LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Tn. T DENGAN
DIAGNOSA MEDIS UNDIFFERENTIATED SCHIZOPHRENIA
DI RUANG GELATIK 4 DI RSJ MENUR SURABAYA
Oleh :
MAULANA MALIK IBRAHIM
(2114201058)
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
STIKES NGUDIA HUSADA MADURA
2021-2022
HALAMAN PENGESAHAN
Penulis: Maulana Malik Ibrahim (2114901058)
Judul : Laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan jiwa pada Tn. T dengan
diagnosa medis undifferentiated schizophrenia
Laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan ini telah disahkan dan diperiksa pada
:
Hari :
Tanggal :
Tempat :
Surabaya, 2022
Mengetahui,
Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik (CI)
( ) ( )
Kepala Ruangan
( )
LAPORAN PENDAHULUAN
WAHAM
I. KASUS (MASALAH UTAMA)
Waham
II. DEFINISI
Waham merupakan suatu keyakinan yang salah dan dipertahankan
dengan kuat oleh klien tanpa disertai bukti- bukti yang jelas (Syahfitri,
Syahdi, Syafitri, & Pardede, 2022). Waham adalah gangguan dimana
penderitanya memiliki rasa realita yang berkurang atau terdistorsi dan tidak
dapat membedakan yang nyata dan yang tidak nyata (Manurung, & Pardede,
2022). Berdasarkan beberapa defisini diatas dapat disimpulkan bahwa
waham merupakan suatu keyakinan yang salah dan dipertahankan dengan
kuat oleh klien tanpa disertai buktibukti yang jelas.
III. ETIOLOGI
Menurut World Health Organization (2016) secara medis ada banyak
kemungkinan penyebab waham, termasuk gangguan neurodegeneratif,
gangguan sistem saraf pusat, penyakit pembuluh darah, penyakit menular,
penyakit metabolisme, gangguan endokrin, defisiensi vitamin, pengaruh
obat-obatan, racun, dan zat psikoaktif.
a. Faktor Predisposisi
1. Biologis Pola keterlibatan keluarga relative kuat yang muncul di kaitkan
dengan delusi atau waham. Dimana individu dari anggota keluarga yang di
manifestasikan dengan gangguan ini berada pada resiko lebih tinggi untuk
mengalaminya di bandingkan dengan populasi [Link] pada manusia
kembar juga menunjukan bahwa ada keterlibatan factor.
2. Teori Psikososial
a. System Keluarga Perkembangan skizofrenia sebagai suatu perkembangan
disfungsi [Link] diantara suami istri mempengaruhi anak.
Bayaknya masalah dalam keluarga akan mempengaruhi perkembangan anak
dimana anak tidak mampu memenuhi tugas perkembangan dimasa
dewasanya. Beberapa ahli teori menyakini bahwa individu paranoid
memiliki orang tua yang dingin, perfeksionis, sering menimbulkan
kemarahan,perasaan mementingkan diri sendiri yang berlebihan dan tidak
percaya pada individu. Klien menjadi orang dewasa yang rentan karena
pengalaman awal ini.
3. Teori Interpersonal Dikemukakan oleh Priasmoro (2018) di mana orang
yang mengalami psikosis akan menghasilkan suatu hubungan orang tua-anak
yang penuh dengan ansietas [Link] ini jika di pertahankan maka konsep
diri anak akan mengalami ambivalen.
4. Psikodinamika Perkembangan emosi terhambat karena kurangnya
rangsangan atau perhatian ibu, dengan ini seorang bayi mengalami
penyimpangan rasa aman dan gagal untuk membangun rasa percayanya
sehingga menyebabkan munculnya ego yang rapuh karena kerusakan harga
diri yang parah, perasaan kehilangan kendali, takut dan ansietas berat. Sikap
curiga kepada seseorang di manifestasikan dan dapat berlanjut di sepanjang
kehidupan. Proyeksi merupakan mekanisme koping paling umum yang di
gunakan sebagai pertahanan melawan perasaan.
b. Faktor Presipitasi
1. Biologi Stress biologi yang berhubungan dengan respon neurologik yang
maladaptif termasuk:
a) Gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur proses
informasi
b) Abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi
rangsangan.
2. Stres lingkungan Stres biologi menetapkan ambang toleransi terhadap
stress yang berinteraksi dengan stressor lingkungan untuk menentukan
terjadinya gangguan perilaku.
3. Pemicu gejala Pemicu merupakan prekursor dan stimulus yang yang
sering menunjukkan episode baru suatu penyakit. Pemicu yang biasa
terdapat pada respon neurobiologik yang maladaptif berhubungan dengan
kesehatan. Lingkungan, sikap dan perilaku individu (Direja, 2018)
IV. TANDA DAN GEJALA
Menurut Prakasa (2020) bahwa tanda dan gejala gangguan proses pikir
waham terbagi menjadi 8 gejala yaitu, menolak makan, perawatan diri,
emosi, gerakan tidak terkontrol, pembicaraan tidak sesuai, menghindar,
mendominasi pembicaraan, berbicara kasar.
1. Waham Kebesaran
a. DS : Klien mengatakan bahwa ia adalah presiden, Nabi, Wali, artis dan
lainnya yang tidak sesuai dengan kenyataan dirinya.
b. DO :
1) Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
2) Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti
3) Klien mudah marah 4) Klien mudah tersinggung
2. Waham Curiga
a. DS :
1) Klien curiga dan waspada berlebih pada orang tertentu
2) Klien mengatakan merasa diintai dan akan membahayakan dirinya.
b. DO :
1) Klien tampak waspada
2) Klien tampak menarik diri
3) Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
4) Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti )
3. Waham Agama
a. DS : Klien yakin terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan
berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
b. DO :
1) Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
2) Klien tampak bingung karena harus melakukan isi wahamnya
3) Inkoheren (gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti)
4. Waham Somatik
a. DS :
1) Klien mengatakan merasa yakin menderita penyakit fisik
2) Klien mengatakan merasa khawatir sampai panik
b. DO :
1) Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
2) Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti )
3) Klien tampak bingung
4) Klien mengalami perubahan pola tidur
5) Klien kehilangan selera makan
5. Waham Nihilistik
a. DS : Klien mengatakan bahwa dirinya sudah meninggal dunia, diucapkan
berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
b. DO :
1) Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
2) Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti )
3) Klien tampak bingung
4) Klien mengalami perubahan pola tidur
5) Klien kehilangan selera makan
6. Waham Bizzare
a. Sisip Pikir :
1) DS :
a) Klien mengatakan ada ide pikir orang lain yang disisipkan dalam
pikirannya yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan
kenyataan.
b) Klien mengatakan tidak dapat mengambil keputusan
2) DO :
a) Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
b) Klien tampak bingung
c) Inkoheren (gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti)
d) Klien mengalami perubahan pola tidur
b. Siar Pikir DS :
a) Klien mengatakan bahwa orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan
yang dinyatakan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan.
b) Klien mengatakan merasa khawatir sampai panik
c) Klien tidak mampu mengambil keputusan
DO :
a) Klien tampak bingung
b) Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
c) Inkoheren (gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti)
d) Klien tampak waspada e) Klien kehilangan selera makan
c. Kontrol Pikir
1) DS :
a) Klien mengatakan pikirannya dikontrol dari luar
b) Klien tidak mampu mengambil keputusan
2) DO : - Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya
a) Klien tampak bingung
b) Klien tampak menarik diri
c) Klien mudah tersinggung
d) Klien mudah marah
e) Klien tampak tidak bisa mengontrol diri sendiri
f) Klien mengalami perubahan pola tidur
g) Inkoheren (gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,
secara keseluruhan tidak dapat dimengerti)
V. RENTANG RESPON
Menurut Darmiyanti (2016), rentang respon waham sebagai berikut :
Respon Adaptif Respon Maladaptif
Pikiran logis Disorintasi Pikiran Waham
VI. PENATALAKSANAAN MEDIS
Menurut Prastika (2014) penatalaksanaan medis waham antara lain :
1. Psikofarmalogi
a. Litium Karbonat Jenis litium yang paling sering digunakan untuk
mengatasi gangguan bipolar, menyusul kemudian litium sitial. Litium masih
efektif dalam menstabilkan suasana hati pasien dengan gangguan bipolar.
Gejala hilang dalam jangka waktu 1-3 minggu setelah minum obat juga
digunakan untuk mencegah atau mengurangi intensitas serangan ulang
pasien bipolar dengan riwayat mania.
b. Haloperidol Obat antipsikotik (mayor tranquiliner) pertama dari turunan
butirofenon. Mekanisme kerja yang tidak diketahui. Haloperidol efektif
untuk pengobatan kelainan tingkah laku berat pada anak-anak yang sering
membangkang dan eksplosif. Haloperidol juga efektif untuk pengobatan
jangka pendek, pada anak yang hiperaktif juga melibatkan aktivitas motorik
berlebih memiliki kelainan tingkah laku seperti: Impulsif, sulit memusatkan
perhatian, agresif, suasana hati yang labil dan tidak tahan frustasi.
c. Karbamazepin Karbamazepin terbukti efektif, dalam pengobatan kejang
psikomotor, dan neuralgia trigeminal. Karbamazepin secara kimiawi tidak
berhubungan dengan obat antikonvulsan lain atau obat lain yang digunakan
untuk mengobati nyeri pada neuralgia trigeminal.
VII. ASUHAN KEPERAWATAN:
1. PENGKAJIAN
Menurut Damaiyanti (2017) hal-hal yang harus dikaji pada klien Waham
adalah:
1. Identifikasi klien Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan
dan kontrak dengan klien tentang: Nama klien, panggilan klien, Nama
perawat, tujuan, waktu pertemuan, topik pembicaraan.
2. Keluhan utama/alasan masuk Tanyakan pada keluarga/klien hal yang
menyebabkan klien dan keluarga datang ke Rumah Sakit, yang telah
dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah dan perkembangan yang
dicapai.
