SIFAT SPEKTRAL MANISFESTASI PANASBUMI
MENGGUNAKAN ANALISIS INDEKS AIR DAN
WETTNESS CITRA SATELIT LANDSAT
(Studi Penelitian : Kecamatan Toluaan Kabupaten Minahasa
Tenggara)
RIA FITRIANIE EFFENDI
13 528 012
SKRIPSI
Untuk memenuhi salah satu syarat ujian guna memperoleh gelar Sarjana Sains Program Studi Ilmu Fisika
Peminatan Panasbumi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MANADO
2017
i
SURAT PERNYATAAN
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya susun
sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Manado sesungguhnya merupakan karya
saya sendiri.
Adapun bagian-bagian dalam penulisan skripsi yang saya kutip dari karya
orang lain, telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah
dan etika penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian skripsi ini
bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian- bagian tertentu,
saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar yang saya sandang dan sanksi-
sanksi lainnya sesuai dengan perundang- undangan yang berlaku.
Tondano, Mei 2017
Yang membuat pernyataan
Ria Fitrianie Effendi
NIM. 13 528 012
i
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
“I can do all things to Christ which strengtheneth me “. (Philipians 4 : 13)
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan
kepadaku”. (Fil 4:13)
PERSEMBAHAN
Dengan penuh rasa syukur dan terima kasih, saya persembahkan skripsi ini
untuk :
Tuhan Yesus Kristus sumber segalanya, yang telah memberi kemampuan,
kekuatan, kesehatan, hikmat dan semua yang terbaik bagi saya.
Kedua orang tua saya Rachamadie Effendi dan Aneke Weley yang selalu
mendoakan, mendukung, dan memberi motivasi untuk melakukan yang
terbaik.
Mega, Putri dan Ana, ketiga adik saya yang telah mendukung dan
mendoakan saya
Teman-teman dari Youth El- Jireh yang terus menopang dan memberi
dukungan.
Almamater saya Universitas Negeri Manado
Teman-teman seangkatan geothermal 2013
ABSTRAK
SIFAT SPEKTRAL MANISFESTASI PANASBUMI MENGGUNAKAN
ANALISIS INDEKS AIR DAN WETTNESS DENGAN CITRA SATELIT
LANDSAT ( STUDI PENELITIAN: KECAMATAN TOLUAAN
KABUPATEN MINAHASA TENGGARA)
Ria Fitrianie Effendi
13 528 012
Program studi Ilmu Fisika Peminatan Geothermal
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Manado
Pembimbing 1 : Patricia Silangen,Spd, MSi.
Pembimbing 2 : Drs. Satyano Mongan, MSi.
Kebutuhan energi yang meningkat menyebabkan ketersediaan energi berkurang.
Pemanfaatan energi alternatif seperti panasbumi dapat dijadikan solusi dalam
meghadapi masalah ini. Indonesia memiliki sekitar 27 GW potensi panasbumi.
Potensi panasbumi dapat diketahui dari kenampakan yang muncul dipermukaan
atau manifestasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat dan nilai spectral
manifestasi panasbumi dengan metode penginderaan jauh analisis indeks air dan
wetness dan perbandingan dari kedua analisis ini . Penelitian ini dilakukan dengan
cara memproses data citra satelit landsat menggunakan software ilwis. Dari hasil
pengolahan data didapatkan nilai indeks air dari manifestasi panasbumi mata air
panas yang terdapat di daerah Toulaan Minahasa Tenggara berkisar antara 0.22-
0.38, sedangkan untuk nilai wetness berkisar antara 545.13 - 1224.86. kedua
metode ini memiliki pola spektral yang sama tetapi yang membedakannya adalah
jumlah band yang digunakan.
Kata kunci : manifestasi panasbumi, penginderaan jauh, nilai spectral,
indeks air, wetness.
ABSTRACT
The increase energy demand causes reduced energy availability. Utilization of
alternative enrgy as geothermal can be solution in facing this problem. Indonesia
has 27 GW of geothermal potential. Geothermal potential can be known from
what appears on the surface or called a manifestation. The research aims to
determine the nature and spectral value of geothermal manifestations with remote
sensing methods analysis of water index and wetness and comparison of these two
analyzes. This research is done by processing satellite image data of Landsat
using Software ILWIS. From result of data processing got value of water index
from geothermal manifestation of hot springs in area of Toulaan Minahasa
Tenggara ranged between 0.22-0.38 while wetness value ranged between 545.13 -
1224.86. Both of these methods analysis have the same spectral pattern but the
difference is the number of bands used.
Keywords: Geothermal Manifestation. Remote Sensing, Spectral Value, Water
Index, Wetness.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus untuk pimpinan serta
anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal penelitian dengan
judul “SIFAT SPEKTRAL MANISFESTASI PANASBUMI MENGGUNAKAN
ANALISIS INDEKS AIR DAN WETTNESS CITRA SATELIT LANDSAT (Studi
Penelitian : Kecamatan Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara) “
Penulisan skripsi ini bertujuan sebagai panduan untuk penelitian
selanjutnya serta sebagai pola acuan untuk diajukan sebagai salah satu syarat
untuk mendapatkan gelar sarjana Program Studi Fisika Fakultas MIPA
Universitas Negeri Manado.
Dengan selesainya skripsi penelitian ini, penulis mengucapkan terimakasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penelitian ini,
yaitu kepada :
1. Tuhan Yesus Kristus atas semua yang kasih dan penyertaan-Nya
2. Yth. Prof. Dr. Julieta P.A. Runtuwene, MS selaku rektor Universitas
Negeri Manado
3. Yth. Prof. Dr. Herry Sumual, MSi sebagai PLH Dekan Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
4. Yth, seluruh Pimpinan dan Pengelola Bidikmisi Universitas Negeri
Manado
5. Yth. Dr. Djeli Tulandi, MSi, selaku ketua Jurusan Fisika
6. Yth. Dr. Donny Wenas selaku Ketua Program Stusi Ilmu Fisika, dan Yth.
Dr. Cyrke Bujung, MSi, selaku ketua program peminatan geothermal.
7. Yth. Patricia Silangen, SPd, Msi selaku pembimbing 1 yang telah
mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini
8. Yth. Drs. Satyano Mongan, MSi, selaku pembimbing II yang telah
menuntun dan mengarahkan penulisan skripsi ini.
9. Kepada seluruh dosen jurusan Fisika yang telah membantu, membimbing
dan mengajari penulis selama pendidikan.
10. Kepada kedua orang tua Aneke Weley dan Rachmadie Effendi yang telah
mendukung, menopang, dan menjadi sumber motivasi bagi penulis
11. Mega, Putri dan Ana, yang terus mendukung dan mendoakan.
12. Teman-teman seperjuangan geothermal 2013, Bella, Naldy, Gina, Putra,
Davin, Devid, Vanfield, Ayen, Dani, Veyke, Riko, Angel, Yoel, Misel,
Grace, Kerinda, Nena, Valeri, Karina dan semua teman-teman yang tidak
dapat disebutkan satu per satu
13. Teman-teman SS, Putri, Anet, Prilly, Farha, Marifa dan Ithel
14. Pemerintah dan masyarakat Kecamatan Toulaan Minahasa Tenggara
15. Semua pihak yang telah menbantu dalam proses kuliah sampai kepada
pembuatan skripsi ini.
Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk penelitian
selanjutnya dan para pembaca.
