0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan62 halaman

Pengaruh Media Sosial pada Tidur Remaja

Proposal penelitian ini membahas hubungan frekuensi penggunaan media sosial dengan kualitas tidur dan kestabilan emosi pada remaja di sekolah menengah atas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara frekuensi penggunaan media sosial dengan kualitas tidur dan kestabilan emosi serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengetahuan tentang dampak pen

Diunggah oleh

Diana Hermansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan62 halaman

Pengaruh Media Sosial pada Tidur Remaja

Proposal penelitian ini membahas hubungan frekuensi penggunaan media sosial dengan kualitas tidur dan kestabilan emosi pada remaja di sekolah menengah atas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara frekuensi penggunaan media sosial dengan kualitas tidur dan kestabilan emosi serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengetahuan tentang dampak pen

Diunggah oleh

Diana Hermansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN FREKUENSI PENGGUNAAN

MEDIA SOSIAL D E N G A N K U A L I T A S
TIDUR DAN KESTABILAN EMOSI PADA
REMAJA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
BANDAR SEIKIJANG

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh :

VALENTINA
NIM : 18010031

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

PEKANBARU MEDICAL CENTER .

TAHUN 2022

1
DAFTAR ISI

COVER........................................................................................

KATA PENGANTAR................................................................

DAFTAR ISI...............................................................................

BAB I PENDAHULUAN...........................................................

A. LATAR BELAKANG.......................................................................
B. RUMUSAN MASALAH...................................................................
C. TUJUAN PENELITIAN....................................................................
1. Tujuan umum.........................................................................
2. Tujuan khusus........................................................................
D. MANFAAT PENELITIAN...............................................................
E. RUANG LINGKUP PENELITIAN..................................................
F. KEASLIAN PENELITIAN...............................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................

A. Konsep Media sosial..........................................................................


1. Defenisi media sosial.............................................................
2. Ciri ciri media sosial..............................................................
3. Jenis media sosial...................................................................
4. Kelebihan media sosial..........................................................
5. Dampak media sosial.............................................................
6. Kerugian media sosial bagi remaja........................................
7. Jenis aplikasi media sosial.....................................................
8. Durasi penggunaan media sosial............................................

ii
B. Konsep tidur.......................................................................................
1. Defenisi tidur.........................................................................
2. Fisiologi tidur.........................................................................
3. Tahapan tidur.........................................................................
4. Waktu dan pola tidur berdasarkan tingkat perkembangan ....
5. Faktor yang mempengaruhi tidur...........................................
6. Kualitas tidur..........................................................................
C. Konsep kestabilan emosi....................................................................
1. Defenisi kestabilan emosi......................................................
2. Karakteristik kestabilan emosi...............................................
3. Indicator kestabilan emosi.....................................................
4. Aspek kestabilan emosi..........................................................
5. Faktor yang mempengaruhi kestabilan emosi........................
D. Konsep remaja...................................................................................
1. Remaja dan batasannya..........................................................
2. Perkembangan remaja............................................................
3. Faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja...............
E. Kerangka teori ...................................................................................
F. Kerangka konsep................................................................................
G. Hipotesis............................................................................................

BAB III METODE PENELITIAN.................................................

A. Jenis dan desain penelitian.................................................................


B. Lokasi dan waktu penelitian..............................................................
C. Populasi dan subjek penelitian...........................................................

iii
D. Besar sampel......................................................................................
E. Teknik sampling.................................................................................
F. Kriteria inklusi...................................................................................
G. Etika penelitian..................................................................................
H. Variabel penelitian dan data operasional...........................................
I. Jenis dan alat pengumpulan data........................................................
J. Uji validitas dan reliabilitas...............................................................
K. Pengolahan data.................................................................................
L. Prosedur pengumpulan data...............................................................
M. Rencana analisa data..........................................................................

Kuesioner.................................................................................................

Daftar Pustaka..........................................................................................

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Media sosial adalah sebuah jembatan komunikasi baik antar

personal maupun antar badan atau lembaga dengan menggunakan fasilitas

internet (Ira Anisa Purawinanggung [Link], 2019). Kemajuan teknologi

yang sangat pesat, seperti media sosial berperan untuk meningkatkan

pemasaran yang dilakukan perusahaan. Salah satu media sosial yang saat

ini banyak dipakai adalah Youtube, Whatsapp, Facebook, Instagram dan

Tik Tok (Rizky Indah Cahyani [Link], 2020). Pada era teknologi ini remaja

tidak bisa dilepaskan dari peggunaan media sosial. Media sosial memiliki

manfaat yang besar untuk kehidupan namun dapat menyebabkan

ketergantungan dan menimbulkan dampak bagi remaja, baik positif

maupun negatif (Intan Cahyanti Sugianto, 2017). Ketergantungan adalah

sindrom yang dialami oleh remaja yang ditandai dengan menghabiskan

sejumlah waktunya yang sangat banyak dalam menggunakan dan tidak

mampu untuk mengontrol penggunaannya saat online (Dhea Faradhilla

[Link], 2020).

Penggunaan media sosial memberikan dampak positif seperti

membantu menjalin komunikasi dan mencari informasi tentang ilmu dan

pendidikan (Rirra Hayuning Handikasari [Link], 2018). Media sosial juga

memberikan dampak negatif pada remaja, salah satunya adalah kecanduan

( Rizki aprilia [Link], 2020). Kecenderungan kecanduan media sosial adalah

1
fenomena yang sering terjadi pada saat ini seiring dengan meningkatnya

penggunaan internet serta canggihnya kemajuan teknologi. Terjadinya

kecenderungan kecanduan media sosial dipengaruhi oleh beberapa faktor,

diantaranya adalah faktor kontrol diri ( Resti Fauzul Muna [Link], 2014).

Remaja dapat dikatakan memasuki tahap ketergantungan media sosial,

terbukti mereka menghabiskan 54% waktunya untuk online menggunakan

media sosial (Thompson & Lougheed 2012). Asosiasi Penyelenggara Jasa

Internet Indonesia (APJII) menyebutkan sebanyak 143,26 juta dari total

262 juta orang Indonesia kini sudah bisa mengakses internet. Dari 143,26

juta orang pengguna Internet di Indonesia tersebut, 49,52 persen di

antaranya adalah remaja. Pengguna Internet di Indonesia berdasarkan usia

yaitu, 13-18 tahun diangka 16,68%, usia 19-34 tahun 49,52%, usia 35-54

tahun 29,55%, usia diatas 54 tahun 4,24%, artinya pengguna internet

didominasi oleh para remaja (Sekretaris Jenderal APJII & Henri Kasyfi,

2017).

Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat mengganggu

kesehatan mental (Clarissa Valerie, 2020). Dan juga berpengaruh pada

beberapa aspek psikologis. Salah satunya adalah tidur (Ezpinoza, 2011).

Tidur adalah kebutuhan dasar manusia, dengan tidur semua lelah dapat

berkurang dan akan kembali mendapatkan tenaga serta semangat untuk

menyelesaikan persoalan yang dihadapi (Rini Ambarwati, 2017). Kualitas

tidur seseorang dikatakan baik apabila tidak menunjukkan berbagai tanda

kekurangan tidur dan tidak mengalami masalah dalam tidurnya. Kondisi

kurang tidurpun banyak ditemui dikalangan remaja terutama pelajar yang

2
nantinya bisa menimbulkan banyak efek, seperti berkurangnya konsentrasi

belajar dan gangguan kesehatan (Maya Fadlilah [Link], 2021).

Masalah tidur pada remaja selama pandemi Covid-19 dilaporkan

sekitar 20-66%. Rendahnya dukungan sosial, gangguan akademik dan

kesehatan fisik yang menurun, paparan informasi, pengetahuan dan sikap

tentang kesehatan tidur berhubungan dengan masalah tidur dan kebiasaan

tidur pada remaja (Sri Hartini [Link], 2021). Kebutuhan tidur yang

seringkali terabaikan justru merupakan kebutuhan yang penting yang

dapat mempengaruhi pemikiran, perilaku, dan kesejahteraan emosional

remaja (Irwina Angelia Silvanasari [Link], 2021).

Remaja banyak menghabiskan waktu untuk online media sosial,

termasuk pada malam hari. Hal ini tidak menutup kemungkinan

mengganggu proses tidur, sehingga kualitas tidurnya memburuk yang

dapat mempengaruhi proses belajar karena mengantuk dan lelah akibat

kurang tidur, sehingga mengakibatkan terganggunya kesiapan dalam

proses belajar. Kebiasaan yang menyebabkan mereka tidur larut yaitu

memainkan handphone dan laptop sebelum tidur (Maya Fadlilah [Link],

2020). Kualitas tidur adalah kemampuan setiap orang untuk

mempertahankan keadaan tidur dan untuk mendapatkan tahap tidur REM

dan NREM yang pantas. Kualitas tidur mencakup aspek kuantitatif dari

tidur, seperti durasi tidur, latensi tidur serta aspek subjektif dari tidur.

Kualitas tidur seseorang dikatakan baik apabila tidak menunjukkan

berbagai tanda kekurangan tidur dan tidak mengalami masalah dalam

tidurnya (Evita T I O Minar, 2021).

3
Tidak sedikit remaja yang tidak memperhatikan kesehatan dalam

hal menjaga kualitas tidur, bahkan mereka kurang paham akan hal ini.

