BUKU PEDOMAN UMUM
LAYANAN DUKUNGAN PSIKOSOSIAL
KEMENTERIAN SOSIAL
REPUBLIK INDONESIA
EDISI REVISI
2021
Penulis
Afiyah R. Aisy, Maya Meilan Falah, Dika Yudhistira, Mokhamad
Alfian, Helena Sigit Widiastuti, Cornelia Istiani, Joko Purnomo,
Fahri Isnanta, Tota Oceanna Zonneveld
Penyunting
Ajeng Anggraeni Putri, Valentina Sri Wijiyati, Tiurma R. Pohan,
Juwindy Kapitan
Didukung Oleh
Tearfund
PENERBIT
DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN DAN JAMINAN
SOSIAL KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | i
KATA PENGANTAR
Kementerian Sosial Republik Indonesia pada
tahun 2015 telah menerbitkan Buku Pedoman Dukungan
Psikososial Penanggulangan Bencana yang memberikan
kaidah-kaidah agar layanan yang diberikan sesuai
dengan tujuan kemanusiaan dan tidak memperburuk
situasi yang dihadapi oleh penyintas. Buku tersebut saat
ini telah kami kembangkan mengikuti pola dan
pembelajaran-pembelajaran dari penanganan bencana
yang semakin kompleks.
Berlokasi di Cincin Api Pasifik, Indonesia tercatat
sebagai kawasan rawan bencana, dengan jenis bencana
yang beragam dan dalam 5 tahun terakhir, masih terjadi
bencana dalam skala besar. Selain intensitas, ancaman
dan bencana baru juga menambah daftar jenis bencana
di Indonesia, seperti likuifaksi. Kejadian bencana dalam
waktu yang berdekatan diwilayah yang sama, dengan
jenis bencana yang berbeda, juga menambah
kompleksitas dalam penanganannya. Diluar bencana
alam, Indonesia juga mengalami bencana sosial dan
bencana non alam seperti kegagalan teknologi serta
pandemi. Penanganan bencana sosial maupun bencana
di era pandemi harus mengupayakan cara-cara yang
lebih spesifik, lebih khas/unik agar tidak semakin
membahayakan penyintas.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | ii
Di Kementerian Sosial RI sendiri, terdapat unsur-
unsur yang dapat terintregrasi dan berkesinambungan
dalam penanganan bencana, khususnya untuk
mengoptimalkan aktivitas dan capaian dari layanan
dukungan psikososial. Sumber-sumber dukungan
lainnya dari luar semakin luas. Kementerian Sosial yang
memperoleh mandat sebagai leading sector dari
pemberian Layanan Dukungan Psikososial (LDP) dalam
penyelenggaran penanganan bencana, dapat melakukan
pengelolaan terhadap sumber-sumber yang ada dibawah
koordinasi Direktorat Jenderal Perlindungan dan
Jaminan Sosial (Dirjen Linjamsos) bersama Direktorat
Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam (Dit. PSKBA)
atau Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana
Sosial (Dit. PSKBS) sesuai dengan jenis bencana, yang
dalam pelaksanaannya dilakukan 3 (tiga) fase besar
bencana, yaitu pra-bencana, saat bencana, dan pasca
bencana.
Januari 2022
Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vii
BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang 1
I.2. Dasar Hukum 4
I.3. Maksud dan Tujuan 6
I.4. Sasaran Pedoman 7
I.5. Ruang Lingkup Pedoman 7
I.6. Pengertian Istilah 8
BAB II KETANGGUHAN, DUKUNGAN
PSIKOSOSIAL, DAN LDP
II.1. Pengertian Ketangguhan, Dukungan 12
Psikososial, dan LDP
II.2. Penyelenggaraan LDP 23
II.3. Tantangan dan Strategi Penyelenggaraan 40
LDP
BAB III TAHAPAN UMUM PELAKSANAAN LDP
III.1. LDP pada Fase Prabencana 47
III.2. LDP pada Fase Bencana 50
III.3. LDP pada Fase Pascabencana 69
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | iv
BAB IV LDP UNTUK BERBAGAI KELOMPOK
IV.1. LDP untuk Kelompok Anak dan Remaja 73
IV.2. LDP untuk Kelompok Dewasa 78
IV.3. LDP untuk Kelompok Ibu Hamil dan
80
Menyusui
IV.4. LDP untuk Kelompok Lanjut Usia 82
IV.5. LDP untuk Kelompok Disabilitas 84
IV.6. LDP untuk Orang dengan Sakit atau
87
Kondisi Tertentu
IV.7. LDP untuk Kelompok dengan Kerentanan
92
Ganda
BAB V SISTEM RUJUKAN 94
BAB VI KODE ETIK DAN KESEJAHTERAAN
STAF
VI.1. Kode Etik 98
VI.2. Kesejahteraan Staf 105
BAB VII PENUTUP 111
REFERENSI 112
DAFTAR LAMPIRAN 119
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | v
DAFTAR TABEL
DAFTAR TABEL
Tabel 1: Tujuan LDP Fase Bencana 23
Tabel 2: Indikator Capaian LDP 36
Tabel 3: Perbedaan Stress dan Trauma 65
Tabel 4: Isi Laporan dan Rekomendasi 67
Tabel 5: LDP pada kelompok rencan tertentu 71
secara umum
Tabel 6: LDP untuk kelompok anak dan remaja 74
Tabel 7: LDP untuk kelompok dewasa 78
Tabel 8: LDP untuk ibu hamil dan menyusui 80
Tabel 9: LDP untuk kelompok lanjut usia 82
Table 10: LDP untuk kelompok disabilitas 84
Tabel 11: LDP pada orang sakit/dengan kondisi 88
tertentu
Tabel 12: Daftar Rujukan Penanganan 97
Kesehatan Mental/Jiwa
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | vi
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1: Dasar Kerangka Kerja Ketangguhan 29
Gambar 2: Piramida Intervensi untuk DPSS 32
dalam situasi darurat
Gambar 3: Alur Tahapan pemberian LDP dari 47
fase prabencana, bencana sampai dengan
pascabencana
Gambar 4: Piramida kesehatan jiwa dan layanan 50
psikososial
Gambar 5: Minimal Response 52
Gambar 6: Asesmen dalam rentang waktu 54
Gambar 7: Asesmen dan 11 aksi kunci LDP 55
Gambar 8: Activity od Daily Living Mapping 56
Gambar 9: Body Mapping 57
Gambar 10: Sebelas aksi kunci LDP 60
Gambar 11: Sebelas aksi kunci LDP 61
Gambar 12: Sebelas aksi kunci LDP 61
Gambar 13: Sebelas aksi kunci LDP 62
Gambar 14: Sebelas aksi kunci LDP 62
Gambar 15: Pendampingan Lanjutan Setelah 63
Bencana Sosial
Gambar 16: Sebelas aksi kunci LDP 63
Gambar 17: Standar Kemanusiaan ini dalam hal 100
kualitas dan akuntabilitas
Gambar 18: Sebelas aksi kunci LDP 108
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | vii
BAB I
PENDAHULUAN
Bab ini memberikan penjelasan terkait dengan
pentingnya buku panduan LDP dan mengapa perlu
ada perubahan dari edisi sebelumnya.
I.1. Latar Belakang
Situasi terakhir ini memperlihatkan tingkat
kerawanan Indonesia terhadap bencana. Tingkat
kerawanan bencana ini dapat dilihat dari
perhitungan individu yang terancam risiko
kehilangan nyawa, harta benda, keluarga, dan hal
lainnya yang menyebabkan turunnya kekuatan
mental individu dalam jangka pendek ataupun
jangka panjang. Kondisi alam, sosial-budaya, dan
jumlah penduduk yang besar merupakan beberapa
faktor yang dapat menimbulkan bencana alam,
nonalam, dan/atau bencana sosial.
Secara umum, dampak bencana sering kali
melemahkan kemampuan individu-penyintas atau
komunitas untuk dapat berfungsi secara normal dan
dapat berlangsung lama, atau disebut dengan
menurunnya ketangguhan (resiliensi) individu-
penyintas atau komunitas.
Dalam kerangka penanggulangan bencana,
maka ketangguhan pada level individu/komunitas
menjadi perhatian utama. Hal ini sesuai dengan arah
kebijakan Rencana Nasional Penanggulangan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 1
Bencana (RENAS PB) 2020-2024, yang juga
merupakan terjemahan visi Penanggulangan
Bencana (PB) 2020-2044, yaitu "Mewujudkan
Indonesia Tangguh Bencana untuk Pembangunan
Berkelanjutan". Hal serupa juga menjadi Kerangka
Kerja Sendai untuk mengurangkan Risiko Bencana
2015-2030 (BNPB, 2015), yaitu meningkatkan
resiliensi (ketangguhan) melalui mitigasi,
kesiapsiagaan, tanggapan, dan pemulihan. Hal ini
berarti usaha mengelola ketangguhan (resiliensi)
dilakukan pada fase pra, saat, dan pascabencana
dengan turunan program yang sesuai.
Sejalan dengan visi PB tersebut, Kementerian
Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) menjadi
pemimpin di sektor pembangunan ketangguhan
bencana pada level individu dan komunitas.
Program yang sudah dijalankan oleh Kemensos
adalah Layanan Dukungan Psikososial (LDP) dalam
PB yang mempunyai tujuan utama membangun,
meningkatkan, dan mengelola ketangguhan
(resiliensi) individu dan komunitas.
Perkembangan terakhir memperlihatkan bahwa
layanan dukungan psikososial meningkat di situasi
bencana. Terdapat banyak sekali lembaga yang
terlibat untuk memberikan LDP dalam berbagai
bentuk program. Mulai dari yang sangat psikologis
(konseling/terapi dengan berbagai metode), sampai
yang bersifat pengembangan komunitas
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 2
(menghasilkan pendapatan, pengadaan air bersih,
sanitasi, dll). Selain itu, program yang fokus pada
upaya advokasi, promosi hak asasi manusia, dan
keadilan pun berada di bawah program “dukungan
psikososial”. Keberagaman ini sangat dipengaruhi
oleh tipe sumber daya dan keahlian dari lembaga
pemberi bantuan. Jadi seperti apakah dukungan
psikososial dimaksudkan? Mengapa tampil dalam
bentuk yang sangat beragam?
Belajar dari pengalaman pelaksanaan LDP
selama ini terdapat beberapa poin yang perlu
dipahami, menjadi bahan pembelajaran di masa
berikutnya. Pertama, perlunya kesepakatan dan
kohesivitas dalam mencapai tujuan pemulihan
melalui LDP. Dalam prakteknya, pemahaman istilah
dan bagaimana melakukan intervensi mental
dengan LDP bersifat parsial. Hal ini menyebabkan
efektivitas dari pencapaian tujuan LDP tidak optimal.
Kedua, pentingnya pengarusutamaan LDP dalam
konteks PB. Keduanya menjadi pembelajaran
mengingat dampak “yang takterlihat” bervariasi dan
tergantung pada daya tahan individu dan komunitas
dalam menghadapi situasi sulit yang traumatis.
Buku ini disusun untuk menjadi panduan dasar
dan sumber inspirasi dalam pelaksanaan LDP
dalam situasi dan siklus kebencanaan. Buku ini
berusaha menjelaskan konsep yang mendasari LDP
sehingga dalam pelaksanaannya dapat dilakukan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 3
dengan pendekatan berbasis individu dan/atau
komunitas. Disertai dengan beberapa contoh
kegiatan-kegiatan yang selama ini menjadi contoh
baik, diharapkan buku ini mudah untuk dipahami dan
diaplikasikan.
Buku ini masih jauh dari sempurna, pengalaman
dan dinamika lapangan dalam penanganan
bencana, masih diperlukan untuk menjadi
pembelajaran dan memperkaya. Buku pedoman ini
sebagai usaha awal diharapkan benar-benar dapat
memberikan pandangan dan pemahaman yang
lebih sesuai dengan konteks Indonesia dan
selanjutnya menjadi alat bantu untuk melaksanakan
LDP dalam konteks kebencanaan untuk menuju
Indonesia Tangguh Bencana.
I.2. Dasar Hukum
Buku pedoman LDP ini merupakan sebuah buku
yang disusun sesuai dengan semangat dari
beberapa aturan hukum terkait berikut ini:
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13
Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1998 Nomor 190),
2. Undang -Undang Republik Indonesia Nomor 39
Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24
Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 4
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4723),
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11
Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial
(Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 12,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4967),
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention
on the Rights of Persons with Disabilities
(Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang
Disabilitas),
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7
Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2012 Nomor 116),
7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2014 Nomor 244),
8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35
Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor
23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,
9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8
Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2016 Nomor 69),
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 5
10. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008
tentang Penyelenggaraan Penanggulangan
Bencana,
11. Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2012
tentang Perubahan atas Peraturan Presiden
Nomor 46 Tahun 2010 Tentang Badan
Penanggulangan Terorisme,
12. Peraturan Menteri Sosial Nomor 08 tahun 2012
tentang Pedoman Pendataan Dan Pengelolaan
Data Penyandang Masalah Kesejahteraan
Sosial Dan Potensi Dan Sumber Kesejahteraan
Sosial, dan
13. Peraturan Menteri Sosial Nomor 7 Tahun 2013
tentang Bantuan Sosial bagi Korban Bencana.
I.3. Maksud dan Tujuan
I.3.1. Maksud
Buku pedoman umum LDP ini, dimaksudkan
sebagai acuan dasar bagi para pejabat, pelaksana,
mitra program, kelompok-kelompok komunitas dan
pihak-pihak lain yang berkecimpung pada bidang
LDP demi mengupayakan tercapainya suatu
masyarakat yang secara psikososial tangguh hidup
dengan risiko bencana.
I.3.2. Tujuan
Tujuan umum dari pedoman ini adalah tersedianya
kerangka kerja umum yang dapat menjadi acuan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 6
penyusunan kebijakan, program dan kegiatan LDP
yang konsisten bagi pemerintah pusat, pemerintah
daerah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam
upaya memperkuat penyampaian LDP yang
berbasis komunitas, melalui pendekatan layanan
berjenjang, dan yang diarus-utamakan di berbagai
sektor layanan sosial pada semua tahapan
penanggulangan bencana.
I.4. Sasaran Pedoman
Sasaran buku pedoman ini adalah semua pihak
yang terlibat dalam program LDP seperti pemerintah
pusat, pemerintah daerah, pekerja sosial, TAGANA,
pelopor Perdamaian, tenaga kesejahteraan sosial
(TKS), non-governmental organization (NGO), dan
pilar sosial.
I.5. Ruang Lingkup Pedoman
Buku pedoman ini mempunyai ruang lingkup yang
meliputi, tetapi tidak terbatas pada konsep - konsep
dasar dan definisi LDP; strategi pelaksanaan LDP
pada tahapan-tahan penanggulangan bencana; dan
tatalaksana kegiatan LDP beserta panduan perilaku
pelaku kegiatan LDP.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 7
I.6. Pengertian Istilah
a. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian
peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau
faktor non-alam maupun faktor manusia
sehingga mengakibatkan timbulnya korban
jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian
harta benda, dan dampak psikologis;
b. Bencana alam adalah bencana yang
diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang disebabkan oleh alam, antara
lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung
meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan
tanah longsor;
c. Bencana non-alam adalah bencana yang
diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian
peristiwa non-alam, antara lain berupa gagal
teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan
wabah penyakit;
d. Bencana sosial adalah bencana yang
diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang
meliputi konflik sosial antarkelompok atau
antarkomunitas masyarakat, dan teror;
e. Inklusi adalah sebuah pendekatan untuk
membangun lingkungan yang terbuka untuk
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 8
siapa saja dengan latar belakang dan kondisi
yang berbeda-beda;
f. Pemulihan adalah serangkaian kegiatan untuk
mengembalikan kondisi masyarakat dan
lingkungan hidup yang terkena bencana
dengan memfungsikan kembali kelembagaan,
prasarana, dan sarana dengan melakukan
upaya rehabilitasi;
g. Taruna Siaga Bencana (TAGANA) adalah
relawan sosial atau Tenaga Kesejahteraan
Sosial berasal dari masyarakat yang memiliki
kepedulian dan aktif dalam penanggulangan
bencana bidang perlindungan sosial;
h. Pelopor Perdamaian (Pordam) adalah
relawan sosial masyarakat yang diberikan
tugas untuk melakukan penanganan konflik
sosial;
i. Tenaga Kesejahteraan Sosial adalah
seseorang yang dididik dan dilatih secara
profesional untuk melaksanakan tugas-tugas
pelayanan dan penanganan masalah sosial
dan/atau seseorang yang bekerja, baik di
lembaga pemerintah maupun swasta yang
ruang lingkup kegiatannya di bidang
kesejahteraan sosial;
j. Pekerja Sosial adalah seseorang yang
memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 9
praktek pekerjaan sosial serta telah
mendapatkan sertifikat kompetensi;
k. Non-Governmental Organization (NGO) dan
International Non-Governmental
Organization (INGO) adalah suatu organisasi
nirlaba yang memiliki dasar kepentingan sosial
dan juga lingkungan yang bergerak secara
independen tanpa adanya campur tangan
pemerintah pusat ataupun daerah; INGO
berlingkup dunia;
l. Relawan Sosial adalah seseorang dan/atau
kelompok masyarakat baik yang berlatar
belakang pekerjaan sosial maupun tidak
berlatar belakang pekerjaan sosial tetapi
melaksanakan kegiatan penyelenggaraan di
bidang kesejahteraan sosial bukan di instansi
sosial pemerintah atas kehendak sendiri
dengan atau tanpa imbalan;
m. Penyandang Disabilitas adalah seseorang
yang memiliki keterbatasan fisik, mental,
intelektual, dan/atau sensorik dalam jangka
waktu lama yang dalam berinteraksi dengan
lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat
menemui hambatan yang menyulitkan untuk
berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan
kesamaan hak;
n. Penyintas merupakan orang yang selamat
dan bertahan dari situasi krisis;
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 10
o. Trauma merupakan tekanan emosional dan
psikologis sebab kejadian yang tidak
menyenangkan atau pengalaman yang
berkaitan dengan kekerasan dan
menyebabkan stres berlebih. Suatu kejadian
dapat disebut traumatis bila kejadian tersebut
menimbulkan stres yang ekstrem dan melebihi
kemampuan individu untuk mengatasinya.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 11
BAB II
KETANGGUHAN, DUKUNGAN PSIKOSOSIAL,
DAN LDP
Bab ini memaparkan pemahaman dasar yang
menjadi landasan dari penyelenggaran LDP yaitu
ketangguhan (resiliensi) dan strategi yang dapat
digunakan untuk mencapai keberhasilan LDP.
