Pengaruh Literasi Keuangan UMKM
Pengaruh Literasi Keuangan UMKM
FEGI IRAWAN
C20118064
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS TADULAKO
2020
i
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa mencurahkan
rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan proposal ini.
Shalawat serta salam tak lupa penulis curahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, yang
menjadi suri teladan dan merupakan panutan bagi seluruh umat muslim, sumber inspirasi dan
motivasi dalam berbagai aspek kehidupan.
Proposal Skripsi dengan judul “Pengaruh Literasi Keuangan dan Sikap Keuangan
terhadap Perilaku Manajemen Keuangan Masyarakat dengan pada pelaku UMKM di Kabupaten
Luwu Utara.” Penulis hadirkan sebagai salah satu prasyarat untuk menyelesaikan studi S1 dan
memperoleh gelar Sarjana Manajemen (S.M.) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Tadulako.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Proposal ini tidak dapat terselesaikan tanpa
bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Adanya bantuan moril dan materil dari
berbagai pihak telah memudahkan penulis dalam menyusun dan menyelesaikan proposal ini.
Menyadari hal tersebut, maka melalui tulisan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih
yang tulus kepada seluruh pihak yang telah membantu, membimbing dan memberi dukungan
dalam penyelesaian proposal ini.
ii
Daftar Pustaka
BAB 1 PENDAHULUAN..........................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah...............................................................................................................1
1.2 Rumusan masalah........................................................................................................................5
1.3 Tujuan penelitian.........................................................................................................................5
1.4 Manfaat penelitian......................................................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................................................6
2.1 Landasan teori.............................................................................................................................6
2.2 Penelitian terdahulu..................................................................................................................12
2.3 Kerangka Pikir............................................................................................................................13
BAB III METODE PENELITIAN.........................................................................................................14
3.1 Jenis dan Pendekatan Penelitian...............................................................................................14
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian......................................................................................................14
3.3 Populasi dan Sampel..................................................................................................................14
3.4 Jenis dan Sumber Data..............................................................................................................15
3.5 Metode Pengelolaan Data.........................................................................................................18
3.6 Teknik Analisis Data...................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................................23
iii
BAB 1
PENDAHULUAN
1
Dalam praktinya perilaku manajemen keuangan terbagi menjadi tiga hal utama, yaitu
(Kholilah and Iramani, 2013) :
a. Konsumsi, yakni pengeluaran oleh rumah tangga atas berbagai barang dan jasa
(kecuali pembelian untuk rumah baru).
b. Tabungan, yaitu bagian pendapatan yang tidak dikonsumsi oleh sebuah rumah
tangga pada suatu periode tertentu.
c. Investasi, yakni mengalokasikan atau menanamkan sumber daya saat ini dengan
tujuan mendapatkan manfaat di masa mendatang.
Beberapa masalah pada UMKM berkaitan dengan perilaku manajemen
keungan yang menjadi perhatian diantaranya adalah litersi keuangan Literasi
keuangan dalam bentuk pemahaman terhadap semua aspek keuangan pribadi bukan
ditujukan untuk mempersulit atau mengekang orang dalam menikmati hidup, tetapi
justru dengan literasi keuangan, masyarakat dapat menikmati hidup dengan
mendayagunakan sumber daya keuangannya dengan tepat dalam rangka mencapai
tujuan keuangannya. Bijak tidaknya pengelolaan keuangan seseorang erat kaitannya
dengan kemampuan serta kemampuan seseorang akan konsep-konsep keuangan yang
dikenal dengan literasi keuangan.
Literasi keuangan adalah pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai
lembaga keuangan formal, produk, dan jasa keuangan. Termasuk di dalamnya adalah
manfaat, fitur, risiko biaya, kewajiban, dan hak dari suatu produk dan jasa keuangan.
Dengan memahami financial literacy, Sobat dapat mengambil keputusan yang
berkaitan dengan bisnis dan keuangan secara cerdas dan tepat. Misalnya, berkaitan
dengan hal peningkatan aset, perencanaan pensiun, peminjaman, tabungan masa
depan, dan lain-lain. Dari pengertian diatas tentulah literasi memiliki peran dalam
perilaku manajemen keuangan UMKM.
