Pencegahan Blowout dalam Pengeboran
Pencegahan Blowout dalam Pengeboran
1
DAFTAR ISI
1. PENDAHULUAN
2. FUNGSI DRILLING FLUID
3. TEKANAN FORMASI
4. PRINSIP DASAR PENCEGAHAN SEBURAN LIAR
5. PENEYEBAB WELL KICK 6. PENCEGAHAN TERJADINYA SWABB
7. GEJALA KICK8. PROSEDUR DARURAT PENCEGAHAN
SEMBURAN LIAR
8. PROSEDUR MENUTUP SUMUR
9. HUBUNGAN TEKANAN TUTUP DRILL PIPE ( SIDP ) DAN
TEKANAN TUTUP CASING ( SICP )
[Link] ALLOWABLE CASING PRESSURE (MACP)
11. MEMATIKAN WELL KICK
12. PERUBAKAN PERILAKUSELAMA PROSES KILLING KICK
13. MEMPERKIRAKAN TEKANAN FORMASI
14. SHALLOW GAS
[Link] CONTROL EQUIPMENT
2
1. PENDAHULUAN
Drilling Untuk
melibatkan mencapai
banyak team target
kerja yang kedalaman dan
memiliki zana produksi
pengetahuan dan tanpa terjadi
skill dari rig problem
personel blowout.
4
P2$$#0.Q0
1$RPSR%T
:
• Sebuah Well Kick hanya dapat terjadi apabila tekanan
formasi lebih besar dari tekanan hydrostatis lumpur
• Karena perbedaan ini mengakibatkan fluida formasi ( air
formas, minyak dan gas) yang disebut influx mengalir
masuk kedalam lubang bor .
• Apa bila saat terjadi influx( kick) kemudian sumur ditutup
dengan BOP maka dalam kondisi ini sumur terkendali (
under control ) disebut terjadi Well Kick dan ini dapat
dibunuh
• Blow-out terjadi bila Kick (influx) tidak dapat di
kendalikan dan fluida formasi terus menerus menyembur
ke permukaan tanah.
• Rig Crew harus semua di training dan diingatkan
setiap waktu, agar mereka dapat melakukan tindakan
yang tepat supaya sumur terkendali (under control)
6
KERUGIAN DAN BAHAYA BLOWOUT
• DAPAT TERJADI KORBAN JIWA
• PENCEMARAN LINGKUNGAN
• KEHILANGAN UNIT DRILLING RIG & SUMUR
• KEHILANGAN/KERUGIAN MIGAS
• MEMERLUKAN BIAYA MEMATIKAN YANG SANGAT MAHAL
7
LATAR BELAKANG
8
'(.+/.'#-*/*(#
'2+Q2,*Y*+#/21%(*+#
$.*(#-*(.#/%&%(#&.,*/#
'*-*#'2+,21R(*+#*-*$*Y
&59]7D7#:5;7979#EOJ>=@:7:A@#
;=6=?#$%&'%( @5979:A7@7#
@5JA;A:#65GAE#G5@7>#J7>A#:5;7979#
<=>?7@A"
1$RPR%T#'(2\2+T2(#/T*Q0
Q*/.+,#QR+-%QTR(
/2&2+
$*'./*+#&.,*/
A
T20*+*+#Y)-(R/T*T./#$%&'%(
3a&
Ph = 0,052 xMWxTVD
-A?7974
&P#^#&BJ#P5ADE:#FJ59@A:O#6B?UB>#WUUDX
T\-^#05J767?79#:5D7;#W<:X
T20*+*+#Y)-(R#/T*T./#T.-*0#
-.'2+,*(%Y.#R$2Y4
\ %0%(*+#-*+#12+T%0#$%1*+,
\ 02&.(.+,*+#$%1*+,
\ \%$%&2#3$%.-*#-*$*&#$%1*+,
'2(T*&1*Y*+#T20*+*+#'2(#/*T%*+#02-*$*&*+#-./21%T#
,(*-.2+T#T20*+*+#W'/.F3TX4
,(*-.2+T#T20*+*+^#_V_LH#`#3-
!D
Bejana Berhubungan
Gas
MW2 TVD2
TVD
TVD3
MW1 TVD1
1 2 3 4 5 6
Tekanan hydrostatis pada dasar lubang sama
T20*+*+#3R(&*/.#*-*$*Y#T20*+*+#-*(.#3$%.-*#)*+,#&2+,./.#
'R(.S'R(.#3R(&*/.
+R(&*$+)*T20*+*+#3R(&*/.#/*&*#-2+,*+#T20*+*+#
Y)-(R/T*T./#*.(#3R(&*/.#)*+,#&2+,./.#'R(.S'R(.#&%$*.#-*(.#
'2(&%0**+#-*+#-.&*+*#02T.0*#'(R/2/#/2-.&2+T*/.#*.(#
T2(/21%T#-*'*T#&2+,*$.(#121*/#'*-*#/**T#'(R/2/#
QR&'*0/."
/2Y.+,,*#3R(&*/.#-.0*T*0*+#12(T20*+*+#+R(&*$ 1.$*&*+*#
T20*+*+#3R(&*/.#T2(/21%T#&2&.$.0.#,(*-.2+T#T20*+*+#/*&*#
-2+,*+#,(*-.2+T#*.(#T*P*(#/*&'*.#*.(#3R(&*/.#F*/.+##W_VKKH#'/.F3TS
_VKML#'/.F3TX
!"
T20*+*+#3R(&*/.#+R(&*$#.+.#-.#'2+,*(%Y.#/*$.+.T)#
*.(3R(&*/.V#T2&'2(*T%(#-*+#02$*(%T*+#,*/#/2Y.+,,*#
/2T.*'#(2,.R+#-*'*T#12($*.+*+"
\ /5G7DA79#G5@7>#G7@A9##_VKKH#U@AF<:
\ $7B:#CEA97#@567:79V#+=>:#@57#_VKLH#U@AF<:
\ T56B;#&5;@A;=V#_VKML#U@AF<:
\ -75>7E#J5;7:#;BG7E#D7>7?#:5>:A9DDA#JA:5?B;79#_VL!L#U@AF<:
/K,+' /K+9
*
*
!!b"!b!@ ',6)&5-01 !7
` T20*+*+#-*'*T#T.-*0#+R(&*$#0*(2+*#*-*+)*#,*/#
&.,(*/.#02#$*'./*+#$21.Y#-*+,0*$
!:
!=
TRANSITION ZONE
• Merupakan formasi dengan gradient tekanan mulai berubah
dari bergradien tekanan normal ( 0,45 psi/ft ) menuju ke
gradient tekanan lebih besar (abnormal ).
