SATUAN ACARA PENYULUHAN
Topik : Pemantauan perkembangan bayi/balita
Sasaran : Orang tua dan Balita
Hari/Tanggal : Rabu, 17 maret 2021
Waktu : 20 menit
Penyuluh : Ristha Amanda Malehere
Tempat : Rumah bapak Emanuel yosef Eban
A. Tujuan
Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu tentang pentingnya
pemantauan perkembangan bagi bayi/balita selama masa pandemic Covid-19
B. Materi
1. Pengertian pemantauan perkembangan
2. Pola tumbuh kembang
3. Ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan
4. Pemantauan tumbuh kembang
5. Penkes tentang pencegahan Covid-29
C. Metode
Ceramah, tanya jawab dan diskusi
D. Media
Leaflet
E. Rincian Kegiatan Penyuluhan
No Kegiatan Penyuluh Peserta Waktu
1. Pembukaan Salam pembuka Membalas salam 2 menit
Perkenalan Mendengarkan
2. Menyampaikan Menjelaskan
materi tentang pemantauan Mendengarkan dan
perkembangan bayi memperhatikan 10 menit
3. Penutup Menyampaikan Mendengarkan 8 menit
kesimpulan kesimpulan
Tanya jawab yang
Evaluasi disampaikan
Salam penutup Membahas
Membalas salam
LAMPIRAN MATERI
PEMANTAUAN TUMBUH KEMBANG BAYI/BALITA
A. PENGERTIAN
Tumbuh adalah bertambahnya ukuran tumbuh anak, yaitu anak bertambah
besar, berat, dan tinggi. Serta organ-organ tubuh bertabah besar dan berat.
Kembang adalah bertambahnya kemampuan anak melalui proses pematangan
organ tubuh (Wong,2009).
Proses tumbuh kembang berlangsung secara bersamaan dan
bersinambungan mencakup aspek motorik, bahasa dan kognitif, sosialisasi, dan
kemandirian. Tumbuh kembang optimal adalah tercapaiannya proses tumbuh
kembang yang sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh anak (Suriadi,2011).
Stimulasi tumbuh kembang adalah perangsangan dan pelatihan terhadap
anak yang datangnya dari lingkungan luar, misalnya latihan kemampuan
motorik, kemampuan bahasa dan kognitif, kemampuan bersosialisasi, dan
kemadirian sehingga anak mencapai kemampuan yang optimal (Wong,2009).
Jadi pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita adalah pemantauan dari
setiap fase tahapan-tahapan perkembangan seorang bayi dari tidak bisa
melakukan apa-apa hingga bisa berbicara, berjalan, menggenggam benda
bermain dan memantau setiap perubahan fisik yang terjadi pada bayi dan balita
bertambahnya tinggi, bertambahnya berat badan dan bertambah pintarnya bayi
dan balita. Pemantauan tumbuh kembang bertujuan untuk mengetahui
pertumbuhan dan perkembangan anak serta menemukan secara dini adanya
gangguan tumbuh kembang sehingga dapat ditindaklanjuti segera agar hasilnya
lebih baik.
B. POLA TUMBUH KEMBANG
Pola pertumbuhan fisik yang terarah, memiliki 2 prinsip :
1. Caphalocaudal atau head to tail direaction (dari arah kepala kemudian ke
kaki) yang ditandai dengan perubahan ukuran kemudian berkembangnya
kemampuan pergerakan.
2. Proximodistal atau near for direction dimulai dengan menggerakan anggota
gerak yang lebih dengan pusat/sumbu tengah, lalu ke daerah yang lebih
jauh atau kearah bagian tepi.
Pola perkembangan dari umum ke khusus (mass to specific/to complex), pola
perkembangan berlangsung dalam tahapan ke tahapan perkebangan. Pola ini
mencerminkan ciri khusus dalam setiap tahapan perkembangan yang dapat
digunakan untuk mendeteksi perkembangan selanjutnya. Tahapan pola
perkembangan tersebut adalah:
1. Masa pranatal.
2. Masa bayi, 0 sampai 1 tahun.
3. Masa pra sekolah 1 sampai 6 tahun.
4. Masa seklah 6 sampai 18/20 tahun.
Pola perkembangan dipengaruhi oleh kematangan dan latihan (belajar).
Terdapat saat yang siap untuk menerima sesuatu dari luar guna mencapai
proses kematangan yang akan sempurna bila mendapatkan rangsangan pada
saat yang tepat (Wong,2009).
C. CIRI-CIRI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
1. Pertumbuhan
a. Terjadinya perubahan ukuran dalam hal bertambahnya ukuran fisik.
b. Terjadi perubahan proporsi fisik, mulai dari masa konsepsi sampai
dewasa.
c. Hilangnya ciri-ciri lama selama masa pertumbuhan.
d. Terdapat ciri baru yang secara perlahan mengikuti proses kematangan.
2. Perkembangan
a. Selalu melibatkan proses perkembangan yang diikuti dari perubahan
fungsi seperti perkembangan sistem reproduksi akan diikuti perubahan
pada fungsi alat kesehatan.
b. Pola konstan dengan hukum tetap dari kepala menuju kaudal atau dari
proksimal ke distal.
c. Memiliki tahapan dari yang sederhana menuju hal yang sempurna.
d. Kecepatan perkembangan yang berbeda pada setiap individu.
e. Dapat menentukan pertumbuhan tahap selanjutnya dimana tahapan
perkembangan harus dilewati tahap demi tahap (Suriadi,2011).
D. PEMANTAUAN TUMBUH KEMBANG
1. Bayi usia 0 sampai 30 hari
a. Pemantauan perkembangan pada usia 1 bulan, bayi sudah dapat:
Menghisap ASI dengan baik.
Menggeserkan kedua lengan dan kaki secara aktif
Mata bayi sesekali menatap ke mata ibu.
Mulai mengeluarkan suara.
Jika belum dapat dilakukan yang perlu dilakukan:
Stimulasi lebih sering.
Jika dalam 1 bulan tidak ada perubahan segera ke petugas
kesehatan.
2. Bayi usia 4 sampai 6 bulan
a. Pemantauan perkembangan
Berbalik dari terlentang ke telungkup atau sebaliknya.
Meraih mainan yang berada dalam jangkauan tangannya.
Menengok ke arah sumber suara.
Mencari benda yang dipindahkan.
Jika ada yang belum dapat dilakukan. Hal yang perlu dilakukan ibu
Stimulasi lebih sering.
