BAB II
KAJIAN TEORI
A. Prestasi Belajar Siswa
1. Pengertian Belajar
Hamalik dalam Ahmad Susanto mendefinisikan bahwa belajar adalah
memodifikasi atau memperteguh perilaku melalui pengalaman (learning is
erfined as the modificator or strengthening of behaviour experiencing).
Menurut pengertian ini belajar merupakan suatu hasil atau tujuan. Dengan
demikian, belajar itu bukan sekedar mengingat atau menghafal saja, namun
lebih luas dari itu yaitu mengalami. Hamalik juga menegaskan bahwa belajar
adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu atau seseorang melalui
interaksi dengan lingkungannya. Perubahan tingkah laku ini mencakup
perubahan dalam kebiasaan (habit), sikap (afektif) dan ketrampilan
(psikomotorik). Perubahan tingkah laku dalam kegiatan belajar disebabkan
oleh pengalaman atau latihan.
Sagala (2014:17) mendifinisikan belajar adalah suatu proses adaptasi
atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Belajar
juga dipahami sebagai suatu perilaku, pada saat orang belajar, maka
responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya jika dia tidak belajar maka
responnya menurun. Jadi belajar adalah suatu perubahan dalam kemungkinan
atau peluang terjadinya respon.
29
30
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang
sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang
pendidikan. Dapat diarikan bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan
pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik
ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya
sendiri.
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dengan sengaja
dan dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman atau
pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang tersebut mengalami
perubahan perilaku yang relatif baik dalam berfikir, merasa maupun
bertindak.
2. Pengertian Prestasi Belajar
Istilah prestasi belajar terdiri dari dua kata, yaitu prestasi dan belajar.
Istilah prestasi di dalam Kamus Ilmiah Populer didefinisikan sebagai hasil
yang telah dicapai. Menurut Noehi Nasution, menyimpulkan bahwa “belajar
dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu proses yang memungkinkan
timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil dari
terbentuknya respons utama, dengan syarat bahwa perubahan atau munculnya
tingkah baru itu bukan disebabkan oleh adanya perubahan sementara karena
sesuatu hal” (Wahab, 2015).
31
Penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan peserta
didik yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan
kepada peserta didik serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum.
Menurut Siti Maesaroh (2013:11) menerangkan bahwa “prestasi belajar
merupakan hasil daripada aktivitas belajar atau hasil dari usaha, latihan dan
pengalaman yanag dilakukan oleh seseorang, dimana prestasi tersebut tidak
akan lepas dari pengaruh faktor luar diri peserta didik”. Prestasi belajar
menurut Winkel yang dikutip Noor Komari Pratiwi (2015:81) merupakan
“bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Dengan demikian,
prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang
setelah melakukan usaha-usaha belajar”.
Dapat berbagai penyataan di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi
belajar adalah hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi
faktor kognitif, afektif dan psikomotorik setelah mengikuti proses
pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau
instrumen yang relevan dan serangkaian dari kegiatan jiwa raga yang telah
dilakukan oleh seseorang dari suatu hasil yang telah dicapai sebagai
perubahan dari tingkah laku yang dilalui dengan pengalaman serta wawasan
untuk bisa berinteraksi dengan lingkungan yang menyangkut ranah kognitif,
afektif dan psikomotorik yang telah dinyatakan dalam hasil akhir/raport.
2. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
32
Prestasi belajar tiap peserta didik berbeda – [Link] yang
disajikan sama, guru yang mengajar sama dan strategiyang sama belum tentu
menghasilkan prestasi belajar yang sama. Menurut Suryabrata yang dikutip
Noor Komari Pratiwi (2015:85) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi
belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu:
a. Faktor internal
1) Kecerdasan (intelegensi) adalah kemampuan belajar disertai
kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang
dihadapinya.
2) Jasmaniah (pancaindra) atau fisiologis pada umumnya sangat
berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang.
3) Sikap yaitu suatu kecenderungan untuk mereaksi terhadap suatu
hal, orang atau benda dengan suka, tidak suka, atau acuh tak
acuh. Sikap seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor
pengetahuan, kebiasaan dan keyakinan.
4) Minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk
merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang
berkecimpung dalam bidang itu.
5) Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang
untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.
33
6) Motivasi belajar adalah faktor penting karena hal tersebut
merupakan keadaan yang mendorong keadaan peserta didik
untuk melakukan belajar.
b. Faktor Eksternal
1) Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan
pertama dan utama karena dalam keluarga inilah anak pertama-
tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangkan tugas
utama dalam keluarga bagi pendidikan adalah sebagai peletak
dasar akhlak dan keagamaan.
2) Lingkungan sekolah, lingkungan sekolah yang baik dapat
mendorong peserta didik untuk belajar lebih giat. Lingkungan
sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru
dengan peserta didik, alat-alat pelajaran dan kurikulum.
Hubungan guru dengan peserta didik yang kurang baik akan
mempengaruhi hasil belajarnya.
3) Lingkungan masyarakat membentuk kepribadian anak karena
dalam pergaulan sehari-hari, seorang anak akan selalu
menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan
lingkungannya. Bila peserta didik tinggal di lingkungan yang
temannya rajin belajar, kemungkinan besar akan berpengaruh
34
pada dirinya sehingga ia akan turut belajar sebagaimana
temannya.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Slameto dalam Tasya
Widiarsih (2013:54-72) faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar
peserta didik salah satunya adalah gaya belajar. Karena gaya belajar
merupakan bentuk dan cara belajar peserta didik yang paling disukai yang
akan berbeda antara yang satu dengan yang lain karena setiap individu
mempunyai kegemaran dan keunikan sendiri-sendiri yang tidak akan sama
dengan individu lain. Selain itu faktor eksternal yang mempengaruhi prestasi
belajar peserta didik salah satunya adalah lingkungan sekolah. Karena
lingkungan sekolah sebagai tempat bersosialisasi anak selain dalam
lingkungan keluarga dan anak juga menghabiskan waktunya sebagian di
sekolah.
Rohmalia Wahab mengemukakan bahwa IQ bukanlah satu-satunya
faktor penentu kesuksesan prestasi belajar seseorang. Ada “faktor-faktor
yang mempengaruhi prestasi belajar anak dan kurikulum berbasis
kompetensi di Sekolah Dasar” faktor-faktor lain yang turut andil
mempengaruhi perkembangan prestasi belajar. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pretasi belajar adalah antara lain sebagai berikut : (1)
Pengaruh pendidikan dan pembelajaran unggul; (2) Perkembangan dan
pengukuran otak, dan (3) Kecerdasan (intelegensi) emosional (Wahab, 2015,
hal. 247-248).
35
Widodo (2015:32) merinci faktor yang mempengaruhi prestasi dalam
belajar digolongkan secara rinci menjadi dua faktor yaitu internal dan
eksternal. Faktor internal ; (1). Faktor jasmani (fisiologi). Misalnya
penglihatan, pendengaran, struktur tubuh dan sebagainnya; (2). Faktor
psikologi, antara lain; (a). Faktor intelektif yang meliputi: faktor potensial
yaitu kecerdasan, bakat dan faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah
dimiliki, (b). Faktor non intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu
seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi; (3). Faktor
kematangan fisik maupun psikis. Faktor Eksternal ; (1). Faktor sosial yang
terdiri atas; (a). Lingkungan keluarga, (b). Lingkungan sekolah, (c).
Lingkungan masyarakat, (d). Lingkungan kelompok; (2). Faktor budaya
seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian; (3). Faktor
lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim.
Dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya yang paling penting adalah faktor internal yakni gaya
belajar dan faktor eksternal yaitu lingkungan sekolah yang nyaman.
3. Fungsi Prestasi Belajar
Prestasi belajar yang telah dicapai peserta didik dapat diketahui
melalui kegiatan evaluasi pembelajaran. Kegiatan evaluasi dilakukan untuk
mengetahui keefektifan dan keberhasilan belajar mengajar sehingga dalam
pelaksanaannya harus dilakukan secara terus-menerus. Zainal Arifin yang
kutip Risnawati (2018:7) prestasi belajar mempunyai beberapa fungsi
36
sebagai berikut;
a. Indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai peserta
didik.
b. Lambang pemuasan hasrat ingin tahu.
c. Bahan informasi dalam inovasi pendidikan.
d. Indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan.
e. Dapat dijadikan sebagai indikator terhadap daya serap anak didik.
Selanjutnya Menurut Arikunto (2010: 274) nilai mempunyai 4 fungsi
sebagai berikut:
a. Fungsi instruksional
Pada fungsi ini pemberian nilai bertujuan untuk memberikan
balikan (feedback/umpan balik) yang mencerminkan seberapa jauh
seorang siswa telah mencapai tujuan yang ditetapkan dalam
pembelajaran atau sistem instruksional.
b. Fungsi informatif
Pada fungsi ini memberikan nilai siswa kepada orang tua
mempunyai arti bahwa orang tua siswa tersebut menjadi tahu akan
kemajuan dan prestasi putranya di sekolah. Dengan catatan nilai
untuk orang tua menjadi sadar akan keadaan putranya untuk
kemudian lebih baik memberikan bantuan berupa perhatian,
dorongan, atau bimbingan, dan hubungan antara orang tua dengan
sekolah menjadi baik.
37
c. Fungsi bimbingan
Dengan perincian gambaran nilai siswa, petugas bimbingan akan
segera mengetahui bagian-bagian mana dari usaha siswa di sekolah
yang masih memerlukan bantuan. Catatan lengkap yang juga
mencakup tingkat dalam kepribadian siswa serta sifat-sifat yang
berhubungan dengan rasa sosial akan membantu siswa dalam
pengarahannya sebagai pribadi sesungguhnya.
Dapat disimpulkan betapa pentingnya mengetahui prestasi belajar
peserta didik, baik individual maupun kelompok karena prestasi belajar tidak
hanya seabagai indikator keberhasilan, dan juga berguna bagi guru yang
sebagai umpan balik dalam melaksanakan pembelajaran di kelas apakah akan
diadakan perbaikan dalam proses belajar mengajar ataupun tidak.
4. Indikator Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan hasil dari proses belajar yang berupa
pengetahuan dan keterampilan yang dapat diukur dengan tes. Tes yang
dilakukan dalam mengukur prestasi belajar harus sesuai dengan indikator
prestasi belajar. Sebagaimana pendapat Nana Sudjana (2009:22) prestasi
belajar terdiri dari yaitu:
a. Informasi verbal berkenaan dengan bagaimana cara
mengemukakan pendapat serta dapat mengolah semua informasi
sehingga pengetahuannya dapat berkembang.
38
b. Keterampilan intelek berkenaan dengan berani berpendapat serta
mandiri dan penyuka tantangan.
c. Keterampilan kognitif berkenaan dengan memahami, rajin,
memperhatikan serta selalu bertanya dan menjawab.
d. Keterampilan motorik berkenaan dengan bagaimana dalam berfikir
dan bagaimana dalam menyelesaikan tugas serta memperbaiki
hasil.
e. Sikap berkenaan dengan bersemangat dan berusaha serta
mementingkan tugas dan membantu teman.
