0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan88 halaman

Sifat Spektral Panasbumi Minahasa

Skripsi ini membahas tentang karakteristik spektral manifestasi panasbumi dengan menggunakan analisis indeks air dan wetness pada citra satelit Landsat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai spektral dari manifestasi mata air panas di Kabupaten Minahasa Tenggara dengan dua metode analisis tersebut dan membandingkan hasilnya. [/ringkasan]

Diunggah oleh

Lidya Julita Watung
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan88 halaman

Sifat Spektral Panasbumi Minahasa

Skripsi ini membahas tentang karakteristik spektral manifestasi panasbumi dengan menggunakan analisis indeks air dan wetness pada citra satelit Landsat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai spektral dari manifestasi mata air panas di Kabupaten Minahasa Tenggara dengan dua metode analisis tersebut dan membandingkan hasilnya. [/ringkasan]

Diunggah oleh

Lidya Julita Watung
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SIFAT SPEKTRAL MANISFESTASI PANASBUMI

MENGGUNAKAN ANALISIS INDEKS AIR DAN


WETTNESS CITRA SATELIT LANDSAT
(Studi Penelitian : Kecamatan Toluaan Kabupaten Minahasa
Tenggara)

RIA FITRIANIE EFFENDI

13 528 012

SKRIPSI

Untuk memenuhi salah satu syarat ujian guna memperoleh gelar Sarjana Sains Program Studi Ilmu Fisika

Peminatan Panasbumi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

2017
i
SURAT PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya susun


sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Manado sesungguhnya merupakan karya
saya sendiri.

Adapun bagian-bagian dalam penulisan skripsi yang saya kutip dari karya
orang lain, telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah
dan etika penulisan ilmiah.

Apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian skripsi ini


bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian- bagian tertentu,
saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar yang saya sandang dan sanksi-
sanksi lainnya sesuai dengan perundang- undangan yang berlaku.

Tondano, Mei 2017


Yang membuat pernyataan

Ria Fitrianie Effendi


NIM. 13 528 012

i
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

“I can do all things to Christ which strengtheneth me “. (Philipians 4 : 13)

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan

kepadaku”. (Fil 4:13)

PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa syukur dan terima kasih, saya persembahkan skripsi ini

untuk :

 Tuhan Yesus Kristus sumber segalanya, yang telah memberi kemampuan,

kekuatan, kesehatan, hikmat dan semua yang terbaik bagi saya.

 Kedua orang tua saya Rachamadie Effendi dan Aneke Weley yang selalu

mendoakan, mendukung, dan memberi motivasi untuk melakukan yang

terbaik.

 Mega, Putri dan Ana, ketiga adik saya yang telah mendukung dan

mendoakan saya

 Teman-teman dari Youth El- Jireh yang terus menopang dan memberi

dukungan.

 Almamater saya Universitas Negeri Manado

 Teman-teman seangkatan geothermal 2013


ABSTRAK

SIFAT SPEKTRAL MANISFESTASI PANASBUMI MENGGUNAKAN


ANALISIS INDEKS AIR DAN WETTNESS DENGAN CITRA SATELIT
LANDSAT ( STUDI PENELITIAN: KECAMATAN TOLUAAN
KABUPATEN MINAHASA TENGGARA)
Ria Fitrianie Effendi
13 528 012
Program studi Ilmu Fisika Peminatan Geothermal
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Manado

Pembimbing 1 : Patricia Silangen,Spd, MSi.


Pembimbing 2 : Drs. Satyano Mongan, MSi.

Kebutuhan energi yang meningkat menyebabkan ketersediaan energi berkurang.


Pemanfaatan energi alternatif seperti panasbumi dapat dijadikan solusi dalam
meghadapi masalah ini. Indonesia memiliki sekitar 27 GW potensi panasbumi.
Potensi panasbumi dapat diketahui dari kenampakan yang muncul dipermukaan
atau manifestasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat dan nilai spectral
manifestasi panasbumi dengan metode penginderaan jauh analisis indeks air dan
wetness dan perbandingan dari kedua analisis ini . Penelitian ini dilakukan dengan
cara memproses data citra satelit landsat menggunakan software ilwis. Dari hasil
pengolahan data didapatkan nilai indeks air dari manifestasi panasbumi mata air
panas yang terdapat di daerah Toulaan Minahasa Tenggara berkisar antara 0.22-
0.38, sedangkan untuk nilai wetness berkisar antara 545.13 - 1224.86. kedua
metode ini memiliki pola spektral yang sama tetapi yang membedakannya adalah
jumlah band yang digunakan.
Kata kunci : manifestasi panasbumi, penginderaan jauh, nilai spectral,
indeks air, wetness.
ABSTRACT

The increase energy demand causes reduced energy availability. Utilization of


alternative enrgy as geothermal can be solution in facing this problem. Indonesia
has 27 GW of geothermal potential. Geothermal potential can be known from
what appears on the surface or called a manifestation. The research aims to
determine the nature and spectral value of geothermal manifestations with remote
sensing methods analysis of water index and wetness and comparison of these two
analyzes. This research is done by processing satellite image data of Landsat
using Software ILWIS. From result of data processing got value of water index
from geothermal manifestation of hot springs in area of Toulaan Minahasa
Tenggara ranged between 0.22-0.38 while wetness value ranged between 545.13 -
1224.86. Both of these methods analysis have the same spectral pattern but the
difference is the number of bands used.

Keywords: Geothermal Manifestation. Remote Sensing, Spectral Value, Water


Index, Wetness.
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus untuk pimpinan serta

anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal penelitian dengan

judul “SIFAT SPEKTRAL MANISFESTASI PANASBUMI MENGGUNAKAN

ANALISIS INDEKS AIR DAN WETTNESS CITRA SATELIT LANDSAT (Studi

Penelitian : Kecamatan Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara) “

Penulisan skripsi ini bertujuan sebagai panduan untuk penelitian

selanjutnya serta sebagai pola acuan untuk diajukan sebagai salah satu syarat

untuk mendapatkan gelar sarjana Program Studi Fisika Fakultas MIPA

Universitas Negeri Manado.

Dengan selesainya skripsi penelitian ini, penulis mengucapkan terimakasih

kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penelitian ini,

yaitu kepada :

1. Tuhan Yesus Kristus atas semua yang kasih dan penyertaan-Nya

2. Yth. Prof. Dr. Julieta P.A. Runtuwene, MS selaku rektor Universitas

Negeri Manado

3. Yth. Prof. Dr. Herry Sumual, MSi sebagai PLH Dekan Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,

4. Yth, seluruh Pimpinan dan Pengelola Bidikmisi Universitas Negeri

Manado

5. Yth. Dr. Djeli Tulandi, MSi, selaku ketua Jurusan Fisika


6. Yth. Dr. Donny Wenas selaku Ketua Program Stusi Ilmu Fisika, dan Yth.

Dr. Cyrke Bujung, MSi, selaku ketua program peminatan geothermal.

7. Yth. Patricia Silangen, SPd, Msi selaku pembimbing 1 yang telah

mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini

8. Yth. Drs. Satyano Mongan, MSi, selaku pembimbing II yang telah

menuntun dan mengarahkan penulisan skripsi ini.

9. Kepada seluruh dosen jurusan Fisika yang telah membantu, membimbing

dan mengajari penulis selama pendidikan.

10. Kepada kedua orang tua Aneke Weley dan Rachmadie Effendi yang telah

mendukung, menopang, dan menjadi sumber motivasi bagi penulis

11. Mega, Putri dan Ana, yang terus mendukung dan mendoakan.

12. Teman-teman seperjuangan geothermal 2013, Bella, Naldy, Gina, Putra,

Davin, Devid, Vanfield, Ayen, Dani, Veyke, Riko, Angel, Yoel, Misel,

Grace, Kerinda, Nena, Valeri, Karina dan semua teman-teman yang tidak

dapat disebutkan satu per satu

13. Teman-teman SS, Putri, Anet, Prilly, Farha, Marifa dan Ithel

14. Pemerintah dan masyarakat Kecamatan Toulaan Minahasa Tenggara

15. Semua pihak yang telah menbantu dalam proses kuliah sampai kepada

pembuatan skripsi ini.

Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk penelitian

selanjutnya dan para pembaca.

