0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan36 halaman

Fungsi Busbar dalam Gardu Induk

Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari dasar desain gardu induk, perbedaan antara isolator dan circuit breaker, fungsi double busbar, dan cara switching yang aman untuk manusia dan peralatan. Dokumen ini menjelaskan komponen utama gardu induk seperti busbar, isolator, dan circuit breaker serta cara kerja sistem sirkuit sederhana dan ganda.

Diunggah oleh

Latifa Sijaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan36 halaman

Fungsi Busbar dalam Gardu Induk

Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari dasar desain gardu induk, perbedaan antara isolator dan circuit breaker, fungsi double busbar, dan cara switching yang aman untuk manusia dan peralatan. Dokumen ini menjelaskan komponen utama gardu induk seperti busbar, isolator, dan circuit breaker serta cara kerja sistem sirkuit sederhana dan ganda.

Diunggah oleh

Latifa Sijaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

PERCOBAAN II
BUSBAR

2.1 TUJUAN PERCOBAAN


Adapun tujuan percobaan yang ingin dicapai dari percobaan ini adalah
mahasiswa diharapkan dapat:
1. Mengetahui dasar dari desain gardu induk
2. Mengetahui perbedaan antara isolator dan circuit breaker
3. Mengetahui fungsi dari double busbar
4. Menganalisa daya yang di distribusikan oleh gardu induk
5. Melakukan dengan benar langkah-langkah untuk switching
6. Mengetahui cara switching ke feeder outgoing yang aman untuk manusia
dan peralatan
7. Mengetahui cara mengganti busbar yang aman untuk manusia dan
peralatan

2.2 TEORI DASAR


2.2.1 Pendahuluan
Daya listrik ditransmisikan dan didistribusikan menggunakan saluran udara
dan kabel bawah tanah dioperasikan pada berbagai level tegangan, yang mana ini
berdasarkan pada teknis dan kriteria ekonomi. Untuk mendapatkan ketersediaan
listrik yang cukup, diperlukan jaringan yang saling bertautan/terhubung untuk
mengurangi dari kurangnya daya listrik yang sampai kekonsumen meskipun
terdapat kesalahan individual pada bagian dari trasnmisi.
Titik didalam jaringan dimana dua atau lebih saluran udara bertemu disebut
simpul/ujung titik. Dimana sekarang ini setiap dari ujung titik ini adalah alat
switching yang mengisolasi kabel phasa dengan tujuan mengurangi kegagalan
atau untuk perbaikan dan pemeliharaan. Bagian dari fasilitas yang dikhususkan
untuk memonitoring, proteksi dan tugas tambahan dinamakan Gardu Induk
(switchgear). Sedangkan jikalau termasuk transformator ada juga yang
menyebutkan Gardu Induk (substation).

Job BUSBAR 2-1


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Perbedaaan disini berdasarkan pada tinggi,menengah, atau rendahnya


tegangan sistem, tergantung dari level tegangan yang digunakan :
 Sistem tegangan rendah beroperasi sampai batas 1 kV dan biasanya
terletak secara kompak, atau untuk kabinet saklar prefabrikasi
 Sistem tegangan menengah beroperasi sampai 20 kV ( atau sampai 30 kV
di negara tertentu ) didesain untuk instalasi dalam ruangan, kebanyakan
dapat ditemukan diarea perumahan dan area perindustrian.
 Sistem tegangan tinggi beroperasi sampai 380 kV ( atau 750 kV dan 1000
kV dinegara tertentu ) biasanya digunakan untuk instalasi luar ruangandan
untuk alasan keuangan.
Sistem tegangan tinggi membutuhkan ruang yang banyak, disamping untuk
pemandangan dan agar tidak menggangu lingkungan sekitar, untuk mengurangi
kerugian ini digunakan peralatan yg komponennya dikemas dalam isolasi, gas
atmosfir (biasanya SF 6, sulfur hexafluoride) yang melebihi tekanan. Ini
memungkinkan mengurangi jarak switching, bagian isolasi dan dimensi
komponen. Hasilnya pun lebih kompak dari switchgear tegangan tinggi yang
mana dapat digunakan sebagai instalasi dalam ruangan dan untuk area
perindustrian.
Perbedaan antara level tegangan yang direfleksikan berdasarkan tipe untuk
menjaga terhadap kegagalan seperti hubung singkat.
 Jaringan tegangan rendah dan menengah digunakan untuk pengaman daya
tegangan rendah/tegangan tinggi.
 Untuk alasan fisikal, ini tidak mungkin untuk jaringan tegangan tinggi.
Ada relay proteksi yang mendeteksi kegagalan dan mentransmisikan
perintah kepada saklar khusus dengan kapasitas kemampuan menangani
arus tinggi.
Percobaan ini tentu saja membahas ekslusif tentang ancaman pada jaringan
tegangan tinggi. Seperti jaringan yang tergantung pada algoritma switching yang
berperasi manual dan otomatis

Job BUSBAR 2-2


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

2.2.2 Gardu Induk (Switchgear) dan Gardu Induk (Substation)


Komponen yang paling penting dari suatu Gardu Induk (switchgear) adalah :
 Busbar
 Isolator
 Pemutus sirkuit (CB)
 Trafo arus dan trafo tegangan
 Arester
 Isolasi pentanahan
 Dan trafo tegangan lainnya
Modul ini sesuai dengan peralatan relevan seperti beban mekanik dan beban
listrik. Karena sistem modern ini terutama dikontrol dengan remote, mereka
ditambahkan fasilitas tambahan untuk control dan monitoring. Disamping untuk
pengukuran dan perhitungan kuantits jumlah energy yang disuplai ke
konsumen,sisstem ini juga untuk proteksi terhadap arus lebih,tegangan lebih dan
hubung singkat. Inti dari semua switchgear adalah busbar. Desainnya biasanya
pendek, strip terbuka, busbar dapat juga mengambil bentuk saluran pendinginan
dalam oleh minyak jika terdapat arus yang sangat tinggi. Melayani sebagai titik
jaringan dalm bentuk fisikal, busbar merupakan awal dan akhir dari setiap saluran
yang mana telah ditentukan bercabang pada konteks ini. Cabangnya dapat
disambung dan tidak disambungkan dengan saklar yang didesain sebagai pemutus
sirkuit karna mereka harus diputus pada ketika arus operasi penuh, atau terjadi
malfungsi/kegagalan. Pemutus sirkuit modern beroperasi pada tegangan level
tinggi sampai 380 kV dan arus sampai 80 kA dan tidak dapat dihancurkan.
Beberapa pemutus sirkuit harus dilayani secara regular. Jadi supaya mereka
bisa bekerja sesuai performa amannya, isolator harus dipasng sebelum dan
sesudahnya. Dalam kontras pemutus sirkuit, isolator harus beroperasi dalam
keadaan de-energized state kecuali jika pemutus sirkuit telah terbuka. Untuk
menghindari kesalahan switching,isolator dan pemutus sirkuit secara mekanik
saling mengunci satu sama lain. Isolasi juga berfungsi sebagai titik pemisah, yang
bersebrangan dengan pemutus sirkuit dalam ruang busur. Titik pemisah yang

