BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Konsep Dasar Sistem Informasi
2.1.1 Sistem
Sistem adalah kumpulan elemen–elemen yang saling berinteraksi satu sama lain
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sebuah sistem terdiri dari bagian–
bagian yang saling berkaitan yang beroperasi bersama untuk mencapai beberapa
sasaran atau maksud, tujuan dan sasaran yang sama (Jogiyanto, 2005).
Sistem adalah kumpulan elemen-elemen atau sumber daya yang saling berkaitan
secara terpadu, terintegrasi dalam suatu hubungan tertentu, dan bertujuan untuk
mencapai tujuan tertentu (Gondodiyoto, 2007).
[Link] Karakteristik Sistem
Suatu sistem mempunyai karakteristik atau sifat-sifat yang tertentu (Jogiyanto, 2005),
yaitu:
1. Komponen Sistem (Components)
Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, yang
artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan. Komponen-komponen
sistem atau elemen-elemen sistem dapat berupa suatu sistem atau bagian-
bagian dari sistem. Setiap sistem tidak peduli betapapun kecilnya, selalu
mengandung komponen-komponen atau subsistem-subsistem. Setiap
subsistem mempunyai sifat-sifat dari sistem yang menjalankan suatu fungsi
tertentu dan mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan.
2. Batas Sistem (Boundary)
Batas sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan
sistem lainnya atau dengan lingkungan luarnya. Batas sistem ini
memungkinkan suatu sistem dipandang sebagai satu kesatuan. Batas suatu
sistem menunjukkan ruang lingkup (scope) dari sistem tersebut.
3. Lingkungan Luar Sistem (Environtments)
Lingkungan luar dari sistem adalah apapun diluar batas sistem yang
mempengaruhi operasi sistem. Lingkungan luar sistem dapat bersifat
menguntungkan dan dapat juga bersifat merugikan sistem tersebut.
Lingkungan luar yang menguntungkan merupakan energi dari sistem dan
dengan demikian harus tetap dijaga dan dipelihara. Sedangkan lingkungan
luar yang merugikan harus ditahan dan dikendalikan, kalau tidak maka akan
mengganggu kelangsungan hidup sistem.
4. Penghubung Sistem (Interface)
Penghubung merupakan media penghubung antara satu subsistem dengan
subsistem lainnya. Melalui penghubung ini memungkinkan sumbersumber
daya mengalir dari satu subsistem ke subsistem lainnya. Keluaran (output)
dari satu subsistem akan menjadi masukan (input) untuk subsistem lainnya
dengan melalui penghubung.
5. Masukan (Input)
Masukkan adalah energi yang dimasukkan ke dalam sistem. Masukan dapat
berupa masukan perawatan (maintanance input) dan masukan signal (signal
input). Maintanance input adalah energi yang dimasukkan supaya sistem
tersebut dapat beroperasi. Signal input adalah energi yang diproses untuk
didapatkan keluaran. Sebagai contoh didalam sistem komputer, program
adalah maintenance input yang digunakan untuk mengoperasikan
komputernya dan data adalah signal input untuk diolah menjadi informasi.
6. Keluaran (Output)
Keluaran adalah hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi
keluaran yang berguna dan sisa pembuangan. Keluaran dapat merupakan
masukan untuk subsistem yang lain atau ke sistem yang lebih besar. Misalnya
untuk sistem komputer, panas yang dihasilkan adalah keluaran yang tidak
berguna merupakan hasil sisa pembuangan, sedangkan informasi adalah
keluaran yang dibutuhkan.
7. Pengolah Sistem (Process)
Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolah yang akan merubah
input menjadi output.
8. Sasaran Sistem(Objectives) atau Tujuan Sistem (Goal)
Suatu sistem pasti mempunyai tujuan (goal) atau sasaran (objective). Kalau
suatu sistem tidak mempunyai sasaran, maka operasi sistem tidak akan ada
gunanya.
[Link] Klasifikasi Sistem
Suatu sistem dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang, diantaranya adalah
sebagai berikut: (Jogiyanto, 2005)
1. Sistem Abstrak dan Sistem Fisik
Sistem abstrak (abstract system) adalah sistem yang berupa pemikiran atau
ide-ide yang tidak tampak secara fisik. Misalnya sistem teologi, yaitu sistem
yang berupa pemikiran-pemikiran hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Sistem fisik (physical system) merupakan sistem yang ada secara fisik.
Misalnya sistem komputer, sistem akuntansi, sistem produksi dan lain
sebagainya.
2. Sistem Alamiah dan Sistem Buatan Manusia
Sistem alamiah (natural system) adalah sistem yang terjadi melalui proses
alam, tidak dibuat manusia. Misalnya sistem perputaran bumi. Sistem buatan
manusia (human made system) adalah sistem yang dirancang oleh manusia.
Sistem informasi merupakan contohnya, karena menyangkut penggunaan
komputer yang berinteraksi dengan manusia.
3. Sistem Tertentu dan Sistem Tak Tentu
Sistem tertentu (deterministic system) beroperasi dengan tingkah laku yang
sudah dapat diprediksi. Interaksi diantara bagianbagiannya dapat dideteksi
dengan pasti, sehingga keluaran dari sistem dapat diramalkan. Sistem
komputer adalah contoh dari sistem tertentu yang tingkah lakunya dapat
dipastikan berdasarkan program-program yang dijalankan. Sistem tak tentu
(probabilistic system) adalah sistem yang kondisi masa depannya tidak dapat
diprediksi karena mengandung unsur probabilitas.
4. Sistem Tertutup dan Sistem Terbuka
Sistem tertutup (closed system) merupakan sistem yang tidak berhubungan
dan tidak terpengaruh dengan lingkungan luarnya. Sistem ini bekerja secara
otomatis tanpa adanya turut campur tangan dari pihak diluarnya. Sistem
terbuka (open system) adalah sistem yang berhubungan dan terpengaruh
dengan lingkungan luarnya. Sistem ini menerima masukan dan menghasilkan
keluaran untuk lingkungan luar atau subsistem yang lainnya. Karena sistem
sifatnya terbuka dan terpengaruh oleh lingkungan luarnya, maka suatu sistem
harus mempunyai suatu sistem pengendalian yang baik.
2.1.2 Informasi
[Link] Definisi Informasi
Informasi adalah bahan pokok dalam pemberitaan, informasi bukan hanya
fakta/kenyataan melainkan lebih luas lagi tentang proses dan penggunaan informasi
itu sendiri. Informasi ini harus bergerak, mudah dimengerti, utuh, dan bulat. Menurut
Jogiyanto (2005) Informasi adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk
yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini
atau mendatang. Adapun nilai dari suatu informasi (Value of information) ditentukan
oleh dua hal, yaitu:
1. Suatu informasi dikatakan bernilai bila manfaatnya lebih efektif dibandingkan
dengan biaya mendapatkanya.
2. Suatu informasi dikatakan bernilai apabila informasi tersebut tidak dinilai
dengan nilai uang tetapi ditaksir dengan nilai efektifnya.
[Link] Siklus Informasi
Data yang melalui suatu model menjadi informasi, penerima kemudian menerima
informasi tersebut, membuat suatu keputusan dan melakukan tindakan, yang berarti
menghasilkan suatu tindakan yang lain yang akan membuat sejumlah data kembali.
Data tersebut akan ditangkap sebagai input, diproses kembali lewat suatu model dan
seterusnya membentuk suatu siklus. Siklus ini oleh John Burch disebut dengan siklus
informasi (information cycle) atau ada yang menyebutnya dengan istilah siklus
pengolahan data (data processing cycle).
Gambar 2.1 Siklus Informasi (Jogiyanto, 2005)
[Link] Kualitas Informasi
Adapun kualitas dari suatu informasi ditentukan oleh karakteristik-karakteristik
sebagai berikut (Jogiyanto, 2005):
1. Akurat
Suatu informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak bias atau
menyesatkan.
