Karakteristik Pasar Oligopoli
Karakteristik Pasar Oligopoli
Stuktur pasar atau indusri oligopoly (oligopoly) adalah pasar (industry) yang terdiri dari hanya
sedikit perusahaan (produsen).Produk dapat Homogen atau terdeferensiasi. perilaku setiap
perusahaan akan memengaruhi perilaku perusahaan lainnya dalam [Link] definisi diatas,
kondisi pasar oligopoly mendekaati kondisi pasar [Link] semua bentuk pasar itu para
penjual memerhatikan respon lawan-lawannya.
Efisiensi skala besar di dalam efisiensi teknis (teknologi) dan efisiensi ekonomi (biaya produksi).
Profit hanya bisa tercipta apabila perusahaan mampu mencapai tingkat efisiensi. Efisiensi teknis
menyangkut pada penggunaan teknologi dalam proses produksi. Kemampuan produsen dalam
menempatkan sumber daya secara optimal. Efisiensi ekonomi menyangkut pada biaya produksi.
Bagaimana mengatur biaya pada komposisi yang tepat sehingga harga yang dipasarkan
merupakan harga yang bisa diterima pasar dan produsen. Kompleksitas manajemen (tingkat
kerumitan). Tingkat kerumitan dalam manajemen pengelolaan di suatu perusahaan. . Dalam
dunia nyata, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri mobil, semen, kertas, pupuk,
dan peralatan mesin, umumnya berstruktur oligopoly Tekhnologi padat modal (capital
intensive) yang dibutuhkan dalam proses produksi menyebabkan efisiensi (biaya rata-rata
minimum) baru tercapai bila output diproduksi dalam skala sangat besar. Keadaan diatas
merupakan hambatan untuk masuk (barriers to entry) bagi perusahaan pesaing. Tidak
mengherankan jika dalam pasar oligopoly hanya terdapat sedikit produsen.
b. Kompleksitas Manajemen
Berbeda dengan tiga struktur pasar lainnya (persaingan sempurna, monopoli,dan pasar
monopolistik), struktur pasar oligopoli ditandai dengan kompetisi harga dan non harga.
Perusahaan juga harus cermat memperhitungkan setiap keputusan agar tidak menimbulkan reaksi
yang merugikan dari perusahaan pesaing. Karena dalam industri oligopoli, kemampuan keungan
yang besar saja tidak cukup sebagai modal untuk bertahan dalam industri. Perusahaan juga harus
mempunyai kemampuan manajemen yang sangat baik agar mampu bertahan dalam struktur
industry yang persaingannya lebih kompleks. Tidak banyak perusahaan yang memilki
kemampuan tersebut, sehingga dalam pasar oligopoli akhirnya hanya terdapat sedikit produsen.
a. Pasar oligopoly hanya terdiri atas sekelompok kecil perusahaan. Dalam pasar
oligopoly terdapat beberapa perusahaan raksasa yang menguasai penjualan dan di samping itu
pula terdapat beberapa perusahaan kecil. Para perusahaan raksasa tersebut saling memengaruhi
satu sama lain. Sifat ini menyebabkan setiap perusaan harus mengambil keputusan dengan hati-
hati dalam mengubah harga, bentuk barang, corak produksi dan sebagainya. Sifat saling
memengaruhi (mutual interpendence) ini merupakan sifat khusus dari pasar oligopoli.
b. Barang yang diproduksi adalah barang yang standar atau barang yang berbeda corak atau
bisa bersifat homogen, dan bisa juga berbeda, namun memenuhi standar tertentu. Barang yang
diproduksi pada pasar ini ada kalanya merupakan barang yang standar misalnya pada industry
penghasil barang mentah (baja dan aluminium) dan industry bahan baku (semen dan bahan
bangunan). Selain itu pada pasar oligopoly juga memproduksi barang yang berbeda corak.
Barang yang diproduksi adalah barang akhir seperti industry mobil, industry rokok, industry
pesawat terbang, dan lain-lain.
Seperti pasar persaingan sempurna, jumlah pembeli di pasar oligopoli sangat banyak.
Umumnya adalah penjual-penjual (perusahaan) besar yang memiliki modal besar saja
(konglomerasi). Karena ada ketergantungan dalam perusahaan tersebut untuk saling menunjang.
Contoh: bakrie group memiliki pertambangan, property, dan perusahaan telefon seluler (esia)
Perusahaan yang telah lama dan memiliki pangsa pasar besar akan memainkan peranan untuk
menghambat perusahaan yang baru masuk ke dalam pasar oligopoly tersebut.
