0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
66 tayangan45 halaman

Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan negara, serta pemakaian huruf kapital dan beberapa kesalahan umum dalam penggunaan bahasa Indonesia.

Diunggah oleh

PBSI Unpak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
66 tayangan45 halaman

Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan negara, serta pemakaian huruf kapital dan beberapa kesalahan umum dalam penggunaan bahasa Indonesia.

Diunggah oleh

PBSI Unpak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1 KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA

INDONESIA

1. Kedudukan Bahasa Indonesia

Yang dimaksud kedudukan bahasa Indonesia adalah status relatif bahasa sebagai
sistem lambang nilai budaya yang dirumuskan atas dasar nilai sosial dihubungkan dengan
bahasa yang bersangkutan.
Bahasa Indonesia dalam amandemen Undang-Undang Dasar 1945 Bab XV, Pasal
36 dinyatakan bahwa bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa
negara, sedangkan bahasa daerah berkedudukan sebagai bahasa daerah yang bersangkutan.
Di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi
sebagai:
1) lambang-lambang bangsa;
2) lambang identitas bangsa;
3) alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial
budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia; dan
4) alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya.
Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:
1) bahasa resmi kenegaraan;
2) bahasa pengantar di dunia pendidikan;
3) alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan
pelaksanaan pemerintah;
4) alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

2. Fungsi Bahasa Indonesia


Yang dimaksud dengan fungsi bahasa adalah nilai pemakaian bahasa yang
dirumuskan sebagai tugas pemakaian bahasa di dalam kedudukan yang diberikan padanya
Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, yaitu:
1) sebagai alat pemersatu bangsa;
2) Sebagai medium dalam pembinaan kebudayaan nasional
Fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara:

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


1) sebagai alat untuk menjalankan administrasi negara. Fungsi ini tampak dalam surat
menyurat resmi, dalam peraturan-peraturan, undang-undang, pidato resmi, serta dalam
upacara kenegaraan;
2) sebagai bahasa pengantar pada semua jenjang pendidikan formal;
3) menjadi pengantar dalam hal-hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan.

Dari uraian kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia di atas, diharapkan para
pemakai bahasa dapat menerapkan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Penggunaan bahasa Indonesia yang baik bermakna penggunaan bahasa Indonesia yang
sesuai dengan situasi dan kondisi komunikasi. Penggunaan bahasa Indonesia yang benar
berarti bahasa yang digunakan itu tetap mengindahkan norma-norma atau kaidah-kaidah
bahasa yang berlaku. Dalam hal ini berarti penggunaan bahasa Indonesia tidak saja
ditentukan oleh faktor linguistik (kebahasaan) saja, tetapi menyangkut pula masalah sosial,
budaya, dan psikologi. Pada konteks sosial budaya, berkaitan antara pembicara/penulis dan
lawan bicara/pembaca; siapa kepada siapa (who), tentang apa (which), dimana (where),
kapan (when), serta kesadaran para penuturnya.

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


2 PEMAKAIAN HURUF KAPITAL

Secara umum pemakaian huruf kapital telah diatur dalam Ejaan Yang Disempurna-
kan (EYD). Uraian berikut ini akan menyajikan beberapa contoh pemakaian huruf kapital
dalam penulisan nama badan, lembaga, dan organisasi atau instansi.

1. Penulisan Nama Jabatan


Nama jabatan yang diikuti nama badan, nama lembaga, nama organisasi, atau
nama instansi tertentu huruf awalnya ditulis dengan huruf kapital.
Contoh:
Menteri Penerangan
Direktur Pendidikan Masyarakat
Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Kepala Sekolah Menengah Umum Negeri 5

Nama instansi atau lembaga pada contoh di atas adalah nama instansi atau lembaga
tertentu dan merupakan nama diri. Oleh karena itu, harus dituis dengan huruf kapital.

2. Nama Lembaga
Nama lembaga sebagai nama diri dan nama jenis penulisannya seperti di bawah
ini.
Perhatikan contoh berikut:
1. Akhirnya, Sekolah Menengah Umum Negeri 01 terpilih sebagai salah satu sekolah
menengah umum terbaik.
2. Banyak perguruan tinggi di Indonesia yang memasang tarif mencapai 30 juta.
3. Anak perwira itu belajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian.

(1) Sekolah Menengah Umum Negeri 01 merupakan nama diri dan sekolah menengah
umum merupakan nama jenis
(2) perguruan tinggi merupakan nama jenis
(3) Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian merupakan nama diri

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


3. Nama Instansi
Nama Instansi sebagai nama diri dan nama jenis penulisannya seperti di bawah ini.
Perhatikan contoh berikut:
1. Di lingkungan Departemen Pendidikan terdapat beberapa direktorat jenderal.
2. Salah satu direktorat jenderal di lingkungan departemen itu adalah Direktorat Jenderal
Pendidikan Menengah danUmum.

(1) Departemen Pendidikan merupakan nama diri dan direktorat jenderal merupakan
nama jenis.
(2) direktorat jenderal merupakan nama jenis dan Direktorat Jenderal Pendidikan
Menengah dan Umum merupakan nama diri.

4. Penulisan Gabungan Kata yang Memakai Nama Negara atau Nama Geografis
Tertentu.
Bagaimana penulisan gabungan kata yang memakai unsur nama negara atau nama
geografis tertentu seperti pada bentuk berikut:
garam inggris
tinta cina
rambutan aceh

Kata inggris, cina, dan aceh tidak lagi menyatakan nama diri karena gabungan kata
itu tidak menyatakan arti ‘garam dari Inggris, ‘tinta dari Cina, dan ‘rambutan dari aceh.’
Berbeda halnya dengan sarung Bugis dan salak Bali. Gabungan kata itu
menyatakan nama diri karena gabungan kata itu menyatakan arti ‘sarung dari Bugis’ dan
‘salak dari Bali.’ Oleh karena itu, huruf awal kedua kata itu harus ditulis dengan huruf
kapital.
Bagaimana penulisan kata berikut:
(a) talas bogor
(b) tapai bandung
(c) pempek palembang
(d) duku malang

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


Berikan komentara Anda!
(a) ----------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------
(b) ----------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------
(c) ----------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------
(d) ----------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------

5. Penulisan Nama Orang yang Digunakan sebagai Satuan


Penulisan nama orang yang digunakan sebagai satuan, misalnya:
ampere
coulomb
ohm
volt!
Bila kata tersebut digunakan sebagai nama orang yang menemukan hukum tertentu,
huruf awalnya ditulis dengan huruf kapital.

Perhatikan contoh berikut:


1. Di dalam buku fisika itu dibicarakan hukum Ampere, hukum Coulomb, dan hukum
Ohm.
2. Nama satuan untuk mengukur arus listrik, muatan listrik, dan hambatan listrik masing
masing adalah ampere, coulomb, dan ohm.
3. Bohlam itu bertegangan 220 volt dan berdaya 60 watt.

