0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan11 halaman

Akuntansi Forensik dan Fraud Audit

Makalah ini membahas tentang akuntansi forensik dan audit kecurangan (fraud). Pembahasan meliputi definisi fraud, klasifikasi fraud yang terdiri dari korupsi, penyalahgunaan aset, dan kecurangan laporan keuangan, serta konsep triangle fraud yang terdiri dari tekanan, kesempatan, dan pembenaran. Juga diberikan contoh kasus fraud di Indonesia.

Diunggah oleh

Firmansyah Tandju
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan11 halaman

Akuntansi Forensik dan Fraud Audit

Makalah ini membahas tentang akuntansi forensik dan audit kecurangan (fraud). Pembahasan meliputi definisi fraud, klasifikasi fraud yang terdiri dari korupsi, penyalahgunaan aset, dan kecurangan laporan keuangan, serta konsep triangle fraud yang terdiri dari tekanan, kesempatan, dan pembenaran. Juga diberikan contoh kasus fraud di Indonesia.

Diunggah oleh

Firmansyah Tandju
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

AKUNTANSI FORENSIK DAN AUDIT KECURANGAN


FRAUD

Disusun Oleh :

Firmansyah Tandju
(C30119194)

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS TADULAKO
2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga makalah dengan
judul “FRAUD” ini dapat tersusun hingga selesai. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk
memenuhi penugasan mata kuliah Audit Manajemen sekaligus bertujuan agar menambah
pengetahuan bagi para pembaca. Karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman maka kami
yakin masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

2
DAFTAR ISI

Cover……………………………………………………………………………………………1
Kata Pengantar…………………………………………………………………………...........2
Daftar Isi…………………………………………………………………………………….….3
Bab I Pendahuluan…………………………………………………………………………….4
A. Latar Belakang……………………………………………………………………..4
B. Rumusan Masalah………………………………………………………………….4
C. Tujuan………………………………………………………………………………4
Bab II Pembahasan……………………………………………………………………………7
A. Definisi Fraud……………………………………………………………….............5
B. Klasifikasi Fraud……………………………………………………………………5
C. Konsep Triangle Fraud……………….……………………………………...…….6
D. Contoh Kasus Fraud di Indonesia………………………………………………...8
Bab III Penutup………………………………………………………………………………15
Kesimpulan……………………………………………………………………………10
Daftar Pustaka………………………………………………………………………………..11

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kasus kecurangan telah menjadi sorotan bagi semua kalangan di masyarakat, terutama
pada kasus-kasus yang terkait dengan masalah laporan keuangan yang melibatkan perusahaan baik
itu perusahaan besar maupun perusahaan kecil. Para pelaku yang melakukan kecurangan juga tidak
hanya dari pegawai golongan atas, tetapi juga sudah banyak sampai ke pegawai golongan bawah.
Berdasarkan hasil survai yang dilakukan oleh ACFE Indonesia, fraud yang paling banyak terjadi
di Indonesia adalah korupsi yaitu sebesar 67%. Berbeda dengan hasil Report to The Nationss
(2016) yang dikeluarkan oleh ACFE yang menyatakan bahwa jenis fraud terbanyak ditemukan
dalam bentuk asset missappropriation. Dalam survai fraud Indonesia, fraud yang ditemukan dalam
bentuk asset missappropriation sebanyak 31%. Fraud berupa laporan keuangan menjadi jenis fraud
terbanyak ketiga sebanyak 2%.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa definisi fraud?


