0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan14 halaman

Jenis dan Sifat Gula dalam Pratikum

Dokumen tersebut merangkum hasil praktikum tentang jenis-jenis gula dan penetapan sifat-sifatnya. Dibahas jenis-jenis gula seperti gula pasir, gula merah, gula semut, gula batu, HFS, dan sirup glukosa serta perbandingan sifat organoleptiknya. Tujuan praktikum adalah mahasiswa dapat mengenal dan membedakan sifat fisik masing-masing jenis gula.

Diunggah oleh

Afridwi Irawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan14 halaman

Jenis dan Sifat Gula dalam Pratikum

Dokumen tersebut merangkum hasil praktikum tentang jenis-jenis gula dan penetapan sifat-sifatnya. Dibahas jenis-jenis gula seperti gula pasir, gula merah, gula semut, gula batu, HFS, dan sirup glukosa serta perbandingan sifat organoleptiknya. Tujuan praktikum adalah mahasiswa dapat mengenal dan membedakan sifat fisik masing-masing jenis gula.

Diunggah oleh

Afridwi Irawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRATIKUM TEKNOLOGI GULA DAN KEMBANG GULA

PENGENALAN JENIS GULA DAN PENENTUAN SIFAT-SIFATNYA

OLEH KELOMPOK 5:

Clara Sania Krisanta (1610511048)

Dara Widya Yudhistira (1610511049)

Vina Prilatmi Anggraeni (1610511050)

Lenovia Idha Pola Sitohang (1610511055)

Bryan (1610511060)

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2019

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gula adalah suatu karbohidrat sederhana karena dapat larut dalam air dan
langsung diserap tubuh untuk diubah menjadi energy (Darwin.2013). Gula umumnya
bersifat antara lain, berasa manis, tidak berbau, tidak berwarna, dapat mengkristal,
dan larut dalam air. Selama proses pengolahan sifat fisik gula menjadi berubah,
tergantung dari lama pengolahan dan jenis dan kandungan bahan baku dari gula
tersebut. Secara umum,gula dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Monosakarida, Sesuai dengan namanya yaitu mono yang berarti satu, ia


terbentuk dari satu molekul gula. Yang termasuk monosakarida
adalah glukosa, fruktosa, galaktosa.
2. Disakarida, Berbeda dengan monosakarida, disakarida berarti terbentuk dari
dua molekul gula. Yang termasuk disakarida
adalah sukrosa (gabungan glukosa dan fruktosa), laktosa (gabungan
dari glukosa dan galaktosa) dan maltosa (gabungan dari dua glukosa)

Dalam pratikum kali ini,yang dibahas adalah jenis produk-produk gula yang
umumnya berada di pasaran. Jenis-jenis gula yang akan dipakai kali ini adalah Gula
pasir, Gula merah, Gula semut, Gula batu, HFS, dan Sirup glukosa. Setiap jenis gula
akan dibandingkan secara organoleptik meliputi rasa,aroma, dan teksturnya.

1.2 Tujuan
1. Mahasiwa dapat mengenal jenis-jenis gula dan dapat melaksanakan penetuan sifat-
sifat fisik masing-masing jenis gula yang ada

2. Mahasiswa dapat membedakan sifat-sifat fisik terpenting dari masing-masing jenis


gula yang ada.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gula

Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat maupun industri


makanan dan minuman. Gula digunakan sebagai bahan pemanis utama dan belum
dapat digantikan oleh bahan pemanis lainnya. Gula merupakan suatu karbohidrat
sederhana yang dapat menjadi sumber energi dan termasuk komoditi perdagangan
utama. Gula umumnya diperdagangkan dalam bentuk kristal sukrosa padat. Gula
berfungsi untuk mengubah rasa menjadi manis pada makanan atau minuman. Selain
itu, gula jenis monosakarida seperti glukosa dapat digunakan mikroba untuk diubah
menjadi sumber energi.

