Trust dan Self-Disclosure Korban Seksual
Trust dan Self-Disclosure Korban Seksual
DIAJUKAN OLEH:
SKRIPSI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS BOSOWA
2020
TRUST SEBAGAI PREDIKTOR TERHADAP SELF-DISCLOSURE PADA
PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN SEKSUAL
SKRIPSI
Oleh :
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS BOSOWA
2020
vi
PERSEMBAHAN
___________________________________________________________
Untuk Tetta dan Mama, terima kasih telah belajar merelakanku untuk jauh dari
kalian.
___________________________________________________________
vii
Motto
The strong do what they can, and the weak suffer what
they must.
The Melian Dialogue
Hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya. – Dea Anugrah
viii
Kata Pengantar
Puji dan Syukur saya kepada Allah SWT yang memberikan saya kehidupan,
serta atas kuasanya saya dapat menyelesaikan skripsi saya yang berjudul “Trust
Pada bagian kata pengantar ini peneliti memberikan ucapan terima kasih
serta harapan baik yang secara langsung maupun tidak langsung menjadikan
peneliti mampu menyelesaikan penelitian ini. Terima kasih peneliti tak terhingga
peneliti:
penelitian ini yang bisa membuat kalian kembali mengingat kejadian tersebut.
Terima kasih karena masih bertahan hingga saat ini. Terima kasih karena
dengan ikhlas membantu saya dengan mengisi skala penelitian ini, semoga
bantuan kalian dan apa yang saya lakukan tidak hanya untuk saya sendiri.
#SahkanRUUPKS
2. Kepada Dosen Pembimbing saya, Pak Arie Gunawan HZ, [Link]., Psikolog
dan Ibu Hasniar A. Radde, [Link]., [Link], meski ada banyak kesulitan yang
dihadapi, saya tidak tahu harus berkata apa selain terima kasih banyak
kepada Bapak dan Ibu. Sebab tetap ada bersama saya dan membimbing saya
menyelesaikan penelitian ini. Terima kasih banyak untuk segala hal yang
ix
Bapak dan Ibu berikan, semoga saya dapat memanfaatkannya sebaik
mungkin dan tidak hanya berlaku dalam pengerjaan penelitian ini. Segala
bahwa seharusnya saya selalu rendah hati saat menjawab semua pertanyaan
yang diberikan meski saya mengetahui dengan baik isi penelitian saya.
Terima kasih Ibu Titin Florentina, [Link]., Psikolog dan Bapak H.A. Budhy
Rakhmat, [Link]., Psikolog, untuk semua ilmu dan saran-saran yang telah
4. Kepada Seluruh Dosen dan Tata Usaha, Bapak Musawwir, [Link]., [Link]
selaku Dekan Fakultas Psikologi, Ibu Sulasmi Sudirman, [Link]., M.A., Ibu
Minarni, [Link]., M.A., Ibu Sitti Syawaliah G, [Link]., Psikolog, Ibu Sri Hayati,
[Link]., Psikolog., Ibu Patmawaty Taibe, [Link]., M.A., [Link], Bapak Syahrul
Alim, [Link]., M.A, terima kasih untuk semua ilmu yang telah diberikan kepada
saya. Semoga ilmu tersebut tidak pergi begitu saja selepas saya
meninggalkan kampus ini. Terima kasih pula kepada Ibu Jerni, Ibu Ira, Kak
Wulan selaku pihak Tata Usaha, termasuk juga Pak Jupe dan Kak Indah yang
lainnya, sekalipun saya mulai sering menjauh dan hanya datang sekali-sekali,
terima kasih untuk segala dukungan dan bantuannya. Akbar yang menautkan
DM, Fery, Chita, Heny, Muly, Mega, Uswa, dan teman-teman lainnya yang
x
juga membantu meskipun dengan menggemaskannya malah mendapuk diri
kepada kita semua yang telah berada di titik ini, selamat menjalani hidup baru.
Semangat pada teman-teman yang sedikit lagi juga akan berada di titik ini.
Satu pertanyaan dari Andri Amin alias Moe alis Kajiro Moe sejak kita
mahasiswa baru hingga saat ini yang tak pernah terjawab, “Apa yang mereka
7. Kepada Kelas BEEE Kelas BEEE (e nya minimal tiga ketukan), terima kasih
banyak banyak sekali pakai banget. Pewarna hari-hari di kelas baik susah
maupun sedih, senang juga sama-sama. Tim always bangku depan sebelah
kiri, Eni, Fatma, Zaf, Bogo, Zada, Medel, Titin. Tim bangku depan sebelah
kanan, Tiwi, Pipit, Viwa, Cute, Dita, Ayu. Tim lebih sering di tengah tapi kadang
di belakang kadang di depan, Alma, Ila, Wahyu, Indhira, Indah, Yani, Widi,
Ime, Lana, Zul, Danu, Ayi, Jai, Amin, Cammi, Fira, Ichaw. Tim duduk dimana
saja asal dapat, Desu dan Ningrum. Jangan hanya see u on top, tapi mari
sama-sama berproses.
8. Kepada Pasukan Berani Mati, terima kasih Al Aina, Anna Mardia, Anna
Ridwan, Bogo, Danty, Desu, Ima, Kia, Kak Zainab, Puri, Rahmayani, dan Tiwi
untuk semua cemilan, mulai dari jajanan Indomaret depan kampus, pentol,
tahu krispi gerobak biru maupun merah, Mba Daeng, Lazuna, minuman depan
Tastea, Tia Jie, serta berbagai macam jenis makanan dan minuman lainnya
xi
beserta dengan gosip dan ketawa-ketawanya di tengah-tengah mengerjakan
skripsi. Sebab kita pasukan berani mati yang takut lapar. Apapun yang terjadi,
fashionable-ku, Amin yang selalu disebut namanya bahkan dalam sholat, Ila
wanita eksotis nan senang melucuku, Jailani yang selalu punya stok cerita,
andalan gue ahli menatap kosong dinding, Wahyu saudara 7 Juli beda
tahunku; banyak hal sudah dilalui, banyak sekali. Kuliah, organisasi, personal
10. Kepada Sri, meskipun kita satu gedung di lantai bosowa tapi tidak semudah
jurusan yang berbeda. Meski virus korona menghadang sehingga kita tidak
bisa satu posko KKN, tapi akhirnya doa kita yang lain dikabulkan Allah. Terima
kasih untuk segala bantuannya, Sri. Jika setelah ini kita berada di tempat yang
11. Kepada Farah, kawan bucin oppa bucin cowo ganteng bucin doi sendiri, meski
kau jauh di kampus Gowa sana tetapi terima kasih untuk semua dukungan
dan masukan yang kau berikan, baik masalah kuliah maupun personal. Juga
untuk bantuannya yang selama ini share skalaku sejak dahulu kala hingga
xii
skripsi sekarang. Semangat untuk dirimu selalu semoga diberkahi
kebaikanmu.
12. Kepada Windhy, meski kita hanya bersama di SMP dan tidak sama lagi di
SMA dan kuliah, dirimu tetaplah satu dari yang selalu ada untukku. Terima
kasih banyak untuk segala cerita yang kita alami dan bagi bersama-sama,
semoga akan selalu ada drama, lagu, film yang di masa depan kita bagikan
13. Kepada Mayang, masih ada banyak terima kasih yang nantinya akan saya
ucapkan ke kau. Tapi untuk satu ini, terima kasih telah mau menjadi
pendengar dan pengingat bagi satu sama lain dalam segala hal. Untuk segala
bantuan yang kau berikan dalam penelitian ini, terima kasih. Semoga lapang
membersamai.
14. Kepada Ayach, kau sedang sibuk dengan mubes yang kau lakukan secara
online saat ini. Sekalipun berbeda universitas dan tidak bisa selalu bertemu,
kau tetap menjadi tempatku berbagi cerita dan mimpi. Siapa sangka kita selalu
nyaris memiliki ketertarikan yang sama –selain lelaki tentu saja- termasuk isu-
isu perempuan. Semoga pada jalan panjang di sana kau dan aku masih
15. Kepada Dian, Adel, dan Vita, saya tidak tahu kenapa kalian ada terus ada
terus. Terima kasih kawan lawak dan laknatku, semoga geng princess dari SD
16. Kepada Kak Ipin dan Ari, balasan untuk story Kak Ipin membuatku kembali
Terima kasih untuk bantuan Kak Ipin yang menjadi penghubung antara saya
xiii
dan penerjemah skala saya. Sebab saya berterima kasih pada Kak Ipin maka
saya perlu berterima kasih pada Ari, sebab jika tak mengenalmu saya tidak
yakin akan berteman dengan Kak Ipin. Kau tidak akan tahu saya berterima
17. Kepada Semua Content Creator yang membuat playlist-playlist lagu korea
maupun japannesse indie, Standing Egg, Niki, Heize, Chung Ha, Brian,
Taylor, Black Pink, Suju, Lee Hi, BTS, RM; terima kasih telah menjadi kawan
Terima kasih untuk Ondo dan Eva yang vlognya sangat menenangkan dan
menyala ketika sedang lelah. Saranghae Hwang Shi Mok Geomsa Ahjussi <3
18. Kepada Keluarga Besar BEM Fakultas Psikologi Universitas Bosowa, terima
kasih untuk semua pengalaman, ilmu, diskusi yang pernah dibagi bersama.
teman yang selalu mau bekerja bersama, adik-adik yang selalu mau belajar
19. Kepada Keluarga, saya tidak tahu seberapa besar ekspektasi yang kalian
harapkan kepada saya, tetapi terima kasih untuk semua doa dan bantuan
yang kalian berikan. Mohon jangan terkejut lagi mendengar hal-hal gila yang
saya lakukan.
20. Kepada Mama dan Tetta, saya takut menangis ketika menuliskan ini. Saya
takut menuliskan ini dengan sangat manis padahal saya tahu saya terlalu
agar saya tetap berada dekat dengan kalian, pada akhirnya kita tetap tidak
xiv
bisa bersama-sama terus selama saya kuliah. Mohon maaf jika selama ini
saya selalu terlihat sibuk dengan urusan sendiri, masih menjadi beban
keputusan yang saya buat. Tetapi, terima kasih karena telah percaya. Terima
sewaktu kecil, tidak lelah mendengarkan celotehan saya yang banyak sekali
21. Kepada Allah SWT, kuharap penelitian ini membuatku menjadi hambaMu
22. Kepada Naifah, kau menulis kalimat ini dihari kedua ujian gelombang pertama
teman-temanmu. Kau tidak bersama mereka sebab yang mampu kau lakukan
yang kini membawa gerd padamu. Orang-orang mencari dimana dirimu tanpa
saja, atau sama sekali tidak mencari dirimu. Dengarkan lagu Breath yang Kim
apa yang kau inginkan, meskipun dengan payahnya kau tetap sakit, dan itu
berikutnya, tidak masalah, sebab aku tahu kau tahu kemana kau harus pergi.
xv
ABSTRAK
xvi
DAFTAR ISI
Halaman Sampul............................................................................................ i
Halaman Pengesahan.................................................................................... iii
Halaman Persetujuan Hasil Penelitian........................................................... iv
Halaman Persetujuan Penguji Hasil Penelitian.............................................. v
Pernyataan..................................................................................................... vi
Persembahan................................................................................................. vii
Motto.............................................................................................................. viii
Kata Pengantar.............................................................................................. ix
Abstrak........................................................................................................... xvi
Daftar Isi........................................................................................................ xvii
Daftar Tabel................................................................................................... xx
Daftar Bagan….............................................................................................. xxi
Daftar Diagram.............................................................................................. xxii
Daftar Lampiran............................................................................................. xxiii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
A. Latar Belakang Penelitian................................................................ 1
B. Rumusan Masalah Penelitian.......................................................... 10
C. Tujuan Penelitian............................................................................. 11
D. Manfaat Penelitian........................................................................... 11
1. Manfaat Teoritis........................................................................... 11
2. Manfaat Praktis............................................................................ 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 13
A. Self-Disclosure................................................................................. 13
1. Teori-Teori Self-Disclosure........................................................... 13
2. Definisi Self-Disclosure................................................................. 18
3. Dimensi Self-Disclosure................................................................ 22
4. Faktor yang Memengaruhi Self-Disclosure................................... 26
5. Dampak Self-Disclosure................................................................ 29
6. Pengukuran Self-Diclosure............................................................ 33
B. Trust.................................................................................................. 34
1. Teori-Teori Trust............................................................................ 34
2. Definisi Trust.................................................................................. 36
xvii
3. Dimensi Trust................................................................................. 40
4. Faktor yang Memengaruhi Trust.................................................... 42
5. Dampak Trust................................................................................ 45
6. Pengukuran Trust.......................................................................... 48
C. Perempuan Korban Kekerasan Seksual........................................... 50
1. Definisi Perempuan Korban Kekerasan Seksual........................... 50
2. Bentuk-Bentuk Kekerasan Seksual pada Perempuan.................. 50
3. Faktor-Faktor Penyebab Kekerasan Seksual pada Perempuan... 53
4. Dampak Kekerasan Seksual pada Perempuan............................. 55
D. Trust sebagai Perdiktor Self-Disclosure pada Perempuan Korban
Kekerasan Seksual........................................................................... 56
E. Hipotesis Penelitian........................................................................... 62
BAB III METODE PENELITIAN...................................................................... 63
A. Pendekatan Penelitian...................................................................... 63
B. Variabel............................................................................................. 63
C. Definisi Variabel................................................................................. 64
1. Definisi Konseptual........................................................................ 64
2. Definisi Operasional...................................................................... 64
D. Populasi & Sampel............................................................................ 65
1. Populasi........................................................................................ 65
2. Sampel.......................................................................................... 65
3. Teknik Pengambilan Sampel........................................................ 66
E. Teknik Pengumpulan Data............................................................... 67
1. Pendekatan Kuantitatif................................................................. 67
2. Pendekatan Kualitatif................................................................... 69
F. Uji Instrumen.................................................................................... 70
1. Tahap Penerjemahan Skala.......................................................... 71
2. Modifikasi Skala………………………………………………………. 72
3. Uji Validitas.................................................................................... 72
4. Uji Reliabilitas................................................................................ 77
G. Uji Kredibilitas.................................................................................... 77
H. Teknik Analisis Data.......................................................................... 78
1. Pendekatan Kuantitatif................................................................... 78
a. Analisis Deskriptif...................................................................... 78
xviii
b. Uji Asumsi................................................................................. 78
c. Uji Hipotesis.............................................................................. 79
2. Pendekatan Kualitatif.................................................................... 80
I. Proses Penelitian.............................................................................. 80
J. Jadwal Penelitian............................................................................... 82
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................... 83
A. Hasil Analisis...................................................................................... 83
1. Pendekatan Kuantitatif.................................................................. 83
a. Deskriptif Demografi................................................................. 83
b. Deskriptif Variabel Penelitian.................................................... 85
c. Deskriptif Variabel berdasarkan Demografi.............................. 88
d. Uji Asumsi................................................................................. 96
e. Uji Hipotesis (Regresi Sederhana)............................................ 98
2. Pendekatan Kualitatif..................................................................... 100
a. Responden Pertama.................................................;;.............. 100
b. Responden Kedua.................................................................... 103
B. Pembahasan...................................................................................... 107
1. Gambaran Self-Disclosure pada Perempuan Korban Kekerasan
Seksual......................................................................................... 107
2. Gambaran Trust pada Perempuan Korban Kekerasan
Seksual......................................................................................... 114
3. Trust sebagai Prediktor terhadap Self-Disclosure pada Perempuan
Korban Kekerasan Seksual.......................................................... 119
C. Limitasi Penelitian.............................................................................. 125
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN................................................................ 126
A. Kesimpulan......................................................................................... 126
B. Saran.................................................................................................. 127
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 130
xix
DAFTAR TABEL
xx
DAFTAR BAGAN
xxi
DAFTAR DIAGRAM
xxii
DAFTAR LAMPIRAN
xxiii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
keputusan yang didasari oleh norma-norma yang dibentuk dan dianut oleh
mereka sendiri. Mereka sama-sama memiliki hak yang wajib dihormati oleh
sesama manusia dan dilindungi oleh negara sebagai pengatur dan pelindung
Hal ini juga dijelaskan di dalam Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia yang
1948. Hak-hak yang dideklarasikan ialah hak atas persamaan, kebebasan, dan
2007).
