0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan109 halaman

Pengelolaan Inventaris di Sulawesi Barat

Skripsi ini membahas tentang implementasi pengelolaan inventaris dan penggunaan barang di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi sistem pengelolaan inventaris dan penggunaan barang tersebut beserta permasalahan yang dihadapi. Hasil penelitian menunjukkan masih terdapat beberapa permasalahan dalam implementasi pengelolaan inventaris dan penggunaan barang milik negara di kantor tersebut yang

Diunggah oleh

smodin aku
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan109 halaman

Pengelolaan Inventaris di Sulawesi Barat

Skripsi ini membahas tentang implementasi pengelolaan inventaris dan penggunaan barang di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi sistem pengelolaan inventaris dan penggunaan barang tersebut beserta permasalahan yang dihadapi. Hasil penelitian menunjukkan masih terdapat beberapa permasalahan dalam implementasi pengelolaan inventaris dan penggunaan barang milik negara di kantor tersebut yang

Diunggah oleh

smodin aku
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

IMPLEMENTASI PENGELOLAAN INVENTARIS DAN PENGGUNAAN


BARANG DI KANTOR BIRO UMUM DAN PERLENGKAPAN PROVINSI
SULAWESI BARAT

Oleh:

WIRNA
Nomor Induk Mahasiswa : 10561 05205 14

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI

NEGARA FAKULTASILMU SOSIAL DAN ILMU

POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

MAKASSAR 2022
SKRIPSI

IMPLEMENTASI PENGELOLAAN INVENTARIS DAN PENGGUNAAN


BARANG DI KANTOR BIRO UMUM DAN PERLENGKAPAN PROVINSI
SULAWESI BARAT

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Studi dan Memperoleh

Gelar Sarjana Ilmu Administrasi Publik ([Link])

Disusun dan Diajukan Oleh:

WIRNA
Nomor Induk Mahasiswa : 10561 05205 14

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI

NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU

POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

MAKASSAR 2022

ii
iii
iv
HALAMAN PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama Mahasiswa : Wirna
Nomor Induk Mahasiswa 10561 05205 14
Program Studi : Ilmu Administrasi Negara

Menyatakan bahwa benar skripsi ini adalah karya saya sendiri dan bukan hasil
plagiat dari sumber lain. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan
apabila dikemudian hari ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi
akademik berupa pencabutan gelar akademik dan pemberian sanksi lainnya sesuai
dengan aturan yang berlaku di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, 28 Februari 2022


Yang Menyatakan,

Wirna

v
KATA PENGANTAR

Penulis panjatkan rasa syukur yang tidak terhingga kehadirat Allah SWT,

yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi yang berjudul “Implementasi Pengelolaan Inventaris dan

Penggunaan Barang di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi

Barat”.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud

tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada

kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang

terhormat:

1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, [Link] selaku Rektor Universitas

Muhammadiyah Makassar.

2. Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik, [Link]., [Link] selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial

dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Nasrul Haq, [Link]., MPA selaku Ketua Program Studi Ilmu

Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Muhammadiyah Makassar.

4. Kedua orang tua, Bapak Idrus dan Ibu Ajamiah yang selalu memberikan

dukungan dan bantuan baik moril dan materil kepada penulis selama

menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. Bapak Dr. H. Muhammad Isa Ansyari., [Link] selaku pembimbing I dan

Bapak Nasrul Haq., [Link].,[Link]. selaku pembimbing II ynag senantiasa

vi
meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga

skripsi ini dapat diselesaikan.

6. Para Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara atas ilmu yang

telah diberikan kepada penulis selama menempuh pendidikan di

Universitas Muhammadiyah Makassar.

7. Bapak Muh. Rizkiady M.,[Link], [Link]. (Kasubbagian Inventarisasi,

Penyimpanan dan Pendistribusian), Bapak Aslam Yansha, [Link], [Link]

(Kasubbagian Analisis dan Administrasi Pengadaan), Ibu Hj. Nilai

Ainun, SE, MM (Kasubbagian Perencanaan dan Pelaporan), Ismail

Efendi, SE (Operator Inventaris Barang Berbasis Web), dan Intan

(Pengguna Inventaris Barang Berbasis Web).

8. Teman-teman penulis Narni, hartati, Wina, Vikar, Yuni, Sunarti, dan

Winda dimana sudah membantu serta memberikan semangat kepada

penulis.

Demi kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya

membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya skripsi ini dapat bermanfaat

dan memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.

Makassar, 28 Februari 2022

Wirna

vii
ABSTRAK

Wirna, Muh Isa Ansyari, dan Nasrulhaq. Implementasi Pengelolaan


Inventaris dan Penggunaan Barang di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan
Provinsi Sulawesi Barat.
Implementasi merupakan suatu proses yang berkaitan dengan kebijakan
dan program yang akan dilaksanakan oleh suatu organisasi atau lembaga,
khususnya badan yang terkait dengan suatu instansi pemerintah yang meliputi
sarana dan prasarana untuk mendukung program-program yang akan dijalankan
tersebut
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Implementasi Pengelolaan
Inventaris dan Penggunaan Barang di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan
Provinsi Sulawesi Barat. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif
dengan tipe penelitian deskriptif untuk mendeskripsikan dan menjelaskan lebih
dalam implementasi sistem pengelolaan inventaris dan penggunaan barang
tersebut. Informan dalam penelitian ini sebanyak lima orang yang dipilih
menggunakan metode purposive Sampling. Data penelitian dikumpul dengan
melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian, data tersebut
dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data dan verifikasi/kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi pengelolaan inventaris
dan penggunaan barang milik negara di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan
mengalami beberapa masalah yang membuat pelaksanaannya belum optimal.
Permasalahan tersebut berdampak pada setiap tahapan pengelolaan barang yaitu
perencanaan, penatausahaan, perawatan dan pengahapusan, pemantauan, dan
evaluasi serta pelaporan perlengkapan dan barang milik negara. Permasalahan
yang dihadapi oleh Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara
adalah masih terjadinya komunikasi yang kurang baik dalam implementasi
kebijakan pengelolaan aset dan barang milik negara, kekurangan sumber daya
aparatur, masih didapati oknum pengguna barang milik negara yang belum
memiliki sikap yang belum baik dalam pengelolaan aset dan barang milik negara
dan struktur birokrasi yang masih harus diperbaiki dan disusun kembali guna
mengoptimalkan kinerja dan pembagian tugas-tugas pengelolaan aset dan barang
milik negara di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat.

Kata Kunci : Implementasi, Pengelolaan Inventaris Barang.

viii
DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN UJIAN AKHIR........................................... iii


HALAMAN PENERIMAAN TIM .............................................................. iv
HALAMAN PERNYATAAN........................................................................ v
KATA PENGANTAR.................................................................................... vi
ABSTRAK ...................................................................................................... viii
DAFTAR ISI................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL........................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... xii

BAB I. PENDAHULUAN.............................................................................. 1
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 7
C. Tujuan Penelitian ................................................................................. 8
D. Manfaat Penelitian ............................................................................... 8

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................... 10


A. Penelitian Terdahulu ............................................................................ 10
B. Konsep Implementasi Kebijakan ......................................................... 13
1. Pengertian Implementasi................................................................ 13
2. Pengertian Implementasi Kebijakan .............................................. 17
3. Model Implementasi Kebijakan ..................................................... 18
C. Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah........................................... 25
D. Sistem pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah ............................... 31
E. Tujuan Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah .............................. 34
F. Azaz-Azaz Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah........................ 34
G. Kerangka Pikir ..................................................................................... 35
H. Fokus Penelitian ................................................................................... 37
I. Deskripsi Fokus Penelitian................................................................... 38

BAB III. METODE PENELITIAN .............................................................. 39

ix
A. Waktu dan Lokasi Penelitian.....................................................................39
B. Jenis dan Tipe Penelitian...........................................................................39
C. Informan....................................................................................................39
D. Sumber Data..............................................................................................40
E. Teknik Pengumpulan Data........................................................................41
F. Teknik Analisis Data.................................................................................42
G. Teknik Pengabsahan Data.........................................................................43

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.................................44


A. Deskripsi Lokasi Penelitian.......................................................................44
B. Hasil Penelitian..........................................................................................55
C. Pembahasan Hasil Penelitian.....................................................................66

BAB V PENUTUP...............................................................................................73
A. Kesimpulan...............................................................................................73
B. Saran..........................................................................................................75

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................76
LAMPIRAN.........................................................................................................78

x
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Informan Penelitian..............................................................................40

Tabel 4.1. 28 Titik Bagian Kerja Biro Umum dan Perlengkapan.........................51

Tabel 4.2. Data Pegawai Berdasarkan Jenis Kelamin...........................................52

Tabel 4.3. Data Pegawai Berdasarkan Status, Pangkat dan Golongan..................53

Tabel 4.5. Data Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan..................................54

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1. Model Implementasi George C. Edward III....................................20


Gambar 2.2. Kerangka Pikir..................................................................................37
Gambar 4.1. Struktur Organisasi...........................................................................46

xii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Implementasi kebijakan merupakan salah satu proses siklus kebijakan

publik yang berkesinambungan dengan proses lainnya dalam mencapai tujuan

sebuah kebijakan. Implementasi kebijakan dapat diartikan sebagai sebuah praktik

atas kebijakan yang telah dibuat untuk diterapkan di lingkungan masyarakat

dalam mengatasi masalah dan menjadi bentuk intervensi dalam masyarakat.

Implementasi kebijakan juga dapat diartikan sebagai proses dimana

mentransformasi rencana kebijakan yang telah dibuat ke dalam sebuah tindakan

yang sebenarnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Howlett dan Ramesh dalam

(Agustino, 2016) yang mengartikan bahwa implementasi kebijakan merupakan

proses dimana melakukan praktik sebuah kebijakan yang berhubungan dengan

rencana yang telah dibuat.

Kebijakan publik sebagai bentuk ketentuan dan peraturan yang berlaku

mengatur setiap aspek kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara.

Salah satu aspek yang memerlukan intervensi dari pemerintah dalam hal

pengaturan oleh kebijakan publik ialah Barang Milik Negara. Hal ini dikarenakan

persoalan BMN adalah persoalan yang riskan jika tidak diatur dengan peraturan

yang jelas. Selain itu juga, BMN ini sangat erat kaitannya dengan aset dan

kepemilikan Negara.

1
2

BMN ini juga dapat diartikan sebagai aset, sarana, dan prasarana yang

mendukung terlaksananya tugas dan tanggung jawab oleh pelaksana kebijakan

dan birokrat. Dengan demikian, BMN harus dikelola dan diatur dengan baik dan

bertanggung jawab agar tidak menimbulkan kerugian yang dapat menghambat

aktivitas dan kegiatan birokrasi yang akan berdampak pada aktivitas masyarakat

secara luas.

Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang

Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dapat dipahami bahwa

inventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan

pelaporan hasil pendataan barang. Sesuai peraturan tersebut maka perlu adanya

pelaksanaan inventarisasi yang baik dan benar. Hal ini sesuai dengan yang

dikemukakan oleh Bafadal (2004) bahwa inventarisasi adalah pencatatan dan

penyusunan daftar barang milik Negara secara sistematis, tertib, dan teratur

berdasarkan ketentuan-ketentuan atau pedoman-pedoman yang berlaku. Jadi,

inventaris barang ialah salah satu hal penting yang harus terus dilakukan oleh

suatu instansi pemerintah maupun swasta, karena dengan adanya inventarisasi

yang baik dan benar maka semua kebutuhan fasilitas peralatan serta barang yang

dibutuhkan oleh instansi terkait dapat diketahui dengan cepat.

Inventaris barang merupakan kegiatan pendataan barang sekaligus

pengelolaan data persediaan barang yang dimiliki sebuah instansi. Namun

eksistensinya belum begitu mendapat perhatian yang mendalam sehingga

kedudukan dari inventaris barang belum terlihat secara nyata. Sedangkan

seandainya inventaris barang dikelola dengan baik akan memberikan faedah yang
3

besar bagi suatu instansi. Agar laporan persediaan barang lancar dan tidak ada

kendala, maka diperlukan adanya sistem komputerisasi cepat dan akurat. Pada

umumnya pembuatan laporan inventaris barang kadang masih bersifat manual.

Hal ini dirasakan membutuhkan waktu yang lama, apabila di lakukan dengan

proses komputerisasi pembuatan laporan inventaris barang akan memudahkan

bagian pengelola aset barang untuk melakukan proses pelaporan inventaris

barang. Dengan adanya sistem komputerisasi ini di harapkan pelaporan aset

barang agar lebih baik lagi. Khususnya dalam membuat laporan inventaris barang,

sehingga dengan sistem komputer yang efisien memungkinkan untuk

menghasilkan laporan dalam waktu yang relatif singkat, cepat, tepat dan akurat.

Menurut Astari (2013) ketika suatu instansi menerapkan konsep

inventarisasi terstruktur, maka kegiatan manajerial maupun operasional yang

berlangsung didalamnya juga akan berjalan dengan efektif. Kita semua tahu

bahwa instansi baik pemerintah maupun swasta, dalam kegiatan manajerialnya

selalu bergantung pada tekonologi informasi dan komunikasi. Pemanfaatan

teknologi informasi dan komunikasi yang diimplementasikan secara optimal

dalam serangkaian kegiatan operasional organisasi suatu instansi., maka akan

sangat mempengaruhi kinerja itu sendiri. Singkatnya semakin giat suatu instansi

memanfaatkan teknologi informasi yang ada, maka pencapaian tujuan akan

tercapai lebih efektif.

Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Sulawesi Barat merupakan organisasi

pemerintah yang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya memerlukan

barang inventaris milik/kekayaan Negara untuk kelancaran tugas dan pencapaian


4

tujuan. Dalam Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Barat Nomor 14 Tahun 2009

tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah bahwa inventarisasi adalah kegiatan

untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan pelaporan hasil pendataan barang

milik daerah. Keberadaan barang milik/kekayaan Negara memerlukan proses

pencatatan, pengkodean dan pelaporan barang untuk mengetahui jumlah barang,

penambahan barang yang ada maupun untuk mengetahui laporan mutasi atau

penghapusan barang. Inventarisasi barang harus dilaksanakan dengan baik agar

dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pengelolaan barang dilaksanakan dengan

maksimal agar barang dapat berdaya guna dan berhasil guna bagi setiap pegawai.

