Tabel A-1.
Identifikasi dan Penetapan Isu Eksternal dan Internal
DAFTAR IDENTIFIKASI ISU EKSTERNAL DAN INTERNAL
KATEGORI JENIS JENIS SUMBER KEINGINAN DAN HARAPAN
NO ISU DAMPAK
ISU ISU SWOT ISU INTERNAL EKSTERNAL
Kebutuhan:
- sesuai jadwal
Keinginan:
- sesuai metode
- Tidak
Pekerja kerja
Surat mengganggu
Jadwal bekerja Harapan:
Perintah aktifitas
Pekerjaan lebih - tidak terjadi
1. Kinerja Eksternal Threat Kerja Harapan:
dipercepat, dari 1 kecelakaan &
(SPK) - metode kerja
shif penyakit akibat
aman terhadap
kerja
lingkungan
- proyek tdk
dihentikan / tdk
didemo
Keinginan :
- Penambahan
Keinginan:
Personil
Struktur - Tidak
diharapkan
organisasi mengganggu
penerapan SMKK
Keselamatan Penambahan Struktur aktifitas
lebih efektif;
2. Konstruksi personil Kinerja Internal Strength Organisasi Harapan:
Harapan
dalam - metode kerja
- tidak
pekerjaan aman terhadap
terjadi
lingkungan
kecelakaan &
penyakit akibat
kerja
A.1.1. Unit Keselamatan Konstruksi/UKK (Organisasi Pengelola SMKK)
Tingkat Perusahaan
Direktur HSE
Penanggung Jawab Teknis
(PJT)
Tingkat Proyek
Pelaksana Lapangan
Pimpinan UKK
Kepala Tukang Tukang Pekerja
Keterangan : Garis Koordinasi
Garis Komando
A.2 Tabel Tugas dan Tanggung Jawab UKK
Jabatan Tugas dan Tanggung Jawab
Menetapkan kebijakan Keselamatan Konstruksi
Memastikan dipenuhinya persyaratan SMKK pada pelaksanaan kegiatan
Memastikan terlaksananya pelaksanaan Keselamatan
Direktur HSE
Konstruksi pada proyek konstruksi
Menetapkan Sasaran Program Keselamatan Konstruksi
Melaporkan Kinerja Penerapan SMKK kepada pengguna jasa
Mengkoordinir penerapan SMKK di tempat kegiatan konstruksi
Menyiapkan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan dalam penerapan SMKK
Pimpinan UKK Memastikan kegiatan Keselamatan Konstruksi di tempat kerja terlaksana dengan baik
Melakukan inspeksi Keselamatan Konstruksi di tempat kerja
Melakukan Koordinasi dengan pihak-pihak terkait
Melaksanakan induksi Keselamatan Konstruksi
Melaksanakan konsultasi dan komunikasi Keselamatan
Petugas Keselamatan Konstruksi di tempat kerja
Konstruksi Melakukan inspeksi Keselamatan Konstruksi di tempat kerja
Melaporkan kejadian baik berupa insiden maupun accident
kepada Manajer/Koordinator Keselamatan Konstruksi
Melaporkan kejadian tanggap darurat kepada
Petugas Tanggap
Manajer/Koordinator Keselamatan Konstruksi
Darurat
Mengumumkan kondisi darurat di tempat kerja, kepada seluruh pekerja
Melakukan tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan di tempat kerja
Petugas P3K Memastikan peralatan P3K dalam kondisi baik
Memastikan isi kotak P3K sesuai dengan peraturan
2. Lembar Kebijakan Keselamatan Konstruksi
KEBIJAKAN KESELAMATAN KONSTRUKSI
Kami berkomitmen untuk:
1. Menjalankan pakta komitmen Keselamatan Konstruksi yang telah ditandatangani oleh Pimpinan perusahaan.
2. Menjamin Keselamatan Konstruksi tenaga kerja, tamu, masyarakat sekitar di sekitar tempat kerja.
Melakukan perbaikan keberlanjutan terhadap sistem Manajemen dan Kinerja Keselamatan Konstruksi guna
3.
meningkatkan budaya Keselamatan Konstruksi yang baik di tempat kerja.