• Tebal formasi transisi ini fungsi dari permeabilitas
vertikal/sealingcapability formasi dan beda tekanan.
ZoneTransisi normalnya ada kecuali anhydrites, garam
• Kehadiran transition zone atau mulai masuk zona transisi
sangat penting untuk evaluasi tekanan formasi.
• Properties formasi di zona ini sering menunjukkan perubahan
dan trend perubahan ini dipakai untuk mengestimasi
perubahan gradien tekanan untuk melakukan koreksi density
lumpur bor.
17
SHALLOW GAS
14.1. DEFINISI
• Gas dangkal adalah akumulasi gas yang ditemukan
selama pengeboran diatas kedalaman titik
pemasangan casing pertama yang dapat menahan
tekanan.
• Kondisi yang demikian terrdapat dua pilihan yaitu :
- dilakukan divert (pengalihan aliran),atau
- bila diputuskan menutup sumur yang akan dapat
terjadi kondisi dimana tekanan tutup sumur
ditambah tekanan kolom hydrostatis akan dapat
menimbulkan pecah formasi dan kemungkinan
terjadi cratering
18
B. SAAT SEDANG MENGEBOR FORMASI GAS
– Mengebor gas dan terjadi gas cut pada sumur dalam tidak
menimbulkan masalah kick, tetapi untuk formasi gas
dangkal, dan bila overbalance drilling flid rendah maka
penurunan tekanan dasar lubang karena gas cut akan
dapat menimbulkan well kick.
– Tekanan formasi, gas dan water saturation, porositas, dan
temperatur formasi dan temperatur sirkulkasi akan
berpengaruh pada besarnya volume gas yang terlepas dari
drill cutting, Selain itu yang juga sangat berpengaruh adalah
ukuran lubang bor, penetration rate, mud weight dan
circulating rate. Semakin besar ukuran lubang, penetration
rate, akan semakin besar efek penurunan desity Lumpur di
annulus yang berakibat penurunan tekanan hidrostatis.
Sementra over balance mud weight dan circulating rate
semakin besar akan memperkecil volume gas. Terlebih bila
terdapat 2 zone gas maka saat mengebor yang terletak
dalam dapat memancing terjadi semburan gas dari formasi
yang lebih dangkal
19
PROBLEM SAAT MENGEBOR FORMASI GAS DANGKAL
– Mengebor gas dan terjadi gas cut pada sumur dalam tidak
menimbulkan masalah kick, tetapi untuk formasi gas dangkal,
dan bila overbalance drilling flid rendah maka penurunan
tekanan dasar lubang karena gas cut akan dapat menimbulkan
well kick.
– Tekanan formasi, gas dan water saturation, porositas, dan
temperatur formasi dan temperatur sirkulkasi akan berpengaruh
pada besarnya volume gas yang terlepas dari drill cutting,
Selain itu yang juga sangat berpengaruh adalah ukuran lubang
bor, penetration rate, mud weight dan circulating rate. Semakin
besar ukuran lubang, penetration rate, akan semakin besar efek
penurunan desity Lumpur di annulus yang berakibat penurunan
tekanan hidrostatis. Sementra over balance mud weight dan
circulating rate semakin besar akan memperkecil volume gas.
Terlebih bila terdapat 2 zone gas maka saat mengebor yang
terletak dalam dapat memancing terjadi semburan gas dari
formasi yang lebih dangkal
20
*$T2(+*T.3#T.+-*0*+#/**T#*-*#/2&1%(*+#,*/#
12(Y*/.$ ,*,*$
R'2(*/.#
-.\2(T2( ,7 ,7
@ @
T%T%'#
'2+%Y
&2+Z*,*#T20*+*+#
Y)-(R/T*T./ 0R$R&# $%&'%(
/2+*+T.*/*#/2-.0.T#$21.Y#
12/*(#-*(.#T20*+*+#
3R(&*/."
T20*+*+#3R(&*/.#Y*(%/#
-.02T*Y%.#*T*%#-.'2(0.(*0*+#
12/*(+)*
-.T2+T%0*+#-2+/.T)#$%&'%(#
)*+,#Y*(%/#-.'*0*.
"2
-2+/.T)#-(.$$.+,#3$%.-
4NFLIN+VLIWGOQ+QNIJ+PUFNIJ+KLIQLMNMPNI+OLPNINI+TQVFX+WONOGW+
PXHXK+]HUGVN+VFGHHGIJb[XFP+XeLF++HLMGT+FLIVNT+VNFG+OLPNINI+]XFKNWG,+
4XIVGWG+GIG+KLIQLMNMPNI+]HUGVN+]XFKNWG+KLIJNHGF,
%+T%0#&2+Q2,*Y#P2$$#0.Q0#&.+.&*$#
T20*+*+#Y)-(R/T*T./#-(.$$.+,#3$%.-#
Y*(%/#/*&*#-2+,*+#T20*+*+#3R(&*/.
8NWGIJ
Ph = 0,052 xMWxTVD
8LKLIO Ph = Pf
Pf
8NWGIJ+/TXL
MW =
0,052 xTVD
%+T%0#&2+Q2,*Y#0.Q0#/**T#T(.''.+,#R%T#-2+/.T)#
Y*(%/#$*1.Y#T.+,,.#%+T%0#&2+,.&1*+,#
<XFPXeLF+-HUGV '2+%(%+*+#T20*+*+#/**T#,2(*0*+#&2+Q*1%T
Pf
MW = + !ob
0,052xTVD
"7
DENSITY LUMPUR
• TIDAK BOLEH TERLALU RENDAH
Karena akan dapat terjadi swabb effect pada saat mengangkat
string
25
Y%1%+,*+#'*(T.02$#/R$.-#-2+,*+#02(%/*0*+#3R(&*/.,
\ 3LFVNSNO+VUN+SLIVLPNONI+UIOUP+KLKGIGKNHGWGF+PLFUWNPNI+]XFKNWG+b+
]XFKNOGXI+VNKNJL+PNFLIN+PLMLFNVNNI+WXHGV+VNHNK+YXKSHLOGXI+]HUGV+
!"#?5?GB79D#@5?B7#@=6AJ#W#C=?U65:5#@=6AJ#>59=e76X#
H"#?59D59J76A;79#<6BAJ#6=@@#@5C7>7#:=:76#W#C=?U65:5#<6BAJ#6=@@#
C=9:>=6X
2,+&2&'2(02.$#-.332(2+T.*$#'(2//%(2#-2+,*+#
3R(&*T.R+#'(2//%(2
"=
• Brine yang secara fisik relatif bersih tetapi mengandung
0,05% solid.
