IDENTIFIKASI FAKTOR – FAKTOR MOTIVASI KERJA DAN KEPUASAN
KERJA BERDASARKAN METODE JOB DIAGNOSTIC SURVEY (JDS) DAN
MINNESOTA SATISFICATION QUISTIONAIRE (MSQ) STUDI KASUS DI
KANTOR BPS KAB. LUWU TIMUR
PROPOSAL
Oleh :
NAMA : ANGGA ANGGRIYANTO FAJRI
STAMBUK : 09120160067
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2020
IDENTIFIKASI FAKTOR – FAKTOR MOTIVASI KERJA DAN KEPUASAN
KERJA BERDASARKAN METODE JOB DIAGNOSTIC SURVEY (JDS) DAN
MINNESOTA SATISFICATION QUISTIONAIRE (MSQ) STUDI KASUS DI
KANTOR BPS KAB. LUWU TIMUR
PROPOSAL
Oleh :
Nama : ANGGA ANGGRIYANTO FAJRI
Stambuk : 09120160067
Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II
(Dr. Ir. Lamatinulu.,MT.,IPM.,ASEAN Eng.) (Dr. Eng. Irma Nur Afiah.,[Link].,IPM.,ASEAN Eng.)
Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Industri
(Dr. Ir. Hj. Nurhayati Rauf, MT.,IPM.,ASEAN Eng.)
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2020
ii
LEMBAR PERSETUJUAN PROPOSAL
Yang bertanda tangan di bawah ini menerangkan bahwa :
NAMA : ANGGA ANGGRIYANTO FAJRI
STAMBUK : 09120160067
JURUSAN : TEKNIK INDUSTRI
JUDUL :“ IDENTIFIKASI FAKTOR – FAKTOR MOTIVASI KERJA DAN
KEPUASAN KERJA BERDASARKAN METODE JOB
DIAGNOSTIC SURVEY (JDS) DAN MINNESOTA
SATISFICATION QUISTIONAIRE (MSQ) STUDI KASUS DI
KANTOR BPS KAB. LUWU TIMUR”
Telah melakukan kegiatan penyusunan proposal yang bersangkutan telah
bersyarat untuk diseminarkan.
Makassar, Juli 2020
Pembimbing I Pembimbing II
(Dr. Ir. Lamatinulu.,MT.,IPM.,ASEAN Eng.) (Dr. Eng. Irma Nur Afiah.,[Link].,IPM.,ASEAN Eng).
Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Industri
(Dr. Ir. Hj. Nurhayati Rauf, MT.,IPM.,ASEAN Eng.)
iii
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahi Wa barakatuh
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. atas segala
berkah, rahmat, dan karunia-Nya sehingga penulis mendapatkan kemudahan
dalam penyelesaian tugas proposal ini yang berjudul “IDENTIFIKASI FAKTOR –
FAKTOR MOTIVASI KERJA DAN KEPUASAN KERJA BERDASARKAN
METODE JOB DIAGNOSTIC SURVEY (JDS) DAN MINNESOTA
SATISFICATION QUISTIONAIRE (MSQ) STUDI KASUS DI KANTOR BPS
KAB. LUWU TIMUR”.
Shalawat dan salam senantiasa penulis kirimkan kepada Rasulullah Nabi
Muhammad SAW. sebagai suritauladan bagi sekalian ummat dalam segala
aspek kehidupan, sehingga menjadi motivasi penulis dalam menuntut ilmu pada
bangku kuliah.
Penghargaan setinggi - tingginya penulis persembahkan kepada kedua orang
tuaku terkasih dan tersayang yang tidak henti - hentinya menyebut namaku
dalam setiap doanya, yang telah merawat, mendidik, serta memberi dukungan
moral dan materi kepada penulis, terima kasih.
Selesainya proposal ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu
penulis dengan segala kerendahan dan keikhlasan hati juga mengucapkan
terimakasih kepada :
1. Untuk yang tersayang Kedua Orang Tua yang mendampingi, mendoakan,
menasihati sampai penghujung ini.
2. Bapak [Link]. Lamatinulu.,MT.,IPM.,ASEAN Eng selaku pembimbing utama
yang telah memberikan banyak masukan dan nasehat dalam penyusunan
propsal ini.
iv
3. Ibu Eng. Irma Nur Afiah.,ST.,MT.,IPM.,ASEAN Eng selaku pembimbing
kedua yang juga telah meluangkan waktunya untuk membantu penulis dalam
menyelesaikan tugas proposal ini.
4. Bapak Dr. Ir. H. Zakir Sabara HW.,ST.,MT.,IPM,.,ASEAN Eng Selaku Dekan
Fakultas Teknologi Industri beserta jajarannya.
5. Ibu [Link]. Hj. Nurhayati Rauf.,MT.,IPM,.,ASEAN Eng selaku Ketua Jurusan
Teknik Industri, Universitas Muslim Indonesia, yang telah banyak memberi
bantuan kepada penulis.
6. Seluruh Dosen, staff dan karyawan di lingkungan FakultasTeknologi Industri.
7. Teman-teman yang saya banggakan dan tidak bisa penulis sebutkan
namanya satu persatu, terima kasih atas segala bantuan, kebersamaan dan
doa.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa tugas
proposal ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis menerima
saran dan kritik yang bersifat membangun untuk kesempurnaannya. Semoga
tugas proposal ini dapat bermanfaat, Aamiin.
Wabillahi Taufiq Walhidayah
Wassalamu Alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh
Makassar, Juli 2020
Penulis
v
DAFTAR ISI
JUDUL................................................................................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN PROPOSAL ............................................................ ii
LEMBAR PERSETUJUAN ROPOSAL ............................................................. iii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv
DAFTAR ISI ....................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xi
DAFTAR RUMUS ............................................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................. 4
1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gambaran Umum Badan Pusat Statistik ........................................ 5
2.2 Motivasi Kerja .................................................................................. 7
2.3 Teori – Teori Motivasi Kerja ............................................................. 8
2.3.1 Teori Motivasi Maslow ............................................................ 8
2.3.2 Teori Motivasi Prestasi Dari [Link] ............................... 10
2.3.3 Teori X dan Y dari [Link] ................................................ 12
2.3.4 Teori Pengharapan................................................................. 13
2.4 Faktor – Faktor Motivasi Kerja......................................................... 14
2.5 Kepuasan Kerja ............................................................................... 22
2.6 Teori Kepuasan Kerja ...................................................................... 22
2.7 Faktor – Faktor Kepuasan Kerja ..................................................... 24
vi
2.8 Metode Job Diagnostic Survey (JDS) ............................................. 30
2.9 Metode Minnesota Satisfaction Questionnaire (MSQ) .................... 31
2.10 Penelitian Terdahulu ...................................................................... 33
BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN
3.1 Kerangka Berfikir ............................................................................. 37
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Tempat dan Waktu Penelitian ......................................................... 39
4.2 Jenis dan Sumber Data ................................................................... 39
4.3 Metode Pengumpulan Data ............................................................. 39
4.4 Langkah – Langkah Penelitian ....................................................... 40
4.5 Tahap – Tahap Penerapan Metode Job Diagnostic Survey (JDS)
dan Metode Minnesota Satisfaction Questionnaire (MSQ)............ 40
4.6 Flowchart ......................................................................................... 42
DAFTAR PUSTAKA
vii
DAFTAR TABEL
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ............................................................... 33
viii
DAFTAR GAMBAR
BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian .............................................. 38
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
Gambar 4.1 Flowchart ............................................................................ 42
ix
DAFTAR RUMUS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Rumus 2.1 Perhitungan Skor Potensi Motivasi ...................................... 31
Rumus 2.2 Dimensi Kerja ....................................................................... 33
x
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sumber daya manusia mempunyai peran utama dalam setiap kegiatan
organisasi ataupun perusahaan. Meskipun didukung dengan sarana dan
prasarana serta sumber dana yang berlebih tetapi tanpa dukungan sumber
daya manusia yang handal maka kegiatan sebuah organisasi atau
perusahaan tidak akan berjalan dengan baik. Hal ini menunjukan bahwa
sumber daya manusia merupakan kunci pokok yang harus diperhatikan
dengan segala kebutuhannya.
Amalia dan Fakhri (2016) motivasi adalah suatu faktor yang mendorong
seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu, oleh karena itu motivasi
seringkali diartikan sebagai faktor pendorong perilaku seseorang. Dari
definisi tersebut dapat dicermati bahwa motivasi menjadi bagian yang
sangat penting yang mendasari individu atau seseorang dalam melakukan
sesuatu atau mencapai tujuan tertentu yang diinginkan.
Dengan melihat pentingnya peranan sumber daya manusia didalam
menentukan tercapai atau tidaknya tujuan organisasi ataupun perusahaan,
maka dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia organisasi
ataupun perusahaan harus memperhatikan faktor-faktor yang dapat
mempengaruhinya.