Tondano, April 2017
Penulis,
Ria Fitrianie Effendi
DAFTAR ISI
SURAT PERNYATAAN
LEMBAR PENGESAHAN i
LEMBAR PERSETUJUAN
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ii
ABSTRAK iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI vii
DAFTAR GAMBAR x
DAFTAR TABEL xii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Rumusan Masalah 4
1.3. Tujuan Penelitian 4
1.4. Manfaat Penelitian 4
BAB II KAJIAN PUSTAKA 6
2.1. Sistem Panas Bumi 6
2.2. Gelombang Elektromagnetik 13
2.3. Penginderaan Jauh 15
2.4. Indeks air dan wetness 17
2.5. Penelitian Terkait 19
2.6. Kerangka Pemikiran 22
BAB III METODE PENELITIAN 24
3.1 Lokasi Penelitian 24
3.2 Alat dan Bahan 25
3.3 Desain Penelitian 25
3.4 Variabel Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data 27
3.4.1 Variabel Penelitian 27
3.4.2 Teknik Pengumpulan Data 27
3.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Data 28
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 30
4.1 Hasil Penelitian 31
4.1.1 resample citra 31
4.1.2 Klasifikasi Nilai Spektral 34
4.1.3 Karakteristik NDWI 34
4.1.3 Karakteristik wetness 35
4.1.5 Perbandingan Nilai spektral NDWI dan Wetness 36
4.2 Pembahasan 38
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 40
5.1 Kesimpulan 40
5.2 Saran 40
DAFTAR PUSTAKA xii
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Pergerakan Lempeng 7
Gambar 2.2 Sistem Panas bumi bekerja seperti air mendidih pada ketel air 8
Gambar 2.3 Perubahan medan magnet yang dapat menghasilkan gelombang
elektromagnetik 14
Gambar 2.4 Perambatan gelombang elektromagnetik yang tegak lurus arah
medan listrik dan magnet 14
Gambar 2.5 Spektrum gelombang elektromagnetik 17
Gambar 2.6 Reflektansi obyek pada Berbagai Panjang Gelomban 18
Gambar 2.7 Mekanisme penginderaan jauh 19
Gambar 2.8 Diagram alir kerangka pemikiran 23
Gambar [Link] Penelitian 24
Gambar 3.2 Diagram Alir Desain Penelitian 26
Gambar 3.3 Diagram Alir Pengolahan Data 30
Gambar 4.1 Hasil resample citra band blue dengan tampilan blue 32
Gambar 4.2 Hasil resample citra band green dengan tampilan green 32
Gambar 4.3 Hasil resample citra band red dengan tampilan red 32
Gambar 4.4 Hasil resample citra band NIR dengan tampilan pseudo 33
Gambar 4.5 Hasil resample citra band SWIR1 dengan tampilan pseudo 33
Gambar 4.6 Hasil resample citra band SWIR2 dengan tampilan pseudo 33
Gambar 4.7 Peta NDWI (indeks air) 34
Gambar 4.8 Peta wetness 35
Gambar 4.9 Grafik nilai spectral NDWI 37
Gambar 4.10 Grafik nilai spectral Wetness 37
DAFTAR TABEL
Tabel [Link] Indeks kebasahan 19
Tabel 3.1 Teknik Pengumpulan Data 27
Tabel 3.2 Klasifikasi NDWI 29
Tabel 4.1 Perbandingan nilai spektral 34
Tabel 4.2 Klasifikasi Indeks Air ( NDWI ) berdasarkan nilai spektral 35
Tabel 4.2 Klasifikasi wetness 36
1
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertumbuhan penduduk yang tinngi berpengaruh terhadap meningkatnya
kebutuhan energi, sehingga dibutuhkan energi alternatif yang dapat
digunakan secara berkelanjutan, karena energi yang banyak digunakan
merupakan yang tidak dapat diperbaharui seperti, minyak bumi dan batu bara.
Panas bumi atau geothermal adalah energi yang dapat diperbaharui dan
ramah lingkungan atau disebut sebagi energi terbarukan. Energi ini berasal
dari dalam bumi, yang pembentukannya terjadi terus-menerus. Panas bumi
terbentuk secara alami di bawah permukaan, yang berasal dari pemanasan
batuan dan air oleh sumber panas berupa magma bersama unsur-unsur lain
yang terkandung di dalamnya.
Dalam tahapan awal pengembangan sumber daya panas bumi, diperlukan
survey lapangan untuk menentukan daerah prospek panas bumi yang
potensial. Eksplorasi pendahuluan (reconnaisance survey) dilakukan untuk
mencari daerah prospek panas bumi, yaitu daerah yang menunjukkan tanda-
tanda adanya sumberdaya panas bumi dilihat dari kenampakannya
dipermukaan, serta untuk mendapatkan gambaran mengenai geologi regional
didaerah tersebut (Saptaji, 2003). Eksplorasi pendahuluan meliputi metode
geologi, metode geofisika, metode geokimia dan penginderaan jauh.
1
Penginderaan jauh merupakan suatu ilmu atau teknik dalam usaha
mengetahui benda, dan gejala dengan cara menganalisis objek dan arah tanpa
adanya kontak langsung dengan benda, gejala, dan objek yang diteliti.
Pengambilan data dalam pengindraan jauh dilakukan dari jarak jauh dengan
menggunakan sensor buatan. Tidak adanya kontak dengan objek yang dikaji
maka penginderaan dilakukan dari jarak jauh sehingga disebut pengindraan
jauh.
Karakter utama dari suatu image (citra) dalam penginderaan jauh adalah
adanya rentang panjang gelombang (wavelength band) yang dimilikinya.
Beberapa radiasi yang bisa dideteksi dengan sistem penginderaan jarak jauh
seperti : radiasi cahaya matahari atau panjang gelombang dari visible dan near
sampai middle infrared, panas atau dari distribusi spasial energi panas yang
dipantulkan permukaan bumi (thermal), serta refleksi gelombang mikro.
Setiap material pada permukaan bumi juga mempunyai reflektansi yang
berbeda terhadap cahaya matahari. Sehingga material-material tersebut akan
mempunyai resolusi yang berbeda pada setiap band panjang gelombang
(Thoha,2008).
Penginderaan jauh memanfaatkan radiasi gelombang elektromagnetik
yang dipancarkan atau dipantulkan oleh objek yang diamati dalam frekuensi
tertentu seperti inframerah, cahaya tampak, gelombang mikro dan sebagainya.
Objek yang diamati seperti tumbuhan, permukaan air, manifestasi panas bumi
memancarkan dan/atau memantulkan radiasi dalam panjang gelombang dan
intensitas yang berbeda-beda.
Citra penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk kajian tertentu, salah
satunya yaitu untuk mengindetifikasikan indeks kebasahan lahan dengan
menggunakan citra landsat 8. Indeks kebasahan merupakan indeks yang
menunjukkan tingkat kebasahan suatu area, peneliti Gao 1996 mengusulkan
normalized difference water index(NDWI), indeks tersebut merupakan
modifikasi dari normalized difference vegetation index (NDVI) yang banyak
digunakan untuk identifikasi tanaman, dengan panjang gelombang yang
digunakan yaitu 860 nm-1240 nm. Indeks kebasahan menunjukkan tingkat
kebasahan suatu objek dan juga kelengasan tanah yang terdetek dengan satelit
tersebut. Jika vegetasi di suatu ruang itu kurang, maka tingkat kebasahan lahan
tersebut termasuk dalam keadaan ekstrim (Haikal, 2015).
Sifat spektral manifestasi panasbumi dapat diketahui menggunakan
metode analisis indeks air dan Wetness. Indeks air hanya dapat digunakan
pada manifestasi yang berdominasi air seperti mata air panas, kolam air panas,
kolam lumpur dan fumarole. Metode ini hanya memanfatkan band yang
memiliki kepekaan terhadap air yaitu Band Red dan band Near Infrared.
Sedangkan Wetness memanfaatkan hampir semua band pada citra landsat
ETM+, yaitu band blue, band green, band red, band NIR, band MIR5, dan
band MIR7.
Daerah yang menjadi lokasi penelitian adalah,desa Lobu Dua Kecamatan
Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara merupakan daerah prospek panas
bumi yang memiliki manifestasi permukaan dominasi air. Manifestasi
permukaan yang ada berupa mata air panas dan kolam air panas, akan diteliti
kandungan air dan tingkat kelembabannya, dengan mengunakan analisis
indeks air dan wetness. Maka peneliti membuat penelitian tentang “Sifat
Spektral Manisfestasi Panasbumi Menggunakan Analisis Indeks Air Dan
Wettness Dengan Citra Satelit Landsat ( Studi Penelitian: Kecamatan
Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara)“.
1.2 Rumusan Masalah
1. Berapa nilai indeks air manifestasi panas bumi pada citra Landsat di
Kecamatan Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara?
2. Berapa nilai Wetness manifestasi panas bumi pada citra Landsat di
Kecamatan Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara?
3. Bagaimana perbandingan pola spektral manifestasi panas bumi di
Kecamatan Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara untuk indeks air
dan Wetness ?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Menentukan nilai indeks air manifestasi panas bumi pada citra Landsat
di Kecamatan Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara
2. Menentukan nilai Wetness manifestasi panas bumi pada citra Landsat
di Kecamatan Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara
3. Menbandingkan pola spektral manifestasi panas bumi di Kecamatan
Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara untuk indeks air dan Wetness
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Perguruan Tinggi
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar atau acuan bagi
pengembangan penelitian panas bumi, yang berhubungan dengan metode
penginderaan jauh khususnya untuk nilai spektral indeks air dan Wetness.
2. Bagi Pemerintah dan Instansi Terkait
Penelitian ini dapat digunakan sebagai data awal dalam tahapan
eksplorasi energi dan sumber daya mineral khususnya panas bumi untuk
bahan pertimbangan ilmiah dalam pngambilan kebijakan pemerintah.
3. Bagi Masyarakat Umum
Penelitian ini dapat digunakan untuk menambah pengetahuan
masyarakat akan energi panas bumi. Dan memberikan pemahaman
mengenai aplikasi penginderaan jauh yang dapat dijadikan materi
pembelajaran.
1
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1. Sistem Panas Bumi
Panasbumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air
panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang
secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem
Panasbumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses.
Panasbumi membentuk suatu sistem tertentu yang disebut dengan sistem
panasbumi. Hochstein dan Browne (2000) mendefinisikan sistem panasbumi
sebagai perpindahan panas secara alami dalam volume tertentu di kerak bumi
dimana panas dipindahkan dari sumber panas ke zona pelepasan panas.
