi
keluarga yang terdapat dalam film Boyhood merupakan gambaran beberapa
keluarga yang sering terjadi dalam realita kehidupan saat ini yang
menunjukkan bagaimana baik orang tua maupun anak tidak menjalani
perannya dengan baik. Orang tua otoriter membuat anak menjadi sangat
tertutup. Kekerasan yang dilakukan oleh seorang ayah terhadap istri ataupun
anaknya merupakan tindakan yang melanggar norma. Terlepas dari semua itu,
cinta dan kasih sayang didalam sebuah keluarga merupakan jembatan untuk
memperbaiki disfungsi tersebut.
Kata Kunci: Film, Semiotika, Disfungsi Keluarga

Abstract
The construction of reality that is shown in the course is more or less rooted in
the reality that actually happens in society. This study aims to analyze the
representation of family dysfunction in the Boyhood film. The research method
used is by using Roland Barthes semiotics, namely researching the meaning of
denotation, connotation and myth. Researchers analyzed 7 scenes containing
scenes about family dysfunction. The results show that the representation of
family dysfunction in the Boyhood film is a picture of several families that often
occur in the reality of today's life which shows how both parents and children do
not play their roles well. Authoritarian parents make children very closed.
Violence committed by a father against his wife or child is an act that violates

60
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

the norm. Apart from all that, love and affection in a family is a bridge to repair
this dysfunction.
Keywords: Film, Semiotic, Dysfunctional Family

PENDAHULUAN

Keluarga adalah tempat terpenting di dalam kehidupan manusia,


karena pendidikan yang pertama kali didapatkan oleh seseorang yaitu di
dalam keluarga. Di dalam keluarga seseorang paling banyak bersosialisasi
serta mengenal kehidupan. Di dalam kehidupan masyarakat di manapun juga,
keluarga merupakan unit terkenal yang peranannya sangat besar. Peranan
yang sangat besar itu disebabkan, oleh karena keluarga mempunyai fungsi
yang sangat penting di dalam kelangsungan kehidupan bermasyarakat.
(Soekanto, 2002).
Menurut (Ritzer, 2009) intisari pengertian keluarga, yaitu kelompok
sosial kecil yang umumnya terdiri atas ayah, ibu dan anak. Hubungan sosial di
antara anggota keluarga relatif tetap dan didasarkan atas ikatan darah,
perkawinan dan/atau adopsi. Hubungan antar anggota keluarga dijiwai oleh
suasana afeksi dan rasa tanggung jawab. Fungsi keluarga adalah memelihara,
merawat dan melindungi anak dalam rangka sosialisasinya agar mereka
mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial.
Tidak semudah menjadikan suasana keluarga yang harmonis begitu
pula mempertahankan keutuhan keluarganya. Menurut (Goode, 2007: 184)
keluarga disharmonis adalah keluarga kondisi retaknya struktur peran sosial
dalam unit keluarga yang disebabkan suatu atau beberapa anggota keluarga
gagal dalam menjalankan kewajiban peran mereka sebagaimana mestinya.
Konsep keluarga disharmonis adalah suatu kondisi keluarga yang didalamnya
tidak ada rasa tentram atau selalu ada konflik antar anggota dalam keluarga.
Nilai dalam keluarga menarik untuk dijadikan sebuah riset penelitian
karena tidak semua keluarga bisa menjadikan keluarganya harmonis dengan
segala keterbatasan sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Kenapa peneliti memilih
film sebagai obyek penelitian ini, dikarenakan film sering kali diangkat dari
refleksi dan realitas kehidupan nyata dan selain itu sebagai representasi dari
realitas film tersebut adalah membentuk dan menghadirkan kembali realitas
berdasarkan kode-kode, dan ideologi dari kebudayaan suatu kelompok
masyarakat.
Dalam konteks komunikasi massa, film merupakan salah satu media
yang penyaluran pesannya ditransfer dari unsur visual dan audio, unsur
tersebut yang menjadi daya pikat untuk penonton untuk menonton film
tersebut.

61
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

Film adalah salah satu media komunikasi massa yang sudah sangat
dikenal. Dengan caranya sendiri, film memiliki kemampuan untuk mengantar
pesan secara unik; dapat juga dipakai sebagai sarana pameran bagi media lain
dan juga sebagai sumber budaya yang berkaitan erat dengan buku, film kartun,
bintang televisi, film seri, serta lagu (McQuail, 2011).
Dalam pembuatan sebuah film adalah tidak mudah dan tidak sesingkat
ketika kita menontonnya, membutuhkan waktu dan proses yang sangat
panjang karena diperlukan proses pemikiran dan proses tekniknya. Proses
pemikiran berupa pencarian ide, gagasan, dan cerita yang nantinya akan
digarap. Sedangkan proses teknik, berupa keterampilan artistik untuk
mewujudkan ide dan gagasan menjadi sebuah film yang siap ditonton.
Menurut (Sobur, 2013) media memang merupakan pembentuk realitas
sosial, namun realitas yang disampaikan media adalah realitas yang sudah
diseleksi, yaitu realitas tangan kedua. Dengan demikian media massa
mempengaruhi pembentukan citra mengenai lingkungan sosial yang tidak
seimbang, bias dan tidak cermat. Dalam hal ini film dianggap sebagai medium
yang sempurna untuk mengekspresikan realitas kehidupan yang bebas dari
konflik-konflik ideologis.
Menurut (Sobur, 2013) bahwa kekuatan dan kemampuan film
menjangkau banyak segmen sosial, lantas membuat para ahli berpendapat
bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayaknya.
Namun realitas yang ada tidaklah berjalan seperti diatas, terkadang
penikmat film lebih cenderung menonton tanpa mengerti inti pesan yang coba
disampaikan. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh perhatian kita yang teralihkan
akan kecanggihan teknologi yang digunakan dalam film, kemegahan sebuah
negara yang menjadi latar tempat adegan dari sebuah film, dan lain-lain.
Padahal dibalik semuanya itu, dalam penentuan pemeran, penentuan
lokasi syuting, penentuan backsound, penentuan soundtrack dan lain-lain
tidaklah dari keputusan yang asal-asalan. Melainkan dari pertimbangan yang
matang dan memiliki pesan tertentu. Sehingga kemudian menjadi tantangan
tersendiri lagi bagi penikmat film agar bisa memilah dengan baik film mana
yang baik ditonton atau film mana yang boleh ditonton.
Melalui film, penonton diajak untuk menerima data, fakta, pandangan
dan pikiran dalam kemasan realitas sebuah film. Namun realita yang
direpresentasikan dalam film merupakan realita yang telah dikonstruksi
sebelumnya menggunakan dengan gaya tertentu. Konstruksi realita yang
ditampilkan dalam tentunya sedikit banyak berakar dari realita yang benar
terjadi di masyarakat.
Dari uraian diatas, hal yang menjadi ketertarikan bagi peneliti dalam
Film Boyhood yaitu potret disfungsi keluarga merupakan masalah sosial yang
sering terjadi pada kehidupan masyarakat, dan diambil pelajaran supaya
masalah seperti ini tidak banyak terjadi lagi pada kehidupan sehari-hari.