Jumlah pegawai pada kantor BPS [Link] Timur berjumlah 23
pegawai, namun demikian ternyata setiap pegawai pada kantor BPS
menunjukkan motivasi kerja yang belum optimal, hal ini pada saat jam
kantor banyak pegawai yang bermalas-malasan bekerja, menonton televisi,
bermain hp, membaca koran dan juga mengobrol ketika pegawai yang
1
2
turun ke lapangan untuk mengambil data biasanya pegawai singgah untuk
minum kopi di kafe yang tidak menunjang profesinya, tingkat kehadiran
pegawai setelah jam istirahat selesai banyak pegawai yang terlambat
kembali ke kantor dari tingkat penyelesaiannya yang akhirnya dapat
menghambat penyelesaian tugas bagi pegawai (Hasil observasi dan
Wawancara).
Untuk mempermudah pemahaman tentang motivasi kerja menurut
Fadhil dan Mayowan (2018) merupakan keadaan dalam pribadi seseorang
yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu
guna mencapai tujuan. Sedangkan kepuasan kerja menurut Fadhil dan
Mayowan (2018) dikatakan bahwa kepuasan kerja tergantung kepada apa
yang diinginkan seseorang dari pekerjaannya dan apa yang mereka
peroleh.
Untuk dapat mengatasi masalah motivasi kerja dan kepuasan kerja
pegawai kantor BPS Kab. Luwu Timur harus mampu mengidentifikasi dan
menjalaskan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi dan kepuasan
kerja pegawai sehingga dapat menentukan langkah-langkah yang tepat
guna mengurangi minimnya motivasi pegawai kantor BPS [Link] Timur.
Penggunaan metode pengukuran motivasi dan kepuasan kerja yang telah
valid dan reliabel adalah salah satu cara yang sesuai untuk
mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi dan kepuasan
kerja. Dua metode pengukuran yang sering digunakan dalam penelitian
ilmu psikologi dan perilaku organisasi dan merupakan hasil penelitian
beberapa ahli psikologi adalah metode Job Diagnostic Survey (JDS) dan
metode Minnesota Satisfaction Questionniare (MSQ).
Metode JDS mengukur motivasi berdasarkan variabel internal, sedang
variabel eksternal diukur berdasarkan persepsi dan perasaan pribadi
3
individu karyawan terhadap variabel eksternal tersebut. JDS juga
mengamati proses psikologi yang terjadi dalam diri karyawan sebagai
dampak dari adanya variabel-variabel motivasi yang diukur (critical
psychology states). Proses psikologi tersebut pada akhirnya akan
mempengaruhi tingkat motivasi karyawan. Sedangkan metode MSQ
merupakan metode pengukuran kepuasan kerja dengan berdasarkan dua
belas variabel internal dan delapan variabel eksternal. Keduapuluh variabel
kepuasan kerja tersebut diukur dengan melihat seberapa besar
kesempatan yang diberikan lingkungan kerjanya yaitu pihak instansi dan
orang–orang yang ada disekitarnya terhadap pemenuhan variabel-variabel
kepuasan kerja.
Penelitian ini akan membandingkan hasil pengukuran metode JDS dan
MSQ terhadap variabel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadap
tingkat motivasi dan kepuasan kerja pegawai kantor BPS [Link] Timur.
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi informasi bagi kantor BPS
[Link] Timur dalam menentukan upaya-upaya yang sesuai untuk
diterapkan dalam rangka meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja
pegawainya.
1.2 Rumusan Masalah
Mengidentifikasi variabel-variabel yang berpengaruh secara signifikan
terhadap tingkat motivasi kerja dan kepuasan kerja pegawai kantor BPS
[Link] Timur berdasarkan metode Job Diagnostic Survey (JDS) dan
metode Minnesota Satisfaction Questionniare (MSQ).
1.3 Tujuan Penelitian
4
Berdasarkan rumusan masalah pada penelitian ini adapun yang menjadi
tujuan dalam penelitian ini untuk :
1. Mengetahui tingkat motivasi dan kepuasan kerja pegawai kantor BPS
[Link] Timur.
2. Mengetahui variabel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadap
tingkat motivasi dan kepuasan kerja pegawai kantor BPS [Link]
Timur.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah :
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu kantor BPS
[Link] Timur untuk mengetahui tingkat motivasi dan kepuasan
kerja.
2. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi informasi bagi kantor BPS
[Link] Timur variabel yang berpengaruh terhadap tingkat motivasi
dan kepuasan kerja, sehingga pengelolaan sumber daya manusia
dalam organisasi dapat lebih optimal.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gambaran Umum Badan Pusat Statistik
Badan Pusat Statistik adalah Lembaga Pemerintah Non-Departemen
yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Sebelumnya, BPS
merupakan Biro Pusat Statistik, yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 6
Tahun 1960 tentang Sensus dan UU Nomer 7 Tahun 1960 tentang
Statistik. Sebagai pengganti kedua UU tersebut ditetapkan UU Nomor 16
Tahun 1997 tentang Statistik. Berdasarkan UU ini yang ditindaklanjuti
dengan peraturan perundangan dibawahnya, secara formal nama Biro
Pusat Statistik diganti menjadi Badan Pusat Statistik.
Gambar 2.1 Struktur Organisasi Badan Pusat Statistik
Sumber : [Link]
BPS Kabupaten Luwu Timur dipimpin oleh seorang Kepala yang
mempunyai tugas memimpin BPS Kabupaten Luwu Timur sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku : menetapkan
kebijakan teknis pelaksanaan tugas BPS yang menjadi tanggung
jawabnya, serta membina dan melaksanakan kerja sama dengan instansi
dan organisasi lain.
5
6
Kepala BPS Kabupaten Luwu Timur dibantu oleh seorang Kepala Subbag
dan 5 (lima) Kepala Seksi.
1. Sub Bagian Tata Usaha
Kepala Subbag Tata Usaha mempunyai tugas mengkoordinasikan
perencanaan, pembinaan, pengendalian administrasi, dan sumber
daya di lingkungan BPS.
2. Seksi Statistik Sosial
Kepala Seksi Statistik Sosial mempunyai tugas melaksanakan
perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang kegiatan statistik
sosial.
3. Seksi Statistik Produksi
Kepala Seksi Statistik Produksi mempunyai tugas melaksanakan
perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang statistik produksi.
4. Seksi Statistik Distribusi
Kepala Seksi Statistik Distribusi mempunyai tugas melaksanakan
perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang statistik distribusi.
5. Seksi Neraca, Wilayah dan Analisis Statistik
Kepala Seksi Neraca, Wilayah dan Analisis Statistik mempunyai tugas
melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang
neraca dan analisis statistik.
6. Seksi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik
Kepala Seksi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik
mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan
kebijakan di bidang pengolahan dan diseminasi statistic.
7
7. Tenaga Fungsional
Tenaga Fungsional yang mempunyai tugas melaksanakan kegiatan
sesuai dengan jabatan fungsional masing-masing berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2.2 Motivasi Kerja
Secara bahasa motivasi berasal dari kata motif yang berarti "dorongan"
atau rangsangan atau "daya penggerak" yang ada dalam diri
[Link] kamus Bahasa Indonesia diartikan: Sebab-sebab yang
menjadi dorongan tindakan seseorang; dasar pikiran dan pendapat; suatu
yang menjadi pokok. Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang
menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai
tujuan tertentu.
Nurdin (2018) motivasi adalah alasan yang mendasari sebuah
perbuatan yang dilakukan oleh seorang, alasan yang sangat kuat untuk
mencapai apa yang diinginkannya dengan mengerjakan pekerjaannya
yang sekarang.
Fadhil dan mayowan (2018) motivasi kerja merupakan keadaan dalam
pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan
kegiatan tertentu guna mencapai tujuan.
Himma (2017) mengatakan bahwa motivasi adalah dorongan-dorongan
yang timbul pada atau di dalam diri seorang individu yangmenggerakkan
dan mengarahkan perilaku.
Frismandiri (2017) menerangkan bahwa Direction or motivation is
essence, it is a skill in aligning employee and organization interest so that
behavior result in achievement of employee wants simultaneously with
attainment of organization objective (Motivasi adalah suatu keahlian dalam
8
mengarahkan pegawai dan organisasi agar mau bekerja secara berhasil,
sehingga dapat tercapai segala keinginan para pegawai sekaligus tercapai
tujuan organisasi).
Putra dan prasetya (2018) Motivasi kerja adalah penciptaaan daya
pendorong yang dapat mengakibatkan seseorang untuk berbuat atau
melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Jadi motivasi kerja adalah
2.3 Teori – Teori Motivasi Kerja
2.3.1 Teori Motivasi Maslow
Teori Maslow dalam Nurdin (2018), membagi kebutuhan manusia
sebagai berikut: Kebutuhan Fisiologis, kebutuhan rasa aman,
kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan Kebutuhan
Aktualisasi diri.
Teori Maslow mengasumsikan bahwa orang berkuasa memenuhi
kebutuhan yang lebih pokok (fisiologis) sebelum mengarahkan
perilaku memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi (perwujudan diri).
Kebutuhan yang lebih rendah harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum
kebutuhan yang lebih tinggi seperti perwujudan diri mulai
mengembalikan perilaku [Link] yang penting dalam
pemikiran Maslow ini bahwa kebutuhan yang telah dipenuhi memberi
motivasi. Apabila seseorang memutuskan bahwa ia menerima uang
yang cukup untuk pekerjaan dari organisasi tempat ia bekerja, maka
uang tidak mempunyai daya intensitasnya lagi.
