0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan5 halaman

Model Pembelajaran Discovery Learning

Model Discovery Learning memungkinkan siswa menemukan konsep secara mandiri melalui observasi dan eksperimen. Langkah-langkahnya meliputi merumuskan masalah, menganalisis data, membuat hipotesis, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti. Metode ini dapat meningkatkan aktifitas dan pemahaman siswa, namun membutuhkan persiapan dan keterbatasan topik.

Diunggah oleh

risa permana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan5 halaman

Model Pembelajaran Discovery Learning

Model Discovery Learning memungkinkan siswa menemukan konsep secara mandiri melalui observasi dan eksperimen. Langkah-langkahnya meliputi merumuskan masalah, menganalisis data, membuat hipotesis, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti. Metode ini dapat meningkatkan aktifitas dan pemahaman siswa, namun membutuhkan persiapan dan keterbatasan topik.

Diunggah oleh

risa permana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KONSEP MODEL DISCOVERY LEARING

A. Pengertian Model Discovery Learning


Discovery learning merupakan metode memahami konsep, arti, dan
hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu
kesimpulan. Model pembelajaran Discovery menurut brunner dalam suherti
(2017:53) ialah “pembelajaran yang bertujuan memperoleh pengetahuan
dengan suatu cara yeng dapat melatih kemampuan intelektual para siswa serta
merangsang keingin tahuan mereka dan memotivasi kemampuan mereka”.
Pendapat ahli lain mengatakan “Discovery adalah model pembelajaran yang
mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga siswa memperoleh
pengetahuan yang sebelumnya belum diketahui tidak melalui pemberitahuan.
Sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri” ruseffendi dalam suherti
(2017:53).
Menurut Saifuddin dalam Kristin (2014:108) Discovery Learning adalah
“strategi pembelajaran yang cenderung meminta siswa untuk melakukan
observasi, eksperimen, atau tindakan ilmiah hingga mendapatkan kesimpulan
dari hasil tindakan ilmiah tersebut”.
Menurut Noeraida dalam suherti (2017:55) mengemukakan bahwa:
Pada Discovery Learning materi tidak disampaikan dalam bentuk final
akan tetapi peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin
diketahui, dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian
mengorganisasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui
dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir.

Menurut Suryosubroto dalam Putrayasa (2002:192) Discovery Learning


“merupakan komponen dari praktek pendidikan yang meliputi metode mengajar
yang memajukan cara belajar aktif, berorientasi pada proses, mengarahkan
sendiri dan reflektif”.

Suherti (2017:55) “Penggunaan model Discovery Learning ingin


mengubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. Mengubah
pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented”. Mengubah modus
9
10

ekspositori peserta didik hanya menerima informasi secara keseluruhan dari


guru; ke modus discovery peserta didik menemukan informasi sendiri.

Melalui model ini siswa diajak untuk menemukan sendiri apa yang
dipelajari kemudian mengkonstruk pengetahuan itu dengan memahami
maknanya. Dalam model ini guru hanya sebagai fasilitator. Model Discovery
Learning membiarkan siswa-siswa mengikuti minat mereka sendiri untuk
mencapai kompeten dan kepuasan dari keingintahuan mereka.

B. Sintak Model Discovery Learning


Sintak model Discovery Learning menurut Rismayani (2013:8) sebagai
berikut:
1. Guru mulai bertanya dengan mengajukan persoalan atau menyuruh
anak didik membaca atau mendengarkan uraian yang memuat
pemasalahan.
2. Anak didik diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai
permasalahan. Sebagai besar memilihnya yang dipandang paling
menarik dan fleksibel untuk dipecahkan. Permasalahan yang dipilih
itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk, atau hipotesis, yakni
pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan.
3. Untuk menjawab petanyaan atau membuktikan benar tidaknya
hipotesis ini, anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan
(collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur,
mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakuan uji coba
sendiri, dan sebagainya.
4. Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi dan sebagai,
semuanya diolah, diacak, diklatsifikasikan, ditabulasi bahkan bila
perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat
kepercayaan tertentu.
5. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada,
pertanyaan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu
kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau
tidak.
6. Tahap selanjutnya berdasarkan hasil verfisikasi tadi, anak didik
belajar menarik kesimpulan atau generalisasi tertentu.
11

C. Kelebihan model Discovery Learning


Kelebihan discovery learning menurut suherman, dkk dalam Suherti
(2001:59) yaitu:
1) Peserta didik aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berfikir dan
menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil akhir;
2) Peserta didik memahami benar bahan pelajaran, sebab mengalami
sendiri proses menemukannya. Sesuatu yang diperoleh dengan cara
ini lebih lama diingat;
3) Menemukan sendiri menimbulkan rasa puas. Kepuasan batin ini
mendorong ingin melakukan penemuan lagi sehingga minat
belajarnya meningkat siswa yang memperoleh pengetahuan dengan
pembelajaran Discovery akan lebih mampu mentransfer
pengetahuannya ke berbagai konteks;
4) Pembelajaran ini melatih siswa untuk lebih banyak belajar sendiri.

