Manfaat dan Budidaya
Sawi
Filed under: KAMUS — Tinggalkan Komentar
Oktober 30, 2012
Sawi atau Sayur Manis
MANFAAT SAWI
Sayur-sayuran tentunya sangat bermanfaat terhadap tubuh kita. Karena selain kaya akan
serat dan vitamin, tentunya juga dapat mencegah berabagai penyakit. Seperti sayuran Sawi
yang bernama latin Brassica Juncea ini termasuk ke dalam family curciferae. Nama lokal
untuk sayuran ini beragam di setiap daerah, seperti di darah Kabupaten Karo sauran ini
disebut dengan nama sayur manis. Sawiatau Sayur manis ini merupakan tanaman semusim
yang berdaun lonjong, halus dan tidak berbulu. Batang tanaman sawi pendek dan langsing. Ia
mempunyai akar tunggang dengan banyak akar samping yang pendek. Ukuran kuntum
bunganya kecil dengan warna kuning pucat spesifik. Bijinya berukuran kecil dan berwarna
hitam kecokelatan serta terdapat dalam kedua sisi dinding sekat polong yang gemuk.
Ada dua jenis sawi yang popular, yaitu sawi hijau dan sawi putih. Keduanya memiliki banyak
manfaat yang tidak terduga. Dahulu pada saat saya masih kecil, ketika saya makan bakso dan
mie ayam, saya sering meminggirkan sawi hijau ini, dan malas untuk memakannya.
Sekarang, setelah tahu khasiatnya, saya menjadi tidak mau menyia-nyiakan sayuran hijau
kaya manfaat ini.
Sawi ternyata mampu membantu mencegah osteoporosis karena kandungan vitamin K dalam
sawi dapat mengatur protein tulang dan kalsium di dalam tulang. Kandungan kalsium pada
sawi juga mampu menurunkan kadar kolesterol dan mencegah diabetes mellitus. Sawi juga
mengandung niasin yang berfungsi memperkecil proses aterosklerosis dan akhirnya
menurunkan kemungkinan terjadinya serangan jantung. Sawi juga dapat menjaga kornea
mata agar selalu sehat dengan adanya vitamin A membuat sel epitel akan mengeluarkan
keratin, yaitu protein yang tidak larut dalam air.
Selain itu, kandungan asam folat dalam sawi berfungsi dalam proses sintesis nucleoprotein
yang merupakan inti dari pembentukan dan produksi butir – butir darah merah normal dalam
sumsum tulang yang dapat mencegah anemia. Kandungan vitamin E pada sawi dapat
berfungsi sebagai antioksidan utama di dalam sel. The George Mateljan Foundation (2006)
menggolongkan sawi dalam kategori excellent sebagai sumber viatamin E. Kebutuhan rata –
rata vitamin E mencapai 10 – 12 miligram/hari.
Selain vitamin E, betakaroten dan vitamin C pada sawi sangat baik untuk mencegah
kolesterol dan penyakit jantung. Ketiga zat tersebut sangat bermanfaat mencegah terjadinya
oksidasi kolesterol LDL.
Sawi atau Caisin (Brassica sinensis L.) termasuk famili Brassicaceae, daunnya panjang,
halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Sawi mengandung pro vitamin A dan asam askorbat
yang tinggi. Tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga
dapat diusahakan dari dataran rendah sampai dataran tinggi, tetapi pertumbuhan dan produksi
sawi yang ditanam lebih baik di dataran tinggi. Biasanya dibudidayakan di daerah ketinggian
100 – 500 m dpl, dengan kondisi tanah gembur, banyak mengandung humus, subur dan
drainase baik. Tanaman sawi terdiri dari dua jenis yaitu sawi putih dan sawi hijau.
BUDIDAYA SAWI
Benih Sawi
Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani karena benih yang baik
akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang bagus. Kebutuhan benih 650 gr/ha, bila benih
hasil pananaman sendiri maka tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur di
atas 70 hari dan penggunaan benih tidak lebih dari 3 tahun.
Persemaian/Pembibitan Tanaman Sawi
Sebelum benih sawi disebar, direndam dengan larutan Previcur N dengan konsentrasi 0,1 %
selama + 2 jam. Selanjutnya benih disebar merata pada bedengan persemaian, dengan media
semai setebal + 7 cm dan disiram. Media semai dibuat dari pupuk organik dan tanah yang
telah dihaluskan dengan perbandingan 1 : 1. Benih yang telah disebar ditutup dengan media
semai, selanjutnya ditutup dengan alang-alang atau jerami kering selama 2-3 hari. Bedengan
persemaian tersebut sebaiknya diberi naungan.
Persiapan Lahan Tanaman Sawi
Lahan Budidaya Sawi terlebih dahulu diolah dengan cangkul sedalam 20-30 cm supaya
gembur, setelah itu dibuat bedengan dengan arah membujur dari Barat ke Timur agar
mendapatkan cahaya penuh.
Bedengan sebaiknya dibuat dengan ukuran lebar 100-120 cm, tinggi 30 cm dan panjang
sesuai kondisi lahan. Jarak antar bedengan + 30 cm. Lahan yang asam (pH rendah) lakukan
pengapuran dengan kapur kalsit atau dolomite 2-4 minggu sebelum tanam dengan dosis 1,5
t/ha.
Pemupukan Sawi
Tiga hari sebelum tanam berikan pupuk organik (kotoran ayam yang telah difermentasi)
dengan dosis 2-4 kg/m2. Dua minggu setelah tanam dilakukan pemupukan susulan Urea 150
kg/ha (15
gr/m2). Agar pemberian pupuk lebih merata, pupuk Urea diaduk dengan pupuk organik
kemudian diberikan secara larikan di samping barisan tanaman. Selanjutnya dapat
ditambahkan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 10 dan 20 hari setelah tanam.
Penanaman Tanaman Sawi
Bibit umur 2-3 minggu setelah semai atau telah berdaun 3-4 helai, dipindahkan pada lubang
tanam yang telah disediakan dengan jarak tanam 20×20 cm atau sistem baris dengan jarak
15×10-15 cm. Jika ada yang tidak tumbuh lakukan penyulaman, yaitu tindakan penggantian
tanaman dengan tanaman baru.
Pemeliharaan Tanaman Sawi
Pada musim kemarau atau di lahan kurang air perlu penyiraman tanaman. Penyiraman ini
dilakukan dari awal sampai panen. Penyiangan dilakukan 2 kali atau disesuaikan dengan
kondisi gulma, bila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan bersamaan dengan
penyiangan.
Pengendalian Organisme Penggangu Tanaman (OPT) Tanaman Sawi
Untuk mencegah hama dan penyakit pada sawi yang perlu diperhatikan adalah sanitasi dan
drainase lahan. OPT utama adalah ulat daun kubis (Plutella xylostella). Pengendalian dapat
dilakukan dengan cara pemanfaatan Diadegma semiclausuma sebagai parasitoid hama
Plutella xylostella. Jika terpaksa menggunakan pestisida, gunakan pestisida yang aman dan
mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik.
Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis,
volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.
Panen Tanaman Sawi
Panen sawi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
1) mencabut seluruh tanaman beserta akarnya,
2) memotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah.
Umur panen sawi + 40 hari setelah tanam, sebaiknya terlebih dahulu dilihat fisik tanaman
seperti
warna, bentuk dan ukuran daun.
Tanaman Sawi
Pasca Panen Tanaman Sawi
Tanaman sawi yang baru dipanen, ditempatkan di tempat yang teduh agar tidak cepat layu
dengan cara diperciki air. Selanjutnya lakukan sortasi untuk memisahkan bagian tanaman
yang tua, busuk atau sakit. Penyimpanan bisa menggunakan wadah berupa keranjang
bambu,plastik atau karton yang berlubang-lubang untuk menjaga sirkulasi udara.
[Link]
Tips lengkap budidaya sawi
January 6, 2013 Filled under Budidaya
Tips lengkap budidaya sawi
Tips lengkap budidaya sawi – Jagad Indonesia ini memungkinkan dikembangkan tanaman
sayur-sayuran yang banyak bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan bagi manusia.
Sehingga ditinjau dari aspek klimatologis Indonesia sangat tepat untuk dikembangkan untuk
bisnis sayuran.