Pengetahuan dan pemahaman yang mendalam mengenai indikator-
indikator prestasi belajar sangat diperlukan ketika seseorang perlu
menggunakan alat atau kiat evaluasi. Tujuan dari pengetahuan dan
pemahaman yang mendalam mengenai jenis-jenis prestasi belajar dan
indikator-indikatornya adalah agar pemilihan dan penggunaan alat evaluasi
akan lebih tepat, reliabel dan valid. Menurut Benjamin S. Bloom,
sebagaimana yang dikutip oleh Abu Muhammad Ibnu Abdullah dalam
Deni Febriani (2017: 215), bahwa hasil belajar diklarifikasikan ke dalam
tiga ranah yaitu: 1) ranah kognitif; 2) ranah afektif; dan 3) ranah
psikomotor. Menurut Gagne dalam Muhibbin Syah (2008:150) indikator
yang dijadikan sebagai tolok ukur dalam menyatakan prestasi belajar
peserta didik yaitu:
a. Ranah kognitif yaitu berkenaan dengan hasil belajar intelektual
39
yang terdiri dari enam aspek yaitu pengetahuan, pemahaman,
penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.
b. Ranah afektif yaitu berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah
afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima,
menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi
dengan suatu nilai atau komplek nilai.
c. Ranah psikomotor yaitu ranah psikomotor meliputi keterampilan
motorik, manipulasi benda-benda, menghubungkan, mengamati.
Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan
psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar
psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil
penelitian dalam proses pembelajaran.
Dari penjelasan tersebut sudah cukup jelas bahwa indikator prestasi
terbagi menjadi tiga jenis prestasi yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.
Penelitian ini difokuskan pada informasi verbal, keterampilan kognitif,
keterampilan motorik serta sikap.
5. Dampak Kepemimpinan Instruksional Terhadap Prestasi Belajar
Salah satu cara untuk meningkatkan prestasi siswa adalah melalui
peningkatan kualitas kepemimpinan sekolah. Menurut Heystek dan Emekako
(2020) menegaskan bahwa kesungguhan berprstasi serta kemauan dan
kesanggupan kepala sekolah menerapkan kepemimpinan berkualitas akan
menentukan keberhasilan siswa secara maksimal.
40
Bendikson 2012 dan Pan et al 2015, kepala sekolah dengan
karakteristik kepemimpinan instruksional berubah menjadi kebutuhan
bermakna bagi semua pihak meningkatkan kualitas [Link] ini
menunjukkan bahwa kepemimpinan instruksional berperan penting
meningkatkan prestasi belajar.
Msila (2013) serta Pina,Cabral,&Alves (2015) Kepemimpinan
instruksional harus mengambil peran aktif dalam proses instruksional, harus
membimbing guru selama berfungsi dalam proses pengajaran,serta menjaga
proses untuk mencapai prestasi siswa lebih baik. Hal ini mendorong sekolah
mulai menemukan ide – ide baru serta menciptakan dan berbagi pengetahuan
yang sangat penting dalam memecahkan masalah pembelajaran era modern.
Berdasarkan uraian di atas kepala sekolah dapat mempengaruhi
prestasi siswa dengan memantau dan mengawasi siwa dengan menciptakan
tingkat kepuasan tinggi terhadap pendidikan dan dengan menunjukkan
kepemimpinan berkualitas tinggi dalam bentuk menyediakan sumber belajar
pendidkan bermutu serta evaluasi.
B. Kepemimpinan Instruksional
1. Kepemimpinan Instruksional
a) Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan secara luas meliputi proses mempengaruhi
dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut
41
untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok
dan budayanya. Selain itu juga mempengaruhi interpretasi mengenai
peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan
aktivitas-aktivitas untuk mencapai sasaran memelihara hubungan
kerjasama dan kelompok, perolehan dukungan dan kerjasama dari
orang-orang di luar kelompok atau organisasi (Aslamiah, 2016).
Kepemimpinan menurut Tohardi (Sahrudin, 2019) berasal dari
kata to lead yang berarti memimpin, yaitu proses mempengaruhi
kegiatan kelompok yang terorganisasikan dalam usaha menentukan
tujuan dan pencapaiannya, atau kemampuan seseorang untuk
memobilisasi, menyelaraskan, memimpin kelompok, kemampuan
menjelaskan gagasan sehingga dapat diterima orang lain.
Selanjutnya, Weshler sebagaimana dikutip oleh
Wahjosumidjo (Djunaidi, 2017) memberikan definisi kepemimpinan
sebagai “Leadership is interpersonal influence exercised in a
situation and directed, through the communication process, toward
the attainment of a specified goal or goals”. Menurutnya
kepemimpinan adalah pengaruh antara personal yang diuji dalam
sebuah situasi dan diarahkan melalui proses komunikasi secara
langsung, terhadap pencapaian satu tujuan atau beberapa tujuan.
Menurut Atmosudirjo (Purwanto,2019) “kepemimpinan
adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat
42
kepribadian termasuk didalamnya kewibawaan, untuk dijadikan
sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar
mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan
kepadanya dengan rela, penuh semangat, dan kegembiraan batin serta
merasa tidak terpaksa” (Satriadi, 2016:124).
Robbins dan Judge (2007, p.356) mengatakan bahwa
“Leadership as the ability to influence a group toward the
achievement of a vision or set of goals”. Artinya bahwa
kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu
kelompok ke arah pencapaian suatu visi atau serangkaian tujuan.
Selanjutnya, Engkoswara dan Komariah (2010:178) mengatakan
bahwa kepemipinan pendidikan adalah suatu proses mempengaruhi,
mengkoordinasi, dan menggerakan perilaku orang lain serta
melakukan suatu perubahan ke arah yang lebih positif dalam
mengupayakan keberhasilan pendidikan. Sementara itu, Mulyasa
(2012:107) mengatakan bahwa kepemimpinan kepala sekolah dapat
diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang
diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi (Madu, Jailani,
2013: 12-20).
Kartini, Kartono (Wahyuningsih, 2018) mengatakan
kepemimpinan adalah masalah relasi dan pengaruh antara pemimpin
43
dan dipimpin. Kepemimpinan muncul dari hasil interaksi otomatis
diantara pemimpin dan individu-individu yang dipimpin.
Dari beberapa definisi kepemimpinan di atas dapat
disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan seorang
pemimpin dalam mempengaruhi, memotivasi, mendorong, dan
mengarahkan pengikut dalam hal bekerja sebagai upaya mencapai
tujuan maupun target (goal) organisasi yang telah ditentukan.
b) Pengertian Kepemimpinan Intruksional
Menurut Susanto (2016) kepala sekolah sebagai pemimpin
pembelajaran adalah kepemimpinan yang menekankan pada
komponen-komponen yang terkait dengan pembelajaran, meliputi
kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, pengembangan guru,
layanan prima dalam pembelajaran dan pembangunan komunitas
belajar di sekolah. Menurut Bush (Usman, 2014) kepemimpinan
pembelajaran atau instruksional adalah kepemimpinan yang
memfokuskan pada pembelajaran oleh guru kepada siswanya.
Tujuannya adalah kualitas pembelajaran siswa melalui gurunya.
Peningkatan kualitas pembelajaran membutuhkan pendekatan
pengembangan kepemimpinan yang berfokus pada kepemimpinan
instruksional. Hal ini berarti berusaha mengubah pola pikir pemimpin
untuk memperhatikan proses belajar mengajar sebagai pusat dari
peran kepala sekolah.
44
Daryanto (2011:71) menyatakan bahwa kepemimpinan
instruksional memberikan dorongan dan arahan terhadap warga
sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswanya. Guru sebagai
pemimpin instruksional harus mampu memberikan dorongan dan
arahan kepada siswa agar semakin termotivasi dalam belajar dengan
cara mengelola pembelajaran yang menarik agar dapat memunculkan
motivasi dalam diri siswa sehingga siswa menjadi lebih tekun dalam
belajar. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Amaliyah
dan Setiyani (2016: 9) menemukan bahwa kepemimpinan guru
berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.
Menurut Daryanto (2011:69) kepemimpinan instruksional
atau kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang
memfokuskan atau menekankan pada pembelajaran yang komponen-
komponennya meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen
(penilaian hasil belajar), layanan prima dalam pembelajaran dan
pembangunan komunitas belajar di sekolah. Hal ini sesuai dengan
pandangan Danim (2012: 183) bahwa guru merupakan pemimpin
dalam aktivitas belajar dimana guru membimbing dan mengarahkan
siswanya untuk tumbuh menjadi pembelajar. Dia harus memiliki
energi pengaruh pada siswanya. Energi pengaruh itu merupakan
cerminan dari sifat-sifat kepemimpinan yang dimilikinya.
45
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
kepemimpinan instruksional guru merupakan kepemimpinan yang
harus dimiliki guru yang menfokuskan terhadap aktivitas belajar
siswa dan hal-hal lain yang berkaitan dengan proses pembelajaran
yang dapat meningkatkan iklim kerja belajar yang kondusif serta
meningkatkan mutu pembelajaran.
Kepemimpinan instruksional sangat penting untuk diterapkan
di sekolah karenan kepemimpinan instruksional berkontribusi sangat
signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.
Kepemimpinan instruksional mampu memberikan dorongan dan
arahan terhadap siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
Kepemimpinan instruksional juga mampu memfokuskan kegiatan-
kegiatan siswanya untuk menuju pancapaian visi, misi dan tujuan
sekolah (Daryanto, 2011: 71).
Kepemimpinan instruksional yang dimiliki guru sangat
menentukan perilaku belajar siswa di kelas sehingga hal tersebut juga
akan menentukan tinggi rendahnya prestasi belajar siswa. Hal ini
sesuai dengan penelitian Pramudia (2012: 91) yang menunjukkan
bahwa kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership)
berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.
Menurut Hoy dan Miskel (Elisabeth, 2016) kepemimpinan
instruksional adalah kepemimpinan di bidang Pendidikan yang
46
berfokus pada proses belajar mengajar dengan cara merumuskan visi
misi sekolah, mengelola program instruksional dan mempromosikan
iklim belajar yang positif untuk memfasilitasi pembelajaran yang
pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan kualitas
siswa di sekolah dari hasil pembelajaran yang dilakukan. Penelitian
yang dilakukan Blasé dan Blasé’s tahun 1998 terhadap 800 kepala
sekolah di Amerika Serikat menemukan bahwa kepemimpinan
instruksional yang efektif mengandung tiga aspek yaitu: banyaknya
berdiskusi dengan guru, mendukung pengembangan keprofesionalan
guru berkelanjutan, dan memperkuat refleksi guru terhadap proses
pembelajaran (Usman, 2014).