Gula sebagai sukrosa diperoleh dari nira tebu, bit gula, atau aren. Sumber-sumber
pemanis lain, seperti umbi dahlia, anggir, atau jagung, juga menghasilkan semacam
gula/pemanis namun bukan tersusun dari sukrosa. Proses untuk menghasilkan gula
mencakup tahap ekstrasi (pemerasan) diikuti dengan pemurnian melalui distilasi
(penyulingan).

2.2. Jenis – Jenis Gula

1. Gula Pasir

Di Indonesia, gula pasir merupakan salah satu kebutuhan bahan pokok dan
merupakan komoditas pangan yang strategis dalam beras. Gula pasir disebut juga
dengan sukrosa dan gula kristal putih. Gula pasir merupakan bahan pemanis alami
dari bahan baku tebu atau bit yang digunakan untuk keperluan konsumsi rumah
tangga maupun bahan baku industri pangan. Menurut SNI 01-3140-2010, gula kristal
putih merupakan gula kristal yang dibuat dari tebu atau bit melalui proses sulfitasi
/karbonatasi/fosfatasi atau proses lainnya sehingga langsung dapat dikonsumsi. Gula
pasir termasuk disakarida yang mengandung 99% sukrosa yang terbuat dari tebu atau
bit yang memalui proses penyulingan dan kristalisasi (Siregar,2014). Karakteristik
gula pasir lokal pada umumnya berwarna sedikit kekuningan, berasa manis dan
berbentuk kristal kasar. Gula pasir bermanfaat sebagai sumber energi dan bahan
pengawet yang aman bagi tubuh.

2. Gula Rafinasi

Rafinasi diambil dari kata refinery artinya menyuling, menyaring, membersihkan.


Jadi bisa dikatakan bahwa gula rafinasi adalah gula yang mempunyai kualitas
kemurnian yang tinggi. Gula pasir berbeda dengan gula rafinasi, meskipun secara
visual gula rafinasi memiliki kenampakan yang sama dengan gula pasir karena masih
tergolong dalam gula kristal. Gula rafinasi diatur oleh SNI 3140.2-2011 tentang
Rafinasi (Refined Sugar). Menurut SNI 3140.2-2011, gula kristal rafinasi merupakan
gula dukrosa yang melalui tahapan pengolahan gula kristal mentah yang meliputi
afinasi -pelautan kembali (remelting) – klarifikasi – filtrasi – dekolorisasi – kristalisasi
– fugalisasi – pengeringan - pemanasan. Proses pengolahan gula rafinasi dan gula
pasir juga berbeda. Perbedaan gula rafinasi dengan gula pasir dijelaskan dalam Tabel
1.

Tabel 1. Perbedaan gula pasir dengan gula rafinasi

Pembeda Gula Kristal Putih Gula Rafinasi

Penggunaan Kebutuhan konsumsi sehari- Kebutuhan industry


hari

Bahan Baku Nira secara langsung Raw Sugar

Proses Sesuai standar Lebih ketat daripada


pengolahan (GKP)

Watna Cenderung kekuningan Lebih putih

Tingkat kemurnian Lebih kecil dari rafinasi Lebih tinggi


dibandingakan GKP

Ukuran Butiran Lebih kasar Lebih halus

ICUMSA 200-300 45
3. Gula Halus

Tepung gula, gula tepung, gula halus atau icing sugar adalah gula pasir yang
telah digiling/diblender/dihaluskan menjadi halus sehingga tebentuk menjadi bubuk
gula. Dalam pembuatan tepung gula, biasanya tepung gula ditambah dengan tepung
maizena/pati jagung agar tidak mudah menggumpal. Tepung gula biasanya
digunakan untuk taburan pada kue (seperti kue putri salju), roti, donat dan pembuatan
kue dan roti. Karakteristik dari gula halus yaitu berwarna putih bersih, berasa manis,
mudah larut dan berbentuk bubuk.

