Analisis Metode GMM untuk Data Panel Dinamis
Analisis Metode GMM untuk Data Panel Dinamis
DINAMIS
1
Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, FEM-IPB
Model Data Panel
Ada dua jenis prosedur estimasi GMM yang digunakan oleh penelitian
terdahulu dalam mengestimasi model autoregresi linier yaitu :
yit − yi ,t −1 = ( yi ,t −1 − yi ,t −2 ) − (vit − vi ,t −1 )
……………(4.2)
dan perlu diketahui bahwa (vit − vi ,t −1 ) adalah MA(1) dengan unit
root. Untuk t=3, periode pertama yang kita amati, kita memiliki
Dalam hal ini, yit instrumen yang valid, karena berkorelasi dengan
( yi 2 − yi1 ) dan tidak dengan (vit − vi ,t −1 ) selama vit tidak berkorelasi
serial. Untuk t = 4 periode kedua yang kita amati menjadi
yi 4 − yi 3 = ( yi 3 − yi 2 ) + (vi 4 − vi 3 ) ……………(4.4)
Dalam kasus ini, yi 2 begitu juga dengan yi1 merupakan instrumen
yang valid untuk ( yi 3 − yi 2 ) , karena yi 2 dan yi1 tidak berkorelasi
dengan (vi 4 − vi 3 ) . Prosedur instrumental variable masih belum ada
untuk differenced error term pada persamaan (4.2), dimana
E(vi vi) = v2 ( I N G) ……………(4.5)
2 −1 0 0 0
0
−1 2 −1 0 0 0
G= ……………(4.6)
0 0 0 −1 2 −1
0 0 0 0 −1 2
adalah (T-2) x (T-2), karena vi adalah MA(1) dengan UNIT ROOT.
Didefinisikan sebagai
yi 0
yi1 , yi 2
Wi = ………(4.7)
0 yi1 ,..., yi ,T − 2
Kemudian, matriks instrumen adalah W = W1,...,WN dan persamaan
instrumen yang dideskripsikan sebelumnya dicirikan oleh E (Wivi ) = 0 .
Dengan mengalikan ulang persamaan difference (4.2) dalam bentuk
vektor dengan Wi , kita akan memperoleh
−1
ˆ
v̂ar( 2 ) = ( y−1 ) WVN W (y−1 )
ˆ −1
Perhatikan bahwa ˆ1 dan ˆ2 adalah asymptotically equivalent jika
vit adalah IID(0, v2 ).
First Difference GMM (FD-GMM) lanjutan
yi 2 = ( −1) yi ,1 + ui + vi 2
Blundell and Bond System GMM (SYS-GMM) Estimator
= → 0, dimana → 1
u
+ c
2
u
2
u
………(4.14)
The Ahn-Schmidt Moment Conditions
Ahn dan Schmidt (1995) menunjukkan bahwa dibawah asumsi standar yang
digunakan dalam model data panel dinamis, ada beberapa tambahan
conditional moment yang diabaikan oleh penduga peubah instrumen yang
disarankan oleh Anderson dan Hsiao (1981). Holtz-Eakin,et, al. (1988) dan
Arrelano dan Bond (1991).
Dibawah asumsi sebelumnya, maka akan diperoleh T(T-1)/2
moment conditions :
Oleh karena itu 4.15 dan 4.16 mengimplikasikan satu set T(T-1)+(T-2)
moment conditions yang mewakili seluruh kondisi bersyarat yang
diimplikasikan oleh asumsi bahwa vit adalah satu sama lain tidak berkorelasi
diantara mereka sendiri dan dengan i dan yi 0 .
L(t ) = L(0)e nt
A(t ) = A(0)e gt
dimana n adalah tingkat pertumbuhan dari angkatan kerja dan g adalah
tingkat pertumbuhan dari kemajuan teknologi. L(0) adalah kondisi semula
dari angkatan kerja dan A(0) adalah kondisi semula dari teknologi.
Y (t )
Jika yˆt = = output per effective dari unit tenaga kerja
A(t ) L(t )
K (t )
Kˆ t = = capital per effective dari unit tenaga kerja
A(t ) L(t )
maka
ˆ ˆ
k (t )sk (t ) − kˆ(t )(n + g + )………(4.22)
ˆ s 1−
K (t ) =
*
n + g +
Dengan mensubtitusikan persamaan (4.23) ke dalam fungsi produksi, maka
the steady state output per effective unit tenaga kerja dapat diturunkan.
