REFERAT
ILMU KEDOKTERAN FISIK DAN REHABILITASI
TRIGGER FINGER
Pembimbing :
dr. Lena Wijayaningrum, [Link]
Penyusun :
Dyah Nanda Pratiwi
20210420051
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2022
LEMBAR PENGESAHAN
Referat Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dengan Judul :
Trigger Finger
Yang disusun oleh :
Dyah Nanda Pratiwi
Disetujui dan diterima sebagai salah satu tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu
Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
RSU Anwar Medika
Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya
Surabaya, 3 Agustus 2022
Pembimbing,
dr. Lena Wijayaningrum, [Link]
i
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN...............................................................................................1
BAB 1 PENDAHULUAN..................................................................................................1
BAB 2 Tinjauan Pustaka...................................................................................................2
2.1.1 Anatomi dan Fungsi Sarung Tendon dan Sistem Pulley Fleksor.........................2
2.1.2 Definisi.......................................................................................................................3
2.1.3 Etiologi.......................................................................................................................4
2.1.4 Epidemiologi..............................................................................................................4
2.1.5 Patofisiologi...............................................................................................................4
2.1.6 Tanda dan Gejala......................................................................................................5
2.1.7 Klasifikasi..................................................................................................................6
2.1.8 Cara Diagnosis..........................................................................................................6
2.1.9 Tatalaksana...............................................................................................................6
KESIMPULAN..................................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................9
ii
2.1
PENDAHULUAN
2.2 Latar Belakang
Trigger finger (stenosing flexor tenosynovitis) adalah kelainan yang umum terjadi
pada jari tangan, yang disebabkan oleh inflamasi sehingga terjadi penebalan selubung
tendon fleksor dan penyempitan pada celah selubung retinakulum. Hal ini menyebabkan
nyeri, bunyi klik (clicking sound) saat jari fleksi dan ekstensi, serta kehilangan gerak atau
terkunci (locking) pada jari yang terkena. Trigger finger pada umumnya banyak terjadi
pada wanita daripada pria dan cenderung kebanyakan terjadi pada orang yang berusia
antara 40 sampai 60 tahun. Pada wanita aktivitas rumah tangga seperti memasak,
mencuci, menggunting rumput, atau menggendong bayi, dan aktivitas ditempat kerja juga
sering disebut sebagai pemicu penyakit ini. Hal ini, tergantung akifitas yang dilakukan.
Para pemain musik, terutama piano, terompet, dan gitar lebih potensial mengalaminya.
Umumya keluhan muncul setelah mereka melakukan latihan keras.
Gangguan nyeri pada kasus trigger finger membutuhkan suatu proses pengkajian
yang dimulai dari assesment, diagnosa, perencanaan, tindakan, intervensi dan reevaluasi
terhadap hasil tindakan fisioterapi. Beberapa modalitas fisioterapi yang dapat digunakan
dalam mengurangi nyeri dan meningkatkan kekuatan otot seperti: US underwater, TENS,
MWD, infrared, dan teknik manipulasi/terapi latihan. Komplikasi penanganan trigger
finger jarang terjadi tetapi dapat timbul (Bafus and Froimson, 2012)(Makkouk et al.,
2008).
1
2.3
TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Anatomi
2.5 Anatomi dan Fungsi Sarung Tendon dan Sistem Pulley Fleksor
2
Sarung tendon fleksor terdiri dari komponen sinovial dan retinakular. Komponen
sinovial adalah suatu tabung yang tertutup pada kedua ujungnya, dan terjadi penyatuan
antara lapisan visceral dan parietal. Pada jari telunjuk, tengah dan jari manis, komponen
sinovial dari sarung dimulai pada leher metakarpal dan memanjang sampai sejauh sendi
DIP. Sarung sinovial dari ibu jari dan kelingking memanjang sampai ke proksimal
pergelangan tangan. Sarung sinovial berfungsi sebagai sumber nutrisi untuk tendon yang
diselubunginya. Dari sarung ini disekresi cairan sinovial yang menurunkan friksi antara
tendon fleksor digitorum superfisialis dan profundus. Tendon yang cedera di dalam
sarung digiti dapat sembuh dengan adhesi pada sarung digiti atau tendon didekatnya.
