HUBUNGAN FREKUENSI PENGGUNAAN
MEDIA SOSIAL D E N G A N K U A L I T A S
TIDUR DAN KESTABILAN EMOSI PADA
REMAJA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
BANDAR SEIKIJANG
PROPOSAL PENELITIAN
Oleh :
VALENTINA
NIM : 18010031
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PEKANBARU MEDICAL CENTER .
TAHUN 2022
1
DAFTAR ISI
COVER........................................................................................
KATA PENGANTAR................................................................
DAFTAR ISI...............................................................................
BAB I PENDAHULUAN...........................................................
A. LATAR BELAKANG.......................................................................
B. RUMUSAN MASALAH...................................................................
C. TUJUAN PENELITIAN....................................................................
1. Tujuan umum.........................................................................
2. Tujuan khusus........................................................................
D. MANFAAT PENELITIAN...............................................................
E. RUANG LINGKUP PENELITIAN..................................................
F. KEASLIAN PENELITIAN...............................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................
A. Konsep Media sosial..........................................................................
1. Defenisi media sosial.............................................................
2. Ciri ciri media sosial..............................................................
3. Jenis media sosial...................................................................
4. Kelebihan media sosial..........................................................
5. Dampak media sosial.............................................................
6. Kerugian media sosial bagi remaja........................................
7. Jenis aplikasi media sosial.....................................................
8. Durasi penggunaan media sosial............................................
ii
B. Konsep tidur.......................................................................................
1. Defenisi tidur.........................................................................
2. Fisiologi tidur.........................................................................
3. Tahapan tidur.........................................................................
4. Waktu dan pola tidur berdasarkan tingkat perkembangan ....
5. Faktor yang mempengaruhi tidur...........................................
6. Kualitas tidur..........................................................................
C. Konsep kestabilan emosi....................................................................
1. Defenisi kestabilan emosi......................................................
2. Karakteristik kestabilan emosi...............................................
3. Indicator kestabilan emosi.....................................................
4. Aspek kestabilan emosi..........................................................
5. Faktor yang mempengaruhi kestabilan emosi........................
D. Konsep remaja...................................................................................
1. Remaja dan batasannya..........................................................
2. Perkembangan remaja............................................................
3. Faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja...............
E. Kerangka teori ...................................................................................
F. Kerangka konsep................................................................................
G. Hipotesis............................................................................................
BAB III METODE PENELITIAN.................................................
A. Jenis dan desain penelitian.................................................................
B. Lokasi dan waktu penelitian..............................................................
C. Populasi dan subjek penelitian...........................................................
iii
D. Besar sampel......................................................................................
E. Teknik sampling.................................................................................
F. Kriteria inklusi...................................................................................
G. Etika penelitian..................................................................................
H. Variabel penelitian dan data operasional...........................................
I. Jenis dan alat pengumpulan data........................................................
J. Uji validitas dan reliabilitas...............................................................
K. Pengolahan data.................................................................................
L. Prosedur pengumpulan data...............................................................
M. Rencana analisa data..........................................................................
Kuesioner.................................................................................................
Daftar Pustaka..........................................................................................
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Media sosial adalah sebuah jembatan komunikasi baik antar
personal maupun antar badan atau lembaga dengan menggunakan fasilitas
internet (Ira Anisa Purawinanggung [Link], 2019). Kemajuan teknologi
yang sangat pesat, seperti media sosial berperan untuk meningkatkan
pemasaran yang dilakukan perusahaan. Salah satu media sosial yang saat
ini banyak dipakai adalah Youtube, Whatsapp, Facebook, Instagram dan
Tik Tok (Rizky Indah Cahyani [Link], 2020). Pada era teknologi ini remaja
tidak bisa dilepaskan dari peggunaan media sosial. Media sosial memiliki
manfaat yang besar untuk kehidupan namun dapat menyebabkan
ketergantungan dan menimbulkan dampak bagi remaja, baik positif
maupun negatif (Intan Cahyanti Sugianto, 2017). Ketergantungan adalah
sindrom yang dialami oleh remaja yang ditandai dengan menghabiskan
sejumlah waktunya yang sangat banyak dalam menggunakan dan tidak
mampu untuk mengontrol penggunaannya saat online (Dhea Faradhilla
[Link], 2020).
Penggunaan media sosial memberikan dampak positif seperti
membantu menjalin komunikasi dan mencari informasi tentang ilmu dan
pendidikan (Rirra Hayuning Handikasari [Link], 2018). Media sosial juga
memberikan dampak negatif pada remaja, salah satunya adalah kecanduan
( Rizki aprilia [Link], 2020). Kecenderungan kecanduan media sosial adalah
1
fenomena yang sering terjadi pada saat ini seiring dengan meningkatnya
penggunaan internet serta canggihnya kemajuan teknologi. Terjadinya
kecenderungan kecanduan media sosial dipengaruhi oleh beberapa faktor,
diantaranya adalah faktor kontrol diri ( Resti Fauzul Muna [Link], 2014).
Remaja dapat dikatakan memasuki tahap ketergantungan media sosial,
terbukti mereka menghabiskan 54% waktunya untuk online menggunakan
media sosial (Thompson & Lougheed 2012). Asosiasi Penyelenggara Jasa
Internet Indonesia (APJII) menyebutkan sebanyak 143,26 juta dari total
262 juta orang Indonesia kini sudah bisa mengakses internet. Dari 143,26
juta orang pengguna Internet di Indonesia tersebut, 49,52 persen di
antaranya adalah remaja. Pengguna Internet di Indonesia berdasarkan usia
yaitu, 13-18 tahun diangka 16,68%, usia 19-34 tahun 49,52%, usia 35-54
tahun 29,55%, usia diatas 54 tahun 4,24%, artinya pengguna internet
didominasi oleh para remaja (Sekretaris Jenderal APJII & Henri Kasyfi,
2017).
Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat mengganggu
kesehatan mental (Clarissa Valerie, 2020). Dan juga berpengaruh pada
beberapa aspek psikologis. Salah satunya adalah tidur (Ezpinoza, 2011).
Tidur adalah kebutuhan dasar manusia, dengan tidur semua lelah dapat
berkurang dan akan kembali mendapatkan tenaga serta semangat untuk
menyelesaikan persoalan yang dihadapi (Rini Ambarwati, 2017). Kualitas
tidur seseorang dikatakan baik apabila tidak menunjukkan berbagai tanda
kekurangan tidur dan tidak mengalami masalah dalam tidurnya. Kondisi
kurang tidurpun banyak ditemui dikalangan remaja terutama pelajar yang
2
nantinya bisa menimbulkan banyak efek, seperti berkurangnya konsentrasi
belajar dan gangguan kesehatan (Maya Fadlilah [Link], 2021).
Masalah tidur pada remaja selama pandemi Covid-19 dilaporkan
sekitar 20-66%. Rendahnya dukungan sosial, gangguan akademik dan
kesehatan fisik yang menurun, paparan informasi, pengetahuan dan sikap
tentang kesehatan tidur berhubungan dengan masalah tidur dan kebiasaan
tidur pada remaja (Sri Hartini [Link], 2021). Kebutuhan tidur yang
seringkali terabaikan justru merupakan kebutuhan yang penting yang
dapat mempengaruhi pemikiran, perilaku, dan kesejahteraan emosional
remaja (Irwina Angelia Silvanasari [Link], 2021).
Remaja banyak menghabiskan waktu untuk online media sosial,
termasuk pada malam hari. Hal ini tidak menutup kemungkinan
mengganggu proses tidur, sehingga kualitas tidurnya memburuk yang
dapat mempengaruhi proses belajar karena mengantuk dan lelah akibat
kurang tidur, sehingga mengakibatkan terganggunya kesiapan dalam
proses belajar. Kebiasaan yang menyebabkan mereka tidur larut yaitu
memainkan handphone dan laptop sebelum tidur (Maya Fadlilah [Link],
2020). Kualitas tidur adalah kemampuan setiap orang untuk
mempertahankan keadaan tidur dan untuk mendapatkan tahap tidur REM
dan NREM yang pantas. Kualitas tidur mencakup aspek kuantitatif dari
tidur, seperti durasi tidur, latensi tidur serta aspek subjektif dari tidur.
Kualitas tidur seseorang dikatakan baik apabila tidak menunjukkan
berbagai tanda kekurangan tidur dan tidak mengalami masalah dalam
tidurnya (Evita T I O Minar, 2021).
3
Tidak sedikit remaja yang tidak memperhatikan kesehatan dalam
hal menjaga kualitas tidur, bahkan mereka kurang paham akan hal ini.