Literasi keuangan merupakan suatu keharusan bagi setiap seseorang agar
terhindar dari masalah keuangan karena seseorang seringkali dihadapkan pada trade
off yaitu situasi dimana seseorang harus mengorbankan salah satu kepentingannya
demi kepentingan lainnya. Pengelolaan keuangan yang tepat harus didukung oleh
literasi keuangan yang baik. Berapapun tingginya tingkat pendapatan seseorang,
2
tanpa pengelolaan yang tepat maka keamanan keuangan akan sulit dicapai. Pinasti
(2007) menyatakan bahwa para pengusaha kecil tidak memiliki pengetahuan
akuntansi, dan banyak diantara mereka yang belum memahami pentingnya pencatatan
dan pembukuan bagi kelangsungan usaha. Apabila pelaku UMKM memiliki
pengetahuan akuntansi yang baik, sudah pasti pelaku UMKM memiliki keterampilan
keuangan yang baik pula. Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan pengetahuan
keuangan para pelaku UMKM sangat buruk.
Masalah lain yang mempengaruhi perilaku manajemen keuangan yang
dimiliki para pelaku UMKM yaitu masalah mengenai sikap keuangan yang dimiliki.
Kebanyakan pelaku UMKM memiliki sikap yang buruk mengenai keuangan,
ditandai dengan rendahnya motivasi untuk terus meningkatkan kemampuannya dalam
padahal motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan dalam manajemen keuangan
sangat penting. Buruknya sikap keuangan yang dimiliki para pelaku UMKM juga
ditandai dengan pemikiran yang mudah merasa puas dengan kinerja yang ada dan
belum berfikir untuk melakukan peningkatan kemampuan dibidang manajemen
keuangan karena sebagian pelaku usaha merasa kinerjanya sudah cukup baik dan
usahanya tetap berjalan dengan lancar dan tanpa kendala meskipun pelaku UMKM
tidak membuat perencanaan anggaran dan pengendalian terhadap keuangan. Sikap
tersebut apabila apabila dibiarkan akan membuat kinerja UMKM menurun dan tidak
mampu bersaing secara kompetitif di pasar. Seperti yang diungkapkan (Kiryanto,
dkk. 2001), bahwa seorang pelaku usaha memerlukan motivasi kerja untuk
membangun usahanya agar semakin berkembang. Motivasi kerja yang dimaksud
dapat berupa motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan diri dalam mengelola
[Link] pengguna akuntansi khususnya dalam hal ini pelaku UMKM sudah
seharusnya lebih memperhatikan manajemen keuangan pada usaha yang
dijalankannya mengingat manfaat dari literasi keuangan dan sikap keuangan yang
begitu Berbagai permasalahan yang dialami para pelaku UMKM mencerminkan
buruknya literasi keuangan dan sikap keuangan yang dimiliki para pelaku UMKM
yang nantinya akan mempengaruhi perilaku manajemen keuangan yang dimiliki.
3
Banyak upaya dilakukan untuk mengungkapkan faktor apa saja yang mempengaruhi
rendahnya perilaku manajemen keuangan.
Di Indonesia sendiri telah terdapat penelitian serupa salah satunya Tarry
Novita Maharani (2016) juga melakukan penelitian serupa dan mengungkapkan
bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manajemen keuangan yaitu literasi
keuangan pribadi dan sikap keuangan.
Ada banyak variable yang mempengaruhi perilaku manajemen keuangan
salah satu diantaranya adalah literasi keungan. Lasuardi (2012) menyatakan bahwa
literasi keuangan ialah suatu keterampilan yang harus dikuasai setiap individu untuk
memperbaiki taraf hidupnya dengan upaya pemahaman terhadap perencanaan dan
pengalokasian sumber daya keuangan yang tepat dan efisien. Selain itu Huston
(2010) mendefinisikan literasi keuangan sebagai keahlian yang dimiliki oleh individu
dengan kemampuannya untuk mengelola pendapatannya agar tercapai peningkatan
kesejahteraan finansial.
