0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
157 tayangan64 halaman

Asuhan Keperawatan untuk Skizofrenia

Laporan pendahuluan asuhan keperawatan jiwa pada pasien Tn. T dengan diagnosa undifferentiated schizophrenia. Laporan ini membahas tentang definisi, etiologi, tanda dan gejala waham serta penatalaksanaan medisnya seperti pemberian litium karbonat dan haloperidol.

Diunggah oleh

Nanang Nhm
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
157 tayangan64 halaman

Asuhan Keperawatan untuk Skizofrenia

Laporan pendahuluan asuhan keperawatan jiwa pada pasien Tn. T dengan diagnosa undifferentiated schizophrenia. Laporan ini membahas tentang definisi, etiologi, tanda dan gejala waham serta penatalaksanaan medisnya seperti pemberian litium karbonat dan haloperidol.

Diunggah oleh

Nanang Nhm
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Tn. T DENGAN


DIAGNOSA MEDIS UNDIFFERENTIATED SCHIZOPHRENIA
DI RUANG GELATIK 4 DI RSJ MENUR SURABAYA

Oleh :

MAULANA MALIK IBRAHIM


(2114201058)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES NGUDIA HUSADA MADURA
2021-2022
HALAMAN PENGESAHAN

Penulis: Maulana Malik Ibrahim (2114901058)

Judul : Laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan jiwa pada Tn. T dengan
diagnosa medis undifferentiated schizophrenia
Laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan ini telah disahkan dan diperiksa pada
:
Hari :
Tanggal :
Tempat :

Surabaya, 2022
Mengetahui,
Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik (CI)

( ) ( )

Kepala Ruangan

( )
LAPORAN PENDAHULUAN

WAHAM

I. KASUS (MASALAH UTAMA)


Waham
II. DEFINISI
Waham merupakan suatu keyakinan yang salah dan dipertahankan

dengan kuat oleh klien tanpa disertai bukti- bukti yang jelas (Syahfitri,

Syahdi, Syafitri, & Pardede, 2022). Waham adalah gangguan dimana

penderitanya memiliki rasa realita yang berkurang atau terdistorsi dan tidak

dapat membedakan yang nyata dan yang tidak nyata (Manurung, & Pardede,

2022). Berdasarkan beberapa defisini diatas dapat disimpulkan bahwa

waham merupakan suatu keyakinan yang salah dan dipertahankan dengan

kuat oleh klien tanpa disertai buktibukti yang jelas.

III. ETIOLOGI
Menurut World Health Organization (2016) secara medis ada banyak

kemungkinan penyebab waham, termasuk gangguan neurodegeneratif,

gangguan sistem saraf pusat, penyakit pembuluh darah, penyakit menular,

penyakit metabolisme, gangguan endokrin, defisiensi vitamin, pengaruh

obat-obatan, racun, dan zat psikoaktif.

a. Faktor Predisposisi

1. Biologis Pola keterlibatan keluarga relative kuat yang muncul di kaitkan

dengan delusi atau waham. Dimana individu dari anggota keluarga yang di

manifestasikan dengan gangguan ini berada pada resiko lebih tinggi untuk
mengalaminya di bandingkan dengan populasi [Link] pada manusia

kembar juga menunjukan bahwa ada keterlibatan factor.

2. Teori Psikososial

a. System Keluarga Perkembangan skizofrenia sebagai suatu perkembangan

disfungsi [Link] diantara suami istri mempengaruhi anak.

Bayaknya masalah dalam keluarga akan mempengaruhi perkembangan anak

dimana anak tidak mampu memenuhi tugas perkembangan dimasa

dewasanya. Beberapa ahli teori menyakini bahwa individu paranoid

memiliki orang tua yang dingin, perfeksionis, sering menimbulkan

kemarahan,perasaan mementingkan diri sendiri yang berlebihan dan tidak

percaya pada individu. Klien menjadi orang dewasa yang rentan karena

pengalaman awal ini.

3. Teori Interpersonal Dikemukakan oleh Priasmoro (2018) di mana orang

yang mengalami psikosis akan menghasilkan suatu hubungan orang tua-anak

yang penuh dengan ansietas [Link] ini jika di pertahankan maka konsep

diri anak akan mengalami ambivalen.

4. Psikodinamika Perkembangan emosi terhambat karena kurangnya

rangsangan atau perhatian ibu, dengan ini seorang bayi mengalami

penyimpangan rasa aman dan gagal untuk membangun rasa percayanya

sehingga menyebabkan munculnya ego yang rapuh karena kerusakan harga

diri yang parah, perasaan kehilangan kendali, takut dan ansietas berat. Sikap

curiga kepada seseorang di manifestasikan dan dapat berlanjut di sepanjang


kehidupan. Proyeksi merupakan mekanisme koping paling umum yang di

gunakan sebagai pertahanan melawan perasaan.

b. Faktor Presipitasi

1. Biologi Stress biologi yang berhubungan dengan respon neurologik yang

maladaptif termasuk:

a) Gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur proses

informasi

b) Abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang

mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi

rangsangan.

2. Stres lingkungan Stres biologi menetapkan ambang toleransi terhadap

stress yang berinteraksi dengan stressor lingkungan untuk menentukan

terjadinya gangguan perilaku.

3. Pemicu gejala Pemicu merupakan prekursor dan stimulus yang yang

sering menunjukkan episode baru suatu penyakit. Pemicu yang biasa

terdapat pada respon neurobiologik yang maladaptif berhubungan dengan

kesehatan. Lingkungan, sikap dan perilaku individu (Direja, 2018)

IV. TANDA DAN GEJALA


Menurut Prakasa (2020) bahwa tanda dan gejala gangguan proses pikir

waham terbagi menjadi 8 gejala yaitu, menolak makan, perawatan diri,

emosi, gerakan tidak terkontrol, pembicaraan tidak sesuai, menghindar,

mendominasi pembicaraan, berbicara kasar.

1. Waham Kebesaran
a. DS : Klien mengatakan bahwa ia adalah presiden, Nabi, Wali, artis dan

lainnya yang tidak sesuai dengan kenyataan dirinya.

b. DO :

1) Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya

2) Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,

secara keseluruhan tidak dapat dimengerti

3) Klien mudah marah 4) Klien mudah tersinggung

2. Waham Curiga

a. DS :

1) Klien curiga dan waspada berlebih pada orang tertentu

2) Klien mengatakan merasa diintai dan akan membahayakan dirinya.

b. DO :

1) Klien tampak waspada

2) Klien tampak menarik diri

3) Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya

4) Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,

secara keseluruhan tidak dapat dimengerti )

3. Waham Agama

a. DS : Klien yakin terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan

berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

b. DO :

1) Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya

2) Klien tampak bingung karena harus melakukan isi wahamnya


3) Inkoheren (gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,

secara keseluruhan tidak dapat dimengerti)

4. Waham Somatik

a. DS :

1) Klien mengatakan merasa yakin menderita penyakit fisik

2) Klien mengatakan merasa khawatir sampai panik

b. DO :

1) Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya

2) Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,

secara keseluruhan tidak dapat dimengerti )

3) Klien tampak bingung

4) Klien mengalami perubahan pola tidur

5) Klien kehilangan selera makan

5. Waham Nihilistik

a. DS : Klien mengatakan bahwa dirinya sudah meninggal dunia, diucapkan

berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

b. DO :

1) Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya

2) Inkoheren ( gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,

secara keseluruhan tidak dapat dimengerti )

3) Klien tampak bingung

4) Klien mengalami perubahan pola tidur

5) Klien kehilangan selera makan


6. Waham Bizzare

a. Sisip Pikir :

1) DS :

a) Klien mengatakan ada ide pikir orang lain yang disisipkan dalam

pikirannya yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan

kenyataan.

b) Klien mengatakan tidak dapat mengambil keputusan

2) DO :

a) Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya

b) Klien tampak bingung

c) Inkoheren (gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,

secara keseluruhan tidak dapat dimengerti)

d) Klien mengalami perubahan pola tidur

b. Siar Pikir DS :

a) Klien mengatakan bahwa orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan

yang dinyatakan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan.

b) Klien mengatakan merasa khawatir sampai panik

c) Klien tidak mampu mengambil keputusan

DO :

a) Klien tampak bingung

b) Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya

c) Inkoheren (gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,

secara keseluruhan tidak dapat dimengerti)


d) Klien tampak waspada e) Klien kehilangan selera makan

c. Kontrol Pikir

1) DS :

a) Klien mengatakan pikirannya dikontrol dari luar

b) Klien tidak mampu mengambil keputusan

2) DO : - Perilaku klien tampak seperti isi wahamnya

a) Klien tampak bingung

b) Klien tampak menarik diri

c) Klien mudah tersinggung

d) Klien mudah marah

e) Klien tampak tidak bisa mengontrol diri sendiri

f) Klien mengalami perubahan pola tidur

g) Inkoheren (gagasan satu dengan yang lain tidak logis, tidak berhubungan,

secara keseluruhan tidak dapat dimengerti)

V. RENTANG RESPON
Menurut Darmiyanti (2016), rentang respon waham sebagai berikut :

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Pikiran logis Disorintasi Pikiran Waham

VI. PENATALAKSANAAN MEDIS


Menurut Prastika (2014) penatalaksanaan medis waham antara lain :

1. Psikofarmalogi

a. Litium Karbonat Jenis litium yang paling sering digunakan untuk

mengatasi gangguan bipolar, menyusul kemudian litium sitial. Litium masih


efektif dalam menstabilkan suasana hati pasien dengan gangguan bipolar.

Gejala hilang dalam jangka waktu 1-3 minggu setelah minum obat juga

digunakan untuk mencegah atau mengurangi intensitas serangan ulang

pasien bipolar dengan riwayat mania.

b. Haloperidol Obat antipsikotik (mayor tranquiliner) pertama dari turunan

butirofenon. Mekanisme kerja yang tidak diketahui. Haloperidol efektif

untuk pengobatan kelainan tingkah laku berat pada anak-anak yang sering

membangkang dan eksplosif. Haloperidol juga efektif untuk pengobatan

jangka pendek, pada anak yang hiperaktif juga melibatkan aktivitas motorik

berlebih memiliki kelainan tingkah laku seperti: Impulsif, sulit memusatkan

perhatian, agresif, suasana hati yang labil dan tidak tahan frustasi.

c. Karbamazepin Karbamazepin terbukti efektif, dalam pengobatan kejang

psikomotor, dan neuralgia trigeminal. Karbamazepin secara kimiawi tidak

berhubungan dengan obat antikonvulsan lain atau obat lain yang digunakan

untuk mengobati nyeri pada neuralgia trigeminal.

