LAPORAN PENDAHULUAN
A. Konsep
1. PengertianISPA
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang
melibatkan organ saluran pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan
bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri. ISPA
akan menyerang host, apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun.
Penyakit ISPA ini paling banyak di temukan pada anak di bawah lima
tahun karena pada kelompok usia ini adalah kelompok yang memiliki
sistem kekebalan tubuh yang masih rentan terhadap berbagai penyakit.
(Karundeng Y.M, et al. 2016)
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi
yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran napas, mulai dari
hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan
andeksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah, dan pleura. ISPA
merupakan infeksi saluran pernapasan yang berlangsung selama 14 hari.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang banyak
dijumpai pada balita dan anak-anak mulai dari ISPA ringan sampai berat.
ISPA yang berat jika masuk kedalam jaringan paru-paru akan
menyebabkan Pneumonia. Pneumonia merupakan penyakit infeksi yang
dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak (Jalil, 2018).
9 Poltekkes Kemenkes
10
2. Etiologi ISPA
Proses terjadinya ISPA diawali dengan masuknya beberapa bakteri
dari genus streptokokus, stafilokokus, pneumokokus, hemofillus,
bordetella, dan korinebakterium dan virus dari golongan mikrovirus
(termasuk didalamnya virus para influenza dan virus campak), adenoveirus,
koronavirus, pikornavirus, herpesvirus ke dalam tubuh manusia melalui
partikel udara (droplet infection). Kuman ini akan melekat pada sel epitel
hidung dengan mengikuti proses pernapasan maka kuman tersebut bisa
masuk ke bronkus dan masuk ke saluran pernapasan yang mengakibatkan
demam, batuk, pilek, sakit kepala dan sebagainya.(Marni,2014)
Selain bakteri dan virus ISPA juga dapat dipengaruhi oleh banyak
faktor, yaitu kondisi lingkungan (polutan udara seperti asap rokok dan
asap bahan bakar memasak, kepadatan anggota keluarga, kondisi ventilasi
rumah kelembaban, kebersihan, musim, suhu), ketersediaan dan efektifitas
pelayanan kesehatan serta langkah-langkah pencegahan infeksi untuk
pencegahan penyebaran (vaksin, akses terhadap fasilitas pelayanan
kesehatan, kapasitas ruang isolasi), faktor penjamu (usia, kebiasaan
merokok, kemampuan penjamu menularkan infeksi, status gizi, infeksi
sebelumnya atau infeksi serentak yang disebabkan oleh pathogen lain,
kondisi kesehatan umum) dan karakteristik pathogen (cara penularan, daya
tular, faktor virulensi misalnya gen, jumlah atau dosis mikroba).
(WHO,2007:12). Menurut Widoyono (2008), Kondisi lingkungan yang
berpotensimenjadifaktorrisikoispaadalahlingkunganyangbanyak
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
11
tercemar oleh asap kendaraan bermotor, bahan bakar minyak, asap hasil
pembakaran serta benda asing seperti mainan plastik kecil.
3. Patofisiologi ISPA
Menurut Amalia Nurin, dkk, (2014) Perjalanan alamiah penyakit ISPA
dibagi 4 tahap yaitu :
1. Tahap prepatogenesis : penyebab telah ada tetapi belum menunjukkan
reaksiapa-apa.
2. Tahapinkubasi:virusmerusaklapisanepiteldanlapisanmukosa.
Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan
sebelumnya rendah.
3. Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit, timbul
gejala demam danbatuk.
4. Tahap lanjut penyaklit, dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh
sempurna, sembuh dengan atelektasis, menjadi kronis dan meninggal
akibat pneumonia.
Saluran pernafasan selama hidup selalu terpapar dengan dunia luar
sehingga untuk mengatasinya dibutuhkan suatu sistem pertahanan yang
efektif dan efisien. Ketahanan saluran pernafasan tehadap infeksi maupun
partikel dan gas yang ada di udara amat tergantung pada tiga unsur alami
yang selalu terdapat pada orang sehat yaitu keutuhan epitel mukosa dan
gerak mukosilia, makrofag alveoli, dan antibodi. Infeksi bakteri mudah
terjadi pada saluran nafas yang sel-sel epitel mukosanya telah rusak akibat
infeksi yang terdahulu. Selain hal itu, hal-hal yang dapat mengganggu
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
12
keutuhan lapisan mukosa dan gerak silia adalah asap rokok dan gas SO2
(polutan utama dalam pencemaran udara), sindroma imotil, pengobatan
dengan O2 konsentrasi tinggi (25 % atau lebih). Makrofag banyak terdapat
di alveoli dan akan dimobilisasi ke tempat lain bila terjadi infeksi. Asap
rokok dapat menurunkan kemampuan makrofag membunuh bakteri,
sedangkan alkohol akan menurunkan mobilitas sel-sel ini.