3. Tanyakan pada klien/keluarga, apakah klien pernah mengalami
gangguan jiwa pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami,
penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam
keluarga dan tindakan kriminal. Dapat dilakukan pengkajian pada
keluarga faktor yang mungkin mengakibatkan terjadinya gangguan:
a. Psikologis Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat
mempengaruhi respon psikologis dari klien.
b. Biologis Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau SSP,
pertumbuhan dan perkembangan individu pada prenatal, neonatus dan
anak-anak.
c. Sosial Budaya Seperti kemiskinan, konflik sosial budaya (peperangan,
kerusuhan, kerawanan), kehidupan yang terisolasi serta stress yang
menumpuk.
4. Aspek fisik/biologis Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital:
TD, nadi, suhu, pernafasan. Ukur tinggi badan dan berat badan, kalau
perlu kaji fungsi organ kalau ada keluhan.
5. Aspek psikososial
a. Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga generasi yang
dapat menggambarkan hubungan klien dan keluarga, masalah yang
terkait dengan komunikasi, pengambilan keputusan dan polaasuh.
b. Konsep diri
1) Citra tubuh: mengenai persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian yang
disukai dan tidak disukai.
2) Identitas diri: status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan klien
terhadap status dan posisinya dan kepuasanklien sebagai laki-
laki/perempuan.
3) Peran: tugas yang diemban dalam keluarga /kelompok dan masyarakat
dan kemampuan klien dalam melaksanakan tugas tersebut. 4) Ideal diri:
harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas, lingkungan dan
penyakitnya.
5) Harga diri: hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan
penghargaan orang lain terhadap dirinya, biasanya terjadi pengungkapan
kekecewaan terhadap dirinya sebagai wujud harga diri rendah
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Damaiyanti (2017) Masalah keperawatan yang sering muncul
pada klien waham adalah: Gangguan proses pikir: waham
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
Rencana Keperawatan yang diberikan pada klien tidak hanya berfokus
pada masalah waham sebagai diagnosa penyerta lain. Hal ini
dikarenakan tindakan yang dilakukan saling berkontribusi terhadap
tujuan akhir yang akan dicapai. Rencana tindakan keperawatan pada
klien dengan diagnosa gangguan proses pikir : waham yaitu (Keliat,
2009 dalam Manurung & Pardede, 2022) :
a. Sp 1
1) Latihan orientasi realita : orientasi orang, tempat, dan waktu serta
lingkungan sekitar
b. Sp 2
1) Minum obat secara teratur
c. Sp 3
1) Melatih cara pemenuhan kebutuhan dasar
d. Sp 4
1) Melatih kemampuan positif yang dimiliki
DAFTAR PUSTAKA
Syahfitri, M., Syahdi, D., Syafitri, F., & Pardede, J. A. (2022). Penerapan Asuhan
Keperawatan Jiwa Dengan Gangguan Proses Pikir: Waham Kebesaran
Pendekatan Strategi Pelaksanaan (SP) 1-4: Studi Kasus.
[Link]
WHO (2016). Scizofrenia. :
[Link]
Prakasa, A., & Milkhatun, M. (2020). Analisis Rekam Medis Pasien Gangguan
Proses Pikir Waham dengan Menggunakan Algoritma C4. 5 di Rumah Sakit
Atma Husada Mahakam Samarinda. Borneo Student Research (BSR), 2(1), 8-
15.
Manurung, J., & Pardede, J. A. (2022). Mental Nursing Care Management with
Delusion of greatness Problems in Schizophrenic Patients: A Case Study.
10.31219/[Link]/74sr5
Keliat, B. A., dkk. (2019). Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO PRILAKU KEKERASAN
I. KASUS (MASALAH UTAMA)
Resiko Prilaku Kekerasan
II. DEFINISI
Resiko Perilaku Kekerasan adalah Suatu bentuk perilaku yang
bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis. Perilaku
kekerasan dapat dilakukan secara verbal, diarahkan pada diri sendiri, orang
lain, dan lingkungan. Perilaku kekerasan dapat terjadi dalam 2 bentuk yaitu
sedang berlangsung Perilaku Kekerasan atau riwayat Perilaku Kekerasan
(Muhith, 2015 dalam Untari & Kartina 2020).
III. ETIOLOGI
Faktor penyebab resiko Perilaku Kekerasan salah satunya adalah
situasi berduka yang berkepanjangan dari seseorang karena ditinggal oleh
seseorang yang dianggap penting. Jika hal ini tidak terhenti, maka akan
menyebabkan perasaan harga diri rendah yang sulit untuk bergaul dengan
orang lain(Yosep, 2013 dalam Untari & Kartina 2020).
IV. TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala menurut Yosep (2010) dalam Madhani & Kartina (2020)
mengidentifikasi dan mengobservasi tanda dan gejala perilaku kekerasan
sebagai berikut : muka marah dan tegang, mata melotot/pandangan tajam,
tangan mengepal, rahang mengatup dan jalan mondar – mandir.
V. PROSES PENYAKIT
I. Faktor predisposisi
1. Kerusakan pada system limbic, khususnya yang sebagai
penengah antara amuk dan rasa takut. Lobus frontal sebagai
penengah antara emosi dan pemikiran rasional, menyebabkan
tidak mampu membuat keputusan, perubahan, kepribadian,
prilaku, tidak sesuai dan ledakan agresif. Hypotalamus
merupakan system alami otak. Neurotransmitter merupakan
kimiawi otak yang dapat menghambat dan memicu perilaku
kekerasan, seperti : stratonin, dopamine, neuropirupin,
arsikolon, dan gama aminobiotyric acid ( Gaba ) dan gangguan
otak organik, seperti :gangguan bipolar, syndrome otak organic
dan trauma otak.
2. Faktor psikologis
kegagalan berulang prestasi korban perilaku kekerasan
terpapar. Perilaku kekerasan gangguan proses pilar san
persepsi masa kanak-kanak tidak menyenangkan.
Faktor sosial budaya
Tertutup pendendam, kontrol sosial tidak pasti.
Lingkungan dan budaya mempengaruhi cara dan sikap
individu mengungkapkan rasa marahnya. Biasanya
yang mendukung ungkapan marah dengan kekerasan
disertai adanya riwayat sebagai korban kekerasan, maka
kekerasan dianggap sebagai suatu cara yang diterima.
Faktor perilaku
Reinforcement perilaku kekerasan terpapar perilaku
kekerasan.
II. Faktor presipitasi
1. Klien
- Kelemahan fisik
- Keputus asaan
- Ketidak berdayaan
- Percaya diri kurang
2. Interkasi
- Kritikan, penghinaan
- Kekerasan orang lain
- Kehilangan orang yang dicintai
- Provokatif dan konflik
3. Lingkungan
- Padat
- Ribut
III. Mekanisme koping
Refresi yaitu penekanan di alam bawah sadar dan berusaha
melupakan masalah
Supresi yaitu penekanan alam sadar sesaat yang lama kelamaan
akan menyelesaikan masalahnya sendiri
Denial (penyangkalan) yaitu memblokir hal0hal yang menyakitkan
atau menimbulkan kecemasan.
Disosiasi yaitu respon yang tidak sesuai dengan stimulus
Sumber koping :
- Status sosial ekonomi
- Keluarga
- Jaringan interpersonal
IV. RENTANG RESPON
Respon adaftif respon
maladaptive
Asirtif Frustasi Pasif Agresif Amuk / violent
violent
1) Asirtif yaitu kemarahan yang diungkapkan tanpa menyakitkan orang lain.
2) Frustasi yaitu kegagalan mencapai tujuan karena tidak realistis atau
terlambat.
3) Pasif yaitu respon lanjutan dimana klien mampu mengumgkapkan
perasaannya.
4) Agresif yaitu perilaku destruktif tapi masih terkontrol.
5) Amuk / violent yaitu prilaku destruktif yang tak terkontrol
Tanda tanda marah
Emosi : tidak adekuat, tidak nyaman, rasa terganggu marah (dendam),
jengkel
Fisik : muka marah, pandangan tajam, nafas pendek, keringat ,
peningkatan tekanan darah, penyalah gunaan zat
Soaial : menarik diri, pendekatan, pengasingan, kekerasan ejekan ,
humor.
Spiritual : kemahakerasan, kekurangan, tidak bermoral, kebejatan,
kereatifitas terhambat.
Intelektual : mendominasi, bawah, sarkusme, berdebat, meremehkan.
V. PEMERIKSAAN DASAR DAN PENUNJANG
Dalam penegakkan diagnosis, pemeriksaan penunjang juga diperlukan
untuk mendukung hasil yang diperoleh dari wawancara, observasi dan tes.
Berikut ini adalah beberapa pemeriksaan penunjang yang bisa dipakai:
Investigasi Radiografi (CT Scan, Single Photon Emission Computed
Tomography, MRI) dan Investigasi Elektris (Electro-encephalography,
Simulasi Elektris). (Goghari et al. 2005 dalam Dewi Prisca, dkk, 2019 ).
VI. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan pasien dengan resiko perilaku kekerasan juga banyak dikaji
keakuratannya. Dari mulai memotivasi, terapi TAK (Terapi Aktivitas
Kelompok), konsumsi obat, dan pemberian perhatian lebih dari pihak
keluarga (Apriani dan Prasetya, 2018)
VII. ASUHAN KEPERAWATAN
Menurut (Anggit Madhani, 2021), asuhan keperawatan meliputi dari
pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi
keperawatan, dan evaluasi keperawatan.
A. Pengkajian
a. Identitas Nama, umur, jenis kelamin, No MR, tanggal masuk RS,
tangal pengkajian.
b. Alasan masuk Biasanya klien masuk dengan alasan sering
mengamuk tanpa sebab, memukul, membanting, mengancam,
menyerang orang lain, melukai diri sendiri, mengganggu lingkungan,
bersifat kasar dan pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu
kambuhkarena tidak mau minum obat secara teratur (Keliat,2016).
c. Faktor Predisposisi
1. Biasanya klien pernah mengalami gangguan jiwa pada masa lalu
dan pernah dirawat atau baru pertama kali mengalami 11
gangguan jiwa (Parwati, 2018).