Dengan kurangnya kualitas tidur emosi remaja yang cenderung meledak-
ledak dan sulit dikendalikan apabila tidak dikelola dengan baik dapat
menimbulkan berbagai masalah bagi remaja dan lingkungan sekitarnya
(Tarate Timur Raviyoga & Adijanti Marheni 2017). Emosi adalah
keadaan perasaan yang banyak berpengaruh pada perilaku. Biasanya
emosi merupakan reaksi terhadap rangsang dari luar dan dalam diri
individu. Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai
pikiran (Buletin Psikologo 2016). Remaja yang aktif di dunia maya
(media sosial) akan merasa tidak tenang dan belum puas jika dalam
rentang beberapa jam mereka tidak membuka akun media sosial dan tidak
mendapatkan notifikasi, walaupun hanya melihat unggahan-unggahan
terbaru dari akun teman-temannya, kejadian ini merupakan kecemasan
bagi remaja. Data yang diperoleh dari Groupon, 39% orang Indonesia
mengalami kecemasan sosial berlebih melewatkan momen-momen
tertentu dalam kehidupan menggunakan internet khususnya media sosial
untuk mengobati kesendirian dan pengganti hubungan tatap muka yang
tidak diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari karena takut melakukan
kontak langsung dengan orang lain dan lebih memilih komunikasi online
(Soliha 2015). Konten dari media sosial yang sangat luas tanpa batas
membuat penggunanya dengan sangat bebas mengakses dan melihat
apapun, termasuk yang mengandung unsur yang memicu perubahan
suasana perasaan. Ketika stimulus emosional didapatkan oleh individu
4
dengan intensitas yang tinggi, maka individu tersebut akan mengalami
perubahan suasana perasaan sehingga berdampak pada perubahan
kestabilan emosi (Setyawan 2016; Locke 2001).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Candra Farit Rifai, Deviani
Utami pada tahun 2020 Uji korelasi menunjukan adanya hubungan
kualitas tidur dan prestasi belajar dengan P-Value (<0,05) dan nilai P-
Value kestabilan emosi dan prestasi belajar 0,017 (<0,05) yang berarti
terdapat hubungan antara kualitas tidur dan kestabilan emosi dengan
prestasi. Emosi yang tidak adekuat membuat peneliti ingin mendalami
fenomena ketergantungan remaja pada media sosial. Perawat sebagai
educator memiliki hak untuk memberi pengetahuan maupun health
education yang seharusnya remaja lakukan sesuai dengan usia mereka.
Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang telah dilakukan
peneliti pada tanggal 02-03 Desember 2021 di SMA N 1 Bandar seikijang
dan SMK N 1 Bandar seikijang dengan metode wawancara dan terhadap 5
siswa/i di SMA N 1 Bandar seikijang dan 5 sisw/i di SMK N 1 Bandar
seikijang. SMA N 1 Bandar seikijang ada 5 siswa/i mengatakan bahwa
disetiap kelas ada anak yang selalu mengantuk di jam pelajaran terutama
laki laki, dan anak anak yang selalu datang terlambat kesekolah.
Penggunaan media sosial yang di gunakan remaja seperti aplikasi Tik tok
pernah menimbulkan kesalah pahaman antar siswi. Pada kunjungan di
SMK N 1 Bandar seikijang 3 dari 5 siswa/i mengatakan bahwasanya anak
anak disitu selalu datang terlambat dengan alasan terlambat bangun. Dan
disetiap kelas juga ada yang tertidur di jam pelajaran. 3 siswa/i SMK N 1
5
Bandar seikijang juga mengatakan bahwa pernah ada ketidak sukaan dari
penyebaran story whatsapp yang menjelek jelekkan teman dan membuat
emosi. 4 siswa/i SMK N 1 Bandar seikijang juga mengatakan bahwa
mereka lebih suka mengerjakan tugas diwaktu malam hari. Dari 5 siswa/i
di SMA N 1 Bandar seikijang dan SMK N 1 Bandar seikijang mereka
menggunakan lebih dari 3 aplikasi media sosial.
Berdasarkan hasil wawancara di atas peneliti merasa perlu untuk
melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Frekuensi Penggunaan
Media Sosial Terhadap Kualitas Tidur Dan Kestabilan Emosi Pada
Remaja Di Sekolah Menengah Atas Bandar Seikijang” peneliti
memilih tempat tersebut dengan asumsi individu di tempat tersebut sesuai
dengan kriteria subjek dalam penelitian ini.
B. RUMUSAN MASALAH
Media sosial memberikan dampak kecanduan, kecenderungan
kecanduan ini memiliki pola perilaku bermain terus menerus atau
sering, yang ditandai dengan gangguan kontrol diri (misalnya durasi,
intensitas dan frekuensi). Meninggalkan prioritas sehigga media sosial
seperti instagram, facebook, tik tok dan aplikasi media sosial lainnya
jauh lebih diutamakan. Dan khususnya bagi remaja mengakibatkan
kualitas dan kestabilan emosi yang buruk dapat mempengaruhi
konsentrasi dalam belajar. Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut; “Apakah ada hubungan frekuensi
6
penggunaan media sosial terhadap kualitas tidur dan kestabilan emosi
pada remaja di sekolah menengah atas Bandar seikijang ?.
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan umum
Mengetahui hubungan antara pengguanaan media sosial
dengan kualitas tidur dan stabilitas emosi remaja di SMAN 1
Bandar seikijang dan SMKN 1 Bandar seikijang.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui distribusi frekuensi karakteristik remaja di
SMAN 1 Bandar seikijang dan SMKN 1 Bandar
seikijang.
b. Mengetahui distribusi frekuensi penggunaan media sosial
remaja di SMAN 1 Bandar seikijang dan SMKN 1
Bandar seikijang.
c. Mengetahui distribusi frekuensi kualitas tidur remaja di
SMAN 1 Bandar seikijang dan SMKN 1 Bandar
seikijang.
d. Mengetahui distribusi frekuensi kestabilan emosi remaja
di SMAN 1 Bandar seikijang dan SMKN 1 Bandar
seikijang.
e. Mengetahui hubungan antara penggunaan media sosial,
kualitas tidura dan kestabilan emosi remaja di SMA N 1
Bandar seikijang dan SMKN 1 Bandar seikijang.
7
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi intitusi kesehatan
Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi
pengembangan dalam ilmu keperawatan untuk masalah
kesehatan remaja khususnya pada dalam hal pemenuhan
kebutuhan tidur dan kestabilan emosi yang dialami akibat
ketergantungan pada media sosial.
2. Bagi peneliti
Penelitian ini memberikan pengalaaman dan pengetahuan
dalam penelitian khususnya mengetahui penelitian tentang
hubungan pengguanaan media sosial dengan kualitas tidur dan
kestabilan emosi tercukupi.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Sebagai gambaran dan acuan pada peneliti peneliti yang
akan datang.
4. Bagi Remaja
Memberikan informasi kepada remaja tentang hubungan
antara penggunaan media sosial dengan kualitas tidur dan
kestabilan emosi pada remaja sehingga mampu mengontrol diri
untuk kesehatan di masa depan.
8
E. RUANG LINGKUP PENELITIAN
Ruang lingkup ini meliputi hubungan penggunaan media sosial
dengan kualitas tidur dan kestabilan emosi pada remaja. Populasi dalam
penelitian ini yaitu siswa/i SMAN 1 Bandar seikijang dan SMKN 1
Bandar seikijang.
F. KEASLIAN PENELITIAN
Sejauh pengetahuan peneliti terdapat beberapa penelitian yang
berhubungan dengan penelitian, yaitu :
Nama, Judul Hasil
tahun
Aulia, Hubungan Penelitian analitik non-
Hafizh Intensitas eksperimental dengan
Fariezkadill Penggunaan menggunakan pendekatan cross-
a (2017) Media Sosial sectional. Hasil penelitian ini
Dengan menggunakan analisis uji
Kualitas Tidur statistik Spearman rho
Mahasiswa didapatkan nilai p = 0,975
International dengan koefisien korelasi r = -
Relation 0,005. Hasil dari penelitian ini
Muhammadiyah yaitu tidak ada hubungan yang
Yogyakarta bermakna antara intensitas
Angkatan 2014 penggunaan media sosial
dengan kualitas tidur pada
mahasiswa International
Program of International
Relation Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta
angkatan 2014. Sedangkan pada
penelitian yang akan dilakukan
peneliti adalah untuk mengkaji
hubungan intensitas penggunaan
media sosial terhadap kualitas
tidur pada remaja.
9
Kezia Woran, Hubungan Desain Penelitian yang
Rina M penggunaan digunakan yaitu Deskriptif
Kundre, Ferlan media sosial Analitik dengan pendekatan
A Pondaag dengan kualitas Cross Sectional Study. Teknik
2021) tidur pada pengambilan sampel
remaja menggunakan Purposive
Sampling dengan jumlah sampel
sebanyak 80 remaja. Hasil
Penelitian uji statistik
menggunakan uji Fisher Exact
dan didapatkan nilai signifikan ρ
Value = 0,000 < α = 0,05.
Kesimpulan terdapat hubungan
antara penggunaan media sosial
dan kualitas tidur pada remaja
dikelas XI Matematika Ilmu
Alam (MIA) SMA N 1
Langowan. Saran diharapkan
remaja mampu mengurangi
penggunaan media sosial dan
mampu memenejemen pola
istirahat dan tidur, bagi pihak
sekolah dan orang tua agar tetap
mengawasi dan mengedukasi
remaja dalam menggunakan
media sosial.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Media sosial
1. Defenisi media sosial
Media sosial merupakan sebuah media online melalui
aplikasi berbasis internet dan untuk pengguna terbanyak adalah
remaja. Kebiasaan remaja menghabiskan waktu yang cukup lama
untuk menggunakan media sosial mengakibatkan terganggunya
pola istirahat dan tidur sehingga kualitas tidur menjadi buruk
(Kezia Woran [Link], 2020). Media sosial memiliki kelebihan yaitu
cepat dalam penyebaran informasi, sebaliknya, kelemahannya
yaitu mengurangi intensitas interaksi interpersonal secara langsung
atau tatap muka, kecanduan yang berlebihan serta persoalan
hukum karena kontennya yang melanggar moral, privasi serta
peraturan ([Link], 2015).
