MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN INFEKSI HPV
Oleh :
NIKKO AMBAR CRISMAWAN
NIM 210102364
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AL INSYIRAH
2022
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada kesepakatan Sustainable Development Goals (SDGS) dikatakan
bahwa selama dua dekade terakhir ini, telah terjadi transisi
epidemiologis yang signifikan, penyakit tidak menular telah menjadi
beban utama, meskipun beban penyakit menular masih berat juga.
Penyakit tidak menular utama meliputi hipertensi, diabetes mellitus,
kanker, dan penyakit paru obstruktif kronik (Kemenkes, 2015)
Kanker adalah istilah umum untuk kelompok besar penyakit yang
dapat mempengaruhi setiap bagian dari tubuh. Istilah lain yang di
gunakan adalah tumor ganas dan neoplasma. Salah satu definisi
kanker adalah penciptaan cepat sel-sel abnormal yang tumbuh
melampaui batas-batas yang biasanya, dan kemudian dapat
menyerang bagian tubuh dan menyebar ke organ lain, proses ini
disebut metastase.(WHO, 2015)
Kanker serviks adalah jenis yang paling umum kedua kanker pada
perempuan di seluruh dunia, dengan semua kasus terkait infeksi
menular seksual dan penularan human papilloma virus (HPV).
Diseluruh dunia, kanker serviks merupakan kanker yang paling sering
keempat pada perempuan dengan perkiraan 530.000 kasus pada
2012 yang mewakili 7,5% dari semua kematian akibat kanker
perempuan. Estimasi lebih dari 270.000 kematian kanker serviks
setiap tahun, lebih dari 85% dari ini terjadi di daerah kurang
berkembang.(WHO, 2015).
Secara nasional prevalensi penyakit kanker pada penduduk semua
umur di Indonesia tahun 2013 sebesar 1,4% atau diperkirakan sekitar
347.792 orang. Penyakit kanker serviks merupakan penyakit kanker
dengan prevalensi tertinggi di Indonesia pada tahun 2013, yaitu kanker
serviks sebesar 0,8%, provinsi Kalimantan Timur memiliki prevalensi
kanker sebesar 0,4% (SDKI, 2013).
B. Rumusan Maslah
Adapun rumusan masalah yaitu, “Bagaimana pelaksanaan
asuhan keperawatan pada pasien Ibu S yang mengalami kanker
serviks stadium lll A di Ruang Mawar RSUD Abdul Wahab Sjahranie
Samarinda ?”.
C. Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian karya tulis ilmiah ini terbagi menjadi dua yaitu:
1. Tujuan umum
Memperoleh gambaran nyata dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan pada pasien Ibu S yang mengalami kanker serviks
stadium III A di Ruang Mawar RSUD Abdul Wahab Sjahranie
Samarinda.
2. Tujuan khusus
Memperoleh pengalaman nyata dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan pada pasien Ibu S yang mengalami kanker serviks
stadium III A di Ruang Mawar RSUD Abdul Wahab Sjahranie
Samarinda. Selain itu tujuan khusus dari karya tulis ilmiah ini
adalah :
a. Pengkajian
b. Diagnosa Keperawatan
c. Perencanaan
d. Pelaksanaan
e. Evaluasi
D. Manfaat Karya Tulis Ilmiah
1. Rumah Sakit
Sebagai acuan dalam pengambilan keputusan terutama dalam
melakukan asuhan keperawatan kepada pasien dengan kanker
serviks dan sebagai acuan untuk dapat meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan di ruang perawatan..
2. Institusi Pendidikan
Sebagai referensi dan acuan untuk dapat meningkatkan ilmu
pengetahuan tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada
pasien dengan kanker serviks.
3. Perawat
Sebagai referensi dan acuan untuk meningkatkan mutu pelayanan
kepada pasien yang ada di ruang perawatan.
4. Pasien
Sebagai acuan dalam hal pengambilan keputusan yang
mengacu pada kondisi kesehatan pasien dan menambah wawasan
pasien lebih mengetahui tentang kondisi penyakitnya
E. Metode Penelitian
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini, penulisan menggunakan
metode deskritif dalam bentuk studi kasus yang menggunakan
pendekatan proses keperawatan yang komprehensif.
Adapun pengumpulan data yang dipergunakan dalam penyususnan
karya tulis ilmiah ini adalah dengan cara:
1. Wawancara
Dalam melakukan wawancara maka perawat dapat mengetahui
keluhan atau masalah pasien serta dapat membantu pasien dalam
bertindak untuk menanggapi keluhan atau masalah [Link]
itu perawat perlu mengetahui prinsip-prinsip komunikasi serta
faktor-faktor yang menghambat [Link] dilakukan
secara trapeutik dan [Link] juga harus mampu membantu
pasien untuk mengungkapkan masalah serta [Link] ini
dapat menumbuhkan hubungan saling percaya antara pasien
dengan perawat sehingga dapat memudahkan dalam melakukan
pengumpulan [Link] ini dapat dilakuakan pada pasien
dan [Link] dua jenis anamnesis, yaitu autoanamnesis dan
[Link] merupakan anamnesis terhandap
pasien itu [Link] merupakan anamnesis terhadap
keluarga atau yang membawa pasien tersebut ke rumah sakit.
2. Observasi
Teknik ini dilakukan secara langsung untuk mengenali, mengamati,
dan pemperoleh data tentang kesehatan pasien dengan Kanker
Serviks.
3. Pemeriksaan Fisik
Selama proses pengumpulan data ini, perawat melatih
keterampilan preceptual dan observasional dengan menggunakan
indra penglihatan, penciuman, sentuhan, dan pendengaran lama
dan kedalaman setiap pengkajian fisik tergantung pada kondisi
pasien yang mencangkup inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi.
4. Studi Dokumentasi
Data diperoleh dari dokumentasi yang terdapat pada catatan
perawat pasien, catatan medis, serta catatan dari tim kesehatan
lain yang langsung berhubungan (teman sejawat, dokter, petugas
laboratorium).
5. Studi Kepustakaan
Pada penulis karya tulis ilmiah ini, penulis menggunaakan
studi kepustakaan yang berfungsi untuk mengumpulkan data-data
tiori yang berhubungan dengan materi karya tulis ilmiah ini, yang
terdiri dari buku-buku, diklat, dan beberapa sumber lain yang
menunjang penulis karya ilmiahini.
F. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambara secara singkat dan menyeluruh dari
isi penulisan karya tulis ilmiah ini maka penulis menggunakan
sistematika penulisan yang terbagi dlaam lima bab yaitu :
BAB satu : Pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan
masalah tujuan penelitian, metode penulisan dan sistematika
penulisan.
