STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR (SOP)
Nomor :
Dokumem
Tanggal :
Terbit
Nomor :
Revisi
Halaman : 1/1
KABUPATEN KOLAKA
OTITIS MEDIA KRONIK PUSKESMAS KATOI
UTARA
Disusun Oleh Disahkan Oleh
Programer THT Disetujui Oleh Kepala Puskesmas Katoi
KTU Puskesmas Katoi
Rosdiana, AMK Jusmiati, SKM drg. IKRAH
Nip.19790203 200604 2 024 Nip. 19840603.201001.2.027 Nip.
19690618.198903.2.003
PENGERTIAN Infeksi akut mukosa, telingan tengah karena karena penyebaran
infeksi atau radang dari saluran nafas atas ( sisfungsi tuba
eustachius)
TUJUAN Menghilangkan enfeksi penyebab, mencegah perforasi gendang
telinga, cegah rekurensi
KEBIJAKAN Keputusan Pimpinan Puskesmas Katoi Nomor: Tentang
Mekanisme Penyelenggaraan Pelayanan dan Upaya Puskesmas.
PROSEDUR Anamnesa
- Riwayat adanya infeksi saluran nafas atas, (Rhinitis,
Adenotonsilitis, Aerotitis)
- Demam
- Otalgia ( Nyeri Telinga )
- Rasa tidak enak di telinga, tinnitus
- Pendengaran terganggu
Pemeriksaan Fisik , mencari penyebab dengan menggunakan alat-
alat rutin THT / THT set dan dibantu oleh perawat THT dilakukan
pemeriksaan :
Telinga :
- Gendang telinga merah merata, terdapat warna kekuningan
di bagian tengah
- Bombans (mencembung)
- Refleks cahaya hilang / berkurang
Hidung :
- Terlihat ada / tidaknya tanda-tanda peradangan mukosa
hidung
- Edema konka nasalis
- Sekret hidung
- Tanda-tanda sinusitis, polip hidung
Tenggorokan :
- Melihat ada / tidaknya infeksi pada Adenoid dan tonsil,
atau penyakit lain di tenggorokan
Penanganan
Lokal :
- Tampon Rivanol, bila gendang telinga hiperemis dan tidak
bombans, tampon dilepas setelah kurang lebih 24 jam
- Bila demam tidak turun atau nyeri telinga bertambah, anak
gelisah / rewel segera kontrol dan selanjutnya dilakukan
Parasentesa / myringotomi profilaksis agar tidak terjadi
perforasi gendang telinga
- Bila gendang telingan bombans (cembung), hiperemis,
terdapat fluid level segera dilakukan Parasentesa /
myringotomi untuk mengalirkan cairan yang ada dalam
rongga telingan tengah, agar tidak terjadi perforasi spontan,
tampon rivanol
Catatan :
- Sebelum melakukan tindakan Parasentesa / myringotomi ,
pasien / orang tua pasien diberi penjelasan tentang
pentingnya tindakan tersebut
- Bila setuju, dibuatkan Informed Consent tertulis dan
ditandatangani oleh pasien / orang tua pasien
- Tindakan Parasentesa / myringotomi dilakukan di Poliklinik,
menggunakan alat pemeriksaan telinga rutin dan pisau
parasentesa steril dan dibantu oleh tenaga perawat THT
Sistemik :
- Antibiotik
- Analgetik / Antipiretik
- Nasal dekongestan
Kausal : ( bila ada )
- Rhinitis, Commond Cold
- Hipertrapi Adenoid, Tonsil
- Sinusitis, polip hidung
- Dll
Saran :
- Kontrol teratur
- Bila terdapat hipertrapi Adenoid, tonsil, sinusitis, polip,
disarankan operasi untuk mencegah rekurensi otitis media
UNIT TERKAIT 1. Poliklinik
2. UGD
STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR (SOP)
Nomor :
Dokumem
Tanggal :
Terbit
Nomor :
Revisi
Halaman : 1/1
KABUPATEN KOLAKA COMMOND COLD/ RHINIT
PUSKESMAS KATOI
UTARA AKUT
Disusun Oleh Disahkan Oleh
Programer THT Disetujui Oleh
Kepala Puskesmas Katoi
KTU Puskesmas Katoi
Rosdiana, AMK Jusmiati, SKM
drg. IKRAH
NIP.19790203 200604 2 024 Nip. 19840603.201001.2.027
Nip. 19690618.198903.2.003
PENGERTIAN Peradangan mendadak mukosa hidung yang disebabkan oleh infeksi
virus
TUJUAN Mempercepat penyembuhan, agar tidak masuk ke stadium infeksi dan
komplikasi
KEBIJAKAN Keputusan Pimpinan Puskesmas Katoi Nomor: Tentang
Mekanisme Penyelenggaraan Pelayanan dan Upaya Puskesmas.
