BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Hematogram
a. Pengertian
Hematogram adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk
mengetahui keadaan darah dan komponen-komponennya. Darah
terdiri dari bagian padat yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah
putih (leukosit), trombosit dan bagian cairan yang berwarna
kekuningan yang disebut plasma. Pemeriksaan hematologi rutin
dapat menentukan kualitas kesehatan (Hi Lab, 2016).
Hematogram dapat disebut Complete Blood Count (CBC)
merupakan penilaian dasar terhadap komponen sel darah, yaitu
dengan menentukan jumlah, variasi, prosentase, konsentrasi, dan
kualitas dari seluruh komponen sel darah. Pemeriksaan ini dapat
memberikan informasi mengenai kondisi hematologik dan sistem
tubuh yang lain sebagai diagnosis, prognosis, respon terapi, dan
masa pemulihan. Hematologi rutin terdiri dari pemeriksaan
hemoglobin, leukosit, trombosit, eritrosit, hematokrit, dan nilai-nilai
MC (Prodia, 2016).
Hemogram merupakan salah satu tes yang paling sering
memerintahkan laboratorium klinis, jumlah darah, juga disebut
hitung darah lengkap (CBC) atau hematogram, adalah evaluasi
dasar dari sel (sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit)
tersuspensi dalam bagian cair darah (plasma). Ini melibatkan
7
8
penentuan jumlah, konsentrasi, dan kondisi berbagai jenis sel darah
(Ridwan, 2013).
Hemogram merupakan screening yang berguna dan tes
diagnostik yang sering dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan
fisik rutin. Hal ini dapat memberikan informasi berharga tentang
jaringan darah dan darah membentuk (terutama sumsum tulang),
serta sistem tubuh lainnya. Hasil abnormal dapat menunjukkan
adanya berbagai kondisi-termasuk anemia, leukemia, dan infeksi-
kadang sebelum pasien mengalami gejala penyakit (Sloane, 2012).
b. Jenis Pemeriksaan
Hematogram atau complete blood count (CBC) digunakan
sebagai tes skrining yang luas untuk memeriksa gangguan seperti
anemia, infeksi, dan banyak penyakit lainnya. Pemeriksaan Darah
Lengkap terdiri dari beberapa jenis parameter pemeriksaan, yaitu :
a) Hemoglobin
Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah
yang berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru
ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari
jaringan tubuh ke paru paru. Kandungan zat besi yang terdapat
dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah (Yudi, 2011)
Kadar hemoglobin dalam darah yang rendah dikenal
dengan istilah anemia. Ada banyak penyebab anemia
diantaranya yang paling sering adalah perdarahan, kurang gizi,
gangguan sumsum tulang, pengobatan kemoterapi dan penyakit
sistemik (kanker, lupus,dan lainnya) (Yudi, 2011)
Sedangkan kadar hemoglobin yang tinggi dapat dijumpai
pada orang yang tinggal di daerah dataran tinggi dan perokok.
9
Beberapa penyakit seperti radang paru paru, tumor, preeklampsi,
hemokonsentrasi, dll (Yudi, 2011)
Menurut WHO (2010) kadar hemoglobin normal berkisar
12-16 g/dL, tinggi >16 g/dL dan rendah <12 g/dL.
b) Hematokrit
Hematokrit merupakan ukuran yang menentukan
banyaknya jumlah sel darah merah dalam 100 ml darah yang
dinyatakan dalam persent (%). Nilai normal hematokrit untuk pria
berkisar 40,7% - 50,3% sedangkan untuk wanita berkisar 36,1%
- 44,3% (WHO, 2010)
Seperti telah ditulis di atas, bahwa kadar hemoglobin
berbanding lurus dengan kadar hematokrit, sehingga
peningkatan dan penurunan hematokrit terjadi pada penyakit-
penyakit yang sama (Yudi, 2011)
c) Leukosit (White Blood Cell / WBC)
Leukosit merupakan komponen darah yang berperanan
dalam memerangi infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri,
ataupun proses metabolik toksin, dll. Nilai normal leukosit
berkisar 3.200 - 10.000 mm3, tinggi >10.000 mm3 dan rendah
<3.200 mm3 (WHO, 2010)
Penurunan kadar leukosit bisa ditemukan pada kasus
penyakit akibat infeksi virus, penyakit sumsum tulang, dll,
sedangkan peningkatannya bisa ditemukan pada penyakit infeksi
bakteri, penyakit inflamasi kronis, perdarahan akut, leukemia,
gagal ginjal, dll (Yudi, 2011)
10
d) Trombosit (platelet)
Trombosit merupakan bagian dari sel darah yang berfungsi
membantu dalam proses pembekuan darah dan menjaga
integritas vaskuler. Beberapa kelainan dalam morfologi trombosit
antara lain giant platelet (trombosit besar) dan platelet clumping
(trombosit bergerombol). Nilai normal trombosit berkisar antara
170.000 - 380.000 / Mel darah, tinggi >380.000/ Mel darah dan
rendah <170.000/ Mel darah (WHO, 2010).
