Analisis Disfungsi Keluarga di Boyhood
Analisis Disfungsi Keluarga di Boyhood
Abstrak
Konstruksi realitas yang ditampilkan didalam tentunya sedikit banyak
berakar dari realita yang benar terjadi di masyarakat. Penelitian bertujuan
untuk menganalisis representasi disfungsi keluarga dalam film Boyhood.
Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan semiotika
Roland Barthes yaitu meneliti tentang makna denotasi, konotasi dan mitos.
Peneliti menganalisis 7 scene yang mengandung adegan tentang disfungsi
keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi disfungsi
keluarga yang terdapat dalam film Boyhood merupakan gambaran beberapa
keluarga yang sering terjadi dalam realita kehidupan saat ini yang
menunjukkan bagaimana baik orang tua maupun anak tidak menjalani
perannya dengan baik. Orang tua otoriter membuat anak menjadi sangat
tertutup. Kekerasan yang dilakukan oleh seorang ayah terhadap istri ataupun
anaknya merupakan tindakan yang melanggar norma. Terlepas dari semua itu,
cinta dan kasih sayang didalam sebuah keluarga merupakan jembatan untuk
memperbaiki disfungsi tersebut.
Kata Kunci: Film, Semiotika, Disfungsi Keluarga
Abstract
The construction of reality that is shown in the course is more or less rooted in
the reality that actually happens in society. This study aims to analyze the
representation of family dysfunction in the Boyhood film. The research method
used is by using Roland Barthes semiotics, namely researching the meaning of
denotation, connotation and myth. Researchers analyzed 7 scenes containing
scenes about family dysfunction. The results show that the representation of
family dysfunction in the Boyhood film is a picture of several families that often
occur in the reality of today's life which shows how both parents and children do
not play their roles well. Authoritarian parents make children very closed.
Violence committed by a father against his wife or child is an act that violates
60
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
the norm. Apart from all that, love and affection in a family is a bridge to repair
this dysfunction.
Keywords: Film, Semiotic, Dysfunctional Family
PENDAHULUAN
61
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
Film adalah salah satu media komunikasi massa yang sudah sangat
dikenal. Dengan caranya sendiri, film memiliki kemampuan untuk mengantar
pesan secara unik; dapat juga dipakai sebagai sarana pameran bagi media lain
dan juga sebagai sumber budaya yang berkaitan erat dengan buku, film kartun,
bintang televisi, film seri, serta lagu (McQuail, 2011).
Dalam pembuatan sebuah film adalah tidak mudah dan tidak sesingkat
ketika kita menontonnya, membutuhkan waktu dan proses yang sangat
panjang karena diperlukan proses pemikiran dan proses tekniknya. Proses
pemikiran berupa pencarian ide, gagasan, dan cerita yang nantinya akan
digarap. Sedangkan proses teknik, berupa keterampilan artistik untuk
mewujudkan ide dan gagasan menjadi sebuah film yang siap ditonton.
Menurut (Sobur, 2013) media memang merupakan pembentuk realitas
sosial, namun realitas yang disampaikan media adalah realitas yang sudah
diseleksi, yaitu realitas tangan kedua. Dengan demikian media massa
mempengaruhi pembentukan citra mengenai lingkungan sosial yang tidak
seimbang, bias dan tidak cermat. Dalam hal ini film dianggap sebagai medium
yang sempurna untuk mengekspresikan realitas kehidupan yang bebas dari
konflik-konflik ideologis.
Menurut (Sobur, 2013) bahwa kekuatan dan kemampuan film
menjangkau banyak segmen sosial, lantas membuat para ahli berpendapat
bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayaknya.
Namun realitas yang ada tidaklah berjalan seperti diatas, terkadang
penikmat film lebih cenderung menonton tanpa mengerti inti pesan yang coba
disampaikan. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh perhatian kita yang teralihkan
akan kecanggihan teknologi yang digunakan dalam film, kemegahan sebuah
negara yang menjadi latar tempat adegan dari sebuah film, dan lain-lain.
Padahal dibalik semuanya itu, dalam penentuan pemeran, penentuan
lokasi syuting, penentuan backsound, penentuan soundtrack dan lain-lain
tidaklah dari keputusan yang asal-asalan. Melainkan dari pertimbangan yang
matang dan memiliki pesan tertentu. Sehingga kemudian menjadi tantangan
tersendiri lagi bagi penikmat film agar bisa memilah dengan baik film mana
yang baik ditonton atau film mana yang boleh ditonton.