Antibodi setempat yang ada di saluran nafas ialah Ig A. Antibodi ini
banyak ditemukan di mukosa. Kekurangan antibodi ini akan memudahkan
terjadinya infeksi saluran nafas, seperti yang terjadi pada anak. Penderita
yang rentan (imunokompkromis) mudah terkena infeksi ini seperti pada
pasien keganasan yang mendapat terapi sitostatika atau radiasi.
Penyebaran infeksi pada ISPA dapat melalui jalan hematogen, limfogen,
perkontinuitatum dan udaranafas.
4. Manifestasi KlinisISPA
Gambaran klinis secara umum yang sering didapat adalah rinitis,
nyeri tenggorokan, batuk dengan dahak kuning/ putih kental, nyeri
retrosternal dan konjungtivitis. Suhu badan meningkat antara 4-7 hari
disertai malaise, mialgia, nyeri kepala, anoreksia, mual, muntah dan
insomnia. Bila peningkatan suhu berlangsung lama biasanya menunjukkan
adanya penyulit. (Suriani, 2018)
Gejala ISPA berdasarkan tingkat keparahan adalah sebagai berikut Rosana
(2016):
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
13
a. Gejala dari ISPAringan
Seseorang balita dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan
satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
1) Batuk.
2) Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara
(pada waktu berbicara ataumenangis).
3) Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus darihidung.
4) Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37°C atau jika dahi anak
diraba dengan punggung tangan terasapanas.
b. Gejala dari ISPAsedang
Seseorang balita dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai
gejala dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai
berikut :
1) Pernapasan cepat (fast breathing) sesuai umur yaitu: untuk
kelompok umur kurang dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per
menit atau lebih untuk umur 2 -< 5tahun.
2) Suhu tubuh lebih dari 39°C.
3) Tenggorokan berwarna merah.
4) Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercakcampak.
5) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubangtelinga.
6) Pernapasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
14
c. Gejala dari ISPAberat
Seseorang balita dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai
gejala-gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih
gejala-gejala sebagai berikut :
1) Bibir atau kulit membiru.
2) Anak tidak sadar atau kesadaranmenurun.
3) Pernapasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampakgelisah.
4) Sela iga tertarik ke dalam pada waktubernafas.
5) Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidakteraba.
6) Tenggorokan berwarna merah.
5. PenatalaksanaanISPA
Terapi untuk ISPA atas tidak selalu dengan antibiotik karena
sebagian besar kasus ISPA atas disebabkan oleh virus. Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) atas yang disebabkan oleh virus tidak
memerlukan antiviral, tetapi cukup dengan terapisuportif.
a. Terapi Suportif
Berguna untuk mengurangi gejala dan meningkatkan performa pasien
berupa nutrisi yang adekuat, pemberian multivitamin.
b. Antibiotik
Hanya digunakan untuk terapi penyakit infeksi yang disebabkan oleh
bakteri, idealnya berdasarkan jenis kuman penyebab, utama ditujukan
pada pneumonia, influenza, dan aureus. (Kepmenkes RI, 2011)
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
15
6. Pathway
Invasi kuman
Peradangan pada saluran
Inflamas pernapasan Perubahan status
i
Merangsang pengeluaran zat- Kuman melepas Kurang pengetahuan
zat seperti mediator kimia endotoksin orang tua
bradikinin, serotinin,
histamine, dan prostaglandin
Merangsang tubuh untuk Stressor bagi orang tua
melepas zat pirogen oleh tentang penyakit
leukosit
Nocisepter
Koping tidak efektif
Hipotalamus kebagian
Spinacord termoregulator
Cemas
Thalamus Suhu tubuh meningkat
Hospitalisasi
Korteks serebri Hipertermi
Perubahan progress
keluarga
Nyeri Merangsang mekanisme
pertahanantubuhterhadap
Ketidakefektifan adanyamikroorganisme System imun menurun
pola napas
Meningkatkan produksi mucus Resiko infeksi
Suplai O2 kejaringan oleh sel-sel basilica sepanjang
menurun saluran pernapasan
Penurunan metabolisme sel Penumpukan sekresi mucus
pada jalan napas
Intoleransi aktivitas Ketidakefektifan bersihan
Obstruksi jalan napas jalan napas
Gambar 2.1 Pathway ISPA menurut (Windasari, 2018)
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
16
7. PemeriksaanPenunjang
Pemeriksaan penunjang yang lazim dilakukan adalah :
a. Pemeriksaan kultur/biakan kuman (swab) : hasil yang didapatkan
adalah biakan kuman (+) sesuai jeniskuman
b. Pemeriksaan hidung darah (deferential count) : laju endap darah
meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga disertai
dengan adanya thrombositopenia
c. Pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan (Saputro,2013)
8. Komplikasi
Penyakit ini sebenarnya merupakan self limited disease, yang
sembuh sendiri 5-6 hari jika tidak terjadi invasi kuman lainnya.