Di antara tanaman sayur-sayuran yang mudah dibudidayakan adalah caisim. Karena caisim
ini sangat mudah dikembangkan dan banyak kalangan yang menyukai dan memanfaatkannya.
Selain itu juga sangat potensial untuk komersial dan prospek sangat baik.
Ditinjau dari aspek klimatologis, aspek teknis, aspek ekonomis dan aspek sosialnya sangat
mendukung, sehingga memiliki kelayakan untuk diusahakan di Indonesia.
Sebutan sawi orang asing adalah mustard. Perdagangan internasional dengan sebutan green
mustard, chinese mustard, indian mustard ataupun sarepta mustard. Orang Jawa, Madura
menyebutnya dengan sawi, sedang orang Sunda menyebut sasawi.
MANFAAT
Manfaat sawi sangat baik untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita
batuk. Penyembuh penyakit kepala, bahan pembersih darah, memperbaiki fungsi ginjal, serta
memperbaiki dan memperlancar pencernaan.
Sedangkan kandungan yang terdapat pada sawi adalah protein, lemak, karbohidrat, Ca, P, Fe,
Vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C.
JENIS SAWI
KLASIFIKASI BOTANI
Divisi : Spermatophyta.
Subdivisi : Angiospermae.
Kelas : Dicotyledonae.
Ordo : Rhoeadales (Brassicales).
Famili : Cruciferae (Brassicaceae).
Genus : Brassica.
Spesies : Brassica Juncea.
JENIS-JENIS SAWI
Secara umum tanaman sawi biasanya mempunyai daun panjang, halus, tidak berbulu, dan
tidak berkrop. Petani kita hanya mengenal 3 macam sawi yang biasa dibudidayakan yaitu :
sawi putih (sawi jabung), sawi hijau, dan sawi huma. Sekarang ini masyarakat lebih
mengenal caisim alias sawi bakso. Selain itu juga ada pula jenis sawi keriting dan sawi sawi
monumen.
Caisim alias sawi bakso ada juga yang menyebutnya sawi cina., merupakan jenis sawi yang
paling banyak dijajakan di pasar-pasae dewasa ini. Tangkai daunnya panjang, langsing,
berwarna putih kehijauan. Daunnya lebar memanjang, tipis dan berwarna hijau. Rasanya
yang renyah, segar, dengan sedikit sekali rasa pahit. Selain enak ditumis atau dioseng, juga
untuk pedangan mie bakso, mie ayam, atau restoran cina.
Tips lengkap budidaya sawi
SYARAT TUMBUH
Sawi bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena Indonesia mempunyai
kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dikembangkan di Indonesia ini.
Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin,
sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian
pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi.
Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200
meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai
ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.
Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada
musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Berhubung dalam
pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila
ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang
menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bils di tanam pada akhir musim
penghujan.
Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus,
subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk
pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7.
BUDIDAYA TANAMAN SAWI
Cara bertanam sawi sesungguhnya tak berbeda jauh dengan budidaya sayuran pada
umumnya. Budidaya konvensional di lahan meliputi proses pengolahan lahan, penyiapan
benih, teknik penanaman, penyediaan pupuk dan pestisida, serta pemeliharaan tanaman.
Sawi dapat ditanam secara monokultur maupun tunmpang sari. Tanaman yang dapat
ditumpangsarikan antara lain : bawang dau, wortel, bayam, kangkung darat. Sedangkan
menanam benih sawi ada yang secara langsung tetapi ada juga melalui pembibitan terlebih
dahulu.
Berikut ini akan dibahas mengenai teknik budidaya sawi secara konvensional di lahan :
BENIH
Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Benih yang baik akan
menghasilkan tanaman yang tumbuh dengan bagus. Kebutuhan benih sawi untuk setiap
hektar lahan tanam sebesar 750 gram.
Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras.
Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai
kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar
air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih
harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil.
Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas
benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70
hari. Dan penanaman sawi yang akan dijadikan benih terpisah dari tanaman sawi yang lain.
Juga memperhatikan proses yang akan dilakukan mesilnya dengan dianginkan, tempat
penyimpanan dan diharapkan lama penggunaan benih tidak lebih dari 3 tahun.
PENGOLAHAN TANAH.
Pengolahan tanah secara umum melakukan penggemburan dan pembuatan bedengan.
Tahap-tahap pengemburan yaitu pencangkulan untuk memperbaiki struktur tanah dan
sirkulasi udara dan pemberian pupuk dasar untuk memperbaiki fisik serta kimia tanah yang
akan menambah kesuburan lahan yang akan kita gunakan.
Tanah yang hendak digemburkan harus dibersihkan dari bebatuan, rerumputan, semak atau
pepohonan yang tumbuh. Dan bebas dari daerah ternaungi, karena tanaman sawi suka pada
cahaya matahari secara langsung.
Sedangkan kedalaman tanah yang dicangkul sedalam 20 sampai 40 cm. Pemberian pupuk
organik sangat baik untuk penyiapan tanah. Sebagai contoh pemberian pupuk kandang yang
baik yaitu 10 ton/ha. Pupuk kandang diberikan saat penggemburan agar cepat merata dan
bercampur dengan tanah yang akan kita gunakan.
Bila daerah yang mempunyai pH terlalu rendah (asam) sebaiknya dilakukan pengapuran.
Pengapuran ini bertujuan untuk menaikkan derajad keasam tanah, pengapuran ini dilakukan
jauh-jauh sebelum penanaman benih, yaitu kira-kira 2 sampai 4 minggu sebelumnya.
Sehingga waktu yang baik dalam melakukan penggemburan tanah yaitu 2 – 4 minggu
sebelum lahan hendak ditanam. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit (CaCO3)
atau dolomit (CaMg(CO3)2).
PEMBIBITAN
Pembibitan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah untuk penanaman.
Karena lebih efisien dan benih akan lebih cepat beradaptasi terhadap lingkungannya. Sedang
ukuran bedengan pembibitan yaitu lebar 80 – 120 cm dan panjangnya 1 – 3 meter. Curah
hujan lebih dari 200 mm/bulan, tinggi bedengan 20 – 30 cm.
Dua minggu sebelum di tabur benih, bedengan pembibitan ditaburi dengan pupuk kandang
lalu di tambah 20 gram urea, 10 gram TSP, dan 7,5 gram Kcl.
Cara melakukan pembibitan ialah sebagai berikut : benih ditabur, lalu ditutupi tanah setebal
1 – 2 cm, lalu disiram dengan sprayer, kemudian diamati 3 – 5 hari benih akan tumbuh
setelah berumur 3 – 4 minggu sejak disemaikan tanaman dipindahkan ke bedengan.
PENANAMAN
Bedengan dengan ukuran lebar 120 cm dan panjang sesuai dengan ukuran petak tanah.
Tinggi bedeng 20 – 30 cm dengan jarak antar bedeng 30 cm, seminggu sebelum penanaman
dilakukan pemupukan terlebih dahulu yaitu pupuk kandang 10 ton/ha, TSP 100 kg/ha, Kcl 75
kg/ha. Sedang jarak tanam dalam bedengan 40 x 40 cm , 30 x 30 dan 20 x 20 cm.
Pilihlah bibit yang baik, pindahkan bibit dengan hati-hati, lalu membuat lubang dengan
ukuran 4 – 8 x 6 – 10 cm.
PEMELIHARAAN.
Pemeliharaan adalah hal yang penting. Sehingga akan sangat berpengaruh terhadap hasil
yang akan didapat. Pertama-tama yang perlu diperhatikan adalah penyiraman, penyiraman
ini tergantung pada musim, bila musim penghujan dirasa berlebih maka kita perlu
melakukan pengurangan air yang ada, tetapi sebaliknya bila musim kemarau tiba kita harus
menambah air demi kecukupan tanaman sawi yang kita tanam. Bila tidak terlalu
panaspenyiraman dilakukan sehari cukup sekali sore atau pagi hari.
Tahap selanjutnya yaitu penjarangan, penjarangan dilakukan 2 minggu setelah penanaman.
Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat.
Selanjutnya tahap yang dilakukan adalah penyulaman, penyulaman ialah tindakan
penggantian tanaman ini dengan tanaman baru. Caranya sangat mudah yaitu tanaman yang
mati atau terserang hama dan penyakit diganti dengan tanaman yang baru.