Melalui film, penonton diajak untuk menerima data, fakta, pandangan
dan pikiran dalam kemasan realitas sebuah film. Namun realita yang
direpresentasikan dalam film merupakan realita yang telah dikonstruksi
sebelumnya menggunakan dengan gaya tertentu. Konstruksi realita yang
ditampilkan dalam tentunya sedikit banyak berakar dari realita yang benar
terjadi di masyarakat.
Dari uraian diatas, hal yang menjadi ketertarikan bagi peneliti dalam
Film Boyhood yaitu potret disfungsi keluarga merupakan masalah sosial yang
sering terjadi pada kehidupan masyarakat, dan diambil pelajaran supaya
masalah seperti ini tidak banyak terjadi lagi pada kehidupan sehari-hari.
62
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
63
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
64
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
KERANGKA TEORI
Representasi
Konsep ‘representasi’ dalam studi media massa, termasuk film, bisa
dilihat dari beberapa aspek bergantung sifat kajiannya. Studi media yang
melihat bagaimana wacana berkembang di dalamnya biasanya dapat
ditemukan dalam studi wacana kritis pemberitaan media memahami
‘representasi’ sebagai konsep yang “menunjuk pada bagaimana seseorang,
satu kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam
pemberitaan” (Eriyanto, 2001).
Menurut Croteau dan Hoynes (Eriyanto 2001) Representasi
merupakan hasil dari suatu proses penyeleksian yang menggaris bawahi hal-
hal tertentu dan hal lain diabaikan. Dalam representasi media, tanda yang
akan digunakan untuk melakukan representasi tentang sesuuatu mengalami
proses seleksi. Makna yang sesuai dengan kepentingan dan pencapaian tujuan
komunikasi ideologisnya itu yang digunakan sementara tanda-tanda lain
diabaikan.
Setidaknya terdapat dua hal penting berkaitan dengan representasi;
pertama, bagaimana seseorang, kelompok, atau gagasan tersebut ditampilkan
bila dikaitkan dengan realias yang ada dalam arti apakah ditampilkan sesuai
dengan fakta yang ada atau cenderung diburukkan sehingga menimbulkan
kesan meminggirkan atau hanya menampilkan sisi buruk seseorang atau
kelompok tertentu dalam pemberitaan. Kedua, bagaimana eksekusi penyajian
objek tersebut dalam media gagasan tersebut di ungkapkan oleh (Eriyanto,
2001)
Sementara itu, menurut John Fiske dalam (Sobur, 2004) representasi
merupakan sejumlah tindakan yang berhubungan dengan teknik kamera,
pencahayaan, proses editing, musik dan suara tertentu yang mengolah simbol-
simbol dan kode-kode konvensional ke dalam representasi dari realitas dan
gagasan yang akan dinyatakannya. Seseorang dikatakan berasal dari
kebudayaan yang sama jika masyarakat yang ada disitu membagi pengalaman
yang sama.
65
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
ia pertama kali mendapat pelajaran soal kebudayaan. Barthes kecil juga giat
bermain musik, terutama piano dari bibinya.
Setelah dewasa Barthes belajar di Universitas Paris, dan memperoleh
gelar sarjana di bidang sastra klasik pada tahun 1939 dan kemudian
memperoleh gelar sarjana dalam bidang tata bahasa serta filologi pada tahun
1943.
Gaya sastrawi Barthes yang selalu merangsang pemikiran, meskipun
kadangkala bersifat eksentrik dan mengaburkan, secara luas ditiru dan
diparodikan. Kancah penelitian semiotika tak bisa begitu saja melepaskan
nama Roland Barthes ahli semiotika komunikasi yang mengembangkan kajian
yang sebelumnya punya warna kental dalam strukturalisme semiotika teks
semiotika strukturalis Saussures lebih menekankan pada linguistik.
Di sinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes
tetap mempergunakan istilah signifier-signified yang diusung Saussure.
Roland Barthes dalam teorinya Barthes mengembangkan semiotika menjadi
dua tingkatan pertandaan, yaitu tingkat denotasi dan konotasi. Kata
melibatkan simbol-simbol, historis dan hal-hal yang berhubungan dengan
emosional.