3 BEBERAPA KESALAHAN UMUM DALAM


PEMAKAIAN BAHASA INDONESIA
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
1. Penulisan di dan ke
Menurut ketentuan EYD, ada dua macam cara menuliskan di dan ke, yaitu:
(1) dirangkaikan dengan kata yang mengikutinya; dan
(2) dipisahkan dari kata yang mengikutinya.
Penulisan di diserangkaikan apabila kata yang mengikuti kata di tersebut jenis kata
kerja. Dalam istilah tata bahasa dijelaskan apabila di tersebut berfungsi sebagai awalan.
Dalam hal seperti ini di tersebut tidak dapat digantikan oleh ke. Dengan demikian, karena
dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak terdapat bentuk keambil, kebawa,
ketulis, kebaca, dan kebeli, maka apabila kata dasar tersebut dihubungkan dengan di harus
dituliskan; diambil, dibawa, ditulis, dibaca, dan dibeli.
Contoh lain:
di + pegang = dipegang
di + tembak = ditembak
di + hantam = dihantam
di + sambar = disambar

Sebaliknya, apabila kedudukan di dapat digantikan oleh ke, penulisannya harus dipisahkan.
Seusuai dengan aturan EYD, di harus ditulis terpisah dengan kata lain yang mengikutinya,
apabila kata di tersebut berfungsi sebagai kata depan.
Di dan ke berfungsi sebagai kata depan apabila diikuti :
1) Kata benda
Contoh:
di rumah - ke rumah
di pasar - ke pasar
di sungai - ke sungai
di pantai - ke pantai
di kampus - ke kampus
di terminal - ke terminal

2) Kata yang menunjukkan arah atau tempat.


Contoh:
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
di sana - ke sana
di sini - ke sini
di situ - ke situ
di dalam - ke dalam
di tengah - ke tengah
di utara - ke utara

Sebaliknya, ke harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya apabila ke tersebut:
1) Diikuti oleh kata bilangan, baik kata bilangan tentu maupun tak tentu.
Contoh:
ke + satu = kesatu
ke + empat = keempat
ke + sekian = kesekian

2) Diikuti oleh kata tua, hendak, dan kasih.


Contoh:
ke + tua = ketua
ke + kasih = kekasih
ke + hendak = kehendak.

3). Sebagai bagian dari kata yang bersangkutan.


Contoh
kemarin
kemudian
kepala
kepada

Catatan:
Perlu diperhatikan bahwa;
(a) penulisan ke bila diikuti kata luar; dan
(b) penulisan di bila diikuti kata samping.
Masing-masing bentuk kata tersebut memiliki dua bentuk penulisan; ada yang
dirangkaikan dan adapula yang dipisahkan.

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


Ke dan luar harus ditulis terpisah (ke luar) apabila kata tersebut merupakan “kebalikan
atau lawan dari ke dalam.
Contoh:
- Saya dengar Anda akan ke luar negeri, betulkah?
- Ia sering bertugas ke luar kota.
Ke dan luar harus ditulis serangkai/disatukan (keluar) apabila kata tersebut merupakan
“kebalikan atau lawan” kata masuk.
Contoh:
- Tahun lalu ia memang kuliah di sini, tetapi sekarang sudah keluar.
- Tiga hari tiga malam kami keluar masuk hutan
- Ia masuk sebentar, lalu keluar lagi.
Di dan samping harus ditulis terpisah (di samping) apabila kata tersebut menunjukan arah
atau tempat.
Contoh:
- Siapa yang duduk di sampingmu kemarin?
- Rumahnya persis di samping bioskop terkenal itu.

Di dan samping ditulis serangkai (disamping) apabila kata tersebut mengandung makna
kecuali atau selain.
Contoh:
- Disamping sebagai mahasiswa, ia juga seorang pedagang yang sukses.
- Perbuatan seperti itu, disamping merugikan diri sendiri juga dapat merugikan
orang lain.

2. Penulisan pun
Seperti halnya di dan ke, penulisan kata pun juga ada dua macam. Ada pun yang
harus ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya dan ada pun yang harus ditulis
terpisah dengan kata yang mendahuluinya.
Pun harus ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya apabila pun tersebut
sudah merupakan satu kesatuan dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
1) Meskipun sudah dilarang, ia pergi juga.
2) Walaupun tidak kaya, hidupnya bahagia.
3) Kendatipun nasib di tangan Tuhan, kita wajib berusaha.
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
Pun harus ditulis terpisah dengan kata yang mendahuluinya apabila:
1. Berfungsi untuk menyangatkan atau mengeraskan arti:
a) Hari ini sepeser pun aku tak punya uang.
b) Sedikit pun aku tak menyangka bahwa dia sampai hati mengkhianatinya.
2. Mempunyai arti juga.
a) Jika engkau tidak datang, aku pun tidak akan datang.
b) Apa pun kata orang, aku tetap mencintainya.
Dalam hubungan ini yang perlu diperhatikan penulisan pun jika pun tersebut
didahului oleh kata sekali. Ada yang harus ditulis terpisah (sekali pun) dan ada yang harus
ditulis serangkai (sekalipun).
Sekali dan pun harus dipisahkan penulisannya (sekali pun) apabila kata tersebut
dalam kalimat bersangkutan mempunyai arti walaupun sekali, meskipun sekali, atau yang
sejenis dengan itu.
Contoh:
Sekali pun belum pernah saya naik pesawat.
Kalimat ini sama benar maknanya dengan:
Meskipun sekali, saya belum pernah naik pesawat.
Walaupun sekali, saya belum pernah naik pesawat.

Sekali dan pun harus ditulis serangkai (sekalipun) apabila kata tersebut sama
artinya dengan walaupun, meskipun, atau kendatipun.
Contoh:
Sekalipun hujan ia datang juga.
Kalimat di atas sama benar maknanya dengan:
Meskipun hujan, ia datang juga.
Walaupun hujan, ia datang juga.
Kendatipun hujan, ia datang juga

PEMENGGALAN KATA DASAR

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


1. Bila ada dua vokal atau konsonan yang berurutan di tengah kata, pemenggalannya
dilakukan di antara dua vokal atau konsonan itu.
Contoh:
saat → sa-at
manfaat → man-fa-at

2. Bila di tengah kata terdapat konsonan yang diapit oleh dua vokal, pemenggalannya
dilakukan setelah vokal pertama atau sebelum konsonan tersebut.
Contoh:
sukar → su-kar sakit → sa-kit
bapak → ba-pak anak → a-nak

3. Jika ada dua buah konsonan yang berurutan di tengah kata, pemenggalannya di
lakukan setelah konsonan pertama.
Contoh:
April → Ap-ril
janji → jan-ji
runding → run-ding
Catatan:
Bentuk ng, ny, sy, dan kh yang melambangkan satu konsonan, gabungan huruf-huruf
itu tidak diceraikan sehingga pemenggalan suku kata dilakukan sebelum atau sesudah
pasangan huruf itu.
Contoh:
nyonya → nyo-nya
syarat → sya-rat
angka → ang-ka
sangat → sa-ngat

4. Jika ditengah kata terdapat tiga konsonan atau lebih, pemenggalannya juga dilakukan
setelah konsonan pertama.
Contoh:
instansi → in-stan-si
instruksi → in-struk-si
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
5. Pemenggalan kata yang mengandung bentuk trans dilakukan dengan mengikuti aturan
berikut:
a. Jika trans diikuti bentuk bebas, pemenggalannya dilakukan dengan memisahkan
trans sebagai bentuk utuh dan bagian lainnya dipenggal sebagai kata dasar.
Contoh:
transmigrasi → trans-mig-ra-si
transfusi → trans-fu-si

b. Jika trans merupakan bagian dari kata dasar, pemenggalannya dilakukan dengan
mengikuti pola pemenggalan kata dasar.
Contoh:
transenden → tran-sen-den
transisi → tran-si-si

6. Pemenggalan kata yang mengandung bentuk eks- dilakukan sebagai berikut:


a. Jika eks- terdapat pada kata yang pemakaiannya dapat disejajarkan dengan in- atau
im- , pemenggalannya dilakukan di antara eks dan unsur berikutnya.
Contoh:
ekstra → eks-tra
ekspor → eks-por
eksplisit → eks-pli-sit

b. Bentuk eks- yang tidak dapat disejajarkan dengan in- atau im- pemenggalannya
dilakukan di antara ek- dan bagian kata yang mengikutinya.
Contoh:
ekses → ek-ses
7. Kata-kata lain yang yang terdiri atas dua unsur atau lebih yang salah satu unsurnya
dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya juga melalui dua tahap. Mula-
mula unsur itu dipisahkam, kemudian dipenggal dengan mengikuti pola pemenggalan
kata dasar.
Contoh:
kilogram → kilo-gram → ki-lo-gram
biografi → bio-grafi → bi-o-gra-fi
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
Ok! Sekarang Anda sudah memahami masalah pemenggalan kata. Untuk menguji
pemahaman yang telah Anda peroleh, penggallah kata-kata berikut dengan benar!