PROSEDUR Anamnesa
- Stadium Awal ( Stadium Akut )
- Obstruksi hidung
- Rinore / Sekret hidung encer, jernih dan banyak
- Disertai bersin dan batuk-batuk
- Biasanya berhubungan dengan musim dingin /
keadaan lingkungan atau terdapat penurunan daya tahan
tubuh
- Rasa kering tenggorokan
- Stadium Infeksi Sekunder
- Obstruksi hidung
- Rinore / Sekret hidung kental, berwarna
- Demam, batuk
- Nyeri menelan disertai sakit kepala
- Suara sengau
Pemeriksaan Fisik
- Mukosa hidung hiperemis
- Konka Nosalis Edem
- Sekret encer sampai kental, berwarna kehijauan
- Mukosa dinding faring hiperemis
Penanganan
- Analgetik / Antipiretik
- Antihistamin / Nasal Dekongestan
- Antitusiv / Akspetoransia
- Vitamin
- Antibiotik, untuk mencegah infeksi sekunder dan komplikasi
Saran
- Istirahat
- Meningkatkan daya tahan tubuh
- Perbanyak makan buah
- Minum / mandi air hangat
-
UNIT TERKAIT 1. Poliklinik
2. UGD
STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR (SOP)
Nomor :
Dokumem
Tanggal :
Terbit
Nomor :
Revisi
Halaman : 1/1
KABUPATEN KOLAKA
OTITIS MEDIA AKUT PUSKESMAS KATOI
UTARA
Disusun Oleh Disahkan Oleh
Programer THT Disetujui Oleh
Kepala Puskesmas Katoi
KTU Puskesmas Katoi
Rosdiana, AMK Jusmiati, SKM
drg. IKRAH
NIP.19790203 200604 2 024 Nip. 19840603.201001.2.027
Nip. 19690618.198903.2.003
PENGERTIAN Peradangan kronik mukosa telinga tengah, disertai otore lebih dari 6
minggu atau sering kambuh
TUJUAN - Menghentikan proses infeksi
- Mencegah terjadinya komplikasi dan rekurensi
- Mengembalikan fungsi telinga
KEBIJAKAN Keputusan Pimpinan Puskesmas Katoi Nomor: Tentang
Mekanisme Penyelenggaraan Pelayanan dan Upaya Puskesmas.