Penyiangan biasanya dilakukan 2 – 4 kali selama masa pertanaman sawi, disesuaikan dengan
kondisi keberadaan gulma pada bedeng penanaman. Biasanya penyiangan dilakukan 1 atau 2
minggu setelah penanaman. Apabila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan
bersamaan dengan penyiangan.
Pemupukan tambahan diberikan setelah 3 minggu tanam, yaitu dengan urea 50 kg/ha. Dapat
juga dengan satu sendok the sekitar 25 gram dilarutkan dalam 25 liter air dapat disiramkan
untuk 5 m bedengan.
PENANAMAN VERTIKULTUR
Langkah – angkah penanaman secara vertikultur adalah sebagai berikut :
Benih disemaikan pada kotak persemaian denagn media pasir. Bibit dirawat hingga siap
ditanaman pada umur 14 hari sejak benih disemaikan.
Sediakan media tanam berupa tanah top soil, pupuk kandang, pasir dan kompos dengan
perbandingan 2:1:1:1 yang dicampur secara merata.
Masukkan campuran media tanam tersebut ke dalam polibag yang berukuran 20 x 30 cm.
Pindahkan bibit tanaman yang sudah siap tanam ke dalam polibag yang tersedia. Tanaman
yang dipindahkan biasanya telah berdaun 3 – 5 helai.
Polibag yang sudah ditanami disusun pada rak-rak yang tersedia pada Lath House.
PENANAMAN HIDROPONIK
Langkah-langkah penanaman secara hidroponik adalah sebagai berikut :
Siapkan wadah persemaian . Masukkan media berupa pasir halus yang disterilkan setebal 3 –
4 cm. Taburkan benih sawi di atasnya selanjutnya tutupi kembali dengan lapisan pasir
setebal 0,5 cm.
Setelah bibit tumbuh dan berdaun 3 – 5 helai (umur 3 – 4 minggu0, bibit dicabut dengan
hati-hati, selanjutnya bagian akarnya dicuci dengan air hingga bersih, akar yang terlalu
panjang dapat digunting.
Bak penanaman diisi bagian bawahnya dengan kerikil steril setebal 7 – 10 cm, selanjutnya di
sebelah atas ditambahkan lapisan pasir kasar yang juga sudah steril setebal 20 cm.
Buat lubang penanaman dengan jarak sekitar 25 x 25 cm, masukkan bibit ke lubang tersebut,
tutupi bagian akar bibit dengan media hingga melewati leher akar, usahakan posisi bibit
tegak lurus dengan media.
Berikan larutan hidroponik lewat penyiraman, dapat pula pemberian dilakukan dengan
sistem drip irigation atau sistem lainnya, tanaman baru selanjutnya dipelihara hingga
tumbuh besar.
HAMA DAN PENYAKIT
- HAMA.
Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell.).
Ulat tritip (Plutella maculipennis).
Siput (Agriolimas sp.).
Ulat Thepa javanica.
Cacing bulu (cut worm).
- PENYAKIT.
Penyakit akar pekuk.
Bercak daun alternaria.
Busuk basah (soft root).
Penyakit embun tepung (downy mildew).
Penyakit rebah semai (dumping off).
Busuk daun.
busuk Rhizoctonia (bottom root).
Bercak daun.
Virus mosaik.
PANEN DAN PENANGANAN PASCA PANEN
Dalam hal pemanenan penting sekali diperhatikan umur panen dan cara panennya. Umur
panen sawi paling lama 70 hari. Paling pendek umur 40 hari. Terlebih dahulu melihat fisik
tanaman seperti warna, bentuk dan ukuran daun. Cara panen ada 2 macam yaitu mencabut
seluruh tanaman beserta akarnya dan dengan memotong bagian pangkal batang yang berada
di atas tanah dengan pisau tajam.
Pasca panen sawi yang perlu diperhatikan adalah :
Pencucian dan pembuangan kotoran.
Sortasi.
Pengemasan.
Penympanan.
Pengolahan.
Demikan artikel tips lengkap budidaya sawi. Semoga bermanfaat.
Artikel yang terkait dengan tips lengkap budidaya sawi : budidaya sawi hijau, budidaya
sawi bakso, budidaya sawi putih, budidaya kangkung, budidaya sawi download, budidaya
sawi kailan, budidaya bayam, tips lengkap budidaya sawi, budidaya sawi doc
Posting yang terkait dengan Tips lengkap budidaya sawi :
Cara mudah budidaya sayuran
Cara mudah budidaya sayuran - Artikel kali ini membahas tentang bagaimana cara mudah
budidaya sayuran dengan menggunakan tehnik pot bertingkat atau vertikular. Manfaat dan
Kelebihan dari sistem pertanian vertikultur sangat banyak yaitu : efisiensi penggunaan lahan
karena yang ...
Langkah mudah budidaya brokoli
Langkah mudah budidaya brokoli - Brokoli (Brassica oleracea cv Broccoli ) secara selintas
mirip dengan kubis bunga. Warna kepala bunga ada yang hijau, ungu, putih, dan hijau muda,
tergantung varietasnya. Tanaman brokoli dapat tumbuh pada lahan dengan ketinggian ...
Tips mudah budidaya bayam
Tips mudah budidaya bayam - Bayam merupakan tanaman sayuran yang dikenal dengan
nama ilmiah Amaranthus spp. Kata "amaranth" dalam bahasa Yunani berarti "everlasting"
(abadi). Tanaman bayam berasal dari daerah Amerika tropik. Tanaman bayam semula dikenal
sebagai tumbuhan hias. ...
Tips mudah budidaya ubi kayu
Tips mudah budidaya ubi kayu - Ubi kayu termasuk tanaman tropis, tetapi dapat pula
beradaptasi dan tumbuh dengan baik di daerah sub tropis. Secara umum tanaman ini tidak
menuntut iklim yang spesifik untuk pertumbuhannya. Namun demikian ubi kayu ...
Informasi mengenai Tips lengkap budidaya sawi
sawi hidroponik, makalah SAYURAN SAWI, analisa budidaya jahe polybag hcs, budidaya tanaman
sawi hijau, jurnal sawi, anggaran hidroponik, cara membuat rak hidroponik, fase pertumbuhan
tanaman sawi, langkah langkah membuat persemaian, alat yang digunakan untuk panen sawi,
budidaya tanaman sawi huma, respon jarak tanam sawi, jurnal sawi hijau, cara pemanfaatan sawi
hijau, cara pendederan bibit pepaya kalifornia, cara sawi cepat besar, penggunaan serbuk gergaji
untuk pakan ternak, bertanam hidroponik sederhana, ciri ciri tanaman sawi hijau, tanaman sawi
hijau, bertanam bayam sawi dalam pot, pdf budidaya sawi, tips lengkap budidaya sawi, petani melon
hidroponik, pohon sawi jabung, artikel pertumbuhan sawi hijau, negara asal tanaman padi,
perbedaan tanaman sawi hijau dan sawi putih, perbedaan sawi putih dan sawi hijau, ciri - ciri
tanaman sawi, langkah-langka menanam sistem hidroponik, contoh makalah tanaman jeruk, jurnal
penelitian bayam hijau pdf, mulsa pada tanaman bayam, jurnal jarak tanam sawi
« Metode lengkap budidaya rumput laut
Budidaya Tanaman Sawi
Posted by [Link] in perkebunan
Sawi atau Caisin (Brassica sinensis L.) termasuk famili Brassicaceae, daunnya panjang,
halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Sawi mengandung pro vitamin A dan asam askorbat
yang tinggi. Tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga
dapat diusahakan dari dataran rendah sampai dataran tinggi, tetapi pertumbuhan dan produksi
sawi yang ditanam lebih baik di dataran tinggi. Biasanya dibudidayakan di daerah ketinggian
100 – 500 m dpl, dengan kondisi tanah gembur, banyak mengandung humus, subur dan
drainase baik. Tanaman sawi terdiri dari dua jenis yaitu sawi putih dan sawi hijau.
Budidaya Sawi
Benih Sawi
Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani karena benih yang baik
akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang bagus. Kebutuhan benih 650 gr/ha, bila benih
hasil pananaman sendiri maka tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur di
atas 70 hari dan penggunaan benih tidak lebih dari 3 tahun.
