0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
97 tayangan112 halaman

Nilai Moral dalam Novel Selembar Itu Berarti

Skripsi ini membahas nilai-nilai moral yang terdapat dalam novel Selembar Itu Berarti karya Suryaman Amipriono. Nilai-nilai moral tersebut terdiri dari tiga wujud, yaitu moral individual, moral sosial, dan moral religi. Moral individual meliputi sikap menerima kenyataan, pantang menyerah, jujur, tanggung jawab, keikhlasan, kerja keras, kesabaran, teguh pendirian, percaya diri, mengakui kesal

Diunggah oleh

Heny Icha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
97 tayangan112 halaman

Nilai Moral dalam Novel Selembar Itu Berarti

Skripsi ini membahas nilai-nilai moral yang terdapat dalam novel Selembar Itu Berarti karya Suryaman Amipriono. Nilai-nilai moral tersebut terdiri dari tiga wujud, yaitu moral individual, moral sosial, dan moral religi. Moral individual meliputi sikap menerima kenyataan, pantang menyerah, jujur, tanggung jawab, keikhlasan, kerja keras, kesabaran, teguh pendirian, percaya diri, mengakui kesal

Diunggah oleh

Heny Icha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

“NILAI MORAL DALAM NOVEL SELEMBAR

ITU BERARTI KARYA SURYAMAN AMIPRIONO”

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Makassar

SELFIANA HERMAN

105331115416

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA


INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR 2020
ii
iii
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama: Selfiana Herman
Stambuk105331115416
Jurusan: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Judul Skripsi : Nilai Moral dalam Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya send
Demikian pernyataan ini saya buat dan bersedia menerima sanksi apabila
pernyataan ini tidak benar.

Makassar,September 2020
Yang Membuat Perjanjian

Selfiana Herman
NIM: 105331115416

iv
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU

SURAT PERJANJIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Selfiana Herman
Stambuk 105331115416
Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Judul Skripsi : Nilai Moral dalam Novel Selembar Itu Berarti Karya
Suryaman Amipriono

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:


1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini. Saya
menyusun sendiri dan tidak dibuatkan oleh siapapun.
2. Dalam penyusunan skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan
pembimbing yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Fakultas.
3. Saya tidak melakukan penciplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi saya.
4. Apabila saya melanggar perjanjian saya pada poin 1, 2, dan 3 maka saya
bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat, dengan penuh kesadaran.

Makassar, Agustus
2020 Yang Membuat
Perjanjian

Selfiana Herman
NIM: 105331115416

v
MOTT

“Manusia yang sukses adalah manusia yang mau bersabar dan

berusaha Walau itu harus berlari, berjalan, bahkan merangkak

sekalipun

Asal jangan pernah berhenti

Sukses itu butuh perjuangan…”

~Penulis~

Kupersembahkan karya ini buat: Kedua orang tuaku, saudaraku, dan sahabatku,
atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung penulis
mewujudkan harapan menjadi kenyataan.

vi
ABSTRA

Selfiana Herman. 2020. Nilai Moral dalam Novel Selembar Itu Berarti Karya
Suryaman Amipriono. Skripsi. Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Makassar.
Dibimbing oleh, Rahman Rahim dan Anin Asnidar.
Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran
Nilai Moral dalam Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang Nilai Moral dalam
Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono.
Peneltian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan
menggunakan teknik baca dan catat. Teknik baca dan catat adalah teknik yang
digunakan dengan cara membaca teks tertulis, selanjutnya dicatat yang telah
disediakan sesuai permasalahan yang akan dideskripsikan.
Berdasarkan hasil penelitian pertama diperoleh kesimpulan bahwa nilai
moral yang terdapat dalam novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman
Amipriono terdiri dari tiga wujud nilai moral: moral individual, terdiri atas:
menerima kenyataan, pantang menyerah, jujur, tanggung jawab siswa terhadap
pendidikan, keikhlasan, bekerja keras, kesabaran, teguh pada pendirian, percaya
diri, mengakui kesalahan, sadar diri, berjanji, penyesalan. Moral sosial, meliputi:
kasih sayang antar teman atau saudara, kasih sayang orang tua kepada anak,
tanggung jawab orang tua kepada anak, nasihat orang tua kepada anak, kasih
sayang anak kepada orang tua, nasihat antar teman atau saudara, berbagi atau
memberi, berterima kasih, tolong menolong, peduli sesama, rela berkorban,
berbakti kepada orang tua, menghargai, sopan santun, tidak memaksakan
kehendak, menghormati. Serta moral religi, terdiri dari: bersyukur kepada Tuhan,
memanjatkan doa, berserah diri kepada Tuhan, memuji keagungan Tuhan.
Kata Kunci: Nilai Moral, Individual, Sosial, Religi.

vii
KATA

Bismillahirahmanirrahim

Sebagai manusia ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala, sudah sepatutnyalah

peneliti memanjatkan ke hadirat-Nya atas segala kelimpahan rahmat dan karunia

serta kenikmatan yang diberikan kepada peneliti berupa nikmat iman, nikmat

kesehatan, nikmat waktu, nikmat alam. Nikmat Allah itu sangat banyak dan

berlimpah. Bahkan jika peneliti ingin melukiskan nikmat Allah Subhanahu

Wata’ala menggunakan semua ranting pohon yang ada di dunia sebagai penanya

dan seluruh air dilautan sebagai tintanya, maka semua ranting-ranting pohon dan

air di lautan akan habis dan belum cukup untuk menuliskan nikmat-Nya yang

senantiasa berbuat baik dan bermanfaat.

Shalawat serta salam tak lupa pula peneliti ucapkan kepada Nabi

Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Kepada keluarganya, para sahabatnya,

hingga kepada umatnya yang senantiasa berpegang teguh terhadap ajaran

sunnahnya hingga akhir zaman. Manusia yang menjadi sang revolusioner islam

yang telah menggulung tikar-tikar kebatilan dan membentangkan permadani-

permadani islam hingga saat ini. Nabi yang telah membawa misi risalah islam

sehingga peneliti dapat membedakan antara yang haq dan yang batil. Sehingga,

kejahiliyaan tidak dirasakan oleh umat manusia di zaman yang serba digital ini.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan penyelesaian pendidikan

pada program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan

dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makasssar. Skripsi ini juga

viii
disusun agar dapat memberi pengetahuan kepada pembaca mengenai nilai moral

yang terdapat pada novel Selembar Itu Berarti.

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan

tulisan ini. Pada kesempatan ini segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima

kasih yang teramat tulus dari relung hati yang paling dalam dipersembahkan

kepada kedua orang tua Ayahanda Herman dan Ibunda Sarnawiah yang telah

berjuang, berdoa, mengasuh, membesarkan dan mendidik, dan membiayai penulis

dalam proses pencarian ilmu. Serta keluarga lainnya yang telah memberi

dukungan, motivasi dan sumbangsinya selama peneliti menuntut ilmu.

Penyelesaian skripsi ini tidak akan berjalan sebagaimana mestinya jika

tidak adanya keterlibatan dari berbagai pihak yang dengan tulus ikhlas

memberikan bantuan dan arahannya. Dengan segala kerendahan hati peneliti

mengucapkan terima kasih kepada Dr. A. Rahman Rahim, M. Hum., selaku

pembimbing I dan Anin Asnidar, S. Pd., M. Pd., selaku pembimbing II, yang

selalu memberikan bimbingan, arahan, dorongan, semangat, serta motivasi sejak

awal penyusunan skripsi.

Peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. H. Ambo

Asse, M. Ag., selaku rektor Univeritas Muhammadiyah Makassar, Bapak Erwin

Akib, S. Pd., M. Pd., Ph. D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar, serta Ibunda

Dr. Munirah, M. Pd., selaku Ketua Jurusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan

Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Makassar, serta seluruh dosen dan

para staf dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas

ix
Muhammadiyah Makassar yang telah membekali peneliti dengan serangkaian

ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi peneliti.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga peneliti ucapkan kepada

teman-teman seperjuanganku terkhusus Fatimah, Sunarti, Rasdiana Rahman, Nur

Rahmah Alfiyyah Ulfa, Sri Ayu Warsari, Selviana Putri dan Dewi Rezkyana

Bahtiar karena telah berpartisipasi dan selalu menemaniku dalam suka dan duka

dalam penyelesaian skripsi ini. Sahabat-sahabatku terkasih Jhoin Sarjono, Indra

Dewi, Humayrah Abbas dan Nur Alam yang juga selalu memberikan motivasi dan

dukungan serta seluruh rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra

Indonesia Angkatan 2016 terkhusus kelas E atas segala kebersamaan, motivasi,

saran, dan bantuannya kepada penulis yang telah memberi cahaya dalam hidupku.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, peneliti senantiasa

mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, selama saran dan kritikan

tersebut bersifat membangun, karena peneliti yakin bahwa suatu persoalan tidak

akan berhenti sama sekali tanpa adanya kritikan. Semoga dapat memberikan

manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi penulis.

Amin Ya Rabbal Alamin

Makassar, Agustus 2020

Penulis

x
DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING.......................................................................iii

SURAT PERNYATAAN......................................................................................iv

SURAT PERJANJIAN..........................................................................................v

MOTTO.................................................................................................................vi

ABSTRAK............................................................................................................vii

KATA PENGANTAR.........................................................................................viii

DAFTAR ISI..........................................................................................................xi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang............................................................................................1

B. Rumusan Masalah.......................................................................................6

C. Tujuan Penelitian........................................................................................6

D. Manfaat Penelitian......................................................................................7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Tinjauan Pustaka.........................................................................................8

1. Penelitian Relevan.............................................................................8

2. Pengertian Novel.............................................................................11

3. Ciri-ciri Novel.................................................................................12

4. Unsur-unsur yang Membangun Novel............................................13

5. Pengertian Nilai...............................................................................19

6. Pengertian Moral.............................................................................20

7. Nilai Moral dalam Karya Sastra......................................................21


xi
B. Kerangka Pikir..........................................................................................25

BAB III METODE PENELITIAN

A. Fokus dan Desain Penelitian......................................................................27

B. Definisi Istilah............................................................................................28

C. Data dan Sumber Data...............................................................................29

D. Teknik Pengumpulan Data.........................................................................29

E. Teknik Analisis Data..................................................................................30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian..........................................................................................31

B. Pembahasan Hasil Penelitian.....................................................................33

BAB V PENUTUP

A. Simpulan....................................................................................................68

B. Saran...........................................................................................................70

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

xii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sastra merupakan bentuk kegiatan kreatif dan produktif dalam

menghasilkan sebuah karya yang memiliki nilai rasa estetis serta

mencerminkan realitas sosial kemasyarakatan. Menurut Soemarjo (dalam

Kurniadi, 2019: 1), sastra merupakan ungkapan pengalaman manusia dalam

bentuk bahasa yang ekspresif dan mengesan.

Secara Etimologis dalam Bahasa Indonesia, kata sastra itu sendiri

berasal dari bahasa Jawa Kuna yang berarti tulisan. Istilah dalam bahasa Jawa

Kuna berarti “tulisan-tulisan utama”. Sementara itu, kata “sastra” dalam

khazanah Jawa Kuna berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti kehidupan.

Akar kata bahasa Sansekerta adalah sas yang berarti mengarahkan, mengajar

atau memberi petunjuk atau instruksi. Sementara itu, akhiran tra biasanya

menunjukkan alat atau sarana. Dengan demikian, sastra berarti alat untuk

mengajar atau buku petunjuk atau buku instruksi atau buku pengajaran.

Disamping kata sastra, kerap juga kata susastra kita di beberapa tulisan, yang

berarti bahasa yang indah-awalan su pada kata susatra mengacu pada arti

indah (Emsir dan Rohman, 2016: 5).

Karya sastra merupakan hasil cipta masyarakat atau sastrawan yang

lahir dari fenomena yang ada dalam kehidupan masyarakat, sehingga dengan

membaca dan memahami karya sastra berarti membaca dan memahami

fenomena kehidupan. Berbagai fenomena kehidupan tersebut dituangkan

1
2

dalam bentuk karya sastra sesuai dengan konsep, pandangan, kemampuan, dan

kreativitas pengarang meramu realitas kehidupan ke dalam suatu bentuk karya

imajinatif yang mampu memberi kenikmatan dan manfaat bagi kehidupan

manusia.

Karya sastra merupakan kreatifitas seorang pengarang terhadap realita

kehidupan sosial. Oleh karena itu, karya sastra bagian dari seni yang berusaha

menampilkan nilai-nilai keindahan dan kepuasan batin rohani pembacanya.

Jabrohim (2012: 14), mengatakan sastra dipahami sebagai satu bentuk

kegiatan manusia yang tergolong pada karya seni yang menggunakan bahasa

sebagai bahan.

Karya sastra sebagai potret kehidupan dapat dinikmati, dipahami, dan

dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Sebuah karya sastra tercipta karena

adanya pengalaman batin pengarang berupa peristiwa atau problem yang

menarik sehingga muncul gagasan dan imajinasi yang dituangkan dalam

bentuk tulisan (Wicaksono, 2014: 1).

Menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2010: 2), salah satu genre

sastra adalah prosa. Dalam sastra, pengertian kesastraan juga disebut fiksi

(fiction), teks naratif (naratif text) atau wacana naratif (naratif discourse).

Fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran

faktual, sesuatu yang benar-benar terjadi sehingga tidak perlu dicari

kebenarannya dalam dunia nyata, salah satu karya fiksi yaitu novel.

Kata novel berasal dari bahasa Italia yaitu Novella yang secara harfiah

berarti sebuah barang baru yang kecil, dan kemudian diartikan sebagai cerita
3

pendek dalam bentuk prosa (Nurgiyantoro, 2010: 9). Adapun novel menurut

Tarigan (2015: 167) adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang

tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata

yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau

kusut.

Novel dibangun oleh dua unsur, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik.

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri.

Unsur yang dimaksud misalnya tema, penokohan atau perwatakan, latar atau

setting, alur, sudut pandang, gaya bahasa dan amanat. Sedangkan unsur

ekstrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu dari luar. Oleh

karena itu, analisis ini mengambil unsur ekstrinsik (nilai moral). Disamping

itu nilai-nilai moral juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang

bersangkutan, bagaimana keseharian tokoh, baik di lingkungan keluarga

maupun lingkungan masyarakat.

Darmadi (2009: 20) menjelaskan bahwa nilai adalah segala sesuatu

yang disenangi, diinginkan, dicita-citakan, dan disepakati. Nilai berada dalam

hati nurani dan pikiran sebagai suatu keyakinan atau kepercayaan. Nilai harus

kita bina terus menerus karena nilai merupakan aspek masalah kewajiban yang

timbul tenggelam atau pasang surut. Nilai sangat berarti bagi manusia karena

nilai merupakan suatu pokok dasar yang wajib dimiliki pada diri manusia

berupa akal, pikiran, perasaan, dan keyakinan. Sesuatu dikatakan sebagai nilai

apabila sesuatu dapat berguna (nilai kegunaan), indah (nilai estetik), baik

(nilai moral), dan benar (nilai kebenaran). Nilai dapat kita miliki pada diri kita
4

apabila diri kita memiliki sikap dan perilaku yang baik dalam kehidupan

sehari-hari.

Selanjutnya moral adalah (ajaran tentang) baik buruk yang diterima

umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak, budi

pekerti, susila (Nurgiyantoro, 2010: 320). Jenis moral dalam karya sastra

memiliki banyak persoalan hidup maupun persoalan yang menyangkut harkat

dan martabat manusia yang dapat diangkat sebagai suatu ajaran nilai moral

dalam sebuah karya sastra. Persoalan hidup manusia itu dapat dibedakan

menjadi banyak persoalan yang tentunya banyak terjadi pada diri manusia

seperti hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia,

dan hubungan manusia dengan lingkungan hidup sosial yang termasuk

lingkungan alam (Nurgiyantoro, 2010: 323).

Pendidikan moral mempunyai peranan penting di sekolah, yaitu untuk

mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa

yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan

bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia

yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,

sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis

serta bertanggung jawab (Zuriah, 2011: 26).

Pemilihan novel Selembar Itu Berarti sebagai bahan penelitian karena

cerita ini banyak menampilkan persoalan hidup dan kehidupan yang menarik

terutama dalam hal pendidikan, serta banyak terdapat nilai moral yang sangat

bermanfaat bagi pembaca. Cerita yang menampilkan berbagai aspek


5

kehidupan dan permasalahannya disampaikan dengan bahasa yang menarik

dan mudah dipahami, dengan demikian akan memudahkan pembaca untuk

menemukan nilai moral yang dimaksud.

Novel Selembar Itu Berarti, berkisah seputar dunia pendidikan yang

dilalui oleh kakak beradik yang bersekolah di sekolah dasar (SD) di sebuah

sebuah Desa di Langkat, Sumatera Utara, namun memiliki nasib yang kurang

beruntung. Mereka harus mengumpulkan lembar demi lembar kertas yang

sudah terbuang kemudian dijadikannya satu untuk mereka gunakan

bersekolah, karena keterbatasan ekonomi yang membuat mereka tak mampu

membeli buku tulis. Hidup kedua anak ini semakin berat karena harus

ditinggal kedua orang tuanya yang telah berpulang. Kini mereka harus belajar

bertahan hidup dan mengejar impian.

Alasan penulis memilih mengkaji nilai moral karena setelah membaca

Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono, penulis banyak

menemukan nilai-nilai moral yang dapat memberikan inspirasi yang positif

dalam menghadapi beraneka ragam masalah kehidupan. Seperti hubungan

antar manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan manusia

dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk dengan alam, dan

hubungan manusia dengan Tuhan. Prngalaman tokoh mulai pada permulaan

cerita, dan mulai pengalaman-pengalaman yang lain dan rintangan-rintangan

hingga ke puncaknya, yang merupakan akhir cerita. Selain karena nilai-nilai

moral yang terkandung dalam novel tersebut, alasan lain yang

melatarbelakangi penulis memilih judul “Nilai Moral dalam Novel Selembar


6

Itu Berarti” karena novel ini belum pernah diteliti khususnya di Program Studi

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Berdasarkan hal-hal yang

telah disebutkan, pemilihan novel Selembar Itu Berarti sebagai bahan

penelitian merupakan hal yang tepat untuk menyampaikan informasi tentang

moral kepada pembaca.

Penulis bermaksud menelaah nilai moral yang terdapat dalam novel

Selembar Itu Berarti. Mengangkat judul “Nilai Moral dalam Novel Selembar

Itu Berarti karya Suryaman Amipriono”. Hasil penelitian ini nantinya di

harapkan dapat mengungkap nilai moral yang terdapat dalam novel tersebut.

Dengan memahami nilai moral yang di sajikan pengarang dalam novelnya

baik itu hadir secara tersirat maupun tersurat, akan membantu pembaca atau

penikmat sastra lebih mudah memahami nilai moral yang terkandung dalam

novel tersebut.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan tersebut, maka rumusan

masalah penelitian ini adalah: Bagaimanakah Nilai Moral yang terdapat Novel

Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai dalam

penelitian adalah untuk mendeskripsikan nilai Moral yang terdapat dalam

Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono.


7

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi para

pembaca, baik bersifat teoretis maupun praktis.

1. Manfaat Teoretis

a. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan

perkembangan ilmu sastra

b. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk memperkaya penggunaan

teori-teori sastra secara teknik analisis terhadap karya sastra.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi pengarang, penelitian ini dapat memperluas khazanah ilmu

pengetahuan terutama bidang Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya

dalam analisis novel dengan tinjauan nilai moralnya.

b. Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan

kepada mahasiswa dan guru, khususnya Program Bahasa dan Sastra

Indonesia dalam mengkaji dan menelaah novel.

c. Bagi peneliti, penelitian ini dapat memperkaya wawasan sastra dan

meambah khazanah penelitian sastra Indonesia sehingga bermanfaat

bagi perkembangan sastra Indonesia.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Tinjauan Pustaka

Keberhasilan sebuah penelitian tergantung pada teori yang

mendasarinya, karea teori merupakan landasan suatu penelitian yang berkaitan

dengan kajian pustaka yang memunyai korelasi dengan masalah yang akan

dibahas. Teori yang dipandang bernilai praktis sebagai pohon penunjang

dalam pelaksanaan penelitian ini adalah yang berhubungan dengan sastra.

1. Penelitian Relevan

Keberhasilan sebuah penelitian tergantung pada teori yang

mendasarinya, karena teori merupakan landasan suatu penelitian yang

berkaitan dengan kajian pustaka yang mempunyai korelasi dengan masalah

yang akan dibahas. Penelitian yang dilakukan penulis merupakan tindak

lanjut dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.

Penelitian tentang menganalisis novel sudah banyak dilakukan para peneliti

sebelumnya, namun dalam penelitian ini mengangkat novel Selembar Itu

Berarti Karya Suryaman Amipriono yang tergolong novel baru dan belum

pernah ada penelitian sebelumnya.

Adapun penelitian relevan yang dapat dijadikan sebagai kajian

pustaka dalam penelitian ini antara lain:

a. Penelitian Salfia (2015) yang berjudul Nilai Moral dam Novel 5 Cm

Karya Donny Dhirgantoro.

8
9

b. Penelitian Nugroho (2017) yang berjudul Analisis Nilai Moral Novel

Sandiwara Bumi Karya Taufiqurrahman Al-Azizy dan Rencana

Pembelajarannya di Kelas XII SMA.

c. Penelitian Setyawati (2014) yang berjudul Analisis Nilai Moral dalam

Novel Surat Kecil untuk Tuhan Karya Agnes Davonar.

Salfia (2015), dengan penelitian jurnalnya yang berjudul “Nilai

Moral Dalam Novel 5 Cm Karya Donny Dhirgantoro”. Penelitian ini

menyimpulkan bahwa pentingnya arti nilai dan fungsi moral suatu karya

sastra terhadap pola pikir yang dapat mendewasakan pembacanya (siswa)

yang disuguhkan karya pengarang secara tersirat maupun tersurat, maka

sudah sewajarnya pembelajaran sastra disekolah harus dikembangkan dan

memiliki sikap yang positif terhadap karya sastra pada umumnya dan

novel pada khususnya, dalam jurnalnya peneliti membahas unsur intrinsik

novel beserta aspek-aspek moral yang terdapat dalam novel 5 CM. Aspek-

aspek tersebut antara lain: (1) asepek hubungan manusia dengan diri

sendiri, (2) aspek hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup

sosial dan persahabatan. Persamaan dengan penelitian penulis adalah

sama-sama menggunakan penelitian deskriptif kualitatif menganalisis nilai

moral dalam sebuah novel, sedangkan perbedaannya adalah penelitian

tersebut sekedar di analisis dan belum dijadikan bahan ajar dalam

pembelajaran.

