Manajemen Strategi: Konsep dan Tahapan
Manajemen Strategi: Konsep dan Tahapan
Strategy Management
A. Strategy
The strategy is a priority or whole direction taken by an organization
to chose and reach organizaition mision. (Faisal Basri, 2015:3). Diffrent
with term strategy, the term strategy have meaning like action to answare 4
questions, that are (1) where we are now; (2) where we want to go; (3) how
our business potition (financial and non-financial); and (4) when and how
we got there.1
According to Triton PB, strategi is planning, a series plan to
implementation, and and allocation of resources that are important in
achieving basic objectives, ideal sinergy that is continous, as a direction,
scope, and long-term perspective with overall from an individual and
organization. 2
B. Strategic Management
Menurut Ziraga & Wandebori, manajemen strategik adalah bagian
dari tindakan perusahaan yang dilakukan oleh manajemen puncak yang
terdiri dari formulasi dan implementasi dari tujuan utama. 3 Manajemen
strategik adalah mengekstraksi strategi perusahaan berdasarkan pada
sumber daya dan penilaian organisasi baik lingkungan interal maupun
eksternal. Manajemen strategik adalah serangkaian keputusan dan tindakan
manajerial yang menentukan kinerja perusahaan secara jangka panjang.4
Manajemen strategik adalah seni dan ilmu dari formulasi,
implementasi, dan evaluasi lintas fungsional keputusan yang dapat
mencapai target organisasi. Manajemen strategik mempunyai fokus
mengintegrasikan manajemen, pemasaran, ekuangan dan akuntansi,
produksi dan operasi, penelitian dan pengembangan (R&D), dan sistem
1
Rachmat, M. (2014). Manajemen Strategik. Bandung: CV Pustaka Setia.
2
PB, T. (2007). Manajemen Strategis Terapan Perusahaan dan Bisnis. Tugu Publisher.
3
Ziraga, T. E., & Wandemori, H. (2015). Strategic Assesment of Indonesian Furniture Industri. Business
1
informasi untuk mencapai kesuksesan organisasi. 5
2
Figure 1 Comprehensive Strategy Management Program
6
David, F.R. (2015). Manajemen Strategik: Suatu Pendekatan Keunggulan Bersaing Konsep(edisi15).
Jakarta Selatan: Salemba Empat.
3
E. Strategi Bersaing
Strategi bersaing merupakan sebuah kerangka kerja untuk
memahami kekuatan yang mendasari persaingan dalam industri, terangkup
dalam lima daya/kekuatan.” Kerangka kerja mengungkapkan perbedaan
penting di antara industri, bagimana industri mengalami perubahan, dan
membantu perusahaan menemukan posisi yang unik.7
Globalisasi mendorong dibuatnya formulasi strategi untuk mengejar
peluang di dunia yang memungkinkan perusahaan untuk mengoptimalkan
fungsi bisnisnya di negara-negara di mana ia beroperasi. Ada dua teori
utama yang mendukung produk globalisasi ini, yakni standariasasi dan
kustomisasi. Standarisasi global dibuat untuk semua produk, layanan, dan
pesan umum di semua pasar guna menciptakan citra merek yang kuat
dalam meraup konsumen agar citra merek selaras dengan identitas budaya
mereka. Sedangkan kustomisasi digunakan untuk pengembangan produk
dan layanan melalui modifikasi.8
7
Porter, M. E. (2008). Strategi Bersaing (Competitive Strategy). Tangerang: Karisma Publishing Group.
8
Pearce, J., & Robindson, R. B. (2009). Strategic Management. Singapore: McGraw-Hill.
4
Chapter 2
Strategy Formulation
A. Tahap formulasi Strategi
Untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi strategi alternatif
sebaiknya melibatkan banyak manajer dan karyawan yang sebelumnya
merumuskan pernytaaan visi misi organisasi, melakukan audit internal dan
eksternal. Termasuk didalamnya perwakilan dari setiap departemen dan
divisi perusahaan. Keterlibatan karyawan dapat memberikan pemahaman
apa yang akan dilakuakan perusahaan dan mengapa mereka harus
berkomitmen untuk membantu perusahaan menyelesaikan tujuannya.
Teknik perumusan strategi dapat diintegrasikan ke dalam kerangka tiga
tahap pengambilan keputusan. Fungsi dari kerangka formulasi ini
membantu perusahaan dalam mengidentifikasikan, mengevaluasi, dan
memilih alternatif strategi.6
Input Stage
Tahap ini dapat disebut sebagai input stage, karena tahap ini merupakan
tahap meringkas informasi input mendasar yang dibutuhkan untuk
formulasi strategi. Alat input mensyaratkan penyusunan strategi untuk
mengkuantifikasi secara subjektif selama tahap awal proses formulasi
strategi, karena dalam tahap ini mengisyaratkan penentuan bobot dan
peringkat yang sesuai terhadap factor internal dan eksternal perusahaan.
Tahap pertama memformulasikan kerangka kerja yang terdiri atas matriks
EFE, IFE, dan Competitive Profile Matriks (CPM).
5
Matching Stage
Tahap ini dsebut sebagai tahap pencocokan (matching stage), berfokus
pada pembuatan stratgei alternatif yang layak dengan menyelaraskan faktor
internal dan eksternal kunci. Tekni yang dgunakan dalam tahap ini adalah
Matriks Strenghts-Weaknesses-Opportunities-Threats (SWOT), Matriks
Strategic Position and Avtion Evaluation (SPACE), Matriks Boston
Consulting Group (BCG), Matriks Internal-External (IE), dan Matriks
Grand Strategy.
Decision Stage
Tahap ketiga disebut juga sebagai tahap keputusan decision stage yang
melibatkan teknik tunggal Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM)
untuk menentukan prioritas strategi terbaik berdasarkan opsi alternatif
strategi.
9
Nurcahyo, R. J. (2015). Keterkaitan Visi, Misi Dan Values Terhadap Kinerjak Karyawan Perusahaan
Kulit “DwiJaya”,6(1),1-8.