Andrew dan Soder (Elisabeth, 2016) mengemukakan bahwa
pemimpin instruksional yang efektif adalah pemimpin yang
melakukan dengan baik empat hal sebagai berikut:
1) Kepala sekolah mengarahkan semua stakeholder untuk mencapai
visi misi sekolah dan berperan sebagai penyedia sumberdaya
(resource provider)
2) Menetapkan ekspektasi, terlibat terus menerus untuk
mengembangkan program instruksional (instructional resource).
3) Kepala sekolah menjadi role model untuk komitmen terhadap
tujuan sekolah, menyampaikan visi misi sekolah
(Communicator).
47
4) Kepala sekolah secara fisik selalu hadir di dalam semua acara
sekolah (Visible present).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan
instruksional adalah kepemimpinan di bidang pendidikan yang
berfokus pada proses belajar mengajar dengan cara merumuskan visi
misi sekolah, mengelola program instruksional dan mempromosikan
iklim belajar yang positif untuk memfasilitasi pembelajaran sehingga
pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar dan kualitas siswa
di sekolah berdasarkan pembelajaran yang dilakukan di kelas. Guru
harus dapat menciptakan pembelajaran yang baik untuk mencapai
tujuan sekolah. Pembelajaran yang dilakukan berfokus pada
perubahan pola pikir siswa untuk membangun definisi baru. Guru
juga berupaya menjadi role model dalam proses pembelajaran, dapat
memonitoring kegiatan yang dilakukan siswa saat belajar, dan
melakukan refleksi dan evaluasi dari pembelajaran yang telah
dilakukan agar mencapai hasil yang optimal.
2. Fokus Kepemimpinan Instruksional
Kepemimpinan instruksional atau dapat disebut dengan istilah
kepemimpinan pembelajaran. Menurut Huber (dalam Usman & Raharjo,
2013), kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) disebut juga
education leadership, school leadership, visionary leadership and teaching,
learning leadership, and supervision leadership.
48
Bush (dalam Usman, 2015) menyatakan bahwa konsep kepemimpinan
instruksional fokus pada kegiatan belajar mengajar dan pada perilaku guru
dalam melayani siswa. Pengaruh pemimpin dituangkan dalam pembelajaran
melalui guru. Sedangkan, Suhardan (2010, hlm. 73) menyampaikan bahwa
kepemimpinan pembelajaran merupakan aktivitas kepala sekolah yang
kesehariannya disibukkan dengan kegiatan mempengaruhi orang-orang yang
menjalankan kegiatan akademik di sekolah, mereka adalah guru dan staf
edukatif atau staf teaching. Sejalan dengan hal tersebut, Rigsbee (dalam
Daryanto, 2011, hlm.51) mengemukakan bahwa seorang kepala sekolah yang
baik adalah seorang pemimpin yang bersifat instruksional yang membantu
guru untuk menciptakan bagaimana cara terbaik siswa belajar. Kepala
sekolah yang bersifat instruksional menempatkan agenda pembelajaran pada
urutan pertama dari seluruh kegiatannya. Memberikan dukungan yang tepat
untuk peningkatan mutu kinerja mengajar guru dan kesuksesan pembelajaran
di kelas.
Lebih jelas Hallinger (dalam Emmanouil dkk., 2014) menekankan
bahwa seorang kepala sekolah instruksional juga mencoba untuk
menciptakan lingkungan belajar yang positif dengan mendukung
pengembangan profesional, berbagi visi dan memberikan motivasi yang kuat
serta inspirasi untuk pembelajaran staf pengajar (guru). Kepala sekolah
instruksional dapat memberikan motivasi pada guru untuk mengembangkan
profesionalisme guru sehingga dapat meningkatkan mutu pengajaran. Dari
49
pernyataan-pernyataan diatas dapat dipahami bahwa kepemimpinan
instruksional kepala sekolah adalah perilaku kepala sekolah yang
memprioritaskan aktivitasnya pada pembelajaran yaitu dengan
mempengaruhi, mengarahkan, dan membimbing guru dalam kegiatan belajar
mengajar sehingga guru dapat memberikan layanan belajar terbaik kepada
siswa.
3. Indikator-indikator Kepemimpinan Instruksional
Harahap (2019) menjelaskan butir-butir penting kepemimpinan
pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Hallinger
dan Murphy dengan tiga dimensi antara lain :
a. Merumuskan visi dan misi sekolah
Keterkaitan dengan kepemimpinan instruksional kepala sekolah
bekerja sama dengan guru untuk membuat visi dan misi sekolah
yang jelas, terukur, dan sesuai target. Proses ini dijabarkan dalam
dua indikator kepemimpinan instruksional yaitu :
1) Merumuskan visi dan misi sekolah dan
2) Mengkomunikasikan visi dan misi sekolah.
b. Mengelola program instruksional
Kepala sekolah dalam menjalankan program instruksionalnya
fokus pada koordinasi kegiatan belajar mengajar dan kurikulum.
Mengelola program instruksional dijabarkan menjadi tiga indikator
fungsi kepemimpinan, yaitu:
50
1) Supervisi dan evaluasi instruksional
2) Mengkoordinasikan kurikulum
3) Monitoring kemajuan siswa.
c. Promosi iklim belajar yang positif
Kepala sekolah mengupayakan perkembangan mutu dan harapan
yang tinggi dan membentuk budaya untuk perbaikan yang
berkelanjutan. Hal ini dijabarkan dalam lima indikator yaitu:
1) Menjaga waktu instruksional,
2) Menjaga kehadiran yang tinggi,
3) Memberi penghargaan untuk pengajar,
4) Mengembangkan profesionalitas guru, dan
5) Memberi penghargaan untuk siswa.
4. Dampak Kepemimpinan Instruksional dengan prestasi sekolah
Kepala sekolah dengan karakteristik kepemimpinan instruksional
yang dimilikinya akan menjadi kebutuhan bermakna bagi semua pihak dalam
meningkatkan kualitas instruksi sebagaimana dikaji Bendikson et al (2012)
serta Pan et al (2015). Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan
instruksional kepala sekolah berperan penting dalam meningkatkan prestasi
siswa dan kepala sekolah.
Kepemimpinan instruksional mengambil peran aktif dalam proses
instruksional yakni membimbing guru selama berfungsi dalam proses
51
pengajaran, serta menjaga proses untuk mencapai prestasi siswa lebih baik
Msila (2013) serta Pina, Cabral, & Alves (2015). Hal ini mendorong sekolah
mulai menemukan ide-ide baru serta menciptakan dan berbagi pengetahuan
yang sangat penting dalam memecahkan masalah pembelajaran di era
modern.
Beberapa studi menunjukkan bahwa kepemimpinan instruksional
yang tepat dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja guru
dan prestasi belajar siswa (Kusmintardjo, 2014; Nguyen, Ng, Luo, &
Mansor, 2020). Instruksional kepemimpinan adalah upaya terencana untuk
menciptakan dan suasana kerja yang kondusif bagi guru dan kondisi yang
nyaman untuk belajar siswa (Blase & Blase, 2000; Neumerski 2013).
Kepemimpinan instruksional kepala sekolah tercermin dari kemampuan
kepala sekolah dalam menjalankan visi dan misi, untuk fokus pada instruksi
dan untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif (Hallinger, 2009;
Rigby, 2014). Instruksional kepemimpinan sangat penting karena akan
memfasilitasi pengembangan sekolah sebagai komunitas belajar dan bahkan
belajar sekolah sekaligus belajar masyarakat/komunitas (Bush, 2015;
Carpenter, 2015).
Sebagai instruksional pemimpin, kepala sekolah harus mampu
mengidentifikasi guru dan siswa perlu membantu mereka mengambil bagian
dalam proses instruksional. Selain itu, kepala sekolah harus mengambil
semua faktor yang mempengaruhi instruksional proses menjadi perhatian
52
serius terutama yang terkait dengan perubahan pada lingkungan instruksional
(Kin, Kareem, Nordin, & Bing, 2018).
C. Komitmen Kerja Guru
1. Pengertian Komitmen Kerja Guru
Komitmen menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perjanjian
(keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak dan tanggung jawab.
Glickman (Rosalina, 2015) menyatakan bahwa komitmen adalah kesediaan
seseorang untuk mengorbankan waktu dan tenaganya secara relatif lebih
banyak dari apa yang telah ditetapkan padanya. Selanjutnya Robbins dan
Judge (2015) mendefinisikan komitmen sebagai suatu keadaan dimana
seorang individu memihak organisasi serta tujuan-tujuan dan keinginannya
untuk mempertahankan keangotaannya dalam organisasi.
Kerja secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha yang dilakukan
manusia untuk mendapatkan penghasilan demi memenuhi tujuan tertentu.
Tujuan tersebut dapat berupa pemenuhan kebutuhan makan, tempat tinggal,
atau kebutuhan hidup lainnya. Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Franz Von
Magnis (dalam Anogara, 1998) yang mengatakan bahwa kerja merupakan
sesuatu yang dikeluarkan oleh seseorang sebagai profesi, sengaja dilakukan
untuk mendapatkan penghasilan serta pengeluaran energi untuk kegiatan
yang dibutuhkan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu.
53
Komitmen kerja memiliki dua komponen penting, yaitu sikap dan
kehendak untuk bertingkah laku terhadap suatu perkara. Sikap berkaitan
dengan identifikasi, keterlibatan dan kesetiaan, sedangkan kehendak
bergantung pada keadaan untuk bertingkah laku dalam kesediaan
menampilkan usaha (Yusof, 2007). Komitmen kerja merupakan karakteristik
personal yaitu dapat diandalkan dan dapat di percaya (Byron, 2010). Cohen
dalam Kusumaputri (2015) mendefinisikan bahwa komitmen kerja adalah
kekuatan yang mengikat individu untuk melakukan suatu aksi menuju satu
atau beberapa tujuan organisasi. Sedangkan Best (dalam Kusumaputri, 2015)
mengatakan bahwa individu-individu yang berkomitmen untuk melakukan
aksi-aksi atau perilaku khusus yang dilandasi oleh keyakinan moral dari pada
keuntungan pribadi.
Berdasarkan serangkaian pengertian tentang komitmen kerja di atas,
dapat disimpulkan bahwa komitmen kerja merupakan sikap atau perilaku
karyawan yang berkaitan dengan keinginan kuat seorang anggota organisasi/
karyawan untuk mempertahankan keanggotaannya dalam suatu organisasi,
serta mendukung dan menjalankan tujuan organisasi atau perusahaan secara
penuh suka rela, serta komitmen kerja lebih dari sekedar kesetiaan, namun
lebih kepada keintiman atau ikatan batin anggota terhadap organisasinya.
Dalam penelitian ini, komitmen kerja yang dimaksud adalah tanggung
jawab seorang guru baik itu terhadap pekerjaannya, peraturan perundang-
undangan, organisasi profesi, teman sejawat, anak didik, tempat kerja,
54
maupun pemimpin yang ada pada organisasi tempat guru tersebut bekerja,
yang mana pemimpin tersebut adalah kepala sekolah.