Trombosit yang tinggi disebut trombositosis dan sebagian
orang biasanya tidak ada keluhan. Trombosit yang rendah
disebut trombositopenia, ini bisa ditemukan pada kasus demam
berdarah (DBD), Idiopatik Trombositopenia Purpura (ITP),
supresi sumsum tulang, dan lainnya (Yudi, 2011)
e) Eritrosit (Red Blood Cell / RBC)
Eritrosit atau sel darah merah merupakan komponen darah yang
paling banyak, dan berfungsi sebagai pengangkut / pembawa
oksigen dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh tubuh dan
membawa kardondioksida dari seluruh tubuh ke [Link]
normal eritrosit pada pria berkisar 4,7 juta - 6,1 juta sel/ul darah,
sedangkan pada wanita berkisar 4,2 juta - 5,4 juta sel/ul
[Link] yang tinggi bisa ditemukan pada kasus
hemokonsentrasi, PPOK (penyakit paru obstruksif kronik), gagal
jantung kongestif, perokok, preeklamsi, dll, sedangkan eritrosit
yang rendah bisa ditemukan pada anemia, leukemia, hipertiroid,
penyakit sistemik seperti kanker dan lupus, dan lainnya (WHO,
2010).
11
f) Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC)
Biasanya digunakan untuk membantu mendiagnosis
penyebab anemia (Suatu kondisi di mana ada terlalu sedikit sel
darah merah). Indeks/nilai yang biasanya dipakai antara lain
(WHO, 2010) :
MCV (Mean Corpuscular Volume) atau Volume Eritrosit
Rata-rata (VER), yaitu volume rata-rata sebuah eritrosit yang
dinyatakan dengan femtoliter (fl)
MCV = Hematokrit x 10
Eritrosit
Nilai normal = 82-92 fl
MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) atau Hemoglobin
Eritrosit Rata-Rata (HER), yaitu banyaknya hemoglobin per
eritrosit disebut dengan pikogram (pg)
MCH = Hemoglobin x 10
Eritrosit
Nilai normal = 27-31 pg
MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration)
atau Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit Rata-rata (KHER), yaitu
kadar hemoglobin yang didapt per eritrosit, dinyatakan dengan
persen (%) (satuan yang lebih tepat adalah “gr/dl”)
MCHC = Hemoglobin x 100
Hematokrit
Nilai normal = 32-37 %
12
g) Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR)
Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate
(ESR) adalah kecepatan sedimentasi eritrosit dalam darah yang
belum membeku, dengan satuan mm/jam. LED merupakan uji
yang tidak spesifik. LED dijumpai meningkat selama proses
inflamasi akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan
(nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi
stress fisiologis (misalnya kehamilan) (Yudi, 2011)
International Commitee for Standardization in Hematology
(ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode
Westergreen dalam pemeriksaan LED, hal ini dikarenakan
panjang pipet Westergreen bisa dua kali panjang pipet Wintrobe
sehingga hasil LED yang sangat tinggi masih terdeteksi.
Nilai normal LED pada metode Westergreen (WHO, 2010) :
1) Laki-laki : 0 – 15 mm/jam
2) Perempuan : 0 – 20 mm/jam
h) Hitung Jenis Leukosit (Diff Count)
Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah
berbagai jenis leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang
masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus dalam melawan
patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil,
dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi
yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit. Hitung
jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-
masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari
masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah
leukosit total dan hasilnya dinyatakan dalam sel/μl (Yudi, 2011).
13
Nilai normal : Eosinofil 1-3%, Netrofil 55-70%, Limfosit 20-40%,
Monosit 2-8%
i) Platelet Disribution Width (PDW)
PDW merupakan koefisien variasi ukuran trombosit. Kadar PDW
tinggi dapat ditemukan pada sickle cell disease dan
trombositosis, sedangkan kadar PDW yang rendah dapat
menunjukan trombosit yang mempunyai ukuran yang kecil.
j) Red Cell Distribution Width (RDW)
RDW merupakan koefisien variasi dari volume eritrosit. RDW
yang tinggi dapat mengindikasikan ukuran eritrosit yang
heterogen, dan biasanya ditemukan pada anemia defisiensi besi,
defisiensi asam folat dan defisiensi vitamin B12, sedangkan jika
didapat hasil RDW yang rendah dapat menunjukan eritrosit yang
mempunyai ukuran variasi yang kecil.