62
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

Film karya Sutradara Richard Linklater yang berjudul Boyhood hadir


dengan membawa satu sejarah dan rekor baru dalam dunia perfilman.
Boyhood bisa dikatakan sebagai karya masterpiece miliknya. Rating Boyhood
di Internet Movie Database (IMDb) adalah 8,0. Rating ini sangat tinggi untuk
satu film drama tentang keluarga.
Film drama keluarga ini, sepintas tak ada yang berbeda. Hampir sama
dengan film-film drama keluarga keluaran hollywod. Tapi yang menjadikan
film ini unik adalah film Boyhood telah diproduksi selama 12 tahun dengan
pemain yang sama. Belum pernah ada satu sutradara di dunia seperti Richard
Linklater yang menggarap sebuah film selama itu. Tapi dia melakukannya
dengan sabar dan menakjubkan.
Penghargaan yang diterima sudah sangat banyak. Sebut saja yang ia
jadi pemenang di Austin Film Critics Association, Berlin International Film
Festival, Chicago Film Critics Association Awards, Cannes Film Festival dan
banyak lagi. Film Boyhood juga dinobatkan sebagai Film Terbaik Penghargaan
Golden Globe ke-72 yang digelar 11 Januari 2015 waktu setempat di Beverly
Hilton di Beverly Hills, California. Boyhood berhasil menyingkirkan empat film
lainnya yang pulang dengan tangan hampa, yaitu Foxcathcer, The Imitation
Game, Selma dan The Theory of Everything. Film ini mendapatkan dua
penghargaan lainnya, yaitu piala untuk kategori Pemeran Pendukung Wanita
Terbaik oleh aktris Patricia Arquette dan Sutradara Terbaik oleh Richard
Linklater. Sementara itu di Piala Oscar 2015 atau Academy Awards ke-87 film
Boyhood mendapatkan berbagai nominasi. Dan, Patricia Arquette juga
memenangkan kategori Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di ajang
pemilihan ini.
Richard Linklater dalam Boyhood mampu menyajikan momen-momen
tak terlupakan dalam setiap tahunnya. Kita bisa melihat bagaimana Mason
kecil yang polos dan lucu berubah menjadi Mason dewasa yang acuh dan
brewokan. Bagaimana seorang ibu yang membesarkan harus ditinggal pergi
oleh anak-anaknya yang mulai beranjak dewasa. Kepedihan dan kebimbangan
hingga ketakutan masa tua tergambar jelas dalam film berdurasi dua jam lebih
ini.
Namun sebuah film yang bagus dan berkualitas tidak hanya dilihat dari
alur ceritanya saja melainkan film tersebut harus memiliki pesan yang bisa
dijadikan bahan acuan ataupun pembelajaran bagi penontonnya. Baik itu itu
melalui tanda-tanda, simbol, ataupun ikon-ikon tertentu yang terdapat di film.
Salah satu potret disfungsi keluarga yang terjadi saat ini di dunia adalah
kasus perceraian, contohnya di Negara Amerika Serikat Ternyata sekitar
setengah dari semua pernikahan di Amerika berakhir dengan perceraian.
Fakta yang mengejutkan sekaligus menyedihkan. Dan fakta tentang perceraian
di AS tidak sampai disitu.
Selain kasus perceraiaan saat ini juga sering maraknya Kasus
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Kasus KDRT ini juga terjadi di

63
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

Negara kita Indonesia. Di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun


kasus KDRT ini. Peningkatan itu disebabkan oleh berbagai faktor.
Berdasarkan data Komnas Perempuan, pada tahun 2012, sedikitnya
ada 8.315 kasus dalam setahun. Jumlah itu mengalami peningkatan di tahun
2013 yang mencapai 11.719 kasus atau naik 3.404 kasus dari tahun
sebelumnya. Meningkatnya kasus itu disebabkan karena banyak faktor. Salah
satunya dari dalam keluarga itu sendiri, seperti masalah-masalah pribadi, dan
antara anggota keluarga. Faktor lainnya adalah, masih adanya rasa memiliki
sepenuhnya yang tertanam pada jiwa kaum laki-laki. Rasa memiliki
sepenuhnya itu memicu kaum laki-laki untuk meminta istrinya melakukan hal
yang sesuai dengan kemauan mereka.
Dan ternyata isu perceraian juga menjadi masalah di Kota Pekanbaru,
tingkat perceraian di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, yang terus meningkat
dari tahun ke tahun. Tahun 2015 hingga memasuki kuartal dua saja sudah
mencapai 658 kasus perceraian. Dikatakan, pada 2014 lalu tercatat ada 1.245
kasus gugat cerai yang terdata di Kantor Kementian Agama Pekanbaru. Jumlah
itu naik 200 kasus dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 930 kasus.
Pasangan yang terbanyak mengajukan perceraian berada pada usia produktif,
sedangkan untuk usia di atas 50 tahun ada beberapa pasangan. "Angka
perceraian di Kota Pekanbaru terus meningkat tiap tahun, tahun 2015 saja
sudah naik 50 persen pada tahun ini karena dalam lima bulan terakhir kasus
yang diterima ada sekitar 658 kasus gugatan cerai," kata Kepala Seksi
Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementrian Agama Kota Pekanbaru,
Nurhayati, di Pekanbaru.
Penyebab disidangkanya kasus perceraian di Pengadilan Agama
Pekanbaru sebenarnya ada beberapa faktor. Seperti masalah ekonomi,
perselingkuhan sampai masalah ketidak adanya kecocokan antara pasangan
suami-isteri. Data yang ada di Pengadilan Agama juga sangat mencengangkan,
sebab gugatan cerai kebanyakan diajukan pihak perempuan, yakni mencapai
lebih dari 50 persen. Sungguh Suatu situasi yang sangat mencengangkan.
Peneliti berkeinginan meneliti lebih lanjut mengenai disfungsi keluarga
ini yang sering terjadi di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di belahan
dunia manapun. Penelitian ini di teliti melalui tanda, simbol atau ikon-ikon
tertentu yang ditampilkan dalam film Boyhood dalam bentuk proposal
penelitian dengan judul : Analisis Semiotika Tentang Representasi Disfungsi
Keluarga Dalam Film Boyhood.

