0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
67 tayangan236 halaman

Trust dan Self-Disclosure Korban Seksual

Skripsi ini membahas tentang hubungan antara trust dan self-disclosure pada perempuan korban kekerasan seksual. Trust dihipotesiskan sebagai prediktor terhadap self-disclosure. Responden penelitian ini adalah perempuan dewasa yang pernah mengalami kekerasan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara trust dan self-disclosure pada korban kekerasan seksual.

Diunggah oleh

Putri Balqis Riani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
67 tayangan236 halaman

Trust dan Self-Disclosure Korban Seksual

Skripsi ini membahas tentang hubungan antara trust dan self-disclosure pada perempuan korban kekerasan seksual. Trust dihipotesiskan sebagai prediktor terhadap self-disclosure. Responden penelitian ini adalah perempuan dewasa yang pernah mengalami kekerasan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara trust dan self-disclosure pada korban kekerasan seksual.

Diunggah oleh

Putri Balqis Riani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TRUST SEBAGAI PREDIKTOR TERHADAP SELF-DISCLOSURE PADA

PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN SEKSUAL

DIAJUKAN OLEH:

NAIFAH MANSYUR PATTA


4516091070

SKRIPSI

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS BOSOWA
2020
TRUST SEBAGAI PREDIKTOR TERHADAP SELF-DISCLOSURE PADA
PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN SEKSUAL

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Bosowa Makassar


Sebagai Persyaratan Memperoleh Gelar
Sarjana Psikologi ([Link])

Oleh :

NAIFAH MANSYUR PATTA


4516091070

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS BOSOWA
2020
vi
PERSEMBAHAN

Untuk semua perempuan yang pernah dilukai, belum sembuh, berupaya


sembuh, dan telah sembuh #SahkanRUUPKSS

___________________________________________________________

Untuk Tetta dan Mama, terima kasih telah belajar merelakanku untuk jauh dari
kalian.

___________________________________________________________

dan Naifah, u did it, girl.

vii
Motto

The strong do what they can, and the weak suffer what
they must.
The Melian Dialogue

Cewek baik masuk surga, Cewek bandel gentayangan.


Intan Paramaditha

Tuhan meminta saya untuk berusaha,


Bukan untuk berhasil
Crowdtroia

Hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya. – Dea Anugrah

viii
Kata Pengantar

Puji dan Syukur saya kepada Allah SWT yang memberikan saya kehidupan,

serta atas kuasanya saya dapat menyelesaikan skripsi saya yang berjudul “Trust

sebagai Prediktor terhahadap Self-Disclosure pada Perempuan Korban

Kekerasan Seksual” untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan program

studi S1 Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Bosowa.

Pada bagian kata pengantar ini peneliti memberikan ucapan terima kasih

kepada berbagai pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan semangat,

serta harapan baik yang secara langsung maupun tidak langsung menjadikan

peneliti mampu menyelesaikan penelitian ini. Terima kasih peneliti tak terhingga

peneliti:

1. Kepada Para Responden, saya tahu tidak mudah untuk menceritakan

pengalaman tersebut. Tidak mudah. Apalagi harus mengisi skala dari

penelitian ini yang bisa membuat kalian kembali mengingat kejadian tersebut.

Terima kasih karena masih bertahan hingga saat ini. Terima kasih karena

dengan ikhlas membantu saya dengan mengisi skala penelitian ini, semoga

bantuan kalian dan apa yang saya lakukan tidak hanya untuk saya sendiri.

Semoga, kita semua, bisa mendapatkan keadilan, seadil-adilnya

#SahkanRUUPKS

2. Kepada Dosen Pembimbing saya, Pak Arie Gunawan HZ, [Link]., Psikolog

dan Ibu Hasniar A. Radde, [Link]., [Link], meski ada banyak kesulitan yang

dihadapi, saya tidak tahu harus berkata apa selain terima kasih banyak

kepada Bapak dan Ibu. Sebab tetap ada bersama saya dan membimbing saya

untuk mampu melalui berbagai rintangan sehingga saya mampu

menyelesaikan penelitian ini. Terima kasih banyak untuk segala hal yang

ix
Bapak dan Ibu berikan, semoga saya dapat memanfaatkannya sebaik

mungkin dan tidak hanya berlaku dalam pengerjaan penelitian ini. Segala

harapan baik saya untuk Bapak dan Ibu.

3. Kepada Dosen Penguji, seminar proposal kemarin membuat saya menyadari

bahwa seharusnya saya selalu rendah hati saat menjawab semua pertanyaan

yang diberikan meski saya mengetahui dengan baik isi penelitian saya.

Terima kasih Ibu Titin Florentina, [Link]., Psikolog dan Bapak H.A. Budhy

Rakhmat, [Link]., Psikolog, untuk semua ilmu dan saran-saran yang telah

diberikan, baik sebagai penguji maupun sebagai dosen.

4. Kepada Seluruh Dosen dan Tata Usaha, Bapak Musawwir, [Link]., [Link]

selaku Dekan Fakultas Psikologi, Ibu Sulasmi Sudirman, [Link]., M.A., Ibu

Minarni, [Link]., M.A., Ibu Sitti Syawaliah G, [Link]., Psikolog, Ibu Sri Hayati,

[Link]., Psikolog., Ibu Patmawaty Taibe, [Link]., M.A., [Link], Bapak Syahrul

Alim, [Link]., M.A, terima kasih untuk semua ilmu yang telah diberikan kepada

saya. Semoga ilmu tersebut tidak pergi begitu saja selepas saya

meninggalkan kampus ini. Terima kasih pula kepada Ibu Jerni, Ibu Ira, Kak

Wulan selaku pihak Tata Usaha, termasuk juga Pak Jupe dan Kak Indah yang

ada sewaktu saya masih berstatus mahasiswa baru.

5. Kepada Teman-Teman Paskib, Uber, Arisan uwu, dan teman di smunel

lainnya, sekalipun saya mulai sering menjauh dan hanya datang sekali-sekali,

terima kasih untuk segala dukungan dan bantuannya. Akbar yang menautkan

link skala penelitian saya di akun Instagramnya, Lia yang membantu

mencarikan thread pengalaman kekerasan seksual di Twitter agar bisa saya

DM, Fery, Chita, Heny, Muly, Mega, Uswa, dan teman-teman lainnya yang

x
juga membantu meskipun dengan menggemaskannya malah mendapuk diri

sebagai pelaku, terima kasih banyak.

6. Kepada Teman-Teman Psysixtion, terima kasih untuk bantuannya yang tidak

berhenti menyebarkan skala penelitian saya baik melalui chat personal

kepada orang-orang yang dikenal maupun melalui insta story. Selamat

kepada kita semua yang telah berada di titik ini, selamat menjalani hidup baru.

Semangat pada teman-teman yang sedikit lagi juga akan berada di titik ini.

Satu pertanyaan dari Andri Amin alias Moe alis Kajiro Moe sejak kita

mahasiswa baru hingga saat ini yang tak pernah terjawab, “Apa yang mereka

lakukan di pinggir sungai?”

7. Kepada Kelas BEEE Kelas BEEE (e nya minimal tiga ketukan), terima kasih

banyak banyak sekali pakai banget. Pewarna hari-hari di kelas baik susah

maupun sedih, senang juga sama-sama. Tim always bangku depan sebelah

kiri, Eni, Fatma, Zaf, Bogo, Zada, Medel, Titin. Tim bangku depan sebelah

kanan, Tiwi, Pipit, Viwa, Cute, Dita, Ayu. Tim lebih sering di tengah tapi kadang

di belakang kadang di depan, Alma, Ila, Wahyu, Indhira, Indah, Yani, Widi,

Ime, Lana, Zul, Danu, Ayi, Jai, Amin, Cammi, Fira, Ichaw. Tim duduk dimana

saja asal dapat, Desu dan Ningrum. Jangan hanya see u on top, tapi mari

sama-sama berproses.

8. Kepada Pasukan Berani Mati, terima kasih Al Aina, Anna Mardia, Anna

Ridwan, Bogo, Danty, Desu, Ima, Kia, Kak Zainab, Puri, Rahmayani, dan Tiwi

untuk semua cemilan, mulai dari jajanan Indomaret depan kampus, pentol,

tahu krispi gerobak biru maupun merah, Mba Daeng, Lazuna, minuman depan

kompleksnya Kia yang banyak stok susunya, gorengan, Bambu Kuning,

Tastea, Tia Jie, serta berbagai macam jenis makanan dan minuman lainnya

xi
beserta dengan gosip dan ketawa-ketawanya di tengah-tengah mengerjakan

skripsi. Sebab kita pasukan berani mati yang takut lapar. Apapun yang terjadi,

tetaplah bernapas gaes.

9. Kepada Keluarga Cemara, kepada Alifah perempuan sosialita dan

fashionable-ku, Amin yang selalu disebut namanya bahkan dalam sholat, Ila

Tokke kadang-kadang Cidu’, Indah Nyi’Nya’ kadang-kadang Sikung, Indhira

wanita eksotis nan senang melucuku, Jailani yang selalu punya stok cerita,

Kak Akbar yang kadang-kadang ceramah kadang-kadang pakbal, Puri koki

andalan gue ahli menatap kosong dinding, Wahyu saudara 7 Juli beda

tahunku; banyak hal sudah dilalui, banyak sekali. Kuliah, organisasi, personal

hampir sama kau semua, dan tidak pernahka menyesal mengalaminya

bersama kalian. Panjang jalan ke depan, semoga bisa tetap bersama

meskipun tidak bisa semudah sebelumnya.

10. Kepada Sri, meskipun kita satu gedung di lantai bosowa tapi tidak semudah

itu ternyata untuk berpapasan. Setelah sama-sama lulus di spendel, smunel,

akhirnya segera bisa lulus bersama di Universitas Bosowa walaupun dari

jurusan yang berbeda. Meski virus korona menghadang sehingga kita tidak

bisa satu posko KKN, tapi akhirnya doa kita yang lain dikabulkan Allah. Terima

kasih untuk segala bantuannya, Sri. Jika setelah ini kita berada di tempat yang

berbeda, semoga hati kita akan saling tetap bertaut.

11. Kepada Farah, kawan bucin oppa bucin cowo ganteng bucin doi sendiri, meski

kau jauh di kampus Gowa sana tetapi terima kasih untuk semua dukungan

dan masukan yang kau berikan, baik masalah kuliah maupun personal. Juga

untuk bantuannya yang selama ini share skalaku sejak dahulu kala hingga

xii
skripsi sekarang. Semangat untuk dirimu selalu semoga diberkahi

kebaikanmu.

12. Kepada Windhy, meski kita hanya bersama di SMP dan tidak sama lagi di

SMA dan kuliah, dirimu tetaplah satu dari yang selalu ada untukku. Terima

kasih banyak untuk segala cerita yang kita alami dan bagi bersama-sama,

semoga akan selalu ada drama, lagu, film yang di masa depan kita bagikan

untuk satu sama lain

13. Kepada Mayang, masih ada banyak terima kasih yang nantinya akan saya

ucapkan ke kau. Tapi untuk satu ini, terima kasih telah mau menjadi

pendengar dan pengingat bagi satu sama lain dalam segala hal. Untuk segala

bantuan yang kau berikan dalam penelitian ini, terima kasih. Semoga lapang

jalanmu mencapai mimpi-mimpimu selanjutnya, harapku kita masih selalu

membersamai.

14. Kepada Ayach, kau sedang sibuk dengan mubes yang kau lakukan secara

online saat ini. Sekalipun berbeda universitas dan tidak bisa selalu bertemu,

kau tetap menjadi tempatku berbagi cerita dan mimpi. Siapa sangka kita selalu

nyaris memiliki ketertarikan yang sama –selain lelaki tentu saja- termasuk isu-

isu perempuan. Semoga pada jalan panjang di sana kau dan aku masih

berbagi cerita sekalipun mimpi kita tak lagi sama.

15. Kepada Dian, Adel, dan Vita, saya tidak tahu kenapa kalian ada terus ada

terus. Terima kasih kawan lawak dan laknatku, semoga geng princess dari SD

ini tidak pernah berakhir.

16. Kepada Kak Ipin dan Ari, balasan untuk story Kak Ipin membuatku kembali

bersemangat saat laptop sedang sakit-sakitnya dan uang sedang sekaratnya.

Terima kasih untuk bantuan Kak Ipin yang menjadi penghubung antara saya

xiii
dan penerjemah skala saya. Sebab saya berterima kasih pada Kak Ipin maka

saya perlu berterima kasih pada Ari, sebab jika tak mengenalmu saya tidak

yakin akan berteman dengan Kak Ipin. Kau tidak akan tahu saya berterima

kasih padamu sebab kau tahu itu tak perlu.

17. Kepada Semua Content Creator yang membuat playlist-playlist lagu korea

maupun japannesse indie, Standing Egg, Niki, Heize, Chung Ha, Brian,

Taylor, Black Pink, Suju, Lee Hi, BTS, RM; terima kasih telah menjadi kawan

begadangku dan membantuku membuat ruang sendiri di tengah keramaian.

Terima kasih untuk Ondo dan Eva yang vlognya sangat menenangkan dan

memberikanku motivasi, serta kepada drama-drama korea yang menjadi

penghiburku, utamanya Secret Forest 2 yang membantu otakku tetap

menyala ketika sedang lelah. Saranghae Hwang Shi Mok Geomsa Ahjussi <3

18. Kepada Keluarga Besar BEM Fakultas Psikologi Universitas Bosowa, terima

kasih untuk semua pengalaman, ilmu, diskusi yang pernah dibagi bersama.

Untuk kakak-kakak yang selalu membagi pengalaman yang diberikan, teman-

teman yang selalu mau bekerja bersama, adik-adik yang selalu mau belajar

bersama, terima kasih banyak.

19. Kepada Keluarga, saya tidak tahu seberapa besar ekspektasi yang kalian

harapkan kepada saya, tetapi terima kasih untuk semua doa dan bantuan

yang kalian berikan. Mohon jangan terkejut lagi mendengar hal-hal gila yang

saya lakukan.

20. Kepada Mama dan Tetta, saya takut menangis ketika menuliskan ini. Saya

takut menuliskan ini dengan sangat manis padahal saya tahu saya terlalu

memberikan banyak kesulitan kepada kalian. Sekuat hati kalian mencoba

agar saya tetap berada dekat dengan kalian, pada akhirnya kita tetap tidak

xiv
bisa bersama-sama terus selama saya kuliah. Mohon maaf jika selama ini

saya selalu terlihat sibuk dengan urusan sendiri, masih menjadi beban

finansial bagi kalian, masih membuat kalian cemas dengan berbagai

keputusan yang saya buat. Tetapi, terima kasih karena telah percaya. Terima

kasih karena tidak pernah lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya

sewaktu kecil, tidak lelah mendengarkan celotehan saya yang banyak sekali

tanpa koma. Terima kasih, terima kasih.

21. Kepada Allah SWT, kuharap penelitian ini membuatku menjadi hambaMu

yang bermanfaat, tidak hanya terciptakan untuk merugikan manusia lainnya.

Terima kasih telah memberikanku kesempatan untuk hidup, dan belum

membiarkanku pergi hingga sekarang.

22. Kepada Naifah, kau menulis kalimat ini dihari kedua ujian gelombang pertama

teman-temanmu. Kau tidak bersama mereka sebab yang mampu kau lakukan

hanya muntah-muntah dan mual-mual, maag memang adalah karib sialan

yang kini membawa gerd padamu. Orang-orang mencari dimana dirimu tanpa

bertanya bagaimana kabarmu, sebab mereka tahu kau selalu begitu-begitu

saja, atau sama sekali tidak mencari dirimu. Dengarkan lagu Breath yang Kim

Jongsuk tulis dan Lee Hi nyanyikan setelah kau menyelesaikan seminarmu,

setelah kau menyelesaikan revisimu, setelah kau wisuda. Kau sudah

menyelesaikan kewajibanmu dengan tetap berupaya mempertahankan apa-

apa yang kau inginkan, meskipun dengan payahnya kau tetap sakit, dan itu

tidak masalah. Setelah ini orang-orang akan menanyakan atau

mengarahkan/menyarankan/membantu/memaksamu untuk sampai ke tujuan

berikutnya, tidak masalah, sebab aku tahu kau tahu kemana kau harus pergi.

Selamat, Naifah Mansyur Patta.

xv
ABSTRAK

TRUST SEBAGAI PREDIKTOR TERHADAP SELF-DISCLOSURE PADA


PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN SEKSUAL

Naifah Mansyur Patta


4516091070
Fakultas Psikologi Universitas Bosowa
naifahmp@[Link]

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan trust (kepercayaan)


menjadi prediktor terhadap self-disclosure (pengungkapan diri) para perempuan
korban kekerasan seksual. Jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 119
perempuan yang mengalami kekerasan seksual dengan menggunakan
pendekatan kombinasi (mix method). Skala yang digunakan adalah Self-
Disclosure Scale (r = 0.604) dan General Trust Scale (r = 0.778). Skala divalidasi
menggunakan validasi isi, dengan telaah dari Subject Matter Expert (SME) dan
validasi konstrak, dengan Teknik Confirmatory Factor Analysis (CFA). Pada
pendekatan kuantitatif, hipotesis di uji dengan menggunakan teknik regresi
sederhana, yang memberi hasil bahwa Trust berkontribusi secara positif sebesar
6,9% terhadap self-disclosure (p = 0,006 ; p < 0.05), semakin tinggi trust maka
semakin tinggi pula self-disclosure, sedemikian pula sebaliknya. Pendekatan
kualitatif mendukung temuan secara kuantitatif, namun memberikan temuan yang
lebih rinci,bahwa trust yang memengaruhi self-disclosure kedua responden,
dilakukan kepada orang-orang terdekat yang diyakini tidak akan merendahkan
responden atas pengalamannya serta akan bercerita apabila orang-orang terdekat
tersebut juga bercerita mengenai pengalamannya.

Kata Kunci: Self-Disclosure, Trust, Kekerasan Seksual, Perempuan, Mix Method

xvi
DAFTAR ISI

Halaman Sampul............................................................................................ i
Halaman Pengesahan.................................................................................... iii
Halaman Persetujuan Hasil Penelitian........................................................... iv
Halaman Persetujuan Penguji Hasil Penelitian.............................................. v
Pernyataan..................................................................................................... vi
Persembahan................................................................................................. vii
Motto.............................................................................................................. viii
Kata Pengantar.............................................................................................. ix
Abstrak........................................................................................................... xvi
Daftar Isi........................................................................................................ xvii
Daftar Tabel................................................................................................... xx
Daftar Bagan….............................................................................................. xxi
Daftar Diagram.............................................................................................. xxii
Daftar Lampiran............................................................................................. xxiii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
A. Latar Belakang Penelitian................................................................ 1
B. Rumusan Masalah Penelitian.......................................................... 10
C. Tujuan Penelitian............................................................................. 11
D. Manfaat Penelitian........................................................................... 11
1. Manfaat Teoritis........................................................................... 11
2. Manfaat Praktis............................................................................ 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 13
A. Self-Disclosure................................................................................. 13
1. Teori-Teori Self-Disclosure........................................................... 13
2. Definisi Self-Disclosure................................................................. 18
3. Dimensi Self-Disclosure................................................................ 22
4. Faktor yang Memengaruhi Self-Disclosure................................... 26
5. Dampak Self-Disclosure................................................................ 29
6. Pengukuran Self-Diclosure............................................................ 33
B. Trust.................................................................................................. 34
1. Teori-Teori Trust............................................................................ 34
2. Definisi Trust.................................................................................. 36

xvii
3. Dimensi Trust................................................................................. 40
4. Faktor yang Memengaruhi Trust.................................................... 42
5. Dampak Trust................................................................................ 45
6. Pengukuran Trust.......................................................................... 48
C. Perempuan Korban Kekerasan Seksual........................................... 50
1. Definisi Perempuan Korban Kekerasan Seksual........................... 50
2. Bentuk-Bentuk Kekerasan Seksual pada Perempuan.................. 50
3. Faktor-Faktor Penyebab Kekerasan Seksual pada Perempuan... 53
4. Dampak Kekerasan Seksual pada Perempuan............................. 55
D. Trust sebagai Perdiktor Self-Disclosure pada Perempuan Korban
Kekerasan Seksual........................................................................... 56
E. Hipotesis Penelitian........................................................................... 62
BAB III METODE PENELITIAN...................................................................... 63
A. Pendekatan Penelitian...................................................................... 63
B. Variabel............................................................................................. 63
C. Definisi Variabel................................................................................. 64
1. Definisi Konseptual........................................................................ 64
2. Definisi Operasional...................................................................... 64
D. Populasi & Sampel............................................................................ 65
1. Populasi........................................................................................ 65
2. Sampel.......................................................................................... 65
3. Teknik Pengambilan Sampel........................................................ 66
E. Teknik Pengumpulan Data............................................................... 67
1. Pendekatan Kuantitatif................................................................. 67
2. Pendekatan Kualitatif................................................................... 69
F. Uji Instrumen.................................................................................... 70
1. Tahap Penerjemahan Skala.......................................................... 71
2. Modifikasi Skala………………………………………………………. 72
3. Uji Validitas.................................................................................... 72
4. Uji Reliabilitas................................................................................ 77
G. Uji Kredibilitas.................................................................................... 77
H. Teknik Analisis Data.......................................................................... 78
1. Pendekatan Kuantitatif................................................................... 78
a. Analisis Deskriptif...................................................................... 78

xviii
b. Uji Asumsi................................................................................. 78
c. Uji Hipotesis.............................................................................. 79
2. Pendekatan Kualitatif.................................................................... 80
I. Proses Penelitian.............................................................................. 80
J. Jadwal Penelitian............................................................................... 82
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................... 83
A. Hasil Analisis...................................................................................... 83
1. Pendekatan Kuantitatif.................................................................. 83
a. Deskriptif Demografi................................................................. 83
b. Deskriptif Variabel Penelitian.................................................... 85
c. Deskriptif Variabel berdasarkan Demografi.............................. 88
d. Uji Asumsi................................................................................. 96
e. Uji Hipotesis (Regresi Sederhana)............................................ 98
2. Pendekatan Kualitatif..................................................................... 100
a. Responden Pertama.................................................;;.............. 100
b. Responden Kedua.................................................................... 103
B. Pembahasan...................................................................................... 107
1. Gambaran Self-Disclosure pada Perempuan Korban Kekerasan
Seksual......................................................................................... 107
2. Gambaran Trust pada Perempuan Korban Kekerasan
Seksual......................................................................................... 114
3. Trust sebagai Prediktor terhadap Self-Disclosure pada Perempuan
Korban Kekerasan Seksual.......................................................... 119
C. Limitasi Penelitian.............................................................................. 125
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN................................................................ 126
A. Kesimpulan......................................................................................... 126
B. Saran.................................................................................................. 127
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 130

xix
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Blue Print Self-Disclosure Scale....................................................... 68


Tabel 3.2 Blue Print General Trust Scale......................................................... 69
Tabel 3.3 Guideline Pertanyaan Wawancara................................................... 70
Tabel 3.4 Blue Print Self-Disclosure Scale....................................................... 76
Tabel 3.5 Blue Print General Trust Scale......................................................... 77
Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas……………………………………………………. 77
Tabel 3.7 Jadwal Penelitian............................................................................. 82
Tabel 4.1 Hasil Analisis Skala Self-Disclosure................................................. 86
Tabel 4.2 Kategorisasi Penormaan Self-Disclosure......................................... 86
Tabel 4.3 Hasil Analisis Skala Trust................................................................. 87
Tabel 4.4 Kategorisasi Penormaan Trust…..................................................... 87
Tabel 4.5 Uji Normalitas................................................................................... 97
Tabel 4.6 Uji Linearitas..................................................................................... 97
Tabel 4.7 Kontribusi Trust terhadap Self-Disclosure........................................ 98
Tabel 4.8 Koefiesien Interaksi Variabel Trust terhadap Self-Disclosure.......... 99

xx
DAFTAR BAGAN

Bagan 1.1 Bagan Kerangka Berpikir……………………………………………… 61

xxi
DAFTAR DIAGRAM

Diagram 4.1 Deskriptif Subjek berdasarkan Usia............................................. 83


Diagram 4.2 Deskriptif Subjek berdasarkan Kota Domisili ............................. 84
Diagram 4.3 Deskriptif Subjek berdasarkan Jenis Kekerasan Seksual........... 84
Diagram 4.4 Self-Disclosure berdasarkan Kategori......................................... 86
Diagram 4.5 Trust berdasarkan Kategori........................................................ 88
Diagram 4.6 Skor Self-Disclosure berdasarkan Usia...................................... 89
Diagram 4.7 Skor Self-Disclosure berdasarkan Kota Domisili........................ 90
Diagram 4.8 Skor Self-Disclosure berdasarkan Jenis Kekerasan Seksual..... 91
Diagram 4.9 Skor Trust berdasarkan Usia.................................................... 93
Diagram 4.10 Skor Trust berdasarkan Kota Domisili...................................... 94
Diagram 4.11 Skor Trust berdasarkan Jenis Kekerasan Seksual................... 95

xxii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Skala Penelitian (Google Form)


Lampiran 2 Hasil Uji Validitas Isi
Lampiran 3 Hasil Uji Validitas Konstruk Self-Disclosure Scale
Lampiran 4 Hasil Uji Validitas Konstruk General Trust Scale
Lampiran 5 Hasil Uji Normalitas
Lampiran 6 Hasil Uji Linearitas
Lampiran 7 Hasil Uji Hipotesis
Lampiran 8 Verbatim
Lampiran 9 Hasil Coding Wawancara
Lampiran 10 Data Diri Translator

xxiii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki keistimewaan

dibandingkan makhluk hidup lainnya. Mereka memiliki akal yang

memungkinkannya untuk berpikir sebelum melakukan atau mengambil

keputusan yang didasari oleh norma-norma yang dibentuk dan dianut oleh

mereka sendiri. Mereka sama-sama memiliki hak yang wajib dihormati oleh

sesama manusia dan dilindungi oleh negara sebagai pengatur dan pelindung

dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Indonesia sendiri dalam Pembukaan

UUD 1945 menegaskan tujuannya untuk melindungi segenap bangsa

Indonesia (Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Prov.

Sulawesi Selatan, 2011).

Hal ini juga dijelaskan di dalam Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia yang

disahkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 10 Desember

1948. Hak-hak yang dideklarasikan ialah hak atas persamaan, kebebasan, dan

kemauan setiap orang, kebebasan dari perbudakan, siksaan atau perlakuan

yang merendahkan martabat manusia, pengakuan sebagai seorang pribadi di

depan hukum mencari keadilan, dan kebebasan untuk berekspresi dan

partisipasi politik. Terdapat pula hak asasi yang dikhususkan kepada

perempuan saja yaitu Convention on The Elimination of All Forms of

Discrimination Against Women atau disingkat sebagai CEDAW (Eddyono,

2007).

1
2

Terdapat tiga prinsip yang dijunjung di dalam CEDAW, yaitu prinsip non-

diskriminatif, prinsip persamaan, dan prinsip kewajiban negara (Eddyono,

2007). Indonesia sendiri dalam usaha mewujudkan perubahan tersebut

mengesahkan CEDAW dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7

Tahun 1984 (Elsam, 2014). Diskriminasi terhadap perempuan hadir karena

adanya prasangka dan kebiasaan yang didasarkan oleh peran gender

(Eddyono, 2007). Gender merupakan pembedaan antara laki-laki dan

perempuan yang ditentukan oleh budaya dan dibentuk oleh manusia, melalui

pembiasaan secara sosial dan berubah dari satu budaya ke budaya lain (Badan

Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Prov. Sulawesi Selatan,

2011).

Beberapa bentuk ketidakadilan gender ialah pelabelan/stereotipe,

penomorduaan/subordinasi, peminggiran/marginalisasi, beban ganda/double

burden, dan kekerasan/violence. (Badan Pemberdayaan Perempuan dan

Keluarga Berencana Prov. Sulawesi Selatan, 2011). Jenis kekerasan,

berdasarkan CATAHU 2020 Komnas Perempuan, dalam ranah personal pada

perempuan ialah fisik, seksual, psikis, dan ekonomi. Sementara kekerasan

pada perempuan di ranah komunitas ialah kekerasan seksual, fisik, psikis,

ekonomi, dan khusus (trafficking dan pekerja migran). Kekerasan seksual

merupakan salah satu kekerasan yang paling banyak dialami, baik di ranah

personal (2.807 kasus) maupun komunitas (2.091 kasus).

Statuta Roma pasal 7 ayat 1 (g)-6 mendefinisikan kekerasan seksual

sebagai perilaku yang dilakukan kepada seseorang atau lebih yang

menyebabkan orang bersangkutan atau orang-orang tersebut terlibat dalam

tindakan seksual dengan kekerasan, atau dengan ancaman kekerasan atau


3

pemaksaan, seperti memberikan rasa takut akan kekerasan, paksaan,

penahanan, penekanan psikologis atau penggunaan kekuasaan, terhadap

seseorang atau orang lain, atau dengan mengambil kesempatan dari

lingkungan yang memaksa atau ketidakmampuan seseorang atau orang

bersangkutan untuk memberikan persetujuan yang ikhlas (Komnas

Perempuan, 2006).

Bentuk-bentuk kekerasan seksual ialah pemerkosaan, intimidasi seksual

termasuk ancaman atau percobaan perkosaan; pelecehan seksual; eksploitasi

seksual; perdagangan perempuan untuk tujuan seksual; prostitusi paksa;

perbudakan seksual; pemaksaan perkawinan, termasuk cerai gantung;

pemaksaan kehamilan; pemaksaan aborsi; pemaksaan kontrasepsi dan

sterilisasi; penyiksaan seksual; penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa

seksual; praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau

mendiskriminasi perempuan; kontrol seksual, termasuk lewat aturan

diskriminatif beralasan moralitas dan beragama (Komnas Perempuan, 2013).

Menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang telah korban alami

merupakan hal yang penting untuk dilakukan (Staples et al., 2016). Sebab

dengan menceritakan kekerasan seksual yang mereka alami, korban

mendapatkan bantuan untuk menyelesaikan kasus yang mereka alami, baik itu

kepada keluarga, kerabat, atau kepada pihak formal seperti polisi dan psikolog;

serta mendapatkan dukungan. Selain itu, menceritakan kekerasan seksual

yang dialami akan membantu orang-orang yang mengalami hal yang sama

tidak merasa sendirian, hal ini agar mereka bisa memahami apa yang

sebenarnya mereka alami (Staller & Gardel, 2005).


4

Namun, menceritakan kekerasan seksual yang dialami merupakan perilaku

yang tidak begitu saja dapat dilakukan. Kekerasan seksual merupakan hal

pribadi yang bersifat sensitif dan tidak dapat dengan mudah diceritakan kepada

semua orang. Mengungkapkan hal-hal pribadi yang tidak diceritakan kepada

semua orang dapat disebut sebagai self-disclosure. Wheeless & Grotz (1976)

menjabarkan self-disclosure sebagai segala pesan mengenai diri seseorang

yang dikomunikasikan dengan orang lain. Jourard (dalam Zhang, 2017) sendiri

menjelaskan self-disclosure sebagai pengungkapan informasi pribadi kepada

orang lain.

Self-disclosure terbentuk apabila dimensi-dimensi berupa intent to disclose,

amount of disclosure, positive-negative nature of disclosure, honest-accuracy

of disclosure, dan control of general depth telah terpenuhi (Wheeless & Grotz,

1976). Self-disclosure berdasarkan pelaksanaannya terbagi menjadi dua, yaitu

offline self-disclosure serta online self-disclosure (Chen, Xie, Ping, & Wang,

2017). Sehingga self-disclosure dapat dilakukan baik secara langsung (face-to-

face) ataupun menggunakan suatu media, seperti telepon, sms, pun media

sosial.

Pengambilan data awal yang dilakukan peneliti menemukan dari 10 orang

perempuan yang mengalami kekerasan seksual hanya 4 orang yang

melakukan self-disclosure. Seorang responden menceritakan pengalamannya

ketika melakukan self-disclosure mengenai kekerasan seksual, orang yang

menjadi tempat responden melakukan self-disclosure, yaitu disclosure target,

menertawakan dan mengatakan bahwa responden lebay atau berlebihan

sebab menceritakan kekerasan seksual yang responden alami. Padahal, yang


5

diharapkan responden saat melakukan self-disclosure ialah didengarkan,

dirangkul, dan disemangati untuk dapat melawan.

9 dari 10 responden dari data awal peneliti mengalami kekerasan seksual

oleh orang-orang terdekat yang ada di sekitarnya. 2 orang merupakan tetangga;

1 orang merupakan saudara jauh, teman, orang tak dikenal, dan majikan kerja;

1 orang pacar; 1 orang teman; 2 orang sepupu; 1 orang keluarga; dan 1 orang

adalah ayah tiri. Moors & Weber (2012) dalam penelitiannya juga menyebutkan

bahwa beberapa respondennya mengalami kekerasan seksual dari orang-

orang terdekatnya dan merasa sulit untuk melakukan offline self-disclosure dan

lebih mudah melakukan online self-disclosure secara anonim.

Hasil pengambilan data berikutnya pada enam orang responden yang

menceritakan di media sosial kekerasan seksual yang dialaminya, terdapat dua

dari enam orang yang tidak melakukan self-disclosure kepada orang-orang

terdekatnya karena merasa takut akan dihakimi. Hal tersebut dapat terjadi

sebab Moors & Weber (2012) dalam penelitiannya mengenai self-disclosure

perempuan korban kekerasan seksual di media sosial, menyebutkan bahwa

beberapa respondennya tidak mendapatkan perlindungan dari pihak berwajib

(polisi dan konselor) yang semestinya memberikan perlindungan terhadapnya

saat melakukan self-disclosure.

5 dari 6 orang responden menyebutkan bahwa mereka melakukan self-

disclosure di media sosial karena tidak ingin semakin banyak perempuan yang

mengalami kekerasan seksual. Mereka berupaya agar orang-orang juga dapat

memahami apa yang para perempuan korban kekerasan seksual rasakan. Hal

ini juga dilakukan sebagai bentuk dukungan mereka kepada para perempuan

korban kekerasan seksual lainnya agar mereka tidak merasa sendirian


6

mengalami hal tersebut. Mereka menambahkan bahwa alasan lainnya ialah

mereka dapat bercerita secara anonim dan tempat mereka bercerita

merupakan tempat yang mendukung korban kekerasan seksual.

Meski begitu, para responden menjelaskan bahwa mereka tidak akan

melakukan self-disclosure di media sosial mengenai kekerasan seksual yang

mereka alami, apabila tidak melihat orang yang memiliki pengalaman serupa

dengan mereka melakukan hal yang sama. Lima dari 6 responden juga

bercerita bahwa mereka tidak secara detail menceritakan kekerasan seksual

yang mereka alami sebab merasa takut trauma mereka akan kembali,

sementara seorang lainnya menceritakan secara detail agar tidak terkesan

menuduh secara sepihak saja.

Dye & Akpojivi (2015) menemukan bahwa semakin banyak terhubung

dengan orang-orang di media sosial, maka semakin tinggi tingkat self-

disclosure seseorang. Hal ini menguatkan kemungkinan mengapa para

responden berani untuk melakukan self-disclosure, baik di media sosial

maupun secara langsung pada relasi terdekat. Paiva, Segurado, & Filipe (2011)

menguatkan hal tersebut dengan menjelaskan adanya kesamaan

permasalahan memang menjadi salah satu alasan orang-orang mau

melakukan self-disclosure, selain kepada orang-orang terdekat yang mereka

percayai. Perilaku self-disclosure tersebut, menurut Chen, Xie, Ping, dan Wang

(2017) menjadikan orang-orang yang melakukan self-disclosure memiliki

kemungkinan untuk mengalami resiliensi jika dibandingkan dengan yang tidak

melakukan self-disclosure.

Peneliti menemukan adanya perilaku self-disclosure pada orang-orang di

perempuan korban kekerasan seksual, baik di dunia nyata maupun di dunia


7

maya. Mereka menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang mereka

alami secara anonim di dunia maya dan secara langsung kepada orang-orang

terdekat atau pihak berwajib. Perempuan korban kekerasan seksual yang

melakukan self-disclosure di media sosial mengatakan mereka tidak tahu lagi

hendak bercerita pada siapa, namun sangat butuh untuk diterima dan

mendapatkan dukungan yang tidak bisa mereka dapatkan dari orang-orang

sekitar. Selain itu, seperti jawaban para responden peneliti, mereka merasa

tergerak untuk bercerita setelah melihat cerita-cerita sebelumnya dari sesama

perempuan korban kekerasan seksual.

Self-disclosure penting untuk dilakukan sebab bila korban tidak

menceritakan kekerasan seksual yang mereka alami, maka kejadian traumatis

tersebut akan terus menerus mengganggu mereka. Jika hal ini terus-terus

terjadi, kejadian traumatis tersebut dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari

korban. Penelitian yang dilakukan Ullman & Hagene (2014) menunjukkan

bahwa reaksi positif yang didapatkan setelah menceritakan pengalaman

kekerasan seksual meningkatkan kontrol pemulihan diri yang membantu

melawan simtom Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Ochowski, Untied, &

Gidycz (dalam Staples et al., 2016) dalam penelitiannya menemukan bahwa

reaksi yang memberikan dukungan berasosiasi dengan meningkatnya usaha

untuk mencari dukungan.

Kandari, Melkote, & Sharif (2016) menyatakan bahwa semakin tinggi

intensitas bermain Instagram maka semakin tinggi tingkat seseorang

melakukan self-disclosure di Instagram. Kim, Sin, & Chai (2015) semakin

mendukung hal tersebut dengan menemukan bahwa kuatnya hubungan

dengan orang lain akan memengaruhi self-disclosure seseorang di media


8

sosial. Implikasinya, pengalaman yang sama dari para korban kekerasan

seksual di media sosial memungkinkan korban untuk melakukan self-

disclosure. Salah satu faktor yang diduga mendorong orang-orang dengan

pengalaman yang sama tersebut melakukan self-disclosure adalah munculnya

sikap trust. Hal tersebut sejalan dengan beberapa hasil penelitian yang

menyebutkan bahwa trust turut serta memengaruhi seseorang dalam

melakukan self-disclosure (Greene, Derlega, & Mathews, 1977; Krasnova,

Spiekermann, & Hilderbrand, 2010; Buntaran & Helmi, 2015).

Trust merupakan ekspektasi individu bahwa adanya perilaku ramah dan baik

dari orang lain (Yamagishi & Yamagishi, 1994). Trust merupakan alasan utama

seseorang mau mengungkapkan pembahasan sensitif (Ding, Li, & Ji, 2011),

termasuk pada pengungkapan mengenai permasalahan kesehatan yang

sensitif untuk dibahas (Paiva, Segurado, Filipe, 2011). Kekerasan seksual juga

merupakan pembahasan yang sangat sensitif untuk dibahas secara umum,

mengingat bagaimana persepsi masyarakat kebanyakan terhadap kekerasan

seksual.

Yamagishi dan Yamagishi (1994) menyebutkan adanya dua dimensi yang

perlu dipenuhi agar individu dapat memiliki trust kepada mereka, hal tersebut

ialah honesty dan trustworthiness. Jawaban responden pada pengambilan data

awal yang menyatakan bahwa mereka melakukan self-disclosure di media

sosial karena mereka dapat menjadi anonim, juga dikarenakan tempat mereka

bercerita di media sosial merupakan tempat yang mendukung korban

kekerasan seksual menggambarkan adanya honesty. Keinginan responden

yang tidak ingin lagi ada korban dan berupaya agar orang-orang memahami
9

kekerasan seksual menggambarkan adanya trustworthy. Kedua hal tersebut

yang menjadi alasan responden melakukan self-disclosure.

Hal ini didukung oleh penelitian yang menyebutkan trust memiliki pengaruh

untuk menggerakkan orang-orang untuk melakukan atau menggunakan

sesuatu di media sosial (Son, Choi, & Choi, 2020; Mao, dkk, 2020; Wijaya &

Astuti, 2018; Ramos, dkk, 2018), termasuk self-disclosure (Suryani &

Nurwidawati, 2016; Lin, et al, 2016; Fianu et al, 2016). Motivasi utama orang

mengungkapkan dirinya di media sosial ialah trust (Mesch, 2012). Tingkatan

trust dalam komunikasi juga menjadi prediktor penting terhadap self-disclosure,

sebab trust mengurangi risiko dan harga yang ada atas pengungkapan

terhadap informasi yang bersifat privat atau sensitif (Chen & Sharma, 2013;

dalam Lin et al., 2016). Penelitian lain menyebutkan bahwa trust dibutuhkan

dalam self-disclosure untuk memberikan safe space kepada korban sebagai

proses penyembuhannya (Staller & Gardel, 2005).

Penjelasan di atas menunjukkan besarnya peranan trust terhadap self-

disclosure. Self-disclosure mengenai isu yang sangat sensitif membutuhkan

kepercayaan yang besar kepada orang yang dijadikan target disclosure. Bagi

perempuan korban kekerasan seksual, trust menjadi penting ketika mereka

melakukan self-disclosure, salah satu alasannya ialah mereka perlu untuk

memastikan bahwa pembahasan atas isu sensitif tersebut tidak begitu saja

tersebar luas dan akhirnya menjatuhkan mereka; mengingat bagaimana

tanggapan masyarakat secara umum kepada perempuan korban kekerasan

seksual. Apalagi jika dengan mereka melakukan self-disclosure hal tersebut

dapat memengaruhi hubungan dengan orang-orang terdekat mereka.