1
2
Terdapat tiga prinsip yang dijunjung di dalam CEDAW, yaitu prinsip non-
perempuan yang ditentukan oleh budaya dan dibentuk oleh manusia, melalui
pembiasaan secara sosial dan berubah dari satu budaya ke budaya lain (Badan
2011).
merupakan salah satu kekerasan yang paling banyak dialami, baik di ranah
Perempuan, 2006).
merupakan hal yang penting untuk dilakukan (Staples et al., 2016). Sebab
mendapatkan bantuan untuk menyelesaikan kasus yang mereka alami, baik itu
kepada keluarga, kerabat, atau kepada pihak formal seperti polisi dan psikolog;
yang dialami akan membantu orang-orang yang mengalami hal yang sama
tidak merasa sendirian, hal ini agar mereka bisa memahami apa yang
yang tidak begitu saja dapat dilakukan. Kekerasan seksual merupakan hal
pribadi yang bersifat sensitif dan tidak dapat dengan mudah diceritakan kepada
semua orang dapat disebut sebagai self-disclosure. Wheeless & Grotz (1976)
yang dikomunikasikan dengan orang lain. Jourard (dalam Zhang, 2017) sendiri
orang lain.
of disclosure, dan control of general depth telah terpenuhi (Wheeless & Grotz,
offline self-disclosure serta online self-disclosure (Chen, Xie, Ping, & Wang,
face) ataupun menggunakan suatu media, seperti telepon, sms, pun media
sosial.
1 orang merupakan saudara jauh, teman, orang tak dikenal, dan majikan kerja;
1 orang pacar; 1 orang teman; 2 orang sepupu; 1 orang keluarga; dan 1 orang
adalah ayah tiri. Moors & Weber (2012) dalam penelitiannya juga menyebutkan
orang terdekatnya dan merasa sulit untuk melakukan offline self-disclosure dan
terdekatnya karena merasa takut akan dihakimi. Hal tersebut dapat terjadi
disclosure di media sosial karena tidak ingin semakin banyak perempuan yang
memahami apa yang para perempuan korban kekerasan seksual rasakan. Hal
ini juga dilakukan sebagai bentuk dukungan mereka kepada para perempuan
mereka alami, apabila tidak melihat orang yang memiliki pengalaman serupa
dengan mereka melakukan hal yang sama. Lima dari 6 responden juga
yang mereka alami sebab merasa takut trauma mereka akan kembali,
maupun secara langsung pada relasi terdekat. Paiva, Segurado, & Filipe (2011)
percayai. Perilaku self-disclosure tersebut, menurut Chen, Xie, Ping, dan Wang
melakukan self-disclosure.
alami secara anonim di dunia maya dan secara langsung kepada orang-orang
hendak bercerita pada siapa, namun sangat butuh untuk diterima dan
sekitar. Selain itu, seperti jawaban para responden peneliti, mereka merasa
tersebut akan terus menerus mengganggu mereka. Jika hal ini terus-terus
sikap trust. Hal tersebut sejalan dengan beberapa hasil penelitian yang
Trust merupakan ekspektasi individu bahwa adanya perilaku ramah dan baik
dari orang lain (Yamagishi & Yamagishi, 1994). Trust merupakan alasan utama
seseorang mau mengungkapkan pembahasan sensitif (Ding, Li, & Ji, 2011),
sensitif untuk dibahas (Paiva, Segurado, Filipe, 2011). Kekerasan seksual juga
seksual.
perlu dipenuhi agar individu dapat memiliki trust kepada mereka, hal tersebut
sosial karena mereka dapat menjadi anonim, juga dikarenakan tempat mereka
yang tidak ingin lagi ada korban dan berupaya agar orang-orang memahami
9
Hal ini didukung oleh penelitian yang menyebutkan trust memiliki pengaruh
sesuatu di media sosial (Son, Choi, & Choi, 2020; Mao, dkk, 2020; Wijaya &
Nurwidawati, 2016; Lin, et al, 2016; Fianu et al, 2016). Motivasi utama orang
sebab trust mengurangi risiko dan harga yang ada atas pengungkapan
terhadap informasi yang bersifat privat atau sensitif (Chen & Sharma, 2013;
dalam Lin et al., 2016). Penelitian lain menyebutkan bahwa trust dibutuhkan
kepercayaan yang besar kepada orang yang dijadikan target disclosure. Bagi
memastikan bahwa pembahasan atas isu sensitif tersebut tidak begitu saja
disclosure perempuan korban kekerasan seksual serta melihat hal-hal apa saja
masyarakat, bahkan negara, untuk melihat sejauh mana peranan kita terhadap
memberi dukungan dan tempat yang aman dan nyaman bagi perempuan
seksual memiliki trust untuk melakukan self-disclosure. Baik bagi mereka yang
kepada mereka yang baru saja mengalami kekerasan seksual dan hendak
B. Rumusan Masalah
kekerasan seksual?
11
C. Tujuan Penelitian
kekerasan seksual.
seksual.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
penelitian dengan topik yang sama. Karena belum banyak penelitian yang
2. Manfaat Praktis
seksual lebih dapat memiliki trust yang mendorong untuk melakukan self-
disclosure.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Self-Disclosure
1. Teori-Teori Self-Disclosure
atau menerima respon yang sama dengan yang dimaksud oleh sumber
Branscombe, 2013). Kedua cabang psikologi ini saling terkait sebab interaksi
sosial manusia salah satunya dilakukan melalui komunikasi, yang mana self-
disclosure:
13
14
receiver yaitu adanya fungsi pengirim pesan dan penerima pesan yang
Message yaitu sinyal yang memberikan stimulus pada salah satu atau
menjembatani pesan tersebut, yang sering kali digunakan lebih dari satu
mengetahui tentang diri orang lain dan sebaliknya. Hal ini sejalan dengan
DeVito (2013) yang menjelaskan bahwa salah satu hal yang penting
penyebaran pesan oleh komunikator secara luas dan terus menerus yang
ramai.
komunikasi massa, yaitu buku; surat kabar; majalah; film, radio, rekaman,
dan musik populer; televisi, telegram, mobile video; video games, dan
balik.
c. Hubungan Interpersonal
atau lebih dan saling membentuk kedua belah pihak (Rakhmat, 2017).
pengetahuan tentang orang lain, serta hobi dan minat. Tidak hanya
kontrol, respons yang tepat, serta nada emosional yang tepat. Sementara
dilakukan.
18
2. Definisi Self-Disclosure
sadar dan tidak sadarnya, baik secara mental maupun fisik dan mengartikan
menerus menolak untuk dikenali oleh orang lain memungkinkan diri mereka
untuk mengalami kondisi stres yang tidak mudah untuk dikenali yang
membentuk kepribadian yang tidak sehat dan penyakit fisik yang mengarah
topik tertentu di masa lalunya dan seberapa banyak hal yang mereka
disclosure yang rendah atau sedang pada orang lain. Sementara orang yang
Wheeless dan Grotz juga (dalam Taddicken & Jers, 2011) mendefinisikan
merupakan semua hal yang dikatakan kepada orang lain mengenai diri
mereka.
lampau kepada orang lain yang dilakukan nyaris oleh semua orang setiap
harinya. Greene, Derlega, & Mathews (2009) juga menjelaskan bahwa self-
bersifat sensitif maupun yang tidak begitu penting dan dilakukan secara
yang orang lain. Chelune (dalam Greene, Derlega, & Mathews, 2009) juga
diberikan oleh Wheeless & Grotz (dalam Kim, Shin, & Chai, 2015) bahwa
hati dan perlu dilakukan secara sadar atas keinginan sendiri untuk
mengungkapkan dirinya.
orang terdekat secara langsung, maka online self-disclosure oleh Xie et al.,
Miller dan Read (dalam Kim, Shin, & Chai, 2015) mengatakan bahwa
dalam berteman (Rains, Brunner, & Oman, 2016). Hal ini menurut Schafer
22
Wheeless & Grotz sebagai dasar dari penelitian ini, sebab peneliti juga
bersifat pribadi kepada orang lain. Penelitian ini akan berfokus pada self-
kekerasan seksual.
3. Dimensi Self-Disclosure
Wheeless & Grotz (1976) juga menyebutkan adanya lima dimensi dalam
disclosure, dan control general depth. Kim, Sin, & Chai (2015) menjelaskan
kelima dimensi self-disclosure yang dimiliki Wheeless & Grotz ini sebagai
berikut:
a. Intent to Disclose
media sosial bergantung pada kuatnya hubungan sosial yang ada. Hal ini
b. Amount of Disclosure
telah dikenali atau ia merasa hal tersebut dapat dimengerti dan dipahami
oleh disclosure target yang mengalami hal yang hampir sama dengan
akan bercerita panjang atau mendalam atau sangat privat mengenai hal-
atau pun negatif yang dipahami oleh discloser maupun disclose target.
hal-hal yang bersifat negatif. Respon yang diberikan kepada individu tentu
24
saja akan sangat berbeda. Hal ini pun akan memengaruhi bagaimana
mendapatkan balasan yang positif pula, hal yang sebaliknya pun terjadi
d. Honest-Accuracy of Disclosure
mengenai diri kita. Media sosial merupakan ruang dimana semua orang
dilakukannya namun dengan beberapa hal yang tidak lagi sesuai dengan
dampak besar yang diberikan dan isi hadiah tersebut secara detail.
hal tersebut, namun tetap ingin memberitahu bahwa dirinya baru saja
a. Relationship
saling bertukar informasi. Kim, Sin, dan Chai (2015) juga menemukan
pada individu.
b. Attachment
c. Privacy
signifikansi yang negatif. Hal yang sama juga ditemukan oleh Zlatolas et
terhadap self-disclosure.
d. Support Seeking
dikatakan oleh Tichon & Shapiro (2002), yang mana pada penelitian
anggota kelompok.
e. Loneliness
rasakan. Lee, Noh & Koo (2013) mengatakan kesepian secara positif
5. Dampak Self-Disclosure
a. Hubungan
Lee, Noh & Koo (2013) menjelaskan bahwa dengan melakukan self-
Greene, Derlega, & Mathews, 2009). Hal ini juga didukung oleh hasil
jelas mengenai siapa sebenarnya individu tersebut, hal ini menjadi faktor
yang membuat individu lainnya mau untuk mendekatkan diri atau memilih
untuk menjauh. Tidak hanya tertarik atau tidak tertarik dengan orang
apa individu yang sedang menjalin hubungan bersama kita (dalam bentuk
b. Mental health
akademik. Hal ini didukung oleh penelitian Coates & Winston (1987)
lebih sehat dan bahagia. Selain itu, penelitian yang dilakukan Levi-Belz
c. Dukungan
dukungan sosial yang mereka butuhkan. Pan, Feng & Wingate (2018)
31
mereka.
Lee, Noh & Koo (2013) pada penelitiannya menemukan bahwa self-
d. Life satisfaction
dirinya memiliki life satisfaction atau kepuasaan hidup yang lebih positif.
e. Well-Being
Chung, & Ahn (2013) pada penelitian mereka mengenai media sosial di
dapat terkoneksi dengan banyak orang. Ko & Kuo (2009) sendiri meneliti
6. Pengukuran Self-Disclosure
merupakan salah satu kunci yang menjadi prasyarat atas hubungan yang
yang diciptakan oleh Jourard pada tahun 1958 yaitu Jourard Self-
empat situasi berbeda untuk target yang berbeda pula, alat ukur ini secara
spesifik dibuat untuk sensitif atau peka terhadap kondisi sosial yang
memengaruhi self-disclosure. Alat ukur ini juga menjadi alat ukur yang
Skor reliabilitas SDSS pada tiga jumlah sampel yang berbeda (n = 79, 74,
dan 56) ialah 0.88, 0.89, dan 0.80, meski dengan sampel yang lebih kecil
(Chelune, 1976).
c. Self-Disclosure Scale
terdiri atas berbagai teori dan penelitian. Dimensi yang mereka cetuskan
tahun 1976. Skala ini mulanya terdiri atas 32 item yang mengecil hingga
dengan enam dimensi. Skala ini telah diadaptasi salah satunya oleh oleh
Kim, Shin, & Chai (2015) agar sesuai dengan penggunaan SNS atau
B. Trust
1. Teori-Teori Trust
Trust juga merupakan variabel yang menjadi bagian dari psikologi sosial.
ilmu psikologi yang berfokus pada upaya untuk memahami penyebab dari
perilaku dan pemikiran manusia, dimana hal tersebut menjadi faktor yang
a. Hubungan Interpersonal
atau lebih dan saling membentuk kedua belah pihak (Rakhmat, 2017).
pengetahuan tentang orang lain, serta hobi dan minat. Tidak hanya
kontrol, respons yang tepat, serta nada emosional yang tepat. Sementara
pada trust ialah saat perilaku pihak yang satu dapat mempengaruhi pihak
memberikan kerugian.
36
b. Prasangka
dari kelompok sosial tertentu. Sikap ini dapat dipicu oleh cara atau
perilaku yang otomatis muncul maupun sesuatu yang secara alami harus
dipatuhi. Meski begitu, tidak semua prasangka sama atau tidak didasari
oleh perasaan negatif yang sama. Mackie, Devos, & Smith (dalam Baron
dan “them” atau “mereka”. Orang-orang yang berada pada kategori “us”
pada kategori “trust” dilihat sebagai hal yang negatif. Sehingga beberapa
2. Definisi Trust
atau keyakinan bahwa sesuatu yang dipercayai itu benar atau nyata. Kamus
kepercayaan diri bahwa orang lain atau suatu kelompok dapat diandalkan,
utamanya, perasaan bahwa individu dapat bergantung pada orang lain dan
untuk melakukan apa yang individu inginkan. Namun, hal tersebut tidak
dari informasi yang tidak lengkap mengenai orang lain, sehingga individu
mengekspektasikan adanya perilaku baik dan maksud ramah dari orang lain.
maksudnya trust tidak dapat begitu saja hadir di dalam sebuah hubungan
(dalam Six, 2005), bahwa trust paling baik dipahami dari perspektif belajar,
sehingga trust haruslah dipelajari. Bukannya hadir begitu saja dan dibiarkan
terluka atas perilaku orang lain berdasarkan ekspektasi bahwa orang lain
tersebut. Hal ini, menurut Six, didasarkan adanya ekspektasi dan sikap
38
perilaku dari orang lain karena adanya ekspektasi bahwa orang lain tersebut
akan melakukan hal yang penting bagi individu. Hal tersebut juga dijelaskan
oleh Zaheer et al., (Sanchez & Velez, 2011) bahwa trust merupakan
sekumpulan perasaan atau persepsi yang dimiliki individu bahwa orang lain
kepada individu yang memiliki reputasi yang baik atas pekerjaan dan hasil
pekerjaannya. Hal ini sesuai dengan penjelasan Jarvenpaa & Leidner (dalam
melalui aksi atau perilaku yang bersifat kompeten, sangat aktif, dan antusias.
dimana individu berada dan menjadi bagian di dalamnya (in group) dan
Hal ini selaras dengan konsep cognitive familiarity dalam trust. Lewis &
relevan terjadi apabila terdapat cognitive familiarity yang dimiliki oleh trustor
dalam Betts & Elder, 2011). Generalised trust merupakan keyakinan yang
dimiliki individu kepada orang atau kelompok yang tidak begitu dikenalinya,
kelompok yang telah dikenalinya dengan baik (Rotter dalam Betts & Elder,
2011).
melakukan hal yang berisiko meski memiliki kesempatan yang kecil untuk
dikecewakan atas perilaku orang lain yang dipercayainya. Hal ini juga
keadaan yang mudah untuk dilukai atas perilaku trustee. Meski begitu trust
memerlukan ketiadaan sikap oportunis atau sikap untung sendiri dari trustee,
agar trustor dapat merelakan dirinya kepada perilaku atau sikap dari trustee
(Six, 2005). Hal yang tidak dapat dipungkiri meskipun sikap oportunis
40
tersebut tidak ada dalam diri trustee adalah, ketika trust hancur, trustor akan
akan terpenuhi berkat perbuatan orang lain. Six (2005) pun menyebutkan
merupakan hal yang penting atau utama dalam setiap interaksi sosial dan
akan dipenuhi atau diberikan oleh orang lain yang dalam hal ini memiliki
3. Dimensi Trust
trust, yaitu:
a. Honesty
bersalah (APA, 2015). Dimensi ini menjadi penting untuk ada, karena
dirinya atau tidak. Contoh indikator keperilakuan pada dimensi ini ialah
mengenai dirinya.
b. Trustworthy
dipercaya. Hal ini menjadi dimensi yang penting untuk melihat sejauh
salah satu akun instagram, seorang korban yang bercerita meminta agar
melakukannya.
