0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan22 halaman

Diare Cair Akut pada Anak: Panduan Lengkap

Laporan pendahuluan tentang diare cair akut pada anak membahas konsep penyakit diare, klasifikasi diare, etiologi, dan patofisiologi diare. Diare cair akut didefinisikan sebagai buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair kurang dari 14 hari. Penyebabnya antara lain virus rotavirus, bakteri E. coli, dan keracunan makanan oleh bakteri seperti Staphylococcus. Patof

Diunggah oleh

wiwik suprihatin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan22 halaman

Diare Cair Akut pada Anak: Panduan Lengkap

Laporan pendahuluan tentang diare cair akut pada anak membahas konsep penyakit diare, klasifikasi diare, etiologi, dan patofisiologi diare. Diare cair akut didefinisikan sebagai buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair kurang dari 14 hari. Penyebabnya antara lain virus rotavirus, bakteri E. coli, dan keracunan makanan oleh bakteri seperti Staphylococcus. Patof

Diunggah oleh

wiwik suprihatin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

DIARE CAIR AKUT PADA ANAK

DI SUSUN OLEH :
WIWIK SUPRIHATIN
J230215088

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2022
A. Konsep penyakit
1. Pengertian diare
Diare cair akut adalah BAB lembek atau cair bahkan dapat berupa
air saja dengan frekuensi >3 atau lebih sering dari biasanya dalam 24 jam
dan berlangsung <14 hari (Hockenberry & Wilson, 2015). Diare
merupakan gangguan buang air besar atau BAB ditandai dengan BAB
lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja cair, dapat disertai dengan
darah dan atau lender (Ngastiyah, 2014). Diare yaitu penyakit yang terjadi
ketika terdapat perubahan konsistensi feses. Seseorang dikatakan
menderita diare bila feses lebih berair dari biasanya, dan bila buang air
besar lebih dari tiga kali, atau buang air besar yang berair tetapi tidak
berdarah dalam waktu 24 jam (Sumampouw, 2017). Menurut WHO
(2019), diare adalah suatu keadaan buang air besar (BAB) dengan
konsistensi lembek hingga cair dan frekuensi lebih dari tiga kali sehari.
Diare akut berlangsung selama 3-7 hari, sedangkan diare persisten terjadi
selama ≥ 14 hari.
2. Klasifikasi Diare
Menurut Hockenberry & Wilson (2015), diare dapat diklasifikasikan,
sebagai berikut:
a. Diare akut
Merupakan penyebab utama keadaan sakit pada balita. Diare akut
didefenisikan sebagai peningkatan atau perubahan frekuensi defekasi
yang sering disebabkan oleh agens infeksius dalam traktus
Gastroenteritis Infeksiosa (GI). Keadaan ini dapat menyertai infeksi
saluran napas atau (ISPA) atau infeksi saluran kemih (ISK). Diare akut
biasanya sembuh sendiri (lamanya sakit kurang dari 14 hari) dan akan
mereda tanpa terapi yang spesifik jika dehidrasi tidak terjadi (Hartati,
2018).
b. Diare kronis
Didefenisikan sebagai keadaan meningkatnya frekuensi defekasi dan

