Hubungan Usia dan Nyeri Abdomen pada Apendisitis
Hubungan Usia dan Nyeri Abdomen pada Apendisitis
Hubungan antara Usia, Lama Keluhan Nyeri Abdomen, Nilai Leukosit, dan
Rasio Neutrofil Limfosit dengan Kejadian Apendisitis Akut Perforasi
di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda
Abstrak
Apendisitis akut merupakan infeksi yang terjadi pada apendiks vermiformis atau biasa dikenal di
masyarakat dengan peradangan usus buntu. Di dunia insiden kejadian apendisitis cukup tinggi dan
penegakkan diagnosisnya masih menjadi tantangan dalam ilmu bedah. Keterlambatan penegakkan
diagnosis berimplikasi pada tatalaksana yang tidak optimal dan dapat menimbulkan komplikasi
berupa perforasi. Perforasi apendiks vermiformis akan mengakibatkan peritonitis dan dapat
menyebabkan sepsis yang tidak terkontrol serta abses intraabdomen. Usia dan keterlambatan
diagnosis merupakan faktor yang berperan dalam terjadinya perforasi apendiks vermiformis.
Semakin lama keluhan nyeri abdomen yang dialami pada pasien apendisitis akut, semakin tinggi pula
kemungkinan terjadinya perforasi. Pemeriksaan jumlah leukosit dan rasio neutrofil limfosit
merupakan uji laboratorium yang dapat membantu menegakkan diagnosis apendisitis akut. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara usia, lama keluhan nyeri abdomen, nilai
leukosit, dan rasio neutrofil limfosit dengan kejadian apendisitis akut perforasi. Desain penelitian ini
menggunakan studi potong lintang dengan metode analitik observasional. Data diambil dari rekam
medik pasien dengan diagnosis apendisitis akut yang mendapatkan tindakan apendektomi di Rumah
Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie Samarinda periode 2018-2019 menggunakan teknik
purposive sampling dan didapatkan 105 sampel penelitian. Analisis bivariat dilakukan menggunakan
uji chi-square dan uji fisher’s exact jika nilai harapan kurang dari 5. Hasil analisis diperoleh adanya
hubungan bermakna antara usia (p=0,015), lama keluhan nyeri abdomen (p=0,000), nilai leukosit
(p=0,049), rasio neutrofil limfosit (0,000) dengan kejadian apendisitis akut perforasi.
Kata Kunci: Apendisitis akut perforasi, usia, lama keluhan nyeri abdomen, nilai leukosit, rasio
neutrofil limfosit
Abstract
Acute appendicitis is an infection that occurs in the appendix vermiformis or commonly known in the
community with inflammation of the appendix. The incidence of appendicitis in the world is quite high
and diagnosis is still a challenge in surgery. Delay in establishing a definite diagnosis of appendicitis
has implications for suboptimal management and can lead to complications in the form of perforation.
Perforation of the appendix vermiformis will result in peritonitis and can cause uncontrolled sepsis
and intra-abdominal abscess. Age and delay in diagnosis are factors that play a role in the occurrence
of perforation of the appendix vermiformis. The longer the complaint of abdominal pain experienced
in acute appendicitis, the higher the possibility of perforation. Leukocyte count and lymphocyte
neutrophil ratio is a laboratory test that can help diagnose acute appendicitis. The purpose of this
study was to determine the relationship between age, duration of abdominal pain, leukocyte value,
and neutrophil lymphocyte ratio with the incidence of acute appendicitis perforation. The design of
this study uses a cross-sectional study with observational analytic methods. Data were taken from the
medical records of patients with a diagnosis of acute appendicitis who received appendectomy at the
Abdul Wahab Sjahranie Samarinda Regional General Hospital for the period 2018-2019 using
purposive sampling technique and obtained 105 research samples. Bivariate analysis was performed
using the chi-square test and fisher test if the expected count less than 5. The analysis results obtained
a significant relationship between age (p=0,015), duration of abdominal pain (p=0,000), leukocyte
value (p=0,049), and neutrophil lymphocyte ratio (p= 0,000) with the incidence of acute appendicitis
perforation.
