0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan20 halaman

Dampak Pertukaran Air Laut pada Tangki Ballast

Dokumen tersebut membahas pengaruh pertukaran air laut terhadap kerusakan tangki ballast pada kapal niaga. Air ballast yang dibuang dapat menimbulkan dampak buruk bagi ekosistem laut. Pertukaran air laut dapat menyebabkan kerusakan pada tangki ballast kapal akibat korosi.

Diunggah oleh

Alda Sunu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
45 tayangan20 halaman

Dampak Pertukaran Air Laut pada Tangki Ballast

Dokumen tersebut membahas pengaruh pertukaran air laut terhadap kerusakan tangki ballast pada kapal niaga. Air ballast yang dibuang dapat menimbulkan dampak buruk bagi ekosistem laut. Pertukaran air laut dapat menyebabkan kerusakan pada tangki ballast kapal akibat korosi.

Diunggah oleh

Alda Sunu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PERTUKARAN AIR LAUT TERHADAP

KERUSAKAN TANGKI BALLAST

Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan


ProgramPendidikan D-III Nautika

DANDI PRATAMA
NRT: [Link]
AHLI NAUTIKA TINGKAT III

PROGRAM DIPLOMA III NAUTIKA


POLITEKNIK PELAYARAN BANTEN
TAHUN 2022
PENGARUH PERTUKARAN AIR LAUT TERHADAP
KERUSAKAN TANGKI BALLAST

Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan


Program Pendidikan D-III Nautika

DANDI PRATAMA
NRT: [Link]
AHLI NAUTIKA TINGKAT III

PROGRAM DIPLOMA III NAUTIKA


POLITEKNIK PELAYARAN BANTEN
TAHUN 2022

i
PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Dandi Pratama
Nomor Registrasi Taruna : [Link]
Program Diklat : Diploma III Nautika
Menyatakan bahwa KIT yang saya tulis dengan judul:

PENGARUH PERTUKARAN AIR LAUT TERHADAP KERUSAKAN


TANGKI BALLAST

Merupakan karya asli seluruh ide yang ada dalam KIT tersebut, kecuali
tema yang saya nyatakan sebagai kutipan, merupakan ide saya sendiri.
Jika pernyataan diatas terbukti tidak benar, maka saya bersedia menerima
sanksi yang ditetapkan oleh Politeknik Pelayaran Banten.

Banten, 06 Juli 2022

Dandi Pratama

ii
PERSETUJUAN SEMINAR KARYA ILMIAH TERAPAN

Judul : PENGARUH PERTUKARAN AIR LAUT TERHADAP


KERUSAKAN TANGKI BALLAST
Nama : Dandi Pratama
NRT : [Link]
Program Diklat : Diploma III Nautika

Dengan ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diseminarkan

Banten, 06 Juli 2022

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

(ANTARIS FAHRISANI, SE., M.M.) (IMAM SAFI’I, [Link].T., [Link])


NIP: 197102052005021002 NIP: 197712222005021001

Mengetahui,
Ketua Jurusan Studi Nautika
Politeknik Pelayaran Banten

(NURSYAMSU, SE., [Link])


NIP: 197301052005

iii
PENGARUH PERTUKARAN AIR LAUT TERHADAP KERUSAKAN
TANGKI BALLAST
Disusun dan Diajukan Oleh:

DANDI PRATAMA
NRT: [Link]
Diploma III Nautika

Telah dipertahankan di depan Panitia Ujian KIT


Pada tanggal,

Menyetujui,

Penguji I Penguji II

( ) ( )

Mengetahui,
Ketua Jurusan Studi Nautika
Politeknik Pelayaran Banten

(NURSYAMSU, SE., [Link])