42
yaitu:
a. Interaksi sosial
Eksperimen yang dilakukan oleh Jia, Collins, & Nixon (2009) pada
b. Perbedaan budaya
terhadap individu yang tidak memiliki ikatan atau relasi dengan mereka
dibentuk oleh keyakinan dan nilai-nilai yang dianut oleh individu, dimana
c. Stress
mereka akan memiliki tingkatan stres yang rendah dan trust yang
berkurang seiring dengan adanya faktor stress yang remaja alami dalam
hubungannya.
d. Norm of Reciprocity
oleh Chiu, Hsu, & Wang (2006). Dengan adanya perilaku saling mengerti
e. Reputasi
miliki memengaruhi kepercayaan antar rekan kerja. Hasil yang sama juga
5. Dampak Trust
yaitu:
a. Happiness
seseorang. Hal yang sama juga ditemukan oleh Jasielska (2020), dimana
Tokuda, Fujii, & Inoguchi (2017) dalam penelitian mereka pada orang-
emosi lainnya.
b. Life Satisfaction
suatu negara dipengaruhi oleh social trust yang penduduknya miliki. Hasil
hidup seseorang.
c. Well-Being
d. Self-Rated Health
self-related health juga turut dipengaruhi oleh trust. Hasil ini juga
e. Self-Disclosure
Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Paiva, Segurado, & Filipe
Meskipun hal tersebut tidak berlaku pada negara Hongkong. Hal ini telah
6. Pengukuran Trust
seseorang untuk mau memercayai orang lain dan tingkat trust yang
digunakan oleh banyak orang untuk mengukur trust, meskipun skala ini
dimensi pada skala Rotter, yaitu exploiting institutional factor, role trust,
49
sincerity trust, dan trust about future. Sementara berdasarkan hasil CFS
cukup lemah (α: 0.643) sehingga tidak cukup konsisten untuk digunakan
seleksi menjadi 6 item saja. Alat ukur ini memiliki reliabilitas yang cukup
baik (α: 0.77), namun penelitian yang dilakukan Johnson pada tahun 2010
c. Trust Scale
mengembangkan alat ukur trust, yaitu Trust Scale. Skala tersebut terdiri
dependability, dan faith. Namun, dalam uji cobanya skala ini hanya
menyisakan 16 item sebab beberapa item lainnya ada yang tidak memiliki
korelasi dengan dimensi yang ada. Grace, Pratiwi, & Indrawati (2018)
benda lain ke arah vagina, anus, atau mulut korban. Hal ini disertai
intimidasi seksual.
fisik yang menyasar organ atau seksualitas korban. Siulan, main mata,
seksual.
bayaran terhadap korban atau orang lain untuk dapat menguasai korban
hebat baik secara jasmani, rohani, dan seksual sebagai upaya untuk
perbedaan jenis kelamin yang bersifat tidak adil atau diskriminatif dan
Selatan, 2011).
54
Ketidakadilan gender ini terjadi karena budaya patriarki yang bias dalam
antara laki-laki dan perempuan yang ditentukan oleh budaya, dibentuk oleh
manusia melalui pembiasaan secara sosial dan berubah dari satu budaya ke
Perempuan, 2008).
Hal tersebut tidak terjadi hanya pada daerah yang berada pada situasi
konflik atau otoriter, namun juga pada situasi berduka seperti pengungsian
Indonesia, 2019).
55
Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia
KJHAM, 2014).
bantuan. Baik itu karena tidak memiliki informasi mengenai hal tersebut,
namun yang lebih parah apabila korban mengetahui cara untuk mengakses
korban merasa malu, pasrah, khawatir akan adanya aksi balas dendam dari
56
Perempuan, 2010).
2006).
atau disakiti, hingga direnggut integritas fisik dirinya sendiri atau orang lain;
2006).
Hanya saja kekerasan seksual merupakan isu sensitif yang tidak mudah
seksual sebagai aib dan malah balik menyalahkan korban sebagai penyebab
mereka alami.
bergabung.
disclosure mengatakan mereka tidak tahu lagi hendak bercerita pada siapa,
namun sangat butuh untuk diterima dan mendapatkan dukungan yang tidak
lagi bisa mereka dapatkan dari keluarga atau orang terdekat. Selain itu,
dan memberi dukungan kepada para korban, selain itu mereka juga selalu
perlu dipenuhi agar individu dapat memiliki trust kepada mereka, hal tersebut
perlu melihat seberapa jujur orang tersebut untuk dapat dipercayai kata-
atau kepercayaan diri untuk bergantung kepada orang lain atau sesuatu.
Namun, hal tersebut tidak begitu saja dapat dilakukan dengan mudah.
dari informasi yang tidak lengkap mengenai orang lain, sehingga individu
mengekspektasikan adanya perilaku baik dan maksud ramah dari orang lain.
Korea Selatan. Meskipun hal tersebut tidak berlaku pada negara Hongkong.
Hal ini telah menunjukkan bahwa trust memberikan dampak pada perilaku
pengalaman yang sama. Baik itu secara offline maupun online. Fenomena
- Intent to Disclose
- Amount of Disclosure
- Positive-Negative Nature of Disclosure
- Honesty - Honest-Accuracy of Disclosure
- Trustworthy - Control of General Depth
Perempuan
Trust Self- Korban Kekerasan
Disclosure Seksual
= Wilayah Penelitian
= Prediktor
62
H. Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini yaitu trust dapat menjadi prediktor terhadap self-
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
kombinasi (mix method), pendekatan ini menggunakan data kuantitatif dan data
B. Variabel
merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain, itu sebabnya variabel
ini menjadi variabel yang diukur untuk mengetahui seberapa besar variasi yang
dialaminya akibat pengaruh dari variabel lain. Variabel independen atau lebih
63
64
(DV).
Trust Self-Disclosure
C. Definisi Variabel
1. Definisi Konseptual
a. Self-Disclosure
b. Trust
kognitif dari informasi yang tidak lengkap mengenai orang lain, sehingga
orang lain. Dimensi pada penelitian ini yaitu honesty dan trustworthy.
2. Definisi Operasional
a. Self-Disclosure
bersifat pribadi kepada orang lain. Pada penelitian ini, ketika seorang
self-disclosure.
b. Trust
kepercayaan.
1. Populasi
akan diteliti dan memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan subjek yang akan
diteliti. Ciri-ciri ini berupa adanya batasan wilayah, usia, atau karakteristik
lainnya yang membedakan dengan subjek lain (Azwar, 2017). Populasi pada
kekerasan seksual, tetapi jumlah populasi pada penelitian ini tidak diketahui
secara pasti.
2. Sampel
yang akan diteliti ialah 400 orang (Abdullah & Sutanto, 2015). Penggunaan
a. Pendekatan Kuantitatif
yang dimiliki oleh populasi (Hadi, 2016). Kriteria sampel ialah perempuan
b. Pendekatan Kualitatif
1. Pendekatan Kuantitatif
Self-Disclosure Scale dan General Trust Scale yang berbentuk skala likert.
Respon yang diberikan pada skala berbentuk skala likert ialah respon positif,
negatif, dan respon netral. Respon negatif adalah respon yang bertentangan
posisi tengah mengenai item skala, bukan pada posisi ragu-ragu (Azwar,
2017).
Jumlah respon yang ada sebanyak lima respon, yaitu SS, S, N, TS, dan
STS. Tetapi, terdapat perbedaan pada skala self-disclosure dan skala trust.
sesuai, N ialah netral, TS ialah tidak sesuai, dan STS ialah sangat tidak
sesuai. Sementara respon pada skala trust untuk SS ialah sangat setuju, S
ialah setuju, N ialah netral, TS ialah tidak setuju, dan STS ialah sangat tidak
setuju.
Skoring pada item favorable dan unfavorable pada kedua skala yang
kategori TS memiliki nilai sebesar 2, dan kategori STS memiliki nilai sebesar
kategori TS memiliki nilai sebesar 4, dan kategori STS memiliki nilai sebesar
5.
68
a. Skala Self-Disclosure
Wheeless & Grotz pada tahun 1976 (Wheeless & Grotz, 1976). Jumlah
item pada skala ini awalnya berjumlah 18 item dengan 6 dimensi sebelum
1976).
b. Skala Trust
butir item yang dipilih Yamagishi pada alat ukur Rotter tahun 1967, Pareek
Thornton and Kline’s Belief in Human Benevolence Scale tahun 1982, dan
Serikat dan Jepang, nilai reliabilitas skala ini pada penduduk Amerika
2. Pendekatan Kualitatif
wawancara dibuat dengan tujuan untuk melihat apakah ada unsur trust pada
F. Uji Instrumen
trust, yaitu self-disclosure scale dan general trust scale. Self-Disclosure Scale
yang peneliti gunakan merupakan skala yang dibuat oleh Wheeles & Grotz
(1976) berdasarkan teori yang mereka cetuskan, pada General Trust Scale
sendiri peneliti menggunakan skala yang dibuat oleh Yamagishi & Yamagishi
dengan menguji validitas dan reliabilitas dari skala, namun sebelum hal tersebut
setiap dimensi yang ada pada Self-Disclosure Scale dan General Trust
tersebut merupakan orang yang ahli dalam bahasa Inggris, keahlian ini
skor minimal 550 untuk TOEFL dan 6.5 untuk IELTS. Proses
dan General Trust Scale dilakukan pada tanggal 13 Maret 2020 oleh Andi
c. Membandingkan Hasil Skala Asli (Bahasa Inggris) dan Skala Hasil Back
Translation
item-item dari skala asli dan skala hasil back translation untuk melihat
Pada skala ini, tidak terdapat perbedaan yang substansif antara skala asli
2. Modifikasi Skala
3. Uji Validitas
a. Validitas Isi
1) Validitas Logis
(SME) menilai bahwa suatu item relevan dengan variabel yang diteliti,
menjadi Subject Matter Expert (SME) untuk uji validitas logis terhadap
ialah Ibu Hasniar A. Radde, [Link]., [Link], Bapak Arie Gunawan HZ,
dimensi, blue print skala, skala asli (Self-Disclosure Scale dan General
masukan dari Bapak Arie Gunawan HZ, [Link]., [Link]., Psikolog diubah
item 18, 20, 21, dan 22 yang mana item 18 tidak jelas maksudnya dan
Psikolog mengomentari item 1, 2, 4, 7, 11, 17, 19, 20, 23, dan 25.
yang berisi 10 skala ini Bapak Arie Gunawan HZ, [Link]., [Link].,
butir item dan konteks penelitian dijelaskan pada bagian awal skala.
Psikolog mengomentari agar ada kata dari item 6-10 yang dihapus.
2) Validitas Tampang
tata letak, jenis dan ukuran huruf, bentuk skala; pengantar skala;
penelitian.
kemudian menuliskan item-item dari hasil uji validitas logis. Setelah itu
peneliti membuat skala dalam format google form untuk terlebih dahulu
Untuk bagian review umum yang berisi tata letak, jenis dan ukuran
bagian tata letak. Saran yang diberikan ialah agar ada gambar di
bagian header agar terlihat lebih cantik. Selain itu tidak ada komentar
di awal.
yang dialami? Apanya yang baik?” dan reviewer 3 pada item yang
Scale.
b. Validitas Konstruk
sebelumnya telah di uji validitas isinya oleh para ahli, uji validitas konstruk
(CFA) dengan software Lisrel 8.7. Jumlah sampel yang dianjurkan untuk
penelitian CFA ialah > 200 responden (Stevens dalam Pangalila &
Budiarto, 2017). Hasil analisis yang ingin dilihat menggunakan CFA ialah
76
sejauh mana alat ukur yang digunakan menguji apa yang telah diukur
dengan melihat apakah item-item yang digunakan telah fit satu sama lain
(model fit), nilai yang dibutuhkan untuk mendapatkan model fit ialah P-
Value (> 0.05) sementara RMSEA atau nilai error (< 0.05).
uji CFA ialah 107 responden. Dari 25 item Self-Disclosure Scale, terdapat
6 item yang tidak valid. Item-item tersebut ialah item pada dimensi Intent
Sementara dari 10 item General Trust Scale terdapat 3 item yang tidak
valid. Item-item tersebut ialah item pada dimensi trustworthy (Item 7, Item
yang valid dan untuk General Trust Scale hanya tersisa 7 item yang valid.
Sedangkan hasil General Trust Scale setelah uji coba dapat dilihat
4. Uji Reliabilitas
alpha dengan cara memasukkan mean kuadrat antara subjek yang dikalikan
dengan hasil bagi dari mean kuadrat kesalahan dan varians total
Berdasarkan Tabel 3.6 di atas, dapat dilihat bahwa hasil uji reliabilitas
Sementara hasil uji reliabilitas untuk Gerenal Trust Scale memiliki nilai
G. Uji Kredibilitas
dan cara yang berbeda dengan pendekatan kuantitatif dalam hal pengujian
atau kepercayaan sebuah data. Uji kredibilitas yang peneliti lakukan ialah
dengan menggunakan teknik yang berbeda untuk mengecek data dari sumber
78
skoring data kuantitatif dari skala penelitian yang sebelumnya telah responden
isi.
observasi dan nilai skor dari data kuantitatif yang responden miliki saat mengisi
self-disclosure scale dan general trust scale. Melihat ketiga sumber tersebut
lakukan. Hasil uji kredibilitas untuk data hasil wawancara kedua responden
1. Pendekatan Kuantitatif
a. Analisis Deskriptif
subjek yang nantinya akan dianalisis secara deskriptif pada penelitian ini
b. Uji Asumsi
1) Uji Normalitas
sebuah data, yang berarti statistik yang akan dilakukan pada data yang
normalitas ialah:
2) Uji Linearitas
hubungan antara variabel tidak linear atau tidak sejajar dalam satu
garis, maka analisis regresi tidak dapat dilanjutkan. Uji linearitas pada
b) Skala tidak linear apabila skor deviation from linearity (p < 0.05).
c. Uji Hipotesis
efek yang terjadi pada variabel dependen (DV) apabila dipengaruhi oleh
kontribusi IV terhadap DV, pada penelitian ini ialah melihat dapatkah trust
2. Pendekatan Kualitatif
trustworthy.