Keywords: Acute appendicitis perforation, age, duration of abdominal pain, leukocyte value,
neutrophil lymphocyte ratio
folikel limfoid, benda asing, fekalit, atau apendisitis akut yaitu sekitar 10.000-18.000
neoplasma [4]. Penegakkan diagnosis sel/mm3. Jumlah leukosit kurang dari 18.000
apendisitis masih menjadi tantangan dalam sel/mm3 umumnya terjadi pada apendisitis
ilmu bedah. Hal ini dikarenakan pasien yang simpel dan jumlah leukosit yang lebih dari
sangat muda dan tua, dan wanita usia 18.000 sel/mm3 menunjukkan adanya perforasi
reproduktif, kerena memiliki gejala yang tidak [1]. Selain itu terdapat pemeriksaan lainnya
pasti dan kondisi lain yang menyerupai yang dapat membantu mendiagnosis
apendisitis. Apabila tidak ditangani dengan apendisitis yaitu hasil perbandingan nilai
segera, peradangan pada apendiks vermiformis neutrofil dan limfosit, dimana rasio neutrofil
dapat menyebabkan perforasi. Secara limfosit (RNL) sebelum pembedahan dapat
keseluruhan, perforasi ditemukan pada 19,2% membedakan antara apendisitis akut simpel
kasus apendisitis akut. Namun, jumlah ini secara dan apendisitis perforasi [12].
signifikan lebih tinggi pada pasien usia lebih Berdasarkan hal tersebut di atas, maka
muda dari 5 tahun dan lebih tua dari 65 tahun penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
[5]. hubungan antara usia, lama keluhan nyeri
Kesulitan penegakkan diagnosis pasti abdomen, nilai leukosit, dan rasio neutrofil
apendisitis berimplikasi pada tatalaksana yang limfosit dengan kejadian apendisitis akut
tidak optimal dan dapat menimbulkan perforasi di RSUD Abdul Wahab Sjahranie
komplikasi berupa perforasi. Perforasi apendiks Samarinda.
vermiformis akan mengakibatkan peritonitis
purulenta dengan gejala demam tinggi, nyeri 2 Metode Penelitian
makin hebat yang meliputi seluruh abdomen
dan distensi abdomen [6]. Pada orang berusia Penelitian ini merupakan penelitian
lanjut gejalanya seringkali samar dan ada analitik observasional dengan menggunakan
perubahan anatomi apendiks vermiformis pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan
berupa penyempitan lumen, dan di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda
arteriosklerosis, sehingga kebanyakan pasien pada bulan Juni 2020. Penelitian ini
baru dapat didiagnosis setelah perforasi. menggunakan data rekam medik pasien dengan
Sementara itu, insiden tinggi pada anak diagnosis apendisitis akut yang mendapatkan
disebabkan oleh dinding apendiks yang masih tindakan apendektomi di Instalasi Bedah RSUD
tipis. [6,1]. Abdul Wahab Sjahranie Samarinda periode
Penegakkan diagnosis apendisitis akut Januari 2018 hingga Desember 2019.
masih berdasarkan anamnesis, pemeriksaan Pengambilan sampel dilakukan secara
fisik dan uji laboratorium [7]. Salah satu gejala purposive sampling dengan kriteria inklusi
apendisitis akut yaitu migrasi nyeri pada meliputi: (1) pasien dengan diagnosa
abdomen, dari periumbilikus ke abdomen apendisitis akut berdasarkan hasil pemeriksaan
kanan bawah. Lama keluhan nyeri yang dialami oleh dokter spesialis bedah di Instalasi Bedah
pasien apendisitis akut sebelum dilakukan RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda yang
pembedahan terbukti membedakan hasil tercantum dalam rekam medik pasien, (2)
histopatologi [8]. Durasi apendisitis pasien yang menjalani apendektomi oleh dokter
berhubungan dengan risiko perforasi [9]. spesialis bedah di RSUD Abdul Wahab Sjahranie
Perforasi jarang terjadi sebelum 24 jam setelah Samarinda. Sedangkan kriteria eksklusi
awitan, tetapi angkanya dapat setinggi 80% meliputi: (1) pasien tidak lengkap catatan
setelah 48 jam [10]. rekam medik yang sesuai dengan variabel
Pemeriksaan jumlah leukosit merupakan penelitian. Besar sampel yang didapatkan
uji laboratorium yang dapat membantu sebanyak 105 sampel. Penelitian diawali
menegakkan diagnosis apendisitis akut dimana dengan mengumpulkan data pasien dan
ditemukan leukositosis, terutama kasus memastikan pasien termasuk dalam kriteria
komplikasi. Pemeriksaan jumlah leukosit inklusi dan tidak memiliki kriteria eksklusi.
