SATUAN ACARA PENYULUHAN PROMOSI KESEHATAN
DIABETES MELITUS
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah II
Dosen Pengampuh; Hendri Purwadi, [Link].,Ns.,[Link]
DISUSUN OLEH :
1. Andi Murdani (1PA20003)
2. Andi Lismawati (1PA20020)
3. Budiana (1PA20007)
4. Indra Christian UT (1PA20014)
5. Santino (1PA20011)
6. Yoga Nanda P (1PA20021)
PRORAM STUDI S1-KEPERAWATAN
STIKES GRIYA HUDASA SUMBAWA
2021-2022
SATUAN ACARA PEYULUHAN
Pokok Pembahasan : Diabetes Melitus
Sub Pokok Bahasan : definisi, penyebab, klasifikasi, gejala dan tanda, program
penanggulangan pemerintah, pencegahan, dan penyembuhan.
Sasaran : Mahasiswa Perawat Semeter IV
Hari/Tanggal : Kamis, 21 April 2022
Tempat : Stikes Griya Husada Sumbawa
Waktu Pertemuan : 15 menit
Metode : Demontrasi dan Diskusi
LATAR BELAKANG
Saat ini, masyarakat Indonesia terutama yang di perkotaan mengalami pergeseran
pola konsumsi pangan. Namun, seiring dengan kemajuan zaman dan perbaikan sosial ekonomi
masyarakat terjadi pula perubahan kebiasaan makan yang cenderung kebarat – baratan. Makanan
jadi dan makanan siap saji telah menjadi kegemaran dan tren di masyarakat
Diabetes saat ini menjadi penyakit yang mulai menjangkiti penduduk di negara-negara
berkembang seperti Indonesia. WHO memperkirakan pada 2030 nanti sekitar 21,3 juta orang
Indonesia terkena diabetes. Menurut Ketua Indonesian Diabetes Association (Persadia) [Link].
dr. Sidartawan Soegondo SpPD-KEMD FACE, DM tipe 2 merupakan yang terbanyak diderita,
yaitu sekitar 95% dari keseluruhan kasus DM.
Diabetes Mellitus merupakan penyakit yang terus meningkat jumlah penderitanya
dimasa yang akan datang. Sebagai gambaran, pada tahun 1984 terdapat 110,4 juta penderita
Diabetes Mellitus di seluruh dunia dan meningkat menjadi 175,4 juta penderita pada tahun 2000
(Beale dan Wong,1996). Hal ini menempatkan Indonesia berada pada peringkat keempat setelah
India, Cina, dan Amerika sebagai Negara dengan tingkat prevalensi Diabetes Mellitus yang
tinggi.
Pada tahun 2003 ada lebih dari 150 juta kasus Diabetes di dunia, dan jumlah ini akan
meningkat dua kali lipatnya di tahun 2025(WHO,2006). Pada tahun tersebut(2003) pasien
Dabetes Mellitus di Indonesia berjumlah sekitar 12 juta orang. Berdasarkan penelitian (dr
Krisna,2006), ditemukan bahwa diantara 2006 pasien klinik internis FK Unsyiah/BPK RSUZA
Banda Aceh dari Juni 2005 hingga Maret 2006, 900 pasien atau 35% didiagnosa sebagai
penderita Diabetes Mellitus type II atau disebut juga NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes
Mellitus).
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)
Setelah diberi penyuluhan diharapkan peserta mampu memahami bagaimana konsep
Penyakit DM
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)
Setelah dilakukan penyuluhan tentang Senam Nifas, diharapkan pasien mampu untuk :
1. Mengetahui Definisi DM
2. Mengetahui Penyebab DM
3. Mengetahui Klasifikasi DM
4. Mengetahui Gejala dan tanda klinis DM
5. Mengetahui Program penanggulan pemerintah
6. Mengetahui Pencegahan DM
7. Mengetahui Penyembuhan DM
ALOKASI WAKTU : ( 15 menit )
No Penyuluh Audiens waktu
Pembukaan
1 Memberi salam dan memperkenalkan diri dan Kontrak Menjawab salam 1 mnt
waktu dengan audiens
2 A persepsi dengan memberi pertanyaan awal tentang DM Menjawab 2 mnt
3 Menjelaskan tujuan penyuluhan dan tema penyuluhan Mendengarkan 1 mnt
Isi: 9 mnt
4 1. definisi Mendengarkan
2. penyebab Materi
3. klasifikasi
4. gejala dan tanda
5. Program penanggulangan pemerintah
6. pencegahan
7. penyembuhan
5 Penutup: Mendengarkan 4 mnt
dan Menjawab
Memberikan edukasi dan mengucapkan salam
Salam
STRATEGI PENYULUHAN
Demontrasi dan Diskusi
MEDIA PENYULUHAN
PPT
DENAH
Penyuluh
Audience Audience
PENYAKIT DIABETES MELLITUS
A. Definisi Diabetes Mellitus
Diabetes melitus adalah suatu penyakit gangguan kesehatan di mana kadar gula
dalam darah seseorang menjadi tinggi karena gula dalam darah tidak dapat digunakan
oleh tubuh. Diabetes Mellitus / DM dikenal juga dengan sebutan penyakit gula darah
atau kencing manis yang mempunyai jumpah penderita yang cukup banyak di
Indonesia juga di seluruh dunia.