BAB dua : Tujuan pustaka yang menggunakan tentang konsep
dasar teori, pengertian kanker serviks, etiologi kanker serviks,
patofisiologi kanker serviks, klasifikasi kanker serviks, penyebaran
kanker serviks, tanda dan gejala, penatalaksanaan medis, komplikasi,
pemeriksaan diasnotik, dan konsep asuhan keperawatan, , asuhan
keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dokumentasi.
BAB tiga : Tinjauan kasus, yang menguraikan tentang kasus yang
terjadi dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang
terdiri dari pengkajian, diagnose keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi dan dokumentasi keperawatan.
BAB empat: Berisi tentang pembahasan yang menguraikan
tentang pembahasan dari kesenjangan asuhan keperawatan yang
telah diberikan secara teori dengan asuhan keperawatan secara nyata
telah diberikan pada Ibu S yang mengalami kanker serviks stadium lll
A yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi, dokumentasi.
BAB lima : Merupakan bab penutup yang terdiri dari kesimpulan
dan isi karya tulis yang dibuat dan saran-saran yang akan di berikan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Medik
1. Anatomi Fisiologi
a. Genitelia Ekterna
Menurut Pearce (2011) organ reproduksi dibagi dalam organ
ekterna dan organ interna. Organ eksterna bersama-sama dikenal
sebagai vulva, dan terdiri atas bagian-bagian berikut:
1) Mons veneris, sebuah bantalan lemak yang terletak di depan
simfisis pubis. Daerah ini ditutupi bulu pada masa pubertas.
2) Labia mayora (bibir besar) adalah dua lipatan tebal yang
membentuk sisi vulva, dan terdiri atas kulit dan lemak, dan
jaringan otot polos, pembuluh darah dan serabut saraf. Labia
mayora panjangnya kira-kira 7,5 cm. Nimfae atau labia minora
(bibir kecil) adalah dua lipatan kecil dari kulit di antara bagian
atas labia mayora. Klitoris (kelentit) adalah sebuah jaringan
erektil kecil yang serupa dengan penis laki-laki. Letaknya
anterior dalam vestibula. Vestibula di setiap sisi dibatasi lipatan
labia dan bersambung dengan vagina. Uretra juga masuk ke
dalam vestibula di depan vagina, tepat di belakang klitoris.
3) Kelenjar vestibularis mayor (Bartholini) terletak tepat di belakang
labia mayora di setiap sisi. Kelenjar ini mengeluarkan lendir dan
salurannya keluar antara himen dan labia minora. Himen adalah
diafragma dari membrane tipis, di tengahnya berlubang supaya
kotoran menstruasi dapat mengalir keluar. Letaknya di mulut
vagina dan dengan demikian memisahkan genitelia eksterna dan
interna. Tidak adanya lubang-lubang pada himen merupakan
keadaan abnormal yang jarang terjadi dan disebut himen
imperforate. Keadaan ini tidak dapat diketahui sampai umur
menstruasi seorang gadis, kotoran tak dapat keluar, berkumpul
di dalam vagina, dan membuat vagina mekar.
b. Genetalia Interna
Menurut Pearce (2011) menjelaskan tentang sistem
genetalia sebagai berikut:
1) Vagina (Liang senggama)
Vagina adalah tabung berotot yang dilapisi membaran dari
jenis epitelium bergaris yang khusus, dialiri pembuluh darah
dan serabut saraf secara [Link] vagina dari
vestibula sampai [Link]-dindingnya bersambung
secara normal, dan di sebelah belakang naik lebih tinggi dari
yang didepan. Lekukan sempit di depan disebut forniks
anterior dan yang di sisi-sisinya disebut forniks lateral,
sedangkan yang di belakang disebut forniks posterior vagina.
Permukaan anterior vagina menyentuh basis kandung
kencing dan uretra, sedangkan dinding posteriornya
menyentuh rectum dan kantong rekto-vagina (ruang
Douglas).Seperempat sebelah bawah vagina menyentuh
badan perineum. Dinding vagina terdiri atas tiga lapis: lapisan
dalam adalah selaput lendir ( membaran mukosa) yang
dilengkai lipatan-lipatan atau rugae, sehingga mempunyai
rupa seakan-akan ditutupi papilla ( selaput lendir vagina
terdiri atas sel epitel gepeng berlapis); lapisan luar adalah
lapisan berotot yang terdiri atas serabut longitudinal dan
melingkar dan antara kedua lapisan ini terdapat sebuah
lapisan dan jaringan erektil terdiri atas jaringan areoler,
pembuluh darah, dan beberapa serabut otot tak bergaris.
Organ reproduksi bagian dalam, yang terletak di dalam
pelvis, adalah uterus, dua ovarium, dan tuba uterine
(falopian).
2) Uterus (Rahim)
Uretus adalah organ yang tebal, berotot, berbrntuk buah
pir, terletak di dalam pelvis, antara rektukm di belakang dan
kandung kencing di depan. Ototnya disebut miometrium dan
selaput lendir yang melapisi sebelah dalamnya disebut
[Link] menutupi sebagian besar (tidak
seluruhnya) permukaan luar uterus. Letak uterus sedikit
antefleksi pada bagian lehernya dan anteversi (meliuk agak
menurun ke depan) dengan fundusnya terletak diatas
kandung kencing. Di bawah bersambung dengan vagina dan
disebelah atasnya tuba uterine masuk ke
[Link] latum uteri dibentuk oleh dua lapisan
peritoneum, di setiap sisi uterus terdapat ovarium dan tuba
[Link] darah didapatkan dari arteri uterine dan
arteri [Link] uterus adalah 5 sampai 8 cm, dan
beratnya 30 samapi 60 [Link] terbagi atas tiga bagian
berikut, Fundus, bagian cembung di atas muara tuba
[Link] uterus, melebar dari fundus ke serviks,
sedangkan antara nadan dan serviks terdapat ismus. Bagian
bawah yang sempit pada uterus disebut serviks, rongga
serviks bersambung dengan rongga badan uterus melalui os
interna (os = mutut) dan bersambung dengan rongga vagina
melalui os eksterna.
3) Tuba falopii
Tuba falopii dalah saluran telur yang mengangkut ovum dari
ovarium ke kavum [Link] rata-rata 11-14 cm. Tuba
fallopi ada 2 bagin, mulai dari sisi pelvis ke sudut superior
lateral uterus. Masih tergantung pada plikaperitonial
masenterium yang meliputi margo superior dan berdekatan
dengan ligamentum. Tuba fallopi terdiri dari:
a) Pras interstisialis : Bagian tuba yang terdapat di dalam
uterus
b) Pras ismika/istimus: Bagian yang sempit pada sudut
antara uterus dan tuba.
c) Pras ampularis/ampula : bagian yang membentuk saluran
yang lebar meliputi ovarium.
d) Infundibulum : baian ujung tuba yang terbuka mempunyai
umbul yang disebut fimbriae, melekat pada ovarium untuk
menangkap telur yang dilepas oleh ovarium menuju tuba.