Sistem panasbumi merupakan daur hidrologi yang dalam perjalanannya air
berhubungan langsung dengan sumber panas yang bertemperatur tinggi
sehingga terbentuk airpanas atau uap panas yang terperangkap pada suatu
reservoir berupa batuan poros dengan permeabilitas tinggi. Sistem panasbumi
dengan suhu tinggi terletak pada tempat-tempat tertentu. Batas-batas
pertemuan lempeng yang bergerak merupakan pusat lokasi kemunculan
hidrotermal magma. Transfer energi panas secara konduktif pada lingkungan
tektonik lempeng diperbesar oleh gerakan magma dan sirkulasi hidrotermal.
Energi panasbumi 50% berada dalam magma, 43% dalam batu kering panas
(hot dry rock) dan 7% dalam sistem hidrotermal.
6
Secara umum dapat dikatakan proses yang menghasilkan pembentukan
anomali geothermal adalah proses transfer panas ke permukaan bumi yang
disebabkan oleh magma. Dimana panas yang dibawa ini kemudian disimpan
sementara di dalam kerak bumi dekat permukaan <10km (Muffler, 1976,
Raybach-Muffler, 1981).
Konsep tektonik lempeng menjelaskan bahwa magma yang menuju
permukaan bumi umumnya berada di sepanjang tepian lempeng (plate
boundaries). Sehingga sumberdaya panasbumi yang disebabkan oleh aktivitas
magmatik atau intrusi magma diduga akan berada di sepanjang daerah
pemekaran lempeng (spreading ridges), daerah subduksi (convergentmargin),
dan peluruhan batuan di tengah lempeng (interplate melting anomalies).
Gambar 2.1 Pergerakan Lempeng (Sumber : Google Search)
Prinsip dari pembentukan sistem panasbumi selalu memerlukan sirkulasi
air yang memadai. Daur hidrologi di daerah panasbumi dimulai dari air hujan
yang masuk ke dalam tanah, kemudian membentuk aquifer air, lalu terpanasi
oleh sumber panas dalam bumi. Fluida panas ini naik ke permukaan melalui
retakan-retakan batuan membentuk sumber-sumber airpanas dan keluar
sebagai uap atau airpanas yang disemburkan. Airtanah yang mengalami
pemanasan akan keluar dengan dorongan arus konveksi melalui jalur-jalur
struktur yang ada.
Gambar 2.2 Sistem Panas bumi bekerja seperti air mendidih pada ketel air
(Sumber: Chevron, 2013)
Sistem panasbumi dijumpai pada daerah dengan gradien geotermal relatif
normal, terutama pada bagian tepi lempeng dimana gradien geotermal biasanya
mempunyai kisaran suhu yang lebih tinggi daripada suhu rata-rata (Dickson dan
Fanelli, 2004).
Dibandingkan dengan temperatur reservoir minyak, temperatur
reservoir panasbumi relatif sangat tinggi, bisa mencapai 350°C. Berdasarkan
pada besarnya temperatur, Hochstein (1990) membedakan sistim panasbumi
menjadi tiga, yaitu:
1. Sistim panasbumi bertemperatur rendah, yaitu suatu sistim yang
reservoirnya mengandung fluida dengan temperatur lebih kecil dari 125°C.
2. Sistim/reservoir bertemperatur sedang, yaitu suatu sistim yang
reservoirnya mengandung fluida bertemperatur antara 125°C dan 225°C.
3. Sistim/reservoir bertemperatur tinggi, yaitu suatu sistim yang reservoirnya
mengandung fluida bertemperatur diatas 225°C.
Selain komponen penyusun sistem panasbumi, keberadaan suatu
sistem panasbumi ditandai oleh kehadiran manifestasi panas di permukaan.
Prihadi (2005) menjelaskan pada sistem panasbumi konvektif yang memiliki
sirkulasi fluida dari daerah recharge masuk ke dalam reservoir kemudian
keluar menuju permukaan melalui daerah upflow dan outflow, fluida akan
beraksi dengan batuan sekitar dan kemudian keluar melalui rekahan-rekahan
dalam batuan. Interaksi fluida dengan batuan sekitarnya menghasilkan
mineral-mineral ubahan, sedangkanfluida yang keluar melalui rekahan akan
menghaslikan air panas atau uap panas. Gejala-gejala seperti itu yang disebut
sebagai manifestasi panasbumi. Beberapa contoh manifestasi panasbumi,
antara lain:
1. Fumarol
Fumarol adalah uap panas yang keluar melalui celah-celah dalam batuan
danM kemudian berubah menjadi uap air (steam). Fumarol yang berasosiasi
dengan sistem hidrotermal vulkanik dapat mengeluarkan uap air dengan
kecepatan >150m/s dan umumnya mengandung gas magmatik seperti HF,
HCL dan SO2. Apabila kandungan SO2 dominan, maka suhu uap air bisa
mencapai >130°C.
2. Solfatara
Solfatara adalah rekahan dalam batuan yang menyemburkan uap air yang
bercampur dengan CO2 dan H2S, kadang terdapat SO2. Disekitar lubang
rekahan tersebut diendapkan sulfur dalam jumlah yang banyak.
3. Steaming Ground
Steaming Ground terbentuk apabila uap air yang keluar sedikit jumlahnya
dan keluar melalui pori dalam tanah atau batuan. Kenampakannya berupa uap
putih dan hangat, tidak terdengar bunyi dari tekanan uap yang tinggi seperti
pada fumarol.
4. Warm Ground
Gas dan uap air yang naik ke permukaan akan menaikkan suhu di sekitar
daerah thermal area sehingga suhu di daerah tersebut akan lebih tinggi dari
sekitarnya dan juga lebih tinggi dari suhu udara dekat permukaan, dimana
suhu tersebut bisa mencapai 30o -40o.
5. Neutral Hot Spring
Merupakan mata air panas dengan pH netral atau mendekati netral (6-7).
Mata air ini diassosiasikan sebagai direct discharge fluida dari reservoir ke
permukaan bumi. Umumnya mengandung ion klorida yang tinggi sehingga
seringkali disebut air klorida. Mata air ini memiliki suhu yang tinggi (>75oC)
sehingga seringkali diselimuti oleh uap panas. Di sekitar mata air sering
dijumpai endapan silica sinter dan mineral-mineral sulfida seperti galena, pirit,
dan lain-lain.
6. Acid Hot Spring
Merupakan mata air panas dengan pH asam (pH<6) yang terbentuk hasil
kondensasi gas magmatik dan uap panas di dekat permukaan bumi kemudian
melarut dan bercampur dengan air [Link] asam ini melarutkan
batuan sekitar mata air menjadi partikel-partikel kecil yang terdiri dari silica
dan lempung. Apabila partikel-partikel ini bercampur dengan air dari mata air,
maka akan membentuk mudpoolsatau mudpots. Apabila tidak bercampur
dengan air, tetapi hanya berupa uap asam panas, maka batuan yang
terdisintegrasi ini akan menyebabkan ground collapse dan membentuk lubang
besar
7. Batuan Ubahan
Temperatur tinggi dalam lapangan panasbumi akan menyebabkan
reaksi antara fluida dengan batuan yang di lewatinya, reaksi itu
mengakibatkan terjadi perubahan susunan mineral dalam batuan tersebut atau
biasa disebut alterasi hidrotermal (Ellis, 1970).
2.2. Gelombang Elektromagnetik
Faraday menemukan bahwa perubahan medan magnet dapat
menghasilkan gaya gerak listrik terinduksi atau medan listrik. Maxwell
berpendapat bahwa perubahan medan listrik akan menimbulkan medan
magnet. Perubahan medan magnet dijelaskan pada Gambar . Perubahan
magnet listrik dan medan magnet ditimbulkan dengan cara dua bola isolator
bermuatan positif dan negatif digetarkan sehingga jaraknya berubah-ubah
sesuai dengan frekuensi getaran tersebut. Perubahan medan magnet tersebut
juga menimbulkan medan listrik. Timbulnya medan listrik ini ditandai dengan
dipancarkannya gelombang elektromagnetik. Pada Gambar ditunjukkan
perubahan medan listrik dan medan magnet yang menimbulkan adanya
gelombang elektromagnetik.
Gambar 2.3 Perubahan medan magnet yang dapat menghasilkan gelombang
elektromagnetik (Sumber : Bob Foster, 2003)
Gambar 2.4 Perambatan gelombang elektromagnetik yang tegak lurus arah medan
listrik dan magnet (Sumber : Bob Foster, 2003)
Pada Gambar 2.4 dijelaskan bahwa arah medan magnet selalu saling tegak
lurus terhadap arah medan listrik, sedang arah rambat gelombang elektromagnetik
selalu tegak lurus baik terhadap medan listrik mampu terhadap medan magnet
sehingga gelombang elektromagnetik ini termasuk gelombang transversal.
Kecepatan perambatan gelombang elektromagnetik ini ditentukan oleh
mediumnya yaitu:
… Persamaan 2.1
dengan:
μo= permeabilitas ruang hampa,
ε o= permitivitas ruang hampa,
c = laju perambatan gelombang elektromagnetik dalam ruang hampa.