4. Gula Batu

Gula batu atau sering disebut sebagai rock sugar merupakan gula pasir yang
dikristalkan dengan bantuan air yang dioanaskan hingga mencapai kondisi jenuh lalu
didinginkan kembali. Gula ini bentuknya seperti bongkahan kecil batu dan butirannya
kasar. Rasanya tidak semanis gula pasir namun memiliki cita rasanya lebih legit. Gula
batu meleleh secara perlahan. Gula batu umumnya digunakan untuk minuman atau
membuat kue. Upaya untuk mempercepat kelarutan gula batu dapat dilakukan dengan
menghalusnya terlebih dahulu sebelum digunakan.

5. Gula Merah

Gula merah atau gula jawa memiliki bentuk padat berwarna coklat kemerahan
hingga cokelat tua. Gula merah atau gula palma merupakan gula yang dihasilkan dari
pengolahan nira pohon palma yaitu aren (Arenga pinnata Merr), nipah
(Nypafruticans), siwalan (Borassus flabellifera Linn), dan kelapa (Cocos
nucifera Linn). Gula merah pada umumnya berbentuk setengah bulat yang dicetak
menggunakan tempurung kelapa atau berbentuk silindris yang dicetak dengan
bambu.

Pembuatan guka merah dilakukan dengan menyadap nira sebagai bahan baku
gula merah, kemudian disaring dan dipnasakan dengan suhu 110-120°C hingga nira
mengental dan berwarna kecoklatan. Tahap selanjutnya yaitu pencetakan dan
pendiginan gula hingga mengeras (Balai Penelitian Tanaman Palma, 2010).

Gula merah cetak memiliki banyak kegunaan selain sebagai pemanis makanan
juga digunakan sebagai penyedap masakan, campuran dalam pembuatan cuka untuk
empek-empek, kecap dan lain-lain. Gula merah cetak memiliki sifat sensori yang
berbeda tergantung pada bahan baku pembuatannya. Untuk gula merah cetak dari
nira aren memiliki aroma khas aren, warna coklat muda, rasa lebih manis dan bersih.
Gula merah cetak dari nira kelapa memiliki warna coklat yang lebih gelap, aroma khas
kelapa, manis dan sedikit kotor sehingga perlu disaring bila akan digunakan dalam
bentuk cair.

6. Gula Semut

Gula semut atau palm sugar merupakan gula merah versi serbuk/kristal yang
dihasilkan oleh pepohonan keluarga palma (Arecaceae) (Balai Informasi Pertanian,
2000). Bahan dasar untuk membuat gula semut adalah nira dari pohon kelapa,
aren/enau, nipah, lontar maupun tebu. Gula semut memiliki beberapa kelebihan
dibandingkan dengan gula lainnya yaitu lebih mudah larut, daya simpan lebih lama,
karena kadar air kurang dari 3%, bentuknya lebih menarik, pengemasan dan
pengangkutan lebih mudah, rasa dan aroma lebih khas, serta harga yang lebih tinggi
daripada gula kelapa cetak biasa. Gula semut dimanfaatkan sebagai bumbu masak,
pemanis minuman (sirup, susu, soft drink) dan untuk keperluan pemanis untuk industri
makanan seperti adonan roti, kue, kolak, dan lain-lain (Mustaufik dan Karseno, 2004).

Gula aren yang lembek dapat ditingkatkan nilai jualnya dengan cara mengolah
menjadi gula aren granular (gula semut), melalui peleburan kembali gula cetak dengan
penambahan air menjadi larutan gula, kemudian dimasak menjadi granular (serbuk).
Upaya untuk meningkatkan daya kristalisasi tersebut pada suatu kepekatan tertentu
dapat ditambahkan gula pasir sebagai inti proses kristalisasi (Purnomo et al., 2004).
Untuk mempercepat terbentuknya kristal dalam pengolahan dan meningkatkan
kemampuan untuk dapat digranulasi, maka perlu penambahan gula pasir sebagai bibit
(Soeharsono, 1988). Pada pembuatan gula granular suhu pemasakan berkisar 100°C
– 125°C. (Wieenam dan Shallenberger, 1987).