Komitmen kerja guru adalah suatu keterikatan diri terhadap tugas dan
kewajiban sebagai guru yang dapat memunculkan tanggung jawab dan sikap
responsive serta inovatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Mulyasa (2013; 151) berpendapat bahwa komitmen secara mandiri
perlu dibangun pada setiap individu warga sekolah termasuk guru. Terutama
untuk menghilangkan setting pemikiran dan budaya kekakuan birokrasi,
seperti harus menunggu petunjuk atasan dengan mengubahnya menjadi
pemikiran yang kreatif dan inovatif.
Glickman (Rosalina, 2015: 17) menyatakan bahwa seorang guru dapat
dibedakan menjadi dua kategori, yaitu: guru yang memiliki komitmen tinggi
dan guru yang memiliki komitmen rendah. Komitmen guru yang rendah
dapat dilihat dari sikap guru tersebut, seperti kurangnya perhatian terhadap
siswa, dan sedikitnya waktu yang dihabiskan untuk sekolah. Sebaliknya,
komitmen guru yang tinggi dapat dilihat dari kesediaannya memberikan
perhatian yang lebih terhadap siswa maupun sekolahnya.
Meyer & Allen (Triatna, 2016) mengemukakan tiga sudut pandang
komitmen, yaitu komitmen afeksi, komitmen berterusan dan komitmen
normatif. Komitmen afeksi adalah suatu kadar/level/tingkat dimana
karyawan menginginkan untuk mempertahankan dirinya dalam organisasi,
peduli terhadap organisasi dan berkeinginan mencurahkan usahanya atas
55
nama organisasi. Komitmen berterusan merupakan suatu kadar/level/tingkat
di mana karyawan memercayai bahwa dia harus mempertahankan dirinya
dalam organisasi dikarenakan waktu, pengeluaran dan usaha yang telah dia
lakukan dalam organisasi atau kesulitan untuk mencari pekerjaan lain.
Sedangkan komitmen normatif adalah sutau kadar/level/tingkat di mana
karyawan merasa memiliki kewajiban terhadap organisasi untuk tetap
menjadi bagian dari organisasi.
Dalam Susanto (2016), Mukhtar menjelaskan ada tiga alasan mengapa
guru harus mempunyai komitmen, yaitu:
a. Karena guru bertanggung jawab mempersiapkan sumber
daya manusia yang berkualitas, beriman, bertaqwa dan
berilmu pengetahuan, serta memahami teknologi.
b. Karena guru bertanggung jawab bagi kelangsungan hidup
bagi suatu bangsa dan mempersiapkan generasi menjadi
seorang pemimpin masa depan.
c. Karena guru bertanggung jawab atas keberlangsungan
budaya dan peradaban suatu generasi.
Dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, dibutuhkan
komitmen kerja guru yang tinggi, tanggung jawab dan bangga terhadap
profesinya. Hal tersebut akan memotivasi guru untuk meningkatkan
kinerjanya lebih baik lagi. Richard M. Steers (Tazkia, 2017) mendefinisikan
komitmen kerja sebagai rasa identifikasi (kepercayaan terhadap nilai-nilai
56
organisasi), keterlibatan (kesediaan untuk berusaha semaksimal mungkin
demi kepentingan organisasi) dan loyalitas (keinginan untuk tetap menjadi
anggota organisasi) yang dinyatakan oleh seorang pegawai terhadap
organisasinya.
Seorang guru yang memiliki komitmen terhadap tugas setidaknya
memiliki beberapa sikap di antaranya: sikap batinnya memancarkan sosok
seorang guru, siap sedia dimana pun berada, dan tanggap terhadap
perubahan. Dengan komitmen yang ada, senantiasa berusaha meningkatkan
kompetensinya sebagai guru. Oleh karena itu, seorang personil organisasi
harus memiliki komitmen yang tinggi sehingga mampu mencurahkan energi
yang dimiliki guna memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan tugas
pokok dan fungsinya sehingga keberlangsungan dan keberhasilan organisasi
(pendidikan) dapat diwujudkan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komitmen kerja
guru adalah suatu keterikatan diri terhadap tugas dan kewajiban sebagai guru
yang dapat melahirkan tanggung jawab dan sikap responsive dan inovatif
terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi, di dalam
komitmen tersebut terdapat beberapa unsur antara lain adanya kemampuan
memahami diri dan tugasnya, kekuatan batin dan kekuatan dari luar, serta
tanggap terhadap perubahan. Unsur-unsur inilah yang melahirkan tanggung
jawab terhadap tugas dan kewajiban yang menjadi komitmen seseorang
sehingga tugas tersebut dilakukan dengan baik dan penuh keikhlasan.
57
2. Bentuk komitmen kerja guru
Komitmen kerja guru sangat dibutuhkan dalam suatu organisasi
pendidikan karena seorang guru yang memiliki komitmen kerja yang tinggi
lebih cenderung memiliki perilaku yang profesional dan juga menjujung
tinggi aturan-aturan maupun nilai-nilai yang telah disepakati dalam
organisasi yang digelutinya (Ariyanti et al., 2019; Thien et al., 2014).
Menurut Meyer dan Allen dalam (Susana, 2018) komitmen organisasi
memiliki beberapa komponen diantaranya yaitu:
a. Komitmen Efektif (Affective Commitment)
Bentuk komitmen ini mengarah pada hubungan emosional antara
anggota terhadap organisasi. Orang yang berharap terus bekerja
bagi organisasi karena mereka searah dengan tujuan dan nilai
dalam organisasi. Orang dengan tingkat komitmen afektif yang
tinggi memiliki keinginan untuk tetap tinggal di organisasi karena
mereka mendukung tujuan organisasi dan siap membantu
mencapai tujuan dari organisasi tersebut.
b. Komitmen Berkelanjutan (Continuance Commitment)
Bentuk komitmen ini mengarah pada keinginan karyawan untuk
tetap tinggal pada organisasi karena ada perhitungan atau analisis
tentang untung dan rugi yang mana nilai ekonomi yang dirasa
bertahan dalam organiasi daripada meninggalkan organisasi.
Semakin lama karyawan tinggal dengan organisasi, maka semakin
58
takut kehilangan yang apa sudah mereka investasikan dalam
organisasi selama ini.
c. Komitmen Normatif (Normative Commitment)
d. Bentuk komitmen ini mengarah pada perasaan karyawan yang
mana mereka diwajibkan untuk tetap tinggal dalam organisasi
disebabkan karena tekanan dari yang lain. Karyawan yang
memiliki tingkat komitmen normatif tinggi akan sangat
memperhatikan apa yang dinyatakan orang lain mengenai mereka
jika meninggalkan organisasi tersebut, mereka tidak ingin
mengecewakan atasan dan khawatir jika rekan kerja mereka
memiliki pikiran buruk terhadap pengunduran diri mereka.
Richard M. Steers (Tazkia, 2017), menjelaskan komitmen kerja guru
dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu:
a. Identfikasi (nilai-nilai kepercayaan) terhadap organisasi sekolah
Yaitu menerima tujuan yang merupakan dasar dari komitmen
kerja. Identifikasi guru tampak melalui sikap menyetujui
kebijaksanaan sekolah dan kesamaan nilai pribadi dan nilai-nilai
organisasi di dalam sekolah, rasa kebanggaan menjadi bagian dari
organisasi sekolah.
b. Keterlibatan
Yaitu adanya kesediaan untuk bersungguh-sungguh pada
organisasi. Keterlibatan sesuai peran dan tanggung jawab
59
pekerjaan di sekolah. Guru yang memiliki komitmen yang tinggi
akan menerima semua tugas dan tanggung jawab pekerjaan yang
diberikan kepadanya.
c. Loyalitas
Yaitu adanya keinginan yang kuat untuk menjaga keanggotaannya
dalam organisasi sekolah. Loyalitas terhadap organisasi sekolah
merupakan evaluasi terhadap komitmen dan adanya ikatan
emosional serta keterikatan antara organisasi dan guru. Guru yang
memiliki komitmen yang tinggi merasakan adanya loyalitas dan
rasa memiliki terhadap organisasi dalam sekolah.
3. Proses terjadinya komitmen kerja guru
Komitmen kerja guru timbul secara bertahap dari pribadi guru.
Berawal dari kebutuhan pribadi terhadap organisasi, kemudian beranjak
menjadi kebutuhan bersama, dan rasa memiliki dari masing-masing guru
dalam lembaga pendidikan. Hal itu dapat dilakukan melalui pemahaman
tentang tugas dan fungsi guru dalam pembelajaran. Termasuk didalamnya
terdapat tanggungjawab secara moral berkaitan dengan kewajiban guru.
Banyak cara yang dilakukan sekolah dalam meningkatkan komitmen
kerja guru, di antaranya dengan menciptakan tradisi bekerja yang baik di
sekolah. Setiap sekolah memiliki cara, kebiasaan, dan aturan dalam mencapai
tujuan dan misi organisasi, termasuk cara individu berinteraksi satu sama lain
(bermasyarakat), dan cara individu mengatasi permasalahan yang dihadapi
60
dalam organisasi. Kehidupan tersebut didasarkan pada keyakinan yang
dimiliki, didasarkan pada falsafah hidup yang didasarkan dari hubungan
manusia dengan lingkungannya.
4. Faktor-faktor yang memengaruhi komitmen
Kinerja seorang pegawai dihasilkan dari salah satu aspek yaitu
komitmen. Seorang yang memiliki komitmen yang tinggi akan ditunjukkan
melalui sikap dan perbuatannya.
Steers & Porters (Rosalina, 2015) menjelaskan ada beberapa langkah
yang dapat dilakukan untuk membangun sebuah komitmen. Secara
professional, organisasi harus memiliki dan menempatkan karyawan sesuai
dengan kapasitas, minat dan motivasi kerja sehingga dapat memberi
keuntungan bagi karyawan (guru) dan organisasi (sekolah).
Menurut Sukmawati & Hermawan (2016) sebagai konsep
kepemimpinan yang fokus pada kegiatan belajar mengajar dan perilaku guru
dalam melayani siswa, maka kepala sebagai pemimpin instruksional
memfokuskan kegiatannya pada upaya peningkatan dan perbaikan komitmen
mengajar para gurunya, yaitu dengan mengajak, mendorong, mengarahkan
dan memfasilitasi guru bagi pengembangan kinerjanya. Memberdayakan
guru sehingga memiliki peningkatan kualitas dan memberi motivasi guru
untuk mengembangkan kompetensi profesionalnya sehingga tercipta
peningkatan kualitas pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, maka faktor
yang tak kalah penting dalam membangun komitmen adalah pemimpin
61
instruksional.
5. Dampak Komitmen Kerja Guru terhadap Prestasi Belajar
Pada umumnya tinggi rendahnya prestasi belajar siswa ditentukan
oleh banyak [Link]-faktor itu dikategorikan kedalam dua faktor utama,
yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Syah dalam Santo et al,.2018).