Untuk mencapainya, kami akan:
1. Membangun dan memelihara sistem manajemen Keselamatan Konstruksi, serta sumber daya yang relevan.
2. Membangun tempat kerja dan pekerjaan sesuai dengan peraturan perundang- undangan dan persyaratan lainnya
terkait Keselamatan Konstruksi.
Memberikan pendidikan ataupun pelatihan terkait Keselamatan Konstruksi kepada tenaga kerja untuk
3. meningkatkan kinerja Keselamatan Konstruksi perusahaan.
Kebijakan Penghentian Pekerjaan Konstruksi
Dalam rangka menjaga lingkungan kerja pekerjaan konstruksi yang aman dan berkeselamatan terhadap risiko
bahaya cidera ringan, sedang dan berat pada pekerja, kerusakan aset/properti, publik dan lingkungan, setiap
1.
personil berhak untuk memberhentikan pekerjaan apabila melihat perilaku tidak selamat atau kondisi tidak
aman dalam melakukan pekerjaan.
Pekerjaan Konstruksi yang telah diberhentikan karena perintah penghentian pekerjaan tidak akan
2. dilanjutkan sampai semua aspek keselamatan konstruksi dipenuhi sesuai dengan persyaratan yang telah
ditetapkan.
Pemimpin tertinggi Penyedia Jasa memberikan kewenangan kepada Pimpinan Unit Keselamatan Konstruksi untuk
3.
melakukan verifikasi penghentian pekerjaan.
4. Perintah penghentian pekerjaan konstruksi harus diterapkan dengan itikad baik dan bertanggungjawab.
Personil yang menyerukan perintah penghentian pekerjaan tidak boleh dan tidak akan dikenai sanksi apabila
5. setelah diverifikasi bahwa perintah penghentian tersebut dianggap tidak perlu atau bahkan berdampak
mengganggu kemajuan pekerjaan
6. Semua personil bertanggung jawab atas pencegahan kecelakaan.
2. Lembar Kebijakan Keselamatan Konstruksi
KEBIJAKAN KESELAMATAN KONSTRUKSI
Kami berkomitmen untuk:
1. Menjalankan pakta komitmen Keselamatan Konstruksi yang telah ditandatangani oleh Pimpinan perusahaan.
2. Menjamin Keselamatan Konstruksi tenaga kerja, tamu, masyarakat sekitar di sekitar tempat kerja.
Melakukan perbaikan keberlanjutan terhadap sistem Manajemen dan Kinerja Keselamatan Konstruksi guna
3.
meningkatkan budaya Keselamatan Konstruksi yang baik di tempat kerja.
Untuk mencapainya, kami akan:
1. Membangun dan memelihara sistem manajemen Keselamatan Konstruksi, serta sumber daya yang relevan.
2. Membangun tempat kerja dan pekerjaan sesuai dengan peraturan perundang- undangan dan persyaratan lainnya
terkait Keselamatan Konstruksi.
Memberikan pendidikan ataupun pelatihan terkait Keselamatan Konstruksi kepada tenaga kerja untuk
3. meningkatkan kinerja Keselamatan Konstruksi perusahaan.
Kebijakan Penghentian Pekerjaan Konstruksi
Dalam rangka menjaga lingkungan kerja pekerjaan konstruksi yang aman dan berkeselamatan terhadap risiko
bahaya cidera ringan, sedang dan berat pada pekerja, kerusakan aset/properti, publik dan lingkungan, setiap
1.
personil berhak untuk memberhentikan pekerjaan apabila melihat perilaku tidak selamat atau kondisi tidak
aman dalam melakukan pekerjaan.
Pekerjaan Konstruksi yang telah diberhentikan karena perintah penghentian pekerjaan tidak akan
2. dilanjutkan sampai semua aspek keselamatan konstruksi dipenuhi sesuai dengan persyaratan yang telah
ditetapkan.
Pemimpin tertinggi Penyedia Jasa memberikan kewenangan kepada Pimpinan Unit Keselamatan Konstruksi untuk
3.
melakukan verifikasi penghentian pekerjaan.