II.1. Pengertian Ketangguhan, Dukungan
Psikososial dan LDP
Bencana, apa pun bentuknya membawa
dampak yang mengubah kehidupan seseorang.
Salah satu dampak yang menjadi “bahaya laten”
adalah “luka batin/psikis”. Respons individu
terhadap bencana yang dialaminya muncul dalam
berbagai bentuk yang berbeda-beda. Sebagian
mampu bangkit kembali dengan segera, sebagian
memerlukan waktu, dan sebagian lagi memerlukan
waktu cukup lama untuk kembali bangkit dan
menjalani kehidupan secara normal atau, bahkan
mengalami kegagalan.
Individu-penyintas dan komunitas yang
mengalami kesulitan untuk bangkit kembali
memerlukan bantuan pemulihan atau dukungan
psikososial. Salah satu cara yang dapat dilakukan
dengan program bantuan, yaitu LDP yang
berkelanjutan. Supaya dapat menyelenggarakan dn
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 12
melaksanakan LDP yang efektif dan efisien, maka
ada baiknya memahami konsep dasar di balik
pemberian LDP berikut ini.
II.1.1. Pengertian Ketangguhan
a. Pengertian Ketangguhan
Setiap individu pasti pernah mengalami
hal yang sulit atau suatu masalah dan tidak
ada seseorang yang hidup di dunia ini tanpa
masalah atau kesulitan. Setiap orang juga
memiliki kemampuan untuk dapat menilai,
mengatasi, dan meningkatkan diri ataupun
mengubah dirinya sendiri dari suatu
keterpurukan atau kesengsaraan dalam
hidupnya. Kemampuan inilah yang dipahami
secara umum sebagai ketangguhan.
Ketangguhan dapat dipahami sebagai
kompetensi khusus yang membantu individu
menghadapi dan mengatasi pengalaman
sulit. Ketangguhan ini bukan ciri kepribadian
yang stabil, tetapi dinamis sehingga dapat
dikelola atau dikembangkan saat
mengalami situasi sulit. Agak berbeda
dengan makna aslinya, yaitu “memantul
kembali” ke keadaan semula setelah
mengalami situasi-situasi yang menjadi
sumber stres dan atau pengalaman
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 13
traumatis. Ketangguhan memungkinkan
hasil perkembangan yang positif, bahkan
dalam situasi yang berbahaya sekalipun.
Sederhananya, ketangguhan yang
dimaksudkan ini terkait dengan menjaga
keseimbangan batin dan mencegah
kesulitan di masa depan. Individu yang
tangguh mampu mengatasi situasi yang
merugikan, secara aktif mencari dan
menggunakan bantuan dari lingkungan
sosialnya dan memanfaatkan berbagai
hubungan sosial yang tersedia secara
sehat.
Secara konseptual terdapat ragam
pemahaman ketangguhan. Berikut ini
pemahaman terkait yang kita gunakan untuk
mengerucutkan pada konsep ketangguhan
yang digunakan di dalam buku ini.
Ketangguhan dipahami sebagai
kemampuan adaptasi positif dalam situasi
sulit dan menunjukkan perkembangan
dalam situasi sulit (Smith, 2008; Ginsburg,
2006; Reivich & Sahtte, 2002; Snyder &
Lopez, 2002) dan situasi khusus yang
menimbulkan stress dan trauma (Smith,
2008; Siils & Steins, 2007). Selain itu,
dipandang sebagai ukuran keberhasilan dari
kemampuan coping stress (Connor &
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 14
Davidson, 2003). Dan ketangguhan juga
dipahami sebagai keadaan mental individu
yang memiliki kelenturan dalam
menghadapi situasi sulit; termuat
didalamnya adalah belajar beradaptasi dan
mencoba mengadopsi setelah mengalami
kesulitan, adanya kemunduran, suatu
perubahan, atau hambatan dalam hidup
sekalipun (Istiani & Mahidie, 2020; Madihie,
Noah, Baba & Wan Jaafar, 2015).
Dapat disimpulkan ketangguhan
merupakan kapasitas dan kemampuan
individu sehingga mampu beradaptasi
dengan baik terhadap keadaan yang
menekan, mampu untuk pulih, berfungsi
optimal setelah mengalami kesulitan
dalam kehidupannya. Kemampuan yang
dimaksud diantaranya kemampuan
adaptasi, koping, regulasi emosi,
pengendalian impuls, optimisme, empati,
analisis penyebab masalah, efikasi diri, dan
peningkatan aspek positif (Reivich & Shatté,
2002), ditambah dengan kemampuan
menavigasi ke sumber daya sosial yang
diperlukan (Ungar, 2013).
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 15
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Ketangguhan
Ketangguhan sebagai kemampuan yang
dapat dikelola, maka dalam pengelolaannya
di pengaruhi oleh beberapa hal (Jarvis,
2013) berikut ini:
1. Dukungan sosial, yaitu bentuk
dukungan yang diterima oleh individu
dari keluarga dan lingkungan tempat
tinggalnya.
a) Dukungan Keluarga meliputi
dukungan yang bersumber dari
orangtua, saudara, dan/atau
keluarga besar.
b) Dukungan komunitas atau
lingkungan meliputi situasi ekonomi,
sosial, dan budaya, yang terkait
dengan pemenuhan kebutuhan
dasar.
c) Dukungan dari orang-orang
terdekat, meliputi individu lain yang
penting bagi kehidupannya.
2. Faktor individu, yaitu beberapa hal yang
berasal dari dalam diri individu,
diantaranya:
a) Konsep diri adalah evaluasi individu
mengenai dirinya sendiri, penilaian
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 16
dan penafsiran mengenai diri sendiri
oleh individu ang bersangkutan.
b) Harga diri adalah evaluasi diri yang
dibuat oleh setiap individu, sikap
orang terhadap dirinya sendiri
dalam rentang dimensi positif
sampai negatif.
c) Kompetensi sosial adalah suatu
bentuk keterampilan atau
kemampuan dalam bertindak
secara efektif dan tepat pada
berbagai situasi sosial.
d) Keterampilan kognitif adalah
bagaimana individu memecahkan
masalah, menghindar dari
penyalahannya terhadap diri
sendiri, serta mengontrol pribadi
individu masing-masing.
e) Modal psikologis adalah aspek
psikologis dalam diri seperti empati
dan rasa ingin tahu, di mana individu
berusaha mencoba untuk
mengambil nilai dari setiap
pengalaman dan situasi yang
dihadapi.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 17
c. Dimensi Pembangun Ketangguhan
Menurut Hart, Blincow & Thomas, (2008),
ada lima dimensi yang membentuk
resiliensi, yaitu:
1. Basics adalah pemenuhan kebutuhan
dasar dalam membentuk ketahanan diri.
Beberapa kebutuhan dasar adalah
sandang, pangan, papan dan
kemudahan akses terhadap kesehatan,
pendidikan, serta transportasi.
2. Belonging adalah kebutuhan psikologis
bagi seseorang untuk membentuk dan
mempertahankan hubungan
interpersonal yang positif, signifikan,
dan abadi.
3. Coping adalah suatu usaha untuk dapat
menetralisasi atau mengurangi stres
yang telah terjadi.
4. Learning adalah terkait dengan
pentingnya belajar sebagai usaha
mencari tahu dan menemukan hal-hal
menarik.
5. Core Self adalah tentang inti diri dengan
tepat atau sedemikian rupa sehingga
mudah dilihat dari efek intervensi
lainnya. Pemikiran dan keyakinan yang
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 18
dimiliki tentang diri sendiri dalam rangka
membangun karakter.
d. Faktor Risiko dan Faktor Pelindung
Secara umum, arah perkembangan faktor
risiko dan faktor pelindung ditentukan oleh
keberadaan stresor, dan terkait dengan
ketahanan psikologis individu. Secara
situasi tidak dimungkinkan untuk membuat
klasifikasi berbagai situasi yang
menguntungkan atau merugikan karena
sangat situasional. Faktor yang sama dapat
saja menjadi berisiko dan pelindung
tergantung pada situasinya yang tidak
sederhana untuk dijelaskan. Dalam
pengertian ini, faktor risiko dan pelindung
bukanlah dua kategori yang berbeda, tetapi
saling erat dan menjadi satu atau dinamis
antara keduanya.
Faktor risiko mewakili ancaman jangka
pendek atau jangka panjang tergantung
pada perkembangan kesehatan mental
individu. Faktor risiko ini meningkatkan
kemungkinan hasil negatif dari berbagai
intensitas dan durasi. Pengalaman negatif
mungkin memiliki efek peningkatan
kerentanan atau efek "penguatan"
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 19
(peningkatan resistansi) dalam kaitannya
dengan respons terhadap stres atau
kesulitan di kemudian hari (Rutter, 2012).
Misal tidak adanya hubungan harmonis
yang bertahan lama, kurangnya kohesi
sosial dalam kelompok sosial, dan
kurangnya kesempatan untuk belajar
(pertukaran percakapan timbal balik yang
tidak memadai, tidak adanya permainan,
dll.) menjadi sumber pengalaman berisiko
yang paling sering terjadi.
Faktor pelindung meningkatkan
kesehatan mental dan perkembangan positif
dalam menghadapi risiko. Faktor ini dapat
berfungsi sebagai penyangga faktor risiko,
turut campurtangan untuk mencegah
kumpulan faktor risiko berdampak negatif
bagi individu (Barter, 2005), dan membantu
individu yang terpapar risiko
mempertahankan tingkat fungsi tertentu dan
dapat bertahan secara positif. Faktor
pelindung berupa dukungan sosial di
lingkungan individu yang diwakili oleh
hubungan yang bermakna. Namun, efisiensi
dukungan sosial tidak secara otomatis
merupakan hasil faktor pelindung, tetapi
tergantung pada kebutuhan khusus individu
dalam situasi yang menuntutnya.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 20
II.1.2. Pengertian Dukungan Psikososial
Salah satu dampak bencana yang
berpotensi merusak adalah aspek mental individu.
Aspek mental yang menjadi daya hidup individu,
terutama dalam masa sulit kebencanaan, yaitu
ketangguhan. Individu yang mengalami penurunan
ketangguhanlah yang memerlukan bantuan
pemulihan dengan segera. Berdasarkah dimensi
pembangun ketangguhan, dapat dikategorikan ke
dalam dua aspek saja, yaitu kualitas psikologis dan
sosial dan disingkat menjadi psikososial, dan
kedua aspek tersebut saling berinteraksi secara
timbal balik.
Aspek kualitas psikologis meliputi pikiran,
emosi, perilaku, dan pemahaman diri sendiri.
Sedangkan aspek sosial meliputi relasi sosial,
tradisi, dan budaya yang berlaku di sebuah
komunitas/masyarakat. Dengan demikian,
psikososial dapat dipahami sebagai hubungan
dinamis antara aspek psikologis dan pengalaman
sosial individu yang bersifat timbal balik (Miller,
2012; CWS, 2008). Dengan demikian, dapat ditarik
simpulan pengertian dari dukungan psikososial,
yaitu suatu upaya yang diberikan kepada individu-
penyintas terdampak untuk dapat Kembali
berfungsi secara normal dalam menjalani
kehidupannya dalam kondisi kebencanaan.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 21
Dukungan psikososial melibatkan sumber daya
individu, sosial, dan budaya. Ketiga sumber daya
ini berinteraksi memperkuat ketangguhan individu
dalam kondisi sulit.
II.1.3. Pengertian LDP
Memahami LDP dapat dimulai dari
pengertian kata penyusunnya. Layanan adalah
suatu tindakan sukarela dari satu pihak ke pihak
lain dengan tujuan hanya sekadar membantu atau
adanya permintaan kepada pihak lain untuk
memenuhi kebutuhannya secara sukarela (KBBI,
2005). Dukungan psikososial selama keadaan
darurat kebencanaan (tidak peduli durasi
berlangsungnya) adalah tentang meningkatkan
kualitas psikologis, sosial dan fisik bagi individu,
keluarga, dan komunitas/masyarakat. Hal ini juga
tentang meningkatkan kesejahteraan dan
membantu individu untuk pulih dan beradaptasi
setelah kehidupan mereka terganggu karena
bencana (IASC, 2007, 2008), yaitu meningkatkan
ketangguhan individu.
LDP merupakan suatu bentuk tindakan atau
bantuan yang diberikan secara sukarela oleh
seseorang kepada orang lain yang berkaitan
dengan aspek kualitas psikologis inividu dan aspek
lingkungan sosialnya. Dalam konteks
kebencanaan, LDP dipahami sebagai upaya atau
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 22
dukungan yang dilakukan oleh individu, kelompok
atau komunitas di luar diri penyintas dalam sebuah
interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari yang
penuh kasih sayang, cinta, rasa hormat, dan
perlindungan, membantu penyesuaian diri
terhadap masalah atau situasi sulit yang dihadapi
(koping) dalam situasi darurat kebencanaan.
Dalam perkembangannya, kebutuhan LDP tidak
berhenti hanya di fase darurat bencana, tetapi juga
diperlukan di fase pra dan pascabencana sesuai
dengan karakteristik kebutuhan di masing-masing
untuk mengelola ketangguhan individu dalam
rangka membangun individu tangguh bencana.
II.2. Penyelenggaraan LDP
II.2.1. Tujuan dan Luaran LDP
Tujuan utama LDP adalah mengelola
ketangguhan individu dalam kebencanaan. Setiap
fase kebencanaan memiliki tujuan LDP secara
khusus sesuai dengan kondisi dan karakteristik
pada setiap fase kebencanaan, berikut ini:
Fase Bencana Tujuan LDP Cara
Pra-Bencana, Membangun dan Melakukan
saat belum memperkuat rekayasa sosial
terjadi bencana ketangguhan individu dan
dan komunitas dalam mempersiapkan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 23
menghadapi situasi individu dan
bencana. komunitas
dalam
menghadapi
bencana.
Darurat, saat Meningkatkan kesiapan Berbagai bentuk
terjadi bencana mental dan kegiatan dan
membangunkan program
kembali ketangguhan layanan yang
penyintas dan dikembangkan
komunitas untuk segera mengacu pada
bangkit kembali dari kebutuhan.
keterpurukan karena
bencana.
Pascabencana, Memperkuat Fokus kegiatan
saat setelah ketangguhan individu pada membantu
bencana dan komunitas melalui penyintas untuk
penguatan dimensi kembali pada
pembangun kehidupan
ketangguhan. normal dan lebih
baik
Tabel 1: Tujuan LDP Fase Bencana
Pencapaian dari tujuan LDP ini yang diharapkan
akan membuat individu-penyintas menjadi mampu
berfungsi optimal (berpikir, merasa, bertindak,
berinteraksi, menjalankan perannya); dengan
demikian individu-penyintas memiliki ketangguhan
dalam mengadapi permasalahan; dan menjadi
berdaya dan produktif dalam menjalani
kehidupannya (Margowiyono et al., 2015). Upaya
peningkatan ini, dapat dilakukan dengan:
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 24
1. Mendukung dan mempromosikan
kapasitas individu-penyintas (kekuatan
dan nilai dalam diri),
2. Memperbaiki lingkungan sosial sebagai
support system (koneksi dan dukungan
melalui relasi, jejaring sosial, dan dengan
individu yang berada di lingkungan
sendiri),
3. Memahami pengaruh budaya dan sistem
nilai dari individu terkait dengan harapan
sosial, serta
4. Membangun sistem rujukan yang
memungkinkan individu mendapatkan
pelayanan sesuai dengan kebutuhan.
Luaran LDP diturunkan dari tujuan utama
pemberian LDP yang dalam pelaksanaannya
menyesuaikan dengan karakteristik masing-
masing fase bencana. Berikut ini luaran secara
umum dari pemberian LDP:
1. Penguatan kapasitas dan kompetensi
dari para pendamping dan sukarelawan,
2. Terbangunnya sistem pemeliharaan
ketangguhan (dan kesehatan mental) dari
pendamping dan sukarelawan,
3. Ketersediaan dukungan terhadap
penyelenggaraan LDP pada setiap fase
bencana, dan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 25
4. Pelibatan keluarga dan komunitas
sebagai penguatan pada area dukungan
sosial.