1. ekstradisi 16. transit


2. eksploitasi 17. bioskop
3. eksperimen 18. kompleks
4. eksakta 19. harimau
5. bioskop 20. pantai
6. transitif 21. aula
7. kompleks 22. ambil
8. eksodus 23. ekstrem
9. biologi 24. makhluk
10. eksistensi 25. ikhlas
11. eksternal 26. audio-visual
12. akhlak 27. zoologi
13. maaf 28. transaksi
14. eksklusif 29. patriotisme
15. Program 30. pascapanen

5 BAHASA INDONESIA STANDAR ATAU BAKU

1. Fungsi Bahasa Indonesia Standar atau Baku


1. Dipergunakan dalam wacana teknis; misalnya karangan ilmiah, buku pelajaran, laporan
esmi, dan sebagainya.
2. Sebagai alat komunikasi resmi, yakni dalam arti surat-menyurat resmi, pengumuman
yang dikeluarkan oleh instansi resmi, undang-undang, surat keputusan, dan sebagainya.

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


3. Dipakai dalam pembicaraan dengan orang-orang yang dihormati, termasuk di
anataranya dengan orang yang belum akrab benar atau baru kita kenal.

2. Ciri-ciri Bahasa Standar atau Baku


1. Memakai ucapan baku (pada bahasa lisan)
(Sampai saat ini bahasa Indonesia belum memiliki lafal baku)
2. Memakai ejaan resmi
( Sekarang Ejaan Yang Disempurnakan, EYD)
3. Terbatasnya unsur daerah, baik leksikal maupun gramatikal.

Berikut ini disajikan beberapa contoh kesalahan pemakaian bahasa Indonesia


Bahasa Indonesia Tidak Baku Bahasa Indonesia baku
1. Mobilnya orang itu mewah 1. Mobil orang itu mewah.
2. Asmah benci sama tendy 2. Asmah benci kepada tendy
3. Fitri pandai sendiri di kelasnya 3. Fitri paling pandai di kelasnya
4. Mahmudah tidak tahu kalau hari ini 4. Mahmudah tidak tahu bahwa hari ini ada
ada ujian. ujian.
5. Dina datang sendirian tadi pagi. 5. Dina datang seorang diri tadi pagi
6. Sepatunya kebesaran 6. Sepatunya terlalu besar.

3. Kata Baku dan Tidak Baku


Untuk melengkapai uraiaian, di bawah ini disajikan beberapa contoh kata baku dan
tidak baku
Baku Tidak baku
1. Juang Joang
2. lubang lobang
3. kantung kantong
4. ubah robah

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


5. sadar sedar
6. saksama seksama
7. cacat cacad
8. mantap mantab
9. ungkap ungkab
10. bejat bejad
11. sekadar sekedar
12. hakikat hakekat
13. nasihat nasehat
14. kempis kempes
15. ahli akhli
16. masjid mesjid
17. beduk bedug
18. gubuk gubug
19. gerobak gerobag
20. aktif aktip – aktiv
21. aktivitas aktifitas – aktipitas
22. ekstrem ekstrim
23. hierarki hirarki – hirarkhi
24. insaf insap – insyaf
25. karier karir
26. khawatir hawatir
27. korps korp
28. metode metoda
29. manajemen menejemen – management
30. analisis analisa
31. sutera sutra
32. nakhoda nakoda – nahkoda
33. kualitas kwalitas
34. kuitansi kwitansi
35. jadwal jadual
36. teknik tekhnik
37. terampil trampil

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


38. wakaf waqaf – wakap
39. wasalam wassalam
40. wujud ujud
41. sistem sistim
42. khotbah khutbah – hutbah
43. prangko perangko
44. baut baud
45. semifinal semi final
46. antarnegara antar negara
47. mancanegara manca negara
48. narasumber nara sumber
49. faksimile feksimile – faximile
50. November Nopember – Nofember
51. zaman jaman
52. ziarah jiarah
53. salat shalat – sholat
54. aerobik erobik
55. akuntan akountan
56. arkais arkhais
57. geladi gladi
58. kompleks komplek
59. kurva kurve
60. misi missi
61. stasiun setasiun
62. syahdu sahdu
63. tata bahasa tatabahasa
64. antre antri
65. atlet atlit
66. azimat jimat
67. Februari Pebruari
68. film filem
69. frekuensi frekwensi
70. Jumat Jum’at

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


71. kabar khabar
72. kanker kangker
73. konkret kongkret
74. lembap lembab
75. paruh paro
76. tenteram tentram
77. adikuasa adi kuasa
78. swasembada swa sembada
79. narapidana nara pidana
80. ekabahasa eka bahasa
81. dwifungsi dwi fungsi
82. dwiwarna dwi warna
83. trilomba tri lomba
84. trilogi tri logi
85. tridarma tri darma
86. caturwulan catur wulan
87. pancasila panca sila
88. pancakrida panca krida
89. saptamarga sapta marga
90. dasasila dasa sila
91. dasawarsa dasa warsa
92. dasadarma dasa darma
93. apotek apotik
94. fakta pakta
95. pihak fihak
96. praktik praktek
97. ambulans ambulan
98. negeri negri
99. menteri mentri

Anda ingin mengukur kemampuan Anda dalam menggunakan huruf kapital dan kata
baku?

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


Bacalah teks berikut dan cermati kesalahan-kesalahan penulisannya!

Sebagai Kepala Sekolah disalah satu Sekolah Menengah Umum Negri di


kota Bogor, kota yang punya julukan kota hujan, Uday Sudarna [Link] ahir-
ahir ini sedang risau. Orang tuanya, yang bekerja disalah satu Direktorat
Jenderal yang ada di Departmen Pendidikkan Nasional, memintanya untuk
mendaptarkan diri menjadi Caleg dari partai tertentu dinegri ini. Semua
anggauta keluarga, seperti Ibu, Adik, Kaka, sodara, dan mertuanyapun
menghendaki hal itu. Tentu saja, hal itu sangat merepotkan Kepala Sekolah
yang senang makan rambutan Aceh dan sering mengkonsumsi garam Inggris
ini.

Tandai kesalahan-kesalahan yang terdapat pada teks di atas!


Anda sudah menandainya? Ok…!
Perbaiki dan tulis kembali teks di atas!