Nugroho (2017), dalam penelitian skripsinya yang berjudul

“Analisis Nilai Moral Novel Sandiwara Bumi Karya Taufiqurrahman Al-


1

Azizy Dan Rencana Pembelajarannya Di Kelas XII SMA”. Dalam

penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan moral untuk mengkaji

novel Sandiwara Bumi karya Taufiqurrahman al-Azizy. Penelitian ini

untuk mendeskripsikan keadaan moralitas novel Sandiwara Bumi karya

Taufiqurahman al-Azizy yang lebih banyak mencerminkan nilai moral

yang positif dari pada nilai moral yang negatif dan dapat dijadikan sebagai

contoh bagi siswa untuk belajar. Persamaan penelitian penulis adalah

menganalisis nilai moral dalam novel dan perbedaannya adalah subjek

penelitian, penelitian yang dilakukan oleh penulis menggunakan novel

Sandiwara Bumi Karya Taufiqurrahman al-Azizy, sedangkan penelitian

yang dilakukan pada skripsi ini menggunakan novel Selembar Itu Berarti

karya Suryaman Amipriono.

Setyawati (2013), dalam penelitian skripsinya yang berjudul

“Analisis Nilai Moral dalam Novel Surat Kecil Untuk Tuhan Karya Agnes

Davonar. Penelitian ini membahas permasalahan tentang masalah nilai

moral, moral tokoh, dan bentuk penyampaian nilai moral dalam novel

Surat Kecil untukTuhan. cerita ini banyak menampilkan persoalan hidup

dan kehidupan yang menarik, serta banyak terdapat nilai moral yang

sangat bermanfaat bagi pembaca. Cerita remaja yang menampilkan

berbagai aspek kehidupan dan permasalahanya disampaikan dengan

bahasa yang menarik dan mudah dipahami, dengan demikian akan

memudahkan pembaca untuk menemukan nilai moral yang dimaksud.

Surat Kecil untuk Tuhan, terkenal dengan kisah kehidupan nyata seorang
1

gadis remaja yang menderita kanker jaringan lunak pertama kali di

Indonesia dan ceritanya yang ringan sehingga lebih disukai masyarakat

pembaca, terutama para remaja. Persamaan yang dilakukan oleh peneliti

yaitu terkait dengan nilai moral yang akan dibahas dan pendekatan yang

dilakukan oleh peneliti yaitu menggunakan pendekatan pragmatik.

Sedangkan perbedaannya terletak pada objek yang dikaji dalam artian

novel yang dianalisis.

2. Pengertian Novel

Abrams (dalam Nugiyantaro, 2010) mengatakan bahwa novel

berasal dari Inggris dan inilah yang kemudian masuk ke Indonesia-berasal

dari bahasa Italia novella (yang berasal dari bahasa Jerman: Novella).

Secara harfiah novella berarti sebuah barang baru yang kecil. yang berarti

sebuah karya prosa fiksi yang panjang cakupan, tidak terlalu panjang,

namun juga tidak terlalu pendek. Wicaksono (2014) menyatakan bahwa

novel adalah suatu jenis karya sastra yang berbentuk prosa fiksi dalam

ukuran yang panjang (setidaknya 40.000 kata dan lebih kompleks dari

cerpen) dan luasyang di dalamnya menceritakan konflik-konflik kehidupan

manusia yang dapat mengubah nasib tokohnya.

Segi panjang cerita, novel (jauh) lebih panjang daripada cerpen.

Oleh karena itu, novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas,

menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detil dan lebih

banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks. Hal itu

mencakup berbagai unsur cerita yang membangun novel itu. Di pihak lain,
1

kelebihan novel yang khas adalah kemampuannya menyampaikan

permasalahan yang kompleks secara penuh, mengkreasikan sebuah dunia

yang “jadi”. Hal ini berarti membaca sebuah novel menjadi lebih mudah

sekaligus lebih sulit daripada membaca cerpen. Ia lebih mudah karena tidak

menuntut kita memahami masalah yang kompleks dalam bentuk (dan

waktu) yang sedikit. Sebaliknya, ia lebih sulit karena berupa penulisan

dalam skala yang besar daripada cerpen. Hal inilah, yang menurut Stanton,

merupakan perbedaan terpenting antara novel dengan cerpen.

(Nurgiyantoro, 2010: 11).

Novel merupakan pengungkapan dari fragmen kehidupan manusia

(dalam jangka yang lebih panjang) (Ginanjar, 2012: 7). Novel merupakan

struktur yang bermakna. Novel tidak sekadar merupakan serangkaian

tulisan yang menggairahkan ketika dibaca, tetapi merupakan struktur

pikiran yang tersusun dari unsur-unsur padu. Novel menceritakan suatu

peristiwa pada waktu yang cukup panjang dengan beragam karakter yang

diperankan oleh tokoh.

Sehubungan dengan uraian diatas maka penulis berkesimpulan

bahwa novel adalah suatu karya sastra yang berbentuk cerita kehidupan

manusia hingga terjadi konflik di dalamnya yang memiliki tokoh, alur dan

unsur lainnya yang dikarang dalam sebuah buku yang sifatnya imajinatif.

3. Ciri-ciri Novel

Sebagai salah satu hasil karya sastra, novel memiliki ciri khas

tersendiri bila dibandingkan dengan sastra lain. Dari segi jumlah kata atau
1

kalimat, novel lebih mengandung banyak kata dan kalimat sehingga dalam

proses pemaknaannya lebih relatif jauh lebih muda daripada memaknai

sebuah puisi yang cenderung mengandung beragam bahasa kias. Berkaitan

dengan masalah tersebut, Sumardjo (dalam Nasir, 2014: 15) memberikan

ciri-ciri novel sebagai berikut: (1) Plot sebuah sebuah novel berbentuk

tubuh cerita, dirangkai dengan plotplot kecil yang lain, karena struktur

bentuk yang luas ini maka novel dapat bercerita panjang dengan persoalan

yang luas, (2) Tema dalam sebuah novel terdapat tema utama dan

pendukung, sehingga novel mencakup semua persoalan, (3) Dari segi

karakter, dalam novel terdapat penggambaran karakter yang beragam dari

tokoh-tokoh hingga terjalin sebuah cerita yang menarik.

Kalau ditinjau dari segi kata-kata, biasanya novel mengandung

kata-kata yang berkisar antara 3500 sampai tidak terbatas. Sedangkan jika

diukur dengan kertas kuarto yang jumlah barisnya 3 buah dan tiap baris 10

kata maka jumlah kata dalam satu lembar kuarto adalah 35 x 10 = 350

buah. Novel yang paling pendek 100 halaman, berarti 35 x 10 x 100 =

35000 kata. Jika diukur dengan kecepatan membaca maka untuk membaca

sebuah novel diperlukan dua jam.

4. Unsur-unsur yang Membangun Novel

Sebuah novel merupakan sebuah totalitas, suatu kemenyeluruhan

yang bersifat artistik. Sebagai sebuah totalitas, novel mempunyai bagian-

bagian, unsur-unsur, yang saling berkaitan satu dengam yang lain secara

erat dan saling menggantungkan. Secara garis besar pembagian unsur ini
1

dibagi menjadi dua bagian yakni unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik.

Kedua unsur inilah yang sering banyak disebut banyak para kritikus dalam

rangka mengkaji dan membicarakan novel atau karya sastra.

(Nurgiyantoro, 2010: 23).

a. Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya

sastra itu sendiri. Unsur instrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang

(secara langsung) turut serta membangun cerita. Unsur-unsur instrinsik

tersebut menurut Nurgiyantoro yaitu tema, plot atau alur, latar, tokoh

dan penokohan, serta gaya bahasa.

1) Tema

Stanton dan Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2010: 67) menyatakan

tema adalah makna yang mendasari sebuah cerita. Tema merupakan

suatu gagasan sentral, sesuatu yang hendak diperjuangkan dalam satu

tulisan atau karya fiksi. Pengertian tema itu tercakup persoalan dan

tujuan (amanat) pengarang kepada pembaca. Berdasarkan pendapat

tersebut dapat disimpulkan bahwa tema adalah pokok yang mendasari

pada sebuah cerita.

Tema dibedakan menjadi dua bagian yaitu, (1) tema utama yang

disebut tema mayor yang artinya makna pokok yang menjadi dasar atau

gagasan dasar umum karya ini. Tema mayor ditentukan dengan cara

menentukan persoalan yang paling menonjol, yang paling banyak konflik

dan waktu penceritaannya. (2) Tema tambahan disebut juga dengan tema
1

minor. Tema minor merupakan tema yang kedua yaitu makna yang hanya

terdapat pada bagian-bagian tertentu pada sebuah cerita dan dapat

diidentifikasi sebagai makna bagian atau makna tambahan

(Nurgiyantoro, 2010: 82-83).

2) Alur (Plot)

Stanton 1965:14 (dalam Nurgiyantoro 2010:113) mengemukakan

bahwa plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian

itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristwa yang satu

disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.

(Nurgiyantoro, 2010 : 136) menjelaskan plot adalah sebuah karya fiksi

dikatakan memberi kejutan-kejutan jika sesuatau yang dikisahkan atau

kejadian-kejadian yang ditampilkan menyimpang atau bahkan

bertentangan dengan harapan kita sebagai pembaca.

Selanjutnya, alur dibedakan berdasarkan kriteria urutan waktu ada

3 macam yaitu (1) alur lurus ( alur maju atau alur progesif), alur ini berisi

peristiwa-peristiwa yang dikisakan bersifat kronologis, peristiwa pertama

diikuti peristiwa selanjutnya atau ceritanya runtut dimulai dari tahap awal

sampai tahap akhir. (2) Alur sorot balik, alur ini berisi peristiwa-

peristiwa yang dikisahkan secara kronologis (tidak runtut ceritanya). (3)

Alur campuran, alur ini berisi peristiwa-peristiwa gabungan dari plot

progesif (Nurgiyantoro, 2010:153-155).


1

3) Tokoh dan Penokohan

Abram (dalam Nurgiyantoro 2010: 165) mengemukakan tokoh

adalah cerita orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif,

atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan

kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa

yang dilakukan dalam tindakan.

Tarigan (dalam Wicaksono 2014: 212) menjelaskan bahwa

penokohan adalah proses yang digunakan oleh seorang pengarang untuk

menciptakan tokoh-tokoh fiksinya. Tokoh fiksi harus dilihat sebagai yang

berada pada suatu masa dan tempat tertentu dan harus diberi motif-motif

yang masuk akal untuk segala sesuatu yang dilakukannya.

4) Latar

Latar dalam cerita adalah lingkungan tempat peristiwa terjadi.

Latar cerita itu berkaitan dengan di mana, kapan, dan bagaimana suasana

peristiwa itu berlangsung. Latar yang berkaitan dengan di mana disebut

latar tempat. Latar cerita yang berhubungan dengan kapan dikenal latar

waktu. Selain itu, latar yang menggambarkan bagaimana suasana

peristiwa dalam cerita berlangsung disebut latar sosial.

Nurgiyantoro (2010: 227-233) membedakan unsur latar ke dalam

tiga unsur pokok, yaitu:

(a) Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya perisiwa yang

diceritakan dalam sebuah karya fiksi, misalnya desa, gunung, kota,

hotel, rumah dan sebagainya;


1

(b) Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya

peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi,

misalnya tahun, siang, malam, dan jam;

(c) Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan

perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang

diceritakan dalam karya fiksi, misalnya kebiasaan hidup, tradisi,

keyakinan, pandangan hidup, cara berfikir, dan bersikap.

5) Sudut Pandang

Menurut Tarigan (dalam Wahyuni, 2017: 18), sudut pandang

adalah posisi fisik, tempat personal/pembicara melihat dan menyajikan

gagasan-gagasan tau peristiwa-pertistiwa merupakan perspektif

pemandangan fisik dalam ruang dan waktu yang dipilih oleh penulis bagi

personannya, serta mencakup kualitas-kualitas emosioal dan mental

persona yang mengawasi sikap dan nada.

Sudut pandang merupakan posisi pengarang dalam sebuah cerita.

Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2010: 248) menjelaskan bahwa sudut

pandang adalah cara yang digunakan oleh pengarang untuk menyajikan

tokoh, tindakan, latar, dan sebagai peristiwa yang membentuk cerita

dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.

Ada dua metode dalam pusat pengisahan, yaitu (1) metode orang

pertama tunggal (aku), pengarang menceritakan kisah aku. Aku

berkemungkinan pengarangnya, tetapi dapat pula hanya sebagai narator

(pencerita), dan (2) metode orang kedua (dia), yaitu pengarang


1

menceritakan kisah dia atau mereka. Dalam hal ini, pengarang menjadi

seseorang yang serba tahu. Kedudukan pengarang dapat sebagai tokoh

utama akan tetapi dapat pula sebagai tokoh tambahan (bukan tokoh

utama).

6) Amanat

Amanat adalah gagasan yang mendasari cerita atau pesan yang

ingin disampaikan pengarang kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2010:

250).

b. Unsur Ekstrinsik

Menurut Kosasih (dalam Gunawan, 2018: 11-12) unsur-unsur

ekstrinsik novel adalah unsur luar yang berpengaruh isi novel itu.

Adapun beberapa unsur ekstrinsik novel sebagai berikut.

1) Sejarah/biografi pengarang biasanya berpengaruh pada jalan cerita

di novelnya.

2) Situasi dan kondisi secara langsung maupun tidak langsung, situasi

dan kondisi akan berpengaruh kepada hasil karya.

3) Nilai-nilai dalam cerita. Dalam sebuah karya sastra terkandung

nilai-nilai yang disisipkan oleh pengarang. Nilai-nilai itu antara lain:

(a) Nilai moral, yaitu nilai yang berkaitan dengan akhlak atau budi

pekerti baik dan buruk.

(b) Nilai sosial, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan norma-norma

dalam kehidupan masyarakat misalnya, saling memberi,

menolong, dan tenggang rasa.


1

(c) Nilai budaya, yaitu konsep masalah dasar yang sangat penting

dan bernilai dalam kehidupan manusia misalnya, adat istiadat,

kesenian, kepercayaan, dan upacara adat.

(d) Nilai estetika, yaitu nilai yang berkaitan dengan seni, keindahan

dalam karya sastra tentang bahasa, alur, dan tema.

5. Pengertian Nilai

Kandungan nilai suatu karya sastra adalah unsur esensial dari karya

itu secara keseluruhan. Pengungkapan nilai-nilai yang terdapat dalam suatu

karya sastra, bukan saja akan memberikan pemahaman tentang latar

belakang sosial budaya si pencerita, akan tetapi mengandung gagasan-

gagasan dalam menanggapi situasi-situasi yang terjadi dalam masyarakat

tempat karya sastra itu lahir. Hal ini seperti yang diungkapkan Damono

(dalam Salfiah, 2015: 6), bahwa sastra mencerminkan norma, yakni ukuran

perilaku yang oleh anggota masyarakat di terima sebagai cara yang baik

untuk bertindak dan menyimpulkan sesuatu. Sastra juga mencerminkan

nilai-nilai yang secara sadar di formulasikan dan diusahakan oleh warganya

dalam masyarakat.

Sehubungan dengan konsep nilai, (Baso dan Hasan, 2016: 30)

menjelaskan bahwa nilai adalah suatu yang berharga, yang berguna, yang

indah, yang memperkaya batin, yang menyadarkan manusia akan harkat

dan martabatnya. Nilai bersumber pada budi, yang berfungsi medorong,

mengarahkan sikap dan perilaku.


2

Secara umum karya sastra mengungkapkan isi kehidupan manusia

dengan segala macam perilakunya dalam bermasyarakat. Kehidupan

tersebut diungkapkan dengan penggambaran nilai-nilai terhadap perilaku

manusia dalam sebuah karya sastra. Oleh karena itu, sebuah karya sastra

selain sebagai pengungkapan estetika, di sisi lain juga berusaha

memberikan nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Sastra dan tata nilai adalah dua fenomena yang saling melengkapi

dalam keberadaan mereka sebagai sesuatu yang eksistensial. Sebagai

bentuk seni, pelahiran sastra bersumber dari kehidupan yang bertata nilai,

dan pada gilirannya sastra juga akan memberi sumbangsi bagi terbentuknya

tata nilai. Selain itu, juga memberikan semacam penekanan bahwa cipta

seni tersebut merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri (Salfiah, 2015).

6. Pengertian Moral

Menurut Budiningsi (2013: 6), moral adalah kesadaran moral,

rasionalitas moral atau alasan mengapa seseorang harus melakukan hal itu.

Dengan mengambil suatu keputusan berdasarkan nilai-nilai moral,

seringkali disebut dengan penalaran moral atau pemikiran moral atau

pertimbangan moral, yang merupakan segi kognitif dari nilai moral.

Menurut Bertens (2011: 37), moral atau moralitas berasal dari kata

sifat latin moralis mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral,

hanya saja terlihat lebih abstrak. Misalnya kita berbicara mengenai

moralitas suatu perbuatan‖, artinya kita berbicara mengenai baik atau


2

buruknya suatu perbuatan, yang berarti moralitas merupakan sifat moral

atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik atau buruk.

Setiap perbuatan manusia pasti berkaitan dengan baik dan buruk,

akan tetapi tidak semua, yang berarti ada juga beberapa perbuatan yang

netral dari segi etis. Misalnya, sesuatu yang baik akan selalu diawali atau

menggunakan tangan kanan atau kaki kanan, namun seseorang yang tebiasa

memakai sepatu diawali dengan kaki kiri karena sudah menjadi kebiasaan,

maka hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu yang tidak baik

atau melanggar moral, akan tetapi hal tersebut dapat dikatakan amoral.

Berbeda dengan seorang kepala rumah tangga yang lebih dulu

membelanjakan uangnya untuk kepentingan sendiri seperti main judi, dan

lain sebagainya, dan sisa uang tersebut barulah ia serahkan untuk keperluan

keluarga, maka tindakan tersebut termasuk tindakan immoral.

7. Nilai Moral dalam Karya Sastra

Menurut Nurgiyantoro (2010: 429) seperti halnya tema, dilihat dari

segi dikotomi aspek isi karya sastra, moral merupakan sesuatu yang ingin

disampaikan oleh pengarang kepada pembaca, merupakan makna yang

terkandung dalam sebuah karya, makna yang disarankan lewat cerita.

Adakalanya, moral diidentikkan pengertiannya dengan tema walau

sebenarnya tidak selalu menyaran pada maksud yang sama. Karena

keduanya merupakan sesuatu yang terkandung, dapat ditafsirkan, dan

diambil dari cerita, moral dan tema dapat dipandang sebagai memiliki

kemiripan. Namun, tema bersifat lebih kompleks daripada moral di


2

samping tidak memiliki nilai langsung sebagai saran yang ditujukan kepada

pembaca. Dengan demikian, moral dapat dipandang sebagai salah satu

wujud tema dalam bentuk yang sederhana, namun tidak semua tema

merupakan moral.

Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup

pengarang yang bersangkutan, pandangan tentang nilai-nilai kebenaran,

dan hal itulah yang ingin disampaikan kepada pembaca. Jadi, pada intinya

moral merupakan representasi ideologi pengarang. Karya sastra yang

berwujud berbagai genre yang notabene adalah “anak kandung” pengarang

pada umumnya terkandung ideologi tertentu yang diyakini kebenarannya

oleh pengarang terhadap berbagai masalah kehidupan dan sosial, baik

terlihat eksplisit maupun implisit (Nurgiyantoro, 2010: 430).

Moral dalam karya sastra biasanya dimaksudkan sebagai suatu

saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis,

yang dapat diambil (dan ditafsirkan), lewat cerita yang bersangkutan oleh

pembaca. Ia merupakan “petunjuk” yang sengaja diberikan oleh pengarang

tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan, seperti

sikap, tingkah laku, dan sopan santun pergaulan. Ia bersifat praktis sebab

“petunjuk” nyata, sebagaimana model yang ditampilkan dalam cerita itu

lewat sikap dan tingkah laku tokoh-tokohnya.

Menurut Nurgiyantoro (2010: 323-324), wujud dari penyampaian

moral secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu

mencakup hubungan manusia dengan diri sendiri, manusia dengan manusia


2

lain (orang lain), dan manusia dengan Tuhan. Adapun penjelasannya adalah

sebagai berikut:

a. Hubungan manusia dengan diri sendiri (Moral Individual)

Persoalan manusia dengan diri sendiri dapat bermacam-macam

jenis dan tingkat intensitasnya. Persoalan tersebut dapat berhubungan

dengan persoalan seperti menerima kenyataan, pantang menyerah, jujur,

tanggung jawab siswa terhadap pendidikan, keikhlasan, bekerja keras,

kesabaran, teguh pada pendirian, percaya diri, mengakui kesalahan,

sadar diri, berjanji, penyesalan, dan hal lain yang lebih berhubungan

dengan diri individu itu sendiri.

b. Hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial (Moral

Sosial)

Dalam kehidupan ini, mansusia pun sering berhubungan dengan

manusia lain. Seperti, kasih sayang antar teman atau saudara, kasih

sayang orang tua kepada anak, tanggung jawab orang tua kepada anak,

nasihat orang tua kepada anak, kasih sayang anak kepada orang tua,

nasihat antar teman atau saudara, berbagi atau memberi, berterima kasih,

tolong menolong, peduli sesama, rela berkorban, berbakti kepada orang

tua, menghargai, sopan santun, tidak memaksakan kehendak,

menghormati.

c. Hubungan manusia dengan Tuhan (Moral Religi)

Permasalahan lain yang sering dialami manusia dalam kehidupan

adalah permasalahan antara dirinya dengan Tuhannya. Permasalahan ini


2

berhubungan dengan aspek ketuhanan, misalnya permasalahan yang

berkaitan dengan ketaatan dalam menjalankan perintah Tuhan dan

menjauhi larangan-Nya. Seperti, bersyukur kepada Tuhan, memanjatkan

doa, berserah diri kepada Tuhan, memuji keagungan Tuhan.

Berdasarkan pemaparan tersebut, penulis ingin menjadikan ketiga

wujud penyampaian pesan moral di atas sebagai landasan dalam

menganalisis nilai moral dalam novel Selembar Itu Berarti. Hal ini

dilakukan dengan tujuan agar dalam proses analisis dapat mempermudah

penulis dalam menentukan nilai moral yang ada dalam novel Selembar Itu

Berarti sehingga batasan analisisnya pun akan semakin jelas.

Kebenaran moral dalam novel bukanlah yang seperti keadaan hidup

sehari-hari, tetapi kebenaran dan moral yang dituju adalah yang tidak hanya

bertumpu pada kenhidupan nyata melainkan yang sepatutnya terjadi dan

diinginkan.

Dalam novel Selembar Itu Berarti, selain mengandung unsur moral

dalam hal ini sikap atau perbuatan yang juga mengandung nilai pendidikan.

Sebab pada dasarnya pendidikan merupakan modal utama yang harus

dimiliki oleh seseorang di dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Novel ini

juga memang berlatar belakang pendidikan, karena bercerita tentang kisah

anak sekolah yang berjuang untuk menjadi orang yang berpendidikan

walau dengan keterbatasan dari segi ekonomi.