Variable selanjutnya yang dapat mempengaruhi perilaku manajemen
keuangan adalah sikap keuangan Pengertian sikap keuangan menurut Pankow (2003)
sebagaimana dikutip oleh Ningsih dan Rita (2010) sesuai pengertian yang
dikembangkan oleh Klontz dkk (2011), yaitu diartikan sebagai keadaan pikiran,
pendapat, serta penilaian tentang keuangan. Menurut Jodi & Phyllis (1998) dalam
Rajna et al., (2011) Sikap keuangan adalah kecenderungan psikologis yang
diekspresikan ketika mengevaluasi praktik manajemen keuangan yang
direkomendasikan dengan beberapa tingkatan kesepakatan dan ketidaksepakatan.
Ada banyak UMKM yang berkembang di kabupaten Luwu utara tetapi masih
banyak pula yang belum mengetahui literasi keungan dan sikap keuangan sehingga
memiliki perilaku manajemen keuangan yang buruk. Berdasarkan latar belakang
diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian “Pengaruh Literasi
Keuangan dan Sikap Keuangan Terhadap Perilaku Manajemen Kuangan pada Pelaku
UMKM di Kabupaten Luwu Utara”
4
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas maka rumasan masalah
dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah literasi keuangan berpengaruh positif dan signifiakan terhadap perilaku
manajemen kuangan pada pelaku UMKM ?
2. Apakah sikap keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku
manajemen keuangan pada pelaku UMKM ?
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Wahyono (2014) Theory of Planned Behavior (TPB) merupakan perluasan dari
Theory of Reasoned Action (TRA). Dalam TRA dijelaskan bahwa niat seseorang terhadap
perilaku dibentuk oleh dua faktor utama yaitu attitude toward the behavior dan subjective
norms (Fishbein dan Ajzen, 1975), sedangkan dalam TPB ditambahkan satu faktor lagi yaitu
perceived behavioral control (Ajzen, 1991). TPB sangat sesuai digunakan untuk menjelaskan
berbagai perilaku di dalam kewirausahaan. Sebagaimana dikatakan oleh Ajzen (1991) bahwa
TPB is suitable to explain any behavior which requires planning, such as entrepreneurship
(TPB cocok untuk menjelaskan perilaku apapun yang memerlukan perencanaan, seperti
kewirausahaan).
6
Kegagalan dalam mengelola keuangan individu dapat menyebabkan
konsekuensi jangka panjang yang serius tidak hanya untuk orang tersebut tapi juga
bagi perusahaan. Beberapat tahun belakangan ini, praktik manajemen keuangan
mendapatkan perhatian serius dari berbagai organisasi seperti pemerintah, lembaga
keuangan, universitas dan lain sebagainya (Mien dan Thao, 2015). Dalam beberapa
studi manajemen keuangan didefinisikan sebagai seperangkat perilaku mengenai
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi hal-hal yang terlibat dalam bidang tunai,
kredit, investasi, asuransi dan pensiun, dan perencanaan perumahan. Manajemen
keuangan juga dapat didefinisikan sebagai hal yang berkaitan dengan arus kas, kredit,
tabungan dan manajemen investasi (Dew and Xiao, 2011).
Ilmu yang menjelaskan mengenai perilaku seseorang dalam mengatur
keuangan mereka dari sudut pandang psikologi dan kebiasaan individu tersebut
merupakan perilaku manajemen keuangan, ilmu ini juga menjelaskan mengenai
pengambilan keputusan yang irasional terhadap keuangan mereka (Amanah, Iradianty
and Rahardian, 2016). Manajemen keuangan terbagi menjadi sebagai berikut (Dew
dan Xiao, 2011):
a. Manajemen Kas ( Cash Management )
b. Manajemen Kredit ( Credit Management )
c. Perilaku Hemat ( Saving Behavior )
Perilaku manajemen keuangan berhubungan dengan tanggung jawab
keuangan seseorang mengenai cara manajemen keuangan yang dimiliki (Yohana,
2010). Tangung jawab keuangan adalah proses manajemen uang dan aset lainnya
dengan cara yang diangap produktif. Terdapat beberapa elemen yang termasuk dalam
manajemen uang yang efektif, seperti pengaturan anggaran dan pengeluaran, serta
menilai perlunya dana cadangan untuk kondisi darurat dan tabungan masa depan,
yaitu dana pensiun, asuransi, dan investasi dalam jangka waktu yang wajar. Tugas
utama manajemen uang adalah proses pengangaran. Anggaran bertujuan untuk
memastikan bahwa individu mampu mengelola kewajiban keuangan secara tepat
waktu dengan menggunakan penghasilan yang diterima dalam periode yang sama.