---------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


6 KALIMAT EFEKTIF

1. Pengertian
Kalimat atau bentuk kalimat yang dengan sadar atau sengaja disusun untuk
mencapai daya informasi yang tepat dan baik; yang susunan kalimatnya didukung oleh
kesepadanan, kepararelan, ketegasan, kehematan, dan kevariasi (Farera, 1991: 42)

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


Kalimat Efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan
kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada
dalam pikiran pembicara atau penulis (Arifin dan Tassai, 1991: 111)
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan
pemakainyasecara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula (Depdiknas, 2000: 81)
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki syarat-syarat:
a. Secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis.
b. Sanggup penimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau
pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis (Keraf, 1991: 36).

2. Ciri-ciri Kalimat Efektif


1. Kesepadanan
Kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa
yang dipakai.
Kesepadanan kalimat memiliki cirri:
a. Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat yang jelas.
Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindari
pemakaian kata depan di, dalam, bagi, untuk, pada, dan sebagainya di depan subjek.
Contoh:
(1) Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (salah)
Ket. P O

Pemakaian kata bagi di awal kalimat tidak tepat. Hal itu menyebabkan kalimat di atas tidak
memiliki subjek (S). Kalimat itu seharusnya:

Semua mahasiswa perguruan tinngi ini harus membayar uang kuliah. (benar)
S P O
(2) Kepada hadirin yang masih ada di luar harap memasuki ruangan sebelah kanan.
Ket. P O
Seperti halnya kalimat pertama, pemakaian kata kepada pada awal kalimat tidak tepat.
Penulisan kalimat itu seharusnya:
Hadirin yang masih ada di luar harap memasuki ruangan sebelah kanan.
S P O

b. Tidak mempunyai subjek yang ganda


Contoh:
(1) Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh teman saya.
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
S S P O
Seharusnya

(1) Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh teman saya
Ket S P O

Bagaimana dengan kalimat berikut:

a. Akibat banjir semalam membobolkan tanggul yang panjangnya 200 meter itu.
b. Menurut wartawan kamii di Baghdad mengabarkan bahwa Saddam Husen masih hidup
sampai saat ini.
c. Di sepanjang jalan Pajajaran bermandikan cahaya lampu hias.
d. Berdasarkan hasil rapat itu menjelaskan bahwa teroris merupakan musuh bersama.

a. …………………………………………………………………………………………….
b. …………………………………………………………………………………………….
c. ……………………………………………………………………………………………
d. …………………………………………………………………………………………….

c. Kata penghubung sehingga tidak dipakai pada kalimat tunggal


(1) Dia tidak pernah memperhatikan diriku. Sehingga aku lari dari pangkuannya.
(2) Kami datang agak terlambat. Sehinnga kami tidak dapat mengikuti perkuliahan itu.
Seharusnya
(1) Dia tidak pernah memperhatikan diriku sehingga aku lari dari pangkuannya.
(2) Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikui perkuliahan itu.

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


d. Predikat kalimat tidak didahuli oleh kata yang
Contoh:
Rumah saya yang terletak di depan gelanggang olahraga.
S P Ket.

Kalimat itu seharusnya ditulis:


Rumah saya terletak di depan gelanggang olahraga
S P Ket.

2. Kepararelan/kesejajaran
Kepararelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam suatu kalimat.
Artinya bila bentuk pertama menggunakan nomina (kata benda), bentuk kedua dan
seterusnya harus pula menggunakan nomina. Begitu pula bila bentuk pertama verba (kata
kerja), bentuk kedua dan seterusnya pun harus berbentuk verba.

Contoh:
(1) Harga minyak minyak tanah dibekukan atau naik secara luwes.
(2) Cara pengobatan dan menyembuhkan penyakit itu belum ditemukan sampai saat ini.
Kalimat yang benar
(1) Harga minyak tanah dibekukan atau dinaikkan secara luwes.
di------kan di------kan

(2) Cara pengobatan dan penyembuhan penyakit itu belum ditemukan sampai saat ini.
pe---------an pe-----------an

Bagaimana dengan kalimat berikut:


a. Perasaan ingin mengasihi dan sayang selalu melekat pada hati gadis lugu itu.
b. Pusat pendidikan dan latihan itu tiba-tiba menjadi momok yang menakutkan.
c. Agar peristiwa itu tidak terulang lagi, pemerintah harus memikirkan cara pencegaha
dan menanggulangi bencana banjir yang selalui menghantui masyarakat.
d. Kita harus menghargai persamaan dan beda pendapat di antara kita.
Penulisan yang benar:
a. ……………………………………………………………………………………………
b. ……………………………………………………………………………………………
c. ……………………………………………………………………………………………

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


d. ……………………………………………………………………………………………

3. Ketegasan/penekanan
Yang dimaksud dengan ketegsan adalah perlakuan penonjolan pada ide pokok
kalimat. Ada beberapa cara untuk membentuk penekanan ide pokok dalam kalimat:

a. Meletakkan ide pokok yang ditonjolkan itu di depan/di awal kalimat:


Contoh:
(1) Harapan presiden agar masyarakat Indonesia membaca satu jam dalam sehari.
Penekanannya pada harapan presiden.
(2) Pemuda itu diminta menikahi gadis malang itu sekarang juga.
Penekanannya pada pemuda itu.

b. Membuat urutan kata yang logis.


Contoh:
(1) Bukan seribu, sejuta, atau seratus, melainkan berjuta-juta rupiah ia membantu anak
yatim dan anak telantar.
(2) Jangankan berdua atau sendiri, bertiga pun dia tidak pernah berani menghadapi orang
itu.
Penulisan yang benar:
(1) Bukan seratus, seribu,atau sejuta, melainkan berjuta-juta rupiah ia membantu anak
yatim dan anak telantar.
(2) Jangankan sendiri atau berdua, bertiga pun dia tidak pernah berani menghadapi orang
itu.

c. Melakukan pengulangan kata (repetisi).


Contoh:
(1) Saya suka akan kecantikannya. Saya suka akan keramahannya.
(2) Gadis itu sangat sopan dan santun terhadap lelaki. Gadis itu tidak pernah
mengecewakan lelaki mana pun.
Kalimat kedua merupakan kalimat penegasan.

d. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.


Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
Contoh:
(1) Mahasiswa itu tidak malas dan sombong, tetapi rajin dan baik sekali.
(2) Orang itu bukan pencuri, melainkan polisi.
e. Mempergunakan partikel –lah sebagai penekanan atau penegasan.
Contoh:
(1) Saudaralah yang bertanggung jawab dalam peristiwa itu.
(2) Andalah yang menjalankan tugas ini.

4. Kehematan
Yang dimaksud dengan kehematan di sini adalah hemat dalam menggunakan kata,
frase, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus
menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Kriteria yang harus
diperhatikan adalah:

a. Penghematan dapat dilakukan dengan menghilangkan subjek.


Contoh:
Karena dia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
Kalimat di atas dapat ditulis:
Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.

b. Menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponim kata.


Contoh:
Ia memakai baju warna merah.
Pemakaian kata warna tidak perlu lagi karena merah merupakan warna.

c. Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat


Contoh:
Kata naik bersinonim dengan ke atas.
Kata turun bersinonim dengan ke bawah

Bagaimana dengan kalimat berikut:


(1) Orang itu selamat dari bencana banjir bandang karena naik ke atas pohon.
(2) Setelah serigala itu lelah, petani itu turun ke bawah dan berlari ke rumahnya.

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


Penulisan yang benar:
(1) ............................................................................................................................
(2) ............................................................................................................................

d. Tidak menjamakkan kata-kata yang sudah bermakna jamak.