2. Biasanya klien berobat untuk pertama kalinya kedukun sebagai
alternative serta memasung dan bila tidak berhasil baru di bawa
kerumah sakit jiwa
3. Trauma Biasnya klien pernah mengalami atau menyaksikan
penganiayaan fisik, seksual, penolakan, dari lingkungan.
4. Biasanya ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa,
kalau ada hubungan dengan keluarga, gejala, pengobatan dan
perawatan.
5. Biasanya klien pernah mengalami pengalaman masa laluyang
tidak menyenangkan misalnya, perasaan ditolak, dihina, dianiaya,
penolakan dari lingkungan.
6. Pengkajian Fisik
a. Ukur dan observasi tanda-tanda vital seperti tekanan darah
akan bertambah naik, nadi cepat, suhu, pernapasan terlihat
cepat.
b. Ukur tinggi badan dan berat badan.
c. Yang kita temukan pada klien dengan prilaku kekerasan pada
saat pemeriksaan fisik (mata melotot, pandangan tajam,
tangan mengepal, rahang mengatup, wajah memerah)
d. Verbal (mengancam, mengupat kata-kata kotor, berbicara
kasar dan ketus).
e. Psikososial
a) Genogram Genogram dibuat 3 generasi keatas yang dapat
menggambarkan hubungan klien dengan keluarga. Tiga
generasi ini dimaksud jangkauan yang mudah diingat oleh
klien maupu keluarg apa dasaat pengkajian.
b) Konsep diri Biasanya ada anggota tubuh klien yang tidak
disukai klien yang mempengaruhi keadaan klien saat
berhubungan dengan orang lain sehingga klien merasa
terhina, diejek dengan 12 kondisinya tersebut.
c) Identitas Biasanya pada klien dengan prilaku kekerasan
tidak puas dengan pekerjaannya, tidak puas dengan
statusnya, baik disekolah, tempat kerja dan dalam
lingkungan tempat tinggal.
d) Harga diri Biasanya klien dengan risiko prilaku kekerasan
hubungan dengan orang lain akan terlihat baik, harmoni
sata terdapat penolakan atau klien merasa tidak berharga,
dihina, diejek dalam lingkungan keluarga maupun diluar
lingkungan keluarga.
e) Peran diri Biasanya klien memiliki masalah dengan
peranatau tugas yang diembannya dalam keluarga,
kelompok atau masyarakat dan biasanya klien tidak
mampu melaksanakan tugas dan peran tersebut dan
merasa tidak berguna.
f) Ideal diri Biasanya klien memilki harapan yang tinggi
terhadap tubuh, posisi dan perannya baik dalam keluarga,
sekolah, tempat kerja dan masyarakat.
g) Hubungan sosial
1) Orang yang berarti Tempat mengadu, berbicara
2) Kegiatan yang diikuti klien dalam masyarakat dan
apakah klien berperan aktif dalam kelompok tersebut
3) Hambatan dalam berhubungan dengan orang
lain/tingkat keterlibatan klien dalam hubungan
masyarakat.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resiko Prilaku Kekerasan
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Rencana tindakan keperawatan pada klien dengan diagnosa gangguan
persepsi sensori Risiko perilaku kekerasan meliputi pemberian tindakan
keperawatan berupa terapi (Sulah, 2016) yaitu : 1. Mengontrol perilaku
kekerasan dengan cara tarik nafas dalam dan memukul kasur/ bantal 2.
Minum obat secara teratur. 3. kontrol perilaku kekerasan dengan cara
berbicara baik- baik 4. spiritual Strategi pelaksanaan pasien dengan
risiko perilaku kekerasan ada 4 cara antara lain SP 1 (identifikasi
penyebab, tanda-tanda, jenis perilaku kekerasan yang dilakukan dan
latihan cara mengontrol perilaku kekerasan secara fisik : tarik nafas
dalam dan pukul kasur bantal), SP 2 (Latihan minum obat), SP 3
(Latihan secara verbal 3 cara yaitu mengungkapkan, meminta, dan
menolak denganbenar), SP 4 (Latihan cara mengontrol perilaku
kekerasan dengan berdoa).
DAFTAR PUSTAKA
Anggit Madhani, A. (2021). Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Pasien Dengan Risiko
perilaku kekerasan (Doctoral dissertation, Universitas Kusuma Husada
Surakarta).
Apriani, K.T, & Prasetya, A.S., (2018). Penerapan Terapi Musik Pada Pasien yang
Mengalami Resiko Perilaku Kekerasan Diruang Melati Rumah Sakit Jiwa
Provinsi Lampung. Jurnal Kesehatan Panca Bhakti. Vol VI. No 1. Hal 84-90.
Dewi Prisca S., Marlina S. Mahajudin., (2019). GANGGUAN MEMORI VERBAL
PADA SKIZOFRENIA.
Keliat, B.A & Akemat (2016). Keperawatan jiwa : terapi Aktivitas kelompok. Ed.2.
EGC
Nursaly, E., & Damaiyanti, M. (2018). Analisis Praktik Klinik Keperawatan pada Tn.
E Risiko perilaku kekerasan dengan Intervensi Inovasi Terapi Berkebun
dengan Polybag terhadap Tanda-Tanda Gejala Risiko perilaku kekerasan di
RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda. [Link]
Parwati, I. G., Dewi, P. D., & Saputra, I. M. (2018). Asuhan Keperawatan
PerilakuKesehatan.
Silvia Nilam Untari & Irna Kartina, (2020). ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
PADA PASIEN DENGAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN Fakultas
Ilmu Kesehatan Universitas Kusuma Husada Surakarta.
LAPORAN PENDAHULUAN
DEFISIT PERAWATAN DIRI
I. KASUS (MASALAH UTAMA)
Defisit Perawatan Diri
II. DEFINISI
Defisit Perawatan Diri (DPD) adalah ketidak mampuan melakukan
atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri (PPNI T. S., 2017). Penyebab
daritumant kurangnya perawatan diri yaitu : gangguan muskuloskelatal,
gangguan neuromuskuler, kelemahan, gangguan psikologis / psikototik dan
penurunan motivasi / minat, yang menyebabkan penurunan untuk melakukan
aktivitas perawatan diri mandi, berpakaian, makan, toileting serta berhias.
Defisit perawatan diri adalah keadaan dimana seseorang yang mengalami
kelainan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas
kehidupan sehari – hari secara mandiri. Tidak ada keinginan pasien untuk
mandi secara teratur, tidak menyisir rambut, pakaian kotor, bau badan, bau
nafas serta penampilan tidak rapi. Defisi perawatan diri merupakan salah
satu masalah yang timbul pada pasien gangguan jiwa (Sutejo, 2017).
III. ETIOLOGI
a. Faktor predisposisi (Nurhalimah, 2016).
1) Biologis , dimana deficit perawatan diri disebabkan oleh adanya penyakit
fisik dan mental yang disebabkan klien tidak mampu melakukan kperawatan
diri dan dikarenakan adanya factor herediter dimana terdapat anggota
keluarga yang mengalami gangguan jiwa.
2) Psikologis, adanya factor perkembangan yang memegang peranan yang
tidak kalah penting, hal ini dikarenakan keluarga terlalu melindungi dan
memanjakan individu tersebut sehingga perkembangan inisiatif menjadi
terganggu. Klien yang mengalami deficit perawatan diri dikarenakan
kemampuan realitas yang kurang yang menyebabkan klien tidak peduli
terhadao dir dan lingkungannya termasuk perawatan diri.
3) Social, kurangnya dukungan social dan situasi lingkungan yang
mengakibatkan penurunan kemampuan dalam merawat diri.
b. Factor presipitasi Faktor presipitasi yang menyebabkan deficit perawatan
diri yaitu penurunan motivasi, kerusakan kognitif/persepsi, cemas, lelah,
lemah yang menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan
diri. Menurut Rochmawati (2013), factor-faktor yang mempengaruhi
personal hygiene adalah :
1) Body Image Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi
kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu
tidak peduli dengan kebersihan dirinya.
2) Praktik Sosial Pada anak-anak yang selalu dimanja dalam kebersihan diri,
maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
3) Status Sosial Ekonomi Personal hygiene memerlukan alat dan bahan
seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampoo, alat mandi semuanya yang
memerlukan uang untuk menyediakannya
4) Pengetahuan Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena
pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pad aklien
penderita DM, ia harus menjaga kebersihan kakinya.
5) Budaya Disebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh
dimandikan.
6) Kebiasaan Seseorang Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk
tertentu dalam perawatan diri seperti pengguanaan sabun, shampoo dan lain-
lain.
IV. TANDA DAN GEJALA
Menurut Nafiyati (2018) tanda dan gejala defisit perawatan diri terdiri dari
a. Data subjektif Klien mengatakan :
1) Malas mandi
2) Tidak mau menyisir rambut
3) Tidak mau menggosok gigi
4) Tidak mau memotong kuku
5) Tidak mau berhias/berdandan
6) Tidak bisa/tidak mau menggunakan alat mandi/kebersihan diri
7) Tidak menggunakan alat makan dan minum saat makan dan minum
8) BAB dan BAK sembarangan
9) Tidak membersihkan diri dan tempat BAB dab BAK
10) Tidak mengetahui cara perawatan diri yang benar
b. Data objektif
1) Badan bau, kotor, berdaki, rambut kotor, gigi kotor, kuku panjang.
2) Tidak menggunakan alat mandi pada saat mandi dan tidak mandi dengan
benar.
3) Rambut kusut, berantakan, kumis dan jenggot tidak rapi, serta tidak
mampu berdandan.