• Apabila brine loss kedalam formasi 50 bbls selama workover
atau completion, maka solid yang tersaring akan mencapai
2430 [Link] menunpuk pada formasi produksi atau pada lubang
perforasi.
• Lubang perforasi dapat diperkirakan sama dengan silinder
berdiameter 0,5 in dan panjang 10 in. Volume sebuah perforasi
tersebut berkisar 2 cubik in. Sehingga untuk sejumlah
kotoras/solid 2430 [Link] akan dapat menutup penuh 1215
perforasi.
• Pada kenyataan tidak banyak sumur yang memiliki perforasi
sebanyak tersebut diatas dan jumlah loss fluida workover
banyak yang lebih dari 50 bbls. Sehingga andaikata fluida
workover yang kelihatan bersih mengandung 500 ppm solid
atau 0,05% solid, maka berdasar perhitungan contoh diatas
dapat diperkirakan jumlah lubang perforasi yang tersumbat solid
akan mencapai 120 buah dan kondisi yang demikian ini akan
jelek
27
MEMBUANG SEMUA SOLID
(COMPLETE SOLID REMOVAL)
AGAR EFEKTIF MAKA FLUIDA YANG KONTAK DENGAN FORMASI
PRODUKSI HARUS TIDAK TERDAPAT SOLID LEBIH BESAR DARI 2
MICRON. HAL INI MELIPUTI:
• Meniadakan solid yang besar dengan menyaring melalui filter 2 micron
absolute rate, di dukung dengan peralatan lain seperti control oxygen
untuk memperkecil iron oxide, berhati-hati mempergunakan thread
dope, membuang kotoran, kerak dll. dari dalam pipa
• Mengijinkan fluid loss ke dalam formasi dan pada prakteknya pergerakan
solid yang kecil halus masuk kedalam formasi. Tingkat kehalusan di batasi
dengan meminimize differential pressure kedalam formasi. Pembersihan
solid halus tersebut dari system pori batuan setelah job selesai adalah
dengan memaksimalkan produksi yang secara gradual ditingkatkan flow
ratenya.
• Kemungkinan kesulitan dalam mengeluarkan / mengangkat partikel
besar dari dalam dasar lubang sumur adalah dikarenakan viscositas
yang rendah dari carrying capacity yang rendah. Meningkatkan
kecepatan alir dapat dipergunakan untuk menggantikan kekentalan.
Kecepatan alir annulus 150 ft/min dengan 2 3/8” tubing dalam casing 7”
atau 2 3/8” tubing dalam casing 5 ½ “.
28
COMPLETE FLUID LOSS CONTROL
AGAR EFFEKTIF PARTIKEL HARUS TIDAK DI IJINKAN MELEWATI
PERMUKAAN FORMASI MASUK KEDALAM PORE SYSTEM. HAL INI
MENCAKUP:
• Hentikan semua solid pada permukaan formasi dengan memakai
workover fluid dengan solid yang berukuran sesuai untuk
menyumbat dengan ccepat dan ditambah koloid agar sumbatan
efektif.
• Bersihkan penyumbat formasi dipermukaan setelah selesai job
dengan backflow dan atau dengan degradasi dari calsium carbonate
solid partikel dan colloid dengan asam. Dengan keterbatasan resin
solid yang dapat larut dengan crude oil atau pelarutan batir-butir
garam dengan air yang tidak jenuh garam dapat dipakai lebih baik
dari pada calcium carbonate.
• Kemungkinan penerapan pressure differential untuk membuka plug
semua section setelah job tidak dimungkinkan, hal ini tidak mungkin
untuk kontak dengan semua sction yang tersumbat dengan asam
karena ada tendensi by passing.
• .Penerapan yang optimal tergantung kondisi dan operasi spesifik
dari sumur. Untuk beberapa operasi kritis seperti sand
consolidation dan gravel packing melalui perforasi , “complete-solid-
removal “ diterapkan untuk mendapatkan productivity tertinggi dan
biaya murah.
29
5. PENEYEBAB WELL KICK
PENYEBAB WELL KICK DAPAT DIKELOMPOKKAN
DALAM DUA MACAM PENYEBAB UTAMA WELL KICK.
30
c. BERAT JENIS LUMPUR BERKURANG
a. Kelaian dalam memenjaga density lumpur sesuai
program/perintah
- Lalai dalam mengecek dan memelihara density lumpur
- Penambahan air yang tidak disengaja
b. Gas dan udara tersirkulasi
d. HILANG LUMPUR
a. Hilang lumpur karena alam
- Lapisan sangat permeable
- Lapisan berongga/bergua
- Rekahan / retakan
b. Hialng lumpur karena kerja
- Sqoezze effect
- Pressure surge
32
AKAR PERMASALAHAN INSIDEN BLOWOUT
33
PENYEBAB BLOWOUT SETELAH DIKETAHUI GEJALA
WELL KICK OLEH DRILLING CREW ADALAH
11/21/18 [Link] 34
BENTUK HUMAN ERRROR
• RIG CREW TIDAK MELAKUKAN PENUTUPAN SUMUR DENGAN
PROSEDUR YANG BENAR DAN JUGA PADA SAAT KILLING
• PERALATAN RUSAK PADA SAAT PENUTUPAN
35
6. PENCEGAHAN TERJADINYA SWABB
36
PENGISIAN LUBANG YANG GAGAL SAAT TRIPPING
OUT
SAAT MENCABUT PIPA TUBING ATAU DRILL PIPE AKAN TERJADI
PENURUNAN PERMUKAAN LUMPUR DALAM SUMUR.
