BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam industri kimia, proses pemisahan berperan penting. Salah satu proses yang sering
ditemui adalah proses distilasi yaitu proses pemisahan suatu campuran berdasarkan
beda titik didihnya. Untuk skala industri, proses distilasi dilakukan di dalam menara
distilasi. Pemilihan jenis menara distilasi sangat tergantung dari efisiensi, kapasitas, dan
kadar yang ingin diperoleh. Secara umum ada dua macam menara distilasi yaitu menara
dengan bahan isian (packed tower) dan menara plate (plate tower) (Budi, 2011).
Distilasi adalah suatu operasi untuk memisahkan larutan yang relatif volatile menjadi
komponen-komponen penyusunnya atas dasar perbedaan titik didih dengan jalan
menambahkan panas ke dalam campuran yang akan dipisahkan. Pada operasi distilasi
fase cair berada pada titik didihnya, sedangkan fase uap berada dalam kesetimbangan
pada titik embunnya. Perpindahan massa dari fasa cair terjadi dengan penguapan dan
dari fasa uap terjadi dengan pengembunan yang berlangsung secara simultan. Masing-
masing komponen campuran umpan terdapat di dalam kedua faseitu, hanya berbeda
jumlah relatifnya (Ricky,2015).
Menara distilasi adalah tempat terjadinya proses distilasi yaitu pemisahan campuran
bahan menjadi fraksi-fraksi yang lebih murni berdasarkan perbedaan volatilitas fraksi-
fraksi penyusunya. Campuran yang masuk ke dalam kolom distilasi akan dipanaskan
oleh uap panas (steam) pada bagian reboiler sehingga fraksi yang mudah menguap akan
menguap naik ke bagian atas kolom distilasi untuk selanjutnya dikondensasikan. Bagian
yang tidak menguap akan dikeluarkan sebagai bottom product kolom distilasi. Bagian-
bagian dari kolom distilasi diantaranya:
1. Kolom vertikal adalah tempat terjadinya pemisahan fraksi dari larutan
2. Tray sebagai tempat terjadinya pertukaran panas antara cairan dari bagian atas kolom
menuju ke bawah dengan uap fraksi dari bawah yang menuju ke atas. Pertukaran
panas ini berguna untuk meningkatkan kemurnian fraksi yang ingin diambil sebagai
distilat.
3. Ketel pemanas (reboiler) berfungsi untuk memanaskan kembali umpan (feed) yang
berada di bagian dasar kolom distilasi. Tipe lain reboiler adalah steam yang langsung
masuk ke dalam bagian dasar kolom untuk memanaskan umpan.
4. Kondensor berfungsi untuk mengkondensasikan overhead product (distilat) yang
akan ditampung pada akumulator (reflux drum).
5. Distilat dan bottom product adalah hasil pemisahan kolom distilasi.
6. Reflux adalah distilat yang dikembalikan ke dalam kolom distilasi. Reflux berfungsi
untuk meningkatkan kemurnian distilat tersebut
(Perdana, dkk, 2010).
Jenis-jenis menara distilasi:
1. Destilasi Sederhana
Destilasi sederhana adalah teknik pemisahan kimia untuk memisahkan dua atau lebih
komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang jauh. Senyawa yang terdapat
dalam campuran akan menguap saat mencapai titik didih masing-masing.
2. Destilasi Fraksionasi (Bertingkat)
Sama prinsipnya dengan destilasi sederhana, namun destilasi bertingkat ini memiliki
rangkaian alat kondensor yang lebih baik, sehingga mampu memisahkan dua
komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang berdekatan. Untuk memisahkan
dua jenis cairan yang sama mudah menguap dapat dilakukan dengan destilasi
bertingkat. Destilasi bertingkat adalah suatu proses destilasi berulang. Proses
berulang ini terjadi pada kolom fraksional. Kolom fraksional terdiri atas beberapa
plat dimana pada setiap plat terjadi pengembunan. Uap yang naik plat yang lebih
tinggi lebih banyak mengandung cairan yang lebih atsiri (mudah menguap)
sedangkan cairan yang yang kurang atsiri lebih banyak kondensat.