2. Tepat waktu
Suatu informasi yang datang pada penerimanya tidak boleh terlambat.
Infornasi yang using tidak akan mempunyai nilai lagi. Karena informasi
merupakan landasan di dalam pengambilan keputusan.
3. Relevan
Suatu informasi tersebut mempunyai manfaat untuk pemakainya.
2.1.3 Sistem Informasi
Sistem Informasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem di dalam suatu organisasi
yang merupakan kombinasi dari orang-orang, fasilitas, teknologi, media, prosedur-
prosedur dan pengendalian yang ditujukan untuk mendapatkan jalur komunikasi
penting, memproses tipe transaksi rutin tertentu, memberi sinyal kepada manajemen
dan yang lainnya terhadap kejadian-kejadian internal dan eksternal yang penting dan
menyediakan suatu dasar informasi untuk pengambilan keputusan yang cerdik
(Jogiyanto, 2005).
Sistem informasi adalah pengaturan orang, data, proses, dan teknologi informasi yang
berinteraksi untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyediakan
sebagai output informasi yang diperlukan untuk mendukung sebuah organisasi.
(Whitten, 2004)
Sistem informasi merupakan kombinasi yang terorganisir antara pengguna, perangkat
keras, perangkat lunak, jaringan komunikasi, sumber daya data kebijakan prosedur
yang menyimpan, mengambil, mengubah, menyebarkan informasi dalam sebuah
organisasi. (O’Brien & Marakas, 2010)
Sistem informasi adalah kumpulan komponen yang saling terkait yang berfungsi
untuk mencapai tujuan bersama. Sistem informasi adalah kumpulan komponen yang
saling terkait untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan sebagai output
informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas-tugas bisnis. (Satzinger,
Robert, & Burd, 2010)
[Link] Komponen Sistem Informasi
Dalam suatu sistem informasi terdapat komponen-komponen seperti: (Kadir, 2003)
1. Perangkat keras (hardware)
Mencakup peranti-peranti fisik seperti komputer dan printer.
2. Perangkat lunak (software) atau program
Sekumpulan intruksi yang memungkinkan perangkat keras untuk memproses
data.
3. Prosedur
Sekumpulan aturan yang diapakai untuk mewujudkan pemrosesan data dan
pembangkitan keluaran yang dikehendaki.
4. Orang
Semua pihak yang bertanggung jawab dalam pengembangan sistem informasi,
pemrosesan, dan penggunaan keluaran sistem informasi.
5. Basis data (database)
Sekumpulan tabel, hubungan, dan lain-lain yang berkaitan dengan
penyimpanan data.
6. Jaringan komputer dan komunikasi data
Sistem penghubung yang memungkinkan sumber (resources) dipakai secara
bersama atau diakses oleh sejumlah pemakai.
2.2 Sistem Informasi Geografis
Menurut Gistut (1994), SIG adalah sistem yang dapat mendukung
pengambilan keputusan spasial dan mampu mengintegrasikan deskripsi-deskripsi
lokasi dengan karakteristik-karakteristik fenomena yang ditemukan di lokasi tersebut.
SIG yang lengkap mencakup metodologi dan teknologi yang diperlukan yaitu data
spasial perangkat keras, perangkat lunak dan struktur organisasi.
Arronoff (1989), mendeskripsikan SIG sebagai suatu sistem berbasis
computer yang memiliki kemampuan dalam menangani data bereferensi geografi
yaitu pemasukan data, manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan kembali),
manipulasi dan analisis data, serta keluaran sebagai hasil akhir (output). Hasil akhir
dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan pada masalah yang berhubungan
dengan geografi.
Menurut Prahasta (2005) SIG merupakan suatu kesatuan formal yang terdiri
dari berbagai sumberdaya fisik dan logika yang berkenaan dengan objek-objek yang
terdapat di permukaan bumi. Sehingga, SIG juga merupakan sejenis perangkat lunak
yang dapat digunakan untuk pemasukan, penyimpanan, manipulasi, menampilkan,
dan keluaran informasi geografis berikut atribut-atributnya.
2.2.1 Subsistem Sistem Informasi Geografis
Sistem informasi geografis terbagi menjadi beberapa subsistem, yaitu :
1. Data Input
Subsistem ini bertugas mengumpulkan dan mempersiapkan data spasial dan
atribut dari berbagai sumber. Subsistem ini juga bertanggung jawab dalam
mengkonversi atau mentransformasikan format-format data-data aslinya ke
dalam format yang dapat digunakan oleh sistem informasi geografis.
2. Data Output
Subsistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran seluruh atau sebagian
basis data baik dalam bentuk softcopy maupun dalam bentuk harcopy seperti
tabel, grafik, peta, dan lain-lain.
3. Data Management
Subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun atribut ke dalam
sebuah basis data sedemikian rupa sehingga mudah dipanggil, diperbaharui,
maupun diperbaiki.
4. Data Manipulation and Analysis
Subsistem ini menghasilkan informasi-informasi yang dapat dihasilkan oleh
sistem informasi geografis. Selain itu, subsistem ini juga melakukan
manipulasi dan pemodelan data untuk menghasilkan informasi yang
diharapkan.
Data
Manipulation
& Analysis
Data Input GIS Data Output
Data
Management
Gambar 2.2 Subsistem SIG
Gambar 2.3 Uraian Subsistem SIG
2.2.2 Komponen Sistem Informasi Geografis
Sistem SIG terdiri dari beberapa komponen berikut (Gistut, 1994):
1. Perangkat Keras / Hardware
Perangkat keras yang biasanya digunakan dalam aplikasi SIG adalah:
a. CPU
Perangkat ini merupakan bagian dari sitem komputer yang bertindak
sebagai tempat untuk pemrosesan semua instruksi dan program
(processor). Selain itu CPU juga mengendalikan seluruh operasi yang
ada di dalam lingkungan sistem komputer yang bersangkutan.
b. RAM
Digunakan untuk menyimpan (sementara) data dan program yang
dimasukkan melalui input device baik untuk jangka waktu yang
panjang maupun pendek.
c. Storage
Digunakan untuk penyimpanan data secara permanen atau semi
permanen (temporary).
d. Input device
Digunakan untuk memasukkan data ke dalam SIG. Yang termasuk
dalam perangkat ini adalah keyboard, mouse, digitizer, scanner, digital
camera, dan sebagainya.
e. Output device
Untuk merepresentasikan data dan informasi SIG. Yang termasuk ke
dalam perangkat ini adalah layar monitor, printer, plotter, dan
sebagainya.
2. Perangkat Lunak / Software
Pemilihan perangkat lunak SIG bergantung pada sejumpah faktor, tujuan
aplikasi, biaya pembelian dan pemeliharaan, dan sebagainya. WGIAC
(Wyoming Geographic Information Advisory Council) telah membuat standar
umum:
a. Sistem Operasi
Berbasiskan Windows, Linux, atau MacOS.
b. Model Data Spasial
Raster dan vektor, tetapi dengan prioritas tinggi kepada model data
spasial vektor.
c. Basisdata
Jika menggunakan basisdata relasional, harus sesuai dengan standart
SQL. Jika tidak menggunakan basisdata relasional, maka basisdata
tersebut harus mampu melakukan eksport/import ke dan basisdata
relasional (SQL).
3. Data dan informasi geografi
Beberapa pustaka menyebutnya sebagai komponen basisdata. SIG dapat
mengumpulkan dan menyimpan data dan informasi yang diperlukan secara
tidak langsung dengan cara meng-import-nya dari perangkat lunak. Selain itu,
SIG dapat menyimpan data tersebut secara langsung dengan cara mendigitasi
data spasial dari peta dan memasukan data atribut dari tabel secara manual
melalui keyboard.