Moral dan pendidikan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan

antara yang satu degan yang lainnya. Oleh karena itu di dalam penelitian
2

ini keduaya tidak dapat dipisahkan moral dan pendidikan. Nilai pendidikan

yang dimaksud adalah suatu yang memunyai sifat dan hal-hal yang sangat

dihargai dan berguna dalam memberikan tuntunan hidup guna

mengarahkan manusia pada pembinaan sikap atau perbuatan yang mengacu

pada pembentukan kepribadian kearah yang lebih baik.

B. Kerangka Pikir

Berdasarkan uraian-uraian yang terdapat pada tinjauan pustaka diatas,

maka pada bagian ini akan dijelaskan beberapa hal yang dijadikan penulis

sebagai landasan berpikir berikutnya. Landasan tersebut akan mengarahkan

penulis untuk menemukan data dan informasi dalam penelitian ini, guna

memecahkan masalah yang telah dipaparkan.

Karya sastra dibedakan atas tiga bagian yakni, puisi, prosa dan drama.

Namun penelitian ini hanya terfokus pada karya sastra yang termasuk dalam

kategori prosa. Prosa dalam hal ini ialah novel dengan judul Selembar Itu

Berati Karya Suryaman Amipriono.

Pada penelitian ini, peneliti akan menganalisis nilai moral yang

terdapat dalam novel. Kemudian pada tahap analisis secara rinci diuraikan

tentang nilai-nilai moral yang terdapat dalam novel Selembar Itu Berarti karya

Suryaman Amipriono yakni moral individual, sosial, dan religi. Terakhir

adalah penarikan temuan, yang dilakukan setelah diketahui hasil dari analisis

novel dan mengambil simpulan yang menjadi tujuan utama penelitian ini.
2

Karya Sastra

Puisi Prosa Drama

Novel Selembar Itu Berarti


Karya Suryaman Amipriono

Nilai Moral

Moral Moral Moral


Individual Sosial Religi

Analisis

Temuan

Bagan 2.1 Kerangka Pikir


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Fokus dan Desain Penelitian

1. Fokus Penelitian

Berdasarkan judul penelitian analisis nilai moral dalam novel

Selembar Itu Berarti maka fokus dalam penelitian ini adalah nilai moral

yang terkandung di dalam novel Selembar Itu Berarti.

2. Desain Penelitian

Desain penelitian pada hakikatnya merupakan strategi yang

mengatur ruang atau teknis penelitian agar memperoleh data maupun

kesimpulan penelitian dengan kemungkinan munculnya kontaminasi yang

paling kecil dan variabel lain.

Untuk memudahkan memperoleh data dan kesimpulan secara

objektif tentang nilai-nilai moral dalam novel Selembar Itu Berarti karya

Suryaman Amipriono, langkah yang ditempuh penulis adalah mengadakan

studi kepustakaan yang mengidentifikasi pemilihan dan perumusan

masalah, menyelidiki variabel-variabel yang relevan melalui telaah

kepustakaan.

Adapun metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah

metode deskriptif. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur

pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau

menuliskan keadaan subjek atau non objek penelitian (seseorang, lembaga,

masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang

27
2

tampak atau sebagaimana adanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan

moral. Lagkah yang dilakukan adalah menganalisis teks sastra (novel)

untuk menemukan permasalahan yang berhubungan dengan nilai moral

yang terdapat dalam novel Selembar Itu Berarti karya Suryaman

Amipriono.

B. Definisi Istilah

Analisis

Analisis adalah uraian karya sastra dengan tujuan untuk memahami pertalian unsur-unsurnya. Analis
Nilai

Nilai adalah kesadaran yag secara relatif berlangsung disertai emosi terhadap objek.
Moral

Moral adalah kelakuan yag sesuai ukuran (nilai-nilai) masyarakat yang timbul dari hati dan bukan pa
Novel

Novel merupakan suatu karya prosa yang bersifat cerita yang

menceritakan suatu kejadian luar biasa dan kehidupan orang-orang (tokoh

cerita), dan kejadian ini menimbulkan konflik suatu pertikaian yang

mengalihkan urusan nasib mereka.


2

5. Novel Selembar Itu Berarti

Novel Selembar Itu Berarti merupakan novel karangan Suryaman

Amipriono, yang menceritakan megenai perjalanan peuh liku dua kakak

beradik dari keluarga miskin yang mengumpulkan lembar demi lembar

kertas bekas untuk biaya sekolah.

C. Data dan Sumber Data

Data

Data dalam penelitian ini adalah nilai moral yang terdapat dalam novel Selembar Itu Berarti karya Su
Sumber Data
Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data adalah novel Selembar Itu Berarti karya Suryaman A

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan untuk memperoleh

data dan informasi mengenai nilai-nilai moral yaitu dengan melakukan

penulisan pustaka (percetakan). Adapun langkah-langkah yang ditempuh

penulis dalam teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:


3

1. Mencari dan mengumpulkan standar acuan yang dijadikan acuan dalam

penelitian secara sistematis dan struktur agar tidak menjadi kesalahan akan

subjek yang diteliti.

2. Membaca novel Selembar Itu Berarti secara keseluruhan.

3. Memahami maksud dan tujuannya

4. Meganalisis paragraf demi paragraf, bab demi bab, dan melakukan

pengklasifikasian.

5. Mengelompokkan data yang di dalamnya mengandung nilai-nilai moral.

E. Teknik Analisis Data

Berdasarkan teknik pengumpulan data yang dipergunakan maka data

dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan nilai moral

yang dijadikan acuan penelitian meliputi:

1. Menelaah seluruh data yag telah diperoleh berupa nilai Moral dalam Novel

Selembar Itu Berarti karya Suryaman Amipriono.

2. Mereduksi dan mengaitkan data tertulis berupa nilai moral, selanjutnya

dikutip untuk memperkuat analisis data.

3. Bila hasil penelitian sudah dianggap sesuai, maka hasil tersebut dianggap

sebagai hasil akhir.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Setelah melakukan pengkajian terhadap novel Selembar Itu berarti,

penulis mencari data-data yang berkaitan dengan nilai moral, selanjutnya

dilakukan analisis sehingga mendapatkan hasil penelitian, dan kemudian

dilakukan pembahasan. Hasil penelitian yang diperoleh dari mengkaji novel

Selembar Itu Berarti karya Suryaman Amipriono yang diterbitkan Literatur

Media Sukses di Jakarta memperoleh hasil sebagai berikut: Wujud nilai moral

yang terdapat dalam novel Selembar Itu Berarti karya Suryaman Amipriono.

Hasil penelitian kemudian disusun dalam bentuk tabel untuk selanjutnya

dideskripsikan pada pembahasan.

Berdasarkan hasil penelitian, wujud nilai moral yang terkandung dalam

novel Selembar Itu Berarti karya Suryaman Amipriono mencakup hubungan

manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam

lingkup sosial termasuk dengan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Jenis-jenis nilai moral tersebut selanjutnya disampaikan melalui wujud-wujud

moral dalam karya sastra. Wujud moral tersebut disampaikan melalui

rangkaian cerita novel Selembar Itu Berarti. Berikut ini tabel penjabaran hasil

penelitian dari mengkaji nilai moral novel Selembar Itu Berarti.

31
3

Tabel 1. Wujud Nilai Moral dalam Novel Selembar Itu Berarti karya

Suryaman Amipriono.

No. Jenis Nilai Moral Wujud Halaman

1. Hubungan a. Menerima 6, 118, 124


kenyataan
Manusia dengan b. Pantang menyerah 26, 43, 44, 90, 181
(optimis)
Diri Sendiri c. Jujur 45
d. Tanggung jawab 53, 87
(Moral
siswa terhadap
pendidikan
Individual)
e. Keikhlasan 53
f. Bekerja keras 56, 72
g. Kesabaran 65
h. Teguh pada 72
pendirian
i. Percaya diri 73, 90
j. Mengakui 88, 91, 103
kesalahan
k. Sadar diri 118
l. Berjanji 118, 157
m. Penyesalan 155
a. Kasih sayang antar 6, 110, 111, 149, 166,
teman/saudara 179
b. Kasih sayang orang 9, 36, 48, 123, 142
Hubungan tua kepada anak
2.
c. Tanggung jawab 10, 122
Manusia dengan orang tua kepada
anak
manusia lain d. Nasihat orang tua 12, 36, 54, 123, 130,
kepada anak 142, 157
dalam lingkup
e. Kasih sayang anak 17, 46
kepada orang tua
sosial (Moral
f. Nasihat antar 19, 44, 58, 60 , 86,
Sosial) teman/saudara 123, 167
g. Berbagi atau 21, 134
memberi
h. Berterima kasih 21, 49, 72, 149
i. Tolong-menolong 27, 75, 84, 149
3

j. Peduli sesama 39, 53, 72, 104, 155


k. Rela berkorban 44, 103
l. Berbakti kepada 46, 177, 181
orang tua
m. Menghargai 63
n. Sopan santun 98, 162
o. Tidak memaksakan 100, 105
kehendak
p. Menghormati 120, 122
Hubungan a. Bersyukur kepada 10, 163, 165, 167, 180
Tuhan
Manusia dengan b. Memanjatkan do’a 13, 20, 62, 117, 175
3. c. Berserah diri 35
Tuhan (Moral kepada Tuhan
d. Memuji keagungan 137, 137, 137
Religi) Tuhan

Hasil penelitian berdasarkan kajian nilai moral pada novel Selembar

Itu Berarti karya Suryaman Amipriono, selanjutnya dijabarkan melalui

penjelasan deskriptif secara lebih lugas dan jelas. Hasil penelitian ini menjadi

acuan analisis deskriptif terhadap karya fiksi ini.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Wujud nilai moral yang terdapat dalam novel Selembar Itu Berarti

dapat dikatagorikan berdasarkan sifat dan kelakuan manusia yang melekat

dalam menjalani hidup. Berbagai persoalan hidup dan penyelasaian yang

muncul dapat memberikan sebuah gambaran tentang sesuatu yang diidealkan

oleh pengarang. Wujud nilai moral dalam novel Selembar Itu Berarti yaitu

wujud nilai moral dalam hubungan manusia dengan diri sendiri (moral

individual), wujud nilai moral dalam hubungan manusia dengan manusia lain

dalam lingkup sosial (moral sosial) dan wujud nilai moral manusia dengan
3

Tuhan (moral religi). Berikut akan dibahas mengenai wujud nilai moral dalam

novel Selembar Itu Berarti.

1. Hubungan Manusia dengan Diri Sendiri (Moral Individual)

Hubungan manusia dengan diri sendiri sebagai bentuk nilai mawas

diri dimana manusia seharusnya mengenali, adil dan bijak pada dirinya

sendiri. Hal ini bertujuan untuk menjadikan manusia lebih baik dalam hal

moral dengan mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan dan tidak

dilakukan. Dalam novel ini ditunjukan hubungan manusia dengan diri

sendiri yaitu: menerima kenyataan, pantang menyerah (optimis), jujur,

tanggung jawab siswa terhadap pendidikan, keikhlasan, bekerja keras,

kesabaran, teguh pada pendirian, percaya diri, mengakui kesalahan, sadar

diri, berjanji, dan penyesalan. Berikut ini penjelasan wujud nilai moral

hubungan manusia dengan diri sendiri.

a. Menerima Kenyataan

Menerima kenyataan merupakan salah satu nilai moral yang

menunjukkan hubungan manusia dengan diri sendiri. Menerima

kenyataan merujuk pada kemampuan diri menerima apa yang sudah

menjadi kenyatan bagi dirinya. Beberapa kutipan novel yang merujuk

pada nilai menerima kenyataan.

(1) “Meskipun kondisinya serba kekurangan, kami bahagia kok. Kan,


bahagia itu nggak melulu harus punya harta. Bahagia itu, ketika kita
berada dekat dengan keluarga,” gumamnya. Tangan mungil Putri
merapikan buku, lalu menyusunnya kertas putih yang warna-nya kian
lusuh. (Amipriono, 2019: 6)
3

Kutipan di atas menggambarkan bahwa tokoh Putri dengan

berlapang dada menerima kenyataan bahwa keluarganya memang tak

punya harta melimpah, namun ia bahagia bisa dekat dengan keluarga.

(2) “Ayah… Ibu. Maafin Putri, ya. Putri terpaksa harus melepas Diaz
untuk dirawat orang lain. Beraaaat rasanya. Karena hanya Diaz
satu-satunya darah daging Putrisaat ini.” (Amipriono, 2019:118)

Kutipan di atas menggambarkan tokoh Putri berusaha

menerima kenyataan bahwa sang adik harus diadopsi oleh orang lain.

(3) “Namun kini, Putri terpaksa mengalah dengan kondisi. Takut


berkompromi dengan ekonomi, dengan merelakan Diaz diasuh orang
lain supaya hidupnya lebih baik dan bisa terus sekolah.” (Amipriono,
2019: 124)
Kutipan di atas menggambarkan keadaan Putri yang terpaksa

dan harus menerima kenyataan untuk merelakan adiknya diasuh

orang lain agar bisa mempunyai hidup yang layak dan tetap

bersekolah.

b. Pantang Menyerah (Optimis)

Salah satu nilai moral yang sangat menonjol pada novel ini

adalah pantang menyerah. Ada banyak bagian dari novel ini yang

menunjukkan nilai pantang menyerah dari tokoh utama maupun

pendukung. Pantang menyerah disini dimaksudkan pada pribadi yang

tidak mudah menyerah dalam menghadapi masalah. Membangun pribadi

pantang menyerah berasal dari diri sendiri sebagai hubungan antara

manusia dengan diri sendiri. Berikut ini kutipan yang menunjukkan nilai

pantang menyerah.
3

(1) “Ketika ia melihat sebuah buku tulis yang menggenang di sungai


kecil, Diaz berusaha keras untuk mengambilnya. Padahal lokasinya
sulit dijangkau.” (Amipriono, 2019: 26)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa tokoh Diaz tidak pantang

menyerah demi mengumpulkan buku tulis, walaupun harus

mengambilnya diatas air yang menggenang di sungai.

(2) “Nggak kok, Kak. Diaz nggak akan menyerah. Tapi Diaz kepikiran
dengan sakitnya Ibu. Harusnya, kita sudah ada di rumah untuk
menjaganya”. (Amipriono, 2019: 43)
Kutipan di atas jelas menggambarkan sosok Diaz yang pantang

menyerah mencari buku bekas, terlihat dari bukti dialognya.

Walaupun ia tetap kepikiran dengan kondisi ibunya.

(3) “Iya, Kak. Diaz tetap semangat. Kakak nggak usah ragukan itu
lagi,” jawab Diaz. Tangannya mengepal. Lengannya diangkat
menunjukkan ototnya. (Amipriono, 2019: 44)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa Diaz memang tokoh

yang pantang menyerah, dibuktikan dengan dialog yang diikuti

gerakan mengepal tangan dan menunjukkan ototnya kepada

kakaknya.

(4) “Diaz tengah bersiap untuk ke sekolah. Semangat belajarnya masih


meladak-ledak meskipun perlengkapan sekolahnya sederhana. Warna
seragamnya kian lusuh. Putihnya menguning. Celana pendek
merahnya tidak berikat pinggang.” (Amipriono, 2019: 90)
Kutipan di atas menjelaskan bahwa walaupun dengan

perlengkapan sekolah yang sederhana, tetapi Diaz tetap semangat dan

pantang menyerah untuk bersekolah.

(5) “Namun, sekarang Kakak tahu. Bahwa Kakak punya kamu. Kakak
punya teman. Dan Kakak punya masa depan yang harus Kakak
hadapi. Kita harus tetap menjaga semangat ini, ya. Kita harus terus
3

bersekolah. Apapun keadaannya. Buat kedua orangtua bangga.”


(Amipriono, 2019: 181)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa Putrid dan Diaz

pantang menyerah untuk melanjutkan masa depannya, agar bisa

membanggakan orang-orang yang mereka sayangi.

c. Jujur

Jujur sebagai sebuah nilai merupakan keputusan seseorang untuk

mengungkapkan (dalam bentuk perasaan, kata-kata atau perbuatan)

bahwa realitas yang ada tidak dimanipulasi dengan cara berbohong atau

menipu orang lain untuk keuntungan dirinya. Berikut ini kutipan yang

menunjukkan nilai jujur.

(1) “Pak. Ini kantor saya. Tolong yang sopan. Anda boleh punya banyak
uang. Tapi tak semua bisa Anda beli. Apalagi kejujuran.” Sergap Pak
Lingga saat digoda dengan uang rasuah. Ia naik pitam. (Amipriono,
2019: 45)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh pak Lingga yang

berusaha menolak sogokan dari orang lain. Karena sikapnya yang

jujur, ia sampai memaki orang yang ingin menodai kejujurannya.

d. Tanggung Jawab Siswa Terhadap Pendidikan

Tanggung jawab siswa terhadap pendidikan termasuk kedalam

hubungan manusia dengan diri sendiri. Tanggung jawab siswa terhadap

pendidikan sangat penting dimiliki oleh semua siswa, karena apabila

tidak mempunyai tanggung jawab maka siswa tidak akan pernah

memikirkan pendidikan dan tidak mau belajar. Berikut ini kutipan yang

menunjukkan nilai tanggung jawab siswa terhadap pendidikan.


3

(1) “Ratusan siswa serentak memasang sikap hormat kepada sang


merah putih, yang ditarik menuju langit. Dengan iringan lagu
Indonesia Raya dari mulut-mulut mungil penerus bangsa itu.”
(Amipriono, 2019: 53)
Kutipan di atas menggambarkan bentuk tanggung jawab siswa

terhadap pendidikan, yang ditunjukkan dengan melakukan sikap

hormat kepada sang merah putih.

(2) “Buat sekolah Diaz dan Kak Putri, Pak. Buku itu nanti kita rapikan
lagi. Mengambil kertas yang belum dipakai. Dan menyusunnya
menjadi buku baru,” jawabnya sambil tersenyum. Senyum itu
menusuk kalbu Pak Lingga. (Amipriono, 2019: 87)
Kutipan di atas menggambarkan rasa tanggung jawab siswa

terhadap pendidikan. Sikap Diaz yang rela mengumpulkan buku

bekas demi digunakannya untuk bersekolah.

e. Keikhlasan

Keikhlasan adalah menerima apapun yang telah diberikan kepada

kita dengan sungguh-sungguh tanpa mengharapkan imbalan. Dalam hal ini

yang dimaksud keikhlasan adalah menerima takdir yang telah Tuhan

berikan. Nilai moral keikhlasan dapat kita lihat pada kutipan berikut.

(1) “Dua kali purnama sejak ibunya wafat, Putrid an Diaz terlihat sudah
lebih tegar. Mereka tak lagi dirundung sedih sudah bisa tersenyum dan
kembali nyaman bersekolah……” (Amipriono, 2019: 53)
Kutipan di atas menggambarkan nilai keikhlasan yang dimiliki

oleh Putri dan Diaz semenjak ditinggal ibunya meninggal. Mereka

sudah tegar dan kembali bersekolah.


3

f. Bekerja Keras

Bekerja keras adalah kegiatan yang dikerjakan secara sungguh-

sunggu tanpa mengenal lelah atau berhenti sebelum target kerja tercapai

dan selalu mengutamakan atau memperhatikan kepuasan hasil pada

setiap kegiatan yang dilakukan. Nilai moral bekerja keras dapat kita lihat

pada kutipan berikut.

(1) “Diaz kembali menjalani rutinitasnya sepulang sekolah: mencari


lembaran kertas di tempat pembuangan sampah. Bedanya, beban
pikirannya sudah bertambah. Galau karena mikirin sepatu putihnya
itu.” (Amipriono, 2019: 56)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Diaz adalah individu

yang bekerja keras. Walaupun baru beberapa hari ditinggal ibunya,

tapi ia tetap melanjutkan rutinitasnya mencari buku bekas

digunakannya untuk bersekolah.

(2) “Dan setelah Putri piker-pikir, Diaz harus tetap bersekolah. Dian
nggak boleh kehilangan masa depannya. Biarlah Putri bekerja.
Mencari uang. Untuk keperluan hidup dan sekolah Diaz.”
(Amipriono, 2019: 72)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Putri yang ingin bekerja

keras demi memenuhi kebutuhan hidup dan untuk biaya sekolah

adiknya.

g. Kesabaran

Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang

bertaqwa kepada Allah SWT. Kesabaran merupakan setengahnya

keimanan. Kesabaran adalah sikap individu yang ketika diuji ia

menerima semua cobaan dengan ikhlas, tidak marah dan tidak


4

memaksakan kehendak. Nilai moral kesabaran dapat kita lihat pada salah

satu kutipan berikut.

(1) “Iya, Diaz. Kakak paham. Tapi kita nggak punya makanan. Kamu
sabar, ya. Mudah-mudahan besok pagi Bu Imah datang
membawakan kita makanan,” Putri mengusap-usap rambut adikny.
Matanya nanar menatap. Bulir bening membesar dan siap-siap jatuh.
(Amipriono, 2019: 65)

Kutipan di atas menggambarkan Putri seorang yang sabar dan

berusaha memberikan pengertian kepada adiknya yang sedang

kelaparan. Cobaan yang mereka alami tidak membuat mereka

berkeluh kesah.

h. Teguh pada Pendirian

Kehidupan tokoh memiliki proses, mulai dari kelahiran menuju

kematian. Dalam kehidupannya, setiap tokoh berinteraksi dengan tokoh

lainnya. Ketika bersikap, beberapa tokoh berpegang teguh pada

pendirian yang berasal dari hati nurani, memiliki prinsip yang kuat dan

tidak tergoyahkan meskipun dipengaruhi sikap tokoh lain dan

bertanggung jawab terhadap pilihan. Hal tersebut dapat dilihat pada

kutipan berikut.

(1) “Putri harus mengambil sikap, Atri. Perjuangan ini cukup berat. Tapi
Putri harus kuat menghadapinya,” jelas Putri. (Amipriono, 2019: 72)
Kutipan di atas menjelaskan bahwa Putri adalah individu yang

teguh pada pendiriannya. Ia menolak bantuan temannya Atri yang

menawarkan tabungannya untuk digunakan Putri. Namun Putri tetap

tak ingin merepotkan temannya sendiri.


4

i. Percaya Diri

Nilai moral selanjutnya yang berhubungan dengan diri sendiri

pada novel ini adalah nilai percaya diri. Percaya diri merupakan salah

satu nilai yang perlu dimiliki oleh seseorang sebagai pribadi yang

tangguh. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.

(1) Diaz mau jadi presiden, Kak,” jawabnya ringan. Air mukanya
Nampak datar.” (Amipriono, 2019: 73)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Diaz yang penuh

percaya diri mengatakan kalau cita-citanya ingin jadi Presiden.