Jika dalam 1 bulan tidak ada perubahan segera ke petugas
kesehatan.
b. Stimulasi diri dirumah
Bantu bayi duduk sendiri, mulai dengan mendudukan bayi dikursi
yang mempunyai sandaran.
Latih kedua tangan bayi masing-masing memegang benda dalam
waktu yang bersamaan.
Latih bayi menirukan kata-kata dengan cara menirukan suara bayi
dan buat bayi agar menirukan kembali.
Latih bayi bermain “ciluk ba” atau permainan lain, seperti
melambaikan tangan sambil menyebut “da....da...da..da”
c. Hal yang penting yang perlu diperhatikan
Minta imunisasi HB 2, DPT 3, polio 3 pada usia 4 bulan dan
imunisasi HB 3, polio 4 pada usia 5 bulan.
Ukur lingkar kepala sekurang kurangnya 1 kali pada usia 6 bulan.
Timbang berat bada setiap bulan.
Sebelum tumbuh gigi,bersihkan gusi dan lidah bayi dengan kain
kasa yang basah.
Pemberian makanan : bayi terus diberikan ASI, tetapi mulai di
perkenalkan dengan makanan pendamping asi (MP ASI) berbentuk
makanan lumat atau setengah cair.
3. Bayi usia 6 sampai 9 bulan
a. Pemantauan perkembangan bayi sudah didapat
Duduk sendiri.
Memindahkan benda dari tangan kanan ke tangan yang lain.
Tertawa/berteriak jika melihat benda yang menarik.
Makan kue tanpa dibantu.
Jika ada yang belum dapat dilakukan, hal yang perlu dilkakukan ibu
Stimulasi lebih sering.
Jika dalam 1 bulan tidak ada perubahan segera ke petugas
kesehatan.
b. Stimulasi diri dirumah
Angkat bayi dan bantu ia berdiri di atas permukaan yang datar dan
kokoh.
Latih bayi memasukan dan mengeluarkan benda dari wadah.
Perlihatkan gambar benda dan bantu bayi menunjukan nama benda
yang ada sebutkan.
Ajak bayi bermain dengan permainan yang perlu dilakukan
bersama.
c. Hal penting yang perlu diketahui
Minta imunisasi campak saat usia 9 bulan.
Ukur lingkar kepala sekurang kurangnya 1 kali pada usia 9 bulan.
Timbang berat bada setiap bulan.
Perhatikan kesehatan gigi
Pemberian makanan bayi.
4. Bayi usia 9 sampai 12 bulan
a. Pemantauan perkembang pada usia 12 bulan, bayi sudah dapat
Berjalan dengan berpegangan.
Meraup benda kecil, seperti kacang dengan jadi-jari tanganya.
Menyebut suku kata yang sama, misalnya “ ma ma ma ma”.
Membedakan anda dan orang yang belum dikenal.
Jika ada yang belum dapat dilakukan hal yang perlu dilakukan:
Simulasi lebih sering.
Jika dalam 1 bulan tidak ada perubahan segera ke petugas
kesehatan.
b. Stimulasi dirumah
Latih bayi berjalan sendiri.
Latih bayi menggelinding bola.
Berikan bayi kesempatan untuk menggambar.
Ajak bayi makan bersama.
c. Hal yang penting di ketahui
Ukur lingkar kepala sekurang kurangnya 1 kali pada usia 12 bulan.
Timbang berat bada setiap bulan.
Minta kapsul vitamin A setiap bulan februari dan agustus.
Perhatikan kesehatan gigi bayi.
Pemberian makaan sehat pada usia 12 sampai 18 bulan.
5. Bayi usia 18 sampai 24 bulan
a. Pemantauan perkembangan pada usia 24 bulan
Berjalan mundur sedikitnya 5 langkah.
Mencoret-coret dengan alat tulis.
Menunjukan bagian tubuh dan menyebutkan namanya.
Meniru melakukan pekerjaan rumah tanggaa.
b. Stimulasi dirumah
Latih keseimbangan tubuh anak dengan cara melatih berdiri pada
satu kaki secara bergantian.
Latih anak menggambar bulatan, garis, segita dan gambar wajah.
Latih anak dalam hal kebersihan, seperti berkemih dan defekasi
tempatnya.
c. Hal yang perlu diketehui
Ukuran lingkar kepala sekurang kurangnya 1 kali pada usia 24
bulan.
Dapatkan kapsul vitamin A setiap bulan februari dan agustus.
Timbang berat bada setiap bulan.
Perhatikan kesehatan gigi.
ASI tetap diberkan sampai anak berusia 2 tahun.
6. Anak usia 2 sampai 3 tahun
a. Pemantauan perkembangan pada usia 3 tahun
Berdiri dengan satu kaki tanpa berpegangan,sedikitnya 2 kali
hitungan.
Meniru membuat garis lurus.
Menyatakan keinginan sedikitnya 2 kali.
Melepaskan kaian sendiri.
b. Stimulasi dirumah
Latih anak melompat dengan satu kaki.
Latih anak menyusun dan menumpuk balok.
Latih anak mengenal bentuk dan warna.
Latih anak dalam hal kebersihan.
c. Hal yang perlu diperhatian
Ukuran lingkar kepala sekurang kurangnya 1 kali pada usia 24
bulan.
Dapatkan kapsul vitamin A setiap bulan februari dan agustus.
Timbang berat bada setiap bulan.
Perhatikan kesehatan gigi.
Pemberian akanan tinggi gizi seimbang.
