“NILAI MORAL DALAM NOVEL SELEMBAR
ITU BERARTI KARYA SURYAMAN AMIPRIONO”
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Makassar
SELFIANA HERMAN
105331115416
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR 2020
ii
iii
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama: Selfiana Herman
Stambuk105331115416
Jurusan: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Judul Skripsi : Nilai Moral dalam Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya send
Demikian pernyataan ini saya buat dan bersedia menerima sanksi apabila
pernyataan ini tidak benar.
Makassar,September 2020
Yang Membuat Perjanjian
Selfiana Herman
NIM: 105331115416
iv
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
SURAT PERJANJIAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Selfiana Herman
Stambuk 105331115416
Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Judul Skripsi : Nilai Moral dalam Novel Selembar Itu Berarti Karya
Suryaman Amipriono
Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini. Saya
menyusun sendiri dan tidak dibuatkan oleh siapapun.
2. Dalam penyusunan skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan
pembimbing yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Fakultas.
3. Saya tidak melakukan penciplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi saya.
4. Apabila saya melanggar perjanjian saya pada poin 1, 2, dan 3 maka saya
bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat, dengan penuh kesadaran.
Makassar, Agustus
2020 Yang Membuat
Perjanjian
Selfiana Herman
NIM: 105331115416
v
MOTT
“Manusia yang sukses adalah manusia yang mau bersabar dan
berusaha Walau itu harus berlari, berjalan, bahkan merangkak
sekalipun
Asal jangan pernah berhenti
Sukses itu butuh perjuangan…”
~Penulis~
Kupersembahkan karya ini buat: Kedua orang tuaku, saudaraku, dan sahabatku,
atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung penulis
mewujudkan harapan menjadi kenyataan.
vi
ABSTRA
Selfiana Herman. 2020. Nilai Moral dalam Novel Selembar Itu Berarti Karya
Suryaman Amipriono. Skripsi. Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Makassar.
Dibimbing oleh, Rahman Rahim dan Anin Asnidar.
Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran
Nilai Moral dalam Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang Nilai Moral dalam
Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono.
Peneltian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan
menggunakan teknik baca dan catat. Teknik baca dan catat adalah teknik yang
digunakan dengan cara membaca teks tertulis, selanjutnya dicatat yang telah
disediakan sesuai permasalahan yang akan dideskripsikan.
Berdasarkan hasil penelitian pertama diperoleh kesimpulan bahwa nilai
moral yang terdapat dalam novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman
Amipriono terdiri dari tiga wujud nilai moral: moral individual, terdiri atas:
menerima kenyataan, pantang menyerah, jujur, tanggung jawab siswa terhadap
pendidikan, keikhlasan, bekerja keras, kesabaran, teguh pada pendirian, percaya
diri, mengakui kesalahan, sadar diri, berjanji, penyesalan. Moral sosial, meliputi:
kasih sayang antar teman atau saudara, kasih sayang orang tua kepada anak,
tanggung jawab orang tua kepada anak, nasihat orang tua kepada anak, kasih
sayang anak kepada orang tua, nasihat antar teman atau saudara, berbagi atau
memberi, berterima kasih, tolong menolong, peduli sesama, rela berkorban,
berbakti kepada orang tua, menghargai, sopan santun, tidak memaksakan
kehendak, menghormati. Serta moral religi, terdiri dari: bersyukur kepada Tuhan,
memanjatkan doa, berserah diri kepada Tuhan, memuji keagungan Tuhan.
Kata Kunci: Nilai Moral, Individual, Sosial, Religi.
vii
KATA
Bismillahirahmanirrahim
Sebagai manusia ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala, sudah sepatutnyalah
peneliti memanjatkan ke hadirat-Nya atas segala kelimpahan rahmat dan karunia
serta kenikmatan yang diberikan kepada peneliti berupa nikmat iman, nikmat
kesehatan, nikmat waktu, nikmat alam. Nikmat Allah itu sangat banyak dan
berlimpah. Bahkan jika peneliti ingin melukiskan nikmat Allah Subhanahu
Wata’ala menggunakan semua ranting pohon yang ada di dunia sebagai penanya
dan seluruh air dilautan sebagai tintanya, maka semua ranting-ranting pohon dan
air di lautan akan habis dan belum cukup untuk menuliskan nikmat-Nya yang
senantiasa berbuat baik dan bermanfaat.
Shalawat serta salam tak lupa pula peneliti ucapkan kepada Nabi
Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Kepada keluarganya, para sahabatnya,
hingga kepada umatnya yang senantiasa berpegang teguh terhadap ajaran
sunnahnya hingga akhir zaman. Manusia yang menjadi sang revolusioner islam
yang telah menggulung tikar-tikar kebatilan dan membentangkan permadani-
permadani islam hingga saat ini. Nabi yang telah membawa misi risalah islam
sehingga peneliti dapat membedakan antara yang haq dan yang batil. Sehingga,
kejahiliyaan tidak dirasakan oleh umat manusia di zaman yang serba digital ini.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan penyelesaian pendidikan
pada program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makasssar. Skripsi ini juga
viii
disusun agar dapat memberi pengetahuan kepada pembaca mengenai nilai moral
yang terdapat pada novel Selembar Itu Berarti.
Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan
tulisan ini. Pada kesempatan ini segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima
kasih yang teramat tulus dari relung hati yang paling dalam dipersembahkan
kepada kedua orang tua Ayahanda Herman dan Ibunda Sarnawiah yang telah
berjuang, berdoa, mengasuh, membesarkan dan mendidik, dan membiayai penulis
dalam proses pencarian ilmu. Serta keluarga lainnya yang telah memberi
dukungan, motivasi dan sumbangsinya selama peneliti menuntut ilmu.
Penyelesaian skripsi ini tidak akan berjalan sebagaimana mestinya jika
tidak adanya keterlibatan dari berbagai pihak yang dengan tulus ikhlas
memberikan bantuan dan arahannya. Dengan segala kerendahan hati peneliti
mengucapkan terima kasih kepada Dr. A. Rahman Rahim, M. Hum., selaku
pembimbing I dan Anin Asnidar, S. Pd., M. Pd., selaku pembimbing II, yang
selalu memberikan bimbingan, arahan, dorongan, semangat, serta motivasi sejak
awal penyusunan skripsi.
Peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. H. Ambo
Asse, M. Ag., selaku rektor Univeritas Muhammadiyah Makassar, Bapak Erwin
Akib, S. Pd., M. Pd., Ph. D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar, serta Ibunda
Dr. Munirah, M. Pd., selaku Ketua Jurusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Makassar, serta seluruh dosen dan
para staf dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas
ix
Muhammadiyah Makassar yang telah membekali peneliti dengan serangkaian
ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi peneliti.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga peneliti ucapkan kepada
teman-teman seperjuanganku terkhusus Fatimah, Sunarti, Rasdiana Rahman, Nur
Rahmah Alfiyyah Ulfa, Sri Ayu Warsari, Selviana Putri dan Dewi Rezkyana
Bahtiar karena telah berpartisipasi dan selalu menemaniku dalam suka dan duka
dalam penyelesaian skripsi ini. Sahabat-sahabatku terkasih Jhoin Sarjono, Indra
Dewi, Humayrah Abbas dan Nur Alam yang juga selalu memberikan motivasi dan
dukungan serta seluruh rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia Angkatan 2016 terkhusus kelas E atas segala kebersamaan, motivasi,
saran, dan bantuannya kepada penulis yang telah memberi cahaya dalam hidupku.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati, peneliti senantiasa
mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, selama saran dan kritikan
tersebut bersifat membangun, karena peneliti yakin bahwa suatu persoalan tidak
akan berhenti sama sekali tanpa adanya kritikan. Semoga dapat memberikan
manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi penulis.
Amin Ya Rabbal Alamin
Makassar, Agustus 2020
Penulis
x
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING.......................................................................iii
SURAT PERNYATAAN......................................................................................iv
SURAT PERJANJIAN..........................................................................................v
MOTTO.................................................................................................................vi
ABSTRAK............................................................................................................vii
KATA PENGANTAR.........................................................................................viii
DAFTAR ISI..........................................................................................................xi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................1
B. Rumusan Masalah.......................................................................................6
C. Tujuan Penelitian........................................................................................6
D. Manfaat Penelitian......................................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan Pustaka.........................................................................................8
1. Penelitian Relevan.............................................................................8
2. Pengertian Novel.............................................................................11
3. Ciri-ciri Novel.................................................................................12
4. Unsur-unsur yang Membangun Novel............................................13
5. Pengertian Nilai...............................................................................19
6. Pengertian Moral.............................................................................20
7. Nilai Moral dalam Karya Sastra......................................................21
xi
B. Kerangka Pikir..........................................................................................25
BAB III METODE PENELITIAN
A. Fokus dan Desain Penelitian......................................................................27
B. Definisi Istilah............................................................................................28
C. Data dan Sumber Data...............................................................................29
D. Teknik Pengumpulan Data.........................................................................29
E. Teknik Analisis Data..................................................................................30
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian..........................................................................................31
B. Pembahasan Hasil Penelitian.....................................................................33
BAB V PENUTUP
A. Simpulan....................................................................................................68
B. Saran...........................................................................................................70
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
xii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sastra merupakan bentuk kegiatan kreatif dan produktif dalam
menghasilkan sebuah karya yang memiliki nilai rasa estetis serta
mencerminkan realitas sosial kemasyarakatan. Menurut Soemarjo (dalam
Kurniadi, 2019: 1), sastra merupakan ungkapan pengalaman manusia dalam
bentuk bahasa yang ekspresif dan mengesan.
Secara Etimologis dalam Bahasa Indonesia, kata sastra itu sendiri
berasal dari bahasa Jawa Kuna yang berarti tulisan. Istilah dalam bahasa Jawa
Kuna berarti “tulisan-tulisan utama”. Sementara itu, kata “sastra” dalam
khazanah Jawa Kuna berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti kehidupan.
Akar kata bahasa Sansekerta adalah sas yang berarti mengarahkan, mengajar
atau memberi petunjuk atau instruksi. Sementara itu, akhiran tra biasanya
menunjukkan alat atau sarana. Dengan demikian, sastra berarti alat untuk
mengajar atau buku petunjuk atau buku instruksi atau buku pengajaran.
Disamping kata sastra, kerap juga kata susastra kita di beberapa tulisan, yang
berarti bahasa yang indah-awalan su pada kata susatra mengacu pada arti
indah (Emsir dan Rohman, 2016: 5).
Karya sastra merupakan hasil cipta masyarakat atau sastrawan yang
lahir dari fenomena yang ada dalam kehidupan masyarakat, sehingga dengan
membaca dan memahami karya sastra berarti membaca dan memahami
fenomena kehidupan. Berbagai fenomena kehidupan tersebut dituangkan
1
2
dalam bentuk karya sastra sesuai dengan konsep, pandangan, kemampuan, dan
kreativitas pengarang meramu realitas kehidupan ke dalam suatu bentuk karya
imajinatif yang mampu memberi kenikmatan dan manfaat bagi kehidupan
manusia.
Karya sastra merupakan kreatifitas seorang pengarang terhadap realita
kehidupan sosial. Oleh karena itu, karya sastra bagian dari seni yang berusaha
menampilkan nilai-nilai keindahan dan kepuasan batin rohani pembacanya.
Jabrohim (2012: 14), mengatakan sastra dipahami sebagai satu bentuk
kegiatan manusia yang tergolong pada karya seni yang menggunakan bahasa
sebagai bahan.
Karya sastra sebagai potret kehidupan dapat dinikmati, dipahami, dan
dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Sebuah karya sastra tercipta karena
adanya pengalaman batin pengarang berupa peristiwa atau problem yang
menarik sehingga muncul gagasan dan imajinasi yang dituangkan dalam
bentuk tulisan (Wicaksono, 2014: 1).
Menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2010: 2), salah satu genre
sastra adalah prosa. Dalam sastra, pengertian kesastraan juga disebut fiksi
(fiction), teks naratif (naratif text) atau wacana naratif (naratif discourse).
Fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran
faktual, sesuatu yang benar-benar terjadi sehingga tidak perlu dicari
kebenarannya dalam dunia nyata, salah satu karya fiksi yaitu novel.
Kata novel berasal dari bahasa Italia yaitu Novella yang secara harfiah
berarti sebuah barang baru yang kecil, dan kemudian diartikan sebagai cerita
3
pendek dalam bentuk prosa (Nurgiyantoro, 2010: 9). Adapun novel menurut
Tarigan (2015: 167) adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang
tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata
yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau
kusut.
Novel dibangun oleh dua unsur, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik.
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri.
Unsur yang dimaksud misalnya tema, penokohan atau perwatakan, latar atau
setting, alur, sudut pandang, gaya bahasa dan amanat. Sedangkan unsur
ekstrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu dari luar. Oleh
karena itu, analisis ini mengambil unsur ekstrinsik (nilai moral). Disamping
itu nilai-nilai moral juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang
bersangkutan, bagaimana keseharian tokoh, baik di lingkungan keluarga
maupun lingkungan masyarakat.
Darmadi (2009: 20) menjelaskan bahwa nilai adalah segala sesuatu
yang disenangi, diinginkan, dicita-citakan, dan disepakati. Nilai berada dalam
hati nurani dan pikiran sebagai suatu keyakinan atau kepercayaan. Nilai harus
kita bina terus menerus karena nilai merupakan aspek masalah kewajiban yang
timbul tenggelam atau pasang surut. Nilai sangat berarti bagi manusia karena
nilai merupakan suatu pokok dasar yang wajib dimiliki pada diri manusia
berupa akal, pikiran, perasaan, dan keyakinan. Sesuatu dikatakan sebagai nilai
apabila sesuatu dapat berguna (nilai kegunaan), indah (nilai estetik), baik
(nilai moral), dan benar (nilai kebenaran). Nilai dapat kita miliki pada diri kita
4
apabila diri kita memiliki sikap dan perilaku yang baik dalam kehidupan
sehari-hari.
Selanjutnya moral adalah (ajaran tentang) baik buruk yang diterima
umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak, budi
pekerti, susila (Nurgiyantoro, 2010: 320). Jenis moral dalam karya sastra
memiliki banyak persoalan hidup maupun persoalan yang menyangkut harkat
dan martabat manusia yang dapat diangkat sebagai suatu ajaran nilai moral
dalam sebuah karya sastra. Persoalan hidup manusia itu dapat dibedakan
menjadi banyak persoalan yang tentunya banyak terjadi pada diri manusia
seperti hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia,
dan hubungan manusia dengan lingkungan hidup sosial yang termasuk
lingkungan alam (Nurgiyantoro, 2010: 323).
Pendidikan moral mempunyai peranan penting di sekolah, yaitu untuk
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan
bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis
serta bertanggung jawab (Zuriah, 2011: 26).
Pemilihan novel Selembar Itu Berarti sebagai bahan penelitian karena
cerita ini banyak menampilkan persoalan hidup dan kehidupan yang menarik
terutama dalam hal pendidikan, serta banyak terdapat nilai moral yang sangat
bermanfaat bagi pembaca. Cerita yang menampilkan berbagai aspek
5
kehidupan dan permasalahannya disampaikan dengan bahasa yang menarik
dan mudah dipahami, dengan demikian akan memudahkan pembaca untuk
menemukan nilai moral yang dimaksud.
Novel Selembar Itu Berarti, berkisah seputar dunia pendidikan yang
dilalui oleh kakak beradik yang bersekolah di sekolah dasar (SD) di sebuah
sebuah Desa di Langkat, Sumatera Utara, namun memiliki nasib yang kurang
beruntung. Mereka harus mengumpulkan lembar demi lembar kertas yang
sudah terbuang kemudian dijadikannya satu untuk mereka gunakan
bersekolah, karena keterbatasan ekonomi yang membuat mereka tak mampu
membeli buku tulis. Hidup kedua anak ini semakin berat karena harus
ditinggal kedua orang tuanya yang telah berpulang. Kini mereka harus belajar
bertahan hidup dan mengejar impian.
Alasan penulis memilih mengkaji nilai moral karena setelah membaca
Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono, penulis banyak
menemukan nilai-nilai moral yang dapat memberikan inspirasi yang positif
dalam menghadapi beraneka ragam masalah kehidupan. Seperti hubungan
antar manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan manusia
dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk dengan alam, dan
hubungan manusia dengan Tuhan. Prngalaman tokoh mulai pada permulaan
cerita, dan mulai pengalaman-pengalaman yang lain dan rintangan-rintangan
hingga ke puncaknya, yang merupakan akhir cerita. Selain karena nilai-nilai
moral yang terkandung dalam novel tersebut, alasan lain yang
melatarbelakangi penulis memilih judul “Nilai Moral dalam Novel Selembar
6
Itu Berarti” karena novel ini belum pernah diteliti khususnya di Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Berdasarkan hal-hal yang
telah disebutkan, pemilihan novel Selembar Itu Berarti sebagai bahan
penelitian merupakan hal yang tepat untuk menyampaikan informasi tentang
moral kepada pembaca.
Penulis bermaksud menelaah nilai moral yang terdapat dalam novel
Selembar Itu Berarti. Mengangkat judul “Nilai Moral dalam Novel Selembar
Itu Berarti karya Suryaman Amipriono”. Hasil penelitian ini nantinya di
harapkan dapat mengungkap nilai moral yang terdapat dalam novel tersebut.
Dengan memahami nilai moral yang di sajikan pengarang dalam novelnya
baik itu hadir secara tersirat maupun tersurat, akan membantu pembaca atau
penikmat sastra lebih mudah memahami nilai moral yang terkandung dalam
novel tersebut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan tersebut, maka rumusan
masalah penelitian ini adalah: Bagaimanakah Nilai Moral yang terdapat Novel
Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian adalah untuk mendeskripsikan nilai Moral yang terdapat dalam
Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono.
7
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi para
pembaca, baik bersifat teoretis maupun praktis.
1. Manfaat Teoretis
a. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan
perkembangan ilmu sastra
b. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk memperkaya penggunaan
teori-teori sastra secara teknik analisis terhadap karya sastra.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi pengarang, penelitian ini dapat memperluas khazanah ilmu
pengetahuan terutama bidang Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya
dalam analisis novel dengan tinjauan nilai moralnya.
b. Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan
kepada mahasiswa dan guru, khususnya Program Bahasa dan Sastra
Indonesia dalam mengkaji dan menelaah novel.
c. Bagi peneliti, penelitian ini dapat memperkaya wawasan sastra dan
meambah khazanah penelitian sastra Indonesia sehingga bermanfaat
bagi perkembangan sastra Indonesia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan Pustaka
Keberhasilan sebuah penelitian tergantung pada teori yang
mendasarinya, karea teori merupakan landasan suatu penelitian yang berkaitan
dengan kajian pustaka yang memunyai korelasi dengan masalah yang akan
dibahas. Teori yang dipandang bernilai praktis sebagai pohon penunjang
dalam pelaksanaan penelitian ini adalah yang berhubungan dengan sastra.
1. Penelitian Relevan
Keberhasilan sebuah penelitian tergantung pada teori yang
mendasarinya, karena teori merupakan landasan suatu penelitian yang
berkaitan dengan kajian pustaka yang mempunyai korelasi dengan masalah
yang akan dibahas. Penelitian yang dilakukan penulis merupakan tindak
lanjut dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya.
Penelitian tentang menganalisis novel sudah banyak dilakukan para peneliti
sebelumnya, namun dalam penelitian ini mengangkat novel Selembar Itu
Berarti Karya Suryaman Amipriono yang tergolong novel baru dan belum
pernah ada penelitian sebelumnya.
Adapun penelitian relevan yang dapat dijadikan sebagai kajian
pustaka dalam penelitian ini antara lain:
a. Penelitian Salfia (2015) yang berjudul Nilai Moral dam Novel 5 Cm
Karya Donny Dhirgantoro.
8
9
b. Penelitian Nugroho (2017) yang berjudul Analisis Nilai Moral Novel
Sandiwara Bumi Karya Taufiqurrahman Al-Azizy dan Rencana
Pembelajarannya di Kelas XII SMA.
c. Penelitian Setyawati (2014) yang berjudul Analisis Nilai Moral dalam
Novel Surat Kecil untuk Tuhan Karya Agnes Davonar.
Salfia (2015), dengan penelitian jurnalnya yang berjudul “Nilai
Moral Dalam Novel 5 Cm Karya Donny Dhirgantoro”. Penelitian ini
menyimpulkan bahwa pentingnya arti nilai dan fungsi moral suatu karya
sastra terhadap pola pikir yang dapat mendewasakan pembacanya (siswa)
yang disuguhkan karya pengarang secara tersirat maupun tersurat, maka
sudah sewajarnya pembelajaran sastra disekolah harus dikembangkan dan
memiliki sikap yang positif terhadap karya sastra pada umumnya dan
novel pada khususnya, dalam jurnalnya peneliti membahas unsur intrinsik
novel beserta aspek-aspek moral yang terdapat dalam novel 5 CM. Aspek-
aspek tersebut antara lain: (1) asepek hubungan manusia dengan diri
sendiri, (2) aspek hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup
sosial dan persahabatan. Persamaan dengan penelitian penulis adalah
sama-sama menggunakan penelitian deskriptif kualitatif menganalisis nilai
moral dalam sebuah novel, sedangkan perbedaannya adalah penelitian
tersebut sekedar di analisis dan belum dijadikan bahan ajar dalam
pembelajaran.
Nugroho (2017), dalam penelitian skripsinya yang berjudul
“Analisis Nilai Moral Novel Sandiwara Bumi Karya Taufiqurrahman Al-
1
Azizy Dan Rencana Pembelajarannya Di Kelas XII SMA”. Dalam
penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan moral untuk mengkaji
novel Sandiwara Bumi karya Taufiqurrahman al-Azizy. Penelitian ini
untuk mendeskripsikan keadaan moralitas novel Sandiwara Bumi karya
Taufiqurahman al-Azizy yang lebih banyak mencerminkan nilai moral
yang positif dari pada nilai moral yang negatif dan dapat dijadikan sebagai
contoh bagi siswa untuk belajar. Persamaan penelitian penulis adalah
menganalisis nilai moral dalam novel dan perbedaannya adalah subjek
penelitian, penelitian yang dilakukan oleh penulis menggunakan novel
Sandiwara Bumi Karya Taufiqurrahman al-Azizy, sedangkan penelitian
yang dilakukan pada skripsi ini menggunakan novel Selembar Itu Berarti
karya Suryaman Amipriono.