merupakan suatu pemeriksaan yang tersedia di Kemudian, dilanjutkan dengan mendata
semua rumah sakit, cepat dan murah [11]. variabel-variabel penelitian yang diperlukan
Jumlah leukosit mengalami peningkatan pada yang didapat dari rekam medik pasien. Seluruh
data dari penelitian yang telah diperoleh dan Tabel 1 Karakteristik Sampel Berdasarkan Kejadian
dikumpulkan, kemudian diolah dengan Apendisitis Akut
Apendisitis Akut Frekuensi Persentase (%)
menggunakan sistem pengolahan data lalu Apendisitis Akut Perforasi 43 41
dilakukan analisis. Analisis bivariat Apendisitis Akut Tanpa Perforasi 62 59
menggunakan uji statistik Chi-square dengan Total 105 100
Tabel 3 Analisis Hubungan antara Usia dengan Kejadian Apendisitis Akut Perforasi
Apendisitis Akut Total P PR (95% CI)
Apendisitis Akut Apendisitis Akut
Usia
Perforasi Tanpa Perforasi
N % N % N %
Berisiko (<10 atau >49 tahun) 12 66,7 6 33,3 18 100
Tidak Berisiko (10-49 tahun) 31 35,6 56 64,4 87 100 0,015 1,871
Total 43 41 62 59 105 100
Berdasarkan penelitian yang telah dengan nilai p sebesar 0,015 (nilai p<0,05). Nilai
dilakukan, didapatkan hasil bahwa dari 105 PR (Prevalence Ratio) yang diperoleh sebesar
kasus apendisitis akut, kelompok usia yang 1,871 yang menyatakan bahwa pasien
tertinggi adalah kelompok usia 10-49 tahun apendisitis akut usia <10 tahun atau >49 tahun
yaitu sebanyak 87 kasus (82,9%). Dari 105 berisiko 1,871 kali lebih besar mengalami
kasus apendisitis akut, ditemukan kejadian perforasi dibandingkan dengan usia 10-49
apendisitis akut perforasi pada pasien dengan tahun.
usia 10-49 tahun yaitu sebanyak 31 pasien. Dari Penelitian ini sejalan dengan penelitian
18 kasus apendisitis akut di bawah 10 tahun yang dilakukan oleh Putra dan Suryana (2020)
atau di atas 49 tahun, sebanyak 12 kasus yang mendapatkan hasil bahwa usia
(66,7%) yang mengalami perforasi. Sedangkan, berhubungan dengan kejadian apendisitis
dari 87 kasus apendisitis akut berusia 10-49 perforasi, dimana usia kurang dari 10 tahun
tahun sebanyak 31 kasus (35,6%) mengalami atau lebih dari 49 tahun memiliki risiko lebih
perforasi. besar dibandingkan dengan usia 10–49 tahun
Berdasarkan uji statistik didapatkan hasil [13]. Hasil penelitian ini juga serupa dengan
bahwa usia memiliki hubungan yang bermakna penelitian yang dilakukan oleh Kanumba dkk
dengan kejadian apendisitis akut perforasi (2011) yaitu pada pasien apendisitis berusia 0–
15 tahun dan lebih dari 60 tahun didapatkan lapisan muskular sehingga struktur apendiks
angka perforasi mencapai 80% [14]. vermiformis menjadi lemah dan mendorong
Terjadi peningkatan jumlah pasien anak terjadinya perforasi [1, 17].
yang mengalami apendisitis perforasi, dimana Pada usia lanjut, morbiditas dan mortalitas
50% pasien berusia kurang dari 5 tahun meningkat karena meningkatnya komorbiditas
memiliki risiko perforasi dan semakin [15]. Pasien usia lanjut ini mungkin memiliki
meningkat pada pasien yang lebih muda lagi, kondisi atau penyakit pada jantung, paru,
yaitu 66% mengalami perforasi pada usia maupun ginjal, yang mengakibatkan morbiditas
kurang dari 3 tahun, dan hampir 100% pasien dan mortalitas yang cukup besar akibat
anak kurang dari 1 tahun [15, 13]. Secara perforasi, contohnya yaitu diabetes melitus.
anatomi, dinding apendikular pada anak yang Diabetes melitus berhubungan dengan
lebih tipis dibandingkan dengan pasien dewasa, komplikasi pada berbagai penyakit
sekum yang tidak dapat berdilatasi, dan gastrointestinal. Penelitian oleh Wei dkk (2016)
omentum yang lebih kecil sehingga tidak cukup menunjukkan hasil bahwa tingkat apendisitis
mampu untuk mencegah penyebaran infeksi, perforasi pada pasien dengan diabetes yaitu
menjadi faktor yang meningkatkan kejadian 46,2% sementara untuk pasien tanpa diabetes
perforasi pada anak. [1, 16]. 28,3%. Penyakit mikrovaskular dan neuropati
Perbedaan struktur anatomi inilah yang viseral mungkin menjelaskan hubungan ini.
