0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
808 tayangan10 halaman

Laporan Praktikum Pemeriksaan ALP

Laporan ini menjelaskan praktikum pemeriksaan kadar alkaline phosphatase (ALP) pada serum dengan metode fotometrik kinetic. Laporan ini menjelaskan tujuan, prinsip, prosedur, dan interpretasi hasil pemeriksaan ALP serta nilai referensinya pada dewasa dan anak-anak. Laporan ini juga menyertakan hasil pemeriksaan ALP pasien bernama Mr. X.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
808 tayangan10 halaman

Laporan Praktikum Pemeriksaan ALP

Laporan ini menjelaskan praktikum pemeriksaan kadar alkaline phosphatase (ALP) pada serum dengan metode fotometrik kinetic. Laporan ini menjelaskan tujuan, prinsip, prosedur, dan interpretasi hasil pemeriksaan ALP serta nilai referensinya pada dewasa dan anak-anak. Laporan ini juga menyertakan hasil pemeriksaan ALP pasien bernama Mr. X.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK

PEMERIKSAAN ALP
(ALKALINE PHOSPATASE)

Oleh :

Komang Nadila Arta Sabina (P07134012004)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR DIII
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2022
Pemeriksaan ALP
(Alkaline Phospatase)

Hari, tanggal praktikum : Selasa, 17 Mei 2022

I. Tujuan a. Tujuan Instruksional Umum


1. Mahasiswa mampu mengetahui prinsip pemeriksaan alkaline phospatase (ALP)
pada serum
2. Mahasiswa mampu memahami teknik/cara pemeriksaan alkaline phospatase (ALP)
pada serum
b. Tujuan Instruksional Khusus
1. Untuk mengetahui pemeriksaan alkaline phospatase (ALP)
2. Untuk mengetahui kadar alkaline phospatase (ALP) dari serum yang diperiksa.
II. Metode
Metode fotometrik kinetic berdasarkan German Society of Clinical Chemistry (DGKC)
III. Prinsip
Alkaline phospatase mengkatalisa dalam media alkali yang mentransfer p-
nitrophenylphospate menjadi p-nitrofenol. Kenaikan p-nitrofenol diukur secara fotometri
pada panjang gelombang 405 nm yang sebanding dengan aktivitas alkali phospatase
dalam sampel.
IV. Dasar Teori A. Hati
Hati merupakan kelenjar terbesar
dalam tubuh, terdapat di rongga perut
sebelahkanan atas, berwarna kecoklatan. Hati
mendapat suplai darah dari pembuluh nadi
(arteri hepatica) dan pembuluh gerbang (vena
porta) dari usus. Hati dibungkus oleh selaput
hati (capsula hepatica). Hati terdapat
pembuluh darah dan empedu yang
dipersatukan selaput jaringan ikat (capsula glison). Hati juga terdapat sel-sel perombak sel
darah merah yang telah tua disebut histiosit (Wahyu, 2014).
Hati manusia dewasa normal memiliki massa sekitar 1,4 Kg atau sekitar 2.5% dari
massa tubuh. Letaknya berada di bagian teratas rongga abdominal, disebelah kanan, dibawah
diagfragma dan menempati hampir seluruh bagian dari hypocondrium kanan dan sebagian
epigastrium abdomen. Permukaan atas berbentuk cembung dan berada dibawah diafragma,
permukaan bawah tidak rata dan memperlihatkan lekukan fisura transverses. Permukaannya
dilapisi pembuluh darah yang keluar masuk hati (Nur Hayati, 2013).
Sebagai alat eksresi hati menghasilkan empedu yang merupakan cairan jernih
kehijauan, di dalamnya mengandung zat warna empedu (bilirubin), garam empedu, kolesterol
dan juga bakteri serta obat-obatan. Zat warna empedu terbentuk dari rombakan eritrosit yang
telah tua atau rusak akan ditangkap histiosit selanjutnya dirombak dan haemoglobinnya
dilepas (Wahyu, 2014).
Hati pada manusia memiliki fungsi yang banyak, lebih dari 500 fungsi hati. Beberapa
fungsi hati yang penting antara lain menetralisir racun dalam tubuh sebagai organ yang
mengontrol lemak, asam amino dan kadar gula dalam darah, memerangi infeksi, memproses
makanan yang sudah selesai dicerna oleh usus halus, mengatur kerja empedu, menghasilkan
enzim dan protein yang berguna untuk berbagai proses dalam tubuh seperti dalam proses
pembekuan darah dan perbaikan jaringan tubuh yang rusak.
Fungsi hati biasanya tetap akan berfungsi dengan baik tanpa dipengaruhi faktor umur.
Namun, beberapa "musuh" yang dapat merusak hati antara lain karena konsumsi alkohol yang
berlebihan, perlemakan hati dan virus hepatitis yang menyerang hati. Pemeriksaan dini
terhadap fungsi hati dapat menyelamatkan hati agar dapat tetap menjalankan fungsinya.