Faktor internal merujuk kepada faktor-faktor yang berasal dari dalam diri
pembelajar atau siswa itu sendiri seperti kesehatan fisik dan
psikis,intelegensi,motivasi belajar,disiplin belajar dan gaya belajar. Faktor
eksternal merujuk kepada semua faktor yang bersumber dari luar diri
pebelajar atau siswa. Faktor eksternal masih dapat dikelompokkan kedalam
beberapa faktor berikut: (a) faktor pendidik atau guru seperti kemampuan
mengajar, gaya mengajar, metode mengajar, komitmen mengajar, disiplin
mengajar, kinerja, kelelahan emosional, status sosial ekonomi, dan interaksi
guru dengan belajar di sekolah;(c)faktor keluarga seperti pendidikan orang
tua,pekerjaan orang tua,pendapatan orang tua,ketersediaan fasilitas dan
sumber belajar di rumah,pendampingan orang tua dalam belajar di rumah; (d)
faktor lingkungan seperti pergaulan teman sebaya dan media media sosial.
Merujuk kepada hasil penelitian wirang et Al.(2015a,2017a,2019)
serta hasil penelitian Werang dan Pure (2018) yang mengindikasikan tinggi
tingkat absensi guru hanya berfokus pada faktor komitmen kerja guru.
Marmaya et all.(dalam Werang et all., 2015b) dan Camilleri (dalam
Wolomasi [Link].,2019) mengartikan komitmen kerja guru sebagai ikatan
62
emosional pekerja dengan sebuah dengan sekolah tempatnya bekerja.
Firestone dan Rossenblum (dalam Werang dan Agung, 2017)
memaknai komitmen kerja guru sebagai komitmen guru terhadap para
murid,komitmen guru terhadap profesi mengajar dan komitmen guru
terhadap sekolah tempatnya mengajar.
Komitmen guru dalam mengajar anak-anak menjadi salah satu faktor
yang penting dalam meningkatkan mutu pendidikan di [Link]
sangat membutuhkan guru guru yang profesional dalam bidang kelihatannya
tetapi keberadaan guru guru profesional itu tidak ada gunanya sama sekali
apabila mereka tidak memiliki komitmen yang kuat untuk masuk kelas dan
menularkan semua pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki demi
keberhasilan para anak didiknya (Wolomasi et al., 2019).
Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya
prestasi belajar siswa peneliti hanya berfokus pada faktor eksternal yaitu
komitmen kerja guru dalam mengajar guru guru yang berkomitmen kerja
tinggi cenderung lebih disiplin dalam menjalankan tugas-tugas yang
dibebankan kepada mereka guru-guru yang berkomitmen kerja tinggi bahkan
mau bekerja dan berkontribusi lebih dari apa yang dituntut dari [Link]
tetapi masalah yang umumnya ditemui pada guru di sekolah adanya tinggi
tingkat absensi [Link] guru yang tidak hadir di dalam kelas untuk
mengajar sehingga siswa hanya bermain dan tidak melakukan kegiatan
belajar guru tidak mempersiapkan materi pembelajaran yang membelajarkan
63
para siswanya. Masalah lain yang ditemukan ialah kurangnya perhatian guru
terhadap siswa sehingga tidak memperdulikan masalah-masalah yang
dihadapi [Link] guru memiliki komitmen kerja yang tinggi
maka ia akan bersungguh-sungguh dalam memilih serta akan selalu
menyediakan waktu dan tenaganya untuk membantu para siswanya agar
menjadi generasi yang cerdas sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar
siswa
Guru yang memiliki etos kerja yang baik akan tampak lebih ekstra
tekun dan memiliki komitmen untuk bekerja. Komitmen guru dapat
melahirkan tanggung jawab dan sikap responsif dan inovatif terhadap
perkembangan dan teknologi ( Nanggulan, 2020)
Glickman (Rosalina, 2015) menyatakan bahwa komitmen adalah
kesediaan seseorang untuk mengorbankan waktu dan tenaganya secara relatif
lebih banyak dari apa yang telah ditetapkan padanya. Dalam penelitian ini,
komitmen yang dimaksud adalah tanggung jawab seorang guru baik itu
terhadap pekerjaannya, peraturan perundang-undangan, organisasi profesi,
teman sejawat, anak didik, tempat kerja, maupun pemimpin yang ada pada
organisasi tempat guru tersebut bekerja.
Dalam komitmen tersebut terdapat beberapa unsur antara lain adanya
kemampuan memahami diri dan tugasnya, kekuatan batin dan kekuatan dari
luar, serta tanggap terhadap perubahan. Unsur-unsur inilah yang melahirkan
tanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban yang menjadi komitmen
64
seseorang sehingga tugas tersebut dilakukan dengan baik dan penuh
keikhlasan.
D. Disiplin Kerja Guru
1 Pengertian Disiplin Kerja Guru
Disiplin adalah suatu bentuk pelatihan yang berasal dari aturan
organisasi. Mangkunegara dan Octorend (2015) mendefinisikan: “discipline
is essentially the ability to control himslef in the form of not doing an action
that does not conform and support something that has been created”.
Disiplin pada dasarnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dalam
bentuk tidak melakukan tindakan yang tidak sesuai dan mendukung sesuatu
yang telah dibuat. Sedangkan Mullins (2015:197) mendefiniskan: “discipline
is in essence the outward mark of respect for agreements between the
irganisation and its members”. Disiplin pada dasarnya tanda lahiriah dari
kesepakatan yang dipatuhi oleh organisasi dan anggotanya. Dalam kaitannya
dengan pengertianini seorang pemimpin harus memutuskan bentuk yang
paling tepat dari sanksi atau kasus-kasus pelanggaran terhadap disiplin.
Disiplin merupakan fungsi operatif manajemen sumber daya manusia yang
terpenting, karena seseorang semakin disiplin, maka akan semakin baik
prestasi kerjanya. Sutrisno (2011:177) menjelaskan: “disiplin menujukkan
suatu kondisi atau sikap hormat yang ada pada diri seseorang terhadap
peraturan dan ketetapan organisasi”. Disiplin yang baik mencerminkan
65
besarnya tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan
kepadanya.
Wahjosumidjo (2011:188) mengartikan “disiplin adalah sikap mental
yang mengandung kerelaan mematuhi semua ketentuan, peraturan dan norma
yang berlaku dalam menunaikan tugas dan tanggung jawab”.
Pendapat lain mengenai disiplin dikemukakan oleh Poerbakawatja
(Sagala, 2011:124) bahwa “disiplin adalah proses mengarahkan,
mengabdikan kehendak-kehendak langsung, dorongan-dorongan, keinginan
atau kepentingan-kepentingan, kepada suatu cita-cita, atau tujuan tertentu
untuk mencapai efek yang lebih besar”. Dalam kaitannya dengan manajemen
sekolah, lebih lanjut dinyatakan Sagala (2011:123) bahwa: “manajemen
sekolah yang efektif adalah yang mampu meningkatkan kualitas sekolah
yang didukung oleh disiplin secara menyeluruh”. Nilai kedisiplinan dapat
dikatakan merupakan salah satu ciri utama manajemen yang efektif. Disiplin
keja guru berkaitan erat dengan kepatuhan dalam menerapkan peraturan
sekolah.
Disiplin dapat diartikan sebagai sikap mengendalikan diri, dan disiplin
dapat menjadi ketertiban lingkungan. Disiplin sebagai sikap mengendalikan
diri didasarkan pada kesadaran dan rasa tanggung jawab pada tugas yang
diemban, sedangkan disiplin sebagai suatu ketertiban lingkungan didasarkan
pada kepatuhan melaksanakan nilai, aturan, ketertiban, dan norma yang ada.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja guru adalah
66
sikap kesetiaan dan ketaatan guru terhadap peraturan-peraturan yang ada di
sekolah untuk tujuan tertentu dengan kesadaran akan tugas dan
kewajibannya.
Berkaitan dengan uraian di atas, dapat diartikan bahwa disiplin kerja
guru akan terlaksan jika atasan atau kepala sekolah mengawasi para guru
pada saat mereka melakukan kegiatan. Pengawasan itu dilakukan bertujuan
untuk melihat para guru dan tenaga kependidikan yang lain bekerja sesuai
dengan prosedur yang ada atau tidak. Ketaatan dalam melaksanakan
pekerjaan juga akan mempengaruhi tersebut. Apabila seorang guru mengikuti
aturan sekolah berarti ia memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap
tugas yang diberikan oleh kepala sekolah.
2 Jenis-Jenis Disiplin Kerja
Dalam setiap organisasi yang diinginkan adalah jenis disiplin yang
timbusl dari diri sendiri atas dasar kerelaan dan kesadaran. Akan tetapi dalam
kenyataannya selalu menyatakan disiplin lebih banyak disebabkan oleh
adanya paksaan dari luar. Oteng Sutisna (Barnawi dan Arifin, 2012:113)
menyebutkan dua jenis disiplin yaitu:
a. Disiplin positif
Disiplin positif merupakan suatu sikap dan iklim organisasi
yang setiap anggotanya mematuhi peraturan-peraturan organisasi
atas kemauannya sendiri. Mereka pada tata tertib tersebut karena
mereka memahami, meyakini dan mendukungnya. Selain itu
67
mereka berbuat demikian karena benar-benar menghendakinya,
bukan karena takut akan akibat dari ketidakpatuhannya.
Dalam suatu organisasi yang telah menerapkan disiplin
positif, si pelanggar ditetapkan memperoleh suatu hukuman.
Namun yang diberikan bukan untuk melukai atau memecat,
melainkan untuk memperbaiki dan membetulkan. Disiplin positif
memberikan suatu pandangan bahwa kebebasan mengandung
konsekuensi, yakni kebebasan harus sejalan dengan tanggung
jawab.
b. Disiplin negative
Maksud dari disiplin negatif disini adalah suatu keadaan
yang menggunakan hukuman atau ancaman untuk membuat orang-
orang mematuhi perintah dan mengikuti peraturan hukuman.
Pendekatan disiplin negatif ini adalah menggunakan hukuman
pada pelanggaran peraturan untuk menggerakkan dan menakutkan
guru sehingga mereka tidak akan berbuat kesalahan yang sama.
Disiplin negatif cenderung bertumpu kepada konsepsi lama,
yaitu sumber disiplin adalah otoritas pimpinan. Hukuman
merupakan ancaman bagi guru atau pegawai.
3 Pembentukan Disiplin Kerja Guru
68
Pada dasarnya kedisiplinan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Menurut Hasibuan (2016) yaitu:
a. Tujuan dan Kemampuan
Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara
ideal serta cukup menantang bagi kemampuan karyawan. Hal ini
berarti bahwa tujuan (pekerjaan) yang dibebankan kepada
seseorang karyawan harus sesuai dengan kemampuan karyawan
bersangkutan. Tetapi jika pekerjaan itu di luar kemampuannya atau
pekerjaannya itu jauh dibawah kemampuannya, maka
kesungguhan dan kedisiplinan karyawan akan rendah. Di sini letak
pentingnya asas the right man in the right place and the right man
in the right job.
b. Kepemimpinan
Dalam menentukan disiplin kerja karyawan maka pimpinan
dijadikan teladan dan panutan oleh para bawahannya. Pimpinan
harus memberi contoh yang baik, berdisiplin baik, jujur, adil, serta
sesuai kata dengan perbuatan. Pimpinan jangan mengharapkan
kedisiplinan bawahannya baik, jika dia sendiri kurang berdisiplin.