Dengan kurangnya kualitas tidur emosi remaja yang cenderung meledak-

ledak dan sulit dikendalikan apabila tidak dikelola dengan baik dapat

menimbulkan berbagai masalah bagi remaja dan lingkungan sekitarnya

(Tarate Timur Raviyoga & Adijanti Marheni 2017). Emosi adalah

keadaan perasaan yang banyak berpengaruh pada perilaku. Biasanya

emosi merupakan reaksi terhadap rangsang dari luar dan dalam diri

individu. Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai

pikiran (Buletin Psikologo 2016). Remaja yang aktif di dunia maya

(media sosial) akan merasa tidak tenang dan belum puas jika dalam

rentang beberapa jam mereka tidak membuka akun media sosial dan tidak

mendapatkan notifikasi, walaupun hanya melihat unggahan-unggahan

terbaru dari akun teman-temannya, kejadian ini merupakan kecemasan

bagi remaja. Data yang diperoleh dari Groupon, 39% orang Indonesia

mengalami kecemasan sosial berlebih melewatkan momen-momen

tertentu dalam kehidupan menggunakan internet khususnya media sosial

untuk mengobati kesendirian dan pengganti hubungan tatap muka yang

tidak diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari karena takut melakukan

kontak langsung dengan orang lain dan lebih memilih komunikasi online

(Soliha 2015). Konten dari media sosial yang sangat luas tanpa batas

membuat penggunanya dengan sangat bebas mengakses dan melihat

apapun, termasuk yang mengandung unsur yang memicu perubahan

suasana perasaan. Ketika stimulus emosional didapatkan oleh individu

4
dengan intensitas yang tinggi, maka individu tersebut akan mengalami

perubahan suasana perasaan sehingga berdampak pada perubahan

kestabilan emosi (Setyawan 2016; Locke 2001).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Candra Farit Rifai, Deviani

Utami pada tahun 2020 Uji korelasi menunjukan adanya hubungan

kualitas tidur dan prestasi belajar dengan P-Value (<0,05) dan nilai P-

Value kestabilan emosi dan prestasi belajar 0,017 (<0,05) yang berarti

terdapat hubungan antara kualitas tidur dan kestabilan emosi dengan

prestasi. Emosi yang tidak adekuat membuat peneliti ingin mendalami

fenomena ketergantungan remaja pada media sosial. Perawat sebagai

educator memiliki hak untuk memberi pengetahuan maupun health

education yang seharusnya remaja lakukan sesuai dengan usia mereka.

Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang telah dilakukan

peneliti pada tanggal 02-03 Desember 2021 di SMA N 1 Bandar seikijang

dan SMK N 1 Bandar seikijang dengan metode wawancara dan terhadap 5

siswa/i di SMA N 1 Bandar seikijang dan 5 sisw/i di SMK N 1 Bandar

seikijang. SMA N 1 Bandar seikijang ada 5 siswa/i mengatakan bahwa

disetiap kelas ada anak yang selalu mengantuk di jam pelajaran terutama

laki laki, dan anak anak yang selalu datang terlambat kesekolah.

Penggunaan media sosial yang di gunakan remaja seperti aplikasi Tik tok

pernah menimbulkan kesalah pahaman antar siswi. Pada kunjungan di

SMK N 1 Bandar seikijang 3 dari 5 siswa/i mengatakan bahwasanya anak

anak disitu selalu datang terlambat dengan alasan terlambat bangun. Dan

disetiap kelas juga ada yang tertidur di jam pelajaran. 3 siswa/i SMK N 1

5
Bandar seikijang juga mengatakan bahwa pernah ada ketidak sukaan dari

penyebaran story whatsapp yang menjelek jelekkan teman dan membuat

emosi. 4 siswa/i SMK N 1 Bandar seikijang juga mengatakan bahwa

mereka lebih suka mengerjakan tugas diwaktu malam hari. Dari 5 siswa/i

di SMA N 1 Bandar seikijang dan SMK N 1 Bandar seikijang mereka

menggunakan lebih dari 3 aplikasi media sosial.

Berdasarkan hasil wawancara di atas peneliti merasa perlu untuk

melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Frekuensi Penggunaan

Media Sosial Terhadap Kualitas Tidur Dan Kestabilan Emosi Pada

Remaja Di Sekolah Menengah Atas Bandar Seikijang” peneliti

memilih tempat tersebut dengan asumsi individu di tempat tersebut sesuai

dengan kriteria subjek dalam penelitian ini.

B. RUMUSAN MASALAH

Media sosial memberikan dampak kecanduan, kecenderungan

kecanduan ini memiliki pola perilaku bermain terus menerus atau

sering, yang ditandai dengan gangguan kontrol diri (misalnya durasi,

intensitas dan frekuensi). Meninggalkan prioritas sehigga media sosial

seperti instagram, facebook, tik tok dan aplikasi media sosial lainnya

jauh lebih diutamakan. Dan khususnya bagi remaja mengakibatkan

kualitas dan kestabilan emosi yang buruk dapat mempengaruhi

konsentrasi dalam belajar. Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut; “Apakah ada hubungan frekuensi

6
penggunaan media sosial terhadap kualitas tidur dan kestabilan emosi

pada remaja di sekolah menengah atas Bandar seikijang ?.

C. TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan umum

Mengetahui hubungan antara pengguanaan media sosial

dengan kualitas tidur dan stabilitas emosi remaja di SMAN 1

Bandar seikijang dan SMKN 1 Bandar seikijang.

2. Tujuan khusus

a. Mengetahui distribusi frekuensi karakteristik remaja di

SMAN 1 Bandar seikijang dan SMKN 1 Bandar

seikijang.

b. Mengetahui distribusi frekuensi penggunaan media sosial

remaja di SMAN 1 Bandar seikijang dan SMKN 1

Bandar seikijang.

c. Mengetahui distribusi frekuensi kualitas tidur remaja di

SMAN 1 Bandar seikijang dan SMKN 1 Bandar

seikijang.

d. Mengetahui distribusi frekuensi kestabilan emosi remaja

di SMAN 1 Bandar seikijang dan SMKN 1 Bandar

seikijang.

e. Mengetahui hubungan antara penggunaan media sosial,

kualitas tidura dan kestabilan emosi remaja di SMA N 1

Bandar seikijang dan SMKN 1 Bandar seikijang.

7
D. MANFAAT PENELITIAN

1. Bagi intitusi kesehatan

Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi

pengembangan dalam ilmu keperawatan untuk masalah

kesehatan remaja khususnya pada dalam hal pemenuhan

kebutuhan tidur dan kestabilan emosi yang dialami akibat

ketergantungan pada media sosial.

2. Bagi peneliti

Penelitian ini memberikan pengalaaman dan pengetahuan

dalam penelitian khususnya mengetahui penelitian tentang

hubungan pengguanaan media sosial dengan kualitas tidur dan

kestabilan emosi tercukupi.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Sebagai gambaran dan acuan pada peneliti peneliti yang

akan datang.

4. Bagi Remaja

Memberikan informasi kepada remaja tentang hubungan

antara penggunaan media sosial dengan kualitas tidur dan

kestabilan emosi pada remaja sehingga mampu mengontrol diri

untuk kesehatan di masa depan.

8
E. RUANG LINGKUP PENELITIAN

Ruang lingkup ini meliputi hubungan penggunaan media sosial

dengan kualitas tidur dan kestabilan emosi pada remaja. Populasi dalam

penelitian ini yaitu siswa/i SMAN 1 Bandar seikijang dan SMKN 1

Bandar seikijang.

F. KEASLIAN PENELITIAN

Sejauh pengetahuan peneliti terdapat beberapa penelitian yang

berhubungan dengan penelitian, yaitu :

Nama, Judul Hasil


tahun
Aulia, Hubungan Penelitian analitik non-
Hafizh Intensitas eksperimental dengan
Fariezkadill Penggunaan menggunakan pendekatan cross-
a (2017) Media Sosial sectional. Hasil penelitian ini
Dengan menggunakan analisis uji
Kualitas Tidur statistik Spearman rho
Mahasiswa didapatkan nilai p = 0,975
International dengan koefisien korelasi r = -
Relation 0,005. Hasil dari penelitian ini
Muhammadiyah yaitu tidak ada hubungan yang
Yogyakarta bermakna antara intensitas
Angkatan 2014 penggunaan media sosial
dengan kualitas tidur pada
mahasiswa International
Program of International
Relation Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta
angkatan 2014. Sedangkan pada
penelitian yang akan dilakukan
peneliti adalah untuk mengkaji
hubungan intensitas penggunaan
media sosial terhadap kualitas
tidur pada remaja.

9
Kezia Woran, Hubungan Desain Penelitian yang
Rina M penggunaan digunakan yaitu Deskriptif
Kundre, Ferlan media sosial Analitik dengan pendekatan
A Pondaag dengan kualitas Cross Sectional Study. Teknik
2021) tidur pada pengambilan sampel
remaja menggunakan Purposive
Sampling dengan jumlah sampel
sebanyak 80 remaja. Hasil
Penelitian uji statistik
menggunakan uji Fisher Exact
dan didapatkan nilai signifikan ρ
Value = 0,000 < α = 0,05.
Kesimpulan terdapat hubungan
antara penggunaan media sosial
dan kualitas tidur pada remaja
dikelas XI Matematika Ilmu
Alam (MIA) SMA N 1
Langowan. Saran diharapkan
remaja mampu mengurangi
penggunaan media sosial dan
mampu memenejemen pola
istirahat dan tidur, bagi pihak
sekolah dan orang tua agar tetap
mengawasi dan mengedukasi
remaja dalam menggunakan
media sosial.  