Perhatikan kalimat berikut:
(1) Banyak para koruptor yang belum terjamah oleh hukum.
(2) Para ibu-ibu di tempat kami selalu salat berjamaah di masjid.
(3) Banyak rumah-rumah yang tergenang oleh air akibat tanggul itu jebol.
Pada kalimat (1) pemakaian kata para tidak tepat karena para artinya banyak. Kalimat
yang benar:
Banyak koruptor yang belum terjamah oleh hukum.
Demikian juga pemakaian kata para pada kalimat (2) yang artinya sama dengan
banyak. Bentuk ibu-ibu maknanya juga banyak. Oleh karena itu, pada kalimat (2) kita
bisa memilih salah satunya; para atau ibu-ibu. Jadi, penulisan yang benar seperti pada
contoh a dan b berikut:
a. Para ibu di tempat kami selalu salat berjamaah di masjid
b. Ibu-ibu di tempat kami selalu salat berjamaah di masjid.
Kalimat (3) pun memiliki kesalahan yang sama seperti kalimat (1) dan (2). Pada
kalimat (3) pemakaian kata rumah tidak perlu diulang karena rumah-rumah sudah
bermakna jamak (banyak rumah). Oleh karena itu, penulisan yang benar adalah:
Banyak rumah yang tergenang oleh air akibat tanggul itu jebol.

5. Kecermatan
Yang dimaksud dengan kecermatan dalam kalimat adalah bahwa kalimat itu tidak
menimbulkan tafsiran ganda atau ambiguitas (multi interpretasi).
Perhatikan kalimat berikut:
Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu memperoleh penghargaan dari menteri.

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


Kalimat di atas sepertinya tidak memiliki kesalahan, tetapi cobalah cermati maknanya. Bila
kita perhatikan, akan muncul pertanyaan, ‘siapa yang terkenal,’ mahasiswa atau
pergurunan tinggi?
Kalimat (1) di atas masih belum efektif karena masih memiliki makna yang ganda. Agar
kalimat (1) menjadi benar, penulisannya seperti berukut:
a. Mahasiswa yang terkenal di perguruan tinggi itu memperoleh penghargaan dari
menteri. ( yang terkenal mahsiswa).
b. Mahasiswa di perguruan tinggi yang terkenal itu memperoleh penghargaan dari
menteri. (yang terkenal perguruan tingginya).
c. Mahasiswa perguruan tinggi—yang terkenal itu memperoleh hadiah dari menteri.
(yang terkenal perguruan tinngi).
Contoh lain:
Tahun ini SPP mahasiswa baru dinaikkan.
Kata baru di atas menerangkan kata mahasiswa atau kata dinaikkan?
a) Jika menerangkan mahasiswa, tanda hubung dapat digunakan untuk menghindari salah
tafsir.
Tahun ini SPP mahasiswa-baru dinaikkan.
b) Jika kata baru menerangkan kata dinaikkan, kalimat itu dapat diubah menjadi:
SPP mahasiswa tahun ini baru dinaikkan.

Bagaimana dengan kalimat berikut:


(1) Isteri lurah yang baru itu meninggal dunia.
(2) Rumah artis yang mahal itu akan dijual.
(3) Mobil Pak Camat yang baru itu ada di bengkel.
(4) Mereka mengambil botol bir dari dapur yang menurut pemeriksaan laboratorium
baerisi cairan racun. (Botol bir atau dapur yang berisi cairan racun?)

Coba Anda perbaiki!


(1) ……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
(2) ……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
(3) ……………………………………………………………………………………………

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


……………………………………………………………………………………………
(4)
……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………..

6. Kepaduan
Yang dimaksud kepaduan adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat sehingga
informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah.

Contoh:
(1) Surat itu saya sudah baca.
(2) Saran yang disampaikannya kami akan pertimbangkan.
Agar kalimat itu padu, susunannya seperti berikut:
(1) Surat itu sudah saya abaca.
(2) Saran yang disampaikannya akan kami pertimbangkan.

Bagaimana dengan kalimat berikut:


(3) Seandainya dia tidak mengaku, saya akan tanyakan hal itu pada orang tuanya.
(4) Kalau ia memintanya, saya akan berikan uang itu.
(5) Apakah Bapak akan kabulkan permintaan saya ini?
(6) Saudara saya akan nikahkan dengan putri saya.
Sekarang coba Anda perbaiki!
(3) …………………………………………………………………………………………..
(4) …………………………………………………………………………………………..
(5) …………………………………………………………………………………………..
(6) …………………………………………………………………………………………..

7. Kelogisan
Yang dimaksud dengan kelogisan adalah ide kalimat dapat diterima oleh akal sehat
dan sesuai dengan ejaan yang berlaku.

Anda merasa tertantang untuk menguji kemampuan Anda dalam


pemakaian kalimat efektif?
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
Inilah tantangan untuk Anda.

Cermati dan perbaiki kesalahan kalimat berikut:


1. Dari peristiwa itu perlu mendapat perhatian dari berbagai fihak, sehingga pada masa
datang tidak seorangpun menuntut ganti rugi.
2. Tujuan penyusunan buku pelajaran itu adalah membantu masyarakat, khususnya yang
berada di pedesaan. Sehingga karenanya mendapat kesempatan membaca menulis.
3. Dalam upacara pembukaan seminar itu, yang pertama kali diadakan di kota Bogor
dihadiri para pejabat-pejabat negaradan tokoh-tokoh masyarakat.
4. Pertanyaan saya yang ketiga kalinya, disebabkan karena kebimbangan saya terhadap
pemakaian kata nalar.
5. Indikator pemahaman materi keterampilan yaitu mampu melakukan tugas dan latihan
yang diberikan oleh penyaji.
6. Jumlah dokter amat terbatas dibanding jumlah penduduk, tidak semua warga
masyarakat termasuk di desa mendapat pelayanan medis.
1. ……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
2. ……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
3. ……………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
4. …………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
5. ……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
6. ……………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………

7 PARAGRAF

1. Pengertian
Bagian dari karangan atau tuturan yang terdiri dari sejumlah kalimat yang
mengungkapkan satuan informasi dengan ide pokok sebagai pengendalinya.

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


2. Fungsi
1. Penampung pragmen pikiran atau ide pokok.
2. Alat untuk memudahkan pembaca memahami jalan pikiran pengarang.
3. Alat bagi pengarang untuk mengembangkan jalan pikiran secara sistematis.
4. Pedoman bagi pembaca untuk mengikuti dan memahami jalan pikiran pengarang
5. Alat penyampai pragmen pikiran atau ide pokok pengarang kepada pembaca.
6. Sebagai penanda bahwa pikiran baru dimulai
7. Dalam rangka keseluruhan karangan paragraph berfungsi sebagai pengantar, transisi,
dan penutup.

3. Unsur-unsur
1) Transisi
Transisi adalah sebuah pengantar dalam paragraf sebelum sampai pada kalimat topik.
Transisi dapat berbentuk kata, frase, dan kalimat.
2) Kalimat topik/kalimat utama.
Kalimat topik atau kalimat utama adalah kalimat yang dijelaskan oleh kalimat-kalimat
yang lain (kalimat penjelas).
3) Kalimat penjelas/kalimat pengembang.
Kalimat pengembang atau kalimat penjelas adalah kalimat yang menjelaskan kalimat
utama atau kalimat topik.
4) Kalimat penegas
Kalimat penegas adalah kalimat yang berfungsi menegaskan kembali informasi atau
gagasan yang telah dikemukakan oleh kalimat utama.