2. Ciri-ciri media sosial
Beberapa ciri-ciri media sosial menurut [Link]
(2015) yaitu :
a. Isi yang disampaikan dibagikan tidak terbatas pada satu
orang saja namun banyak orang.
b. Disampaikan dengan koneksi internet atau online.
c. Media sosial menciptakan pengguna yang kreatif
beraktualisasi diri.
11
d. Dalam media social terdapat aspek fungsional seperti
identitas, interaksi, sharing, eksis, relasi, status dan group.
3. Jenis media sosial
Dalam [Link] (2015), media sosial dapat dibagi
menjadi 6 jenis:
a. Proyek kolaborasi website.
Penggunanya dapat mengubah, menambah ataupun
membuang konten-konten yang termuat di website
tersebut, seperti Wikipedia.
b. Blog dan microblog
Pengguna dapat bebas mengungkapkan suatu hal di
blog itu, seperti Twitter.
c. Konten atau isi
Pengguna di website saling membagikan konten-
konten multimedia, seperti e-book, video, foto, dan lain-
lain.
d. Situs jejaring sosial
Pengguna terkoneksi dengan membuat informasi
pribadi maupun social sehingga dapat diakses oleh orang
lain. Beberapa situs jejaring sosial antara lain:
1) Facebook
2) Instagram
3) Tik tok
4) Youtube
12
5) Witter
6) Friendster
7) Instagram
8) Path
e. Virtual game world
Pengguna dapat berinteraksi dengan orang lain yang
mengambil wujud avatar layaknya di dunia nyata melalui
aplikasi 3D, contoh online game.
f. Virtual social world
Hampir sama dengan virtual social world, namun
lebih cenderung ke aspek kehidupan, contoh Second Life.
4. Kelebihan Media Sosial
Berikut adalah kelebihan media sosial menurut
[Link] (2015) dibandingkan dengan media konvensional:
a. Cepat, ringkas dan sederhana. Media sosial mudah
digunakan tanpa harus memiliki pengetahuan Teknologi
Informasi (TI).
b. Menciptakan hubungan yang lebih intens. Media sosial
member kesempatan yang lebih luas untuk berinteraksi
serta membangun hubungan timbal balik secara langsung.
c. Jangkauan luas dan global. Individu dapat
mengkomunikasikan informasi secara cepat tanpa
hambatan geografis.
13
5. Dampak Media Sosial
a. Media sosial sebagai media alternatif manfaat dan pemuas
kebutuhan informasi di masa pandemik global Covid 19
(Nurliya Ni’matul rohmah, 2020).
b. Remaja menggunakan media sosial untuk mempererat tali
persahabatan dan kekeluargaan dengan para teman-teman,
seperti sekolah, organisasi, komunitas, orang tua, keluarga
dan aktivitas lainnya. Media sosial memberi kemudahan
bagi remaja untuk menjalin hubungan dan kesempatan
untuk belajar dengan satu sama lain (Christofferson, 2016).
6. Kerugian Media Sosial bagi Remaja
a. Cyberbullying
Cyberbullying adalah tindakan negatif yang
dilakukan oleh seseorang atau kelompok tertentu dengan
cara mengirimkan pesan teks, foto, gambar meme, dan
video ke akun media sosial seseorang dengan tujuan untuk
menyindir, menghina, melecehkan, mendiskriminasi
bahkan mempersekusi individu (Dodi riswanto &
Rahmiwati Marsinun, 2020).
b. Harga diri rendah
Penggunaan media sosial digunakan remaja sebagai
ajang untuk menjadi yang “terbaik”, sebagai contoh remaja
berusaha menunjukkan penampilan mereka yang terbaik,
dalam segi gaya hidup maupun kemampuan. Hal ini
14
membuat remaja yang tidak bisa melakukan hal yang sama
akan mengalami pesimis dan menimbulkan harga diri yang
rendah (Brusilovskiy [Link], 2016).
c. Membuat kecanduan atau ketergantungan
Konten media sosial yang luas dan sangat memberi
kenyamanan bagi remaja membuat remaja tidak bisa lepas
darinya, sehingga remaja menjadi kecanduan media
[Link] kecanduan media sosial adalah
fenomena yang sering terjadi pada saat ini seiring dengan
meningkatnya penggunaan internet serta canggihnya
kemajuan [Link] kecenderungan kecanduan
media sosial dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya
adalah faktor kontrol diri (Resti Fauzul Muna & Tri Puji
Astuti, 2014).
d. Kehidupan sosial akan terganti
Kemudahan yang diberikan media sosial, membuat
remaja memilih berinteraksi melalui media sosial
dibandingkan dengan tatap muka. Remaja menjadi kurang
sosialisasi dan interaksi jika mereka hanya mengandalkan
media sosial (Aljawiy & Muklason n.d.)
e. Kualitas tidur buruk
Remaja banyak menghabiskan waktu untuk bermain
media [Link] mengenal waktu, bahkan waktu tidur
mereka gunakan untuk mengoperasikan media sosial. Pada
15
saat bangun di pagi hari, mereka akan terlambat bangun
tidur, bahkan saat bangun badan terasa tidak segar dan tidak
semangat, hal ini yang disebut kualitas tidur yang buruk.
Salah satu kelompok yang rentan akan gangguan kualitas
tidur adalah remaja (Ignatia Novianti Tantri &L.P Ratna
Sundari, 2019).
f. Kecemasan sosial
Kecemasan sosial digambarkan sebagai rasa takut
individu terhadap situasi sosial yang berhubungan dengan
performa dan fisik yang membuat individu lebih berhati-
hati dengan orang-orang di sekitarnya, takut bahwa dirinya
akan dipermalukan atau dihina sehingga dalam hal ini body
image yang positif memiliki peranan penting untuk
mengurangi rasa cemas dalam diri remaja (S Ratnasari,
2017).
g. Kestabilan emosi
Konten dari media sosial yang sangat luas membuat
penggunanya dengan sangat bebas mengakses dan melihat
apapun, termasuk yang mengandung unsur yang memicu
perubahan suasana perasaan. Ketika stimulus emosional
didapatkan oleh individu dengan intensitas yang tinggi,
maka individu tersebut akan mengalami perubahan suasana
perasaan sehingga berdampak pada perubahan kestabilan
emosi (Setyawan, 2016; Locke, 2001).
16
7. Jenis Aplikasi Media Sosial
Sejumlah aplikasi media sosial yang popular dan
berpengaruh terhadap masyarakat antara lain ([Link],
2015):
a. Aplikasi berbagai video (video sharing) : Youtube
b. Aplikasi mikoblog : Twitter, Tumblr
c. Aplikasi berbagi jaringan sosial: Facebook, Google Plus,
Path
d. Aplikasi berbagi jaringan professional: LinkedIn, Scribd,
Slideshare
e. Aplikasi berbagi foto: Pinterest, Picasa, Flickr, Instagram
8. Durasi Penggunaan Media Sosial
Durasi penggunaan media sosial digolongkan sebagai
berikut (Syamsoedin [Link], 2015):
a. Sangat lama : menggunakan media sosial ≥ 7 jam dalam
sehari, kategori ini digolongkan mencapai ketergantungan
b. Lama : menggunakan media sosial 5-6 jam
c. Sedang : menggunakan media sosial 3-4 jam
d. Singkat : 1-2 jam
e. Sangat singkat :< 1 jam.
17
B. Konsep Tidur
1. Defenisi Tidur
Tidur adalah kebutuhan dasar manusia, dengan tidur semua
lelah dapat berkurang dan akan kembali mendapatkan tenaga serta
semangat untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi (Rini
Ambarwati, 2017). Tidur adalah suatu keadaan yang tidak sadar
dimana membuat persepsi dan reaksi individu terhadap keadaan
lingkungan mengalami penurunan atau bahkan tidak ada sama
sekali dan dapat dibangunkan kembali dengan indra atau
rangsangan yang memadai. Individu dikatakan dapat tidur apabila
pada keadaan aktivitas fisik minimal tingkat kesadaran yang
bervariasi, terjadi perubahan perubahan proses fisiologis tubuh dan
penurunan respon terhadap rangsangan dari luar. Individu yang
dapat melakukan tidur dengan kualitas dan kuantitas yang baik,
tenaga akan kembali menjadi lebih maksimal. Tidur mampu
menjaga kestabilan mental emosional, fisiologis, dan kesehatan
(Riyandi & Widuri, 2015).
2. Fisiologi Tidur
Individu yang tidur, sistem saraf pusatnya tetap aktif dalam
singkronisasi terhadap neuron neuron substansia retikularis dari
batang otak, untuk itu tidur bukan merupakan deaktifasi dari
sistem saraf [Link] kesadaran pada setiap organ tubuh
berbeda-beda. Hidung memiliki penurunan kesadaran paling
dalam selama tidur dibandingkan indra pendengaran dan rasa sakit
18
(Riyadi & Widuri 2015). Semua makhluk hidup mempunyai irama
kehidupan yang sesuai dengan beredarnya waktu dalam siklus 24
jam. Irama yang seiring dengan rotasi bola dunia disebut sebagai
irama [Link] kontrol irama sirkadian berada di
suprachiasmatic nuclei (SCN), bagian susunan syaraf pusat yang
mengadakan kegiatan sinkronisasi sebagai pusat tidur. Irama
sirkadian yang melengkapi siklus selama 24 jam berfungi
mengatur metabolisme tubuh seperti Fluktuasi denyut jantung,
tekanan darah, temperatur, sekresi hormon, penampilan serta
perasaan individu. Individu sebaiknya tidur sesuai dengan siklus
sirkadian karena Irama sirkadian berpengaruh terhadap
metabolisme hingga ke level behavioral dan molecular (Rini
Ambarwati, 2017).