Sampai kondisi tekanan di dasar lubang lebih rendah dari tekanan
formasi maka aliran fluida formasi akan terjadi dan dan selanjutnya
dapat terjadi blow out
MF = Lpxdispl
37
&2+,Y.T%+,#/$%,#%+T%0#&2+Q*1%T#02(.+,
&P=#### ^#12(*T#Z2+./#$%&'%(#*/$.V#UUD
&P@# ^#12(*T#Z2+./#$%&'%(#/$%,V#UUD
$J#### ^#12-*#T.+,,.#'2(&%0**+#V#<:
*V $@###### ^#T.+,,.#/$%,V#<:
Q7U#JU# ^#Q*'*/.T*/#-(.$$#'.'2#V#GG6F<:
T20"#Y.-(R/T"#-.#*# ^##T20"#Y.-(R/T"#-.#1
_V_LH#a#&P@#a#$@# ^##_V_LH#W#$@#b#$J#X#&P=
*W &P@#a#$@# ^##W$@#b#$JX#&P=
&P@#a#$@#S &P=#a#$@^##$J#a#&P=
$@#W#&P@#S &P=#X ^##$J#a#&P=
$J#a#&P=
$@#^#SSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS
W#&P@#S &P=#X#
W#$J#a#&P=#X#Q7U#JU
\R$%&2#/$%,#^#SSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS
W#&P@#S &P=#X#
\ %+T%0#'2(2+Q*+**+#&2+Q*1%T#02(.+,#W'%$$#-()X#12-*#T.+,,.#'2(&%0**+#$%&'%(#-.-*$*&#
-(.$$#/T(.+,#-2+,*+#'2(&%0**+#$%&&'%(#-.*++%$%/##*-*$*Y#/2'*+Z*+,#!VL#/T*+-
\ T.-*0#-./*(*+0*+#%+T%0#&2&'2,%+*0*+#12(*T#Z2+./#/$%,#$%&'%(#)*+,#T2($*$%#T.+,,.#
%+T%0#T%Z%*+#&2&'2(02Q.$#\R$%&2#/$%,"
\ 12(*T#Z2+./#$%&'%(#)*+,#T.+,,.#*0*+#&2&'2(T.+,,.#\./0R/.T*/"
2@
Pengontrolan pengisian lubang saat tripping out
• Mengontrol pengisian lubang bor dimaksudkan untuk memeriksa
secara langsung terjadi swabb atau tidak.
• Apabila volume lumpur yang diisikan lebih kecil dari volume yang
seharusnya dan terdapat kecederung terus semakin mengecil volume
lumpur ang diisikan berarti terjadi swabb.
• Apabila ada tanda-tanda terjadi swabb seperti diatas maka yang harus
dilakukan adalah menurunkan kembali bit sampai ke dasar lubang dan
melakukan sirkulasi untuk memperbaiki kondisi lumpur.
• Dari pengalaman di lapangan, sebagaian besar swabbing terjadi pada
saat sedang mencabut string di "freshly drilled hole", karena pada
bagian ini kemungkinan ada mud cake yang tebal dan belum pernah
terkikis bit waktu dicabut.
• Oleh karena itu untuk 10 stand pertama pencabutan rangkaian pipa bor
perlu dilakukan pemeriksaan dengan teliti terjadi swabb atau tidak dan
bila terjadi swabb maka secepatnya rangkaian batang bor harus
diturunkan kembali ke dasar lubang untuk selanjutnya memperbaiki
kondisi/properties lumpur.
39
• Walau demikian tidak berarti apabila setelah mencabut 10 stand
tidak menunjukkan gejala swabb pasti akan aman, tidak akan
terjadi kick karena swabb. Karena ada kemungkinan lubang
yang menyempit karena mud cake tebal atau shale yang
mengembang yang terletak jauh dari dasar lubang, maka saat
drill collar melalui lapisan tersebut dapat terjadi swabb.
• Oleh karena itu cara terbaik untuk mengecek swabb atau kick
saat tripping adalah melakukan monitor trend perubahan
volume pengisian saat cabut string di open hole.
• Volume pengisian lubang pada umumnya sedikit lebih besar
dari volume perhitungan teoritis karena adanya filtrate lost
baru dari lumpur, sehingga hal ini dapat dikatakan normal.
• Tetapi apabila ternayta terjadi perubahan trend dimana volume
lumpur yang diisikan lebih sedikit dari yang diperhitungkan
(teoritis) dan terjadi terus menerus penurunan yang semakin
banyak perbedaannya, hal yang demikian menunjukkan gejala
akan terjadi kick.
40
Jumlah Waktu Volume Pengisian lubang,bbl
Stand
N0. Stand Jam teoritis Nyata Trend
perubahan
1-10 04.00 5,8 7.1 +1,3
11-20 04.30 5,8 7.0 +1,2
21-30 05.00 5,8 7.0 +1,2
31-40 05.30 5,8 6.6 +0,8
41-50 06.00 5,8 6,1 +0,3
51- 60 06.30 5,8 5.5 -0,3 Trednd
61-70 07.00 5,8 4,9 -0,9 tidak
71-80 07.30 5,8 3,9 -1,9 normal /
swabb
81-9- 08.00 5,8 2,8 -3,0
41
TEKANAN FORMASI LEBIH BESAR DARI TEKANAN HYDROSTATIS WORK OVER /DRILLINGFLUID
42
CARA MEMPERGUNAKAN PUMP AKTIF TYPE TRIP TANK
43
11/21/18 [Link] 44
7. GEJALA KICK
SEBELUM TERJADI KICK SENANTIASA ADA GEJALA-GEJALA
YANG TAMPAK
45
N"!" ,2Z*$*S,2Z*$* P2$$#
0.Q0#/**T#-(.$$.+,
!" ->A66A9D#G>57;V#:=>@A#97A;#[J>7D
H" &5?G5@7>9O7#76A>79#JA#?BJ#<6=8#
6A95
I" \=6B?5#6B?UB>#JA#:79D;A#
G5>:7?G7E
K" /B?B>#&59D76A>#U7J7#@77:#
U=?U7#G5>E59:A
L" T7?U7;#7J79O7#D7@#7:7B#?A9O7;#
JA#:79D;A
M" /E765#J59@A:O#:B>B9#J79#B;B>79#
CB::A9D#G5@7>#J79#:7]7?