Setyawati (2013), dalam penelitian skripsinya yang berjudul
“Analisis Nilai Moral dalam Novel Surat Kecil Untuk Tuhan Karya Agnes
Davonar. Penelitian ini membahas permasalahan tentang masalah nilai
moral, moral tokoh, dan bentuk penyampaian nilai moral dalam novel
Surat Kecil untukTuhan. cerita ini banyak menampilkan persoalan hidup
dan kehidupan yang menarik, serta banyak terdapat nilai moral yang
sangat bermanfaat bagi pembaca. Cerita remaja yang menampilkan
berbagai aspek kehidupan dan permasalahanya disampaikan dengan
bahasa yang menarik dan mudah dipahami, dengan demikian akan
memudahkan pembaca untuk menemukan nilai moral yang dimaksud.
Surat Kecil untuk Tuhan, terkenal dengan kisah kehidupan nyata seorang
1
gadis remaja yang menderita kanker jaringan lunak pertama kali di
Indonesia dan ceritanya yang ringan sehingga lebih disukai masyarakat
pembaca, terutama para remaja. Persamaan yang dilakukan oleh peneliti
yaitu terkait dengan nilai moral yang akan dibahas dan pendekatan yang
dilakukan oleh peneliti yaitu menggunakan pendekatan pragmatik.
Sedangkan perbedaannya terletak pada objek yang dikaji dalam artian
novel yang dianalisis.
2. Pengertian Novel
Abrams (dalam Nugiyantaro, 2010) mengatakan bahwa novel
berasal dari Inggris dan inilah yang kemudian masuk ke Indonesia-berasal
dari bahasa Italia novella (yang berasal dari bahasa Jerman: Novella).
Secara harfiah novella berarti sebuah barang baru yang kecil. yang berarti
sebuah karya prosa fiksi yang panjang cakupan, tidak terlalu panjang,
namun juga tidak terlalu pendek. Wicaksono (2014) menyatakan bahwa
novel adalah suatu jenis karya sastra yang berbentuk prosa fiksi dalam
ukuran yang panjang (setidaknya 40.000 kata dan lebih kompleks dari
cerpen) dan luasyang di dalamnya menceritakan konflik-konflik kehidupan
manusia yang dapat mengubah nasib tokohnya.
Segi panjang cerita, novel (jauh) lebih panjang daripada cerpen.
Oleh karena itu, novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas,
menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detil dan lebih
banyak melibatkan berbagai permasalahan yang lebih kompleks. Hal itu
mencakup berbagai unsur cerita yang membangun novel itu. Di pihak lain,
1
kelebihan novel yang khas adalah kemampuannya menyampaikan
permasalahan yang kompleks secara penuh, mengkreasikan sebuah dunia
yang “jadi”. Hal ini berarti membaca sebuah novel menjadi lebih mudah
sekaligus lebih sulit daripada membaca cerpen. Ia lebih mudah karena tidak
menuntut kita memahami masalah yang kompleks dalam bentuk (dan
waktu) yang sedikit. Sebaliknya, ia lebih sulit karena berupa penulisan
dalam skala yang besar daripada cerpen. Hal inilah, yang menurut Stanton,
merupakan perbedaan terpenting antara novel dengan cerpen.
(Nurgiyantoro, 2010: 11).
Novel merupakan pengungkapan dari fragmen kehidupan manusia
(dalam jangka yang lebih panjang) (Ginanjar, 2012: 7). Novel merupakan
struktur yang bermakna. Novel tidak sekadar merupakan serangkaian
tulisan yang menggairahkan ketika dibaca, tetapi merupakan struktur
pikiran yang tersusun dari unsur-unsur padu. Novel menceritakan suatu
peristiwa pada waktu yang cukup panjang dengan beragam karakter yang
diperankan oleh tokoh.
Sehubungan dengan uraian diatas maka penulis berkesimpulan
bahwa novel adalah suatu karya sastra yang berbentuk cerita kehidupan
manusia hingga terjadi konflik di dalamnya yang memiliki tokoh, alur dan
unsur lainnya yang dikarang dalam sebuah buku yang sifatnya imajinatif.
3. Ciri-ciri Novel
Sebagai salah satu hasil karya sastra, novel memiliki ciri khas
tersendiri bila dibandingkan dengan sastra lain. Dari segi jumlah kata atau
1
kalimat, novel lebih mengandung banyak kata dan kalimat sehingga dalam
proses pemaknaannya lebih relatif jauh lebih muda daripada memaknai
sebuah puisi yang cenderung mengandung beragam bahasa kias. Berkaitan
dengan masalah tersebut, Sumardjo (dalam Nasir, 2014: 15) memberikan
ciri-ciri novel sebagai berikut: (1) Plot sebuah sebuah novel berbentuk
tubuh cerita, dirangkai dengan plotplot kecil yang lain, karena struktur
bentuk yang luas ini maka novel dapat bercerita panjang dengan persoalan
yang luas, (2) Tema dalam sebuah novel terdapat tema utama dan
pendukung, sehingga novel mencakup semua persoalan, (3) Dari segi
karakter, dalam novel terdapat penggambaran karakter yang beragam dari
tokoh-tokoh hingga terjalin sebuah cerita yang menarik.
Kalau ditinjau dari segi kata-kata, biasanya novel mengandung
kata-kata yang berkisar antara 3500 sampai tidak terbatas. Sedangkan jika
diukur dengan kertas kuarto yang jumlah barisnya 3 buah dan tiap baris 10
kata maka jumlah kata dalam satu lembar kuarto adalah 35 x 10 = 350
buah. Novel yang paling pendek 100 halaman, berarti 35 x 10 x 100 =
35000 kata. Jika diukur dengan kecepatan membaca maka untuk membaca
sebuah novel diperlukan dua jam.
4. Unsur-unsur yang Membangun Novel
Sebuah novel merupakan sebuah totalitas, suatu kemenyeluruhan
yang bersifat artistik. Sebagai sebuah totalitas, novel mempunyai bagian-
bagian, unsur-unsur, yang saling berkaitan satu dengam yang lain secara
erat dan saling menggantungkan. Secara garis besar pembagian unsur ini
1
dibagi menjadi dua bagian yakni unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik.
Kedua unsur inilah yang sering banyak disebut banyak para kritikus dalam
rangka mengkaji dan membicarakan novel atau karya sastra.
(Nurgiyantoro, 2010: 23).
a. Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya
sastra itu sendiri. Unsur instrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang
(secara langsung) turut serta membangun cerita. Unsur-unsur instrinsik
tersebut menurut Nurgiyantoro yaitu tema, plot atau alur, latar, tokoh
dan penokohan, serta gaya bahasa.
1) Tema
Stanton dan Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2010: 67) menyatakan
tema adalah makna yang mendasari sebuah cerita. Tema merupakan
suatu gagasan sentral, sesuatu yang hendak diperjuangkan dalam satu
tulisan atau karya fiksi. Pengertian tema itu tercakup persoalan dan
tujuan (amanat) pengarang kepada pembaca. Berdasarkan pendapat
tersebut dapat disimpulkan bahwa tema adalah pokok yang mendasari
pada sebuah cerita.
Tema dibedakan menjadi dua bagian yaitu, (1) tema utama yang
disebut tema mayor yang artinya makna pokok yang menjadi dasar atau
gagasan dasar umum karya ini. Tema mayor ditentukan dengan cara
menentukan persoalan yang paling menonjol, yang paling banyak konflik
dan waktu penceritaannya. (2) Tema tambahan disebut juga dengan tema
1
minor. Tema minor merupakan tema yang kedua yaitu makna yang hanya
terdapat pada bagian-bagian tertentu pada sebuah cerita dan dapat
diidentifikasi sebagai makna bagian atau makna tambahan
(Nurgiyantoro, 2010: 82-83).
2) Alur (Plot)
Stanton 1965:14 (dalam Nurgiyantoro 2010:113) mengemukakan
bahwa plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian
itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristwa yang satu
disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.
(Nurgiyantoro, 2010 : 136) menjelaskan plot adalah sebuah karya fiksi
dikatakan memberi kejutan-kejutan jika sesuatau yang dikisahkan atau
kejadian-kejadian yang ditampilkan menyimpang atau bahkan
bertentangan dengan harapan kita sebagai pembaca.
Selanjutnya, alur dibedakan berdasarkan kriteria urutan waktu ada
3 macam yaitu (1) alur lurus ( alur maju atau alur progesif), alur ini berisi
peristiwa-peristiwa yang dikisakan bersifat kronologis, peristiwa pertama
diikuti peristiwa selanjutnya atau ceritanya runtut dimulai dari tahap awal
sampai tahap akhir. (2) Alur sorot balik, alur ini berisi peristiwa-
peristiwa yang dikisahkan secara kronologis (tidak runtut ceritanya). (3)
Alur campuran, alur ini berisi peristiwa-peristiwa gabungan dari plot
progesif (Nurgiyantoro, 2010:153-155).
1
3) Tokoh dan Penokohan
Abram (dalam Nurgiyantoro 2010: 165) mengemukakan tokoh
adalah cerita orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif,
atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan
kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa
yang dilakukan dalam tindakan.
Tarigan (dalam Wicaksono 2014: 212) menjelaskan bahwa
penokohan adalah proses yang digunakan oleh seorang pengarang untuk
menciptakan tokoh-tokoh fiksinya. Tokoh fiksi harus dilihat sebagai yang
berada pada suatu masa dan tempat tertentu dan harus diberi motif-motif
yang masuk akal untuk segala sesuatu yang dilakukannya.
4) Latar
Latar dalam cerita adalah lingkungan tempat peristiwa terjadi.
Latar cerita itu berkaitan dengan di mana, kapan, dan bagaimana suasana
peristiwa itu berlangsung. Latar yang berkaitan dengan di mana disebut
latar tempat. Latar cerita yang berhubungan dengan kapan dikenal latar
waktu. Selain itu, latar yang menggambarkan bagaimana suasana
peristiwa dalam cerita berlangsung disebut latar sosial.
Nurgiyantoro (2010: 227-233) membedakan unsur latar ke dalam
tiga unsur pokok, yaitu:
(a) Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya perisiwa yang
diceritakan dalam sebuah karya fiksi, misalnya desa, gunung, kota,
hotel, rumah dan sebagainya;
1
(b) Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya
peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi,
misalnya tahun, siang, malam, dan jam;
(c) Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan
perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang
diceritakan dalam karya fiksi, misalnya kebiasaan hidup, tradisi,
keyakinan, pandangan hidup, cara berfikir, dan bersikap.
5) Sudut Pandang
Menurut Tarigan (dalam Wahyuni, 2017: 18), sudut pandang
adalah posisi fisik, tempat personal/pembicara melihat dan menyajikan
gagasan-gagasan tau peristiwa-pertistiwa merupakan perspektif
pemandangan fisik dalam ruang dan waktu yang dipilih oleh penulis bagi
personannya, serta mencakup kualitas-kualitas emosioal dan mental
persona yang mengawasi sikap dan nada.
Sudut pandang merupakan posisi pengarang dalam sebuah cerita.
Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2010: 248) menjelaskan bahwa sudut
pandang adalah cara yang digunakan oleh pengarang untuk menyajikan
tokoh, tindakan, latar, dan sebagai peristiwa yang membentuk cerita
dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca.
Ada dua metode dalam pusat pengisahan, yaitu (1) metode orang
pertama tunggal (aku), pengarang menceritakan kisah aku. Aku
berkemungkinan pengarangnya, tetapi dapat pula hanya sebagai narator
(pencerita), dan (2) metode orang kedua (dia), yaitu pengarang
1
menceritakan kisah dia atau mereka. Dalam hal ini, pengarang menjadi
seseorang yang serba tahu. Kedudukan pengarang dapat sebagai tokoh
utama akan tetapi dapat pula sebagai tokoh tambahan (bukan tokoh
utama).
6) Amanat
Amanat adalah gagasan yang mendasari cerita atau pesan yang
ingin disampaikan pengarang kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2010:
250).
b. Unsur Ekstrinsik
Menurut Kosasih (dalam Gunawan, 2018: 11-12) unsur-unsur
ekstrinsik novel adalah unsur luar yang berpengaruh isi novel itu.
Adapun beberapa unsur ekstrinsik novel sebagai berikut.
1) Sejarah/biografi pengarang biasanya berpengaruh pada jalan cerita
di novelnya.
2) Situasi dan kondisi secara langsung maupun tidak langsung, situasi
dan kondisi akan berpengaruh kepada hasil karya.
3) Nilai-nilai dalam cerita. Dalam sebuah karya sastra terkandung
nilai-nilai yang disisipkan oleh pengarang. Nilai-nilai itu antara lain:
(a) Nilai moral, yaitu nilai yang berkaitan dengan akhlak atau budi
pekerti baik dan buruk.
(b) Nilai sosial, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan norma-norma
dalam kehidupan masyarakat misalnya, saling memberi,
menolong, dan tenggang rasa.
1
(c) Nilai budaya, yaitu konsep masalah dasar yang sangat penting
dan bernilai dalam kehidupan manusia misalnya, adat istiadat,
kesenian, kepercayaan, dan upacara adat.
(d) Nilai estetika, yaitu nilai yang berkaitan dengan seni, keindahan
dalam karya sastra tentang bahasa, alur, dan tema.
5. Pengertian Nilai
Kandungan nilai suatu karya sastra adalah unsur esensial dari karya
itu secara keseluruhan. Pengungkapan nilai-nilai yang terdapat dalam suatu
karya sastra, bukan saja akan memberikan pemahaman tentang latar
belakang sosial budaya si pencerita, akan tetapi mengandung gagasan-
gagasan dalam menanggapi situasi-situasi yang terjadi dalam masyarakat
tempat karya sastra itu lahir. Hal ini seperti yang diungkapkan Damono
(dalam Salfiah, 2015: 6), bahwa sastra mencerminkan norma, yakni ukuran
perilaku yang oleh anggota masyarakat di terima sebagai cara yang baik
untuk bertindak dan menyimpulkan sesuatu. Sastra juga mencerminkan
nilai-nilai yang secara sadar di formulasikan dan diusahakan oleh warganya
dalam masyarakat.
Sehubungan dengan konsep nilai, (Baso dan Hasan, 2016: 30)
menjelaskan bahwa nilai adalah suatu yang berharga, yang berguna, yang
indah, yang memperkaya batin, yang menyadarkan manusia akan harkat
dan martabatnya. Nilai bersumber pada budi, yang berfungsi medorong,
mengarahkan sikap dan perilaku.
2
Secara umum karya sastra mengungkapkan isi kehidupan manusia
dengan segala macam perilakunya dalam bermasyarakat. Kehidupan
tersebut diungkapkan dengan penggambaran nilai-nilai terhadap perilaku
manusia dalam sebuah karya sastra. Oleh karena itu, sebuah karya sastra
selain sebagai pengungkapan estetika, di sisi lain juga berusaha
memberikan nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Sastra dan tata nilai adalah dua fenomena yang saling melengkapi
dalam keberadaan mereka sebagai sesuatu yang eksistensial. Sebagai
bentuk seni, pelahiran sastra bersumber dari kehidupan yang bertata nilai,
dan pada gilirannya sastra juga akan memberi sumbangsi bagi terbentuknya
tata nilai. Selain itu, juga memberikan semacam penekanan bahwa cipta
seni tersebut merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri (Salfiah, 2015).
6. Pengertian Moral
Menurut Budiningsi (2013: 6), moral adalah kesadaran moral,
rasionalitas moral atau alasan mengapa seseorang harus melakukan hal itu.
Dengan mengambil suatu keputusan berdasarkan nilai-nilai moral,
seringkali disebut dengan penalaran moral atau pemikiran moral atau
pertimbangan moral, yang merupakan segi kognitif dari nilai moral.
Menurut Bertens (2011: 37), moral atau moralitas berasal dari kata
sifat latin moralis mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan moral,
hanya saja terlihat lebih abstrak. Misalnya kita berbicara mengenai
moralitas suatu perbuatan‖, artinya kita berbicara mengenai baik atau
2
buruknya suatu perbuatan, yang berarti moralitas merupakan sifat moral
atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik atau buruk.
Setiap perbuatan manusia pasti berkaitan dengan baik dan buruk,
akan tetapi tidak semua, yang berarti ada juga beberapa perbuatan yang
netral dari segi etis. Misalnya, sesuatu yang baik akan selalu diawali atau
menggunakan tangan kanan atau kaki kanan, namun seseorang yang tebiasa
memakai sepatu diawali dengan kaki kiri karena sudah menjadi kebiasaan,
maka hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai sesuatu yang tidak baik
atau melanggar moral, akan tetapi hal tersebut dapat dikatakan amoral.
Berbeda dengan seorang kepala rumah tangga yang lebih dulu
membelanjakan uangnya untuk kepentingan sendiri seperti main judi, dan
lain sebagainya, dan sisa uang tersebut barulah ia serahkan untuk keperluan
keluarga, maka tindakan tersebut termasuk tindakan immoral.
7. Nilai Moral dalam Karya Sastra
Menurut Nurgiyantoro (2010: 429) seperti halnya tema, dilihat dari
segi dikotomi aspek isi karya sastra, moral merupakan sesuatu yang ingin
disampaikan oleh pengarang kepada pembaca, merupakan makna yang
terkandung dalam sebuah karya, makna yang disarankan lewat cerita.
Adakalanya, moral diidentikkan pengertiannya dengan tema walau
sebenarnya tidak selalu menyaran pada maksud yang sama. Karena
keduanya merupakan sesuatu yang terkandung, dapat ditafsirkan, dan
diambil dari cerita, moral dan tema dapat dipandang sebagai memiliki
kemiripan. Namun, tema bersifat lebih kompleks daripada moral di
2
samping tidak memiliki nilai langsung sebagai saran yang ditujukan kepada
pembaca. Dengan demikian, moral dapat dipandang sebagai salah satu
wujud tema dalam bentuk yang sederhana, namun tidak semua tema
merupakan moral.
Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup
pengarang yang bersangkutan, pandangan tentang nilai-nilai kebenaran,
dan hal itulah yang ingin disampaikan kepada pembaca. Jadi, pada intinya
moral merupakan representasi ideologi pengarang. Karya sastra yang
berwujud berbagai genre yang notabene adalah “anak kandung” pengarang
pada umumnya terkandung ideologi tertentu yang diyakini kebenarannya
oleh pengarang terhadap berbagai masalah kehidupan dan sosial, baik
terlihat eksplisit maupun implisit (Nurgiyantoro, 2010: 430).
Moral dalam karya sastra biasanya dimaksudkan sebagai suatu
saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis,
yang dapat diambil (dan ditafsirkan), lewat cerita yang bersangkutan oleh
pembaca. Ia merupakan “petunjuk” yang sengaja diberikan oleh pengarang
tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan, seperti
sikap, tingkah laku, dan sopan santun pergaulan. Ia bersifat praktis sebab
“petunjuk” nyata, sebagaimana model yang ditampilkan dalam cerita itu
lewat sikap dan tingkah laku tokoh-tokohnya.
Menurut Nurgiyantoro (2010: 323-324), wujud dari penyampaian
moral secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu
mencakup hubungan manusia dengan diri sendiri, manusia dengan manusia
2
lain (orang lain), dan manusia dengan Tuhan. Adapun penjelasannya adalah
sebagai berikut:
a. Hubungan manusia dengan diri sendiri (Moral Individual)
Persoalan manusia dengan diri sendiri dapat bermacam-macam
jenis dan tingkat intensitasnya. Persoalan tersebut dapat berhubungan
dengan persoalan seperti menerima kenyataan, pantang menyerah, jujur,
tanggung jawab siswa terhadap pendidikan, keikhlasan, bekerja keras,
kesabaran, teguh pada pendirian, percaya diri, mengakui kesalahan,
sadar diri, berjanji, penyesalan, dan hal lain yang lebih berhubungan
dengan diri individu itu sendiri.
b. Hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial (Moral
Sosial)
Dalam kehidupan ini, mansusia pun sering berhubungan dengan
manusia lain. Seperti, kasih sayang antar teman atau saudara, kasih
sayang orang tua kepada anak, tanggung jawab orang tua kepada anak,
nasihat orang tua kepada anak, kasih sayang anak kepada orang tua,
nasihat antar teman atau saudara, berbagi atau memberi, berterima kasih,
tolong menolong, peduli sesama, rela berkorban, berbakti kepada orang
tua, menghargai, sopan santun, tidak memaksakan kehendak,
menghormati.
c. Hubungan manusia dengan Tuhan (Moral Religi)
Permasalahan lain yang sering dialami manusia dalam kehidupan
adalah permasalahan antara dirinya dengan Tuhannya. Permasalahan ini
2
berhubungan dengan aspek ketuhanan, misalnya permasalahan yang
berkaitan dengan ketaatan dalam menjalankan perintah Tuhan dan
menjauhi larangan-Nya. Seperti, bersyukur kepada Tuhan, memanjatkan
doa, berserah diri kepada Tuhan, memuji keagungan Tuhan.
Berdasarkan pemaparan tersebut, penulis ingin menjadikan ketiga
wujud penyampaian pesan moral di atas sebagai landasan dalam
menganalisis nilai moral dalam novel Selembar Itu Berarti. Hal ini
dilakukan dengan tujuan agar dalam proses analisis dapat mempermudah
penulis dalam menentukan nilai moral yang ada dalam novel Selembar Itu
Berarti sehingga batasan analisisnya pun akan semakin jelas.
Kebenaran moral dalam novel bukanlah yang seperti keadaan hidup
sehari-hari, tetapi kebenaran dan moral yang dituju adalah yang tidak hanya
bertumpu pada kenhidupan nyata melainkan yang sepatutnya terjadi dan
diinginkan.
Dalam novel Selembar Itu Berarti, selain mengandung unsur moral
dalam hal ini sikap atau perbuatan yang juga mengandung nilai pendidikan.
Sebab pada dasarnya pendidikan merupakan modal utama yang harus
dimiliki oleh seseorang di dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Novel ini
juga memang berlatar belakang pendidikan, karena bercerita tentang kisah
anak sekolah yang berjuang untuk menjadi orang yang berpendidikan
walau dengan keterbatasan dari segi ekonomi.
Moral dan pendidikan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan
antara yang satu degan yang lainnya. Oleh karena itu di dalam penelitian
2
ini keduaya tidak dapat dipisahkan moral dan pendidikan. Nilai pendidikan
yang dimaksud adalah suatu yang memunyai sifat dan hal-hal yang sangat
dihargai dan berguna dalam memberikan tuntunan hidup guna
mengarahkan manusia pada pembinaan sikap atau perbuatan yang mengacu
pada pembentukan kepribadian kearah yang lebih baik.
B. Kerangka Pikir
Berdasarkan uraian-uraian yang terdapat pada tinjauan pustaka diatas,
maka pada bagian ini akan dijelaskan beberapa hal yang dijadikan penulis
sebagai landasan berpikir berikutnya. Landasan tersebut akan mengarahkan
penulis untuk menemukan data dan informasi dalam penelitian ini, guna
memecahkan masalah yang telah dipaparkan.