4) Pakaian tidak rapi, tidak mampu memilih, mengambil, memakai,
mengencangkan dan memindahkan pakaian, tidak memakai sepatu, tidak
mengkancingkan baju atau celana.
5) Memakai barang-barang yang tidak perlu dlaam berpakaian, mis:
memakai pakaian berlapis-lapis, penggunaa pakaian yang tidak sesuai.
Melepas barang-barang yang perlu dalam berpakaian, mis: telanjang.
6) Makan dan minum sembarangan dan berceceran, tidak menggunakan alat
makan, tidak mampu menyiapkan makanan, memindahkan makanan kea lat
makan, tidak mampu memegang alat makan, membawa makanan dari piring
ke mulut, mengunyah, menelan makanan secara aman dan menghabiskan
makanan.
7) BAB dan BAK tidak pada tempatnya, tidak membersihkan dir setelah
BAB dan BAK, tidak mampu menjaga kebersihan toilet dan menyiram toilet
setelah BAB dan BAK
V. PROSES PENYAKIT
Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri (Hastuti, 2018)
adalah :
a. Data Subjektif
1) Klien merasa lemah
2) Malas untuk beraktivitas
3) Merasa tidak berdaya
b. Data Objektif
1) Rambut kotor, acak-acakan
2) Badan dan pakaian kotor dan bau
3) Mulut dan gigi bau 4) Kulit kusan dan kotor
5) Kuku panjang dan tidak terawat
VI. RENTANG RESPON
Menurut Yanti (2021) rentang respon perawatan diri pad aklien adalah
sebagai berikut :
Gambar rentang respon kognitif
Adaptif Maladaptif
Pola perawatan diri Kadang perawatan diri, Tidak melakukan
seimbang kadang tidak perawatan saat stress
Keterangan :
a. Pola perawatan diri seimbang, saat klien mendapatkan stressor dan
mampu untuk berperilaku adaptif, maka pola perawatan yang dilakukan
klien seimbang, klien masih melakukan perawatan diri.
b. Kadang perawatan kadang tidak, saat klien mendapatkan stressor kadang-
kadang klien tidak memperhatikan perawatan dirinya.
c. Tidak melakukan perawatan diri, klien mengatakan dia tidak peduli dan
tidak bisa melakukan perawatan saat stressor.
VII. PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri
b. Membimbing dan menolong klien merawat diri
c. Ciptakan lingkungan yang mendukung
[Link] KEPERAWATAN:
1. PENGKAJIAN
Defisit Perawatan Diri pada klien dengan ganngguan jiwa terjadi akibat
ada perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan
perawatan diri tampak dari ketidakmampuan merawat kebersihan diri
makan secara mandi,berhias diri secara mandiri dan eliminasi (buang air
besar/buang air kecil) secara mandiri. (Erlando, 2019)
a. Identitas Terdiri dari : nama klien, umur, jenis kelamin, alamat, agama,
pekerjaan, tanggal masuk, alasan masuk, nomor rekam medic, keluarga
yang dapat dihubungi.
b. Alasan masuk Merupakan penyebab klien atau keluarga datang, atau
dirawat dirumah sakit. Biasanya masalah yang dialami klien yaitu senang
menyendiri, tidak mau banyak berbicara dengan orang lain, terlihat
murung, penampilan acak-acakan, tidak peduli dengan diri sendiri dan
mulai mengganggu orang lain.
c. Factor predisposisi
1) Pada umumnya klien pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu.
2) Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan
perawatandiri.
3) Pengobatan sebelumnya kurang berhasil
4) Harga diri rendah, klien tidak mempunyai motivasi untuk merawat
diri.
5) Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan, yaitu perasaan
ditolak,dihina, dianiaya dan saksi penganiayaan.
6) Ada anggota keluarga yang pernah mengalami gangguan jiwa.
Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan yaitu kegagalan yang
dapatmenimbulkan frustasi
d. Pemeriksaan Fisik 15 Pemeriksaan TTV, pemeriksaan head to toe
yang merupakan penampilan klienyang kotor dan acak-acakan.
e. Psikososial
1) Genogram Menurut Hastuti (2018), genogram menggambarkan klien
dan anggota keluarga klien yang mengalami gangguan jiwa, dilihat dari
pola komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuhan.
2) Konsep Diri
a) Citra Tubuh Persepsi klien mengenai tubuhnya, bagian tubuh yang
disukai, reaksi klien mengenai tubuh yang disukai maupun tidak disukai
(Nurhaini, 2018).
b) Identitas Diri Kaji status dan posisi pasien sebelum klien dirawat,
kepuasan paien terhadap status dan posisinya, kepuasan klien sebagai
laki- laki atau perempuan (Bunaini, 2020).
c) Peran Diri Meliputi tugas atau peran klien didalam
keluarga/pekerjaan/kelompok maupun masyarakat, kemampuan klien
didalam melaksanakan fungsi atupun perannya, perubahan yang terjadi
disaat klien sakit maupun dirawat, apa yang dirasakan klien akibat
perubahan yang terjadi (Ndaha, 2021).
d) Ideal Diri Berisi harapan paien akan keadaan tubuhnya yang ideal,
posisi, tugas, peran dalam keluarga, pekerjaan/sekolah, harapan klien
akan lingkungan sekitar,dan penyakitnya (Grasela, 2021).
e) Harga Diri Kaji klien tentang hubungan dengan orang lain sesuai
dengan kondisi, dampak pada klien yang berhubugan dengan orang lain,
fungsi peran yang tidak sesuai dengan harapan, penilaian klien tentang
pandangan atau penghargaan orang lain (Safitri, 2020).
f) Hubungan Sosial Hubungan klien dengan orang lain akan sangat
terganggu karena penampilan klien yang kotor yang mengakibatkan 16
orang sekitar menjauh dan menghidnari klien. Terdapat hambatan dalam
berhubungan dengan orang lain (Bunaini, 2020).
g) Spiritual Nilai dan keyakinan serta kegiatan ibadah klien
terganggudikarenakan klien mengalami gangguan jiwa.
h) Status Mental
1) Penampilan Penampilan klien sangat tidak rapi, tidak mengetahui
caranya berpakaian dan penggunaan pakaian tidak sesuai (Putri, 2018).
2) Cara bicara/Pembicaraan Cara bicara klien yang lambat, gagap, sering
terhenti/bloking, apatis serta tidak mampu memulai pembicaraan (Malle,
2021).
3) Aktivitas motorik Biasanya klien tamoak lesu, gelisah, tremor dan
kompulsif (Putri, 2018).
4) Alam perasaan Klien tamoak sedih, putus asa, merasa tidak berdaya,
rendah diri dan merasa dihina (Malle, 2021).
5) Afek Klien tampak datar, tumpul, emosi klien berubahubah, kesepian,
apatis, depresi/sedih dan cemas (Putri, 2018).
6) Interaksi saat wawancara Respon klien saat wawancara tidak
kooperatif, mudah tersinggung, kontak kurang serta curiga yang
menunjukkan sikap ataupun peran tidak percaya kepada
pewawancara/orang lain.
7) Persepsi Klien berhalusinasi mengenai ketakutan terhadap hal-hal
kebersihan diri baik halusinasi pendengaran, penglihatan dan perabaan
yang membuat klien tidak ingin membersihkan diri dan klien mengalami
depersonalisasi.
8) Proses pikir Bentuk pikir klien yang otistik, dereistik, 17
sirkumtansial, terkadang tangensial, kehilanagn asosiasi, pembicaraan
meloncat dari topic dann terkadang pembicaraan berhenti tiba-tiba.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan Merupakan suatu masalah keperawatan klien
mencakup baik respon adaptif maupun maladaptif serta stressor yang
yang menunjang Elfriyani (2021) Diagnosa yang muncul pada defisit
perawatan diri :
1) Defisit perawatan diri
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
a. Membina hubungan saling percaya dengan cara (menjelaskan
maksud dan tujuan interaksi, jelaskan tentang kontrak yang akan
dibuat, beri rasa aman dan sikap empati).
b. Sp 1:
1) Latih cara perawatan diri : mandi
c. Sp 2:
1) Latih cara perawatan diri: berhias
d. Sp 3:
1) Latih cara perawatan diri: makan dan minum
e. Sp 4:
1) Latih cara perawatan diri: BAK/BAB
DAFTAR PUSTAKA
Ppni, T. S. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indosesia.
Erlando, R. P. A. (2019). Terapi Kognitif Perilaku dan Defisit Perawatan Diri: Studi
Literatur. ARTERI: Jurnal Ilmu Kesehatan, 1(1), 94-100.
[Link] Hastuti, R. Y., & Rohmat, B. (2018).
Sutejo. (2017). Konsep Dan Praktik Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa: Gangguan
Jiwa Dan Psikososial . Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Nurhaini, D. (2018). "Pengaruh Konsep Diri Dan Kontrol Diri Dengan Perilaku
Konsumtif Terhadap Gadget." Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Nurhalimah. (2016). Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan,162-170.
Nafiyati, I., Susilaningsih, I., & Syamsudin, S. (2018). Tindakan Keperawatan
Melatih Cara Makan Pada Tn. Y Dengan Masalah Defisit Perawatan Diri
Makan. Jurnal Keperawatan Karya Bhakti , 4 (2), 14-19.
Yanti, RD, & Putri, VS (2021). Pengaruh Penerapan Standar Komunikasi Defisit
Perawatan Diri terhadap Kemandirian Merawat Diri pada Pasien Skizofrenia di
Ruang Rawat Inap Delta Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Jurnal
Akademika Baiturrahim Jambi , 10 (1), 31-38.
Hastuti, R. Y., & Rohmat, B. (2018). Pengaruh Pelaksanaan Jadwal Harian Perawatan
Diri Terhadap Tingkat Kemandirian Merawat Diri Pada Pasien Skizofrenia Di
Rsjd Dr. Rm Soedjarwadi Provinsi Jawa Tengah. Gaster, 16(2), 177-190.