VII. ASUHAN KEPERAWATAN:


1. PENGKAJIAN
Menurut Damaiyanti (2017) hal-hal yang harus dikaji pada klien Waham

adalah:

1. Identifikasi klien Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan

dan kontrak dengan klien tentang: Nama klien, panggilan klien, Nama

perawat, tujuan, waktu pertemuan, topik pembicaraan.


2. Keluhan utama/alasan masuk Tanyakan pada keluarga/klien hal yang

menyebabkan klien dan keluarga datang ke Rumah Sakit, yang telah

dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah dan perkembangan yang

dicapai.

3. Tanyakan pada klien/keluarga, apakah klien pernah mengalami

gangguan jiwa pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami,

penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam

keluarga dan tindakan kriminal. Dapat dilakukan pengkajian pada

keluarga faktor yang mungkin mengakibatkan terjadinya gangguan:

a. Psikologis Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat

mempengaruhi respon psikologis dari klien.

b. Biologis Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau SSP,

pertumbuhan dan perkembangan individu pada prenatal, neonatus dan

anak-anak.

c. Sosial Budaya Seperti kemiskinan, konflik sosial budaya (peperangan,

kerusuhan, kerawanan), kehidupan yang terisolasi serta stress yang

menumpuk.

4. Aspek fisik/biologis Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital:

TD, nadi, suhu, pernafasan. Ukur tinggi badan dan berat badan, kalau

perlu kaji fungsi organ kalau ada keluhan.


5. Aspek psikososial

a. Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga generasi yang

dapat menggambarkan hubungan klien dan keluarga, masalah yang

terkait dengan komunikasi, pengambilan keputusan dan polaasuh.

b. Konsep diri

1) Citra tubuh: mengenai persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian yang

disukai dan tidak disukai.

2) Identitas diri: status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan klien

terhadap status dan posisinya dan kepuasanklien sebagai laki-

laki/perempuan.

3) Peran: tugas yang diemban dalam keluarga /kelompok dan masyarakat

dan kemampuan klien dalam melaksanakan tugas tersebut. 4) Ideal diri:

harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas, lingkungan dan

penyakitnya.

5) Harga diri: hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan

penghargaan orang lain terhadap dirinya, biasanya terjadi pengungkapan

kekecewaan terhadap dirinya sebagai wujud harga diri rendah

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Damaiyanti (2017) Masalah keperawatan yang sering muncul

pada klien waham adalah: Gangguan proses pikir: waham

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
Rencana Keperawatan yang diberikan pada klien tidak hanya berfokus

pada masalah waham sebagai diagnosa penyerta lain. Hal ini


dikarenakan tindakan yang dilakukan saling berkontribusi terhadap

tujuan akhir yang akan dicapai. Rencana tindakan keperawatan pada

klien dengan diagnosa gangguan proses pikir : waham yaitu (Keliat,

2009 dalam Manurung & Pardede, 2022) :

a. Sp 1

1) Latihan orientasi realita : orientasi orang, tempat, dan waktu serta

lingkungan sekitar

b. Sp 2

1) Minum obat secara teratur

c. Sp 3

1) Melatih cara pemenuhan kebutuhan dasar

d. Sp 4

1) Melatih kemampuan positif yang dimiliki


DAFTAR PUSTAKA

Syahfitri, M., Syahdi, D., Syafitri, F., & Pardede, J. A. (2022). Penerapan Asuhan
Keperawatan Jiwa Dengan Gangguan Proses Pikir: Waham Kebesaran
Pendekatan Strategi Pelaksanaan (SP) 1-4: Studi Kasus.
[Link]
WHO (2016). Scizofrenia. :
[Link]
Prakasa, A., & Milkhatun, M. (2020). Analisis Rekam Medis Pasien Gangguan
Proses Pikir Waham dengan Menggunakan Algoritma C4. 5 di Rumah Sakit
Atma Husada Mahakam Samarinda. Borneo Student Research (BSR), 2(1), 8-
15.
Manurung, J., & Pardede, J. A. (2022). Mental Nursing Care Management with
Delusion of greatness Problems in Schizophrenic Patients: A Case Study.
10.31219/[Link]/74sr5
Keliat, B. A., dkk. (2019). Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
LAPORAN PENDAHULUAN

RESIKO PRILAKU KEKERASAN

I. KASUS (MASALAH UTAMA)


Resiko Prilaku Kekerasan
II. DEFINISI
Resiko Perilaku Kekerasan adalah Suatu bentuk perilaku yang

bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis. Perilaku

kekerasan dapat dilakukan secara verbal, diarahkan pada diri sendiri, orang

lain, dan lingkungan. Perilaku kekerasan dapat terjadi dalam 2 bentuk yaitu

sedang berlangsung Perilaku Kekerasan atau riwayat Perilaku Kekerasan

(Muhith, 2015 dalam Untari & Kartina 2020).

III. ETIOLOGI
Faktor penyebab resiko Perilaku Kekerasan salah satunya adalah

situasi berduka yang berkepanjangan dari seseorang karena ditinggal oleh

seseorang yang dianggap penting. Jika hal ini tidak terhenti, maka akan

menyebabkan perasaan harga diri rendah yang sulit untuk bergaul dengan

orang lain(Yosep, 2013 dalam Untari & Kartina 2020).

IV. TANDA DAN GEJALA


Tanda dan gejala menurut Yosep (2010) dalam Madhani & Kartina (2020)

mengidentifikasi dan mengobservasi tanda dan gejala perilaku kekerasan

sebagai berikut : muka marah dan tegang, mata melotot/pandangan tajam,

tangan mengepal, rahang mengatup dan jalan mondar – mandir.

V. PROSES PENYAKIT
I. Faktor predisposisi
1. Kerusakan pada system limbic, khususnya yang sebagai
penengah antara amuk dan rasa takut. Lobus frontal sebagai
penengah antara emosi dan pemikiran rasional, menyebabkan
tidak mampu membuat keputusan, perubahan, kepribadian,
prilaku, tidak sesuai dan ledakan agresif. Hypotalamus
merupakan system alami otak. Neurotransmitter merupakan
kimiawi otak yang dapat menghambat dan memicu perilaku
kekerasan, seperti : stratonin, dopamine, neuropirupin,
arsikolon, dan gama aminobiotyric acid ( Gaba ) dan gangguan
otak organik, seperti :gangguan bipolar, syndrome otak organic
dan trauma otak.
2. Faktor psikologis
kegagalan berulang prestasi korban perilaku kekerasan
terpapar. Perilaku kekerasan gangguan proses pilar san
persepsi masa kanak-kanak tidak menyenangkan.
 Faktor sosial budaya
Tertutup pendendam, kontrol sosial tidak pasti.
Lingkungan dan budaya mempengaruhi cara dan sikap
individu mengungkapkan rasa marahnya. Biasanya
yang mendukung ungkapan marah dengan kekerasan
disertai adanya riwayat sebagai korban kekerasan, maka
kekerasan dianggap sebagai suatu cara yang diterima.
 Faktor perilaku
Reinforcement perilaku kekerasan terpapar perilaku
kekerasan.
II. Faktor presipitasi
1. Klien
- Kelemahan fisik
- Keputus asaan
- Ketidak berdayaan
- Percaya diri kurang
2. Interkasi
- Kritikan, penghinaan
- Kekerasan orang lain
- Kehilangan orang yang dicintai
- Provokatif dan konflik
3. Lingkungan
- Padat
- Ribut
III. Mekanisme koping
 Refresi yaitu penekanan di alam bawah sadar dan berusaha
melupakan masalah
 Supresi yaitu penekanan alam sadar sesaat yang lama kelamaan
akan menyelesaikan masalahnya sendiri
 Denial (penyangkalan) yaitu memblokir hal0hal yang menyakitkan
atau menimbulkan kecemasan.
 Disosiasi yaitu respon yang tidak sesuai dengan stimulus
Sumber koping :
- Status sosial ekonomi
- Keluarga
- Jaringan interpersonal
IV. RENTANG RESPON
Respon adaftif respon
maladaptive

Asirtif Frustasi Pasif Agresif Amuk / violent


violent

1) Asirtif yaitu kemarahan yang diungkapkan tanpa menyakitkan orang lain.


2) Frustasi yaitu kegagalan mencapai tujuan karena tidak realistis atau
terlambat.
3) Pasif yaitu respon lanjutan dimana klien mampu mengumgkapkan
perasaannya.
4) Agresif yaitu perilaku destruktif tapi masih terkontrol.
5) Amuk / violent yaitu prilaku destruktif yang tak terkontrol
Tanda tanda marah
 Emosi : tidak adekuat, tidak nyaman, rasa terganggu marah (dendam),
jengkel
 Fisik : muka marah, pandangan tajam, nafas pendek, keringat ,
peningkatan tekanan darah, penyalah gunaan zat
 Soaial : menarik diri, pendekatan, pengasingan, kekerasan ejekan ,
humor.
 Spiritual : kemahakerasan, kekurangan, tidak bermoral, kebejatan,
kereatifitas terhambat.
 Intelektual : mendominasi, bawah, sarkusme, berdebat, meremehkan.
V. PEMERIKSAAN DASAR DAN PENUNJANG
Dalam penegakkan diagnosis, pemeriksaan penunjang juga diperlukan

untuk mendukung hasil yang diperoleh dari wawancara, observasi dan tes.

Berikut ini adalah beberapa pemeriksaan penunjang yang bisa dipakai:

Investigasi Radiografi (CT Scan, Single Photon Emission Computed

Tomography, MRI) dan Investigasi Elektris (Electro-encephalography,

Simulasi Elektris). (Goghari et al. 2005 dalam Dewi Prisca, dkk, 2019 ).