Persemaian/Pembibitan Tanaman Sawi
Sebelum benih sawi disebar, direndam dengan larutan Previcur N dengan konsentrasi 0,1 %
selama + 2 jam. Selanjutnya benih disebar merata pada bedengan persemaian, dengan media
semai setebal + 7 cm dan disiram. Media semai dibuat dari pupuk organik dan tanah yang
telah dihaluskan dengan perbandingan 1 : 1. Benih yang telah disebar ditutup dengan media
semai, selanjutnya ditutup dengan alang-alang atau jerami kering selama 2-3 hari. Bedengan
persemaian tersebut sebaiknya diberi naungan.
Persiapan Lahan Tanaman Sawi
Lahan Budidaya Sawi terlebih dahulu diolah dengan cangkul sedalam 20-30 cm supaya
gembur, setelah itu dibuat bedengan dengan arah membujur dari Barat ke Timur agar
mendapatkan cahaya penuh.
Bedengan sebaiknya dibuat dengan ukuran lebar 100-120 cm, tinggi 30 cm dan panjang
sesuai kondisi lahan. Jarak antar bedengan + 30 cm. Lahan yang asam (pH rendah) lakukan
pengapuran dengan kapur kalsit atau dolomite 2-4 minggu sebelum tanam dengan dosis 1,5
t/ha.
Pemupukan Sawi
Tiga hari sebelum tanam berikan pupuk organik (kotoran ayam yang telah difermentasi)
dengan dosis 2-4 kg/m2. Dua minggu setelah tanam dilakukan pemupukan susulan Urea 150
kg/ha (15
gr/m2). Agar pemberian pupuk lebih merata, pupuk Urea diaduk dengan pupuk organik
kemudian diberikan secara larikan di samping barisan tanaman. Selanjutnya dapat
ditambahkan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 10 dan 20 hari setelah tanam.
Penanaman Tanaman Sawi
Bibit umur 2-3 minggu setelah semai atau telah berdaun 3-4 helai, dipindahkan pada lubang
tanam yang telah disediakan dengan jarak tanam 20×20 cm atau sistem baris dengan jarak
15×10-15 cm. Jika ada yang tidak tumbuh lakukan penyulaman, yaitu tindakan penggantian
tanaman dengan tanaman baru.
Pemeliharaan Tanaman Sawi
Pada musim kemarau atau di lahan kurang air perlu penyiraman tanaman. Penyiraman ini
dilakukan dari awal sampai panen. Penyiangan dilakukan 2 kali atau disesuaikan dengan
kondisi gulma, bila perlu dilakukan penggemburan dan pengguludan bersamaan dengan
penyiangan.
Pengendalian Organisme Penggangu Tanaman (OPT) Tanaman Sawi
Untuk mencegah hama dan penyakit pada sawi yang perlu diperhatikan adalah sanitasi dan
drainase lahan. OPT utama adalah ulat daun kubis (Plutella xylostella). Pengendalian dapat
dilakukan dengan cara pemanfaatan Diadegma semiclausuma sebagai parasitoid hama
Plutella xylostella. Jika terpaksa menggunakan pestisida, gunakan pestisida yang aman dan
mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik.
Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis,
volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.
Panen Tanaman Sawi
Panen sawi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
1) mencabut seluruh tanaman beserta akarnya,
2) memotong bagian pangkal batang yang berada di atas tanah.
Umur panen sawi + 40 hari setelah tanam, sebaiknya terlebih dahulu dilihat fisik tanaman
seperti
warna, bentuk dan ukuran daun.
Pasca Panen Tanaman Sawi
Tanaman sawi yang baru dipanen, ditempatkan di tempat yang teduh agar tidak cepat layu
dengan cara diperciki air. Selanjutnya lakukan sortasi untuk memisahkan bagian tanaman
yang tua, busuk atau sakit. Penyimpanan bisa menggunakan wadah berupa keranjang
bambu,plastik atau karton yang berlubang-lubang untuk menjaga sirkulasi udara.
Budidaya Sawi Putih dan Cara Menanam Sawi
Home > Budidaya Sayuran > Budidaya Sawi Putih dan Cara Menanam Sawi
Iklim
Untuk melakukan budidaya sawi putih ini kita harus mengetahui terlebih dahulu keadaan iklim yang
cocok untuk pembudidayaan, karena keadaan iklim ini salah datu faktor awal atau utama untuk
keberhasilan perkembangan budidaya sawi putih ini kedepannya.
Suhu udara yang cocok untuk pertumbuhan sawi putih ini yaitu antara 19°C - 21°C. suhu udara yang
terlalu tinggi dari batas yang telah ditentukan akan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan
tanaman sawi dan tidak akan tumbuh dengan sempurna.
Kelembabab udara yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman sawi putih yang optimal berkisar
antara 80% - 90%. Kelembaban udara diatas 90% akan berdapat negative terhadap tanaman sawi
putihaa, tanaman akan mengalami pertumbuhan yang tidak sempurna, tinaman tidak subur,
kualitas daun jelek, dan apabila pemnanam ditujukan untuk pembenihan maka produksi biji pun
rendah.
Curah hujan yang baik untuk tanaman sawi putih ini ialah 1000-1500 mm/tahun, dan perlu
diketahui, bahwa tanaman sawi tidak menyukai air yang berlebihan atau menggenang.
Tanah
Tanah yang baik untuk media budidaya tanaman sawi putih ini yaitu, yang subur, tanah, gembur,
memiliki kedalaman yang cukupdalam, dan tanah mudah mengikat air. Permukaan tanah yang
mmemiliki ketinggian 1000m dpl sangat cocok untuk tanaman ini.
Waktu Yang Tepat Uuntuk Penanaman Sawi Putih
Sawi putih akan lebih baik ketika mulai penanamannya pada akhir musim penghujan dan meamsuki
musim kemarau, biasanya bertepatan pada bulan Maret – April. Apabila penanama dilakukan pada
mmusim penghujan, hal tersebut rentan terhadap serangan hama dan penyakit.
Lahan
Pertama penyiapan lahan untuk persemaian benih, tempat untuk persemaian yang baik ialah:
1. Tempat harus mendapatkan sinar matahari yang penuh
2. Tempat persemaian harus dekat dengan sumber air yang bersih dan banyak
3. Tempat persemaian harus dekat dengan rumah atau camp supaya mudah diawasi
4. Tempat persemain tidak jauh dari lahan penananam atau kebun
5. Tempat persemaian tidak terkena banjir atau air menggenang
6. Media tanam untuk persemaian harus subur, gembur, dan dapat menahan air dengan baik
7. Tempat persemaian harus bebas dari tanaman pengganggu, seperti rumput, sisa-sisa
tanaman lain, dan batu-batu kecil
Bibit tanaman sawi putih dapat ditanam dilahan terbuka atau kebun pada umur 21-30 hari,
sedangkan persiapan tanah persemaian 15 hari. Maka, persiapan tanah persemaian harus dilakukan
lebih awal berselisih 36-45 hari dari jadwal saat tanam di kebun. Sehingga waktu tanam akan tepat
Pembibitan
Banyak para petani yang membudidayakan tanaman sawi dengan melalui pembibitan generative
(melalui biji). Untuk mendapatkan bibit yang baik maka perlu disemai terlebih dahulu sebelum
ditanam di kebun, karena benih yang langsung ditanam di kebun biasanya hasilnya kurang baik.
Ada beberapa cara untuk mendapatkan benih yang baik:
1. Pilih biji yang utuh yaitu tidak cacat atau luka, karena biji yang cacat akan sulit tumbuh,
kalaupun yumbuh mutunya jelek.
2. Biji sehat, yaitu tidak terserang hama dan penyakit
3. Biji tidak terscampur dengan biji jenis lain
4. Biji tidak keriput, untuk memisahkan antara keriput dan tidak caranya lakukan
poerendaman, dan biji yang baik akan tenggelam dan yang keriput akan mengapung.
Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah untuk lahan tanam sawi harus sudah diolah 3 minggu sebelum tanaman sawi
dipindahkan dari persemaian. Pengolahan tanah dilakukan tiga tahap, tahap pertama tanah dibajak
dengan mesin traktor atau manual dengan kedalaman 30-40 cm. tanah yang sudah dibajak dibiarkan
selama 1 minggu. Dengan demikian tanah kan mengalami proses pemasaman atau oksidasi.