4) Ovarium (Indung Telur)
Kedua ovarium adalah kelenjar berbentuk biji buah kenari,
terletak di kanan dan kiri uterus, dibawah tuba uterine, dan
terikat di sebelah belakang oleh ligamentum latum
[Link] berisi sejumlah besar ovum belum matang,
yang disebut oosit [Link] oosit di kelilingi sekelompok
sel folikel pemberi [Link] setiap siklus haid sebuah
dari ovum primitif ini mulai memantang dan kemudian cepat
berkembang menjadi folikel ovary yang vesikuler (folikel
Graaf).Sewaktu folikel Graaf berkembang, perubahan terjadi
di dalam sel-sel ini, dan cairan-likuor folikuli-memisahkan sel-
sel dari membaran granulosa menjadi beberapa [Link]
tahap inilah dikeluarkan hormon ustrogen. Pada masa folikel
Graaf mendekati pengembangan penuh atau pematangan,
letaknya dekat permukaan ovarium, dan menjdi makin mekar
karena cairan, sehingga membenjol, seperti pembekakan
yang menyerupai kisa pada permukaan ovarium. Tekanan
dari dalam folikel menyebabkannya sobek dan cairan serta
ovum lepas melalui rongga peritoneal masuk ke dalam
lubang yang berbentuk corong dari tuba [Link] bulan
sebuah folikel berkembang dan sebuah ovum dilepaskan dan
dikeluarkan pada saat kira-kira pertengahan (hari ke-14)
siklus menstruasi.
5) Ligamentum
Prametrium membentuk suatu sistem penunjang uterus
sehingga uterus terfikasasi relative cukup baik. Jaringan itu
terdiri dari :
a) Ligamentum kardinale sinistrum dan dekstrum,
merupakan ligamentum yang terpenting untuk mencegah
agar uterus tidak turun. Ligamentum ini terdiri dari
jaringan ikat tebal, berjalan dari seviks dan vagina ke arah
lateral dinding.
b) Ligamentum sakrouterinum sinistrium dan dekstrum :
ligamentum yang menahan uterus supaya tidak banyak
bergerak, berjalan melengkung dari belakang serviks kiri
dan kanan melalui dinding rectum kearah os rektum kiri
dan kanan.
c) Ligamentum rotundum sinistrum dan dekstrum : menahan
uterus dalam posisi antefleksi dan berjalan dari sudut
fundus uteri kiri dan kanan ke daerah inguinal kiri dan
kanan.
d) Ligamentum pubovesikale sinistrum dan dekstrum :
berjalan dari os pubis melalui kandung kencing
seterusnya ke ligamentum vesikouterinum sinistra dan
ligamentum vesikouterinum dekstra ke serviks.
e) Ligamentum latum sinistrum dan dekstrum : berjalan dari
uterus ke lateral, tidak banyak mengandung jarigan ikat,
merupakan bagian dari peritonium viserale yang meliputi
uterus dan kedua, tuba, bentuknya sebagai lipatan bagian
lateral dan belakang ditemukan indung telur.
f) Ligamentum infundibulum pelvikum : menahan tuba falopi
berjalan dari arah infundibulum ke diding pelvis di
dalamnya ditemukan urat saraf, saluran limfe, arteri dan
vena ovarika sebagai alat penunjang.
g) Ligamentum ovari pproprium sinistrum dan dekstrum,
berjalan dari sudut kiri dan kanan belakang fundus uteri
ke ovarium ligamentum ini mudah dikendorkan sehingga
alat genital mudah berganti posisi. Ligamentum latum
sutau lipatan peritonium yang menutupi uterus dan kedua
tuba.
2. Fisiologi
Masa pubertas wanita adalah masa mulainya produktivitas artinya
muali dapat melanjutkan [Link] itu manita memasuki masa
klimakterium, merupakan masa peralihan antara masa reprodusi dan
masa senium (kemunduran).Pada klimakterium haid berangsur-
angsur berhenti selama 1-2 bulan dan kemudian berhenti sama sekali
yang disebut menopause. Selnjutnya akan terjadi kemunduran alat-
alat reproduksi, organ tubuh, dan kemampuan fisik.
a. Menstruasi
Menstruasi pertamakali yang dialami seorang perempuan disebut
menarke, yang pada umumnya terjadi pada usia sekita 14 tahun.
Menarke merupakan petanda berakhirnya masa pubertas, masa
peralihan dari masa anak menuju masa [Link]
kehidupan seorang perempuan, menstruasi dialami mulai dari
menarke sampai menopause. (Anwar, 2011)
3. Kanker serviks
a. Definisi
Kanker adalah istilah umum untuk satu kelompok besar penyakit
yang dapat mempengaruhi setiap bagian tubuh. Istilah lain yang
digunakan adalah tumor ganas dan neoplasma. Kanker adalah
pertumbuhan sel-sel baru secara abnormal yang tumbuh melampaui
batas normal, dan yang kemudian dapat menyebar bagian seluruh
tubuh dan menyebar ke organ lain. Proses ini disebut metastase.
Metastase merupakan penyebab utama kematian akibat kanker
(WHO, 2015).
Kanker serviks adalah keganasan yang bermula pada sel-sel serviks
(leher rahim) dan dimuali pada lapisan [Link] kanker serviks
sangat perlahan, pertama beberapa sel normal berubah menjadi sel
prakanker, kemudian berubah menjadi sel kanker. Perubahan ini di
sebut dysplasia dan biasanya terdeteksi dengan tes pap smear
(Rahman, 2010).
b. Etiologi
Penyebab langsung kanker serviks belum diketahui. Faktor ekstrinsik
yang diduga berhubungan dengan insiden karsinoma serviks antara
lain infeksi Human Papiloma Virus (HPV) dan spermatozoa.
Karsinoma serviks timbul di sambugan skuamokolumer [Link]
resiko yang berhubungan denagan karsinoma serviks ialah perilaku
seksual berupa mitra seks multipel, multiparitas, nutrisi, rokok, dan
[Link] serviks dapat tumbuh eksofitik maupun endofitik.
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya
kanker serviks antara lain:
1) Merokok
Pada wanita perokok konsentrasi nikotin pada getah servik 56
kali lebih tinggi dibandingkan didalam serum, efek langsung
bahan tersebut pada serviks adalah menurunkan status imun
lokal sehingga dapat menjadi kokarsinogen infeksi virus.
2) Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini ( kurang dari
18 tahun).
3) Berganti - ganti pasangan seksual.
4) Suami atau pasangan seksualnya melakukan hubungan seksual
pertama pada usia 18 tahun, berganti - berganti pasangan dan
pernah menikah dengan wanita yang menderita kanker serviks.
5) Pemakaian DES ( Diethilstilbestrol ) pada wanita hamil untuk
mencegah keguguran.
6) Pemakaian Pil KB
Kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka panjang yaitu lebih
dari lima tahun dapat meningkatkan resiko relatif 1,53 kali. WHO
melaporkan resiko relative pada pemakaian kontrasepsi oral
sebesar 1,19 kali dan meningkat sesuai dengan lamanya
pemakaian.
7) Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamedia menahun.
8) Golongan ekonomi lemah.
9) Dikaitkan dengan ketidakmampuan dalam melakukan tes pap
smear secara rutin dan pendidikan yang rendah. (Rasjidi, 2010 ).
c. Klasifikasi
Stadium Kanker Serviks
Tabel 2.1 Stadium klinis Kanker Serviks (sumber : FIGO)
FIGO Deskripsi
Tidak ada bukti tumor primer
0 Karsinoma in situ ( pre invasive carcinoma )
I Karsinoma terbatas pada serviks
Ia Karsinoma hanya dapat di diagnosis secara mikroskopik
I a1 Invasi stroma dalamnya < 3 mm dan lebarnya < 7mm
I a2 Invasi stroma dalamnya 3-5 mm dan lebarnya < 7 mm
Ib Secara klinis, tumor dapat di identifikasi pasa serviks atau
massa tumor lebih besar dari 1 a2
I b1 Secara klinis lesi ukuran < 4 cm
I b2 Secara klinis lesi ukuran > 4 cm
II Tumor telah menginvasi uterus tapi tidak mencapai 1/3 distal
vagina atau dinding panggul
II a Tanpa invasi parametrium
IIb Dengan invasi parametrium
III Tumor menginvasi sampai dinding pelvis dan atau
menginfiltrasi sampai 1/3 distal vagina, dan atau
menyebabkan hidronefrosis atau gagal ginjal
III a Tumor hanya menginfiltrasi 1/3 distal vagina
III b Tumor sudah menginvasi dinding panggul
IV Proses keganasan telah keluar dari panggung kecil dan
melibatkan mukosa rectum dan atau vesika urinaria atau
telah bermetastasi keluar panggul ke tempat yang jauh
IV a Tumor menginvasi mukosa kandung kemih atau rectum dan
atau menginvasi keluar dari true pelvis
IV b Metastasis jauh penyakit mikroinvasif: invasi stroma dengan
kedalaman 3 mm atau kurang dari membrane basalis epitel
tanpa invasi ke rongga pembuluh limfe/darah atau melekat
dengan lesi kanker serviks
d. Patofisiologi
Menurut Rasjidi, (2009) Infeksi Human Papiloma Virus dapat
berkembang menjadi neoplasma intraepitel serviks (NIS). Seorang
wanita dengan aktivitas seksual aktif dapat terinveksi oleh HPV
resiko-tinggi dan 80% akan menjadi transien serta tidak akan
betkembang menjadi NIS dan HPV akan hilang dalam waktu 6-8
bulan. Hal ini di pengaruhi oleh respons antibodi terhadap HPV
resiko tinggi.20% sisanya berkembang menjadi NIS dan sebagian
besar yaitu 80% virus menghilang kemudian lesi juga
[Link] yang berperan adalah cytotoxic [Link]
20% dari yang terinfeksi virus tidak menghilang dan terjadi infeksi
yang persisten. NIS akan bertahan atau NIS 1 akan berkembang
menjadi NIS 3 atau kanker invasive, tetapi menjadi NIS 2.
Pertumbuhan kanker dapat bersifat :
1) Eksofitik, tubuh mulai dari squamo-columnar junction kearah
lumen vagina, proliferative serta cenderung mengalami infeksi
sekunder dan nekrosis.
2) Endofitik, tubuh mulai dari squamo-columnar junction kedalam
serviks dan cenderung mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.
3) Ulseratif, tubuh muali dari squamo-columnar junction ke forniks
vagina dan cenderung merusak struktur jaringan serviks serta
membentuk ulkus lunas.
e. Tanda dan Gejala
Menurut Rasjdi, (2009) Berbeda dengan kanker endometrium,
kebanyakan penderita kangker serviks adalah wanita usia subur
(terbanyak usia 45-50 tahun). Faktor yang berhubungan dengan
kanker serviks adalah aktivitas seksual terlalu dini kurang 16
tahun, jumlah pasangan seksual yang banyak, riwayat pernah
menderita kondiloma atau penyakit menular seksual lainnya,
multiparitas, status sosial rendah, kebiasaan merokok, penurunan
status imunitas, misalnya : penderita HIV, terapi imunosupresan.
Gejala yang dapat di temui yaitu :
1) Keputihan yang cukup banyak, makin lama akan disertai bau
busuk
2) Perdarahan pervaginam abnormal, misalnya perdarahan
yang dialami segera setelah coitus, perdarahan spontaan
saat berdefekasi
3) Gejala-gejala lanjut : nyeri panggul nyeri saat berkemih
f. Penatalaksanaan Medis
Terdapat tiga jenis pengobatan utanma kanker, yaitu operasi,
radioterapi, dan kemoterapi. Berikut penjelasannya :
1) Operasi
Ada beberapa jenis operasi untuk pengobatan kanker serviks.
Beberapa pengobatan melibatkan penganggkatan rahim
(histerektomi) dan yang lain tidak. Daftar ini mencakup
beberapa jenis operasi yang paling umum dilakukanpada
pengobatan kanker serviks:
a) Cyrosurgery
Sebuah probe metal yang didinginkan dengan nitrogen cair
dimasukkan ke dalam vagina dan leher rahim. Cara ini
dapat membunuh sel-sel abnormal dengan cara
membekukannya. Cyrosurgery digunakan untuk mengobati
kanker serviks stadium 0, bukan kanker invasif yang telah
menyebar ke luar leher rahim.
b) Bedah Laser
Caraini menggunakan sebuah sinar laser untuk membakar
sel-sel atau menghapus sebagian kecil jaringan sel rahim
untuk [Link] laser hanya digunakan
sebagai pengobatan kanker serviks pro-invasif (stadium 0).