64
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

KERANGKA TEORI

Representasi
Konsep ‘representasi’ dalam studi media massa, termasuk film, bisa
dilihat dari beberapa aspek bergantung sifat kajiannya. Studi media yang
melihat bagaimana wacana berkembang di dalamnya biasanya dapat
ditemukan dalam studi wacana kritis pemberitaan media memahami
‘representasi’ sebagai konsep yang “menunjuk pada bagaimana seseorang,
satu kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam
pemberitaan” (Eriyanto, 2001).
Menurut Croteau dan Hoynes (Eriyanto 2001) Representasi
merupakan hasil dari suatu proses penyeleksian yang menggaris bawahi hal-
hal tertentu dan hal lain diabaikan. Dalam representasi media, tanda yang
akan digunakan untuk melakukan representasi tentang sesuuatu mengalami
proses seleksi. Makna yang sesuai dengan kepentingan dan pencapaian tujuan
komunikasi ideologisnya itu yang digunakan sementara tanda-tanda lain
diabaikan.
Setidaknya terdapat dua hal penting berkaitan dengan representasi;
pertama, bagaimana seseorang, kelompok, atau gagasan tersebut ditampilkan
bila dikaitkan dengan realias yang ada dalam arti apakah ditampilkan sesuai
dengan fakta yang ada atau cenderung diburukkan sehingga menimbulkan
kesan meminggirkan atau hanya menampilkan sisi buruk seseorang atau
kelompok tertentu dalam pemberitaan. Kedua, bagaimana eksekusi penyajian
objek tersebut dalam media gagasan tersebut di ungkapkan oleh (Eriyanto,
2001)
Sementara itu, menurut John Fiske dalam (Sobur, 2004) representasi
merupakan sejumlah tindakan yang berhubungan dengan teknik kamera,
pencahayaan, proses editing, musik dan suara tertentu yang mengolah simbol-
simbol dan kode-kode konvensional ke dalam representasi dari realitas dan
gagasan yang akan dinyatakannya. Seseorang dikatakan berasal dari
kebudayaan yang sama jika masyarakat yang ada disitu membagi pengalaman
yang sama.

Semiotika Roland Barthes


Roland Barthes adalah seorang filsuf, kritikus sastra, dan semiolog
Prancis lahir di kota Cherbourg pada 12 November 1915 dan meninggal pada
25 Maret 1980, Barthes berasal dari golongan keluarga menengah Protestan
yang ditinggal mati ayahnya saat dia berusia satu tahun. Ayahnya seorang
perwira angkatan laut terbunuh dalam tugas di North Sea. Sejak itu Ibunya
Enriette Barthes, bibinya, dan neneknya mengajak pindah ke kota Bayonne,
sebuah kota kecil di dekat Pantai Atlantik, sebelah barat daya Perancis. Di sana

65
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

ia pertama kali mendapat pelajaran soal kebudayaan. Barthes kecil juga giat
bermain musik, terutama piano dari bibinya.
Setelah dewasa Barthes belajar di Universitas Paris, dan memperoleh
gelar sarjana di bidang sastra klasik pada tahun 1939 dan kemudian
memperoleh gelar sarjana dalam bidang tata bahasa serta filologi pada tahun
1943.
Gaya sastrawi Barthes yang selalu merangsang pemikiran, meskipun
kadangkala bersifat eksentrik dan mengaburkan, secara luas ditiru dan
diparodikan. Kancah penelitian semiotika tak bisa begitu saja melepaskan
nama Roland Barthes ahli semiotika komunikasi yang mengembangkan kajian
yang sebelumnya punya warna kental dalam strukturalisme semiotika teks
semiotika strukturalis Saussures lebih menekankan pada linguistik.
Di sinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes
tetap mempergunakan istilah signifier-signified yang diusung Saussure.
Roland Barthes dalam teorinya Barthes mengembangkan semiotika menjadi
dua tingkatan pertandaan, yaitu tingkat denotasi dan konotasi. Kata
melibatkan simbol-simbol, historis dan hal-hal yang berhubungan dengan
emosional.
Menurut Barthes pada tingkat denotasi, bahasa menghadirkan
konvensi atau kode-kode sosial yang bersifat eksplisit, yakni kode-kode yang
makna tandanya segera naik ke permukaan berdasarkan relasi penanda dan
petandanya. Sebaliknya, pada tingkat konotasi, bahasa menghadirkan kode-
kode yang makna tandanya bersifat implisit, yaitu sistem kode yang tandanya
bermuatan makna-makna tersembunyi. Dan apa yang tersembunyi ini adalah
makna yang menurut Barthes merupakan kawasan dari ideologi atau mitologi.
(Sobur, 2013)
Di dalam semiotika Barthes dan para pengikutnya, menyebut denotasi
merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi
merupakan tingkat kedua. Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan
operasi ideologi, yang disebutnya sebagai mitos dan berfungsi untuk
mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang
berlaku dalam suatu periode tertentu.
Denotasi menunjukkan hubungan yang digunakan dalam tingkat
pertama pada sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting
dalam suatu ujaran. Makna denotasi bersifat langsung, yaitu makna khusus
yang terdapat dalam sebuah tanda dan pada intinya dapat disebut sebagai
gambaran sebuah pertanda.
Konotasi adalah istilah yang digunakan barthes untuk menunjukkan
signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika
tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari
kebudayaanya. Konotasi mempunyai makna yang subjektif atau paling tidak
intersubjektif sehingga kehadirannya tidak disadari.