10
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Media sosial

1. Defenisi media sosial

Media sosial merupakan sebuah media online melalui

aplikasi berbasis internet dan untuk pengguna terbanyak adalah

remaja. Kebiasaan remaja menghabiskan waktu yang cukup lama

untuk menggunakan media sosial mengakibatkan terganggunya

pola istirahat dan tidur sehingga kualitas tidur menjadi buruk

(Kezia Woran [Link], 2020). Media sosial memiliki kelebihan yaitu

cepat dalam penyebaran informasi, sebaliknya, kelemahannya

yaitu mengurangi intensitas interaksi interpersonal secara langsung

atau tatap muka, kecanduan yang berlebihan serta persoalan

hukum karena kontennya yang melanggar moral, privasi serta

peraturan ([Link], 2015).

2. Ciri-ciri media sosial

Beberapa ciri-ciri media sosial menurut [Link]

(2015) yaitu :

a. Isi yang disampaikan dibagikan tidak terbatas pada satu

orang saja namun banyak orang.

b. Disampaikan dengan koneksi internet atau online.

c. Media sosial menciptakan pengguna yang kreatif

beraktualisasi diri.

11
d. Dalam media social terdapat aspek fungsional seperti

identitas, interaksi, sharing, eksis, relasi, status dan group.

3. Jenis media sosial

Dalam [Link] (2015), media sosial dapat dibagi

menjadi 6 jenis:

a. Proyek kolaborasi website.

Penggunanya dapat mengubah, menambah ataupun

membuang konten-konten yang termuat di website

tersebut, seperti Wikipedia.

b. Blog dan microblog

Pengguna dapat bebas mengungkapkan suatu hal di

blog itu, seperti Twitter.

c. Konten atau isi

Pengguna di website saling membagikan konten-

konten multimedia, seperti e-book, video, foto, dan lain-

lain.

d. Situs jejaring sosial

Pengguna terkoneksi dengan membuat informasi

pribadi maupun social sehingga dapat diakses oleh orang

lain. Beberapa situs jejaring sosial antara lain:

1) Facebook

2) Instagram

3) Tik tok

4) Youtube

12
5) Witter

6) Friendster

7) Instagram

8) Path

e. Virtual game world

Pengguna dapat berinteraksi dengan orang lain yang

mengambil wujud avatar layaknya di dunia nyata melalui

aplikasi 3D, contoh online game.

f. Virtual social world

Hampir sama dengan virtual social world, namun

lebih cenderung ke aspek kehidupan, contoh Second Life.

4. Kelebihan Media Sosial

Berikut adalah kelebihan media sosial menurut

[Link] (2015) dibandingkan dengan media konvensional:

a. Cepat, ringkas dan sederhana. Media sosial mudah

digunakan tanpa harus memiliki pengetahuan Teknologi

Informasi (TI).

b. Menciptakan hubungan yang lebih intens. Media sosial

member kesempatan yang lebih luas untuk berinteraksi

serta membangun hubungan timbal balik secara langsung.

c. Jangkauan luas dan global. Individu dapat

mengkomunikasikan informasi secara cepat tanpa

hambatan geografis.

13
5. Dampak Media Sosial

a. Media sosial sebagai media alternatif manfaat dan pemuas

kebutuhan informasi di masa pandemik global Covid 19

(Nurliya Ni’matul rohmah, 2020).

b. Remaja menggunakan media sosial untuk mempererat tali

persahabatan dan kekeluargaan dengan para teman-teman,

seperti sekolah, organisasi, komunitas, orang tua, keluarga

dan aktivitas lainnya. Media sosial memberi kemudahan

bagi remaja untuk menjalin hubungan dan kesempatan

untuk belajar dengan satu sama lain (Christofferson, 2016).

6. Kerugian Media Sosial bagi Remaja

a. Cyberbullying

Cyberbullying adalah tindakan negatif yang

dilakukan oleh seseorang atau kelompok tertentu dengan

cara mengirimkan pesan teks, foto, gambar meme, dan

video ke akun media sosial seseorang dengan tujuan untuk

menyindir, menghina, melecehkan, mendiskriminasi

bahkan mempersekusi individu (Dodi riswanto &

Rahmiwati Marsinun, 2020).

b. Harga diri rendah

Penggunaan media sosial digunakan remaja sebagai

ajang untuk menjadi yang “terbaik”, sebagai contoh remaja

berusaha menunjukkan penampilan mereka yang terbaik,

dalam segi gaya hidup maupun kemampuan. Hal ini

14
membuat remaja yang tidak bisa melakukan hal yang sama

akan mengalami pesimis dan menimbulkan harga diri yang

rendah (Brusilovskiy [Link], 2016).

c. Membuat kecanduan atau ketergantungan

Konten media sosial yang luas dan sangat memberi

kenyamanan bagi remaja membuat remaja tidak bisa lepas

darinya, sehingga remaja menjadi kecanduan media

[Link] kecanduan media sosial adalah

fenomena yang sering terjadi pada saat ini seiring dengan

meningkatnya penggunaan internet serta canggihnya

kemajuan [Link] kecenderungan kecanduan

media sosial dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya

adalah faktor kontrol diri (Resti Fauzul Muna & Tri Puji

Astuti, 2014).

d. Kehidupan sosial akan terganti

Kemudahan yang diberikan media sosial, membuat

remaja memilih berinteraksi melalui media sosial

dibandingkan dengan tatap muka. Remaja menjadi kurang

sosialisasi dan interaksi jika mereka hanya mengandalkan

media sosial (Aljawiy & Muklason n.d.)

e. Kualitas tidur buruk

Remaja banyak menghabiskan waktu untuk bermain

media [Link] mengenal waktu, bahkan waktu tidur

mereka gunakan untuk mengoperasikan media sosial. Pada

15
saat bangun di pagi hari, mereka akan terlambat bangun

tidur, bahkan saat bangun badan terasa tidak segar dan tidak

semangat, hal ini yang disebut kualitas tidur yang buruk.

Salah satu kelompok yang rentan akan gangguan kualitas

tidur adalah remaja (Ignatia Novianti Tantri &L.P Ratna

Sundari, 2019).

f. Kecemasan sosial

Kecemasan sosial digambarkan sebagai rasa takut

individu terhadap situasi sosial yang berhubungan dengan

performa dan fisik yang membuat individu lebih berhati-

hati dengan orang-orang di sekitarnya, takut bahwa dirinya

akan dipermalukan atau dihina sehingga dalam hal ini body

image yang positif memiliki peranan penting untuk

mengurangi rasa cemas dalam diri remaja (S Ratnasari,

2017).

g. Kestabilan emosi

Konten dari media sosial yang sangat luas membuat

penggunanya dengan sangat bebas mengakses dan melihat

apapun, termasuk yang mengandung unsur yang memicu

perubahan suasana perasaan. Ketika stimulus emosional

didapatkan oleh individu dengan intensitas yang tinggi,

maka individu tersebut akan mengalami perubahan suasana

perasaan sehingga berdampak pada perubahan kestabilan

emosi (Setyawan, 2016; Locke, 2001).

16
7. Jenis Aplikasi Media Sosial

Sejumlah aplikasi media sosial yang popular dan

berpengaruh terhadap masyarakat antara lain ([Link],

2015):

a. Aplikasi berbagai video (video sharing) : Youtube

b. Aplikasi mikoblog : Twitter, Tumblr

c. Aplikasi berbagi jaringan sosial: Facebook, Google Plus,

Path

d. Aplikasi berbagi jaringan professional: LinkedIn, Scribd,

Slideshare

e. Aplikasi berbagi foto: Pinterest, Picasa, Flickr, Instagram

8. Durasi Penggunaan Media Sosial

Durasi penggunaan media sosial digolongkan sebagai

berikut (Syamsoedin [Link], 2015):

a. Sangat lama : menggunakan media sosial ≥ 7 jam dalam

sehari, kategori ini digolongkan mencapai ketergantungan

b. Lama : menggunakan media sosial 5-6 jam

c. Sedang : menggunakan media sosial 3-4 jam

d. Singkat : 1-2 jam

e. Sangat singkat :< 1 jam.

17
B. Konsep Tidur

1. Defenisi Tidur

Tidur adalah kebutuhan dasar manusia, dengan tidur semua

lelah dapat berkurang dan akan kembali mendapatkan tenaga serta

semangat untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi (Rini

Ambarwati, 2017). Tidur adalah suatu keadaan yang tidak sadar

dimana membuat persepsi dan reaksi individu terhadap keadaan

lingkungan mengalami penurunan atau bahkan tidak ada sama

sekali dan dapat dibangunkan kembali dengan indra atau

rangsangan yang memadai. Individu dikatakan dapat tidur apabila

pada keadaan aktivitas fisik minimal tingkat kesadaran yang

bervariasi, terjadi perubahan perubahan proses fisiologis tubuh dan

penurunan respon terhadap rangsangan dari luar. Individu yang

dapat melakukan tidur dengan kualitas dan kuantitas yang baik,

tenaga akan kembali menjadi lebih maksimal. Tidur mampu

menjaga kestabilan mental emosional, fisiologis, dan kesehatan

(Riyandi & Widuri, 2015).

2. Fisiologi Tidur

Individu yang tidur, sistem saraf pusatnya tetap aktif dalam

singkronisasi terhadap neuron neuron substansia retikularis dari

batang otak, untuk itu tidur bukan merupakan deaktifasi dari

sistem saraf [Link] kesadaran pada setiap organ tubuh

berbeda-beda. Hidung memiliki penurunan kesadaran paling

dalam selama tidur dibandingkan indra pendengaran dan rasa sakit

18
(Riyadi & Widuri 2015). Semua makhluk hidup mempunyai irama

kehidupan yang sesuai dengan beredarnya waktu dalam siklus 24

jam. Irama yang seiring dengan rotasi bola dunia disebut sebagai

irama [Link] kontrol irama sirkadian berada di

suprachiasmatic nuclei (SCN), bagian susunan syaraf pusat yang

mengadakan kegiatan sinkronisasi sebagai pusat tidur. Irama

sirkadian yang melengkapi siklus selama 24 jam berfungi

mengatur metabolisme tubuh seperti Fluktuasi denyut jantung,

tekanan darah, temperatur, sekresi hormon, penampilan serta

perasaan individu. Individu sebaiknya tidur sesuai dengan siklus

sirkadian karena Irama sirkadian berpengaruh terhadap

metabolisme hingga ke level behavioral dan molecular (Rini

Ambarwati, 2017).

