BAHASA INDONESIA
(TEKS NEGOSIASI)
OLEH :
YULIANI RISMAWATI
X MIPA 6
32
Simulasikan/bayangkan kamu menjadi seorang pedagang/penjual lalu buatlah esai dari soal
dibawah ini.
1. Kamu menjual bakso.
2. Kamu menjual sepeda motor.
3. Kamu menjual mobil.
4. Kamu menjual rumah.
5. Kamu menjual helikopter.
Apa saja kendala yang dihadapi saat bernegosiasi berikan solusinya.
A. PENJUALAN BAKSO
1. Kesalahan Lokasi
Misalnya berjualan di gang sempit jika sepeda motor lewat hanya bisa satu sepeda
motor saja. Bahkan itu berjualan di kos yang berisikan tiga kamar kos, memang ada
pelanggan pasti, tetapi ya menurut saya jika berjualan di medan yang seperti itu maka
akan sulit untuk meraup keuntungan penjualan yang banyak. Jadi tips untuk lokasi
penjualan bakso jika ingin meraup keuntungan yang banyak ialah berjualan di tengah
kota, dekat perindustrian, ataupun dekat sekolah-sekolah.
2. Kejenuhan masyarakat, karena bakso itu-itu saja
Memang benar, kadang kala bakso akan menggiurkan ketika awal-awal
pembukaan, bisa dari harganya yang relatif rendah (karena diskon awal-awal
pembukaan) bisa juga karena baksonya istimewa. Tetapi tidak menutup kemungkinan
di tengah-tengah penjualan yang pada awalnya ramai, viral, dan lain sebagainya, bakso
itu akan sepi. Maka dari itu kita harus bersedia memiliki inovasi variasi bakso yang
baru, entah seperti apa, dengan tujuan menetapkan dan juga memperbanyak pelanggan.
Karena kita juga tidak berkeinginan menjual bakso hanya bertahan beberapa bulan saja,
bukan?
B. PENJUALAN SEPEDA MOTOR
1. Modal Awal Besar
Ya, memang tidak menutup kemungkinan bahwa penjualan yang dijualnya berjuta-
juta pasti membutuhkan ‘modal’ yang cukup besar. Oke, jadi solusi untuk kendala kali
ini yaitu ikut orang menjual, jadi kita jadi reseller saja. Seperti misalnya kita memiliki
teman yang kebetulan pada saat itu berjualan motor. Memang kita harus benar-benar
bisa meyakinkan terlebih dahulu kepada teman kita yang berprofesi sebagai penjual
motor tersebut, karena ‘mana ada sih orang yang mau menerima rugi?’ kita ya harus
benar-benar bisa negosiasi pada saat itu, bagaimana caranya meyakinkan teman kita
untuk kita bisa seolah-olah membantu menjualkan motor tersebut, dari situ kita juga
bisa menjadi koneksi pembeli terhadap penjual (jika berhasil) kita juga akan untung,
kita bisa menjual berapapun harga motor tersebut tanpa kita mengeluarkan modal sama
sekali.
2. Pemasaran
Sama seperti di atas, pemasaran sepeda motor memang agak susah-susah gampang
ya. Kita ya harus pintar-pintar untuk mencari koneksi, dengan lagak menyampaikan
kecanggihan motor tersebut itu apa (karena pembeli kadang melihat sisi hebatnya
motor, muncul rasa ingin tahu, berminat, lalu membeli) seperti itu, tapi memang benar
tidak semuanya. Dalam pemasaran kita juga harus memperhatikan ke elokan motor,
meng-up di postingan sosial media, memperlihatkan bagian eloknya (tanpa mematok
diskon, karena diskon berlebih akan berujung pada kerugian) maka dengan gampang
orang-orang akan tergiur. Juga berkawan dengan sultan-sultan, karena mungkin saja
sultan tersebut dengan gampang meminta temannya untuk membeli.
C. PENJUALAN RUMAH
Pembeli : “Selamat siang pak”Penjual: “Selamat siang, Silahkan duduk. Apakah
benar ini dengan saudara Slamet?”Pembeli: “Benar pak, saya yang
menghubungi bapak tadi pagi”
Penjual : “Baik, langsung ke intinya saja, benarkah saudara tertarik dengan
mobil yang di iklankan di OLX?
Pembeli : “Iya benar pak, dari foto yang ditampilkan saya tertarik ingin melihat
fisik asli mobil tersebut secara dekat, sebab berdasarkan foto yang saya
lihat kelihatannya mobil bapak masih dalam keadaan bagus”
Penjual : “Iya benar, mobil itu saya beli 2 tahun lalu, kondisinya masih sangat
bagus. Saya menjual karena ingin menggantinya dengan mobil baru”
Pembeli : “Apa alasan bapak mengapa mobilnya ingin diganti?, apakah mobil
tersebut sudah mengalami kerusakan?”
Penjual : “Bukan itu alasannya, saya ingin mengganti dengan mobil baru
karena mobil itu terlalu kecil untuk keluarga saya.”
