0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan53 halaman

Dasar-Dasar Sistem Informasi dan Karakteristiknya

Bab II membahas landasan teori sistem informasi, termasuk konsep dasar sistem dan informasi, siklus informasi, kualitas informasi, dan komponen sistem informasi. Sistem informasi didefinisikan sebagai kumpulan komponen yang saling berinteraksi untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyediakan informasi guna mendukung organisasi.

Diunggah oleh

Arief Soekarno
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan53 halaman

Dasar-Dasar Sistem Informasi dan Karakteristiknya

Bab II membahas landasan teori sistem informasi, termasuk konsep dasar sistem dan informasi, siklus informasi, kualitas informasi, dan komponen sistem informasi. Sistem informasi didefinisikan sebagai kumpulan komponen yang saling berinteraksi untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyediakan informasi guna mendukung organisasi.

Diunggah oleh

Arief Soekarno
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Sistem Informasi

2.1.1 Sistem

Sistem adalah kumpulan elemen–elemen yang saling berinteraksi satu sama lain

untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sebuah sistem terdiri dari bagian–

bagian yang saling berkaitan yang beroperasi bersama untuk mencapai beberapa

sasaran atau maksud, tujuan dan sasaran yang sama (Jogiyanto, 2005).

Sistem adalah kumpulan elemen-elemen atau sumber daya yang saling berkaitan

secara terpadu, terintegrasi dalam suatu hubungan tertentu, dan bertujuan untuk

mencapai tujuan tertentu (Gondodiyoto, 2007).

[Link] Karakteristik Sistem

Suatu sistem mempunyai karakteristik atau sifat-sifat yang tertentu (Jogiyanto, 2005),

yaitu:

1. Komponen Sistem (Components)


Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, yang

artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan. Komponen-komponen

sistem atau elemen-elemen sistem dapat berupa suatu sistem atau bagian-

bagian dari sistem. Setiap sistem tidak peduli betapapun kecilnya, selalu

mengandung komponen-komponen atau subsistem-subsistem. Setiap

subsistem mempunyai sifat-sifat dari sistem yang menjalankan suatu fungsi

tertentu dan mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan.

2. Batas Sistem (Boundary)

Batas sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan

sistem lainnya atau dengan lingkungan luarnya. Batas sistem ini

memungkinkan suatu sistem dipandang sebagai satu kesatuan. Batas suatu

sistem menunjukkan ruang lingkup (scope) dari sistem tersebut.

3. Lingkungan Luar Sistem (Environtments)

Lingkungan luar dari sistem adalah apapun diluar batas sistem yang

mempengaruhi operasi sistem. Lingkungan luar sistem dapat bersifat

menguntungkan dan dapat juga bersifat merugikan sistem tersebut.

Lingkungan luar yang menguntungkan merupakan energi dari sistem dan

dengan demikian harus tetap dijaga dan dipelihara. Sedangkan lingkungan

luar yang merugikan harus ditahan dan dikendalikan, kalau tidak maka akan

mengganggu kelangsungan hidup sistem.

4. Penghubung Sistem (Interface)


Penghubung merupakan media penghubung antara satu subsistem dengan

subsistem lainnya. Melalui penghubung ini memungkinkan sumbersumber

daya mengalir dari satu subsistem ke subsistem lainnya. Keluaran (output)

dari satu subsistem akan menjadi masukan (input) untuk subsistem lainnya

dengan melalui penghubung.

5. Masukan (Input)

Masukkan adalah energi yang dimasukkan ke dalam sistem. Masukan dapat

berupa masukan perawatan (maintanance input) dan masukan signal (signal

input). Maintanance input adalah energi yang dimasukkan supaya sistem

tersebut dapat beroperasi. Signal input adalah energi yang diproses untuk

didapatkan keluaran. Sebagai contoh didalam sistem komputer, program

adalah maintenance input yang digunakan untuk mengoperasikan

komputernya dan data adalah signal input untuk diolah menjadi informasi.

6. Keluaran (Output)

Keluaran adalah hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi

keluaran yang berguna dan sisa pembuangan. Keluaran dapat merupakan

masukan untuk subsistem yang lain atau ke sistem yang lebih besar. Misalnya

untuk sistem komputer, panas yang dihasilkan adalah keluaran yang tidak

berguna merupakan hasil sisa pembuangan, sedangkan informasi adalah

keluaran yang dibutuhkan.

7. Pengolah Sistem (Process)


Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolah yang akan merubah

input menjadi output.

8. Sasaran Sistem(Objectives) atau Tujuan Sistem (Goal)

Suatu sistem pasti mempunyai tujuan (goal) atau sasaran (objective). Kalau

suatu sistem tidak mempunyai sasaran, maka operasi sistem tidak akan ada

gunanya.

[Link] Klasifikasi Sistem

Suatu sistem dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang, diantaranya adalah

sebagai berikut: (Jogiyanto, 2005)

1. Sistem Abstrak dan Sistem Fisik

Sistem abstrak (abstract system) adalah sistem yang berupa pemikiran atau

ide-ide yang tidak tampak secara fisik. Misalnya sistem teologi, yaitu sistem

yang berupa pemikiran-pemikiran hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Sistem fisik (physical system) merupakan sistem yang ada secara fisik.

Misalnya sistem komputer, sistem akuntansi, sistem produksi dan lain

sebagainya.

2. Sistem Alamiah dan Sistem Buatan Manusia

Sistem alamiah (natural system) adalah sistem yang terjadi melalui proses

alam, tidak dibuat manusia. Misalnya sistem perputaran bumi. Sistem buatan

manusia (human made system) adalah sistem yang dirancang oleh manusia.
Sistem informasi merupakan contohnya, karena menyangkut penggunaan

komputer yang berinteraksi dengan manusia.

3. Sistem Tertentu dan Sistem Tak Tentu

Sistem tertentu (deterministic system) beroperasi dengan tingkah laku yang

sudah dapat diprediksi. Interaksi diantara bagianbagiannya dapat dideteksi

dengan pasti, sehingga keluaran dari sistem dapat diramalkan. Sistem

komputer adalah contoh dari sistem tertentu yang tingkah lakunya dapat

dipastikan berdasarkan program-program yang dijalankan. Sistem tak tentu

(probabilistic system) adalah sistem yang kondisi masa depannya tidak dapat

diprediksi karena mengandung unsur probabilitas.

4. Sistem Tertutup dan Sistem Terbuka

Sistem tertutup (closed system) merupakan sistem yang tidak berhubungan

dan tidak terpengaruh dengan lingkungan luarnya. Sistem ini bekerja secara

otomatis tanpa adanya turut campur tangan dari pihak diluarnya. Sistem

terbuka (open system) adalah sistem yang berhubungan dan terpengaruh

dengan lingkungan luarnya. Sistem ini menerima masukan dan menghasilkan

keluaran untuk lingkungan luar atau subsistem yang lainnya. Karena sistem

sifatnya terbuka dan terpengaruh oleh lingkungan luarnya, maka suatu sistem

harus mempunyai suatu sistem pengendalian yang baik.

2.1.2 Informasi

[Link] Definisi Informasi


Informasi adalah bahan pokok dalam pemberitaan, informasi bukan hanya

fakta/kenyataan melainkan lebih luas lagi tentang proses dan penggunaan informasi

itu sendiri. Informasi ini harus bergerak, mudah dimengerti, utuh, dan bulat. Menurut

Jogiyanto (2005) Informasi adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk

yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini

atau mendatang. Adapun nilai dari suatu informasi (Value of information) ditentukan

oleh dua hal, yaitu:

1. Suatu informasi dikatakan bernilai bila manfaatnya lebih efektif dibandingkan

dengan biaya mendapatkanya.

2. Suatu informasi dikatakan bernilai apabila informasi tersebut tidak dinilai

dengan nilai uang tetapi ditaksir dengan nilai efektifnya.

[Link] Siklus Informasi

Data yang melalui suatu model menjadi informasi, penerima kemudian menerima

informasi tersebut, membuat suatu keputusan dan melakukan tindakan, yang berarti

menghasilkan suatu tindakan yang lain yang akan membuat sejumlah data kembali.

