0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan64 halaman

Faktor dan Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor internal seperti gaya belajar dan faktor eksternal seperti lingkungan sekolah. Prestasi belajar diukur untuk mengetahui kemajuan peserta didik dalam penguasaan materi pelajaran.

Diunggah oleh

suratman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan64 halaman

Faktor dan Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor internal seperti gaya belajar dan faktor eksternal seperti lingkungan sekolah. Prestasi belajar diukur untuk mengetahui kemajuan peserta didik dalam penguasaan materi pelajaran.

Diunggah oleh

suratman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Prestasi Belajar Siswa

1. Pengertian Belajar

Hamalik dalam Ahmad Susanto mendefinisikan bahwa belajar adalah

memodifikasi atau memperteguh perilaku melalui pengalaman (learning is

erfined as the modificator or strengthening of behaviour experiencing).

Menurut pengertian ini belajar merupakan suatu hasil atau tujuan. Dengan

demikian, belajar itu bukan sekedar mengingat atau menghafal saja, namun

lebih luas dari itu yaitu mengalami. Hamalik juga menegaskan bahwa belajar

adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu atau seseorang melalui

interaksi dengan lingkungannya. Perubahan tingkah laku ini mencakup

perubahan dalam kebiasaan (habit), sikap (afektif) dan ketrampilan

(psikomotorik). Perubahan tingkah laku dalam kegiatan belajar disebabkan

oleh pengalaman atau latihan.

Sagala (2014:17) mendifinisikan belajar adalah suatu proses adaptasi

atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Belajar

juga dipahami sebagai suatu perilaku, pada saat orang belajar, maka

responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya jika dia tidak belajar maka

responnya menurun. Jadi belajar adalah suatu perubahan dalam kemungkinan

atau peluang terjadinya respon.

29
30

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang

sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang

pendidikan. Dapat diarikan bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan

pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik

ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya

sendiri.

Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dengan sengaja

dan dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman atau

pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang tersebut mengalami

perubahan perilaku yang relatif baik dalam berfikir, merasa maupun

bertindak.

2. Pengertian Prestasi Belajar

Istilah prestasi belajar terdiri dari dua kata, yaitu prestasi dan belajar.

Istilah prestasi di dalam Kamus Ilmiah Populer didefinisikan sebagai hasil

yang telah dicapai. Menurut Noehi Nasution, menyimpulkan bahwa “belajar

dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu proses yang memungkinkan

timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil dari

terbentuknya respons utama, dengan syarat bahwa perubahan atau munculnya

tingkah baru itu bukan disebabkan oleh adanya perubahan sementara karena

sesuatu hal” (Wahab, 2015).


31

Penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan peserta

didik yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan

kepada peserta didik serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum.

Menurut Siti Maesaroh (2013:11) menerangkan bahwa “prestasi belajar

merupakan hasil daripada aktivitas belajar atau hasil dari usaha, latihan dan

pengalaman yanag dilakukan oleh seseorang, dimana prestasi tersebut tidak

akan lepas dari pengaruh faktor luar diri peserta didik”. Prestasi belajar

menurut Winkel yang dikutip Noor Komari Pratiwi (2015:81) merupakan

“bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Dengan demikian,

prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang

setelah melakukan usaha-usaha belajar”.

Dapat berbagai penyataan di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi

belajar adalah hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi

faktor kognitif, afektif dan psikomotorik setelah mengikuti proses

pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau

instrumen yang relevan dan serangkaian dari kegiatan jiwa raga yang telah

dilakukan oleh seseorang dari suatu hasil yang telah dicapai sebagai

perubahan dari tingkah laku yang dilalui dengan pengalaman serta wawasan

untuk bisa berinteraksi dengan lingkungan yang menyangkut ranah kognitif,

afektif dan psikomotorik yang telah dinyatakan dalam hasil akhir/raport.

2. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar


32

Prestasi belajar tiap peserta didik berbeda – [Link] yang

disajikan sama, guru yang mengajar sama dan strategiyang sama belum tentu

menghasilkan prestasi belajar yang sama. Menurut Suryabrata yang dikutip

Noor Komari Pratiwi (2015:85) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi

belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu:

a. Faktor internal

1) Kecerdasan (intelegensi) adalah kemampuan belajar disertai

kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang

dihadapinya.

2) Jasmaniah (pancaindra) atau fisiologis pada umumnya sangat

berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang.

3) Sikap yaitu suatu kecenderungan untuk mereaksi terhadap suatu

hal, orang atau benda dengan suka, tidak suka, atau acuh tak

acuh. Sikap seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor

pengetahuan, kebiasaan dan keyakinan.

4) Minat adalah kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk

merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang

berkecimpung dalam bidang itu.

5) Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang

untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.


33

6) Motivasi belajar adalah faktor penting karena hal tersebut

merupakan keadaan yang mendorong keadaan peserta didik

untuk melakukan belajar.

b. Faktor Eksternal

1) Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan

pertama dan utama karena dalam keluarga inilah anak pertama-

tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangkan tugas

utama dalam keluarga bagi pendidikan adalah sebagai peletak

dasar akhlak dan keagamaan.

2) Lingkungan sekolah, lingkungan sekolah yang baik dapat

mendorong peserta didik untuk belajar lebih giat. Lingkungan

sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru

dengan peserta didik, alat-alat pelajaran dan kurikulum.

Hubungan guru dengan peserta didik yang kurang baik akan

mempengaruhi hasil belajarnya.

3) Lingkungan masyarakat membentuk kepribadian anak karena

dalam pergaulan sehari-hari, seorang anak akan selalu

menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan

lingkungannya. Bila peserta didik tinggal di lingkungan yang

temannya rajin belajar, kemungkinan besar akan berpengaruh


34

pada dirinya sehingga ia akan turut belajar sebagaimana

temannya.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Slameto dalam Tasya

Widiarsih (2013:54-72) faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar

peserta didik salah satunya adalah gaya belajar. Karena gaya belajar

merupakan bentuk dan cara belajar peserta didik yang paling disukai yang

akan berbeda antara yang satu dengan yang lain karena setiap individu

mempunyai kegemaran dan keunikan sendiri-sendiri yang tidak akan sama

dengan individu lain. Selain itu faktor eksternal yang mempengaruhi prestasi

belajar peserta didik salah satunya adalah lingkungan sekolah. Karena

lingkungan sekolah sebagai tempat bersosialisasi anak selain dalam

lingkungan keluarga dan anak juga menghabiskan waktunya sebagian di

sekolah.

Rohmalia Wahab mengemukakan bahwa IQ bukanlah satu-satunya

faktor penentu kesuksesan prestasi belajar seseorang. Ada “faktor-faktor

yang mempengaruhi prestasi belajar anak dan kurikulum berbasis

kompetensi di Sekolah Dasar” faktor-faktor lain yang turut andil

mempengaruhi perkembangan prestasi belajar. Faktor-faktor yang

mempengaruhi pretasi belajar adalah antara lain sebagai berikut : (1)

Pengaruh pendidikan dan pembelajaran unggul; (2) Perkembangan dan

pengukuran otak, dan (3) Kecerdasan (intelegensi) emosional (Wahab, 2015,

hal. 247-248).
35

Widodo (2015:32) merinci faktor yang mempengaruhi prestasi dalam

belajar digolongkan secara rinci menjadi dua faktor yaitu internal dan

eksternal. Faktor internal ; (1). Faktor jasmani (fisiologi). Misalnya

penglihatan, pendengaran, struktur tubuh dan sebagainnya; (2). Faktor

psikologi, antara lain; (a). Faktor intelektif yang meliputi: faktor potensial

yaitu kecerdasan, bakat dan faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah

dimiliki, (b). Faktor non intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu

seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi; (3). Faktor

kematangan fisik maupun psikis. Faktor Eksternal ; (1). Faktor sosial yang

terdiri atas; (a). Lingkungan keluarga, (b). Lingkungan sekolah, (c).

Lingkungan masyarakat, (d). Lingkungan kelompok; (2). Faktor budaya

seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian; (3). Faktor

lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim.

Dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa

faktor diantaranya yang paling penting adalah faktor internal yakni gaya

belajar dan faktor eksternal yaitu lingkungan sekolah yang nyaman.

3. Fungsi Prestasi Belajar

Prestasi belajar yang telah dicapai peserta didik dapat diketahui

melalui kegiatan evaluasi pembelajaran. Kegiatan evaluasi dilakukan untuk

mengetahui keefektifan dan keberhasilan belajar mengajar sehingga dalam

pelaksanaannya harus dilakukan secara terus-menerus. Zainal Arifin yang

kutip Risnawati (2018:7) prestasi belajar mempunyai beberapa fungsi


36

sebagai berikut;

a. Indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai peserta

didik.

b. Lambang pemuasan hasrat ingin tahu.

c. Bahan informasi dalam inovasi pendidikan.

d. Indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan.

e. Dapat dijadikan sebagai indikator terhadap daya serap anak didik.

Selanjutnya Menurut Arikunto (2010: 274) nilai mempunyai 4 fungsi

sebagai berikut:

a. Fungsi instruksional

Pada fungsi ini pemberian nilai bertujuan untuk memberikan

balikan (feedback/umpan balik) yang mencerminkan seberapa jauh

seorang siswa telah mencapai tujuan yang ditetapkan dalam

pembelajaran atau sistem instruksional.

b. Fungsi informatif

Pada fungsi ini memberikan nilai siswa kepada orang tua

mempunyai arti bahwa orang tua siswa tersebut menjadi tahu akan

kemajuan dan prestasi putranya di sekolah. Dengan catatan nilai

untuk orang tua menjadi sadar akan keadaan putranya untuk

kemudian lebih baik memberikan bantuan berupa perhatian,

dorongan, atau bimbingan, dan hubungan antara orang tua dengan

sekolah menjadi baik.


37

c. Fungsi bimbingan

Dengan perincian gambaran nilai siswa, petugas bimbingan akan

segera mengetahui bagian-bagian mana dari usaha siswa di sekolah

yang masih memerlukan bantuan. Catatan lengkap yang juga

mencakup tingkat dalam kepribadian siswa serta sifat-sifat yang

berhubungan dengan rasa sosial akan membantu siswa dalam

pengarahannya sebagai pribadi sesungguhnya.

Dapat disimpulkan betapa pentingnya mengetahui prestasi belajar

peserta didik, baik individual maupun kelompok karena prestasi belajar tidak

hanya seabagai indikator keberhasilan, dan juga berguna bagi guru yang

sebagai umpan balik dalam melaksanakan pembelajaran di kelas apakah akan

diadakan perbaikan dalam proses belajar mengajar ataupun tidak.

4. Indikator Prestasi Belajar

Prestasi belajar merupakan hasil dari proses belajar yang berupa

pengetahuan dan keterampilan yang dapat diukur dengan tes. Tes yang

dilakukan dalam mengukur prestasi belajar harus sesuai dengan indikator

prestasi belajar. Sebagaimana pendapat Nana Sudjana (2009:22) prestasi

belajar terdiri dari yaitu:

a. Informasi verbal berkenaan dengan bagaimana cara

mengemukakan pendapat serta dapat mengolah semua informasi

sehingga pengetahuannya dapat berkembang.


38

b. Keterampilan intelek berkenaan dengan berani berpendapat serta

mandiri dan penyuka tantangan.

c. Keterampilan kognitif berkenaan dengan memahami, rajin,

memperhatikan serta selalu bertanya dan menjawab.

d. Keterampilan motorik berkenaan dengan bagaimana dalam berfikir

dan bagaimana dalam menyelesaikan tugas serta memperbaiki

hasil.

e. Sikap berkenaan dengan bersemangat dan berusaha serta

mementingkan tugas dan membantu teman.