Tondano, April 2017

Penulis,
Ria Fitrianie Effendi

DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN

LEMBAR PENGESAHAN i

LEMBAR PERSETUJUAN

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ii

ABSTRAK iii

KATA PENGANTAR iv

DAFTAR ISI vii

DAFTAR GAMBAR x

DAFTAR TABEL xii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Rumusan Masalah 4

1.3. Tujuan Penelitian 4

1.4. Manfaat Penelitian 4


BAB II KAJIAN PUSTAKA 6

2.1. Sistem Panas Bumi 6

2.2. Gelombang Elektromagnetik 13

2.3. Penginderaan Jauh 15

2.4. Indeks air dan wetness 17

2.5. Penelitian Terkait 19

2.6. Kerangka Pemikiran 22

BAB III METODE PENELITIAN 24

3.1 Lokasi Penelitian 24

3.2 Alat dan Bahan 25

3.3 Desain Penelitian 25

3.4 Variabel Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data 27

3.4.1 Variabel Penelitian 27

3.4.2 Teknik Pengumpulan Data 27

3.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Data 28

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 30

4.1 Hasil Penelitian 31

4.1.1 resample citra 31

4.1.2 Klasifikasi Nilai Spektral 34

4.1.3 Karakteristik NDWI 34


4.1.3 Karakteristik wetness 35

4.1.5 Perbandingan Nilai spektral NDWI dan Wetness 36

4.2 Pembahasan 38

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 40

5.1 Kesimpulan 40

5.2 Saran 40

DAFTAR PUSTAKA xii

LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Pergerakan Lempeng 7

Gambar 2.2 Sistem Panas bumi bekerja seperti air mendidih pada ketel air 8

Gambar 2.3 Perubahan medan magnet yang dapat menghasilkan gelombang

elektromagnetik 14

Gambar 2.4 Perambatan gelombang elektromagnetik yang tegak lurus arah

medan listrik dan magnet 14

Gambar 2.5 Spektrum gelombang elektromagnetik 17

Gambar 2.6 Reflektansi obyek pada Berbagai Panjang Gelomban 18

Gambar 2.7 Mekanisme penginderaan jauh 19

Gambar 2.8 Diagram alir kerangka pemikiran 23

Gambar [Link] Penelitian 24

Gambar 3.2 Diagram Alir Desain Penelitian 26

Gambar 3.3 Diagram Alir Pengolahan Data 30

Gambar 4.1 Hasil resample citra band blue dengan tampilan blue 32

Gambar 4.2 Hasil resample citra band green dengan tampilan green 32

Gambar 4.3 Hasil resample citra band red dengan tampilan red 32

Gambar 4.4 Hasil resample citra band NIR dengan tampilan pseudo 33
Gambar 4.5 Hasil resample citra band SWIR1 dengan tampilan pseudo 33

Gambar 4.6 Hasil resample citra band SWIR2 dengan tampilan pseudo 33

Gambar 4.7 Peta NDWI (indeks air) 34

Gambar 4.8 Peta wetness 35

Gambar 4.9 Grafik nilai spectral NDWI 37

Gambar 4.10 Grafik nilai spectral Wetness 37


DAFTAR TABEL

Tabel [Link] Indeks kebasahan 19

Tabel 3.1 Teknik Pengumpulan Data 27

Tabel 3.2 Klasifikasi NDWI 29

Tabel 4.1 Perbandingan nilai spektral 34

Tabel 4.2 Klasifikasi Indeks Air ( NDWI ) berdasarkan nilai spektral 35

Tabel 4.2 Klasifikasi wetness 36


1
1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan penduduk yang tinngi berpengaruh terhadap meningkatnya

kebutuhan energi, sehingga dibutuhkan energi alternatif yang dapat

digunakan secara berkelanjutan, karena energi yang banyak digunakan

merupakan yang tidak dapat diperbaharui seperti, minyak bumi dan batu bara.

Panas bumi atau geothermal adalah energi yang dapat diperbaharui dan

ramah lingkungan atau disebut sebagi energi terbarukan. Energi ini berasal

dari dalam bumi, yang pembentukannya terjadi terus-menerus. Panas bumi

terbentuk secara alami di bawah permukaan, yang berasal dari pemanasan

batuan dan air oleh sumber panas berupa magma bersama unsur-unsur lain

yang terkandung di dalamnya.

Dalam tahapan awal pengembangan sumber daya panas bumi, diperlukan

survey lapangan untuk menentukan daerah prospek panas bumi yang

potensial. Eksplorasi pendahuluan (reconnaisance survey) dilakukan untuk

mencari daerah prospek panas bumi, yaitu daerah yang menunjukkan tanda-

tanda adanya sumberdaya panas bumi dilihat dari kenampakannya

dipermukaan, serta untuk mendapatkan gambaran mengenai geologi regional

didaerah tersebut (Saptaji, 2003). Eksplorasi pendahuluan meliputi metode

geologi, metode geofisika, metode geokimia dan penginderaan jauh.

1
Penginderaan jauh merupakan suatu ilmu atau teknik dalam usaha

mengetahui benda, dan gejala dengan cara menganalisis objek dan arah tanpa

adanya kontak langsung dengan benda, gejala, dan objek yang diteliti.

Pengambilan data dalam pengindraan jauh dilakukan dari jarak jauh dengan

menggunakan sensor buatan. Tidak adanya kontak dengan objek yang dikaji

maka penginderaan dilakukan dari jarak jauh sehingga disebut pengindraan

jauh.

Karakter utama dari suatu image (citra) dalam penginderaan jauh adalah

adanya rentang panjang gelombang (wavelength band) yang dimilikinya.

Beberapa radiasi yang bisa dideteksi dengan sistem penginderaan jarak jauh

seperti : radiasi cahaya matahari atau panjang gelombang dari visible dan near

sampai middle infrared, panas atau dari distribusi spasial energi panas yang

dipantulkan permukaan bumi (thermal), serta refleksi gelombang mikro.

Setiap material pada permukaan bumi juga mempunyai reflektansi yang

berbeda terhadap cahaya matahari. Sehingga material-material tersebut akan

mempunyai resolusi yang berbeda pada setiap band panjang gelombang

(Thoha,2008).

Penginderaan jauh memanfaatkan radiasi gelombang elektromagnetik

yang dipancarkan atau dipantulkan oleh objek yang diamati dalam frekuensi

tertentu seperti inframerah, cahaya tampak, gelombang mikro dan sebagainya.

Objek yang diamati seperti tumbuhan, permukaan air, manifestasi panas bumi

memancarkan dan/atau memantulkan radiasi dalam panjang gelombang dan

intensitas yang berbeda-beda.


Citra penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk kajian tertentu, salah

satunya yaitu untuk mengindetifikasikan indeks kebasahan lahan dengan

menggunakan citra landsat 8. Indeks kebasahan merupakan indeks yang

menunjukkan tingkat kebasahan suatu area, peneliti Gao 1996 mengusulkan

normalized difference water index(NDWI), indeks tersebut merupakan

modifikasi dari normalized difference vegetation index (NDVI) yang banyak

digunakan untuk identifikasi tanaman, dengan panjang gelombang yang

digunakan yaitu 860 nm-1240 nm. Indeks kebasahan menunjukkan tingkat

kebasahan suatu objek dan juga kelengasan tanah  yang terdetek dengan satelit

tersebut. Jika vegetasi di suatu ruang itu kurang, maka tingkat kebasahan lahan

tersebut termasuk dalam keadaan ekstrim (Haikal, 2015).

Sifat spektral manifestasi panasbumi dapat diketahui menggunakan

metode analisis indeks air dan Wetness. Indeks air hanya dapat digunakan

pada manifestasi yang berdominasi air seperti mata air panas, kolam air panas,

kolam lumpur dan fumarole. Metode ini hanya memanfatkan band yang

memiliki kepekaan terhadap air yaitu Band Red dan band Near Infrared.

Sedangkan Wetness memanfaatkan hampir semua band pada citra landsat

ETM+, yaitu band blue, band green, band red, band NIR, band MIR5, dan

band MIR7.

Daerah yang menjadi lokasi penelitian adalah,desa Lobu Dua Kecamatan

Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara merupakan daerah prospek panas

bumi yang memiliki manifestasi permukaan dominasi air. Manifestasi

permukaan yang ada berupa mata air panas dan kolam air panas, akan diteliti
kandungan air dan tingkat kelembabannya, dengan mengunakan analisis

indeks air dan wetness. Maka peneliti membuat penelitian tentang “Sifat

Spektral Manisfestasi Panasbumi Menggunakan Analisis Indeks Air Dan

Wettness Dengan Citra Satelit Landsat ( Studi Penelitian: Kecamatan

Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara)“.

1.2 Rumusan Masalah

1. Berapa nilai indeks air manifestasi panas bumi pada citra Landsat di

Kecamatan Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara?

2. Berapa nilai Wetness manifestasi panas bumi pada citra Landsat di

Kecamatan Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara?

3. Bagaimana perbandingan pola spektral manifestasi panas bumi di

Kecamatan Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara untuk indeks air

dan Wetness ?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Menentukan nilai indeks air manifestasi panas bumi pada citra Landsat

di Kecamatan Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara

2. Menentukan nilai Wetness manifestasi panas bumi pada citra Landsat

di Kecamatan Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara

3. Menbandingkan pola spektral manifestasi panas bumi di Kecamatan

Toluaan Kabupaten Minahasa Tenggara untuk indeks air dan Wetness


1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi Perguruan Tinggi

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar atau acuan bagi

pengembangan penelitian panas bumi, yang berhubungan dengan metode

penginderaan jauh khususnya untuk nilai spektral indeks air dan Wetness.

2. Bagi Pemerintah dan Instansi Terkait

Penelitian ini dapat digunakan sebagai data awal dalam tahapan

eksplorasi energi dan sumber daya mineral khususnya panas bumi untuk

bahan pertimbangan ilmiah dalam pngambilan kebijakan pemerintah.