7. Sirup Glukosa

Sirup glukosa ialah suatu larutan kental termasuk golongan monosakarida yang
diperoleh dari pati dengan cara hidrolisis lengkap dengan menggunakan katalis asam
atau enzim, selanjutnya dimurnikan serta dikentalkan. Gula cair diperoleh dengan
memasak pati kedalamnya dan ditambahkan sejumlah kecil zat kimia (HCl) selama
beberapa jam. Pemasakan ini akan diperoleh suatu cairan yang rasanya manis, yang
disebabkan karena sebagian besar dari pati yang ada telah diubah menjadi gula
(glukosa). Sirup glukosa adalah salah satu produk bahan pemanis makanan dan
minuman yang berbentuk cairan, tidak berbau dan tidak berwarna tetapi memiliki rasa
manis yang tinggi. Sirup glukosa atau gula cair mengandung D-glukosa, maltosa dan
polimer D-glukosa melalui proses hidrolisis (Cakebread.S.1975).

Sirup glukosa telah dimanfaatkan oleh industri permen, minuman ringan (soft
drink), biskuit dan sebagainya. Pada pembuatan produk es krim, glukosa dapat
meningkatkan kehalusan tekstur dan menekan titik beku dan untuk kue dapat menjaga
kue tetap segar dalam waktu lama dan mengurangi keretakan. Untuk permen, glukosa
lebih disenangi karena dapat mencegah kerusakan mikrobiologis dan memperbaiki
tekstur (Dziedzic, S.Z.1984).

8. Sirup Fruktosa

Sirup fruktosa dikenal juga sebagai high fructose syrup. Sirup fruktosa pada
umumnya terbuat dari tepung tapioka dan jagung. Sirup fruktosa mengandung
mengandung komponen gula yang didominasi oleh fruktosa. Sirup fruktosa memilki
karakteristik yang kental, tidak berwarna (bening) dan memiliki rasa yang manis.
Fruktosa murni rasanya sangat manis, warnanya putih, berbentuk kristal padat, dan
sangat mudah larut dalam air. Fruktosa memiliki tingkat kemanisan yang lebih tinggi
dibandingan sukrosa dan glukosa.

High Fructose Syrup dibuat melalui tiga tahap yaitu likuidasi, sakarifikasi dan
isomerasi. Proses hidrolisa dilakukan dengan menggunakan katalis enzim. Enzim
akan memecah molekul pati dan mengubahnya menjadi glukosa. Kemudian glukosa
diubah menjadi fruktosa melalui proses isomerisasi dengan enzim glukoisomerase
pada kisaran suhu 40-60°C dan tekanan 1 atm dalam reaktor alir tangki berpengaduk
(RATB). Isomerisasi 50% akan menghasilkan sirup fruktosa 42%. Adapun fungsi dari
HFS sebagai berikut: (Nuritasari, 2016)

• Freezing Point: Freezing point yang tinggi pada fruktosa membuat produk
mempunyai tekstur yang halus.

• Fruit Flavor: Fruktosa disebut juga dengan gula buah karena ketika digunakan pada
produk akan memberikan rasa buah seperti pada fruit-flavored yogurt.

• Glycemic Index rendah: Glycemicload adalah jumlah yang menunjukkan bagaimana


makanan atau produk tertentu akan mempengaruhi kadar gula darah.