3. Tahapan Tidur

Siklus tidur terdiri atas non rapid eye movement (NREM)

yang dibagi menjadi tiga tahap (N1, N2, N3); dan rapid eye

movement (REM). Berbagai perubahan fisiologis dan perilaku

terjadi selama tidur, perubahan tersebut meliputi sistem

pernapasan, kardiovaskular, pencernaan, endokrin, ginjal, seksual

serta termoregulasi. Tahap NREM sering disebut slow wave sleep

(SWS) dimana mulai terjadi penurunan tekanan darah, pernapasan

menjadi lebih dalam, penurunan tonus otot dan aktivitas

gelombang otak serta sekresi berbagai hormon. Selama tidur

NREM tidak ada gerakan mata dan tubuh menjadi tidak bergerak.

19
Biasanya tidak terdapat mimpi pada tidur NREM namun seringkali

terjadi mimpi buruk, sleep walking, dan mengompol pada anak-

anak. Mimpi lebih sering terjadi pada tidur REM dan lebih mudah

mengingat mimpi selama tidur REM. Tonus otot di seluruh tubuh

menjadi sangat berkurang, frekuensi denyut jantung dan

pernapasan menjadi tidak teratur, otak menjadi sangat aktif dan

metabolisme di seluruh otak meningkat sebanyak 20 persen

selama tidur REM. Tidur yang cukup berperan untuk

mengoptimasi kerja hormon pertumbuhan dan memobilisasi fungsi

neurohumoral sehingga penting dalam managemen kesehatan.

Fungsi tidur masih menjadi misteri dan terbukti masih sulit

dipahami. Durasi tidur yang pendek dapat memicu perubahan

signifikan di seluruh tubuh antara lain gangguan kognitif,

penurunan ingatan, perubahan kimia otak yang dapat

menyebabkan depresi, gangguan sistem kekebalan tubuh, serta

peningkatan risiko berbagai penyakit kardiometabolik (Rezita

Rahma Reza [Link], 2019).

4. Waktu dan Pola Tidur Berdasarkan Tingkat Perkembangan

Kebutuhan tidur, durasi dan kualitas tidur pada setiap

individu dari semua kelompok usia sangat beragam (Riyadi &

Widuri 2015).

a. Neonatus

Kebutuhan tidur neonates rata-rata 14-18 jam. Pada

masa ini tidurnya banyakdilewatkan pada tahap III dan IV

20
NREM, setiap siklus 45-60 menit, 50%NREM, pernapasan

teratur, gerak tubuh sedikit.

b. Bayi

Bayi membutuhkan tidur 12-14 jam sehari. Sekitar

20-30% dari waktu tidur dihabiskan dalam siklus REM.

Bayi yang minum ASI biasanya tidur selama periode yang

lebih pendek, dengan lebih sering terbangun, dibandingkan

dengan yang minum menggunakan botol (Wong, 1995;

Widuri & Riyadi, 2015).

c. Toddler

Total tidur rata-rata 10-12 jam sehari. Prosentase

tidur REM menurun menjadi 25%.Pada masa toddler, anak

tidak mau tidur pada malam hari karena kebutuhan untuk

otonomi atau takut perpisahan.

d. Prasekolah

Usia anak prasekolah membutuhkan waktu tidur 11-

12 jam. Tidur REM 20%.

e. Sekolah

Biasanya membutuhkan 9-12 jam sehari, tergantung

tingkat aktivitas setiap [Link] tidur REM 20%.

f. Remaja

Usia remaja membutuhkan tidur 7,5-8,5 jam setiap

hari. Tidur REM sekitar 20%. Meningkatnya kebutuhan

tidur pada remaja membuat remaja sulit untuk bangun di

21
pagi hari, hal ini mungkin menunjukkan adanya sindrom

keterlambatan fase tidur yang terjadi karena adanya

gangguan irama sirkadian (Agustin, 2012; Harkreader

[Link], 2007)

g. Dewasa muda

Pada dewasa muda membutuhkan tidur rata-rata 6-

8,5 jam. Kurang lebih 20- 25% waktu tidur dihabiskan.

h. Dewasa tengah

Total waktu yang digunakan untuk tidur malam hari

mulai menurun. Jumlah tidur tahap 4 mulai menurun. Tidur

7 jam sehari, 20% tidur REM.

i. Lansia

Kualitas tidur terlihat berubah pada kebanyakan

[Link] REM [Link] penurunan

progresif pada tahap tidur NREM 3 dan [Link] lansia

hampir tidak pernah memiliki tahap 4 atau tidur yang

dalam, mereka juga lebih sering terbangun pada malam

hari.

5. Faktor yang Mempengaruhi Tidur

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan tidur,

baik dari kuantitas maupun kualitas (Riyadi & Widuri, 2015).

22
a. Status kesehatan

1) Penyakit fisik

Penyakit fisik yang menyebabkan

ketidaknyamanan fisik seperti nyeri, batuk, sesak

napas, panas, jantung berdebar dan [Link]

tersebut dapat juga memaksa klien untuk tidur

dalam posisi yang tidak biasa.

2) Stress psikologis

Masalah yang berhubungan dengan suasana

hati yang dapat mengakibatkan individu mengalami

kecemasan, depresi dan yang lain.

b. Lingkungan

Lingkungan yang dapat mengganggu tidur, antara

lain ventilasi yang kurang baik, ukuran tempat tidur,

tempat tidur yang keras, posisi tempat tidur,

kebisingan/ribut, gaduh dan lain-lain.

c. Diet

Individu dengan kebiasaan makan yang baik dan

sehat tidak akan mengalami gangguan dalam tidur.

Makanan yang banyak mengandung L-Triptofan seperti

keju, susu, daging, kacang-kacangan, coklat, pisang, kurma

dan ikan tuna menyebabkan seseorang mudah tidur.

Minuman yang mengandung kafein dan alkohol akan

mengganggu tidur.

23
d. Obat-obatan

Obat memiliki efek terapeutik dan efek

[Link] beberapa efek obat, ada yang dapat

menyebabkan mudah mengantuk/tertidur dan ada pula

yang sangat mengganggu [Link] golongan amfetamin

dapat menurunkan tidur REM.

e. Gaya hidup

Penggunaan media sosial di kalangan remaja

merupakan salah satu cara untuk menentukan pilihan

dalam penentuan gaya hidup. Gaya hidup remaja dapat

ditentukan berdasarkan jenis konten yang disenanginya

didalam media sosial (Rahmadika Syahrial Akbar, 2019).

6. Kualitas Tidur

Kualitas tidur adalah kepuasan seseorang terhadap tidur,

sehingga seseorang tersebut tidak memperlihatkan perasaan lelah,

lesu dan gelisah. Kualitas tidur buruk dapat mengakibatkan

menurunya aktivitas korteks prefrontal yang memerankan peran

penting dalam mengatur emosi, salah satunya kecemasan (Akhmat

Yanuar Fahmi, Dayu Agista, soekardjo soekardjo).

Penelitian yang dilakukan Busyee et al. dalam Agustin

2012 tentang pengukuran kualitas tidur dan pola tidur

menggunakan The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). PSQI

membedakan antara tidur yang baik dan tidur yang buruk dengan

pemeriksaan 7 komponen (Agustin, 2012):

24
a. Kualitas tidur

Evaluasi kualitas tidur merupakan evaluasi singkat

terhadap tidur seseorang tentang tidurnya yang baik atau

buruk.

b. Latensi tidur

Durasi dari berangkat tidur hingga [Link]

dengan kualitas tidur yang baik membutuhkan waktu

kurang dari 15 menit untuk memasuki tahap tidur

selanjutnya secara lengkap.

c. Durasi tidur

Durasi tidur merupakan waktu individu tertidur

sampai bangun di pagi hari tanpa terbangun tengah malam.

d. Efisiensi kebiasaan tidur

Efisiensi kebiasaan tidur merupakan rasio

persentase antara jumlah total jam tidur dibagi dengan

jumlah jam yang dihabiskan di tempat [Link]

kebiasaan lebih dari 85% dapat dikatakan kualitas tidur

baik.

e. Gangguan tidur

Kondisi terputusnya tidur, pola tidur – bangun

individu berubah polanya, hal ini menyebabkan penurunan

kualitas tidur individu menjadi buruk.

25
f. Penggunaan obat

Penggunaan obat sedatif mengindikasikan jika

individu tersebut ada masalah tidur. Obat-obatan memiliki

efek terganggunya kualitas tidur.

g. Disfungsi di siang hari

Individu yang kualitas tidurnya kurang baik akan

menyebabkan mengantuk di siang hari sehingga membuat

aktivitas di siang hari terganggu.

C. Konsep Kestabilan Emosi

1. Definisi Kestabilan Emosi

Kestabilan emosi bukan hanya salah satu penentu pola

kepribadian yang efektif, namun juga membantu untuk mengontrol

perkembangan remaja. Konsep emosi yang stabil di semua

tingkatan adalah sebuah cerminan dari perkembangan emosi yang

[Link] emosi adalah satu dari beberapa indikator

kesehatan mental. Jika remaja tidak memiliki kontrol emosi, akan

menyebabkan kecemasan dan inferioritas perasaan (Kumar, 2013).