Job BUSBAR 2-3


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

terlihat dibutuhkan untuk pengukuran safety dalam memutus segmen saluran


transmisi udara. Untuk pemeliharaan busbar, setidaknya satu ditambahkan, busbar
parallel harus memastikan bahwa operasi dari gardu induk (switchgear) tidak
diinterupsi. Kemampuan untuk menetapkan cabang indivudial ke busbar berarti
isolator tersebut mencapai struktur jaringan yang sangat bervariasi.
Divisi dari busbar dibagi dalam beberapa bagian (juga diketahui sebagai
pemisahan longitudinal) memberikan beberapa derajat kebebasan tambahan.
Untuk pilihan pemutusan bersama membuatnya mungkin menghindari area isloasi
tergalvanisasi, dengan demikian dapat membatasi arus yg dapat membuat hubung
singkat. Intervensi dalam hal ini adalah switching yang benar,konfigurasi jaringan
yang optimal sebelumnya ditentukan berdasarkan aliran beban dan program
hubung singkat. Sirkuit ini sepenuhnya memanfaatkan jaringan cadangan dalam
bentuk kapabilitas transmisi tanpa membahayakan kondisi operasi. Sesuai dengan
fungsinya yang bervariasi, setiap sistem switchgear dan substation dipisahkan
untuk setiap lapangan, perbedaannya disini adalah antara feeder incoming-nya,
feeder outgoing dan panel bersama. Dengan tampilan harmoni yg besar lapngan
ini mewakili seluruhnya dalam satu bentuk diagram sirkuit. Dengan tampilan
yang mewakili ini, hanya sumber daya yang dibutuhkan untuk operasi sistem yang
digambar menggunakan symbol standar.

Gambar 2.1 Ikhtisar dari sebuah cabang

Job BUSBAR 2-4


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Sirkuit yang ditunjukkan oleh gambar 2.1 menunjukkan incoming dan feeder
outgoing. Dua isolator digunakan untuk memutus circuit breaker, termasuk
transformator arus dan tegangan. Tranformator memperoleh data yang dibutuhkan
dari fasilitas yang bertanggujawab untuk operasi,metering dan proteksi. Isolator
pentanahan digunakan untuk melindungi saluran transmisi dari efek induktif dan
kapasitif dari saluran yang berdekatan ketika sedang ada pekerjaan isnpeksi dan
sambaran petir. Berdasarkan fungsi ini, isolator pentanahan juga kadang dikenal
sebagai “pembumian untuk kerja”. Gambar 2.2 menunjukkan sistem sirkuit
sederhana yang terdiri dari satu busbar, satu feeder incoming, dan dua feeder
outgoing.

Gambar 2.2 Sistem yang terdiri dari sebuah busbar juga incoming dan feeder
outgoing

Untuk bisa memutus segmen yang besar ketika terjadi malfungsi/kegagalan,


atau jika perbaikan diperlukan,setidaknya diperlukan dua busbar yang bekerja
paralel.

Job BUSBAR 2-5


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Gambar 2.3 Sistem yang terdiri dari dua busbar dan panel kopel

Untuk kejelasannya, Gambar 2.3 dan ilustrasi seterusnya tidak lagi


menampilkan trafo arus/tegangan atau saluran trasnmisi udara/isolator
pembumian. Pemutus sirkuit dari yang berada pada panel kopel dapat digunakan
untuk mengubungkan busbar ke bentuk titik tunggal. Berdasarkan kopling
melintang, ini mengijinkan busbar berganti tanpa menganggu operasi. Incoming
dan feeder outgoing dapat diganti ke busbar yang satunya jika dibutuhkan tanpa
harus memutus daya listrik. Karna isolator hanya dapat dioperasikan dalam
keadaan de-energized state, sebuah pemutus sirkuit membutuhkan kopel untuk
dua busbar. Jika busbar dalam Gambar 2.3 dikopel satu sama lain, kedua isolator
harus yang pertama ditutup, diikuti oleh CB.
Selama pengopelan busbar, sesuai dengan pengukuran (e.g penyesuaian
pergantian tap transformer) dibutuhkan untuk menyamakan potensial dan
menghindari arus kompensasi selama interkoneksi antar busbar. Sekali busbar
telah dikopel, cabangnya dapat di switch antara busbar yang dibutuhkan,
berdasakan dari kehadiran dari perbedaan potensial. Sebelum sebuah isolator
dibuka, sederhanaya dibutuhkan untuk memastikan bahwa sesame cabang
isolatornya telah ditutup. Selain itu satu isolator akan dibuka dibawah beban,
dengan demikian menghindari kemungkinan untuk mendapatkan kerusakan dan
kerusakan lebih lanjut pada suatu tempat dalam sistem. Kemudian interlock

Job BUSBAR 2-6


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

(pneumatic atau elektrik ) digunakan untuk menjamin isolator dari kerusakan


ketika membuka.
Jikalau sistem diperluas menjadi 3 busbar seperti pada Gambar 2.3,
simpelnya akan ada 2 isolator yang dipasang per cabang. Ketika jumlah busbar
bertambah, begitu juga dengan luas yang diinginkan oleh konfigurasi jaringannya.
Sebuah transfer busbar adalah salah satu yang dapat dihubungkan/ditautkan
dengan busbar sisanya via sirkuit yang berbeda atau panel kopel (Gambar 2.4).

Gambar 2.4 Sistem yang terdiri dari dua busbar dan sebuah busbar transfer

Dalam sistem ini, adalah mungkin untuk memutus peralatan yang berlokasi
diantara busbar dan busbar transfer untuk tujuan inspeksi tanpa harus membuka
cabang yang terkait. Ini juga memungkinkan untuk trafo arus dan trafo tegangan
yang ditunjukkan oleh Gambar 2.4. Jika sebuah transfer busbar bekerja, tranfo dan
relay proteksi yang ada dalam cabang dalam hal ini busbar ini harus memproteksi
dan melakukan pengukuran terhadap saluran transmisi yang terkait. Namun ini
hanya mungkin jika transformator memiliki rasio identitas trafo yang dipasang
pada setiap cabang. JIka kondisi ini tidak memungkinkan, trafo arus dan trafo
tegangan harus diletakkan pada bagian belakang dari busbar transfer. Tapi ini
pada gilirannya menghindari inspeksi yang relevan untuk peralatan. Sistem besar
sering menggabungkan sebuah switching lebih lanjut yang memungkinkan isolasi
longitudinal dari sistem busbar panjang. Berdasarkan kopel longitudinal, teknik

Job BUSBAR 2-7


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

ini dapat dikombinasikan dengan kopel melintang yang ditunjukkan oleh Gambar
2.5.

Gambar 2.5 Panel kopel dengan kopel longitudinal dan kopel melintang

2.2.3 Dasar sirkuit dari Busbar Double


Komponen utama pada gardu induk, busbar diinginkan dapat menerima dan
mendistribusi energi listrik yang ada.