N" T5;7979#U=?U7#:B>B9#J79#
;5C5U7:79#G5>:7?G7E
i" 15>7:#@:>A9D#G5>:7?G7E
$*'./*+#&.,*/
!!b"!b!@ 7=
• Membesarnya aliran di mud flow line
Karena mulai mengalirnya fluida formasi masuk kedalam lubang bor
Gejala ini tampak di
- Mudflow line, indicator Flow sensor naik
- Aliran lumpur di shale shaker bertambah
• Volume lumpur di tangki bertambah
Gejala tampak:
- Deviation mud volume & alrm
- Pit Volume Totalizer&recorder
- Benda yang digatung dengan tali di tangki tenggelam
• Sumur mengalir pada saat pompa berhenti
• Tekanan pompa berubah dan kecepatan
berubah
Karena kolom lumpur iannulus tidak balance /underbalance
Gejala tampak
- di manometer pompa
- pump speed indicator
11/21/18 47
- Connentiongas semakin
membesar
- Background gas yang semakin
membesar
• Tampak adanya gas atau
minyak di tangki
Gejala ini tampak di
- Hot wire gas detector atau di gas
chromatograph
• Berat Jenis Lumpur Dari
Sumur Turum
• Permukaan Lumpur
Berbuih/ Berminyak
• Tampak adanya
penambahan kadar garam
darilumpur yang keluar
- Gejala ini tampak dari kadar Cl dari
uji air filtrale lost
11/21/18 48
N"H"#,2Z*$*#P2$$#0.Q0#/**T#T(.''.+,#R%T
7" \=6B?5#U59D@A79#6BG79D#65GAE#@5JA;A:##J7>A#O79D#
@5E7>B@9O7
G" '5>?B;779#J>A66A9D#<6BAJ#:5:7U#U59BE#W@77:#:AJ7;#7J7#
U59DA@A79X
C" ->A66A9D#<6BAJ#?59D76A>#@77:#J79#e=6B?5#6B?UB>#
JA:79D;A#G5>:7?G7E
N"I"#,2Z*$*#P2$$#0.Q0#/**T#T(.''.+,#.+
7" \=6B?5#<6BAJ7 JA:79D;A G5>:7?G7E 65GAE G79O7; J7>A
O79D#@5E7>B@9O7 7:7B :5>]7JA EA679D 6B?UB>
G" '5>?B;779 J>A666A9D <6BAJ#:B>B9 @77: @:>A9D#:B>B9
C" ->A66A9D#<6BAJ#?59D76A> J7>A @B?B> U7J7 @77:
U5?7@B;79 @:>A9D#G5>E59:A
J" \=6B?5#<6BAJ7 JA:79D;A G5>:7?G7E 97A; ;5?G76A
!!b"!b!@ ',6)&5-01 7A
7.4. GEJALA PADA SAAT
STRING DILUAR LUBANG
• DRILLING FLUID MENGALIR DARI
SUMUR
• SUMUR DITUTUP TAMPAK TEKANAN
CASING NAIK
11/21/18 50
GAS BERMIGRASI KEATAS TANPA PENGEMBANGAN
51
7.5. GEJALA KICK SAAT WELL LOGGING
• Kick yang terjadi pada saat logging, diantaranya disebabkan
swabbing yang terjadi karena logging sonde yang bekerja pada
lubang bor yang kecil (sempit).
• Karena pada saat mencabut batang bor telah terjadi sedikit influx
gas akibat swabbing, dan pada saat logging berlangsung gas
bermigrasi ke atas, atau kombinasi kedua sebab tersebut di atas.
• Adapun gejala yang dapat dilihat terjadi kick saat logging adalah
lumpur mengalir terus dari lubang bor ke mud flow line.
• Problem utama bila kick terjadi saat logging adalah kick terlambat
ditangani dan akibatnya kick dapat menjadi besar sebelum orang
memberi perintah atau memutuskan untuk menutup sumur.
• Apabila sumur mulai mengalir saat logging sonde masih di dalam
lubang bor, yang penting harus dilakukan adalah memeriksa
kedalaman sonde logging saat itu. Apabila sonde sudah dekat
permukaan sebaiknya cabut sekalian sampai di atas lubang, tetapi
bila logging sonde masih jauh di dalam lubang dan berbahaya
untuk diteruskan mencabut, langkah yang harus diambil tutup
sumur dengan Annular Preventer dan bila perlu potong kabel
logging atau di potong kabel logging dan tutup dengan ram
preventer.
11/21/18 52
!!b"!b!@ :2
8. PROSEDUR MENUTUP SUMUR
TERDAPAT 2 METHODA MENUTUP SUMUR YAITU
1. SOFT CLOSED YAITU MENUTUP SUMUR SECARA
LUNAK
DENGAN POSISI HYDRALIC CHOKE LINE VALVE TERTUTUP DAN CHOKE
DI CHOKE MANIFOLT TERBUKA ½ BAGIAN ATAU TERBUKA PENUH
11/21/18 56
8. PROSEDUR DARURAT PENCEGAHAN SEMBURAN LIAR
DRILLING
SEDANG MENGEBOR
1. MEMERI PERINGATAN/ ALARM 1. PERGI KE ACCUMULATOR UNIT 1. PERGI KE CHOKE MANIFOLD 1. PERGI KE DAERAH 1. PERIKSA SPRAY AIR DI
2. STOP ROTARY/POWER SWIVEL ANGKAT 2. PERIKSA ACCUMULATOR 2. PERIKSA ADANYA TANGKI DAN EXHOUSE ENGINE
SAMPAI TOOL JOINT/ COUPLING DIATAS 3. PERGI KE BOP STACK KEBOCORAN DEGASSER 2. PERIKSA BAHAYA
FLOOR 4. PERIKSA ADANYA KEBOCORAN 3. PERIKSA ADANYA BAHAYA 2. UKUR DAN CATAT ADANYA KEBAKARAN
3. STOP POMPA 5. PERIKDA ADANYA BAHAYA KEBAKARAN VOLUME WO FLUID DI 3. STANBY UNTUK
4. TUTUP BOP, BUKA CHOKE LINE KEBAKARAN 4. MERECORD TEKANAN TANGKI PERINTAH DRILLER
(HARD CLOSE) 6. KEMBALI KE RIG FLOOR LAPOR TUTUP CASING DI CHOKE 3. PERIKSA ADANYA
5. CATAT LAPORAN TEKANAN TUTUP DAN STAND BY UNTUK MANIFOLD BAHAYA KEBAKARAN
DRILL PIPE DAN CASING, KENAIKKAN PERINTAH DRILL ER 5. KE FLOOR DAN STAND BY 4. STAND BY UNTUK
VOLUME WO FLUID DI TANGKI UNTUK PERINTAH DRILLER PERINTAH DRILLER
6. SEGERA LAPOR COMPANYMAN DAN TOOL
PUSHER
11/21/18
7. PERSIAPAN KILLING 57
PROSEDUR DARURAT PENCEGAHAN SEMBURAN LIAR
ROUND TRIP
58
RENCANA POSISI DAN TUGAS PERONEL
SELAMA OPERASI KILLING WELL KICK
DRILLER FLOORMAN
DERRICKMAN/AST. DRILLER
TEMPAT: di Rig Floor/ driller console TEMPAT : di Rig Floor ELECTRICIAN / MECHANIC
TEMPAT ; di tangki lumpur
TUGAS: TUGAS : TEMPAT : di Prime Mover /
TUGAS :
1. Memanggil/memberi tahu personel yang 1. Stand by menunggu perintah Genset.
1. Line up mud gas sparator, degasser ,
bertugas driller TUGAS:
mixing pump dll
2. Terus menerus memonitor dan mencatat 1. Memastikan engine/genset
2. Line up untuk menambah barite dan
waktu dan tekanan , volume lumpur dll dapat operasi baik saat killing
stand by untuk instruiksi rig superintendent&
selama operasi killing 2. Menjaga water spray exchouse
mud engineer.