Perilaku manajemen keuangan adalah kemampuan seseorang dalam mengatur dana
7
keuangan sehari-hari, yang terdiri dari perencanaan, penganggaran, pemeriksaan,
pengelolaan, pengendalian, pencarian, dan penyimpanan keuangan. Dalam praktinya
perilaku manajemen keuangan terbagi menjadi tiga hal utama, yaitu (Kholilah and
Iramani, 2013):
a. Konsumsi, yakni pengeluaran oleh rumah tangga atas berbagai barang dan jasa
(kecuali pembelian untuk rumah baru).
b. Tabungan, yaitu bagian pendapatan yang tidak dikonsumsi oleh sebuah rumah
tangga pada suatu periode tertentu.
c. Investasi, yakni mengalokasikan atau menanamkan sumber daya saat ini dengan
tujuan mendapatkan manfaat di masa mendatang.
Dengan perilaku manajemen keuangan individu dapat merencanakan dan
mengatur dengan lebih baik keuangan yang dimiliki dalam pos-pos pengeluaran yang
berbeda-beda dengan proporsi yang seimbang. Setiap individu memiliki perilaku
manajemen keuangan yang berbeda. Hal tersebut disesuaikan dengan kondisi
keuangan dan target yang ingin dicapai oleh masing-masing individu.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku manajemen keuangan
diantaranya, sikap keuangan, pengetahuan keuangan, dan Locus of Control (Mien dan
Thao, 2015). Pendapat lain menjabarkan bahwa yang mempengaruhi perilaku
manajemen keuangan, diantaranya Locus Of Control, Financial Knowledge, dan
Income (Kholilah and Iramani, 2013). dan menurut Sina (2014), kepribadian
merupakan salah satu faktor yang signifikan yang mampu mempengaruhi perilaku
keuangan seseorang.
3. Literasi Keuangan
1. Pengertian Litersi Keuangan (Financial Literacy)
Keuangan merupakan aspek penting yang melekat dalam kehidupan
masyarakat luas. Pengetahuan keuangan yang dimiliki dapat menentukan
produkproduk keuangan yang dapat mengoptimalkan keputusan keuangannya.
Pengetahuan tentang keuangan menjadi sangat penting bagi individu agar tidak salah
dalam membuat keputusan keuangan nantinya.16 Jika pengetahuan keuangan yang
mereka miliki kurang, akan mengakibatkan kerugian bagi individu tersebut, baik
8
sebagai akibat dari adanya inflasi maupun penurunan kondisi perekonomian di dalam
maupun di luar negeri.
Literasi keuangan merupakan pengetahuan keuangan dan kemampuan untuk
mengaplikasikannya ( knowledge and ability). Literasi keuangan dapat diartikan
sebagai pengetahuan untuk mengelola keuangan. Semakin tinggi tingkat literasi
keuangan yang dimiliki seseorang akan menghasilkan perilaku keuangan yang bijak
dan pengelolaan keuangan yang efektif.
Otoritas jasa keuangan mendefenisikan literasi keuangan sebagai tingkat
pengetahuan, keterampilan dan keyakinan serta produk dan jasanya, yang
dituangakan dalam perameter atau ukuran literasi. Pengungkapan indeks literasi ini
sangat penting dalam melihat peta sesungguhnya mengenai tingkat pengetahuan
masyarakat terhadap fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban mereka sebagai
penggguna produk dan jasa keuangan. Literasi keuangan terdiri dari sejumlah
kemampuan dan pengetahuan mengenai keuangan yang dimiliki oleh seseorang untuk
mampu mengelola atau menggunakan sejumlah uang untuk meningkatkan taraf
hidupnya dan bertujuan untuk mencapai kesejahteraan.20 Memahami implikasi
keuangan yang ditimbulkan dari keputusan keuangan merupakan hal yang mendasar
dalam literasi keuangan. Keputusan yang berdasarkan informasi diakui sebagai
instrument untuk mencapai outcome yang diharapkan.
2. Dimensi literasi keuangan (Financial Literacy)
Financial Literacy mencakup beberapa dimensi keuangan yang harus dikuasai.