10

Hal ini menggerakkan peneliti untuk melakukan penelitian mengenai trust

terhadap self-disclosure, dengan memprediksi bahwa trust memengaruhi self-

disclosure perempuan korban kekerasan seksual serta melihat hal-hal apa saja

yang menyebabkan trust muncul dan mendorong para perempuan korban

kekerasan seksual untuk mau melakukan self-disclosure. Hasil penelitian ini

diharapkan menjadi cerminan bagi kita semua, sebagai kerabat, keluarga,

masyarakat, bahkan negara, untuk melihat sejauh mana peranan kita terhadap

kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan.

Penelitian ini diharapkan dapat menggerakkan kita untuk dapat lebih

memberi dukungan dan tempat yang aman dan nyaman bagi perempuan

korban kekerasan seksual, sehingga para perempuan korban kekerasan

seksual memiliki trust untuk melakukan self-disclosure. Baik bagi mereka yang

telah melakukan self-disclosure dan berada pada proses penyembuhan atau

kepada mereka yang baru saja mengalami kekerasan seksual dan hendak

melakukan self-disclosure. Penelitian ini berjudul “Trust sebagai Prediktor

terhadap Self-Disclosure pada Perempuan Korban Kekerasan Seksual”.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada penelitian ini yaitu,

1. Dapatkah trust menjadi prediktor terhadap self-disclosure pada perempuan

korban kekerasan seksual?

2. Bagaimana dinamika trust terhadap self-disclosure pada perempuan korban

kekerasan seksual?
11

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan pada penelitian ini ialah:

1. Untuk mengetahui gambaran self-disclosure pada perempuan korban

kekerasan seksual.

2. Untuk mengetahui gambaran trust pada perempuan korban kekerasan

seksual.

3. Untuk mengetahui apakah trust dapat menjadi prediktor terhadap self-

disclosure pada perempuan korban kekerasan seksual.

4. Untuk mengetahui dinamika trust terhadap self-disclosure pada perempuan

korban kekerasan seksual

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan literatur terhadap

cabang ilmu Psikologi seperti Psikologi Sosial, Psikologi Komunikasi, dan

Psikologi Klinis. Karena, penelitian ini berfokus pada self-disclosure dan

trust yang berkaitan dengan komunikasi dan hubungan. Serta korban

kekerasan seksual yang berkaitan dengan gejala-gejala klinis.

b. Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam melakukan

penelitian dengan topik yang sama. Karena belum banyak penelitian yang

mengaitkan self-disclosure dan trust, khususnya yang berkaitan dengan

perempuan korban kekerasan seksual, di Indonesia.

2. Manfaat Praktis

a. Penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan referensi dalam

pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Karena penelitian


12

ini menjelaskan bagaimana perempuan korban kekerasan seksual

memiliki trust untuk mau melakukan self-disclosure.

b. Penelitian ini dapat menjadi dasar pembuatan kebijakan untuk keamanan

pengguna media sosial. Karena, telah banyak pengguna media sosial

yang menggunakan media sosial untuk melakukan self-disclosure

mengenai isu sensitif, seperti kekerasan seksual.

c. Penelitian ini dapat memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai

kebutuhan para perempuan korban kekerasan seksual. Karena,

penelitian ini menunjukkan bagaimana perempuan korban kekerasan

seksual lebih dapat memiliki trust yang mendorong untuk melakukan self-

disclosure.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Self-Disclosure

1. Teori-Teori Self-Disclosure

Self-disclosure atau pengungkapan diri merupakan variabel yang menjadi

bagian dari psikologi komunikasi maupun psikologi sosial. Psikologi

komunikasi merupakan cabang ilmu psikologi yang mempelajari mengenai

komunikasi antar manusia. Psikologi memandang komunikasi memiliki

makna yang luas, meliputi segala penyampaian energi, gelombang suara,

tanda di antara tempat, sistem, atau organisme (Rakhmat, 2017). Psikologi

komunikasi juga didefinisikan sebagai proses pertukaran yang melibatkan

pemisahan, pemilihan, dan pembagian simbol dalam berbagai bentuk yang

membantu orang lain untuk mampu mengeluarkan arti dari pengalamannya

atau menerima respon yang sama dengan yang dimaksud oleh sumber

tersebut (Ross, dalam Rakhmat, 2017).

Sementara psikologi sosial merupakan cabang ilmu psikologi yang

berfokus pada upaya untuk memahami penyebab dari perilaku dan

pemikiran manusia, dimana hal tersebut menjadi faktor yang membentuk

perasaan, perilaku, dan pemikiran dalam situasi sosial (Baron &

Branscombe, 2013). Kedua cabang psikologi ini saling terkait sebab interaksi

sosial manusia salah satunya dilakukan melalui komunikasi, yang mana self-

disclosure hadir di dalamnya. Berikut beberapa teori baik dari psikologi

komunikasi maupun psikologi sosial yang membahas mengenai self-

disclosure:

13
14

a. Teori Komunikasi Interpersonal

DeVito (2013) mendefinisikan komunikasi interpersonal sebagai

proses komunikasi di antara dua orang atau lebih yang saling

berhubungan dan juga saling mempengaruhi. Apa yang dilakukan atau

dikatakan seseorang akan mempengaruhi perilaku orang lain. Elemen-

elemen yang terkandung di dalam komunikasi interpersonal ialah source-

receiver yaitu adanya fungsi pengirim pesan dan penerima pesan yang

terjalin; encoding-decoding yaitu adanya fungsi pembuat pesan dan

pemahaman akan pesan).

Message yaitu sinyal yang memberikan stimulus pada salah satu atau

kombinasi indera yaitu auditory (mendengar), visual (melihat), tactile

(menyentuh), olfactory (membaui), gustatory (mengecap) baik kepada

pemberi maupun penerima pesan; channels ialah medium yang

menjembatani pesan tersebut, yang sering kali digunakan lebih dari satu

channel. Misalnya, seseorang sedang berbicara dan juga mendengarkan

(vocal-auditory channel) lawan bicaranya; noise ialah segala hal yang

dapat mengubah bentuk dari pesan, seperti physical noise, physiological

noise, psychological noise, dan semantic noise.

Contexts ialah situasi yang terjadi saat komunikasi berlangsung dan

sering kali memengaruhi komunikasi itu sendiri. Beberapa jenis context

ialah physical dimension yaitu lingkungan nyata atau pasti tempat

komunikasi interpersonal berlangsung, baik itu di ruang tamu maupun di

Twitter, temporal dimension yaitu waktu saat komunikasi berlangsung,

baik itu hari maupun situasi keadaan, social-psychological dimension

menyangkut status hubungan yang dimiliki saat komunikasi berlangsung,


15

dan cultural dimension berkaitan dengan kepercayaan maupun adat atau

kebiasaan yang dimiliki; dan terakhir ialah ethics, dimana komunikasi

sebaiknya dilaksanakan berdasarkan etika tertentu.

Selain itu di dalam komunikasi interpersonal Rakhmat (2017)

menyebutkan bahwa membuka diri akan meningkatkan pemahaman

akan diri, meningkatnya pemahaman akan diri akan meningkatkan

komunikasi. Komunikasi interpersonal akan semakin efektif apabila kita

mengetahui tentang diri orang lain dan sebaliknya. Hal ini sejalan dengan

DeVito (2013) yang menjelaskan bahwa salah satu hal yang penting

dalam komunikasi interpersonal adalah kemampuan untuk menceritakan

mengenai diri sendiri atau self-disclosure. Sehingga, komunikasi

interpersonal sangat erat kaitannya dengan self-disclosure.

b. Teori Komunikasi Massa

Komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada

sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim yang pesannya

tersampaikan secara serentak dan sesaat baik melalui media cetak

maupun elektronik (Rakhmat, 2017). Sementara DeFleur & McQuail

(dalam Jampel, 2016) mendefinisikan komunikasi massa sebagai proses

penyebaran pesan oleh komunikator secara luas dan terus menerus yang

menciptakan makna dan diharapkan memberi pengaruh kepada khalayak

ramai.

Rakhmat (2017) menjelaskan bahwa secara sederhana komunikasi

massa adalah komunikasi melalui media massa, yaitu surat kabar,

majalah, radio, televisi, dan film. Jampel (2016) mengkategorikan kelima

media tersebut ke dalam ruang lingkup pandangan klasik, sementara


16

terdapat pula ruang lingkup pandangan modern. Pandangan modern ini

memasukkan media sosial, media online, dan internet sebagai media

yang digunakan dalam komunikasi massa.

Baran (2019) sendiri menyebutkan adanya sepuluh media dalam

komunikasi massa, yaitu buku; surat kabar; majalah; film, radio, rekaman,

dan musik populer; televisi, telegram, mobile video; video games, dan

yang terakhir internet dan media sosial. Ia sendiri mendefinisikan

komunikasi massa sebagai proses pembentukan makna yang dibagi

antara media massa dan audiens mereka. Berbeda dengan komunikasi

interpersonal yang dapat langsung menerima umpan balik, komunikasi

massa memerlukan jangka waktu tertentu untuk mendapatkan umpan

balik.

Self-disclosure apabila diaplikasikan dalam komunikasi massa ialah

adanya penggunaan media massa untuk melakukan pengungkapan diri.

Dimana komunikasi massa membantu untuk menyebarkan

pengungkapan diri yang dilakukan secara luas kepada banyak orang

secara serentak, baik dengan identitas yang bersifat anonim maupun

tidak. Apalagi dengan penggunaan media sosial atau internet untuk

membagikan self-disclosure, maka pengungkapan yang dilakukan akan

dilihat oleh banyak orang secara bersamaan.

c. Hubungan Interpersonal

Hubungan interpersonal ialah hubungan yang melibatkan dua orang

atau lebih dan saling membentuk kedua belah pihak (Rakhmat, 2017).

Ada tiga tahapan di dalam hubungan interpersonal, yaitu pembentukan

hubungan, peneguhan hubungan, dan pemutusan hubungan. Proses


17

pembentukan hubungan sering kali disebut sebagai tahap perkenalan

atau acquaintance process. Pada tahapan ini terjadi proses pemberian

dan penerimaan informasi, apabila kedua pihak merasa memiliki

kesamaan maka mereka akan saling mengungkapkan diri.

Berger (dalam Rakhmat, 2017) menyebutkan terdapat tujuh kategori

informasi yang dibagikan dalam tahapan pembentukan hubungan ini,

yaitu informasi demografis, sikap dan pendapat mengenai orang atau

objek, rencana yang akan dilakukan, kepribadian, perilaku di masa lalu,

pengetahuan tentang orang lain, serta hobi dan minat. Tidak hanya

informasi tersebut, namun juga bentuk-bentuk non-verbal seperti intonasi

suara, gerak-gerik tubuh, maupun gaya berpakaian.

Rakhmat (2017) menyatakan peneguhan hubungan diperlukan sebab

hubungan interpersonal tidak bersifat statis melainkan selalu berubah.

Peneguhan hubungan memerlukan beberapa faktor, yaitu keakraban,

kontrol, respons yang tepat, serta nada emosional yang tepat. Sementara

pemutusan hubungan menurut Nye (dalam Rakhmat, 2017) akan terjadi

apabila terjadi konflik, yaitu kompetisi, dominasi, kegagalan, provokasi,

dan perbedaan nilai.

Self-disclosure dalam aplikasinya pada hubungan interpersonal telah

ada pada proses pembentukan hubungan. Kedua belah pihak saling

melakukan pengungkapan diri dengan menceritakan berbagai hal tentang

diri mereka termasuk tujuh kategori informasi yang telah disebutkan di

atas. Semakin baik hubungan interpersonal yang terjalin maka akan

semakin terbuka atau semakin banyak pula pengungkapan diri yang

dilakukan.
18

2. Definisi Self-Disclosure

Self-disclosure merupakan gabungan kata dari self dan disclosure. Self

secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai diri dan disclosure diartikan

sebagai penyingkapan. APA (2015) mengartikan self sebagai keseluruhan

diri individu yang mencakup keseluruhan atribut karakteristiknya, pikiran

sadar dan tidak sadarnya, baik secara mental maupun fisik dan mengartikan

self-disclosure sebagai perilaku pengungkapan informasi seseorang yang

bersifat personal atau privat kepada orang lain.

Penelitian mengenai self-disclosure pertama kali dilakukan oleh Sydney

M. Jourard yang meneliti mengenai manfaat dari melakukan self-disclosure.

Jourard berargumen bahwa orang-orang yang mengungkapkan mengenai

dirinya cenderung untuk menjadikan dirinya lebih sehat dan memiliki

kepribadian yang tekun. Ia menjelaskan bahwa orang-orang yang terus

menerus menolak untuk dikenali oleh orang lain memungkinkan diri mereka

untuk mengalami kondisi stres yang tidak mudah untuk dikenali yang

membentuk kepribadian yang tidak sehat dan penyakit fisik yang mengarah

pada psikosomatik (Masur, 2017).

Jourard melakukan penelitian ini bersama Lasakow pada tahun 1958.

Mereka mengembangkan kuesioner pertama yang mengukur secara kilas

balik mengenai apakah orang-orang melakukan pengungkapan mengenai

topik tertentu di masa lalunya dan seberapa banyak hal yang mereka

ungkapkan. Pada tahun 1973, Cozby melakukan penelitian mengenai self-

disclosure yang memiliki hasil yang kontradiktif dengan penelitian Jourard,

Cozby menemukan bahwa individu dengan mental yang sehat menunjukkan

self-disclosure yang tinggi pada orang-orang tertentu dan menunjukkan self-


19

disclosure yang rendah atau sedang pada orang lain. Sementara orang yang

memiliki penyakit mental memiliki self-disclosure yang sangat rendah atau

sangat tinggi kepada siapapun (Masur, 2017).

Wheeless & Grotz (1976) menjabarkan self-disclosure sebagai segala

pesan mengenai diri seseorang yang dikomunikasikan dengan orang lain.

Wheeless dan Grotz juga (dalam Taddicken & Jers, 2011) mendefinisikan

self-disclosure sebagai komponen penting di setiap interaksi sosial dan

merupakan semua hal yang dikatakan kepada orang lain mengenai diri

mereka.

Derlega & Berg (1987) turut mendefinisikan self-disclosure sebagai

sebuah perilaku pengungkapan pikiran, perasaan, atau pengalaman di masa

lampau kepada orang lain yang dilakukan nyaris oleh semua orang setiap

harinya. Greene, Derlega, & Mathews (2009) juga menjelaskan bahwa self-

disclosure merupakan perilaku pengungkapan informasi mengenai diri yang

bersifat sensitif maupun yang tidak begitu penting dan dilakukan secara

verbal maupun non-verbal.

Derlega, et al., (dalam Greene, Derlega, & Mathews, 2009) menjelaskan

bahwa self-disclosure merupakan sebuah interaksi antar dua orang atau

lebih di mana seorang diantaranya secara sadar membeberkan atau

mengungkapkan rahasia yang personal atau pribadi bagi dirinya kepada

yang orang lain. Chelune (dalam Greene, Derlega, & Mathews, 2009) juga

sependapat bahwa self-disclosure merupakan proses pengungkapan

informasi personal mengenai diri kepada orang lain.

Ahmed (2016) menggambarkan self-disclosure sebagai berbagai macam

pesan mengenai diri seseorang yang dikomunikasikan dengan orang lain.


20

Trepte (2015) menjelaskan bahwa self-disclosure digunakan untuk mengatur

dan mengendalikan kebutuhan privasi individu. Sejalan dengan definisi yang

diberikan oleh Wheeless & Grotz (dalam Kim, Shin, & Chai, 2015) bahwa

self-disclosure merupakan perilaku yang dilakukan secara sengaja dan hati-

hati dan perlu dilakukan secara sadar atas keinginan sendiri untuk

mengungkapkan dirinya.

Sidney Jourard (dalam Hendrick, 1987) mendefinisikan self-disclosure

sebagai proses menceritakan kepada orang lain mengenai diri sendiri,

mengungkapkan pemikiran dan juga perasaan yang sangat personal dan

rahasia secara jujur. Menurutnya, memiliki hubungan serta kesehatan yang

baik secara fisik dan psikologis membutuhkan self-disclosure yang cukup

untuk membuka diri dari kehidupan sosial yang membatasi individu.

Self-disclosure dapat dibedakan berdasarkan subjek pembahasan, sifat

pembahasan, dan media di mana self-disclosure dilakukan. Self-disclosure

berdasarkan subjek pembahasan dapat dibagi menjadi personal self-

disclosure dan relational self-disclosure. Personal self-disclosure ialah

pengungkapan mengenai diri sendiri sementara relational self-disclosure

adalah pengungkapan mengenai diri mengenai hubungan atau interaksi

individu dengan orang lain (Greene, Derlega, & Mathews, 2009).

Kellermann (dalam Rains, Brunner, & Oman, 2015) membagi self-

disclosure berdasarkan sifatnya ke dalam dua jenis, yaitu positive self-

disclosure dan negative self-disclosure. Positive self-disclosure dianggap

sebagai pesan mengenai hal-hal yang menyenangkan sementara negative

self-disclosure berisi pesan mengenai hal-hal yang tidak memuaskan.


21

Sementara berdasarkan media terjadinya self-disclosure terbagi menjadi

dua, yaitu offline self-disclosure dan online self-disclosure.

Offline self-disclosure didefinisikan Valkenburg et al., (dalam Chen et al.,

2017) sebagai berbagi pemikiran, perasaan, dan pengalaman kepada orang-

orang terdekat secara langsung, maka online self-disclosure oleh Xie et al.,

(dalam Chen et al., 2017) didefinisikan sebagai segala perilaku di dunia

internet (instant messages, posting-an di media sosial) yang digunakan

untuk menyampaikan informasi dan menjaga komunikasi atau memenuhi

kebutuhan sosial di lingkup internet.

Wang et al., (2017) juga menjelaskan online self-disclosure sebagai

proses dimana individu mengungkapkan informasi personalnya kepada

orang atau kelompok tertentu secara online, karakteristik khusus yang

membedakannya dengan offline self-disclosure ialah sifatnya yang anonim,

tidak teridentifikasi, dan tepat. Posey et al (dalam Wang et al., 2017)

mendukung definisi tersebut dengan menyebutkan lokasi, hobi, dan foto

yang diungkapkan untuk mendaftar atau menggunakan media sosial

merupakan bentuk dari self-disclosure juga.

Miller dan Read (dalam Kim, Shin, & Chai, 2015) mengatakan bahwa

perilaku self-disclosure digunakan dengan tujuan untuk mendapatkan

keintiman (kelekatan), mengesankan orang lain, mengenal orang lain, dan

keinginan untuk diperhatikan. Self-disclosure dianggap mampu untuk

membuat seseorang mengumpulkan dukungan dari orang-orang di

hubungan sosialnya dan sebagai balasannya meningkatkan kepuasan

dalam berteman (Rains, Brunner, & Oman, 2016). Hal ini menurut Schafer
22

(2015) dikarenakan perilaku self-disclosure umumnya akan dilakukan

kepada orang-orang yang dianggap dapat dipercaya.

Pada penelitian ini peneliti memutuskan untuk menggunakan definisi dari

Wheeless & Grotz sebagai dasar dari penelitian ini, sebab peneliti juga

menggunakan dimensi self-disclosure yang mereka kemukakan.

Berdasarkan definisi dari Wheeless & Grotz mengenai self-disclosure dan

menyesuaikan dengan penelitian yang akan dilakukan, self-disclosure

merupakan sebuah perilaku dimana individu melalui media sosial

mengungkapkan pengalaman, pemikiran, serta perasaan mereka yang

bersifat pribadi kepada orang lain. Penelitian ini akan berfokus pada self-

disclosure yang dilakukan oleh perempuan yang merupakan korban

kekerasan seksual.

3. Dimensi Self-Disclosure

Wheeless & Grotz (1976) juga menyebutkan adanya lima dimensi dalam

melihat perilaku self-disclosure manusia, yaitu intent to disclose, amount of

disclosure, positive-negative nature of disclosure, honest-accuracy of

disclosure, dan control general depth. Kim, Sin, & Chai (2015) menjelaskan

kelima dimensi self-disclosure yang dimiliki Wheeless & Grotz ini sebagai

berikut:

a. Intent to Disclose

Intent to disclose adalah kemauan seseorang untuk membuka diri di

media sosial bergantung pada kuatnya hubungan sosial yang ada. Hal ini

dikarenakan untuk melakukan self-disclosure individu perlu untuk merasa

memiliki sesuatu yang mendekatkannya dengan orang-orang di media

sosial. Bergantung pula bagaimana keadaan yang terjadi di media sosial


23

tersebut, apakah saling menguatkan, apakah saling menjatuhkan, apakah

saling meniadakan. Bergantung kepada kebutuhan individu untuk ingin

melakukan self-disclosure pada kondisi lingkungan yang seperti apa.

Indikator perilaku pada dimensi ini misalnya adalah individu melihat

lingkungan media sosialnya berisi dengan orang-orang yang saling

mendukung dan saat itu ia sedang membutuhkan dukungan, maka ia

akan melakukan self-disclosure.

b. Amount of Disclosure

Amount of disclosure adalah frekuensi dan durasi dari pesan yang

berisi pengungkapan diri bergantung pada kedekatan yang dimiliki

dengan disclose target. Semakin dekat dengan disclosure target atau

semakin memiliki kesamaan dengannya, maka akan semakin banyak hal-

hal yang dapat individu ungkapkan mengenai dirinya sebab ia merasa

telah dikenali atau ia merasa hal tersebut dapat dimengerti dan dipahami

oleh disclosure target yang mengalami hal yang hampir sama dengan

discloser. Indikator perilaku pada dimensi ini misalnya adalah individu

akan bercerita panjang atau mendalam atau sangat privat mengenai hal-

hal yang dirasakannya pada fitur close friends dibandingkan tidak

menggunakan fitur tersebut di Instagram.

c. Positive-Negative Nature of Disclosure

Positive-negative nature of disclosure adalah jumlah informasi positif

atau pun negatif yang dipahami oleh discloser maupun disclose target.

Hal ini menjadi penting sebab terdapat perbedaan apabila individu

mengungkapkan hal-hal yang bersifat positif dan ketika mengungkapkan

hal-hal yang bersifat negatif. Respon yang diberikan kepada individu tentu
24

saja akan sangat berbeda. Hal ini pun akan memengaruhi bagaimana

discloser melakukan self-disclosure. Sebab sifat pengungkapan dirinya

yang positif memungkinkan dirinya merasakan emosi positif dan akan

mendapatkan balasan yang positif pula, hal yang sebaliknya pun terjadi

apabila yang ingin diungkapkan adalah hal yang bersifat negatif.

Indikator perilaku pada dimensi ini adalah individu akan memposting

berbagai hal mengenai pernikahannya yang baru saja berlangsung, baik

itu foto, video, curhatan persiapan dan harapannya dibandingkan apabila

individu tersebut baru saja mengalami pemerkosaan. Individu mungkin

tidak akan semudah itu untuk melakukan pengungkapan diri, sebab ia

akan memperhitungkan bagaimana tanggapan orang-orang di media

sosial mengenai pemerkosaan yang dialaminya dan juga pengungkapan

dirinya sendiri. Hal tersebut memengkinkan orang lain untuk memberikan

tanggapan yang buruk mengenai individu tersebut.

d. Honest-Accuracy of Disclosure

Honest accuracy of disclosure adalah kejujuran atau kesahihan dari

self-disclosure yang dilakukan. Kejujuran merupakan hal yang penting

dilihat dari berbagai aspek. Melakukan self-disclosure berarti memberikan

pemahaman atau pengetahuan kepada orang-orang di media sosial

mengenai diri kita. Media sosial merupakan ruang dimana semua orang

memiliki kesempatan dan kemudahan untuk mengaksesnya, apabila

individu melakukan pengungkapan yang tidak jujur mengenai dirinya

sendiri maka orang-orang akan melihatnya sebagai bukan dirinya yang

sebenarnya. Individu kemungkinan besar perlu untuk terus-terusan

melakukan hal tersebut untuk mendukung self-disclosure sebelumnya.


25

Sementara keakuratan self-disclosure yang dilakukan berhubungan

dengan apakah dalam pengungkapan tersebut tidak ada hal yang

dipelintir atau diubah dan tidak memperlihatkan hal yang sebenarnya.

Misalnya pelaku kekerasan seksual mungkin saja akan melakukan

permintaan maaf atau menjelaskan mengenai kejahatan yang

dilakukannya namun dengan beberapa hal yang tidak lagi sesuai dengan

keadaan yang sebenarnya.

e. Control of General Depth

Control of general depth adalah seberapa dalam atau jauh self-

disclosure yang dilakukan. Hal ini berhubungan dengan seberapa ingin

discloser ingin dilihat dan dikenali. Sebab, semakin dalam self-disclosure

yang dilakukan akan memberikan gambaran yang lebih jelas kepada

disclosure target mengenai siapa discloser. Semakin dalam hal yang

diungkapkan juga akan semakin memberikan kejelasan mengenai isu

yang diungkapkan oleh individu dan menghindari terjadinya

kesalahpahaman. Individu mungkin ingin menceritakan mengenai dirinya

namun tidak secara detail, berkaitan dengan privasi.

Misalnya, individu ingin menceritakan mengenai hadiah yang diberikan

oleh pasangannya di media sosial namun tidak ingin menceritakan

dampak besar yang diberikan dan isi hadiah tersebut secara detail.

Individu yang mengalami kejadian buruk dan menceritakan hal ini di

media sosial mungkin belum sanggup untuk menceritakan secara detail

hal tersebut, namun tetap ingin memberitahu bahwa dirinya baru saja

mengalami hal yang tidak menyenangkan.


26

4. Faktor yang Memengaruhi Self-Disclosure

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi Self-Disclosure menurut

para ahli, yaitu:

a. Relationship

Krasnova et al (2010) menunjukkan bahwa relationship building

merupakan salah satu faktor yang memengaruhi orang untuk melakukan

self-disclosure. Melakukan self-disclosure akan semakin memudahkan

individu agar saling mengetahui dengan orang yang baru dikenalnya,

sehingga mereka mudah untuk saling menemukan kesamaan yang

mungkin saja mereka miliki. Ruppel (2014) dalam penelitiannya

menemukan bahwa self-disclosure adalah penentu perkembangan suatu

hubungan. Karena menurut Utz (2015) mempertahankan hubungan

merupakan motif utama orang-orang melakukan self-disclosure dengan

saling bertukar informasi. Kim, Sin, dan Chai (2015) juga menemukan

hasil yang sama, bahwa kuatnya hubungan memengaruhi self-disclosure

pada individu.

b. Attachment

Chen et al (2018) dalam penelitian yang mereka lakukan menemukan

bahwa attachment memengaruhi self-disclosure seseorang, baik itu

attachment avoidance maupun attachment anxiety. Hasil yang sama juga

ditemukan oleh Pangestu & Ariela (2020) bahwa attachment

memengaruhi self-disclosure seseorang. Semakin tinggi tingkat

attachment anxiety atau attachment avoidance seseorang maka akan

semakin rendah tingkat self-disclosure yang dimiliki. Grabrill & Kerns


27

(2000) sendiri menemukan bahwa orang-orang yang memiliki attachment

secure yang tinggi memiliki self-disclosure yang tinggi juga.

c. Privacy

Vogel, Shanahan & Signorielli (2018) menemukan hasil adanya

pengaruh kesadaran privasi terhadap self-disclosure yang memiliki nilai

signifikansi yang negatif. Hal yang sama juga ditemukan oleh Zlatolas et

al (2015), privacy value memiliki pengaruh yang signifikan secara positif

terhadap self-disclosure, semakin tinggi privacy value maka semakin

tinggi pula self-disclosure yang dimiliki.

Sementara privacy awareness, privacy social norms, privacy policy,

dan privacy concern memiliki pengaruh yang signifikan secara negatif

pada self-disclosure. Sehingga semakin tinggi privasi yang dimiliki maka

semakin rendah pula self-disclosure yang dimiliki. Menurut Gruzd &

Garcia (2018), tidak terdapat perbedaan privasi pada self-disclosure yang

dilakukan secara langsung maupun via sosial media. Melalui model

apapun kesadaran privasi tetap memiliki pengaruh yang signifikan

terhadap self-disclosure.

d. Support Seeking

Moors & Weber (2012) yang meneliti mengenai self-disclosure pada

perempuan korban kekerasan seksual menemukan bahwa upaya

melakukan self-disclosure dilakukan karena adanya dorongan untuk

mendapatkan perlindungan atau dukungan dari orang-orang. Pan, Feng

& Wingate (2018) turut mendukung dengan mengatakan bahwa orang-

orang yang mencari dukungan pada orang-orang yang tidak dikenalnya,

utamanya dalam konteks virtual, cenderung akan melakukan self-


28

disclosure sebagai upaya agar orang lain mau memahami dan

memberikan dukungan yang mereka butuhkan. Penelitian yang dilakukan

Pan et al (2020) juga mendukung adanya perilaku mencari dukungan

pada orang-orang yang melakukan self-disclosure. Hal yang sama juga

dikatakan oleh Tichon & Shapiro (2002), yang mana pada penelitian

mereka self-disclosure digunakan untuk mendapatkan dukungan dari

anggota kelompok.

e. Loneliness

Mahoney et al (2019) melakukan penelitian pada orang-orang yang

menggunakan media sosial twitter, hasil penelitiannya menunjukkan

bahwa orang-orang yang merasa kesepian akan melakukan self-

disclosure di media sosialnya. Dimulai dari mengungkapkan kata

sesederhana “I’m lonely” hingga menjelaskan secara detail kesepian

yang mereka alami. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kivran-

Swaine et al (2014), bahwa pengguna twitter melakukan self-disclosure

untuk mengekspresikan kesepian yang mereka rasakan.

Orang-orang yang menceritakan kesepian mereka secara lebih

mendetail mendapatkan lebih banyak respon jika dibandingkan dengan

orang-orang yang menceritakan secara dasar kesepian yang mereka

rasakan. Lee, Noh & Koo (2013) mengatakan kesepian secara positif

memengaruhi self-disclosure, utamanya secara virtual. Sebab menurut

mereka, orang-orang yang kesepian cenderung memiliki

ketidakmampuan dalam bersosialisasi secara langsung dan lebih mudah

mengekspresikan perasaan mereka di media sosial.


29

5. Dampak Self-Disclosure

Self-disclosure memberikan dampak terhadap beberapa hal menurut

para ahli, yaitu:

a. Hubungan

Lee, Noh & Koo (2013) menjelaskan bahwa dengan melakukan self-

disclosure dan menerima respon akan memengaruhi perkembangan

hubungan discloser dengan disclosure target-nya. Para ahli lainnya juga

menemukan hal serupa, bahwa self-disclosure merupakan kunci dari

perkembangan dan kelanggengan suatu hubungan (Ruppel, 2014;

Greene, Derlega, & Mathews, 2009). Hal ini juga didukung oleh hasil

penelitian yang menemukan bahwa self-disclosure meningkatkan rasa

suka dan kelekatan baik kepada orang yang melakukan self-disclosure

maupun kepada lawan bicara yang mendengarkan self-disclosure

tersebut (Sprecher, Treger, & Wondra, 2012).

Melakukan self-disclosure akan memberikan gambaran yang lebih

jelas mengenai siapa sebenarnya individu tersebut, hal ini menjadi faktor

yang membuat individu lainnya mau untuk mendekatkan diri atau memilih

untuk menjauh. Tidak hanya tertarik atau tidak tertarik dengan orang

tersebut melalui pengungkapan dirinya, namun mengetahui orang seperti

apa individu yang sedang menjalin hubungan bersama kita (dalam bentuk

apapun) merupakan salah satu sifat alamiah manusia untuk berinteraksi

dengan tidak semua jenis orang. Melainkan orang-orang dengan kriteria

tertentu bergantung dengan masing-masing individu.


30

b. Mental health

Zhang (2017) yang meneliti mengenai kesehatan mental mahasiswa

yang menggunakan sosial media Facebook, menemukan hasil bahwa

self-disclosure di media sosial memengaruhi kondisi kesehatan mental

mahasiswa, khususnya yang mengalami masalah dengan stress

akademik. Hal ini didukung oleh penelitian Coates & Winston (1987)

bahwa menceritakan perasaan membantu mahasiswa untuk menjadi

lebih sehat dan bahagia. Selain itu, penelitian yang dilakukan Levi-Belz

(2016) menunjukkan bahwa dengan melakukan self-disclosure, para

suicie survivor akan membantu mereka untuk melakukan refleksi dan

memahami kejadian yang mereka alami, sebab mereka mulai mampu

untuk mengungkapkan perasaan mereka.

Sebab menurut Brown & Heimberg (2001), individu yang mengalami

kesulitan utnuk menceritakan perasaan mereka memiliki kesulitan untuk

memiliki perspektif yang konstruktif atas apa yang mereka rasakan.

Ulman & Hagene (2014) dalam penelitian mereka mengenai korban

kekerasan seksual menemukan bahwa reaksi positif atas self-disclosure

korban membantu meninngkatkan kontrol atas pemulihan diri dan

membantu korban untuk terhindar atau mengurangi kemunculan simtom-

simtom post-traumatic stress syndrome (PTSD)

c. Dukungan

Pada bagian faktor telah disebutkan bahwa support seeking menjadi

faktor yang membuat orang-orang mau melakukan self-disclosure.

Sebagai dampak dari self-disclosure tersebut, orang-orang mendapatkan

dukungan sosial yang mereka butuhkan. Pan, Feng & Wingate (2018)
31

dalam penelitiannya menemukan bahwa orang-orang yang melakukan

self-diclosure di media sosial mendapatkan dukungan dari orang lain.

Semakin dalam pengungkapan yang dilakukan semakin besar

kecenderungan untuk pemberi dukungan juga mengungkapkan diri

mereka.

Lee, Noh & Koo (2013) pada penelitiannya menemukan bahwa self-

disclosure secara positif berhubungan dengan dukungan sosial. Sebab

orang-orang yang melakukan self-disclosure cenderung untuk meminta

dukungan dari orang-orang yang menjadi tempat berceritanya. Hasil

penelitian tersebut semakin dikuatkan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Zhang (2017) yang menemukan bahwa self-disclosure secara positif

memberikan pengaruh pada penerimaan dukungan seseorang, yang

mana pada penelitian ini ialah dukungan sosial.

d. Life satisfaction

Penelitian yang dilakukan oleh Miller (2020) mengenai penguna media

sosial Reddit, menunjukkan hasil bahwa pengguna yang melakukan self-

disclosure lebih memiliki life satisfaction yang tinggi dibandingkan

pengguna yang tidak melakukan self-disclosure. Hal ini juga ditemukan

pada mahasiswa yang mengahadapi konflik pada penelitian Arslan,

Hamarta, & Uslu (2010), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa

mahasiswa yang mengekspresikan emosinya dan mengungkapkan

dirinya memiliki life satisfaction atau kepuasaan hidup yang lebih positif.

Hal ini dikarenakan mengungkapkan perasaan dan diri kita membantu

untuk memudahkan dalam mengatasi masalah-masalah yang sedang

dihadapi. Serupa dengan kedua penelitian sebelumnya, Pang (2018)


32

yang meneliti perilaku self-disclosure mahasiswa di China yang

menggunakan sosial media Weibo menemukan bahwa self-disclosure

memiliki pengaruh yang positif terhadap life-satisfaction mahasiswa. Hal

ini dikarenakan perilaku mengungkapkan diri membuat mahasiswa

mendapatkan perhatian dan dapat terkoneksi dengan orang-orang.

e. Well-Being

Luo & Hancock (2019) menemukan bahwa self-disclosure

berpengaruh pada psychological well-being seseorang, hal ini

dikarenakan adanya beberapa mekanisme (dukungan sosial,

keterhubungan, dll) dan motivasi (interpersonal dan intrapersonal). Kim,

Chung, & Ahn (2013) pada penelitian mereka mengenai media sosial di

Korea juga menemukan hasil bahwa melakukan self-disclosure

menyebabkan timbulnya subjective well-being pada diri individu yang

menggunakan media sosial.

Hal ini dikarenakan mengungkapkan diri mereka menjadi cara

pengguna media sosial untuk mendapatkan well-being, sebab mereka

dapat terkoneksi dengan banyak orang. Ko & Kuo (2009) sendiri meneliti

self-disclosure pengguna blog atau yang biasa disebut sebagai blogger.

Penelitian mereka menemukan hasil bahwa self-disclosure secara

signifikan memengaruhi subjective well-being para blogger, sebab

dengan menuliskan mengenai perasaan mereka para blogger berbagi

perasaan yang mendekatkan dan membentuk hubungan dengan para

blogger lain yang membaca tulisan mereka.


33

6. Pengukuran Self-Disclosure

a. Self-Disclosure Questionnaire (JSDQ)

Jourard (dalam Greene, Derlega, & Mathews, 2009) merupakan

pencetus awal penelitian self-disclosure. Menurutnya, keterbukaan

merupakan salah satu kunci yang menjadi prasyarat atas hubungan yang

sehat. Skala pengukuran pertama terhadap self-disclosure ialah skala

yang diciptakan oleh Jourard pada tahun 1958 yaitu Jourard Self-

Disclosure Questionnaire (JSDQ), namun skala ini dianggap memiliki

prediksi yang lemah terhadap perilaku self-disclosure seseorang.

b. Self-Disclosure Situation Survey (SDSS)

Chelune pada tahun 1976 menciptakan Self-Disclosure Situation

Survey (SDSS) yang melibatkan variasi situasi untuk mengukur self-

disclosure seseorang (Greene, Derlega, & Mathews, 2009). Self-

Disclosure Situation Survey terdiri atas 20 item yang menggambarkan

empat situasi berbeda untuk target yang berbeda pula, alat ukur ini secara

spesifik dibuat untuk sensitif atau peka terhadap kondisi sosial yang

memengaruhi self-disclosure. Alat ukur ini juga menjadi alat ukur yang

fleksibel untuk mengukur self-disclosure bergantung pada situasi subjek.

Skor reliabilitas SDSS pada tiga jumlah sampel yang berbeda (n = 79, 74,

dan 56) ialah 0.88, 0.89, dan 0.80, meski dengan sampel yang lebih kecil

yaitu 27, hasil skor pengujian ulangnya menunjukkan angka 0.75

(Chelune, 1976).

c. Self-Disclosure Scale

Greene, Derlega, & Mathews (2009) berusaha menggabungkan

berbagai jenis dimensi self-disclosure yang ada. Karena dimensi tersebut


34

terdiri atas berbagai teori dan penelitian. Dimensi yang mereka cetuskan

menggambarkan berbagai versi dimensi self-disclosure, namun dimensi

ini belum pernah digunakan untuk mengukur self-disclosure seseorang.

Wheeless & Grotz (1976) juga membuat Self-Disclosure Scale pada

tahun 1976. Skala ini mulanya terdiri atas 32 item yang mengecil hingga

menjadi 18 item dengan enam dimensi sebelum akhirnya menjadi 16 item

dengan enam dimensi. Skala ini telah diadaptasi salah satunya oleh oleh

Kim, Shin, & Chai (2015) agar sesuai dengan penggunaan SNS atau

media sosial di masa sekarang. Self-Disclosure Scale milik Wheeless &

Grotz akan menjadi skala pengukuran self-disclosure yang digunakan

peneliti dalam penelitian ini.

B. Trust

1. Teori-Teori Trust

Trust juga merupakan variabel yang menjadi bagian dari psikologi sosial.

Baron & Branscombe (2013) mendefinisikan psikologi sosial sebagai cabang

ilmu psikologi yang berfokus pada upaya untuk memahami penyebab dari

perilaku dan pemikiran manusia, dimana hal tersebut menjadi faktor yang

membentuk perasaan, perilaku, dan pemikiran dalam situasi sosial. Trust

dalam psikologi sosial dijelaskan oleh beberapa teori berikut, yaitu:

a. Hubungan Interpersonal

Hubungan interpersonal ialah hubungan yang melibatkan dua orang

atau lebih dan saling membentuk kedua belah pihak (Rakhmat, 2017).

Ada tiga tahapan di dalam hubungan interpersonal, yaitu pembentukan

hubungan, peneguhan hubungan, dan pemutusan hubungan. Proses


35

pembentukan hubungan sering kali disebut sebagai tahap perkenalan

atau acquaintance process. Pada tahapan ini terjadi proses pemberian

dan penerimaan informasi, apabila kedua pihak merasa memiliki

kesamaan maka mereka akan saling mengungkapkan diri.

Berger (dalam Rakhmat, 2017) menyebutkan terdapat tujuh kategori

informasi yang dibagikan dalam tahapan pembentukan hubungan ini,

yaitu informasi demografis, sikap dan pendapat mengenai orang atau

objek, rencana yang akan dilakukan, kepribadian, perilaku di masa lalu,

pengetahuan tentang orang lain, serta hobi dan minat. Tidak hanya

informasi tersebut, namun juga bentuk-bentuk non-verbal seperti intonasi

suara, gerak-gerik tubuh, maupun gaya berpakaian.

