0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan6 halaman

Penatalaksanaan Demam Tifoid di Puskesmas

Penyakit demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi dan ditandai dengan gejala demam, gangguan pencernaan, dan penurunan kesadaran. Penatalaksanaannya meliputi terapi suportif, antibiotik, dan edukasi masyarakat untuk mencegah penularan penyakit.

Diunggah oleh

puskesmas kaduhejo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan6 halaman

Penatalaksanaan Demam Tifoid di Puskesmas

Penyakit demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi dan ditandai dengan gejala demam, gangguan pencernaan, dan penurunan kesadaran. Penatalaksanaannya meliputi terapi suportif, antibiotik, dan edukasi masyarakat untuk mencegah penularan penyakit.

Diunggah oleh

puskesmas kaduhejo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENATALAKSANAAN

PENYAKIT THYPOID
No. Dokumen :

No. Revisi :
Tanggal Terbit : 02-01-2016
SOP
Halaman : 1/6

Kepala UPT. Puskesmas


UPT PUSKESMAS Kaduhejo
KADUHEJO Supriadi
NIP.

1. Pengertian Demam Typod adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri


Salmonela Enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonela Typhosa
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langlah langkah (panduan) bagi dokter /
paramedis dalam penanganan kasus Demam Typoid.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas No…………………………….. tentang
Kebijakan Pelayanan Klinis Puskesmas Kaduhejo

4. Referensi Panduan Praktis Klinis bagi Dokter Di Fasilitas


Pelayanan Kesehatan
Primer edisi revisi tahun 2014

5. Prosedur a) Keluhan utama


- Demam turun naik terutama sore dan malam hari dengan
pola intermiten dan kenaikan suhu step ladder. Demam tinggi dapat
terjadi terus menerus (demam kontinu) hingga minggu kedua.
- Sakit kepala (pusing-pusing) yang sering dirasakan di area frontal
- Gangguan gastrointestinal berupa konstipasi dan meteorismus atau
diare, mual, muntah, nyeri abdomen dan BAB berdarah
- Gejala penyerta lain, seperti nyeri otot dan pegal-pegal,
batuk, anoreksia, insomnia
- Pada demam tifoid berat, dapat dijumpai penurunan kesadaran
atau kejang.

b) Faktor Resiko
- Higiene personal yang kurang baik, terutama jarang mencuci
tangan.
- Hygiene makanan dan minuman yang kurang baik, misalnya
makanan yang dicuci dengan air yang terkontaminasi, sayuran
yang dipupuk dengan tinja manusia, makanan yang tercemar debu
atau sampah atau dihinggapi lalat.
- Sanitasi lingkungan yang kurang baik.
- Adanya outbreak demam tifoid di sekitar tempat tinggal sehari-hari.
-Adanya carrier tifoid di sekitar pasien.

c) Pemeriksaan Fisis
- Keadaan umum biasanya tampak sakit sedang atau sakit berat
- Kesadaran: dapat compos mentis atau penurunan kesadaran (mulai
dari yang ringan, seperti apatis, somnolen, hingga yang berat
misalnya delirium atau koma)
- Demam, suhu > 37,5oC
- Dapat ditemukan bradikardia relatif, yaitu penurunan frekuensi
nadi sebanyak denyut per menit setiap kenaikan suhu 1oC.
- Ikterus
- Pemeriksaan mulut: typhoid tongue, tremor lidah, halitosis
- Pemeriksaan abdomen: nyeri (terutama regio epigastrik),
hepatosplenomegali
- Delirium pada kasus yang berat

Pemeriksaan fisik pada keadaan lanjut


- Penurunan kesadaran ringan sering terjadi berupa apatis dengan
kesadaran seperti berkabut. Bila klinis berat, pasien dapat menjadi
somnolen dan koma atau dengan gejala-gejala psikosis (organic brain
syndrome).
- Pada penderita dengan toksik, gejala delirium lebih menonjol.
- Nyeri perut dengan tanda-tanda akut abdomen.