menyebabkan meningkatnya kejadian Sementara pada apendisitis perforasi terjadi
perforasi. Dalam hal ini, jaringan limfoid pada penurunan aliran darah ke dinding apendiks,
apendiks vermiformis memegang peranan maka penyakit vaskular yang telah ada
penting. GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) sebelumnya dapat meningkatkan risiko
terdapat di sepanjang saluran pencernaan, perforasi dini apendiks yang meradang [18].
termasuk Peyer’s patch, suatu folikel limfoid
3.2 Hubungan antara Lama Keluhan Nyeri
yang terdapat pada apendiks vermiformis yang
Abdomen dengan Kejadian Apendisitis
berperan untuk inisiasi respons imun. Pada
Akut Perforasi
anak-anak dan lansia terdapat perbedaan
struktur jaringan limfoid dimana pada anak- Hasil analisis hubungan antara lama
anak belum sempurna dan pada lansia telah keluhan nyeri abdomen dengan kejadian
mengalami atrofi. Pada umumnya apendiks apendisitis akut perforasi dapat dilihat pada
vermiformis pasien lansia dapat mengalami tabel 4.
vaskular sklerosis, penyempitan lumen akibat
fibrosis serta adanya infiltrat lemak pada
Tabel 4 Analisis Hubungan antara Lama Keluhan Nyeri Abdomen dengan Kejadian Apendisitis Akut Perforasi
Apendisitis Akut
Lama Keluhan Apendisitis Akut Tanpa Total PR (95%
Apendisitis Akut Perforasi P
Nyeri Abdomen Perforasi CI)
N % N % N %
> 2 hari 23 65,7 12 34,3 35 100
≤ 2 hari 20 28,6 50 71,4 70 100 0,000 2,3
Total 43 41 62 59 105 100
hubungan yang bermakna dengan kejadian nyeri abdomen >48 jam [4]. Hasil tersebut
apendisitis akut perforasi dengan nilai p sebesar sejalan dengan penelitian oleh Larsen dkk
0,000 (nilai p<0,05). Nilai PR yang diperoleh (2013) yang menyatakan bahwa kasus
sebesar 2,3 yang menyatakan bahwa pasien apendisitis perforasi mencapai 10% dengan
apendisitis akut dengan lama keluhan nyeri gejala selama 18 jam dan mencapai 44% dengan
abdomen lebih dari 2 hari berisiko 2,3 kali lebih gejala selama 36 jam [21].
besar mengalami perforasi dibandingkan Faktor yang berhubungan dengan lama
dengan lama keluhan nyeri abdomen kurang gejala apendisitis perforasi yaitu lamanya
dari sama dengan 2 hari. durasi inflamasi yang terjadi dan beratnya
Penelitian ini sejalan dengan penelitian penyakit. Apabila pasien terlambat
yang dilakukan oleh Singh dkk (2014) yang mendapatkan pelayanan kesehatan
menyatakan bahwa apendisitis perforasi menyebabkan inflamasi terjadi lebih lama dan
dengan lama nyeri lebih dari 72 jam ditemukan memperberat penyakit, yang kemudian memicu
sebanyak lebih dari 60% [19]. Hasil penelitian terjadinya perforasi. Selain itu gejala klinis yang
ini juga serupa dengan penelitian oleh Dian dkk tidak spesifik menyebabkan keterlambatan
(2011) yang mendapatkan hasil yaitu, dari 47 penegakkan diagnosis apendisitis, sehingga
pasien apendisitis perforasi sebanyak 40 pasien membuat keadaan penyakit menjadi lebih berat
(85,1%) memiliki gejala selama lebih dari 24 [5, 22, 23].
jam sedangkan sebanyak 7 pasien (14,9%)
3.3 Hubungan antara Nilai Leukosit
memiliki gejala kurang dari 24 jam [20].
dengan Kejadian Apendisitis Akut
Semakin lama keluhan nyeri abdomen
Perforasi
yang dialami oleh pasien apendisitis akut, maka
akan semakin tinggi pula kemungkinan Hasil analisis hubungan antara nilai
mengalami perforasi. Apendisitis akut berisiko leukosit dengan kejadian apendisitis akut
terjadi perforasi mencapai 25% pada pasien perforasi dapat dilihat pada tabel 5.