2. Karakteristik Kestabilan Emosi

Karakteristik kestabilan emosi yang baik menurut Setyawan

(2016) adalah:

a. Individu memiliki kepuasan hidup lebih tinggi

b. Memiliki pandangan yang selalu positif

c. Jauh dari emosi-emosi dan pikiran yang negatif

26
d. Lebih tenang dalam menghadapi stress

e. Tidak mempunyai rasa isi hati terhadap orang lain

f. Berkepala dingin

3. Indikator Kestabilan Emosi

Beberapa indikator kestabilan emosi menurut Chaturvedi &

Chander (2012) adalah:

a. Optimisme

Individu dikatakan optimis adalah individu yang

selalu semangat, ceria, tidak pernah putus asa jika banyak

halangan untuk mendapatkan sesuatu. Mereka menjalani

hidup dengan damai dan penuh harapan, kegigihan untuk

mencapai harapannya tersebut. Individu yang optimis tidak

memiliki rasa takut akan kegagalan.

b. Empati

Individu dengan empati akan merasakan apa yang

orang lain rasakan. Individu memiliki kehangatan,

kejujuran dan kepercayaan.

c. Kemandirian

Individu dikatakan memiliki kemandirian adalah

mereka yang melakukan sesuatu dengan sendiri, berusaha

untuk menyelesaikan masalah sendiri terlebih dahulu

sebelum meminta bantuan orang lain. Berani untuk

mengambil keputusan hidup sendiri dan menanggung

apapun resiko.

27
d. Ketenangan

Individu yang memiliki ketenangan adalah mereka

yang selalu tenang dalam menghadapi [Link]

mudah tergoyahkan, tidak mudah terganggu, menolak

ketakutan dan [Link] jernih dan tetap fokus.

e. Toleransi

Individu dengan toleransi adalah yang memiliki

sikap menghargai, lembut, tidak memiliki konfik personal

dan tidak melakukan kekerasan kepada siapapun.

4. Aspek Kestabilan Emosi

Perubahan pada aspek psikososial yang terjadi pada masa

remaja salah satunya ditandai dengan fluktuasi kondisi emosi,

dimana kondisi emosi pada masa remaja dapat berpengaruh

terhadap terbentuknya perilaku yang positif ataupun negatif.

Kemampuan remaja dalam mengekspresikan perasaan dan

mengelola emosi dengan tepat merupakan peran dari kecerdasan

emosional yang dimiliki oleh remaja. Kecerdasan emosional pada

remaja laki – laki dan perempuan memiliki ciri yang berbeda

(Endang Mei Yunalia & Arif Nurma Etika, 2020). Seperti :

a. Kontrol emosi yang meliputi pengaturan emosi dan

perasaan sesuai dengan tuntutan lingkungan atau situasi

dan standar dalam diri individu yang berhubungan dengan

nilai-nilai, cita-cita dan prinsip.

28
b. Bentuk respon emosi yang dipilih dan ditampilkan

seseorang saat menghadapi situasi tertentu.

c. Kematangan emosi, yaitu kemampuan seseorang untuk

melakukan reaksi emosi sesuai dengan tingkat

perkembangannya yang diindikasikan dengan adanya

kemampun untuk menyesuaikan diri terhadap stress, tidak

mudah khawatir, tidak mudah cemas dan tidak mudah

marah.

5. Faktor yang Mempengaruhi Kestabilan Emosi

Morgan & King (dalam Setyawan, 2016)

mengemukakan,beberapa faktor yang mempengaruhi kestabilan

emosi yaitu :

a. Keadaan jasmani individu

Kondisi kesehatan remaja yang baik akan memiliki

kestabilan emosi yang jauh lebih baik dibandingkan

dengan keadaan remaja yang sakit.

b. Pembawaan (kondisi dasar individu)

Kondisi dasar remaja ini meliputi genetik, gender,

kepribadian, usia, etnis dan keadaan sosial ekonomi.

c. Suasana hati

Berbagai stimulus emosi yang mempengaruhi

suasana hati remaja, baik stimulus positif maupun negatif.

Hal ini berkaitan dengan munculnya rangsangan dari luar

yang memicu keadaan emosional remaja.

29
D. Konsep remaja

1. Remaja dan batasannya

Menurut World Health Organization (WHO), yang

termasuk kedalam kelompok remaja adalah mereka yang berusia

10-19 tahun, dan secara demografis kelompok remaja dibagi

menjadi kelompok usia 10-14 tahun dan kelompok usia 15-19

tahun. Sementara Undang-Undang No.23 tahun 2002 tentang

Perlindungan Anak mengelompokkan setiap orang yang berusia

sampai dengan 18 tahun sebagai ‘anak’, sehingga berdasarkan

Undang-Undang ini sebagian besar remaja termasuk dalam

kelompok anak. Berdasarkan data Proyeksi Penduduk Indonesia

2000-2025, proporsi penduduk remaja berusia 10-19 tahun pada

tahun 2010 adalah sekitar 18,3% dari total penduduk atau sekitar

43 juta jiwa. Besarnya populasi kelompok usia remaja dapat

dimaknai sebagai aset dan potensi bangsa di masa depan. Namun

demikian, untuk dapat mewujudkan harapan tersebut, Negara dan

masyarakat harus dapat menjamin agar remaja Indonesia mampu

tumbuh dan berkembang secara positif dan terbebas dari berbagai

permasalahan yang [Link] untuk dapat mewujudkan

cita-cita tersebut tidaklah mudah. Pentingnya remaja sebagai aset

masa depan peradaban manusia ditunjukkan dengan adanya

beberapa indikator yang ditetapkan Persatuan Bangsa Bangsa

sebagai Millenium Development Goals yang berkait langsung

dengan remaja dan orang muda. Indikator tersebut adalah tingkat

30
melek huruf pada penduduk usia 15-24 tahun, tingkat persalinan

remaja, prevalensi HIV-AIDS pada penduduk usia 15-24 tahun,

proporsi penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan

komprehensif tentang HIVAIDS, dan rasio partisipasi sekolah

anak usia 10-14 tahun yang tidak yatim piatu dibandingkan dengan

yang yatim piatu (Kemenkes RI, 2017).

2. Perkembangan Remaja

Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak ke

dewasa, banyak perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja

[Link] yang terjadi yaitu perubahan secara fisik yang

merupakan gejala primer dari pertumbuhan remaja. Sedangkan

perubahan psikologis muncul akibat dari perubahan-perubahan

fisik remaja tersebut (Sarwono, 2013).

Perubahan biologis adalah percepatan pertumbuhan,

perubahan hormonal, dan kematangan seksual yang datang dengan

pubertas (Santrock, 2011). Perubahan fisik yang sangat

berpengaruh besar terhadap perkembangan jiwa remaja adalah

pertumbuhan tinggi badan yang semakin tinggi, berfungsinya alat-

alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi

basah pada laki-laki), dan tanda-tanda seksual sekunder yang

tumbuh. Perubahan fisik tersebut dapat meyebabkan

kecanggungan bagi remaja karena ia harus menyesuaikan diri

dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya, sehingga

31
dapat berpengaruh pada perubahan psikologi remaja tersebut

(Sarwono, 2013).

Perkembangan atau perubahan kognitif yang terjadi selama

masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja adalah

peningkatan dalam berpikir abstrak, idealis, dan logis. Ketika

mereka melakukan transisi tersebut, remaja mulai berpikir secara

lebih egosentris, sering merasa bahwa mereka berada di panggung,

unik, dan tidak terkalahkan. Dalam menanggapi perubahan

tersebut, orang tua memberikan lebih banyak tanggung jawab

untuk pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para remaja

(Santrock, 2011).

Perubahan sosio-emosional yang dialami remaja adalah

pencarianbukaan diri. Ketika untuk kebebasan, konflik dengan

orang tua, dan keinginan untuk menghabiskan lebih banyak waktu

dengan teman sebaya. Percakapan dengan teman-teman menjadi

lebih intim dan memasukkan lebih banyak keterbukaan diri.

Ketika anak-anak memasuki masa remaja mereka akan mengalami

kematangan seksual sehingga mereka akan mengalami

ketertarikan yang lebih besar dalam hubungan dengan lawan jenis.

Remaja akan mengalami perubahan mood yang lebih besar

daripada masa kanak-kanak (Santrock, 2011).

3. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Remaja

Jurnal Ikalor (2013) menjelaskan beberapa faktor yang

mempengaruhi perkembangan remaja antara lain:

32
1. Faktor hereditas

Warisan atau bawaan sejak lahir atau keturunan dari

orang tua dapat mempengaruhi perkembangan

[Link] dilapangan membuktikan beberapa remaja

yang berkembang tidak jauh berbeda dengan orang tuanya.

2. Faktor lingkungan

Individu hidup di sebuah lingkungan, sehingga

individu tidak bisa lepas dari lingkungan tersebut. Segala

sesuatu yang terjadi pada lingkungan dimana remaja

berada, pasti akan memberi pengaruh pada

perkembangannya. Beberapa yang termasuk faktor

lingkungan yaitu teman sebaya, media masa (media sosial)

dan keluarga.

3. Kematangan fungsi-fungsi organis dan psikis

Sejalan dengan bertambahnya waktu, remaja

semakin matang fungsi organ dan psikisnya, semakin

berkembang juga perkembangan remaja ke yang lebih luas.