2
kandungan air dalam feses dengan lamanya (durasi) sakit lebih dari 14
hari. Kerap kali diare kronis terjadi karena keadaan kronis seperti
sindrom malabsorpsi, penyakit inflamasi usus, defisiensi kekebalan,
alergi makanan, intoleransi latosa atau diare nonspesifik yang kronis,
atau sebagai akibat dari penatalaksanaan diare akut yang tidak memadai.
c. Diare intraktabel
Yaitu diare membandel pada bayi yang merupakan sindrom pada
bayi dalam usia minggu pertama dan lebih lama dari 2 minggu tanpa
ditemukannya mikroorganisme patogen sebagai penyebabnya dan
bersifat resisten atau membandel terhadap terapi. Penyebabnya yang
paling sering adalah diare infeksius akut yang tidak ditangani secara
memadai (Giannattasio, 2016).
d. Diare kronis nonspesifik
Diare ini juga dikenal dengan istilah kolon iritabel pada anak atau
diare todler, merupakan penyebab diare kronis yang sering dijumpai
pada anak-anak yang berusia 6 hingga 54 minggu. Feses pada anak
lembek dan sering disertai dengan partikel makanan yang tidak tercerna,
dan lamanya diare lebih dari 2 minggu. Anak- anak yang menderita diare
kronis nonspesifik ini akan tumbuh secara normal dan tidak terdapat
gejala malnutrisi, tidak ada darah dalam fesesnya serta tidak tampak
infeksi enterik (Kasman, 2018).
3. Etiologi
Menurut Ali et al., (2022), penyebab infeksius dari diare akut yaitu :
a. Agens virus
1) Rotavirus, masa inkubasi 1-3 hari. Anak akan mengalami demam
(38ºC atau lebih tinggi), nausea atau vomitus, nyeri abdomen,
disertai infeksi saluran pernapasan atas dan diare dapat berlangsung
lebih dari 1 minggu. Biasanya terjadi pada bayi usia 6-12 bulan,
sedangkan pada anak terjadi di usia lebih dari 3 tahun.
2) Mikroorganisme, masa inkubasi 1-3 hari. Anak akan demam, nafsu
makan terganggu, malaise. Sumber infeksi bisa didapat dari air

3
minum, air di tempat rekreasi (air kolam renang, dll), makanan.
Dapat menjangkit segala usia dan dapat sembuh sendiri dalam
waktu 2-3 hari (Melvani, 2018).
b. Agens bakteri
1) Escherichia coli, masa inkubasinya bervariasi bergantung pada
strainnya. Biasanya anak akan mengalami distensi abdomen,
demam, vomitus, BAB berupa cairan berwarna hijau dengan darah
atau mukus bersifat menyembur. Dapat ditularkan antar individu,
disebabkan karena daging yang kurang matang, pemberian ASI
tidak eksklusif (Yuliastati & Arnis, 2016).
2) Kelompok salmonella (nontifoid), masa inkubasi 6-72 jam untuk
gastroenteritis. Gejalanya bervariasi, anak bisa mengalami nausea
atau vomitus, nyeri abdomen, demam, BAB kadang berdarah dan
ada lendir, peristaltik hiperaktif, nyeri tekan ringan pada abdomen,
sakit kepala, kejang. Dapat disebabkan oleh makanan dan minuman
yang sudah terkontaminasi oleh binatang seperti kucing, burung,
dan lainnya (Yuliastati & Nining, 2016).
c. Keracunan makanan
1) Staphylococcus, masa inkubasi 4-6 jam. Dapat menyebabkan kram
yang hebat pada abdomen, syok. Disebabkan oleh makanan yang
kurang matang atau makanan yang disimpan di lemari es seperti
puding, mayones, makanan yang berlapis krim (Yuliastati & Arnis,
2016).
2) Clostridium perfringens, masa inkubasi 8-24 jam. Dimana anak
akan mengalami nyeri epigastrium yang bersifat kram dengan
intensitas yang sedang hingga berat. Penularan bisa lewat produk
makanan komersial yang paling sering adalah daging dan unggas.
3) Clostridium botulinum, masa inkubasi 12-26 jam. Anak akan
mengalami nausea, vomitus, mulut kering, dan disfagia. Ditularkan
lewat makanan yang terkntaminasi. Intensitasnya bervariasi mulai
dari gejala ringan hingga yang dapat menimbulkan kematian