Karya sastra dibedakan atas tiga bagian yakni, puisi, prosa dan drama.
Namun penelitian ini hanya terfokus pada karya sastra yang termasuk dalam
kategori prosa. Prosa dalam hal ini ialah novel dengan judul Selembar Itu
Berati Karya Suryaman Amipriono.
Pada penelitian ini, peneliti akan menganalisis nilai moral yang
terdapat dalam novel. Kemudian pada tahap analisis secara rinci diuraikan
tentang nilai-nilai moral yang terdapat dalam novel Selembar Itu Berarti karya
Suryaman Amipriono yakni moral individual, sosial, dan religi. Terakhir
adalah penarikan temuan, yang dilakukan setelah diketahui hasil dari analisis
novel dan mengambil simpulan yang menjadi tujuan utama penelitian ini.
2
Karya Sastra
Puisi Prosa Drama
Novel Selembar Itu Berarti
Karya Suryaman Amipriono
Nilai Moral
Moral Moral Moral
Individual Sosial Religi
Analisis
Temuan
Bagan 2.1 Kerangka Pikir
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Fokus dan Desain Penelitian
1. Fokus Penelitian
Berdasarkan judul penelitian analisis nilai moral dalam novel
Selembar Itu Berarti maka fokus dalam penelitian ini adalah nilai moral
yang terkandung di dalam novel Selembar Itu Berarti.
2. Desain Penelitian
Desain penelitian pada hakikatnya merupakan strategi yang
mengatur ruang atau teknis penelitian agar memperoleh data maupun
kesimpulan penelitian dengan kemungkinan munculnya kontaminasi yang
paling kecil dan variabel lain.
Untuk memudahkan memperoleh data dan kesimpulan secara
objektif tentang nilai-nilai moral dalam novel Selembar Itu Berarti karya
Suryaman Amipriono, langkah yang ditempuh penulis adalah mengadakan
studi kepustakaan yang mengidentifikasi pemilihan dan perumusan
masalah, menyelidiki variabel-variabel yang relevan melalui telaah
kepustakaan.
Adapun metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah
metode deskriptif. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur
pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau
menuliskan keadaan subjek atau non objek penelitian (seseorang, lembaga,
masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang
27
2
tampak atau sebagaimana adanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan
moral. Lagkah yang dilakukan adalah menganalisis teks sastra (novel)
untuk menemukan permasalahan yang berhubungan dengan nilai moral
yang terdapat dalam novel Selembar Itu Berarti karya Suryaman
Amipriono.
B. Definisi Istilah
Analisis
Analisis adalah uraian karya sastra dengan tujuan untuk memahami pertalian unsur-unsurnya. Analis
Nilai
Nilai adalah kesadaran yag secara relatif berlangsung disertai emosi terhadap objek.
Moral
Moral adalah kelakuan yag sesuai ukuran (nilai-nilai) masyarakat yang timbul dari hati dan bukan pa
Novel
Novel merupakan suatu karya prosa yang bersifat cerita yang
menceritakan suatu kejadian luar biasa dan kehidupan orang-orang (tokoh
cerita), dan kejadian ini menimbulkan konflik suatu pertikaian yang
mengalihkan urusan nasib mereka.
2
5. Novel Selembar Itu Berarti
Novel Selembar Itu Berarti merupakan novel karangan Suryaman
Amipriono, yang menceritakan megenai perjalanan peuh liku dua kakak
beradik dari keluarga miskin yang mengumpulkan lembar demi lembar
kertas bekas untuk biaya sekolah.
C. Data dan Sumber Data
Data
Data dalam penelitian ini adalah nilai moral yang terdapat dalam novel Selembar Itu Berarti karya Su
Sumber Data
Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data adalah novel Selembar Itu Berarti karya Suryaman A
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan untuk memperoleh
data dan informasi mengenai nilai-nilai moral yaitu dengan melakukan
penulisan pustaka (percetakan). Adapun langkah-langkah yang ditempuh
penulis dalam teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:
3
1. Mencari dan mengumpulkan standar acuan yang dijadikan acuan dalam
penelitian secara sistematis dan struktur agar tidak menjadi kesalahan akan
subjek yang diteliti.
2. Membaca novel Selembar Itu Berarti secara keseluruhan.
3. Memahami maksud dan tujuannya
4. Meganalisis paragraf demi paragraf, bab demi bab, dan melakukan
pengklasifikasian.
5. Mengelompokkan data yang di dalamnya mengandung nilai-nilai moral.
E. Teknik Analisis Data
Berdasarkan teknik pengumpulan data yang dipergunakan maka data
dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan nilai moral
yang dijadikan acuan penelitian meliputi:
1. Menelaah seluruh data yag telah diperoleh berupa nilai Moral dalam Novel
Selembar Itu Berarti karya Suryaman Amipriono.
2. Mereduksi dan mengaitkan data tertulis berupa nilai moral, selanjutnya
dikutip untuk memperkuat analisis data.
3. Bila hasil penelitian sudah dianggap sesuai, maka hasil tersebut dianggap
sebagai hasil akhir.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Setelah melakukan pengkajian terhadap novel Selembar Itu berarti,
penulis mencari data-data yang berkaitan dengan nilai moral, selanjutnya
dilakukan analisis sehingga mendapatkan hasil penelitian, dan kemudian
dilakukan pembahasan. Hasil penelitian yang diperoleh dari mengkaji novel
Selembar Itu Berarti karya Suryaman Amipriono yang diterbitkan Literatur
Media Sukses di Jakarta memperoleh hasil sebagai berikut: Wujud nilai moral
yang terdapat dalam novel Selembar Itu Berarti karya Suryaman Amipriono.
Hasil penelitian kemudian disusun dalam bentuk tabel untuk selanjutnya
dideskripsikan pada pembahasan.
Berdasarkan hasil penelitian, wujud nilai moral yang terkandung dalam
novel Selembar Itu Berarti karya Suryaman Amipriono mencakup hubungan
manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam
lingkup sosial termasuk dengan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
Jenis-jenis nilai moral tersebut selanjutnya disampaikan melalui wujud-wujud
moral dalam karya sastra. Wujud moral tersebut disampaikan melalui
rangkaian cerita novel Selembar Itu Berarti. Berikut ini tabel penjabaran hasil
penelitian dari mengkaji nilai moral novel Selembar Itu Berarti.
31
3
Tabel 1. Wujud Nilai Moral dalam Novel Selembar Itu Berarti karya
Suryaman Amipriono.
No. Jenis Nilai Moral Wujud Halaman
1. Hubungan a. Menerima 6, 118, 124
kenyataan
Manusia dengan b. Pantang menyerah 26, 43, 44, 90, 181
(optimis)
Diri Sendiri c. Jujur 45
d. Tanggung jawab 53, 87
(Moral
siswa terhadap
pendidikan
Individual)
e. Keikhlasan 53
f. Bekerja keras 56, 72
g. Kesabaran 65
h. Teguh pada 72
pendirian
i. Percaya diri 73, 90
j. Mengakui 88, 91, 103
kesalahan
k. Sadar diri 118
l. Berjanji 118, 157
m. Penyesalan 155
a. Kasih sayang antar 6, 110, 111, 149, 166,
teman/saudara 179
b. Kasih sayang orang 9, 36, 48, 123, 142
Hubungan tua kepada anak
2.
c. Tanggung jawab 10, 122
Manusia dengan orang tua kepada
anak
manusia lain d. Nasihat orang tua 12, 36, 54, 123, 130,
kepada anak 142, 157
dalam lingkup
e. Kasih sayang anak 17, 46
kepada orang tua
sosial (Moral
f. Nasihat antar 19, 44, 58, 60 , 86,
Sosial) teman/saudara 123, 167
g. Berbagi atau 21, 134
memberi
h. Berterima kasih 21, 49, 72, 149
i. Tolong-menolong 27, 75, 84, 149
3
j. Peduli sesama 39, 53, 72, 104, 155
k. Rela berkorban 44, 103
l. Berbakti kepada 46, 177, 181
orang tua
m. Menghargai 63
n. Sopan santun 98, 162
o. Tidak memaksakan 100, 105
kehendak
p. Menghormati 120, 122
Hubungan a. Bersyukur kepada 10, 163, 165, 167, 180
Tuhan
Manusia dengan b. Memanjatkan do’a 13, 20, 62, 117, 175
3. c. Berserah diri 35
Tuhan (Moral kepada Tuhan
d. Memuji keagungan 137, 137, 137
Religi) Tuhan
Hasil penelitian berdasarkan kajian nilai moral pada novel Selembar
Itu Berarti karya Suryaman Amipriono, selanjutnya dijabarkan melalui
penjelasan deskriptif secara lebih lugas dan jelas. Hasil penelitian ini menjadi
acuan analisis deskriptif terhadap karya fiksi ini.
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Wujud nilai moral yang terdapat dalam novel Selembar Itu Berarti
dapat dikatagorikan berdasarkan sifat dan kelakuan manusia yang melekat
dalam menjalani hidup. Berbagai persoalan hidup dan penyelasaian yang
muncul dapat memberikan sebuah gambaran tentang sesuatu yang diidealkan
oleh pengarang. Wujud nilai moral dalam novel Selembar Itu Berarti yaitu
wujud nilai moral dalam hubungan manusia dengan diri sendiri (moral
individual), wujud nilai moral dalam hubungan manusia dengan manusia lain
dalam lingkup sosial (moral sosial) dan wujud nilai moral manusia dengan
3
Tuhan (moral religi). Berikut akan dibahas mengenai wujud nilai moral dalam
novel Selembar Itu Berarti.
1. Hubungan Manusia dengan Diri Sendiri (Moral Individual)
Hubungan manusia dengan diri sendiri sebagai bentuk nilai mawas
diri dimana manusia seharusnya mengenali, adil dan bijak pada dirinya
sendiri. Hal ini bertujuan untuk menjadikan manusia lebih baik dalam hal
moral dengan mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan dan tidak
dilakukan. Dalam novel ini ditunjukan hubungan manusia dengan diri
sendiri yaitu: menerima kenyataan, pantang menyerah (optimis), jujur,
tanggung jawab siswa terhadap pendidikan, keikhlasan, bekerja keras,
kesabaran, teguh pada pendirian, percaya diri, mengakui kesalahan, sadar
diri, berjanji, dan penyesalan. Berikut ini penjelasan wujud nilai moral
hubungan manusia dengan diri sendiri.
a. Menerima Kenyataan
Menerima kenyataan merupakan salah satu nilai moral yang
menunjukkan hubungan manusia dengan diri sendiri. Menerima
kenyataan merujuk pada kemampuan diri menerima apa yang sudah
menjadi kenyatan bagi dirinya. Beberapa kutipan novel yang merujuk
pada nilai menerima kenyataan.
(1) “Meskipun kondisinya serba kekurangan, kami bahagia kok. Kan,
bahagia itu nggak melulu harus punya harta. Bahagia itu, ketika kita
berada dekat dengan keluarga,” gumamnya. Tangan mungil Putri
merapikan buku, lalu menyusunnya kertas putih yang warna-nya kian
lusuh. (Amipriono, 2019: 6)
3
Kutipan di atas menggambarkan bahwa tokoh Putri dengan
berlapang dada menerima kenyataan bahwa keluarganya memang tak
punya harta melimpah, namun ia bahagia bisa dekat dengan keluarga.
(2) “Ayah… Ibu. Maafin Putri, ya. Putri terpaksa harus melepas Diaz
untuk dirawat orang lain. Beraaaat rasanya. Karena hanya Diaz
satu-satunya darah daging Putrisaat ini.” (Amipriono, 2019:118)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Putri berusaha
menerima kenyataan bahwa sang adik harus diadopsi oleh orang lain.
(3) “Namun kini, Putri terpaksa mengalah dengan kondisi. Takut
berkompromi dengan ekonomi, dengan merelakan Diaz diasuh orang
lain supaya hidupnya lebih baik dan bisa terus sekolah.” (Amipriono,
2019: 124)
Kutipan di atas menggambarkan keadaan Putri yang terpaksa
dan harus menerima kenyataan untuk merelakan adiknya diasuh
orang lain agar bisa mempunyai hidup yang layak dan tetap
bersekolah.
b. Pantang Menyerah (Optimis)
Salah satu nilai moral yang sangat menonjol pada novel ini
adalah pantang menyerah. Ada banyak bagian dari novel ini yang
menunjukkan nilai pantang menyerah dari tokoh utama maupun
pendukung. Pantang menyerah disini dimaksudkan pada pribadi yang
tidak mudah menyerah dalam menghadapi masalah. Membangun pribadi
pantang menyerah berasal dari diri sendiri sebagai hubungan antara
manusia dengan diri sendiri. Berikut ini kutipan yang menunjukkan nilai
pantang menyerah.
3
(1) “Ketika ia melihat sebuah buku tulis yang menggenang di sungai
kecil, Diaz berusaha keras untuk mengambilnya. Padahal lokasinya
sulit dijangkau.” (Amipriono, 2019: 26)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa tokoh Diaz tidak pantang
menyerah demi mengumpulkan buku tulis, walaupun harus
mengambilnya diatas air yang menggenang di sungai.
(2) “Nggak kok, Kak. Diaz nggak akan menyerah. Tapi Diaz kepikiran
dengan sakitnya Ibu. Harusnya, kita sudah ada di rumah untuk
menjaganya”. (Amipriono, 2019: 43)
Kutipan di atas jelas menggambarkan sosok Diaz yang pantang
menyerah mencari buku bekas, terlihat dari bukti dialognya.
Walaupun ia tetap kepikiran dengan kondisi ibunya.
(3) “Iya, Kak. Diaz tetap semangat. Kakak nggak usah ragukan itu
lagi,” jawab Diaz. Tangannya mengepal. Lengannya diangkat
menunjukkan ototnya. (Amipriono, 2019: 44)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa Diaz memang tokoh
yang pantang menyerah, dibuktikan dengan dialog yang diikuti
gerakan mengepal tangan dan menunjukkan ototnya kepada
kakaknya.
(4) “Diaz tengah bersiap untuk ke sekolah. Semangat belajarnya masih
meladak-ledak meskipun perlengkapan sekolahnya sederhana. Warna
seragamnya kian lusuh. Putihnya menguning. Celana pendek
merahnya tidak berikat pinggang.” (Amipriono, 2019: 90)
Kutipan di atas menjelaskan bahwa walaupun dengan
perlengkapan sekolah yang sederhana, tetapi Diaz tetap semangat dan
pantang menyerah untuk bersekolah.
(5) “Namun, sekarang Kakak tahu. Bahwa Kakak punya kamu. Kakak
punya teman. Dan Kakak punya masa depan yang harus Kakak
hadapi. Kita harus tetap menjaga semangat ini, ya. Kita harus terus
3
bersekolah. Apapun keadaannya. Buat kedua orangtua bangga.”
(Amipriono, 2019: 181)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa Putrid dan Diaz
pantang menyerah untuk melanjutkan masa depannya, agar bisa
membanggakan orang-orang yang mereka sayangi.
c. Jujur
Jujur sebagai sebuah nilai merupakan keputusan seseorang untuk
mengungkapkan (dalam bentuk perasaan, kata-kata atau perbuatan)
bahwa realitas yang ada tidak dimanipulasi dengan cara berbohong atau
menipu orang lain untuk keuntungan dirinya. Berikut ini kutipan yang
menunjukkan nilai jujur.
(1) “Pak. Ini kantor saya. Tolong yang sopan. Anda boleh punya banyak
uang. Tapi tak semua bisa Anda beli. Apalagi kejujuran.” Sergap Pak
Lingga saat digoda dengan uang rasuah. Ia naik pitam. (Amipriono,
2019: 45)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh pak Lingga yang
berusaha menolak sogokan dari orang lain. Karena sikapnya yang
jujur, ia sampai memaki orang yang ingin menodai kejujurannya.
d. Tanggung Jawab Siswa Terhadap Pendidikan
Tanggung jawab siswa terhadap pendidikan termasuk kedalam
hubungan manusia dengan diri sendiri. Tanggung jawab siswa terhadap
pendidikan sangat penting dimiliki oleh semua siswa, karena apabila
tidak mempunyai tanggung jawab maka siswa tidak akan pernah
memikirkan pendidikan dan tidak mau belajar. Berikut ini kutipan yang
menunjukkan nilai tanggung jawab siswa terhadap pendidikan.
3
(1) “Ratusan siswa serentak memasang sikap hormat kepada sang
merah putih, yang ditarik menuju langit. Dengan iringan lagu
Indonesia Raya dari mulut-mulut mungil penerus bangsa itu.”
(Amipriono, 2019: 53)
Kutipan di atas menggambarkan bentuk tanggung jawab siswa
terhadap pendidikan, yang ditunjukkan dengan melakukan sikap
hormat kepada sang merah putih.
(2) “Buat sekolah Diaz dan Kak Putri, Pak. Buku itu nanti kita rapikan
lagi. Mengambil kertas yang belum dipakai. Dan menyusunnya
menjadi buku baru,” jawabnya sambil tersenyum. Senyum itu
menusuk kalbu Pak Lingga. (Amipriono, 2019: 87)
Kutipan di atas menggambarkan rasa tanggung jawab siswa
terhadap pendidikan. Sikap Diaz yang rela mengumpulkan buku
bekas demi digunakannya untuk bersekolah.
e. Keikhlasan
Keikhlasan adalah menerima apapun yang telah diberikan kepada
kita dengan sungguh-sungguh tanpa mengharapkan imbalan. Dalam hal ini
yang dimaksud keikhlasan adalah menerima takdir yang telah Tuhan
berikan. Nilai moral keikhlasan dapat kita lihat pada kutipan berikut.
(1) “Dua kali purnama sejak ibunya wafat, Putrid an Diaz terlihat sudah
lebih tegar. Mereka tak lagi dirundung sedih sudah bisa tersenyum dan
kembali nyaman bersekolah……” (Amipriono, 2019: 53)
Kutipan di atas menggambarkan nilai keikhlasan yang dimiliki
oleh Putri dan Diaz semenjak ditinggal ibunya meninggal. Mereka
sudah tegar dan kembali bersekolah.
3
f. Bekerja Keras
Bekerja keras adalah kegiatan yang dikerjakan secara sungguh-
sunggu tanpa mengenal lelah atau berhenti sebelum target kerja tercapai
dan selalu mengutamakan atau memperhatikan kepuasan hasil pada
setiap kegiatan yang dilakukan. Nilai moral bekerja keras dapat kita lihat
pada kutipan berikut.
(1) “Diaz kembali menjalani rutinitasnya sepulang sekolah: mencari
lembaran kertas di tempat pembuangan sampah. Bedanya, beban
pikirannya sudah bertambah. Galau karena mikirin sepatu putihnya
itu.” (Amipriono, 2019: 56)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Diaz adalah individu
yang bekerja keras. Walaupun baru beberapa hari ditinggal ibunya,
tapi ia tetap melanjutkan rutinitasnya mencari buku bekas
digunakannya untuk bersekolah.
(2) “Dan setelah Putri piker-pikir, Diaz harus tetap bersekolah. Dian
nggak boleh kehilangan masa depannya. Biarlah Putri bekerja.
Mencari uang. Untuk keperluan hidup dan sekolah Diaz.”
(Amipriono, 2019: 72)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Putri yang ingin bekerja
keras demi memenuhi kebutuhan hidup dan untuk biaya sekolah
adiknya.
g. Kesabaran
Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang
bertaqwa kepada Allah SWT. Kesabaran merupakan setengahnya
keimanan. Kesabaran adalah sikap individu yang ketika diuji ia
menerima semua cobaan dengan ikhlas, tidak marah dan tidak
4
memaksakan kehendak. Nilai moral kesabaran dapat kita lihat pada salah
satu kutipan berikut.
(1) “Iya, Diaz. Kakak paham. Tapi kita nggak punya makanan. Kamu
sabar, ya. Mudah-mudahan besok pagi Bu Imah datang
membawakan kita makanan,” Putri mengusap-usap rambut adikny.
Matanya nanar menatap. Bulir bening membesar dan siap-siap jatuh.
(Amipriono, 2019: 65)
Kutipan di atas menggambarkan Putri seorang yang sabar dan
berusaha memberikan pengertian kepada adiknya yang sedang
kelaparan. Cobaan yang mereka alami tidak membuat mereka
berkeluh kesah.
h. Teguh pada Pendirian
Kehidupan tokoh memiliki proses, mulai dari kelahiran menuju
kematian. Dalam kehidupannya, setiap tokoh berinteraksi dengan tokoh
lainnya. Ketika bersikap, beberapa tokoh berpegang teguh pada
pendirian yang berasal dari hati nurani, memiliki prinsip yang kuat dan
tidak tergoyahkan meskipun dipengaruhi sikap tokoh lain dan
bertanggung jawab terhadap pilihan. Hal tersebut dapat dilihat pada
kutipan berikut.
(1) “Putri harus mengambil sikap, Atri. Perjuangan ini cukup berat. Tapi
Putri harus kuat menghadapinya,” jelas Putri. (Amipriono, 2019: 72)
Kutipan di atas menjelaskan bahwa Putri adalah individu yang
teguh pada pendiriannya. Ia menolak bantuan temannya Atri yang
menawarkan tabungannya untuk digunakan Putri. Namun Putri tetap
tak ingin merepotkan temannya sendiri.
4
i. Percaya Diri
Nilai moral selanjutnya yang berhubungan dengan diri sendiri
pada novel ini adalah nilai percaya diri. Percaya diri merupakan salah
satu nilai yang perlu dimiliki oleh seseorang sebagai pribadi yang
tangguh. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.
(1) Diaz mau jadi presiden, Kak,” jawabnya ringan. Air mukanya
Nampak datar.” (Amipriono, 2019: 73)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Diaz yang penuh
percaya diri mengatakan kalau cita-citanya ingin jadi Presiden.
(2) “Langkah Diaz untuk menuntut ilmu juga makin mantap. Dia
mengabaikan koloid hitam yang menghias sepatunya. Tali
pengikatnya sudah disambung-sambung. Kaus kakinya pun yang itu-
itu saja.” (Amipriono, 2019: 90)
Kutipan di atas menggambarkan jiwa percaya diri Diaz, yang
ditunjukkan oleh sikapnya yang semakin mantap untuk menuntut
ilmu, mengabaikan pakaiannya yang serba sederhana.
j. Mengakui Kesalahan
Manusia pasti pernah berbuat kesalahan, namun tidak semua
manusia berani mengakui kesalahan yang diperbuat. Nilai moral ini
merujuk pada nilai diri sebagai bentuk kelapangan hati dalam mengakui
hal yang telah diperbuat. Pada novel ini tokoh yang melakukan
kekeliruan atau kesalahan mengakui hal salah yang telah diperbuat.