Pemeriksaan Darah Lengkap biasanya disarankan kepada
setiap pasien yang datang ke suatu Rumah Sakit yang disertai
dengan suatu gejala klinis, dan jika didapatkan hasil yang diluar
nilai normal biasanya dilakukan pemeriksaan lanjutan yang lebih
spesifik terhadap gangguan tersebut, sehingga diagnosa dan
terapi yang tepat bisa segera dilakukan. Lamanya waktu yang
dibutuhkan suatu laboratorium untuk melakukan pemeriksaan ini
berkisar maksimal 2 jam.
c. Hematogram pada Preeklampsi
Preeklampsia terdapat peningkatan LDH secara signifikan dengan
kreatinin serum >1,2 mg/dl kecuali jika sebelumnya trombosit
<100.00/mm3 (William Obsestri, 2010)
14
2. Tes Fungsi Hati
a. Pengertian
Tes fungsi hati yang umum adalah AST (aspartate
transaminase), yang di Indonesia lebih sering disebut sebagai
SGOT (serum glutamic-oxaloacetic transaminase), dan ALT
(alanine transaminase) yang biasanya di Indonesia disebut sebagai
SGPT (serum glutamic-pyruvic transaminase). SGOT dan SGPT
akan menunjukkan jika terjadi kerusakan atau radang pada jaringan
hati. SGPT lebih spesifik terhadap kerusakan hati dibanding SGOT
(Cahya, 2015).
b. Jenis Tes Fungsi Hati
Tes fungsi hati menurut Cunningham (2012) yaitu :
1) Alanine Aminotransferase (ALT) — suatu enzim yang
utamanya ditemukan di hati, paling baik untuk memeriksa
hepatitis. Dulu disebut sebagai SGPT (Serum Glutamic
Pyruvate Transaminase). Enzim ini berada di dalam sel
hati/hepatosit. Jika sel rusak, maka enzim ini akan dilepaskan
ke dalam aliran darah. Alkaline Phosphatase (ALP) – suatu
enzim yang terkait dengan saluran empedu; seringkali mening-
kat jika terjadi sumbatan. Nilai normal SGPT adalah 5-35 u/,
dikatakan rendah apabila kurang dari 5 u/L dan tinggi lebih dari
35 u/L (mikro perliter) (WHO, 2010).
2) Aspartate Aminotransferase (AST) – enzim ditemukan di hati
dan di beberapa tempat lain di tubuh seperti jantung dan otot.
Dulu disebut sebagai SGOT (Serum Glutamic Oxoloacetic
Transaminase), dilepaskan pada kerusakan sel-sel parenkim
hati, umumnya meningkat pada infeksi akut. Nilai normal SGOT
15
adalah 5-34 u/, dikatakan rendah apabila kurang dari 5 u/L dan
tinggi lebih dari 34 u/L (mikro perliter) (WHO, 2010)
3) Bilirubin – biasanya dua tes bilirubin digunakan bersamaan
(apalagi pada jaundice): Bilirubin total mengukur semua kadar
bilirubin dalam darah; Bilirubin direk untuk mengukur bentuk
yang terkonjugasi.
4) Albumin – mengukur protein yang dibuat oleh hati dan mem-
beritahukan apakah hati membuat protein ini dalam jumlah
cukup atau tidak.
5) Protein total – mengukur semua protein (termasuk albumin)
dalam darah, termasuk antibodi guna memerangi infeksi
c. Tes fungsi hati pada Preeklampsi
Preeklampsia terdapat peningkatan LDH secara signifikan tetapi
kadar SGOT/SGPT tidak meningkat secara signifikan, sehingga
LDH dipakai sebagai prediktor preeklampsia berat dibandingkan
dengan SGOT/ SGPT
3. Preeklampsia
a. Pengertian
Preeklampsia adalah peningkatan tekanan darah yang baru
timbul setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu, disertai dengan
penambahan berat badan ibu yang cepat akibat tubuh membengkak
dan pada pemeriksaan laboratorium dijumpai protein di dalam urine
(proteinuria) (Fadlun, 2011).
Preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai dengan
proteinuria pada umur kehamilan lebih dari 20 minggu atau segera
setelah persalinan. Preeklampsia merupakan gangguan multisistem
16
pada kehamilan yang dikarakteristikkan disfungsi endotelial,
peningkatan tekanan darah karena vosokontriksi, proteinuria akibat
kegagalan glomerulus, dan odema akibat peningkatan permeabilitas
vaskular (Fauziyah, 2012).
Preeklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai
tekanan darah 140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu (akhir
triwulan kedua sampai triwulan ketiga) atau bisa lebih awal terjadi.
Preeklampsia adalah salah satu kasus gangguan kehamilan yang
bisa menjadi penyebab kematian ibu, kelainan ini terjadi selama
masa kehamilan, persalinan, dan massa nifas yang akan
berdampak pada ibu dan bayi (Maternity, dkk 2016).
b. Etiologi
Menurut Fauziyah (2012) hingga saat ini penyebab dari
preeklampsia masih belum diketahui dengan pasti, teori-teori yang
meliputi seperti :
1) Genetik, anak perempuan yang lahir dari ibu yang menderita
preeklampsia mengindikasikan adanya pengaruh genotip fetus
terhadap kejadian preeklampsia.
2) Iskemik plasenta, kegagalan invasi trofoblas ke arteri spiralis,
akibatnya terjadi gangguan aliran di daerah intervilli yang
menyebabkan penurunan perfusi darah ke plasenta. Hal ini
dapat menimbulkan iskemik dan hipoksia di plasenta yang
berakibat terganggunya pertumbuhan bayi intrauterin (IUGR)
hingga kematian bayi.
3) Hipoksia pada fetus / plasenta, Kekurangan oksigen pada fetus
atau plasenta akan menginduksi vasokonstriksi fetoplasenta
dan kegagalan fungsi trofoblas.
17
4) Disfungsi endotel yaitu, suatu keadaan dimana didapatkan
adanya ketidak seimbangan antara faktor vasodilatasi dan
vasokonstriksi.
5) Imunologis, pada penderita preeklampsia terjadi penurunan
jumlah T-helper dibandingkan dengan penderita normotensi
yang dimulai sejak awal trimester 2, antibodi yang melawan sel
endotel ditemukan pada 50% wanita dengan preeklampsia.
c. Patofisiologi
Vasopasme adalah dasar patofisiologi preeklampsi-eklampsi.
Konstriksi vaskular menyebabkan resistensi aliran darah dan
berperan dalam terjadinya hipertensi arteri. Kelainan vaskular
disertai hipoksia lokal jaringan disekitarnya mungkin menyebabkan
perdarahan, nekrosis, dan kelainan endorgan lain kadang-kadang
dijumpai pada preeklampsia berat.
Hemokonsentrasi sering terjadi pada perempuan dengan
preeklampsia berat dan eklampsia. Perempuan dengan ukuran
tubuh rata-rata diperkirakan memiliki volume darah hampir 5000 ml
selama beberapa minggu terakhir kehamilan normal, dibandingkan
dengan sekitar 3500 ml saat tidak hamil. Namun, pada eklampsia,
sebagian besar atau seluruh tambahan darah 1500 ml tersebut
yang biasanya terdapat diakhir kehamilan dapat diperkirakan tidak
ada. Oleh karena itu, perempuan dengan eklampsia sangat peka
terhadap terapi cairan dalam jumlah besar yang diberikan sebagai
usaha untuk menambah volume darah yang berkurang untuk
mencapai kadar, seperti kehamilan normal. Pasien juga peka
terhadap perdarahan dalam jumlah normal saat partus.
(Cunningham, 2012).
18
d. Epidemiologi
Pada tahun 2010, angka kejadian preeklampsia dan eklampsia
meningkat di negara-negara yang sedang berkembang, dari 15%
setiap tahunnya meningkat menjadi 30% dan 15% berakhir dengan
kematian ibu. Di Indonesia, angka kejadian preeklampsia berkisar
antara 3,4 – 8,5% (Fauziyah, 2012).
e. Klasifikasi
1) Preeklampsia ringan
a) Pengertian
Preeklampsia ringan adalah timbulnya hipertensi
disertai proteinuria dan atau edema pada umur kehamilan
20 minggu atau lebih atau pada massa nifas. Gejala ini
dapat timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu pada
penyakit trofoblas (Nugroho, 2012).