3. Tahapan Tidur
Siklus tidur terdiri atas non rapid eye movement (NREM)
yang dibagi menjadi tiga tahap (N1, N2, N3); dan rapid eye
movement (REM). Berbagai perubahan fisiologis dan perilaku
terjadi selama tidur, perubahan tersebut meliputi sistem
pernapasan, kardiovaskular, pencernaan, endokrin, ginjal, seksual
serta termoregulasi. Tahap NREM sering disebut slow wave sleep
(SWS) dimana mulai terjadi penurunan tekanan darah, pernapasan
menjadi lebih dalam, penurunan tonus otot dan aktivitas
gelombang otak serta sekresi berbagai hormon. Selama tidur
NREM tidak ada gerakan mata dan tubuh menjadi tidak bergerak.
19
Biasanya tidak terdapat mimpi pada tidur NREM namun seringkali
terjadi mimpi buruk, sleep walking, dan mengompol pada anak-
anak. Mimpi lebih sering terjadi pada tidur REM dan lebih mudah
mengingat mimpi selama tidur REM. Tonus otot di seluruh tubuh
menjadi sangat berkurang, frekuensi denyut jantung dan
pernapasan menjadi tidak teratur, otak menjadi sangat aktif dan
metabolisme di seluruh otak meningkat sebanyak 20 persen
selama tidur REM. Tidur yang cukup berperan untuk
mengoptimasi kerja hormon pertumbuhan dan memobilisasi fungsi
neurohumoral sehingga penting dalam managemen kesehatan.
Fungsi tidur masih menjadi misteri dan terbukti masih sulit
dipahami. Durasi tidur yang pendek dapat memicu perubahan
signifikan di seluruh tubuh antara lain gangguan kognitif,
penurunan ingatan, perubahan kimia otak yang dapat
menyebabkan depresi, gangguan sistem kekebalan tubuh, serta
peningkatan risiko berbagai penyakit kardiometabolik (Rezita
Rahma Reza [Link], 2019).
4. Waktu dan Pola Tidur Berdasarkan Tingkat Perkembangan
Kebutuhan tidur, durasi dan kualitas tidur pada setiap
individu dari semua kelompok usia sangat beragam (Riyadi &
Widuri 2015).
a. Neonatus
Kebutuhan tidur neonates rata-rata 14-18 jam. Pada
masa ini tidurnya banyakdilewatkan pada tahap III dan IV
20
NREM, setiap siklus 45-60 menit, 50%NREM, pernapasan
teratur, gerak tubuh sedikit.
b. Bayi
Bayi membutuhkan tidur 12-14 jam sehari. Sekitar
20-30% dari waktu tidur dihabiskan dalam siklus REM.
Bayi yang minum ASI biasanya tidur selama periode yang
lebih pendek, dengan lebih sering terbangun, dibandingkan
dengan yang minum menggunakan botol (Wong, 1995;
Widuri & Riyadi, 2015).
c. Toddler
Total tidur rata-rata 10-12 jam sehari. Prosentase
tidur REM menurun menjadi 25%.Pada masa toddler, anak
tidak mau tidur pada malam hari karena kebutuhan untuk
otonomi atau takut perpisahan.
d. Prasekolah
Usia anak prasekolah membutuhkan waktu tidur 11-
12 jam. Tidur REM 20%.
e. Sekolah
Biasanya membutuhkan 9-12 jam sehari, tergantung
tingkat aktivitas setiap [Link] tidur REM 20%.
f. Remaja
Usia remaja membutuhkan tidur 7,5-8,5 jam setiap
hari. Tidur REM sekitar 20%. Meningkatnya kebutuhan
tidur pada remaja membuat remaja sulit untuk bangun di
21
pagi hari, hal ini mungkin menunjukkan adanya sindrom
keterlambatan fase tidur yang terjadi karena adanya
gangguan irama sirkadian (Agustin, 2012; Harkreader
[Link], 2007)
g. Dewasa muda
Pada dewasa muda membutuhkan tidur rata-rata 6-
8,5 jam. Kurang lebih 20- 25% waktu tidur dihabiskan.
h. Dewasa tengah
Total waktu yang digunakan untuk tidur malam hari
mulai menurun. Jumlah tidur tahap 4 mulai menurun. Tidur
7 jam sehari, 20% tidur REM.
i. Lansia
Kualitas tidur terlihat berubah pada kebanyakan
[Link] REM [Link] penurunan
progresif pada tahap tidur NREM 3 dan [Link] lansia
hampir tidak pernah memiliki tahap 4 atau tidur yang
dalam, mereka juga lebih sering terbangun pada malam
hari.
5. Faktor yang Mempengaruhi Tidur
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan tidur,
baik dari kuantitas maupun kualitas (Riyadi & Widuri, 2015).
22
a. Status kesehatan
1) Penyakit fisik
Penyakit fisik yang menyebabkan
ketidaknyamanan fisik seperti nyeri, batuk, sesak
napas, panas, jantung berdebar dan [Link]
tersebut dapat juga memaksa klien untuk tidur
dalam posisi yang tidak biasa.
2) Stress psikologis
Masalah yang berhubungan dengan suasana
hati yang dapat mengakibatkan individu mengalami
kecemasan, depresi dan yang lain.
b. Lingkungan
Lingkungan yang dapat mengganggu tidur, antara
lain ventilasi yang kurang baik, ukuran tempat tidur,
tempat tidur yang keras, posisi tempat tidur,
kebisingan/ribut, gaduh dan lain-lain.
c. Diet
Individu dengan kebiasaan makan yang baik dan
sehat tidak akan mengalami gangguan dalam tidur.
Makanan yang banyak mengandung L-Triptofan seperti
keju, susu, daging, kacang-kacangan, coklat, pisang, kurma
dan ikan tuna menyebabkan seseorang mudah tidur.
Minuman yang mengandung kafein dan alkohol akan
mengganggu tidur.
23
d. Obat-obatan
Obat memiliki efek terapeutik dan efek
[Link] beberapa efek obat, ada yang dapat
menyebabkan mudah mengantuk/tertidur dan ada pula
yang sangat mengganggu [Link] golongan amfetamin
dapat menurunkan tidur REM.
e. Gaya hidup
Penggunaan media sosial di kalangan remaja
merupakan salah satu cara untuk menentukan pilihan
dalam penentuan gaya hidup. Gaya hidup remaja dapat
ditentukan berdasarkan jenis konten yang disenanginya
didalam media sosial (Rahmadika Syahrial Akbar, 2019).
6. Kualitas Tidur
Kualitas tidur adalah kepuasan seseorang terhadap tidur,
sehingga seseorang tersebut tidak memperlihatkan perasaan lelah,
lesu dan gelisah. Kualitas tidur buruk dapat mengakibatkan
menurunya aktivitas korteks prefrontal yang memerankan peran
penting dalam mengatur emosi, salah satunya kecemasan (Akhmat
Yanuar Fahmi, Dayu Agista, soekardjo soekardjo).
Penelitian yang dilakukan Busyee et al. dalam Agustin
2012 tentang pengukuran kualitas tidur dan pola tidur
menggunakan The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). PSQI
membedakan antara tidur yang baik dan tidur yang buruk dengan
pemeriksaan 7 komponen (Agustin, 2012):
24
a. Kualitas tidur
Evaluasi kualitas tidur merupakan evaluasi singkat
terhadap tidur seseorang tentang tidurnya yang baik atau
buruk.
b. Latensi tidur
Durasi dari berangkat tidur hingga [Link]
dengan kualitas tidur yang baik membutuhkan waktu
kurang dari 15 menit untuk memasuki tahap tidur
selanjutnya secara lengkap.
c. Durasi tidur
Durasi tidur merupakan waktu individu tertidur
sampai bangun di pagi hari tanpa terbangun tengah malam.
d. Efisiensi kebiasaan tidur
Efisiensi kebiasaan tidur merupakan rasio
persentase antara jumlah total jam tidur dibagi dengan
jumlah jam yang dihabiskan di tempat [Link]
kebiasaan lebih dari 85% dapat dikatakan kualitas tidur
baik.
e. Gangguan tidur
Kondisi terputusnya tidur, pola tidur – bangun
individu berubah polanya, hal ini menyebabkan penurunan
kualitas tidur individu menjadi buruk.
25
f. Penggunaan obat
Penggunaan obat sedatif mengindikasikan jika
individu tersebut ada masalah tidur. Obat-obatan memiliki
efek terganggunya kualitas tidur.
g. Disfungsi di siang hari
Individu yang kualitas tidurnya kurang baik akan
menyebabkan mengantuk di siang hari sehingga membuat
aktivitas di siang hari terganggu.
C. Konsep Kestabilan Emosi
1. Definisi Kestabilan Emosi
Kestabilan emosi bukan hanya salah satu penentu pola
kepribadian yang efektif, namun juga membantu untuk mengontrol
perkembangan remaja. Konsep emosi yang stabil di semua
tingkatan adalah sebuah cerminan dari perkembangan emosi yang
[Link] emosi adalah satu dari beberapa indikator
kesehatan mental. Jika remaja tidak memiliki kontrol emosi, akan
menyebabkan kecemasan dan inferioritas perasaan (Kumar, 2013).