dengan lama keluhan nyeri <24 jam, dan
menjadi 35% pada pasien dengan lama keluhan
Tabel 5 Analisis Hubungan antara Nilai Leukosit dengan Kejadian Apendisitis Akut Perforasi
Apendisitis Akut
Nilai Leukosit Apendisitis Akut Tanpa Total PR (95%
Apendisitis Akut Perforasi P
(sel/mm3) Perforasi CI)
N % N % N %
> 18.000 14 58,3 10 41,7 24 100
≤ 18.000 29 35,8 52 64,2 81 100 0,049 1,629
Total 43 41 62 59 105 100
memiliki perbedaan yang signifikan, dimana peningkatan leukosit pada apendisitis perforasi.
kadar leukosit rerata pada apendisitis akut yaitu Hal ini dikarenakan peran bakteri yang
11.191 sel/mm3 dan pada kasus perforasi merupakan penyebab apendisitis seperti
sebesar 17.875 sel/mm3 [24]. Nepal medical bakteri E. coli dan adanya proses inflamasi yang
College Journal dan American Family Physician mendasarinya. Faktor yang menyebabkan
menyebutkan bahwa angka leukosit dan apendisitis seperti bakteri dan endotoksin
neutrofil pada apendisitis perforasi lebih tinggi (lipopolisakarida), dapat meningkatkan
daripada apendisitis akut. Hal ini dikarenakan pelepasan sitokin yaitu Tumor Necrosis Factor α
pada apendisitis perforasi terdapat tingkat (TNF-α), Interleukin 1 (IL-1), dan Interleukin 6
peradangan yang lebih parah [13, 25]. Pada (IL-6). IL-6 merupakan limfokin
tahap perforasi, apendiks vermiformis ruptur multifungsional yang berperan meregulasi
dan pus di dalam lumen apendiks menyebar respons imun, hematopoiesis dan berperan
keluar menuju organ lain, sehingga dapat utama dalam menginduksi sintesis protein pada
mengakibatkan peritonitis dan memungkinkan fase akut sehingga terjadi perubahan sintesis
bakteri berkembang dan semakin menginfeksi. protein yang kemudian dapat menimbulkan
Tahap perforasi juga berhubungan dengan respon tubuh berupa nilai leukosit darah yang
progresivitas invasi bakteri yang difasilitasi tinggi serta peningkatan aktivitas imun dan
oleh sitotoksin bakteri. Pada apendisitis suhu tubuh. Selain itu disebutkan pula bahwa
perforasi, jumlah bakteri lima kali lebih besar konsentrasi IL-6 dapat dideteksi pada pasien
daripada apendisitis akut. Bakteri berkembang dengan suspek apendisitis akut dan konsentrasi
dan menstimulasi respon imun tubuh dengan tertinggi pada kasus perforasi [13, 27, 28].
menghasilkan leukosit dan neutrofil yang lebih
3.4 Hubungan antara Rasio Neutrofil
banyak, yang berperan sebagai pertahanan
Limfosit (RNL) dengan Kejadian
terhadap agen infeksius [26, 1, 13].
Apendisitis Akut Perforasi
Selain itu, penelitian oleh Sack dkk (2006)
menyatakan bahwa hitung leukosit, C-Reactive Hasil analisis hubungan antara rasio
Protein (CRP) dan Interleukin 6 (IL-6) memiliki neutrofil limfosit dengan kejadian apendisitis
hubungan yang signifikan dengan keparahan akut perforasi dapat dilihat pada tabel 6.
inflamasi apendiks vermiformis, dimana terjadi
Tabel 6 Analisis Hubungan antara Rasio Neutrofil Limfosit dengan Kejadian Apendisitis Akut Perforasi
Apendisitis Akut
Rasio Neutrofil Apendisitis Akut Tanpa Total PR (95%
Apendisitis Akut Perforasi P
Limfosit Perforasi CI)
N % N % N %
>5 42 51,2 40 48,8 82 100
≤5 1 4,3 22 95,7 23 100 0,000 11,78
Total 43 41 62 59 105 100
Berdasarkan penelitian, didapatkan hasil yang termasuk dalam kasus apendisitis akut
bahwa dari 105 kasus apendisitis akut sebanyak perforasi.
