Bab
Metoda Perbaikan
Rehabilitasi Trestle Pelabuhan Larantuka Tahun 2022
5.3.2 Perbaikan Spalling dengan Metoda Grouting
A. Prosedur Perbaikan
Prosedur dan perbaikan kerusakan spalling pada beton dilakukan sebagai berikut :
1. Lakukan chipping/kupas untuk melepaskan beton yang rusak dengan
menggunakan demolition drill. Chipping dilakukan sampai menemukan beton yang
masih baik (masih keras). Saat melakukan chipping jangan sampai merusak
tulangan.
Gambar 5.4 Kegiatan chipping beton.
5-1
2. Ratakan bidang pinggir/tepi lokasi chipping dengan alat pemotong/gerinda, kira-
kira 90 derajat terhadap permukaan beton. Jaga agar seluruh tepi ini tetap
vertikal.
3. Bersihkan material lepas seperti karat, serpihan beton dan kotoran lainnya dengan
menyemprotkan air menggunakan water jet yang bertekanan 100–200 bar.
Pembersihan ini juga bertujuan untuk menjenuhkan beton eksisting sebelum
pengaplikasian material.
Gambar 5.5 Proses pembersihan permukaan beton.
4. Jika ada tulangan yang rusak sehingga luas berkurang ±15 % akibat korosi,
lakukan penggantian tulangan dan panjang penyaluran tetap diperhitungkan.
a) Penyaluran Tulangan
Panjang penyaluran tulangan ke dalam beton dilakukan sepanjang 10 cm, dengan
terlebih dahulu tulangan diberikan perekat tulangan-beton setebal 2 mm.
Kemudian untuk menguatkan tulangan baru di las titik dengan tulangan lama.
b) Pengelasan
Pekerjaan pengelasan dilakukan untuk melakukan penyambungan tulangan baru
dengan tulangan eksisting. Penyambungan dilakukan dengan melakukan overlap
sepanjang 40 diameter tulangan, posisi pengelasan titik. Sebelum dilakukan
pengelasan, seluruh permukaan yang akan dilas dan daerah-daerah sekitarnya
harus dibersihkan dari karat, cat, bahan-bahan sisa (slag) dan kotoran-kotoran
lainnya dan harus dikeringkan dahulu.
5-2
Gambar 5.6 Penyambungan tulangan.
Gambar 5.7 Pengelasan tulangan.
5. Jika diinginkan lakukan pelapisan zat anti karat (zincrich/epoxy) untuk pencegahan
terhadap resiko korosi pada tulangan.
Gambar 5.8 Proses pelapisan tulangan dengan zat anti karat.
5-3
6. Install cetakan/bekisting yang mampu menahan tekanan dari material yang akan
diinjeksi. Lalu pasang pipa inlet dan pipa lubang kontrol outlet pada bekisting.
Seluruh celah-celah yang ada pada bagian-bagian sambungan/ pertemuan
bekisting, seal untuk mencegah bocoran material grouting. Urutan pelaksanaan
tergantung pada geometri perbaikan.
Perbaikan bidang vertikal, injeksi beton harus dilakukan dari titik terendah untuk
menghindari udara terperangkap. Injeksi material repair kedalam cetakan
(pouring) melaui pipa inlet dengan tekanan sesuai dengan persyaratan yang
diperlukan, hingga seluruh bidang terisi penuh.
Pouring dilakukan segera setelah selesai pengadukan dan sebelum material repair
mulai mengeras. Penundaan pouring dalam hal ini masih diijinkan dalam batas
dimana beton masih dapat dikerjakan tanpa penambahan air. Pouring harus
dilakukan selambat-lambatnya 30 menit setelah pengadukan.
Gambar 5.9 Proses pembuatan dan pemasangan bekisting.
5-4
Gambar 5.10 Proses mixing sebelum proses injeksi material repair (pouring).
Gambar 5.11 Proses mixing sebelum proses injeksi material repair (pouring).
