Prosedur Verifikasi Keamanan Kapal
Prosedur Verifikasi Keamanan Kapal
REPUBLIK INDONESIA
No.693, 2021 KEMENHUB. Verifikasi. Manajemen Keamanan
Kapal. Fasilitas Pelabuhan. Prosedur dan Tata
Cara.
[Link]
2021, No.693 -2-
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN TENTANG
PROSEDUR DAN TATA CARA PELAKSANAAN VERIFIKASI
MANAJEMEN KEAMANAN KAPAL DAN FASILITAS
PELABUHAN.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Verifikasi Manajemen Keamanan Kapal dan Fasilitas
Pelabuhan yang selanjutnya disebut Verifikasi adalah
[Link]
2021, No.693
-3-
[Link]
2021, No.693 -4-
[Link]
2021, No.693
-5-
[Link]
2021, No.693 -6-
BAB II
PELAKSANAAN VERIFIKASI
Pasal 2
(1) Untuk memastikan penerapan manajemen keamanan
Kapal dan Fasilitas Pelabuhan wajib dilakukan Verifikasi.
(2) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri
atas:
a. Verifikasi terhadap Kapal meliputi:
1. Verifikasi awal (initial verification) merupakan
Verifikasi sebelum Kapal dioperasikan untuk
pertama kali atau sebelum ISSC yang
dipersyaratkan diterbitkan pertama kali;
2. Verifikasi antara (intermediate verification)
merupakan Verifikasi antara tahun kedua dan
tahun ketiga pada tanggal ulang tahun ISSC;
3. Verifikasi pembaharuan (renewal verification)
merupakan Verifikasi untuk memperpanjang
masa berlaku ISSC tetapi tidak melebihi masa
5 (lima) tahun; dan
4. Verifikasi tambahan (additional verification)
merupakan Verifikasi yang ditentukan oleh
Menteri;
b. Verifikasi terhadap Fasilitas Pelabuhan meliputi:
1. Verifikasi pertama (first verification) merupakan
Verifikasi sebelum SoCPF yang dipersyaratkan
diterbitkan pertama kali;
2. Verifikasi kedua (second verification)
merupakan Verifikasi antara tahun kedua dan
tahun ketiga pada tanggal ulang tahun SoCPF;
[Link]
2021, No.693
-7-
Pasal 3
(1) Verifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
dilakukan oleh Auditor ISPS Code.
(2) Auditor ISPS Code sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri atas:
a. Auditor ISPS Code Direktorat Jenderal;
b. Auditor ISPS Code Unit Pelaksana Teknis Direktorat
Jenderal; atau
c. Auditor ISPS Code Atase Perhubungan.
(3) Auditor ISPS Code Direktorat Jenderal sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a mempunyai kewenangan
dalam melaksanakan Verifikasi:
a. Verifikasi awal (initial verification) dalam rangka
melaksanakan penerbitan ISSC Sementara;
b. Verifikasi antara (intermediate verification) dalam
melaksanakan pengukuhan (endorsement) ISSC;
c. Verifikasi pembaharuan (renewal verification) dalam
melakukan perpanjangan masa berlaku ISSC;
d. Verifikasi tambahan (additional verification) ISSC;
e. Verifikasi pertama (first verification) dalam
melaksanakan penerbitan SoCPF Sementara;
f. Verifikasi Kedua (Second Verification) dalam
melaksanakan pengukuhan SoCPF;
g. Verifikasi ketiga (third verification) SoCPF Permanen;
dan
h. Verifikasi keempat (fourth verification) SoCPF.
(4) Auditor ISPS Code Unit Pelaksana Teknis Direktorat
Jenderal dan Auditor ISPS Code Atase Perhubungan
[Link]
2021, No.693 -8-
Pasal 4
(1) Verifikasi pembaharuan (renewal verification) dalam
melakukan perpanjangan masa berlaku ISSC
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf c
bagi Kapal yang berlokasi di luar negeri dilakukan oleh
Auditor ISPS Code Direktorat Jenderal.
(2) Verifikasi tambahan (additional verification) ISSC dan
Verifikasi keempat (fourth verification) SoCPF
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf d
dan huruf h dapat dilaksanakan apabila:
a. terjadi gangguan keamanan yang sangat serius,
disebabkan oleh tidak dilaksanakannya prosedur
dalam SSP atau PFSP yang berakibat terganggunya
operasional Kapal atau Fasilitas Pelabuhan;
b. terdapat laporan resmi dari pihak tertentu yang
menyatakan bahwa Kapal atau Fasilitas Pelabuhan
tidak melaksanakan kewajiban terkait implementasi
Koda; dan/atau
c. hal lain yang perlu dilakukan oleh Direktur Jenderal
dalam rangka pengawasan.