PROSEDUR Anamnesa
- Stadium Awal ( Stadium Akut )
- Obstruksi hidung
- Rinore / Sekret hidung encer, jernih dan banyak
- Disertai bersin dan batuk-batuk
- Biasanya berhubungan dengan musim dingin /
keadaan lingkungan atau terdapat penurunan daya tahan
tubuh
- Rasa kering tenggorokan
- Stadium Infeksi Sekunder
- Obstruksi hidung
- Rinore / Sekret hidung kental, berwarna
- Demam, batuk
- Nyeri menelan disertai sakit kepala
- Suara sengau
Pemeriksaan Fisik
- Mukosa hidung hiperemis
- Konka Nosalis Edem
- Sekret encer sampai kental, berwarna kehijauan
- Mukosa dinding faring hiperemis
Penanganan
- Analgetik / Antipiretik
- Antihistamin / Nasal Dekongestan
- Antitusiv / Akspetoransia
- Vitamin
- Antibiotik, untuk mencegah infeksi sekunder dan komplikasi
Saran
- Istirahat
- Meningkatkan daya tahan tubuh
- Perbanyak makan buah
- Minum / mandi air hangat
-
UNIT TERKAIT 1. Poliklinik
2. UGD
STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR (SOP)
Nomor :
Dokumem
Tanggal :
Terbit
Nomor :
Revisi
Halaman : 1/1
KABUPATEN KOLAKA
EPITAKSIS PUSKESMAS KATOI
UTARA
Disusun Oleh Disahkan Oleh
Programer THT Disetujui Oleh Kepala Puskesmas Katoi
KTU Puskesmas Katoi
Rosdiana, AMK Jusmiati, SKM drg. IKRAH
NIP.19790203 200604 2 024 Nip. 19840603.201001.2.027 Nip.
19690618.198903.2.003
PENGERTIAN Perdarahan Hidung (Epistaksis, Mimisan) adalah pardarahan yang
berasal dari hidung.
Penyebab
1. Infeksi lokal
Vestibulitis
Sinusitis
2. Selaput lendir yang kering pada hidung yang mengalami cedera
Trauma, misalnya mengorek hidung, terjatuh, terpukul,
adanya benda asing di hidung, trauma pembedahan atau
iritasi oleh gas yang merangsang
Patah tulang hidung
3. Penyakit kardiovaskuler
Penyempitan arteri (arteriosklerosis)
Tekanan darah tinggi
4. Infeksi sistemik
Demam berdarah
Influenza
Morbili
Demam tifoid
Kelainan darah
Anemia aplastik
Leukemia
Trombositopenia
Hemofilia
Telangiektasi hemoragik herediter
6. Tumor pada hidung, sinus atau nasofaring, baik jinak maupun
ganas
7. Gangguan endokrin, seperti pada kehamilan, menars dan
menopause
8. Pengaruh lingkungan, misalnya perubahan tekanan atmosfir
mendadak (seperti pada penerbang dan penyelam/penyakit Caisson)
atau lingkungan yang udaranya sangat dingin
Benda asing dan rinolit, dapat menyebabkan mimisan ringan
disertai ingus berbau busuk
10. Idiopatik, biasanya merupakan mimisan yang ringan dan
berulang pada anak dan remaja.
Gejala
Epistaksis dibagi menjadi 2 kelompok: Epistaksis anterior :
perdarahan berasal dari septum (pemisah lubang hidung kiri dan
kanan) bagian depan, yaitu dari pleksus Kiesselbach atau arteri
etmoidalis anterior. Biasanya perdarahan tidak begitu hebat dan
bila pasien duduk, darah akan keluar dari salah satu lubang
hidung. Seringkali dapat berhenti spontan dan mudah diatasi.
Epistaksis posterior : perdarahan berasal dari bagian hidung yang
paling dalam, yaitu dari arteri sfenopalatina dan arteri etmoidalis
posterior. Epistaksis posterior sering terjadi pada usia lanjut,
penderita hipertensi, arteriosklerosis atau penyakit kardiovaskular.
Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti spontan. Darah
mengalir ke belakang, yaitu ke mulut dan tenggorokan
Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan
fisik.
Pemeriksaan Penunjang untuk memperkuat diagnosis epistaksis:
Pemeriksaan darah tepi lengkap
Fungsi hemostatis
Tes fungsi hati dan ginjal
Pemeriksaan foto hidung, sinus paranasal dan nasofaring
TUJUAN Penanganan yang tepat dapat menghidari terjadinya perdarahan
lebih lanjut
KEBIJAKAN Keputusan Pimpinan Puskesmas Katoi Nomor: Tentang
Mekanisme Penyelenggaraan Pelayanan dan Upaya Puskesmas.
PROSEDUR 1. Perhatikan keadaan umum pasien.