Data tersebut akan ditangkap sebagai input, diproses kembali lewat suatu model dan

seterusnya membentuk suatu siklus. Siklus ini oleh John Burch disebut dengan siklus

informasi (information cycle) atau ada yang menyebutnya dengan istilah siklus

pengolahan data (data processing cycle).


Gambar 2.1 Siklus Informasi (Jogiyanto, 2005)

[Link] Kualitas Informasi

Adapun kualitas dari suatu informasi ditentukan oleh karakteristik-karakteristik

sebagai berikut (Jogiyanto, 2005):

1. Akurat

Suatu informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak bias atau

menyesatkan.

2. Tepat waktu

Suatu informasi yang datang pada penerimanya tidak boleh terlambat.

Infornasi yang using tidak akan mempunyai nilai lagi. Karena informasi

merupakan landasan di dalam pengambilan keputusan.

3. Relevan

Suatu informasi tersebut mempunyai manfaat untuk pemakainya.


2.1.3 Sistem Informasi

Sistem Informasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem di dalam suatu organisasi

yang merupakan kombinasi dari orang-orang, fasilitas, teknologi, media, prosedur-

prosedur dan pengendalian yang ditujukan untuk mendapatkan jalur komunikasi

penting, memproses tipe transaksi rutin tertentu, memberi sinyal kepada manajemen

dan yang lainnya terhadap kejadian-kejadian internal dan eksternal yang penting dan

menyediakan suatu dasar informasi untuk pengambilan keputusan yang cerdik

(Jogiyanto, 2005).

Sistem informasi adalah pengaturan orang, data, proses, dan teknologi informasi yang

berinteraksi untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyediakan

sebagai output informasi yang diperlukan untuk mendukung sebuah organisasi.

(Whitten, 2004)

Sistem informasi merupakan kombinasi yang terorganisir antara pengguna, perangkat

keras, perangkat lunak, jaringan komunikasi, sumber daya data kebijakan prosedur

yang menyimpan, mengambil, mengubah, menyebarkan informasi dalam sebuah

organisasi. (O’Brien & Marakas, 2010)

Sistem informasi adalah kumpulan komponen yang saling terkait yang berfungsi

untuk mencapai tujuan bersama. Sistem informasi adalah kumpulan komponen yang

saling terkait untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan sebagai output


informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas-tugas bisnis. (Satzinger,

Robert, & Burd, 2010)

[Link] Komponen Sistem Informasi

Dalam suatu sistem informasi terdapat komponen-komponen seperti: (Kadir, 2003)

1. Perangkat keras (hardware)

Mencakup peranti-peranti fisik seperti komputer dan printer.

2. Perangkat lunak (software) atau program

Sekumpulan intruksi yang memungkinkan perangkat keras untuk memproses

data.

3. Prosedur

Sekumpulan aturan yang diapakai untuk mewujudkan pemrosesan data dan

pembangkitan keluaran yang dikehendaki.

4. Orang

Semua pihak yang bertanggung jawab dalam pengembangan sistem informasi,

pemrosesan, dan penggunaan keluaran sistem informasi.

5. Basis data (database)

Sekumpulan tabel, hubungan, dan lain-lain yang berkaitan dengan

penyimpanan data.

6. Jaringan komputer dan komunikasi data

Sistem penghubung yang memungkinkan sumber (resources) dipakai secara

bersama atau diakses oleh sejumlah pemakai.


2.2 Sistem Informasi Geografis

Menurut Gistut (1994), SIG adalah sistem yang dapat mendukung

pengambilan keputusan spasial dan mampu mengintegrasikan deskripsi-deskripsi

lokasi dengan karakteristik-karakteristik fenomena yang ditemukan di lokasi tersebut.

SIG yang lengkap mencakup metodologi dan teknologi yang diperlukan yaitu data

spasial perangkat keras, perangkat lunak dan struktur organisasi.

Arronoff (1989), mendeskripsikan SIG sebagai suatu sistem berbasis

computer yang memiliki kemampuan dalam menangani data bereferensi geografi

yaitu pemasukan data, manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan kembali),

manipulasi dan analisis data, serta keluaran sebagai hasil akhir (output). Hasil akhir

dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan pada masalah yang berhubungan

dengan geografi.

Menurut Prahasta (2005) SIG merupakan suatu kesatuan formal yang terdiri

dari berbagai sumberdaya fisik dan logika yang berkenaan dengan objek-objek yang

terdapat di permukaan bumi. Sehingga, SIG juga merupakan sejenis perangkat lunak

yang dapat digunakan untuk pemasukan, penyimpanan, manipulasi, menampilkan,

dan keluaran informasi geografis berikut atribut-atributnya.

2.2.1 Subsistem Sistem Informasi Geografis

Sistem informasi geografis terbagi menjadi beberapa subsistem, yaitu :

1. Data Input

Subsistem ini bertugas mengumpulkan dan mempersiapkan data spasial dan


atribut dari berbagai sumber. Subsistem ini juga bertanggung jawab dalam

mengkonversi atau mentransformasikan format-format data-data aslinya ke

dalam format yang dapat digunakan oleh sistem informasi geografis.

2. Data Output

Subsistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran seluruh atau sebagian

basis data baik dalam bentuk softcopy maupun dalam bentuk harcopy seperti

tabel, grafik, peta, dan lain-lain.

3. Data Management

Subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun atribut ke dalam

sebuah basis data sedemikian rupa sehingga mudah dipanggil, diperbaharui,

maupun diperbaiki.

4. Data Manipulation and Analysis

Subsistem ini menghasilkan informasi-informasi yang dapat dihasilkan oleh

sistem informasi geografis. Selain itu, subsistem ini juga melakukan

manipulasi dan pemodelan data untuk menghasilkan informasi yang

diharapkan.
Data
Manipulation
& Analysis

Data Input GIS Data Output

Data
Management

Gambar 2.2 Subsistem SIG

Gambar 2.3 Uraian Subsistem SIG


2.2.2 Komponen Sistem Informasi Geografis

Sistem SIG terdiri dari beberapa komponen berikut (Gistut, 1994):

1. Perangkat Keras / Hardware

Perangkat keras yang biasanya digunakan dalam aplikasi SIG adalah:

a. CPU

Perangkat ini merupakan bagian dari sitem komputer yang bertindak

sebagai tempat untuk pemrosesan semua instruksi dan program

(processor). Selain itu CPU juga mengendalikan seluruh operasi yang

ada di dalam lingkungan sistem komputer yang bersangkutan.

b. RAM

Digunakan untuk menyimpan (sementara) data dan program yang

dimasukkan melalui input device baik untuk jangka waktu yang

panjang maupun pendek.

c. Storage

Digunakan untuk penyimpanan data secara permanen atau semi

permanen (temporary).

d. Input device

Digunakan untuk memasukkan data ke dalam SIG. Yang termasuk

dalam perangkat ini adalah keyboard, mouse, digitizer, scanner, digital

camera, dan sebagainya.

e. Output device
Untuk merepresentasikan data dan informasi SIG. Yang termasuk ke

dalam perangkat ini adalah layar monitor, printer, plotter, dan

sebagainya.

2. Perangkat Lunak / Software

Pemilihan perangkat lunak SIG bergantung pada sejumpah faktor, tujuan

aplikasi, biaya pembelian dan pemeliharaan, dan sebagainya. WGIAC

(Wyoming Geographic Information Advisory Council) telah membuat standar

umum:

a. Sistem Operasi

Berbasiskan Windows, Linux, atau MacOS.

b. Model Data Spasial

Raster dan vektor, tetapi dengan prioritas tinggi kepada model data

spasial vektor.

c. Basisdata

Jika menggunakan basisdata relasional, harus sesuai dengan standart

SQL. Jika tidak menggunakan basisdata relasional, maka basisdata

tersebut harus mampu melakukan eksport/import ke dan basisdata

relasional (SQL).