Pengelolaan Barang Milik Daerah merupakan komponen penting dalam

penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah, maka barang milik

daerah perlu dikelola secara tertib, akuntabel dan transparan dengan

mengedepankan good governance agar dimanfaatkan secara optimal dalam rangka

mendukung penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada

masyarakat. Maka diperlukan instrument yang tepat untuk melakukan pengelolaan

aset daerah secara professional, transparan, akuntabel, efisien dan efektif mulai

dari perencanaan, pengelolaan/ pemanfaatan dan pengawasannya (Mardiasno,

2001)

Berdasarkan hasil observasi di kantor Biro Umum dan Perlengkapan

Sulawesi Barat pada tanggal 22 januari 2020 masalah yang sering terjadi yaitu

pendataan masih secara manual. Hal ini menyebabkan pengulangan data, sehingga

mengakibatkan pencatatan data barang tidak akurat dan tidak efisien. Tidak

sebanding antara jumlah pegawai yang ada dengan tanggung jawab yang berat
5

yang harus di laksanakan oleh Bagian Perlengkapan Dan Pengelolaan Barang

Milik Negara. Peralatan dan Mesin yang harus terus dikelola dengan baik oleh

Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara. Serta banyaknya

barang yang harus dikelola oleh Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang

Milik Negara juga. Belum lagi Aset Tanah, Irigasi, Gedung dan Bangunan, Jalan

dan Jembatan dan lain sebagainya. Permasalahan lainnya yakni BMN yang

tergolong aset tetap bergerak ini sering dipindahtempatkan dan dipinjam dari

suatu ruangan ke ruangan lainnya tanpa adanya pencatatan dan pemindahan yang

teratur dengan pembuatan berita acara serah terima barang. Sehingga pada saat

pelaporan barang terdapat hambatan karena posisi barang yang berubah-ubah dari

satu ruangan ke ruangan lain. Dampak yang dihasilkan dari permasalahan ini ialah

daftar inventaris ruangan yang selalu berubah dan juga pengelola BMN harus

mengidentifikasi atau mencari barang yang berpindah tersebut untuk didata dan

dicatat secara ulang. Permasalahan ini akan berpengaruh pada pengelolaan

khususnya dalam inventarisasi yang belum optimal, efektif, dan efisien. Juga

Dalam proses penginputan dan pelaporan barang inventaris masih dilakukan

secara manual sehingga terjadi kesalahan-kesalahan maupun duplikasi data.

Peranan dan keberadaan inventaris ini sangatlah penting karena tanpa

adanya inventaris suatu siklus kegiatan kantor dapat terganggu. Hal ini akan

berpengaruh terhadap pekerjaan mengakibatkan proses administrasi kurang

maksimal. Begitu pentingnya peranan dari inventaris sehingga suatu kantor sangat

perlu untuk melakukan pengelolaan barang inventaris mereka secara rutin dan

berkala untuk kepentingan data dan informasi inventaris yang dimiliki kantor
6

(Supartha & Pandawa, 2014). Agar kegiatan operasional berjalan dengan lancar,

efektif, efesien dibutuhkan sarana dan prasarana tertentu yang harus tersedia.

Dengan adanya kegiatan perencanaan, pengadaan, pencatatan dan pelaporan

logistik atau barang guna mendukung efektifitas dan efesiensi dalam tujuan

organisasi (Dwiantara dan Sumarno, 2009).

Melihat realita yang terjadi dilapangan, Barang Milik Negara pada

Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat memiliki

Proses pengolahan data persediaan barang yang sedang berjalan di Kantor Biro

Umum dan Perlengkapan belum efektif, karena dengan banyaknya barang yang

ada dan hanya dilakukan pencatatan di dalam rekap pengambilan barang, akan

sangat menyita waktu terutama pada saat pembuatan laporan, persoalan lainnya

yakni adanya aset/barang yang berpindah-pindah ruangan sehingga tidak

diketahui keberadaannnya dan berdampak pada catatan pengelolaan aset

yang tidak menujukan data rill di lapangan, dan sumber daya manusia (SDM)

pengelola barang milik negara (BMN) yang masih sangat minim akibatnya

penatausahaan barang milik negara tersebut kurang efektif, kurangnya

pemahaman pengelolaan barang milik negara serta didukung kurangnya

kesadaran para pengguna barang dalam hal pengamanan barang milik

negara sehingga barang mudah berpindah-pindah. Tidak adanya koordinasi

yang baik sebagai akibat komunikasi tidak berjalan secara baik sehingga

mengakibatkan Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran (LBKPS) dan

Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan (LBKPT) tidak pernah disampaikan

dan akan
7

mempengaruhi data aset/barang di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi

Sulawesi Barat.

Idealnya setiap organisasi perlu memperhatikan pelaksanaan inventarisasi

dan pengelolaan barang yang baik dan benar untuk mencegah timbulnya

pemborosan barang milik/kekayaan Negara. Pentingnya pengelolaan aset tetap

(Barang Milik Negara) itu sendiri sangat menunjang kepada keberhasilan dari

pelaksanaan tugas ketatausahaan sebuah kantor. Disebuh kantor mempunyai

bagitu banyak aset tetap (Barang Milik Negara) yang harus dikelola dengan baik

yang artinya aset-aset tersebut akan menjadi bermanfaat dan menguntungkan yang

harus terjaga dan pelaksanaannya yang ditetapkan di bagian ini harus memiliki

keahlian di bidang perkantoran. Pertimbangan tersebut yang melatarbelakangi

penulis untuk melakukan penelitian mengenai implementasi pengelolaan

serangkaian kegiatan inventaris. Berlandaskan pada seluruh permasalahan yang

ada, maka penulis menuangkannya dengan judul “Implementasi Pengelolaan

Inventaris Dan Penggunaan Barang Di Kantor Biro Umum Dan

Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam

penelitian ini ialah Bagaimana Implementasi Pengelolaan Inventaris dan

Penggunaan Barang Di Kantor Biro Umum Dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi

Barat ?
8

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan dalam penelitian ini

ialah Untuk mengetahui Implementasi Pengelolaan Inventaris dan Penggunaan

Barang Di Kantor Biro Umum Dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a. Hasil dari penelitian ini diharapakan menyajikan wacana kajian

baru terkait penerapan program Sistem Pengelolaan Inventaris.

b. Memberi kesempatan pada penulis untuk mengaplikasikan ilmu

dan teori yang sudah didapatkan selama belajar diperguruan

tinggi.

c. Menambah ilmu pengetahuan melalui penelitian yang

dilaksanakan sehingga memberikan kontribusi pemikiran bagi

pengembangan ilmu administrasi Negara khususnya.

2. Manfaat Praktis

a. Sebagai bahan masukan atau input bagi Biro Umum dan

Perlengkapan dengan penanganan inventarisasi. Selain itu

memotivasi karyawan untuk meningkatkan kinerja.

b. Sebagai bahan bacaan mahasiswa khususnya mahasiswa

Program Studi Ilmu Administrasi Negara.

c. Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan

acuan untuk penelitian selanjutnya, khususnya penelitian yang


9

terkait dengan inventarisasi baik dilingkup Mamuju Sulbar

maupun daerah-daerah lainnya.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu menjadi salah satu acuan peneliti dalam melakukan

penelitian sehingga dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji

penelitian yang dilakukan. Dari penelitian terdahulu, Peneliti tidak menemukan

penelitian dengan judul yang sama seperti penelitian peneliti. Namun, peneliti

mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi untuk memperkaya bahan

kajian pada penelitian peneliti. Berikut merupakan penelitian terdahulu berupa

jurnal terkait dengan penelitian yang dilakukan peneliti.

1. Nancy (2019)

Nancy (2019) dengan judul penelitian “Implementasi Kebijakan

Pengelolaan Barang Milik Daerah Pada Dinas Pendidikan, Pemuda Dan

OlahRaga Kabupaten Sigi”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa

fakta dilapangan dari hasil penelitian tentang implementasi kebijakan

pengelolaan barang/aset daerah pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan

OlahRaga Kabupaten Sigi, dari faktor komunikasi bahwa proses komunikasi

antara implementor serta sasaran kebijakan dalam konteks pelaksanaan

kebijakan pengelolaan barang/aset daerah di dinas Pendidikan, Pemuda dan

Olah Raga Kabupaten Sigi belum sesuai harapan dan kenyataan dilapangan.

Hal ini terlihat pada faktor komunikasi yang mempengaruhinya terdiri dari

faktor utama yaitu Kejelasan informasi kebijakan pengelolaan barang milik

10
11

daerah di dinas pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sigi, dalam

komunikasi belum berjalan secara optimal, di mana pelaksanaan kebijakan

masih belum bisa dipahami secara utuh dan seluruh aparat secara

keseluruhan. Dari faktor sumber daya, sumber daya manusia yang ada di

UPTD Kecamatan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten

Sigi belum dapat mendukung pengelolaan barang milik daerah

secara maksimal karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki baik dari

segi kuantitas maupun kualitas. Pada faktor disposisi tergambar sikap

implementor terhadap kebijakan pengelolaan barang/asset daerah, dimana

setiap UPTD di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sigi,

belum memiliki tanggung jawab sepenuhnya terhadap kebijakan

pengelolaan barang/aset dan daerah dimana setiap Unit Pelaksana Teknis

Daerah (UPTD) Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sigi

adalah merupakan kuasa pengguna barang yang berkewajiban

menyampaikan laporan barang semesteran, tahunan dan lima tahunan

kepada pengguna barang. Pada faktor struktur birokrasi penggunaan Standar

Operasional Pekerjaan belum berjalan dengan baik, dimana SOP itu belum

dijadikan sebagai dasar dalam melaksanakan tugas dan perannya dalam

pengelolaan barang sehingga adminstrasi barang dapat dikelola secara tertib

sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2007

tentang Pedoman teknis pengelolaan barang milik daerah.


12

2. Agus Zakaria (2021)

Agus Zakaria (2021) dengan judul penelitian “Implementasi

Kebijakan Pengelolaan Aset Dan Barang Milik Negara Di IPDN Kampus

Jatinangor” Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah utama dalam

penerapan komunikasi yang dilaksanakan oleh Bagian Perlengkapan dan

Pengelolaan Barang Milik Negara adalah belum terjadinya komunikasi dan

koordinasi yang baik antara Pengelola aset dan Barang Milik Negara IPDN

dengan Pengguna Barang Milik Negara terkait sering dipindah-pindahkan

barang/ aset oleh pengguna Barang Milik Negara. Yang mana seharusnya

terlebih dahulu dilaksanakan pelaporan dan koordinasi terkait rencana

perpindahan Barang Milik Negara sebelum dilaksanakannnya pemindahan

Barang Milik Negara tersebut. Dalam hal sumber daya Sumber daya

aparatur yang dimiliki oleh Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang

Milik Negara sekarang memang dirasa masih kurang memenuhi harapan

dan ekspektasi institusi. Dikarenakan dalam implementasi kebijakan

pengelolaan aset dan Barang Milik Negara yang berjumlah sangat banyak di

IPDN tentunya tidak dapat dilakukan oleh sedikit orang, akan tetapi harus

banyak atau cukup orang yang melaksanakan pengelolaan aset dan Barang

Milik Negara itu sendiri dan setelah dilaksanakannya. Dalam hal disposisi,

sikap pelaksana yang harus dimiliki oleh pengelola asset dan BMN di

IPDN adalah Kesadaran pada lingkungan kerja, Kemauan bekerja yang

besar, Pengetahuan yang cukup terhadap tugas dan fungsinya, Keinginan

berprestasi, dan Motivasi bekerja tinggi. Dalam hal struktur birokrasi, yang
13

ada di Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara IPDN

masih belum optimal. Dikarenakan masih ada terjadi tumpang tindih tugas

dan fungsi antara Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik

Negara dengan Subbagian Rumah Tangga pada Bagian Umum. Beberapa

kali terjadi kesalahpahaman antara kedua unit tersebut yang mengakibatkan

ketidaknyamanan antara masing masing pelaksana. Alasan yang kedua

adalah dikarenakan struktur birokrasi yang ada di Bagian Perlengkapan dan

Pengelolaan Barang Milik Negara masih belum membagi tugas tugasnya

secara proposional dan ideal. Dengan hanya mengandalkan pembagian tugas

pada 2 (dua) subbagian saja pada prakteknya dirasa belum mampu dan

belum cukup untuk mewujudkan harapan visi dan misi lembaga.

3. Ummiati Rahmah (2020)

Ummiati Rahmah (2020) dengan judul penelitian “Implementasi

Sistem Informasi Inventaris Barang Berbasis Web Di Jurusan Dan

Laboratorium Pendidikan Teknik Elektronika” Hasil penelitian

menunjukkan bahwa Bentuk data inventaris barang berbasis web hanya

dapat diakses dengan username dan password yang terdaftar sehingga dapat

membatasi hak akses untuk melihat dan berinteraksi dengan data, Riset ini

menggunakan proses R&D yang berfokus pada model pengembangan

Waterfall dan produk yang dihasilkan berupa bentuk data inventaris barang

berbasis web yang dapat membantu penanggung jawab jurusan dan

laboratorium dalam mengelola dan mengakses dimana saja inventarisasi

barang yang ada di jurusan pendidikan teknik elektronika.


14

B. Konsep Implementasi Kebijakan

1. Pengertian Implementasi

Implementasi secara etimologis berasal dari bahasa inggris yaitu to

implement. Mulyadi (2015) berpendapat bahwa implementasi mengacu pada

tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu

keputusan. Tindakan ini berusaha untuk mengolah keputusan-keputusan

tersebut menjadi pola-pola operasional serta berusaha mencapai perubahan-

perubahan besar atau kecil sebagaimana yang telah diputuskan sebelumnya.

Implementasi pada hakikatnya juga merupakan upaya pemahaman apa yang

seharusnya terjadi setelah program dilaksanakan. Sejalan dengan Mulyadi,

Gordon dalam (Mulyadi, 2015) mengatakan bahwa implementasi berkenaan

dengan berbagai kegiatan yang diarahkan pada realisasi program.

Sama halnya dengan Lister dalam (Taufik dan Isril, 2013) yang

mengemukakan bahwa sebagai sebuah hasil, maka implementasi

menyangkut tindakan seberapa jauh arah yang telah di programkan itu

benar-benar memuaskan. Sedangkan Naditya dkk (2013:1088) menyatakan,

dasar dari implementasi adalah mengacu pada tindakan untuk mencapai

tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu keputusan. Haerul (2016)

menyatakan bahwa, implementasi adalah suatu aktivitas dalam

melaksanakan program-program yang telah di rumuskan untuk mencapai

tujuan organisasi.

Pada dasarnya implementasi menurut Syaukani dkk (Pratama, 2015),

merupakan salah satu tahap dalam proses kebijaksanaan publik dalam


15

sebuah negara. Biasanya implementasi dilaksanakan setelah sebuah

kebijakan dirumuskan dengan tujuan yang jelas, termasuk tujuan jangka

pendek menengah dan panjang.

Sedangkan William dalam (Taufik dan Isril, 2013), “dengan lebih

ringkas menyebutkan dalam bentuk lebih umum, penelitian dalam

implementasi menetapkan apakah organisasi dapat membawa bersama

jumlah orang dan material dalam unit organisasi secara kohesif dan material

dalam unit organisasi secara kohesif dan mendorong mereka mencari cara

untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Sedangkan

menurut Ekawati dalam (Taufik dan Isril, 2013) menyatakan, bahwa definisi

implementasi secara eksplisit mencakup tindakan oleh individu/kelompok

privat (swasta) dan publik yang langsung pada pencapaian serangkaian

tujuan terus menerus dalam keputusan kebijakan yang telah ditetapkan

sebelumnya.

Menurut Fulan dalam (Majid, 2014) mengemukakan bahwa

implementasi adalah suatu proses peletakan dalam praktik tentang suatu ide,

program, atau seperangkat aktifitas baru bagi orang lain dalam mencapai

atau mengharapkan suatu perubahan. Adapun menurut Mulyadi (2015)

implementasi mengacu pada tindakan untuk mencapai tujuantujuan yang

telah ditetapkan dalam suatu keputusan.