II.2.2. Prinsip Dasar LDP
Prinsip dasar dalam memberikan LDP
diadaptasi dari panduan prinsip dasar LDP oleh
Inter-Agency Standing Committee (IASC) pada
tahun 2007 dan 2008. Panduan ini sudah
diadaptasi oleh berbagai institusi lain secara luas.
Terdapat enam (6) prinsip dasar, yaitu:
1. HAM dan kesetaraan,
2. partisipasi,
3. tidak melukai,
4. membangun sumber daya dan kapasitas
yang tersedia,
5. sistem dukungan terintegrasi, dan
6. dukungan dalam berbagai lapisan.
Dalam pelaksanaannya, prinsip dasar
tersebut dioperasionalkan menjadi beberapa
prinsip dasar LDP dan menjadi panduan bagi
pendamping dalam melaksakan LDP
(Margowiyono et al., 2015), yaitu:
1. Penerimaan (acceptance) adalah
menghargai dan menerima penyintas apa
adanya sebagaimana kondisi dan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 26
situasinya pada saat terjadi bencana
tanpa melihat latar belakang atau status
sosial ekonomi para penyintas;
2. Individualisasi (individualization)
menggambarkan bahwa setiap penyintas
memiliki ciri-ciri masalah, kemampuan,
nilai budaya, agama, usia dan pendidikan
yang berbeda satu sama lain;
3. Kerahasiaan, setiap proses
pendampingan yang dilakukan harus
menjaga segala bentuk kerahasiaan
penyintas termasuk keluarganya,
terkecuali jika diperlukan dalam upaya
penyelesaian masalah penanganan
bencana yang ada;
4. Partisipasi, merujuk pada setiap
penyintas yang terkena bencana harus
berpartisipasi aktif dalam setiap langkah
penyelesaian masalah kebencanaan
yang disepakati;
5. Komunikatif, bahwa setiap pendamping
dan penyintas harus membangun
komunikasi yang intensif dan harmonis
dalam rangka penanganan bencana yang
disepakati;
6. Wawas diri (kesadaran diri), setiap
proses pendampingan yang dilakukan
harus diarahkan kepada munculnya sikap
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 27
wawas diri para penyintas bahwa
bencana yang terjadi merupakan
kehendak yang Maha Kuasa sehingga
harus diterima dengan lapang dada atau
kebesaran hati tanpa ada penyesalan diri,
harus selalu berupaya dengan tulus hati
tanpa ada penyesalan diri, dan harus
selalu berupaya dengan tulus serta ikhlas
untuk mengatasinya; dan
7. Kemitraan, seorang pendamping memiliki
keterbatasan karena itu harus
membangun suatu kemitraan dengan
profesi lainnya dalam rangka
memberikan pelayanan pendampingan
yang lebih profesional. Proses ini dapat
dilakukan melalui kerja sama langsung
dalam penanganan bencana atau melalui
proses rujukan.
Selain menerapkan prinsip-prinsip dasar dalam
pemberian LDP, pendamping juga perlu
menerapkan prinsip-prinsip pelaksanaan pada
kegiatan pemberian LDP dengan melihat situasi
yang dihadapi di lapangan dan mengacu pada
kode etik dalam memberikan bantuan psikososial
(APA, 2010).
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 28
II.2.3. LDP pada Siklus Kebencanaan
Pemberian LDP secara khusus dapat mengacu
pada empat (4) elemen dari kerangka kerja
ketangguhan seperti pada gambar 1 di bawah ini:
Gambar di atas menunjukkan bahwa terdapat
proses bagi individu dan komunitas dalam
menghadapi situasi sulit. Pada konteks (poin 1),
yaitu kebencanaan dapat dipahami bahwa
situasinya adalah terjadi saat prabencana. Poin 2,
gangguan, adalah terjadinya bencana dan masa
tanggap darurat sampai di poin 3 (kapasitas untuk
mengatasi gangguan), dan dapat berlanjut sampai
poin 4 (reaksi terhadap gangguan). Setelah proses
tersebut maka dapat ditindaklanjuti pada fase
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 29
pascabencana. Berikut ini penjelasan pemberian
LDP di masing-masing fase bencana.
II.2.3.1. LDP pada Fase Prabencana
Fase prabencana merupakan situasi tidak
terjadi bencana dan situasi terdapat potensi
terjadinya bencana. Pada situasi ini LDP yang
diberikan dengan tujuan khusus, yaitu
menyiapkan dan memperkuat ketangguhan
individu dan komunitas dalam menghadapi
bencana. Hal ini dapat dilakukan dengan
melakukan rekayasa sosial dalam membangun
individu dan komunitas yang tangguh bencana,
serta mempersiapkan individu dan komunitas
dalam menghadapi bencana. Berikut ini
beberapa kegiatan dalam kerangka
penyelenggaran LDP yang dapat dilakukan:
1. Pemahaman tentang kerentanan
masyarakat dan memahami dinamika
dimensi pembangun ketangguhan
individu dan masyarakat,
2. Pengembangan budaya sadar bencana,
3. Penguatan ketahanan sosial masyarakat
(sebagai bentuk dari penguatan
dukungan sosial),
4. Penyelenggaraan pendidikan,
penyuluhan, dan pelatihan baik secara
konvensional maupun modern, dan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 30
5. Pengembangan sistem dan pengelolaan
rujukan.
II.2.3.2. LDP Pada Saat Bencana
Fase bencana adalah situasi terjadi bencana
dan masa tanggap darurat. Pada fase ini LDP
memegang peran sangat penting untuk
memulihkan ketangguhan individu dan
komunitas yang terkena bencana. LDP dapat
diberikan dalam berbagai bentuk kegiatan dan
program layanan yang dikembangkan mengacu
pada kebutuhan. Gambar 1 di bawah ini
merupakan gambaran singkat dari piramida
intervensi yang diadopsi dari dukungan
kesehatan mental dan psikososial (IASC, 2007;
2008) seperti yang tertera di dalam buku
pedoman edisi pertama. Piramida intervensi ini
memberikan penjelasan singkat terkait ragam
kebutuhan bantuan dan pihak yang sesuai untuk
memberikan bantuan dalam situasi darurat
bencana, kesesuaian dapat dilihat pada sisi kiri
dan kanan.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 31
Di bawah ini merupakan penjelasan dari
masing-masing lapisan yang ada di gambar 1,
yaitu piramida intervensi dalam situasi darurat:
1. Dasar piramida
Lapisan dasar piramida berisi orang-
orang yang menghayati berbagai
pengalaman negatif akibat bencana.
Individu di dasar piramida ini perlu
penanganan oleh pilar
sosial/pendamping penyintas atau dari
kelompok sendiri. Pada umumnya,
bantuan yang diberikan dapat
dikategorikan menjadi bantuan
kebutuhan dasar dan keamanan (dimensi
mendasar dari pembangun
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 32
ketangguhan), psikoedukasi, dan
penyebaran informasi psikososial yang
diperlukan untuk membangun kembali
kesadaran dan harapan.
2. Piramida Lapis Kedua
Lapisan kedua piramida ini berisi orang-
orang yang berduka, marah, takut, atau
merasa bersalah. Kelompok ini perlu
penanganan oleh pendamping yang telah
dilatih secara khusus dan fasilitator
kelompok dukungan. LDP dapat
dilakukan di antaranya mempertemukan
kembali penyintas dengan keluarga atau
komunitas, memberdayakan peyintas-
penyintas yang sudah memiliki
ketangguhan dan berhasil melalui masa
krisisnya; dan memberikan bantuan
pemulihan kualitas psikologis awal dalam
kasus tertentu oleh pendamping yang
sudah mendapatkan pelatihan. Atau
kebutuhan lain sesuai dengan situasi di
lapangan.
3. Piramida Lapis Ketiga
Lapisan ketiga piramida berisi orang-
orang yang mengalami trauma dan
depresi. Kelompok ini perlu penanganan
tenaga profesional kesehatan mental
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 33
terlatih yang memiliki keterampilan
konseling; dan pada kasus tertentu juga
penyelesaian konlfik pada kasus bencana
sosial.
4. Piramida Puncak
Puncak piramida berisi individu-individu
yang mengalami gangguan klinis.
Kelompok ini membutuhkan bantuan dari
profesional klinis, psikolog, psikiater, atau
terapis.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
memahami piramida intervensi di atas adalah:
1. Lapisan piramida bukan tahapan dari
kejadian atau kebutuhan. Individu atau
kelompok memiliki kebutuhan yang
berbeda-beda,
2. Lapisan piramida menggambarkan posisi
dan situasi kebutuhan individu atau
kelompok. Keterampilan pendamping
untuk melakukan asesmen kebutuhan
menjadi sangat diperlukan, dan
3. Lapisan piramida membantu pendamping
untuk memberikan bantuan pemulihan
psikososial dengan lebih mudah.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 34
II.2.3.3. LDP Pada Fase Pascabencana
Fase pascabencana merupakan situasi setelah
masa tanggap darurat. Pada fase ini terdapat
dua kegiatan utama, yaitu rehabilitasi dan
rekonstruksi. LDP di fase ini dapat dilaksanakan
dengan fokus kegiatan dalam membantu
penyintas untuk kembali pada kehidupan normal
dan lebih baik. Tujuan kegiatan pada fase ini
adalah mengurangi dampak bencana dan
memberikan manfaat secara ekonomi dan
penguatan ketangguhan masyarakat dan
individu. Pada pelaksanaannya diintegrasikan
dengan fungsi-fungsi yang ada di masyarakat.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan
adalah:
1. Pemberian bantuan pemulihan psikososial,
yaitu LDP pada individu yang mengalami
“luka dalam” psikologis,
2. Rekonsiliasi dan resolusi konflik,
3. Pembangunan kembali sarana sosial
komunitas untuk mempermudah akses, dan
4. Membangun kembali kehidupan sosial
budaya komunitas.
II.2.4. Indikator Keberhasilan LDP
Setiap program LDP akan membutuhkan
pengawasan dan evaluasi yang sesuai dengan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 35
kerangka kerja serta relevan dengan rancangan
kegiatan. Secara umum, tujuan dari LDP adalah
mengurangi penderitaan psikis dan meningkatkan
ketangguhan individu dan komunitas. Indikator
dikembangkan dengan mengacu pada indikator
keberhasilan dukungan psikososial dari IFRC
(2017). Berikut ini indikator keberhasilan dari
penyelenggaraan LDP dalam konteks
kebencanaan:
Keluaran Indikator Ukuran
Keluaran 1: Pendamping #pendamping dan
Penguatan dan sukarelawan yang
kapasitas dan sukarelawan mendapatkan pelatihan untuk
kompetensi yang percaya memenuhi standar LDP
diri, memiliki sesuai dengan kebutuhan.
kemampuan,
dan #pendamping dan
keterampilan sukarelawan yang sudah
yang baik terlatih untuk mendapatkan
dalam rangka pelatihan lanjutan sesuai
menjalankan dengan standar LDP.
perannya
untuk
melaksanakan
program LDP.
Keluaran 2: Sebuah #pimpinan LDP dan
Pemeliharaan lingkungan pengawas mendapatkan
untuk kerja yang pelatihan kepemimpinan
pendamping mendukung yang sesuai dengan peran
dan relawan untuk dalam penyelenggaraan
melaksanakan LDP, pengembangan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 36
Keluaran Indikator Ukuran
program LDP anggota pelaksana,
berkelanjutan kebijakan pemeliharaan,
bagi prosedur, dan sistem yang
pendamping mendukung LDP.
dan
sukarelawan. Pembaharuan secara berkala
terkait kebijakan, prosedur,
dan sistem yang telah
digunakan dalam
penyelenggaraan LDP.
#pendamping dan
sukarelawan memperoleh
pelatihan keterampilan untuk
pemeliharaan diri selama
bertugas memberikan LDP
dengan bertanggung jawab
pada orang lain dan diri
sendiri.
#bahan atau sumber belajar
yang tersedia bagi
pendamping dan
sukarelawan untuk
melakukan pemeliharaan diri.
Keluaran 3: Target Kesesuaian pemberian LDP
Ketersediaan capaian dari dengan kebutuhan penerima
dukungan populasi dan manfaat.
terhadap LDP keberlanjutan
kesejahteraan Lokasi dan struktur layanan
dan kapasitas sesuai standar kualitas dan
berdasarkan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 37
Keluaran Indikator Ukuran
personal dan kebutuhan individu dan
interpersonal. komunitas/masyarakat
sasaran.
Tersedianya sistem rujukan
yang dapat berfungsi.
Sasaran penerima manfaat
dibekali psikoedukasi yang
relevan dengan latar
belakang dan situasi
(misalnya, stres dan koping,
perlindungan, dan pemulihan
dari krisis).
Sasaran penerima manfaat
dibekali keterampilan hidup
yang relevan (misalnya:
resolusi konflik, komunikasi
dan
negosiasi, pelatihan
kejuruan-vokasi, dan
pengelolaan stres).
Sasaran penerima manfaat,
memperoleh akses bantuan
sesuai dengan kebutuhan
mereka dan dalam mode
tepat waktu (misalnya
menggunakan metode PFA
dan REACH).
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 38
Keluaran Indikator Ukuran
Populasi target dilengkapi
dengan kelompok swadaya
dan dukungan yang relevan
dengan situasi dan latar
belakang mereka.
Populasi target dilengkapi
dengan kualitas LDP yang
bersifat rekreatif, kreatif
dan/atau kegiatan olahraga
yang relevan dengan situasi
dan latar belakang mereka.
Populasi sasaran dilengkapi
dengan konseling awam
yang sesuai dengan
kebutuhan, situasi dan latar
belakang.
Keluaran 4: Keluarga dan #Peningkatan jumlah
Pelibatan komunitas kegiatan pada isu-isu tertentu
keluarga dan diberdayakan yang relevan dengan situasi
Komunitas untuk penerima manfaat secara
mendukung, terencana. Tujuan untuk
memelihara, meningkatkan kesadaran
dan akan isu-isu relevan.
menciptakan
lingkungan
yang kondusif #Kegiatan LDP berbasis
untuk komunitas tertata dalam kerja
mencapai sama dengan anggota
kesejahteraan komunitas yang sesuai.
dan resiliensi
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 39
Keluaran Indikator Ukuran
kelaurga dan #Komunitas kunci yang
komunitas. teridentifikasi dan dibekali
psikoedukasi yang relevan
dengan situasi dan peran
mereka di komunitas.
Tabel 2: Indikator capaian LDP
II.3. Tantangan dan Strategi Penyelenggaraan
LDP
II.3.1 Tantangan LDP
Berdasarkan hasil kajian Save The Children pada
tahun 2021, terdapat beberapa tantangan dalam
menyelenggarakan LDP antara lain,
1. Keterbatasan dana;
2. Tantangan di dalam organisasi;
3. Keterbatasan keahlian teknis;
4. Keterbatasan koordinasi lintas sektoral;
5. Stigma sekitar permasalahan psikososial dan
kesehatan mental;
6. Keterbatasan sumber daya komunitas;
7. Keterbatasan akses ke fasilitas yang diperlukan;
dan
8. Lemahnya kepemimpinan.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 40
II.3.2 Strategi LDP
Strategi yang menyediakan kerangka kerja
program LDP dan MHPSS lintas sektoral dengan
menekankan pada,
1. Pengarusutamaan LDP dan lintas sektoral
Memperluas koordinasi, dan lintas fase respons,
termasuk didalamnya pembangunan
kemanusiaan.
2. Peningkatan kapasitas dan kompetensi
pendamping
Memberikan LDP sesuai dengan kebutuhan
dalam konteks masing-masing kebencanaan
dan memastikan bahwa partisipasi masuk
dalam rancangan program (detail contoh dapat
dilihat pada bagian II.3.3).
3. Kepemimpinan
Kepemimpinan dalam darurat bencana menjadi
salah satu peran kunci terlaksananya LDP untuk
mencapai tujuan. Kepemimpinan yang
dimaksud adalah yang memungkinkan
penguatan kapasitas budaya ketahanan
bencana: mampu mendorong segenap yang
telibat untuk bisa mengurangi risiko, mencegah
tingkat keparahan, dan merekonstruksi dengan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 41
segera dalam menyusun program peningkatan
resiliensi penyintas.
4. Standar Mutu LDP
Memperkuat kualitas dari pelaksanaan progam
LDP dan MHPSS, pengukuran, pembelajaran,
dan kajian/riset.
5. Pemantapan kejelasan dan konsistensi
dalam pendekatan yang dipilih
Kata kunci, dan pelaksanaan dari LDP dan
MHPSS secara komprehensif.
6. Manajemen Pengetahuan
Pengembangan sebuah wadah yang berisi alat
kontak, metode LDP, praktek baik, bahan ajar
penguatan kapasitas serta kompetensi.
II.3.3. Penguatan Kapasitas dan Kompetensi
Penguatan kapasitas dan peningkatan kompetensi
dari pendamping sangat diperlukan dalam rangka
menjaga kualtias dan ketercapaian tujuan LDP.
Berikut ini beberapa metode, cara, atau
keterampilan-keterampilan yang diperlukan,
dikembangkan, dan diperkuat pada diri
pendamping:
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 42
1. Art therapy
Art therapy menjadi salah satu cara yang
cukup banyak digunakan untuk terapi, dari
gejala ringan sampai gejala berat. Media yang
digunakan adalah media seni, proses kreatif,
dan hasil seni. Media ini digunakan untuk
eksplorasi perasaan, konflik emosi,
meningkatkan kesadaran diri, mengontrol
perilaku dan mengembangkan kemampuan
sosial, meningkatkan orientasi realitas,
mengurangi kecemasan, dan meningkatkan
penghargaan diri (Nguyen, 2015; American Art
Therapy Association, 2013).