Elfariyani, AR (2021). Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Masalah Defisit
Perawatan Diri Pada Diagnosa Medis Stroke Di Ruang Edelweis RSUD Ibnu
Sina Gresik (Disertasi Doktor, UNIVERSITAS AIRLANGGA).
LAPORAN PENDAHULUAN
HARGA DIRI RENDAH
I. KASUS (MASALAH UTAMA)
HDR (HARGA DIRI RENDAH)
II. DEFINISI
Harga diri rendah adalah disfungsi psikologis yang meluas dan
terlepas dari spesifiknya. Masalahnya, hampir semua pasien menyatakan
bahwa mereka ingin memiliki harga diri yang lebih baik. Jika kita hanya
mengurangi harga diri rendah, banyak masalah psikologis akan berkurang
atau hilang secara substansial sepenuhnya. Harga diri merupakan komponen
psikologis yang penting bagi kesehatan. Banyak penelitian sebelumnya
menunjukkan bahwa harga diri yang rendah sering kali menyertai gangguan
kejiwaan. Harga diri yang tinggi dikaitkan dengan kecemasan yang rendah,
efektif dalam kelompok dan penerimaan orang lain terhadap dirinya,
sedangkan masalah kesehatan dapat menyebabkan harga diri, sehingga harga
diri dikaitkan dengan hubungan interperonal yang buruk dan beresiko
terjadinya depresisehingga perasaan negatif mendasari hilangnya
kepercayaan diri dan harga diri individu dan menggambarkan gangguan
harga diri (Wijayati et al., 2020).
III. ETIOLOGI
Harga diri rendah situasional disebabkan karena adanya
ketidakefektifan koping individu akibat kurangnya umpan balik yang positif.
Penyebab harga diri rendah juga dapat terjadi pada masa kecil sering
disalahkan, jarang diberi pujian atas keberhasilannya. Saat individu
mencapai masa remaja keberadaannya kurang dihargai, tidak diberi
kesempatan dan tidak diterima. Menjelang dewasa awal sering gagal
disekolah, pekerjaan atau pergaulan. Menurut NANDA (2017) faktor yang
mempengaruhi harga diri rendah meliputi faktor Predisposisi dan faktor
Presipitasi yaitu :
1. Faktor Predisposisi
a. Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua,
harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang, kurang
mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain, dan
ideal diri yang tidak realistis.
b. Faktor yang mempengaruhi performa peran adalah stereo type peran
gender, tuntutan peran kerja, dan harapan peran budaya.
c. Faktor yang mempengaruhi identitas pribadi meliputi ketidakkepercayaan
orang tua, tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan struktur sosial.
2. Faktor Presipitasi Faktor presipitasi terjadi haga diri rendah biasanya
adalah kehilangan bagian tubuh, perubahan penampilan/bentuk tubuh,
kegagalan atau produktifitas yang menurun. Secara umum, ganguan konsep
diri harga diri rendah ini dapat terjadi secara stuasional atau kronik. Secara
situasional karena trauma yang muncul secara tiba-tiba, misalnya harus
dioperasi, kecelakaan, perkosaan atau dipenjara. Termasuk dirawat dirumah
sakit bisa menyebabkan harga diri rendah disebabkan karena penyakit fisik
atau pemasangan alat bantu yang membuat klien tidak nyaman (Yosep,
2016).
3. Perilaku Pengumpulan data yang dilakukan oleh perawat meliputi perilaku
yang objektif dan dapat diamati serta perasaan subjektif dan dunia dalam diri
klien sendiri. Perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah salah
satunya mengkritik diri sendiri, sedangkan keracuan identitasseperti sifat
kepribadian yang bertentangan serta depersonalisasi (Stuart, 2018).
IV. TANDA DAN GEJALA
Menurut Saptina, (2020) tanda dan gejala pada harga diri rendah yaitu:
1. Data Subjektif
a. Mengintrospeksi diri sendiri.
b. Perasaan diri yang berlebihan.
c. Perasaan tidak mampu dalam semua hal.
d. Selalu merasa bersalah
e. Sikap selalu negatif pada diri sendiri.
f. Bersikap pesimis dalam kehidupan.
g. Mengeluh sakit fisik.
h. Pandangan hidup yang terpolarisasi.
i. Menentang kemampuan diri sendiri.
j. Menjelek-jelekkan diri sendiri.
k. Merasakan takut dan cemas dalam suatu keadaan.
l. Menolak atau menjauh dari umpan balik positif.
m. Tidak mampu menentukan tujuan.
2. Data Obyektif
1. Produktivitas menjadi menurun.
2. Perilaku distruktif yang terjadi pada diri sendiri.
3. Perilaku distruktif yang terjadi pada orang lain.
4. Penyalahgunaan suatu zat.
5. Tindakan menarik diri dari hubungan sosial.
6. Mengungkapkan perasaan bersalah dan malu.
7. Muncul tanda depresi seperti sukar tidur dan makan.
8. Gampang tersinggung dan mudah marah.
V. PROSES PENYAKIT
Harga diri rendah kronis terjadi merupakan proses kelanjutan dari
harga diri rendah situasional yang tidak terselesaikan. Atau dapat juga terjadi
karena individu tidak pernah mendapat feed back dari lingkungan tentang
prilaku klien sebelumnya bahkan kecendrungan lingkungan yang selalu
memberi respon negatif mendorong individu menjadi harga diri rendah.
Harga diri rendah kronis terjadi disebabkan banyak faktor. Awalnya individu
berada pada suatu situasi yang penuh dengan stressor (krisis), individu
berusaha menyelesaikan krisis tetapi tidak mampu atau merasa gagal
menjalankan fungsi dan peran. Penilaian individu terhadap diri sendiri
karena kegagalan menjalankan fungsi dan peran adalah kondisi harga diri
rendah situasional, jika lingkungan tidak memberi dukungan positif atau
justru menyalahkan individu dan terjadi secara terus menerus akan
mengakibatkan individu mengalami harga diri rendah kronis(Samosir, 2020)
VI. RENTANG RESPON
Konsep diri merupakan aspek kritikal dan dasar dari perilaku individu.
Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang
terlihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan
penguasaan lingkungan. Konsep diri yang negatif dapat dilihat dari
hubungan individu an sosial yang maladaptif.
Gambar Rentang respon konsep - diri ( Stuart G.W, 2018)
Adaptif Maladaptif
Aktualisasi diri Konsep diri Harga diri kerancuan identitas
Depersonalisasi Positif Rendah
Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif
dengan latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima.
Konsep diri positif merupakan bagaimana seseorang memandang apa yang
ada pada dirinya meliputi citra dirinya. Ideal dirinya harga dirinya,
penampilan peran serta identitas dirinya secara positif. Hal ini akan
menunjukan bahwa individu itu akan menjadi individu yang sukses.
VII. PENATALAKSANAAN MEDIS
Terapi pada gangguan jiwa skizofrenia dewasa ini sudah
dikembangkan sehingga penderita tidak mengalami diskriminasi bahkan
metodenya lebih manusiawi dari pada masa sebelumnya (Pardede, Keliat, &
Wardani, 2020). Terapi yang dimaksud meliputi:
1. Psikofarmaka Berbagai jenis obat psikofarmaka yang beredar dipasaran
yang hanya diperoleh dengan resep dokter, dapat dibagi dalam
2. Golongan yaitu golongan generasi pertama (typical) dan golongan kedua
(atypical). Obat yang termasuk golongan generasi pertama misalnya
chlorpromazine HCL (psikotropik untuk menstabilkan senyawa otak),
dan Haloperidol (mengobati kondisi gugup). Obat yang termasuk
generasi kedua misalnya, Risperidone (untuk ansietas), Aripiprazole
(untuk antipsikotik).
3. Psikoterapi
Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi
dengan orang lain, penderita lain, perawat dan dokter, maksudnya supaya
ia tidak mengasingkan diri lagi karena bila ia menarik diri ia dapat
membentuk kebiasaan yang kurang baik. Dianjurkan untuk mengadakan
permainan atau latihan bersama (Rokhimma & Rahayu, 2020)
[Link] KEPERAWATAN:
1. PENGKAJIAN
Wawancara pengkajian yang memerlukan keterampilan komunikasi
efektif secara linguistic dan kultural, wawancara, observasi perilaku,
tinjauan catatan-catatan data dasar, serta pengkajian komprehensif
terhadap pasien dan sistem yang relevan memungkinkan perawat
kesehatan jiwa – psikiatri untuk membuat penilaian klinis dan rencana
tindakan yang tepat dengan pasien. Tahap pertama pengkajian meliputi
factor predisposisi seperti: psikologis tanda dan tingkah laku klien dan
mekanisme koping klien. Pengkajian meliputi beberapa faktor, yaitu:
a. Faktor predisposisi
factor predisposisi terjadinya harga diri rendah adalah penolakan
orangtua yang tidak realistis, kegagalan berulang kali, kurang
mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain,
ideal diri yang tidak realistis (yosep, 2016).
b. Faktor presipitasi
1) faktor prespitasi meliputi: Konflik peran terjadi apabila peran yang
diinginkan individu, sedang diduduki individu lain.
2) Peran yang tidak jelas terjadi apabila individu diberikan peran yang
kabur, sesuai perilaku yang diharapkan.
3) Peran yang tidak sesuai terjadi apabila individu dalam proses
peralihan mengubah nilai dan sikap.