Dalam bentuk logaritma natural (ln) dapat ditulis sbb:
ln yˆ = ln s − ln(n + g + )
*
1−
Tingkat konvergensi ( ) adalah tingkat dimana output per effective unit
tenaga kerja mendekati nilai steady state nya, diberikan oleh
d ln yˆ (t )
= ln( yˆ * ) − ln yˆ (t )
dt
Y (t ) Y (t )
ln yˆ (t ) = ln = ln gt
A(t ) L (t ) A(t ) e L (t )
atau
Y (t )
ln y (t ) = ln − ln A(0) − gt
L(t )
Subtitusikan ln y (t ) ke dalam persamaan (4.26) dan kurangkan dengan
untuk kedua sisi maka akan diperoleh
ln( − 1)
=
Persamaan (4.28) dapat ditulis sebagai model autoregressive dari model
pertumbuhan menjadi
ln y (t2 ) = ln yi ,t −1 + 1 ln si ,t −1 + 2 ln(n + g + )i ,t + i + vi ,t
dimana
xit = (ln( sit ), ln(nit , g + )), = ((1 − ) , −(1 − ) ) dan = 1 + =
1− 1−
Persamaan akhir untuk (4.31) dapat ditulis sbb :
Estimasi dari koefisien berada di atas efek tetap, dan dibawah estimasi
OLS yang sesuai: UNBIASED ESTIMATOR
Implied NA
R2 .9998
Adj-R2 .9997
LM het-test .6268 [.429]
Table 2. Fixed effects Estimation of
Convergence Process in Indonesia
Implied 12.59
R2 .9853
Adj-R2 .9845
LM het-test .0493 [.824]
Durbin-Watson 2.0140 [.509,.617]
Table 3. Random effects Estimation of
Convergence Process in Indonesia
Implied 62.55
R2 .9833
Adj-R2 .9832
LM het-test .1187 [.730]
Durbin-Watson .8617 [.043,.074]
Hausman test H0:RE vs. FE: CHISQ(3) = 48.307, P-value = [.0000]
Table 4. FD-GMM Estimation of
Convergence Process in Indonesia
Implied 56.28
LM Test:
Order 1 -5.3410, Two-tailed area : .0000
Order 2 1.7267, Two-tailed area : .0842
Sargan test 199.2536, Upper tail area : .0013
Table 5. SYS-GMM Estimation of
Convergence Process in Indonesia
Implied .29
LM Test:
Order 1 -3.1897, Two-tailed area : .0014
Order 2 .7618, Two-tailed area : .4462
Sargan test 109.9013, Upper tail area : .0983
UJI UNIT ROOT
PADA DATA PANEL
UJI UNIT ROOT
PADA DATA PANEL
• Levin, Lin dan Chu (LLC) : uji UNIT ROOT bagi masing-masing
individu (cross-section) mempunyai keterbatasan dalam
hipotesis alternatif. Hal ini disebabkan secara persisten
terjadi deviasi yang cukup besar terhadap keseimbangannya,
terutama terjadi pada ukuran sample yang kecil.
• Oleh karena itu, disarankan suatu uji UNIT ROOT bagi DATA
PANEL yang lebih powerful daripada hanya uji pada masing-
masing cross-sectionnya.
• H0 : masing-masing cross-section mempunyai UNIT ROOT.
Uji LLC
• Uji LLC dinyatakan p
dalam persamaan berikut:
yit = yi ,t −1 + iL yit − L + mi d mt + it
i
L =1
• m = 1,2,3
• Karena ordo lag tidak diketahui, maka perlu dilakukan
tiga tahap prosedur uji LLC:
1. Lakukan uji Augmented Dickey-Fuller (ADF) masing-
masing secara terpisah
2. Lakukan estimasi long-run standard deviation
1T k
1 T
melalui persamaan 2
yi =
T −1
t =2
y2
+
it 2
L =1
T −1
KL y y
t = 2+ L
it i .t − L
eit = i ,t + it
Uji LLC
• Adjusted t-statistic:
t − NTS ˆ −2
ˆ (
ˆ ) *
t* = N mT
ˆ mT
*
• Uji LLC sangatlah terbatas dimana dalam uji ini diperlukan yang
homogen sepanjang cross-section (i).
• Oleh karena itu, IPS mempertimbangkan koefisien yang heterogen dan
mengusulkan alternatif prosedur pengujian berdasarkan rata-rata uji
UNIT ROOT masing-masing individu dengan mengggunakan uji ADF.
• Hipotesis nol menyatakan bahwa masing-masing series dalam panel
mengandung UNIT ROOT (untuk setiap i) dan hipotesis alternatifnya
bahwa beberapa (tetapi tidak semua) series individu yang mempunyai
UNIT ROOT
Uji IPS
N
1
t =
N
t
i =1
i
t
yit = rio + i t + uis + it =rio + i t + vit
s =1
• Hipotesis stasioner adalah H0 : u,2 = 0 dimana
vit = it
• LM statistic dinyatakan dalam:
1 N 1 T 2 2
LM 1 = 2 Sit / ˆ
N i =1 T t =1