2. Rekreasional
3. Psychological First Aid (PFA) atau
Dukungan Psikologis Awal (DPA)
PFA merupakan perawatan dasar yang
bersifat praktis, suportif, dan humanis, yang
digunakan untuk membantu individu dalam
situasi sulit atau krisis (WHO, 2011). Dalam
kebencanaan, PFA diberikan segera setelah
terjadi bencana dengan pendekatan yang tidak
memaksa dan disesuaikan dengan program
LDP yang sudah direncanakan.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 43
4. Metode Forgiveness (pemaafan)
Forgiveness adalah suatu proses (atau hasil
dari sebuah proses) yang melibatkan
perubahan dalam emosi dan sikap tentang
kejadian yang menyakitkan. Pilihan untuk
mengubah emosi negatif menjadi positif yang
dengan tanda terjadinya perubahan motivasi
dan berdamai. Salah satu metode yang dapat
digunakan adalah REACH yang
dikembangkan oleh Everet Worhtington dari
Virginia Commonwealth University, America.
5. Kepemimpinan dan manajerial
Kompetensi kepemimpinan sangat penting
dalam pengelolaan penyelenggaraan LDP
karena akan mempengaruhi semua aspek di
setiap siklus kebencanaan. Salah satu yang
membuat kepemimpinan penting adalah
tanggapan dan keterlibatan masyarakat yang
dipengaruhi identitas budaya, sosial, usia, jenis
kelamin, dan akses ke sumber daya yang
mempengaruhi cara berkomunikasi dan
bertindak. Dengan demikian, dalam
penyelenggaraan LDP perlu suatu koordinasi.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 44
6. Kemampuan komunikasi efektif dan
reflektif
Fokus utama dalam komunikasi
penyelenggaraan LDP dalam situasi
kebencanaan adalah bagaimana menerapkan
komunikasi terapeutik dengan cermat tetapi
juga tidak memakan waktu banyak.
7. Pemanfaatan teknologi
Perkembangan teknologi dapat digunakan
untuk memudahkan dalam siklus pencegahan,
tanggap darurat, dan juga pada saat
pascabencana.
8. Kemampuan melakukan asesmen
Asesmen atau disebut juga dengan penilaian
adalah suatu penerapan dan penggunaan
berbagai cara dan alat untuk mendapatkan
serangkaian informasi tentang sesuatu yang
menjadi tujuan dari LDP yang telah ditetapkan
sebelumnya.
9. Kemampuan melakukan monitoring dan
evaluasi
Monitoring berkaitan erat dengan evaluasi,
karena evaluasi memerlukan hasil dari
monitoring yang digunakan dalam melihat
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 45
kontribusi program yang berjalan untuk
dievaluasi.
10. Kemampuan menyusun laporan dan
rekomendasi
Penyusunan laporan berisi kejadian-kejadian
selama program berlangsung dan pelajaran
yang digunakan untuk meningkatkan kualitas
LDP di masa depan.
11. Kemampuan melakukan respon cepat atau
segera sesuai dengan prosedur yang telah
dibuat (SOP).
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 46
BAB III
TAHAPAN UMUM PELAKSANAAN LDP
LDP dalam pelaksanaannya dapat dibagi menjadi
tiga (3) fase, dimulai dari prabencana, saat bencana
dan pascabencana.
III.1. LDP pada Fase Prabencana
Tujuan utama LDP pada fase prabencana terfokus
pada:
1. Peningkatan dan penguatan kapasitas
kelembagaan sebagai upaya penanganan
bencana yang cepat dan tepat untuk
meminimalkan risiko bencana dalam konteks
dukungan psikososial dan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 47
2. Merekayasa sosial dalam rangka membangun
masyarakat tangguh bencana melalui LDP.
Tujuan utama LDP pada fase prabencana, dilakukan
program atau aktivitas seperti berikut, tetapi tidak
sebatas pada:
a. Penguatan kelembagaan
1) Penguatan strategi atau mekanisme
penanggulangan bencana seperti strategi
atau mekanisme pemenuhan kebutuhan
dasar dan keamanan (dapur umum, logistik,
dll).
2) Identifikasi seluruh unsur Kementerian Sosial
dalam sinergitas pelaksanaan PB yang
berkelanjutan seperti Tagana, Pelopor,
Perdamaian, TRC, TKS, Peksos, Balai-balai
dan Panti Resos sesuai dengan tugas pokok
dan fungsinya masing-masing, baik tingkat
nasional maupun ditingkat daerah.
3) Pengembangan panduan LDP dan
turunannya serta dokumen pendukung
lainnya.
b. Penguatan atau pengembangan jaringan
multipihak dan multisektor
1) BNPB/BNPT/Satgas PP yang ditetapkan,
serta lintas kementerian lainnya dan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 48
2) Klaster Nasional Perlindungan dan
Pengungsian (Klasnas PP), termasuk terkait
kesehatan jiwa.
c. Peningkatan dan identifikasi kompetensi
1) Identifikasi tenaga ahli dan pendamping
teknis (sesuai jenjang keahlian) dan
2) Peningkatan Kapasitas SDM: pelatihan,
simulasi, praktek-ptaktek, lomba berkaitan
dengan LDP, DU, Logistik, dan pemberian
layanan kesehajteraan lainnya).
d. Identifikasi daerah rawan bencana alam,
nonalam dan sosial melalui sinergitas dengan
program Kampung Siaga Bencana (KSB) atau
program lainnya untuk mengetahui:
1) Jenis bencana dan potensi dampak terhadap
kelompok rentan tertentu secara fisik maupun
dalam aspek kesehatan jiwa/mental
(misalnya pernah mengalami konflik sosial/
bencana berulang),
2) Identifikasi kapasitas/kearifan lokal berkaitan
dengan kekuatan jaring sosial yang sudah
ada, dan
3) Sosialisasi media-media psikoedukasi
kepada masyarakat.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 49
III.2. LDP pada Fase Bencana
Tujuan utama LDP pada fase bencana terfokus
pada penyelamatan, perlindungan, dan penguatan
mental individu dan komunitas.
LDP di fase bencana dapat dilakukan dengan
menggunakan panduan piramida intervensi
kesehata jiwa dan layanan psikososial IASC, 2008.
Aspek Penanganan
Mengaktifkan sistem rujukan untuk kepentingan
tindakan dari spesialis dan profesional bagi orang-
orang yang memerlukan intevensi secara klinis dari
aspek kesehatan jiwa.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 50
Aspek Pencegahan
Melakukan pendekatan-pendekatan dalam
pengendalian agar risiko dari kejadian
bencana/situasi krisis tidak memicu stres yang
berlebihan melalui tindakan konseling nonklinis.
Aspek Penguatan
Melakukan stimulus-stimulus untuk penguatan jaring
sosial dan lingkungan dapat menjadi pendukung dari
kesejahteraan dan ketangguhan psikososial.
Aspek Perlindungan
Pemenuhan kebutuhan dasar dan keamanan.
Respons minimal kedaruratan dikelompokkan
menjadi sebelas (11) aktivitas kunci menurut
panduan kesehatan jiwa dan layanan psikososial
IASC 2008.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 51
Dalam fase bencana koordinasi multipihak hal yang
perlu dilakukan dalam melakukan LDP adalah:
1. Melakukan koordinasi lintas direktorat di internal
Kementerian Sosial termasuk dinas sosial
provinsi/kabupaten/balai dan panti resos,
2. Koordinasi BNPB/BNPT/Satgas PB yang
ditetapkan pemerintah,
3. Koordinasi lintas kementerian dan pemerintah
daerah, dan
4. Mengaktifkan Klasnas PP dalam asesmen
bersama dan atau aksi bersama.
III.2.1. Koordinasi Internal dan Ekternal
Kementerian Sosial
1. Koordinasi lintas direktorat di internal
Kementerian Sosial termasuk dinas
sosial provinsi/kabutpaten/balai dan panti
resos.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 52
2. Koordinasi BNPB/BNPT/Satgas PB yang
ditetapkan pemerintah
3. Koordinasi lintas kementerian dan
pemerintah daerah
4. Mengaktifkan klasnas PP dalam
asesmen bersama dan atau aksi
bersama
III.2.2. Pembentukan Tim dan Perlengkapan
1. Pemetaan kembali pendamping ahli dan
teknis dari unsur-unsur yang dilibatkan;
2. Pembekalan tim tentang bencana yang
akan direspon, situasi keamanan, kode
etik, dan aturan-aturan;
3. Penyiapan dokumen-dokumen/media/
alat pendukung pelayanan yang
disesuaikan dengan kelompok penyintas
yang dilayani berdasarkan kategori usia
(balita, anak, anak remaja, dewasa,
dan lansia), jenis kelamin serta
kerentanan dari penyintas tersebut;
4. Media Dokumentasi
Pada bencana tertentu kita tidak dapat
melakukan perekaman misalnya dalam
bencana sosial, situasi konflik/disertai
kekerasan dalam bentuk
apapun/identitas atau lokasi penyintas
tidak boleh diketahui atas dasar
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 53
keamanan, serta melakukan teknik
swafoto.
III.2.3. Asesmen
Asesmen merupakan proses mengumpulkan data
dan informasi yang akurat mengenai dampak
bencana dan kebutuhan penyintas yang bersifat
penting mendesak. Asesmen dapat dilakukan
kembali untuk memperoleh data dan informasi
terkini yang dibutuhkan. Pelibatan tim setempat
juga penting karena memahami konteks
masyarakat mereka sendiri.
Kegiatan assemen dapat dilakukan dengan
rentang waktu dan pelibatan masyarakat sesuai
dengan kategorinya.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 54
Teknik-teknik asesmen:
1. Wawancara terbuka;
2. Wawancara tertutup (menggunakan instrumen
dan identitas penyintas tersembunyi)
3. Identifikasi perubahan aktivitas rutin (mapping
of daily living activity). Merupakan instrumen
yang cenderung mudah diaplikasikan untuk
mengetahui kebutuhan penyintas dengan
cepat dari perubahan aktivitas sesudah
kejadian bencana.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 55
4. Pemetaan melalui anggota tubuh (body
mapping)
Body mapping memudahkan penyintas
mengungkapkan yang mereka pikirkan, lihat,
dengar, cium, dan rasakan pada saat
terjadinya bencana melalui media gambar.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 56
5. Metode bercerita /menggambar pada anak.
Bercerita dan menggambar yang terstruktur
berkaitan dengan apa yang terjadi, bagaimana
anak-anak dapat selamat, bagaimana kondisi
saat ini, apa yang mereka rasakan, dinamika
psikologinya tetap tercatat dengan sistematis.
6. Asesmen secara individual atau berbasis
keluarga dapat dilakukan untuk penyintas
dengan kebutuhan khusus dan yang tidak
dapat berkumpul dengan kelompok diskusi
yang ada.
Semua teknik pengumpulan informasi di atas dapat
dilakukan sendiri-sendiri maupun saling
melengkapi, terutama observasi. Observasi akan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 57
mengikuti semua teknis tergantung bagaimana
ekspresi/reaksi-reaksi yang muncul. Selain
observasi, sandingan lainnya adalah pengumpulan
informasi dari sumber lain baik informasi lisan,
tulisan atau dari hasil koordinasi, serta informasi
sekunder dari pihak lain yang mengetahui.
Daftar cek asesmen atau pemetaan masalah
secara keseluruhan:
1. Karakteristik geografis dan lingkungan (situasi)
daerah yang terkena bencana, untuk bencana
sosial misalnya konflik sosial, bagaimana
gambaran konflik itu sendiri, titik pengungsian,
termasuk batasan antara wilayah yang
berkonflik dengan wilayah aman/normal,
2. Apakah ada potensi kejadian berulang,
3. Populasi masyarakat yang terdampak dan
apakah populasi berubah-ubah atau tetap,
4. Faktor keamanan, misalnya tingkat
kekerasan/kejahatan/penyerangan,
pembunuhan, penculikan/penjarahan,
5. Mata pencaharian sebelum bencana dan
aktivitas harian sebelum bencana,
6. Kebutuhan dasar dan keamanan serta
bagaimana pemenuhannya termasuk
kebutuhan spesifik kelompok tertentu,
7. Aspek budaya masyarakat, solidaritas, adakah
masalah politik, etnis, ketegangan lainnya
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 58
yang dapat memperparah kondisi
pascabencana misalnya kelompok minoritas
yang masih terkepung, atau sebaliknya,
kearifan lokal sebagai penguat dalam jaring
sosial untuk saling menopang,
8. Fasilitas publik yang tidak berfungsi/tidak
tersedia (kesehatan, pendidikan, penerangan,
transportasi), termasuk pula bagaimana
dampak terhadap balai-balai atau panti-panti
yang selama ini menopang kelompok-
kelompok rentan tertentu,
9. Alat-alat komunikasi yang dapat digunakan,
secara umum maupun khusus bagi kelompok
rentan tertentu,
10. Pihak – pihak yang telah terlibat dalam
penanganan,
11. Sisi penduduk yang terdampak, jumlah
penduduk menurut umur, jenis kelamin, dan
kerentanan seperti anak, perempuan,
perempuan hamil, perempuan menyusui, lanjut
usia, disabilitas dan mereka dengan kriteria
yang baik sebelum bencana atau sesudah
bencana:
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 59
III.2.4. Merancang Aktivitas
a. Pertimbangan yang mendasari rancangan
aktivitas:
b. Tim LDP berorientasi pada pendekatan
ketuntasan permasalahan yang memuat
komponen sebagai berikut:
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 60
c. Psikososial merupakan pengarusutamaan
yang masuk didalam sektor apapun dalam
penanganan bencana.
III.2.5. Pelaksanaan Aktivitas
Keluaran atau tolok ukur dari capaian LDP adalah
penyintas, baik individu, keluarga ataupun
komunitas dapat melakukan adaptasi pada situasi
krisis dan menjadi kuat secara individu atau
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 61
kolektif; berfungsi optimal, memiliki ketangguhan
dalam menghadapi masalah; memiliki harapan
dimasa depan yang disertai kapasitas dan berdaya
untuk kembali produktif dalam menjalani
kehidupan rutinnya melalui pelaksanaan LDP
berikut:
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 62
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 63
III.2.6. Terminasi dan Rujukan
a. Terminasi
Terminasi merupakan tahap akhir dari
suatu kegiatan pemulihan sebagai tindakan
lanjutan berupa pengalihan (rujukan)
kepada profesi lain yang dianggap lebih
berkompeten seperti psikolog dan/atau
psikiater. Kegiatan ini dilakukan
berdasarkan hasil asesmen ataupun
pengamatan pada aktivitas LDP.
Pada tahap ini, baik terminasi atau rujukan
kegiatan harus dilakukan dengan
menggunakan dokumen sebagai bentuk
pertanggungjawaban yang disertai catatan
penanganan kasus dan perkembangan
penanganan permasalahan terakhir.
b. Rujukan
Sebelum melakukan rujukan, kenali gejala
pascabencana yang bersifat umum atau
merupakan reaksi normal dalam situasi
tidak normal (bencana). Reaksi normal ini
muncul ketika individu mengalami tekanan
yang dikenal dengan sebutan stres, bahkan
dalam kehidupan sehari-hari sekalipun.
Stres akan menghilang sejalan dengan
berkurangnya atau hilangnya sumber
tekanan atau jika masalah yang dihadapi
telah selesai. Reaksi-reaksi sedih, kecewa,
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 64
menangis, tidak dapat tidur/gangguan tidur,
tidak konsentrasi, tidak nafsu makan, panik,
menghindar, waspada, gangguan-
gangguan fisik/psikis/perilaku lainnya
adalah reaksi yang wajar dalam situasi
bencana terutama pada masa-masa awal
bencana dan ini bukan trauma.
Trauma merupakan reaksi-reaksi tidak
normal dalam situasi normal, misalnya
sering panik, tidak sadarkan diri, keringat
dingin, ketakutan, kecemasan berlebihan
terhdap objek atau stimulus yang
mengingatkan individu pada kejadian krisis
yang pernah dialami untuk jangka waktu
yang lama (6 bulan/melebihi satu tahun
sejak kejadian/masuk masa normal, tanpa
bencana).
STRES TRAUMA
Tidak didahului peristiwa Didahului peristiwa traumatis
traumatis/sehari-hari atau (yang sangat melukai
syok. perasaan individu).
Bertahap, menumpuk, Mendadak dengan beban
sedikit demi sedikit. yang berat.
Dampak hilang ketika Umumnya berdampak
stresor hilang. jangka panjang.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 65
Pengaruh stres berbeda Pengaruh trauma umumnya
untuk setiap seseorang. sama untuk setiap orang,
yaitu menakutkan.
Individu dapat mengatasi Keberfungsian diri individu
dan fungsi diri tetap berjalan hilang / tiba-tiba hilang ketika
(dalam kondisi sadar). terdapat stimulus seolah-
olah kejadian tersebut
sedang terulang kembali.
Tabel 3: Perbedaan Stres dan Trauma
III.2.7. Monitoring dan Evaluasi
a. Monitoring
Monitoring dilakukan terhadap proses
kegiatan dengan mengidentifikasi,
menyiapkan, dan menilai kembali berbagai
aspek yang diperlukan dalam kegiatan
seperti sumber daya manusia, material,
pendanaan, kesiapan kelompok sasaran
dan aspek lain dalam pelaksanaan LDP.