4) Peran berlebihan terjadi jika seseorang individu memiliki banyak
peran dalam kehidupannya.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Harga Diri Rendah
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
Perawat kesehatan jiwa mengembangkan rencana asuhan yang
menggambarkan intervensi untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Rencana asuhan digunakan untuk memandu intervensi terapeutik secara
sistematis dan mencapai hasil pasien yang diharapkan.
a. Sp 1
1) Diskusikan bersama klien tentang kemampuan positif yang
dimiliki
b. Sp 2
1) Bantu klien menilai kemampuan yang dapat digunakan
2) Bantu klien menetapkan kemampuan yang dapat digunakan
3) Melatih kegiatan sesuai kemampuan yang dipilih 1
c. Sp 3
1) Latih kegiatan sesuai kemampuan yang dipilih 2
d. Sp 4
1) Latih kegiatan sesuai kemampuan yang dipilih 3
DAFTAR PUSTAKA
Wijayati, F., Nasir, T., Hadi, I., & Akhmad, A. (2020). Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Kejadian Harga Diri Rendah Pasien Gangguan Jiwa.
Health Information: Jurnal Penelitian, 12(2), 224-235
[Link]
Samosir, E. F. (2020). Penerapan Asuhan Keperawatan Jiwa Pada An . A Dengan
Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah Di Lingk . XVI Lorong Jaya. 1–41.
Suprapto, S. (2018). Pengetahuan Dan Sikap Masyarakat Dalam Upaya Pencegahan
Tuberkulosis Di Wilayah Kerja Puskesmas Batua Kota Makassar. Jurnal Ilmiah
Kesehatan Sandi Husada, 1114–1124. [Link]
21.
Suryani, U., & Efendi, Z. (2020). Dukungan Keluarga Berhubungan dengan Harga
Diri pada Penderita Tuberkulosis Paru. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 3(1), 53.
[Link]
Widhaswari, D. O. (2017). Asuhan keperawatan psikososial harga diri rendah
situasional pada klien dengan diabetes mellitus dan luka gangren di Ruang Antasena
RS DR. H. Marzoeki Mahdi Bogor 21.
Wilkinson, J.M., & Ahern, N. R. (2009). Buku saku diagnosis keperawatan. Edisi 9.
Jakarta: EGC
LAPORAN PENDAHULUAN
HALUSINASI
I. KASUS (MASALAH UTAMA)
Halusinasi
II. DEFINISI
Halusinasi adalah perasaan tanpa adanya suatu rangsangan (objek)
yang jelas dari luar diri klien terhadap panca indera pada saat klien dalam
keadaan sadar atau bangun. Halusinasi terbagi dalam 5 jenis, yaitu halusinasi
penglihatan, halusinasi penciuman, halusinasi pengecapan, halusinasi
perabaan dan halusinasi pendengaran. (Agustina M & Wijayanto, 2017).
Halusinasi merupakan distorsi persepsi palsu yang terjadi pada respon
neurobiologist maladaptive, penderita sebenarnya mengalami distorsi sensori
sebagai hal yang nyata dan meresponnya (Pardede, 2020).
III. ETIOLOGI
Etiologi halusinasi menurut (Wulandari & Pardede, 2022) antara lain:
a. Faktor Predisposisi
1. Faktor Perkembangan Hambatan perkembangan akan mengganggu
hubungan interpersonal yang dapat meningkatkan stress dan ansietas yang
dapat berakhir dengan ganggguan persepsi. Pasien mungkin menekan
perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif.
2. Faktor Sosial Budaya Berbagai faktor di masyarakat yang membuat
seseorang merasa disingkirkan atau kesepian, selanjutnya tidak dapat diatasi
sehingga timbul gangguan seperti delusi dan halusinasi.
3. Faktor Psikologis Hubungan interpersonal seseorang yang tidak harmonis,
serta peran ganda atau peran yang bertentangan dapat menimbulkan ansietas
berat berakhir dengan pegingkaran terhadap kenyataan, sehingga terjadi
halusinasi.
4. Faktor Biologis Struktur otak yang abnormal ditemukan pada pasien
gangguan orientasi realitas, serta dapat ditemukan atropik otak, perubahan
besar, serta bentuk sel kortikal dan limbic.
5. Faktor Genetik Gangguan orientasi realitas termasuk halusinasi umumnya
ditemukan pada pasien skizofrenia. Skizofrenia ditemukan cukup tinggi pada
keluarga yang salah satu anggota keluarganya mengalami skizofrenia, serta
akan lebih tinggi jika kedua orang tua skizofrenia.
b. Faktor Presepitasi Faktor Presipitasi menurut (Hulu & Pardede, 2022)
1. Stresor Sosial Budaya Stress dan kecemasan akan meningkat bila terjadi
penurunan stabilitas keluarga, perpisahan dengan orang yang penting, atau
diasingkan dari kelompok dapat menimbulkan halusinasi.
2. Faktor Biokimia Penelitian tentang dopamin, norepinetrin, indolamin,
serta zat halusigenik diduga berkaitan dengan gangguan orientasi realitas
termasuk halusinasi.
3. Faktor Psikologis Intensitas kecemasan yang ekstream dan memanjang
disertai terbatasnya kemampuan mengatasi masalah memungkinkan
berkembangnya gangguan orientasi realistis. Pasien mengembangkan koping
untuk menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan.
4. Faktor Perilaku Perilaku yang perlu dikaji pada pasien dengan gangguan
orientasi realitas berkaitan dengan perubahan proses pikir, afektif persepsi,
motorik, dan social.
IV. TANDA DAN GEJALA
Pardede, et al (2021). Tanda dan gejala halusinasi penting diketahui oleh
perawat agar dapat menempatkan masalah halusinasi antara lain :
1. Berbicara, tertawa dan tersenyum sendiri
2. Bersikap seperti mendengarkan sesuatu
3. Berhenti berbicara sesaat ditengah-tengah kaimat untuk mendengarkan
sesuatu
4. Disorientasi
5. Tidak mampu atau kurang konsentrasi
6. Cepat berubah pikiran
7. Alur Social kacau
8. Respon yang tidak sesuai
9. Menarik diri
10. Respon yang tidak sesuai
11. Suka marah dengan tiba- tiba dan menyerang orang lain tanpa sebab.
12. Sering melamun
V. PROSES PENYAKIT
1. Faktor Predisposisi
a. Biologis
Faktor biologis terkait dengan adanya neuropatologi dan
ketidakseimbangan dari neurotransmiternya. Dampak yang dapat
dinilai sebagai manifestasi adanya gangguan adalah perilaku
maladaptif klien. Secara biologis riset neurobiologikal memfokuskan
pada tiga area otak yang dipercaya dapat melibatkan klien mengalami
halusinasi yaitu sistem limbik, lobus frontalis dan hypothalamus.
b. Psikologis
Meliputi konsep diri, intelektualitas, kepribadian, moralitas,
pengalaman masa lalu, koping dan keterampilan komunikasi secara
verbal . Konsep diri dimulai dari gambaran diri secara keseluruhan
yang diterima secara positif atau negatif oleh seseorang. Penerimaan
gambaran diri yang negative menyebabkan perubahan persepsi
seseorang dalam memandang aspek positif lain yang dimiliki.
c. Genetik
Genetik juga dapa memicu terjadi halusinasi pada seorang
[Link] genetik dapat berperan dalam respon sosial
maladaptif. Terjadinya penyakit jiwa pada individu juga dipengaruhi
oleh keluarganya dibanding dengan individu yang tidak mempunyai
penyakit terkait. Banyak riset menunjukkan peningkatan risiko
mengalami skizofrenia pada individu dengan riwayat genetik terdapat
anggota keluarga dengan skizofrenia. Pada kembar dizigot risiko
terjadi skizofrenia 15%, kembar monozigot 50%, anak dengan salah
satu orang tua menderita skizofrenia berisiko 13%, dan jika kedua
orang tua mendererita skizofrenia berisiko 45% (Pratiwi, 2018).
d. Sosial Budaya
Kultur atau budaya, kepercayaan kebudayaan klien dan nilai pribadi
mempengaruhi masalah klien dengan halusinasi. Berdasarkan
beberapa pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa status social
ekonomi, pendidikan yang rendah, kurangnya pengetahuan, motivasi
yang kurang dan kondisi fisik yang lemah dapat mempengaruhi klien
dalam mempertahankan aktifitas klien yang mengalami halusinasi
(Latifah, 2019).
2. Faktor Presipitasi
Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah
adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak
berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap
stressor dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan
kekambuhan (Keliat, 2014). Faktor presipitasisebagai suatu stimulus
yang dipersepsikan oleh individu apakah dipersepsikan sebagai suatu
kesempatan, tantangan, ancaman/tuntutan. Stressor presipitasi bisa
berupa stimulus internal maupun eksternal yang mengancam individu.
Komponen stressor presipitasi terdiri atas sifat, asal, waktu dan jumlah
stressor (Stuart, 2013).
VI. RENTANG RESPON
Menurut Yusuf (2015, respon perilaku pasien dapat berada dalam rentang
adaptif sampai maladaptive yang dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Respon adaptif berdasarkan rentang respon halusinasi menurut (Yusuf,
Rizki & Hanik, 2015), meliputi :
a. Pikiran logis berupa mendapat atau pertimbangan yang dapat di terima
akal.
b. Persepsi akurat berupa pandangan dari seseorang tentang sesuatu
peristiwa secara cermat dan tepat sesuai perhitungan.
c. Emosi konsisten dengan pengalaman berupa ke mantapan perasaan jiwa
yang timbul sesuai dengan peristiwa yang penuh di alami.
d. Perilaku sesuai dengan kegiatan individu atau sesuatu yang berkaitan
dengan individu tersebut di wujudkan dalam bentuk gerak atau ucapan yang
bertentangan dengan moral.
e. Hubungan social dapat di ketahui melalui hubungan seseorang dengan
orang lain dalam pergaulan di tengah masyarakat.
2. Respon maladaptive Respon maladaptive berdasarkan rentang respon
halusinasi menurut (Sianturi & Pardede, 2022 )
a. Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh di pertahankan
walaupun tidak di yakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan
social.
b. Halusinasi merupakan gangguan yang timbul berupa persepsi yang salah
terhadap rangsangan.
c. Tidak mampu mengontrol emosi berupa ketidak mampuan atau
menurunnya kemampuan untuk mengalami kesenangan kebahagiaan,
keakraban, dan kedekatan.
d. Ketidakteraturan perilaku berupa ketidakselarasan antara perilaku dan
gerakan yang di timbulkan.
e. Isolasi social adalah kondisi kesendirian yang di alami oleh individu.