Komplikasi yang dapat terjadi adalah sinusitis paranasal, penutupan tuba
eusthacii dan penyebaran infeksi. (Windasari,2018)
a. Sinusitisparanasal
Komplikasi ini hanya terjadi pada anak besar karena pada bayi
dan anak kecil sinus paranasal belum tumbuh. Gejala umum tampak
lebih besar, nyeri kepala bertambah, rasa nyeri dan nyeri tekan
biasanya didaerah sinus frontalis dan maksilaris. Diagnosis ditegakkan
dengan pemeriksaan foto rontgen dan transiluminasi pada anakbesar.
Proses sinusitis sering menjadi kronik dengan gejala malaise,
cepat lelah dan sukar berkonsentrasi (pada anak besar). Kadang-
kadang disertai sumbatan hidung, nyeri kepala hilang timbul, bersin
yang terus menerus disertai secret purulen dapat unilateral ataupun
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
17
bilateral. Bila didapatkan pernafasan mulut yang menetap dan
rangsang faring yang menetap tanpa sebab yang jelas perlu yang
dipikirkan terjadinya komplikasi sinusitis. Sinusitis paranasal ini dapat
diobati dengan memberikanantibiotik.
b. Penutupan tubaeusthachii
Tuba eusthachii yang buntu memberi gejala tuli dan infeksi
dapat menembus langsung kedaerah telinga tengah dan menyebabkan
otitis media akut (OMA). Gejala OMA pada anak kecil dan bayi dapat
disertai suhu badan yang tinggi (hiperpireksia) kadang menyebabkan
kejangdemam.
Anak sangat gelisah, terlihat nyeri bila kepala digoyangkan atau
memegang telinganya yang nyeri (pada bayi juga dapat diketahui
dengan menekan telinganya dan biasanya bayi akan menangis keras).
Kadang-kadang hanya ditemui gejala demam, gelisah, juga disertai
muntah atau diare. Karena bayi yang menderita batuk pilek sering
menderita infeksi pada telinga tengah sehingga menyebabkan
terjadinya OMA dan sering menyebabkan kejang demam, maka bayi
perlu dikonsul kebagian THT. Biasanya bayi dilakukan parsentesis jika
setelah 48-72 jam diberikan antibiotika keadaan tidak membaik.
Parasentesis (penusukan selaput telinga) dimaksudkan mencegah
membran timpani pecah sendiri dan terjadi otitis media perforata
(OMP).
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
18
Faktor-faktor OMP yang sering dijumpai pada bayi dan anak adalah :
1) Tuba eustachii pendek, lebar dan lurus hingga merintangi
penyaluran sekret.
2) Posisi bayi anak yang selalu terlentang selalu memudahkan
perembesan infeksi juga merintangi penyaluransekret.
3) Hipertrofi kelenjar limfoid nasofaring akibat infeksi telinga tengah
walau jarang dapat berlanjut menjadi mastoiditis atau ke syaraf
pusat (meningitis).
c. Penyebaraninfeksi
Penjalaran infeksi sekunder dari nasofaring kearah bawah
seperti laryngitis, trakeitis, bronkitis dan bronkopneumonia. Selain itu
dapat pula terjadi komplikasi jauh, misalnya terjadi meningitis
purulenta.