I. Proses Penelitian
yang akan diteliti. Setelah memiliki literatur dan data awal, peneliti mulai
sejak mata kuliah Teknik Penyusunan Skripsi, lalu direvisi agar sesuai
ujian proposal pada tanggal 27 Februari 2020. Setelah itu di bulan Maret
melakukan back translasi dari bahasa Indonesia ke bahas asli skala yaitu
bahasa Inggris. Baru pada bulan Juli peneliti melakukan uji Instrumen
menghasilkan 119 data bersih untuk data kuantitatif dan 2 orang responden
untuk data kualitatif. 2 orang tersebut merupakan bagian dari 119 responden
data untuk nantinya dilakukan analisis data, baik untuk data kuantitatif
J. Jadwal Penelitian
A. Hasil Analisis
1. Pendekatan Kuantitatif
a. Deskriptif Demografi
dilihat dari demografi yang ada. Responden pada penelitian ini berjumlah
119 orang dengan tiga jenis demografi yaitu usia, kota domisili, dan jenis
kekerasan seksual.
108
11
Remaja Dewasa
dua yaitu usia remaja dan usia dewasa. Jumlah responden dalam
rentang usia dewasa ialah 108 orang (90.8%) dari total 119 orang
responden.
83
84
76
28
15
77
20
9 10
3
yang didapatkan. Tingkatan skor pada penelitian ini ialah sangat rendah,
1). Self-Disclosure
data yang didapatkan yaitu 119 orang responden. Minimum skor self-
yaitu:
Hasil analisis data yang didapatkan yang terdiri dari lima dimensi
cukup beragam, mulai dari skor yang sangat rendah hingga skor yang
sangat tinggi.
51
31
24
7 6
2). Trust
yaitu 119 orang responden. Minimum skor trust yang didapatkan ialah
ialah 35 yaitu sangat tinggi. Rata-rata skor (mean) trust ialah 22.34
yaitu:
Hasil analisis data yang didapatkan yang terdiri dari lima dimensi
42
34
29
8
6
47
29
20
7 5
2 4 4
0 1
tinggi, dan sangat tinggi berdasarkan usia yang terbagi menjadi usia
36
20
13
7 8 8
5 5 6 4
2 3 2
0 0
33
21
14
9
5 4 6 4 2 4 4 2
1 0 1 0 1 2 3 0
3
0 0 0 0
sangat tinggi.
SPSS 20.
93
36
31
27
6 6 8
3 2
0 0
sangat tinggi yang dilihat dari tingkat usia yang terbagi menjadi
23 24
21
9 10
8
6
4 4 3
2 2 2 1
0
sangat tinggi yang dilihat dari kota domisili yang terbagi menjadi
26
21 21
8
5 5 5 5 4 4 3
2 2 1 2 2
0 0 0 1 1 0 0 0 1
sangat tinggi yang dilihat dari jenis kekerasan seksual yang dialami
tinggi.
sangat tinggi.
d. Uji Asumsi
Uji asumsi pada penelitian ini ialah uji normalitas dan linearitas, di
bawah ini merupakan penjabaran hasil dari kedua uji asumsi tersebut.
sebuah data, yang berarti statistik yang akan dilakukan pada data yang
signifikansi dari hasil uji normalitas memiliki nilai signifikansi yang lebih
tinggi dari taraf signifikansi 5% atau 0.05. Sebaran data pada penelitian
hubungan antara variabel tidak linear atau tidak sejajar dalam satu
garis, maka analisis regresi tidak dapat dilanjutkan. Uji linearitas pada
SPSS 20.
memiliki garis yang sejajar apabila nilai signifikansi dari hasil uji
98
linearitas yang diperoleh lebih dari 5% (p > 0.05). Hasil uji linearitas
variabel tersebut memiliki garis yang sejajar atau linear 5% (p > 0.05).
Dari hasil uji linearitas ini dapat disimpulkan tahapan uji hipotesis dapat
Uji hipotesis pada penelitian ini dianalisis dengan uji regresi sederhana
hasil uji regresi ini menunjukkan hasil kurang dari taraf signifikansi 5% (p
< 0.05), maka Ha akan diterima dan H0 ditolak. Dimana hipotesis statistik
oleh faktor lain yang tidak ikut diteliti dalam penelitian ini.
Besar proporsi 6.9% ini memiliki nilai F sebesar 7.801 dengan nilai
signifikansi sebesar 0.006, dimana nilai signifikansi ini lebih kecil dari taraf
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisis ini yakni bahwa Trust dapat
kekerasan seksual.
Disclosure:
Y = a + bx
2. Pendekatan Kualitatif
a. Responden Pertama
bercanda.
Begitu laki-laki itu pergi responden terus berjalan dan berupaya untuk
mula hingga akhir kejadian secara detail kepada pacar dan sahabatnya
tersebut terjadi.
“Nda tau, nda tau apa yang kuharapkan. Tapi setelahku bercerita
merasa lebih baik ka. Kan tidak kutau apa yang harus kulakukan
pas itu, kayak goblokka. Cerita meka, karna nda tauka harus apa
kayak nda tenangka juga, syokka. Menangiska. Pas ka cerita
dibilang minum ko dulu kasih tenang dirimu jadi kayak sadarka
101embali.” (wwc1/line 58-59)
miliki terhadap pacar dan sahabatnya. Sebab responden yang tidak tahu
harus berbuat apa atas kejadian tersebut dan mengatakan tidak berharap
“Iya, karna yang ku chat orang yang ku percaya, yang tahuka bisa
tidak judge ka yang na dengarka dulu.” (wwc1/line 65)
“Itumi kenapa di orang lain tidak langsung saya cerita pas saat
kejadian, perasaanku masih sensitif masih terbawa emosi. Masih
besar keinginanku diperhatikan daripada rasa ingin menerima
saran atau kritikan. Makanya saya pertama nda cerita ke orang lain
yang saya nda percaya pas kejadian atau lagi buruk persaaanku,
karna nda siapka terima hal-hal di luar keinginanku. Saya hindari
hal-hal itu. Karna masih terbawa perasaanku, termasuk waktu yang
102
responden.
yang mana peneliti juga berteman dengan sahabat dan pacar responden,
Para sahabat dan pacarnya merupakan orang yang selalu terus terang
mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan pada kondisi dan
situasi yang tepat, mereka pun selalu mendukung dan membantu satu
menceritakan segala hal yang ia alami baik itu biasa maupun sensitif.
b. Responden Kedua
Semuanya terjadi saat responden masih berada di bangku SMA. Saat itu
responden merasa sangat jijik namun disatu sisi merasa takut apabila
Meski merasa jijik dan memiliki perasaan takut dapat dilihat bahwa
apa atau biasa saja dengan ketakutan maupun perasaan jijik yang
104
“Baru… baru yang jijik sendiri ja ingatki, rantasanya ini orang nda
malunya pamer-pamer begitu.” (wwc1/line 18)
“Nda langsungka cerita, karna pagi-pagi sampaima di sekolah. Pas
pulangnya kulupami, adapi lagi orang cerita baru ku ingat. Pas pi
lagi ceritaki kaceku soal itu.” (wwc1/line 137-138)
mereka alami.
orang lain juga menceritakan pengalaman yang sama. Baik itu dari
dialaminya.
“Bakalan ceritaja iya pasti iya. Karna ku bilang kayak nda mungkin
tidak ada orang yang, tidak mungkin ada orang yang tidak pernah
dikasih begitu. Baru biasanya toh kalau sudah meki cerita begitu,
pasti adami juga yang pernah rasa speak up ki. Pasti na bongkarki
apa yang na rasa bilang pernahki juga dikasih begitu.” (wwc1/line
40-43)
“Hu um..., karna toh kubilang. Ih kalau cerita ya ini, jijik sendirija.
Baru, hehehe, tapi...tapi...sudahmi, nassaji itu pastimi kukasih
keluarki…” (wwc1/line 57-58)
“Nda tau, karna kubilang idede, masa tiba2ka cerita begini nda
masukki nanti ceritaku.” (wwc1/line 145-146)
orang terdekat, ia perlu untuk melihat bagaimana respon orang lain atau
106
perlunya sikap jujur atau honesty dari orang lain mengenai kekerasan
menceritakan perasaan atau hal buruk yang dialaminya. Hal ini sesuai
dengan hasil skor dua skala yang responden kerjakan, yang mana
saling mengenal sifat satu sama lain seperti responden pertama, namun
B. Pembahasan
korban kekerasan seksual berada pada tingkat skor tinggi, dan 6 (5%)
sangat tinggi.
Ruppel, 2014; Utz, 2015; dan Kim, Sin, & Chai, 2015), attachment (Chen,
Hu, Shu, dan Chen (2018); Pangestu & Ariela 2020; serta Grabrill & Kerns,
2000), dan privasi (Vogel, Shanahan, & Signorielli, 2018; Zlatolas et al.,
mungkin saja mereka miliki. Selain itu, Ruppel (2014) menemukan bahwa
informasi.
yang selalu menjadi tempatnya untuk bercerita. Hasil coding dari penjelasan
menjadi semakin bagus atau berubah menjadi baik apabila sedang berada
Penelitian yang dilakukan oleh Kim, Shin, dan Chai (2015) juga
seksual yang dialaminya kepada pacar dan sahabat (responden satu) serta
sahabat dan orang tua (responden dua) mereka. Apabila responden pertama
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Chen, Hu, Shu, dan Chen (2018)
penelitian yang dilakukan oleh Pangestu & Ariela (2020) juga menunjukkan
Grabrill & Kerns (2000) juga mendapatkan hasil yang sama, bahwa
disclosure yang mereka miliki menjadi bervariasi, mulai dari sangat rendah,
Selain itu privasi juga menjadi faktor penting yang memengaruhi self-
seksual maka semakin tinggi self-disclosure yang mereka miliki, begitu pula
dengan sebaliknya.
tinggi privacy value yang dimiliki maka semakin tinggi pula self-disclosure
policy, dan privacy concern memiliki pengaruh yang signifikan secara negatif
penelitian ini ialah di media sosial maupun secara pribadi atau dalam
dapat dipahami oleh orang-orang atau tempat yang menjadi tempat bercerita
seksual yang mereka alami. Meski begitu tetap saja apa yang mereka akan
ceritakan bukan lah sesuatu yang akan dianggap positif oleh semua orang,
namun hal tersebut tidak mudah atau sulit untuk dilakukan. Positive-negative
sensitif, Staller & Gardell (2005) sendiri menemukan hasil penelitian bahwa
para korban kekerasan seksual yang berada pada usia remaja memiliki
112
seksual yang mereka alami. Salah satunya ialah ketakutan akan respon
pengalaman mereka.
Sehingga tidak ada atau sangat rendah intent to disclose atau kemauan
untuk membuka diri yang dimiliki oleh para perempuan korban kekerasan
seksual. Sebab kekerasan seksual yang mereka alami ialah hal sensitif dan
juga korban selalu mendapatkan stigma yang negatif, sehingga mereka tidak
akan dengan mudah untuk melakukan self-disclosure atas apa yang mereka
yang memiliki tingkat skor self-disclosure yang sangat tinggi. Hal ini
yang berada pada lingkungan yang tidak abusif, suportif, dan di lingkungan
yang membuat nyaman. Hal ini tergambarkan dari hasil wawancara peneliti
apa yang mereka alami. Meskipun memiliki cara bercerita yang berbeda,
sebab satu responden bercerita via chat sementara responden yang satu
hal tersebut, baik yang bersifat negatif maupun yang bersifat positif.
terdekat memang telah mengenal kita, namun bagi peneliti, merupakan yang
kita miliki. Apalagi jika mereka memiliki persepsi yang berbeda terhadap
perempuan korban kekerasan seksual berada pada tingkat trust yang sangat
kekerasan seksual berada pada tingkat trust yang tinggi, dan 8 (6.7%)
perempuan korban kekerasan seksual berada pada tingkat trust yang sangat
tinggi.
kelompok dan kelompok. Interaksi sosial merupakan faktor yang turut serta
115
mempengaruhi trust (Zhang & Gu, 2015; Tsai & Ghoshal, 1998; Koranteng
et al., 2020).
Interaksi sosial ini juga tergambarkan dengan jelas pada hasil wawancara
juga turut memengaruhi trust. Hal yang sama juga dijelaskan oleh Williams
trust seseorang.
Selain itu kebervariasian trust juga dipengaruhi oleh stres yang dialami
Semakin kompleks atau akut stres yang dimiliki, semakin menurun tingkatan
mengenai dampak stres pada trust yang dimiliki oleh remaja, dimana
trust.
Hal ini dapat dilihat dari responden kedua yang mengalami kekerasan
seksual saat berada di bangku SMA, yang mana pada saat itu responden
masih berusia remaja. Saat itu responden merasa bahwa dirinya merasa jijik
mengingat kejadian yang dialaminya dan tidak ingin bercerita sebab merasa
yang ia alami. Responden bercerita bahwa pada saat itu dirinya masih
merasa syok dan butuh waktu untuk mampu bercerita. Setelah menginjak
usia dewasa dirinya mulai terbiasa dan bahkan melupakan emosi yang dulu
para perempuan lainnya yang juga menjadi korban. Kekerasan seksual yang
2006), yang dapat menjadi stressor yang sangat besar bagi para perempuan
korban kekerasan seksual. Cacioppo & Hawkley (2003) turut mendukung hal
tingkat trust yang sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan
korban kekerasan seksual secara umum memiliki trust yang sangat rendah
yang signifikan secara negatif kepada kesadaran akan privasi, hal tersebut
Hal ini sejalan dengan salah satu dimensi dari trust yaitu trustworthy,
percaya apabila melihat adanya perilaku dapat dipercaya pada orang lain.
dipercaya pada tempat atau orang yang ia ceritakan kekerasan seksual yang
perempuan korban kekerasan seksual yang berada pada tingkat trust yang
seksual secara umum memiliki trust yang sangat tinggi kepada orang-orang.
meskipun telah berkali-kali dikhianati atau menerima perilaku yang tidak lagi
mempertahankan kepercayaannya.
Selain itu, kejujuran (honesty) yang dilihat pada orang lain juga menjadi
orang yang menjadi tempatnya bercerita sebab dirinya telah mengenal lama
yang bagi peneliti telah mereka terima sejak lama atau sangat kokoh mereka
bangun. Sebab hal tersebut tidak terlepas dari lingkungan mereka yang
mendengarkan cerita mengenai apa yang kita miliki –baik itu hal baik
maupun buruk- akan menghambat kita untuk mau percaya bahwa kita benar-
benar diterima dan dengan leluasa dapat mengeluarkan isi hati kita.
Uji hipotesis pada data penelitian ini menunjukkan hasil bahwa trust
& Filipe, 2011; Lin, et al., 2016). Dimana Paiva, Segurado, & Filipe (2011)
adanya honesty dan trustworthy pada jawaban para responden yang mana
tidak tahu harus melakukan apa pada saat dan setelah ia mengalami
trustworthy atau perilaku dapat dipercaya yang dimiliki oleh orang yang
yang dialaminya agar ia merasa lebih baik, sebab saat mengalami kejadian
responden sama sekali tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya dan
Perilaku responden ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
mereka.
Rotter (dalam Betts & Elder, 2011) menjelaskan bahwa individu memiliki
dengan baik, sebab mereka berada dalam in group yang sama. Berbeda
diri sebab tidak ingin dilihat aneh apabila lebih dahulu membahas mengenai
sendirian.
akan semakin meningkat apabila yang menjadi target disclosure atau tempat
karena adanya hubungan yang dekat dan juga kesamaan pengalaman yang
kesan mereka bahwa kekerasan seksual bukanlah hal yang tabu untuk
seksual merupakan hal yang saat ini lumrah untuk dibahas, meskipun juga
bergantung pada positif atau negatifnya hal yang akan diceritakan atau
merupakan hal yang sensitif dan seringkali dilihat sebagai hal yang negatif
dimilikinya, ia percaya orang lain juga akan turut menceritakan hal yang
sama. Hal ini juga merupakan bentuk dari trustworthy, dimana responden
percaya bahwa ada perilaku dapat dipercaya yang ia yakini akan terjadi
Peneliti merasa selain waktu yang telah dihabiskan bersama, perilaku selalu
responden mau untuk bercerita. Hal ini hanya saja tidak ditemukan atau tidak
mereka.