Perhatikan contoh berikut:


(1) Hesti dan Heni sama-sama menata rias wajah dengan lengkap. (2)
Perbedaannya terletak pada cara mereka merias wajah. (3) Hesti, memoles wajah hanya
dengan kuas kecil yang sudah tersedia pada kemasan perona mata, tanpa membentuk
dan merapikannya dengan kuas khusus sehingga hasilnya tidak begitu rapi. (4)
Demikian juga pada bagian lainnya, seperti pipi dan bibir. (5) Sedangkal Heni, memoles
bagian-bagian wajah dengan kuas khusus. (6) Tampak tata rias wajahnya lebih rapi dan
sempurna. (7) Memang, tata cara merias yang berbeda akan membawa hasil yang
berbeda pula.
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
Unsur-unsur paragraf di atas adalah:
Kalimat (1) : transisi, berupa kalimat
(2) : kalimat topik
(3), (4), (5), dan (6) : kalimat penjelas (kalimat pengembang)
(7) : kalimat penegas

4. Syarat-syarat paragraf.
1) Memiliki keutuhan (unity)
Keutuhan artinya paragraf hanya memiliki satu kalimat utama atau kalimat topik
dan kalimat-kalimat penjelasnya mengacu pada kalimat topik tersebut. Jadi paragraf yang
utuh apabila kalimat-kalimatnya mengacu pada pada satu topik. Tidak ada kalimat-kalimat
yang menyimpang dari topik.
Contoh:
(1) Banjir yang besar menyebabkan puluhan rumah hancur dan merugikan para
petani. (2) Mereka sekarang sudah tidak tahu lagi harus tinggal di mana. (3) Pekerjaan
pun tidak ada karena seluruh lahan yang akan dipanen ikut tergenang air. (4) Kini
tinggalah petani-petani itu meratapi nasibnya yang malang, tinggal di tenda-tenda, dan
jauh dari sanak keluarga. (5) Tak ada lagi harta benda, makan pun seadanya, dan dan
berbagai penyakit mulai menjangkitinya. (6) Sungguh sangat memilukan.

2) Memiliki koherensi (coherence)


Koherensi artinya kepaduan maknawi antara kalimat yang satu dengan kalimat
yang lain.

Contoh:
(1) Penangkapan preman oleh aparat kepolisisn disambut gembira oleh masyarakat. (2)
Masyarakat tidak perlu takut jika bepergian di malam hari. (3) Para sopir dan kondektur
pun tidak lagi merasa takut diperas oleh preman. (4) Tindak kriminal pun yang
sebelumnya meningkat kini menurun tajam. (5) Keadaan yang aman dan damai sekarang
ini sungguh sangat dirasakan oleh masyarakat. (6) Jadi, adanya upaya pemerintah dalam
membasmi tindakan preman disambut baik oleh seluruh lapisan masyarakat.
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
Coba Anda bandingkan!
(1) Saya suka warna merah. (2) Apel yang merah itu rasanya manis sekali. (3)
Mobil yang bertabrakan di Jalan Raya Bogor itu pun warnanya merah. (4) Kemarin teman
kuliahku membeli mobil merah yang sangat disukainya. (5) Memang naik mobil warna
merah lebih enak dibandingkan mobil warna lainnya.

Koherensikah paragraf tersebut?


Mengapa?------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------
5. Paragraf berdasarkan letak kalimat utama
1Paragraf deduktif.
Paragraf yang kalimat utamanya ada di awal paragraf
Contoh:
(1) Banjir yang besar menyebabkan puluhan rumah hancur dan merugikan para
petani. (2) Mereka sekarang sudah tidak tahu lagi harus tinggal di mana. (3) Pekerjaan
pun tidak ada karena seluruh lahan yang akan dipanen ikut tergenang air. (4) Kini
tinggalah petani-petani itu meratapi nasibnya yang malang, tinggal di tenda-tenda, dan
jauh dari sanak keluarga. (5) Tak ada lagi harta benda, makan pun seadanya, dan dan
berbagai penyakit mulai menjangkitinya. (6) Sungguh sangat memilukan.

2. Paragraf induktif
Paragraf yang kalimat utamanya terletak di akhir paragraf
Contoh:
(1) Masyarakat pedesaan di wilayah Bogor dapat melakukan pekerjaan sehari-hari
di malam hari. (2) Mereka sekarang sudah dapat menikmati aliran listrik di tiap-tiap

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


rumah. (3) Tidak saja itu, segala jenis alat elektronika pun sudah menggunakan listrik,
mulai dari radio sampai televisi. (4) Itu semua akibat manfaat listrik masuk desa.

(1) TVRI memiliki paket informasi yang dikemas dalam Berita Pagi, Berita Petang,
dan Dunia dalam Berita. (2) RCTI memiliki paket Nuansa Pagi, Buletin Siang, dan
Seputar Indonesia. (3) SCTV memiliki paket yang hampir sama dengan RCTI, hanya saja
SCTV memiliki Paket Liputan Enam. (4) TPI mempunyai Selamat Pagi Indonesia. (5)
Anteve menyiarkan Laporan Pagi. (6) Stasiun-stasiun televisi yang baru pun, seperti
Metro TV, Trans TV, danTV 7 juga memiliki beragam acara yang bernuansa informasi. (7)
Pada dasarnya semua stasiun televisi mempunyai paket informasi untuk disiarkan
kepada pemirsa.

3. Paragraf Campuran
Paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal dan akhir paragraf.
Contoh:
(1) Kesimpulannya, keluarga kami senang membaca bacaan yang berbeda-beda.
(2) Ayah membaca buku politik dan ekonomi. (3) Ibu senang membaca majalah, koran,
dan bacaan-bacaan tentang kewanitaan. (4) Kakak menyukai cerpen, komik, dan cerita-
cerita silat. (5) Saya sendiri menyukai buku-buku pendidikan. (6) Dengan demikian, jelas
bahwa bacaan keluarga kami memang berbeda-beda.

(1) Penangkapan preman oleh aparat kepolisian disambut gembira oleh


masyarakat. (2) Masyarakat tidak perlu takut jika bepergian di malam hari. (3) Para sopir
dan kondektur pun tidak lagi merasa takut diperas oleh preman. (4) Tindak kriminal pun
yang sebelumnya meningkat kini menurun tajam. (5) Keadaan yang aman dan damai
sekarang ini sungguh sangat dirasakan oleh masyarakat. (6) Jadi, adanya upaya
pemerintah dalam membasmi tindakan preman disambut baik oleh seluruh lapisan
masyarakat.
4. Paragraf deskriptif/paragrap/naratif
Paragraf yang kalimat utamanya dinyatakan secara implisit (tidak terlihat di dalam
teks). Kalimat utama pada paragraph ini biasanya diserahkan kepada pembaca.
Contoh:
(1) Kulihat wajah gadis itu merah padam. (2) Matanya bersinar tajam sambil
memandang orang di sekelilingnya. (3) Seakan baru saja ia mengalami sesuatu. (4)
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
Berulang-ulang ia menyembunyikan raut wajahnya yang kelihatan pucat. (5) Tetapi orang
di sebelahnya tidak mengacuhkannya. (6) Sungguh kasihan gadis itu.