2. Bagaimana klasifikasi fraud?
3. Bagaimana konsep triangle fraud?
4. bagaimana contoh kasus fraud di indonesia?

C. TUJUAN

1. Mengetahui definisi fraud


2. Mengetahui klasifikasi fraud
3. Mengetahui konsep triangle fraud
4. Mengetahui contoh kasus fraud di indonesia

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI FRAUD
Fraud menurut Pusdiklatwas BPKP (2002) adalah sebagai berikut :
Fraud adalah suatu perbuatan melawan atau melanggar hukum yang dilakukan oleh orang-orang
dari dalam atau dari luar organisasi, dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau
kelompok secara langsung atau tidak langsung merugikan pihak lain.
Fraud menurut SPA 240 yang diterbitkan IAPI (berlaku 1 Januari 2013) adalah sebagai
berikut :
Fraud adalah suatu tindakan yang disengaja oleh satu individu atau lebih dalam manajemen atau
pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola, karyawan, dan pihak ketiga yang melibatkan
penggunaan tipu muslihat untuk memperoleh satu keuntungan secara tidak adil atau melanggar
hukum.
Kecurangan berkenaan dengan adanya keuntungan yang diperoleh seseorang dengan
menghadirkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Di dalamnya termasuk
unsur-unsur tak terduga, tipu daya, licik, dan tidak jujur yang merugikan orang lain. Kecurangan
(fraud) juga perlu dibedakan dengan kekeliruan (error). Faktor yang membedakan antara
kecurangan dan kekeliruan adalah apakah tindakan yang mendasarinya, yang berakibat terjadinya
salah saji dalam laporan keuangan, berupa tindakan yang disengaja atau tidak disengaja (IAI,
2001).

B. KLASIFIKASI FRAUD
Secara skematis Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) menggambarkan
occupational fraud dalam bentuk fraud tree. Pohon ini menggambarkan cabang-cabang dari fraud
dalam hubungan kerja, beserta ranting dan anak rantingnya. Occupational fraud tree ini memiliki
tiga cabang utama, yaitu:
1. Korupsi (Corruption)
Black’s Law Dictionary dalam Wells (2007) mendefenisikan “corrupt” sebagai spoiled,
tainted, depraved, debased, morally degenerate. Skema korupsi (corruption schemes) dapat
dipecah menjadi empat klasifikasi: (1) pertentangan kepentingan (conflict of interest), (2)

5
suap (bribery), (3) pemberian ilegal (illegal gratuity), dan (4) pemerasan ekonomi
(economic extortion).
2. Penyalahgunaan Aset (Asset Misappropriation)
Penyalahgunaan aset (asset misappropriation) terbagi menjadi dua kategori, yaitu: (1)
penyalahgunaan kas (cash misappropriation) yang dapat dilakukan dalam bentuk
skimming, larceny, atau fraudulent disbursement, dan (2) penyalahgunaan non-kas (non-
cash missapropriation) yang dapat dilakukan dalam bentuk penyalahgunaan (misuse) atau
pencurian (larceny) terhadap persediaan dan aset-aset lainnya.
3. Kecurangan Laporan Keuangan (Fraudulent Financial Statement)
Kecurangan laporan keuangan (fraudulent financial statement) dapat dilakukan melalui
beberapa cara, yaitu dengan (1) mencatat pendapatanpendapatan fiktif (fictitious
revenues), (2) mencatat pendapatan (revenue) dan/atau beban (expenses) dalam periode
yang tidak tepat, (3) menyembunyikan kewajiban dan beban (concealed liabilities and
expenses) yang bertujuan untuk mengecilkan jumlah kewajiban dan beban agar perusahaan
tampak lebih menguntungkan, (4) menghilangkan informasi atau mencantumkan informasi
yang salah secara sengaja dari catatan atas laporan keuangan (improper disclosure), atau
(5) menilai aset dengan tidak tepat (improper asset valuation). Statements on Auditing
Standards No.99 AU section 316 menyebutkan bahwa tiga kondisi yang secara umum
menyebabkan kecurangan (fraud) terjadi, yaitu: (1) adanya dorongan atau tekanan
(incentive or pressure) yang menjadi motivasi bagi pelaku kecurangan (fraud) untuk
melakukan kecurangan (fraud), (2) adanya peluang atau kesempatan (opportunity) yang
mendukung pelaku untuk melakukan kecurangan (fraud), dan (3) adanya rasionalisasi
(razionalization), yaitu pembenaran terhadap perilaku untuk berbuat kecurangan oleh
pihak-pihak yang melakukan tindakan kecurangan tersebut.

C. KONSEP TRIANGLE FRAUD


Banyak pakar yang mengemukakan mengenai konsep penyebab kecurangan, salah satu
konsep penyebab kecurangan yang saat ini sudah digunakan secara luas dalam praktik Akuntan
Publik yaitu konsep segitiga kecurangan. Sedangkan berdasarkan teori segitiga kecurangan
merupakan teori yang harus dimasukkan ke dalam rencana audit kecurangan. Teori ini menyatakan
bahwa kecurangan terjadi karena adanya tiga elemen seperti tekanan, kesempatan, dan

6
pembenaran. Tiga elemen kecurangan hidup bersama pada tingkat yang berbeda di dalam
organisasi dan mempengaruhi setiap individu secara berbeda (Karyono dalam Suciati, 2016).
Menurut Donald R. Cressey (1953) dalam Tuanakotta (2010), skema segitiga kecurangan terdiri
dari tekanan (pressure), kesempatan (perceived opportunity), dan juga pembenaran
(rationalization) gambaran dari teori Fraud Triangle dapat dilihat pada gambar berikut :