Untuk menciptakan brand image, menarik market share dan mencegah pesaing baru. Dalam
pasar ini peran iklan sangat membantu peusahaan dagang karena iklan dapat dengan mudah
diterima oleh masyarakat atau calon pembeli, oleh karena itu iklan terbukti ampuh dalam
menarik perhatian calon pembeli yang ingin memilih barang-barang , dengan mudah perusahaan
membuat iklan tentang produknya dengan keunggulan -keunggulan produknya dibanding produk
perusahaan lain atau perusahaan pesaing.
Dalam pasar oligopoli ini mengapa dikatakan sulit dimasuki oleh perusahaan baru, karena image
dari perusahaan yang sudah lama terbangun lebih kuat dengan pembeli di banding perusahaan
yang baru muncul yang menawarkan barang yang sama namun pembeli atau konsumen tidak tau
kualitas dari barang-barang yang dijual perusahaan baru tersebut.
Dalam pasar oligopoli ini harga yang keluar tidak cepat naik atau turun, bisa dikatakan harga
selalu stabil dan tidak mudah berubah, mungkin saja karena penjualan yang stabil terhadap suatu
produk yang diluncurkan oleh suatu perusahaan sudah cukup menghasilkan keuntungan, namun
apa bila tiba-tiba harga naik otomatis pembeli akan berfikir kembali untuk membeli produk ini
dan bisa jadi pembeli beralih pada produk perusahaan lainya yang menjual varian yang sama
namu harga lebih murah dengan kualitas yang hampir sama.
a. Oligopoli murni adalah menjual barang yang homogen. Biasanya banyak dijumpai dalam
industri yang menghasilkan bahan mentah atau merupakan praktek oligopoli dimana barang
yang diperdagangkan merupakan barang yang bersifat identik
b. Oligopoli Diferensial adalah menjual barang berbeda corak. Barang seperti itu umumnya
adalah barang akhir atau merupakan suatu bentuk praktek oligopoli dimana barang yang
diperdagangkan dapat dibedakan.
Kesepakatan antara perusahaan dalam pasar oligopoli biasanya berupa kesepakatan harga dan
produksi (kesepakatan ini kadang disebut sebagai “kolusi” atau “kartel”) dengan tujuan
menghindari perang harga yang akan membawa kerugian bagi masing-masing perusahaan pada
kondisi tertentu (contoh adalah kesepakatan produksi dan harga pada OPEC). Bentuk
persepakatan ini biasanya mengatur tentang banyaknya jumlah produksi yang boleh dihasilkan
oleh masing-masing perusahaan berikut dengan harganya yang sama juga. Kesepakatan dalam
jumlah produksi dapat berupa pembagian secara merata, yaitu pembagian produksi yang
didasarkan pada banyaknya jumlah permintaan efektif di pasar terhadap jumlah perusahaan yang
menghasilkan produk yang sama
Persaingan antar perusahaan dalam pasar oligopoli biasanya berupa perbedaan harga dan jumlah
produk yang dihasilkan. Perbedaan harga dan jumlah produksi (bisa saling berhubungan positif
timbal balik) dilakukan dalam rangka ingin mendapatkan jumlah pembeli yang lebih banyak dari
sebelumnya (dari pesaingnya). Terdapat beberapa hal yang mungkin terjadi dalam pasar
persaingan ini sehubungan dengan tingkat harga dan jumlah produksi (produk yang dihasilkan
relatif sama) yaitu sebagai berikut :
1) Bila terdapat satu perusahaan yang mencoba memperbanyak jumlah produksinya agar harga
jual produknya relatif lebih murah dibandingkan dengan pesaingnya, maka biasanya langkah ini
akan diikuti oleh pesaing dengan menurunkan harga jual produknya
2) Bila satu perusahaan mulai menurunkan harga jual produknya tanpa menambah jumlah
produksinya dengan maksud untuk menguasai pangsa pasar, maka langkahnya akan diikuti oleh
perusahaan lain, baik dengan cara menurunkan harganya semata atau menurunkan harga dengan
cara menjual lebih banyak produknya di pasar.
3) Bila satu perusahaan menaikkan harga jual produknya, baik dengan cara langsung pada
penurunan harga ataupun dengan cara mengurangi jumlah produksinya, maka perusahaan lain
relatif tidak akan mengikutinya.