66
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

Dalam semiotik, mengenal istilah tanda denotasi dan konotasi yang


dicetuskan oleh Roland Barthes. Roland Barthes dikenal sebagai salah seorang
pemikir strukturalis yang getol mempraktikan model linguistik dan semiologi
Saussurean. Ia juga intelektual dan kritikus sastra Prancis yang ternama
(Sobur, 2004)
Dalam semiotik, penarikan kesimpulan tidak selalu sama dengan apa
yang akan dibahas, karena dalam semiotika Roland Barthes mengenal makna
denotatif dan makna konotatif.
“Dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna
tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang
melandasi keberadaannya. Sesungguhnya, inilah sumbangan Barthes yang
sangat berarti bagi penyempurnaan semiologi Saussure, yang berhenti pada
penandaan dalam tataran denotatif" (Sobur, 2004).
Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang
tanda ialah peran pembaca (the reader). Konotasi walaupun merupakan sifat
asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes
secara panjang lebar mengulas apa yang sering disebut sebagai sistem
penandaan tataran ke-dua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada
sebelumnya. Sastra merupakan contoh paling jelas sistem pemaknaan tataran
kedua yang dibangun di atas bahasa sebagai sistem yang pertama. Sistem
kedua ini oleh barthes disebut konotatif, yang didalam mythologies-nya secara
tegas ia bedakan dari denotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama.
(Sobur, 2004)
Didalam semiologi Roland Barthes dan para pengikutnya, denotasi
merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi
merupakan tingkat kedua (Sobur, 2004)
Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi,
yang disebutnya sebagai “mitos”, dan berfungsi untuk mengungkapkan dan
memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu
periode tertentu. (Sobur, 2004)
Didalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda dan
tanda, namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu
rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos
adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran kedua. Di dalam mitos pula
sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda. (Sobur, 2004)

Film Sebagai Gambaran Realitas Sosial


Film merupakan transformasi dari kehidupan manusia di mana nilai
yang ada di dalam masyarakat sering sekali dijadikan bahan utama pembuatan
film. Seiring bertambah majunya seni pembuatan film dan lahirnya seniman
film yang makin handal, banyak film kini telah menjadi suatu narasi dan

67
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

kekuatan besar dalam membentuk klise massal. Hal ini disebabkan pula
adanya unsur idiologi dari pembuat film diantaranya unsur budaya, sosial,
psikologis, penyampaian bahasa film, dan unsur yang menarik ataupun
merangsang imajinasi khalayak.
Isi dalam sebuah media dilihat sebagai penggambaran sombolik
(symbol representation) dari suatu budaya, sehingga apa yang disampaikan
dalam media massa mencerninkan opini publik, dalam hal ini ideologi
memberikan persfektif untuk memandang realitas sosial. Media juga
mengekspresikan nilai-nilai ketetapan normatif yang ada dalam masyarakat.
Menurut (Sobur, 2004) media memang merupakan pembentuk
realitas sosial, namun realitas yang disampaikan media adalah realitas yang
sudah diseleksi, yaitu realitas tangan kedua. Dengan demikian media massa
mempengaruhi pembentukan citra mengenai lingkungan sosial yang tidak
seimbang, bias dan tidak cermat. Dalam hal ini film dianggap sebagai medium
yang sempurna untuk mengekspresikan realitas kehidupan yang bebas dari
konflik-konflik ideologis.

Disfungsi Keluarga
Keluarga yang disfungsi adalah keluarga yang gagal dalam menerapkan
fungsi yang diberikan oleh Allah SWT bagi keluarga. Hubungan antara anggota
keluarga pun cenderung tegang dan tidak normal. Keluarga tidak lagi bisa
menjadi tempat yang mengayomi, merawat dan memberi teladan bagi
anggotanya, tapi malah menjadi horor dan contoh buruk bagi anak. Orang tua
mengkonsumsi miras dan pecandu narkoba. Anak-anak jadi korban
ketidakmampuan hadapi stress. Sebagaimana banyak kasus orang tua yang
menelantarkan anaknya.
Disfungsi keluarga semakin banyak terjadi seiring modernitas dan
kehidupan berbasis demokrasi. Nilai HAM membuat keluarga individualis, tak
mau mendengar nasihat lingkungan dan sebagainya. Negara juga sangat lemah
memberantas hal-hal yang mempengaruhi lahirnya disfungsi keluarga. Misal,
negara lemah dan membiarkan tontonan porno, kekerasan, juga produksi
miras dan peredaran narkoba dan lain-lain.
Negara juga sangat lemah memberantas hal-hal yang mempengaruhi
lahirnya disfungsi keluarga. Misal, negara lemah dan membiarkan tontonan
porno,kekerasan, juga produksi miras dan peredaran narkoba. Ini bukti sistem
pendidikan nasional menghasilkan orang yang cakap ilmu, tapi bobrok
perilaku keahlian. Dari kasus ini semestinya ada evaluasi mendasar terhadap
peran negara dalam mewujudkan keluarga yang mampu melakukan fungsinya
secara memadai.
Menurut Hawari (2009: 18-21) menyebutkan beberapa contoh
disfungsi keluarga yang menggambarkan terganggunya hubungan antar

68
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

anggota keluarga (ayah-ibu-anak) dengan resiko gangguan kepribadian dan


penyimpangan perilaku anak, antara lain sebagai berikut:
(1) Kematian orang tua (broken home by death): kematian ibu pada
anak laki-laki dan anak perempuan resiko sama 17%; kematian ayah pada
anak laki-laki resiko 35%, pada anak perempuan resiko 14%; (2) Kedua orang
tua bercerai atau berpisah (broken home by divorce or separation): resiko
pada anak laki-laki 50%, pada anak perempuan 20%; (3) Hubungan kedua
orang tua tidak harmonis (poor merriage): resiko padan anak laki-laki 40%,
pada anak perempuan 15%; (4) Hubungan antara orang tua dan anak tidak
harmonis (poor parent-child relationship): resiko pada anak laki-laki 25%,
pada anak perempuan 10%; (5) Suasana rumah tangga yang tegang (high
tension): resiko pada anak laki-laki 50%, pada anak perempuan 20%; (6)
Suasana rumah tangga tanpa kehangatan (low warm): resiko pada anak laki-
laki 40%, pada anak perempuan 15%; (7) Orang tua sibuk dan jarang di rumah
(absence), bila ayah jarang di rumah pada anak laki-laki resiko 35%, pada anak
perempuan 15%; bila ibu jarang di rumah resiko anak laki-laki 24%, pada anak
perempuan 22%; (8) Orang tua mempunyai kelainan kepribadian (personality
disorder): resiko pada anak laki-laki 80%, pada anak perempuan 40%.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan metode analisis


semiotika Roland Barthes. Semiotika adalah suatu bidang studi yang
mempelajari makna atau arti dari suatu tanda atau lambang (Sobur, 2013).
Metode analisis semiotika digunakan sebagai pendekatan untuk menganalisis
media dengan asumsi bahwa media itu sendiri di komunikasikan melalui
seperangkat tanda. Teks media yang tersusun atas seperangkat tanda tersebut
tidak pernah membawa makna tunggal (Sobur, 2004).
Penelitian yang bersifat deskriptif adalah upaya untuk mencari
pemecahan masalah dengan menggambarkan peristiwa-peristiwa
berdasarkan fakta atau bukti yang ada. Untuk mendapatkan kesimpulan yang
objektif, peneliti kualitatif mencoba mendalami dan menerebos gejalanya
dengan menginterpretasikan masalah atau mengumpulkan kombinasi dari
berbagai permasalahan sebagaimana disajikan situasinya (Moleong, 2012).
Subjek yang peneliti kaji adalah film Boyhood, film drama remaja
Amerika 2014 yang ditulis dan disutradarai oleh Richard Linklater. Sedangkan
objek yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah Analisis semiotika tentang
disfungsi keluarga yang direpresentasikan dalam film Boyhood tersebut.