3. Data dan informasi geografi

Beberapa pustaka menyebutnya sebagai komponen basisdata. SIG dapat

mengumpulkan dan menyimpan data dan informasi yang diperlukan secara

tidak langsung dengan cara meng-import-nya dari perangkat lunak. Selain itu,
SIG dapat menyimpan data tersebut secara langsung dengan cara mendigitasi

data spasial dari peta dan memasukan data atribut dari tabel secara manual

melalui keyboard.

4. Manajemen

Manajemen menurut beberapa pustaka disebut juga sumber daya manusia atau

brainware, termasuk pengguna. Suatu proyek SIG akan berhasil jika di-

manage dengan baik dan dikerjakan oleh orang-orang yang ahli pada

bidangnya.

2.2.3 Kemampuan Sistem Informasi Geografis

Pada dasarnya, dengan melihat pengertian, definisi, dan cara kerjanya, kemampuan

SIG sudah dapat dikenali. Kemampuan ini pun dapat dinyatakan dengan fungsi

analisis spasial dan atribut yang dilakukan, jawaban, atau solusi yang dapat diberikan

terhadap pertanyaan yang diajukan (Prahasta, 2005).

Secara eksplisit, kemampuan SIG dapat dilihat dari pengertiannya. Kemampuan SIG

dari sudut pandang pengertiannya adalah sebagai berikut:

a. Memasukkan dan mengumpulkan data geografi (spasial dan atribut).

b. Mengintegrasikan data geografi.

c. Memeriksa dan meng-update data geografi.

d. Menyimpan dan memanggil kembali data geografi.

e. Merepresentasikan atau menampilkan data geografi.

f. Mengelola data geografi.


g. Memanipulasi data geografi.

h. Menganalisa data geografi.

i. Menghasilkan keluaran (output) data geografi dalam bentuk-bentuk : peta

tematik (view dan layout), tabel, grafik, laporan, dan lainnya baik dalam

bentuk hardcopy maupun softcopy.

Selain itu, kemampuan SIG juga dikenali dari fungsi-fungsi analisis. Secara umum,

terdapat dua jenis fungsi analisis yaitu fungsi analisis spasial dan analisis atribut

(basisdata atribut).

Fungsi analisis atribut terdiri dari operasi dasar sistem pengelolaan basis data

(DBMS) dan perluasannya:

a. Operasi dasar basis data mencakup:

1. Membuat basis data baru (create database).

2. Menghapus basis data (drop database).

3. Membuat tabel basis data (create table).

4. Menghapus tabel basis data (drop table).

5. Mengisi dan menyisipkan data (record) ke dalam tabel (insert).

6. Membaca dan mencari data (field atau record) dari tabel basis data

(seek, find, search, retrieve).

7. Mengubah dan meng-edit data yang terdapat di dalam tabel basis data

(update, edit).

8. Menghapus data dari tabel basis data (delete, zap, pack).


9. Membuat indeks untuk setiap tabel basis data.

b. Perluasan operasi basis data:

1. Membaca dan menulis basis data dalam sistem basis data yang lain

(export dan import).

2. Dapat berkomunikasi dengan sistem basis data yang lain (misalnya

dengan menggunakan driver ODBC).

3. Dapat menggunakan bahasa basis data standar SQL (structured query

language).

4. Operasi-operasi atau fungsi analisis lain yang sudah rutin digunakan

di dalam sistem basis data.

Sedangkan fungsi analisis spasial yang dapat dilakukan oleh kemampuan SIG terdiri

dari:

1. Klasifikasi (reclassify)

Fungsi ini mengklasifikasikan suatu data spasial menjadi data spasial baru

dengan menggunakan kriteria tertentu, misalnya dengan menggunakan data

spasial ketinggian permukaan bumi (topografi), akan dapat diturunkan data

spasial kemiringan atau gradien permukaan bumi yang dinyatakan dalam

presentase nilai-nilai kemiringan. Nilai-nilai presentase kemiringan ini dapat

diklasifikasikan hingga menjadi data spasial baru yang dapat digunakan untuk

merancang perencanaan pengembangan suatu wilayah. Contohnya adalah

untuk mendapatkan data spasial kesuburan tanah dari data spasial kesuburan

tanah dari data spasial kadar air atau kedalaman air tanah, dan sebagainya.
2. Jaringan (network)

Fungsi ini merujuk data spasial titik (point) atau garis (line) sebagai suatu

jaringan yang tak terpisahkan. Fungsi ini sering digunakan di bidang-bidang

transportasi dan utility, seperti misalnya aplikasi jaringan kabel listrik,

komunikasi, pipa minyak dan gas, air minum, dan saluran pembuangan).

Sebagai contoh, dengan fungsi analisis spasial network, cari seluruh

kombinasi jalan-jalan yang menghubungkan titik awal dan titik akhir. Pada

setiap kombinasi, hitung jarak titik awal dan akhir dengan mengakumulasikan

jarak dari jalan-jalan yang membentuknya. Kemudian pilih jarak terpendek

dari kombinasi-kombinasi yang ada.

3. Overlay

Fungsi ini menghasilkan data spasial baru dari minimal dua data spasial yang

menjadi masukannya. Sebagai contoh, bila untuk menghasilkan wilayah-

wilayah yang sesuai untuk budidaya tanaman tertentu, misalnya padi, dimana

data-data yang diperlukan adalah ketinggian permukaan bumi, kadar air tanah,

dan jenis tanah, maka fungsi analisis spasial overlay akan dikenakan terhadap

data-data spasial tersebut.

4. Buffering

Fungsi ini akan menghasilkan data spasial baru yang berbentuk polygon atau

zone dengan jarak tertentu dari data spasial yang menjadi masukannya. Data

spasial titik akan menghasilkan data spasial baru yang berupa lingkaran-

lingkaran yang mengelilingi titik pusatnya. Untuk data spasial grafis akan
menghasilkan data spasial baru yang berupa polygon yang melingkupi

garis=garis. Demikian pula untuk data spasial polygon, akan menghasilkan

data spasial baru yang berupa polygon yang lebih besar dan konsentris.

5. 3D analysis

Fungsi ini terdiri dari beberapa subfungsi yang berhubungan dengan

presentasi data spasial dalam ruang 3 dimensi. Fungsi analisis spasial ini

banyak menggunakan fungsi interpolasi. Sebagai contoh adalah untuk

menampilkan data spasial ketinggian, tataguna tanah, jaringan jalan dan utility

dalam bentuk model 3 dimensi.

6. Digital Image Processing

Fungsi ini dimiliki oleh perangkat SIG yang berbasiskan raster. Karena data

spasial permukaan bumi (citra digital) banyak didapat dari perekaman data

satelit yang berformat raster, maka banyak SIG raster yang juga dilengkapi

dengan fungsi analisis ini.

2.3 Data pada Sistem Informasi Geografis

Pada prinsipnya terdapat dua jenis data untuk mendukung SIG Suseno, dkk, (2012)

yaitu:

1. Data Spasial

Data spasial adalah gambaran nyata suatu wilayah yang terdapat di

permukaan bumi. Umumnya direperentasikan berupa grafik, peta, gambar,


dengann format digital dan disimpan dalam bentuk koordinat x, y (vektor)

atau dalam bentuk image (raster) yang memiliki nilai tertentu.

2. Data Non Spasial (atribut)

Data non spasial adalah data berbrntuk tabel tersebut berisi informasi-

informasi yang dimiliki oleh obyek dalam data spasial. Data tersebut

berbentuk data tabular yang saling berintegrasi dengan data spasial yang ada.

2.3.1 Tipe Data Spasial

Data spasial terbagi atas dua model data yaitu model data raster dan model data

vector, berikut penjelasannya:

1. Data Vektor

Tipe data ini berbasiskan pada titik/point dengan nilai koordinat (x,y) untuk

membangun objek spasialnya. Objek yang dibangun terbagi menjadi tiga bagian

lagi yaitu berupa titik (point), garis (line), dan area (polygon).