Pimpinan harus menyadari bahwa perilakunya akan dicontoh dan
diteladani oleh para bawahannya. Hal inilah yang mengharuskan
agar pimpinan mempunyai kedisiplinan yang baik, supaya para
bawahan pun berdisiplin baik.
69
c. Insentif (Tunjangan Dan Kesejahteraan)
Balas jasa (gaji dan kesejahteraan) ikut memengaruhi
kedisplinan karyawan, karena akan memberikan kepuasan dan
kecintaan karyawan terhadap perusahaan/pekerjaannya.
Perusahaan harus memberikan balas jasa yang sesuai. Kedisiplinan
karyawan tidak mungkin baik apabila balas jasa yang di terima
kurang memuaskan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuannya
beserta keluarganya. Karyawan sulit untuk berdisiplin baik jika
selama kebutuhan-kebutuhan primernya tidak terpenuhi dengan
baik.
d. Keadilan
Keadilan mendorong terwujudnya kedisiplinan karyawan,
karena ego dan sifat manusia yang selalu merasa dirinya penting
dan minta diperlakukan sama dengan manusia lainnya. Apabila
keadilan yang dijadikan dasar kebijaksanaan dalam pemberian
balas jasa (pengakuan) atau hukuman, akan merangsang
terciptanya kedisiplinan karyawan yang baik. Pimpinan atau
manajer yang cakap dalam kepemimpinannya selalu bersikap adil
terhadap semua bawahannya, karena dia menyadari bahwa dengan
keadilan yang baik akan menciptakan kedisplinan yang baik pula.
e. Pengawasan
70
Melekat Pengawasan melekat harus dijadikan suatu
tindakan yang nyata dalam mewujudkan kedisplinan karyawan
perusahaan, karena dengan pengawasan ini, berarti atasan harus
aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral, sikap, gairah kerja,
dan prestasi bawahan. Hal ini berarti atasan harus selalu ada/hadir
di tempat kerjanya, supaya dia dapat mengawasi dan memberikan
petunjuk, jika ada bawahannya yang mengalami kesulitan dalam
mengerjakan [Link] (2012) menyatakan bahwa
pengawasan merupakan proses untuk menjamin bahwa tujuan-
tujuan perusahaan dan manajemen dapat [Link] Mc.
Farland dalam Handayaningrat (1996) mengemukakan bahwa
pengawasan ialah suatu proses dimana pimpinan ingin mengetahui
apakah hasil pelaksanaan pekerjaan dilakukan oleh bawahannya
sesuai dengan rencana, perintah, tujuan, atau kebijaksanaan yang
telah ditentukan. Hal ini sejalan dengan pendapat Saydam (2005)
yang menjelaskan bahwa adanya hubungan timbal balik antara
disiplin kerja dan pengawasan yang mana dikatakan disiplin
terbentuk dari sikap keryawan dalam menciptakan rasa tanggung
jawab atas tugas yang di [Link] ini sejalan dengan pendapat
yang dikemukakan oleh Nurrahman (2014) yaitu pengawasan
melekat berkorelasi dengan disiplin kerja pegawa.
f. Sanksi Hukuman
71
Sangsi hukuman berperan penting dalam memelihara
kedisiplinan karyawan. Karena dengan adanya sanksi hukuman
yang semakin berat, karyawan akan semakin takut melanggar
peraturan-peraturan perusahaan, sikap dan perilaku yang
indisipliner karyawan akan berkurang. Berat ringannya sangsi
hukuman yang akan diterapkan ikut mempengaruhi baik buruknya
kedisiplinan karyawan. Sangsi hukuman harus ditetapkan
berdasarkan pertimbangan logis, masuk akal dan diinformasikan
secara jelas kepada semua karyawan.
g. Ketegasan
Pemimpin harus berani tegas bertindak untuk menghukum
setiap karyawan yang indispliner sesuai dengan sanksi hukuman
yang telah ditetapkan. Pimpinan yang berani bertindak tegas
menerapkan hukuman bagi karyawan indisipliner akan disegani
dan diakui kepemimpinanya. Tetapi bila seorang pimpinan kurang
tegas atau tidak menghukum karyawan yang indisipliner, maka
sulit baginya untuk memelihara kedisiplinan bawahannya, bahkan
sikap indispliner karyawan tersebut akan semakin meningkat.
h. Hubungan
Kemanusiaan Hubungan kemanusiaan yang harmonis di
antara sesama karyawan ikut menciptakan kedisiplinan yang baik
pada suatu perusahaan. Hubungan-hubungan itu baik bersifat
72
vertikal maupun horizontal yang hendaknya horizontal. Pimpinan
atau manajer harus berusaha menciptakan suasana hubungan
kemanusiaan yang serasi serta mengikat, vertikal maupun
horizontal. Jika tercipta human relationship yang serasi, maka
terwujud lingkungan dan suasana kerja yang nyaman.
Hal ini akan memotivasi kedisiplinan yang baik pada perusahaan.
Menurut Saydam (2016), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tegak
tidaknya suatu disiplin kerja dalam suatu perusahaan antara lain:
a. Besar kecilnya pemberian kompensasi
Kompensasi (balas jasa) mempengaruhi tingkat
kedisiplinan karyawan, karena balas jasa akan memberikan
kepuasan dan kecintaan karyawan terhadap perusahaan tempat ia
bekerja. Semakin besar balas jasa yang diterima karyawan,
semakin baik kedisiplinan karyawan karena dengan balas jasa yang
besar akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya jika
balas jasa yang diterima karyawan kecil, maka kedisiplinan
karyawan akan rendah karena karyawan akan sulit memenuhi
kebutuhan hidupnya.
b. Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam perusahaan
Teladan pimpinan sangat berperan dalam menentukan
kedisiplinan karyawan, apabila tingkah laku pimpinan baik maka
disiplin karyawan pun akan baik, sebaliknya jika tingkah laku
73
pimpinan kurang baik maka disiplin karyawan pun akan kurang
baik.
c. Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan
Aturan sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan
disiplin karyawan, karena dengan adanya aturan, karyawan akan
mengetahui aturan yang ada pada perusahaan itu serta sanksi apa
yang akan didapat bila melanggar aturan tersebut.
d. Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan
Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan akan
mempengaruhi kedisiplinan karyawan. Pimpinan harus berani dan
tegas bertindak untuk menghukum setiap karyawan yang
indisipliner sesuai dengan sanksi hukuman yang telah ditetapkan.
Pimpinan yang berani bertindak tegas menerapkan hukuman bagi
karyawan yang indisipliner akan disegani dan diakui
kepepimpinannya oleh bawahannya, dengan demikian pimpinan
tersebut akan dapat memelihara kedisiplinan karyawan.
e. Ada tidaknya pengawasan pimpinan
Pengawasan dari pimpinan sangat diperlukan oleh
karyawan dalam meningkatkan kedisiplinan. Karena dengan
pengawasan ini berarti atasan aktif dan langsung mengawasi
74
perilaku, moral, sikap, gairah kerja dan prestasi kerja bawahannya.
Hal ini berarti atasan selalu hadir di tempat kerja, supaya atasan
dapat mengawasi dan memberikan petunjuk jika ada bawahannya
yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan pekerjaannya dan
juga dapat memberikan metode atau cara yang lebih efektif dalam
melakukan pekerjaan sehingga dapat mengurangi kesalahan dan
mendukung kedisiplinan dan moral kerja dari karyawan.
f. Ada tidaknya perhatian kepada pada karyawan.
Perhatian dari pimpinan sangat diperlukan karyawan dalam
meningkatkan atau mewujudkan disiplin kerja, sebab dengan
perhatian, karyawan akan merasa dihargai diri dan hasil kerjanya,
dan dengan perhatian akan terwujud hubungan kerjasama yang
baik dan harmonis antara atasan dengan bawahan dalam
perusahaan yang akan mendukung terbinanya kedisiplinan
karyawan yang baik.
Berdasarkan kedua faktor di atas, peneliti memilih faktor yang
dipaparkan oleh Hasibuan (2016), yaitu tujuan dan kemampuan,
kepemimpinan, balas jasa, keadilan, pengawasan melekat, sanksi hukuman,
dan ketegasan, serta hubungan kemanusiaan. Hal ini dikarenakan teori dalam
Hasibuan, (2016) lebih sesuai dengan variabel yang peneliti gunakan.
Kemudian teori dari Hasibuan (2011) telah banyak dijadikan sebagai acuan
75
penelitian serta munculnya faktor mengenai pengawasan melekat dalam
wawancara kepada subjek.
4 Aspek-aspek disiplin
Seseorang yang berhasil dalam menempuh karirnya adalah mereka
yang mempunyai disiplin kerja yang tinggi sehingga di dalam pola perilaku
tersusun dengan rapi dan mendetail serta direalisasikan pada tiap-tiap
pegawai. Guru yang disiplin akan tepat waktu dalam istirahat, makan dan
berolahraga sehingga fisik dapat terjaga untuk melaksanakan tugas-tugas
yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan demikian ciri utama dari
kedisiplinan adalah keteraturan dan ketertiban. Sukarno (Yuniarsih dan
Suwatno, 2018:95) mengemukakan disiplin kerja dapat ditingkatkan apabila
terdapat kondisi kerja yang dapat merangsang pegawai untuk berdisiplin.
Oleh karena itu disiplin kerja berjalan baik apabila a)mematuhi dan mentaati
ketentuan-ketentuan waktu kerja,b)Mematuhi peraturan dan tata tertib yang
berlaku,c)mematuhi perintah atasan atau instruksi [Link]
dalam meningkatkan kerjasama.
Lebih lanjut menurut Sagala (2011:124) aspek-aspek kedisiplinan
sekolah diantaranya:
a. Jadwal kegiatan guru dan tenaga kependidikan
b. Jadwal kegiatan unit kerja sekolah
c. Jadwal kegiatan rutin sekolah
d. Jadwal pelajaran disekola
76
e. Kehadiran guru dan pegawai
f. Kehadiran dan kepulangan peserta didik
g. Ketepatan guru masuk dan meninggalkan kelas
h. Adanya sanksi bagi guru yang terlambat
i. Laporan kerja dan adanya tim khusus yang berkonsentrasi
menganalisis laporan kerja guru, personel dan juga peserta
didik.
Menurut Aritonang (Barnawi dan Arifin, 2012:124) menyebutkan
lima aspek disiplin kerja guru yang harus diperhatikan antara lain:
a. Disiplin terhadap tugas kedinasan
Disiplin terhadap tugas kedinasan adalah
kesanggupan guru untuk mentaati kewajiban dan
menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan
kedinasan yang apabila tidak ditaati atau melanggar akan
dijatuhi hukuman disiplin. Mengikuti cara-cara yang
ditetapkan oleh sekolah menunjukkan kepatuhan guru
terhadap sekolah. Seorang yang memiliki disiplin terhadap
tugas kedinasan akan melaksanakan tugas kedinasan dengan
sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian, kesadaran dan
tanggung jawab.
b. Disiplin terhadap waktu
77
Disiplin terhadap waktu merupakan disiplin dalam
menata dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.