Pengetahuan dan pemahaman yang mendalam mengenai indikator-

indikator prestasi belajar sangat diperlukan ketika seseorang perlu

menggunakan alat atau kiat evaluasi. Tujuan dari pengetahuan dan

pemahaman yang mendalam mengenai jenis-jenis prestasi belajar dan

indikator-indikatornya adalah agar pemilihan dan penggunaan alat evaluasi

akan lebih tepat, reliabel dan valid. Menurut Benjamin S. Bloom,

sebagaimana yang dikutip oleh Abu Muhammad Ibnu Abdullah dalam

Deni Febriani (2017: 215), bahwa hasil belajar diklarifikasikan ke dalam

tiga ranah yaitu: 1) ranah kognitif; 2) ranah afektif; dan 3) ranah

psikomotor. Menurut Gagne dalam Muhibbin Syah (2008:150) indikator

yang dijadikan sebagai tolok ukur dalam menyatakan prestasi belajar

peserta didik yaitu:

a. Ranah kognitif yaitu berkenaan dengan hasil belajar intelektual


39

yang terdiri dari enam aspek yaitu pengetahuan, pemahaman,

penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.

b. Ranah afektif yaitu berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah

afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima,

menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi

dengan suatu nilai atau komplek nilai.

c. Ranah psikomotor yaitu ranah psikomotor meliputi keterampilan

motorik, manipulasi benda-benda, menghubungkan, mengamati.

Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan

psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar

psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil

penelitian dalam proses pembelajaran.

Dari penjelasan tersebut sudah cukup jelas bahwa indikator prestasi

terbagi menjadi tiga jenis prestasi yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.

Penelitian ini difokuskan pada informasi verbal, keterampilan kognitif,

keterampilan motorik serta sikap.

5. Dampak Kepemimpinan Instruksional Terhadap Prestasi Belajar

Salah satu cara untuk meningkatkan prestasi siswa adalah melalui

peningkatan kualitas kepemimpinan sekolah. Menurut Heystek dan Emekako

(2020) menegaskan bahwa kesungguhan berprstasi serta kemauan dan

kesanggupan kepala sekolah menerapkan kepemimpinan berkualitas akan

menentukan keberhasilan siswa secara maksimal.


40

Bendikson 2012 dan Pan et al 2015, kepala sekolah dengan

karakteristik kepemimpinan instruksional berubah menjadi kebutuhan

bermakna bagi semua pihak meningkatkan kualitas [Link] ini

menunjukkan bahwa kepemimpinan instruksional berperan penting

meningkatkan prestasi belajar.

Msila (2013) serta Pina,Cabral,&Alves (2015) Kepemimpinan

instruksional harus mengambil peran aktif dalam proses instruksional, harus

membimbing guru selama berfungsi dalam proses pengajaran,serta menjaga

proses untuk mencapai prestasi siswa lebih baik. Hal ini mendorong sekolah

mulai menemukan ide – ide baru serta menciptakan dan berbagi pengetahuan

yang sangat penting dalam memecahkan masalah pembelajaran era modern.

Berdasarkan uraian di atas kepala sekolah dapat mempengaruhi

prestasi siswa dengan memantau dan mengawasi siwa dengan menciptakan

tingkat kepuasan tinggi terhadap pendidikan dan dengan menunjukkan

kepemimpinan berkualitas tinggi dalam bentuk menyediakan sumber belajar

pendidkan bermutu serta evaluasi.

B. Kepemimpinan Instruksional

1. Kepemimpinan Instruksional

a) Pengertian Kepemimpinan

Kepemimpinan secara luas meliputi proses mempengaruhi

dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut


41

untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok

dan budayanya. Selain itu juga mempengaruhi interpretasi mengenai

peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan

aktivitas-aktivitas untuk mencapai sasaran memelihara hubungan

kerjasama dan kelompok, perolehan dukungan dan kerjasama dari

orang-orang di luar kelompok atau organisasi (Aslamiah, 2016).

Kepemimpinan menurut Tohardi (Sahrudin, 2019) berasal dari

kata to lead yang berarti memimpin, yaitu proses mempengaruhi

kegiatan kelompok yang terorganisasikan dalam usaha menentukan

tujuan dan pencapaiannya, atau kemampuan seseorang untuk

memobilisasi, menyelaraskan, memimpin kelompok, kemampuan

menjelaskan gagasan sehingga dapat diterima orang lain.

Selanjutnya, Weshler sebagaimana dikutip oleh

Wahjosumidjo (Djunaidi, 2017) memberikan definisi kepemimpinan

sebagai “Leadership is interpersonal influence exercised in a

situation and directed, through the communication process, toward

the attainment of a specified goal or goals”. Menurutnya

kepemimpinan adalah pengaruh antara personal yang diuji dalam

sebuah situasi dan diarahkan melalui proses komunikasi secara

langsung, terhadap pencapaian satu tujuan atau beberapa tujuan.

Menurut Atmosudirjo (Purwanto,2019) “kepemimpinan

adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat


42

kepribadian termasuk didalamnya kewibawaan, untuk dijadikan

sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar

mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan

kepadanya dengan rela, penuh semangat, dan kegembiraan batin serta

merasa tidak terpaksa” (Satriadi, 2016:124).

Robbins dan Judge (2007, p.356) mengatakan bahwa

“Leadership as the ability to influence a group toward the

achievement of a vision or set of goals”. Artinya bahwa

kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu

kelompok ke arah pencapaian suatu visi atau serangkaian tujuan.

Selanjutnya, Engkoswara dan Komariah (2010:178) mengatakan

bahwa kepemipinan pendidikan adalah suatu proses mempengaruhi,

mengkoordinasi, dan menggerakan perilaku orang lain serta

melakukan suatu perubahan ke arah yang lebih positif dalam

mengupayakan keberhasilan pendidikan. Sementara itu, Mulyasa

(2012:107) mengatakan bahwa kepemimpinan kepala sekolah dapat

diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang

diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi (Madu, Jailani,

2013: 12-20).

Kartini, Kartono (Wahyuningsih, 2018) mengatakan

kepemimpinan adalah masalah relasi dan pengaruh antara pemimpin


43

dan dipimpin. Kepemimpinan muncul dari hasil interaksi otomatis

diantara pemimpin dan individu-individu yang dipimpin.

Dari beberapa definisi kepemimpinan di atas dapat

disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan kemampuan seorang

pemimpin dalam mempengaruhi, memotivasi, mendorong, dan

mengarahkan pengikut dalam hal bekerja sebagai upaya mencapai

tujuan maupun target (goal) organisasi yang telah ditentukan.

b) Pengertian Kepemimpinan Intruksional

Menurut Susanto (2016) kepala sekolah sebagai pemimpin

pembelajaran adalah kepemimpinan yang menekankan pada

komponen-komponen yang terkait dengan pembelajaran, meliputi

kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, pengembangan guru,

layanan prima dalam pembelajaran dan pembangunan komunitas

belajar di sekolah. Menurut Bush (Usman, 2014) kepemimpinan

pembelajaran atau instruksional adalah kepemimpinan yang

memfokuskan pada pembelajaran oleh guru kepada siswanya.

Tujuannya adalah kualitas pembelajaran siswa melalui gurunya.

Peningkatan kualitas pembelajaran membutuhkan pendekatan

pengembangan kepemimpinan yang berfokus pada kepemimpinan

instruksional. Hal ini berarti berusaha mengubah pola pikir pemimpin

untuk memperhatikan proses belajar mengajar sebagai pusat dari

peran kepala sekolah.


44

Daryanto (2011:71) menyatakan bahwa kepemimpinan

instruksional memberikan dorongan dan arahan terhadap warga

sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswanya. Guru sebagai

pemimpin instruksional harus mampu memberikan dorongan dan

arahan kepada siswa agar semakin termotivasi dalam belajar dengan

cara mengelola pembelajaran yang menarik agar dapat memunculkan

motivasi dalam diri siswa sehingga siswa menjadi lebih tekun dalam

belajar. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Amaliyah

dan Setiyani (2016: 9) menemukan bahwa kepemimpinan guru

berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.

Menurut Daryanto (2011:69) kepemimpinan instruksional

atau kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang

memfokuskan atau menekankan pada pembelajaran yang komponen-

komponennya meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen

(penilaian hasil belajar), layanan prima dalam pembelajaran dan

pembangunan komunitas belajar di sekolah. Hal ini sesuai dengan

pandangan Danim (2012: 183) bahwa guru merupakan pemimpin

dalam aktivitas belajar dimana guru membimbing dan mengarahkan

siswanya untuk tumbuh menjadi pembelajar. Dia harus memiliki

energi pengaruh pada siswanya. Energi pengaruh itu merupakan

cerminan dari sifat-sifat kepemimpinan yang dimilikinya.


45

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa

kepemimpinan instruksional guru merupakan kepemimpinan yang

harus dimiliki guru yang menfokuskan terhadap aktivitas belajar

siswa dan hal-hal lain yang berkaitan dengan proses pembelajaran

yang dapat meningkatkan iklim kerja belajar yang kondusif serta

meningkatkan mutu pembelajaran.

Kepemimpinan instruksional sangat penting untuk diterapkan

di sekolah karenan kepemimpinan instruksional berkontribusi sangat

signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.

Kepemimpinan instruksional mampu memberikan dorongan dan

arahan terhadap siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

Kepemimpinan instruksional juga mampu memfokuskan kegiatan-

kegiatan siswanya untuk menuju pancapaian visi, misi dan tujuan

sekolah (Daryanto, 2011: 71).

Kepemimpinan instruksional yang dimiliki guru sangat

menentukan perilaku belajar siswa di kelas sehingga hal tersebut juga

akan menentukan tinggi rendahnya prestasi belajar siswa. Hal ini

sesuai dengan penelitian Pramudia (2012: 91) yang menunjukkan

bahwa kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership)

berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

Menurut Hoy dan Miskel (Elisabeth, 2016) kepemimpinan

instruksional adalah kepemimpinan di bidang Pendidikan yang


46

berfokus pada proses belajar mengajar dengan cara merumuskan visi

misi sekolah, mengelola program instruksional dan mempromosikan

iklim belajar yang positif untuk memfasilitasi pembelajaran yang

pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan kualitas

siswa di sekolah dari hasil pembelajaran yang dilakukan. Penelitian

yang dilakukan Blasé dan Blasé’s tahun 1998 terhadap 800 kepala

sekolah di Amerika Serikat menemukan bahwa kepemimpinan

instruksional yang efektif mengandung tiga aspek yaitu: banyaknya

berdiskusi dengan guru, mendukung pengembangan keprofesionalan

guru berkelanjutan, dan memperkuat refleksi guru terhadap proses

pembelajaran (Usman, 2014).

Andrew dan Soder (Elisabeth, 2016) mengemukakan bahwa

pemimpin instruksional yang efektif adalah pemimpin yang

melakukan dengan baik empat hal sebagai berikut:

1) Kepala sekolah mengarahkan semua stakeholder untuk mencapai

visi misi sekolah dan berperan sebagai penyedia sumberdaya

(resource provider)

2) Menetapkan ekspektasi, terlibat terus menerus untuk

mengembangkan program instruksional (instructional resource).