(2) “Langkah Diaz untuk menuntut ilmu juga makin mantap. Dia
mengabaikan koloid hitam yang menghias sepatunya. Tali
pengikatnya sudah disambung-sambung. Kaus kakinya pun yang itu-
itu saja.” (Amipriono, 2019: 90)
Kutipan di atas menggambarkan jiwa percaya diri Diaz, yang

ditunjukkan oleh sikapnya yang semakin mantap untuk menuntut

ilmu, mengabaikan pakaiannya yang serba sederhana.

j. Mengakui Kesalahan

Manusia pasti pernah berbuat kesalahan, namun tidak semua

manusia berani mengakui kesalahan yang diperbuat. Nilai moral ini

merujuk pada nilai diri sebagai bentuk kelapangan hati dalam mengakui

hal yang telah diperbuat. Pada novel ini tokoh yang melakukan

kekeliruan atau kesalahan mengakui hal salah yang telah diperbuat.

Berapa kutipan mengenai nilai mengakui kesalahan adalah sebagai

berikut.

(1) “Pak Lingga terpaku mendengar itu. Mendadak ia malu sebagai


kepala desa. Merasa gagal karena melihat langsung penderitaan yang
dirasakan warganya.” (Amipriono, 2019: 88)
4

Kutipan di atas menggambarkan tokoh Pak Lingga yang

merasa malu sebagai kepala desa, karena melihat penderitaan

warganya. Secara tidak langsung ia mengakui kesalahannya sebagai

kepala desa yang gagal.

(2) “Itu cara kita membantu mereka, Pak…,” ucap Bu Imah. Air
matanya tak terbendung lagi. Tangannya mengepal, lalu memukul
meja dengan pelan. Ia menyesal tak sanggup membesarkan kedua
bocah yang sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri.
(Amipriono, 2019: 91)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa Bu Imah mengakui

kesalahannya sebab ia tak sanggup membesarkan dua anak yang

dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri.

(3) “Maafin Bu Imah ya, Putri. Ibu nggak bisa bantu banyak buat
sekolah kamu dan Diaz.” Wajah keriputnya penuh kecemasan. Dia
merasa bersalah karena menganggap dirinya telah menelantarkan
mereka. (Amipriono, 2019: 103)
Kutipan di atas menggambarkan nilai mengakui kesalahan

yang dilakukan oleh Bu Imah yang tidak bisa membantu banyak

Putrid an Diaz, ia menganggap dirinya telah menelantarkan kedua

bocah itu.

k. Sadar Diri

Sadar diri adalah salah satu bentuk mawas diri atau mengetahui

kapasitas diri. Nilai moral ini mengacu pada kemampuan diri untuk

mengenali hal•hal yang mampu dilakukan dan tidak mampu dilakukan.

Berikut ini kutipan yang terdapat pada novel berkaitan dengan nilai

sadar diri.
4

(1) “Putri nggak punya daya untuk menahan Diaz, Bu. Putri nggak tega
melihat dia menderita. Putri ingin hidupnya lebih baik. Nggak harus
mikir mencari buku tulis lagi. Dan agar Diaz tetap bisa sekolah.
Seperti pesan Ayah dan Ibu dulu…” Spearuh nyawanya selaksa
terbang saat mengucap itu. (Amipriono, 2019: 118)
Kutipan di atas menggambarkan keadaan Putri ketika

mencurahkan kesedihannya diatas makam ayah dan ibunya. Ia harus

merelakan adiknya diasuh orang lain, karena ia merasa sadar diri

kalau ia tak mampu merawat dan membesarkan adiknya dengan

layak.

l. Berjanji

Nilai berjanji berkaitan dengan keinginan seseorang untuk

melakukan apa yang diinginkan atau dikehendaki untuk dilakukan. Janji

berkaitan dengan nilai moral yang tertanam pada diri sendiri, ketika

berjanji dirinya sendirlah yang harus menepati. Pada novel ini banyak

hal yang dijanjikan oleh tokoh dikarenakan pembelajaran dan hal•hal

baik yang diperolehnya. Berikut ini kutipan yang menunjukkan ketika

tokoh mengikrarkan janji.

(1) “Ayah … Ibu. Putri janji akan kembali untuk Diaz. Setelah Putri
mendapatkan kerja yang layak. Putri janji demi Diaz, Bu. Putri janji.
Ayaaaahhh… Ibu… Putri siap… Putri siaaappp…” (Amipriono,
2019: 118)

Kutipan di atas menggambarkan Putri dengan suara yang

lantang dan bersikap teguh, berjanji di depan makam orang tuanya

akan mengambil Diaz kembali ketika ia sudah bekerja dan mampu

menghidupi adiknya secara layak.

(2) “Setelah Diaz terima rapor, kita ke Desa Kelantan ya. Ibu dan Ayah
yang akan mengantarkan Diaz ke rumah Kak Putri, Ibu janji.” Bu
4

Lina meyakinkan Diaz yang tiba-tiba mematung. Mungkin dia sangat


berharap. (Amipriono, 2019: 157)

Kutipan di atas menggambarkan bahwa Bu Lina menyatakan

janji kepada Diaz, anak yang diadosinya untuk nantinya akan ia antar

bertemu dengan kakaknya, ketika melihat Diaz yang mematung

mengisyaratkan bahwa dia sangat berharap.

m. Penyesalan

Kesalahan itu terjadi disengaja maupun tidak disengaja.

Dalam kesehariannya, para tokoh bersosialisasi dengan alam dan

makhluk lain. Pada kenyataannya dalam diri tokoh itu terdapat sikap

yang disebut dengan menyesal. Menyesal dapat diartikan dengan

menyadari kesalahannya dan tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi.

Hal tersebut sesuai dengan kutipan berikut.

(1) “Sebelumnya Atri sudah ngomong, Pa. Tapi karena Papa baru
pulang tugas, dan karena Atri baru ketemu Putri kemarin, Atri berani
bilangnya lagi setelah didesak Bu Reni. Maafin Atri ya, Pa….”
Kepala Atri menunduk usai menjelaskan itu. (Amipriono, 2019: 155)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Atri yang menyesal

karena baru menyampaikan kepada Papa nya untuk membantu Putri.

Terbukti dari tingkahnya setelah meminta maaf ke Papa nya, ia

tertunduk.

2. Hubungan Manusia dengan Manusia Lain dalam Lingkup Sosial (Moral

Sosial)

Hubungan manusia dengan manusia lain dalam kehidupan

bermasyarakat, seringkali terjadi gesekan kepentingan. Persoalan hidup


4

sesama manusia dengan lingkungannya bisa berupa persoalan yang positif

maupun persoalan yang negatif. Mengingat bahwa manusia pada dasarnya

adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain termasuk

hubungan dengan alam sekitar sebagai kelengkapan dalam hidupnya

terkadang menimbulkan berbagai macam permasalahan. Wujud nilai moral

dalam hubungan manusia dengan manusia lain dalam novel ini yaitu: kasih

sayang antar teman/saudara, kasih sayang orang tua kepada anak, tanggung

jawab orang tua kepada anak, nasihat orang tua kepada anak, kasih sayang

anak kepada orang tua, nasihat antar teman/saudara, berbagi atau memberi,

berterima kasih, tolong menolong, peduli sesame, rela berkorban, berbakti

kepada orang tua, menghargai, sopan santun, tidak memaksakan kehendak,

menghormati. Berikut ini penjelasan wujud nilai moral hubungan manusia

dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk dengan alam.

a. Kasih Sayang Antar Teman/Saudara

Kasih sayang merupakan pemberian rasa cinta yang diberikan

oleh seseorang ke orang lainnya, atau kepada seluruh keluarganya, kasih

sayang juga tercipta karena adanya rasa perhatian, penyayang, sehingga

terciptalah rasa kasih sayang. Tidak hanya pasangan lawan jenis saja

rasa kasih sayang yang tercipta tetapi kepada keluarga, saudara, sahabat

dan teman-teman. Berikut ini kutipan yang terdapat pada novel berkaitan

dengan kasih sayang antar teman/saudara.

(1) “Meskipun kondisinya serba kekurangan, kami bahagia kok. Kan,


bahagia itu nggak melulu harus punya harta. Bahagia itu, ketika kita
berada dekat dengan keluarga,” gumamnya. (Amipriono, 2019:6)
4

Kutipan di atas menggambarkan bahwa Putrid an keluarganya

saling menyayangi, walaupun mereka tak memiliki harta berlimpah

tapi mereka saling berkasih sayang.

(2) “Kakak nggak mungkin mencelakakan adik kandung kakak sendiri.


Diaz satu-satunya milik kakak. Diaz satu-satunya harapan kakak.
Diaz separuh nyawa kakak. Karena itu, Diaz harus berhasil. Diaz
harus membuat Ayah dan Ibu bangga di alam sana.” Putri membelai
rambut Diaz dan menyibakkan poni yang menututi sebagian
keningnya. (Amipriono, 2019: 110)
Kutipan di atas menggambarkan kasih sayang Putri kepada

saudaranya, dari ucapannya dia sangat menyayangi adiknya itu.

Dibuktikan juga ketika Putri membelai rambut adiknya, yang

menandakan ia sangat menyayanginya.

(3) “Ehm… Kakak sayang kamu, Diaz.” Putri menutup drama malam itu
dengan satu pelukan erat kepada adiknya, yang dalam beberapa hari
kedepan akan memiliki kehidupan baru, masa depan baru, bersama
keluarga yang baru. (Amipriono, 2019: 111)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa Putri sangat

menyayangi adiknya, dengan ucapannya dan pelukan yang ia berikan,

dapat membuktikan bahwa ia sangat menyayangi adiknya itu.

(4) “Jadi, walaupun saat ini kamu belum sekolah lagi, Putri tetap bisa
belajar dari rumah, melalui buku Atri. Iya, kan?” terang Atri.
Tatapan matanya ke Putri membuat teduh. (Amipriono, 2019: 149)
Kutipan di atas menggambarkan nilai kasih sayang antar

teman, Atri yang rela meminjamkan bukunya untuk Putri agar bisa

dipelajarinya.

(5) “Nggak Putri. Nggak. Ini nyata!” Jemari Atri dengan terampil
menghapus sisa air mata di pipi Putri dengan perlahan. Putri sesekali
mengedipkan mata dengan bibir yang mengembang. (Amipriono,
2019: 166)
4

Kutipan di atas menggambarkan sosok Atri yang menyayangi

Putri temannya, dengan menghapuskan air matanya dan berusaha

memberikannya semangat.

(6) “Diaaaaaz! Kakak kangen banget sama kamu, Sayang.” Tubuh Diaz
jatuh di pelukan saudara kandungnya. Putri mendekapnyaerat.
Bagaikan seribu tahun tidak berjumpa. Buliran air mengalir deras.
Membasahi bagian bahu kemeja Diaz. (Amipriono, 2019: 179)
Kutipan di atas menggambarkan kasih sayang antar saudara,

Diaz dan Putri berpelukan melepas rindu mereka setelah terpisah

beberapa lama.

b. Kasih Sayang Orang Tua Kepada Anak

Kasih sayang adalah faktor yang cukup penting untuk kehidupan

anak, kasih sayang tidak akan dirasakan oleh si anak apabila dalam

kehidupannya mengalami hal-hal misal kehilangan pemeliharaan orang

tuanya, anak merasa tidak diperhatikan, dan kurang disayangi. Kasih

sayang orang tua kepada anak dapat dilihat pada beberapa kutipan

berikut.

(1) “Tadi ada banyak cucian di rumah Bu Zaitun. Anak pertamanya baru
pulang dari Medan. Dari asrama tempatnya kuliah.” Pelan-pelan,
Hera menjawab. Kedua tangannya mendekap erat anaknya yang
merapat. (Amipriono, 2019: 9)
Kutipan di atas menggambarkan seorang ibu yang menyayangi

anak-anaknya. Terlihat dari cara ia bercerita kepada anaknya dan

memberikan dekapan kepada anaknya.

(2) Diaz, Ibu sayang banget sama kalian. Sayang sama Diaz. Sayang
sama Kak Putri,” tangan Hera menggenggam jemari Diaz. Rasa
hangatnya membuat anak laki-laki itu merasakan nyaman. (Amipriono,
2019: 36)
4

Kutipan di atas menggambarkan tokoh Ibu Hera

mengungkapkan rasa sayangnya kepada anak laki-lakinya, sembari

menggenggam tangannya.

(3) “K-kalian adalah anak-anak Ibu yang pintar. T-tetap s-semangat ya.
Jangan pernah menyerah dengan keadaan.” Hera menggenggam
jemari Putri. (Amipriono, 2019: 48)
Kutipan di atas menggambarkan nilai kasih sayang yang

ditunjukkan Ibu Hera kepada anaknya, dengan memberikan semangat

dan memuji anaknya. Walaupun saat itu keadaannya sudah sangat

lemah.

(4) “Bu Imah berulang kali mencium pipinya. Sesekali ke dahi, sambil
mengusap-usap rambutnya.” (Amipriono, 2019: 123)
Kutipan di atas menggambarkan kasih sayang yang diberikan

kepada Diaz yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Dia

memberikan perlakuan yang lembut kepada Diaz.

(5) “Ya sudah-ya sudah. Ngobrolnya nanti aja, ya. Kita makan dulu. Diax
dan Sela, Ayah punya hadiah bagus untuk kalian. Nanti Ayah berikan
setelah makan, ya,” bujuk Pak Azwar. (Amipriono, 2019: 142)

Kutipan di atas menggambarkan kasih sayang Pak Azwar, ayah

angkat Diaz yang memberikan ingin memberikan hadiah untuk Diaz

dan Sela anak kandungnya, hal ini merupakan wujud kasih sayangnya

terhadap kedua anaknya itu.

c. Tanggung Jawab Orang Tua kepada Anak

Tanggung jawab adalah kesadaran diri manusia terhadap tingkah

laku dan perbuatan yang disengaja ataupun tidak disengaja. Tanggung

jawab juga harus berasal dari dalam hati dan kemauan diri sendiri atas
4

kewajiban yang harus di tanggung jawabkan. Tanggung jawab bersifat

kodrati yaitu tanggung jawab harus ada di dalam diri setiap manusia.

Tanggung jawab orang tua kepada anak bersifat wajib. Tanggung jawab

orang tua kepada anak dapat dilihat pada kutipan data berikut.

(1) “Ya sudah, kalian belajar ya. Ibu mau masak dulu untuk makan kita
mala mini.” Hera lalu bergegas. Menyiapkan bahan masakan dan
peralatan dapur. (Amipriono, 2019: 10)

Kutipan di atas menggambarkan tanggung jawab seorang Ibu

kepada anaknya dengan memberikan arahan dan membuatkan

makanan untuk anak-anaknya.

(2) “Diantara bait kehidupan itu, sosok Ibulah yang paling Diaz ingat.
Beliau menjadi teladan yang baik. Mendidiknya menjadi anak yang
patuh. Tenang dan tidak petakilan. Tabah. Tidak manja. Serta nyaris
tidak pernah mengeluh menghadapi kesulitan yang datang bertubi-
tubi.” (Amipriono, 2019: 122)
Kutipan di atas menjelaskan bahwa Ibunya Diaz melakukan

tanggung jawabnya dengan sangat baik. Terbukti, Diaz menjadi anak

yang baik sesuai dengan kutipan diatas.

d. Nasihat Orang Tua kepada Anak

Nasihat merupakan suatu didikan dan peringatan yang diberi

berdasarkan kebenaran dengan maksud untuk menegur dan membangun

seseorang dengan tujuan yang baik. Nasihat selalu bersifat mendidik.

Nasihat juga bisa dimaksud nilai, petunjuk yang baik, peringatan,

mengusulkan, atau menganjurkan kepada seseorang tentang pelbagai hal.

Nasihat orang tua kepada anak merupakan nasihat untuk anak dari orang

tua yang bersifat membangun agar anak dapat membedakan hal yang baik

dan tidak baik. Berikut ini kutipan nasihat orang tua kepada anak.
5

(1) “Kalian berdua pasti bisa menjadi Presiden, Nak. Dengan syarat,
kalian harus memiliki semangat belajar yang tinggi. Berusaha dengan
sungguh-sungguh dan terus berdoa kepada Allah.” (Amipriono, 2019:
12)

Kutipan di atas menggambarkan bentuk nasihat orang tua

kepada anaknya, dengan memberikan wejangan-wejangan agar

anaknya bisa menjadi Presiden sesuai yang diinginkannya.

(2) “Tapi, kalian harus ingat ya. Apapun keadaannya. Bagaiamanapun


kondisinya, kalian harus tetap sekolah, ya. Belajar yang tekun. Jaga
semangat. Bersikap disiplin. Pantang menyerah. Agar kalian bisa
menjadi orang yang sukses…,” ucap Hera lembut menasihati Diaz.
(Amipriono, 2019: 36)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Ibu Hera yang

menasihati anaknyanya agar tetap sekolah hingga sukses, bagaimana

pun keadaannya.

(3) “Baik-baik belajar ya, Nak. Ibu dan ayahmu pasti bangga mempuyai
anak-anak rajin seperti kalian. Dan Ibu yakin, Allah pasti akan
melihat perjuangan kalian, dan meringankan beban hidup kalian.
Makanya jangan tinggalkan salat ya, Nak,” nasihat Bu Imah.
(Amipriono, 2019: 54)
Kutipan di atas menggambarkan sosok Ibu Imah yang sudah

menganggap Diaz dan Putri seperti anaknya, menasihati mereka agar

tekun belajar dan bisa membanggakan orang tua mereka di surga. Serta

mengajak mengajak mereka agar tidak meninggalkan salat.

(4) “Sehat-sehat ya, Nak. Jaga diri kamu baik-baik…,” bisik Bu Imah
kepada Diaz. (Amipriono, 2019: 123)
Kutipan di atas menggambarkan nasihat Bu Imah kepada Diaz

yang akan diadopsi orang lain, agar senantiasa sehat dan menjaga diri.

(5) “Ya sudah, ya sudah. Kamu jaga diri, ya. Jangan lupa jenguk juga
mama kamu. Perhatiin dia. Karena bagaimanapun, dia itu yang
ngerawat dan ngelahirin kamu dulu.” (Amipriono, 2019: 130)
5

Kutipan di atas menggambarkan nasihat Papa Nisa kepada

anaknya, dengan memberikan peringatan dan usulan kepada putrinya

itu.

(6) “Bukannya Bunda ngelarang kamu, Mbak. Tapi ya, harus ingat waktu.
Malam itu kan waktunya belajar. Main HP kan, juga ada waktunya.
Bisa pulang sekolah. Atau ketika sore sehabis solat Asar. Harusnya
Sela kasih contoh yang baik baut adik kamu,” kata Bu Lina bernasihat.
(Amipriono, 2019: 142)
Kutipan di atas menggambarkan bentuk nasihat orang tua

kepada anak. Ibu Lina menasihati anaknya dengan memberi peringatan

bahwa ketika waktunya belajar, ya belajar, jangan main HP.

(7) “Ibu paham yang kamu rasakan, Diaz. Andai jadi kamu, Ibu juga akan
kepikiran. Tapi pikiran itu jangan sampai mengganggu belajar kamu,
ya?” (Amipriono, 2019: 157)
Kutipan di atas menggambarkan Ibu Lina yang selalu

memberikan nasihat kepada anaknya, begitupun untuk Diaz anak

angkatnya juga tetap ia berikan nasihat untuk tetap fokus belajar.

e. Kasih Sayang Anak kepada Orang Tua

Kasih sayang merupakan pemberian rasa cinta yang diberikan oleh

seseorang ke orang lainnya, atau kepada seluruh keluarganya, kasih sayang

juga tercipta karena adanya rasa perhatian, penyayang, sehingga

terciptalah rasa kasih sayang. Tidak hanya pasangan lawan jenis saja rasa

kasih sayang yang tercipta tetapi kepada orang tua, sahabat, keluarga dan

teman-teman. Kasih sayang juga dapat mempersatukan orang yang sedang

berselisih, banyak sekali sisi positif dari kasih sayang. Berikut kutipan kasih

sayang anak kepada orang tua.


5

(1) Bukannya bergegas, Diaz malah mendekati ibunya, melendot manja.


“Ibu sarapan, ya. Terus, minum obat. Biar Diaz dan Kak Putri
belajarnya tenang di sekolah.” (Amipriono, 2019: 17)

Kutipan di atas menggambarkan bentuk kasih sayang Diaz

kepada ibunya yang sedang sakit, memintanya untuk makan dan

minum obat.

(2) “Nggak usah. Kamu jagaian Ibu aja, ya. Cepat panggil Kakak kalau
ada apa-apa. Apalagi kalau Ibu mau minum obat. Ya…,” terang Putri.
Ia pun bergegas ke kamar mandi. (Amipriono, 2019: 46)
Kutipan di atas menggambarkan bentuk kasih sayang Putri

kepada Ibunya, ia meminta adiknya tetap menjaga Ibunya dan

memanggilnya ketika ada apa-apa.

f. Nasihat Antar Teman/Saudara

Nasihat juga bisa dimaksud nilai, petunjuk yang baik, peringatan,

mengusulkan, atau menganjurkan kepada seseorang tentang pelbagai hal.

Nasihat juga mengajarkan bagaimana cara berfikir dan bertindak dengan

baik. Nasihat tidak hanya dilakukan oleh orang tua kepada anak saja,

melainkan nasehat antar teman atau saudara. Berikut merupakan beberapa

hasil dari nasehat antar teman/saudara.

(1) “Yang penting, bagaimana kita menikmatinya. Tetap ikhlas.


Bersyukur. Menjalani hidup apa adany. Sekarang aja, Kakak udah
bersyukur banget bisa sekolah. Dan kamu. Juga harus begitu.
Bersyukur. Yaaah,” ajak Putri kompak. (Amipriono, 2019: 19)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Putri yang menasihati

saudaranya untuk tetap bersyukur dan menjalani hidup apa adanya.

(2) “Itu makanya, kita tetap harus bersyukur Diaz. Sambil terus menjaga
semangat. Semoga Allah tetap memberikan kita rezeki agar kita masih
terus bisa sekolah. Iya, kan?” Putri mencoba memotivasi karena cuma
itu yang bisa dia beri sejauh ini. (Amipriono, 2019: 44)
5

Kutipan di atas menggambarkan Putri yang terus menasihati

adiknya untuk terus semangat, walaupun hanya itu yang bisa ia berikan

sejauh ini.

(3) “Diaz. Memang seperti inilah hidup. Tapi kamu jangan sedih, ya.
Kamu harus tetap menjaga semangat. Karena Kakak yakin, kamu bisa
melewati semua ini. Ada aura optimis di wajah kamu,” Nisa
menyemangati. (Amipriono, 2019: 58)
Kutipan di atas menggambarkan nasihat antar teman yang

dilakukan oleh Nisa kepada Diaz. Ia menasihati untuk tidak sedih dan

tetap semangat.