Jadi bila suatu kebutuhan mencapai puncaknya, kebutuhan itu
akan berhenti menjadi motivasi utama dari perilaku. Kemudian
9
kebutuhan kedua mendominasi, tetapi walaupun kebutuhan telah
terpuaskan, kebutuhan itu masih mempengaruhi perilaku hanya
intensitasnya yang lebih kecil.
Setiap manusia dimotivasi oleh berbagai kebutuhan dan keinginan
ini muncul dalam urutan hirarki. Maslow mengidentifikasi dalam
urutan yang semakin meningkat. Adapun kelima tingkatan tersebut
adalah :
1. Kebutuhan Fisiologis ( Physiological Needs)
a. Teoritis : Kebutuhan pangan, sandang, papan, bebas dari rasa
sakit
b. Terapan : Ruang istirahat, air untuk minum, liburan, cuti, balas
jasa.
2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan Kerja (Safety & Securtiy
Needs)
a. Teoritis : perlindungan dan stabilitas
b. Terapan : pengembangan karyawan, kondisi kerja yang aman,
rencana - rencana senioritas, serikat kerja, tabungan,
uang pesangon, jaminan pensiun, asuransi.
3. Kebutuhan Sosial (Social Needs)
a. Teorits : Cinta, persahabatan, perasaan memiliki dan diterima
dalam kelompok, kekeluargaan dan sosialisasi.
b. Terapan : kelompok-kelompok kerja formal & informal,
kegiatan-kegiatan yang disponsori perusahaan, acara
10
peringatan.
4. Kebutuhan Penghargaan ( Esteem Needs)
a. Teoritis : Status atau kedudukan, kepercayaan diri,
pengakuan, reputasi dan prestasi, apresiasi,
kehormatan diri dan penghargaan.
b. Terapan : kekuasaan, ego, promosi, jabatan, hadiah, status.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization Needs)
a. Teoritis : Penggunaan potensi diri, pertumbuhan,
pengembangan diri.
b. Terapan : Menyelesaikan penugasan-penugasan yang bersifat
menantang, melakukan pekerjaan-pekerjaan kreatif,
pengembangan ketrampilan.
2.3.2 Teori Motivasi Prestasi Dari [Link]
Konsep penting lain dari teori motivasi yang didasarkan dari
kekuatan yang ada pada diri manusia adalah motivasi prestasi
menurut Mc Clelland seseorang dianggap mempunyai apabila dia
mempunyai keinginan berprestasi lebih baik daripada yang lain pada
banyak situasi Mc. Clelland menguatkan pada tiga kebutuhan dalam
Nurdin (2018), yaitu;
1. Kebutuhan prestasi, tercermin dari keinginan mengambil tugas
yang dapat dipertanggung jawabkan secara pribadi atas
perbuatannya. Orang- orang yang berorientasi prestasi
mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu yang dapat
dikembangkan, yaitu :
11
a. Menyukai pengambilan resiko yang layak (moderat) sebagai
fungsi ketrampilan, bukan kesempatan, menyukai suatu
tantangan dan menginginkan tanggung jawab pribadi bagi
hasil-hasil yang dicapai.
b. Mempunyai kecenderungan untuk menetapkan tujuan-tujuan
prestasi yang layak dan menghadapi resiko yang sudah
diperhitungkan. Salah satu alasan mengapa banyak
perusahaan berpindah ke program management by objectives
(MBO) adalah karena adanya korelasi positif antara penetapan
tujuan dan tingkat prestasi.
c. Mempunyai kebutuhan yang kuat akan umpan balik tentang apa
yang telah dikerjakannya.
d. Mempunyai ketrampilan dalam perencanaan jangka panjang
dan memiliki kemampuan-kemampuan organisasional.
2. Kebutuhan afiliasi, kebutuhan ini ditujukan dengan adanya
bersahabat.
3. Kebutuhan kekuasaan, kebutuhan ini tercermin pada seseorang
yang ingin mempunyai pengaruh atas orang lain, dia peka
terhadap struktur pengaruh antar pribadi dan ia mencoba
menguasai orang lain dengan mengatur perilakunya dan membuat
orang lain terkesan kepadanya, serta selalu menjaga reputasi dan
kedudukannya.
Mc Clelland berpendapat bahwa manusia dengan kebutuhan
prestasi yang tinggi dibagi ke dalam beberapa karakteristik sebagai
berikut :
12
1. Keinginan yang kuat untuk tanggung jawab pribadi.
2. Keinginan timbal balik yang cepat dan konkret dengan
mempertimbangkan hasil dari pekerjaan mereka.
3. Melakukan pekerjaan dengan baik, penghargaan moneter dan
materi lainnya berhubungan dengan prestasi.
4. Kecenderungan untuk mengatur tujuan prestasi yang layak.
5. Manusia dengan kebutuhan prestasi yang kuat akan
menghasilkan tingkat pencapaian tujuan yang tinggi.
6. Suka mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah.
7. Menentukan target-target pencapaian yang masuk akal.
8. Mengambil resiko-resiko dengan penuh perhitungan.
9. Berkemauan keras untuk memperoleh umpan balik atas
kinerjanya.
10) Mc Clelland beranggapan bahwa kebutuhan prestasi dapat
dikembangkan pada orang dewasa.
2.3.3 Teori X dan Y dari [Link]
Teori motivasi yang menggabungkan teori internal dan teori eksternal
yang dikembangkan oleh Mc. [Link] telah merumuskan dua
perbedaan dasar mengenai perilaku manusia. Kedua teori tersebut
disebut teori X dan Y. Teori tradisional mengenai kehidupan
organisasi banyak diarahkan dan dikendalikan atas dasar teori X.
Adapun anggapan yang mendasari teoriteori X menurut dalam Nurdin
(2018) sebagai berikut.
Rata-rata pekerja itu malas, tidak suka bekerja dan kalau bisa
akan menghidarinya. Karena pada dasarnya tidak suka bekerja maka
13
harus dipaksa dan dikendalikan, diperlakukan dengan hukuman dan
diarahkan untuk pencapaian tujuan [Link]-rata pekerja lebih
senang dibimbing, berusaha menghindari tanggung jawab,
mempunyai ambisi kecil, kemamuan dirinya diatas segalanya.
Teori ini masih banyak digunakan oleh organisasi karena para
manajer bahwa anggapan-anggapan itu benar dan banyak sifat-sifat
yang diamati perilaku manusia, sesuai dengan anggapan tersebut
teori ini tidak dapat menjawab seluruh pertanyaan yang terjadi pada
orgaisasi. Oleh karena itu, Mc. Gregor menjawab dengan teori yang
berdasarkan pada kenyataannya.
2.3.4 Teori Pengharapan
Teori pengharapan ini dikaji lebih lanjut oleh David .[Link] dan
Edward [Link] III dalam artikel “Motivation: Adiagnostic Approach”
tahun 1977. Banyak ahli perilaku yang berkesimpulan bahwa teori ini
paling komprehensif, valid dan berguna dalam memahami motivasi.
Seseorang mencurahkan waktu dan energinya pada pencapaian
sasaran organisasional sebagai penukar untuk reward yang diberikan
organisasi seperti uang, penghargaan, dan kesempatan berprestasi.
Reward ini dipandang sebagai motivator utama untuk kerjasama
individual dalam pencapaian sasaran organisasional. Sebuah model
hubungan motivasi individual dan reward organisasional adalah teori
expectancy dari David [Link] dan Edward [Link] III, 1977
(Usmara, 2006: 61) ditunjukkan dalam gambar.
Dalam model tersebut maka berikut ini penjelasan gambar
tersebut :
14
Gambar 2.2 Rangkaian Perilaku Motivasi Dasar
Sumber : Frismandiri (2017)
2.4 Faktor- Faktor Motivasi Kerja
Karyawan perlu memilki motivasi kerja yang tinggi dalam melaksanakan
tugas agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Motivasi kerja
merupakan suatu faktor pendorong bagi karyawan untuk bekerja lebih baik
dan ia dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain seperti yang
dikemukakan oleh Wahdjosumidjo (1992:92) faktor-faktor yang
mempengaruhi motivasi kerja adalah faktor ekstern dan intern. Faktor
ekstern antara lain adalah kebijakan yang telah ditetapkan, persyaratan
pekerjaan yang harus dipenuhi karyawan, tersedianya sarana dan
prasarana yang mendukung pelaksanaan pekerjaan, dan gaya
kepemimpinan terhadap bawahannya. Sedangkan faktor intern adalah
kemampuan bekerja, semangat kerja, tanggung jawab, rasa kebersamaan
dalam kehidupan kelompok, prestasi serta produktivitas kerja. Disamping
itu, Saydam dalam Kadarisman (2012:296) menyebutkan bahwa motivasi
kerja seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu faktor internal yang berasal dari proses psikologis
15
dalam diri seseorang, dan faktor eksternal yang berasal dari luar diri
(environment factors).