VII. PENATALAKSANAAN MEDIS
Menurut Rahayu (2016), penatalaksanaan medis pada pasien halusinasi
pendengaran dibagi menjadi dua:
1. Terapi Farmakologi
a. Haloperidol
1) Klasifikasi : antipskotik, neuroleptic, butirofenon
2) Indikasi Penatalaksanaan psikosis kronik dan akut, pengendalian
hiperaktivitas dan masalah perilaku berat pada anak-anak.
3) Mekanisme Kerja Mekanisme kerja anti psikotik yang tepat belum
dipenuhi sepenuhnnya, tampak menekan susunan saraf pusat pada tingkat
subkortikal formasi retricular otak, mesenfalon dan batang otak.
4) Kontraindikasi Hipersensivitas terhadap obat ini pasien depresi SSP dan
sumsum tulang belakang, kerusakan otak subkortikal, penyakit Parkinson
dan anak dibawah usia 3 tahun.
5) Efek Samping Sedasi, sakit kepala, kejang, insomnia, pusing, mulut
kering dan anoreksia
b. Clorpromazin
1). Klasifikasi : sebagai antipsikotik, antiemetic.
2). Indikasi Penanganan gangguan psikotik seperti skizofrenia, fase mania
pada gangguan bpolar, gangguan skizofrenia, ansietas dan agitasi, anak
hiperaktif yang menunjukkan aktivitas motorik berlebih.
3). Mekanisme Kerja Mekanisme kerja antipsikotik yang tepat belum
dipahami spenuhnya, namun berhubungan dengan efek antidopaminergik.
Antipsikotik dapatmenyekat reseptor dipamine postsinaps pada ganglia basa,
hipotalamus, system limbic, batang otak dan medulla.
4). Kontraindikasi Hipersensitivitas terhadap obat ini, pasien koma atau
depresi sumsum tulang, penyakit Parkinson, insufiensi hati, ginjal dan
jantung, anak usia dibawah 6 tahun dan wanita selama masa kehamilan dan
laktasi.
5). Efek Samping Sedasi, sakit kepala, kejang, insomnia, pusing, hipertensi,
ortostatik, hipotensi, mulut kering, mual dan muntah.
c. Trihexypenidil ( THP )
1) Klasifikasi antiparkinson
2) Indikasi Segala penyakit Parkinson, gejala ekstra pyramidal berkaitan
dengan obat antiparkinson.
3) Mekanisme Kerja Mengorks ketidakseimbangan defisiensi dopamine dan
kelebihan asetilkolin dalam korpus striatum, asetilkolin disekat oleh sinaps
untuk menguragi efek kolinergik berlebihan.
4) Kontraindikasi Hipersensitivitas terhadap obat ini, glaucoma sudut
tertutup, hipertropi prostat pada anak dibawah usia 3 tahun.
5) Efek Samping Mengantuk, pusing, disorientasi, hipotensi, mulut kering,
mual dan muntah.
2. Terapi Non Farmakologi
[Link] Aktivitas Kelompok Terapi aktivitas kelompok yang sesuai dengan
Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi adalah TAK Stimulasi Persepsi.
b. Elektro Convulsif Therapy ( ECT ) Merupakan pengobatan secara fisik
meggunakan arus listrik dengan kekuatan 75-100 volt, cara kerja belum
diketahui secara jelas namun dapat dikatakan bahwa terapi ini dapat
memperpendek lamanya serangan Skizofrenia dan dapat permudahk kontak
dengan orang lain.
c. Pengekangan atau pengikatan Pengembangan fisik menggunakan
pengekangannya mekanik seperti manset untuk pergelangan tangan dan
pergelangan kaki dimana klien pengekangan dimana klien dapat dimobilisasi
dengan membalutnya, cara ini dilakukan padda klien halusinasi yang mulai
menunjukkan perilaku kekerasan diantaranya: marahmarah atau mengamuk.
[Link] KEPERAWATAN:
1. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal dalam melakukan sebuah asuhan
keperawatan (Wulandari & Pardede, 2022). Metode yang digunakan
dalam tahap pengkajian data adalah wawancara, observasi, pemeriksaan
fisik, serta studi dokumentasi (Syahdi & Pardede 2022).
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Halusinasi
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
SP 1 Pasien Halusinasi: Bantu pasien mengenali halusinasinya dengan
cara diskusi dengan pasien tentang halusinasinya, waktu terjadi
halusinasi muncul, frekuesi terjadinya halusinasi, situasi yang
menyebabkan halusinasi muncul, respon pasien saat halusinasi muncul
dan ajarkan pasien untuk mengontrol halusinasinya dengan cara pertama
yaitu dengan menghardik halusinasinya. Pasien dilatih untuk
mengatakan tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak
memperdulikan halusinasinya.
SP 2 Pasien Halusinasi: Ajarkan pasien untuk mengontrol halusinasinya
dengan cara kedua yaitu dengan bercakap-cakap dengan orang lain.
Ketika pasien bercakap-cakap deengan orang lain, maka akan terjadi
pengalihan perhatian, focus perhatian pasien akan teralih dari halusinasi
ke percakapan yang dilakukan dengan orang lain.
SP 3 Pasien Halusinasi: Ajarkan pasien untuk mengontrol halusinasinya
dengan aktivitas terjadwal. Dengan melakukan aktivitas secara
terjadwal, pasien tidak akan mengalami banyak waktu luang sendiri
yang sering kali mencetuskan halusinasi.
SP 4 Pasien Halusinasi: Berikan pasien pendidikan kesehatan tentang
penggunaan obat secara teratur. Untuk mengontrol halusinasi, pasien
harus dilatih untuk menggunakan obat secara teratur sesuai dengan
program.
DAFTAR PUSTAKA
Pardede, J. A., Damanik, R. K., Simanullang, R. H., & Sitanggang, R. (2020). The
Effect Of Cognitive Therapy On Changes In Self-Esteem On Schizophrenia
Patients. European Journal of Molecular & Clinical Medicine, 7(11), 2020.
Pardede, J. A. (2021). Standar Asuhan Keperawatan Dengan Kesiapan Peningkatan
Pengetahuan.
Wulandari, Y., & Pardede, J. A. (2022). Aplikasi Terapi Generalis Pada Penderita
Skizofrenia Dengan Masalah Halusinasi Pendengaran.
[Link]
Syahdi, D., & Pardede, J. A. (2022). Penerapan Strategi Pelaksanaan (SP) 1-4
Dengan Masalah Halusinasi Pada Penderita Skizofrenia: Studi Kasus.
Pratiwi, M., & Setiawan, H. (2018). Tindakan Menghardik Untuk Mengatasi
Halusinasi Pendengaran Pada Klien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa. Jurnal
Kesehatan, 7(1), 7-13. [Link]
LAPORAN PENDAHULUAN
ISOLASI SOSIAL
I. KASUS (MASALAH UTAMA)
Isolasi Sosial
II. DEFINISI
Isolasi sosial merupakan kondisi kesendirian yang di alami oleh
individu dan dipersepsikan disebabkan orang lain dan sebagai kondisi yang
negatif dan mengancam. Kondisi isolasi sosial seseorang merupakan
ketidakmampuan klien dalam mengungkapkan perasaan klien yang dapat
menimbulkan klien mengungkapkan perasaan klien dengan kekerasan
(Sukaesti, 2018 dalam Putri & Pardede, 2022). Isolasi sosial adalah kondisi
dimana pasien selalu merasa sendiri dengan merasa kehadiran orang lain
sebagai ancaman (Ningsih, 2021).
III. ETIOLOGI
Pasien dengan masalah kekurangan keterampilan sosial, tidak biasa
berkomunikasi dengan orang lain secara efektif, mengalami kesulitan dalam
menjalin pertemanan, mampu memecahkan masalah, menemukan dan
memelihara pekerjaan, yang merupakan alasan mereka mengisolasi diri
masyarakat, keterampilan sosial yang buruk terkait erat dengan kekambuhan
penyakit dan pasien kembali ke rumah sakit (Pardede & Ramadia, 2021).
a. Predisposisi Predisposisi adalah ada juga faktor presipitasi yang menjadi
penyebab antara lain adanya stressor sosial budaya serta stressor psikologis
yang dapat menyebabkan klien mengalami kecemasan (Arisandy, 2017).
1. Aspek Biologis Sebagian besar faktor predisposisi pada klien yang
diberikan terapi latihan ketrampilan sosial adalah adanya riwayat genetik
yaitu sebanyak 66,7%. Faktor genetik memiliki peran terjadinya gangguan
jiwa pada klien yang menderita skizofrenia
2. Aspek Psikologis Faktor predisposisi pada aspek psikologis sebagian
besar akibat adanya riwayat kegagalan/kehilangan (77,8%). Pengalaman
kehilangan dan kegagalan akan mempengaruhi respon individu dalam
mengatasi stresornya
3. Aspek sosial budaya Dimana pada klien kelolaan didapatkan aspek sosial
budaya sebagian besar adalah pendidikan menengah dan sosial ekonomi
rendah masingmasing
b. Presipitasi Merupakan faktor yang dapat menyebabkan seseorang
mengalami isolasi sosial: menarik diri adalah adanya tahap pertumbuhan dan
perkembangan yang belum dapat dilalui dengan baik, adanya gangguan
komunikasi didalam keluarga, selain itu juga adanya norma-norma yang
salah yang dianut dalam keluarga serta faktor biologis berupa gen yang
diturunkan dari keluarga yang menyebabkan klien menderita gangguan jiwa
(Arisandy, 2017).