2. Tenangkan kondisi pasien dan keluarga
3. Pastikan bahwa pasien tidak dalam keadaan syok.
• Jika ada riwayat telah terjadi perdarahan hebat, segera
pasang Infus, periksa darah rutin, pemeriksaan fungsi
pembekuan dan golongan darah dilakukan jika perlu
transfusi darah.
• Jika pasien dalam keadaan syok, segera pasang infus
dan pemberian obat-obat yang diperlukan untuk
memperbaiki keadaan umum.
4. Menghentikan perdarahan
a. Epistaksis Anterior
Epistaksis anterior Penderita sebaiknya duduk tegak agar
tekanan vaskular berkurang dan mudah membatukkan darah
dari tenggorokan
Epistaksis anterior yang ringan biasanya bisa dihentikan
dengan cara menekan cuping hidung selama 5-10 menit
Jika tindakan diatas tidak mampu menghentikan perdarahan,
maka dipasang tampon anterior yang telah dibasahi dengan
adrenalin dan lidocain atau pantocain untuk menghentikan
perdarahan dan mengurangi rasa nyeri
Bila dengan cara tersebut perdarahan masih terus
berlangsung, maka diperlukan pemasangan tampon anterior
yang telah diberi salep antibiotika agar tidak melekat
sehingga tidak terjadi perdarahan ulang pada saat tampon
dilepaskan.
Tampon anterior dimasukkan melalui lubang hidung depan,
dipasang secara berlapis mulai dari dasar sampai puncak
rongga hidung dan harus menekan sumber perdarahan.
Tampon dipasang selama 1-2 hari.
Jika tidak ada penyakit yang mendasarinya, penderita tidak
perlu dirawat dan diminta lebih banyak duduk serta
mengangkat kepalanya sedikit pada malam hari.
2. Epistaksis posterior
Pada epistaksis posterior, sebagian besar darah masuk ke
dalam mulut sehingga pemasangan tampon anterior tidak
dapat menghentikan perdarahan.
- Konsultasi dokter Spesialis THT
UNIT TERKAIT 1. Poliklinik
2. UGD
STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR (SOP)
Nomor :
Dokumem
Tanggal :
Terbit
Nomor :
Revisi
Halaman : 1/1
KABUPATEN KOLAKA
FARINGITIS PUSKESMAS KATOI
UTARA
Disusun Oleh Disahkan Oleh
Programer THT Disetujui Oleh Kepala Puskesmas Katoi
KTU Puskesmas Katoi
Rosdiana, AMK Jusmiati, SKM drg. IKRAH
NIP.19790203 200604 2 024 Nip. 19840603.201001.2.027 Nip.
19690618.198903.2.003
PENGERTIAN Adalah peradangan pada mucosa faring dan sering meluas ke
jaringan sekitarnya. Biasanya timbul bersama-sama dengan
tonsilitis, rhinitis, dan laryngitis.
- Tanda / karakteristik : demam yang tiba-tiba, nyeri tenggorok,
sakit kepala, nyeri telan, adenopati servikal anterior, malaise, mua,
muntah, anoreksia.
- Pemeriksaan fisik : faring, palatum, tonsil berwarna kemerahan,
dan tampak adanya pembengkakan. Mungkin disertai eksudat yang
purulen.
- Penyebab
a. Non bakteri (banyak dijumpai) : virus saluran nafas
(adenovirus, influenzae, parainfluenzae, rhinovirus, dan
Respiratory syncysial virus (RSV), Epstein Barr virus
(EBV)
Bakteri : Streptococcus pyogenesis, Corynebacterium diphterial,
Neisseria gonorrhoeae
TUJUAN 1. Mengatasi gejala secepat mungkin
2. Membatasi penyebaran infeksi
3. Mencegah komplikasi
KEBIJAKAN Keputusan Pimpinan Puskesmas Katoi Nomor: Tentang
Mekanisme Penyelenggaraan Pelayanan dan Upaya Puskesmas.