3. Terus menerus di Rig Console untuk engine bekerja baik dan
3. Bila pompa jalan teruslah selalu
mengoperasikan pompa Rig selama killing memonitor kemingkinan adanya
memeriksa density lumpur , volume lumpur
4. Melaksanakan perintah Rig bahaya ke bakaran.
dan terus menginformasikan ke driller.
Superintendent
59
TEKANAN TUTUP CASING DAN DRILL PIPE
400
400
560 PSI
10000FT 560
PSI
0,052X10X9600=4992 PSI
0,052X2,3X400= 48 PSI
0.052X10X10000
=5200 PSI
400FT
5600
60
PERKEMBANGAN TEKANAN SAAT AWAL PENUTUPAN
61
MEMERIKSA SIDP BILA ADA TEKANAN
TERPERANGKAP
11/21/18 62
GAS BERMIGRASI KEATAS TANPA PENGEMBANGAN VOLUME
63
MENJAGA BHP TETAP DENGAN MEMBERIKAN
PENGEMBANGAN SAAT GAS BERMIGRASI
• Prinsip Dasar Well Control.
Biarkan tekanan SIDP naik 100- psi diatas true SIDP untuk
safety, selanjutnya jaga tekanan ini tetap, Dengan cara
membuang lumpur melalui choke manifold bila ada kenaikkan
tekanan +50 psi dan kembalikan SIDP menjadi 100 psi diatas
true SIDP tersebiut diatas.
64
Menjaga BHP tetap dengan Gas Migrasi dan mengembang
PDp PDp PDp PDp
Depth = 10.000 ft
Gas migrates Constant BHP Constant BHP
Bit = 8 ½ “
to 7500 ft Gas sampai di 5000 ft Gas sampai permukaan
Mud = 10 ppg
DP = 4 ½” – 16.60 lbs/ft SIDP = 620psi SIDP = 620 bbl SIDP = 620 psil
DC = 6 ½“ x 2 ¾” – 18 jts
BHP = 5820 psi
SIDP = 520 psi BHP = 5820 psi
SICP = 690 psi PCsg = 784 psi
Pit Gain = 15 bbl BHP = 6820 psi
PCasing = 720 psi
FP = 5720 psi
WInflux = 3 ppg 65
[Link] ALLOWABLE CASING PRESSURE (MACP)
• * CASING LIMIT
Besarnya tekanan casing tertinggi dari sisi ini ditentukan oleh tekanan tertinggi yang
dapat ditahan di dalam casing yang terpasang. Besarnya sekitar 80% internal yield
casing pressure (burshting Casing pressure).
DARI KETIGA LIMITASI TERSEBUT DIATAS OPEN HOLE LIMIT YANG MENJADI DASAR
PERHITUNGAN
11/21/18 [Link] 66
MANFAAT UJI LEAK OFF TEST:
67
PERSIAPAN LEAK OFF TEST
68
11. MEMATIKAN WELL KICK
Dipakai prinsip :
Constant Bottom Hole Pressure
Method.
Yaitu mematikan well kick dengan melakukan
sirkulasi untuk mengeluarkan influx dan atau
memompakan kill-mud menggantikan lumpur
lama tanpa terjadi masuknya influx baru, dengan
menjaga tekanan dasar lubang bor senantiasa
relatif tetap sedikit lebih besar dari tekanan
formasi
69
Slow Pump Rate Test
Pengertian.
Saat mematikan kick dipakai kecepatan pompa rendah,
biasanya 1/2 , 1/3 , sampai 1/4 dari kecepatan normal.
Untuk mengetahui Pressure Loss, diadakan uji coba dengan
kecepatan pompa rendah. Hasilnya biasa disebut sebagai Kill
Rate Pressure ( KRP ), atau Slow Circulating Rate Pressure.
• Concurrent Method
Pompakan lumpur lama untuk mengeluarkan cairan formasi,
sambil menaikkan density lumpur sepanjang sirkulasi.
71
Operasi Killing Driller’s Method
Sirkulasi 1
• Catat dan beri tanda SIDP dan SICP pada manometer
• Jalankan pompa, dan naikkan kecepatan pompa sampai
mencapai kecepatan kill rate speed , dan selama itu jaga agar
tekanan casing konstan sebesar SICP
• Setelah kecepatan pompa mencapai kill rate speed, catat
dan beri tanda pada manometer tekanan di drill pipe ( tekanan
ini adalah initial circulating pressure atau ICP yang besarnya =
KRP + SIDP).
Pemompaan jalankan terus dan jaga agar tekanan pada drillpipe
( ICP ) konstan dengan mengatur bukaan choke, sampai semua
gas keluar dari dalam lubang bor.
• Bila semua influx (gas, minyak/air asin) keluar habis. Stop
pompa dan kemudian tutup choke penuh.
• Baca tekanan dan catat tekanan di stand pipe dan di annulus.
Bila gas telah keluar, maka SIDP = SICP
72
Profil Tekanan – Driller’s Method Sirkulasi-1
PDp PDp PDp PDp PDp
PCsg PCsg PCsg PCsg PCsg
0 1 2 3 4
PDp
SIDP
KRP
Time
PCsg
73
Time
Sirkulasi 2
• Hitung berat jenis lumpur yang diperlukan ( Kill Mud Weight ),
dan siapkan lumpur berat.
KMW = OMW + [SIDP / ( 0.052 x TVD )]
• Hitung jumlah stroke pompa atau waktu untuk mengisi drill string
sampai bit MDXCapdp
STB =
CapPompa
• Pompakan lumpur berat. Jaga tekanan casing konstan sebesar
SICP sampai kecepatan pompa mencapai kill rate speed yang
disepakai, dan selanjutnya jaga tekanan casing ini konstan sampai
lumpur berat mencapai pahat ( waktu pemompaan = STB)
• Setelah STB time tercapai catat/tandai tekanan stang pipe dan jaga
tekan stand pipe itu konstan dengatur pembukaan choke, sampai
kill mud keluar dari lubang bor.
• Bila kill mud sudah keluar , stop pompa dan tutup choke.