Model Oligopoli
Begitu kompleksnya situasi dalam pasar oligopoli, sehingga para ekonom mengembangkan
berbagai model untuk menganalisis perilaku oligopolis. Sayangnya, tidak ada satu pun model
yang dapat diterima secara umum sebagai model terbaik. Berikut ini akan disampaikan beberapa
model oligopoli yang dikembangkan oleh para ekonom.
Model ini dikembangkan oleh P.M. Sweezy (1939). Sweezy beranggapan bahwa kalau ada
produsen dalam pasar oligopoli yang berusaha menaikkan harga maka ia akan kehilangan
langganan karena tak ada produsen lainnya yang bersedia menaikkan harga. Namun sebaliknya,
produsen dalam pasar oligopoli tidak dapat memperluas pasar dengan menurunkan harga sebab
para pesaing akan menurunkan harga dengan tingkat yang lebih rendah lagi. Akibatnya terjadilah
perang harga. Dalam hal ini para produsen dalam pasar oligopoli saling mempengaruhi pasar
oligopoli tidak dapat memperluas pasar dengan menurunkan harga sebab para pesaing akan
menurunkan harga dengan tingkat yang lebih rendah lagi. Akibatnya terjadilah perang harga.
Dalam hal ini para produsen dalam pasar oligopoli saling mempengaruhi, tetapi tidak melakukan
kolusi (kesepakatan).
Model Cournot yang disebut juga duopoli dikembangkan oleh Augustin Cournot seorang ahli
ekonomi berkebangsaan Perancis pada tahun 1838. Asumsi utama dari model ini adalah bahwa
jika perusahaan telah menentukan tingkat produksinya, ,aka perusahaan tersebut tidak akan
mengubahnya. Atas dasar asumsi inilah perusahaan pesaingnya akan menentukan tingkat
produksinya. Dalam pasar duopoli hanya terdapat dua perusahaan yang menjual produk yang
homogen, dengan demikian hanya terdapat satu harga pasar. Harga pasar ditentukan oleh
keseimbangan antara jumlah total output yang dihasilkan oleh dua perusahaan dengan
permintaan pasar.
a. Model Stackelberg (Stackelberg Model)
Dalam model Stackelberg diasumsikan bahwa di pasar terdapat dua perusahaan, satu bertindak
sebagai pemimpin (leader firm) dan satu perusahaan berlaku sebagai pengikut (follower).
Perusahaan yang bertindak sebagai pemimpin mempunyai kewenangan untuk menentukan
jumlah output yang akan dihasilkan untuk memperoleh keuntungan maksimum. Atas dasar
jumlah output yang telah ditentukan oleh perusahaan pemimpin ini, perusahaan pengikut akan
bereaksi sesuai dengan ketentuan pada model Cournot, yaitu menganggap bahwa perusahaan
pemimpin tidak akan mengubah tingkat outputnya.
Model perusahaan dominan adalah pengembangan lebih lanjut dari model Stackelberg. Dalam
model ini juga terdapat perusahaan dominan yang bertindak selaku pemimpin dasar serta
perusahaan-perusahaan lain sebagai pengikut. Perbedaannya adalah bahwa perusahaan-
perusahaan pengikut tidak bereaksi mengikuti model Cournut, melainkan mereka bereaksi
seolah-olah mereka berada dalam pasar yang bersaing sempurna. Dengan demikian perusahaan-
perusahaan pengikut bertindak sebagai penerima harga (price taker), yaitu akan menerima
berapapun harga yang ditetapkan oleh perusahaan pemimpin dan akan menghasilkan output pada
kondisi dimana marginal costnya sama dengan tingkat harga.
Perilaku Oligopoli
Perilaku oligopoli tidak dapat digambarkan secara menyeluruh dan umum, tetapi merupakan
teori-teori khusus yang menggambarkan perilaku untuk mencapai tujuannya (kinerja industri).
Kesulitan pertama karena adanya indeterminate, yakni tidak ada titik keseimbangan yang
deterministik. Beberapa teori yang diuraikan tadi adalah sekadar ilustrasi bagaimana berbagai
teori itu disusun dan dirumuskan dengan asumsi-asumsinya masing-masing. Setiap pengritik,
akan melihat bahwa kelemahan-kelemahan teori itu terletak pada asumsi-asumsinya. Para ahli
organisasi industri bertolak dari struktur telah mencoba melakukan kajian tentang perilaku
industri oligopoli yang kolusif, yakni model pimpinan harga. Hal ini pun masih dibagi lagi atas
tiga tipe, yakni tipe yang mempunyai biaya rendah, perusahaan yang dominan, dan barometrik.