b) Diagnosis : i) Tekanan darah sistolik/diastolik ≥140/90
mmHg. Kenaikan sistolik ≥30 mmHg dan kenaikan
diastolik ≥15 mmHg; ii) Proteinuria secara kuantitatif lebih
0,3 gr/liter dalam 24 jam atau secara kualitatif + 1 atau +
2; iii) Edema pada pretibia, dinding abdomen,
lumbosakral, wajah atau tangan (Maternity dkk, 2016)
2) Preeklampsia berat
a) Pengertian
Preeklampsia berat adalah preeklampsia dengan
tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan tekanan darah
diastolik ≥ 110 mmHg disertai proteinuria dan atau edema
pada kehamilan 20 minggu atau lebih (Nugroho, 2012)
19
b) Diagnosis : i) Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan
tekanan darah diastolik ≥ 110 mmHg; ii) Proteinuria lebih 5
g/24 jam atau kualitatif 3+ atau 4+; iii) Oliguria, yaitu
produksi urin kurang dari 500 cc/24 jam; iv) adanya
gangguan serebral, ganggua penglihatan, dan rasa nyeri di
epigastrium; v) Edema paru-paru dan sianosis; vi)
Trombositopenia berat : < 100.000 sel/mm3 atau penuruna
trombosit dengan cepat; vii) Gangguan fungsi hepar
(kerusakan hepatoselular) : peningkatan kadar alanin dan
aspartate aminotransferase; viii) Pertumbuhan janin
intrauterin yang terhambat (IUGR); ix) Sindrom HELLP
(Hemolysis Elevated Liver enzim Low Platelet count)
(Maternity dkk, 2016).
f. Tanda gejala
1) Hipertensi, merupakan kelainan mendasar pada
pereeklampsia adalah vasopasme arteriol sehingga tidaklah
mengejutkan bahwa tanda yang paling dapat diandalkan
adalah peningkatan tekanan darah.
2) Pertambahan berat badan, peningkatan berat badan secara
mendadak mungkin mendahului timbulnya preeklampsia.
Pertambahan berat badan yang berlebihan pada sebagian
perempuan merupakan tanda awal, peningkatan berat sekitar
1 pon (0,5 kg) per minggu adalah normal, tetapi jika
pertambahan berat jauh melebihi 2 pon (1 kg) pada satu
minggu tertentu atau 6 pon (3 kg) dalam sebulan, harus
dicurigai kemungkinan akan timbulnya preeklampsia.
Karakteristik preeklampsia adalah peningkatan berat badan
20
yang mendadak bukan peningkatan yang tersebar merata
selama gestasi. Peningkatan berat yang berlebihan dan
mendadak hampir selalu disebabkan oleh retensi cairan yang
abnormal dan timbul, biasanya sebelum tanda-tanda edema
terlihat, biasanya pembengkakan kelopak mata atau jari.
3) Nyeri kepala, nyeri kepala jarang terjadi pada kasus yang
ringan, tetapi sering pada kasus yang parah. Nyeri kepala
umumnya terletak di frontal dan kadang-kadang di oksipital,
dan resisten terhadap pemberian analgesik biasa. Pada
perempuan yang mengalami eklmapsia, nyeri kepala hampir
selalu mendahului kejang yang pertama.
4) Nyeri abdomen, nyeri epigastrium atau kuadran kanan atas
sering merupakan gejala preeklampsia berat dan dapat
mengindikasikan bahwa akan segera terjadi kejang. Keluhan
ini mungkin disebabkan oleh peregangan kapsul hati karen
edema dan perdarahan.
5) Gangguan penglihatan, berbagai gangguan penglihatan, mulai
dari kekaburan penglihatan ringan sampai skotoma hingga
kebutaan parsial atau total, dapat mnyertai preeklampsia.
Kelainan ini terjadi akibat pasopasme, iskemia, dan
perdarahan petekial di dalam korteks oksipitalis. Pada
sebagian perempuan, gejala-gejala penglihatan terjadi akibat
spasme arteriol retina, iskemia, dan edema, dan pada kasus-
kasus yang jarang, ablasio retina.
6) Temuan laboratorium, derajat proteinuria sangat berbeda-
beda pada preeklampsia, tidak saja dari satu kasus ke kasus
lain tetapi juga dari jam ke jam pada perempuan yang sama.
21
Dari bentuk yang paling parah, proteinuria biasanya mudah
diketahui dan mungkin mencapai 10 gr/24 jam. Proteinuria
hampir selalu timbul setelah hipertensi dan biasanya lebih
belakangan daripada penambahan berat badan yang
berlebihan (Cunningham, 2012)
g. Faktor resiko
Menurut Maternity (2016) ada beberapa faktor resiko dari
preeklampsia yaitu: 1) Primigravida; 2) Riwayat keluarga dengan
preeklampsia atau eklampsia; 3) preeklampsia pada kehamilan
sebelumnya; 4) ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun atau
lebih dari 35 tahun; 5) wanita dengan gangguan fungsi organ
(diabetes melitus, penyakit ginjal, migraine, dan tekanan darah
tinggi) ; dan 6) kehamialn dengan gameli.
h. Pencegahan
Menurut Maternity, dkk (2016) pencegahan yang dapat
dilakukan untuk mencegah terjadinya preeklampsia yaitu :
1) Pemeriksaan antenatal teratur dan bermutu serta teliti,
mengenal tanda sedini mungkin (preeklampsia ringan), lalu
diberikan pengobatan yang adekuat supaya penyakit tidak
menjadi lebih berat.
2) Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya
preeklmapsia kalau ada faktor-faktor predisposisi (Maternity
dkk, 2016).
i. Penatalaksanaan
1) Penatalaksanaan preeklampsia ringan
Perawatan pasien dengan preeklampsia ringan yaitu : a)
Banyak istirahat (berbaring tidur atau miring); b) Tidak perlu
22
segera diberikan obat anti hipertensi atau obat lainnya, tidak
perlu dirawat kecuali tekanan darah meningkat terus (140 – 150
/ 90 – 100 mmHg); c) Pemberian luminal 1 sampai 2 x 30
mg/hari bila tidak bisa tidur; d) Pemberian asam asetilsalisilat
(aspirin) 1 x 80 mg/hari; e) Bila tekanan darah tidak turun
dianjurkan dirawat dan diberikan obat anti hipertensi (Metildopa
3 x 125 mg/hari maksimal 1.500 mg/hari, Nifedipin 3-8 x 5-10
mg/hari, atau Nifedipin retard 2-3 x 20 mg/hari atau Pindolol 1-3
x 5 mg/hari maksimal 9 – 30 mg/hari); f) Diet cukup protein,
rendah karbohidrat, lemak dan garam; g) Jika maturasi janin
masih lama, lanjutkan kehamilan periksa tiap 1 minggu sekali;
h) Indikasi rawat jika ada perburukan, tekanan darah tidak turun
setelah rawat jalan, peningkatan berat badan melebihi 1
kg/minggu 2 kali berturut-turut atau pasien menunjukkan
preeklampsia berat; i) Jika dalam perawatan tidak ada
perbaikan, tatalaksana sebagai preeklampsia berat; j) Jika ada
perbaikan lanjutkan rawat jalan; k) pengakhiran kehamilan
ditunggu sampai usia kehamilan 40 minggu, kecuali ditemukan
pertumbuhan janin terhambat, gawat janin, sulosio plasenta,
eklampsia atau indikasi terminasi kehamilan lainnya; dan
l) persalinan dalam preeklampsia ringa dapat dilakukan secara
spontan atau dengan bantuan ekstraksi untuk mempercepat
kala II (Maternity, 2016).
2) Penatalaksanaan preeklampsia berat
Menurut Nugroho (2012) perawatan preeklampsia berat
terbagi menjadi dua yaitu :
23
a) Perawatan aktif
sedapat mungkin sebelum dilakukan perawatan aktif
setiap penderita dilakukan pemeriksaan fetal assement (NST
dan USG).
Indikasi : ibu, usia kehamilan 37 minggu atau
lebih,adanya tanda-tanda atau gejala impending eklampsia,
kegagalan teori konservatif yaitu setelah 6 jam pengobatan
medikamentosa terjadi kenaikan tekanan darah atau setelah
24 jam terapi medikamentosa tidak ada perbaikan;
janin,hasil fetal assement jelek (NST dan USG), adanya
tanda IUGR; dan Laboratorium, adanya “HELLP
syndrome” (Hemolisis dan peningkatan fungsi hepar,
trombositipenia).
Pengobatan medikamentosa yaitu: segera masuk
rumah sakit, tirah baring miring kesatu sisi (sebaiknya kiri),
TTV setiap 30 menit, refleks patella tiap jam, pasang infuse
dextrose 5% dimana setiap 1 liter diselingi denga infus RL
(60-125 cc/jam) 500 cc, diet cukup protein, rendah
karbohidrat, lemak dan garam, pemberian obat anti kejang
(Diazepam 20 mg IV dilanjutkan dengan 40 mg dalam
dextrose 10% selama 4-6 jam atau MgSO4 40% 5 gram IV
pelan-pelan dilanjutkan 5 gram dalam RL 500 cc untuk 6
jam): diuretik furosemid 40 mg Iv diberikan bila ada tanda-
tanda payah jantung kongestif atau edema anasarka, dan
edema paru, bila tekanan darah 180/110 mmHg dapat
diberikan katepras ½ - 1ampul IM dan diulang tiap 4 jam
24
atau Alfametildopa 3 x 250 mg dan Nifedipin sublingual 5 –
10 mg.
Obat-obatan antipiretik diberikan bila suhu rektal lebih
38,50C, antibiotik diberikan atas indikasi (diberikan Ampicilin
1 gr / 6 jam atau IV /hari, dapat diberikan Petidin HCL 50-57
mg sekali saja bila penderita merasakan kesakitan akibat
kontraksi selambat-lambatnya 2 jam sebelun janin lahir.