3. Destilasi Azeotrop
Memisahkan campuran azeotrop (campuran dua atau lebih komponen yang sulit di
pisahkan), biasanya dalam prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat memecah
ikatan azeotrop tersebut atau dengan menggunakan tekanan tinggi.
4. Destilasi Uap
Untuk memurnikan zat / senyawa cair yang tidak larut dalam air, dan titik didihnya
cukup tinggi, sedangkan sebelum zat cair tersebut mencapai titik didihnya, zat cair
sudah terurai, teroksidasi atau mengalami reaksi pengubahan (rearranagement),
maka zat cair tersebut tidak dapat dimurnikan secara destilasi sederhana atau destilasi
bertingkat, melainkan harus didestilasi dengan destilasi uap. Destilasi uap adalah
istilah yang secara umum digunakan untuk destilasi campuran air dengan senyawa
yang tidak larut dalam air, dengan cara mengalirkan uap air kedalam campuran
sehingga bagian yang dapat menguap berubah menjadi uap pada temperature yang
lebih rendah dari pada dengan pemanasan langsung.
5. Destilasi Vakum
Memisahkan dua kompenen yang titik didihnya sangat tinggi, motode yang
digunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan lebih rendah dari 1 atm,
sehingga titik didihnya juga menjadi rendah, dalam prosesnya suhu yang digunakan
untuk mendistilasinya tidak perlu terlalu tinggi
(Walangare kk, 2013).
Suatu kolom distilasi dengan bahan isian dibagi-bagi dalam unit-unit atau satuansatuan
tinggi bahan isian. Untuk setiap satuan tinggi bahan isian mampu menghasilkan uap dan
cairan keluar dari satuan ini dalam keadaan setimbang. Menurut definisi, pada satu plat
ideal, uap dan cairan yang meninggalkan plat ideal juga pada keadaan kesetimbangan
fasa atau kesetimbangan termodinamik. Berarti satu satuan unit kolom tersebut ekivalen
dengan satu plat ideal. Inilah konsep HETP (Height Of Packing Equivalent To A
Theoritical Plate), yang selanjutnya dapat dinyatakan bahwa :
Z = N x HETP........................................................................(2.1)
Keterangan :
Z : Tinggi bahan isian
N : Jumlah plate idial atau teoritis
Tentu saja pernyataan ini berlaku untuk sesuatu operasi pemisahan tertentu, seperti
kolom isian pada operasi penyulingan, absorpsi, dan ekstraksi. HETP harus dievaluasi
secara eksperimen (Setyadji, 2007).
HETP harus dievaluasi secara eksperimen, karena HETP berubah oleh tipe, jenis,
ukuran bahan isian, sangat berpengaruh pula oleh kecepatan aliran kedua fluida (uap,
cairan) maupun kisaran konsentrasi. Penentuan jumlah ‘trays’ ini bisa dihitung dengan
bermacam-macam metode, yaitu sebagai berikut :
a. Metode ‘Plate to Plate Calculation’ berdasarkan kesetimbangan.
b. Metode ‘Mc Cabe-Thiele’ menggunakan bantuan grafik kesetimbangan hubungan
antara x dan y, dan adanya garis operasi atas dan bawah.
c. Metode grafis berdasarkan persamaan Fenske Underwood Gilliland. Untuk
menentukan jumlah plate minimum, menggunakan persamaan Fenske Underwood
yaitu :
...........................................(2.2)
Dengan αavg adalah volatilitas relatif, rata-rata komponen
kunci ringan terhadap komponen kunci berat.
..............................................................(2.3)
.........................................(2.4)
Dengan begitu maka didapatkan rumus untuk
perhitungan HETP bahan isian yaitu sebagai berikut :
....................................................(2.5)
Keterangan :
N : Jumlah kebutuhan plate ideal atau teoritis
(Setyadji, 2007)