Rakhmat (2017) menyatakan peneguhan hubungan diperlukan sebab

hubungan interpersonal tidak bersifat statis melainkan selalu berubah.

Peneguhan hubungan memerlukan beberapa faktor, yaitu keakraban,

kontrol, respons yang tepat, serta nada emosional yang tepat. Sementara

pemutusan hubungan menurut Nye (dalam Rakhmat, 2017) akan terjadi

apabila terjadi konflik, yaitu kompetisi, dominasi, kegagalan, provokasi,

dan perbedaan nilai.

Selain itu, Rakhmat (2017) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang

menumbuhkan hubungan interpersonal ialah percaya, sikap suportif, dan

sikap terbuka. Percaya menjadi faktor yang paling penting dalam

hubungan interpersonal. Sehingga, implikasi hubungan interpersonal

pada trust ialah saat perilaku pihak yang satu dapat mempengaruhi pihak

lainnya, dimana pengaruh tersebut dapat memberi keuntungan maupun

memberikan kerugian.
36

b. Prasangka

Baron & Brancombe (2013) menggambarkan prasangka sebagai sikap

yang biasanya bersifat negatif kepada orang-orang yang menjadi bagian

dari kelompok sosial tertentu. Sikap ini dapat dipicu oleh cara atau

perilaku yang otomatis muncul maupun sesuatu yang secara alami harus

dipatuhi. Meski begitu, tidak semua prasangka sama atau tidak didasari

oleh perasaan negatif yang sama. Mackie, Devos, & Smith (dalam Baron

& Brancombe, 2013) memberi contoh apabila prasangka menimbulkan

rasa marah, maka orang akan cenderung melakukan kekerasan pada

kelompok yang diprasangkai.

Orang-orang cenderung membedakan dirinya menjadi “us” atau “kami”

dan “them” atau “mereka”. Orang-orang yang berada pada kategori “us”

dilihat sebagai hal yang disukai sementara orang-orang yang berada

pada kategori “trust” dilihat sebagai hal yang negatif. Sehingga beberapa

kelompok “us” seharusnya tidak disukai. Implikasi prasangka terhadap

trust dapat dilihat pada adanya kecenderungan untuk memiliki pandangan

positif pada orang yang dianggap sama, pandangan positif tersebut

menjadi acuan orang-orang untuk percaya.

2. Definisi Trust

Trust secara harfiah diterjemahkan sebagai kepercayaan. Kamus Besar

Bahasa Indonesia (2016) menyebutkan kepercayaan merupakan anggapan

atau keyakinan bahwa sesuatu yang dipercayai itu benar atau nyata. Kamus

American Psychology Association (2015) mendefinisikan trust sebagai

perilaku menggantungkan diri atau kepercayaan diri untuk bergantung


37

kepada orang lain atau sesuatu. Trust juga didefinisikan sebagai

kepercayaan diri bahwa orang lain atau suatu kelompok dapat diandalkan,

utamanya, perasaan bahwa individu dapat bergantung pada orang lain dan

untuk melakukan apa yang individu inginkan. Namun, hal tersebut tidak

begitu saja dapat dilakukan dengan mudah.

Yamagishi & Yamagishi (1994) mendefinisikan trust sebagai bias kognitif

dari informasi yang tidak lengkap mengenai orang lain, sehingga individu

mengekspektasikan adanya perilaku baik dan maksud ramah dari orang lain.

Rempel, Holmes, dan Zanna (1985) mendefinisikan trust sebagai

generalisasi terhadap ekspektasi atas pandangan subjektif seseorang

mengenai adanya kemungkinan orang lain dapat melaksanakan tugas atau

hal-hal lainnya di masa depan untuk dirinya.

Frederique Six (2005) menjelaskan bahwa trust tidak dapat ‘diinstal’,

maksudnya trust tidak dapat begitu saja hadir di dalam sebuah hubungan

dengan anggapan hal tersebut akan terus-terusan ada dan dapat

ditinggalkan begitu saja. Penjelasan tersebut sejalan dengan Luhmann

(dalam Six, 2005), bahwa trust paling baik dipahami dari perspektif belajar,

sehingga trust haruslah dipelajari. Bukannya hadir begitu saja dan dibiarkan

bekerja begitu saja.

Frederique Six (2005) sendiri mendefinisikan trust sebagai tahapan

psikologis dimana individu menerima adanya kemungkinan untuk dapat

terluka atas perilaku orang lain berdasarkan ekspektasi bahwa orang lain

akan melakukan hal yang penting untuk dirinya, tanpa memikirkan

kemungkinan atau keharusan untuk mengawasi dan mengontrol orang lain

tersebut. Hal ini, menurut Six, didasarkan adanya ekspektasi dan sikap
38

optimis bahwa trust yang dimilikinya tidak akan disalahgunakan untuk

mendapatkan keuntungan tertentu.

Mockaitis et al., (dalam Fortier, Leung, & Verreault, 2011) menyebutkan

bahwa trust merupakan kesediaan individu untuk mudah menerima segala

perilaku dari orang lain karena adanya ekspektasi bahwa orang lain tersebut

akan melakukan hal yang penting bagi individu. Hal tersebut juga dijelaskan

oleh Zaheer et al., (Sanchez & Velez, 2011) bahwa trust merupakan

sekumpulan perasaan atau persepsi yang dimiliki individu bahwa orang lain

akan melakukan kepentingannya.

Fortier, Leung, Verreault (2011) mengatakan trust cenderung diberikan

kepada individu yang memiliki reputasi yang baik atas pekerjaan dan hasil

pekerjaannya. Hal ini sesuai dengan penjelasan Jarvenpaa & Leidner (dalam

Fortier, Leung, Verreault, 2011) bahwa trust hanya dapat dipertahankan

melalui aksi atau perilaku yang bersifat kompeten, sangat aktif, dan antusias.

Perilaku yang kompeten yang disebutkan dapat menjadi indikasi baiknya

reputasi pekerjaan maupun hasil pekerjaan individu.

Trust dapat terbentuk karena adanya kesamaan, misalnya adanya

kesamaan kelompok yang disebut sebagai category-based trust. Category-

based trust merupakan rasa percaya yang dibentuk berdasarkan kelompok

dimana individu berada dan menjadi bagian di dalamnya (in group) dan

kelompok dimana individu tidak menjadi bagian di dalamnya (out group),

individu akan berperilaku berbeda kepada orang-orang yang berada dalam

in group dibandingkan dengan orang-orang yang berada di dalam out group.

Hal ini selaras dengan konsep cognitive familiarity dalam trust. Lewis &

Weigert (dalam Frederique Six, 2005) menyebutkan bahwa trust akan


39

relevan terjadi apabila terdapat cognitive familiarity yang dimiliki oleh trustor

(orang yang melakukan trust) kepada trustee (orang yang dipercayai).

Hardin (dalam Frederique Six, 2005) menggenapi penjelasan tersebut

dengan menyatakan akan selalu ada cognitive familiarity, meskipun bukan

bagian dari hal personal.

Trust dalam hubungan interpersonal pun apabila dilihat dari tingkatannya

terbagi menjadi generalised hingga specific (Rottenberg, 1994; Rotter, 1980

dalam Betts & Elder, 2011). Generalised trust merupakan keyakinan yang

dimiliki individu kepada orang atau kelompok yang tidak begitu dikenalinya,

sementara specific trust adalah keyakinan individu kepada orang atau

kelompok yang telah dikenalinya dengan baik (Rotter dalam Betts & Elder,

2011).

Adanya keyakinan tersebut menjadikan orang-orang mau melakukan

trust. Trust merupakan hal yang menyebabkan individu untuk mau

melakukan hal yang berisiko meski memiliki kesempatan yang kecil untuk

dapat memantau atau mengontrol orang lain, dimana individu dapat

dikecewakan atas perilaku orang lain yang dipercayainya. Hal ini juga

dikarenakan trust seringkali didasarkan pada kesan yang stereotip kepada

orang lain, sehingga individu hanya melakukan trust tanpa benar-benar

menerimanya (Fortier, Leung, Verrault, 2011).

Trust merupakan situasi dimana trustor membiarkan dirinya berada pada

keadaan yang mudah untuk dilukai atas perilaku trustee. Meski begitu trust

memerlukan ketiadaan sikap oportunis atau sikap untung sendiri dari trustee,

agar trustor dapat merelakan dirinya kepada perilaku atau sikap dari trustee

(Six, 2005). Hal yang tidak dapat dipungkiri meskipun sikap oportunis
40

tersebut tidak ada dalam diri trustee adalah, ketika trust hancur, trustor akan

terluka (Hosmer, 1995; Lane, 1998 dalam Six, 2005).

Terlepas dari konsekuensi yang mungkin terjadi, Anderson & Weitz

(dalam Sanchez dan Velez, 2011) menegaskan bahwa trust merupakan

kepercayaan yang dipegang oleh individu bahwa keperluannya nantinya

akan terpenuhi berkat perbuatan orang lain. Six (2005) pun menyebutkan

bahwa trust membutuhkan adanya sikap ketergantungan (dependent), sikap

lemah (vulnerability), dan optimis (optimistic) atas hasil yang baik.

Rotter (dalam Betts & Elder, 2011) mengungkapkan bahwa trust

merupakan hal yang penting atau utama dalam setiap interaksi sosial dan

sangat penting dalam membentuk suatu hubungan, mempertahankannya,

serta dalam melewati berbagai rintangan. Hosmer (dalam Six, 2005)

menegaskan bahwa trust merupakan sebuah pilihan yang memerlukan sikap

sukarela, bukan terjadi karena dipaksa. Trust berdasarkan semua definisi

diatas dapat disimpulkan sebagai sebuah kesediaan atau keyakinan

individu, bahwa dirinya akan mendapatkan pertolongan atau ekspektasinya

akan dipenuhi atau diberikan oleh orang lain yang dalam hal ini memiliki

kerentanan untuk menghancurkan ekspektasi tersebut.

3. Dimensi Trust

Yamagishi & Yamagishi (1994) menjabarkan dua dimensi yang dimiliki

trust, yaitu:

a. Honesty

Honesty merupakan sifat kejujuran yang dimiliki oleh seseorang, telah

membawa atau terbiasa dengan sifat tersebut, yang membuatnya

memiliki integritas yang tinggi. Honesty juga dapat diartikan sebagai


41

kemampuan individu untuk mengekspresikan perasaan yang

dirasakannya dan mampu untuk mengkomunikasikannya secara

langsung, termasuk konflik, pertentangan dalam diri, atau perasaan

bersalah (APA, 2015). Dimensi ini menjadi penting untuk ada, karena

dalam melakukan trust individu memberikan ekspektasi atau harapan

kepada orang yang memiliki kemampuan untuk diberikan hal tersebut.

Honesty merupakan salah satu dimensi yang membuat individu mampu

untuk melihat dan menilai pantaskah seseorang mendapatkan trust dari

dirinya atau tidak. Contoh indikator keperilakuan pada dimensi ini ialah

individu dengan jujur mengatakan dirinya tidak menyukai perilaku yang

diterimanya. Pada kondisi perempuan korban kekerasan seksual yang

melakukan self-disclosure, sikap jujur yang dimiliki orang lain dibutuhkan

agar korban dapat mengetahui dengan jelas respon atau tanggapan

mengenai dirinya.

b. Trustworthy

Trustworthy secara harfiah diterjemahkan sebagai perilaku dapat

dipercaya. Hal ini menjadi dimensi yang penting untuk melihat sejauh

mana orang lain dapat diberikan trust. Contoh indikator perilaku

trustworthy ialah ketika seseorang benar-benar melakukan apa yang

diminta. Pada kasus perempuan korban kekerasan seksual yang

menceritakan pengalaman kekerasan seksualnya di media sosial pada

salah satu akun instagram, seorang korban yang bercerita meminta agar

foto dan namanya tidak diperlihatkan, dan akun tersebut benar-benar

melakukannya.
42

4. Faktor yang Memengaruhi Trust

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi trust menurut para ahli,

yaitu:

a. Interaksi sosial

Zhang & Gu (2015) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa interaksi

sosial (social interaction) adalah proses dinamika yang memberikan

informasi antara individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dan

kelompok. Tsai & Goshal (1998) menemukan bahwa semakin tinggi

interaksi maka semakin tinggi pula kepercayaan yang dimiliki seseorang.

Koranteng et al (2020) juga menemukan hal yang sama bahwa interaksi

sosial memengaruhi trust orang-orang di media sosial.

Eksperimen yang dilakukan oleh Jia, Collins, & Nixon (2009) pada

proses terbentuknya kepercayaan menunjukkan bahwa interaksi sosial

yang melibatkan perilaku-perilaku seperi berkata kasar ataupun

melakukan manipulasi dan perilaku negatif lainnya akan memengaruhi

kepercayaan yang dimiliki. Cui et al (2015) pada penelitian mereka juga

menemukan bahwa interaksi sosial yang bervariasi, baik di tempat kerja

ataupun komunitas, berpengaruh pada kepercayaan individu utamanya

pada lingkungan sosialnya.

b. Perbedaan budaya

Kim (2008) meneliti mengenai perbedaan budaya pada penduduk di

Amerika Serikat dan Korea Selatan terhadap pengaruhnya pada

kepercayaan, hasil penelitian yang dilakukannya menunjukkan bahwa

penduduk Amerika Serikat yang memiliki budaya individual dan terbuka

akan risiko lebih memiliki tingkat kepercayaan berdasarkan pandangan


43

pribadi (self-perception-based trust) yang tinggi dibanding penduduk

Korea Selatan. Sementara, pada kepercayaan yang didasarkan dari

pandangan umum (transference-based trust) lebih cenderung dimiliki oleh

penduduk Korea Selatan yang memiliki budaya saling berbagi pandangan

dan opini, sangat dipengaruhi tradisi dan pandangan kelompok.

Hal ini didukung oleh penelitian Fukuyama (1995), bahwa individu

dengan budaya low-trust society memiliki kepercayaan yang rendah

terhadap individu yang tidak memiliki ikatan atau relasi dengan mereka

namun memiliki ikatan keluarga yang kuat. Selain mereka, Gefen,

Benbasat, & Pavlou (2008) juga menyarakan bahwa perbedaan budaya

juga mempengaruhi trust. Sebab bentuk trust yang dimiliki individu

dibentuk oleh keyakinan dan nilai-nilai yang dianut oleh individu, dimana

hal tersebut sangat dipengaruhi oleh budaya

c. Stress

Cardoso et al (2013) meneliti mengenai peran hormon oxytocin

sebagai moderator terhadap stress dan trust, dari penelitian tersebut

ditemukan bahwa orang-orang dengan tingkatan stres yang tinggi akan

memiliki trust yang rendah, namun setelah diberikan hormon oxytocin

mereka akan memiliki tingkatan stres yang rendah dan trust yang

meningkat. Namun hal tersebut masih harus disertai dengan faktor

eksternal lainnya seperti empati dan kondisi dari individu tersebut.

Potts et al (2019) sendiri dalam penelitiannya juga menyebutkan

bahwa stres akut mengurangi kepercayaan yang dimiliki seseorang, hal

ini akan semakin kompleks bergantung pada respon fisiologis individu

terhadap stress yang dimilikinya. Matson et al (2020) sendiri meneliti


44

mengenai pengaruh stress dalam hubungan berpacaran terhadap

kepercayaan yang dimiliki remaja, penelitian mereka menyimpulkan

bahwa kepercayaan dipengaruhi oleh faktor stress, yang mana akan

berkurang seiring dengan adanya faktor stress yang remaja alami dalam

hubungannya.

d. Norm of Reciprocity

Koranteng et al (2020) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa salah

satu faktor yang secara signifikan memengaruhi kepercayaan ialah norm

of reciprocity. Norm of reciprocity merupakan situasi ketika masing-

masing individu berinteraksi dengan adil serta saling mengerti. Penelitian

Koranteng dan sejawatnya juga didukung oleh penelitian yang dilakukan

oleh Chiu, Hsu, & Wang (2006). Dengan adanya perilaku saling mengerti

dan adil dalam beinteraksi meningkatkan kepercayaan seseorang.

Perilaku ini memunculkan intensitas dalam komunikasi individu dan juga

integritas serta benevolence (Ridings, Gefen, & Arinze, 2002). Dimana

benevolence merupakan salah satu dimensi dari trust yang dikemukakan

oleh Six (2005).

e. Reputasi

Wang & Vassileva (2007) dalam penelitiannya menemukan bahwa

reputasi memengaruhi kepercayaan para pengguna media sosial. Hal ini

juga dibenarkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Rhameswari &

Tjahjaningsih (2016) pada para pekerja bahwa reputasi yang mereka

miliki memengaruhi kepercayaan antar rekan kerja. Hasil yang sama juga

ditemukan pada penelitian yang dilakukan Einwiller (2003), reputasi yang

dimiliki oleh para pedagang memengaruhi kepercayaan para kostumer


45

yang hendak membeli dagangan mereka, utamanya yang dilakukan

secara virtual. Casalo, Flavian, & Guinaliu (2007) dalam penelitian

mereka mengenai kepercayaan konsumen juga menemukan hal yang

sama, reputasi merupakan faktor yang memengaruhi kepercayaan para

kostumer pada sebuah website.

5. Dampak Trust

Trust memberikan dampak terhadap beberapa hal menurut para ahli,

yaitu:

a. Happiness

Poulin & Haase (2015) pada penelitian mereka mengenai trust

ditemukan bahwa trust memiliki dampak terhadap kebahagiaan

seseorang. Hal yang sama juga ditemukan oleh Jasielska (2020), dimana

dalam penelitiannya trust memengaruhi kebahagiaan dan pengaruh

tersebut akan semakin kuat apabila kebaikan (kindness) juga disertakan.

Tokuda, Fujii, & Inoguchi (2017) dalam penelitian mereka pada orang-

orang Jepang menemukan bahwa ketidakpercayaan yang individu miliki

kepada orang lain berpengaruh secara signifikan kepada

ketidakbahagiaan, sehingga kepercayaan diperlukan agar orang-orang

dapat meningkatkan kebahagiaan mereka.

Hasil lainnya ditemukan pada penelitian di China yang dilakukan oleh

Fu (2017), bahwa kepercayaan terhadap terhadap politik atau sistem

pemerintahan secara positif meningkatkan kebahagiaan pada

masyarakat di China. Eksperimen yang dilakukan oleh Dunn &

Schweitzer (2005) terhadap emosi dan trust menemukan hasil bahwa

terdapat beberapa jenis emosi yang tiba-tiba secara signifikan turut


46

memengaruhi kepercayaan pada hal-hal yang tidak terkait, salah satunya

ialah happiness. Hasil eksperimennya menunjukkan bahwa kebahagiaan

termasuk jenis emosi yang memengaruhi trust lebih daripada beberapa

emosi lainnya.

b. Life Satisfaction

Mikucka, Sarracino, & Dubrow (2017) yang meneliti pertumbuhan

ekonomi 46 negara menunjukkan hasil bahwa life satisfaction penduduk

suatu negara dipengaruhi oleh social trust yang penduduknya miliki. Hasil

penelitian ini juga menunjukkan bahwa hal tersebut lebih kuat

pengaruhnya pada negara-negara kaya dibanding dengan negara-

negara miskin. Helliwell (2008) menyebutkan bahwa peran kepercayaan

terhadap life satisfaction secara signifikan terbukti pada konteks

komunitas, tempat kerja dan bangsa-bangsa.

Graafland & Lous (2019) yang meneliti mengenai ketikaksetaraan

pendapatan pada 25 OECD pada periode 1990-2014 menunjukkan hasil

bahwa regulasi yang dibuat untuk meningkatkan kepercayaan

masyarakat mengenai ketidaksetaraan pendapatan mengurangi

ketidaksetaraan terhadap atas kepuasaan hidup. Sehingga, penelitian

tersebut juga mendukung bahwa kepercayaan meningkatkan kepuasan

hidup seseorang.

c. Well-Being

Poulin & Haase (2015) dalam penelitiannya menemukan bahwa trust

meningkatkan well-being seseorang dalam waktu jangka panjang.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa semakin tua seseorang

maka tingkatan trust yang dimilikinya akan semakin meningkat. Hu (2020)


47

menemukan bahwa kepercayaan kepada orang-orang terdekat

memengaruhi well-being individu dan jauh lebih kuat dibanding

kepercayaan secara umum.

Namun, Hu juga menemukan bahwa sekalipun kepercayaan pada

orang-orang terdekat lebih kuat memengaruhi well-being individu tidak

berarti kondisi mental tersebut dapat dipertahankan, apabila terdapat

perbedaan antara in group dan out group. Sehingga Hu menyarankan

bahwa individu sebaiknya tidak hanya memercayai seseorang saja,

namun semua orang untuk dapat meningkatkan well-being yang dimiliki.

d. Self-Rated Health

Selain Well-being, Poulin & Haase (2015) juga menyebutkan bahwa

self-related health juga turut dipengaruhi oleh trust. Hasil ini juga

ditemukan oleh Engstrom et al (2008), mereka menemukan bahwa

kepercayaan sipil dan politik berkontribusi dalam self-related health

individu yang berada di negara Swiss. Nieminen et al (2010) yang meneliti

mengenai social capital dan self-related health menunjukkan bahwa

kepercayaan yang menjadi bagian dari modal sosial seseorang

memengaruhi self-related health yang baik bagi individu. Jen et al (2010)

yang meneliti 69 negara menemukan hasil bahwa kepercayaan dan

situasi kesehatan yang baik memengaruhi self-related health individu dari

negara-negara yang memenuhi hal tersebut.

e. Self-Disclosure

Trust merupakan salah satu faktor yang menyebabkan orang-orang

mau untuk melakukan self-disclosure. Zolowere, et al., (2008) dalam

penelitiannya mengenai self-disclosure orang-orang yang mempunyai isu


48

kesehatan, mengungkapkan bahwa trust merupakan salah satu faktor

yang mempengaruhi orang-orang mau untuk melakukan self-disclosure.

Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Paiva, Segurado, & Filipe

(2011) terhadap self-disclosure pada isu kesehatan yang cukup sensitif

seperti HIV, trust merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

orang-orang untuk mau melakukan self-disclosure.

Hal tersebut semakin meningkat apabila dilakukan pada orang-orang

terdekat atau orang-orang dengan penyakit yang sama. Tidak hanya

pada orang-orang terdekat, Lin, et al., (2016) dalam penelitiannya juga

menyebutkan bahwa trust berasosiasi secara positif dengan online self-

disclosure pada orang-orang di Amerika Serikat dan juga Korea Selatan.

Meskipun hal tersebut tidak berlaku pada negara Hongkong. Hal ini telah

menunjukkan bahwa trust memberikan dampak pada perilaku self-

disclosure seseorang baik kepada orang-orang di lingkungannya maupun

orang-orang yang berada di media sosial.

6. Pengukuran Trust

a. Interpersonal Trust Scale

Rotter mencetuskan alat ukur Interpersonal Trust Scale pada tahun

1967. Skala tersebut dirancang untuk mengukur kecenderungan

seseorang untuk mau memercayai orang lain dan tingkat trust yang

dimilikinya dalam lingkungan sosial. Skala ini memiliki 25 item yang

digunakan oleh banyak orang untuk mengukur trust, meskipun skala ini

tidak diungkapkan dimensinya oleh Rotter (Pangalila dan Budiarto, 2017).

Hasil dari analisis faktor (EFA) yang dilakukan menghasilkan empat

dimensi pada skala Rotter, yaitu exploiting institutional factor, role trust,
49

sincerity trust, dan trust about future. Sementara berdasarkan hasil CFS

(Correction Feature Selection) ditemukan dua faktor yang mewakili

populasi, yaitu faktor caution dan sincerity. Namun, penelitian ini

menemukan bahwa interpersonal trust scale memiliki reliabilitas yang

cukup lemah (α: 0.643) sehingga tidak cukup konsisten untuk digunakan

dalam mengukur trust secara general (Pangalila dan Budiarto, 2017).

b. General Trust Scale

Terdapat pula General Trust Scale yang dikembangkan oleh

Yamagishi berdasarkan 60 item skala Rotter pada tahun 1967 yang ia

seleksi menjadi 6 item saja. Alat ukur ini memiliki reliabilitas yang cukup

baik (α: 0.77), namun penelitian yang dilakukan Johnson pada tahun 2010

menunjukkan bahwa Interpersonal Trust Scale memiliki excellent rating

apabila dibandingkan dengan alat ukur Yamagishi. Meski begitu General

Trust Scale mengukur trust secara general apabila dibandingkan dengan

Interpersonal Trust Scale (Pangalila dan Budiarto, 2017).

c. Trust Scale

Rempel (dalam Rempel, Holmes, & Zanna, 1985) juga

mengembangkan alat ukur trust, yaitu Trust Scale. Skala tersebut terdiri

dari 26 item yang terdiri atas tiga dimensi, yaitu predictability,

dependability, dan faith. Namun, dalam uji cobanya skala ini hanya

menyisakan 16 item sebab beberapa item lainnya ada yang tidak memiliki

korelasi dengan dimensi yang ada. Grace, Pratiwi, & Indrawati (2018)

dalam penelitiannya menggunakan Trust Scale dengan jumlah item

sebanyak 17 item untuk mengukur kepercayaan dalam hubungan

romantis dan kekerasan dalam pacaran pada perempuan.


50

C. Perempuan Korban Kekerasan Seksual

1. Definisi Perempuan Korban Kekerasan Seksual

Statuta Roma pasal 7 ayat 1 (g)-6 mendefinisikan kekerasan seksual

sebagai perilaku yang dilakukan kepada seseorang atau lebih yang

menyebabkan orang bersangkutan atau orang-orang tersebut terlibat dalam

tindakan seksual dengan kekerasan, atau dengan ancaman kekerasan atau

pemaksaan, seperti memberikan rasa takut akan kekerasan, paksaan,

penahanan, penekanan psikologis atau penggunaan kekuasaan, terhadap

seseorang atau orang lain, atau dengan mengambil kesempatan dari

lingkungan yang memaksa atau ketidakmampuan seseorang atau orang

bersangkutan untuk memberikan persetujuan yang ikhlas (Komnas

Perempuan, 2006). Penelitian ini berfokus pada perempuan yang menjadi

korban atas tindak kekerasan seksual tersebut.

2. Bentuk-Bentuk Kekerasan Seksual pada Perempuan

Komnas Perempuan menyebutkan terdapat 15 bentuk kekerasan seksual

yang didasarkan pada fakta kejadian, pengembangan dari perundang-

undangan, dan dokumentasi internasional. Bentuk-bentuk kekerasan

seksual tersebut, ialah (Komnas Perempuan, 2013):

a. Pemerkosaan, merupakan serangan dalam bentuk pemaksaan untuk

melakukan hubungan seksual dengan menggunakan penis, jari, atau

benda lain ke arah vagina, anus, atau mulut korban. Hal ini disertai

dengan kekerasan, ancaman kekerasan, penahanan, penekanan secara

psikologis, penyalahgunaan kekuasaan, atau pengambilan kesempatan

dari lingkungan yang penuh paksaan.


51

b. Intimidasi seksual, tindakan penyerangan pada seksualitas korban yang

menimbulkan rasa takut atau penderitaan psikis. Intimidasi ini dapat

dilakukan secara langsung maupun tidak langsung melalui surat, sms,

email, dan lain-lain. Ancaman atau percobaan perkosaan termasuk dalam

intimidasi seksual.

c. Pelecehan seksual, tindakan seksual berupa sentuhan fisik maupun non-

fisik yang menyasar organ atau seksualitas korban. Siulan, main mata,

ucapan bernuansa seksual, mempertunjukkan materi pornografi dan

keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau

isyarat yang bersifat seksual yang menimbulkan rasa tidak nyaman,

tersinggung, perasaan direndahkan martabatnya, hingga menyebabkan

masalah kesehatan dan keselamatan merupakan bagian dari pelecehan

seksual.

d. Eksploitasi seksual, merupakan penyalahgunaan kekuasaan yang

timpang, atau penyalahgunaan kepercayaan, untuk tujuan kepuasan

seksual, keuntungan dalam bentuk uang, sosial, politik, dan lainnya.

Seringkali menggunakan kemiskinan perempuan untuk memasukkan

mereka ke dalam prostitusi atau pornografi. Termasuk juga memberikan

iming-iming berupa perkawinan untuk memperoleh layanan seksual dari

perempuan kemudian tidak menepati janji dan menelantarkan.

e. Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, merupakan tindakan

merekrut, mengangkut, menampung, mengirim, memindahkan, atau

menerima seseorang dengan melakukan ancaman hingga melakukan

kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan,

penyalahgunaan kekuasaan, penjeratan utang, pemberian manfaat atau


52

bayaran terhadap korban atau orang lain untuk dapat menguasai korban

dengan tujuan prostitusi maupun eksploitasi seksual lainnya.

f. Prostitusi paksa, merupakan situasi ketika perempuan mengalami

penipuan, ancaman, hingga kekerasan untuk menjadi pekerja seks.

g. Perbudakan seksual, kondisi ketika pelaku merasa sebagai pemilik tubuh

korban sehingga dapat melakukan apa saja mulai dari pemerkosaan

hingga kekerasan seksual lainnya.

h. Pemaksaan perkawinan, merupakan kekerasan seksual sebab

pernikahan yang tidak diinginkan termasuk didalamnya adalah

pemaksaan untuk berhubungan seksual.

i. Pemaksaan kehamilan, merupakan kondisi ketika perempuan dipaksa

menggunakan ancaman kekerasan atau kekerasan untuk melanjutkan

kehamilan yang tidak diinginkan atau pelarangan atau penghalangan

untuk menggunakan alat kontrasepsi pada perempuan.

j. Pemaksaan aborsi, pengguguran kandungan yang dilakukan karena

tekanan, ancaman, atau kekerasan dari pihak selain korban.

k. Pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi, merupakan penggunaan alat

kontrasepsi dan sterilisasi tanpa persetujuan atau keinginan dari pihak

perempuan yang kurang mendapat informasi atau dianggap tidak mampu

membuat keputusan untuk membuat persetujuan.

l. Penyiksaan seksual, tindakan menyerang organ dan seksualitas

perempuan secara sengaja yang menimbulkan rasa sakit, penderitaan

hebat baik secara jasmani, rohani, dan seksual sebagai upaya untuk

menghukum, mendapat pengakuan, mengancam, atau memaksa.


53

m. Penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual, merupakan

teknik menghukum yang menimbulkan penderitaan, rasa sakit, ketakutan,

rasa malu yang luar biasa.

n. Praktisi tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau

mendiskriminasi perempuan, merupakan kebiasaan atau budaya

masyarakat yang bernuansa seksual yang dapat menimbulkan cedera

secara fisik, psikologis, maupun seksual kepada perempuan sebagai

upaya mengontrol seksualitas perempuan.

o. Kontrol seksual, termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas

dan agama, merupakan kekerasan maupun ancaman kekerasan baik

secara langsung atau tidak langsung untuk memaksakan atau

mengancam perempuan melakukan internalisasi pada simbol-simbol

yang tidak dikehendaki atau disetujuinya.

3. Faktor-Faktor Penyebab Kekerasan Seksual pada Perempuan

Ketidakadilan gender merupakan pola hubungan yang didasarkan pada

perbedaan jenis kelamin yang bersifat tidak adil atau diskriminatif dan

menghasilkan perbedaan peran yang timpang. Laki-laki maupun perempuan

dapat merasakan ketidakadilan gender ini, namun adanya ketidakadilan

gender yang terjadi di masyarakat yang masih menganut budaya patriarki

cenderung akan menempatkan laki-laki di posisi utama sementara

perempuan berada di posisi yang terpinggirkan. Salah satu bentuk dari

ketidakadilan gender yang sering dialami perempuan adalah kekerasan,

salah satu bentuk kekerasannya ialah kekerasan seksual (Badan

Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Prov. Sulawesi

Selatan, 2011).
54

Ketidakadilan gender ini terjadi karena budaya patriarki yang bias dalam

memandang peran gender itu sendiri. Gender merupakan pembedaan

antara laki-laki dan perempuan yang ditentukan oleh budaya, dibentuk oleh

manusia melalui pembiasaan secara sosial dan berubah dari satu budaya ke

budaya lain (Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana

Prov. Sulawesi Selatan, 2011). Patriarki sendiri merupakan perilaku

mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau

kelompok tertentu. Budaya patriarki yang terjadi di masyarakat menjadikan

peran gender menjadi timpang (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2016).

Ketimpangan yang terjadi menjadikan berbagai macam situasi menjadi

rentan untuk perempuan mengalami kekerasan seksual. Masyarakat yang

berada di bawah pemerintahan yang otoriter dalam praktiknya melakukan

pelanggaran terhadap hak asasi manusia, salah satunya ialah kekerasan

seksual. Selain itu daerah konflik, utamanya konflik bersenjata

meningkatkan kerentanan perempuan mengalami kekerasan seksual

berupa perkosaan, penyiksaan seksual, dan eksploitasi seksual (Komnas

Perempuan, 2008).

Hal tersebut tidak terjadi hanya pada daerah yang berada pada situasi

konflik atau otoriter, namun juga pada situasi berduka seperti pengungsian

pasca bencana. Fasilitas pengungsian yang seadanya seperti tidak dapat

dikunci, kurangnya fasilitas penerangan, dan tidak adanya sekat menjadikan

perempuan rentan untuk mengalami kekerasan seksual (BBC News

Indonesia, 2019).
55

4. Dampak Kekerasan Seksual pada Perempuan

Kekerasan seksual yang dialami perempuan, apalagi pada masa kanak-

kanak, berdampak negatif pada berbagai ranah kehidupan korban hingga

selama sisa hidup mereka. Hal tersebut ialah menurunnya kemampuan

akademis dan ekonomi, praktik seks tidak aman, kurangnya kemampuan

pengasuhan saat menjadi orang tua, penyalahgunaan obat-obatan dan

alkohol, hingga melakukan kekerasan seksual atau kekerasan terhadap

pasangan intim (World Health Organization, 2010).

Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia

selama melakukan pendampingan pada perempuan dan juga anak-anak

korban kekerasan seksual menemukan bahwa korban mengalami luka fisik,

cacat, psikosomatis, gangguan siklus menstruasi, penyakit menular seksual,

dan gangguan organ reproduksi. Korban secara psikis kehilangan

kepercayaan diri, mudah merasa cemas, munculnya perasaan tidak aman,

kehilangan kepercayaan pada orang lain, perilaku menyalahkan diri sendiri,

apatis terhadap diri, melakukan percobaan bunuh diri, terganggu dalam

melakukan aktivitas sosial, serta mengalami trauma psikologis (LRC-

KJHAM, 2014).

Beberapa dampak tersebut didapatkan dari korban yang melakukan

pelaporan, sebab tidak semua korban mampu untuk mengakses layanan

bantuan. Baik itu karena tidak memiliki informasi mengenai hal tersebut,

namun yang lebih parah apabila korban mengetahui cara untuk mengakses

layanan namun tidak mau melakukan pengaduan. Hal ini dikarenakan

korban merasa malu, pasrah, khawatir akan adanya aksi balas dendam dari
56

pelaku, dan/atau tidak menerima dukungan dari keluarganya (Komnas

Perempuan, 2010).

Masyarakat yang memandang perempuan sebagai simbol kesucian dan

kehormatan, akan memandang perempuan yang mengalami kekerasan

seksual sebagai aib. Korban seringkali malah disalahkan sebagai penyebab

terjadi kekerasan seksual dan membuat perempuan korban kekerasan

seksual tidak mengungkapkan kekerasan seksual yang dialaminya (Komnas

Perempuan, 2013). Korban yang mengalami kekerasan seksual akan

mengalami kesakitan-kesakitan yang terjadi pada kesehatan umum,

kesehatan reproduksi, serta kesehatan mentalnya (Komnas Perempuan,

2006).

Kekerasan seksual yang merupakan kejadian yang traumatis juga

menyebabkan korban mengalami Gangguan Stress Pasca Trauma (Post

Trauma Stress Disorder). Kejadian traumatis merupakan kejadian yang

terjadi ketika seseorang mengalami, menyaksikan, atau dihadapkan pada

kejadian yang mengandung kematian, kesakitan, ancaman akan dibunuh

atau disakiti, hingga direnggut integritas fisik dirinya sendiri atau orang lain;

dan kejadian tersebut menyebabkan orang yang mengalami merasa

ketakutan, tidak berdaya, dan merasa terancam (Komnas Perempuan,

2006).

D. Trust sebagai Prediktor terhadap Self-Disclosure pada Perempuan

Korban Kekerasan Seksual

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Statuta Roma pasal 7 ayat 1 (g)-6

mendefinisikan kekerasan seksual sebagai perilaku yang dilakukan kepada


57

seseorang atau lebih yang menyebabkan orang bersangkutan atau orang-

orang tersebut terlibat dalam tindakan seksual dengan kekerasan, atau

dengan ancaman kekerasan atau pemaksaan, seperti memberikan rasa

takut akan kekerasan, paksaan, penahanan, penekanan psikologis atau

penggunaan kekuasaan, terhadap seseorang atau orang lain, atau dengan

mengambil kesempatan dari lingkungan yang memaksa atau

ketidakmampuan seseorang atau orang bersangkutan untuk memberikan

persetujuan yang ikhlas (Komnas Perempuan, 2006).

Perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual mengalami

beberapa kesakitan yang berdampak pada kesehatannya. Kesehatan yang

terdampak ialah kesehatan umum, kesehatan reproduksi, serta kesehatan

mentalnya. Kekerasan seksual yang memberikan trauma kepada korban

menjadikan korban mengalami PTSD (Post Trauma Stress Disorder)

(Komnas Perempuan, 2006). Jalan pertama untuk dapat menyembuhkan

penyakit dan gangguan yang dialami korban ialah dengan korban

mengungkapkan kekerasan seksual yang dialaminya.

Hanya saja kekerasan seksual merupakan isu sensitif yang tidak mudah

untuk diungkapkan, sekalipun kepada keluarga sendiri. Apalagi dengan

masyarakat yang memandang perempuan yang mengalami kekerasan

seksual sebagai aib dan malah balik menyalahkan korban sebagai penyebab

terjadinya kekerasan seksual tersebut (Komnas Perempuan, 2013).

Mengungkapkan hal-hal pribadi yang tidak diceritakan kepada semua

orang dapat disebut sebagai self-disclosure. Wheeless & Grotz (1976)

menjabarkan self-disclosure sebagai segala pesan mengenai diri seseorang

yang dikomunikasikan dengan orang lain. Self-disclosure terbentuk apabila


58

dimensi-dimensi berupa intent to disclose, amount of disclosure, positive-

negative nature of disclosure, honest-accuracy of disclosure, dan control of

general depth telah terpenuhi. Sayangnya, meskipun perempuan korban

kekerasan seksual melakukan self-disclosure mengenai pengalaman

kekerasan seksual yang mereka alami, mereka seringkali tidak

mendapatkan respon positif. Sehingga banyak yang memutuskan untuk

tidak lagi melakukan self-disclosure mengenai kekerasan seksual yang

mereka alami.

Moors & Weber (2012) dalam penelitiannya pada self-disclosure

perempuan korban kekerasan seksual di media sosial menyebutkan bahwa

beberapa respondennya tidak mendapatkan perlindungan dari pihak

berwajib (polisi dan konselor) yang semestinya memberikan perlindungan

terhadapnya. Beberapa respondennya juga mengalami perisakan secara

online ketika bercerita mengenai kekerasan seksual yang mereka alami di

sebuah milis di mana orang-orang yang mengalami kekerasan seksual

bergabung.

Peneliti menemukan sebuah akun Instagram bernama @lawanpatriarki,

di akun tersebut terdapat beberapa perempuan korban kekerasan seksual

yang menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang mereka alami

secara anonim. Perempuan korban kekerasan seksual yang melakukan self-

disclosure mengatakan mereka tidak tahu lagi hendak bercerita pada siapa,

namun sangat butuh untuk diterima dan mendapatkan dukungan yang tidak

lagi bisa mereka dapatkan dari keluarga atau orang terdekat. Selain itu,

mereka merasa tergerak untuk bercerita setelah melihat cerita-cerita

sebelumnya dari sesama perempuan korban kekerasan seksual.


59

Akun Instagram bernama @lawanpatriarki memperlihatkan sikap terbuka

dan memberi dukungan kepada para korban, selain itu mereka juga selalu

menjaga kerahasiaan korban yang melakukan self-disclosure. Hal ini

mengindikasikan perilaku dapat dipercaya dan jujur dari @lawanpatriarki.

Yamagishi dan Yamagishi (1994) menyebutkan adanya dua dimensi yang

perlu dipenuhi agar individu dapat memiliki trust kepada mereka, hal tersebut

ialah honesty dan trustworthiness. Perempuan korban kekerasan seksual

perlu melihat seberapa jujur orang tersebut untuk dapat dipercayai kata-

katanya dan apakah mereka memiliki perilaku dapat dipercaya.

APA (2015) mendefinisikan trust sebagai perilaku menggantungkan diri

atau kepercayaan diri untuk bergantung kepada orang lain atau sesuatu.

Namun, hal tersebut tidak begitu saja dapat dilakukan dengan mudah.

Yamagishi & Yamagishi (1994) mendefinisikan trust sebagai bias kognitif

dari informasi yang tidak lengkap mengenai orang lain, sehingga individu

mengekspektasikan adanya perilaku baik dan maksud ramah dari orang lain.