B. Pemeriksaan Fungsi Hati


Pemeriksaan uji fungsi hati merupakan salah satu pemeriksaan kimia klinik yang
sering diminta oleh para dokter klinisi. Hal ini dikarenakan peran hati sebagai organ tubuh
yang penting, dan penyakit yang mengenai hati atau berkaitan dengan perubahan fungsi hati
cukup sering dijumpai. Fungsi hati yang merupakan organ pusat metabolisme banyak
macamnya. Karena itu uji fungsi hati juga banyak jenisnya. Untuk menilai fungsi hati,
mendeteksi adanya gangguan dan menegakkan diagnosisnya diperlukan pemahaman tentang
fungsi hati, jenis fungsi hai dan patofisiologi jenis-jenis penyakit hati. Umumnya pemeriksaan
dilakukan dengan beberapa jenis uji fungsi hati sebagai suatu panel.

C. Pemeriksaan ALP (Alkaline Phosphatase)


Fosfatase alkali (alkaline phosphatase, ALP) merupakan enzim yang diproduksi
terutama oleh epitel hati dan osteoblast (sel-sel pembentuk tulang baru); enzim ini juga
berasal dari usus, tubulus proksimalis ginjal, plasenta dan kelenjar susu yang sedang
membuat air susu. Fosfatase alkali disekresi melalui saluran empedu. Meningkat dalam
serum apabila ada hambatan pada saluran empedu (kolestasis). Tes ALP terutama digunakan
untuk mengetahui apakah terdapat penyakit hati (hepatobiliar) atau tulang (Siti B. Kresno, R.
Gandasoebrata, J. Latu. 1989).
Pada orang dewasa sebagian besar dari kadar ALP berasal dari hati, sedangkan pada
anak-anak sebagian besar berasal dari tulang. Jika terjadi kerusakan ringan pada sel hati,
mungkin kadar ALP agak naik, tetapi peningkatan yang jelas terlihat pada penyakit hati akut.
Begitu fase akut terlampaui, kadar serum akan segera menurun, sementara kadar bilirubin
tetap meningkat. Peningkatan kadar ALP juga ditemukan pada beberapa kasus keganasan
(tulang, prostat, payudara) dengan metastase dan kadang-kadang keganasan pada hati atau
tulang tanpa matastase (isoenzim Regan) (Sesuri, 2012).
Kadar ALP dapat mencapai nilai sangat tinggi (hingga 20 x lipat nilai normal) pada
sirosis biliar primer, pada kondisi yang disertai struktur hati yang kacau dan pada
penyakitpenyakit radang, regenerasi, dan obstruksi saluran empedu intrahepatik.
Peningkatan kadar sampai 10 x lipat dapat dijumpai pada obstruksi saluran empedu
ekstrahepatik (misalnya oleh batu) meskipun obstruksi hanya sebagian. Sedangkan
peningkatan sampai 3 x lipat dapat dijumpai pada penyakit hati oleh alcohol, hepatitis kronik
aktif, dan hepatitis oleh virus.
Pada kelainan tulang, kadar ALP meningkat karena peningkatan aktifitas osteoblastik
(pembentukan sel tulang) yang abnormal, misalnya pada penyakit Paget. Jika ditemukan
kadar ALP yang tinggi pada anak, baik sebelum maupun sesudah pubertas, hal ini adalah
normal karena pertumbuhan tulang (fisiologis). Elektroforesis bisa digunakan untuk
membedakan ALP hepar atau tulang. Isoenzim ALP digunakan untuk membedakan penyakit
hati dan tulang; ALP1 menandakan penyakit hati dan ALP2 menandakan penyakit tulang.
Jika gambaran klinis tisak cukup jelas untuk membedakan ALP hati dari
isoenzimisoenzim lain, maka dipakai pengukuran enzim-enzim yang tidak dipengaruhi oleh
kehamilan dan pertumbuhan tulang. Enzim-enzim itu adalah : 5’nukleotidase (5’NT), leusine
aminopeptidase (LAP) dan gamma-GT. Kadar GGT dipengaruhi oleh pemakaian alcohol,
karena itu GGT sering digunakan untuk menilai perubahan dalam hati oleh alcohol daripada
untuk pengamatan penyakit obstruksi saluran empedu (E.N. Kosasih & A.S. Kosasih, 2008).
Metode pengukuran kadar ALP umumnya adalah kolorimetri dengan menggunakan
alat (mis. fotometer/spektrofotometer) manual atau dengan analizer kimia otomatis.
Elektroforesis isoenzim ALP dilakukan untuk membedakan ALP hati dan tulang. Bahan
pemeriksaan yang digunakan berupa serum atau plasma heparin.