Pada orang yang sehat karbohidrat dalam makanan yang dimakan akan diubah
menjadi glokosa yang akan didistribusikan ke seluruh sel tubuh untuk dijadikan energi
dengan bantuan insulin. Pada orang yang menderita kencing manis, glukosa sulit
masuk ke dalam sel karena sedikit atau tidak adanya zat insulin dalam tubuh.
Akibatnya kadar glukosa dalam darah menjadi tinggi yang nantinya dapat memberikan
efek samping yang bersifat negatif atau merugikan.
Kadar gula yang tinggi akan dibuang melalui air seni. Dengan demikian air seni
penderita kencing manis akan mengandung gula sehingga sering dilebung atau
dikerubuti semut. Selanjutnya orang tersebut akan kekurangan energi / tenaga, mudah
lelah, lemas, mudah haus dan lapar, sering kesemutan, sering buang air kecil, gatal-
gatal, dan sebagainya. Kandungan atau kadar gula penderita diabetes saat puasa adalah
lebih dari 126 mg/dl dan saat tidak puasa atau normal lebih dari 200 mg/dl. Pada orang
normal kadar gulanya berkisar 60-120 mg/dl.
Penyakit yang akan ditimbulkan oleh penyakit gula darah ini adalah gangguan
penglihatan mata, katarak, penyakit jantung, sakit ginjal, impotensi seksual, luka sulit
sembuh dan membusuk / gangren, infeksi paru-paru, gangguan pembuluh darah, stroke
dan sebagainya. Tidak jarang bagi penderita yang parah bisa amputasi anggota tubuh
karena pembusukan. Oleh sebab itu sangat dianjurkan melakukan perawatan yang
serius bagi penderita serta melaksanakan / menjalani gaya hidup yang sehat dan baik
bagi yang masih sehat maupun yang sudah sakit.
B. Penyebab Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus terjadi jika tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup untuk
mempertahankan kadar gula darah yang normal atau jika sel tidak mamberikan respon
yang tepat terhadap insulin. Penyabab Diabetes Mellitus adalah :
1. Tidak terkontrolnya glukosa darah akibat factor kegemukan dan gaya hidup.
2. Kadar kortikosteroid yang tinggi.
3. Pengaruh obat-obatan yang dapat merusak pancreas.
4. Racun yang mempengaruhi pembentukan atau efek dari insulin.
C. Klasifikasi Diabetes Mellitus
Klasifikasi Diabetes Mellitus banyak mengalami perubahan dari tahun ketahun.
Menurut National Diabetes Data Group/Harris Cahill Group 1979 (Beaven,1981),maka
Diabetes Mellitus (DM) digolongkan menjadi tiga jenis:
1. DM tipe I (Insulin Dependent Diabetes Mellitus – IDDM)
a. Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi
mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM
tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe
antigen HLA.
b. Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana
antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap
jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu
otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang
menimbulkan destruksi selbeta.
2. DM tipe II (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus – NIDDM
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan
sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik
memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
1) Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
2) Obesitas
3) Riwayat keluarga
3. DM gestasiona l
Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) didefinisikan sebagai gangguan
toleransi glukosa berbagai tingkat yang diketahui pertama kali saat hamil tanpa
membedakan apakah penderita perlu mendapat insulin atau tidak. Pada kehamilan
trimester pertama kadar glukosa akan turun antara 55-65% dan hal ini merupakan
respon terhadap transportasi glukosa dari ibu ke janin. Sebagian besar DMG
asimtomatis sehingga diagnosis ditentukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan
rutin.