Guru yang memiliki disiplin terhdap waktu adalah tidak
melalikan kewajiban, datang tepat waktu, tertib, teratur.
Dengan datang kesekolah secara tertib, tidak melalaikan
tugas, tepat waktu dan teratur maka disiplin kerjanya dikatan
baik.
Indikator disiplin waktu meliputi: a) Menepati waktu
tugas, b) memanfaatkan waktu dengan baik, c)
menyelesaikan tugas tepat waktu
c. Disiplin terhadap sikap dan tingkah laku
Disiplin terhadap sikap dan tingkah laku adalah tidak
bersikap, bertingkah laku dan melakukan hal-hal yang tidak
tercela dalam melaksanakan tugas yang dapat menurunkan
kehormatan dan harga dirinya. Guru yang memiliki disiplin
terhadap sikap dan tingkah laku adalah mampu bersikap dan
bertingkah laku sopan santun terhadap sesama guru, terhadap
atasan, peserta didik dan masyarakat.
5 Indikator-indikator disiplin kerja guru
Indikator-indikator disiplin guru menurut Aritonang ( Barnawi &
Arifin,2012 :124) adalah:
a. Indikator terhadap tugas kedinasan
78
1) Mentaati peraturan kerja sekolah
2) Menyiapkan kelengkapan mengajar
3) Melaksanakan tugas-tugas pokok
b. Indikator terhadap waktu
1) Menepati waktu tugas
2) Memanfaatkan waktu dengan baik
3) Menyesaikan tugas tepat waktu
c. Indikator terhadap suasana kerja
1) Memanfaatkan lingkungan sekolah
2) Menjalin hubungan yang baik
3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban
d. Indikator dalam melayani masyarakat
1) Melayani peserta didik
2) Melayani orang tua peserta didik
3) Melayani orang tua peserta didik
4) Melayani masyarakat sekitar
e. Indikator terhadap sikap dan tingkah laku
1) Memperhatikan sikap
2) Memperhatikan tingkah laku
3) Memperhatikan harga diri
E. Kerangka Berpikir
79
Penelitian-penelitan sebelumnya menemukan bahwa dalam mewujudkan
kualitas pendidikan lebih khusus di sekolah dipengaruhi oleh banyak faktor salah
satunya melalui gaya kepemimpinan instruksional, komitmen kerja guru, disiplin
kerja guru dan prestasi belajar siswa.
Kerangka penelitian ini terdiri dari 3 variabel, yaitu variabel dependen,
variabel independen dan variabel intervening. Variabel independen atau variabel
terikat merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas serta menjadi
perhatian utama peneliti. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat
adalah prestasi belajar siswa SDN di Kecamatan Haur Gading. Variabel
Intervening adalah variabel antara yang menghubungkan sebuah variabel
independen utama pada variabel dependen yang dianalisis. Dalam penelitian ini
yang menjadi variabel intervening adalah komitmen kerja guru dan disiplin kerja
guru. Variabel dependen yaitu variabel yang mempengaruhi variabel terikat, baik
itu secara positif atau negatif. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel
dependen adalah Kepemimpinan Instruksional. Kerangka berpikir penelitian ini
dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Hubungan Kepemimpinan Instruksional dan Prestasi belajar siswa
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi
orang lain agar bekerjasama sesuai dengan rencana demi tercapainya tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian kepemimpinan
memegang peranan yang sangat penting dalam manajemen, bahkan dapat
dinyatakan, kepemimpinan adalah inti dari manajemen. Demikian halnya
80
kepemimpinan di sekolah dalam hal ini adalah kepala sekolah. Kepala
sekolah memiliki peranan yang dapat mengelola seluruh sumber daya yang
ada sekolah.
Kepemimpinan pembelajaran adalah salah satu kompetensi yang
dimiliki kepala sekolah dengan memusatkan perhatiannya pada
pengembangan lingkungan kerja yang memuaskan bagi guru, serta pada
akhirnya mampu mengembangkan kondisi belajar yang memungkinkan hasil
belajar siswa meningkat (Greenflied 1987 dalam Astuti, 2011)
Kepala Sekolah dituntut untuk meningkatkan kualitas instruksi
sebagaimana dikaji Bendikson et al (2012) serta Pan et al (2015). Karena hal
ini menunjukkan bahwa kepemimpinan instruksional kepala sekolah
berperan penting meningkatkan prestasi siswa dan kepala sekolah.
Model kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership)
merupakan model kepemimpinan yang dapat mendorong meningkatnya
prestasi siswa (Cotton.2013).Hasil Penelitian Andang (2015) yang berjudul
Hubungan kepemimpinan pembelajaran Kepala Sekolah dengan Prestasi
Belajar Siswa di SMA Negeri Kota Bima. Hasil analisis regresi linear
variabel kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah (X1) dengan prestasi
belajar siswa (Y) menunjukan:
Uji Parsial (uji-t)
Uji-t dilakukan untuk melihat signifikansi hubungan secara individual
antara variabel kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah dengan variabel
81
prestasi belajar siswa dengan taraf signifikan sebesar 0,05, sedangkan
signifikan t diperoleh sebesar 0,000 yang berarti memiliki taraf signifikan
lebih kecil dibanding dengan taraf signifikan (tingkat kesalahan) yang
ditentukan. Hal tersebut menunjukkan bahwa hipotesis nol (Ho) ditolak dan
Hipotesis kerja (H1) diterima, yang berarti ada hubungan antara variabel
kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah dengan variabel prestasi belajar
siswa di SMA negeri se kota Bima.
Uji Deterninasi (R2)
Uji R2 dilakukan untuk mengukur kekuatan hubungan antara variabel
independen dalam menjelaskan variabel dependen. Diperoleh nilai koefisien
r parsial (r) sebesar 0,389 artinya kekuatan hubungan antara variabel
kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah (X1) dengan variabel variabel
prestasi belajar siswa (Y) sebesar 38,9%. Sedangkan koefisien determinasi
(R2) sebesar 0,152 berarti bahwa persamaan regresi yang digunakan
mempunyai proporsi kemampuan sebesai 15,2% dalam menjelaskan
keragaman variabel kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah, sementara
sisanya 84,8% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam
penelitian ini dan dianggap sebagai variable penggangu.
Hasil penelitian Tanama, Bafadal dan Degeng berkesimpulan bahwa
kepemimpinan pembelajaran sangat penting karena berkontribusi
sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa; mampu
memberikan dorongan terhadap warga sekolah untuk meningkatkan
82
prestasi belajar siswanya; memfokuskan kegiatan-kegiatan warganya
untuk menuju pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah; membangun
komunitas belajar warganya dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya
sebagai learning school.
Berdasarkan uraian diatas maka diduga ada hubungan Kepemimpinan
Instruksional dengan prestasi belajar siswa.
2. Hubungan Kepemimpinan Instruksional dan Komitmen Kerja Guru
Kepala sekolah dalam hal kepemimpinan merupakan nahkoda dalam
lembaga pendidikan. Semua konsep baik visi-misi sekolah maupun arah dan
tujuan lembaga menjadi tanggung jawabnya baik dalam pembelajaran.
Menurut Sukmawati & Herawan (2016), Kepala sekolah yang bersifat
instruksional menempatkan agenda pembelajaran pada urutan pertama dari
seluruh kegiatannya. Memberikan dukungan yang tepat untuk peningkatan
komitmen kerja guru dan disiplin kerja guru dalam mensukseskan
pembelajaran di kelas pada satuan pendidikan yang dipimpinnya.
Menurut Sukmawati & Herawan (2016), sebagai konsep
kepemimpinan yang fokus pada kegiatan belajar mengajar dan perilaku guru
dalam melayani siswa, maka kepala sekolah sebagai pemimpin instruksional
memfokuskan kegiatannya pada upaya peningkatan dan perbaikan komitmen
mengajar para gurunya, yaitu dengan mengajak, mendorong, mengarahkan
dan memfasilitasi guru dalam mengembangkan kinerjanya. Kepala sekolah
yang bersifat instruksional menempatkan agenda pembelajaran pada urutan
83
pertama dari seluruh kegiatannya. Memberikan dukungan yang tepat untuk
peningkatan komitmen kerja guru dan disiplin kerja guru dalam
mensukseskan pembelajaran di kelas pada satuan pendidikan yang
dipimpinnya.
Richard M. Steers (Tazkia, 2017), mendefinisikan komitmen kerja
sebagai rasa identifikasi (kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi),
keterlibatan (kesediaan untuk berusaha semaksimal mungkin demi
kepentingan organisasi) dan loyalitas (keinginan untuk tetap menjadi anggota
organisasi) yang dinyatakan oleh seorang pegawai terhadap organisasinya.
Penelitian yang sejalan mengenai adanya pengaruh dari
kepemimpinan terhadap komitmen adalah Harahap (2019) dengan judul
“Hubungan Kepemimpinan Instruksional, dengan Komitmen Guru, Iklim
Organisasi, dan Kepuasan Kerja Guru di SD Negeri Se-Kecamatan Tapin
Utara”. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa: (1) Ada hubungan antara
Kepemimpinan Instruksional dengan komitmen kerja guru di SD Negeri se-
Kecamatan Tapin Utara. Penelitian Zalizayasin (2018) dengan judul
“Amalan kepimpinan instruksional pengetua dan hubungannya dengan
komitmen guru di sekolah menengah daerah Seremban, Negeri Sembilan”.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa: kepimpinan instruksional pengetua
mampu mempengaruhi kepada peningkatan komitmen guru.
84
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan
transformasional berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap
kepuasan kerja.
3. Hubungan Kepemimpinan Instruksional dan Disiplin Kerja Guru
Kepemimpinan Instruksional menempatkan agenda pembelajaran
pada urutan pertama dari seluruh kegiatannya. Memberikan dukungan yang
tepat untuk peningkatan komitmen kerja guru dan disiplin kerja guru dalam
mensukseskan pembelajaran di kelas pada satuan pendidikan yang
dipimpinnya.
Menurut Hoy dan Miskel (Elisabeth, 2016) kepemimpinan
instruksional adalah kepemimpinan di bidang pendidikan yang berfokus pada
proses belajar mengajar dengan cara merumuskan visi misi sekolah,
mengelola program instruksional dan mempromosikan iklim belajar yang
positif. Kepemimpinan ini dapat memfasilitasi pembelajaran dengan baik
yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Dengan kata
lain kepemimpinan instruksional merupakan kepemimpinan yang fokus pada
proses dan hasil belajar siswa melalui pemberdayaan guru secara
professional.
Kepemimpinan yang fokus pada kegiatan belajar mengajar dan
perilaku guru dalam melayani siswa, maka kepala sekolah sebagai pemimpin
instruksional memfokuskan kegiatannya pada upaya peningkatan disiplin
kerja mengajar para gurunya, yaitu dengan mengajak, mendorong,
85
mengarahkan dan memfasilitasi guru dalam mengembangkan kinerjanya.