4
dengan cepat dalam waktu beberapa jam.
4. Patofisiologi
Sumampouw (2017), mengatakan proses terjadinya diare dapat disebabkan
oleh berbagai kemungkinan faktor diantaranya :
a. Faktor infeksi
1) Virus
Penyebab tersering diare pada anak adalah disebabkan infeksi
rotavirus. Setelah terpapar dengan agen tertentu, virus akan masuk ke
dalam tubuh bersama dengan makanan dan minuman yang masuk ke
dalam saluran pencernaan yang kemudian melekat pada sel-sel
mukosa usus, akibatnya sel mukosa usus menjadi rusak yang dapat
menurunkan daerah permukaan usus. Sel-sel mukosa yang rusak akan
digantikan oleh sel enterosit baru yang berbentuk kuboid atau sel
epitel gepeng yang belum matang sehingga fungsi sel-sel ini masih
belum bagus. Hal ini menyebabkan vili-vili usus halus mengalami
atrofi dan tidak dapat menyerap cairan dan makanan dengan baik.
Selanjutnya, terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya
mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorpsi cairan dan
elektrolit. Atau juga dikatakan adanya toksin bakteri atau virus akan
menyebabkan sistem transpor aktif dalam usus sehingga sel mukosa
mengalami iritasi yang kemudian sekresi cairan dan elektrolit akan
meningkat (Wijoyo, 2013).
2) Bakteri
Bakteri pada keadaan tertentu menjadi invasif dan menyerbu ke
dalam mukosa, terjadi perbanyakan diri sambil membentuk toksin.
Enterotoksin ini dapat diresorpsi ke dalam darah dan menimbulkan
gejala hebat seperti demam tinggi, nyeri kepala, dan kejang-kejang.
Selain itu, mukosa usus yang telah dirusak mengakibatkan mencret
berdarah berlendir. Penyebab utama pembentukan enterotoksin ialah
bakteri Shigella sp, [Link]. diare ini bersifat self-limiting dalam
waktu kurang lebih lima hari tanpa pengobatan, setelah sel-sel yang

5
rusak diganti dengan sel-sel mukosa yang baru (Wijoyo, 2013).
b. Faktor malabsorpsi
1) Gangguan osmotik
Cairan dan makanan yang tidak dapat diserap akan terkumpul di
usus halus dan akan meningkatkan tekanan osmotik usus Akibatnya
akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat.
Gangguan osmotik meningkat menyebabkan terjadinya pergeseran air
dan elektrolit ke dalam rongga usus. Hal ini menyebabkan banyak
cairan ditarik ke dalam lumen usus dan akan menyebabkan terjadinya
hiperperistaltik usus. Cairan dan makanan yang tidak diserap tadi
akan didorong keluar melalui anus dan terjadilah diare
(Wijayaningsih, 2013).
2) Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus
akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga
usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi
rongga usus (Sutrisno & Setyowati, 2013).
3) Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan
usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bisa
peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh
berlebihan, selanjutnya timbul diare pula. Akibat dari diare yaitu
kehilangan air dan elektrolit yang dapat menyebabkan cairan
ekstraseluler secara tiba-tiba cepat hilang, terjadi ketidakseimbangan
elektrolit yang mengakibatkan syok hipovolemik dan berakhir pada
kematian jika tidak segera diobati (Wijayaningsih, 2013).
c. Faktor makanan
Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun
maupun alergi terhadap jenis makanan tertentu. Sehingga terjadi
peningkatan peristaltik usus yang mengakibatkan penurunan kesempatan
untuk menyerap makanan yang kemudian menyebabkan diare

6
(Ngastiyah, 2014)). Diare akut berulang dapat menjurus ke malnutrisi
energi protein, yang mengakibatkan usus halus mengalami perubahan
yang disebabkan oleh PEM tersebut menjurus ke defisiensi enzim yang
menyebabkan absorpsi yang tidak adekuat dan terjadilah diare berulang
yang kronik. Anak dengan PEM terjadi perubahan respons imun,
menyebabkan reaksi hipersensitivitas kulit terlambat, berkurangnya
jumlah limfosit dan jumlah sel T yang beredar.
Setelah mengalami gastroenteritis yang berat anak mengalami
malabsorpsi. Malabsorpsi juga terdapat pada anak yang mengalami
malnutrisi, keadaan malnutrisi menyebabkan atrofi mukosa usus, faktor
infeksi silang usus yang berulang menyebabkan malabsorpsi, enteropati
dengan kehilangan protein. Enteropati ini menyebabkan hilangnya
albumin dan imunogobulin yang mengakibatkan kwashiorkor dan infeksi
jalan nafas yang berat (Ngastiyah, 2014).
d. Faktor psikologis
Faktor ini dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan peristaltik
usus yang akhirnya mempengaruhi proses penyerapan makanan yang
dapat menyebabkan diare. Proses penyerapan terganggu (Wijoyo, 2013).