6
Misi
Menurut Wheelen dalam Prasetio (2017), pernyataan misi
mendefinisikan tujuan mendsar dan unik yang membedakan suatu
perusahan dengan perusahaan yang lainnya. Mengutip pendapat Drucker
dalam buku karangan David, pernyataan misi adalah deklarasi organisasi
dalam hal “alasan keberadaan”. Kerap disebut pernyataan keyakinan atau
kredo (creed statement), pernyataan tujuan, pernyataan filosofi, pernyataan
kepercayaan, pernyataan prinsip bisnis, atau pernyataan “mendefinisikan
bisnis kita,” pernyataan misi mengungkapkan ingin menjadi apa organisasi
dan siapa yang ingin dilayani.
KARAKTERISTIK MISI
1 Lingkupnya luas, tidak termasuk jumlah angka, persentase, rasio,
atau tujuan moneter
2 Panjangnya kurang dari 250 kata
3 Menginspirasi
4 Mengidentifikasi kegunaan produk
5 Mengungkapkan bahwa bertanggung jawab pada masyarakat
6 Mengungkapkan bahwa bertanggung jawab pada lingkungan
7 Mencakup sembilan komponen ialah pelanggan, produk atau jasa,
pasar, teknologi, perhatian akan ketahanan/pertumbuhan/laba,
filosofi (kepercayaan, nilai, aspirasi, etika) , konsep diri, perhatian
atas citra publik, perhatian untuk karyawan
8 Reconciliatory
9 Terus-menerus
7
C. Audit Eksternal
Audit eksternal berfokus pada identifikasi dan evaluasi tren dan
peristiwa di luar perusahaan. Tujuan audit eksternal adalah untuk
pengembangan sejumlah peluang yang menjadi keuntungan bagi
perusahaan dan ancaman yang sebaiknya dihindarkan oleh perusahaan.
Kekuatan eksternal dibagi menjadi lima kategori; (1) ekonomi; (2) sosial,
budaya, demografi, dan lingkungan; (3) politik, pemerintah, dan hukum;
(4) teknologi; dan (5) persaingan.6 Key Factor eksternal sebaiknya (a)
mencapai tujuan jangka panjang dan tahunan, (b) dapat diukur, (c) dapat
diterapkan pada semua perusahaan yang bersaing, dan (d) hierakis dalam
artian bahwa beberapa akan terkait dengan perusahaan secara keseluruhan
dan yang lainnya akan menjadi lebih sempit, terfokus pada area fungsional
atau divisional.
Sedangkan menurut Pramudiana & Rismayani, audit lingkungan
eksternal adalah proses pemahaman business opportunity berdasarkan
peluang dan tantangan. Aspek eksternal adalah kondisi lingkungan yang
berada diluar kendali perusahaan yang merupakan karakteristik dasar
industri dan struktur kompetitif dimana perusahaan beroperasi. Dalam
menganalisis aspek eksternal tersebut, Pramudiana & Rismayani (2013:25)
menidentifikasikannya menjadi aspek regulasi, teknologi, ekonomi,
demografi, pasar, dan struktur industri.10
Aspek Regulasi
Regulasi memiliki kontribusi sebab Indonesia merupakan negara
hukum yang menatur segala aspek kehidupan termasuk bidang
industri.
Aspek Teknologi
Tenologi berpengaruh terhadap bidang industri karena memiliki sifat
yang fleksibel dan dinamis. Munculnya teknologi baru akan menjadi
peluang maupun ancaman bagi suatu perusahaan.
Aspek Ekonomi
Ekonomi memiliki kontribusi sebab kondisi eksternal perusahaan
sangat berpengaruh terhadap kondisi finansial perusahaan. Misalnya
pertumbuhan ekonomi yang baik akan berdampak pada peluang
Pramudiana, Y., & Rismayani, R. (2013). Managing Product Portfolio. Bandung: CV Dinamika
10
Komunika.
8
penjualan perusahaan karena daya beli masyarakat meningkat,
namun jika pertumbuhan turun maka dapat menjadi ancaman
terhadap penjualan perusahaan.
Aspek Demografi
Faktor karakteristik penduduk dapat menggambarkan market industri
yang dapat menjadi ancaman atau peluang. Misalnya pertumbuhan
penduduk akan menjadi peluang dalam memasarkan produk, namun
akan menjadi ancaman jika daya beli penduduk rendah.
Aspek Pasar
Lingkungan pasar mempengaruhi terhadap produk yang diluncurkan.
Jika lingkungan pasar kondusif, maka akan menjadi peluang bagi
perusahaan dan jika kondisi lingkuangan pasar tidak sehat maka
dapat menjadi ancaman.
Aspek Struktur Industri
Struktur industri merupakan faktor penentu tingkat keuntungan yang
dipengaruhi oleh: tingkat persaingan, new enterance, supplier,
kompetitor, dan distributor.
D. Audit Internal
Internal audit mensyaratkan pengumpulan dan asimilasi informasi
mengenai manajemen, pemasaran, keuangan dan akuntansi, produksi dan
operasi, penelitian dan pengembangan, dan sistem informasi manajemen
(SIM).
Selanjutnya, Pramudiana dan Rismayani menjelaskan bahwa analisis
lingkungan internal bertujuan untuk mengetahui kekuatan perusahaan
untuk memiliki keunggulan kompetitif dengan analisis lingkungan yang
berada didalam kendali perusahaan. Untuk menggambarkan lingkungan
internal tersebut, dapat dibagi menjadi beberapa aspek sebagai berikut:
Aspek Regulasi
Dalam aspek ini menilai tingkat kemampuan perusahaan dalam
mengikuti regulasi pengolahan industri yang telah ditetapkan oleh
pemetrintah. Jika perusahaan mampu memenuhinya, maka hal
tersebut dapat dgolongkan sebagai kekuatan, dan jika perusahaan
tidak mampu, maka dapat digolongkan sebagai kelemahan.
Aspek Teknologi
9
Dalam faktor internal yang berkaitan dengan teknologi ini biasanya
berkaitan dengan aplikasi teknologi yang muncul sebagai akibat dari
faktor teknologi internal, misalnya berkaitan dengan penggunaan dan
akses teknologi baru. Jika perusahaan dapat mengakses dalam waktu
cepat maka merupakan kekuatan perusahaan, jika tidak maka akan
menjadi kelemahan perusahaan.
Aspek Keuangan
Aspek keuangan perusahaan akan menunjukan kredibilitas atau
kondisi kesehatan perusahaan. Pendanaan dan keuangan dapat
berkontribusi terhadap kekuatan internal perusahaan.
