0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan2 halaman

Kearifan Lokal Sasi di Maluku

Sasi adalah adat tradisional masyarakat Maluku yang melarang pengambilan sumber daya alam selama beberapa bulan. Adat ini diawali dengan upacara penanaman tanda larangan di perbatasan darat dan laut, serta patroli malam hari untuk memastikan larangan dipatuhi. Sasi bertujuan melindungi lingkungan dan sumber daya alam agar berkelanjutan.

Diunggah oleh

YusufDhoni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan2 halaman

Kearifan Lokal Sasi di Maluku

Sasi adalah adat tradisional masyarakat Maluku yang melarang pengambilan sumber daya alam selama beberapa bulan. Adat ini diawali dengan upacara penanaman tanda larangan di perbatasan darat dan laut, serta patroli malam hari untuk memastikan larangan dipatuhi. Sasi bertujuan melindungi lingkungan dan sumber daya alam agar berkelanjutan.

Diunggah oleh

YusufDhoni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd

 KEARIFAN LOKAL

BUDAYA SASI MASYARAKAT MALUKU

Sasi adalah satu adat yang melarang masyarakat sebuah negeri di Maluku untuk
mengambil hasil alam di darat maupun di laut dalam jangka waktu tertentu. Sasi merupakan
larangan yang dikenakan kepada semua orang, dan terus dikembangkan secara dinamis dan
kontekstual mengikuti perkembangan jaman. Dalam Bahasa Wamala, sasi digunakan untuk
menyatakan orang meninggal, misalnya “mater meira peneka toneke sia yake pia batai sa
merelo supua” (keluarga sudah mati jangan ganggu di tempat pekerjaan). Kata sasi ada yang
mengatakan asalnya dari tasi (garam) yang mengalami proses asimilasi. Sasi juga berasal dari
kata “sasihaa” artinya “perkara yang terselubunga”. Pelanggaran terhadap sasi dapat dijatuhi
hukuman seperti dipermalukan di depan umum, kerja untuk negeri, atau denda uang.
Selain itu ada pendapat yang mengatakan bahwa sasi berasal dari kata “saksia”
(witness) untuk mematuhi kesepakatan tentang kewajiban atau larangan terhadap panen,
penangkapan, pengambilan tanpa izin baik secara subsisten atau komersial terhadap sumber
daya alam tertentu yang bermanfaat bagi masyarakat.
Prosesi sasi diawali dari pusat sasi disebut batu kewang dipimpin oleh kewang desa
bersangkutan. Di sini dibacakan siriwei (ucapan tekat) oleh kapitan, memberikan nasehat dan
disebarluaskan oleh marinyo (pembantu Raja yang bertugas menyampaikan berita kepada
seluruh masyarakat) dengan menggunakan tabaos. Larangan itu dinyatakan dengan matakao
sebagai simbol kepemilikan. Secara adat, pelaksanaan sasi ditentukan oleh hasil Rapat
Dewan Adat (Saniri) yang wajib dilaksanakan Kepala Kewang (Latukeang, Kewano).
Kewang yang bertugas di darat disebut Kewang Darat dan yang bertugas di laut disebut
Kewang Laut. Dalam menjalankan tugas mereka dibantu oleh sekel masing-masing untuk
lingkunagan darat dan laut, serta 40 kewang yang lain. Kewang dipilih oleh Malesi, Pela,
Denia, Waelo, Luhukay, Tuhepory Sela, Maujet Tung, Toyanate Latu.
Kegiatan sasi diawali dengan proses tutup sasi, yaitu masa berlakunya larangan. Pada
waktu yang telah ditentukan kepala kewang (petugas keamanan desa) dan para pembantunya
menanam tanda-tanda sasi di sekeliling perbatasan desa di darat dan di laut. Tanda-tanda sasi
adalah potongan-potongan kayu bakar atau bambu yang dibungkus menggunakan anyaman
daun kelapa mirip ketupat. Pada malam hari sepanjang sasi yang biasanya berlangsung 3
sampai dengan 6 bulan, kewang dan pembantu-pembantunya memeriksa dengan meniup kulit
bea (siput) besar serta meneriakan kata Sill eee! yang sama artinya dengan sasi! Teriakan itu
disambut warga dengan meneriakkan Seke eee!, berarti “semoga menjadi kuat!”. Upacara
yang sama dengan acara buka sasi, dilakukan pada malam hari karena pada waktu malam
arwah leluhur akan berkumpul di baileu. Kesaksian leluhur dianggap penting untuk
melegitimasi pelaksanaan sasi.
Sasi biasanya berlangsung 3 sampai dengan 6 bulan dan pada malam hari sepanjang
sasi para kewang dan pembantu-pembantunya memeriksa dengan meniup kulit bea (siput)
besar serta meneriakkan kata Sill eee! Yang sama artinya dengan sasi! Teriakan itu disambut
warga dengan menerikkan Seke eee!, berarti “semoga menjadi kuat!”. Kemudian, setelah
tutup sasi dalam jangka waktu tertentu secara adat maka dilakukan ritual buka sasi. Prosesi
ini dilakukan agar terjaga lingkungan kehutanan didaerah itu. Penebangan pohon dilakukan
dengan pilih pohon, tidak semua pohon dapat ditebang
Kaitannya dengan sistem pernapasan pada manusia adalah, hutan merupakan paru-
paru dunia. Pohon menghasilkan oksigen yang digunakan untuk proses pernapasan manusia.
Jika pohon-pohon yang ada di hutan tersebut tidak ditebangi secara liar, akan tetap terjaga
kualitas udara atau oksigen yang dihasilkan. Hal ini sangat berpengaruh besar terhadap proses
pernapasan manusia. Karena manusia dalam bernapas membutuhkan oksigen. Salah satu
sumber yang menghasilkan oksigen adalah pohon.

Anda mungkin juga menyukai