3) Kepala sekolah menjadi role model untuk komitmen terhadap

tujuan sekolah, menyampaikan visi misi sekolah

(Communicator).
47

4) Kepala sekolah secara fisik selalu hadir di dalam semua acara

sekolah (Visible present).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan

instruksional adalah kepemimpinan di bidang pendidikan yang

berfokus pada proses belajar mengajar dengan cara merumuskan visi

misi sekolah, mengelola program instruksional dan mempromosikan

iklim belajar yang positif untuk memfasilitasi pembelajaran sehingga

pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar dan kualitas siswa

di sekolah berdasarkan pembelajaran yang dilakukan di kelas. Guru

harus dapat menciptakan pembelajaran yang baik untuk mencapai

tujuan sekolah. Pembelajaran yang dilakukan berfokus pada

perubahan pola pikir siswa untuk membangun definisi baru. Guru

juga berupaya menjadi role model dalam proses pembelajaran, dapat

memonitoring kegiatan yang dilakukan siswa saat belajar, dan

melakukan refleksi dan evaluasi dari pembelajaran yang telah

dilakukan agar mencapai hasil yang optimal.

2. Fokus Kepemimpinan Instruksional

Kepemimpinan instruksional atau dapat disebut dengan istilah

kepemimpinan pembelajaran. Menurut Huber (dalam Usman & Raharjo,

2013), kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) disebut juga

education leadership, school leadership, visionary leadership and teaching,

learning leadership, and supervision leadership.


48

Bush (dalam Usman, 2015) menyatakan bahwa konsep kepemimpinan

instruksional fokus pada kegiatan belajar mengajar dan pada perilaku guru

dalam melayani siswa. Pengaruh pemimpin dituangkan dalam pembelajaran

melalui guru. Sedangkan, Suhardan (2010, hlm. 73) menyampaikan bahwa

kepemimpinan pembelajaran merupakan aktivitas kepala sekolah yang

kesehariannya disibukkan dengan kegiatan mempengaruhi orang-orang yang

menjalankan kegiatan akademik di sekolah, mereka adalah guru dan staf

edukatif atau staf teaching. Sejalan dengan hal tersebut, Rigsbee (dalam

Daryanto, 2011, hlm.51) mengemukakan bahwa seorang kepala sekolah yang

baik adalah seorang pemimpin yang bersifat instruksional yang membantu

guru untuk menciptakan bagaimana cara terbaik siswa belajar. Kepala

sekolah yang bersifat instruksional menempatkan agenda pembelajaran pada

urutan pertama dari seluruh kegiatannya. Memberikan dukungan yang tepat

untuk peningkatan mutu kinerja mengajar guru dan kesuksesan pembelajaran

di kelas.

Lebih jelas Hallinger (dalam Emmanouil dkk., 2014) menekankan

bahwa seorang kepala sekolah instruksional juga mencoba untuk

menciptakan lingkungan belajar yang positif dengan mendukung

pengembangan profesional, berbagi visi dan memberikan motivasi yang kuat

serta inspirasi untuk pembelajaran staf pengajar (guru). Kepala sekolah

instruksional dapat memberikan motivasi pada guru untuk mengembangkan

profesionalisme guru sehingga dapat meningkatkan mutu pengajaran. Dari


49

pernyataan-pernyataan diatas dapat dipahami bahwa kepemimpinan

instruksional kepala sekolah adalah perilaku kepala sekolah yang

memprioritaskan aktivitasnya pada pembelajaran yaitu dengan

mempengaruhi, mengarahkan, dan membimbing guru dalam kegiatan belajar

mengajar sehingga guru dapat memberikan layanan belajar terbaik kepada

siswa.

3. Indikator-indikator Kepemimpinan Instruksional

Harahap (2019) menjelaskan butir-butir penting kepemimpinan

pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Hallinger

dan Murphy dengan tiga dimensi antara lain :

a. Merumuskan visi dan misi sekolah

Keterkaitan dengan kepemimpinan instruksional kepala sekolah

bekerja sama dengan guru untuk membuat visi dan misi sekolah

yang jelas, terukur, dan sesuai target. Proses ini dijabarkan dalam

dua indikator kepemimpinan instruksional yaitu :

1) Merumuskan visi dan misi sekolah dan

2) Mengkomunikasikan visi dan misi sekolah.

b. Mengelola program instruksional

Kepala sekolah dalam menjalankan program instruksionalnya

fokus pada koordinasi kegiatan belajar mengajar dan kurikulum.

Mengelola program instruksional dijabarkan menjadi tiga indikator

fungsi kepemimpinan, yaitu:


50

1) Supervisi dan evaluasi instruksional

2) Mengkoordinasikan kurikulum

3) Monitoring kemajuan siswa.

c. Promosi iklim belajar yang positif

Kepala sekolah mengupayakan perkembangan mutu dan harapan

yang tinggi dan membentuk budaya untuk perbaikan yang

berkelanjutan. Hal ini dijabarkan dalam lima indikator yaitu:

1) Menjaga waktu instruksional,

2) Menjaga kehadiran yang tinggi,

3) Memberi penghargaan untuk pengajar,

4) Mengembangkan profesionalitas guru, dan

5) Memberi penghargaan untuk siswa.

4. Dampak Kepemimpinan Instruksional dengan prestasi sekolah

Kepala sekolah dengan karakteristik kepemimpinan instruksional

yang dimilikinya akan menjadi kebutuhan bermakna bagi semua pihak dalam

meningkatkan kualitas instruksi sebagaimana dikaji Bendikson et al (2012)

serta Pan et al (2015). Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan

instruksional kepala sekolah berperan penting dalam meningkatkan prestasi

siswa dan kepala sekolah.

Kepemimpinan instruksional mengambil peran aktif dalam proses

instruksional yakni membimbing guru selama berfungsi dalam proses


51

pengajaran, serta menjaga proses untuk mencapai prestasi siswa lebih baik

Msila (2013) serta Pina, Cabral, & Alves (2015). Hal ini mendorong sekolah

mulai menemukan ide-ide baru serta menciptakan dan berbagi pengetahuan

yang sangat penting dalam memecahkan masalah pembelajaran di era

modern.

Beberapa studi menunjukkan bahwa kepemimpinan instruksional

yang tepat dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja guru

dan prestasi belajar siswa (Kusmintardjo, 2014; Nguyen, Ng, Luo, &

Mansor, 2020). Instruksional kepemimpinan adalah upaya terencana untuk

menciptakan dan suasana kerja yang kondusif bagi guru dan kondisi yang

nyaman untuk belajar siswa (Blase & Blase, 2000; Neumerski 2013).

Kepemimpinan instruksional kepala sekolah tercermin dari kemampuan

kepala sekolah dalam menjalankan visi dan misi, untuk fokus pada instruksi

dan untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif (Hallinger, 2009;

Rigby, 2014). Instruksional kepemimpinan sangat penting karena akan

memfasilitasi pengembangan sekolah sebagai komunitas belajar dan bahkan

belajar sekolah sekaligus belajar masyarakat/komunitas (Bush, 2015;

Carpenter, 2015).

Sebagai instruksional pemimpin, kepala sekolah harus mampu

mengidentifikasi guru dan siswa perlu membantu mereka mengambil bagian

dalam proses instruksional. Selain itu, kepala sekolah harus mengambil

semua faktor yang mempengaruhi instruksional proses menjadi perhatian


52

serius terutama yang terkait dengan perubahan pada lingkungan instruksional

(Kin, Kareem, Nordin, & Bing, 2018).

C. Komitmen Kerja Guru

1. Pengertian Komitmen Kerja Guru

Komitmen menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perjanjian

(keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak dan tanggung jawab.

Glickman (Rosalina, 2015) menyatakan bahwa komitmen adalah kesediaan

seseorang untuk mengorbankan waktu dan tenaganya secara relatif lebih

banyak dari apa yang telah ditetapkan padanya. Selanjutnya Robbins dan

Judge (2015) mendefinisikan komitmen sebagai suatu keadaan dimana

seorang individu memihak organisasi serta tujuan-tujuan dan keinginannya

untuk mempertahankan keangotaannya dalam organisasi.

Kerja secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha yang dilakukan

manusia untuk mendapatkan penghasilan demi memenuhi tujuan tertentu.

Tujuan tersebut dapat berupa pemenuhan kebutuhan makan, tempat tinggal,

atau kebutuhan hidup lainnya. Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Franz Von

Magnis (dalam Anogara, 1998) yang mengatakan bahwa kerja merupakan

sesuatu yang dikeluarkan oleh seseorang sebagai profesi, sengaja dilakukan

untuk mendapatkan penghasilan serta pengeluaran energi untuk kegiatan

yang dibutuhkan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu.


53

Komitmen kerja memiliki dua komponen penting, yaitu sikap dan

kehendak untuk bertingkah laku terhadap suatu perkara. Sikap berkaitan

dengan identifikasi, keterlibatan dan kesetiaan, sedangkan kehendak

bergantung pada keadaan untuk bertingkah laku dalam kesediaan

menampilkan usaha (Yusof, 2007). Komitmen kerja merupakan karakteristik

personal yaitu dapat diandalkan dan dapat di percaya (Byron, 2010). Cohen

dalam Kusumaputri (2015) mendefinisikan bahwa komitmen kerja adalah

kekuatan yang mengikat individu untuk melakukan suatu aksi menuju satu

atau beberapa tujuan organisasi. Sedangkan Best (dalam Kusumaputri, 2015)

mengatakan bahwa individu-individu yang berkomitmen untuk melakukan

aksi-aksi atau perilaku khusus yang dilandasi oleh keyakinan moral dari pada

keuntungan pribadi.

Berdasarkan serangkaian pengertian tentang komitmen kerja di atas,

dapat disimpulkan bahwa komitmen kerja merupakan sikap atau perilaku

karyawan yang berkaitan dengan keinginan kuat seorang anggota organisasi/

karyawan untuk mempertahankan keanggotaannya dalam suatu organisasi,

serta mendukung dan menjalankan tujuan organisasi atau perusahaan secara

penuh suka rela, serta komitmen kerja lebih dari sekedar kesetiaan, namun

lebih kepada keintiman atau ikatan batin anggota terhadap organisasinya.

Dalam penelitian ini, komitmen kerja yang dimaksud adalah tanggung

jawab seorang guru baik itu terhadap pekerjaannya, peraturan perundang-

undangan, organisasi profesi, teman sejawat, anak didik, tempat kerja,


54

maupun pemimpin yang ada pada organisasi tempat guru tersebut bekerja,

yang mana pemimpin tersebut adalah kepala sekolah.

Komitmen kerja guru adalah suatu keterikatan diri terhadap tugas dan

kewajiban sebagai guru yang dapat memunculkan tanggung jawab dan sikap

responsive serta inovatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi. Mulyasa (2013; 151) berpendapat bahwa komitmen secara mandiri

perlu dibangun pada setiap individu warga sekolah termasuk guru. Terutama

untuk menghilangkan setting pemikiran dan budaya kekakuan birokrasi,

seperti harus menunggu petunjuk atasan dengan mengubahnya menjadi

pemikiran yang kreatif dan inovatif.

Glickman (Rosalina, 2015: 17) menyatakan bahwa seorang guru dapat

dibedakan menjadi dua kategori, yaitu: guru yang memiliki komitmen tinggi

dan guru yang memiliki komitmen rendah. Komitmen guru yang rendah

dapat dilihat dari sikap guru tersebut, seperti kurangnya perhatian terhadap

siswa, dan sedikitnya waktu yang dihabiskan untuk sekolah. Sebaliknya,

komitmen guru yang tinggi dapat dilihat dari kesediaannya memberikan

perhatian yang lebih terhadap siswa maupun sekolahnya.