Teori ini menganggap bahwa perusahaan yang berskala besar mengetahui seluruh biaya
perusahaan dan permintaan pasar. Semakin rendah tingkat harga semakin besar bagian
kebutuhan pasar yang dapat dipasok oleh perusahaan yang berskala besar.
Keseimbangan oligopolis
Penentuan harga output dalam pasar oligopoly yang tidak bergabung (non collusive
oligopoly) dalam model kurva permintaan bengkok atau The Kinked – Demand Model
Jika di dalam pasar oligopoly tidak terdapat kesepakatan diantara produsen yang
terdapat dipasar maka setiap tindakan yang dilakukan oleh suatu perusahaan akan
memancing perusahaaan lain. Apabila suatu perusahaan menurunkan harga maka,
perusahaan yang lain juga ikut menurunkan harga, sebab jika ia tidak ikut menurunkan
harga maka ia dapat kehilangan pelanggannya yang beralih pada perusahaaan yang
menurunkan harga produknya. Sebaliknya yang terjadi apabila suatu perusahaan menaikkan
harga produknya maka hal ini tidak akan diikuti oleh perusahaan yang lain sebab jika
perusahaan yang lain ikut menaikkan harga maka ia akan kehilangan banyak pelanggannya,
karena pelanggan akan berpindah menuju perusahaan yang menjual produk dengan harga
murah. Sehingga dapat disimpulkan dari asumsi diatas bahwasanya “dalam pasar non
collusive oligopoly penurunan ataupun kenaikan harga produk akan mendorong
perusahaaan lain untuk ikut menurunkan atau menaikkan harga” . Dalam hal ini
penurunan harga oleh suatu perusahaan yang diikuti dengan perusahaan yang lain, tetapi
aksi menaikkan harga yang cenderung tidak diikuti oleh pesaingnya mengakibatkan suatu
perusahaan menghadapi kurva permintaan yang patah atau bengkok (The Kinked Demand
Curve). Model ini pertama kali dikemukakan oleh seorang ekonom P. Sweezy pada tahun
1939. Sweezy dalam modelnya menggunakan kurva permintaan bengkok atau The Kinked-
Demand Curve sebagai alat analisanya. The Kinked Demand Curve , yaitu kurva permintaan
untuk mengantisipasi apabila terjadi kenaikan harga dan kurva permintaan untuk
mengantisipasi apabila terjadi penurunan harga. Pada model ini juga ditegaskan bahwa
perubahan pada biaya jarang sekali diimbangi dengan perubahan pada harga pasar,
dan bila perubahan pada harga pasar benar – benar terjadi dipasar oligopoly cenderung
terjadi dalam skala yang cukup besar. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut
Kurva D1 adalah kurva permintaan yang dihadapi oleh perusahaan oligopoly dengan
asumsi apabila ia merubah ( menaikkan atau menurunkan ) harga maka perusahaan lain
tidak memberikan reaksi terhadap perubahan harga tersebut. Sedangkan kurva D 2
merupakan kurva permintaan yang dihadapi pada perusahaan oligopoly dengan asumsi
perubahan harga produk yang dilakukannya akan diikuti oleh perusahaan lain yang ada
dalam industry yang sama. Misalkan perusahaan berada pada tingkat harga mula – mula Po,
jumlah permintaan yangdihadapi adalah sebayak Qo. Jika perusahaan tersebut menurunkan
harga produknya, maka jumlah permintaan akan suatu produk tersebut akan bertambah.
Seandainya penurunan harga Po ke P1 tersebut tidak diikuti oleh perusahaan lain maka
permintaan yang di hadapinya akan bertaabah sebesar Q a. Namun apabila perusahaan –
perusahaan lain dalam pasar oligopoly tersebut ikut menurunkan harga seperti yang telah di
lakukan oleh perusahaan pertama maka permintaan output yang dihadapi hanya cukup pada
Qb. Kenaikan ini hanya disebabkan oleh substitution effect dan income effect dari
pelanggannya.
Sebaliknya jika yang terjadi adalah suatu perusahaan berusaha menaikkan harganya
sebesar P2, sedangkan perusahaan lain tidak ikut dalam menaikkan harga atas produknya
yang dijual dan perusahaan lain itu tetap menjualnya dengan harga P o maka perusahaan
pertama ini akan banyak mengalami kehilangan pelanggan dan jumlah barang yang dapat
dijual hanya mampu bertahan pada Qd. Akan tetapi, jika perusahaan yang lain ikut
manaikkan harga , maka ia hanya akan mampu menjual jumlah output pada Qc, meskipun
resiko ia akan kehilangan konsumen atau pelanggan masih tetap terjadi.