124
Menarik untuk dilihat bahwa dari 119 perempuan korban kekerasan yang
keluarganya, hal tersebut terjadi karena kakak responden telah lebih dulu
bercerita.
saat masih anak-anak dan saat mencapai usia dewasa. Ibu menempati
berusia anak-anak, sementara pada usia dewasa yang paling banyak ialah
kekerasan seksual yang mereka alami dalam penelitian Ahrens, et al., (2007)
mereka. Terdapat seorang responden yang diminta oleh ibunya untuk tidak
serta seorang kakak yang balik menyalahkan adiknya sebab mau berkencan
pada sahabat dibanding keluarga, meskipun hal tersebut masih perlu diteliti
lebih lanjut.
C. Limitasi Penelitian
sebab jenis kekerasan seksual yang responden alami lebih banyak pada
yang diambil bersifat umum (tidak spesifik pada satu jenis kekerasan
2. Selain itu, penelitian ini juga tidak memasukkan waktu ketika responden
kedua hal tersebut. Usia dan perbedaan waktu yang dimiliki diprediksi
A. Kesimpulan
3. Skor paling dominan dari trust yang dimiliki subjek penelitian ini berada pada
seksual yang memiliki trust paling dominan diantara jenis lainnya ialah
pelecehan seksual dengan skor sangat rendah 6.5%, sangat rendah 27.3%,
4. Skor paling dominan dari self-disclosure yang dimiliki subjek penelitian ini
jenis lainnya ialah pelecehan seksual dengan skor sangat rendah 6.5%,
sangat rendah 27.3%, sedang 42.9%, tinggi 18.2%, dan sangat tinggi 5.2%.
pula sebaliknya.
126
127
baik dari orang-orang yang menjadi disclosure target, semakin lekat atau
melakukan self-disclosure.
8. Trust tidak tumbuh dan hadir begitu saja, perlu adanya keyakinan yang
timbul dari perilaku maupun perkataan orang lain. Semakin sering seseorang
B. Saran
1. Bagi Pemerintah
kekerasan seksual yang mereka alami. Peneliti menyarankan hal ini agar
menghakimi. Namun hal tersebut perlu dilakukan agar tidak timbul kondisi-
3. Bagi Keluarga
melakukan self-disclosure.
129
Ahrens, C. E., Campbell, R., Thames, N. K. T., Wasco, S. M., & Sefl, T. (2007).
Deciding Whom to Tell: Expectations and Outcomes of Rape Survivors’
First Disclosures. Psychology of Women Quartely, 31, 38-49
APA (2015). APA Dictionary of Psychology Second Edition (2nd ed.). (VandenBos,
G. R., Penyunt.) Washington D.C: American Psychological Association.
Arslan, C., Hamarta, E., & Uslu, M. (2010). The Relationship between conflict
communication, self-esteem, and life satisfaction in university students.
Educational Research and Reviews Vol 5(1). 031-034
Betts, L. R., & Elder, T. J. (2012). The Role of Social Identity Threat in Determining
Intergroup Trust. Dalam Curtis, B. R, Psychology of Trust (hal 53-74). New
York: Nova Science Publisher
130
131
Brown, E. J., & Heimberg, R. C. (2001). Effects of Writing about Rape: Evaluating
Pannebaker’s Paradigm with a Severe Trauma. Journal of Traumatic
Stress 14, 781-790
Cacioppo, J. T., & Hawkley, L. (2003). Social Istolation and Health, with An
Emphasis On Underlying Mechanisms. Perspective in Biology and
Medichine, 46 (3), 39-52
Casalo, L. V., Flavián, C., & Guinalíu, M. (2007): The Influence of Satisfaction,
Perceived Reputation and Trust on a Consumer's Commitment to a
Website. Journal of Marketing Communications 13 (1), 1-17
Cardoso, C., Ellenbogen, M. A., Serravalle, L., & Linnen, A. M. (2013). Stress-
Induced Negative Mood Moderates The Relations Between Oxytocin
Administration and Trust: Evidence for The Tend-and Befriend Response
to Stress?. SciVerse ScienceDirect, 1-5
Chiu, C. M., Hsu, M. H., & Wang, E. T. G. (2006). Understanding knowledge sharing
in virtual communities: An integration of social capital and social cognitive
theories. Decision Support Systems, 42(3), 1872–
1888. [Link]
Chen, L., Hu, N., Shu, C., & Chen, X. (2019). Adult Attachment and Self-Disclosure
on Social Networking Site: A Content Analysis of Sina Weibo
Chen, W., Xie, C., Ping, F., Wang, M.Z. (2017). Personality differences in online
and offline self-disclosure preference among adolescents: A person-
oriented approach. Personality and Individuals Differences, 105, 175-178
Coates D., Winston T. (1987) The Dilemma of Distress Disclosure. In: Derlega
V.J., Berg J.H. (eds) Self-Disclosure. Perspectives in Social Psychology.
Springer, Boston, MA. [Link]
Cui, V., Vertinsky, I., Robinson, S., & Branzel, O. (2015). Trust in The Workplace:
The Role of Social Interaction Diversity in The Community and in The
Workplace. Business & Society, 1-35
Ding, Y., Li, L., Ji, G. (2011). HIV Disclosure in Rural China: Predictors and
Relationship to Access to Care. Aids Care, 23(9), 1059-1066
Dunn, J. R., & Schweitzer, M. E. (2005). Feeling and Believing: The Influence of
Emotion on Trust. Journal of Personality and Social Psychology 88 (5),
736-748
Eddyono, S. W. (2007). Hak Asasi Perempuan dan Konvensi CEDAW. Seri Bahan
Bacaan Kursus HAM untuk Pengacara XI Tahun 2007 ELSAM.
[Link]
[Link] (Diakses pada 5 Januari 2019)
Engstrom, K., Mattsson, F., Jarleborg, A., & Hallqvist, J. (2008). Contextual Social
Capital as A Risk Factor for Poor Self-Rated Health: A Multilevel Analysis.
Social Science & Medicine 66, 2268-2280
Fianu, E., Ofori, K. S., Boateng, R., Ampong, G. O. A. (2019). The Interplay
Between Privacy, Trust, and Self-Disclosure. International Federation for
Information Processing, 558, 382-401
Fukuyama, F. (1995). Trust: The social virtues and the creation of prosperity. New
York: The Free Press.
Fortier, D. Leung, A., & Verrault, E. (2011). Trust in Multicultural Global Virtual
Teams: An Application of Social Capital Theory. Psychology of Trust, 97-
116
133
Gefen, D., Benbasat, I., Pavlou, P. (2008). A Research Agenda for Trust in Online
Enviroments. Journal of Management Information Systems, 24 (4), 275-
286. [Link]
Grabrill, C. M., & Kerns, K. A. (2000). Attachment Style and Intimacy in Friendship.
Personal Relationship,7, 363-378
Grace, S., Pratiwi, P. C., Indrawati, G. (2018). Hubungan antara Rasa Percaya
dalam Hubungan Romantis dan Kekerasan dalam Pacaran pada
Perempuan Dewasa Muda di Jakarta. Jurnal Psikologi Ulayat, 5(2), 169-
186
Graafland, J., & Lous, B. (2019). Income Inequality, Life Satisfaction Inequality and
Trust: A Cross Country Panel Analysis. Journal of Happiness Studies 20,
1717-1737
Gruzd, A., & Garcia, A. H. (2018). Pricay Concern and Self-Disclosure in Private
and Public Uses of Social Media. Cyberpsychology, Behavior, and Social
Networking, 21 (7), 418-428. DOI: 10.1089/cyber.2017.0709
Jampel, I. N., Sudhita, I. W. R., & Suartama, I. K. (2016). Komunikasi Massa. Bali:
Universitas Pendidikan Ganesha.
Jia, L., Collins, M., Nixon, P. (2009). Evaluating Trust-Based Access Control for
Social Interaction. Third International Conference on Mobile Ubiquitos
Computing, Systems, Services and Technologies, 277-282
Jasielska, D. (2020). The moderating role of kindness on the relation between trust
and happiness. Curr Psychol 39, 2065–2073. DOI: 10.1007/s12144-018-
9886-7
134
Jen, M. H., Sund, E. R., Johnston, R. & Jones, K. (2010). Trustful Societies,
Trustful Individuals and Health: An Analysis of Self-Rated Health and Social
Trust using The World Value Survey. Health & Place 16, 1022-1029
Jonzon, E., & Lindblad, F. (2004). Disclosure, Reactions, and Social Support:
Finding From A Sample of Adul Victimis of Child Sexual Abuse.
Kandari, A. A., Melkote, S. R., Sharif, A. (2016). Needs and Motives of Instagram
Users that Predict Self-Disclosure Use: A Case Study of Young Adults in
Kuwait. Journal of Creative Commucinations, 11(2), 85-101
Kamus Besar Bahasa Indonesia V 0.1.5 Beta (15). 2016. Indonesia: Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia.
Kim, B., Shin, K.-S., & Chai, S. (2015). How People Disclose Themselves
Differently According To The Strength Of Relationship In SNS? The Journal
of Applied Business Research, 3(6), 2139-2146.
Kim, J.Y., Chung, N., Ahn, K. M. (2013). Why People use Social Networking
Services in Korea: The Mediating Role of Self-Disclosure on Subjective
Well-Being. Information Development, 30 (3), 276-287
Kivran-Swaine, F., Ting, J., Brubaker, J. R., Teodoro, S., & Naaman, M. (2014).
Underistanding Loneliness in Social Streams: Expressions and
Responses. Eight International AAAI Conference on Weblogs and Social
Media
Ko, H. C., & Kuo, F. Y. (2009). Can Blogging Enhance Subjective Well-Being
Through Self-Disclosure?. CyberPsychology & Behavior 12 (1), 75-79
Koranteng, F. N., Wiafe, I., Katsriku, F. A., Apau, R. (2020). Understanding Trust
on Social Networking Sites Among Tertiary Students: An Empirical Study
in Ghana. Applied Computing and Informatics
Lee, K. T., Noh, M. J., Koo, D. M. (2013). Lonely People are No Longer Lonely in
Social Networking Sites: The Mediating Role of Self-Disclosure and Social
Support
Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-
KJHAM). Data Kasus Kekerasan terhadap Perempuan di Jawa Tengah
Periode November-Oktober 2014. [Link]
kekerasan-terhadap-perempuan-di-jateng/data-kasus-kekerasan-
terhadap-perempuan-di-jawa-tengah-periode-november-oktober-2014/
(Diakses pada 5 Januari 2019)
Lin, W.Y., Zhang, X., Song, H., Omori, K. (2016). Health information seeking in the
Web 2.0 age: Trust in social media, uncertainty, reduction, and self-
disclosure. Computer in Human Behavior 56, 289-294
Luo, M., & Hancock, J. T. (2020). Self-Disclosure and Social Media: Motivations,
Mechanisms, and Psychological Well-Being. Current Opinion in
Psychology 31, 110-115
Mahoney, J., Moignan, E. L., Long, K., Wilson, M., Barnett, J., Vines, J., Lawson,
S. (2019). Feeling Alone Among 317 Million others: Disclosures of
Loneliness on Twitter. Computers in Human Behavior 98, 20-30
Mao, Z. E., Jones, M. F., Li, M. Wei, W., & Lyu, J. (2020). Sleeping in A Stranger’s
Home A Trust Formation Model for Airbnb
Matson, P. A., Chung, S. E., Fortenberry, J. D., Lich, K. H., & Ellen, J. M. (2020).
The Impact of Relationship Stressor on Trust and Prorelationship Behavior
Within Adolescent Romantic Relationship: A Systems Approach. Journal or
Adolescent Health
136
Mikucka, M., Sarracino, F., & Dubrow, J. A. (2017). When Does Economic Growth
Improve Life Satisfaction? Multilevel Analysis of The Roles of Social Trust
and Income Inequality in 46 Countries, 1981-2012. World Development 93,
447-459
Moors, R., & Webber, R. (2012). The dance of Disclosure: Online self-disclosure
of sexual assault. Qualitative Social Work, 12(6), 799-815
Nieminen, T., Martelin, T., Koskinen, S., Aro, H., Alanen, E., & Hyyppa, M. T.
(2010). Social Capital as A Determinant of Self-Related Health and
Psychological Well-Being. International Journal Public Health 55, 531-542
Pan, W., Feng, B., Wingate, V. S. (2018). What You Say is What You Get: How
Self-Disclosure in Support Seeking Affects Languange Use in Support
Provision in Online Support Forums. Journal of Languange and Social
Psychology, 37(1), 3-27.
Pan, W., Feng, B., Skye V., & Li, S. (2020). What to Say when Seeking Support
Online: A Comparison among Different Levels of Self-Disclosure. Psychol.
Pangalila, S., & Budiarto, Y. (2017). Factor Analysis of Rotter's Interpersonal Trust
Scale. HUMANITAS, Vol. 14(2), 150-163
Potts, S. R., McCuddy, W. T., Jayan, D., & Porcelli, A. J. (2019). To Trust, or Not
to Trust? Individual Differences in Physiological Reactivity Predict Trust
Under Acute Stress
137
Poulin, M. J., Haase, C. M. (2015). Growing to Trust: Evidence That Trust Incrase
and Become More Important for Well-Being Across the Life Span. Social
Psychology and Personalities Sciences, 1-8
Rains, S. A., Brunner, S. R., & Oman, K. (2016). Self-disclosure and new
communication technologies: The implications of receiving superficial self-
disclosures from friends. Journal of Social and Personal Relationship, 42-
61
Ramos, F. L., Ferreira, J. B., Freitas, A. S. D., & Rodrigues, J. W. (2018). The
Effect of Trust in The Intention to Use M-Banking. Brazilian Business
Review, 15 (2), 175-191
Ridings, C. M., Gefen, D., & Arinze, B. (2002). Some Antecedents and Effects of
Trust in Virtual Communites. The Jjournal of Strategic Information Systems,
11 (3-4), 271-295. [Link]
Six, F. (2005). The Trouble with Trust: The Dynamics of Interpersonal Trust
Building. USA: Edwar Elgar Publishing, Inc.
Son, J., Choi, W., & Choi, S. M. (2020). Trust Information Network in Social Internet
of Things Using Trust-Aware Recommender Systems. International Journal
of Distributed Sensor Networks, 16 (4), 1-12
138
Staples, J. M., Eakins, D., Neilson, E. C., George, W. H., Davis, K. C., Norris, J.
(2016). Sexual Assault Disclosure and Sexual Functioning: The Role of
Trauma Symptomatology. The Journal of Sexual Medicine, 131, 1562-
1569.
Taddei, S., & Contena, B. (2013). Privacy, Trust, and Control: Which Relationships
with Online Self-Disclosure?. Computers in Human Behavior, 29, 821-826
Taddicken, M., & Jers, C. (2011). The Uses of Privacy Online: Trading a Loss of
Privacy for Social Web Gratifications. Dalam S. Trepte, & L. Reinecke,
Privacy Online: Perspective on Privacy and Self-Disclosure in the Social
Web (hal. 143-156). London: Springer Heidelberg.
Tokuda Y., Fujii S., Inoguchi T. (2017) Individual and Country-Level Effects of
Social Trust on Happiness: The Asia Barometer Survey. In: Inoguchi T.,
Tokuda Y. (eds) Trust with Asian Characteristics. Trust (Interdisciplinary
Perspectives), vol 1. Springer, Singapore. DOI: 10.1007/978-981-10-2305-
7_8
Tsai, W., & Ghoshal, S. (1998). Social Capital and Value Creation: The Role of
Intrafirm Networks. The Academy of Management Journal, 41 (4), 464-476
Utz, S. (2015). The Function of Self-Disclosure on Social Networks Sites: Not Only
Intimate, but also positive and entertaining self-disclosures increas the
feeling of connection. Computers in Human Behavior, 45, 1-10
Yamagishi, T. & Yamagishi, M. (1994). Trust and Commitment in the United States
and Japan. Motivation and Emotion, Vol 18 (2)
Wang, L., Yan, J., Lin, J., Cui, W. (2017). Let the users tell the truth: Self-disclosure
intention and self-disclosure honesty in mobile social networking.