(4) “Mulai sekarang, kamu harus yakin. Dan tetap menjaga semangat.
Bahwa kamu bisa melanjutkan sekolah hingga SMA.” (Amipriono,
2019: 60)
Kutipan di atas menggamabrkan nasihat Nisa kepada temannya

Diaz untuk tetap semangat dan yakin.

(5) “Atri, tolong. Kamu jangan sedih, ya. Kamu harus bersyukur atas
kondisi kamu sekarang. Kamu harus bersyukur tetap bisa sekolah.
Memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin. Karena tidak semua
orang bisa seberuntung kamu,” jawab Putri. (Amipriono, 2019: 86)
Kutipan di atas menggambarkan nasihat Putri yang ditujukan

kepada temannya Atri untuk tetap bersyukur dengan kehidupannya

yang sudah layak, dan tetap memanfaatkan kesempatan yang ada.

(6) “Diaz jangan sedih lagi, ya. Ingat pesan Ibu dan Ayah. Diaz harus
tetap rajin belajar. Jangan nakal dan terus semangat.” Putri
menggenggam erat tangan adiknya. (Amipriono, 2019: 123)
Kutipan di atas menggambarkan nasihat kakak kepada

adiknyanuntuk tetap rajin belajar dan semangat, sesuai apa yang

disampaikan orang tuanya dulu.


5

(7) “Iya, Put. Insyaallah ini yang terbaik buat kamu, ya. Kamu harus
manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya,” bisik Nisa. Putri
mengangguk dan spontan memeluk Nisa. (Amipriono, 2019: 167)
Kutipan di atas menggambarkan nasihat Nisa kepada Putri agar

memanfaatkan kesempatan bersekolah kembali dengan sebaik-

baiknya.

g. Berbagi atau Memberi

Berbagi atau memberi merupakan salah satu bentuk penerapan

nilai moral yang merujuk pada keikhlasan seseorang dalam memberikan

sebagian yang dimiliki pada orang lain. Nilai ini juga dimunculkan pada

novel melalui berbagai peristiwa dan perilaku tokoh. Berikut ini kutipan

moral berbagi atau memberi.

(1) Kenapa nggak bilang dari tadi, Arya bawa buku yang masih baru,
lebih kok. Kamu pilih mana yang kamu suka,” tawar Arya ramah.
Tiga buku tulis berisi 50 halaman dikeluarkan dari tasnya.
(Amipriono, 2019: 21)
Kutipan di atas menggambarkan sikap berbagi yang dilakukan

oleh Arya kepada Diaz, ia memberikan bukunya yang lebih kepada

Diaz.

(2) “Kalau gitu, kita cari kita cari makanan, yuk. Kakak yang bayar,”
ajak Nisa. Sama seperti tadi. Putri juga menjawabnya tanpa kata.
(Amipriono, 2019: 134)
Kutipan di atas menggambarkan sikap berbagi Nisa kepada

Putri dengan mengajaknya makan, karena ia orang yang punya maka

ia berusaha untuk berbagi dengan temannya itu.

h. Berterima Kasih

Berterima kasih merupakan ungkapan dari perasaan syukur

terhadap bantuan orang lain. Syukur merupakan bagian dari ungkapan


5

terima kasih. Seperti halnya kutipan sebagai berikut. Ketika seorang tokoh

mendapatkan kebaikan dariorang lain kemudian dia akan mengucapkan

terima kasih sebagai ungkapan untuk menghargai orang lain dan rasa

syukurnya. Berikut ini beberapa kutipan yang bermuatan nilai berterima

kasih.

(1) “Iya, Arya. Terima kasih, ya.” Secuil senyum pun merekah dari bibir
Diaz. Harinya yang kosong menjadi berisi berkat ketulusan
pertemanan. (Amipriono, 2019: 21)
Kutipan di atas menggambarkan ungkapan terima kasih Diaz

kepada Arya, yang telah memberikan selembar kertasnya untuk Diaz.

(2) “Bu Imah. Terima kasih sudah membantu kami,” tarik napas hera
semakin berat. (Amipriono, 2019: 49)
Kutipan di atas menggambarkan keadaan Bu Hera yang sudah

tak berdaya, tapi tetap mengucapkan terima kasih kepada Bu Imah

yang telah membantunya.

(3) “Jangan, Atri. Jangan, ya. Terima kasih. Putri nggak mau buat orang
lain repot. Putri ingat betul pesan Ayah: Jangan karena ingin
membuat kita bahagia, orang lai malah menjadi sedih” kenangnya.
(Amipriono, 2019: 72)
Kutipan di atas menggambarkan ucapan terima kasih Putri

kepada Atri yang ingin membantunya. Namun disini, Putri tetap

menolak bantuan Atri karena ia tidak mau merepotkan temannya ini.

(4) “Terima kasih, Atri. Kamu baik banget,” jawabnya, saat menerima
beberapa buku catatan yang sudah tersampul rapi. (Amipriono, 2019:
149)
Kutipan di atas menggambarkan keadaan ketika Atri

meminjamkan buku untuk Putri, kemudian Putri mengucapkan terima

kasih kepadanya.
5

i. Tolong Menolong

Tolong menolong adalah nilai sosial yang sudah diajarkan sejak

dini. Pada dasarnya manusia membutuhkan bantuan manusia lain untuk

bertahan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tolong• menolong sangat

penting di masyarakat. Pada novel ini nilai tolong menolong ditunjukkan

pada kutipan berikut.

(1) “Ini, Dik. Pegang ranting ini, biar Kakak tarik kamu ke atas,” seru
Nisa. Kayu itu ditarik perlahan setelah berhasil dijangkau Diaz.
(Amipriono, 2019: 27)

Kutipan di atas menggambarkan nilai tolong menolong yang

dilakukan oleh Nisa pada Diaz yang terjatuh ke sungai, dengan

berusaha menariknya untuk naik kembali.

(2) “Pak, kita harus membantu mereka. Karena mereka sudah tidak punya
siapa-siapa lagi,” ucap Bu Imah kepada kepala desa. (Amipriono,
2019: 75)

Kutipan di atas menggambarkan nilai tolong menolong yang

dilakukan oleh Bu Imah. Ia ingin menolong Putri dan Diaz, sehingga ia

pun menemui kepala desa agar bisa membantunya.

(3) “Ya, udah. Nggak apa-apa. Biasa itu, Dek. Ini ikannya, ya. Tiga ekor,
masih seger-seger. Ambil aja buat kalian. Gratis,” kata si penjual ikan
ikhlas. (Amipriono, 2019: 84)

Kutipan di atas menggambarkan sikap tolong menolong yang

dilakukan oleh penjual ikan kepada Nisa, Putri dan Diaz yang ingin

membeli ikan. Penjual ikan ini memberikan ikannya secara cuma-

cuma, melihat kondisi tiga anak ini yang hanya ingin membeli 3 ekor

ikan.

(4) “Iya, Put. Nggak apa-apa. Yang Atri bawa sih, baru 4 pelajaran. IPA,
5

IPS, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Kalau Putri mau buku


catatan Bahasa Inggris dan Agama, besok Atri bawa, ya.” Ia
menggenggam tangan Putri. (Amipriono, 2019: 149)

Kutipan di atas menggambarkan Atri yang menolong Putri

untuk tetap belajar, sehingga ia meminjamkan bukunya untuk Putri.

j. Peduli Sesama

Nilai kepedulian sangat dominan pada novel ini. Peduli

dimaksudkan sebagai nilai yang mengacu pada kepekaan seseorang

terhadap kondisi orang lain sehingga menimbulkan perilaku empati. Nilai

peduli antar sesama manusia secara tersirat dan tersurat muncul dalam

beberapa bagian cerita. Berikut beberapa kutipan peduli sesama.

(1) “Besok Ibu ke Medan. Doakan ikan Ibu cepat laku, ya. Biar ada uang
buatmu berobat. Biar kamu bisa cepat normal dan merawat anakmu
lagi.” Mata bening Bu Imah menatap. (Amipriono, 2019: 39)

Kutipan di atas menggambarkan sikap peduli sesama yang

dilakukan oleh tokoh Bu Imah kepada Hera. Ia berusaha menjual ikan

dan hasilnya akan ia berikan kepada Hera untuk berobat.

(2) “Untungnya ada Bu Imah. Janda paruh baya ini begitu pengertian.
Meskipun hidupnya tidak lebih baik, ia begitu memperhatikan Putri
dan Diaz. Sering ia ke rumah. Melihat mereka. Memastikan kondisinya
baik-baik saja. Dan untuk meyakinkan ini: ada atau tidak makanan
yang bisa mereka makan.” (Amipriono, 2019: 53-54)

Kutipan di atas menjelaskan sikap Bu Imah yang peduli

terhadap Diaz dan Putri, memastikan kondisinya baik-baik saja setelah

ditinggal meninggal oleh Ibunya.

(3) “Putri, Atri masih punya tabungan. Kalau kamu mau, besok Atri bawa
ya. Kamu boleh pake buat apa aja. Buat beli beras. Buat beli buku.
Yang penting kamu masih bisa bersekolah.” (Amipriono, 2019: 72)

Kutipan di atas menggambarkan kepedulian Atri kepada


5

sahabatnya Putri, sampai rela ingin memberikan uang tabungannya

agar Putri bisa tetap bersekolah.

(4) “Bu Imah selalu hadir saat dua malaikat kecil itu butuh pertolongan.
Sering ia membersihkan rumah, dan mengantarkan makanan. Malah
kadang mencuci kembali pakaian yang terlihat masih kotor, dan tak
membiarkan pakaian-pakaian itu kusut. Semua licin, bersih, dan wangi
disetrika Bu Imah.” (Amipriono, 2019: 104)

Kutipan di atas menjelaskan kalau Bu Imah memang tokoh

yang peduli, ia selalu memberikan pertolongan kepada dua anak kecil

itu.

(5) “Jadi tolong, Pak. Kita harus bantu dia. Kita harus menyelamatkan
sekolah Putri.” Bu Reni nanar menatap. (Amipriono, 2019: 155)

Kutipan di atas menggambarkan bahwa Bu Reni, guru sekolah

Putri sangat peduli terhadap Putri yang sekarang tidak bersekolah. Ia

rela memohon kepada kepala sekolah untuk membantunya.

k. Rela Berkorban

Nilai rela berkorban merujuk pada pengertian melakukan sesuatu

hal yang penting untuk kebutuhan atau keperluan orang lain. Nilai ini

menunjukkan adanya hubungan manusia yang saling berkaitan dan saling

membutuhkan satu sama lain. Nilai rela berkorban dapat dilihat pada

kutipan cerita berikut ini.

(1) “Eh... kamu capek nggak? Kalau capek, sini biar Kakak gendong.”
Putri pun berlutut, adiknya naik ke punggungnya. (Amipriono, 2019:
44)

Kutipan di atas menggambarkan sikap rela berkorban Putri

untuk Diaz. Ia rela mengendong adiknya, walaupun ia juga lelah.

(2) “Ini pilihan yang sulit, [Link] juga nggak tahu sampai kapan. Tapi,
5

biarlah Putri yang cari uang. Buat makan. Buat beli buku. Supaya
Diaz bisa terus sekolah.” (Amipriono, 2019: 103)

Kutipan di atas menggambarkan tokoh Putri yang rela

berkorban untuk Diaz. Rela putus sekolah demi mencari kerja, dan

membiarkan adiknya yang tetap bersekolah.

l. Berbakti kepada Orang Tua

Berbakti pada orang tua merupakan nilai moral yang sangat

penting bagi seorang anak. Berbakti merujuk pada kewajiban seorang anak

dalam menjalani tugas dan perannya pada orang tua. Namun berbakti tidak

hanya pada orang tua kandung saja, berbakti juga dapat ditujukan pada

setiap orang yang disayangi dan dianggap sebagai keluarga. Berikut ini

kutipan yang sesuai.

(1) “Diaz, setengah jam lagi, kamu bangunin Ibu, ya. Ibu belum minum
obat,” pesan Putri, kepada Diaz. Hera berbaring lemah di atas dipan.
(Amipriono, 2019: 46)

Kutipan di atas menggambarkan keberbaktian Putri dan Diaz

kepada Ibunya. Ibunya yang terbaring sakit, kini diperhatikan oleh

Putri dan Diaz, merupakan salah satu bentuk keberbaktian kepada

orang tua.

(2) “Antar Diaz ke makam ya, Bu. Diaz kangen orang tua Diaz,” katanya.
Suaranya terdengar parau. Matanya sembap. (Amipriono, 2019: 177)

Kutipan di atas menggambarkan Diaz yang tetap berbakti pada

orang tuanya, walaupun telah tiada. Ia tetap ingin ke makam orang

tuanya.

(3) “Iya, Sayang. Nanti setiap salat, jangan lupa kita bacakan Al-Fatihah
buat almarhum Ayah dan Ibu ya...” (Amipriono, 2019: 181)
6

Kutipan di atas menggambarkan bentuk bakti anak kepada

orang tuanya. Putri dan Diaz tetap berbakti kepada orang tuanya,

walaupun mereka beda alam sekarang, mereka melakukan baktinya

dalam wujud selalu mendoakannya dalam salat.

m. Menghargai

Nilai menghargai dalam novel ini dapat terlihat dalam keseharian

para tokoh. Beberapa tokoh menyadari kelebihan yang dimiliki tokoh lain,

dengan begitu rasa penghargaan terhadap tokoh lain akan muncul. Sikap

tokoh yang mau menerima kelebihan tokoh lain menjadi hal yang

dilakukan oleh tokoh-tokoh dengan sikap bijaksana. Berikut ini salah satu

kutipan nilai menghargai orang lain.

(1) “Nggak apa-apa, Putri. Ini juga sudah enak, kok,” hibur Nisa.
Ketiganya nampak begitu lahap menyantap. Alhamdulillah.
(Amipriono, 2019: 63)

Kutipan di atas menggambarkan suasana saat Nisa, Putri dan

Diaz sedang makan, dan Putri memasak makanan alakadarnya.

Namun, Nisa tetap menghargai masakan yang dihidangkan Putri.

n. Sopan Santun

Sopan santun yaitu norma tidak tertulis yang mengatur bagaimana

seharusnya bersikap dan berprilaku. Sopan santun merupakan istilah

bahasa Jawa yang dapat diartikan sebagai perilaku seseorang yang

menjunjung tinggi nilai-nilai. Sopan santun adalah suatu tata cara atau

aturan yang turun-temurun dan berkembang dalam suatu budaya

masyarakat, yang bermanfaat dalam pergaulan dengan orang lain, agar


6

terjalin hubungan yang akrab, saling pengertian, hormat-menghormati

menurut ada yang telah ditentukan. Berikut ini kutipan nilai sopan santun.

(1) “Adam. Ini Pak Udin,” yang disebut namanya lalu bergegas
menghampiri. Kepalanya ditundukkan. Tangannya diulurkan.
Menyalami, lalu mencium tangan itu. (Amipriono, 2019: 98)

Kutipan di atas menggambarkan sikap sopan santun yang

dilakukan Adam kepada tamu yang ia hormati, yaitu pak Udin. Dari

gerak gerik dan cara memperlakukan pak udin dengan baik,

merupakan bentuk kesopan santunan.

(2) “Saya Nisa. Temannya Putri dan Diaz.” Nisa mulai berdamai. Ia
menjabat tangan Atri dengan ramah. Mendadak ia santun setelah
melihat ekspresi lawan bicaranya yang gugup dan kebingungan itu.
(Amipriono, 2019: 162)

Kutipan di atasa menggambarkan sikap sopan santun Nisa

kepada Atri yang baru ditemuinya. Ia menjabat tangan Atri dengan

ramah, yang menunjukkan sikap sopan santun.

o. Tidak Memaksakan Kehendak

Tidak memaksakan kehendak merupakan salah satu bentuk nilai

moral dalam memahami keinginan orang lain. Pada novel ini ditunjukkan

beberapa kutipan berikut ini.

(1) “Baiklah, Pak Lingga. Saya paksa sekeras apa pun. Bapak pasti akan
lebih keras lagi menolaknya. Jadi saya ikuti kemauan Bapak. Kereta
ini saya ambil. Bismillah.” (Amipriono, 2019: 100)

Kutipan di atas menggambarkan tokoh Pak Udin yang hanya

ingin meminjamkan uang kepada Pak Lingga, tapi justru Pak Lingga

lebih bersikeras untuk menjual keretanya, dibandingkan harus

meminjam uang dari orang lain. Yang akhirnya membuat Pak Udin
6

tak lagi memaksakan kehendaknya.

(2) “Tapi, itu semua tergantung Putri. Ibu dan Pak Lingga nggak bisa
maksa. Inilah cara yang menurut kami paling baik agar Diaz ada yang
mengurus karena dia masih terlalu kecil, Putri. Kasihan Ibu lihat dia...
Kasihan Diaaazz..., Putri...” Bu Imah pun tergugu. Kedua matanya
dilapik kain sarung bermotif batik. (Amipriono, 2019: 105)

Kutipan di atas menggambarkan Bu Imah yang mencarikan

solusi untuk Putri agar Diaz diasuh orang lain, karena merasa kasihan.

Namun, ia tidak memaksakan kehendaknya, ia menyerahkan semuanya

pada Putri sebagai kakak Diaz.

p. Menghormati

Menghormati biasanya dikaitkan dengan perilaku pada orang yang

lebih tua saja. Sebenarnya nilai saling menghormati tidak hanya untuk

orang tua saja, tetapi pada setiap orang. Berikut kutipannya dalam novel.

(1) “Putri, kenalin. Ini Bu Lina. Beliau baru datang dari Tarutung,” kata
Pak Lingga memperkenalkan. Putri mencium tangan orang yang baru
dikenalnya itu. Diaz melempar perhatian. (Amipriono, 2019: 120)

Kutipan di atas menggambarkan sikap menghormati yang

dilakukan oleh Putri kepada orang yang lebih tua darinya. Dengan

mencium tangan orang tersebut, menandakan bahwa ia

menghormatinya.

(2) “Kak, doain Diaz ya, kak.” Disalaminya Putri untuk terakhir kali.
Matanya menatap sang kakak penuh haru. (Amipriono, 2019: 122)

Kutipan di atas menggambarkan sikap Diaz menyalami

kakaknya merupakan sikap menghormati orang yang lebih tua.

3. Hubungan Manusia dengan Tuhan (Moral Religi)

Hubungan manusia dengan Tuhan tidak dapat digambarkan dengan


6

garis vertikal. Dalam menghadapi persoalan•persoalan hidup manusia

membutuhkan perlindungan. Tuhan sebagai tempat mengadu dan berkeluh

kesah. Tuhan sebagai zat Yang Maha Sempurna tempat segala sesuatu

bergantung. Dalam novel ini ditunjukkan hubungan manusia dengan

Tuhan yaitu bersyukur kepada Tuhan, memanjatkan do’a, berserah diri

kepada Tuhan, dan memuji keagungan Tuhan. Berikut ini penjelasan

wujud nilai moral hubungan manusia dengan Tuhan.

a. Bersyukur kepada Tuhan

Dalam novel ini, rasa syukur kepada Tuhan dapat diwujudkan

melalui tutur kata dan tindakan. Pada dasarnya bersyukur adalah

berterima kasih. Bersyukur kepada Tuhan berarti berterima kasih atas

nikmat yang telah Tuhan berikan. Nikmat yang dikaruniakan hakikatnya

adalah cobaan. Tokoh boleh saja memilih untuk bersyukur atau tidak.

Bersyukur secara batiniyah memang tidak nampak. Rasa syukur kadang

muncul seperti sebuah kelegaan di dalam hati tokoh. Secara tersirat

penggambaran perasaan tokoh pada novel mencerminkan rasa

bersyukur. Berikut kutipan rasa syukur yang tersirat dalam novel.

(1) “Biarpun sederhana, kita tetap harus bersyukur. Karena di luar


sana, masih banyak orang yang nggak mampu beli makanan.
Fabiayyiaalaairobbikumaa Tukadzdzibaan,” ujar Hera. Begitulah ia
menanamkan sikap syukur kepada anak-anaknya. (Amipriono, 2019:
10)
Kutipan di atas menggambarkan sikap bersyukur kepada

Tuhan oleh Ibu Hera, yang menyampaikan pesan-pesan kepada

anak-anaknya untuk tetap bersyukur dengan keadaan yang mereka

punya sekarang.
6

(2) “Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah. Mungkin ini jawaban atas


doa-doamu Putri.” Mata Nisa berbinar. (Amipriono, 2019: 163)

Kutipan di atas menggambarkan sikap bersyukur Nisa kepada

Tuhan, yang dibuktikan dengan mengucap Alhamdulillah, ia

merasakan kesyukuran yang diterima Putri atas pencapaiannya.

(3) “Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah, atas karunia-Mu, Putri bisa


sekolah lagi.” (Amipriono, 2019: 165)

Kutipan di atas menggambarkan sikap bersyukur Putri kepada

Tuhan yang dibuktikan dengan ucapan syukurnya kepada Tuhan.

(4) “Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih atas nikmat dan karunia


yang telah Engkau berikan. Masyaallah...” Air mata Putri jatuh
berderai. Tak henti-hentinya ia mengekspresikan rasa syukur.
(Amipriono, 2019: 167)

Kutipan di atas menggambarkan Putri yang tak henti-hentinya

mengucapkan rasa bersyukurnya kepada Tuhan.

(5) “Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih, ya Allah. Kamu


hebat, Diaz. Kamu hebat.” Putri kembali memeluk adiknya.
(Amipriono, 2019: 180)

Kutipan di atas menggambarkan tokoh Putri yang sangat

beryukur kepada Tuhan atas nikmat yang telah diterima adiknya.

b. Memanjatkan Doa

Pada diri tokoh, memanjatkan doa merupakan aktivitas yang

tidak pernah tidak dilakukan. Meminta, memohon, dan mengadu

layaknya hanya kepada Tuhan. Meminta suatu kebaikan agar dirinya

mendapatkan kebaikan adalah yang utama dilakukan ketika berdoa.

Memohon keselamatan, mengungkapkan rasa syukur, dan memohon

perlindungan merupakan bagian dari permohonan doa.


6

(1) “Kuatkan hamba untuk melawan sakit kanker hati ini, Ya Rabb.”
Tangisannya makin tersedu-sedu. Badannya berguncang. Tatapan
mata kea rah Diaz dan Putri membuatnya makin sedih. (Amipriono,
2019: 13)
Kutipan di atas menggambarkan Ibu Hera memanjatkan doa

dengan meminta keselamatan untuk dirinya, meminta kekuatan agar

ia bisa melewati sakitnya.

(2) “Alunan Al-Fatihah menjadi pembuka pembelajaran. Riuh rendah


ceramah guru, membentuk mozaik yang khas, membuat suasana
belajar kian hidup.” (Amipriono, 2019: 20)
Kutipan di atas menggambarkan siswa yang memanjatkan doa

ketika hendak belajar di dalam kelasnya, yang membuat suasana

semakin khidmat.