2. Data Raster

Data raster adalah data yang dihasilkan dari sistem Penginderaan Jauh. Pada

data raster, objek geografis direpresentasikan sebagai struktur sel grid yang

disebut dengan pixel (picture element). Pada data raster, resolusi (definisi

visual) tergantung pada ukuran pixel-nya.


2.3.2 Sumber Data Spasial

Data spasial membutuhkan sumber data yang digunakan untuk memodelkan bentuk

permukaan bumi yang di antaranya ialah:

1. Peta Analog (antara lain peta topografi, peta tanah)

Peta analog adalah peta dalam bentuk cetakan. Pada umumnya peta analog

dibuat dengan teknik kartografi, sehingga sudah mempunyai referensi spasial

seperti koordinat, skala, arah mata angin, dsb.

2. Data dari sistem penginderaan jauh (antara lain citra satelit, foto udara, dsb.)

Data Penginderaan Jauh dapat dikatakan sebagai sumber data yang terpenting

bagi SIG karena ketersediaannya secara berskala. Data ini biasanya

direpresentasikan dalam format raster.

3. Data hasil pengukuran lapangan

Hasil pengukuran lapangan adalah berupa data batas administrasi, batas

kepemilikan lahan, batas persil, batas hak pengusahaan hutan, dsb, yang

dihasilkan berdasarkan teknik perhitungan tersendiri. Pada umumnya data ini

merupakan sumber data atribut.

4. Data GPS

Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan data bagi

SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi dengan berkembangnya

teknologi. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format vektor.


2.3.2 Komponen Data Spasial

Dalam data spasial terdapat entitas-entitas yang membangun data tersebut. Data

spasial yang dibangun terbagi menjadi tiga bagian yaitu berupa titik (point), garis

(line), dan area (polygon), berikut penjelasannya:

1. Titik (point)

Titik merupakan representasi grafis yang paling sederhana pada suatu objek.

Titik tidak mempunyai dimensi tetapi dapat ditampilkan dalam bentuk simbol

baik pada peta maupun dalam layar monitor. Contoh: Lokasi Fasilitas

Kesehatan, Lokasi Fasilitas Kesehatan.

2. Garis (line)

Garis merupakan bentuk linear yang menghubungkan dua atau lebih titik dan

merepresentasikan objek dalam satu dimensi. Contoh: Jalan, Sungai.

3. Area (Poligon)

Poligon merupakan representasi objek dalam dua dimensi, Contoh: Danau,

Persil Tanah.

2.4 Peta

2.4.1 Definisi Peta

Menurut Takasaki (1997) peta adalah hasil pengukuran dan penyelidikan secara yang

dilaksanakan secara langsungmaupun tidak langsung mengenai hal-hal yang

bersangkutan dengan permukaan bumi dan didasarkan pada landasan ilmiah.


Prahasta (2005) mendeskripsikan peta sebagai suatu representasi konvensional

(miniatur) dari unsur-unsur (features) fisik (alamiah dan buatan manusia) dari

sebagian atau keseluruhan permukaan bumi di atas media bidang datar dengan skala

tertentu. Peta merupakan gambaran wilayah geografis, bagian permukaan bumi yang

disajikan dalam berbagai cara yang berbeda, mulai dari peta konvensionalyang

tercetak hingga peta digital yang tampil di layar komputer. Peta dapat digambarkan

dengan berbagai gaya, masing-masing menunjukkan permukaan yang berbeda untuk

subjek yang sama untuk menvisualisasikan dunia dengan mudah, informatif dan

fungsional.

2.4.2 Jenis-jenis Peta

Jenis peta dapat dibagi menjadi beberapa macam ditinjau dari berbagai aspek, baik

dari aspek maksud dan tujuan tujuan, kegunaan, skala, dan keadaan objek.

1. Berdasarkan maksud dan tujuan

a. Peta dasar, didefinisikan sebagai gambaran atau proyeksi dari sebagian

permukaan bumi pada bidang datar atau kertas dengan skala tertentu yang

dilengkapi dengan informasi kenampakan alami atau buatan. Contoh peta

dasar adalah peta situasi, peta dunia, peta topografi, peta Indonesia

b. Peta tematik, didefinisikan sebagai gambaran dari sebagian permukaan

bumi yang dilengkapi dengan informasi tertentu baik di atas maupun di

bawah permukaan bumi yang mengandung tema tertentu. Contoh peta


tematik adalah peta jenis tanah, peta kesesuaian lahan, peta iklim, peta

perhubungan.

2. Berdasarkan kegunaan

a. Peta referensi umum, atau general reference map adalah peta yang

digunakan untuk mengidentifikasi dan verifikasi macammacam bentuk

geografis termasuk fitur tanah, perkotaan, jalan.

b. Peta mobilitas, atau mobility map adalah peta yang digunakan untuk

membantu masyarakat dalam menentukan jalur dari satu tempat ke tempat

lainnya, biasanya digunakan untuk perjalanan darat, laut, dan udara.

c. Peta inventaris, atau inventory map adalah peta yang menunjukan lokasi

dari fitur-fitur khusus misalnya posisi gedung dari suatu wilayah. d. Peta

tematik, didefinisikan sebagai peta yang menunjukan penyebaran dari

objek tertentu seperti populasi, curah hujan, dan sumber daya alam.

3. Berdasarkan skala

a. Peta kadaster, atau peta teknik berskala antara 1:100 – 1:5.000

b. Peta skala besar, berskala antara 1:5.000 – 1:250.000

c. Peta skala sedang, berskala antara 1:250.000 – 1:500.000

d. Peta skala kecil, berskala antara 1:500.000 – 1:1.000.000

e. Peta geografis, berskala lebih dari 1:1.000.000

4. Berdasarkan keadaan objek

a. Peta stasioner, menggambarkan keadaan atau objek yang dipetakan tetap

stabil. Contoh peta sebaran gunung berapi.


b. Peta dinamis, menggambarkan keadaan atau objek yang dipetakan mudah

berubah. Contoh peta urbanisasi, peta arah angin.

2.4.3 Fungsi dan Tujuan Peta

Secara umum fungsi dan tujuan peta dapat dilihat dari poin-poin berikut ini (Riyanto

et al., 2009):

1. Fungsi Peta

Fungsi peta adalah sebagai berikut:

a. Menunjukkan posisi atau lokasi relatif (letak suatu tempat dalam

hubungannya dengan tempat lain di permukaan bumi).

b. Memperlihatkan ukuran (dari peta dapat diukur luas daerah dan jarak-jarak

di atas permukaan bumi).

c. Memperlihatkan bentuk (misalnya bentuk dari benua, negara, dan lain-

lain).

d. Mengumpulkan dan menyeleksi data-data dari suatu daerah dan

menyajikan di atas peta.

2. Tujuan Pembuatan Peta

Tujuan pembuatan peta adalah sebagai berikut:

a. Sebagai alat komunikasi informasi ruang.

b. Menyimpan informasi.

c. Membantu dalam suatu desain, misalnya desain jalan, dan sebagainya.

d. Untuk analisis data spasial, misalnya perhitungan volume, dan sebagainya.


2.5 SIG berbasis Web atau WebGIS

WebGIS merupakan aplikasi yang berjalan di jaringan LAN dan internet;

khusus web-nya. Dengan demikian pengguna yang memanfaatkan aplikasi browser

internet bisa mengirimkan request ke server-nya untuk memperoleh informasi teks

dan gambar dalam format HTML. Sistem ini terdiri dari aplikasi web-server,

application-server, map-server, database-server, dan browser (Prahasta, 2014).

2.5.1 Arsitektur WebGIS

Untuk dapat melakukan komunikasi dengan komponen yang berbeda-beda di

lingkungan web maka dibutuhkan sebuah web server. Karena standar dari geo data

berbeda beda dan sangat spesifik maka pengembangan arsitektur sistem mengikuti

arsitektur ‘Client Server’.

