0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan10 halaman

Tinjauan Geografi dan Geologi Taliabu

Dokumen tersebut memberikan tinjauan umum mengenai lokasi, iklim, kondisi geografi dan geologi di Kabupaten Pulau Taliabu. Lokasi penelitian terletak di Pulau Taliabu yang dapat dicapai melalui transportasi udara, laut dan darat. Iklimnya tropis dengan musim kemarau dan hujan. Kondisi geografis wilayahnya meliputi daratan dan perairan. Sedangkan kondisi geologinya terdiri atas berbagai satuan batuan yang terbent

Diunggah oleh

FAZRIL AHSANU AMALA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan10 halaman

Tinjauan Geografi dan Geologi Taliabu

Dokumen tersebut memberikan tinjauan umum mengenai lokasi, iklim, kondisi geografi dan geologi di Kabupaten Pulau Taliabu. Lokasi penelitian terletak di Pulau Taliabu yang dapat dicapai melalui transportasi udara, laut dan darat. Iklimnya tropis dengan musim kemarau dan hujan. Kondisi geografis wilayahnya meliputi daratan dan perairan. Sedangkan kondisi geologinya terdiri atas berbagai satuan batuan yang terbent

Diunggah oleh

FAZRIL AHSANU AMALA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN UMUM

2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah


Lokasi penelitian berada di Kabupaten Pulau Taliabu yang merupakan dataran
rendah dengan ketinggian rata-rata +7,38 meter di atas permukaan laut yang secara
administratif terletak di Kecamatan Lede, Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi
Maluku Utara. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kepulauan Taliabu
tahun 2021, luas wilayah Kabupaten Taliabu berupa dataran seluas 738,1 km 2.
Kabupaten Pulau Taliabu terletak antara 1º 00’ - 2º 15’ lintang selatan dan 123º 00’
- 125º 00’ bujur timur di mana di sebelah Utara dibatasi oleh Laut Maluku, sebelah
timur Selat Capalulu, sebelah selatan Laut Banda dan sebelah barat Kepulauan
Banggai Laut. Koordinat lokasi penelitian terletak pada E 124º26’36” - 124º27’6”
dan S 1º45’34” - 1º46’4” dengan sistem koordinat World Geodetic System (WGS)
1984 serta luas lokasi penelitian mencapai 1.000 m2. Daerah penelitian PT. Adidaya
Tangguh dapat dicapai dengan menggunakan tiga jalur, yaitu :
1. Transportasi udara (pesawat), yaitu dari Daerah Istimewa Yogyakarta menuju
Jakarta sejauh 561 km dengan waktu tempuh ±1 jam 40 menit, kemudian dilanjut
kembali dari Jakarta menuju Makassar dengan jarak tempuh 1.605 km selama 2
jam 10 menit. Selanjutnya dari Makassar menuju ke Luwuk sejauh 1.601 km dan
diperlukan waktu ±1 jam 45 menit menggunakan jalur udara.
2. Transportasi air, yaitu dari Luwuk menuju Desa Lede Kabupaten Pulau Taliabu,
Maluku Utara dengan kapal Pelra dengan jarak sekitar 393,26 km dan
menempuh waktu ± 13 jam,
3. Transportasi darat, yaitu dari pelabuhan khusus PT. Adidaya Tangguh dengan
perjalanan darat menggunakan bus menuju PT. Adidaya Tangguh selama ± 1
jam. Kondisi jalan belum beraspal masih berupa jalan pengerasan sepanjang
jalan dari pelabuhan sampai ke lokasi PT. Adidaya Tangguh.

6
Keterangan :
7

Gambar 2.1
Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah Penelitian
6
2.2. Iklim dan Curah Hujan
Seperti daerah lain di Indonesia, daerah Taliabu beriklim tropis dan umumnya
banyak dipengaruhi oleh musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau
berlangsung antara bulan April sampai dengan September, dimana pada musim ini
situasi laut berombak besar, terjadi di sepanjang pantai selatan Pulau Taliabu.
Musim hujan berlangsung antara bulan Oktober sampai dengan Maret, dimana pada
musim ini akan menyebabkan adanya gelombang besar di sepanjang pantai bagian
utara Pulau Taliabu. Kedua musim tersebut tidak selalu datang tepat pada
waktunya.
Berdasarkan data curah hujan perusahaan tahun 2017-2021, daerah penelitian
memiliki curah hujan rata-rata 345,32 mm/bulan dan hari hujan rata-rata sebanyak
19 hari/bulan. Data curah hujan daat dilihat pada Lampiran A.

800

700

669.56
600
587.98
500
CURAH HUJAN

471.92 470.18
450.36
400
(MM)

361.86
300
298.1
263.04
200 228.94 217.82204.42
185.552
100

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
BULAN

Sumber : PT Adidaya Tangguh, 2021

Gambar 2.2
Grafik Curah Hujan Bulanan Rata-rata Periode 2017-2021

7
2.3. Kondisi Geografi
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri no. 39 Tahun 2015 luas daratan
dan lautan Kabupaten Pulau Taliabu yaitu 1.507,78 km2. Wilayah Kabupaten Pulau
Taliabu bagian Utara berbatasan dengan Laut Maluku, sebelah timur berbatasan
dengan Selat Capalulu, Sebelah selatan berbatasan dengan Kepulauan Banggai laut.