69
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

PEMBAHASAN

Film merupakan alat komunikasi massa. Film merupakan alat


komunikasi yang tidak terbatas ruang lingkupnya di mana di dalamnya
menjadi ruang ekspresi bebas dalam sebuah proses pembelajaran massa.
Menurut (Sobur, 2013) kekuatan dan kemampuan film menjangkau banyak
segmen sosial, yang membuat para ahli film memiliki potensi untuk
mempengaruhi membentuk suatu pandangan dimasyarakat dengan muatan
pesan di dalamnya. Hal ini didasarkan atas argument bahwa film adalah potret
dari realitas di masyarakat.
Dalam memaknai sebuah pesan terkadang antara satu orang dengan
orang lainnya tidak sama, terkadang pesan didalam sebuah film dibuat
sedemikian unik tergantung kreatifitas sang pembuat film tersebut, yang
justru berupa representasi dari sebuah fenomena atau kejadian yang harus
dimaknai oleh penonton. Dalam kaitannya dengan semiotika, film dapat
dimaknai dengan menggunakan teori dan metode semiotika. Menganalisis film
dengan menggunakan semiotika, banyak terdapat pesan-pesan yang berupa
tanda terdapat dalam film tersebut. Misalnya dalam film Boyhood dapat dikaji
menggunakan pedekatan semiotika Roland Barthes.
Untuk mengkaji representasi disfungsi keluarga dalam film Boyhood
tersebut sesuai dengan tujuan penelitian dari penyajian data pada bab
sebelumnya, tujuan dari peneliti adalah untuk menganalisis tentang
representasi disfungsi keluarga pada film Boyhood untuk mengetahui
penanda dan petanda dalam film Boyhood, disamping itu tujuan penelitian ini
untuk mengetahui makna denotasi dan konotasi, dan yang terakhir untuk
mengetahui mitos yang terdapat dalam film tersebut. Kemudian berdasarkan
data scene dan dialog dari film Boyhood, kemudian peneliti menganalisis data
tersebut dengan menggunakan semiotika Roland Barthes. Berikut adalah
beberapa hal yang peneliti temukan sesuai dengan tujuan yang peneliti
lakukan, diantaranya yaitu:

Penanda dan Petanda Film Boyhood


Penanda merupakan tanda yang dilihat dan didengar langsung oleh
panca indra dalam film Boyhood. Penanda tersebut seperti gambar seorang
ibu dan anaknya, komunikasi antara ayah dengan anaknya. Didalam film
Boyhood ini menggunakan pemeran berbagai bentuk peran dalam sebuah
keluarga, seperti ayah, ibu anak dan juga pemeran pembantu seperti teman,
guru, nenek dan lain-lain. Para pemeran ini dipilih supaya dapat memberikan
audiens tontonan realitas kehidupan nyata dalam kehidupan sehari-hari
dalam sebuah keluarga.
Sedangkan petanda merupakan konsep abstrak dibalik penanda
sehingga memunculkan makna dari tanda itu sendiri. Dalam film Boyhood

70
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

terdapat petanda seperti seorang ayah yang melakukan kekerasan terhadapa


istrinya. Petanda tersebut dimaksudkan dapat menjadi pembelajaran untuk
masyarakat agar tidak melakukan tindakan kekerasan didalam rumah tangga
karna itu merupakan perbuatan yang sangat tidak terpuji.

Denotasi dan Konotasi Film Boyhood


Denotasi merupakan makna sebenarnya atau makna yang paling nyata
dari tanda-tanda, contohnya adalah berupa hasil dari visual gambar ataupun
dialog pada sebuh scene film. Denotasi merupakan signifikasi tahap pertama.
Sedangkan konotasi adalah signifikasi tahap kedua, yang menggambarkan
interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan kenyataan atau emosi dari
pembaca. Konotasi bisa juga disebut makna yang tidak sebenarnya ataupun
makna yang tersembunyi didalam sebuah tanda. Denotasi adalah apa yang
digambarkan tanda terhadap subjek, sedang konotasi adalah bagaimana
menggambarkannya.
Adapun analisis makna dari denotasi dan konotasi dalam film Boyhood
adalah sebagai berikut:
Scene 1 digambarkan bahwa makna denotasi adalah Olivia sedang
bertengkar dengan pacarnya yang saling menyalahkan satu sama lain. Ted
menyalahkan anak Olivia yang menjadi sebab tidak bisanya Olivia pergi
menemaninya pergi keluar bersama temannya. Olivia tidak bisa pergi karna
harus menjaga anaknya dirumah. Sedangkan makna konotasinya adalah
seorang pria harus bertanggung jawab terhadap pasangannya baik itu istri
ataupun pacarnya. Karna itu sudah kodratnya bahwa pria harus menjaga
pasangannya, bukannya menyalahkan pasangan untuk mendapatkan sebuah
pembenaran terhadap kesalahannya. Jika pria tersebut memang salah, pria
tersebut harus berbesar hati mengakui kesalahannya.
Scene 2 digambarkan makna denotasinya adalah Samantha yang
merupakan anak dari Olivia hanya mengingat kejadian buruk ketika ibunya
bertengkar dengan ayahnya saat ia berumur 6 tahun, ayahnya yang mencoba
mengingatkan kembali tentang wisata berkemah mereka lakukan dibantah
dengan Samantha bahwa dia tidak mengingatnya lagi. Sedangkan makna
konotasinya adalah kejadian sekecil apapun pasti diinggat oleh anak kecil
kedalam memori ingatanya, apalagi kejadian yang buruk yang dialaminya.
Oleh karna itu orang tua yang baik harus memberikan contoh yang baik pula
kepada anaknya. Sehingga anak tidak memiliki ingatan yang buruk yang bisa
terbawa hingga dewasa nanti.
Scene 3 digambarkan makna denotasi dalam scene ini adalah Mason
dan teman nya, Tommy melihat sebuah majalah porno yang ditemukan oleh
Tommy dijalan, mereka terlihat tertarik dengan melihat isi majalah tersebut.
Sedangkan makna konotasinya adalah Seorang bocah umur 6 tahun sudah bisa
mengetahui apa yang seharusnya belum mereka ketahui. Seperti melihat