Menurut Barthes pada tingkat denotasi, bahasa menghadirkan
konvensi atau kode-kode sosial yang bersifat eksplisit, yakni kode-kode yang
makna tandanya segera naik ke permukaan berdasarkan relasi penanda dan
petandanya. Sebaliknya, pada tingkat konotasi, bahasa menghadirkan kode-
kode yang makna tandanya bersifat implisit, yaitu sistem kode yang tandanya
bermuatan makna-makna tersembunyi. Dan apa yang tersembunyi ini adalah
makna yang menurut Barthes merupakan kawasan dari ideologi atau mitologi.
(Sobur, 2013)
Di dalam semiotika Barthes dan para pengikutnya, menyebut denotasi
merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi
merupakan tingkat kedua. Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan
operasi ideologi, yang disebutnya sebagai mitos dan berfungsi untuk
mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang
berlaku dalam suatu periode tertentu.
Denotasi menunjukkan hubungan yang digunakan dalam tingkat
pertama pada sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting
dalam suatu ujaran. Makna denotasi bersifat langsung, yaitu makna khusus
yang terdapat dalam sebuah tanda dan pada intinya dapat disebut sebagai
gambaran sebuah pertanda.
Konotasi adalah istilah yang digunakan barthes untuk menunjukkan
signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika
tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari
kebudayaanya. Konotasi mempunyai makna yang subjektif atau paling tidak
intersubjektif sehingga kehadirannya tidak disadari.
66
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
67
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
kekuatan besar dalam membentuk klise massal. Hal ini disebabkan pula
adanya unsur idiologi dari pembuat film diantaranya unsur budaya, sosial,
psikologis, penyampaian bahasa film, dan unsur yang menarik ataupun
merangsang imajinasi khalayak.
Isi dalam sebuah media dilihat sebagai penggambaran sombolik
(symbol representation) dari suatu budaya, sehingga apa yang disampaikan
dalam media massa mencerninkan opini publik, dalam hal ini ideologi
memberikan persfektif untuk memandang realitas sosial. Media juga
mengekspresikan nilai-nilai ketetapan normatif yang ada dalam masyarakat.
Menurut (Sobur, 2004) media memang merupakan pembentuk
realitas sosial, namun realitas yang disampaikan media adalah realitas yang
sudah diseleksi, yaitu realitas tangan kedua. Dengan demikian media massa
mempengaruhi pembentukan citra mengenai lingkungan sosial yang tidak
seimbang, bias dan tidak cermat. Dalam hal ini film dianggap sebagai medium
yang sempurna untuk mengekspresikan realitas kehidupan yang bebas dari
konflik-konflik ideologis.
Disfungsi Keluarga
Keluarga yang disfungsi adalah keluarga yang gagal dalam menerapkan
fungsi yang diberikan oleh Allah SWT bagi keluarga. Hubungan antara anggota
keluarga pun cenderung tegang dan tidak normal. Keluarga tidak lagi bisa
menjadi tempat yang mengayomi, merawat dan memberi teladan bagi
anggotanya, tapi malah menjadi horor dan contoh buruk bagi anak. Orang tua
mengkonsumsi miras dan pecandu narkoba. Anak-anak jadi korban
ketidakmampuan hadapi stress. Sebagaimana banyak kasus orang tua yang
menelantarkan anaknya.
Disfungsi keluarga semakin banyak terjadi seiring modernitas dan
kehidupan berbasis demokrasi. Nilai HAM membuat keluarga individualis, tak
mau mendengar nasihat lingkungan dan sebagainya. Negara juga sangat lemah
memberantas hal-hal yang mempengaruhi lahirnya disfungsi keluarga. Misal,
negara lemah dan membiarkan tontonan porno, kekerasan, juga produksi
miras dan peredaran narkoba dan lain-lain.
Negara juga sangat lemah memberantas hal-hal yang mempengaruhi
lahirnya disfungsi keluarga. Misal, negara lemah dan membiarkan tontonan
porno,kekerasan, juga produksi miras dan peredaran narkoba. Ini bukti sistem
pendidikan nasional menghasilkan orang yang cakap ilmu, tapi bobrok
perilaku keahlian. Dari kasus ini semestinya ada evaluasi mendasar terhadap
peran negara dalam mewujudkan keluarga yang mampu melakukan fungsinya
secara memadai.
Menurut Hawari (2009: 18-21) menyebutkan beberapa contoh
disfungsi keluarga yang menggambarkan terganggunya hubungan antar
68
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
METODE PENELITIAN
69
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
PEMBAHASAN
70
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
71
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
konten porno yang saat ini dapat mudah diakses dimedia manapun, baik itu
berupa majalah ataupun diinternet.