Gambar 2.6 Gardu induk dengan busbar ganda (I and II) untuk arus tiga fasa

 Area 1 : Area pengukuran dengan fuse daya tinggi (F1, F2), transformator
tegangan (T3, T4) and voltmeter (P1, P2)
 Area 2,4,6 and 8: keluaran dari gardu induk untuk konsumen
 Fields 3 and 7: arah masuknya beban dengan transofmator T1 and T2
 Field 5: Coupler

Job BUSBAR 2-8


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

 T5 to T11: transformator arus dengan 2 fungsi yaitu untuk pengukuran dan


pelindung
 P3 to P9: Ammeter
 P10 to P15: alat proteksi
 Qn1 and Qn2: Isolator
 Qn3: Circuit breakers
Gambar 2.6 terdiri dari diagram blok tunggal dari sistem dengan dua
masukan, satu area alat ukur untuk kedua busbar, dan satu panel coupel.
Komponen penting lain disini termasuk isolator, circuit breaker, fuse dengan daya
tinggi, tegangan dan transformator arus, voltmeter dan ammeter, dan juga
komponen proteksi dan kontrol. Perangkat switching bisa di fungsikan
menggunakan tangan, motor ataupun udara bertekanan. Dalam kasus gardu induk
besar yang terfasilitasi seperti pada gambar 2.6, kontrolnya harus bisa secara lokal
maupun dari ruang kontrol ( juga secara manual atau melalui pengontrolan yang
dapat diprogram).
Jika pada Gambar 2.6, misalnya, konsumen yang sebelumnya mati di
hidupkan, ururtan yang dijelaskan selanjutnya harus diperhatikan ketika busbar I
dipilih
 Isolator Q21 ON; isolator Q22 sisanya OFF
 Circuit breaker 023 ON
jika konsumen ini di offkan kembali, urutan yang dijelaskan selanjutnya harus
selalu diperhatikan.
 Circuit breaker Q23 OFF
 Isolator Q21 OFF
Area yang lain diafktikan dengan kondisi yang hampir sama. Hanya circuit
breaker yang dapat digunakan untuk menghubungkan/memutus aliran daya atau
arus pendek. Isolator harus berada pada kondisi de-energized. Perubahan busbar
adalah proses switching yang spesial. Jika pada Gambar 2.7, misalnya, feeder
yang masuk dari 3 dan 7 serta feeder keluaran dari 2, 4, 6 diaktifkan tanpa adanya
gangguan dari busbar 1 ke busbar 2 jadi kita melepaskan busbar 1, kita

Job BUSBAR 2-9


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

sambungkan switch dari area 5 harus terhubung. Urutan switching pada Gambar
3.6 sebagai berikut :

1. Isolator 051 ON, isolator 052 ON, isolator 053 ON. Tegangan kedua
basbar kemudian indentik dalam hal nilai, sudut fasa, dan frekuensi
2. Isolator 022 ON, Isolator 021 OFF
3. Isolator 032 ON, Isolator 031 OFF
4. Isolator 042 ON, Isolator 041 OFF
5. Isolator 062 ON, Isolator 061 OFF
6. Isolator 072 ON, Isolator 071 OFF
7. Isolator 082 ON, Isolator 081 OFF
8. Circuit breaker 053 OFF, isolators 051 and 052 OFF
Memutuskan dan membuat busbar I tidak bekerja. Modul laboratorium kami
dimaksudkan untuk mempraktikkan prosedur switching yang ada diatas, selain
mempelajari cara menghindari pengoprasian switching yang salah dan
membandingkan distribusi daya sebelumnya dengan yang baru serta keadaan yang
terjadi diantaranya. Urutan diagram parsial a sampai c didalam gambar 2.7
dibawah memperlihatkan representasi dasar dari keadaan awal a, keadaan antara
b, dan keadaan akhir c. Panel coupel diberi energi hanya selama pergantian
switching
 

Gambar 2.7 kondisi sebelum switching (a), sementara (b) dan setelah (c)
busbar berganti dengan indikasi arus

Dalam ketiadaan dari sisi mekanik, elektrik dan kontrol program interlock,
keberhasilan atau kegagalan tindakan switchover bergantung pada operator

Job BUSBAR 2-10


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

(teknisi Switching, teknisi, dan engginer). Pengoprasian isolator yang salah dapat
mengakibatkan busur listrik yang menyebabkan kerusakan yang signifikan dan
kegagalan pasokan listrik berdampak pada konsumen area sekitar. Karena alasan
ini, keterampilan dasar dalam menangani perangkat switching yang membentuk
bagian dari gardu induk sangat penting, dan alat proteksi pada gardu induk
terhadap kesalahan menjadi prioritas yang sangat tinggi. Dengan
mempertimbangkan persyaratan ini juga, model pelatihan yang disajikan disini
dapat dikontrol oleh PLC (Programmable Logic Controller).

2.3 RANGKAIAN PERCOBAAN


Untuk mempelajari hubungan dasar yang ada di gardu induk, kami akan
menyiapkan tempat pelatihan yang dapat dilihat pada gambar 2.9, pada dasarnya
memungkinkan semua operasi switching yang dijelaskan pada bagian “ Sirkuit
dasar sistem busbar ganda”. Untuk mengevaluasi tegangan dan arus, kita akan
menggunakan SCADA Power-Lab software (SO4001-3F). Buka Viewer pada
SCADA. Pada halaman awal pilih sebagai contoh EPD. Set RS485 untuk setiap
busbar ke alamat yang ditentukan oleh masing-masing bidang penunjukan.
Setelah itu, sambungkan perangkat dengan menggunakan kabel Profibus (semua
colokan disetel OFF) dan hubungkan ke PC melalui LM9025.

Gambar 2.8 Screenshot dari SCADA Power-Lab dengan busbar ganda

Job BUSBAR 2-11


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Untuk memanfaatkan sepenuhnya sistem busbar ganda, akan lebih praktis


jika sumber daya yang digunakan untuk setiap busbar dipisah. Namun, ini
membutuhkan pemasangan mekanisme sinkronisasi di bagian atas. Rangkaian
percobaan ini akan di salurkan ke beban menggunakan sumber daya tunggal.
Untuk mencapai beban yang berbeda untuk masing-masing busbar dan
menghasilkan arus melalui panel coupel, satu busbar bisa di cantolkan sebelum
masuk ke dalam jaringan, busber yang lainnya setelah jaringan terhubung. Dalam
praktiknya, ini muncul ketika sebuah gardu di bebankan oleh kontrol dan
pembangkit terdekat.