2. Karakteristik Kestabilan Emosi
Karakteristik kestabilan emosi yang baik menurut Setyawan
(2016) adalah:
a. Individu memiliki kepuasan hidup lebih tinggi
b. Memiliki pandangan yang selalu positif
c. Jauh dari emosi-emosi dan pikiran yang negatif
26
d. Lebih tenang dalam menghadapi stress
e. Tidak mempunyai rasa isi hati terhadap orang lain
f. Berkepala dingin
3. Indikator Kestabilan Emosi
Beberapa indikator kestabilan emosi menurut Chaturvedi &
Chander (2012) adalah:
a. Optimisme
Individu dikatakan optimis adalah individu yang
selalu semangat, ceria, tidak pernah putus asa jika banyak
halangan untuk mendapatkan sesuatu. Mereka menjalani
hidup dengan damai dan penuh harapan, kegigihan untuk
mencapai harapannya tersebut. Individu yang optimis tidak
memiliki rasa takut akan kegagalan.
b. Empati
Individu dengan empati akan merasakan apa yang
orang lain rasakan. Individu memiliki kehangatan,
kejujuran dan kepercayaan.
c. Kemandirian
Individu dikatakan memiliki kemandirian adalah
mereka yang melakukan sesuatu dengan sendiri, berusaha
untuk menyelesaikan masalah sendiri terlebih dahulu
sebelum meminta bantuan orang lain. Berani untuk
mengambil keputusan hidup sendiri dan menanggung
apapun resiko.
27
d. Ketenangan
Individu yang memiliki ketenangan adalah mereka
yang selalu tenang dalam menghadapi [Link]
mudah tergoyahkan, tidak mudah terganggu, menolak
ketakutan dan [Link] jernih dan tetap fokus.
e. Toleransi
Individu dengan toleransi adalah yang memiliki
sikap menghargai, lembut, tidak memiliki konfik personal
dan tidak melakukan kekerasan kepada siapapun.
4. Aspek Kestabilan Emosi
Perubahan pada aspek psikososial yang terjadi pada masa
remaja salah satunya ditandai dengan fluktuasi kondisi emosi,
dimana kondisi emosi pada masa remaja dapat berpengaruh
terhadap terbentuknya perilaku yang positif ataupun negatif.
Kemampuan remaja dalam mengekspresikan perasaan dan
mengelola emosi dengan tepat merupakan peran dari kecerdasan
emosional yang dimiliki oleh remaja. Kecerdasan emosional pada
remaja laki – laki dan perempuan memiliki ciri yang berbeda
(Endang Mei Yunalia & Arif Nurma Etika, 2020). Seperti :
a. Kontrol emosi yang meliputi pengaturan emosi dan
perasaan sesuai dengan tuntutan lingkungan atau situasi
dan standar dalam diri individu yang berhubungan dengan
nilai-nilai, cita-cita dan prinsip.
28
b. Bentuk respon emosi yang dipilih dan ditampilkan
seseorang saat menghadapi situasi tertentu.
c. Kematangan emosi, yaitu kemampuan seseorang untuk
melakukan reaksi emosi sesuai dengan tingkat
perkembangannya yang diindikasikan dengan adanya
kemampun untuk menyesuaikan diri terhadap stress, tidak
mudah khawatir, tidak mudah cemas dan tidak mudah
marah.
5. Faktor yang Mempengaruhi Kestabilan Emosi
Morgan & King (dalam Setyawan, 2016)
mengemukakan,beberapa faktor yang mempengaruhi kestabilan
emosi yaitu :
a. Keadaan jasmani individu
Kondisi kesehatan remaja yang baik akan memiliki
kestabilan emosi yang jauh lebih baik dibandingkan
dengan keadaan remaja yang sakit.
b. Pembawaan (kondisi dasar individu)
Kondisi dasar remaja ini meliputi genetik, gender,
kepribadian, usia, etnis dan keadaan sosial ekonomi.
c. Suasana hati
Berbagai stimulus emosi yang mempengaruhi
suasana hati remaja, baik stimulus positif maupun negatif.
Hal ini berkaitan dengan munculnya rangsangan dari luar
yang memicu keadaan emosional remaja.
29
D. Konsep remaja
1. Remaja dan batasannya
Menurut World Health Organization (WHO), yang
termasuk kedalam kelompok remaja adalah mereka yang berusia
10-19 tahun, dan secara demografis kelompok remaja dibagi
menjadi kelompok usia 10-14 tahun dan kelompok usia 15-19
tahun. Sementara Undang-Undang No.23 tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak mengelompokkan setiap orang yang berusia
sampai dengan 18 tahun sebagai ‘anak’, sehingga berdasarkan
Undang-Undang ini sebagian besar remaja termasuk dalam
kelompok anak. Berdasarkan data Proyeksi Penduduk Indonesia
2000-2025, proporsi penduduk remaja berusia 10-19 tahun pada
tahun 2010 adalah sekitar 18,3% dari total penduduk atau sekitar
43 juta jiwa. Besarnya populasi kelompok usia remaja dapat
dimaknai sebagai aset dan potensi bangsa di masa depan. Namun
demikian, untuk dapat mewujudkan harapan tersebut, Negara dan
masyarakat harus dapat menjamin agar remaja Indonesia mampu
tumbuh dan berkembang secara positif dan terbebas dari berbagai
permasalahan yang [Link] untuk dapat mewujudkan
cita-cita tersebut tidaklah mudah. Pentingnya remaja sebagai aset
masa depan peradaban manusia ditunjukkan dengan adanya
beberapa indikator yang ditetapkan Persatuan Bangsa Bangsa
sebagai Millenium Development Goals yang berkait langsung
dengan remaja dan orang muda. Indikator tersebut adalah tingkat
30
melek huruf pada penduduk usia 15-24 tahun, tingkat persalinan
remaja, prevalensi HIV-AIDS pada penduduk usia 15-24 tahun,
proporsi penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan
komprehensif tentang HIVAIDS, dan rasio partisipasi sekolah
anak usia 10-14 tahun yang tidak yatim piatu dibandingkan dengan
yang yatim piatu (Kemenkes RI, 2017).
2. Perkembangan Remaja
Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak ke
dewasa, banyak perubahan-perubahan yang terjadi pada remaja
[Link] yang terjadi yaitu perubahan secara fisik yang
merupakan gejala primer dari pertumbuhan remaja. Sedangkan
perubahan psikologis muncul akibat dari perubahan-perubahan
fisik remaja tersebut (Sarwono, 2013).
Perubahan biologis adalah percepatan pertumbuhan,
perubahan hormonal, dan kematangan seksual yang datang dengan
pubertas (Santrock, 2011). Perubahan fisik yang sangat
berpengaruh besar terhadap perkembangan jiwa remaja adalah
pertumbuhan tinggi badan yang semakin tinggi, berfungsinya alat-
alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi
basah pada laki-laki), dan tanda-tanda seksual sekunder yang
tumbuh. Perubahan fisik tersebut dapat meyebabkan
kecanggungan bagi remaja karena ia harus menyesuaikan diri
dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya, sehingga
31
dapat berpengaruh pada perubahan psikologi remaja tersebut
(Sarwono, 2013).
Perkembangan atau perubahan kognitif yang terjadi selama
masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja adalah
peningkatan dalam berpikir abstrak, idealis, dan logis. Ketika
mereka melakukan transisi tersebut, remaja mulai berpikir secara
lebih egosentris, sering merasa bahwa mereka berada di panggung,
unik, dan tidak terkalahkan. Dalam menanggapi perubahan
tersebut, orang tua memberikan lebih banyak tanggung jawab
untuk pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para remaja
(Santrock, 2011).
Perubahan sosio-emosional yang dialami remaja adalah
pencarianbukaan diri. Ketika untuk kebebasan, konflik dengan
orang tua, dan keinginan untuk menghabiskan lebih banyak waktu
dengan teman sebaya. Percakapan dengan teman-teman menjadi
lebih intim dan memasukkan lebih banyak keterbukaan diri.
Ketika anak-anak memasuki masa remaja mereka akan mengalami
kematangan seksual sehingga mereka akan mengalami
ketertarikan yang lebih besar dalam hubungan dengan lawan jenis.
Remaja akan mengalami perubahan mood yang lebih besar
daripada masa kanak-kanak (Santrock, 2011).
3. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Remaja
Jurnal Ikalor (2013) menjelaskan beberapa faktor yang
mempengaruhi perkembangan remaja antara lain:
32
1. Faktor hereditas
Warisan atau bawaan sejak lahir atau keturunan dari
orang tua dapat mempengaruhi perkembangan
[Link] dilapangan membuktikan beberapa remaja
yang berkembang tidak jauh berbeda dengan orang tuanya.
2. Faktor lingkungan
Individu hidup di sebuah lingkungan, sehingga
individu tidak bisa lepas dari lingkungan tersebut. Segala
sesuatu yang terjadi pada lingkungan dimana remaja
berada, pasti akan memberi pengaruh pada
perkembangannya. Beberapa yang termasuk faktor
lingkungan yaitu teman sebaya, media masa (media sosial)
dan keluarga.
3. Kematangan fungsi-fungsi organis dan psikis
Sejalan dengan bertambahnya waktu, remaja
semakin matang fungsi organ dan psikisnya, semakin
berkembang juga perkembangan remaja ke yang lebih luas.
4. Aktifitas individu sebagai subyek bebas yang berkemauan,
kemampuan seleksi, dapat menolak atau menyetujui, punya
emosi serta usaha membangun diri sendiri.
33
E. Kerangka Teori
Skema 2.1
Kerangka teori
Media Sosial
Media sosial adalah
jembatan komunikasi
antar personal atau
badan lembaga dengan
menggunakan fasilitas
internet (Ira Anisa
Purawinanggung,
Maulana Yusuf 2020).