7. Setelah cetakan beton dibuka yaitu 24 jam seusai pekerjaan pouring, maka
seluruh lapisan permukaan beton diberi lapisan pelindung yang berfungsi sebagai
lapisan perawatan beton untuk mengurangi penguapan air yang berlebihan atau
terlalu cepat dari beton segar agar tidak terjadi keretakan. Pemberian lapisan
pelindung dilakukan dengan menggunakan sprayer untuk seluruh permukaan
beton.
5-5
B. Bahan yang Digunakan
Material repair yang digunakan adalah micro-concrete, adapun keuntungan dari
material ini adalah :
a. Memiliki usia awal yang tinggi ( high early strength ).
b. Memiliki kuat tekan yang tinggi ( high ultimate strength ).
c. Mempunyai sifat sebagai bahan yang mengalir ( flowable long life grout ).
d. Bersifat dual expansion untuk mengantisifasi gejala retak-susut ( shrinkage
compensated ) pada kondisi basah ( kondisi plastis ) dan kering ( kondisi setelah
setting ) sesuai ASTM C-1107.
e. Mempunyai daya lekat yang baik pada permukaan beton lama / eksisting.
f. Memiki kemampuan memadatkan diri sendiri tanpa diperlukan Vibrasi.
g. Mempunyai tingkat permeabilitas yang rendah untuk menghambat masuknya
serangan ion chloride dan karbondioksida di udara.
h. Memiliki tingkat kemudahan pengerjaan yang tinggi ( high workability ).
5.4 Metoda Perbaikan Kerusakan Elemen Struktur Dermaga
5.4.1 Metoda Perbaikan yang Digunakan
Seperti telah dijelaskan bahwa kerusakan struktur yang terjadi pada Dermaga
Larantuka dikelompokan kedalam dua jenis, yaitu :
1. Kerusakan Ringan
Yaitu kerusakan beton berupa spalling yang tidak disertai dengan terekspose
dan terkorosinya tulangan.
2. Kerusakan Berat
Yaitu kerusakan beton berupa spalling yang disertai dengan terekspose dan
terkorosinya tulangan.
Metoda perbaikan yang digunakan adalah metoda grouting dengan menggunakan
material perbaikan micro-concrete. Alasan digunakannya metoda ini adalah karena
kerusakan yang terjadi umumnya berdimensi cukup besar, sehingga metoda patching
kurang cocok untuk digunakan. Selain itu harga material patching lebih mahal
dibandingkan dengan harga material groting.
Perbedaan metoda pada kerusakan ringan dan kerusakan berat adalah pada tebal
chipping, tebal pouring dan penggantian tulangan. Karena perbaikan akan
dikembalikan ke dimensi semula maka tebal pouring sama dengan tebal chipping.
Pada kerusakan ringan tidak dilakukan penggantian tulangan.
A. Penanganan Kerusakan Ringan
Tabel 5.1 Tebal Chipping dan pouring tiap Elemen Struktur untuk Tipe Kerusakan
Ringan
Tipe Kerusakan Ringan
Tebal
No. Elemen Struktur
Chipping (cm)
a. Pelat Lantai Atas 10
1 Pelat
b. Pelat Lantai Bawah 7
2 Balok 7
5-6
Tiang a. Diameter 30 cm 5
3
Pancang b. Diameter 40 cm 7
4 Poer 7
5 Lisplank 7
5-7
B. Penanganan Kerusakan Berat
Tabel 5.2 Ukuran Chipping dan Pouring tiap Elemen Struktur untuk tipe
Kerusakan Berat
Tipe Kerusakan Berat
Tebal
No. Elemen Struktur
Chipping (cm)
a. Pelat Lantai Atas 10
1 Pelat
b. Pelat Lantai Bawah 9
2 Balok 7
Tiang a. Diameter 30 cm 6
3
Pancang b. Diameter 40 cm 9
4 Poer 9
5 Lisplank 9
5.4.2 Material Perbaikan
Ada beberapa produsen yang khusus menyediakan material terkait dengan perbaikan
struktur beton di Indonesia, antara lain : FOSROC, BASF dan SICA. Untuk bangunan
pada lingkungan agresif/laut produsen yang memiliki reputasi baik adalah FOSROC
dan BASF. Untuk kasus ini digunakan produk dari BASF.