c) Konisasi
Sepotong jaringan berbentuk kerucut akan diangkat dari
leher rahim. Pemotongan dilakukan menggunakan pisau
bedah, laser, atau kawat tipis yang dipanaskan oleh
[Link] ini dapat digunakan untuk menemukan
atau mengobati kanker serviks tahap awal (stadium 0-1).
d) HIsterektomi
Suatu tindakan pembedahan yang bertujuan mengangkat
uterus dan serviks (total) atau salah satunya. Biasanya
dilakukan pada stadium Ia – IIa. Umur pasien sebaiknya
sebelum menopause atau bila keadaan umum [Link]
juga pada umur kurang dari 65 [Link] harus bebas
dari penyakit resiko tinggi seperti penyakit jantung, ginjal
dan hepar.
e) Trachelektomi
Sebuah prosedur yang disebut trachelektomiradikal
memungkinkan wanita muda yang kena kanker stadium
awal dapat diobati dan masih dapat mempunyai
[Link] ini meliputi penganggkatan serviks dan
bagian atas vagina, kemudian meletakkannya pada jahitan
berbentuk kantong yang bertindak sebagai pembukaan
leher rahim di dalam [Link] getah bening di
dekatnya juga diangkat. Operasi ini bias dialkukan melalui
vagina atau perut.
2) Radioterapi
Pada pengobatan kanker serviks, radioterapi diterapkan
dengan melakukan radiasi eksternal yang diberikan bersama
kemoterapi dosis [Link] jenis pengobatan radiasi
interna zat radioaktif dimasukkan ke dalam silinder di dalam
vagina kadang-kadang bahan radioaktif ini di tempatkan di
dalam jarum tipis yang di masukkan langsung ke tumor.
3) Kemoterapi
Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan untuk
membunuh sel-sel [Link] obat-obatan tersebut
diberikan melalui infuske dalam pembuluh darah atau melalui
mulut. Setelah obat masuk ke aliran darah maka akan
menyebar ke seluruh tubuh, terkadang ada beberapa obat
yang diberikan dalam satu waktu (Rahman, 2010).
g. Kompilkasi
Menurut Robe, (2007) , komplikasi dibedakan mendi dua
bagian yaitu :
1) Komplikasi yang disebabkan karena penyakit yaitu : Gagal
ginjal karena obstruksi, perdarahan, fustulasi, dan penyakit
karena metastasis jauh.
2) Komplikasi yang di sebabkan tindakan atau terapi atau
pembedahan yaitu : Atonia kandung kencing, infeksi, dan
perdarahan.
h. Pemeriksaan Diagnostik
1) Pemeriksaan Sitologi Pap Smear
Salah satu pemeriksaan sitologi yang bisa dilakukan
adalah pap smear. Pap smear merupakan salah satu cara
deteksi dini kanker leher rahim. Test ini mendeteksi adanya
perubahan-perubahan sel leher rahim yang abnormal, yaitu
suatu pemeriksaan dengan mengambil cairan pada leher
rahim dengan spatula kemudian dilakukan pemeriksaan
dengan mikroskop. Saat ini telah ada teknik thin prep (liquid
base cytology) adalah metode pap smear yang dimodifikasi
yaitu sel usapan serviks dikumpulkan dalam cairan dengan
tujuan untuk menghilangkan kotoran, darah, lendir serta
memperbanyak sel serviks yang dikumpulkan sehingga
akan meningkatkan sensitivitas. Pengambilan sampel
dilakukan dengan mengunakan semacam sikat (brush)
kemudian sikat dimasukkan ke dalam cairan dan
disentrifuge, sel yang terkumpul diperiksa dengan
[Link] smear hanyalah sebatas skrining, bukan
diagnosis adanya kanker serviks. Jika ditemukan hasil pap
smear yang abnormal, maka dilakukan pemeriksaan standar
berupa kolposkopi. Penanganan kanker serviks dilakukan
sesuai stadium penyakit dan gambaran histopatologimnya.
Sensitifitas pap smear yang dilakukan setiap tahun
mencapai 90%.
2) Kolposkopi
Pemeriksaan dengan pembesaran (seperti mikroskop) yang
digunakan untuk mengamati secara langsung permukaan
serviks dan bagian serviks yang abnormal. Dengan
kolposkopi akan tampak jelas lesi-lesi pada permukaaan
serviks, kemudian dilakukan biopsi pada lesi-lesi tersebut.
3) IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)
IVA merupakan tes alternatif skrining untuk kanker
[Link] sangat mudah dan praktis dilaksanakan,
sehingga tenaga kesehatan non dokter ginekologi, bidan
praktek dan lain-lain. Prosedur pemeriksaannya sangat
sederhana, permukaan serviks/leher rahim diolesi dengan
asam asetat, akan tampak bercak-bercak putih pada
permukaan serviks yang tidak normal.
4) Serviksografi
Servikografi adalah pemeriksan dengan melakukan
pembesaran foto serviks dengan alat khusus terdiri dari
kamera 35 mm dengan lensa 100 mm dan lensa ekstensi 50
mm. Fotografi diambil oleh tenaga kesehatan dan slide
(servikogram) dibaca oleh yang mahir dengan kolposkop.
Disebut negatif atau curiga jika tampak kelainan abnormal,
tidak memuaskan jika SSK tidak tampak seluruhnya dan
disebut defek secara teknik jika servikogram tidak dapat
dibaca (faktor kamera atau flash).Kerusakan (defect) secara
teknik pada servikogram kurang dari 3%.Servikografi dapat
dikembangkan sebagai skrining kolposkopi. Kombinasi
servikografi dan kolposkopi dengan sitologi mempunyai
sensitivitas masing-masing 83% dan 98% sedang
spesifisitas masing-masing 73% dan 99%. Perbedaan ini
tidak [Link] demikian servikografi dapat di-
gunakan sebagai metoda yang baik untuk skrining massal,
lebih-lebih di daerah di mana tidak ada seorang spesialis
sitologi, maka kombinasi servikogram dan kolposkopi sangat
membantu dalam deteksi kanker serviks.
5) Gineskopi
Gineskopi adalah teropong monokuler, ringan dengan
pembesaran 2,5 x lebih sederhana dari kolposkopi dapat
digunakan untuk meningkatkan skrining dengan sitologi.
Biopsi atau pemeriksaan kolposkopi dapat segera
disarankan bila tampak daerah berwarna putih dengan
pulasan asam asetat. Sensitivitas dan spesifisitas masing-
masing 84% dan 87% dan negatif palsu sebanyak 12,6%
dan positif palsu 16%. Samsuddin dkk pada tahun 1994
membandingkan pemeriksaan gineskopi dengan
pemeriksaan sitologi pada sejumlah 920 pasien dengan
hasil sebagai berikut: Sensitivitas 95,8%; spesifisitas 99,7%;
predictive positive value 88,5%; negative value 99,9%;
positif palsu 11,5%; negatif palsu 4,7% dan akurasi 96,5%.