4. Aktifitas individu sebagai subyek bebas yang berkemauan,

kemampuan seleksi, dapat menolak atau menyetujui, punya

emosi serta usaha membangun diri sendiri.

33
E. Kerangka Teori

Skema 2.1
Kerangka teori

Media Sosial
Media sosial adalah
jembatan komunikasi
antar personal atau
badan lembaga dengan
menggunakan fasilitas
internet (Ira Anisa
Purawinanggung,
Maulana Yusuf 2020).

Faktor faktor yang mempengaruhi


Kualitas Tidur tidur baik dari kualitas maupun
kuantitas:
Kualitas tidur adalah
dimana ketika bangun 1. Status kesehatan
seseorang akan 2. Lingkungan
menghasilkan kesegaran 3. Diet
dan kebugaran (Khasana 4. Obat-obatan
& Hadayati 2012). 5. Gaya hidup
(Riyadi & Widuri 2015)

Kestabilan Emosi
Faktor faktor yang mempengaruhi
Kestabilan emosi adalah kestabilan emosi :
satu dari beberapa
indikator kesehatan 1. Keadaan jasmani individu
mental. Jika remaja tidak 2. Pembawaan (kondisi dasar
memiliki kontrol emosi, individu)
akan menyebabkan 3. Suasana hati
kecemasan dan (Setyawan 2016)
inferioritas perasaan
(Kumar 2013).

34
F. Kerangka Konsep

Skema 2.2
Kerangka konsep

Variabel independen Variabel dependen

Kualitas tidur

1. Ringan

Frekuensi penggunaan media 2. Sedang

sosial 3. Berat

1. Sering Kestabilan emosi


2. Tidak sering
1. Stabil
2. Kurang
stabil

G. Hipotesis
Hipotesis adalah pendapat yang kebenarannya masih dangkal dan

perlu diuji, patokan dugaan, atau dalil sementara, yang kebenarannya akan

dibuktikan dalam penelitian tersebut (Setiadi, 2013). Hipotesis nol

(hipotesis statistik/nihil) dan hipotesis alternatif (hipotesis kerja).

Hipotesis alternatif

Ha : Ada hubungan antara penggunan media sosial media dengan

kualitas tidur dan kestabilan emosi pada remaja di SMA N 1 Bandar

seikijang dan SMK N 1 Bandar seikijang.

35
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Desain penelitian

adalah deskriptif kolerasi untuk menentukan apakah terdapat hubungan

antar variabel dan membuat prediksi berdasarkan korelasi antar variabel

dengan pendekatan cross sectional yaitu suatu penelitian yang

mempelajari dinamika kolerasi antara faktor faktor resiko, efek, dengan

pendekatan observasi atau pengumpulan data dalam satu waktu saja (point

time approach) (Kezia Woran, 2021). Penelitian ini dilakukan untuk

menentukan apakah ada hubungan frekuensi penggunaan media sosial

dengan kualitas tidur dan kestabilan emosi pada remaja yang ada di

sekolah menengah atas Bandar seikijang, dengan alat ukur menggunakan

questioner.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Kegiatan penelitian ini akan dilakukan di Sekolah

Menengah Atas Bandar Seikijang.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dimulai pada bulan Februari 2022.

36
C. Populasi dan Subjek Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/

subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya

(Sugiono, 2017). Pada penelitian ini yang menjadi populasi dan subjek

penelitian adalah remaja yang berada di sekolah menengah atas Bandar

seikijang. Jumlah populasi pada penelitian ini yaitu :

1. SMA N 1 bandar seikijang 292 siswa/i

2. SMK N 1 bandar seikijang 688 siswa/i

Dari jumlah populasi di SMA dan SMK Bandar seikijang

didapatkan jumlah seluruh populasi 980 populasi siswa/i. data populasi ini

didapatkan dari survei pendahuluan yang telah dilakukan peneliti.

D. Besar Sampel

sampel adalah sebagian dari populasi yang akan diukur atau diteliti

karakteristiknya dalam penelitian (Anwar Hidayat, 2012). Sample

penelitian ini adalah:

N
n= 2
1+ Ne

Keterangan:

n : Besar Sample

N : Jumlah Populasi

e : Eror Tolerance (0,05)

37
N
n=
1+ Ne 2

980
= 2
1+ 980(0,05)

980
=
1+ 2,45

980
=
3,45

= 284 orang

E. Teknik Sampling

Teknik sampling adalah bagian dari metodologi statistika yang

berkaitan dengan cara-cara pengambilan sampel (Heri, 2019). Penelitian

ini menggunakan teknik probability sampling dengan jenis propotionate

atratified random sampling yaitu teknik pengambilan sampel bila anggota

populasinya tidak homogen yang terdiri dari kelompok yang homogeny

atau bersrata secara proposional (Hidayat, 2007). Teknik pengambilan

sampel sampel ini dilakukan atas dasar pertimbangan waktu, keterbatasan

biaya, tenaga dan lokasi (Burn & Grove 2005).

Dari 284 responden dibagi secara proposional, untuk mengetahui

jumlah responden di setiap Sekolah Menengah Atas Bandar seikijang.

jumlah populasi per SMA


x jumlah sample
Total populasi seluruh SMA

292
SMA N 1 Bandar seikijang = x 284 = 84,62 = 85 responden
980

38
688
SMK N 1 Bandar seikijang = x 284 = 199,3 = 199 responden
980

Dapat disimpulkan di SMA N 1 Bandar seikijang (85 Responden),

SMK N 1 Bandar seikijang (199 Responden)

F. Kriteria Inklusi

1. Siswa/i SMA N 1 Bandar seikijang dan SMK N 1 Bandar seikijang

menggunakan tiga media sosial yaitu Youtube, Instagram,

Whatsapp, Facebook dan Tik tok.

2. Bersedia menjadi responden dan mengikuti prosedur penelitian

sampai tahap akhir.

G. Etika Penelitian

Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang

sanggat penting dalam penelitian mengingat penelitian keperawatan

berhubungan langsung dengan manusia, maka dari segi etika penelitian

harus diperhatikan (Hidayat, 2007).

Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut :

1. Informed consent

Merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan

responden penelitian ini dengan member lembar

[Link] sebelum penelitian dilakukan dengan

member lembar persetujuan untuk responden.

39
2. Tanpa nama (Anonimity)

Peneliti member jaminan kerahasiaan penelitian, baik

informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh

peneliti.

3. Keadilan (Justice)

Setiap responden mendapatkan perlakuan yang sama dari

penelitian.

H. Variabel Penelitian Dan Data Operasional

 variabel merupakan salah satu unsur yang penting karena suatu

proses pengumpulan fakta atau pengukuran dapat dilakukan dengan baik,

bila dapat dirumuskan variabel penelitian dengan tegas. Proses perumusan

variabel ini diawali dari perumusan konsep tentang segala sesuatu yang

menjadi sasaran penelitian. Konsep yang dimaksud adalah istilah dan

definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak tentang

kejadian dan keadaan suatu kelompok atau individu tertentu yang menjadi

sasaran penelitian (Raudhah, 2017).

Variabel penelitian dapat dilihat dari dua sudut yaitu peran dan

sifat. Dilihat dari segi perannya, variabel ini dapat dibedakan kedalam dua

jenis yaitu:

40
1. Variabel dependent ialah variabel yang dipengaruhi oleh variabel

lain dan menjadi perhatian utama dalam suatu penelitian, variabel

independent dari penelitian ini adalah penggunaan media sosial

(Fitrah, 2017).

2. Variabel independent (Variabel Bebas) adalah variabel yang

mempengaruhi atau sebab perubahan timbulnya variabel terikat

(dependen). Variabel Independen disebut juga dengan variabel

perlakuan, kausa, risiko, variabel stimulus, antecedent, variabel

pengaruh, treatment, dan variabel bebas. Dapat dikatakan variabel

bebas karena dapat mempengaruhi variabel lainnya (Maya Ima

Erviani, 2016).

3. Defenisi Operasional

Tabel 3.1 defenisi operasional

Variabel Defenisi Alat Cara Skala Hasil Ukur


Ukur Ukur Data
Media Media Kuesioner Mengisi Nominal
Sosial online Kuesioner 1. Sering
dengan jika
aplikasi 50%-
berbasis 100%
internet 2. Tidak
yang sering <
digunakan 50%
untuk
berkomunik
asi dan
meningkatk
an
pemasaran
(Whatsapp,
Youtube,
Facebook,
Instagram
dan Tik

41
Tok)
Kualitas Kemampua Kuesioner Mengisi Ordinal 1. Ringan
Tidur n individu PSQI Kuesioner 0-7
untuk tidur (Pittsburg 2. Sedang
dan h Sleep 8-14
mendapatka Qualiti 3. Berat
n tidur yang Index) 15-21
tenang
Kestabilan Bebas dari Kuesioner Mengisi Ordinal 1. Stabil
Emosi kebimbanga Kuesioner jika >
n suasana dari
hati, mean/m
memiliki edian
kontrol 2. Tidak
yang baik stabil
jika <
mean/m
edian

I. Jenis dan Alat Pengumpulan Data

1. Jenis data

a. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh dari peneliti

langsung dari responden. Data primer pada penelitian ini

adalah kuesioner yang diisi langsung oleh responden yang

menggunakan media sosial satu bulan terakhir.

b. Data sekunder

Data skunder berupa dokumen, laporan dan arsip

yang berhubungan dengan penelitian data yang diperoleh

oleh penelitian ini yang menjadi data sekunder adalah

dokumen yang diperoleh dari SMA Dan SMK di Bandar

seikijang berupa jumlah siswi/i, jenis kelamin dan usia.