• Stability: Fruktosa mempunyai kestabilan yang tinggi dan digunakan untuk


meningkatkan cita rasa produk yang mempunyai stabilitas yang tinggi.
9. Gula Jagung

Gula jagung merupakan gula yang berasal dari jagung. Gula jagung
mengandung zat gula sederhana yaitu fruktosa yang pada umumnya ditemukan pada
buah-buahan dan memiliki rasa manis yang lebih tinggi dibandingkan sukrosa (1,7 kali
lebih manis daripada sukrosa). Kelebihan gula jagung yaitu memiliki jumlah kalori
yang lebih rendah dibandingakan dengan gula biasa. Rasa manis yang lebih tinggi
bagi beberapa orang terkadang membuat lidah menjadi sedikit pahit jika tidak
dilarutkan atau diaplikasikan ke bahan pangan lainnya. Gula jagung dipasaran salah
satunya yaitu Tropicana Slim Diabetics. Produk ini mengandung sukralosa, pemanis
alami yang aman. Sukralosa merupakan pemanis rendah kalori yang dibuat dari gula.
Selain itu, gula jagung Tropicana Slim Diabetics, juga mengandung kromium pikolinat
yang dapat membantu penderita diabetes. Kromium merupakan mineral yang dapat
membantu kerja insulin dan mengatur kadar gula darah (Anonim, 2009).

BAB 3

METODOLOGI

3.1 Alat

• Piring plastik

• Sendok

3.2 Bahan

• Gula pasir

• Gula merah

• Gula semut

• Gula rafinasi
• Gula batu

• Sirup glukosa

• Sirup fruktosa

3.3 Prosedur Kerja

1. Setiap kelompok menyediakan 1 set alat dan bahan

2. Diamati jenis-jenis gula yang ada dan sifat- sifat sensoris gula yang meliputi :

Bentuk

Ukuran

Warna

Aroma

3. Kemudian dibandingkan semua jenis gula yang ada, masukkan semua data yang
diperoleh kedalam tabel pengamatan.

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Tabel 1. Hasil pengamatan karakteristik berbagai jenis gula

Jenis gula Bentuk Warna Aroma Rasa


Putih
Gula pasir Kristal ++++ Manis
kekuningan
Gula rafinasi Kristal Putih +++ Agak manis
Gula halus Serbuk Sangat putih +++ Manis
Gula batu Padatan Bening + Agak manis
Sangat
Gula merah Padatan Coklat tua +++++
manis
Gula semut Kristal Coklat ++++ Agak manis
Sirup Cair (sangat
Bening ++ Tidak manis
glukosa kental)
Sirup Cair (agak Sangat
Bening ++
fruktosa kental) manis
Gula jagung Kristal halus Putih + Tidak manis

Keterangan:

+++++ = Sangat harum

++++ = Harum

+++ = Agak harum

++ = Tidak harum

+ = Sangat tidak harum

4.2 Pembahasan

Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan dengan cara membandingkan


semua jenis gula yang disediakan dengan parameter bentuk, warna, aroma, dan rasa
terdapat perbedaan karakteristiknya. Pada dasarnya bahan dasar gula pasir, gula
rafinasi, gula halus, dan gula batu berbahan dasar yang sama yaitu berasal dari
tanaman tebu. Secara visual gula rafinasi memiliki kenampakan yang sama dengan
gula pasir, namun gula pasir berbeda dengan gula rafinasi. Gula rafinasi memiliki
kualitas kemurnian yang tinggi. Yang membedakan dalam proses produksi gula
rafinasi dan gula kristal putih yaitu gula rafinasi menggunakan
proses Carbonasi sedangkan gula kristal putih menggunakan proses sulfitasi. Gula
rafinasi memiliki standar mutu khusus yaitu mutu 1 yang memiliki nilai ICUMSA < 45
dan mutu 2 yang memiliki nilai ICUMSA 46˗806, sedangkan gula kristal putih memiliki
ICUMSA antara 250˗450 IU. Departemen Perindustrian mengelompokkan gula kristal
putih menjadi tiga bagian yaitu Gula kristal putih 1 (GKP 1) dengan nilai ICUMSA 250,
Gula kristal putih 2 (GKP 2) dengan nilai ICUMSA 250˗350 dan Gula kristal putih 3
(GKP 3) dengan nilai ICUMSA 350˗4507. Semakin tinggi nilai ICUMSA maka semakin
coklat warna dari gula tersebut serta rasanya pun semakin manis. Perbedaan lainnya
adalah gula rafinasi diolah dari gula mentah atau raw sugar melalui proses defikasi
yang tidak dapat dikonsumsi langsung oleh manusia, sedangkan gula kristal putih
menggunakan nira langsung.

