0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
150 tayangan7 halaman

Penyuluhan Cegah Stunting Anak

1. Dokumen tersebut merangkum acara penyuluhan tentang pencegahan stunting. 2. Stunting dijelaskan sebagai kondisi tubuh yang sangat pendek akibat pertumbuhan yang terlambat. 3. Beberapa penyebab stunting yang disebutkan adalah asupan gizi yang tidak memadai dan infeksi penyakit.

Diunggah oleh

Neviamriani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
150 tayangan7 halaman

Penyuluhan Cegah Stunting Anak

1. Dokumen tersebut merangkum acara penyuluhan tentang pencegahan stunting. 2. Stunting dijelaskan sebagai kondisi tubuh yang sangat pendek akibat pertumbuhan yang terlambat. 3. Beberapa penyebab stunting yang disebutkan adalah asupan gizi yang tidak memadai dan infeksi penyakit.

Diunggah oleh

Neviamriani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA PENYULUHAN

CEGAH STUNTING

Masalah : Cegah Stunting

Pokok Pembahasan : Stunting

Sasaran : Keluarga Binaan

Jam :

Waktu : 20 Menit

Tanggal :

Tempat : Rumah Ny, M

Pemateri :

A. Latar Belakang
Stunting merupakan istilah untuk penyebutan anak yang tumbuh tidak
sesuai dengan ukuran yang semestinya (bayi pendek). Stunting (tubuh
pendek) adalah keadaan tubuh yang sangat pendek hingga melampaui
defisit 2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan populasi yang
menjadi referensi internasional. Stunting adalah keadaan dimana tinggi
badan berdasarkan umur rendah, atau dengan terlambatnya pertumbuhan
anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan
yang normal digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang
pada anak.
Sekitar 8,8 juta anak Indonesia menderita stunting (tubuh pendek) karena
kurang gizi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 mencatat angka
kejadian stunting nasional mencapai 37,2 persen. Angka ini meningkat dari
2010 sebesar 35,6 persen (Rizma, 2016). Oleh karena itu dalam hal ini
diperlukan upaya pencegahannya.
B. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan orangtua anak dapat
mengetahui dan memahami bagaimana mencegah stunting.

C. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan selama 20 menit tentang gizi seimbang pada remaja, di
harapkan remaja dusun 1 desa pangalasiang dapat :
a. Orang tua dapat menjelaskan definisi stunting
b. Orang tua dapat menjelaskan penyebab stunting
c. Orang tua dapat menjelaskan ciri-ciri stunting
d. Orang tua dapat menjelaaskan pencegahan stunting
D. Materi Penyuluhan
Terlampir
E. Metode Penyuluhan
Ceramah

F. Media
Leaflet
G. Kegiatan penyuluhan
No Tahap Waktu Kegiatan penyuluhan Sasaran media
kegiatan
1 Pembukaan 5 menit 1. Membuka/memulai Menjawab
salam,
kegiatan dengan
mendengarkan
mengucapkan dan
memperhatikan
salam
2. Memperkenalkan
diri
3. Menjelaskan
maksud dan tujuan
penyuluhan
4. Kontrak waktu
2 Penyajian 15 1. Menjelaskan Mendegar dan
menit pengertian stunting memperhatikan
2. Menjelaskan
penyebab stunting
3. Menjelaskan ciri-
ciri stunting
4. Menjelaskan
pencegahan
stunting
3 Evaluasi 2 menit 1. Tanya Jawab Bertanya dan
menjawab
2. Menanyakan
pertanyaan
kembali
4 Penutup 3 menit 1. Kesan pesan Menjawab
salam
2. Salam penutup