Pembeli : “Oh begitu, berapa harganya pak?
Penjual : “150 juta, bisa nego”
Pembeli : “Wahh kok mahal pak?”
Penjual : “Bisa nego”
Pembeli : “100 juta bagaimana pak?”
Penjual : “125 juta pas, bagaimana?
Pembeli : “110 juta deh pak, bagaimana?”
Penjual : “Tidak mas, 125 sudah mentok”
Pembeli : “Baiklah, saya setuju”
Penjual : “Baik, terimakasih”
Pembeli : “Oke terimakasih kembali”
Kesimpulan : kendalanya adalah pembeli meminta nego yang cukup jauh
dari harga asli sehingga saya sebagai penjual harus
memikirkan secara matangdan akhirnya bersepakat dengan
harga yang sepantasnya.
D. PENJUALAN RUMAH
Di desa Sendang ada rumah yang dijual. Rumah itu kosong
lumayan lama, sekitar 2 tahunan. Pemilik rumah itu pindah ke desa
sebelah. Rumah itu lumayan besar. Suatu hari ada orang yang berminat
untuk membeli rumah itu. Orang itu juga sudah ada janji bertemu dengan
pemilik rumah.
Pembeli : “Assalamu’alaikum, apakah benar ini rumah ibu pemilik rumah di
desa Sendang ?”
Penjual : “Wa’alaikumsallam, iya bapak benar. Silahkan masuk pak.”
Pembeli : “Iya bu.”
Penjual : “Bapak ini asalnya dari mana ya ?” Pembeli : “Saya dari desa
Drendeng bu.”
Penjual : “Oooh begitu. Baiklah langsung saja ya pak, mau dijelaskan
dari luarnya dulu atau bagaimana ?”
Pembeli : “Dari luarnya dulu saja bu.”
Penjual : “Jadi luas tanah rumah ini 10 x 15 meter. Sumurnya ada
dibelakang di dekat tempat jemuran. Rumah ini memiliki 2 lantai.
Di lantai bawah ada garasi, ruang tamu, ruang makan, dapur, 2
kamar tidur, 2 kamar mandi, tempat cuci dan tempat jemuran. Di
lantai atas ada 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, ruang keluarga,
musholla, dan juga gudang. Dan juga sudah ada tandon air dan
filternya.”
Pembeli : “Wah, menarik juga rumahnya. Harganya berapa ya bu ?”
Penjual : “Rp 580 jutaan pak.”
Pembeli: “Bisa di nego tidak ?”
Penjual : “Bisa pak, mau berapa ?”
Pembeli : “Rp 550 juta gimana bu ?”
Penjual : “Saya pikir dulu ya pak.”
Pembeli : “Soalnya teman saya beli rumah di daerah sini harganya ngga
sampai segitu bu.”
Penjual : “Yaudah pak, khusus bapak jadi Rp 550 juta”
Pembeli : “Alhamdulillah, uangnya saya transfer ya nanti ke rekening ibu.”
Penjual : “Iya pak. Terima kasih sudah mau membeli rumah saya.”
Pembeli : “Sama – sama bu.”
Kesimpulan : kendalanya pembeli meminta nego Rp 550 juta, sedangkan
sebelum saya menjual rumah ini saya juga mengeluarkan banyak
uang untuk merenovasi dan mengurus surat rumah. Solusinya adalah
tetap memberikan nego dan menganggapnya sebagai harga
pertemanan, agar tidak terjadi adu mulut.
E. PENJUALAN HELIKOTER
1. Masuk ke Indonesia
Sedikit berfikir bagaimana caranya, karena kebanyakan yang menjual
kendaraan super seperti itu ialah investor top yang ada di luar negeri. Jadi kita
sebagai pebisnis awal di Indonesia tentu saja bingung bagaimana kendaraan
tersebut bisa masuk sini sebelum legal. Untuk itu kita harus bisa bernegoisasi
dengan baik kepada investor tersebut untuk mengurus segala ke APB (surat
ekspor/impor) an, agar bisa masuk ke Indonesia ini secara legal. Serta tidak lupa
untuk melalui Bea Cukai terlebih dahulu. Memang mahal, tetapi ya begitulah
resiko adanya.
2. Perawatan
Untuk perawatan ini sebenarnya jika kita tidak ingin menguras
keuangan/modal lagi kita bisa belajar kepadan investor juga, karena penjual
utama ialah investor tadi, jadi ya sudah pasti tau bagaimana cara merawat
helikopter tersebut. Tetapi jika investor menolak itu juga hal yang lumrah dan
seharusnya di maklumi, karena investor tidak mau rugi, investor akan
mengatakan bahwa kita harus membawa seseorang yang bisa merawat
helikopter itu kesini, lalu membuka seperti sekolah perawatan helikopter yang
memang benar-benar.
Sudah, cukup sekian yang saya ketahui dari hasil membayangkan sebagai pedagang.
Itu kendala serta solusi yang saya hadapi dan juga temukan pada saat berdagang hal-hal yang
tidak sembarangan orang bisa memiliki. Terima kasih