23 kasus (21,9%) memiliki rasio neutrofil Berdasarkan uji statistik didapatkan hasil
limfosit ≤5 dan 82 kasus (78,1%) memiliki rasio bahwa rasio neutrofil limfosit memiliki
neutrofil limfosit >5. Tabel 6 di atas hubungan yang bermakna dengan kejadian
menunjukkan dari 82 kejadian apendisitis akut apendisitis akut perforasi dengan nilai p
dengan rasio neutrofil limfosit >5, terdapat sebesar 0,000 (nilai p<0,05). Nilai PR yang
sebanyak 42 kasus (51,2%) termasuk dalam diperoleh sebesar 11,78 yang menyatakan
kasus apendisitis akut perforasi. Sedangkan, bahwa pasien apendisitis akut dengan rasio
dari 23 kejadian apendisitis akut dengan rasio neutrofil limfosit >18.000 sel/mm3 berisiko
neutrofil limfosit ≤5, hanya 1 kasus (4,3%) saja
11,78 kali lebih besar mengalami perforasi menyebabkan fungsi neutrofil memanjang
dibandingkan dengan rasio neutrofil limfosit ≤5. dalam proses inflamasi, sedangkan peningkatan
Penelitian ini sejalan dengan penelitian apoptosis limfosit mengakibatkan penurunan
yang dilakukan oleh Christian dkk (2017) yang efektor inflamasi dan menyebabkan
menyatakan bahwa rasio neutrofil limfosit imunosupresi. Peningkatan jumlah neutrofil
(RNL) valid dalam membedakan apendisitis dan penurunan jumlah limfosit akan
perforasi dan tanpa perforasi melalui cut of meningkatkan nilai rasio absolut antara
point RNL, dimana didapatkan RNL >5 pada neutrofil dan limfosit [34].
apendisitis perforasi dan RNL ≤5 pada Dari hasil pemeriksaan darah lengkap,
apendisitis tanpa perforasi [29]. Hasil penelitian dapat dilakukan hitung rasio neutrofil limfosit
ini juga serupa dengan penelitian yang dengan mudah yang dapat berperan sebagai
dilakukan oleh Ishizuka dkk (2012) yang penanda untuk mengindikasikan status
menyatakan bahwa rasio neutrofil limfosit inflamasi pada tubuh [35]. Secara fisiologis, nilai
berhubungan dengan apendisitis gangrenous normal neutrofil <75% dan limfosit >15%
[30]. sehingga normalnya rasio neutrofil limfosit
Inflamasi akut merupakan respons khas kurang dari 5. Sementara itu rasio neutrofil
imunitas nonspesifik yaitu berupa respons limfosit meningkat lebih dari 6 pada keadaan
cepat terhadap kerusakan sel dan dipicu oleh patologis seperti infeksi berat atau inflamasi
stimulan seperti invasi mikroorganisme, benda sistemik [31].
asing yang masuk tubuh, dan trauma. Dalam hal
ini, neutrofil berfungsi dalam sistem imun 4 Kesimpulan
nonspesifik (imunitas bawaan) yang mengawali
respons tubuh terrhadap inflamasi, sedangkan 1. Usia <10 tahun atau >49 tahun
limfosit sebagai komponen protektif (imunitas berhubungan dengan kejadian apendisitis
adaptif) terhadap inflamasi [28]. akut perforasi di RSUD Abdul Wahab
Mikroorganisme masuk dan menginfeksi Sjahranie Samarinda.
lapisan submukosa apendiks sehingga 2. Lama keluhan nyeri abdomen >2 hari
menimbulkan inflamasi yang kemudian berhubungan dengan kejadian apendisitis
melibatkan seluruh lapisan dindingnya. akut perforasi di RSUD Abdul Wahab
Inflamasi akut dapat menyebabkan obstruksi Sjahranie Samarinda.
lumen apendiks vermiformis sehingga 3. Peningkatan nilai leukosit >18.000 sel/mm3
menyebabkan terganggunya suplai darah [31]. berhubungan dengan kejadian apendisitis
Rosales dkk (2016) menyebutkan bahwa akut perforasi di RSUD Abdul Wahab
neutrofil yang merupakan jumlah leukosit Sjahranie Samarinda.
terbesar menjadi leukosit pertama yang 4. Rasio neutrofil limfosit >5 berhubungan
bermgirasi dari darah ke tempat yang dengan kejadian apendisitis akut perforasi
mengalami infeksi untuk membunuh patogen di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
dan menyingkirkan debris seluler. Neutrofil
5 Ucapan Terima Kasih
menuju lokasi inflamasi, lalu memfagositosis
mikroorganisme yang menginvasi dengan Terima kasih yang sebesar-besarnya
tujuan menghancurkannya secara intraseluler kepada direktur RSUD Abdul Wahab Sjahranie
[32]. Peningkatan neutrofil darah biasanya Samarinda yang telah memberikan izin
mengindikasikan infeksi bakteri akut. Selain itu, pelaksanaan penelitian, dan kepada staf rekam
sebanyak 20% dari semua leukosit dalam medik RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda
sirkulasi darah adalah limfosit [33]. yang telah membantu proses pengambilan data
Peningkatan jumlah neutrofil dan penelitian ini.