2. Alat Pengumpulan Data

42
Metode pengumpulan data adalah dokumentasi, studi

pustaka dan pengamatan langsung (Syamsuddin Syamsuddin,

2021). Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan cara

mengisi kuesioner. Kuesioner merupakan alat ukur yang

didalamnya terdapat beberapa pertanyaan. Alat ukur ini digunakan

bila responden jumlahnya besar dan tidak buta huruf.

Alat pengumpulan data yang digunakan untuk mengukur

penggunaan media sosial menggunakan kuesioner yang dibuat

sendiri oleh peneliti. Untuk mengukur kualitas tidur menggunakan

kuesioner baku PQSI (Pittsburgh Sleep Quality Index). PSQI

terdiri dari 9 pertanyaan dan 7 komponen, yaitu letensi tidur (no.

2), durasi tidur (no. 1 & 3), kualitas tidur (no. 9), efesiensi

kebiasaan tidur (no. 4), gangguan tidur (no. 5), penggunaan obat

tidur (no. 6), dan gangguan fungsi tubuh disiang hari (no. 7 & 8).

Penilaian kuesioner ini adalah jika total nilai PSQI < 5 berarti

kualitas tidur baik, jika total nilai > 5 menunjukkan bahwa kualitas

tidur buruk. Dan untuk mengukur kestabilan emosi dibuat oleh

peneliti dengan acuan komponen kestabilan emosi dari Chaturvedi

& Chander. Komponennya yaitu optimisme, empati, kemandirian,

ketenangan, dan toleransi. Terdiri dari 20 pertanyaan, terdapat

pilihan STS, TS, S, SS. Pada kuesioner ini terdapat pernyataan

positif dan negative, dimana pernyataan negative terdapat pada

nomor 4, 8, 10, 13, 15, 16, 17, 19 dan sisanya adalah pernyataan

positif (Setyawan, 2016).

43
J. Uji Validitas dan Reliabilitas

1. Uji Validitas

Prinsip validitas adalah pengukuran dan pengamatan yang

berarti prinsip keandalan instrumen dalam pengumpulan data

(Nursalam 2015). Menentukan validitas pengukuran harus

memenuhi 2 hal yaitu relevan isi, cara dan sasaran. Uji validitas

kuesioner dilakukan pada bulan februari 2022 yang diujikan pada

siswa/i SMA N 1 Bandar seikijang Dan SMK N 1 Bandar

seikijang. Uji validitas dengan besar r tabel sesuai dengan jumlah

responden yang diuji dan untuk tingkat signifikansi 0,05 yaitu

0.4227. Pertanyaan dalam kuesioner dianggap valid jika r hitung >

r tabel yang telah ditentukan. Hasil uji validitas pada kuesioner

kestabilan emosi dengan total 20 pertanyaan seluruh item

dinyatakan valid.

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau

pengamatan apabila fakta diukur atau diamati berkali-kali dalam

waktu yang berlainan (Nursalam, 2015). Alat pengukur dianggap

reliabel jika digunakan dua kali atau lebih untuk mengukur gejala

yang sama dan hasilnya relatif konsisten. Uji reliabilitas dilakukan

dengan metode Cronbach’s alpha 0 sampai 1.

44
K. Pengolaha Data

1. Scoring

Berikan skor pada jawaban yang membutuhkan

[Link] dilakukan pada kuesioner kualitas tidur, stabilitan

emosional dan kecemasan sosial.

2. Coding

Berilah tanda atau kode pada setiap kuesioner yang terdapat

pada kategori yang dipelajari dengan tujuan menyederhanakan

tabulasi dan analisis data.

3. Tabulating

Tabulating data dengan memasukkan data yang telah

dituliskan sesuai dengan pengkodean dalam tabel untuk

memudahkan entry data.

4. Entry

Memasukkan data tabulasi yang telah dilakukan pada

komputer.

L. Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada objek dan

proses pengumpulan karakteristik yang diperlukan dalam penelitian.

Pengumpulan data dilakukan berdasarkan langkah langkah berikut :

Teknik pengumpulan data dalam penelitian yaitu :

45
1. Peneliti mendapatkan izin dari STIKes PMC (Pekanbaru Medikal

Center) untuk melakukan penelitian.

2. Peneliti mendapatkan izin dari kepala sekolah SMA N 1 Bandar

seikijang dan SMK N 1 Bandar seikijang untuk mengambil data

dan melakukan penelitian.

3. Selanjutnya peneliti meminta persetujuan responden yang bersedia

untuk mengisi kuesioner.

4. Kemudian peneliti menyebarkan kuesioner, terlebih dahulu peneliti

menjelaskan maksud dan tujuan pemberian kuesioner.

5. Peneliti menyebarkan kuesioner pada responden.

6. Peneliti akan memeriksa kelengkapan data dan jawaban yang telah

di isi oleh responden.

7. Terakhir peneliti akan memeriksa kelengkapan data dan jawaban

yang telah di isi oleh responden.

M. Rencana Analisa Data

1. Analisa univariat

Analisa data yang dilakukan secara universial yaitu melihat

hasil perhitungan dan persentasi hasil penelitian yang artinya

dipergunakan sebagai tolak ukur pembahasan dan kesimpulan

(Notoatmojo, 2010). Analisa univariat pada penelitian ini

digunakan untuk mendapatkan informasi umum responden,

seperti : umur, gambaran penggunaan sosial media, gambaran

kualitas tidur, gambaran kestabilan emosi.

46
2. Analisa bivariat

Analisa bivariat yaitu analisa yang dilakukan terhadap dua

variabel yang digunakan atau berkolerasi (Notoatmojo 2010).Pada

penelitian ini adalah mengetahui adanya hubungan penggunaan

media sosial terhadap kualitas tidur dan kestabilan emosi pada

remaja di sekolah menengah atas Bandar seikijang. Dalam

penelitian ini, peneliti menggunakan analisis bivariate uji chi

square dengan batasan makna (0,05).

Apabila dari uji statistik didapatkan p value< (0,05) maka

dapat dikatakan ada hubungan yang bermakna diantara 2 variabel

tersebut dan apabila bermakna diantara kedua variabel

menunjukkan tidak adanya hubungan maka nilai p value> (0,05)

(Notoatmojo, 2010).

Berdasarkan pengelolahan data dengan menggunakan uji

chi square didapatkan nilai p value> 0,00 dengan taraf kemaknaan

adalah besar dari 5% (p> 0,05) jadi 0,00 < 0,05 sehingga dapat

disimpulkan terdapat hubungan penggunaan media sosial dengan

kualitas tidur dan kestabilan emosi emosi pada remaja di sekolah

menengah atas Bandar seikijang. Hasil penelitian membuktikan

bahwa ada hubungan dan signifikan antara penggunaan sosial

media dengan kualitas tidur dan kestabilan emosi.

47
Kuesioner Media Sosial

Bacalah dan pahami setiap pernyataan di bawah [Link] tanda silang pada
jawaban yang sesuai dengan kondisi anda saat ini.

1. Saya menggunakan media sosial sudah sejak…

a. < 1 tahun yang lalu


b. 1-3 tahun yang lalu
c. 3-5 tahun yang lalu
d. > 5 tahun yang lalu

2. Saya menggunakan media sosial setiap

a. Tiga hari sekali


b. Dua hari sekali
c. Sehari sekali
d. Setiap saat

3. Saya menggunakan media sosial sehari selama

a. 4 jam perhari
b. 6 jam perhari
c. 8 jam perhari
d. > dari 10 jam perhari

4. Alasan saya menggunakan media sosial

a. Mayoritas teman menggunakan


b. Pendukung pembelajaran
c. Tren yang sedang booming

5. Jenis media sosial yang di miliki (beri tanda silang sesuai apa yang anda miliki)

48
Instagram Facebook Whatshapp Tik tok Youtube line twitter

Alat Ukur Kualitas Tidur

Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI)

Petunjuk:

Pertanyaan-pertanyaan berikut ini berhubungan dengan kebiasaan tidur


anda hanya pada bulan yang [Link] anda sebaiknya menunjukkan jawaban
yang paling akurat atas kebiasaan tidur anda pada sebagian besar siang dan malam
pada bulan yang lalu.

1. Jam berapa anda tidur pada malam hari ?

2. Berapa lama (dalam menit) anda menanti sebelum tidur lelap pada malam

Hari ?

3. Kapan biasanya anda terbangun pada pagi hari (jam

berapa) ?

4. Berapa jam anda dapat tertidur pulas pada malam hari ? (hal ini mungkin

berbeda dari jumlah waktu anda menghabiskan waktu ditempat

tidur) ?

5. dalam sebulan ini berapa Tidak Kurang Satu Tiga atau


sering anda mengalami masalah pernah dari atau dua lebih
tidur ? (0) satu kali dalam
kali (1) seminggu seminggu
(2) (3)
a. Tidak dapat tertidur
dalam waktu 30 menit
b. Terbangun pada tengah
malam atau dini hari
(pagi buta)

49
c. Terbangun untuk
kekamar mandi
d. Tidak dapat bernafas
nyaman
e. Batuk atau mendengkur
yang sangat keras
f. Merasa kedinginan
g. Merasa kepanasan
h. Mimpi buruk
i. Merasa nyeri
j. Alasan lain yang
mengganggu tidur anda
6. Selama beberapa bulan
terakhir, seberapa sering anda
mengkonsumsi obat-obatan
untuk membantu agar anda
tertidur ?
7. Selama beberapa bulan
terakhir, seberapa sering anda
mengantuk dalam berkendara,
makan atau melakukan aktivitas
?
Tidak Hanya Agak Masalah
menjadi masalah menjadi besar
masalah kecil masalah
8. Selama beberapa bulan
terakhir, seberapa berat anda
untuk dapat tetap bersemangat
dalam mengerjakan sesuatu ?
Sangat Cukup Kurang Sangat
baik (0) baik (1) baik (2) buruk (3)
9. Selama berapa bulan terakhir,
bagaimana penilaian kualitas
keseluruhan tidur anda ?