E. PENKES PENCEGAHAN COVID
Novel coronavirus (Covid-19) adalah virus baru penyebab penyakit
saluran pernafasan. Virus ini berasal dari cina. Novel coronavirus merupakan
satu keluarga dengan virus penyebab SARS dan MERS
1. Gejala Klinis
Ada 3 gejala umum yang bisa menandakan seseorang terinfeksi virus
Corona, yaitu:
a. Demam (suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius)
b. Batuk kering
c. Sesak napas
Ada beberapa gejala lain yang juga bisa muncul pada infeksi virus
Corona meskipun lebih jarang, yaitu:
a. Diare
b. Sakit kepala
c. Konjungtivitis
d. Hilangnya kemampuan mengecap rasa
e. Hilangnya kemampuan untuk mencium bau (anosmia)
f. Ruam di kulit
2. Cara Pencegahan
a. Menerapkan physical distancing, yaitu menjaga jarak minimal 1
meter dari orang lain, dan jangan dulu ke luar rumah kecuali ada
keperluan mendesak.
b. Gunakan masker saat beraktivitas di tempat umum atau keramaian,
termasuk saat pergi berbelanja bahan makanan dan mengikuti ibadah
di hari raya, misalnya Idul Adha.
c. Rutin mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer yang
mengandung alkohol minimal 60%, terutama setelah beraktivitas di
luar rumah atau di tempat umum.
d. Jangan menyentuh mata, mulut, dan hidung sebelum mencuci
tangan.
e. Tingkatkan daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat, seperti
mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara rutin, beristirahat
yang cukup, dan mencegah stres.
f. Hindari kontak dengan penderita COVID-19, orang yang dicurigai
positif terinfeksi virus Corona, atau orang yang sedang sakit demam,
batuk, atau pilek.
g. Tutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk atau bersin,
kemudian buang tisu ke tempat sampah.
h. Jaga kebersihan benda yang sering disentuh dan kebersihan
lingkungan, termasuk kebersihan rumah.
3. Cara Memakai Masker Yang Benar
a. Cuci Tangan
Pastikan tangan bersih sebelum menyentuh masker. Hal ini penting
karena tangan adalah media yang mudah dihinggapi kuman. Jangan
sampai kuman yang ada di tangan berpindah ke masker saat kita
hendak menggunakannya. Maka dari itu, penting untuk mencuci
tangan dengan air mengalir dan sabun.
b. Memegang Tali Ketika Menggunakan Masker
Saat hendak mengaplikasikan masker ke bagian mulut, hal yang
harus diperhatikan adalah bagaimana cara memegangnya. Cara yang
benar ketika memegang masker adalah dengan memegang bagian
tali maskernya lalu dikaitkan ke bagian kepala.
c. Posisi Masker
Saat memasang masker, masker bagian yang berwarna harus
menghadap ke luar dan masker bagian putih harus menghadap ke
dalam atau menghadap hidung dan mulut.
d. Posisi Kawat di Atas
Saat memasang masker, pastikan sisi kawat yang bisa ditekuk berada
di atas. Upayakan tidak ada celah pada masker. Caranya, tekuk
kawat atau bagian keras masker sampai rapat mengikuti lekuk
hidung. Kaitkan kedua karet ke telinga dan pastikan masker
terpasang sempurna.
e. Penggunaan Masker Sekali Pakai
Masker hanya dapat digunakan untuk satu kali pakai. Begitu selesai
digunakan, lepaskan masker lalu lipat masker bekas tanpa
menyentuh bagian dalam masker. Buang masker bekas ke tempat
sampah.
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Topik : Pengetahuan Imunisasi
Sasaran : Orang tua dan Balita
Hari/Tanggal : Rabu, 17 Maret 2021
Waktu : 20 menit
Penyuluh : Ristha Amanda Malehere
Tempat : Rumah bapak Emanuel yosef Eban
A. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu tentang pentingnya
imunisasi bagi bayi
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti konseling
a. Peserta dapat menyebutkan pengertian Imunisasi
b. Peserta dapat menyebutkan manfaat imunisasi
c. Peserta dapat menyebutkan jenis-jenis imunisasi
d. Peserta dapat menyebutkan waktu pemberian imunisasi
B. Materi
1. Pengertian imunisasi
2. Manfaat imunisasi
3. Jenis-jenis imunisasi
4. Waktu pemberian imunisasi
C. Metode
Ceramah, Tanya jawab dan diskusi
D. Media
Leaflet
E. Jadwal Kegiatan Konseling
No Kegiatan Penyuluh Peserta Waktu
1. Pembukaan Salam pembuka Membalas salam 2 menit
Perkenalan Mendengarkan
2. Menyampaikan Menjelaskan tentang
materi pengertian imunisasi Mendengarkan dan
Menjelaskan manfaat memperhatikan 10 menit
imunisasi
Menjelaskan jenis-
jenis imunisasi
Menjelaskan tentang
waktu pemberian
imunisasi
3. Penutup Menyampaikan Mendengarkan 8
kesimpulan kesimpulan Menit
Tanya jawab yang
Evaluasi disampaikan
Salam penutup Membahas
Membalas salam
F. Evaluasi
1. Metode Evaluasi :
2. Jenis pertanyaan :
LAMPIRAN MATERI
IMUNISASI
1. PENGERTIAN IMUNISASI
Imunisasi adalah proses untuk membuat seseorang imun atau kebal
terhadap suatu penyakit. Proses ini dilakukan dengan pemberian vaksin
yang merangsang sistem kekebalan tubuh agar kebal terhadap penyakit
tersebut.
2. MANFAAT IMUNISASI
Imunisasi dasar lengkap dapat menghindarkan bayi dari beberapa penyakit
yang bahkan bisa sampai menyebabkan kematian
3. JENIS JENIS IMUNISASI
Berikut ini adalah vaksin yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI) dalam program imunisasi:
a. Hepatitis B
Vaksin ini diberikan untuk mencegah infeksi hati serius, yang
disebabkan oleh virus hepatitis B. Vaksin hepatitis B diberikan dalam
waktu 12 jam setelah bayi lahir, dengan didahului suntik vitamin K,
minimal 30 menit sebelumnya. Lalu, vaksin kembali diberikan pada usia
2, 3, dan 4 bulan.
Vaksin hepatitis B dapat menimbulkan efek samping, seperti demam serta
lemas. Pada kasus yang jarang terjadi, efek samping bisa berupa gatal-
gatal, kulit kemerahan, dan pembengkakan pada wajah.
b. Polio
Polio merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus.
Pada kasus yang parah, polio dapat menimbulkan keluhan sesak napas,
kelumpuhan, hingga kematian. Imunisasi polio pertama kali diberikan saat
anak baru dilahirkan hingga usia 1 bulan. Kemudian, vaksin kembali
diberikan tiap bulan, yaitu saat anak berusia 2, 3, dan 4 bulan. Untuk
penguatan, vaksin bisa kembali diberikan saat anak mencapai usia 18
bulan. Vaksin polio juga bisa diberikan untuk orang dewasa dengan
kondisi tertentu.