71
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

konten porno yang saat ini dapat mudah diakses dimedia manapun, baik itu
berupa majalah ataupun diinternet.
Scene 4 digambarkan makna denotasi dalam scene ini adalah Bill ayah
tiri Mason pergi berjalan menuju sebuah toko untuk membeli minuman keras,
minuman tersebut untuk persediaan tamu minggu ini. Tapi Randy, anaknya
menyanggah bahwa mereka tidak pernah kedatangan tamu di akhir pekan.
Sedangkan makna konotasinya adalah minuman keras ataupun miras
merupakan minuman yang berbahaya, minuman tersebut tidak baik untuk
dikonsumsi secara terus menerus apalagi oleh seorang kepala rumah tangga
yang menjadi contoh dalam keluarga.
Scene 5 digambarkan makna denotasi dalam scene ini adalah Olivia
yang merupakan ibunya Mason terbaring dilantai garasi rumah sambil
menangis tersedu-sedu, disaat bersamaan Mason dan Randy datang setelah
pulang bermain dan menanyakan kenapa ibunya sampai bisa terbaring
dilantai dan menangis. Sedangkan makna konotasinya adalah seorang wanita
sedang terbaring dilantai sambil menangis karna mengalami kekerasan dalam
rumah tangga yang dilakukan oleh suaminya sendiri. Perilaku tersebut tidak
patut dicontoh, apalagi kejadian tersebut disaksikan oleh anaknya.
Scene 6 digambarkan makna denotasi dalam scene ini adalah Bill
marah saat mereka makan malam, dia menumpahkan kekesalannya dengan
melemparkan gelas kepada Mason yang dianggapnya tidak menyukai dirinya.
Sedangkan makna konotasinya adalah Seorang pria melemparkan gelas
kepada anak tirinya karena menurutnya anak tersebut tidak menghargai dia
saaat berbicara, padahal pria tersebut yang tiba tiba datang dan marah saat
semua keluarganya berkumpul bersama untuk makan malam.
Scene 7 makna denotasinya adalah Olivia yang sedang berbicara
dengan Mason saat sarapan pagi, mereka berdua membicarakan mengenai
dirinya yang telah menyingkirkan beberapa suami yang telah menikah
dengannya dahulu. Sedangkan makna konotasinya adalah Olivia merupakan
seorang wanita yang bercerai berulang kali dengan beberapa suaminya, dia
termasuk wanita yang kuat dan mandiri. Walaupun berulang kali bercerai dia
tetap bisa bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya dan juga menghidupi
kedua anaknya sampai mereka kuliah.

Mitos dalam Film Boyhood


Mitos adalah suatu bentuk pesan atau tuturan yang harus diyakini
kebenarannya. Mitos bukan konsep atau ide tetapi merupakan suatu cara
pemberian arti. Mitos bermain pada wilayah pertandaan tingkat ke-dua atau
pada tingkat konotasi bahasa. Konotasi bagi Barthes justru mendenotasikan
sesuatu hal yang ia nyatakan sebagai mitos, dan mitos ini mempunyai konotasi
terhadap ideologi tertentu.

72
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

Adapun analisis makna dari mitos dalam film Boyhood adalah sebagai
berikut:
Mitos yang terdapat dalam scene 1 ini adalah semua manusia harus
memiliki sikap bertanggung jawab, baik itu pria ataupun wanita. Pria wajib
memiliki tanggung jawab dalam hubungan dengan pasangannya, karna pria
adalah kepala keluarga yang akan dijadikan contoh oleh anak-anaknya nanti.
Selain itu pria tidak boleh menumpahkan kesalahannya kepada orang lain,
harus berbesar hati jika salah dan mengakuinya. Dan juga di dalam scene ini
terdapat contoh sikap yang baik dari seorang ibu yang mau bertanggung jawab
terhadap anaknya, dia lebih mementingkan menjaga anaknya dari pada keluar
malam dengan teman teman pacarnya.
Mitos yang terdapat dalam scene 2 ini adalah sebagai orang tua yang
baik harus memberikan contoh yang patut ditiru oleh anak anaknya dengan
berbuat baik. Jika kedua orang tua sering bertengkar saat dihadapan anaknya,
maka anaknya tersebut akan menyimpan memori atau kenangan buruk yang
bisa menjadi trauma dimasa yang akan datang. Trauma tersebut bisa
membuat perilaku seorang anak menjadi menyimpang, oleh karna itu sudah
seharusnya kedua orang tua wajib memberikan contoh yang baik kepada
anaknya.
Mitos yang terdapat dalam scene 3 ini adalah hal hal yang berbau
pornografi tidak baik untuk ditonton ataupun dilihat, terlebih oleh anak kecil
dibawah umur. Perkembangan jaman yang tidak dapat dibendung membuat
semua orang dapat dengan mudah mengakses konten porno tersebut. Oleh
karna itu sebagai orang tua harus memperhatikan anaknya supaya tidak
terjerumus ke hal-hal yang negatif.
Mitos yang terdapat dalam scene 4 ini adalah minuman keras ataupun
minuman berakhohol tidak baik untuk dikonsumsi karna dapat membuat kita
mabuk ataupun lupa ingatan. Jika kita mengalami hal tersebut kita tidak tahu
apa yang kita lakukan saat mabuk, bisa saja melukai orang lain saat tidak
sadarkan diri. Apalagi jika seorang ayah mengkonsumsi miras terus menerus
akan berdampak negatif bagi dirinya sendiri ataupun anggota keluarga yang
lain.
Mitos yang terdapat dalam scene 5 ini adalah sudah seharusnya
seorang pria menjadi pelindung atau pengayom dalam sebuah keluarga,
bukannya malah melakukan tindak kekerasan ataupun memukul terhadap
wanita, tindakan tersebut sanggat tidak terpuji dan melanggar norma norma
agama, hukum dan sosial. Seorang kepala keluarga harus menjadi contoh yang
baik, seorang ayah tidak boleh melakukan tindak kekerasan terhadap anggota
keluarga lain baik itu istri ataupun anaknya, apa lagi kekerasan tersebut
dilakukan didepan anak-anaknya. Itu bisa menjadi contoh yang buruk bagi
anaknya.
Mitos yang terdapat dalam scene 6 ini adalah KDRT ataupun kekerasan
didalam rumah tangga adalah salah satu tindakan menyimpang dalam

73
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

keluarga. Sebagai seorang kepala keluarga harus bisa mengatasi masalah yang
ada dalam keluarga tersebut, bukannya malah menjadi sumber masalah
dengan melakukan kekerasan kepada anggota keluarga. Memukul ataupun
melemparkan sesuatu benda keanak sendiri merupakan tindakan yang tidak
patut dicontoh dari seorang kepala keluarga.
Mitos yang tedapat pada scene 7 adalah perceraian merupakan suatu
disfungsi dalam sebuah keluarga, seorang perempuan yang mengalami
perceraian dengan beberapa pria adalah suatu perbuatan yang tidak baik.
Apalagi nanti jika menjadi seorang janda pasti akan menjadi bahan
pembicaraan atau gossip orang lain. Oleh karna itu ada baiknya sebelum
menikah kita harus benar menimbang yang akan terjadi kedepannya. Jika
belum siap maka seharusnya jangan dipaksakan, karna akan menimbulkan
penyesalan dikemudian hari nanti.