International Journal of Information Management, 37, 128-1440
Wang, Y., & Vassileva, J. (2007). A Review on Trust and Reputation for Web
Service Selection. 27th International Conference on Distributed Computing
Systems Workshops, pp. 25-25. DOI: 10.1109/ICDCSW.2007.16.
Y. Wang and J. Vassileva, "A Review on Trust and Reputation for Web Service
Selection," 27th International Conference on Distributed Computing
Systems Workshops (ICDCSW'07), Toronto, ON, Canada, 2007, pp. 25-
25, doi: 10.1109/ICDCSW.2007.16.
Wijaya, H. R., & Astuti, S. R. T. (2020). The Effect ot Trust and Brand Image to
Repurchase Intention in Online Shopping. International Conference on
Economics, Business and Economic Education 2018, 915-928
Zhang, Z., & Gu, C. (2015). Effects of Consumer Social Interaction on Trust in
Online Group-Buying Contexts: An Empirical Study in China. Journal of
Electronic Commerce Research, 16 (1), 1-21
Zlatolas, L. N., Welzer, T., Hericko, M., Holbi, M. (2015). Privacy Antecedents for
SNS Self-Disclosure: The Case of Facebook. Computers in Human
Behavior, 45, 158-167
Zolowere, D., Manda, K., Panulo Jr, B., & Muula, A. (2008). Experiences of Self-
Disclosure Among Tuberculosis Patients in Rural Southern Malawi. Rural
and Remote Health, 8 (4), 1-9
LAMPIRAN 1
SKALA PENELITIAN
(GOOGLE FORM)
LAMPIRAN 2
HASIL UJI VALIDITAS ISI
1. Validitas Logis
REKAPITULASI
SUBJECT MATTER EXPERT
Uraian Review:
Konteks penelitian disarankan untuk tidak disematkan pada item namun
menjadi keterangan situasi pada skala ini. Sehingga nyaris keseluruhan
item hanya mengelami perubahan berupa tidak dimasukkannya konteks
penelitian, kecuali pada item 18, 20, 21, dan 22.
Skala II
No Subject Matter Expert
Keterangan
Item SME 1 SME 2 SME 3
Tidak perlu Konteks
memasukkan penelitian
konteks pada item
Untuk skala ini
kekerasan akan
ambil saja item
seksual dan dikeluarkan,
yang hasil
media sosial di selebihnya
telaah peneliti,
dalam item, tapi tidak ada
1. tambakan OK
disituasikan, yang berubah.
tanpa
jadi berikan
menambahkan
penjelasan
konteks media
situasi “Saat
sosial
menggunakan
media sosial,
saya merasa...”
Konteks
penelitian
pada item
Seperti Seperti
akan
2. komentar di komentar di OK
dikeluarkan,
item pertama item pertama
selebihnya
tidak ada
yang berubah.
Konteks
penelitian
pada item
Seperti Seperti
akan
3. komentar di komentar di OK
dikeluarkan,
item pertama item pertama
selebihnya
tidak ada
yang berubah.
Konteks
penelitian
pada item
Seperti Seperti
akan
4. komentar di komentar di OK
dikeluarkan,
item pertama item pertama
selebihnya
tidak ada
yang berubah.
Konteks
penelitian
pada item
Seperti Seperti
akan
5. komentar di komentar di OK
dikeluarkan,
item pertama item pertama
selebihnya
tidak ada
yang berubah.
Konteks
penelitian
pada item
Seperti Seperti
akan
6. komentar di komentar di OK
dikeluarkan,
item pertama item pertama
selebihnya
tidak ada
yang berubah.
Konteks
penelitian
Seperti pada item
7. komentar di Revisi OK akan
item pertama dikeluarkan,
isi item akan
direvisi
Konteks
penelitian
Seperti pada item
8. komentar di Revisi OK akan
item pertama dikeluarkan,
isi item akan
direvisi
Konteks
penelitian
pada item
Faktami ini,
9. Revisi OK akan
perbaiki
dikeluarkan,
isi item akan
direvisi
Konteks
penelitian
Seperti pada item
10. komentar di Revisi OK akan
item pertama dikeluarkan,
isi item akan
direvisi
Uraian Review:
Konteks penelitian disarankan untuk tidak disematkan pada item namun
menjadi keterangan situasi pada skala ini. Sehingga nyaris keseluruhan
item hanya mengelami perubahan berupa tidak dimasukkannya konteks
penelitian, kecuali pada item 7, 8, 9, dan 10.
2. Rekapitulasi mengenai Bahasa
Skala I
No Subject Matter Expert
Keteranga
Ite
SME 1 SME 2 SME 3 n
m
Tidak perlu Gunakan Konteks
memasukka padanan kata penelitian pada
n kata yang lain untukitem akan
1. OK
kekerasan kata gambaran dikeluarkan,
seksual dan bahasa item
media sosial akan direvisi
Konteks
Seperti Gunakan kata penelitian pada
komentar di katakan item akan
2. OK
item dibanding dikeluarkan,
pertama ungkapkan bahasa item
akan direvisi
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
3. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Tambahkan kata Konteks
Seperti tentang penelitian pada
komentar di item akan
4. OK
item dikeluarkan,
pertama bahasa item
akan direvisi
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
5. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
6. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Gunakan Konteks
Seperti kalimat penelitian pada
komentar di pendapat dan item akan
7. OK
item apa yang saya dikeluarkan,
pertama percayai bahasa item
akan direvisi
No Subject Matter Expert
Keteranga
Ite
SME 1 SME 2 SME 3 n
m
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
8. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
9. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
10. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
Seperti penelitian pada
komentar di Tambahkan kata item akan
11. OK
item kadang dikeluarkan,
pertama bahasa item
akan direvisi
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
12. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
13. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
Seperti
penelitian pada
komentar di
14. OK OK item akan
item
dikeluarkan,
pertama
selebihnya
No Subject Matter Expert
Keteranga
Ite
SME 1 SME 2 SME 3 n
m
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
15. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
16. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
Seperti penelitian pada
komentar di Tambahkan kata item akan
17. OK
item pengalaman dikeluarkan,
pertama bahasa item
akan direvisi
Konteks
Seperti penelitian pada
komentar di Maksudnya item akan
18. OK
item ? Revisi dikeluarkan,
pertama bahasa item
akan direvisi
Konteks
Tambahkan
Seperti penelitian pada
kalimat “Tidak
komentar di item akan
19. OK ada yang saya
item dikeluarkan,
tutupi saat...” di
pertama bahasa item
awal kalimat
akan direvisi
Konteks
Seperti Gunakan penelitian pada
komentar di kalimat “Saya item akan
20. Revisi
item mengungkapkan dikeluarkan,
pertama ” bahasa item
akan direvisi
OK Konteks
Seperti penelitian pada
komentar di item akan
21. Revisi
item dikeluarkan,
pertama bahasa item
akan direvisi
No Subject Matter Expert
Keteranga
Ite
SME 1 SME 2 SME 3 n
m
OK Konteks
Seperti penelitian pada
komentar di item akan
22. Revisi
item dikeluarkan,
pertama bahasa item
akan direvisi
Konteks
Seperti penelitian pada
Lebih
komentar di item akan
23. OK sederhanakan
item dikeluarkan,
lagi kalimatnya
pertama bahasa item
akan direvisi
Konteks
penelitian pada
Seperti
item akan
komentar di
24. OK OK dikeluarkan,
item
selebihnya
pertama
tidak ada yang
berubah
Konteks
Seperti Pisahkan penelitian pada
komentar di masalah sekali item akan
25. OK
item dan secara dikeluarkan,
pertama langsung bahasa item
akan direvisi
Uraian Review:
Bagian bahasa skala ini akan mengikut pada bagian isi dengan tidak
memasukkan kata media sosial dan kekerasan seksual pada masing-
masing item. Sementara itu untuk beberapa item terdapat saran perubahan
isi yaitu pada item 1, 2, 4, 7, 11, 17, 19, 20, 23, dan 25.
Skala II
No Subject Matter Expert
Keterangan
Item SME 1 SME 2 SME 3
Untuk skala ini
ambil saja item Konteks
Tidak perlu
yang hasil penelitian pada
memasukkan
telaah peneliti, item akan
kata
1. tambakan OK dikeluarkan,
kekerasan
tanpa selebihnya
seksual dan
menambahkan tidak ada yang
media sosial
konteks media berubah
sosial
Konteks
penelitian pada
Seperti Seperti item akan
2. komentar di komentar di OK dikeluarkan,
item pertama item pertama selebihnya
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti Seperti item akan
3. komentar di komentar di OK dikeluarkan,
item pertama item pertama selebihnya
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti Seperti item akan
4. komentar di komentar di OK dikeluarkan,
item pertama item pertama selebihnya
tidak ada yang
berubah
Konteks
penelitian pada
Seperti Seperti item akan
5. komentar di komentar di OK dikeluarkan,
item pertama item pertama selebihnya
tidak ada yang
berubah
Konteks
Tambahkan penelitian pada
Seperti Seperti
penjelasan item akan
6. komentar di komentar di
oleh orang dikeluarkan,
item pertama item pertama
lain bahasa item
akan direvisi
Konteks
Seperti Hapuskan
penelitian pada
7. komentar di Revisi sebagian
item akan
item pertama besar
dikeluarkan,
bahasa item
akan direvisi
Konteks
penelitian pada
Seperti Hapuskan
item akan
8. komentar di Revisi sebagian
dikeluarkan,
item pertama besar
bahasa item
akan direvisi
Konteks
penelitian pada
Seperti Hapuskan
item akan
9. komentar di Revisi kebanyakan
dikeluarkan,
item pertama orang
bahasa item
akan direvisi
Konteks
penelitian pada
Seperti Hapuskan
item akan
10. komentar di Revisi sebagian
dikeluarkan,
item pertama besar
bahasa item
akan direvisi
Uraian Review:
Bagian bahasa skala ini akan mengikut pada bagian isi dengan tidak
memasukkan kata media sosial dan kekerasan seksual pada masing-
masing item. Sementara itu untuk beberapa item terdapat saran perubahan
isi yaitu pada item 6,7, 8, 9, dan 10.
2. Validitas Tampang
Rekapitulasi Reviewer
1. Review Umum
Hasil Review
Reviewer Layout/tata Jenis & Bentuk Sampul
letak Ukuran Huruf Skala
Saran ada
Reviewer 1 gambar di
Jelas OK -
bagian header
biar cantik
Reviewer 2
OK OK OK -
Reviewer 3
OK OK OK -
Reviewer 4
OK OK OK -
Uraian Kesimpulan:
Kesimpulan yang dapat dari keempat reviewer ialah tata letak skala sudah baik,
hanya saja perlu dimasukkan gambar pada bagian header. Jenis dan ukuran
huruf sudah oke atau dapat dikatakan baik, begitu pula dengan bentuk skala.
Sehingga peneliti hanya perlu menambahkan gambar pada bagian header
skala.
2. Review Khusus: Pengantar Skala
Uraian Kesimpulan:
Kesimpulan yang didapatkan ialah pengantar pada skala sudah jelas, sehingga
tidak ada perubahan yang perlu dilakukan.
3. Review Khusus: Identitas Responden
Uraian Kesimpulan:
Kesimpulan yang dapat dari keempat reviewer ialah petunjuk pengerjaan masih
ada bagian yang perlu diperbaiki, yaitu penggunaan penulisan aitem yang
seharusnya menjadi item.
5. Review Khusus: Kesimpulan Item Pernyataan Skala I
Hasil Review
Aspek Review
Konten Bahasa
Item 1 Oke Jelas
Item 2 Oke Jelas
Item 3 Oke Jelas
Item 4 Oke Jelas
Item 5 Oke Jelas
Item 6 Oke Jelas
Item 7 Oke Jelas
Masa mengungkapkan hal “Hal tersebut” sebaiknya
baik soal kekerasan seksual diperjelas penunjukannya (R3)
Item 8
yang dialami? Apanya yang
baik? (R1)
Item 9 Oke Jelas
Item 10 Oke Jelas
Item Item 11 Oke Jelas
Pernyataan Item 12 Oke Jelas
Item 13 Oke Jelas
Item 14 Oke Jelas
Item 15 Oke Jelas
Item 16 Oke Jelas
Item 17 Oke Jelas
Item 18 Oke Jelas
Item 19 Oke Jelas
Item 20 Oke Jelas
Item 21 Oke Jelas
Item 22 Oke Jelas
Item 23 Oke Jelas
Item 24 Oke Jelas
Item 25 Oke Jelas
Uraian Kesimpulan:
Kesimpulan yang dapat dari keempat reviewer ialah “Hal tersebut” pada item 8
perlu untuk diperjelas. Mengenai hal yang baik yang diungkapkan yang
dikomentari oleh reviewer pertama, peneliti akan menjawab bahwa itu berarti
pengalaman kekerasan seksual yang dialami oleh responden tidak dianggap
sebagai kekerasan atau tidak dianggap sebagai hal yang negatif melainkan
wajar saja terjadi (positif).
6. Review Khusus: Kesimpulan Item Pernyataan Skala II
Hasil Review
Aspek Review
Konten Bahasa
Item 1 Oke Jelas
Item 2 Oke Jelas
Item 3 Oke Jelas
Item 4 Oke Jelas
Item Item 5 Oke Jelas
Pernyataan Item 6 Oke Jelas
Item 7 Oke Jelas
Item 8 Oke Jelas
Item 9 Oke Jelas
Item 10 Oke Jelas
Uraian Kesimpulan:
Kesimpulan yang dapat dari keempat reviewer ialah keseluruhan item pada
skala ini sudah jelas.
LAMPIRAN 3
HASIL UJI VALIDITAS KONSTRUK
SELF-DISCLOSURE SCALE
1. Dimensi Intent to Disclose
No
Factor Loading Error T-Value Hasil
Item
1 0.96 0.08 11.28 Valid
2 0.82 0.09 9.32 Valid
3 0.75 0.09 8.28 Valid
17 0.60 0.09 6.51 Valid
18 -0.28 0.10 -2.83 Tidak Valid
2. Dimensi Amount of Disclosure
No
Factor Loading Error T-Value Hasil
Item
4 0.43 0.10 4.45 Valid
5 0.71 0.10 7.25 Valid
6 1.00 0.10 10.19 Valid
7 0.48 0.10 4.92 Valid
19 -0.04 0.10 -0.46 Tidak Valid
3. Dimensi Positive Negative Nature of Disclosure
No
Factor Loading Error T-Value Hasil
Item
8 0.01 0.09 0.13 Tidak Valid
9 0.26 0.13 2.06 Valid
20 1.10 0.35 3.13 Valid
21 0.48 0.18 2.73 Valid
22 -0.08 0.09 -0.83 Tidak Valid
4. Dimensi Honest Accuracy of Disclosure
No
Factor Loading Error T-Value Hasil
Item
10 0.65 0.10 6.44 Valid
11 0.64 0.10 6.38 Valid
12 0.87 0.10 8.66 Valid
13 0.64 0.10 6.54 Valid
23 0.06 0.13 0.48 Tidak Valid
5. Dimensi Control of General Depth
No
Factor Loading Error T-Value Hasil
Item
14 0.73 0.09 7.85 Valid
15 0.74 0.09 7.97 Valid
16 0.65 0.10 6.33 Valid
24 0.69 0.10 6.83 Valid
25 0.19 0.11 1.76 Tidak Valid
LAMPIRAN 4
HASIL UJI VALIDITAS KONSTRUK
GENERAL TRUST SCALE
No
Factor Loading Error T-Value Hasil
Item
1 0.67 0.09 7.25 Valid
2 0.65 0.09 7.05 Valid
3 0.81 0.09 8.99 Valid
4 0.65 0.09 6.94 Valid
5 0.58 0.10 5.80 Valid
6 0.46 0.10 4.66 Valid
7 0.13 0.10 1.25 Tidak Valid
8 0.50 0.10 5.15 Valid
9 0.10 0.10 0.99 Tidak Valid
10 -0.13 0.11 -1.22 Tidak Valid
LAMPIRAN 5
HASIL UJI NORMALITAS
Case Processing Summary
Cases
Descriptives
Lower
-,8184596
95% Confidence Interval for Bound
Mean Upper
,8184596
Bound
Median ,4267547
Unstandardized
Variance 20,328
Residual
Std. Deviation 4,50864276
Minimum -12,69970
Maximum 14,17384
Range 26,87354
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Cases
Report
Self Disclosure
12 42,00 2 2,828
14 38,00 2 1,414
15 54,00 2 2,828
16 42,67 3 8,021
17 45,50 2 6,364
18 46,90 10 6,506
19 46,30 10 3,592
20 45,89 9 2,369
21 47,08 12 2,539
22 46,60 10 5,602
23 46,08 13 5,604
24 47,50 8 2,204
25 48,91 11 3,048
26 46,22 9 5,263
27 48,00 5 2,345
28 46,50 4 5,066
29 49,50 2 ,707
31 49,00 1 .