Meyer & Allen (Triatna, 2016) mengemukakan tiga sudut pandang

komitmen, yaitu komitmen afeksi, komitmen berterusan dan komitmen

normatif. Komitmen afeksi adalah suatu kadar/level/tingkat dimana

karyawan menginginkan untuk mempertahankan dirinya dalam organisasi,

peduli terhadap organisasi dan berkeinginan mencurahkan usahanya atas


55

nama organisasi. Komitmen berterusan merupakan suatu kadar/level/tingkat

di mana karyawan memercayai bahwa dia harus mempertahankan dirinya

dalam organisasi dikarenakan waktu, pengeluaran dan usaha yang telah dia

lakukan dalam organisasi atau kesulitan untuk mencari pekerjaan lain.

Sedangkan komitmen normatif adalah sutau kadar/level/tingkat di mana

karyawan merasa memiliki kewajiban terhadap organisasi untuk tetap

menjadi bagian dari organisasi.

Dalam Susanto (2016), Mukhtar menjelaskan ada tiga alasan mengapa

guru harus mempunyai komitmen, yaitu:

a. Karena guru bertanggung jawab mempersiapkan sumber

daya manusia yang berkualitas, beriman, bertaqwa dan

berilmu pengetahuan, serta memahami teknologi.

b. Karena guru bertanggung jawab bagi kelangsungan hidup

bagi suatu bangsa dan mempersiapkan generasi menjadi

seorang pemimpin masa depan.

c. Karena guru bertanggung jawab atas keberlangsungan

budaya dan peradaban suatu generasi.

Dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, dibutuhkan

komitmen kerja guru yang tinggi, tanggung jawab dan bangga terhadap

profesinya. Hal tersebut akan memotivasi guru untuk meningkatkan

kinerjanya lebih baik lagi. Richard M. Steers (Tazkia, 2017) mendefinisikan

komitmen kerja sebagai rasa identifikasi (kepercayaan terhadap nilai-nilai


56

organisasi), keterlibatan (kesediaan untuk berusaha semaksimal mungkin

demi kepentingan organisasi) dan loyalitas (keinginan untuk tetap menjadi

anggota organisasi) yang dinyatakan oleh seorang pegawai terhadap

organisasinya.

Seorang guru yang memiliki komitmen terhadap tugas setidaknya

memiliki beberapa sikap di antaranya: sikap batinnya memancarkan sosok

seorang guru, siap sedia dimana pun berada, dan tanggap terhadap

perubahan. Dengan komitmen yang ada, senantiasa berusaha meningkatkan

kompetensinya sebagai guru. Oleh karena itu, seorang personil organisasi

harus memiliki komitmen yang tinggi sehingga mampu mencurahkan energi

yang dimiliki guna memberikan pelayanan yang terbaik sesuai dengan tugas

pokok dan fungsinya sehingga keberlangsungan dan keberhasilan organisasi

(pendidikan) dapat diwujudkan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komitmen kerja

guru adalah suatu keterikatan diri terhadap tugas dan kewajiban sebagai guru

yang dapat melahirkan tanggung jawab dan sikap responsive dan inovatif

terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadi, di dalam

komitmen tersebut terdapat beberapa unsur antara lain adanya kemampuan

memahami diri dan tugasnya, kekuatan batin dan kekuatan dari luar, serta

tanggap terhadap perubahan. Unsur-unsur inilah yang melahirkan tanggung

jawab terhadap tugas dan kewajiban yang menjadi komitmen seseorang

sehingga tugas tersebut dilakukan dengan baik dan penuh keikhlasan.


57

2. Bentuk komitmen kerja guru

Komitmen kerja guru sangat dibutuhkan dalam suatu organisasi

pendidikan karena seorang guru yang memiliki komitmen kerja yang tinggi

lebih cenderung memiliki perilaku yang profesional dan juga menjujung

tinggi aturan-aturan maupun nilai-nilai yang telah disepakati dalam

organisasi yang digelutinya (Ariyanti et al., 2019; Thien et al., 2014).

Menurut Meyer dan Allen dalam (Susana, 2018) komitmen organisasi

memiliki beberapa komponen diantaranya yaitu:

a. Komitmen Efektif (Affective Commitment)

Bentuk komitmen ini mengarah pada hubungan emosional antara

anggota terhadap organisasi. Orang yang berharap terus bekerja

bagi organisasi karena mereka searah dengan tujuan dan nilai

dalam organisasi. Orang dengan tingkat komitmen afektif yang

tinggi memiliki keinginan untuk tetap tinggal di organisasi karena

mereka mendukung tujuan organisasi dan siap membantu

mencapai tujuan dari organisasi tersebut.

b. Komitmen Berkelanjutan (Continuance Commitment)

Bentuk komitmen ini mengarah pada keinginan karyawan untuk

tetap tinggal pada organisasi karena ada perhitungan atau analisis

tentang untung dan rugi yang mana nilai ekonomi yang dirasa

bertahan dalam organiasi daripada meninggalkan organisasi.

Semakin lama karyawan tinggal dengan organisasi, maka semakin


58

takut kehilangan yang apa sudah mereka investasikan dalam

organisasi selama ini.

c. Komitmen Normatif (Normative Commitment)

d. Bentuk komitmen ini mengarah pada perasaan karyawan yang

mana mereka diwajibkan untuk tetap tinggal dalam organisasi

disebabkan karena tekanan dari yang lain. Karyawan yang

memiliki tingkat komitmen normatif tinggi akan sangat

memperhatikan apa yang dinyatakan orang lain mengenai mereka

jika meninggalkan organisasi tersebut, mereka tidak ingin

mengecewakan atasan dan khawatir jika rekan kerja mereka

memiliki pikiran buruk terhadap pengunduran diri mereka.

Richard M. Steers (Tazkia, 2017), menjelaskan komitmen kerja guru

dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu:

a. Identfikasi (nilai-nilai kepercayaan) terhadap organisasi sekolah

Yaitu menerima tujuan yang merupakan dasar dari komitmen

kerja. Identifikasi guru tampak melalui sikap menyetujui

kebijaksanaan sekolah dan kesamaan nilai pribadi dan nilai-nilai

organisasi di dalam sekolah, rasa kebanggaan menjadi bagian dari

organisasi sekolah.

b. Keterlibatan

Yaitu adanya kesediaan untuk bersungguh-sungguh pada

organisasi. Keterlibatan sesuai peran dan tanggung jawab


59

pekerjaan di sekolah. Guru yang memiliki komitmen yang tinggi

akan menerima semua tugas dan tanggung jawab pekerjaan yang

diberikan kepadanya.

c. Loyalitas

Yaitu adanya keinginan yang kuat untuk menjaga keanggotaannya

dalam organisasi sekolah. Loyalitas terhadap organisasi sekolah

merupakan evaluasi terhadap komitmen dan adanya ikatan

emosional serta keterikatan antara organisasi dan guru. Guru yang

memiliki komitmen yang tinggi merasakan adanya loyalitas dan

rasa memiliki terhadap organisasi dalam sekolah.

3. Proses terjadinya komitmen kerja guru

Komitmen kerja guru timbul secara bertahap dari pribadi guru.

Berawal dari kebutuhan pribadi terhadap organisasi, kemudian beranjak

menjadi kebutuhan bersama, dan rasa memiliki dari masing-masing guru

dalam lembaga pendidikan. Hal itu dapat dilakukan melalui pemahaman

tentang tugas dan fungsi guru dalam pembelajaran. Termasuk didalamnya

terdapat tanggungjawab secara moral berkaitan dengan kewajiban guru.

Banyak cara yang dilakukan sekolah dalam meningkatkan komitmen

kerja guru, di antaranya dengan menciptakan tradisi bekerja yang baik di

sekolah. Setiap sekolah memiliki cara, kebiasaan, dan aturan dalam mencapai

tujuan dan misi organisasi, termasuk cara individu berinteraksi satu sama lain

(bermasyarakat), dan cara individu mengatasi permasalahan yang dihadapi


60

dalam organisasi. Kehidupan tersebut didasarkan pada keyakinan yang

dimiliki, didasarkan pada falsafah hidup yang didasarkan dari hubungan

manusia dengan lingkungannya.

4. Faktor-faktor yang memengaruhi komitmen

Kinerja seorang pegawai dihasilkan dari salah satu aspek yaitu

komitmen. Seorang yang memiliki komitmen yang tinggi akan ditunjukkan

melalui sikap dan perbuatannya.

Steers & Porters (Rosalina, 2015) menjelaskan ada beberapa langkah

yang dapat dilakukan untuk membangun sebuah komitmen. Secara

professional, organisasi harus memiliki dan menempatkan karyawan sesuai

dengan kapasitas, minat dan motivasi kerja sehingga dapat memberi

keuntungan bagi karyawan (guru) dan organisasi (sekolah).

Menurut Sukmawati & Hermawan (2016) sebagai konsep

kepemimpinan yang fokus pada kegiatan belajar mengajar dan perilaku guru

dalam melayani siswa, maka kepala sebagai pemimpin instruksional

memfokuskan kegiatannya pada upaya peningkatan dan perbaikan komitmen

mengajar para gurunya, yaitu dengan mengajak, mendorong, mengarahkan

dan memfasilitasi guru bagi pengembangan kinerjanya. Memberdayakan

guru sehingga memiliki peningkatan kualitas dan memberi motivasi guru

untuk mengembangkan kompetensi profesionalnya sehingga tercipta

peningkatan kualitas pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, maka faktor

yang tak kalah penting dalam membangun komitmen adalah pemimpin


61

instruksional.

5. Dampak Komitmen Kerja Guru terhadap Prestasi Belajar

Pada umumnya tinggi rendahnya prestasi belajar siswa ditentukan

oleh banyak [Link]-faktor itu dikategorikan kedalam dua faktor utama,

yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Syah dalam Santo et al,.2018).

Faktor internal merujuk kepada faktor-faktor yang berasal dari dalam diri

pembelajar atau siswa itu sendiri seperti kesehatan fisik dan

psikis,intelegensi,motivasi belajar,disiplin belajar dan gaya belajar. Faktor

eksternal merujuk kepada semua faktor yang bersumber dari luar diri

pebelajar atau siswa. Faktor eksternal masih dapat dikelompokkan kedalam

beberapa faktor berikut: (a) faktor pendidik atau guru seperti kemampuan

mengajar, gaya mengajar, metode mengajar, komitmen mengajar, disiplin

mengajar, kinerja, kelelahan emosional, status sosial ekonomi, dan interaksi

guru dengan belajar di sekolah;(c)faktor keluarga seperti pendidikan orang

tua,pekerjaan orang tua,pendapatan orang tua,ketersediaan fasilitas dan

sumber belajar di rumah,pendampingan orang tua dalam belajar di rumah; (d)

faktor lingkungan seperti pergaulan teman sebaya dan media media sosial.

Merujuk kepada hasil penelitian wirang et Al.(2015a,2017a,2019)

serta hasil penelitian Werang dan Pure (2018) yang mengindikasikan tinggi

tingkat absensi guru hanya berfokus pada faktor komitmen kerja guru.

Marmaya et all.(dalam Werang et all., 2015b) dan Camilleri (dalam

Wolomasi [Link].,2019) mengartikan komitmen kerja guru sebagai ikatan


62

emosional pekerja dengan sebuah dengan sekolah tempatnya bekerja.