• Baca tekanan di stand pipe dan di annulus/choke manifold
Bila bila SIDP=SICP= 0 maka berarti sumur sudah mati,
• Periksa aliran dengan buka choke, bila sudah mati buka BOP
74
Profil Tekanan – Driller’s Method Sirkulasi-2
PDp PDp PDp PDp PDp
PCsg PCsg PCsg PCsg PCsg
0 1 2 3 4
PDp
SIDP
KRP
PCsg
11/21/18 [Link] 75
Operasi Killing Kick dengan
Wait & Weight Method
6. KEBUTUHAN BARITE
Sack per bbl = [ 14,70 x ( KMW ppg- OMWppg)] : (35 – KMWppg)
Jumlah Barit diperlukan (sack )= sack/bbl x bbl
Mixing rate = sacks/bbl x kill rate
77
Profil Tekanan – Wait & Weight Method
PDp PDp PDp PDp PDp
PCsg PCsg PCsg PCsg PCsg
0 1 2 3 4
PDp
SIDP
KRP
PCsg
78
Contoh :
Data sumur :
Casing 9 5/8” - 6000 ft , Bit - 8 1/2”, MW 9.6 ppg
Drill pipe - 4 1/2” - 16.6 lbs/ft,Capacity - 0.0142 bbl/ft
Drill collar - 6 1/2” x 2 3/4” - 21 jts , Capacity - 0.0073 bbl/ft
Pompa Triplex 6 1/2” x 8 1/2”, Capacity - 0.0785 bbl/str
KRP @ 9800 ft, 50 SPM = 384 psi
Pada kedalaman 10000 ft terjadi kick
SIDP = 780 psi SICP = 960 psi Pit Gain = 15 bbl
Perhitungan :
1. Tekanan formasi FP = 0.052 x 9.6 x 10000 + 780 = 5772 psi
KMW = 5772 / ( 0.052 x 10000 ) = 11.1 ppg
2. ICP = SIDP + SCRP = 780 + 384 = 1164 psi
3. FCP = ( KMW / OMW ) x SCRP = ( 11.1 / 9.6 ) x 384 = 444 psi
4. Volume drill string = volume drill pipe + volume drill collar
Volume drill string = ( 10000 - 630 ) x 0.0142 + 630 x 0.0073 =
137.653 bbl
Surface To Bit Strokes = 137.653 / 0.0785 = 1753 strokes
Surface To Bit Time = 1753 / 50 = 35 menit.
5. Buat Pump Pressure reduction dengan grafis atau dengan
sistem matematis
79
Pump Pressure Reduction Schedule
Press.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 13
Time
Stroke
Press.
80
Pump Pressure Reduction Schedule
Press.
900
800
700
600
500
+ 444
400
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 13
Time 0 4 8 12 16 20 24 28 32 35
Stroke
Press. 1164 1090 1000 920 840 760 680 600 510 444
81
PUMP PRESSURE REDUCTION SCHEDULE
Pressure drop/..N..Stroke= (ICP-FCP):(STBxN)=……..psi/..N.. stroke
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
STB= FCP=
82
Q=9:=E#'59DA@A79#
'%&'#'(2//%(2#(2-%QT.R+#/QY2-%$2
'>5@@B>5#J>=UFH__
'>5@@B>5#J>=UFH__ /:>=;5^#W
/:>=;5^#W!!MK
!!MKSSKKK
!!MK KKKX4
X4!NLI
X4 !NLIa
!NLIaH__
H__X^#
X^#rL
X^# rL U@AF
U@AFH__#
H__# @:>=;5
! /:>=;5##_ .Q'###!!MK
H H__ !_Mr
I K__ rNL
K M__ iNr
L !___ NiK
M !H__ Mir
N !K__ LrK
i !M__ Krr
r /T1S!NLI 3Q'SKKK
!_
!!
!H
!I
!!b"!b!@ ',6)&5-01 @2
MEMPERKIRAKAN TEKANAN FORMASI SELAMA
PENGEBORAN BERLANGSUNG
3. SHALE
a. BULK DENSITY QUANTITATIV
CUTTING
b. SHALE FACTOR QUALITATIV
PARAMETER
c. VOLUME, BENTUK DAN UKURAN QUALITATIV
85
14.2. PENOMENA DAN PENCEGAHAN
86
14. SHALLOW GAS
14.1. DEFINISI
• Gas dangkal adalah akumulasi gas yang ditemukan
selama pengeboran diatas kedalaman titik
pemasangan casing pertama yang dapat menahan
tekanan.
• Kondisi yang demikian terrdapat dua pilihan yaitu :
- dilakukan divert (pengalihan aliran),atau
- bila diputuskan menutup sumur yang akan dapat
terjadi kondisi dimana tekanan tutup sumur
ditambah tekanan kolom hydrostatis akan dapat
menimbulkan pecah formasi dan kemungkinan
terjadi cratering
87
14.3. PENYEBAB KICK PADA GAS DANGKAL
89
C. SWABB EFFEK
Swabb ini dapat terjadi saat mencabut string karena ball-up
bottomhole assembly dan overbalance yang rendah
D. LOST SIRKULASI
- Tingginya ROP kombinasi dengan annulus velosity yang
rendah meningkatkan buid up cutting di lubng bor. Karena
Fracture gradient yang rendah di kedalaman dangkal,
unconsolidated formation, peningkatan equivalent
circulating density karena cutting akan cukup
menimbulkan. mud loss total.
Penurunan tekanan hidrostatis yang terjadi dapat
menyebabkan gas dangkal menyembur.
- Lost sirkulasi dapat terjadi pada saat running casing (
karena surge pressure atau saat cementing bila density
slurry dan/atau equivalent tekanan cirkulasi melebihi
kekuatan formasi.
90
*$T2(+*T.3#T.+-*0*+#/**T#*-*#/2&1%(*+#,*/#
12(Y*/.$ ,*,*$
R'2(*/.#
-.\2(T2( ,7 ,7
@ @
-A97?AC#;A66A9D#J7U7:#JA67;B;79 &5?5>6B;79#87;:B#65GAE#67?7#B9:B;#
P7;:B#B9:B;#5e7;B7@A#65GAE#67?7 >B9:BE
(5@A;=#C>7:5>A9D#>59J7E (5@A;=#D7D76#:5:7U#7J7F65GAE#>59J7E
T%T%'#
'2+%Y
/B?B>#J7U7:#JA?7:A;79# (>5@A;=#D7D76#O79D#J5?A;A79#>567:A<#
J59D79#?59@A>;B67@A;79# :A9DDA#]A;7#C7@A9D#C=9JBC:=>#J79D;76 A!
6B?UB>#U5?GB9BE -A97?AC#;A66A9D#@B6A:#JA67;B;79
%+T%0#&2+Q2,*Y#1$RPR%T#Y*(%/4
&2+Z*,*#2m"#T5;"Y)-(R/T*T./#&*0/.&%&#/**T##
&2+,21R(#{#T20"#(20*Y#3R(&*/.