Setelah 1 minggu lahan diolah kembali pada tahap kedua. Pada tahap ini tanah digemburkan dengan
cangkul, supaya tanah menjadi remah, dan sekaligus diratakan. Kemudian tanah dibiarkan lagi
serlama 1 minggu agar tanah terangin-angin dan terkena sinar matahari.
Tahap ketiga, yaitu tahap penggemburan tanah lagi dengan cangkul tipis-tipis sedalam 30 cm dan
sekaligus dilakukan pembuatan bedengan dan selokan.
Pembuatan Bedengan
Ukuran lebar bedengan yaitu 100 cm -120 cmdan panjang 30 cm 40 cm, tergantung varietas yang
akan ditanam. Tanaman yang ditanam pada musim penghujan sebaiknya ukuran tinggi bedengan 40
cm agar tanaman terhindar dari genangan air. Sedangkan untuk selokan lebarnya 40 cm. dan pada
sekeliling bedengan dibuat drainase selebar 50 cm.
Pemberian Pupuk Dasar
Pemberian pupuk dasar ini biasanya dilakukan berbarengan pada saat pembuatan bedengan. Pupuk
yang diberika terdiri dari pupuk kandang, kompos, atau pupuk hijau. Dosis pupuk kandang yang
diberikan 10-20 ton/ha. Pemupukan dasar ini bisa juga menggunakan pupuk anorganik Harmony
BS1 dan Harmoni P1. Untuk menggantikan pupuk kandang. Penggunaan pupuk cair ini bisa
dilarutkan pada air.
Pemasangan Mulsa plastic
Untuk menjaga kualitas tanaman sawi, penggunaan mulsa plastic hitam perak dapat diterapkan.
Dengan menggunakan mulsa plastic hitam perak pada bedengan penanaman dapat memberikan
hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan bididaya tanpa menggunakan mulsa plastic hitam
perak.
Penanaman Bibit Di Kebun
Ada beberapa tahapan penanaman sawi putih dilahan terbuka atau kebun, seperti, pemindahan
bibit dan seleksi bibit, pengaturan jarak tanam, cara menanam, dan waktu menanam.
Cara memindahkan bibit dari tempat persemaian ke kebun dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
dengan system cabut dan system putaran.
1. System cabut, yaitu bibit dicabut secara hati-hati (pelan), untuk mencegah kerusakan pada akar
pada saat mencabut sebaiknya tanah disiram air sedikit hingga cukup basah. Kemudian tanaman
ditanam ke dalam lubang tanam yang dipersiapkan di kebun.
2. System putaran, yaitu bibit dicabut beserta tanahnya. Sebelumnya tanah disiram oleh air sampai
cukup basah. Setelah itu, tanaman bisa langsung ditanam kedalam lubang tanam yang sudah
dipersiapkan di kebun.
Penyulaman
Bibit yang ditanam di kebun tidak semuanya tumbuh dengan sempurna, seperti, tanaman rusak,
tumbuh kerdil dan kurus, bahkan tanaman ada yang mati. Tanaman-tanaman yang mengalami
gangguan atau mati harus segera diganti dengan tanaman yang baru agar produksinya tetap tinggi.
Penyulaman biasanya dilakukan seminggu setelah penanaman.
Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan dilakukan setelah pemupukan dasar yang telah dilakukan pada saat pengolahan
tanah. Pupuk yang diberikan pada pemupukan kedua yaitu pupuk organic atau pupuk kimia buatan
pabrik. Jenis pupuk yang anorganik diberikan adalah pupuk Nitrogen (N), pupuk Phosphat (P) dan
pupuk Kalium (K). jenis pupuk NPK ini sangat penting diberikan, karena untuk menambah
kekurangan unsure hara NPK yang terdapat dalam pupuk kandang dan yang terdapat di dalam
tanah.
Penyiangan
Proses penyiangan dilakukan supaya tanaman kecil atau rumput-rumpu dan gulma tidak mengambil
zat-zat makanan tanaman sawi. Ada dua cara untuk melakukan penyiangan ini yaitu proses manual,
mekanik dan kimiawi.
Proses manual dapat dilakukan dengan mencabut rumput-rumput dan gulma dengan tanagan atau
cangkul. Sedangkan proses secara kimiawi yaitu dengan cara menggunakan obat-obatan pembunuh
rumput dan gulma. Sedangkan secara mekanik, yaitu pencabutan rumput dan gulma dilakukan oleh
mesin.
Bagaimana Tanaman Tumbuh - Biologi Kehidupan Tanaman
Tanaman yang menakjubkan, terutama bila Anda bertanya-tanya bagaimana tanaman
tumbuh. Ada lebih dari 350.000 spesies tumbuhan, di atas tanah dan tanaman bawah air.
Masing-masing harus bertahan beberapa kondisi yang keras untuk tumbuh, dan Anda dapat
melihat kegigihan tanaman untuk tumbuh saat Anda melihat mereka bertengger di sisi
dinding ngarai, atau mendorong jalan mereka naik melalui jalan lama. Akan mereka untuk
bertahan hidup dan menyebarkan sangat ketat!
Tanaman termasuk bunga, pohon, semak, semak-semak, rumput, lumut, tanaman merambat,
jamu, rumput laut, dan ganggang hijau. Ini memiliki banyak kesamaan. Mereka bergantung
pada Alam untuk bertahan hidup, dan isi hidup lainnya dan hal-hal alami. Mereka
membutuhkan sinar matahari (kecuali tumbuhan laut dalam), air, udara, lebah dan serangga,
tanah, hewan, dan api untuk hidup. Beberapa pohon pinus hanya merilis benih mereka setelah
kebakaran besar, mereka perlu panas untuk membuka kerucut dan biji.
Beberapa tanaman air mendapatkan nutrisi dari air, bertahan hidup tanpa sinar matahari.
Dalam tumbuh hidroponik, tanaman yang tumbuh hanya dalam air, bukan tanah, dan Anda
dapat melihat pertumbuhan akar. Air harus memiliki nutrisi yang dibutuhkan, atau
penambahan tanaman pangan untuk pabrik untuk berkembang.
Untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana tanaman tumbuh, Anda harus melihat
propagasi. Beberapa tanaman memiliki bagian baik laki-laki dan perempuan, yang lain tidak,
tetapi mereka semua tergantung pada angin, udara, hewan, lebah dan serangga untuk
membantu penyerbukan dan pembuahan dengan. Orang lain akan mengirimkan pelari dan
umbi-umbian, atau membuat corms, lampu, pengisap, dan tunas adventif untuk menyebarkan
tanaman baru melalui tanah untuk lokasi baru. Manusia membantu dengan splicing untuk
pengembangan silang dan pertumbuhan baru pada tanaman tua.
Tanaman yang memiliki biji membuat paket kecil (biji) yang mengandung sebuah toko
makanan dan tanaman embrio bayi, mirip dengan telur dibuahi, dan ada biji mantel pelindung
di atas benih. Bila dibuahi melalui penyerbukan, biji bunga terbentuk setelah meninggal.
Bunga mengandung bagian jantan dan / atau perempuan yang membuat ovum siap untuk
fertilisasi. Hal ini menjadi benih atau buah yang mengandung biji.
Benih jatuh ke tanah dan mulai melunak dengan kelembaban sampai kulit biji yang cukup
terbuka untuk perkecambahan untuk menerobos dengan akar tekan, rambut akar, dan bagian
atas tanaman mulai tumbuh menuju cahaya dan kehangatan. Ini adalah bibit tanaman. Akar
tumbuh ke bawah untuk menemukan lebih banyak uap air dan bagian atas tanaman tumbuh
untuk menemukan makanan dan energi.
Tanaman pangan berasal dari air dan tanah. Tanaman mengambil makanan dan energi
melalui fotosintesis dari sinar matahari, dan respirasi melalui daun mereka (osmosis). Mereka
mengambil karbon dioksida dari udara di siang hari dan melepaskan oksigen pada malam
hari. Hal ini penting bagi tanaman untuk mendapatkan mineral yang tepat dari tanah.
Untungnya, Ibu Alam bekerja dengan sempurna dalam banyak kasus dan tanaman
berkembang.
Ketika Anda melihat semua yang diperlukan untuk Alam berada dalam keseimbangan yang
sempurna dan menjawab pertanyaan tentang bagaimana tanaman tumbuh, itu adalah
pemikiran yang luar biasa, dan proses yang ajaib.
