SKRIPSI
IMPLEMENTASI PENGELOLAAN INVENTARIS DAN PENGGUNAAN
BARANG DI KANTOR BIRO UMUM DAN PERLENGKAPAN PROVINSI
SULAWESI BARAT
Oleh:
WIRNA
Nomor Induk Mahasiswa : 10561 05205 14
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI
NEGARA FAKULTASILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR 2022
SKRIPSI
IMPLEMENTASI PENGELOLAAN INVENTARIS DAN PENGGUNAAN
BARANG DI KANTOR BIRO UMUM DAN PERLENGKAPAN PROVINSI
SULAWESI BARAT
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Studi dan Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Administrasi Publik ([Link])
Disusun dan Diajukan Oleh:
WIRNA
Nomor Induk Mahasiswa : 10561 05205 14
Kepada
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI
NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR 2022
ii
iii
iv
HALAMAN PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama Mahasiswa : Wirna
Nomor Induk Mahasiswa 10561 05205 14
Program Studi : Ilmu Administrasi Negara
Menyatakan bahwa benar skripsi ini adalah karya saya sendiri dan bukan hasil
plagiat dari sumber lain. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan
apabila dikemudian hari ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi
akademik berupa pencabutan gelar akademik dan pemberian sanksi lainnya sesuai
dengan aturan yang berlaku di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Makassar, 28 Februari 2022
Yang Menyatakan,
Wirna
v
KATA PENGANTAR
Penulis panjatkan rasa syukur yang tidak terhingga kehadirat Allah SWT,
yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul “Implementasi Pengelolaan Inventaris dan
Penggunaan Barang di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi
Barat”.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud
tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang
terhormat:
1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, [Link] selaku Rektor Universitas
Muhammadiyah Makassar.
2. Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik, [Link]., [Link] selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Bapak Nasrul Haq, [Link]., MPA selaku Ketua Program Studi Ilmu
Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Muhammadiyah Makassar.
4. Kedua orang tua, Bapak Idrus dan Ibu Ajamiah yang selalu memberikan
dukungan dan bantuan baik moril dan materil kepada penulis selama
menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar.
5. Bapak Dr. H. Muhammad Isa Ansyari., [Link] selaku pembimbing I dan
Bapak Nasrul Haq., [Link].,[Link]. selaku pembimbing II ynag senantiasa
vi
meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga
skripsi ini dapat diselesaikan.
6. Para Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara atas ilmu yang
telah diberikan kepada penulis selama menempuh pendidikan di
Universitas Muhammadiyah Makassar.
7. Bapak Muh. Rizkiady M.,[Link], [Link]. (Kasubbagian Inventarisasi,
Penyimpanan dan Pendistribusian), Bapak Aslam Yansha, [Link], [Link]
(Kasubbagian Analisis dan Administrasi Pengadaan), Ibu Hj. Nilai
Ainun, SE, MM (Kasubbagian Perencanaan dan Pelaporan), Ismail
Efendi, SE (Operator Inventaris Barang Berbasis Web), dan Intan
(Pengguna Inventaris Barang Berbasis Web).
8. Teman-teman penulis Narni, hartati, Wina, Vikar, Yuni, Sunarti, dan
Winda dimana sudah membantu serta memberikan semangat kepada
penulis.
Demi kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya
membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya skripsi ini dapat bermanfaat
dan memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.
Makassar, 28 Februari 2022
Wirna
vii
ABSTRAK
Wirna, Muh Isa Ansyari, dan Nasrulhaq. Implementasi Pengelolaan
Inventaris dan Penggunaan Barang di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan
Provinsi Sulawesi Barat.
Implementasi merupakan suatu proses yang berkaitan dengan kebijakan
dan program yang akan dilaksanakan oleh suatu organisasi atau lembaga,
khususnya badan yang terkait dengan suatu instansi pemerintah yang meliputi
sarana dan prasarana untuk mendukung program-program yang akan dijalankan
tersebut
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Implementasi Pengelolaan
Inventaris dan Penggunaan Barang di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan
Provinsi Sulawesi Barat. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif
dengan tipe penelitian deskriptif untuk mendeskripsikan dan menjelaskan lebih
dalam implementasi sistem pengelolaan inventaris dan penggunaan barang
tersebut. Informan dalam penelitian ini sebanyak lima orang yang dipilih
menggunakan metode purposive Sampling. Data penelitian dikumpul dengan
melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian, data tersebut
dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data dan verifikasi/kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi pengelolaan inventaris
dan penggunaan barang milik negara di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan
mengalami beberapa masalah yang membuat pelaksanaannya belum optimal.
Permasalahan tersebut berdampak pada setiap tahapan pengelolaan barang yaitu
perencanaan, penatausahaan, perawatan dan pengahapusan, pemantauan, dan
evaluasi serta pelaporan perlengkapan dan barang milik negara. Permasalahan
yang dihadapi oleh Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara
adalah masih terjadinya komunikasi yang kurang baik dalam implementasi
kebijakan pengelolaan aset dan barang milik negara, kekurangan sumber daya
aparatur, masih didapati oknum pengguna barang milik negara yang belum
memiliki sikap yang belum baik dalam pengelolaan aset dan barang milik negara
dan struktur birokrasi yang masih harus diperbaiki dan disusun kembali guna
mengoptimalkan kinerja dan pembagian tugas-tugas pengelolaan aset dan barang
milik negara di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat.
Kata Kunci : Implementasi, Pengelolaan Inventaris Barang.
viii
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN UJIAN AKHIR........................................... iii
HALAMAN PENERIMAAN TIM .............................................................. iv
HALAMAN PERNYATAAN........................................................................ v
KATA PENGANTAR.................................................................................... vi
ABSTRAK ...................................................................................................... viii
DAFTAR ISI................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL........................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... xii
BAB I. PENDAHULUAN.............................................................................. 1
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 7
C. Tujuan Penelitian ................................................................................. 8
D. Manfaat Penelitian ............................................................................... 8
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................... 10
A. Penelitian Terdahulu ............................................................................ 10
B. Konsep Implementasi Kebijakan ......................................................... 13
1. Pengertian Implementasi................................................................ 13
2. Pengertian Implementasi Kebijakan .............................................. 17
3. Model Implementasi Kebijakan ..................................................... 18
C. Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah........................................... 25
D. Sistem pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah ............................... 31
E. Tujuan Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah .............................. 34
F. Azaz-Azaz Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah........................ 34
G. Kerangka Pikir ..................................................................................... 35
H. Fokus Penelitian ................................................................................... 37
I. Deskripsi Fokus Penelitian................................................................... 38
BAB III. METODE PENELITIAN .............................................................. 39
ix
A. Waktu dan Lokasi Penelitian.....................................................................39
B. Jenis dan Tipe Penelitian...........................................................................39
C. Informan....................................................................................................39
D. Sumber Data..............................................................................................40
E. Teknik Pengumpulan Data........................................................................41
F. Teknik Analisis Data.................................................................................42
G. Teknik Pengabsahan Data.........................................................................43
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.................................44
A. Deskripsi Lokasi Penelitian.......................................................................44
B. Hasil Penelitian..........................................................................................55
C. Pembahasan Hasil Penelitian.....................................................................66
BAB V PENUTUP...............................................................................................73
A. Kesimpulan...............................................................................................73
B. Saran..........................................................................................................75
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................76
LAMPIRAN.........................................................................................................78
x
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1. Informan Penelitian..............................................................................40
Tabel 4.1. 28 Titik Bagian Kerja Biro Umum dan Perlengkapan.........................51
Tabel 4.2. Data Pegawai Berdasarkan Jenis Kelamin...........................................52
Tabel 4.3. Data Pegawai Berdasarkan Status, Pangkat dan Golongan..................53
Tabel 4.5. Data Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan..................................54
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1. Model Implementasi George C. Edward III....................................20
Gambar 2.2. Kerangka Pikir..................................................................................37
Gambar 4.1. Struktur Organisasi...........................................................................46
xii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Implementasi kebijakan merupakan salah satu proses siklus kebijakan
publik yang berkesinambungan dengan proses lainnya dalam mencapai tujuan
sebuah kebijakan. Implementasi kebijakan dapat diartikan sebagai sebuah praktik
atas kebijakan yang telah dibuat untuk diterapkan di lingkungan masyarakat
dalam mengatasi masalah dan menjadi bentuk intervensi dalam masyarakat.
Implementasi kebijakan juga dapat diartikan sebagai proses dimana
mentransformasi rencana kebijakan yang telah dibuat ke dalam sebuah tindakan
yang sebenarnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Howlett dan Ramesh dalam
(Agustino, 2016) yang mengartikan bahwa implementasi kebijakan merupakan
proses dimana melakukan praktik sebuah kebijakan yang berhubungan dengan
rencana yang telah dibuat.
Kebijakan publik sebagai bentuk ketentuan dan peraturan yang berlaku
mengatur setiap aspek kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara.
Salah satu aspek yang memerlukan intervensi dari pemerintah dalam hal
pengaturan oleh kebijakan publik ialah Barang Milik Negara. Hal ini dikarenakan
persoalan BMN adalah persoalan yang riskan jika tidak diatur dengan peraturan
yang jelas. Selain itu juga, BMN ini sangat erat kaitannya dengan aset dan
kepemilikan Negara.
1
2
BMN ini juga dapat diartikan sebagai aset, sarana, dan prasarana yang
mendukung terlaksananya tugas dan tanggung jawab oleh pelaksana kebijakan
dan birokrat. Dengan demikian, BMN harus dikelola dan diatur dengan baik dan
bertanggung jawab agar tidak menimbulkan kerugian yang dapat menghambat
aktivitas dan kegiatan birokrasi yang akan berdampak pada aktivitas masyarakat
secara luas.
Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dapat dipahami bahwa
inventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan
pelaporan hasil pendataan barang. Sesuai peraturan tersebut maka perlu adanya
pelaksanaan inventarisasi yang baik dan benar. Hal ini sesuai dengan yang
dikemukakan oleh Bafadal (2004) bahwa inventarisasi adalah pencatatan dan
penyusunan daftar barang milik Negara secara sistematis, tertib, dan teratur
berdasarkan ketentuan-ketentuan atau pedoman-pedoman yang berlaku. Jadi,
inventaris barang ialah salah satu hal penting yang harus terus dilakukan oleh
suatu instansi pemerintah maupun swasta, karena dengan adanya inventarisasi
yang baik dan benar maka semua kebutuhan fasilitas peralatan serta barang yang
dibutuhkan oleh instansi terkait dapat diketahui dengan cepat.
Inventaris barang merupakan kegiatan pendataan barang sekaligus
pengelolaan data persediaan barang yang dimiliki sebuah instansi. Namun
eksistensinya belum begitu mendapat perhatian yang mendalam sehingga
kedudukan dari inventaris barang belum terlihat secara nyata. Sedangkan
seandainya inventaris barang dikelola dengan baik akan memberikan faedah yang
3
besar bagi suatu instansi. Agar laporan persediaan barang lancar dan tidak ada
kendala, maka diperlukan adanya sistem komputerisasi cepat dan akurat. Pada
umumnya pembuatan laporan inventaris barang kadang masih bersifat manual.
Hal ini dirasakan membutuhkan waktu yang lama, apabila di lakukan dengan
proses komputerisasi pembuatan laporan inventaris barang akan memudahkan
bagian pengelola aset barang untuk melakukan proses pelaporan inventaris
barang. Dengan adanya sistem komputerisasi ini di harapkan pelaporan aset
barang agar lebih baik lagi. Khususnya dalam membuat laporan inventaris barang,
sehingga dengan sistem komputer yang efisien memungkinkan untuk
menghasilkan laporan dalam waktu yang relatif singkat, cepat, tepat dan akurat.
Menurut Astari (2013) ketika suatu instansi menerapkan konsep
inventarisasi terstruktur, maka kegiatan manajerial maupun operasional yang
berlangsung didalamnya juga akan berjalan dengan efektif. Kita semua tahu
bahwa instansi baik pemerintah maupun swasta, dalam kegiatan manajerialnya
selalu bergantung pada tekonologi informasi dan komunikasi. Pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi yang diimplementasikan secara optimal
dalam serangkaian kegiatan operasional organisasi suatu instansi., maka akan
sangat mempengaruhi kinerja itu sendiri. Singkatnya semakin giat suatu instansi
memanfaatkan teknologi informasi yang ada, maka pencapaian tujuan akan
tercapai lebih efektif.
Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Sulawesi Barat merupakan organisasi
pemerintah yang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya memerlukan
barang inventaris milik/kekayaan Negara untuk kelancaran tugas dan pencapaian
4
tujuan. Dalam Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Barat Nomor 14 Tahun 2009
tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah bahwa inventarisasi adalah kegiatan
untuk melakukan pendataan, pencatatan, dan pelaporan hasil pendataan barang
milik daerah. Keberadaan barang milik/kekayaan Negara memerlukan proses
pencatatan, pengkodean dan pelaporan barang untuk mengetahui jumlah barang,
penambahan barang yang ada maupun untuk mengetahui laporan mutasi atau
penghapusan barang. Inventarisasi barang harus dilaksanakan dengan baik agar
dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pengelolaan barang dilaksanakan dengan
maksimal agar barang dapat berdaya guna dan berhasil guna bagi setiap pegawai.
Pengelolaan Barang Milik Daerah merupakan komponen penting dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah, maka barang milik
daerah perlu dikelola secara tertib, akuntabel dan transparan dengan
mengedepankan good governance agar dimanfaatkan secara optimal dalam rangka
mendukung penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada
masyarakat. Maka diperlukan instrument yang tepat untuk melakukan pengelolaan
aset daerah secara professional, transparan, akuntabel, efisien dan efektif mulai
dari perencanaan, pengelolaan/ pemanfaatan dan pengawasannya (Mardiasno,
2001)
Berdasarkan hasil observasi di kantor Biro Umum dan Perlengkapan
Sulawesi Barat pada tanggal 22 januari 2020 masalah yang sering terjadi yaitu
pendataan masih secara manual. Hal ini menyebabkan pengulangan data, sehingga
mengakibatkan pencatatan data barang tidak akurat dan tidak efisien. Tidak
sebanding antara jumlah pegawai yang ada dengan tanggung jawab yang berat
5
yang harus di laksanakan oleh Bagian Perlengkapan Dan Pengelolaan Barang
Milik Negara. Peralatan dan Mesin yang harus terus dikelola dengan baik oleh
Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara. Serta banyaknya
barang yang harus dikelola oleh Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang
Milik Negara juga. Belum lagi Aset Tanah, Irigasi, Gedung dan Bangunan, Jalan
dan Jembatan dan lain sebagainya. Permasalahan lainnya yakni BMN yang
tergolong aset tetap bergerak ini sering dipindahtempatkan dan dipinjam dari
suatu ruangan ke ruangan lainnya tanpa adanya pencatatan dan pemindahan yang
teratur dengan pembuatan berita acara serah terima barang. Sehingga pada saat
pelaporan barang terdapat hambatan karena posisi barang yang berubah-ubah dari
satu ruangan ke ruangan lain. Dampak yang dihasilkan dari permasalahan ini ialah
daftar inventaris ruangan yang selalu berubah dan juga pengelola BMN harus
mengidentifikasi atau mencari barang yang berpindah tersebut untuk didata dan
dicatat secara ulang. Permasalahan ini akan berpengaruh pada pengelolaan
khususnya dalam inventarisasi yang belum optimal, efektif, dan efisien. Juga
Dalam proses penginputan dan pelaporan barang inventaris masih dilakukan
secara manual sehingga terjadi kesalahan-kesalahan maupun duplikasi data.