50
Kuesioner Kestabilan Emosi

Bacalah dan pahami setiap pernyataan di bawah ini. Pilih salah satu
jawaban yang paling menggambarkan kondisimu saat ini dengan cara memberi
tanda centang pada salah satu pilihan jawaban.

STS : SANGAT TIDAK SETUJU

TS : TIDAK SETUJU

S : SETUJU

SS : SANGAT SETUJU

No pernyataan ST TS S S
S S
1 Saya merasa yakin dengan kemampuan mengendalikan
emosi saya kepada teman yang mengganggu saya
2 Saya belajar bersungguh sungguh untuk apa yang saya
mau
3 Saya belajar dari pengalaman
4 Saya putus asa jika mengalami kegagalan
5 Saya ikut merasakan jika teman saya dalam kesusahan
6 Saya membagi makanan saya kepada teman yang tidak
membawa bekal kesekolah
7 Saya memberikan tempat duduk saya kepada teman
yang sedang sakit
8 Saya tidak mendengarkan cerita bahagia teman saya di
saat saya punya masalah
9 Saya terbiasa melakukan sesuatu sendiri
10 Saya sedih jauh dari keluarga demi menuntut ilmu
11 Saya menyelesaikan masalah tanpa bantuan orang lain
12 Saya mampu mengambil keputusan sendiri
13 Saya marah jika ada orang lain yang melakukan
kesalahan
14 Saya mudah memaafkan orang lain
15 Saya menyalahkan orang lain saat mengalami
kegagalan

51
16 Saya marah saat mendapat sesuatu yang lebih buruk
dari teman
17 Saya mudah marah saat ada teman yang mengganggu
saat saya sedang belajar
18 Saya dapat menerima jika terjadi perubahan tiba-tiba
19 Saya menghindar saat teman akan meminta bantuan
20 Saya menghargai setiap keputusan orang lain

52
DAFTAR PUSTAKA

Agustin, D., 2012. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Tidur pada


Pekerja Shift di [Link] Tirta Industri Cilegon. Universitas
Indonesia.

Akbar, R. S. (2019). Peran Media Sosial Dalam Perubahan Gaya Hidup Remaja.
Universitas Airlangga, 1(1), 1–20. Retrieved from
[Link] RAHMANDIKA S [Link]

Aljawiy, A.Y. & Muklason, A., Jejaring Sosial Dan Dampak Bagi Penggunanya.
Sistem Informasi.

Ambarwati, R. (2017). Tidur, irama sirkadian dan metabolisme tubuh. Jurnal


Keperawatan, X(1), 42–46. Retrieved from
[Link]

Aprilia, R., Sriati, A., & Hendrawati, S. (2020). Tingkat Kecanduan Media Sosial
pada Remaja. Journal of Nursing Care, 3(1), 41–53. Retrieved from
[Link]

Brusilovskiy, E. et al., 2016. Social media use, community participation and


psychological well-being among individuals with serious mental illnesses.
Computers in Human Behavior, 65, pp.232–240. Available at:
[Link]

Christofferson, J.P., 2016. How is Social Networking Sites Effecting Teen ’ s


Social and Emotional Development : A Systemic Review. University of St.
Thomas. Diagnosis Nanda, Yogyakarta: Gosyen Publishing.

53
Fadlilah, M., Pujiana, D., & Subani. (2021). Hubungan Antara Perokok Aktif
Dengan Kualitas Tidur Mahasiswa Fakultas Hukum. Jurnal ‘Aisyiyah
Medika, 6(1), 242–252.

Faradilla, D. (2020). Kontrol Diri dengan Ketergantungan Internet Pada Remaja.


Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 8(4), 590.
[Link]

Fitrah. (2017). Variabel Dependen. Variabel Dependen Dalam Suatu Peneliti, 123.

Handikasari, R. H., Jusup, I., & Johan, A. (2018). Hubungan Intensitas


Penggunaan Media Sosial dengan Gejala Depresi Mahasiswa
Kedokteran. Jurnal Kedokteran Diponegoro, 7(2), 919–934.

Heri. (2019). 10 Teknik Pengambilan Sampel dan Penjelasannya Lengkap


(SAMPLING). [Link], 1–6. Retrieved from
[Link]

Hidayat, A. (2012). Populasi dan Sampel: Pengertian Populasi Adalah?

Irwina Angelia Silvanasari, & Wike Rosalini. (2021). PERILAKU


PENGGUNAAN SMARTPHONE, GAYA HIDUP, DAN
LINGKUNGAN FISIK BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS
TIDUR YANG BURUK PADA REMAJA. Jurnal Ilmu Kesehatan
MAKIA, 11(2), 35–41. [Link]

Kemenkes RI. (2017). Pedoman Standar Nasional Pelayanan Kesehatan Peduli


Remaja. Journal of Chemical Information and Modeling (Vol. 8, pp. 1–
122).

maya ima Erviani. (2016). Perbedaan Variabel Independen dan Variabel


Dependen ? 4 Januari.

MENGENAL EMOSI MELALUI KOMUNIKASI NONVERBAL. (2016).


Buletin Psikologi, 3(1), 27–43. [Link]

54
Minar, E. T. I. O. (2021). Korelasi Sleep Hygiene dengan Kualitas Tidur pada
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan
2017 – 2019. Universitas Sumatera Utara.

Muna, R. F., & Astuti, T. P. (2014). HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI


DENGAN KECENDERUNGAN KECANDUAN MEDIA SOSIAL
PADA REMAJA AKHIR. Empati: Jurnal Karya Ilmiah S1 Undip, 3(4),
481–491.

Novianti Tantri, I., & Sundari, L. P. R. (2019). Hubungan Antara Jenis Kelamin,
Konsumsi Kafein, Tinggal Sendiri, dan Jam Mulai Tidur dengan Kualitas
Tidur Buruk Mahasiswa di Kota Denpasar. Medika Udayana, 8(7), 9.

Purawinangun, Ira Anisa. 2019. Media Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit


Samudra Biru

[Link], 2015. Panduan Optimalisasi Media Sosial Untuk kementrian


perdagangan RI,

Ratnasari, S. (2017). Hubungan antara body image dengan kecemasan sosial


pada remaja perempuan. Skripsi, 1–63. Retrieved from
[Link]
[Link]

Reza, R. R., Berawi, K., Karima, N., & Budiarto, A. (2019). Fungsi Tidur dalam
Manajemen Kesehatan. Medical Journal Of Lampung University, 8(2),
247–253. Retrieved from
[Link]

Rifai, C. F., Utami, D., Supriyati, S., & Farich, A. (2020). Kualitas Tidur dan
Kestabilan Emosi dengan Hasil Prestasi Belajar pada Mahasiswa Fakultas
Kedokteran. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 11(1), 72–77.
[Link]

55
Riswanto, D., & Marsinun, R. (2020). Perilaku Cyberbullying Remaja di Media
Sosial. Analitika, 12(2), 98–111.
[Link]

Riyadi, S. & Widuri, H., 2015. Kebutuhan Dasar Manusia Aktivitas Istirahat

Sangkot, N. (2017). Variabel penelitian. Raudhah, 05(02), 1–9. Retrieved from


[Link]

Setyawan, M., 2016. Hubungan antara Durasi Penggunaan Media Sosial dengan
Kestabilan Emosi pada Pengguna Media Sosial Usia Dewasa Awal.
Universitas Sanata Dharma.

Sri Hartini, K. N. (2021). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Masalah


Tidur Remaja Selama Pandemi Covid-19. Sari Pediatri, Vol. 22, No. 5,
Februari 2021 , 22, 311-317.

Sugianto, I. C. (2017). Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Dampak


Penggunaan Media Sosial Oleh Remaja Di SMAN Kota Pasuruan. Potret
Media Informasi Kesehatan Bagi Masyarakat Urban Di Era Digital, 1–
199.

Sugiyono. (2017). Populasi adalah. [Link], 1–16.

Syamsoedin, W.K.., Bidjuni, H. & Wowiling, F., 2015. Hubungan Durasi


Penggunaan Media Sosial dengan Kejadian Insomnia pada Remaja di SM
Negeri 9 Manado. ejournal keperawatan, 3(1).

Syamsuddin, S. (2021). DAMPAK COVID 19 TERHADAP TARGET DAN


REALISASI PENERIMAAN PAJAK HOTEL DAN RESTORAN DI
KOTA MAKASSAR. Journal of Business Administration (JBA), 1(1), 5.
[Link]

Valerie, C., Dwi Waluyanto, H., & Zacky, A. (2020). Perancangan Komik Digital
Webtoon Untuk Mencegah Terjadinya Kecemasan Sosial Di Kalangan
Remaja. Jurnal DKV Adiwarna, 1(16), 10. Retrieved from
[Link]

56
Woran, K., Kundre, R. M., & Pondaag, F. A. (2021). ANALISIS HUBUNGAN
PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DENGAN KUALITAS TIDUR
PADA REMAJA. JURNAL KEPERAWATAN, 8(2), 1.
[Link]

Woran, K., Kundre, R. M., Pondaag, F. A., Program, M., Ilmu, S., Kedokteran, F.,
… Sam, U. (2020). Analisis Hubungan Penggunaan Media Sosial
Dengan. Jurnal Keperawatan, 8(02), 1–10.

57

Anda mungkin juga menyukai