NIP: 197301052005

iv
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala
karunia-Nya serta shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW,
sehingga penelitian berhasil diselesaikan.
Penelitian ini adalah untuk meneliti Pengaruh Pertukaran Air Laut
Terhadap Kerusakan Tangki Ballast serta sebagai salah satu persyaratan
penyelesaian Program Pendidikan Diploma-III di Politeknik Pelayaran
Banten.
Penyusunan karya ilimiah terpan ini dapat diselesaikan atas bantuan,
bimbingan serta dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu dengan penuh
kerendahan hati dan rasa hormat penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya dan Nabi
Muhammad SAW serta keluarga sucinya-Nya.
2. Ayahanda Mansyur yang saya banggakan dan Ibunda tercinta
Sunarti yang selalu memberikan motivasi dan nasehat kepada
saya.
3. Bapak Capt. Heru Widada, M.M. selaku Direktur Politeknik
Pelayaran Banten yang telah memberi fasilitas berupa ruang dan
waktu atas terselenggaranya Karya Ilmiah Terapan.
4. Bapak Antaris Fahrisani, SE., M.M. selaku Dosen Pembimbing I
yang telah memberikan bimbingan dan saran dalam
menyelesaikan penelitian ini.
5. Bapak Imam Safi’i, [Link].T., [Link] selaku Dosen Pembimbing II
yang telah memberikan bimbingan dan saran dalam
menyelesaikan penelitian ini.
6. Bapak/Ibu Dosen Politeknik Pelayaran Banten, khususnya
lingkungan program studi Nautika yang telah memberi bekal ilmu
sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.

v
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan karya ilmiah
terapan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saran dan kritik
yang sifatnya membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan karya
ilmiah terapan ini, semoga karya ilmiah terapan ini memberikan manfaat
kepada penulis dan kepada pihak yang memerlukannya.

Banten, 06 Juli 2022

Dandi Pratama

vi
ABSTRAK

DANDI PRATAMA, Pengaruh Pertukaran Air Laut Terhadap Kerusakan


Tangki Ballast. Dibimbing oleh Antaris Fahrisani, SE., M.M. dan Imam
Safi’i, [Link].T., [Link].
Pembuangan air ballast kapal telah menimbulkan dampak buruk bagi
ekosistem. Kegiatan pelayaran merupakan salah satu dari penyebab
pencemaran di laut selain kegiatan pengeboran, penyulingan, pelabuhan
dan galangan. Pencemaran dapat terjadi pada kapal niaga disebabkan
oleh karena tubrukan, kandas, terbakar, tenggelam, jatuhnya muatan,
kegiatan penumpang dan awak kapal maupun pengoperasian normal
kapal.
Pada operasi normal kapal niaga, pencemaran dapat terjadi dari ruangan
permesinan, ruang muatan maupun ruang akomodasi. Dari ruang
permesinan, pencemaran dapat terjadi disebabkan kebocoran pada pipa
bahan bakar, kebocoran pada pipa minyak lumas, tumpahan bahan bakar
sehingga menuju ke sistem bilga, kebocoran dari sistem pendingin air laut
sehingga bilga penuh dan harus dibuang. Dari ruang muatan, pencemaran
dimungkinkan terjadi dari sistem ballast, pencucian tangki dan dari muatan
yang tumpah. Sedangkan dari ruang akomodasi, pencemaran laut serta
dimungkinkan terjadi dari kotoran manusia dan sampah yang dihasilkan
dari kegiatan penumpang maupun awak kapal.
Lokasi penelitian dilakukan di sepanjang alur pelayaran kapal niaga serta
di kawasan pelabuhan yang nantinya akan dilaksanakan pada saat
PRALA (Praktik Laut), dilaksanakan mulai Agustus sampai dengan
September. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif.

JARAK ANTAR BARI


BERAPA?

(di pedoman pakai


baris 1, jadi saya ikuti
pedoman)

vii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL..................................................................... i
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN..................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN....................................................... iii
KATA PENGANTAR.................................................................. v
ABSTRAK.................................................................................. vii
DAFTAR ISI............................................................................... viii
I. PENDAHULUAN............................................................... 1
A. Latar Belakang........................................................... 1
B. Rumusan Masalah..................................................... 2
C. Batasan Masalah....................................................... 2
D. Tujuan Penelitian....................................................... 2
E. Manfaat Penelitian..................................................... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA....................................................... 4
A. Review Penelitian Sebelumnya................................. 4
B. Landasan Teori.......................................................... 5
C. Kerangka Penelitian.................................................. 7
D. Hipotesis.................................................................... 8
III. METODE PENELITIAN..................................................... 9
A. Jenis Penelitian.......................................................... 9
B. Sumber Data.............................................................. 9
C. Lokasi Penelitian........................................................ 9
D. Teknik Pengumpulan Data........................................ 9
DAFTAR PUSTAKA.................................................................. 11