PROSEDUR 1. Berikan terapi simtomatik seperti
- Parasetamol : anak 10mg/kg BB/dosis, 3-4 x /hari atau
ibuprofen : Dewasa 300-400 mg / Kg BB tiap 6-8 jam,
maks 40 mg/Kg BB/hari
- Dextrometorphan : anak 2-5 th : 3-7,5 mg/dosis, 3-4
x/hari,Anak 6-12 th:7,5-15mg/dosis,3-4x/hari
- Gliseril Guaiyakolat: anak (6-12
tahun)50-100mg/dosis,Dewasa 100-300 mg/dosis
- Ambroxol / Asetil sistein : 2-5 th : 1,5 mg/kg BB/hari
dalam dosis terbagi,5-10 th : 15 mg/ dosis 3x/hari
2. Berikan terapi kausal Antibiotika berupa:
- Amoksisilin
Anak : 40-50 mg /kg BB / hari terbagi dalam 3 dosis
Dewasa : 3 x 500 mg selama 5 hari
- Eritromosin (untuk pasien alergi penisilin)
Anak : 30-50 mg/kg BB/hari terbagi dalam 3-4 dosis
Dewasa : 4 x 250-500 mg selama 5 hari
3. Berikan obat kumur dengan larutan garam hangat atau
kumur betadin 2 kali sehari
4. Dokter jaga motivasi pasien dan keluarga untuk rawat inap
bila sulit menelan dan tidak mau makan
- Konsul dokter Spesialis THT,bila keluhan berlanjut
UNIT TERKAIT 1. Poliklinik
2. UGD
STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR (SOP)
Nomor :
Dokumem
Tanggal :
Terbit
Nomor :
Revisi
Halaman : 1/1
KABUPATEN KOLAKA
TONSILITIS AKUT PUSKESMAS KATOI
UTARA
Disusun Oleh Disahkan Oleh
Programer THT Disetujui Oleh
Kepala Puskesmas Katoi
KTU Puskesmas Katoi
Rosdiana, AMK Jusmiati, SKM
drg. IKRAH
NIP.19790203 200604 2 024 Nip. 19840603.201001.2.027
Nip. 19690618.198903.2.003
PENGERTIAN - Adalah peradangan pada tonsil
- Etiologi: terbanyak karena Streptococcus ß hemolyticus,
[Link] dan [Link]. dapat juga oleh virus
[Link], pneumokokus, stafilokokus
Manifestasi klinik : demam kadang naik sampai
40°C,disfagia,rasa gatal/kering tenggorokan, lesu, nyeri sendi,
odinofagia, otalgia. Tonsil tampak bengkak, merah,dengan
dentritus berupa folikel atau membran.
TUJUAN Mengatasi gejala secepat mungkin sehingga membatasi
penyebaran infeksi dan komplikasi lebih lanjut
KEBIJAKAN Keputusan Pimpinan Puskesmas Katoi Nomor: Tentang
Mekanisme Penyelenggaraan Pelayanan dan Upaya Puskesmas.
PROSEDUR a. Berikan terapi kausal antibiotik berupa
1. Amoksisilin
Anak : 40-50 mg /kg BB/hari, terbagi dalam 3 dosis
Dewasa : 3 x 500 mg selama 5 hari
2. Eritromisin (untuk pasien alergi penicilin)
- Anak 40-50 mg/KgBB/hari dalam dosis terbagi
- Dewasa 2 x 960 mg
b. Berikan terapi simtomatik seperti
1. Antipiretik :
- Parasetamol anak 10 mg/kg BB/dosis, 3-4 x/hari
- Ibuprofen : Dewasa 300-400 mg/dosis. Tiap 4-6 jam,
maks 3,2 g / hari,Anak (6-12 th) 10 mg / KgBB tiap 6-8
jam, maks 40 mg/Kg BB/hari
c. Berikan Obat kumur atau obat hisap dengan desinfektan
- Konsultasi ke dokter Spesialis THT bila perlu
UNIT TERKAIT 1. Poliklinik
2. UGD