W&7;@A?B?#2m"-59@A:O#$B?UB>#@77:#G=>#{2m"-59@A:O#
>5;7E#<=>?7@AX
0=9@59:>7@A#CB::A9D#O79D#:A9DDA#7;79#?59A9DDA;79#
5mV:5;"EOJ>=@:7:A@#6B?UB>#JA799B6B@#J79#J7U7:#
?5?5C7E;79#<=>?7@AV#@5EA9DD7#:5>]7JA#?BJ#6=@@#
:=:76
T2(Z*-.+)*#&%-#$R//#TRT*$#*0*+#
&2+)21*10*+#T%(%++)*#'2(&%0**+#$%&'%(#
-.*++%$%/#-*+#*0*+#-*'*T#12(*0.1*T#
&2+)2&1%(+)*#,*/#W1$RPR%TX
0=@59:>7@A#CB::A9D#:A9DDA#;7>5974
\ 05C5U7:79#$7]B#05?7]B79#1=>#)79D#TA9DDA
\ 05C5U7:79#(567:A<#QB::A9D#)79D#(59J7E
\ -5GA:#'=?U7#O79D#(59J7E
\ '>=U5>:A5@#$B?UB>#)79D#]565;
3$4'%'%+1$4'(+
-516'/0
$n,3$4,(;&15/3'30/+ A"
6'E06)6+
02Q2'*T*+#$*Z%#02&*Z%*+#1R(
-(.$$2(#Q2+-2(%+,#&2+,21R(#-2+,*+#
02Q2'*T*+#0*&*Z%*+#02-*$*&*+#)*+,#Q2'*T#
0*(2+*#3R(&*/.#$%+*0V#/2(.+,#T.-*0#&2+)*-*(.#
1*Y*)*"
'59D59J76A79#67]B#;5C5U7:79#;5?7]B79#G=>#?5?5D79D#
U5>79#J=?A979#J767?#U59C5D7E79#@5?GB>79#D7@#
J79D;76"#
02Q2'*T*+#$*Z%#02&*Z%*+#1R(#T2$*$%#T.+,,.V#
&2+)21*10*+4
\ 0R+/2+T(*/.#Q%TT.+,#T.+,,.#)*+,#&2+Z*-.#
%/%(#%T*&*#02+*.00*+#2g"T20*+*+#Y)-(R/T*T./#
$%&'%(##-*+#&2+)21*1Y*+#&%-#$R//"#-*'*T#
-./%/%$#1$RPR%T#Z.0*#3R(&*/.#,*/#T2$*Y#
T2(1%0*
\ Z%&$*Y#,*/#)*+,#T.+,,.#/**T#&2+2&1%/#
$*'./*+#,*/"##/2Y.+,,*#-*'*T#&2+%(%+0*+#
2g"T20*+*+#Y)-(R/T*T./#)*+,#Q%0%'#12/*(#-*+#
&2+Z*-.#'2+)21*1#/2&1%(*+#$.*(
A2
14.6. PROSEDUR OPERASI
94
14.5. PERSIAPAN SEBELUM DRILLING
PERGUNAKAN CHECK LIST BERIKUT
• Uji semua gas detector dam alarm
• Minimal satu windsock harus terpasang mudah dilihat
untuk di musterpoint
• Lakukan safety meeting dengan personel yang berperan
dan jelaskan rencana dan prosedur
• Sebuah float valve harus dipasang untuk mencegah
semburan mendadak dari dalam string
• Operasi drilling harus di tangguhkan bila ada kerusakan
gas detection system di rig rusak diketahui saat melakukan
risk assessment.
• Operasi drilling bila saat dilakukan risk assesment
diketahui tidak tersedia/rusak mud monitoring system
untuk closed mud system
• Hot work tidak di ijinkan ketika mengebor gas dangkal
• Water deluge system di jalankan untuk semua exhouse
engine system termasuk emergency generator
• Diverter stack harus terpasang dan kondisi baik/telah diuji. 95
6. Semua intrumen pengukur lumpur di active Mud System, Volume
Lumpur, density Lumpur ditangki harus terus menerus dimonitor
dan telah di kalibrasi.
7. Floow sensor harus terpasang karena ia yang paling awal dan
baik dalam menditeksi kick .
Apabila terdapat ketidak tepatan/gangguan pengukuran maka
harus ditugaskan personel tambahan untuk memonitor volume
dan density Lumpur.
8. Flow Check (memeriksa aliran), pemeriksaan aliran harus
dilakukan setiap problem di temui atau kemungkinan diperkirakan
dapat terjadi.
Pemerikasaan aliran setiap penyambungan penambahan pipa
saat akan/sedang menembus formasi gas dangkal.
Lebih baik dilakukan flow check setiap 30 ft untuk meminimized
jumlah formasi gas ditembus.
9. Mud Loss harus harus diupayakan dihindari. Disarankan memakai
nozzle berukuran besar sehingga LCM dapat ditambahkan dan
operasi diverter untuk memompakan dengan kecepatan aliran
Lumpur yang tinggi dapat dilakukan
96
10. Tripping / mencabut pipa bor.
Prosedur tripping harus tersedia dan ditaati dijalankan.
Perlu kehati-hatian swabbing harus dihindari,
Bila perlu saat mencabut sambil dipompakan Lumpur melalui
dalam string untuk memperkecil kemungkinan swabb. Cara
ini disarankan untuk rig dengn top drive system.
Perlu dipertimbangkan pemakaian expandeble under reamer,
agar saat cabut bit mengecil dan dapat menperkecil swab
11. LWD/FEWD
Pemakaian alat ini merupakan methoda effektiv untuk
menditeksi keberadaan gas bearing formation ketika drilling
sedang berlangsung. Manfaat ini tergantung jarak
peletakkannya terhadap bit.
12. Float Valve, harus siap dipasang pada string untuk
menghindari mendadak tejadinya semburan dari dalam
string.
13. Windsock, paling sedikit sebuak windsock harus terpasang
untuk pertinbangan posisi yang baik terhadap master point.
97
14.7. TINDAKAN SHALLOW GAS KICK SAAT DRILLING
98
14.8. PADA SAAT TRIPPING
• Set rotary slip (string telah memalai float Valve).
• Buka diverter line, tutup diverter (system telah dibuat
demikian)
• Sambungkan top drive/kelly
• Start pompa pada maksimum speed.
• Swit isapan ke lumpur berat cadangan. Nolkan strok counter
• Bunyikan alarm dan beritahu tool pusher dan companyman.
• Bila tampak semburan berhenti setelah pemompaan lumpur
berat, stop pompa dan observasi sumur.
• Bila tampak semburan tidak berhenti setelah pemompaan
lumpur berat, lanjutkan memompa lumpur dari tangkai activ
dan siapkan mompa dengan air. Jika mungkin siapkan
membuat lumpur kill mud lebih berat.
• Bila semua lumpur telah dipompa habis, ganti pompa air.
Jangan stop memompa sepanjang sumur mengalir terus.
99
REFERENSI :
ACHMAD MUDOFIR
100