viii
TEPI PARAGRAF LIHAT
PEDOMAN KIT

(Sudah diperbaiki)
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
LIHAT PEDOMAN
Kapal niaga mempunyai peranan yang penting dalam distribusi
ATURAN PENOMERAN
barang di seluruh dunia dimana lebih dari 80% volume perdagangan
global dibawa oleh transportasi laut. Sejak tahun 1970(Sudah diperbaiki)
perdagangan
melalui laut secara global meningkat senilai rata-rata 3,1% per tahun.
Industri di negara-negara maju memerlukan bahan baku yang
diimpor dari negara berkembang (Rivaldigia, 2011). Pada sisi lain
negara berkembang memainkan peran sebagai penggerak dalam
perdagangan global sehingga negara-negara di Afrika dan Amerika
JARAK ANTAR BARIS
Latin berkembang menjadi penyedia kebutuhan komoditas bagi
BERAPA?
China (UN, 2012). Negara-negara Asia selama 2 dekade telah
(awalnya 2,0 dan sudah
mengubah peta pusat ekonomi global dan industri dari Atlantik Utara
diubah menjadi 1,5)
sehingga meningkatkan pentingnya
sesuai yg bapak bilang Asia dalam perdagangan dunia
(ADB, 2011). “sudah ada perubahan
yg baru”
Kapal niaga di dalam pengoperasiannya mempergunakan air
laut yang disimpan dalam tangki ballast untuk menjaga stabilitas
kapal tersebut. Pada saat muatan kosong maka kapal niaga akan
mengambil air laut dari sekitar pelabuhan dan setelah mencapai
pelabuhan berikutnya sesaat selesai memuat muatan maka kapal
tersebut akan membuang air laut yang terdapat pada tangki
ballastnya.
Sistem air ballast di kapal niaga menggunakan pompa air laut
(pompa ballast) untuk mengeluarkan atau memasukkan air laut ke
dalam tangki ballast. Selain untuk meningkatkan stabilitas kapal, air
laut pada tangki ballast kapal dipergunakan untuk memperoleh
kedalaman kapal seperti yang diinginkan, meningkatkan kecepatan,
mengubah trim, menurunkan momen tekuk atau gaya pembagi,
mengontrol list selama muat dan bongkar dan meningkatkan
manuver kapal niaga (Van Dokkum, 2005).

1
(1000 m3/jam) dipasang diantara dua tangki ballast (sisi kiri dan
kanan). Pompa tersebut dapat mentransfer air dari tangki satu ke
LIHAT JUDUL SAMA
tangkiRUMUSAN
yang lain dengan kecepatan yang besar untuk mengatur
MASALAH
listingTIDAK NYAMBUNG.
kapal selama kapal melakukan bongkar muat.
Pembuangan
(sudah diganti) air ballast kapal telah menimbulkan dampak
buruk bagi ekosistem maka penulis akan menganalisanya dalam
Pengaruh Pertukaran Air Laut Terhadap Kerusakan Tangki Ballast.

B. Rumusan Masalah
Dalam hal ini penulis merumuskan masalah yang akan
diuraikan dalam bab selanjutnya yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh Pertukaran Air Laut Terhadap Kerusakan
Tangki Ballast?
2. Bagaimana model pengelolaan air ballast kapal niaga berbasis
lingkungan untuk mencegah dampak lingkungan?

C. Batasan Masalah
Mengingat luasnya permasalahan, penulis menganggap
Jarak tepi kiri coba
perlunya mengambil batasan-batasan dengan tujuan agar tidak
dilihat dipanduan.
menyimpang dalam permbahasan. Batasan-batasan tersebut hanya
Tepi kiri 4 cm. Sudah
mencakup
diubah. pengaruh pertukaran air laut terhadap kerusakan tangki
ballast.