Peranan dan keberadaan inventaris ini sangatlah penting karena tanpa
adanya inventaris suatu siklus kegiatan kantor dapat terganggu. Hal ini akan
berpengaruh terhadap pekerjaan mengakibatkan proses administrasi kurang
maksimal. Begitu pentingnya peranan dari inventaris sehingga suatu kantor sangat
perlu untuk melakukan pengelolaan barang inventaris mereka secara rutin dan
berkala untuk kepentingan data dan informasi inventaris yang dimiliki kantor
6
(Supartha & Pandawa, 2014). Agar kegiatan operasional berjalan dengan lancar,
efektif, efesien dibutuhkan sarana dan prasarana tertentu yang harus tersedia.
Dengan adanya kegiatan perencanaan, pengadaan, pencatatan dan pelaporan
logistik atau barang guna mendukung efektifitas dan efesiensi dalam tujuan
organisasi (Dwiantara dan Sumarno, 2009).
Melihat realita yang terjadi dilapangan, Barang Milik Negara pada
Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat memiliki
Proses pengolahan data persediaan barang yang sedang berjalan di Kantor Biro
Umum dan Perlengkapan belum efektif, karena dengan banyaknya barang yang
ada dan hanya dilakukan pencatatan di dalam rekap pengambilan barang, akan
sangat menyita waktu terutama pada saat pembuatan laporan, persoalan lainnya
yakni adanya aset/barang yang berpindah-pindah ruangan sehingga tidak
diketahui keberadaannnya dan berdampak pada catatan pengelolaan aset
yang tidak menujukan data rill di lapangan, dan sumber daya manusia (SDM)
pengelola barang milik negara (BMN) yang masih sangat minim akibatnya
penatausahaan barang milik negara tersebut kurang efektif, kurangnya
pemahaman pengelolaan barang milik negara serta didukung kurangnya
kesadaran para pengguna barang dalam hal pengamanan barang milik
negara sehingga barang mudah berpindah-pindah. Tidak adanya koordinasi
yang baik sebagai akibat komunikasi tidak berjalan secara baik sehingga
mengakibatkan Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran (LBKPS) dan
Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan (LBKPT) tidak pernah disampaikan
dan akan
7
mempengaruhi data aset/barang di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi
Sulawesi Barat.
Idealnya setiap organisasi perlu memperhatikan pelaksanaan inventarisasi
dan pengelolaan barang yang baik dan benar untuk mencegah timbulnya
pemborosan barang milik/kekayaan Negara. Pentingnya pengelolaan aset tetap
(Barang Milik Negara) itu sendiri sangat menunjang kepada keberhasilan dari
pelaksanaan tugas ketatausahaan sebuah kantor. Disebuh kantor mempunyai
bagitu banyak aset tetap (Barang Milik Negara) yang harus dikelola dengan baik
yang artinya aset-aset tersebut akan menjadi bermanfaat dan menguntungkan yang
harus terjaga dan pelaksanaannya yang ditetapkan di bagian ini harus memiliki
keahlian di bidang perkantoran. Pertimbangan tersebut yang melatarbelakangi
penulis untuk melakukan penelitian mengenai implementasi pengelolaan
serangkaian kegiatan inventaris. Berlandaskan pada seluruh permasalahan yang
ada, maka penulis menuangkannya dengan judul “Implementasi Pengelolaan
Inventaris Dan Penggunaan Barang Di Kantor Biro Umum Dan
Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam
penelitian ini ialah Bagaimana Implementasi Pengelolaan Inventaris dan
Penggunaan Barang Di Kantor Biro Umum Dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi
Barat ?
8
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan dalam penelitian ini
ialah Untuk mengetahui Implementasi Pengelolaan Inventaris dan Penggunaan
Barang Di Kantor Biro Umum Dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Hasil dari penelitian ini diharapakan menyajikan wacana kajian
baru terkait penerapan program Sistem Pengelolaan Inventaris.
b. Memberi kesempatan pada penulis untuk mengaplikasikan ilmu
dan teori yang sudah didapatkan selama belajar diperguruan
tinggi.
c. Menambah ilmu pengetahuan melalui penelitian yang
dilaksanakan sehingga memberikan kontribusi pemikiran bagi
pengembangan ilmu administrasi Negara khususnya.
2. Manfaat Praktis
a. Sebagai bahan masukan atau input bagi Biro Umum dan
Perlengkapan dengan penanganan inventarisasi. Selain itu
memotivasi karyawan untuk meningkatkan kinerja.
b. Sebagai bahan bacaan mahasiswa khususnya mahasiswa
Program Studi Ilmu Administrasi Negara.
c. Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan
acuan untuk penelitian selanjutnya, khususnya penelitian yang
9
terkait dengan inventarisasi baik dilingkup Mamuju Sulbar
maupun daerah-daerah lainnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu menjadi salah satu acuan peneliti dalam melakukan
penelitian sehingga dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji
penelitian yang dilakukan. Dari penelitian terdahulu, Peneliti tidak menemukan
penelitian dengan judul yang sama seperti penelitian peneliti. Namun, peneliti
mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi untuk memperkaya bahan
kajian pada penelitian peneliti. Berikut merupakan penelitian terdahulu berupa
jurnal terkait dengan penelitian yang dilakukan peneliti.
1. Nancy (2019)
Nancy (2019) dengan judul penelitian “Implementasi Kebijakan
Pengelolaan Barang Milik Daerah Pada Dinas Pendidikan, Pemuda Dan
OlahRaga Kabupaten Sigi”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa
fakta dilapangan dari hasil penelitian tentang implementasi kebijakan
pengelolaan barang/aset daerah pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan
OlahRaga Kabupaten Sigi, dari faktor komunikasi bahwa proses komunikasi
antara implementor serta sasaran kebijakan dalam konteks pelaksanaan
kebijakan pengelolaan barang/aset daerah di dinas Pendidikan, Pemuda dan
Olah Raga Kabupaten Sigi belum sesuai harapan dan kenyataan dilapangan.
Hal ini terlihat pada faktor komunikasi yang mempengaruhinya terdiri dari
faktor utama yaitu Kejelasan informasi kebijakan pengelolaan barang milik
10
11
daerah di dinas pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sigi, dalam
komunikasi belum berjalan secara optimal, di mana pelaksanaan kebijakan
masih belum bisa dipahami secara utuh dan seluruh aparat secara
keseluruhan. Dari faktor sumber daya, sumber daya manusia yang ada di
UPTD Kecamatan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten
Sigi belum dapat mendukung pengelolaan barang milik daerah
secara maksimal karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki baik dari
segi kuantitas maupun kualitas. Pada faktor disposisi tergambar sikap
implementor terhadap kebijakan pengelolaan barang/asset daerah, dimana
setiap UPTD di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sigi,
belum memiliki tanggung jawab sepenuhnya terhadap kebijakan
pengelolaan barang/aset dan daerah dimana setiap Unit Pelaksana Teknis
Daerah (UPTD) Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sigi
adalah merupakan kuasa pengguna barang yang berkewajiban
menyampaikan laporan barang semesteran, tahunan dan lima tahunan
kepada pengguna barang. Pada faktor struktur birokrasi penggunaan Standar
Operasional Pekerjaan belum berjalan dengan baik, dimana SOP itu belum
dijadikan sebagai dasar dalam melaksanakan tugas dan perannya dalam
pengelolaan barang sehingga adminstrasi barang dapat dikelola secara tertib
sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2007
tentang Pedoman teknis pengelolaan barang milik daerah.
12
2. Agus Zakaria (2021)
Agus Zakaria (2021) dengan judul penelitian “Implementasi
Kebijakan Pengelolaan Aset Dan Barang Milik Negara Di IPDN Kampus
Jatinangor” Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah utama dalam
penerapan komunikasi yang dilaksanakan oleh Bagian Perlengkapan dan
Pengelolaan Barang Milik Negara adalah belum terjadinya komunikasi dan
koordinasi yang baik antara Pengelola aset dan Barang Milik Negara IPDN
dengan Pengguna Barang Milik Negara terkait sering dipindah-pindahkan
barang/ aset oleh pengguna Barang Milik Negara. Yang mana seharusnya
terlebih dahulu dilaksanakan pelaporan dan koordinasi terkait rencana
perpindahan Barang Milik Negara sebelum dilaksanakannnya pemindahan
Barang Milik Negara tersebut. Dalam hal sumber daya Sumber daya
aparatur yang dimiliki oleh Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang
Milik Negara sekarang memang dirasa masih kurang memenuhi harapan
dan ekspektasi institusi. Dikarenakan dalam implementasi kebijakan
pengelolaan aset dan Barang Milik Negara yang berjumlah sangat banyak di
IPDN tentunya tidak dapat dilakukan oleh sedikit orang, akan tetapi harus
banyak atau cukup orang yang melaksanakan pengelolaan aset dan Barang
Milik Negara itu sendiri dan setelah dilaksanakannya. Dalam hal disposisi,
sikap pelaksana yang harus dimiliki oleh pengelola asset dan BMN di
IPDN adalah Kesadaran pada lingkungan kerja, Kemauan bekerja yang
besar, Pengetahuan yang cukup terhadap tugas dan fungsinya, Keinginan
berprestasi, dan Motivasi bekerja tinggi. Dalam hal struktur birokrasi, yang
13
ada di Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara IPDN
masih belum optimal. Dikarenakan masih ada terjadi tumpang tindih tugas
dan fungsi antara Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik
Negara dengan Subbagian Rumah Tangga pada Bagian Umum. Beberapa
kali terjadi kesalahpahaman antara kedua unit tersebut yang mengakibatkan
ketidaknyamanan antara masing masing pelaksana. Alasan yang kedua
adalah dikarenakan struktur birokrasi yang ada di Bagian Perlengkapan dan
Pengelolaan Barang Milik Negara masih belum membagi tugas tugasnya
secara proposional dan ideal. Dengan hanya mengandalkan pembagian tugas
pada 2 (dua) subbagian saja pada prakteknya dirasa belum mampu dan
belum cukup untuk mewujudkan harapan visi dan misi lembaga.
3. Ummiati Rahmah (2020)
Ummiati Rahmah (2020) dengan judul penelitian “Implementasi
Sistem Informasi Inventaris Barang Berbasis Web Di Jurusan Dan
Laboratorium Pendidikan Teknik Elektronika” Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Bentuk data inventaris barang berbasis web hanya
dapat diakses dengan username dan password yang terdaftar sehingga dapat
membatasi hak akses untuk melihat dan berinteraksi dengan data, Riset ini
menggunakan proses R&D yang berfokus pada model pengembangan
Waterfall dan produk yang dihasilkan berupa bentuk data inventaris barang
berbasis web yang dapat membantu penanggung jawab jurusan dan
laboratorium dalam mengelola dan mengakses dimana saja inventarisasi
barang yang ada di jurusan pendidikan teknik elektronika.
14
B. Konsep Implementasi Kebijakan
1. Pengertian Implementasi
Implementasi secara etimologis berasal dari bahasa inggris yaitu to
implement. Mulyadi (2015) berpendapat bahwa implementasi mengacu pada
tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu
keputusan. Tindakan ini berusaha untuk mengolah keputusan-keputusan
tersebut menjadi pola-pola operasional serta berusaha mencapai perubahan-
perubahan besar atau kecil sebagaimana yang telah diputuskan sebelumnya.
Implementasi pada hakikatnya juga merupakan upaya pemahaman apa yang
seharusnya terjadi setelah program dilaksanakan. Sejalan dengan Mulyadi,
Gordon dalam (Mulyadi, 2015) mengatakan bahwa implementasi berkenaan
dengan berbagai kegiatan yang diarahkan pada realisasi program.
Sama halnya dengan Lister dalam (Taufik dan Isril, 2013) yang
mengemukakan bahwa sebagai sebuah hasil, maka implementasi
menyangkut tindakan seberapa jauh arah yang telah di programkan itu
benar-benar memuaskan. Sedangkan Naditya dkk (2013:1088) menyatakan,
dasar dari implementasi adalah mengacu pada tindakan untuk mencapai
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu keputusan. Haerul (2016)
menyatakan bahwa, implementasi adalah suatu aktivitas dalam
melaksanakan program-program yang telah di rumuskan untuk mencapai
tujuan organisasi.
Pada dasarnya implementasi menurut Syaukani dkk (Pratama, 2015),
merupakan salah satu tahap dalam proses kebijaksanaan publik dalam
15
sebuah negara. Biasanya implementasi dilaksanakan setelah sebuah
kebijakan dirumuskan dengan tujuan yang jelas, termasuk tujuan jangka
pendek menengah dan panjang.
Sedangkan William dalam (Taufik dan Isril, 2013), “dengan lebih
ringkas menyebutkan dalam bentuk lebih umum, penelitian dalam
implementasi menetapkan apakah organisasi dapat membawa bersama
jumlah orang dan material dalam unit organisasi secara kohesif dan material
dalam unit organisasi secara kohesif dan mendorong mereka mencari cara
untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Sedangkan
menurut Ekawati dalam (Taufik dan Isril, 2013) menyatakan, bahwa definisi
implementasi secara eksplisit mencakup tindakan oleh individu/kelompok
privat (swasta) dan publik yang langsung pada pencapaian serangkaian
tujuan terus menerus dalam keputusan kebijakan yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Menurut Fulan dalam (Majid, 2014) mengemukakan bahwa
implementasi adalah suatu proses peletakan dalam praktik tentang suatu ide,
program, atau seperangkat aktifitas baru bagi orang lain dalam mencapai
atau mengharapkan suatu perubahan. Adapun menurut Mulyadi (2015)
implementasi mengacu pada tindakan untuk mencapai tujuantujuan yang
telah ditetapkan dalam suatu keputusan.
Menurut Salusu dalam (Tahir, 2014) menyatakan mplementasi sebagai
operasionalisasi dari berbagai aktivitas guna mencapai suatu sasaran tertentu
dan menyentuh seluruh jajaran manajemen mulai dari manajemen puncak
16
sampai pada karyawan terbawah. Grindle dalam (Mulyadi, 2015),
menyatakan implementasi merupakan proses umum tindakan administratif
yang dapat diteliti pada tingkat program tertentu. Sedangkan Horn dalam
(Tahir, 2014), mengartikan implementasi sebagai tindakan-tindakan yang
dilakukan oleh baik individu-individu/pejabat-pejabat atau kelompok-
kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada pencapaian tujuan-
tujuan yang telah digariskan dalam kebijakan.
Selanjutnya Kapioru (2014) menyebutkan, ada empat faktor yang
mempengaruhi kinerja implementasi, yaitu:
a. Environmental Conditions (Kondisi lingkungan).
b. Inter-organizational relationship (Hubungan antar organisasi).
c. Resources (Sumberdaya).
d. Characteristic Implementing Agencies (Karakter institusi
implementor).