Sebagai contoh perhitungan kecepatan perambatan gelombang
elektromagnetik ini diperoleh dengan memasukkan nilai μo = 4 x 10-7 Wb/Am
Wb/Am (tetapan yang sering muncul pada hukum Gauss) dan nilai ε o = 8,85 x 10-
12
C/Nm2 (tetapan yang sering muncul pada hukum Biot-Savart dan hukum
Ampere) ke persamaan 2.1 sehingga diperoleh nilai: c = 2,998 x 10 8 m/s atau
sering didekati dengan 3 x 108 m/s. Nilai kecepatan perambatan gelombang
elektromagnetik ini ternyata sama dengan nilai kecepatan perambatan cahaya
dalam ruang hampa, dan menerka dengan benar bahwa cahaya merupakan
gelombang elektromagnetik. Sifat gelombang elektromagnetik adalah sebagai
berikut:
1. Perubahan medan listrik dan medan magnet terjadi pada saat yang
bersamaan.
2. Arah medan listrik dan medan magnet saling tegak lurus.
3. Kuat medan listrik dan magnet besarnya berbanding lurus satu dengan
yang lain, yaitu menurut hubungan E = c.B.
4. Arah perambatan gelombang elektromagnetik selalu tegak lurus arah
medan listrik dan medan magnet.
5. Gelombang elektromagnetik dapat merambat dalam ruang hampa.
6. Gelombang elektromagnetik merambat dengan laju yang hanya
bergantung pada sifat-sifat listrik dan magnet medium.
7. Laju rambat gelombang elektromagnetik dalam ruang hampa
merupakan tetapan umum dan nilainya c = 3 x 108 m/s.
8. Gelombang elektromagnetik adalah berupa gelombang transversal.
9. Gelombang elektromagnetik dapat mengalami proses pemantulan,
pembiasan, polarisasi, interferensi, dan difraksi (lenturan).
10. Gelombang elektromagnetik merambat dalam arah garis lurus.
11. Gelombang elektromagnetik tidak disimpangkan oleh medan listrik
maupun medan magnet karena tidak bermuatan listrik.
Gelombang elektromagnet terdiri atas bermacam-macam gelombang yang
frekuensi dan panjang gelombangnya berbeda, tetapi semua gelombang-
gelombang penyusun ini mempunyai kecepatan rambat yang sama yaitu: c = 3 x
108 m/s. Hubungan antara frekuensi gelombang, panjang gelombang λ dan
kecepatan perambatan adalah sebagai berikut:
… Persamaan 2.2
dimana :
f = frekuensi gelombang
λ = panjang gelombang
c = kecepatan perambatan
Gambar 2.5 Spektrum gelombang elektromagnetik ( Sumber: Bob Foster, 2003)
2.3. Penginderaan Jauh
Pengindraan jauh adalah suatu teknik untuk mengumpulkan informasi
mengenai objek dan lingkungannya dari jarak jauh tanpa setuhan fisik.
Pengambilan data dalam pengindraan jauh dilakukan dari jarak jauh dengan
menggunakan sensor buatan. Tidak adanya kontak dengan objek yang dikaji
maka penginderaan dilakukan dari jarak jauh sehingga disebut pengindraan
jauh.
Karakter utama dari suatu image (citra) dalam penginderaan jauh
adalah adanya rentang panjang gelombang (wavelength band) yang
dimilikinya. Beberapa radiasi yang bisa dideteksi dengan sistem penginderaan
jarak jauh seperti : radiasi cahaya matahari atau panjang gelombang dari
visible dan near sampai middle infrared, panas atau dari distribusi spasial
energi panas yang dipantulkan permukaan bumi (thermal), serta refleksi
gelombang mikro. Setiap material pada permukaan bumi juga mempunyai
reflektansi yang berbeda terhadap cahaya matahari. Sehingga material-
material tersebut akan mempunyai resolusi yang berbeda pada setiap band
panjang gelombang (Thoha,2008). Citra, sebagai dataset, bisa dimanipulasi
menggunakan algorithm (persamaan matematis). Manipulasi bisa merupakan
pengkoreksian error, pemetaan kembali data terhadap suatu referensi geografi
tertentu, ataupun mengekstrak informasi yang tidak langsung terlihat dari data.
Data dari dua citra atau lebih pada lokasi yang sama dikombinasikan secara
matematis untuk membuat composite dari beberapa dataset. Produk data ini,
disebut derived products, bisa dihasilkan dengan beberapa penghitungan
matematis atas data numerik mentah (DN) (Puntodewo, dkk, 2003).
Gambar 2.6 Reflektansi obyek pada Berbagai Panjang Gelombang
Sistem Penginderaan Jauh Pengumpulan data penginderaan jauh dilakukan
dengan menggunakan alat penginderaan atau alat pengumpul data yang disebut
sensor. Berbagai sensor pengumpul data dari jarak jauh umumnya dipasang pada
wahana yang berupa pesawat terbang, balon, satelit, atau wahana lainnya. Objek
yang diindera adalah objek yang terletak di permukaan bumi, di atmosfer, dan di
antariksa. Data penginderaan jauh dapat berupa citra, grafik, dan data numerik.
Data tersebut dapat dianalisis atau diinterpretasi untuk mendapatkan informasi
mengenai objek, daerah, atau fenomena yang diindera atau diteliti. Analisis data
penginderaan jauh memerlukan data rujukan seperti peta, data statistik, dan data
lapangan. Hasil analisis yang diperoleh berupa informasi mengenai bentang lahan,
jenis penutup lahan, kondisi lahan, dan kondisi sumberdaya daerah yang diindera.
Keseluruhan proses mulai dari pengambilan data, analisis data, hingga
penggunaan data, disebut sebagai sistem penginderaan jauh (Purwadhi, 2001).
Gambar 2.7 Mekanisme penginderaan jauh (Sumber : Google search)
2.4. Indeks Air dan Wetness
Dalam penginderaan jauh sifat spektral manifestasi panasbumi dapat
diketahui menggunakan metode analisis indeks air dan Wetness. Indeks air
hanya dapat digunakan pada manifestasi yang berdominasi air seperti mata air
panas, kolam air panas, kolam lumpur dan fumarole. Metode ini hanya
memanfatkan band yang memiliki kepekaan terhadap air yaitu Band Red dan
band Near Infrared. Interpretasi kondisi kelembaban dan vegetasi suatu area
dengan menggunakan data satelit dapat diketahui dengan melakukan
analisis Normalized Difference Wetness Index (NDWI). NDWI merupakan
indeks yang menunjukkan tingkat kebasahan suatu area . Dalam menganalisis
indeks kebasahan dengan citra landsat, kanal/band yang digunakan adalah
infra merah dekat dan MIR infra merah dekat (near)/ Near Infrared
(NIR) dengan panjang gelombang 0.76-0.90 gunaan dari band ini itu dapat
membedakan jenis vegetasi yang dideteksi dan juga aktivitas vegetasi tersebut
sehingga dapat membatasi tubuh air dan juga kelembaban tanah. Sedangkan
band 5 termasuk dalam infra merah sedang / middle infrared dengan panjang
gelombang 1.55-1.75, band 5 berguna untuk menunjukkan komposisi
kelembaban tumbuhan dan kelembaban tanah, juga dapat membedakan salju
dan awan. Indeks kebasahan ini juga menunjukkan normalized difference
water index (NDWI). NDWI ini dikembangkan untuk menggambarkan badan
air dari citra satelit. Metode ini menggunakan persamaan
NDWI = NIR – RED / NIR + RED … Persamaan 2.3
Wetness atau nilai kelembaban atau kandungan air yang sangat berguna
dalam menginterpretasi lahan basah, misalnya gambut, rawa, dan lain-
[Link] memanfaatkan hampir semua band pada citra landsat, yaitu
band blue, band green, band red, band NIR, band SWIR1, dan band SWIR2.
Persaman yang digunakan adalah,
Wetness = (0.1509 x band blue) + (0.1793 x band green) + (0.3299
x band red ) + (0.3406 x band NIR) + (-0.7112 x band SWIR1 ) +
(-0.4572 x band SWIR2) ...persamaan 2.4
Nilai wetness yang negatif menunjukkan bahwa tingkat kebasahan
tanah yang kecil, sedangkan nilai wetness yang semakin positif
menunjukkan tingkat kebasahan yang semakin besar.