Pada wanita hamil, sampai saat ini pemeriksaan yang terbaik adalah
dengan test tantangan glukosa yaitu dengan pembebanan 50 gram glukosa dan
kadar glikosa darah diukur 1 jam kemudian. Jika kadar glukosa darah setelah 1 jam
pembebanan melebihi 140 mg% maka dilanjutkan dengan pemeriksaan test
tolesansi glukosa oral. Sesuai dengan pengelolaan medis DM pada umumnya,
pengelolaan DMG juga terutama didasari atas pengelolaan gizi/diet dan
pengendalian berat badan ibu.
a. Kontrol secara ketat gula darah, sebab bila kontrol kurang baik upayakan
lahir lebih dini, pertimbangkan kematangan paru janin. Dapat terjadi
kematian janin memdadak. Berikan insulin yang bekerja cepat, bila
mungkin diberikan melalui drips.
b. Hindari adanya infeksi saluran kemih atau infeksi lainnya.
Lakukan upaya pencegahan infeksi dengan baik.
c. Pada bayi baru lahir dapat cepat terjadi hipoglikemia sehingga perlu
diberikan infus glukosa.
d. Penanganan DMG yang terutama adalah diet, dianjurkan diberikan 25
kalori/kgBB ideal, kecuali pada penderita yang gemuk dipertimbangkan
kalori yang lebih mudah.
e. Cara yang dianjurkan adalah cara Broca yaitu BB ideal = (TB-100)-10%
BB.
f. Kebutuhan kalori adalah jumlah keseluruhan kalori yang diperhitungkan
dari:
1) Kalori basal 25 kal/kgBB ideal
2) Kalori kegiatan jasmani 10-30%
3) Kalori untuk kehamilan 300 kalor
4) perlu diingat kebutuhan protein ibu hamil 1-1.5 gr/kg BB
Jika dengan terapi diet selama 2 minggu kadar glukosa darah belum
mencapai normal atau normoglikemia, yaitu kadar glukosa darah puasa di bawah
105 mg/dl dan 2 jam pp di bawah 120 mg/dl, maka terapi insulin harus segera
dimulai.
Pemantauan dapat dikerjakan dengan menggunakan alat pengukur glukosa
darah kapiler. Perhitungan menu seimbang sama dengan perhitungan pada kasus
DM umumnya, dengan ditambahkan sejumlah 300-500 kalori per hari untuk
tumbuh kembang janin selama masa kehamilan sampai dengan masa menyusui
selesai.
D. Gejala dan Tanda klinis Diabetes Mellitus
Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang
tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan
dikeluarkan melalui air kemih. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang
air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal
menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering
berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri). Akibatnya, maka penderita merasakan
haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi). Sejumlah besar kalori hilang
ke dalam air kemih, sehingga penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk
mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa
sehingga banyak makan (polifagi).
Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya
ketahanan tubuh selama melakukan olah raga. Penderita diabetes yang gula darahnya
kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi. Diabetes Mellitus tipe 1 Diabetes
Mellitus tipe 2 timbul tiba-tiba. Tidak ada gejala selama beberapa tahun. Jika insulin
berkurang semakin parah maka sering berkemih dan sering merasa haus. Berkembang
dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum.
Jarang terjadi ketoasidosis.
Pada penderita diabetes tipe 1, terjadi suatu keadaan yang disebut dengan
ketoasidosis diabetikum. Meskipun kadar gula di dalam darah tinggi tetapi sebagian
besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, sehingga sel-sel ini mengambil
energi dari sumber yang lain. Sumber untuk energi dapat berasal dari lemak tubuh. Sel
lemak dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang
bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis).
Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan berkemih yang
berlebihan, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernafasan
menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah.
Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis
diabetikum bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam.
Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe 1 bisa mengalami
ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami
stres akibat infeksi, kecelakaan atau penyakit yang serius.
Penderita diabetes tipe 2 bisa tidak menunjukkan gejala-gejala selama beberapa
tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala yang berupa
sering berkemih dan sering merasa haus. Jarang terjadi ketoasidosis.
Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi
akibat infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang
bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut
koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.