Dan menurut Purwanto (Syahida, 2014) beberapa faktor yang
menentukan berhasil atau tidaknya suatu proses implementasi yaitu:
a. Kualitas kebijakan itu sendiri.
b. Kecukupan input kebijakan (terutama anggaran).
c. Ketepatan instrumen yang dipakai untuk mencapai tujuan
kebijakan (pelayanan, subsidi, hibah, dan lainnya).
d. Kapasitas implementor (struktur organisasi, dukungan SDM,
koordinasi, pengawasan, dan sebagainya).
17
e. Karakteristik dan dukungan kelompok sasaran (apakah kelompok
sasaran adalah individu atau kelompok, laki-laki atau perempuan,
terdidik atau tidak)
f. Kondisi lingkungan geografi, sosial, ekonomi, dan politik dimana
implementasi tersebut dilakukan.
Berdasarkan berbagai perspektif di atas, terlihat bahwa konsep
implementasi adalah suatu proses yang berkaitan dengan kebijakan dan
program yang akan dilaksanakan oleh suatu organisasi atau lembaga,
khususnya badan yang terkait dengan suatu instansi pemerintah yang
meliputi sarana dan prasarana untuk mendukung program-program yang
akan dijalankan tersebut.
2. Pengertian Implementasi Kebijakan
Dunn (2009) mengistilahkannya implementasi secara lebih khusus,
menyebutnya dengan istilah implementasi kebijakan. Menurutnya
implementasi kebijakan (Policy Implementation) adalah pelaksanaan
pengendalian aksi-aksi kebijakan di dalam kurun waktu tertentu. Menurut
Tachjan (2006) fungsi dan tujuan implementasi adalah untuk membentuk
suatu hubungan yang memungkinkan tujuan-tujuan ataupun sasaran-
sasaran kebijakan publik (politik) dapat diujudkan sebagai “outcome” (hasil
akhir) dari kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah. Implementasi dapat
dimaksud sebagai policy delevery system. Maksudnya sebagai sistem
penerusan/penyampaian kebijakan. Sebagai sebuah sistem terdiri dari unsur-
18
unsur dan kegiatan-kegiatan yang terarah menuju tercapainya tujuan-tujuan
dan sasaran-sasaran yang dikehendaki.
Grindle dalam (Waluyo, 2007) menyatakan implementasi kebijakan
sesungguhnya bukanlah sekedar bersangkut paut dengan mekanisme
penjabaran keputusan-keputusan politik ke dalam prosedur-prosedur rutin
lewat saluran-saluran birokrasi, melainkan lebih dari itu, ia menyangkut
masalah konflik, keputusan dari siapa yang memperoleh apa dari suatu
kebijakan. Sedangkan menurut Cleaves dalam (Waluyo, 2007),
implementasi kebijakan dianggap sebagai suatu proses tindakan administrasi
dan politik.
Selanjutnya menurut Hamdi (2014), pelaksanaan atau implementasi
kebijakan bersangkut paut dengan ikhtiar-ikhtiar untuk mencapai tujuan dari
ditetapkannya suatu kebijakan tertentu. Kemudian menurut Udoji dalam
(Mulyadi, 2015), pelaksanaan kebijakan adalah sesuatu yang penting,
bahkan mungkin jauh lebih penting dari pembuatan kebijakan. Kebijakan-
kebijakan hanya akan berupa impian atau rencana yang bagus, yang
tersimpan rapi dalam arsip jika tidak dapat diimplementasikan.
Menurut Nugroho (2004) Implementasi kebijakan pada prinsipnya
adalah cara agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya . Menurutnya,
untuk mengimplementasikan kebijakan pada prinsipnya ada dua pilihan
langkah yang ada, yaitu implementasi dalam bentuk program atau melalui
formulasi kebijakan derivat atau turunan dari kebijakan publik tersebut.
19
Menurut Edward III dalam (Mulyadi, 2015), tanpa implementasi yang
efektif maka keputusan pembuat kebijakan tidak akan berhasil dilaksanakan.
Implementasi kebijakan adalah aktivitas yang terlihat setelah dikeluarkan
pengarahan yangsah dari suatu kebijakan yang meliputi upaya mengelola
input untuk menghasilkan output atau outcome bagi mayarakat.
3. Model Implementasi Kebijakan
Implementasi merupakan suatu proses mengubah gagasan atau
program menjadi tindakan dan bagaimana kemungkinan cara menjalankan
perubahan tersebut. Menganalisis bagaimana proses implementasi kebijakan
itu berlangsung secara efektif, maka dapat dilihat dari berbagai model
implementasi kebijakan. Sekalipun banyak dikembangkan model-model
yang membahas tentang implementasi kebijakan, namun dalam hal ini
hanya akan menguraikan beberapa model implementasi kebijakan yang
relatif baru dan banyak mempengaruhi berbagai pemikiran maupun tulisan
para ahli. Berikut beberapa model implementasi kebijakan dari berbagai
ahli:
a. Model yang dikembangkan oleh George C. Edwards III
Edward dalam (Widodo, 2011) melihat implementasi kebijakan
sebagai suatu proses yang dinamis, dimana terdapat banyak faktor
yang saling berinteraksi dan mempengaruhi implementasi kebijakan.
Faktor–faktor tersebut perlu ditampilkan guna mengetahui bagaimana
pengaruh faktor–faktor tersebut terhadap implementasi. Edward
mengajukan empat faktor yang berperan penting dalam pencapaian
20
keberhasilan implementasi. Faktor– faktor yang mempengaruhi
keberhasilan atau kegagalan implementasi kebijakan yaitu faktor
communication, resources, disposition, dan bureucratic structure.
Model Implementasi George C. Edward III
Sumber : (Widodo, 2011)
1. Faktor Komunikasi ( Communication )
Komunikasi merupakan proses penyampaian informasi
dari komunikator kepada komunikan. Sementara itu, komunikasi
kebijakan berarti merupakan proses penyampaian informasi
kebijakan dari pembuat kebijakan (policy makers) kepada
pelaksana kebijakan ( policy implementors ).
Widodo (2011) kemudian menambahkan bahwa informasi
perlu disampaikan kepada pelaku kebijakan agar pelaku
kebijakan dapat memahami apa yang menjadi isi, tujuan, arah,
kelompok sasaran ( target group) kebijakan, sehingga pelaku
kebijakan dapat mempersiapkan hal–hal apa saja yang
berhubungan dengan pelaksanaan kebijakan, agar proses
21
implementasi kebijakan bisa berjalan dengan efektif serta sesuai
dengan tujuan kebijakan itu sendiri.
Komunikasi dalam implementasi kebijakan mencakup
beberapa dimensi penting yaitu tranformasi informasi
(transimisi), kejelasan informasi (clarity) dan konsistensi
informasi (consistency). Dimensi tranformasi menghendaki agar
informasi tidak hanya disampaikan kepada pelaksana kebijakan
tetapi juga kepada kelompok sasaran dan pihak yang terkait.
Dimensi kejelasan menghendaki agar informasi yang jelas
dan mudah dipahami, selain itu untuk menghindari kesalahan
interpretasi dari pelaksana kebijakan, kelompok sasaran maupun
pihak yang terkait dalam implementasi kebijakan. Sedangkan
dimensi konsistensi menghendaki agar informasi yang
disampaikan harus konsisten sehingga tidak menimbulkan
kebingungan pelaksana kebijakan, kelompok sasaran maupun
pihak terkait
2. Sumber Daya (resources)
Sumber daya memiliki peranan penting dalam
implementasi kebijakan, ini diartikan bahwa, bagaimana pun
jelas dan konsistensinya ketentuan–ketentuan dan aturan–aturan
serta bagaimana pun akuratnya penyampaian ketentuan-
ketentuan atau aturan–aturan tersebut, jika para pelaksana
kebijakan yang bertanggung jawab untuk melaksanakan
22
kebijakan kurang mempunyai sumber-sumber daya untuk
melaksanakan kebijakan secara efektif maka implementasi
kebijakan tersebut tidak akan efektif.
3. Disposisi (Disposition)
Kecenderungan perilaku atau karakteristik dari pelaksana
kebijakan berperan penting untuk mewujudkan implementasi
kebijakan yang sesuai dengan tujuan atau sasaran. Karakter
penting yang harus dimiliki oleh pelaksana kebijakan misalnya
kejujuran dan komitmen yang tinggi. Kejujuran mengarahkan
implementor untuk tetap berada dalam asa program yang telah
digariskan, sedangkan komitmen yang tinggi dari pelaksana
kebijakn akan membuat mereka selalu antusias dalam
melaksanakan tugas, wewenang, fungsi, dan tanggung jawab
sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.
Sikap dari pelaksana kebijakan akan sangat berpengaruh
dalam implementasi kebijakan. Apabila implementator memiliki
sikap yang baik maka dia akan dapat menjalankan kebijakan
dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat
kebijakan, sebaliknya apabila sikapnya tidak mendukung maka
implementasi tidak akan terlaksana dengan baik.
4. Struktur Birokrasi (Bureucratic Structur)
Struktur organisasi memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap implementasi kebijakan. Aspek struktur organisasi ini
23
melingkupi dua hal yaitu mekanisme dan struktur birokrasi itu
sendiri. Aspek pertama adalah mekanisme, dalam implementasi
kebijakan biasanya sudah dibuat Standart Operation Procedur (
SOP ). SOP menjadi pedoman bagi setiap implementator dalam
bertindak agar dalam pelaksanaan kebijakan tidak melenceng
dari tujuan dan sasaran kebijakan. Aspek kedua adalah struktur
birokrasi, struktur birokrasi yang terlalu panjang dan
terfragmentasi akan cenderung melemahkan pengawasan dan
menyebabkan prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks yang
selanjutnya akan menyebabkan aktivitas organisasi menjadi
tidak fleksibel
b. Model yang dikembangkan oleh Van Meter dan Van Horn
Meter dan Horn dalam teorinya ini beranjak dari suatu argumen
bahwa perbedaan-perbedaan dalam proses implementasi akan
dipengaruhi oleh sifat kebijakan yang akan dilaksanakan. Selanjutnya
mereka menawarkan suatu pendekatan yang mencoba untuk
menghubungkan antara isu kebijakan dengan implementasi dan suatu
model konseptual yang mempertalikan kebijakan dengan prestasi
kerja. Kedua ahli ini menegaskan pula pendiriannya bahwa perubahan,
kontrol dan kepatuhan bertindak merupakan konsep-konsep penting
dalam prosedur-prosedur implementasi.
Van Meter dan Van Horn dalam (Subarsono, 2005) ada enam
variabel yang mempengaruhi kinerja implementasi, yaitu:
24
1. Standar dan sasaran kebijakan
Standar dan sasaran kebijakan harus jelas dan terukur
sehingga dapat direalisasikan. Apabila standar dan
kebijakan kabur, maka akan terjadi misi interpretasi dan
mudah menimbulkan konflik diantara para agen
implementasi.
2. Sumber daya
Implementasi kebijakan perlu dukungan sumber daya,
baik sumber daya manusia maupun sumber daya non
manusia.
3. Komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas
Dalam implementasi program perlu dukungan dan
koordinasi dengan instansi lain. Untuk itu perlu koordinasi
dan kerja sama antara instansi bagi keberhasilan suatu
program.
4. Karakteristik Agen Pelaksana
Agen pelaksana mancakup struktur birokrasi, Standard
Operating Procedure (SOP), norma-norma, dan pola-pola
hubungan yang terjadi dalam birokrasi, yang semuanya
akan mempengaruhi implementasi suatu program.
5. Kondisi sosial, ekonomi dan politik
Variabel ini mencakup sumber daya ekonomi, lingkungan
yang dapat mendukung keberhasilan implementasi
25
kebijakan, sejauh mana kelompokkelompok kepentingan
dapat memberikan dukungan bagi implementasi kebijakan,
karakteristik para partisipan, yakni mendukung atau
menolak, bagaimana sifat opini publik yang ada di
lingkungan, dan apakah elit politik mendukung
implementasi kebijakan.
6. Disposisi Implementor
Disposisi implementor ini mencakup tiga hal, yakni
pertama respon implementor terhadap kebijakan yang
akan dipengaruhi kemauannya untuk melaksanakan
kebijakan ; Kedua, yakni pemahamannya terhadap
kebijakan, dan ketiga intensitas disposisi implementor,
yakni prefansi nilai yang dimiliki oleh implementor.
C. Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah
Dalam rangka mewujudkan pengelolaan aset daerah secara efisien dan
efektif serta menciptakan transparansi kebijakan pengelolaan aset daerah, maka
pemerintah daerah perlu memiliki atau mengembangkan sistem informasi
menajemen yang komprehensif dan handal sebagai alat untuk menghasilkan
laporan pertanggungjawaban. Selain itu, sistem informasi tersebut dapat dijadikan
dasar pengambilan keputusan mengenai kebutuhan barang dan estimasi kebutuhan
belanja pembangunan (modal) dalam penyusunan APBD, dan untuk memperoleh
informasi manajemen aset daerah yang memadai maka diperlukan dasar
pengeolaan kekayan asset yang memadai juga, dimana menurut Sholeh dan
26
Rochmansjah (2010) secara sederhana pengelolaan aset/barang milik daerah
meliputi: (1) adanya perencanaan yang tepat, (2) pelaksanaan secara efisien dan
efektif dan (3) pengawasan (monitoring).
1. Perencanaan
Perencanaan merupakan langkah awal dalam menentukan arah dan
tujuan dari sebuah [Link] perencanaan merupakan salah satu yang
menjadi kunci untuk mencapai sebuah [Link] Sholeh dan
Rochmansjah (2010) menyatakan bahwa sistem pengendalian manajemen
diawali dari perencanaan strategik (strategic planning).
Perencanaan strategic merupakan proses manajerial untuk
mengembangkan dan memelihara suatu arah strategi yang menyelaraskan
tujuan-tujuan organisasi dan berbagai sumber dayanya sehubungan dengan
peluang pemasaran yang berubah-ubah. Perencanaan strategik juga
merupakan proses yang dilakukan suatu organisasi untuk menentukan
strategi dalam pengambilan keputusan yang digunakan untuk perencanaan
masa depan.
Setiap organisasi yang tidak memiliki atau tidak melakukan
perencanaan strategik akan mengalami masalah dalam penganggaran,
misalnya terjadinya beban kerja anggaran yang terlalu berat, alokasi sumber
daya yang tidak tepat sasaran, dan dilakukannya pilihan strategi yang salah.
Menentukan tujuan untuk kinerja organisasi dimasa depan serta
memutuskan tugas dan penggunaan sumber daya yang diperlukan untuk
mencapai tujuan tersebut merupakan fungsi dari perencanaan. Fungsi
27
perencanaan mencakup kegiatan menentukan sasaran yang harus dicapai
dan menetapkan alat yang sesuai untuk mencapai sasaran yang telah
ditentukan.
Pada dasarnya kekayaan daerah dapat diklasifikasikan menjadi dua
jenis (Mardiasmo: 2002) yaitu:
a. Kekayaan yang sudah ada (eksis) sejak adanya daerah tersebut.
Kekayaan jenis ini meliputi seluruh kekayaan alam dan geografis
kewilayahannya. Contohnya adalah tanah, hutan, tambang, gunung,
danau, pantai dan laut .
b. Kekayaan yang akan dimiliki baik yang berasal dari aktivitas
pemerintah daerah yang didanai APBD serta kegiatan
perekonomian daerah lainnya. Contohnya adalah jalan, jembatan,
kendaraan, dan barang modal lainnya.