Vaksin polio bisa menimbulkan demam hingga lebih dari 39
derajat Celsius. Efek samping lain yang dapat terjadi meliputi reaksi alergi
seperti gatal-gatal, kulit kemerahan, sulit bernapas atau menelan, serta
bengkak pada wajah.
c. BCG
VaksinBCG diberikan untuk mencegah perkembangan tuberkulosis
(TB), penyakit infeksi serius yang umumnya menyerang paru-paru. Perlu
diketahui bahwa vaksin BCG tidak dapat melindungi orang dari infeksi
TB. Akan tetapi, BCG bisa mencegah infeksi TB berkembang ke kondisi
penyakit TB yang serius seperti meningitis TB.
Vaksin BCG hanya diberikan satu kali, yaitu saat bayi baru
dilahirkan, hingga usia 2 bulan. Bila sampai usia 3 bulan atau lebih vaksin
belum diberikan, dokter akan melakukan uji tuberculin atau tes
Mantoux terlebih dahulu, untuk melihat apakah bayi telah terinfeksi TB
atau belum.
Vaksin BCG akan menimbulkan bisul pada bekas suntikan dan
muncul pada 2- 6 minggu setelah suntik BCG. Bisul bernanah tersebut
akan pecah, dan meninggalkan jaringan parut. Sedangkan efek samping
lain, seperti anafilaksis, sangat jarang terjadi.
d. DPT
Vaksin DPT merupakan jenis vaksin gabungan untuk mencegah
penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Difteri merupakan kondisi serius
yang dapat menyebabkan sesak napas, paru-paru basah, gangguan jantung,
bahkan kematian.
Tidak jauh berbeda dengan difteri, pertusis atau batuk rejan adalah
penyakit batuk parah yang dapat memicu gangguan pernapasan, paru-paru
basah (pneumonia), bronkitis, kerusakan otak, hingga kematian.
Sedangkan tetanus adalah penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan
kejang, kaku otot, hingga kematian.
Pemberian vaksin DPT harus dilakukan empat kali, yaitu saat anak
berusia 2, 3, dan 4 bulan. Vaksin dapat kembali diberikan pada usia 18
bulan dan 5 tahun sebagai penguatan. Kemudian, pemberian vaksin
lanjutan dapat diberikan pada usia 10-12 tahun, dan 18 tahun.
Efek samping yang muncul setelah imunisasi DPT cukup beragam,
di antaranya adalah radang, nyeri, tubuh kaku, serta infeksi.
e. Hib
Vaksin Hib diberikan untuk mencegah infeksi bakteri Haemophilus
influenza tipe B. Infeksi bakteri tersebut dapat memicu kondisi berbahaya,
seperti meningitis (radang selaput otak), pneumonia (paru-paru
basah), septic arthritis (radang sendi), serta perikarditis (radang pada
lapisan pelindung jantung).
Imunisasi Hib diberikan 4 kali, yaitu saat anak berusia 2 bulan, 3
bulan, 4 bulan, dan dalam rentang usia 15-18 bulan.
Sebagaimana vaksin lain, vaksin Hib juga dapat menimbulkan efek
samping, antara lain demam di atas 39 derajat Celsius, diare, dan nafsu
makan berkurang.
f. Campak
Campak adalah infeksi virus pada anak yang ditandai dengan
beberapa gejala, seperti demam, pilek, batuk kering, ruam, serta radang
pada mata. Imunisasi campak diberikan saat anak berusia 9 bulan. Sebagai
penguatan, vaksin dapat kembali diberikan pada usia 18 bulan. Tetapi bila
anak sudah mendapatkan vaksin MMR, pemberian vaksin campak kedua
tidak perlu diberikan.
g. MMR
Vaksin MMR merupakan vaksin kombinasi untuk mencegah
campak, gondongan, dan rubella (campak Jerman). Tiga kondisi tersebut
merupakan infeksi serius yang dapat menyebabkan komplikasi berbahaya,
seperti meningitis, pembengkakan otak, hingga hilang pendengaran (tuli).
Vaksin MMR diberikan saat anak berusia 15 bulan, kemudian diberikan
lagi pada usia 5 tahun sebagai penguatan. Imunisasi MMR dilakukan
dalam jarak minimal 6 bulan dengan imunisasi campak. Namun bila pada
usia 12 bulan anak belum juga mendapatkan vaksin campak, maka dapat
diberikan vaksin MMR.
Vaksin MMR dapat menyebabkan demam lebih dari 39 derajat
Celsius. Efek samping lain yang dapat muncul adalah reaksi alergi seperti
gatal, gangguan dalam bernapas atau menelan, serta bengkak pada wajah.
Banyak beredar isu negatif seputar imunisasi, salah satunya adalah
isu vaksin MMR yang dapat menyebabkan autisme. Isu tersebut sama
sekali tidak benar. Hingga kini tidak ditemukan kaitan yang kuat antara
imunisasi MMR dengan autisme.
h. PCV
VaksinPCV (pneumokokus) diberikan unmencegah pneumonia,
meningitis, dan septikemia, yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus
pneumoniae. Pemberian vaksin harus dilakukan secara berangkai, yaitu
saat anak berusia 2, 4, dan 6 bulan. Selanjutnya pemberian vaksin kembali
dilakukan saat anak berusia 12-15 bulan.
Efek samping yang mungkin timbul dari imunisasi PCV, antara
lain adalah pembengkakan dan kemerahan pada bagian yang disuntik,
yang disertai demam ringan.
i. Rotavirus
Imunisasi ini diberikan untuk mencegah diare akibat infeksi
rotavirus. Vaksin rotavirus diberikan 3 kali, yaitu saat bayi berusia 2, 4,
dan 6 bulan. Sama seperti vaksin lain, vaksin rotavirus juga menimbulkan
efek samping. Pada umumnya, efek samping yang muncul tergolong
ringan, seperti diare ringan, dan anak menjadi rewel.
j. Influenza
Vaksin influenza diberikan untuk mencegah flu. Vaksinasi ini bisa
diberikan pada anak berusia 6 bulan dengan frekuensi pengulangan 1 kali
tiap tahun, hingga usia 18 tahun.
Efek samping imunisasi influenza, antara lain demam, batuk, sakit
tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala. Pada kasus yang jarang, efek
samping yang dapat muncul meliputi sesak napas, sakit pada telinga, dada
terasa sesak, atau mengi.
k. Tifus
Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit tifus, yang
disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Pemberian vaksin tifus dapat
dilakukan saat anak berusia 2 tahun, dengan frekuensi pengulangan tiap 3
tahun, hingga usia 18 tahun.