Tabel 2.1. Klasifikasi Indeks Kebasahan
No. Nilai Wetness Keterangan
1 nilai terendah s/d -73.518 Sangat kering
2 -73.518 s/d -37.753 kering
3 -37.753 s/d -21.157 Sedang/lembab
4 -21.157 s/d 21.152 Sangat lembab
5 21.152 s/d nilai tertinggi Sangat tinggi/ tergenang
2.5. Penelitian Terkait
Penelitian mengenai indeks air dan wetness sebelumnya pernah
dilakukan. Seperti yang diteliti oleh Teungku Haikal pada 2014, tentang
Analisis Normalized Difference Wetness Index (NDWI) dengan menggunakan
Data Citra Landsat 5 TM di Jambi, mendapatkan Penginderaan jauh dan
sistem informasi geografis memudahkan untuk menghitung nilai NDVI dan
NDWI. Nilai indeks kebasahan yang negatif menunjukkan tingkat kebasahan
tanah yang rendah dan vegetasi yang rendah, sedangkan nilai NDWI yang
tinggi yang positif terdapat tingkat kebasahan yang tinggi. Lahan pertanian
yang kering memungkinkan bahwa nilai indeks kebasahan negatif, nilai
indeks yang negatif tersebut menunjukkan kondisi tanah yang kering. Indeks
ini juga menunjukkan bahwa semakin rendah vegetasi pada lahan tersebut
maka tingkat ekstrim kebasahan di lahan tersebut semakin tinggi, sedangkan
jika vegetasinya banyak dan rapat maka indeks kebasahan tersebut tinggi.
Di Sulawesi Utara, penelitian tentang indeks air dan wetness juga pnah
dilakukan tepatnya di daerah Bukit Kasih Kanonang. Penelitian tentang
indeks air yang dilakukan oleh Rama Melisa, dkk ini bertujuan untuk
mengidentifikasi karakteristik spektral manifestasi panas bumi. Di tahun yang
sama juga dilakukan penelitian tentang analisis wetness di tempat yang sama.
Analisis ini menunjukan tingkat kelembaban dari menifestasi dan non
manifestasi. Di tahun berikutnya penelitian mengenai indeks air dan wetness
kembali dilakukan, dengan lokasi yang berbeda olh Denny Siwi dan kawan-
kawan. Penelitian ini membandingkan antara nilai indeks air dan wetness,
dimana nilai indeks air hamper searah sedangkan nilai wetness cenderung
bervariasi karena peningkatan dan penurunan yang cukup besar. Untuk lebih
jelasnya dapat diliha pada table 2.2.
No Penulis Judul Kajian
1. Teungku Haikal Analisis Normalized Penelitian ini menunjukan
Difference Wetness Index daerah-daerah dengan
(NDWI) dengan kondisi lahan yang lembab
menggunakan data citra dan vegetasi yang rapat
Landsat 5 TM merupakan faktor tingginya
nilai indeks Wetness
2. Rama,Melisa, dkk Karakteritik spektral Penelitian tentang indeks air
manifestasi geothermal ini bertujuan untuk
Vol 3, No. 4 2015
permukaan berdasarkan mengidentifikasi
analisis indeks air pada karakteristik spektral
transformasi citra landsat manifestasi panas bumi.
8 OLI di daerah panas Dalam penelitian ini
bumi Bukit Kasih menyatakan bahwa NDWI,
Kanonang dan sekitarnya hanya dapat membedakan 2
jenis manifestasi.
3. Anes, Jeslie, dkk Karakteritik spektral Penelitian ini bertujuan
manifestasi panas bumi untuk menunjukan tingkat
Vol 3, No. 3 2015
permukaan berdasarkan kelembaban dari menifestasi
analisis wetness pada dan non manifestasi.
transformasi citra
tasseled cap
transformation (TCP)
daerah Bukit Kasih
Kanonang
4. Denny Siwi, dkk Studi sifat spektral Penelitian ini
manifestasi panas bumi membandingkan antara nilai
dominasi air dengan indeks air dan wetness,
menggunakan analisis dimana nilai indeks air
indeks air dan wetness hamper searah sedangkan
mengunakan citra setelit nilai wetness cenderung
landsat ETM+ (Studi bervariasi karena
Kasus Hutan Pinus peningkatan dan penurunan
Lahendong) yang cukup besar.
5. Adnindya Rizka Pemanfaatan Citra Mengetahui pemrosesan
Falahnsia Dan Landsat 7 ETM+ untuk citra Landsat 7 ETM dalam
Teguh Hariyanto Menganalisa menganalisis kelembaban
(Jurnal Teknik Kelembaban Hutan hutan dengan algoritma
Pomits Vol. X, Berdasarkan Nilai Indeks TVDI untuk mengetahui
No) Kekeringan (Studi pemetaan dan sebaran
Kasus :Hutan KPH kelembaban hutan di hutan
Banyuwangi Utara) KPH Banyuwangi Utara
berdasarkan nilai TVDI, dan
untuk mengetahui tingkat
6. M. Tufaila Jufri PemanfaatanPenginderaa mengkaji kemampuan citra
Karim, Syamsu n Jauh dan Sistem ALOS AVNIR-2 untuk
Alam (Jurnal
Informasi Geografis identifikasi bentuklahan,
Agroteknos Maret
2012 Vol.2. No.1. Untuk Pemetaan memetakan bentuklahan
hal. 9-20) Bentuklahan Di Das semi detil skala 1:50.000
Moramo berdasarkan pendekatan
analitik dengan bantuan
Sistem Informasi Geografis
(SIG), dan mengevaluasi
citra ALOS AVNIR-2
dalam pemetaan
bentuklahan (landform).
2.6. Kerangka Pemikiran
Sistem panas bumi terdiri dari beberapa komponen yaitu, sumber
panas, reservoir, batuan penudung, rekahan dan manifestasi. Untuk
pengembangan energi panas bumi dilakukan eksplorasi pendahuluan
seperti metode geofisika, geokimia, geologi dan pengindraan jauh. Setiap
objek dipermukaan, memiliki panjang gelombang berbeda, yang
memantulkan gelombang elektromagnetik, termasuk manifestasi
permukaan. Pantulan gelombang elekromagnetik ini yang diterima oleh
sensor citra satelit. Dari citra satelit, dapat dilihat kandungan air dan
tingkat kelembaban dari manifestasi permukaan, melalui nilai spektral.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.8.
Sumber Panas
Reservoir
Sistem Panas Bumi Batuan Penudung
Rekahan
Eksplorasi Pendahuluan
Manifestasi Panjang Gelombang
Geokimia
Pantulan Gelombang
Elektomagnetik
Gambar
Penginderaan Jauh2.8 Diagram alir kerangka pemikiran
Citra Satelit
Geofisika
NDWI
Nilai
Geologi Spektral
WETNESS
1
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi Penelitian
Lokasi Penelitian terletak di Desa Lobu Dua, Kecamatan Touluaan,
Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Dapat di tempuh dengan
transportasi darat, berjarak kurang lebih 180 menit dari Kota Tondano. Secara
geografis daerah manifestasi ini terletak pada N 683592.8 m dan E 117033.6 m.
Gambar [Link] Penelitian (sumber : Google Earth)
24
3.2. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Laptop/ PC
Laptop/PC ini berguna untuk memproses data, mengolah dan
mengoperasikan software Ilwis.
2. Data Citra Landsat
Data citra satelit adalah hal yang harus ada terlebih dahulu. Data
ini berguna sebagai data utama yang akan mnentukan hasil penelitian.
3. Software ILWIS
Software Ilwis akan digunakan untuk pengolahan data citra satelit
landsat 7 ETM +.
4. GPS
GPS digunakan untuk pengambilan data koordinat atau menandakan
lokasi penelitian.
3.3. Desain Penelitian
Penelitian yang dilakukan diawali dengan mengidentifikasi masalah. Dari
permasalahan ini, dilakukan studi literature untuk mengetahui kondisi
lapangan dan geologi daerah penelitian. Setelah mengetahui kondisi
lapangan, survey lapangan dilakukan. Pada survey ini dilakukan pengambilan
data koordinat untuk memudahkan dalam prosesing data. Pengambilan data
koordinat ini yang disebut data in situ, sedangkan data ex situ adalah data
citra satelit. Dari data citra dilakukan pemrosesan data, kemudian data
dianalisis dengan indeks air dan Wetness. Setelah diproses data kemudian
dianalisa untuk mendapatkan hasil. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada
gambar 3.2
Identifikasi Masalah Studi Literatur Kondisi Geologi
Survey Lapangan
Pengambilan Data
In Situ Ex Situ
Koordinat Data Citra
Manifestasi Satelit Landsat 7
Prosessing Data
Citra Satelit
Pengolahan Data
Wetness Indeks Air
Analisis Data
Hasil
Gambar 3.2 Diagram Alir Desain Penelitian
3.4. Variabel dan Teknik Pengumpulan Data
3.4.1 Variable Penelitian
Variabel dari penelitian ini adalah sifat spektral manifestasi panas bumi.
3.4.2 Teknik Pengumpulan data
Dalam penelitian ini data diambil secara in situ dan ex situ. Data in situ
dilakukan di lokasi penelitian, yaitu data letak manifestasi panas bumi yang akan
diukur lewat metode penginderaan jauh.. sedangkan data ex situ adalah data yang
didapatkan tanpa harus turun ke lokasi/ lapangan, dalam hal ini adalah data citra
satelit landsat 7.
Pengumpulan data dilakukan dengan menginventarisasi jenis-jenis
manifestasi yang ada di lapangan. Setiap manifestasi panas bumi, di catat
koordinat untuk menentukan letak pada citra satelit. Dari manifestasi yang ada di
cari nilai spektral dari masing-masing band, untuk menentukan sifat spektral.