Beberapa dimensi Financial Literacy yang meliputi pengetahuan umum keuangan,
tabungan dan pinjaman, asuransi, serta investasi.
a. Pengetahuan umum tentang keuangan.
Pengetahuan tentang keuangan mencakup pengetahuan keuangan pribadi,
yakni bagaimana mengatur pendapatan dan pengeluaran, serta memahami konsep
dasar keuangan. Konsep dasar keuangan tersebut mencakup perhitungan tingkat
bunga sederhana, bunga majemuk, pengaruh inflasi, opportunity cost, nilai waktu
uang, likuiditas suatu aset, dan lain-lain.
b. Simpanan dan pinjaman
9
Simpanan dan pinjaman (saving and borrowing) merupakan produk
perbankan yang lebih dikenal sebagai tabungan dan kredit. Tabungan
(saving)merupakan sejumlah uang yang disimpan untuk kebutuhan di masa depan.
Seseorang yang memiliki pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan pengeluarannya
akan cenderung menyimpan sisa uangnya tersebut. Bentuk simpanan bisa berupa
tabungan dalam bank atau tabungan dalam bentuk deposito. Sedangkan pinjaman
(borrowing) merupakan suatu fasilitas untuk melakukan peminjaman uang dan
membayarnya kembali dalam jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
c. Asuransi
Asuransi merupakan suatu bentuk perlindungan secara finansial yang bisa
dilakukan dalam bentuk asuransi jiwa, asuransi properti, asuransi pendidikan dan
asuransi kesehatan. Tujuan dari asuransi adalah untuk mendapatakan ganti rugi
apabila terjadi hal yang tidak terduga seperti kematian, kehilangan, kecelakaan, atau
kerusakan. Asuransi melibatakan pihak tertanggung untuk melakukan pembayaran
premi secara berkala dalam suatu waktu tertentu yang berguna sebagai ganti polis
yang menjamin perlindungan yang diperoleh dari pihak tertanggung.
d. Investasi
Investasi adalah menyimpan atau menempatkan uang agar bisa bekerja
sehingga dapat menghasilkan uang yang lebih banyak. Cara yang sering digunakan
seseorang dalam berinvestasi yakni dengan meletakkan uang ke dalam surat berharga
termasuk saham, obligasi dan reksa dana atau dengan memiliki real estate.
10
menyenangkan terhadap objek, individu dan peristiwa. Sikap memiliki 3 komponen
utama yang terdairi dari :
1. Kognitif
Kognitif merupakan suatu opini atau keyakinan dari sikap yang menentukan
tingkatan untuk sesuatu atau bagaimana yang lebih penting dari sikap.
2. Efektif
Efektif (perasaan) adalah emosional yang berada dalam diri sendiri setiap
individu. Perasaan juga diarikan sebagai penyataan dari sikap yang diambil dan ikut
menentukan perilaku yang akan dilakukan oleh setiap individu.
3. Perilaku.
Perilaku atau tindakan adalah cerminan dari bagaimana individu berperilaku
dalam cara tertentu terhadap sesuatu atau seseorang.
Financial attitudes dapat dicerminkan oleh enam konsep berikut, yaitu :
1. Obsession, merujuk pada pola pikir seseorang tentang uang dan persepsinya
tentang masa depan untuk mengelolah uang dengan baik.
2. Power, yaitu merujuk pada seseorang yang menggunakan uang sebagai alat untuk
mengendalikan orang lain dan menurutnya uang dapat menyelesaikan masalah.
3. Effort, merujuk pada seseorang yang merasa pantas memiliki uang dari apa yang
sedah dikerjakannya.
4. Inadequacy, merujuk pada seseorang yang selalu merasa tidak cukup memiliki
uang.
5. Retention, merujuk pada seseorang yang memiliki kecenderungan tidak ingin
menghabiskan uang.
6. Security, merujuk pada pandangan seseorang yang sangat kuno tentang uang
seperti anggapan bahwa uang lebih baik hanya disimpan sendiri tanpa ditabung di
Bank atau untuk investasi.
Setiap individu yang selalu menerapkan financial attitude di dalam
kehidupannya akan mempermudah individu tersebut dalam menentukan sikap dan
berperilaku dalam hal keuangan, seperti mengelola keuangan, menyusun anggaran
pribadi dan membuat keputusan berinvestasi yang tepat.