H. Evaluasi
Diharapkan peserta mampu :
1. Menjelaskan pengertian stunting
2. Menjelaskan penyebab stunting
3. Menjelaskan ciri-ciri stunting
4. Menjelaskan pencegahan stunting
I. Lampiran Materi
A. Pengertian Stunting
Stunting adalah keadaan tubuh yang pendek hingga melampaui efisit 2 SD
dibawah median panjang atau tinggi badan populasi yang menjadi refrensi internasional.
Tinggi badan berdasarkan umur rendah, atau tubuh anak lebih pendek dibandingkan
dengan anak-anak lain seumurnya merupakan definisi stunting yang ditandai dengan
terlambatnya pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi
badan yang normal dan sehat
sesuai dengan umur anak (WHO, 2006). Stunting dapat diartikan sebagai
kekurangan gizi kronis atau kegagalan pertumbuhan dimasa lalu dan digunakan sebagai
indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak. Administrative Committee on
Coordination/Sub Committee on Nutrition (ACC/SCN) tahun 2000, diagnosis stunting
dapat diketahui melalui indeks antopometri tinggi badan menurut umur yang
mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai pada pra dan pasca persalinan dengan
indikasi kekurangan gizi
jangka panjang, akibat dari gizi yang tidak memadai atau kesehatan.
Stunting yaitu pertumbuhan linier yang gagal untuk mencapai potensi genetik
sebagai akibat dari pola makan yang buruk dan penyakit. Stunting diartikan sebagai
indicator status gizi TB/U sama dengan atau kurang dari minus dua standar deviasi (-2
SD) dibawah rata-rata standar atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek
dibandingkan dengan ana-anak lain seumurnya, ini merupakan indikator kesehatan anak
yang kekurangan gizi kronis yang memberikan gambaran gizi pada masa lalu dan yang
dipengaruhi lingkungan dan sosial ekonomi (UNICEF II, 2009; WHO, 2006).

B. Penyebab Stunting
seumurnya, ini merupakan indikator kesehatan anak yang kekurangan gizi kronis yang
memberikan gambaran gizi pada masa lalu dan yang dipengaruhi lingkungan dan sosial
ekonomi (UNICEF II, 2009; WHO, 2006).
Penyebab stunting Kejadian stunting pada anak merupakan suatu proses komulaif menurut
beberapa penelitian, yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan sepanjang siklus
kehidupan. Proses terjadinya stunting pada anak dan peluang
peningkatan stunting terjadi dalam 2 tahun pertama kehidupan. Banyak faktor yang
menyebabkan terjadinya keadaan stunting pada anak. Faktor penyebab stunting ini dapat
disebabkan oleh faktor langsung maupun tidak langsung. Penyebab langsung dari kejadian
stunting adalah asupan gizi dan adanya penyakit infeksi sedangkan penyebab tidak
langsungnya adalah pola asuh,
pelayanan kesehatan, ketersediaan pangan, faktor budaya, ekonomi dan masih banyak lagi
faktor lainnya (UNICEF, 2008; Bappenas, 2013).
 Faktor langsung
1. Asupan gizi balita
Asupan gizi yang adekuat sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangan tubuh balita. Masa kritis ini merupakan masa saat balita akan
mengalami tumbuh kembang dan tumbuh kejar. Balita yang mengalami
kekurangan gizi sebelumnya masih dapat diperbaiki dengan asupan yang baik
sehingga dapat melakukan tumbuh kejar sesuai dengan perkembangannya. Namun
apabila intervensinya terlambat balita tidak akan dapat mengejar keterlambatan
pertumbuhannya yang disebut dengan gagal tumbuh. Balita yang normal
kemungkinan terjadi gangguan pertumbuhan bila asupan yang diterima tidak
mencukupi. Penelitian yang menganalisis hasil Riskesdas menyatakan bahwa
konsumsi energi balita berpengaruh terhadap kejadian balita pendek, selain itu
pada level rumah tangga konsumsi energi rumah tangga di bawah rata-rata
merupakan penyebab terjadinya anak balita pendek (Sihadi dan Djaiman, 2011).
2. Penyakit infeksi
Penyakit infeksi merupakan salah satu faktor penyebab langsung stunting, Kaitan
antara penyakit infeksi dengan pemenuhan asupan gizi tidak dapat dipisahkan.
Adanya penyakit infeksi akan memperburuk keadaan bila terjadi
kekurangan asupan gizi. Anak balita dengan kurang gizi akan lebih mudah terkena
penyakit infeksi. Untuk itu penanganan terhadap penyakit infeksi yang diderita
sedini mungkin akan membantu perbaikan gizi dengan diiimbangi pemenuhan
asupan yang sesuai dengan kebutuhan anak balita. Penyakit infeksi yang sering
diderita balita seperti cacingan, Infeksi saluran pernafasan Atas (ISPA), diare dan
infeksi lainnya sangat erat hubungannya dengan status mutu pelayanan kesehatan
dasar khususnya imunisasi, kualitas lingkungan hidup dan perilaku sehat
(Bappenas, 2013). Ada beberapa penelitian yang meneliti tentang hubungan
penyakit infeksi dengan stunting yang
menyatakan bahwa diare merupakan salah satu faktor risiko kejadian stunting pada
anak umur dibawah 5 tahun (Paudel et al, 2012).
 Faktor Tidak langsung
1. Ketersedian pangan
2. Status gizi ibu saat hamil
3. Berat badan saat lahir
4. Panjang badan saat lahir
5. Asi eksklusif
6. MP-ASI
C. Ciri-ciri Stunting