Kemudian dicari nilai indeks air an wetness. Hasil dari indeks air dan wetness ini
yang akan dibandingkan.
Tabel 3.1 Teknik Pengumpulan Data
Koordinat Band Band Band Band Band Band
NDWI Wetness
Red Green Blue NIR MIR 5 MIR 7
X Y Jenis Manifestassi
3.5. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Hal pertama yang dilakukan adalah mengimport data khususnya data ex
situ dan menampilkannya. Pengolahan data citra yang paling utama dilakukan
sebelum dilanjutkan pada tahapan selanjutnya disebut preprocessing image,
tahapan ini dilakukan agar mendapat informasi yang jelas dari data citra tersebut.
Tahap awal pengolahan data citra yaitu Koreksi Geometrik. Koreksi geometrik
dilakukan dengan tujuan untuk menyetarakan koordinat pada citra satelit dengan
koordinat bumi, kemudian menentukan sistem proyeksi dan sistem koordinat yang
akan digunakan. Pemotongan wilayah kajian sangat perlu dilakukan dalam
pengolahan data tersebut, karena dapat memudahkan mengolah data citra yang
satelit yang memiliki ukuran citra yang sangat besar, sehingga lebih fokus pada
wilayah kajian yang akan diteliti. alam menganalisis indeks kebasahan dengan
citra landsat, kanal/band yang digunakan adalah 4 dan 5. Band 4 termasuk dalam
spektral infra merah dekat (near)/ Near Infrared (NIR) dengan panjang
gelombang 0.76-0.90, kegunaan dari band 4 tersebut yaitu dapat membedakan
jenis vegetasi yang dideteksi dan juga aktivitas vegetasi tersebut sehingga dapat
membatasi tubuh air dan juga kelembaban tanah. Sedangkan band 5 termasuk
dalam infra merah sedang / middle infrared dengan panjang gelombang 1.55-1.75,
band 5 berguna untuk menunjukkan komposisi kelembaban tumbuhan dan
kelembaban tanah, juga dapat membedakan salju dan awan. Indeks kebasahan ini
juga menunjukkan normalized difference water index (NDWI). NDWI ini
dikembangkan untuk menggambarkan badan air dari citra satelit. Dengan formula
NDWI = NIR – RED / NIR + RED … Persamaan 3.1
Hasil yang diperoleh dari perhitungan yang dilakukan akan di klasifikasikan
kembali dengan melihat nilai NDWI, untuk menentukan tingkat kebahasan dari
daerah penelitian.
Tabel 3.2 Klasifikasi NDWI
Kelas Nilai NDWI Tingkat Kebasahan
1 -1<NDWI<0 Non-Badan Air
2 0<NDWI<0.33 Kebasahan Sedang
3 0.33<NDWI<1 Kebasahan Tinggi
Untuk nilai Wetness dapat dicari menggunakan persamaan :
Wetness = (0.1509 x band blue) + (0.1793 x band green) + (0.3299 x band red ) +
(0.3406 x band NIR) + (-0.7112 x band SWIR1 ) + (-0.4572 x band SWIR2)
……………………..…….persamaan 3.2 (Andree Ekadinata, dkk, 2008)
Dari persamaan tersebut akan diketahui nilai spektral dan perbandingan
sifat spektral manifestasi panas bumi. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada diagram
alir pengolahan data gambar 3.3.
Data
In situ Ex situ
Koordinat Data Citra satelit Import Data
Koreksi Data
Resampling Data
Wetness Indeks Air (NDWI)
Wetness = (0.1509 x band blue) +
(0.1793 x band green) + (0.3299 x band NDWI = NIR – blue / NIR
red ) + (0.3406 x band NIR) + (-0.7112 x + blue
band MIR5 ) + (-0.4572 x band MIR7)
Peta Sebaran
manifestasi
Analisis Data
Perbandingan Nilai
Spektral
Gambar 3.3 Diagram Alir Pengolahan Data
1
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL
4.1.1 Resample Citra
Resample adalah proses pemotongan citra untuk membatasi wilayah
kajian. Wilayah yang akan di kaji adalah kecamatan Toulaan kabupaten Minahasa
Tenggara yang terdapat tiga manifestasi mata air panas. Dalam proses resample
citra, wilayah kajian dibatasi dengan koordinat sebagai berikut
X max = 684648.06
X min = 675059.38
Y max = 122837.61
Y min = 118277.75
Penelitian yang dilakukan melibatkan tujuh band dalam citra satelit
Landsat OLI/TIRS, yaitu band blue, band green, band red, band NIR, band
SWIR1 dan band SWIR2, dimanan masing-masing band harus dilakukan
resample. Dari resample yang dilakukan diperoleh hasil seperti beberapa
gambar berikut dengan berbagai tampilan
31
Gambar 4.1 Hasil resample citra band blue dengan tampilan blue
Gambar 4.2 Hasil resample citra band green dengan tampilan green
Gambar 4.3 Hasil resample citra band red dengan tampilan red
Gambar 4.4 Hasil resample citra band NIR dengan tampilan pseudo
Gambar 4.5 Hasil resample citra band SWIR1 dengan tampilan pseudo
Gambar 4.6 Hasil resample citra band SWIR2 dengan tampilan pseudo
4.1.2 Klasifikasi Nilai Spektral
Indeks air dan wetness masing-masing memiliki sifat spektral yang
berbeda, walaupun keduanya sama-sama menentukan tingkat basahan. Tabel
4.1 menunjukkan nilai spektral masing-masing band yang digunakan dalam
penelitian ini dan nilai NDWI (normalized difference water index ) dan
Wetness.
Tabel 4.1 Perbandingan Nilai Spektral
Koordinat
Jenis Band Band Band Band Band Band
NDWI Wetness
X Manifestassi Red Green Blue NIR SWIR1 SWIR2
Y
682690 120400 Mata air
13215 12211 11639 20553 13568 10562 0.22 545.13
panas 1
682266 119833 Mata air
8801 8263 7146 19881 10586 7047 0.38 1124.56
panas 2
677113 120445 Mata air
8638 7388 6518 13505 6246 5492 0.07 1224.86
panas 3
Untuk indeks air band yang digunakan adalah band NIR dan band blue
sedangkan wetness menggunakan band red, band green, band blue, band NIR,
band SWIR1 dan band SWIR2.
Dalam penelitian ini manifestasi yang diambil adalah yang berdominasi air
yaitu, mata air panas. Manifestasi ini diambil dari tiga titik yang berbeda yang
terdapat didaerah sekitar Toulaan Minahasa Tenggara.
4.1.3 Karakteristik NDWI
Peta NDWI adalah peta yang berfungsi untuk menunjukan nilai spektral
dari manifestasi yang diteliti. Dari data citra yang ditelah diproses menggunakan
rumus/ persamaan NDWI diperoleh nilai spektral dari masing-masing manifestasi,
seperti yang terdapat dalam tabel 4.1.
Gambar 4.7 Peta NDWI ( Indeks Air )
Nilai spektral manifestasi-manisfestasi ini berkisar antara 0.07 sampai
0.38. Berdasarkan teori yang ada maka manifestasi-manifestasi dapat
diklasifikasikan tingkat kebasahannya berdasarkan dengan nilai spektralnya. Dan
untuk manifestasi air panas yang diteliti dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Klasifikasi Indeks Air ( NDWI ) berdasarkan nilai spektral
Jenis Manifestasi Nilai spektral (NDWI) Tingkat Kebasahan
Mata air panas 1 Kebahasan sedang
0.22
Mata air panas 2 Kebasahan Tinggi
0.38
Mata air panas 3 Kebasahan sedang
0.27
4.1.4. Karakteristik Wetness
Peta Wetness ini menunjukkan nilai spektral dari manifestasi yang diteliti
berdasarkan data in situ dan ex situ. Dari data yang telah diproses menggunakan
software Ilwis, nilai spektral manifestasi menggunakan wetness berkisar antara
545.13 sampai 1224.86.
Gambar 4.8 Peta Wetness
Dari data dapat ditentukan juga tingkat kebasahan dari setiap manifestasi
yang diteliti. Nilai wetness yang negatif menunjukkan tingkat kebasahan/
kelembaban yang kecil, sedangkan semakin positif nilai spektral wetness semakin
tinggi nilai kebasahan/[Link] lebih jelasnya dapat dilihat pada
tabel 4.3.
Tabel 4.3 Klasifikasi Wetness
Nilai spektral
Jenis Manifestasi Tingkat Kebasahan
(Wetness)
Mata air panas 1 Sangat tinggi/tergenang
545.13
Mata air panas 2 Sangat tinggi/tergenang
1124.56
Mata air panas 3 Sangat tinggi/tergenang
1024.86
4.1.5 Perbandingan Nilai spektral NDWI dan Wetness
Dari pengolahan data dapat dilihat perbedaan nilai spekral dari NDWI dan
Wetness. Pada NDWI nilai spektralnya berkisar antara 0.07 sampai 0.38
sedangkan pada wetness berkisar antara 545.13 sampai 1024.86. Untuk
perbandingan nilai NDWI dan Wetness dapat dilihat pada gambar 4.8, gambar 4.9.