11
2.2 Penelitian terdahulu
1. LD Gadi Djou. 2019. “Analisis Pengaruh Literasi Keuangan, Sikap Keuangan
dan Kepribadian Terhadap Perilaku Pengelolaan Keuangan Umkm Di
Kabupaten Ende”
2. Ida dan cinhia Y.D (2010) “Pengaruh financial literacy, financial knowledge,
income terhadap financial management behavior.”
12
2.3 Kerangka Pikir
Berdasarkan uraian landasan teori diatas dalam tinjauan pustaka, maka model
kerangka kajian yang digunkan sebagai berikut:
Literasi
keuangan H1
Perilaku
manajemen
keuangan
Sikap
keuangan H2
13
BAB III
METODE PENELITIAN
14
individu yang menjadi anggota populasi memiliki sifat yang relatif sama antara yang
satu dengan yang lain dan mempunyai ciri tidak terdapat perbedaan hasil tes dari
jumlah tes populasi yang berbeda) dan populasi heterogen ( keseluruhan individu
anggota populasi relatif mempunyai sifat-sifat individu dan sifat ini yang
membedakan antara individu anggota populasi yang satu dengan yang lain). Dengan
demikian, populasi dapat diartikan sebagai keseluruhan objek yang digunakan dalam
[Link] popolasi pada penelitian ini adalah atau Pelaku UMKM yang
berdomisili di Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara.
2. Sampel
Sampel merupakan sebagian dari populasi. Sampel adalah bagaian dari jumlah
dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi [Link] pengambilan sampel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan kriteria yang
telah ditetapkan yakni masyarakat yang berpenghasilan minimal sebesar Rp
3.000.000,- perbulannya. Dalam penelitian ini sampel yang diambil sebanyak 140
responden. Berdasarkan teknik pengambilan sampel tersebut artinya populasi
penelitian tidak diketahui pasti jumlahnya dalam lokasi wilayah penelitian. Panduan
untuk ukuran sampel yang dapat diambil yaitu dengan cara mengalikan jumlah
variabel atau indikator yang digunakan dalam penelitian dengan 10 atau 10 X jumlah
variabel/indikaor yang digunakan. Berdasarkan panduan tersebut, maka jumlah
sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu (14 indikator x 10 = 140).
3.4 Jenis dan Sumber Data
1. Jenis Data
a. Data kualitatif adalah data yang diperoleh dari masyarakat dalam bentuk informasi
baik secara lisan maupun secara tertulis.
b. Data kuantitatif adalah data yang diperoleh dari angka-angka statistik.
2. Sumber Data
a. Data primer yaitu data yang langsung diperoleh dari pengisian kuesioner dengan
masyarakat.
15
b. Data sekunder yaitu data yang langsung diperoleh secara tidak langsung atau dari
pihak lain. Seperti jurnal, majalah-majalah ekonomi dan informasi dokumentasi
lain yang diambil melalui online.
4. Metode Pengeumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini ada dua yaitu motode kuesioner (angket) dan dokumentasi:
1. Kuesioner
Kuesioner merupakan teknik pengeumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberi seperangkat atau pertanyaan yang ditulis kepada responden untuk dijawab.
Peneitian ini menggunakan kuesioner/angket, dimana responden hanya memilih
jawaban yang tersedia. Skala pengukuran yang digunakan dalam instrument ini
adalah skala likert. Skala likert merupakan skala yang pengukuran yang pertama kali
dikembangkan oleh Rensis Likert, dan sering disebut method of summated ratings,
yang berarti nilai peringkat setiap jawaban atau tanggapan itu dijumlahkan sehingga
mencapai nilai total. Skala likert secara umum menggunakan peringkat 5 angka
penilaian 7 yaitu:
1. Strongly disagree (sangat tidak setuju)
2. Disagree (tidak setuju)
3. Neither agree or disagree (kurang setuju)
4. Agree (setuju)
5. .Strongly agree (sangat setuju)
Dalam perkembanganya skala ini sudah dimodifikasi dengan berbagai bentuk,
mulai dari skala 4 titik:
1. Strongly disagree (sangat tidak setuju)
2. Disagree (tidak setuju)
3. Agree (setuju)
4. Strongly agree (sangat setuju)
2. Wawancara
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin
melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti,
tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih
16
mendalam. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri
sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan
pribadi.