1. Faktor internal
a. Kematangan Pribadi
Orang yang bersifat egois dan kemanja-manjaan biasanya akan
kurang peka dalam menerima motivasi yang diberikan sehingga
agak sulit untuk dapat bekerjasama dalam membuat motivasi
kerja. Oleh sebab itu kebiasaan yang dibawanya sejak kecil, nilai
yang dianut, sikap bawaan seseorang sangat mempengaruhi
motivasinya.
b. Tingkat Pendidikan
Seorang karyawan yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih
tinggi biasanya akan lebih termotivasi karena sudah mempunyai
wawasan yang lebih luas dibandingkan karyawan yang lebih
rendah tingkat pendidikannya, demikian juga sebaliknya jika
tingkat pendidikan yang dimilikinya tidak digunakan secara
maksimal ataupun tidak dihargai sebagaimana layaknya oleh
manajer maka hal ini akan membuat karyawan tersebut
mempunyai motivasi yang rendah di dalam bekerja.
c. Keinginan dan Harapan Pribadi
Seseorang mau bekerja keras bila ada harapan pribadi yang
hendak diwujudkan menjadi kenyataan.
d. Kebutuhan
Kebutuhan biasanya berbanding sejajar dengan motivasi, semakin
besar kebutuhan seseorang untuk dipenuhi maka semakin besar
pula motivasi yang karyawan tersebut miliki untuk bekerja keras.
16
e. Kelelahan dan kebosanan
Faktor kelelahan dan kebosanan mempengaruhi gairah dan
semangat kerja yang pada gilirannya juga akan mempengaruhi
motivasi kerjanya.
f. Kepuasan kerja
Kepuasan kerja mempunyai korelasi yang sangat kuat kepada
tinggi rendahnya motivasi kerja seseorang. Karyawan yang puas
terhadap pekerjaannya akan mempunyai motivasi yang tinggi dan
comitted terhadap pekerjaannya.
2. Faktor Eksternal
a. Kondisi Lingkungan kerja
Lingkungan kerja pada keseluruhan sarana dan prasarana kerja
yang ada di sekitar karyawan yang sedang melakukan pekerjaan
yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan itu sendiri.
Lingkungan pekerjaan meliputi tempat bekerja, fasilitas dan alat
bantu pekerjaan, kebersihan, pencahayaan, ketenangan, termasuk
juga hubungan kerja antara orang-orang yang ada di tempat
tersebut.
b. Kompensasi yang memadai
Kompensasi yang memadai merupakan alat motivasi yang paling
ampuh bagi perusahaan untuk memberikan dorongan kepada para
karyawan untuk bekerja secara baik. Pemberian upah yang
rendah tidak akan membangkitkan motivasi para pekerja.
c. Supervisi yang Baik
Seorang supervisor dituntut memahami sifat dan karakteristik
bawahannya. Seorang supervisor membangun hubungan positif
dan membantu motivasi karyawan dengan berlaku adil dan tidak
17
diskriminatif, yang memungkinkan adanya fleksibilitas kerja dan
keseimbangan bekerja memberi karyawan umpan balik yang
mengakui usaha dan kinerja karyawan dan mendukung
perencanaan dan pengembangan karier untuk para karyawan.
d. Ada Jaminan Karier
Karier adalah rangkaian posisi yang berkaitan dengan kerja yang
ditempati seseorang sepanjang hidupnya. Para karyawan
mengejar karier untuk dapat memenuhi kebutuhan individual
secara mendalam. Seseorang akan berusaha bekerja keras
dengan mengorbankan apa yang ada pada dirinya untuk
perusahaan kalau yang bersangkutan merasa ada jaminan karier
yang jelas dalam melakukan pekerjaan. Hal ini dapat terwujud bila
perusahaan dapat memberikan jaminan karier untuk masa depan,
baik berupa promosi jabatan, pangkat, maupun jaminan
pemberian kesempatan dan penempatan untuk dapat
mengembangkan potensi yang ada pada diri karyawan tersebut.
e. Status dan Tanggung Jawab
Status atau kedudukan dalam jabatan tertentu merupakan
dambaan dan harapan setiap karyawan dalam bekerja. Karyawan
bukan hanya mengharapkan kompensasi semata, tetapi pada saat
mereka berharap akan dapat kesempatan untuk menduduki
jabatan yang ada dalam perusahaan atau instansi di tempatnya
bekerja. Seseorang dengan menduduki jabatan akan merasa
dirinya dipercayai, diberi tanggung jawab dan wewenang yang
lebih besar untuk melakukan kegiatannya.
18
f. Peraturan yang Fleksibel
Faktor lain yang diketahui dapat mempengaruhi motivasi adalah
didasarkan pada hubungan yang dimiliki para karyawan dalam
organisasi. Apabila kebijakan di dalam organisasi dirasa kaku oleh
karyawan, maka akan cenderung mengakibatkan karyawan
memiliki motivasi yang rendah.
Sedangkan menurut teori dua faktor Herzberg dalam Parinduri, dkk
(2017), faktor yang mempengaruhi motivasi karyawan, yaitu:
1. Faktor intrinsik
a. Prestasi (Achievement)
Prestasi (Achievement) artinya karyawan memperoleh
kesempatan untuk mencapai hasil yang baik (banyak dan
berkualitas) atau berprestasi. Kebutuhan akan prestasi, akan
mendorong seseorang untuk mengembangkan kreatifitas dan
mengarahkan semua kemampuan serta energi yang dimilikinya
demi mencapai prestasi kerja yang optimal. Seseorang akan
berpartisipasi tinggi, asalkan memungkinkan untuk hal itu
diberikan kesempatan.
b. Pengakuan (Recognition)
Pengakuan artinya karyawan memperoleh pengakuan dari pihak
perusahaan (manajer) bahwa ia adalah orang yang berprestasi,
dikatakan baik, diberi penghargaan, pujian, dimanusiakan dan
sebagainya. Faktor pengakuan adalah kebutuhan akan
penghargaan. Pengakuan dapat diperoleh melalui kemampuan
dan prestasi sehingga terjadi peningkatan status individu.
19
c. Pekerjaan Itu Sendiri (The work it self)
Untuk mencapai hasil karya yang baik, diperlukan orang-orang
yang memiliki kemampuan yang tepat. Ini berarti bahwa diperlukan
suatu program seleksi yang sehat dalam merekrut karyawan
sesuai pada kemampuannya.
d. Tanggung Jawab (Responsibility)
Tanggung jawab adalah keterlibatan individu dalam usaha-usaha
di setiap pekerjaan, seperti kesanggupan dan penguasaan diri
sendiri dalam menyelesaikan pekerjaannya. Diukur atau
ditunjukkan dengan seberapa jauh atasan memahami bahwa
pertanggungjawaban tersebut dilaksanakan dalam rangka
mencapai tujuan.
e. Pengembangan Potensi Individu (Advancement)
Pengembangan adalah suatu usaha untuk meningkatkan
kemampuan teknis, teoritis, konseptual, dan moral karyawan
sesuai dengan kebutuhan pekerjaan/jabatan melalui pendidikan
dan latihan.
2. Faktor ekstrinsik,
a. Gaji atau Upah (Wages Salaries)
Faktor yang penting untuk meningkatkan prestasi kerja, motivasi,
dan kepuasan kerja adalah dengan pemberian kompensasi.
Kompensasi berdasarkan prestasi dapat meningkatkan kinerja
seseorang yaitu dengan sistem pembayaran karyawan
berdasarkan prestasi kerja. Kompensasi akan berpengaruh untuk
meningkatkan motivasi kerja yang pada akhirnya secara langsung
akan meningkatkan kinerja individu.
20
b. Kondisi kerja (Working Condition)
Kondisi kerja adalah kondisi kerja adalah tidak terbatas hanya
pada kondisi kerja di tempat pekerjaan masing-masing seperti
kenyamanan tempat kerja, ventilasi yang cukup, penerangan,
keamanan, dan lain-lain, akan tetapi kondisi kerja yang
mendukung dalam menyelesaikan tugas yaitu sarana dan
prasarana kerja yang memadai sesuai dengan sifat tugas yang
harus diselesaikan. Betapapun positifnya perilaku manusia seperti
tercermin dalam kesetiaan yang besar, disiplin yang tinggi, dan
dedikasi yang tidak diragukan serta tingkat keterampilan yang
tinggi tanpa sarana dan prasarana kerja ia tidak akan dapat
berbuat banyak apalagi meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan
produktivitas kerjanya.
c. Kebijaksanaan dan Administrasi Perusahaan (Company policy
and administration)
Kebijaksanaan dan administrasi perusahaan atau organisasi
merupakan salah satu wujud umum rencana-rencana tetap dari
fungsi perencanaan (planning) dalam manajemen. Kebijaksanaan
(Policy) adalah pedoman umum pembuatan keputusan.
Kebijaksanaan merupakan batas bagi keputusan, menentukan apa
yang dapat dibuat dan menutup apa yang tidak dapat dibuat.
Kebijaksanaan berfungsi untuk menandai lingkungan di sekitar
keputusan yang dibuat, sehingga memberikan jaminan bahwa
keputusan-keputusan itu akan sesuai dan menyokong tercapainya
arah atau tujuan.