PROPAGASI TANAMAN
1. Generatif
Perbanyakan oleh biji
Tumbuh sengaja atau tumbuh dengan sendirinya dari hasil buangan
Kelebihannya bisa dimanfaatkan sebagai tanaman batang bawah,yang kuat
Kekurangannya, kita tidak mengetahui jenis tanaman dengan segala sifat sifat kelebihannya.
Sifatnya sering menyimpang dari induknya
2. Vegetative
Perbanyakan dengan menggunakan bagian-bagian tanaman, seperti ;cabang,pucuk
daun,umbi dan akar
Cara perbanyakan : setek,cangkok,rundukan dan kultur jaringan.
3. Setek
Suatu perlakuan pemisahan, pemotongan beberapa bagian dari tanaman seperti batang, daun
dan tunas dengan maksud agar bagian-bagian tersebut membentuk akar.
Pembiakan stek ini pada umumnya dipergunakan untuk menanggulangi tanaman-tanaman
yang tak mungkin diperbanyak dengan biji dan juga untuk memudahkan serta mempercepat
perbanyakan tanaman.
Keuntungan :
Dapat menghasilkan tanaman yang sempurna dengan akar, daun dan batang dalam waktu
relatif singkat, serta bersifat serupa dengan induknya.
Merupakan cara yang sederhana, cepat dan tak memerlukan teknik-teknik tertentu.
Bagi pengebun buah-buahan dan tanaman hias, pembiakan dengan cara stek ini mempunyai
arti sangat penting, karena dengan material yang sedikit dapat dihasilkan sejumlah besar bibit
tanaman yang seragam dalam umur, tinggi, maupun sifatnya.
Klasifikasi Stek
Stek dapat dibedakan menurut bagian-bagian yang diambil untuk bahan stek, sebagai
berikut :
a. Stek Batang
Hardwood cutting : yang distek bagian kayu yang telah tua. contoh : ros, bogenville
Semi Hardwood cutting : yang distek daun dan pucuk serta kayu yang sudah keras. contoh :
Azalea, Nusaenda.
Softwood cutting umumnya dipakai untuk tanaman basah/herba/lunak tak berkayu, contoh :
soka, coleus, kaca piring, kembang sepatu.
b. Stek Daun atau Tunas Daun
Daun dengan tangkai daun, contoh : Saintpaulia iondika (Begonia)
Tanpa tangkai daun, contoh : Begonia, berbagai tanaman sukulent
Pemutusan urat daun, contoh : Begonia
Pemotongan daun, contoh : Begonia, Sunsivierza, Gloxini
Tunas daun, contoh : Bryophyllium calycinum
Stek tunas/mata, contoh pada anggur
Faktor-faktor yang mempengaruhi berhasilnya penyetekan:
Faktor tanaman
Faktor lingkungan
Faktor pelaksanaan
Faktor tanaman:
a. Macam bahan stek
Bagian tanaman yang dapat dipergunakan untuk bahan stek beraneka ragam, sebagaimana
yang telah dijelaskan dalam klasifikasi stek. Pada umumnya tanaman berkayu lunak
(softwood) mudah berakar dalam waktu yang relatif singkat dengan keadaan sekeliling yang
menguntungkan.
b. Umur bahan stek
Stek dari tanaman yang berumur lebih muda akan lebih mudah berakar dibanding dengan
tanaman yang lebih tua.
stek tanaman tersebut sangat muda dan lunak, maka proses transpirasi akan berlangsung
dengan cepat, sehingga stek menjadi lemah dan akhirnya mati.
Jika stek diambil dari pohon yang terlalu tua akan diperlukan waktu yang lama untuk
keluarnya akar, sebagai contoh pada tanaman apel, cemara dan juga tanaman herba, sangat
sulit berakar bila stek diambil pada keadaan tua.
c. Adanya tunas dan daun pada stek
Pembentukan akar tak akan terjadi bila seluruh tunas dihilangkan atau bila tunas-tunas
tersebut seluruhnya dalam keadaan istirahat, sebab tunas berperan sebagai sumber auxin
yang menstimulir pembentukan akar, terutama bila tunas mulai tumbuh.
Adanya daun pada stek berpengaruh baik terhadap pembentukan akar. Karbohidrat yang
dihasilkan oleh daun sebagai hasil proses fotosintesis yang berhubungan juga dengan proses
transpirasi, dapat menstimulir pula pembentukan akar stek.
Di samping karbohidrat, daun dapat pula menghasilkan auxin. Baik auxin yang dihasilkan
oleh tunas maupun oleh daun akan bergerak ke bawah dan menumpuk di bagian dasar stek,
yang selanjutnya menstimulir pembentukan akar.
Di samping karbohidrat, daun dapat pula menghasilkan auxin. Baik auxin yang dihasilkan
oleh tunas maupun oleh daun akan bergerak ke bawah dan menumpuk di bagian dasar stek,
yang selanjutnya menstimulir pembentukan akar.
Di samping daun berperan dalam pembentukan akar, juga dapat mengakibatkan kehilangan
air yang banyak karena proses transpirasi, sehingga stek akan layu dan kering sebelum
membentuk akar, hal ini biasanya diatasi dengan pemotongan sebagian dari daun-daun
tersebut.
d. Kandungan bahan makanan stek
persediaan karbohidrat dan Nitrogen, sangat mempengaruhi perkembangan akar dan tunas
Nitrogen membantu perakaran, kecuali dalam kosentrasi tinggi N
Stek yang mengandung karbohidrat tinggi dan nitrogen yang cukup akan mempermudah
terbentuknya akar dan tunas stek.
Di samping karbohidrat, daun dapat pula menghasilkan auxin. Baik auxin yang dihasilkan
oleh tunas maupun oleh daun akan bergerak ke bawah dan menumpuk di bagian dasar stek,
yang selanjutnya menstimulir pembentukan akar.
Di samping daun berperan dalam pembentukan akar, juga dapat mengakibatkan kehilangan
air yang banyak karena proses transpirasi, sehingga stek akan layu dan kering sebelum
membentuk akar, hal ini biasanya diatasi dengan pemotongan sebagian dari daun-daun
tersebut.
e. Kandungan zat tumbuh
Kandungan zat tumbuh dari stek dapat ditingkatkan dengan proses etiolasi, yaitu menutup
cabang dengan pembalut atau dengan tanah. Keadaan etiolasi ini menyebabkan hilangnya
klorofil dan mengakibatkan berkumpulnya zat tumbuh pada suatu tempat
f. Pembentukan kallus
Pembentukan akar biasanya didahului oleh pembentukan kallus,
Adanya kallus tak merupakan tanda-tanda stek dapat menghasilkan akar.
Pembentukan kallus berguna untuk menutup luka di permukaan stek dan dapat mencegah
stek busuk.
Perbanyakan Tanaman Secara
Vegetatif Buatan
Oleh:
Sasanti Widiarsih
Minarsih
Dzurrahmah
Basuki Wirawan
Willy Bayuardi Suwarno
Dipublikasi di [Link] tanggal 17 April 2008
Artikel ini dapat digunakan dan disebarkan secara bebas, baik sebagian maupun
seluruhnya, untuk tujuan non-komersial dengan syarat mencantumkan nama
penulis dan sumbernya. Di luar tujuan itu, pengguna harus
memperoleh izin tertulis dari penulis.
Daftar Isi
Perbanyakan Vegetatif dengan Stek........................................................................ 1
Tinjauan Umum .................................................................................................. 1
Stek Daun............................................................................................................ 3
Stek Umbi ........................................................................................................... 3
Stek Batang ......................................................................................................... 4
Perbanyakan Vegetatif dengan Grafting dan Budding............................................ 5
Tinjauan Umum .................................................................................................. 5
Proses Pertautan Sambungan .............................................................................. 6
Pengaruh Batang Bawah Terhadap Batang Atas ................................................ 7
Perbanyakan Batang Bawah................................................................................ 7
Metode Penyambungan....................................................................................... 8
Perbanyakan Vegetatif dengan Cangkok .............................................................. 10
Daftar Pustaka ....................................................................................................... 12
1
Perbanyakan Vegetatif dengan Stek
Tinjauan Umum
Stek merupakan cara perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dengan
menggunakan sebagian batang, akar, atau daun tanaman untuk ditumbuhkan
menjadi tanaman baru. Sebagai alternarif perbanyakan vegetatif buatan, stek
lebih ekonomis, lebih mudah, tidak memerlukan keterampilan khusus dan cepat
dibandingkan dengan cara perbanyakan vegetatif buatan lainnya. Cara
perbanyakan dengan metode stek akan kurang menguntungkan jika bertemu
dengan kondisi tanaman yang sukar berakar, akar yang baru terbentuk tidak tahan
stress lingkungan dan adanya sifat plagiotrop tanaman yang masih bertahan.