Menurut Salusu dalam (Tahir, 2014) menyatakan mplementasi sebagai

operasionalisasi dari berbagai aktivitas guna mencapai suatu sasaran tertentu

dan menyentuh seluruh jajaran manajemen mulai dari manajemen puncak


16

sampai pada karyawan terbawah. Grindle dalam (Mulyadi, 2015),

menyatakan implementasi merupakan proses umum tindakan administratif

yang dapat diteliti pada tingkat program tertentu. Sedangkan Horn dalam

(Tahir, 2014), mengartikan implementasi sebagai tindakan-tindakan yang

dilakukan oleh baik individu-individu/pejabat-pejabat atau kelompok-

kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada pencapaian tujuan-

tujuan yang telah digariskan dalam kebijakan.

Selanjutnya Kapioru (2014) menyebutkan, ada empat faktor yang

mempengaruhi kinerja implementasi, yaitu:

a. Environmental Conditions (Kondisi lingkungan).

b. Inter-organizational relationship (Hubungan antar organisasi).

c. Resources (Sumberdaya).

d. Characteristic Implementing Agencies (Karakter institusi

implementor).

Dan menurut Purwanto (Syahida, 2014) beberapa faktor yang

menentukan berhasil atau tidaknya suatu proses implementasi yaitu:

a. Kualitas kebijakan itu sendiri.

b. Kecukupan input kebijakan (terutama anggaran).

c. Ketepatan instrumen yang dipakai untuk mencapai tujuan

kebijakan (pelayanan, subsidi, hibah, dan lainnya).

d. Kapasitas implementor (struktur organisasi, dukungan SDM,

koordinasi, pengawasan, dan sebagainya).


17

e. Karakteristik dan dukungan kelompok sasaran (apakah kelompok

sasaran adalah individu atau kelompok, laki-laki atau perempuan,

terdidik atau tidak)

f. Kondisi lingkungan geografi, sosial, ekonomi, dan politik dimana

implementasi tersebut dilakukan.

Berdasarkan berbagai perspektif di atas, terlihat bahwa konsep

implementasi adalah suatu proses yang berkaitan dengan kebijakan dan

program yang akan dilaksanakan oleh suatu organisasi atau lembaga,

khususnya badan yang terkait dengan suatu instansi pemerintah yang

meliputi sarana dan prasarana untuk mendukung program-program yang

akan dijalankan tersebut.

2. Pengertian Implementasi Kebijakan

Dunn (2009) mengistilahkannya implementasi secara lebih khusus,

menyebutnya dengan istilah implementasi kebijakan. Menurutnya

implementasi kebijakan (Policy Implementation) adalah pelaksanaan

pengendalian aksi-aksi kebijakan di dalam kurun waktu tertentu. Menurut

Tachjan (2006) fungsi dan tujuan implementasi adalah untuk membentuk

suatu hubungan yang memungkinkan tujuan-tujuan ataupun sasaran-

sasaran kebijakan publik (politik) dapat diujudkan sebagai “outcome” (hasil

akhir) dari kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah. Implementasi dapat

dimaksud sebagai policy delevery system. Maksudnya sebagai sistem

penerusan/penyampaian kebijakan. Sebagai sebuah sistem terdiri dari unsur-


18

unsur dan kegiatan-kegiatan yang terarah menuju tercapainya tujuan-tujuan

dan sasaran-sasaran yang dikehendaki.

Grindle dalam (Waluyo, 2007) menyatakan implementasi kebijakan

sesungguhnya bukanlah sekedar bersangkut paut dengan mekanisme

penjabaran keputusan-keputusan politik ke dalam prosedur-prosedur rutin

lewat saluran-saluran birokrasi, melainkan lebih dari itu, ia menyangkut

masalah konflik, keputusan dari siapa yang memperoleh apa dari suatu

kebijakan. Sedangkan menurut Cleaves dalam (Waluyo, 2007),

implementasi kebijakan dianggap sebagai suatu proses tindakan administrasi

dan politik.

Selanjutnya menurut Hamdi (2014), pelaksanaan atau implementasi

kebijakan bersangkut paut dengan ikhtiar-ikhtiar untuk mencapai tujuan dari

ditetapkannya suatu kebijakan tertentu. Kemudian menurut Udoji dalam

(Mulyadi, 2015), pelaksanaan kebijakan adalah sesuatu yang penting,

bahkan mungkin jauh lebih penting dari pembuatan kebijakan. Kebijakan-

kebijakan hanya akan berupa impian atau rencana yang bagus, yang

tersimpan rapi dalam arsip jika tidak dapat diimplementasikan.

Menurut Nugroho (2004) Implementasi kebijakan pada prinsipnya

adalah cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya . Menurutnya,

untuk mengimplementasikan kebijakan pada prinsipnya ada dua pilihan

langkah yang ada, yaitu implementasi dalam bentuk program atau melalui

formulasi kebijakan derivat atau turunan dari kebijakan publik tersebut.


19

Menurut Edward III dalam (Mulyadi, 2015), tanpa implementasi yang

efektif maka keputusan pembuat kebijakan tidak akan berhasil dilaksanakan.

Implementasi kebijakan adalah aktivitas yang terlihat setelah dikeluarkan

pengarahan yangsah dari suatu kebijakan yang meliputi upaya mengelola

input untuk menghasilkan output atau outcome bagi mayarakat.

3. Model Implementasi Kebijakan

Implementasi merupakan suatu proses mengubah gagasan atau

program menjadi tindakan dan bagaimana kemungkinan cara menjalankan

perubahan tersebut. Menganalisis bagaimana proses implementasi kebijakan

itu berlangsung secara efektif, maka dapat dilihat dari berbagai model

implementasi kebijakan. Sekalipun banyak dikembangkan model-model

yang membahas tentang implementasi kebijakan, namun dalam hal ini

hanya akan menguraikan beberapa model implementasi kebijakan yang

relatif baru dan banyak mempengaruhi berbagai pemikiran maupun tulisan

para ahli. Berikut beberapa model implementasi kebijakan dari berbagai

ahli:

a. Model yang dikembangkan oleh George C. Edwards III

Edward dalam (Widodo, 2011) melihat implementasi kebijakan

sebagai suatu proses yang dinamis, dimana terdapat banyak faktor

yang saling berinteraksi dan mempengaruhi implementasi kebijakan.

Faktor–faktor tersebut perlu ditampilkan guna mengetahui bagaimana

pengaruh faktor–faktor tersebut terhadap implementasi. Edward

mengajukan empat faktor yang berperan penting dalam pencapaian


20

keberhasilan implementasi. Faktor– faktor yang mempengaruhi

keberhasilan atau kegagalan implementasi kebijakan yaitu faktor

communication, resources, disposition, dan bureucratic structure.

Model Implementasi George C. Edward III

Sumber : (Widodo, 2011)

1. Faktor Komunikasi ( Communication )

Komunikasi merupakan proses penyampaian informasi

dari komunikator kepada komunikan. Sementara itu, komunikasi

kebijakan berarti merupakan proses penyampaian informasi

kebijakan dari pembuat kebijakan (policy makers) kepada

pelaksana kebijakan ( policy implementors ).

Widodo (2011) kemudian menambahkan bahwa informasi

perlu disampaikan kepada pelaku kebijakan agar pelaku

kebijakan dapat memahami apa yang menjadi isi, tujuan, arah,

kelompok sasaran ( target group) kebijakan, sehingga pelaku

kebijakan dapat mempersiapkan hal–hal apa saja yang

berhubungan dengan pelaksanaan kebijakan, agar proses


21

implementasi kebijakan bisa berjalan dengan efektif serta sesuai

dengan tujuan kebijakan itu sendiri.

Komunikasi dalam implementasi kebijakan mencakup

beberapa dimensi penting yaitu tranformasi informasi

(transimisi), kejelasan informasi (clarity) dan konsistensi

informasi (consistency). Dimensi tranformasi menghendaki agar

informasi tidak hanya disampaikan kepada pelaksana kebijakan

tetapi juga kepada kelompok sasaran dan pihak yang terkait.

Dimensi kejelasan menghendaki agar informasi yang jelas

dan mudah dipahami, selain itu untuk menghindari kesalahan

interpretasi dari pelaksana kebijakan, kelompok sasaran maupun

pihak yang terkait dalam implementasi kebijakan. Sedangkan

dimensi konsistensi menghendaki agar informasi yang

disampaikan harus konsisten sehingga tidak menimbulkan

kebingungan pelaksana kebijakan, kelompok sasaran maupun

pihak terkait

2. Sumber Daya (resources)

Sumber daya memiliki peranan penting dalam

implementasi kebijakan, ini diartikan bahwa, bagaimana pun

jelas dan konsistensinya ketentuan–ketentuan dan aturan–aturan

serta bagaimana pun akuratnya penyampaian ketentuan-

ketentuan atau aturan–aturan tersebut, jika para pelaksana

kebijakan yang bertanggung jawab untuk melaksanakan


22

kebijakan kurang mempunyai sumber-sumber daya untuk

melaksanakan kebijakan secara efektif maka implementasi

kebijakan tersebut tidak akan efektif.

3. Disposisi (Disposition)

Kecenderungan perilaku atau karakteristik dari pelaksana

kebijakan berperan penting untuk mewujudkan implementasi

kebijakan yang sesuai dengan tujuan atau sasaran. Karakter

penting yang harus dimiliki oleh pelaksana kebijakan misalnya

kejujuran dan komitmen yang tinggi. Kejujuran mengarahkan

implementor untuk tetap berada dalam asa program yang telah

digariskan, sedangkan komitmen yang tinggi dari pelaksana

kebijakn akan membuat mereka selalu antusias dalam

melaksanakan tugas, wewenang, fungsi, dan tanggung jawab

sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.

Sikap dari pelaksana kebijakan akan sangat berpengaruh

dalam implementasi kebijakan. Apabila implementator memiliki

sikap yang baik maka dia akan dapat menjalankan kebijakan

dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat

kebijakan, sebaliknya apabila sikapnya tidak mendukung maka

implementasi tidak akan terlaksana dengan baik.

4. Struktur Birokrasi (Bureucratic Structur)

Struktur organisasi memiliki pengaruh yang signifikan

terhadap implementasi kebijakan. Aspek struktur organisasi ini


23

melingkupi dua hal yaitu mekanisme dan struktur birokrasi itu

sendiri. Aspek pertama adalah mekanisme, dalam implementasi

kebijakan biasanya sudah dibuat Standart Operation Procedur (

SOP ). SOP menjadi pedoman bagi setiap implementator dalam

bertindak agar dalam pelaksanaan kebijakan tidak melenceng

dari tujuan dan sasaran kebijakan. Aspek kedua adalah struktur

birokrasi, struktur birokrasi yang terlalu panjang dan

terfragmentasi akan cenderung melemahkan pengawasan dan

menyebabkan prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks yang

selanjutnya akan menyebabkan aktivitas organisasi menjadi

tidak fleksibel

b. Model yang dikembangkan oleh Van Meter dan Van Horn

Meter dan Horn dalam teorinya ini beranjak dari suatu argumen

bahwa perbedaan-perbedaan dalam proses implementasi akan

dipengaruhi oleh sifat kebijakan yang akan dilaksanakan. Selanjutnya

mereka menawarkan suatu pendekatan yang mencoba untuk

menghubungkan antara isu kebijakan dengan implementasi dan suatu

model konseptual yang mempertalikan kebijakan dengan prestasi

kerja. Kedua ahli ini menegaskan pula pendiriannya bahwa perubahan,

kontrol dan kepatuhan bertindak merupakan konsep-konsep penting

dalam prosedur-prosedur implementasi.

Van Meter dan Van Horn dalam (Subarsono, 2005) ada enam

variabel yang mempengaruhi kinerja implementasi, yaitu:


24

1. Standar dan sasaran kebijakan

Standar dan sasaran kebijakan harus jelas dan terukur

sehingga dapat direalisasikan. Apabila standar dan

kebijakan kabur, maka akan terjadi misi interpretasi dan

mudah menimbulkan konflik diantara para agen

implementasi.

2. Sumber daya

Implementasi kebijakan perlu dukungan sumber daya,

baik sumber daya manusia maupun sumber daya non

manusia.

3. Komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas

Dalam implementasi program perlu dukungan dan

koordinasi dengan instansi lain. Untuk itu perlu koordinasi

dan kerja sama antara instansi bagi keberhasilan suatu

program.

4. Karakteristik Agen Pelaksana

Agen pelaksana mancakup struktur birokrasi, Standard

Operating Procedure (SOP), norma-norma, dan pola-pola

hubungan yang terjadi dalam birokrasi, yang semuanya

akan mempengaruhi implementasi suatu program.

5. Kondisi sosial, ekonomi dan politik

Variabel ini mencakup sumber daya ekonomi, lingkungan

yang dapat mendukung keberhasilan implementasi


25

kebijakan, sejauh mana kelompokkelompok kepentingan

dapat memberikan dukungan bagi implementasi kebijakan,

karakteristik para partisipan, yakni mendukung atau

menolak, bagaimana sifat opini publik yang ada di

lingkungan, dan apakah elit politik mendukung

implementasi kebijakan.

6. Disposisi Implementor

Disposisi implementor ini mencakup tiga hal, yakni

pertama respon implementor terhadap kebijakan yang

akan dipengaruhi kemauannya untuk melaksanakan

kebijakan ; Kedua, yakni pemahamannya terhadap

kebijakan, dan ketiga intensitas disposisi implementor,

yakni prefansi nilai yang dimiliki oleh implementor.

C. Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

Dalam rangka mewujudkan pengelolaan aset daerah secara efisien dan

efektif serta menciptakan transparansi kebijakan pengelolaan aset daerah, maka

pemerintah daerah perlu memiliki atau mengembangkan sistem informasi

menajemen yang komprehensif dan handal sebagai alat untuk menghasilkan

laporan pertanggungjawaban. Selain itu, sistem informasi tersebut dapat dijadikan

dasar pengambilan keputusan mengenai kebutuhan barang dan estimasi kebutuhan

belanja pembangunan (modal) dalam penyusunan APBD, dan untuk memperoleh

informasi manajemen aset daerah yang memadai maka diperlukan dasar

pengeolaan kekayan asset yang memadai juga, dimana menurut Sholeh dan
26

Rochmansjah (2010) secara sederhana pengelolaan aset/barang milik daerah

meliputi: (1) adanya perencanaan yang tepat, (2) pelaksanaan secara efisien dan

efektif dan (3) pengawasan (monitoring).

1. Perencanaan

Perencanaan merupakan langkah awal dalam menentukan arah dan

tujuan dari sebuah [Link] perencanaan merupakan salah satu yang

menjadi kunci untuk mencapai sebuah [Link] Sholeh dan

Rochmansjah (2010) menyatakan bahwa sistem pengendalian manajemen

diawali dari perencanaan strategik (strategic planning).

Perencanaan strategic merupakan proses manajerial untuk

mengembangkan dan memelihara suatu arah strategi yang menyelaraskan

tujuan-tujuan organisasi dan berbagai sumber dayanya sehubungan dengan

peluang pemasaran yang berubah-ubah. Perencanaan strategik juga

merupakan proses yang dilakukan suatu organisasi untuk menentukan

strategi dalam pengambilan keputusan yang digunakan untuk perencanaan

masa depan.

Setiap organisasi yang tidak memiliki atau tidak melakukan

perencanaan strategik akan mengalami masalah dalam penganggaran,

misalnya terjadinya beban kerja anggaran yang terlalu berat, alokasi sumber

daya yang tidak tepat sasaran, dan dilakukannya pilihan strategi yang salah.