3. Bagi Masyarakat Umum

Penelitian ini dapat digunakan untuk menambah pengetahuan

masyarakat akan energi panas bumi. Dan memberikan pemahaman

mengenai aplikasi penginderaan jauh yang dapat dijadikan materi

pembelajaran.
1
BAB II

KAJIAN TEORI

2.1. Sistem Panas Bumi

Panasbumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air

panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang

secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem

Panasbumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses.

Panasbumi membentuk suatu sistem tertentu yang disebut dengan sistem

panasbumi. Hochstein dan Browne (2000) mendefinisikan sistem panasbumi

sebagai perpindahan panas secara alami dalam volume tertentu di kerak bumi

dimana panas dipindahkan dari sumber panas ke zona pelepasan panas.

Sistem panasbumi merupakan daur hidrologi yang dalam perjalanannya air

berhubungan langsung dengan sumber panas yang bertemperatur tinggi

sehingga terbentuk airpanas atau uap panas yang terperangkap pada suatu

reservoir berupa batuan poros dengan permeabilitas tinggi. Sistem panasbumi

dengan suhu tinggi terletak pada tempat-tempat tertentu. Batas-batas

pertemuan lempeng yang bergerak merupakan pusat lokasi kemunculan

hidrotermal magma. Transfer energi panas secara konduktif pada lingkungan

tektonik lempeng diperbesar oleh gerakan magma dan sirkulasi hidrotermal.

Energi panasbumi 50% berada dalam magma, 43% dalam batu kering panas

(hot dry rock) dan 7% dalam sistem hidrotermal.

6
Secara umum dapat dikatakan proses yang menghasilkan pembentukan

anomali geothermal adalah proses transfer panas ke permukaan bumi yang

disebabkan oleh magma. Dimana panas yang dibawa ini kemudian disimpan

sementara di dalam kerak bumi dekat permukaan <10km (Muffler, 1976,

Raybach-Muffler, 1981).

Konsep tektonik lempeng menjelaskan bahwa magma yang menuju

permukaan bumi umumnya berada di sepanjang tepian lempeng (plate

boundaries). Sehingga sumberdaya panasbumi yang disebabkan oleh aktivitas

magmatik atau intrusi magma diduga akan berada di sepanjang daerah

pemekaran lempeng (spreading ridges), daerah subduksi (convergentmargin),

dan peluruhan batuan di tengah lempeng (interplate melting anomalies).

Gambar 2.1 Pergerakan Lempeng (Sumber : Google Search)

Prinsip dari pembentukan sistem panasbumi selalu memerlukan sirkulasi

air yang memadai. Daur hidrologi di daerah panasbumi dimulai dari air hujan

yang masuk ke dalam tanah, kemudian membentuk aquifer air, lalu terpanasi

oleh sumber panas dalam bumi. Fluida panas ini naik ke permukaan melalui

retakan-retakan batuan membentuk sumber-sumber airpanas dan keluar


sebagai uap atau airpanas yang disemburkan. Airtanah yang mengalami

pemanasan akan keluar dengan dorongan arus konveksi melalui jalur-jalur

struktur yang ada.

Gambar 2.2 Sistem Panas bumi bekerja seperti air mendidih pada ketel air

(Sumber: Chevron, 2013)

Sistem panasbumi dijumpai pada daerah dengan gradien geotermal relatif

normal, terutama pada bagian tepi lempeng dimana gradien geotermal biasanya

mempunyai kisaran suhu yang lebih tinggi daripada suhu rata-rata (Dickson dan

Fanelli, 2004).

Dibandingkan dengan temperatur reservoir minyak, temperatur

reservoir panasbumi relatif sangat tinggi, bisa mencapai 350°C. Berdasarkan

pada besarnya temperatur, Hochstein (1990) membedakan sistim panasbumi

menjadi tiga, yaitu:

1. Sistim panasbumi bertemperatur rendah, yaitu suatu sistim yang

reservoirnya mengandung fluida dengan temperatur lebih kecil dari 125°C.

2. Sistim/reservoir bertemperatur sedang, yaitu suatu sistim yang

reservoirnya mengandung fluida bertemperatur antara 125°C dan 225°C.


3. Sistim/reservoir bertemperatur tinggi, yaitu suatu sistim yang reservoirnya

mengandung fluida bertemperatur diatas 225°C.

Selain komponen penyusun sistem panasbumi, keberadaan suatu

sistem panasbumi ditandai oleh kehadiran manifestasi panas di permukaan.

Prihadi (2005) menjelaskan pada sistem panasbumi konvektif yang memiliki

sirkulasi fluida dari daerah recharge masuk ke dalam reservoir kemudian

keluar menuju permukaan melalui daerah upflow dan outflow, fluida akan

beraksi dengan batuan sekitar dan kemudian keluar melalui rekahan-rekahan

dalam batuan. Interaksi fluida dengan batuan sekitarnya menghasilkan

mineral-mineral ubahan, sedangkanfluida yang keluar melalui rekahan akan

menghaslikan air panas atau uap panas. Gejala-gejala seperti itu yang disebut

sebagai manifestasi panasbumi. Beberapa contoh manifestasi panasbumi,

antara lain:

1. Fumarol

Fumarol adalah uap panas yang keluar melalui celah-celah dalam batuan

danM kemudian berubah menjadi uap air (steam). Fumarol yang berasosiasi

dengan sistem hidrotermal vulkanik dapat mengeluarkan uap air dengan

kecepatan >150m/s dan umumnya mengandung gas magmatik seperti HF,

HCL dan SO2. Apabila kandungan SO2 dominan, maka suhu uap air bisa

mencapai >130°C.

2. Solfatara
Solfatara adalah rekahan dalam batuan yang menyemburkan uap air yang

bercampur dengan CO2 dan H2S, kadang terdapat SO2. Disekitar lubang

rekahan tersebut diendapkan sulfur dalam jumlah yang banyak.

3. Steaming Ground

Steaming Ground  terbentuk apabila uap air yang keluar sedikit jumlahnya

dan keluar melalui pori dalam tanah atau batuan. Kenampakannya berupa uap

putih dan hangat, tidak terdengar bunyi dari tekanan uap yang tinggi seperti

pada fumarol.

4. Warm Ground

Gas dan uap air yang naik ke permukaan akan menaikkan suhu di sekitar

daerah thermal area sehingga suhu di daerah tersebut akan lebih tinggi dari

sekitarnya dan juga lebih tinggi dari suhu udara dekat permukaan, dimana

suhu tersebut bisa mencapai 30o -40o.

5. Neutral Hot Spring

Merupakan mata air panas dengan pH netral atau mendekati netral (6-7).

Mata air ini diassosiasikan sebagai direct discharge fluida dari reservoir ke

permukaan bumi. Umumnya mengandung ion klorida yang tinggi sehingga

seringkali disebut air klorida. Mata air ini memiliki suhu yang tinggi (>75oC)

sehingga seringkali diselimuti oleh uap panas. Di sekitar mata air sering

dijumpai endapan silica sinter dan mineral-mineral sulfida seperti galena, pirit,

dan lain-lain.

6. Acid Hot Spring


Merupakan mata air panas dengan pH asam (pH<6) yang terbentuk hasil

kondensasi gas magmatik dan uap panas di dekat permukaan bumi kemudian

melarut dan bercampur dengan air [Link] asam ini melarutkan

batuan sekitar mata air menjadi partikel-partikel kecil yang terdiri dari silica

dan lempung. Apabila partikel-partikel ini bercampur dengan air dari mata air,

maka akan membentuk mudpoolsatau mudpots. Apabila tidak bercampur

dengan air, tetapi hanya berupa uap asam panas, maka batuan yang

terdisintegrasi ini akan menyebabkan ground collapse dan membentuk lubang

besar

7. Batuan Ubahan

Temperatur tinggi dalam lapangan panasbumi akan menyebabkan

reaksi antara fluida dengan batuan yang di lewatinya, reaksi itu

mengakibatkan terjadi perubahan susunan mineral dalam batuan tersebut atau

biasa disebut alterasi hidrotermal (Ellis, 1970).

2.2. Gelombang Elektromagnetik

Faraday menemukan bahwa perubahan medan magnet dapat

menghasilkan gaya gerak listrik terinduksi atau medan listrik. Maxwell

berpendapat bahwa perubahan medan listrik akan menimbulkan medan

magnet. Perubahan medan magnet dijelaskan pada Gambar . Perubahan

magnet listrik dan medan magnet ditimbulkan dengan cara dua bola isolator

bermuatan positif dan negatif digetarkan sehingga jaraknya berubah-ubah

sesuai dengan frekuensi getaran tersebut. Perubahan medan magnet tersebut

juga menimbulkan medan listrik. Timbulnya medan listrik ini ditandai dengan
dipancarkannya gelombang elektromagnetik. Pada Gambar ditunjukkan

perubahan medan listrik dan medan magnet yang menimbulkan adanya

gelombang elektromagnetik.

Gambar 2.3 Perubahan medan magnet yang dapat menghasilkan gelombang

elektromagnetik (Sumber : Bob Foster, 2003)

Gambar 2.4 Perambatan gelombang elektromagnetik yang tegak lurus arah medan

listrik dan magnet (Sumber : Bob Foster, 2003)

Pada Gambar 2.4 dijelaskan bahwa arah medan magnet selalu saling tegak

lurus terhadap arah medan listrik, sedang arah rambat gelombang elektromagnetik

selalu tegak lurus baik terhadap medan listrik mampu terhadap medan magnet

sehingga gelombang elektromagnetik ini termasuk gelombang transversal.