3. Buku dan Jurnal
Buku merupakan salah satu tinjauan pustaka yang memberikan penjelasan
akan sebuah topik secara mendalam dan luas. Sedangkan jurnal memberikan
penjelasan secara mendalam dan biasanya fokus pada satu topik tertentu atau topik-
topik khusus.
4. Inatrumen Penelitian
Instrument penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena
alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut
variabel penelitian.
Tabel 1 Instrumen Penelitian
Variabel Defenisi variable Indikator Skala
Perilaku Suatu cara dalam 1. Anggaran Skala
pengelolaan mengelola dana yang 2. Arus kas likert
keuangan (Y) dimiliki yang 3. Tabungan
berhubungan dengan (Moch. Zakki, 2016)
tanggung jawab
seseorang dalam
mengelola keuangan.
Literasi keuangan Pengetahuan yang 1. Pengetahuan Skala
(X1) dimiliki seseorang dasar keuangan. likert
mengenai instrument 2. Tabungan.
keuangan. 3. Pinjaman.
4. Asuransi.
5. Investasi
(irini Widayati,2012)
Sikap keuangan Sikap keuangan 1. Menabung Skala
(X2) diartikan sebagai 2. Anggaran. likert
keadaan pikiran, 3. Hemat.
17
pendapat, serta penilaian (Irene
tetang keuangan. Herdiono,2016)
18
variabel yang satu dengan variabel yang lainnya. Setelah itu dilanjutkan dengan
membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisi. Adapun analisis tersebut
dilakukan dengan menggunakan alat analisis IMB SPSS-21 dengan langkah analisis
sebagai berikut:
1. Uji Asumsi Klasik
Dalam penelitian, ui asumsi klasik ini diperlukan, terutama untuk penelitian
yang menggukan data primer. Uji asumsi klasik merupakan analisis yang digunakan
untuk menilai apakah di dalam sebuah model regeresi terdapat mamsalah-masalah
asumsi klasik atau tidak. Uji asumsmi klasik mencakup beberapa uji, yaitu uji
normalitas, uji autokorelasi, uji multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas yang
harus terpeuhi. adapun penjelasan tentang keempat uji asumsi klasik tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Uji Normalitas
Uji normalitas merupakan pengujian yang bertujuan untuk menguji apakan
dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi secara
normal. Uji normalitas mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi
normal, namun jika asumsi ini dilanggar atau tidak terpenuhi, maka uji statistic
menajdi tidak valid. Ada dua cara untuk mendeteksi apakan residual berdistribusi
normal atau tidak, yaitu dengan analisis grafik dan uji [Link] dasar
pengambilan keputusan dari uji Kolmogorov-smirnov adalah sebagai berikut:
a) Jika hasil dari One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test berada diatas tingkat
signifikansi, maka hal tersebut menunjukan pola distibusi normal, maka dapat
dikatakn bahwa model regresi tersebut memenuhi asumsi normalitas.
b) Jika hasil dari One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test dibawah tingkat
signifikansi maka tidak menunjukan pola distribusi normal, maka model regresi
tidak memenuhi asumsi normalitas.
b. Uji autokorelsi
Digunakan untuk mengetahui ada atau tidak adanya penyimpangan asumsi
klasik autokolasi yaitu korelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamat
19
dengan pengamat yang lain pada. model regresi. Metode pengujian yang digunakan
yaitu uji DurbrinWatson (Uji DW) dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Jika DW lebih kecil dari dl atau lebih besar dari (4-dl), maka hipotesis nol ditolak
yang artinya terdapat autokorelasi pada model regresi.
2) Jika DW lebih besar dari du dan (4-du), maka hipotesis nol diterima yang berarti
tidak autokorelasi.
3) Jika DW terletak antara dl dan du atau di antara (4-dl) dan (4- du),maka tidak
menghasilkan kesimpulan yang pasti.
c. Uji Multikolinearitas.
