TUGAS TES PROYEKTIF
Disusun Oleh :
Dimas Surya Affandi (11519834)
Fitriana Saputri (12519501)
Gelar Kanjeng Abimanyu (17519007)
Hary Darmawan (12319759)
Risa Nur Amalia (15519608)
3PA22
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
ATA 2022
A. Perkembangan Test Rorschach
Tes Rorschach dikembangkan oleh Hermann Rorschach, dan diterbitkan
pertama kali pada tahun 1921. Tes Rorschach ini menggunakan bercak tinta
sebagai alat bantu didalam usaha menegakan diagnosis kepribadian secara
menyeluruh. Tes Rorschach juga sering digunakan untuk mendeteksi masalah-
masalah gangguan psikologis, seperti : gangguan pikiran, terutama dalam
kasus dimana pasien enggan menyampaikan proses berpikir mereka secara
terbuka.
Tes Rorschach di awal penyusunannya mengalami perkembangan. Sejarah
perkembangan tes Rorschach ini meliputi masa sebelum terbentuknya tes
Rorschach (mulai tahun 1857), saat terbentuknya tes Rorschach (tahun 1921),
dan sesudah terbentuknya tes Rorschach (1924). Tes Rorschach telah
memenuhi standardisasi karena alat tes ini telah melewati proses penelitian
dan eksplorasi selama 10 tahun, yang dilakukan Hermann Rorschach terhadap
pasienpasien di Rumah Sakit tempat Rorschach menjabat sebagai kepala
psikiater.
Penggunaan Rorschach secara luas telah menghasilkan validitas klinis
yang tidak selalu bisa dibuktikan dengan validitas statistik. Demikian juga
dengan reliabilitas tes Rorschach, sudah terbukti reliabel, karena sudah diuji
berulang kali. Kartu Rorschach terdiri dari 10 buah kartu yang bisa dipakai
dengan ukuran 6.15 x 9.50 inci, hasil dari seleksi dari ribuan kartu bercak tinta
yang dibuat oleh Hermann Rorschach. Kesepuluh kartu Rorschach dibagi
menjadi 2 kolompok yaitu kelompok kartu akromatik (kartu ke 1, 4,5,6,7), dan
kartu kromatik (kartu ke 2,3,8,9,10).
B. Tujuan Tes Rosarch
Psikolog melakukan tes ini untuk bertujuan mengetahui kecenderungan
karakter, emosional dan mendeteksi masalah psikologi, terutama ketika subjek
tidak dapat bercerita secara terbuka. Tes psikologi yang meminta untuk
menyebutkan gambar-gambar dari bercak tinta (inkblot) pada kartu, kemudian
dianalisis secara psikologis, algoritme kompleks, atau keduanya. (Wulansari,
2020)
C. Karakteristrik tes Rorschach
1. Kartu 1
Disebut kartu penyesuaian diri pada situasi baru, karena kecepatan dan
kemampuan subyek didalam memberikan respon menunjukkan daya
adaptasi.
Kartu ini keseluruhan berwarna hitam keabu-abuan dan terdapat 4 “white-
space”.
Kalau orang yang bersangkutan teliti akan melihat titiktitik hitam di area
yang besar.
Area percikan keabu - abuan ini tampak terbagi dalam 3 bagian:
1 area tengah, dan
2 area sisi kiri dan kanan.
Reaksi-reaksi yang bisa muncul:
1. Reaksi pertama umumnya / kebanyakan orang mereaksi bentuk ke-
seluruhan gambar (wholeblot), yaitu berupa binatang bersayap
misal : kelelawar, dsb.
2. Pada orang-orang yang lebih imajinatif/tidak terlalu kaku, biasanya
bisa melihat sesuatu dengan banyak cara / dari berbagai sisi.
Kadang-kadang bisa juga melihat adanya gerakan manusia pada kartu ini.
Biasanya bagian tengah diproyeksikan sebagai orang dalam keadaan gerak
misal : figur wanita sedang bergerak, dsb.
Respon terhadap white-space biasanya jarang terjadi, kalaupun direspon
biasanya merupakan bagian dari serangkaian tulang punggung, dsb.
Kartu ini disebut kartu penyesuaian diri pada situasi baru, karena
kecepatan dan kemampuan subyek didalam memberikan respon
menunjukkan daya adaptasi.
2. Kartu 2
Disebut kartu agresi, karena merangsang munculnya respon yang
mewaliki adanya potensi agresivitas.
Kartu ini merupakan kartu berwarna pertama yang dijumpai.
Kartu ini seakan-akan terdiri dari 2 bagian : area hitam keabu-abuan yang
dihubungkan oleh bercakbercak merah yang tampak jelas.
Beberapa subyek tertentu merasa terganggu dengan adanya percikan
merah ini dan pura-pura tidak melihat (terlihat dari : tidak munculnya
jawaban tentang adanya warna ).