Menentukan tujuan untuk kinerja organisasi dimasa depan serta

memutuskan tugas dan penggunaan sumber daya yang diperlukan untuk

mencapai tujuan tersebut merupakan fungsi dari perencanaan. Fungsi


27

perencanaan mencakup kegiatan menentukan sasaran yang harus dicapai

dan menetapkan alat yang sesuai untuk mencapai sasaran yang telah

ditentukan.

Pada dasarnya kekayaan daerah dapat diklasifikasikan menjadi dua

jenis (Mardiasmo: 2002) yaitu:

a. Kekayaan yang sudah ada (eksis) sejak adanya daerah tersebut.

Kekayaan jenis ini meliputi seluruh kekayaan alam dan geografis

kewilayahannya. Contohnya adalah tanah, hutan, tambang, gunung,

danau, pantai dan laut .

b. Kekayaan yang akan dimiliki baik yang berasal dari aktivitas

pemerintah daerah yang didanai APBD serta kegiatan

perekonomian daerah lainnya. Contohnya adalah jalan, jembatan,

kendaraan, dan barang modal lainnya.

Pemerintah daerah harus membuat perencanaan yang tepat terhadap

dua jenis kekayaan [Link] juga meliputi perencanaan

terhadap aset yang belum termanfaatkan atau masih berupa aset potensial.

Perencanaan yang dilakukan harus meliputi tiga hal yaitu:

a. Melihat kondisi asset daerah dimasa lalu.

b. Aset yang dibutuhkan untuk masa sekarang.

c. Perencanaan kebutuhan aset dimasa yan akan datang.

2. Pelaksanaan

Menurut Sholeh dan Rochmansjah (2010) kekayaan milik daerah


28

harus dikelola secara optimal dengan memperhatikan prinsip efisiensi,

efektivitas, transparansi dan akuntabilitas [Link] adanya unit

pengelola kekayaan daerah yang profesional agar tidak terjadi overlapping

tugas dan wewenang dalam pengelolaan kekayaan daerah. Pengamanan

terhadap kekayaan daerah harus dilakukan secara memadai baik

pengamanan fisik maupun melalui sistem pengendalian intern.

Sholeh dan Rochmansjah (2010) menyatakan pelaksanaan

pengelolaan aset/barang milik daerah harus memenuhi prinsip akuntabilitas

publik. Akuntabilitas publik yang harus dipenuhi paling tidak meliputi :

a. Akuntabilitas kejujuran dan akuntabilitas hukum (accountability

for probityand legilaty), terkait dengan penghindaran

penyalahgunaan jabatan (abuse of power) oleh pejabat dalam

penggunaan dan pemanfaatan kekayaan daerah,sedangkan

akuntabilitas hukum terkait dengan jaminan adanya kepatuhan

terhadap hukum dan peraturan lain yang disyaratkan dalam

penggunaan kekayaan publik.

b. Akuntabilitas proses (process accountability), terkait dengan

dipatuhinya prosedur yang digunakan dalam melaksanakan

pengelolaan kekayaan daerah, termasuk didalamya dilakukannya

compulsory competitive tendering contract (CCTC) dan

penghapusan mark-up. Untuk itu perlu kecukupan sistem

informasiakuntansi, sistem informasi manajemen, dan prosedur

administrasi.
29

c. Akuntabilitas kebijakan (policy accountability), terkait dengan

pertanggungjawaban pemerintah daerah terhadap DPRD dan

masyarakat luas atas kebijakan-kebijakan penggunaan dan

pemanfaatan kekayaan daerah.

3. Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian

Menurut Sholeh dan Rochmansjah (2010),untuk menjamin kelancaran

penyelenggaraan dan menjamin tertib administrasi pengelolaan barang milik

daerah secara efisien dan efektif maka diperlukan fungsi berikut ini:

a. Pembinaan, yaitu usaha atau kegiatan melalui pemberian pedoman,

bimbingan, pelatihan, dan supervisi.

b. Pengawasan, yaitu usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan

menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas

dan/atau kegiatan dibandingkan dengan peraturan perundang-

undangan yang berlaku.

c. Pengendalian, yaitu usaha atau kegiatan untuk menjamin dan

mengarahkan agar pekerjaan yang dilaksanakan berjalan sesuai

dengan rencana yang telah ditetapkan.

Pembinaan adalah usaha atau tindakan yang dilakukan secara efektif,

dan efisien, serta dalam perspektif jangka panjang, baik bersifat perubahan

maupun penyempurnaan, agar pengelolaan BMN/D pada keseluruhan siklus

atau tahapan kegiatan dapat dilaksanakan dengan tertib dan mencapai hasil

yang lebih baik, terutama dalam memberikan daya dukung yang tinggi

terhadap kelancaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi, serta keberhasilan


30

pencapaian tujuan organisasi. Usaha atau tindakan dalam kegiatan

pembinaan yang dilakukan oleh pimpinan pada berbagai tingkatan secara

konkrit dapat dilakukan dalam berbagai bentuk seperti pemberian pedoman,

bimbingan, motivasi, supervisi, konsultasi, pendidikan dan pelatihan

(BPPK, 2011).

Pengawasan yang ketat perlu dilakukan sejak tahap perencanaan

hingga pengahapusan aset. Keterlibatan auditor internal dalam proses

pengawasan ini sangat penting untuk menilai konsistensi antara praktik yang

dilakukan oleh pemerintah daerah dengan standar yang berlaku. Selain itu,

auditor juga penting keterlibatannya untuk menilai kebijakan akuntansi yang

diterapkan manyangkut pengakuan aset (recognition), pengukurannya

(measurement), dan penilaianya (valuation).Pengawasan diperlukan untuk

menghindari penyimpanan dalam perencanaan maupun pengelolaan aset

yang dimiliki daerah.

Menurut BPPK (2011), pengendalian intern secara luas merupakan

suatu proses yang dipengaruhi dan melibatkan tidak hanya pada tingkat

pimpinan tertinggi tetapi seluruh sumber daya manusia dalam organisasi

bersangkutan. Pengendalian intern tersebut dirancang untuk memberikan

jaminan yang memadai dalam rangka pencapaian tujuan yang ditetapkan.

Jaminan yang diberikan tidak bersifat mutlak satu dan lain hal terutama

adanya unsur ketidakpastian dimasa datang yang tidak jarang sulit

diprediksi.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang


31

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah menyatakan sistem pengendalian

intern adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang

dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk

memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui

kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan,

pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-

undangan.

Mewujudkan pengelolaan barang milik daerah dapat berjalan dengan

tertib dan optimal maka tahapan perencanaan, pelaksanaan, pembinaan,

pengawasan dan pengendalian perlu dilakukan dalam satu kesatuan sistem.

Perencanaan yang tepat bertujuan agar penggunaan anggaran dalam hal

pengelolaan barang milik daerah dilakukan secara efisien, efektif dan

ekonomis.

Pelaksanaan secara efisien dan efektif bertujuan agar pengelolaan

barang milik daerah dilakukan secara baik dan benar yaitu profesional,

transparan dan akuntabel sehingga barang milik daerah tersebut

memberikan manfaat baik itu untuk jalannya roda pemerintahan maupun

untuk kesejahteraan [Link] pembinaan, pengawasan dan

pengendalian diperlukan untuk menghindari penyimpangan dari peraturan

yang berlaku dalam setiap tahapan pengelolaan barang milik daerah.

D. Sistem Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah

Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 Standar Akuntansi


32

Pemerintahan (Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Kas menuju Aktual),

pengertian aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh

pemerintah sebagai akibat dari peristiwa msa lalu dan dari mana manfaat ekonomi

dan/atau social dimasa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah

maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya

nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan

sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Adapun

dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, aset adalah sesuatu yang mempunyai nilai

tukar, modal kekayaan (KBBI, 2001 :70).

Sistem berasal dari bahasa latin (systēma) dan bahasa Yunanani(sustēma)

adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan

bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Istilah ini sering

dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana

suatu model matematika seringkali bisa dibuat.

Pengertian sistem menurut ahli “Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja

dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk

melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu”.

(Jogiyanto, 2005).

Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan

dan berkaitan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item

penggerak, contoh umum misalnya seperti negara. Negara merupakan suatu

kumpulan dari beberapaelemen kesatuan lain seperti provinsi yang saling

berhubungan sehingga membentuk suatu negara dimana yang berperan sebagai


33

penggeraknya yaitu rakyat.

Pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem merupakan elemen

yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi dalam melakukan kegiatan

bersama untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan prosedur adalah suatu urutan

kegitan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu departemen

atau lebih yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam transaksi

perusahaan yang terjadi [Link] dalam suatu system biasanya terdiri

dari beberapa prosedur dimana prosedur-prosedur itu saling terkait dan saling

mempengaruhi. Akibatnya jika terjadi perubahan maka salah satu prosedur, maka

akan mempengaruhi prosedur-prosedur yang lain”. (Mulyadi, 2001).

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2007 tentang Pedoman

Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah disebutkan bahwa yang dimaksud

dengan pengelolaan barang daerah adalah suatu rangkaian kegiatan dan tindakan

terhadap daerah yang meliputi:

1. Perencanaan kebutuhan dan penganggaran;

2. Pengadaan;

3. Penerimaan, penyimpanan dan penyaluran;

4. Penggunaan;

5. Penatausahaan;

6. Pemafaatan;

7. Pengamanan dan pemeliharaan;

8. Penilaian;

9. Penghapusan;
34

10. Pemindahtanganan;

11. Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian;

12. Pembiayaan; dan

13. Tuntutan ganti rugi.

E. Tujuan Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.

Menurut Lemer (2000), manajemen aset merupakan proses

menjaga/memelihara dan memanfaatkan modal publik, hal ini dilakukan dalam

rangka melaksanakan tertib administrasi pengelolaan barang milik daerah

sehingga terciptanya manajemen pemerintahan yang dapat bekerja secara efisien,

efektif dan ekonomis.

Pengeolaan aset adalah pengelolaan secara komprehensif atas permintaan,

perencanaan, perolehan, pengoperasian, pemeliharaan, perbaikan/rehabilitasi,

pembuangan/pelepasan dan penggantian aset untuk memaksimalisasikan Tingkat

Pengembalian Investasi (ROI) pada standar pelayanan yang diharapkan terhadap

generasi sekarang dan yang akan datang.

F. Azas-Azas Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.

Barang milik daerah sebagai salah satu unsur penting dalam rangka

penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan masyarakat harus dikelola dengan

baik dan [Link] Sholeh dan Rochmansjah (2010) agar pelaksanaan

pengelolaan aset daerah dapat dilakukan dengan baik dan benar sehingga dapat

dicapai efektivitas dan efisiensi pengelolaan aset daerah hendaknya berpegangan

teguh pada azas-azas sebagai berikut :


35

1. Azas fungsional, yaitu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah

dibidang pengelolaan barang milik daerah yang dilaksanakan oleh kuasa

pengguna barang, pengguna barang, pengelola barang dan kepala daerah

sesuai fungsi, wewenang dan tanggung jawab masing-masing;

2. Azas kepastian hukum, yaitu pengelolaan barang milik daerah harus

dilaksanakan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan;

3. Azas transparansi, yaitu penyelenggaraan pengelolaan barang milik

daerah harus transparan terhadap hak masyarakat dalam memperoleh

informasi yang benar;

4. Azas efisiensi, yaitu pengelolaan barang milik daerah diarahkan agar

barang milik daerah digunakan sesuai batasan-batasan standar kebutuhan

yang diperlukan dalam rangka menunjang penyelenggaraan tugas pokok

dan fungsi pemerintahan secara optimal;

5. Azas akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan pengelolaan barang milik daerah

harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat;

6. Azas kepastian nilai, yaitu pengelolaan barang milik daerah harus

didukung oleh adanya ketepatan jumlah dan nilai barang dalam rangka

optimalisasi pemanfaatan dan pemindahtanganan barang milik daerah

serta penyusunan neraca Pemerintah Daerah.

G. Kerangka Pikir

Implementasi kebijakan publik agar dapat mencapai apa yang menjadi

tujuannya harus dipersiapkan dengan baik. Hal ini disebabkan karena


36

implementasi kebijakan publik (public policy implementation) dalam studi

kebijakan publik, merupakan studi yang sangat krusial. Bersifat krusial ini karena

bagaimanapun baiknya suatu kebijakan publik, kalau tidak dipersiapkan dan

direncanakan secara baik dalam implementasinya, maka apa yang menjadi tujuan

kebijakan publik tidak akan bisa diwujudkan.

Untuk mendukung proses implementasi kebijakan publik tersebut,

menurut Edward III :

1. Communicaions, mempunyai peranan yang penting sebagai acuan

pelaksanaan kebijakan mengetahui persis apa yang akan dikerjakan,

ini berarti komunikasi juga dinyatakan dengan perintah dari atasan

terhadap pelaksanan kebijakan, sehingga komunikasi harus dinyatakan

dengan jelas, cepat dan konsisten.

2. Resouces, bukan hanya menyangkut sumber daya manusia semata

melainkan juga mencakup kemampuan sumber daya mineral lainnya

yang mendukung kebijakan tersebut dan faktor dana.

3. Dispositions, sebagai kegunaan dikalangan pelaksana untuk

menerapkan kebijakan, jika penerapan dilaksanakan secara efektif.

Pelaksana bukan hanya harus tahu apa yang harus dikerjakan, tetapi

harus memiliki kemampuan untuk menerapkan kebijakan itu.

4. Bureaucratic Structure, mempunyai dampak terhadap penerapan

kebijakan dalam arti bahwa penerapan kebijakan tidak akan berhasil


37

Berdasarkan kerangka pikir di atas maka dapat di gambarkan konsep

penelitian dalam skema berikut ini.

Implementasi Pengelolaan
Inventaris dan Penggunaan Barang

Impelementasi Kebijakan Edward lll (2015) :


Komunikasi
Sumber Daya
Disposisi
Struktur Birokrasi

Pelayanan Pengadaan Barang dan Jasa

Gambar 2.
Kerangka Pikir Penelitian

H. Fokus Penelitian

Berdasarkan kerangka pikir penelitian di atas maka fokus penelitian ini

berangkat dari latar belakang masalah yang dirumuskan dalam rumusan masalah

dan dikaji berdasarkan teori dalam tinjauan pustaka. Fokus penelitian ini adalah

Proses Implementasi Pengelolaan Inventaris dan Penggunaan Barang Di Kantor

Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat.


38

I. Deskripsi Fokus Penelitian

Berdasarkan bagan kerangka pikir diatas dapat dikemukakan definisi

fokus dalam penelitian ini sebagai berikut ini :

1. Komunikasi mempunyai peranan yang penting sebagai

acuan pelaksanaan kebijakan inventaris barang mengetahui persis apa

yang akan dikerjakan, ini berarti komunikasi juga dinyatakan dengan

perintah dari atasan terhadap pelaksanan kebijakan, sehingga

komunikasi harus dinyatakan dengan jelas, cepat dan konsisten.

2. Sumber daya bukan hanya menyangkut sumber daya manusia semata

melainkan juga mencakup kemampuan sumber daya mineral lainnya

yang mendukung kebijakan tersebut dan faktor dana.

3. Disposisi dan sikap pelaksana adalah tindakan atau lanjutan dari

pimpinan kepada bawahan yang berupa memo atau perintah yang

menjelaskan tentang pekerjaan apa yang seharusnya dikerjakan dan siapa

penanggung jawabnya sesuai keinginan pimpinan.