Kecepatan perambatan gelombang elektromagnetik ini ditentukan oleh

mediumnya yaitu:
… Persamaan 2.1

dengan:

μo= permeabilitas ruang hampa,

ε o= permitivitas ruang hampa,

c = laju perambatan gelombang elektromagnetik dalam ruang hampa.

Sebagai contoh perhitungan kecepatan perambatan gelombang

elektromagnetik ini diperoleh dengan memasukkan nilai μo = 4 x 10-7 Wb/Am

Wb/Am (tetapan yang sering muncul pada hukum Gauss) dan nilai ε o = 8,85 x 10-
12
C/Nm2 (tetapan yang sering muncul pada hukum Biot-Savart dan hukum

Ampere) ke persamaan 2.1 sehingga diperoleh nilai: c = 2,998 x 10 8 m/s atau

sering didekati dengan 3 x 108 m/s. Nilai kecepatan perambatan gelombang

elektromagnetik ini ternyata sama dengan nilai kecepatan perambatan cahaya

dalam ruang hampa, dan menerka dengan benar bahwa cahaya merupakan

gelombang elektromagnetik. Sifat gelombang elektromagnetik adalah sebagai

berikut:

1. Perubahan medan listrik dan medan magnet terjadi pada saat yang

bersamaan.

2. Arah medan listrik dan medan magnet saling tegak lurus.

3. Kuat medan listrik dan magnet besarnya berbanding lurus satu dengan

yang lain, yaitu menurut hubungan E = c.B.


4. Arah perambatan gelombang elektromagnetik selalu tegak lurus arah

medan listrik dan medan magnet.

5. Gelombang elektromagnetik dapat merambat dalam ruang hampa.

6. Gelombang elektromagnetik merambat dengan laju yang hanya

bergantung pada sifat-sifat listrik dan magnet medium.

7. Laju rambat gelombang elektromagnetik dalam ruang hampa

merupakan tetapan umum dan nilainya c = 3 x 108 m/s.

8. Gelombang elektromagnetik adalah berupa gelombang transversal.

9. Gelombang elektromagnetik dapat mengalami proses pemantulan,

pembiasan, polarisasi, interferensi, dan difraksi (lenturan).

10. Gelombang elektromagnetik merambat dalam arah garis lurus.

11. Gelombang elektromagnetik tidak disimpangkan oleh medan listrik

maupun medan magnet karena tidak bermuatan listrik.

Gelombang elektromagnet terdiri atas bermacam-macam gelombang yang

frekuensi dan panjang gelombangnya berbeda, tetapi semua gelombang-

gelombang penyusun ini mempunyai kecepatan rambat yang sama yaitu: c = 3 x

108 m/s. Hubungan antara frekuensi gelombang, panjang gelombang λ dan

kecepatan perambatan adalah sebagai berikut:

… Persamaan 2.2

dimana :

f = frekuensi gelombang
λ = panjang gelombang

c = kecepatan perambatan

Gambar 2.5 Spektrum gelombang elektromagnetik ( Sumber: Bob Foster, 2003)

2.3. Penginderaan Jauh

Pengindraan jauh adalah suatu teknik untuk mengumpulkan informasi

mengenai objek dan lingkungannya dari jarak jauh tanpa setuhan fisik.

Pengambilan data dalam pengindraan jauh dilakukan dari jarak jauh dengan

menggunakan sensor buatan. Tidak adanya kontak dengan objek yang dikaji

maka penginderaan dilakukan dari jarak jauh sehingga disebut pengindraan

jauh.

Karakter utama dari suatu image (citra) dalam penginderaan jauh

adalah adanya rentang panjang gelombang (wavelength band) yang

dimilikinya. Beberapa radiasi yang bisa dideteksi dengan sistem penginderaan

jarak jauh seperti : radiasi cahaya matahari atau panjang gelombang dari
visible dan near sampai middle infrared, panas atau dari distribusi spasial

energi panas yang dipantulkan permukaan bumi (thermal), serta refleksi

gelombang mikro. Setiap material pada permukaan bumi juga mempunyai

reflektansi yang berbeda terhadap cahaya matahari. Sehingga material-

material tersebut akan mempunyai resolusi yang berbeda pada setiap band

panjang gelombang (Thoha,2008). Citra, sebagai dataset, bisa dimanipulasi

menggunakan algorithm (persamaan matematis). Manipulasi bisa merupakan

pengkoreksian error, pemetaan kembali data terhadap suatu referensi geografi

tertentu, ataupun mengekstrak informasi yang tidak langsung terlihat dari data.

Data dari dua citra atau lebih pada lokasi yang sama dikombinasikan secara

matematis untuk membuat composite dari beberapa dataset. Produk data ini,

disebut derived products, bisa dihasilkan dengan beberapa penghitungan

matematis atas data numerik mentah (DN) (Puntodewo, dkk, 2003).

Gambar 2.6 Reflektansi obyek pada Berbagai Panjang Gelombang

Sistem Penginderaan Jauh Pengumpulan data penginderaan jauh dilakukan

dengan menggunakan alat penginderaan atau alat pengumpul data yang disebut
sensor. Berbagai sensor pengumpul data dari jarak jauh umumnya dipasang pada

wahana yang berupa pesawat terbang, balon, satelit, atau wahana lainnya. Objek

yang diindera adalah objek yang terletak di permukaan bumi, di atmosfer, dan di

antariksa. Data penginderaan jauh dapat berupa citra, grafik, dan data numerik.

Data tersebut dapat dianalisis atau diinterpretasi untuk mendapatkan informasi

mengenai objek, daerah, atau fenomena yang diindera atau diteliti. Analisis data

penginderaan jauh memerlukan data rujukan seperti peta, data statistik, dan data

lapangan. Hasil analisis yang diperoleh berupa informasi mengenai bentang lahan,

jenis penutup lahan, kondisi lahan, dan kondisi sumberdaya daerah yang diindera.

Keseluruhan proses mulai dari pengambilan data, analisis data, hingga

penggunaan data, disebut sebagai sistem penginderaan jauh (Purwadhi, 2001).

Gambar 2.7 Mekanisme penginderaan jauh (Sumber : Google search)

2.4. Indeks Air dan Wetness


Dalam penginderaan jauh sifat spektral manifestasi panasbumi dapat

diketahui menggunakan metode analisis indeks air dan Wetness. Indeks air

hanya dapat digunakan pada manifestasi yang berdominasi air seperti mata air

panas, kolam air panas, kolam lumpur dan fumarole. Metode ini hanya

memanfatkan band yang memiliki kepekaan terhadap air yaitu Band Red dan

band Near Infrared. Interpretasi kondisi kelembaban dan vegetasi suatu area

dengan menggunakan data satelit dapat diketahui dengan melakukan

analisis Normalized Difference Wetness Index (NDWI). NDWI merupakan

indeks yang menunjukkan tingkat kebasahan suatu area . Dalam menganalisis

indeks kebasahan dengan citra landsat, kanal/band yang digunakan adalah

infra merah dekat dan MIR  infra merah dekat (near)/ Near Infrared

(NIR) dengan panjang gelombang 0.76-0.90 gunaan dari band ini itu dapat

membedakan jenis vegetasi yang dideteksi dan juga aktivitas vegetasi tersebut

sehingga dapat membatasi tubuh air dan juga kelembaban tanah. Sedangkan

band 5 termasuk dalam infra merah sedang / middle infrared dengan panjang

gelombang 1.55-1.75, band 5 berguna untuk menunjukkan komposisi

kelembaban tumbuhan dan kelembaban tanah, juga dapat membedakan salju

dan awan. Indeks kebasahan ini juga menunjukkan normalized difference

water index (NDWI). NDWI ini dikembangkan untuk menggambarkan badan

air dari citra satelit. Metode ini menggunakan persamaan

NDWI = NIR – RED /  NIR + RED … Persamaan 2.3

Wetness atau nilai kelembaban atau kandungan air yang sangat berguna

dalam menginterpretasi lahan basah, misalnya gambut, rawa, dan lain-


[Link] memanfaatkan hampir semua band pada citra landsat, yaitu

band blue, band green, band red, band NIR, band SWIR1, dan band SWIR2.

Persaman yang digunakan adalah,

Wetness = (0.1509 x band blue) + (0.1793 x band green) + (0.3299

x band red ) + (0.3406 x band NIR) + (-0.7112 x band SWIR1 ) +

(-0.4572 x band SWIR2) ...persamaan 2.4

Nilai wetness yang negatif menunjukkan bahwa tingkat kebasahan

tanah yang kecil, sedangkan nilai wetness yang semakin positif

menunjukkan tingkat kebasahan yang semakin besar.