Kartu ini terkesan terbagi menjadi 3 area yang menarik : area putih (white-
space) di tengah, area kecil di atasnya, area merah di bawahnya.
Respon yang sering muncul :
1. Kartu ini akan membuat subyek merespon area hitam dan merah secara
terpisah.
2. Pada subyek yang mempunyai kemampuan dan minat organisasional, atau
pada subyek yang mampu mencampur warna hitam dan merah dapat
menggunakan seluruh area sebagai satu konsep.
3. Area merah di bawah sering diasosiasikan dengan respon-respon seksual.
4. Figur-figur manusia maupun hewan bisa terlihat pada area hitam dan
seringkali figur hewan juga terlihat dalam bentuk bergerak.
5. Kartu ini disebut kartu agresi, karena merangsang munculnya respon
yang mewaliki adanya potensi agresivitas.
6. Sifat kartu abu-abu memancing jawaban yang mengandung unsur tekstur.
3. Kartu 3
Disebut kartu manusia. Jika tidak muncul jawaban manusia, patut
dicurigai kalau subyek sebenarnya mempunyai kesulitan dalam
penyesuaian dengan orang lain.
Kartu ini terdiri dari area yang hitam keabuan dan ada area merah di
tengah, serta 2 area merah di atas.
Kartu ini sendiri punya bentuk yang sangat sugestif.
Reaksi yang muncul :
1. Menggunakan area hitam, biasanya melihat figur manusia
bergerak.
2. Menggunakan area merah di tengah, biasanya tampak sebagai dasi
kupu-kupu atau kupu-kupu.
Reaksi yang muncul cenderung tidak keseluruhan (whole), tetapi bagian-
bagian. Jarang sekali menggabungkan kedua area dalam satu konsep.
Kartu ini disebut kartu manusia. Jika tidak muncul jawaban manusia,
patut dicurigai kalau subyek sebenarnya mempunyai kesulitan dalam
penyesuaian dengan orang lain.
4. Kartu 4
Disebut kartu ayah, karena dapat menggali sikap individu terhadap
“otoritas”.
Ciri kartu ini :
1. Tampak pasif, kompak / padat dan bentuk yang tidak begitu jelas.
2. Terdiri dari area yang berwarna hitam keabu-abuan dan sangat
kaya akan unsur shading di responnya.
Dari ciri ini, maka kartu ini sering tidak menyenangkan, sehingga
memancing jawaban seperti :
1. Monster, raksasa, gorila, Mewakili hal-hal yang berkaitan dengan
power/kekuatan.
2. Hutan lebat dengan gunung-gunung dan danaudanaunya.
Kartu ini disebut sebagai kartu ayah, karena: dapat menggali sikap
individu terhadap “otoritas“, yang tampak dari unsur shading di
jawabannya, yang menggambarkan agresivitas maskulin dan kebutuhan
untuk bergantung, (dalam menganalisa secara kualitatif dapat dianalisa
hubungan dengan ayah).
Rangsang detail yang bisa muncul :
1. Bagian/area atas, seperti ular, wanita terjun.
2. Area sisi / samping, seperti sepatu bot.
3. Area paling atas kecil dan area tengah agak kebawah, biasanya /
seringkali direspon sebagai organ seksual
Kadang-kadang, kartu ini merangsang munculnya jawaban-jawaban yang
mengandung unsur tekstur, misal : bulu binatang.
5. Kartu 5
Kartu ini dianggap sebagai kartu paling mudah bagi semua orang, karena
bentuk yang pasti / jelas dan warna hitam keseluruhan.
Dapat digunakan untuk memancing minat /kemudahan subyek didalam
merespon gambar bila subyek kesulitan merespon gambar I.
Merangsang respon secara keseluruhan sebagai, binatang bersayap, misal :
kelelawar atau kupu-kupu, dan biasanya dalam bentuk gerakan.
Dalam bentuk detail, bagian samping tampak seperti: kepala binatang atau
tungkai manusia.
Memancing adanya “ black - shock “ yaitu individu merasa terganggu /
ada ham-batan / perasaan tidak enak oleh warna hitam pada kartu, yang
berakibat subyek butuh waktu lama untuk memberi jawaban, atau bahkan
tidak muncul jawaban.
Kartu V disebut kartu reality testing / common sense.
6. Kartu 6
Disebut kartu seks , karena bagian atas kartu seringkali diinterpretasikan
sebagai simbol phallic, dan bagian bawah sebagai simbol seks wanita.
Kartu VI ini dikenal sebagai kartu seks (sex card), karena bagian atas kartu
seringkali diinterpretasikan sebagai simbol phallic, dan bagian bawah
sebagai symbol sex wanita.