(3) “Iya, Kak. Kita makan, ya. Kak Putri ini jagonya masak, loooh. Pasti
nanti Kakak ketagihan,” goda Diaz. Dia memimpin doa makan.
Kemudian mereka bersantap di atas dipan. (Amipriono, 2019: 62)
Kutipan di atas menggambarkan suasana di meja makan,

perbincangan antara Diaz, Putrid dan Nisa. Ketika Diaz memimpin

doa sebelum makan, merupakan nilai memanjatkan doa kepada

Tuhan.

(4) “Maafkan Putri yaa, Yaaah…” matanya diusap-usap. Tas kerjanya


disampirkan ke badan bagian belakang. Tangannya lalu menengadah,
berpangku di atas kedua pahanya. Ia mulai membaca surat Al-
Fatihah. (Amipriono, 2019: 117)
Kutipan di atas menggambarkan keadaan Diaz yang sedang

berziarah ke makam Ayahnya, yang kemudian membaca surah Al-

Fatihah bentuk memanjatkan doa kepada Tuhan.

(5) “Ya Allah, mohon rawat hamba-Mu yang lemah ini. Mohon lindungi
dia. Mohon pertemukan kembali ia dengan saudara kandungnya.”
Doa Nisa di dalam hati. (Amipriono, 2019: 175)
6

Kutipan di atas menggambarkan Nisa yang memanjatkan doa

dengan meminta perlindungan kepada Tuhan. Doa ini dipanjatkan

untuk sahabatnya Putri yang sedang terpisah dengan saudaranya.

c. Berserah Diri kepada Tuhan

Berserah diri merupakan salah satu bentuk hubungan manusia

dengan Tuhan dimana seorang manusia memasrahkan segala hal yang

terjadi pada dirinya sebagai takdir Tuhan. Hal ini sebagai wujud mawas

diri seorang manusia yang kecil dihadapan Tuhan. Berserah diri pada

Tuhan adalah salah satu wujud nilai moral manusia yang menunjukkan

bahwa manusia merupakan makhluk yang tunduk pada takdir Tuhan.

Ketika manusia telah melakukan segala usaha, maka hal terakhir yang

dapat dilakukan adalah berserah diri kepada Tuhan. Berikut kutipan

berserah diri kepada Tuhan dalam novel tersebut.

(1) “Ya Allah. Maafkan hamba-Mu ini, ya Rabb.” Hera meringis


ketakutan. Tangan kanannya cepat-cepat mengusap darah yang keluar
dari hidung dan mulutnya itu. Berulang kali. (Amipriono, 2019: 35)
Kutipan di atas menggambarkan sikap berserah diri kepada

Tuhan yang dilakukan Hera ketika ia mengalami sakit yang sudah

ditakdirkan Tuhan.

d. Memuji Keagungan Tuhan

Memuji keagungan Allah adalah rasa kagum dalam diri manusia

yang diucapakan dengan lisan untuk mengungkapkan rasa kagumnya atas

ciptaan Allah SWT di dunia ini. Entah berupa alam semesta maupun

makhluk ciptaan-Nya. Kalimat yang diucapkan untuk mengungkapkan


6

rasa itu adalah seperti mengucapkan untuk menuangkan rasa itu adalah

seperti mengucapkan subhanallah (Maha Suci Allah) pada saat melihat

sesuatu di luar kemampuannya. Selain itu dapat juga diungkapkan dengan

kata-kata yang indah untuk melukiskan sesuatu yang dilihatnya.

(1) “Wow… Indahnya…” ucap Putri kagum ketika menyaksikan aksi


kejar-kejaran air laut yang tak berhenti menyapa bibir teluk.
(Amipriono, 2019: 137)
Kutipan di atas menggambarkan Putri yang terkesima melihat

keindahan gelombang air laut, yang merupakan bentuk pujian

keagungan Tuhan.

(2) “Cantik, kan?” Sahut Nisa. Kemudian, ia membalas senyum


sekelompok burung camar yang datang berkerumun menututpi awan.
(Amipriono, 2019: 137)
Kutipan di atas menggambarkan bentuk pujian kepada

keagungan Tuhan yang diungkapkan Nisa secara tidak langsung,

dengan mengatakan “Cantik, kan?” merupakan suatu bentuk pujian.

(3) “Ya Allah. Indahnya,” lirih Putri. Ia tak henti-hentinya memuji lukisan
agung Sang Pencipta. (Amipriono, 2019: 137)
Kutipan di atas menggambarkan nilai memuji keagungan

Tuhan yang diungkapkan oleh Putri ketika melihat indahnya ciptaan

Tuhan, dengan tak lupa menyebut nama Allah.


BAB IV

PENUTUP

Berdasarkan data-data penelitian dan pembahasan sebelumnya, maka

berikut ini diajukan beberapa kesimpulan dan saran.

A. Simpulan

Wujud nilai moral dalam novel Selembar Itu Berarti terdiri atas tiga

bentuk. Ketiga wujud nilai moral tersebut adalah wujud nilai moral dalam

hubungan manusia dengan dirinya sendiri, wujud nilai moral dalam hubungan

manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial dan wujud nilai moral

dalam hubungan manusia dengan Tuhannya. Berdasarkan hasil penelitian dan

pembahasan pada bab sebelumnya, ditemukan data-data sebagai berikut.

1. Wujud Nilai Moral dalam Hubungan Manusia dengan Diri Sendiri


Dalam penelitian ini peneliti menemukan bentuk nilai moral dalam

hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan berbagai varian yakni

menerima kenyataan, pantang menyerah (optimis), jujur, tanggung jawab

siswa terhadap pendidikan, keikhlasan, bekerja keras, kesabaran, teguh

pada pendirian, percaya diri, mengakui kesalahan, sadar diri, berjanji, dan

penyesalan. Wujud nilai moral dalam hubungan manusia dengan diri

sendiri yang paling mendominasi yaitu moral pantang menyerah.

68
6

2. Wujud Nilai Moral dalam Hubungan Manusia dengan Manusia Lain dalam

Lingkup Sosial

Dalam penelitian ini peneliti menemukan bentuk nilai moral dalam

hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial, dengan

varian sebagai berikut kasih sayang antar teman/saudara, kasih sayang

orang tua kepada anak, tanggung jawab orang tua kepada anak, nasihat

orang tua kepada anak, kasih sayang anak kepada orang tua, nasihat antar

teman/saudara, berbagi atau memberi, berterima kasih, tolong menolong,

peduli sesama, rela berkorban, berbakti kepada orang tua, menghargai,

sopan santun, tidak memaksakan kehendak, menghormati. Wujud nilai

moral dalam hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup

lingkungan sosial yang paling mendominasi yaitu nasihat orang tua kepada

anak dan nasihat antar teman/saudara.

3. Wujud Nilai Moral dalam Hubungan Manusia dengan Tuhan

Dalam penelitian ini peneliti berhasil menemukan bentuk nilai moral

dalam hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan varian yang berupa

bersyukur kepada Tuhan, memanjatkan do’a, berserah diri kepada Tuhan,

dan memuji keagungan Tuhan. Wujud nilai moral dalam hubungan

manusia dengan Tuhan yang paling mendominasi yaitu bersyukur kepada

Tuhan.

Berdasarkan data yang telah dianalisis pada novel Selembar Itu

Berarti, ditemukan 95 data dari tiga wujud nilai moral dalam novel.
7

B. Saran

Bagi pembaca pada umumnya, semoga penelitian ini bisa menambah

wawasan serta mengembangkan pengetahuan mengenai penelitian sastra.

Selain itu, pembaca juga diharapkan mengenal tentang adanya berbagai teori

dalam dunia sastra yang digunakan sebagai alat penelitian sastra. Bagi

peneliti sendiri, semoga penelitian ini menjadi langkah untuk memperbaiki

studi tentang teori dalam penelitian sastra, khususnya sastra Indonesia.

Bagi dunia pendidikan formal, semoga penelitian ini dapat

bermanfaat bagi pengajaran sastra mengenai ajaran moral dalam sebuah

novel.

Masih banyak alternatif penelitian yang dapat dilakukan terhadap

novel Selembar Itu Berarti dengan menggunakan analisis yang berbeda,

misalnya analisis nilai pendidikan maupun analisis nilai pendidikan. Dengan

demikian, masih terbuka luas kesempatan bagi para peneliti untuk lebih

mengeksplorasi dalam melakukan penelitian terhadap novel ini.


DAFTAR PUSTAKA

Amipriono, Suryaman. 2019. Selembar Itu Berarti. Jakarta: Literatur.

Baso, Andi dan Nasrun Hasan. 2016. Pendidikan Pancasila. Makassar: Media
Sembilan-sembilan.
Bertens, K. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2011
Budiningsih, Asri [Link] Moral. Jakarta:Rineka Cipta.

Darmadi, Hamid. 2009. Dasar Konsep Pendidikan Moral. Bandung: Alfabeta.

Emzir dan Saiful Rohman. 2016. Teori Pengajaran Sastra. Jakarta: Rajawali Pers.

Ginanjar, Nurhayati. 2012. Pengkajian Prosa Fiksi Teori dan Praktik. Surakarta.

Gunawan, Andri. 2018. Nilai-nilai Reliius dalam Novel Ayat-Ayat Cinta 2Karya
Habiburrahman El Shirazy dan Rancangan Pembelajaran Sastra di
SMA/MA. PBSI. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas
Lampung.

Jabrohim. Teori Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2012

Kurniadi, Aluisius Titus. 2019. Analsis Nilai Moral dan Nilai Sosial dalam Novel
Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin Karya Tere Liye dan
Implementasinya. Skripsi: Universitas Sanata Dharma.

Nasir, Muhammad. 2014. Analisis Nilai Moral dalam Novel Kereta Di Awal
Syawwal Karya Riyanto El Harits. Skripsi: Universitas
Muhammadiyah Makassar.
Nugroho, Catur Abi. 2017. Analisis Nilai Moral Novel Sandiwara Bumi Karya
Taufiqurrahman Al-Azizy dan Rencana Pembelajarannya Di Kelas
XII SMA. Skripsi. Universitas Muhmadiah Purworejo.

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press.

Salfiah, Nining. (2015). Nilai Moral Dalam Novel 5 Cm Karya Donny


Dhirgantoro. Jurnal Humanika. 3(15), 6.

Setyawati, Elyna. 2013. Analisis Nilai Moral dalam Novel Surat Kecil Untuk
Tuhan Karya Agnes Davonar (Pendekatan Pragmatik). Skripsi.
Universitas Negeri Yogyakarta.
Tarigan, Hendri Guntur. 2015. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung Angkasa.
Wahyuni, Elizabeth. 2017. Analisis Unsur Intrinsik Dan Ekstrinsik Novel Surat
Kecil Untuk Tuhan Karya Agnes Davonar Sebagai Sumbangan Materi
Bagi Pengajaran Sastra. Skripsi: Universitas Muhammadiyah
Palembang.

Wellek, Rene dan Warren Austin. 2014. Teori Kesusastraan. IKAPI Jakarta:
Gramedia.
Wicaksono, Andri. 2014. Pengkajian Prosa Fiksi. Yogyakarta: Garuda Wacana. Zuriah, Nurul. 2011. Pen
Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara.
Lampiran 1. Korpus Data

No. Hal. Kutipan Data

1. 6 “Meskipun kondisinya serba kekurangan, kami bahagia kok.