0.4 0.38
0.35
0.3
0.27
0.25
0.22
0.2
0.15
0.1
0.05
0
MAP 1 MAP 2 MAP 3
Nilai spektral manifestasi
Gambar 4.9. Grafik nilai spektral NDWI
1200
1124.56
1000 1023.86
800
600 545.13
400
200
0
MAP 1 MAP 2 MAP 3
Nilai Spektral manifestasi
Gambar 4.10 Grafik nilai spektral Wetness
Keterangan :
MAP 1= Mata Air Panas 1 MAP 2= Mata Air Panas 2
MAP 3= Mata Air Panas 3
4.2 PEMBAHASAN
NDWI dan Wetness masing-masing memiliki nilai spektral berbeda,
walaupun kedua metode ini sama-sama digunakan untuk menghitung
kandungan air di daerah kajian potensi panas bumi. Hal ini dikarenakan
banyaknya band yang digunakan, pada NDWI, band yang gunakan hanya dua
yaitu band blue dan band NIR sedangkan untuk Wetness menggunakan tujuh
band, yaitu band red, band green, band blue, band NIR, band SWIR1 dan
band SWIR2.
Berdasarkan pada teori penginderan jauh, manifestasi panasbumi yang
berdominasi air memiliki nilai indeks air dan wetness yang tinggi. Dalam
penelitian ini manifestasi yang diteliti adalah mata air panas yang diambil dari
tiga titik koordinat yang berbeda. Dari pengolahan data citra yang ada, dapat
dilihat bahwa ketiga manifestasi mata air panas ini memiliki nilai yang
berbeda, tetapi jika dilihat dari klasifikasi tingkat kebahasan (tabel 4.2 dan
tabel 4.3) ketiga manifestasi ini sama. Berikut adalah nilai spektral masing-
masing manifetasi yang diteliti.
a. Nilai spektral manifestasi pada peta NDWI
Pada mata air panas 1 nilai spektralnya adalah 0.22, mata air panas
2 nilai spektral 0.38 dan pada mata air panas 3, nilai spektral 0.27.
Berdasarkan teori mata air panas merupakan manifestasi yang memiliki
kandungan air/ tingkat kebasahan/ kelembaban yang tinggi atau cukup
besar. Dari data yang ada, maka hasil yang dipeoleh sesuai dengan teori
dimana tingkat kebasahan/ kelembaban dari manifestasi mata air panas 1,
kebasahan sedang sedangkan mata air panas 2 dan 3 kebasahan tinggi. Hal
ini didukung pula dari pengamatan langsung di lapangan, dimana diderah
sekitar manifestasi memiliki kerapatan vegetasi yang tinggi.
b. Nilai spektral manifestasi pada peta Wetness
Nilai spektral yang ada pada manifestasi mata air panas 1 adalah
545.13, mata air panas 2 sebesar 1124.56, dan mata air panas 3 sebesar
1024.86. Ketiga manifestasi panasbumi ini memiliki tingkat kelembaban
yang sangat tinggi atau diklasifikasi juga tergenang dan hal ini terbukti
dilapangan bahwa ketiga manifestasi ini berupa genangan air. Berdasarkan
pula pengamatan yang dilakukan di sekitar ketiga manifesatasi terdapat
banyak tumbuhan atau vegetasi, yang membuat suhu udara tidak terlalu
panas sehingga tingkat kelembabannya tinggi.
c. Perbandingan Nilai Spektral NDWI dan Wetness
Pada dasarnya NDWI dan Wetness merupakan metode
penginderaan yang digunakan untuk menghitung, mendeteksi nilai
kelembaban/ tingkat kebasahan/ kandungan air dari daerah kajian
panasbumi melalui manifestasi panasbumi. Dan manifestasi yang diteliti
hanya manifestasi panasbumi yang berdominasi air. Hal ini terbukti dari
penelitian yang dilakukan, pada setiap manifestasi memiliki trend yang
sama, dimana nilai spektral pada manifestasi mata air panas 2 mengalami
kenaikan dan pada manifestasi mata air panas 3 sama-sama menurun.
Yang membedakan kedua metode ini adalah jumlah band yang digunakan,
pada NDWI atau Indeks Air band yang digunakan hanya band yang peka
terhadap air yaitu band blue dan band NIR, sedangkan pada wetness band
yang digunakan lebih banyak band red, band green, band blue, band NIR,
band SWIR1 dan band SWIR2.
1
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian yang dilakukan dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Nilai indeks air pada manifestasi panasbumi dominasi air pada citra
berkisar antara 0.22-0.38, dengan tingkat kebasahan dari sedang sampai
tinggi.
2. Nilai wetness pada manifestasi panasbumi dominasi air pada citra berkisar
antara 545.13 sampai 1224.86, dengan tingkat kelembaban/ kebasahan/
kandungan air sangat tinggi atau tergenang.
3. Perbandingan sifat spektral dari indeks air dan wetness dapat dilihat dari
pola spektral manifestasi panasbumi berdasarkan grafik indeks air
(NDWI) dan wetness pada setiap manifestasi memiliki trend yang sama,
dimana nilai spektral pada manifestasi mata air panas 2 mengalami
kenaikan dan pada manifestasi mata air panas 3 sama-sama menurun.
5.2 SARAN
Berdasarkan dari penelitian diatas, disarankan untuk kedepannya apabila
ada penelitian tentang indeks air dan wetness, perhatikan pemilihan citra yang
akan digunakan dan sesuaikan dengan daerah kajian. Penelitian ini berguna untuk
menghitung atau mendeteksi kandungan air dari suatu daerah kajian panasbumi,
40
namun untuk lebih mendapatkan hasil yang tepat diperlukan penelitian lain seperti
geologi, geokimia, geofisika dan hidrogeologi.
1
DAFTAR PUSTAKA
Anes, Jeslie, dkk.2015 “Karakteritik spektral manifestasi panas bumi permukaan
berdasarkan analisis wetness pada transformasi citra tasseled cap
transformation (TCP) daerah Bukit Kasih Kanonang “. JSME MIPA
UNIMA 2015 Vol. 3 no. 3
Gao, B.-C., 1996. “NDWI - a normalized difference water index for remote
sensing
of vegetation liquid water from space”. Remote Sensing of Environtment 58,
257-266
Karim, Tufaila Jufri.2012. “Pemanfaatan Penginderaan Jauh dan Sistem
Informasi Geografis untuk Pemetaan Bentuk Lahan di DAS Moramo. Jurnal
Agroteknos Maret 2012 Vol. 2, No.1, hal 9-20
Rama, melisa.2015 “Karakteritik spektral manifestasi geothermal permukaan
berdasarkan analisis indeks air pada transformasi citra landsat 8 OLI di
daerah panas bumi Bukit Kasih Kanonang dan sekitarnya “.JSME MIPA
UNIMA 2015 Vol. 3 no. 4
Raharjo, Puguh Dwi. 2010. “Teknik Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi
Geografis untuk Identifikasi Potensi Kekeringan Kabupaten Kebumen”.
Jurnal makara teknologi, vol. 14 no. 2,
Saptaji, Ir Nenny M., 2006, “Teknik Panasbumi”, Bandung : Program Studi
Teknik Perminyakan ITB
Siwi, Denny. 2016. “Studi sifat spectral manifestasi panas bumi dominasi air
dengan menggunakan analisis indeks air dan wetness mengunakan citra
setelit landsat ETM+ (Studi Kasus Hutan Pinus Lahendong)”. Skripsi.
Tondano : Universitas Negeri Manado
Tampubolon Togi, Yanti Jeddah. 2015. “ Aplikasi pemanfaatan citra satelit
landsat untuk megidentifikasi perubahan lahan kritis di kota Medan dan
sekitarnya. Jurnal penginderaan Jauh vol 16. No 2, 2015
Thoha. A.S.2006. “Penggunaan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi
Geografis
untuk Deteksi dan Prediksi Kebakaran Gambut Di Kabupaten Bengkalis
Propinsi Riau”. Tesis. Sekolah Pasca Sarjana. Institute Pertanian Bogor.
Bogor
41
Teungku Haikal. 2015. Analisis Normalized Difference Wetness Index (NDWI)
dengan
menggunakan data citra Landsat 5 TM. Tesis.