Kelebihan Discovery Learning menurut Hosnan dalam Suherti


(2015:59) sebagai berikut:
1) Meningkatkan kemampuan peserta didik untuk memecahkan
masalah;
2) Berpusat pada peserta didik dan guru yang berperan sama aktifnya;
3) Membantu mengembangkan ingatan dan transfer pada situasi dan
proses belajar yang baru;
4) Mendorong peserta didik bekerja dan berpikir atas inisiatif sendiri;
5) Mendorong peserta didik berpikir intuisi dan merumukan hipotesis
sendiri;
6) Mendorong keterlibatan keaktifan peserta didik;
7) Peserta didik akan dapat mentransfer pengetahuannya ke berbagai
konteks;
8) Kemungkinan peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai
jenis sumber belajar;
9) Melatih peserta didik belajar mandiri;
10) Peserta didik aktif dalam kegiatan belajar mengajar sebab, ia
berpikir dan menggunakan kemampuan untuk menemukan hasil
akhir.

D. Kekurangan Model Discovery Learning


Kekurangan model Discovery Learning menurut suryosubroto dalam
suherti (2001:60) sebagai berikut:
1) Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara
belajar ini. Misalnya peserta didik yang lamban, mungkin bingung
dalam hal usaha mengembangkan pemikirannya jika berhadapan
dengan hal-hal yang abstrak, atau menemukan saling
ketergantungan antara pengertian dalam satu subjek atau dalam
usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis;
12

2) Pembelajaran Discovery kurang berhasil untuk digunakan di kelas


besar. misalnya sebagian besar waktu dapat hilang karena
membantu seseorang peserta didik yang menemukan teori teori, atau
menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu;
3) Harapan yang ditumpahkan pada model ini mungkin mengecewakan
guru dan peserta didik yang sudah bisa dengan perencanaan dan
pengajaran secara tradisional;
4) Mengajar dengan Discovery mungkin akan dipandang sebagai
terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang
memperhatikan diperolehnya sikap dan keterampilan. Sedangkan
sikap dan keterampilan diperlukan untuk memperoleh pengertian
atau sebagai perkembangan emosional sosial secara berlebihan;
5) Discovery Learning mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk
berpikir kreatif, karena pengertian-pengertian yang akan ditemukan
telah diseleksi terlebih dahulu oleh guru, demikian pula proses-
proses di bawa pembinaannya. Tidak semua pemecahan masalah
menjamin penemuan penuh arti.

Kekurangan Discovery Learning menurut Hosnan dalam Suherti


(2015:60) sebagai berikut:
1) Biasanya terjadi kegagalan mendeteksi masalah dan adanya
kesalahpahaman antara guru dengan pesrta didik.
2) Tidak semua peserta didik mampu melakukan penemuan.
3) Tidak berlaku untuk semua topik pelajaran.
4) Kemampuan berfikir rasional siswa ada yang masih terbatas.
5) Berkenaan dengan waktu, model Discovery Learning membutuhkan
waktu lebih lama daripada ekspositori.

E. Langkah-Langkah Operasional Model Pembelajaran Discovery


Learning
Menurut Hosnan (2014: 285) terdapat beberapa langkah-langkah yang
harus ditempuh oleh guru dalam melaksanakan model pembelajaran Discovery
Learning, diantaranya:
1) Merumuskan masalah
2) Dari data yang diberikan guru, peserta didik menyusun, memproses,
mengorganisir, dan menganalisis data tersebut.
3) Peserta didik menyusun konjektur (perkiraan) dari hasil analisis
yang dilakukannya.
4) Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat peserta didik
diperiksa oleh guru.
5) Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur
tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga
kepada peserta didik untuk menyusunnya.
13

6) Sesudah peserta didik menemukan apa yang dicari, hendaknya guru


menyediakan soal latihan untuk memeriksa apakah hasil penemuan
itu benar.

Anda mungkin juga menyukai