Hasil monitoring tersebut sebagai catatan
bahan laporan.
b. Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui
proses hasil dan dampak pelaksanaan LDP
yang mengacu pada indikator-indikator
keberhasilan, baik secara kuantitatif (dalam
bentuk data) maupun kualitatif (dalam
bentuk narasi atau rekomendasi-
rekomendasi) atau keduanya yang
keduanya bertujuan untuk memperbaiki
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 66
pelayanan/aktivitas berikutnya/masa
mendatang.
III.2.8. Penyusunan Laporan dan
Rekomendasi
Tahap terakhir yang harus dilakukan oleh Tim LDP
adalah membuat laporan kegiatan. Pencatatan
pelaksanaan kegiatan dilakukan untuk
menghimpun bahan laporan. Pencatatan dilakukan
oleh petugas dalam buku catatan yang berfungsi
sebagai dokumen LDP.
Dokumen tersebut selain memberikan gambaran
tentang bencana tersebut, juga memasukan
sedikitnya memenuhi unsur 5W + 1H, tetapi tidak
terbatas pada
What (Apa) Asesmen/intervensi apa
saja yang dilakukan
Where Dilakukan dimana saja
(Dimana) (nama camp/ desa/kota)
When (Kapan) Kapan dilakukannya
asesesmen atau intervensi
LDP
Who (Siapa) Siapa saja yang terlibat
termasuk masyarakat yang
ikut mendampingi dan
kelompok penyintas apa
saja yang didampingi
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 67
(sebutkan jumlah dan
kondisi)
Why (Mengapa) Mengapa kelompok
tersebut yang didampingi
How Metode yang digunakan
(Bagaimana) dalam asesmen dan LDP
dan hasilnya termasuk
rekomendasi yang
mempertimbangkan hal-hal
penting berikut ini sebagai
upaya program yang
berkelanjutan:
Tabel 4: Isi Laporan dan Rekomendasi
Unsur keberlanjutan yang dimaksud adalah:
a. Phasing out (pengakhiran program/aktivitas)
dan memastikan keberlanjutan program,
dengan merancang exit strategy dan
membentuk koordinasi dalam lintas sektor
dukungan psikososial, termasuk melibatkan
komunitas yang didampingi;
b. Mengembangkan struktur koordinasi yang
berkesinambungan, termasuk pemerintah dan
pemangku kepentingan masyakarat sipil;
c. Mengembangkan rencana strategis antar
lembaga dan untuk program dukungan
psikososial; dan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 68
d. Memadukan kegiatan dukungan psikososial ke
dalam kebijakan, rencana, dan program
nasional dan memastikan kegiatan dukungan
psikososial tersebut menggunakan kebijakan,
rencana dan kapasitas yang sudah ada.
Pada bencana sosial, perlu memastikan adanya
rekomendasi terkait faktor keamanan untuk
keberlangsungan hidup, pemenuhan hak atas
identitas kependudukan yang sah dan terdapat
kesepakatan penerimaan di tempat yang baru
ataupun ketika kembali ke daerah asal.
III.3. LDP pada Fase Pascabencana
Tujuan utama LDP pada tahap atau fase bencana
terfokus pada:
a. Keberlanjutan pemenuhan kebutuhan yang
belum selesai,
b. Penguatan pemulihan dari fase tanggap darurat,
dan
c. Pengkondisian penempatan kembali di lokasi
asal atau ke lokasi baru.
Pada fase ini, peran dari tenaga peksos akan
berkaitan dengan layanan terusan. Contoh dari
layanan terusan adalah:
a. Dana stimulan untuk pembangunan rumah
kembali,
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 69
b. Pengaktifan multilayanan terhadap penyintas
yang mengalami perubahan kondisi, dan/atau
c. Perujukan program kesejahteraan masyarakat
lainnya ke layanan balai multilayanan/panti
resos/penyambungan yang diperlukan
misalnya, Program Harapan Keluarga (PKH).
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 70
BAB IV
LDP UNTUK BERBAGAI KELOMPOK
LDP dalam prakteknya diberikan kepada semua
kelompok usia dalam masyarakat, perempuan dan
laki-laki, orang dengan kebutuhan khusus ataupun
kelompok rentan yang pada situasi normal (di luar
situasi krisis/bencana).
Situasi krisis dari sebuah bencana baik bencana
alam, bencana nonalam, dan bencana sosial, makin
menjadi kompleks ketika bantuan kemanusiaan
diberikan dalam era pandemi. Hal ini kemudian
menyebabkan aktivitas pelayanan dan
pendampingan yang diberikan wajib mengikuti
protokol-protokol yang telah ditetapkan sebagai
upaya mencegah terjadinya situasi yang lebih buruk
terhadap penyintas atau bahkan menimbulkan
potensi risiko kerentanan ganda pada penyintas
tertentu.
LDP pada setiap kelompok mempertimbangkan
kekhasan kelompok masing-masing, namun
demikian terdapat kesamaan layanan pada
beberapa kelompok rentan berikut ini yaitu;
KELOMPOK LDP
1. Bayi dan balita 1. Membangun “ruang ramah” yang
2. Anak inklusif dan aksesibel. Aksesibilitas
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 71
3. Ibu hamil dan tidak terbatas pada sarana fisik
menyusui (informasi dll). “Ruang ramah”
4. Lanjut usia mengingatkan mereka akan situasi
5. Disabilitas yang aman,
6. Orang dengan 2. Memberi perhatian lebih,
sakit tertentu 3. Menjaga mereka untuk tetap
(kronis)/akut hangat,
yang 4. Situasi kondusif, jauhkan dari
membahayakan kebisingan dan kekacauan,
bagi penyintas 5. Memastikan waktu tidur yang baik,
6. Berbicara dengan suara tenang dan
lembut,
7. Memberi makanan bernutrisi/bergizi
tinggi secara teratur,
8. Tidak memberikan makanan atau
minuman dalam bentuk kemasan,
9. Satukan/dekatkan dengan keluarga
untuk mengurangi kecemasan
(dukungan keluarga dan komunitas
yang dikenalnya),
10. Durasi pendampingan tidak
melelahkan/sesuaikan setiap grup
dan pastikan aktivitas yang
dilakukan menggunakan media dan
lokasi yang aman,
11. Konsultasikan pemberian
vitamin/obat kepada keluarga atau
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 72
pihak yang merawat penyintas
sehari-hari,
12. Dukungan dari kelompok sebaya,
13. Menjaga kebersihan kamp
pengungsian,
14. Kebutuhan akan air panas ataupun
hangat, dan
15. Dekatkan dengan sumber-sumber
perawatan yang lebih spesifik.
Catatan:
Selain kebutuhan spesifik, beberapa kelompok rentan juga
bisa mengalami risiko kekerasan/pelecehan/eksploitasi
sehingga LDP juga harus peka terhadap semua kelompok
rentan (anak, remaja, perempuan, disabilitas, dan
sakit/memiliki kondisi tertentu) yang pernah mengalami
kekerasan/pelecehan/eksploitasi, sebelum ataupun sesudah
bencana*.
Tersambung dengan isu perlindungan yang dikenal dengan sebutan PSEA
(Protection of Sexual Exploitation and Abuse), pencegahan maupun penanganan
dari kekerasan/pelecehan/eksploitasi/pemaksaan/perampasan/pengabaian).
Tabel 5: LDP pada kelompok rencan tertentu secara umum
IV.1. LDP untuk Kelompok Anak dan Remaja
Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun
2002 tentang Perlindungan Anak dijelaskan anak
adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan
belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam
kandungan. Oleh karena itu, pada kondisi
bencana, seseorang yang berusia di bawah 18
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 73
(delapan belas) tahun merupakan prioritas
penanganan layanan dukungan psikososial yang
terfokus pada kepentingan terbaik untuk anak.
Klasifikasikan usia anak dari bayi dan balita,
prasekolah, usia sekolah sampai dengan remaja.
Klasifikasi ini dilakukan agar efektivitas dari sebuah
aktivitas LDP tercapai karena tiap sub kelompok
usia anak memiliki kekhasan. Adapun rambu-
rambu pelaksanaan LDP kepada anak
berdasarkan klasifikasi usia anak sebagai berikut:
KELOMPOK LDP
0 – 4 tahun a. Memastikan bayi memperoleh ASI
(bayi dan balita) eksklusif (minimal 6 bulan) tanpa
mencampur makanan atau zat
tambahan lainnya,
b. Memberikan pelukan dari keluarga.
5 - 6 tahun a. Menjelaskan bahwa mereka tidak
(usia anak dipersalahkan untuk hal buruk
prasekolah) yang terjadi,
b. Tetap beraktivitas rutin sebisa
mungkin,
c. Memberikan jawaban sederhana
mengenai apa yang terjadi tanpa
detail informasi yang mengerikan
dan menakutkan,
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 74
d. Mengizinkan mereka untuk tetap
dekat dengan pengasuh utama jika
mereka takut,
e. Tetap sabar pada anak yang
mungkin menampilkan perubahan
perilaku, pahami bahwa
mengompol atau kembali
mengompol dapat saja terjadi pada
anak ketika bencana, dikenal
dengan sebutan regresi, di mana
seseorang dalam mengalami
kemunduran kemampuan dan ini
normatif dan akan menghilang
seiring pemulihan psikologis, dan
f. Menyediakan kesempatan untuk
bermain dan bersantai sesuai fase
pertumbuhannya, bahwa di usia ini
merupakan fase bermain.
Usia 7 – 18 a. Membantu mereka menghilangkan
tahun emosi-emosi negatif melalui
(anak – remaja) kegiatan secara rutin sesuai
dengan fase tumbuh kembangnya.
Menyediakan fakta mengenai apa
yang terjadi dan menjelaskan apa
yang terjadi sekarang,
b. Mengizinkan mereka untuk
bersedih dan tidak berharap
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 75
ataupun memaksa mereka untuk
selalu kuat atau tegar,
c. Mendengarkan pikiran dan
ketakutan mereka tanpa
menghakimi,
d. Membuat aturan dan harapan
yang jelas terutama dalam situasi
dan kondisi yang berubah secara
drastis akibat bencana,
e. Bertanya mengenai bahaya yang
mereka hadapi, beri dukungan dan
diskusikan bagaimana cara terbaik
untuk menghindari bahaya,
f. Mendorong dan memberi
kesempatan bagi mereka untuk
lebih membantu atau berguna bagi
orang lain,
g. Memberikan kesempatan pada
mereka untuk mendengar apa
yang orang tua rasakan,
h. Mengingatkan kepada mereka
bahwa keluarga akan melalui
masa sulit ini bersama-sama,
i. Memberikan kepercayaan kepada
mereka dan hargai usaha mereka
dalam mengatasi emosinya,
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 76
j. Menjadi teman yang dapat
dipercaya anak khususnya remaja
dalam satu waktu tertentu, dan
k. Untuk anak remaja dengan
aktivitas tertentu, perlu
dipertimbangkan dilakukan
pemisahan antara remaja laki-laki
dan remaja perempuan (aspek
privasi remaja sudah mulai
muncul) dan pendamping LDP
juga menyesuaikan dengan jenis
kelamin kelompok yang
didampingi.
Catatan penting:
a. Pastikan orang tua dapat akses/dapat memantau
aktivitas anak dengan pendamping dan
b. Pastikan anak terhubung dengan otoritas sosial dan
sistem perlindungan anak yang berkaitan dengan
hak-haknya, menghindarkan dari pengasuhan yang
tidak tepat/keliru seperti:
1. Terpaksa meninggalkan kampung atau kota
asal,
2. Terpisah dari keluarga dan komunitas,
3. Orang tua terpisah satu sama lain karena
krisis/bencana,
4. Anggota keluarga yang harus dirawat di rumah
sakit,
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 77
5. Anggota keluarga terluka dan/atau meninggal,
serta
6. Mengalami kejadian menakutkan seperti berada
di pusat bencana, upaya penyelamatan yang
dramatis, melihat/mendengar banyak orang
meminta tolong dan kepanikan serta kekacauan.
Tabel 6: LDP untuk kelompok anak dan remaja
IV.2. LDP untuk Kelompok Dewasa
Berusia dewasa tidak berarti menjadi individu
yang kuat, tanpa emosi dan beban psikologis.
Dewasa dalam fase tugas perkembangan memiliki
peran dan tanggung jawab terhadap orang lain,
terlebih tentu saja kepada keluarganya. Tanggung
jawab untuk melindungi dan memastikan kehidupan
dapat berjalan dengan baik di dalam keluarganya.
Bagi orang dewasa awal dan atau yang belum
berkeluarga, tanggung jawab juga atas orang tua
dan saudara-saudara lainnya yang lebih muda (adik-
adik).
Bencana juga dapat memberikan dampak terhadap
orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.
Tabel di bawah ini merupakan LDP yang dapat
diberikan keopada kelompok dewasa:
KELOMPOK LDP
Usia 18 – 54 a. Menerima emosi yang dialaminya,
tahun b. Membantu individu untuk
mengurangi beban emosinya,
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 78
(dewasa awal – c. Tidak menghakimi hal yang tidak
dewasa akhir) dapat mereka lakukan ketika
bencana terjadi (tidak dapat
menyelamatkan seluruh anggota
keluarga/tidak menyelamatkan
keluarga dengan cara yang
baik/pertolongan yang dianggap
belum maksimal),
d. Memberikan stimulus kemampuan
individu dalam penyelesaian
masalah-masalah yang dihadapi,
e. Memberikan stimulus peran-peran
yang dapat disumbangkan pada
anggota masyarakat lainnya
dalam penanganan bencana
bersama-sama, saling menopang,
dan
f. Perlu dipertimbangkan dilakukan
pemisahan antara dewasa laki-laki
dan perempuan (aspek privasi dan
menghindari dominasi kelompok
jenis kelamin tertentu) dan
pendamping LDP juga
menyesuaikan dengan jenis
kelamin kelompok yang
didampingi.
Tabel 7: LDP untuk kelompok dewasa
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 79
IV.3. LDP untuk Kelompok Ibu Hamil dan
Menyusui
Ibu hamil adalah perempuan yang mengandung
dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin.
Kehamilan merupakan suatu proses fisiologi. Berikut
beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait ibu
hamil dalam situasi bencana:
KELOMPOK LDP
Ibu Hamil a. Menghubungkan mereka dengan
layanan kesehatan untuk
pengecekan kondisi kehamilan,
b. Memberikan pakaian khusus
perempuan hamil,
c. Memberikan alas kaki yang
nyaman dan mudah digunakan
(tidak licin dan kuat) dan dapat
digunakan sehari-hari ataupun saat
situasi akan melahirkan,
d. Memberikan transportasi pada ibu
hamil yang mendekati kelahiran,
e. Menyiapkan perlengkapan
persalinan baik bagi ibu dan anak
yang telah dipersiapkan (kain,
pakaian ganti, popok, perlak bayi,
selimut),
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 80
f. Menyiapkan surat-surat/dokumen
penting yang perlu disertakan
dalam proses melahirkan, dan
g. Mengaktifkan aktivitas yang dapat
menguatkan ibu hamil, misalnya
senam hamil.
Ibu Menyusui a. Menyiapkan pakaian khusus ibu
menyusui,
b. Memberikan ruang yang aman,
nyaman, terjaga privasinya untuk
ibu menyusui,
c. Menghubungkan mereka dengan
layanan kesehatan/posyandu untuk
memastikan kesehatan bayinya,
d. Pendampingan khusus untuk ibu
yang mengalami kesulitan dalam
memberikan ASI (ASI berkualitas)
serta memberikan opsi-opsi
penyelesaian masalah untuk
kepentingan terbaik anak (tidak
diperkenankan memberikan susu
formula sebagai pengganti ASI),
dan
e. Lakukan kegiatan LDP dengan
tetap mendekatkan ibu dan
anaknya.
Catatan penting:
Dapat dilibatkan dalam:
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 81
a. program penyuluhan-penyuluhan baik penerima
manfaat maupun sebagai pendamping (kader
lanjutan) dan
b. membagikan pengalaman cara-cara adaptasi dalam
situasi krisis
selama kegiatan diatas tidak menganggu kesehatan
dan keamanan ibu hamil/menyusui/anak bayinya.
Tabel 8: LDP untuk ibu hamil dan menyusui
IV.4. LDP untuk Kelompok Lanjut Usia
Lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah
mencapai usia sedikitnya 60 (enam puluh) ke atas.
Lansia merupakan kelompok rentan yang harus
mendapatkan dukungan psikososial utamanya
dalam kondisi bencana. Adapun beberapa hal yang
harus diperhatikan pada lanjut usia sebagai berikut:
KELOMPOK LDP
Lanjut usia a. Menjaga terpenuhinya kebutuhan
makan lanjut usia sesuai dengan
jenis makanan yang aman untuk
lansia, termasuk tekstur dari
makanan tersebut,
b. Menghindari penyediaan makanan
pantangan,
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 82
c. Tidak memberikan susu kemasan
tanpa berkonsultasi dengan
keluarga/posyandu,
d. Mengaktifkan posyandu lansia
sebagai bagian dari aktivitas LDP
(senam lansia, peyuluhan, cek
kesehatan dll)
e. Menyediakan popok/kain/yang
diperlukan,
f. Menyediakan selimut/sarung,
g. Memberikan kepada mereka
ruang untuk bercerita/melakukan
aktivitas yang membuat mereka
senang/membagi cerita-cerita
bersifat kenangan dalam hidup
mereka dan bermakna,
h. Untuk lansia pasif dapat dilakukan
LDP berbasis keluarga/individu,
i. Memberikan alat-alat kontak atau
barang-barang sederhana yang
sehari-hari mereka butuhkan dan
membuat mereka merasa tenang,
misalnya syal/sapu tangan/minyak
angin,
j. Memastikan fase ini juga
merupakan fase aman bagi lansia,
baik bagi lansia yang pasif maupun
aktif, dan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 83
k. Menyiapkan sistem perawatan
lanjutan bagi lansia, terutama
lansia pasif.