2.4. Kondisi Geologi


2.4.1. Fisiografi
Satuan fisiografi adalah satu bagian permukaan bumi yang memiliki ciri-ciri
topografi, struktur, karakteristik fisik, dan sejarah geologi dan geomorfik yang
berbeda dengan satuan lainnya. Geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi 2
(dua) satuan geomorfologi, yaitu; satuan Struktural, dan satuan Perbukitan
Denudasional. Daerah penelitian dibagi menjadi 3 (tiga) satuan batuan dengan
urutan dari tua ke muda, yaitu : satuan Granit (Perm Akhir hingga Trias) serta granit
pembawa mineralisasi bijih diperkirakan umur (Trias hingga Jura Tengah), satuan
Batulempung (Jura Tengah) dan satuan Batu Pasir Kuarsa (Jura Awal). Struktur
geologi daerah penelitian berupa sesar naik Lede relatif berarah NW-SE yang
memotong satuan batuan Batupasir, Batulempung dan Granit, serta kekar gerus.
Endapan bijih Besi terdapat dalam satuan batuan Granit yang berasosiasi dengan
Batupasir. Dalam bijih Besi terkandung mineral bijih seperti Magnetite (Fe3O4),
Hematit (Fe2O3), Goethite (FeOOH), Limonit (FeO(OH) n (H2O) dan Siderite
(FeCO3). Berdasarkan pada komposisi mineralogi pembentukan endapan bijih Besi
diduga oleh proses kontak hidrotermal. Sebaran bijih Besi di lokasi penelitian lebih
tebal menyebar dengan arah relatif ke utara timur laut berkisar 80% dibandingkan
dengan arah selatan berkisar antara 20%.
2.4.2. Stratigrafi
Stratigrafi adalah studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif serta
distribusi perlapisan tanah dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk
menjelaskan sejarah Bumi. Pulau Taliabu tersusun atas beberapa formasi batuan
yang menyebar diseluruh bagian dari wilayah tersebut konglomerat, breksi,
batupasir dengan sisipan serpih dan lignit, lensa batutahu dan bintal pirit meruakan

8
batuan yang paling banyak keterdapatannya di wilayah tersebut. Formasi batuan
Pulau Taliabu terdiri atas sebelas formasi yang menyusunnya yakni Aluvium,
Formasi peleng, Formasi Salodik, Formasi Tanamu, Formasi Buya, Formasi
Bobong, Batuan Gunungapi Mangole, Diabase, Granit Banggai, Formasi Menanga
dan Kompleks Batuan Malihan.
1. Alluvial
Endapan aluvium terdiri atas material sedimen terdiri atas lumpur, lempung,
pasir, kerikil dan kerakal. Umur dari formasi ini adalah kuarter sekitar 3-0 juta
tahun tahun yang lalu, batuan ini terendapkan dalam lingkungan sungai, rawa, delta
dan pantai.
2. Formasi Bobong
Konglomerat, breksi, batupasir dengan sisipan serpih dan lignit, lensa batutahu,
dan bintal pirit merupakan batuan penciri dari formasi Bobong, dan merupakan
formasi batuan yang paling banyak menyusun daerah pulau taliabu, tersebar
dihampir semua bagian dari pulau taliabu dengan umur dari formasi bobong adalah
Jura atas sampai tengah dan umur dari formasi ini diperkirakan sekitar 160-176 juta
tahun yang lalu.
3. Formasi Banggai
Batuan granit, granodiorit, diorite kuarsa dan pegmatit merupakan batuan
penyusun dari formasi ini dengan penyebarannya lebih banyak di bagian barat dari
pulau Taliabu dan sebagian lagi di daerah timur namun keterdapatannya hanya
dalam bagian kecil saja. Dengan umur dari batuan yakni berumur sekitar trias
tengah sampai Permian atas dan diperkirakan sekitar 225-251 juta tahun yang lalu.
4. Formasi Buya
Formasi Buya tersusun atas batuan serpih, batulempung gampingan, bersisipan
batupasir kuarsa dan kalkarenit, batuan ini menunjukan umur dari formasi tersebut
diperkirakan pada zaman kapur bawah sampai jura atas dan umur dari batuan ini
diperkirakan sekitar 141-160 juta tahun yang lalu, dengan penyebarannya paling
banyak pada bagian timur dari pulau Taliabu dan sebagian lagi di bagian barat.