IV. TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala isolasi sosial meliputi : kurang spontan, apatis (acuh
tak acuh terhadap lingkungan), ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi
sedih), afek tumpul, tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri, tidak
ada atau kurang terhadap komunikasi verbal, menolak berhubungan dengan
oranglain, mengisolasi diri (menyendiri), kurang sadar dengan lingkungan
sekitarnya, asupan makan dan minuman terganggu, aktivitas menurun dan
rendah diri (Damanik, Pardede, & Manalu, 2020).
Menurut Sucizti (2019) tanda dan gejala sebagai berikut :
Subjektif
a. Perasaan sepi
b. Perasaan tidak aman
c. Perasan bosan dan waktu terasa lambat
d. Ketidakmampun berkonsentrasi
e. Perasaan ditolak
Objektif
a. Banyak diam
b. Tidak mau bicara
c. Menyendiri
d. Tidak mau berinteraksi
e. Tampak sedih
f. Ekspresi datar dan dangkal
g. Kontak mata kurang
V. PROSES PENYAKIT
VI. RENTANG RESPON
Dalam membina hubungan sosial, individu berada dalam rentang
respon adapatif dan maladaptif. Respon adaptif merupakan respon yang
dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan yang secara umum
berlaku. Sedangkan respon maladaptif merupakan respon yang dilakukan
individu untuk menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh
norma sosial dalam budaya setempat. Berikut rentang respon sosial menurut
Stuart (2016) :
Respon Adaptif Respon Maladaptif
Menyendiri Kesendirian Manipulasi
Otonomi Menarik diri Impulsif
Bekerjasama Ketergantungan Narcisisme
Saling tergantung
a. Respons adaptif
1. Solitude (menyendiri) Respon yang dibutuhkan seseorang untuk
mengendalikan perilaku mereka sendiri saat menerima dukungan saat
bantuan dari orang yang berarti dan diperlukan (Stuart,2016
2. Otonomi Kemampuan individu dalam mengendalikan perilaku mereka
sendiri, membangun ikatan afektif yang kuat untuk kepribadian yang matang
(Stuart,2016).
3. Mutualisme atau bekerja sama Kemampuan individu untuk
menerima,membangun ikatan afektif yang kuat dengan orang lain
(Stuart,2016).
4. Interdependen atau saling ketergantungan Dalam hubungan antara
manusia biasanya mengembangkan keseimbangan perilaku dependen dan
independen (Stuart, 2016).
b. Respons maladaptive
1. Merasa sendiri (kesepian) merasa tidak tahan atau yang lain menganggap
bahwa dirinya sendirian dalam menghadapi masalah, cenderung pemalu,
sering merasa tidak percaya diri dan minder (Muhith, 2015).
2. Menarik diri suatu keadaan di mana seseorang menemukan kesulitan
dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain (Muhith, 2015).
3. Tergantungan (Dependen) Seseorang yang gagal mengembangkan
kemampuannya untuk berfungsi secara sukses, merasa kesulitan yang
beresiko menjadi gangguan depresi dan gangguan cemas sehingga
berkecenderungan berpikiran untuk bunuh diri (Muhith, 2015).
4. Manipulasi perilaku dimana orang memperlakukan orang lain sebagai
objek dan bentuk hubungan yang berpusat di sekitar isuisu kontrol dan
perilaku mereka sulit dipahami (Stuart, 2016).
VII. PENATALAKSANAAN MEDIS
Menurut (2015 dalam Syahdi & Pardede, 2022) Penatalakasanaan
pada pasien skizofrenia dapat diberikan dengan pemberian terapi yang
diberikan secara komperehensif sesuai dengan tanda gejala dan penyebab
terjadinya penyakit. Pengalaman terapis akan menentukan pilihan alternatif
yang tepat, dan sering merupakan kombinasi antara satu terapi dengan
lainya. Beberapa alternatif terapi yang dapat diberikan antara lain dengan
pendekatan farmakologi psikososial , rehabilitasi dan program intervensi
keluarga (Henry, 2020).
a. Terapi Farmakologi
Pada pendekatan farmakologis, penderita skizofrenia biasanya diberikan
obat anti psikotik. Antipsikotik juga dikenal sebagai penenang mayor
atau neuroleptic. Pengobatan antipsikotik membantu mengendalikan
perilaku skizofrenia yang mencolok dan mengurangi kebutuhan untuk
perawatan rumah sakit jangka panjang apabila dikonsumsi pada saat
pemeliharaanatau secara teratur setelah episode akut. Prinsip pemberian
farmakoterapi pada skiofrenia adalah “start low, go slow” dimulai
dengan dosis rendah ditingkatkan sampai dosis noptimal kemudian
diturunkan perlahan untuk pemeliharaan.
b. Terapi psikososial
Salah satu dampak yang terjadi pada penderita skiofrenia adalah
menjalin hubungan sosial yang sulit. Hal ini dikarenakan skizofrenia
merusak fungsi sosial penderitanya. Untuk mengatasi hal tersebut,
penderita diberikan terapi psikososial yang bertujuan agar dapat kembali
beradaptasi dengan lingkungan sosialnya, mampu merawat diri sendiri,
tidak bergantung pada orang lain.
c. Rehabilitasi
Program rehabilitasi biasanya diberikan di bagian lain rumah sakit jiwa
yang dikhususkan untuk rehabilitasi. Terdapat banyak kegiatan,
diantaranya terapi okupasional yang meliputi kegiatan membuat
kerajinan tangan, melukis, menyanyi, dan lain- lain. Pada umumnya
program rehabilitasi ini berlangsung 3-6 bulan.
d. Program intervensi
keluarga Intervensi keluarga Dapat dikatakan seperti mempunyai banyak
variasi namun pada umumnya intervensi yang dilakukan difokuskan
pada aspek praktis dari kehidupan sehari-hari, mendidik anggota
keluarga tentang skizofrenia, mengajarkan bagaimana cara berhubungan
dengan cara yang tidak terlalu frontal terhadap anggota keluarga yang
menderita skiofrenia, meningkatkan komunikasi dalam keluarga, dan
memacu pemecahan masalah dan keterampilan koping yang baik.
[Link] KEPERAWATAN:
1. PENGKAJIAN
Merupakan tahapan awal dan data dasar utama dari proses
keperawatandan merupakan suatu proses yang sistematis dalam
pengumpulan data dari berbagai sumber untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status pasien data yang di kumpulkan meliputi data
biologis, psikologis, sosial, dan spiritual ( Zaini, 2019).
a. Identitas Klien Identitas ditulis lengkap meliputi nama, usia dalam
tahun, alamat, pendidikan, agama, status perkawinan, pekerjaan, jenis
kelamin, nomor rekam medis dan diagnosa medisnya.
b. Alasan Masuk Menanyakan kepada klien/keluarga/pihak yang
berkaitan dan tulis hasilnya, apa yang menyebabkan klien datang
kerumah sakit, apa yang sudah dilakukan oleh klien/keluarga sebelumnya
atau dirumah untuk mengatasi masalah ini dan bagaimana hasilnya.
c. Riwayat Penyakit Sekarang Menanyakan riwayat timbulnya gejala
gangguan jiwa saat ini, penyebab munculnya gejala, upaya yang
dilakukan keluarga untuk mengatasi dan bagaimana hasilnya.
d. Faktor predisposisi Menanyakan apakah klien pernah mengalami
gangguan jiwa dimasa lalu, pengobatan yang pernah dilakukan
sebelumnya, adanya trauma masa lalu, faktor genetik dan silsilah orang
tuanya dan pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan.
e. Pemeriksaan Fisik Mengkaji keadaan umum klien, tanda-tanda vital,
tinggi badan/ berat badan, ada/tidak keluhan fisik seperti nyeri dan lain-
lain.
f. Pengkajian Psikososial
1. Genogram
2. Konsep Diri Citra tubuh
a) Identitas diri
b) Peran
c) Ideal diri,
d) Harga diri
3. Hubungan Sosial
4. Spiritual
5. Status Mental
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Isolasi Sosial
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
Sp1 : Menjelaskan keuntugan dan kerugian mempunyai teman
Sp2 : Melatih klien berkenalan dengan dua orang atau lebih
Sp3 : Melatih klien bercakap-cakap sambil melakukan kegiatan harian
Sp4 : Melatih berbicara sosial : seperti meminta sesuatu dan sebagainya
(Stuart, 2016)
DAFTAR PUSTAKA
Arisandy, W. (2017). Pengaruh Penerapan Terapi Musikal Pada Pasien Isolasi Sosial
Terhadap Kemampuan Bersosialisasi Dirumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi
Sumatera Selatan Tahun 2017. In Proceeding Seminar Nasional Keperawatan.
3(1), 285-292.
Http://[Link]/[Link]/SNK/Article/View/785
Damanik, R. K., Pardede, J. A., & Manalu, L. W. (2020). Terapi Kognitif Terhadap
Kemampuan Interaksi Pasien Skizofrenia Dengan Isolasi Sosial. Jurnal Ilmu
Keperawatan dan Kebidanan, 11(2), 226-235. DOI:
[Link]
. Henry Dhany Saputra, Muhammad. Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Pasien
Skizofrenia Dengan Masalah Keperawatan Isolasi Sosial Di Rsjd Dr. Arif
Zainudin Surakarta. Diss. Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 2020.
Ningsih, Y. (2021). Penerapan Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Ny. K Dengan
Masalah Isolasi Sosial Di Wih Nongkal Toa.
. Pardede, J. A., & Ramadia, A. (2021). The Ability to Interact With Schizophrenic
Patients through Socialization Group Activity Therapy. International Journal,
9(1), 7.
Pardede, J. A. (2022). Koping Keluarga Tidak Efektif Dengan Pendekatan Terapi
Spesialis Keperawatan Jiwa.
Putri, N., & Pardede, J. A. (2022). Manajemen Asuhan Keperawatan Jiwa Pada
Penderita Skizofrenia Dengan Masalah Isolasi Sosial Menggunakan Terapi
Generalis Sp 1-4: Studi Kasus.