9. Pencegahan
Menurut Hastuti, D (2013) pencegahan ISPA dapat dilakukan dengan :
a. Menyediakan makanan bergizi sesuai preferensi anak dan kemampuan
untuk mengkonsumsi makanan untuk mendukung kekebalan tubuh
alami.
b. Pemberian imunisasi lengkap kepadaanak
c. Keadaan fisik rumah yang baik, seperti: ventilasi dirumah dan
kelembaban yang memenuhisyarat.
d. Menjaga kebersihan rumah, tubuh, makanan, dan lingkungan agar
bebas kumanpenyakit.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
19
e. Menghindari pajanan asap rokok, asap dapur.
f. Mencegah kontak dengan penderita ISPA dan isolasi penderita ISPA
untuk mencegah penyebaranpenyakit.
B. Konsep AsuhanKeperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian menurut Amalia Nurin, dkk, (2014)
a. IdentitasPasien
b. Usia
Kebanyakan infeksi saluran pernafasan yang sering mengenai anak
usia dibawah 3 tahun, terutama bayi kurang dari 1 tahun. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa anak pada usia muda akan lebih sering
menderita ISPA daripada usia yang lebihlanjut.
c. JenisKelamin
Angka kesakitan ISPA sering terjadi pada usia kurang dari 2 tahun,
dimana angka kesakitan ISPA anak perempuan lebih tinggi daripada
laki-laki di negara Denmark.
d. Alamat
Kepadatan hunian seperti luar ruang per orang, jumlah anggota
keluarga, dan masyarakat diduga merupakan faktor risiko untuk ISPA.
Diketahui bahwa penyebab terjadinya ISPA dan penyakit gangguan
pernafasan lain adalah rendahnya kualitas udara didalam rumah
ataupun diluar rumah baik secara biologis, fisik maupun kimia.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
20
Adanya ventilasi rumah yang kurang sempurna dan asap tungku di
dalam rumah seperti yang terjadi di Negara Zimbabwe akan
mempermudah terjadinya ISPA anak.
2. KeluhanUtama
Adanya demam, kejang, sesak napas, batuk produktif, tidak mau makan
anak rewel dan gelisah, sakit kepala.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat PenyakitSekarang
Biasanya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala, badan
lemah, nyeri otot dan sendi, nafsu makan menurun, batuk, pilek
dansakit tenggorokan.
b. Riwayat penyakitdahulu
Biasanya klien sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit ini
c. Riwayat penyakitkeluarga
Riwayat penyakit infeksi, TBC, Pneumonia, dan infeksi saluran napas
lainnya. Menurut anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami
sakit seperti penyakit klien tersebut.
d. Riwayat sosial
Klien mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang berdebu
dan padat penduduknya.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
21
4. KebutuhanDasar
a. Makan danminum
Penurunan intake, nutrisi dan cairan, diare, penurunan BB dan muntah.
b. Aktivitas danistirahat
Kelemahan, lesu, penurunan aktifitas, banyak berbaring.
c. BAK
Tidak begitu sering.
d. Kenyamanan
Mialgia, sakitkepala.
e. Hygine
Penampilan kusut, kurang tenaga.
5. PemeriksaanFisik
a. KeadaanUmum
Bagaimana keadaan klien, apakah letih, lemah atau sakit berat.
b. Tanda vital:
Bagaimana suhu, nadi, pernafasan dan tekanan darah klien. TD
menurun, nafas sesak, nadi lemah dan cepat, suhu meningkat, sianosis
c. TB/BB
Sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan
d. Kuku
Bagaimana kondisi kuku, apakah sianosis atau tidak, apakah ada
kelainan.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
22
e. Kepala
Bagaimana kebersihan kulit kepala, rambut serta bentuk kepala,
apakah ada kelainan atau lesi padakepala
f. Wajah
Bagaimana bentuk wajah, kulit wajah pucat/tidak
g. Mata
Bagaimana bentuk mata, keadaan konjungtiva anemis/tidak, sclera
ikterik/ tidak, keadaan pupil, palpebra dan apakah ada gangguan dalam
penglihatan
h. Hidung
Bentuk hidung, keadaan bersih/tidak, ada/tidak sekret pada hidung
serta cairan yang keluar, ada sinus/ tidak dan apakah ada gangguan
dalampenciuman
i. Mulut
Bentuk mulut, membran membran mukosa kering/ lembab, lidah
kotor/tidak, apakah ada kemerahan/tidak pada lidah, apakah ada
gangguan dalam menelan, apakah ada kesulitan dalam berbicara.
j. Leher
Apakah terjadi pembengkakan kelenjar tyroid, apakah ditemukan
distensi venajugularis.
k. Telinga
Apakah ada kotoran atau cairan dalam telinga, bagaimanakan bentuk
tulang rawanya, apakah ada respon nyeri pada daun telinga.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
23
l. Thoraks
Bagaimana bentuk dada, simetris/tidak, kaji pola pernafasan, apakah
ada wheezing, apakah ada gangguan dalam pernafasan.