E. Program Penanggulangan Pemerintah
Program penanggulangan di Indonesia telah dilaksanakan oleh PT Merck
Indonesia Tbk bekerja sama dengan Depkes RI dan organisasi profesi (PERKENI) dan
orang kemasyarakatan (PERSADI dan PEDI) yaitu program bertajuk penanggulangan
Diabetes dengan symbol titik oranye. Melakukan kegiatan-kegiatan antara lain
memberikan informasi dan edukasi mengenai DM dan pemeriksaan kadar gula darah
secara gratis bagi sejuta orang yang telah diluncurkan oleh [Link] Fadilah Supari,
[Link](K) akan membentuk direktorat baru di Depkes untuk menangani penyakit DM
karena berdasarkan data Depkes untuk jumlah pasien DM rawat inap maupun rawat
jalan di Rumah Sakit menempati urutan pertama untuk seluruh penyakit endokrin
(Depkes,2005). Terdapat klinik kaki Diabetes di salah satu Rumah Sakit milik
Pemerintah yang merupakan bentuk layanan yang diberikan bagi penderita DM. Ini
adalah satu bentuk perhatian pemerintah kepada penderita DM mengingat penderita
Diabetes sangat rentan untuk terkena infeksi, hal ini juga merupakan salah satu cara
untuk mengurangi amputasi kaki akibat penyakit DM (Federasi Diabetes Internas).
F. Pencegahan dan Pengobatan Diabetes Mellitus
Pencegahan terhadap penyakit Diabetes Mellitus dapat dilakukan dengan
beberapa cara, dan terbagi menjadi babarapa tipe.
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan kepada orang-orang yang
termasuk ke dalam kategori berisiko tinggi, yaitu orang-orang yang belum
terkena penyakit ini tapi berpotensi untuk mendapatkannya. Untuk pencegahan
secara primer, sangat perlu diketahui terlebih dahulu factor-faktor apa saja yang
berpengaruh terhadap terjadinya Diabetes Mellitus, serta upaya yang dilakukan
untuk menghilangkan factor-faktor tersebut. Edukasi berperan penting dalam
pencegahan secara primer.
2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder merupakan suatu upaya pencegahan dan
menghambat timbulnya penyakit dengan deteksi dini dan memberikan
pengobatan sejak awal. Deteksi dini dilakukan dengan pemeriksaan penyaring.
Hanya saja pemeriksaan tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar.
Pengobatan penyakit sejak awal harus segera dilakukan untuk mencegah
kemungkinan terjadinya penyakit menahun. Edukasi mengenai Diabetes Mellitus
dan pengelolaannya, akan mempengaruhi peningkatan kepatuhan pasien untuk
berobat.
3. Pencegahan tersier
Jika penyakit menahun Diabetes Mellitus terjadi,maka para ahli harus
berusaha mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut dan merehabilitasi penderita
sedini mungkin sebelum penderita mengalami kecacatan yang menetap.
Contohnya saja, acetosal dosis rendah (80-325 mg) dapat diberikan secara rutin
bagi pasien Diabetes Mellitus yang telah memiliki penyakit makroangiopati
(pembuluh darah jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak, pembuluh
darah kapiler retina mata, pembuluh darah kapiler ginjal). Pelayanan kesehatan
yang holistic dan terintegrasi antar disiplin terkait sangat diperlukan.
sebagian besar penderita merasa kesulitan menurunkan berat badan dan
melakukan olah raga yang teratur. Karena itu biasanya diberikan terapi sulih
insulin atau obat hipoglikemik (penurun kadar gula darah) per-oral.
Diabetes tipe 1 hanya bisa diobati dengan insulin tetapi tipe 2 dapat diobati
dengan obat oral. Jika pengendalian berat badan dan berolahraga tidak berhasil
maka dokter kemudian memberikan obat yang dapat diminum (oral = mulut) atau
menggunakan insulin.
Berikut ini pembagian terapi farmakologi untuk diabetes, yaitu:
1. Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
2. Terapi Sulih Insulin
a. Obat hipoglikemik oral
Golongan sulfonilurea seringkali dapat menurunkan kadar gula
darah secara adekuat pada penderita diabetes tipe II, tetapi tidak efektif
pada diabetes tipe I. Contohnya adalah glipizid, gliburid, tolbutamid dan
klorpropamid. Obat ini menurunkan kadar gula darah dengan cara
merangsang pelepasan insulin oleh pankreas dan meningkatkan
efektivitasnya.