Berapa kutipan mengenai nilai mengakui kesalahan adalah sebagai
berikut.
(1) “Pak Lingga terpaku mendengar itu. Mendadak ia malu sebagai
kepala desa. Merasa gagal karena melihat langsung penderitaan yang
dirasakan warganya.” (Amipriono, 2019: 88)
4
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Pak Lingga yang
merasa malu sebagai kepala desa, karena melihat penderitaan
warganya. Secara tidak langsung ia mengakui kesalahannya sebagai
kepala desa yang gagal.
(2) “Itu cara kita membantu mereka, Pak…,” ucap Bu Imah. Air
matanya tak terbendung lagi. Tangannya mengepal, lalu memukul
meja dengan pelan. Ia menyesal tak sanggup membesarkan kedua
bocah yang sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri.
(Amipriono, 2019: 91)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa Bu Imah mengakui
kesalahannya sebab ia tak sanggup membesarkan dua anak yang
dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri.
(3) “Maafin Bu Imah ya, Putri. Ibu nggak bisa bantu banyak buat
sekolah kamu dan Diaz.” Wajah keriputnya penuh kecemasan. Dia
merasa bersalah karena menganggap dirinya telah menelantarkan
mereka. (Amipriono, 2019: 103)
Kutipan di atas menggambarkan nilai mengakui kesalahan
yang dilakukan oleh Bu Imah yang tidak bisa membantu banyak
Putrid an Diaz, ia menganggap dirinya telah menelantarkan kedua
bocah itu.
k. Sadar Diri
Sadar diri adalah salah satu bentuk mawas diri atau mengetahui
kapasitas diri. Nilai moral ini mengacu pada kemampuan diri untuk
mengenali hal•hal yang mampu dilakukan dan tidak mampu dilakukan.
Berikut ini kutipan yang terdapat pada novel berkaitan dengan nilai
sadar diri.
4
(1) “Putri nggak punya daya untuk menahan Diaz, Bu. Putri nggak tega
melihat dia menderita. Putri ingin hidupnya lebih baik. Nggak harus
mikir mencari buku tulis lagi. Dan agar Diaz tetap bisa sekolah.
Seperti pesan Ayah dan Ibu dulu…” Spearuh nyawanya selaksa
terbang saat mengucap itu. (Amipriono, 2019: 118)
Kutipan di atas menggambarkan keadaan Putri ketika
mencurahkan kesedihannya diatas makam ayah dan ibunya. Ia harus
merelakan adiknya diasuh orang lain, karena ia merasa sadar diri
kalau ia tak mampu merawat dan membesarkan adiknya dengan
layak.
l. Berjanji
Nilai berjanji berkaitan dengan keinginan seseorang untuk
melakukan apa yang diinginkan atau dikehendaki untuk dilakukan. Janji
berkaitan dengan nilai moral yang tertanam pada diri sendiri, ketika
berjanji dirinya sendirlah yang harus menepati. Pada novel ini banyak
hal yang dijanjikan oleh tokoh dikarenakan pembelajaran dan hal•hal
baik yang diperolehnya. Berikut ini kutipan yang menunjukkan ketika
tokoh mengikrarkan janji.
(1) “Ayah … Ibu. Putri janji akan kembali untuk Diaz. Setelah Putri
mendapatkan kerja yang layak. Putri janji demi Diaz, Bu. Putri janji.
Ayaaaahhh… Ibu… Putri siap… Putri siaaappp…” (Amipriono,
2019: 118)
Kutipan di atas menggambarkan Putri dengan suara yang
lantang dan bersikap teguh, berjanji di depan makam orang tuanya
akan mengambil Diaz kembali ketika ia sudah bekerja dan mampu
menghidupi adiknya secara layak.
(2) “Setelah Diaz terima rapor, kita ke Desa Kelantan ya. Ibu dan Ayah
yang akan mengantarkan Diaz ke rumah Kak Putri, Ibu janji.” Bu
4
Lina meyakinkan Diaz yang tiba-tiba mematung. Mungkin dia sangat
berharap. (Amipriono, 2019: 157)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa Bu Lina menyatakan
janji kepada Diaz, anak yang diadosinya untuk nantinya akan ia antar
bertemu dengan kakaknya, ketika melihat Diaz yang mematung
mengisyaratkan bahwa dia sangat berharap.
m. Penyesalan
Kesalahan itu terjadi disengaja maupun tidak disengaja.
Dalam kesehariannya, para tokoh bersosialisasi dengan alam dan
makhluk lain. Pada kenyataannya dalam diri tokoh itu terdapat sikap
yang disebut dengan menyesal. Menyesal dapat diartikan dengan
menyadari kesalahannya dan tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi.
Hal tersebut sesuai dengan kutipan berikut.
(1) “Sebelumnya Atri sudah ngomong, Pa. Tapi karena Papa baru
pulang tugas, dan karena Atri baru ketemu Putri kemarin, Atri berani
bilangnya lagi setelah didesak Bu Reni. Maafin Atri ya, Pa….”
Kepala Atri menunduk usai menjelaskan itu. (Amipriono, 2019: 155)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Atri yang menyesal
karena baru menyampaikan kepada Papa nya untuk membantu Putri.
Terbukti dari tingkahnya setelah meminta maaf ke Papa nya, ia
tertunduk.
2. Hubungan Manusia dengan Manusia Lain dalam Lingkup Sosial (Moral
Sosial)
Hubungan manusia dengan manusia lain dalam kehidupan
bermasyarakat, seringkali terjadi gesekan kepentingan. Persoalan hidup
4
sesama manusia dengan lingkungannya bisa berupa persoalan yang positif
maupun persoalan yang negatif. Mengingat bahwa manusia pada dasarnya
adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain termasuk
hubungan dengan alam sekitar sebagai kelengkapan dalam hidupnya
terkadang menimbulkan berbagai macam permasalahan. Wujud nilai moral
dalam hubungan manusia dengan manusia lain dalam novel ini yaitu: kasih
sayang antar teman/saudara, kasih sayang orang tua kepada anak, tanggung
jawab orang tua kepada anak, nasihat orang tua kepada anak, kasih sayang
anak kepada orang tua, nasihat antar teman/saudara, berbagi atau memberi,
berterima kasih, tolong menolong, peduli sesame, rela berkorban, berbakti
kepada orang tua, menghargai, sopan santun, tidak memaksakan kehendak,
menghormati. Berikut ini penjelasan wujud nilai moral hubungan manusia
dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk dengan alam.
a. Kasih Sayang Antar Teman/Saudara
Kasih sayang merupakan pemberian rasa cinta yang diberikan
oleh seseorang ke orang lainnya, atau kepada seluruh keluarganya, kasih
sayang juga tercipta karena adanya rasa perhatian, penyayang, sehingga
terciptalah rasa kasih sayang. Tidak hanya pasangan lawan jenis saja
rasa kasih sayang yang tercipta tetapi kepada keluarga, saudara, sahabat
dan teman-teman. Berikut ini kutipan yang terdapat pada novel berkaitan
dengan kasih sayang antar teman/saudara.
(1) “Meskipun kondisinya serba kekurangan, kami bahagia kok. Kan,
bahagia itu nggak melulu harus punya harta. Bahagia itu, ketika kita
berada dekat dengan keluarga,” gumamnya. (Amipriono, 2019:6)
4
Kutipan di atas menggambarkan bahwa Putrid an keluarganya
saling menyayangi, walaupun mereka tak memiliki harta berlimpah
tapi mereka saling berkasih sayang.
(2) “Kakak nggak mungkin mencelakakan adik kandung kakak sendiri.
Diaz satu-satunya milik kakak. Diaz satu-satunya harapan kakak.
Diaz separuh nyawa kakak. Karena itu, Diaz harus berhasil. Diaz
harus membuat Ayah dan Ibu bangga di alam sana.” Putri membelai
rambut Diaz dan menyibakkan poni yang menututi sebagian
keningnya. (Amipriono, 2019: 110)
Kutipan di atas menggambarkan kasih sayang Putri kepada
saudaranya, dari ucapannya dia sangat menyayangi adiknya itu.
Dibuktikan juga ketika Putri membelai rambut adiknya, yang
menandakan ia sangat menyayanginya.
(3) “Ehm… Kakak sayang kamu, Diaz.” Putri menutup drama malam itu
dengan satu pelukan erat kepada adiknya, yang dalam beberapa hari
kedepan akan memiliki kehidupan baru, masa depan baru, bersama
keluarga yang baru. (Amipriono, 2019: 111)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa Putri sangat
menyayangi adiknya, dengan ucapannya dan pelukan yang ia berikan,
dapat membuktikan bahwa ia sangat menyayangi adiknya itu.
(4) “Jadi, walaupun saat ini kamu belum sekolah lagi, Putri tetap bisa
belajar dari rumah, melalui buku Atri. Iya, kan?” terang Atri.
Tatapan matanya ke Putri membuat teduh. (Amipriono, 2019: 149)
Kutipan di atas menggambarkan nilai kasih sayang antar
teman, Atri yang rela meminjamkan bukunya untuk Putri agar bisa
dipelajarinya.
(5) “Nggak Putri. Nggak. Ini nyata!” Jemari Atri dengan terampil
menghapus sisa air mata di pipi Putri dengan perlahan. Putri sesekali
mengedipkan mata dengan bibir yang mengembang. (Amipriono,
2019: 166)
4
Kutipan di atas menggambarkan sosok Atri yang menyayangi
Putri temannya, dengan menghapuskan air matanya dan berusaha
memberikannya semangat.
(6) “Diaaaaaz! Kakak kangen banget sama kamu, Sayang.” Tubuh Diaz
jatuh di pelukan saudara kandungnya. Putri mendekapnyaerat.
Bagaikan seribu tahun tidak berjumpa. Buliran air mengalir deras.
Membasahi bagian bahu kemeja Diaz. (Amipriono, 2019: 179)
Kutipan di atas menggambarkan kasih sayang antar saudara,
Diaz dan Putri berpelukan melepas rindu mereka setelah terpisah
beberapa lama.
b. Kasih Sayang Orang Tua Kepada Anak
Kasih sayang adalah faktor yang cukup penting untuk kehidupan
anak, kasih sayang tidak akan dirasakan oleh si anak apabila dalam
kehidupannya mengalami hal-hal misal kehilangan pemeliharaan orang
tuanya, anak merasa tidak diperhatikan, dan kurang disayangi. Kasih
sayang orang tua kepada anak dapat dilihat pada beberapa kutipan
berikut.
(1) “Tadi ada banyak cucian di rumah Bu Zaitun. Anak pertamanya baru
pulang dari Medan. Dari asrama tempatnya kuliah.” Pelan-pelan,
Hera menjawab. Kedua tangannya mendekap erat anaknya yang
merapat. (Amipriono, 2019: 9)
Kutipan di atas menggambarkan seorang ibu yang menyayangi
anak-anaknya. Terlihat dari cara ia bercerita kepada anaknya dan
memberikan dekapan kepada anaknya.
(2) Diaz, Ibu sayang banget sama kalian. Sayang sama Diaz. Sayang
sama Kak Putri,” tangan Hera menggenggam jemari Diaz. Rasa
hangatnya membuat anak laki-laki itu merasakan nyaman. (Amipriono,
2019: 36)
4
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Ibu Hera
mengungkapkan rasa sayangnya kepada anak laki-lakinya, sembari
menggenggam tangannya.
(3) “K-kalian adalah anak-anak Ibu yang pintar. T-tetap s-semangat ya.
Jangan pernah menyerah dengan keadaan.” Hera menggenggam
jemari Putri. (Amipriono, 2019: 48)
Kutipan di atas menggambarkan nilai kasih sayang yang
ditunjukkan Ibu Hera kepada anaknya, dengan memberikan semangat
dan memuji anaknya. Walaupun saat itu keadaannya sudah sangat
lemah.
(4) “Bu Imah berulang kali mencium pipinya. Sesekali ke dahi, sambil
mengusap-usap rambutnya.” (Amipriono, 2019: 123)
Kutipan di atas menggambarkan kasih sayang yang diberikan
kepada Diaz yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Dia
memberikan perlakuan yang lembut kepada Diaz.
(5) “Ya sudah-ya sudah. Ngobrolnya nanti aja, ya. Kita makan dulu. Diax
dan Sela, Ayah punya hadiah bagus untuk kalian. Nanti Ayah berikan
setelah makan, ya,” bujuk Pak Azwar. (Amipriono, 2019: 142)
Kutipan di atas menggambarkan kasih sayang Pak Azwar, ayah
angkat Diaz yang memberikan ingin memberikan hadiah untuk Diaz
dan Sela anak kandungnya, hal ini merupakan wujud kasih sayangnya
terhadap kedua anaknya itu.
c. Tanggung Jawab Orang Tua kepada Anak
Tanggung jawab adalah kesadaran diri manusia terhadap tingkah
laku dan perbuatan yang disengaja ataupun tidak disengaja. Tanggung
jawab juga harus berasal dari dalam hati dan kemauan diri sendiri atas
4
kewajiban yang harus di tanggung jawabkan. Tanggung jawab bersifat
kodrati yaitu tanggung jawab harus ada di dalam diri setiap manusia.
Tanggung jawab orang tua kepada anak bersifat wajib. Tanggung jawab
orang tua kepada anak dapat dilihat pada kutipan data berikut.
(1) “Ya sudah, kalian belajar ya. Ibu mau masak dulu untuk makan kita
mala mini.” Hera lalu bergegas. Menyiapkan bahan masakan dan
peralatan dapur. (Amipriono, 2019: 10)
Kutipan di atas menggambarkan tanggung jawab seorang Ibu
kepada anaknya dengan memberikan arahan dan membuatkan
makanan untuk anak-anaknya.
(2) “Diantara bait kehidupan itu, sosok Ibulah yang paling Diaz ingat.
Beliau menjadi teladan yang baik. Mendidiknya menjadi anak yang
patuh. Tenang dan tidak petakilan. Tabah. Tidak manja. Serta nyaris
tidak pernah mengeluh menghadapi kesulitan yang datang bertubi-
tubi.” (Amipriono, 2019: 122)
Kutipan di atas menjelaskan bahwa Ibunya Diaz melakukan
tanggung jawabnya dengan sangat baik. Terbukti, Diaz menjadi anak
yang baik sesuai dengan kutipan diatas.
d. Nasihat Orang Tua kepada Anak
Nasihat merupakan suatu didikan dan peringatan yang diberi
berdasarkan kebenaran dengan maksud untuk menegur dan membangun
seseorang dengan tujuan yang baik. Nasihat selalu bersifat mendidik.
Nasihat juga bisa dimaksud nilai, petunjuk yang baik, peringatan,
mengusulkan, atau menganjurkan kepada seseorang tentang pelbagai hal.
Nasihat orang tua kepada anak merupakan nasihat untuk anak dari orang
tua yang bersifat membangun agar anak dapat membedakan hal yang baik
dan tidak baik. Berikut ini kutipan nasihat orang tua kepada anak.
5
(1) “Kalian berdua pasti bisa menjadi Presiden, Nak. Dengan syarat,
kalian harus memiliki semangat belajar yang tinggi. Berusaha dengan
sungguh-sungguh dan terus berdoa kepada Allah.” (Amipriono, 2019:
12)
Kutipan di atas menggambarkan bentuk nasihat orang tua
kepada anaknya, dengan memberikan wejangan-wejangan agar
anaknya bisa menjadi Presiden sesuai yang diinginkannya.
(2) “Tapi, kalian harus ingat ya. Apapun keadaannya. Bagaiamanapun
kondisinya, kalian harus tetap sekolah, ya. Belajar yang tekun. Jaga
semangat. Bersikap disiplin. Pantang menyerah. Agar kalian bisa
menjadi orang yang sukses…,” ucap Hera lembut menasihati Diaz.
(Amipriono, 2019: 36)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Ibu Hera yang
menasihati anaknyanya agar tetap sekolah hingga sukses, bagaimana
pun keadaannya.
(3) “Baik-baik belajar ya, Nak. Ibu dan ayahmu pasti bangga mempuyai
anak-anak rajin seperti kalian. Dan Ibu yakin, Allah pasti akan
melihat perjuangan kalian, dan meringankan beban hidup kalian.
Makanya jangan tinggalkan salat ya, Nak,” nasihat Bu Imah.
(Amipriono, 2019: 54)
Kutipan di atas menggambarkan sosok Ibu Imah yang sudah
menganggap Diaz dan Putri seperti anaknya, menasihati mereka agar
tekun belajar dan bisa membanggakan orang tua mereka di surga. Serta
mengajak mengajak mereka agar tidak meninggalkan salat.
(4) “Sehat-sehat ya, Nak. Jaga diri kamu baik-baik…,” bisik Bu Imah
kepada Diaz. (Amipriono, 2019: 123)
Kutipan di atas menggambarkan nasihat Bu Imah kepada Diaz
yang akan diadopsi orang lain, agar senantiasa sehat dan menjaga diri.
(5) “Ya sudah, ya sudah. Kamu jaga diri, ya. Jangan lupa jenguk juga
mama kamu. Perhatiin dia. Karena bagaimanapun, dia itu yang
ngerawat dan ngelahirin kamu dulu.” (Amipriono, 2019: 130)
5
Kutipan di atas menggambarkan nasihat Papa Nisa kepada
anaknya, dengan memberikan peringatan dan usulan kepada putrinya
itu.
(6) “Bukannya Bunda ngelarang kamu, Mbak. Tapi ya, harus ingat waktu.
Malam itu kan waktunya belajar. Main HP kan, juga ada waktunya.
Bisa pulang sekolah. Atau ketika sore sehabis solat Asar. Harusnya
Sela kasih contoh yang baik baut adik kamu,” kata Bu Lina bernasihat.
(Amipriono, 2019: 142)
Kutipan di atas menggambarkan bentuk nasihat orang tua
kepada anak. Ibu Lina menasihati anaknya dengan memberi peringatan
bahwa ketika waktunya belajar, ya belajar, jangan main HP.
(7) “Ibu paham yang kamu rasakan, Diaz. Andai jadi kamu, Ibu juga akan
kepikiran. Tapi pikiran itu jangan sampai mengganggu belajar kamu,
ya?” (Amipriono, 2019: 157)
Kutipan di atas menggambarkan Ibu Lina yang selalu
memberikan nasihat kepada anaknya, begitupun untuk Diaz anak
angkatnya juga tetap ia berikan nasihat untuk tetap fokus belajar.
e. Kasih Sayang Anak kepada Orang Tua
Kasih sayang merupakan pemberian rasa cinta yang diberikan oleh
seseorang ke orang lainnya, atau kepada seluruh keluarganya, kasih sayang
juga tercipta karena adanya rasa perhatian, penyayang, sehingga
terciptalah rasa kasih sayang. Tidak hanya pasangan lawan jenis saja rasa
kasih sayang yang tercipta tetapi kepada orang tua, sahabat, keluarga dan
teman-teman. Kasih sayang juga dapat mempersatukan orang yang sedang
berselisih, banyak sekali sisi positif dari kasih sayang. Berikut kutipan kasih
sayang anak kepada orang tua.
5
(1) Bukannya bergegas, Diaz malah mendekati ibunya, melendot manja.
“Ibu sarapan, ya. Terus, minum obat. Biar Diaz dan Kak Putri
belajarnya tenang di sekolah.” (Amipriono, 2019: 17)
Kutipan di atas menggambarkan bentuk kasih sayang Diaz
kepada ibunya yang sedang sakit, memintanya untuk makan dan
minum obat.
(2) “Nggak usah. Kamu jagaian Ibu aja, ya. Cepat panggil Kakak kalau
ada apa-apa. Apalagi kalau Ibu mau minum obat. Ya…,” terang Putri.
Ia pun bergegas ke kamar mandi. (Amipriono, 2019: 46)
Kutipan di atas menggambarkan bentuk kasih sayang Putri
kepada Ibunya, ia meminta adiknya tetap menjaga Ibunya dan
memanggilnya ketika ada apa-apa.
f. Nasihat Antar Teman/Saudara
Nasihat juga bisa dimaksud nilai, petunjuk yang baik, peringatan,
mengusulkan, atau menganjurkan kepada seseorang tentang pelbagai hal.
Nasihat juga mengajarkan bagaimana cara berfikir dan bertindak dengan
baik. Nasihat tidak hanya dilakukan oleh orang tua kepada anak saja,
melainkan nasehat antar teman atau saudara. Berikut merupakan beberapa
hasil dari nasehat antar teman/saudara.
(1) “Yang penting, bagaimana kita menikmatinya. Tetap ikhlas.
Bersyukur. Menjalani hidup apa adany. Sekarang aja, Kakak udah
bersyukur banget bisa sekolah. Dan kamu. Juga harus begitu.
Bersyukur. Yaaah,” ajak Putri kompak. (Amipriono, 2019: 19)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Putri yang menasihati
saudaranya untuk tetap bersyukur dan menjalani hidup apa adanya.
(2) “Itu makanya, kita tetap harus bersyukur Diaz. Sambil terus menjaga
semangat. Semoga Allah tetap memberikan kita rezeki agar kita masih
terus bisa sekolah. Iya, kan?” Putri mencoba memotivasi karena cuma
itu yang bisa dia beri sejauh ini. (Amipriono, 2019: 44)
5
Kutipan di atas menggambarkan Putri yang terus menasihati
adiknya untuk terus semangat, walaupun hanya itu yang bisa ia berikan
sejauh ini.
(3) “Diaz. Memang seperti inilah hidup. Tapi kamu jangan sedih, ya.
Kamu harus tetap menjaga semangat. Karena Kakak yakin, kamu bisa
melewati semua ini. Ada aura optimis di wajah kamu,” Nisa
menyemangati. (Amipriono, 2019: 58)
Kutipan di atas menggambarkan nasihat antar teman yang
dilakukan oleh Nisa kepada Diaz. Ia menasihati untuk tidak sedih dan
tetap semangat.
(4) “Mulai sekarang, kamu harus yakin. Dan tetap menjaga semangat.
Bahwa kamu bisa melanjutkan sekolah hingga SMA.” (Amipriono,
2019: 60)
Kutipan di atas menggamabrkan nasihat Nisa kepada temannya
Diaz untuk tetap semangat dan yakin.
(5) “Atri, tolong. Kamu jangan sedih, ya. Kamu harus bersyukur atas
kondisi kamu sekarang. Kamu harus bersyukur tetap bisa sekolah.
Memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin. Karena tidak semua
orang bisa seberuntung kamu,” jawab Putri. (Amipriono, 2019: 86)
Kutipan di atas menggambarkan nasihat Putri yang ditujukan
kepada temannya Atri untuk tetap bersyukur dengan kehidupannya
yang sudah layak, dan tetap memanfaatkan kesempatan yang ada.