21
d. Hubungan antar Pribadi (Interpersonal Relation)
Hubungan antar pribadi (manusia) bukan berarti hubungan dalam
arti fisik namun lebih menyangkut yang bersifat manusiawi.
Penting bagi manajer untuk mencegah atau mengobati luka
seseorang karena miss communication (salah komunikasi) atau
salah tafsir yang terjadi antara pimpinan dan pegawai atau antar
organisasi dengan masyarakat luas. Salah satu manfaat hubungan
antar pribadi atau manusia dalam organisasi adalah pimpinan
dapat memecahkan masalah bersama pegawai baik masalah yang
menyangkut individu maupun masalah umum organisasi, sehingga
dapat menggairahkan kembali semangat kerja dan meningkatkan
produktivitas.
e. Kualitas Supervisi
Supervisi merupakan suatu upaya pembinaan dan pengarahan
untuk meningkatkan gairah dan prestasi kerja. Guna menjamin
para pegawai melakukan pekerjaan maka para manajer
senantiasa harus berupaya mengarahkan, membimbing,
membangun kerja sama, dan memotivasi mereka untuk bersikap
lebih baik sehingga upaya-upaya mereka secara individu dapat
meningkatkan penampilan kelompok dalam rangka mencapai
tujuan organisasi. Sebab dengan melakukan kegiatan supervisi
secara sistematis maka akan memotivasi pegawai untuk
meningkatkan prestasi kerja mereka dan pelaksanaan pekerjaan
akan menjadi lebih baik.
22
2.5 Kepuasan Kerja
Pitasari dan perdhana (2018) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai
keadaan emosi senang atau emosi positif yang berasal dari penilaian
pekerjaan atau pengalaman kerja seseorang
Arianto dan choliq (2019) Kepuasan kerja adalah sikap umum individu
yang berkaitan dengan pekerjaannya dengan kata lain kepuasaan di dapat,
ketika orang (karyawan) mendapat sesuatu hal dari apa yang dikerjakan
dan di terima dengan baik, setimpal dengan yang dikerjakan dan dapat
memenuhi apa yang diinginkan dengan melihat pada posisi apa yang di
kerjakan.
Arianto dan Choliq (2019) Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor
yang sangat penting bagi seorang karyawan untuk menghasilkan hasil
kerja yang optimal.
Changgriawan (2017), kepuasan kerja karyawan adalah perasaan positif
yang terbentuk dari penilaian karyawan terhadap pekerjaannya
berdasarkan persepsi karyawan mengenai seberapa baik pekerjaannya,
yang berarti bahwa apa yang diperoleh dalam bekerja sudah memenuhi
apa yang dianggap penting.
2.6 Teori Kepuasan Kerja
Teori kepuasan kerja yang dikemukakan Ilahi dkk,(2017) :
1. Teori keseimbangan (equity theory)
teori ini dikembangkan oleh Adams. Wexley dan Yukl dalam
mengemukakan komponen utama dari teori ini adalah : Input adalah
suatu nilai yang diberikan karyawan saat melaksanakan
pekerjaannya, Outcome adalah semua nilai yang diperoleh karyawan
dari pekerjaannya, Comparison person adalah seorang pegawai yang
23
berada dalam organisasi yang sama ataupun diluar organisasi, atau
dirinya sendiri dalam pekerjaan sebelumnya, Equity – inequity adalah
suatu yang dirasakan karyawan adil atau tidak adil.
2. Teori perbedaan (Discrepancy Theory)
Teori ini pertama kali dikemukan oleh Porter. Ia berpendapat bahwa
mengukur kepuasan kerja dapat dilakukan dengan cara menghitung
selisih antara apa yang seharusnya dengan kenyataan yang dirasakan
pegawai. Locke (1996) mengemukakan bahwa kepuasan kerja
pegawai bergantung pada perbedaan antara apa yang didapat dan
apa yang diharapkan oleh pegawai.
3. Teori pemenuhan kebutuhan (Need Fulfillment Theory)
Teori ini kepuasan kerja pegawai bergantung pada terpenuhinya atau
tidak nya kebutuhan pegawai.
4. Teori pandangan kelompok (Social Reference Group Theory)
Pada teori ini, kepuasan kerja karyawan bukanlah bergantung pada
pemenuhan kebutuhan saja, tetapi juga bergantung pada pandangan
dan pendapat kelompok yang dianggap sebagai kelompok acuan.
5. Teori dua faktor dari Herzberg
Teori ini kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja itu terpisah dan
berbeda. Teori ini merumuskan dua faktor yaitu satisfies atau
motivators dan dissatisfies atau hygiene factors.
6. Teori pengharapan (expectancy theory) Vroom menjelaskan bahwa
motivasi merupakan suatu produk dari bagaimana seorang
menginginkan sesuatu, dan penaksiran seseorang memungkinkan aksi
tertentu yang menuntunnya.
24
2.7 Faktor – Faktor Kepuasan Kerja
Pitasari dan Perdhana (2018) faktor – faktor kepuasan kerja yaitu :
1. Isi Pekerjaan
Kepuasan kerja mengenai isi pekerjaan atau juga disebut kepuasan
mengenai pekerjaan itu sendiri merupakan sumber utama kepuasan
(Luthans, 2006). Umpan balik pekerjaan terhadap pekerjaan itu sendiri
dan otonomi merupakan dua faktor motivasi utama yang berhubungan
dengan pekerjaan. Karakteristik pekerjaan dan kompleksitas pekerjaan
berhubungan dengan kepuasan kerja. Selain itu, terpenuhinya
persyaratan kreatif kerja juga meningkatkan kepuasan kerja. Yanseen
(2013) juga mengungkapkan hasil senada bahwa isi pekerjaan
berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja karyawan. Kepuasan
mengenai isi pekerjaan dibentuk dari otonomi kerja dan kejelasan
peran. Berkaitan dengan otonomi kerja, Belias et al., (2015)
menjelaskan bahwa otonomi meningkatkan keleluasaan karyawan
terhadap kontrol dan pembuatan keputusan terkait pekerjaan,
sehingga karyawan menghasilkan resolusi konflik yang lebih efektif
dan karenanya berpengaruh positif terhadap seluruh aspek kepuasan
kerja. Wheatley (2017) mengungkapkan bahwa tingginya otonomi atas
tugas dan waktu pengerjaannya akan meningkatkan kepuasan kerja
dan kenyamanan. Sementara terkait kejelasan peran, Doris et al.,
(2016) mengungkapkan kejelasan peran berhubungan positif dengan
kepuasan kerja. Karyawan yang memiliki pemahaman yang jelas
tentang dirinya dan tugas yang dimilikinya akan cenderung puas
terhadap pekerjaannya.
25
2. Manajemen
Kepuasan terhadap manajemen adalah sistem manajemen yang
mampu memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil. Aspek
tersebut diindikasikan dari evaluasi kinerja dan dukungan manajemen.
Hasil penelitian Tansel dan Gazioglu (2013) mengungkapkan bahwa
manajemen yang kurang baik menjadi sumber utama tingkat kepuasan
kerja yang rendah. Reza et al., (2015), Swarnalatha dan Sureshkrishna
(2012) serta Parvin dan Kabir (2011) juga mengungkapkan faktor
manajemen berpengaruh terhadap kepuasan kerja. Evaluasi kinerja
adalah suatu metode dan proses penilaian dan pelaksanaan tugas
seseorang atau sekelompok orang atau unit-unit kerja dalam satu
perusahaan atau organisasi sesuai dengan standar kinerja atau tujuan
yang ditetapkan lebih dahulu. Evaluasi kinerja merupakan cara yang
paling adil dalam memberikan imbalan atau penghargaan kepada
pekerja. Tujuan evaluasi kinerja adalah untuk menjamin pencapaian
sasaran dan tujuan perusahaan dan juga untuk mengetahui posisi
perusahaan dan tingkat pencapaian sasaran perusahaan, terutama
untuk mengetahui bila terjadi keterlambatan atau penyimpangan
supaya segera diperbaiki, sehingga sasaran atau tujuan tercapai. Hasil
evaluasi kinerja individu dapat dimanfaatkan untuk banyak
penggunaan yaitu untuk peningkatan kinerja, pengembangan SDM,
pemberian kompensasi, program peningkatan produktivitas, program
kepegawaian dan menghindari perlakuan diskriminasi (Robbins, 2012).
3. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja adalah suasana atau lingkungan kerja fisik dimana
sekelompok individu bekerja untuk mencapai suatu tujuan (Desa, et
al., 2018:3). Kepuasan terhadap lingkungan kerja adalah perasaan
26
mengenai segala sesuatu yang ada di sekitar karyawan pada saat
bekerja, baik yang berbentuk fisik ataupun non fisik, langsung atau
tidak langsung, yang dapat memengaruhi dirinya dan pekerjaanya saat
bekerja. Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik
yang terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi
karyawan baik secara langsung maupun scara tidak langsung. Tio
(2014) menjelaskan bahwa lingkungan kerja fisik merupakan salah
satu komponen dari lingkungan kerja, selain lingkungan manusia dan
lingkungan organisasi. Lingkungan kerja fisik meliputi luas ruang kerja,
privasi ruang kerja, infrastruktur ruang kerja, peralatan kerja,
kebisingan, suhu dan pencahayaan.