Respon-respon yang muncul, antara lain respon yang mengandung unsur
shading-shading yang ada pada kartu ini misal: permadani berbulu.
Yang sering muncul: patung keramat, tiang lentera, karena shading-nya
seperti kayu.
Kartu ini seperti kartu IV sering menggangu individu yang merespon
karena shading-shading yang dimilikinya sering dikombinasi dengan area-
area seksual pada kartu ini.
Sering direspon keseluruhan, kalaupun direspon sebagaian secara terpisah
antara bagian atas dari bawah.
7. Kartu 7
Disebut kartu ibu, karena jawaban-jawaban yang muncul sering
berhubungan dengan simbol keibuan/feminitas/kelembutan.
Sebagai kartu akromatik, kartu ini punya warna hitam yang paling
terang/ringan. Hal ini menyebabkan terkesan seperti kapuk/kapas,
sehingga dianggap sensitif terhadap hal-hal yang halus.
Selain itu kartu ini karena kehalusannya, kartu ini punya area (yaitu area
tengah bawah) yang sering dikesankan sebagai organ seks.
Disebut sebagai kartu ibu (mother card), karena:
Pada anak-anak (4-9 th), area tengah bawah ini sering direspon
sebagai rumah dengan asap-asapnya yang keluar dari cerobong
asap rumah. Jawaban ini merupakan simbol keibuan.
2 bagian gambar di atas, sering direspon sebagai sosok wanita atau
anak-anak. Jawaban ini dianggap jawaban yang berkaitan dengan
feminitas dan kelembutan.
Kartu ini sering menimbulkan respon keseluruhan, sering berkenaan
dengan figur manusia dalam gerakan.
Selain kapas, respon lain antara lain : awan, asap atau peta.
8. Kartu 8
Disebut kartu berwarna secara keseluruhan dengan penyebaran warna
yang terpisah-pisah, dan warna-warna ini dikaitkan dengan warna afektif,
yaitu berkaitan dengan suasana hati.
Kartu ini merupakan kartu berwarna secara keseluruhan dengan
penyebaran warna yang terpisah-pisah, yaitu : Abu-abu kebiruan atau abu-
abu kehijauan di atas, biru di tengah, warna pink dan orange di bawah dan
2 warna pink di samping.
Warna-warna ini dikaitkan dengan warna afektif, yaitu berkaitan dengan
suasana hati.
Pada subyek yang tidak berhasil atau menolak memberi respon pada kartu
ini akan memunculkan indikasi adanya :
1. Kesulitan didalam menghadapi situasi yang membangkitkan emosi
2. Kesulitan didalam emotional involvement (terlibat secara emosi)
dengan orang lain.
Jawaban-jawaban yang muncul diantaranya :
1. Bagian yang menonjol adalah bagian pinggir, yang sering di-
kesankan sebagai gambar binatang yang sedang bergerak, misal :
tupai memanjat pohon, dsb.
2. Selain secara terpisah, maka respon secara keseluruhan biasanya /
sering dikesankan sebagai : emblem / lencana.
9. Kartu 9
Disebut kartu penyesuaian sosial (social djustment).
Dianggap sebagai kartu tersukar karena bagian-bagiannya tidak terpisah
dan warna-warna yang ada bercampur/overlap.
Ini menyulitkan individu untuk merespon secara keseluruhan (W),
bahkan respon-respon yang detail (D,d), sehingga kartu ini lebih
sering di reject / ditolak.
Respon-responnya antara lain :
Sangat bervariasi, karena gambar kartu ini tergolong paling sulit
untuk direspon.
Kalaupun direspon, respon yang muncul biasanya (tidak sering)
antara lain :
1. Bagian atas : tukang sihir (wanita)
2. Area pink bawah : kepala manusia
3. Kalau gambar dibalik : letusan (gunung)
Kartu IX disebut kartu penyesuaian sosial (social djustment)
10. Kartu 10
Disebut kartu intelektual, karena mewakili kemampuan inteligensi
seseorang.
Kartu ini merupakan kartu yang paling ramai sifatnya (penuh warn-
awarni), seperti : Palet yang penuh warna.
Pembagian warnanya yang menyebar dibanding kartu-kartu lain, maka hal
ini merangsang individu untuk merespon secara bagian / detail, jarang
secara keseluruhan (whole).
Kartu ini disebut sebagai kartu intelektual, karena mewakili kemampuan
inteligensi seseorang, dan ini muncul pada subyek yang mampu memberi
respon W dengan kualitas baik.
Respon yang muncul, misal :
1. Secara bagian / detail :
Ulat / ular hijau (pada area hijau bawah)
Kepiting (pada area biru samping)
Kepala kelinci (area kecil diantara area hijau bawah), dsb.
2. Secara keseluruhan / whole:
Palet pelukis
Pandangan / pemandangan bawah air.