VI. PENATALAKSANAAN MEDIS


Penatalaksanaan pasien dengan resiko perilaku kekerasan juga banyak dikaji

keakuratannya. Dari mulai memotivasi, terapi TAK (Terapi Aktivitas

Kelompok), konsumsi obat, dan pemberian perhatian lebih dari pihak

keluarga (Apriani dan Prasetya, 2018)

VII. ASUHAN KEPERAWATAN


Menurut (Anggit Madhani, 2021), asuhan keperawatan meliputi dari

pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi

keperawatan, dan evaluasi keperawatan.

A. Pengkajian

a. Identitas Nama, umur, jenis kelamin, No MR, tanggal masuk RS,

tangal pengkajian.

b. Alasan masuk Biasanya klien masuk dengan alasan sering

mengamuk tanpa sebab, memukul, membanting, mengancam,

menyerang orang lain, melukai diri sendiri, mengganggu lingkungan,

bersifat kasar dan pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu

kambuhkarena tidak mau minum obat secara teratur (Keliat,2016).


c. Faktor Predisposisi

1. Biasanya klien pernah mengalami gangguan jiwa pada masa lalu

dan pernah dirawat atau baru pertama kali mengalami 11

gangguan jiwa (Parwati, 2018).

2. Biasanya klien berobat untuk pertama kalinya kedukun sebagai

alternative serta memasung dan bila tidak berhasil baru di bawa

kerumah sakit jiwa

3. Trauma Biasnya klien pernah mengalami atau menyaksikan

penganiayaan fisik, seksual, penolakan, dari lingkungan.

4. Biasanya ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa,

kalau ada hubungan dengan keluarga, gejala, pengobatan dan

perawatan.

5. Biasanya klien pernah mengalami pengalaman masa laluyang

tidak menyenangkan misalnya, perasaan ditolak, dihina, dianiaya,

penolakan dari lingkungan.

6. Pengkajian Fisik

a. Ukur dan observasi tanda-tanda vital seperti tekanan darah

akan bertambah naik, nadi cepat, suhu, pernapasan terlihat

cepat.

b. Ukur tinggi badan dan berat badan.

c. Yang kita temukan pada klien dengan prilaku kekerasan pada

saat pemeriksaan fisik (mata melotot, pandangan tajam,

tangan mengepal, rahang mengatup, wajah memerah)


d. Verbal (mengancam, mengupat kata-kata kotor, berbicara

kasar dan ketus).

e. Psikososial

a) Genogram Genogram dibuat 3 generasi keatas yang dapat

menggambarkan hubungan klien dengan keluarga. Tiga

generasi ini dimaksud jangkauan yang mudah diingat oleh

klien maupu keluarg apa dasaat pengkajian.

b) Konsep diri Biasanya ada anggota tubuh klien yang tidak

disukai klien yang mempengaruhi keadaan klien saat

berhubungan dengan orang lain sehingga klien merasa

terhina, diejek dengan 12 kondisinya tersebut.

c) Identitas Biasanya pada klien dengan prilaku kekerasan

tidak puas dengan pekerjaannya, tidak puas dengan

statusnya, baik disekolah, tempat kerja dan dalam

lingkungan tempat tinggal.

d) Harga diri Biasanya klien dengan risiko prilaku kekerasan

hubungan dengan orang lain akan terlihat baik, harmoni

sata terdapat penolakan atau klien merasa tidak berharga,

dihina, diejek dalam lingkungan keluarga maupun diluar

lingkungan keluarga.

e) Peran diri Biasanya klien memiliki masalah dengan

peranatau tugas yang diembannya dalam keluarga,

kelompok atau masyarakat dan biasanya klien tidak


mampu melaksanakan tugas dan peran tersebut dan

merasa tidak berguna.

f) Ideal diri Biasanya klien memilki harapan yang tinggi

terhadap tubuh, posisi dan perannya baik dalam keluarga,

sekolah, tempat kerja dan masyarakat.

g) Hubungan sosial

1) Orang yang berarti Tempat mengadu, berbicara

2) Kegiatan yang diikuti klien dalam masyarakat dan

apakah klien berperan aktif dalam kelompok tersebut

3) Hambatan dalam berhubungan dengan orang

lain/tingkat keterlibatan klien dalam hubungan

masyarakat.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resiko Prilaku Kekerasan
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Rencana tindakan keperawatan pada klien dengan diagnosa gangguan

persepsi sensori Risiko perilaku kekerasan meliputi pemberian tindakan

keperawatan berupa terapi (Sulah, 2016) yaitu : 1. Mengontrol perilaku

kekerasan dengan cara tarik nafas dalam dan memukul kasur/ bantal 2.

Minum obat secara teratur. 3. kontrol perilaku kekerasan dengan cara

berbicara baik- baik 4. spiritual Strategi pelaksanaan pasien dengan

risiko perilaku kekerasan ada 4 cara antara lain SP 1 (identifikasi

penyebab, tanda-tanda, jenis perilaku kekerasan yang dilakukan dan

latihan cara mengontrol perilaku kekerasan secara fisik : tarik nafas


dalam dan pukul kasur bantal), SP 2 (Latihan minum obat), SP 3

(Latihan secara verbal 3 cara yaitu mengungkapkan, meminta, dan

menolak denganbenar), SP 4 (Latihan cara mengontrol perilaku

kekerasan dengan berdoa).


DAFTAR PUSTAKA

Anggit Madhani, A. (2021). Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Pasien Dengan Risiko
perilaku kekerasan (Doctoral dissertation, Universitas Kusuma Husada
Surakarta).

Apriani, K.T, & Prasetya, A.S., (2018). Penerapan Terapi Musik Pada Pasien yang
Mengalami Resiko Perilaku Kekerasan Diruang Melati Rumah Sakit Jiwa
Provinsi Lampung. Jurnal Kesehatan Panca Bhakti. Vol VI. No 1. Hal 84-90.

Dewi Prisca S., Marlina S. Mahajudin., (2019). GANGGUAN MEMORI VERBAL


PADA SKIZOFRENIA.

Keliat, B.A & Akemat (2016). Keperawatan jiwa : terapi Aktivitas kelompok. Ed.2.
EGC

Nursaly, E., & Damaiyanti, M. (2018). Analisis Praktik Klinik Keperawatan pada Tn.
E Risiko perilaku kekerasan dengan Intervensi Inovasi Terapi Berkebun
dengan Polybag terhadap Tanda-Tanda Gejala Risiko perilaku kekerasan di
RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda. [Link]

Parwati, I. G., Dewi, P. D., & Saputra, I. M. (2018). Asuhan Keperawatan


PerilakuKesehatan.

Silvia Nilam Untari & Irna Kartina, (2020). ASUHAN KEPERAWATAN JIWA
PADA PASIEN DENGAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN Fakultas
Ilmu Kesehatan Universitas Kusuma Husada Surakarta.
LAPORAN PENDAHULUAN

DEFISIT PERAWATAN DIRI

I. KASUS (MASALAH UTAMA)


Defisit Perawatan Diri
II. DEFINISI
Defisit Perawatan Diri (DPD) adalah ketidak mampuan melakukan

atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri (PPNI T. S., 2017). Penyebab

daritumant kurangnya perawatan diri yaitu : gangguan muskuloskelatal,

gangguan neuromuskuler, kelemahan, gangguan psikologis / psikototik dan

penurunan motivasi / minat, yang menyebabkan penurunan untuk melakukan

aktivitas perawatan diri mandi, berpakaian, makan, toileting serta berhias.

Defisit perawatan diri adalah keadaan dimana seseorang yang mengalami

kelainan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas

kehidupan sehari – hari secara mandiri. Tidak ada keinginan pasien untuk

mandi secara teratur, tidak menyisir rambut, pakaian kotor, bau badan, bau

nafas serta penampilan tidak rapi. Defisi perawatan diri merupakan salah

satu masalah yang timbul pada pasien gangguan jiwa (Sutejo, 2017).

III. ETIOLOGI
a. Faktor predisposisi (Nurhalimah, 2016).

1) Biologis , dimana deficit perawatan diri disebabkan oleh adanya penyakit

fisik dan mental yang disebabkan klien tidak mampu melakukan kperawatan

diri dan dikarenakan adanya factor herediter dimana terdapat anggota

keluarga yang mengalami gangguan jiwa.


2) Psikologis, adanya factor perkembangan yang memegang peranan yang

tidak kalah penting, hal ini dikarenakan keluarga terlalu melindungi dan

memanjakan individu tersebut sehingga perkembangan inisiatif menjadi

terganggu. Klien yang mengalami deficit perawatan diri dikarenakan

kemampuan realitas yang kurang yang menyebabkan klien tidak peduli

terhadao dir dan lingkungannya termasuk perawatan diri.

3) Social, kurangnya dukungan social dan situasi lingkungan yang

mengakibatkan penurunan kemampuan dalam merawat diri.

b. Factor presipitasi Faktor presipitasi yang menyebabkan deficit perawatan

diri yaitu penurunan motivasi, kerusakan kognitif/persepsi, cemas, lelah,

lemah yang menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan

diri. Menurut Rochmawati (2013), factor-faktor yang mempengaruhi

personal hygiene adalah :

1) Body Image Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi

kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu

tidak peduli dengan kebersihan dirinya.

2) Praktik Sosial Pada anak-anak yang selalu dimanja dalam kebersihan diri,

maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.

3) Status Sosial Ekonomi Personal hygiene memerlukan alat dan bahan

seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampoo, alat mandi semuanya yang

memerlukan uang untuk menyediakannya


4) Pengetahuan Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena

pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pad aklien

penderita DM, ia harus menjaga kebersihan kakinya.

5) Budaya Disebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh

dimandikan.

6) Kebiasaan Seseorang Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk

tertentu dalam perawatan diri seperti pengguanaan sabun, shampoo dan lain-

lain.