2.4 PROSEDUR PERCOBAAN


1. Menyiapkan peralatan yang akan digunakan.
2. Menyalakan komputer dan membuka aplikasi Lucas Nulle dengan EPD
Busbar systems.
3. Merangkai rangkaian percobaan sesuai petunjuk pada modul.
4. Mengatur suplay tiga fasa ke tegangan line to line 220V.
5. Mengatur beban resistansi sebesar 200 Ω.
6. Mengkonfigurasi port masing-masing modul. Port 1 relay offer current,
port 2 incoming feeder 1, port 3 incoming feeder 2, port 4 outgoing feeder
1, port 5 outgoing feeder 2, dan port 6 busbar.
7. membuka Scada Power-Lab Software (SO4001-3F)..
8. Membuka viewer pada scada dengan busbar ganda dan mengikuti setiap
langkah percobaan.
 mengoperasikan busbar tunggal dengan 1 incoming
 mengoperasikan busbar tunggal dengan 2 incoming
 mengoperasikan dua busbar dengan 2 incoming
 mengoperasikan coupler panel.

Job BUSBAR 2-12


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Gambar 2.9 Rangkaian dasar dari tempat pelatihan

2.5 ALAT DAN BAHAN

Alat
Kode
Uraian Jumlah
Alat
Double busbar, 3-phase, outgoing / incoming
feeders
Fungsi : Panel terdiri dari dua busbar untuk
CO3301- operasi dengan garis paralel. Busbar memiliki
4
3R dua pengumpan keluar, yang dapat dihubungkan
atau diputus menggunakan isolator. Pemutus
sirkuit terhubung ke beban atau catu daya.

CO3301- Double busbar, 3-phase, coupler panel 1


Fungsi : Panel terdiri dari dua busbar untuk
3S
operasi dengan garis paralel. Busbar memiliki
dua pengumpan keluar, yang dapat dihubungkan
atau diputus menggunakan isolator. Pemutus

Job BUSBAR 2-13


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

sirkuit menghubungkan dua garis paralel.


Resistive load, 3-phase, 1 kΩ
Fungsi : Tiga riser melingkar yang dapat disetel
CO3301-
secara sinkron dengan skala 100 - 0%, masing- 1
3F
masing dengan sekering pada koneksi kontak-
geser.
Resistive load 3 x 560 Ω
Fungsi : Tiga rheostat, masing-masing dengan
CO3301- sekering. untuk rangkaian paralel, seri, bintang,
1
3H dan delta
Resistance: 3 x 560 Ohm dengan
arus: 3 x 0,5 A
Power supply
Jumlah
Adjustable, 3-phase power supply 0 - 400 V / 2
A, 72PU
ST8008- Fungsi : Unit catu daya 3-fase yang dapat
1
4S dikontrol 0 ... 255 / 450V untuk pasokan 3-fase
berkelanjutan.
Instrumen Pengukuran
Jumlah
Three-phase meter
Fungsi : Alat ukur tiga fase memungkinkan
CO5127-
pengukuran dan tampilan parameter jaringan 1
1Y
daya yang relevan. Ini mampu mengukur
pengukuran tunggal, dua fase atau tiga fase.

2.6 TABEL HASIL PERCOBAAN


A. Pengoperasian busbar tunggal dengan 1 incoming

Job BUSBAR 2-14


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Tabel 2.1 Incoming feeder 1 on


Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 222 0,00
Busbar 2 6 0,00
Incoming 1 223 0,00
Incoming 2 0 0,00
Outgoing 1 224 0,00
Outgoing 2 0 0,00
Panel Kopel - -

Tabel 2.2 Outgoing feeder 1 on


Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 219 0,21
Busbar 2 6 0,00
Incoming 1 220 0,21
Incoming 2 0 0,24
Outgoing 1 221 0,00
Outgoing 2 217 0,00
Panel Kopel - -

Tabel 2.3 Outgoing feeder 2 on


Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 215 0,87
Busbar 2 6 0,63
Incoming 1 215 0,00
Incoming 2 213 0,24
Outgoing 1 216 0,00
Outgoing 2 212 0,00
Panel Kopel - -

Tabel 2.4 Outgoing feeder 1 off


Tegangan ( V ) Arus ( A )

Job BUSBAR 2-15


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Busbar 1 216 0,67


Busbar 2 6 0,64
Incoming 1 217 0,00
Incoming 2 216 0,00
Outgoing 1 218 0,00
Outgoing 2 0 0,00
Panel Kopel - -

B. Operasi busbar tunggal dengan 2 incoming


Tabel 2.5 Incoming feeder 1 on
Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 222 0,00
Busbar 2 6 0,00
Incoming 1 223 0,00
Incoming 2 0 0,00
Outgoing 1 224 0,00
Outgoing 2 0 0,00
Panel Kopel - -

Tabel 2.6 Outgoing feeder 1 on


Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 219 0,21
Busbar 2 6 0,00
Incoming 1 220 0,00
Incoming 2 0 0,24
Outgoing 1 221 0,00
Outgoing 2 217 0,00
Panel Kopel - -

Tabel 2.7 Outgoing feeder 2 on


Tegangan ( V ) Arus ( A )

Job BUSBAR 2-16


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Busbar 1 215 0,87


Busbar 2 6 0,63
Incoming 1 215 0,00
Incoming 2 213 0,24
Outgoing 1 216 0,00
Outgoing 2 212 0,00
Panel Kopel - -

Tabel 2.8 Incoming feeder 2 on


Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 215 0,70
Busbar 2 6 0,63
Incoming 1 215 0,14
Incoming 2 217 0,24
Outgoing 1 216 0,00
Outgoing 2 213 0,00
Panel Kopel - -

Tabel 2.9 Outgoing feeder 1 off


Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 217 0,53
Busbar 2 6 0,64
Incoming 1 217 0,10
Incoming 2 216 0,00
Outgoing 1 218 0,00
Outgoing 2 0 0,00
Panel Kopel - -

Tabel 2.10 Outgoing feeder 2 off


Tegangan ( V ) Arus ( A )

Job BUSBAR 2-17


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Busbar 1 223 0,00


Busbar 2 6 0,00
Incoming 1 224 0,00
Incoming 2 0 0,00
Outgoing 1 224 0,00
Outgoing 2 0 0,00
Panel Kopel - -

C. Operasi 2 Busbar dengan 2 incoming


Tabel 2.11 Incoming feeder 1 on
Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 222 0,00
Busbar 2 6 0,00
Incoming 1 223 0,00
Incoming 2 0 0,00
Outgoing 1 224 0,00
Outgoing 2 0 0,00
Panel Kopel - -

Tabel 2.12 Outgoing feeder 1 on


Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 219 0,21
Busbar 2 6 0,00
Incoming 1 220 0,00
Incoming 2 0 0,24
Outgoing 1 221 0,00
Outgoing 2 217 0,00
Panel Kopel - -

Tabel 2.13 Incoming feeder 2 on


Tegangan ( V ) Arus ( A )

Job BUSBAR 2-18


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Busbar 1 215 0,70


Busbar 2 6 0,63
Incoming 1 215 0,14
Incoming 2 217 0,24
Outgoing 1 216 0,00
Outgoing 2 213 0,00
Panel Kopel - -

Tabel 2.14 Outgoing feeder 2 on


Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 2 215 0,87
Incoming 1 6 0,63
Incoming 2 215 0,00
Outgoing 1 213 0,24
Outgoing 2 216 0,00
Panel Kopel 212 0,00