Obat lainnya, yaitu metformin, tidak mempengaruhi pelepasan
insulin tetapi meningkatkan respon tubuh terhadap insulinnya sendiri.
Akarbos bekerja dengan cara menunda penyerapan glukosa di dalam
usus. Obat hipoglikemik per-oral biasanya diberikan pada penderita
diabetes tipe II jika diet dan oleh raga gagal menurunkan kadar gula
darah dengan cukup.
Obat ini kadang bisa diberikan hanya satu kali (pagi hari),
meskipun beberapa penderita memerlukan 2-3 kali pemberian. Jika obat
hipoglikemik per-oral tidak dapat mengontrol kadar gula darah dengan
baik, mungkin perlu diberikan suntikan insulin.
b. Terapi Sulih Insulin
Pada diabetes tipe 1, pankreas tidak dapat menghasilkan insulin
sehingga harus diberikan insulin pengganti. Pemberian insulin hanya
dapat dilakukan melalui suntikan, insulin dihancurkan di dalam lambung
sehingga tidak dapat diberikan per-oral (ditelan).
Bentuk insulin yang baru (semprot hidung) sedang dalam
penelitian. Pada saat ini, bentuk insulin yang baru ini belum dapat
bekerja dengan baik karena laju penyerapannya yang berbeda
menimbulkan masalah dalam penentuan dosisnya.
Insulin disuntikkan dibawah kulit ke dalam lapisan lemak,
biasanya di lengan, paha atau dinding perut. Digunakan jarum yang
sangat kecil agar tidak terasa terlalu nyeri. Insulin terdapat dalam 3
bentuk dasar, masing-masing memiliki kecepatan dan lama kerja yang
berbeda:
1) Insulin kerja cepat.
Contohnya adalah insulin reguler, yang bekerja paling cepat dan
paling sebentar.
Insulin ini seringkali mulai menurunkan kadar gula dalam waktu
20 menit, mencapai puncaknya dalam waktu 2-4 jam dan bekerja
selama 6-8 jam.
Insulin kerja cepat seringkali digunakan oleh penderita yang
menjalani beberapa kali suntikan setiap harinya dan disutikkan
15-20 menit sebelum makan.
2) Insulin kerja sedang.
Contohnya adalah insulin suspensi seng atau suspensi insulin
isofan.
Mulai bekerja dalam waktu 1-3 jam, mencapai puncak maksimun
dalam waktu 6-10 jam dan bekerja selama 18-26 jam.
Insulin ini bisa disuntikkan pada pagi hari untuk memenuhi
kebutuhan selama sehari dan dapat disuntikkan pada malam hari
untuk memenuhi kebutuhan sepanjang malam.
3) Insulin kerja lambat.
Contohnya adalah insulin suspensi seng yang telah
dikembangkan.
Efeknya baru timbul setelah 6 jam dan bekerja selama 28-36
jam.
Sediaan insulin stabil dalam suhu ruangan selama berbulan-bulan
sehingga bisa dibawa kemana-mana.
Pemilihan insulin yang akan digunakan tergantung kepada:
a) Keinginan penderita untuk mengontrol diabetesnya
b) Keinginan penderita untuk memantau kadar gula darah dan
menyesuaikan dosisnya
c) Aktivitas harian penderita
d) Kecekatan penderita dalam mempelajari dan memahami
penyakitnya
e) Kestabilan kadar gula darah sepanjang hari dan dari hari ke
hari.
Sediaan yang paling mudah digunakan adalah suntikan sehari
sekali dari insulin kerja sedang. Tetapi sediaan ini memberikan kontrol gula
darah yang paling minimal.
Kontrol yang lebih ketat bisa diperoleh dengan menggabungkan 2
jenis insulin, yaitu insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang. Suntikan
kedua diberikan pada saat makan malam atau ketika hendak tidur malam.
Kontrol yang paling ketat diperoleh dengan menyuntikkan insulin kerja
cepat dan insulin kerja sedang pada pagi dan malam hari disertai suntikan
insulin kerja cepat tambahan pada siang hari.
Beberapa penderita usia lanjut memerlukan sejumlah insulin yang
sama setiap harinya; penderita lainnya perlu menyesuaikan dosis insulinnya
tergantung kepada makanan, olah raga dan pola kadar gula darahnya.
Kebutuhan akan insulin bervariasi sesuai dengan perubahan dalam
makanan dan olah raga.