Zolowere, et al., (2008) mengungkapkan bahwa trust merupakan salah

satu faktor yang mempengaruhi orang-orang mau untuk melakukan self-

disclosure mengenai isu kesehatan mereka. Paiva, Segurado, & Filipe

(2011) dalam penelitiannya juga menemukan bahwa trust merupakan salah

satu faktor yang mempengaruhi orang-orang untuk mau melakukan self-

disclosure mengenai HIV yang mereka miliki. Self-disclosure semakin

meningkat apabila dilakukan pada orang-orang terdekat atau orang-orang

dengan penyakit yang sama.

Tidak hanya pada orang-orang terdekat, Lin, et al., (2016) dalam

penelitiannya juga menyebutkan bahwa trust berasosiasi secara positif


60

dengan online self-disclosure pada orang-orang di Amerika Serikat dan juga

Korea Selatan. Meskipun hal tersebut tidak berlaku pada negara Hongkong.

Hal ini telah menunjukkan bahwa trust memberikan dampak pada perilaku

self-disclosure seseorang baik kepada orang-orang di lingkungannya

maupun orang-orang yang berada di media sosial.

Orang yang menjadi tempat korban melakukan self-disclosure bisa siapa

saja, baik itu keluarga, pasangan, teman, ataupun orang dengan

pengalaman yang sama. Baik itu secara offline maupun online. Fenomena

yang peneliti dapatkan menunjukkan korban kekerasan seksual mau untuk

melakukan self-disclosure secara anonim di media sosial mengenai

kekerasan seksual yang mereka alami karena adanya sikap terbuka,

memberi dukungan kepada para korban, dan terjaganya kerahasiaan korban

yang melakukan self-disclosure. Uraian di atas menjadi penguat peneliti

memprediksikan trust memiliki peranan dalam terjadinya perilaku self-

disclosure pada perempuan korban kekerasan seksual.


61

Bagan 1.1 Bagan Kerangka Pikir

Das Sollen Das Sein Jika Dibiarkan


Maka
Perempuan korban Mayoritas perempuan
kekerasan seksual dapat korban kekerasan - Perempuan
menceritakan kekerasan korban kekerasan
seksual sulit
sesual yang mereka VS seksual akan sulit
alami agar dapat menceritakan kekerasan
mendapatkan
mereduksi perasaan seksual yang mereka bantuan
negatif yang bersumber alami. Hal ini merupakan - Perempuan
dari pengalaman tidak fenomena Self- korban kekerasan
nyaman yang mereka Disclosure yang diduga seksual akan
alami. terkait dengan Trust. semakin rentan
untuk mengalami
depresi hingga
bunuh diri

- Intent to Disclose
- Amount of Disclosure
- Positive-Negative Nature of Disclosure
- Honesty - Honest-Accuracy of Disclosure
- Trustworthy - Control of General Depth

Perempuan
Trust Self- Korban Kekerasan
Disclosure Seksual

= Wilayah Penelitian

= Prediktor
62

H. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian ini yaitu trust dapat menjadi prediktor terhadap self-

disclosure pada perempuan korban kekerasan seksual.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Pendekatan pada penelitian ini menggunakan pendekatan campuran atau

kombinasi (mix method), pendekatan ini menggunakan data kuantitatif dan data

kualitatif untuk merespon hipotesis penelitian (Creswell, 2016). Desain yang

digunakan pada pendekatan ini ialah sequential explanatory, dimana

penggabungan pada kedua pendekatan ini dilakukan secara berurutan. Tahap

pertama menggunakan pendekatan kuantitatif yang berfungsi untuk

menjelaskan, membandingkan, dan hubungan. Kemudian pendekatan kedua

menggunakan pendekatan kualitatif yang hasilnya berfungsi untuk

membuktikan, memperdalam, memperluas, memperlemah, dan menggugurkan

data kuantitatif yang telah lebih dulu didapatkan (Sugiyono, 2013).

B. Variabel

Variabel independen atau seringkali disebut sebagai dependent variable (Y)

merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain, itu sebabnya variabel

ini menjadi variabel yang diukur untuk mengetahui seberapa besar variasi yang

dialaminya akibat pengaruh dari variabel lain. Variabel independen atau lebih

dikenal sebagai independent variable (X) merupakan variabel yang

mempengaruhi variabel dependen, variabel inilah yang diberikan variasi untuk

melihat seberapa besar pengaruhnya terhadap variabel dependen (Azwar,

2017). Berdasarkan penjelasan mengenai hubungan variabel IV dan DV, trust

63
64

(IV) merupakan variabel yang mampu memprediksi terjadinya self-disclosure

(DV).

Independent Variable (X) : Trust

Dependent Variable (Y) : Self-Disclosure

Trust Self-Disclosure

C. Definisi Variabel

1. Definisi Konseptual

a. Self-Disclosure

Wheeless & Grotz (1976) menjabarkan self-disclosure sebagai segala

pesan mengenai diri seseorang yang dikomunikasikan dengan orang lain.

Dimensi pada penelitian ini yaitu intent to disclose, amount of disclosure,

positive-negative nature of disclosure, honest-accuracy of disclosure, dan

control general depth.

b. Trust

Yamagishi & Yamagishi (1994) mendefinisikan trust sebagai bias

kognitif dari informasi yang tidak lengkap mengenai orang lain, sehingga

individu mengekspektasikan adanya perilaku baik dan maksud ramah dari

orang lain. Dimensi pada penelitian ini yaitu honesty dan trustworthy.

2. Definisi Operasional

a. Self-Disclosure

Self-disclosure merupakan sebuah perilaku dimana individu

mengungkapkan pengalaman, pemikiran, serta perasaan mereka yang

bersifat pribadi kepada orang lain. Pada penelitian ini, ketika seorang

perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual menceritakan


65

mengenai kekerasan seksual yang dialaminya, hal ini disebut sebagai

self-disclosure.

b. Trust

Trust merupakan kesediaan atau keyakinan individu kepada orang

lain, bahwa orang lain tersebut akan memberinya pertolongan atau

memenuhi keinginannya meskipun orang lain tersebut memiliki

kemampuan besar untuk menghancurkan keyakinan yang individu miliki.

Ketika seorang perempuan korban kekerasan seksual dengan sukarela

melakukan self-disclosure mengenai kekerasan seksual yang dialaminya,

hal tersebut dapat dikatakan digerakkan karena adanya dasar

kepercayaan.

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi penelitian dalam hal ini merupakan kelompok yang nantinya

akan diteliti dan memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan subjek yang akan

diteliti. Ciri-ciri ini berupa adanya batasan wilayah, usia, atau karakteristik

lainnya yang membedakan dengan subjek lain (Azwar, 2017). Populasi pada

penelitian ini ialah seluruh perempuan di Indonesia yang menjadi korban

kekerasan seksual, tetapi jumlah populasi pada penelitian ini tidak diketahui

secara pasti.

2. Sampel

Sampel merupakan kelompok kecil yang mewakili populasi. Sampel

yang baik ialah sampel yang merepresentasikan kelompok populasi dan

hasilnya nanti dapat digeneralisasikan untuk keseluruhan populasi penelitian


66

(Azwar, 2017). Sampel pada penelitian ini ialah perempuan korban

kekerasan seksual yang melakukan self-disclosure maupun yang tidak

melakukan self-disclosure Penentuan jumlah sampel didasarkan pada


1
perhitungan n ≥ ∝ 2 , ∝ pada penelitian ini ialah 0.05 sehingga jumlah sampel

yang akan diteliti ialah 400 orang (Abdullah & Sutanto, 2015). Penggunaan

∝ digunakan untuk menentukan populasi karena tidak diketahui secara

akurat jumlah populasi perempuan korban kekerasan seksual.

3. Teknik Pengambilan Sampel

a. Pendekatan Kuantitatif

Pengambilan sampel menggunakan pendekatan non-probability

sampling, di mana besarnya peluang masing-masing anggota populasi

untuk menjadi sampel tidak diketahui. Tidak diketahuinya jumlah populasi

perempuan korban kekerasan seksual yang akurat menjadikan peluang

masing-masing anggota populasi tidak dapat diketahui. Teknik

pengambilan sampel ialah purposive sampling, yaitu pemilihan yang

didasarkan pada kesamaan kriteria yang dimiliki subjek sama dengan

yang dimiliki oleh populasi (Hadi, 2016). Kriteria sampel ialah perempuan

korban kekerasan seksual

b. Pendekatan Kualitatif

Sampel diambil berdasarkan data yang diperoleh dari pendekatan

kuantitatif dan dipilih secara purposive. Dimana peneliti melihat apakah

sampel merupakan perempuan korban kekerasan seksual yang

melakukan self-disclosure dan bersedia untuk diwawancarai. Sampel

diharapkan dapat memberikan informasi yang dapat melengkapi data

yang diperoleh dari pendekatan kuantitatif.


67

E. Teknik Pengumpulan Data

1. Pendekatan Kuantitatif

Teknik pengumpulan data pada skala penelitian ini menggunakan skala

Self-Disclosure Scale dan General Trust Scale yang berbentuk skala likert.

Respon yang diberikan pada skala berbentuk skala likert ialah respon positif,

negatif, dan respon netral. Respon negatif adalah respon yang bertentangan

dengan item sementara respon positif merupakan respon yang memiliki

kesesuaian dengan item. Respon netral sendiri menempatkan subjek pada

posisi tengah mengenai item skala, bukan pada posisi ragu-ragu (Azwar,

2017).

Jumlah respon yang ada sebanyak lima respon, yaitu SS, S, N, TS, dan

STS. Tetapi, terdapat perbedaan pada skala self-disclosure dan skala trust.

Respon pada skala self-disclosure untuk SS ialah sangat sesuai, S ialah

sesuai, N ialah netral, TS ialah tidak sesuai, dan STS ialah sangat tidak

sesuai. Sementara respon pada skala trust untuk SS ialah sangat setuju, S

ialah setuju, N ialah netral, TS ialah tidak setuju, dan STS ialah sangat tidak

setuju.

Skoring pada item favorable dan unfavorable pada kedua skala yang

digunakan ialah, item favorable dengan kategori SS memiliki nilai sebesar 5,

kategori S memiliki nilai sebesar 4, kategori N memiliki nilai sebesar 3,

kategori TS memiliki nilai sebesar 2, dan kategori STS memiliki nilai sebesar

1. Sebaliknya item unfavorable dengan kategori SS memiliki nilai sebesar 1,

kategori S memiliki nilai sebesar 2, kategori N memiliki nilai sebesar 3,

kategori TS memiliki nilai sebesar 4, dan kategori STS memiliki nilai sebesar

5.
68

a. Skala Self-Disclosure

Self-Disclosure Scales merupakan skala yang dicetuskan oleh

Wheeless & Grotz pada tahun 1976 (Wheeless & Grotz, 1976). Jumlah

item pada skala ini awalnya berjumlah 18 item dengan 6 dimensi sebelum

akhirnya berubah menjadi 16 item dengan 5 dimensi. Reliabilitas pada

masing-masing dimensi ialah sebesar intent to disclose (0.72), amount of

disclosure (0.61), positive-negative nature of disclosure (0.64), honesty-

accuracy (0.74), control of general depth (0.62) (Wheeless & Grotz,

1976).

Self-Disclosure Scale ini dimodifikasi oleh peneliti untuk disesuaikan

dengan konteks di Indonesia serta menyesuaikan dengan subjek

penelitian ini yaitu perempuan korban kekerasan seksual. Dibawah ini

ialah blueprint Self-Disclosure Scale yang akan peneliti gunakan.

Tabel 3.1 Blueprint Self-Disclosure Scale


Nomor Item
No Dimensi Jumlah
Favourable Unfavourable
1. Intent to Disclose 1, 2, 3, 17 18 5
Amount of
2. 5, 6, 7, 19 4 5
Disclosure
Positive-Negative
3. Nature of 8, 9, 20, 22 21 5
Disclosure
10, 11, 12, 13,
4. Honesty-Accuracy - 5
23
Control of General 14, 15, 16, 24,
5. - 5
Depth 25
Total Item 25

b. Skala Trust

General Trust Scale merupakan skala yang dicetuskan oleh

Yamagishi & Yamagishi pada tahun 1994 (Yamagishi & Yamagishi,

1994). 6 butir item yang dikembangkan oleh Yamagishi berasal dari 60


69

butir item yang dipilih Yamagishi pada alat ukur Rotter tahun 1967, Pareek

& Dixit’s Cooperative & Competitive Disposition Inventory tahun 1974,

Thornton and Kline’s Belief in Human Benevolence Scale tahun 1982, dan

Wrightsman’s Philosophies of Human Nature Scale tahun 1974 (Pangalila

& Budiarto, 2017).

General Trust Scale memiliki nilai reliabilitas sebesar (α=0,77)

(Pangalila & Budiarto, 2017). Reliabilitas skala ini berbeda di Amerika

Serikat dan Jepang, nilai reliabilitas skala ini pada penduduk Amerika

Serikat sebesar 0,78 sementara penduduk Jepang sebesar 0,70

(Yamagishi & Yamagishi, 1994). Penelitian di Yogyakarta yang

menggunakan skala ini menunjukkan bahwa reliabilitas yang dimiliki oleh

skala ini sebesar 0,845 (Wusana & Hidayat, 2017).

General Trust Scale akan dimodifikasi oleh peneliti untuk disesuaikan

dengan konteks di Indonesia serta menyesuaikan dengan subjek

penelitian yaitu perempuan korban kekerasan seksual. Tabel di bawah ini

merupakan blueprint General Trust Scale yang akan peneliti gunakan.

Tabel 3.2 Blueprint General Trust Scale


Nomor Item
No Dimensi Jumlah
Favourable Unfavourable
1. Honesty 1, 3, 5 7, 9 5
2. Trustworthy 2, 4, 6, 8 10 5
Total Item 10

2. Pendekatan Kualitatif

Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara. Guideline

wawancara dibuat dengan tujuan untuk melihat apakah ada unsur trust pada

setiap jawaban yang diberikan oleh responden. Pertanyaan pada saat


70

wawancara dapat bertambah atau pun berubah bergantung dengan jawaban

yang diberikan oleh responden.

Tabel 3.3 Guideline Pertanyaan Wawancara


No Pertanyaan
Kepada siapa anda menceritakan kekerasan seksual yang
1
pernah anda alami?
Apa yang jadi alasan anda memilih menceritakannya kepada
2.
orang tersebut?
Bagaimana cara anda memulai menceritakan pengalaman
3.
kekerasan seksual anda kepada orang tersebut?
Saat menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang anda
4. alami, apakah anda juga menceritakan bagaimana perasaan
anda karena pengalaman tersebut?
Jika anda menceritakannya, apakah anda menceritakan semua
5. hal yang anda rasakan seperti yang sebelumnya anda
ceritakan?
Apa yang anda harapkan saat menceritakan kekerasan seksual
6.
yang anda alami?
Apakah hal tersebut anda dapatkan setelah menceritakan
7.
kekerasan seksual yang anda alami?

F. Uji Instrumen

Penelitian ini menggunakan dua skala untuk mengukur self-disclosure dan

trust, yaitu self-disclosure scale dan general trust scale. Self-Disclosure Scale

yang peneliti gunakan merupakan skala yang dibuat oleh Wheeles & Grotz

(1976) berdasarkan teori yang mereka cetuskan, pada General Trust Scale

sendiri peneliti menggunakan skala yang dibuat oleh Yamagishi & Yamagishi

(1994) berdasarkan teori yang mereka cetuskan. Uji instrument dilakukan

dengan menguji validitas dan reliabilitas dari skala, namun sebelum hal tersebut

dilakukan maka terlebih dahulu dilakukan proses penerjemahan skala

kemudian modifikasi terhadap skala sesuai dengan konteks penelitian.


71

1. Tahap Penerjemahan Skala

a. Penerjemahan Skala Asli (Bahasa Inggris) – Bahasa Indonesia

Penerjemahan dilakukan dengan mengalih bahasakan item-item dari

setiap dimensi yang ada pada Self-Disclosure Scale dan General Trust

Scale. Penerjemah atau orang yang menerjemahkan kedua skala

tersebut merupakan orang yang ahli dalam bahasa Inggris, keahlian ini

dibuktikan dengan adanya sertifikat kemampuan bahasa Inggris dengan

skor minimal 550 untuk TOEFL dan 6.5 untuk IELTS. Proses

penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia untuk Self-Disclosure Scale

dan General Trust Scale dilakukan pada tanggal 13 Maret 2020 oleh Andi

Fitra Insaan yang memiliki skor TOEFL sebesar 550.

b. Skala Bahasa Indonesia – Bahasa Inggris (Back Translation)

Proses selanjutnya setelah menerjemahkan ke dalam bahasa

Indonesia ialah menerjemahkan kembali Self-Disclosure Scale dan

General Trust Scale ke dalam bahasa Inggris yang merupakan bahasa

yang digunakan pada skala asli. Penerjemah yang melakukan back

translation juga memiliki kualifikasi yang sama seperti penerjemah skala

asli ke bahasa Indonesia, hanya saja penerjemah tersebut wajiblah orang

yang berbeda dari penerjemah sebelumnya. Proses back translation Self-

Disclosure Scale dan General Trust Scale ke dalam bahasa Inggris

dilakukan pada tanggal 22 April 2020 oleh Dwiky Darmawan yang

memiliki skor TOEFL sebesar 590.


72

c. Membandingkan Hasil Skala Asli (Bahasa Inggris) dan Skala Hasil Back

Translation

Perbandingan skala asli dan skala hasil back translation merupakan

tahapan selanjutnya dalam proses adaptasi ini. Peneliti membandingkan

item-item dari skala asli dan skala hasil back translation untuk melihat

apakah terdapat perbedaan pada keduanya, jika tidak ada perbedaan

maka peneliti kemudian memodifikasi item-item tersebut untuk

disesuaikan dengan subjek dan konteks penelitian yang peneliti lakukan.

Pada skala ini, tidak terdapat perbedaan yang substansif antara skala asli

dan skala hasil back translation, sehingga peneliti memutuskan

menggunakan skala hasil terjemahan (Bahasa Indonesia).

2. Modifikasi Skala

Peneliti kemudian melakukan modifikasi terhadap skala hasil terjemahan

dengan menyesuaikan konteks penelitian ke item-item skala tersebut.

3. Uji Validitas

a. Validitas Isi

1) Validitas Logis

Pada uji validitas logis peneliti menggunakan pendapat ahli atau

expert judgement dengan meminta mereka memberikan tanggapan

mengenai instrumen yang digunakan berlandaskan teori yang telah

ada (Sugiyono, 2016). Hal tersebut berdasarkan pada pertimbangan

bahwa ketepatan item dengan variabel yang diukur tidak hanya

didasarkan pada penilaian peneliti itu sendiri, melainkan melibatkan

experts judgement atau Subject Matter Expert (SME) yang kompeten.

Apabila sebagian besar experts judgement atau Subject Matter Expert


73

(SME) menilai bahwa suatu item relevan dengan variabel yang diteliti,

maka item tersebut dikatakan layak (Azwar, 2017).

Peneliti memilih tiga orang dosen dari fakultas Psikologi untuk

menjadi Subject Matter Expert (SME) untuk uji validitas logis terhadap

Self-Disclosure Scale dan General Trust Scale. Ketiga SME tersebut

ialah Ibu Hasniar A. Radde, [Link]., [Link], Bapak Arie Gunawan HZ,

[Link]., [Link]., Psikolog, dan Bapak H. Andi Budhy Rakhmat, [Link].,

[Link]., Psikolog. Peneliti meminta kesediaan SME pada tanggal 18

Juli 2020 dan memberikan dokumen berisi definisi variabel, penjelasan

dimensi, blue print skala, skala asli (Self-Disclosure Scale dan General

Trust Scale), skala berbahasa Indonesia hasil terjemahan, skala back

translation, skala hasil telaah peneliti, skala modifikasi yang sesuai

dengan konteks penelitian, serta draft skala siap sebar.

Self-Disclosure Scale yang terdiri atas 25 item berdasarkan

masukan dari Bapak Arie Gunawan HZ, [Link]., [Link]., Psikolog diubah

dengan mengeluarkan konteks penelitian dari tiap butir-butir item dan

konteks penelitian dijelaskan pada bagian awal skala. Selebihnya

untuk bagian konten Ibu Hasniar A. Radde, [Link]., [Link] mengomentari

item 18, 20, 21, dan 22 yang mana item 18 tidak jelas maksudnya dan

item 20, 21, dan 22 tidak mengukur Self-Disclosure. Sementara untuk

bagian bahasa, Bapak H. Andi Budhy Rakhmat, [Link]., [Link].,

Psikolog mengomentari item 1, 2, 4, 7, 11, 17, 19, 20, 23, dan 25.

Komentar yang diberikan untuk item 1 dan 2 untuk menggunakan

padanan kata yang berbeda, sementara untuk item-item lainnya

peneliti diminta untuk menggunakan kalimat yang berbeda. Sama


74

seperti komentar Self-Disclosure Scale untuk General Trust Scale

yang berisi 10 skala ini Bapak Arie Gunawan HZ, [Link]., [Link].,

Psikolog diminta untuk mengeluarkan konteks penelitian dari tiap butir-

butir item dan konteks penelitian dijelaskan pada bagian awal skala.

Hampir sama dengan maksud komentar tersebut, Ibu Hasniar A.

Radde, [Link]., [Link] mengomentari agar item yang digunakan adalah

hasil telaah tanpa menambahkan konteks media sosial. Sementara

untuk bagian bahasa Bapak H. Andi Budhy Rakhmat, [Link]., [Link].,

Psikolog mengomentari agar ada kata dari item 6-10 yang dihapus.

2) Validitas Tampang

Pada uji validitas tampang pengujian keterbacaan pada instrumen

yang ada dilakukan dengan memberikan sampel instrumen kepada

beberapa subjek yang mewakili sampel yang dipilih nantinya

(Sugiyono, 2016). Pada uji validitas tampang ini, peneliti memberikan

skala dalam bentuk siap sebar beserta lembaran penilaian mengenai

tata letak, jenis dan ukuran huruf, bentuk skala; pengantar skala;

identitas responden; petunjuk pengerjaan; dan keseluruhan item

kepada beberapa orang yang memiliki kriteria sebagai subjek

penelitian.

Setelah merampungkan hasil dari uji validitas logis, peneliti

kemudian menuliskan item-item dari hasil uji validitas logis. Setelah itu

peneliti membuat skala dalam format google form untuk terlebih dahulu

diberikan kepada beberapa orang yang mewakili sampel, karena tidak

mengetahui orang-orang yang memiliki kriteria sesuai sampel maka

peneliti menyebarkan link skala penelitian google form pada grup-grup


75

Whatsapp tertentu. Terdapat empat orang yang menjadi reviewer

untuk uji validitas tampang skala penelitian peneliti.

Untuk bagian review umum yang berisi tata letak, jenis dan ukuran

huruf, bentuk skala hanya reviewer 1 yang memberi saran untuk

bagian tata letak. Saran yang diberikan ialah agar ada gambar di

bagian header agar terlihat lebih cantik. Selain itu tidak ada komentar

untuk pengantar skala, namun untuk bagian identitas responden

reviewer 1 memberikan komentar bahwa baiknya bagian jenis

kekerasan seksual juga disebutkan satu per satu sementara reviewer

2 memberikan komentar agar kata anda menggunakan huruf kapital A

di awal.

Pada Self-Disclosure Scale reviewer 4 memberikan komentar

bahwa item merupakan typo. Reviewer 1 mengomentari konten pada

item 8 bahwa “Masa mengungkapkan hal baik soal kekerasan seksual

yang dialami? Apanya yang baik?” dan reviewer 3 pada item yang

sama mengomentari bahwa kata “hal tersebut: sebaiknya diperjelas.

Sementara tidak ada komentar untuk item-item pada General Trust

Scale.

b. Validitas Konstruk

Pada uji validitas konstruk peneliti menggunakan instrumen yang

sebelumnya telah di uji validitas isinya oleh para ahli, uji validitas konstruk

pada penelitian ini menggunakan teknik confirmatory factor analysis

(CFA) dengan software Lisrel 8.7. Jumlah sampel yang dianjurkan untuk

penelitian CFA ialah > 200 responden (Stevens dalam Pangalila &

Budiarto, 2017). Hasil analisis yang ingin dilihat menggunakan CFA ialah
76

sejauh mana alat ukur yang digunakan menguji apa yang telah diukur

dengan melihat apakah item-item yang digunakan telah fit satu sama lain

(model fit), nilai yang dibutuhkan untuk mendapatkan model fit ialah P-

Value (> 0.05) sementara RMSEA atau nilai error (< 0.05).

Pada penelitian ini jumlah sampel yang digunakan untuk melakukan

uji CFA ialah 107 responden. Dari 25 item Self-Disclosure Scale, terdapat

6 item yang tidak valid. Item-item tersebut ialah item pada dimensi Intent

to disclose (Item 18), amount of disclosure (Item 19), positive-negative

nature of disclosure (Item 8 dan Item 22), honest-accuracy (Item 23),

general depth (Item 25).

Sementara dari 10 item General Trust Scale terdapat 3 item yang tidak

valid. Item-item tersebut ialah item pada dimensi trustworthy (Item 7, Item

9, Item 10). Sehingga untuk Self-Disclosure Scale hanya tersisa 19 item

yang valid dan untuk General Trust Scale hanya tersisa 7 item yang valid.

Berikut blueprint Self-Disclosure Scale setelah uji coba:

Tabel 3.4 Blueprint Self-Disclosure Scale setelah Uji Coba


Nomor Item
No Dimensi Jumlah
Favourable Unfavourable
1. Intent to Disclose 1, 2, 3, 17 - 4
2. Amount of Disclosure 5, 6 4 3
Positive-Negative Nature
3. 9 20, 21 3
of Disclosure
4. Honesty-Accuracy 10, 11, 12, 13 - 4
5. Control of General Depth 14, 24 - 2
Total Item 16

Sedangkan hasil General Trust Scale setelah uji coba dapat dilihat

pada tabel berikut:


77

Tabel 3.5 Blueprint General Trust Scale setelah Uji Coba


Jumlah Item Total
No Dimensi
Favourable Unfavourable Item
1. Honesty 1, 3, 5 - 3
2. Trustworthy 2, 4, 6, 8 - 4
Jumlah 7

4. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas pada penelitian ini dianalisis menggunakan teknik cronbach

alpha dengan cara memasukkan mean kuadrat antara subjek yang dikalikan

dengan hasil bagi dari mean kuadrat kesalahan dan varians total

menggunakan SPSS (Sugiyono, 2016). Berikut tabel hasil uji reliabilitas

pada skala yang digunakan pada penelitian ini:

Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas


Skala Cronbach Alpha Jumlah Item
Self-Disclosure Scale 0.604 16
General Trust Scale 0.778 7

Berdasarkan Tabel 3.6 di atas, dapat dilihat bahwa hasil uji reliabilitas

pada Self-Disclosure Scale memiliki nilai cronbach alpha sebesar 0.604.

Sementara hasil uji reliabilitas untuk Gerenal Trust Scale memiliki nilai

cronbach alpha sebesar 0.778.

G. Uji Kredibilitas

Sugiyono (2013) menjelaskan bahwa pendekatan kualitatif memiliki istilah

dan cara yang berbeda dengan pendekatan kuantitatif dalam hal pengujian

validitas dan reliabilitas. Uji kredibilitas dilakukan untuk mengetahui kredibilitas

atau kepercayaan sebuah data. Uji kredibilitas yang peneliti lakukan ialah

triangulasi teknik. Triangulasi teknik merupakan uji kredibilitas yang dilakukan

dengan menggunakan teknik yang berbeda untuk mengecek data dari sumber
78

yang sama. Peneliti akan menggunakan teknik wawancara, observasi, serta

skoring data kuantitatif dari skala penelitian yang sebelumnya telah responden

isi.

Hasil wawancara yang telah dilakukan akan dibandingkan dengan hasil

observasi dan nilai skor dari data kuantitatif yang responden miliki saat mengisi

self-disclosure scale dan general trust scale. Melihat ketiga sumber tersebut

akan menunjukkan validitas dan reliabilitas hasil wawancara yang peneliti

lakukan. Hasil uji kredibilitas untuk data hasil wawancara kedua responden

akan dibahas pada sub-bab pembahasan di Bab IV.

H. Teknik Analisis Data

1. Pendekatan Kuantitatif

a. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif pada penelitian merupakan analisis yang

menggambarkan keterkaitan antara sebaran demografi yang dimiliki oleh

subjek penelitian dan variabel-variabel yang akan diteliti. Demografi

subjek yang nantinya akan dianalisis secara deskriptif pada penelitian ini

ialah usia, pekerjaan, serta domisili. Selain demografi, analisis deskriptif

juga dilakukan untuk mengetahui gambaran self-disclosure dan trust.

b. Uji Asumsi

1) Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengukur sebaran data pada

penelitian ini telah berdistribusi normal atau tidak terhadap populasi.

Uji normalitas menggunakan program SPSS dengan teknik

kolmogorov smirnov karena sampel yang akan diteliti berjumlah lebih


79

dari 50 orang. Normal yang dimaksud ialah sebaran data yang

dilakukan dalam penelitian ini tidak menyimpang dari distribusi normal

sebuah data, yang berarti statistik yang akan dilakukan pada data yang

dimiliki tidak akan dilemahkan (Widhiarso, 2012). Kriteria dari uji

normalitas ialah:

a) Skala berdistribusi secara normal apabila nilai signifikan dari

kolmogorov smirnov (p > 0.05).

b) Skala tidak berdistribusi secara normal apabila signifikan dari

kolmogorov smirnov (p < 0.05).

2) Uji Linearitas

Uji linearitas digunakan untuk mengetahui hubungan antara

variabel dependen dan variabel independen telah linear dengan

melihat garis antara keduanya telah sejajar atau lurus. Apabila

hubungan antara variabel tidak linear atau tidak sejajar dalam satu

garis, maka analisis regresi tidak dapat dilanjutkan. Uji linearitas pada

penelitian ini menggunakan teknik analisis anova dengan SPSS.

Kriteria dari uji linearitas adalah:

a) Skala linear apabila skor deviation from linearity (p > 0.05).

b) Skala tidak linear apabila skor deviation from linearity (p < 0.05).

c. Uji Hipotesis

Uji hipotesis pada penelitian ini dianalisis dengan analisis regresi

sederhana menggunakan SPSS. Analisis ini digunakan untuk mengetahui

efek yang terjadi pada variabel dependen (DV) apabila dipengaruhi oleh

variabel independen (IV) dengan melihat nilai sumbangan relatif serta


80

kontribusi IV terhadap DV, pada penelitian ini ialah melihat dapatkah trust

memengaruhi self-disclosure. Hipotesis statistik pada penelitian ini ialah:

Ha : Trust dapat menjadi prediktor terhadap self-disclosure pada

perempuan korban kekerasan seksual

H0 : Trust tidak dapat menjadi prediktor terhadap self-disclosure pada

perempuan korban kekerasan seksual

2. Pendekatan Kualitatif

Analisis data kualitatif dilakukan dengan cara mengelompokkan

pernyataan responden berdasarkan jawaban-jawabannya atas setiap

pertanyaan yang diberikan menjadi unit makna. Kemudian, pernyataan-

pernyataan tersebut dikembangkan dalam bentuk ide utama, kategorisasi

(coding), tema berdasarkan masing-masing dimensi self-disclosure.

Kemudian menentukan tiap-tiap kategorisasi (coding) yang menggambarkan

atau memiliki indikasi variabel trust berdasarkan dimensi honesty atau

trustworthy.

I. Proses Penelitian

1. Sebelum Pengambilan Data

Pada tahap awal peneliti membaca literatur mengenai variabel dan

fenomena yang hendak diteliti, setelah itu peneliti melakukan pengambilan

data awal untuk mendapatkan gambaran di lapangan mengenai penelitian

yang akan diteliti. Setelah memiliki literatur dan data awal, peneliti mulai

melakukan penyusunan proposal. Penyusunan proposal ini telah dimulai

sejak mata kuliah Teknik Penyusunan Skripsi, lalu direvisi agar sesuai

dengan format proposal penelitian sebelum akhirnya peneliti melakukan


81

ujian proposal pada tanggal 27 Februari 2020. Setelah itu di bulan Maret

peneliti melakukan proses adaptasi skala dengan menerjemahkan skala dari

bahasa asli yang akan peneliti gunakan ke bahasa Indonesia, lalu

melakukan back translasi dari bahasa Indonesia ke bahas asli skala yaitu

bahasa Inggris. Baru pada bulan Juli peneliti melakukan uji Instrumen

sebelum akhirnya melakukan pengambilan data di bulan Agustus.

2. Selama Pengambilan Data

Proses pengambilan data yang dilakukan selama bulan Agustus

menghasilkan 119 data bersih untuk data kuantitatif dan 2 orang responden

untuk data kualitatif. 2 orang tersebut merupakan bagian dari 119 responden

untuk data kualitatif. Proses pengambilan data dilakukan melalui media

sosial, baik via postingan maupun pesan pribadi dikarenakan kondisi

pandemi dan penelitian yang cukup sensitif pembahasannya.

3. Setelah Pengambilan Data

Setelah pengambilan data peneliti kemudian melakukan penginputan

data untuk nantinya dilakukan analisis data, baik untuk data kuantitatif

maupun data kualitatif. Proses penyusunan laporan sempat terhambat

karena kondisi peneliti yang tidak memungkinkan untuk menyusun laporan

penelitian, namun setelah itu peneliti berhasil menyelesaikan proses

penyusunan laporan hingga kalimat ini dituliskan.


82

J. Jadwal Penelitian

Tabel 3.7 Jadwal Penelitian


Feb Mar Juli Agustus September
Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Penyusunan
Proposal
Penyusunan
Skala
Uji Instrumen
Pengambilan
Data
Menginput
Data
Penyusunan
Laporan
Penelitian
BAB IV

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Analisis

1. Pendekatan Kuantitatif

a. Deskriptif Demografi

Deskriptif responden berdasarkan demografi merupakan

penggambaran atau penjelasan mengenai responden pada penelitian

dilihat dari demografi yang ada. Responden pada penelitian ini berjumlah

119 orang dengan tiga jenis demografi yaitu usia, kota domisili, dan jenis

kekerasan seksual.

1). Deskriptif Subjek berdasarkan Usia

108

11

Remaja Dewasa

Diagram 4.1 Deskriptif Subjek berdasarkan Usia

Diagram batang di atas menunjukkan jumlah responden

berdasarkan usia, usia responden pada penelitian ini terbagi menjadi

dua yaitu usia remaja dan usia dewasa. Jumlah responden dalam

rentang usia remaja ialah 11 orang (9.2%) dan responden dalam

rentang usia dewasa ialah 108 orang (90.8%) dari total 119 orang

responden.

83
84

2). Deskriptif Subjek berdasarkan Kota Domisili

76

28

15

Makassar Luar Makassar Luar Sulawesi Selatan

Diagram 4.2 Deskriptif Subjek berdasarkan Kota Domisili

Diagram batang di atas menunjukkan jumlah responden

berdasarkan kota domisili, kota domisili pada penelitian ini terbagi

menjadi tiga yaitu Makassar, Luar Makassar di Sulawesi Selatan, dan

Luar Sulawesi Selatan. Jumlah responden yang berdomisili di

Makassar ialah 76 orang (63.9%), responden yang berdomisili di Luar

Makassar di Sulawesi Selatan ialah 15 orang (12.6%), dan responden

yang berdomisili di Luar Sulawesi Selatan ialah 28 orang (23.5%) dari

total 119 orang responden.

3). Deskriptif Subjek berdasarkan Jenis Kekerasan Seksual

77

20
9 10
3

Pelecehan Intimidasi Kontrol Kekerasan


Pemerkosaan
Seksual Seksual Seksual Seksual

Diagram 4.3 Deskriptif Subjek berdasarkan Jenis Kekerasan Seksual


85

Diagram batang di atas menunjukkan jumlah responden

berdasarkan jenis kekerasan seksual, jenis kekerasan seksual pada

penelitian ini terbagi menjadi lima yaitu pelecehan seksual, intimidasi

seksual, kontrol seksual, pemerkosaan, dan lainnya. Jumlah

responden yang mengalami pelecehan seksual ialah 77 orang dengan

(64.7%), responden yang mengalami intimidasi seksual ialah 20 orang

(16.8%), responden yang mengalami kontrol seksual ialah 9 orang

(7.6%), responden yang mengalami pemerkosaan ialah 3 orang

(2.5%), dan responden yang mengalami kekerasan seksual lainnya

ialah 10 orang (8.4%) dari 119 orang responden.

b. Deskriptif Variabel Penelitian

Deskriptif variabel berdasarkan tingkat skor ialah penggambaran

masing-masing variabel pada penelitian ini berdasarkan tingkatan skor

yang didapatkan. Tingkatan skor pada penelitian ini ialah sangat rendah,

rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi.

1). Self-Disclosure

Hasil skor pada alat ukur variabel self-disclosure dianalisis

menggunakan SPSS 20, Tabel 4.1 di bawah menggambarkan variabel

self-disclosure secara deskriptif. N ialah total jumlah responden dari

data yang didapatkan yaitu 119 orang responden. Minimum skor self-

disclosure yang didapatkan ialah 34 yaitu sangat rendah dan

maksimum skor self-disclosure yang didapatkan ialah 60 yaitu sangat

tinggi. Rata-rata skor (mean) self-disclosure ialah 46.77 dengan

standar deviasi sebesar 4.606


86

Tabel 4.1 Hasil Analisis Self-Disclosure Scale


N Min Max Mean Std. Deviation
Self-Disclosure 119 34 60 46,77 4,606

Berikut norma kategori skor pada alat ukur variabel self-disclosure

berdasarkan sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah,

yaitu:

Tabel 4.2 Kategorisasi Penormaan Self-Disclosure


Kategorisasi
Rumus Kategorisasi Hasil Kategorisasi
Penomoran
Sangat Tinggi X > (𝑋̅ + 1,5 SD) X > 53,68
Tinggi 𝑋̅ + 0,5 SD < X ≤ 𝑋̅ + 1,5 49,07 < X < 53,68
Sedang 𝑋̅ - 0,5 < X ≤ 𝑋̅ + 0,5 SD 44,47 < X < 49,07
Rendah 𝑋 – 1,5 SD < X ≤ 𝑋̅ – 0,5 SD
̅ 39,86 < X < 44,47
Sangat Rendah X < (𝑋̅– 1,5 SD) X < 39,86

Hasil analisis data yang didapatkan yang terdiri dari lima dimensi

pada variabel self-disclosure terhadap 119 responden dan diukur

menggunakan program Microsoft Excel 20 menunjukkan hasil yang

cukup beragam, mulai dari skor yang sangat rendah hingga skor yang

sangat tinggi.

51

31
24

7 6

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Diagram 4.4 Self-Disclosure berdasarkan Kategori

Diagram batang di atas didapatkan dari hasil analisis menggunakan

program SPSS 20, hasil analisis tersebut menunjukkan hasil bahwa


87

responden dengan skor sangat rendah berjumlah 7 orang (5.9%),

responden dengan skor rendah berjumlah 31 orang (26.1%),

responden dengan skor sedang berjumlah 51 orang (42.9%),

responden dengan skor tinggi berjumlah 24 orang (20.2%), dan

responden dengan skor sangat tinggi berjumlah 6 orang (5%).

2). Trust

Hasil skor pada alat ukur variabel trust dianalisis menggunakan

SPSS 20, Tabel 4.3 di bawah menggambarkan variabel trust secara

deskriptif. N ialah total jumlah responden dari data yang didapatkan

yaitu 119 orang responden. Minimum skor trust yang didapatkan ialah

12 yaitu sangat rendah dan maksimum skor trust yang didapatkan

ialah 35 yaitu sangat tinggi. Rata-rata skor (mean) trust ialah 22.34

dengan standar deviasi sebesar 4.303.

Tabel 4.3 Hasil Analisis Skala Trust


N Min Max Mean Std. Deviation
Trust 119 12 35 22,34 4,303

Berikut norma kategori skor pada alat ukur variabel trust

berdasarkan sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah,

yaitu:

Tabel 4.4 Kategorisasi Penormaan Trust


Kategorisasi
Rumus Kategorisasi Hasil Kategorisasi
Penomoran

Sangat Tinggi X > (𝑋̅ + 1,5 SD) X > 28,79


Tinggi 𝑋̅ + 0,5 SD < X ≤ 𝑋̅ + 1,5 24,48 < X < 28,79
Sedang 𝑋̅ - 0,5 < X ≤ 𝑋̅ + 0,5 SD 20,18 < X < 24,48
Rendah 𝑋 – 1,5 SD < X ≤ 𝑋̅ – 0,5 SD
̅ 15,88 < X < 20,18
Sangat Rendah X < (𝑋̅– 1,5 SD) X < 15,88
88

Hasil analisis data yang didapatkan yang terdiri dari lima dimensi

pada variabel trust terhadap 119 responden dan diukur menggunakan

program microsoft Excel 20 menunjukkan hasil yang beragam dari

sangat rendah hingga sangat tinggi.