penurunan jumlah imfosi merupaka salah satu
respons fisiologis sistem imunitas terhadap 6 Daftar Pustaka
inflamasi sistemik. Hal ini dikarenakan pada
keadaan inflamasi sistemik terjadi perubahan [1] Liang, M. K., Andersson, R. E., Jaffe, B. M., &
Berger, D. H. (2015). The Appendix. Dalam F. C.
dinamika dan regulasi apoptosis. Proses
Brunicardi, Schwartz's Principles of Surgery,
apoptosis neutrofil yang tertunda akan
10th Ed. (hal. 1241-1262). USA: McGraw-Hill [15] Fasen, G., Schirmer, B., & Hedrick, T. L. (2019).
Education. Appendix. Dalam C. J. Yeo, Shackelford's Surgery
[2] Indri, U. V., Karim, D., & Elita, V. (2014). of the Alimentary Tract, Ed. 8th (hal. 1951-
Hubungan Antara Nyeri, Kecemasan dan 1958). Philadelphia: Elsevier.
Lingkungan dengan Kualitas Tidur pada Pasien [16] Gupta, V., & Sharma, S. (2005). Neonatal
Post Operasi Apendisitis. JOM PSIK Vol.1. Appendicitis with Perforation: A Case Report
[3] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. and Review of Literature. Journal of Indian
(2009). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Association of Pediatric Surgeons, Vol. 10, 179-
Departemen Kesehatan. 180.
[4] Jones, M. W., Lopez, R. A., & Deppen, J. G. (2019). [17] Omari, A., Khammas, M., Qasaimeh, G.,
Appendicitis. Treasure Island (FL): StatPearls Shammari, A., Yaseen, M., & Hammori, S. (2014).
Publishing. Acute Appendicitis in Elderly: Risk Factors for
[5] Peranteau, W. H., & Smink, D. S. (2013). Perforation. World Jornal of Emergency Surgery,
Appendix, Meckel's, and Other Small Bowel 1-6.
Diverticula. Dalam M. J. Zinner, & S. W. Ashley, [18] Wei, P.-L., Lin, H.-C., Kao, L.-T., Chen, Y.-H., & Lee,
Maingot's Abdominal Operations, 12th Ed. (hal. C.-Z. (2016). Diabetes is Associated with
623-640). USA: McGraw-Hill Companies. Perforated Appendicitis: Evidence from a
[6] Riwanto, I., Hamami, A. H., & Pieter, J. (2010). Population-Based Syudy. The American Journal
Usus Halus, Apendiks, Kolon, dan Anorektum. of Surgery, Vol.212, 735-739.
Dalam R. Sjamsuhidajat, Buku Ajar Ilmu Bedah [19] Singh, M., Kadian, Y. S., Rattan, K. N., & Jangra, B.
Sjamsuhidajat-de Jong, Edisi 3 (hal. 755-762). (2014). Complicated Appendicitis: Analysis of
Jakarta: EGC. Risk Factors in Children. African Journal of
[7] Fransisca, C., Gotra, M., & Mahastuti, N. M. Pediatric Surgery, Vol. 11, 109-113.
(2019). Karakteristik Pasien dengan Gambaran [20] Dian, A., Ali, A., Azam, U. F., & Khan, M. M. (2011).
Histopatologi Apendisitis di RSUP Sanglah Perforated Appendix-Our Local Experience.
Denpasar Tahun 2015-2017. Jurnal Medika Rawal Medical Journal.
Udayana, Vol.8 No.7. [21] Larsen, S. J., Lalla, M., & Thorup, J. M. (2013). The
[8] Odith, T. R. (2006). Pemeriksaan Jumlah Influence of Age, Duration of Symptoms and
Leukosit Dalam Mendukung Akurasi Diagnosis Duration of Operation on Outcome After
pada Tiap-tiap Derajat Apendisitis Anak Appendicitis in Children. Danish Medical
Berdasarkan Klasifikasi Cloud di RS Dr. Sardjito Journal.
Yogyakarta. Yogyakarta. [22] Nshuti, R., Kruger, D., & Luvhengo, T. E. (2014).
[9] Abu Foul, S., Egozi, E., & Assalia, A. (2019). Is Clinical Presentation of Acute Appendicitis in
Early Appendectomy in Adults Diagnosed with Adults at the Chris Hani Baragwanath Academic
Acute Appendicitis Mandatory? A Prospective Hospital. International Journal of Emergency
Study. World Journal of Emergency Surgery. Medicine.