7
Pathway
Psikologis
Infeksi Makanan
Malabsorpsi

Tekanan osmotik
meningkat

Masuk dan berkembang di dalam usus Basi, keracunan makanan maupun alergi

Pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus Hiperperistaltik


Toksin dalam dinding usus halus

Kemampuan absorpsi menurun


Spasme
instestin
Isi rongga
Hipersekresi air dan elektrolit usus meningkat usus
meningkat

Frekuensi BAB Inflamasi pada


mukosa usus
meningkat dengan
Distensi
konsistensi cair Gastroenteritis
abdomen Diare
Nyeri
Merangsang sel-sel abdomen
endotel hipotalamus
Kehilangan cairan dan
elektrolit berlebihan Nausea

Mengeluarkan asam
Dehidrasi Muntah, arakidonat
nafsu makan ↓
Nyeri akut
Memicu pengeluaran
Hipovolemi prostaglandin
a BB
menurun

Memacu kerja
Hipertermia
Defisit nutrisi thermostat hipotalamus
suhu > 37,5oC

Sumber: Hockenberry & Wilson (2015).


8
5. Manifestasi Klinis
Anak yang mengalami diare akibat infeksi bakteri mengalami kram
perut, muntah, demam, mual, dan diare cair akut. Diare karena infeksi
bakteri invasif akan mengalami demam tinggi, nyeri kepala, kejang- kejang,
mencret berdarah dan berlendir (Wijoyo, 2013). Menurut Ngastiyah (2014),
anak yang mengalami diare mula-mula akan cengeng, gelisah, suhu tubuh
meningkat, nafsu makan berkurang. BAB cair, mungkin disertai lendir dan
darah. Warna tinja makin lama berubah kehijauan karena bercampur dengan
empedu. Anus dan daerah sekitarnya akan lecet karena sering defekasi dan
tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang
berasal dari laktosa yang tidak diabsorpsi oleh usus selama diare.
Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan dapat
disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan
keseimbangan asam basa dan elektrolit. Jika anak telah banyak kehilangan
cairan dan elektrolit, serta mengalami gangguan asam basa dapat
menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik dan hipokalemia, hipovolemia.
Gejala dari dehidrasi yang tampak yaitu berat badan turun, turgor kulit
kembali sangat lambat, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, mukosa
bibir kering. Dehidrasi merupakan keadaan yang paling berbahaya karena
dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps kardiovaskuler dan kematian bila
tidak diobati dengan tepat. Dehidrasi yang terjadi menurut tonisitas plasma
dapat berupa dehidrasi isotonik, dehidrasi hipertonik (hipernatremik) atau
dehidrasi hipotonik. Menurut derajat dehidrasinya bisa tanpa dehidrasi,
dehidrasi ringan, dehidrasi sedang atau dehidrasi berat (Wijayaningsih,
2013).
6. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Ngastiyah (2014) pada pasien diare pemeriksaan penunjang yang
dapat dilakukan yaitu:
a. Pemeriksaan tinja
Pada pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan makroskopis dan
mikroskopis, Ph dan kadar gula dalam tinja hingga colok dubur.

9
b. Menganalisa gas darah ketika didapatkan tanda–tanda gangguan
keseimbangan asam basa.
c. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
d. Pemeriksaan elektronik terutama kadar natrium, kalium dan fosfat dalam
serum.

B. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Identifikasi pasien meliputi nama pasien, tanggal masuk RS, jenis
kelamin, tanggal lahir, umur, alamat, agama, asal suku bangsa, nama
orang tua, usia orang tua, pekerjaan orang tua, dan pendidikan orang
tua.
b. Keluhan Utama
Biasanya pasien mengalamin buang air besar (BAB) lebih dari 3 kali
sehari, BAB < 4 kali dan cair (diare tanpa dehidrasi), BAB 4-10 kali
dan cair (dehidrasi ringan/ sedang), atau BAB >10 kali (dehidrasi
berat). Apabila diare berlangsung <14 hari maka diare tersebut adalah
diare akut, sementara apabila berlangsung selama 14 hari atau lebih
adalah diare persisten (Yuliastati & Nining, 2016).
c. Keluhan Riwayat Kesehatan Saat Ini
Biasanya pasien mengalami:
1) Bayi atau anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin
meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, dan
kemungkinan timbul diare.
2) Tinja makin cair, mungkin disertai lendir atau lendir dan darah.
Warna tinja berubah menjadi kehijauan karena bercampur empedu.
3) Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan
sifatnya makin lama makin asam.
4) Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare.
5) Apabila pasien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, maka
gejala dehidrasi mulai tampak.

10
6) Diuresis: terjadi oliguri (kurang 1 ml/kg/BB/jam) bila terjadi
dehidrasi. Urine normal pada diare tanpa dehidrasi. Urine sedikit
gelap pada dehidrasi ringan atau sedang. Tidak ada urine dalam
waktu 6 jam (dehidrasi berat) (Wijoyo, 2013).
d. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
1) Riwayat kehamilan, kelahiran dan post natal.
2) Riwayat penyakit sebelumnya.
3) Adanya riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan
(antibiotik), makan makanan basi, karena faktor ini merupakan
salah satu kemungkinan penyebab diare.
4) Riwayat air minum yang tercemar dengan bakteri tinja,
menggunakan botol susu, tidak mencuci tangan setelah buang air
besar, dan tidak mencuci tangan saat menjamah makanan.
5) Riwayat penyakit yang sering terjadi pada anak berusia dibawah 2
tahun biasanya adalah batuk, panas, pilek, dan kejang yang terjadi
sebelumnya, selama, atau setelah diare. Informasi ini diperlukan
untuk melihat tanda dan gejala infeksi lain yang menyebabkan
diare seperti OMA, tonsilitis, faringitis, bronkopneumonia, dan
ensefalitis (Sumampouw, 2017).
6) Kemungkinan anak tidak dapat imunisasi campak Diare lebih
sering terjadi pada anak-anak dengan campak atau yang baru
menderita campak dalam 4 minggu terakhir, sebagai akibat dari
penuruan kekebalan tubuh pada pasien. Selain imunisasi campak,
anak juga harus mendapat imunisasi dasar lainnya seperti imunisasi
BCG, imunisasi DPT, serta imunisasi polio (Wijayaningsih, 2013).
7) Riwayat Nutrisi
Riwayat pemberian makanan sebelum mengalami diare, meliputi:
a) Pemberian ASI penuh pada anak umur 4-6 bulan sangat
mengurangi resiko diare dan infeksi yang serius (Sumampouw,
2017).
b) Pemberian susu formula. Apakah dibuat menggunakan air