Kan, bahagia itu nggak melulu harus punya harta. Bahagia
itu, ketika kita berada dekat dengan keluarga,” gumamnya.
Tangan mungil Putri merapikan buku, lalu menyusunnya
kertas putih yang warna-nya kian lusuh. (Amipriono, 2019:
6)
2. 118 “Ayah… Ibu. Maafin Putri, ya. Putri terpaksa harus
melepas Diaz untuk dirawat orang lain. Beraaaat rasanya.
Karena hanya Diaz satu-satunya darah daging Putrisaat
ini.” (Amipriono, 2019:118)
3. 124 “Namun kini, Putri terpaksa mengalah dengan kondisi.
Takut berkompromi dengan ekonomi, dengan merelakan
Diaz diasuh orang lain supaya hidupnya lebih baik dan bisa
terus sekolah.” (Amipriono, 2019: 124)
4. 26 “Ketika ia melihat sebuah buku tulis yang menggenang di
sungai kecil, Diaz berusaha keras untuk mengambilnya.
Padahal lokasinya sulit dijangkau.” (Amipriono, 2019: 26)
5. 43 “Nggak kok, Kak. Diaz nggak akan menyerah. Tapi Diaz
kepikiran dengan sakitnya Ibu. Harusnya, kita sudah ada di
rumah untuk menjaganya”. (Amipriono, 2019: 43)
6. 44 “Iya, Kak. Diaz tetap semangat. Kakak nggak usah ragukan
itu lagi,” jawab Diaz. Tangannya mengepal. Lengannya
diangkat menunjukkan ototnya. (Amipriono, 2019: 44)
7. 90 “Diaz tengah bersiap untuk ke sekolah. Semangat belajarnya
masih meladak-ledak meskipun perlengkapan sekolahnya
sederhana. Warna seragamnya kian lusuh. Putihnya
menguning. Celana pendek merahnya tidak berikat
pinggang.” (Amipriono, 2019: 90)
8. 181 “Namun, sekarang Kakak tahu. Bahwa Kakak punya kamu.
Kakak punya teman. Dan Kakak punya masa depan yang
harus Kakak hadapi. Kita harus tetap menjaga semangat ini,
ya. Kita harus terus bersekolah. Apapun keadaannya. Buat
kedua orangtua bangga.” (Amipriono, 2019: 181)
9. 45 “Pak. Ini kantor saya. Tolong yang sopan. Anda boleh
punya banyak uang. Tapi tak semua bisa Anda beli. Apalagi
kejujuran.” Sergap Pak Lingga saat digoda dengan uang
rasuah. Ia naik pitam. (Amipriono, 2019: 45)
10. 53 “Ratusan siswa serentak memasang sikap hormat kepada
sang merah putih, yang ditarik menuju langit. Dengan
iringan lagu Indonesia Raya dari mulut-mulut mungil
penerus bangsa itu.” (Amipriono, 2019: 53)
11. 87 “Buat sekolah Diaz dan Kak Putri, Pak. Buku itu nanti kita
rapikan lagi. Mengambil kertas yang belum dipakai. Dan
menyusunnya menjadi buku baru,” jawabnya sambil
tersenyum. Senyum itu menusuk kalbu Pak Lingga.
(Amipriono, 2019: 87)
12. 53 “Dua kali purnama sejak ibunya wafat, Putrid an Diaz
terlihat sudah lebih tegar. Mereka tak lagi dirundung sedih
sudah bisa tersenyum dan kembali nyaman bersekolah……”
(Amipriono, 2019: 53)
13. 56 “Diaz kembali menjalani rutinitasnya sepulang sekolah:
mencari lembaran kertas di tempat pembuangan sampah.
Bedanya, beban pikirannya sudah bertambah. Galau karena
mikirin sepatu putihnya itu.” (Amipriono, 2019: 56)
14. 72 “Dan setelah Putri piker-pikir, Diaz harus tetap bersekolah.
Dian nggak boleh kehilangan masa depannya. Biarlah Putri
bekerja. Mencari uang. Untuk keperluan hidup dan sekolah
Diaz.” (Amipriono, 2019: 72)
15. 65 “Iya, Diaz. Kakak paham. Tapi kita nggak punya makanan.
Kamu sabar, ya. Mudah-mudahan besok pagi Bu Imah
datang membawakan kita makanan,” Putri mengusap-usap
rambut adikny. Matanya nanar menatap. Bulir bening
membesar dan siap-siap jatuh. (Amipriono, 2019: 65)
16. 72 “Putri harus mengambil sikap, Atri. Perjuangan ini cukup
berat. Tapi Putri harus kuat menghadapinya,” jelas Putri.
(Amipriono, 2019: 72)
17. 73 Diaz mau jadi presiden, Kak,” jawabnya ringan. Air
mukanya Nampak datar.” (Amipriono, 2019: 73)
18. 90 “Langkah Diaz untuk menuntut ilmu juga makin mantap. Dia
mengabaikan koloid hitam yang menghias sepatunya. Tali
pengikatnya sudah disambung-sambung. Kaus kakinya pun
yang itu-itu saja.” (Amipriono, 2019: 90)
19. 88 “Pak Lingga terpaku mendengar itu. Mendadak ia malu
sebagai kepala desa. Merasa gagal karena melihat langsung
penderitaan yang dirasakan warganya.” (Amipriono, 2019:
88)
20. 91 “Itu cara kita membantu mereka, Pak…,” ucap Bu Imah.
Air matanya tak terbendung lagi. Tangannya mengepal, lalu
memukul meja dengan pelan. Ia menyesal tak sanggup
membesarkan kedua bocah yang sudah dianggap seperti
anak kandungnya sendiri. (Amipriono, 2019: 91)
21. 103 “Maafin Bu Imah ya, Putri. Ibu nggak bisa bantu banyak
buat sekolah kamu dan Diaz.” Wajah keriputnya penuh
kecemasan. Dia merasa bersalah karena menganggap dirinya
telah menelantarkan mereka. (Amipriono, 2019: 103)
22. 118 “Putri nggak punya daya untuk menahan Diaz, Bu. Putri
nggak tega melihat dia menderita. Putri ingin hidupnya
lebih baik. Nggak harus mikir mencari buku tulis lagi. Dan
agar Diaz tetap bisa sekolah. Seperti pesan Ayah dan Ibu
dulu…” Spearuh nyawanya selaksa terbang saat mengucap
itu. (Amipriono, 2019: 118)
23. 118 “Ayah … Ibu. Putri janji akan kembali untuk Diaz. Setelah
Putri mendapatkan kerja yang layak. Putri janji demi Diaz,
Bu. Putri janji. Ayaaaahhh… Ibu… Putri siap… Putri
siaaappp…” (Amipriono, 2019: 118)
24. 157 “Setelah Diaz terima rapor, kita ke Desa Kelantan ya. Ibu
dan Ayah yang akan mengantarkan Diaz ke rumah Kak
Putri, Ibu janji.” Bu Lina meyakinkan Diaz yang tiba-tiba
mematung. Mungkin dia sangat berharap. (Amipriono, 2019:
157)
25. 155 “Sebelumnya Atri sudah ngomong, Pa. Tapi karena Papa
baru pulang tugas, dan karena Atri baru ketemu Putri
kemarin, Atri berani bilangnya lagi setelah didesak Bu Reni.
Maafin Atri ya, Pa….” Kepala Atri menunduk usai
menjelaskan itu. (Amipriono, 2019: 155)
26. 6 “Meskipun kondisinya serba kekurangan, kami bahagia kok.
Kan, bahagia itu nggak melulu harus punya harta. Bahagia
itu, ketika kita berada dekat dengan keluarga,” gumamnya.
(Amipriono, 2019:6)
27. 110 “Kakak nggak mungkin mencelakakan adik kandung kakak
sendiri. Diaz satu-satunya milik kakak. Diaz satu-satunya
harapan kakak. Diaz separuh nyawa kakak. Karena itu, Diaz
harus berhasil. Diaz harus membuat Ayah dan Ibu bangga
di alam sana.” Putri membelai rambut Diaz dan
menyibakkan poni yang menututi sebagian keningnya.
(Amipriono, 2019: 110)
28. 111 “Ehm… Kakak sayang kamu, Diaz.” Putri menutup drama
malam itu dengan satu pelukan erat kepada adiknya, yang
dalam beberapa hari kedepan akan memiliki kehidupan baru,
masa depan baru, bersama keluarga yang baru. (Amipriono,
2019: 111)
29. 149 “Jadi, walaupun saat ini kamu belum sekolah lagi, Putri
tetap bisa belajar dari rumah, melalui buku Atri. Iya, kan?”
terang Atri. Tatapan matanya ke Putri membuat teduh.
(Amipriono, 2019: 149)
30. 166 “Nggak Putri. Nggak. Ini nyata!” Jemari Atri dengan
terampil menghapus sisa air mata di pipi Putri dengan
perlahan. Putri sesekali mengedipkan mata dengan bibir
yang mengembang. (Amipriono, 2019: 166)
31. 179 “Diaaaaaz! Kakak kangen banget sama kamu, Sayang.”
Tubuh Diaz jatuh di pelukan saudara kandungnya. Putri
mendekapnyaerat. Bagaikan seribu tahun tidak berjumpa.
Buliran air mengalir deras. Membasahi bagian bahu kemeja
Diaz. (Amipriono, 2019: 179)
32. 9 “Tadi ada banyak cucian di rumah Bu Zaitun. Anak
pertamanya baru pulang dari Medan. Dari asrama
tempatnya kuliah.” Pelan-pelan, Hera menjawab. Kedua
tangannya mendekap erat anaknya yang merapat.
(Amipriono, 2019: 9)
33. 36 Diaz, Ibu sayang banget sama kalian. Sayang sama Diaz.
Sayang sama Kak Putri,” tangan Hera menggenggam jemari
Diaz. Rasa hangatnya membuat anak laki-laki itu merasakan
nyaman. (Amipriono, 2019: 36)
34. 48 “K-kalian adalah anak-anak Ibu yang pintar. T-tetap s-
semangat ya. Jangan pernah menyerah dengan keadaan.”
Hera menggenggam jemari Putri. (Amipriono, 2019: 48)
35. 123 “Bu Imah berulang kali mencium pipinya. Sesekali ke dahi,
sambil mengusap-usap rambutnya.” (Amipriono, 2019: 123)
36. 142 “Ya sudah-ya sudah. Ngobrolnya nanti aja, ya. Kita makan
dulu. Diax dan Sela, Ayah punya hadiah bagus untuk kalian.
Nanti Ayah berikan setelah makan, ya,” bujuk Pak Azwar.
(Amipriono, 2019: 142)
37. 10 “Ya sudah, kalian belajar ya. Ibu mau masak dulu untuk
makan kita mala mini.” Hera lalu bergegas. Menyiapkan
bahan masakan dan peralatan dapur. (Amipriono, 2019: 10)
38. 122 “Diantara bait kehidupan itu, sosok Ibulah yang paling Diaz
ingat. Beliau menjadi teladan yang baik. Mendidiknya
menjadi anak yang patuh. Tenang dan tidak petakilan.
Tabah. Tidak manja. Serta nyaris tidak pernah mengeluh
menghadapi kesulitan yang datang bertubi-tubi.”
(Amipriono, 2019: 122)
39. 12 “Kalian berdua pasti bisa menjadi Presiden, Nak. Dengan
syarat, kalian harus memiliki semangat belajar yang tinggi.
Berusaha dengan sungguh-sungguh dan terus berdoa
kepada Allah.” (Amipriono, 2019: 12)
40. 36 “Tapi, kalian harus ingat ya. Apapun keadaannya.
Bagaiamanapun kondisinya, kalian harus tetap sekolah, ya.
Belajar yang tekun. Jaga semangat. Bersikap disiplin.
Pantang menyerah. Agar kalian bisa menjadi orang yang
sukses…,” ucap Hera lembut menasihati Diaz. (Amipriono,
2019: 36)
41. 54 “Baik-baik belajar ya, Nak. Ibu dan ayahmu pasti bangga
mempuyai anak-anak rajin seperti kalian. Dan Ibu yakin,
Allah pasti akan melihat perjuangan kalian, dan
meringankan beban hidup kalian. Makanya jangan
tinggalkan salat ya, Nak,” nasihat Bu Imah. (Amipriono,
2019: 54)
42. 123 “Sehat-sehat ya, Nak. Jaga diri kamu baik-baik…,” bisik
Bu Imah kepada Diaz. (Amipriono, 2019: 123)
43. 130 “Ya sudah, ya sudah. Kamu jaga diri, ya. Jangan lupa
jenguk juga mama kamu. Perhatiin dia. Karena
bagaimanapun, dia itu yang ngerawat dan ngelahirin kamu
dulu.” (Amipriono, 2019: 130)
44. 142 “Bukannya Bunda ngelarang kamu, Mbak. Tapi ya, harus
ingat waktu. Malam itu kan waktunya belajar. Main HP
kan, juga ada waktunya. Bisa pulang sekolah. Atau ketika
sore sehabis solat Asar. Harusnya Sela kasih contoh yang
baik baut adik kamu,” kata Bu Lina bernasihat.
(Amipriono, 2019: 142)
45. 157 “Ibu paham yang kamu rasakan, Diaz. Andai jadi kamu,
Ibu juga akan kepikiran. Tapi pikiran itu jangan sampai
mengganggu belajar kamu, ya?” (Amipriono, 2019: 157)
46. 17 Bukannya bergegas, Diaz malah mendekati ibunya,
melendot manja. “Ibu sarapan, ya. Terus, minum obat. Biar
Diaz dan Kak Putri belajarnya tenang di sekolah.”
(Amipriono, 2019: 17)
47. 46 “Nggak usah. Kamu jagaian Ibu aja, ya. Cepat panggil
Kakak kalau ada apa-apa. Apalagi kalau Ibu mau minum
obat. Ya…,” terang Putri. Ia pun bergegas ke kamar mandi.
(Amipriono, 2019: 46)
48. 19 “Yang penting, bagaimana kita menikmatinya. Tetap
ikhlas. Bersyukur. Menjalani hidup apa adany. Sekarang
aja, Kakak udah bersyukur banget bisa sekolah. Dan kamu.
Juga harus begitu. Bersyukur. Yaaah,” ajak Putri kompak.
(Amipriono, 2019: 19)
49. 44 “Itu makanya, kita tetap harus bersyukur Diaz. Sambil
terus menjaga semangat. Semoga Allah tetap memberikan
kita rezeki agar kita masih terus bisa sekolah. Iya, kan?”
Putri mencoba memotivasi karena cuma itu yang bisa dia
beri sejauh ini. (Amipriono, 2019: 44)
50. 58 “Diaz. Memang seperti inilah hidup. Tapi kamu jangan
sedih, ya. Kamu harus tetap menjaga semangat. Karena
Kakak yakin, kamu bisa melewati semua ini. Ada aura
optimis di wajah kamu,” Nisa menyemangati. (Amipriono,
2019: 58)
51. 60 “Mulai sekarang, kamu harus yakin. Dan tetap menjaga
semangat. Bahwa kamu bisa melanjutkan sekolah hingga
SMA.” (Amipriono, 2019: 60)
52. 86 “Atri, tolong. Kamu jangan sedih, ya. Kamu harus
bersyukur atas kondisi kamu sekarang. Kamu harus
bersyukur tetap bisa sekolah. Memanfaatkan kesempatan
itu sebaik mungkin. Karena tidak semua orang bisa
seberuntung kamu,” jawab Putri. (Amipriono, 2019: 86)
53. 123 “Diaz jangan sedih lagi, ya. Ingat pesan Ibu dan Ayah. Diaz
harus tetap rajin belajar. Jangan nakal dan terus
semangat.” Putri menggenggam erat tangan adiknya.
(Amipriono, 2019: 123)
54. 167 “Iya, Put. Insyaallah ini yang terbaik buat kamu, ya. Kamu
harus manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya,” bisik
Nisa. Putri mengangguk dan spontan memeluk Nisa.
(Amipriono, 2019: 167)
55. 21 Kenapa nggak bilang dari tadi, Arya bawa buku yang
masih baru, lebih kok. Kamu pilih mana yang kamu suka,”
tawar Arya ramah. Tiga buku tulis berisi 50 halaman
dikeluarkan dari tasnya. (Amipriono, 2019: 21)
56. 134 “Kalau gitu, kita cari kita cari makanan, yuk. Kakak yang
bayar,” ajak Nisa. Sama seperti tadi. Putri juga
menjawabnya tanpa kata. (Amipriono, 2019: 134)
57. 21 “Iya, Arya. Terima kasih, ya.” Secuil senyum pun merekah
dari bibir Diaz. Harinya yang kosong menjadi berisi berkat
ketulusan pertemanan. (Amipriono, 2019: 21)
58. 49 “Bu Imah. Terima kasih sudah membantu kami,” tarik
napas hera semakin berat. (Amipriono, 2019: 49)
59. 72 “Jangan, Atri. Jangan, ya. Terima kasih. Putri nggak mau
buat orang lain repot. Putri ingat betul pesan Ayah: Jangan
karena ingin membuat kita bahagia, orang lai malah
menjadi sedih” kenangnya. (Amipriono, 2019: 72)
60. 149 “Terima kasih, Atri. Kamu baik banget,” jawabnya, saat
menerima beberapa buku catatan yang sudah tersampul
rapi. (Amipriono, 2019: 149)
61. 27 “Ini, Dik. Pegang ranting ini, biar Kakak tarik kamu ke
atas,” seru Nisa. Kayu itu ditarik perlahan setelah berhasil
dijangkau Diaz. (Amipriono, 2019: 27)
62. 75 “Pak, kita harus membantu mereka. Karena mereka sudah
tidak punya siapa-siapa lagi,” ucap Bu Imah kepada kepala
desa. (Amipriono, 2019: 75)
63. 84 “Ya, udah. Nggak apa-apa. Biasa itu, Dek. Ini ikannya, ya.
Tiga ekor, masih seger-seger. Ambil aja buat kalian.
Gratis,” kata si penjual ikan ikhlas. (Amipriono, 2019: 84)
64. 149 “Iya, Put. Nggak apa-apa. Yang Atri bawa sih, baru 4
pelajaran. IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Matematika.
Kalau Putri mau buku catatan Bahasa Inggris dan Agama,
besok Atri bawa, ya.” Ia menggenggam tangan Putri.
(Amipriono, 2019: 149)
65. 39 “Besok Ibu ke Meda. Doakan ikan Ibu cepat laku, ya. Biar
ada uang buatmu berobat. Biar kamu bisa cepat normal dan
merawat anakmu lagi.” Mata bening Bu Imah menatap.
(Amipriono, 2019: 39)
66. 53 “Untungnya ada Bu Imah. Janda paruh baya ini begitu
pengertian. Meskipun hidupnya tidak lebih baik, ia begitu
memperhatikan Putri dan Diaz. Sering ia ke rumah. Melihat
mereka. Memastikan kondisinya baik-baik saja. Dan untuk
meyakinkan ini: ada atau tidak makanan yang bisa mereka
makan.” (Amipriono, 2019: 53-54)
67. 72 “Putri, Atri masih punya tabungan. Kalau kamu mau, besok
Atri bawa ya. Kamu boleh pake buat apa aja. Buat beli
beras. Buat beli buku. Yang penting kamu masih bisa
bersekolah.” (Amipriono, 2019: 72)
68. 104 “Bu Imah selalu hadir saat dua malaikat kecil itu butuh
pertolongan. Sering ia membersihkan rumah, dan
mengantarkan makanan. Malah kadang mencuci kembali
pakaian yang terlihat masih kotor, dan tak membiarkan
pakaian-pakaian itu kusut. Semua licin, bersih, dan wangi
disetrika Bu Imah.” (Amipriono, 2019: 104)
69. 155 “Jadi tolong, Pak. Kita harus bantu dia. Kita harus
menyelamatkan sekolah Putri.” Bu Reni nanar menatap.
(Amipriono, 2019: 155)
70. 44 “Eh... kamu capek nggak? Kalau capek, sini biar Kakak
gendong.” Putri pun berlutut, adiknya naik ke punggungnya.
(Amipriono, 2019: 44)
71. 103 “Ini pilihan yang sulit, [Link] juga nggak tahu sampai
kapan. Tapi, biarlah Putri yang cari uang. Buat makan.
Buat beli buku. Supaya Diaz bisa terus sekolah.”
(Amipriono, 2019: 103)
72. 46 “Diaz, setengah jam lagi, kamu bangunin Ibu, ya. Ibu belum
minum obat,” pesan Putri, kepada Diaz. Hera berbaring
lemah di atas dipan. (Amipriono, 2019: 46)
73. 177 “Antar Diaz ke makam ya, Bu. Diaz kangen orang tua
Diaz,” katanya. Suaranya terdengar parau. Matanya sembap.
(Amipriono, 2019: 177)
74. 181 “Iya, Sayang. Nanti setiap salat, jangan lupa kita bacakan
Al-Fatihah buat almarhum Ayah dan Ibu ya...” (Amipriono,
2019: 181)
75. 63 “Nggak apa-apa, Putri. Ini juga sudah enak, kok,” hibur
Nisa. Ketiganya nampak begitu lahap menyantap.
Alhamdulillah. (Amipriono, 2019: 63)
76. 98 “Adam. Ini Pak Udin,” yang disebut namanya lalu bergegas
menghampiri. Kepalanya ditundukkan. Tangannya
diulurkan. Menyalami, lalu mencium tangan itu.
(Amipriono, 2019: 98)
77. 162 “Saya Nisa. Temannya Putri dan Diaz.” Nisa mulai
berdamai. Ia menjabat tangan Atri dengan ramah. Mendadak
ia santun setelah melihat ekspresi lawan bicaranya yang
gugup dan kebingungan itu. (Amipriono, 2019: 162)
78. 100 “Baiklah, Pak Lingga. Saya paksa sekeras apa pun. Bapak
pasti akan lebih keras lagi menolaknya. Jadi saya ikuti
kemauan Bapak. Kereta ini saya ambil. Bismillah.”
(Amipriono, 2019: 100)
79. 105 “Tapi, itu semua tergantung Putri. Ibu dan Pak Lingga
nggak bisa maksa. Inilah cara yang menurut kami paling
baik agar Diaz ada yang mengurus karena dia masih terlalu
kecil, Putri. Kasihan Ibu lihat dia... Kasihan Diaaazz...,
Putri...” Bu Imah pun tergugu. Kedua matanya dilapik kain
sarung bermotif batik. (Amipriono, 2019: 105)
80. 120 “Putri, kenalin. Ini Bu Lina. Beliau baru datang dari
Tarutung,” kata Pak Lingga memperkenalkan. Putri
mencium tangan orang yang baru dikenalnya itu. Diaz
melempar perhatian. (Amipriono, 2019: 120)
81. 122 “Kak, doain Diaz ya, kak.” Disalaminya Putri untuk terakhir
kali. Matanya menatap sang kakak penuh haru. (Amipriono,
2019: 122)
82. 10 “Biarpun sederhana, kita tetap harus bersyukur. Karena di
luar sana, masih banyak orang yang nggak mampu beli
makanan. Fabiayyiaalaairobbikumaa Tukadzdzibaan,” ujar
Hera. Begitulah ia menanamkan sikap syukur kepada anak-
anaknya. (Amipriono, 2019: 10)
83. 163 “Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah. Mungkin ini
jawaban atas doa-doamu Putri.” Mata Nisa berbinar.
(Amipriono, 2019: 163)
84. 165 “Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah, atas karunia-Mu,
Putri bisa sekolah lagi.” (Amipriono, 2019: 165)
85. 167 “Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih atas nikmat dan
karunia yang telah Engkau berikan. Masyaallah...” Air mata
Putri jatuh berderai. Tak henti-hentinya ia mengekspresikan
rasa syukur. (Amipriono, 2019: 167)
86. 180 “Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih, ya Allah.
Kamu hebat, Diaz. Kamu hebat.” Putri kembali memeluk
adiknya. (Amipriono, 2019: 180)
87. 13 “Kuatkan hamba untuk melawan sakit kanker hati ini, Ya
Rabb.” Tangisannya makin tersedu-sedu. Badannya
berguncang. Tatapan mata kea rah Diaz dan Putri
membuatnya makin sedih. (Amipriono, 2019: 13)
88. 20 “Alunan Al-Fatihah menjadi pembuka pembelajaran. Riuh
rendah ceramah guru, membentuk mozaik yang khas,
membuat suasana belajar kian hidup.” (Amipriono, 2019:
20)
89. 62 “Iya, Kak. Kita makan, ya. Kak Putri ini jagonya masak,
loooh. Pasti nanti Kakak ketagihan,” goda Diaz. Dia
memimpin doa makan. Kemudian mereka bersantap di atas
dipan. (Amipriono, 2019: 62)
90. 117 “Maafkan Putri yaa, Yaaah…” matanya diusap-usap. Tas
kerjanya disampirkan ke badan bagian belakang. Tangannya
lalu menengadah, berpangku di atas kedua pahanya. Ia mulai
membaca surat Al-Fatihah. (Amipriono, 2019: 117)
91. 175 “Ya Allah, mohon rawat hamba-Mu yang lemah ini. Mohon
lindungi dia. Mohon pertemukan kembali ia dengan saudara
kandungnya.” Doa Nisa di dalam hati. (Amipriono, 2019:
175)
92. 35 “Ya Allah. Maafkan hamba-Mu ini, ya Rabb.” Hera
meringis ketakutan. Tangan kanannya cepat-cepat mengusap
darah yang keluar dari hidung dan mulutnya itu. Berulang
kali. (Amipriono, 2019: 35)
93. 137 “Wow… Indahnya…” ucap Putri kagum ketika menyaksikan
aksi kejar-kejaran air laut yang tak berhenti menyapa bibir
teluk. (Amipriono, 2019: 137)
94. 137 “Cantik, kan?” Sahut Nisa. Kemudian, ia membalas senyum
sekelompok burung camar yang datang berkerumun
menututpi awan. (Amipriono, 2019: 137)
95. 137 “Ya Allah. Indahnya,” lirih Putri. Ia tak henti-hentinya
memuji lukisan agung Sang Pencipta. (Amipriono, 2019:
137)

No. Wujud
Lampiran Moral
2. Klasifikasi Nilai Moral Hal. Kutipan Data
1. Hubungan 6 “Meskipun kondisinya serba
kekurangan, kami bahagia kok.
Manusia dengan Kan, bahagia itu nggak melulu
harus punya harta. Bahagia itu,
Diri Sendiri ketika kita berada dekat dengan
keluarga,” gumamnya. Tangan
(Moral mungil Putri merapikan buku, lalu
menyusunnya kertas putih yang
Individual) warna-nya kian lusuh. (Amipriono,
Menerima 2019: 6)
118 “Ayah… Ibu. Maafin Putri, ya.
Kenyataan Putri terpaksa harus melepas Diaz
untuk dirawat orang lain.
Beraaaat rasanya. Karena hanya
Diaz satu-satunya darah daging
Putrisaat ini.” (Amipriono,
2019:118)
124 “Namun kini, Putri terpaksa
mengalah dengan kondisi. Takut
berkompromi dengan ekonomi,
dengan merelakan Diaz diasuh
orang lain supaya hidupnya lebih
baik dan bisa terus sekolah.”
(Amipriono, 2019: 124)
26 “Ketika ia melihat sebuah buku
tulis yang menggenang di sungai
kecil, Diaz berusaha keras untuk
mengambilnya. Padahal lokasinya
sulit dijangkau.” (Amipriono,
2019: 26)
43 “Nggak kok, Kak. Diaz nggak
akan menyerah. Tapi Diaz
kepikiran dengan sakitnya Ibu.
Harusnya, kita sudah ada di
rumah untuk menjaganya”.
(Amipriono, 2019: 43)
44 “Iya, Kak. Diaz tetap semangat.
Kakak nggak usah ragukan itu
lagi,” jawab Diaz. Tangannya
mengepal. Lengannya diangkat
Pantang menunjukkan ototnya.
(Amipriono, 2019: 44)
Menyerah 90 “Diaz tengah bersiap untuk ke
sekolah. Semangat belajarnya
masih meladak-ledak meskipun
perlengkapan sekolahnya
sederhana. Warna seragamnya
kian lusuh. Putihnya menguning.
Celana pendek merahnya tidak
berikat pinggang.” (Amipriono,
2019: 90)
181 “Namun, sekarang Kakak tahu.
Bahwa Kakak punya kamu. Kakak
punya teman. Dan Kakak punya
masa depan yang harus Kakak
hadapi. Kita harus tetap menjaga
semangat ini, ya. Kita harus terus
bersekolah. Apapun keadaannya.
Buat kedua orangtua bangga.”
(Amipriono, 2019: 181)
45 “Pak. Ini kantor saya. Tolong
yang sopan. Anda boleh punya
banyak uang. Tapi tak semua bisa
Jujur Anda beli. Apalagi kejujuran.”
Sergap Pak Lingga saat digoda
dengan uang rasuah. Ia naik pitam.
(Amipriono, 2019: 45)
53 “Ratusan siswa serentak
memasang sikap hormat kepada
sang merah putih, yang ditarik
menuju langit. Dengan iringan
Tanggung
lagu Indonesia Raya dari mulut-
mulut mungil penerus bangsa itu.”
Jawab Siswa
(Amipriono, 2019: 53)
87 “Buat sekolah Diaz dan Kak Putri,
terhadap
Pak. Buku itu nanti kita rapikan
lagi. Mengambil kertas yang
Pendidikan
belum dipakai. Dan menyusunnya
menjadi buku baru,” jawabnya
sambil tersenyum. Senyum itu
menusuk kalbu Pak Lingga.
(Amipriono, 2019: 87)
53 “Dua kali purnama sejak ibunya
wafat, Putrid an Diaz terlihat
sudah lebih tegar. Mereka tak lagi
Keikhlasan dirundung sedih sudah bisa
tersenyum dan kembali nyaman
bersekolah……” (Amipriono,
2019: 53)
56 “Diaz kembali menjalani
rutinitasnya sepulang sekolah:
mencari lembaran kertas di tempat
pembuangan sampah. Bedanya,
beban pikirannya sudah
bertambah. Galau karena mikirin
sepatu putihnya itu.” (Amipriono,
Bekerja Keras
2019: 56)
72 “Dan setelah Putri piker-pikir,
Diaz harus tetap bersekolah. Dian
nggak boleh kehilangan masa
depannya. Biarlah Putri bekerja.
Mencari uang. Untuk keperluan
hidup dan sekolah Diaz.”
(Amipriono, 2019: 72)
65 “Iya, Diaz. Kakak paham. Tapi
kita nggak punya makanan. Kamu
sabar, ya. Mudah-mudahan besok
pagi Bu Imah datang membawakan
Kesabaran kita makanan,” Putri mengusap-
usap rambut adikny. Matanya
nanar menatap. Bulir bening
membesar dan siap-siap jatuh.
(Amipriono, 2019: 65)
72 “Putri harus mengambil sikap,
Teguh
Atri. Perjuangan ini cukup berat.
Tapi Putri harus kuat
Pendirian
menghadapinya,” jelas Putri.
(Amipriono, 2019: 72)
73 Diaz mau jadi presiden, Kak,”
jawabnya ringan. Air mukanya
Nampak datar.” (Amipriono, 2019:
73)