Tabel 2.1. Klasifikasi Indeks Kebasahan


No. Nilai Wetness Keterangan
1 nilai terendah s/d -73.518 Sangat kering
2 -73.518 s/d -37.753 kering
3 -37.753 s/d -21.157 Sedang/lembab
4 -21.157 s/d 21.152 Sangat lembab
5 21.152 s/d nilai tertinggi Sangat tinggi/ tergenang

2.5. Penelitian Terkait

Penelitian mengenai indeks air dan wetness sebelumnya pernah

dilakukan. Seperti yang diteliti oleh Teungku Haikal pada 2014, tentang

Analisis Normalized Difference Wetness Index (NDWI) dengan menggunakan

Data Citra Landsat  5 TM di Jambi, mendapatkan Penginderaan jauh dan

sistem informasi geografis memudahkan untuk menghitung nilai NDVI dan

NDWI. Nilai indeks kebasahan yang negatif menunjukkan tingkat kebasahan

tanah yang rendah dan vegetasi yang rendah, sedangkan nilai NDWI yang

tinggi yang positif terdapat tingkat kebasahan yang tinggi. Lahan pertanian
yang kering memungkinkan bahwa nilai indeks kebasahan negatif, nilai

indeks yang negatif tersebut menunjukkan kondisi tanah yang kering. Indeks

ini juga menunjukkan bahwa semakin rendah vegetasi pada lahan tersebut

maka tingkat ekstrim kebasahan di lahan tersebut semakin tinggi, sedangkan

jika vegetasinya banyak dan rapat maka indeks kebasahan tersebut tinggi.

Di Sulawesi Utara, penelitian tentang indeks air dan wetness juga pnah

dilakukan tepatnya di daerah Bukit Kasih Kanonang. Penelitian tentang

indeks air yang dilakukan oleh Rama Melisa, dkk ini bertujuan untuk

mengidentifikasi karakteristik spektral manifestasi panas bumi. Di tahun yang

sama juga dilakukan penelitian tentang analisis wetness di tempat yang sama.

Analisis ini menunjukan tingkat kelembaban dari menifestasi dan non

manifestasi. Di tahun berikutnya penelitian mengenai indeks air dan wetness

kembali dilakukan, dengan lokasi yang berbeda olh Denny Siwi dan kawan-

kawan. Penelitian ini membandingkan antara nilai indeks air dan wetness,

dimana nilai indeks air hamper searah sedangkan nilai wetness cenderung

bervariasi karena peningkatan dan penurunan yang cukup besar. Untuk lebih

jelasnya dapat diliha pada table 2.2.

No Penulis Judul Kajian

1. Teungku Haikal Analisis Normalized Penelitian ini menunjukan


Difference Wetness Index daerah-daerah dengan
(NDWI) dengan kondisi lahan yang lembab
menggunakan data citra dan vegetasi yang rapat
Landsat  5 TM merupakan faktor tingginya
nilai indeks Wetness
2. Rama,Melisa, dkk Karakteritik spektral Penelitian tentang indeks air
manifestasi geothermal ini bertujuan untuk
Vol 3, No. 4 2015
permukaan berdasarkan mengidentifikasi
analisis indeks air pada karakteristik spektral
transformasi citra landsat manifestasi panas bumi.
8 OLI di daerah panas Dalam penelitian ini
bumi Bukit Kasih menyatakan bahwa NDWI,
Kanonang dan sekitarnya hanya dapat membedakan 2
jenis manifestasi.
3. Anes, Jeslie, dkk Karakteritik spektral Penelitian ini bertujuan
manifestasi panas bumi untuk menunjukan tingkat
Vol 3, No. 3 2015
permukaan berdasarkan kelembaban dari menifestasi
analisis wetness pada dan non manifestasi.
transformasi citra
tasseled cap
transformation (TCP)
daerah Bukit Kasih
Kanonang
4. Denny Siwi, dkk Studi sifat spektral Penelitian ini
manifestasi panas bumi membandingkan antara nilai
dominasi air dengan indeks air dan wetness,
menggunakan analisis dimana nilai indeks air
indeks air dan wetness hamper searah sedangkan
mengunakan citra setelit nilai wetness cenderung
landsat ETM+ (Studi bervariasi karena
Kasus Hutan Pinus peningkatan dan penurunan
Lahendong) yang cukup besar.

5. Adnindya Rizka Pemanfaatan Citra Mengetahui pemrosesan


Falahnsia Dan Landsat 7 ETM+ untuk citra Landsat 7 ETM dalam
Teguh Hariyanto Menganalisa menganalisis kelembaban
(Jurnal Teknik Kelembaban Hutan hutan dengan algoritma
Pomits Vol. X, Berdasarkan Nilai Indeks TVDI untuk mengetahui
No) Kekeringan (Studi pemetaan dan sebaran
Kasus :Hutan KPH kelembaban hutan di hutan
Banyuwangi Utara) KPH Banyuwangi Utara
berdasarkan nilai TVDI, dan
untuk mengetahui tingkat
6. M. Tufaila Jufri PemanfaatanPenginderaa mengkaji kemampuan citra
Karim, Syamsu n Jauh dan Sistem ALOS AVNIR-2 untuk
Alam (Jurnal
Informasi Geografis identifikasi bentuklahan,
Agroteknos Maret
2012 Vol.2. No.1. Untuk Pemetaan memetakan bentuklahan
hal. 9-20) Bentuklahan Di Das semi detil skala 1:50.000
Moramo berdasarkan pendekatan
analitik dengan bantuan
Sistem Informasi Geografis
(SIG), dan mengevaluasi
citra ALOS AVNIR-2
dalam pemetaan
bentuklahan (landform).

2.6. Kerangka Pemikiran

Sistem panas bumi terdiri dari beberapa komponen yaitu, sumber

panas, reservoir, batuan penudung, rekahan dan manifestasi. Untuk

pengembangan energi panas bumi dilakukan eksplorasi pendahuluan

seperti metode geofisika, geokimia, geologi dan pengindraan jauh. Setiap

objek dipermukaan, memiliki panjang gelombang berbeda, yang

memantulkan gelombang elektromagnetik, termasuk manifestasi


permukaan. Pantulan gelombang elekromagnetik ini yang diterima oleh

sensor citra satelit. Dari citra satelit, dapat dilihat kandungan air dan

tingkat kelembaban dari manifestasi permukaan, melalui nilai spektral.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.8.

Sumber Panas

Reservoir

Sistem Panas Bumi Batuan Penudung

Rekahan

Eksplorasi Pendahuluan
Manifestasi Panjang Gelombang

Geokimia
Pantulan Gelombang
Elektomagnetik

Gambar
Penginderaan Jauh2.8 Diagram alir kerangka pemikiran

Citra Satelit

Geofisika

NDWI
Nilai
Geologi Spektral
WETNESS
1
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian

Lokasi Penelitian terletak di Desa Lobu Dua, Kecamatan Touluaan,

Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Dapat di tempuh dengan

transportasi darat, berjarak kurang lebih 180 menit dari Kota Tondano. Secara

geografis daerah manifestasi ini terletak pada N 683592.8 m dan E 117033.6 m.

Gambar [Link] Penelitian (sumber : Google Earth)

24
3.2. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Laptop/ PC

Laptop/PC ini berguna untuk memproses data, mengolah dan

mengoperasikan software Ilwis.

2. Data Citra Landsat

Data citra satelit adalah hal yang harus ada terlebih dahulu. Data

ini berguna sebagai data utama yang akan mnentukan hasil penelitian.

3. Software ILWIS

Software Ilwis akan digunakan untuk pengolahan data citra satelit

landsat 7 ETM +.

4. GPS

GPS digunakan untuk pengambilan data koordinat atau menandakan

lokasi penelitian.

3.3. Desain Penelitian

Penelitian yang dilakukan diawali dengan mengidentifikasi masalah. Dari

permasalahan ini, dilakukan studi literature untuk mengetahui kondisi

lapangan dan geologi daerah penelitian. Setelah mengetahui kondisi

lapangan, survey lapangan dilakukan. Pada survey ini dilakukan pengambilan

data koordinat untuk memudahkan dalam prosesing data. Pengambilan data

koordinat ini yang disebut data in situ, sedangkan data ex situ adalah data
citra satelit. Dari data citra dilakukan pemrosesan data, kemudian data

dianalisis dengan indeks air dan Wetness. Setelah diproses data kemudian

dianalisa untuk mendapatkan hasil. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada

gambar 3.2

Identifikasi Masalah Studi Literatur Kondisi Geologi

Survey Lapangan

Pengambilan Data

In Situ Ex Situ

Koordinat Data Citra


Manifestasi Satelit Landsat 7

Prosessing Data
Citra Satelit

Pengolahan Data

Wetness Indeks Air

Analisis Data

Hasil

Gambar 3.2 Diagram Alir Desain Penelitian


3.4. Variabel dan Teknik Pengumpulan Data

3.4.1 Variable Penelitian

Variabel dari penelitian ini adalah sifat spektral manifestasi panas bumi.

3.4.2 Teknik Pengumpulan data

Dalam penelitian ini data diambil secara in situ dan ex situ. Data in situ

dilakukan di lokasi penelitian, yaitu data letak manifestasi panas bumi yang akan

diukur lewat metode penginderaan jauh.. sedangkan data ex situ adalah data yang

didapatkan tanpa harus turun ke lokasi/ lapangan, dalam hal ini adalah data citra

satelit landsat 7.