Firestone dan Rossenblum (dalam Werang dan Agung, 2017)

memaknai komitmen kerja guru sebagai komitmen guru terhadap para

murid,komitmen guru terhadap profesi mengajar dan komitmen guru

terhadap sekolah tempatnya mengajar.

Komitmen guru dalam mengajar anak-anak menjadi salah satu faktor

yang penting dalam meningkatkan mutu pendidikan di [Link]

sangat membutuhkan guru guru yang profesional dalam bidang kelihatannya

tetapi keberadaan guru guru profesional itu tidak ada gunanya sama sekali

apabila mereka tidak memiliki komitmen yang kuat untuk masuk kelas dan

menularkan semua pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki demi

keberhasilan para anak didiknya (Wolomasi et al., 2019).

Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya

prestasi belajar siswa peneliti hanya berfokus pada faktor eksternal yaitu

komitmen kerja guru dalam mengajar guru guru yang berkomitmen kerja

tinggi cenderung lebih disiplin dalam menjalankan tugas-tugas yang

dibebankan kepada mereka guru-guru yang berkomitmen kerja tinggi bahkan

mau bekerja dan berkontribusi lebih dari apa yang dituntut dari [Link]

tetapi masalah yang umumnya ditemui pada guru di sekolah adanya tinggi

tingkat absensi [Link] guru yang tidak hadir di dalam kelas untuk

mengajar sehingga siswa hanya bermain dan tidak melakukan kegiatan

belajar guru tidak mempersiapkan materi pembelajaran yang membelajarkan


63

para siswanya. Masalah lain yang ditemukan ialah kurangnya perhatian guru

terhadap siswa sehingga tidak memperdulikan masalah-masalah yang

dihadapi [Link] guru memiliki komitmen kerja yang tinggi

maka ia akan bersungguh-sungguh dalam memilih serta akan selalu

menyediakan waktu dan tenaganya untuk membantu para siswanya agar

menjadi generasi yang cerdas sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar

siswa

Guru yang memiliki etos kerja yang baik akan tampak lebih ekstra

tekun dan memiliki komitmen untuk bekerja. Komitmen guru dapat

melahirkan tanggung jawab dan sikap responsif dan inovatif terhadap

perkembangan dan teknologi ( Nanggulan, 2020)

Glickman (Rosalina, 2015) menyatakan bahwa komitmen adalah

kesediaan seseorang untuk mengorbankan waktu dan tenaganya secara relatif

lebih banyak dari apa yang telah ditetapkan padanya. Dalam penelitian ini,

komitmen yang dimaksud adalah tanggung jawab seorang guru baik itu

terhadap pekerjaannya, peraturan perundang-undangan, organisasi profesi,

teman sejawat, anak didik, tempat kerja, maupun pemimpin yang ada pada

organisasi tempat guru tersebut bekerja.

Dalam komitmen tersebut terdapat beberapa unsur antara lain adanya

kemampuan memahami diri dan tugasnya, kekuatan batin dan kekuatan dari

luar, serta tanggap terhadap perubahan. Unsur-unsur inilah yang melahirkan

tanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban yang menjadi komitmen


64

seseorang sehingga tugas tersebut dilakukan dengan baik dan penuh

keikhlasan.

D. Disiplin Kerja Guru

1 Pengertian Disiplin Kerja Guru

Disiplin adalah suatu bentuk pelatihan yang berasal dari aturan

organisasi. Mangkunegara dan Octorend (2015) mendefinisikan: “discipline

is essentially the ability to control himslef in the form of not doing an action

that does not conform and support something that has been created”.

Disiplin pada dasarnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dalam

bentuk tidak melakukan tindakan yang tidak sesuai dan mendukung sesuatu

yang telah dibuat. Sedangkan Mullins (2015:197) mendefiniskan: “discipline

is in essence the outward mark of respect for agreements between the

irganisation and its members”. Disiplin pada dasarnya tanda lahiriah dari

kesepakatan yang dipatuhi oleh organisasi dan anggotanya. Dalam kaitannya

dengan pengertianini seorang pemimpin harus memutuskan bentuk yang

paling tepat dari sanksi atau kasus-kasus pelanggaran terhadap disiplin.

Disiplin merupakan fungsi operatif manajemen sumber daya manusia yang

terpenting, karena seseorang semakin disiplin, maka akan semakin baik

prestasi kerjanya. Sutrisno (2011:177) menjelaskan: “disiplin menujukkan

suatu kondisi atau sikap hormat yang ada pada diri seseorang terhadap

peraturan dan ketetapan organisasi”. Disiplin yang baik mencerminkan


65

besarnya tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan

kepadanya.

Wahjosumidjo (2011:188) mengartikan “disiplin adalah sikap mental

yang mengandung kerelaan mematuhi semua ketentuan, peraturan dan norma

yang berlaku dalam menunaikan tugas dan tanggung jawab”.

Pendapat lain mengenai disiplin dikemukakan oleh Poerbakawatja

(Sagala, 2011:124) bahwa “disiplin adalah proses mengarahkan,

mengabdikan kehendak-kehendak langsung, dorongan-dorongan, keinginan

atau kepentingan-kepentingan, kepada suatu cita-cita, atau tujuan tertentu

untuk mencapai efek yang lebih besar”. Dalam kaitannya dengan manajemen

sekolah, lebih lanjut dinyatakan Sagala (2011:123) bahwa: “manajemen

sekolah yang efektif adalah yang mampu meningkatkan kualitas sekolah

yang didukung oleh disiplin secara menyeluruh”. Nilai kedisiplinan dapat

dikatakan merupakan salah satu ciri utama manajemen yang efektif. Disiplin

keja guru berkaitan erat dengan kepatuhan dalam menerapkan peraturan

sekolah.

Disiplin dapat diartikan sebagai sikap mengendalikan diri, dan disiplin

dapat menjadi ketertiban lingkungan. Disiplin sebagai sikap mengendalikan

diri didasarkan pada kesadaran dan rasa tanggung jawab pada tugas yang

diemban, sedangkan disiplin sebagai suatu ketertiban lingkungan didasarkan

pada kepatuhan melaksanakan nilai, aturan, ketertiban, dan norma yang ada.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja guru adalah


66

sikap kesetiaan dan ketaatan guru terhadap peraturan-peraturan yang ada di

sekolah untuk tujuan tertentu dengan kesadaran akan tugas dan

kewajibannya.

Berkaitan dengan uraian di atas, dapat diartikan bahwa disiplin kerja

guru akan terlaksan jika atasan atau kepala sekolah mengawasi para guru

pada saat mereka melakukan kegiatan. Pengawasan itu dilakukan bertujuan

untuk melihat para guru dan tenaga kependidikan yang lain bekerja sesuai

dengan prosedur yang ada atau tidak. Ketaatan dalam melaksanakan

pekerjaan juga akan mempengaruhi tersebut. Apabila seorang guru mengikuti

aturan sekolah berarti ia memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap

tugas yang diberikan oleh kepala sekolah.

2 Jenis-Jenis Disiplin Kerja

Dalam setiap organisasi yang diinginkan adalah jenis disiplin yang

timbusl dari diri sendiri atas dasar kerelaan dan kesadaran. Akan tetapi dalam

kenyataannya selalu menyatakan disiplin lebih banyak disebabkan oleh

adanya paksaan dari luar. Oteng Sutisna (Barnawi dan Arifin, 2012:113)

menyebutkan dua jenis disiplin yaitu:

a. Disiplin positif

Disiplin positif merupakan suatu sikap dan iklim organisasi

yang setiap anggotanya mematuhi peraturan-peraturan organisasi

atas kemauannya sendiri. Mereka pada tata tertib tersebut karena

mereka memahami, meyakini dan mendukungnya. Selain itu


67

mereka berbuat demikian karena benar-benar menghendakinya,

bukan karena takut akan akibat dari ketidakpatuhannya.

Dalam suatu organisasi yang telah menerapkan disiplin

positif, si pelanggar ditetapkan memperoleh suatu hukuman.

Namun yang diberikan bukan untuk melukai atau memecat,

melainkan untuk memperbaiki dan membetulkan. Disiplin positif

memberikan suatu pandangan bahwa kebebasan mengandung

konsekuensi, yakni kebebasan harus sejalan dengan tanggung

jawab.

b. Disiplin negative

Maksud dari disiplin negatif disini adalah suatu keadaan

yang menggunakan hukuman atau ancaman untuk membuat orang-

orang mematuhi perintah dan mengikuti peraturan hukuman.

Pendekatan disiplin negatif ini adalah menggunakan hukuman

pada pelanggaran peraturan untuk menggerakkan dan menakutkan

guru sehingga mereka tidak akan berbuat kesalahan yang sama.

Disiplin negatif cenderung bertumpu kepada konsepsi lama,

yaitu sumber disiplin adalah otoritas pimpinan. Hukuman

merupakan ancaman bagi guru atau pegawai.

3 Pembentukan Disiplin Kerja Guru


68

Pada dasarnya kedisiplinan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Menurut Hasibuan (2016) yaitu:

a. Tujuan dan Kemampuan

Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara

ideal serta cukup menantang bagi kemampuan karyawan. Hal ini

berarti bahwa tujuan (pekerjaan) yang dibebankan kepada

seseorang karyawan harus sesuai dengan kemampuan karyawan

bersangkutan. Tetapi jika pekerjaan itu di luar kemampuannya atau

pekerjaannya itu jauh dibawah kemampuannya, maka

kesungguhan dan kedisiplinan karyawan akan rendah. Di sini letak

pentingnya asas the right man in the right place and the right man

in the right job.

b. Kepemimpinan

Dalam menentukan disiplin kerja karyawan maka pimpinan

dijadikan teladan dan panutan oleh para bawahannya. Pimpinan

harus memberi contoh yang baik, berdisiplin baik, jujur, adil, serta

sesuai kata dengan perbuatan. Pimpinan jangan mengharapkan

kedisiplinan bawahannya baik, jika dia sendiri kurang berdisiplin.

Pimpinan harus menyadari bahwa perilakunya akan dicontoh dan

diteladani oleh para bawahannya. Hal inilah yang mengharuskan

agar pimpinan mempunyai kedisiplinan yang baik, supaya para

bawahan pun berdisiplin baik.


69

c. Insentif (Tunjangan Dan Kesejahteraan)

Balas jasa (gaji dan kesejahteraan) ikut memengaruhi

kedisplinan karyawan, karena akan memberikan kepuasan dan

kecintaan karyawan terhadap perusahaan/pekerjaannya.

Perusahaan harus memberikan balas jasa yang sesuai. Kedisiplinan

karyawan tidak mungkin baik apabila balas jasa yang di terima

kurang memuaskan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuannya

beserta keluarganya. Karyawan sulit untuk berdisiplin baik jika

selama kebutuhan-kebutuhan primernya tidak terpenuhi dengan

baik.

d. Keadilan

Keadilan mendorong terwujudnya kedisiplinan karyawan,

karena ego dan sifat manusia yang selalu merasa dirinya penting

dan minta diperlakukan sama dengan manusia lainnya. Apabila

keadilan yang dijadikan dasar kebijaksanaan dalam pemberian

balas jasa (pengakuan) atau hukuman, akan merangsang

terciptanya kedisiplinan karyawan yang baik. Pimpinan atau

manajer yang cakap dalam kepemimpinannya selalu bersikap adil

terhadap semua bawahannya, karena dia menyadari bahwa dengan

keadilan yang baik akan menciptakan kedisplinan yang baik pula.

e. Pengawasan
70

Melekat Pengawasan melekat harus dijadikan suatu

tindakan yang nyata dalam mewujudkan kedisplinan karyawan

perusahaan, karena dengan pengawasan ini, berarti atasan harus

aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral, sikap, gairah kerja,

dan prestasi bawahan. Hal ini berarti atasan harus selalu ada/hadir

di tempat kerjanya, supaya dia dapat mengawasi dan memberikan

petunjuk, jika ada bawahannya yang mengalami kesulitan dalam

mengerjakan [Link] (2012) menyatakan bahwa

pengawasan merupakan proses untuk menjamin bahwa tujuan-

tujuan perusahaan dan manajemen dapat [Link] Mc.