IV. TANDA DAN GEJALA


Menurut Nafiyati (2018) tanda dan gejala defisit perawatan diri terdiri dari

a. Data subjektif Klien mengatakan :

1) Malas mandi

2) Tidak mau menyisir rambut

3) Tidak mau menggosok gigi

4) Tidak mau memotong kuku

5) Tidak mau berhias/berdandan

6) Tidak bisa/tidak mau menggunakan alat mandi/kebersihan diri

7) Tidak menggunakan alat makan dan minum saat makan dan minum

8) BAB dan BAK sembarangan

9) Tidak membersihkan diri dan tempat BAB dab BAK

10) Tidak mengetahui cara perawatan diri yang benar


b. Data objektif

1) Badan bau, kotor, berdaki, rambut kotor, gigi kotor, kuku panjang.

2) Tidak menggunakan alat mandi pada saat mandi dan tidak mandi dengan

benar.

3) Rambut kusut, berantakan, kumis dan jenggot tidak rapi, serta tidak

mampu berdandan.

4) Pakaian tidak rapi, tidak mampu memilih, mengambil, memakai,

mengencangkan dan memindahkan pakaian, tidak memakai sepatu, tidak

mengkancingkan baju atau celana.

5) Memakai barang-barang yang tidak perlu dlaam berpakaian, mis:

memakai pakaian berlapis-lapis, penggunaa pakaian yang tidak sesuai.

Melepas barang-barang yang perlu dalam berpakaian, mis: telanjang.

6) Makan dan minum sembarangan dan berceceran, tidak menggunakan alat

makan, tidak mampu menyiapkan makanan, memindahkan makanan kea lat

makan, tidak mampu memegang alat makan, membawa makanan dari piring

ke mulut, mengunyah, menelan makanan secara aman dan menghabiskan

makanan.

7) BAB dan BAK tidak pada tempatnya, tidak membersihkan dir setelah

BAB dan BAK, tidak mampu menjaga kebersihan toilet dan menyiram toilet

setelah BAB dan BAK

V. PROSES PENYAKIT
Data yang biasa ditemukan dalam deficit perawatan diri (Hastuti, 2018)

adalah :
a. Data Subjektif

1) Klien merasa lemah

2) Malas untuk beraktivitas

3) Merasa tidak berdaya

b. Data Objektif

1) Rambut kotor, acak-acakan

2) Badan dan pakaian kotor dan bau

3) Mulut dan gigi bau 4) Kulit kusan dan kotor

5) Kuku panjang dan tidak terawat

VI. RENTANG RESPON


Menurut Yanti (2021) rentang respon perawatan diri pad aklien adalah

sebagai berikut :

Gambar rentang respon kognitif

Adaptif Maladaptif

Pola perawatan diri Kadang perawatan diri, Tidak melakukan


seimbang kadang tidak perawatan saat stress

Keterangan :

a. Pola perawatan diri seimbang, saat klien mendapatkan stressor dan

mampu untuk berperilaku adaptif, maka pola perawatan yang dilakukan

klien seimbang, klien masih melakukan perawatan diri.


b. Kadang perawatan kadang tidak, saat klien mendapatkan stressor kadang-

kadang klien tidak memperhatikan perawatan dirinya.

c. Tidak melakukan perawatan diri, klien mengatakan dia tidak peduli dan

tidak bisa melakukan perawatan saat stressor.

VII. PENATALAKSANAAN MEDIS


a. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri

b. Membimbing dan menolong klien merawat diri

c. Ciptakan lingkungan yang mendukung

[Link] KEPERAWATAN:
1. PENGKAJIAN
Defisit Perawatan Diri pada klien dengan ganngguan jiwa terjadi akibat

ada perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan

perawatan diri tampak dari ketidakmampuan merawat kebersihan diri

makan secara mandi,berhias diri secara mandiri dan eliminasi (buang air

besar/buang air kecil) secara mandiri. (Erlando, 2019)

a. Identitas Terdiri dari : nama klien, umur, jenis kelamin, alamat, agama,

pekerjaan, tanggal masuk, alasan masuk, nomor rekam medic, keluarga

yang dapat dihubungi.

b. Alasan masuk Merupakan penyebab klien atau keluarga datang, atau

dirawat dirumah sakit. Biasanya masalah yang dialami klien yaitu senang

menyendiri, tidak mau banyak berbicara dengan orang lain, terlihat

murung, penampilan acak-acakan, tidak peduli dengan diri sendiri dan

mulai mengganggu orang lain.


c. Factor predisposisi

1) Pada umumnya klien pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu.

2) Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan

perawatandiri.

3) Pengobatan sebelumnya kurang berhasil

4) Harga diri rendah, klien tidak mempunyai motivasi untuk merawat

diri.

5) Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan, yaitu perasaan

ditolak,dihina, dianiaya dan saksi penganiayaan.

6) Ada anggota keluarga yang pernah mengalami gangguan jiwa.

Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan yaitu kegagalan yang

dapatmenimbulkan frustasi

d. Pemeriksaan Fisik 15 Pemeriksaan TTV, pemeriksaan head to toe

yang merupakan penampilan klienyang kotor dan acak-acakan.

e. Psikososial

1) Genogram Menurut Hastuti (2018), genogram menggambarkan klien

dan anggota keluarga klien yang mengalami gangguan jiwa, dilihat dari

pola komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuhan.

2) Konsep Diri

a) Citra Tubuh Persepsi klien mengenai tubuhnya, bagian tubuh yang

disukai, reaksi klien mengenai tubuh yang disukai maupun tidak disukai

(Nurhaini, 2018).
b) Identitas Diri Kaji status dan posisi pasien sebelum klien dirawat,

kepuasan paien terhadap status dan posisinya, kepuasan klien sebagai

laki- laki atau perempuan (Bunaini, 2020).

c) Peran Diri Meliputi tugas atau peran klien didalam

keluarga/pekerjaan/kelompok maupun masyarakat, kemampuan klien

didalam melaksanakan fungsi atupun perannya, perubahan yang terjadi

disaat klien sakit maupun dirawat, apa yang dirasakan klien akibat

perubahan yang terjadi (Ndaha, 2021).

d) Ideal Diri Berisi harapan paien akan keadaan tubuhnya yang ideal,

posisi, tugas, peran dalam keluarga, pekerjaan/sekolah, harapan klien

akan lingkungan sekitar,dan penyakitnya (Grasela, 2021).

e) Harga Diri Kaji klien tentang hubungan dengan orang lain sesuai

dengan kondisi, dampak pada klien yang berhubugan dengan orang lain,

fungsi peran yang tidak sesuai dengan harapan, penilaian klien tentang

pandangan atau penghargaan orang lain (Safitri, 2020).

f) Hubungan Sosial Hubungan klien dengan orang lain akan sangat

terganggu karena penampilan klien yang kotor yang mengakibatkan 16

orang sekitar menjauh dan menghidnari klien. Terdapat hambatan dalam

berhubungan dengan orang lain (Bunaini, 2020).

g) Spiritual Nilai dan keyakinan serta kegiatan ibadah klien

terganggudikarenakan klien mengalami gangguan jiwa.


h) Status Mental

1) Penampilan Penampilan klien sangat tidak rapi, tidak mengetahui

caranya berpakaian dan penggunaan pakaian tidak sesuai (Putri, 2018).

2) Cara bicara/Pembicaraan Cara bicara klien yang lambat, gagap, sering

terhenti/bloking, apatis serta tidak mampu memulai pembicaraan (Malle,

2021).

3) Aktivitas motorik Biasanya klien tamoak lesu, gelisah, tremor dan

kompulsif (Putri, 2018).

4) Alam perasaan Klien tamoak sedih, putus asa, merasa tidak berdaya,

rendah diri dan merasa dihina (Malle, 2021).

5) Afek Klien tampak datar, tumpul, emosi klien berubahubah, kesepian,

apatis, depresi/sedih dan cemas (Putri, 2018).

6) Interaksi saat wawancara Respon klien saat wawancara tidak

kooperatif, mudah tersinggung, kontak kurang serta curiga yang

menunjukkan sikap ataupun peran tidak percaya kepada

pewawancara/orang lain.

7) Persepsi Klien berhalusinasi mengenai ketakutan terhadap hal-hal

kebersihan diri baik halusinasi pendengaran, penglihatan dan perabaan

yang membuat klien tidak ingin membersihkan diri dan klien mengalami

depersonalisasi.

8) Proses pikir Bentuk pikir klien yang otistik, dereistik, 17

sirkumtansial, terkadang tangensial, kehilanagn asosiasi, pembicaraan

meloncat dari topic dann terkadang pembicaraan berhenti tiba-tiba.


2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan Merupakan suatu masalah keperawatan klien

mencakup baik respon adaptif maupun maladaptif serta stressor yang

yang menunjang Elfriyani (2021) Diagnosa yang muncul pada defisit

perawatan diri :

1) Defisit perawatan diri

3. INTERVENSI KEPERAWATAN

a. Membina hubungan saling percaya dengan cara (menjelaskan

maksud dan tujuan interaksi, jelaskan tentang kontrak yang akan

dibuat, beri rasa aman dan sikap empati).

b. Sp 1:

1) Latih cara perawatan diri : mandi

c. Sp 2:

1) Latih cara perawatan diri: berhias

d. Sp 3:

1) Latih cara perawatan diri: makan dan minum

e. Sp 4:

1) Latih cara perawatan diri: BAK/BAB


DAFTAR PUSTAKA

Ppni, T. S. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan


Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indosesia.
Erlando, R. P. A. (2019). Terapi Kognitif Perilaku dan Defisit Perawatan Diri: Studi
Literatur. ARTERI: Jurnal Ilmu Kesehatan, 1(1), 94-100.
[Link] Hastuti, R. Y., & Rohmat, B. (2018).
Sutejo. (2017). Konsep Dan Praktik Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa: Gangguan
Jiwa Dan Psikososial . Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Nurhaini, D. (2018). "Pengaruh Konsep Diri Dan Kontrol Diri Dengan Perilaku
Konsumtif Terhadap Gadget." Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Nurhalimah. (2016). Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan,162-170.
Nafiyati, I., Susilaningsih, I., & Syamsudin, S. (2018). Tindakan Keperawatan
Melatih Cara Makan Pada Tn. Y Dengan Masalah Defisit Perawatan Diri
Makan. Jurnal Keperawatan Karya Bhakti , 4 (2), 14-19.
Yanti, RD, & Putri, VS (2021). Pengaruh Penerapan Standar Komunikasi Defisit
Perawatan Diri terhadap Kemandirian Merawat Diri pada Pasien Skizofrenia di
Ruang Rawat Inap Delta Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Jurnal
Akademika Baiturrahim Jambi , 10 (1), 31-38.
Hastuti, R. Y., & Rohmat, B. (2018). Pengaruh Pelaksanaan Jadwal Harian Perawatan
Diri Terhadap Tingkat Kemandirian Merawat Diri Pada Pasien Skizofrenia Di
Rsjd Dr. Rm Soedjarwadi Provinsi Jawa Tengah. Gaster, 16(2), 177-190.
Elfariyani, AR (2021). Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Masalah Defisit
Perawatan Diri Pada Diagnosa Medis Stroke Di Ruang Edelweis RSUD Ibnu
Sina Gresik (Disertasi Doktor, UNIVERSITAS AIRLANGGA).
LAPORAN PENDAHULUAN