4. Struktur organisasi birokrasi adalah sebuah struktur dengan tugas-tugas

operasi yang sangat rutin yang dicapai melalui spesialisasi, dan

aturan.
39

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Waktu yang digunakan peneliti yaitu kurang lebih 2 bulan, mulai dari bulan

Desember 2019 hingga Februari 2020. Penelitian ini dilaksankan pada kantor

Biro Umum dan Perlengkapan gedung kantor utama Sulawesi Barat yang

berlokasi di Jl. Abdul Malik Pattana Endeng Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat,

B. Jenis dan Tipe Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Peneliti

menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tipe penelitian deksriptif untuk

memberikan gambaran atau penjelasan mengenai proses Implementasi sistem

Pengelolaan Inventaris dan Penggunaan Barang di Kantor Biro Umum dan

Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat.

C. Informan Penelitian

Informan adalah orang yang diharapkan memberikan data secara obyektif,

akurat, serta dapat dipertanggungjawabkan yang diberikan kepada peneliti.

Dalam penentuan informan penelitian, Peneliti menggunakan metode Purposive

Sampling dimana metodeini menentukan orang yang mengerti dan terlibat

langsung kedalam permasalahan [Link] dalam penelitian ini dapat

dilihat pada tabel berikut ini :

39
40

No Nama Inisial Jabatan

1. Muh. Rizkiady M, [Link], MR Kasubag


[Link] Inventarisasi
Penyimpanan, dan
Pendistribusian
2. Syarifuddin, SE. S Kepala Bagian Tata
Usaha dan keuangan
3. Elmarhama Mahmud, SE. EM Kasubbagian Tata
Usaha dan
Kepegawaian
4. Ismail Efendi, SE. I Staf bagian
Inventarisasi,
Penyimpanan dan
pendistribusian
5. Intan, SE. I Staf bagian
Inventarisasi,
Penyimpanan dan
pendistribusian
Tabel 1. Informan Penelitian

D. Sumber Data

Adapun sumber data yang digunakan oleh peneliti ini yaitu data

primer dan sekunder (Sugiono, 2016).

1. Sumber Data Primer

Data primer yakni data empiris yang di peroleh dari informan

berdasarkan wawancara. Jenis data yang ingin di peroleh menyangkut

tentang Implementasi Sistem Pengelolaan Inventaris dan Penggunaan

Barang di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi

Barat.

2. Sumber Data Sekunder

Data sekunder data-data yang diperoleh dan dikumpulkan dari

sumber-sumber lainnya. Data tersebut antara lain dari dokumen,


41

laporan, artikel dan buku-buku referensi yang bersangkutan dengan

Implementasi Sistem Pengelolaan Inventaris dan Penggunaan Barang

di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat.

E. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara langsung melalui

metode atau langkah berikut :

1. Wawancara

Teknik yang digunakan dalam wawancara yaitu wawancara mendalam

yaitu riset atau penelitian yang dilakukan dengan percakapan antara dua

orang yang dimulai dengan tujuan khusus memperoleh keterangan yang

sesuai dengan masalah yang diteliti. Pengambilan data melalui wawancara

lisan langsung dengan informan penelitian di Kantor Biro Umum dan

Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat baik melalui tatap muka ataupun

lewat telepon. Jawaban responden dirangkum sendiri oleh peneliti.

Adapun jenis wawancara yang dilakukan adalah pertanyaaan

terstruktur dan tidak terstruktur. Peneliti akan melakukan wawacara dengan

informan kunci dengan pertanyaan yang telah dibuat sebelumnya dan

apabila tanggapan kurang jelas maka Peneliti mengajukan pertanyaan tidak

terstruktur kepada informan demi mendapatkan data yang jelas.

2. Observasi

Teknik ini dipakai untuk memperoleh fakta-fakta empirik yang terlihat

dan untuk mendapatkan dimensi-dimensi baru untuk pengertian pada


42

kenyataan yang diteliti yang terlihat di kancah penelitian. Fenomena atau

konteks tersebut terkait dengan fokus atau variabel yang mau diteliti.

3. Dokumentasi

Peneliti dapat memanfaatkan dokumen-dokumen tertulis, gambar

(foto) atau benda- benda lainnya pada kondisi lapangan. Hasil dokumentasi

ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan data sekunder atau mendukung

data primer hasil wawancara.

F. Teknik Analisi Data

Menurut Sugiono (2016), teknik analisis data yang dapat dilakukan adalah

sebagai berikut:

1. Reduksi Data, yaitu merujuk pada suatu proses memilih dan atau

mentransformasikan data yang mendekati keseluruhan bagian dari

catatan-catatan lapangan secara tertulis, transkip wawancara, dokumen-

dokumen dan materi empiris lainnya;

2. Penyajian Data, yaitu merupakan sebuah pengorganisasian, penyatuan

dari informasi yang memungkinkan pengumpulan dan aksi. Penyajian

data membantu dalam memahamui apa yang terjadi dan utnuk melakukan

sesuatu termasuk analisis yang lebih mendalam atau mengambil

berdasarkan pemahaman;

3. Kesimpulan, yaitu menarik permasalahan sehingga memungkinkan

verifikasi selama penelitian berlangsung. Kegiatan ini merupakan

Analisa yang sangat penting dengan menarik kesimpulan dan verifikasi.


43

Dari awal pengumpulan data seorang menganalisis kualitatif muali

mencari arti benda-benda, mencatat, konfigurasi yang mungkin, alur

sebab akibat dan proposisi.

G. Teknik Pengabsahan Data

Agar diperoleh temuan interpretasi dan keabsahan data maka perlu untuk

diadakan uji kredibilitas, ada beberapa teknik yang digunakan untuk menguji

kredibilitas menurut (Sugiono, 2016) yaitu:

1. Perpanjangan pengamatan yaitu melakukan pengamatan dan wawancara

lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru.

Perpanjangan pengamatan ini dilakukan dengan cara kembali ke lokasi

penelitian untuk mengamati lebih lanjut dengan mencari data dan

informasi yang masih dianggap kurang dalam menjawab pertanyaan dan

permasalahan penelitian.

2. Triangulasi, yaitu pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai

cara dan berbagai waktu. Proses triangulasi dilakukan dengan mencari

data atau informasi yang masih dianggap kurang dalam menjawab

pertanyaan dari permasalahan penelitian.

3. Mengadakan member cek. Proses pengecekan data yang diperoleh

Peneliti sehingga data dianggap valid karena ada kesepakatan oleh para

pemberi data. Proses ini dilakukan pula untuk mengecek kembali

keaslian informasi atau keterangan yang telah diberikan informan dan

juga melakukan pengecekan kembali ke lokasi penelitian tentang

kebenaran data sekunder yang diperoleh peneliti.


44

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Tempat Penelitian

1. Sejarah berdirinya Biro Umum dan Perlengkapan

Sekretariat Daerah Sulawesi Barat

Sejarah terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat sebagi Provinsi ke 33

sebelum Kalimantan Utara pada tahun 2004 Biro Umum dan Perlengkapan

sudah ada di Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Barat dibawah pimpinan

Absul Mannang, [Link]. dan digantikan Ahmad Appa pada tahun 2007,

setelah itu Biro Umum dan Perlengkapan berganti nama menjadi hanya Biro

Umum. Pada tahun 2014 berubah nama kembali menjadi Biro Umum dan

Perlengkapan dibawah pimpinan Safaruddin, [Link].,[Link]. Di Tahun 2018

setelah satu tahun pergantian Gubernur Sulawesi Barat Biro Umum dan

Perlengkapan kini bertambah namanya setelah Sub Bagiannya bertambah

dengan masuknya Sub Bagian Protokol masuk ke Biro Umum dan

Perlengkapan, berubah menjadi Biro Umum, Perlengkapan dan Protokol di

bawah pimpinan Syarifuddin dari tahun 2019 hingga sekarang.

2. Visi dan misi Biro Umum, Perlengkapan, dan Protokol


a. Visi
Terwujudnya Pelayanan Prima di bidang Administrasi keuangan

dan Penatausahaan, kerumahtanggaan serta penyediaan Sarana

dan Prasarana untuk menunjang Tugas Pokok Sekretariat

Daerah.

44
45

b. Misi

Berdasarkan visi tersebut maka dirumuskan misi Biro Umum

dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat sebagai berikut :

1) Mewujudkan Pelayanan Administrasi Keuangan yang cepat,

tertib dan akuntabel.

2) Mewujudkan Pelayanan Kebutuhan Sarana dan Prasarana

kerja Aparatur yang tertib dan cermat.

3. Struktur Organisasi

Biro Umum dan Perlengkapan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi

Barat dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Barat

Nomor 40 Tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekertariat

Daerah Provinsi Sulawesi Barat yang dapat diuraikan secara umum dibawah

ini :

a. Bagian Keuangan dan Tata Usaha, terdiri dari :

1). Sub Bagian Tata Usaha dan Administrasi Umum

2). Sub Bagian Keuangan

3). Sub Bagian Verifikasi, Pembukuan dan Pelaporan

b. Bagian Rumah Tangga, terdiri dari :

1). Sub Bagian Pelayanan Administrasi Pimpinan

2). Sub Bagian Rumah Tangga,Tamu Pimpinan dan Akomodasi

3). Sub Bagian Pemeliharaan Gedung, Kendaraan Dinas dan

Peralatan Lainnya.
46

c. Bagian Perlengkapan

1). Sub Bagian Analisis Kebutuhan dan administrasi Pengadaan

2). Sub Bagian Inventarisasi, Penyimpanan dan Distribusi

3). Sub Bagian Pemeliharaan Perlengkapan dan Peralatan.

Gambar 4.1. Struktur Organisasi


JUMLAH ASN BIRO UMUM
PERLENGKAPAN [Link]
DAN BIRO UMUM, PERLENGKAPAN DAN PROTOKOL SYARIFUDDIN, SE
PROTOKOL Pangkat : Pembina Tk I, IV/b
:73 ORANG Nip: 19621212 198303 1 038
JumlahGol IV : 3 Orang
JumlahGol III : 44
Orang JumlahGol II :

KEPALA BAGIAN KEPALA BAGIAN RUMAH TANGGA & PROTOKOL


KEPALAANSHAR
BAGIANMALLE,
PERLENGKAPAN
[Link], M. Si
TATA USAHA DAN KEUANGAN Pangkat :Pembina, IV/a Drs. MOH. SALEH R, [Link]
SYARIFUDDIN, SE Nip: 19740316 199603 1 004 Pangkat :Pembina Tk I, IV/b Nip :19720203 19
Pangkat : Pembina Tk I, IV/b Nip: 19621212 198303 1 038

KEPALA SUB BAGIAN TATA USAHA & KEPEGAWAIAN KEPALA SUB BAGIAN ANALISIS KEBUTUHAN & ADMINISTRASI PENGAD
ASLAM YANSYAH KUBRA, SIP, [Link]
ELMARHAMA MAHMUD, SE KEPALA SUBBAGIAN PROTOKOL
Pangkat :Penata, III/c Nip :19840226 200604 2 023H. SATRIAWAN HASAN SULUR, SE. MM Pangkat :Penata, III/c Nip :19850620 201001 1 011
Pangkat :Penata, III/c Nip: 19860103 201001 1 016

KEPALA SUB BAGIAN PERENCANAAN KEPALA


& PELAPORAN
SUB BAGIAN RUMAH TANGGA & PELAYANAN PIMPINAN
Hj. NILA AINUN, SE, MM ANDIKUSTIA HATTA, SH. MH KEPALA SUB BAGIAN INVENTARIS, PENYIMPANAN
Pangkat :Penata Tk.I, III/d Nip :19770203 200604
Pangkat
2 025
:Penata, III/c Nip : 19850701 200903 2 017MUH. RIZKIADY M, [Link], [Link]
Pangkat :Penata, III/c Nip : 19901015 201010

KEPALA SUB
KEPALA SUB BAGIAN PEMELIHARAAN GEDUNG BAGIAN PEMELIHARAAN
& KENDARAAN PERLENGKAPAN & PERALATAN A. ANDIK
DINAS HADIRAH
Pangkat :PenataTk.I,III/d Pangkat :PenataMuda, Tk. I, III/b
KEPALA SUB BAGIAN KEUANGAN
NURLAELA, [Link], [Link] Nip : 19641231 198803 2 192 Nip : 19850226 201001 1 028
Pangkat :Penata, III/c Nip :19920219 201206 2 002

Sumber : Kantor Biro Umum dan Perlengkapan


47

4. Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Sekertariat Daerah Provinsi

Sulawesi Barat

Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Barat Nomor 40

Tahun 2017 tentang Rincian Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja

Sekertariat Daerah Provinsi Sulawesi Barat, masing-masing bagian

memiliki tugas pokok, fungsi dan uraian tugas yang dapat diuraikan sebagai

berikut :

a. Bagian Keuangan dan Tata Usaha

1. Bagian Keuangan dan Tata Usaha sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 69 huruf a, mempunyai tugas menyiapkan koordinasi

pembinaan dan petunjuk pelaksanaan pengelolaan keuangan

biro umum, kepala daerah/wakil kepala daerah, belanja pegawai

di lingkungan Sekretariat Daerah, pengkajian bahan kebijakan

umum dan koordinasi, fasilitasi, pemantauan serta evaluasi tata

usaha dan administrasi umum, verifikasi, pembukuan dan

pelaporan serta keuangan.

2. Bagian Keuangan dan Tata Usaha dalam melaksanakan tugas

sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menyelenggarakan fungsi:

a). Pengkajian bahan kebijakan umum, pelaksanaan koordinasi

dan fasilitasi, serta pemantauan dan evaluasi dibidang tata

usaha dan administrasi umum, verifikasi, pembukuan dan

pelaporan serta keuangan;


48

b). Pengkajian dan perhitungan APBD lingkup sekretariat

daerah;

c). Pengujian/ pengesahan SPJ lingkup sekretariat daerah;

d). Pelaksanaan penatausahaan administrasi kepegawaian dan

keuangan;

e). Pelaksanaan pengelolaan dan penyelesaian gaji, pensiun,

upah dan tunjangan serta tambahan penghasilan pimpinan

dan staf ahli;

f). Pelaksanaan pengelolaan dan penyelesaian gaji, pensiun,

upah dan tunjangan serta tambahan penghasilan pegawai

lingkup Sekretariat Daerah;

g). Pemantauan terhadap penghimpunan data realisasi atas

pelaksanaan dana desentralisasi (APBD) lingkup sekretariat

daerah provinsi secara bulanan menyampaikan kepada

BPKAD sebagai bahan perhitungan APBD; dan

h). Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.

b. Bagian Rumah Tangga

1. Bagian Rumah Tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal

69 huruf b, mempunyai tugas menyiapkan koordinasi dan

petunjuk pelaksanaan urusan rumah tangga, pengelolaan

kendaraan dinas dan pemeliharaan gedung dan taman.