Farland dalam Handayaningrat (1996) mengemukakan bahwa

pengawasan ialah suatu proses dimana pimpinan ingin mengetahui

apakah hasil pelaksanaan pekerjaan dilakukan oleh bawahannya

sesuai dengan rencana, perintah, tujuan, atau kebijaksanaan yang

telah ditentukan. Hal ini sejalan dengan pendapat Saydam (2005)

yang menjelaskan bahwa adanya hubungan timbal balik antara

disiplin kerja dan pengawasan yang mana dikatakan disiplin

terbentuk dari sikap keryawan dalam menciptakan rasa tanggung

jawab atas tugas yang di [Link] ini sejalan dengan pendapat

yang dikemukakan oleh Nurrahman (2014) yaitu pengawasan

melekat berkorelasi dengan disiplin kerja pegawa.

f. Sanksi Hukuman
71

Sangsi hukuman berperan penting dalam memelihara

kedisiplinan karyawan. Karena dengan adanya sanksi hukuman

yang semakin berat, karyawan akan semakin takut melanggar

peraturan-peraturan perusahaan, sikap dan perilaku yang

indisipliner karyawan akan berkurang. Berat ringannya sangsi

hukuman yang akan diterapkan ikut mempengaruhi baik buruknya

kedisiplinan karyawan. Sangsi hukuman harus ditetapkan

berdasarkan pertimbangan logis, masuk akal dan diinformasikan

secara jelas kepada semua karyawan.

g. Ketegasan

Pemimpin harus berani tegas bertindak untuk menghukum

setiap karyawan yang indispliner sesuai dengan sanksi hukuman

yang telah ditetapkan. Pimpinan yang berani bertindak tegas

menerapkan hukuman bagi karyawan indisipliner akan disegani

dan diakui kepemimpinanya. Tetapi bila seorang pimpinan kurang

tegas atau tidak menghukum karyawan yang indisipliner, maka

sulit baginya untuk memelihara kedisiplinan bawahannya, bahkan

sikap indispliner karyawan tersebut akan semakin meningkat.

h. Hubungan

Kemanusiaan Hubungan kemanusiaan yang harmonis di

antara sesama karyawan ikut menciptakan kedisiplinan yang baik

pada suatu perusahaan. Hubungan-hubungan itu baik bersifat


72

vertikal maupun horizontal yang hendaknya horizontal. Pimpinan

atau manajer harus berusaha menciptakan suasana hubungan

kemanusiaan yang serasi serta mengikat, vertikal maupun

horizontal. Jika tercipta human relationship yang serasi, maka

terwujud lingkungan dan suasana kerja yang nyaman.

Hal ini akan memotivasi kedisiplinan yang baik pada perusahaan.

Menurut Saydam (2016), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tegak

tidaknya suatu disiplin kerja dalam suatu perusahaan antara lain:

a. Besar kecilnya pemberian kompensasi

Kompensasi (balas jasa) mempengaruhi tingkat

kedisiplinan karyawan, karena balas jasa akan memberikan

kepuasan dan kecintaan karyawan terhadap perusahaan tempat ia

bekerja. Semakin besar balas jasa yang diterima karyawan,

semakin baik kedisiplinan karyawan karena dengan balas jasa yang

besar akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya jika

balas jasa yang diterima karyawan kecil, maka kedisiplinan

karyawan akan rendah karena karyawan akan sulit memenuhi

kebutuhan hidupnya.

b. Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam perusahaan

Teladan pimpinan sangat berperan dalam menentukan

kedisiplinan karyawan, apabila tingkah laku pimpinan baik maka

disiplin karyawan pun akan baik, sebaliknya jika tingkah laku


73

pimpinan kurang baik maka disiplin karyawan pun akan kurang

baik.

c. Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan

Aturan sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan

disiplin karyawan, karena dengan adanya aturan, karyawan akan

mengetahui aturan yang ada pada perusahaan itu serta sanksi apa

yang akan didapat bila melanggar aturan tersebut.

d. Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan

Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan akan

mempengaruhi kedisiplinan karyawan. Pimpinan harus berani dan

tegas bertindak untuk menghukum setiap karyawan yang

indisipliner sesuai dengan sanksi hukuman yang telah ditetapkan.

Pimpinan yang berani bertindak tegas menerapkan hukuman bagi

karyawan yang indisipliner akan disegani dan diakui

kepepimpinannya oleh bawahannya, dengan demikian pimpinan

tersebut akan dapat memelihara kedisiplinan karyawan.

e. Ada tidaknya pengawasan pimpinan

Pengawasan dari pimpinan sangat diperlukan oleh

karyawan dalam meningkatkan kedisiplinan. Karena dengan

pengawasan ini berarti atasan aktif dan langsung mengawasi


74

perilaku, moral, sikap, gairah kerja dan prestasi kerja bawahannya.

Hal ini berarti atasan selalu hadir di tempat kerja, supaya atasan

dapat mengawasi dan memberikan petunjuk jika ada bawahannya

yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan pekerjaannya dan

juga dapat memberikan metode atau cara yang lebih efektif dalam

melakukan pekerjaan sehingga dapat mengurangi kesalahan dan

mendukung kedisiplinan dan moral kerja dari karyawan.

f. Ada tidaknya perhatian kepada pada karyawan.

Perhatian dari pimpinan sangat diperlukan karyawan dalam

meningkatkan atau mewujudkan disiplin kerja, sebab dengan

perhatian, karyawan akan merasa dihargai diri dan hasil kerjanya,

dan dengan perhatian akan terwujud hubungan kerjasama yang

baik dan harmonis antara atasan dengan bawahan dalam

perusahaan yang akan mendukung terbinanya kedisiplinan

karyawan yang baik.

Berdasarkan kedua faktor di atas, peneliti memilih faktor yang

dipaparkan oleh Hasibuan (2016), yaitu tujuan dan kemampuan,

kepemimpinan, balas jasa, keadilan, pengawasan melekat, sanksi hukuman,

dan ketegasan, serta hubungan kemanusiaan. Hal ini dikarenakan teori dalam

Hasibuan, (2016) lebih sesuai dengan variabel yang peneliti gunakan.

Kemudian teori dari Hasibuan (2011) telah banyak dijadikan sebagai acuan
75

penelitian serta munculnya faktor mengenai pengawasan melekat dalam

wawancara kepada subjek.

4 Aspek-aspek disiplin

Seseorang yang berhasil dalam menempuh karirnya adalah mereka

yang mempunyai disiplin kerja yang tinggi sehingga di dalam pola perilaku

tersusun dengan rapi dan mendetail serta direalisasikan pada tiap-tiap

pegawai. Guru yang disiplin akan tepat waktu dalam istirahat, makan dan

berolahraga sehingga fisik dapat terjaga untuk melaksanakan tugas-tugas

yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan demikian ciri utama dari

kedisiplinan adalah keteraturan dan ketertiban. Sukarno (Yuniarsih dan

Suwatno, 2018:95) mengemukakan disiplin kerja dapat ditingkatkan apabila

terdapat kondisi kerja yang dapat merangsang pegawai untuk berdisiplin.

Oleh karena itu disiplin kerja berjalan baik apabila a)mematuhi dan mentaati

ketentuan-ketentuan waktu kerja,b)Mematuhi peraturan dan tata tertib yang

berlaku,c)mematuhi perintah atasan atau instruksi [Link]

dalam meningkatkan kerjasama.

Lebih lanjut menurut Sagala (2011:124) aspek-aspek kedisiplinan

sekolah diantaranya:

a. Jadwal kegiatan guru dan tenaga kependidikan

b. Jadwal kegiatan unit kerja sekolah

c. Jadwal kegiatan rutin sekolah

d. Jadwal pelajaran disekola


76

e. Kehadiran guru dan pegawai

f. Kehadiran dan kepulangan peserta didik

g. Ketepatan guru masuk dan meninggalkan kelas

h. Adanya sanksi bagi guru yang terlambat

i. Laporan kerja dan adanya tim khusus yang berkonsentrasi

menganalisis laporan kerja guru, personel dan juga peserta

didik.

Menurut Aritonang (Barnawi dan Arifin, 2012:124) menyebutkan

lima aspek disiplin kerja guru yang harus diperhatikan antara lain:

a. Disiplin terhadap tugas kedinasan

Disiplin terhadap tugas kedinasan adalah

kesanggupan guru untuk mentaati kewajiban dan

menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan

kedinasan yang apabila tidak ditaati atau melanggar akan

dijatuhi hukuman disiplin. Mengikuti cara-cara yang

ditetapkan oleh sekolah menunjukkan kepatuhan guru

terhadap sekolah. Seorang yang memiliki disiplin terhadap

tugas kedinasan akan melaksanakan tugas kedinasan dengan

sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian, kesadaran dan

tanggung jawab.

b. Disiplin terhadap waktu


77

Disiplin terhadap waktu merupakan disiplin dalam

menata dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

Guru yang memiliki disiplin terhdap waktu adalah tidak

melalikan kewajiban, datang tepat waktu, tertib, teratur.

Dengan datang kesekolah secara tertib, tidak melalaikan

tugas, tepat waktu dan teratur maka disiplin kerjanya dikatan

baik.

Indikator disiplin waktu meliputi: a) Menepati waktu

tugas, b) memanfaatkan waktu dengan baik, c)

menyelesaikan tugas tepat waktu

c. Disiplin terhadap sikap dan tingkah laku

Disiplin terhadap sikap dan tingkah laku adalah tidak

bersikap, bertingkah laku dan melakukan hal-hal yang tidak

tercela dalam melaksanakan tugas yang dapat menurunkan

kehormatan dan harga dirinya. Guru yang memiliki disiplin

terhadap sikap dan tingkah laku adalah mampu bersikap dan

bertingkah laku sopan santun terhadap sesama guru, terhadap

atasan, peserta didik dan masyarakat.

5 Indikator-indikator disiplin kerja guru

Indikator-indikator disiplin guru menurut Aritonang ( Barnawi &

Arifin,2012 :124) adalah:

a. Indikator terhadap tugas kedinasan


78

1) Mentaati peraturan kerja sekolah

2) Menyiapkan kelengkapan mengajar

3) Melaksanakan tugas-tugas pokok

b. Indikator terhadap waktu

1) Menepati waktu tugas

2) Memanfaatkan waktu dengan baik

3) Menyesaikan tugas tepat waktu

c. Indikator terhadap suasana kerja

1) Memanfaatkan lingkungan sekolah

2) Menjalin hubungan yang baik

3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban

d. Indikator dalam melayani masyarakat

1) Melayani peserta didik

2) Melayani orang tua peserta didik

3) Melayani orang tua peserta didik

4) Melayani masyarakat sekitar

e. Indikator terhadap sikap dan tingkah laku

1) Memperhatikan sikap

2) Memperhatikan tingkah laku

3) Memperhatikan harga diri

E. Kerangka Berpikir
79

Penelitian-penelitan sebelumnya menemukan bahwa dalam mewujudkan

kualitas pendidikan lebih khusus di sekolah dipengaruhi oleh banyak faktor salah

satunya melalui gaya kepemimpinan instruksional, komitmen kerja guru, disiplin

kerja guru dan prestasi belajar siswa.

Kerangka penelitian ini terdiri dari 3 variabel, yaitu variabel dependen,

variabel independen dan variabel intervening. Variabel independen atau variabel

terikat merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas serta menjadi

perhatian utama peneliti. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat

adalah prestasi belajar siswa SDN di Kecamatan Haur Gading. Variabel

Intervening adalah variabel antara yang menghubungkan sebuah variabel

independen utama pada variabel dependen yang dianalisis. Dalam penelitian ini

yang menjadi variabel intervening adalah komitmen kerja guru dan disiplin kerja

guru. Variabel dependen yaitu variabel yang mempengaruhi variabel terikat, baik

itu secara positif atau negatif. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel

dependen adalah Kepemimpinan Instruksional. Kerangka berpikir penelitian ini

dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Hubungan Kepemimpinan Instruksional dan Prestasi belajar siswa

Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi

orang lain agar bekerjasama sesuai dengan rencana demi tercapainya tujuan

yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian kepemimpinan

memegang peranan yang sangat penting dalam manajemen, bahkan dapat

dinyatakan, kepemimpinan adalah inti dari manajemen. Demikian halnya


80

kepemimpinan di sekolah dalam hal ini adalah kepala sekolah. Kepala

sekolah memiliki peranan yang dapat mengelola seluruh sumber daya yang

ada sekolah.

Kepemimpinan pembelajaran adalah salah satu kompetensi yang

dimiliki kepala sekolah dengan memusatkan perhatiannya pada

pengembangan lingkungan kerja yang memuaskan bagi guru, serta pada

akhirnya mampu mengembangkan kondisi belajar yang memungkinkan hasil

belajar siswa meningkat (Greenflied 1987 dalam Astuti, 2011)

Kepala Sekolah dituntut untuk meningkatkan kualitas instruksi

sebagaimana dikaji Bendikson et al (2012) serta Pan et al (2015). Karena hal

ini menunjukkan bahwa kepemimpinan instruksional kepala sekolah

berperan penting meningkatkan prestasi siswa dan kepala sekolah.

Model kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership)

merupakan model kepemimpinan yang dapat mendorong meningkatnya

prestasi siswa (Cotton.2013).Hasil Penelitian Andang (2015) yang berjudul

Hubungan kepemimpinan pembelajaran Kepala Sekolah dengan Prestasi

Belajar Siswa di SMA Negeri Kota Bima. Hasil analisis regresi linear

variabel kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah (X1) dengan prestasi

belajar siswa (Y) menunjukan:

Uji Parsial (uji-t)

Uji-t dilakukan untuk melihat signifikansi hubungan secara individual

antara variabel kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah dengan variabel


81

prestasi belajar siswa dengan taraf signifikan sebesar 0,05, sedangkan

signifikan t diperoleh sebesar 0,000 yang berarti memiliki taraf signifikan

lebih kecil dibanding dengan taraf signifikan (tingkat kesalahan) yang

ditentukan. Hal tersebut menunjukkan bahwa hipotesis nol (Ho) ditolak dan

Hipotesis kerja (H1) diterima, yang berarti ada hubungan antara variabel

kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah dengan variabel prestasi belajar

siswa di SMA negeri se kota Bima.

Uji Deterninasi (R2)

Uji R2 dilakukan untuk mengukur kekuatan hubungan antara variabel

independen dalam menjelaskan variabel dependen. Diperoleh nilai koefisien

r parsial (r) sebesar 0,389 artinya kekuatan hubungan antara variabel

kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah (X1) dengan variabel variabel

prestasi belajar siswa (Y) sebesar 38,9%. Sedangkan koefisien determinasi

(R2) sebesar 0,152 berarti bahwa persamaan regresi yang digunakan

mempunyai proporsi kemampuan sebesai 15,2% dalam menjelaskan

keragaman variabel kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah, sementara

sisanya 84,8% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam

penelitian ini dan dianggap sebagai variable penggangu.

Hasil penelitian Tanama, Bafadal dan Degeng berkesimpulan bahwa

kepemimpinan pembelajaran sangat penting karena berkontribusi

sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa; mampu

memberikan dorongan terhadap warga sekolah untuk meningkatkan


82

prestasi belajar siswanya; memfokuskan kegiatan-kegiatan warganya

untuk menuju pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah; membangun

komunitas belajar warganya dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya

sebagai learning school.

Berdasarkan uraian diatas maka diduga ada hubungan Kepemimpinan

Instruksional dengan prestasi belajar siswa.

2. Hubungan Kepemimpinan Instruksional dan Komitmen Kerja Guru

Kepala sekolah dalam hal kepemimpinan merupakan nahkoda dalam

lembaga pendidikan. Semua konsep baik visi-misi sekolah maupun arah dan

tujuan lembaga menjadi tanggung jawabnya baik dalam pembelajaran.

Menurut Sukmawati & Herawan (2016), Kepala sekolah yang bersifat

instruksional menempatkan agenda pembelajaran pada urutan pertama dari

seluruh kegiatannya. Memberikan dukungan yang tepat untuk peningkatan

komitmen kerja guru dan disiplin kerja guru dalam mensukseskan

pembelajaran di kelas pada satuan pendidikan yang dipimpinnya.

Menurut Sukmawati & Herawan (2016), sebagai konsep

kepemimpinan yang fokus pada kegiatan belajar mengajar dan perilaku guru

dalam melayani siswa, maka kepala sekolah sebagai pemimpin instruksional

memfokuskan kegiatannya pada upaya peningkatan dan perbaikan komitmen

mengajar para gurunya, yaitu dengan mengajak, mendorong, mengarahkan

dan memfasilitasi guru dalam mengembangkan kinerjanya. Kepala sekolah

yang bersifat instruksional menempatkan agenda pembelajaran pada urutan


83

pertama dari seluruh kegiatannya. Memberikan dukungan yang tepat untuk

peningkatan komitmen kerja guru dan disiplin kerja guru dalam

mensukseskan pembelajaran di kelas pada satuan pendidikan yang

dipimpinnya.

Richard M. Steers (Tazkia, 2017), mendefinisikan komitmen kerja

sebagai rasa identifikasi (kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi),

keterlibatan (kesediaan untuk berusaha semaksimal mungkin demi

kepentingan organisasi) dan loyalitas (keinginan untuk tetap menjadi anggota

organisasi) yang dinyatakan oleh seorang pegawai terhadap organisasinya.

Penelitian yang sejalan mengenai adanya pengaruh dari

kepemimpinan terhadap komitmen adalah Harahap (2019) dengan judul

“Hubungan Kepemimpinan Instruksional, dengan Komitmen Guru, Iklim

Organisasi, dan Kepuasan Kerja Guru di SD Negeri Se-Kecamatan Tapin

Utara”. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa: (1) Ada hubungan antara

Kepemimpinan Instruksional dengan komitmen kerja guru di SD Negeri se-

Kecamatan Tapin Utara. Penelitian Zalizayasin (2018) dengan judul

“Amalan kepimpinan instruksional pengetua dan hubungannya dengan

komitmen guru di sekolah menengah daerah Seremban, Negeri Sembilan”.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa: kepimpinan instruksional pengetua

mampu mempengaruhi kepada peningkatan komitmen guru.


84

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan

transformasional berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap

kepuasan kerja.

3. Hubungan Kepemimpinan Instruksional dan Disiplin Kerja Guru

Kepemimpinan Instruksional menempatkan agenda pembelajaran

pada urutan pertama dari seluruh kegiatannya. Memberikan dukungan yang

tepat untuk peningkatan komitmen kerja guru dan disiplin kerja guru dalam

mensukseskan pembelajaran di kelas pada satuan pendidikan yang

dipimpinnya.

Menurut Hoy dan Miskel (Elisabeth, 2016) kepemimpinan

instruksional adalah kepemimpinan di bidang pendidikan yang berfokus pada

proses belajar mengajar dengan cara merumuskan visi misi sekolah,

mengelola program instruksional dan mempromosikan iklim belajar yang

positif. Kepemimpinan ini dapat memfasilitasi pembelajaran dengan baik

yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Dengan kata

lain kepemimpinan instruksional merupakan kepemimpinan yang fokus pada

proses dan hasil belajar siswa melalui pemberdayaan guru secara

professional.

Kepemimpinan yang fokus pada kegiatan belajar mengajar dan

perilaku guru dalam melayani siswa, maka kepala sekolah sebagai pemimpin

instruksional memfokuskan kegiatannya pada upaya peningkatan disiplin

kerja mengajar para gurunya, yaitu dengan mengajak, mendorong,


85

mengarahkan dan memfasilitasi guru dalam mengembangkan kinerjanya.

Kepala sekolah yang bersifat instruksional menempatkan agenda

pembelajaran pada urutan pertama dari seluruh kegiatannya. Memberikan

dukungan yang tepat untuk peningkatan disiplin kerja mengajar guru dalam

mensukseskan pembelajaran di kelas pada satuan pendidikan yang

dipimpinnya.

Hasil penelitian Rifa’I (2018) menunjukkan bahwa Kepemimpinan

kepala sekolah pada kategori baik, hal ini dapat dilihat dari kemampuan

administrasi dan kegiatan-kegiatan disekolah, memimpin guru dam siswa.

Disiplin kerja guru berada dalam kriteria baik, hal ini dapat dilihat dari cara

kerja guru dalam menjalankan tugas-tugasnya dengan baik dan tepat waktu

serta upayanya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Terdapat

pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah terhadap

disiplin kerja guru Pendidikan Agama Islam terhadap disiplin kerja dengan

jumlah pengaruh yang ditimbulkan sedang atau cukup.

Penelitian lain oleh Abdullah (2019) yang menunjukkan bahwa

kepemimpinan kepala sekolah dalam mewujudkan disiplin kerja guru IPS di

SMA Negeri 3 Kota Ternate dinilai sudah cukup baik karena kepala sekolah

memiliki kemampuan dalam mempengaruhi guru, mengerakkan dan

mengerahkan guru sehingga sangat menunjang efektifitas pra Guru dalam

pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yakni melaksanakan proses

pembelajaran secara maksimal


86

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ratri Romadhona (2019)

yang menyimpulkan bahwa kepemimpinan instruksional kepala sekolah

berpengaruh secara positif dengan disiplin kerja guru. Besar hubungan

kepemimpinan instruksional kepala sekolah dengan disiplin kerja guru

sebesar 0,442 yang artinya terdapat hubungan langsung dengan kategori

sedang. Penelitian ini menunjukkan hubungan langsung kepemimpinan

Instruksional kepala sekolah dengan disiplin kerja guru adalah sebesar

44,2%. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan

transformasional berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap disiplin

kerja.

4. Hubungan Komitmen Kerja Guru dengan Prestasi belajar siswa

Richard M. Steers (Tazkia, 2017) mendefinisikan komitmen kerja

guru sebagai rasa identifikasi (kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi),

keterlibatan (kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan

organisasi) dan loyalitas (keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi

yang bersangkutan) yang dinyatakan oleh seorang pegawai terhadap

organisasinya.