Tabel 2.15 Couple panel


Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 215 0,70
Busbar 2 215 0,63
Incoming 1 216 0,14
Incoming 2 213 0,24
Outgoing 1 216 0,00
Outgoing 2 213 0,00
Panel Kopel - -

Tabel 2.16 Outgoing feeder 1 off


Tegangan ( V ) Arus ( A )

Job BUSBAR 2-19


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Busbar 1 216 0,54


Busbar 2 217 0,64
Incoming 1 217 0,09
Incoming 2 215 0,00
Outgoing 1 218 0,00
Outgoing 2 0 0,00
Panel Kopel - -

D. Perubahan Busbar tanpa Pemutusan


Tabel 2.17 Couple panel
Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 215 0,70
Busbar 2 215 0,63
Incoming 1 216 0,14
Incoming 2 213 0,24
Outgoing 1 216 0,00
Outgoing 2 213 0,00
Panel Kopel - -

Tabel 2.18 Incoming feeder 1


Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 215 0,45
Busbar 2 216 0,64
Incoming 1 216 0,64
Incoming 2 212 0,40
Outgoing 1 216 0,24
Outgoing 2 216 0,64
Panel Kopel - -

Tabel 2.19 Incoming feeder 2

Job BUSBAR 2-20


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 214 0,64
Busbar 2 216 0,63
Incoming 1 216 0,20
Incoming 2 216 0,24
Outgoing 1 217 0,86
Outgoing 2 212 0,00
Panel Kopel - -

Tabel 2.20 outgoing feeder 1


Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 214 0,65
Busbar 2 216 0,63
Incoming 1 215 0,19
Incoming 2 216 0,24
Outgoing 1 216 0,66
Outgoing 2 212 0,00
Panel Kopel - -

Tabel 2.21 outgoing feeder 2


Tegangan ( V ) Arus ( A )
Busbar 1 215 0,68
Busbar 2 216 0,63
Incoming 1 216 0,17
Incoming 2 217 0,24
Outgoing 1 217 0,00
Outgoing 2 213 0,00
Panel Kopel - -

Job BUSBAR 2-21


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

2.7 ANALISA DAN PEMBAHASAN

2.7.1 Pada table 2.1 Field 1 : Incoming feeder 1 On terlihat bahwa pada
saat Isolator Q11 On dan Circuit Breaker Q13 On secara berurutan
busbar 1 tegangannya 222 V karena busbar diberi tegangan sebesar
222 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya semestinya masih nol
karena Isolator Q12 masih off, tetapi pada saat percobaan muncul
tegangan yang terukur di alat ukur sebesar 6 V, ini disebabkan
karena error yang terjadi pada alat percobaan. Isolator Q12 inilah
yang menghubungkan busbar 2 dengan power supply. Pada
Incoming feeder 1 & Incoming feeder 2 mendapat tegangan 223 V
dan 0 V karena berada pada busbar 1.

2.7.2 Pada table 2.2 Field 3 : Outgoing Feeder 1 terlihat bahwa pada
saat Isolator Q31 ON dan Circuit Breaker Q33 ON secara
berurutan busbar 1 tegangannya 219 V karena busbar 1 diberi
tegangan 219 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya seharusnya
0, tetapi alat ukur menunjukkan 6 V karena ada error yang terjadi
pada alat ukur. Busbar 2 nol karena Isolator Q12 masih OFF.
Isolator Q12 inilah yang menghubungkan busbar 2 dengan power
supply. Pada Incoming feeder 1 mendapat tegangan sebesar 220 V
karena berada pada busbar 1 dan pada Incoming feeder 2 tidak
mendapatkan tegangan.

Pincoming feeder 1 = √ 3 ×220 V × 0,21 A


= 80,02 MVA
Poutgoing feeder 1 = √ 3 ×221 V × 0 A
= 0 MVA

P outgoing feeder 1 0
η= = ×100 %=0 %
P incoming feeder 1 80,02

Job BUSBAR 2-22


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

2.7.3 Pada table 2.3 Field 4 : Outgoing Feeder 2 terlihat bahwa pada
saat Isolator Q41 ON dan Circuit Breaker Q43 ON secara
berurutan busbar 1 tegangannya 215 V karena busbar 1 diberi
tegangan 215 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya seharusnya
0, tetapi alat ukur menunjukkan 6 V karena ada error yang terjadi
pada alat ukur. Busbar 2 nol karena Isolator Q12 masih OFF.
Isolator Q12 inilah yang menghubungkan busbar 2 dengan power
supply. Pada Incoming feeder 1 dan Incoming feeder 2 mendapat
tegangan sebesar 215 V dan 213 V dan arus pada Incoming feeder
1 sebesar 0,87 A karena berada pada busbar 1. Sedangkan pada
Outgoing feeder 1 dan Outgoing feeder 2 mendapat tegangan 216
V dan 212 V.

Pincoming feeder 1 = √ 3 ×215 V × 0,87 A


= 323,98 VA
Poutgoing feeder 1,2 = ¿ 0 A) + ¿ 0,24 A)
= 88,12 VA

P outgoing feeder 1,2 88,12


η= = ×100 %=27,19 %
P incoming feeder 1 323,98

2.7.4 Pada table 2.4 Field 3 : Outgoing Feeder 1 on terlihat bahwa pada
saat Isolator Q31 OFF dan Circuit Breaker Q33 OFF secara
berurutan busbar 1 tegangannya 216 V karena busbar 1 diberi
tegangan 216 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya seharusnya
0, tetapi alat ukur menunjukkan 6 V karena ada error yang terjadi
pada alat ukur. Busbar 2 nol karena Isolator Q12 masih OFF.
Isolator Q12 inilah yang menghubungkan busbar 2 dengan power
supply. Pada Incoming feeder 1 & Incoming feeder 2 mendapat
tegangan sebesar 217 V dan 216 V dan arus pada Incoming feeder
1 sebesar 0,00 A karena berada pada busbar 1. Sedangkan pada

Job BUSBAR 2-23


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Outgoing feeder 1 mendapat tegangan 218 V dan pada outgoing


fedeer 2 sebesar 0 V.

Pincoming feeder 1 = √ 3 ×216 k V × 0,67 A


= 250,66 VA
Poutgoing feeder 1 = √ 3 ×218 V × 0 A
= 0 VA

P outgoing feeder 1 0
η= = ×100 %=0 %
P incoming feeder 1 250.66

2.7.5 Pada table 2.5 Field 1 : Incoming feeder 1 On terlihat bahwa pada
saat Isolator Q11 On dan Circuit Breaker Q13 On secara berurutan
busbar 1 tegangannya 222 V karena busbar diberi tegangan sebesar
222 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya semestinya masih nol
karena Isolator Q12 masih off, tetapi pada saat percobaan muncul
tegangan yang terukur di alat ukur sebesar 6 V, ini disebabkan
karena error yang terjadi pada alat percobaan. Isolator Q12 inilah
yang menghubungkan busbar 2 dengan power supply. Pada
Incoming feeder 1 & Incoming feeder 2 mendapat tegangan 223 V
dan 0 V karena berada pada busbar 1.