A. Micro-concrete
Karakteristik dan spesifikasi dari bahan ini adalah sebagai berikut :
Tabel 5.3 Karakteristik Bahan Micro Concrete untuk Grouting
Flowable Trowable
2 2
Compressive Strength (ASTM C-109) 30 N/mm 1 days 48 N/mm
2 2
50 N/mm 3 days 65 N/mm
2 2
60 N/mm 7 days 75N/mm
2 2
70 N/mm 28 days 92 N/mm
2
Flexural Strength(ASTM C348) 10,5 N/mm 28 days
2
Tensile Strength (ASTM C-348) 5,5 N/mm 28 days
Initial Setting Time 5-6 hr
Packaging 25 kg/ bag
5-8
Tabel 5.4 Spesifikasi Bahan Micro Concrete untuk Grouting
Supply Form Powder
Color Cement grey
Density (wet) Flowable 2,25
Density (wet) Plastic 2,28
Flow Trough (cm) Flowable 30-50
Material Mengandung MCI
Bahan ini merupakan berupa bubuk kering yang siap pakai dengan menambahkan air
bersih (air PAM) dengan ukuran yang telah ditentukan oleh pabrik pembuatnya. Bahan
dasar material ini adalah P.C agregat halus, additive, agregat kasar dengan
ukuran 2-5 mm dan serat fibre yang telah dicampur menjadi satu dan dikemas
dalam kemasan khusus dari pabrik. Kandungan yang cukup penting untuk
diperhatikan adalah MCI (Migration Corrosion Inhibitor) yang berfungsi untuk
menghambat karat yang mungkin terjadi pada tulangan sebagai akibat dari
lingkungan laut yang mengandung chloride.
Micro-concrete dikirim ke lapangan dalam bentuk bubuk kering. Harus dikemas
dengan kemasan kedap air untuk menjamin tidak rusaknya material chemical yang
terkandung didalamnya. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah masuknya uap air
kedalam kemasan yang dapat merusak material ini sebelum digunakan, di karenakan
kondisi udara yang memiliki tingkat kelembaban yang cukup tinggi pada tempat kerja
yang terletak di tepi pantai.
B. Bahan Coating Protection
Bahan ini berupa acrylic, merupakan bahan untuk proteksi terhadap penetrasi air dan
chlorida. Bahan ini mempunyai keunggulan sebagai berikut :
a. Melindungi beton terhadap karbonisasi.
b. Melindungi beton terhadap penetrasi chlide yang dapat menyebabkan korosi.
c. Tidak mudah ditembus air.
d. Tahan terhadap sinar UV.
e. Dapat melekat dengan baik pada permukaan beton.
f. Mudah dilaksanakan.
g. Dapat dilaksanakan pada permukaan beton yang masih muda.
Setiap selesai pekerjaan pouring pada seluruh struktur yang diperbaiki harus diberikan
lapisan pelindung yang disebut dengan acrylic protective coating untuk mengurangi
penguapan air yang berlebihan atau terlalu cepat dari beton segar agar tidak terjadi
keretakan.
Bahan yang dipergunakan harus memiliki fungsi curing. Meningkatkan ketahanan
abrasi pada permukaan beton, melindungi beton dari kontaminasi terhadap bahan
kimia yang terkandung dalam air laut serta sinar ultra violet, melindungi beton dari
serangan ion chloride dan karbondioksida, mengurangi terjadinya plastis shrinkage
crack dan dusting.
Karakteristik dan spesifikasi dari bahan ini dapat dilihat pada Tabel 5.5 dan Tabel
5.6.