Aspek Struktur Industri
Kekuatan dan kelemahan perusahaan juga dipengaruhi oleh faktor
new enterance, supplier, kompetitor dan distributor.
Aspek Pemasaran dan Penjualan
Faktor pemasaran dan penjualan merupakan aspek penilaian
lingkungan yang penting sebab dari aktivitas ini perusahaan men-
generate profit atau keuntungannya.
Aspek Operasi Perusahaan
Aspek ini menilai faktor yang berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan konsumen yang jika dibandingkan dengan kompetitor
akan memberikan kontribusi terhadap kekuatan dan kelemahan
perusahaan.
Aspek Sumber Daya Organisasi
Sumber daya organisasi merupakan faktor yang berkaitan dengan
new entrant, supplier, kompetitor, dan distributor. Faktor tersebut
dapat menjadi kelemahan maupun kekuatan, misalnya jika
perusahaan memiliki fleksibilitas dalam menyesuaikan diri dengan
dinamika lingkungan baik internal maupun eksternal perusahaan
maka akan menjadi kekuatan perusahaan.
Aspek Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia merupakan aspek internal penggerak
operasionalisasi yang akan menjadi kekuatan jika memiliki sumber
daya yang kompeten dan kelemahan jika sumber daya melimpah
namun hanya minoritas yang kompeten.
10
E. Matrices
Internal Factor Evaluation
IFE matrix digunakan untuk meringkas dan menilai kekuatan dan
kelemahan pada area fungsional bisnis. Selain itu, matriks IFE juga dapat
menjadi dasar dalam mengidentifikasi dan mengevaluasi hubungan antara
area-area internal tersebut.
Tahap meringkas dalam melakukan strategi manajemen audit adalah
mengonstruksi matriks evaluasi faktor internal (Internal Factor Evaluation-
IFE). IFE adalah perangkat formulasi strategi yang meringkas serta
mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama dalam fungsi-fungsi
perusahaan. Hal tersebut memberikan dasar untuk mengidentifikasi dan
mengevaluasi hubungan di antara fungsi-fungsi ini. Penilaian intuitif
dibutuhkan dalam pengembangan matriks IFE, sehingga pendekatan ilmiah
tidak seharusnya ditafsirkan bahwa ini adalah teknik yang kuat. Melalui
pemahaman mendalam, faktor yang ada lebih penting dibandingkan angka
actual.
Weighted Sc
Key Internal Factor Weight Rating
ore
Strengths
1.
2.
3.
4.
Weaknesses
1.
2.
3.
4.
Totals 1,00
11
terhadap kesempatan dan ancaman yang ada di industrinya.
Weighted S
Key External Factor Weight Rating
core
Opportunities
1.
2.
3.
4.
Threats
1.
2.
3.
4.
Totals 1,00
12
didasarkan pada dua dimensi evaluative: posisi bersaing (perusahaan) dan
pertumbuhan pasar (industri). Strategi grand didasarkan oleh dua dimensi
evaluatif, yaitu posisi bersaing dan pertumbuhan pasar di industri.6 Beirkut
penjelasan tiap kuadran matriks:
Kuadran I
Perusahaan di kuadran I menandakan posisi strategis sangat baik.
Strategi yang susai adalah strategi penetrasi pasar, penegmbangan
pasar, dan pengembangan produk secara berkelanjutan. Kemudian,
jika perusahaan memiliki sumber daya lebih, strategi integrasi ke
belakang, ke depan, atau horizontal dapat menjadi strategi efektif
bagi perusahaan. Ketika perusahaan di kuadran I memiliki komitmen
pada suatu produk yang lebih, strategi diversifikasi menjadi pilihan
agar mengurangu risiko dari lini produk yang sempit.
Kuadran II
Perusahaan di kuadran II perlu melakukan evaluasi pasar secara
serius, walupun kondisi industri bertumbuh dapat menyebabkan
perusahaan tidak bersaing secara efektif. Strategi intensif merupakan
opsi pertama untuk dipertimbangkan. Jika perusahaan kekurangan
kompetensi khusus atau keunggulan bersaing, strategi integrasi
horizontal merupakan strategi alternatif. Strategi likuidasi atau
divestasi perlu dipertimbangkan karena dapat memberikan dana yang
dibutuhkan untuk mengakuisisi bisnis atau membeli kembali saham
perusahaan.
Kuadran III
Organisasi di kuadran III menandakan industri tumbuh dengan
lambat dan memiliki posisi bersaing yang lemah. Strategi
alternatifnya adalah menggeser sumber daya jauh dari bisnis saat ini
ke area yang berbeda atau diversifikasi. Jika gagal, opsi lain adalah
strategi divestasi atau likuidasi.
Kuadran IV
Kuadran IV memiliki posisi bersaing yang kuat, namun berada di
industri yang tumbuh lambat. Selanjutnya, karakteristik kuadran IV
memiliki level aliran kas yang tinggi serta kebutuhan pertumbuhan
terbatas dan sering berhasil meraih diversifikasi terkait atau tidak
13
terkait. Perusahaan pada kuadran IV dapat melakukan strategi joint
venture.
Space Matrix
BCG Matrix
SWOT Matrix
Berbagai strategi alternatif dapat diformulasikan berdasarkan model
analisis matriks SWOT. Perumusan strategi utama didasarkan pada empat
macam, yaitu: strategi SO, ST, WO dan WT. Analisis ini menggunakan
data yang diperoleh dari matriks EFE dan IFE yang telah diperoleh.
Keuntungan menggunakan model ini adalah mudah untuk merumuskan
stratgei berdasarkan kombinasi faktor eksternal dan internal.11
Matriks (Strenghts-Weaknesses-Opportunity-Threath-SWOT) adalah
alat pencocokan yang penting untuk membantu manajer mengembangkan
empat tipe strategi: stretagi kekuatan-kesempatan (strengths-opportunities-
SO), strategi kelemahan-kesempatan (weaknesses-opportunitiesI-WO),
strategi kekuatan-kelemahan (strengths-threats-ST), dan strategi
kelemahan-ancaman (weakness-threats-WT). Berikut penjelasan strategi
SO, WO, ST, dan WT:
1. Strategi SO adalah menggunakan kekuatan internal bisbis untuk
mengambil keuntungan dari kesempatan eksternal. Dalam suatu
kondisi, ketika organisasi menghadapi anaman besar, organisasi akan
menghindari untuk berkonsentrasi pada kesempatan.