Pemeriksaan Fisik Difokuskan Pada Pengkajian Sistem Pernafasan
1) Inspeksi
a) Membran mukosa- faring tampakkemerahan
b) Tonsil tampak kemerahan danedema
c) Tampak batuk tidakproduktif
d) Tidak ada jaringan parut danleher
e) Tidak tampak penggunaan otot-otot pernafasan tambahan,
pernafasan cupinghidung
2) Palpasi
a) Adanya demam
b) Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah
leher/nyeri tekan pada nodus limfeservikalis
c) Tidak teraba adanya pembesaran kelenjartyroid
3) Perkusi
Suara paru normal (resonance)
4) Auskultasi
Suara nafas vesikuler/tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru.
Jika terdengar adanya stridor atau wheezing menunjukkan tanda
bahaya. (Suriani, 2018).
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
24
m. Abdomen
Bagaimana bentuk abdomen, turgor kulit kering/ tidak, apakah
terdapat nyeri tekan pada abdomen, apakah perut terasa
kembung,lakukan pemeriksaan bising usus, apakah terjadi peningkatan
bising usus/tidak.
n. Genitalia
Bagaimana bentuk alat kelamin, distribusi rambut kelamin, warna
rambut kelamin. Pada laki-laki lihat keadaan penis, apakah ada
kelainan/tidak. Pada wanita lihat keadaan labia minora, biasanya labia
minora tertutup oleh labia mayora.
o. Integumen
Kaji warna kulit, integritas kulit utuh/tidak, turgor kulit kering/
tidak, apakah ada nyeri tekan pada kulit, apakah kulit teraba panas.
p. Ekstremitas
Inspeksi : adakah oedem, tanda sianosis, dan kesulitan bergerak
Palpasi : adanya nyeri tekan danbenjolan
Perkusi : periksa refek patelki dengan reflekhummar
Adakah terjadi tremor atau tidak, kelemahan fisik, nyeri otot serta
kelainan bentuk.
6. PemeriksaanPenunjang
Pemeriksaan penunjang merupakan bagian dari pemeriksaan medis
yang dilakukan oleh dokter untuk mendiagnosis penyakit tertentu.
Pemeriksaan ini umumnya dilakukan setelah pemeriksaan fisik dan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
25
penelusuran riwayat keluhan atau riwayat penyakit pada pasien.
Pemeriksaan penunjang untuk penyakit ISPA diantaranya
ada: Pemeriksaan laboratorium, Rontgen thorax, Pemeriksaan lain sesuai
dengan kondisiklien.
7. Analisa Data
Dari hasil pengkajian kemudian data terakhir dikelompokkan lalu
dianalisa data sehingga dapat ditarik kesimpulan masalah yang timbul dan
dapat dirumuskan diagnosamasalah.
8. DiagnosaKeperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai
respons pasien terhadap suatu masalah kesehatan atau proses kehidupan
yang didalamnya baik berlangsung aktual maupun potensial yang
bertujuan untuk mengidentifikasi respon pasien baik individu, keluarga
ataupun komunitas, terhadap situasi yang berkaitan mengenaikesehatan.
Diagnosa yang biasanya muncul pada pasien ISPA menurut SDKI (2016)
adalah sebagai berikut :
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d sekresi yangtertahan
b. Hipertermia b.d proses penyakit (infeksi bakteristertococcus)
c. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhanoksigen
d. Ansietas b.d kurang terpaparnyainformasi.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
26
9. Intervensi KeperawatanKeperawatan
Intervensi Keperawatan yang digunakan pada pasien ISPA
menggunakan perencanaan keperawatan menurut (SIKI) standar intervensi
keperawatan Indonesia serta untuk tujuan dan kriteria hasil menggunakan
standar luaran keperawatan Indonesia (SLKI). (Tim Pokja SLKI, 2018).