Meskipun jarang, vaksin tifus dapat menimbulkan sejumlah efek
samping, seperti diare, demam, mual dan muntah, serta kram perut.
l. Hepatitis A
Sesuai namanya, imunisasi ini bertujuan untuk mencegah hepatitis
A, yaitu penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus.
Vaksin hepatitis A harus diberikan 2 kali, pada rentang usia 2-18 tahun.
Suntikan pertama dan kedua harus berjarak 6 bulan atau 1 tahun.
Vaksin hepatitis A dapat menimbulkan efek samping seperti
demam dan lemas. Efek samping lain yang tergolong jarang meliputi
gatal-gatal, batuk, sakit kepala, dan hidung tersumbat.
m. Varisela
Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit cacar air, yang
disebabkan oleh virus Varicella zoster. Imunisasi varisela dilakukan pada
anak usia 1-18 tahun. Bila vaksin diberikan pada anak usia 13 tahun ke
atas, vaksin diberikan dalam 2 dosis, dengan jarak waktu minimal 4
minggu.
1 dari 5 anak yang diberikan vaksin varisela mengalami nyeri dan
kemerahan pada area yang disuntik. Vaksin varisela juga dapat
menimbulkan ruam kulit, tetapi efek samping ini hanya terjadi pada 1 dari
10 anak.
n. HPV
Vaksin HPV diberikan kepada remaja perempuan untuk
mencegah kanker serviks, yang umumnya disebabkan oleh virus Human
papillomavirus. Vaksin HPV diberikan 2 atau 3 kali, mulai usia 10 hingga
18 tahun.
Umumnya, vaksin HPV menimbulkan efek samping berupa sakit
kepala, serta nyeri dan kemerahan pada area bekas suntikan. Akan tetapi,
efek samping tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Pada kasus yang
jarang, penerima vaksin HPV dapat mengalami demam, mual, dan gatal
atau memar di area bekas suntikan.
o. Japanese encephalitis
Japanese encephalitis (JE) adalah infeksi virus pada otak, yang
menyebar melalui gigitan nyamuk. Pada umumnya, JE hanya
menimbulkan gejala ringan seperti flu. Tetapi pada sebagian orang, JE
dapat menyebabkan demam tinggi, kejang, hingga kelumpuhan.
Vaksin JE diberikan mulai usia 1 tahun, terutama bila tinggal atau
bepergian ke derah endemis JE. Vaksin dapat kembali diberikan 1-2 tahun
berikutnya untuk perlindungan jangka panjang.
p. Dengue
Imunisasi dengue dilakukan untuk mengurangi risiko demam
berdarah, yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Vaksin dengue
diberikan 3 kali dengan interval 6 bulan, pada usia 9 hingga 16 tahun.
4. WAKTU PEMBERIAN IMUNISASI
Imunisasi dasar
1. Usia 0 bulan: 1 dosis hepatitis B
2. Usia 1 bulan: 1 dosis BCG dan polio
3. Usia 2 bulan: 1 dosis DPT, hepatitis B, HiB, dan polio
4. Usia 3 bulan: 1 dosis DPT, hepatitis B, HiB, dan polio
5. Usia 4 bulan: 1 dosis DPT, hepatitis B, HiB, dan polio
6. Usia 9 bulan: 1 dosis campak/MR
Imunisasi lanjutan
1. Usia 18-24 bulan: 1 dosis DPT, hepatitis B, HiB, dan campak/MR
2. Kelas 1 SD/sederajat: 1 dosis campak dan DT
3. Kelas 2 dan 5 SD/sederajat: 1 dosis Td
Daftar Pustaka :
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Topik : Keluarga Berencana
Sasaran : Ibu Martalina tabita Massae dan Ibu Mensiana Mamung
Hari/Tanggal : Rabu, 17 maret 2021
Waktu : 20 menit
Penyuluh : Ristha Amanda Malehere
Tempat :Rumah ibu Martalina Massae dan Rumah Ibu Mensiana Mamung
A. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pasangan usia subur dan ibu
menyusui tentang KB.
2. Tujuan Khusus
Setalah mengikuti konseling:
a. Peserta dapat menyebutkan pengertian KB
b. Peserta dapat menyebutkan jenis-jenis alat kontrasepsi
c. Peserta dapat menyebutkan syarat-syarat mengikuti KB
B. Materi
1. Pengertian KB
2. Jenis-jenis alat kontrasepsi
3. Syarat-syarat mengikuti KB
C. Metode
Ceramah, tanya jawab dan diskusi
D. Media
Leaflet dan lembar balik
E. Rincian Kegiatan Penyuluhan
No Kegiatan Penyuluh Peserta Waktu
1. Pembukaan Salam pembuka Membalas salam 2 menit
Perkenalan Mendengarkan
2. Menyampaikan Menjelaskan
materi tentang pengertian
KB Mendengarkan dan 10 menit
Menjelaskan tentang memperhatikan
jenis alat kontrasepsi
Menjelaskan syarat-
syarat mengikuti
program KB
3. Penutup Menyampaikan Mendengarkan 8 menit
kesimpulan kesimpulan
Tanya jawab yang
Evaluasi disampaikan
Salam penutup Membahas
Membalas salam
LAMPIRAN MATERI
KELUARGA BERENCANA
A. Pengertian Keluarga Berencana
Keluarga berencana adalah suatu program yang dicanangkan oleh
pemerintah untuk mengatur jarak kelahiran anak sehingga dapat tercapai
keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.
B. Tujuan Keluarga Berencana
1. Mencegah kehamilan
2. Menjarangkan kehamilan
3. Membatasi jumlah anak
4. Peningkatan kesejahteraan keluarga
C. Sasaran Keluarga Berencana
1. Ibu dengan penyakit kronis
2. Usia ibu < 20 tahun atau > 30 tahun dengan jumlah anak > 3 orang
3. Ibu yang sudah pernah melahirkan > 5 kali
4. Ibu dengan riwayat persalinan yang buruk
5. Keluarga dengan sosial ekonomiyang kurang memadai
6. Telah mengalami keguguran berulang-ulang
D. Metode Keluarga Berencana
Mulyani dan Rinawati (2013) menjelaskan beberapa metode kontrasepsi
Pasca Persalinan meliputi :
1. AKDR
Mulyani dan Rinawati (2013) menjelaskan metode kontrasepsi AKDR
sebagai berikut :
a. Pengertian
AKDR adalah suatu alat atau benda yang dimasukkan ke dalam
rahim yang sangat efektif, reversibel dan berjangka panjang, dapat
dipakai oleh semua perempuan usia reproduktif.
b. Cara kerja
1) Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan
adanya kontraksi uterus pada pemakaian AKDR yang dapat
mengahalangi nidasi.