(6) “Diaz jangan sedih lagi, ya. Ingat pesan Ibu dan Ayah. Diaz harus
tetap rajin belajar. Jangan nakal dan terus semangat.” Putri
menggenggam erat tangan adiknya. (Amipriono, 2019: 123)
Kutipan di atas menggambarkan nasihat kakak kepada
adiknyanuntuk tetap rajin belajar dan semangat, sesuai apa yang
disampaikan orang tuanya dulu.
5
(7) “Iya, Put. Insyaallah ini yang terbaik buat kamu, ya. Kamu harus
manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya,” bisik Nisa. Putri
mengangguk dan spontan memeluk Nisa. (Amipriono, 2019: 167)
Kutipan di atas menggambarkan nasihat Nisa kepada Putri agar
memanfaatkan kesempatan bersekolah kembali dengan sebaik-
baiknya.
g. Berbagi atau Memberi
Berbagi atau memberi merupakan salah satu bentuk penerapan
nilai moral yang merujuk pada keikhlasan seseorang dalam memberikan
sebagian yang dimiliki pada orang lain. Nilai ini juga dimunculkan pada
novel melalui berbagai peristiwa dan perilaku tokoh. Berikut ini kutipan
moral berbagi atau memberi.
(1) Kenapa nggak bilang dari tadi, Arya bawa buku yang masih baru,
lebih kok. Kamu pilih mana yang kamu suka,” tawar Arya ramah.
Tiga buku tulis berisi 50 halaman dikeluarkan dari tasnya.
(Amipriono, 2019: 21)
Kutipan di atas menggambarkan sikap berbagi yang dilakukan
oleh Arya kepada Diaz, ia memberikan bukunya yang lebih kepada
Diaz.
(2) “Kalau gitu, kita cari kita cari makanan, yuk. Kakak yang bayar,”
ajak Nisa. Sama seperti tadi. Putri juga menjawabnya tanpa kata.
(Amipriono, 2019: 134)
Kutipan di atas menggambarkan sikap berbagi Nisa kepada
Putri dengan mengajaknya makan, karena ia orang yang punya maka
ia berusaha untuk berbagi dengan temannya itu.
h. Berterima Kasih
Berterima kasih merupakan ungkapan dari perasaan syukur
terhadap bantuan orang lain. Syukur merupakan bagian dari ungkapan
5
terima kasih. Seperti halnya kutipan sebagai berikut. Ketika seorang tokoh
mendapatkan kebaikan dariorang lain kemudian dia akan mengucapkan
terima kasih sebagai ungkapan untuk menghargai orang lain dan rasa
syukurnya. Berikut ini beberapa kutipan yang bermuatan nilai berterima
kasih.
(1) “Iya, Arya. Terima kasih, ya.” Secuil senyum pun merekah dari bibir
Diaz. Harinya yang kosong menjadi berisi berkat ketulusan
pertemanan. (Amipriono, 2019: 21)
Kutipan di atas menggambarkan ungkapan terima kasih Diaz
kepada Arya, yang telah memberikan selembar kertasnya untuk Diaz.
(2) “Bu Imah. Terima kasih sudah membantu kami,” tarik napas hera
semakin berat. (Amipriono, 2019: 49)
Kutipan di atas menggambarkan keadaan Bu Hera yang sudah
tak berdaya, tapi tetap mengucapkan terima kasih kepada Bu Imah
yang telah membantunya.
(3) “Jangan, Atri. Jangan, ya. Terima kasih. Putri nggak mau buat orang
lain repot. Putri ingat betul pesan Ayah: Jangan karena ingin
membuat kita bahagia, orang lai malah menjadi sedih” kenangnya.
(Amipriono, 2019: 72)
Kutipan di atas menggambarkan ucapan terima kasih Putri
kepada Atri yang ingin membantunya. Namun disini, Putri tetap
menolak bantuan Atri karena ia tidak mau merepotkan temannya ini.
(4) “Terima kasih, Atri. Kamu baik banget,” jawabnya, saat menerima
beberapa buku catatan yang sudah tersampul rapi. (Amipriono, 2019:
149)
Kutipan di atas menggambarkan keadaan ketika Atri
meminjamkan buku untuk Putri, kemudian Putri mengucapkan terima
kasih kepadanya.
5
i. Tolong Menolong
Tolong menolong adalah nilai sosial yang sudah diajarkan sejak
dini. Pada dasarnya manusia membutuhkan bantuan manusia lain untuk
bertahan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tolong• menolong sangat
penting di masyarakat. Pada novel ini nilai tolong menolong ditunjukkan
pada kutipan berikut.
(1) “Ini, Dik. Pegang ranting ini, biar Kakak tarik kamu ke atas,” seru
Nisa. Kayu itu ditarik perlahan setelah berhasil dijangkau Diaz.
(Amipriono, 2019: 27)
Kutipan di atas menggambarkan nilai tolong menolong yang
dilakukan oleh Nisa pada Diaz yang terjatuh ke sungai, dengan
berusaha menariknya untuk naik kembali.
(2) “Pak, kita harus membantu mereka. Karena mereka sudah tidak punya
siapa-siapa lagi,” ucap Bu Imah kepada kepala desa. (Amipriono,
2019: 75)
Kutipan di atas menggambarkan nilai tolong menolong yang
dilakukan oleh Bu Imah. Ia ingin menolong Putri dan Diaz, sehingga ia
pun menemui kepala desa agar bisa membantunya.
(3) “Ya, udah. Nggak apa-apa. Biasa itu, Dek. Ini ikannya, ya. Tiga ekor,
masih seger-seger. Ambil aja buat kalian. Gratis,” kata si penjual ikan
ikhlas. (Amipriono, 2019: 84)
Kutipan di atas menggambarkan sikap tolong menolong yang
dilakukan oleh penjual ikan kepada Nisa, Putri dan Diaz yang ingin
membeli ikan. Penjual ikan ini memberikan ikannya secara cuma-
cuma, melihat kondisi tiga anak ini yang hanya ingin membeli 3 ekor
ikan.
(4) “Iya, Put. Nggak apa-apa. Yang Atri bawa sih, baru 4 pelajaran. IPA,
5
IPS, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Kalau Putri mau buku
catatan Bahasa Inggris dan Agama, besok Atri bawa, ya.” Ia
menggenggam tangan Putri. (Amipriono, 2019: 149)
Kutipan di atas menggambarkan Atri yang menolong Putri
untuk tetap belajar, sehingga ia meminjamkan bukunya untuk Putri.
j. Peduli Sesama
Nilai kepedulian sangat dominan pada novel ini. Peduli
dimaksudkan sebagai nilai yang mengacu pada kepekaan seseorang
terhadap kondisi orang lain sehingga menimbulkan perilaku empati. Nilai
peduli antar sesama manusia secara tersirat dan tersurat muncul dalam
beberapa bagian cerita. Berikut beberapa kutipan peduli sesama.
(1) “Besok Ibu ke Medan. Doakan ikan Ibu cepat laku, ya. Biar ada uang
buatmu berobat. Biar kamu bisa cepat normal dan merawat anakmu
lagi.” Mata bening Bu Imah menatap. (Amipriono, 2019: 39)
Kutipan di atas menggambarkan sikap peduli sesama yang
dilakukan oleh tokoh Bu Imah kepada Hera. Ia berusaha menjual ikan
dan hasilnya akan ia berikan kepada Hera untuk berobat.
(2) “Untungnya ada Bu Imah. Janda paruh baya ini begitu pengertian.
Meskipun hidupnya tidak lebih baik, ia begitu memperhatikan Putri
dan Diaz. Sering ia ke rumah. Melihat mereka. Memastikan kondisinya
baik-baik saja. Dan untuk meyakinkan ini: ada atau tidak makanan
yang bisa mereka makan.” (Amipriono, 2019: 53-54)
Kutipan di atas menjelaskan sikap Bu Imah yang peduli
terhadap Diaz dan Putri, memastikan kondisinya baik-baik saja setelah
ditinggal meninggal oleh Ibunya.
(3) “Putri, Atri masih punya tabungan. Kalau kamu mau, besok Atri bawa
ya. Kamu boleh pake buat apa aja. Buat beli beras. Buat beli buku.
Yang penting kamu masih bisa bersekolah.” (Amipriono, 2019: 72)
Kutipan di atas menggambarkan kepedulian Atri kepada
5
sahabatnya Putri, sampai rela ingin memberikan uang tabungannya
agar Putri bisa tetap bersekolah.
(4) “Bu Imah selalu hadir saat dua malaikat kecil itu butuh pertolongan.
Sering ia membersihkan rumah, dan mengantarkan makanan. Malah
kadang mencuci kembali pakaian yang terlihat masih kotor, dan tak
membiarkan pakaian-pakaian itu kusut. Semua licin, bersih, dan wangi
disetrika Bu Imah.” (Amipriono, 2019: 104)
Kutipan di atas menjelaskan kalau Bu Imah memang tokoh
yang peduli, ia selalu memberikan pertolongan kepada dua anak kecil
itu.
(5) “Jadi tolong, Pak. Kita harus bantu dia. Kita harus menyelamatkan
sekolah Putri.” Bu Reni nanar menatap. (Amipriono, 2019: 155)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa Bu Reni, guru sekolah
Putri sangat peduli terhadap Putri yang sekarang tidak bersekolah. Ia
rela memohon kepada kepala sekolah untuk membantunya.
k. Rela Berkorban
Nilai rela berkorban merujuk pada pengertian melakukan sesuatu
hal yang penting untuk kebutuhan atau keperluan orang lain. Nilai ini
menunjukkan adanya hubungan manusia yang saling berkaitan dan saling
membutuhkan satu sama lain. Nilai rela berkorban dapat dilihat pada
kutipan cerita berikut ini.
(1) “Eh... kamu capek nggak? Kalau capek, sini biar Kakak gendong.”
Putri pun berlutut, adiknya naik ke punggungnya. (Amipriono, 2019:
44)
Kutipan di atas menggambarkan sikap rela berkorban Putri
untuk Diaz. Ia rela mengendong adiknya, walaupun ia juga lelah.
(2) “Ini pilihan yang sulit, [Link] juga nggak tahu sampai kapan. Tapi,
5
biarlah Putri yang cari uang. Buat makan. Buat beli buku. Supaya
Diaz bisa terus sekolah.” (Amipriono, 2019: 103)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Putri yang rela
berkorban untuk Diaz. Rela putus sekolah demi mencari kerja, dan
membiarkan adiknya yang tetap bersekolah.
l. Berbakti kepada Orang Tua
Berbakti pada orang tua merupakan nilai moral yang sangat
penting bagi seorang anak. Berbakti merujuk pada kewajiban seorang anak
dalam menjalani tugas dan perannya pada orang tua. Namun berbakti tidak
hanya pada orang tua kandung saja, berbakti juga dapat ditujukan pada
setiap orang yang disayangi dan dianggap sebagai keluarga. Berikut ini
kutipan yang sesuai.
(1) “Diaz, setengah jam lagi, kamu bangunin Ibu, ya. Ibu belum minum
obat,” pesan Putri, kepada Diaz. Hera berbaring lemah di atas dipan.
(Amipriono, 2019: 46)
Kutipan di atas menggambarkan keberbaktian Putri dan Diaz
kepada Ibunya. Ibunya yang terbaring sakit, kini diperhatikan oleh
Putri dan Diaz, merupakan salah satu bentuk keberbaktian kepada
orang tua.
(2) “Antar Diaz ke makam ya, Bu. Diaz kangen orang tua Diaz,” katanya.
Suaranya terdengar parau. Matanya sembap. (Amipriono, 2019: 177)
Kutipan di atas menggambarkan Diaz yang tetap berbakti pada
orang tuanya, walaupun telah tiada. Ia tetap ingin ke makam orang
tuanya.
(3) “Iya, Sayang. Nanti setiap salat, jangan lupa kita bacakan Al-Fatihah
buat almarhum Ayah dan Ibu ya...” (Amipriono, 2019: 181)
6
Kutipan di atas menggambarkan bentuk bakti anak kepada
orang tuanya. Putri dan Diaz tetap berbakti kepada orang tuanya,
walaupun mereka beda alam sekarang, mereka melakukan baktinya
dalam wujud selalu mendoakannya dalam salat.
m. Menghargai
Nilai menghargai dalam novel ini dapat terlihat dalam keseharian
para tokoh. Beberapa tokoh menyadari kelebihan yang dimiliki tokoh lain,
dengan begitu rasa penghargaan terhadap tokoh lain akan muncul. Sikap
tokoh yang mau menerima kelebihan tokoh lain menjadi hal yang
dilakukan oleh tokoh-tokoh dengan sikap bijaksana. Berikut ini salah satu
kutipan nilai menghargai orang lain.
(1) “Nggak apa-apa, Putri. Ini juga sudah enak, kok,” hibur Nisa.
Ketiganya nampak begitu lahap menyantap. Alhamdulillah.
(Amipriono, 2019: 63)
Kutipan di atas menggambarkan suasana saat Nisa, Putri dan
Diaz sedang makan, dan Putri memasak makanan alakadarnya.
Namun, Nisa tetap menghargai masakan yang dihidangkan Putri.
n. Sopan Santun
Sopan santun yaitu norma tidak tertulis yang mengatur bagaimana
seharusnya bersikap dan berprilaku. Sopan santun merupakan istilah
bahasa Jawa yang dapat diartikan sebagai perilaku seseorang yang
menjunjung tinggi nilai-nilai. Sopan santun adalah suatu tata cara atau
aturan yang turun-temurun dan berkembang dalam suatu budaya
masyarakat, yang bermanfaat dalam pergaulan dengan orang lain, agar
6
terjalin hubungan yang akrab, saling pengertian, hormat-menghormati
menurut ada yang telah ditentukan. Berikut ini kutipan nilai sopan santun.
(1) “Adam. Ini Pak Udin,” yang disebut namanya lalu bergegas
menghampiri. Kepalanya ditundukkan. Tangannya diulurkan.
Menyalami, lalu mencium tangan itu. (Amipriono, 2019: 98)
Kutipan di atas menggambarkan sikap sopan santun yang
dilakukan Adam kepada tamu yang ia hormati, yaitu pak Udin. Dari
gerak gerik dan cara memperlakukan pak udin dengan baik,
merupakan bentuk kesopan santunan.
(2) “Saya Nisa. Temannya Putri dan Diaz.” Nisa mulai berdamai. Ia
menjabat tangan Atri dengan ramah. Mendadak ia santun setelah
melihat ekspresi lawan bicaranya yang gugup dan kebingungan itu.
(Amipriono, 2019: 162)
Kutipan di atasa menggambarkan sikap sopan santun Nisa
kepada Atri yang baru ditemuinya. Ia menjabat tangan Atri dengan
ramah, yang menunjukkan sikap sopan santun.
o. Tidak Memaksakan Kehendak
Tidak memaksakan kehendak merupakan salah satu bentuk nilai
moral dalam memahami keinginan orang lain. Pada novel ini ditunjukkan
beberapa kutipan berikut ini.
(1) “Baiklah, Pak Lingga. Saya paksa sekeras apa pun. Bapak pasti akan
lebih keras lagi menolaknya. Jadi saya ikuti kemauan Bapak. Kereta
ini saya ambil. Bismillah.” (Amipriono, 2019: 100)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Pak Udin yang hanya
ingin meminjamkan uang kepada Pak Lingga, tapi justru Pak Lingga
lebih bersikeras untuk menjual keretanya, dibandingkan harus
meminjam uang dari orang lain. Yang akhirnya membuat Pak Udin
6
tak lagi memaksakan kehendaknya.
(2) “Tapi, itu semua tergantung Putri. Ibu dan Pak Lingga nggak bisa
maksa. Inilah cara yang menurut kami paling baik agar Diaz ada yang
mengurus karena dia masih terlalu kecil, Putri. Kasihan Ibu lihat dia...
Kasihan Diaaazz..., Putri...” Bu Imah pun tergugu. Kedua matanya
dilapik kain sarung bermotif batik. (Amipriono, 2019: 105)
Kutipan di atas menggambarkan Bu Imah yang mencarikan
solusi untuk Putri agar Diaz diasuh orang lain, karena merasa kasihan.
Namun, ia tidak memaksakan kehendaknya, ia menyerahkan semuanya
pada Putri sebagai kakak Diaz.
p. Menghormati
Menghormati biasanya dikaitkan dengan perilaku pada orang yang
lebih tua saja. Sebenarnya nilai saling menghormati tidak hanya untuk
orang tua saja, tetapi pada setiap orang. Berikut kutipannya dalam novel.
(1) “Putri, kenalin. Ini Bu Lina. Beliau baru datang dari Tarutung,” kata
Pak Lingga memperkenalkan. Putri mencium tangan orang yang baru
dikenalnya itu. Diaz melempar perhatian. (Amipriono, 2019: 120)
Kutipan di atas menggambarkan sikap menghormati yang
dilakukan oleh Putri kepada orang yang lebih tua darinya. Dengan
mencium tangan orang tersebut, menandakan bahwa ia
menghormatinya.
(2) “Kak, doain Diaz ya, kak.” Disalaminya Putri untuk terakhir kali.
Matanya menatap sang kakak penuh haru. (Amipriono, 2019: 122)
Kutipan di atas menggambarkan sikap Diaz menyalami
kakaknya merupakan sikap menghormati orang yang lebih tua.
3. Hubungan Manusia dengan Tuhan (Moral Religi)
Hubungan manusia dengan Tuhan tidak dapat digambarkan dengan
6
garis vertikal. Dalam menghadapi persoalan•persoalan hidup manusia
membutuhkan perlindungan. Tuhan sebagai tempat mengadu dan berkeluh
kesah. Tuhan sebagai zat Yang Maha Sempurna tempat segala sesuatu
bergantung. Dalam novel ini ditunjukkan hubungan manusia dengan
Tuhan yaitu bersyukur kepada Tuhan, memanjatkan do’a, berserah diri
kepada Tuhan, dan memuji keagungan Tuhan. Berikut ini penjelasan
wujud nilai moral hubungan manusia dengan Tuhan.
a. Bersyukur kepada Tuhan
Dalam novel ini, rasa syukur kepada Tuhan dapat diwujudkan
melalui tutur kata dan tindakan. Pada dasarnya bersyukur adalah
berterima kasih. Bersyukur kepada Tuhan berarti berterima kasih atas
nikmat yang telah Tuhan berikan. Nikmat yang dikaruniakan hakikatnya
adalah cobaan. Tokoh boleh saja memilih untuk bersyukur atau tidak.
Bersyukur secara batiniyah memang tidak nampak. Rasa syukur kadang
muncul seperti sebuah kelegaan di dalam hati tokoh. Secara tersirat
penggambaran perasaan tokoh pada novel mencerminkan rasa
bersyukur. Berikut kutipan rasa syukur yang tersirat dalam novel.
(1) “Biarpun sederhana, kita tetap harus bersyukur. Karena di luar
sana, masih banyak orang yang nggak mampu beli makanan.
Fabiayyiaalaairobbikumaa Tukadzdzibaan,” ujar Hera. Begitulah ia
menanamkan sikap syukur kepada anak-anaknya. (Amipriono, 2019:
10)
Kutipan di atas menggambarkan sikap bersyukur kepada
Tuhan oleh Ibu Hera, yang menyampaikan pesan-pesan kepada
anak-anaknya untuk tetap bersyukur dengan keadaan yang mereka
punya sekarang.
6
(2) “Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah. Mungkin ini jawaban atas
doa-doamu Putri.” Mata Nisa berbinar. (Amipriono, 2019: 163)
Kutipan di atas menggambarkan sikap bersyukur Nisa kepada
Tuhan, yang dibuktikan dengan mengucap Alhamdulillah, ia
merasakan kesyukuran yang diterima Putri atas pencapaiannya.
(3) “Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah, atas karunia-Mu, Putri bisa
sekolah lagi.” (Amipriono, 2019: 165)
Kutipan di atas menggambarkan sikap bersyukur Putri kepada
Tuhan yang dibuktikan dengan ucapan syukurnya kepada Tuhan.
(4) “Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih atas nikmat dan karunia
yang telah Engkau berikan. Masyaallah...” Air mata Putri jatuh
berderai. Tak henti-hentinya ia mengekspresikan rasa syukur.
(Amipriono, 2019: 167)
Kutipan di atas menggambarkan Putri yang tak henti-hentinya
mengucapkan rasa bersyukurnya kepada Tuhan.
(5) “Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih, ya Allah. Kamu
hebat, Diaz. Kamu hebat.” Putri kembali memeluk adiknya.
(Amipriono, 2019: 180)
Kutipan di atas menggambarkan tokoh Putri yang sangat
beryukur kepada Tuhan atas nikmat yang telah diterima adiknya.
b. Memanjatkan Doa
Pada diri tokoh, memanjatkan doa merupakan aktivitas yang
tidak pernah tidak dilakukan. Meminta, memohon, dan mengadu
layaknya hanya kepada Tuhan. Meminta suatu kebaikan agar dirinya
mendapatkan kebaikan adalah yang utama dilakukan ketika berdoa.
Memohon keselamatan, mengungkapkan rasa syukur, dan memohon
perlindungan merupakan bagian dari permohonan doa.
6
(1) “Kuatkan hamba untuk melawan sakit kanker hati ini, Ya Rabb.”
Tangisannya makin tersedu-sedu. Badannya berguncang. Tatapan
mata kea rah Diaz dan Putri membuatnya makin sedih. (Amipriono,
2019: 13)
Kutipan di atas menggambarkan Ibu Hera memanjatkan doa
dengan meminta keselamatan untuk dirinya, meminta kekuatan agar
ia bisa melewati sakitnya.
(2) “Alunan Al-Fatihah menjadi pembuka pembelajaran. Riuh rendah
ceramah guru, membentuk mozaik yang khas, membuat suasana
belajar kian hidup.” (Amipriono, 2019: 20)
Kutipan di atas menggambarkan siswa yang memanjatkan doa
ketika hendak belajar di dalam kelasnya, yang membuat suasana
semakin khidmat.
(3) “Iya, Kak. Kita makan, ya. Kak Putri ini jagonya masak, loooh. Pasti
nanti Kakak ketagihan,” goda Diaz. Dia memimpin doa makan.
Kemudian mereka bersantap di atas dipan. (Amipriono, 2019: 62)
Kutipan di atas menggambarkan suasana di meja makan,
perbincangan antara Diaz, Putrid dan Nisa. Ketika Diaz memimpin
doa sebelum makan, merupakan nilai memanjatkan doa kepada
Tuhan.