Representasi Disfungsi Keluarga dalam Film Boyhood


Disfungsi keluarga adalah sebuah keluarga yang gagal dalam
menerapkan fungsi masing-masing dari keluarga tersebut, seperti contoh
seorang ayah yang tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik dengan
melakukan kekerasan terhadap anggota keluarganya, dia tidak bisa
memberikan rasa aman bagi keluarganya ataupun menjadi contoh yang baik
dalam keluarganya tersebut.
Adapun analisis dari representasi disfungsi keluarga dalam film
Boyhood adalah sebagai berikut:
Scene 1 representasi disfungsi keluarganya adalah pertengkaran yang
dilakukan oleh sebuah pasangan dalam rumah tangga merupakan tindakan
yang tidak baik karna dapat didengar oleh seluruh anggota keluarga seperti
anak-anak yang ada dirumah tersebut.
Scene 2 representasi disfungsi keluarganya adalah sama seperti di
scene satu, ada baiknya jika ada masalah atau pertengkaran diselesaikan
dengan tenang dan tidak saling berteriak satu sama lain, apalagi sampai
membuat keributan. Anak akan mendengar keributan tersebut dan akan
menjadi kenangan buruk baginya, kenangan buruk tersebut terekam
dimemorinya hingga dia dewasa nanti akan menimbulkan trauma.
Scene 3 ini representasi disfungsi keluarganya adalah bagaimana dua
orang bocah yan terlihat sedang asik melihat majalah porno, padahal mereka
baru berumur 6 tahun tapi sudah berani melihat hal-hal yang hanya untuk
dilihat oleh orang dewasa. Oleh karna itu sebagai orang tua harus dapat
mengontrol anaknya agar terhindar dari kegiatan negatif tersebut.
Scene 4 representasi disfungsi keluarganya adalah seorang ayah yang
membeli minuman keras dengan mengajak pergi anaknya. Dia adalah seorang
yang sangat pecandu alkhol, dia selalu membeli minuman keras tersebut

74
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

dengan alasan untuk tamu. Padahal tidak pernah ada tamu yang mengunjungi
mereka ungkap anaknya. Walaupun dengan alasan apapun minuman keras
tidak boleh dikonsumsi sering, apalagi oleh seorang kepala keluarga yang bisa
membuat kita mabuk meminumnya dan tidak sadarkan diri.
Scene 5 representasi disfungsi keluarganya adalah kekerasan dalam
rumah tangga (KDRT) yang terjadi didalam sebuah keluarga. Kekerasan
tersebut dilakukan oleh seorang ayah dengan memukul istrinya didepan
kedua anaknya. Hal tersebut sangat disayangkan karna dilakukan didepan
kedua anak karna dapat menimbulkan ingatan yang buruk kedepannya nanti
bagi anak tersebut.
Scene 6 representasi disfungsi keluarganya adalah lagi lagi kekerasaan
didalam rumah tangga (KDRT) dalam scene ini. Kekerasan yang dilakuan oleh
seorang ayah terhadap anaknya dengan melempar sebuah gelas kaca kepada
anaknya tersebut. Anaknya baru berumur 12 tahun sudah mendapatkan
perlakuan kasar dari seorang ayah yang merupakan sosok dari kepala
keluarga atau yang akan dijadikan contoh oleh anaknya kelak.
Scene terakhir ini atau scene 7 representasi disfungsi keluarganya
adalah bagaimana seorang ibu yang bercerita kepada anaknya tentang
perceraian yang telah beberapa kali dialaminya. Dia menikah dengan 3 pria
berbeda dan semua hubungan tersebut kandas berakhir perceraian.
Perceraian merupakan suatu tindakan yang tidak baik karna telah melanggar
janji suci, janji cinta antara pria dan wanita. Dan juga perceriaan berdampak
negative terhadap seluruh anggota keluarga, apalagi seorang anak yang bisa
kehilangan sosok salah satu orang tuanya.

KESIMPULAN

Dari hasil analisis yang peneliti lakukan, ada beberapa hal yang dapat
peneliti simpulkan dari cerita yang ada dalam film Boyhood ini, yang
merepresentasikan adanya disfungsi dalam keluarga, sebagai berikut:
Tanda-tanda disfungsi keluarga yang direpresentasikan dalam Film
Boyhood ini sangat jelas sekali ditampilkan, ayah melakukan beberapa
kekerasan kepada anak ataupun istrinya yakni memukul, menampar dan
melemparkan gelas kearah anaknya. Pesan yang disampaikan dalam film ini
menggambarkan seorang ayah yang keras. Hal ini sangat berpengaruh negatif
pada perkembangan diri anak. Karena seharusnya seorang ayah yang menurut
fungsi secara fisik diharapkan dapat memberi rasa aman, bukan sebaliknya
menjadi ancaman bagi diri anak.
Disfungsi keluarga yang terdapat dalam film Boyhood ini
direpresentasikan dalam 7 scene. Dianalisis dengan menggunakan semiotika
Roland Barthes yaitu penanda dan petanda, dan mitos yang muncul didalam

75
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

setiap scene yang dianalisis. Tanda-tanda disfungsi keluarga dimaknai dalam


scene dimana orang tua yakni baik ayah maupun ibu memperlakukan anak
dengan tidak sewajarnya dilakukan oleh orang tua, terutama dari sisi
emosional atau perasaan. Dalam film ini direpresentasikan seorang ayah yang
cenderung menyudutkan, menyalahkan, mengolok, mengancam, menghakimi,
mengabaikan dan mengacuhkan anak. Tanda-tanda disfungsi ini nampak
sekali dalam dialog yang terjadi diantara anggota keluarga. Sebagai sebuah
keluarga seharusnya dijalankan dengan baik karena ini sangat berpengaruh
pada perkembangan psikis dan mental anak.
Film Boyhood ini menampilkan reaksi negatif yang muncul dari diri
anak. Dalam film ini terdapat contoh anak yang mengalami disfungsi yaitu
melihat majalah porno, minum minuman keras, memakai narkoba serta
melakukan seks bebas.