11
masak dan diberikan dengan botol atau dot, karena botol yang
tidak bersih akan mudah menimbulkan pencemaran.
c) Perasaan haus. Anak yang diare tanpa dehidrasi tidak merasa
haus (minum biasa). Pada dehidrasi ringan atau sedang anak
merasa haus ingin minum banyak. Sedangkan pada dehidrasi
berat, anak malas minum atau tidak bisa minum (Wijoyo, 2013).
e. Riwayat Kesehatan Sosial dan Psikososial
Berisi komposisi dari keluarga, sumber keuangan, perilaku keluarga
(interaksi sosial, pembuat keputusan, kebiasaan-kebiasaan keluarga),
lingkungan rumah.
f. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Fisiologis Selama di RS
Kebutuhan nutrisi (makanan dan cairan), istirahat dan tidur, personal
hygine, aktivitas dan bermain dan eliminasi.
g. Pemeriksaan Fisik
1) Penampilan umum
a) Diare tanpa dehidrasi: baik, sadar.
b) Diare dehidrasi ringan atau sedang: gelisah, rewel/mudah marah.
c) Diare dehidrasi berat: letargi atau tidak sadar.
2) Pemeriksaan tanda-tanda vital
3) Pengkajian antropometri
4) Pemeriksaan Head To Toe
a) Pemeriksaan kepala
Rambut tampak bersih, rambut warna hitam, tidak rontok, tidak
ada benjolan, ubun-ubun besar cekung atau tidak (Yuliastati &
Nining, 2016).
b) Mata
Anak yang mengalami diare tanpa dehidrasi, bentuk kelopak
matanya normal. Apabila mengalami dehidrasi ringan atau
sedang kelopak matanya cekung. Sedangkan apabila mengalami
dehidrasi berat, kelopak matanya sangat cekung (Sumampouw,
2017).

12
c) Hidung
Biasanya tidak ada kelainan dan gangguan pada hidung, tidak
sianosis, tidak ada pernapasan cuping hidung (Wijoyo, 2013).
d) Telinga
Biasanya tidak ada kelainan pada telinga.
e) Mulut dan Lidah
Diare tanpa dehidrasi: Mulut dan lidah basah dan lembab, Diare
dehidrasi ringan: Mulut dan lidah kering, Diare dehidrasi berat:
Mulut dan lidah sangat kering (Ngastiyah, 2014).
f) Leher
Tidak ada pembengkakan pada kelenjar getah bening, tidak ada
kelainan pada kelenjar tiroid.
g) Jantung
Pada diare tanpa dehidrasi denyut jantung normal, diare
dehidrasi ringan atau sedang denyut jantung pasien normal
hingga meningkat, diare dengan dehidrasi berat biasanya pasien
mengalami takikardi dan bradikardi (Yuliastati & Nining, 2016).
h) Paru-paru
Diare tanpa dehidrasi biasanya pernapasan normal, diare
dehidrasi ringan pernapasan normal hingga melemah, diare
dengan dehidrasi berat pernapasannya dalam (Ngastiyah, 2014)..
i) Abdomen
Anak akan mengalami distensi abdomen, dan kram, turgor kulit
pada pasien diare tanpa dehidrasi baik, pada dehidrasi ringan
cubitan kulit perut kembali <2 detik dan pada dehidrasi berat
cubitan kulit perut kembali > 2 detik, biasanya anak yang
mengalami diare bising ususnya meningkat (Wijoyo, 2013).
j) Ektremitas dan Integumen
Anak dengan diare tanpa dehidrasi Capillary Refill Time (CRT)
normal, akral teraba hangat. Anak dengan diare dehidrasi ringan
CRT kembali < 2 detik, akral dingin. Pada anak dehidrasi berat

13
CRT kembali > 2 detik, akral teraba dingin, sianosis. Turgor
kulit menurun (Ngastiyah, 2014).
k) Genitalia
Anak dengan diare akan sering BAB maka hal yang perlu di
lakukan pemeriksaan yaitu apakah ada iritasi pada anus
(Sutrisno & Setyowati, 2013).
2. Diagnosa Keperawatan
a. Diare berhubungan dengan fisiologis, psikologis, situasional.
b. Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif, kegagalan
mekanisme regulasi.
c. Hipertermia berhubungan dengan dehidrasi, proses penyakit.
d. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorbsi
nutrien.
e. Nausea berhubungan dengan distensi abdomen.
f. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.