Lingkungan kerja non-fisik meliputi hubungan atasan dengan bawahan
dan hubungan antar rekan kerja. Indikator hubungan atasan dengan
bawahan adalah kedekatan hubungan dengan atasan dan
transparansi (Parvin dan Karbin, 2011). Raziq dan Maulabakhash
(2015) mengungkapkan bahwa atasan yang tidak memberikan rasa
hormat kepada bawahan, atasan yang menunjukkan perilaku kasar
kepada bawahan, atasan yang tidak memberikan rasa nyaman saat
berbagi gagasan, serta kurangnya menghargai tindakan inovatif yang
dilakukan bawahan, merupakan hal-hal yang menurunkan kepuasan
kerja karyawan terhadap atasan. Lin dan Lin (2011) mengungkapkan
bahwa hubungan antar rekan kerja adalah persepsi karyawan
mengenai hubungannya dengan rekan kerja. Interaksi kelompok kerja
dan dukungan rekan kerja berkorelasi positif dengan kepuasan kerja.
Hubungan rekan kerja juga merupakan aspek dari kepuasan terhadap
lingkungan kerja (Raziq dan Maulabakhash, 2015). Hubungan rekan
kerja yang dapat meningkatkan kepuasan kerja meliputi persahabatan,
27
penerimaan dan kesetiaan yang dibangun diantara anggota kelompok
(Lin dan Lin, 2011). Lin dan Lin (2011) mengungkapkan bahwa
kualitas hubungan rekan kerja menunjukkan efektifitas komunikasi
antara kedua belah pihak, serta mencerminkan seberapa baik kedua
belah pihak saling berkoordinasi.
4. Kompensasi
Kepuasan kerja mengenai kompensasi merupakan faktor multidimensi
dalam kepuasan kerja (Luthans, 2006). Menurut Dessler (2010)
kompensasi adalah semua bentuk pembayaran atau imbalan yang
diberikan perusahaan kepada karyawan. Dimana terdapat dua
pembayaran yaitu pembayaran langsung (gaji, upah, insentif, bonus
dan komisi) dan pembayaran tidak langsung (tunjangan) Gaji adalah
balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawannya baik
yang bersifat finansial maupun non-finansial pada periode yang tetap.
Gaji berpengaruh terhadap kepuasan kerja (Malik et al., 2012).
Menurut Teori Dua Faktor, gaji menjadi salah satu faktor hygiene dari
ketidakpuasan kerja. Dipboye, et al (1994) menyatakan bahwa
karyawan selalu menginginkan sistem penggajian yang sesuai dengan
pekerjaan, tingkat ketrampilan individu, dan standar pembayaran
masyarakat pada umumnya, maka kepuasan yang dihasilkan akan
juga tinggi. Reward juga dapat berupa finansial yaitu berbentuk gaji,
upah, bonus, komisi, asuransi karyawan, bantuan sosial karyawan,
tunjangan, libur atau cuti tetapi tetap dibayar, dan sebagainya. Reward
non-financial seperti tugas yang menarik, tantangan tugas, tanggung
jawab tugas, peluang kenaikan pangkat, pengakuan, dan lain-lain
(Sufron, 2015). Sementara itu, Mathis dan Jackson (2002)
mengungkapkan bahwa reward dapat berbentuk intrinsik (internal)
28
atau ekstrinsik (eksternal). Intrinsic reward yaitu penghargaan yang
diberikan dalam bentuk job enrichment, pemberian tanggung jawab,
partisipasi dalam pengambilan keputusan dan upaya upaya lain untuk
meningkatkan kepercayaan para karyawan dan mendorong mereka
lebih unggul. Sedangkan extrinsic reward yaitu penghargaan yang
diberikan kepada karyawan dalam bentuk direct compensations,
indirect compensations dan non-financial rewards.
5. Promosi
pensasi yang tinggi pula. Penempatan karyawan ke hierarki yang lebih
tinggi di organisasi tersebut biasanya juga mengarah kepada
peningkatan tanggung jawab sekaligus kompensasi yang lebih tinggi
pula (Malik et al., 2012). Promosi menjadi bagian vital dalam proses
pengembangan karir di perusahaan. Promosi adalah konstituen dari
sistem mobilitas perusahaan yang menawarkan bentuk penghargaan
nyata dan status kepada karyawan, yang pada akhirnya akan
berfungsi untuk meningkatkan atau menurunkan motivasi kerja
karyawan (Rosenbaum, 1984). Kepuasan terhadap promosi kerja
adalah perasaan karyawan mengenai kemungkinan seseorang dapat
berkembang melalui kenaikan jabatan. Pendapat hampir senada
dikemukakan oleh Heery dan Noon (2001) bahwa promosi berarti
mendapatkan status tinggi di tempat kerja dengan melakukan
pekerjaan yang efektif, serta secara umum akan meningkatkan status,
posisi dan remunerasi karyawan dalam perusahaan. Sistem promosi
adalah sistem yang diterapkan perusahaan dalam melaksanakan
promosi kerja. Kesempatan promosi adalah peluang yang dimiliki oleh
karyawan untuk mendapatkan promosi di perusahaan. Kesempatan
tersebut akan memberikan nilai tersendiri bagi karyawan, yang
29
merupakan bukti pengakuan perusahaan terhadap prestasi yang
dicapai oleh karyawan. Selain itu, kesempatan promosi juga berarti
karyawan memiliki kesempatan untuk pertumbuhan pribadi, untuk lebih
bertanggung jawab dan meningkatkan status sosial.
6. Pelatihan Kerja
Pelatihan kerja merupakan upaya organisasi yang direncanakan untuk
membantu karyawan terkait pengetahuan, ketrampilan dan perilaku,
dengan tujuan hasil pelatihan tersebut diterapkan dalam pekerjaan
karyawan (Noe et al., 2011). Basir dan Wahjono (2014), menjelaskan
bahwa pelatihan mempunyai peran penting dalam perusahaan untuk
membangun kompetensi karyawan. Pelatihan juga meningkatkan
pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan karyawan untuk
mendapatkan jabatan yang stabil di masa mendatang. Hasil penelitian
Basir dan Wahjono (2014) dan Chiang et al (2005) mengungkapkan
bahwa pelatihan kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja
karyawan. Kepuasan mengenai pelatihan diindikasikan dengan
adanya efektifitas pelatihan, yaitu seberapa jauh keberhasilan dari
tujuan dari pelaksanaan pelatihan karyawan. Efektifitas pelatihan
ditunjukkan dari adanya perubahan perilaku; peningkatan
pengetahuan, ketrampilan dan sikap; hasil subtansial dan terukur; dan
reaksi karyawan terkait manfaat yang dirasakan dan peningkatan
kinerjanya (Hung, 2010). Pelatihan yang efektif akan mendorong
munculnya kepuasan kerja dalam kaitannya dengan pelaksanaan
pekerja yang maksimal akibat adanya peningkatkan pengetahuan,
ketrampilan dan kemampuan kerja yang disebabkan pelatihan (Tovey
et al., 2010).
30
2.8 Metode Job Diagnostic Survey (JDS)
Menurut Pujotomo, dkk (2017) Metode Job Diagnostic Survey (JDS) ini
dirancang oleh Hackman dan Oldham pada tahun 1980 dan merupakan
instrument untuk mengukur tingkat potensi motivasi kerja seseorang dalam
bentuk kuesioner dengan berdasarkan Model karakteristik Jabatan
Hackman dan Oldham (Job Characteristic Model) yang dipopulerkan tahun
1976. Model ini menyatakan bahwa seorang pegawai akan lebih
termotivasi dalam melakukan pekerjaan jika jabatan tersebut memiliki atau
memenuhi dimensi inti jabatan yang baik. Dimensi inti jabatan ini akan
mempengaruhi critical phycological state dan pada akhirnya akan
memepengaruhi hasil kerja (work outcomes). Jika suatu jabatan memiliki
dimensi inti jabatan yang cukup, maka hasil kerja karyawan akan baik dan
di ikuti oleh tingginya motivasi karyawan
Karakteristik pekerjaan yang diteliti adalah karakteristik pekerjaan
menurut Hackman J.R. dan G.R. Oldham, yaitu : variasi ketrampilan,
identitas tugas, signifikansi tugas, otonomi, dan umpan balik pekerjaan.
Aspek-aspek ini dapat berfungsi sebagai pendorong motivasi positif bagi
para pekerja untuk dapat mengerjakan suatu pekerjaan secara efektif dan
efisien yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan performansi kerja
pekerja.