Scene 4 digambarkan makna denotasi dalam scene ini adalah Bill ayah
tiri Mason pergi berjalan menuju sebuah toko untuk membeli minuman keras,
minuman tersebut untuk persediaan tamu minggu ini. Tapi Randy, anaknya
menyanggah bahwa mereka tidak pernah kedatangan tamu di akhir pekan.
Sedangkan makna konotasinya adalah minuman keras ataupun miras
merupakan minuman yang berbahaya, minuman tersebut tidak baik untuk
dikonsumsi secara terus menerus apalagi oleh seorang kepala rumah tangga
yang menjadi contoh dalam keluarga.
Scene 5 digambarkan makna denotasi dalam scene ini adalah Olivia
yang merupakan ibunya Mason terbaring dilantai garasi rumah sambil
menangis tersedu-sedu, disaat bersamaan Mason dan Randy datang setelah
pulang bermain dan menanyakan kenapa ibunya sampai bisa terbaring
dilantai dan menangis. Sedangkan makna konotasinya adalah seorang wanita
sedang terbaring dilantai sambil menangis karna mengalami kekerasan dalam
rumah tangga yang dilakukan oleh suaminya sendiri. Perilaku tersebut tidak
patut dicontoh, apalagi kejadian tersebut disaksikan oleh anaknya.
Scene 6 digambarkan makna denotasi dalam scene ini adalah Bill
marah saat mereka makan malam, dia menumpahkan kekesalannya dengan
melemparkan gelas kepada Mason yang dianggapnya tidak menyukai dirinya.
Sedangkan makna konotasinya adalah Seorang pria melemparkan gelas
kepada anak tirinya karena menurutnya anak tersebut tidak menghargai dia
saaat berbicara, padahal pria tersebut yang tiba tiba datang dan marah saat
semua keluarganya berkumpul bersama untuk makan malam.
Scene 7 makna denotasinya adalah Olivia yang sedang berbicara
dengan Mason saat sarapan pagi, mereka berdua membicarakan mengenai
dirinya yang telah menyingkirkan beberapa suami yang telah menikah
dengannya dahulu. Sedangkan makna konotasinya adalah Olivia merupakan
seorang wanita yang bercerai berulang kali dengan beberapa suaminya, dia
termasuk wanita yang kuat dan mandiri. Walaupun berulang kali bercerai dia
tetap bisa bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya dan juga menghidupi
kedua anaknya sampai mereka kuliah.
72
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
Adapun analisis makna dari mitos dalam film Boyhood adalah sebagai
berikut:
Mitos yang terdapat dalam scene 1 ini adalah semua manusia harus
memiliki sikap bertanggung jawab, baik itu pria ataupun wanita. Pria wajib
memiliki tanggung jawab dalam hubungan dengan pasangannya, karna pria
adalah kepala keluarga yang akan dijadikan contoh oleh anak-anaknya nanti.
Selain itu pria tidak boleh menumpahkan kesalahannya kepada orang lain,
harus berbesar hati jika salah dan mengakuinya. Dan juga di dalam scene ini
terdapat contoh sikap yang baik dari seorang ibu yang mau bertanggung jawab
terhadap anaknya, dia lebih mementingkan menjaga anaknya dari pada keluar
malam dengan teman teman pacarnya.
Mitos yang terdapat dalam scene 2 ini adalah sebagai orang tua yang
baik harus memberikan contoh yang patut ditiru oleh anak anaknya dengan
berbuat baik. Jika kedua orang tua sering bertengkar saat dihadapan anaknya,
maka anaknya tersebut akan menyimpan memori atau kenangan buruk yang
bisa menjadi trauma dimasa yang akan datang. Trauma tersebut bisa
membuat perilaku seorang anak menjadi menyimpang, oleh karna itu sudah
seharusnya kedua orang tua wajib memberikan contoh yang baik kepada
anaknya.
Mitos yang terdapat dalam scene 3 ini adalah hal hal yang berbau
pornografi tidak baik untuk ditonton ataupun dilihat, terlebih oleh anak kecil
dibawah umur. Perkembangan jaman yang tidak dapat dibendung membuat
semua orang dapat dengan mudah mengakses konten porno tersebut. Oleh
karna itu sebagai orang tua harus memperhatikan anaknya supaya tidak
terjerumus ke hal-hal yang negatif.