[10] Longo, D. L., & Fauci, A. S. (2013). Harrison : [23] Asad, S., Ashfaq, A., & Sajjad, A. (2015). Causes
Gaastroenterologi dan Hepatologi. Jakarta: EGC. of Delayed Presentation of Acute Appendicitis
[11] Bhatti, A., Dawood, A., Farzana, & Zaman, J. and Its Impact on Morbidity and Mortality. J.
(2009). Acute Appendicitis: Can WBC Count, Ayub Med Coll Abbottabad.
Age, and Duration of Symptoms Predict Severity [24] Sesa, W. C. (2016). Perbandingan Antara Suhu
Disease. Pakistan Journal of Surgery, 167-170. Tubuh, Kadar Leukosit, dan Platelet
[12] Kahramanca, S., Ozgehan, G., & Seker, D. (2014). Distribution Width (PDW) pada Apendisitis
Neutophil-to-lymphocyte Ratio as a Predictor of Akut dan Apendisitis Perforasi di Rumah Sakit
Acute Appendicitis. Turkish Journal of Trauma Umum Anutapura Palu Tahun 2014. Jurnal
and Emergency Surgery, 19-22. Kesehatan Tadulako Vol.2 No.2, 1-72.
[13] Putra, C. B., & Suryana, S. N. (2020). Gambaran [25] Agrawal, C. S., Adhikari, S., & Kumar, M. (2008).
Prediktor Perforasi pada Penderita Apendisitis Role of Serum C-Reactive Protein and
di Rumah Sakit Umum Ari Canti Gianyar, Bali, Leukocyte Count in The Diagnosis of Acute
Indonesia tahun 2018. Intisari Sains Medis Vol. Appendicitis in Nepalese Popuation. Nepal Med
11, 122-128. Coll J, 11-15.
[14] Kanumba, E. S., Mabula, J. B., & Chalya, P. L. [26] Gearhart, S. L., & Silen, W. (2013). Apendisitis
(2011). Modified Alvarado Scoring System as a Akut dan Peritonitis. Dalam D. L. Longo, & A. S.
Diagnostic Tool for Acute Appendicitis at Fauci, Harrison: Gastroenterologi dan
Bugando Medical Centre, Mwanza, Tanzania. Hepatologi (hal. 202-206). Jakarta: EGC.
BMC Surgery, Vol.11, 2-5. [27] Sack, U., Biereder, B., Elouahidi, T., & Bauer, K.
(2006). Diagnostic Value of Blood Inflammatory
Markers for Detection of Acute Appendicitis in Wahidin Sudirohusodo Makassar. Jurnal Media
Children. BMC Surg. Analisis Kesehatan, Vol.10, 119-125.
[28] Baratawidjaya, K. G., & Rengganis, I. (2014). [32] Rosales, C., Demaurex, N., Lowell, C. A., & Querol,
Imunologi Dasar, Ed.11. Jakarta: Fakultas E. U. (2016). Neutrophils: Their Role in Innate
Kedokteran Universitas Indonesia. and Adaptive Immunity. Journal of Immunoloy
[29] Christian, D. P., Suwedagatha, I. G., Golden, N., & Research.
Wiargitha, I. K. (2017). Validitas Rasio Neutrofil [33] Sherwood, L. (2015). Fisiologi Manusia Dari Sel
Limfosit pada Apendisitis Komplikata di RSUP ke Sistem Ed. 8. Jakarta: EGC.
Sanglah Denpasar. Jurnal Bedah Nasional Vol. 1 [34] Zahorec, R. (2001). Ratio of Neutrophil to
No.1. Lymphocyte Counts - Rapid and Simple
[30] Ishizuka, M., Shimizu, T., & Kubota, K. (2012). Parameter of Systemic Inflammation and Stress
Neutrophil-to-Lymphocyte Ratio Has a Close in Critically Ill. Bratisl Lek Listy, Vol.102, 5-14.
Association with Gangrenous Appendicitis in [35] Dilektasli, E., Inaba, K., Haltmeier, T., Wong, M.
Patients Undergoing Appendectomy. Int Surg, D., Clark, D., Benjamin, E., . . . Demetriades, D.
Vol.97, 299-304. (2016). The Prognostic Value of Neutrophil-to-
[31] Maria, Naim, N., & Armah, Z. (2019). Gambaran Lymphocyte Ratio on Mortality in Critically Ill
Jumlah Limfosit dan Neutrofil pada Penderita Trauma Patients. Journal of Trauma and Acute
Apendisitis (Usus Buntu) Akut di RSUP Dr. Care Surgery, Vol.81.