Faktor faktor yang mempengaruhi
Kualitas Tidur tidur baik dari kualitas maupun
kuantitas:
Kualitas tidur adalah
dimana ketika bangun 1. Status kesehatan
seseorang akan 2. Lingkungan
menghasilkan kesegaran 3. Diet
dan kebugaran (Khasana 4. Obat-obatan
& Hadayati 2012). 5. Gaya hidup
(Riyadi & Widuri 2015)
Kestabilan Emosi
Faktor faktor yang mempengaruhi
Kestabilan emosi adalah kestabilan emosi :
satu dari beberapa
indikator kesehatan 1. Keadaan jasmani individu
mental. Jika remaja tidak 2. Pembawaan (kondisi dasar
memiliki kontrol emosi, individu)
akan menyebabkan 3. Suasana hati
kecemasan dan (Setyawan 2016)
inferioritas perasaan
(Kumar 2013).
34
F. Kerangka Konsep
Skema 2.2
Kerangka konsep
Variabel independen Variabel dependen
Kualitas tidur
1. Ringan
Frekuensi penggunaan media 2. Sedang
sosial 3. Berat
1. Sering Kestabilan emosi
2. Tidak sering
1. Stabil
2. Kurang
stabil
G. Hipotesis
Hipotesis adalah pendapat yang kebenarannya masih dangkal dan
perlu diuji, patokan dugaan, atau dalil sementara, yang kebenarannya akan
dibuktikan dalam penelitian tersebut (Setiadi, 2013). Hipotesis nol
(hipotesis statistik/nihil) dan hipotesis alternatif (hipotesis kerja).
Hipotesis alternatif
Ha : Ada hubungan antara penggunan media sosial media dengan
kualitas tidur dan kestabilan emosi pada remaja di SMA N 1 Bandar
seikijang dan SMK N 1 Bandar seikijang.
35
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Desain penelitian
adalah deskriptif kolerasi untuk menentukan apakah terdapat hubungan
antar variabel dan membuat prediksi berdasarkan korelasi antar variabel
dengan pendekatan cross sectional yaitu suatu penelitian yang
mempelajari dinamika kolerasi antara faktor faktor resiko, efek, dengan
pendekatan observasi atau pengumpulan data dalam satu waktu saja (point
time approach) (Kezia Woran, 2021). Penelitian ini dilakukan untuk
menentukan apakah ada hubungan frekuensi penggunaan media sosial
dengan kualitas tidur dan kestabilan emosi pada remaja yang ada di
sekolah menengah atas Bandar seikijang, dengan alat ukur menggunakan
questioner.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Kegiatan penelitian ini akan dilakukan di Sekolah
Menengah Atas Bandar Seikijang.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dimulai pada bulan Februari 2022.
36
C. Populasi dan Subjek Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/
subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya
(Sugiono, 2017). Pada penelitian ini yang menjadi populasi dan subjek
penelitian adalah remaja yang berada di sekolah menengah atas Bandar
seikijang. Jumlah populasi pada penelitian ini yaitu :
1. SMA N 1 bandar seikijang 292 siswa/i
2. SMK N 1 bandar seikijang 688 siswa/i
Dari jumlah populasi di SMA dan SMK Bandar seikijang
didapatkan jumlah seluruh populasi 980 populasi siswa/i. data populasi ini
didapatkan dari survei pendahuluan yang telah dilakukan peneliti.
D. Besar Sampel
sampel adalah sebagian dari populasi yang akan diukur atau diteliti
karakteristiknya dalam penelitian (Anwar Hidayat, 2012). Sample
penelitian ini adalah:
N
n= 2
1+ Ne
Keterangan:
n : Besar Sample
N : Jumlah Populasi
e : Eror Tolerance (0,05)
37
N
n=
1+ Ne 2
980
= 2
1+ 980(0,05)
980
=
1+ 2,45
980
=
3,45
= 284 orang
E. Teknik Sampling
Teknik sampling adalah bagian dari metodologi statistika yang
berkaitan dengan cara-cara pengambilan sampel (Heri, 2019). Penelitian
ini menggunakan teknik probability sampling dengan jenis propotionate
atratified random sampling yaitu teknik pengambilan sampel bila anggota
populasinya tidak homogen yang terdiri dari kelompok yang homogeny
atau bersrata secara proposional (Hidayat, 2007). Teknik pengambilan
sampel sampel ini dilakukan atas dasar pertimbangan waktu, keterbatasan
biaya, tenaga dan lokasi (Burn & Grove 2005).
Dari 284 responden dibagi secara proposional, untuk mengetahui
jumlah responden di setiap Sekolah Menengah Atas Bandar seikijang.
jumlah populasi per SMA
x jumlah sample
Total populasi seluruh SMA
292
SMA N 1 Bandar seikijang = x 284 = 84,62 = 85 responden
980
38
688
SMK N 1 Bandar seikijang = x 284 = 199,3 = 199 responden
980
Dapat disimpulkan di SMA N 1 Bandar seikijang (85 Responden),
SMK N 1 Bandar seikijang (199 Responden)
F. Kriteria Inklusi
1. Siswa/i SMA N 1 Bandar seikijang dan SMK N 1 Bandar seikijang
menggunakan tiga media sosial yaitu Youtube, Instagram,
Whatsapp, Facebook dan Tik tok.
2. Bersedia menjadi responden dan mengikuti prosedur penelitian
sampai tahap akhir.
G. Etika Penelitian
Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang
sanggat penting dalam penelitian mengingat penelitian keperawatan
berhubungan langsung dengan manusia, maka dari segi etika penelitian
harus diperhatikan (Hidayat, 2007).
Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut :
1. Informed consent
Merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan
responden penelitian ini dengan member lembar
[Link] sebelum penelitian dilakukan dengan
member lembar persetujuan untuk responden.
39
2. Tanpa nama (Anonimity)
Peneliti member jaminan kerahasiaan penelitian, baik
informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh
peneliti.
3. Keadilan (Justice)
Setiap responden mendapatkan perlakuan yang sama dari
penelitian.
H. Variabel Penelitian Dan Data Operasional
variabel merupakan salah satu unsur yang penting karena suatu
proses pengumpulan fakta atau pengukuran dapat dilakukan dengan baik,
bila dapat dirumuskan variabel penelitian dengan tegas. Proses perumusan
variabel ini diawali dari perumusan konsep tentang segala sesuatu yang
menjadi sasaran penelitian. Konsep yang dimaksud adalah istilah dan
definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak tentang
kejadian dan keadaan suatu kelompok atau individu tertentu yang menjadi
sasaran penelitian (Raudhah, 2017).
Variabel penelitian dapat dilihat dari dua sudut yaitu peran dan
sifat. Dilihat dari segi perannya, variabel ini dapat dibedakan kedalam dua
jenis yaitu:
40
1. Variabel dependent ialah variabel yang dipengaruhi oleh variabel
lain dan menjadi perhatian utama dalam suatu penelitian, variabel
independent dari penelitian ini adalah penggunaan media sosial
(Fitrah, 2017).
2. Variabel independent (Variabel Bebas) adalah variabel yang
mempengaruhi atau sebab perubahan timbulnya variabel terikat
(dependen). Variabel Independen disebut juga dengan variabel
perlakuan, kausa, risiko, variabel stimulus, antecedent, variabel
pengaruh, treatment, dan variabel bebas. Dapat dikatakan variabel
bebas karena dapat mempengaruhi variabel lainnya (Maya Ima
Erviani, 2016).
3. Defenisi Operasional
Tabel 3.1 defenisi operasional
Variabel Defenisi Alat Cara Skala Hasil Ukur
Ukur Ukur Data
Media Media Kuesioner Mengisi Nominal
Sosial online Kuesioner 1. Sering
dengan jika
aplikasi 50%-
berbasis 100%
internet 2. Tidak
yang sering <
digunakan 50%
untuk
berkomunik
asi dan
meningkatk
an
pemasaran
(Whatsapp,
Youtube,
Facebook,
Instagram
dan Tik
41
Tok)
Kualitas Kemampua Kuesioner Mengisi Ordinal 1. Ringan
Tidur n individu PSQI Kuesioner 0-7
untuk tidur (Pittsburg 2. Sedang
dan h Sleep 8-14
mendapatka Qualiti 3. Berat
n tidur yang Index) 15-21
tenang
Kestabilan Bebas dari Kuesioner Mengisi Ordinal 1. Stabil
Emosi kebimbanga Kuesioner jika >
n suasana dari
hati, mean/m
memiliki edian
kontrol 2. Tidak
yang baik stabil
jika <
mean/m
edian
I. Jenis dan Alat Pengumpulan Data
1. Jenis data
a. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari peneliti
langsung dari responden. Data primer pada penelitian ini
adalah kuesioner yang diisi langsung oleh responden yang
menggunakan media sosial satu bulan terakhir.
b. Data sekunder
Data skunder berupa dokumen, laporan dan arsip
yang berhubungan dengan penelitian data yang diperoleh
oleh penelitian ini yang menjadi data sekunder adalah
dokumen yang diperoleh dari SMA Dan SMK di Bandar
seikijang berupa jumlah siswi/i, jenis kelamin dan usia.