Pengumpulan data dilakukan dengan menginventarisasi jenis-jenis

manifestasi yang ada di lapangan. Setiap manifestasi panas bumi, di catat

koordinat untuk menentukan letak pada citra satelit. Dari manifestasi yang ada di

cari nilai spektral dari masing-masing band, untuk menentukan sifat spektral.

Kemudian dicari nilai indeks air an wetness. Hasil dari indeks air dan wetness ini

yang akan dibandingkan.

Tabel 3.1 Teknik Pengumpulan Data

Koordinat Band Band Band Band Band Band


NDWI Wetness
Red Green Blue NIR MIR 5 MIR 7
X Y Jenis Manifestassi
3.5. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

 Hal pertama yang dilakukan adalah mengimport data khususnya data ex

situ dan menampilkannya. Pengolahan data citra yang paling utama dilakukan

sebelum dilanjutkan pada tahapan selanjutnya disebut preprocessing image,

tahapan ini dilakukan agar mendapat informasi yang jelas dari data citra tersebut.

Tahap awal pengolahan data citra yaitu Koreksi Geometrik. Koreksi geometrik

dilakukan dengan tujuan untuk menyetarakan koordinat pada citra satelit dengan

koordinat bumi, kemudian menentukan sistem proyeksi dan sistem koordinat yang

akan digunakan. Pemotongan wilayah kajian sangat perlu dilakukan dalam

pengolahan data tersebut, karena dapat memudahkan mengolah data citra yang

satelit yang memiliki ukuran citra yang sangat besar, sehingga lebih fokus pada

wilayah kajian yang akan diteliti. alam menganalisis indeks kebasahan dengan

citra landsat, kanal/band yang digunakan adalah 4 dan 5. Band 4 termasuk dalam

spektral infra merah dekat (near)/ Near Infrared (NIR) dengan panjang

gelombang 0.76-0.90, kegunaan dari band 4 tersebut yaitu dapat membedakan

jenis vegetasi yang dideteksi dan juga aktivitas vegetasi tersebut sehingga dapat

membatasi tubuh air dan juga kelembaban tanah. Sedangkan band 5 termasuk

dalam infra merah sedang / middle infrared dengan panjang gelombang 1.55-1.75,

band 5 berguna untuk menunjukkan komposisi kelembaban tumbuhan dan

kelembaban tanah, juga dapat membedakan salju dan awan. Indeks kebasahan ini
juga menunjukkan normalized difference water index (NDWI). NDWI ini

dikembangkan untuk menggambarkan badan air dari citra satelit. Dengan formula

NDWI = NIR – RED /  NIR + RED … Persamaan 3.1

Hasil yang diperoleh dari perhitungan yang dilakukan akan di klasifikasikan

kembali dengan melihat nilai NDWI, untuk menentukan tingkat kebahasan dari

daerah penelitian.

Tabel 3.2 Klasifikasi NDWI

Kelas Nilai NDWI Tingkat Kebasahan

1 -1<NDWI<0 Non-Badan Air

2 0<NDWI<0.33 Kebasahan Sedang

3 0.33<NDWI<1 Kebasahan Tinggi

Untuk nilai Wetness dapat dicari menggunakan persamaan :

Wetness = (0.1509 x band blue) + (0.1793 x band green) + (0.3299 x band red ) +

(0.3406 x band NIR) + (-0.7112 x band SWIR1 ) + (-0.4572 x band SWIR2)

……………………..…….persamaan 3.2 (Andree Ekadinata, dkk, 2008)

Dari persamaan tersebut akan diketahui nilai spektral dan perbandingan

sifat spektral manifestasi panas bumi. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada diagram

alir pengolahan data gambar 3.3.


Data

In situ Ex situ

Koordinat Data Citra satelit Import Data

Koreksi Data

Resampling Data

Wetness Indeks Air (NDWI)

Wetness = (0.1509 x band blue) +


(0.1793 x band green) + (0.3299 x band NDWI = NIR – blue /  NIR
red ) + (0.3406 x band NIR) + (-0.7112 x + blue
band MIR5 ) + (-0.4572 x band MIR7)

Peta Sebaran
manifestasi

Analisis Data

Perbandingan Nilai
Spektral
Gambar 3.3 Diagram Alir Pengolahan Data
1
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

4.1.1 Resample Citra

Resample adalah proses pemotongan citra untuk membatasi wilayah

kajian. Wilayah yang akan di kaji adalah kecamatan Toulaan kabupaten Minahasa

Tenggara yang terdapat tiga manifestasi mata air panas. Dalam proses resample

citra, wilayah kajian dibatasi dengan koordinat sebagai berikut

 X max = 684648.06

 X min = 675059.38

 Y max = 122837.61

 Y min = 118277.75

Penelitian yang dilakukan melibatkan tujuh band dalam citra satelit

Landsat OLI/TIRS, yaitu band blue, band green, band red, band NIR, band

SWIR1 dan band SWIR2, dimanan masing-masing band harus dilakukan

resample. Dari resample yang dilakukan diperoleh hasil seperti beberapa

gambar berikut dengan berbagai tampilan

31
Gambar 4.1 Hasil resample citra band blue dengan tampilan blue

Gambar 4.2 Hasil resample citra band green dengan tampilan green

Gambar 4.3 Hasil resample citra band red dengan tampilan red
Gambar 4.4 Hasil resample citra band NIR dengan tampilan pseudo

Gambar 4.5 Hasil resample citra band SWIR1 dengan tampilan pseudo

Gambar 4.6 Hasil resample citra band SWIR2 dengan tampilan pseudo
4.1.2 Klasifikasi Nilai Spektral

Indeks air dan wetness masing-masing memiliki sifat spektral yang

berbeda, walaupun keduanya sama-sama menentukan tingkat basahan. Tabel

4.1 menunjukkan nilai spektral masing-masing band yang digunakan dalam

penelitian ini dan nilai NDWI (normalized difference water index ) dan

Wetness.

Tabel 4.1 Perbandingan Nilai Spektral

Koordinat
Jenis Band Band Band Band Band Band
NDWI Wetness
X Manifestassi Red Green Blue NIR SWIR1 SWIR2
Y
682690 120400 Mata air
13215 12211 11639 20553 13568 10562 0.22 545.13
panas 1
682266 119833 Mata air
8801 8263 7146 19881 10586 7047 0.38 1124.56
panas 2
677113 120445 Mata air
8638 7388 6518 13505 6246 5492 0.07 1224.86
panas 3

Untuk indeks air band yang digunakan adalah band NIR dan band blue

sedangkan wetness menggunakan band red, band green, band blue, band NIR,

band SWIR1 dan band SWIR2.

Dalam penelitian ini manifestasi yang diambil adalah yang berdominasi air

yaitu, mata air panas. Manifestasi ini diambil dari tiga titik yang berbeda yang

terdapat didaerah sekitar Toulaan Minahasa Tenggara.

4.1.3 Karakteristik NDWI

Peta NDWI adalah peta yang berfungsi untuk menunjukan nilai spektral

dari manifestasi yang diteliti. Dari data citra yang ditelah diproses menggunakan

rumus/ persamaan NDWI diperoleh nilai spektral dari masing-masing manifestasi,

seperti yang terdapat dalam tabel 4.1.


Gambar 4.7 Peta NDWI ( Indeks Air )

Nilai spektral manifestasi-manisfestasi ini berkisar antara 0.07 sampai

0.38. Berdasarkan teori yang ada maka manifestasi-manifestasi dapat

diklasifikasikan tingkat kebasahannya berdasarkan dengan nilai spektralnya. Dan

untuk manifestasi air panas yang diteliti dapat dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2 Klasifikasi Indeks Air ( NDWI ) berdasarkan nilai spektral

Jenis Manifestasi Nilai spektral (NDWI) Tingkat Kebasahan

Mata air panas 1 Kebahasan sedang


0.22
Mata air panas 2 Kebasahan Tinggi
0.38
Mata air panas 3 Kebasahan sedang
0.27

4.1.4. Karakteristik Wetness

Peta Wetness ini menunjukkan nilai spektral dari manifestasi yang diteliti

berdasarkan data in situ dan ex situ. Dari data yang telah diproses menggunakan
software Ilwis, nilai spektral manifestasi menggunakan wetness berkisar antara

545.13 sampai 1224.86.

Gambar 4.8 Peta Wetness


Dari data dapat ditentukan juga tingkat kebasahan dari setiap manifestasi

yang diteliti. Nilai wetness yang negatif menunjukkan tingkat kebasahan/

kelembaban yang kecil, sedangkan semakin positif nilai spektral wetness semakin

tinggi nilai kebasahan/[Link] lebih jelasnya dapat dilihat pada

tabel 4.3.

Tabel 4.3 Klasifikasi Wetness

Nilai spektral
Jenis Manifestasi Tingkat Kebasahan
(Wetness)

Mata air panas 1 Sangat tinggi/tergenang


545.13
Mata air panas 2 Sangat tinggi/tergenang
1124.56
Mata air panas 3 Sangat tinggi/tergenang
1024.86
4.1.5 Perbandingan Nilai spektral NDWI dan Wetness

Dari pengolahan data dapat dilihat perbedaan nilai spekral dari NDWI dan

Wetness. Pada NDWI nilai spektralnya berkisar antara 0.07 sampai 0.38

sedangkan pada wetness berkisar antara 545.13 sampai 1024.86. Untuk

perbandingan nilai NDWI dan Wetness dapat dilihat pada gambar 4.8, gambar 4.9.