Mitos yang terdapat dalam scene 4 ini adalah minuman keras ataupun
minuman berakhohol tidak baik untuk dikonsumsi karna dapat membuat kita
mabuk ataupun lupa ingatan. Jika kita mengalami hal tersebut kita tidak tahu
apa yang kita lakukan saat mabuk, bisa saja melukai orang lain saat tidak
sadarkan diri. Apalagi jika seorang ayah mengkonsumsi miras terus menerus
akan berdampak negatif bagi dirinya sendiri ataupun anggota keluarga yang
lain.
Mitos yang terdapat dalam scene 5 ini adalah sudah seharusnya
seorang pria menjadi pelindung atau pengayom dalam sebuah keluarga,
bukannya malah melakukan tindak kekerasan ataupun memukul terhadap
wanita, tindakan tersebut sanggat tidak terpuji dan melanggar norma norma
agama, hukum dan sosial. Seorang kepala keluarga harus menjadi contoh yang
baik, seorang ayah tidak boleh melakukan tindak kekerasan terhadap anggota
keluarga lain baik itu istri ataupun anaknya, apa lagi kekerasan tersebut
dilakukan didepan anak-anaknya. Itu bisa menjadi contoh yang buruk bagi
anaknya.
Mitos yang terdapat dalam scene 6 ini adalah KDRT ataupun kekerasan
didalam rumah tangga adalah salah satu tindakan menyimpang dalam
73
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
keluarga. Sebagai seorang kepala keluarga harus bisa mengatasi masalah yang
ada dalam keluarga tersebut, bukannya malah menjadi sumber masalah
dengan melakukan kekerasan kepada anggota keluarga. Memukul ataupun
melemparkan sesuatu benda keanak sendiri merupakan tindakan yang tidak
patut dicontoh dari seorang kepala keluarga.
Mitos yang tedapat pada scene 7 adalah perceraian merupakan suatu
disfungsi dalam sebuah keluarga, seorang perempuan yang mengalami
perceraian dengan beberapa pria adalah suatu perbuatan yang tidak baik.
Apalagi nanti jika menjadi seorang janda pasti akan menjadi bahan
pembicaraan atau gossip orang lain. Oleh karna itu ada baiknya sebelum
menikah kita harus benar menimbang yang akan terjadi kedepannya. Jika
belum siap maka seharusnya jangan dipaksakan, karna akan menimbulkan
penyesalan dikemudian hari nanti.
74
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
dengan alasan untuk tamu. Padahal tidak pernah ada tamu yang mengunjungi
mereka ungkap anaknya. Walaupun dengan alasan apapun minuman keras
tidak boleh dikonsumsi sering, apalagi oleh seorang kepala keluarga yang bisa
membuat kita mabuk meminumnya dan tidak sadarkan diri.
Scene 5 representasi disfungsi keluarganya adalah kekerasan dalam
rumah tangga (KDRT) yang terjadi didalam sebuah keluarga. Kekerasan
tersebut dilakukan oleh seorang ayah dengan memukul istrinya didepan
kedua anaknya. Hal tersebut sangat disayangkan karna dilakukan didepan
kedua anak karna dapat menimbulkan ingatan yang buruk kedepannya nanti
bagi anak tersebut.
Scene 6 representasi disfungsi keluarganya adalah lagi lagi kekerasaan
didalam rumah tangga (KDRT) dalam scene ini. Kekerasan yang dilakuan oleh
seorang ayah terhadap anaknya dengan melempar sebuah gelas kaca kepada
anaknya tersebut. Anaknya baru berumur 12 tahun sudah mendapatkan
perlakuan kasar dari seorang ayah yang merupakan sosok dari kepala
keluarga atau yang akan dijadikan contoh oleh anaknya kelak.
Scene terakhir ini atau scene 7 representasi disfungsi keluarganya
adalah bagaimana seorang ibu yang bercerita kepada anaknya tentang
perceraian yang telah beberapa kali dialaminya. Dia menikah dengan 3 pria
berbeda dan semua hubungan tersebut kandas berakhir perceraian.
Perceraian merupakan suatu tindakan yang tidak baik karna telah melanggar
janji suci, janji cinta antara pria dan wanita. Dan juga perceriaan berdampak
negative terhadap seluruh anggota keluarga, apalagi seorang anak yang bisa
kehilangan sosok salah satu orang tuanya.