Pengobatan obstetrik, terminasi kehamilan yang belum
inpartu lakukan induksi persalinan dengan oksitosin, seksio
sesaria bila fetal assement jelek, 12 jam setelah diberikan
oksitosin belum masuk fase aktif, dan primigravida.
Terminasi kehamilan sudah inpartu, 6 jam belum
masuk fase aktif maka dilakukan seksio sesaria, bila msuk
fase aktif amniotomi dan dalam 6 jam tidak terjadi
pembukaan lengkap maka dilakukan seksio sesaria, pada
persalinan pervaginam maka kala II diselesaikan dengan
partus buatan, amniotomi dan tetesan oksitosin dilakukan
sekurang-kurangnya 3 menit setelah pemberian terapi
medikamentosa, pada kehamilan 32 minggu atau kurang bila
keadaan memungkinkan terminasi ditunda 2 kali 24 jam
untuk memberikan kortikosteroid.
b) Perawatan konservatif
Indikasi bila kehamilan preterm kurang dari 37 minggu
tanpa disertai tanda-tanda impending eklampsia dengan
keadaan janin baik. Terapi medikamentosa berikan MgSO 4
diberikan secara IM 4 gram pada bokong kanan dan 4 gam
pada bokong kiri.
25
Pengobatan obstetri selama perawatan konservatif
observasi dan evaluasi sama seperti perawatan aktif hanya
disini tidak dilakukan terminasi, MgSO4 dihentikan bila ibu
sudah memiliki tanda-tanda preeklampsia ringan selambat-
lambatnya dalam 24 jam, bila tidak ada perbaikan lakukan
terminasi, Penderita dipulangkan bila penderita kembali ke
gejala-gejala preeklampsia ringan dan telah dirawat selama
3 hari.
4. Eklampsia
a. Pengertian
Eklampsia adalah penyakit akut dengan kejang dan coma
pada wanita hamil dan dalam masa nifas disertai dengan hypertensi
oedema dan proteinuria (Manuaba, 2010).
Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam
persalinan atau masa nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang
(bukan timbul akibat kelianan neurologik) dan atau koma dimana
sebeblumnya sudah menunjukkan gejala – gejala pre eklampsia
(Prawirohardjo, 2013).
Eklampsia merupakan kasus akut pada penderita
preeklampsia, yang disertai dengan kejang menyeluruh dan koma.
(Saifuddin, 2012).
Eklampsia lebih sering terjadi pada primagravida dari pada
multiparae. Eklampsia juga sering terjadi pada : kehamilan kembar,
hydramnion, mola hidatidosa. Eklampsia post partum umumnya
hanya terjadi dalam waktu 24 jam pertama setelah persalinan
(Cunningham. 2012)
26
b. Tanda dan Gejala
Eklampsia selalu didahului oleh gejala – gejala preeklampsia
yang berat seperti (Manuaba, 2012) :
1) Sakit kepala yang keras
2) Penglihatan kabur
3) Nyeri diulu hati
4) Kegelisahan dan hyperrefleksi sering mendahuli serangan
kejang
Serangan dapat dibagi dalam 4 tingkat :
1) Tingkat invasi (tingkat permulaan)
Mata terpaku, kepala dipalingkan kesatu pihak, kejang –kejang
hals terlihat pada muka. Tingkat ini berlangsung beberapa
detik.
2) Tingkat kontraksi (tingkat kejang tonis)
Seluruh badan menjadi kaku, kadang- kadang terjadi
ephistholonus, lamanya 15 sampai 20 detik.
3) Tingkat konvulsi (tingkat kejang clonis)
Terjadilah kejang yang timbul hilang, rahang membuka dan
menutup begitu pula mata, otot –otot muka dan otot badan
berkontraksi dan berelaksasi berulang. Kejang ini sangat kuat
hingga pasien dapat terlempar dari temapt tidur atau lidahnya
tergigit. Ludah yang berbuih bercampur darah keluar dari
mulutnya, mata merah, muka biru, berangsur kejang berkurang
dan akhirnya berhenti. Lamanya ± 1 menit.