Kepala sekolah yang bersifat instruksional menempatkan agenda
pembelajaran pada urutan pertama dari seluruh kegiatannya. Memberikan
dukungan yang tepat untuk peningkatan disiplin kerja mengajar guru dalam
mensukseskan pembelajaran di kelas pada satuan pendidikan yang
dipimpinnya.
Hasil penelitian Rifa’I (2018) menunjukkan bahwa Kepemimpinan
kepala sekolah pada kategori baik, hal ini dapat dilihat dari kemampuan
administrasi dan kegiatan-kegiatan disekolah, memimpin guru dam siswa.
Disiplin kerja guru berada dalam kriteria baik, hal ini dapat dilihat dari cara
kerja guru dalam menjalankan tugas-tugasnya dengan baik dan tepat waktu
serta upayanya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Terdapat
pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah terhadap
disiplin kerja guru Pendidikan Agama Islam terhadap disiplin kerja dengan
jumlah pengaruh yang ditimbulkan sedang atau cukup.
Penelitian lain oleh Abdullah (2019) yang menunjukkan bahwa
kepemimpinan kepala sekolah dalam mewujudkan disiplin kerja guru IPS di
SMA Negeri 3 Kota Ternate dinilai sudah cukup baik karena kepala sekolah
memiliki kemampuan dalam mempengaruhi guru, mengerakkan dan
mengerahkan guru sehingga sangat menunjang efektifitas pra Guru dalam
pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yakni melaksanakan proses
pembelajaran secara maksimal
86
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ratri Romadhona (2019)
yang menyimpulkan bahwa kepemimpinan instruksional kepala sekolah
berpengaruh secara positif dengan disiplin kerja guru. Besar hubungan
kepemimpinan instruksional kepala sekolah dengan disiplin kerja guru
sebesar 0,442 yang artinya terdapat hubungan langsung dengan kategori
sedang. Penelitian ini menunjukkan hubungan langsung kepemimpinan
Instruksional kepala sekolah dengan disiplin kerja guru adalah sebesar
44,2%. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan
transformasional berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap disiplin
kerja.
4. Hubungan Komitmen Kerja Guru dengan Prestasi belajar siswa
Richard M. Steers (Tazkia, 2017) mendefinisikan komitmen kerja
guru sebagai rasa identifikasi (kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi),
keterlibatan (kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan
organisasi) dan loyalitas (keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi
yang bersangkutan) yang dinyatakan oleh seorang pegawai terhadap
organisasinya.
Berawal dari kebutuhan pribadi terhadap organisasi kemudian
beranjak menjadi kebutuhan bersama dan rasa memiliki dari para guru
terhadap organisasi sekolah lalu melakukan sebuah kesepakatan untuk
membentuk sebuah komitmen bersama guna mencapai sebuah tujuan yang
menjadi tugas dan tanggungjawabnya masing-masing. Dengan adanya
87
pembentukan sebuah komitmen bersama tersebut maka masing-masing guru
mempunyai rasa tanggungjawab untuk menjalankan kesepakatan demi
mencapai tujuan bersama yang telah disepakati. Dengan adanya rasa
kesepakatan bersama yang merupakan komitmen dari guru-guru tersebut,
maka tentunya dapat menghasilkan harapan peningkatan prestasi belajar
siswa dalam bekerja berupa tujuan yang akan dicapai, menetapkan berbagai
jenis kegiatan yang harus dilakukan dalam usaha mencapai tujuan yang telah
ditetapkan, menetapkan ketentuan-ketentuan atau norma-norma yang harus
ditaati oleh seluruh anggota organisasi sekolah, menetapkan berbagai sarana
yang diperlukan dalam usaha mencapai tujuan tersebut sehingga upaya itu
akan menimbulkan dampak positif pada prestasi belajar siswa, baik secara
individu maupun kelompok. Komitmen kerja guru yang kondusif
memungkinkan guru dapat melaksanakan tugasnya secara baik dan penuh
tanggung jawab sehingga akan berdampak pada prestasi belajar siswa dalam
mengajar di sekolah.
Juaini (2019) dalam tesisnya yang berjudul Pengaruh Gaya
Kepemimpinan Kepala Sekolah, Komitmen Kerja Guru dan Semangat Kerja
Guru terhadap Prestasi belajar siswa SMP di Kota Banjarbaru. Hasil
penelitian menunjukan bahwa komitmen kerja guru punya keterikatan yang
sangat kuat dalam meningkatkan prestasi belajar siswa SMP di kota
Banjarbaru.
88
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komitmen kerja
guru berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi belajar
siswa.
5. Hubungan Disiplin Kerja Guru dengan Prestasi belajar siswa
Kedisiplinan adalah salah satu faktor yang penting dalam suatu
organisasi. Dikatakan sebagai faktor yang penting karena disiplin akan
mempengaruhi kinerja pegawai dalam organisasi. Semakin tinggi disiplin
pegawai, semakin tinggi prestasi kerja yang dapat dicapai. Disiplin adalah
merupakan cerminan besarnya tanggungjawab seseorang dalam melakukan
tugas – tugas yang diberikan kepadanya yang mendorong gairah dan
semangat kerja seseorang.
Pentingnya peranan disiplin juga dikemukakan oleh Musanef (2012:
116) yang berpendapat bahwa: Disiplin juga tidak kalah pentingnya dengan
prinsip-prinsip lainnya artinya disiplin setiap pegawai selalu mempengaruhi
hasil prestasi kerja. Oleh sebab itu dalam setiap organisasi perlu
ditegaskandisiplin pegawai-pegawainya. Melalui disiplin yang tinggi
produktivitas kerja pegawai pada pokoknya dapat ditingkatkan”.
Selain itu Sutrisno (2016: 98) menyatakan bahwa disiplin yang baik
mencerminkan besarnya tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas
yang diberikan kepadanya. Hal ini mendorong gairah kerja, semangat kerja,
dan terwujudnya tujuan perusahaan. Melalui disiplin akan mencerminkan
kekuatan, karena biasanya seseorang berhasil dalam karyanya adalah mereka
89
yang memiliki disiplin yang tinggi. Guna mewujudkan tujuan perusahaan,
yang pertama harus dibangun dan ditegakkan perusahaan adalah kedisiplinan
karyawannya. Hasil penelitian Nurjannah (2022) dengan judul Hubungan
Disiplin Kerja Guru Sejarah Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata
Pelajaran IPS Di SMP Negeri 4 Bolo. Hasil penelitian menunjukkan ada
Hubungan Disiplin Kerja Guru Sejarah Terhadap Prestasi Belajar Siswa
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja
guru berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi belajar
siswa.
6. Hubungan Kepemimpinan Instruksional dan Prestasi belajar siswa
Melalui Komitmen Kerja Guru
Menurut Bendikson 2012 dan Pan et al 2015, kepala sekolah dengan
karakteristik kepemimpinan instruksional berubah menjadi kebutuhan
bermakna bagi semua pihak meningkatkan kualitas [Link] ini
menunjukkan bahwa kepemimpinan instruksional berperan penting
meningkatkan prestasi belajar.
Prestasi belajar siswa merupakan salah satu aspek penting yang perlu
mendapat perhatian dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah.
Peningkatan prestasi belajar siswa dapat diawali dengan mengidentifikasi
faktorfaktor yang dapat mempengaruhinya. Kinerja sering dipandan sebagai
90
tingkat kemampuan pegawai dalam nelaksanakan tugas atau pekerjaan.
Kepemimpinan Instruksional dan komitmen kerja guru kemungkinan akan
mampu meningkatkan kinerja mereka. Dasar pemikirannya bahwa
Kepemimpinan Instruksional akan menggerakkan organisasi untuk
menumbuhkan komitmen kerja yang tinggi. Syalwa (2020) menyebutkan
hasil penelitiannya Terdapat pengaruh tidak langsung Kepemimpinan
Instruksional terhadap prestasi belajar siswa melalui motivasi kerja guru
Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Banjarbaru Utara.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Kepemimpinan
Instruksional dan prestasi belajar siswa melalui komitmen kerja guru.
7. Hubungan Kepemimpinan Instruksional dan Prestasi belajar siswa
Melalui Disiplin Kerja Guru
Kepemimpinan Instruksional melakukan pendampingan bagi guru
mulai dari merencanakan pembelajaran, mengelola proses pembelajaran,
sampai pada mengevaluasi pembelajaran. Dimana, kegiatan tersebut
merupakan tugas pokok pengajaran yang wajib dikuasai guru.
Msila (2013) serta Pina, Cabral, & Alves (2015) Kepemimpinan
instruksional harus mengambil peran aktif dalam proses instruksional, harus
membimbing guru selama berfungsi dalam proses pengajaran, serta menjaga
proses untuk mencapai prestasi siswa lebih baik. Hal ini mendorong sekolah
mulai menemukan ide – ide baru serta menciptakan dan berbagi pengetahuan
yang sangat penting dalam memecahkan masalah pembelajaran era modern.
91
Disiplin adalah sikap taat dan patuh kepada suatu aturan. Dalam hal
ini disiplin guru dapat dipahami sebagai sikap dari seorang guru yang
memegang kepatuhan dan ketaatan pada sebuah aturan dalam melaksanakan
tugasnya sebagai seorang guru. Seorang guru yang bisa tepat waktu hadir
dalam proses pembelajaran tentunya akan membuat proses pembelajaran bisa
berjalan sesuai dengan perencanaan pembelajaran yang sudah disiapkan
dalam perangkatnya. Dengan adanya Kepemimpinan Instruksional dan
disiplin kerja guru yang baik maka prestasi belajar siswa akan bisa maksimal.
Dari konsep dan hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa
kepemimpinan instruksional memiliki hubungan langsung terhadap
komitmen kerja, disiplin kerja dan prestasi belajar siswa dan memiliki
hubungan tidak langsung kepada prestasi belajar siswa melalui komitmen
kerja guru dan disiplin kerja guru. Komitmen kerja guru mempunyai
hubungan langsung terhadap prestasi belajar siswa dan hubungan langsung
antara disiplin kerja guru dengan prestasi belajar siswa.
92
H6 H6
Komitmen Kerja
Teori Meyer dan Allen
H2 Komitmen Afektif H4
Kepemimpinan Komitmen Berkelanjutan
Komitmen Normatif Prestasi Belajar
Instruksional Siswa
Teori Hallinger Benjamin [Link]
H1
Misi Sekolah Ranah kognitif
Program Ranah afektif
instruksional Ranah psikomotor
Iklim belajar Disiplin Kerja
H3 Teori Aritonang H5
Disiplin Kedinasan
Disiplin waktu H7
H7 Disiplin sikap&tingkah laku
Gambar 3.1 Model Hubungan Kepemimpinan Instruksional, Komitmen Kerja,
Disiplin Kerja, dengan Prestasi belajar siswa Secara Teoritis