[Link]
2021, No.693
-9-
Pasal 5
(1) Dalam melaksanakan Verifikasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 Auditor ISPS Code wajib dilengkapi
dengan:
a. surat perintah tugas dari Direktur Jenderal atau
kepala Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal;
b. kartu identitas Auditor ISPS Code;
c. lencana Auditor ISPS Code;
d. pakaian Auditor ISPS Code;
e. formulir Verifikasi; dan
f. perlengkapan pelindung diri.
(2) Kartu identitas Auditor ISPS Code, lencana Auditor ISPS
Code, Pakaian Auditor ISPS Code, dan formulir Verifikasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, huruf c,
huruf d, dan huruf e sesuai dengan format contoh 1,
contoh 2, contoh 3, dan contoh 4 sebagaimana tercantum
dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
BAB II
TATA CARA PERMOHONAN PERSYARATAN DAN PROSEDUR
VERIFIKASI
Pasal 6
(1) Permohonan Verifikasi awal (initial verification) dalam
rangka melaksanakan penerbitan ISSC Sementara dan
Verifikasi pembaharuan (renewal verification) dalam
melakukan perpanjangan masa berlaku ISSC
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a
dan huruf c untuk penerbitan ISSC disampaikan oleh
pemohon dalam bentuk surat permohonan kepada
Menteri melalui Direktur Jenderal dengan disertai
dokumen sebagai berikut:
a. sertifikat CSO;
b. sertifikat SSO;
c. surat penunjukan sebagai CSO;
d. surat penunjukan sebagai SSO; dan/atau
[Link]
2021, No.693 -10-
Pasal 7
(1) Permohonan Verifikasi pertama (first verification) dalam
melaksanakan penerbitan SoCPF Sementara dan
Verifikasi ketiga (third verification) SoCPF Permanen
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf e
dan huruf g untuk penerbitan SoCPF disampaikan oleh
pemohon dalam bentuk surat permohonan kepada
Menteri melalui Direktur Jenderal dengan disertai
dokumen sebagai berikut:
a. Sertifikat PFSO;
b. surat keputusan penunjukan sebagai PFSO;
c. laporan training, drill, dan exercise; dan
d. dokumen internal audit.
(2) Verifikasi pertama (first verification) dan Verifikasi ketiga
(third verification) sebagaimana dimaksud ayat (1)
dilaksanakan oleh Auditor ISPS Code Direktorat Jenderal
didampingi Auditor ISPS Code Unit Pelaksana Teknis
Direktorat Jenderal sesuai dengan bagan prosedur
contoh 6 sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
[Link]
2021, No.693
-11-
Pasal 8
(1) Verifikasi antara (intermediate verification) dalam
melaksanakan pengukuhan (endorsement) ISSC
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4) huruf b
dilakukan oleh Auditor ISPS Code Unit Pelaksana Teknis
Direktorat Jenderal atau Auditor ISPS Code Atase
Perhubungan dengan mencantumkan nama lengkap,
Nomor ID Auditor, tempat, dan tanggal Verifikasi serta
stempel dinas.
(2) Verifikasi kedua (second verification) dalam
melaksanakan pengukuhan (endorsement) SoCPF
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4) huruf e
dilakukan oleh Koordinator PSC pada Unit Pelaksana
Teknis Direktorat Jenderal dengan mencantumkan nama
lengkap, Nomor ID Auditor, tempat, dan tanggal Verifikasi
serta stempel dinas.
BAB III
PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN VERIFIKASI
Pasal 9
(1) Dalam melakukan Verifikasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (1) Direktur Jenderal membentuk tim:
a. Verifikasi manajemen keamanan Kapal terdiri dari:
1. 1 (satu) orang ketua auditor (lead auditor) ISPS
Code; dan
2. 1 (satu) orang anggota Auditor ISPS Code; dan
b. Verifikasi manajemen keamanan Fasilitas Pelabuhan
terdiri dari:
1. 1 (satu) orang ketua auditor (lead auditor) ISPS
Code; dan
2. 3 (tiga) orang anggota Auditor ISPS Code.
(2) Dalam melaksanakan Verifikasi, Auditor ISPS Code harus
membuat perencanaan Verifikasi yang meliputi:
a. penentuan tim Verifikasi;
b. pengaturan jadwal Verifikasi dengan pihak terkait;
[Link]
2021, No.693 -12-
Pasal 10
(1) Verifikasi dilakukan melalui tahapan:
a. pemeriksaan dokumen;
b. wawancara;
c. pemeriksaan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan;
d. evaluasi; dan
e. pelaporan.
(2) Pemilik Kapal dan manajemen Fasilitas Pelabuhan wajib
menghadirkan semua pihak terkait pada saat
pelaksanaan Verifikasi.
(3) Pihak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
meliputi:
a. Verifikasi terhadap Kapal:
1. Nakhoda;
2. SSO;
3. Awak Kapal; dan
4. CSO;
b. Verifikasi terhadap Fasilitas Pelabuhan:
1. Koordinator PSC dan/atau pejabat setingkat
dibawahnya selaku PSO; dan
2. PFSO, deputi PFSO, dan petugas keamanan
lainnya.
(4) Selain pihak terkait sebagaimana pada ayat (3) huruf b,
untuk Verifikasi terhadap Fasilitas Pelabuhan,
manajemen Fasilitas Pelabuhan dapat menghadirkan
pihak lain yang dianggap perlu untuk pelaksanaan
Verifikasi.
(5) Dalam kondisi tertentu Verifikasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat dilaksanakan melalui aplikasi dalam
jaringan.
[Link]
2021, No.693
-13-
Pasal 11
(1) Pemeriksaan dokumen sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 ayat (1) huruf a dilakukan untuk memeriksa
kelengkapan dokumen persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan Pasal 7 ayat (1).
(2) Wawancara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat
(1) huruf b dilakukan kepada semua pihak terkait
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (3) dan ayat
(4).
(3) Pemeriksaan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf c dilakukan
untuk memastikan kesesuaian dengan standar Koda.
BAB IV
TEMUAN VERIFIKASI
Pasal 12
(1) Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1)
huruf d dilaksanakan untuk menghasilkan temuan
Verifikasi.
(2) Temuan Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berupa.
a. kesesuaian (conformity);
b. ketidaksesuaian besar (major non conformity);
c. ketidaksesuaian kecil (minor non conformity);
dan/atau
[Link]
2021, No.693 -14-
d. observasi.
(3) Kesesuaian (conformity) sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf a apabila tidak ditemukan ketidaksesuaian
besar (major non conformity), ketidaksesuaian kecil (minor
non conformity), dan/atau observasi.
(4) Ketidaksesuaian besar (major non conformity)
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b apabila:
a. berdampak serius terhadap keamanan Kapal atau
Fasilitas Pelabuhan;
b. pada area tertentu terdapat 5 (lima) ketidaksesuaian
kecil (minor non conformity);
c. terdapat indikasi tidak berjalannya sistem
manajemen keamanan Kapal atau Fasilitas
Pelabuhan; dan/atau
d. membutuhkan prioritas tindakan perbaikan segera.
(5) Kategori ketidaksesuaian besar (major non conformity)
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) terhadap Kapal
sebagai berikut:
a. dokumen SSA tidak ada di atas Kapal;
b. dokumen SSP hilang atau tidak ada di atas Kapal;
c. kaji ulang (review) dan atau perubahan (revision)
terhadap SSA dan SSP tidak pernah dilaksanakan;
d. tidak ada sistem identifikasi orang (ID card atau
metode lain);
e. internal audit tidak pernah dilaksanakan;
f. peralatan automatic identification system (AIS)
dan/atau ship security alert system (SSAS) tidak
terpasang di Kapal;
g. peralatan automatic identification system (AIS)
dan/atau ship security alert system (SSAS) tidak
berfungsi dengan baik;
h. training, drill, dan exercise tidak pernah
dilaksanakan;
i. CSO belum mengikuti pelatihan yang
dipersyaratkan;
j. nakhoda (master), SSO, dan CSO tidak memahami
dengan benar ketentuan Koda; dan/atau
[Link]
2021, No.693
-15-
[Link]
2021, No.693 -16-
[Link]
2021, No.693
-17-
BAB V
TINDAK LANJUT VERIFIKASI
Pasal 13
(1) Berdasarkan hasil temuan Verifikasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 maka:
[Link]
2021, No.693 -18-
BAB VI
HASIL VERIFIKASI
Pasal 14
(1) Berdasarkan hasil Verifikasi ditemukan kesesuaian
(conformity) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat
(2) huruf a dilakukan penerbitan atau pengukuhan
(endorsement) ISSC dan SoCPF.
(2) Berdasarkan hasil temuan Verifikasi ditemukan
ketidaksesuaian besar (major non conformity), dan
ketidaksesuaian kecil (minor non conformity),
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) huruf b,
dan huruf c, dilakukan penundaan untuk penerbitan
atau pengukuhan (endorsement) ISSC dan SoCPF.