2) AKDR yang mengeluarkan hormon akan mengentalkan lendir
serviks sehingga menghalangi pergerakan sperma untuk dapat
melewati cavum uteri.
3) Sebagai metode biasa (dipasang sebelum hubungan sexual terjadi)
AKDR mengubah transportasi tuba dalam rahim dan
mempengaruhi sel telur sperma sehingga pembuahan tidak terjadi.
Sebagai metode darurat (dipasang setelah hubungan seksual terjadi)
dalam beberapa kasus mungkin memiliki mekanisme kasus yang
mungkin adalah dengan mencegah terjadinya implantasi atau
penyerangan sel telur yang telah dibuahi ke dalam dinding rahim.
c. Keuntungan
1) AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan.
2) Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CUT-380A dan
tidak perlu diganti).
3) Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat – ingat.
4) Tidak mempengaruhi hubungan seksual dan meningkatkan
kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil.
5) Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu. AKDR (CuT 380 A)
6) Tidak mempengaruhi kualitas ASI
7) Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus
(apabila tidak terjadi infeksi)
8) Dapat digunakan sampai menopouse (1 tahun atau lebih setelah
haid terakhir)
9) Tidak interaksi dengan obat – obat
10) Membantu mencegah kehamilan ektopik
d. Kerugian
1) Perubahan siklus haid ( umumnya pada 8 bulan pertama dan akan
berkurang setelah 3 bulan).
2) Haid lebih lama dan banyak.
3) Perdarahan (spotting) antar menstruasi.
4) Saat haid lebih sakit
5) Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.
6) Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau
perempuan yang sering berganti pasangan.
7) Penyakit radang panggul terjadi. Seorang perempuan dengan IMS
memakai AKDR, PRP dapat memicu infertilitas.
8) Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam
pemasangan AKDR. Seringkali perempuan takut selama
pemasangan.
9) Sedikit nyeri dan perdarahan terjadi segera setelah pemasangan
AKDR. Biasanya menghilang dalam 1-2 hari.
10) Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas
kesehatan terlatih yang dapat melakukannya.
11) Mungkin AKDR keluar lagi dari uterus tanpa diketahui (sering
terjadi apabila AKDR dipasang sesudah melahirkan).
12) Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi
AKDR untuk mencegah kehamilan normal.
13) Perempuan harus memeriksa posisi benang dari waktu ke waktu,
untuk melakukan ini perempuan harus bisa memasukkan jarinya ke
dalam vagina. Sebagian perempuan ini tidak mau melakkannya.
e. Efek Samping dan Penanganan
Tabel Efek Samping dan Penanganan AKDR
Efek Samping Penanganan
Amenorea Pastikan hamil atau tidak. Bila klien tidak hamil, AKDR tidak
perlu dicabut, cukup konseling saja. Salah satu efek samping
menggunakan AKDR yang mengandung hormon adalah amenorea
(20-50%). Jika klien tetap saja menganggap amenorea yang terjadi
sebagai masalah, maka rujuk klien. Jika terjadi kehamilan < 13
minggu dan benang AKDR terlihat, cabut AKDR. Nasihatkan agar
kembali ke klinik jika terjadi perdarahan, kram, cairan berbau atau
demam. Jangan mencabut AKDR jika benang tidak kelihatan dan
kehamilannya > 13 minggu. Jika klien hamil dan ingin
meneruskan kehamilannya tanpa mencabut AKDRnya, jelaskan
padanya tentang meningkatnya risiko keguguran, kehamilan
preterm, infeksi, dan kehamilannya harus diawasi ketat.
Kram Pikirkan kemungkinan terjadi infeksi dan beri pengobatan yang
sesuai. Jika kramnya tidak parah dan tidak ditemukan
penyebabnya, cukup diberikan analgetik saja. Jika penyebabnya
tidak dapat ditemukan dan menderita kram berat, cbut AKDR,
kemudian ganti dengan AKDR baru atau cari metode kontrasepsi
lain.
Perdarahan Sering ditemukan terutamapada 3-6 bulan pertama. Singkirkan
yang tidak infeksi panggul atau kehamilan ektopik, rujuk klien bila dianggap
teratur dan perlu. Bila tidak ditemukan kelaianan patologik dan perdarahan
banyak masiih terjadi, dapat diberi ibuprofen 3x800 mg untuk satu
minggu, atau pil kombinasi satu siklus saja. Bila perdarahan
banyak beri 2 tablet pil kombinasi untuk 3-7 hari saja, atau boleh
juga diberi 1,25 mg estrogen equin konyugasi selama 14-21 hari.
Bila perdarahan terus berlanjut sampai klien anemia, cabut AKDR
dan bantu klien memilih metode kontrasepsi lain.
Benang hilang Periksa apakah klien hamil. Bila tidak hamil dan AKDR masih di
tempat, tidak ada tindakan yang perlu dilakukan. Bila tidak yakin
AKDR masih berada di dalam rahim dan klien tidak hamil, maka
klien dirujuk untuk dilakukan pemeriksaan rontgen/USG. Bila
tidak ditemukan, pasang kembali AKDR sewaktu datang haid. Jika
ditemukan kehamilan dan benang AKDR tidak kelihatan, lihat
penaganan amenorea.
Cairan Bila penyebabnya kuman gonokokus atau klamidia, cabut AKDR
vagina/dugaa dan berikan pengobatan yang sesuai. Penyakit radang panggul
n penyakit yang lain cukup diobati dan AKDR tidak perlu dicabut. Bila klien
radang dengan penyakit radang panggul dan tidak ingin memakai AKDR
panggul lagi, berikan antibiotika selama 2 hari dan baru kemudian AKDR
dicabut dan bantu klien untuk memilih kontrasepsi lain.
2. Implant
Mulyani dan Rinawati (2013) menjelaskan metode kontrasepsi implant
sebagai berikut:
a. Pengertian
Implan adalah salah satu jenis alat kontrasepsi yang berupa susuk
yang terbuat dari sejenis karet silastik yang berisi hormon, dipasang
pada lengan atas.
b. Cara kerja
1) Menghambat ovulasi.