Pemasangan splint dan latihan biasanya segera dimulai setelah pembedahan untuk
memfasilitasi pergeseran yang bebas (lancar) pada tendon-tendon di dalam sarung
tersebut. Komponen sinovial sarung ditindih dengan satu seri pulley dengan berbagai
konfigurasi; transversa, annular dan krusiform. Kesemua pulley ini mewakili komponen
retinakular dari sarung fleksor. Palmar aponeurosis (PA) terbentuk dari serabut transversa
palmar aponeurosis, dideskripsikan oleh Manske dan Lesker (1983). Pulley krusiform;
C1, C2 dan C3, merupakan pulley yang tipis dan lentur sehingga memungkinkan gerak
fleksi penuh. Pada jari-jari terdapat lima pulley annular (berbentuk seperti cincin) yang
kaku; A1, A2, A3, A4 dan A5. Ibu jari memiliki satu pulley oblik dan dua pulley annular.
Keseluruhan sistem pulley ini menjaga agar tendon tetap berada dekat dengan falang dan
sendi. Hal ini akan memudahkan gerakan sendi dan mengurangi ekskursi tendon melalui
suatu lengan gaya yang pendek. Secara biomekanika, pulley terpenting adalah pulley A2
dan A4. Tanpa kedua pulley ini akan terjadi bowstringing tendon dan peningkatan lengan
gaya. Hal ini akan menyebabkan hilangnya kemampuan gerakan jari. Pulley fleksor,
palmar aponeurosis dan kulit memiliki fungsi yang serupa untuk mempertahankan tendon
3
di bawahnya agar berada pada jarak yang tetap dari sendi. Tanpa berjalannya fungsi ini,
kekuatan yang diproduksi oleh kontraksi otot ekstrinsik fleksor jari akan menarik tendon
menjauhi aksis rotasi pada sendi (Moore_s essential clinical anatomy 6th Ed., by A. M. R.
Agur_ II Arthur F. Dalley_ Keith L. Moore [Link], 2016).
gambar : Perpanjangan ekstensor
Gambar : sistem pulley
2.6 Trigger Finger
2.7 Definisi
Berdasarkan namanya trigger finger merupakan munculnya rasa nyeri atau suara
“klik” akibat fleksi dan ekstensi pada jari yang terlibat. Hal ini diakibatkan karena adanya
perbedaan diameter dari tendon fleksor dengan selubung retinakular akibat terjadinya
penebalan serta perlekatan selubung. Trigger finger sering disebut dengan stenosing
tenosynovitis, secara histologi memperlihatkan bahwa terdapat perubahan akibat
4
inflamatori patologi secara lokalisasi spesifik pada selubung tendon bukan pada
tenosynovium (Makkouk et al., 2008).
2.8 Etiologi
Trigger finger diakibatkan oleh beberapa penyebab bisa karena pergerakan jari
berulang terus-menerus, dan kemungkinan adanya trauma lokal, dengan adanya stres
serta penyakit degeneratif akan semakin meningkatkan jumlah terjadinya trigger finger
pada tangan yang dominan. Telah dilaporkan terjadinya trigger finger akibat pekerjaan
yang berlebihan seperti mengenggam serta fleksi tangan. Seperti menggunakan gunting
atau peralatan yang menggunakan tangan. Pada realitanya penyebab trigger finger banyak
diakibatkan oleh berbagai macam faktor dan dipengaruhi oleh berbagai macam faktor
pada setiap individunya(Makkouk et al., 2008).
2.9 Epidemiologi
Secara umum trigger finger banyak terjadi pada dekade ke lima hingga enak
kehidupan dan 6 kali lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan laki-laki. Resiko
terjadinya trigger finger dalam hidup terus mengalami peningkatan antara 2 dan 3%, dan
mengalami peningkatan hingga 10% pada penderita diabetik (Makkouk et al., 2008).