Sering muncul respon-respon tentang binatang, sedangkan
manusia jarang terespon, kecuali pada area besar pink di
tengah agak samping, depresi sebagai manusia sedang
menghisap sesuatu.
D. Tahap Pelaksanan Tes Rorschach
Sebelum melaksanakan tes, seorang tester harus melakukan persiapan,
meliputi Persiapan untuk diri tester sendiri, Menciptakan atmosfir tes yang
alami. Pada tahap persiapan perlu memperhatikan beberapa faktor seperti
Situasi tes, Suasana antara testee dan tester dan kelengkapan alat juga
Instruksi kepada subyek.
Tahap pelaksanaan tes Rorschach ada 4 (empat), yaitu : tahap I tahap
performance proper ; tahap II tahap Inquiry ; tahap III tahap Analogy ; tahap
IV tahap testing the limit. Tahap yang harus dilakukan adalah tahap I dan
tahap II. Sedangkan tahap II dan tahap IV tidak selalu dilakukan tergantung
respon yang dihasilkan oleh testee.
1. Tahap I : Performance Proper adalah tahap untuk mendapatkan respon
subyek berupa jawaban-jawaban yang diberikan saat tes berlangsung.
2. Tahap II : Inquiry yaitu tahap dimana tester menggali keterangan lebih
jelas atas respon-respon yang telah diberikan subyek/testee pada saat tahap
performance proper.
3. Tahap III : Analogy, atau tahap “ follow-up inquiry “, yang dilakukan saat
testee sudah mampu memberi respon – respon tertentu namun jumlah atau
responnya (produktivitasnya) sangat sedikit (biasanya hanya satu respon),
terutama respon yang memiliki skor : M (human movement), FM (animal
movement), (Fc, cF, c) atau textural, (FC, CF, C) atau chromatic color,
dan respon P (populer).
4. Tahap IV : Testing The Limit, yang merupakan prosedur untuk menguji
apakah testee pada dasarnya mampu memproduksi respon-respon dengan
konsep tertentu, mampu menggunakan lokasi tertentu, dan mampu
menggunakan determinan tertentu ?
E. Skoring Test Rorschach
Respon yang dibuat subyek ada 2 macam yaitu Main Response, dan
Additional Response. Ada 2 macam skor : Main-score diberikan untuk setiap
mainresponse untuk : location, determinant, content, P-O, dan FLR, dan
Additional-score untuk : (1) pemberian rincian atau spesifikasi main response
pada saat performance proper maupun saat inquiry, (2) respon pada tahap
performance proper yang di-reject oleh testee sendiri ketika inquiry, (3)
pemberian hubungan atau rincian baru pada tahap inquiry terhadap respon
yang diberikan di performance proper, (4) penggunaan kualitas-kualitas pada
inquiry (pada skor determinant) secara tidak sengaja.
Ada 5 kategori skoring atas respon testee :
1. Location : skor untuk area mana dari kartu yang direspon
Skor lokasi terdiri dari :
a. W : Penggunaan seluruh bercak tinta
b. D : Penggunaan sebagain besar bercak tinta dan sering
digunakan individu,
c. d : Penggunaan sebagian kecil bercak tinta dan sering
digunakan individu
d. Dd : Penggunaan sebagian kecil bercak tinta dan jarang
digunakan individu
e. S : Penggunaan area putih.
2. Determinant : skor untuk kualitas dari respon,
Skor determinant, terdiri dari
a. F : penggunaan “bentuk” sebagai alasan jawaban,
b. M,FM,m : penggunaan “gerakan” sebagai alasan jawaban,
c. c,k.F : penggunaan “shading” sebagai alasan jawaban,
d. C,C’ : penggunaan ”warna” sebagai alasan jawaban.
3. Content : skor untuk menentukan apa isi respon subyek/tentang apa isi
responnya,
Skor content, merupakan skor yang diberikan untuk isi jawaban
subyek. Skor P-O, skor penentuan apakah jawaban testee tergolong
populer atau original. Skor FLR, skoring terhadap jawaban yang
diberikan subyek, apakah jawabannya memiliki bentuk yang tepat dan
sesuai dengan area yang digunakan.
4. Populer-Original : skor yang menentukan apakah respon subyek
termasuk respon-respon yang populer atau jarang terjadi
5. Form Level Rating : skor untuk ketepatan (akurasi) konsep yang
dilihat. Apakah jawaban / konsep tersebut sesuai dengan area yang
digunakan.
F. Referensi
Dra. Dwi Nastiti, [Link]. 2017. Buku Ajar Test Rorschach (Pengantar dan
Manual Penggunaan). UMSIDA PRESS.
Flamivolia, V., Sekar, A., & Puspitasari, C. (2021). Pengolahan Motif Dengan
Inspirasi Visual Tes Rorschach Menggunakan Teknik Digital
Printing, 8(4).