2. Strategi WO bertujuan untuk meningkatkan kelemahan internal
dengan mengambil keutungan pada kesempatan eksternal.
3. Strategi ST menggunakan kekuatan bisnis untuk menghindari atau
mengurangi dampak ancaman eksternal.
4. Strategi WT adalah taktikal defensif yang dilakukan untuk
mengurangi kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal.
Hal ini ditandai dengan ancaman eksternal dan internal organisasi
yang membuat poisisi tidak aman. Contoh strategi yang dilakukan
perusahaan untuk tetap bertahan adalah melakukan merger,
Rumokoy, F. (2017). Indoensian North Bolaang Mongondows's Furniture Industri - QSM and TOPSIS
11
14
pengurangan, kebangkrutan, atau likuidasi.
Strengths Weakness
QSPM
Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) digunakan untuk
menentukan strategi prioritas. Dalam QSPM, tiap strategi alternatif dinilai
untuk pemenuhan tiap kunci faktor. Tiap faktor kunci mempunyai berat.
Nilai strategi pertama tidak berelasi pada faktor kunci, nilai kedua
mempunyai relasi sedikit, nilai ketiga mempunyai hubungan ke faktor
kunci, dan nilai keempat mempunyai hubungan yang tinggi terhadap faktor
kunci.12
Teknik ini menunjukkan secara objektif strategi mana yang terbaik.
QSPM menggunakan analisis Tahap 1 (IFE dan EFE) dan hasil pencocokan
dari hendak dijalankan diantara strategi – strategi alternatif.6 Keistimewaan
yang dimiliki QSPM antara lain adalah rangkaian – rangkaian strtateginya
dapat diamati secara berurutan atau bersamaan dan keistimewaan lainnya
adalah mendorong para penyusun strategi untuk memasukkan faktor –
faktor eksternal dan internal yang relevan ke dalam proses keputusan.6
12
Wijayanto, Dian. (2016). Fisher Development Strategies of Biak Numfor Regency, Indonesia.1-11
15
Chapter 3
Furniture Industry of
Indonesia
A. Manufacture Furniture of Indonesia
Industri manufaktur merupakan kegiatan ekonomi yang bertujuan
untuk mengubah barang baik secar amekanis, kimi atau dengan tanggan
sehingga dapat menjadi bahan jadi atau bahan setengah jadi. Indonesia
menggolongkan industri berdasarkan jenis komoditas produksinya. Salah
satu penggolongan produk tersebut merupakan komoditas furnitur dengan
kode KBLI 31, yang mana manufaktur ini mencakup pengolahan bahan
baku yang berasal dari kayu, rotan atau bahan baku lainnya untuk diproses
guna menciptakan manfaat maupun nilai tambah yang lebih tinggi untuk
menjadi barang jadi furniture.13
Bahan baku furnitur yang sering digunakan di Indonesia dibedakan
menjadi furniture kayu dan furniture kayu olahan, furniture dari rotan-
bamboo, furniture dari logam dan bahan lainnya.
Furniture dari Kayu dan Kayu Olahan
Furnitur berbahan kayu sangat sering diproduksi baik untuk industri
berskala kecil, menengah maupun besar. Hal ini disebabkan karena
Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya kayu tropis
terbesar kedua di dunia. Indonesia memiliki kawasan hutan tropis seluas
126,09 juta hektar, dengan alokasi hutan produksi mencapai +68,99 juta
Ha. Hutan produksi tersebut terbagi menjadi Hutan Produksi Terbatas
seluas 26,8 Ha, Hutan Produksi Tetap seluas 29,25 juta Ha, dan Hutan
Produksi yang dapat dikonversi seluas 12,94 juta Ha (KLHK, 2015). Untuk
memenuhi kebutuhan industri furnitur, bahan baku kayu berasal dari
berbagai sumber, yaitu Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan
Kemasyarakatan (HKm) dan Hutan Desa (HD) sebesar 0.85 juta Ha dan
13
Salim, Z., & Munadi, E. (2017). Info Komoditi Furnitur 2017. Jakarta: Badan Pengkajian dan
16
Hutan Alam/Hutan Tanaman Industri sebesar 34.3 juta Ha (DPHP, 2016).
Produk yang dihasilkan dapat berupa meja, kursi, bangku, rak, tempat tidur,
penyekat ruangan atau sejenisnya, dan cabinet.
Secara garis besar, terdapat dua kelompok industri pengolahan kayu
hilir, yaitu solid wood dan plywood, termasuk block board, medium density
fibreboard (mdf), dan particle board. Perbedaan bahan baku ini akan
mempengaruhi harga jual furnitur.
1. Kayu padat
Kayu padat merupakan jenis kayu terkuat yang memiliki sifat tahan
lama dibandingkan dengan kayu olahan sehingga membuat harga
jualnya lebih tinggi dibandingkan furnitur berbahan kayu olahan.
Jenis kayu padat yang biasa dipakai di Indonesia sebagai bahan
furnitur adalah jati, nyatoh, sungkai, mahoni, pinus, ramin dan cedar.
2. Kayu Lapis
Kayu lapis (plywood) adalah kayu olahan yang dibentuk dari
lembaran-lembaran kayu yang direkatkan dengan cara diberikan
tekanan tinggi, dan memiliki ketebalan dari 3 mm sampai dengan 18
mm. Harga dari kayu lapis pada umumnya lebih murah dari kayu
padat akan tetapi lebih mahal daripada kayu olahan lainnya.
3. Block Board
Block Board adalah potongan–potongan kayu kotak dalam ukuran
kecil-kecil yang dipadatkan menggunakan mesin serta pada kedua
sisinya diberi pelapis venner (irisan kayu tipis) sehingga menyerupai
sebuah papan lembaran. Block board dapat digunakan untuk
membuat cabinet, kitchen set atau rak.
4. Medium Density Fibreboard (MDF)
MDF terbuat dari serbuk kayu halus yang direkatkan dengan bahan
kimia resin dan dipadatkan melalui suhu dan tekanan yang tinggi.