0.4 0.38
0.35
0.3
0.27
0.25
0.22
0.2
0.15
0.1
0.05
0
MAP 1 MAP 2 MAP 3

Nilai spektral manifestasi

Gambar 4.9. Grafik nilai spektral NDWI


1200
1124.56
1000 1023.86
800
600 545.13
400
200
0
MAP 1 MAP 2 MAP 3
Nilai Spektral manifestasi

Gambar 4.10 Grafik nilai spektral Wetness


Keterangan :
MAP 1= Mata Air Panas 1 MAP 2= Mata Air Panas 2
MAP 3= Mata Air Panas 3

4.2 PEMBAHASAN

NDWI dan Wetness masing-masing memiliki nilai spektral berbeda,

walaupun kedua metode ini sama-sama digunakan untuk menghitung


kandungan air di daerah kajian potensi panas bumi. Hal ini dikarenakan

banyaknya band yang digunakan, pada NDWI, band yang gunakan hanya dua

yaitu band blue dan band NIR sedangkan untuk Wetness menggunakan tujuh

band, yaitu band red, band green, band blue, band NIR, band SWIR1 dan

band SWIR2.

Berdasarkan pada teori penginderan jauh, manifestasi panasbumi yang

berdominasi air memiliki nilai indeks air dan wetness yang tinggi. Dalam

penelitian ini manifestasi yang diteliti adalah mata air panas yang diambil dari

tiga titik koordinat yang berbeda. Dari pengolahan data citra yang ada, dapat

dilihat bahwa ketiga manifestasi mata air panas ini memiliki nilai yang

berbeda, tetapi jika dilihat dari klasifikasi tingkat kebahasan (tabel 4.2 dan

tabel 4.3) ketiga manifestasi ini sama. Berikut adalah nilai spektral masing-

masing manifetasi yang diteliti.

a. Nilai spektral manifestasi pada peta NDWI

Pada mata air panas 1 nilai spektralnya adalah 0.22, mata air panas

2 nilai spektral 0.38 dan pada mata air panas 3, nilai spektral 0.27.

Berdasarkan teori mata air panas merupakan manifestasi yang memiliki

kandungan air/ tingkat kebasahan/ kelembaban yang tinggi atau cukup

besar. Dari data yang ada, maka hasil yang dipeoleh sesuai dengan teori

dimana tingkat kebasahan/ kelembaban dari manifestasi mata air panas 1,

kebasahan sedang sedangkan mata air panas 2 dan 3 kebasahan tinggi. Hal

ini didukung pula dari pengamatan langsung di lapangan, dimana diderah

sekitar manifestasi memiliki kerapatan vegetasi yang tinggi.


b. Nilai spektral manifestasi pada peta Wetness

Nilai spektral yang ada pada manifestasi mata air panas 1 adalah

545.13, mata air panas 2 sebesar 1124.56, dan mata air panas 3 sebesar

1024.86. Ketiga manifestasi panasbumi ini memiliki tingkat kelembaban

yang sangat tinggi atau diklasifikasi juga tergenang dan hal ini terbukti

dilapangan bahwa ketiga manifestasi ini berupa genangan air. Berdasarkan

pula pengamatan yang dilakukan di sekitar ketiga manifesatasi terdapat

banyak tumbuhan atau vegetasi, yang membuat suhu udara tidak terlalu

panas sehingga tingkat kelembabannya tinggi.

c. Perbandingan Nilai Spektral NDWI dan Wetness

Pada dasarnya NDWI dan Wetness merupakan metode

penginderaan yang digunakan untuk menghitung, mendeteksi nilai

kelembaban/ tingkat kebasahan/ kandungan air dari daerah kajian

panasbumi melalui manifestasi panasbumi. Dan manifestasi yang diteliti

hanya manifestasi panasbumi yang berdominasi air. Hal ini terbukti dari

penelitian yang dilakukan, pada setiap manifestasi memiliki trend yang

sama, dimana nilai spektral pada manifestasi mata air panas 2 mengalami

kenaikan dan pada manifestasi mata air panas 3 sama-sama menurun.

Yang membedakan kedua metode ini adalah jumlah band yang digunakan,

pada NDWI atau Indeks Air band yang digunakan hanya band yang peka

terhadap air yaitu band blue dan band NIR, sedangkan pada wetness band

yang digunakan lebih banyak band red, band green, band blue, band NIR,

band SWIR1 dan band SWIR2.


1
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian yang dilakukan dapat

disimpulkan sebagai berikut:

1. Nilai indeks air pada manifestasi panasbumi dominasi air pada citra

berkisar antara 0.22-0.38, dengan tingkat kebasahan dari sedang sampai

tinggi.

2. Nilai wetness pada manifestasi panasbumi dominasi air pada citra berkisar

antara 545.13 sampai 1224.86, dengan tingkat kelembaban/ kebasahan/

kandungan air sangat tinggi atau tergenang.

3. Perbandingan sifat spektral dari indeks air dan wetness dapat dilihat dari

pola spektral manifestasi panasbumi berdasarkan grafik indeks air

(NDWI) dan wetness pada setiap manifestasi memiliki trend yang sama,

dimana nilai spektral pada manifestasi mata air panas 2 mengalami

kenaikan dan pada manifestasi mata air panas 3 sama-sama menurun.

5.2 SARAN

Berdasarkan dari penelitian diatas, disarankan untuk kedepannya apabila

ada penelitian tentang indeks air dan wetness, perhatikan pemilihan citra yang

akan digunakan dan sesuaikan dengan daerah kajian. Penelitian ini berguna untuk

menghitung atau mendeteksi kandungan air dari suatu daerah kajian panasbumi,

40
namun untuk lebih mendapatkan hasil yang tepat diperlukan penelitian lain seperti

geologi, geokimia, geofisika dan hidrogeologi.


1
DAFTAR PUSTAKA

Anes, Jeslie, dkk.2015 “Karakteritik spektral manifestasi panas bumi permukaan


berdasarkan analisis wetness pada transformasi citra tasseled cap
transformation (TCP) daerah Bukit Kasih Kanonang “. JSME MIPA
UNIMA 2015 Vol. 3 no. 3

Gao, B.-C., 1996. “NDWI -  a normalized difference water index for remote
sensing
of vegetation liquid water from space”. Remote Sensing of Environtment 58,

257-266

Karim, Tufaila Jufri.2012. “Pemanfaatan Penginderaan Jauh dan Sistem


Informasi Geografis untuk Pemetaan Bentuk Lahan di DAS Moramo. Jurnal
Agroteknos Maret 2012 Vol. 2, No.1, hal 9-20

Rama, melisa.2015 “Karakteritik spektral manifestasi geothermal permukaan


berdasarkan analisis indeks air pada transformasi citra landsat 8 OLI di
daerah panas bumi Bukit Kasih Kanonang dan sekitarnya “.JSME MIPA
UNIMA 2015 Vol. 3 no. 4

Raharjo, Puguh Dwi. 2010. “Teknik Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi
Geografis untuk Identifikasi Potensi Kekeringan Kabupaten Kebumen”.
Jurnal makara teknologi, vol. 14 no. 2,

Saptaji, Ir Nenny M., 2006, “Teknik Panasbumi”, Bandung : Program Studi


Teknik Perminyakan ITB

Siwi, Denny. 2016. “Studi sifat spectral manifestasi panas bumi dominasi air
dengan menggunakan analisis indeks air dan wetness mengunakan citra
setelit landsat ETM+ (Studi Kasus Hutan Pinus Lahendong)”. Skripsi.
Tondano : Universitas Negeri Manado

Tampubolon Togi, Yanti Jeddah. 2015. “ Aplikasi pemanfaatan citra satelit


landsat untuk megidentifikasi perubahan lahan kritis di kota Medan dan
sekitarnya. Jurnal penginderaan Jauh vol 16. No 2, 2015

Thoha. A.S.2006. “Penggunaan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi


Geografis
untuk Deteksi dan Prediksi Kebakaran Gambut Di Kabupaten Bengkalis
Propinsi Riau”. Tesis. Sekolah Pasca Sarjana. Institute Pertanian Bogor.
Bogor

41
Teungku Haikal. 2015. Analisis Normalized Difference Wetness Index (NDWI)
dengan
menggunakan data citra Landsat  5 TM. Tesis.