4. Manajemen
Manajemen menurut beberapa pustaka disebut juga sumber daya manusia atau
brainware, termasuk pengguna. Suatu proyek SIG akan berhasil jika di-
manage dengan baik dan dikerjakan oleh orang-orang yang ahli pada
bidangnya.
2.2.3 Kemampuan Sistem Informasi Geografis
Pada dasarnya, dengan melihat pengertian, definisi, dan cara kerjanya, kemampuan
SIG sudah dapat dikenali. Kemampuan ini pun dapat dinyatakan dengan fungsi
analisis spasial dan atribut yang dilakukan, jawaban, atau solusi yang dapat diberikan
terhadap pertanyaan yang diajukan (Prahasta, 2005).
Secara eksplisit, kemampuan SIG dapat dilihat dari pengertiannya. Kemampuan SIG
dari sudut pandang pengertiannya adalah sebagai berikut:
a. Memasukkan dan mengumpulkan data geografi (spasial dan atribut).
b. Mengintegrasikan data geografi.
c. Memeriksa dan meng-update data geografi.
d. Menyimpan dan memanggil kembali data geografi.
e. Merepresentasikan atau menampilkan data geografi.
f. Mengelola data geografi.
g. Memanipulasi data geografi.
h. Menganalisa data geografi.
i. Menghasilkan keluaran (output) data geografi dalam bentuk-bentuk : peta
tematik (view dan layout), tabel, grafik, laporan, dan lainnya baik dalam
bentuk hardcopy maupun softcopy.
Selain itu, kemampuan SIG juga dikenali dari fungsi-fungsi analisis. Secara umum,
terdapat dua jenis fungsi analisis yaitu fungsi analisis spasial dan analisis atribut
(basisdata atribut).
Fungsi analisis atribut terdiri dari operasi dasar sistem pengelolaan basis data
(DBMS) dan perluasannya:
a. Operasi dasar basis data mencakup:
1. Membuat basis data baru (create database).
2. Menghapus basis data (drop database).
3. Membuat tabel basis data (create table).
4. Menghapus tabel basis data (drop table).
5. Mengisi dan menyisipkan data (record) ke dalam tabel (insert).
6. Membaca dan mencari data (field atau record) dari tabel basis data
(seek, find, search, retrieve).
7. Mengubah dan meng-edit data yang terdapat di dalam tabel basis data
(update, edit).
8. Menghapus data dari tabel basis data (delete, zap, pack).
9. Membuat indeks untuk setiap tabel basis data.
b. Perluasan operasi basis data:
1. Membaca dan menulis basis data dalam sistem basis data yang lain
(export dan import).
2. Dapat berkomunikasi dengan sistem basis data yang lain (misalnya
dengan menggunakan driver ODBC).
3. Dapat menggunakan bahasa basis data standar SQL (structured query
language).
4. Operasi-operasi atau fungsi analisis lain yang sudah rutin digunakan
di dalam sistem basis data.
Sedangkan fungsi analisis spasial yang dapat dilakukan oleh kemampuan SIG terdiri
dari:
1. Klasifikasi (reclassify)
Fungsi ini mengklasifikasikan suatu data spasial menjadi data spasial baru
dengan menggunakan kriteria tertentu, misalnya dengan menggunakan data
spasial ketinggian permukaan bumi (topografi), akan dapat diturunkan data
spasial kemiringan atau gradien permukaan bumi yang dinyatakan dalam
presentase nilai-nilai kemiringan. Nilai-nilai presentase kemiringan ini dapat
diklasifikasikan hingga menjadi data spasial baru yang dapat digunakan untuk
merancang perencanaan pengembangan suatu wilayah. Contohnya adalah
untuk mendapatkan data spasial kesuburan tanah dari data spasial kesuburan
tanah dari data spasial kadar air atau kedalaman air tanah, dan sebagainya.
2. Jaringan (network)
Fungsi ini merujuk data spasial titik (point) atau garis (line) sebagai suatu
jaringan yang tak terpisahkan. Fungsi ini sering digunakan di bidang-bidang
transportasi dan utility, seperti misalnya aplikasi jaringan kabel listrik,
komunikasi, pipa minyak dan gas, air minum, dan saluran pembuangan).
Sebagai contoh, dengan fungsi analisis spasial network, cari seluruh
kombinasi jalan-jalan yang menghubungkan titik awal dan titik akhir. Pada
setiap kombinasi, hitung jarak titik awal dan akhir dengan mengakumulasikan
jarak dari jalan-jalan yang membentuknya. Kemudian pilih jarak terpendek
dari kombinasi-kombinasi yang ada.
3. Overlay
Fungsi ini menghasilkan data spasial baru dari minimal dua data spasial yang
menjadi masukannya. Sebagai contoh, bila untuk menghasilkan wilayah-
wilayah yang sesuai untuk budidaya tanaman tertentu, misalnya padi, dimana
data-data yang diperlukan adalah ketinggian permukaan bumi, kadar air tanah,
dan jenis tanah, maka fungsi analisis spasial overlay akan dikenakan terhadap
data-data spasial tersebut.
4. Buffering
Fungsi ini akan menghasilkan data spasial baru yang berbentuk polygon atau
zone dengan jarak tertentu dari data spasial yang menjadi masukannya. Data
spasial titik akan menghasilkan data spasial baru yang berupa lingkaran-
lingkaran yang mengelilingi titik pusatnya. Untuk data spasial grafis akan
menghasilkan data spasial baru yang berupa polygon yang melingkupi
garis=garis. Demikian pula untuk data spasial polygon, akan menghasilkan
data spasial baru yang berupa polygon yang lebih besar dan konsentris.
5. 3D analysis
Fungsi ini terdiri dari beberapa subfungsi yang berhubungan dengan
presentasi data spasial dalam ruang 3 dimensi. Fungsi analisis spasial ini
banyak menggunakan fungsi interpolasi. Sebagai contoh adalah untuk
menampilkan data spasial ketinggian, tataguna tanah, jaringan jalan dan utility
dalam bentuk model 3 dimensi.
6. Digital Image Processing
Fungsi ini dimiliki oleh perangkat SIG yang berbasiskan raster. Karena data
spasial permukaan bumi (citra digital) banyak didapat dari perekaman data
satelit yang berformat raster, maka banyak SIG raster yang juga dilengkapi
dengan fungsi analisis ini.
2.3 Data pada Sistem Informasi Geografis
Pada prinsipnya terdapat dua jenis data untuk mendukung SIG Suseno, dkk, (2012)
yaitu:
1. Data Spasial
Data spasial adalah gambaran nyata suatu wilayah yang terdapat di
permukaan bumi. Umumnya direperentasikan berupa grafik, peta, gambar,
dengann format digital dan disimpan dalam bentuk koordinat x, y (vektor)
atau dalam bentuk image (raster) yang memiliki nilai tertentu.
2. Data Non Spasial (atribut)
Data non spasial adalah data berbrntuk tabel tersebut berisi informasi-
informasi yang dimiliki oleh obyek dalam data spasial. Data tersebut
berbentuk data tabular yang saling berintegrasi dengan data spasial yang ada.
2.3.1 Tipe Data Spasial
Data spasial terbagi atas dua model data yaitu model data raster dan model data
vector, berikut penjelasannya:
1. Data Vektor
Tipe data ini berbasiskan pada titik/point dengan nilai koordinat (x,y) untuk
membangun objek spasialnya. Objek yang dibangun terbagi menjadi tiga bagian
lagi yaitu berupa titik (point), garis (line), dan area (polygon).
2. Data Raster
Data raster adalah data yang dihasilkan dari sistem Penginderaan Jauh. Pada
data raster, objek geografis direpresentasikan sebagai struktur sel grid yang
disebut dengan pixel (picture element). Pada data raster, resolusi (definisi
visual) tergantung pada ukuran pixel-nya.