Tabel 9: LDP untuk kelompok lanjut usia
IV.5. LDP untuk Kelompok Disabilitas
Penyandang disabilitas adalah seseorang yang
mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental,
dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama, yang
mengalami kesulitan atau memiliki hambatan
berinteraksi dengan lingkungan, memperoleh hak
atau kesempatan berkembang, memiliki
aksesibilitas untuk berpartisipasi secara efektif sama
dengan warga negara lainnya. Adapun beberapa hal
yang harus diperhatikan pada disabilitas secara
spesifik, yaitu:
KELOMPOK LDP
Penyandang a. Lakukan pemetaan jenis disabilitas
disabilitas fisik fisik penyintas dan kebutuhan
spesifiknya,
b. Petakan kemampuan yang dimiliki
penyintas disabilitas dan libatkan
dalam LDP (mendampingi
kelompok lain),
c. Libatkan dalam program-program
edukasi maupun dalam
pengambilan keputusan,
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 84
d. Berikan OM (Orientasi Mobilitas)
bagi disabilitas khususnya totally
blind, dan
e. Sediakan alat bantu komunikasi
yang familiar dengan mereka.
Penyandang a. Memastikan mereka terhubung
disabilitas dengan perawatan yang selama ini
intelektual dan diperolehnya,
mental b. Melakukan pendampingan dan
pengawasan selama kondisi
bencana terjadi,
c. Memastikan perawatan dan obat-
obatan yang diberikan secara
teratur tetap berjalan dalam situasi
darurat,
d. Perhatikan jenis makanan yang
aman untuk penyintas secara
khusus (hindarkan penyediaan
makanan pantangan), dan
e. Menyediakan popok/kain/yang
diperlukan.
Penyandang a. Membangun sistem pengelolaan
disabilitas kamp yang dapat membantu
sensorik penyintas paham dengan situasi di
kamp dan berkaitan dengan
aksesibilitasnya,
b. Menyeimbangkan kondisi psikis
dengan melakukan small talk, dan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 85
c. Menggunakan beberapa media
untuk membantu penyintas
berkomunikasi, misalnya: media
gambar/tulisan yang
memungkinkan untuk penyintas
tuna rungu/tuli dan tuna wicara
terlibat aktif secara langsung
dalam pemberian informasi dari
apa yang dialami dan
dibutuhkannya. Media suara untuk
mereka yang tidak dapat melihat
serta media cetak besar untuk low
vision.
Catatan penting:
a. Kelompokkan lagi untuk kondisi disabilitas sesuai
dengan jenis ataupun level disabilitasnya,
b. Pendekatan kelompok sebaiknya dengan
kelompok terkecil disesuaikan dengan jumlah
pendamping dan dapat didampingi oleh orang-
orang yang sela mini dekat dengan penyintas,
bahkan dapat dilakukan LDP berbasis
individu/keluarga,
c. Libatkan orang yang mendampingi penyintas
dalam aktivitas LDP,
d. Pastikan aksesibiltas keluarga pada aktivitas LDP,
e. Perhatikan durasi dampingan (pendek) dan cek
kesiapan serta faktor kelelahan yang mungkin
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 86
terjadi sebelum durasi yang direncanakan berakhir,
dan
f. Memastikan disabilitas terhubung dengan otoritas
sosial dan sistem layanan terpadu.
Table 10: LDP untuk kelompok disabilitas
IV.6. LDP untuk Orang dengan Sakit atau
Kondisi Tertentu
Dalam situasi normal (di luar situasi krisis),
terdapat beberapa orang dengan kondisi sakit kronis
dan memerlukan perawatan rutin termasuk obat-
obatan dalam jangka panjang ataupun seumur
hidup. Sebagian orang juga dalam kondisi tertentu
menjadi rentan kesehatannya karena memiliki
riwayat sakit tertentu pada saat tertentu (akut
berbahaya seperti orang-orang kormobid di era
pandemi tertentu).
Pada situasi krisis orang-orang tersebut
menjadi lebih rentan lagi dan lebih-lebih bagi mereka
yang selama ini menjadi kelompok rawan
diskriminasi. Adapun beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pemberian kelompok bagi
mereka yang sakit dan/atau mendapatkan potensi
risiko diskriminasi:
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 87
KELOMPOK LDP
Penyandang a. Lakukan pemetaan jenis disabilitas
disabilitas fisik fisik penyintas dan kebutuhan
spesifiknya,
b. Petakan kemampuan yang dimiliki
penyintas disabiltas dan libatkan
dalam LDP (mendampingi
kelompok lain),
c. Libatkan dalam program-program
edukasi maupun dalam
pengambilan keputusan,
d. Berikan OM (Orientasi Mobilitas)
bagi disabilitas khususnya totally
blind, dan
f. Sediakan alat bantu komunikasi
yang familiar dengan mereka.
ODHA, a. Menerima mereka dengan hangat,
tidak menghakimi,
b. Menjaga identitas terkait dengan
ODTB, riwayat sakitnya,
c. Mengingatkan bahwa mereka
Hansen aman,
(Kusta) d. Menjaga situasi dari tindakan
diskriminatif, stigma ataupun
perundungan, isolasi oleh
lingkungan sekitar,
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 88
e. Menjaga kebutuhan makan yang
sehat secara ketat termasuk
kebersihan dan tingkat
kematangan makanan,
f. Menyediakan alat makan/alat
mandi/peratalan kebersihan yang
dibutuhkan secara spesifik bagi
mereka termasuk kebutuhan
khusus lainnya,
g. Memastikan lingkungan yang
bersih,
h. Kebutuhan air bersih dan air hangat
untuk konsumsi ataupun untuk
memberikan alat-alat yang
mungkin dibutuhkan (sterilisasi),
i. Memberi akses kepada keluarga
dan komunitasnya dengan aman
serta nyaman,
j. Tidak membatasi pergaulan,
k. Memberikan kepada mereka ruang
untuk bercerita/melakukan
aktivitas/tidak membatasi aktivitas
social dengan small talk, dan
l. Kesiapan pihak-pihak dalam sistem
rujukan.
Catatan penting:
a. Kelompokkan penyintas berdasarkan kondisinya.
Jika penyintas termasuk dengan kondisi pasif (tidak
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 89
dapat melakukan mobilitas), LDP dapat dilakukan
dengan pendekatan berbasis keluarga,
b. Libatkan orang yang mendampingi penyintas dalam
aktivitas LDP,
c. Pastikan aksesibilitas keluarga pada aktivitas LDP,
d. Perhatikan durasi dampingan (pendek) dan cek
kesiapan serta faktor kelelahan yang mungkin
terjadi sebelum durasi yang direncanakan berakhir,
dan
e. Memastikan disabilitas terhubung dengan otoritas
sosial dan sistem layanan terpadu,
Kelompok a. Menerima mereka dengan hangat,
Minoritas tidak menghakimi,
b. Melakukan pendekatan kepada
tokoh masyakarat dari kelompok
minoritas dalam upaya pembauran,
c. Mengingatkan dan memberikan
informasi bahwa mereka aman
dalam kesempatan diskusi,
d. Menjaga situasi dari tindakan
diskriminatif, stigma ataupun
perundungan, isolasi oleh
lingkungan seputar,
e. Mendorong mereka untuk dapat
berekspresi sebagaimana
kelompok lainnya,
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 90
f. Memberi akses kepada keluarga
dan komunitasnya dengan aman
dan nyaman,
g. Tidak membatasi pergaulan, dan
h. Kesiapan pihak-pihak lintas
agama/lintas budaya/lintas etnis
dan pihak lainnya yang dapat
mempersatukan keberagaman
dalam aktivitas LDP secara aman
dan diterima berbagai pihak.
Catatan penting:
a. Jika situasi dari pendampingan kelompok minoritas
memerlukan pemantauan khusus dari pihak yang
memiliki otoritas maka koordinasi penting dilakukan
diawal, saat hingga berakhirnya pendampingan
(misalnya pendampingan pada kelompok yang
terlibat dalam konflik sosial) dan
b. Libatkan tokoh masyarakat dalam rencana aktivitas
LDP (termasuk dalam rancangan LDP pada
kelompok minoritas non konflik sosaial) untuk
memastikan penerimaan masyarakat pada
umumnya dan memberikan akses yang sama
dengan penyintas lainnya.
Tabel 11: LDP pada orang sakit/dengan kondisi tertentu
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 91
IV.7. LDP untuk Kelompok dengan Kerentanan
Ganda
LDP perlu mencakup rencana yang lebih
kompleks terkait orang-orang dengan kerentanan
ganda, yaitu mereka yang memiliki dua atau lebih
kerentanan terkait kondisinya. Kelompok rentan
dalam situasi normal menjadi kelompok berisiko
tinggi dan dalam situasi krisis (tidak normal) maka
kerentanan mereka bertambah.
Kerentanan ganda dapat terjadi sebelum
bencana, tetapi juga dapat terjadi karena dampak
sebuah bencana. Maka fase kesiapsiagaan
bencana, wajib menghindarkan risiko-risiko melalui
program-program kesiap-siagaan yang inklusif.
Penanganan pada individu dengan kerentanan
ganda, misalnya ibu hamil dengan disabilitas, lansia
dengan status lansia pasif (lumpuh), remaja kepala
rumah tangga dan lainnya, mendorong pendekatan-
pendekatan program psikososial. Pendekatan
program psikososial mempertimbangkan cara – cara
untuk mengakomodasi kebutuhan spesifik yang
lebih kompleks, yaitu makin bersinergi,
komprehensif dan holistik.
Aksesibilitas dan terhubung dengan otoritas
sosial terpadu menjadi butir kunci dalam
penanganan bencana bagi kelompok dengan
kerentanan ganda atau potensi mengalami
kerentanan ganda pascabencana.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 92
Pendampingan LDP melihat merujuk pada dari
pemberian LDP pada masing-masing kelompok di
atas.
Penyintas dengan kerentanan ganda/berisiko
mengalami kerentanan ganda pascabencana
adalah:
a. Anak, ibu hamil, menyusui, lansia, orang dengan
riwayat sakit dengan kategori kormobid rentan
terpapar wabah menular (pandemi) dengan
dampak yang berat,
b. Anak/lansia dengan disabilitas,
c. Perempuan hamil dengan disablitas,
d. Disabilitas multi/ganda,
e. Kelompok minoritas baik itu dari ras, suku,
agama, budaya, adat terpencil, yang mengalami
sakit kronis/sakit menular/disabilitas,
transgender, dan
f. Kerentanan ganda lainnya yang menunjukkan
adanya hambatan.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 93
BAB V
SISTEM RUJUKAN
Adaptasi setiap orang berbeda satu sama lain
dalam menghadapi situasi krisis/bencana
sebagaimana yang telah dijelaskan pada BAB II
tentang daya lenting. Individu dapat saja tidak
mampu untuk tanggung sebagaimana terjadi pada
masyarakat umum pascabencana, bahkan setelah
mendapatkan pertolongan psikologis pertama atau
konseling dalam bentuk lainnya.
Dari sisi jumlah, penyintas yang mengalami hal
tersebut prosentasenya kecil dalam setiap kejadian
bencana. Hal tersebut tidak dapat diabaikan, tetapi
dibutuhkan penanganan lanjutan dalam bentuk
rujukan sebagai bagian penting dalam LDP
sebagaimana yang telah dipaparkan pada BAB II
dan BAB III. Rujukan dimaksudkan agar penyintas
mendapat penanganan psikologis dari tenaga
spesialis/profesional yang ditemukan saat asesmen
ataupun saat pelaksanaan LDP.
Salah satu hal yang dapat diperhatikan dari
individu yang perlu dilakukan rujukan adalah adanya
ketidakselarasan antara aspek kognitif, pikiran,
emosional, dan hubungan sosial yang membuat
individu tidak dapat melakukan peran dan fungsi
dirinya sehari hari. Di bawah ini merupakan tahapan
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 94
rujukan yang dapat dilakukan oleh pendamping
LDP, yaitu:
1. Pastikan perlakuan terhadap penyintas dengan
gangguan mental berat tetap menjunjung harkat
martabat penyintas, tidak melakukan tindakan
yang bersifat diskriminasi, stigma dan perilaku
tidak menyenangkan lainnya (melukai),
2. Pastikan setidaknya terdapat satu agensi yang
dapat menerima rujukan (proses pengaktifan
sistem rujukan sudah dilakukan),
3. Pastikan terdapat salah satu dari anggota
masyarakat yang mengikuti proses rujukan
tersebut, terutama pihak keluarga, serta telah
memberikan izin atas rujukan yang
direkomendasikan,
4. Pastikan perawatan kesehatan dasar dan
kesehatan mental tetap berjalan sepanjang masa
tanggap darurat, terutama bagi mereka yang
membutuhkan obat jangka panjang, dan
5. Bangun lingkungan untuk menerapkan sistem
penanganan kesehatan mental berbasis
masyarakat.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 95
Alur Rujukan Secara Singkat
Tim LDP konsultasi / Tim LDP memberikan
koordinasi dengan informasi / edukasi
pihak dalam sistem tentang sistem rujukan
rujukan kepada keluarga /
masyarakat
Melakukan Bersama
pemantauan keluarga/aparat
perawatan dan atau desa/tomas melakukan
perkembangan rujukan
Menyediakan daftar rujukan untuk memudahkan
dan kecepatan penanganan pada individu yang
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 96
mengalami gangguan kesehatan jiwa ataupun
masalah kesehatan mental yang berat yang
menggangu fungsi diri individu adalah hal yang
penting.
Di bawah ini adalah contoh tabel untuk mendukung
sistem rujukan,
DAFTAR RUJUKAN
No. Lembaga Isu PiC No.
Kontak
1 Puskesmas
2 Pusat Krisis
3 Hotline
services
4 Balai
Multilayanan
Dst
Tabel 12: Daftar Rujukan Penanganan Kesehatan Mental/Jiwa
Selanjutnya, sistem rujukan dibuat bersama
multipihak yang berkompeten dalam sektor-sektor
yang diperlukan dalam penanggulangan bencana.
Dalam menyusun sistem rujukan juga melibatkan
masyarakat di daerah masing-masing sesuai
dengan kapasitas/tersedianya layanan kesehatan
terpadu/sektor lainnya di daerah tersebut.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 97
BAB VI
KODE ETIK DAN KESEJAHTERAAN STAF
VI.1. Kode Etik
VI.1.1. Kode Etik Internasional (International
Humanitarian Standard)
1. Amanat kemanusiaan diutamakan terlebih
dahulu,
2. Bantuan diberikan tanpa memandang ras,
agama atau kebangsaan para penerimanya
dan tanpa pembedaan berdasarkan buruk
sangka apapun, prioritas bantuan
diperhitungkan berdasarkan pada
kebutuhan semata,
3. Bantuan tidak akan digunakan untuk
mengejar kepentingan suatu pandangan
politik atau keagamaan tertentu,
4. Berusaha tidak bertindak sebagai alat
kebijakan luar negeri pemerintah,
5. Menghargai kebudayaan dan adat istiadat,
6. Berupaya untuk membangun tanggapan
terhadap bencana dengan bertumpu pada
kemampuan setempat,
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 98
7. Perlunya mencari cara-cara untuk
melibatkan para penerima dalam
pengelolaan bantuan penanggulangan,
8. Bantuan penanggulangan bencana harus
terus berupaya mengurangi kerentanan
terhadap bencana di masa depan sambil
secara bersamaan memenuhi kebutuhan-
kebutuhan dasar,
9. Kami mempertanggungjawabkan diri kami
baik kepada pihak-pihak yang kami bantu
maupun pihak-pihak dari mana kami
menerima sumber-sumber daya, dan
10. Dalam kegiatan-kegiatan informasi,
publikasi dan pengiklanan, kami akan selalu
memandang para korban bencana sebagai
manusia-manusia bermartabat, dan bukan
sebagai obyek yang tidak berpengharapan.