Dengan asumsi bahwa suatu perusahaan tidak ingin kehilangan pelanggannya dan senang
ketika mendapat pelanggan yang baru maka perusahaan oligopoly tersebut akan berperilaku
sebagai berikut:
1. Mereka akan ikut menurunkan harga apabila ada perusahaan yang lain
didalam pasar yang ikut menurunkan harganya, sehingga ia tidak akan
kehilangan pelanggannya.
2. Mereka tidak akan ikut menaikkan harga, apabila perusahaan yang lain
menaikkan harga dari produk yang mereka jual. Karena apabila mereka tidak
ikut menaikkan hrga maka mareka akan mendapat tambahan pelanggan dari
perusahaan pertama yang telah menaikkan harga tersebut.
Maka berdasar asumsi tersebut diatas maka kurva permintaan dari perusahaan
oligopoly adalah berupa kurva bengkok (The Kinked Demand Curve) seperti yang telah
ditunjukkan oleh kurva d b D2 pada gambar diatas.
a. Patahan kurva terjadi pada titik potong antara kurva demand D1 dan D2.
Sehingga pada titik potong tersebut akan diperoleh Q1=Q2=Q dan D1=D2.
Dan jika P1=P2, sehingga : 7 – 0,025Q = 10 – 0,1Q atau 0,075 = 32
Q = 3 : 0,075 = 40 unit,
P1 = 7 – 0,025 (40) = 6 M,
P2 = 10 – 0,1 (40) = 6 M.
b. Batas atas dan batas bawah dari terputusnya kurva MR yang diskontinyu.
MR1=dTR1/dQ1
MR1=7 - 0,025Q1 ,
MR2=dTR2/dQ2
MR2=10 – 0,2Q2
2.2 Menentukan teori harga – output dalam pasar oligopoly yang bergabung (dalam
kaitannya menggunakan model penggabungan yaitu Kartel)
2. Anggota kartel biasanya akan berselisih pendapat mengenai kesepakatan kartel yang
di inginkan terutama mengenai jumlah output, harga, pembagian pangsa pasar dan
pembagian keuntungan.
3. Ancaman dari pemain-pemain baru karena keuntungan yang di peroleh oleh anggota
kartel.
Contoh dari kartel adalah OPEC, yaitu organisasi dari Negara-negara pengekspor minyak
yang didirikan pada tahun 1960. Sebagai sebuah kartel, OPEC adalah perusahaan dominan dalam
menetapkan harga minyak dunia.
Kartel dalam prakteknya ada dalam beberapa macam bentuk, yaitu kartel dengan tujuan
memaksimumkan keuntungan pasar ( industry profit maximization cartel ) dan kartel dengan
tujuan membagi pasar ( the sharing of the market cartel ).
Dalam gambar ini dimisalkan dipasar hanya ada dua oligopolies yang masing – masing
struktur ongkos seperti yang digambarkaoleh gambar 4.64 (a) dan (b). kurva – kurva MC yang
ad digambar tersebut kalau dijumlahkan dapat diperolehkuva MC yang ada pada gambar 4.64
(c). kurva MC ini merupakan kurva MC kartel.
Dengan kurva permintaan pasar tertentu atau misalkan kurva DD maka output optimal,
yaitu output yang menghasilkan keuntungan pasar maksimum yang dapat ditentukan. Output
optimal tersebut terjadi pada tingkat output Q = Q1 + Q2 , yaitu pada waktu kurva MR
berpotongan denagn kurva MC kartel. Dari gambar 4.64 dapat disimpulkan bahawa perusahaan
yang mempunyai struktur ongkos lebih rendah akan memproduksi output dalam jumlah yang
lebih banyak, meskipun demikian belum tentu berarti bahwa perusahaan yang memproduksi
output dalam jumlah yang lebih besar akan mendapatkan bagian keuntungan yang lebih bayak.
Pembagian keuntungan diantara para perusahaan angota kartel diatur oleh kartel itu sendiri.
Kartel dengan tujuan membagi pasar.
Dalam model ini ada dua konsep dasar yang dapat digunakanuntuk
pembagian pasar, yaitu : melaui kesepakatan tingkat harga jual atau non price
competition serta melalui penetapan kuota atau determination of quotas.