Apa kalimat utama paragrap di atas?---------------------------------------------------------------

Bagaimana cara Anda mendapatkan kalimat utama


itu?---------------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------

Disamping keempat paragraf di atas, sebenarnya masih ada jenis paragraf lain
seperti:
1. Paragraf penderetan
2. Paragraf perbandingan
3. Paragraf contoh-contoh
4. Paragraf sebab-akibat
5. Paragraf definisi
6. Paragraf perulangan
7. Paragraf pertanyaan

Apakah Anda mahasiswa yang menyukai tantangan!...........


Baik, inilah tantangan berikutnya untuk Anda.

Carilah pengertian dan contoh ketujuh pargraf di atas!

Selamat bekerja!
Kata orang bijak:
Seorang mahasiswa yang ulet, dia tidak akan pernah berhenti untuk mencari
tantangan.
Anda mahasiswa seperti itu? Buktikan!

Bacalah paragraf di bawah ini!


Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
(1) Maraknya pornografi dan pornoaksi membuat resah masyarakat. (2)
Pornografi dan pornoaksi oleh sebagian orang dianggap sebagai seni atau kebebasan
berekspresi. (3) Mereka juga beranggapan tidak realistis mengaitkan seni dengan nilai-
nilai agama. (4) Dengan penuh keyakinan mereka membela mati-matian orang yang
mempertontonkan erotisme dan yang mengkritiknya dianggap iri dan takut tersaingi. (5)
Sungguh terbalik wajah dunia ini. (6) Kebatilan mereka dukung, sementara kabaikan
dianggap kelompok awam yang tak berseni dan tak berbudaya. (7) Kita bertanya, siapa
sesungguhnya yang tak berseni dan tak berbudaya. (8) Dengan demikian, pengaburan
nilai-nilai agama dan moral dalam menilai dan memandang sesuatu merupakan tujuan
paham kapitalis sekuler, produk orang-orang kafir.

Jawablah soal-soal berikut!


1. Jelaskan unsur-unsur paragraf di atas!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
3. Dilihat dari letak kalimat utamanya, apa nama paragraf di atas?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

4. Jelaskan penanda koherensi paragraf di atas!


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
Contoh Karangan Eksposisi

Jenis Pembaca
Pada garis besarnya pembaca karya tulis yang berada di tengah masyarakat
Indonesia dapat dibedakan empat golongan. Pertama, pembaca bacaan anak, yang
kebanyakan menyukai dongeng, cerita petualangan, kepahlawanan, dan sejarah. Tidak
mungkin mereka kita beri atau dipaksa membaca bacaan teknis, keilmuan, keterampilan,
atau ilmiah populer. Bacaan ini hanya mereka pegang saja, tidak pernah menjadi
kegemaran mereka.
Kedua, pembaca bacaan remaja, yang kebanyakan menyukai cerita pendek,
novel, roman cinta, seks, dan kriminal. Bacaan ilmiah populer yang hendak disajikan bagi
mereka terpaksa diolah sama seperti bacaan anak. Hanya bahan ceritanya saja yang
berbeda. Bagi mereka bukan petualangan ceritanya saja yang menarik, tetapi juga tingkah
laku yang berhubungan dengan cinta dan seks.
Ketiga, pembaca bacaan dewasa, yang kebanyakan menyukai cerita detektif
(yang pada hakikatnya juga cerita petualangan yang diolah secara cerdik) dan tulisan
nonfiksi.
Golongan pembaca inilah yang merupakan sasaran bagi penulisan bacaan
ilmiah populer. Mereka sudah mulai mampu menerima bacaan dalam bentuk dialog
langsung dari penulis ke pembaca. Tak perlu lewat tokoh cerita lagi.
Keempat, pembaca bacaan orang tua, yang kebanyakan menyukai tulisan
mistik, filsafat, keagamaan, kebatinan, bahasan teknis, dan esai ilmiah. Mereka pun jelas
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
mampu menerima bacaan dalam bentuk dialog langsung dari penulis ke pembaca. Bahkan
mereka menuntut uraian dan pembahasan yang lebih mendalam, disertai falsafah dan
argumentasi ilmiah.

(Slamet Suseno, Teknik Penulisan Ilmiah Populer, 1986:18-19)

Perhatikan contoh wacana eksposisi yang lain berikut ini.

Membuat Tempe
Tempe makanan murah dan bergizi. Banyak protein dikandungnya. Cara
membuatnya tidak sukar. Bahannya mudah diperoleh, yaitu kacang kedelai atau kacang-
kacangan yang lain. Tetapi yang lazim adalah kacang kedelai putih. Marilah kita coba
membuat tempe sendiri.
Ambil kedelai secukupnya, kira-kira tiga kilogram. Kita pilih dahulu, kalau-
kalau tercampur batu atau kotoran lain. Kemudian, cuci bersih dengan air dan kita rebus
sampai masak benar. Jika kurang masak, tempe kita tidak akan jadi. Rebusan kedelai yang
masih panas itu kita biarkan barang satu atau dua jam sampai menjadi dingin. Kulit kedelai
masih melekat walaupun ada juga yang sudah mengelupas. Sekarang kita usahakan supaya
kulit itu mengelupas semua. Caranya dengan memasukan kedelai rebus itu ke dalam bakul,
dan kita aduk terus-menerus, sambil menyiraminya dengan air. Jika bakul itu kita letakan
di bawah pancuran air, pekerjaan kita akan cepat selesai. Kulit yang mengelupas akan
mengapung dan hanyut dibawa air. Demikianlah kita lakukan, sampai kedelai terkelupas
semuanya. Jika kurang bersih, tempe kita nanti kurang baik jadinya. Agak pahit, dan salah-
salah malah bisa busuk.
Langkah berikutnya ialah membuang bau kedelai yang kurang sedap. Caranya
mudah saj. Masukkan kedelai yang sudah bersih itu ke dalam tempayan dan rendam barang
semalam. Sekali dalam dua jam, air rendaman kita ganti. Bau khusus yang kurang enak itu
akhirnya akan lenyap juga. Kedelai itu kemudian kita paparkan di atas tikar atau tampa dan
kita biarkan supaya kering. Artinya, tidak lagi basah kuyup.
Sekarang saatnya untuk membumbui kedelai yang sudah bersih, tidak berbau,
dan kering itu dengan ragi tempe. Ragi tempe dibuat dari tempe juga. Tempe segar kita
iris-iris lalu kita jemur. Jika sudah kering benar, kita tumbuk menjadi tepung. Tepung
inilah yang kita sebut ragi tempe. Kedelai kita beri ragi. Tak perlu banyak-banyak, cukup
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
secangkir saja. Kemudian, kita aduk. Tujuan meragi tempe ialah menyebar benih tempe.
Tempe itu sesungguhnya kedelai yang sudah berjamur. Jamurnya lebat sekali. Warnanya
putih. Melalui proses biokimia jamur itu mengubah kedelai menjadi makanan yang kaya
protein dan mudah dicernakan.