Menurut Hackman, J. Richard dalam Pujotomo (2017) untuk
mengetahui besarnya potensi motivasi seorang karyawan, maka dilakukan
perhitungan skor potensi motivasi (Motivational Potential Score (MPS))
sebagai berikut :
𝒗𝒂𝒓 𝒊𝒆𝒕𝒚 + 𝒊𝒅𝒆𝒏𝒕𝒊𝒕𝒚 + 𝒔𝒊𝒈𝒏𝒊𝒇𝒊𝒄𝒂𝒏𝒄𝒆
𝑴𝑷𝑺 = 𝒙 𝒐𝒕𝒐𝒏𝒐𝒎𝒊 𝒙 𝒇𝒆𝒆𝒅𝒃𝒂𝒄𝒌
𝟑
…………… ……………….……..…………….2.1
31
Berdasarkan besarnya nilai MPS, Skor potensi motivasi seorang
pegawai di kelompokan dalam tiga kelompok, yaitu
1. Kelompok tingkat motivasi rendah dengan skor JDS 1-16
2. Kelompok tingkat motivasi menengah dengan skor JDS 17 - 43
3. Kelompok tingkat motivasi tinggi dengan skor JDS 44-12
2.9 Metode Minnesota satisfaction Questionnaire (MSQ)
Pawesti dan Wikansari (2016) Metode Minnesota satisfaction
Questionnaire (MSQ) merupakan instrumen yang dirancang oleh Weiss,
Dawis, England dan Lofquist pada tahun 1967. Metode MSQ menilai
tingkat kepuasan kerja karyawan berdasarkan dua puluh variabel kepuasan
kerja yang terbagi atas faktor internal dan eksternal. Keduapuluh variabel
kepuasan kerja tersebut diperinci sebagai berikut:
Faktor intrinsik:
1. Penggunaan kemampuan, yaitu kesempatan untuk melakukan sesuatu
dengan menggunakan kemampuan, keahlian dan ketrampilan yang
dimilikinya.
2. Aktivitas, yaitu tingkat kesibukan melakukan pekerjaan setiap waktu.
3. Promosi, yaitu kesempatan untuk mendapatkan promosi dalam
pekerjaannya.
4. Prestasi, yaitu tingkat keberhasilan/kepuasan yang diperoleh dalam
pekerjaannya.
5. Wewenang, yaitu kesempatan untuk mengatur/memimpin orang lain.
6. Kreativitas, yaitu kesempatan untuk mencoba metode sendiri dalam
penyelesaian tugas.
7. Independensi, yaitu kesempatan untuk bekerja seorang diri dalam
menyelesaikan tugas.
8. Aktivitas sosial, yaitu kesempatan untuk dapat membantu orang lain.
32
9. Tanggung jawab, yaitu kebebasan untuk menggunakan keputusannya
sendiri.
10. Variasi, yaitu kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berbeda
dari waktu ke waktu.
11. Status sosial, yaitu kesempatan untuk menjadi seseorang yang berari
di lingkungan pekerjaannya.
12. Moral, yaitu melakukan hal-hal yang tidak bertentangan dengan hati
nurani.
Faktor ekstrinsik :
1. Perusahaan, yaitu tingkat kepuasan karyawan terhadap kebijakan
perusahaan.
2. Gaji, yaitu tingkat upah yang diterima sesuai dengan pekerjaannya.
3. Rekan kerja, yaitu tingkat hubungan/interaksi antara sesama rekan
kerja
4. Penghargaan, yaitu tingkat pengakuan yang diterima atas hasil kerja
yang dicapai.
5. Keamanan pekerjaan, yaitu tingkat jaminan terhadap kelangsungan
pekerjaannya.
6. Pengawasan (operasional), yaitu bagaimana atasan menangani atau
mengatur para karyawannya.
7. Pengawasan (teknis), yaitu tingkat wewenang pimpinan dalam
mengambil keputusan.
8. Kondisi kerja, yaitu bagaimana kondisi lingkungan pekerjaan
karyawan.
Perhitungan besarnya tingkat kepuasan kerja karyawan dengan metode
MSQ dilakukan dengan menjumlahkan rata-rata jawaban dari tiap item
33
pertanyaan yang berjumlah 20 . Dalam hal ini masing-masing pertanyaan
mewakili satu dimensi kerja.
Tingkat Kepuasan Kerja = Vn = V1+ V2 + V3 + …. + V20
……………………………………….……..…………….2.2
Dimana :
Vn = nilai rata-rata jawaban tiap pertanyaan
V1,V2,…….V20 = Nilai rata-rata jawaban tiap pertanyaan
Besarnya nilai kepuasan kerja dapat dikelompokkan alam 3 kategori
yaitu:
1. 0-40 : memiliki tingkat kepuasan rendah.
2. 40-60 : memiliki tingkat kepuasan sedang.
3. 60-100 : memiliki tingkat kepuasan tinggi.
2.10 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang berkenaan dengan penelitian yang diangkat
oleh penulis dipaparkan dibawah ini :
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No. NamaPenelitian Judul Hasil
1. Ramadhita, dkk Pengaruh motivasi hasil perhitungan menggunakan
(2017) kerja dan Metode JDS tingkat motivasi
kepuasan kerja kerja pegawai Dinas Koperasi
terhadap kinerja dan UMKM Provinsi Banten
masuk dalam kategori tinggi
yaitu sebesar70,2 hal ini dapat
dilihat pada skor potensi
motivasi. hasil perhitungan MSQ
34
tingkat kepuasan kerja pegawai
Dinas Koperasi dan UMKM
Provinsi Banten masuk dalam
kategori tinggi yaitu sebesar
73,8 hal ini dapat dilihat pada
skor kepuasan kerja.
2. Pratama, dkk Pengaruh motivasi Motivasi kerja dan kepuasan
(2017) kerja dan kerja secara simultan
kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap
terhadap kinerja kinerja karyawan Giant Mall
karyawan. Olympic Garden Malang,
ditunjukkan dengan nilai
signifikansi F sebesar 0,000
lebih kecil α = 0,05 (0,000 <
0,05) dan mampu memberikan
kontribusi terhadap variabel lain.
Kepuasan kerja secara parsial
berpengaruh signifikan terhadap
kinerja karyawan Giant Mall
Olympic Garden Malang,
ditunjukkan dengan
nilaisignifikasi t sebesar 0,000
lebih kecil α = 0,05 (0,000 <
0,05) dengan koefisien regresi
sebesar 0,411.
3. Subariyanti, H. Hubungan motivasi Hubungan variabel motivasi
35
(2017) kerja dan kerja dengan kinerja karyawan
kepuasan kerja di PTLR BATAN berhubungan
terhadap kinerja secara positif dan signifikan
karyawan PTLR sedang. Dilihat dari dimensi
Batan motivasi kerja di PTLR BATAN
yang diamati dalam penelitian
ini, masih menunjukkan hasil
yang belum memuaskan. Hal ini
diketahui dari semangat
menjalankan pekerjaan yang
masih lemah. dikarenakan
jenjang karir yang tidak jelas
(kenaikan jabatan seringkali
dipilih secara subjektif).
Hubungan variabel kepuasan
kerja dengan kinerja karyawan
di PTLR BATAN berhubungan
secara positif dan signifikan
sedang. Dilihat dari dimensi
kepuasan kerja di PTLR BATAN
yang diamati dalam penelitian
ini, masih menunjukkan hasil
yang belum memuaskan. Hal ini
diketahui dari tingkat kepuasan
karyawan terhadap
pekerjaannya yang masih lemah
36
dikarenakan semangat
dorongan dari pimpinan yang
berupa pengakuan dan
penghargaan atas prestasi kerja
yang belum maksimal (reward
and punishment yang belum
berlaku).
4. Timothy, I. (2017) Pengaruh motivasi Motivasi Kerja tidak
kerja dan berpengaruh signifikan positif
kepuasan kerja terhadap Kinerja Karyawan PT.
terhadap kinerja Cocacola Amatil Indonesia
karyawan PT. Surabaya. Kepuasan Kerja
COLACOLA berpengaruh signifikan positif
AMATIL terhadap Kinerja Karyawan PT.
INDONESIA Cocacola Amatil Indonesia
SURABAYA Surabaya. Kepuasan Kerja
memberi pengaruh yang lebih
dominan terhadap Kinerja
Karyawan PT. Cocacola Amatil
Indonesia Surabaya daripada
Motivasi Kerja.
BAB III
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
3.1 Kerangka Berfikir
Badan Pusat Statistik adalah Lembaga Pemerintah Non-Departemen
yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Sebelumnya, BPS
merupakan Biro Pusat Statistik, yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 6
Tahun 1960 tentang Sensus dan UU Nomer 7 Tahun 1960 tentang
Statistik. Sebagai pengganti kedua UU tersebut ditetapkan UU Nomor 16
Tahun 1997 tentang Statistik. Berdasarkan UU ini yang ditindaklanjuti
dengan peraturan perundangan dibawahnya, secara formal nama Biro
Pusat Statistik diganti menjadi Badan Pusat Statistik.
Masalah yang terjadi pada kantor BPS [Link] Timur menunjukkan
motivasi kerja yang belum optimal,hal ini pada saat jam kantor banyak
pegawai yang bermalas-malasan bekerja, menonton televisi, bermain hp,
membaca koran dan juga mengobrol, ketika pegawai yang turun ke
lapangan untuk mengambil data biasanya pegawai singgah untuk minum
kopi di kafe yang tidak menunjang profesinya, tingkat kehadiran pegawai
setelah jam istirahat selesai banyak pegawai yang terlambat kembali ke
kantor dari tingkat penyelesaiannya yang akhirnya dapat menghambat
penyelesaian tugas bagi pegawai (Hasil observasi dan Wawancara).