2.3.2 Sumber Data Spasial
Data spasial membutuhkan sumber data yang digunakan untuk memodelkan bentuk
permukaan bumi yang di antaranya ialah:
1. Peta Analog (antara lain peta topografi, peta tanah)
Peta analog adalah peta dalam bentuk cetakan. Pada umumnya peta analog
dibuat dengan teknik kartografi, sehingga sudah mempunyai referensi spasial
seperti koordinat, skala, arah mata angin, dsb.
2. Data dari sistem penginderaan jauh (antara lain citra satelit, foto udara, dsb.)
Data Penginderaan Jauh dapat dikatakan sebagai sumber data yang terpenting
bagi SIG karena ketersediaannya secara berskala. Data ini biasanya
direpresentasikan dalam format raster.
3. Data hasil pengukuran lapangan
Hasil pengukuran lapangan adalah berupa data batas administrasi, batas
kepemilikan lahan, batas persil, batas hak pengusahaan hutan, dsb, yang
dihasilkan berdasarkan teknik perhitungan tersendiri. Pada umumnya data ini
merupakan sumber data atribut.
4. Data GPS
Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan data bagi
SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi dengan berkembangnya
teknologi. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format vektor.
2.3.2 Komponen Data Spasial
Dalam data spasial terdapat entitas-entitas yang membangun data tersebut. Data
spasial yang dibangun terbagi menjadi tiga bagian yaitu berupa titik (point), garis
(line), dan area (polygon), berikut penjelasannya:
1. Titik (point)
Titik merupakan representasi grafis yang paling sederhana pada suatu objek.
Titik tidak mempunyai dimensi tetapi dapat ditampilkan dalam bentuk simbol
baik pada peta maupun dalam layar monitor. Contoh: Lokasi Fasilitas
Kesehatan, Lokasi Fasilitas Kesehatan.
2. Garis (line)
Garis merupakan bentuk linear yang menghubungkan dua atau lebih titik dan
merepresentasikan objek dalam satu dimensi. Contoh: Jalan, Sungai.
3. Area (Poligon)
Poligon merupakan representasi objek dalam dua dimensi, Contoh: Danau,
Persil Tanah.
2.4 Peta
2.4.1 Definisi Peta
Menurut Takasaki (1997) peta adalah hasil pengukuran dan penyelidikan secara yang
dilaksanakan secara langsungmaupun tidak langsung mengenai hal-hal yang
bersangkutan dengan permukaan bumi dan didasarkan pada landasan ilmiah.
Prahasta (2005) mendeskripsikan peta sebagai suatu representasi konvensional
(miniatur) dari unsur-unsur (features) fisik (alamiah dan buatan manusia) dari
sebagian atau keseluruhan permukaan bumi di atas media bidang datar dengan skala
tertentu. Peta merupakan gambaran wilayah geografis, bagian permukaan bumi yang
disajikan dalam berbagai cara yang berbeda, mulai dari peta konvensionalyang
tercetak hingga peta digital yang tampil di layar komputer. Peta dapat digambarkan
dengan berbagai gaya, masing-masing menunjukkan permukaan yang berbeda untuk
subjek yang sama untuk menvisualisasikan dunia dengan mudah, informatif dan
fungsional.
2.4.2 Jenis-jenis Peta
Jenis peta dapat dibagi menjadi beberapa macam ditinjau dari berbagai aspek, baik
dari aspek maksud dan tujuan tujuan, kegunaan, skala, dan keadaan objek.
1. Berdasarkan maksud dan tujuan
a. Peta dasar, didefinisikan sebagai gambaran atau proyeksi dari sebagian
permukaan bumi pada bidang datar atau kertas dengan skala tertentu yang
dilengkapi dengan informasi kenampakan alami atau buatan. Contoh peta
dasar adalah peta situasi, peta dunia, peta topografi, peta Indonesia
b. Peta tematik, didefinisikan sebagai gambaran dari sebagian permukaan
bumi yang dilengkapi dengan informasi tertentu baik di atas maupun di
bawah permukaan bumi yang mengandung tema tertentu. Contoh peta
tematik adalah peta jenis tanah, peta kesesuaian lahan, peta iklim, peta
perhubungan.
2. Berdasarkan kegunaan
a. Peta referensi umum, atau general reference map adalah peta yang
digunakan untuk mengidentifikasi dan verifikasi macammacam bentuk
geografis termasuk fitur tanah, perkotaan, jalan.
b. Peta mobilitas, atau mobility map adalah peta yang digunakan untuk
membantu masyarakat dalam menentukan jalur dari satu tempat ke tempat
lainnya, biasanya digunakan untuk perjalanan darat, laut, dan udara.
c. Peta inventaris, atau inventory map adalah peta yang menunjukan lokasi
dari fitur-fitur khusus misalnya posisi gedung dari suatu wilayah. d. Peta
tematik, didefinisikan sebagai peta yang menunjukan penyebaran dari
objek tertentu seperti populasi, curah hujan, dan sumber daya alam.
3. Berdasarkan skala
a. Peta kadaster, atau peta teknik berskala antara 1:100 – 1:5.000
b. Peta skala besar, berskala antara 1:5.000 – 1:250.000
c. Peta skala sedang, berskala antara 1:250.000 – 1:500.000
d. Peta skala kecil, berskala antara 1:500.000 – 1:1.000.000
e. Peta geografis, berskala lebih dari 1:1.000.000
4. Berdasarkan keadaan objek
a. Peta stasioner, menggambarkan keadaan atau objek yang dipetakan tetap
stabil. Contoh peta sebaran gunung berapi.
b. Peta dinamis, menggambarkan keadaan atau objek yang dipetakan mudah
berubah. Contoh peta urbanisasi, peta arah angin.
2.4.3 Fungsi dan Tujuan Peta
Secara umum fungsi dan tujuan peta dapat dilihat dari poin-poin berikut ini (Riyanto
et al., 2009):
1. Fungsi Peta
Fungsi peta adalah sebagai berikut:
a. Menunjukkan posisi atau lokasi relatif (letak suatu tempat dalam
hubungannya dengan tempat lain di permukaan bumi).
b. Memperlihatkan ukuran (dari peta dapat diukur luas daerah dan jarak-jarak
di atas permukaan bumi).
c. Memperlihatkan bentuk (misalnya bentuk dari benua, negara, dan lain-
lain).
d. Mengumpulkan dan menyeleksi data-data dari suatu daerah dan
menyajikan di atas peta.
2. Tujuan Pembuatan Peta
Tujuan pembuatan peta adalah sebagai berikut:
a. Sebagai alat komunikasi informasi ruang.
b. Menyimpan informasi.
c. Membantu dalam suatu desain, misalnya desain jalan, dan sebagainya.
d. Untuk analisis data spasial, misalnya perhitungan volume, dan sebagainya.
2.5 SIG berbasis Web atau WebGIS
WebGIS merupakan aplikasi yang berjalan di jaringan LAN dan internet;
khusus web-nya. Dengan demikian pengguna yang memanfaatkan aplikasi browser
internet bisa mengirimkan request ke server-nya untuk memperoleh informasi teks
dan gambar dalam format HTML. Sistem ini terdiri dari aplikasi web-server,
application-server, map-server, database-server, dan browser (Prahasta, 2014).
2.5.1 Arsitektur WebGIS
Untuk dapat melakukan komunikasi dengan komponen yang berbeda-beda di
lingkungan web maka dibutuhkan sebuah web server. Karena standar dari geo data
berbeda beda dan sangat spesifik maka pengembangan arsitektur sistem mengikuti
arsitektur ‘Client Server’.
Gambar 2.4 Arsitektur WebGIS
Gambar diatas menunjukan arsitektur minimum sebuah sistem Web GIS. Applikasi
berada disisi client yang berkomunikasi dengan Server sebagai penyedia data melalui
web Protokol seperti HTTP (Hyper Text Transfer Protocol). Aplikasi seperti ini bisa
dikembangkan dengan web browser (Mozilla Firefox, Opera, Internet Explorer, dll).