D. Tujuan Penelitian
Merumuskan model dan strategi pengelolaan air ballast kapal
niaga berbasis lingkungan sehingga dapat mengurangi dampak
terhadap perairan pelabuhan yang disinggahi kapal niaga.

2
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Memberikan masukan berupa model dan strategi
pengelolaan air ballast kapal niaga berbasis lingkungan sehingga
dapat mengurangi dampak terhadap perairan pelabuhan yang
disinggahi kapal niaga.
2. Manfaat Praktis
a. Memahami korelasi phytoplankton, zooplankton dan logam
berat di dalam air ballast kapal niaga terhadap
phytoplankton, zooplankton dan logam berat di perairan
pelabuhan.
b. Mengimplementasikan strategi yang dapat dilakukan otoritas
pelabuhan dalam menangani masuknya spesies asing
melalui air ballast dari kapal niaga.
c. Menerapkan model pengelolaan air ballast kapal niaga
berbasis lingkungan.
d. Menerapkan kerjasama antar lembaga regulator pada
otoritas pelabuhan yaitu antara KSOP dan Balai Karantina
dalam pengawasan spesies asing melalui air ballast kapal
niaga.
e. Menerapkan kerjasama antara regulator pada pelabuhan
dalam pembuatan aturan pengelolaan budidaya perikanan
dan perdagangan yang tidak saling merugikan kedua belah
pihak.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Review Penelitian Sebelumnya


Tangki fore-peak dan after peak, tangki deep, double bottom
tank dan tangki wing biasanya digunakan untuk tangki ballast. Kapal
curah biasanya menggunakan satu palka untuk ballast selama
pelayaran ballast. Keuntungan menggunakan air laut sebagai ballast
daripada bahan bakar adalah pengelasan dapat dilakukan pada
tanktop.
Desainer kapal menentukan kapasitas ballast untuk memenuhi
persyaratan minimum draft yang dilakukan oleh IMO (Organisasi
Maritim Internasional). Lama pelayaran dan fungsi kapal dihitung
saat menentukan ruangan pada ballast dan kapasitas pompa ballast.
Pada kapal kecil, pompa ballast juga berfungsi sebagai pompa
bilga. Sistem ballast terintegrasi dengan sistem bilga sehingga
pompa ballast dapat beroperasi sebagai pompa bilga.
Katup pada sistem ballast harus berjenis two-way valve
sehingga harus dapat diisi dan dikosongkan. Tangki double bottom
pada kapal multifungsi, tangki wingnya dapat diisi langsung tanpa
menggunakan pompa.
Kapasitas air ballast dapat dihitung untuk tiap kapal yang
datang ke suatu pelabuhan berdasarkan hasil yang diperoleh IMO
(Organisasi Maritim Internasional) untuk kapal general kargo 36,5%,
curah padat 35%, curah cair 35%, kontainer 30%, kargo campuran
33% dan Ro-Ro 33% dari DWT (Dead Weight Tonnage) (IMO,
2011).
Pengeluaran air ballast dari kapal niaga dapat diketahui dari
apakah kapal tersebut melakukan bongkar atau muat kargo. Apabila
kapal tersebut melakukan pembongkaran seluruh kargo di suatu
pelabuhan maka untuk mengatur draftnya, baik depan ataupun
belakang, maka kapal tersebut harus melakukan ballasting air laut di
pelabuhan tersebut untuk memberikan kompensasi agar kapalnya

4
even keel (tidak terdapat perbedaan yang besar antara draft depan
dan belakang). Sedangkan apabila kapal melakukan pemuatan ke
seluruh palka atau ruang muat yang ada, maka kapal tersebut harus
melakukan deballasting air laut (dari pelabuhan asal ke pelabuhan
muat) untuk mengkompensasi muatan yang masuk ke kapal
tersebut.