42

34
29

8
6

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Diagram 4.5 Trust berdasarkan Kategori

Diagram batang di atas yang didapatkan dari hasil analisis

menggunakan program SPSS 20 menunjukkan hasil bahwa

responden dengan skor sangat rendah berjumlah 6 orang (5%),

responden dengan skor rendah berjumlah 34 orang (28.6%),

responden dengan skor sedang berjumlah 42 orang (35.3%),

responden dengan skor tinggi berjumlah 29 orang (24.4%), dan

responden dengan skor sangat tinggi berjumlah 8 orang (6.7%).

c. Deskriptif Variabel Berdasarkan Demografi

1). Deskriptif Self-Disclosure berdasarkan Demografi

Hasil skor Self-Disclosure pada bagian ini akan digambarkan

berdasarkan demografi para responden yang dianalisis menggunakan

program SPSS 20.


89

i). Deskriptif Self-Disclosure berdasarkan Usia

47

29
20

7 5
2 4 4
0 1

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


Remaja Dewasa

Diagram 4.6 Skor Self-Disclosure berdasarkan Usia

Diagram batang di atas menggambarkan skor self-disclosure

responden yang terbagi menjadi sangat rendah, rendah, sedang,

tinggi, dan sangat tinggi berdasarkan usia yang terbagi menjadi usia

remaja dan dewasa. Tidak ada responden berusia remaja yang

mendapatkan skor sangat rendah, responden berusia remaja yang

mendapatkan skor rendah berjumlah 2 orang (18.2%), 4 orang

(36.4%) mendapatkan skor sedang, 4 orang (36.4%) mendapatkan

skor tinggi, dan 1 (9.1%) orang mendapatkan skor sangat tinggi.

Sementara responden berusia dewasa yang mendapatkan skor

sangat rendah berjumlah 7 orang (6.5%), 29 orang (26.9%)

mendapatkan skor rendah, 47 orang (43.5%) mendapatkan skor

sedang, 20 orang (18.5%) mendapatkan skor tinggi, dan 5 orang

(4.6%) mendapatkan skor sangat tinggi dengan persentase.


90

ii). Deskriptif Self-Disclosure berdasarkan Kota Domisili

36

20
13
7 8 8
5 5 6 4
2 3 2
0 0

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


Makassar Luar Makassar di Sulawesi Selatan Luar Sulawesi Selatan
Diagram 4.7 Skor Self-Disclosure berdasarkan Kota Domisili

Diagram batang di atas menggambarkan skor self-disclosure

responden yang terbagi menjadi sangat rendah, rendah, sedang,

tinggi, dan sangat tinggi berdasarkan kota domisili yang terbagi

menjadi Makassar, Luar Makassar di Sulawesi Selatan, dan luar

Sulawesi Selatan. Jumlah responden domisili di kota Makassar

yang mendapatkan skor sangat rendah berjumlah 5 orang (6.6%),

20 orang (26.3%) mendapatkan skor rendah, 36 orang (47.4%)

mendapatkan skor sedang, 13 orang (17.1%) mendapatkan skor

tinggi dengan persentase, dan 2 orang (2.6%) mendapatkan skor

sangat tinggi dengan persentase.

Tidak ada responden domisili Luar Makassar di Sulawesi

Selatan yang mendapatkan skor sangat rendah, 5 orang (33.3%)

mendapatkan skor rendah, 7 orang (46.7%) mendapatkan skor

sedang, 3 orang (20%) mendapatkan skor tinggi, dan tidak ada

yang mendapatkan skor sangat tinggi. Sementara responden

domisili di Luar Sulawesi Selatan yang mendapatkan skor sangat

rendah berjumlah 2 orang (7.1%), 6 orang (21.4%) mendapatkan


91

skor rendah, 8 orang (28.6%) mendapatkan skor sedang, 8 orang

(28.6%) mendapatkan skor tinggi, dan 4 orang (14.3%)

mendapatkan skor sangat tinggi dengan persentase.

iii). Deskriptif Self-Disclosure berdasarkan Jenis Kekerasan Seksual

33

21
14
9
5 4 6 4 2 4 4 2
1 0 1 0 1 2 3 0
3
0 0 0 0

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


Pelecehan Seksual Intimidasi Seksual
Kontrol Seksual Pemerkosaan
Lainnya

Diagram 4.8 Skor Self-Disclosure berdasarkan Jenis Kekerasan


Seksual

Diagram batang di atas menggambarkan skor self-disclosure

responden yang terbagi menjadi sangat rendah, rendah, sedang,

tinggi, dan sangat tinggi berdasarkan jenis kekerasan seksual yang

dialami dan terbagi menjadi pelecehan seksual, intimidasi seksual,

kontrol seksual, pemerkosaan, dan lainnya. Jumlah responden

yang mengalami pelecehan seksual dan mendapatkan skor sangat

rendah ialah 5 orang (6.5%), 29 orang (27.3%) mendapatkan skor

rendah, 33 orang (42.9%) mendapatkan skor sedang, 14 orang

(18.2%) mendapatkan skor tinggi, dan 4 orang (5.2%) mendapatkan

skor sangat tinggi.

Responden yang mengalami intimidasi seksual yang

mendapatkan skor sangat rendah berjumlah 1 orang (5%), 4 orang

(20%) mendapatkan skor rendah, 9 orang (45%) mendapatkan skor


92

sedang, 4 orang (45%) mendapatkan skor tinggi, dan 2 orang (10%)

mendapatkan skor sangat tinggi.

Tidak ada responden yang mengalami kontrol seksual yang

mendapatkan skor sangat rendah, 1 orang (11.1%) mendapatkan

skor rendah, 6 orang (66.7%) mendapatkan skor sedang, 2 orang

(22.2%) mendapatkan skor tinggi, dan tidak ada yang mendapatkan

skor sangat tinggi. Responden yang mengalami pemerkosaan dan

mendapatkan skor sangat rendah berjumlah 1 orang (33.3%), 2

orang (66.7%) mendapatkan skor rendah, dan tidak ada yang

mendapatkan skor sedang, tinggi, maupun sangat tinggi.

Sementara untuk responden yang mengalami jenis kekerasan

seksual lainnya yang mendapatkan skor sangat rendah berjumlah

7 orang (5.9%), 31 orang (26.1%) mendapatkan skor rendah, 51

orang (42.9%) mendapatkan skor sedang, 24 orang (20.2%)

mendapatkan skor tinggi, dan 6 orang (5%) mendapatkan skor

sangat tinggi.

2). Deskriptif Trust berdasarkan Demografi

Hasil skor Trust pada bagian ini akan digambarkan berdasarkan

demografi para responden yang dianalisis menggunakan program

SPSS 20.
93

i). Deskriptif Trust berdasarkan Usia

36
31
27

6 6 8
3 2
0 0

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


Remaja Dewasa

Diagram 4.9 Skor Trust berdasarkan Usia

Diagram batang di atas menggambarkan skor trust responden

yang terbagi menjadi sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan

sangat tinggi yang dilihat dari tingkat usia yang terbagi menjadi

remaja dan dewasa. Tidak ada responden berusia remaja yang

mendapatkan skor trust sangat rendah, 3 orang (27.3%) yang

mendapatkan skor rendah, 6 orang (54.5%) mendapatkan skor

sedang, 2 orang (18.2%) mendapatkan skor tinggi, dan tidak ada

yang mendapatkan skor sangat tinggi.

Sementara responden usia dewasa yang mendapatkan skor

trust sangat rendah berjumlah 6 orang (5.6%), 31 orang (28.7%)

mendapatkan skor rendah, 36 orang (33.3%) mendapatkan skor

sedang, 27 orang (25%) mendapatkan skor tinggi, dan 8 orang

(7.4%) mendapatkan skor sangat tinggi.


94

ii). Deskriptif Trust berdasarkan Kota Domisili

23 24
21

9 10
8
6
4 4 3
2 2 2 1
0

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


Makassar Luar Makassar di Sulawesi Selatan Luar Sulawesi Selatan

Diagram 4.10 Skor Trust berdasarkan Kota Domisili

Diagram batang di atas menggambarkan skor trust responden

yang terbagi menjadi sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan

sangat tinggi yang dilihat dari kota domisili yang terbagi menjadi

Makassar, Luar Makassar di Sulawesi Selatan, dan luar Sulawesi

Selatan. Responden domisili kota Makassar yang mendapatkan

skor sangat rendah berjumlah 4 orang (5.3%), 23 orang (30.3%)

mendapatkan skor rendah, 24 orang (31.5%) mendapatkan skor

sedang, 21 orang (27.6%) mendapatkan skor tinggi, dan 4 orang

(5.3%) mendapatkan skor sangat tinggi.

Tidak ada responden domisili Luar Makassar di Sulawesi

Selatan yang mendapatkan skor sangat rendah, 2 orang (13.3%)

mendapatkan skor rendah, 10 orang (66.7%) mendapatkan skor

sedang, 2 orang (13.3%) mendapatkan skor tinggi, dan 1 orang

(6.7%) mendapatkan skor sangat tinggi.

Sementara untuk responden domisili di Luar Sulawesi Selatan

yang mendapatkan skor sangat rendah berjumlah 2 orang (7.1%),

9 orang (32.1%) mendapatkan skor rendah, 8 orang (28.6%)


95

mendapatkan skor sedang, 6 orang (21.4%) mendapatkan skor

tinggi, dan 3 orang (10.7%) mendapatkan skor sangat tinggi.

iii). Deskriptif Trust berdasarkan Jenis Kekerasan Seksual

26
21 21

8
5 5 5 5 4 4 3
2 2 1 2 2
0 0 0 1 1 0 0 0 1

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


Pelecehan Seksual Intimidasi Seksual
Kontrol Seksual Pemerkosaan
Lainnya

Diagram 4.11 Skor Trust berdasarkan Jenis Kekerasan Seksual

Diagram batang di atas menggambarkan skor trust responden

yang terbagi menjadi sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan

sangat tinggi yang dilihat dari jenis kekerasan seksual yang dialami

dan terbagi menjadi pelecehan seksual, intimidasi seksual, kontrol

seksual, pemerkosaan, dan lainnya. Responden yang mengalami

pelecehan seksual mendapatkan skor sangat rendah berjumlah 5

orang (6.5%), 21 orang (27.3%) mendapatkan skor rendah, 26

orang (33.8%) mendapatkan skor sedang, 21 orang (27.3%)

mendapatkan skor tinggi, 4 orang (5.2%) mendapatkan skor sangat

tinggi.

Tidak ada responden yang mengalami intimidasi seksual

mendapatkan skor sangat rendah, 8 orang (40%) mendapatkan

skor rendah, 5 orang (25%) mendapatkan skor sedang, 4 orang

(20%) mendapatkan skor tinggi, dan 3 orang (15%) mendapatkan

skor sangat tinggi. Tidak ada responden yang mengalami kontrol


96

seksual yang mendapatkan skor sangat rendah, 2 orang (22.2%)

mendapatkan skor rendah, 5 orang (55.6%) mendapatkan skor

sedang dengan persentase, 2 orang (22.2%) mendapatkan skor

tinggi dengan persentase, dan tidak ada yang mendapatkan skor

sangat tinggi.

Tidak ada responden yang mengalami pemerkosaan

mendapatkan skor sangat rendah, namun 2 orang (66.7%)

mendapatkan skor sedang, 1 orang (33.3%) mendapatkan skor

sedang, dan tidak yang mendapatkan skor tinggi maupun sangat

tinggi. Sementara responden yang mengalami jenis kekerasan

seksual lainnya sebanyak 1 orang (10%) mendapatkan skor sangat

rendah, 1 orang (10%) mendapatkan skor rendah, 5 orang (50%)

mendapatkan skor sedang, 2 orang (20%) mendapatkan skor tinggi,

dan 1 orang (10%) mendapatkan skor sangat tinggi.

d. Uji Asumsi

Uji asumsi pada penelitian ini ialah uji normalitas dan linearitas, di

bawah ini merupakan penjabaran hasil dari kedua uji asumsi tersebut.

1). Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengukur sebaran data pada

sebuah penelitian apakah telah berdistribusi normal atau tidak

terhadap populasi. Normal yang dimaksud ialah sebaran data yang

dilakukan dalam penelitian ini tidak menyimpang dari distribusi normal

sebuah data, yang berarti statistik yang akan dilakukan pada data yang

dimiliki tidak akan dilemahkan (Widhiarso, 2012). Uji normalitas pada


97

penelitian ini menggunakan program SPSS 20 dengan teknik

kolmogorov smirnov dengan jumlah sampel sebanyak 119 responden.

Tabel 4.5 Uji Normalitas


Variabel K-S-Z* Sig** Keterangan
Trust terhadap Terdistribusi
0.071 0.200
Self-Disclosure Normal
Ket: *K-S-Z = Nilai signifikansi uji normalitas kolmogorov-smirnov z
**Sig. = Nilai signifikansi uji normalitas p > 0.05

Sebaran data akan berdistribusi secara normal apabila nilai

signifikansi dari hasil uji normalitas memiliki nilai signifikansi yang lebih

tinggi dari taraf signifikansi 5% atau 0.05. Sebaran data pada penelitian

ini menunjukkan nilai signifikansi yang lebih dari 5% yaitu 0.200,

sehingga data yang didapatkan berdistribusi secara normal (p > 0.05).

2). Uji Linearitas

Uji linearitas digunakan untuk mengetahui hubungan antara

variabel dependen dan variabel independen telah linear dengan

melihat garis antara keduanya telah sejajar atau lurus. Apabila

hubungan antara variabel tidak linear atau tidak sejajar dalam satu

garis, maka analisis regresi tidak dapat dilanjutkan. Uji linearitas pada

penelitian ini menggunakan teknik analisis anova dengan program

SPSS 20.

Tabel 4.6 Uji Linearitas


Linearity
Variabel Keterangan
F* Sig.F (P)**
Trust dan Self-
1.073 0.391 Linear
Disclosure
Ket: *F = Nilai signifikansi < 0.05
*Sig. F (P) = Deviation from linearity: p > 0.05

Variabel dependen dan variabel independen dianggap linear atau

memiliki garis yang sejajar apabila nilai signifikansi dari hasil uji
98

linearitas yang diperoleh lebih dari 5% (p > 0.05). Hasil uji linearitas

variabel Trust dan Self-Disclosure pada penelitian ini memiliki nilai

signifikansi sebesar 0.391, sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua

variabel tersebut memiliki garis yang sejajar atau linear 5% (p > 0.05).

Dari hasil uji linearitas ini dapat disimpulkan tahapan uji hipotesis dapat

dilakukan dengan uji regresi sederhana.

e. Uji Hipotesis (Regresi Sederhana)

Uji hipotesis pada penelitian ini dianalisis dengan uji regresi sederhana

menggunakan SPSS 20. Analisis ini digunakan untuk mengetahui atau

memprediksikan efek yang terjadi pada variabel dependen (DV) apabila

dipengaruhi oleh variabel independen (IV). Apabila nilai signifikansi dari

hasil uji regresi ini menunjukkan hasil kurang dari taraf signifikansi 5% (p

< 0.05), maka Ha akan diterima dan H0 ditolak. Dimana hipotesis statistik

pada penelitian ini ialah:

H0 : Trust tidak dapat menjadi prediktor terhadap self-disclosure pada

perempuan korban kekerasan seksual

Ha : Trust dapat menjadi prediktor terhadap self-disclosure pada

perempuan korban kekerasan seksual

Tabel 4.7 Kontribusi Trust terhadap Self-Disclosure


Variabel R Square* F** Sig F*** Keterangan
Trust terhadap
0.069 7.801 0.006 Signifikan
Self-Disclosure
Ket: *R Square = Koefisien determinan
**F = Nilai uji koefisien regresi
***Sig.F = Nilai signifikansi F, p > 0.05

Tabel di atas menunjukkan nilai R Square sebesar 0.069, berdasarkan

hal tersebut dapat diketahui bawa kontribusi Trust terhadap Self-


99

Disclosure adalah sebesar 6.9%. Sisanya sebesar 93.1% dipengaruhi

oleh faktor lain yang tidak ikut diteliti dalam penelitian ini.

Besar proporsi 6.9% ini memiliki nilai F sebesar 7.801 dengan nilai

signifikansi sebesar 0.006, dimana nilai signifikansi ini lebih kecil dari taraf

signifikansi 5% (p > 0.05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa H0 yang

menyatakan Trust tidak dapat menjadi prediktor terhadap self-disclosure

pada perempuan korban kekerasan seksual, di tolak. Dengan demikian

Ha yang menyatakan Trust dapat menjadi prediktor terhadap self-

disclosure pada perempuan korban kekerasan seksual, diterima.

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisis ini yakni bahwa Trust dapat

menjadi prediktor terhadap self-disclosure pada perempuan korban

kekerasan seksual.

Tabel berikut menunjukkan nilai koefesien regresi Trust terhadap Self

Disclosure:

Tabel 4.8 Koefisien Interaksi Variabel Trust terhadap Self-Disclosure


Variabel Constant* B ** Sig.*** Keterangan
Trust terhadap 40.328 0.287 0.006 Hubungan searah
Self-Disclosure
Ket: *Constant = Nilai konstanta
**B = Nilai koefisien regresi
***Sig. = Nilai sigifikansi

Tabel koefisien di atas diperoleh nilai konstanta sebesar 40.328 dan

nilai koefisien regresi sebesar 0.287, dengan arah positif. Dengan

demikian semakin tinggi trust maka semakin tinggi pula self-disclosure,

demikian pula sebaliknya. Berikut persamaan regresi yang bisa terbentuk:

Y = a + bx

Self-disclosure = 40,328 + 0,287 (Trust)


100

2. Pendekatan Kualitatif

a. Responden Pertama

Responden pertama merupakan perempuan berusia dua puluh dua

tahun yang saat ini sedang berada di tahun terakhir kuliahnya.

Responden merupakan salah satu teman peneliti, peneliti menemukan

bahwa selama proses wawancara dan dibandingkan dengan kehidupan

sehari-hari responden tidak mudah untuk terbuka menceritakan

pengalaman kekerasan seksual yang dialaminya. Meski pada kehidupan

sehari-hari responden merupakan orang yang cukup terbuka dan senang

bercanda.

Saat mengalami kekerasan seksual yang dialami, responden hendak

melakukan bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya. Ia

mengenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang, serta

mengenakan kerudung. Responden bercerita saat kejadian tersebut ia

tidak bisa merasakan apa-apa, langkahnya terhenti dan ia tidak tahu

harus berbuat apa. Laki-laki tersebut masih meremas pantatnya hingga

seorang satpam menegur laki-laki tersebut.

“Kagetka, kaget kayak mauka menangis. Kagetka kayak


dumbakka.” (wwc1/line 50)

Begitu laki-laki itu pergi responden terus berjalan dan berupaya untuk

menenangkan diri sembari berjalan memasuki kafe yang menjadi lokasi

bimbingan skripsi. Responden bercerita bahwa dirinya menceritakan awal

mula hingga akhir kejadian secara detail kepada pacar dan sahabatnya

mengenai kekerasan seksual yang dialaminya tak lama setelah kejadian

tersebut terjadi.

“Nda lamaji.” (wwc1/line 33)


101

“Di hari yang sama.” (wwc1/line 35)


“Via chat.” (wwc1/line 37)
“Iyo bilangka dari kenapa bisa.” (wwc1/line 42)

Responden bercerita bahwa dirinya tidak tahu apa yang

diharapkannya saat bercerita sebab ia pun tidak tahu harus melakukan

apa untuk menyikapi pengalaman dan apa yang dirasakannya.

“Nda tau, nda tau apa yang kuharapkan. Tapi setelahku bercerita
merasa lebih baik ka. Kan tidak kutau apa yang harus kulakukan
pas itu, kayak goblokka. Cerita meka, karna nda tauka harus apa
kayak nda tenangka juga, syokka. Menangiska. Pas ka cerita
dibilang minum ko dulu kasih tenang dirimu jadi kayak sadarka
101embali.” (wwc1/line 58-59)

Perilaku ini menggambarkan adanya trustworthy yang responden

miliki terhadap pacar dan sahabatnya. Sebab responden yang tidak tahu

harus berbuat apa atas kejadian tersebut dan mengatakan tidak berharap

apa-apa secara tidak sadar memercayakan kepada sahabat dan

pacarnya untuk menjadi tempatnya bercerita dan mencari bantuan.

Sebab setelah menceritakan hal tersebut responden merasa lebih baik.

“Kayak tau haruska apa lagi.” (wwc1/line 61)


“Kayak merasa lebih baikka, walaupun sedikit.” (wwc1/line 63)

Ketika ditanya mengapa harus pacar dan sahabatnya yang responden

pilih, responden menyebutkan bahwa mereka bukanlah orang yang akan

menilai buruk dirinya. Hal ini menggambarkan adanya trustworthy yang

sahabat dan pacar responden yang membuat responden mau

menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya.

“Iya, karna yang ku chat orang yang ku percaya, yang tahuka bisa
tidak judge ka yang na dengarka dulu.” (wwc1/line 65)
“Itumi kenapa di orang lain tidak langsung saya cerita pas saat
kejadian, perasaanku masih sensitif masih terbawa emosi. Masih
besar keinginanku diperhatikan daripada rasa ingin menerima
saran atau kritikan. Makanya saya pertama nda cerita ke orang lain
yang saya nda percaya pas kejadian atau lagi buruk persaaanku,
karna nda siapka terima hal-hal di luar keinginanku. Saya hindari
hal-hal itu. Karna masih terbawa perasaanku, termasuk waktu yang
102

saya alami itu. Kenapa akhirnya saya cerita? Karena bisama


terimaki apapun yang mereka bilang, karna adami orang yang
dengarka dan dukungka. Seandainya paska berbagi pengalaman
ke orang luar dan di judgeka tidak akan masukmi di otakku, karena
mereka bukan orang yang saya percaya. Mereka hanya orang
tempatku berbagi pengalaman.” (wwc2/line 31-39)

Munculnya perilaku ini tidak terlepas dari perilaku jujur yang

ditampilkan, hal ini dapat dilihat dari penjelasan responden mengenai

mengapa ia tidak menceritakan hal tersebut kepada orang lain.

“Karena saya kenal mi mereka, itumi kenapa saya bilang mereka


sahabat karena bisa meka cerita sama mereka semuanya. Kalau
saya percaya tapi selaluka na sakitki berarti bukan orang yang ku
percaya itu. Merekami orang yang saya percaya dan kenal, saya
taumi bagaimana responnya ke saya. Karna kalau orang lain bisa
jadi tidak klop perasaanku dan responnnya mereka.” (wwc2/line 44-
47)

Berdasarkan penjelasan responden dapat dilihat bahwa perkataan

jujur seseorang akan memengaruhi keinginan responden untuk

menceritakan pengalaman kekerasan seksualnya yang dialaminya.

Sebab responden menjelaskan bahwa ia telah mengetahui bagaimana

sahabat dan pacarnya akan merespon dirinya, sebab sahabat dan

pacarnya telah memperlihatkan sikap jujur atau honesty kepada

responden.

Berdasarkan pengalaman keseharian peneliti bersama responden,

yang mana peneliti juga berteman dengan sahabat dan pacar responden,

apa yang diceritakan memang mewujud dalam keseharian responden.

Para sahabat dan pacarnya merupakan orang yang selalu terus terang

mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan pada kondisi dan

situasi yang tepat, mereka pun selalu mendukung dan membantu satu

sama lain. Sehingga peneliti meyakini adanya aspek trust yaitu

trustworthy dan honesty dari jawaban maupun dari pengalaman


103

keseharian responden yang peneliti juga ada di sana. Skor yang

responden dapatkan dari kedua skala yang diisinya menunjukkan

responden berada kategori trust dan self-disclosure yang sedang.

Hal tersebut menunjukkan bahwa responden memang tidak mudah

menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang dialaminya dan tidak

mudah untuk percaya. Kepercayaan tersebut tidak tumbuh begitu saja,

sebab pacar dan sahabatnya merupakan orang-orang dimana responden

menceritakan segala hal yang ia alami baik itu biasa maupun sensitif.

Sehingga responden dengan yakin menceritakan kekerasan seksual

yang dialaminya kepada pacar dan sahabatnya.

b. Responden Kedua

Responden kedua merupakan perempuan berusia dua puluh dua

tahun yang berstatus sebagai mahasiswa di sebuah universitas negeri di

kota Makassar. Ia menceritakan bahwa dirinya telah dua kali mengalami

kekerasan seksual dalam bentuk ekshibisionisme, pertama saat ia dalam

perjalanan menuju sekolah dan saat dirinya berjalan bersama kakaknya.

Semuanya terjadi saat responden masih berada di bangku SMA. Saat itu

responden merasa sangat jijik namun disatu sisi merasa takut apabila

pelaku melakukan perilaku yang lebih jauh terhadapnya.

“Iyo jijikka sama pengalamanku, apadi’ karna kayak ih nda wajarki


begitueh. Tapi memang iya nda bagaimana sekaliji iya, nda berefek
sekaliji iya.” (wwc1/line 15-16)
“Takutka iya karna nanti dikejarka baru nda bisaka apa-apa, tapi
ternyata nda ji.” (wwc1/line 22)

Meski merasa jijik dan memiliki perasaan takut dapat dilihat bahwa

responden menunjukkan sikap bahwa dirinya berusaha merasa tidak apa-

apa atau biasa saja dengan ketakutan maupun perasaan jijik yang
104

dialaminya. Responden pun bercerita bahwa jika mengingat kejadian

tersebut dirinya akan merasa jijik. Responden bahkan tidak langsung

menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya.

“Baru… baru yang jijik sendiri ja ingatki, rantasanya ini orang nda
malunya pamer-pamer begitu.” (wwc1/line 18)
“Nda langsungka cerita, karna pagi-pagi sampaima di sekolah. Pas
pulangnya kulupami, adapi lagi orang cerita baru ku ingat. Pas pi
lagi ceritaki kaceku soal itu.” (wwc1/line 137-138)

Perilaku tersebut dapat terjadi karena responden bercerita bahwa

pada saat mengalami kekerasan seksual tersebut dirinya merasa syok.

“Tapi memang kalau masih baru-baru kayak trauma, bukan trauma


iya kayak kaget, syok gitueh. Jadi memang iya orang kalau begitu
kayak butuhki memang...tapi nda jadija ini iya saya.” (wwc1/line
168-169)

Hanya saja responden tidak mengingat kapan pertama kali ia

menceritakan hal tersebut. Dirinya hanya mengingat ia mulai bercerita

ketika teman-temannya mulai menceritakan kekerasan seksual yang

mereka alami.

“Nda tauka kapan we, tapi…” (wwc1/line 24)


“Tapi misalnya ada orang cerita toh, jadi kayak ih, pernahka juga
begini. Jadi kuceritakanmi juga. Oh, iyo pernahka juga begini we.
Saya juga begini dulu. Pernahka juga begitu.” (wwc1/line 26-27)
“Teman-temanku iya karna teman-temanku pernah juga rasa begitu
jadi kuceritakanki. Masa toh tadi beginika lihatka tadi orang begini
bla bla bla. Baru bilangka ih saya pernah juga begitu we baru jijik
sekalika. Baru temanku yang iyo we. Kayak kenapa itu orang di
pamer-pamer begituan.” (wwc1/line 31-32)

Penjelasan responden bahwa dirinya hanya bercerita kepada teman-

temannya yang menceritakan kekerasan seksual yang mereka alami

menunjukkan adanya trustworthy yang mendorong responden untuk

bercerita kepada teman-temannya. Begitu pula bercerita kepada

keluarganya, responden baru bercerita ketika kakaknya turut

menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya.


105

“Iyo paski na bahas ikutma juga bahaski, na tauji maceku biasaji


lagi ku cerita ulang.” (wwc1/line 140)

Meski responden mengatakan hal tersebut merupakan hal yang biasa

saja, dapat dilihat bahwa dirinya baru bercerita karena mendengarkan

orang lain juga menceritakan pengalaman yang sama. Baik itu dari

teman-teman maupun dari keluarganya. Hal ini menunjukkan adanya

honesty yang mendorong responden untuk bercerita. Sebab tanpa

adanya yang mau terbuka akan pengalaman kekerasan seksualnya,

responden pun tidak akan menceritakan kekerasan seksual yang

dialaminya.

Perilaku menceritakan kekerasan seksual yang responden lakukan

memang sejalan dengan penjelasannya bahwa ia akan bercerita ketika

ada yang menceritakan duluan, sebab ia meyakini bahwa tidak mungkin

hanya dirinya sendiri yang mengalami hal tersebut. Responden

mengatakan ia tidak ingin menjadi yang pertama bercerita sebab takut

dianggap aneh oleh orang-orang jika membahas mengenai kekerasan

seksual dan masih merasa jijik dengan apa yang dialaminya.

“Bakalan ceritaja iya pasti iya. Karna ku bilang kayak nda mungkin
tidak ada orang yang, tidak mungkin ada orang yang tidak pernah
dikasih begitu. Baru biasanya toh kalau sudah meki cerita begitu,
pasti adami juga yang pernah rasa speak up ki. Pasti na bongkarki
apa yang na rasa bilang pernahki juga dikasih begitu.” (wwc1/line
40-43)
“Hu um..., karna toh kubilang. Ih kalau cerita ya ini, jijik sendirija.
Baru, hehehe, tapi...tapi...sudahmi, nassaji itu pastimi kukasih
keluarki…” (wwc1/line 57-58)
“Nda tau, karna kubilang idede, masa tiba2ka cerita begini nda
masukki nanti ceritaku.” (wwc1/line 145-146)

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa responden tidak mudah

menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya, meski kepada orang-

orang terdekat, ia perlu untuk melihat bagaimana respon orang lain atau
106

kesan orang lain terhadap suatu kekerasan seksual untuk mendorong

responden menceritakan kekerasan seksualnya. Hal ini mengindikasikan

perlunya sikap jujur atau honesty dari orang lain mengenai kekerasan

seksual dan sikap dapat dipercaya untuk turut mendengarkan

pengalaman yang dialami atau trustworthy. Sebab ketika mendapatkan

kedua hal tersebut, responden akan dengan nyaman bercerita terlepas

dari hubungannya dengan orang yang menjadi tempatnya bercerita.

Seperti menceritakan ulang kepada mamanya dan bercerita kepada

teman yang lawan jenis.

“Ada juga cowok hehehe.” (wwc1/line 140)


“….na tauji maceku bisajai lagi ku cerita ulang.” (wwc1/line 140)

Selama proses wawancara responden selalu berusaha tertawa kecil

ketika menceritakan apa yang dirasakannya dan ketika ia menceritakan

hal tersebut kepada teman-teman dan keluarganya. Berdasarkan

pengalaman peneliti selama ini sebagai teman responden, ia memang

merupakan sosok yang ceria namun tidak mudah dengan ceplas-ceplos

menceritakan perasaan atau hal buruk yang dialaminya. Hal ini sesuai

dengan hasil skor dua skala yang responden kerjakan, yang mana

responden memiliki skor self-disclosure dan trust yang sedang.

Berdasarkan hasil wawancara dapat dilihat bahwa responden

membutuhkan honesty serta trustworthiness agar terdorong

menceritakan kekerasan seksual yang ia alami. Hal ini bagi responden

kedua didapatkan tidak hanya dengan memiliki ikatan emosional dan

saling mengenal sifat satu sama lain seperti responden pertama, namun

dengan adanya kejujuran akan pengalaman yang sama dengan

pengalaman yang dialaminya.


107

B. Pembahasan

1. Gambaran Self-Disclosure pada Perempuan Korban Kekerasan Seksual

Hasil penelitian mengenai gambaran self-disclosure pada perempuan

korban kekerasan seksual menunjukkan kategorisasi skor yang cukup

bervariasi. 7 (5.9%) perempuan korban kekerasan seksual berada pada

tingkat skor sangat rendah, 31 (26.1%) perempuan korban kekerasan

seksual berada pada tingkat skor rendah, 51 (42.9%) perempuan korban

kekerasan seksual berada pada tingkat skor sedang, 24 (20.2%) perempuan

korban kekerasan seksual berada pada tingkat skor tinggi, dan 6 (5%)

perempuan korban kekerasan seksual yang memiliki tingkat skor yang

sangat tinggi.

Kebervariasian tingkat skor self-disclosure pada perempuan korban

kekerasan seksual dari hasil analisis yang dilakukan oleh peneliti

disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu relationship (Krasnova et al., 2010;

Ruppel, 2014; Utz, 2015; dan Kim, Sin, & Chai, 2015), attachment (Chen,

Hu, Shu, dan Chen (2018); Pangestu & Ariela 2020; serta Grabrill & Kerns,

2000), dan privasi (Vogel, Shanahan, & Signorielli, 2018; Zlatolas et al.,

2015; dan Gruzd & Garcia, 2018).

Penelitian yang dilakukan Krasnova et al., (2010) menunjukkan bahwa

relationship building merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi orang

untuk melakukan self-disclosure. Melakukan self-disclosure akan semakin

memudahkan individu untuk saling mengenali orang yang baru saja

dikenalnya, agar mereka lebih mudah untuk menemukan kesamaan yang

mungkin saja mereka miliki. Selain itu, Ruppel (2014) menemukan bahwa

self-disclosure merupakan kunci dari perkembangan suatu hubungan.


108

Sebab menurut Utz (2015) mempertahankan hubungan merupakan motif

utama orang-orang melakukan self-disclosure dengan saling bertukar

informasi.

Penjelasan tersebut juga didukung oleh hasil wawancara yang peneliti

lakukan, dimana responden pertama menceritakan bahwa dirinya

menceritakan kekerasan seksual yang dialami kepada sahabat dan pacar

yang selalu menjadi tempatnya untuk bercerita. Hasil coding dari penjelasan

responden menunjukkan bahwa menceritakan sama dengan memercayai.

Sebab menurut responden, menceritakan permasalahan yang dimiliki

menunjukkan adanya perasaan saling percaya yang membuat hubungan

menjadi semakin bagus atau berubah menjadi baik apabila sedang berada

dalam situasi bersitegang.

Penelitian yang dilakukan oleh Kim, Shin, dan Chai (2015) juga

menemukan bahwa kuatnya hubungan memengaruhi self-disclosure pada

individu. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang menggerakkan

perempuan korban kekerasan seksual melakukan self-disclosure kepada

orang-orang terdekatnya, sesuai dengan hasil penelitian yang ditemukan

oleh peneliti bahwa terdapat 58 perempuan korban kekerasan seksual yang

menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang dialaminya via chat

personal/telepon/bertemu secara langsung. Hasil temuan ini juga diperkuat

dengan data kualitatif yang peneliti temukan.

2 responden yang peneliti wawancarai hanya menceritakan kekerasan

seksual yang dialaminya kepada pacar dan sahabat (responden satu) serta

sahabat dan orang tua (responden dua) mereka. Apabila responden pertama

bercerita sebab dirinya memang menjadikan sahabat dan pacarnya sebagai


109

orang yang mendengarkan semua keluh dan kesahnya, maka responden

kedua bercerita sebab orang-orang terdekatnya dengan berani juga

menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya. Sehingga responden

menjadi tergerak untuk melakukan hal yang sama.

Faktor lain yang turut memengaruhi self-disclosure ialah attachment.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Chen, Hu, Shu, dan Chen (2018)

menunjukkan hasil bahwa attachment memengaruhi self-disclosure

seseorang, baik itu attachment avoidance maupun attachment anxiety. Hasil

penelitian yang dilakukan oleh Pangestu & Ariela (2020) juga menunjukkan

hal yang sama, bahwa attachment memengaruhi self-disclosure seseorang.

Semakin tinggi tingkat attachment anxiety atau attachment avoidance

seseorang maka akan semakin rendah tingkat self-disclosure yang dimiliki.

Grabrill & Kerns (2000) juga mendapatkan hasil yang sama, bahwa

attachment memengaruhi self-disclosure individu. Mereka menjelaskan

bahwa orang dengan attachment secure yang tinggi memiliki self-disclosure

yang juga tinggi. Jenis attachment yang dimiliki perempuan korban

kekerasan seksual memiliki pengaruh yang menyebabkan hasil skor self-

disclosure yang mereka miliki menjadi bervariasi, mulai dari sangat rendah,

rendah, netral, tinggi, dan sangat tinggi.

Selain itu privasi juga menjadi faktor penting yang memengaruhi self-

disclosure. Penelitian yang dilakukan Vogel, Shanahan, Signorielli (2018)

menemukan hasil adanya pengaruh kesadaran privasi terhadap self-

disclosure, dimana pengaruh tersebut signifikan secara negatif. Sehingga

semakin rendah kesadaran privasi para perempuan korban kekerasan


110

seksual maka semakin tinggi self-disclosure yang mereka miliki, begitu pula

dengan sebaliknya.

Zlatolas, et al (2015) juga menemukan hasil yang sama, dimana privasi

juga memiliki pengaruh terhadap self-disclosure. Privacy value memiliki

pengaruh yang signifikan secara positif terhadap self-disclosure, semakin

tinggi privacy value yang dimiliki maka semakin tinggi pula self-disclosure

yang dimiliki. Namun, privacy awareness, privacy social norms, privacy

policy, dan privacy concern memiliki pengaruh yang signifikan secara negatif

pada self-disclosure. Sehingga semakin tinggi privasi yang dimiliki maka

semakin rendah pula self-disclosure yang dimiliki.

Melakukan self-disclosure baik secara publik atau dalam kategori

penelitian ini ialah di media sosial maupun secara pribadi atau dalam

kategori penelitian ini via chat personal/telepon/bertemu secara langsung,

berdasarkan hasil penelitian Gruzd & Garcia (2018) tidak memiliki

perbedaan dalam hal pengaruh kesadaran privasi. Kesadaran privasi

memiliki pengaruh yang signifikan pada self-disclosure. Privasi yang dimiliki

oleh para perempuan korban kekerasan seksual menjadi faktor yang

memengaruhi kebervariasian tingkat skor self-disclosure dari hasil penelitian

yang peneliti dapatkan.

Hasil penelitian mengenai gambaran self-disclosure menunjukkan

terdapat 7 perempuan korban kekerasan seksual yang berada pada tingkat

self-disclosure yang sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat

perempuan korban kekerasan seksual yang memiliki pengungkapan diri

yang sangat rendah kepada orang-orang. Meskipun terdapat 4 perempuan

korban kekerasan seksual yang menceritakan kekerasan seksual yang


111

dialaminya via chat personal/telepon/bertemu secara langsung dalam skor

self-disclosure sangat rendah.

Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh amount of disclosure yang dimiliki

para perempuan korban kekerasan seksual. Mereka merasa dikenali dan

dapat dipahami oleh orang-orang atau tempat yang menjadi tempat bercerita

mereka, hal ini yang menjadikan mereka mau untuk menceritakan

dialaminya via chat personal/telepon/bertemu secara langsung kekerasan

seksual yang mereka alami. Meski begitu tetap saja apa yang mereka akan

ceritakan bukan lah sesuatu yang akan dianggap positif oleh semua orang,

sehingga meskipun menceritakan kekerasan seksual yang mereka alami

namun hal tersebut tidak mudah atau sulit untuk dilakukan. Positive-negative

nature of disclosure menjelaskan bahwa dimensi ini menjadi faktor yang

menyebabkan mereka memiliki self-disclosure yang sangat rendah.

Selain dilihat dari positive-negative nature of disclosure, terdapat

kecenderungan atau faktor lain yang menjelaskan sangat rendahnya tingkat

skor self-disclosure perempuan korban kekerasan seksual meski 4 di antara

7 orang tersebut menceritakan kekerasan seksual yang mereka alami. Salah

satu dari dua responden yang peneliti wawancarai menjelaskan bahwa

dirinya hanya akan menceritakan mengenai kekerasan seksual yang

dialaminya apabila dirinya melihat orang terdekatnya juga menceritakan

pengalaman yang sama, sebab ia tidak akan mau memulai pembicaraan

duluan mengenai hal tersebut.

Karena kekerasan seksual yang mereka alami ialah sesuatu yang

sensitif, Staller & Gardell (2005) sendiri menemukan hasil penelitian bahwa

para korban kekerasan seksual yang berada pada usia remaja memiliki
112

berbagai penundaan sebelum mampu untuk menceritakan kekerasan

seksual yang mereka alami. Salah satunya ialah ketakutan akan respon

yang mereka dapatkan dan dampak setelah mereka menceritakan

pengalaman mereka.

Sehingga tidak ada atau sangat rendah intent to disclose atau kemauan

untuk membuka diri yang dimiliki oleh para perempuan korban kekerasan

seksual. Sebab kekerasan seksual yang mereka alami ialah hal sensitif dan

juga korban selalu mendapatkan stigma yang negatif, sehingga mereka tidak

akan dengan mudah untuk melakukan self-disclosure atas apa yang mereka

alami. Hal ini menjadi penyebab perempuan korban kekerasan seksual

memiliki pengungkapan diri yang sangat rendah kepada orang-orang

mengenai kekerasan seksual yang mereka alami.

Meski begitu terdapat pula 6 orang perempuan korban kekerasan seksual

yang memiliki tingkat skor self-disclosure yang sangat tinggi. Hal ini

memungkinkan untuk terjadi karena para responden tersebut memiliki

kebebasan untuk melakukan self-disclosure. DeVito (2012) menyebutkan

bahwa kebebasan untuk melakukan self-disclosure dimiliki oleh orang-orang

yang berada pada lingkungan yang tidak abusif, suportif, dan di lingkungan

yang membuat nyaman. Hal ini tergambarkan dari hasil wawancara peneliti

baik dengan responden pertama maupun dengan responden kedua.

Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa kedua responden

menceritakan kekerasan seksual yang mereka alami kepada orang-orang

terdekat mereka. Responden pertama menjelaskan bahwa orang-orang

terdekat tersebut merupakan orang-orang yang selalu suportif dan

membuatnya nyaman, sebab mereka adalah tempat di mana responden


113

pertama selalu menceritakan keluh kesahnya. Responden kedua sendiri

menjelaskan bahwa lingkungannya tidak menganggap tabu pembahasan

mengenai seksualitas, sehingga ia berani untuk bercerita begitu melihat

temannya yang lain maupun saudaranya juga menceritakan pengalaman

kekerasan seksual mereka.

Perilaku mendukung atau suportif yang kedua responden terima

menjadikan mereka mampu untuk bercerita. Selain itu, responden kedua

menjelaskan bahwa dirinya dan orang-orang terdekatnya menjadikan

pengalaman kekerasan seksual sebagai bahan bercandaan, dimana

responden yang telah merasa terbiasa dengan ingatan akan pengalaman

tersebut menganggapnya sebagai pengalaman yang lucu dan aneh.

Bitterly & Schweitzer (2019) menemukan bahwa penambahan unsur

humor dalam pengungkapan mengenai informasi yang bersifat negatif dapat

meningkatkan persepsi yang hangat oleh lawan bicara. Hasil penelitian

tersebut dapat berlaku kepada responden kedua yang telah berusaha

terbiasa dengan kekerasan seksual berupa pelecehan seksual dalam bentuk

ekshibisionisme yang pernah dialaminya, sebab ia pun menceritakannya

kepada orang-orang terdekatnya yang tidak menganggap tabu pembahasan

mengenai hal tersebut.

Pengungkapan diri yang para responden lakukan membuat peneliti

merasa bahwa kedua responden sangat berani untuk mampu mengeluarkan

apa yang mereka alami. Meskipun memiliki cara bercerita yang berbeda,

sebab satu responden bercerita via chat sementara responden yang satu

menceritakan secara langsung, perlu keberanian besar untuk dapat


114

menceritakan hal tersebut. Serta kemampuan untuk menerima respon atas

hal tersebut, baik yang bersifat negatif maupun yang bersifat positif.

Meski tidak menceritakan kepada semua orang pengalaman yang

mereka miliki, melainkan hanya kepada orang-orang terdekat, peneliti

merasa hal tersebut adalah hal termudah sekaligus tersulit. Orang-orang

terdekat memang telah mengenal kita, namun bagi peneliti, merupakan yang

paling rentan untuk menjauh begitu mengetahui pengalaman kelam yang

kita miliki. Apalagi jika mereka memiliki persepsi yang berbeda terhadap

perempuan korban kekerasan seksual.

2. Gambaran Trust pada Perempuan Korban Kekerasan Seksual

Hasil penelitian mengenai gambaran trust pada perempuan korban

kekerasan seksual menunjukkan kategorisasi skor yang bervariasi. 6 (5%)

perempuan korban kekerasan seksual berada pada tingkat trust yang sangat

rendah, 34 (28.6%) perempuan korban kekerasan seksual berada pada

tingkat trust yang rendah, 42 (35.3%) perempuan korban kekerasan seksual

berada pada tingkat trust yang sedang, 29 (24.4%) perempuan korban

kekerasan seksual berada pada tingkat trust yang tinggi, dan 8 (6.7%)

perempuan korban kekerasan seksual berada pada tingkat trust yang sangat

tinggi.

Kebervariasian tingkat skor trust pada perempuan korban kekerasan

seksual disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya ialah interaksi

sosial (social interaction), perbedaan budaya, dan stress. Interaksi sosial

menurut Zhang & Gu (2015) merupakan proses dinamika yang memberikan

informasi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta

kelompok dan kelompok. Interaksi sosial merupakan faktor yang turut serta
115

mempengaruhi trust (Zhang & Gu, 2015; Tsai & Ghoshal, 1998; Koranteng

et al., 2020).

Interaksi sosial ini juga tergambarkan dengan jelas pada hasil wawancara

peneliti dengan dua responden yang merupakan perempuan korban

kekerasan seksual. Keduanya sama-sama menjawab bahwa mereka

menceritakan kekerasan seksual yang mereka alami kepada orang-orang

terdekat saja. Orang terdekat yang mana kedua responden selalu

menjadikan mereka sebagai tempat untuk menceritakan segala hal yang

mereka alami dan selalu memberikan respon yang membuat responden

merasa nyaman untuk bercerita.

Kebervariasian trust juga turut dipengaruhi oleh perbedaan budaya, hasil

dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kebervariasian skor dari

domisili perempuan yang mengalami kekerasan seksual yaitu di kota

Makassar, Luar Makassar di Sulawesi Selatan, dan Luar Sulawesi Selatan.

Gefen, Benbasat, & Pavlou (2008) menjelaskan bahwa perbedaan budaya

juga turut memengaruhi trust. Hal yang sama juga dijelaskan oleh Williams

(2001) dimana pandangan akan kelompok di luar budaya turut memengaruhi

trust seseorang.

Selain itu kebervariasian trust juga dipengaruhi oleh stres yang dialami

oleh perempuan korban kekerasan seksual. Stres, apalagi yang akut,

memiliki pengaruh yang besar dalam menurunkan tingkatan trust seseorang.

Semakin kompleks atau akut stres yang dimiliki, semakin menurun tingkatan

trust seseorang (Potts et al, 2019). Matson et al (2020) juga meneliti

mengenai dampak stres pada trust yang dimiliki oleh remaja, dimana

perempuan korban kekerasan seksual yang menjadi responden pada


116

penelitian ini sebagiannya juga adalah remaja. Hasil penelitian tersebut

menunjukkan menghadapi stressor memberikan dampak pada penurunan

trust.

Hal ini dapat dilihat dari responden kedua yang mengalami kekerasan

seksual saat berada di bangku SMA, yang mana pada saat itu responden

masih berusia remaja. Saat itu responden merasa bahwa dirinya merasa jijik

mengingat kejadian yang dialaminya dan tidak ingin bercerita sebab merasa

malu apabila tiba-tiba membuka pembahasan mengenai kekerasan seksual

yang ia alami. Responden bercerita bahwa pada saat itu dirinya masih

merasa syok dan butuh waktu untuk mampu bercerita. Setelah menginjak

usia dewasa dirinya mulai terbiasa dan bahkan melupakan emosi yang dulu

ia rasakan saat mengalami pengalaman tersebut.

Begitu pula dengan pengalaman kekerasan seksual yang dialami oleh

para perempuan lainnya yang juga menjadi korban. Kekerasan seksual yang

mereka alami merupakan pengalaman traumatis (Komnas Perempuan,

2006), yang dapat menjadi stressor yang sangat besar bagi para perempuan

korban kekerasan seksual. Cacioppo & Hawkley (2003) turut mendukung hal

tersebut dengan menyatakan bahwa stressor yang didapatkan orang

dewasa memberikan berbagai macam reaksi negatif bagi korban, termasuk

di antaranya perilaku menjadi tidak percaya. Jordan, Campbell, Follingstone

(dalam Santrock, 2012) menggambarkan perkosaan sebagai pengalaman

yang traumatik yang dialami oleh orang-orang di usia dewasa awal.

Perempuan korban kekerasan seksual yang berusia dewasa maupun remaja

juga mengalami hal yang sama.


117

Hasil penelitian mengenai gambaran trust juga menunjukkan bahwa

terdapat 6 (5%) perempuan korban kekerasan seksual yang berada pada

tingkat trust yang sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan

korban kekerasan seksual secara umum memiliki trust yang sangat rendah

kepada orang-orang. Data tersebut didukung dari hasil data penelitian

bahwa 3 dari 6 perempuan yang mengalami kekerasan seksual tersebut

sama sekali tidak menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya,

sementara 3 orang lainnya hanya menceritakan via chat

personal/telepon/bertemu secara langsung.

Taddei & Contena (2013) menjelaskan bahwa trust memiliki pengaruh

yang signifikan secara negatif kepada kesadaran akan privasi, hal tersebut

menjelaskan mengapa perempuan yang memiliki skor trust sangat rendah

sama sekali tidak menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya atau

hanya menceritakan kepada orang-orang tertentu saja via chat

personal/telepon/bertemu secara langsung. Sebab mereka sangat

menjunjung tinggi privasi yang mereka miliki dengan tidak menceritakannya

ke sembarangan orang atau memilih untuk tidak menceritakannya.

Hal ini sejalan dengan salah satu dimensi dari trust yaitu trustworthy,

Yamagishi & Yamagishi (1994) menjelaskan bahwa seseorang akan

percaya apabila melihat adanya perilaku dapat dipercaya pada orang lain.

Menceritakan kekerasan seksual yang dialami via chat

personal/telepon/bertemu secara langsung menunjukkan bahwa para

perempuan korban kekerasan seksual melihat adanya perilaku dapat

dipercaya pada tempat atau orang yang ia ceritakan kekerasan seksual yang

dialaminya. Sementara pada perempuan yang tidak menceritakan sama


118

sekali kekerasan seksual yang dialaminya, hal tersebut berarti ia tidak

melihat adanya perilaku dapat dipercaya dari orang lain.

Selain itu hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa terdapat 8 (6.7%)

perempuan korban kekerasan seksual yang berada pada tingkat trust yang

sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan korban kekerasan

seksual secara umum memiliki trust yang sangat tinggi kepada orang-orang.

Penelitian yang dilakukan oleh Haselhuhn, et al (2015) menunjukkan bahwa

meskipun telah berkali-kali dikhianati atau menerima perilaku yang tidak lagi

dapat dipercaya, perempuan memiliki kecenderungan untuk tetap

mempertahankan kepercayaannya.

Meskipun telah berkali-kali disakiti, para perempuan korban kekerasan

seksual masih melihat perilaku dapat dipercaya (trustworthy) pada orang

yang menjadi tempatnya untuk bercerita (Yamagishi & Yamagishi, 1994).

Selain itu, kejujuran (honesty) yang dilihat pada orang lain juga menjadi

penguat bagi para perempuan kekerasan seksual untuk memiliki skor

kepercayaan yang sangat tinggi. Melihat dari tempat bercerita para

perempuan korban kekerasan seksual yang bercerita di media sosial dan

bercerita via chat personal/telepon/bertemu secara langsung.

Hasil wawancara yang peneliti lakukan juga menunjukkan bahwa

kekerasan seksual yang dialami tidak membuat para responden menjadi

tertutup. Mereka tetap menceritakan kekerasan seksual yang mereka miliki

kepada orang-orang terdekatnya, yang dari penjelasan responden

menunjukkan adanya unsur honesty dan trustworthy yang menggerakkan

para responden untuk menceritakan kekerasan seksual yang mereka alami.

Meskipun salah satu responden menegaskan bahwa ia memercayai orang-


119

orang yang menjadi tempatnya bercerita sebab dirinya telah mengenal lama

orang-orang tersebut, dan dirinya sama sekali tidak pernah dikhianati.

Responden menjelaskan bahwa apabila seseorang telah dipercaya namun

selalu menyakiti responden, maka orang tersebut tidak termasuk ke dalam

orang-orang yang ia percayai.

Kepercayaan atau trust yang mendorong para responden untuk

menceritakan pengalaman kekerasan seksual mereka merupakan sesuatu

yang bagi peneliti telah mereka terima sejak lama atau sangat kokoh mereka

bangun. Sebab hal tersebut tidak terlepas dari lingkungan mereka yang

terbuka untuk mendengarkan dan tidak menjelek-jelekkan para responden

apapun yang mereka ceritakan. Sebab bagi peneliti, kebiasaan

mendapatkan respon buruk atau lingkungan yang tidak betul-betul

mendengarkan cerita mengenai apa yang kita miliki –baik itu hal baik

maupun buruk- akan menghambat kita untuk mau percaya bahwa kita benar-

benar diterima dan dengan leluasa dapat mengeluarkan isi hati kita.

3. Trust sebagai Prediktor terhadap Self-Disclosure pada Perempuan

Korban Kekerasan Seksual

Uji hipotesis pada data penelitian ini menunjukkan hasil bahwa trust

mampu menjadi prediktor terhadap self-disclosure pada pada perempuan

korban kekerasan seksual. Hasil ini sesuai dengan penelitian-penelitian

sebelumnya yang menyatakan bahwa trust memiliki pengaruh terhadap self-

disclosure (Krasnova et al., 2010; Zolowere, et al., 2008; Paiva, Segurado,

& Filipe, 2011; Lin, et al., 2016). Dimana Paiva, Segurado, & Filipe (2011)

menemukan hasil bahwa self-disclosure akan semakin meningkat apabila

dilakukan kepada orang-orang terdekat ataupun dengan orang-orang yang


120

memiliki kesamaan, meskipun menurut Lin, et al., (2016) trust memberikan

pengaruh pada self-disclosure tidak hanya pada orang-orang terdekat

namun juga orang-orang di media sosial.

Wawancara yang peneliti lakukan kepada dua orang perempuan korban

kekerasan seksual yang menjadi responden peneliti juga menunjukkan hal

yang sama. Responden pertama dan responden kedua sama-sama

menunjukkan bahwa self-disclosure yang mereka lakukan dipengaruhi oleh

trust, sebab dari masing-masing hasil wawancara peneliti menemukan

adanya honesty dan trustworthy pada jawaban para responden yang mana

keduanya merupakan dimensi dari trust.

Responden pertama mengatakan bahwa dirinya memilih bercerita karena

tidak tahu harus melakukan apa pada saat dan setelah ia mengalami

kekerasan seksual, menurutnya setelah bercerita mengenai kekerasan

seksual yang ia alami ia merasa terbantu untuk mengetahui apa atau

bagaimana ia harus bersikap. Hal ini mengindikasikan adanya unsur

trustworthy atau perilaku dapat dipercaya yang dimiliki oleh orang yang

menjadi tempat bercerita responden.

Jawaban responden mengindikasikan adanya trust yang memengaruhi

responden untuk melakukan self-disclosure mengenai kekerasan seksual

yang dialaminya agar ia merasa lebih baik, sebab saat mengalami kejadian

responden sama sekali tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya dan

dirinya mempercayakan hal tersebut kepada para sahabat dan pacarnya.

Perilaku responden ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Ahrens et al., (2007) bahwa para perempuan korban kekerasan seksual

menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya agar mendapatkan


121

pertolongan kepada orang-orang yang mereka yakini dapat membantu

mereka.

Rotter (dalam Betts & Elder, 2011) menjelaskan bahwa individu memiliki

keyakinan atau kepercayaan kepada individu lain yang telah dikenalnya

dengan baik, sebab mereka berada dalam in group yang sama. Berbeda

dengan responden pertama yang melakukan self-disclosure kepada orang-

orang terdekat yang selalu ia andalkan, responden kedua menceritakan

kekerasan seksual yang dialaminya kepada orang-orang terdekat yang juga

mengalami kejadian serupa.

Responden kedua menjelaskan bahwa dirinya hanya akan bercerita

kepada orang-orang terdekatnya apabila saat itu terdapat seorang lainnya

yang lebih dulu menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya. Sebab ia

meyakini bahwa tidak hanya dirinya yang mengalami kekerasan seksual. Ia

hanya tidak ingin lebih dulu membuka pembahasan atau mengungkapkan

diri sebab tidak ingin dilihat aneh apabila lebih dahulu membahas mengenai

kekerasan seksual. Hal ini turut menggambarkan adanya trustworthy yang

dimiliki oleh responden kedua, sebab ia meyakini bahwa dirinya tidak

sendirian.

Paiva, Segurado, & Filipe (2011) menjelaskan bahwa individu melakukan

self-disclosure karena dipengaruhi oleh trust, dimana kepercayaan tersebut

akan semakin meningkat apabila yang menjadi target disclosure atau tempat

bercerita adalah orang-orang terdekat atau orang-orang yang memiliki

kesamaan. Responden pertama dan kedua menunjukkan bahwa perilaku

self-disclosure mereka dipengaruhi oleh trust, dimana trust ini terbentuk


122

karena adanya hubungan yang dekat dan juga kesamaan pengalaman yang

responden dan disclosure target alami.

Selain itu responden kedua yang peneliti wawancarai menceritakan

bahwa ia menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya karena

lingkungan terdekatnya tidak menganggap tabu kekerasan seksual yang

dialaminya. Hal ini mengindikasikan adanya unsur honesty yang

menggerakkan responden kedua untuk melakukan self-disclosure.

Yamagishi & Yamagishi (1994) menjelaskan honesty sebagai sifat kejujuran

yang dimiliki oleh seseorang. APA (2015) menjelaskan honesty sebagai

kemampuan untuk mengekspresikan perasaan yang dirasakan dan mampu

menyampaikan hal tersebut secara langsung.

Perilaku teman-teman responden yang memperlihatkan perasaan atau

kesan mereka bahwa kekerasan seksual bukanlah hal yang tabu untuk

diperbincangkan menjadikan adanya unsur honesty yang menggerakkan

responden untuk memiliki kepercayaan (trust) kepada mereka. Responden

kedua pun memperkuat hal tersebut dengan mengatakan bahwa kekerasan

seksual merupakan hal yang saat ini lumrah untuk dibahas, meskipun juga

terdapat kontradiktif sebab responden kedua sendiri tidak ingin memulai

pembicaraan mengenai kekerasan seksual.

Salah satu dimensi self-disclosure, yaitu positive negative nature of

disclosure menjelaskan bahwa perbedaan respon yang akan diberikan

bergantung pada positif atau negatifnya hal yang akan diceritakan atau

diungkapkan. Pada kasus responden kedua, meskipun kekerasan seksual

merupakan hal yang sensitif dan seringkali dilihat sebagai hal yang negatif

utamanya pada korban, adanya perilaku honesty yang responden lihat


123

bahwa pembahasan kekerasan seksual tidaklah tabu bagi orang-orang

disekitarnya sebab bagi responden hal tersebut merupakan pembahasan

anak zaman sekarang sehingga dirinya tergerak untuk bercerita.

Six (2005) menyebutkan bahwa trust membutuhkan adanya sikap optimis

atas hasil yang baik. Responden kedua mendukung pernyataan tersebut

dengan menceritakan bahwa ketika menceritakan kekerasan seksual yang

dimilikinya, ia percaya orang lain juga akan turut menceritakan hal yang

sama. Hal ini juga merupakan bentuk dari trustworthy, dimana responden

percaya bahwa ada perilaku dapat dipercaya yang ia yakini akan terjadi

sehingga dirinya tergerak untuk mau bercerita. Responden pertama juga

menunjukkan adanya perilaku trustworthy yang kuat karena dirinya terus

menerus mendapatkan dukungan setelah menceritakan kekerasan seksual

yang dialaminya meskipun hanya sekali responden pertama melakukan self-

disclosure mengenai hal tersebut.

Dukungan yang selama ini mereka dapatkan membuat peneliti tidak

menyangsikan terbentuknya trust pada diri para responden, perilaku orang-

orang disekitar mengenai pantas atau tidaknya mereka untuk dipercayai

menjadi faktor yang menentukan pengungkapan diri para responden.

Peneliti merasa selain waktu yang telah dihabiskan bersama, perilaku selalu

mendengarkan dan menerima merupakan apa yang menjadikan para

responden mau untuk bercerita. Hal ini hanya saja tidak ditemukan atau tidak

bisa ditemukan pada semua orang. Sebab, orang-orang yang memiliki

ketidakpercayaan pada orang-orang disekitarnya bisa jadi akan sulit untuk

menaruh kepercayaan kepada orang lain untuk menceritakan pengalaman

mereka.
124

Menarik untuk dilihat bahwa dari 119 perempuan korban kekerasan yang

menjadi sampel penelitian ini dengan 58 (36.5%) diantaranya yang

melakukan self-disclosure secara personal/telepon/bertemu langsung,

peneliti menemukan kedua responden yang peneliti wawancarai dan

jawaban-jawaban dari para responden lain menunjukkan lebih banyaknya

yang menceritakan kekerasan seksual yang dialami kepada sahabat

dibandingkan kepada kepada keluarga. Sekalipun responden kedua yang

peneliti wawancarai menceritakan kekerasan seksual yang ia alami kepada

keluarganya, hal tersebut terjadi karena kakak responden telah lebih dulu

bercerita.

Jonzon dan Lindblad (2004) dalam penelitiannya pada perempuan

korban kekerasan seksual yang mengalami kekerasan seksual saat anak-

anak menemukan bahwa waktu pengungkapan mereka terbagi dua, yaitu

saat masih anak-anak dan saat mencapai usia dewasa. Ibu menempati

posisi pertama sebagai tempat bercerita mengenai kekerasan seksual saat

berusia anak-anak, sementara pada usia dewasa yang paling banyak ialah

terapis, kemudian pasangan, lalu teman. Teman merupakan target

disclosure tertinggi yang memberikan reaksi positif dibandingkan dengan

target disclosure lainnya.

10.8% dari 93 perempuan korban kekerasan seksual yang menceritakan

kekerasan seksual yang mereka alami dalam penelitian Ahrens, et al., (2007)

menerima reaksi negatif berupa disalahkan atas kekerasan seksual yang

mereka alami. Responden mendapatkan respon tersebut dari keluarga

mereka. Terdapat seorang responden yang diminta oleh ibunya untuk tidak

menceritakan kekerasan seksual yang mereka alami kepada orang lain,


125

serta seorang kakak yang balik menyalahkan adiknya sebab mau berkencan

dengan orang yang melakukan kekerasan padanya. Hal tersebut memiliki

kemungkinan untuk menjadi alasan para perempuan korban kekerasan

seksual lebih memilih menceritakan kekerasan seksual yang mereka alami

pada sahabat dibanding keluarga, meskipun hal tersebut masih perlu diteliti

lebih lanjut.

C. Limitasi Penelitian

Limitasi pada penelitian ini ialah sebagai perikut:

1. Kurang bervariasinya jenis kekerasan seksual yang responden alami,

sebab jenis kekerasan seksual yang responden alami lebih banyak pada

pelecehan seksual. Karena dalam penelitian ini jenis kekerasan seksual

yang diambil bersifat umum (tidak spesifik pada satu jenis kekerasan

seksual, maka hasil penelitian ini juga hanya menggambarkan kontribusi

trust terhadap self-disclosure pada perempuan korban kekerasan

seksual secara umum.

2. Selain itu, penelitian ini juga tidak memasukkan waktu ketika responden

mengalami kekerasan seksual dan waktu ketika responden melakukan

self-disclosure, hal ini berkaitan dengan usia saat responden mengalami

kedua hal tersebut. Usia dan perbedaan waktu yang dimiliki diprediksi

dapat memengaruhi kontribusi trust terhadap self-disclosure korban

kerkerasan seksual karena hal tersebut memengaruhi bagaimana

responden memproses kekerasan seksual yang dialaminya.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai trust sebagai

predictor terhadap self-disclosure pada perempuan korban kekerasan seksual,

berikut beberapa kesimpulan yang peneliti dapatkan:

3. Skor paling dominan dari trust yang dimiliki subjek penelitian ini berada pada

tingkatan sedang, dengan jumlah 42 orang (35.3%). Dimana jenis kekerasan

seksual yang memiliki trust paling dominan diantara jenis lainnya ialah

pelecehan seksual dengan skor sangat rendah 6.5%, sangat rendah 27.3%,

sedang 33.8%, tinggi 27.3%, dan sangat tinggi 5.2%.

4. Skor paling dominan dari self-disclosure yang dimiliki subjek penelitian ini

berada pada tingkatan sedang, dengan jumlah 51 orang (42.9%). Dimana

jenis kekerasan seksual yang memiliki self-disclsure paling tinggi diantara

jenis lainnya ialah pelecehan seksual dengan skor sangat rendah 6.5%,

sangat rendah 27.3%, sedang 42.9%, tinggi 18.2%, dan sangat tinggi 5.2%.

5. Trust berkontribusi positif terhadap self-disclosure sebesar 6.9%, semakin

tinggi trust maka semakin tinggi pula self-disclosure seseorang, demikian

pula sebaliknya.

6. Trust dapat menjadi prediktor terhadap self-disclosure apabila terbentuk

perilaku mendukung maupun kesamaan yang perempuan korban kekerasan

seksual miliki dengan disclosure target-nya.

126
127

7. Self-disclosure akan terwujud apabila terdapat dukungan dan respon yang

baik dari orang-orang yang menjadi disclosure target, semakin lekat atau

memiliki kesamaan maka akan semakin meningkat pula keinginan untuk

melakukan self-disclosure.

8. Trust tidak tumbuh dan hadir begitu saja, perlu adanya keyakinan yang

timbul dari perilaku maupun perkataan orang lain. Semakin sering seseorang

berada pada lingkungan yang perilaku maupun perkataannya mendukung,

maka semakin tinggi pula trust yang dimilikinya.

B. Saran

Berdasarkan hasil temuan yang peneliti dapatkan, berikut beberapa saran

yang dapat peneliti berikan:

1. Bagi Pemerintah

a. Pemerintah seyogyanya membuat regulasi dan alur pengaduan yang

jelas agar perempuan korban kekerasan seksual lebih mudah untuk

menceritakan kekerasan seksual yang mereka alami. Peneliti

menyarankan agar pemerintah dengan terbuka memberikan pelayanan

sampai pendampingan hingga korban mampu untuk menjalani kembali

hidupnya tanpa merasa trauma akan pengalaman yang dialaminya.

b. Tempat-tempat pengaduan para perempuan korban kekerasan seksual

wajib diisi oleh orang-orang yang mau mendengarkan dan memberikan

rasa nyaman agar para korban lebih mudah untuk menceritakan

kekerasan seksual yang mereka alami. Peneliti menyarankan hal ini agar

semakin banyak para korban kekerasan seksual yang tergerak untuk

bercerita dan dapat terbantu untuk mengatasi masalah mereka.


128

2. Bagi Korban Kekerasan Seksual

Tidak mudah untuk menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang

dialami, apalagi menemukan orang yang mau mendengarkan tanpa

menghakimi. Namun hal tersebut perlu dilakukan agar tidak timbul kondisi-

kondisi psikologis lainnya. Peneliti menyarankan agar para korban setidak-

tidaknya menceritakan pengalamannya kepada orang yang dia percayai.

Namun jika korban mengalami trauma yang patologis, maka disarankan

untuk mendatangi profesional seperti psikolog atau psikiater yang bisa

membantunya dalam menangani trauma yang dialaminya.

3. Bagi Keluarga

a. Keluarga seharusnya menjadi tempat ternyaman dan aman bagi para

anggota keluarganya. Keluarga sewajibnya tidak menghakimi anggota

keluarga yang mengalami kekerasan seksual atau ketika mereka

menceritakan kekerasan seksual yang mereka alami.

b. Selain dengan tidak menghakimi korban, keluarga sebaiknya membantu

korban hingga mereka berhasil melewati masa sulit tersebut. Entah

dengan membawanya ke psikolog/psikiater ataupun terus-terusan

memberikan dukungan kepada korban.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

a. Peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian mengenai

trust terhadap self-disclosure dengan menggunakan satu jenis kekerasan

seksual saja, agar lebih mudah diketahui pada jenis-jenis kekerasan

seksual apa saja trust lebih berpengaruh menjadi penggerak korban

melakukan self-disclosure.
129

b. Peneliti selanjutnya juga disarankan untuk melakukan penelitian

mengenai self-disclosure pada korban kekerasan seksual menggunakan

variabel-variabel lain yang kiranya dapat berpengaruh terhadap self-

disclosure. Sehingga variabel tersebut dapat menjadi acuan yang dapat

digunakan untuk mendorong para korban melakukan self-disclosure.

c. Selain beberapa hal di atas, peneliti selanjutnya juga disarankan

memasukkan usia serta waktu responden mengalami kekerasan seksual

dan melakukan self-disclosure untuk semakin mendalami bagaimana

trust berkontribusi terhadap self-disclosure.

d. Dalam penelitian ini peneliti juga mengumpulkan data terkait demografi

responden. Peneliti selanjutnya bisa melakukan analisis lanjutan dengan

mengaitkan trust, self-disclosure dengan demografi.


Daftar Pustaka

Abdullah, S. & Sutanto, T. E. (2015). Statistika Tanpa Stress. Transmedia Pustaka:


Jakarta

Ahmed, A. A. A. M. (2016). "Sharing is Caring": Online Self-disclosure, Offline


Social Support, and Social Network Site Usage in the UAE. Contemporary
Review of the Middle East, 2(3), 192-219

Ahrens, C. E., Campbell, R., Thames, N. K. T., Wasco, S. M., & Sefl, T. (2007).
Deciding Whom to Tell: Expectations and Outcomes of Rape Survivors’
First Disclosures. Psychology of Women Quartely, 31, 38-49

APA (2015). APA Dictionary of Psychology Second Edition (2nd ed.). (VandenBos,
G. R., Penyunt.) Washington D.C: American Psychological Association.

Arslan, C., Hamarta, E., & Uslu, M. (2010). The Relationship between conflict
communication, self-esteem, and life satisfaction in university students.
Educational Research and Reviews Vol 5(1). 031-034

Azwar, S. (2017). Metode Penelitian Psikologi Edisi II. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar.

Azwar, S. (2017). Penyusunan Skala Psikologi Edisi 2. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar

Azwar, S. (2017). Reliabilitas dan Validitas Edisi 4. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Prov. Sulawesi


Selatan. (2011). KIE: Pencegahan Tindak kekerasan pada Perempuan dan
Anak. Makassar: Mesagena Press

Baran, S. J. (2019). Introduction to Mass Communication Tenth Edition. New York:


McGraw-Hill Education.

Baron, R. A., & Brasncombe, N. R. (2013). Social Psychology Thirteenth Edition.


London: Pearson Education Limited

BBC News Indonesia. (2019, 22 Juli). Pernikahan Anak di Kampung Pengungsian


Palu: “Saya Masih Ingin Sekolah”.
[Link]

Betts, L. R., & Elder, T. J. (2012). The Role of Social Identity Threat in Determining
Intergroup Trust. Dalam Curtis, B. R, Psychology of Trust (hal 53-74). New
York: Nova Science Publisher

Bitterly, T. B., & Schweitzer, M. E. (2019). The Impression Management Benefits


of Humorous Self-Disclosure: How Human Influences Perception on
Veracity. Organizational Beavior and Human Decision Processes, 151, 73-
89

130
131

Brown, E. J., & Heimberg, R. C. (2001). Effects of Writing about Rape: Evaluating
Pannebaker’s Paradigm with a Severe Trauma. Journal of Traumatic
Stress 14, 781-790

Buntara, F. A. A., & Helmi, A. F. (2015). Peran Kepercayaan Interpersonal Remaja


yang Kesepian dalam Memoderasi Pengungkapan Diri pada Media
Jejaring Sosial Online. Gadjah Mada Journal of Psychology, 1 (2), 106-119

Cacioppo, J. T., & Hawkley, L. (2003). Social Istolation and Health, with An
Emphasis On Underlying Mechanisms. Perspective in Biology and
Medichine, 46 (3), 39-52

Casalo, L. V., Flavián, C., & Guinalíu, M. (2007): The Influence of Satisfaction,
Perceived Reputation and Trust on a Consumer's Commitment to a
Website. Journal of Marketing Communications 13 (1), 1-17

Cardoso, C., Ellenbogen, M. A., Serravalle, L., & Linnen, A. M. (2013). Stress-
Induced Negative Mood Moderates The Relations Between Oxytocin
Administration and Trust: Evidence for The Tend-and Befriend Response
to Stress?. SciVerse ScienceDirect, 1-5

Chiu, C. M., Hsu, M. H., & Wang, E. T. G. (2006). Understanding knowledge sharing
in virtual communities: An integration of social capital and social cognitive
theories. Decision Support Systems, 42(3), 1872–
1888. [Link]

Chen, L., Hu, N., Shu, C., & Chen, X. (2019). Adult Attachment and Self-Disclosure
on Social Networking Site: A Content Analysis of Sina Weibo

Chen, W., Xie, C., Ping, F., Wang, M.Z. (2017). Personality differences in online
and offline self-disclosure preference among adolescents: A person-
oriented approach. Personality and Individuals Differences, 105, 175-178

Chelune, G. J. (1976) . Self-Disclosure Situations Survey: A New Approach to


Measuring Self-Disclosure. JSAS Catalog of Selected Documents in
Psychology, 6, 111-112.

Coates D., Winston T. (1987) The Dilemma of Distress Disclosure. In: Derlega
V.J., Berg J.H. (eds) Self-Disclosure. Perspectives in Social Psychology.
Springer, Boston, MA. [Link]

Cui, V., Vertinsky, I., Robinson, S., & Branzel, O. (2015). Trust in The Workplace:
The Role of Social Interaction Diversity in The Community and in The
Workplace. Business & Society, 1-35

Creswell, J. W. (2016). Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Derlega, V. J., & Berg, J. H. (1987). Self-Disclosure Theory, Research, and


Therapy. USA: Library of Congress Cataloging in Publication Data.
132

DeVito, J. A. (2013). The Interpersonal Communication Book Thirteenth Edition.


New Jersey: Pearson Education.

Ding, Y., Li, L., Ji, G. (2011). HIV Disclosure in Rural China: Predictors and
Relationship to Access to Care. Aids Care, 23(9), 1059-1066

Dunn, J. R., & Schweitzer, M. E. (2005). Feeling and Believing: The Influence of
Emotion on Trust. Journal of Personality and Social Psychology 88 (5),
736-748

Dye, A. L. B., Akpojivi, U. (2016). Sourth African Generation Y Students’ Self-


Disclosure on Facebook. South African Journal of Psychology, 46(1), 114-
129

Eddyono, S. W. (2007). Hak Asasi Perempuan dan Konvensi CEDAW. Seri Bahan
Bacaan Kursus HAM untuk Pengacara XI Tahun 2007 ELSAM.
[Link]
[Link] (Diakses pada 5 Januari 2019)

Engstrom, K., Mattsson, F., Jarleborg, A., & Hallqvist, J. (2008). Contextual Social
Capital as A Risk Factor for Poor Self-Rated Health: A Multilevel Analysis.
Social Science & Medicine 66, 2268-2280

Einwiller, S. (2003). When Reputation Engenders Trust: An Empirical Investigation


in Business‐to‐ConsumerElectronic Commerce. Electronic Markets 13 (3),
196-209

ELSAM (Lembaga Studi & Advokasi Mahasiswa). (2014). Undang-Undang


Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi
mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita
(Convention on The Elemination of All Forms of Discrimination Against
Women).[Link]
INDONESIA-NOMOR-7TAHUN-1984-TENTANG-PENGESAHAN-
KONVENSI-MENGENAI-PENGHAPUSAN-SEGALA-BENTUK-
[Link] (Diakses pada 5 Januari 2019)

Fianu, E., Ofori, K. S., Boateng, R., Ampong, G. O. A. (2019). The Interplay
Between Privacy, Trust, and Self-Disclosure. International Federation for
Information Processing, 558, 382-401

Fu, X. (2017). The Contextual Effects of Political Trust on Happiness: Evidence


from China. Springer Science+Business Media. DOI: 10.1007/s11205-017-
1721-2

Fukuyama, F. (1995). Trust: The social virtues and the creation of prosperity. New
York: The Free Press.

Fortier, D. Leung, A., & Verrault, E. (2011). Trust in Multicultural Global Virtual
Teams: An Application of Social Capital Theory. Psychology of Trust, 97-
116
133

Gefen, D., Benbasat, I., Pavlou, P. (2008). A Research Agenda for Trust in Online
Enviroments. Journal of Management Information Systems, 24 (4), 275-
286. [Link]

Grabrill, C. M., & Kerns, K. A. (2000). Attachment Style and Intimacy in Friendship.
Personal Relationship,7, 363-378

Grace, S., Pratiwi, P. C., Indrawati, G. (2018). Hubungan antara Rasa Percaya
dalam Hubungan Romantis dan Kekerasan dalam Pacaran pada
Perempuan Dewasa Muda di Jakarta. Jurnal Psikologi Ulayat, 5(2), 169-
186
Graafland, J., & Lous, B. (2019). Income Inequality, Life Satisfaction Inequality and
Trust: A Cross Country Panel Analysis. Journal of Happiness Studies 20,
1717-1737

Greene, K., Derlega, V., & Mathews, A. (2009). Self-disclosure in personal


relationships. The Cambridge Handbook of Personal Relationships, 409-
427.

Gruzd, A., & Garcia, A. H. (2018). Pricay Concern and Self-Disclosure in Private
and Public Uses of Social Media. Cyberpsychology, Behavior, and Social
Networking, 21 (7), 418-428. DOI: 10.1089/cyber.2017.0709

Hadi, S. (2011). Statistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Haselhuhn, M. P., Kennedy, J. A., Kray, L. J., Zant, A. B. V., Schweitzer, M. E.


(2015). Gender Differences in Trust Dynamics: Women Trust More Than
Men Following A Trust Violation. Journal od Experimental Social
Psychology, 56, 104-109

Helliwell, J. F. (2008). Life Satisfaction and Quality of Development. NBER


Working Paper Series 14507

Hendrick, S. (1987). Counseling and Self-Dsiclosure. Dalam V. J. Derlega, & J. H.


Berg (Penyunt.), Self-Disclosure Theory, Research, and Therapy (hal. 303-
327). USA: Library of Congress Cataloging in Publication Data.

Hu, A. (2020). Specific Trust Matters: The Association Between The


Trustworthiness of Specific Partners and Subjective Wellbeing

Jampel, I. N., Sudhita, I. W. R., & Suartama, I. K. (2016). Komunikasi Massa. Bali:
Universitas Pendidikan Ganesha.

Jia, L., Collins, M., Nixon, P. (2009). Evaluating Trust-Based Access Control for
Social Interaction. Third International Conference on Mobile Ubiquitos
Computing, Systems, Services and Technologies, 277-282

Jasielska, D. (2020). The moderating role of kindness on the relation between trust
and happiness. Curr Psychol 39, 2065–2073. DOI: 10.1007/s12144-018-
9886-7
134

Jen, M. H., Sund, E. R., Johnston, R. & Jones, K. (2010). Trustful Societies,
Trustful Individuals and Health: An Analysis of Self-Rated Health and Social
Trust using The World Value Survey. Health & Place 16, 1022-1029

Jonzon, E., & Lindblad, F. (2004). Disclosure, Reactions, and Social Support:
Finding From A Sample of Adul Victimis of Child Sexual Abuse.

Kandari, A. A., Melkote, S. R., Sharif, A. (2016). Needs and Motives of Instagram
Users that Predict Self-Disclosure Use: A Case Study of Young Adults in
Kuwait. Journal of Creative Commucinations, 11(2), 85-101

Kamus Besar Bahasa Indonesia V 0.1.5 Beta (15). 2016. Indonesia: Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia.

Kim, B., Shin, K.-S., & Chai, S. (2015). How People Disclose Themselves
Differently According To The Strength Of Relationship In SNS? The Journal
of Applied Business Research, 3(6), 2139-2146.

Kim, D. J. (2008). Self-Perception-Based Versus Transference-Based Trust


Determinants in Computer-Mediated Transactions: A Cross-Cultural
Comparison Study. Journal of Management Information System 24(4), 13-
45

Kim, J.Y., Chung, N., Ahn, K. M. (2013). Why People use Social Networking
Services in Korea: The Mediating Role of Self-Disclosure on Subjective
Well-Being. Information Development, 30 (3), 276-287

Kivran-Swaine, F., Ting, J., Brubaker, J. R., Teodoro, S., & Naaman, M. (2014).
Underistanding Loneliness in Social Streams: Expressions and
Responses. Eight International AAAI Conference on Weblogs and Social
Media

Ko, H. C., & Kuo, F. Y. (2009). Can Blogging Enhance Subjective Well-Being
Through Self-Disclosure?. CyberPsychology & Behavior 12 (1), 75-79

Komnas Perempuan. (2006). Hukum Pidana Internasional dan Perempuan.


[Link]
rempuan/HPI-BUKU%202__HUKUM%20PIDANA%20INTERNASIONAL.
....pdf (Diakses pada 5 Januari 2019)

Komnas Perempuan. (2013). Lembar Fakta 15 Jenis Kekerasan Seksual.


[Link]
Jenis-Kekerasan-Seksual_2013.pdf (Diakses pada 31 Desember 2019)

Komnas Perempuan. (2013). Kekerasan Seksual Kenali dan Tangani.