Uji Multikolinearitas ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya
tidak terjadi korelasi dianatara variabel independen atau variabel bebas. Jika variabel
bebas tersebut saling berkorlasi, maka variabel tersebut tidak orthogonal. Variabel
orogonal memrupakan variabel bebas yang nilai korelasi antaar sesame variabel
bebas sa,a dengan nol. untuk ini, salah satu cara untuk mengetahui ada atau tidaknya
multikolinearitas pada suatu model regresi adalah dengan melihat nilai tolerance dan
VIFNnya dengan ketentuan sebgai berikut:
1) Jika nilai tolerance 0,10 dan VIF < 10, maka dapat diartikan bahwa tidak terdapat
multikolinearitas pada model regresi penelitian tersebut.
2) Jika nilai tolerance < 0,01 dan VIF >10, maka dapat diartikan bahwa terjadi
gangguan multikolinearitas pada model regresi.
d. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam satu model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dan residual pada satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Jika variance dan residual satu pengamatan ke pengamatan
yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut
heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau
tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk menguji heteroskedastisitas yaitu dengan
melihat Grafik Plot antara nilai prediksi variabel terikat (Dependen) yaitu ZPRED
dengan residualnya yaitu SRESID.
20
2. Uji Hipotesis
Uji hipotesis merupakan uji yang dilakukan untuk melihat ada tidaknya
pengaruh antar variabel serta untuk membuktikan hipotesis yang telah ditetapkan
sebelumnya. Uji ini dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda dan
analisis jalur dengan bantuan SPSS. Secara statistic uji regresi berganda ini dapat
diukur dengan melihat koefisien determinasi, nilai statistik F dan nilai statistik t.
a. Uji Koefisien determinasi (R2 ) Koefisien determinasi atau R’Square (R2 )
bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan variabel independen
mempengaruhi variabel dependen itu sendiri.
b. Uji Simultan (F) Uji ini dilakukan untuk melihat apakah semua variabel bebas atau
variabel independen yang ada dalam model memiliki pengaruh yang secara
bersama-sama terhadap variabel terkait atau variabel dependen. Adapun keputusan
dalam uji F yaitu:
Jika nilai F-hitung ˃ F-tabel dan nilai sigifikansi ˂ 0,05, maka variabel independen
secara simultan (bersama-sama) berpengaruh signifikan terhadap varaibel
dependen.
Jika F-hitung ˂ F-tabel dan nilai sigifikansi ˃ 0,05, maka variabel independen
secara simultan (bersama-sama) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependen.
c. Uji Parsial
Uji ini dilakukan untuk melihat sejauh mana pengaruh dari satu variabel
independen secara individual dalam memengaruhi atau menjelaskan variabel
dependen. Hipotesis pada uji t ini yaitu H0=tidak berpengaruh signifikan dan
H1=berpengaruh signifikan. Adapun dasar pengambilan keputusan dalam uji t yaitu:
H0 diterima dan H1 ditolak jika nilai t-hitung ˂ dari t-tabel atau jika nilai
signifikan ˃ 0,05.
H0 ditolak dan H1 diterima jika nilai t-hitung ˃ dari t-tabel atau jika nilai
signifikan ˂ 0,05.
3. Analisis Jalur (Path Analysis)
21
Uji statistik inferensial dalam penelitian ini menggunakan metode jalur (Path
Analysis). Analisis jalur merupakan teknik analisis yang berfungsi untuk
menerangkan atau mengetahui akibat langsung dan akibat tidak langsung dari
sekumpulan variabel yang merupakan variabel akibat. Metode analisis jalur ini
digunakan untuk menguji variabel intervening di dalam penelitian. Berdasarkan
analisis ini, dapat diketahui apakah variabel intervening tersebut mampu memediasi
hubungan variabel independen terhafap variabel dependen. Analisis jalur merupakan
perluasan dari analisis regresi linear berganda, atau analisis jalur adalah penggunaan
analisis untuk menaksir hubungan kausalitas antar variabel (model causal) yang telah
ditetapkan sebelumnya berdasarkan teori. Analisis jalur sendiri tidak dapat
menentukan hubungan sebab akibat dan juga tidak dapa digunakan sebagai substitusi
bagi peneliti untuk melihat hubungan kausalitas antara variabel.
22
DAFTAR PUSTAKA
Xiao, J.J, & Dew, J. 2011. The financial management behavior scale: development
and validation. Journal of Financial Counseling and Planning Education.
23