Keberhasilan perbanyakan dengan cara stek ditandai oleh terjadinya
regenerasi akar dan pucuk pada bahan stek sehingga menjadi tanaman baru yang
true to name dan true to type. Regenerasi akar dan pucuk dipengaruhi oleh faktor
intern yaitu tanaman itu sendiri dan faktor ekstern atau lingkungan. Salah satu
faktor intern yang mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk adalah fitohormon
yang berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh.
Boulline dan Went (1933) menemukan substansi yang disebut rhizocaline
pada kotiledon, daun dan tunas yang menstimulasi perakaran pada stek. Menurut
Hartmann et al (1997), zat pengatur tumbuh yang paling berperan pada
pengakaran stek adalah Auksin. Auksin yang biasa dikenal yaitu indole-3-acetic
acid (IAA), indolebutyric acid (IBA) dan nepthaleneacetic acid (NAA). IBA dan
NAA bersifat lebih efektif dibandingkan IAA yang meruapakan auksin alami,
sedangkan zat pengatur tumbuh yang paling berperan dalam pembentukan tunas
adalah sitokinin yang terdiri atas zeatin, zeatin riboside, kinetin, isopentenyl
adenin (ZiP), thidiazurron (TBZ), dan benzyladenine (BA atau BAP). Selain
auksin, absisic acid (ABA) juga berperan penting dalam pengakaran stek.
Faktor intern yang paling penting dalam mempengaruhi regenerasi akar
dan pucuk pada stek adalah faktor genetik. Jenis tanaman yang berbeda
mempunyai kemampuan regenerasi akar dan pucuk yang berbeda pula. Untuk
menunjang keberhasilan perbanyakan tanaman dengan cara stek, tanaman sumber
2
seharusnya mempunyai sifat-sifat unggul serta tidak terserang hama dan/atau
penyakit. Selain itu, manipulasi terhadap kondisi lingkungan dan status fisiologi
tanaman sumber juga penting dilakukan agar tingkat keberhasilan stek tinggi.
Kondisi lingkungan dan status fisiologi yang penting bagi tanaman sumber
diantaranya adalah:
1. Status air. Stek lebih baik diambil pada pagi hari dimana bahan stek dalam
kondisi turgid.
2. Temperatur. Tanaman stek lebih baik ditumbuhkan pada suhu 12°C hingga
27°C.
3. Cahaya. Durasi dan intensitas cahaya yang dibutuhkan tamnaman sumber
tergantung pada jenis tanaman, sehingga tanaman sumber seharusnya
ditumbuhkan pada kondisi cahaya yang tepat.
4. Kandungan karbohidrat. Untuk meningkatkan kandungan karbohidrat bahan
stek yang masih ada pada tanaman sumber bisa dilakukan pengeratan untuk
menghalangi translokasi karbohidrat. Pengeratan juga berfungsi menghalangi
translokasi hormon dan substansi lain yang mungkin penting untuk
pengakaran, sehingga terjadi akumulasi zat-zat tersebut pada bahan stek.
Karbohidrat digunakan dalam pengakaran untuk membangun kompleks
makromolekul, elemen struktural dan sebagai sumber energi. Walaupun
kandungan karbohidrat bahan stek tinggi, tetapi jika rasio C/N rendah maka
inisiasi akar juga akan terhambat karena unsur N berkorelasi negatif dengan
pengakaran stek (Hartmann et al, 1997).
Faktor lingkungan tumbuh stek yang cocok sangat berpengaruh pada
terjadinya regenerasi akar dan pucuk. Lingkungan tumbuh atau media pengakaran
seharusnya kondusif untuk regenerasi akar yaitu cukup lembab, evapotranspirasi
rendah, drainase dan aerasi baik, suhu tidak terlalu dingin atau panas, tidak
terkena cahaya penuh (200-100 W/m2) dan bebas dari hama atau penyakit.
3
Stek Daun
Bahan awal perbanyakan yang dapat digunakan pada stek daun dapat
berupa lembaran daun atau lembaran daun beserta petiol. Bahan awal pada stek
daun tidak akan menjadi bagian dari tanaman baru. Penggunaan bahan yang
mengandung kimera periklinal dihindari agar tanaman-tanaman baru yang
dihasilkan bersifat true to type (Hartmann et al, 1997).
Akar dan tunas baru pada stek daun berasal dari jaringan meristem primer
atau meristem sekunder. Pada tanaman Bryophyllum, akar dan tunas baru berasal
dari meristem primer pada kumpulan sel-sel tepi daun dewasa, tetapi pada
tanaman Begonia rex, Saint paulia (Avrican violet), Sansevieria, Crassula dan
Lily, akar dan tunas baru berkembang dari meristem sekunder dari hasil pelukaan.
Pada beberapa species seperti Peperomia, akar dan tunas baru muncul dari
jaringan kalus yang terbentuk dari aktivitas meristem sekunder karena pelukaan.
Masalah pada stek daun secara umum adalah pembentukan tunas-tunas adventif,
bukan akar adventif. Pembentukan akar adventif pada daun lebih mudah
dibandingkan pembentukan tunas adventif (Hartmann, et al, 1997).
Secara teknis stek daun dilakukan dengan cara memotong daun dengan
panjang 7,5 – 10 cm (Sansevieria) atau memotong daun beserta petiolnya
kemudian ditanam pada media (Hartmann et al, 1997). Untuk Begonia dan
Violces, perlakuan kimia yang umum dilakukan adalah penyemprotan dengan
IBA 100 ppm.
Stek Umbi
Pada stek umbi, bahan awal untuk perbanyakan berupa umbi, yaitu: umbi
batang, umbi kakr, umbi sisik, dan lain-lain. Senagai bahan perbanyakan, umbi
dapat digunakan utuh atau dipotong-potong dengan syarat setiap potongannya
mengadung calon tunas. Untuk menghindari terjadinya busuk pada setiap
potongan umbi, maka umbi perlu dierandap dalam bakterisida dan fungisida.
Contoh tanaman yang bisa diperbanyak dengan stek umbi antara lain: Solanum
tuberosum, Ipomoea batatas, Caladium, Helianthus tuberosus, Amarilis, dan lainlain.
4
Stek Batang
Bahan awal perbanyakan berupa batang tanaman. Stek batang
dikelompokkan menjadi empat macam berdasarkan jenis batang tanaman, yakni:
berkayu keras, semi berkayu, lunak, dan herbaceous.
Bahan tanaman yang biasa diperbanyak dengan stek batang berkayu keras
antara lain: apel, pear, cemara, dan lain-lain, dengan perlakuan kimia IBA atau
NAA 2500 – 5000 ppm. Panjang stek berkisar antara 10 – 76 cm atau dua buku
(nodes). Stek batang semi berkayu, contohnya terdapat pada tanaman Citrus sp.
dengan perlakuan kimia yang sudah umum yaitu IBA dan NAA 1000 – 3000 ppm
dan panjang stek 7,5 – 15 cm. Pada stek batang semi berkayu ini, daun-daun
seharusnya dibuang untuk mengendalikan transpirasi. Disamping itu, pelukaan
sebelumnya mungkin dapat membantu pengakaran. Untuk stek batang berkayu
lunak, contohnya terdapat pada tanaman Magnolia dengan perlakuan IBA atau
NAA 500 – 1250 ppm dan panjang stek 7,5 – 12,5 cm. Pada stek batang berkayu
lunak ini umumnya akar relatif cepat keluar (2 – 5 minggu).
Stek batang yang tergolong herbaceus, dilakukan pada tanaman
Dieffenbachia, Chrisanthemum, dan Ipomoea batatas. Pada dasarnya perlakuan
auksin tidak pdiperlukan pada stek batang herbaceous ini, tetapi kadang diberikan
IBA atau NAA 500 –1250 ppm dan panjang stek yang biasa digunakan adalah 7,5
– 12,5 cm (Hartmann et al, 1997).