(4) “Maafkan Putri yaa, Yaaah…” matanya diusap-usap. Tas kerjanya
disampirkan ke badan bagian belakang. Tangannya lalu menengadah,
berpangku di atas kedua pahanya. Ia mulai membaca surat Al-
Fatihah. (Amipriono, 2019: 117)
Kutipan di atas menggambarkan keadaan Diaz yang sedang
berziarah ke makam Ayahnya, yang kemudian membaca surah Al-
Fatihah bentuk memanjatkan doa kepada Tuhan.
(5) “Ya Allah, mohon rawat hamba-Mu yang lemah ini. Mohon lindungi
dia. Mohon pertemukan kembali ia dengan saudara kandungnya.”
Doa Nisa di dalam hati. (Amipriono, 2019: 175)
6
Kutipan di atas menggambarkan Nisa yang memanjatkan doa
dengan meminta perlindungan kepada Tuhan. Doa ini dipanjatkan
untuk sahabatnya Putri yang sedang terpisah dengan saudaranya.
c. Berserah Diri kepada Tuhan
Berserah diri merupakan salah satu bentuk hubungan manusia
dengan Tuhan dimana seorang manusia memasrahkan segala hal yang
terjadi pada dirinya sebagai takdir Tuhan. Hal ini sebagai wujud mawas
diri seorang manusia yang kecil dihadapan Tuhan. Berserah diri pada
Tuhan adalah salah satu wujud nilai moral manusia yang menunjukkan
bahwa manusia merupakan makhluk yang tunduk pada takdir Tuhan.
Ketika manusia telah melakukan segala usaha, maka hal terakhir yang
dapat dilakukan adalah berserah diri kepada Tuhan. Berikut kutipan
berserah diri kepada Tuhan dalam novel tersebut.
(1) “Ya Allah. Maafkan hamba-Mu ini, ya Rabb.” Hera meringis
ketakutan. Tangan kanannya cepat-cepat mengusap darah yang keluar
dari hidung dan mulutnya itu. Berulang kali. (Amipriono, 2019: 35)
Kutipan di atas menggambarkan sikap berserah diri kepada
Tuhan yang dilakukan Hera ketika ia mengalami sakit yang sudah
ditakdirkan Tuhan.
d. Memuji Keagungan Tuhan
Memuji keagungan Allah adalah rasa kagum dalam diri manusia
yang diucapakan dengan lisan untuk mengungkapkan rasa kagumnya atas
ciptaan Allah SWT di dunia ini. Entah berupa alam semesta maupun
makhluk ciptaan-Nya. Kalimat yang diucapkan untuk mengungkapkan
6
rasa itu adalah seperti mengucapkan untuk menuangkan rasa itu adalah
seperti mengucapkan subhanallah (Maha Suci Allah) pada saat melihat
sesuatu di luar kemampuannya. Selain itu dapat juga diungkapkan dengan
kata-kata yang indah untuk melukiskan sesuatu yang dilihatnya.
(1) “Wow… Indahnya…” ucap Putri kagum ketika menyaksikan aksi
kejar-kejaran air laut yang tak berhenti menyapa bibir teluk.
(Amipriono, 2019: 137)
Kutipan di atas menggambarkan Putri yang terkesima melihat
keindahan gelombang air laut, yang merupakan bentuk pujian
keagungan Tuhan.
(2) “Cantik, kan?” Sahut Nisa. Kemudian, ia membalas senyum
sekelompok burung camar yang datang berkerumun menututpi awan.
(Amipriono, 2019: 137)
Kutipan di atas menggambarkan bentuk pujian kepada
keagungan Tuhan yang diungkapkan Nisa secara tidak langsung,
dengan mengatakan “Cantik, kan?” merupakan suatu bentuk pujian.
(3) “Ya Allah. Indahnya,” lirih Putri. Ia tak henti-hentinya memuji lukisan
agung Sang Pencipta. (Amipriono, 2019: 137)
Kutipan di atas menggambarkan nilai memuji keagungan
Tuhan yang diungkapkan oleh Putri ketika melihat indahnya ciptaan
Tuhan, dengan tak lupa menyebut nama Allah.
BAB IV
PENUTUP
Berdasarkan data-data penelitian dan pembahasan sebelumnya, maka
berikut ini diajukan beberapa kesimpulan dan saran.
A. Simpulan
Wujud nilai moral dalam novel Selembar Itu Berarti terdiri atas tiga
bentuk. Ketiga wujud nilai moral tersebut adalah wujud nilai moral dalam
hubungan manusia dengan dirinya sendiri, wujud nilai moral dalam hubungan
manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial dan wujud nilai moral
dalam hubungan manusia dengan Tuhannya. Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan pada bab sebelumnya, ditemukan data-data sebagai berikut.
1. Wujud Nilai Moral dalam Hubungan Manusia dengan Diri Sendiri
Dalam penelitian ini peneliti menemukan bentuk nilai moral dalam
hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan berbagai varian yakni
menerima kenyataan, pantang menyerah (optimis), jujur, tanggung jawab
siswa terhadap pendidikan, keikhlasan, bekerja keras, kesabaran, teguh
pada pendirian, percaya diri, mengakui kesalahan, sadar diri, berjanji, dan
penyesalan. Wujud nilai moral dalam hubungan manusia dengan diri
sendiri yang paling mendominasi yaitu moral pantang menyerah.
68
6
2. Wujud Nilai Moral dalam Hubungan Manusia dengan Manusia Lain dalam
Lingkup Sosial
Dalam penelitian ini peneliti menemukan bentuk nilai moral dalam
hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial, dengan
varian sebagai berikut kasih sayang antar teman/saudara, kasih sayang
orang tua kepada anak, tanggung jawab orang tua kepada anak, nasihat
orang tua kepada anak, kasih sayang anak kepada orang tua, nasihat antar
teman/saudara, berbagi atau memberi, berterima kasih, tolong menolong,
peduli sesama, rela berkorban, berbakti kepada orang tua, menghargai,
sopan santun, tidak memaksakan kehendak, menghormati. Wujud nilai
moral dalam hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup
lingkungan sosial yang paling mendominasi yaitu nasihat orang tua kepada
anak dan nasihat antar teman/saudara.
3. Wujud Nilai Moral dalam Hubungan Manusia dengan Tuhan
Dalam penelitian ini peneliti berhasil menemukan bentuk nilai moral
dalam hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan varian yang berupa
bersyukur kepada Tuhan, memanjatkan do’a, berserah diri kepada Tuhan,
dan memuji keagungan Tuhan. Wujud nilai moral dalam hubungan
manusia dengan Tuhan yang paling mendominasi yaitu bersyukur kepada
Tuhan.
Berdasarkan data yang telah dianalisis pada novel Selembar Itu
Berarti, ditemukan 95 data dari tiga wujud nilai moral dalam novel.
7
B. Saran
Bagi pembaca pada umumnya, semoga penelitian ini bisa menambah
wawasan serta mengembangkan pengetahuan mengenai penelitian sastra.
Selain itu, pembaca juga diharapkan mengenal tentang adanya berbagai teori
dalam dunia sastra yang digunakan sebagai alat penelitian sastra. Bagi
peneliti sendiri, semoga penelitian ini menjadi langkah untuk memperbaiki
studi tentang teori dalam penelitian sastra, khususnya sastra Indonesia.
Bagi dunia pendidikan formal, semoga penelitian ini dapat
bermanfaat bagi pengajaran sastra mengenai ajaran moral dalam sebuah
novel.
Masih banyak alternatif penelitian yang dapat dilakukan terhadap
novel Selembar Itu Berarti dengan menggunakan analisis yang berbeda,
misalnya analisis nilai pendidikan maupun analisis nilai pendidikan. Dengan
demikian, masih terbuka luas kesempatan bagi para peneliti untuk lebih
mengeksplorasi dalam melakukan penelitian terhadap novel ini.
DAFTAR PUSTAKA
Amipriono, Suryaman. 2019. Selembar Itu Berarti. Jakarta: Literatur.
Baso, Andi dan Nasrun Hasan. 2016. Pendidikan Pancasila. Makassar: Media
Sembilan-sembilan.
Bertens, K. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2011
Budiningsih, Asri [Link] Moral. Jakarta:Rineka Cipta.
Darmadi, Hamid. 2009. Dasar Konsep Pendidikan Moral. Bandung: Alfabeta.
Emzir dan Saiful Rohman. 2016. Teori Pengajaran Sastra. Jakarta: Rajawali Pers.
Ginanjar, Nurhayati. 2012. Pengkajian Prosa Fiksi Teori dan Praktik. Surakarta.
Gunawan, Andri. 2018. Nilai-nilai Reliius dalam Novel Ayat-Ayat Cinta 2Karya
Habiburrahman El Shirazy dan Rancangan Pembelajaran Sastra di
SMA/MA. PBSI. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas
Lampung.
Jabrohim. Teori Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2012
Kurniadi, Aluisius Titus. 2019. Analsis Nilai Moral dan Nilai Sosial dalam Novel
Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin Karya Tere Liye dan
Implementasinya. Skripsi: Universitas Sanata Dharma.
Nasir, Muhammad. 2014. Analisis Nilai Moral dalam Novel Kereta Di Awal
Syawwal Karya Riyanto El Harits. Skripsi: Universitas
Muhammadiyah Makassar.
Nugroho, Catur Abi. 2017. Analisis Nilai Moral Novel Sandiwara Bumi Karya
Taufiqurrahman Al-Azizy dan Rencana Pembelajarannya Di Kelas
XII SMA. Skripsi. Universitas Muhmadiah Purworejo.
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Salfiah, Nining. (2015). Nilai Moral Dalam Novel 5 Cm Karya Donny
Dhirgantoro. Jurnal Humanika. 3(15), 6.
Setyawati, Elyna. 2013. Analisis Nilai Moral dalam Novel Surat Kecil Untuk
Tuhan Karya Agnes Davonar (Pendekatan Pragmatik). Skripsi.
Universitas Negeri Yogyakarta.
Tarigan, Hendri Guntur. 2015. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung Angkasa.
Wahyuni, Elizabeth. 2017. Analisis Unsur Intrinsik Dan Ekstrinsik Novel Surat
Kecil Untuk Tuhan Karya Agnes Davonar Sebagai Sumbangan Materi
Bagi Pengajaran Sastra. Skripsi: Universitas Muhammadiyah
Palembang.
Wellek, Rene dan Warren Austin. 2014. Teori Kesusastraan. IKAPI Jakarta:
Gramedia.
Wicaksono, Andri. 2014. Pengkajian Prosa Fiksi. Yogyakarta: Garuda Wacana. Zuriah, Nurul. 2011. Pen
Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara.
Lampiran 1. Korpus Data
No. Hal. Kutipan Data
1. 6 “Meskipun kondisinya serba kekurangan, kami bahagia kok.
Kan, bahagia itu nggak melulu harus punya harta. Bahagia
itu, ketika kita berada dekat dengan keluarga,” gumamnya.
Tangan mungil Putri merapikan buku, lalu menyusunnya
kertas putih yang warna-nya kian lusuh. (Amipriono, 2019:
6)
2. 118 “Ayah… Ibu. Maafin Putri, ya. Putri terpaksa harus
melepas Diaz untuk dirawat orang lain. Beraaaat rasanya.
Karena hanya Diaz satu-satunya darah daging Putrisaat
ini.” (Amipriono, 2019:118)
3. 124 “Namun kini, Putri terpaksa mengalah dengan kondisi.
Takut berkompromi dengan ekonomi, dengan merelakan
Diaz diasuh orang lain supaya hidupnya lebih baik dan bisa
terus sekolah.” (Amipriono, 2019: 124)
4. 26 “Ketika ia melihat sebuah buku tulis yang menggenang di
sungai kecil, Diaz berusaha keras untuk mengambilnya.
Padahal lokasinya sulit dijangkau.” (Amipriono, 2019: 26)
5. 43 “Nggak kok, Kak. Diaz nggak akan menyerah. Tapi Diaz
kepikiran dengan sakitnya Ibu. Harusnya, kita sudah ada di
rumah untuk menjaganya”. (Amipriono, 2019: 43)
6. 44 “Iya, Kak. Diaz tetap semangat. Kakak nggak usah ragukan
itu lagi,” jawab Diaz. Tangannya mengepal. Lengannya
diangkat menunjukkan ototnya. (Amipriono, 2019: 44)
7. 90 “Diaz tengah bersiap untuk ke sekolah. Semangat belajarnya
masih meladak-ledak meskipun perlengkapan sekolahnya
sederhana. Warna seragamnya kian lusuh. Putihnya
menguning. Celana pendek merahnya tidak berikat
pinggang.” (Amipriono, 2019: 90)
8. 181 “Namun, sekarang Kakak tahu. Bahwa Kakak punya kamu.
Kakak punya teman. Dan Kakak punya masa depan yang
harus Kakak hadapi. Kita harus tetap menjaga semangat ini,
ya. Kita harus terus bersekolah. Apapun keadaannya. Buat
kedua orangtua bangga.” (Amipriono, 2019: 181)
9. 45 “Pak. Ini kantor saya. Tolong yang sopan. Anda boleh
punya banyak uang. Tapi tak semua bisa Anda beli. Apalagi
kejujuran.” Sergap Pak Lingga saat digoda dengan uang
rasuah. Ia naik pitam. (Amipriono, 2019: 45)
10. 53 “Ratusan siswa serentak memasang sikap hormat kepada
sang merah putih, yang ditarik menuju langit. Dengan
iringan lagu Indonesia Raya dari mulut-mulut mungil
penerus bangsa itu.” (Amipriono, 2019: 53)
11. 87 “Buat sekolah Diaz dan Kak Putri, Pak. Buku itu nanti kita
rapikan lagi. Mengambil kertas yang belum dipakai. Dan
menyusunnya menjadi buku baru,” jawabnya sambil
tersenyum. Senyum itu menusuk kalbu Pak Lingga.
(Amipriono, 2019: 87)
12. 53 “Dua kali purnama sejak ibunya wafat, Putrid an Diaz
terlihat sudah lebih tegar. Mereka tak lagi dirundung sedih
sudah bisa tersenyum dan kembali nyaman bersekolah……”
(Amipriono, 2019: 53)
13. 56 “Diaz kembali menjalani rutinitasnya sepulang sekolah:
mencari lembaran kertas di tempat pembuangan sampah.
Bedanya, beban pikirannya sudah bertambah. Galau karena
mikirin sepatu putihnya itu.” (Amipriono, 2019: 56)
14. 72 “Dan setelah Putri piker-pikir, Diaz harus tetap bersekolah.
Dian nggak boleh kehilangan masa depannya. Biarlah Putri
bekerja. Mencari uang. Untuk keperluan hidup dan sekolah
Diaz.” (Amipriono, 2019: 72)
15. 65 “Iya, Diaz. Kakak paham. Tapi kita nggak punya makanan.
Kamu sabar, ya. Mudah-mudahan besok pagi Bu Imah
datang membawakan kita makanan,” Putri mengusap-usap
rambut adikny. Matanya nanar menatap. Bulir bening
membesar dan siap-siap jatuh. (Amipriono, 2019: 65)
16. 72 “Putri harus mengambil sikap, Atri. Perjuangan ini cukup
berat. Tapi Putri harus kuat menghadapinya,” jelas Putri.
(Amipriono, 2019: 72)
17. 73 Diaz mau jadi presiden, Kak,” jawabnya ringan. Air
mukanya Nampak datar.” (Amipriono, 2019: 73)
18. 90 “Langkah Diaz untuk menuntut ilmu juga makin mantap. Dia
mengabaikan koloid hitam yang menghias sepatunya. Tali
pengikatnya sudah disambung-sambung. Kaus kakinya pun
yang itu-itu saja.” (Amipriono, 2019: 90)
19. 88 “Pak Lingga terpaku mendengar itu. Mendadak ia malu
sebagai kepala desa. Merasa gagal karena melihat langsung
penderitaan yang dirasakan warganya.” (Amipriono, 2019:
88)
20. 91 “Itu cara kita membantu mereka, Pak…,” ucap Bu Imah.
Air matanya tak terbendung lagi. Tangannya mengepal, lalu
memukul meja dengan pelan. Ia menyesal tak sanggup
membesarkan kedua bocah yang sudah dianggap seperti
anak kandungnya sendiri. (Amipriono, 2019: 91)
21. 103 “Maafin Bu Imah ya, Putri. Ibu nggak bisa bantu banyak
buat sekolah kamu dan Diaz.” Wajah keriputnya penuh
kecemasan. Dia merasa bersalah karena menganggap dirinya
telah menelantarkan mereka. (Amipriono, 2019: 103)
22. 118 “Putri nggak punya daya untuk menahan Diaz, Bu. Putri
nggak tega melihat dia menderita. Putri ingin hidupnya
lebih baik. Nggak harus mikir mencari buku tulis lagi. Dan
agar Diaz tetap bisa sekolah. Seperti pesan Ayah dan Ibu
dulu…” Spearuh nyawanya selaksa terbang saat mengucap
itu. (Amipriono, 2019: 118)
23. 118 “Ayah … Ibu. Putri janji akan kembali untuk Diaz. Setelah
Putri mendapatkan kerja yang layak. Putri janji demi Diaz,
Bu. Putri janji. Ayaaaahhh… Ibu… Putri siap… Putri
siaaappp…” (Amipriono, 2019: 118)
24. 157 “Setelah Diaz terima rapor, kita ke Desa Kelantan ya. Ibu
dan Ayah yang akan mengantarkan Diaz ke rumah Kak
Putri, Ibu janji.” Bu Lina meyakinkan Diaz yang tiba-tiba
mematung. Mungkin dia sangat berharap. (Amipriono, 2019:
157)
25. 155 “Sebelumnya Atri sudah ngomong, Pa. Tapi karena Papa
baru pulang tugas, dan karena Atri baru ketemu Putri
kemarin, Atri berani bilangnya lagi setelah didesak Bu Reni.
Maafin Atri ya, Pa….” Kepala Atri menunduk usai
menjelaskan itu. (Amipriono, 2019: 155)
26. 6 “Meskipun kondisinya serba kekurangan, kami bahagia kok.
Kan, bahagia itu nggak melulu harus punya harta. Bahagia
itu, ketika kita berada dekat dengan keluarga,” gumamnya.
(Amipriono, 2019:6)
27. 110 “Kakak nggak mungkin mencelakakan adik kandung kakak
sendiri. Diaz satu-satunya milik kakak. Diaz satu-satunya
harapan kakak. Diaz separuh nyawa kakak. Karena itu, Diaz
harus berhasil. Diaz harus membuat Ayah dan Ibu bangga
di alam sana.” Putri membelai rambut Diaz dan
menyibakkan poni yang menututi sebagian keningnya.
(Amipriono, 2019: 110)
28. 111 “Ehm… Kakak sayang kamu, Diaz.” Putri menutup drama
malam itu dengan satu pelukan erat kepada adiknya, yang
dalam beberapa hari kedepan akan memiliki kehidupan baru,
masa depan baru, bersama keluarga yang baru. (Amipriono,
2019: 111)
29. 149 “Jadi, walaupun saat ini kamu belum sekolah lagi, Putri
tetap bisa belajar dari rumah, melalui buku Atri. Iya, kan?”
terang Atri. Tatapan matanya ke Putri membuat teduh.
(Amipriono, 2019: 149)
30. 166 “Nggak Putri. Nggak. Ini nyata!” Jemari Atri dengan
terampil menghapus sisa air mata di pipi Putri dengan
perlahan. Putri sesekali mengedipkan mata dengan bibir
yang mengembang. (Amipriono, 2019: 166)
31. 179 “Diaaaaaz! Kakak kangen banget sama kamu, Sayang.”
Tubuh Diaz jatuh di pelukan saudara kandungnya. Putri
mendekapnyaerat. Bagaikan seribu tahun tidak berjumpa.
Buliran air mengalir deras. Membasahi bagian bahu kemeja
Diaz. (Amipriono, 2019: 179)
32. 9 “Tadi ada banyak cucian di rumah Bu Zaitun. Anak
pertamanya baru pulang dari Medan. Dari asrama
tempatnya kuliah.” Pelan-pelan, Hera menjawab. Kedua
tangannya mendekap erat anaknya yang merapat.
(Amipriono, 2019: 9)
33. 36 Diaz, Ibu sayang banget sama kalian. Sayang sama Diaz.
Sayang sama Kak Putri,” tangan Hera menggenggam jemari
Diaz. Rasa hangatnya membuat anak laki-laki itu merasakan
nyaman. (Amipriono, 2019: 36)
34. 48 “K-kalian adalah anak-anak Ibu yang pintar. T-tetap s-
semangat ya. Jangan pernah menyerah dengan keadaan.”
Hera menggenggam jemari Putri. (Amipriono, 2019: 48)
35. 123 “Bu Imah berulang kali mencium pipinya. Sesekali ke dahi,
sambil mengusap-usap rambutnya.” (Amipriono, 2019: 123)
36. 142 “Ya sudah-ya sudah. Ngobrolnya nanti aja, ya. Kita makan
dulu. Diax dan Sela, Ayah punya hadiah bagus untuk kalian.
Nanti Ayah berikan setelah makan, ya,” bujuk Pak Azwar.
(Amipriono, 2019: 142)
37. 10 “Ya sudah, kalian belajar ya. Ibu mau masak dulu untuk
makan kita mala mini.” Hera lalu bergegas. Menyiapkan
bahan masakan dan peralatan dapur. (Amipriono, 2019: 10)
38. 122 “Diantara bait kehidupan itu, sosok Ibulah yang paling Diaz
ingat. Beliau menjadi teladan yang baik. Mendidiknya
menjadi anak yang patuh. Tenang dan tidak petakilan.
Tabah. Tidak manja. Serta nyaris tidak pernah mengeluh
menghadapi kesulitan yang datang bertubi-tubi.”
(Amipriono, 2019: 122)
39. 12 “Kalian berdua pasti bisa menjadi Presiden, Nak. Dengan
syarat, kalian harus memiliki semangat belajar yang tinggi.
Berusaha dengan sungguh-sungguh dan terus berdoa
kepada Allah.” (Amipriono, 2019: 12)
40. 36 “Tapi, kalian harus ingat ya. Apapun keadaannya.
Bagaiamanapun kondisinya, kalian harus tetap sekolah, ya.
Belajar yang tekun. Jaga semangat. Bersikap disiplin.