5-9
Tabel 5.5 Karakteristik Bahan Coating Protection
Before After
Weathering Weathering
2 -7 -7
CO2 Diffusion Coefficient ( cm / Sec ) 150 x 10 2,227 x 10
5
Diffusion Resistance ( )ע 9,9 x 10 6,5 x 10
5
Equivalent Air Layer Thicknees ( R ) 406 m 263 m
Equivalent Thicknees Of Concrete ( Ss ) 102 m 66 cm
Dry Film Thicknees ( Microns ) 410 400
Tabel 5.6 Spesifikasi Bahan Coating Protection
Supply Form Thixotropic Paste
Color Various
Density 1,3 Kg/L
Solids Content 45% v/v
Application Temperature min 5°C
max 35°C
pH Value 9 – 10
Curing Properties @ 25°C and 50% RH
Touch Dry 2 hrs
Re-coat 6 hrs
Fully Cured 7 days
Daya tahan bahan terhadap rembesan air adalah sebagai berikut :
-3 2
Water vapour diffusion coefficient : 2,5x10 cm /sec DH20
Diffusion resisitance coefficient
Equivalent thickness (Sd)
@ 360 microns d.f.t
Kemampuan bahan dalam berevaporasi :
2
Water vapour transmission rate (WVT) : 25,0 g/m /24 hrs
Material yang digunakan berbahan dasar acrylic dalam bentuk cair, tidak dapat
menyusut.
C. Bahan Perekat Tulangan-Beton (Steel-Concrete Bonding Agent)
Fungsi utama dari material ini adalah untuk meningkatkan daya lekat antara beton
dengan tulangan yang digunakan bahan perekat yang berasal dari Epoxy Resin.
Adapun keunggulan dari bahan ini adalah
a. Bahan perekat yang baik.
b. Cepat kering.
c. Dapat melekat dengan baik pada permukaan yang lembab.
d. Mudah diaplikasikan.
Berikut ini adalah karakteristik dan spesifikasi bahan yang digunakan:
Tabel 5.7 Karakteristik Bahan Perekat Tulangan
2
Tensile strength @ 30°C 24 N/mm
Elongation at break (ASTM D 638) 0,7 %
2
Compressive modulus (ASTM D 695) 2.750 N/mm
Slant shear strength 34 N/mm
2
Compressive yield strength 69 N/mm
2
Tabel 5.8 Spesifikasi Bahan Perekat Tulangan
Supply Form Part A Paste
Part B Viscous Liquid
Color Part A Paste White
Part B Viscous Liquid Black
Density 1200 - 1250 Kg/L
Non sag Thickness @ 35°C 13 mm
Heat deflection temperature 48°C
Appilication temperature Max 5°C
Min 35°C
Bahan yang dipakai harus merupakan lem yang sangat kuat, bersifat cepat reaksi,
tahan terhadap pengaruh kimiawi dan mudah dalam [Link] vertikal.
5.5 Sistem Fender Baru
Berikut ini adalah kondisi lingkungan dan kondisi dermaga eksisting yang perlu
diperhatikan dalam dalam menyusun konsep perencanaan sistem fender :
1. Pelabuhan Boom Baru Palembang, merupakan pelabuhan yang melayani kapal dan
tongkang.
2. Masalah pada fender muncul ketika yang dilayani adalah tongkang, diperlukan
fender yang cukup panjang (sesuai dengan tunggang pasang) sehingga fender
tidak akan terangkat oleh tongkang ketika kondisi perairan mulai pasang.
3. Kondisi pasang surut Sungai Musi dengan tunggang pasang 3,8 meter,
membutuhkan panjang fender 4 meter.
4. Tinggi Lisplank eksisting adalah ± 2 meter, sehingga diperlukan struktur tambahan
untuk meletakkan fender.
5. Usulan sistem fender yang diajukan Konsultan adalah dengan membuat satu baris
tiang pancang di depan struktur dermaga eksisting. Tiang pancang tersebut
disatukan oleh balok yang dicor monolit dengan dermaga eksisting. Sebagai
dudukan fender dibuat poer dengan tinggi yang disesuaikan dengan tinggi fender.
Fungsi utama dari sistem fender baru adalah sebagai tempat menempelnya fender,
sistem fender tidak didesain sebagai elemen struktural, namun akan memberikan
kontribusi penambahan kekuatan bagi dermaga eksisting. Prinsip desain dari sistem
fender adalah lebih kepada pemenuhan kebutuhan dimensi untuk fender. Gambar
denah sistem fender (tipikal) dan tampak depan sistem fender (tipikal) dapat dilihat
pada Gambar 5.13.
5 - 17
Gambar 5.13 Denah dan tampak depan sistem fender (tipikal).
5 - 18