2.7.6 Pada table 2.6 Field 3 : Outgoing Feeder 1 terlihat bahwa pada
saat Isolator Q31 ON dan Circuit Breaker Q33 ON secara
berurutan busbar 1 tegangannya 219 V karena busbar 1 diberi
tegangan 219 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya seharusnya
0, tetapi alat ukur menunjukkan 6 V karena ada error yang terjadi
pada alat ukur. Busbar 2 nol karena Isolator Q12 masih OFF.
Isolator Q12 inilah yang menghubungkan busbar 2 dengan power
supply. Pada Incoming feeder 1 mendapat tegangan sebesar 220 V

Job BUSBAR 2-24


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

karena berada pada busbar 1 dan pada Incoming feeder 2 tidak


mendapatkan tegangan.

Pincoming feeder 1 = √ 3 ×220 V × 0,21 A


= 80,02 MVA
Poutgoing feeder 1 = √ 3 ×221 V × 0 A
= 0 MVA

P outgoing feeder 1 0
η= = ×100 %=0 %
P incoming feeder 1 80,02

2.7.7 Pada table 2.7 Field 4 : Outgoing Feeder 2 terlihat bahwa pada
saat Isolator Q41 ON dan Circuit Breaker Q43 ON secara
berurutan busbar 1 tegangannya 215 V karena busbar 1 diberi
tegangan 215 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya seharusnya
0, tetapi alat ukur menunjukkan 6 V karena ada error yang terjadi
pada alat ukur. Busbar 2 nol karena Isolator Q12 masih OFF.
Isolator Q12 inilah yang menghubungkan busbar 2 dengan power
supply. Pada Incoming feeder 1 dan Incoming feeder 2 mendapat
tegangan sebesar 215 V dan 213 V dan arus pada Incoming feeder
1 sebesar 0,87 A karena berada pada busbar 1. Sedangkan pada
Outgoing feeder 1 dan Outgoing feeder 2 mendapat tegangan 216
V dan 212 V.

Pincoming feeder 1 = √ 3 ×215 V × 0,87 A


= 323,98 VA
Poutgoing feeder 1,2 = ¿ 0 A) + ¿ 0,24 A)
= 88,12 VA

P outgoing feeder 1,2 88,12


η= = ×100 %=27,19 %
P incoming feeder 1 323,98

Job BUSBAR 2-25


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Pincoming feeder 1 = √ 3 ×216 kV × 0,88 A


= 329,23 MVA
Poutgoing feeder 1,2 = ¿ 0 A) + ¿ 0,24 A)
= 88,54 MVA

P outgoing feeder 1,2 88,54


η= = ×100 %=26,89 %
P incoming feeder 1 329,23

2.7.8 Pada table 2.8 Field 2 : Incoming Feeder 2 terlihat bahwa pada
saat Isolator Q21 ON dan Circuit Breaker Q23 ON secara
berurutan busbar 1 tegangannya 215 V karena busbar 1 diberi
tegangan 215 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya seharusnya
0, tetapi alat ukur menunjukkan 6 V karena ada error yang terjadi
pada alat ukur. Busbar 2 nol karena Isolator Q12 masih OFF.
Isolator Q12 inilah yang menghubungkan busbar 2 dengan power
supply. Pada Incoming feeder 1 dan Incoming feeder 2 mendapat
tegangan sebesar 215 V dan 217 V dan arus pada Incoming feeder
1 dan Incoming feeder 2 sebesar 0.14 V dan 0,24 A karena
berada pada busbar 1. Sedangkan pada Outgoing feeder 1 dan
Outgoing feeder 2 mendapat tegangan 216 V dan 213 V sedangkan
untuk arusnya 0 A dan 0 A.

Pincoming feeder 1 = √ 3 ×215 V × 0,14 A


= 52,13 VA
Poutgoing feeder 1,2 = ¿ 0 A) + ¿ 0,24 A)
= 0 VA

P outgoing feeder 1,2 0


η= = ×100 %=0 %
P incoming feeder 1 52,13

Job BUSBAR 2-26


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

2.7.9 Pada table 2.9 Field 3 : Outgoing Feeder 1 terlihat bahwa pada
saat Isolator Q33 OFF dan Circuit Breaker Q31 OFF secara
berurutan busbar 1 tegangannya 218 V karena busbar 1 diberi
tegangan 218 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya seharusnya
0, tetapi alat ukur menunjukkan 6 V karena ada error yang terjadi
pada alat ukur. Busbar 2 nol karena Isolator Q12 masih OFF.
Isolator Q12 inilah yang menghubungkan busbar 2 dengan power
supply. Pada Incoming feeder 1 dan Incoming feeder 2 mendapat
tegangan sebesar 217 V dan 216 V dan arus pada Incoming feeder
1 sebesar 0,10 A dan 0,00 A karena berada pada busbar 1.
Sedangkan pada Outgoing feeder 1 dan Outgoing feeder 2
mendapat tegangan 218 V dan 0 V sedangkan untuk arusnya 0,00
A dan 0,00 A.

Pincoming feeder 1,2 = ¿ 0,10 A) + ¿ 0,00 A)


= 37,58 VA + 0 VA
= 37,58 VA
Poutgoing feeder 2 = √ 3 ×0 V × 0,00 A
= 0 VA
P outgoing feeder 2 0
η= = ×100 %=0 %
P incoming feeder 1,2 37,58

2.7.10 Pada table 2.10 Field 4 : Outgoing Feeder 2 terlihat bahwa pada
saat Isolator Q41 OFF dan Circuit Breaker Q43 OFF secara
berurutan busbar 1 tegangannya 223 V karena busbar 1 diberi
tegangan 223 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya seharusnya
0, tetapi alat ukur menunjukkan 6 V karena ada error yang terjadi
pada alat ukur. Busbar 2 nol karena Isolator Q12 masih OFF.
Isolator Q12 inilah yang menghubungkan busbar 2 dengan power
supply. Pada Incoming feeder 1 & Incoming feeder 2 mendapat
tegangan sebesar 224 kV dan 0 kV karena berada pada busbar 1.

Job BUSBAR 2-27


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Sedangkan pada Incoming feeder 1 & Incoming feeder 2 tidak


mengalir arus karena tidak mendapat beban pada Outgoing feeder
1 dan Outgoing feeder 2.

2.7.11 Pada table 2.11 Field 1 : Incoming feeder 1 On terlihat bahwa pada
saat Isolator Q11 On dan Circuit Breaker Q13 On secara berurutan
busbar 1 tegangannya 222 V karena busbar diberi tegangan sebesar
222 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya semestinya masih nol
karena Isolator Q12 masih off, tetapi pada saat percobaan muncul
tegangan yang terukur di alat ukur sebesar 6 V, ini disebabkan
karena error yang terjadi pada alat percobaan. Isolator Q12 inilah
yang menghubungkan busbar 2 dengan power supply. Pada
Incoming feeder 1 & Incoming feeder 2 mendapat tegangan 223 V
dan 0 V karena berada pada busbar 1.