PERCEIVED
OPPORTUNITY

MenurutFRAUDDonald
R. Cressey
(1953) dalam
Tuanakotta
PRESSURE (2010), skema RATIONALIZATION
segitiga
kecurangan
terdiri dari
Sudut pertama dari segitiga itu diberi judul elemen
tekanan tekanan (pressure) yang merupakan perceived
non-shareable financial need. Sudut keduanya (pressure),
elemen kesempatan (perceived opportunity).
kesempatan
Sudut ketiga, pembenaran (rationalization). (perceived
opportunity),
1. Elemen Tekanan (Pressure/ incentive)dan juga
Elemen tekanan (pressure) adalahpembenaran tekanan atau dorongan orang untuk melakukan
(rationalization)
kecurangan. Dalam hal keuangan, gambaran
misalnya dari penggelapan uang perusahaan yang bermula
teori Fraud
dari suatu tekanan yang menghimpit, maka
Triangle orang yang melakukan hal tersebut sedang
dapat
mempunyai kebutuhkan keuangan yang dilihatmendesak,
pada yang tidak dapat diceritakan kepada
Gambar 2.1.
orang lain. Konsep yang penting diMenurut
sini adalah tekanan yang menghimpit hidupnya (berupa
Donald
R. Cressey
kebutuhan akan uang), padahal ia tidak bisa berbagi dengan oranglain. Sedangkan tekanan
(1953) dalam
dalam hal non keuangan juga dapat Tuanakotta
mendorong seseorang untuk melakukan fraud,
(2010), skema
misalnya tindakan untuk menutupi kinerja segitigayang buruk karena tuntutan pekerjaan untuk
mendapatkan hasil yang baik (Zimbelman kecurangan
dan Albrecht dalam Suciati, 2016).
terdiri dari
2. Tekanan Kesempatan (Perceived Opportunity) tekanan
(pressure),
Elemen kesempatan (perceived opportunity)
kesempatanadalah peluang memungkinkan terjadinya
[Link] Donald R. Cressey (perceived
dalam Tuanakotta (2010), ada dua persepsi
opportunity),
dan juga
pembenaran
(rationalization) 7
gambaran dari
teori Fraud
Triangle dapat
tentang peluang ini. Pertama, general information, yang merupakan pengetahuan bahwa
kedudukan yang mengandung bahwa kedudukan yang mengandung trust atau kepercayaan,
dapat dilanggar tanpa konsekuensi. Pengetahuan ini diperoleh dari apa yang ia dengar atau
lihat, misalnya pengalaman orang lain melakukan fraud dan tidak ketahuan atau tidak
dihukum atau terkena sanksi. Kedua, technical skill atau keahliah/ keterampilan yang
dibutuhkan untuk melaksanakan kejahatan tersebut. Ini biasanya keahlian atau
keterampilan yang dipunyai orang itu dan yang menyebabkan ia mendapat kedudukan
tersebut. Dari ketiga elemen dalam fraud triangle, kesempatan memiliki kontrol yang posisi
paling atas. Organisasi perlu membangun sebuah proses, prosedur dan kontrol yang
membuat karyawan tidak dapat melakukan kecurangan dan yang efektif mendeteksi
aktivitas kecurangan jika hal itu terjadi (Zimbelman dan Albrecht dalam Suciati, 2016)
3. Elemen Pembenaran (Rationalization)
Elemen pembenaran (rationalization) menjadi elemen penting dalam terjadinya
kecurangan, dimana pelaku mencari pembenaran atas perbuatannya. Rasionalisasi
merupakan bagian dari fraud triangle yang paling sulit diukur (Zimbelman dan Albrecht
dalam Suciati, 2016). Mencari pembenaran sebenarnya merupakan bagian yang harus ada
dari kejahatan itu sendiri, bahkan merupakan bagian dari motivasi untuk melakukan
kejahatan. Rationalization diperlukan agar si pelaku dapat mencerna perilakunya yang
melawan hukum untuk tetap mempertahankan jati dirinya sebagai orang yang dipercaya.
Setelah kejahatan dilakukan, rationalization ini ditinggalkan, karena tidak diperlukan lagi.