MDF lebih ramah lingkungan disebabkan terbuat dari serbuk kayu
sisa perkebunan ataupun bambu.
Furniture dari Rotan atau Bambu
Ratan dan bamboo memiliki tekstur yang fleksibel dan mudah
dibentuk, sehingga cocok digunakan sebagai bahan baku furniture anyam.
Hutan Indonesia mampu memproduksi tanaman rotan dan bamboo lebih
Pengembangan Perdagangan Kementrian Perdagangan Republik Indonesia.
17
besar dari negara lain, sehingga harga rattan mentah di dunia dinilai sangat
mahal. Untuk mencegah eksploitasi hutan tersebut, Indonesia menerapkan
regulasi untuk melarang pengeskporan rotan mentah atau setengah jadi
keluar negeri. Selain itu produk yang dapat dibuat dari kedua bahan baku
tersebut adalah anyaman kursi, meja, bangku, tempat tidur, lemari, rak dan
penyekat ruangan.
Berdasarkan tingkat pengolahannya, rotan dapat diklasifikasikan
menjadi beberapa kelompok sebagai berikut:14
1. Rotan Mentah, yaitu rotan yang diambil dari hutan, rotan tersebut
masih basah dan mengandung air getah rotan, warna hijau atau
kekuningkuningan (lapisan berklorofil), belum digoreng dan belum
dikeringkan.
2. Rotan Asalan, yaitu rotan yang telah mengalami proses
penggorengan, penjemuran, dan pengeringan. Permukaan kulit
berwarna coklat kekuningkuningan, masih kotor belum dicuci,
bergetah kering, permukaan kulit berlapisan silikat.
3. Rotan Natural Washed & Sulphured (W/S), yaitu rotan bulat natural
yang masih berkulit, sudah mengalami proses pencucian dengan
belerang (sulphure), ruas/tulang sudah dicukur maupun tidak dicukur
(trimmed atau untrimmed), biasanya kedua ujungnya sudah
diratakan, sudah melalui sortasi ukuran diameter maupun kualitas.
4. Rotan Poles, yaitu rotan bulat yang telah dihilangkan permukaan
kulit bersilikatnya dengan menggunakan mesin poles rotan, dan
melalui tiga tahap amplas yang berbeda, yaitu tahap poles kasar,
tahap pembersihan, dan tahap poles halus.
Indonesia merupakan negara yang kaya akan varietas bambu dengan
143 jenis bambu yang dapat tumbuh. Bambu yang dipakai untuk furnitur
antara lain bambu bitung, bambu mayan, bambu cendani, dan bambu
hitam. Furnitur bambu untuk pasar ekspor menggunakan sistem bongkar
pasang (knock down) sehingga menghemat ruang. Proses produksi yang
dilakukan dalam kegiatan usaha kerajinan mebel bambu hanya memerlukan
peralatan yang sederhana karena lebih banyak memanfaatkan
keahlian/keterampilan tangan manusia untuk menghasilkan produk
14
Indrawati, I. (2015). Posisi Pemerintah Indonesia dalam Shifting Perdagangan Rotan. POLINTER, 1(2).
accessed from [Link] [Link]/polhi/article/viewFile/307/158.
18
kerajinan furnitur bamboo.15
Furnitur dari Plastik
Produksi furnitur kayu di Indonesia dinilai masih belum banyak
seperti di China. Hal ini disebakan oleh keterbatasan sumber daya bahan
baku, selain itu jenis furniture ini dinilai kurang ramah lingkungan yang
menyebabkan kurangnya ketrtarikan buyer (importir) untuk membeli
produk ini. Sedangkan produk yang dihasilkan dari bahan baku ini adalah
meja, kursi, rak dan sebagainya.
Furnitur dari Logam
Secara umum furnitur dari logam biasanya dikombinasikan dengan
kayu, spon, kulit, kain. Bahan baku logam seperti stainless steel, kuningan,
aluminium dan besi saat ini semakin banyak digunakan sebagai bahan baku
untuk furnitur modern. Furnitur dengan bahan baku besi harus dicat atau
diberikan lapisan luar supaya tidak berkarat, oleh karena itu bahan baku
jenis stainless steel ataupun aluminium lebih banyak dimanfaatkan untuk
bahan baku furnitur karena tidak memerlukan lapisan luar tambahan.
Data dari Kementrian Perindustrian Indonesia pada tahun 2017
menujukan bahwa produksi furnitur berbahan kayu mencapai 80%,
furniture berbahan bamboo sebesar 11%, 7% dari logam dan 2% adalah
berbahan plastic.
B. Produksi Furniture
Plastic Indonesia
Metal
2% 7%
Wood
80%
Production Based
on Comodity
Pabrik furnitur yang memiliki skala besar mencari bahan baku kayu
dari hutan, karena mereka memerlukan kayu dengan volume tinggi dan
memiliki dana cukup untuk membiayai hak kelola, perizinan hutan dan
15
Bank Indonesia. (2008c). Pola Pembiayaan Industri Kerajinan Bambu. Jakarta.
19
iuran. Berbeda dengan pabrik furnitur dengan skala kecil yang harus
bergantung kepada pasokan dari perkebunan.
Kayu yang digunakan pada produksi furnitur dalam negeri diangkut
ke Pulau Jawa dari pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Jenis kayu
yang menjadi bahan baku furnitur untuk pasar dalam negeri tersebut adalah
kayu meranti, nyatoh, bintangor, balam, dan bangkerai. Untuk furnitur
dengan pasar ekspor, produksi menggunakan kayu yang berasal dari dalam
negeri dan kayu impor seperti kayu karet, akasia, albasia dan pinus radiate.
Proses pembuatan furnitur kayu merupakan gabungan beberapa proses
mekanik (pemotongan, pengeboran dan pemolaan kayu) dan pengerjaan
seni (pembentukan akhir sesuai contoh model).
Secara garis besar, tahapan pertama dalam produksi furnitur berupa
pemotongan kayu gelondong menjadi bentuk kaso, papan, dan balok.
Selanjutnya kayu tersebut dipotong sesuai ukuran produk dan model
dengan menggunakan mesin bubut. Tahap ini juga termasuk pengukiran,
ampelas, pewarnaan dan finishing. Pewarnaan yang dimaksud adalah
memunculkan warna alami kayu atau disebut sebagai penguatan warna.