Widya Utama dkk, 2012, “Analisis Citra Landsat ETM+ untuk Kajian Awal
Penentuan Daerah Potensi Panas Bumi di Gunung Lamongan, Tiris,
Probolinggo”, Vol. 8, No. 1
1
LAMPIRAN 1
METADATA LANDSAT 8
GROUP = L1_METADATA_FILE
GROUP = METADATA_FILE_INFO
ORIGIN = "Image courtesy of the U.S. Geological Survey"
REQUEST_ID = "0701701271449_00027"
LANDSAT_SCENE_ID = "LC81120592017018LGN00"
FILE_DATE = 2017-01-28T18:57:58Z
STATION_ID = "LGN"
PROCESSING_SOFTWARE_VERSION = "LPGS_2.6.2"
END_GROUP = METADATA_FILE_INFO
GROUP = PRODUCT_METADATA
DATA_TYPE = "L1T"
ELEVATION_SOURCE = "GLS2000"
OUTPUT_FORMAT = "GEOTIFF"
SPACECRAFT_ID = "LANDSAT_8"
SENSOR_ID = "OLI_TIRS"
WRS_PATH = 112
WRS_ROW = 59
NADIR_OFFNADIR = "NADIR"
TARGET_WRS_PATH = 112
TARGET_WRS_ROW = 59
DATE_ACQUIRED = 2017-01-18
xiv
SCENE_CENTER_TIME = "01:56:26.1224490Z"
CORNER_UL_LAT_PRODUCT = 2.49431
CORNER_UL_LON_PRODUCT = 123.20329
CORNER_UR_LAT_PRODUCT = 2.49240
CORNER_UR_LON_PRODUCT = 125.24822
CORNER_LL_LAT_PRODUCT = 0.39084
CORNER_LL_LON_PRODUCT = 123.20310
CORNER_LR_LAT_PRODUCT = 0.39054
CORNER_LR_LON_PRODUCT = 125.24616
CORNER_UL_PROJECTION_X_PRODUCT = 522600.000
CORNER_UL_PROJECTION_Y_PRODUCT = 275700.000
CORNER_UR_PROJECTION_X_PRODUCT = 750000.000
CORNER_UR_PROJECTION_Y_PRODUCT = 275700.000
CORNER_LL_PROJECTION_X_PRODUCT = 522600.000
CORNER_LL_PROJECTION_Y_PRODUCT = 43200.000
CORNER_LR_PROJECTION_X_PRODUCT = 750000.000
CORNER_LR_PROJECTION_Y_PRODUCT = 43200.000
PANCHROMATIC_LINES = 15501
PANCHROMATIC_SAMPLES = 15161
REFLECTIVE_LINES = 7751
REFLECTIVE_SAMPLES = 7581
THERMAL_LINES = 7751
THERMAL_SAMPLES = 7581
FILE_NAME_BAND_1 = "LC81120592017018LGN00_B1.TIF"
FILE_NAME_BAND_2 = "LC81120592017018LGN00_B2.TIF"
FILE_NAME_BAND_3 = "LC81120592017018LGN00_B3.TIF"
FILE_NAME_BAND_4 = "LC81120592017018LGN00_B4.TIF"
FILE_NAME_BAND_5 = "LC81120592017018LGN00_B5.TIF"
FILE_NAME_BAND_6 = "LC81120592017018LGN00_B6.TIF"
FILE_NAME_BAND_7 = "LC81120592017018LGN00_B7.TIF"
FILE_NAME_BAND_8 = "LC81120592017018LGN00_B8.TIF"
FILE_NAME_BAND_9 = "LC81120592017018LGN00_B9.TIF"
FILE_NAME_BAND_10 = "LC81120592017018LGN00_B10.TIF"
FILE_NAME_BAND_11 = "LC81120592017018LGN00_B11.TIF"
FILE_NAME_BAND_QUALITY = "LC81120592017018LGN00_BQA.TIF"
METADATA_FILE_NAME = "LC81120592017018LGN00_MTL.txt"
BPF_NAME_OLI = "LO8BPF20170118013816_20170118022031.01"
BPF_NAME_TIRS = "LT8BPF20170113025501_20170126095930.01"
CPF_NAME = "L8CPF20170101_20170331.02"
RLUT_FILE_NAME = "L8RLUT20150303_20431231v11.h5"
END_GROUP = PRODUCT_METADATA
GROUP = IMAGE_ATTRIBUTES
CLOUD_COVER = 27.06
CLOUD_COVER_LAND = 35.40
IMAGE_QUALITY_OLI = 9
IMAGE_QUALITY_TIRS = 9
TIRS_SSM_MODEL = "FINAL"
TIRS_SSM_POSITION_STATUS = "ESTIMATED"
ROLL_ANGLE = -0.001
SUN_AZIMUTH = 129.04709151
SUN_ELEVATION = 53.90054730
EARTH_SUN_DISTANCE = 0.9838392
GROUND_CONTROL_POINTS_VERSION = 4
GROUND_CONTROL_POINTS_MODEL = 137
GEOMETRIC_RMSE_MODEL = 8.652
GEOMETRIC_RMSE_MODEL_Y = 6.262
GEOMETRIC_RMSE_MODEL_X = 5.970
END_GROUP = IMAGE_ATTRIBUTES
GROUP = MIN_MAX_RADIANCE
RADIANCE_MAXIMUM_BAND_1 = 785.23767
RADIANCE_MINIMUM_BAND_1 = -64.84518
RADIANCE_MAXIMUM_BAND_2 = 804.09296
RADIANCE_MINIMUM_BAND_2 = -66.40226
RADIANCE_MAXIMUM_BAND_3 = 740.96478
RADIANCE_MINIMUM_BAND_3 = -61.18911
RADIANCE_MAXIMUM_BAND_4 = 624.82324
RADIANCE_MINIMUM_BAND_4 = -51.59811
RADIANCE_MAXIMUM_BAND_5 = 382.36069
RADIANCE_MINIMUM_BAND_5 = -31.57547
RADIANCE_MAXIMUM_BAND_6 = 95.08962
RADIANCE_MINIMUM_BAND_6 = -7.85253
RADIANCE_MAXIMUM_BAND_7 = 32.05029
RADIANCE_MINIMUM_BAND_7 = -2.64672
RADIANCE_MAXIMUM_BAND_8 = 707.12799
RADIANCE_MINIMUM_BAND_8 = -58.39486
RADIANCE_MAXIMUM_BAND_9 = 149.43521
RADIANCE_MINIMUM_BAND_9 = -12.34041
RADIANCE_MAXIMUM_BAND_10 = 22.00180
RADIANCE_MINIMUM_BAND_10 = 0.10033
RADIANCE_MAXIMUM_BAND_11 = 22.00180
RADIANCE_MINIMUM_BAND_11 = 0.10033
REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_1 = 1.210700
REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_1 = -0.099980
REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_2 = 1.210700
REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_2 = -0.099980
REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_3 = 1.210700
REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_3 = -0.099980
REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_4 = 1.210700
REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_4 = -0.099980
REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_5 = 1.210700
REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_5 = -0.099980
REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_6 = 1.210700
REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_6 = -0.099980
REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_7 = 1.210700
REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_7 = -0.099980
REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_8 = 1.210700
REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_8 = -0.099980
REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_9 = 1.210700
REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_9 = -0.099980
QUANTIZE_CAL_MAX_BAND_1 = 65535
QUANTIZE_CAL_MIN_BAND_1 = 1
QUANTIZE_CAL_MAX_BAND_2 = 65535
QUANTIZE_CAL_MIN_BAND_2 = 1
QUANTIZE_CAL_MAX_BAND_3 = 65535
REFLECTANCE_MULT_BAND_1 = 2.0000E-05
REFLECTANCE_ADD_BAND_1 = -0.100000
REFLECTANCE_ADD_BAND_2 = -0.100000
REFLECTANCE_ADD_BAND_3 = -0.100000
REFLECTANCE_ADD_BAND_4 = -0.100000
REFLECTANCE_ADD_BAND_5 = -0.100000
REFLECTANCE_ADD_BAND_6 = -0.100000
REFLECTANCE_ADD_BAND_7 = -0.100000
GRID_CELL_SIZE_PANCHROMATIC = 15.00
GRID_CELL_SIZE_REFLECTIVE = 30.0
LAMPIRAN 2
PETA GOLOGI SULAWESI UTARA
LAMPIRAN 3
PETA ADMINISTRATIF MINAHASA TENGGARA
LAMPIRAN 4
FOTO ALAT DAN BAHAN
Gambar Laptop
Gambar GPS
Gambar Software Ilwis
LAMPIRAN 5
FOTO PENGAMBILAN DATA LAPANGAN
Pengukuran Koordinat Manifestasi
Pengukuran Temperatur Manifestasi
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Ria Fitrianie Effendi dilahirkan di Balikpapan pada
tanggal 03 Maret 1995 sebagai anak pertama dari empat bersaudara
pasangan Rachmadie Effendi dan Aneke Weley
Pendidikan yang ditempuh :
Tahun 2007 : lulus Sekolah Dasar (SD) Inpres Kolongan Atas
Tahun 2010 : Lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Sonder
Tahun 2013 : Lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Tomohon
Tahun 2013 : Masuk Jurusan FISIKA UNIMA
Kegiatan yang pernah diikuti :
Tahun 2013 : Seminar Temu Fisika ( UNIMA, Tondano )
Tahun 2013 : Program National Lecturer Series ( UNIMA, Tondano )
Tahun 2013 : Geothermal Seminar (Aryaduta, Manado)
Tahun 2014 : Indonesia Geothermal Forum 2014 (Sintesa Peninsula, Manado)
Tahun 2015 : 4th International Geothermal Workshop (ITB, Bandung)