14
3. Perencanaan Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi (SIKI)
(SLKI)
1 Diare berhubungan Eliminasi Fekal (L.04033) Manajemen Diare (I.03101)
dengan fisiologis, Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, eliminasi O:
psikologis, fekal membaik dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi penyebab diare.
situasional. Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat 2. Identifikasi riwayat pemberian makanan.
menurun meningkat 3. Monitor warna, volume, frekuensi dan konsistensi
4 Kontrol pengeluaran feses tinja.
1 2 3 4 5 4. Monitor tanda dan gejala hipovolemia.
Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun 5. Monitor iritasi dan ulserasi kulit di daerah
meningkat menurun perianal.
4 Distensi abdomen 6. Monitor jumlah pengeluaran diare.
1 2 3 4 5 N:
4 Nyeri abdomen 1. Berikan asupan oral.
1 2 3 4 5 2. Pasang jalur intravena.
4 Kram abdomen 3. Berikan cairan intravena.
1 2 3 4 5 4. Ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah
Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik lengkap dan elektrolit.
memburuk membaik 5. Berikan teknik nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri.
5 Konsistensi feses
E:
1 2 3 4 5
Anjurkan makanan porsi kecil dan sering secara
4 Frekuensi defekasi
bertahap.
1 2 3 4 5
C:
4 Peristaltik usus (5-15x/menit) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat.
1 2 3 4 5
5 Frekuensi nadi

15
1 2 3 4 5
5 Pola napas
1 2 3 4 5
2 Hipovolemia Keseimbangan Cairan (L.05020) Manajemen Hipovolemia (I.03116)
berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, O:
kehilangan cairan keseimbangan cairan meningkat dengan kriteria hasil: 1. Periksa tanda dan gejala hipovolemia.
aktif, kegagalan Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat 2. Monitor intake dan output cairan.
mekanisme regulasi. menurun meningkat N:
5 Asupan cairan 1. Hitung kebutuhan cairan.
1 2 3 4 5 2. Berikan asupan cairan oral
5 Kelembaban membran mukosa E:
1 2 3 4 5 Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral.
5 Asupan makanan C:
1 2 3 4 5 Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan IV
Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun isotonis, hipotonis dan cairan koloid.
meningkat menurun
5 Dehidrasi
1 2 3 4 5
Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik
memburuk membaik
5 Membran mukosa
1 2 3 4 5
5 Mata cekung
1 2 3 4 5
5 Turgor kulit
1 2 3 4 5
5 Berat badan

16
1 2 3 4 5

3 Hipertermia Termoregulasi (L.14134) Manajemen Hipertermia (I.15506)


berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, O:
dehidrasi, proses termoregulasi membaik dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi penyebab hipertermia.
penyakit. Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun 2. Monitor suhu tubuh.
meningkat menurun 3. Monitor kadar elektrolit.
5 Pucat 4. Monitor haluaran urine.
1 2 3 4 5 N:
5 Fatigue 1. Longgarkan atau lepaskan pakaian.
1 2 3 4 5 2. Berikan cairan oral.
Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik E:
memburuk membaik Anjurkan tirah baring.
5 Berat badan C:
1 2 3 4 5 1. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan
5 Suhu tubuh (36,5 C-37,5 C per aksila)
0 0 dan elektrolit intravena, jika perlu.
1 2 3 4 5 2. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
5 Suhu kulit antipiretik.
1 2 3 4 5

17
4 Defisit nutrisi Status Nutrisi (L.03030) Manajemen Nutrisi (I.03119)
berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, status O:
ketidakmampuan nutrisi membaik dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi status nutrisi.
mengabsorbsi Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat 2. Identifikasi alergi dan intoleransi makanan.
nutrien. menurun meningkat 3. Identifikasi makanan yang disukai.
5 Porsi makanan yang dihabiskan 4. Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien.
1 2 3 4 5 5. Monitor asupan makanan.
Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun 6. Monitor berat badan.
meningkat menurun 7. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium.
4 Nyeri abdomen N:
1 2 3 4 5 1. Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang
4 Diare sesuai.
1 2 3 4 5 2. Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein.
Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik E:
memburuk membaik Anjurkan posisi duduk, jika mampu.
5 Berat badan C:
1 2 3 4 5 Kolaboorasi dengan ahli gizi untuk menentukan
jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan.
5 Nafsu makan
1 2 3 4 5
4 Bising usus
1 2 3 4 5
5 Membran mukosa
1 2 3 4 5