2) Perubahan lendir serviks menjadi lebih kental dan sedikit.
3) Menghambat perkembangan siklis dan endometrium.
c. Keuntungan
1) Cocok untuk wanita yang tidak boleh menggunakan obat yang
mengandung estrogen.
2) Dapat digunakan untuk jangka waktu yang panjang 5 tahun dan
bersifat reversibel.
3) Efek kontraseptif akan berakhir setelah implannya dikeluarkan.
4) Perdarahan terjadi lebih ringan, tidak menaikan darah.
5) Resiko terjadinya kehamilan ektopik lebih kecil jika dibandingkan
pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim.
d. Kerugian
1) Susuk/KB harus dipasang dan diangkat oleh tenaga kesehatan yang
terlatih.
2) Lebih mahal.
3) Sering timbul perubahan pola haid.
4) Akseptor tidak dapat menghentikan implan sekehendaknya sendiri.
5) Beberapa wanita mungkin segan untuk menggunakannya karena
kurang mengenalnya.
e. Efek samping dan Penanganan
Tabel Efek Samping dan Penanganan Implan
Efek samping Penanganan
Amenorea Pastikan hamil atau tidak, tidak memerlukan penaganan
khusus. Cukup konseling saja. Bila klien tetap saja tidak
menerima, angkat implan dan anjurkan menggunakan
kontrasepsi lain. Bila terjadi kehamilan dan klien ingin
melanjutkan kehamilan, cabut implan dan jelaskan, bahwa
progestin tidak berbahaya bagi janin. Bila diduga terjadi
kehamilan ektopik, klien dirujuk. Tidak ada gunanya
memberikan obat hormon untuk memancing timbulnya
perdarahan.
Perdarahan Jelaskan bahwa perdarahan ringan sering ditemukan
bercak (spoting) terutama tahun petama. Bila tidak ada masalah dan klien
ringan tidak hamil, tidak diperlukan tindakan apapun. Bila klien
tetap saja mengeluh masalah perdarahan dan ingin
melanjutkan pemakaian implan dapat diberikan pil
kombinasi satu siklus, atau ibuprofen 3x800 mg selama 5
hari. Terangkan kepada klien bahwa akan terjadi perdarahan
setelah pil kombinasi habis. Bila terjadi perdarahan lebih
banyak dari biasa, berikan 2 tablet pil kombinasi untuk 3-7
hari dan kemudian lanjutkan dengan satu siklus pil
kombinasi, atau dapat juga diberikan 50 μg etinilestradiol
1,25 mg estrogen equin konjugasi untuk 14-21 hari
Ekspulsi Cabut kapsul yang ekspulsi, periksa apakah kapsul yang lain
masih ditempat, dan apakah terdapat tanda-tanda infeksi
daerah insersi. Bila tidak ada infeksi dan kapsul lain masih
berada pada tempatnya, pasang kapsul baru 1 buah pada
tempat insersi yang berbeda. Bila ada infeksi cabut seluruh
kapsul yang ada dan pasang kapsul baru ada lengan yang
lain, atau anjurkan klien menggunakan metode kontrasepsi
lain.
Infeksi pada Bila terdapat infeksi tanpa nanah, bersihkan dengan sabun
daerah insersi dan air, atau antiseptik. Berikan antibiotik yang sesuai untuk
7 hari. Implan jangan dilepas san klien diminta kembali satu
minggu. Apabila tidak membaik, cabut implan dan pasang
yang baru pada sisi lengan yang lain atau cari metode
kontrasepsi yang lain. Apabila ditemukan abses, bersihkan
antiseptik, insisi da alirkan pus keluar, cabut implan, lakukan
perawatan luka, dan berikan antibiotik oral 7 hari.
Berat badan Informasikan kepada klien bahwa perubahan berat badan 1-2
naik/turun kg adalah normal. Kaji ulang diet klien apabila terjadi
perubahan berat badan 2 kg atau lebih. Apabila peruahan
berat badan ini tidak dapat diterima, bantu klien mencari
metode lain.
Sumber : Saifuddin (2006)
3. Pil
Handayani (2011) menjelaskan mengenai kontrasepsi pil sebagai berikut:
a. Pengertian
Pil progestin merupakan pil kontrasepsi yang berisi hormon
sintesis progesterone.
b. Cara kerja
1) Menghambat ovulasi
2) Mencegah implatasi
3) Memperlambat transport gamet/ovum
4) Luteolysis
5) Mengentalkan lendir servic yang kental
c. Keuntungan
1) Keuntungan kontraseptif
a) Sangat efektif bila digunakan secara benar
b) Tidak mengganggu hubungan seksual
c) Tidak berpengaruh terhadap pemberian ASI
d) Segera bisa kembali ke kondisi kesuburan bila dihentikan
e) Tidak mengganggu estrogen
2) Keuntungan nonkntrasepstif
a) Bisa mengurangi kram haid
b) Bisa mengurangi perdarahan haid
c) Bisa memperbaiki kondisi anemia
d) Memberi perlindungi terhadap kanker endometrial
e) Mengurangi keganasan penyakit payudara
f) Mengurangi kehamilan ektopik
g) Memberi perlindungan terhadap beberapa penyebab PID
d. Kerugian
1) Menyebabkan perubahan dalam pola perdarahan haid
2) Sedikit pertambahan atau pengurangan berat badan bisa terjadi
3) Bergantung pada pemakai ( memerlukan motivasi terus – menerus
dan pemakaian setiap hari
4) Harus dimakan pada waktu yang sama setiap hari
5) Kebiasaan lupa akan menyebabkan kegagalan metode
6) Pasokan ulang harus selalu tersedia
7) Berinteraksi dengan obat lain, contoh : obat – obat epilepsi dan
tuberculosae
e. Efek samping
1) Amenore
2) Spotting
3) Perubahan berat badan
f. Penanganan
1) Pastikan hamil atau tidak, bila tidak hamil tidak perlu tindakan
khusus, cukup konseling, bila amenorhe berlanjut rujuk, bila hamil
hentikan pil.
2) Bila tidak menimbulkan masalah kesehatan atau tidak hamil, tidak
perlu tindakan khusus.