KESIMPULAN
Dari hasil analisis yang peneliti lakukan, ada beberapa hal yang dapat
peneliti simpulkan dari cerita yang ada dalam film Boyhood ini, yang
merepresentasikan adanya disfungsi dalam keluarga, sebagai berikut:
Tanda-tanda disfungsi keluarga yang direpresentasikan dalam Film
Boyhood ini sangat jelas sekali ditampilkan, ayah melakukan beberapa
kekerasan kepada anak ataupun istrinya yakni memukul, menampar dan
melemparkan gelas kearah anaknya. Pesan yang disampaikan dalam film ini
menggambarkan seorang ayah yang keras. Hal ini sangat berpengaruh negatif
pada perkembangan diri anak. Karena seharusnya seorang ayah yang menurut
fungsi secara fisik diharapkan dapat memberi rasa aman, bukan sebaliknya
menjadi ancaman bagi diri anak.
Disfungsi keluarga yang terdapat dalam film Boyhood ini
direpresentasikan dalam 7 scene. Dianalisis dengan menggunakan semiotika
Roland Barthes yaitu penanda dan petanda, dan mitos yang muncul didalam
75
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, SB. 2004. Pola Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam Keluarga.
Rineka Cipta: Jakarta
Eriyanto. 2001. Analisis Wacana; Pengantar Analisis teks media. LKiS:
Yogyakarta
Goode, William. 2007. Sosiologi Keluarga. Bumi Aksara: Jakarta
Hawari, Dadang. 2009. Psikopat, Paranoid dan Gangguan Kepribadian
Lainnya. Badan Penerbit FHUI: Jakarta
McQuail, Denis. 2011. Teori Komunikasi Massa. Edisi 6. Salemba Humanika:
Jakarta
Moleong, Alex. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya:
Bandung
Rakhmat, Jalaludin. 1999. Metode Penelitian [Link]. PT. Remaja
Rosdakarya: Bandung
Ritzer, George. 2009. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Raja
Grafindo Persada: Jakarta
Rusmana, Dadan. 2014. Filsafat Semiotika. CV Pustaka Setia: Bandung
Nasri, H., Nurman, N., Azwirman, A., Zainal, Z., & Riauan, I. (2022).
Implementation of collaboration planning and budget performance
information for special allocation fund in budget planning in the
regional development planning agency of Rokan Hilir regency.
International Journal of Health Sciences (IJHS) Ecuador, 6(S4), 639-
651.
76
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
77
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)
Journal of Discourse and Media Research
Juni 2022, Vol. 1, No. 1, pp. 60-78
E-ISSN: 2830-313X
Sobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media; Suatu Wacana Untuk Analisis Wacana,
Analisis Semiotik, dan Analisis Freming. PT. Remaja Rosdakarya:
Bandung
Sobur, Alex. 2013. Semiotika Komunikasi. PT. Remaja Rosdakarya: Bandung
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D Alfabeta,
CV: Bandung
Anwar, L. P., & Wulandari, H. (2022). Analisis Semiotika Tentang Representasi
Disfungsi Keluarga Dalam Film Boyhood. Journal of Discourse and
Media Research, 1(01), 60–78. Retrieved from [Link]
[Link]/[Link]/JDMR/article/view/16
Husna, I., & Hero, E. (2022). Analisis Semiotika Ferdinand De Sausures Makna
Pesan Iklan Rokok A Mild Versi Langkah. Journal of Discourse and
Media Research, 1(01), 44–59. Retrieved from [Link]
[Link]/[Link]/JDMR/article/view/15
Nasirin, C., & Pithaloka, D. (2022). Analisis Semiotika Roland Barthes Konsep
Kekerasan Dalam Film The Raid 2 Berandal. Journal of Discourse and
Media Research, 1(01), 28–43. Retrieved from [Link]
[Link]/[Link]/JDMR/article/view/14
Ridwan, M., & Aslinda, C. (2022). Analisis Semiotika Diskriminasi Pada Film
“The Hate U Give”. Journal of Discourse and Media Research, 1(01), 1–
12. Retrieved from [Link]
[Link]/[Link]/JDMR/article/view/12
Wijaya, D. E., & Handayani, B. (2022). Analisis Semiotika Kecanduan Merokok
di Film Dokumenter “Darurat! Sekolah Dikepung Iklan Rokok”. Journal
of Discourse and Media Research, 1(01), 13–27. Retrieved from
[Link]
[Link]/[Link]/JDMR/article/view/13
78
This work licensed under attribution-sharealike 4.0 international (CC BY-SA 4.0)