Perbedaan bentuk gula pasir dengan gula halus/gula tepung diakibatkan oleh
adanya proses penggilingan/penghalusan menjadi halus sehingga terbentuk menjadi
bubuk gula. Dalam pembuatan tepung gula biasanya ditambah dengan tepung
maizena/pati jagung agar tidak menggumpal. Sedangkan perbedaan bentuk gula
pasir dengan gula batu diakibatkan pada proses pembuatan gula batu, gula pasir
dikristalkan dengan bantuan air yang dipanaskan hingga mencapai kondisi jenuh lalu
didinginkan kembali. Hal tersebut membuat bentuk dari gula batu seperti bongkahan
dan butirannya kasar. Dari segi rasa, gula batu tidak semanis gula pasir namun cita
rasa yang dihasilkan lebih baik dibandingkan gula pasir.

Gula merah dan gula semut sama˗sama terbuat dari cairan nira palma (pohon
kelapa, aren, atau siwalan). Perdedaan gula semut dengan gula merah terutama
bentuknya. Bahan baku gula merah terbuat dari nira kelapa segar sedangkan bahan
baku gula semut dapat terbuat dari nira kelapa segar atau gula merah yang diolah
kembali. Pada pembuatan gula merah nira dilakukan pemasakan sampai nira menjadi
pekat kemudian dicetak ± 5 menit, sedangkan pada gula semut pembuatan pada
tahap awal sama seperti gula merah namun pada gula semut nira yang sudah pekat
dan diangkat dari tungku kemudian diaduk˗aduk hingga lebih kental dan didnginkan
sebentar sekitar ± 5 ˗ 10 menit kemudian diaduk˗aduk kembali hingga menggumpal
kemudian dilakukan penggerusan, hal tersebut yang menjadikan gula semut
berbentuk serbuk/granular. Keunggulan dari gula semut ini adalah lebih praktis dan
tahan lama, karena kadar air pada gula semut lebih sedikit dibandingkan dengan gula
merah. Pada gula merah umumnya dapat bertahan paling lama 3˗4 bulan sedangkan
pada gula semut tahan hingga 1 tahun, akan tetapi rasa dari gula merah lebih manis
dibandingkan gula semut.

Sirup glukosa didefinisikan sebagai cairan jernih dan kental yang mengandung
D˗glukosa, maltose, dan polimer D˗gukosa yang diperoleh dari hidrolisis pati. Bahan
baku untuk pembuatan sirup glukosa adalah pati misalnya tapioka, sagu, pati jagung,
dan pati umbi˗umbian. Proses hidrolisis pati menjadi sirup glukosa dapat
mengggunakan katalis enzim, asam, atau gabungan keduanya. Sedangkan sirup
fruktosa dibuat dari glukosa melalui proses isomerasi menggunakan enzim glukosa
isomerasi menggunakan enzim glukosa iseomerase. Proses perubahan tersebut
disebut enzymatic glucose˗isometization, karena enzim tersebut reversible artinya
dapat mengkatalis ke aksi bolak balik maka produk akhir selalu merupakan campuran
dari glukosa maupun fruktosa. Sirup fruktosa memiliki tingkat kemanisan 2,5 kali dari
sirup glukosa dan 1,4 ˗ 1,8 kali lebih tinggi dari pada gula sukrosa. Selain itu, sirup
fruktosa memiliki indeks glikemk lebih rendah (32+2) dibandingkan glukosa (138+4),
sedangkan sukrosa memiliki indeks glukemik sebesar (87+2).