Untuk dapat mengatasi masalah motivasi kerja dan kepuasan kerja
pegawai kantor BPS Kab. Luwu Timur menggunakan metode Job
Diagnostic Survey (JDS) dan metode Minnesota Satisfaction Questionniare
(MSQ). Metode JDS mengukur motivasi berdasarkan variabel internal,
sedangkan variabel eksternal diukur berdasarkan persepsi dan perasaan
pribadi individu karyawan terhadap variabel eksternal tersebut sedangkan
37
38
metode MSQ merupakan metode pengukuran kepuasan kerja dengan
berdasarkan dua belas variabel internal dan delapan variabel eksternal.
Keduapuluh variabel kepuasan kerja tersebut diukur dengan melihat
seberapa besar kesempatan yang diberikan lingkungan kerjanya yaitu
pihak instansi dan orang–orang yang ada disekitarnya terhadap
pemenuhan variabel-variabel kepuasan kerja.
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi informasi bermanfaat bagi
kantor BPS [Link] Timur dalam menentukan upaya-upaya yang sesuai
untuk diterapkan dalam rangka meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja
pegawainya.
Adapun uraian kerangka konsep dapat dilihat pada gambar 3.1 di
bawah ini.
Permasalahan pada kantor
BPS [Link] Timur.
Penetapan tujuan
Studi pendahuluan penelitian
Merumuskan masalah terkait identifikasi
faktor motivasi dan kepuasan kerja
Penentuan
responden
Proses perhitungan Penyebaran
JDS dan MSQ kuisioner
motivasi dan
kepuasan kerja
Mengidentifikasi faktor yang
berpengaruh terhadap motivasi dan
kepuasan kerja Rekomendasi usulan
perbaikan motivasi dan
kepuasan kerja
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian dalam penulisan ini dilakukan di Kantor BPS Kab.
Luwu Timur, Jl. Ki Hajar Dewantara, Puncak Indah, Malili, Kabupaten Luwu
Timur,Sulawesi Selatan selama tiga (3) bulan .
4.2 Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data
a. Data kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari BPS Kab. Luwu Timur.
2. Sumber Data
a. Data primer, yaitu data yang diperoleh dengan pengamatan secara
langsung pada obyek penelitian, misalnya hasil pengamatan dan
wawancara langsung terhadap pihak perusahaan.
b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari bahan dokumen dan
bahan laporan tentang jenis penelitian yang berkaitan dengan
penelitian ini.
4.3 Metode Pengumpulan Data
1. Penelitian kepustakaan (Library search)
Penelitian kepustakaan merupakan sumber yang diperoleh dari buku-
buku baik teks perkuliahan, jurnal, artikel, dokumen, internet dan sumber
referensi lain yang juga diambil dari contoh penelitian sebelumnya.
2. Penelitian lapangan
Penelitian lapangan adalah suatu bentuk pengumpulan data yang
dilakukan melalui penelitian langsung pada objek penelitian dengan
menggunakan beberapa teknik pengumpulan data antara lain:
39
40
a. Observasi adalah penelitian dengan jalan mengamati secara
langsung objek penelitian.
b. Wawancara adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan
tanya jawab langsung dengan narasumber yang bersangkutan
dengan penelitian ini.
4.4 Langkah-Langkah Penelitian
Dalam penelitian ini dibutuhkan langkah-langkah yang mendukung
proses pengumpulan data penelitian serta pendekatan konsep-konsep
keilmuan yang berhubungan, antara lain:
1. Pembagian Kuisioner kepada pegawai kantor BPS Kab. Luwu Timur.
2. Pemahaman konsep aplikasi SPSS
3. Pendalaman Job Diagnostic Survey (JDS) dan metode Minnesota
Satisfaction Questionniare (MSQ).
4.5 Tahap-Tahap Penerapan Job Diagnostic Survey (JDS) dan Minnesota
Satisfaction Questionniare (MSQ)
Model motivasi yang digunakan menggunakan model Karakteristik
Jabatan Hackman dan Oldham dengan model JDS yang terdiri dari lima
variabel dimensi inti jabatan, yaitu variasi keterampilan, identitas tugas,
signifikansi tugas, otonomi dan umpan balik.
Model kepuasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model
hasil penelitian Weiss, Dawis, England dan Lofquist tahun 1967 tentang
kepuasan kerja. Model ini mendefinisikan variabel yang mempengaruhi
kepuasan kerja menjadi dua belas buah variabel intrinsik dan delapan
buah variabel ekstrinsik. Variabel intrinsik yaitu penggunaan kemampuan,
promosi, wewenang, kreativitas, independensi, tanggung jawab, aktivitas
sosial, variasi, status sosial, aktivitas, prestasi, dan moral. Sedangkan
41
variabel ekstrinsik yaitu perusahaan, gaji, rekan kerja, penghargaan,
keamanan, pengawasan (operasional), pengawasan (teknis) dan kondisi
kerja.
42
4.6 Flow Chart
Mulai
Penentuan perumsan masalah
Penentuan tujuan penelitian
Penentuan manfaat penelitian
Penentuan responden
Pembuatan,penyebaran dan pengumpulan kuesioner
Uji validitas dan reliabilitas
Data tidak
Valid Reliabel
digunakan
Pengumpulan dan pengolahan data
Analisa dan pembahasan
Kesimpulan dan saran
Selesai
Gambar 4.1 Flowchart
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, S., dan Fakhri, M. (2016). Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja
Karyawan Pada PT. GRAMEDIA ASRI Cabang Emerald Bintaro. Jurnal
Computech & Bisnis, 10 (2) : 119 – 127
Arianto, D. [Link] Choliq, A. (2019). Pengaruh Kepribadian Terhadap Kepuasan
Kerja Karyawan Starwood Frniture Indonesia. Jurnal Ekonomi Bisnis &
Entrepereurshi, 12(1) : 25 – 34
Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Timur 2016, Struktur Organisasi. [2 Juni
2020]. [Link]
Changgriawan, G.S.(2017). Pengaruh Kepuasan Kerja dan Motivasi Kerja
Terhadap Kinerja Karyawan Di One Way Production. AGORA, 5(3)
Fadhil, A., dan Mayowan, Y. (2018). Pengaruh Motivasi Kerja dan Kepuasan
Kerja Terhadap Kinerja Karyawan AJB BUMIPUTERA. Jurnal Administrasi
Bisnis, 54 (1) : 40 – 47
Frismandiri, D. (2017). Analisis Pengaruh Karakteristik Pekerjaan, Kepuasan
Kerja, Dan Komitmen Terhadap Kinerja Karyawan. Jurnal Ekonomi
Modernisasi, 3(2) : 114 – 134
Himma, M. (2017). Analisis Pengaruh Faktor Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja
Karyawan Politeknik Negeri Malang. Jurnal Administrasi dan Bisnis, 11(2)
:147 – 161
Ilhi, dkk (2017). Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Disiplin Kerja Dan
Komitmen Organisasional. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), 44(1) : 31 – 39
Nurdin, I. B. (2018). Faktor – Faktor Motivasi Kerja Pada Karyawan Lembaga
Huda Group Di Kecematan Tamansari Kabupaten Bogor. Jurnal Manajemen
Pendidikan Islam, 1(1) : 70 – 97
Putra, R. E. dan Prasetya, A.(2018). Pengaruh Program Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja Terhadap Motivasi Kerja Dan Kinerja Karyawan. Jurnal
Administrasi Bisnis, 56(2) :153 – 159
Parinduri, dkk (2017). Pengaruh Disiplin Dan Komitmen Terhadap Motivasi Kerja
Karyawan Di Pabrik Kelapa Sawit PTPN I Tanjung Seumantoh, Aceh
Tamiang. Seminar Nasional [Link] :1 – 8
Pitasari, N. A. dan Perdhana, M. S.(2018). Kepuasan Kerja Karyawan : STUDI
LITERATUR. Diponegoro Journal Of Managemen, 7(4) : 1 – 11
Pujotomo,dkk (2017). Pengukuran Motivasi Kerja Panitia Pengadaan Barang
Atau Jasa Pemerintah. TEKNIK, 31(2) : 124 – 130
Pawesti, R. dan Wikansari, R. (2016). Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap
Intensi Turnover Karyawan Di Indonesia. Jurnal Ecopsy, 3(2) :49 – 67
Pratama, dkk (2017). Pengaruh Motivasi Kerja Dan Kepuasan Kerja Terhadap
Kinerja Karyawan. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), 47(1) : 47 – 55
Ramadhita, dkk (2017). Pengaruh Motivasi Dan Kepuasan Kerja Terhadap
Kinerja. Jurnal Teknik Industri, 5(2) : 190 – 196
Subariyanti, H.(2017). Hubungan Motivasi Kerja dan Kepuasan Kerja Terhadap
Kinerja Karyawan PTLR Batan. Jurnal Ecodemica, 1(2) : 224 – 232
Timothy, I. (2017). Pengaruh Motivasi Kerja Dan Kepuasan Kerja Terhadap
Kinerja Karyawan Pt. Cocacola Amatil Indonesia Surabaya. AGORA, 5(1)