HARGA DIRI RENDAH

I. KASUS (MASALAH UTAMA)


HDR (HARGA DIRI RENDAH)
II. DEFINISI
Harga diri rendah adalah disfungsi psikologis yang meluas dan

terlepas dari spesifiknya. Masalahnya, hampir semua pasien menyatakan

bahwa mereka ingin memiliki harga diri yang lebih baik. Jika kita hanya

mengurangi harga diri rendah, banyak masalah psikologis akan berkurang

atau hilang secara substansial sepenuhnya. Harga diri merupakan komponen

psikologis yang penting bagi kesehatan. Banyak penelitian sebelumnya

menunjukkan bahwa harga diri yang rendah sering kali menyertai gangguan

kejiwaan. Harga diri yang tinggi dikaitkan dengan kecemasan yang rendah,

efektif dalam kelompok dan penerimaan orang lain terhadap dirinya,

sedangkan masalah kesehatan dapat menyebabkan harga diri, sehingga harga

diri dikaitkan dengan hubungan interperonal yang buruk dan beresiko

terjadinya depresisehingga perasaan negatif mendasari hilangnya

kepercayaan diri dan harga diri individu dan menggambarkan gangguan

harga diri (Wijayati et al., 2020).

III. ETIOLOGI
Harga diri rendah situasional disebabkan karena adanya

ketidakefektifan koping individu akibat kurangnya umpan balik yang positif.

Penyebab harga diri rendah juga dapat terjadi pada masa kecil sering

disalahkan, jarang diberi pujian atas keberhasilannya. Saat individu


mencapai masa remaja keberadaannya kurang dihargai, tidak diberi

kesempatan dan tidak diterima. Menjelang dewasa awal sering gagal

disekolah, pekerjaan atau pergaulan. Menurut NANDA (2017) faktor yang

mempengaruhi harga diri rendah meliputi faktor Predisposisi dan faktor

Presipitasi yaitu :

1. Faktor Predisposisi

a. Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua,

harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang, kurang

mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain, dan

ideal diri yang tidak realistis.

b. Faktor yang mempengaruhi performa peran adalah stereo type peran

gender, tuntutan peran kerja, dan harapan peran budaya.

c. Faktor yang mempengaruhi identitas pribadi meliputi ketidakkepercayaan

orang tua, tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan struktur sosial.

2. Faktor Presipitasi Faktor presipitasi terjadi haga diri rendah biasanya

adalah kehilangan bagian tubuh, perubahan penampilan/bentuk tubuh,

kegagalan atau produktifitas yang menurun. Secara umum, ganguan konsep

diri harga diri rendah ini dapat terjadi secara stuasional atau kronik. Secara

situasional karena trauma yang muncul secara tiba-tiba, misalnya harus

dioperasi, kecelakaan, perkosaan atau dipenjara. Termasuk dirawat dirumah

sakit bisa menyebabkan harga diri rendah disebabkan karena penyakit fisik

atau pemasangan alat bantu yang membuat klien tidak nyaman (Yosep,

2016).
3. Perilaku Pengumpulan data yang dilakukan oleh perawat meliputi perilaku

yang objektif dan dapat diamati serta perasaan subjektif dan dunia dalam diri

klien sendiri. Perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah salah

satunya mengkritik diri sendiri, sedangkan keracuan identitasseperti sifat

kepribadian yang bertentangan serta depersonalisasi (Stuart, 2018).

IV. TANDA DAN GEJALA


Menurut Saptina, (2020) tanda dan gejala pada harga diri rendah yaitu:

1. Data Subjektif

a. Mengintrospeksi diri sendiri.

b. Perasaan diri yang berlebihan.

c. Perasaan tidak mampu dalam semua hal.

d. Selalu merasa bersalah

e. Sikap selalu negatif pada diri sendiri.

f. Bersikap pesimis dalam kehidupan.

g. Mengeluh sakit fisik.

h. Pandangan hidup yang terpolarisasi.

i. Menentang kemampuan diri sendiri.

j. Menjelek-jelekkan diri sendiri.

k. Merasakan takut dan cemas dalam suatu keadaan.

l. Menolak atau menjauh dari umpan balik positif.

m. Tidak mampu menentukan tujuan.

2. Data Obyektif

1. Produktivitas menjadi menurun.


2. Perilaku distruktif yang terjadi pada diri sendiri.

3. Perilaku distruktif yang terjadi pada orang lain.

4. Penyalahgunaan suatu zat.

5. Tindakan menarik diri dari hubungan sosial.

6. Mengungkapkan perasaan bersalah dan malu.

7. Muncul tanda depresi seperti sukar tidur dan makan.

8. Gampang tersinggung dan mudah marah.

V. PROSES PENYAKIT
Harga diri rendah kronis terjadi merupakan proses kelanjutan dari

harga diri rendah situasional yang tidak terselesaikan. Atau dapat juga terjadi

karena individu tidak pernah mendapat feed back dari lingkungan tentang

prilaku klien sebelumnya bahkan kecendrungan lingkungan yang selalu

memberi respon negatif mendorong individu menjadi harga diri rendah.

Harga diri rendah kronis terjadi disebabkan banyak faktor. Awalnya individu

berada pada suatu situasi yang penuh dengan stressor (krisis), individu

berusaha menyelesaikan krisis tetapi tidak mampu atau merasa gagal

menjalankan fungsi dan peran. Penilaian individu terhadap diri sendiri

karena kegagalan menjalankan fungsi dan peran adalah kondisi harga diri

rendah situasional, jika lingkungan tidak memberi dukungan positif atau

justru menyalahkan individu dan terjadi secara terus menerus akan

mengakibatkan individu mengalami harga diri rendah kronis(Samosir, 2020)


VI. RENTANG RESPON
Konsep diri merupakan aspek kritikal dan dasar dari perilaku individu.

Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang

terlihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan

penguasaan lingkungan. Konsep diri yang negatif dapat dilihat dari

hubungan individu an sosial yang maladaptif.

Gambar Rentang respon konsep - diri ( Stuart G.W, 2018)

Adaptif Maladaptif
Aktualisasi diri Konsep diri Harga diri kerancuan identitas
Depersonalisasi Positif Rendah
Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif

dengan latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima.

Konsep diri positif merupakan bagaimana seseorang memandang apa yang

ada pada dirinya meliputi citra dirinya. Ideal dirinya harga dirinya,

penampilan peran serta identitas dirinya secara positif. Hal ini akan

menunjukan bahwa individu itu akan menjadi individu yang sukses.

VII. PENATALAKSANAAN MEDIS


Terapi pada gangguan jiwa skizofrenia dewasa ini sudah

dikembangkan sehingga penderita tidak mengalami diskriminasi bahkan

metodenya lebih manusiawi dari pada masa sebelumnya (Pardede, Keliat, &

Wardani, 2020). Terapi yang dimaksud meliputi:

1. Psikofarmaka Berbagai jenis obat psikofarmaka yang beredar dipasaran

yang hanya diperoleh dengan resep dokter, dapat dibagi dalam


2. Golongan yaitu golongan generasi pertama (typical) dan golongan kedua

(atypical). Obat yang termasuk golongan generasi pertama misalnya

chlorpromazine HCL (psikotropik untuk menstabilkan senyawa otak),

dan Haloperidol (mengobati kondisi gugup). Obat yang termasuk

generasi kedua misalnya, Risperidone (untuk ansietas), Aripiprazole

(untuk antipsikotik).

3. Psikoterapi

Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi

dengan orang lain, penderita lain, perawat dan dokter, maksudnya supaya

ia tidak mengasingkan diri lagi karena bila ia menarik diri ia dapat

membentuk kebiasaan yang kurang baik. Dianjurkan untuk mengadakan

permainan atau latihan bersama (Rokhimma & Rahayu, 2020)

[Link] KEPERAWATAN:
1. PENGKAJIAN
Wawancara pengkajian yang memerlukan keterampilan komunikasi

efektif secara linguistic dan kultural, wawancara, observasi perilaku,

tinjauan catatan-catatan data dasar, serta pengkajian komprehensif

terhadap pasien dan sistem yang relevan memungkinkan perawat

kesehatan jiwa – psikiatri untuk membuat penilaian klinis dan rencana

tindakan yang tepat dengan pasien. Tahap pertama pengkajian meliputi

factor predisposisi seperti: psikologis tanda dan tingkah laku klien dan

mekanisme koping klien. Pengkajian meliputi beberapa faktor, yaitu:


a. Faktor predisposisi

factor predisposisi terjadinya harga diri rendah adalah penolakan

orangtua yang tidak realistis, kegagalan berulang kali, kurang

mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain,

ideal diri yang tidak realistis (yosep, 2016).

b. Faktor presipitasi

1) faktor prespitasi meliputi: Konflik peran terjadi apabila peran yang

diinginkan individu, sedang diduduki individu lain.

2) Peran yang tidak jelas terjadi apabila individu diberikan peran yang

kabur, sesuai perilaku yang diharapkan.

3) Peran yang tidak sesuai terjadi apabila individu dalam proses

peralihan mengubah nilai dan sikap.