2. Alat Pengumpulan Data
42
Metode pengumpulan data adalah dokumentasi, studi
pustaka dan pengamatan langsung (Syamsuddin Syamsuddin,
2021). Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan cara
mengisi kuesioner. Kuesioner merupakan alat ukur yang
didalamnya terdapat beberapa pertanyaan. Alat ukur ini digunakan
bila responden jumlahnya besar dan tidak buta huruf.
Alat pengumpulan data yang digunakan untuk mengukur
penggunaan media sosial menggunakan kuesioner yang dibuat
sendiri oleh peneliti. Untuk mengukur kualitas tidur menggunakan
kuesioner baku PQSI (Pittsburgh Sleep Quality Index). PSQI
terdiri dari 9 pertanyaan dan 7 komponen, yaitu letensi tidur (no.
2), durasi tidur (no. 1 & 3), kualitas tidur (no. 9), efesiensi
kebiasaan tidur (no. 4), gangguan tidur (no. 5), penggunaan obat
tidur (no. 6), dan gangguan fungsi tubuh disiang hari (no. 7 & 8).
Penilaian kuesioner ini adalah jika total nilai PSQI < 5 berarti
kualitas tidur baik, jika total nilai > 5 menunjukkan bahwa kualitas
tidur buruk. Dan untuk mengukur kestabilan emosi dibuat oleh
peneliti dengan acuan komponen kestabilan emosi dari Chaturvedi
& Chander. Komponennya yaitu optimisme, empati, kemandirian,
ketenangan, dan toleransi. Terdiri dari 20 pertanyaan, terdapat
pilihan STS, TS, S, SS. Pada kuesioner ini terdapat pernyataan
positif dan negative, dimana pernyataan negative terdapat pada
nomor 4, 8, 10, 13, 15, 16, 17, 19 dan sisanya adalah pernyataan
positif (Setyawan, 2016).
43
J. Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Uji Validitas
Prinsip validitas adalah pengukuran dan pengamatan yang
berarti prinsip keandalan instrumen dalam pengumpulan data
(Nursalam 2015). Menentukan validitas pengukuran harus
memenuhi 2 hal yaitu relevan isi, cara dan sasaran. Uji validitas
kuesioner dilakukan pada bulan februari 2022 yang diujikan pada
siswa/i SMA N 1 Bandar seikijang Dan SMK N 1 Bandar
seikijang. Uji validitas dengan besar r tabel sesuai dengan jumlah
responden yang diuji dan untuk tingkat signifikansi 0,05 yaitu
0.4227. Pertanyaan dalam kuesioner dianggap valid jika r hitung >
r tabel yang telah ditentukan. Hasil uji validitas pada kuesioner
kestabilan emosi dengan total 20 pertanyaan seluruh item
dinyatakan valid.
2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau
pengamatan apabila fakta diukur atau diamati berkali-kali dalam
waktu yang berlainan (Nursalam, 2015). Alat pengukur dianggap
reliabel jika digunakan dua kali atau lebih untuk mengukur gejala
yang sama dan hasilnya relatif konsisten. Uji reliabilitas dilakukan
dengan metode Cronbach’s alpha 0 sampai 1.
44
K. Pengolaha Data
1. Scoring
Berikan skor pada jawaban yang membutuhkan
[Link] dilakukan pada kuesioner kualitas tidur, stabilitan
emosional dan kecemasan sosial.
2. Coding
Berilah tanda atau kode pada setiap kuesioner yang terdapat
pada kategori yang dipelajari dengan tujuan menyederhanakan
tabulasi dan analisis data.
3. Tabulating
Tabulating data dengan memasukkan data yang telah
dituliskan sesuai dengan pengkodean dalam tabel untuk
memudahkan entry data.
4. Entry
Memasukkan data tabulasi yang telah dilakukan pada
komputer.
L. Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada objek dan
proses pengumpulan karakteristik yang diperlukan dalam penelitian.
Pengumpulan data dilakukan berdasarkan langkah langkah berikut :
Teknik pengumpulan data dalam penelitian yaitu :
45
1. Peneliti mendapatkan izin dari STIKes PMC (Pekanbaru Medikal
Center) untuk melakukan penelitian.
2. Peneliti mendapatkan izin dari kepala sekolah SMA N 1 Bandar
seikijang dan SMK N 1 Bandar seikijang untuk mengambil data
dan melakukan penelitian.
3. Selanjutnya peneliti meminta persetujuan responden yang bersedia
untuk mengisi kuesioner.
4. Kemudian peneliti menyebarkan kuesioner, terlebih dahulu peneliti
menjelaskan maksud dan tujuan pemberian kuesioner.
5. Peneliti menyebarkan kuesioner pada responden.
6. Peneliti akan memeriksa kelengkapan data dan jawaban yang telah
di isi oleh responden.
7. Terakhir peneliti akan memeriksa kelengkapan data dan jawaban
yang telah di isi oleh responden.
M. Rencana Analisa Data
1. Analisa univariat
Analisa data yang dilakukan secara universial yaitu melihat
hasil perhitungan dan persentasi hasil penelitian yang artinya
dipergunakan sebagai tolak ukur pembahasan dan kesimpulan
(Notoatmojo, 2010). Analisa univariat pada penelitian ini
digunakan untuk mendapatkan informasi umum responden,
seperti : umur, gambaran penggunaan sosial media, gambaran
kualitas tidur, gambaran kestabilan emosi.
46
2. Analisa bivariat
Analisa bivariat yaitu analisa yang dilakukan terhadap dua
variabel yang digunakan atau berkolerasi (Notoatmojo 2010).Pada
penelitian ini adalah mengetahui adanya hubungan penggunaan
media sosial terhadap kualitas tidur dan kestabilan emosi pada
remaja di sekolah menengah atas Bandar seikijang. Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan analisis bivariate uji chi
square dengan batasan makna (0,05).
Apabila dari uji statistik didapatkan p value< (0,05) maka
dapat dikatakan ada hubungan yang bermakna diantara 2 variabel
tersebut dan apabila bermakna diantara kedua variabel
menunjukkan tidak adanya hubungan maka nilai p value> (0,05)
(Notoatmojo, 2010).
Berdasarkan pengelolahan data dengan menggunakan uji
chi square didapatkan nilai p value> 0,00 dengan taraf kemaknaan
adalah besar dari 5% (p> 0,05) jadi 0,00 < 0,05 sehingga dapat
disimpulkan terdapat hubungan penggunaan media sosial dengan
kualitas tidur dan kestabilan emosi emosi pada remaja di sekolah
menengah atas Bandar seikijang. Hasil penelitian membuktikan
bahwa ada hubungan dan signifikan antara penggunaan sosial
media dengan kualitas tidur dan kestabilan emosi.
47
Kuesioner Media Sosial
Bacalah dan pahami setiap pernyataan di bawah [Link] tanda silang pada
jawaban yang sesuai dengan kondisi anda saat ini.
1. Saya menggunakan media sosial sudah sejak…
a. < 1 tahun yang lalu
b. 1-3 tahun yang lalu
c. 3-5 tahun yang lalu
d. > 5 tahun yang lalu
2. Saya menggunakan media sosial setiap
a. Tiga hari sekali
b. Dua hari sekali
c. Sehari sekali
d. Setiap saat
3. Saya menggunakan media sosial sehari selama
a. 4 jam perhari
b. 6 jam perhari
c. 8 jam perhari
d. > dari 10 jam perhari
4. Alasan saya menggunakan media sosial
a. Mayoritas teman menggunakan
b. Pendukung pembelajaran
c. Tren yang sedang booming
5. Jenis media sosial yang di miliki (beri tanda silang sesuai apa yang anda miliki)
48
Instagram Facebook Whatshapp Tik tok Youtube line twitter
Alat Ukur Kualitas Tidur
Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI)
Petunjuk:
Pertanyaan-pertanyaan berikut ini berhubungan dengan kebiasaan tidur
anda hanya pada bulan yang [Link] anda sebaiknya menunjukkan jawaban
yang paling akurat atas kebiasaan tidur anda pada sebagian besar siang dan malam
pada bulan yang lalu.
1. Jam berapa anda tidur pada malam hari ?
2. Berapa lama (dalam menit) anda menanti sebelum tidur lelap pada malam
Hari ?
3. Kapan biasanya anda terbangun pada pagi hari (jam
berapa) ?
4. Berapa jam anda dapat tertidur pulas pada malam hari ? (hal ini mungkin
berbeda dari jumlah waktu anda menghabiskan waktu ditempat
tidur) ?
5. dalam sebulan ini berapa Tidak Kurang Satu Tiga atau
sering anda mengalami masalah pernah dari atau dua lebih
tidur ? (0) satu kali dalam
kali (1) seminggu seminggu
(2) (3)
a. Tidak dapat tertidur
dalam waktu 30 menit
b. Terbangun pada tengah
malam atau dini hari
(pagi buta)
49
c. Terbangun untuk
kekamar mandi
d. Tidak dapat bernafas
nyaman
e. Batuk atau mendengkur
yang sangat keras
f. Merasa kedinginan
g. Merasa kepanasan
h. Mimpi buruk
i. Merasa nyeri
j. Alasan lain yang
mengganggu tidur anda
6. Selama beberapa bulan
terakhir, seberapa sering anda
mengkonsumsi obat-obatan
untuk membantu agar anda
tertidur ?
7. Selama beberapa bulan
terakhir, seberapa sering anda
mengantuk dalam berkendara,
makan atau melakukan aktivitas
?
Tidak Hanya Agak Masalah
menjadi masalah menjadi besar
masalah kecil masalah
8. Selama beberapa bulan
terakhir, seberapa berat anda
untuk dapat tetap bersemangat
dalam mengerjakan sesuatu ?