49

2. Bagian Rumah Tangga dalam melaksanakan tugas

sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menyelenggarakan

fungsi :

a). Pengkajian bahan kebijakan, koordinasi dan fasilitasi serta

pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan pelayanan

administrasi pimpinan, rumah tangga pimpinan, tamu

pimpinan, akomodasi pimpinan, pemeliharaan gedung,

kendaraan dinas dan peralatan lainnya;

b). Pelaksanaan penyusunan bahan kebijakan umum dan

program kerja bagian rumah tangga;

c). Pelaksanaan pengumpulan bahan dalam rangka

pengurusan dan pelayanan rumah tangga pimpinan;

d). Pelaksanaan penyiapan tempat ruangan, akomodasi serta

konsumsi untuk rapat acara kenegaraan dan pelantikan;

e). Pelaksanaan pengurusan rumah tangga Gubernur, Wakil

Gubernur dan Sekretaris Daerah;

f). Pengumpulan bahan untuk pelayanan administrasi

pimpinan dan staf ahli gubernur;

g). Penyiapan bahan administrasi perjalanan dinas pimpinan

dan staf ahli gubernur;

h). Penyiapan pengelolaan kendaraan dinas roda empat di

lingkungan Sekretariat Daerah;


50

i). Pelaksanaan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan

pengambilan kebijakan;

j). Pelaksanaan koordinasi dengan unit kerja terkait; dan

k). Penyelenggaraan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.

c. Bagian Perlengkapan

1. Bagian Perlengkapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69

huruf c, mempunyai tugas menyiapkan koordinasi dan

petunjuk pelaksanaan urusan dibidang analisis kebutuhan,

pengadaan dan inventarisasi, penyimpanan serta

pendistribusian.

2. Bagian Perlengkapan dalam melaksanakan tugas

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyelenggarakan

fungsi :

a). Pengkajian bahan kebijakan umum analisis

kebutuhan; b). Koordinasi dan fasilitasi pengadaan

barang dan jasa;

c). Fasilitasi pengadaan kendaraan dinas roda empat lingkup

sekretariat daerah yang penganggarannya berada pada

masing-masing biro;

d). Pelaksanaan monitoring dan evaluasi inventarisasi,

penyimpanan dan pendistribusian barang;

e).Pelaksanaan penyusunan program kerja bagian

perlengkapan;
51

f). Perumusan kebijakan perencanaan dan pola kerja pada

bagian Perlengkapan;

g). Perumusan perencanaan kebutuhan barang dan jasa

Lingkup sekretariat daerah;

h). Analisis prioritas rencana dan pengawasan kegiatan

pengadaan barang dan jasa;

i). Koordinasi, monitoring dan evaluasi pada kegiatan

pendataan, pemanfaatan, penyimpanan dan pendistribusian

barang lingkup biro umum dan perlengkapan;

j). Pelaksanaan evaluasi dan pembinaan terhadap aktivitas

pengelolaan tugas pokok dan fungsi serta kegiatan bagian

perlengkapan;

k). Koordinasi dengan unit kerja terkait; dan

l). Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.

Saat ini Biro Umum dan Perlengkapan mempunyai objek-objek atau

titik kerja yang di tertibkan melalui surat keputusan yang ditandatangani

oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat sebanyak dua puluh delapan

titik antara lain adalah dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2. 28 Titik Bagian Kerja Biro Umum dan Perlengkapan

1. Ruang Kerja Asisten Tata 12. Ruang loby lt. 1 gedung Kantor Utama
Praja & Lapangan Upacara
2. Ruang Kerja Asisten 13. Ruang Loby lt.2 Gedung Kantor Utama
Pembangunan & Ruang Meeting depan
3. Ruang Kerja Asisten 14. Ruang Loby lt. 3 Gedung Kantor
Administrasi Pembangunan Utama & Ruang Meeting depan
4. Ruang Kerja Staff Ahli 15. Ruang loby lt.4 Gedung Kantor Utama
52

Gubernur Ruang Meeting, & Auditorium


b. Ruang Kerja Staf Khusus 16. Ruang Meeting Marasa corner
Gubernur
c. Ruang kerja Serbaguna lt. 3 17. Ruang Meeting Oval Gubernur
d. Ruang Kerja Biro Umum, 18. Gedung Masjid Pemprov
Perlengkapan,dan Protokol
e. Ruang Kerja Bagian TU dan 19. Gedung VIP Bandara Tampa Padang
keuangan
f. Ruang Kerja Bagian Rumah 20. Gedung Gudang Penyimpanan Barang
Tangga
g. Ruang Kerja Bagian 21. Gedung Hanggar Penyimpanan Barang
Perlengkapan
h. Ruang Kerja Bendahara Biro 22. Gedung Serbaguna Rumah Jabatan
Umum, dan Perlengkapan Gubernur
Sumber : Kantor Biro Umum dan perlengkapan

5. Data Pegawai Kantor

Berdasarkan data secara keseluruhan jumlah personil di lingkungan

Biro Umum dan Perlengkapan Sekertariat Daerah Provinsi Sulawesi Barat

Tahun 2020 berdasarkan jenis kelamin, tingkat pendidikan, pangkat

golongan.

a. Jenis Kelamin

Berikut ini data pegawai berdasarkan jenis kelamin di Kantor

Biro Umum dan Perlengkapan Sekertariat Daerah Provinsi Sulawesi

Barat dapat dilihat pada tabel 2:

Tabel 3. Data Pegawai Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis kelamin
No Jumlah
Laki-laki Perempuan

1. 52 Orang 21 Orang 73

Sumber Kantor Biro Umum dan perlengkapan Tahun 2020


53

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pegawai di Kantor

Biro Umum dan Perlengkapan Sekertariat Daerah Provinsi Sulawesi Barat

yang berkelamin laki-laki sebanyak 52 orang dan pegawai yang berkelamin

perempuan sebanyak 21 orang. Pegawai di Kantor Biro Umum dan

Perlengkapan Sekertariat Daerah Provinsi Sulawesi Barat dapat disimpulkan

mayoritas berkelamin laki-laki.

b. Status, Pangkat dan Golongan

Secara lengkap gambaran tentang kepegawaian dilingkungan Biro

Umum dan Perlengkapan menurut Status Pangkat dan golongan adalah

sebagaimana ditunjukkan pada tabel sebagai berikut :

Tabel 4. Data Pegawai Berdasarkan Status, Pangkat dan Golongan

No Status Kepegawaian Gol Jumlah


1. Pembina Tk.I IV/b 2

2. Pembina IV/a 1
3. Penata Tk.I III/d 2
4. Penata III/c 12
5. Penata Muda Tk.I III/b 12
6. Penata Muda III/a 18
7. Pengatur Tk.I II/d 3
8. Pengatur II/c 11
9. Pengatur Muda Tk.I II/b 7
10. Pengatur Muda II/a 5
Jumlah 73
Sumber Kantor Biro Umum dan Perlengkapan
54

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pegawai di Kantor

Biro Umum dan Perlengkapan Sekretariat Daerah terdiri dari 73 personil

yang terinci dalam golongan kepangkatan Pembina Tk 1; IV/b ada 2 orang,

Pembina; IV/a ada 1 orang, Penata Tk.I; III/d ada 2 orang, Penata; III/c ada

12 orang, Penata Muda Tingkat I; III/b ada 12 orang, Penata Muda; III/a ada

18 orang, Pengatur Tk 1; II/d ada 3 orang, Pengatur II/c, ada 11 orang,

Pengatur muda Tk 1; II/b ada 7 orang, Pengatur muda II/a ada 5 Orang.

Pegawai di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Sekretariat Daerah dapat

disimpulkan sebagian besar memiliki golongan Penata Muda; III/a.

c. Tingkat Pendidikan

Gambaran secara lengkap tentang pegawai di lingkungan Biro Umum

dan Perlengkapan Sekretariat Daerah menurut latar belakang pendidikan

yang ditamatkan adalah sebagaimana ditunjukkan tabel berikut.

Tabel 5. Data Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan


No.
Tingkat Pendidikan Jumlah
1 Strata Dua (S2)
9 Orang
2. Strata Satu (S1)
31 Orang
3. Diploma Tiga (D3)
6 Orang
4. SMA/SMK
23 Orang
5. SMP/Sederajat
4 Orang

Jumlah 73 Orang
Sumber kantor Biro Umum dan perlengkapan
55

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa data mengenai

pegawai kantor Biro Umum dan Perlengkapan Sekretariat Daerah yang

berpendidikan S2 sebanyak 9 orang, S1 sebanyak 31 orang, D3 sebanyak 6

orang, SMA/SMK sebanyak 23 orang, dan SMP/Sederajat sebanyak 4

orang. Pegawai di kantor Biro Umum dan Perlengkapan Sekretariat Daerah

dapat disimpulkan mayoritas berpendidikan S1.

B. Hasil Penelitian

1. Komunikasi

Komunikasi pada kebijakan pengelolaan barang milik daerah ini

dilakukaN Pemeriksa Barang, Pengguna Barang dan Pengurus Barang

sebagai pelaksana kebijakan bisa saling bekerja sama untuk mencapai

keberhasilan implementasi kebijakan. Komunikasi yang dilakukan

dalam kebijakan pengelolaan BMD ini cukup banyak yaitu

komunikasi oleh Pengguna Barang, Pengurus Barang yang Berkaitan

dengan masalah BMD sebelum diterapkannya kebijakan ini, Bapak

Rizkiady selaku Kasubbagian Inventarisasi, penyimpnanan dan

pendistribusian beliau menjelaskan bahwa

“Merujuk pada PERMENDAGRI Bab XIII Nomor 17 Tahun


2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik
Daerah bahwa Pengelolaan adalah serangkaian kegiatan yang
meliputi pembukuan, inventarisasi dan pelaporan barang milik
daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sosialisasi
tentang pengelolaan barang milik daerah itu memang sudah
kami laksanakan, tetapi benar kita belum melaksanakannya
khususnya sampai ketingkat bawah”.
56

Menurut penjelasan informan, bahwa Sosialisasi tentang

pengelolaan barang milik daerah jarang sekali dilaksanakan pada

kegiatan resmi kepada pegawai yang ada di Kantor Biro Umum dan

Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat. Sosialisasi yang dibangun

hanya sebatas penyampaian pada rapat internal SKPD, Sehingga apa

yang menjadi tuntutan dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor

17 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik

Daerah, yang mengatur tentang regulasi atau kebijakan terhadap

Pengelolaan Barang Milik Daerah tidak dapat tercapai.

Pernyataan senada datang dari Ibu Elmarhama sebagai Kasubag

Tata Usaha dan Kepegawaian di Kantor Biro Umum dan

Perlengkapan provinsi Sulawesi Barat menjelaskan, bahwa:

“Dalam Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2010 tentang


Pengelolaan Barang Milik Daerah dalam melakukan
Pengelolaan Barang milik daerah memang belum efektif. Kami
belum melakukan sosialisasi secara intensif berupa kegiatan
UPTD terkait mengenai pengelolaan barang milik daerah. Kami
selaku pengelola barang milik daerah yang memang melekat
pada tugas pokok dan fungsi saya sebagai Kepala Sub Bagian
Tata Usaha dan Kepegawaian, menyampaikan persoalan
masalah pengelolaan barang milik daerah kepada unit terkecil
hanya pada pertemuan informal saja.”

Penjelasan tentang sosialisasi pengelolaan barang milik daerah

secara resmi dalam bentuk kegiatan jarang sekali dilaksanakan, hal ini

memberikan gambaran bahwa lemahnya sistem pengelolaan barang

milik daerah sehingga mengakibatkan data di Kantor Biro Umum dan

Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat secara keseluruhan menjadi

tidak akurat. Penyampaian agar pengelolaan barang milik daerah


57

dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku hanya pada

sebatas pertemuan tidak resmi sehingga apa yang menjadi kelemahan

dari UPTD tidak dapat diketahui secara pasti. Komunikasi akan

berjalan efektif apabila ukuran-ukuran dan tujuan-tujuan kebijakan

yang dipahami oleh individuindividu yang bertanggung jawab dalam

pencapaian tujuan kebijakan.

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Bapak Syarifuddin

selaku Kepala Bagian Tata Usaha dan Keuangan menjelaskan bahwa :

“Di Kantor ini merupakan salah satu SKPD yang memiliki aset
yang cukup besar dengan jumlah wilayah yang cukup luas.
Banyaknya unit-unit UPTD di 28 titik tidak memungkinkan
untuk dilaksanakan sosialisasi pengelolaan barang milik daerah
dengan padatnya kegiatan. Bentuk komunikasi yang terjadi
selama ini antara kami selaku pengurus barang yang diwakili,
sehingga kadang apa yang kami sampaikan tidak dilanjutkan
atau disampaikan ke yang bertanggung jawab atas barang
tersebut.”

Pernyataan informan tersebut terlihat bahwa komunikasi yang

dibangun hanya sebatas penyampaian lisan saja. Komunikasi adalah

hal yang menentukan antar organisasi, individu, kelompok didalam

pelaksanaan suatu kegiatan. Kebijakan pengelolaan barang milik

daerah bertujuan agar apa yang menjadi pedoman akan dipahami oleh

setiap individu yang bertanggung jawab terhadap kinerja kebijakan

sehingga mencapai tujuan yang diinginkan yaitu barang milik daerah

yang dikelola secara tertib sehingga dapat menghasilkan data aset

yang akurat.
58

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa memang tanpa

komunikasi yang baik dalam sebuah kebijakan akan membuat kualitas

kebijakan tersebut menjadi kurang baik, dimana komunikasi sangat

dibutuhkan untuk menyebarkan informasi penting tentang pelaksanaan

kebijakan. Pernyataan dari Informan Staf bagian Inventarisasi,

Penyimpanan dan pendistribusian Bapak Ismail Efendi, SE.

menjelaskan bahwa:

“Hingga saat ini di kantor Biro Umum dan Perlengkapan kurang


mensosialisasikan pengelolaan barang milik daerah kepada
pegawai yang ada sehingga kami mereka minim pemahaman
tentang pentingnya proses pengelolaan barang milik daerah dan
prosedur pengelolaan aset sebagaimana yang telah diatur sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. Bentuk komunikasi yang
dilakukan sebatas informasi yang diberikan kepada para Kepala
departemen atau bagian yang kadang kami kurang pahami
maksud, tujuan serta bagaimana mengaplikasikan pengelolaan
tersebut sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Kami berharap tindakan adanya kegiatan yang intens
dilaksanakan agar pengelola barang yang ada memahami tugas
mereka sehingga apa yang menjadi tuntutan dalam pengelolaan
barang milik daerah dapat tercapai dan di implemetasikan dalam
bentuk nyata.”

Penjelasan dari Informan tersebut menggambarkan bahwa

komunikasi yang dibangun hanya sebatas penyampaian lisan yang

dilakukan pada kegiatan tidak resmi. Diperlukan adanya sosialisasi

atau paling tidak komunikasi antara Pejabat yang pengelola barang

milik daerah dengan pengurus barang yang ada. Mengkomunikasikan

tujuan organisasi secara baik dan benar akan mempercepat dan

mempermudah pencapaian tujuan secara optimal. Pernyataan


59

disampaikan oleh informan lainnya yaitu Ibu Intan selaku Staf bagian

Inventarisasi, Penyimpanan dan pendistribusian, menyatakan bahwa:

“Mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 17 Tahun


2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik
Daerah, jelas bahwa Pentingnya pengelolaan barang milik
daerah, Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagai unit
pengguna barang milik daerah bertugas dan bertanggungjawab
atas perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan,
penggunaan, penatausahaan, pemeliharaan/ perbaikan,
pengamanan dan pengawasan barang dalam lingkungan
wewenangnya. Komunikasi yang dibangun dalam hal
pengelolaan barang milik daerah itu hanya sebatas informasi
saja, sehingga informasi yang disampaikan tidak dapat
ditindaklanjuti oleh UPTD. Hal ini mengakibatkan data asset
yang ada tidak valid dan akan mempengaruhi neraca asset di
Kantor Biro Umum dan Perlengkapan.”