Untuk menampilkan dan berinteraksi dengan data GIS, sebuah browser
membutuhkan Plug-In atau Java Applet atau bahkan keduanya. Web Server
bertanggung jawab terhadap proses permintaan dari client dan mengirimkan
tanggapan terhadap respon tersebut.
Dalam arsitektur web, sebuah web server juga mengatur komunikasi dengan server
side GIS Komponen. Server side GIS Komponen bertanggung jawab terhadap
koneksi kepada database spasial seperti menterjemahkan query kedalam SQL dan
membuat representasi yang diteruskan ke server. Dalam kenyataannya Side Server
GIS Komponen berupa software libraries yang menawarkan layanan khusus untuk
analisis spasial pada data. Selain komponen hal lain yang juga sangat penting adalah
aspek fungsional yang terletak di sisi client atau di server.
Gambar berikut adalah dua pendekatan yang menunjukan kemungkinan distribusi
fungsional pada system client/server berdasarkan konsep pipeline visualization.
Gambar 2.5 Thin dan Thick Client
Pendekatan 1: Thin Client: Memfokuskan diri pada sisi server. Hampir semua proses
dan analisis data dilakukan berdasarkan request disisi server. Data hasil pemrosesan
dikirimkan ke client dalam format HTML, yang didalamnya terdapat file gambar
sehingga dapat dilihat dengan browser. Pada pendekatan ini interaksi pengguna
terbatas dan tidak fleksibel.
Pendekatan 2: Thick / Fat Client: Pemrosesan data dilakukan disisi client, data
dikirim dari server ke client dalam bentuk data vector yang disederhanakan.
Pemrosesan dan penggambaran kembali dilakukan disisi client. Cara ini menjadikan
user dapat berinteraksi lebih interaktif dan fleksibel.
2.6 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)
2.6.1 Pengertian PMKS
Menurut Peraturan Menteri Sosial Nomor 16 tahun 2017 Penyandang Masalah
Kesejahteraan Sosial (PMKS) yaitu perseorangan, keluarga, kelompok, dan/atau
masyarakat yang karena suatu hambatan, kesulitan, atau gangguan, tidak dapat
melaksanakan fungsi sosialnya, sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya
baik jasmani, rohani, maupun sosial secara memadai dan wajar. Hambatan, kesulitan
atau gangguan tersebut dapat berupa kemiskinan, ketelantaran, kecacatan, ketunaan
sosial, keterbelakangan, dan bencana alam maupun bencana sosial.
2.6.2 Jenis-jenis PMKS
Berdasarkan Peraturan Menteri Sosial RI No. 8 tahun 2012 tentang pedoman
pendataan dan pengelolaan data penyandang masalah kesejahteraan sosial dan potensi
dan sumber kesejahteraan sosial, terdapat 26 jenis PMKS sebagai berikut:
1. Anak balita telantar
Seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang ditelantarkan orang
tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang
tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan
perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi
serta anak dieksploitasi untuk tujuan tertentu.
Kriteria:
a. terlantar/ tanpa asuhan yang layak;
b. berasal dari keluarga sangat miskin / miskin;
c. kehilangan hak asuh dari orangtua/ keluarga;
d. Anak balita yang mengalami perlakuan salah dan diterlantarkan oleh
orang tua/keluarga;
e. Anak balita yang dieksploitasi secara ekonomi seperti anak balita
yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis di jalanan; dan
f. Anak balita yang menderita gizi buruk atau kurang.
2. Anak terlantar
Seorang anak berusia 6 (enam) tahun sampai dengan 18 (delapan belas) tahun,
meliputi anak yang mengalami perlakuan salah dan ditelantarkan oleh orang
tua/keluarga atau anak kehilangan hak asuh dari orang tua/keluarga.
Kriteria :
a. berasal dari keluarga fakir miskin;
b. anak yang dilalaikan oleh orang tuanya; dan
c. anak yang tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya.
3. Anak yang berhadapan dengan hukum
Orang yang telah berumur 12 (dua belas) tahun tetapi belum mencapai umur
18 (delapan belas) tahun, meliputi anak yang disangka, didakwa, atau dijatuhi
pidana karena melakukan tindak pidana dan anak yang menjadi korban tindak
pidana atau yang melihat dan/atau mendengar sendiri terjadinya suatu tindak
pidana.
Kriteria :
a. disangka;
b. didakwa; atau
c. dijatuhi pidana
4. Anak jalanan
Anak yang rentan bekerja di jalanan, anak yang bekerja di jalanan, dan/atau
anak yang bekerja dan hidup di jalanan yang menghasilkan sebagian besar
waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari.
Kriteria :
a. menghabiskan sebagian besar waktunya dijalanan maupun ditempat-
tempat umum; atau
b. mencari nafkah dan/atau berkeliaran di jalanan maupun ditempat-
tempat umum.
5. Anak dengan Kedisabilitasan (ADK)
Seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun yang mempunyai
kelainan fisik atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan
dan hambatan bagi dirinya untuk melakukan fungsi-fungsi jasmani, rohani
maupun sosialnya secara layak, yang terdiri dari anak dengan disabilitas fisik,
anak dengan disabilitas mental dan anak dengan disabilitas fisik dan mental.
Kriteria:
a. Anak dengan disabilitas fisik: tubuh, netra, rungu wicara
b. Anak dengan disabilitas mental: mental retardasi dan eks psikotik
c. Anak dengan disabilitas fisik dan mental/disabilitas ganda
d. Tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari.
6. Anak yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah
Anak yang terancam secara fisik dan nonfisik karena tindak kekerasan,
diperlakukan salah atau tidak semestinya dalam lingkungan keluarga atau
lingkungan sosial terdekatnya, sehingga tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya
dengan wajar baik secara jasmani, rohani maupun sosial.
Kriteria :
a. anak (laki-laki/perempuan) dibawah usia 18 (delapan belas) tahun;
b. sering mendapat perlakuan kasar dan kejam dan tindakan yang
berakibat secara fisik dan/atau psikologis;
c. pernah dianiaya dan/atau diperkosa; dan
d. dipaksa bekerja (tidak atas kemauannya)
7. Anak yang memerlukan perlindungan khusus
Anak yang berusia 6 (enam) tahun sampai dengan 18 (delapan belas) tahun
dalam situasi darurat, dari kelompok minoritas dan terisolasi, dieksploitasi
secara ekonomi dan/atau seksual, diperdagangkan, menjadi korban
penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya
(napza), korban penculikan, penjualan, perdagangan, korban kekerasan baik
fisik dan/atau mental, yang menyandang disabilitas, dan korban perlakuan
salah dan penelantaran.
Kriteria :
a. berusia 6 (enam) tahun sampai dengan 18 (delapan belas) tahun;
b. dalam situasi darurat dan berada dalam lingkungan yang
buruk/diskriminasi;
c. korban perdagangan manusia;
d. korban kekerasan, baik fisik dan/atau mental dan seksual;
e. korban eksploitasi, ekonomi atau seksual;
f. dari kelompok minoritas dan terisolasi, serta dari komunitas adat
terpencil;
g. menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika dan
zat adiktif lainnya (NAPZA); dan
h. terinfeksi HIV/AIDS.
8. Lanjut usia telantar
Seseorang yang berusia 60 (enam puluh) tahun atau lebih, karena faktor-faktor
tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya.
Kriteria :
a. tidak terpenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan;
dan
b. terlantar secara psikis, dan sosial.
9. Penyandang disabilitas
Mereka yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik
dalam jangka waktu lama dimana ketika berhadapan dengan berbagai
hambatan hal ini dapat mengalami partisipasi penuh dan efektif mereka dalam
masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan yang lainnya.