Hasil tersebut memberi peluang digunakannya gineskopi
oleh tenaga paramedis / bidan untuk mendeteksi lesi
prakanker bila fasilitas pemeriksaan sitologi tidak ada.
6) Pemeriksaan Penanda Tumor (PT)
Penanda tumor adalah suatu suatu substansi yang dapat
diukur secara kuantitatif dalam kondisi prakanker maupun
[Link] satu PT yang dapat digunakan untuk
mendeteksi adanya perkembangan kanker serviks adalah
CEA (Carcino Embryonic Antigen) dan HCG (Human
Chorionic Gonadotropin). Kadar CEA abnormal adalah > 5
µL/ml, sedangkan kadar HCG abnormal adalah > 5ηg/ml.
HCG dalam keadaan normal disekresikan oleh jaringan
plasenta dan mencapai kadar tertinggi pada usia kehamilan
60 hari. Kedua PT ini dapat dideteksi melalui pemeriksaan
darah dan urine.
7) Pemeriksaan darah lengkap
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi tingkat
komplikasi perdarahan yang terjadi pada penderita kanker
serviks dengan mengukur kadar hemoglobin, hematokrit,
trombosit dan kecepatan pembekuan darah yang
berlangsung dalam sel-sel tubuah.
i. Pencegahan
Menurut Rasjdi (2006), menjelaskan tentang Deteksi Dini
dan Pencegahan kanker serviks adalah :
1) Tidak melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti
pasangan sesuai dengan tidak melakukan hubungan
seksual di usia dini
2) Menghindari faktor resiko yang lain yang dapat memicu
terjadinya kanker seperti paparan asap rokok,
menindaklanjuti hasil pemeriksaan papsemear dan IVA
dengan hasil positif dan meningkatkan daya tahan tubuh
dengan mengkomsumsi makanan denagn gizi seimbang
dan banyak mengandung vitamin C, A dan asam folat.
3) Melakukan skrining atau penapisan untuk menentukan
apakah mereka telah terinfeksi Human Papiloma virus
(HPV) atau mengalami lesi pra-kanker yang harus
dilanjutkan dengan pengobtan yang sesuai bila ditemukan
lesi.
4) Melakukan vaksinasi HPV yang saat ini telah di
kembangkan untuk tipe 16 dan 18. Vaksin diberikan dalam
tiga dosis 6 bulan.
j. Konsep Kemoterapi
1) Pengertian
Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan untuk
membunuh sel-sel [Link] obat-obatan tersebut
diberikan melalui infuske dalam pembuluh darah atau
melalui mulut. Setelah obat masuk ke aliran darah maka
akan menyebar ke seluruh tubuh, terkadang ada beberapa
obat yang diberikan dalam satu waktu (Rahman, 2010).
2) Mekanisme kerja kemoterapi
Untuk memahami mekanisme kerja kemoterapi, penting
untuk diketahui terlebih dahulu siklus pembentuk sel.
Dalam membentuk sel. Dalam membentuk sel, terdapat
empat fase yang harus dimiliki untuk mencapai siklus
pertumbuhan sel yang [Link] tersebut meliputi
G1, S, G2 dan mitosis (M).Fase G1 yaitu fase dimana DNA
mulai dibentuk dan teradi sintesis dan [Link] sel
memasuki fase dimana terjadi sintesis DNA yang
memakan waktu 10 sampai 30, dan selama waktu tersebut
isi DNA dari sel berlipat [Link] fase S, sel masuk
ke fase G2, fase dimana terjadi sintesis RNA dan protein
yang dikeluarkan untuk mitosis. Proses ini memerlukan
waktu 1 sampai 12 jam. Fase terakhir yaitu fase M
(mitosis) dimana terjadi pembelahan sel yang berlangsung
semala 1 [Link] mitosis terdapat empat langkah
(profase, metaphase, anaphase, dan telofase) yang
mengalami dua sel. (Hayati, 2009)
3) Agen kemoterapi
Secara umum, agen kemoterapi termasuk dalam satu dari
dua klasifikasi, yaitu siklus sel spesifik atau siklus sel
[Link] sel spesifik mempunyai efek maksimal
selama fase speksifik dari siklus sel, sedangkan siklus sel
nonspesifik yaitu alkylating agensts, dimana agen tersebut
merusak sel baik pada fase pembelahan maupun fase
[Link] contoh agen spesifik adalah
Antimetabolik yang merusak sel dengan bertindak sebagai
pengganti untuk metabolic alami pada molekul uang
[Link] sum-sum tulang, mual, muntah, diare,
rambut rontok, dan masalah kulit juga merupakan efek
samping yang umum terjadi yang dapat kemoterapi. Di
antara berbagai efeksamping kemoterapai, mual-muntah
merupakan efek samping yang menakutkan bagi penderita
dan keluarganya (Periwitasari, 2006)
4) Obat kemoterapi
The American Society of Health System
Pharmacists(ASHP) merekomendasikan terapi antiemetic
profilaksis saat pemberian obat dengan potensi emetic
level 2 sampai.
5) Berikut ini dipaparkan agen kepoterapi dan efek mual-
muntah (emetogenik) yang ditimbulkan.
Tabel 3.2Potensi Emetogenik Obat Sitostatika
Efek timbulnya emetogenik Sitostatika
Berat Cisplatin
Dactinomycin (dosis tinggi)
Cytarabine (dosis tinggi)
Sedang Cyclophosphamide
Carboplatin
Doxorubicin
Daunorubicin
Ringan Etoposide
Fluorouracil
Hydroxyurea
Metotrexat
Chlorambucil
Vinblastine
Vincristine
Melphalan
Mercaptopurine
Tabel di atas menggambarkan jenis obat sitostatika (agen
kemoterapi) dengan potensi mual-muntah yang
[Link] tabel tersebut dapat diketahui bahwa
agen kemoterapi mempunyai potensi yang berbeda dalam
menimbulkan efek [Link], yang
merupakan obat yang sering digunakan dalam kemoterapi,
mempunyai efek mual-muntah ringan sedangkan cisplatin
berpeluang menimbulkan efek mual-muntah yang berat.
Hal ini perlu diketahui oleh perawat untuk mengantisipasi
kemungkinan efek yang akan timbul dan menentukan
tindakan pencegahan serta penanganan selama atau
setelah pemberian kemoterapi.