d) Pemeriksaan penunjang
1. Darah perifer lengkap beserta hitung jenis leukosis dapat
menunjukkan leukopenia / leukositosis / jumlah leukosit normal,
limfositosis relatif, monositosis, trombositopenia (biasanya ringan),
anemia.
2. Serologi
- Tes Widal tidak direkomendasi : Dilakukan setelah demam
berlangsung 7 hari. Interpretasi hasil positif bila titer aglutinin O
minimal 1/320 atau terdapat kenaikan titer hingga 4 kali lipat pada
pemeriksaan ulang dengan interval 5 –7 hari.
3. Kultur Salmonella typhi (gold standard) Dapat dilakukan
pada spesimen: a. Darah : Pada minggu pertama sampai akhir minggu
ke-2 sakit, saat demam tinggi b. Feses : Pada minggu kedua sakit
c. Urin : Pada minggu kedua atau ketiga sakit d. Cairan empedu : Pada
stadium lanjut penyakit, untuk mendeteksi carrier typhoid
4. Pemeriksaan penunjang lain sesuai indikasi klinis,
misalnya:
SGOT/SGPT, kadar lipase dan amylase
e) Penegakan Diagnosis
- Suspek demam tifoid (Suspect case)
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan gejala demam,
gangguan saluran cerna dan pet
anda gangguan kesadaran. Diagnosis
suspek tifoid hanya dibuat pada pelayanan kesehatan primer.
- Demam tifoid klinis (Probable case)
Suspek demam tifoid didukung dengan gambaran laboratorium
yang menunjukkan tifoid.

f). Diagnosis Banding


Demam berdarah dengue, Malaria, Leptospirosis, infeksi saluran
kemih, Hepatitis A, sepsis, Tuberkulosis milier, endokarditis
infektif, demam rematik akut, abses dalam, demam yang
berhubungan dengan infeksi HIV.

g) Penatalaksanaan
1. Terapi suportif dapat dilakukan dengan:
- Istirahat tirah baring dan mengatur tahapan mobilisasi
- Menjaga kecukupan asupan cairan, yang dapat diberikan secara
oral maupun parenteral
- Diet bergizi seimbang, konsistensi lunak, cukup kalori dan
protein, rendah serat.
- Konsumsi obat-obatan secara rutin dan tuntase. Kontrol dan
monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, kesadaran),
kemudian dicatat dengan baik di rekam medik pasien
2. Terapi simptomatik untuk menurunkan demam (antipiretik)
dan mengurangi keluhan gastrointestinal.
3. Terapi definitif dengan pemberian antibiotik. Antibiotik lini
pertama untuk demam tifoid adalah Kloramfenikol, Ampisilin atau
Amoksisilin (aman untuk penderita yang sedang hamil), atau
Trimetroprim - sulfametoxazole (Kotrimoksazol). Bila pemberian
salah satu antibiotik lini pertama dinilai tidak efektif, dapat diganti
dengan antibiotik lain atau dipilih antibiotik lini kedua yaitu
Seftriakson, Sefiksim, Kuinolon (tidak dianjurkan untuk anak <18
tahun karena dinilai mengganggu pertumbuhan tulang).
4. Persyaratan untuk pasien
- Gejala klinis ringan,tidak ada tanda-tanda komplikasi atau
komorbid yang membahayakan.
- Kesadaran baik.
- Dapat makan serta minum dengan baik.
- Keluarga cukup mengerti cara- cara merawat dan tanda-tanda
bahaya yang akan timbul dari tifoid.
- Rumah tangga pasien memiliki dan melaksanakan sistem
pembuangan eksreta (feses, urin, cairan muntah) yang memenuhi
persyaratan kesehatan.
- Keluarga pasien mampu menjalani rencana tatalaksana dengan
baik.

h) Konseling dan edukasi


Edukasi pasien tentang tata cara:
- Pengobatan dan perawatan serta aspek lain dari demam tifoid yang
harus diketahui pasien dan keluarganya.
- Diet, jumlah cairan yang dibutuhkan, pentahapan mobilisasi, dan
konsumsi obat sebaiknya diperhatikan atau dilihat langsung oleh
dokter, dan keluarga pasien telah memahami serta mampu
melaksanakan.
- Tanda-tanda kegawatan harus diberitahu kepada pasien dan
keluarga supaya bisa segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk
perawatan.
Pendekatan Community Oriented
Melakukan konseling atau edukasi pada masyarakat tentang aspek
pencegahan dan pengendalian demam tifoid, melalui:
- Perbaikan sanitasi lingkungan
- Peningkatan higiene makanan dan minuman
- Peningkatan higiene perorangan
- Pencegahan dengan imunisasi)

i) Kriteria rujukan
- Demam tifoid dengan keadaan umum yang berat (toxic typhoid).
- Tifoid dengan komplikasi.
- Tifoid dengan komorbid yang berat.
- Telah mendapat terapi selama 5 hari namun belum tampak perbaikan.