B. Landasan Teori
Air ballast adalah air yang digunakan sebagai pemberat dan
penyeimbang kapal saat berlayar, pengembangan pengolahan air
ballast terdiri dari 2 jenis yaitu pengolahan di kapal dan pengolahan
di darat . Pengolahan di kapal melalui teknologi yang terintegrasi ke
sistem ballast. Air ballast dapat diolah pada pipa keluaran atau pada
tangki ballast selama pelayaran (Abu-Khader, 2011)
Pengolahan di darat seperti tercantum pada panduan BWM
(Ballast Water Management) bahwa negara yang menandatangi
konvensi harus menyediakan fasilitas resepsi sedimen dan
pengolahan air ballast di pelabuhan/terminal.
Pertukaran air ballast di laut bagi kapal baru perlu
mempertimbangkan aspek desain struktur kapal untuk pertukaran air
ballast, meminimalisir beban kerja kru kapal, meminimalisir resiko
tekanan lebih/kurang pada tangki, meminimalisir aliran air ballast di
dek, penjagaan standar jarak pandang di anjungan, celupan baling-
baling dan minimum draft depan, konsekuensi pertukaran air ballast
pada stabilitas, kekuatan lambung, gaya geser, tekanan torsi,
resonansi, sloshing, slamming dan celupan baling-baling.
Air yang diisap ke dalam tangki ballast dapat mengandung
batuan alluvial yang mengendap di dasar tangki dan struktur internal
yang lain. Organisme akuatik dapat tinggal pada air ballast dan
sedimen dimana organisme ini bertahan untuk periode waktu yang
lama setelah air dikeluarkan dan dibawa dari habitat aslinya dan
dikeluarkan ke pelabuhan lainnya atau daerah dimana dapat
merugikan dan merusak lingkungan.

5
Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi Ballast Water
pada sidang Majelis Internasional IMO (Organisasi Maritim
Internasional) ke-29 di London. Ratifikasi tersebut menunjukkan
komitmen Indonesia untuk melakukan perlindungan lingkungan laut.
Menurut Ignasius Jonan (Menteri Perhubungan) saat ini terdapat 45
negara yang telah menandatangani Konvensi BWM (Ballast Water
Management) (Antara News, 26 November 2015).
Pemerintah negara yang telah menandatangani Konvensi BWM
(Ballast Water Management) tersebut harus menyiapkan sertifikat,
survei, pemeriksaan bagi kapal bendera negara tersebut. Sertifikat
yang diminta yaitu Ballast Water Management System Certificate
sedangkan di kapal terdapat log yaitu Ballast Water Record Book.

Gambar 2.1 Teknologi Pengolahan Air Ballast Kapal Niaga


Sumber: (Abu-Khader, 2011)

6
Pengembangan pengolahan air ballast terdiri dari lima macam
kategori yaitu mekanis, kimia, fisika, biologi dan kombinasi (Gambar
2.1). Terdapat 25 teknologi pengolahan air ballast yang berbeda,
dimana 17 darinya menggunakan bahan kimia dengan pengolahan
dan diklasifikasikan sebagai berikut yaitu enam teknologi
menggunakan klorin atau pembangkitan elektrolitik dari sodium
hipokrorid, menggunakan klorin dioksida untuk mengolah air ballast,
empat sistem menggunakan ozon, menggunakan ozon dan
elektrolitik klorinasi, menggunakan ferrate, menggunakan campuran
asam peracetik, hidrogen peroksida dan asam asetat (Peraclean
Ocean) dan tiga menggunakan oksidasi lanjut atau proses elektrolitik
termasuk bromin, klorin atau radikal hidroksil (Abu-Khader, 2011).

C. Kerangka Penelitian
Peningkatan perdagangan menimbulkan konsekuensi
peningkatan kedatangan kapal niaga, karena 80% komoditas yang
diangkut mempergunakan moda transportasi laut. Kapal niaga yang
datang dari wilayah bioregion yang berbeda membawa air ballast
untuk pengaturan stabilitas, trim, stress dan menjaga keselamatan
kapalnya. Dalam proses memuat di wilayah perairan pelabuhan yang
dimasukinya terdapat prosedur deballasting yaitu pembuangan air
ballast.
Air ballast yang dikeluarkan dari tangki ballast yang dihisap
oleh pompa Ballast membawa organisme, mikroorganisme, sedimen,
kista dan logam berat yang dapat membahayakan kelangsungan
hidup bagi organisme dan makhluk hidup di wilayah pelabuhan dan
perairan setempat.
Pembuangan air ballast yang tidak dilakukan pengolahan
terlebih dahulu telah menimbulkan dampak terhadap organisme
perairan yang bukan merupakan habitat asli pada wilayah tersebut,
selain itu juga berdampak pada perekonomian dan kesehatan
masyarakat.