B. Konsep Dasar Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah bagian dari pelayanan kesehatan yang
berperan besar menentukan pelayanan [Link] sebagai
profesi dan perawat sebagai tenaga professional dan bertanggung jawab
memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan kopetensi dan
kewenangan yang di milikinya secara mandiri maupun bekerjasama
dengan anggota kesehatan lainnya (Depkes RI, 2006).
1. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar bagi seorang perawat
dalam melakukan pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan
informasi dan menganalisa, sehingga dapat diketahui kebutuhan pasien
[Link] melatih keterampilan konseptual dan observasional
dengan menggunakan indera penglihatan, pendengaran, penciuman,
dan sentuhan. Penggunaan data yang akurat dan sistematis dan akan
membantu menentukan status kesehatan dan pola pertahanan pasien
serta memudahkan dalam merumuskan diagnosa (Donges dkk, 2007).
Pengumpulan data dibagi menjadi tiga yaitu :
a. Anamnesa adalah pertanyaan terarah yang ditujukan
kepada pasien, untuk mengetahui keadaan pasien dan
faktor yang di milikinya. Anamnesa dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu :
1) Autoanamnesa adalah anamnesa yang dilakukan
langsung kepada pasien. Pasien sendirilah yang
menjawab semua pertanyaan dan menceritakan
kondisinya.
2) Allonamnesa adalah anamnesa yang dilakukan dengan
orang lain guna mendapatkan informasi yang tepat
tentang kondisi pasien.
Adapun pengkajian yang perlu diperhatiakan dalam pengkajian
pada pasien dengan diagnosa medis Kanker Serviks adalah
sebagai berikut : Identitas pasien yang meliputi nama, umur,
alamat, status perkawainan, agama, pendidikan, pekerjaaan suku,
tanggal masuk RS, tanggal pengkajian, dan diagnosa medis,
adapun pengkajian pada klien dengan Kanker Serviks menurut
(Doenges, 2010) :
a. Aktifitas/istirahat
Gejala :
1) Kelemahan atau keletihan akibat anemia
2) Perubahan pola istirahat dan kebiasaan tidur pada malam
hari
3) Adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur seperti
nyeri, ansietas, dan keringat malam
4) Pekerjaan atau profesi dengan penajaman karsinogen
lingkunagn dan tingkat strees tinggi
b. Sirkulasi
Gejala : Nyeri dada (angina)
Tanda : Disritmia (Vibrilasi atrium), irama gallop, mur-mur,
peningkatan darah dengan tekanan nada yang kuat. Takikardi
saat istirahat, sirkulasi kolaps (krisis tirotoksikosis)
c. Eliminasi
Gejala :
Pada kanker serviks : perubahan pada defekasi, perubahan
eliminasi urinalis, misalnya nyeri
d. Integritas ego
Gejala : Faktor stress, merokok, minum alkohol, menunda
mencari pengobatan, keyakinan relegius, atau spiritual,
masalah tentang lesi cacat, pembedahan, menyangkal
diagnosis, dan perasaan putus asa.
e. Makan/cairan
Gejala : Kehilangan berat badan yang mendadak, kehausan,
muntah, mual, kebiasaan diet buruk (misalnya rendah serat,
tinggi lemak, adiktif, bahan pengawet rasa)
f. Neurosensori
Gejala : Pusing
g. Nyaman/kenyamanan
Gejala : Adanya nyeri derajat bervariasi, misalnya
ketidaknyamanan ringan sampai nyeri hebat (dihubungkan
dengan proses penyakit)
h. Pernapasan
Gejala : Frekuensi pernapasan meningkat, takipnea, deispnea,
edema paru (pada krisis tirotoksikosis)
i. Keamanan
Gejala : Tidak toleransi terhadap aktifitas, keringat berlebihan,
alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan)
Tanda :Suhu meningkat 37,4∙C diaphoresis kulit halus, hangat
dan kemerahan
j. Seksualitas
Tanda : Perubagan pola respon seksual, keputihan (jumlah
karakteristik, bau), perdarahan habis senggama
k. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Riwayat kanker pada keluarga, sisi primer : penyakit
primer, riwayat pengobatan sebelumnya. Nuligravida lebih
besar dari usia 30 tahun, multigravida pasangan seks multiple
dan aktivitas seksual dini.
l. Perencanaan pulang
Gejala : mungkin membutuhkan bantuan untuk perawatan diri
dan aktivitas.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa kepearawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan
dan mengisi kebutuhan aseptic pasien serta respon terhadap
masalah aktual dan resiko tinggi. Label dari diagnosa keperawatan
memberi format untuk mengekspresikan bagian identifikasi masalah
dari proses keperawatan. Adapun menurut Marternity and Women’s
Health Care diagnosa keperawatan pada pasien dengan kanker
serviks adalah sebagai berikut :
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
b. Ansietas berhubungan dengan masalah kesehatan
c. Disfungsi seksual berhubungan dengan proses penyakit
d. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya
informasi tentang penyakit.
e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan radiasi
f. Resiko Injuryberhubungan dengan pemaparan radiasi
3. Perencanaaan Keperawatan
Perencanaan adalah tahap ketiga dari proses keperawatan, yang
dimuali setelah data-data yang sudah terkumpul dan sudah dianalisa.
Pada bagian ini, ditemukan sasaran yang akan dicapai dan rencana
tindakan keperawatan dikembangkan. Tujuan perncanaan adalah
mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan
pasien (Carpenito, 2009).
Tahap perencanaan keperawatan berdasarkan tujuan keperawatan
harus SMART yaitu : S (Specitic) : tujuan harus spesifik dan tidak
menimbulkan arti ganda, M (Measurable) : tujuan harus dapat diraba,
dirasakan), A (Archvable) : tujuan harus dapat dicapai, R (Realistic) :
tujuan harus di pertanggung jawabkan secara ilmiah, T (Timing) : tujuan
keperawatan tercapai dalam jangka waktu yang di tentukan.
Perencanaan dari diagnosa keperawatan berdasarkan teori :
1. Dx 1 : Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis
NOC :Pain Control
Kriteria Hasil :
1. Pasien melaporkan penurunan skala nyeri.
2. TTV dalam rentang normal.
3. Pasien dapat mendemonstrasikan teknik manajemen nyeri
secara non farmakologis
NIC : Pain Management
1.1 Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.
1.2 Anjurkan pasien untuk mengurangi faktor-faktor yang dapat
nyeri.
1.3 Monitor tanda tanda vital pasien.
1.4 Ajarkan teknik manajemen nyeri non farmakologis (relaksasi
nafas dalam).