VI.1.2. Standar Inti Kemanusiaan dalam Hal
Kualitas dan Akuntabilitas (Core
Humanitarian Standard/CHS)
Standar Inti Kemanusiaan merupakan sebuah
perangkat yang terdiri dari sembilan (9) komitmen
terhadap komunitas dan warga terdampak krisis
yang menyatakan harapan mereka kepada
organisasi dan perorangan yang memberikan
bantuan kemanusiaan. Penjelasan sembilan
komitmen tersebut dapat dilihat di bawah ini:
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 99
Gambar 17: Standar Kemanusiaan Inti dalam Hal Kualitas dan
Akuntabilitas
1. Komunitas dan warga terdampak krisis
menerima bantuan yang tepat dan sesuai
dengan kebutuhan mereka;
2. Komunitas dan warga terdampak krisis
mempunyai akses terhadap bantuan
kemanusiaan yang mereka perlukan pada
waktu yang tepat;
3. Komunitas dan warga terdampak krisis bebas
dari dampak negatif dan akan menjadi lebih
siap, lebih tangguh dan kurang berisiko setelah
menerima aksi kemanusiaan;
4. Komunitas dan warga terdampak krisis
mengetahui hak-hak mereka yang dijamin oleh
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 100
hukum, mempunyai akses terhadap informasi
dan terlibat dalam proses pengambilan
keputusan yang berdampak pada diri mereka;
5. Komunitas dan warga terdampak krisis
mempunyai akses terhadap mekanisme
pengaduan yang aman dan responsif;
6. Komunitas dan warga terdampak krisis
menerima bantuan yang terkoordinasi dan
saling melengkapi;
7. Komunitas dan warga terdampak krisis dapat
mengharapkan penyaluran bantuan yang lebih
baik, karena organisasi belajar dari
pengalaman dan refleksi;
8. Komunitas dan warga terdampak krisis
menerima bantuan yang mereka butuhkan dari
staf dan relawan yang kompeten dan dikelola
dengan baik; dan
9. Komunitas dan warga terdampak krisis dapat
mengharapkan bahwa organisasi yang
membantu mereka mengelola sumber-sumber
daya dengan efektif, efisien, dan etis.
VI.1.3. Apa yang Boleh dan yang Tidak Boleh
V.1.3.1. Hal-hal yang boleh dilakukan:
1. Menetapkan satu mekanisme
koordinasi yang menyeluruh tentang
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 101
dukungan psikososial dan kesehatan
jiwa;
2. Melakukan respons atau layanan yang
terkoordinasi, berpartisipasi dalam
pertemuan koordinasi dan memperkuat
respon dengan melengkapi respon yang
diberikan pihak lain;
3. Mengumpulkan dan menganalisis
informasi untuk menentukan kebutuhan
dan jenis respon atau kegiatan
dukungan psikososial;
4. Menggunakan atau memodifikasi atau
membuat perangkat penjajakan yang
sesuai dengan konteks lokal;
5. Bertanya dalam bahasa lokal, dengan
cara yang aman serta suportif dan
menghormati kerahasiaan;
6. Mengenali bahwa dampak situasi
darurat akan berbeda antara satu orang
dengan yang lainnya. Ada orang yang
tangguh tetapi di sisi lain ada juga yang
terdampak parah dan butuh dukungan
khusus;
7. Memberi perhatian pada perbedaan
gender;
8. Setelah pelatihan tentang layanan
dukungan psikososial, lakukan juga
supervisi dan pemantauan tindak lanjut
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 102
untuk memastikan bahwa layanan atau
intervensi diterapkan dengan benar; dan
9. Membangun kapasitas lokal,
mendukung kemampuan "menolong diri
sendiri" dan memperkuat sumber daya
yang sudah ada di tingkat lokal dan
kelompok yang terdampak bencana.
VI.1.3.2. Hal-hal yang tidak boleh dilakukan
1. Tidak boleh membuat kelompok-
kelompok layanan dukungan
psikososial atau kesehatan jiwa yang
terpisah dan tidak saling berkoordinasi;
2. Tidak boleh bekerja sendiri secara
eksklusif atau tidak memikirkan bahwa
respon yang akan dilakukan
sesuai/tidak sesuai dengan respon
keseluruhan;
3. Tidak boleh melakukan penjajakan yang
sama sebanyak dua kali (duplikasi) atau
menerima saja hasil penjajakan dengan
cara - cara yang tidak kritis;
4. Tidak boleh menggunakan perangkat
penjajakan yang belum melalui proses
validasi dalam konteks lokal atau
konteks situasi darurat;
5. Tidak boleh mengajukan pertanyaan
yang membuat penyintas tidak nyaman
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 103
tanpa memberikan dukungan lebih
lanjut atau memaksa jawaban yang
tidak ingin penyintas sampaikan;
6. Tidak boleh berasumsi bahwa setiap
orang dalam situasi darurat mengalami
trauma, atau orang yang tampak
tangguh tidak membutuhkan dukungan;
7. Tidak boleh berasumsi bahwa situasi
darurat mempengaruhi laki-laki dan
perempuan secara sama, atau bahwa
program yang dirancang untuk laki-laki
akan sama manfaat dan
aksesibilitasnya bagi perempuan;
8. Dalam rangka mempersiapkan sumber
daya manusia (SDM) untuk melakukan
layanan dukungan psikososial atau
intervensi psikologis yang kompleks,
tidak boleh menggunakan satu kali
pelatihan saja, berdiri sendiri atau yang
sangat pendek tanpa tindak lanjut; dan
9. Tidak boleh mengelola layanan
dukungan psikososial yang
mengabaikan tanggungjawab dan
kapasitas lokal.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 104
VI.2. Kesejahteraan Staf
V.2.1 Aspek Keselamatan Penyintas dan Diri
Sendiri atau Petugas Penyelamat Lainnya
1. Tidak mengganggu jalannya evakuasi atau
upaya penyelamatan tim SAR pada jam-jam
pertama kejadian bencana;
2. Tidak melakukan LDP yang dapat
membahayakan penyintas; dan
3. Pastikan kita mampu secara fisik/emosional
untuk membantu.
V.2.2. Keamanan dan Keselamatan
Aspek keamanan dan keselamatan tim LDP dalam
setiap kondisi bencana yang dibedakan dalam dua
aspek perlindungan, yaitu:
a. Keamanan, merupakan perlindungan dari aksi
kekerasan dan kejahatan. Contoh: pencegatan
disertai perampasan terhadap barang bantuan
ataupun bahkan milik pribadi tim terlebih tim
yang melakukan pelayanan diwilayah konflik,
perang, kerusuhan. Faktor ketidakamanan
lebih disebabkan oleh faktor diluar individu.
b. Keselamatan, merupakan perlindungan dari
sakit dan kecelakaan a.l. kelelahan, sakit
secara medis, atau kecelakaan kerja. Faktor ini
dapat disebabkan oleh pihak/situasi di luar diri,
tetapi juga karena diri sendiri, misalnya
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 105
kelalaian dalam penggunaan APD yang
lengkap dan tepat.
Hal-hal di atas juga dapat dicegah dengan:
a. Mengikuti SPO (Standar Prosedur Operasional),
b. Mengikuti arahan pemerintah setempat terkait
situasi kebencanaan yang terjadi,
c. Menggunakan APD secara umum dan APD
sesuai bencana yang direspon,
d. Menggunakan APD dalam situasi pandemi
termasuk tata cara melakukan pendampingan
yang memenuhi standar protokol kesehatan,
e. Mengetahui dan memahami tempat kita bekerja,
f. Menerapkan proses mengenalkan diri yang
dapat diterima masyarakat,
g. Memahami dan menjunjung kebudayaan atau
hal-hal yang harus dihargai,
h. Memahami dan menghormati pakaian dan tata
bahasa yang digunakan; melibatkan tenaga dari
daerah setempat akan mempermudah
memahami hal-hal yang boleh dan tidak boleh di
wilayah tersebut,
i. Secara khusus untuk bencana sosial, kita perlu
mengetahui dan memahami:
1. Identitas dan identifikasi kelompok yang akan
didampingi,
2. Agama dan ideologi ataupun kepercayaan
setempat,
3. Tradisi dan norma-norma sosial,
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 106
4. Pengukuran risiko pekerjaan khususnya
wilayah-wilayah dengan risiko bencana
berulang, tiba-tiba dan ketika terjadi potensi
dampak dengan risiko tinggi,
5. Tanggal-tanggal penting (pemilihan-
pemilihan di daerah, acara-acara adat, yang
masih berjalan dan tidak dapat dihindari; kita
tidak boleh memaksakan masyarakat
mengikuti agenda LDP),
6. Hal-hal yang dapat menimbulkan kecemasan
masyarakat khususnya pada situasi bencana
sosial:
o Pendampingan yang menimbulkan suara
yang kencang;
o Pendampingan yang menimbulkan
kerumuman;
o Seragam yang digunakan (pada situasi
tertentu bahkan lebih baik berpakaian sipil
yang tidak mencolok baik bagi komunitas
penyintas juga tidak menarik perhatian dari
kelompok yang berseberangan dengan
komunitas yang kita dampingi, disalah-
artikan memihak pada kelompok tertentu);
dan
o Penggunaan kamera yang berlebihan
(terlepas telah mendapatkan informed
consent/izin).
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 107
Gambar 18: Risk Analysis (Sumber: ACT Alliance. Security & Safety Training
Manual, 2012)
Semakin tinggi risiko keselamatan, semakin detail
antisipasi yang harus disiapkan terutama untuk
bencana sosial dan bencana alam dengan risiko
adanya bencana susulan, tidak dapat diprediksi.
j. Memahami hal-hal yang terjadi pada diri sendiri
atau tim seperti,
1. Lelah secara fisik,
2. Lelah secara psikis,
3. Penyintas tidak koordinatif,
4. Pengalaman tidak menyenangkan,
5. Dilema etika dan moral,
6. Keprihatinan terhadap kondisi penyintas
khususnya hak dasar yang tidak terpenuhi,
7. Perasaan bahwa yang dilakukan tidak
cukup membantu,
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 108
8. Mengganggap diri lemah sementara, di satu
sisi dianggap pihak lain kuat sehingga
kebutuhan pendamping diabaikan (misal:
istirahat dan asupan makanan),
9. Pekerjaan sehari-hari dengan jam kerja
yang panjang (khususnya dalam fase krisis),
10. Tanggung jawab di luar kemampuan,
11. Deskripsi kerja yang tidak jelas,
12. Komunikasi yang tidak lancar,
13. Tekanan kerja yang tinggi disertai tuntutan
multi-tugas dan multi-fokus,
14. Bekerja di daerah rawan dengan isu
keamanan dan keselamatan yang minim,
15. Merasa bertanggung jawab atas hajat hidup
penyintas, dan
16. Terlalu banyak melihat dan mendengar
orang yang mengalami penderitaan.
k. Hal-hal yang harus dilakukan
1. Pengurangan stres dengan melakukan hal-
hal yang disenangi atau hobi yang dapat
membuat relaks,
2. Komunikasi dengan orang yang kita sayangi
ataupun dengan orang yang kita percaya,
atau dekat secara psikologis dengan kita,
3. Apresiasi atas hal-hal yang sudah kita
lakukan,
4. Cukup istirahat dan relaksasi,
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 109
5. Mengelola waktu pelayanan dan istirahat
sesuai kapasitas dan kebutuhan atau sesuai
dengan pergantian pendampingan dengan
waktu panjang (14 hari),
6. Cukup istirahat dan makan makanan yang
sehat,
7. Debriefing kepada koordinator lapangan/tim
untuk menghindari adanya secondary
trauma, yaitu mengalami perasaan
mendalam terhadap apa yang dialami
penyintas dan mulai mengganggu fungsi diri
pendamping.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 110
BAB VII
PENUTUP
(Oleh Kemensos)
Buku Pedoman Dukungan Psikososial
Penanggulangan Bencana ini merupakan buku pedoman
yang bersifat umum, menjadi dasar yang dalam
pelaksanaannya dapat dikembangkan pendekatan-
pendekatannya sesuai dengan konteks bencana yang
lebih spesifik, alat-alat yang digunakan juga dapat
dilakukan pengembangan sesuai dengan yang
dibutuhkan.
Buku ini tidak berdiri sendiri, terdapat buku
sandingan lainnya, baik sebagai turunan dari buku ini
ataupun referensi yang sudah ada sebelumnya. Buku
sandingan yang dimaksud akan memberikan penjelasan
yang lebih teknis, detail dan lengkap berkaitan dengan
pelaksanaan LDP dilapangan, sehingga referensi
turunan lainnya tidak menjadi bagian yang terpisah dari
buku ini seperti buku saku/Standar Prosedur
Operasional/petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis
dan buku lainnya yang relevan.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 111
REFERENSI
American Art Therapy Association. 2013. Diunduh pada (tanggal) dari
[Link]
American Psychological Association. (2017). Ethical Principles of
Psychologists and Code of Conduct. American Psychological
Association. APA125. Diunduh dari
[Link]
ACT Alliance-Church of Sweden. (2012). Community Based
Psychosocial Support Training Manual.
ACT Alliance-CWS. (2011). Developing Risk Management
AwarenessTraining Manual.
Campbell-Sills dan Stein 2007 Psychometric Analysis and refinement
of The Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) Validation
of A 10-Item Measure of Resilience. Journal of Traumatic Stress.
20(6) 1019-1028
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2019).
Psychology of a crisis. Crisis + Emergency Risk Communication
(CERC). U.S. Department of Heatlh and Human Services.
Core Humanitarian Standard (CHS) Alliance. (2015). Standar
Kemanusiaan Inti dalam Hal Kualitas dan Akuntabilitas.
(Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia, Terjemahan).
Connor K M Davidson & Jonathan R T 2003. Development of a new
resilience scale: the connor davidson resilience scale (CD-RISC)
Depression and Anxiety 18 76-82
DeWolfe, D. J. (2000). Training Manual for Mental Health and Human
Service Workers in Major Disasters (2nd ed). Diakses dari
[Link]
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 112
Dharmawan, Livia S. dan Poewandari, Kristi. (2005). Prinsip-prinsip
Dukungan Psikososial Pascabencana. Jurnal Aksi Sosial:
Disaster Manajemen. Tahun ll No.3 /April-Mei-Juni.
Disaster Management: Mental Health Perspective Suresh Bada Math,
Maria Christine Nirmala1, Sydney Moirangthem, Naveen C.
Kumar. Indian Journal of Psychological Medicine | Jul - Sep 2015
| Vol 37 | Issue 3
Flynn, Brian W. (1997) Psychological Aspects of Disasters, Renal
Failure, 19:5, 611-620, DOI: 10.3109/08860229709109027.
Gonzalez, Virginia M., Goeppinger, Jean., dan Lorig, Kate. (1990).
Four psychosocial theories and their application to patient
education and clinical practice. The Arthritis Health Professions
Association.
Hart, Angie, Blincow, Derek, and Thomas, Helen 2008. Resilient
Therapy: Strategic Therapeutic Engangement with Children in
Crisis. Child Care in Practice. 14: 2 131-145
Inter-Agency Standing Committee (IASC) (2012). Global Protection
Cluster Working Group and IASC Reference Group for Mental
Health and Psychosocial Support in Emergency Settings. Mental
Health and Psychosocial Support in Emergency Settings: What
Should Camp Coordination and Camp Management Actors
Know?.
Inter-Agency Standing Committee (IASC) (2007). Guidelines on
Mental Health and Psychosocial Support in Emergency Settings.
Inter-Agency Standing Committee (IASC) (2008). Guidelines on
Mental Health and Psychosocial Support in Emergency Settings:
Checklist for Field Use.
Inter-Agency Standing Committee (IASC) (2010). Mental Health and
Psychosocial Supports in Humanitarian Emergencies: What
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 113
Should Protection Programme Managers Know?. Geneva: IASC
Global Protection Cluster Working Group and IASC Reference
Group for Mental Health and Psychosocial Support.
Inter-Agency Standing Committee (IASC) (2010). Mental Health and
Psychosocial Support in Humanitarian Emergencies: What
Should Humanitarian Health Actors Know?. Geneva: IASC.
Inter-Agency Standing Committee (IASC). (2012). IASC Reference
Group Mental Health and Psychosocial Support Assessment
Guide. Diakses dari [Link]/groups.
International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies –
Reference Centre for Psychosocial Support (IFRC–PSC). (2009).
Community-based Psychosocial Support Training Kit. IFRC–
PSC, Copenhagen. Diunduh dari
[Link]
man/Documents/docs/Trainers%20book%[Link]
International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies –
Reference Centre for Psychosocial Support (IFRC–PSC). (2009).
Psychosocial Interventions – A Handbook. IFRC–PSC.
Copenhagen. Diunduh dari
[Link]
ents/docs/Psychosocial%20interventions%20A%20handbook%2
0 [Link].
International Organization for Migration (IOM). (2009). Psychosocial
Needs Assessment in Emergency Displacement Tools. IOM.
Geneva. Diakses dari [Link].
Jarvis, M. (2013). Pendekatan Modern Untuk Memahami Perilaku
Perasaan dan Pikiran Manusia. Bandung: Nuansa
Jackson, R dan Watkin, C. 2004. Seven essential skills for overcoming
life’s obstacles and determining happiness. Selection dan
Development Review, Vol. 20, No. 6, December 2004.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 114
Mandatu, Achmanto. (2010). Pemulihan Trauma: strategi
penyembuhan trauma untuk diri sendiri, anak, dan orang lain di
sekitar anda. Yogjakarta, 2010, Hal. 16.
Martam, Irma, S. (2009). Mengenali Trauma Pasca Trauma Bencana.
Newsletter Pulih, Vol. 14, Desember 2009, hal 1.
Margowiyono, Siswandewi, Ni M. T., Bektiwidari, P., Nurpatria, I., dan
Kurniasih, I. (2015). Pedoman Dukungan Psikososial dalam
Penanggulangan Bencana Alam. Edisi I. Direktorat Perlindungan
Sosial Korban Bencana Alam, Direktorat Jenderal Perlindungan
Jaminan Sosial. Kementrian Sosial Republik Indonesia.