D. CONTOH KASUS FRAUD DI INDONESIA


Salah satu kasus fraud yang terjadi di Indonesia adalah kasus yang dialami oleh PT
Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Pada tanggal 28 Juni 2019, PT. Garuda Indonesia (Persero)
Tbk resmi dinyatakan bersalah dan dikenakan sanksi oleh beberapa lembaga seperti
Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bursa Efek Indonesia (BEI) atas
kecurangan pengakuan pendapatan pada laporan keuangan di tahun 2018. Pada 31 Oktober
2018, Manajemen Garuda dan PT. Mahata Aero Teknologi (Mahata) mengadakan perjanjian
kerja sama yang telah diamandemen, terakhir dengan amandemen II tanggal 26 Desember
2018, mengenai penyediaan layanan konektivitas dalam penerbangan dan hiburan dalam
pesawat dan manajemen konten. Perjanjian tersebut berlaku selama 15 tahun. Berdasarkan

8
catatan laporan keuangan nomor 47 huruf e menjelaskan bahwa Mahata akan melakukan dan
menanggung seluruh biaya penyediaan, pelaksanaan, pemasangan, pengoperasian, perawatan
dan pembongkaran dan pemeliharaan termasuk dalam hal terdapat kerusakan, mengganti
dan/atau memperbaiki peralatan layanan konektivitas dalam penerbangan dan hiburan dalam
pesawat dan manajemen konten. Garuda mengakui penghasilan dari perjanjiannya dengan
Mahata sebagai suatu penghasilan dari kompensasi atas Pemberian hak oleh Garuda ke
Mahata. Manajemen Garuda mengakui sekaligus pendapatan perjanjian tersebut sebesar USD
239.94 juta dengan USD 28 juta diantaranya merupakan bagi hasil yang didapat dari PT. Sri
Wijaya Air. Padahal perjanjian belum berakhir dan diketahui bahwa hingga tahun buku 2018
berakhir, tidak ada satu pembayaran yang telah dilakukan oleh pihak Mahata meskipun telah
terpasang satu unit alat di Citilink. Selain itu dalam perjanjian Mahata yang ditandatangani
pada 31 Oktober 2018 tidak tercantum term of payment yang jelas dan belum ditentukan juga
secara pasti cara pembayarannya dan jaminan dari perjanjian tersebut. Mahata hanya
memberikan surat pernyataan komitmen pembayaran kompensasi sesuai dengan paragraf
terakhir halaman satu dari surat Mahata 20 Maret 2019: “Skema dan ketentuan pembayaran
ini tetap akan tunduk pada ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam perjanjian. Ketentuan
dan skema pembayaran sebagaimana yang disampaikan dalam surat ini dan perjanjian dapat
berubah dengan mengacu kepada kemampuan finansial Mahata. Dari pengakuan pendapatan
ini, PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk terbukti melakukan pelanggaran Peraturan OJK
Nomor 29/POJK.04/2016 tentang Laporan Tahunan Emiten atau Perusahaan Publik dan
diberikan Sanksi Administratif berupa denda sebesar Rp. 100 juta. Selain itu, seluruh anggota
Direksi PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. juga dikenakan Sanksi Administratif berupa
masing-masing Rp. 100 juta karena melanggar Peraturan Bapepam Nomor VIII.G.11 tentang
Tanggung Jawab Direksi atas Laporan Keuangan. Sanksi Administratif juga dikenakan secara
tanggung renteng sebesar Rp. 100 juta kepada seluruh anggota Direksi dan Dewan Komisaris
PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. yang menandatangani Laporan Tahunan PT. Garuda
Indonesia (Persero) Tbk. periode tahun 2018 karena dinyatakan melanggar Peraturan OJK
Nomor 29/POJK.004/2016 tentang Laporan Tahunan Emiten atau Perusahaan Publik.

9
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Fraud tidak hanya terjadi dalam batasan satu kelompok saja, tetapi juga telah mengakar
dan menjalar sehingga sangat sulit untuk dikendalikan. Selain itu, fraud juga merupakan suatu
tindakan yang tersembunyi sehingga tidak mudah untuk diungkapkan. Hal ini dijelaskan dalam
fenomena iceberg di mana fraud yang terjadi pada umumnya meskipun terungkap, yang terlihat di
permukaan hanya sebagian kecil saja, selebihnya masih tersembunyi di balik permukaan tersebut.
setiap jenis fraud yang terlihat kecil sebenarnya merupakan fraud besar yang sedang dalam proses
tumbuh.

10
DAFTAR PUSTAKA

[Link]
[Link]
[Link]
[Link]

11

Anda mungkin juga menyukai