j) Komplikasi
Biasanya terjadi pada minggu kedua dan ketiga demam.
Komplikasi antara lain perdarahan, perforasi usus, sepsis,
ensefalopati, dan infeksi organ lain

k) Prognosis
Prognosis adalah bonam, namun ad sanationam dubia ad bonam,
karena penyakit dapat terjadi berulang.
6. Bagan Alir Keluhan Utama:
- Demam turun naik terutama
sore dan malam hari
-Sakit kepala (pusing-pusing)
-Gangguan pencernaan berupa
konstipasi dan meteorismus
atau diare, mual, muntah,
nyeri abdomen dan BAB
berdarah
-Gejala penyerta lain seperti nyeri
otot dan pegal-pegal, batuk,
anoreksia, insomnia
- Pada demam tifoid berat,
dapat dijumpai penurunan
kesadaran atau kejang

Faktor Resiko Pemeriksaan Fisik


- Higiene personal yang kurang baik - Keadaan umum : sakit sedang
- Higiene makanan dan minuman yang atau sakit berat
buruk. - Kesadaran: dapat terjadi
- Sanitasi lingkungan yang kurang baik.
- Adanya wabah demam tifoid penurunan kesadaran (mulai dari
-Adanya carrier tifoid di sekitar pasien yang ringan, seperti apatis,
somnolen, hingga yang berat
misalnya delirium atau koma)
- Demam, suhu > 37,5’C
- Pemeriksaan mulut: typhoid
tongue, tremor lidah, halitosis
- Pemeriksaan abdomen: nyeri ulu
hati, pembesaran hati limpa
-Delirium pada kasus yang berat

Pemeriksaan Penunjang:
a. Darah Rutin: leukopenia /leukositosis
trombositopenia (biasanya ringan),
anemia.
b. Serologi
Penegakan Diagnosis
]c. Tes Widal dilakukan setelah
-Suspek demam
demam berlangsung 7 hari. Kultur
tifoid (Suspect case): anamnesis
Salmonella typhi (gold standard)
dan pemeriksaan fisik
[Link] penunjang lain sesuai
-Demam tifoid klinis (Probable
indikasi, misalnya SGOT/SGPT
case) Suspek demam tifoid
didukung dengan gambaran
laboratorium

Penatalaksanaan
a). Terapi suportif dapat
Kriteria rujukan dilakukan dengan:
- Demam tifoid dengan keadaan umum yang - Istirahat tirah baring
berat (toxic typhoid). - Menjaga kecukupan asupan
- Tifoid dengan komplikasi. cairan,
- Tifoid dengan komorbid yang berat. -Diet bergizi seimbang,
-Telah mendapat terapi selama 5 hari namun konsistensi lunak, cukup
belum tampak perbaikan
7. Unit Terkait  Poli umum
 Poli MTBS
 UGD

8. Rekaman historis perubahan


No Yang dirubah Isi Perubahan Keterangan
1 Nomor SPO tidak ada Nomor SPO : Berdasarkan SK Kepala
SPO/UKP/VI/2022 Puskesmas tentang
penomoran SPO

2 Nomor SK Kepala Nomor SK Kepala Puskesmas Berdasarkan SK Kepala


Puskesmas Terlampir Puskesmas tentang
penomoran SK

3 Pengertian SPO Judul SPO adalah Sesuai pedoman


Penyusunan dokumen
akreditasi

4 Peralatan Poin peralatan ditiadakan Sesuai pedoman


Penyusunan dokumen
akreditasi

5 Hal – hal perlu diperhatikan dihapuskan Sesuai pedoman


Penyusunan dokumen
akreditasi

6 Bagan alir Penggunaan mikro atau makro Sesuai pedoman


Penyusunan dokumen
akreditasi

Anda mungkin juga menyukai