4) Tingkat coma
Setelah kejang clonis ini pasien jatuh dalam coma. Lamanya
coma ini dari beberapa menit sampai berjam –jam. Kalau
27
pasien sadar kembali maka ia tidak ingat sama sekali apa yang
telah terjadi.
c. Penatalaksanaan
Perawatan dasar eklampsia ialah terapi suportif untuk
stabilisasi fungsi vital, yang harus selalu diingat airway, breathing,
circulation (ABC), mengatasi dan mencegah kejang, mengatasi
hipoksemia dan asidemia, mencegah trauma pada pasien pada
waktu kejang, mengendalikan tekanan darah, khususnya pada
waktu krisis hipertensi, melahirkan janin pada waktu yang tepat dan
dengan cara yang tepat (Manuaba, 2012)
Perawatan medikamentosa dan perawatan suportif eklampsia
merupakan peraatan yang sangat penting. Tujuan utama
pengobatan medikamentosa eklampsia ialah mencegah dan
menghentikan kejang, mencegah dan mengatasi penyulit,
khususnya hiprtensi krisis, mencapai stabilisasi ibu seoptimal
mungkin sehingga dapat melahirkan janin pada saat dan dengan
cara yang tepat (Nugroho, 2012)
1) Pengobatan medisinal
a) Obat antikejang
(1) Terapi pilihan pada preeklampsia adalah magnesium
sulfat (MgSO4). Sebaiknya MgSO4 diberikan terus-
menerut per i.v. atau berkala per i.m.
Pemberian IV terus menerus menggunakan infusion
pump :
28
(a) Dosis awal
4 gram MgSO4 20% (20 cc) dilarutkan kedalam
100 cc cairan Ringer Laktat atau Ringer Dextrose
selama 15-20 menit secara i.v
(b) Dosis pemeliharaan
10 gram MgSO4 20% dalam 500 cc RL/RD dengan
kecepatan 1-2 gram perjam
Pemberian IM berkala
(a) Dosis awal
4 gram MgSO4 20% (20 cc) i.v. denga kecepatan 1
gram permenit
(b) Dosis pemeliharaan
4 gram MgSO4 40% (10 cc) i.m. setiap 4 jam.
Tambahkan 1 cc lidokain 2% setiap pemberian
i.m. untuk mengurangi nyeri dan panas.
Syarat-syarat pemberian MgSO4
(a) Harus tersedia antidotum, yaitu kalsium glukonas
10% (1 gram dalam 10cc)
(b) Frekuensi pernafasan ≥16 kali permenit
(c) Produksi urin ≥ 30 cc perjam (≥0,5 cc/kg BB/ janin)
(d) Reflek patells positif
MgSO4 dihentikan pemberiannya bila :
(a) Ada tanda-tanda intoksikasi
(b) Setelah 24 jam pascasalin
(c) Dalam 6 jam pascasalin terjadi perbaikan
(normotensif)
29
(2) Diazepam
Dapat diberikan bila tidak tersedia MgSO4 sebagai
obat pilihan. Diazepam i.v. diberikan dengan dosis 10
mg dan dapat diulangi setelah 6 jam
b) Obat antihipertensi
Hanya diberikan bila tekanan darah sistolik > 180 mmHg
dan atau diastolik > 110 mmHg. Berbagai obat yang dapat
dipergunakan antara lain ;
(1) Hidralazine 2 mg i.v., dilanjutkan dengan 100 mg
dalam 500 cc NaCl secara titrasi sampai tekanan
darah sistolik < 170 mmHg dan diastolik <110 mmHg
(2) Labetalol 20 mg bolus i.v. Bila tidak berhasil
menurunkan tekanan darah selama 10 menit, labetalol
dapat diulangi dengan pemberian 40 mg, lalu 80 mg
setiap 10 menit (maksimal 220 mg) sampai tercapai
tekanan darah yang diinginkan.
(3) Nifedipin 10 mg per oral setiap 30 menit (maksimal 120
mg/hari) sampai tercapai tekanan darah yang
diinginkan. Nifedipin tidak boleh diberikan sublingual.
(4) Obat-obat lain seperti metildopa, nikardipin, verapamil,
nimodipin.
c) Lain-lain :
(1) Diuretikum
Tidak diberikan kecuali ada edema paru, gagal jantung
kongestif atau edema anasarka
(2) Kardiotonika
Bila ada tanda-tanda payah jantung
30
(3) Anti piretik
Bila ada demam
(4) Antibiotik
Bila ada tanda-tanda infeksi
(5) Anti nyeri
Bila penderita gelisah karena kesakitan
B. Kerangka Konsep
Menurut Notoatmodjo (2010), kerangka konsep penelitian adalah
suatu uraian dan visualisasi hubungan atau kaitan antara konsep satu
terhadap konsep yang lainnya, atau antara variabel yang satu dengan
variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti.
Berdasarkan tinjauan pustaka yang ada banyak faktor yang
mempengaruhi kejadia preeklampsia, tetapi yang dapat di operasionalkan
pada penelitian ini dapat digambarkan pada kerangka konsep di bawah ini:
Hematogram dan Fungsi Hati Preeklampsia dan
Eklampsia
Gambar 2.1 Kerangka Konsep