9
5. Kompleks Batuan Malihan
Tersusun atas batuan sekis, genes, amfibolit dan kuarsit yakni batuan yang telah
mengalami proses metamorphisis batuan ini diperkirakan terbentuk pada masa
paleozoikum dan zaman karbon dengan perkiraan waktu pembentukan sekitar 318-
345 juta tahun yang dan batuan ini tersebar di bagian selatan dari pulau taliabu
yakni daerah pamau sampai bagian utara dan sebagian lagi di bagian daerah
Bobong.
Pembagian satuan batuan di daerah penelitian berdasarkan pada pembagian
litostratigrafi, yaitu didasarkan pada ciri litologi yang dapat diamati di lapangan
yang meliputi jenis batuan dan kombinasinya, keseragaman gejala litologi dan
gejala lainya dalam tubuh batuan. Berdasarkan hal diatas, maka pembagian satuan
stratigrafi daerah penelitian dapat disusun menjadi 6 satuan stratigrafi, yaitu :
1. Alluvial
Satuan ini merupakan endapan sungai, pantai dan rawa terdiri dari pasir, kerikil,
kerakal, dan lumpur. Sebenarnya terdapat di sepanjang pantai dan disekitar muara
sungai besar.
2. Satuan Batupasir (sandstone)
Satuan batupasir kuning kecoklatan, getas, padat, ukuran butir berukuran kurang
1- 2 mm, sub rounded, yang tersusun oleh kuarsa.
3. Satuan Lempung (clay)
Satuan batulempung berwarna abu-abu hingga kehitaman, agak keras dan padat,
berlapis dengan ketebalan 15-30 cm.
4. Satuan Batugamping
Satuan batugamping, bewarna putih kekuningan keras, dan padat.
5. Satuan Batuan Metamorf
Batuan metamorf (Malihan) terdiri dari sekis, geneis, amfibolit, filit, batupasir
malih, dan argilit.
6. Satuan Batuan Granit
Satuan batuan granit, bewarna putih kelabu, secara megaskopis tersusun oleh
mineral kuasa, orthoclass, biotit, dan bijih.

10
11

Gambar 2.3
Peta Geologi Pulau Taliabu

11
Gambar 2.4
Stratigrafi Pulau Taliabu dan Sekitarnya
2.4.3. Struktur Geologi
Struktur geologi yang berkembang di Pulau Taliabu adalah sesar- sesar yang
berarah utara-selatan, barat timur, barat laut-tenggara, dan timur laut barat daya.
Struktural utama di NW Banda Basin selatan Kepulauan Banggai Sula. Hal tersebut
telah disebut Tampomas Ridge, Zona Sesar Hamilton–Lawanopo dan Zona Sesar
Buru Barat yang telah diinterpretasikan sebagai sesar transformasi berarah NW-SE
di dalam kerak samudera. Zona Patahan Hamilton sering terhubung dengan Zona
Sesar Lawanopo dan terhubung dengan Zona Sesar Palu-Koro. Tampomas dan
Zona Sesar Buru Barat ditafsirkan menghilang atau bergabung dengan ujung barat
Sesar Sorong sebelum menghubungkan ke Zona Sesar Matano. Struktur NE-SW
mewakili keretakan Laut Banda yang juga dapat diamati di Banda. Palung Tolo
berbentuk lengkung fitur di area barat cekungan yang terkait dengan struktur lipatan
lepas pantai. (lihat Gambar 2.4)

12
2.5. Kegiatan Penambangan
Kegiatan penambangan yang dilakukan di PT. Adidaya Tangguh adalah sistem
tambang terbuka (surface mining) dengan metode open pit mining yaitu
menambang bijih (ore) dari singkapan sampai dengan kedalaman tertentu sepanjang
daerah penambangan dengan nisbah pengupasan yaitu 1:2. Tahapan kegiatan
penambangan pada PT. Adidaya Tangguh adalah sebagai berikut :
1. Pembongkaran
Kegiatan pembongkaran bertujuan untuk membongkar batuan dari batuan induk.
Pembongkaran dilakukan menggunakan peralatan mekanis Excavator Sany
SY365H.

Gambar 2.5
Operasi Pembongkaran Material menggunakan Sany SY365H
2. Pemuatan
Pemuatan merupakan kegiatan lanjutan setelah dilakukan pembongkaran. bijih
(ore) serta tanah penutup yang telah terbongkar kemudian dimuat ke dalam bak truk
menggunakan alat muat untuk selanjutnya diangkut (lihat gambar 2.6). Pemuatan
dilakukan dengan menggunakan alat muat Excavator Sany SY365H dengan
kapasitas bucket 1,8 m3

13
Gambar 2.6
Operasi Pemuatan menggunakan Excavator Sany SY365H

3. Pengangkutan
Bijih (ore) dan tanah penutup (overburden) yang telah dimuat kemudian
diangkut dengan Dumptruck SKT90S dengan kapasitas bak adalah 31 m 3 seperti
pada Gambar 2.7 di bawah ini.

Gambar 2.7
Operasi Pengangkutan menggunakan Dumptruck Sany SKT90S

14

Anda mungkin juga menyukai