Gambar 2.4 Arsitektur WebGIS

Gambar diatas menunjukan arsitektur minimum sebuah sistem Web GIS. Applikasi

berada disisi client yang berkomunikasi dengan Server sebagai penyedia data melalui

web Protokol seperti HTTP (Hyper Text Transfer Protocol). Aplikasi seperti ini bisa

dikembangkan dengan web browser (Mozilla Firefox, Opera, Internet Explorer, dll).

Untuk menampilkan dan berinteraksi dengan data GIS, sebuah browser


membutuhkan Plug-In atau Java Applet atau bahkan keduanya. Web Server

bertanggung jawab terhadap proses permintaan dari client dan mengirimkan

tanggapan terhadap respon tersebut.

Dalam arsitektur web, sebuah web server juga mengatur komunikasi dengan server

side GIS Komponen. Server side GIS Komponen bertanggung jawab terhadap

koneksi kepada database spasial seperti menterjemahkan query kedalam SQL dan

membuat representasi yang diteruskan ke server. Dalam kenyataannya Side Server

GIS Komponen berupa software libraries yang menawarkan layanan khusus untuk

analisis spasial pada data. Selain komponen hal lain yang juga sangat penting adalah

aspek fungsional yang terletak di sisi client atau di server.

Gambar berikut adalah dua pendekatan yang menunjukan kemungkinan distribusi

fungsional pada system client/server berdasarkan konsep pipeline visualization.

Gambar 2.5 Thin dan Thick Client

Pendekatan 1: Thin Client: Memfokuskan diri pada sisi server. Hampir semua proses

dan analisis data dilakukan berdasarkan request disisi server. Data hasil pemrosesan

dikirimkan ke client dalam format HTML, yang didalamnya terdapat file gambar
sehingga dapat dilihat dengan browser. Pada pendekatan ini interaksi pengguna

terbatas dan tidak fleksibel.

Pendekatan 2: Thick / Fat Client: Pemrosesan data dilakukan disisi client, data

dikirim dari server ke client dalam bentuk data vector yang disederhanakan.

Pemrosesan dan penggambaran kembali dilakukan disisi client. Cara ini menjadikan

user dapat berinteraksi lebih interaktif dan fleksibel.

2.6 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)

2.6.1 Pengertian PMKS

Menurut Peraturan Menteri Sosial Nomor 16 tahun 2017 Penyandang Masalah

Kesejahteraan Sosial (PMKS) yaitu perseorangan, keluarga, kelompok, dan/atau

masyarakat yang karena suatu hambatan, kesulitan, atau gangguan, tidak dapat

melaksanakan fungsi sosialnya, sehingga tidak dapat terpenuhi kebutuhan hidupnya

baik jasmani, rohani, maupun sosial secara memadai dan wajar. Hambatan, kesulitan

atau gangguan tersebut dapat berupa kemiskinan, ketelantaran, kecacatan, ketunaan

sosial, keterbelakangan, dan bencana alam maupun bencana sosial.

2.6.2 Jenis-jenis PMKS

Berdasarkan Peraturan Menteri Sosial RI No. 8 tahun 2012 tentang pedoman

pendataan dan pengelolaan data penyandang masalah kesejahteraan sosial dan potensi

dan sumber kesejahteraan sosial, terdapat 26 jenis PMKS sebagai berikut:

1. Anak balita telantar


Seorang anak berusia 5 (lima) tahun ke bawah yang ditelantarkan orang

tuanya dan/atau berada di dalam keluarga tidak mampu oleh orang

tua/keluarga yang tidak memberikan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan

perlindungan bagi anak sehingga hak-hak dasarnya semakin tidak terpenuhi

serta anak dieksploitasi untuk tujuan tertentu.

Kriteria:

a. terlantar/ tanpa asuhan yang layak;

b. berasal dari keluarga sangat miskin / miskin;

c. kehilangan hak asuh dari orangtua/ keluarga;

d. Anak balita yang mengalami perlakuan salah dan diterlantarkan oleh

orang tua/keluarga;

e. Anak balita yang dieksploitasi secara ekonomi seperti anak balita

yang disalahgunakan orang tua menjadi pengemis di jalanan; dan

f. Anak balita yang menderita gizi buruk atau kurang.

2. Anak terlantar

Seorang anak berusia 6 (enam) tahun sampai dengan 18 (delapan belas) tahun,

meliputi anak yang mengalami perlakuan salah dan ditelantarkan oleh orang

tua/keluarga atau anak kehilangan hak asuh dari orang tua/keluarga.

Kriteria :

a. berasal dari keluarga fakir miskin;

b. anak yang dilalaikan oleh orang tuanya; dan

c. anak yang tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya.


3. Anak yang berhadapan dengan hukum

Orang yang telah berumur 12 (dua belas) tahun tetapi belum mencapai umur

18 (delapan belas) tahun, meliputi anak yang disangka, didakwa, atau dijatuhi

pidana karena melakukan tindak pidana dan anak yang menjadi korban tindak

pidana atau yang melihat dan/atau mendengar sendiri terjadinya suatu tindak

pidana.

Kriteria :

a. disangka;

b. didakwa; atau

c. dijatuhi pidana

4. Anak jalanan

Anak yang rentan bekerja di jalanan, anak yang bekerja di jalanan, dan/atau

anak yang bekerja dan hidup di jalanan yang menghasilkan sebagian besar

waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari.

Kriteria :

a. menghabiskan sebagian besar waktunya dijalanan maupun ditempat-

tempat umum; atau

b. mencari nafkah dan/atau berkeliaran di jalanan maupun ditempat-

tempat umum.

5. Anak dengan Kedisabilitasan (ADK)

Seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun yang mempunyai

kelainan fisik atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan
dan hambatan bagi dirinya untuk melakukan fungsi-fungsi jasmani, rohani

maupun sosialnya secara layak, yang terdiri dari anak dengan disabilitas fisik,

anak dengan disabilitas mental dan anak dengan disabilitas fisik dan mental.

Kriteria:

a. Anak dengan disabilitas fisik: tubuh, netra, rungu wicara

b. Anak dengan disabilitas mental: mental retardasi dan eks psikotik

c. Anak dengan disabilitas fisik dan mental/disabilitas ganda

d. Tidak mampu melaksanakan kehidupan sehari-hari.

6. Anak yang menjadi korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah

Anak yang terancam secara fisik dan nonfisik karena tindak kekerasan,

diperlakukan salah atau tidak semestinya dalam lingkungan keluarga atau

lingkungan sosial terdekatnya, sehingga tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya

dengan wajar baik secara jasmani, rohani maupun sosial.

Kriteria :

a. anak (laki-laki/perempuan) dibawah usia 18 (delapan belas) tahun;

b. sering mendapat perlakuan kasar dan kejam dan tindakan yang

berakibat secara fisik dan/atau psikologis;

c. pernah dianiaya dan/atau diperkosa; dan

d. dipaksa bekerja (tidak atas kemauannya)

7. Anak yang memerlukan perlindungan khusus

Anak yang berusia 6 (enam) tahun sampai dengan 18 (delapan belas) tahun

dalam situasi darurat, dari kelompok minoritas dan terisolasi, dieksploitasi


secara ekonomi dan/atau seksual, diperdagangkan, menjadi korban

penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya

(napza), korban penculikan, penjualan, perdagangan, korban kekerasan baik

fisik dan/atau mental, yang menyandang disabilitas, dan korban perlakuan

salah dan penelantaran.

Kriteria :

a. berusia 6 (enam) tahun sampai dengan 18 (delapan belas) tahun;

b. dalam situasi darurat dan berada dalam lingkungan yang

buruk/diskriminasi;

c. korban perdagangan manusia;

d. korban kekerasan, baik fisik dan/atau mental dan seksual;

e. korban eksploitasi, ekonomi atau seksual;

f. dari kelompok minoritas dan terisolasi, serta dari komunitas adat

terpencil;

g. menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika dan

zat adiktif lainnya (NAPZA); dan

h. terinfeksi HIV/AIDS.

8. Lanjut usia telantar

Seseorang yang berusia 60 (enam puluh) tahun atau lebih, karena faktor-faktor

tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya.