Tahap terakhir adalah didistribusikan ke pembeli baik melalui pedagangan
besar maupun pengecer.16
16
Bank Indonesia. (2008a). Pola Pembiayaan Usaha Kecil (Ppuk) Furnitur Kayu. Jakarta
20
merupakan sebuah sistem produksi dimana produksi dan distribusi suatu
barang diselenggarakan secara bersama-sama oleh beberapa negara. Cara
kerja sistem ini berupa satu tahapan produksi dari satu kesatuan proses
produksi diselenggarakan di satu negara sedangkan tahapan berikutnya
dilakukan di negara lain.17
Aplikasi GVC pada furnitur yang berbahan dasar kayu adalah rantai
nilai yang didorong oleh pembeli (buyer driven chains), dimana industri
furnitur akan memproduksi jenis furnitur berdasarkan tiga pembeli utama
yaitu multi store retailer, one store retailer, dan specialized medium buyer.
Multi store retailer dan specialized medium buyer memperoleh produk dari
banyak pemasok di berbagai negara yang tersebar baik di negara maju
maupun negara berkembang. One store retailer hanya memperoleh barang
dari sejumlah pemasok di beberapa negara, proses manufaktur
mengandalkan produsen dari negara berkembang.18
Multi store retailer memiliki keunggulan dalam menyediakan
furnitur dengan harga yang murah dan memilik kualitas produk tinggi dan
variasi yang banyak. Khusus untuk industri furnitur, pengembangan konsep
GVC dapat dilakukan dengan menerapkan ciri khas berupa pengembangan
seni dan ukiran. Produk furnitur Indonesia yang memiliki desain yang unik
akan lebih diminati oleh pembeli dibandingkan produk standar yang
banyak beredar di pasaran.19
Pemasaran dan Distribusi Furniture
Di tahun 2013, 2013, unit usaha industri furnitur dari kayu di
Indonesia ada sekitar 938 unit usaha dengan nilai produksi sebesar Rp
12.739 miliar dan menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 126.479
orang.20 Produk furnitur Indonesia sebagian besar diekspor dan sisanya
dipasarkan di dalam negeri. Selain dari produksi dalam negeri, konsumen
juga memperoleh produk furnitur dari impor. Ekspor produk furnitur tahun
17
EU-Indonesia Trade Cooperation Facility (TCF). (2015). Indonesia Dan Global Value Chain (GVC).
Accessed on 18 September 2019 from [Link] com/id/indonesia-dan-global-value-chain-
gvc/.
18
Kaplinsky, R, Memedovic,O, Morris, M. (2003). The Global Wood Furniture Value Chain: What
Prospects For Upgrading By Developing Countries. UNIDO. Accessed on 18 September 2019 from
[Link] tx_templavoila/ Global_wood_furniture_value_chain.pdf
19
Ewasechko A.C.(2005). Upgrading the Central Java Wood Furniture Industry: A Value-Chain
Approach. Manila, ILO.
20
Kementerian Perindustrian. (2013). Statistik Industri. Kementerian Perindustrian. Accessed on 18
September 2018 from [Link]. [Link]/Laporan-Kinerja-Kementerian-Perindustrian-Tahun-201
21
2015 adalah sebesar USD 1.708.348 ribu. Sisanya digunakan untuk
memenuhi kebutuhan dalam negeri termasuk impor di tahun 2015 sebesar
USD 361.543 ribu sebagai tambahan.21
Sedangkan dalam proses distribusinya industri ini masih
menggunakan model pipa yang mana prosesnya melibatkan supplier,
industri dan konsumen. Proses supply chain tersebut dapat dilihat dalam
alur sebagai berikut:
22
alasan keterpurukan industri furniture di Jawa Tengah.13
Strategi Pengembangan Furniture dalam Negeri
Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), selaku
asosiasi memformulasikan beberapa strategi bisnis sebagai sarana
pengembangan industri furnitur dalam negeri melalui:
(1) Bersama dengan Perusahaan Perdagangan Indonesia (TPI),
menyediakan bahan baku dan bahan penolong secara berkelanjutan.
(2) Fasilitas program restrukturisasi mesin dan peralatan industri mebel
dan kerajinan dalam rangka meningkatkan efisiensi
(3) Mengadakan pelatihan teknik produksi dan disain bagi sentra
industri furniture atau Colllege Product Furniture
(4) Bekerja sama dengan pemerintah untuk menyediakan design center
(5) Menstandarisasi produk
(6) Promosi melalui pameran di dalam negeri dan luar negeri
(7) Meningkatkan kerja sama dengan instansi dalam penggunaan produk
furniture dalam negeri
(8) Regulasi yang kondusif dan tidak terfokus pada sertifikat legalitas
kayu (SVLK) saja.
22
Trade Map. Data Negara tujuan Ekspor Indonesia. Accessed on 19 Juni 2019 from
[Link]
23
Berdasarkan data ekspor Indonesia, negara tujuan ekspor furnitur
indonesia yang berada di posisi pertama adalah Amerika Serikat dengan
nilai ekspor 37% atau sebesar USD 675,76 juta dari total ekspor ke dunia
sebesar USD 1,6 miliar. Negara tujuan kedua adalah Jepang sebesar 10%
USD 189,966 juta, diikuti oleh Inggris sebesar 5%, Belanda, Jerman,
Perancis dan Australia masing-masing sebesar 4%, sedangkan Belgia dan
Korea Selatan sebesar 3% dan RRT 2% dan 24% merupakan nilai ekspor
Indonesia untuk 197 negara lainnya.23
Indonesian Furniture
Export Destination
China
South Korea
4% 3%
Belgia
4%
Australia
5%
France
5%
German USA
5% 49%
Netherland
5%
England Japan
7% 13%
24
memastikan keberlanjutan hutan indonesia melalui perdagangan produk
kayu secara legal dan mencegah terjadinya penebangan liar (illegal
logging), TLAS ini di kembangkan untuk mendorong implementasi
peraturan pemerintah yang berlaku terkait perdagangan dan peredaran hasil
hutan di Indonesia, di mana TLAS mulai berlaku sesuai dengan penjelasan
dalam pasal 20 Peraturan Menteri Kehutanan No. 38/ menhut-II 2009
peraturan ini berlaku pada saat diundangkan 12 Juni 2009 dan mulai
dilaksanakan pada tanggal 1 September 2009.