4) Peran berlebihan terjadi jika seseorang individu memiliki banyak

peran dalam kehidupannya.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Harga Diri Rendah

3. INTERVENSI KEPERAWATAN
Perawat kesehatan jiwa mengembangkan rencana asuhan yang

menggambarkan intervensi untuk mencapai hasil yang diharapkan.

Rencana asuhan digunakan untuk memandu intervensi terapeutik secara

sistematis dan mencapai hasil pasien yang diharapkan.

a. Sp 1
1) Diskusikan bersama klien tentang kemampuan positif yang

dimiliki

b. Sp 2

1) Bantu klien menilai kemampuan yang dapat digunakan

2) Bantu klien menetapkan kemampuan yang dapat digunakan

3) Melatih kegiatan sesuai kemampuan yang dipilih 1

c. Sp 3

1) Latih kegiatan sesuai kemampuan yang dipilih 2

d. Sp 4

1) Latih kegiatan sesuai kemampuan yang dipilih 3


DAFTAR PUSTAKA

Wijayati, F., Nasir, T., Hadi, I., & Akhmad, A. (2020). Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Kejadian Harga Diri Rendah Pasien Gangguan Jiwa.
Health Information: Jurnal Penelitian, 12(2), 224-235
[Link]
Samosir, E. F. (2020). Penerapan Asuhan Keperawatan Jiwa Pada An . A Dengan
Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah Di Lingk . XVI Lorong Jaya. 1–41.
Suprapto, S. (2018). Pengetahuan Dan Sikap Masyarakat Dalam Upaya Pencegahan
Tuberkulosis Di Wilayah Kerja Puskesmas Batua Kota Makassar. Jurnal Ilmiah
Kesehatan Sandi Husada, 1114–1124. [Link]
21.
Suryani, U., & Efendi, Z. (2020). Dukungan Keluarga Berhubungan dengan Harga
Diri pada Penderita Tuberkulosis Paru. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 3(1), 53.
[Link]
Widhaswari, D. O. (2017). Asuhan keperawatan psikososial harga diri rendah
situasional pada klien dengan diabetes mellitus dan luka gangren di Ruang Antasena
RS DR. H. Marzoeki Mahdi Bogor 21.
Wilkinson, J.M., & Ahern, N. R. (2009). Buku saku diagnosis keperawatan. Edisi 9.
Jakarta: EGC
LAPORAN PENDAHULUAN

HALUSINASI

I. KASUS (MASALAH UTAMA)


Halusinasi
II. DEFINISI
Halusinasi adalah perasaan tanpa adanya suatu rangsangan (objek)

yang jelas dari luar diri klien terhadap panca indera pada saat klien dalam

keadaan sadar atau bangun. Halusinasi terbagi dalam 5 jenis, yaitu halusinasi

penglihatan, halusinasi penciuman, halusinasi pengecapan, halusinasi

perabaan dan halusinasi pendengaran. (Agustina M & Wijayanto, 2017).

Halusinasi merupakan distorsi persepsi palsu yang terjadi pada respon

neurobiologist maladaptive, penderita sebenarnya mengalami distorsi sensori

sebagai hal yang nyata dan meresponnya (Pardede, 2020).

III. ETIOLOGI
Etiologi halusinasi menurut (Wulandari & Pardede, 2022) antara lain:

a. Faktor Predisposisi

1. Faktor Perkembangan Hambatan perkembangan akan mengganggu

hubungan interpersonal yang dapat meningkatkan stress dan ansietas yang

dapat berakhir dengan ganggguan persepsi. Pasien mungkin menekan

perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif.

2. Faktor Sosial Budaya Berbagai faktor di masyarakat yang membuat

seseorang merasa disingkirkan atau kesepian, selanjutnya tidak dapat diatasi

sehingga timbul gangguan seperti delusi dan halusinasi.


3. Faktor Psikologis Hubungan interpersonal seseorang yang tidak harmonis,

serta peran ganda atau peran yang bertentangan dapat menimbulkan ansietas

berat berakhir dengan pegingkaran terhadap kenyataan, sehingga terjadi

halusinasi.

4. Faktor Biologis Struktur otak yang abnormal ditemukan pada pasien

gangguan orientasi realitas, serta dapat ditemukan atropik otak, perubahan

besar, serta bentuk sel kortikal dan limbic.

5. Faktor Genetik Gangguan orientasi realitas termasuk halusinasi umumnya

ditemukan pada pasien skizofrenia. Skizofrenia ditemukan cukup tinggi pada

keluarga yang salah satu anggota keluarganya mengalami skizofrenia, serta

akan lebih tinggi jika kedua orang tua skizofrenia.

b. Faktor Presepitasi Faktor Presipitasi menurut (Hulu & Pardede, 2022)

1. Stresor Sosial Budaya Stress dan kecemasan akan meningkat bila terjadi

penurunan stabilitas keluarga, perpisahan dengan orang yang penting, atau

diasingkan dari kelompok dapat menimbulkan halusinasi.

2. Faktor Biokimia Penelitian tentang dopamin, norepinetrin, indolamin,

serta zat halusigenik diduga berkaitan dengan gangguan orientasi realitas

termasuk halusinasi.

3. Faktor Psikologis Intensitas kecemasan yang ekstream dan memanjang

disertai terbatasnya kemampuan mengatasi masalah memungkinkan

berkembangnya gangguan orientasi realistis. Pasien mengembangkan koping

untuk menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan.


4. Faktor Perilaku Perilaku yang perlu dikaji pada pasien dengan gangguan

orientasi realitas berkaitan dengan perubahan proses pikir, afektif persepsi,

motorik, dan social.

IV. TANDA DAN GEJALA


Pardede, et al (2021). Tanda dan gejala halusinasi penting diketahui oleh

perawat agar dapat menempatkan masalah halusinasi antara lain :

1. Berbicara, tertawa dan tersenyum sendiri

2. Bersikap seperti mendengarkan sesuatu

3. Berhenti berbicara sesaat ditengah-tengah kaimat untuk mendengarkan

sesuatu

4. Disorientasi

5. Tidak mampu atau kurang konsentrasi

6. Cepat berubah pikiran

7. Alur Social kacau

8. Respon yang tidak sesuai

9. Menarik diri

10. Respon yang tidak sesuai

11. Suka marah dengan tiba- tiba dan menyerang orang lain tanpa sebab.

12. Sering melamun

V. PROSES PENYAKIT
1. Faktor Predisposisi
a. Biologis
Faktor biologis terkait dengan adanya neuropatologi dan

ketidakseimbangan dari neurotransmiternya. Dampak yang dapat


dinilai sebagai manifestasi adanya gangguan adalah perilaku

maladaptif klien. Secara biologis riset neurobiologikal memfokuskan

pada tiga area otak yang dipercaya dapat melibatkan klien mengalami

halusinasi yaitu sistem limbik, lobus frontalis dan hypothalamus.

b. Psikologis

Meliputi konsep diri, intelektualitas, kepribadian, moralitas,

pengalaman masa lalu, koping dan keterampilan komunikasi secara

verbal . Konsep diri dimulai dari gambaran diri secara keseluruhan

yang diterima secara positif atau negatif oleh seseorang. Penerimaan

gambaran diri yang negative menyebabkan perubahan persepsi

seseorang dalam memandang aspek positif lain yang dimiliki.

c. Genetik
Genetik juga dapa memicu terjadi halusinasi pada seorang

[Link] genetik dapat berperan dalam respon sosial

maladaptif. Terjadinya penyakit jiwa pada individu juga dipengaruhi

oleh keluarganya dibanding dengan individu yang tidak mempunyai

penyakit terkait. Banyak riset menunjukkan peningkatan risiko

mengalami skizofrenia pada individu dengan riwayat genetik terdapat

anggota keluarga dengan skizofrenia. Pada kembar dizigot risiko

terjadi skizofrenia 15%, kembar monozigot 50%, anak dengan salah

satu orang tua menderita skizofrenia berisiko 13%, dan jika kedua

orang tua mendererita skizofrenia berisiko 45% (Pratiwi, 2018).


d. Sosial Budaya

Kultur atau budaya, kepercayaan kebudayaan klien dan nilai pribadi

mempengaruhi masalah klien dengan halusinasi. Berdasarkan

beberapa pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa status social

ekonomi, pendidikan yang rendah, kurangnya pengetahuan, motivasi

yang kurang dan kondisi fisik yang lemah dapat mempengaruhi klien

dalam mempertahankan aktifitas klien yang mengalami halusinasi

(Latifah, 2019).

2. Faktor Presipitasi

Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah

adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak

berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap

stressor dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan

kekambuhan (Keliat, 2014). Faktor presipitasisebagai suatu stimulus

yang dipersepsikan oleh individu apakah dipersepsikan sebagai suatu

kesempatan, tantangan, ancaman/tuntutan. Stressor presipitasi bisa

berupa stimulus internal maupun eksternal yang mengancam individu.

Komponen stressor presipitasi terdiri atas sifat, asal, waktu dan jumlah

stressor (Stuart, 2013).

VI. RENTANG RESPON


Menurut Yusuf (2015, respon perilaku pasien dapat berada dalam rentang

adaptif sampai maladaptive yang dapat digambarkan sebagai berikut:


1. Respon adaptif berdasarkan rentang respon halusinasi menurut (Yusuf,

Rizki & Hanik, 2015), meliputi :

a. Pikiran logis berupa mendapat atau pertimbangan yang dapat di terima

akal.

b. Persepsi akurat berupa pandangan dari seseorang tentang sesuatu

peristiwa secara cermat dan tepat sesuai perhitungan.

c. Emosi konsisten dengan pengalaman berupa ke mantapan perasaan jiwa

yang timbul sesuai dengan peristiwa yang penuh di alami.

d. Perilaku sesuai dengan kegiatan individu atau sesuatu yang berkaitan

dengan individu tersebut di wujudkan dalam bentuk gerak atau ucapan yang

bertentangan dengan moral.

e. Hubungan social dapat di ketahui melalui hubungan seseorang dengan

orang lain dalam pergaulan di tengah masyarakat.