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, SB. 2004. Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga.
Rineka Cipta: Jakarta
Eriyanto. 2001. Analisis Wacana; Pengantar Analisis teks media. LKiS:
Yogyakarta
Goode, William. 2007. Sosiologi Keluarga. Bumi Aksara: Jakarta
Hawari, Dadang. 2009. Psikopat, Paranoid dan Gangguan Kepribadian
Lainnya. Badan Penerbit FHUI: Jakarta
McQuail, Denis. 2011. Teori Komunikasi Massa. Edisi 6. Salemba Humanika:
Jakarta
Moleong, Alex. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya:
Bandung
Rakhmat, Jalaludin. 1999. Metode Penelitian [Link]. PT. Remaja
Rosdakarya: Bandung
Ritzer, George. 2009. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Raja
Grafindo Persada: Jakarta
Rusmana, Dadan. 2014. Filsafat Semiotika. CV Pustaka Setia: Bandung
Nasri, H., Nurman, N., Azwirman, A., Zainal, Z., & Riauan, I. (2022).
Implementation of collaboration planning and budget performance
information for special allocation fund in budget planning in the
regional development planning agency of Rokan Hilir regency.
International Journal of Health Sciences (IJHS) Ecuador, 6(S4), 639-
651.

76
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

Parjiyana, P. (2015). Implementasi Keputusan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia Nomor 128 Tahun 2004 Tentang Kebijakan Dasar Pusat
Kesejatan Masyarakat. Jurnal Kajian Pemerintah: Journal of
Government, Social and Politics, 1(2), 41-54.
Rusli, R., & Nurman, N. (2016). Implementasi Fungsi Koordinasi Camat Dalam
Pembuatan Kartu Keluarga Dan Kartu Tanda Penduduk Di Kecamatan
Dumai Barat Kota Dumai. Jurnal Kajian Pemerintah: Journal of
Government, Social and Politics, 2(1), 27-39.
Qurniawati, E. F., & Riauan, M. A. I. (2015). Analisis Framing Pencitraan
Pariwisata Indonesia pada Majalah Penerbangan Linker. Editor, 12,
219.
Doni, D., Yogia, M. A., & Wedayanti, A. A. P. M. D. (2021, January). Management
of Market Pelita Retribution In Bangko District In Increasing Original
Revenue of Rokan Hilir Regency. In INCEESS 2020: Proceedings of the
1st International Conference on Economics Engineering and Social
Science, InCEESS 2020, 17-18 July, Bekasi, Indonesia (p. 41). European
Alliance for Innovation.
Hidayah, S. M., & Riauan, M. A. I. (2021). Analisis Framing Kebijakan
Pemerintah Tetang Rencana Pembelajaran Tatap Muka Di Media Online
Cnn Indonesia. Medium: Jurnal Ilmiah Fakultas Ilmu Komunikasi, 9(2),
167-184.
Riauan, M. A. I., Kholil, S., & Sikumbang, A. T. (2019). Islamic Symbols on
Political Messages in Newspapers in Riau (Study in Regional Head
Election 2017). Budapest International Research and Critics Institute-
Journal (BIRCI-Journal), 2(1), 254-262.
Riauan, M. A. I. Pesan Politik Di Facebook Pada Kampanye Pemilu DPD-RI
2019.
Riauan, M. A. I. (2012). Studi Komparatif Aktivitas Humas Antara Pemerintah
Provinsi Riau dengan PT. Chevron Pacific Iindonesia. Medium, 1(1).
Wandani, D., & Riauan, M. A. I. Pengelolaan Anxiety dan Uncertainty
Komunikasi bermedia Followers sm_nCT. Komunikasi Anak Muda dan
Perubahan Sosial, 65.
Rahayu, M., Riauan, M. A. I. Dramaturgi Dalam Sosial Media: Penggunaan
Second Account Di Instagram Pada Kalangan Mahasiswa/I Forum Studi
Islam (Fsi) Universitas Islam Riau.
Sari, G. G., Wirman, W., & Riauan, M. A. (2018). Pergeseran Makna Tradisi
Bakar Tongkang Bagi Generasi Muda Tionghua di Kabupaten Rokan
Hilir Provinsi Riau.
Setiadi, 2008, Konsep & Proses Keperawatan Keluarga, Graha Ilmu:
Yogyakarta

77
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X

Sobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media; Suatu Wacana Untuk Analisis Wacana,
Analisis Semiotik, dan Analisis Freming. PT. Remaja Rosdakarya:
Bandung
Sobur, Alex. 2013. Semiotika Komunikasi. PT. Remaja Rosdakarya: Bandung
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D Alfabeta,
CV: Bandung
Anwar, L. P., & Wulandari, H. (2022). Analisis Semiotika Tentang Representasi
Disfungsi Keluarga Dalam Film Boyhood. Journal of Discourse and
Media Research, 1(01), 60–78. Retrieved from [Link]
[Link]/[Link]/JDMR/article/view/16
Husna, I., & Hero, E. (2022). Analisis Semiotika Ferdinand De Sausures Makna
Pesan Iklan Rokok A Mild Versi Langkah. Journal of Discourse and
Media Research, 1(01), 44–59. Retrieved from [Link]
[Link]/[Link]/JDMR/article/view/15
Nasirin, C., & Pithaloka, D. (2022). Analisis Semiotika Roland Barthes Konsep
Kekerasan Dalam Film The Raid 2 Berandal. Journal of Discourse and
Media Research, 1(01), 28–43. Retrieved from [Link]
[Link]/[Link]/JDMR/article/view/14
Ridwan, M., & Aslinda, C. (2022). Analisis Semiotika Diskriminasi Pada Film
“The Hate U Give”. Journal of Discourse and Media Research, 1(01), 1–
12. Retrieved from [Link]
[Link]/[Link]/JDMR/article/view/12
Wijaya, D. E., & Handayani, B. (2022). Analisis Semiotika Kecanduan Merokok
di Film Dokumenter “Darurat! Sekolah Dikepung Iklan Rokok”. Journal
of Discourse and Media Research, 1(01), 13–27. Retrieved from
[Link]
[Link]/[Link]/JDMR/article/view/13

78
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)

Anda mungkin juga menyukai