Miller, Joshua L. (2012). Psychosocial capacity building in response
to disasters. A Columbia University Press E-book
Nguyen, M.A. (2015). Art Therapy A Review of Methodology. Dubna
Psychological Journal, No. 4, с. 29-43. Diunduh dari
[Link]
py_-_A_Review_of_Methodology
Norwegian Refugee Council (NRC) and The Camp Management
Project (CMP). (2008). Camp Management Toolkit. NRC and
CMP, Oslo. North Uganda Psychososial Needs Assessment
Report. UNICEF dalam CWS
Park, Crystal L., dan Blake, Erin C. (2020). Resilience and recovery
following disasters: the meaning making model. Dalam S. E.
Schulenberg (ed.), Positive Psychological Approaches to
Disaster. [Link]
Pedoman Manajemen Layanan Dukungan Psikososial (LDP) 2019.
Bencana. Direktorat Perlindungan osial Korban Bencana Sosial,
Direktorat Jenderal. Perlindungan dan Jaminan Sosial
Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Pedoman Penyusunan Rencana Aksi Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (Tpb)/ Sustainable Development Goals (SDGs).
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 115
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas
2017. Didukung oleh UN di Indonesia.
Persaanku Baik Baik Saja. (2006). Terjemahan dan Pengembangan
dari Buku I`m Fine. Kinder Not Hilfe-Yakkum Emergency Unit.
Dikembangkan kembali pada buku-buku selanjutnya.
Peraturan Menteri Sosial Nomor 08 tahun 2012 tentang Pedoman
Pendataan dan Pengelolaan Data PMKS dan PSKS.
Petunjuk Pelaksanaan Layanan Dukungan Psikososial (LDP)
Penanganan Korban Bencana Sosial. (2017) Direktorat
Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial. Direktorat Jenderal
Perlindungan dan Jaminan Sosial. Kementerian Sosial Republik
Indonesia.
Reivich K & Shatte A 2002 Theresiliencefactor: 7 essential skillsfor
overcoming life’s inevitable obstacles. Newyork: BroadwayBook
Rencana Strategis Badan Nasional Penanggunalangan Bencana
Tahun 2015-2019 (Perubahan). BNPB 2018.
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-
2025;
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-
2024.
Rencana Penanggulangan Bencana (RENAS PB) 2020-2024. NMPB,
2020
Schulenberg, Stefan. E (Ed). (2020). Positive Psychological
Approaches to Disaster Meaning, Resilience, and Posttraumatic
Growth. Springer Nature Switzerland.
Sidabutar, I.E., Dharmawan, L.I., Poerwandari, K., dan Nurhaya, N.
(2003). Pemulihan psikososial berbasis komunitas. Refleksi
untuk konteks Indonesia. KontraS dan Yayasan PULIH.
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 116
Snyder C. R & Shane J Lopez 2002 Handbook of Positive Psychology.
New York: Oxford University Press Inc
Tuller, Liana R. (2020). Understanding Psychological and Collective
Trauma Related to Neighborhood Violence. (Dissertation of The
Department of Sociology and Anthropology). Northeastern
University Boston: Massachusetts April.
The Sphere Project. (2011). The Sphere Handbook: Humanitarian
Charter and Minimum Standards in Humanitarian Response. The
Sphere Project: Geneva. Diunduh pada (tanggal) dari
[Link]/resources/download-
publications/?search=1&keywords=&language=English&categor
y=22.
The Sphere Handbook. Humanitarian Charter and Minimum
Standards in Humanitarian Response. Sphere. 2018.
United Nations Population Fund (UNFPA) and Save the Children
(2009). Adolescent Sexual and Reproductive Health Toolkit for
Humanitarian Settings. UNFPA and Save the Children. United
States.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik
Sosial.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang
Penyandang Disabilitas
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 Tentang
Hak Asasi Manusia.
Undang Undang No. 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Convention
on The Rights of Persons With Disabilities/CRPD (Konvensi
Mengenai Hak-hak Penyandang Disabilitas) [JDIH BPK RI].
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 117
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4723).
UNFPA (2015). Minimum Standards for Prevention and Response for
Gender-Based Violence in Emergencies.
WHO. (2003). Kesehatan Mental pada Kedaruratan. Aspek Mental
dan Sosial Kesehatan Masyarakat yang Terpapar Stresor
Ekstrim. Departement of Mental Health and Subtance
Dependence. Geneva: WHO.
WHO. (2011). War Trauma Foundation and World Vision.
Psychological First Aid: Guide for Field Workers. WHO: Geneva.
Diunduh dari
[Link]
pdf.
WHO and King’s College (2011). The Humanitarian Emergency
Settings Perceived Needs Scale (HESPER): Manual with Scale.
WHO: Geneva. Diunduh dari [Link]
publications/2011/9789241548236_eng.pdf.
Worthington, Everet (2012). REACH Forgiveness. Diunduh dari
[Link].
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 118
DAFTAR LAMPIRAN
I. Kontributor
KEMENSOS
1. Dit. PSKBA
2. Dit. PSKBS
3. BPPPKS (Bandung, Manado dan Yogyakarta)
4. Tagana
5. Pelopor Perdamaian
Organisasi Non Pemerintah
1. Christoffel Blind Mission (CBM)
2. Humanity and Inclusion
3. Pujiono Center
4. Pusat Rehabilitasi YAKKUM
5. PUSKRIS UI
6. Tearfund
7. Yayasan Mazarani
8. Yayasan Sayangi Tunas Cilik Indonesia
9. Yayasan Wahana Visi Indonesia
II. Daftar Nomor Penting
1. Kementerian Sosial Republik Indonesia
Jl. Salemba Raya No. 28, Jakarta Pusat
2. Balai Loka “Darussu’adah” di Aceh
Jl. Soekarno-Hatta, Desa Tingkem, Tingkeum, Kec. Darul
Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh 23231
3. Balai Bahagia di Medan
Jl. Williem Iskandar No.377, Sidorejo Hilir, Kec. Medan
Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20222
4. Balai Insyaf di Medan
JL. Bedikari No. 37 Lau Bakeri, Suka Rende, Kutalimbaru,
Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara 20222
5. Balai Budi Perkasa di Palembang
Jl. Sosial No.441, Suka Bangun, Kec. Sukarami, Kota
Palembang, Sumatera Selatan 30151
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 119
6. Balai Abiseka di Pekanbaru
Komplek Kementerian Sosial RI, Jl. Sekolah No.160,
Limbungan Baru, Kec. Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru, Riau
28266
7. Balai Alyatama di Jambi
Jl. Sultan Hasanuddin, Talang Bakung, Kec. Jambi Sel., Kota
Jambi, Jambi 36138
8. Balai Dharma Guna
Jl. Raden Fatah, Sumur Dewa, Kec. Selebar, Kota Bengkulu,
Bengkulu 38211
9. Balai Abiyoso di Cimahi
Jl. Kerkof No.21, Leuwigajah, Kec. Cimahi Sel., Kota Cimahi,
Jawa Barat 40532
10. Balai Wyatan Guna Bandung
Jl. Pajajaran No.50-52, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota
Bandung, Jawa Barat 40171
11. Balai Phala Martha di Sukabumi
Jl. Perintis Kemerdekaan No.130, Cibadak, Kec. Cibadak,
Sukabumi Regency, Jawa Barat 43351
12. Balai Kahuripan
Jl. Cikiwul, Cibadak, Kec. Cibadak, Sukabumi Regency, Jawa
Barat 43351
13. Balai Galih Pakuan di Bogor
Jl. H. Miing No.71, Putat Nutug, Kec. Ciseeng, Bogor, Jawa
Barat 16120
14. Balai Besar Inten Soeweno
Cibinong
15. Balai Ciwung Wanara di Bogor
Jl. SKB No. 3, Karadenan, Cibinong, Bogor Regency, Jawa
Barat 16913
16. Balai Melati di Jakarta
Jl. Gebang Sari No.38, RT.2/RW.5, Bambu Apus, Kec.
Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota
Jakarta 13890
17. Balai Muya Jaya
8, Jl. Tat Twam Asi No.47, RT.8/RW.2, Gedong, Kec. Ps.
Rebo, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
13760
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 120
18. BRSKP Napza Bambu Apus Jakarta
Jl. PPA No. 1, RT 06 / RW 01, Bambu Apus, Cipayung,
RT.8/RW.1, Bambu Apus, Kec. Cipayung, Kota Jakarta
Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13890
19. Balai Handayani di Jakarta
Jalan P.P.A, Bambu Apus, Cipayung, RT.6/RW.1, Bambu
Apus, Jakarta Timur, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus
Ibukota Jakarta 13890
20. Balai Tan Miyat di Bekasi
Jl. HM. Joyo Martono No.19, RT.002/RW.021, Margahayu,
Kec. Bekasi Tim., Kota Bks, Jawa Barat 17113
21. Balai Budhi Dharma di Bekasi
Jalan Hm. Djoyomartono No.24, RT.002/RW.021,
Margahayu, Kec. Bekasi Tim., Kota Bks, Jawa Barat 17113
22. Balai Pangudi Luhur di Bekasi
[Link], RT.002/RW.021, Margahayu, Kec. Bekasi
Tim., Kota Bks, Jawa Barat 17113
23. Balai Antasena di Magelang
C4CW+WCP, Dusun IV, Sidomulyo, Kec. Salaman,
Kabupaten Magelang, Jawa Tengah 56162
24. Balai Budi Luhur di Banjar Baru
Jalan Ahmad Yani Km. 29,6 No.01 Rt.09 Rw. 02, Gantung
Payung, Landasan Ulin Tim., Kec. Landasan Ulin, Kota
Banjar Baru, Kalimantan Selatan 70721
25. Balai Naibonat di Kupang
Jl. Timor Raya [Link], Naibonat, Kupang Tim., Kabupaten
Kupang, Nusa Tenggara Tim. 85362
26. Balai Efata di Kupang
Jl. Timor Raya [Link]. 36, Naibonat, Kupang Tim., Kota
Kupang, Nusa Tenggara Tim.
27. Balai Besar Kartini di Temanggung
Jalan Kartini No. 1-2, Bendo, Kertosari, Kec. Temanggung,
Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah 56216
28. Balai Mahatmiya di Tabanan
Jl. S Parman No.1, Kediri, Banjar Anyar, Kec. Tabanan,
Kabupaten Tabanan, Bali 82121
29. Balai Margo Laras di Pati
Jl. Soediono, Sukoharjo, Margorejo, Gebyaran, Sukoharjo,
Kec. Margorejo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah 59163
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 121
30. Balai Paramita di Mataram
Jl. Tgh. Saleh Hambali No.339, Bengkel, Kec. Labuapi,
Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Bar. 83361
31. Balai Satria di Baturaden
Jl. Raya Barat, Dusun I Karang Dule, Ketenger, Kec.
Baturaden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53151
32. Balai Besar Prof. DR, Soeharso di Surakarta
Jl. Tentara Pelajar, Jebres, Kec. Jebres, Kota Surakarta,
Jawa Tengah 57126
33. Balai Tumou Tou di Manado
Jl. Daan Mogot No. 116-118, Paal IV, Tikala, Kota Manado,
Sulawesi Utara
34. Loka Pangurangi Takalar
FFC8+GMF, Pattopakang, Mangara Bombang, Kabupaten
Takalar, Sulawesi Selatan 92261
35. Balai Loka Karya Pangrangi Takalar
FFC8+GMF, Pattopakang, Mangara Bombang, Takalar
Regency, South Sulawesi 92261
36. Balai Gau Mabaji di Gowa
Jalan Malino [Link]. 29, Romangloe, Bontomarannu,
Romangloe, Bontomarannu, Makassar, Sulawesi Selatan
92119
37. Balai Wirajaya di Makassar
Jl. A. P. Pettarani [Link]. 04, Sinrijala, Kec. Panakkukang,
Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90231
38. Balai Diklat Todopuli di Makassar
Jl. Toddopuli Raya Timur No.166, Borong, Kec. Manggala,
Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90221
39. Loka Meohai di Kendari
Jl. DI Panjaitan No.173, Bonggoeya, Wua-Wua, Kota Kendari,
Sulawesi Tenggara 93118
40. Loka Minaula di Kendari
Jl. Poros Bandara Haluoleo, Ranooha, Ranomeeto,
Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara 93871
41. Balai Wasana Bahagia di Ternate
Jl. Santo Pedro No.1, Kalumata, Ternate Sel., Kota Ternate,
Maluku Utara 97700
42. Balai Nipotowe di Palu
Jl. Guru Tua No.26, Kalukubula, Sigi Biromaru, Kabupaten
Sigi, Sulawesi Tengah 94235
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 122
43. BAZNAS Tanggap Bencana
Jl. KH Abdullah Syafei No.28, RT.1/RW.3, Kb. Baru, Kec.
Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
12830
44. BNPB
Jl. Ir. H. Juanda No 36 Jakarta Pusat
Telp. 021-3442734, 3442985, 3443079
Fax. 021-3505075
Email: contact@[Link]
45. Fakultas Humaniora Universitas BINUS
Jurusan Psikologi, Kampus Bekasi.
Jalan Lingkar Boulevar Blok WA No.1 Summarecon Bekasi
Kel, RT.006/RW.003, Marga Mulya, Kec. Bekasi Utara, Kota
Bekasi, Jawa Barat 17142
No Telepon: 02129285598. Ext. 7922
46. Fakultas Psikologi Unika Atmajaya
Jl. Jend. Sudirman, RT.5/RW.4, Karet Semanggi, Kecamatan
Setiabudi, Kota Jakarta Selatan,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12930
Telepon: (021) 5727615
47. Humanitarian Forum Indonesia
Jl. Beton, Kayu Putih, Kec. Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur,
Daerah Khusus Ibukota
Jakarta 13210
Contact: Dear Sinandang
48. Dompet Dhuafa
Wisma Nugra Santana, 10th Floor, JL. Jend. Sudirman, Kav.
7 – 8, Jakarta, 10220, RT.10/RW.11, Karet Tengsin, Tanah
Abang, Central Jakarta City, Jakarta 10220
Phone: (021) 2510722
49. Human Initiative
Jl. Anggrek, Curug, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat
16453
Phone: 0811-9342-667
50. Humanity & Inclusion
Jl. Mantrigawenkidul No.24A, Panembahan, Kecamatan
Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55131
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 123
51. MDMC/MCCC
Jl. Menteng Raya No.62, RT.3/RW.9, Kb. Sirih, Kec.
Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
10340
Phone: (021) 22391974
52. Palang Merah Indonesia
Jl. Gatot Subroto No. Kav. 96, RW.4, Mampang Prpt., Kec.
Mampang Prpt., Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus
Ibukota Jakarta 12160
Phone: (021) 7992325
53. PKBI
Jl. Hang Jebat III No. F3, RT.4/RW.8, Gunung, Kec. Kby.
Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
12120
54. Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI
Gedung Sinergi Fakultas Psikologi UI Depok
Telp: (62-21) 7270004/5 ext 1503, (62-21) 7873745; fax (62-
21) 7873745
Email: info@[Link], info@[Link];
[Link]
55. Sahabat Uncle Teebob
Jl. Karang Tineung Dalam No.1, Cipedes, Kec. Sukajadi, Kota
Bandung, Jawa Barat 40162
Phone: 0858-9109-0449
56. Tearfund
Lantai 9, Gedung LAI. Jl. Salemba Raya No.12, RT.2/RW.6,
Kenari, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus
Ibukota Jakarta 10430
57. UNICEF
World Trade Center II, 22nd Floor, [Link]. 31, Jl. Jend.
Sudirman No.8, RT.8/RW.3, Kuningan, Karet Kuningan,
Setiabudi, South Jakarta City, Jakarta 12920
Telepon: (021) 80662100
58. UNHCR
Gd. Atrium, Lantai 6 – Setia Budi, Jl. H.R. Rasuna Said Kav.
B 10 – 11, Kuningan, Jakarta Selatan
59. UNFPA
Menara Thamrin, 7th Floor, JL. M. H. Thamrin, Kavling 3,
RT.2/RW.1, Kb. Sirih, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10250
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 124
Telepon: (021) 3141308
60. UNOCHA
Menara Thamrin Building, 10th Floor,
Jl. M.H. Thamrin Kav. 3
Jakarta 10250
Tel: +62 21 2980 2300
61. YAKKUM Emergency Unit
Jalan Kaliurang KM. 12, Dusun Jl. Melati Candi 3 No.34,
RT.03/RW.06, Candi, Sardonoharjo, Kec. Ngaglik,
Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581
Phone: (0274) 882477
62. Yayasan Pulih
Jl. Tlk. Peleng No.63A, RT.5/RW.8, Ps. Minggu, Kec. Ps.
Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota
Jakarta 12520
Telepon: (021) 78842580
63. Yayasan Plan International Indonesia
CO Pejaten Jalan Warung Jati Barat. Komplek Buncit Utama
Kav 16. RT.3/RW.5, Jati Padang Safe Seas Project Gedung
Menara Duta, Jl. H.R. Rasuna Said, Kecamatan Setiabudi,
Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540
Phone: (021) 27873111
64. Yayasan Sayangi Tunas Cilik
Jl. Bangka IX No.40 A, B, RT.1/RW.10, Pela Mampang, Kec.
Mampang Prpt., Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus
Ibukota Jakarta 12720
Telepon: (021) 7824415
Provinsi: Jakarta
65. Yayasan Wahana Visi Indonesia
Jl. Graha Raya Bintaro Blok GB/GK No.9, Pondok Aren,
Tangerang Selatan 15228
Phone: 02129770123
Pedoman Umum LDP Dalam Penanggulangan Bencana | 125