[Link]
content/uploads/2013/12/[Link]
(Diakses pada 31 Desember 2019)

Komnas Perempuan. (2019). Catatan Tahunan Tentang Kekerasan Terhadap


Perempuan (CATAHU) 2018.
135

Koranteng, F. N., Wiafe, I., Katsriku, F. A., Apau, R. (2020). Understanding Trust
on Social Networking Sites Among Tertiary Students: An Empirical Study
in Ghana. Applied Computing and Informatics

Krasnova, H., Spiekrmann, S. Koroleva, K. Hilderbrand, T. (2010). Online Social


Networks: Why We Disclose. Journal of Information Technology, 25, 109-
125

Lee, K. T., Noh, M. J., Koo, D. M. (2013). Lonely People are No Longer Lonely in
Social Networking Sites: The Mediating Role of Self-Disclosure and Social
Support

Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-
KJHAM). Data Kasus Kekerasan terhadap Perempuan di Jawa Tengah
Periode November-Oktober 2014. [Link]
kekerasan-terhadap-perempuan-di-jateng/data-kasus-kekerasan-
terhadap-perempuan-di-jawa-tengah-periode-november-oktober-2014/
(Diakses pada 5 Januari 2019)

Levi-Belz, Y. (2016). To Share or Not to Share? The Contribution of Self-Disclosure


to Stress Related Growth Among Suicide Survivors. Death Studies, 1-24.
DOI: 10.1080/07481187.2016.1160164

Lin, W.Y., Zhang, X., Song, H., Omori, K. (2016). Health information seeking in the
Web 2.0 age: Trust in social media, uncertainty, reduction, and self-
disclosure. Computer in Human Behavior 56, 289-294

Luo, M., & Hancock, J. T. (2020). Self-Disclosure and Social Media: Motivations,
Mechanisms, and Psychological Well-Being. Current Opinion in
Psychology 31, 110-115

Mahoney, J., Moignan, E. L., Long, K., Wilson, M., Barnett, J., Vines, J., Lawson,
S. (2019). Feeling Alone Among 317 Million others: Disclosures of
Loneliness on Twitter. Computers in Human Behavior 98, 20-30

Malloy, L. C., Sutherland, J. E., Cauffman, E. (n.d). Sexual abuse disclosure


among incarcerated female adolescents and young adults. Child Abuse &
Neglect.

Mao, Z. E., Jones, M. F., Li, M. Wei, W., & Lyu, J. (2020). Sleeping in A Stranger’s
Home A Trust Formation Model for Airbnb

Masur, P. K. (2017). Situational Privacy and Self-Disclosure: Communication


Processes in Online Enviroments. Germany: Springer

Matson, P. A., Chung, S. E., Fortenberry, J. D., Lich, K. H., & Ellen, J. M. (2020).
The Impact of Relationship Stressor on Trust and Prorelationship Behavior
Within Adolescent Romantic Relationship: A Systems Approach. Journal or
Adolescent Health
136

McAllister, D. J., Lewicki, R. J., Chaturvedi, S. Trust in Developing Relationships:


From Theory to Measurement. Academy of Management Annual Meeting
Proceedings (1), G1-G6

Mesch, G. S. (2012). Is Online Trust and Trust In Social Institutions Associated


with Online Disclosure of Identifiable Information Online?. Computers in
Human Behavior, 28, 1471-1477

Mikucka, M., Sarracino, F., & Dubrow, J. A. (2017). When Does Economic Growth
Improve Life Satisfaction? Multilevel Analysis of The Roles of Social Trust
and Income Inequality in 46 Countries, 1981-2012. World Development 93,
447-459

Miller, B. (2020). Investigating Reddit Self-Disclosure and Confessions in Relation


to Connectedness, Social Support, and Life Satisfaction. The Journal of
Social Media in Society Spring Vol 9 (1), 39-62

Moors, R., & Webber, R. (2012). The dance of Disclosure: Online self-disclosure
of sexual assault. Qualitative Social Work, 12(6), 799-815

Nieminen, T., Martelin, T., Koskinen, S., Aro, H., Alanen, E., & Hyyppa, M. T.
(2010). Social Capital as A Determinant of Self-Related Health and
Psychological Well-Being. International Journal Public Health 55, 531-542

Paiva, V. S. F., Segurado, A. C., Filipe, E. (2011). Self-disclosure of HIV diagnosis


to sexual partner heterosexual and bisexual men: a challenge for HIV/AIDS
care and Prevention, Escola Nacional de Saude Publica 27(9), 1699-1710

Pan, W., Feng, B., Wingate, V. S. (2018). What You Say is What You Get: How
Self-Disclosure in Support Seeking Affects Languange Use in Support
Provision in Online Support Forums. Journal of Languange and Social
Psychology, 37(1), 3-27.

Pan, W., Feng, B., Skye V., & Li, S. (2020). What to Say when Seeking Support
Online: A Comparison among Different Levels of Self-Disclosure. Psychol.

Pang, H. (2018). Microblogging, friendship maintenance, and life satisfaction


among university students: The mediatory role of online self-disclosure.
Telematics and Informatics Vol 35 (8), page 2232-2241

Pangalila, S., & Budiarto, Y. (2017). Factor Analysis of Rotter's Interpersonal Trust
Scale. HUMANITAS, Vol. 14(2), 150-163

Pangestu, H. X., & Ariela, J. (2020). Pengaruh Attachment terhadap Self-


Disclosure pada Pria Dewasa Awal yang Berpacaran. Humanitas, 4 (1), 87-
100

Potts, S. R., McCuddy, W. T., Jayan, D., & Porcelli, A. J. (2019). To Trust, or Not
to Trust? Individual Differences in Physiological Reactivity Predict Trust
Under Acute Stress
137

Poulin, M. J., Haase, C. M. (2015). Growing to Trust: Evidence That Trust Incrase
and Become More Important for Well-Being Across the Life Span. Social
Psychology and Personalities Sciences, 1-8

Rains, S. A., Brunner, S. R., & Oman, K. (2016). Self-disclosure and new
communication technologies: The implications of receiving superficial self-
disclosures from friends. Journal of Social and Personal Relationship, 42-
61

Ramos, F. L., Ferreira, J. B., Freitas, A. S. D., & Rodrigues, J. W. (2018). The
Effect of Trust in The Intention to Use M-Banking. Brazilian Business
Review, 15 (2), 175-191

Rakhmat, D. J. (2017). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Rempel, J. K., Holmes, J. G., Zanna, M. P. (1985). Trust in Close Relationships.


Journal of Personality and Social Psychology, 49(1), 95-112

Rhameswari, A., & Tjahjaningsih, E. (2016). Pengaruh Kualitas Layanan dan


Reputasi terhadap Kepercayaan serta Dampaknya pada Komitmen
Partner Kerja. Seminar Nasional Multi Disiplin Ilmu & Call for Papers
UNISBANK (Sendi_U) Ke-2, 601-612

Ridings, C. M., Gefen, D., & Arinze, B. (2002). Some Antecedents and Effects of
Trust in Virtual Communites. The Jjournal of Strategic Information Systems,
11 (3-4), 271-295. [Link]

Ruppel, E.K. (2014). Use of communication technologies in romantic relationships:


Self-disclosure and the role of relationship development. Journal of Social
and Personal Relationships, 1-20

Santrock, J. W. (2012). Life-Span Development 14th Edition. New York: McGraw-


Hill

Schafer, P. J. (2015). Self-disclosures Increase Attraction. Dipetik April 14, 2018,


dari Psychology Today: [Link]
their-words-do-the-talking/201503/self-disclosures-increase-attraction

Shelton, J, N., Trail, T. E.,West, T. V., Bergsieker, H. B. (2018). From stranger to


friends: The interpersonal process model of intimacy in developing
interracial friendsips. Journal of Social and Personal Relationships, 27(1),
71-90

Six, F. (2005). The Trouble with Trust: The Dynamics of Interpersonal Trust
Building. USA: Edwar Elgar Publishing, Inc.

Son, J., Choi, W., & Choi, S. M. (2020). Trust Information Network in Social Internet
of Things Using Trust-Aware Recommender Systems. International Journal
of Distributed Sensor Networks, 16 (4), 1-12
138

Sprecher, S., Treger, S., Wondra, J. D. (2012). Effects of Self-Disclosure Role on


Liking, Closeness, and Other Impressions in Get-Acquainted Interactions.
Journal of Social and Personal Relationships, 30 (4), 497-514

Staller, K. M., & Gardel, D. N. (2005). “A Burden in Your Heart”: Lessons of


Disclosure from Female Preadolescent and Adolescent Survivors of Sexual
Abuse. Child Abuse & Neglect, 29. 1415-1432

Staples, J. M., Eakins, D., Neilson, E. C., George, W. H., Davis, K. C., Norris, J.
(2016). Sexual Assault Disclosure and Sexual Functioning: The Role of
Trauma Symptomatology. The Journal of Sexual Medicine, 131, 1562-
1569.

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung:


ALFABETA CV.

Sugiyono. (2016). Statistik Untuk Penelitian. Bandung: ALFABETA CV.

Suryani, A. & Nurwidawati, D. (2016). Self-Disclosure dan Trust pada Pasangan


Dewasa Muda yang Menikah dan Menjalani Hubungan Jarak Jauh. Jurnal
Psikologi Teori dan Terapan, 7(1), 9-15

Taddei, S., & Contena, B. (2013). Privacy, Trust, and Control: Which Relationships
with Online Self-Disclosure?. Computers in Human Behavior, 29, 821-826

Taddicken, M., & Jers, C. (2011). The Uses of Privacy Online: Trading a Loss of
Privacy for Social Web Gratifications. Dalam S. Trepte, & L. Reinecke,
Privacy Online: Perspective on Privacy and Self-Disclosure in the Social
Web (hal. 143-156). London: Springer Heidelberg.

Tichon, J. G & Shapiro, M. The process of sharing social support in Cyberspace.


2002. Cyber Psychology & Behavior 6 (2), 161-170

Tokuda Y., Fujii S., Inoguchi T. (2017) Individual and Country-Level Effects of
Social Trust on Happiness: The Asia Barometer Survey. In: Inoguchi T.,
Tokuda Y. (eds) Trust with Asian Characteristics. Trust (Interdisciplinary
Perspectives), vol 1. Springer, Singapore. DOI: 10.1007/978-981-10-2305-
7_8

Trepte, S. (2015). Social Media, Privacy, and Self-Disclosure: The Turbulence


Caused by Social Media's Affordances. Social Media + Society, 1-2

Tsai, W., & Ghoshal, S. (1998). Social Capital and Value Creation: The Role of
Intrafirm Networks. The Academy of Management Journal, 41 (4), 464-476

Ullman, S. E., & Hagene, P. L (2014). Social Reactions to Sexual Assault


Disclosure, Coping, Perceived Control, & PTSD Symptoms in Sexual
Assault Victims. Journal of Community Psychology 42 (4), 495-508
139

Utz, S. (2015). The Function of Self-Disclosure on Social Networks Sites: Not Only
Intimate, but also positive and entertaining self-disclosures increas the
feeling of connection. Computers in Human Behavior, 45, 1-10

Vogel, M. T., Shanahan, J., Signorielli, N. (2018). Social media cultivating


perceptions of privacy: A 5-year analysis of privacy attitudes and self-
disclosure behaviors among Facebook users. New Media and Society,
20(1), 141-161

Yamagishi, T. & Yamagishi, M. (1994). Trust and Commitment in the United States
and Japan. Motivation and Emotion, Vol 18 (2)

Yayasan Pulih. (2017). Mengenali Kasus Kekerasan Seksual.


[Link] (Diakses
pada 31 Desember 2019)

Wang, L., Yan, J., Lin, J., Cui, W. (2017). Let the users tell the truth: Self-disclosure
intention and self-disclosure honesty in mobile social networking.
International Journal of Information Management, 37, 128-1440

Wang, Y., & Vassileva, J. (2007). A Review on Trust and Reputation for Web
Service Selection. 27th International Conference on Distributed Computing
Systems Workshops, pp. 25-25. DOI: 10.1109/ICDCSW.2007.16.

Y. Wang and J. Vassileva, "A Review on Trust and Reputation for Web Service
Selection," 27th International Conference on Distributed Computing
Systems Workshops (ICDCSW'07), Toronto, ON, Canada, 2007, pp. 25-
25, doi: 10.1109/ICDCSW.2007.16.

Wijaya, H. R., & Astuti, S. R. T. (2020). The Effect ot Trust and Brand Image to
Repurchase Intention in Online Shopping. International Conference on
Economics, Business and Economic Education 2018, 915-928

Wheeless, L. R., Grotz, J. (1976). Conceptualization and Measurement of


Reported Self-Disclosure. Human Communication Research, 2 (4, 338-
346). [Link]

Widhiarso, W. (2012). Tanya Jawab Tentang Uji Normalitas.

Williams, M. (2001). In Whom We Trust: Group Membership as An Effective


Context for Trust Development. Academy of Management Review, 26 (3),
377-396

World Health Organization. (2010). Preventing Intimate Partner and Sexual


Violence Against Women: Taking Action and Generating Evidence.
Geneva: World Health Organization

Wusana, S. W. & Hidayat, R. (2017). Peran Kepercayaan Sosial dan Sentralitas


Jaringan Terhadap Personal Resiko Bencana Alam. Jurnal Ilmu Perilaku,
1 (1), 1-10
140

Zhang, R. (2017). The Stress-Buffering Effect of Self-Disclosure on Facebook: An


Examination of Stressful Life Events, Social Support, and Mental Health
among College Students. Computers in Human Behavior, 75, 527-537

Zhang, Z., & Gu, C. (2015). Effects of Consumer Social Interaction on Trust in
Online Group-Buying Contexts: An Empirical Study in China. Journal of
Electronic Commerce Research, 16 (1), 1-21

Zlatolas, L. N., Welzer, T., Hericko, M., Holbi, M. (2015). Privacy Antecedents for
SNS Self-Disclosure: The Case of Facebook. Computers in Human
Behavior, 45, 158-167

Zolowere, D., Manda, K., Panulo Jr, B., & Muula, A. (2008). Experiences of Self-
Disclosure Among Tuberculosis Patients in Rural Southern Malawi. Rural
and Remote Health, 8 (4), 1-9
LAMPIRAN 1
SKALA PENELITIAN
(GOOGLE FORM)
LAMPIRAN 2
HASIL UJI VALIDITAS ISI
1. Validitas Logis

REKAPITULASI
SUBJECT MATTER EXPERT

1. Rekapitulasi mengenai Isi (konten)


Skala I
No Subject Matter Expert
Keterangan
Item SME 1 SME 2 SME 3
Tidak perlu
memasukkan
konteks
kekerasan
seksual dan
media sosial di Konteks
dalam item, tapi penelitian
disituasikan, pada item
jadi berikan akan
1. OK OK
penjelasan dikeluarkan,
situasi “Ketika selebihnya
bercerita di tidak ada yang
media sosial berubah.
tentang
kekerasan
seksual yang
saya alami,
maka saya....”
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
2. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
3. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
4. item pertama OK OK pada item
akan
dikeluarkan,
No Subject Matter Expert
Keterangan
Item SME 1 SME 2 SME 3
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
5. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
6. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
7. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
8. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
9. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
10. item pertama OK OK pada item
akan
dikeluarkan,
No Subject Matter Expert
Keterangan
Item SME 1 SME 2 SME 3
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
11. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
12. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
13. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
14. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
15. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
16. item pertama OK OK pada item
akan
dikeluarkan,
No Subject Matter Expert
Keterangan
Item SME 1 SME 2 SME 3
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
17. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
Maksudnya?
18. OK akan
Revisi
dikeluarkan,
isi item akan
direvisi
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
19. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
Tidak
item pertama pada item
mengukur Self-
20. OK akan
Disclosure,
dikeluarkan,
revisi.
isi item akan
direvisi
Seperti Konteks
komentar di penelitian
Tidak
item pertama pada item
mengukur Self-
21. OK akan
Disclosure,
dikeluarkan,
revisi.
isi item akan
direvisi
Seperti Konteks
komentar di penelitian
Tidak
item pertama pada item
mengukur Self-
22. OK akan
Disclosure,
dikeluarkan,
revisi.
isi item akan
direvisi
No Subject Matter Expert
Keterangan
Item SME 1 SME 2 SME 3
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
23. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
24. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.
Seperti Konteks
komentar di penelitian
item pertama pada item
akan
25. OK OK
dikeluarkan,
selebihnya
tidak ada yang
berubah.

Uraian Review:
Konteks penelitian disarankan untuk tidak disematkan pada item namun
menjadi keterangan situasi pada skala ini. Sehingga nyaris keseluruhan
item hanya mengelami perubahan berupa tidak dimasukkannya konteks
penelitian, kecuali pada item 18, 20, 21, dan 22.
Skala II
No Subject Matter Expert
Keterangan
Item SME 1 SME 2 SME 3
Tidak perlu Konteks
memasukkan penelitian
konteks pada item
Untuk skala ini
kekerasan akan
ambil saja item
seksual dan dikeluarkan,
yang hasil
media sosial di selebihnya
telaah peneliti,
dalam item, tapi tidak ada
1. tambakan OK
disituasikan, yang berubah.
tanpa
jadi berikan
menambahkan
penjelasan
konteks media
situasi “Saat
sosial
menggunakan
media sosial,
saya merasa...”
Konteks
penelitian
pada item
Seperti Seperti
akan
2. komentar di komentar di OK
dikeluarkan,
item pertama item pertama
selebihnya
tidak ada
yang berubah.
Konteks
penelitian
pada item
Seperti Seperti
akan
3. komentar di komentar di OK
dikeluarkan,
item pertama item pertama
selebihnya
tidak ada
yang berubah.
Konteks
penelitian
pada item
Seperti Seperti
akan
4. komentar di komentar di OK
dikeluarkan,
item pertama item pertama
selebihnya
tidak ada
yang berubah.
Konteks
penelitian
pada item
Seperti Seperti
akan
5. komentar di komentar di OK
dikeluarkan,
item pertama item pertama
selebihnya
tidak ada
yang berubah.
Konteks
penelitian
pada item
Seperti Seperti
akan
6. komentar di komentar di OK
dikeluarkan,
item pertama item pertama
selebihnya
tidak ada
yang berubah.
Konteks
penelitian
Seperti pada item
7. komentar di Revisi OK akan
item pertama dikeluarkan,
isi item akan
direvisi
Konteks
penelitian
Seperti pada item
8. komentar di Revisi OK akan
item pertama dikeluarkan,
isi item akan
direvisi
Konteks
penelitian
pada item
Faktami ini,
9. Revisi OK akan
perbaiki
dikeluarkan,
isi item akan
direvisi
Konteks
penelitian
Seperti pada item
10. komentar di Revisi OK akan
item pertama dikeluarkan,
isi item akan
direvisi

Uraian Review:
Konteks penelitian disarankan untuk tidak disematkan pada item namun
menjadi keterangan situasi pada skala ini. Sehingga nyaris keseluruhan
item hanya mengelami perubahan berupa tidak dimasukkannya konteks
penelitian, kecuali pada item 7, 8, 9, dan 10.
2. Rekapitulasi mengenai Bahasa
Skala I
No Subject Matter Expert
Keteranga
Ite
SME 1 SME 2 SME 3 n
m
Tidak perlu Gunakan Konteks
memasukka padanan kata penelitian pada
n kata yang lain untukitem akan
1. OK
kekerasan kata gambaran dikeluarkan,
seksual dan bahasa item
media sosial akan direvisi
Konteks
Seperti Gunakan kata penelitian pada
komentar di katakan item akan
2. OK
item dibanding dikeluarkan,
pertama ungkapkan bahasa item
akan direvisi
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
3. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Tambahkan kata Konteks
Seperti tentang penelitian pada
komentar di item akan
4. OK
item dikeluarkan,
pertama bahasa item
akan direvisi
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
5. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
6. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Gunakan Konteks
Seperti kalimat penelitian pada
komentar di pendapat dan item akan
7. OK
item apa yang saya dikeluarkan,
pertama percayai bahasa item
akan direvisi
No Subject Matter Expert
Keteranga
Ite
SME 1 SME 2 SME 3 n
m
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
8. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
9. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
10. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
Seperti penelitian pada
komentar di Tambahkan kata item akan
11. OK
item kadang dikeluarkan,
pertama bahasa item
akan direvisi
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
12. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
13. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
Seperti
penelitian pada
komentar di
14. OK OK item akan
item
dikeluarkan,
pertama
selebihnya
No Subject Matter Expert
Keteranga
Ite
SME 1 SME 2 SME 3 n
m
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
15. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
16. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
Seperti penelitian pada
komentar di Tambahkan kata item akan
17. OK
item pengalaman dikeluarkan,
pertama bahasa item
akan direvisi
Konteks
Seperti penelitian pada
komentar di Maksudnya item akan
18. OK
item ? Revisi dikeluarkan,
pertama bahasa item
akan direvisi
Konteks
Tambahkan
Seperti penelitian pada
kalimat “Tidak
komentar di item akan
19. OK ada yang saya
item dikeluarkan,
tutupi saat...” di
pertama bahasa item
awal kalimat
akan direvisi
Konteks
Seperti Gunakan penelitian pada
komentar di kalimat “Saya item akan
20. Revisi
item mengungkapkan dikeluarkan,
pertama ” bahasa item
akan direvisi
OK Konteks
Seperti penelitian pada
komentar di item akan
21. Revisi
item dikeluarkan,
pertama bahasa item
akan direvisi
No Subject Matter Expert
Keteranga
Ite
SME 1 SME 2 SME 3 n
m
OK Konteks
Seperti penelitian pada
komentar di item akan
22. Revisi
item dikeluarkan,
pertama bahasa item
akan direvisi
Konteks
Seperti penelitian pada
Lebih
komentar di item akan
23. OK sederhanakan
item dikeluarkan,
lagi kalimatnya
pertama bahasa item
akan direvisi
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
24. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
Seperti Pisahkan penelitian pada
komentar di masalah sekali item akan
25. OK
item dan secara dikeluarkan,
pertama langsung bahasa item
akan direvisi
Uraian Review:
Bagian bahasa skala ini akan mengikut pada bagian isi dengan tidak
memasukkan kata media sosial dan kekerasan seksual pada masing-
masing item. Sementara itu untuk beberapa item terdapat saran perubahan
isi yaitu pada item 1, 2, 4, 7, 11, 17, 19, 20, 23, dan 25.
Skala II
No Subject Matter Expert
Keterangan
Item SME 1 SME 2 SME 3
Untuk skala ini
ambil saja item Konteks
Tidak perlu
yang hasil penelitian pada
memasukkan
telaah peneliti, item akan
kata
1. tambakan OK dikeluarkan,
kekerasan
tanpa selebihnya
seksual dan
menambahkan tidak ada yang
media sosial
konteks media berubah
sosial
Konteks
penelitian pada
Seperti Seperti item akan
2. komentar di komentar di OK dikeluarkan,
item pertama item pertama selebihnya
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti Seperti item akan
3. komentar di komentar di OK dikeluarkan,
item pertama item pertama selebihnya
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti Seperti item akan
4. komentar di komentar di OK dikeluarkan,
item pertama item pertama selebihnya
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti Seperti item akan
5. komentar di komentar di OK dikeluarkan,
item pertama item pertama selebihnya
tidak ada yang
berubah
Konteks
Tambahkan penelitian pada
Seperti Seperti
penjelasan item akan
6. komentar di komentar di
oleh orang dikeluarkan,
item pertama item pertama
lain bahasa item
akan direvisi
Konteks
Seperti Hapuskan
penelitian pada
7. komentar di Revisi sebagian
item akan
item pertama besar
dikeluarkan,
bahasa item
akan direvisi
Konteks
penelitian pada
Seperti Hapuskan
item akan
8. komentar di Revisi sebagian
dikeluarkan,
item pertama besar
bahasa item
akan direvisi
Konteks
penelitian pada
Seperti Hapuskan
item akan
9. komentar di Revisi kebanyakan
dikeluarkan,
item pertama orang
bahasa item
akan direvisi
Konteks
penelitian pada
Seperti Hapuskan
item akan
10. komentar di Revisi sebagian
dikeluarkan,
item pertama besar
bahasa item
akan direvisi
Uraian Review:
Bagian bahasa skala ini akan mengikut pada bagian isi dengan tidak
memasukkan kata media sosial dan kekerasan seksual pada masing-
masing item. Sementara itu untuk beberapa item terdapat saran perubahan
isi yaitu pada item 6,7, 8, 9, dan 10.
2. Validitas Tampang
Rekapitulasi Reviewer

1. Review Umum
Hasil Review
Reviewer Layout/tata Jenis & Bentuk Sampul
letak Ukuran Huruf Skala
Saran ada
Reviewer 1 gambar di
Jelas OK -
bagian header
biar cantik
Reviewer 2
OK OK OK -
Reviewer 3
OK OK OK -
Reviewer 4
OK OK OK -

Uraian Kesimpulan:
Kesimpulan yang dapat dari keempat reviewer ialah tata letak skala sudah baik,
hanya saja perlu dimasukkan gambar pada bagian header. Jenis dan ukuran
huruf sudah oke atau dapat dikatakan baik, begitu pula dengan bentuk skala.
Sehingga peneliti hanya perlu menambahkan gambar pada bagian header
skala.
2. Review Khusus: Pengantar Skala

Aspek Hasil Review


Review Konten Bahasa
Reviewer 1 OK OK
Reviewer 2 Sesuai Jelas
Jelas
Reviewer 3 Jelas
Reviewer 4 Jelas Jelas

Uraian Kesimpulan:
Kesimpulan yang didapatkan ialah pengantar pada skala sudah jelas, sehingga
tidak ada perubahan yang perlu dilakukan.
3. Review Khusus: Identitas Responden

Aspek Hasil Review


Review Konten Bahasa
Baiknya jenis2 kekerasan
Reviewer 1 seksualnya juga disebutkan Jelas
seperti yang jenis sosmed
Reviewer 2 Jelas Bahasanya Anda bukan anda

Reviewer 3 Jelas Jelas

Reviewer 4 Jelas Jelas


Uraian Kesimpulan:
Kesimpulan yang dapat dari keempat reviewer ialah identitas responden masih
ada bagian yang perlu diubah atau ditambahkan. Pada jenis-jenis kekerasan
seksual reviewer pertama menyarankan agar jenis-jenis kekerasan seksual
juga disebutkan, sementara reviewer kedua menyarankan agar penggunaan
kata anda awalan hururfnya dikapitalkan.
4. Review Khusus: Petunjuk Pengerjaan

Aspek Hasil Review


Review Konten Bahasa
Reviewer 1 Jelas Jelas
Reviewer 2 Jelas Jelas
Reviewer 3 Jelas Jelas
Reviewer 4 Jelas Typo ‘aitem’

Uraian Kesimpulan:
Kesimpulan yang dapat dari keempat reviewer ialah petunjuk pengerjaan masih
ada bagian yang perlu diperbaiki, yaitu penggunaan penulisan aitem yang
seharusnya menjadi item.
5. Review Khusus: Kesimpulan Item Pernyataan Skala I

Hasil Review
Aspek Review
Konten Bahasa
Item 1 Oke Jelas
Item 2 Oke Jelas
Item 3 Oke Jelas
Item 4 Oke Jelas
Item 5 Oke Jelas
Item 6 Oke Jelas
Item 7 Oke Jelas
Masa mengungkapkan hal “Hal tersebut” sebaiknya
baik soal kekerasan seksual diperjelas penunjukannya (R3)
Item 8
yang dialami? Apanya yang
baik? (R1)
Item 9 Oke Jelas
Item 10 Oke Jelas
Item Item 11 Oke Jelas
Pernyataan Item 12 Oke Jelas
Item 13 Oke Jelas
Item 14 Oke Jelas
Item 15 Oke Jelas
Item 16 Oke Jelas
Item 17 Oke Jelas
Item 18 Oke Jelas
Item 19 Oke Jelas
Item 20 Oke Jelas
Item 21 Oke Jelas
Item 22 Oke Jelas
Item 23 Oke Jelas
Item 24 Oke Jelas
Item 25 Oke Jelas
Uraian Kesimpulan:
Kesimpulan yang dapat dari keempat reviewer ialah “Hal tersebut” pada item 8
perlu untuk diperjelas. Mengenai hal yang baik yang diungkapkan yang
dikomentari oleh reviewer pertama, peneliti akan menjawab bahwa itu berarti
pengalaman kekerasan seksual yang dialami oleh responden tidak dianggap
sebagai kekerasan atau tidak dianggap sebagai hal yang negatif melainkan
wajar saja terjadi (positif).
6. Review Khusus: Kesimpulan Item Pernyataan Skala II

Hasil Review
Aspek Review
Konten Bahasa
Item 1 Oke Jelas
Item 2 Oke Jelas
Item 3 Oke Jelas
Item 4 Oke Jelas
Item Item 5 Oke Jelas
Pernyataan Item 6 Oke Jelas
Item 7 Oke Jelas
Item 8 Oke Jelas
Item 9 Oke Jelas
Item 10 Oke Jelas

Uraian Kesimpulan:
Kesimpulan yang dapat dari keempat reviewer ialah keseluruhan item pada
skala ini sudah jelas.
LAMPIRAN 3
HASIL UJI VALIDITAS KONSTRUK
SELF-DISCLOSURE SCALE
1. Dimensi Intent to Disclose

No
Factor Loading Error T-Value Hasil
Item
1 0.96 0.08 11.28 Valid
2 0.82 0.09 9.32 Valid
3 0.75 0.09 8.28 Valid
17 0.60 0.09 6.51 Valid
18 -0.28 0.10 -2.83 Tidak Valid
2. Dimensi Amount of Disclosure

No
Factor Loading Error T-Value Hasil
Item
4 0.43 0.10 4.45 Valid
5 0.71 0.10 7.25 Valid
6 1.00 0.10 10.19 Valid
7 0.48 0.10 4.92 Valid
19 -0.04 0.10 -0.46 Tidak Valid
3. Dimensi Positive Negative Nature of Disclosure

No
Factor Loading Error T-Value Hasil
Item
8 0.01 0.09 0.13 Tidak Valid
9 0.26 0.13 2.06 Valid
20 1.10 0.35 3.13 Valid
21 0.48 0.18 2.73 Valid
22 -0.08 0.09 -0.83 Tidak Valid
4. Dimensi Honest Accuracy of Disclosure

No
Factor Loading Error T-Value Hasil
Item
10 0.65 0.10 6.44 Valid
11 0.64 0.10 6.38 Valid
12 0.87 0.10 8.66 Valid
13 0.64 0.10 6.54 Valid
23 0.06 0.13 0.48 Tidak Valid
5. Dimensi Control of General Depth

No
Factor Loading Error T-Value Hasil
Item
14 0.73 0.09 7.85 Valid
15 0.74 0.09 7.97 Valid
16 0.65 0.10 6.33 Valid
24 0.69 0.10 6.83 Valid
25 0.19 0.11 1.76 Tidak Valid
LAMPIRAN 4
HASIL UJI VALIDITAS KONSTRUK
GENERAL TRUST SCALE
No
Factor Loading Error T-Value Hasil
Item
1 0.67 0.09 7.25 Valid
2 0.65 0.09 7.05 Valid
3 0.81 0.09 8.99 Valid
4 0.65 0.09 6.94 Valid
5 0.58 0.10 5.80 Valid
6 0.46 0.10 4.66 Valid
7 0.13 0.10 1.25 Tidak Valid
8 0.50 0.10 5.15 Valid
9 0.10 0.10 0.99 Tidak Valid
10 -0.13 0.11 -1.22 Tidak Valid
LAMPIRAN 5
HASIL UJI NORMALITAS
Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

Unstandardized Residual 119 100,0% 0 0,0% 119 100,0%

Descriptives

Statistic Std. Error

Mean 0E-7 ,41330660

Lower
-,8184596
95% Confidence Interval for Bound
Mean Upper
,8184596
Bound

5% Trimmed Mean ,0093431

Median ,4267547
Unstandardized
Variance 20,328
Residual
Std. Deviation 4,50864276

Minimum -12,69970

Maximum 14,17384

Range 26,87354

Interquartile Range 5,56323

Skewness ,027 ,222

Kurtosis ,739 ,440

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Unstandardized Residual ,071 119 ,200* ,987 119 ,313

*. This is a lower bound of the true significance.


a. Lilliefors Significance Correction
LAMPIRAN 6
HASIL UJI LINEARITAS
Case Processing Summary

Cases

Included Excluded Total

N Percent N Percent N Percent

Self Disclosure * Trust 119 100,0% 0 0,0% 119 100,0%

Report
Self Disclosure

Trust Mean N Std. Deviation

12 42,00 2 2,828
14 38,00 2 1,414
15 54,00 2 2,828
16 42,67 3 8,021
17 45,50 2 6,364
18 46,90 10 6,506
19 46,30 10 3,592
20 45,89 9 2,369
21 47,08 12 2,539
22 46,60 10 5,602
23 46,08 13 5,604
24 47,50 8 2,204
25 48,91 11 3,048
26 46,22 9 5,263
27 48,00 5 2,345
28 46,50 4 5,066
29 49,50 2 ,707
31 49,00 1 .
33 51,00 2 9,899
35 47,00 2 1,414
Total 46,77 119 4,606
ANOVA Table

Sum of Squares df Mean F Sig.


Square

(Combined) 495,614 19 26,085 1,287 ,210

Linearity 104,187 1 104,187 5,139 ,026

Self Between Groups Deviation


Disclosure * from 391,427 18 21,746 1,073 ,391
Trust Linearity

Within Groups 2007,260 99 20,275

Total 2502,874 118

Measures of Association

R R Squared Eta Eta Squared

Self Disclosure * Trust ,204 ,042 ,445 ,198


LAMPIRAN 7
HASIL UJI HIPOTESIS
Variables Entered/Removeda

Model Variables Entered Variables Method


Removed

1 Trustb . Enter

a. Dependent Variable: Self Disclosure


b. All requested variables entered.

Model Summary

Model R R Square Adjusted R Std. Error of the


Square Estimate

1 ,204a ,042 ,033 4,528

a. Predictors: (Constant), Trust

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Regression 104,187 1 104,187 5,082 ,026b

1 Residual 2398,687 117 20,502

Total 2502,874 118

a. Dependent Variable: Self Disclosure


b. Predictors: (Constant), Trust

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized t Sig.


Coefficients

B Std. Error Beta

(Constant) 41,895 2,203 19,015 ,000


1
Trust ,218 ,097 ,204 2,254 ,026

a. Dependent Variable: Self Disclosure


LAMPIRAN 7
VERBATIM RESPONDEN 1 SESI 1
1 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

2 Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.

3 Perkenalkan namaku naifah, kali ini mauka wawancara mengenai penelitianku.


4 Kebetulan kau salah satu respondenku yang mau diwawancarai.

5 Oke

6 Boleh perkenalkan dulu siapa inisial namamu?

7 RHM

8 Oke RHM, say apanggil RHM mi di’? R mi saja di’? Kan, sebelum masukka ke pertanyaan
9 intro meki sedikit. Bolehka tanya jenis kekerasan seksual apa yang kau alami?

10 Bagaimana di’ itu?

11 Anunya mo mungkin, kejadiannyamo

12 Dikasih begini eh (memperlihatkan gerakan tangan meremas)

13 Oh berarti ada orang yang grepe ko

14 Iyo, ih malu-maluku

15 Ih nda ji, okeji. Mauka tanyako, sama siapako itu ceritakanki pengalamanmu?

16 Pertama kali? *menunjuk pacar*

17 Yang paling pertama itu?

18 Hu um

19 Ada selain ituko ceritakan juga

20 Temanku

21 Oh teman-temanmu, berapa lama mko kenal sama pacaramu?

22 3 tahun

23 3 tahunmi di. Kalau teman-temanmu yg ko ceritakan

24 Kenalnya?

25 Iya berapa lama meko kenal mereka?

26 Semester 2 kayaknya

27 Dari semester 2... Apa yang gerakkan ko. Apa yang di antara semua orang yang kenal
28 dan akrab... apa yang jadi alasanmu kau pilh mereka untuk ceritakanki ini
29 pengalamanmu?

30 Karna itu orang terdekatku dan nyamanka cerita sama mereka


31 Oh jadi itu yang terdekat dan bikin nyaman di’

32 Pertama kali toh

33 Hmm, bolehka tahu bagaimana itu ko ceritakanki? Lama pi setelah kejadian atau nda
34 lamaji?

35 Nda lamaji

36 Langsungji?

37 Hmmm, di hari yang sama

38 Bagaimana ko ceritakanki, via chat atau langsung?

39 Via chat

40 Itu yang ko ceritakan yang sejak awal kejadian atau yang pas sampai akhir atau yang
41 kejadiannya saja atau bagaimana

42 Maksdunya?

43 Maksudnya ko ceritakan dari awal toh begini-begini sampai akhir

44 Iyo, bilangka dari kenapa bisa

45 Jadi sedetail mungkin ko ceritakan?

46 Detail? Mungkin

47 Apa yang ko rasakan saat sadarko bilang dikasih begituko? Yang pas ko alami itu

48 Pas kejadian?

49 Apa yang kau rasakan?

50 Rasakan maksudnya?

51 Maksudnya syok ko atau apa awalnya

52 Kagetka, kaget kayak mauka menangis. Kagetka kayak dumbakka

53 Terus ko ceritakan juga itu yang kau rasakan ke orang yang kau ceritakan bilang begini
54 yang kau rasa

55 Iya

56 Oh kau ceritakanki

57 Iyo bilangja, kagetka apa syokka kayak mauka menangis nda tauka mau apa

58 Terus, kalau boleh ka lagi bertanya, apa yang kau harapkan dari bercerita ko ke mereka?

59 Nda tau, nda tau apa yang kuharapkan. Tapi setelahku bercerita merasa lebih baik ka.
60 Kan tidak kutau apa yang harus kulakukan pas itu, kayak goblokka. Cerita meka, karna
61 nda tauka harus apa kayak nda tenangka juga, syokka. Menangiska. Pas ka ceria dibilang
62 minum ko dulu kasih tenang dirimu jadi kayak sadarka kembali

63 Jadi ini.... apa, dengan...

64 Kayak tau haruska apa lagi

65 Jadi dengan ceritko jadi tahu ko apa yang harus ko lakkan

66 Kayak merasa lebih baikka, walaupun sedikit

67 Dengan cerita di’, jadi membantuki ini dengan ko cerita ke mereka?

68 Iya, krna yg ku chat org yg ku percaya, yang tahuka bisa tidak judge ka yang na dengarka
69 dulu

70 Karna kau kayak percaya mereka nda akan judge ki di makanya ko cerita ke mereka

71 Iya karna na dengarji dulu toh, baru na tanyaka begini ko beginiko

72 Hmm, karna ko percaya mereka nda akan judge ko di kalau kau cerita ko ke mereka.

73 Iya

74 Segitumi dulu wawancaraku kalau ini, kalau misal ada tambahan boleh saya tanyakan

75 Iya

76 Baik terima kasih R

77 Sama-sama
LAMPIRAN 8
VERBATIM RESPONDEN 1 SESI 2
1 Selamat Pagi, R. Perkenalkan kembali saya Naifah, kali ini kita akan memulai sesi
2 wawancara kedua dan saya akan menanyakan beberapa hal yang kemarin belum cukup
3 mendalam saya tanyakan kepada anda.

4 Iya

5 Baik, sebelumnya kan anda sudah menjelaskan bahwa anda bercerita kepada pasangan
6 dan juga sahabat-sahabat anda. Mereka adalah orang yang anda percayai, mampu..
7 percayai untuk tidak menjudge anda. Pertanyaan pertama saya ialah

8 Ialah?

9 Jadi yang ingin saya tanyakan yang pertama adalah kan anda mneceritakan bahwa
10 mereka adalah orang-orang terdekat anda yang paling bisa anda percayai. Apakah pada
11 hal-hal lainya, selain, maksudnya dalam berbagai topik mereka memang orang-orang
12 yang anda ceritakan semua hal yang anda alami atau hanya kasus ini saja anda percaya
13 pada mereka? Bagaimana dengan masalah-masalah lain? Kayak bagaimanako
14 ceritakanki gitu, apakah semua hal ko certiakan atau untuk kasus ini saja?

15 Hmm, saya certakan semua yang saya rasakan apalagi hal-hal sensitif atau yang tidak
16 bisa saya ceritakan ke orang lain, ke mereka semua. Orang-orang yang memang betul-
17 betul ku percaya mulai dari hal-hal sederhana sampai rumit, tempatku memang
18 bercerita termasuk hal tersebut. Mereka memang tempatku bercerita. Terus kalau
19 memang lama-lamami, kayak, kan saya cerita pas hari pertama kejadian saya cerita ke
20 mereka. Setelah lama-lama, barupa bisa cerita tentang itu. Itupun saya lihat kondisinya
21 bagaimana. Pasku cerita ke orang lain yang bukan orang-orang di awal yang ku percayai,
22 enjoy meka cerita tidak saya bawami perasaan marahku sedihku apapun itu. Karna
23 memang bukan mereka tempatku berbagi itu, hanya berbagi pengalaman jeka. Beda
24 dengan orang-orang yang di awal saya tempati cerita, mereka memang tempatku
25 berbagi sedih dan senang karna mereka memang orang yang ku percaya.

26 Oh oke, jadi misalnya yang pertama kali itu ke mereka. Pasanganmu dan sahabat-
27 sahabat terdekatmu, yang langsung ko cerita karna emosimu sedang tidak baik. Jadi
28 kalau misal ko ceritakan mi ke orang lain itu untuk share pengalaman. Nah, kau kan
29 cerita ke orang-orang terdekatmu yang di awal-awal ini karna ko percaya mereka tidak
30 akan judgeko, apakah selamamu cerita ke orang lain untuk berbagi pengalaman, tidak
31 pernah jeko di judge atau apa? Apa yang bikinko mau berbagi pengalaman? Nda takut
32 jeko hal yang kau hindari malah kau dapat, misalnya di judge ko?