 Pertumbuhan melambat
 Wajah tampak lebih muda dari anak seusianya
 Pertumbuhan gigi terlambat
 Performa buruk pada kemampuan fokus dan memori belajarnya
 Usia 8 – 10 tahun anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan kontak
mata terhadap orang di sekitarnya
 Berat badan balita tidak naik bahkan cenderung menurun.
 Perkembangan tubuh anak terhambat, seperti telat menarche (menstruasi pertama
anak perempuan).
 Anak mudah terserang berbagai penyakit infeksi.

D. Penanganan stunting

 Memenuhi kebutuhan gizi sejak hamil


Tindakan yang relatif ampuh dilakukan untuk mencegah stunting pada anak adalah
selalu memenuhi gizi sejak masa kehamilan. Lembaga kesehatan Millenium
Challenge Account Indonesia menyarankan agar ibu yang sedang mengandung
selalu mengonsumsi makanan sehat nan bergizi maupun suplemen atas anjuran
dokter. Selain itu, perempuan yang sedang menjalani proses kehamilan juga
sebaiknya rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter atau bidan.
 Beri ASI Eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan
Veronika Scherbaum, ahli nutrisi dari Universitas Hohenheim, Jerman,
menyatakan ASI ternyata berpotensi mengurangi peluang stunting pada anak
berkat kandungan gizi mikro dan makro. Oleh karena itu, ibu disarankan untuk
tetap memberikan ASI Eksklusif selama enam bulan kepada sang buah hati.
Protein whey dan kolostrum yang terdapat pada susu ibu pun dinilai mampu
meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi yang terbilang rentan.
 Dampingi ASI Eksklusif dengan MPASI sehat
Ketika bayi menginjak usia 6 bulan ke atas, maka ibu sudah bisa memberikan
makanan pendamping atau MPASI. Dalam hal ini pastikan makanan-makanan
yang dipilih bisa memenuhi gizi mikro dan makro yang sebelumnya selalu berasal
dari ASI untuk mencegah stunting. WHO pun merekomendasikan fortifikasi atau
penambahan nutrisi ke dalam makanan. Di sisi lain, sebaiknya ibu berhati-hati saat
akan menentukan produk tambahan tersebut. Konsultasikan dulu dengan dokter.
 Terus memantau tumbuh kembang anak
Orang tua perlu terus memantau tumbuh kembang anak mereka, terutama dari
tinggi dan berat badan anak. Bawa si Kecil secara berkala ke Posyandu maupun
klinik khusus anak. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi ibu untuk mengetahui
gejala awal gangguan dan penanganannya.
E. Selalu jaga kebersihan lingkungan
Seperti yang diketahui, anak-anak sangat rentan akan serangan penyakit, terutama kalau
lingkungan sekitar mereka kotor. Faktor ini pula yang secara tak langsung meningkatkan
peluang stunting. Studi yang dilakukan di Harvard Chan School menyebutkan diare
adalah faktor ketiga yang menyebabkan gangguan kesehatan tersebut. Sementara salah
satu pemicu diare datang dari paparan kotoran yang masuk ke dalam tubuh manusia.
Semoga informasi ini membantu para ibu mencegah stunting dan meningkatkan kualitas
kesehatan anak.

Anda mungkin juga menyukai