Timber Legality Assurance Standard (TLAS) merupakan sistem
pelacakan yang disusun secara multistakeholder untuk memastikan
legalitas sumber kayu yang beredar dan diperdagangkan di Indonesia.
Manfaat TLAS yaitu membangun suatu alat verifikasi legalitas yang
kredibel, efisien dan adil sebagai salah satu upaya mengatasi persoalan
pembalakan liar, TLAS juga memberikan kepastian bagi pasar di Eropa,
Amerika, Jepang, dan negara-negara tetangga bahwa kayu dan produk kayu
yang di produksi oleh Indonesia merupakan produk yang legal dan berasal
dari sumber yang legal, menjadikan TLAS sebagai satu-satunya sistem
legalitas untuk kayu yang berlaku di Indonesia. Peraturan Menteri
Kehutanan tersebut kemudian dijabarkan lagi dalam Peraturan Dirjen Bina
Produksi Kehutanan Nomor: P.6/VI-Set/ 2009 tentang Standard dan
Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan
Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang Izin atau Hak Hutan.
Forest Law Enforcement, Governance, and Trade (FLEGT)
Forest Law Enforcement, Governance, and Trade (FLEGT)
merupakan kebijakan Uni Eropa terhadap masalah pembalakan liar dan
perdagangan produk hasil hutan yang terjadi secara global. Indonesia
merupakan negara pertama yang memiliki lisensi FLEGT. Dimana setelah
melalui proses selama sembilan tahun dan akhirnya berlaku pada tahun
2016 bulan November, dengan sertifikasi ini produk kayu Indonesia tidak
perlu lagi mengikuti uji kelayakan yang ketat yang di terapkan oleh Uni
Eropa dan hal ini di perkirakan akan meningkatkan ekspor produk kayu
Indonesia ke negara-negara Uni Eropa.
Forest Stewardship Council (FSC)
Adapaun Forest Stewardship Council (FSC) merupakan sertifikasi
standar pengelolaan hutan yang dikembangkan di tingkat internasional, dan
25
kemudian disesuaikan dengan pengaturan hukum, sosial, dan geografis
masing-masing negara, melalui standar nasional. Berbeda dengan TLAS,
FSC dibuat oleh organisasi independen, non-pemerintah, bukan untuk laba
yang didirikan untuk mempromosikan pengelolaan hutan dunia yang
bertanggung jawab.
Peluang Perdagangan Global
Menurut Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia
(HIMKI) telah menargetkan pertumbuhan ekspor mebel dan kerajinan
nasional dalam lima tahun ke depan sebesar minimum USD 5 miliar, atau
ratarata tumbuh di atas 15%-18%.24 Di sisi lain, negara pesaing Indonesia
seperti Malaysia juga merespon tingginya peluang eskpor furnitur dengan
menetapkan Roadmap Industri Furnitur 2016-2020 dengan tema Furnishing
Malaysia with Exciting Diversity and Unlimited Opportunities. Malaysia
berupaya untuk menangkap peluang yang ada dengan meningkatkan
kualitas dan inovasi produk melalui 5 aspek, yaitu memperbarui upaya
untuk menjaga pasar tradisional, mengkoordinasikan strategi untuk
memasuki pasar emerging, mempromosikan keanekaragaman sebagai daya
saing utama, meningkatkan pasokan bahan mentah yang berkelanjutan,
mengutamakan keseimbangan antara teknologi dan tenaga kerja, melayani
usaha kecil menengah dan masyarakat.25 Salanjutnya, Indonesia memiliki
langkah untuk memeroleh pasar melalui:
A. Peluang Pasar Amerika
Selama tahun 2012-2015 permintaan furniture Indonesia meningkat
sebesar 3,9% dimana didominasi oleh permintaan ekspor oleh Amerika
Serikat.26 Selanjutnya, Technavio memproyeksikan pasar furnitur di
Amerika Serikat tumbuh 5,8% selama periode 2016-2020. Tidak hanya
berperan penting sebagai penggerak bagi permintaan impor furnitur dunia,
Amerika Serikat sendiri telah menjadi pasar ekspor yang penting bagi
furnitur Indonesia dengan pangsa 38% dari total ekspor furnitur Indonesia,
bahkan pangsa ini terus tumbuh dan meningkat 5,3% per tahun sejak tahun
2012.27
24
Sari, Niki Barenda. (2017). Peluang dan Tantangan Produk Furnitur Indonesia. Jakarta: Badan
Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementrian Perdagangan Republik Indonesia.
25
Malaysian Furniture News (2016, Maret). Five-Year Plan 2016-2020 Furnishing Malaysia with
Exciting Diversity and Unlimited Opportunities.
26
Trademap (2018). United States (CIF) Import Statistics Product: Furniture.
27
Technavio (2016). Global Furniture Market 2016-2020. Accessed on 15 September 2018 from
26
Namun demikian Indonesia masih kalah saing dengan China karena
akibat pelemahan nilai tukar, produk furnitur RRT menjadi jauh lebih
kompetitif dibanding produk furnitur asal Indonesia dan Vietnam. Akibat
kembali masuknya produk furnitur asal China yang lebih murah ke
Amerika Serikat, justru memberi tekanan bagi produk furnitur Indonesia
untuk bersaing dengan lebih ketat dan mempertahankan pangsa pasarnya.28
B. Peluang Pasar Uni Emirat Arab dan Arab Saudi
Permintaan ekspor furnitur Indonesia dari mitra utama seperti
Jepang, Perancis, Belanda dan Jerman tengah mengalami kelesuan dalam
kurun waktu 2012-2017, penururnan permintaan furnitur Indonesia di
masing-masing negara tersebut sebesar -9,6%, -2,8%, 4,7%, dan 4,1%. 29
Untuk menjaga keberlangsungan ekspor, Indonesia tidak bisa lagi
mengandalkan pasar tersebut sehingga perlu segera mencari pasar ekspor
lain yang memiliki prospek baik ke depannya, yang salah satunya adalah
Uni Emirat Arab (UEA). UEA merupakan salah satu pasar yang
menjanjikan bagi produk furnitur Indonesia karena permintaan furnitur dan
produk kayu di UAE masih mengalami pertumbuhan yang masif pada level
13,5% selama empat tahun terakhir. Pada tahun 2015, nilai impor furnitur
UEA mencapai USD 2,1 miliar, meningkat 24,1% dibanding tahun
sebelumnya yang mencapai USD 1,7 miliar. Impor furnitur UEA banyak
dipasok oleh RRT dan Italia yang pangsanya mencapai masing-masing
34,3% dan 11,7% dari impor furnitur UEA pada tahun 2014.