2. Respon maladaptive Respon maladaptive berdasarkan rentang respon

halusinasi menurut (Sianturi & Pardede, 2022 )

a. Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh di pertahankan

walaupun tidak di yakini oleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan

social.

b. Halusinasi merupakan gangguan yang timbul berupa persepsi yang salah

terhadap rangsangan.

c. Tidak mampu mengontrol emosi berupa ketidak mampuan atau

menurunnya kemampuan untuk mengalami kesenangan kebahagiaan,

keakraban, dan kedekatan.


d. Ketidakteraturan perilaku berupa ketidakselarasan antara perilaku dan

gerakan yang di timbulkan.

e. Isolasi social adalah kondisi kesendirian yang di alami oleh individu.

VII. PENATALAKSANAAN MEDIS


Menurut Rahayu (2016), penatalaksanaan medis pada pasien halusinasi

pendengaran dibagi menjadi dua:

1. Terapi Farmakologi

a. Haloperidol

1) Klasifikasi : antipskotik, neuroleptic, butirofenon

2) Indikasi Penatalaksanaan psikosis kronik dan akut, pengendalian

hiperaktivitas dan masalah perilaku berat pada anak-anak.

3) Mekanisme Kerja Mekanisme kerja anti psikotik yang tepat belum

dipenuhi sepenuhnnya, tampak menekan susunan saraf pusat pada tingkat

subkortikal formasi retricular otak, mesenfalon dan batang otak.

4) Kontraindikasi Hipersensivitas terhadap obat ini pasien depresi SSP dan

sumsum tulang belakang, kerusakan otak subkortikal, penyakit Parkinson

dan anak dibawah usia 3 tahun.

5) Efek Samping Sedasi, sakit kepala, kejang, insomnia, pusing, mulut

kering dan anoreksia

b. Clorpromazin

1). Klasifikasi : sebagai antipsikotik, antiemetic.


2). Indikasi Penanganan gangguan psikotik seperti skizofrenia, fase mania

pada gangguan bpolar, gangguan skizofrenia, ansietas dan agitasi, anak

hiperaktif yang menunjukkan aktivitas motorik berlebih.

3). Mekanisme Kerja Mekanisme kerja antipsikotik yang tepat belum

dipahami spenuhnya, namun berhubungan dengan efek antidopaminergik.

Antipsikotik dapatmenyekat reseptor dipamine postsinaps pada ganglia basa,

hipotalamus, system limbic, batang otak dan medulla.

4). Kontraindikasi Hipersensitivitas terhadap obat ini, pasien koma atau

depresi sumsum tulang, penyakit Parkinson, insufiensi hati, ginjal dan

jantung, anak usia dibawah 6 tahun dan wanita selama masa kehamilan dan

laktasi.

5). Efek Samping Sedasi, sakit kepala, kejang, insomnia, pusing, hipertensi,

ortostatik, hipotensi, mulut kering, mual dan muntah.

c. Trihexypenidil ( THP )

1) Klasifikasi antiparkinson

2) Indikasi Segala penyakit Parkinson, gejala ekstra pyramidal berkaitan

dengan obat antiparkinson.

3) Mekanisme Kerja Mengorks ketidakseimbangan defisiensi dopamine dan

kelebihan asetilkolin dalam korpus striatum, asetilkolin disekat oleh sinaps

untuk menguragi efek kolinergik berlebihan.

4) Kontraindikasi Hipersensitivitas terhadap obat ini, glaucoma sudut

tertutup, hipertropi prostat pada anak dibawah usia 3 tahun.


5) Efek Samping Mengantuk, pusing, disorientasi, hipotensi, mulut kering,

mual dan muntah.

2. Terapi Non Farmakologi

[Link] Aktivitas Kelompok Terapi aktivitas kelompok yang sesuai dengan

Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi adalah TAK Stimulasi Persepsi.

b. Elektro Convulsif Therapy ( ECT ) Merupakan pengobatan secara fisik

meggunakan arus listrik dengan kekuatan 75-100 volt, cara kerja belum

diketahui secara jelas namun dapat dikatakan bahwa terapi ini dapat

memperpendek lamanya serangan Skizofrenia dan dapat permudahk kontak

dengan orang lain.

c. Pengekangan atau pengikatan Pengembangan fisik menggunakan

pengekangannya mekanik seperti manset untuk pergelangan tangan dan

pergelangan kaki dimana klien pengekangan dimana klien dapat dimobilisasi

dengan membalutnya, cara ini dilakukan padda klien halusinasi yang mulai

menunjukkan perilaku kekerasan diantaranya: marahmarah atau mengamuk.

[Link] KEPERAWATAN:
1. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal dalam melakukan sebuah asuhan

keperawatan (Wulandari & Pardede, 2022). Metode yang digunakan

dalam tahap pengkajian data adalah wawancara, observasi, pemeriksaan

fisik, serta studi dokumentasi (Syahdi & Pardede 2022).

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Halusinasi
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
SP 1 Pasien Halusinasi: Bantu pasien mengenali halusinasinya dengan

cara diskusi dengan pasien tentang halusinasinya, waktu terjadi

halusinasi muncul, frekuesi terjadinya halusinasi, situasi yang

menyebabkan halusinasi muncul, respon pasien saat halusinasi muncul

dan ajarkan pasien untuk mengontrol halusinasinya dengan cara pertama

yaitu dengan menghardik halusinasinya. Pasien dilatih untuk

mengatakan tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak

memperdulikan halusinasinya.

SP 2 Pasien Halusinasi: Ajarkan pasien untuk mengontrol halusinasinya

dengan cara kedua yaitu dengan bercakap-cakap dengan orang lain.

Ketika pasien bercakap-cakap deengan orang lain, maka akan terjadi

pengalihan perhatian, focus perhatian pasien akan teralih dari halusinasi

ke percakapan yang dilakukan dengan orang lain.

SP 3 Pasien Halusinasi: Ajarkan pasien untuk mengontrol halusinasinya

dengan aktivitas terjadwal. Dengan melakukan aktivitas secara

terjadwal, pasien tidak akan mengalami banyak waktu luang sendiri

yang sering kali mencetuskan halusinasi.

SP 4 Pasien Halusinasi: Berikan pasien pendidikan kesehatan tentang

penggunaan obat secara teratur. Untuk mengontrol halusinasi, pasien

harus dilatih untuk menggunakan obat secara teratur sesuai dengan

program.
DAFTAR PUSTAKA

Pardede, J. A., Damanik, R. K., Simanullang, R. H., & Sitanggang, R. (2020). The
Effect Of Cognitive Therapy On Changes In Self-Esteem On Schizophrenia
Patients. European Journal of Molecular & Clinical Medicine, 7(11), 2020.

Pardede, J. A. (2021). Standar Asuhan Keperawatan Dengan Kesiapan Peningkatan


Pengetahuan.

Wulandari, Y., & Pardede, J. A. (2022). Aplikasi Terapi Generalis Pada Penderita
Skizofrenia Dengan Masalah Halusinasi Pendengaran.
[Link]

Syahdi, D., & Pardede, J. A. (2022). Penerapan Strategi Pelaksanaan (SP) 1-4
Dengan Masalah Halusinasi Pada Penderita Skizofrenia: Studi Kasus.

Pratiwi, M., & Setiawan, H. (2018). Tindakan Menghardik Untuk Mengatasi


Halusinasi Pendengaran Pada Klien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa. Jurnal
Kesehatan, 7(1), 7-13. [Link]
LAPORAN PENDAHULUAN

ISOLASI SOSIAL

I. KASUS (MASALAH UTAMA)


Isolasi Sosial
II. DEFINISI
Isolasi sosial merupakan kondisi kesendirian yang di alami oleh

individu dan dipersepsikan disebabkan orang lain dan sebagai kondisi yang

negatif dan mengancam. Kondisi isolasi sosial seseorang merupakan

ketidakmampuan klien dalam mengungkapkan perasaan klien yang dapat

menimbulkan klien mengungkapkan perasaan klien dengan kekerasan

(Sukaesti, 2018 dalam Putri & Pardede, 2022). Isolasi sosial adalah kondisi

dimana pasien selalu merasa sendiri dengan merasa kehadiran orang lain

sebagai ancaman (Ningsih, 2021).

III. ETIOLOGI
Pasien dengan masalah kekurangan keterampilan sosial, tidak biasa

berkomunikasi dengan orang lain secara efektif, mengalami kesulitan dalam

menjalin pertemanan, mampu memecahkan masalah, menemukan dan

memelihara pekerjaan, yang merupakan alasan mereka mengisolasi diri

masyarakat, keterampilan sosial yang buruk terkait erat dengan kekambuhan

penyakit dan pasien kembali ke rumah sakit (Pardede & Ramadia, 2021).

a. Predisposisi Predisposisi adalah ada juga faktor presipitasi yang menjadi

penyebab antara lain adanya stressor sosial budaya serta stressor psikologis

yang dapat menyebabkan klien mengalami kecemasan (Arisandy, 2017).


1. Aspek Biologis Sebagian besar faktor predisposisi pada klien yang

diberikan terapi latihan ketrampilan sosial adalah adanya riwayat genetik

yaitu sebanyak 66,7%. Faktor genetik memiliki peran terjadinya gangguan

jiwa pada klien yang menderita skizofrenia

2. Aspek Psikologis Faktor predisposisi pada aspek psikologis sebagian

besar akibat adanya riwayat kegagalan/kehilangan (77,8%). Pengalaman

kehilangan dan kegagalan akan mempengaruhi respon individu dalam

mengatasi stresornya

3. Aspek sosial budaya Dimana pada klien kelolaan didapatkan aspek sosial

budaya sebagian besar adalah pendidikan menengah dan sosial ekonomi

rendah masingmasing

b. Presipitasi Merupakan faktor yang dapat menyebabkan seseorang

mengalami isolasi sosial: menarik diri adalah adanya tahap pertumbuhan dan

perkembangan yang belum dapat dilalui dengan baik, adanya gangguan

komunikasi didalam keluarga, selain itu juga adanya norma-norma yang

salah yang dianut dalam keluarga serta faktor biologis berupa gen yang

diturunkan dari keluarga yang menyebabkan klien menderita gangguan jiwa

(Arisandy, 2017).