2.10 Patofisiologi
Trigger finger atau stenosing tenosynovitis terdapat pada pasien yang memiliki
gejala triggering pada jari-jari atau ibu jari. Hal ini disebabkan karena ketidakseimbangan
antara volume selubung retinakulum dengan isinya. Pada saat tendon fleksor bergerak ke
arah selaput yang stenosis, maka tendon akan terperangkap, menyebabkan jari-jari tidak
mampu untuk fleksi atau ekstensi. Pada kasus yang lebih berat, jari dapat terkunci pada
posisi fleksi sehingga memerlukan manipulasi pasif pada jari untuk menjadi ekstensi.
Pulley A-1 pada metakarpal merupakan pulley yang paling sering terkena. Hal ini
disebabkan karena lokasinya, pulley A-1 menerima tekanan dan gesekan terbesar saat
mengenggam maupun saat gerakan normal. Gesekan berulang akibat gerakan tendon
fleksor pada pulley A-1 akan menyebabkan proses inflamasi dan hipertrofi (penebalan)
baik pada tendon fleksor maupun selubung retinakulum. Bahkan gesekan yang terus
menerus dapat menyebabkan timbulnya nodul pada permukaan tendon. Hal ini akan
mengakibatkan penyempitan pada celah selubung retinakulum dan secara progresif akan
5
membatasi gerakan tendon fleksor. Bila kondisi ini berlanjut maka jari yang terkena akan
kehilangan gerak atau terkunci (locking) (Wainberg, Bengtson and Silver, 2018).
Gambar : patofisiologi trigger finger
2.11 Tanda dan Gejala
Gejala klasik trigger finger berupa jari menekuk dan terkunci. Awalnya pasien akan
mengeluh jari-jari berbunyi tanpa rasa sakit saat digerakkan dan secara progresif akan
menimbulkan nyeri yang terlokalisir mulai dari telapak tangan hingga sendi-sendi
metacarpophalangeal (MCP) atau proksimal interphalangeal (PIP). Pasien akan mengeluh
kekakuan pada sendi MCP dan PIP sampai tidak dapat melakukan fleksi dan ekstensi.
Gejala ini dapat timbul saat di pagi hari dan akan berangsur-angsur berkurang di
siang hari. Riwayat trauma dan keadaan komorbid pasien seperti rheumatoid arthritis,
diabetes melitus, gout, de Quervain’s tenosynovitis, dan harus diketahui sebelumnya
sebab hal ini berkaitan dengan timbulnya trigger finger.
Pada fase akut keluhan dapat berupa nyeri dan bengkak pada selubung fleksor dan
nyeri saat menggerakkan jari. Pada fase ini triggering tidak terlihat, sehingga trigger
finger harus dibedakan dengan adanya infeksi atau trauma. Bila dilakukan injeksi
lidokain ke selubung fleksor dan nyeri berkurang serta jari dapat digerakkan secara aktif
maupun pasif, maka diagnosis trigger fingger dapat ditegakkan.
Pada pemeriksaan dapat ditemukan adanya nodul pada MCP akibat edema
intratendinosus. Nyeri pada palmar base jari yang terlibat disertai adanya krepitasi pada
palpasi merupakan tanda awal tenosynovitis. Pasien biasanya mengalami kesulitan untuk
mengekstensikan jari-jari setelah mengepal (fleksi). Dan pada keadaan yang lanjut,
6
pasien memerlukan bantuan untuk mengekstensikan jari-jari. Hal ini menimbulkan
keenganan untuk menggerakkan jari secara penuh disebabkan rasa nyeri atau terkunci,
sehingga menyebabkan kontraktur sekunder di daerah persendian PIP. Yang paling sering
terkena adalah jari manis dan ibu jari. Jika jari telunjuk (index) dan jari kelingking yang
terkena, biasanya asimptomatis, pada umumnya seorang pasien dapat menderita multiple
trigger finger (Wainberg, Bengtson and Silver, 2018).