Gula jagung dengan sirup fruktosa pada dasarnya terbuat dari bahan yang
sama yaitu jagung. Kelebihan dari gula jagung ini memiliki jumlah kalori yang lebih
rendah dibandingkan gula biasa. Gula jagung hanya mengandung zat gula sederhana
yang dinamakan fruktosa, Dalam 1 gram fruktosa hanya mengandung 3 kalori, oleh
karena itu sering dikonsumsi untuk program diet.

BAB 5

PENUTUP

5.1 Simpulan

Kesimpulan pada praktikum kali ini yaitu;

1. Gula pasir berbeda dengan gula rafinasi yang membedakannya yaitu dalam
proses produksinya.
2. Perbedaan bentuk gula pasir dengan gula halus/gula tepung diakibatkan oleh
adanya proses penggilingan/penghalusan menjadi halus sehingga terbentuk
menjadi bubuk gula.
3. Perbedaan bentuk gula pasir dengan gula batu diakibatkan pada proses
pembuatannya. Dari segi rasa, gula batu tidak semanis gula pasir namun cita
rasa yang dihasilkan lebih baik dibandingkan gula pasir.
4. Perbedaan gula semut dengan gula merah terutama bentuknya. Bahan baku
gula merah terbuat dari nira kelapa segar sedangkan bahan baku gula semut
dapat terbuat dari nira kelapa segar atau gula merah yang diolah kembali.
5. Sirup glukosa dibuat dengan proses hidrolisis pati menjadi sirup glukosa dapat
mengggunakan katalis enzim, asam, atau gabungan keduanya. Sedangkan
sirup fruktosa dibuat dari glukosa melalui proses isomerasi menggunakan
enzim glukosa isomerasi menggunakan enzim glukosa iseomerase.
6. Gula jagung dengan sirup fruktosa dasarnya terbuat dari bahan yang sama
yaitu jagung.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Artikel Manis Membawa Sengsara. [Link]


membawa-sengsara/ diakses pada tanggal 13 Mei 2019 pukul 11.00 WITA.

Badan Standarisasi Nasional. 2010. SNI 01-3140-2010: Gula Kristal-Bagian 3: Putih.


Jakarta: BSN.

Badan Standarisasi Nasional. 2011. SNI 3140.2-2011: Gula Kristal-Bagian 2: Rafinasi


(Refined Sugar). Jakarta: BSN.

Balai Penelitian Tanaman Palma. 2010. Pemanfaatan Tumbuhan Palma. Manado.

Sulawesi Utara.

Mustaufik dan Karseno. 2004. Penerapan Dan Pengembangan Teknologi Produksi Gula
kelapa kristal Berstandar Mutu SNI untuk Meningkatkan Pendapatan Pengrajin Gula
Kelapa di Kabupaten Banyumas. Laporan Pengabdian Masyarakat. Program
Pengembangan Teknologi Tepat Guna. Jurusan Teknologi Pertanian Unsoed,
Purwokerto.

Nuritasari, Yeny I. 2016. Perancangan Pabrik High Fructose Syrup (GFS) Dari Tepung
Tapioka Kapasitas Produksi 100.000 Ton/Tahun [Skripsi]. Program Studi Teknik Kimia
Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Purnomo Edi, Nahdodin dan P.D.N Mirzawan. 2004. Pengolahan nira aren menjadi gula
kristal. Pengembangan Tanaman Aren, Proseding Seminar Nasional Aren Tondano,
9 Juni 2004. Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain, Litbang Pertanian.

Siregar, Nurhamida Sari. 2014. Karbohidrat. Jurnal Ilmu Keolahragaan Vol.13 No. 2 hlm.
38-44. Universitas Negeri Medan.
Soeharsono Martoharsono. 1988. Upaya menghasil-kan gula kelapa pasir melalui
pembibitan dan pengadukan terbatas. Fakultas Teknologi Pertanian UGM.
Yogyakarta.

Wieenam, W.J. and R.S. Shallenberger. 1987. Influence of acid and temperature on the
rate of infersion of sucrosa. New Delhi.

Anda mungkin juga menyukai