Kriteria :
a. mengalami hambatan untuk melakukan suatu aktifitas sehari-hari;
b. mengalami hambatan dalam bekerja sehari-hari;
c. tidak mampu memecahkan masalah secara memadai;
d. penyandang disabilitas fisik : tubuh, netra, rungu wicara;
e. penyandang disabilitas mental : mental retardasi dan eks psikotik; dan
f. penyandang disabilitas fisik dan mental/disabilitas ganda.
10. Tuna Susila
Seseorang yang melakukan hubungan seksual dengan sesama atau lawan jenis
secara berulang-ulang dan bergantian diluar perkawinan yang sah dengan
tujuan mendapatkan imbalan uang, materi atau jasa.
Kriteria :
a. menjajakan diri di tempat umum, di lokasi atau tempat pelacuran
seperti rumah bordil, dan tempat terselubung seperti warung remang-
remang, hotel, mall dan diskotek; dan
b. memperoleh imbalan uang, materi atau jasa.
11. Gelandangan
Orang-orang yang hidup dalam keadaan yang tidak sesuai dengan norma
kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai
pencaharian dan tempat tinggal yang tetap serta mengembara di tempat
umum.
Kriteria :
a. tanpa Kartu Tanda Penduduk (KTP);
b. tanpa tempat tinggal yang pasti/tetap;
c. tanpa penghasilan yang tetap; dan
d. tanpa rencana hari depan anak-anaknya maupun dirinya.
12. Pengemis
Orang-orang yang mendapat penghasilan meminta-minta ditempat umum
dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan orang
lain.
Kriteria :
a. mata pencariannya tergantung pada belas kasihan orang lain;
b. berpakaian kumuh dan compang camping;
c. berada ditempat-tempat ramai/strategis; dan
d. memperalat sesama untuk merangsang belas kasihan orang lain.
13. Pemulung
Orang-orang yang melakukan pekerjaan dengan cara memungut dan
mengumpulkan barang-barang bekas yang berada di berbagai tempat
pemukiman pendudukan, pertokoan dan/atau pasar-pasar yang bermaksud
untuk didaur ulang atau dijual kembali, sehingga memiliki nilai ekonomis.
Kriteria :
a. tidak mempunyai pekerjaan tetap; dan
b. mengumpulkan barang bekas.
14. Kelompok Minoritas
Kelompok yang mengalami gangguan keberfungsian sosialnya akibat
diskriminasi dan marginalisasi yang diterimanya sehingga karena
keterbatasannya menyebabkan dirinya rentan mengalami masalah sosial,
seperti gay, waria, dan lesbian.
Kriteria :
a. gangguan keberfungsian sosial;
b. diskriminasi;
c. marginalisasi; dan
d. berperilaku seks menyimpang.
15. Bekas Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (BWBLP)
Seseorang yang telah selesai menjalani masa pidananya sesuai dengan
keputusan pengadilan dan mengalami hambatan untuk menyesuaikan diri
kembali dalam kehidupan masyarakat, sehingga mendapat kesulitan untuk
mendapatkan pekerjaan atau melaksanakan kehidupannya secara normal.
Kriteria :
a. seseorang (laki-laki/perempuan) berusia diatas 18 (delapan belas)
tahun;
b. telah selesai dan keluar dari lembaga pemasyarakatan karena masalah
pidana;
c. kurang diterima/dijauhi atau diabaikan oleh keluarga dan masyarakat;
d. sulit mendapatkan pekerjaan yang tetap; dan
e. berperan sebagai kepala keluarga/pencari nafkah utama keluarga yang
tidak dapat melaksanakan tugas dan fungsinya.
16. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)
Seseorang yang telah dinyatakan terinfeksi HIV/AIDS dan membutuhkan
pelayanan sosial, perawatan kesehatan, dukungan dan pengobatan untuk
mencapai kualitas hidup yang optimal.
Kriteria :
a. seseorang (laki-laki/perempuan) berusia diatas 18 (delapan belas)
tahun; dan
b. telah terinfeksi HIV/AIDS.
17. Korban Penyalahgunaan NAPZA
Seseorang yang menggunakan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya
diluar pengobatan atau tanpa sepengetahuan dokter yang berwenang.
Kriteria :
a. seseorang (laki-laki / perempuan) yang pernah menyalahgunakan
narkotika, psikotropika, dan zat-zat adiktif lainnya baik dilakukan
sekali, lebih dari sekali atau dalam taraf coba-coba;
b. secara medik sudah dinyatakan bebas dari ketergantungan obat oleh
dokter yang berwenang; dan
c. tidak dapat melaksanakan keberfungsian sosialnya.
18. Korban trafficking
Seseorang yang mengalami penderitaan psikis, mental, fisik, seksual, ekonomi
dan/atau sosial yang diakibatkan tindak pidana perdagangan orang.
Kriteria :
a. mengalami tindak kekerasan;
b. mengalami eksploitasi seksual;
c. mengalami penelantaran;
d. mengalami pengusiran (deportasi); dan
e. ketidakmampuan menyesuaikan diri di tempat kerja baru (negara
tempat bekerja) sehingga mengakibatkan fungsi sosialnya terganggu.
19. Korban tindak kekerasan
Orang baik individu, keluarga, kelompok maupun kesatuan masyarakat
tertentu yang mengalami tindak kekerasan, baik sebagai akibat perlakuan
salah, eksploitasi, diskriminasi, bentuk-bentuk kekerasan lainnya ataupun
dengan membiarkan orang berada dalam situasi berbahaya sehingga
menyebabkan fungsi sosialnya terganggu.
Kriteria :
a. mengalami perlakuan salah;
b. mengalami penelantaran;
c. mengalami tindakan eksploitasi;
d. mengalami perlakuan diskriminasi; dan
e. dibiarkan dalam situasi berbahaya.
20. Pekerja Migran Bermasalah Sosial (PMBS)
Pekerja migran internal dan lintas negara yang mengalami masalah sosial,
baik dalam bentuk tindak kekerasan, penelantaran, mengalami musibah
(faktor alam dan sosial) maupun mengalami disharmoni sosial karena
ketidakmampuan menyesuaikan diri di negara tempat bekerja sehingga
mengakibatkan fungsi sosialnya terganggu.
Kriteria :
a. pekerja migran domestik;
b. pekerja migran lintas negara;
c. eks pekerja migran domestik dan lintas negara;
d. eks pekerja migran domestik dan lintas negara yang sakit, cacat dan
meninggal dunia;
e. pekerja migran tidak berdokumen (undocument);
f. pekerja migran miskin;
g. mengalami masalah sosial dalam bentuk :
1) tindak kekerasan;
2) eksploitasi;
3) penelantaran;
4) pengusiran (deportasi);
5) ketidakmampuan menyesuaikan diri di tempat kerja baru
(negara tempat bekerja) sehingga mengakibatkan fungsi
sosialnya terganggu; dan
6) mengalami traffiking.
21. Korban bencana alam
Orang atau sekelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat
bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang
disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung
meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor terganggu fungsi
sosialnya.
Kriteria : Seseorang atau sekelompok orang yang mengalami:
a. korban terluka atau meninggal;
b. kerugian harta benda;
c. dampak psikologis; dan
d. terganggu dalam melaksanakan fungsi sosialnya.
22. Korban bencana sosial
Orang atau sekelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat
bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang
diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau
antar komunitas masyarakat, dan teror.
Kriteria : Seseorang atau sekelompok orang yang mengalami:
a. korban jiwa manusia;
b. kerugian harta benda; dan
c. dampak psikologis.
23. Perempuan rawan sosial ekonomi
Seorang perempuan dewasa menikah, belum menikah atau janda dan tidak
mempunyai penghasilan cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok
sehari-hari.