Kriteria :
a. tidak terpenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan;

dan

b. terlantar secara psikis, dan sosial.

9. Penyandang disabilitas

Mereka yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik

dalam jangka waktu lama dimana ketika berhadapan dengan berbagai

hambatan hal ini dapat mengalami partisipasi penuh dan efektif mereka dalam

masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan yang lainnya.

Kriteria :

a. mengalami hambatan untuk melakukan suatu aktifitas sehari-hari;

b. mengalami hambatan dalam bekerja sehari-hari;

c. tidak mampu memecahkan masalah secara memadai;

d. penyandang disabilitas fisik : tubuh, netra, rungu wicara;

e. penyandang disabilitas mental : mental retardasi dan eks psikotik; dan

f. penyandang disabilitas fisik dan mental/disabilitas ganda.

10. Tuna Susila

Seseorang yang melakukan hubungan seksual dengan sesama atau lawan jenis

secara berulang-ulang dan bergantian diluar perkawinan yang sah dengan

tujuan mendapatkan imbalan uang, materi atau jasa.

Kriteria :
a. menjajakan diri di tempat umum, di lokasi atau tempat pelacuran

seperti rumah bordil, dan tempat terselubung seperti warung remang-

remang, hotel, mall dan diskotek; dan

b. memperoleh imbalan uang, materi atau jasa.

11. Gelandangan

Orang-orang yang hidup dalam keadaan yang tidak sesuai dengan norma

kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai

pencaharian dan tempat tinggal yang tetap serta mengembara di tempat

umum.

Kriteria :

a. tanpa Kartu Tanda Penduduk (KTP);

b. tanpa tempat tinggal yang pasti/tetap;

c. tanpa penghasilan yang tetap; dan

d. tanpa rencana hari depan anak-anaknya maupun dirinya.

12. Pengemis

Orang-orang yang mendapat penghasilan meminta-minta ditempat umum

dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan orang

lain.

Kriteria :

a. mata pencariannya tergantung pada belas kasihan orang lain;

b. berpakaian kumuh dan compang camping;

c. berada ditempat-tempat ramai/strategis; dan


d. memperalat sesama untuk merangsang belas kasihan orang lain.

13. Pemulung

Orang-orang yang melakukan pekerjaan dengan cara memungut dan

mengumpulkan barang-barang bekas yang berada di berbagai tempat

pemukiman pendudukan, pertokoan dan/atau pasar-pasar yang bermaksud

untuk didaur ulang atau dijual kembali, sehingga memiliki nilai ekonomis.

Kriteria :

a. tidak mempunyai pekerjaan tetap; dan

b. mengumpulkan barang bekas.

14. Kelompok Minoritas

Kelompok yang mengalami gangguan keberfungsian sosialnya akibat

diskriminasi dan marginalisasi yang diterimanya sehingga karena

keterbatasannya menyebabkan dirinya rentan mengalami masalah sosial,

seperti gay, waria, dan lesbian.

Kriteria :

a. gangguan keberfungsian sosial;

b. diskriminasi;

c. marginalisasi; dan

d. berperilaku seks menyimpang.

15. Bekas Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (BWBLP)

Seseorang yang telah selesai menjalani masa pidananya sesuai dengan

keputusan pengadilan dan mengalami hambatan untuk menyesuaikan diri


kembali dalam kehidupan masyarakat, sehingga mendapat kesulitan untuk

mendapatkan pekerjaan atau melaksanakan kehidupannya secara normal.

Kriteria :

a. seseorang (laki-laki/perempuan) berusia diatas 18 (delapan belas)

tahun;

b. telah selesai dan keluar dari lembaga pemasyarakatan karena masalah

pidana;

c. kurang diterima/dijauhi atau diabaikan oleh keluarga dan masyarakat;

d. sulit mendapatkan pekerjaan yang tetap; dan

e. berperan sebagai kepala keluarga/pencari nafkah utama keluarga yang

tidak dapat melaksanakan tugas dan fungsinya.

16. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)

Seseorang yang telah dinyatakan terinfeksi HIV/AIDS dan membutuhkan

pelayanan sosial, perawatan kesehatan, dukungan dan pengobatan untuk

mencapai kualitas hidup yang optimal.

Kriteria :

a. seseorang (laki-laki/perempuan) berusia diatas 18 (delapan belas)

tahun; dan

b. telah terinfeksi HIV/AIDS.

17. Korban Penyalahgunaan NAPZA

Seseorang yang menggunakan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya

diluar pengobatan atau tanpa sepengetahuan dokter yang berwenang.


Kriteria :

a. seseorang (laki-laki / perempuan) yang pernah menyalahgunakan

narkotika, psikotropika, dan zat-zat adiktif lainnya baik dilakukan

sekali, lebih dari sekali atau dalam taraf coba-coba;

b. secara medik sudah dinyatakan bebas dari ketergantungan obat oleh

dokter yang berwenang; dan

c. tidak dapat melaksanakan keberfungsian sosialnya.

18. Korban trafficking

Seseorang yang mengalami penderitaan psikis, mental, fisik, seksual, ekonomi

dan/atau sosial yang diakibatkan tindak pidana perdagangan orang.

Kriteria :

a. mengalami tindak kekerasan;

b. mengalami eksploitasi seksual;

c. mengalami penelantaran;

d. mengalami pengusiran (deportasi); dan

e. ketidakmampuan menyesuaikan diri di tempat kerja baru (negara

tempat bekerja) sehingga mengakibatkan fungsi sosialnya terganggu.

19. Korban tindak kekerasan

Orang baik individu, keluarga, kelompok maupun kesatuan masyarakat

tertentu yang mengalami tindak kekerasan, baik sebagai akibat perlakuan

salah, eksploitasi, diskriminasi, bentuk-bentuk kekerasan lainnya ataupun


dengan membiarkan orang berada dalam situasi berbahaya sehingga

menyebabkan fungsi sosialnya terganggu.

Kriteria :

a. mengalami perlakuan salah;

b. mengalami penelantaran;

c. mengalami tindakan eksploitasi;

d. mengalami perlakuan diskriminasi; dan

e. dibiarkan dalam situasi berbahaya.

20. Pekerja Migran Bermasalah Sosial (PMBS)

Pekerja migran internal dan lintas negara yang mengalami masalah sosial,

baik dalam bentuk tindak kekerasan, penelantaran, mengalami musibah

(faktor alam dan sosial) maupun mengalami disharmoni sosial karena

ketidakmampuan menyesuaikan diri di negara tempat bekerja sehingga

mengakibatkan fungsi sosialnya terganggu.

Kriteria :

a. pekerja migran domestik;

b. pekerja migran lintas negara;

c. eks pekerja migran domestik dan lintas negara;

d. eks pekerja migran domestik dan lintas negara yang sakit, cacat dan

meninggal dunia;

e. pekerja migran tidak berdokumen (undocument);

f. pekerja migran miskin;


g. mengalami masalah sosial dalam bentuk :

1) tindak kekerasan;

2) eksploitasi;

3) penelantaran;

4) pengusiran (deportasi);

5) ketidakmampuan menyesuaikan diri di tempat kerja baru

(negara tempat bekerja) sehingga mengakibatkan fungsi

sosialnya terganggu; dan

6) mengalami traffiking.

21. Korban bencana alam

Orang atau sekelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat

bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang

disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung

meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor terganggu fungsi

sosialnya.

Kriteria : Seseorang atau sekelompok orang yang mengalami:

a. korban terluka atau meninggal;

b. kerugian harta benda;

c. dampak psikologis; dan

d. terganggu dalam melaksanakan fungsi sosialnya.

22. Korban bencana sosial


Orang atau sekelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat

bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang

diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau

antar komunitas masyarakat, dan teror.

Kriteria : Seseorang atau sekelompok orang yang mengalami:

a. korban jiwa manusia;

b. kerugian harta benda; dan

c. dampak psikologis.

23. Perempuan rawan sosial ekonomi

Seorang perempuan dewasa menikah, belum menikah atau janda dan tidak

mempunyai penghasilan cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok

sehari-hari.