33 51,00 2 9,899
35 47,00 2 1,414
Total 46,77 119 4,606
ANOVA Table
Measures of Association
1 Trustb . Enter
Model Summary
ANOVAa
Coefficientsa
5 Oke
7 RHM
8 Oke RHM, say apanggil RHM mi di’? R mi saja di’? Kan, sebelum masukka ke pertanyaan
9 intro meki sedikit. Bolehka tanya jenis kekerasan seksual apa yang kau alami?
14 Iyo, ih malu-maluku
15 Ih nda ji, okeji. Mauka tanyako, sama siapako itu ceritakanki pengalamanmu?
18 Hu um
20 Temanku
22 3 tahun
24 Kenalnya?
26 Semester 2 kayaknya
27 Dari semester 2... Apa yang gerakkan ko. Apa yang di antara semua orang yang kenal
28 dan akrab... apa yang jadi alasanmu kau pilh mereka untuk ceritakanki ini
29 pengalamanmu?
33 Hmm, bolehka tahu bagaimana itu ko ceritakanki? Lama pi setelah kejadian atau nda
34 lamaji?
35 Nda lamaji
36 Langsungji?
39 Via chat
40 Itu yang ko ceritakan yang sejak awal kejadian atau yang pas sampai akhir atau yang
41 kejadiannya saja atau bagaimana
42 Maksdunya?
46 Detail? Mungkin
47 Apa yang ko rasakan saat sadarko bilang dikasih begituko? Yang pas ko alami itu
48 Pas kejadian?
50 Rasakan maksudnya?
53 Terus ko ceritakan juga itu yang kau rasakan ke orang yang kau ceritakan bilang begini
54 yang kau rasa
55 Iya
56 Oh kau ceritakanki
57 Iyo bilangja, kagetka apa syokka kayak mauka menangis nda tauka mau apa
58 Terus, kalau boleh ka lagi bertanya, apa yang kau harapkan dari bercerita ko ke mereka?
59 Nda tau, nda tau apa yang kuharapkan. Tapi setelahku bercerita merasa lebih baik ka.
60 Kan tidak kutau apa yang harus kulakukan pas itu, kayak goblokka. Cerita meka, karna
61 nda tauka harus apa kayak nda tenangka juga, syokka. Menangiska. Pas ka ceria dibilang
62 minum ko dulu kasih tenang dirimu jadi kayak sadarka kembali
68 Iya, krna yg ku chat org yg ku percaya, yang tahuka bisa tidak judge ka yang na dengarka
69 dulu
70 Karna kau kayak percaya mereka nda akan judge ki di makanya ko cerita ke mereka
72 Hmm, karna ko percaya mereka nda akan judge ko di kalau kau cerita ko ke mereka.
73 Iya
74 Segitumi dulu wawancaraku kalau ini, kalau misal ada tambahan boleh saya tanyakan
75 Iya
77 Sama-sama
LAMPIRAN 8
VERBATIM RESPONDEN 1 SESI 2
1 Selamat Pagi, R. Perkenalkan kembali saya Naifah, kali ini kita akan memulai sesi
2 wawancara kedua dan saya akan menanyakan beberapa hal yang kemarin belum cukup
3 mendalam saya tanyakan kepada anda.
4 Iya
5 Baik, sebelumnya kan anda sudah menjelaskan bahwa anda bercerita kepada pasangan
6 dan juga sahabat-sahabat anda. Mereka adalah orang yang anda percayai, mampu..
7 percayai untuk tidak menjudge anda. Pertanyaan pertama saya ialah
8 Ialah?
9 Jadi yang ingin saya tanyakan yang pertama adalah kan anda mneceritakan bahwa
10 mereka adalah orang-orang terdekat anda yang paling bisa anda percayai. Apakah pada
11 hal-hal lainya, selain, maksudnya dalam berbagai topik mereka memang orang-orang
12 yang anda ceritakan semua hal yang anda alami atau hanya kasus ini saja anda percaya
13 pada mereka? Bagaimana dengan masalah-masalah lain? Kayak bagaimanako
14 ceritakanki gitu, apakah semua hal ko certiakan atau untuk kasus ini saja?
15 Hmm, saya certakan semua yang saya rasakan apalagi hal-hal sensitif atau yang tidak
16 bisa saya ceritakan ke orang lain, ke mereka semua. Orang-orang yang memang betul-
17 betul ku percaya mulai dari hal-hal sederhana sampai rumit, tempatku memang
18 bercerita termasuk hal tersebut. Mereka memang tempatku bercerita. Terus kalau
19 memang lama-lamami, kayak, kan saya cerita pas hari pertama kejadian saya cerita ke
20 mereka. Setelah lama-lama, barupa bisa cerita tentang itu. Itupun saya lihat kondisinya
21 bagaimana. Pasku cerita ke orang lain yang bukan orang-orang di awal yang ku percayai,
22 enjoy meka cerita tidak saya bawami perasaan marahku sedihku apapun itu. Karna
23 memang bukan mereka tempatku berbagi itu, hanya berbagi pengalaman jeka. Beda
24 dengan orang-orang yang di awal saya tempati cerita, mereka memang tempatku
25 berbagi sedih dan senang karna mereka memang orang yang ku percaya.
26 Oh oke, jadi misalnya yang pertama kali itu ke mereka. Pasanganmu dan sahabat-
27 sahabat terdekatmu, yang langsung ko cerita karna emosimu sedang tidak baik. Jadi
28 kalau misal ko ceritakan mi ke orang lain itu untuk share pengalaman. Nah, kau kan
29 cerita ke orang-orang terdekatmu yang di awal-awal ini karna ko percaya mereka tidak
30 akan judgeko, apakah selamamu cerita ke orang lain untuk berbagi pengalaman, tidak
31 pernah jeko di judge atau apa? Apa yang bikinko mau berbagi pengalaman? Nda takut
32 jeko hal yang kau hindari malah kau dapat, misalnya di judge ko?
33 Itumi kenapa di orang lain tidak langsung saya cerita pas saat kejadian, peasaanku masih
34 sensitif masih terbawa emosi. Masih besar keinginanku diperhatikan daripada rasa ingin
35 menerima saran atau kritikan. Makanya saya pertam nda cerita ke orang lain yang saya
36 nda percaya pas kejadian atau lagi buruk persaaanku, karna nda siapka terima hal-hal di
37 luar keinginanku. Saya hindari hal-hal itu. Karna masih terbawa perasaanku, termasuk
38 waktu yang saya alami itu. Kenapa akhirnya saya certia? Karena bisama terimaki apapun
39 yang mereka bilang, karna adami orang yang dengarka dan dukungka. Seandainya paska
40 berbagi pengalaman ke orang luar dan di judgeka tidak akan masukmi di otakku, karena
41 mereka bukan orang yang saya percaya. Mereka hanya orang tempatku berbagi
42 penaglaaman
43 Apa hal yang bikinko jadi yakin utnuk cerita, apa, bukna cerita sih, apa hal yang bikinko
44 untuk selalu yakin ceritakan berbagai macam perasaaanmu ke orang-orang tertentu ini?
45 Kan biasanya orang terdekatta yang bisa sakitiki. Apa yang mereka lakukan sampai
46 mereka selalu jadi tempatmu cerita bahkan untuk jadi hal seperti ini?
47 Karena saya kenal mi mereka, itumi kenapa saya bilang mereka sahabat karena bisa
48 meka cerita sama mereka semuanya. Kalau saya percaya tapi selaluka na sakitki berarti
49 bukan orang yang ku percaya [Link] orang yang saya percaya dan kenal, saya
50 taumi bagaimana responnya ke saya. Karna kalau orang lain bisa jadi tidak klop
51 perasaanku dan responnnya mereka.
52 Oalah, jadi memang karena ko kenalmi mereka sepeti apa dan dari bahasamu mereka
53 tidak pernah sakitiko makanya mereka mi orang-orang yang bisa ada di circle terdektmu
54 dan bisako jadikan sahabat. Makanya mereka mi yang ko yakini tidak akan judge ko dan
55 salahkanko ketika ceritako soal itu. Yang mau saya tanyakan, bagaimana di, hmm, kan,
56 kalau misalnya, misalnya, suatu saat atau mungkin pernahko ada disituasi, meskipun
57 baku baikki, ada masa dimana sedang bersitegangki dan lagi pokoknya lagi brtengkarki,
58 misalnya. Entah karna salah paham atau hal lain. Seandainya punyako masalah kau akan
59 tetap ke mereka atau kau akan ke orang lain?
67 Oh iya, apakah selamamu ini bercerita, kan mu bilang pas dihari saat kau alami ko
68 certikaan ke mereka. Apakah saa itu setelah vcertia merasa tennag meko atau masih
69 tidak tenang ko dan amsih ada emosi-emosi negatif lain yang ko rasakan, apakah cerita
70 ulangko lagi ke mereka atau sekaliji?
71 Mmm, kalau permaslaahan yang kemarin itu langsungka ceerita tapi tidak langsung
72 legaka. Masih ada perasaan cemas dan sedihku, campur aduklah. Mungkin satu kaliji
73 saya cerita tapi mereka dukung teruska sampai akhirnya saya pi bilang mampu meka,
74 bisami saya lupa, eh bukan bisa lupa sih tapi merasa baik meka. Jadi mereka berhenti
75 bilang semangat dan lain-lain. Meskipun sekali jeka cerita maslaahnya, tapi caraku
76 meinta dukungan dan apa masih dan mereka pun tanpa ku minta akan terus
77 memberikan. Ya seperti itu. Masih ada Naifah?
5 Jadi... waktu itu, hehehe, jadi toh pergi ka sekolah. Pas ka jalan, kan jalan kaki ja tiap hari
6 toh ke sekolah. Baru pas ka jalan, kan biasa itu dirasai kalau misalna ada orang lihatiki.
7 Hehehe. Baru yang nda sengaja ja ini balik, padahal yang bagus sekalimi moodku deh
8 langsung rusak. Langsungka lihat titit pagi-pagi
10 Iyo
12 Siapa di’? Awal-awalnya toh tidak adapi. Karna iyo iya toh memang kayak apadi’, jijikka.
13 Jadika kubilang edede jangan ma cerita deh.
15 Iyo jijikka sama pengalamanku, apadi’ karna kayak ih nda wajarki begitueh. Tapi
16 memang iya nda bagaimana sekaliji iya, nda berefek sekaliji iya.
17 Tapi menurutku tetapko, parahji juga sebarnnya sih. Harusnya nda begitu.
18 Baru..baru yang jijik sendiri ja ingatki, rantasanya ini orang nda malunya pamer-pamer
19 begitu
22 Tapi maksudku, nda merasa takut jeko atau apakah pas ko lihat?
23 Takutka iya karna nanti dikejarka baru nda bisaka apa-apa, tapi ternyata nda ji.
26 Masa...
27 Tapi misalnya ada orang cerita toh, jadi kayak ih, pernahka juga begini. Jadi
28 kuceritakanmi juga. Oh iyo pernahka juga begini we. Saya juga begini dulu. Pernahka
29 juga begitu.
30 Oh nda ko ingatki di kapan anunya. Tapi siapa itu? Kakakmu kah , temanmu kah,
31 keluargamu kah yang ko ceritakan?
32 Teman-temanku iya karna teman-temanku pernah juga rasa begitu jadi kuceritakanki.
33 Masa toh tadi beginika lihatka tadi orang begini bla bla bla. Baru bilangka ih saya pernah
34 juga begitu we baru jijik sekalika. Baru temanku yang iyo we. Kayak kenapa itu orang di
35 pamer-pamer begituan
36 Oh dari yang temanmu ji cerita di’ baru akhirnya spontan jeko juga [Link] kayak,
37 banyak pi itu ko dengar orang atau kayak tiba-tiba ko langsung ceritakanki?
38 Tiba-tiba ja iya.
39 Tiba-tiba jeko?
41 Tapi seandainya bede tidak ada temanmu yang ceritakanki begituannya, menurutmu
42 kayak...eh kau, bakalan cerita ko juga atau nda ?
43 Bakalan ceritaja iya pasti iya. Karna ku bilang kayak nda mungkin tidak ada orang yang,
44 tidak mungkin ada orang yang tidak pernah dikasih begitu. Baru biasanya toh kalau
45 sudah meki cerita begitu, pasti adami juga yang pernah rasa speak up ki. Pasti na
46 bongkarki apa yang na rasa bilang pernahki juga dikasih begitu.
47 Tapi kau ini yang dorongko awalnya, karna ada juga temanmu cerita di’? cewek-cewek
48 jeko semua cerita disitu atau ada juga temanmu cowok?
50 Tapi yang kayak, justru pelakunya ji di na anui bukan ji kayak kenapa kau pi ihati atau
51 apa begitueh?
52 Nda ji iya. Itu lagi pernahka baca di twitter we, ada orang dikasih begitu toh baru ko tahu
53 apa dia bilangi ih kecilnya punyamu. Baru langsung ki itu orang insecure ki sama dirinya
54 Banyak, banyak taktik bede kayak seperti itu. Yang kayak ih, mending bilangimi saja atau
55 apa. Tapi kayak, oh, sering jeko ceritakanki itu kalau ada teman-temanmu? Dari ta smp...
56 eh smp bede, sma atau kuliah orang baru kayak ceritako?
61 Hu um..., karna toh kubilang. Ih kalau cerita ya ini, jijik sendirija. Baru, hehehe,
62 tapi...tapi...sudahmi, nassaji itu pastimi kukasih keluarki.
66 Iyo
67 Tapi pas ko... habisko cerita yang kayak...bagaimana ko rasa begitueh? Malah kayak
68 jijikko kah, traumako, atau bagaimana ko rasa?
73 Iya
74 Kayak begitu di’, astaga... terus-terus, tapi itu teman-teman apamu yang ko ceritakan?
75 Maksudku pas perkumpulan itu teman-teman apamu begitueh? Anak-anak F kah kayah
76 N atau R? Atau teman-teman mainmu? Yang ko ingat
77 Nda tauka teman manaku iya kalau SMA, paling kayak.... para-para ta ji we.
78 Masa? Iyokah?
80 Tapi kau kan, kayaknya kalau ke orang lain, tiba-tibako atau tidak terlalu akrab jeko
81 sama ini orang tapi pergi ko jalan atau bagaimana ko
82 Maskudnya?
83 Kan kayak ada itu orang biar biasa baru baku kenal, jalanji sama terus gampangki cerita
84 atau kau tipe orang yang akrab peko... akrab-akrab peko sama itu orang baru mauko
85 jalan sama baru ceritako sama itu orang?