Berawal dari kebutuhan pribadi terhadap organisasi kemudian

beranjak menjadi kebutuhan bersama dan rasa memiliki dari para guru

terhadap organisasi sekolah lalu melakukan sebuah kesepakatan untuk

membentuk sebuah komitmen bersama guna mencapai sebuah tujuan yang

menjadi tugas dan tanggungjawabnya masing-masing. Dengan adanya


87

pembentukan sebuah komitmen bersama tersebut maka masing-masing guru

mempunyai rasa tanggungjawab untuk menjalankan kesepakatan demi

mencapai tujuan bersama yang telah disepakati. Dengan adanya rasa

kesepakatan bersama yang merupakan komitmen dari guru-guru tersebut,

maka tentunya dapat menghasilkan harapan peningkatan prestasi belajar

siswa dalam bekerja berupa tujuan yang akan dicapai, menetapkan berbagai

jenis kegiatan yang harus dilakukan dalam usaha mencapai tujuan yang telah

ditetapkan, menetapkan ketentuan-ketentuan atau norma-norma yang harus

ditaati oleh seluruh anggota organisasi sekolah, menetapkan berbagai sarana

yang diperlukan dalam usaha mencapai tujuan tersebut sehingga upaya itu

akan menimbulkan dampak positif pada prestasi belajar siswa, baik secara

individu maupun kelompok. Komitmen kerja guru yang kondusif

memungkinkan guru dapat melaksanakan tugasnya secara baik dan penuh

tanggung jawab sehingga akan berdampak pada prestasi belajar siswa dalam

mengajar di sekolah.

Juaini (2019) dalam tesisnya yang berjudul Pengaruh Gaya

Kepemimpinan Kepala Sekolah, Komitmen Kerja Guru dan Semangat Kerja

Guru terhadap Prestasi belajar siswa SMP di Kota Banjarbaru. Hasil

penelitian menunjukan bahwa komitmen kerja guru punya keterikatan yang

sangat kuat dalam meningkatkan prestasi belajar siswa SMP di kota

Banjarbaru.
88

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komitmen kerja

guru berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi belajar

siswa.

5. Hubungan Disiplin Kerja Guru dengan Prestasi belajar siswa

Kedisiplinan adalah salah satu faktor yang penting dalam suatu

organisasi. Dikatakan sebagai faktor yang penting karena disiplin akan

mempengaruhi kinerja pegawai dalam organisasi. Semakin tinggi disiplin

pegawai, semakin tinggi prestasi kerja yang dapat dicapai. Disiplin adalah

merupakan cerminan besarnya tanggungjawab seseorang dalam melakukan

tugas – tugas yang diberikan kepadanya yang mendorong gairah dan

semangat kerja seseorang.

Pentingnya peranan disiplin juga dikemukakan oleh Musanef (2012:

116) yang berpendapat bahwa: Disiplin juga tidak kalah pentingnya dengan

prinsip-prinsip lainnya artinya disiplin setiap pegawai selalu mempengaruhi

hasil prestasi kerja. Oleh sebab itu dalam setiap organisasi perlu

ditegaskandisiplin pegawai-pegawainya. Melalui disiplin yang tinggi

produktivitas kerja pegawai pada pokoknya dapat ditingkatkan”.

Selain itu Sutrisno (2016: 98) menyatakan bahwa disiplin yang baik

mencerminkan besarnya tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas

yang diberikan kepadanya. Hal ini mendorong gairah kerja, semangat kerja,

dan terwujudnya tujuan perusahaan. Melalui disiplin akan mencerminkan

kekuatan, karena biasanya seseorang berhasil dalam karyanya adalah mereka


89

yang memiliki disiplin yang tinggi. Guna mewujudkan tujuan perusahaan,

yang pertama harus dibangun dan ditegakkan perusahaan adalah kedisiplinan

karyawannya. Hasil penelitian Nurjannah (2022) dengan judul Hubungan

Disiplin Kerja Guru Sejarah Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata

Pelajaran IPS Di SMP Negeri 4 Bolo. Hasil penelitian menunjukkan ada

Hubungan Disiplin Kerja Guru Sejarah Terhadap Prestasi Belajar Siswa

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin kerja

guru berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi belajar

siswa.

6. Hubungan Kepemimpinan Instruksional dan Prestasi belajar siswa

Melalui Komitmen Kerja Guru

Menurut Bendikson 2012 dan Pan et al 2015, kepala sekolah dengan

karakteristik kepemimpinan instruksional berubah menjadi kebutuhan

bermakna bagi semua pihak meningkatkan kualitas [Link] ini

menunjukkan bahwa kepemimpinan instruksional berperan penting

meningkatkan prestasi belajar.

Prestasi belajar siswa merupakan salah satu aspek penting yang perlu

mendapat perhatian dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

Peningkatan prestasi belajar siswa dapat diawali dengan mengidentifikasi

faktorfaktor yang dapat mempengaruhinya. Kinerja sering dipandan sebagai


90

tingkat kemampuan pegawai dalam nelaksanakan tugas atau pekerjaan.

Kepemimpinan Instruksional dan komitmen kerja guru kemungkinan akan

mampu meningkatkan kinerja mereka. Dasar pemikirannya bahwa

Kepemimpinan Instruksional akan menggerakkan organisasi untuk

menumbuhkan komitmen kerja yang tinggi. Syalwa (2020) menyebutkan

hasil penelitiannya Terdapat pengaruh tidak langsung Kepemimpinan

Instruksional terhadap prestasi belajar siswa melalui motivasi kerja guru

Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Banjarbaru Utara.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Kepemimpinan

Instruksional dan prestasi belajar siswa melalui komitmen kerja guru.

7. Hubungan Kepemimpinan Instruksional dan Prestasi belajar siswa

Melalui Disiplin Kerja Guru

Kepemimpinan Instruksional melakukan pendampingan bagi guru

mulai dari merencanakan pembelajaran, mengelola proses pembelajaran,

sampai pada mengevaluasi pembelajaran. Dimana, kegiatan tersebut

merupakan tugas pokok pengajaran yang wajib dikuasai guru.

Msila (2013) serta Pina, Cabral, & Alves (2015) Kepemimpinan

instruksional harus mengambil peran aktif dalam proses instruksional, harus

membimbing guru selama berfungsi dalam proses pengajaran, serta menjaga

proses untuk mencapai prestasi siswa lebih baik. Hal ini mendorong sekolah

mulai menemukan ide – ide baru serta menciptakan dan berbagi pengetahuan

yang sangat penting dalam memecahkan masalah pembelajaran era modern.


91

Disiplin adalah sikap taat dan patuh kepada suatu aturan. Dalam hal

ini disiplin guru dapat dipahami sebagai sikap dari seorang guru yang

memegang kepatuhan dan ketaatan pada sebuah aturan dalam melaksanakan

tugasnya sebagai seorang guru. Seorang guru yang bisa tepat waktu hadir

dalam proses pembelajaran tentunya akan membuat proses pembelajaran bisa

berjalan sesuai dengan perencanaan pembelajaran yang sudah disiapkan

dalam perangkatnya. Dengan adanya Kepemimpinan Instruksional dan

disiplin kerja guru yang baik maka prestasi belajar siswa akan bisa maksimal.

Dari konsep dan hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa

kepemimpinan instruksional memiliki hubungan langsung terhadap

komitmen kerja, disiplin kerja dan prestasi belajar siswa dan memiliki

hubungan tidak langsung kepada prestasi belajar siswa melalui komitmen

kerja guru dan disiplin kerja guru. Komitmen kerja guru mempunyai

hubungan langsung terhadap prestasi belajar siswa dan hubungan langsung

antara disiplin kerja guru dengan prestasi belajar siswa.


92

H6 H6
Komitmen Kerja
Teori Meyer dan Allen
H2 Komitmen Afektif H4
Kepemimpinan Komitmen Berkelanjutan
Komitmen Normatif Prestasi Belajar
Instruksional Siswa
Teori Hallinger Benjamin [Link]
H1
Misi Sekolah Ranah kognitif
Program Ranah afektif
instruksional Ranah psikomotor
Iklim belajar Disiplin Kerja
H3 Teori Aritonang H5
Disiplin Kedinasan
Disiplin waktu H7
H7 Disiplin sikap&tingkah laku

Gambar 3.1 Model Hubungan Kepemimpinan Instruksional, Komitmen Kerja,


Disiplin Kerja, dengan Prestasi belajar siswa Secara Teoritis

Common questions

Didukung oleh AI

Komitmen kerja guru yang tinggi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dengan meningkatkan disiplin dan profesionalisme dalam mengajar. Guru yang berkomitmen tinggi lebih cenderung menyiapkan pelajaran dengan baik, mengelola kelas secara efektif, serta memberikan perhatian khusus kepada siswa, yang semua ini berkontribusi pada peningkatan prestasi siswa .

Penting bagi kepala sekolah untuk memiliki sifat instruksional karena hal ini membantu dalam memberikan dukungan optimal kepada guru untuk peningkatan mutu kinerja mengajar dan kesuksesan pembelajaran di kelas. Kepala sekolah instruksional berfokus pada mempengaruhi, mengarahkan, dan membimbing guru dalam kegiatan belajar mengajar dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif .

Meyer dan Allen mengidentifikasikan tiga bentuk komitmen kerja: komitmen afektif (hubungan emosional antara anggota dengan organisasi), komitmen berkelanjutan (berdasarkan perhitungan untung rugi tetap berada dalam organisasi), dan komitmen normatif (perasaan wajib untuk tetap tinggal di organisasi).

Model Hallinger dan Murphy mendefinisikan indikator kepemimpinan instruksional dalam tiga dimensi: merumuskan visi dan misi sekolah, mengelola program instruksional, dan mempromosikan iklim belajar yang positif. Masing-masing dimensi dijelaskan dalam beberapa indikator lebih spesifik seperti supervisi dan evaluasi instruksional, pengkoordinasian kurikulum, dan penghargaan untuk pengajar dan siswa .

Komitmen kerja guru mempengaruhi lingkungan pendidikan melalui peningkatan tanggung jawab, profesionalisme, dan disiplin guru dalam melaksanakan tugas pendidikan. Hal ini melibatkan perhatian yang lebih terhadap siswa dan kehadiran guru secara konsisten, serta sikap responsif dan inovatif terhadap perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi .

Kepala sekolah berperan dalam mempromosikan iklim belajar yang positif dengan menjaga waktu instruksional, menjaga kehadiran yang tinggi, memberi penghargaan kepada pengajar, mengembangkan profesionalitas guru, dan memberi penghargaan untuk siswa, sehingga menciptakan harapan tinggi dan budaya perbaikan berkelanjutan .

Kepemimpinan instruksional menurut Susanto (2016) terkait dengan komponen-komponen seperti kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah .

Menurut Andrew dan Soder, pemimpin instruksional yang efektif harus melakukan empat hal yaitu: mengarahkan semua stakeholder untuk mencapai visi misi sekolah, menjadi penyedia sumberdaya, menetapkan ekspektasi dan terus mengembangkan program instruksional, serta menjadi role model dalam menyampaikan visi misi sekolah dan hadir dalam semua acara sekolah .

Kepemimpinan instruksional berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa dengan fokus pada peningkatan kualitas pembelajaran melalui guru dan menciptakan iklim belajar yang positif, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas siswa .

Menurut Harahap, kepemimpinan instruksional kepala sekolah melibatkan perumusan visi dan misi yang jelas dan terukur, pengelolaan program instruksional yang terfokus pada kegiatan belajar mengajar, dan upaya mempromosikan iklim belajar yang positif yang mendorong perkembangan mutu dan budaya perbaikan berkelanjutan .

Anda mungkin juga menyukai