Pantang menyerah. Agar kalian bisa menjadi orang yang
sukses…,” ucap Hera lembut menasihati Diaz. (Amipriono,
2019: 36)
41. 54 “Baik-baik belajar ya, Nak. Ibu dan ayahmu pasti bangga
mempuyai anak-anak rajin seperti kalian. Dan Ibu yakin,
Allah pasti akan melihat perjuangan kalian, dan
meringankan beban hidup kalian. Makanya jangan
tinggalkan salat ya, Nak,” nasihat Bu Imah. (Amipriono,
2019: 54)
42. 123 “Sehat-sehat ya, Nak. Jaga diri kamu baik-baik…,” bisik
Bu Imah kepada Diaz. (Amipriono, 2019: 123)
43. 130 “Ya sudah, ya sudah. Kamu jaga diri, ya. Jangan lupa
jenguk juga mama kamu. Perhatiin dia. Karena
bagaimanapun, dia itu yang ngerawat dan ngelahirin kamu
dulu.” (Amipriono, 2019: 130)
44. 142 “Bukannya Bunda ngelarang kamu, Mbak. Tapi ya, harus
ingat waktu. Malam itu kan waktunya belajar. Main HP
kan, juga ada waktunya. Bisa pulang sekolah. Atau ketika
sore sehabis solat Asar. Harusnya Sela kasih contoh yang
baik baut adik kamu,” kata Bu Lina bernasihat.
(Amipriono, 2019: 142)
45. 157 “Ibu paham yang kamu rasakan, Diaz. Andai jadi kamu,
Ibu juga akan kepikiran. Tapi pikiran itu jangan sampai
mengganggu belajar kamu, ya?” (Amipriono, 2019: 157)
46. 17 Bukannya bergegas, Diaz malah mendekati ibunya,
melendot manja. “Ibu sarapan, ya. Terus, minum obat. Biar
Diaz dan Kak Putri belajarnya tenang di sekolah.”
(Amipriono, 2019: 17)
47. 46 “Nggak usah. Kamu jagaian Ibu aja, ya. Cepat panggil
Kakak kalau ada apa-apa. Apalagi kalau Ibu mau minum
obat. Ya…,” terang Putri. Ia pun bergegas ke kamar mandi.
(Amipriono, 2019: 46)
48. 19 “Yang penting, bagaimana kita menikmatinya. Tetap
ikhlas. Bersyukur. Menjalani hidup apa adany. Sekarang
aja, Kakak udah bersyukur banget bisa sekolah. Dan kamu.
Juga harus begitu. Bersyukur. Yaaah,” ajak Putri kompak.
(Amipriono, 2019: 19)
49. 44 “Itu makanya, kita tetap harus bersyukur Diaz. Sambil
terus menjaga semangat. Semoga Allah tetap memberikan
kita rezeki agar kita masih terus bisa sekolah. Iya, kan?”
Putri mencoba memotivasi karena cuma itu yang bisa dia
beri sejauh ini. (Amipriono, 2019: 44)
50. 58 “Diaz. Memang seperti inilah hidup. Tapi kamu jangan
sedih, ya. Kamu harus tetap menjaga semangat. Karena
Kakak yakin, kamu bisa melewati semua ini. Ada aura
optimis di wajah kamu,” Nisa menyemangati. (Amipriono,
2019: 58)
51. 60 “Mulai sekarang, kamu harus yakin. Dan tetap menjaga
semangat. Bahwa kamu bisa melanjutkan sekolah hingga
SMA.” (Amipriono, 2019: 60)
52. 86 “Atri, tolong. Kamu jangan sedih, ya. Kamu harus
bersyukur atas kondisi kamu sekarang. Kamu harus
bersyukur tetap bisa sekolah. Memanfaatkan kesempatan
itu sebaik mungkin. Karena tidak semua orang bisa
seberuntung kamu,” jawab Putri. (Amipriono, 2019: 86)
53. 123 “Diaz jangan sedih lagi, ya. Ingat pesan Ibu dan Ayah. Diaz
harus tetap rajin belajar. Jangan nakal dan terus
semangat.” Putri menggenggam erat tangan adiknya.
(Amipriono, 2019: 123)
54. 167 “Iya, Put. Insyaallah ini yang terbaik buat kamu, ya. Kamu
harus manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya,” bisik
Nisa. Putri mengangguk dan spontan memeluk Nisa.
(Amipriono, 2019: 167)
55. 21 Kenapa nggak bilang dari tadi, Arya bawa buku yang
masih baru, lebih kok. Kamu pilih mana yang kamu suka,”
tawar Arya ramah. Tiga buku tulis berisi 50 halaman
dikeluarkan dari tasnya. (Amipriono, 2019: 21)
56. 134 “Kalau gitu, kita cari kita cari makanan, yuk. Kakak yang
bayar,” ajak Nisa. Sama seperti tadi. Putri juga
menjawabnya tanpa kata. (Amipriono, 2019: 134)
57. 21 “Iya, Arya. Terima kasih, ya.” Secuil senyum pun merekah
dari bibir Diaz. Harinya yang kosong menjadi berisi berkat
ketulusan pertemanan. (Amipriono, 2019: 21)
58. 49 “Bu Imah. Terima kasih sudah membantu kami,” tarik
napas hera semakin berat. (Amipriono, 2019: 49)
59. 72 “Jangan, Atri. Jangan, ya. Terima kasih. Putri nggak mau
buat orang lain repot. Putri ingat betul pesan Ayah: Jangan
karena ingin membuat kita bahagia, orang lai malah
menjadi sedih” kenangnya. (Amipriono, 2019: 72)
60. 149 “Terima kasih, Atri. Kamu baik banget,” jawabnya, saat
menerima beberapa buku catatan yang sudah tersampul
rapi. (Amipriono, 2019: 149)
61. 27 “Ini, Dik. Pegang ranting ini, biar Kakak tarik kamu ke
atas,” seru Nisa. Kayu itu ditarik perlahan setelah berhasil
dijangkau Diaz. (Amipriono, 2019: 27)
62. 75 “Pak, kita harus membantu mereka. Karena mereka sudah
tidak punya siapa-siapa lagi,” ucap Bu Imah kepada kepala
desa. (Amipriono, 2019: 75)
63. 84 “Ya, udah. Nggak apa-apa. Biasa itu, Dek. Ini ikannya, ya.
Tiga ekor, masih seger-seger. Ambil aja buat kalian.
Gratis,” kata si penjual ikan ikhlas. (Amipriono, 2019: 84)
64. 149 “Iya, Put. Nggak apa-apa. Yang Atri bawa sih, baru 4
pelajaran. IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Matematika.
Kalau Putri mau buku catatan Bahasa Inggris dan Agama,
besok Atri bawa, ya.” Ia menggenggam tangan Putri.
(Amipriono, 2019: 149)
65. 39 “Besok Ibu ke Meda. Doakan ikan Ibu cepat laku, ya. Biar
ada uang buatmu berobat. Biar kamu bisa cepat normal dan
merawat anakmu lagi.” Mata bening Bu Imah menatap.
(Amipriono, 2019: 39)
66. 53 “Untungnya ada Bu Imah. Janda paruh baya ini begitu
pengertian. Meskipun hidupnya tidak lebih baik, ia begitu
memperhatikan Putri dan Diaz. Sering ia ke rumah. Melihat
mereka. Memastikan kondisinya baik-baik saja. Dan untuk
meyakinkan ini: ada atau tidak makanan yang bisa mereka
makan.” (Amipriono, 2019: 53-54)
67. 72 “Putri, Atri masih punya tabungan. Kalau kamu mau, besok
Atri bawa ya. Kamu boleh pake buat apa aja. Buat beli
beras. Buat beli buku. Yang penting kamu masih bisa
bersekolah.” (Amipriono, 2019: 72)
68. 104 “Bu Imah selalu hadir saat dua malaikat kecil itu butuh
pertolongan. Sering ia membersihkan rumah, dan
mengantarkan makanan. Malah kadang mencuci kembali
pakaian yang terlihat masih kotor, dan tak membiarkan
pakaian-pakaian itu kusut. Semua licin, bersih, dan wangi
disetrika Bu Imah.” (Amipriono, 2019: 104)
69. 155 “Jadi tolong, Pak. Kita harus bantu dia. Kita harus
menyelamatkan sekolah Putri.” Bu Reni nanar menatap.
(Amipriono, 2019: 155)
70. 44 “Eh... kamu capek nggak? Kalau capek, sini biar Kakak
gendong.” Putri pun berlutut, adiknya naik ke punggungnya.
(Amipriono, 2019: 44)
71. 103 “Ini pilihan yang sulit, [Link] juga nggak tahu sampai
kapan. Tapi, biarlah Putri yang cari uang. Buat makan.
Buat beli buku. Supaya Diaz bisa terus sekolah.”
(Amipriono, 2019: 103)
72. 46 “Diaz, setengah jam lagi, kamu bangunin Ibu, ya. Ibu belum
minum obat,” pesan Putri, kepada Diaz. Hera berbaring
lemah di atas dipan. (Amipriono, 2019: 46)
73. 177 “Antar Diaz ke makam ya, Bu. Diaz kangen orang tua
Diaz,” katanya. Suaranya terdengar parau. Matanya sembap.
(Amipriono, 2019: 177)
74. 181 “Iya, Sayang. Nanti setiap salat, jangan lupa kita bacakan
Al-Fatihah buat almarhum Ayah dan Ibu ya...” (Amipriono,
2019: 181)
75. 63 “Nggak apa-apa, Putri. Ini juga sudah enak, kok,” hibur
Nisa. Ketiganya nampak begitu lahap menyantap.
Alhamdulillah. (Amipriono, 2019: 63)
76. 98 “Adam. Ini Pak Udin,” yang disebut namanya lalu bergegas
menghampiri. Kepalanya ditundukkan. Tangannya
diulurkan. Menyalami, lalu mencium tangan itu.
(Amipriono, 2019: 98)
77. 162 “Saya Nisa. Temannya Putri dan Diaz.” Nisa mulai
berdamai. Ia menjabat tangan Atri dengan ramah. Mendadak
ia santun setelah melihat ekspresi lawan bicaranya yang
gugup dan kebingungan itu. (Amipriono, 2019: 162)
78. 100 “Baiklah, Pak Lingga. Saya paksa sekeras apa pun. Bapak
pasti akan lebih keras lagi menolaknya. Jadi saya ikuti
kemauan Bapak. Kereta ini saya ambil. Bismillah.”
(Amipriono, 2019: 100)
79. 105 “Tapi, itu semua tergantung Putri. Ibu dan Pak Lingga
nggak bisa maksa. Inilah cara yang menurut kami paling
baik agar Diaz ada yang mengurus karena dia masih terlalu
kecil, Putri. Kasihan Ibu lihat dia... Kasihan Diaaazz...,
Putri...” Bu Imah pun tergugu. Kedua matanya dilapik kain
sarung bermotif batik. (Amipriono, 2019: 105)
80. 120 “Putri, kenalin. Ini Bu Lina. Beliau baru datang dari
Tarutung,” kata Pak Lingga memperkenalkan. Putri
mencium tangan orang yang baru dikenalnya itu. Diaz
melempar perhatian. (Amipriono, 2019: 120)
81. 122 “Kak, doain Diaz ya, kak.” Disalaminya Putri untuk terakhir
kali. Matanya menatap sang kakak penuh haru. (Amipriono,
2019: 122)
82. 10 “Biarpun sederhana, kita tetap harus bersyukur. Karena di
luar sana, masih banyak orang yang nggak mampu beli
makanan. Fabiayyiaalaairobbikumaa Tukadzdzibaan,” ujar
Hera. Begitulah ia menanamkan sikap syukur kepada anak-
anaknya. (Amipriono, 2019: 10)
83. 163 “Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah. Mungkin ini
jawaban atas doa-doamu Putri.” Mata Nisa berbinar.
(Amipriono, 2019: 163)
84. 165 “Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah, atas karunia-Mu,
Putri bisa sekolah lagi.” (Amipriono, 2019: 165)
85. 167 “Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih atas nikmat dan
karunia yang telah Engkau berikan. Masyaallah...” Air mata
Putri jatuh berderai. Tak henti-hentinya ia mengekspresikan
rasa syukur. (Amipriono, 2019: 167)
86. 180 “Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih, ya Allah.
Kamu hebat, Diaz. Kamu hebat.” Putri kembali memeluk
adiknya. (Amipriono, 2019: 180)
87. 13 “Kuatkan hamba untuk melawan sakit kanker hati ini, Ya
Rabb.” Tangisannya makin tersedu-sedu. Badannya
berguncang. Tatapan mata kea rah Diaz dan Putri
membuatnya makin sedih. (Amipriono, 2019: 13)
88. 20 “Alunan Al-Fatihah menjadi pembuka pembelajaran. Riuh
rendah ceramah guru, membentuk mozaik yang khas,
membuat suasana belajar kian hidup.” (Amipriono, 2019:
20)
89. 62 “Iya, Kak. Kita makan, ya. Kak Putri ini jagonya masak,
loooh. Pasti nanti Kakak ketagihan,” goda Diaz. Dia
memimpin doa makan. Kemudian mereka bersantap di atas
dipan. (Amipriono, 2019: 62)
90. 117 “Maafkan Putri yaa, Yaaah…” matanya diusap-usap. Tas
kerjanya disampirkan ke badan bagian belakang. Tangannya
lalu menengadah, berpangku di atas kedua pahanya. Ia mulai
membaca surat Al-Fatihah. (Amipriono, 2019: 117)
91. 175 “Ya Allah, mohon rawat hamba-Mu yang lemah ini. Mohon
lindungi dia. Mohon pertemukan kembali ia dengan saudara
kandungnya.” Doa Nisa di dalam hati. (Amipriono, 2019:
175)
92. 35 “Ya Allah. Maafkan hamba-Mu ini, ya Rabb.” Hera
meringis ketakutan. Tangan kanannya cepat-cepat mengusap
darah yang keluar dari hidung dan mulutnya itu. Berulang
kali. (Amipriono, 2019: 35)
93. 137 “Wow… Indahnya…” ucap Putri kagum ketika menyaksikan
aksi kejar-kejaran air laut yang tak berhenti menyapa bibir
teluk. (Amipriono, 2019: 137)
94. 137 “Cantik, kan?” Sahut Nisa. Kemudian, ia membalas senyum
sekelompok burung camar yang datang berkerumun
menututpi awan. (Amipriono, 2019: 137)
95. 137 “Ya Allah. Indahnya,” lirih Putri. Ia tak henti-hentinya
memuji lukisan agung Sang Pencipta. (Amipriono, 2019:
137)
No. Wujud
Lampiran Moral
2. Klasifikasi Nilai Moral Hal. Kutipan Data
1. Hubungan 6 “Meskipun kondisinya serba
kekurangan, kami bahagia kok.
Manusia dengan Kan, bahagia itu nggak melulu
harus punya harta. Bahagia itu,
Diri Sendiri ketika kita berada dekat dengan
keluarga,” gumamnya. Tangan
(Moral mungil Putri merapikan buku, lalu
menyusunnya kertas putih yang
Individual) warna-nya kian lusuh. (Amipriono,
Menerima 2019: 6)
118 “Ayah… Ibu. Maafin Putri, ya.
Kenyataan Putri terpaksa harus melepas Diaz
untuk dirawat orang lain.
Beraaaat rasanya. Karena hanya
Diaz satu-satunya darah daging
Putrisaat ini.” (Amipriono,
2019:118)
124 “Namun kini, Putri terpaksa
mengalah dengan kondisi. Takut
berkompromi dengan ekonomi,
dengan merelakan Diaz diasuh
orang lain supaya hidupnya lebih
baik dan bisa terus sekolah.”
(Amipriono, 2019: 124)
26 “Ketika ia melihat sebuah buku
tulis yang menggenang di sungai
kecil, Diaz berusaha keras untuk
mengambilnya. Padahal lokasinya
sulit dijangkau.” (Amipriono,
2019: 26)
43 “Nggak kok, Kak. Diaz nggak
akan menyerah. Tapi Diaz
kepikiran dengan sakitnya Ibu.
Harusnya, kita sudah ada di
rumah untuk menjaganya”.
(Amipriono, 2019: 43)
44 “Iya, Kak. Diaz tetap semangat.
Kakak nggak usah ragukan itu
lagi,” jawab Diaz. Tangannya
mengepal. Lengannya diangkat
Pantang menunjukkan ototnya.
(Amipriono, 2019: 44)
Menyerah 90 “Diaz tengah bersiap untuk ke
sekolah. Semangat belajarnya
masih meladak-ledak meskipun
perlengkapan sekolahnya
sederhana. Warna seragamnya
kian lusuh. Putihnya menguning.
Celana pendek merahnya tidak
berikat pinggang.” (Amipriono,
2019: 90)
181 “Namun, sekarang Kakak tahu.
Bahwa Kakak punya kamu. Kakak
punya teman. Dan Kakak punya
masa depan yang harus Kakak
hadapi. Kita harus tetap menjaga
semangat ini, ya. Kita harus terus
bersekolah. Apapun keadaannya.
Buat kedua orangtua bangga.”
(Amipriono, 2019: 181)
45 “Pak. Ini kantor saya. Tolong
yang sopan. Anda boleh punya
banyak uang. Tapi tak semua bisa
Jujur Anda beli. Apalagi kejujuran.”
Sergap Pak Lingga saat digoda
dengan uang rasuah. Ia naik pitam.
(Amipriono, 2019: 45)
53 “Ratusan siswa serentak
memasang sikap hormat kepada
sang merah putih, yang ditarik
menuju langit. Dengan iringan
Tanggung
lagu Indonesia Raya dari mulut-
mulut mungil penerus bangsa itu.”
Jawab Siswa
(Amipriono, 2019: 53)
87 “Buat sekolah Diaz dan Kak Putri,
terhadap
Pak. Buku itu nanti kita rapikan
lagi. Mengambil kertas yang
Pendidikan
belum dipakai. Dan menyusunnya
menjadi buku baru,” jawabnya
sambil tersenyum. Senyum itu
menusuk kalbu Pak Lingga.
(Amipriono, 2019: 87)
53 “Dua kali purnama sejak ibunya
wafat, Putrid an Diaz terlihat
sudah lebih tegar. Mereka tak lagi
Keikhlasan dirundung sedih sudah bisa
tersenyum dan kembali nyaman
bersekolah……” (Amipriono,
2019: 53)
56 “Diaz kembali menjalani
rutinitasnya sepulang sekolah:
mencari lembaran kertas di tempat
pembuangan sampah. Bedanya,
beban pikirannya sudah
bertambah. Galau karena mikirin
sepatu putihnya itu.” (Amipriono,
Bekerja Keras
2019: 56)
72 “Dan setelah Putri piker-pikir,
Diaz harus tetap bersekolah. Dian
nggak boleh kehilangan masa
depannya. Biarlah Putri bekerja.
Mencari uang. Untuk keperluan
hidup dan sekolah Diaz.”
(Amipriono, 2019: 72)
65 “Iya, Diaz. Kakak paham. Tapi
kita nggak punya makanan. Kamu
sabar, ya. Mudah-mudahan besok
pagi Bu Imah datang membawakan
Kesabaran kita makanan,” Putri mengusap-
usap rambut adikny. Matanya
nanar menatap. Bulir bening
membesar dan siap-siap jatuh.
(Amipriono, 2019: 65)
72 “Putri harus mengambil sikap,
Teguh
Atri. Perjuangan ini cukup berat.
Tapi Putri harus kuat
Pendirian
menghadapinya,” jelas Putri.
(Amipriono, 2019: 72)
73 Diaz mau jadi presiden, Kak,”
jawabnya ringan. Air mukanya
Nampak datar.” (Amipriono, 2019:
73)
90 “Langkah Diaz untuk menuntut
Percaya Diri
ilmu juga makin mantap. Dia
mengabaikan koloid hitam yang
menghias sepatunya. Tali
pengikatnya sudah disambung-
sambung. Kaus kakinya pun yang
itu-itu saja.” (Amipriono, 2019:
90)
88 “Pak Lingga terpaku mendengar
itu. Mendadak ia malu sebagai
kepala desa. Merasa gagal karena
melihat langsung penderitaan yang
dirasakan warganya.” (Amipriono,
2019: 88)
91 “Itu cara kita membantu mereka,
Pak…,” ucap Bu Imah. Air
matanya tak terbendung lagi.
Tangannya mengepal, lalu
Mengakui memukul meja dengan pelan. Ia
menyesal tak sanggup
Kesalahan membesarkan kedua bocah yang
sudah dianggap seperti anak
kandungnya sendiri. (Amipriono,
2019: 91)
103 “Maafin Bu Imah ya, Putri. Ibu
nggak bisa bantu banyak buat
sekolah kamu dan Diaz.” Wajah
keriputnya penuh kecemasan. Dia
merasa bersalah karena
menganggap dirinya telah
menelantarkan mereka.
(Amipriono, 2019: 103)
118 “Putri nggak punya daya untuk
Sadar Diri menahan Diaz, Bu. Putri nggak
tega melihat dia menderita. Putri
ingin hidupnya lebih baik. Nggak
harus mikir mencari buku tulis
lagi. Dan agar Diaz tetap bisa
sekolah. Seperti pesan Ayah dan
Ibu dulu…” Spearuh nyawanya
selaksa terbang saat mengucap itu.
(Amipriono, 2019: 118)
118 “Ayah … Ibu. Putri janji akan
kembali untuk Diaz. Setelah Putri
mendapatkan kerja yang layak.
Putri janji demi Diaz, Bu. Putri
janji. Ayaaaahhh… Ibu… Putri
siap… Putri siaaappp…”
(Amipriono, 2019: 118)
157 “Setelah Diaz terima rapor, kita ke
Desa Kelantan ya. Ibu dan Ayah
Berjanji
yang akan mengantarkan Diaz ke
rumah Kak Putri, Ibu janji.” Bu
Lina meyakinkan Diaz yang tiba-
tiba mematung. Mungkin dia
sangat berharap. (Amipriono,
2019: 157)
155 “Sebelumnya Atri sudah ngomong,
Pa. Tapi karena Papa baru pulang
tugas, dan karena Atri baru
ketemu Putri kemarin, Atri berani
Penyesalan
bilangnya lagi setelah didesak Bu
Reni. Maafin Atri ya, Pa….”
Kepala Atri menunduk usai
menjelaskan itu. (Amipriono,
2019: 155)
2. Hubungan 6 “Meskipun kondisinya serba
kekurangan, kami bahagia kok.
Manusia dengan Kan, bahagia itu nggak melulu
harus punya harta. Bahagia itu,
Manusia Lain ketika kita berada dekat dengan
Kasih Sayang keluarga,” gumamnya.
dalam Lingkup (Amipriono, 2019:6)
Antar 110 “Kakak nggak mungkin
Ilmu Sosial mencelakakan adik kandung kakak
Teman/Saudara sendiri. Diaz satu-satunya milik
(Moral Sosial) kakak. Diaz satu-satunya harapan
kakak. Diaz separuh nyawa kakak.
Karena itu, Diaz harus berhasil.