7
Transportasi Laut

Konvensi Ballast
Stabilitas Kapal Air Ballast Kapal Water Management
and Sediment 2004

Spesies Asing Logam Berat Sedimen

Dampak

Ekonomi Kesehatan Lingkungan

Konsep Pengelolaan

Konsep Pengelolaan Air Ballast


Berbasis Lingkungan

Gambar 2.2 Kerangka Penelitian

D. Hipotesis
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dan tujuan
penelitian yang dilakukan, dapat dirumuskan hipotesis sebagai
berikut:
1. Kepatuhan awak kapal niaga di pelabuhan dalam
mengimplementasikan Konvensi BWM (Ballast Water
Management).
2. Pada penelitian dilakukan kegiatan angket bagi awak kapal niaga
apakah mematuhi aturan BWM (Ballast Water Management)
atau tidak sehingga terdapat dua kemungkinan sebagai berikut:
a. Awak kapal niaga mematuhi peraturan Konvensi BWM
(Ballast Water Management).
b. Awak kapal niaga tidak mematuhi peraturan Konvensi BWM
(Ballast Water Management).

8
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Kualitatif.
Penelitian Kualitatif adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan
cenderung menggunakan analisis. Proses dan makna lebih
ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan
sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di
lapangan.

B. Sumber Data
Sumber data pada penelitian ini yaitu dilakukan kegiatan angket
bagi awak kapal niaga. Selain itu dengan memanfaatkan sejumlah
jurnal-jurnal sebagai penunjang dalam pengambilan teori dasar.

C. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di sepanjang alur pelayaran kapal niaga
serta di kawasan Pelabuhan yang nantinya akan dilaksanakan pada
saat PRALA (Praktik Laut) oleh Taruna Politeknik Pelayaran Banten
selama 1 tahun yang bekerjasama dengan perusahaan pelayaran
niaga sehingga nantinya data dari penelitian dapat dikumpulkan.

D. Teknik Pengumpulan Data


Adapun teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Menuju lokasi yang telah ditentukan sesuai rencana penelitian
(dimulai dari stasiun 1 (satu) menuju ke stasiun 8 (delapan).
Pada stasiun 1 (satu), kapal dihentikan setelah sesuai dengan
lokasi yang ditentukan/diset oleh GPS (Global Positioning
System).
2. Pada stasiun 1 (satu) tersebut diambil sampel air untuk
parameter fisika, kimia dan logam berat dimulai dengan
mengambil sampel pada permukaan kemudian dimasukkan ke

9
dalam water sampler sebanyak 5 liter. Untuk sampel air di dasar
perairan dilakukan dengan mencelupkan ember yang telah diberi
pemberat, sehingga sampel air yang terambil juga dapat
dimasukkan ke dalam water sampler sebanyak 5 liter.
3. Naik ke kapal untuk bertemu dengan Chief Officer, menanyakan
tonase bobot mati atau DWT (Dead Weight Tonnage) kapal,
jumlah tangki ballast, kapasitas tangki ballast, air laut pada
tangki ballast yang dapat diambil sampelnya dan asal
pelabuhan.
4. Menyiapkan peralatan dan bahan penelitian yang digunakan
meliputi pompa untuk mengambil sampel air dari tangki ballast.

10
DAFTAR PUSTAKA

Dokkum, Klaas van. 2005, Ship Knowledge, Dokmar Maritime Publishers


B.V, Vlissingen.

IMO, 2011, International Convention For The Prevention Of Pollution From


Ships (MARPOL) 1978 Consolidated Edition 2013 IMO, United
Kingdom.

Khader Abu, 2011, Pengembangan Pengolahan Air Ballast, Bandung.

Rivaldiaga, 2011 Peranan Penting Kapal Niaga, Jakarta.

11

Anda mungkin juga menyukai