Dalam gambar ini diandaikan perusahaan B mempunyai struktur ongkos yang lebih
rendah dibanding A. Dengan demikian perusahaan B mempunyai dorongan untuk menentukan
harag yang lebih rendah dari harga yang ditetapkan monopolis. Sehingga perusahaan B akan
mendorong perusahaan A untuk keluar dari pasar. Oleh sebab inilah, be tuk kartel kedua ini
sering disebut dengan bentuk penggabungan yang tidak stabil.
Ketidakstabilan model ini juga dicerminkan oleh keadaan meskipun semua perusahaan
anggota kartel memiliki struktur ongkos yang sama jika ada satu diantaranya yang menetapkan
harga sedikit lebih rendah dari tingkat harga yang ditentukan kartel (Pm)
Akibatnya kurva permintaan yang dihadapi perusahaan ini akan lebih elastic dan
keuntungannya pun akan juga meningkat. Oleh karenanya model ini menjadi sangat tidak stabil
terkecuali kalau kartel belum – belum disiplin dan mengenakan sanksi yang cukup berat bagi
perusahaan – perusahaan anggota yang melanggar ketentuan – ketentuan yang telah ditentukan.
Kartel yang kurang disiplin banyak mengalami kegagalan.
Sedangkan pada metode kedua dimana pembagian pasar melalui perjanjian penetapan
kuota dapat dilakukan dengan suatu perjanjian yang berisi kesepakatan mengenai jumlah yang
dapat dijual oleh masing – masing perusahaan anggota kartel pada tingkat harga yang telah
ditetapkan. Contoh misalanya di pasar hanya ada dua perusahaan yang masing – masing
mempunyai struktur ongkos yang sama. Dalam hal ini masing – masing perusahaan akan
menerima harga jual seperti halnya harga monopolis dan masing – masing akan menerima
bagian setengah dari pasar.
Dalam gambar 4.66 berikut ini, harga monopolis adalah (Pm) dan kuota yang disepakati
oleh masing – masing perusahaan adalah Q1 = Q2 = ½ Qm.
Disini jelas terlihat bahwa pembagian pasar berdasarkan kuota dengan memperhatikan
struktur ongkos produksi masing – masing perusahaan adalah tidak stabil. Pembagian pasar
untuk perusahaan – perusahaan yang mempunyai struktur ongkos yang berbeda ditentukan
berdasarkan kekuatan tawar – menawar. Kuota yang akhirnya diterima masing – masing
perusahaan ditentukan oleh dua hal yaitu, struktur ongkos produksi dan kemampuan tawar –
manawar pada waktu membentuk kartel.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan untuk pasar oligopoly model kartel yang
tergabung adalah model pasar yang tertutup. Sebab apabila masuk kepasar bebas maka akibatnya
perusahaan anggota kartel tidak dapat mem[erkirakan secara pasti perilaku perusahaan baru yang
masuk kepasar tersebut. Secara teori memang tidak ada kepastian bahwa perusahaan yang baru
tersebut akan menjadi anggota kartel. Sebaliknya , apabila kartel tersebut cukup menguntungkan
maka hal itu akan menarik perusahaan – perusahaan baru untuk masuk pasar. Dimana dalam hal
ini perusahaan baru tersebut ada tendensi untuk tidak menjadi anggota kartel, karena dengan cara
demikian mereka akan lebih baik sebab berarti kurva permintaan mereka lebih elastic. Artinya
mereka menetapkan harga lebih rendah dari harga yang ditetapkan oleh kartel akibatnya, mereka
akan menarik pelanggan yang banyak.
Pasar oligopoli yaitu pasar yang terdiri dari hanya beberapa produsen saja. Adakalanya pasar
oligopoli terdiri dari dua perusahaan saja dan pasar seperti itu dinamakan duopoli.
Berdasarkan analisis diatas dapatlah disimpulkan bahwa dalam pasar oligopoli dimana
perusahaan-perusahaan tidak melakukan kesepakatan diantara mereka, tingkat harga adalah
bersifat rigid, yaitu bersifat sukar mengalami perubahan. Ia cenderung untuk tetap berada pada
tingkat harga yang telah ditetapkan pada permulaannya. Dan kemungkinan mengurangi
persaingan dan memperoleh untung yang tidak normal ini menimbulkan akibat yang kurang
menguntungkan.
Apabila terjadi perang harga dalam pasar oligopoli maka konsumenlah yang akan diuntungkan,
sebaliknya jika produsen-produsen melakukan kerjasama maka konsumen yang akan dirugikan.