Pemerintah daerah harus membuat perencanaan yang tepat terhadap
dua jenis kekayaan [Link] juga meliputi perencanaan
terhadap aset yang belum termanfaatkan atau masih berupa aset potensial.
Perencanaan yang dilakukan harus meliputi tiga hal yaitu:
a. Melihat kondisi asset daerah dimasa lalu.
b. Aset yang dibutuhkan untuk masa sekarang.
c. Perencanaan kebutuhan aset dimasa yan akan datang.
2. Pelaksanaan
Menurut Sholeh dan Rochmansjah (2010) kekayaan milik daerah
28
harus dikelola secara optimal dengan memperhatikan prinsip efisiensi,
efektivitas, transparansi dan akuntabilitas [Link] adanya unit
pengelola kekayaan daerah yang profesional agar tidak terjadi overlapping
tugas dan wewenang dalam pengelolaan kekayaan daerah. Pengamanan
terhadap kekayaan daerah harus dilakukan secara memadai baik
pengamanan fisik maupun melalui sistem pengendalian intern.
Sholeh dan Rochmansjah (2010) menyatakan pelaksanaan
pengelolaan aset/barang milik daerah harus memenuhi prinsip akuntabilitas
publik. Akuntabilitas publik yang harus dipenuhi paling tidak meliputi :
a. Akuntabilitas kejujuran dan akuntabilitas hukum (accountability
for probityand legilaty), terkait dengan penghindaran
penyalahgunaan jabatan (abuse of power) oleh pejabat dalam
penggunaan dan pemanfaatan kekayaan daerah,sedangkan
akuntabilitas hukum terkait dengan jaminan adanya kepatuhan
terhadap hukum dan peraturan lain yang disyaratkan dalam
penggunaan kekayaan publik.
b. Akuntabilitas proses (process accountability), terkait dengan
dipatuhinya prosedur yang digunakan dalam melaksanakan
pengelolaan kekayaan daerah, termasuk didalamya dilakukannya
compulsory competitive tendering contract (CCTC) dan
penghapusan mark-up. Untuk itu perlu kecukupan sistem
informasiakuntansi, sistem informasi manajemen, dan prosedur
administrasi.
29
c. Akuntabilitas kebijakan (policy accountability), terkait dengan
pertanggungjawaban pemerintah daerah terhadap DPRD dan
masyarakat luas atas kebijakan-kebijakan penggunaan dan
pemanfaatan kekayaan daerah.
3. Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian
Menurut Sholeh dan Rochmansjah (2010),untuk menjamin kelancaran
penyelenggaraan dan menjamin tertib administrasi pengelolaan barang milik
daerah secara efisien dan efektif maka diperlukan fungsi berikut ini:
a. Pembinaan, yaitu usaha atau kegiatan melalui pemberian pedoman,
bimbingan, pelatihan, dan supervisi.
b. Pengawasan, yaitu usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan
menilai kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas
dan/atau kegiatan dibandingkan dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
c. Pengendalian, yaitu usaha atau kegiatan untuk menjamin dan
mengarahkan agar pekerjaan yang dilaksanakan berjalan sesuai
dengan rencana yang telah ditetapkan.
Pembinaan adalah usaha atau tindakan yang dilakukan secara efektif,
dan efisien, serta dalam perspektif jangka panjang, baik bersifat perubahan
maupun penyempurnaan, agar pengelolaan BMN/D pada keseluruhan siklus
atau tahapan kegiatan dapat dilaksanakan dengan tertib dan mencapai hasil
yang lebih baik, terutama dalam memberikan daya dukung yang tinggi
terhadap kelancaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi, serta keberhasilan
30
pencapaian tujuan organisasi. Usaha atau tindakan dalam kegiatan
pembinaan yang dilakukan oleh pimpinan pada berbagai tingkatan secara
konkrit dapat dilakukan dalam berbagai bentuk seperti pemberian pedoman,
bimbingan, motivasi, supervisi, konsultasi, pendidikan dan pelatihan
(BPPK, 2011).
Pengawasan yang ketat perlu dilakukan sejak tahap perencanaan
hingga pengahapusan aset. Keterlibatan auditor internal dalam proses
pengawasan ini sangat penting untuk menilai konsistensi antara praktik yang
dilakukan oleh pemerintah daerah dengan standar yang berlaku. Selain itu,
auditor juga penting keterlibatannya untuk menilai kebijakan akuntansi yang
diterapkan manyangkut pengakuan aset (recognition), pengukurannya
(measurement), dan penilaianya (valuation).Pengawasan diperlukan untuk
menghindari penyimpanan dalam perencanaan maupun pengelolaan aset
yang dimiliki daerah.
Menurut BPPK (2011), pengendalian intern secara luas merupakan
suatu proses yang dipengaruhi dan melibatkan tidak hanya pada tingkat
pimpinan tertinggi tetapi seluruh sumber daya manusia dalam organisasi
bersangkutan. Pengendalian intern tersebut dirancang untuk memberikan
jaminan yang memadai dalam rangka pencapaian tujuan yang ditetapkan.
Jaminan yang diberikan tidak bersifat mutlak satu dan lain hal terutama
adanya unsur ketidakpastian dimasa datang yang tidak jarang sulit
diprediksi.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang
31
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah menyatakan sistem pengendalian
intern adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang
dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk
memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui
kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan,
pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-
undangan.
Mewujudkan pengelolaan barang milik daerah dapat berjalan dengan
tertib dan optimal maka tahapan perencanaan, pelaksanaan, pembinaan,
pengawasan dan pengendalian perlu dilakukan dalam satu kesatuan sistem.
Perencanaan yang tepat bertujuan agar penggunaan anggaran dalam hal
pengelolaan barang milik daerah dilakukan secara efisien, efektif dan
ekonomis.
Pelaksanaan secara efisien dan efektif bertujuan agar pengelolaan
barang milik daerah dilakukan secara baik dan benar yaitu profesional,
transparan dan akuntabel sehingga barang milik daerah tersebut
memberikan manfaat baik itu untuk jalannya roda pemerintahan maupun
untuk kesejahteraan [Link] pembinaan, pengawasan dan
pengendalian diperlukan untuk menghindari penyimpangan dari peraturan
yang berlaku dalam setiap tahapan pengelolaan barang milik daerah.
D. Sistem Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 Standar Akuntansi
32
Pemerintahan (Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Kas menuju Aktual),
pengertian aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh
pemerintah sebagai akibat dari peristiwa msa lalu dan dari mana manfaat ekonomi
dan/atau social dimasa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah
maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya
nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan
sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Adapun
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, aset adalah sesuatu yang mempunyai nilai
tukar, modal kekayaan (KBBI, 2001 :70).
Sistem berasal dari bahasa latin (systēma) dan bahasa Yunanani(sustēma)
adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan
bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Istilah ini sering
dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana
suatu model matematika seringkali bisa dibuat.
Pengertian sistem menurut ahli “Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja
dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk
melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu”.
(Jogiyanto, 2005).
Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan
dan berkaitan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item
penggerak, contoh umum misalnya seperti negara. Negara merupakan suatu
kumpulan dari beberapaelemen kesatuan lain seperti provinsi yang saling
berhubungan sehingga membentuk suatu negara dimana yang berperan sebagai
33
penggeraknya yaitu rakyat.
Pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem merupakan elemen
yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi dalam melakukan kegiatan
bersama untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan prosedur adalah suatu urutan
kegitan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu departemen
atau lebih yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam transaksi
perusahaan yang terjadi [Link] dalam suatu system biasanya terdiri
dari beberapa prosedur dimana prosedur-prosedur itu saling terkait dan saling
mempengaruhi. Akibatnya jika terjadi perubahan maka salah satu prosedur, maka
akan mempengaruhi prosedur-prosedur yang lain”. (Mulyadi, 2001).
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2007 tentang Pedoman
Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah disebutkan bahwa yang dimaksud
dengan pengelolaan barang daerah adalah suatu rangkaian kegiatan dan tindakan
terhadap daerah yang meliputi:
1. Perencanaan kebutuhan dan penganggaran;
2. Pengadaan;
3. Penerimaan, penyimpanan dan penyaluran;
4. Penggunaan;
5. Penatausahaan;
6. Pemafaatan;
7. Pengamanan dan pemeliharaan;
8. Penilaian;
9. Penghapusan;
34
10. Pemindahtanganan;
11. Pembinaan, Pengawasan, dan Pengendalian;
12. Pembiayaan; dan
13. Tuntutan ganti rugi.
E. Tujuan Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Menurut Lemer (2000), manajemen aset merupakan proses
menjaga/memelihara dan memanfaatkan modal publik, hal ini dilakukan dalam
rangka melaksanakan tertib administrasi pengelolaan barang milik daerah
sehingga terciptanya manajemen pemerintahan yang dapat bekerja secara efisien,
efektif dan ekonomis.
Pengeolaan aset adalah pengelolaan secara komprehensif atas permintaan,
perencanaan, perolehan, pengoperasian, pemeliharaan, perbaikan/rehabilitasi,
pembuangan/pelepasan dan penggantian aset untuk memaksimalisasikan Tingkat
Pengembalian Investasi (ROI) pada standar pelayanan yang diharapkan terhadap
generasi sekarang dan yang akan datang.
F. Azas-Azas Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Barang milik daerah sebagai salah satu unsur penting dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan masyarakat harus dikelola dengan
baik dan [Link] Sholeh dan Rochmansjah (2010) agar pelaksanaan
pengelolaan aset daerah dapat dilakukan dengan baik dan benar sehingga dapat
dicapai efektivitas dan efisiensi pengelolaan aset daerah hendaknya berpegangan
teguh pada azas-azas sebagai berikut :
35
1. Azas fungsional, yaitu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
dibidang pengelolaan barang milik daerah yang dilaksanakan oleh kuasa
pengguna barang, pengguna barang, pengelola barang dan kepala daerah
sesuai fungsi, wewenang dan tanggung jawab masing-masing;
2. Azas kepastian hukum, yaitu pengelolaan barang milik daerah harus
dilaksanakan berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan;
3. Azas transparansi, yaitu penyelenggaraan pengelolaan barang milik
daerah harus transparan terhadap hak masyarakat dalam memperoleh
informasi yang benar;
4. Azas efisiensi, yaitu pengelolaan barang milik daerah diarahkan agar
barang milik daerah digunakan sesuai batasan-batasan standar kebutuhan
yang diperlukan dalam rangka menunjang penyelenggaraan tugas pokok
dan fungsi pemerintahan secara optimal;
5. Azas akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan pengelolaan barang milik daerah
harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat;
6. Azas kepastian nilai, yaitu pengelolaan barang milik daerah harus
didukung oleh adanya ketepatan jumlah dan nilai barang dalam rangka
optimalisasi pemanfaatan dan pemindahtanganan barang milik daerah
serta penyusunan neraca Pemerintah Daerah.
G. Kerangka Pikir
Implementasi kebijakan publik agar dapat mencapai apa yang menjadi
tujuannya harus dipersiapkan dengan baik. Hal ini disebabkan karena
36
implementasi kebijakan publik (public policy implementation) dalam studi
kebijakan publik, merupakan studi yang sangat krusial. Bersifat krusial ini karena
bagaimanapun baiknya suatu kebijakan publik, kalau tidak dipersiapkan dan
direncanakan secara baik dalam implementasinya, maka apa yang menjadi tujuan
kebijakan publik tidak akan bisa diwujudkan.
Untuk mendukung proses implementasi kebijakan publik tersebut,
menurut Edward III :
1. Communicaions, mempunyai peranan yang penting sebagai acuan
pelaksanaan kebijakan mengetahui persis apa yang akan dikerjakan,
ini berarti komunikasi juga dinyatakan dengan perintah dari atasan
terhadap pelaksanan kebijakan, sehingga komunikasi harus dinyatakan
dengan jelas, cepat dan konsisten.
2. Resouces, bukan hanya menyangkut sumber daya manusia semata
melainkan juga mencakup kemampuan sumber daya mineral lainnya
yang mendukung kebijakan tersebut dan faktor dana.
3. Dispositions, sebagai kegunaan dikalangan pelaksana untuk
menerapkan kebijakan, jika penerapan dilaksanakan secara efektif.
Pelaksana bukan hanya harus tahu apa yang harus dikerjakan, tetapi
harus memiliki kemampuan untuk menerapkan kebijakan itu.
4. Bureaucratic Structure, mempunyai dampak terhadap penerapan
kebijakan dalam arti bahwa penerapan kebijakan tidak akan berhasil
37
Berdasarkan kerangka pikir di atas maka dapat di gambarkan konsep
penelitian dalam skema berikut ini.
Implementasi Pengelolaan
Inventaris dan Penggunaan Barang
Impelementasi Kebijakan Edward lll (2015) :
Komunikasi
Sumber Daya
Disposisi
Struktur Birokrasi
Pelayanan Pengadaan Barang dan Jasa
Gambar 2.
Kerangka Pikir Penelitian
H. Fokus Penelitian
Berdasarkan kerangka pikir penelitian di atas maka fokus penelitian ini
berangkat dari latar belakang masalah yang dirumuskan dalam rumusan masalah
dan dikaji berdasarkan teori dalam tinjauan pustaka. Fokus penelitian ini adalah
Proses Implementasi Pengelolaan Inventaris dan Penggunaan Barang Di Kantor
Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat.
38
I. Deskripsi Fokus Penelitian
Berdasarkan bagan kerangka pikir diatas dapat dikemukakan definisi
fokus dalam penelitian ini sebagai berikut ini :
1. Komunikasi mempunyai peranan yang penting sebagai
acuan pelaksanaan kebijakan inventaris barang mengetahui persis apa
yang akan dikerjakan, ini berarti komunikasi juga dinyatakan dengan
perintah dari atasan terhadap pelaksanan kebijakan, sehingga
komunikasi harus dinyatakan dengan jelas, cepat dan konsisten.
2. Sumber daya bukan hanya menyangkut sumber daya manusia semata
melainkan juga mencakup kemampuan sumber daya mineral lainnya
yang mendukung kebijakan tersebut dan faktor dana.
3. Disposisi dan sikap pelaksana adalah tindakan atau lanjutan dari
pimpinan kepada bawahan yang berupa memo atau perintah yang
menjelaskan tentang pekerjaan apa yang seharusnya dikerjakan dan siapa
penanggung jawabnya sesuai keinginan pimpinan.
4. Struktur organisasi birokrasi adalah sebuah struktur dengan tugas-tugas
operasi yang sangat rutin yang dicapai melalui spesialisasi, dan
aturan.
39
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu yang digunakan peneliti yaitu kurang lebih 2 bulan, mulai dari bulan
Desember 2019 hingga Februari 2020. Penelitian ini dilaksankan pada kantor
Biro Umum dan Perlengkapan gedung kantor utama Sulawesi Barat yang
berlokasi di Jl. Abdul Malik Pattana Endeng Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat,
B. Jenis dan Tipe Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Peneliti
menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tipe penelitian deksriptif untuk
memberikan gambaran atau penjelasan mengenai proses Implementasi sistem
Pengelolaan Inventaris dan Penggunaan Barang di Kantor Biro Umum dan
Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat.