Sangat Cukup Kurang Sangat
baik (0) baik (1) baik (2) buruk (3)
9. Selama berapa bulan terakhir,
bagaimana penilaian kualitas
keseluruhan tidur anda ?
50
Kuesioner Kestabilan Emosi
Bacalah dan pahami setiap pernyataan di bawah ini. Pilih salah satu
jawaban yang paling menggambarkan kondisimu saat ini dengan cara memberi
tanda centang pada salah satu pilihan jawaban.
STS : SANGAT TIDAK SETUJU
TS : TIDAK SETUJU
S : SETUJU
SS : SANGAT SETUJU
No pernyataan ST TS S S
S S
1 Saya merasa yakin dengan kemampuan mengendalikan
emosi saya kepada teman yang mengganggu saya
2 Saya belajar bersungguh sungguh untuk apa yang saya
mau
3 Saya belajar dari pengalaman
4 Saya putus asa jika mengalami kegagalan
5 Saya ikut merasakan jika teman saya dalam kesusahan
6 Saya membagi makanan saya kepada teman yang tidak
membawa bekal kesekolah
7 Saya memberikan tempat duduk saya kepada teman
yang sedang sakit
8 Saya tidak mendengarkan cerita bahagia teman saya di
saat saya punya masalah
9 Saya terbiasa melakukan sesuatu sendiri
10 Saya sedih jauh dari keluarga demi menuntut ilmu
11 Saya menyelesaikan masalah tanpa bantuan orang lain
12 Saya mampu mengambil keputusan sendiri
13 Saya marah jika ada orang lain yang melakukan
kesalahan
14 Saya mudah memaafkan orang lain
15 Saya menyalahkan orang lain saat mengalami
kegagalan
51
16 Saya marah saat mendapat sesuatu yang lebih buruk
dari teman
17 Saya mudah marah saat ada teman yang mengganggu
saat saya sedang belajar
18 Saya dapat menerima jika terjadi perubahan tiba-tiba
19 Saya menghindar saat teman akan meminta bantuan
20 Saya menghargai setiap keputusan orang lain
52
DAFTAR PUSTAKA
Agustin, D., 2012. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Tidur pada
Pekerja Shift di [Link] Tirta Industri Cilegon. Universitas
Indonesia.
Akbar, R. S. (2019). Peran Media Sosial Dalam Perubahan Gaya Hidup Remaja.
Universitas Airlangga, 1(1), 1–20. Retrieved from
[Link] RAHMANDIKA S [Link]
Aljawiy, A.Y. & Muklason, A., Jejaring Sosial Dan Dampak Bagi Penggunanya.
Sistem Informasi.
Ambarwati, R. (2017). Tidur, irama sirkadian dan metabolisme tubuh. Jurnal
Keperawatan, X(1), 42–46. Retrieved from
[Link]
Aprilia, R., Sriati, A., & Hendrawati, S. (2020). Tingkat Kecanduan Media Sosial
pada Remaja. Journal of Nursing Care, 3(1), 41–53. Retrieved from
[Link]
Brusilovskiy, E. et al., 2016. Social media use, community participation and
psychological well-being among individuals with serious mental illnesses.
Computers in Human Behavior, 65, pp.232–240. Available at:
[Link]
Christofferson, J.P., 2016. How is Social Networking Sites Effecting Teen ’ s
Social and Emotional Development : A Systemic Review. University of St.
Thomas. Diagnosis Nanda, Yogyakarta: Gosyen Publishing.
53
Fadlilah, M., Pujiana, D., & Subani. (2021). Hubungan Antara Perokok Aktif
Dengan Kualitas Tidur Mahasiswa Fakultas Hukum. Jurnal ‘Aisyiyah
Medika, 6(1), 242–252.
Faradilla, D. (2020). Kontrol Diri dengan Ketergantungan Internet Pada Remaja.
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 8(4), 590.
[Link]
Fitrah. (2017). Variabel Dependen. Variabel Dependen Dalam Suatu Peneliti, 123.
Handikasari, R. H., Jusup, I., & Johan, A. (2018). Hubungan Intensitas
Penggunaan Media Sosial dengan Gejala Depresi Mahasiswa
Kedokteran. Jurnal Kedokteran Diponegoro, 7(2), 919–934.
Heri. (2019). 10 Teknik Pengambilan Sampel dan Penjelasannya Lengkap
(SAMPLING). [Link], 1–6. Retrieved from
[Link]
Hidayat, A. (2012). Populasi dan Sampel: Pengertian Populasi Adalah?
Irwina Angelia Silvanasari, & Wike Rosalini. (2021). PERILAKU
PENGGUNAAN SMARTPHONE, GAYA HIDUP, DAN
LINGKUNGAN FISIK BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS
TIDUR YANG BURUK PADA REMAJA. Jurnal Ilmu Kesehatan
MAKIA, 11(2), 35–41. [Link]
Kemenkes RI. (2017). Pedoman Standar Nasional Pelayanan Kesehatan Peduli
Remaja. Journal of Chemical Information and Modeling (Vol. 8, pp. 1–
122).
maya ima Erviani. (2016). Perbedaan Variabel Independen dan Variabel
Dependen ? 4 Januari.
MENGENAL EMOSI MELALUI KOMUNIKASI NONVERBAL. (2016).
Buletin Psikologi, 3(1), 27–43. [Link]
54
Minar, E. T. I. O. (2021). Korelasi Sleep Hygiene dengan Kualitas Tidur pada
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan
2017 – 2019. Universitas Sumatera Utara.
Muna, R. F., & Astuti, T. P. (2014). HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI
DENGAN KECENDERUNGAN KECANDUAN MEDIA SOSIAL
PADA REMAJA AKHIR. Empati: Jurnal Karya Ilmiah S1 Undip, 3(4),
481–491.
Novianti Tantri, I., & Sundari, L. P. R. (2019). Hubungan Antara Jenis Kelamin,
Konsumsi Kafein, Tinggal Sendiri, dan Jam Mulai Tidur dengan Kualitas
Tidur Buruk Mahasiswa di Kota Denpasar. Medika Udayana, 8(7), 9.
Purawinangun, Ira Anisa. 2019. Media Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit
Samudra Biru
[Link], 2015. Panduan Optimalisasi Media Sosial Untuk kementrian
perdagangan RI,
Ratnasari, S. (2017). Hubungan antara body image dengan kecemasan sosial
pada remaja perempuan. Skripsi, 1–63. Retrieved from
[Link]
[Link]
Reza, R. R., Berawi, K., Karima, N., & Budiarto, A. (2019). Fungsi Tidur dalam
Manajemen Kesehatan. Medical Journal Of Lampung University, 8(2),
247–253. Retrieved from
[Link]
Rifai, C. F., Utami, D., Supriyati, S., & Farich, A. (2020). Kualitas Tidur dan
Kestabilan Emosi dengan Hasil Prestasi Belajar pada Mahasiswa Fakultas
Kedokteran. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 11(1), 72–77.
[Link]
55
Riswanto, D., & Marsinun, R. (2020). Perilaku Cyberbullying Remaja di Media
Sosial. Analitika, 12(2), 98–111.
[Link]
Riyadi, S. & Widuri, H., 2015. Kebutuhan Dasar Manusia Aktivitas Istirahat
Sangkot, N. (2017). Variabel penelitian. Raudhah, 05(02), 1–9. Retrieved from
[Link]
Setyawan, M., 2016. Hubungan antara Durasi Penggunaan Media Sosial dengan
Kestabilan Emosi pada Pengguna Media Sosial Usia Dewasa Awal.
Universitas Sanata Dharma.
Sri Hartini, K. N. (2021). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Masalah
Tidur Remaja Selama Pandemi Covid-19. Sari Pediatri, Vol. 22, No. 5,
Februari 2021 , 22, 311-317.
Sugianto, I. C. (2017). Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Dampak
Penggunaan Media Sosial Oleh Remaja Di SMAN Kota Pasuruan. Potret
Media Informasi Kesehatan Bagi Masyarakat Urban Di Era Digital, 1–
199.
Sugiyono. (2017). Populasi adalah. [Link], 1–16.
Syamsoedin, W.K.., Bidjuni, H. & Wowiling, F., 2015. Hubungan Durasi
Penggunaan Media Sosial dengan Kejadian Insomnia pada Remaja di SM
Negeri 9 Manado. ejournal keperawatan, 3(1).
Syamsuddin, S. (2021). DAMPAK COVID 19 TERHADAP TARGET DAN
REALISASI PENERIMAAN PAJAK HOTEL DAN RESTORAN DI
KOTA MAKASSAR. Journal of Business Administration (JBA), 1(1), 5.
[Link]
Valerie, C., Dwi Waluyanto, H., & Zacky, A. (2020). Perancangan Komik Digital
Webtoon Untuk Mencegah Terjadinya Kecemasan Sosial Di Kalangan
Remaja. Jurnal DKV Adiwarna, 1(16), 10. Retrieved from
[Link]
56
Woran, K., Kundre, R. M., & Pondaag, F. A. (2021). ANALISIS HUBUNGAN
PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DENGAN KUALITAS TIDUR
PADA REMAJA. JURNAL KEPERAWATAN, 8(2), 1.
[Link]
Woran, K., Kundre, R. M., Pondaag, F. A., Program, M., Ilmu, S., Kedokteran, F.,
… Sam, U. (2020). Analisis Hubungan Penggunaan Media Sosial
Dengan. Jurnal Keperawatan, 8(02), 1–10.
57