4. Perintah penghentian pekerjaan konstruksi harus diterapkan dengan itikad baik dan bertanggungjawab.
Personil yang menyerukan perintah penghentian pekerjaan tidak boleh dan tidak akan dikenai sanksi apabila
5. setelah diverifikasi bahwa perintah penghentian tersebut dianggap tidak perlu atau bahkan berdampak
mengganggu kemajuan pekerjaan
6. Semua personil bertanggung jawab atas pencegahan kecelakaan.
3. Tinjauan Pelaksanaan Komitmen
Jadwal Kunjungan Pimpinan Penyedia Jasa Pekerjaan Konstruksi
Bulan ke-
No Elemen Kegiatan PIC
1 2 3 4 5 DST
Direktur
KEPEMIMPINAN DAN PARTISIPASI Kunjungan Pimpinan Penyedia
Petugas K3 Konstruksi
1 PEKERJA DALAM KESELAMATAN Jasa Pekerjaan Konstruksi
KONSTRUKSI Konsultan Pengawas
Pelaksana Lapangan
Direktur
Melakukan Identifikasi Petugas K3 Konstruksi
2 PERENCANAAN KESELAMATAN KONSTRUKSI bahaya, Penilaian risiko,
Pengendalian dan Peluang. Konsultan Pengawas
Pelaksana Lapangan
Melakukan Sosialisasi, Sumber Direktur
Daya, Kompetensi, Kepdulian, Petugas K3 Konstruksi
3 DUKUNGAN KESELAMATAN KONSTRUKSI
Komunikasi, Informasi Konsultan Pengawas
Terdokumentasi Pelaksana Lapangan
Direktur
Perencanaan Operasi, Kesiapan Petugas K3 Konstruksi
4 OPERASI KESELAMATAN KONSTRUKSI dan Tanggapan Terhadap
Kondisi Darurat Konsultan Pengawas
Pelaksana Lapangan
Pemantauan dan evaluasi, Direktur
EVALUASI KINERJA KESELAMATAN Tinjauan manajemen, Petugas K3 Konstruksi
5
KONSTRUKSI Peningkatan kinerja Konsultan Pengawas
keselamatan konstruksi Pelaksana Lapangan
4. Penyedia
Konsultasi danharus
Jasa Partisipasi Pekerja
secara berkesinambungan melakukan konsultasi dengan pekerja dan/atau perwakilan/serikat pekerja,
diantaranya :
1. Konsultasi mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi kinerja dan tindakan perbaikan SMKK.
2. Konsultasi dilakukan dengan:
a. menyediakan mekanisme, waktu, dan sumber daya yang diperlukan untuk konsultasi;
b. menyediakan informasi SMKK yang valid dan dapat diakses setiap saat;
c. menghilangkan dan/atau meminimalkan hal-hal yang menghambat pekerja untuk berpartisipasi;
d. melakukan konsultasi dengan pekerja lain yang berkepentingan terkait dengan:
1) kebijakan, kebutuhan, program dan kegiatan SMKK;
2) susunan, peran, tanggung jawab dan wewenang organisasi;
3) pemenuhan ketentuan peraturan perundang-undangan dan peraturan lainnya;
4) tujuan keselamatan konstruksi dan perencanaan pencapaian;
5) pengendalian terhadap alihdaya dan pengadaan barang dan jasa;
6) pemantauan dan evaluasi;
7) program audit;
8) perbaikan berkelanjutan;
e. mendorong partisipasi pekerja dalam hal:
1) menentukan mekanisme partisipasi pekerja;
2) mengidentifikasi bahaya dan menilai risiko dan peluang;
3) menentukan tindakan untuk menghilangkan bahaya dan mengurangi risiko keselamatan konstruksi;
4) menentukan persyaratan kompetensi, kebutuhan pelatihan, pelaksanaan pelatihan dan evaluasi pelatihan;
5) menentukan hal-hal yang perlu dikomunikasikan dan bagaimana bentuk komunikasi yang akan dilakukan:
6) menentukan langkah-langkah pengendalian dan penerapannya secara berhasil guna efektif;
7) menyelidiki kejadian, ketidaksesuaian dan menentukan tindakan perbaikan