C. Informan Penelitian
Informan adalah orang yang diharapkan memberikan data secara obyektif,
akurat, serta dapat dipertanggungjawabkan yang diberikan kepada peneliti.
Dalam penentuan informan penelitian, Peneliti menggunakan metode Purposive
Sampling dimana metodeini menentukan orang yang mengerti dan terlibat
langsung kedalam permasalahan [Link] dalam penelitian ini dapat
dilihat pada tabel berikut ini :
39
40
No Nama Inisial Jabatan
1. Muh. Rizkiady M, [Link], MR Kasubag
[Link] Inventarisasi
Penyimpanan, dan
Pendistribusian
2. Syarifuddin, SE. S Kepala Bagian Tata
Usaha dan keuangan
3. Elmarhama Mahmud, SE. EM Kasubbagian Tata
Usaha dan
Kepegawaian
4. Ismail Efendi, SE. I Staf bagian
Inventarisasi,
Penyimpanan dan
pendistribusian
5. Intan, SE. I Staf bagian
Inventarisasi,
Penyimpanan dan
pendistribusian
Tabel 1. Informan Penelitian
D. Sumber Data
Adapun sumber data yang digunakan oleh peneliti ini yaitu data
primer dan sekunder (Sugiono, 2016).
1. Sumber Data Primer
Data primer yakni data empiris yang di peroleh dari informan
berdasarkan wawancara. Jenis data yang ingin di peroleh menyangkut
tentang Implementasi Sistem Pengelolaan Inventaris dan Penggunaan
Barang di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi
Barat.
2. Sumber Data Sekunder
Data sekunder data-data yang diperoleh dan dikumpulkan dari
sumber-sumber lainnya. Data tersebut antara lain dari dokumen,
41
laporan, artikel dan buku-buku referensi yang bersangkutan dengan
Implementasi Sistem Pengelolaan Inventaris dan Penggunaan Barang
di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat.
E. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan secara langsung melalui
metode atau langkah berikut :
1. Wawancara
Teknik yang digunakan dalam wawancara yaitu wawancara mendalam
yaitu riset atau penelitian yang dilakukan dengan percakapan antara dua
orang yang dimulai dengan tujuan khusus memperoleh keterangan yang
sesuai dengan masalah yang diteliti. Pengambilan data melalui wawancara
lisan langsung dengan informan penelitian di Kantor Biro Umum dan
Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat baik melalui tatap muka ataupun
lewat telepon. Jawaban responden dirangkum sendiri oleh peneliti.
Adapun jenis wawancara yang dilakukan adalah pertanyaaan
terstruktur dan tidak terstruktur. Peneliti akan melakukan wawacara dengan
informan kunci dengan pertanyaan yang telah dibuat sebelumnya dan
apabila tanggapan kurang jelas maka Peneliti mengajukan pertanyaan tidak
terstruktur kepada informan demi mendapatkan data yang jelas.
2. Observasi
Teknik ini dipakai untuk memperoleh fakta-fakta empirik yang terlihat
dan untuk mendapatkan dimensi-dimensi baru untuk pengertian pada
42
kenyataan yang diteliti yang terlihat di kancah penelitian. Fenomena atau
konteks tersebut terkait dengan fokus atau variabel yang mau diteliti.
3. Dokumentasi
Peneliti dapat memanfaatkan dokumen-dokumen tertulis, gambar
(foto) atau benda- benda lainnya pada kondisi lapangan. Hasil dokumentasi
ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan data sekunder atau mendukung
data primer hasil wawancara.
F. Teknik Analisi Data
Menurut Sugiono (2016), teknik analisis data yang dapat dilakukan adalah
sebagai berikut:
1. Reduksi Data, yaitu merujuk pada suatu proses memilih dan atau
mentransformasikan data yang mendekati keseluruhan bagian dari
catatan-catatan lapangan secara tertulis, transkip wawancara, dokumen-
dokumen dan materi empiris lainnya;
2. Penyajian Data, yaitu merupakan sebuah pengorganisasian, penyatuan
dari informasi yang memungkinkan pengumpulan dan aksi. Penyajian
data membantu dalam memahamui apa yang terjadi dan utnuk melakukan
sesuatu termasuk analisis yang lebih mendalam atau mengambil
berdasarkan pemahaman;
3. Kesimpulan, yaitu menarik permasalahan sehingga memungkinkan
verifikasi selama penelitian berlangsung. Kegiatan ini merupakan
Analisa yang sangat penting dengan menarik kesimpulan dan verifikasi.
43
Dari awal pengumpulan data seorang menganalisis kualitatif muali
mencari arti benda-benda, mencatat, konfigurasi yang mungkin, alur
sebab akibat dan proposisi.
G. Teknik Pengabsahan Data
Agar diperoleh temuan interpretasi dan keabsahan data maka perlu untuk
diadakan uji kredibilitas, ada beberapa teknik yang digunakan untuk menguji
kredibilitas menurut (Sugiono, 2016) yaitu:
1. Perpanjangan pengamatan yaitu melakukan pengamatan dan wawancara
lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru.
Perpanjangan pengamatan ini dilakukan dengan cara kembali ke lokasi
penelitian untuk mengamati lebih lanjut dengan mencari data dan
informasi yang masih dianggap kurang dalam menjawab pertanyaan dan
permasalahan penelitian.
2. Triangulasi, yaitu pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai
cara dan berbagai waktu. Proses triangulasi dilakukan dengan mencari
data atau informasi yang masih dianggap kurang dalam menjawab
pertanyaan dari permasalahan penelitian.
3. Mengadakan member cek. Proses pengecekan data yang diperoleh
Peneliti sehingga data dianggap valid karena ada kesepakatan oleh para
pemberi data. Proses ini dilakukan pula untuk mengecek kembali
keaslian informasi atau keterangan yang telah diberikan informan dan
juga melakukan pengecekan kembali ke lokasi penelitian tentang
kebenaran data sekunder yang diperoleh peneliti.
44
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Tempat Penelitian
1. Sejarah berdirinya Biro Umum dan Perlengkapan
Sekretariat Daerah Sulawesi Barat
Sejarah terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat sebagi Provinsi ke 33
sebelum Kalimantan Utara pada tahun 2004 Biro Umum dan Perlengkapan
sudah ada di Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Barat dibawah pimpinan
Absul Mannang, [Link]. dan digantikan Ahmad Appa pada tahun 2007,
setelah itu Biro Umum dan Perlengkapan berganti nama menjadi hanya Biro
Umum. Pada tahun 2014 berubah nama kembali menjadi Biro Umum dan
Perlengkapan dibawah pimpinan Safaruddin, [Link].,[Link]. Di Tahun 2018
setelah satu tahun pergantian Gubernur Sulawesi Barat Biro Umum dan
Perlengkapan kini bertambah namanya setelah Sub Bagiannya bertambah
dengan masuknya Sub Bagian Protokol masuk ke Biro Umum dan
Perlengkapan, berubah menjadi Biro Umum, Perlengkapan dan Protokol di
bawah pimpinan Syarifuddin dari tahun 2019 hingga sekarang.
2. Visi dan misi Biro Umum, Perlengkapan, dan Protokol
a. Visi
Terwujudnya Pelayanan Prima di bidang Administrasi keuangan
dan Penatausahaan, kerumahtanggaan serta penyediaan Sarana
dan Prasarana untuk menunjang Tugas Pokok Sekretariat
Daerah.
44
45
b. Misi
Berdasarkan visi tersebut maka dirumuskan misi Biro Umum
dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat sebagai berikut :
1) Mewujudkan Pelayanan Administrasi Keuangan yang cepat,
tertib dan akuntabel.
2) Mewujudkan Pelayanan Kebutuhan Sarana dan Prasarana
kerja Aparatur yang tertib dan cermat.
3. Struktur Organisasi
Biro Umum dan Perlengkapan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi
Barat dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Barat
Nomor 40 Tahun 2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekertariat
Daerah Provinsi Sulawesi Barat yang dapat diuraikan secara umum dibawah
ini :
a. Bagian Keuangan dan Tata Usaha, terdiri dari :
1). Sub Bagian Tata Usaha dan Administrasi Umum
2). Sub Bagian Keuangan
3). Sub Bagian Verifikasi, Pembukuan dan Pelaporan
b. Bagian Rumah Tangga, terdiri dari :
1). Sub Bagian Pelayanan Administrasi Pimpinan
2). Sub Bagian Rumah Tangga,Tamu Pimpinan dan Akomodasi
3). Sub Bagian Pemeliharaan Gedung, Kendaraan Dinas dan
Peralatan Lainnya.
46
c. Bagian Perlengkapan
1). Sub Bagian Analisis Kebutuhan dan administrasi Pengadaan
2). Sub Bagian Inventarisasi, Penyimpanan dan Distribusi
3). Sub Bagian Pemeliharaan Perlengkapan dan Peralatan.
Gambar 4.1. Struktur Organisasi
JUMLAH ASN BIRO UMUM
PERLENGKAPAN [Link]
DAN BIRO UMUM, PERLENGKAPAN DAN PROTOKOL SYARIFUDDIN, SE
PROTOKOL Pangkat : Pembina Tk I, IV/b
:73 ORANG Nip: 19621212 198303 1 038
JumlahGol IV : 3 Orang
JumlahGol III : 44
Orang JumlahGol II :
KEPALA BAGIAN KEPALA BAGIAN RUMAH TANGGA & PROTOKOL
KEPALAANSHAR
BAGIANMALLE,
PERLENGKAPAN
[Link], M. Si
TATA USAHA DAN KEUANGAN Pangkat :Pembina, IV/a Drs. MOH. SALEH R, [Link]
SYARIFUDDIN, SE Nip: 19740316 199603 1 004 Pangkat :Pembina Tk I, IV/b Nip :19720203 19
Pangkat : Pembina Tk I, IV/b Nip: 19621212 198303 1 038
KEPALA SUB BAGIAN TATA USAHA & KEPEGAWAIAN KEPALA SUB BAGIAN ANALISIS KEBUTUHAN & ADMINISTRASI PENGAD
ASLAM YANSYAH KUBRA, SIP, [Link]
ELMARHAMA MAHMUD, SE KEPALA SUBBAGIAN PROTOKOL
Pangkat :Penata, III/c Nip :19840226 200604 2 023H. SATRIAWAN HASAN SULUR, SE. MM Pangkat :Penata, III/c Nip :19850620 201001 1 011
Pangkat :Penata, III/c Nip: 19860103 201001 1 016
KEPALA SUB BAGIAN PERENCANAAN KEPALA
& PELAPORAN
SUB BAGIAN RUMAH TANGGA & PELAYANAN PIMPINAN
Hj. NILA AINUN, SE, MM ANDIKUSTIA HATTA, SH. MH KEPALA SUB BAGIAN INVENTARIS, PENYIMPANAN
Pangkat :Penata Tk.I, III/d Nip :19770203 200604
Pangkat
2 025
:Penata, III/c Nip : 19850701 200903 2 017MUH. RIZKIADY M, [Link], [Link]
Pangkat :Penata, III/c Nip : 19901015 201010
KEPALA SUB
KEPALA SUB BAGIAN PEMELIHARAAN GEDUNG BAGIAN PEMELIHARAAN
& KENDARAAN PERLENGKAPAN & PERALATAN A. ANDIK
DINAS HADIRAH
Pangkat :PenataTk.I,III/d Pangkat :PenataMuda, Tk. I, III/b
KEPALA SUB BAGIAN KEUANGAN
NURLAELA, [Link], [Link] Nip : 19641231 198803 2 192 Nip : 19850226 201001 1 028
Pangkat :Penata, III/c Nip :19920219 201206 2 002
Sumber : Kantor Biro Umum dan Perlengkapan
47
4. Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Sekertariat Daerah Provinsi
Sulawesi Barat
Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Barat Nomor 40
Tahun 2017 tentang Rincian Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja
Sekertariat Daerah Provinsi Sulawesi Barat, masing-masing bagian
memiliki tugas pokok, fungsi dan uraian tugas yang dapat diuraikan sebagai
berikut :
a. Bagian Keuangan dan Tata Usaha
1. Bagian Keuangan dan Tata Usaha sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 69 huruf a, mempunyai tugas menyiapkan koordinasi
pembinaan dan petunjuk pelaksanaan pengelolaan keuangan
biro umum, kepala daerah/wakil kepala daerah, belanja pegawai
di lingkungan Sekretariat Daerah, pengkajian bahan kebijakan
umum dan koordinasi, fasilitasi, pemantauan serta evaluasi tata
usaha dan administrasi umum, verifikasi, pembukuan dan
pelaporan serta keuangan.
2. Bagian Keuangan dan Tata Usaha dalam melaksanakan tugas
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menyelenggarakan fungsi:
a). Pengkajian bahan kebijakan umum, pelaksanaan koordinasi
dan fasilitasi, serta pemantauan dan evaluasi dibidang tata
usaha dan administrasi umum, verifikasi, pembukuan dan
pelaporan serta keuangan;
48
b). Pengkajian dan perhitungan APBD lingkup sekretariat
daerah;
c). Pengujian/ pengesahan SPJ lingkup sekretariat daerah;
d). Pelaksanaan penatausahaan administrasi kepegawaian dan
keuangan;
e). Pelaksanaan pengelolaan dan penyelesaian gaji, pensiun,
upah dan tunjangan serta tambahan penghasilan pimpinan
dan staf ahli;
f). Pelaksanaan pengelolaan dan penyelesaian gaji, pensiun,
upah dan tunjangan serta tambahan penghasilan pegawai
lingkup Sekretariat Daerah;
g). Pemantauan terhadap penghimpunan data realisasi atas
pelaksanaan dana desentralisasi (APBD) lingkup sekretariat
daerah provinsi secara bulanan menyampaikan kepada
BPKAD sebagai bahan perhitungan APBD; dan
h). Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.
b. Bagian Rumah Tangga
1. Bagian Rumah Tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal
69 huruf b, mempunyai tugas menyiapkan koordinasi dan
petunjuk pelaksanaan urusan rumah tangga, pengelolaan
kendaraan dinas dan pemeliharaan gedung dan taman.
49
2. Bagian Rumah Tangga dalam melaksanakan tugas
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menyelenggarakan
fungsi :
a). Pengkajian bahan kebijakan, koordinasi dan fasilitasi serta
pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan pelayanan
administrasi pimpinan, rumah tangga pimpinan, tamu
pimpinan, akomodasi pimpinan, pemeliharaan gedung,
kendaraan dinas dan peralatan lainnya;
b). Pelaksanaan penyusunan bahan kebijakan umum dan
program kerja bagian rumah tangga;
c). Pelaksanaan pengumpulan bahan dalam rangka
pengurusan dan pelayanan rumah tangga pimpinan;
d). Pelaksanaan penyiapan tempat ruangan, akomodasi serta
konsumsi untuk rapat acara kenegaraan dan pelantikan;
e). Pelaksanaan pengurusan rumah tangga Gubernur, Wakil
Gubernur dan Sekretaris Daerah;
f). Pengumpulan bahan untuk pelayanan administrasi
pimpinan dan staf ahli gubernur;
g). Penyiapan bahan administrasi perjalanan dinas pimpinan
dan staf ahli gubernur;
h). Penyiapan pengelolaan kendaraan dinas roda empat di
lingkungan Sekretariat Daerah;
50
i). Pelaksanaan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan
pengambilan kebijakan;
j). Pelaksanaan koordinasi dengan unit kerja terkait; dan
k). Penyelenggaraan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.
c. Bagian Perlengkapan
1. Bagian Perlengkapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69
huruf c, mempunyai tugas menyiapkan koordinasi dan
petunjuk pelaksanaan urusan dibidang analisis kebutuhan,
pengadaan dan inventarisasi, penyimpanan serta
pendistribusian.