90 “Langkah Diaz untuk menuntut


Percaya Diri
ilmu juga makin mantap. Dia
mengabaikan koloid hitam yang
menghias sepatunya. Tali
pengikatnya sudah disambung-
sambung. Kaus kakinya pun yang
itu-itu saja.” (Amipriono, 2019:
90)
88 “Pak Lingga terpaku mendengar
itu. Mendadak ia malu sebagai
kepala desa. Merasa gagal karena
melihat langsung penderitaan yang
dirasakan warganya.” (Amipriono,
2019: 88)
91 “Itu cara kita membantu mereka,
Pak…,” ucap Bu Imah. Air
matanya tak terbendung lagi.
Tangannya mengepal, lalu
Mengakui memukul meja dengan pelan. Ia
menyesal tak sanggup
Kesalahan membesarkan kedua bocah yang
sudah dianggap seperti anak
kandungnya sendiri. (Amipriono,
2019: 91)
103 “Maafin Bu Imah ya, Putri. Ibu
nggak bisa bantu banyak buat
sekolah kamu dan Diaz.” Wajah
keriputnya penuh kecemasan. Dia
merasa bersalah karena
menganggap dirinya telah
menelantarkan mereka.
(Amipriono, 2019: 103)
118 “Putri nggak punya daya untuk
Sadar Diri menahan Diaz, Bu. Putri nggak
tega melihat dia menderita. Putri
ingin hidupnya lebih baik. Nggak
harus mikir mencari buku tulis
lagi. Dan agar Diaz tetap bisa
sekolah. Seperti pesan Ayah dan
Ibu dulu…” Spearuh nyawanya
selaksa terbang saat mengucap itu.
(Amipriono, 2019: 118)
118 “Ayah … Ibu. Putri janji akan
kembali untuk Diaz. Setelah Putri
mendapatkan kerja yang layak.
Putri janji demi Diaz, Bu. Putri
janji. Ayaaaahhh… Ibu… Putri
siap… Putri siaaappp…”
(Amipriono, 2019: 118)
157 “Setelah Diaz terima rapor, kita ke
Desa Kelantan ya. Ibu dan Ayah
Berjanji
yang akan mengantarkan Diaz ke
rumah Kak Putri, Ibu janji.” Bu
Lina meyakinkan Diaz yang tiba-
tiba mematung. Mungkin dia
sangat berharap. (Amipriono,
2019: 157)
155 “Sebelumnya Atri sudah ngomong,
Pa. Tapi karena Papa baru pulang
tugas, dan karena Atri baru
ketemu Putri kemarin, Atri berani
Penyesalan
bilangnya lagi setelah didesak Bu
Reni. Maafin Atri ya, Pa….”
Kepala Atri menunduk usai
menjelaskan itu. (Amipriono,
2019: 155)
2. Hubungan 6 “Meskipun kondisinya serba
kekurangan, kami bahagia kok.
Manusia dengan Kan, bahagia itu nggak melulu
harus punya harta. Bahagia itu,
Manusia Lain ketika kita berada dekat dengan
Kasih Sayang keluarga,” gumamnya.
dalam Lingkup (Amipriono, 2019:6)
Antar 110 “Kakak nggak mungkin
Ilmu Sosial mencelakakan adik kandung kakak
Teman/Saudara sendiri. Diaz satu-satunya milik
(Moral Sosial) kakak. Diaz satu-satunya harapan
kakak. Diaz separuh nyawa kakak.
Karena itu, Diaz harus berhasil.
Diaz harus membuat Ayah dan Ibu
bangga di alam sana.” Putri
membelai rambut Diaz dan
menyibakkan poni yang menututi
sebagian keningnya. (Amipriono,
2019: 110)
111 “Ehm… Kakak sayang kamu,
Diaz.” Putri menutup drama
malam itu dengan satu pelukan
erat kepada adiknya, yang dalam
beberapa hari kedepan akan
memiliki kehidupan baru, masa
depan baru, bersama keluarga
yang baru. (Amipriono, 2019: 111)
149 “Jadi, walaupun saat ini kamu
belum sekolah lagi, Putri tetap
bisa belajar dari rumah, melalui
buku Atri. Iya, kan?” terang Atri.
Tatapan matanya ke Putri
membuat teduh. (Amipriono,
2019: 149)
166 “Nggak Putri. Nggak. Ini nyata!”
Jemari Atri dengan terampil
menghapus sisa air mata di pipi
Putri dengan perlahan. Putri
sesekali mengedipkan mata dengan
bibir yang mengembang.
(Amipriono, 2019: 166)
179 “Diaaaaaz! Kakak kangen banget
sama kamu, Sayang.” Tubuh Diaz
jatuh di pelukan saudara
kandungnya. Putri
mendekapnyaerat. Bagaikan seribu
tahun tidak berjumpa. Buliran air
mengalir deras. Membasahi bagian
bahu kemeja Diaz. (Amipriono,
2019: 179)
9 “Tadi ada banyak cucian di rumah
Bu Zaitun. Anak pertamanya baru
pulang dari Medan. Dari asrama
tempatnya kuliah.” Pelan-pelan,
Hera menjawab. Kedua tangannya
Kasih Sayang mendekap erat anaknya yang
merapat. (Amipriono, 2019: 9)
Orang Tua 36 Diaz, Ibu sayang banget sama
kalian. Sayang sama Diaz. Sayang
Kepada Anak sama Kak Putri,” tangan Hera
menggenggam jemari Diaz. Rasa
hangatnya membuat anak laki-laki
itu merasakan nyaman.
(Amipriono, 2019: 36)
48 “K-kalian adalah anak-anak Ibu
yang pintar. T-tetap s-semangat
ya. Jangan pernah menyerah
dengan keadaan.” Hera
menggenggam jemari Putri.
(Amipriono, 2019: 48)
123 “Bu Imah berulang kali mencium
pipinya. Sesekali ke dahi, sambil
mengusap-usap rambutnya.”
(Amipriono, 2019: 123)
142 “Ya sudah-ya sudah. Ngobrolnya
nanti aja, ya. Kita makan dulu.
Diax dan Sela, Ayah punya hadiah
bagus untuk kalian. Nanti Ayah
berikan setelah makan, ya,” bujuk
Pak Azwar. (Amipriono, 2019:
142)
10 “Ya sudah, kalian belajar ya. Ibu
mau masak dulu untuk makan kita
mala mini.” Hera lalu bergegas.
Menyiapkan bahan masakan dan
Tanggung peralatan dapur. (Amipriono,
2019: 10)
Jawab Orang 122 “Diantara bait kehidupan itu, sosok
Ibulah yang paling Diaz ingat.
Tua Kepada Beliau menjadi teladan yang baik.
Mendidiknya menjadi anak yang
Anak patuh. Tenang dan tidak petakilan.
Tabah. Tidak manja. Serta nyaris
tidak pernah mengeluh
menghadapi kesulitan yang datang
bertubi-tubi.” (Amipriono, 2019:
122)
12 “Kalian berdua pasti bisa
menjadi Presiden, Nak. Dengan
syarat, kalian harus memiliki
semangat belajar yang tinggi.
Berusaha dengan sungguh-
sungguh dan terus berdoa kepada
Allah.” (Amipriono, 2019: 12)
Nasihat Orang
36 “Tapi, kalian harus ingat ya.
Apapun keadaannya.
Tua Kepada
Bagaiamanapun kondisinya,
kalian harus tetap sekolah, ya.
Anak Belajar yang tekun. Jaga
semangat. Bersikap disiplin.
Pantang menyerah. Agar kalian
bisa menjadi orang yang
sukses…,” ucap Hera lembut
menasihati Diaz. (Amipriono,
2019: 36)
54 “Baik-baik belajar ya, Nak. Ibu
dan ayahmu pasti bangga
mempuyai anak-anak rajin seperti
kalian. Dan Ibu yakin, Allah pasti
akan melihat perjuangan kalian,
dan meringankan beban hidup
kalian. Makanya jangan
tinggalkan salat ya, Nak,” nasihat
Bu Imah. (Amipriono, 2019: 54)
123 “Sehat-sehat ya, Nak. Jaga diri
kamu baik-baik…,” bisik Bu
Imah kepada Diaz. (Amipriono,
2019: 123)
130 “Ya sudah, ya sudah. Kamu jaga
diri, ya. Jangan lupa jenguk juga
mama kamu. Perhatiin dia.
Karena bagaimanapun, dia itu
yang ngerawat dan ngelahirin
kamu dulu.” (Amipriono, 2019:
130)
142 “Bukannya Bunda ngelarang
kamu, Mbak. Tapi ya, harus ingat
waktu. Malam itu kan waktunya
belajar. Main HP kan, juga ada
waktunya. Bisa pulang sekolah.
Atau ketika sore sehabis solat
Asar. Harusnya Sela kasih contoh
yang baik baut adik kamu,” kata
Bu Lina bernasihat. (Amipriono,
2019: 142)
157 “Ibu paham yang kamu rasakan,
Diaz. Andai jadi kamu, Ibu juga
akan kepikiran. Tapi pikiran itu
jangan sampai mengganggu
belajar kamu, ya?” (Amipriono,
2019: 157)
17 Bukannya bergegas, Diaz malah
Kasih Sayang
mendekati ibunya, melendot
manja. “Ibu sarapan, ya. Terus,
Anak Kepada minum obat. Biar Diaz dan Kak
Putri belajarnya tenang di
Orang Tua sekolah.” (Amipriono, 2019: 17)
46 “Nggak usah. Kamu jagaian Ibu
aja, ya. Cepat panggil Kakak
kalau ada apa-apa. Apalagi kalau
Ibu mau minum obat. Ya…,”
terang Putri. Ia pun bergegas ke
kamar mandi. (Amipriono, 2019:
46)
19 “Yang penting, bagaimana kita
menikmatinya. Tetap ikhlas.
Bersyukur. Menjalani hidup apa
adany. Sekarang aja, Kakak udah
bersyukur banget bisa sekolah.
Dan kamu. Juga harus begitu.
Bersyukur. Yaaah,” ajak Putri
kompak. (Amipriono, 2019: 19)
44 “Itu makanya, kita tetap harus
bersyukur Diaz. Sambil terus
menjaga semangat. Semoga Allah
tetap memberikan kita rezeki agar
kita masih terus bisa sekolah. Iya,
kan?” Putri mencoba memotivasi
karena cuma itu yang bisa dia beri
sejauh ini. (Amipriono, 2019: 44)
Nasihat Antar 58 “Diaz. Memang seperti inilah
hidup. Tapi kamu jangan sedih,
Teman/Saudara ya. Kamu harus tetap menjaga
semangat. Karena Kakak yakin,
kamu bisa melewati semua ini.
Ada aura optimis di wajah
kamu,” Nisa menyemangati.
(Amipriono, 2019: 58)
60 “Mulai sekarang, kamu harus
yakin. Dan tetap menjaga
semangat. Bahwa kamu bisa
melanjutkan sekolah hingga
SMA.” (Amipriono, 2019: 60)
86 “Atri, tolong. Kamu jangan sedih,
ya. Kamu harus bersyukur atas
kondisi kamu sekarang. Kamu
harus bersyukur tetap bisa
sekolah. Memanfaatkan
kesempatan itu sebaik mungkin.
Karena tidak semua orang bisa
seberuntung kamu,” jawab Putri.
(Amipriono, 2019: 86)
123 “Diaz jangan sedih lagi, ya. Ingat
pesan Ibu dan Ayah. Diaz harus
tetap rajin belajar. Jangan nakal
dan terus semangat.” Putri
menggenggam erat tangan
adiknya. (Amipriono, 2019: 123)
167 “Iya, Put. Insyaallah ini yang
terbaik buat kamu, ya. Kamu
harus manfaatkan kesempatan ini
sebaik-baiknya,” bisik Nisa. Putri
mengangguk dan spontan
memeluk Nisa. (Amipriono,
2019: 167)
21 Kenapa nggak bilang dari tadi,
Arya bawa buku yang masih
baru, lebih kok. Kamu pilih mana
yang kamu suka,” tawar Arya
Berbagi atau ramah. Tiga buku tulis berisi 50
halaman dikeluarkan dari tasnya.
Memberi (Amipriono, 2019: 21)
134 “Kalau gitu, kita cari kita cari
makanan, yuk. Kakak yang
bayar,” ajak Nisa. Sama seperti
tadi. Putri juga menjawabnya tanpa
kata. (Amipriono, 2019: 134)
21 “Iya, Arya. Terima kasih, ya.”
Secuil senyum pun merekah dari
bibir Diaz. Harinya yang kosong
menjadi berisi berkat ketulusan
pertemanan. (Amipriono, 2019:
21)
49 “Bu Imah. Terima kasih sudah
Berterima membantu kami,” tarik napas hera
semakin berat. (Amipriono, 2019:
Kasih 49)
72 “Jangan, Atri. Jangan, ya.
Terima kasih. Putri nggak mau
buat orang lain repot. Putri ingat
betul pesan Ayah: Jangan karena
ingin membuat kita bahagia,
orang lai malah menjadi sedih”
kenangnya. (Amipriono, 2019:
72)
149 “Terima kasih, Atri. Kamu baik
banget,” jawabnya, saat
menerima beberapa buku catatan
yang sudah tersampul rapi.
(Amipriono, 2019: 149)
27 “Ini, Dik. Pegang ranting ini, biar
Kakak tarik kamu ke atas,” seru
Nisa. Kayu itu ditarik perlahan
setelah berhasil dijangkau Diaz.
(Amipriono, 2019: 27)
75 “Pak, kita harus membantu
mereka. Karena mereka sudah
tidak punya siapa-siapa lagi,”
ucap Bu Imah kepada kepala desa.
(Amipriono, 2019: 75)
Tolong 84 “Ya, udah. Nggak apa-apa. Biasa
itu, Dek. Ini ikannya, ya. Tiga
Menolong ekor, masih seger-seger. Ambil aja
buat kalian. Gratis,” kata si
penjual ikan ikhlas. (Amipriono,
2019: 84)
149 “Iya, Put. Nggak apa-apa. Yang
Atri bawa sih, baru 4 pelajaran.
IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan
Matematika. Kalau Putri mau
buku catatan Bahasa Inggris dan
Agama, besok Atri bawa, ya.” Ia
menggenggam tangan Putri.
(Amipriono, 2019: 149)
39 “Besok Ibu ke Meda. Doakan ikan
Ibu cepat laku, ya. Biar ada uang
buatmu berobat. Biar kamu bisa
cepat normal dan merawat
anakmu lagi.” Mata bening Bu
Imah menatap. (Amipriono, 2019:
39)
53 “Untungnya ada Bu Imah. Janda
Peduli Sesama
paruh baya ini begitu pengertian.
Meskipun hidupnya tidak lebih
baik, ia begitu memperhatikan
Putri dan Diaz. Sering ia ke rumah.
Melihat mereka. Memastikan
kondisinya baik-baik saja. Dan
untuk meyakinkan ini: ada atau
tidak makanan yang bisa mereka
makan.” (Amipriono, 2019: 53-54)
72 “Putri, Atri masih punya
tabungan. Kalau kamu mau, besok
Atri bawa ya. Kamu boleh pake
buat apa aja. Buat beli beras. Buat
beli buku. Yang penting kamu
masih bisa bersekolah.”
(Amipriono, 2019: 72)
104 “Bu Imah selalu hadir saat dua
malaikat kecil itu butuh
pertolongan. Sering ia
membersihkan rumah, dan
mengantarkan makanan. Malah
kadang mencuci kembali pakaian
yang terlihat masih kotor, dan tak
membiarkan pakaian-pakaian itu
kusut. Semua licin, bersih, dan
wangi disetrika Bu Imah.”
(Amipriono, 2019: 104)
155 “Jadi tolong, Pak. Kita harus
bantu dia. Kita harus
menyelamatkan sekolah Putri.” Bu
Reni nanar menatap. (Amipriono,
2019: 155)
44 “Eh... kamu capek nggak? Kalau
capek, sini biar Kakak gendong.”
Putri pun berlutut, adiknya naik ke
punggungnya. (Amipriono, 2019:
Rela
44)
103 “Ini pilihan yang sulit, [Link]
Berkorban
juga nggak tahu sampai kapan.
Tapi, biarlah Putri yang cari
uang. Buat makan. Buat beli buku.
Supaya Diaz bisa terus sekolah.”
(Amipriono, 2019: 103)
46 “Diaz, setengah jam lagi, kamu
bangunin Ibu, ya. Ibu belum
minum obat,” pesan Putri, kepada
Berbakti Diaz. Hera berbaring lemah di atas
dipan. (Amipriono, 2019: 46)
Kepada Orang 177 “Antar Diaz ke makam ya, Bu.
Diaz kangen orang tua Diaz,”
Tua katanya. Suaranya terdengar parau.
Matanya sembap. (Amipriono,
2019: 177)
181 “Iya, Sayang. Nanti setiap salat,
jangan lupa kita bacakan Al-
Fatihah buat almarhum Ayah dan
Ibu ya...” (Amipriono, 2019: 181)
63 “Nggak apa-apa, Putri. Ini juga
sudah enak, kok,” hibur Nisa.
Menghargai Ketiganya nampak begitu lahap
menyantap. Alhamdulillah.
(Amipriono, 2019: 63)
98 “Adam. Ini Pak Udin,” yang
disebut namanya lalu bergegas
menghampiri. Kepalanya
ditundukkan. Tangannya
diulurkan. Menyalami, lalu
mencium tangan itu. (Amipriono,
Sopan Santun 2019: 98)
162 “Saya Nisa. Temannya Putri dan
Diaz.” Nisa mulai berdamai. Ia
menjabat tangan Atri dengan
ramah. Mendadak ia santun setelah
melihat ekspresi lawan bicaranya
yang gugup dan kebingungan itu.
(Amipriono, 2019: 162)
100 “Baiklah, Pak Lingga. Saya paksa
sekeras apa pun. Bapak pasti akan
lebih keras lagi menolaknya. Jadi
saya ikuti kemauan Bapak. Kereta
ini saya ambil. Bismillah.”
(Amipriono, 2019: 100)
Tidak
105 “Tapi, itu semua tergantung Putri.
Ibu dan Pak Lingga nggak bisa
Memaksakan
maksa. Inilah cara yang menurut
kami paling baik agar Diaz ada
Kehendak
yang mengurus karena dia masih
terlalu kecil, Putri. Kasihan Ibu
lihat dia... Kasihan Diaaazz...,
Putri...” Bu Imah pun tergugu.
Kedua matanya dilapik kain sarung
bermotif batik. (Amipriono, 2019:
105)
120 “Putri, kenalin. Ini Bu Lina.
Beliau baru datang dari
Tarutung,” kata Pak Lingga
Menghormati
memperkenalkan. Putri mencium
tangan orang yang baru dikenalnya
itu. Diaz melempar perhatian.
(Amipriono, 2019: 120)
122 “Kak, doain Diaz ya, kak.”
Disalaminya Putri untuk terakhir
kali. Matanya menatap sang kakak
penuh haru. (Amipriono, 2019:
122)
3. Hubungan 10 “Biarpun sederhana, kita tetap
harus bersyukur. Karena di luar
Manusia dengan sana, masih banyak orang yang
nggak mampu beli makanan.
Tuhan (Moral Fabiayyiaalaairobbikumaa
Tukadzdzibaan,” ujar Hera.
Religi) Begitulah ia menanamkan sikap
syukur kepada anak-anaknya.
(Amipriono, 2019: 10)
163 “Alhamdulillah. Terima kasih, Ya
Allah. Mungkin ini jawaban atas
doa-doamu Putri.” Mata Nisa
berbinar. (Amipriono, 2019: 163)
Bersyukur
165 “Alhamdulillah. Terima kasih, Ya
Allah, atas karunia-Mu, Putri bisa
Kepada Tuhan
sekolah lagi.” (Amipriono, 2019:
165)
167 “Alhamdulillah, Ya Allah. Terima
kasih atas nikmat dan karunia
yang telah Engkau berikan.
Masyaallah...” Air mata Putri
jatuh berderai. Tak henti-hentinya
ia mengekspresikan rasa syukur.
(Amipriono, 2019: 167)
180 “Alhamdulillah... Alhamdulillah...
Terima kasih, ya Allah. Kamu
hebat, Diaz. Kamu hebat.” Putri
kembali memeluk adiknya.
(Amipriono, 2019: 180)
13 “Kuatkan hamba untuk melawan
sakit kanker hati ini, Ya Rabb.”
Tangisannya makin tersedu-sedu.
Badannya berguncang. Tatapan
Memanjatkan mata kea rah Diaz dan Putri
membuatnya makin sedih.
Doa (Amipriono, 2019: 13)
20 “Alunan Al-Fatihah menjadi
pembuka pembelajaran. Riuh
rendah ceramah guru, membentuk
mozaik yang khas, membuat
suasana belajar kian hidup.”
(Amipriono, 2019: 20)
62 “Iya, Kak. Kita makan, ya. Kak
Putri ini jagonya masak, loooh.
Pasti nanti Kakak ketagihan,”
goda Diaz. Dia memimpin doa
makan. Kemudian mereka
bersantap di atas dipan.
(Amipriono, 2019: 62)
117 “Maafkan Putri yaa, Yaaah…”
matanya diusap-usap. Tas kerjanya
disampirkan ke badan bagian
belakang. Tangannya lalu
menengadah, berpangku di atas
kedua pahanya. Ia mulai membaca
surat Al-Fatihah. (Amipriono,
2019: 117)
175 “Ya Allah, mohon rawat hamba-
Mu yang lemah ini. Mohon
lindungi dia. Mohon pertemukan
kembali ia dengan saudara
kandungnya.” Doa Nisa di dalam
hati. (Amipriono, 2019: 175)
35 “Ya Allah. Maafkan hamba-Mu
ini, ya Rabb.” Hera meringis
Berserah Diri
ketakutan. Tangan kanannya
cepat-cepat mengusap darah yang
Kepada Tuhan
keluar dari hidung dan mulutnya
itu. Berulang kali. (Amipriono,
2019: 35)
137 “Wow… Indahnya…” ucap Putri
kagum ketika menyaksikan aksi
kejar-kejaran air laut yang tak
berhenti menyapa bibir teluk.
Memuji (Amipriono, 2019: 137)
137 “Cantik, kan?” Sahut Nisa.
Keagungan Kemudian, ia membalas senyum
sekelompok burung camar yang
Tuhan datang berkerumun menututpi
awan. (Amipriono, 2019: 137)
137 “Ya Allah. Indahnya,” lirih Putri.
Ia tak henti-hentinya memuji
lukisan agung Sang Pencipta.
(Amipriono, 2019: 137)
Lampiran 3. Sinopsis Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman

Amipriono

Bercerita mengenai perjalanan penuh liku dua kakak beradik dari keluarga

miskin, Putrid dan Diaz. Mereka masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan

hidup di sebuah desa di Langkat, Sumatera Utara. Mereka hidup bersama ibunya

yang bekerja sebagai buruh cuci, dan ayah mereka sudah meninggal sebelum

mereka pindah ke desa Klantan. Namun, ibunya terkena penyakit kanker hati yang

kian hari semakin parah, dan ia tak cukup biaya untuk berobat.

Demi menjalani pendidikan, Putri dan Diaz harus mengumpulkan lembar-

demi lembar kertas bekas yang mereka cari di TPA, mereka mengumpulkan

lembaran kertas yang masih kosong kemudian menyusunnya menjadi satu buku.

Hal ini mereka lakukan demi perlengkapan sekolah mereka, bahkan pakaian

sekolah yang mereka gunakan sudah semakin lusuh dan warnanya yang semakin

memudar.

Hidup Putri dan Diaz semakin berat ketika harus ditinggal ibunya. Ibunya

meninggal karena keadaan yang sangat memprihatinkan dan biaya untuk berobat

pun taka ada. Penderitaan mereka juga semakin berat, ketika Diaz terpaksa harus

terpisah oleh Putri dikarenakan Diaz diadopsi oleh orang lain. Putri pun harus

merelakan perpisahan itu demi melihat adiknya melanjutkan pendidikan dan

dirawat dengan layak oleh keluarga barunya.

Setelah melewati beberapa waktu perpisahan, Putri mejalani hari-harinya

sendiri dengan menjual koran, yang beberapa waktu lalu sudah memutuskan untuk

berhenti sekolah. Kini Diaz pun diasuh oleh keluarga barunya yang sangat baik
padanya. Menjelang akhir semester, Putri diberikan beasiswa oleh sekolahnya dan

dibiayai sampai ia selesai sekolah. Ia pun melanjutkan kembali pendidikannya,

sampai pada akhirnya ia kembali mendapat peringkat di kelas. Begitupun dengan

Diaz, ia bersekolah di tempat yang berbeda dan kembali meraih pringkat

sekabupaten. Akhirnya, setelah pengumunan prestasi mereka di sekolah, keluarga baru Diaz mengantarkan i
Lampiran 4. Cover Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono
RIWAYAT HIDUP

Selfiana Herman, dilahirkan di Lajari, Desa

Garessi pada tanggal 6 Juni 1998. Penulis anak pertama

dari tiga bersaudara. Anak dari pasangan Ayahanda

Herman dan Ibunda Sarnawiah. Penulis memasuki jenjang

pendidikan dasar di SD Inpres Lajari pada tahun 2004 dan

tamat pada tahun 2010.

Selanjutnya, penulis melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama

di SMP Negeri 1 Barru pada tahun 2010 dan tamat pada tahun 2013. Pada tahun

2013, penulis kembali melanjutkan pendidikan sekolah menengah atas di SMA

Negeri 1 Barru dan tamat pada tahun 2016. Penulis kembali melanjutkan

pendidikan perguruan tinggi (S1) di Universitas Muhammadiyah Makassar pada

tahun 2016, dan diterima sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan

Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Berkat perlindungan dan pertolongan dari Allah SWT, serta iringan doa

dari orang tua, keluarga besar, sahabat, dan teman-teman yang juga selalu

memberikan dukungan, sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan di

perguruan tinggi dengan menulis skripsi berjudul “Nilai Moral pada Novel

Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono”.

Anda mungkin juga menyukai