KATA PENGANTAR

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa Indonesia merupakan kumpulan


materi perkuliahan Bahasa Indonesia yang diberikan pada mahasiswa Semester I
Tingkat I Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Uraian materi yang terdapat
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
dalam buku ini disusun secara sistematis, mulai dari pemakain huruf kapital,
penulisan kata, kalimat, paragraf, sampai dengan penulisan karangan.
Karena kedudukannya sebagai kumpulan materi perkuliahan, uraian-uraian
materi dalam Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa Indonesia disusun dan didisain
sedemikian rupa. Uraian materinya tidak disajikan dalam bentuk bab-bab, tetapi
dalam bentuk urutan, yakni urutan 1 s.d. 8. Uraian materi yang terdapat pada tiap-
tiap bagain saling berkorelasi antara bagian yang satu dan bagian yang lainnya.
Bagian 1 menjadi dasar penguasaan bagian 2, bagian 2 menjadi dasar
penguasaan bagian 3, dan begitu seterusnya.
Satu hal yang berbeda dengan tulisan lainnya, uraian materi Materi Pokok
Mata Kuliah Bahasa Indonesia ini selalu menyajikan pelatihan dan dilengkapi
dengan baris atau halaman khusus untuk mengerjakan pelatihan itu. Mahasiswa
tidak perlu lagi menyediakan lembaran-lembaran kertas untuk mengerjakan
pelatihan. Hal ini dilakukan agar kegiatan pembelajaran tidak lepas dari konteks
pembelajaran, sehingga mahasiswa dapat belajar secara efektif. Pada bagian lain,
petunjuk dan perintah-perintah pengerjaan pelatihan disusun dengan gaya bahasa
yang berbeda dari yang lainnya. Pemakaian gaya bahasa yang berbeda itu
dimaksudkan agar rangkaian kegiatan pemebelajaran terasa lebih akrab dan
komunikatif.
Kendatipun masih jauh dari sempurna, penyusun berharap tulisan ini dapat
bermanfaat dalam meningkatkan kualitas pemakaian bahasa Indonesia

Bogor, September 2008

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………... i

DAFTAR ISI….……………………………………………………………..………... ii

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


1. KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA
1. Kedudukan Bahasa Indonesia…………………………………………….……...1
2. Fungsi Bahasa Indonesia……………………………………………….....….….1

2. PEMAKAIN HURUF KAPITAL.....………………………………………..……3


1. Penulisan Nama Jabatan…………………………………………………….…...3
2. Nama Lembaga……………………………………………………………….….3
3. Nama Instansi……………………………………………………………………4
4. Penulisan Gabungan Kata yang Memakai Nama Negara dan Nama Geografis…4
5. Penulisan Nama Orang yang Digunakan sebagai Nama Satuan…………….…..5

3 BEBERAPA KESALAHAN UMUM DALAM PEMAKAIAN BAHASA


INDONESIA…………………………………………………………………….…6
1. Penulisan di dan ke……………………………………………………………...6
2. Penulisan pun……………………………………………………………………8

4. PEMENGGALAN KATA DASAR……………………………………..……….10

5. BAHASA INDONESIA STANDAR ATAU BAKU………………………...…13

1. Fungsi Bahasa Indonesia Standar atau Baku…………………………………..13


2. Ciri-ciri Bahasa Indonesia Standar atau Baku…………………………………13
3. Kata Baku dan Tidak Baku…………………………………………………….14

6. KALIMAT EFEKTIF…………………………………………………………...19

1. Pengertian………………………………………………………………………19
2. Ciri-ciri…………………………………………………………………………19

ii
7. PARAGRAF………………………………………………………………………28

1. Pengertian………………………………………………………………………28
2. Fungsi…………………………………………………………………………..28
3. Unsur-unsur…………………………………………………………………….28
4. Syarat-syarat Paragraf………………………………………………………….29
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
5. Paragraf Berdasarkan Letak Kalimat Utama…………….……………………30

8. BENTUK KARANGAN……………………………………….….……………..35

1. Karangan Deskripsi…………………………………………….……….……...35
2. Karangan Eksposisi……………………………………………….……………35
3. Karangan Argumentasi……………………………………………..…………..36
4. Karangan Persuasi…………………………………………..…….………..…..36
5. Karangan Narasi……………………………………………….….…………...36

DAFTAR PUSTAKA

iii
DAFTAR PUSTAKA

Abidin P.M., Zainal. 2002. Materi Pokok Bahasa Indonesia. Bogor: FKIP.

Akhadiah, Sabarti. 1990. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta:


Erlangga.

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


Badudu, Yus. 1993. Membina Bahasa Indonesia Baku: Jilid 1 dan 2. Bandung: Pustaka
Prima.

Badudu, Yus. 1985. Cakrawala Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Caraka, Cipta Loka. 1995. Teknik Mengarang. Yogyakarta: Kanisius.

Depdikbud. 1986. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.


Jakarta.

Depdikbud. 1986. Pedoman Pembentukan Istilah. Jakarta.

Depdikbud. 1996. Pedoman Pengindonesiaan Nama dan Kata Asing. Jakarta: Balai
Pustaka.

Effendi, S. 2001. Pembinaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Prima.

Jabrohim dkk. 2001. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelangi.

Keraf, Goris. 1988. Komposisi. Ende: Nusa Indah.

Keraf, Goris. 1983. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia.

Kelompok Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. 1991. Kemampuan Membaca dan
Kemampuan Menulis. Malang: YA3.

Rusyana, Yus. 1986. Keterampilan Menulis. Jakarta: Karunika Universitas Terbuka.

Rosdiana, Rina. 1995. Paragraf dan Unsur-unsurnya: Diktat Perkuliahan Keterampilan


Menulis.

Suhendra. 2003. Teori Wacana Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Perkuliahan


Wacana Bahasa Indonesia. Bogor: FKIP.

Suhendra. 2003. Ayo! Menulis: Kumpulan Materi Pokok Keterampilan Menulis. Bogor:
FKIP

Tarigan, Henry Guntur. 1992. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:
Angkasa.

Widagdho, Joko. 1998. Bahasa Indonesia: Pengantar Kemahiran Berbahasa Indonesia di


Perguruan Tinggi. Yogyakarta: UGM.

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa


Kalimat topik/Kalimat Utama
Kalimat penjelas
Kalimat penjelas
Kalimat penjelas
Kalimat penjelas

Banyak suka duka yang dialami pada saat mengikuti


perkuliahan di FKIP Unpak. Salah satunya kita banyak
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
bertemu teman baru yang berbeda satu sama lain dan
memiliki karakter yang unik. Selain banyak mahasiswa yang
datang terlambat, tugas-tugas yang diberikan dosen pun
menumpuk. Tidak sedikit pula hasil ujian yang tidak sesuai
harapan. Dalam perkuliahan sering tidak mendapat ruangan.

Mahasiswa semester 2/A rajin dan pandai. Setiap tugas yang


diberikan dosen selalu dikerjakan tepat waktu. Setiap akan
dimulai perkuliahan tidak satu pun mahasiswa yang datang
terlambat. Nilai yang diperoleh mahasiswa rata-rata di atas 9
karena setiap mahasiswa selalu belajar setiap hari. Selain itu
banyak pula mahasiswa yang aktif dalam organisasi kampus.

Selain berdampak ke pada hasil panen petani kini kekeringan juga mulai
menghambat aktivitas warga. Karena kini warga mulai kesulitan mencari air
bersih untuk mencuci, mandi, menyiram kebun dan halaman, banyak warga
yang menggali sumur atau pergi ke sungai.

…….. ada satu ruangan yang sangat istimewa. Karena di sana aku dapat
melakukan banyak aktivitas, bahkan aku sering menghabiskan sebagian
waktuku di ruangan itu.

Karena dia tidak mencintaiku, sejak lama aku menolaknya.


Sejak lama aku menolaknya karena dia tidak mencintaiku.
Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa
Dia bukan anggota NII melainkan anggota TNI.

Orang itu tidak mengusir mahasiswa tetapi hanya membentaknya saja.

Materi Pokok Mata Kuliah Bahasa

Anda mungkin juga menyukai