Kriteria :

a. perempuan berusia 18 (delapan belas) tahun sampai dengan 59 (lima

puluh sembilan) tahun;

b. istri yang ditinggal suami tanpa kejelasan;

c. menjadi pencari nafkah utama keluarga; dan

d. berpenghasilan kurang atau tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup

layak.

24. Fakir Miskin

Orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan/atau

mempunyai sumber mata pencarian tetapi tidak mempunyai kemampuan


memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan dirinya dan/atau

keluarganya.

Kriteria :

a. tidak mempunyai sumber mata pencaharian; dan/atau

b. mempunyai sumber mata pencarian tetapi tidak mempunyai

kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan

dirinya dan/ atau keluarganya.

25. Keluarga bermasalah sosial psikologis

Keluarga yang hubungan antar anggota keluarganya terutama antara suami-

istri, orang tua dengan anak kurang serasi, sehingga tugas-tugas dan fungsi

keluarga tidak dapat berjalan dengan wajar.

Kriteria :

a. suami atau istri sering tidak saling memperhatikan atau anggota

keluarga kurang berkomunikasi;

b. suami dan istri sering bertengkar, hidup sendiri-sendiri walaupun

masih dalam ikatan keluarga;

c. hubungan dengan tetangga kurang baik, sering bertengkar tidak mau

bergaul/berkomunikasi; dan

d. kebutuhan anak baik jasmani, rohani maupun sosial kurang terpenuhi.

26. Komunitas Adat Terpencil


Kelompok sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar serta kurang atau

belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan baik sosial ekonomi, maupun

politik.

Kriteria :

a. berbentuk komunitas relatif kecil, tertutup dan homogen;

b. pranata sosial bertumpu pada hubungan kekerabatan;

c. pada umumnya terpencil secara geografis dan relatif sulit dijangkau;

d. pada umumnya masih hidup dengan sistem ekonomi subsistem;

e. peralatan dan teknologinya sederhana;

f. ketergantungan pada lingkungan hidup dan sumber daya alam

setempat relatif tinggi; dan

g. terbatasnya akses pelayanan sosial ekonomi dan politik.

2.7 Dinas Sosial DKI Jakarta

2.7.1 Pengertian Dinas Sosial

Menurut Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 20 tahun 2018 Dinas Sosial merupakan

unsur pelaksana yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang sosial yang

dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berkedudukan di bawah dan bertanggung

jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Dinas Sosial dalam melaksanakan

tugas dan fungsinya dikoordinasikan oleh Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretaris

Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.


2.7.2 Tugas dan Fungsi Dinas Sosial DKI Jakarta

Dinas Sosial mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang

sosial.

Untuk melaksanakan tugas tersebut Dinas Sosial menyelenggarakan fungsi:

a. penyusunan rencana strategis dan rencana kerja dan anggaran Dinas Sosial;

b. pelaksanaan rencana strategis dan dokumen pelaksanaan anggaran Dinas

Sosial;

c. penyusunan kebijakan, pedoman dan standar teknis pelaksanaan urusan

sosial;

d. pelayanan rekomendasi, pengawasan, pengendalian, monitoring dan evaluasi

perizinan dan non perizinan di bidang sosial;

e. pelayanan rehabilitasi sosial anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, tuna

sosial, ODHA, BWBLP, korban penyalahgunaan NAPZA dan korban tindak

kekerasan;

f. pengendalian, penjangkauan, penyaluran dan rujukan penyandang masalah

kesejahteraan sosial;

g. pemberdayaan sosial individu, keluarga, masyarakat, tenaga dan lembaga

kesejahteraan sosial;

h. pemberdayaan, pendampingan serta fasilitasi bagi fakir miskin sesuai dengan

lingkup tugasnya;
i. pengembangan peran serta masyarakat dalam pemberdayaan sosial dan

penggalangan peran aktif serta kemitraan masyarakat dan dunia usaha;

j. pelayanan penghargaan kepada pahlawan, perintis kemerdekaan dan

masyarakat;

k. pelestarian dan penanaman nilai kepahlawanan, keperintisan,

kesetiakawanan dan restorasi sosial;

l. pencegahan, penanganan, pemulihan dan reintegrasi sosial orang terlantar;

m. perlindungan sosial korban bencana dan korban musibah sosial lainnya;

n. pelaksanaan pemberian hibah, bantuan sosial dan asuransi kesejahteraan

sosial;

o. pelaksanaan dan pengembangan program penanganan fakir miskin;

p. pembinaan penyelenggaraan Undian Gratis berhadiah dan pengumpulan

uang dan/atau barang;

q. pelaksanaan pemeliharaan Taman Makam Pahlawan Nasional Provinsi;

r. pemantauan dan evaluasi ketersediaan dan kelaikan prasarana dan [Link]

pelayanan di bidang kesejahteraan sosial;

s. penyediaan, penatausahaan, penggunaan, pemeliharaan dan perawatan

prasarana dan sarana di bidang sosial;

t. pendataan, pengolahan, pemutakhiran data kesejahteraan sosial dan

pemutakhiran mandiri data terpadu program penanganan fakir miskin;

u. publikasi data dan penyebarluasan informasi kesejahteraan sosial;

v. pelaksanaan promosi kesejahteraan sosial;


w. pembinaan, pengawasan, pengendalian, monitoring dan evaluasi bidang

kesejahteraan sosial;

x. pengelolaan panti sosial dan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam

Jakarta;

y. pemberian dukungan teknis kepada masyarakat dan perangkat daerah di

bidang kesejahteraan sosial;

z. penegakan peraturan perundang-undangan di bidang sosial;

aa. pengelolaan kepegawaian, keuangan dan barang Dinas Sosial;

bb. pengelolaan. ketatausahaan dan kerumahtanggaan Dinas Sosial;

cc. pengelolaan kearsipan, data dan informasi Dinas Sosial; dan

dd. pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi Dinas

Sosial.

2.7.3 Susunan Organisasi Dinas Sosial DKI Jakarta

Susunan organisasi Dinas Sosial, terdiri dari:

a. Kepala Dinas;

b. Sekretariat terdiri dari:

1. Subbagian Umum dan Kepegawaian;

2. Subbagian Perencanaan dan Anggaran; dan

3. Subbagian Keuangan.

c. Bidang Rehabilitasi Sosial, terdiri dan:

1. Seksi Rehabilitasi Sosial Anak dan Lanjut Usia;


2. Seksi Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas; dan

3. Seksi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Tindak Kekerasan.

d. Bidang Pemberdayaan Sosial, terdiri dan:

1. Seksi Pemberdayaan Peran Serta Dunia Usaha dan Bina Undian;

2. Seksi Pemberdayaan Tenaga dan Lembaga Kesejahteraan Sosial; dan

3. Seksi Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial.

e. Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial, terdiri dan:

1. Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana;

2. Seksi Jaminan Sosial; dan

3. Seksi Pemulihan dan Reintegrasi Sosial.

f. Bidang Pengembangan Kesejahteraan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin,

terdiri dan:

1. Seksi Pengembangan, Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial;

2. Seksi Fasilitas Kesejahteraan Sosial; dan

3. Seksi Penanganan Fakir Miskin.

g. Suku Dinas Kota;

h. Unit Pelaksana Teknis; dan

i. Kelompok Jabatan Fungsional.


2.8 Rapid Application Development

2.8.1 Pengertian RAD

Rapid Application Development (RAD) adalah strategi siklus hidup yang ditujukan

untuk menyediakan pengembangan yang jauh lebih cepat dan mendapatkan hasil

dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan hasil yang dicapai melalui

siklus tradisional (Leod & R., 2009).

Menurut Kendall & Kendall (2010) RAD adalah suatu pendekatan berorientasi objek

terhadap pengembangan sistem yang mencakup suatu metode pengembangan serta

perangkat-perangkat lunak. RAD bertujuan mempersingkat waktu yang biasanya

diperlukan dalam siklus hidup pengembangan sistem tradisional antara perancangan

dan penerapan suatu sistem informasi. Pada akhirnya, RAD sama-sama berusaha

memenuhi syarat-syarat bisnis yang berubah secara cepat.