18
5 Nausea berhubungan Tingkat Nausea (L.08065) Manajemen Mual (I.03117)
dengan distensi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, tingkat O:
abdomen. nausea menurun dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi pengalaman mual.
Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat 2. Identifikasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan.
menurun meningkat 3. Identifikasi dampak mual terhadap kualitas hidup.
5 Nafsu makan 4. Identifikasi faktor penyebab mual.
1 2 3 4 5 5. Monitor mual.
Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun 6. Monitor asupan nutrisi dan kalori.
meningkat menurun N:
5 Keluhan mual Kendalikan faktor lingkungan penyebab mual.
1 2 3 4 5 E:
5 Perasaan ingin muntah 1. Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup.
1 2 3 4 5 2. Anjurkan makanan tinggi kalori dan tinggi protein.
Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik 3. Anjurkan penggunaan teknik nonfarmakologis
memburuk membaik untuk mengatasi mual.
5 Pucat C:
1 2 3 4 5 Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
antiemetik.

19
6 Nyeri akut Tingkat Nyeri (L.08066) Manajemen Nyeri (I.08238)
berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, tingkat O:
agen pencedera nyeri menurun dengan kriteria hasil: 1. Lakukan pengkajian pqrst dan identifikasi lokasi,
fisiologis. Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
meningkat menurun nyeri.
5 Keluhan nyeri 2. Lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital.
1 2 3 4 5 3. Identifikasi respons nyeri non verbal.
5 Meringis N:
1 2 3 4 5 1. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
5 Gelisah rasa nyeri.
1 2 3 4 5 2. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri.
5 Kesulitan tidur E:
1 2 3 4 5 1. Jelaskan strategi mengatasi nyeri.
Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik 2. Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
memburuk membaik rasa nyeri.
5 Nafsu makan C:
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik.
1 2 3 4 5

20
DAFTAR PUSTAKA

Ali, M., Abbas, F., & Shah, A. A. (2022). Factors associated with prevalence of
diarrhea among children under five years of age in Pakistan.
Children and Youth Services Review, 132(1), 100-110.
[Link]

Giannattasio, A. (2016). Management of Children with Prolonged Diarrhea.


F1000 Research 5(5), 1-11. 10.12688/f1000research.7469.1

Hartati, S. (2018). Faktor Yang Mempengaruhi kejadian Diare Pada Balita di


Wilayah Kerja Puskesmas Rejosari Pekanbaru. Jurnal Endurance, 2
(2), 400-407.

Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2015). Wong's Nursing Care Of Infants and
Children. Canada: Elsevier.

Kasman. (2018). Faktor Risiko Kejadian Diare Pada Balita di Kota Banjarmasin.
Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8(2), 123-130.

Melvani, R. P. (2018). Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diare


Balita di Kelurahan Karyajaya Kota Palembang. JUMANTIK, 4(1),
57-66.

Ngastiyah. (2014). Perawatan anak sakit edisi 2. Jakarta: EGC.

PPNI (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator


Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan


Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria


Hasil Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.

Sumampouw, O. J. (2017). Diare Balita. Yogyakarta: Deepublish.

Sutrisno, R. S., & Setyowati, U. (2013). Jangan Panik Saat Anak Sakit.
Yogyakarta: Trans Idea Publishing

Wijayaningsih, K. S. (2013). Asuhan Keperawatan Anak. Jakarta: CV. Trans Info


Media.

Wijoyo, Y. (2013). Diare Pahami Penyakit dan Obatnya. Yogyakarta: PT Citra


Aji Parama.

21
World Health Organization. (2019). Diarrhoel Disease.
[Link]
disease

Yuliastati, & Arnis, A. (2016). Keperawatan Anak. Jakarta: Kementerian


Kesehatan Republik Indonesia.

Yuliastati, & Nining. (2016). Keperawatan Anak Komprehensif. Jakarta:


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

22

Anda mungkin juga menyukai