2.7.12 Pada table 2.12 Field 3 : Outgoing Feeder 1 terlihat bahwa pada
saat Isolator Q31 ON dan Circuit Breaker Q33 ON secara
berurutan busbar 1 tegangannya 219 V karena busbar 1 diberi
tegangan 219 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya seharusnya
0, tetapi alat ukur menunjukkan 6 V karena ada error yang terjadi
pada alat ukur. Busbar 2 nol karena Isolator Q12 masih OFF.
Isolator Q12 inilah yang menghubungkan busbar 2 dengan power
supply. Pada Incoming feeder 1 mendapat tegangan sebesar 220 V
karena berada pada busbar 1 dan pada Incoming feeder 2 tidak
mendapatkan tegangan.

Pincoming feeder 1 = √ 3 ×220 V × 0,21 A


= 80,02 MVA
Poutgoing feeder 1 = √ 3 ×221 V × 0 A
= 0 MVA

Job BUSBAR 2-28


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

P outgoing feeder 1 0
η= = ×100 %=0 %
P incoming feeder 1 80,02

2.7.13 Pada table 2.13 Field 2 : Incoming Feeder 2 terlihat bahwa pada
saat Isolator Q21 ON dan Circuit Breaker Q23 ON secara
berurutan busbar 1 tegangannya 215 V karena busbar 1 diberi
tegangan 215 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya seharusnya
0, tetapi alat ukur menunjukkan 6 V karena ada error yang terjadi
pada alat ukur. Busbar 2 nol karena Isolator Q12 masih OFF.
Isolator Q12 inilah yang menghubungkan busbar 2 dengan power
supply. Pada Incoming feeder 1 dan Incoming feeder 2 mendapat
tegangan sebesar 215 V dan 217 V dan arus pada Incoming feeder
1 dan Incoming feeder 2 sebesar 0.14 V dan 0,24 A karena
berada pada busbar 1. Sedangkan pada Outgoing feeder 1 dan
Outgoing feeder 2 mendapat tegangan 216 V dan 213 V sedangkan
untuk arusnya 0 A dan 0 A.

Pincoming feeder 1 = √ 3 ×215 V × 0,14 A


= 52,13 VA
Poutgoing feeder 1,2 = ¿ 0 A) + ¿ 0,24 A)
= 0 VA

P outgoing feeder 1,2 0


η= = ×100 %=0 %
P incoming feeder 1 52,13

2.7.14 Pada table 2.14 Field 4 : Outgoing Feeder 2 terlihat bahwa pada
saat Isolator Q41 ON dan Circuit Breaker Q43 ON secara
berurutan busbar 1 tegangannya 215 V karena busbar 1 diberi
tegangan 215 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya seharusnya
0, tetapi alat ukur menunjukkan 6 V karena ada error yang terjadi
pada alat ukur. Busbar 2 nol karena Isolator Q12 masih OFF.
Isolator Q12 inilah yang menghubungkan busbar 2 dengan power

Job BUSBAR 2-29


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

supply. Pada Incoming feeder 1 dan Incoming feeder 2 mendapat


tegangan sebesar 215 V dan 213 V dan arus pada Incoming feeder
1 sebesar 0,87 A karena berada pada busbar 1. Sedangkan pada
Outgoing feeder 1 dan Outgoing feeder 2 mendapat tegangan 216
V dan 212 V.

Pincoming feeder 1 = √ 3 ×215 V × 0,87 A


= 323,98 VA
Poutgoing feeder 1,2 = ¿ 0 A) + ¿ 0,24 A)
= 88,12 VA

P outgoing feeder 1,2 88,12


η= = ×100 %=27,19 %
P incoming feeder 1 323,98

2.7.15 Pada table 2.15 Field 5 : coupler panel terlihat bahwa pada saat
Isolator Q51 ON, isolator Q52 ON dan Circuit Breaker Q53 ON
secara berurutan busbar 1 tegangannya 215 V karena busbar 1
diberi tegangan 215 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya 215
V karena Isolator Q12 sudah ON. Isolator Q12 inilah yang
menghubungkan busbar 2 dengan power supply. Pada Incoming
feeder 1 dan Incoming feeder 2 mendapat tegangan sebesar 216
V dan 213 V dan arus pada Incoming feeder 1 dan Incoming
feeder 2 sebesar 0,14 A dan 0,24 A karena berada pada Outgoing
feeder 1 dan Outgoing feeder 2 mendapat tegangan 216 kV dan
213 kV dengan arus 0,00 A dan 0,00 A.

Pincoming feeder 1,2 =( √ 3 ×216 V × 0,14 A) + ( √ 3 ×213 V × 0,24 A)


= 140,91 VA
Poutgoing feeder 1,2 =( √ 3 ×216 V × 0,00 A) + ( √ 3 ×213 kV × 0,00 A)
= 0,00 VA

Job BUSBAR 2-30


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

P outgoing feeder 1,2 0,00


η= = ×100 %=0 %
P incoming feeder 1,2 140,91

2.7.16 Pada table 2.16 Field 3 : Outgoing feeder 1 terlihat bahwa pada
saat Isolator Q31 OFF dan Circuit Breaker Q33 OF secara
berurutan busbar 1 tegangannya 216 V karena busbar 1 diberi
tegangan 216 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya 217 V
karena Isolator Q12 sudah ON. Isolator Q12 inilah yang
menghubungkan busbar 2 dengan power supply. Pada Incoming
feeder 1 dan Incoming feeder 2 mendapat tegangan sebesar 217 V
& 215 V dan arus pada Incoming feeder 1 dan Incoming feeder 2
sebesar 0,09 A dan 0,00 A karena berada pada Outgoing feeder 1
dan Outgoing feeder 2 mendapat tegangan 218 V dan 0 V dengan
arus 0,00 A dan 0,00 A.

Pincoming feeder 1,2 = ( √ 3 ×217 V × 0,09 A) + ( √ 3 ×215 V × 0,00 A)


= 33,82 VA
Poutgoing feeder 1 = ( √ 3 ×218 V × 0,00 A)
= 0,00 VA

P outgoing feeder 1 0,00


η= = ×100 %=0 %
P incoming feeder 1,2 33,82

2.7.17 Pada table 2.17 Field 5 : coupler panel terlihat bahwa pada saat
Isolator Q51 ON, isolator Q52 ON dan Circuit Breaker Q53 ON
secara berurutan busbar 1 tegangannya 215 V karena busbar 1
diberi tegangan 215 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya 215
V karena Isolator Q12 sudah ON. Isolator Q12 inilah yang
menghubungkan busbar 2 dengan power supply. Pada Incoming
feeder 1 dan Incoming feeder 2 mendapat tegangan sebesar 216
V dan 213 V dan arus pada Incoming feeder 1 dan Incoming
feeder 2 sebesar 0,14 A dan 0,24 A karena berada pada Outgoing