Gambar 2.6 Siklus Rapid Application Development (Kendall & Kendall, 2010)

2.8.2 Fase dan Tahapan RAD

Metode perancangan RAD menurut (Kendall & Kendall, 2010) adalah :


1. Requirements Planning

Fase ini merupakan perencanaan awal dimana peneliti akan menganalisa segala

kebutuhan sistem dan menganalisa sistem berjalan.

2. Workshop Design

Fase ini merupakan fase untuk merancang atau membuat desain prototype sistem

yang dapat digambarkan sebagai workshop.

3. Implementation

Fase ini dilakukan uji coba sistem, kemudian dilakukan pengenalan terhadap

organisasi.

2.8.3 Kelebihan dan Kekurangan Rapid Application Development

Metode pengembangan sistem RAD relatif lebih sesuai dengan rencana

pengembangan aplikasi yang tidak memiliki ruang lingkup yang besar dan akan

dikembangkan oleh tim yang kecil. Namun, RAD pun memiliki kelebihan dan

kekurangannya sebagai sebuah metodoligi pengembangan aplikasi. Berikut ini adalah

kelebihan metodologi RAD menurut (Marakas, 2006) :

1. Penghematan waktu dalam keseluruhan fase projek dapat dicapai.

2. RAD mengurangi seluruh kebutuhan yang berkaitan dengan biaya projek

dan sumberdaya manusia.

3. RAD sangat membantu pengembangan aplikasi yang berfokus pada waktu

penyelesaian projek.
4. Perubahan desain sistem dapat lebih berpengaruh dengan cepat

dibandingkan dengan pendekatan SDLC tradisional.

5. Sudut pandang user disajikan dalam sistem akhir baik melalui fungsi-fungsi

sistem atau antarmuka pengguna.

6. RAD menciptakan rasa kepemilikan yang kuat di antara seluruh pemangku

kebijakan projek.

Sedangkan, mengacu pada pendapat (Kendall & Kendall, 2010), maka dapat

diketahui bahwa kekurangan penerapan metode RAD adalah sebagai berikut:

1. Dengan metode RAD, penganalisis berusaha mepercepat projek dengan

terburu-buru.

2. Kelemahan yang berkaitan dengan waktu dan perhatian terhadap detail.

Aplikasi dapat diselesaikan secara lebih cepat, tetapi tidak mampu

mengarahkan penekanan terhadap permasalahan-permasalahan perusahaan

yang seharusnya diarahkan.

3. RAD menyulitkan programmer yang tidak berpengalaman menggunakan

prangkat ini di mana programmer dan analyst dituntut untuk menguasai

kemampuan-kemampuan baru sementara pada saat yang sama mereka harus

bekerja mengembangkan sistem.

2.9 Unified Modelling Language

Unified Model Language (UML) adalah himpunan struktur dan teknik untuk

pemodelan dan desain object oriented programming (OOP) serta aplikasinya. UML
adalah metodologi untuk mengembangkan sistem OOP dan sekelompok tool untuk

medukung pengembangan sistem tersebut (Kroenke, 2005).

Tabel 2.1 Komponen-Komponen Diagram UML

No Diagram Kegunaan

1 Activity Behavior prosedural dan pararel

2 Class Class, fitur, dan hubungan – hubungan

Interaksi antar objek ; penekanan pada


3 Communication
jalur

4 Component Struktur dan koneksi komponen

Composite
5 Dekomposisi runtime sebuah class
structure

6 Deployment Pemindahan artifak ke node

Interaction
7 Campuran Sequence dan Activity diagram
overview

8 Object Contoh konfigurasi dari contoh – contoh

9 Package Struktur hirarki compile – time

Interaksi antar objek ; penekanan pada


10 Sequence
sequence

Bagaimana even mengubah objek selama


11 State machine
aktif

12 Timming Interaksi antar objek : penekanan pada


timing

Bagaimana pengguna berinteraksi dengan


13 Use case
sebuah sistem

2.10 Tools Pengembangan Web

2.10.1 PHP

PHP adalah salah satu bahasa pemrograman skrip yang dirancang untuk membangun

aplikasi web (Raharjo et al., 2014). Aplikasi web adalah aplikasi yang disimpan dan

dieksekusi (oleh PHP Engine) di lingkungan web server. Setiap permintaan

dilakukan oleh user melalui aplikasi klien (web browser) akan direspon oleh aplikasi

web dan hasilnya akan dikembalikan lagi ke hadapan user. Dengan aplikasi web,

halaman yang tampil di layar web browser bersifat dinamis, tergantung dari nilai data

atau parameter yang dikirimkan oleh user ke web server.

2.10.2 MySQL

MySQL adalah program database yang paling populer di antara yang lain. MySQL

mampu mengirim dan menerima data dengan sangat cepat dan multi-user (semua

klien dapat mengakses server dalam satu waktu). MySQL database server dapat

menangani data yang bervolume besar (sampai berukuran Gigabyte) namun tidak

menuntut resource yang besar. MySQL juga dapat berjalan di berbagai operating

system seperti Linux, Windows, Solaris, danlain-lain (Wahana, 2010).


2.10.3 XAMPP

XAMPP adalah salah satu aplikasi web server apache yang terintegrasi dengan mysql

dan phpmyadmin. XAMPP adalah singkatan dari X, Apache Server, MySQL,

PHPMyadmin, dan Python. Huruf X di depan menandakan XAMPP bisa di-instal di

berbagai operating system. XAMPP dapat di-instal pada Windows, Linux, MacOS,

dan Solaris (Dadan & Kerendi, 2015).

2.10.4 Google Maps

Google Maps merupakan aplikasi dan teknologi layanan pemetaan berbasis web yang

menampilkan citrasatelit resolusi tinggi. Aplikasi ini memanfaatkan citra satelit yang

disediakan oleh DigitalGlobe dengan satelitnya QuickBird, serta data dari

Geographic Information System (GIS) buatan Tele Atlas, NAVTEQ, dan MapABC.

Google membuat Google Maps API untuk para pengembang web yang ingin

menyertakan Google Maps ke situs mereka. Layanan ini gratis dan saat ini masih

tanpa iklan (Susrini, 2009).

2.11 Blackbox Testing

Pengujian black-box berfokus pada persyaratan fungsional lunak. Pengujian ini

memungkinkan analis sistem memperoleh kondisi input yang akan mengerjakan

seluruh keperluan fungsional (Maturidi, 2014). Pada pengujian black-box, cara

pengujian hanya dilakukan dengan menjalankan atau mengeksekusi unit atau 50


modul, kemudian diamati apakah hasil dari unit itu sesuai dengan proses bisnis yang

diinginkan.

Tujuan metode pengujian black-box adalah mencari lima kesalahan. Kesalahan yang

dicari dalam metode pengujian ini adalah kesalahan pada fungsi yang salah atau

hilang, kesalahan interface, kesalahan pada struktur data atau akses database,

kesalahan performansi, dan kesalahan inisialisasi dan tujuan akhir.

Tidak seperti pengujian white-box, yang dilakukan pada awal proses pengujian,

pengujian black-box cenderung diaplikasikan selama tahap akhir pengujian. Karena

pengujian black-box sengaja mengabaikan struktur pengendalian, perhatian

difokuskan pada domain informasi.

Menurut Maturidi (2014) pengujian ini dirancang untuk menjawab pertanyaan-

pertanyaan berikut:

1. Bagaimana validitas fungsional diuji?

2. Apa kelas input yang terbaik untuk uji coba yang baik?

3. Apakah sistem sangat peka terhadap nilai input tertentu?

4. Bagaimana jika kelas data yang terbatas dipisahkan?

5. Bagaimana volume data yang dapat ditoleransi oleh sistem?

6. Bagaimana pengaruh kombinasi data terhadap pengoperasian sistem?

Anda mungkin juga menyukai