2. Bagian Perlengkapan dalam melaksanakan tugas
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyelenggarakan
fungsi :
a). Pengkajian bahan kebijakan umum analisis
kebutuhan; b). Koordinasi dan fasilitasi pengadaan
barang dan jasa;
c). Fasilitasi pengadaan kendaraan dinas roda empat lingkup
sekretariat daerah yang penganggarannya berada pada
masing-masing biro;
d). Pelaksanaan monitoring dan evaluasi inventarisasi,
penyimpanan dan pendistribusian barang;
e).Pelaksanaan penyusunan program kerja bagian
perlengkapan;
51
f). Perumusan kebijakan perencanaan dan pola kerja pada
bagian Perlengkapan;
g). Perumusan perencanaan kebutuhan barang dan jasa
Lingkup sekretariat daerah;
h). Analisis prioritas rencana dan pengawasan kegiatan
pengadaan barang dan jasa;
i). Koordinasi, monitoring dan evaluasi pada kegiatan
pendataan, pemanfaatan, penyimpanan dan pendistribusian
barang lingkup biro umum dan perlengkapan;
j). Pelaksanaan evaluasi dan pembinaan terhadap aktivitas
pengelolaan tugas pokok dan fungsi serta kegiatan bagian
perlengkapan;
k). Koordinasi dengan unit kerja terkait; dan
l). Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan.
Saat ini Biro Umum dan Perlengkapan mempunyai objek-objek atau
titik kerja yang di tertibkan melalui surat keputusan yang ditandatangani
oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat sebanyak dua puluh delapan
titik antara lain adalah dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2. 28 Titik Bagian Kerja Biro Umum dan Perlengkapan
1. Ruang Kerja Asisten Tata 12. Ruang loby lt. 1 gedung Kantor Utama
Praja & Lapangan Upacara
2. Ruang Kerja Asisten 13. Ruang Loby lt.2 Gedung Kantor Utama
Pembangunan & Ruang Meeting depan
3. Ruang Kerja Asisten 14. Ruang Loby lt. 3 Gedung Kantor
Administrasi Pembangunan Utama & Ruang Meeting depan
4. Ruang Kerja Staff Ahli 15. Ruang loby lt.4 Gedung Kantor Utama
52
Gubernur Ruang Meeting, & Auditorium
b. Ruang Kerja Staf Khusus 16. Ruang Meeting Marasa corner
Gubernur
c. Ruang kerja Serbaguna lt. 3 17. Ruang Meeting Oval Gubernur
d. Ruang Kerja Biro Umum, 18. Gedung Masjid Pemprov
Perlengkapan,dan Protokol
e. Ruang Kerja Bagian TU dan 19. Gedung VIP Bandara Tampa Padang
keuangan
f. Ruang Kerja Bagian Rumah 20. Gedung Gudang Penyimpanan Barang
Tangga
g. Ruang Kerja Bagian 21. Gedung Hanggar Penyimpanan Barang
Perlengkapan
h. Ruang Kerja Bendahara Biro 22. Gedung Serbaguna Rumah Jabatan
Umum, dan Perlengkapan Gubernur
Sumber : Kantor Biro Umum dan perlengkapan
5. Data Pegawai Kantor
Berdasarkan data secara keseluruhan jumlah personil di lingkungan
Biro Umum dan Perlengkapan Sekertariat Daerah Provinsi Sulawesi Barat
Tahun 2020 berdasarkan jenis kelamin, tingkat pendidikan, pangkat
golongan.
a. Jenis Kelamin
Berikut ini data pegawai berdasarkan jenis kelamin di Kantor
Biro Umum dan Perlengkapan Sekertariat Daerah Provinsi Sulawesi
Barat dapat dilihat pada tabel 2:
Tabel 3. Data Pegawai Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin
No Jumlah
Laki-laki Perempuan
1. 52 Orang 21 Orang 73
Sumber Kantor Biro Umum dan perlengkapan Tahun 2020
53
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pegawai di Kantor
Biro Umum dan Perlengkapan Sekertariat Daerah Provinsi Sulawesi Barat
yang berkelamin laki-laki sebanyak 52 orang dan pegawai yang berkelamin
perempuan sebanyak 21 orang. Pegawai di Kantor Biro Umum dan
Perlengkapan Sekertariat Daerah Provinsi Sulawesi Barat dapat disimpulkan
mayoritas berkelamin laki-laki.
b. Status, Pangkat dan Golongan
Secara lengkap gambaran tentang kepegawaian dilingkungan Biro
Umum dan Perlengkapan menurut Status Pangkat dan golongan adalah
sebagaimana ditunjukkan pada tabel sebagai berikut :
Tabel 4. Data Pegawai Berdasarkan Status, Pangkat dan Golongan
No Status Kepegawaian Gol Jumlah
1. Pembina Tk.I IV/b 2
2. Pembina IV/a 1
3. Penata Tk.I III/d 2
4. Penata III/c 12
5. Penata Muda Tk.I III/b 12
6. Penata Muda III/a 18
7. Pengatur Tk.I II/d 3
8. Pengatur II/c 11
9. Pengatur Muda Tk.I II/b 7
10. Pengatur Muda II/a 5
Jumlah 73
Sumber Kantor Biro Umum dan Perlengkapan
54
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pegawai di Kantor
Biro Umum dan Perlengkapan Sekretariat Daerah terdiri dari 73 personil
yang terinci dalam golongan kepangkatan Pembina Tk 1; IV/b ada 2 orang,
Pembina; IV/a ada 1 orang, Penata Tk.I; III/d ada 2 orang, Penata; III/c ada
12 orang, Penata Muda Tingkat I; III/b ada 12 orang, Penata Muda; III/a ada
18 orang, Pengatur Tk 1; II/d ada 3 orang, Pengatur II/c, ada 11 orang,
Pengatur muda Tk 1; II/b ada 7 orang, Pengatur muda II/a ada 5 Orang.
Pegawai di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan Sekretariat Daerah dapat
disimpulkan sebagian besar memiliki golongan Penata Muda; III/a.
c. Tingkat Pendidikan
Gambaran secara lengkap tentang pegawai di lingkungan Biro Umum
dan Perlengkapan Sekretariat Daerah menurut latar belakang pendidikan
yang ditamatkan adalah sebagaimana ditunjukkan tabel berikut.
Tabel 5. Data Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No.
Tingkat Pendidikan Jumlah
1 Strata Dua (S2)
9 Orang
2. Strata Satu (S1)
31 Orang
3. Diploma Tiga (D3)
6 Orang
4. SMA/SMK
23 Orang
5. SMP/Sederajat
4 Orang
Jumlah 73 Orang
Sumber kantor Biro Umum dan perlengkapan
55
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa data mengenai
pegawai kantor Biro Umum dan Perlengkapan Sekretariat Daerah yang
berpendidikan S2 sebanyak 9 orang, S1 sebanyak 31 orang, D3 sebanyak 6
orang, SMA/SMK sebanyak 23 orang, dan SMP/Sederajat sebanyak 4
orang. Pegawai di kantor Biro Umum dan Perlengkapan Sekretariat Daerah
dapat disimpulkan mayoritas berpendidikan S1.
B. Hasil Penelitian
1. Komunikasi
Komunikasi pada kebijakan pengelolaan barang milik daerah ini
dilakukaN Pemeriksa Barang, Pengguna Barang dan Pengurus Barang
sebagai pelaksana kebijakan bisa saling bekerja sama untuk mencapai
keberhasilan implementasi kebijakan. Komunikasi yang dilakukan
dalam kebijakan pengelolaan BMD ini cukup banyak yaitu
komunikasi oleh Pengguna Barang, Pengurus Barang yang Berkaitan
dengan masalah BMD sebelum diterapkannya kebijakan ini, Bapak
Rizkiady selaku Kasubbagian Inventarisasi, penyimpnanan dan
pendistribusian beliau menjelaskan bahwa
“Merujuk pada PERMENDAGRI Bab XIII Nomor 17 Tahun
2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik
Daerah bahwa Pengelolaan adalah serangkaian kegiatan yang
meliputi pembukuan, inventarisasi dan pelaporan barang milik
daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sosialisasi
tentang pengelolaan barang milik daerah itu memang sudah
kami laksanakan, tetapi benar kita belum melaksanakannya
khususnya sampai ketingkat bawah”.
56
Menurut penjelasan informan, bahwa Sosialisasi tentang
pengelolaan barang milik daerah jarang sekali dilaksanakan pada
kegiatan resmi kepada pegawai yang ada di Kantor Biro Umum dan
Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat. Sosialisasi yang dibangun
hanya sebatas penyampaian pada rapat internal SKPD, Sehingga apa
yang menjadi tuntutan dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor
17 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik
Daerah, yang mengatur tentang regulasi atau kebijakan terhadap
Pengelolaan Barang Milik Daerah tidak dapat tercapai.
Pernyataan senada datang dari Ibu Elmarhama sebagai Kasubag
Tata Usaha dan Kepegawaian di Kantor Biro Umum dan
Perlengkapan provinsi Sulawesi Barat menjelaskan, bahwa:
“Dalam Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2010 tentang
Pengelolaan Barang Milik Daerah dalam melakukan
Pengelolaan Barang milik daerah memang belum efektif. Kami
belum melakukan sosialisasi secara intensif berupa kegiatan
UPTD terkait mengenai pengelolaan barang milik daerah. Kami
selaku pengelola barang milik daerah yang memang melekat
pada tugas pokok dan fungsi saya sebagai Kepala Sub Bagian
Tata Usaha dan Kepegawaian, menyampaikan persoalan
masalah pengelolaan barang milik daerah kepada unit terkecil
hanya pada pertemuan informal saja.”
Penjelasan tentang sosialisasi pengelolaan barang milik daerah
secara resmi dalam bentuk kegiatan jarang sekali dilaksanakan, hal ini
memberikan gambaran bahwa lemahnya sistem pengelolaan barang
milik daerah sehingga mengakibatkan data di Kantor Biro Umum dan
Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat secara keseluruhan menjadi
tidak akurat. Penyampaian agar pengelolaan barang milik daerah
57
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku hanya pada
sebatas pertemuan tidak resmi sehingga apa yang menjadi kelemahan
dari UPTD tidak dapat diketahui secara pasti. Komunikasi akan
berjalan efektif apabila ukuran-ukuran dan tujuan-tujuan kebijakan
yang dipahami oleh individuindividu yang bertanggung jawab dalam
pencapaian tujuan kebijakan.
Pernyataan senada juga disampaikan oleh Bapak Syarifuddin
selaku Kepala Bagian Tata Usaha dan Keuangan menjelaskan bahwa :
“Di Kantor ini merupakan salah satu SKPD yang memiliki aset
yang cukup besar dengan jumlah wilayah yang cukup luas.
Banyaknya unit-unit UPTD di 28 titik tidak memungkinkan
untuk dilaksanakan sosialisasi pengelolaan barang milik daerah
dengan padatnya kegiatan. Bentuk komunikasi yang terjadi
selama ini antara kami selaku pengurus barang yang diwakili,
sehingga kadang apa yang kami sampaikan tidak dilanjutkan
atau disampaikan ke yang bertanggung jawab atas barang
tersebut.”
Pernyataan informan tersebut terlihat bahwa komunikasi yang
dibangun hanya sebatas penyampaian lisan saja. Komunikasi adalah
hal yang menentukan antar organisasi, individu, kelompok didalam
pelaksanaan suatu kegiatan. Kebijakan pengelolaan barang milik
daerah bertujuan agar apa yang menjadi pedoman akan dipahami oleh
setiap individu yang bertanggung jawab terhadap kinerja kebijakan
sehingga mencapai tujuan yang diinginkan yaitu barang milik daerah
yang dikelola secara tertib sehingga dapat menghasilkan data aset
yang akurat.
58
Penjelasan diatas menunjukkan bahwa memang tanpa
komunikasi yang baik dalam sebuah kebijakan akan membuat kualitas
kebijakan tersebut menjadi kurang baik, dimana komunikasi sangat
dibutuhkan untuk menyebarkan informasi penting tentang pelaksanaan
kebijakan. Pernyataan dari Informan Staf bagian Inventarisasi,
Penyimpanan dan pendistribusian Bapak Ismail Efendi, SE.
menjelaskan bahwa:
“Hingga saat ini di kantor Biro Umum dan Perlengkapan kurang
mensosialisasikan pengelolaan barang milik daerah kepada
pegawai yang ada sehingga kami mereka minim pemahaman
tentang pentingnya proses pengelolaan barang milik daerah dan
prosedur pengelolaan aset sebagaimana yang telah diatur sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. Bentuk komunikasi yang
dilakukan sebatas informasi yang diberikan kepada para Kepala
departemen atau bagian yang kadang kami kurang pahami
maksud, tujuan serta bagaimana mengaplikasikan pengelolaan
tersebut sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Kami berharap tindakan adanya kegiatan yang intens
dilaksanakan agar pengelola barang yang ada memahami tugas
mereka sehingga apa yang menjadi tuntutan dalam pengelolaan
barang milik daerah dapat tercapai dan di implemetasikan dalam
bentuk nyata.”
Penjelasan dari Informan tersebut menggambarkan bahwa
komunikasi yang dibangun hanya sebatas penyampaian lisan yang
dilakukan pada kegiatan tidak resmi. Diperlukan adanya sosialisasi
atau paling tidak komunikasi antara Pejabat yang pengelola barang
milik daerah dengan pengurus barang yang ada. Mengkomunikasikan
tujuan organisasi secara baik dan benar akan mempercepat dan
mempermudah pencapaian tujuan secara optimal. Pernyataan
59
disampaikan oleh informan lainnya yaitu Ibu Intan selaku Staf bagian
Inventarisasi, Penyimpanan dan pendistribusian, menyatakan bahwa:
“Mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 17 Tahun
2007 Tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik
Daerah, jelas bahwa Pentingnya pengelolaan barang milik
daerah, Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagai unit
pengguna barang milik daerah bertugas dan bertanggungjawab
atas perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan,
penggunaan, penatausahaan, pemeliharaan/ perbaikan,
pengamanan dan pengawasan barang dalam lingkungan
wewenangnya. Komunikasi yang dibangun dalam hal
pengelolaan barang milik daerah itu hanya sebatas informasi
saja, sehingga informasi yang disampaikan tidak dapat
ditindaklanjuti oleh UPTD. Hal ini mengakibatkan data asset
yang ada tidak valid dan akan mempengaruhi neraca asset di
Kantor Biro Umum dan Perlengkapan.”
Pelaksanaan suatu kebijakan khususnya pengelolaan barang
milik daerah di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan perlu diperjelas
ukuran dasar dan tujuan kebijakan. Ketepatan komunikasi dengan para
pelaksana dan konsistensi atau keseragaman dari ukuran dasar dan
tujuan yang dikomunikasikan dengan menggunakan sumber
informasi. Hal penting lainnya yaitu dalam merumuskan pesan-pesan
kebawah bagi komunikator dalam menyampaikan informasi harus
jelas.