Diaz harus membuat Ayah dan Ibu
bangga di alam sana.” Putri
membelai rambut Diaz dan
menyibakkan poni yang menututi
sebagian keningnya. (Amipriono,
2019: 110)
111 “Ehm… Kakak sayang kamu,
Diaz.” Putri menutup drama
malam itu dengan satu pelukan
erat kepada adiknya, yang dalam
beberapa hari kedepan akan
memiliki kehidupan baru, masa
depan baru, bersama keluarga
yang baru. (Amipriono, 2019: 111)
149 “Jadi, walaupun saat ini kamu
belum sekolah lagi, Putri tetap
bisa belajar dari rumah, melalui
buku Atri. Iya, kan?” terang Atri.
Tatapan matanya ke Putri
membuat teduh. (Amipriono,
2019: 149)
166 “Nggak Putri. Nggak. Ini nyata!”
Jemari Atri dengan terampil
menghapus sisa air mata di pipi
Putri dengan perlahan. Putri
sesekali mengedipkan mata dengan
bibir yang mengembang.
(Amipriono, 2019: 166)
179 “Diaaaaaz! Kakak kangen banget
sama kamu, Sayang.” Tubuh Diaz
jatuh di pelukan saudara
kandungnya. Putri
mendekapnyaerat. Bagaikan seribu
tahun tidak berjumpa. Buliran air
mengalir deras. Membasahi bagian
bahu kemeja Diaz. (Amipriono,
2019: 179)
9 “Tadi ada banyak cucian di rumah
Bu Zaitun. Anak pertamanya baru
pulang dari Medan. Dari asrama
tempatnya kuliah.” Pelan-pelan,
Hera menjawab. Kedua tangannya
Kasih Sayang mendekap erat anaknya yang
merapat. (Amipriono, 2019: 9)
Orang Tua 36 Diaz, Ibu sayang banget sama
kalian. Sayang sama Diaz. Sayang
Kepada Anak sama Kak Putri,” tangan Hera
menggenggam jemari Diaz. Rasa
hangatnya membuat anak laki-laki
itu merasakan nyaman.
(Amipriono, 2019: 36)
48 “K-kalian adalah anak-anak Ibu
yang pintar. T-tetap s-semangat
ya. Jangan pernah menyerah
dengan keadaan.” Hera
menggenggam jemari Putri.
(Amipriono, 2019: 48)
123 “Bu Imah berulang kali mencium
pipinya. Sesekali ke dahi, sambil
mengusap-usap rambutnya.”
(Amipriono, 2019: 123)
142 “Ya sudah-ya sudah. Ngobrolnya
nanti aja, ya. Kita makan dulu.
Diax dan Sela, Ayah punya hadiah
bagus untuk kalian. Nanti Ayah
berikan setelah makan, ya,” bujuk
Pak Azwar. (Amipriono, 2019:
142)
10 “Ya sudah, kalian belajar ya. Ibu
mau masak dulu untuk makan kita
mala mini.” Hera lalu bergegas.
Menyiapkan bahan masakan dan
Tanggung peralatan dapur. (Amipriono,
2019: 10)
Jawab Orang 122 “Diantara bait kehidupan itu, sosok
Ibulah yang paling Diaz ingat.
Tua Kepada Beliau menjadi teladan yang baik.
Mendidiknya menjadi anak yang
Anak patuh. Tenang dan tidak petakilan.
Tabah. Tidak manja. Serta nyaris
tidak pernah mengeluh
menghadapi kesulitan yang datang
bertubi-tubi.” (Amipriono, 2019:
122)
12 “Kalian berdua pasti bisa
menjadi Presiden, Nak. Dengan
syarat, kalian harus memiliki
semangat belajar yang tinggi.
Berusaha dengan sungguh-
sungguh dan terus berdoa kepada
Allah.” (Amipriono, 2019: 12)
Nasihat Orang
36 “Tapi, kalian harus ingat ya.
Apapun keadaannya.
Tua Kepada
Bagaiamanapun kondisinya,
kalian harus tetap sekolah, ya.
Anak Belajar yang tekun. Jaga
semangat. Bersikap disiplin.
Pantang menyerah. Agar kalian
bisa menjadi orang yang
sukses…,” ucap Hera lembut
menasihati Diaz. (Amipriono,
2019: 36)
54 “Baik-baik belajar ya, Nak. Ibu
dan ayahmu pasti bangga
mempuyai anak-anak rajin seperti
kalian. Dan Ibu yakin, Allah pasti
akan melihat perjuangan kalian,
dan meringankan beban hidup
kalian. Makanya jangan
tinggalkan salat ya, Nak,” nasihat
Bu Imah. (Amipriono, 2019: 54)
123 “Sehat-sehat ya, Nak. Jaga diri
kamu baik-baik…,” bisik Bu
Imah kepada Diaz. (Amipriono,
2019: 123)
130 “Ya sudah, ya sudah. Kamu jaga
diri, ya. Jangan lupa jenguk juga
mama kamu. Perhatiin dia.
Karena bagaimanapun, dia itu
yang ngerawat dan ngelahirin
kamu dulu.” (Amipriono, 2019:
130)
142 “Bukannya Bunda ngelarang
kamu, Mbak. Tapi ya, harus ingat
waktu. Malam itu kan waktunya
belajar. Main HP kan, juga ada
waktunya. Bisa pulang sekolah.
Atau ketika sore sehabis solat
Asar. Harusnya Sela kasih contoh
yang baik baut adik kamu,” kata
Bu Lina bernasihat. (Amipriono,
2019: 142)
157 “Ibu paham yang kamu rasakan,
Diaz. Andai jadi kamu, Ibu juga
akan kepikiran. Tapi pikiran itu
jangan sampai mengganggu
belajar kamu, ya?” (Amipriono,
2019: 157)
17 Bukannya bergegas, Diaz malah
Kasih Sayang
mendekati ibunya, melendot
manja. “Ibu sarapan, ya. Terus,
Anak Kepada minum obat. Biar Diaz dan Kak
Putri belajarnya tenang di
Orang Tua sekolah.” (Amipriono, 2019: 17)
46 “Nggak usah. Kamu jagaian Ibu
aja, ya. Cepat panggil Kakak
kalau ada apa-apa. Apalagi kalau
Ibu mau minum obat. Ya…,”
terang Putri. Ia pun bergegas ke
kamar mandi. (Amipriono, 2019:
46)
19 “Yang penting, bagaimana kita
menikmatinya. Tetap ikhlas.
Bersyukur. Menjalani hidup apa
adany. Sekarang aja, Kakak udah
bersyukur banget bisa sekolah.
Dan kamu. Juga harus begitu.
Bersyukur. Yaaah,” ajak Putri
kompak. (Amipriono, 2019: 19)
44 “Itu makanya, kita tetap harus
bersyukur Diaz. Sambil terus
menjaga semangat. Semoga Allah
tetap memberikan kita rezeki agar
kita masih terus bisa sekolah. Iya,
kan?” Putri mencoba memotivasi
karena cuma itu yang bisa dia beri
sejauh ini. (Amipriono, 2019: 44)
Nasihat Antar 58 “Diaz. Memang seperti inilah
hidup. Tapi kamu jangan sedih,
Teman/Saudara ya. Kamu harus tetap menjaga
semangat. Karena Kakak yakin,
kamu bisa melewati semua ini.
Ada aura optimis di wajah
kamu,” Nisa menyemangati.
(Amipriono, 2019: 58)
60 “Mulai sekarang, kamu harus
yakin. Dan tetap menjaga
semangat. Bahwa kamu bisa
melanjutkan sekolah hingga
SMA.” (Amipriono, 2019: 60)
86 “Atri, tolong. Kamu jangan sedih,
ya. Kamu harus bersyukur atas
kondisi kamu sekarang. Kamu
harus bersyukur tetap bisa
sekolah. Memanfaatkan
kesempatan itu sebaik mungkin.
Karena tidak semua orang bisa
seberuntung kamu,” jawab Putri.
(Amipriono, 2019: 86)
123 “Diaz jangan sedih lagi, ya. Ingat
pesan Ibu dan Ayah. Diaz harus
tetap rajin belajar. Jangan nakal
dan terus semangat.” Putri
menggenggam erat tangan
adiknya. (Amipriono, 2019: 123)
167 “Iya, Put. Insyaallah ini yang
terbaik buat kamu, ya. Kamu
harus manfaatkan kesempatan ini
sebaik-baiknya,” bisik Nisa. Putri
mengangguk dan spontan
memeluk Nisa. (Amipriono,
2019: 167)
21 Kenapa nggak bilang dari tadi,
Arya bawa buku yang masih
baru, lebih kok. Kamu pilih mana
yang kamu suka,” tawar Arya
Berbagi atau ramah. Tiga buku tulis berisi 50
halaman dikeluarkan dari tasnya.
Memberi (Amipriono, 2019: 21)
134 “Kalau gitu, kita cari kita cari
makanan, yuk. Kakak yang
bayar,” ajak Nisa. Sama seperti
tadi. Putri juga menjawabnya tanpa
kata. (Amipriono, 2019: 134)
21 “Iya, Arya. Terima kasih, ya.”
Secuil senyum pun merekah dari
bibir Diaz. Harinya yang kosong
menjadi berisi berkat ketulusan
pertemanan. (Amipriono, 2019:
21)
49 “Bu Imah. Terima kasih sudah
Berterima membantu kami,” tarik napas hera
semakin berat. (Amipriono, 2019:
Kasih 49)
72 “Jangan, Atri. Jangan, ya.
Terima kasih. Putri nggak mau
buat orang lain repot. Putri ingat
betul pesan Ayah: Jangan karena
ingin membuat kita bahagia,
orang lai malah menjadi sedih”
kenangnya. (Amipriono, 2019:
72)
149 “Terima kasih, Atri. Kamu baik
banget,” jawabnya, saat
menerima beberapa buku catatan
yang sudah tersampul rapi.
(Amipriono, 2019: 149)
27 “Ini, Dik. Pegang ranting ini, biar
Kakak tarik kamu ke atas,” seru
Nisa. Kayu itu ditarik perlahan
setelah berhasil dijangkau Diaz.
(Amipriono, 2019: 27)
75 “Pak, kita harus membantu
mereka. Karena mereka sudah
tidak punya siapa-siapa lagi,”
ucap Bu Imah kepada kepala desa.
(Amipriono, 2019: 75)
Tolong 84 “Ya, udah. Nggak apa-apa. Biasa
itu, Dek. Ini ikannya, ya. Tiga
Menolong ekor, masih seger-seger. Ambil aja
buat kalian. Gratis,” kata si
penjual ikan ikhlas. (Amipriono,
2019: 84)
149 “Iya, Put. Nggak apa-apa. Yang
Atri bawa sih, baru 4 pelajaran.
IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan
Matematika. Kalau Putri mau
buku catatan Bahasa Inggris dan
Agama, besok Atri bawa, ya.” Ia
menggenggam tangan Putri.
(Amipriono, 2019: 149)
39 “Besok Ibu ke Meda. Doakan ikan
Ibu cepat laku, ya. Biar ada uang
buatmu berobat. Biar kamu bisa
cepat normal dan merawat
anakmu lagi.” Mata bening Bu
Imah menatap. (Amipriono, 2019:
39)
53 “Untungnya ada Bu Imah. Janda
Peduli Sesama
paruh baya ini begitu pengertian.
Meskipun hidupnya tidak lebih
baik, ia begitu memperhatikan
Putri dan Diaz. Sering ia ke rumah.
Melihat mereka. Memastikan
kondisinya baik-baik saja. Dan
untuk meyakinkan ini: ada atau
tidak makanan yang bisa mereka
makan.” (Amipriono, 2019: 53-54)
72 “Putri, Atri masih punya
tabungan. Kalau kamu mau, besok
Atri bawa ya. Kamu boleh pake
buat apa aja. Buat beli beras. Buat
beli buku. Yang penting kamu
masih bisa bersekolah.”
(Amipriono, 2019: 72)
104 “Bu Imah selalu hadir saat dua
malaikat kecil itu butuh
pertolongan. Sering ia
membersihkan rumah, dan
mengantarkan makanan. Malah
kadang mencuci kembali pakaian
yang terlihat masih kotor, dan tak
membiarkan pakaian-pakaian itu
kusut. Semua licin, bersih, dan
wangi disetrika Bu Imah.”
(Amipriono, 2019: 104)
155 “Jadi tolong, Pak. Kita harus
bantu dia. Kita harus
menyelamatkan sekolah Putri.” Bu
Reni nanar menatap. (Amipriono,
2019: 155)
44 “Eh... kamu capek nggak? Kalau
capek, sini biar Kakak gendong.”
Putri pun berlutut, adiknya naik ke
punggungnya. (Amipriono, 2019:
Rela
44)
103 “Ini pilihan yang sulit, [Link]
Berkorban
juga nggak tahu sampai kapan.
Tapi, biarlah Putri yang cari
uang. Buat makan. Buat beli buku.
Supaya Diaz bisa terus sekolah.”
(Amipriono, 2019: 103)
46 “Diaz, setengah jam lagi, kamu
bangunin Ibu, ya. Ibu belum
minum obat,” pesan Putri, kepada
Berbakti Diaz. Hera berbaring lemah di atas
dipan. (Amipriono, 2019: 46)
Kepada Orang 177 “Antar Diaz ke makam ya, Bu.
Diaz kangen orang tua Diaz,”
Tua katanya. Suaranya terdengar parau.
Matanya sembap. (Amipriono,
2019: 177)
181 “Iya, Sayang. Nanti setiap salat,
jangan lupa kita bacakan Al-
Fatihah buat almarhum Ayah dan
Ibu ya...” (Amipriono, 2019: 181)
63 “Nggak apa-apa, Putri. Ini juga
sudah enak, kok,” hibur Nisa.
Menghargai Ketiganya nampak begitu lahap
menyantap. Alhamdulillah.
(Amipriono, 2019: 63)
98 “Adam. Ini Pak Udin,” yang
disebut namanya lalu bergegas
menghampiri. Kepalanya
ditundukkan. Tangannya
diulurkan. Menyalami, lalu
mencium tangan itu. (Amipriono,
Sopan Santun 2019: 98)
162 “Saya Nisa. Temannya Putri dan
Diaz.” Nisa mulai berdamai. Ia
menjabat tangan Atri dengan
ramah. Mendadak ia santun setelah
melihat ekspresi lawan bicaranya
yang gugup dan kebingungan itu.
(Amipriono, 2019: 162)
100 “Baiklah, Pak Lingga. Saya paksa
sekeras apa pun. Bapak pasti akan
lebih keras lagi menolaknya. Jadi
saya ikuti kemauan Bapak. Kereta
ini saya ambil. Bismillah.”
(Amipriono, 2019: 100)
Tidak
105 “Tapi, itu semua tergantung Putri.
Ibu dan Pak Lingga nggak bisa
Memaksakan
maksa. Inilah cara yang menurut
kami paling baik agar Diaz ada
Kehendak
yang mengurus karena dia masih
terlalu kecil, Putri. Kasihan Ibu
lihat dia... Kasihan Diaaazz...,
Putri...” Bu Imah pun tergugu.
Kedua matanya dilapik kain sarung
bermotif batik. (Amipriono, 2019:
105)
120 “Putri, kenalin. Ini Bu Lina.
Beliau baru datang dari
Tarutung,” kata Pak Lingga
Menghormati
memperkenalkan. Putri mencium
tangan orang yang baru dikenalnya
itu. Diaz melempar perhatian.
(Amipriono, 2019: 120)
122 “Kak, doain Diaz ya, kak.”
Disalaminya Putri untuk terakhir
kali. Matanya menatap sang kakak
penuh haru. (Amipriono, 2019:
122)
3. Hubungan 10 “Biarpun sederhana, kita tetap
harus bersyukur. Karena di luar
Manusia dengan sana, masih banyak orang yang
nggak mampu beli makanan.
Tuhan (Moral Fabiayyiaalaairobbikumaa
Tukadzdzibaan,” ujar Hera.
Religi) Begitulah ia menanamkan sikap
syukur kepada anak-anaknya.
(Amipriono, 2019: 10)
163 “Alhamdulillah. Terima kasih, Ya
Allah. Mungkin ini jawaban atas
doa-doamu Putri.” Mata Nisa
berbinar. (Amipriono, 2019: 163)
Bersyukur
165 “Alhamdulillah. Terima kasih, Ya
Allah, atas karunia-Mu, Putri bisa
Kepada Tuhan
sekolah lagi.” (Amipriono, 2019:
165)
167 “Alhamdulillah, Ya Allah. Terima
kasih atas nikmat dan karunia
yang telah Engkau berikan.
Masyaallah...” Air mata Putri
jatuh berderai. Tak henti-hentinya
ia mengekspresikan rasa syukur.
(Amipriono, 2019: 167)
180 “Alhamdulillah... Alhamdulillah...
Terima kasih, ya Allah. Kamu
hebat, Diaz. Kamu hebat.” Putri
kembali memeluk adiknya.
(Amipriono, 2019: 180)
13 “Kuatkan hamba untuk melawan
sakit kanker hati ini, Ya Rabb.”
Tangisannya makin tersedu-sedu.
Badannya berguncang. Tatapan
Memanjatkan mata kea rah Diaz dan Putri
membuatnya makin sedih.
Doa (Amipriono, 2019: 13)
20 “Alunan Al-Fatihah menjadi
pembuka pembelajaran. Riuh
rendah ceramah guru, membentuk
mozaik yang khas, membuat
suasana belajar kian hidup.”
(Amipriono, 2019: 20)
62 “Iya, Kak. Kita makan, ya. Kak
Putri ini jagonya masak, loooh.
Pasti nanti Kakak ketagihan,”
goda Diaz. Dia memimpin doa
makan. Kemudian mereka
bersantap di atas dipan.
(Amipriono, 2019: 62)
117 “Maafkan Putri yaa, Yaaah…”
matanya diusap-usap. Tas kerjanya
disampirkan ke badan bagian
belakang. Tangannya lalu
menengadah, berpangku di atas
kedua pahanya. Ia mulai membaca
surat Al-Fatihah. (Amipriono,
2019: 117)
175 “Ya Allah, mohon rawat hamba-
Mu yang lemah ini. Mohon
lindungi dia. Mohon pertemukan
kembali ia dengan saudara
kandungnya.” Doa Nisa di dalam
hati. (Amipriono, 2019: 175)
35 “Ya Allah. Maafkan hamba-Mu
ini, ya Rabb.” Hera meringis
Berserah Diri
ketakutan. Tangan kanannya
cepat-cepat mengusap darah yang
Kepada Tuhan
keluar dari hidung dan mulutnya
itu. Berulang kali. (Amipriono,
2019: 35)
137 “Wow… Indahnya…” ucap Putri
kagum ketika menyaksikan aksi
kejar-kejaran air laut yang tak
berhenti menyapa bibir teluk.
Memuji (Amipriono, 2019: 137)
137 “Cantik, kan?” Sahut Nisa.
Keagungan Kemudian, ia membalas senyum
sekelompok burung camar yang
Tuhan datang berkerumun menututpi
awan. (Amipriono, 2019: 137)
137 “Ya Allah. Indahnya,” lirih Putri.
Ia tak henti-hentinya memuji
lukisan agung Sang Pencipta.
(Amipriono, 2019: 137)
Lampiran 3. Sinopsis Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman
Amipriono
Bercerita mengenai perjalanan penuh liku dua kakak beradik dari keluarga
miskin, Putrid dan Diaz. Mereka masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan
hidup di sebuah desa di Langkat, Sumatera Utara. Mereka hidup bersama ibunya
yang bekerja sebagai buruh cuci, dan ayah mereka sudah meninggal sebelum
mereka pindah ke desa Klantan. Namun, ibunya terkena penyakit kanker hati yang
kian hari semakin parah, dan ia tak cukup biaya untuk berobat.
Demi menjalani pendidikan, Putri dan Diaz harus mengumpulkan lembar-
demi lembar kertas bekas yang mereka cari di TPA, mereka mengumpulkan
lembaran kertas yang masih kosong kemudian menyusunnya menjadi satu buku.
Hal ini mereka lakukan demi perlengkapan sekolah mereka, bahkan pakaian
sekolah yang mereka gunakan sudah semakin lusuh dan warnanya yang semakin
memudar.
Hidup Putri dan Diaz semakin berat ketika harus ditinggal ibunya. Ibunya
meninggal karena keadaan yang sangat memprihatinkan dan biaya untuk berobat
pun taka ada. Penderitaan mereka juga semakin berat, ketika Diaz terpaksa harus
terpisah oleh Putri dikarenakan Diaz diadopsi oleh orang lain. Putri pun harus
merelakan perpisahan itu demi melihat adiknya melanjutkan pendidikan dan
dirawat dengan layak oleh keluarga barunya.
Setelah melewati beberapa waktu perpisahan, Putri mejalani hari-harinya
sendiri dengan menjual koran, yang beberapa waktu lalu sudah memutuskan untuk
berhenti sekolah. Kini Diaz pun diasuh oleh keluarga barunya yang sangat baik
padanya. Menjelang akhir semester, Putri diberikan beasiswa oleh sekolahnya dan
dibiayai sampai ia selesai sekolah. Ia pun melanjutkan kembali pendidikannya,
sampai pada akhirnya ia kembali mendapat peringkat di kelas. Begitupun dengan
Diaz, ia bersekolah di tempat yang berbeda dan kembali meraih pringkat
sekabupaten. Akhirnya, setelah pengumunan prestasi mereka di sekolah, keluarga baru Diaz mengantarkan i
Lampiran 4. Cover Novel Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono
RIWAYAT HIDUP
Selfiana Herman, dilahirkan di Lajari, Desa
Garessi pada tanggal 6 Juni 1998. Penulis anak pertama
dari tiga bersaudara. Anak dari pasangan Ayahanda
Herman dan Ibunda Sarnawiah. Penulis memasuki jenjang
pendidikan dasar di SD Inpres Lajari pada tahun 2004 dan
tamat pada tahun 2010.
Selanjutnya, penulis melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama
di SMP Negeri 1 Barru pada tahun 2010 dan tamat pada tahun 2013. Pada tahun
2013, penulis kembali melanjutkan pendidikan sekolah menengah atas di SMA
Negeri 1 Barru dan tamat pada tahun 2016. Penulis kembali melanjutkan
pendidikan perguruan tinggi (S1) di Universitas Muhammadiyah Makassar pada
tahun 2016, dan diterima sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Berkat perlindungan dan pertolongan dari Allah SWT, serta iringan doa
dari orang tua, keluarga besar, sahabat, dan teman-teman yang juga selalu
memberikan dukungan, sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan di
perguruan tinggi dengan menulis skripsi berjudul “Nilai Moral pada Novel
Selembar Itu Berarti Karya Suryaman Amipriono”.