Job BUSBAR 2-31


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

feeder 1 dan Outgoing feeder 2 mendapat tegangan 216 kV dan


213 kV dengan arus 0,00 A dan 0,00 A.
Pincoming feeder 1,2 =( √ 3 ×216 V × 0,14 A) + ( √ 3 ×213 V × 0,24 A)
= 140,91 VA
Poutgoing feeder 1,2 =( √ 3 ×216 V × 0,00 A) + ( √ 3 ×213 kV × 0,00 A)
= 0,00 VA

P outgoing feeder 1,2 0,00


η= = ×100 %=0 %
P incoming feeder 1,2 140,91

2.7.18 Pada table 2.18 Field 1 : Incoming Feeder 1 terlihat bahwa pada
saat Isolator Q12 ON dan Isolator Q11 OFF secara berurutan
busbar 1 tegangannya 215 V karena busbar 1 diberi tegangan 215
V sedangkan pada busbar 2 tegangannya seharusnya 216 V karena
Isolator Q12 sudah ON. Isolator Q12 inilah yang menghubungkan
busbar 2 dengan power supply. Pada Incoming feeder 1 &
Incoming feeder 2 mendapat tegangan sebesar 216 V dan 212 V
karena berada pada busbar 1.

2.7.19 Pada table 2.19 Field 2 : IncomingFeeder 2 terlihat bahwa pada


saat Isolator Q22, Isolator Q21 OFF dan Circuit Breaker Q33
OFF secara berurutan busbar 1 tegangannya 214 V karena busbar 1
diberi tegangan 214 V sedangkan pada busbar 2 tegangannya 216
V karena Isolator Q12 sudah ON. Isolator Q12 inilah yang
menghubungkan busbar 2 dengan power supply. Pada Incoming
feeder 1 dan Incoming feeder 2 mendapat tegangan sebesar 216 V
& 216 V dan arus pada Incoming feeder 1 dan Incoming feeder 2
sebesar 0,20 A dan 0,24 A karena berada pada Outgoing feeder 1
dan Outgoing feeder 2 mendapat tegangan 217 V dan 212 V.

Job BUSBAR 2-32


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

2.7.20 Pada table 2.20 Field 3 : Outgoing Feeder 1 terlihat bahwa pada
saat Isolator Q32 ON, Isolator Q31 OFF dan Circuit Breaker
Q33 OFF secara berurutan busbar 1 tegangannya 214 V karena
busbar 1 diberi tegangan 214 kV sedangkan pada busbar 2
tegangannya 216 V karena Isolator Q12 sudah ON. Isolator Q12
inilah yang menghubungkan busbar 2 dengan power supply. Pada
Incoming feeder 1 dan Incoming feeder 2 mendapat tegangan
sebesar 215 V & 216 V dan arus pada Incoming feeder 1 dan
Incoming feeder 2 sebesar 0,19 A dan 0,24 A karena berada pada
Outgoing feeder 1 dan Outgoing feeder 2 mendapat tegangan
216 V dan 212 V dengan arus 0,66 A dan 0,00 A.

Pincoming feeder 1,2 = ( √ 3 ×215 V × 0,19 A) + ( √ 3 ×216 V × 0,24 A)


= 160, 54 VA
Poutgoing feeder 1,2 = ( √ 3 ×216 V × 0,66 A) + ( √ 3 ×212 V × 0,00 A)
= 246,92 VA
P outgoing feeder 1,2 246,92
η= = × 100 %=15,38 %
P incoming feeder 1,2 160,54

2.7.21 Pada table 2.21 Field 4 : Outgoing Feeder 2 terlihat bahwa pada
saat Isolator Q42 ON, Isolator Q41 OFF dan Circuit Breaker
Q33 OFF secara berurutan busbar 1 tegangannya 215 V karena
busbar 1 diberi tegangan 215 V sedangkan pada busbar 2
tegangannya 216 V karena Isolator Q12 sudah ON. Isolator Q12
inilah yang menghubungkan busbar 2 dengan power supply. Pada
Incoming feeder 1 dan Incoming feeder 2 mendapat tegangan
sebesar 216 V & 217 V dan arus pada Incoming feeder 1 dan
Incoming feeder 2 sebesar 0,17 A dan 0,24 A karena berada pada
Outgoing feeder 1 dan Outgoing feeder 2 mendapat tegangan
217 V dan 213 V dengan arus 0,00 A dan 0,00 A.

Job BUSBAR 2-33


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

Pincoming feeder 1,2 = ( √ 3 ×216 V × 0,17 A) + ( √ 3 ×217 V × 0,24 A)


= 153,80 VA
Poutgoing feeder 1,2 =( √ 3 ×217 V × 0,00 A) + ( √ 3 ×213 V × 0,00 A)
= 0,00 VA
P outgoing feeder 1,2 0,00
η= = ×100 %=0 %
P incoming feeder 1,2 153,80

Job BUSBAR 2-34


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

2.8 KESIMPULAN
Dari percobaan Busbar dengan sistem SCADA maka dapat disimpulan
bahwa :
1. Desain dasar switchgear terbagi dengan beberapa komponen yaitu:
a. Busbar
b. Isolator
c. Circuit Braker
d. Transformator arusdan tegangan
e. Surge arester
f. Isolator pembumian
2. Perbedaan isolator dan Circuit Breaker :
- Isolatordapat menunjukkan keadaan putus (off) secara visual,
sedangkan circuit breaker tidak dapat menunjukkan keadaan on
maupun terputus (off) secara visual.
- Pada proses feed-in, isolator ditutup sebelum circuit breaker
sedangkan proses feed out circuit breaker dibuka sebelum isolator.
- Isolator hanya dapat diaktifkan (dioperasikan) dalam keadaan de-
energized.
3. Fungsi busbar ganda yaitu berfungsi untuk menghindari pemadaman
beban pada saat melakukan perubahan sistem.
4. Daya pada percobaan tanpa beban = 0 pada percobaan dengan satu
incoming feeder daya yang dibangkitkan pembangkit merupakan total
daya beban 1 dan 2, sedangkan pada percobaan 2 incoming feeder daya
yang dibangkitkan pembangkit 1 sama dengan pembangkit 2 yaitu sama
1
dengan daya beban 1 ditambah daya beban 2.
2
5. Pada proses feed-in isolator ditutup sebelum circuit breaker.
6. Pada proses feed-out, circuit breaker dibuka sebelum isolator.

Job BUSBAR 2-35


Praktikum Sistem Distribusi Energi dan Proteksi

7. Mengalihkan busbar yang aman bagi manusia yaitu dengan mengaktifkan


coupler panel, kemudia mengalihkan isolator 2 dalam keadaan posisi ON
kemudian isolator 1 dalam keadaan OFF secara bertahap dari incoming
feeder 1, incoming feeder 2, outgoing feeder 1, outgoing feeder 2, setelah
semua telah dialihkan maka mematikan coupler panel sehingga pada
busbar 1 dapat maintanance dengan aman bagi manusia dan peralatan.
8. Sebelum melakukan praktikum kita harus mengetahui alat-alat yang akan
digunakan dan cara mengoperasikannya sesuai SOP.

Job BUSBAR 2-36

Anda mungkin juga menyukai