Pelaksanaan suatu kebijakan khususnya pengelolaan barang

milik daerah di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan perlu diperjelas

ukuran dasar dan tujuan kebijakan. Ketepatan komunikasi dengan para

pelaksana dan konsistensi atau keseragaman dari ukuran dasar dan

tujuan yang dikomunikasikan dengan menggunakan sumber

informasi. Hal penting lainnya yaitu dalam merumuskan pesan-pesan

kebawah bagi komunikator dalam menyampaikan informasi harus

jelas.

Upaya untuk mendukung pengelolaan barang/aset daerah secara

efisien dan efektif serta menciptakan transparansi kebijakan

pengelolaan barang/aset daerah, maka diharapkan pemerintah daerah

perlu memanfaatkan secara efektif sistem informasi manajemen yang

konfrehensif dan handal sebagai alat untuk pengambilan keputusan.

Sistem informasi manajemen barang/asset daerah juga berisi data base


60

barang/aset yang dimiliki oleh Kantor Biro Umum dan Perlengkapan.

Sistem tersebut bermanfaat untuk menghasilkan laporan pertanggung

jawaban. Selain itu sistem informasi tersebut juga bermanfaat untuk

dasar pengambilan keputusan mengenai kebutuhan pengadaan barang

dan estimasi kebutuhan belanja modal dalam penyusunan APBD.

2. Sumber Daya

Faktor sumber daya manusia mempunyai peranan penting dalam

implementasi kebijakan penatausahaan barang milik daerah, karena

bagaimanapun jelas dan konsistensinya ketentuan-ketentuan atau

aturan-aturan suatu kebijakan, jika para personil yang bertanggung

jawab mengimplementasikan kebijakan kurang mempunyai sumber-

sumber untuk melakukan pekerjaan secara efektif, maka implementasi

kebijakan tersebut tidak akan bisa efektif. Keberhasilan implementasi

kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumber

daya yang tersedia. Manusia merupakan sumber daya yang terpenting

dalam menentukan keberhasilan suatu implementasi kebijakan. Dapat

di lihat pada penjelasan informan berikut ini: Menurut Bapak

Syarifuddin selaku Kepala Bagian Tata Usaha dan keuangan sebagai

berikut:

“Kami mengakui bahwa di Kantor Biro Umum dan


Perlengkapan pengurusan dan penyimpan barang dilaksanakan
oleh satu orang yang seharusnya dua orang dan belum ada
pegawai yang di SK kan yang bertugas secara khusus
bertanggung jawab menangani masalah pengelolaan barang
milik daerah, sehingga secara keseluruhan banyak aset di kantor
Biro Umum dan Perlengkapan yang belum tercatat dan
61

dilaporkan, akibatnya mempengaruhi nilai aset secara


keseluruhan. Faktor sumber daya manusia memang menjadi
kendala utama menyangkut pengelolaan barang milik daerah
pada UPTD. Rendahnya pelatihan manejemen pengelola serta
kurangnya pemahaman tentang sistem berbasis akuntansi yang
kurang dimiliki oleh aparat pengelola. Menyangkut masalah soal
anggaran yang tersedia dalam hal biaya pengelola barang milik
daerah untuk pengurus di UPTD hal ini memang belum
dianggarkan di DPA Kantor Biro Umum selama ini, namun
akan kami upayakan di anggaran berikutnya.”

Pernyataan Kepala bagian Tata Usaha dan Keuangan di

atas,sangat menitikberatkan pada faktor sumber daya manusia dan

ketersediaan anggaran. Sumber-sumber penting dalam pengelolaan

barang milik daerah yang dimaksud mencakup pengelola mempunyai

keahlian dan kemampuan untuk bisa melakukan tugas mengelola

barang milik daerah, ketepatan atau kelayakan antara jumlah staf yang

dibutuhkan dan keahlian yang harus dimiliki dengan tugas yang akan

dikerjakan serta sumber dana untuk membiayai operasionalisasi

pengelolaan barang milik daerah, Kurang cukupnya sumber-sumber

ini, berarti pengelolaan barang milik daerah tidak akan dapat

dilaksanakan secara maksimal. Senada dengan pernyataan informan

dari Ibu Elmarhama Kasubagian Tata Usaha dan Kepegawaian,

menjelaskan bahwa:

“Memang benar bahwa dalam pengelolaan barang milik daerah


dari proses pembukan, inventarisasi dan pelaporan barang milik
daerah, kita membutuhkan sumber daya manusia yang
berkualitas dari segi pendidikan, keterampilan dan integritas,
agar proses pelaporan barang milik daerah yang berada di bawah
penguasaan pengguna barang/kuasa itu terkendali. Pengguna
barang yang dibeli/diperoleh dari dana APBD dan non APBD
misalnya barang hibah, hasil sitaan, dan lain-lain bisa tepat
waktu, tepat sasaran dan sesuai prosedur ketentuan yang
62

berlaku. Aparat pengelola yang ada di UPTD belum memahami


tugas selaku kuasa pengguna barang milik daerah yang ada
dilingkup wilayahnya, sehingga akan berdampak pada neraca
yang ada pada Kantor Biro Umum dan Perlengkapan. Faktor
anggaran utamanya untuk biaya pengelola yang tidak tersedia
bisa jadi penyebab tidak adanya keinginan para pegawai untuk
melaksanakan tugas tersebut.”

Di perkuat dengan Informan lainnya, Bapak Rizkiady

kasubbagian Inventarisasi, Penyimpanan, dan Distribusi , menyatakan

bahwa:

“Pengelolaan barang milik daerah pada Kantor Biro Umum dan


Perlengkapan sebenarnya belum optimal. Faktor Sumber daya
pengelola menjadi hambatan utama karena pengurus dan
penyimpan barang dilaksanakan hanya dilakukan sedikit orang
dan belum ada pegawai yang bertugas khusus untuk mengelola
barang milik daerah yang ada di UPTD, sehingga banyak aset
yang tidak tercatat dan belum dilaporkan. Sehingga bisa
memepengaruhi nilai aset di Kantor Biro Umum dan
Perlengkapan secara khusus dan nilai aset Pemerintah Daerah
secara keseluruhan.”

Informasi tersebut dapat disimpulkan bahwa sumber daya

manusia yang ada di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan belum

dapat mendukung pengelolaan barang milik daerah secara maksimal

karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki baik dari segi

kuantitas maupun kualitas.

3. Disposisi

Implementasi kebijakan pengelolaan barang milik daerah pada

Kantor Biro Umum dan Perlengkapan, dan beberapa bidang yang ada

di bawahnya tentunya selaku Kepala Bagian yang bertanggung jawab

sebagai pengguna barang/aset milik Pemerintah Daerah yang ada


63

dalam kewenangannya. Dalam hal sikap pelaksana, para informan

mempunyai tanggapan yang berbeda. Lebih lanjut Untuk mengetahui

bagaimana tanggung jawab Kepala Bagian dan aparat yang ada di

bawahnya dapat di maknai dari seorang informan atas nama, bapak

Syarifuddin Kepala Bagian Tata Usaha dan Keuangan, menyatakan

bahwa :

“Sebagai pengguna barang sekaligus kepala bagian Tata Usaha


harus bertanggung jawab terhadap penggunaan barang/aset
daerah yang ada di lingkungan saya dan saya mengetahui bahwa
pegawai yang mengelola aset di UPTD kurang memiliki
tanggungjawab terhadap tugas dan fungsinya. Data yang
berbeda antara data dari Dinas dengan data yang ada di UPTD
menyangkut masalah aset itu akan kami perbaiki dan saya
sebagai pengguna barang akan mencari dimana letak kesalahan
itu dan saya berharap ditahun berikutnya tidak ada lagi
perbedaan tersebut.”

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa UPTD Kantor Biro

Umum dan Perlengkapan masih kurang bertanggungjawab penuh

terhadap tugas dan kewenangan yang berkaitan dengan pengelolaan

barang milik daerah sementara pegawai yang diberikan tanggung

jawab dalam pengelolaan barang/aset sangat penting karena

menyangkut pembagian tugas yang menangani pengelolaan

barang/aset pada Kantor Biro Umum dan Perlengkapan. Ini di perkuat

dengan beberapa informan sebagai berikut. Pernyataan dari informan,

Ibu Intan Staf bagian Inventarisasi, Penyimpanan dan pendistribusian

menyatakan bahwa :

“Secara keseluruhan di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan


sebagian pegawai belum sepenuhnya bertanggung jawab
terhadap penggunaan barang/aset daerah, dalam artian
64

pengelolaannya belum bisa berjalan sebagaimana mestinya.


Kami menginginkan adanya upaya perbaikan di tahun
mendatang, agar apa yang menjadi tujuan itu bisa tercapai.”

Bapak Rizkiady sebagai Kasubbagian Inventarisasi,

Penyimpanan, dan Pelaporan menyatakan bahwa:

“Memang benar bahwa sebagian besar UPTD Kantor Biro


Umum dan perlengkapan yang ada yang diberikan
tanggungjawab untuk mencatat, menginventarisasi dan
melaporkan data aset masih belum sepenuhnya dilaksanakan
sesuai dengan peraturan yang berlaku.”

Penyampaian dari Ibu Elmarhama Elmarhama Kasubagian Tata

Usaha dan Kepegawaian, menyatakan bahwa:

“Sikap para pengelola barang milik daerah pada Kantor Biro


Umum dan Perlengkapan utamanya pada Unit Pelaksana Teknis
Daerah belum memiliki tanggungjawab sepenuhnya. Sebagai
kuasa pengguna barang sudah menjadi kewajiban untuk
menyampaikan laporan barang semesteran, tahunan dan bahkan
lima tahunan, sehingga apa yang menjadi ketentuan dalam
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2007 tentang
Pedoman teknis pengelolaan barang milik daerah dapat
tercapai.”

Dari hasil wawancara terhadap informan tergambar sikap

implementor terhadap kebijakan pengelolaan barang/asset daerah,

dimana setiap UPTD di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan, belum

memiliki tanggung jawab sepenuhnya terhadap kebijakan pengelolaan

barang/aset dan daerah dimana setiap Unit Pelaksana Teknis Daerah

(UPTD) Kantor Biro Umum dan Perlengkapan adalah merupakan

kuasa pengguna barang yang berkewajiban menyampaikan laporan

barang semesteran, tahunan dan lima tahunan kepada pengguna

barang yaitu Kepala Bagian Tata Usaha:


65

a. Setiap Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang ada

dilingkungan Kantor Biro Umum dan Perlengkapan harus

bekerja lebih maksimal didalam pelaksanaan kebijakan

pengelolaan barang/aset daerah.

b. Adanya dukungan implementor tehadap pelaksanaan kebijakan

pengelolaan barang/aset daerah, pencapaian tujuan dari sasaran

kebijakan akan tercapai dengan baik.

4. Struktur Birokrasi

Struktur birokrasi mempunyai pengaruh yang sangat siknifikan

terhadap pelaksanaan kebijakan. Salah satu aspek Struktural yang

paling dasar dari suatu birokrasi adalah prosedur kerja ukuran

dasarnya Standard Operating Procedurs (SOP). SOP sangat

bermanfaat untuk menanggulangi keadaan umum dalam birokrasi

publik. SOP yang digunakan sangat membantu para pelaksana dalam

memanfaatkan waktu yang telah tersedia dan SOP juga bermanfaat

untuk menyeragamkan langkah atau tindakan dari setiap unit kerja.

Bilamana SOP ini dilaksanakan secara efektif di Kantor Biro Umum

dan Perlengkapan dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) maka

pelaksanaan kebijakan penatausahaan barang/aset daerah berjalan

secara maksimal. Mengetahui kondisi tersebut tentunya di dasari fakta

yang ada dilapangan yakni jawaban dari informan sebagai fakta untuk
66

membuktikan sejauhmana struktur birokrasi mempunyai pengaruh

terhadap pelaksanaan kebijakan.

Pernyataan dari seorang informan atas nama, Bapak Ismail

Efendi selaku staf bagian inventarisasi, penyimpanan, dan

pendistribusian menyatakan bahwa :

“Struktur Birokrasi sangat bermanfaat dalam pelaksanaan


kebijakan pengelolaan barang/aset daerah dilingkungan Kantor
Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat di mana
SOP itu dapat dijadikan sebagai dasar dalam melaksanakan
tugas dan perannya dalam pengelolaan barang sehingga
administrasi barang dapat dikelola secara tertib sesuai dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2007 tentang
Pedoman teknis pengelolaan barang milik daerah.”

Informasi tersebut dapat dijelaskan bahwa penggunaan Standar

Operasional Pekerjaan belum berjalan dengan baik, dimana SOP itu

belum dijadikan sebagai dasar dalam melaksanakan tugas dan

perannya dalam pengelolaan barang sehingga adminstrasi barang

dapat dikelola secara tertib sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam

Negeri Nomor 17 tahun 2007 tentang Pedoman teknis pengelolaan

barang milik daerah.

C. Pembahasan

1. Komunikasi

Model implementasi kebijakan Edward III ini adalah model Top

Down, yang berarti dalam dimensi komunikasi fokus utama yang

dimaksud adalah transmisi, kejelasan dan konsistensi. Dalam rangka

menyamakan persepsi dan langkah secara integral dari semua unit


67

kerja di kantor Biro Umum dan Perlengkapan dalam implementasi

kebjakan pengelolaan Barang Milik Negara, serta untuk meningkatkan

pemahaman, pengetahuan, kemampuan dan keterampilan khususnya

bagi pelaksana barang yang menangani Barang Milik Negara, oleh

karena itu perlu diciptakan komunikasi kebijakan baik. Pertemuan-

pertemuan rutin seperti rapat koordinasi antara pengelola BMN

dengan para pejabat pengguna Barang Milik Negara yang ada di

Kantor biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat sudah

dilakukan baik dalam acara formal maupun informal. Pengguna

Barang Milik Negara dan Pelaksana Barang Milik Negara sudah

sering melakukan komunikasi yang terimplimentasi dalam sebuah

rapat, bahkan setiap kali ada rapat selalu disampaikan dalam forum

tersebut seluruh kendala yang terjadi dalam pelaksanaan pengelolaan

Aset dan Barang Milik Negara khususnya yang diakibatkan karena

belum terciptanya komunikasi yang baik.

Masalah utama dalam penerapan komunikasi yang dilaksanakan

oleh Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara

adalah belum terjadinya komunikasi dan koordinasi yang baik antara

Pengelola aset dan Barang Milik Negara dengan Pengguna Barang

Milik Negara terkait sering dipindah-pindahkan barang/ asset oleh

pengguna Barang Milik Negara. Yang mana seharusnya terlebih

dahulu dilaksanakan pelaporan dan koordinasi terkait rencana


68

perpindahan Barang Milik Negara sebelum dilaksanakannnya

pemindahan Barang Milik Negara tersebut.

Saat ini, Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik

Negara selaku pelaksana aktif dalam pengelolaan aset dan Barang

Milik Negara di Kantor biro Umum dan Perlengkapan terus menerus

melakukan komunikasi koordinasi dan kerjasama antar bagian dan

antara semua unsur pengelolaan Barang Milik Negara, demi

terwujudnya sebuah pengelolaan Barang Milik Negara yang tertib

administrasi, transparansi dan dapat dipertanggungjawabkan. Meski

hal tersebut tidak mudah, namun Bagian Perlengkapan dan

Pengelolaan Barang Milik Negara terus berkomitmen untuk

mewujudkan komunikasi yang baik tersebut dengan berbagai upaya.