D. Nilai Rujukan
• DEWASA : 42 – 136 U/L, ALP1 : 20 – 130 U/L, ALP2 : 20 – 120 U/L, Lansia : agak
lebih tinggi dari dewasa
• ANAK-ANAK : Bayi dan anak (usia 0 – 20 th) : 40 – 115 U/L), Anak berusia lebih
tua (13 – 18 th) : 50 – 230 U/L.

V. Alat dan Bahan


a. Alat :
- Tabung reaksi
- Mikropipet 20 µl dan 500µl
- Yellow tip dan blue tip
- Kuvet
- Spektrofotometer

b. Bahan
- Reagen 1 ALP FS
- Reagen 2 ALP FS
Dari reagen 1 dan reagen 2 dibuat monoreagen yaitu dengan mencampurkan 4
bagian R1 dengan 1 bagian R2 (20 ml dan 5 ml)
- Sampel serum
VI. Cara Kerja
1. Semua alat dan bahan disiapkan terlebih dahulu.
2. Dipipet 1000µl monoreagen ALP FS, dimasukkan kedalam tabung reaksi.
3. Ditambahkan 20 µl sampel serum kedalam tabung reaksi tadi.
4. Stopwatch dihidupkan setelah sampel ditambahkan kedalam monoreagen.
5. Absorbansi larutan ini diukur menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang
405 nm.
6. Absorbansi dibaca pada menit ke-1, 2, dan 3.
7. Hasil data absorbansi sampel dicatat lalu dilakukan perhitungan kadar alkaline
phospatase dari sampel serum yang diperiksa.

VII. Interpretasi Hasil


• DEWASA : 42 – 136 U/L, ALP1 : 20 – 130 U/L, ALP2 : 20 – 120 U/L, Lansia : agak
lebih tinggi dari dewasa
• ANAK-ANAK : Bayi dan anak (usia 0 – 20 th) : 40 – 115 U/L), Anak berusia lebih
tua (13 – 18 th) : 50 – 230 U/L.

VIII. Hasil Pengamatan


A) Sampel Patologis
Nama Pasien : Mr. X
Umur : 20 th
Jenis kelamin : Laki-laki
No. Kode. :B

Hasil Pemeriksaan ALP :


Pada pemeriksaan ALP dengan pasien atas nama Mr.X didapatkan hasil pemeriksaan ALP
sebesar 392 U/I. Hasil tersebut sangat tinggi bila dibandingkan dengan interpretasi hasil dari
kadar ALP maka kemungkinan pasien tersebut mengalami gangguan hati.

B) Sampel Non-Patologis
Nama Pasien : Mahasiswa
Umur. : 20 tahun
Jenis kelamin. : Perempuan
No. Kode. :A

Hasil Pemeriksaan ALP :

Pada pemeriksaan ALP dengan pasien atas nama Mahasiswa didapatkan hasil pemeriksaan
ALP sebesar 223 U/I. Dari hasil pemeriksaan tersebut kemungkinan pasien mengalami
gangguan fungsi hati, namu dapat dikatakan juga kemungkinan hasil yang sangat tinggi pada
sampel Non-Patologis dikarnakan kesalahan dalam pemipetan sampel atau reagen dan bisa
juga karna kekeliruan hal yang lainnya