Upaya untuk mendukung pengelolaan barang/aset daerah secara
efisien dan efektif serta menciptakan transparansi kebijakan
pengelolaan barang/aset daerah, maka diharapkan pemerintah daerah
perlu memanfaatkan secara efektif sistem informasi manajemen yang
konfrehensif dan handal sebagai alat untuk pengambilan keputusan.
Sistem informasi manajemen barang/asset daerah juga berisi data base
60
barang/aset yang dimiliki oleh Kantor Biro Umum dan Perlengkapan.
Sistem tersebut bermanfaat untuk menghasilkan laporan pertanggung
jawaban. Selain itu sistem informasi tersebut juga bermanfaat untuk
dasar pengambilan keputusan mengenai kebutuhan pengadaan barang
dan estimasi kebutuhan belanja modal dalam penyusunan APBD.
2. Sumber Daya
Faktor sumber daya manusia mempunyai peranan penting dalam
implementasi kebijakan penatausahaan barang milik daerah, karena
bagaimanapun jelas dan konsistensinya ketentuan-ketentuan atau
aturan-aturan suatu kebijakan, jika para personil yang bertanggung
jawab mengimplementasikan kebijakan kurang mempunyai sumber-
sumber untuk melakukan pekerjaan secara efektif, maka implementasi
kebijakan tersebut tidak akan bisa efektif. Keberhasilan implementasi
kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumber
daya yang tersedia. Manusia merupakan sumber daya yang terpenting
dalam menentukan keberhasilan suatu implementasi kebijakan. Dapat
di lihat pada penjelasan informan berikut ini: Menurut Bapak
Syarifuddin selaku Kepala Bagian Tata Usaha dan keuangan sebagai
berikut:
“Kami mengakui bahwa di Kantor Biro Umum dan
Perlengkapan pengurusan dan penyimpan barang dilaksanakan
oleh satu orang yang seharusnya dua orang dan belum ada
pegawai yang di SK kan yang bertugas secara khusus
bertanggung jawab menangani masalah pengelolaan barang
milik daerah, sehingga secara keseluruhan banyak aset di kantor
Biro Umum dan Perlengkapan yang belum tercatat dan
61
dilaporkan, akibatnya mempengaruhi nilai aset secara
keseluruhan. Faktor sumber daya manusia memang menjadi
kendala utama menyangkut pengelolaan barang milik daerah
pada UPTD. Rendahnya pelatihan manejemen pengelola serta
kurangnya pemahaman tentang sistem berbasis akuntansi yang
kurang dimiliki oleh aparat pengelola. Menyangkut masalah soal
anggaran yang tersedia dalam hal biaya pengelola barang milik
daerah untuk pengurus di UPTD hal ini memang belum
dianggarkan di DPA Kantor Biro Umum selama ini, namun
akan kami upayakan di anggaran berikutnya.”
Pernyataan Kepala bagian Tata Usaha dan Keuangan di
atas,sangat menitikberatkan pada faktor sumber daya manusia dan
ketersediaan anggaran. Sumber-sumber penting dalam pengelolaan
barang milik daerah yang dimaksud mencakup pengelola mempunyai
keahlian dan kemampuan untuk bisa melakukan tugas mengelola
barang milik daerah, ketepatan atau kelayakan antara jumlah staf yang
dibutuhkan dan keahlian yang harus dimiliki dengan tugas yang akan
dikerjakan serta sumber dana untuk membiayai operasionalisasi
pengelolaan barang milik daerah, Kurang cukupnya sumber-sumber
ini, berarti pengelolaan barang milik daerah tidak akan dapat
dilaksanakan secara maksimal. Senada dengan pernyataan informan
dari Ibu Elmarhama Kasubagian Tata Usaha dan Kepegawaian,
menjelaskan bahwa:
“Memang benar bahwa dalam pengelolaan barang milik daerah
dari proses pembukan, inventarisasi dan pelaporan barang milik
daerah, kita membutuhkan sumber daya manusia yang
berkualitas dari segi pendidikan, keterampilan dan integritas,
agar proses pelaporan barang milik daerah yang berada di bawah
penguasaan pengguna barang/kuasa itu terkendali. Pengguna
barang yang dibeli/diperoleh dari dana APBD dan non APBD
misalnya barang hibah, hasil sitaan, dan lain-lain bisa tepat
waktu, tepat sasaran dan sesuai prosedur ketentuan yang
62
berlaku. Aparat pengelola yang ada di UPTD belum memahami
tugas selaku kuasa pengguna barang milik daerah yang ada
dilingkup wilayahnya, sehingga akan berdampak pada neraca
yang ada pada Kantor Biro Umum dan Perlengkapan. Faktor
anggaran utamanya untuk biaya pengelola yang tidak tersedia
bisa jadi penyebab tidak adanya keinginan para pegawai untuk
melaksanakan tugas tersebut.”
Di perkuat dengan Informan lainnya, Bapak Rizkiady
kasubbagian Inventarisasi, Penyimpanan, dan Distribusi , menyatakan
bahwa:
“Pengelolaan barang milik daerah pada Kantor Biro Umum dan
Perlengkapan sebenarnya belum optimal. Faktor Sumber daya
pengelola menjadi hambatan utama karena pengurus dan
penyimpan barang dilaksanakan hanya dilakukan sedikit orang
dan belum ada pegawai yang bertugas khusus untuk mengelola
barang milik daerah yang ada di UPTD, sehingga banyak aset
yang tidak tercatat dan belum dilaporkan. Sehingga bisa
memepengaruhi nilai aset di Kantor Biro Umum dan
Perlengkapan secara khusus dan nilai aset Pemerintah Daerah
secara keseluruhan.”
Informasi tersebut dapat disimpulkan bahwa sumber daya
manusia yang ada di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan belum
dapat mendukung pengelolaan barang milik daerah secara maksimal
karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki baik dari segi
kuantitas maupun kualitas.
3. Disposisi
Implementasi kebijakan pengelolaan barang milik daerah pada
Kantor Biro Umum dan Perlengkapan, dan beberapa bidang yang ada
di bawahnya tentunya selaku Kepala Bagian yang bertanggung jawab
sebagai pengguna barang/aset milik Pemerintah Daerah yang ada
63
dalam kewenangannya. Dalam hal sikap pelaksana, para informan
mempunyai tanggapan yang berbeda. Lebih lanjut Untuk mengetahui
bagaimana tanggung jawab Kepala Bagian dan aparat yang ada di
bawahnya dapat di maknai dari seorang informan atas nama, bapak
Syarifuddin Kepala Bagian Tata Usaha dan Keuangan, menyatakan
bahwa :
“Sebagai pengguna barang sekaligus kepala bagian Tata Usaha
harus bertanggung jawab terhadap penggunaan barang/aset
daerah yang ada di lingkungan saya dan saya mengetahui bahwa
pegawai yang mengelola aset di UPTD kurang memiliki
tanggungjawab terhadap tugas dan fungsinya. Data yang
berbeda antara data dari Dinas dengan data yang ada di UPTD
menyangkut masalah aset itu akan kami perbaiki dan saya
sebagai pengguna barang akan mencari dimana letak kesalahan
itu dan saya berharap ditahun berikutnya tidak ada lagi
perbedaan tersebut.”
Penjelasan diatas menunjukkan bahwa UPTD Kantor Biro
Umum dan Perlengkapan masih kurang bertanggungjawab penuh
terhadap tugas dan kewenangan yang berkaitan dengan pengelolaan
barang milik daerah sementara pegawai yang diberikan tanggung
jawab dalam pengelolaan barang/aset sangat penting karena
menyangkut pembagian tugas yang menangani pengelolaan
barang/aset pada Kantor Biro Umum dan Perlengkapan. Ini di perkuat
dengan beberapa informan sebagai berikut. Pernyataan dari informan,
Ibu Intan Staf bagian Inventarisasi, Penyimpanan dan pendistribusian
menyatakan bahwa :
“Secara keseluruhan di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan
sebagian pegawai belum sepenuhnya bertanggung jawab
terhadap penggunaan barang/aset daerah, dalam artian
64
pengelolaannya belum bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Kami menginginkan adanya upaya perbaikan di tahun
mendatang, agar apa yang menjadi tujuan itu bisa tercapai.”
Bapak Rizkiady sebagai Kasubbagian Inventarisasi,
Penyimpanan, dan Pelaporan menyatakan bahwa:
“Memang benar bahwa sebagian besar UPTD Kantor Biro
Umum dan perlengkapan yang ada yang diberikan
tanggungjawab untuk mencatat, menginventarisasi dan
melaporkan data aset masih belum sepenuhnya dilaksanakan
sesuai dengan peraturan yang berlaku.”
Penyampaian dari Ibu Elmarhama Elmarhama Kasubagian Tata
Usaha dan Kepegawaian, menyatakan bahwa:
“Sikap para pengelola barang milik daerah pada Kantor Biro
Umum dan Perlengkapan utamanya pada Unit Pelaksana Teknis
Daerah belum memiliki tanggungjawab sepenuhnya. Sebagai
kuasa pengguna barang sudah menjadi kewajiban untuk
menyampaikan laporan barang semesteran, tahunan dan bahkan
lima tahunan, sehingga apa yang menjadi ketentuan dalam
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2007 tentang
Pedoman teknis pengelolaan barang milik daerah dapat
tercapai.”
Dari hasil wawancara terhadap informan tergambar sikap
implementor terhadap kebijakan pengelolaan barang/asset daerah,
dimana setiap UPTD di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan, belum
memiliki tanggung jawab sepenuhnya terhadap kebijakan pengelolaan
barang/aset dan daerah dimana setiap Unit Pelaksana Teknis Daerah
(UPTD) Kantor Biro Umum dan Perlengkapan adalah merupakan
kuasa pengguna barang yang berkewajiban menyampaikan laporan
barang semesteran, tahunan dan lima tahunan kepada pengguna
barang yaitu Kepala Bagian Tata Usaha:
65
a. Setiap Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang ada
dilingkungan Kantor Biro Umum dan Perlengkapan harus
bekerja lebih maksimal didalam pelaksanaan kebijakan
pengelolaan barang/aset daerah.
b. Adanya dukungan implementor tehadap pelaksanaan kebijakan
pengelolaan barang/aset daerah, pencapaian tujuan dari sasaran
kebijakan akan tercapai dengan baik.
4. Struktur Birokrasi
Struktur birokrasi mempunyai pengaruh yang sangat siknifikan
terhadap pelaksanaan kebijakan. Salah satu aspek Struktural yang
paling dasar dari suatu birokrasi adalah prosedur kerja ukuran
dasarnya Standard Operating Procedurs (SOP). SOP sangat
bermanfaat untuk menanggulangi keadaan umum dalam birokrasi
publik. SOP yang digunakan sangat membantu para pelaksana dalam
memanfaatkan waktu yang telah tersedia dan SOP juga bermanfaat
untuk menyeragamkan langkah atau tindakan dari setiap unit kerja.
Bilamana SOP ini dilaksanakan secara efektif di Kantor Biro Umum
dan Perlengkapan dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) maka
pelaksanaan kebijakan penatausahaan barang/aset daerah berjalan
secara maksimal. Mengetahui kondisi tersebut tentunya di dasari fakta
yang ada dilapangan yakni jawaban dari informan sebagai fakta untuk
66
membuktikan sejauhmana struktur birokrasi mempunyai pengaruh
terhadap pelaksanaan kebijakan.
Pernyataan dari seorang informan atas nama, Bapak Ismail
Efendi selaku staf bagian inventarisasi, penyimpanan, dan
pendistribusian menyatakan bahwa :
“Struktur Birokrasi sangat bermanfaat dalam pelaksanaan
kebijakan pengelolaan barang/aset daerah dilingkungan Kantor
Biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat di mana
SOP itu dapat dijadikan sebagai dasar dalam melaksanakan
tugas dan perannya dalam pengelolaan barang sehingga
administrasi barang dapat dikelola secara tertib sesuai dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2007 tentang
Pedoman teknis pengelolaan barang milik daerah.”
Informasi tersebut dapat dijelaskan bahwa penggunaan Standar
Operasional Pekerjaan belum berjalan dengan baik, dimana SOP itu
belum dijadikan sebagai dasar dalam melaksanakan tugas dan
perannya dalam pengelolaan barang sehingga adminstrasi barang
dapat dikelola secara tertib sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 17 tahun 2007 tentang Pedoman teknis pengelolaan
barang milik daerah.
C. Pembahasan
1. Komunikasi
Model implementasi kebijakan Edward III ini adalah model Top
Down, yang berarti dalam dimensi komunikasi fokus utama yang
dimaksud adalah transmisi, kejelasan dan konsistensi. Dalam rangka
menyamakan persepsi dan langkah secara integral dari semua unit
67
kerja di kantor Biro Umum dan Perlengkapan dalam implementasi
kebjakan pengelolaan Barang Milik Negara, serta untuk meningkatkan
pemahaman, pengetahuan, kemampuan dan keterampilan khususnya
bagi pelaksana barang yang menangani Barang Milik Negara, oleh
karena itu perlu diciptakan komunikasi kebijakan baik. Pertemuan-
pertemuan rutin seperti rapat koordinasi antara pengelola BMN
dengan para pejabat pengguna Barang Milik Negara yang ada di
Kantor biro Umum dan Perlengkapan Provinsi Sulawesi Barat sudah
dilakukan baik dalam acara formal maupun informal. Pengguna
Barang Milik Negara dan Pelaksana Barang Milik Negara sudah
sering melakukan komunikasi yang terimplimentasi dalam sebuah
rapat, bahkan setiap kali ada rapat selalu disampaikan dalam forum
tersebut seluruh kendala yang terjadi dalam pelaksanaan pengelolaan
Aset dan Barang Milik Negara khususnya yang diakibatkan karena
belum terciptanya komunikasi yang baik.
Masalah utama dalam penerapan komunikasi yang dilaksanakan
oleh Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara
adalah belum terjadinya komunikasi dan koordinasi yang baik antara
Pengelola aset dan Barang Milik Negara dengan Pengguna Barang
Milik Negara terkait sering dipindah-pindahkan barang/ asset oleh
pengguna Barang Milik Negara. Yang mana seharusnya terlebih
dahulu dilaksanakan pelaporan dan koordinasi terkait rencana
68
perpindahan Barang Milik Negara sebelum dilaksanakannnya
pemindahan Barang Milik Negara tersebut.
Saat ini, Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik
Negara selaku pelaksana aktif dalam pengelolaan aset dan Barang
Milik Negara di Kantor biro Umum dan Perlengkapan terus menerus
melakukan komunikasi koordinasi dan kerjasama antar bagian dan
antara semua unsur pengelolaan Barang Milik Negara, demi
terwujudnya sebuah pengelolaan Barang Milik Negara yang tertib
administrasi, transparansi dan dapat dipertanggungjawabkan. Meski
hal tersebut tidak mudah, namun Bagian Perlengkapan dan
Pengelolaan Barang Milik Negara terus berkomitmen untuk
mewujudkan komunikasi yang baik tersebut dengan berbagai upaya.