Kriteria :
a. perempuan berusia 18 (delapan belas) tahun sampai dengan 59 (lima
puluh sembilan) tahun;
b. istri yang ditinggal suami tanpa kejelasan;
c. menjadi pencari nafkah utama keluarga; dan
d. berpenghasilan kurang atau tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup
layak.
24. Fakir Miskin
Orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan/atau
mempunyai sumber mata pencarian tetapi tidak mempunyai kemampuan
memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan dirinya dan/atau
keluarganya.
Kriteria :
a. tidak mempunyai sumber mata pencaharian; dan/atau
b. mempunyai sumber mata pencarian tetapi tidak mempunyai
kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan
dirinya dan/ atau keluarganya.
25. Keluarga bermasalah sosial psikologis
Keluarga yang hubungan antar anggota keluarganya terutama antara suami-
istri, orang tua dengan anak kurang serasi, sehingga tugas-tugas dan fungsi
keluarga tidak dapat berjalan dengan wajar.
Kriteria :
a. suami atau istri sering tidak saling memperhatikan atau anggota
keluarga kurang berkomunikasi;
b. suami dan istri sering bertengkar, hidup sendiri-sendiri walaupun
masih dalam ikatan keluarga;
c. hubungan dengan tetangga kurang baik, sering bertengkar tidak mau
bergaul/berkomunikasi; dan
d. kebutuhan anak baik jasmani, rohani maupun sosial kurang terpenuhi.
26. Komunitas Adat Terpencil
Kelompok sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar serta kurang atau
belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial ekonomi, maupun
politik.
Kriteria :
a. berbentuk komunitas relatif kecil, tertutup dan homogen;
b. pranata sosial bertumpu pada hubungan kekerabatan;
c. pada umumnya terpencil secara geografis dan relatif sulit dijangkau;
d. pada umumnya masih hidup dengan sistem ekonomi subsistem;
e. peralatan dan teknologinya sederhana;
f. ketergantungan pada lingkungan hidup dan sumber daya alam
setempat relatif tinggi; dan
g. terbatasnya akses pelayanan sosial ekonomi dan politik.
2.7 Dinas Sosial DKI Jakarta
2.7.1 Pengertian Dinas Sosial
Menurut Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 20 tahun 2018 Dinas Sosial merupakan
unsur pelaksana yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang sosial yang
dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berkedudukan di bawah dan bertanggung
jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Dinas Sosial dalam melaksanakan
tugas dan fungsinya dikoordinasikan oleh Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretaris
Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
2.7.2 Tugas dan Fungsi Dinas Sosial DKI Jakarta
Dinas Sosial mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang
sosial.
Untuk melaksanakan tugas tersebut Dinas Sosial menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan rencana strategis dan rencana kerja dan anggaran Dinas Sosial;
b. pelaksanaan rencana strategis dan dokumen pelaksanaan anggaran Dinas
Sosial;
c. penyusunan kebijakan, pedoman dan standar teknis pelaksanaan urusan
sosial;
d. pelayanan rekomendasi, pengawasan, pengendalian, monitoring dan evaluasi
perizinan dan non perizinan di bidang sosial;
e. pelayanan rehabilitasi sosial anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, tuna
sosial, ODHA, BWBLP, korban penyalahgunaan NAPZA dan korban tindak
kekerasan;
f. pengendalian, penjangkauan, penyaluran dan rujukan penyandang masalah
kesejahteraan sosial;
g. pemberdayaan sosial individu, keluarga, masyarakat, tenaga dan lembaga
kesejahteraan sosial;
h. pemberdayaan, pendampingan serta fasilitasi bagi fakir miskin sesuai dengan
lingkup tugasnya;
i. pengembangan peran serta masyarakat dalam pemberdayaan sosial dan
penggalangan peran aktif serta kemitraan masyarakat dan dunia usaha;
j. pelayanan penghargaan kepada pahlawan, perintis kemerdekaan dan
masyarakat;
k. pelestarian dan penanaman nilai kepahlawanan, keperintisan,
kesetiakawanan dan restorasi sosial;
l. pencegahan, penanganan, pemulihan dan reintegrasi sosial orang terlantar;
m. perlindungan sosial korban bencana dan korban musibah sosial lainnya;
n. pelaksanaan pemberian hibah, bantuan sosial dan asuransi kesejahteraan
sosial;
o. pelaksanaan dan pengembangan program penanganan fakir miskin;
p. pembinaan penyelenggaraan Undian Gratis berhadiah dan pengumpulan
uang dan/atau barang;
q. pelaksanaan pemeliharaan Taman Makam Pahlawan Nasional Provinsi;
r. pemantauan dan evaluasi ketersediaan dan kelaikan prasarana dan [Link]
pelayanan di bidang kesejahteraan sosial;
s. penyediaan, penatausahaan, penggunaan, pemeliharaan dan perawatan
prasarana dan sarana di bidang sosial;
t. pendataan, pengolahan, pemutakhiran data kesejahteraan sosial dan
pemutakhiran mandiri data terpadu program penanganan fakir miskin;
u. publikasi data dan penyebarluasan informasi kesejahteraan sosial;
v. pelaksanaan promosi kesejahteraan sosial;
w. pembinaan, pengawasan, pengendalian, monitoring dan evaluasi bidang
kesejahteraan sosial;
x. pengelolaan panti sosial dan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam
Jakarta;
y. pemberian dukungan teknis kepada masyarakat dan perangkat daerah di
bidang kesejahteraan sosial;
z. penegakan peraturan perundang-undangan di bidang sosial;
aa. pengelolaan kepegawaian, keuangan dan barang Dinas Sosial;
bb. pengelolaan. ketatausahaan dan kerumahtanggaan Dinas Sosial;
cc. pengelolaan kearsipan, data dan informasi Dinas Sosial; dan
dd. pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi Dinas
Sosial.
2.7.3 Susunan Organisasi Dinas Sosial DKI Jakarta
Susunan organisasi Dinas Sosial, terdiri dari:
a. Kepala Dinas;
b. Sekretariat terdiri dari:
1. Subbagian Umum dan Kepegawaian;
2. Subbagian Perencanaan dan Anggaran; dan
3. Subbagian Keuangan.
c. Bidang Rehabilitasi Sosial, terdiri dan:
1. Seksi Rehabilitasi Sosial Anak dan Lanjut Usia;
2. Seksi Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas; dan
3. Seksi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Tindak Kekerasan.
d. Bidang Pemberdayaan Sosial, terdiri dan:
1. Seksi Pemberdayaan Peran Serta Dunia Usaha dan Bina Undian;
2. Seksi Pemberdayaan Tenaga dan Lembaga Kesejahteraan Sosial; dan
3. Seksi Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial.
e. Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, terdiri dan:
1. Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana;
2. Seksi Jaminan Sosial; dan
3. Seksi Pemulihan dan Reintegrasi Sosial.
f. Bidang Pengembangan Kesejahteraan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin,
terdiri dan:
1. Seksi Pengembangan, Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial;
2. Seksi Fasilitas Kesejahteraan Sosial; dan
3. Seksi Penanganan Fakir Miskin.
g. Suku Dinas Kota;
h. Unit Pelaksana Teknis; dan
i. Kelompok Jabatan Fungsional.
2.8 Rapid Application Development
2.8.1 Pengertian RAD
Rapid Application Development (RAD) adalah strategi siklus hidup yang ditujukan
untuk menyediakan pengembangan yang jauh lebih cepat dan mendapatkan hasil
dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan hasil yang dicapai melalui
siklus tradisional (Leod & R., 2009).
Menurut Kendall & Kendall (2010) RAD adalah suatu pendekatan berorientasi objek
terhadap pengembangan sistem yang mencakup suatu metode pengembangan serta
perangkat-perangkat lunak. RAD bertujuan mempersingkat waktu yang biasanya
diperlukan dalam siklus hidup pengembangan sistem tradisional antara perancangan
dan penerapan suatu sistem informasi. Pada akhirnya, RAD sama-sama berusaha
memenuhi syarat-syarat bisnis yang berubah secara cepat.