Widya Utama dkk, 2012, “Analisis Citra Landsat ETM+ untuk Kajian Awal
Penentuan Daerah Potensi Panas Bumi di Gunung Lamongan, Tiris,
Probolinggo”, Vol. 8, No. 1
1
LAMPIRAN 1
METADATA LANDSAT 8
GROUP = L1_METADATA_FILE

GROUP = METADATA_FILE_INFO

ORIGIN = "Image courtesy of the U.S. Geological Survey"

REQUEST_ID = "0701701271449_00027"

LANDSAT_SCENE_ID = "LC81120592017018LGN00"

FILE_DATE = 2017-01-28T18:57:58Z

STATION_ID = "LGN"

PROCESSING_SOFTWARE_VERSION = "LPGS_2.6.2"

END_GROUP = METADATA_FILE_INFO

GROUP = PRODUCT_METADATA

DATA_TYPE = "L1T"

ELEVATION_SOURCE = "GLS2000"

OUTPUT_FORMAT = "GEOTIFF"

SPACECRAFT_ID = "LANDSAT_8"

SENSOR_ID = "OLI_TIRS"

WRS_PATH = 112

WRS_ROW = 59

NADIR_OFFNADIR = "NADIR"

TARGET_WRS_PATH = 112

TARGET_WRS_ROW = 59

DATE_ACQUIRED = 2017-01-18

xiv
SCENE_CENTER_TIME = "01:56:26.1224490Z"

CORNER_UL_LAT_PRODUCT = 2.49431

CORNER_UL_LON_PRODUCT = 123.20329

CORNER_UR_LAT_PRODUCT = 2.49240

CORNER_UR_LON_PRODUCT = 125.24822

CORNER_LL_LAT_PRODUCT = 0.39084

CORNER_LL_LON_PRODUCT = 123.20310

CORNER_LR_LAT_PRODUCT = 0.39054

CORNER_LR_LON_PRODUCT = 125.24616

CORNER_UL_PROJECTION_X_PRODUCT = 522600.000

CORNER_UL_PROJECTION_Y_PRODUCT = 275700.000

CORNER_UR_PROJECTION_X_PRODUCT = 750000.000

CORNER_UR_PROJECTION_Y_PRODUCT = 275700.000

CORNER_LL_PROJECTION_X_PRODUCT = 522600.000

CORNER_LL_PROJECTION_Y_PRODUCT = 43200.000

CORNER_LR_PROJECTION_X_PRODUCT = 750000.000

CORNER_LR_PROJECTION_Y_PRODUCT = 43200.000

PANCHROMATIC_LINES = 15501

PANCHROMATIC_SAMPLES = 15161

REFLECTIVE_LINES = 7751

REFLECTIVE_SAMPLES = 7581

THERMAL_LINES = 7751
THERMAL_SAMPLES = 7581

FILE_NAME_BAND_1 = "LC81120592017018LGN00_B1.TIF"

FILE_NAME_BAND_2 = "LC81120592017018LGN00_B2.TIF"

FILE_NAME_BAND_3 = "LC81120592017018LGN00_B3.TIF"

FILE_NAME_BAND_4 = "LC81120592017018LGN00_B4.TIF"

FILE_NAME_BAND_5 = "LC81120592017018LGN00_B5.TIF"

FILE_NAME_BAND_6 = "LC81120592017018LGN00_B6.TIF"

FILE_NAME_BAND_7 = "LC81120592017018LGN00_B7.TIF"

FILE_NAME_BAND_8 = "LC81120592017018LGN00_B8.TIF"

FILE_NAME_BAND_9 = "LC81120592017018LGN00_B9.TIF"

FILE_NAME_BAND_10 = "LC81120592017018LGN00_B10.TIF"

FILE_NAME_BAND_11 = "LC81120592017018LGN00_B11.TIF"

FILE_NAME_BAND_QUALITY = "LC81120592017018LGN00_BQA.TIF"

METADATA_FILE_NAME = "LC81120592017018LGN00_MTL.txt"

BPF_NAME_OLI = "LO8BPF20170118013816_20170118022031.01"

BPF_NAME_TIRS = "LT8BPF20170113025501_20170126095930.01"

CPF_NAME = "L8CPF20170101_20170331.02"

RLUT_FILE_NAME = "L8RLUT20150303_20431231v11.h5"

END_GROUP = PRODUCT_METADATA

GROUP = IMAGE_ATTRIBUTES
CLOUD_COVER = 27.06

CLOUD_COVER_LAND = 35.40

IMAGE_QUALITY_OLI = 9

IMAGE_QUALITY_TIRS = 9

TIRS_SSM_MODEL = "FINAL"

TIRS_SSM_POSITION_STATUS = "ESTIMATED"

ROLL_ANGLE = -0.001

SUN_AZIMUTH = 129.04709151

SUN_ELEVATION = 53.90054730

EARTH_SUN_DISTANCE = 0.9838392

GROUND_CONTROL_POINTS_VERSION = 4

GROUND_CONTROL_POINTS_MODEL = 137

GEOMETRIC_RMSE_MODEL = 8.652

GEOMETRIC_RMSE_MODEL_Y = 6.262

GEOMETRIC_RMSE_MODEL_X = 5.970

END_GROUP = IMAGE_ATTRIBUTES

GROUP = MIN_MAX_RADIANCE

RADIANCE_MAXIMUM_BAND_1 = 785.23767
RADIANCE_MINIMUM_BAND_1 = -64.84518

RADIANCE_MAXIMUM_BAND_2 = 804.09296

RADIANCE_MINIMUM_BAND_2 = -66.40226

RADIANCE_MAXIMUM_BAND_3 = 740.96478

RADIANCE_MINIMUM_BAND_3 = -61.18911

RADIANCE_MAXIMUM_BAND_4 = 624.82324

RADIANCE_MINIMUM_BAND_4 = -51.59811

RADIANCE_MAXIMUM_BAND_5 = 382.36069

RADIANCE_MINIMUM_BAND_5 = -31.57547

RADIANCE_MAXIMUM_BAND_6 = 95.08962

RADIANCE_MINIMUM_BAND_6 = -7.85253

RADIANCE_MAXIMUM_BAND_7 = 32.05029

RADIANCE_MINIMUM_BAND_7 = -2.64672

RADIANCE_MAXIMUM_BAND_8 = 707.12799

RADIANCE_MINIMUM_BAND_8 = -58.39486

RADIANCE_MAXIMUM_BAND_9 = 149.43521

RADIANCE_MINIMUM_BAND_9 = -12.34041

RADIANCE_MAXIMUM_BAND_10 = 22.00180
RADIANCE_MINIMUM_BAND_10 = 0.10033

RADIANCE_MAXIMUM_BAND_11 = 22.00180

RADIANCE_MINIMUM_BAND_11 = 0.10033

REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_1 = 1.210700

REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_1 = -0.099980

REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_2 = 1.210700

REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_2 = -0.099980

REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_3 = 1.210700

REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_3 = -0.099980

REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_4 = 1.210700

REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_4 = -0.099980

REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_5 = 1.210700

REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_5 = -0.099980

REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_6 = 1.210700

REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_6 = -0.099980

REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_7 = 1.210700

REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_7 = -0.099980

REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_8 = 1.210700
REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_8 = -0.099980

REFLECTANCE_MAXIMUM_BAND_9 = 1.210700

REFLECTANCE_MINIMUM_BAND_9 = -0.099980

QUANTIZE_CAL_MAX_BAND_1 = 65535

QUANTIZE_CAL_MIN_BAND_1 = 1

QUANTIZE_CAL_MAX_BAND_2 = 65535

QUANTIZE_CAL_MIN_BAND_2 = 1

QUANTIZE_CAL_MAX_BAND_3 = 65535

REFLECTANCE_MULT_BAND_1 = 2.0000E-05

REFLECTANCE_ADD_BAND_1 = -0.100000

REFLECTANCE_ADD_BAND_2 = -0.100000

REFLECTANCE_ADD_BAND_3 = -0.100000

REFLECTANCE_ADD_BAND_4 = -0.100000

REFLECTANCE_ADD_BAND_5 = -0.100000

REFLECTANCE_ADD_BAND_6 = -0.100000

REFLECTANCE_ADD_BAND_7 = -0.100000

GRID_CELL_SIZE_PANCHROMATIC = 15.00

GRID_CELL_SIZE_REFLECTIVE = 30.0
LAMPIRAN 2

PETA GOLOGI SULAWESI UTARA


LAMPIRAN 3

PETA ADMINISTRATIF MINAHASA TENGGARA


LAMPIRAN 4

FOTO ALAT DAN BAHAN

Gambar Laptop

Gambar GPS

Gambar Software Ilwis


LAMPIRAN 5

FOTO PENGAMBILAN DATA LAPANGAN

Pengukuran Koordinat Manifestasi

Pengukuran Temperatur Manifestasi


RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Ria Fitrianie Effendi dilahirkan di Balikpapan pada


tanggal 03 Maret 1995 sebagai anak pertama dari empat bersaudara
pasangan Rachmadie Effendi dan Aneke Weley

Pendidikan yang ditempuh :

Tahun 2007 : lulus Sekolah Dasar (SD) Inpres Kolongan Atas

Tahun 2010 : Lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Sonder

Tahun 2013 : Lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Tomohon

Tahun 2013 : Masuk Jurusan FISIKA UNIMA

Kegiatan yang pernah diikuti :

Tahun 2013 : Seminar Temu Fisika ( UNIMA, Tondano )

Tahun 2013 : Program National Lecturer Series ( UNIMA, Tondano )

Tahun 2013 : Geothermal Seminar (Aryaduta, Manado)

Tahun 2014 : Indonesia Geothermal Forum 2014 (Sintesa Peninsula, Manado)

Tahun 2015 : 4th International Geothermal Workshop (ITB, Bandung)

Anda mungkin juga menyukai