Selain UEA, pasar ekspor lainnya yang sedang bergeliat adalah Arab
Saudi. Permintaan impor furnitur Arab Saudi terus tumbuh pada level
10,9% selama 2011-2015. Indonesia belum menjadi pemasok utama
furnitur di Arab Saudi. Negara RRT, Italia, Amerika Serikat, Turki, dan
Mesir merupakan pemasok utama yang berkontribusi 68,2% terhadap
impor furnitur Arab Saudi. Namun dalam 5 tahun terakhir, ekspor furniture
Indonesia ke Arab Saudi sebesar 19%, hal ini dapat menjadi menjadi
peluang bagi Indonesia untuk terus mengembangkan dan meningkatkan
ekspor furnitur ke Arab Saudi dan mengambil pangsa pasar dari negara
pemasok lainnya.
[Link]
28
CIT. Furniture Industry Outlook: Growth in Sector Continues to Outpace U.S. Economy. Accessed on
27 August 2019 from [Link] [Link]/thought-leadership/furniture-industry-trends-analysis-2015/.
29
Trademap (2019). List of importing markets for a product group exported by Saudi Arabia.
27
C. Peluang Pasar Eropa
Ekspor furnitur Indonesia ke beberapa negara tujuan utama sedang
mengalami penurunan diantaranya adalah negara-negara di Eropa.
Sembilan dari dua puluh negara tujuan utama ekspor furnitur merupakan
negara Eropa, yaitu Perancis, Inggris, Belanda, Belgia, Italia, Spanyol,
Swedia, Denmark, dan Rusia. Hanya ke empat diantara negara Eropa
tersebut yang kinerja ekspor furnitur kita masih menunjukkan pertumbuhan
positif yaitu Inggris, Swedia, Denmark, dan Rusia masing-masing tumbuh
1,3%, 3,9%, 11,3%, dan 0,2%, sementara selebihnya menunjukkan tren
negatif selama lima tahun terakhir. Hal tersebut merupakan akibat dari
adanya krisis ekonomi global.
Meskipun demikian, peluang meningkatnya ekspor ke negara di
Eropa masih memiliki harapan, terutama karena didukung oleh kebijakan
Timber Legality Assurance Standard (TLAS) yang diberlakukan secara
wajib untuk semua produk berbahan kayu. Kebijakan ini dapat mendorong
akses ekspor produk furnitur Indonesia, terutama Uni Eropa. Melalui
TLAS, Indonesia meraih lisensi Forest Law Enforcement Governance and
Trade (FLEGT) pertama di dunia. FLEGT sendiri merupakan Penegakan
Hukum, Tata Kelola dan Perdagangan Bidang Kehutanan. Sebelumnya,
sesuai ketentuan FLEGT, diperlukan biaya untuk uji tuntas atau due
diligence sekitar USD 1.000-2.000 per kontainer ukuran 20-40 feet.
Dengan diberlakukannya TLAS, maka kewajiban uji tuntas pun
dihilangkan sehingga dapat memangkas biaya ekspor produk furnitur
(Kementerian Perindustrian, 2016).
D. Peluang Pasar Domestik
Berdasarkan data Global Business Guide Indonesia (2013) tercatat
penjualan furnitur di pasar domestik dan perlengkapan rumah tercatat
tumbuh 12,1% selama 2004-2009. Di tahun 2015 lalu, potensi pasar
domestik yang cukup besar terlihat dari omzet furnitur secara nasional yang
mencapai Rp 4,0 triliun. Tingginya permintaan domestic ini merupakan
akibat dari adanya kenaikan penjualan property di Indoneisa. Tingginya
permintaan domestik tersebut harus dapat dimanfaatkan oleh industri
furnitur dalam negeri untuk menguasai pasar. Kenyataannya, industri kita
sedang berebut pasar dengan furnitur asing yang nampaknya lebih kuat.
Hingga saat ini, pasar domestik, terutama untuk produk furnitur knock-
down, dikuasai oleh satu produsen lokal terbesar (Olympic dari PT Cahaya
28
Sakti Multi Intraco (CASMI)).
Kendala Ekspor Furniture
Industri furniture di Indonesia terkena dampak dari krisis ekonomi
global, sehingga kinerja ekspornya mengalami penurunan. Selanjutnya,
adanya hambatan yang menghambat ekspor furnitur adalah biaya logistik
yang tinggi di Indonesia karena biaya logistik yang tinggi secara otomatis
berpengaruh terhadap biaya trasportasi pada saat pengiriman barang ekspor
dan pengiriman biaya bahan baku dari daerah terbilang mahal, adanya
ketergantungan terhadap tingkat perekonomian dunia dan juga tingginya
biaya bunga bank bagi mereka yang mau berinvestasi di Indonesia, dimana
bunga bank dalam negeri mencapai 12% sedangkan di Malaysia hanya 5%.
Banyaknya regulasi yang dinilai menghambat ekspor furnitur juga
dikeluhkan oleh pengusaha dari berbagai daerah. Selain itu hingga saat ini
belum ada pusat penyedia perlengkapan furnitur.
Kebijakan yang menghambat lainnya antara lain persoalan perizinan.
Saat ini para pengusaha furnitur resah sebab lokasi produksi mereka tidak
lagi masuk dalam kawasan industri sehingga pengusaha kesulitan ketika
ingin memenuhi persyaratan sertifikasi kualifikasi ekspor. Salah satu syarat
kualifikasi ekspor dimulai dari izin penggunaan lahan, dan karena izin
mendirikan bangunan dalam penggunaan lahan sulit, maka pengurusan
sertifikasi ekspor seperti sertifikat verifikasi legal kayu (SVLK) juga
terhambat. Akibatnya, mereka akan mengalami hambatan dalam
melakukan ekspor.
Chapter 4
29
Internal & External
Environment
30