2.12 Klasifikasi
1. Pretriggering : nyeri, riwayat catching tanpa bukti pada pemeriksaan fisik, nyeri pada
pulley A-1.
2. Aktif : terdapat catching, tetapi pasien dapat mengekstensi jari secara aktif.
3. Pasif : terdapat locking, memerlukan pasif ekstensi atau tidak dapat fleksi aktif
4. Terdapat kontraktur fleksi pada sendi proximal interphalangeal (PIP).
2.13 Cara Diagnosis
Terdapat gejala klasik berupa popping dan locking pada jari yang terlibat dapat
digunakan sebagai penentu diagnosis trigger finger. Pada gejala yang bersifat akut dapat
ditemukan adanya nyeri dan pembengkakan disekitar selubung fleksor yang
mengakibatkan keterbatasan gerakan pada jari. Pada kasus seperti ini, gejala klasik
berupa popping tidak terlihat dan penegakan diagnosis trigger finger harus dibedakan
dengan adanya infeksi atau beberapa luka traumatik lainnya. Apabila memungkinkan
penegakan diagnosis dapat dikonfirmasi dengan injeksi lidokain ke selubung fleksor,
yang akan meredakan rasa nyeri yang berkaitan dengan trigger finger. Tidak ada
ketentuan pasti untuk melakukan pemeriksaan imaging dalam menegakkan diagnosis,
pertimbangan penggunaan x-ray tidak dibutuhkan pada pasien tanpa adanya riwayat
penyakit inflamasi atau trauma (Makkouk et al., 2008).
2.14 Tatalaksana
Penatalaksanaan penyakit ini dapat secara konservatif maupun operatif.
Penatalaksanaan konservatif antara lain dengan :
- Penyesuaian aktivitas dan obat anti inflamasi
- Splinting
- Injeksi obat anestesi lokal
- Injeksi kortikosteroid
Sekitar 85% kasus trigger finger dapat disembuhkan dengan injeksi kortikosteroid
7
dan pemberian obat anti inflamasi non steroid, bila belum terdapat nodul dan tidak
terdapat kondisi komorbid yang lain seperti diabetes mellitus dan rheumatoid arthritis.
Sedangkan penatalaksanaan secara bedah yaitu dengan insisi pulley A-1, dapat dilakukan
dengan teknik terbuka atau perkutan. Penatalaksanaan operatif dilakukan bila terapi
konservatif gagal (Wainberg, Bengtson and Silver, 2018).
Selain itu untuk menangani permasalahan yang ada pada kondisi trigger finger
banyak modalitas fisioterapi yang dapat digunakan, seperti US, MWD, TENS, manual
terapi, paraffin bath, dan lain-lain. Tetapi tidak semua modalitas tersebut efektif terhadap
masalah yang terjadi. Oleh sebab itu fisioterapi perlu mengetahui efektifitas dari terapi
yang digunakan serta tujuan yang akan dicapai (Santoso and Prasetyo, 2018).
8
KESIMPULAN
Trigger finger adalah problem mekanik yang diakibatkan
ketidakseimbangan antara besarnya ukuran selubung tendon fleksor dengan pulley
A-1. Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinis khas pada pemeriksaan fisik.
Terapi yang tepat diperoleh berdasarkan pengetahuan lokasi dan patofisiologi
ketidakseimbangan tersebut dengan cara melonggarkan pulley A-1. Penyesuaian
aktivitas, obat-obatan anti inflamasi, splinting, injeksi anestesi lokal, injeksi
kortikosteroid, dan percutaneous serta open A-1 pulley release berperan dalam
terapi trigger finger. Pembedahan diindikasikan pada rekurensi, kegagalan terapi
konservatif dan lama penyakit > 6 bulan. Pembedahan terbukti lebih efektif
dengan tingkat rekurensi dan komplikasi yang lebih rendah. Pemahaman
mengenai kondisi komorbid dan biomekanik dari apparatus fleksor jari akan
membantu perawatan pasien dan mencegah komplikasi yang mungkin
timbul(Wainberg, Bengtson and Silver, 2018).
9
DAFTAR PUSTAKA
10