IV. TANDA DAN GEJALA


Tanda dan gejala isolasi sosial meliputi : kurang spontan, apatis (acuh

tak acuh terhadap lingkungan), ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi

sedih), afek tumpul, tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri, tidak

ada atau kurang terhadap komunikasi verbal, menolak berhubungan dengan


oranglain, mengisolasi diri (menyendiri), kurang sadar dengan lingkungan

sekitarnya, asupan makan dan minuman terganggu, aktivitas menurun dan

rendah diri (Damanik, Pardede, & Manalu, 2020).

Menurut Sucizti (2019) tanda dan gejala sebagai berikut :

Subjektif

a. Perasaan sepi

b. Perasaan tidak aman

c. Perasan bosan dan waktu terasa lambat

d. Ketidakmampun berkonsentrasi

e. Perasaan ditolak

Objektif

a. Banyak diam

b. Tidak mau bicara

c. Menyendiri

d. Tidak mau berinteraksi

e. Tampak sedih

f. Ekspresi datar dan dangkal

g. Kontak mata kurang

V. PROSES PENYAKIT

VI. RENTANG RESPON


Dalam membina hubungan sosial, individu berada dalam rentang

respon adapatif dan maladaptif. Respon adaptif merupakan respon yang


dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan yang secara umum

berlaku. Sedangkan respon maladaptif merupakan respon yang dilakukan

individu untuk menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh

norma sosial dalam budaya setempat. Berikut rentang respon sosial menurut

Stuart (2016) :

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Menyendiri Kesendirian Manipulasi


Otonomi Menarik diri Impulsif
Bekerjasama Ketergantungan Narcisisme
Saling tergantung

a. Respons adaptif

1. Solitude (menyendiri) Respon yang dibutuhkan seseorang untuk

mengendalikan perilaku mereka sendiri saat menerima dukungan saat

bantuan dari orang yang berarti dan diperlukan (Stuart,2016

2. Otonomi Kemampuan individu dalam mengendalikan perilaku mereka

sendiri, membangun ikatan afektif yang kuat untuk kepribadian yang matang

(Stuart,2016).

3. Mutualisme atau bekerja sama Kemampuan individu untuk

menerima,membangun ikatan afektif yang kuat dengan orang lain

(Stuart,2016).

4. Interdependen atau saling ketergantungan Dalam hubungan antara

manusia biasanya mengembangkan keseimbangan perilaku dependen dan

independen (Stuart, 2016).


b. Respons maladaptive

1. Merasa sendiri (kesepian) merasa tidak tahan atau yang lain menganggap

bahwa dirinya sendirian dalam menghadapi masalah, cenderung pemalu,

sering merasa tidak percaya diri dan minder (Muhith, 2015).

2. Menarik diri suatu keadaan di mana seseorang menemukan kesulitan

dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain (Muhith, 2015).

3. Tergantungan (Dependen) Seseorang yang gagal mengembangkan

kemampuannya untuk berfungsi secara sukses, merasa kesulitan yang

beresiko menjadi gangguan depresi dan gangguan cemas sehingga

berkecenderungan berpikiran untuk bunuh diri (Muhith, 2015).

4. Manipulasi perilaku dimana orang memperlakukan orang lain sebagai

objek dan bentuk hubungan yang berpusat di sekitar isuisu kontrol dan

perilaku mereka sulit dipahami (Stuart, 2016).

VII. PENATALAKSANAAN MEDIS


Menurut (2015 dalam Syahdi & Pardede, 2022) Penatalakasanaan

pada pasien skizofrenia dapat diberikan dengan pemberian terapi yang

diberikan secara komperehensif sesuai dengan tanda gejala dan penyebab

terjadinya penyakit. Pengalaman terapis akan menentukan pilihan alternatif

yang tepat, dan sering merupakan kombinasi antara satu terapi dengan

lainya. Beberapa alternatif terapi yang dapat diberikan antara lain dengan

pendekatan farmakologi psikososial , rehabilitasi dan program intervensi

keluarga (Henry, 2020).


a. Terapi Farmakologi

Pada pendekatan farmakologis, penderita skizofrenia biasanya diberikan

obat anti psikotik. Antipsikotik juga dikenal sebagai penenang mayor

atau neuroleptic. Pengobatan antipsikotik membantu mengendalikan

perilaku skizofrenia yang mencolok dan mengurangi kebutuhan untuk

perawatan rumah sakit jangka panjang apabila dikonsumsi pada saat

pemeliharaanatau secara teratur setelah episode akut. Prinsip pemberian

farmakoterapi pada skiofrenia adalah “start low, go slow” dimulai

dengan dosis rendah ditingkatkan sampai dosis noptimal kemudian

diturunkan perlahan untuk pemeliharaan.

b. Terapi psikososial

Salah satu dampak yang terjadi pada penderita skiofrenia adalah

menjalin hubungan sosial yang sulit. Hal ini dikarenakan skizofrenia

merusak fungsi sosial penderitanya. Untuk mengatasi hal tersebut,

penderita diberikan terapi psikososial yang bertujuan agar dapat kembali

beradaptasi dengan lingkungan sosialnya, mampu merawat diri sendiri,

tidak bergantung pada orang lain.

c. Rehabilitasi

Program rehabilitasi biasanya diberikan di bagian lain rumah sakit jiwa

yang dikhususkan untuk rehabilitasi. Terdapat banyak kegiatan,

diantaranya terapi okupasional yang meliputi kegiatan membuat

kerajinan tangan, melukis, menyanyi, dan lain- lain. Pada umumnya

program rehabilitasi ini berlangsung 3-6 bulan.


d. Program intervensi

keluarga Intervensi keluarga Dapat dikatakan seperti mempunyai banyak

variasi namun pada umumnya intervensi yang dilakukan difokuskan

pada aspek praktis dari kehidupan sehari-hari, mendidik anggota

keluarga tentang skizofrenia, mengajarkan bagaimana cara berhubungan

dengan cara yang tidak terlalu frontal terhadap anggota keluarga yang

menderita skiofrenia, meningkatkan komunikasi dalam keluarga, dan

memacu pemecahan masalah dan keterampilan koping yang baik.

[Link] KEPERAWATAN:
1. PENGKAJIAN
Merupakan tahapan awal dan data dasar utama dari proses

keperawatandan merupakan suatu proses yang sistematis dalam

pengumpulan data dari berbagai sumber untuk mengevaluasi dan

mengidentifikasi status pasien data yang di kumpulkan meliputi data

biologis, psikologis, sosial, dan spiritual ( Zaini, 2019).

a. Identitas Klien Identitas ditulis lengkap meliputi nama, usia dalam

tahun, alamat, pendidikan, agama, status perkawinan, pekerjaan, jenis

kelamin, nomor rekam medis dan diagnosa medisnya.

b. Alasan Masuk Menanyakan kepada klien/keluarga/pihak yang

berkaitan dan tulis hasilnya, apa yang menyebabkan klien datang

kerumah sakit, apa yang sudah dilakukan oleh klien/keluarga sebelumnya

atau dirumah untuk mengatasi masalah ini dan bagaimana hasilnya.


c. Riwayat Penyakit Sekarang Menanyakan riwayat timbulnya gejala

gangguan jiwa saat ini, penyebab munculnya gejala, upaya yang

dilakukan keluarga untuk mengatasi dan bagaimana hasilnya.

d. Faktor predisposisi Menanyakan apakah klien pernah mengalami

gangguan jiwa dimasa lalu, pengobatan yang pernah dilakukan

sebelumnya, adanya trauma masa lalu, faktor genetik dan silsilah orang

tuanya dan pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan.

e. Pemeriksaan Fisik Mengkaji keadaan umum klien, tanda-tanda vital,

tinggi badan/ berat badan, ada/tidak keluhan fisik seperti nyeri dan lain-

lain.

f. Pengkajian Psikososial

1. Genogram

2. Konsep Diri Citra tubuh

a) Identitas diri

b) Peran

c) Ideal diri,

d) Harga diri

3. Hubungan Sosial

4. Spiritual

5. Status Mental

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Isolasi Sosial
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
Sp1 : Menjelaskan keuntugan dan kerugian mempunyai teman

Sp2 : Melatih klien berkenalan dengan dua orang atau lebih

Sp3 : Melatih klien bercakap-cakap sambil melakukan kegiatan harian

Sp4 : Melatih berbicara sosial : seperti meminta sesuatu dan sebagainya

(Stuart, 2016)
DAFTAR PUSTAKA

Arisandy, W. (2017). Pengaruh Penerapan Terapi Musikal Pada Pasien Isolasi Sosial
Terhadap Kemampuan Bersosialisasi Dirumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi
Sumatera Selatan Tahun 2017. In Proceeding Seminar Nasional Keperawatan.
3(1), 285-292.
Http://[Link]/[Link]/SNK/Article/View/785
Damanik, R. K., Pardede, J. A., & Manalu, L. W. (2020). Terapi Kognitif Terhadap
Kemampuan Interaksi Pasien Skizofrenia Dengan Isolasi Sosial. Jurnal Ilmu
Keperawatan dan Kebidanan, 11(2), 226-235. DOI:
[Link]
. Henry Dhany Saputra, Muhammad. Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Pasien
Skizofrenia Dengan Masalah Keperawatan Isolasi Sosial Di Rsjd Dr. Arif
Zainudin Surakarta. Diss. Universitas Muhammadiyah Ponorogo, 2020.
Ningsih, Y. (2021). Penerapan Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Ny. K Dengan
Masalah Isolasi Sosial Di Wih Nongkal Toa.
. Pardede, J. A., & Ramadia, A. (2021). The Ability to Interact With Schizophrenic
Patients through Socialization Group Activity Therapy. International Journal,
9(1), 7.
Pardede, J. A. (2022). Koping Keluarga Tidak Efektif Dengan Pendekatan Terapi
Spesialis Keperawatan Jiwa.
Putri, N., & Pardede, J. A. (2022). Manajemen Asuhan Keperawatan Jiwa Pada
Penderita Skizofrenia Dengan Masalah Isolasi Sosial Menggunakan Terapi
Generalis Sp 1-4: Studi Kasus.

Anda mungkin juga menyukai