Gambar 2.6 Siklus Rapid Application Development (Kendall & Kendall, 2010)
2.8.2 Fase dan Tahapan RAD
Metode perancangan RAD menurut (Kendall & Kendall, 2010) adalah :
1. Requirements Planning
Fase ini merupakan perencanaan awal dimana peneliti akan menganalisa segala
kebutuhan sistem dan menganalisa sistem berjalan.
2. Workshop Design
Fase ini merupakan fase untuk merancang atau membuat desain prototype sistem
yang dapat digambarkan sebagai workshop.
3. Implementation
Fase ini dilakukan uji coba sistem, kemudian dilakukan pengenalan terhadap
organisasi.
2.8.3 Kelebihan dan Kekurangan Rapid Application Development
Metode pengembangan sistem RAD relatif lebih sesuai dengan rencana
pengembangan aplikasi yang tidak memiliki ruang lingkup yang besar dan akan
dikembangkan oleh tim yang kecil. Namun, RAD pun memiliki kelebihan dan
kekurangannya sebagai sebuah metodoligi pengembangan aplikasi. Berikut ini adalah
kelebihan metodologi RAD menurut (Marakas, 2006) :
1. Penghematan waktu dalam keseluruhan fase projek dapat dicapai.
2. RAD mengurangi seluruh kebutuhan yang berkaitan dengan biaya projek
dan sumberdaya manusia.
3. RAD sangat membantu pengembangan aplikasi yang berfokus pada waktu
penyelesaian projek.
4. Perubahan desain sistem dapat lebih berpengaruh dengan cepat
dibandingkan dengan pendekatan SDLC tradisional.
5. Sudut pandang user disajikan dalam sistem akhir baik melalui fungsi-fungsi
sistem atau antarmuka pengguna.
6. RAD menciptakan rasa kepemilikan yang kuat di antara seluruh pemangku
kebijakan projek.
Sedangkan, mengacu pada pendapat (Kendall & Kendall, 2010), maka dapat
diketahui bahwa kekurangan penerapan metode RAD adalah sebagai berikut:
1. Dengan metode RAD, penganalisis berusaha mepercepat projek dengan
terburu-buru.
2. Kelemahan yang berkaitan dengan waktu dan perhatian terhadap detail.
Aplikasi dapat diselesaikan secara lebih cepat, tetapi tidak mampu
mengarahkan penekanan terhadap permasalahan-permasalahan perusahaan
yang seharusnya diarahkan.
3. RAD menyulitkan programmer yang tidak berpengalaman menggunakan
prangkat ini di mana programmer dan analyst dituntut untuk menguasai
kemampuan-kemampuan baru sementara pada saat yang sama mereka harus
bekerja mengembangkan sistem.
2.9 Unified Modelling Language
Unified Model Language (UML) adalah himpunan struktur dan teknik untuk
pemodelan dan desain object oriented programming (OOP) serta aplikasinya. UML
adalah metodologi untuk mengembangkan sistem OOP dan sekelompok tool untuk
medukung pengembangan sistem tersebut (Kroenke, 2005).
Tabel 2.1 Komponen-Komponen Diagram UML
No Diagram Kegunaan
1 Activity Behavior prosedural dan pararel
2 Class Class, fitur, dan hubungan – hubungan
Interaksi antar objek ; penekanan pada
3 Communication
jalur
4 Component Struktur dan koneksi komponen
Composite
5 Dekomposisi runtime sebuah class
structure
6 Deployment Pemindahan artifak ke node
Interaction
7 Campuran Sequence dan Activity diagram
overview
8 Object Contoh konfigurasi dari contoh – contoh
9 Package Struktur hirarki compile – time
Interaksi antar objek ; penekanan pada
10 Sequence
sequence
Bagaimana even mengubah objek selama
11 State machine
aktif
12 Timming Interaksi antar objek : penekanan pada
timing
Bagaimana pengguna berinteraksi dengan
13 Use case
sebuah sistem
2.10 Tools Pengembangan Web
2.10.1 PHP
PHP adalah salah satu bahasa pemrograman skrip yang dirancang untuk membangun
aplikasi web (Raharjo et al., 2014). Aplikasi web adalah aplikasi yang disimpan dan
dieksekusi (oleh PHP Engine) di lingkungan web server. Setiap permintaan
dilakukan oleh user melalui aplikasi klien (web browser) akan direspon oleh aplikasi
web dan hasilnya akan dikembalikan lagi ke hadapan user. Dengan aplikasi web,
halaman yang tampil di layar web browser bersifat dinamis, tergantung dari nilai data
atau parameter yang dikirimkan oleh user ke web server.
2.10.2 MySQL
MySQL adalah program database yang paling populer di antara yang lain. MySQL
mampu mengirim dan menerima data dengan sangat cepat dan multi-user (semua
klien dapat mengakses server dalam satu waktu). MySQL database server dapat
menangani data yang bervolume besar (sampai berukuran Gigabyte) namun tidak
menuntut resource yang besar. MySQL juga dapat berjalan di berbagai operating
system seperti Linux, Windows, Solaris, danlain-lain (Wahana, 2010).
2.10.3 XAMPP
XAMPP adalah salah satu aplikasi web server apache yang terintegrasi dengan mysql
dan phpmyadmin. XAMPP adalah singkatan dari X, Apache Server, MySQL,
PHPMyadmin, dan Python. Huruf X di depan menandakan XAMPP bisa di-instal di
berbagai operating system. XAMPP dapat di-instal pada Windows, Linux, MacOS,
dan Solaris (Dadan & Kerendi, 2015).
2.10.4 Google Maps
Google Maps merupakan aplikasi dan teknologi layanan pemetaan berbasis web yang
menampilkan citrasatelit resolusi tinggi. Aplikasi ini memanfaatkan citra satelit yang
disediakan oleh DigitalGlobe dengan satelitnya QuickBird, serta data dari
Geographic Information System (GIS) buatan Tele Atlas, NAVTEQ, dan MapABC.
Google membuat Google Maps API untuk para pengembang web yang ingin
menyertakan Google Maps ke situs mereka. Layanan ini gratis dan saat ini masih
tanpa iklan (Susrini, 2009).
2.11 Blackbox Testing
Pengujian black-box berfokus pada persyaratan fungsional lunak. Pengujian ini
memungkinkan analis sistem memperoleh kondisi input yang akan mengerjakan
seluruh keperluan fungsional (Maturidi, 2014). Pada pengujian black-box, cara
pengujian hanya dilakukan dengan menjalankan atau mengeksekusi unit atau 50
modul, kemudian diamati apakah hasil dari unit itu sesuai dengan proses bisnis yang
diinginkan.
Tujuan metode pengujian black-box adalah mencari lima kesalahan. Kesalahan yang
dicari dalam metode pengujian ini adalah kesalahan pada fungsi yang salah atau
hilang, kesalahan interface, kesalahan pada struktur data atau akses database,
kesalahan performansi, dan kesalahan inisialisasi dan tujuan akhir.
Tidak seperti pengujian white-box, yang dilakukan pada awal proses pengujian,
pengujian black-box cenderung diaplikasikan selama tahap akhir pengujian. Karena
pengujian black-box sengaja mengabaikan struktur pengendalian, perhatian
difokuskan pada domain informasi.
Menurut Maturidi (2014) pengujian ini dirancang untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan berikut:
1. Bagaimana validitas fungsional diuji?
2. Apa kelas input yang terbaik untuk uji coba yang baik?
3. Apakah sistem sangat peka terhadap nilai input tertentu?
4. Bagaimana jika kelas data yang terbatas dipisahkan?
5. Bagaimana volume data yang dapat ditoleransi oleh sistem?
6. Bagaimana pengaruh kombinasi data terhadap pengoperasian sistem?