2. Sumber Daya

Menurut Edward III dalam (Widodo, 2011) sumberdaya

merupakan hal penting dalam implementasi kebijakan yang baik.

Indikator-indikator yang digunakan untuk melihat sejauhmana

sumberdaya mempengaruhi implementasi kebijakan, yang terdiri dari:

a. Staf.

b. Informasi.

c. Wewenang.

d. Fasilitas.

Sumberdaya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan

dalam penentuan keberhasilan dan sebuah proses pada pelaksanaan


69

pengelolaan Barang Milik Negara. Begitu juga yang dialami Bagian

Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara saatt ini, yang

mana faktor sumber daya manusialah yang menjadi permasalahan

pokok dalam implementasi kebijakan pengelolaan aset dan Barang

Milik Neagara di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan, maka dari itu

faktor sumber daya ini harus mendapat prioritas lebih supaya kinerja

Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara bisa

menjadi lebih optimal. Dari hasil wawancara yang dilaksanakan oleh

penulis terhadap pelaksana pada Subbagian Pengelolaan Barang Milik

Negara khususnya bagian inventarisasi di dapati informasi bahwa

Sumber daya aparatur yang dimiliki oleh Bagian Perlengkapan dan

Pengelolaan Barang Milik Negara sekarang memang dirasa masih

kurang memenuhi harapan dan ekspektasi institusi. Dikarenakan

dalam implementasi kebijakan pengelolaan aset dan Barang Milik

Negara yang berjumlah sangat banyak di Kantor Biro Umum dan

Perlengkapan tentunya tidak dapat dilakukan oleh sedikit orang, akan

tetapi harus banyak atau cukup orang yang melaksanakan pengelolaan

aset dan Barang Milik Negara itu sendiri.

Fakta yang ditemukan penulis adalah Jumlah sumber daya

aparatur sekarang jika dibandingkan dengan jumlah aset dan jumlah

tugas yang dimiliki oleh Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan

Barang Milik Negara sekarang tentunya masih belum ideal, maka dari

itu perlu dilaksanakan penambahan dan perekrutan aparatur baru


70

untuk menunjang dan mendukung keberhasilan proses Pengelolaan

asset dan Barang Milik Negara di Kantor Biro umum dan

Perlengkapan. Selain Sumber Daya Aparatur, Sumber daya

Infrastruktur sebagai Penunjang keberhasilan pelaksanaan pengelolaan

aset dan BMN di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan juga harus

dipenuhi dan mendapatkan perhatian lebih. Infrastruktur pada Bagian

Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara masih tergolong

baik dan mengikuti perkembangan zaman.

3. Disposisi

Disposisi atau biasa dikenal dengan sikap pelaksana merupakan

hal yang mutlak harus ditumbuhkan pada pribadi masing-masing

pengelola asset dan Barang Milik Negara di Kantor Biro Umum dan

Perlengkapan. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa keberhasilan dan

kesuksesan implementasi kebijakan pengelolaan aset dan Barang

Milik Negara di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan sangat

bergantung kepada baik dan tidaknya sikap para pelaksananya ataupun

pengelolanya untuk mensukseskan dan mengoptimakan implementasi

tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara penulis terhadap Kasubbagian

Perencanaan dan Pelaporan barang didapati hasil bahwa sikap

pelaksana yang harus dimiliki oleh pengelola asset dan BMN di

Kantor Biro Umum dan Perlengkapan adalah Kesadaran pada

lingkungan kerja; Kemauan bekerja yang besar; Pengetahuan yang


71

cukup terhadap tugas dan fungsinya; Keinginan berprestasi; dan

Motivasi bekerja tinggi.

Sikap tersebut harus di tumbuh kembangkan menjadi sebuah

tabiat bersama sehingga tujuan visi dan misi lembaga dapat tercapai

secara utuh. Meskipun dengan didukung sumber daya infrastruktur

yang terbaik, meskipun juga didukung oleh Sumber Daya Aparatur

yang berpendidikan tinggi dan berkualifikasi tinggi, meskipun juga

didukung oleh struktur birokrasi yang dapat membagi tugas secara

merata, akan tetapi jika pelaksananya tidak memiliki sikap yang baik

maka semua pekerjaan dan proses pengelolaan aset dan Barang Milik

Negara tidak akan tidak akan terlaksana dengan maksimal.

4. Struktur Birokrasi

Struktur Birokrasi yang mengimplementasikan kebijakan

memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sukses dan tidaknya

implementasi kebijakan. Maka dari itu Struktur birokrasi merupakan

salah satu faktor penting dalam keberhasilan proses dan hasil dari

implementasi kebijakan pengelolaan Barang Milik Negara di Kantor

Biro Umum dan Perlengkapan. Karena struktur birokrasilah yang

menentukan pembagian-pembagian tugas pada sebuah unit ataupun

instansi guna melaksanakan tugas pokok dan fungsinya masing

masing. Struktur birokrasi juga yang membedakan bagian satu dengan

bagian lainnya dalam mewujudkan visi dan misi sebuah Instansi

seperti di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan.


72

Dari hasil wawancara yang sudah dilakukan oleh penulis

terhadap Pelaksana pada Kasubbagian administrasi pengadaan Barang

Milik Negara, di dapati hasil bahwa struktur birokrasi yang ada di

Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara Kantor

Biro Umum dan Perlengkapan masih belum optimal. Dikarenakan

masih ada terjadi tumpang tindih tugas dan fungsi antara Bagian

Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara dengan

Subbagian Rumah Tangga pada Bagian Umum. Beberapa kali terjadi

kesalahpahaman antara kedua unit tersebut yang mengakibatkan

ketidaknyamanan antara masing masing pelaksana. Alasan yang kedua

adalah dikarenakan struktur birokrasi yang ada di Bagian

Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara

masih belum membagi tugas tugasnya secara proposional dan ideal.

yang hanya mengandalkan pembagian tugas.


73

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai topik dalam skripsi

ini sebagaimana telah dijabarkan dan dijelaskan mengenai serangkaian proses

implementasi sistem pengelolaan inventaris dan penggunaan barang di Kantor

Biro Umum dan Perlengkapan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Masalah utama dalam hal komunikasi yang dilaksanakan oleh Kantor Biro

Umum dan Perlengkapan adalah belum terjadinya komunikasi dan

koordinasi yang baik antara Pengelola aset dan Barang Milik Negara

Kantor Biro Umum dan Perlengkapan dengan Pengguna Barang Milik

Negara terkait sering dialkukannya pemindahan aset dan Barang Milik

Negara oleh pengguna Barang Milik Negara. Yang mana seharusnya

terlebih dahulu melaporkan terkait rencana perpindahan Barang Milik

Negara tadi sebelum dilaksanakannnya pemindahan Barang Milik Negara

tersebut.

2. Masalah pokok yang daialami oleh Bagian Perlengkapan dan

Pengelolaan Barang Milik Negara dalam pelaksanaan Pengelolaan Aset

dan Barang Milik Negara adalah kekurangan sumber daya aparatur.

Hampir pada setiap tahapan pengelolaan aset dan barang milik negara di

Kantor biro Umum dan Perlengkapan disebabkan karena kekurangan

73
74

sumber daya aparatur, baik itu dalam segi kuantitas maupun kulaitas.

Jumlah sumber daya aparatur di Bagian perlengkapan dan Pengelolaan

Barang Milik Negara sekarang jika dibandingkan dengan jenis jumlah

asset dan Barang Milik Negara serta beban pekerjaan sekarang masih

belum ideal.

3. Disposisi, dan Sikap pelaksana yang berada di Intern Bagian

Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara tergolong baik,

Patuh ta’at dan loyal terhadap tugas yang sudah diberikan terkait

pelaksanaan pengelolaan asset dan Barang Milik Negara. Namun pada

bagian-bagian lain ataupun unsur-unsur terkait, masih ditemukannya

oknum yang belum memiliki komitmen yang sama untuk mensukseskan

proses pelaksanaan pengelolaan aset dan Barang Milik Negara. Tidak

bisa dipungkiri bahwa memang ada oknum pengguna Barang Milik

Negara yang ada di luar Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang

Milik Negara masih kurang peduli dengan aset dan Barang Milik Negara

yang ada di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan.

4. Struktur birokrasi yang ada di Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan

Barang Milik Negara Kantor Biro Umum dan Perlengkapan masih belum

bisa mengoptimalkan kinerja. Karena struktur birokrasi yang ada di

Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara masih belum

membagi tugas tugasnya secara proposional dan ideal.


75

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas yang dapat disarankan adalah

sebagai berikut :

1. Diharapkan kualitas SDM Pengurus Barang lebih ditingkatkan lagi

dengan cara menambah kompetensi dari pendidikan D3/S1, aktif dalam

kegiatan BIMTEK, bingbingan atau pelatihan lainnya dan loyal terhadap

pekerjaan yang diemban. Kemudian terkait dengan kuantitas SDM

sebaiknya Pengguna Barang menetapkan Pembantu Pengurus Barang

untuk dilakukan pembagian tugas sehingga pelaksanaan kebijakan

pengelolaan BMD bisa lebih efektif dan efisien.

2. Komunikasi Antar Badan Pelaksana Komunikasi antar badan pelaksana

telah berjalan dengan baik. Hal tersebut perlu dipertahankan dan

ditingkatkan lagi.
76

DAFTAR PUSTAKA

Agustino, Leo.2016. Dasar dasar kebijakan publik. Bandung : Alfabeta.


Astari, Rima. 2013. Skripsi Manajemen Pengelolaan Inventarisasi Guna
Menunjang Aktifitas Perbekalan di Program Pasca Sarjana Universitas
Negeri Semarang. Universitas Negeri Semarang.
Bafadal, Ibrahim. 2004. Manajemen Perlengkapan Sekolah. Jakarta: Bumi
Aksara.
Dunn, William. 2009. Pengantar Analisis kebijakan publik, edisi keempat.
Yogyakarta : Gajah Mada Universitas Press.
Dwiantara dan Sumarno. 2009. Manajemen Logistik. Jakarta : Grasindo.
Haerul, Akib, H., & Hamdan. (2016). Implementasi Kebijakan Program
Makassar Tidak Rantasa di Kota Makassar . Jurnal Administrasi Publik,
6(2), 21-34
Hamdi, A.S. 2014. Metode penelitian Kuantitatif Aplikasi dalam Pendidikan.
Yogyakarta : CV Budi Utama.
Ismail. 2010. Manajemen Perbankan. Jakarta : Prendamedia Group.
Jogiyanto. 2005. Analisa dan Desain Sistem Informasi. Yogyakarta :
Andi
Kapioru. 2014. Implementasi Peraturan Daerah Kota Kupang Nomor 15 Tahun
2011 Tentang Retribusi Peayanan Parkir Di Tepi Jalan Umum. Jurnal:Vol
11 No 1.
Majid. 2014. Pembelajaran tematik Terpadu. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Mardiasmo. 2002. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta :
Penerbit andi.
Matin dan Fuad. 2016. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan : Konsep
dan Aplikasinya. Jakarta : Rajawali Pers.
Mulyadi, D. 2015. Perilaku Organisasi dan Kepemimpinan Pelayanan. Bandung :
Alfabeta.
Naditya, dkk. 2013. Implementasi Strategi Pembelajaran Inkuiri terhadap
Kemampuan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep Siswa. Jurnal
Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Vol 3
Nugroho D, Riant. 2004. Kebijakan Publik, Formulasi, Implementasi dan
Evaluasi. Jakarta : Gramedia.
Nurhanifah. 2015. Skripsi Implementasi Program Kegiatan Harian Siswa Dalam
Pembentukan Karakter Disiplin Siswa. Universitas Islam Bandung.
76
77

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Barang Milik Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah.
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 Standar Akuntansi Pemerintahan.
Pratama, Rezky, 2015. Implementasi Peraturan daerah nomor 02 Tahun 2011
Tentang Pengelolaan sampah di kelurahan sidodadi Kecamatan
Samarinda. Jurnal Pemerintahan Integratif. Vol 3 nomor 1
Siagian, P Sondang. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi
Aksara
Soleh dan Rochmansjah. 2010. Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Sebuah
Pendekatan Struktural Menuju Tata Kelola Yang Pemerintahan Yang
Baik. Bandung : Fokus media.
Subarsono. 2005. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta : Pustaka pelajar.
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung :
Alfabeta.
Tahir, Arifin. 2014. Kebijakan Publik Dan Transparansi Penyelenggaraan
Daerah. Bandung : Alfabeta.
Taufik, Mhd dan Isril. Implementasi Peraturan Daerah Badan Permusyawaratan
daerah. Jurnal Kebijakan Publik, Vol 4 No 2.
Waluyo. 2007. Manajemen Publik (Konsep, Aplikasi, Dan Implementasi) Dalam
Pelaksanaan Otonomi Daerah. Bandung : Mandarmaju.
Widodo. 2011. Analisis kebijakan publik : Konsep dan aplikasi analisis proses
kebijakan publik. Malang : Bayu Media.
78

N
79

Lampiran : Surat Permohonan Izin Penelitian dari LP3M Unismuh Makassar

Lampiran : Surat Izin penelitian dari DPMPTSP Provinsi Sulawesi Barat


80

Lampiran : Surat Izin penelitian dari DPMPTSP Provinsi Sulawesi Barat


81
82

Lampiran : Dokumentasi Penelitian

Wawancara dengan bapak Muh. Rizkiady M.,[Link], [Link]


(Kasubbagian Inventarisasi, Penyimpanan dan pendistribusian)

Wawancara dengan bapak Syarifuddin,


SE. (Kepala Bagian Tata Usaha dan
Keuangan)
83

Wawancara dengan Ibu Elmarhama Mahmud, SE.


(Kasubbagian Tata Usaha dan Kepegawaian)

Wawancara dengan Ismail, SE.


(Staf bagian Inventarisasi, Penyimpanan dan pendistribusian)
84

Wawancara dengan Intan, SE


(Staf bagian Inventarisasi, Penyimpanan dan pendistribusian)
85

Lampiran : Surat Keterangan Bebas Plagiat


86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96

RIWAYAT HIDUP

Wirna, lahir di Papalang pada tanggal 26 Desember 1996 di

Provinsi Sulawesi Barat. Saat ini berdomisili di Perumahan

Bumi Permata Hijau, Jln Bumi 4 Blok A1 No 18,

Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini Kota

Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Anak ke pertama dari

empat bersaudara, lahir dari pasangan Bapak Idrus dan Ibu

Ajamia. Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar di SD Inpres Papalang

pada tahun 2002 hingga 2008. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan ke

Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 5 Kalukku pada tahun 2008 hingga

tahun 2011. Selanjutnya, penulis melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah

Kejuruan di SMK Negeri 1 Papalang pada tahun 2011 hingga tahun 2014. Dan di

tahun 2014, penulis mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan Perguruan

Tinggi di Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) di Jl. Sultan

Alauddin, Gn. Sari Kecamatan Rappocini Kota Makassar dengan mengambil

Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program

Strata Satu (S1). Insya Allah pada tahun 2022 akan menyelesaikan studi sekaligus

menyandang gelar Sarjana Administrasi Publik ([Link]).

Anda mungkin juga menyukai