NAMA : MYMA APRILYA AHMAD
NIM : C014201037
1. Gangguan fungsional pada OA :
- Impairment (kelainan menyangkut struktur anatomi, fungsional organ, psikis yg dapat
disebabkan oleh penyakit, cedera atau kelainan kongenital) ; nyeri lutut, ROM terbatas,
kelainan genu (valgus atau varus)
- Disability (ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas pada tataran aktifitas manusia
normal, sebagai akibat dari kondisi impairment tadi) : gangguan transfer, gangguan
ambulasi, gangguan keseimbangan, gangguan ADL
- Handicap (kemunduran seseorang dalam interaksi dengan orang lain, lingkungan atau
kehidupan sosial akibat impairment atau disabilitas) : kesulitan dalam kegiatan sehari-hari
akibat rasa nyeri yang dirasakan.
2. Mengapa Diabetes Melitus dapat menyebabkan osteoarthritis?
Pada orang dengan diabetes melitus terutama wanita memiliki risiko untuk terkena
osteoartritis lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak mengidap diabetes. Hal ini
disebabkan karena keadaan kadar gula darah yang tinggi merusak sendi dan tulang selain
merusak pembuluh darah. Hiperglikemia adalah suatu kondisi medik berupa peningkatan
kadar glukosa darah yang merupakan tanda khas DM.
Hiperglikemia kronis terkait dengan kerusakan jangka panjang yang salah satunya
berhubungan dengan gangguan musculoskeletal. Patogenesis Diabetes Melitus terhadap
osteoarthritis genu berhubungan dengan adanya perubahan hormon dan metabolisme di
dalam tubuh, sehingga menyebabkan produksi reactive oxygen species (ROS), activated
glycation end process (AGEs), dan insulin growth factor-1 (IGF-1) meningkat. Hal tersebut
menyebabkan destruksi kartilago yang berperan terhadap terjadinya osteoarthritis.
3. Peranan otot terhadap sendi lutut
Otot dan sendi memiliki peranan penting yaitu untuk menggerakan tubuh manusia. Otot
yang melekat pada tulang memungkinkan tubuh bergerak. Selain gerakan, otot juga
membantu mengatur postur tubuh dan stabilitas sendi agar tidak terjadi perubahan fungsi
dan struktur tubuh.
Sendi lutut mempunyai fungsi sebagai stabilitas aktif sekaligus sebagai penggerak dalam
aktifitas sendi lutut, otot tersebut antara lain otot quadriceps femoris (vastus medialis,
vastus intermedius, vastus lateralis, rectus femoris). Keempat otot tersebut bergabung
sebagai grup ekstensor sedangkan grup fleksor terdiri dari otot gracilis, sartorius dan semi
tendinosus. Gerak rotasi pada sendi lutut dipelihara oleh otot-otot grup fleksor baik grup
medial/ endorotasi ([Link] tendinosus, semi membranosus, sartorius, gracilis, popliteus)
dan grup lateral eksorotasi ([Link] femoris, [Link] fascialata). Grup otot fleksor dan
grup lateral rotasi pada sendi lutut sebagai stabilisasi juga diperkuat oleh beberapa ligamen,
yaitu ligamen cruciatum anterior dan posterior yang berfungsi untuk menahan hiperekstensi
dan menahan bergesernya tibia ke depan (eksorotasi).
Pembatasan gerak disebabkan karena otot yang memendek menahan postur tubuh dalam
posisi yang salah. Jika dibiarkan dalam jangka waktu yang lama maka akan mengakibatkan
keausan pada permukaan sendi. Karena itu, untuk mempertahankan stabilitas postur yang
baik harus ada keseimbangan yang memadai antara otot penggerak utama dan otot yang
berlawanan agar tetap menjaga posisi sendi dengan benar sehingga tidak menyebabkan
munculnya syndrom nyeri pada sendi.
4. Latihan penguatan otot statik dan dinamis.
Latihan penguatan bisa dibedakan menjadi isometrik, isotonik, dan isokinetik.
Latihan penguatan isometrik adalah bentuk latihan statik, otot berkontraksi, dan
menghasilkan force tanpa perubahan panjang otot dan sedikit/tanpa gerakan sendi.
Latihan isometrik digunakan jika pasien tidak dapat mentoleransi gerakan sendi
berulang, misalnya pada sendi yang nyeri atau inflamasi. Latihan isometrik mudah
dipelajari dan bisa meningkatkan kekuatan otot dengan cepat, tetapi manfaat
fungsionalnya terbatas. Latihan ini mengencangkan otot dengan menarik ataupun
mendorong benda.
Latihan istonik salah satu Latihan yang bersifat dinamis. Prinsip Latihan ini yakni otot
bekerja mengalami pemendekan. Latihan kontraksi isotonik dapat dilakukan melalui
latihan beban dalam, yaitu beban tubuh sendiri, ataupun melalui beban luar seperti
mengangkat barbel atau menggunakan alat/mesin latihan kekuatan dan sejenisnya.
Isotonik diartikan sebagai pola kontraksi dengan tonus tetap, sebaliknya panjang
ukuran otot yang berubah/memendek. Kontraksi isotonik juga disebut kontraksi otot
konsentris atau dinamis.
Lamanya perlakuan kira-kira 10 detik, pengulangan 3 kali, dan istirahat 20 - 30 detik.
Namun dari hasil penelitian Muller (Bowers dan Fox, 1992) menyarankan bahwa 5 -
10 kontraksi maksimal dengan ditahan selama 5 detik adalah yang terbaik dilihat dari
sudut pandang cara berlatih.
Pada permulaan latihan, frekuensi latihan kekuatan isometrik adalah 5 hari/minggu.
Sebagai percobaan untuk mendapatkan hasil yang baik bisa pula dilaksanakan dalam
frekuensi latihan 3 hari/minggu. Sedangkan lamanya latihan paling sedikit 4 - 6
minggu.
Latihan isokinetik yakni kontraksi otot dengan kecepatan konstan dengan
menanggung beban yang proporsional dengan kekuatannya. latihan dengan gerak
terkendali, sehingga gerakan terjadi melalui rentang sendi pada kecepatan angular
konstan selama otot memendek atau memanjang dengan beban dapat bervariasi.
Latihan ini jarang digunakan karena memerlukan peralatan isokinetik dan
hubungannya dengan aktivitas fungsional belum jelas. Beberapa penulis mengatakan
bahwa latihan isokinetik dapat menguatkan otot lebih efisien dibandingkan latihan
isotonic. Prinsip latihan isokinetik adalah : (1) frekuensi latihan antara 2 - 4
hari/minggu, (2) lama latihan paling sedikit 6 minggu atau lebih, (3) gerakan yang
dilakukan dalam latihan harus mirip dengan keterampilan olahraga yang sebenarnya,
(4) kecepatan latihan harus secepat atau lebih cepat dari keterampilan olahraga yang
sesungguhnya, dan (5) jumlah kontraksi maksimal tiap set antara 8 - 15 RM, dengan
menggunakan 3 set Latihan.