3) Bila klien tidak dapat menerima ganti metode kontrasepsi
4. Suntik
Handayani (2011) menjelaskan mengenai kontrasepsi pil sebagai berikut:
a. Pengertian
Suntik kombinasi merupakan kontrasepsi suntikan yang berisi hormon
progesteron
b. Cara kerja
1) Menekan ovulasi
2) Lendir serviks menjadi kental dan sedikit, sehingga merupakan
barier terhadap spermatozoa
3) Membuat endometrium menjadi kurang baik/layak untuk
implantasi dari ovum yang sudah dibuahi
4) Mungkin mempengaruhi kecepatan transpor ovum di dalam tuba
fallopi
c. Keuntungan
1) Keuntungan kontraseptif
a) Sangat efektif (0,3 kehamilan per 100 wanita selama tahun
pertama penggunaan)
b) Cepat efektif (<24 jam) jika dimulai pada hari ke 7 dari siklus
haid
c) Metoda jangka waktu menengah (intermediate – term)
perlindungan untuk 2 atau 3 bulan per satu kali injeksi
d) Pemeriksaan panggul tidak dilakukan untuk memulai
pemakaian
e) Tidak mengganggu hubungan seks
f) Tidak mempengaruhi pemberian ASI
g) Efek sampingnya sedikit
h) Klien tidak memerlukan suplai bahan
i) Bisa diberikan oleh petugas non medis yang sudah terlatih
j) Tidak mengandung estrogen
2) Keuntungan non kontraseptif
a) Mengurangi kehamilan ektopik
b) Bisa menguranginyeri haid
c) Bisa mengurangi perdarahan haid
d) Bisa memperbaiki anemia
e) Melindungi terhadap kanker endometrium ‘
f) Mengurangi penyakit payudara ganas
g) Mengurangi krisis sickle sel
h) Memberi perlindungan terhadap beberapa penyebab PID
(Penyakit Inflamasi Pelvik)
d. Kerugian
1) Perubahan pada pola perdarahan haid. Perdarahan bercak tak
beraturan awal pada sebagian besar wanita
2) Penambahan berat badan (±2kg) merupakan hal biasa
3) Meskipun kehamilan tidak mungkin, namun jika terjadi, lebih
besar kemungkinannya berupa ektopik dibanding pada wanita
bukan pemakai
4) Pasokan ulang harus tersedia
5) Harus kembali lagi untuk ulangan injeksi setiap 3 bulan (DMPA)
atau 2 bulan (NET-EN)
6) Pemulihan kesuburan bisa tertunda selama 7 – 9 bulan (secara rata
– rata) setelah penghentian
e. Efek samping
1) Amenorrhea
2) Perdarahan hebat atau tidak teratur
3) Pertambahan atau kehilangan berat badan (perubahan nafsu makan)
f. Penanganan
1) Bila tidak hamil tidak perlu pengobatan khusus, bila hamil
hentikan penyuntikan.
2) Bila klien tidak dapat menerima perdarahan, dan ingin melanjutkan
suntikan maka disarankan 2 pilihan pengobatan :
a) 1 siklus pil kontrasepsi kombinasi (30-35µg etinilestradiol),
ibuprofen (sampai 800mg, 3x/hari untuk 5 hari)
b) Bila terjadi perdarahan banyak selama pemberian suntikkan,
ditangani dengan pemberian 2 tablet pil kombinasi atau selama
3-7 hari
c) Dilanjutkan dengan 1 siklus pil atau diberi 50µg
etinilestradiol/1,25 mg estrogen equin konjugasi untuk 14-21
hari
3) Informasikan bahwa kenaikan/penurunan berat badan sebanyak 1
sampai 2 kg dapat saja terjadi. Perhatikan diet klien bila perubahan
berat bdana terlalu mencolok. Bila berat badan berlebihan,
hentikan suntikan dan lanjutkan metode kontrasepsi lain.
5. Metode Amenorhea Laktasi
Handayani (2011) menjelaskan mengenai MAL sebagai berikut:
a. Pengertian
Metode amenorhea laktasi adalah kontrasepsi yang mengandalkan
pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara ekslusif, artinya hanya diberikan
ASI saja tanpa pemberian makanan tambahan atau minuman apapun.
b. Cara kerja
Efek kontrasepsi pada ibu menyusui menyatakan bahwa
rangsangan syaraf dari puting susu diteruskan ke Hypothalamus,
mempunyai efek merangsang pelepasan beta endropin yang akan
menekan sekresi hormon gonadotropin oleh hypothalamus. Akibatnya
adalah penurunan sekresi dari hormon Luteinizing Hormon (LH) yang
menyebabkan kegagalan ovulasi.
c. Keuntungan
1) Keuntungan kontrasepsi
a) Segera efektif
b) Tidak mengganggu senggama
c) Tidak ada efek samping secara sistemik
d) Tidak perlu pengawasan medis
e) Tidak perlu obat atau alat
f) Tanpa biaya
2) Keuntungan non kontrasepsi
Untuk bayi :
a) Mendapat kekebalan pasif (mendapatkan antibody lewat asi)
b) Sumber asupan gizi yang terbaik dan sempurna untuk tumbuh
kembang bayi yang optimal
c) Terhindar dari keterpaparan terhadap kontaminasi dari air, susu
lain atau formula atau alat minum yang dipakai.
Untuk Ibu :
a) Mengurangi perdarahan pasca persalinan
b) Mengurangi resiko anemia
c) Meningkatkan hubungan psikologik ibu dan bayi
d. Kerugian
1) Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera menyusui
dalam 30 menit pasca persalinan
2) Mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi social
3) Tidak melindungi terhadap IMS termasuk kontrasepsi B/ HBV dan
HIV/ AIDS
E. Tempat Pelayanan Keluarga Berencana
Tempat-tempat yang dapat melayani KB adalah:
1. Dokter dan bidan praktek swasta
2. Lembaga masyarakat seperti: posyandu, kelompok akseptor KB
3. Lembaga kesehatan seperti: Rumah Sakit, Puskesmas, Klink Swasta,
dll.
Daftar Pustaka :
Jitowiyono, Sugeng dan Masniah, Abdul Rouf. 2019. Keluarga Berencana (KB)
Dalam Perspektif Bidan. Yogyakarta : PT Pustaka BAru
Handayani, Sri. [Link] Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta:
Pustaka Rihama.
Mulyani, Nina Siti, dan Mega Rinawati. 2013. Keluarga Berencana dan Alat
Kontrasepsi. Jakarta : EGC.
Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.
Jakarta: YBP Sarwono Prawirohardjo bekerja sama dengan JNPK-KR-POGI-
JHPIEGO/MNH PROGRAM.