Beberapa penderita mengalami resistensi terhadap insulin. Insulin
tidak sepenuhnya sama dengan insulin yang dihasilkan oleh tubuh, karena
itu tubuh bisa membentuk antibodi terhadap insulin pengganti. Antibodi ini
mempengaruhi aktivitas insulin sehingga penderita dengan resistansi
terhadap insulin harus meningkatkan dosisnya.
Penyuntikan insulin dapat mempengaruhi kulit dan jaringan
dibawahnya pada tempat suntikan. Kadang terjadi reaksi alergi yang
menyebabkan nyeri dan rasa terbakar, diikuti kemerahan, gatal dan
pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan selama beberapa jam.
Suntikan sering menyebabkan terbentuknya endapan lemak (sehingga kulit
tampak berbenjol-benjol) atau merusak lemak (sehingga kulit berlekuk-
lekuk). Komplikasi tersebut bisa dicegah dengan cara mengganti tempat
penyuntikan dan mengganti jenis insulin. Pada pemakaian insulin manusia
sintetis jarang terjadi resistensi dan alergi.
Pengaturan diet sangat penting. Biasanya penderita tidak boleh
terlalu banyak makan makanan manis dan harus makan dalam jadwal yang
teratur. Penderita diabetes cenderung memiliki kadar kolesterol yang tinggi,
karena itu dianjurkan untuk membatasi jumlah lemak jenuh dalam
makanannya. Tetapi cara terbaik untuk menurunkan kadar kolesterol adalah
mengontrol kadar gula darah dan berat badan.
Semua penderita hendaknya memahami bagaimana menjalani diet dan
olahraga untuk mengontrol penyakitnya. Mereka harus memahami
bagaimana cara menghindari terjadinya komplikasi.
Penderita juga harus memberikan perhatian khusus terhadap
infeksi kaki sehingga kukunya harus dipotong secara teratur. Penting untuk
memeriksakan matanya supaya bisa diketahui perubahan yang terjadi pada
pembuluh darah di mata.
Pemantauan kadar gula darah penderita diabetes (diabetesi) secara
teratur merupakan bagian yang penting dari pengendalian diabetes,
terutama penderita DM tipe 1, DM tipe 2 dengan terapi insulin, DM tipe 2
yang sering mengalami hipoglikemia dan DM Gestasonal.
Pemantauan kadar gula darah ini penting karena membantu
menentukan penanganan medis yang tepat sehingga mengurangi resiko
komplikasi yang berat, dan dapat meningkatkan kualitas hidup penderita
diabetes.
Pemeriksaan kadar gula darah dapat dilakukan dengan berbagai
cara baik di laboratorium, klinik bahkan dapat dilakukan pemantauan kadar
gula mandiri yang dapat dilakukan pasien dirumah dengan menggunakan
alat yang bernama Glukometer.
Mengapa Diabetesi harus monitor kadar gula darah dengan Glukometer?
a) Lebih ekonomis dan praktis di banding pemeriksaan di laboratorium
b) Untuk menyesuaikan dosis obat, terutama bagi pengguna insulin
sehingga terhindar dari hipoglikemia
c) Kadar Gula penderita Diabetes Mellitus tipe I sangat berfluktuasi dan
cepat berubah
Konsultasikan kepada dokter, kapan dan seberapa sering
Anda harus melakukan tes tersebut. Karena dapat bervariasi.
Dianjurkan pagi hari sebelum sarapan, dua jam setelah makan, dan
malam hari sebelum tidur. Perlu pula pengukuran pada saat tertentu
lainnya. Contohnya pengukuran yang lebih ketat bila terjadi
hipoglikemia (menurunnya kadar gula darah secara tidak normal),
saat sebelum olahraga dan pada kehamilan.
DAFTAR PUSTAKA
Octo, 2005, Diabetes Melitus. [Link], 9juli 2005.
Notoatmojo, S., 2004, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Bandung
Perkeni, 1998. Consensus Pengelolaan Diabetes Melitus di Indonesia, Balai Pustaka
FKUI Jakarta.
Siswono, 2005, P2m & PL dan LITBANGKES, [Link], 23 juni 2003
Soegondo, 2004, Diabetes Melitus, Penatalaksanaan Terpadu, Balai Penerbitan
FKUI, Jakarta.
Sarifah, 2001, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Masih Tingginya Kadar Gula
Darah pada Pasien Diabetes