33 Itumi kenapa di orang lain tidak langsung saya cerita pas saat kejadian, peasaanku masih
34 sensitif masih terbawa emosi. Masih besar keinginanku diperhatikan daripada rasa ingin
35 menerima saran atau kritikan. Makanya saya pertam nda cerita ke orang lain yang saya
36 nda percaya pas kejadian atau lagi buruk persaaanku, karna nda siapka terima hal-hal di
37 luar keinginanku. Saya hindari hal-hal itu. Karna masih terbawa perasaanku, termasuk
38 waktu yang saya alami itu. Kenapa akhirnya saya certia? Karena bisama terimaki apapun
39 yang mereka bilang, karna adami orang yang dengarka dan dukungka. Seandainya paska
40 berbagi pengalaman ke orang luar dan di judgeka tidak akan masukmi di otakku, karena
41 mereka bukan orang yang saya percaya. Mereka hanya orang tempatku berbagi
42 penaglaaman

43 Apa hal yang bikinko jadi yakin utnuk cerita, apa, bukna cerita sih, apa hal yang bikinko
44 untuk selalu yakin ceritakan berbagai macam perasaaanmu ke orang-orang tertentu ini?
45 Kan biasanya orang terdekatta yang bisa sakitiki. Apa yang mereka lakukan sampai
46 mereka selalu jadi tempatmu cerita bahkan untuk jadi hal seperti ini?

47 Karena saya kenal mi mereka, itumi kenapa saya bilang mereka sahabat karena bisa
48 meka cerita sama mereka semuanya. Kalau saya percaya tapi selaluka na sakitki berarti
49 bukan orang yang ku percaya [Link] orang yang saya percaya dan kenal, saya
50 taumi bagaimana responnya ke saya. Karna kalau orang lain bisa jadi tidak klop
51 perasaanku dan responnnya mereka.

52 Oalah, jadi memang karena ko kenalmi mereka sepeti apa dan dari bahasamu mereka
53 tidak pernah sakitiko makanya mereka mi orang-orang yang bisa ada di circle terdektmu
54 dan bisako jadikan sahabat. Makanya mereka mi yang ko yakini tidak akan judge ko dan
55 salahkanko ketika ceritako soal itu. Yang mau saya tanyakan, bagaimana di, hmm, kan,
56 kalau misalnya, misalnya, suatu saat atau mungkin pernahko ada disituasi, meskipun
57 baku baikki, ada masa dimana sedang bersitegangki dan lagi pokoknya lagi brtengkarki,
58 misalnya. Entah karna salah paham atau hal lain. Seandainya punyako masalah kau akan
59 tetap ke mereka atau kau akan ke orang lain?

60 Yang pertama, alhamdulillah, orang-orang terdekatku dan sangat kuercaya tidak


61 pernahji bersitegang sampai nda baku bicara. Karna kita saling tahu jadi bsamki tahu
62 bagaimana saling menyikapi perilaku masing-masing, marah tapi tidak pernah sampai
63 jadi nda baku bicara atau bahkan lost contact. Marahnya juga nda pernah yang snagat
64 meluap-luap dan pasti dikeluarkanji langsung. Dibahas. Kalaupun ada masalahku dan
65 ada disituasi itu pasti saya ceritaji lagi ke mereka dan itumi yang bikin semakin bagus lagi
66 hubunganku, karna masih merasa saling dipercayaki

67 Oh iya, apakah selamamu ini bercerita, kan mu bilang pas dihari saat kau alami ko
68 certikaan ke mereka. Apakah saa itu setelah vcertia merasa tennag meko atau masih
69 tidak tenang ko dan amsih ada emosi-emosi negatif lain yang ko rasakan, apakah cerita
70 ulangko lagi ke mereka atau sekaliji?

71 Mmm, kalau permaslaahan yang kemarin itu langsungka ceerita tapi tidak langsung
72 legaka. Masih ada perasaan cemas dan sedihku, campur aduklah. Mungkin satu kaliji
73 saya cerita tapi mereka dukung teruska sampai akhirnya saya pi bilang mampu meka,
74 bisami saya lupa, eh bukan bisa lupa sih tapi merasa baik meka. Jadi mereka berhenti
75 bilang semangat dan lain-lain. Meskipun sekali jeka cerita maslaahnya, tapi caraku
76 meinta dukungan dan apa masih dan mereka pun tanpa ku minta akan terus
77 memberikan. Ya seperti itu. Masih ada Naifah?

78 masyaallah, menurutku cukupmi R, senang sekali gitueh dengan orang-orang


79 disekitarmu yang sangat suportifki. Semoga baik terus hubunganmu dan sehat-sehat
80 terusko dan bisa saling menjaga relasi dengan orang-orang terdekat. Semoga nda
81 pernah meko mengalami kekerasan seksual. Saya tutupm nah, selamat siang,
82 wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

83 Terima kasih juga sama-sama, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


LAMPIRAN 8
VERBATIM RESPONDEN 2
1 Selamat Sore, perkenalkan saya Naifah Mansyur Patta. Disini saya hendak
2 mewawancarai anda terkait perilaku anda yang menceritakan kekerasan seksual yang
3 anda alami. Apa... apalagi pengalaman kekerasan seksualmu? Ekshibisionis di? Eksi...
4 yang diapaiko lagi waktu itu? Bisako kayak ceritakan ka?

5 Jadi... waktu itu, hehehe, jadi toh pergi ka sekolah. Pas ka jalan, kan jalan kaki ja tiap hari
6 toh ke sekolah. Baru pas ka jalan, kan biasa itu dirasai kalau misalna ada orang lihatiki.
7 Hehehe. Baru yang nda sengaja ja ini balik, padahal yang bagus sekalimi moodku deh
8 langsung rusak. Langsungka lihat titit pagi-pagi

9 Waktumu pergi sekolah?

10 Iyo

11 Terus itu, siapa-siapa ko ceritakan soal itu gitueh?

12 Siapa di’? Awal-awalnya toh tidak adapi. Karna iyo iya toh memang kayak apadi’, jijikka.
13 Jadika kubilang edede jangan ma cerita deh.

14 Oh jadi awalnya jijikko ko rasa?

15 Iyo jijikka sama pengalamanku, apadi’ karna kayak ih nda wajarki begitueh. Tapi
16 memang iya nda bagaimana sekaliji iya, nda berefek sekaliji iya.

17 Tapi menurutku tetapko, parahji juga sebarnnya sih. Harusnya nda begitu.

18 Baru..baru yang jijik sendiri ja ingatki, rantasanya ini orang nda malunya pamer-pamer
19 begitu

20 Jadi merasa jijik ke orangnya ko?

21 Iyo, baru jijikka juga karna lihat langsungka begitueh

22 Tapi maksudku, nda merasa takut jeko atau apakah pas ko lihat?

23 Takutka iya karna nanti dikejarka baru nda bisaka apa-apa, tapi ternyata nda ji.

24 Tapi kapanko itu mulai cerita ke orang?

25 Nda tauka kapan we, tapi...

26 Masa...

27 Tapi misalnya ada orang cerita toh, jadi kayak ih, pernahka juga begini. Jadi
28 kuceritakanmi juga. Oh iyo pernahka juga begini we. Saya juga begini dulu. Pernahka
29 juga begitu.

30 Oh nda ko ingatki di kapan anunya. Tapi siapa itu? Kakakmu kah , temanmu kah,
31 keluargamu kah yang ko ceritakan?

32 Teman-temanku iya karna teman-temanku pernah juga rasa begitu jadi kuceritakanki.
33 Masa toh tadi beginika lihatka tadi orang begini bla bla bla. Baru bilangka ih saya pernah
34 juga begitu we baru jijik sekalika. Baru temanku yang iyo we. Kayak kenapa itu orang di
35 pamer-pamer begituan

36 Oh dari yang temanmu ji cerita di’ baru akhirnya spontan jeko juga [Link] kayak,
37 banyak pi itu ko dengar orang atau kayak tiba-tiba ko langsung ceritakanki?

38 Tiba-tiba ja iya.

39 Tiba-tiba jeko?

40 Pembahasan anak jaman sekarang.

41 Tapi seandainya bede tidak ada temanmu yang ceritakanki begituannya, menurutmu
42 kayak...eh kau, bakalan cerita ko juga atau nda ?

43 Bakalan ceritaja iya pasti iya. Karna ku bilang kayak nda mungkin tidak ada orang yang,
44 tidak mungkin ada orang yang tidak pernah dikasih begitu. Baru biasanya toh kalau
45 sudah meki cerita begitu, pasti adami juga yang pernah rasa speak up ki. Pasti na
46 bongkarki apa yang na rasa bilang pernahki juga dikasih begitu.

47 Tapi kau ini yang dorongko awalnya, karna ada juga temanmu cerita di’? cewek-cewek
48 jeko semua cerita disitu atau ada juga temanmu cowok?

49 Ada juga cowok hehehe

50 Tapi yang kayak, justru pelakunya ji di na anui bukan ji kayak kenapa kau pi ihati atau
51 apa begitueh?

52 Nda ji iya. Itu lagi pernahka baca di twitter we, ada orang dikasih begitu toh baru ko tahu
53 apa dia bilangi ih kecilnya punyamu. Baru langsung ki itu orang insecure ki sama dirinya

54 Banyak, banyak taktik bede kayak seperti itu. Yang kayak ih, mending bilangimi saja atau
55 apa. Tapi kayak, oh, sering jeko ceritakanki itu kalau ada teman-temanmu? Dari ta smp...
56 eh smp bede, sma atau kuliah orang baru kayak ceritako?

57 Dari... sma ji kayaknya.

58 Kapankah itu? Waktu ta kelas 1, kelas 2, atau kelas 3 ko anu?

59 Kapan di’? antara kelas 2 atau kelas 3 itu

60 Baru yang ko ceritakan waktu ta ji masih sma, tapi lamapi?

61 Hu um..., karna toh kubilang. Ih kalau cerita ya ini, jijik sendirija. Baru, hehehe,
62 tapi...tapi...sudahmi, nassaji itu pastimi kukasih keluarki.

63 Jadi kalau pas ko ceritakan jijikko lagi ko rasa atau bagaimana?

64 Iyo, karena kuingatki we bentukannya hahahaha. (5.43)

65 Jadi kayak masih ko ingat ki gitueh pas ko ceritaki?

66 Iyo
67 Tapi pas ko... habisko cerita yang kayak...bagaimana ko rasa begitueh? Malah kayak
68 jijikko kah, traumako, atau bagaimana ko rasa?

69 Nda trauma ja iya

70 Nda trauma jeko?

71 Huum, kayak, sudahmi. Terjadimi juga.

72 Terjadimi jadi mending ceritami saja?

73 Iya

74 Kayak begitu di’, astaga... terus-terus, tapi itu teman-teman apamu yang ko ceritakan?
75 Maksudku pas perkumpulan itu teman-teman apamu begitueh? Anak-anak F kah kayah
76 N atau R? Atau teman-teman mainmu? Yang ko ingat

77 Nda tauka teman manaku iya kalau SMA, paling kayak.... para-para ta ji we.

78 Masa? Iyokah?

79 Huum, yang pas kuliah para-paraku ji lagi.

80 Tapi kau kan, kayaknya kalau ke orang lain, tiba-tibako atau tidak terlalu akrab jeko
81 sama ini orang tapi pergi ko jalan atau bagaimana ko

82 Maskudnya?

83 Kan kayak ada itu orang biar biasa baru baku kenal, jalanji sama terus gampangki cerita
84 atau kau tipe orang yang akrab peko... akrab-akrab peko sama itu orang baru mauko
85 jalan sama baru ceritako sama itu orang?

86 Ohh...anu, biar siapa kutemani ji jalan.

87 Oh, santai jeko di? Tapi kalau cerita-cerita soal pengalamanmu apa yang kayak-kayak
88 begitu, bagaimana?

89 Kalau dipancingka, hehehe

90 Kalau dipancingko di’

91 Kalau dikasihka umpan, saya terima

92 Ciaat, tapi kalau nda dikasihko umpan, nda niat jeko juga ceritakan ji?

93 Iyo karna kayak bilang ih apa beng kalau mauka ceritaki (around 7.34)

94 Kecuali memang yang ke teman-teman akrab mu ji di?

95 Hu um. apalagi kayak itu temanku pulang-pulang gowes langsungi bilang we jijik sekalika
96 tadi ada orang naik motor, baru yang kayak diikuti ki we makanya takutki. Baru yang
97 kayak na balapmi tapi kenapa ini orang na ikuti teruska. Pas sudah itu toh pas
98 berpapasan pas balek temanku, resletingnya itu orang terbuka baru sambil bawa motor
99 yang ihhh ngerinya baru balap temanku baru ini orang na ikutiki baru sendiriki. Nabilang
100 temanku singgahki di warung-warung na tunggu itu orang lewat. Baru takutki karna itu
101 temanku anak kos-koski.

102 Anak apa?

103 Anak kos, kosnya juga kos campur. Makanya tambah mallaki ka nanti didatangiki.

104 Baru teman kosnya ji bede ih ngerinya

105 Nda iya, bapak-bapak. Karna yang rata-rata begitu toh bapak-bapak

106 Yang kayak kau juga orang kelainan ki tapi gaya bapak-bapakki?

107 Iyo... deh itu yang kakakku iya, banyak sekalimi memang korbannya. Baru toh itu pernah
108 juga tetanggaku, pernah dikasih begitu dan dia lihat itu orangnya. Kalau kakakku nda na
109 lihat kayaknya

110 Tapi na lihat ji itunya?

111 Bukan yang itu tapi yang anu, makanya trauma sekaliki di itu lorong sermani yang kecil.
112 Makanya takut sekali kalau lewat situ sendiri. Baru waktunya ini tetanggaku toh pulangki
113 juga sekolah baru lewatki disitu baru langsungki dikasih begitu.

114 Kayak kakakmu?

115 Iyo, dia duluan baru kakakku. Karna memang toh banyakmi, banyak sekalimi kejadian
116 disitu.

117 Untung kau yang..bukanji itu yang kau alami

118 Deh kalau itu kapan nda tauma

119 Masalahnya yang kayak melihat saja, deh.

120 Baru masalahnya ini lorong kayak panjang sekali. Baru itumi yang tetanggaku na lihat ji
121 itu orangnya baru itu tukang ojek depan litha yang biasa ji lewat-lewat. Makanya
122 kakakku biasa dilihat-lihati dan kayak takutki

123 Tapi maksudku pernahko lewati itu jalan lagi dan tidak pernahmi lagi itu bapak-bapak
124 begitu?

125 Kan pernahka sama juga kakakku, orang yang sama ji itu yang ku lihat di jalan sermani
126 sama yang didekat sekolah

127 Pernahko lagi lihatki saat nda begitmu

128 Nda iya, kulupami mukanya. Deh kalau ingatki, kalau di depanku itu kulempar mi itu
129 orang

130 Untukng ko lewati ji bukan ko anui


131 Masalahnya toh ramai sekali waktu itu, masa saya ji lihat baru orang lain nda atau pura-
132 puraji. Ihh... kenapa semua ini orang

133 Yang memang terpampang nyata?

134 Ko tau rumah di samping sma yg selalu tertutup pintunya? Disitumi

135 Masaaa

136 Iyooo, itumi, masa orang lain nda lihat apa saya ji

137 Jadi nda jijikko itu atau bagaimana?

138 Jijik lucu2-lucuji

139 Jijikka karna kulihatki bentuknya

140 Tapi santai meko sekarang kalau kau ceritakanki lagi ke temanmu, kayak nda jijikko atau
141 takut kalau kau ingatki?

142 Nda ji iya.

143 Nda ji?

144 Kan dulu toh kayak masih kecilki toh, sekarnag mungkin nda mi, nda tauma iya nda
145 mauja lagi begitu

146 Nassami, tapi apalagi. Nda ko ceritaki langsung ke kace dan pacemacemu pas ko lihat?

147 Nda langsungka cerita, karna pagi-pagi sampaima di sekolah. Pas pulangnya kulupami,
148 adapi lagi orang cerita baru ku ingat. Pas pi lagi ceritaki kaceku soal itu

149 Na bahaski?

150 Iyo paski na bahas ikutma juga bahaski, na tauji maceku bisajai lagi ku cerita ulang

151 Tapi nda langsungko cerita di, dipancing peko cerita. Kenapa dipancing peko cerita baru
152 mau ko juga ceritaki?

153 Nda tau, karna kubilang idede, masa tiba2ka cerita begini nda masukki nanti ceritaku

154 Oh merasako tiba-tiba bahas begitu duluan bikin nda nyambung pembahasan?

155 Nda ji iya, bahaski ini baru datangka bahaski itu. Nda nyambung dari pembahasan awal.
156 Tpi nda ji iya setiap pembicaraan nyambungji pasti.

157 Tapi nda mau ko buka topik duluan kalau baruko kenal orang? Haruspi kayak kalau
158 ketemu ko orang nda cerita ko kalau nda dipancing ko?

159 Nda tonji iya

160 Deh nda tonji iya


161 Itumi, takut kalau topik begitu nda mauko di? Berarti harus peko nda merasa sendirian
162 baru mauko cerita

163 Karna teman-temanku begini bukan ji hal yang tabu

164 Jadi kayak santai jeko cerita nyaman jeko

165 Paling dijadikanji bahan mainan hahahaa

166 Bahan mainan ji di, astaghfirullah, karna kalau mau dipikir anu toh malah tambah
167 stresski kalau mauki ingatki

168 Paling kayak sama teman cowo, kayak ihh sudahmi na lihat bagaimana bentuknya

169 Oh ko jadikan lucu-lucu makanya snatai jeko ceritaki

170 Iyo

171 Kalau misalnya na bikin serius banget itu pembahasan, misalnya di foruum2 besar
172 dsuruhko jelaskanki perasaan atau pengalamanmu tapi bukan untuk lucu-lucu.
173 Bagaimana menurutmu kesanmu?

174 Nda jiiya

175 Santai jeko juga?

176 Santai jeka karna lamami juga

177 Karna lamami juga jadi santai jeko ini

178 Tapi memang kalau masih baru-baru kayak trauma, bukan trauma iya kayak kaget, syok
179 gitueh. Jadi memang iya orang kalau begitu kayak butuhki memang...tapi nda jadija ini
180 iya saya

181 Jadi kayak biasami pas ko ceritaki, tapi tetap jeko juga butuh relasi di. Untung santai ji
182 temanmu cerita-cerita begitu

183 Iyowe

184 Tapi yang pasmu ceritakanki, yang seingatmu mo lah, yang pertama kali pasko
185 ceritakanki. Selain jijik nda ada mi ingatan-ingatan takutmu ah atau apa.

186 Ndaji iya

187 Tapi semakin kau ceritakan semakin kau anggap lucu-lucu mi di sekarang dibanding
188 pertama kaliko cerita

189 Hm

190 Pasko pertama kali cerita masih lain-lain ko rasa atau nda mi memang juga pas selesai
191 meko cerita?
192 Bagaimana di’ hmm, kayak anuja curhat biasaja iya. Baru yang kayak ihh ihhh jijik. Tapi
193 kalau misalnya kayak takut apa nda ji iya

194 Nda ji di

195 Beda memang kalau saya

196 Tapi bagusji karna kalau saya bisa jeko kontrolki emosimu. Karna ko tau ji nda ko suka
197 atau ko apai, tapi bisa jeko hadapiki bukan jeko larut di situ terus

198 Lamami jadi kulupami

199 Iyodi kayak lamami, Untung kayak baru 2 kali begitu toh

200 Baru 2 orang sama lagi

201 Bukanji ada bayangan buruk misal pas ko cerita baru ko ingat2 lagi, kalau pas ko cerita
202 nda ji?

203 Deh sangat nda terbayangkan

204 Sekian wawancara hari ini, terima kasih untuk waktunya H.


LAMPIRAN 9
HASIL CODING WAWANCARA
Responden Pertama Sesi 1

Line Pernyataan Kategorisasi


Ide Utama Tema Trust
Number Responden (Coding)
Mengungkapkan
Karna itu
pengalaman Mengungkapka
orang Intent
kekerasan seksual n kepada relasi
terdekatku dan to Trustwor
29 kapada orang yang terdekat yang
nyamanka Disclos thy
merupakan relasi membuat
cerita sama e
terdekat dan karena nyaman
mereka
merasa nyaman
Durasi rentang
kejadian kekerasan Amount
Mengungkapka
seksual dan of
33 Nda lamaji n tidak lama
mengungkapkan Disclos
setelah kejadian
kejadian tersebut ure
tidak lama
Kejadian kekerasan
seksual dan Mengungkapka Amount
Hmmm, di hari mengungkapkan n pada hari of
35
yang sama kejadian tersebut yang sama Disclos
berlangsung di hari dengan kejadian ure
yang sama
Pengungkapan Intent
Mengungkapka
kekerasan seksual to
37 Via chat n kejadian via
yang dialami Disclos
chat
dilakukan via chat e
mengungkapkan
Honest
pengalaman
Iyo, bilangka Mengungkapka Accura
kekerasan seksual
42 dari kenapa n kejadian cy of
yang dialami secara
bisa secara runtut Disclos
runtut sejak awal
ure
kejadian
Kekerasan seksual
Control
yang dialami Mengungkapka
Detail? of
44 diceritakan secara n kejadian
Mungkin Genera
detail meskipun secara detail
l Depth
agak ragu-ragu
Kagetka, kaget
Merasa kaget dan Kaget dan
kayak mauka
mau menangis saat hendak
50 menangis.
mengalami menangis saat
Kagetka kayak
kekerasan seksual kejadian
dumbakka
Iyo bilangja, Positive
Menceritakan emosi
kagetka apa -
negatif yang
syokka kayak Menceritakan Negativ
54 dirasakan saat
mauka yang dirasakan e
mengalami
menangis nda Nature
kekerasan seksual
tauka mau apa of
Line Pernyataan Kategorisasi
Ide Utama Tema Trust
Number Responden (Coding)
Disclos
ure

Nda tau, nda


tau apa yang
kuharapkan.
Tapi setelahku
bercerita
merasa lebih
baik ka. Kan
tidak kutau
apa yang Tidak mengetahui
harus apa yang diharapkan
Merasa tidak
kulakukan pas namun merasa lebih
tahu harus
itu, kayak baik setelah
melakukan apa Intent
goblokka. bercerita karena
dan to Trustwor
56-59 Cerita meka, pada dasarnya tidak
menceritakan Disclos thy
karna nda tahu harus
membantu e
tauka harus melakukan apa saat
merasa lebih
apa kayak nda dan setelah
baik
tenangka juga, mengalami
syokka. kekerasan seksual.
Menangiska.
Pas ka cerita
dibilang minum
ko dulu kasih
tenang dirimu
jadi kayak
sadarka
kembali
Mengungkapkan
Mengetahui apa
kekerasan seksual
yang harus Intent
Kayak tau yang dialami
dilakukan to Trustwor
61 haruska apa membantu untuk
setelah Disclos thy
lagi merasa sadar dan
mengungkapka e
tahu apa yang harus
n
dilakukan
Positive
-
mengungkapkan
Kayak merasa Merasa lebih Negativ
kekerasan seksual
lebih baikka, baik setelah e
63 yang dialami
walaupun mengungkapka Nature
membantu untuk
sedikit n of
merasa lebih baik
Disclos
ure
Line Pernyataan Kategorisasi
Ide Utama Tema Trust
Number Responden (Coding)
Mengungkapkan
Iya, krna yg ku
kekerasan seksual
chat org yg ku Mengungkapka Genera
yang dialami kepada
percaya, yang n kepada orang l Depth
orang yang Trustwor
65 tahuka bisa yang dipercaya of
dipercaya dan yang thy
tidak judge ka dan mau Disclos
akan mau
yang na mendengarkan ure
mendengarkan apa
dengarka dulu
yang diceritakan.
Responden Pertama Sesi Kedua

Line Pernyataan Kategorisasi


Ide Utama Tema Trust
Number Responden (Coding)
Hmm, saya
ceritakan
semua yang
saya rasakan
apalagi hal-hal
sensitif atau
yang tidak bisa
saya ceritakan
ke orang lain,
ke mereka
semua. Orang-
orang yang
memang betul-
betul ku
percaya mulai
dari hal-hal
sederhana Menceritakan segala
sampai rumit, hal termasuk hal
tempatku yang sensitif, dalam
memang hal ini kekerasan
Menceritakan
bercerita seksual yang
kekerasan Intent
termasuk hal dialami, kepada
seksual yang to Trustwor
15-24 tersebut. orang yang
dialami kepada Disclos thy
Mereka dipercayai. Hanya
orang yang e
memang bercerita kepada
dipercayai
tempatku orang lain saat
bercerita. merasa biasa
Terus kalau dengan pengalaman
memang lama- yang dialami.
lamami, kayak,
kan saya cerita
pas hari
pertama
kejadian saya
cerita ke
mereka.
Setelah lama-
lama, barupa
bisa cerita ke
orang lain
tentang itu.
Itupun saya
lihat
kondisinya
bagaimana.
Line Pernyataan Kategorisasi
Ide Utama Tema Trust
Number Responden (Coding)
Pasku cerita
ke orang lain
yang bukan
orang-orang di
awal yang ku
percayai, enjoy
meka cerita
tidak saya
bawami
perasaan
marahku
sedihku
apapun itu.
Karna
memang
bukan mereka
tempatku
berbagi itu,
hanya berbagi
pengalaman
jeka. Beda
dengan orang-
orang yang di
awal saya
tempati cerita,
mereka
memang
tempatku
berbagi sedih
dan senang
karna mereka
memang orang
yang ku
percaya.
Line Pernyataan Kategorisasi
Ide Utama Tema Trust
Number Responden (Coding)
Itumi kenapa
di orang lain
tidak langsung
saya cerita pas
saat kejadian,
perasaanku
masih sensitif
masih terbawa
emosi. Masih
besar
keinginanku
diperhatikan
daripada rasa
ingin
menerima
saran atau
kritikan.
Makanya saya Bercerita kepada
pertama nda orang terdekat yang
cerita ke orang dipercayai tidak
lain yang saya akan menjudge dan Positive
Bercerita
nda percaya mampu memberikan -
kepada orang-
pas kejadian perhatian yang Negativ
orang yang tidak
atau lagi buruk diinginkan, sehingga e
31-39 menilai buruk Honesty
persaaanku, ketika telah merasa Nature
dan mampu
karna nda biasa mendapatkan of
memberi
siapka terima serangan/judge dari Disclos
perhatian
hal-hal di luar orang luar sudah ure
keinginanku. tidak kenapa-napa
Saya hindari lagi karena telah ada
hal-hal itu. yang mendukung.
Karna masih
terbawa
perasaanku,
termasuk
waktu yang
saya alami itu.
Kenapa
akhirnya saya
certia? Karena
bisama
terimaki
apapun yang
mereka bilang,
karna adami
orang yang
dengarka dan
dukungka.
Line Pernyataan Kategorisasi
Ide Utama Tema Trust
Number Responden (Coding)
Seandainya
paska berbagi
pengalaman
ke orang luar
dan di judgeka
tidak akan
masukmi di
otakku, karena
mereka bukan
orang yang
saya percaya.
Mereka hanya
orang
tempatku
berbagi
penaglaaman

Karena saya
kenal mi
mereka, itumi
kenapa saya
bilang mereka
sahabat
karena bisa
meka cerita
sama mereka
Menceritakan
semuanya.
karena telah
Kalau saya Mengenal lama Intent
mengenal lama dan
percaya tapi dan tidak to Trustwor
44-47 tidak pernah disakiti
selaluka na pernah Disclos thy
atau dikhianati
sakitki berarti dikhianati e
kepercayaan yang
bukan orang
diberikan
yang ku
percaya
[Link]
orang yang
saya percaya
dan kenal,
saya taumi
bagaimana
responnya ke
Line Pernyataan Kategorisasi
Ide Utama Tema Trust
Number Responden (Coding)
saya. Karna
kalau orang
lain bisa jadi
tidak klop
perasaanku
dan
responnnya
mereka.

Yang pertama,
alhamdulillah,
orang-orang
terdekatku dan
sangat
kupercaya
tidak pernahji
bersitegang
sampai nda
baku bicara.
Karna kita
saling tahu jadi
bisamki tahu
bagaimana
saling
menyikapi
perilaku
Menceritakan
masing- Amount
masalah kepada Menceritakan
masing, marah of Trustwor
55-60 relasi terdekat sama sama dengan
tapi tidak Disclos thy
dengan memercayai memercayai
pernah sampai ure
orang tersebut.
jadi nda baku
bicara atau
bahkan lost
contact.
Marahnya juga
nda pernah
yang sangat
meluap-luap
dan pasti
dikeluarkanji
langsung.
Dibahas.
Kalaupun ada
masalahku
dan ada di
situasi itu pasti
saya ceritaji
Line Pernyataan Kategorisasi
Ide Utama Tema Trust
Number Responden (Coding)
lagi ke mereka
dan itumi yang
bikin semakin
bagus lagi
hubunganku,
karna masih
merasa saling
dipercayaki

Mmm, kalau
permasalahan
yang kemarin
itu langsungka
cerita tapi tidak
langsung
legaka. Masih
ada perasaan
cemas dan
sedihku,
campur
aduklah.
Mungkin satu
kaliji saya
cerita tapi
mereka Meski hanya sekali
dukung bercerita namun Mendapatkan Amount
teruska selalu meminta dukungan of Trustwor
64-69
sampai dukungan dan selalu dengan Disclos thy
akhirnya saya mendapatkan bercerita ure
pi bilang dukungan.
mampu meka,
bisami saya
lupa, eh bukan
bisa lupa sih
tapi merasa
baik meka.
Jadi mereka
berhenti bilang
semangat dan
lain-lain.
Meskipun
sekali jeka
cerita
masalahnya,
tapi caraku
Line Pernyataan Kategorisasi
Ide Utama Tema Trust
Number Responden (Coding)
meminta
dukungan dan
apa masih dan
mereka pun
tanpa ku minta
akan terus
memberikan.
Ya seperti itu.
Responden Kedua

Line Pernyataan Kategorisasi


Ide Utama Tema Trust
Number Responden (Coding)
Siapa di’? Awal-
awalnya toh tidak
Tidak bercerita
adapi. Karna iyo
di awal-awal
iya toh memang Tidak bercerita di
mengalami Intent to
12-13 kayak apadi’, awal-awal karena
kekerasan Disclose
jijikka. Jadika jijik
seksual sebab
kubilang edede
merasa jijik
jangan ma cerita
deh.
Iyo jijikka sama
pengalamanku,
apadi’ karna
Merasa jijik
kayak ih nda Honest-
meski masih Jijik dan
wajarki begitueh. Accuracy
15-16 mengecilkan pengalaman tidak
Tapi memang iya of
pengalaman terlalu penting
nda bagaimana Disclosure
yang dimiliki
sekaliji iya, nda
berefek sekaliji
iya.
Baru..baru yang
jijik sendiri ja Merasa jijik saat
Positive-
ingatki, awal-awal
Negative
18 rantasanya ini mengalami Jijik
Nature of
orang nda kekerasan
Disclosure
malunya pamer- seksual
pamer begitu
Takutka iya karna
Merasa takut Positive-
nanti dikejarka
apabila nanti Negative
22 baru nda bisaka Takut
dikejar oleh Nature of
apa-apa, tapi
pelaku Disclosure
ternyata nda ji.
tidak ingat
kapan awal
mula
Nda tauka kapan Lupa awal Amount of
24 menceritakan
we, tapi... bercerita Disclosure
kekerasan
seksual yang
dialami
Tapi misalnya
ada orang cerita
toh, jadi kayak ih,
pernahka juga Hanya ingat
begini. Jadi bercerita saat Bercerita saat
kuceritakanmi ada yang juga ada yang Intent to Trust
26-27
juga. Oh iyo mengalami dan menceritakan hal Disclose wothy
pernahka juga menceritakan yang sama
begini we. Saya hal yang sama
juga begini dulu.
Pernahka juga
begitu.
Teman-temanku
iya karna teman-
temanku pernah
juga rasa begitu
jadi kuceritakanki.
Masa toh tadi
beginika lihatka Bercerita saat
tadi orang begini ada yang Bercerita saat
bla bla bla. Baru mengalami dan ada yang Intent to Trust
31-32
bilangka ih saya juga menceritakan hal Disclose wothy
pernah juga menceritakan yang sama
begitu we baru hal yang sama
jijik sekalika. Baru
temanku yang iyo
we. Kayak
kenapa itu orang
di pamer-pamer
begituan
General
Secara spontan Depth of
35 Tiba-tiba ja iya. Spontan
bercerita Self-
Disclosure
Menceritakan
kekerasan
seksual seperti
itu merupakan
Positive-
Pembahasan hal yang lumrah
Lumrah untuk Negative Hone
37 anak jaman sebab
dibahas saat ini Nature of sty
sekarang. merupakan
Disclosure
bagian dari
pembahasan
anak jaman
sekarang.
Bakalan ceritaja
iya pasti iya.
Karna ku bilang
kayak nda
mungkin tidak
Meyakini bahwa
ada orang yang,
akan bercerita
tidak mungkin
sebab ada
ada orang yang
orang lain yang
tidak pernah
pasti memiliki Meyakini diri tidak
dikasih begitu.
pengalaman sendiri sehingga Intent to Trust
40-43 Baru biasanya toh
yang sama dan pasti akan Disclose wothy
kalau sudah meki
satu orang bercerita
cerita begitu,
bercerita akan
pasti adami juga
menggerakkan
yang pernah rasa
orang lain untuk
speak up ki. Pasti
ikut bercerita.
na bongkarki apa
yang na rasa
bilang pernahki
juga dikasih
begitu.
Tidak hanya
mengungkapka Menceritakan
Ada juga cowok Amount of
46 n kepada tidak hanya pada
hehehe Disclosure
sesama perempuan
perempuan saja
Durasi
terjadinya
pengalaman
Menceritakan
kekerasan
saat masih SMA
Dari... sma ji seksual dan Intent to
53 meski tidak
kayaknya. menceritakan Disclose
langsung setelah
hal tersebut
kejadian
cukup lama
meski masih di
waktu SMA
Menceritakan
Kemungkinanny saat masih di
Kapan di’? antara
a mengalami kelas 2 atau 3 Intent to
55 kelas 2 atau kelas
saat kelas 2 meski tidak Disclose
3 itu
atau 3 langsung setelah
kejadian
Hu um..., karna
toh kubilang. Ih Mulanya tidak
kalau cerita ya ini, bercerita karena Tidak bercerita di
Intent to
57-58 jijik sendirija. masih merasa awal-awal karena
Disclose
Baru, hehehe, jijik dengan apa jijik
tapi...tapi...sudah yang dialami.
mi, nassaji itu
pastimi kukasih
keluarki.

Mulanya tidak
Iyo, karena
bercerita karena Tidak bercerita di
kuingatki we Intent to
60 masih merasa awal-awal karena
bentukannya Disclose
jijik dengan apa jijik
hahahaha.
yang dialami.
Tidak merasa
trauma dengan
65 Nda trauma ja iya Tidak trauma
pengalaman
yang dialami
Tidak merasa
trauma dengan
Huum, kayak, pengalaman
67 sudahmi. yang dialami Tidak trauma
Terjadimi juga. karena hal
tersebut telah
terjadi
Tidak begitu
mengingat
dengan pasti
Nda tauka teman orang yang
Hanya
manaku iya kalau diceritakan
menceritakan Intent to Trust
73 SMA, paling pertama kalinya.
kepada orang- Disclose wothy
kayak.... para- Namun hanya
orang terdekat
para ta ji we. menceritakan
kepada orang-
orang terdekat
di SMA.
Di bangku
Hanya
Huum, yang pas kuliah hanya
menceritakan Intent to Trust
75 kuliah para- bercerita juga
kepada orang- Disclose wothy
paraku ji lagi. kepada orang-
orang terdekat
orang terdekat
Ohh...anu, biar Mampu akrab
82 siapa kutemani ji dengan orang Mudah akrab
jalan. lain
Bercerita apabila
Kalau Akan bercerita dipancing oleh
Intent of Trust
85 dipancingka, apabila orang yang
Disclosure wothy
hehehe dipancing mengalami hal
yang sama
Kalau dikasihka Akan bercerita Bercerita apabila
Intent of Trust
87 umpan, saya apabila dipancing oleh
Disclosure wothy
terima dipancing orang yang
mengalami hal
yang sama

Tidak memulai
Iyo karna kayak
pembicaraan
bilang ih apa Tidak akan Intent of
89 karena takut
beng kalau memulai bercerita Disclosure
akan dilihat
mauka ceritaki
aneh
Tidak
merasakan jijik
atau apapun
Tidak lagi merasa
saat kembali Amount of
133 Nda ji iya. jijik setelah sering
menceritakan Disclosure
bercerita
kekerasan
seksual yang
dialami
Kan dulu toh
kayak masih
Ketakutan dan
kecilki toh, Usia menjadi
ketidakmampua
sekarnag faktor takut dan Intent of
135 n bercerita
mungkin nda mi, tidak mampu Disclosure
dikarenakan
nda tauma iya bercerita
faktor usia
nda mauja lagi
begitu
Tidak langsung
Nda langsungka
bercerita
cerita, karna pagi-
setelah
pagi sampaima di
mengalami
sekolah. Pas
kekerasan
pulangnya Tidak langsung Intent of
137-138 seksual dan
kulupami, adapi bercerita dan lupa Disclosure
akhirnya lupa.
lagi orang cerita
Kembali
baru ku ingat. Pas
mengingat saat
pi lagi ceritaki
ada orang lain
kaceku soal itu
yang bercerita.
Ikut bercerita
saat saudara
menceritakan
Iyo paski na pengalaman Bercerita saat
bahas ikutma yang sama, ada yang
juga bahaski, na setelah itu menceritakan hal Amount of Hone
140
tauji maceku dengan berani yang sama dan Disclosure sty
bisajai lagi ku mulai sering merupakan orang
cerita ulang menceritakan terdekat
hal yang sama
kepada orang
tua.
Nda tau, karna
Tidak memulai
kubilang idede, Positive-
pembicaraan Tidak bercerita di
masa tiba2ka Negative
143 karena takut awal-awal karena
cerita begini nda Nature of
akan dilihat merasa aneh
masukki nanti Disclosure
aneh
ceritaku
Nda ji iya,
bahaski ini baru
datangka bahaski
Tidak memulai
itu. Nda Positive-
pembicaraan Tidak bercerita di
nyambung dari Negative
145-146 karena takut awal-awal karena
pembahasan Nature of
akan dilihat merasa aneh
awal. Tpi nda ji Disclosure
aneh
iya setiap
pembicaraan
nyambungji pasti.
Untuk hal lain
Akan memulai
bukan tipe Positive-
pembicaraan
orang yang Negative
149 Nda tonji iya selama topiknya
hanya akan Nature of
bukan kekerasan
berbicara saat Disclosure
seksual
baru ditanyai
Merasa nyaman
bercerita karena Nyaman bercerita
Karna teman- orang yang karena Positive-
temanku begini menjadi tempat lingkungan tidak Negative Hone
153
bukan ji hal yang bercerita tidak mentabukan Nature of sty
tabu menganggap kekerasan Disclosure
hal tersebut seksual
sebagai tabu
Menjadikan
cerita mengenai
Menjadikan
kekerasan Positive-
Paling dijadikanji pengalaman
seksual yang Negative
155 bahan mainan kekerasan
dialami sebagai Nature of
hahahaa seksual sebagai
bahan Disclosure
bercandaan
mainan/bercand
aan
Responden
merasa santai
menceritakanny Merasa santai Honest-
Santai jeka karna a karena menceritakan Accuracy
166
lamami juga kekerasan pengalaman yang of
seksual yang ia dialami Disclosure
alami telah lama
terjadi
Tapi memang
kalau masih baru-
baru kayak Awal-awal
trauma, bukan mengalami
trauma iya kayak kekerasan
kaget, syok seksual pasti Honest-
Merasa trauma
gitueh. Jadi akan mengalami Accuracy
168-169 dan syok di awal-
memang iya perasaan of
awal kejadian
orang kalau trauma dan Disclosure
begitu kayak butuh waktu
butuhki untuk siap
memang...tapi bercerita
nda jadija ini iya
saya
Tidak merasa
Tidak takut saat Amount of
175 Ndaji iya takut saat
bercerita Disclosure
bercerita
Bagaimana di’
hmm, kayak
Pertama kali
anuja curhat
bercerita masih Positive-
biasaja iya. Baru
merasa jijik Merasa jijik saat Negative
180-181 yang kayak ihh
namun tidak bercerita Nature of
ihhh jijik. Tapi
sampai merasa Disclosure
kalau misalnya
takut
kayak takut apa
nda ji iya
Karena
kekerasan
seksual tersebut
telah lama
terjadi sehingga
Lamami jadi responden telah Tidak merasa Amount of
186
kulupami melupakan hal takut Disclosure
tersebut dan
tidak lagi
memicunya
merasakan
emosi negatif
Tidak lagi
membayangkan
hal-hal buruk Tidak lagi
Deh sangat nda saat membayangkan Amount of
190
terbayangkan menceritakan hal buruk saat Disclosure
kekerasan bercerita
seksual yang
dialami
LAMPIRAN 10
DATA DIRI TRANSLATOR
Skala Inggris-Indonesia

Skala Indonesia-Inggris

Anda mungkin juga menyukai