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d sekresi yangtertahan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam bersihan
jalan napas meningkat.
Kriteria hasil :
1) Batuk efektifmeningkat
2) Produksi sputummenurun
3) Gelisahmenurun
4) Frekuensi napasmembaik
5) Pola napas membaik
Intervensi:
1) Observasi
a) Identifikasi kemampuan batuk
b) Monitor adanya retensisputum
2) Terapeutik
a) Atur posisi semi-Fowler atauFowler
b) Pasang perlak dan bengkok di pangkuanpasien
c) Buang sekret pada tempatsputum.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
27
3) Edukasi
a) Jelaskan tujuan dan prosedur batukefektif
b) Anjurkan tarik napas dalam melalui hidung selama 4 detik,
ditahan selama 2 detik, kemudian keluarkan dari mulut dengan
bibir mencucu (dibulatkan) selama 8 detik
c) Anjurkan mengulangi tarik napas dalam hingga 3kali
d) Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah tarik napas dalam
yangke-3
4) Kolaborasi
Kolaborasi pemberian mukolitik atau ekspektoran, jika perlu
b. Hipertermia b.d proses penyakit (infeksi bakteristertococcus)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam pengaturan
suhu tubuh pasien membaik
Kriteria hasil :
1) Takikardia menurun
2) Hipoksia menurun
3) Suhu tubuh membaik
4) Suhu kulit membaik
Intervensi:
1) Observasi
a) Identifikasi penyebab hipertermia (mis dehidrasi, terpapar
lingkungan panas, penggunaan inkubatordll)
b) Monitor suhutubuh
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
28
c) Monitor keluaranurine
2) Terapeutik
a) Sediakan lingkungan yangdingin
b) Longgarkan atau lepaskanpakaian
c) Berikan kompres hangat pada dahi atauleher
3) Edukasi
Anjurkan tirah baring
4) Kolaborasi
Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika perlu
c. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhanoksigen
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam toleransi
aktivitasmeningkat
Kriteria hasil :
1) Kemudahan melakukan aktivitas sehari-harimeningkat
2) Keluhan lelah menurun
Intervensi:
1) Observasi
a) Monitor pola dan jamtidur
b) Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan
aktivitas.
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
29
2) Terapeutik
a) Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis. cahaya,
suara,kunjungan)
b) Berikan aktivitas distraksi yangmenenangkan
3) Edukasi
a) Anjurkan tirah baring
b) Anjurkan melakukan aktivitas secarabertahap
4) Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan
makanan
d. Ansietas b.d kurang terpaparnyainformasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam tingkat
ansietas menurun
Kriteria hasil :
1) Verbalisasi kebingungan menurun
2) Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapimenurun
3) Perilaku gelisah menurun
Intervensi:
1) Observasi
a) Identifikasi saat tingkat ansietas berubah ([Link], waktu,
stresor)
b) Identifikasi kemampuan mengambilkeputusan
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
30
2) Terapeutik
a) Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkankepercayaan
b) Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicukecemasan
3) Edukasi
a) Anjurkan mengungkapkan perasaan danpersepsi
b) Latih teknikrelaksasi
4) Kolaborasi
Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu
10. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah proses keperawatan yang dimulai setelah
perawat menyusun rencana keperawatan. Sebelum mengimplementasikan
intervensi keperawatan, gunakan pemikiran kritis untuk menentukan
ketepatan intervensi terhadap situasi klinis. Persiapan proses implementasi
akan memastikan asuhan keperawatan yang efisien, aman, dan efektif.
Lima kegiatan persiapan tersebut adalah pengkajian ulang, meninjau dan
merevisi rencana asuhan keperawatan yang ada, mengorganisasikan
sumber daya dan pemberian asuhan, mengantisipasi dan mencegah
komplikasi, serta mengimplementasikan intervensi keperawatan. (Potter &
Perry,2010)
11. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah proses keperawatan untuk
menentukan apakah intervensi keperawatan telah berhasil meningkatkan
kondisi klien. Selama evaluasi, lakukan berfikir kritis dalammembuat
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
31
keputusan dan mengarahkan asuhan keperawatan dalam upaya memenuhi
kebutuhan klien. Pencapaian tujuan keperawatan dilakukan dengan
membandingkan antara respon klien dengan hasil yang diharapkan. (Potter
& Perry,2010)
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta