100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
327 tayangan23 halaman

Prosedur Verifikasi Keamanan Kapal

Peraturan ini mengatur tentang prosedur dan tata cara pelaksanaan verifikasi manajemen keamanan kapal dan fasilitas pelabuhan. Verifikasi dilakukan untuk menilai kesesuaian penerapan manajemen keamanan dengan Koda Internasional Keamanan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan. Verifikasi dilaksanakan oleh Auditor ISPS Code dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

Diunggah oleh

gabriel omar zidan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
327 tayangan23 halaman

Prosedur Verifikasi Keamanan Kapal

Peraturan ini mengatur tentang prosedur dan tata cara pelaksanaan verifikasi manajemen keamanan kapal dan fasilitas pelabuhan. Verifikasi dilakukan untuk menilai kesesuaian penerapan manajemen keamanan dengan Koda Internasional Keamanan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan. Verifikasi dilaksanakan oleh Auditor ISPS Code dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

Diunggah oleh

gabriel omar zidan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BERITA NEGARA

REPUBLIK INDONESIA
No.693, 2021 KEMENHUB. Verifikasi. Manajemen Keamanan
Kapal. Fasilitas Pelabuhan. Prosedur dan Tata
Cara.

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR PM 51 TAHUN 2021
TENTANG
PROSEDUR DAN TATA CARA PELAKSANAAN VERIFIKASI
MANAJEMEN KEAMANAN KAPAL DAN FASILITAS PELABUHAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : untuk melaksanakan ketentuan Pasal 199 ayat (2) Peraturan


Pemerintah Nomor 31 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan
Bidang Pelayaran, perlu menetapkan Peraturan Menteri
Perhubungan tentang Prosedur dan Tata Cara Pelaksanaan
Verifikasi Manajemen Keamanan Kapal dan Fasilitas
Pelabuhan;

Mengingat : 1. Pasal 17 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang
Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4849);
3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta
Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020
Nomor 245, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 6573);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2002 tentang
Perkapalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

[Link]
2021, No.693 -2-

2002 Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara Republik


Indonesia Nomor 4227);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang
Kepelabuhanan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5070) sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun
2015 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah
Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015
Nomor 193, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5731);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2021 tentang
Penyelenggaraan Bidang Pelayaran (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 41, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6643);
7. Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2015 tentang
Kementerian Perhubungan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 75);
8. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 122 Tahun
2018 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Perhubungan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2018 Nomor 1756);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN TENTANG
PROSEDUR DAN TATA CARA PELAKSANAAN VERIFIKASI
MANAJEMEN KEAMANAN KAPAL DAN FASILITAS
PELABUHAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Verifikasi Manajemen Keamanan Kapal dan Fasilitas
Pelabuhan yang selanjutnya disebut Verifikasi adalah

[Link]
2021, No.693
-3-

proses pemeriksaan secara sistematis, independen, dan


terdokumentasi untuk menilai keefektifan penerapan
manajemen keamanan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan
terhadap Koda.
2. Koda Internasional Keamanan Kapal dan Fasilitas
Pelabuhan (International Ship and Port Facility Security
Code) yang selanjutnya disebut Koda adalah peraturan
internasional yang merupakan amandemen Konvensi
Safety of Life at Sea (SOLAS) 1974 untuk keamanan Kapal
dan Fasilitas Pelabuhan yang terdiri dari bagian A
sebagai perintah dan bagian B sebagai anjuran.
3. Auditor Koda Internasional Keamanan Kapal dan
Fasilitas Pelabuhan (International Ship and Port Facility
Security Code) yang selanjutnya disebut Auditor ISPS
Code adalah pejabat pemerintah di lingkungan Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut yang diberi kewenangan
untuk melaksanakan Verifikasi terhadap kesesuaian
persyaratan manajemen keamanan Kapal dan Fasilitas
Pelabuhan dan memiliki kompetensi dan telah
dikukuhkan.
4. Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis
tertentu, yang digerakan dengan tenaga angin, tenaga
mekanik, energi lainnya, ditarik atau ditunda, termasuk
kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan
dibawah permukaan air, serta alat apung dan bangunan
terapung yang tidak berpindah-pindah.
5. Fasilitas Pelabuhan adalah lokasi yang meliputi area
labuh jangkar, dermaga, atau tempat kegiatan
operasional Kapal dan pelabuhan yang telah
mendapatkan izin operasional dari pemerintah.
6. Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal adalah Kantor
Kesyahbandaran Utama, Kantor Kesyahbandaran dan
Otoritas Pelabuhan, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas
Pelabuhan Khusus Batam, serta Kantor Unit
Penyelenggara Pelabuhan.
7. Koordinator Komite Keamanan Pelabuhan (Port Security
Committee) yang selanjutnya disebut Koordinator PSC

[Link]
2021, No.693 -4-

adalah Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama, Kepala


Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan, Kepala
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Khusus
Batam, Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan
yang berada di wilayah kerja pelabuhan yang tugas
operasionalnya dibantu oleh PSO.
8. Komite Keamanan Pelabuhan (Port Security Committee)
yang selanjutnya disingkat PSC adalah wadah yang
terdiri dari seluruh pihak terkait di pelabuhan yang
terlibat dalam penanganan keamanan pelabuhan.
9. Perwira Keamanan Pelabuhan (Port Security Officer)
selanjutnya disingkat PSO adalah pejabat struktural satu
tingkat dibawah Kepala Kantor pada Kantor
Kesyahbandaran Utama, Kantor Kesyahbandaran dan
Otoritas Pelabuhan, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas
Pelabuhan Khusus Batam, atau Kepala Kantor Unit
Penyelenggara Pelabuhan, yang bidang tugas dan
fungsinya terkait dengan penetapan Koda.
10. Perwira Keamanan Perusahaan (Company Security Officer)
selanjutnya disingkat CSO adalah orang yang ditunjuk
oleh perusahaan untuk memastikan penilaian keamanan
Kapal dilaksanakan, perencanaan keamanan Kapal
dikembangkan, diterapkan dan dipelihara serta
koordinasi dengan para Perwira Keamanan Fasilitas
Pelabuhan dan Perwira Keamanan Kapal.
11. Perwira Keamanan Kapal (Ship Security Officer)
selanjutnya disingkat SSO adalah perwira Kapal yang
bertanggungjawab kepada nakhoda, dan ditunjuk oleh
perusahaan sebagai penanggungjawab terhadap
keamanan Kapal, penerapan, pemeliharaan dan revisi
dari rencana keamanan Kapal dan untuk berkoordinasi
dengan CSO dan perwira keamanan Fasilitas Pelabuhan.
12. Perwira Keamanan Fasilitas Pelabuhan (Port Facility
Security Officer) selanjutnya disingkat PFSO adalah
petugas yang ditunjuk oleh manajemen perusahaan
Fasilitas Pelabuhan yang bertanggungjawab terhadap
pengembangan, implementasi, revisi dan pemeliharaan

[Link]
2021, No.693
-5-

perencanaan keamanan Fasilitas Pelabuhan serta untuk


bekerjasama dengan para SSO, CSO, dan pengelola
Fasilitas Pelabuhan.
13. Penilaian Keamanan Kapal (Ship Security Assestment)
selanjutnya disingkat SSA adalah bagian yang penting
dan integral dari proses pengembangan dan
pembaharuan perencanaan keamanan Kapal.
14. Penilaian Keamanan Fasilitas Pelabuhan (Port Facility
Security Assessment) selanjutnya disingkat PFSA adalah
suatu bagian yang penting dan integral dari proses
pengembangan dan pembaharuan perencanaan
keamanan Fasilitas Pelabuhan.
15. Pernyataan Pemenuhan Fasilitas Pelabuhan (Statement of
Compliance of a Port Facility) yang selanjutnya disingkat
SoCPF adalah suatu pernyataan tertulis dari Menteri
bahwa Fasilitas Pelabuhan memenuhi persyaratan
standar yang dipersyaratkan dalam Koda.
16. Rencana Keamanan Kapal (Ship Security Plan) yang
selanjutnya disingkat SSP adalah suatu rencana yang
dikembangkan untuk memastikan bahwa penerapan dari
langkah di atas Kapal dirancang untuk melindungi orang,
muatan, peralatan angkut muatan, gudang perbekalan
Kapal, atau Kapal terhadap risiko suatu gangguan
keamanan.
17. Rencana Keamanan Fasilitas Pelabuhan (Port Facility
Security Plan) yang selanjutnya disingkat PFSP adalah
suatu perencanaan yang dikembangkan untuk
memastikan penerapan tindakan yang dirancang untuk
melindungi Kapal dan Fasilitas Pelabuhan, orang,
muatan, peralatan angkut muatan, gudang perbekalan di
dalam Fasilitas Pelabuhan dari risiko suatu gangguan
keamanan.
18. Atase Perhubungan adalah pegawai negeri sipil
Kementerian Perhubungan yang ditugaskan pada
perwakilan republik Indonesia di luar negeri dengan
status diplomatik.

[Link]
2021, No.693 -6-

19. Direktorat Jenderal adalah Direktorat Jenderal


Perhubungan Laut.
20. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Perhubungan
Laut.
21. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang pelayaran.

BAB II
PELAKSANAAN VERIFIKASI

Pasal 2
(1) Untuk memastikan penerapan manajemen keamanan
Kapal dan Fasilitas Pelabuhan wajib dilakukan Verifikasi.
(2) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri
atas:
a. Verifikasi terhadap Kapal meliputi:
1. Verifikasi awal (initial verification) merupakan
Verifikasi sebelum Kapal dioperasikan untuk
pertama kali atau sebelum ISSC yang
dipersyaratkan diterbitkan pertama kali;
2. Verifikasi antara (intermediate verification)
merupakan Verifikasi antara tahun kedua dan
tahun ketiga pada tanggal ulang tahun ISSC;
3. Verifikasi pembaharuan (renewal verification)
merupakan Verifikasi untuk memperpanjang
masa berlaku ISSC tetapi tidak melebihi masa
5 (lima) tahun; dan
4. Verifikasi tambahan (additional verification)
merupakan Verifikasi yang ditentukan oleh
Menteri;
b. Verifikasi terhadap Fasilitas Pelabuhan meliputi:
1. Verifikasi pertama (first verification) merupakan
Verifikasi sebelum SoCPF yang dipersyaratkan
diterbitkan pertama kali;
2. Verifikasi kedua (second verification)
merupakan Verifikasi antara tahun kedua dan
tahun ketiga pada tanggal ulang tahun SoCPF;

[Link]
2021, No.693
-7-

3. Verifikasi ketiga (third verification) merupakan


Verifikasi untuk memperpanjang masa berlaku
SoCPF, tetapi tidak melebihi masa 5 (lima)
tahun; dan
4. Verifikasi keempat (fourth verification)
merupakan Verifikasi yang ditentukan oleh
Menteri.

Pasal 3
(1) Verifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
dilakukan oleh Auditor ISPS Code.
(2) Auditor ISPS Code sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri atas:
a. Auditor ISPS Code Direktorat Jenderal;
b. Auditor ISPS Code Unit Pelaksana Teknis Direktorat
Jenderal; atau
c. Auditor ISPS Code Atase Perhubungan.
(3) Auditor ISPS Code Direktorat Jenderal sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a mempunyai kewenangan
dalam melaksanakan Verifikasi:
a. Verifikasi awal (initial verification) dalam rangka
melaksanakan penerbitan ISSC Sementara;
b. Verifikasi antara (intermediate verification) dalam
melaksanakan pengukuhan (endorsement) ISSC;
c. Verifikasi pembaharuan (renewal verification) dalam
melakukan perpanjangan masa berlaku ISSC;
d. Verifikasi tambahan (additional verification) ISSC;
e. Verifikasi pertama (first verification) dalam
melaksanakan penerbitan SoCPF Sementara;
f. Verifikasi Kedua (Second Verification) dalam
melaksanakan pengukuhan SoCPF;
g. Verifikasi ketiga (third verification) SoCPF Permanen;
dan
h. Verifikasi keempat (fourth verification) SoCPF.
(4) Auditor ISPS Code Unit Pelaksana Teknis Direktorat
Jenderal dan Auditor ISPS Code Atase Perhubungan

[Link]
2021, No.693 -8-

sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan huruf c


mempunyai kewenangan dalam melaksanakan Verifikasi:
a. Verifikasi awal (initial verification) dalam
melaksanakan penerbitan ISSC Sementara;
b. Verifikasi antara (intermediate verification) dalam
melaksanakan pengukuhan (endorsement) ISSC;
c. Verifikasi pembaharuan (renewal verification) dalam
melakukan perpanjangan masa berlaku ISSC;
d. Verifikasi pertama (first verification) dalam
melaksanakan penerbitan SoCPF Sementara; dan
e. Verifikasi kedua (second verification) dalam
melaksanakan pengukuhan (endorsement) SoCPF.

Pasal 4
(1) Verifikasi pembaharuan (renewal verification) dalam
melakukan perpanjangan masa berlaku ISSC
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf c
bagi Kapal yang berlokasi di luar negeri dilakukan oleh
Auditor ISPS Code Direktorat Jenderal.
(2) Verifikasi tambahan (additional verification) ISSC dan
Verifikasi keempat (fourth verification) SoCPF
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf d
dan huruf h dapat dilaksanakan apabila:
a. terjadi gangguan keamanan yang sangat serius,
disebabkan oleh tidak dilaksanakannya prosedur
dalam SSP atau PFSP yang berakibat terganggunya
operasional Kapal atau Fasilitas Pelabuhan;
b. terdapat laporan resmi dari pihak tertentu yang
menyatakan bahwa Kapal atau Fasilitas Pelabuhan
tidak melaksanakan kewajiban terkait implementasi
Koda; dan/atau
c. hal lain yang perlu dilakukan oleh Direktur Jenderal
dalam rangka pengawasan.

[Link]
2021, No.693
-9-

Pasal 5
(1) Dalam melaksanakan Verifikasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 Auditor ISPS Code wajib dilengkapi
dengan:
a. surat perintah tugas dari Direktur Jenderal atau
kepala Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal;
b. kartu identitas Auditor ISPS Code;
c. lencana Auditor ISPS Code;
d. pakaian Auditor ISPS Code;
e. formulir Verifikasi; dan
f. perlengkapan pelindung diri.
(2) Kartu identitas Auditor ISPS Code, lencana Auditor ISPS
Code, Pakaian Auditor ISPS Code, dan formulir Verifikasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, huruf c,
huruf d, dan huruf e sesuai dengan format contoh 1,
contoh 2, contoh 3, dan contoh 4 sebagaimana tercantum
dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

BAB II
TATA CARA PERMOHONAN PERSYARATAN DAN PROSEDUR
VERIFIKASI

Pasal 6
(1) Permohonan Verifikasi awal (initial verification) dalam
rangka melaksanakan penerbitan ISSC Sementara dan
Verifikasi pembaharuan (renewal verification) dalam
melakukan perpanjangan masa berlaku ISSC
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a
dan huruf c untuk penerbitan ISSC disampaikan oleh
pemohon dalam bentuk surat permohonan kepada
Menteri melalui Direktur Jenderal dengan disertai
dokumen sebagai berikut:
a. sertifikat CSO;
b. sertifikat SSO;
c. surat penunjukan sebagai CSO;
d. surat penunjukan sebagai SSO; dan/atau

[Link]
2021, No.693 -10-

e. dokumen internal audit.


(2) Prosedur Verifikasi awal (initial verification) dan Verifikasi
pembaharuan (renewal verification) sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan bagan prosedur
contoh 5 sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
(3) Dalam hal Verifikasi dilaksanakan di Unit Pelaksana
Teknis Direktorat Jenderal, Verifikasi awal (initial
verification) dan Verifikasi pembaharuan (renewal
verification) dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang
ditetapkan oleh Direktur Jenderal.

Pasal 7
(1) Permohonan Verifikasi pertama (first verification) dalam
melaksanakan penerbitan SoCPF Sementara dan
Verifikasi ketiga (third verification) SoCPF Permanen
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf e
dan huruf g untuk penerbitan SoCPF disampaikan oleh
pemohon dalam bentuk surat permohonan kepada
Menteri melalui Direktur Jenderal dengan disertai
dokumen sebagai berikut:
a. Sertifikat PFSO;
b. surat keputusan penunjukan sebagai PFSO;
c. laporan training, drill, dan exercise; dan
d. dokumen internal audit.
(2) Verifikasi pertama (first verification) dan Verifikasi ketiga
(third verification) sebagaimana dimaksud ayat (1)
dilaksanakan oleh Auditor ISPS Code Direktorat Jenderal
didampingi Auditor ISPS Code Unit Pelaksana Teknis
Direktorat Jenderal sesuai dengan bagan prosedur
contoh 6 sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.

[Link]
2021, No.693
-11-

Pasal 8
(1) Verifikasi antara (intermediate verification) dalam
melaksanakan pengukuhan (endorsement) ISSC
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4) huruf b
dilakukan oleh Auditor ISPS Code Unit Pelaksana Teknis
Direktorat Jenderal atau Auditor ISPS Code Atase
Perhubungan dengan mencantumkan nama lengkap,
Nomor ID Auditor, tempat, dan tanggal Verifikasi serta
stempel dinas.
(2) Verifikasi kedua (second verification) dalam
melaksanakan pengukuhan (endorsement) SoCPF
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4) huruf e
dilakukan oleh Koordinator PSC pada Unit Pelaksana
Teknis Direktorat Jenderal dengan mencantumkan nama
lengkap, Nomor ID Auditor, tempat, dan tanggal Verifikasi
serta stempel dinas.

BAB III
PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN VERIFIKASI

Pasal 9
(1) Dalam melakukan Verifikasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (1) Direktur Jenderal membentuk tim:
a. Verifikasi manajemen keamanan Kapal terdiri dari:
1. 1 (satu) orang ketua auditor (lead auditor) ISPS
Code; dan
2. 1 (satu) orang anggota Auditor ISPS Code; dan
b. Verifikasi manajemen keamanan Fasilitas Pelabuhan
terdiri dari:
1. 1 (satu) orang ketua auditor (lead auditor) ISPS
Code; dan
2. 3 (tiga) orang anggota Auditor ISPS Code.
(2) Dalam melaksanakan Verifikasi, Auditor ISPS Code harus
membuat perencanaan Verifikasi yang meliputi:
a. penentuan tim Verifikasi;
b. pengaturan jadwal Verifikasi dengan pihak terkait;

[Link]
2021, No.693 -12-

c. menetapkan tujuan, cakupan, kriteria, metode, dan


hal lain yang terkait; dan
d. mempelajari dokumen yang relevan dengan
Verifikasi manajemen Kapal atau Fasilitas
Pelabuhan yang akan dilaksanakan.

Pasal 10
(1) Verifikasi dilakukan melalui tahapan:
a. pemeriksaan dokumen;
b. wawancara;
c. pemeriksaan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan;
d. evaluasi; dan
e. pelaporan.
(2) Pemilik Kapal dan manajemen Fasilitas Pelabuhan wajib
menghadirkan semua pihak terkait pada saat
pelaksanaan Verifikasi.
(3) Pihak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
meliputi:
a. Verifikasi terhadap Kapal:
1. Nakhoda;
2. SSO;
3. Awak Kapal; dan
4. CSO;
b. Verifikasi terhadap Fasilitas Pelabuhan:
1. Koordinator PSC dan/atau pejabat setingkat
dibawahnya selaku PSO; dan
2. PFSO, deputi PFSO, dan petugas keamanan
lainnya.
(4) Selain pihak terkait sebagaimana pada ayat (3) huruf b,
untuk Verifikasi terhadap Fasilitas Pelabuhan,
manajemen Fasilitas Pelabuhan dapat menghadirkan
pihak lain yang dianggap perlu untuk pelaksanaan
Verifikasi.
(5) Dalam kondisi tertentu Verifikasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat dilaksanakan melalui aplikasi dalam
jaringan.

[Link]
2021, No.693
-13-

(6) Pelaksanaan Verifikasi melalui aplikasi dalam jaringan


sebagaimana dimaksud pada ayat (5) pemilik Kapal dan
manajemen Fasilitas Pelabuhan harus memastikan:
a. koneksi internet yang stabil di Kapal selama
kegiatan Verifikasi; dan
b. aplikasi virtual meeting yang dapat digunakan untuk
merekam selama kegiatan Verifikasi.
(7) Biaya yang timbul dari pelaksanaan Verifikasi
dibebankan kepada pemohon sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 11
(1) Pemeriksaan dokumen sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 ayat (1) huruf a dilakukan untuk memeriksa
kelengkapan dokumen persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan Pasal 7 ayat (1).
(2) Wawancara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat
(1) huruf b dilakukan kepada semua pihak terkait
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (3) dan ayat
(4).
(3) Pemeriksaan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) huruf c dilakukan
untuk memastikan kesesuaian dengan standar Koda.

BAB IV
TEMUAN VERIFIKASI

Pasal 12
(1) Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1)
huruf d dilaksanakan untuk menghasilkan temuan
Verifikasi.
(2) Temuan Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berupa.
a. kesesuaian (conformity);
b. ketidaksesuaian besar (major non conformity);
c. ketidaksesuaian kecil (minor non conformity);
dan/atau

[Link]
2021, No.693 -14-

d. observasi.
(3) Kesesuaian (conformity) sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf a apabila tidak ditemukan ketidaksesuaian
besar (major non conformity), ketidaksesuaian kecil (minor
non conformity), dan/atau observasi.
(4) Ketidaksesuaian besar (major non conformity)
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b apabila:
a. berdampak serius terhadap keamanan Kapal atau
Fasilitas Pelabuhan;
b. pada area tertentu terdapat 5 (lima) ketidaksesuaian
kecil (minor non conformity);
c. terdapat indikasi tidak berjalannya sistem
manajemen keamanan Kapal atau Fasilitas
Pelabuhan; dan/atau
d. membutuhkan prioritas tindakan perbaikan segera.
(5) Kategori ketidaksesuaian besar (major non conformity)
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) terhadap Kapal
sebagai berikut:
a. dokumen SSA tidak ada di atas Kapal;
b. dokumen SSP hilang atau tidak ada di atas Kapal;
c. kaji ulang (review) dan atau perubahan (revision)
terhadap SSA dan SSP tidak pernah dilaksanakan;
d. tidak ada sistem identifikasi orang (ID card atau
metode lain);
e. internal audit tidak pernah dilaksanakan;
f. peralatan automatic identification system (AIS)
dan/atau ship security alert system (SSAS) tidak
terpasang di Kapal;
g. peralatan automatic identification system (AIS)
dan/atau ship security alert system (SSAS) tidak
berfungsi dengan baik;
h. training, drill, dan exercise tidak pernah
dilaksanakan;
i. CSO belum mengikuti pelatihan yang
dipersyaratkan;
j. nakhoda (master), SSO, dan CSO tidak memahami
dengan benar ketentuan Koda; dan/atau

[Link]
2021, No.693
-15-

k. temuan ketidaksesuaian (non conformity) lain yang


mengindikasikan tidak berjalannya sistem
keamanan di Kapal yang dinilai dapat
meningkatkan risiko keamanan.
(6) Kategori ketidaksesuaian besar (major non conformity)
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) terhadap Fasilitas
Pelabuhan sebagai berikut:
a. dokumen PFSP tidak ada;
b. kaji ulang (review) dan/atau perubahan (revision)
terhadap PFSA dan/atau PFSP tidak pernah
dilaksanakan;
c. tidak ada tindak lanjut langkah korektif terhadap
temuan ketidaksesuaian (non conformity) pada
Verifikasi sebelumnya;
d. tidak dilaksanakan Verifikasi kedua (second
verification) untuk pelaksanaan Verifikasi ketiga
(third verification);
e. tidak ada sistem identifikasi orang (ID card atau
metode lain);
f. pemeriksaan di titik akses terhadap orang, barang
dan kendaraan tidak dilaksanakan;
g. tidak ada personil pengamanan;
h. tidak ada pagar pembatas atau kondisi pagar
pembatas dalam kondisi rusak kurang lebih 50%
(lima puluh persen) dari kondisi terpasang;
i. training, drill, dan exercise tidak pernah
dilaksanakan;
j. internal audit tidak pernah dilaksanakan;
k. PFSO belum mengikuti pelatihan yang
dipersyaratkan; dan/atau
l. temuan ketidaksesuaian (non conformity) lain yang
mengindikasikan tidak berjalannya sistem
keamanan di Fasilitas Pelabuhan yang dinilai dapat
meningkatkan risiko keamanan.
(7) Ketidaksesuaian kecil (minor non conformity)
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c apabila:

[Link]
2021, No.693 -16-

a. terdapat bukti ketidakkonsistenan dalam penerapan


prosedur dimana pada dasarnya persyaratan dan
sistem manajemen telah berjalan dengan benar;
dan/atau
b. ketidaksesuaian terhadap perlengkapan atau
individual dalam sistem manajemen.
(8) Kategori ketidaksesuaian kecil (minor non conformity)
sebagaimana dimaksud pada ayat (7) terhadap Kapal
sebagai berikut:
a. dokumen SSA dan/atau SSP ada di Kapal, tetapi
tidak ada bukti pengesahan oleh pejabat terkait;
b. dokumen SSA dan/atau SSP tidak mengikuti format
bahasa yang dipersyaratkan;
c. dokumen continuous synopsys records (CSR) tidak
berada di Kapal;
d. training, drill, dan exercise dilaksanakan, tetapi tidak
mengikuti ketentuan peraturan perundang-
undangan;
e. tidak ada penandaan daerah terbatas (restricted
area);
f. tidak ada daftar kontak penting dan prosedur
khusus yang perlu untuk ditempatkan/diletakkan/
digantung pada lokasi/tempat tertentu;
g. tidak ditemukan dokumen pre-arrival notification of
ship security (PAN), dokumentasi training, drill, dan
exercise, bukti pengetesan ship security alert system
(SSAS), declaration of security (DoS), atau catatan
pelaporan kejadian/insiden keamanan apabila
pernah terjadi; dan/atau
h. temuan ketidaksesuaian (non conformity) lain yang
ditemukan selain dari ketidaksesuaian besar (major
non conformity) sebagaimana dimaksud pada ayat
(4).
(9) Kategori ketidaksesuaian kecil (minor non conformity)
sebagaimana dimaksud pada ayat (7) terhadap Fasilitas
Pelabuhan sebagai berikut:

[Link]
2021, No.693
-17-

a. tidak ada bukti pengesahan oleh pejabat terkait


terhadap dokumen PFSA dan/atau PFSP;
b. training, drill, dan exercise dilaksanakan tidak sesuai
dengan ketentuan jadwal;
c. tidak ada penandaan daerah terbatas (restricted
area) di sisi darat dan atau yang terlihat dari sisi
perairan;
d. tidak ada daftar kontak penting dan prosedur
khusus yang perlu untuk ditempatkan/diletakkan/
digantung pada lokasi/tempat tertentu;
e. tidak menyampaikan pemutakhiran (update)
perubahan informasi keamanan Fasilitas Pelabuhan
untuk publikasi pada halaman IMO GISIS;
f. tidak ditemukan dokumen pre-arrival notification of
ship security (PAN), dokumentasi training, drill, dan
exercise, declaration of security (DoS), atau catatan
pelaporan kejadian/insiden keamanan, apabila
pernah terjadi; dan/atau
g. temuan ketidaksesuaian (non conformity) lain yang
ditemukan selain dari ketidaksesuaian besar.
(10) Kategori observasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf d apabila:
a. tidak melanggar sistem manajemen yang telah
ditetapkan namun apabila tidak ditingkatkan dapat
berpotensi sebagai ketidaksesuaian (non conformity);
dan/atau
b. saran untuk peningkatan sistem manajemen
keamanan Kapal atau Fasilitas Pelabuhan yang
tidak mengikat.

BAB V
TINDAK LANJUT VERIFIKASI

Pasal 13
(1) Berdasarkan hasil temuan Verifikasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 maka:

[Link]
2021, No.693 -18-

a. pihak Kapal diberikan waktu paling lama 3 (tiga)


bulan untuk melaksanakan langkah pemenuhan
terhadap temuan ketidaksesuaian sejak tanggal
Verifikasi; dan
b. pihak Fasilitas Pelabuhan diberikan waktu paling
lama 3 (tiga) bulan untuk melaksanakan langkah
pemenuhan terhadap temuan ketidaksesuaian sejak
tanggal Verifikasi.
(2) Dalam hal pihak Kapal atau Fasilitas Pelabuhan tidak
melaksanakan pemenuhan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) maka ISSC atau SoCPF tidak diterbitkan.

BAB VI
HASIL VERIFIKASI

Pasal 14
(1) Berdasarkan hasil Verifikasi ditemukan kesesuaian
(conformity) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat
(2) huruf a dilakukan penerbitan atau pengukuhan
(endorsement) ISSC dan SoCPF.
(2) Berdasarkan hasil temuan Verifikasi ditemukan
ketidaksesuaian besar (major non conformity), dan
ketidaksesuaian kecil (minor non conformity),
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) huruf b,
dan huruf c, dilakukan penundaan untuk penerbitan
atau pengukuhan (endorsement) ISSC dan SoCPF.
(3) Hasil pelaksanaan Verifikasi dituangkan dalam bentuk
laporan hasil Verifikasi manajemen keamanan Kapal atau
Fasilitas Pelabuhan.
(4) Auditor ISPS Code wajib melaporkan hasil pelaksanaan
Verifikasi kepada Menteri melalui Direktur Jenderal.
(5) Laporan hasil pelaksanaan Verifikasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) dilengkapi dengan dokumen:
a. formulir Verifikasi;
b. foto pelaksanaan Verifikasi;
c. surat perintah tugas Auditor ISPS Code; dan
d. data dukung atau bukti kepatuhan.

[Link]
2021, No.693
-19-

(6) Hasil Verifikasi manajemen keamanan Kapal atau


Fasilitas Pelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) wajib dimasukkan oleh Auditor ISPS Code dalam
sistem informasi elektronik berbasis internet.

BAB VII
DURASI DAN MASA BERLAKU ISSC DAN SoCPF

Pasal 15
(1) Dalam hal Verifikasi pembaharuan (renewal verification)
telah dilaksanakan dalam waktu 3 (tiga) bulan sebelum
tanggal berakhirnya ISSC permanen, sertifikat yang baru
berlaku dari tanggal Verifikasi pembaharuan (renewal
verification) sampai dengan tanggal yang tidak melebihi 5
(lima) tahun dari masa berakhirnya ISSC yang lama.
(2) Dalam hal Verifikasi pembaharuan (renewal verification)
dilaksanakan 3 (tiga) bulan atau lebih sebelum masa
berakhirnya ISSC, ISSC yang baru berlaku dari tanggal
Verifikasi pembaharuan (renewal verification) sampai
dengan tanggal yang tidak melebihi 5 (lima) tahun dari
tanggal Verifikasi pembaharuan (renewal verification).
(3) Dalam hal Verifikasi pembaharuan (renewal verification)
telah dilaksanakan dan ISSC yang baru belum
diterbitkan atau belum dapat ditempatkan di Kapal
sebelum masa berakhirnya ISSC yang lama, Menteri
dapat memberikan pengukuhan (endorsement) pada ISSC
yang lama, dan harus diterima sebagai ISSC yang
berlaku sampai dengan masa yang tidak melebihi 5 (lima)
bulan dari masa berakhir ISSC lama.

Pasal 16
(1) Dalam hal Kapal pada saat masa berlaku ISSC berakhir
tidak berada di pelabuhan dimana Kapal akan
diverifikasi, Menteri dapat memperpanjang masa berlaku
ISSC.

[Link]
2021, No.693 -20-

(2) Perpanjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


hanya dapat diberikan sampai dengan tujuan
menyelesaikan pelayaran dan Kapal tiba di pelabuhan
dimana akan dilaksanakan Verifikasi.
(3) Perpanjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diberikan paling lama 3 (tiga) bulan.
(4) Dalam hal Verifikasi pembaharuan (renewal verification)
telah dilaksanakan, maka ISSC yang baru berlaku tidak
melebihi 5 (lima) tahun dari masa berlaku ISSC lama
sebelum diberikan perpanjangan.

Pasal 17
(1) Sertifikat yang diterbitkan untuk Kapal yang melakukan
pelayaran jarak dekat yang belum diperpanjang dapat
diperpanjang oleh Menteri.
(2) Perpanjangan sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) berlaku paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak
tanggal berakhirnya sertifikat.
(3) Dalam hal Verifikasi pembaharuan (renewal verification)
selesai dilaksanakan, sertifikat yang baru berlaku tidak
lebih dari 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal
berakhirnya sertifikat yang lama.

BAB VIII
BADAN KLASIFIKASI

Pasal 18
(1) Badan klasifikasi nasional dapat melaksanakan
Verifikasi berdasarkan nota kesepahaman dengan
Menteri.
(2) Verifikasi yang dilakukan oleh badan klasifikasi nasional
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
dengan didampingi oleh 1 (satu) orang Auditor ISPS Code
Direktorat Jenderal.

[Link]
2021, No.693
-21-

BAB IX
KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 19
Direktur Jenderal melakukan pembinaan dan pengawasan
teknis terhadap pelaksanaan Peraturan Menteri ini.

BAB X
KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 20
Penerbitan atau pengukuhan (endorsement) ISSC dan SoCPF
dikenakan pungutan penerimaan negara bukan pajak sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 21
Perizinan berusaha di bidang Verifikasi manajemen keamanan
Kapal dan Fasilitas Pelabuhan dilaksanakan dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai
penyelenggaraan perizinan berusaha berbasis risiko.

BAB XI
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 22
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, sertifikat yang
sudah terbit sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini
dinyatakan tetap berlaku sampai dengan berakhirnya
sertifikat sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan
Menteri ini.

[Link]
2021, No.693 -22-

BAB XII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 23
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan
Menteri Perhubungan Nomor PM 134 Tahun 2016 tentang
Manajemen Keamanan Kapal dan Fasilitas Pelabuhan (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 1638)
dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan
dengan Peraturan Menteri ini.

Pasal 24
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.

[Link]
2021, No.693
-23-

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan


pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya
dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 9 Juni 2021

MENTERI PERHUBUNGAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

BUDI KARYA SUMADI

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 16 Juni 2021

DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

WIDODO EKATJAHJANA

[Link]

Anda mungkin juga menyukai