(3) Hasil pelaksanaan Verifikasi dituangkan dalam bentuk
laporan hasil Verifikasi manajemen keamanan Kapal atau
Fasilitas Pelabuhan.
(4) Auditor ISPS Code wajib melaporkan hasil pelaksanaan
Verifikasi kepada Menteri melalui Direktur Jenderal.
(5) Laporan hasil pelaksanaan Verifikasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) dilengkapi dengan dokumen:
a. formulir Verifikasi;
b. foto pelaksanaan Verifikasi;
c. surat perintah tugas Auditor ISPS Code; dan
d. data dukung atau bukti kepatuhan.
[Link]
2021, No.693
-19-
BAB VII
DURASI DAN MASA BERLAKU ISSC DAN SoCPF
Pasal 15
(1) Dalam hal Verifikasi pembaharuan (renewal verification)
telah dilaksanakan dalam waktu 3 (tiga) bulan sebelum
tanggal berakhirnya ISSC permanen, sertifikat yang baru
berlaku dari tanggal Verifikasi pembaharuan (renewal
verification) sampai dengan tanggal yang tidak melebihi 5
(lima) tahun dari masa berakhirnya ISSC yang lama.
(2) Dalam hal Verifikasi pembaharuan (renewal verification)
dilaksanakan 3 (tiga) bulan atau lebih sebelum masa
berakhirnya ISSC, ISSC yang baru berlaku dari tanggal
Verifikasi pembaharuan (renewal verification) sampai
dengan tanggal yang tidak melebihi 5 (lima) tahun dari
tanggal Verifikasi pembaharuan (renewal verification).
(3) Dalam hal Verifikasi pembaharuan (renewal verification)
telah dilaksanakan dan ISSC yang baru belum
diterbitkan atau belum dapat ditempatkan di Kapal
sebelum masa berakhirnya ISSC yang lama, Menteri
dapat memberikan pengukuhan (endorsement) pada ISSC
yang lama, dan harus diterima sebagai ISSC yang
berlaku sampai dengan masa yang tidak melebihi 5 (lima)
bulan dari masa berakhir ISSC lama.
Pasal 16
(1) Dalam hal Kapal pada saat masa berlaku ISSC berakhir
tidak berada di pelabuhan dimana Kapal akan
diverifikasi, Menteri dapat memperpanjang masa berlaku
ISSC.
[Link]
2021, No.693 -20-
Pasal 17
(1) Sertifikat yang diterbitkan untuk Kapal yang melakukan
pelayaran jarak dekat yang belum diperpanjang dapat
diperpanjang oleh Menteri.
(2) Perpanjangan sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) berlaku paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak
tanggal berakhirnya sertifikat.
(3) Dalam hal Verifikasi pembaharuan (renewal verification)
selesai dilaksanakan, sertifikat yang baru berlaku tidak
lebih dari 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal
berakhirnya sertifikat yang lama.
BAB VIII
BADAN KLASIFIKASI
Pasal 18
(1) Badan klasifikasi nasional dapat melaksanakan
Verifikasi berdasarkan nota kesepahaman dengan
Menteri.
(2) Verifikasi yang dilakukan oleh badan klasifikasi nasional
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
dengan didampingi oleh 1 (satu) orang Auditor ISPS Code
Direktorat Jenderal.
[Link]
2021, No.693
-21-
BAB IX
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 19
Direktur Jenderal melakukan pembinaan dan pengawasan
teknis terhadap pelaksanaan Peraturan Menteri ini.
BAB X
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 20
Penerbitan atau pengukuhan (endorsement) ISSC dan SoCPF
dikenakan pungutan penerimaan negara bukan pajak sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 21
Perizinan berusaha di bidang Verifikasi manajemen keamanan
Kapal dan Fasilitas Pelabuhan dilaksanakan dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai
penyelenggaraan perizinan berusaha berbasis risiko.
BAB XI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 22
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, sertifikat yang
sudah terbit sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini
dinyatakan tetap berlaku sampai dengan berakhirnya
sertifikat sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan
Menteri ini.
[Link]
2021, No.693 -22-
BAB XII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 23
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan
Menteri Perhubungan Nomor PM 134 Tahun 2016 tentang
Manajemen Keamanan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1638)
dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan
dengan Peraturan Menteri ini.
Pasal 24
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.
[Link]
2021, No.693
-23-
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 9 Juni 2021
MENTERI PERHUBUNGAN
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 16 Juni 2021
DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
WIDODO EKATJAHJANA
[Link]