2. Sumber Daya
Menurut Edward III dalam (Widodo, 2011) sumberdaya
merupakan hal penting dalam implementasi kebijakan yang baik.
Indikator-indikator yang digunakan untuk melihat sejauhmana
sumberdaya mempengaruhi implementasi kebijakan, yang terdiri dari:
a. Staf.
b. Informasi.
c. Wewenang.
d. Fasilitas.
Sumberdaya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan
dalam penentuan keberhasilan dan sebuah proses pada pelaksanaan
69
pengelolaan Barang Milik Negara. Begitu juga yang dialami Bagian
Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara saatt ini, yang
mana faktor sumber daya manusialah yang menjadi permasalahan
pokok dalam implementasi kebijakan pengelolaan aset dan Barang
Milik Neagara di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan, maka dari itu
faktor sumber daya ini harus mendapat prioritas lebih supaya kinerja
Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara bisa
menjadi lebih optimal. Dari hasil wawancara yang dilaksanakan oleh
penulis terhadap pelaksana pada Subbagian Pengelolaan Barang Milik
Negara khususnya bagian inventarisasi di dapati informasi bahwa
Sumber daya aparatur yang dimiliki oleh Bagian Perlengkapan dan
Pengelolaan Barang Milik Negara sekarang memang dirasa masih
kurang memenuhi harapan dan ekspektasi institusi. Dikarenakan
dalam implementasi kebijakan pengelolaan aset dan Barang Milik
Negara yang berjumlah sangat banyak di Kantor Biro Umum dan
Perlengkapan tentunya tidak dapat dilakukan oleh sedikit orang, akan
tetapi harus banyak atau cukup orang yang melaksanakan pengelolaan
aset dan Barang Milik Negara itu sendiri.
Fakta yang ditemukan penulis adalah Jumlah sumber daya
aparatur sekarang jika dibandingkan dengan jumlah aset dan jumlah
tugas yang dimiliki oleh Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan
Barang Milik Negara sekarang tentunya masih belum ideal, maka dari
itu perlu dilaksanakan penambahan dan perekrutan aparatur baru
70
untuk menunjang dan mendukung keberhasilan proses Pengelolaan
asset dan Barang Milik Negara di Kantor Biro umum dan
Perlengkapan. Selain Sumber Daya Aparatur, Sumber daya
Infrastruktur sebagai Penunjang keberhasilan pelaksanaan pengelolaan
aset dan BMN di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan juga harus
dipenuhi dan mendapatkan perhatian lebih. Infrastruktur pada Bagian
Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara masih tergolong
baik dan mengikuti perkembangan zaman.
3. Disposisi
Disposisi atau biasa dikenal dengan sikap pelaksana merupakan
hal yang mutlak harus ditumbuhkan pada pribadi masing-masing
pengelola asset dan Barang Milik Negara di Kantor Biro Umum dan
Perlengkapan. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa keberhasilan dan
kesuksesan implementasi kebijakan pengelolaan aset dan Barang
Milik Negara di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan sangat
bergantung kepada baik dan tidaknya sikap para pelaksananya ataupun
pengelolanya untuk mensukseskan dan mengoptimakan implementasi
tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara penulis terhadap Kasubbagian
Perencanaan dan Pelaporan barang didapati hasil bahwa sikap
pelaksana yang harus dimiliki oleh pengelola asset dan BMN di
Kantor Biro Umum dan Perlengkapan adalah Kesadaran pada
lingkungan kerja; Kemauan bekerja yang besar; Pengetahuan yang
71
cukup terhadap tugas dan fungsinya; Keinginan berprestasi; dan
Motivasi bekerja tinggi.
Sikap tersebut harus di tumbuh kembangkan menjadi sebuah
tabiat bersama sehingga tujuan visi dan misi lembaga dapat tercapai
secara utuh. Meskipun dengan didukung sumber daya infrastruktur
yang terbaik, meskipun juga didukung oleh Sumber Daya Aparatur
yang berpendidikan tinggi dan berkualifikasi tinggi, meskipun juga
didukung oleh struktur birokrasi yang dapat membagi tugas secara
merata, akan tetapi jika pelaksananya tidak memiliki sikap yang baik
maka semua pekerjaan dan proses pengelolaan aset dan Barang Milik
Negara tidak akan tidak akan terlaksana dengan maksimal.
4. Struktur Birokrasi
Struktur Birokrasi yang mengimplementasikan kebijakan
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sukses dan tidaknya
implementasi kebijakan. Maka dari itu Struktur birokrasi merupakan
salah satu faktor penting dalam keberhasilan proses dan hasil dari
implementasi kebijakan pengelolaan Barang Milik Negara di Kantor
Biro Umum dan Perlengkapan. Karena struktur birokrasilah yang
menentukan pembagian-pembagian tugas pada sebuah unit ataupun
instansi guna melaksanakan tugas pokok dan fungsinya masing
masing. Struktur birokrasi juga yang membedakan bagian satu dengan
bagian lainnya dalam mewujudkan visi dan misi sebuah Instansi
seperti di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan.
72
Dari hasil wawancara yang sudah dilakukan oleh penulis
terhadap Pelaksana pada Kasubbagian administrasi pengadaan Barang
Milik Negara, di dapati hasil bahwa struktur birokrasi yang ada di
Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara Kantor
Biro Umum dan Perlengkapan masih belum optimal. Dikarenakan
masih ada terjadi tumpang tindih tugas dan fungsi antara Bagian
Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara dengan
Subbagian Rumah Tangga pada Bagian Umum. Beberapa kali terjadi
kesalahpahaman antara kedua unit tersebut yang mengakibatkan
ketidaknyamanan antara masing masing pelaksana. Alasan yang kedua
adalah dikarenakan struktur birokrasi yang ada di Bagian
Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara
masih belum membagi tugas tugasnya secara proposional dan ideal.
yang hanya mengandalkan pembagian tugas.
73
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai topik dalam skripsi
ini sebagaimana telah dijabarkan dan dijelaskan mengenai serangkaian proses
implementasi sistem pengelolaan inventaris dan penggunaan barang di Kantor
Biro Umum dan Perlengkapan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Masalah utama dalam hal komunikasi yang dilaksanakan oleh Kantor Biro
Umum dan Perlengkapan adalah belum terjadinya komunikasi dan
koordinasi yang baik antara Pengelola aset dan Barang Milik Negara
Kantor Biro Umum dan Perlengkapan dengan Pengguna Barang Milik
Negara terkait sering dialkukannya pemindahan aset dan Barang Milik
Negara oleh pengguna Barang Milik Negara. Yang mana seharusnya
terlebih dahulu melaporkan terkait rencana perpindahan Barang Milik
Negara tadi sebelum dilaksanakannnya pemindahan Barang Milik Negara
tersebut.
2. Masalah pokok yang daialami oleh Bagian Perlengkapan dan
Pengelolaan Barang Milik Negara dalam pelaksanaan Pengelolaan Aset
dan Barang Milik Negara adalah kekurangan sumber daya aparatur.
Hampir pada setiap tahapan pengelolaan aset dan barang milik negara di
Kantor biro Umum dan Perlengkapan disebabkan karena kekurangan
73
74
sumber daya aparatur, baik itu dalam segi kuantitas maupun kulaitas.
Jumlah sumber daya aparatur di Bagian perlengkapan dan Pengelolaan
Barang Milik Negara sekarang jika dibandingkan dengan jenis jumlah
asset dan Barang Milik Negara serta beban pekerjaan sekarang masih
belum ideal.
3. Disposisi, dan Sikap pelaksana yang berada di Intern Bagian
Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara tergolong baik,
Patuh ta’at dan loyal terhadap tugas yang sudah diberikan terkait
pelaksanaan pengelolaan asset dan Barang Milik Negara. Namun pada
bagian-bagian lain ataupun unsur-unsur terkait, masih ditemukannya
oknum yang belum memiliki komitmen yang sama untuk mensukseskan
proses pelaksanaan pengelolaan aset dan Barang Milik Negara. Tidak
bisa dipungkiri bahwa memang ada oknum pengguna Barang Milik
Negara yang ada di luar Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang
Milik Negara masih kurang peduli dengan aset dan Barang Milik Negara
yang ada di Kantor Biro Umum dan Perlengkapan.
4. Struktur birokrasi yang ada di Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan
Barang Milik Negara Kantor Biro Umum dan Perlengkapan masih belum
bisa mengoptimalkan kinerja. Karena struktur birokrasi yang ada di
Bagian Perlengkapan dan Pengelolaan Barang Milik Negara masih belum
membagi tugas tugasnya secara proposional dan ideal.
75
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas yang dapat disarankan adalah
sebagai berikut :
1. Diharapkan kualitas SDM Pengurus Barang lebih ditingkatkan lagi
dengan cara menambah kompetensi dari pendidikan D3/S1, aktif dalam
kegiatan BIMTEK, bingbingan atau pelatihan lainnya dan loyal terhadap
pekerjaan yang diemban. Kemudian terkait dengan kuantitas SDM
sebaiknya Pengguna Barang menetapkan Pembantu Pengurus Barang
untuk dilakukan pembagian tugas sehingga pelaksanaan kebijakan
pengelolaan BMD bisa lebih efektif dan efisien.
2. Komunikasi Antar Badan Pelaksana Komunikasi antar badan pelaksana
telah berjalan dengan baik. Hal tersebut perlu dipertahankan dan
ditingkatkan lagi.
76
DAFTAR PUSTAKA
Agustino, Leo.2016. Dasar dasar kebijakan publik. Bandung : Alfabeta.
Astari, Rima. 2013. Skripsi Manajemen Pengelolaan Inventarisasi Guna
Menunjang Aktifitas Perbekalan di Program Pasca Sarjana Universitas
Negeri Semarang. Universitas Negeri Semarang.
Bafadal, Ibrahim. 2004. Manajemen Perlengkapan Sekolah. Jakarta: Bumi
Aksara.
Dunn, William. 2009. Pengantar Analisis kebijakan publik, edisi keempat.
Yogyakarta : Gajah Mada Universitas Press.
Dwiantara dan Sumarno. 2009. Manajemen Logistik. Jakarta : Grasindo.
Haerul, Akib, H., & Hamdan. (2016). Implementasi Kebijakan Program
Makassar Tidak Rantasa di Kota Makassar . Jurnal Administrasi Publik,
6(2), 21-34
Hamdi, A.S. 2014. Metode penelitian Kuantitatif Aplikasi dalam Pendidikan.
Yogyakarta : CV Budi Utama.
Ismail. 2010. Manajemen Perbankan. Jakarta : Prendamedia Group.
Jogiyanto. 2005. Analisa dan Desain Sistem Informasi. Yogyakarta :
Andi
Kapioru. 2014. Implementasi Peraturan Daerah Kota Kupang Nomor 15 Tahun
2011 Tentang Retribusi Peayanan Parkir Di Tepi Jalan Umum. Jurnal:Vol
11 No 1.
Majid. 2014. Pembelajaran tematik Terpadu. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Mardiasmo. 2002. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Yogyakarta :
Penerbit andi.
Matin dan Fuad. 2016. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan : Konsep
dan Aplikasinya. Jakarta : Rajawali Pers.
Mulyadi, D. 2015. Perilaku Organisasi dan Kepemimpinan Pelayanan. Bandung :
Alfabeta.
Naditya, dkk. 2013. Implementasi Strategi Pembelajaran Inkuiri terhadap
Kemampuan Berpikir Kritis Dan Pemahaman Konsep Siswa. Jurnal
Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Vol 3
Nugroho D, Riant. 2004. Kebijakan Publik, Formulasi, Implementasi dan
Evaluasi. Jakarta : Gramedia.
Nurhanifah. 2015. Skripsi Implementasi Program Kegiatan Harian Siswa Dalam
Pembentukan Karakter Disiplin Siswa. Universitas Islam Bandung.
76
77
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Barang Milik Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah.
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 Standar Akuntansi Pemerintahan.
Pratama, Rezky, 2015. Implementasi Peraturan daerah nomor 02 Tahun 2011
Tentang Pengelolaan sampah di kelurahan sidodadi Kecamatan
Samarinda. Jurnal Pemerintahan Integratif. Vol 3 nomor 1
Siagian, P Sondang. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi
Aksara
Soleh dan Rochmansjah. 2010. Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Sebuah
Pendekatan Struktural Menuju Tata Kelola Yang Pemerintahan Yang
Baik. Bandung : Fokus media.
Subarsono. 2005. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta : Pustaka pelajar.
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung :
Alfabeta.
Tahir, Arifin. 2014. Kebijakan Publik Dan Transparansi Penyelenggaraan
Daerah. Bandung : Alfabeta.
Taufik, Mhd dan Isril. Implementasi Peraturan Daerah Badan Permusyawaratan
daerah. Jurnal Kebijakan Publik, Vol 4 No 2.
Waluyo. 2007. Manajemen Publik (Konsep, Aplikasi, Dan Implementasi) Dalam
Pelaksanaan Otonomi Daerah. Bandung : Mandarmaju.
Widodo. 2011. Analisis kebijakan publik : Konsep dan aplikasi analisis proses
kebijakan publik. Malang : Bayu Media.
78
N
79
Lampiran : Surat Permohonan Izin Penelitian dari LP3M Unismuh Makassar
Lampiran : Surat Izin penelitian dari DPMPTSP Provinsi Sulawesi Barat
80
Lampiran : Surat Izin penelitian dari DPMPTSP Provinsi Sulawesi Barat
81
82
Lampiran : Dokumentasi Penelitian
Wawancara dengan bapak Muh. Rizkiady M.,[Link], [Link]
(Kasubbagian Inventarisasi, Penyimpanan dan pendistribusian)
Wawancara dengan bapak Syarifuddin,
SE. (Kepala Bagian Tata Usaha dan
Keuangan)
83
Wawancara dengan Ibu Elmarhama Mahmud, SE.
(Kasubbagian Tata Usaha dan Kepegawaian)
Wawancara dengan Ismail, SE.
(Staf bagian Inventarisasi, Penyimpanan dan pendistribusian)
84
Wawancara dengan Intan, SE
(Staf bagian Inventarisasi, Penyimpanan dan pendistribusian)
85
Lampiran : Surat Keterangan Bebas Plagiat
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
RIWAYAT HIDUP
Wirna, lahir di Papalang pada tanggal 26 Desember 1996 di
Provinsi Sulawesi Barat. Saat ini berdomisili di Perumahan
Bumi Permata Hijau, Jln Bumi 4 Blok A1 No 18,
Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini Kota
Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Anak ke pertama dari
empat bersaudara, lahir dari pasangan Bapak Idrus dan Ibu
Ajamia. Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar di SD Inpres Papalang
pada tahun 2002 hingga 2008. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan ke
Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 5 Kalukku pada tahun 2008 hingga
tahun 2011. Selanjutnya, penulis melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah
Kejuruan di SMK Negeri 1 Papalang pada tahun 2011 hingga tahun 2014. Dan di
tahun 2014, penulis mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan Perguruan
Tinggi di Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) di Jl. Sultan
Alauddin, Gn. Sari Kecamatan Rappocini Kota Makassar dengan mengambil
Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program
Strata Satu (S1). Insya Allah pada tahun 2022 akan menyelesaikan studi sekaligus
menyandang gelar Sarjana Administrasi Publik ([Link]).