IX. Pembahasan
Uji Fungsi hati merupakan salah satu pemeriksaan kimia klinik yang seringdiminta oleh
para dokter klinisi. Hal ini dikarenakan peran ahti yang sebagi organ tubuh yang penting, dan
penyakit yang mengenai hati atau berkaitan dengan perubahan fungsi hati cukup sering dijumpai.
Fungsi hati yang merupakan organ pusat metabolism banyak macamnya. Karena itu uji fungsi
hati juga banyak jenisnya. Untuk menilai fungsi hati, mendeteksi adanya gangguan dan
menegakkan diagnosisnya diperlukan pemahaman tentang fungsi hati, jenis uji fungsi hati, dan
patofisiologi jenis-jenis penyakit hati. Umumnya pemeriksaan dilakukan dengan beberapa jenis
uji fungsi hati sebagai suatu panel. Salah satu pemeriksaan fungsi hati yang sering dilakukan
adalah pemeriksaan ALP.
Fosfatase alkali (alkaline phosphatase, ALP) merupakan enzim yang diproduksi terutama
oleh epitel hati dan osteoblast (sel-sel pembentuk tulang baru); enzim ini juga berasal dari usus,
tubulus proksimalis ginjal, plasenta dan kelenjar susu yang sedang membuat air susu. Fosfatase
alkali disekresi melalui saluran empedu. Meningkat dalam serum apabila ada hambatan pada
saluran empedu (kolestasis). Tes ALP terutama digunakan untuk mengetahui apakah terdapat
penyakit hati (hepatobiliar) atau tulang. Enzim ALP biasanya hadir dalam konsentrasi tinggi
pada darah yang tumbuh dan empedu dan dalam konsentrasi rendah pada darah. Fosfatase alkali
dilepaskan ke dalam darah dalam jumlah yang meningkat selama kerusakan sel-sel hati seperti
pada kondisi yang disertai struktur hati yang kacau dan pada penyakit-penyakit radang,
regenerasi, dan obstruksi saluran empedu intrahepatik dan selama aktivitas normal seperti
pertumbuhan tulang dan kehamilan. Tingkat abnormal rendah fosfatase alkali hadir dalam
kondisi genetik dan hipotiroidisme. Zat ini diukur dalam tes darah rutin. Pada kelainan tulang,
kadar ALP meningkat karena peningkatan aktifitas osteoblastik (pembentukan sel tulang) yang
abnormal. Jika ditemukan kadar ALP yang tinggi pada anak, baik sebelum maupun sesudah
pubertas, hal ini adalah normal akibat pertumbuhan tulang.
Pada Praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan kadar ALP (alkaline phosphatase), fdengan
metode kolorimetri menggunakan alat spektrofotometer, berdasarkan prinsip yakni Alkali
phosphatase mengkatalisa dalam media alkali yang mentransfer p-nitrophenylphospate menjadi
p-nitrofenol. Kenaikan p-nitrofenol diukur secara fotometri pada panjang gelombang 405 nm
yang sebanding dengan aktifitas alkali phosphatase dalam sampel. Sampel yang digunakan
adalah sampel serum dengan kode sampel

Syarat bahan pemeriksaan :


- Spesimen terbaik : Serum
- Tidak berasal dari darah yang hemolis
- Bila pemeriksaan akan ditunda serum disimpan 2˚-8˚C
- Penundaan pemeriksaan tdk boleh lebih dari 2 hari
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
1. Sampel hemolisis,
2. Pengaruh obat-obatan tertentu (lihat pengaruh obat),
3. Pemberian albumin IV dapat meningkatkan kadar ALP 5-10 kali dari nilai normalnya,
4. Usia pasien (mis. Usia muda dan tua dapat meningkatkan kadar ALP), meningkatnya kadar
ALP terjadi karena pada usia muda tulang sedang mengalami proses petumbuhan sehingga
kadar ALP meningkat.
5. Kehamilan trimester akhir sampai 3 minggu setelah melahirkan dapat meningkatkan kadar
ALP.

X. Kesimpulan
1. pemeriksaan ALP dengan pasien atas nama Mr.X didapatkan hasil pemeriksaan ALP
sebesar 392 U/I. Hasil tersebut sangat tinggi bila dibandingkan dengan interpretasi hasil
dari kadar ALP maka kemungkinan pasien tersebut mengalami gangguan hati.

2. Pada pemeriksaan ALP dengan pasien atas nama Mahasiswa didapatkan hasil
pemeriksaan ALP sebesar 223 U/I. Dari hasil pemeriksaan tersebut kemungkinan
pasien mengalami gangguan fungsi hati, namu dapat dikatakan juga
kemungkinan hasil yang sangat tinggi pada sampel Non-Patologis dikarnakan
kesalahan dalam pemipetan sampel atau reagen dan bisa juga karna kekeliruan
hal yang lainnya

XI. Daftar Pustaka


D.N. Baron, alih bahasa : P. Andrianto, J. Gunawan. 1990. Kapita Selekta Patologi Klinik,
Edisi 4. Jakarta : EGC
E.N. Kosasih & A.S. Kosasih. 2008. Tafsiran Hasil Pemeriksaan Laboratorium Klinik, Edisi
2. Tangerang : Karisma Publishing Group.
Joyce LeFever Kee. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik, Edisi 9.
Jakarta :EGC
Nur Hayati, 2013, Fungsi dan Pengertian Hati pada Manusia, online,
[Link]
[Link], 14 Juni 2014
Riswanto, 2009, Fosfatase Alkali, online,
[Link] 14 Juni 2014

The Royal College of Pathologists of Australasia. 1990. Manual of Use and Interpretation
of Pathology Tests. South Australia : Griffin Press Ltd., Netley

Anda mungkin juga menyukai