87 Oh, santai jeko di? Tapi kalau cerita-cerita soal pengalamanmu apa yang kayak-kayak
88 begitu, bagaimana?
92 Ciaat, tapi kalau nda dikasihko umpan, nda niat jeko juga ceritakan ji?
93 Iyo karna kayak bilang ih apa beng kalau mauka ceritaki (around 7.34)
95 Hu um. apalagi kayak itu temanku pulang-pulang gowes langsungi bilang we jijik sekalika
96 tadi ada orang naik motor, baru yang kayak diikuti ki we makanya takutki. Baru yang
97 kayak na balapmi tapi kenapa ini orang na ikuti teruska. Pas sudah itu toh pas
98 berpapasan pas balek temanku, resletingnya itu orang terbuka baru sambil bawa motor
99 yang ihhh ngerinya baru balap temanku baru ini orang na ikutiki baru sendiriki. Nabilang
100 temanku singgahki di warung-warung na tunggu itu orang lewat. Baru takutki karna itu
101 temanku anak kos-koski.
103 Anak kos, kosnya juga kos campur. Makanya tambah mallaki ka nanti didatangiki.
105 Nda iya, bapak-bapak. Karna yang rata-rata begitu toh bapak-bapak
106 Yang kayak kau juga orang kelainan ki tapi gaya bapak-bapakki?
107 Iyo... deh itu yang kakakku iya, banyak sekalimi memang korbannya. Baru toh itu pernah
108 juga tetanggaku, pernah dikasih begitu dan dia lihat itu orangnya. Kalau kakakku nda na
109 lihat kayaknya
111 Bukan yang itu tapi yang anu, makanya trauma sekaliki di itu lorong sermani yang kecil.
112 Makanya takut sekali kalau lewat situ sendiri. Baru waktunya ini tetanggaku toh pulangki
113 juga sekolah baru lewatki disitu baru langsungki dikasih begitu.
115 Iyo, dia duluan baru kakakku. Karna memang toh banyakmi, banyak sekalimi kejadian
116 disitu.
120 Baru masalahnya ini lorong kayak panjang sekali. Baru itumi yang tetanggaku na lihat ji
121 itu orangnya baru itu tukang ojek depan litha yang biasa ji lewat-lewat. Makanya
122 kakakku biasa dilihat-lihati dan kayak takutki
123 Tapi maksudku pernahko lewati itu jalan lagi dan tidak pernahmi lagi itu bapak-bapak
124 begitu?
125 Kan pernahka sama juga kakakku, orang yang sama ji itu yang ku lihat di jalan sermani
126 sama yang didekat sekolah
128 Nda iya, kulupami mukanya. Deh kalau ingatki, kalau di depanku itu kulempar mi itu
129 orang
135 Masaaa
136 Iyooo, itumi, masa orang lain nda lihat apa saya ji
140 Tapi santai meko sekarang kalau kau ceritakanki lagi ke temanmu, kayak nda jijikko atau
141 takut kalau kau ingatki?
144 Kan dulu toh kayak masih kecilki toh, sekarnag mungkin nda mi, nda tauma iya nda
145 mauja lagi begitu
146 Nassami, tapi apalagi. Nda ko ceritaki langsung ke kace dan pacemacemu pas ko lihat?
147 Nda langsungka cerita, karna pagi-pagi sampaima di sekolah. Pas pulangnya kulupami,
148 adapi lagi orang cerita baru ku ingat. Pas pi lagi ceritaki kaceku soal itu
149 Na bahaski?
150 Iyo paski na bahas ikutma juga bahaski, na tauji maceku bisajai lagi ku cerita ulang
151 Tapi nda langsungko cerita di, dipancing peko cerita. Kenapa dipancing peko cerita baru
152 mau ko juga ceritaki?
153 Nda tau, karna kubilang idede, masa tiba2ka cerita begini nda masukki nanti ceritaku
154 Oh merasako tiba-tiba bahas begitu duluan bikin nda nyambung pembahasan?
155 Nda ji iya, bahaski ini baru datangka bahaski itu. Nda nyambung dari pembahasan awal.
156 Tpi nda ji iya setiap pembicaraan nyambungji pasti.
157 Tapi nda mau ko buka topik duluan kalau baruko kenal orang? Haruspi kayak kalau
158 ketemu ko orang nda cerita ko kalau nda dipancing ko?
166 Bahan mainan ji di, astaghfirullah, karna kalau mau dipikir anu toh malah tambah
167 stresski kalau mauki ingatki
168 Paling kayak sama teman cowo, kayak ihh sudahmi na lihat bagaimana bentuknya
170 Iyo
171 Kalau misalnya na bikin serius banget itu pembahasan, misalnya di foruum2 besar
172 dsuruhko jelaskanki perasaan atau pengalamanmu tapi bukan untuk lucu-lucu.
173 Bagaimana menurutmu kesanmu?
178 Tapi memang kalau masih baru-baru kayak trauma, bukan trauma iya kayak kaget, syok
179 gitueh. Jadi memang iya orang kalau begitu kayak butuhki memang...tapi nda jadija ini
180 iya saya
181 Jadi kayak biasami pas ko ceritaki, tapi tetap jeko juga butuh relasi di. Untung santai ji
182 temanmu cerita-cerita begitu
183 Iyowe
184 Tapi yang pasmu ceritakanki, yang seingatmu mo lah, yang pertama kali pasko
185 ceritakanki. Selain jijik nda ada mi ingatan-ingatan takutmu ah atau apa.
187 Tapi semakin kau ceritakan semakin kau anggap lucu-lucu mi di sekarang dibanding
188 pertama kaliko cerita
189 Hm
190 Pasko pertama kali cerita masih lain-lain ko rasa atau nda mi memang juga pas selesai
191 meko cerita?
192 Bagaimana di’ hmm, kayak anuja curhat biasaja iya. Baru yang kayak ihh ihhh jijik. Tapi
193 kalau misalnya kayak takut apa nda ji iya
194 Nda ji di
196 Tapi bagusji karna kalau saya bisa jeko kontrolki emosimu. Karna ko tau ji nda ko suka
197 atau ko apai, tapi bisa jeko hadapiki bukan jeko larut di situ terus
199 Iyodi kayak lamami, Untung kayak baru 2 kali begitu toh
201 Bukanji ada bayangan buruk misal pas ko cerita baru ko ingat2 lagi, kalau pas ko cerita
202 nda ji?
Karena saya
kenal mi
mereka, itumi
kenapa saya
bilang mereka
sahabat
karena bisa
meka cerita
sama mereka
Menceritakan
semuanya.
karena telah
Kalau saya Mengenal lama Intent
mengenal lama dan
percaya tapi dan tidak to Trustwor
44-47 tidak pernah disakiti
selaluka na pernah Disclos thy
atau dikhianati
sakitki berarti dikhianati e
kepercayaan yang
bukan orang
diberikan
yang ku
percaya
[Link]
orang yang
saya percaya
dan kenal,
saya taumi
bagaimana
responnya ke
Line Pernyataan Kategorisasi
Ide Utama Tema Trust
Number Responden (Coding)
saya. Karna
kalau orang
lain bisa jadi
tidak klop
perasaanku
dan
responnnya
mereka.
Yang pertama,
alhamdulillah,
orang-orang
terdekatku dan
sangat
kupercaya
tidak pernahji
bersitegang
sampai nda
baku bicara.
Karna kita
saling tahu jadi
bisamki tahu
bagaimana
saling
menyikapi
perilaku
Menceritakan
masing- Amount
masalah kepada Menceritakan
masing, marah of Trustwor
55-60 relasi terdekat sama sama dengan
tapi tidak Disclos thy
dengan memercayai memercayai
pernah sampai ure
orang tersebut.
jadi nda baku
bicara atau
bahkan lost
contact.
Marahnya juga
nda pernah
yang sangat
meluap-luap
dan pasti
dikeluarkanji
langsung.
Dibahas.
Kalaupun ada
masalahku
dan ada di
situasi itu pasti
saya ceritaji
Line Pernyataan Kategorisasi
Ide Utama Tema Trust
Number Responden (Coding)
lagi ke mereka
dan itumi yang
bikin semakin
bagus lagi
hubunganku,
karna masih
merasa saling
dipercayaki
Mmm, kalau
permasalahan
yang kemarin
itu langsungka
cerita tapi tidak
langsung
legaka. Masih
ada perasaan
cemas dan
sedihku,
campur
aduklah.
Mungkin satu
kaliji saya
cerita tapi
mereka Meski hanya sekali
dukung bercerita namun Mendapatkan Amount
teruska selalu meminta dukungan of Trustwor
64-69
sampai dukungan dan selalu dengan Disclos thy
akhirnya saya mendapatkan bercerita ure
pi bilang dukungan.
mampu meka,
bisami saya
lupa, eh bukan
bisa lupa sih
tapi merasa
baik meka.
Jadi mereka
berhenti bilang
semangat dan
lain-lain.
Meskipun
sekali jeka
cerita
masalahnya,
tapi caraku
Line Pernyataan Kategorisasi
Ide Utama Tema Trust
Number Responden (Coding)
meminta
dukungan dan
apa masih dan
mereka pun
tanpa ku minta
akan terus
memberikan.
Ya seperti itu.
Responden Kedua
Mulanya tidak
Iyo, karena
bercerita karena Tidak bercerita di
kuingatki we Intent to
60 masih merasa awal-awal karena
bentukannya Disclose
jijik dengan apa jijik
hahahaha.
yang dialami.
Tidak merasa
trauma dengan
65 Nda trauma ja iya Tidak trauma
pengalaman
yang dialami
Tidak merasa
trauma dengan
Huum, kayak, pengalaman
67 sudahmi. yang dialami Tidak trauma
Terjadimi juga. karena hal
tersebut telah
terjadi
Tidak begitu
mengingat
dengan pasti
Nda tauka teman orang yang
Hanya
manaku iya kalau diceritakan
menceritakan Intent to Trust
73 SMA, paling pertama kalinya.
kepada orang- Disclose wothy
kayak.... para- Namun hanya
orang terdekat
para ta ji we. menceritakan
kepada orang-
orang terdekat
di SMA.
Di bangku
Hanya
Huum, yang pas kuliah hanya
menceritakan Intent to Trust
75 kuliah para- bercerita juga
kepada orang- Disclose wothy
paraku ji lagi. kepada orang-
orang terdekat
orang terdekat
Ohh...anu, biar Mampu akrab
82 siapa kutemani ji dengan orang Mudah akrab
jalan. lain
Bercerita apabila
Kalau Akan bercerita dipancing oleh
Intent of Trust
85 dipancingka, apabila orang yang
Disclosure wothy
hehehe dipancing mengalami hal
yang sama
Kalau dikasihka Akan bercerita Bercerita apabila
Intent of Trust
87 umpan, saya apabila dipancing oleh
Disclosure wothy
terima dipancing orang yang
mengalami hal
yang sama
Tidak memulai
Iyo karna kayak
pembicaraan
bilang ih apa Tidak akan Intent of
89 karena takut
beng kalau memulai bercerita Disclosure
akan dilihat
mauka ceritaki
aneh
Tidak
merasakan jijik
atau apapun
Tidak lagi merasa
saat kembali Amount of
133 Nda ji iya. jijik setelah sering
menceritakan Disclosure
bercerita
kekerasan
seksual yang
dialami
Kan dulu toh
kayak masih
Ketakutan dan
kecilki toh, Usia menjadi
ketidakmampua
sekarnag faktor takut dan Intent of
135 n bercerita
mungkin nda mi, tidak mampu Disclosure
dikarenakan
nda tauma iya bercerita
faktor usia
nda mauja lagi
begitu
Tidak langsung
Nda langsungka
bercerita
cerita, karna pagi-
setelah
pagi sampaima di
mengalami
sekolah. Pas
kekerasan
pulangnya Tidak langsung Intent of
137-138 seksual dan
kulupami, adapi bercerita dan lupa Disclosure
akhirnya lupa.
lagi orang cerita
Kembali
baru ku ingat. Pas
mengingat saat
pi lagi ceritaki
ada orang lain
kaceku soal itu
yang bercerita.
Ikut bercerita
saat saudara
menceritakan
Iyo paski na pengalaman Bercerita saat
bahas ikutma yang sama, ada yang
juga bahaski, na setelah itu menceritakan hal Amount of Hone
140
tauji maceku dengan berani yang sama dan Disclosure sty
bisajai lagi ku mulai sering merupakan orang
cerita ulang menceritakan terdekat
hal yang sama
kepada orang
tua.
Nda tau, karna
Tidak memulai
kubilang idede, Positive-
pembicaraan Tidak bercerita di
masa tiba2ka Negative
143 karena takut awal-awal karena
cerita begini nda Nature of
akan dilihat merasa aneh
masukki nanti Disclosure
aneh
ceritaku
Nda ji iya,
bahaski ini baru
datangka bahaski
Tidak memulai
itu. Nda Positive-
pembicaraan Tidak bercerita di
nyambung dari Negative
145-146 karena takut awal-awal karena
pembahasan Nature of
akan dilihat merasa aneh
awal. Tpi nda ji Disclosure
aneh
iya setiap
pembicaraan
nyambungji pasti.
Untuk hal lain
Akan memulai
bukan tipe Positive-
pembicaraan
orang yang Negative
149 Nda tonji iya selama topiknya
hanya akan Nature of
bukan kekerasan
berbicara saat Disclosure
seksual
baru ditanyai
Merasa nyaman
bercerita karena Nyaman bercerita
Karna teman- orang yang karena Positive-
temanku begini menjadi tempat lingkungan tidak Negative Hone
153
bukan ji hal yang bercerita tidak mentabukan Nature of sty
tabu menganggap kekerasan Disclosure
hal tersebut seksual
sebagai tabu
Menjadikan
cerita mengenai
Menjadikan
kekerasan Positive-
Paling dijadikanji pengalaman
seksual yang Negative
155 bahan mainan kekerasan
dialami sebagai Nature of
hahahaa seksual sebagai
bahan Disclosure
bercandaan
mainan/bercand
aan
Responden
merasa santai
menceritakanny Merasa santai Honest-
Santai jeka karna a karena menceritakan Accuracy
166
lamami juga kekerasan pengalaman yang of
seksual yang ia dialami Disclosure
alami telah lama
terjadi
Tapi memang
kalau masih baru-
baru kayak Awal-awal
trauma, bukan mengalami
trauma iya kayak kekerasan
kaget, syok seksual pasti Honest-
Merasa trauma
gitueh. Jadi akan mengalami Accuracy
168-169 dan syok di awal-
memang iya perasaan of
awal kejadian
orang kalau trauma dan Disclosure
begitu kayak butuh waktu
butuhki untuk siap
memang...tapi bercerita
nda jadija ini iya
saya
Tidak merasa
Tidak takut saat Amount of
175 Ndaji iya takut saat
bercerita Disclosure
bercerita
Bagaimana di’
hmm, kayak
Pertama kali
anuja curhat
bercerita masih Positive-
biasaja iya. Baru
merasa jijik Merasa jijik saat Negative
180-181 yang kayak ihh
namun tidak bercerita Nature of
ihhh jijik. Tapi
sampai merasa Disclosure
kalau misalnya
takut
kayak takut apa
nda ji iya
Karena
kekerasan
seksual tersebut
telah lama
terjadi sehingga
Lamami jadi responden telah Tidak merasa Amount of
186
kulupami melupakan hal takut Disclosure
tersebut dan
tidak lagi
memicunya
merasakan
emosi negatif
Tidak lagi
membayangkan
hal-hal buruk Tidak lagi
Deh sangat nda saat membayangkan Amount of
190
terbayangkan menceritakan hal buruk saat Disclosure
kekerasan bercerita
seksual yang
dialami
LAMPIRAN 10
DATA DIRI TRANSLATOR
Skala Inggris-Indonesia
Skala Indonesia-Inggris