1.5 Kolaborasi pemberian analgetik untuk pasien.
2. Dx : Ansietas berhubungan dengan masalah kesehatan.
NOC : Anxiety : self control Anxiety level
Kriteria Hasil :
1. Pasien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala
cemas
2. Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik
untuk mengontol cemas
3. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat
aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan
NIC : Anxiety Reduction
2.1 Gunakan pendekatan yang menenangkan
2.2 Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama
prosedur
2.3 Identifikasi tingkat kecemasan
2.4 Dorong keluarga untuk menemani pasien
2.5 Dengarkan dengan penuh perhatian
3. Dx 3 : Disfungsi seksual berhubungan dengan proses penyakit
NOC : Sexual fungtion
Kriteria Hasil :
1. Mengekspresikan kemampuan untuk melakukan aktivitas
seksual meskipun mengalami ketidakmampuan fisik
2. Mengekspresikan kepercayaan diri
NIC : Sexual Conseling
3.1 Bangun hubungan teraupetik, di dasarkan pada kepercayaan
dan rasa hormat
3.2 Tetapkan lamanya hubungan konseling
3.3 Dorong pasien untuk mengungkapkan ketakutan dan untuk
bertanya mengenai fungsi seksual
3.4 Berikan privasi dan jaminan kerahasiaan
4.1 Monitor timbulnya stress, depresi sebagai kemungkinan
penyebab disfungsi seksual
4. Dx 4 : Defisiensi pengetahuan b.d kurang informasi
NOC :Knolwdge : disease process, Kowledge : health Behavior
Kriteria Hasil :
1. Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang
penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan
2. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang
dijelaskan secara benar
3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang
dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.
NIC : Teaching : disease Process
4.1 Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini
berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang
tepat.
4.2 Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit,
dengan cara yang tepat
4.3 Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat
4.4 Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara
yang tepat
4.5 Berikan reinforcement kepada pasien atau keluarga atas
jawaban yang diberikan
5. Dx 5 : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan radiasi
NOC : Tissue Integrity : Skin and Mucous membranes, Hemodyalis
akses
Kriteria Hasil :
1. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensai, elastisitas,
temperature, hidrasi, pigmentasi)
2. Tidak ada luka /lesi pada kulit
3. Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan
mencegah terjadinya secara berulang
4. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan klembaban kulit
dan perawatan alami
NIC : Pressure Management
5.1 Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
5.2 Monitor aktifitas dan mobilisasi pasien
5.3 Monitor status nutrisi pasien
5.4 Monitor kulit adanya kemerahan
5.5 Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
6. Dx 6 : Resiko Injuryberhubungan dengan pemaparan radiasi
NOC : Risk Kontrol
Kriteria Hasil :
1. Pasien bebas dari sedera
2. Pasien mampu menjelasaka cara atau metode untuk mencegah
injury
3. Pasien mampu menjelaskan faktor resiko dari lingkungan atau
perilaku personal
4. Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada
5. Mampu mengenali perubahan status kesehatan
NIC : Environment Managemen (Manajemen Lingkungan)
6.1 Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien
6.2 Hindarkan lingkungan yang berbahaya (misalnya memindahkan
perabotan)
6.3 Menyediakan tempat tidur yang yaman dan bersih
6.4 Mengontrol lingkungan dari kebisingan
65 Memindahkan barang-barang yang dapat membahayakan
4. Pelaksanaan
Menurut Rohmah, (2012) pelaksanaan adalah realisasi tindakan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan dalam pelaksanaan
juga meliputi pengumpulan data berkelanjutan, mengobervasi respon
pasien selama dan sesudah pelaksanaan tindakan, serta menilai data
yang baru. Komponen tahap implementasi diantaranya sebagai berikut :
a. Tindakan keperawatan mandiri dilakukan tanpa pesanan dokter.
Tindakan keperwatan mandiri ini di tetapkan dengan
StandartPractice American Association undang-undang praktek
perawat Negara bagian dan kebijakan insitusi perawatan kesehatan.
b. Tindakan keperawatan kolaboratif
Tindakan yang dilakukan oleh perawat bila perawat bekerja dengan
anggota perawatan kesehatan yang lain dalam membuat keputusan
bersama yang bertahap untuk mengatasi masalah pada pasien
dengan kanker serviks.
5. Evaluasi
Evaluasi adalah hasil yang didapatkan dengan menyebutkan item-item
atau perilaku yang dapat diamati dan dipantau untuk menentukan apakah
hasilnya sudah tercapai atau belum dalam jangka waktu yang telah
ditentukan (Doenges, dkk : 2010).
Evaluasi hasil asuhan keperawatan sebagai tahap akhir dari poses
keperawatan yang bertujuan untuk menilai hasil akhir dan seluruh
tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Evaluasi ini bersifat sumatif,
yaitu evalusi yang dilakukan sekaligus pada akhir dari semua tindakan
keperawatan yang telah dilakukan dan disebut juga evaluasi pencapaian
jangka panjang. Ada tiga alternatif dalam menafsirkan hasil evaluasi, yaitu
:
1. Masalah teratasi
Masalah teratasi apabila klien atau keluarga menunjukkan perubahan
tingkah laku dan perkembangan kesehatan sesuai dengan kriteria
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
2. Masalah teratasi sebagian
Masalah sebagian teratasi apabila klien atau keluarga menunjukkan
perubahan dan perkembangan kesehatan hanya sebagian dari kriteria
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
3. Masalah belum teratasi
Masalah belum teratasi apabila klien atau keluarga sama sekali tidak
menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan atau
bahkan timbul masalah yang baru
DAFTAR PUSTAKA
Aziz, Abdul (2006). Ginekologi Onkologi, Jakarta Selatan : Argo
Medika Pustaka
Bobak, Lowdemik, Jensen, (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas
Edisi 4, Jakarta : EGC
Bulchek dkk, (2013), Nursing Outcome Classification edisi 6, Indonesia
Moco Media
Doenges, Marilynn, Mary Frances Moorhouse, Alice C, Geisser. (2010)
Nursing Care Plans Guiedeines For Plainning And Documenting Patient
Care. (Edisi 8).Jakarta : EGC
Nanda (2015-2017). Panduan Diagnosa Keperawatan, Prima Medika
Padila, (2015).Asuhan Keperawatan Maternitas II. Yogyakarta : EGC
Rasjidi, Imam (2009). Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker Pada
Wanita. Jakarta CV Sagung Seto
Riskesdas, (2013) Tentang Angka Terjadi Kanker Pada Wanita
Indonesia
Rahman, Abdul (2010). Stop Kanker, Jakarta Selatan : Argo Medika
pustaka
Sue Moorhed dkk (2013), Nursing Interventions Classification Edisi 6,
Indonesia Moco Media
WHO, 2015, Pengertian Kesehatan di Indonesia. http:/kesehatan-
jurnal Kesehatan pdf