5
Perbanyakan Vegetatif dengan Grafting dan Budding
Tinjauan Umum
Grafting dan Budding merupakan metode perbanyakan vegetatif buatan.
Grafting/penyambungan adalah seni menyambungkan 2 jaringan tanaman hidup
sedemikian rupa sehingga keduanya bergabung dan tumbuh serta berkembang
sebagai satu tanaman gabungan. Teknik apapun yang memenuhi kriteria ini dapat
digolongkan sebagai metode grafting. Sedangkan budding adalah salah satu
bentuk dari grafting, dengan ukuran batang atas tereduksi menjadi hanya terdiri
atas satu mata tunas (Hartmann et al, 1997). Tanaman sebelah atas disebut entris
atau batang atas (scion), sedangkan tanaman batang bawah disebut understam atau
batang bawah (rootstock) (Ashari, 1995). Batang atas berupa potongan pucuk
tanaman yang terdiri atas beberapa tunas dorman yang akan berkembang menjadi
tajuk, sedang batang bawah akan berkembang menjadi sistem perakaran
(Hartmann et al, 1997).
Perbanyakan tanaman dengan cara grafting merupakan teknik perbanyakan
yang mahal karena memerlukan banyak tenaga terlatih dan waktu. Teknik ini
dipilih dengan pertimbangan untuk memperbanyak tanaman yang sukar/tidak
dapat diperbanyak dengan cara stek, perundukan, pemisahan, atau dengan
cangkok. Menurut Ashari (1995), banyak jenis tanaman buah-buahan yang
sukar/tidak dapat diperbanyak dengan cara-cara tersebut, tetapi mudah dilakukan
penyambungan, misalnya pada manggis, mangga, belimbing, jeruk dan durian.
Alasan lain untuk melakukan grafting adalah: (1) memperoleh keuntungan
dari batang bawah tertentu, seperti perakaran kuat, toleran terhadap lingkungan
tertentu, (2) mengubah kultivar dari tanaman yang telah berproduksi, yang disebut
top working, (3) mempercepat kematangan reproduktif dan produksi buah lebih
awal, (4) mempercepat pertumbuhan tanaman dan mengurangi waktu produksi,
(5) mendapatkan bentuk pertumbuhan tanaman khusus dan (6) memperbaiki
kerusakan pada tanaman (Hartmann et al, 1997). Aplikasi grafting juga dapat
dilakukan untuk membuat satu tanaman dengan jenis yang berbeda-beda, untuk
6
mengatasi masalah polinasi, dalam kasus self-incompability atau tanaman
berumah dua (Ashari,1995).
Proses Pertautan Sambungan
Proses pertauatan sambungan diawali dengan terbentuknya lapisan
nekrotik pada permukaan sambungan yang membantu menyatukan jaringan
sambungan terutama di dekat berkas vaskular. Pemulihan luka dilakukan oleh selsel
meristematik yang terbentuk antara jaringan yang tidak terluka dengan lapisan
nekrotik. Lapisan nekrotik ini kemudian menghilang dan digantikan oleh kalus
yang dihasilkan oleh sel-sel parenkim (Hartmann et al, 1997). Menurut Ashari
(1995) sel-sel parenkim batang atas dan batang bawah masing-masing
mengadakan kontak langsung, saling menyatu dan membaur. Sel parenkim
tertentu mengadakan diferensiasi membentuk kambium sebagai kelanjutan dari
kambium batang atas dan batang bawah yang lama. Pada akhirnya terbentuk
jaringan/pembuluh dari kambium yang baru sehingga proses translokasi hara dari
batang bawah ke batang atas dan sebaliknya dapat berlangsung kembali.
Agar proses pertautan tersebut dapat berlanjut, sel atau jaringan meristem
antara daerah potongan harus terjadi kontak untuk saling menjalin secara
sempurna. Ashari (1995) mengemukakan bahwa hal ini hanya mungkin jika kedua
jenis tanaman cocok (kompatibel) dan irisan luka rata, serta pengikatan
sambungan tidak terlalu lemah dan tidak terlalu kuat, sehingga tidak terjadi
kerusakan jaringan.
Dalam melakukan grafting atau budding, perlu diperhatikan polaritas
batang atas dan batang bawah. Untuk batang atas bagian dasar entris atau mata
tunas harus disambungkan dengan bagian atas batang bawah. Untuk okulasi
(budding), mata tunas harus menghadap ke atas. Jika posisi ini terbalik,
sambungan tidak akan berhasil baik karena fungsi xylem sebagai pengantar hara
dari tanah meupun floem sebagai pengantar asimilat dari daun akan terbalik
arahnya (Ashari, 1995).
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penyambungan adalah
kompabilitas. Pengertian kompoabilitas adalah kemampuan dua jenis tanaman
7
yang disambung untuk menjadi satu tanaman baru. Bahan tanaman yang
disambung akan menghasilkan persentase kompabilitas tinggi jika masih dalam
satu spesies atau satu klon, atau bahkan satu famili, tergantung jenis tanaman
masing-masing (Ashari, 1995).
Inkompatibilitas antar jenis tanaman yang disambung dapat dilihat dari
kriteria sebagai berikut menurut Hartmann et al (1997) :
1. Tingkat keberhasilan sambungan rendah
2. Pada tanaman yang sudah berhasil tumbuh, terlihat daunnya menguning,
rontok, dan mati tunas
3. Mati muda, pada bibit sambungan
4. Terdapat perbedaan laju tumbuh antara batang bawah dengan batang atas
5. Terjadinya pertumbuhan berlebihan baik batang atas maupun batang bawah
Pengaruh Batang Bawah Terhadap Batang Atas
Menurut Ashari (1995) pengaruh batang bawah terhadap batang atas
antara lain (1) mengontrol kecepatan tumbuh batang atas dan bentuk tajuknya, (2)
mengontrol pembungaan, jumlah tunas dan hasil batang atas, (3) mengontrol
ukuran buah, kualitas dan kemasakan buah, dan (4) resistensi terhadap hama dan
penyakit tanaman.
Pengaruh batang atas terhadap batang bawah juga sangat nyata. Namun
pada umumnya efek tersebut timbal balik sebagaimana pengaruh batang bawah
terhadap batang atas.
Perbanyakan Batang Bawah
Batang bawah ada yang berasal dari semai generatif dan dari tan vegetatif
(klon). Batang bawah asal biji (semai) lebih menguntungkan dalam jumlah,
umumnya tidak membawa virus dari pohon induknya dan sistem perakarannya
bagus. Kelemahannya yaitu secara genetik tidak seragam. Variasi genetik ini
dapat mempengaruhi penampilan tanaman batang atas setelah ditanam. Oleh
karena itu perlu dilakukan seleksi secermat mungkin terhadap batang bawah asal
biji (Ashari, 1995).
8
Hartmann et al (1997) menyatakan bahwa batang bawah tanaman jeruk
diproduksi dari biji apomiksis dan secara genetik seragam. Metode perbanyakan
batang bawak ini lebih efisien dan hemat.
Metode Penyambungan
Menurut Ashari (1995) terdapat 2 metode penyambungan, yaitu sambung
tunas dan sambung mata tunas.
1. Sambung Tunas/Grafting
Agar persentase jadi dapat memuaskan, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan
a. Batang atas dan batang bawah harus kompatibel
b. Jaringan kambium kedua tanaman harus bersinggungan
c. Dilakukan saat kedua tanaman berada pada kondisi fisiologis yang tepat
d. Pekerjaan segera dilakukan sesudah entris diambil dari pohon induk
e. Tunas yang tumbuh pada batang bawah (wiwilan) harus dibuang setelah
penyambungan selesai agar tidak menyaingi pertumbuhan tunas batang
atas. Metode yang dikembangkan adalah sambung lidah (tongue grafting),
sambung samping (side grafting), sambung celah (cleft grafting), sambung
susu (approach grafting), dan sambung tunjang (inarching).
2. Sambung Mata Tunas/Okulasi (Budding)
Masalah yang sering timbul dalam pelaksanaan teknik ini menurut Ashari
(1995) adalah sukarnya kulit kayu batang bawah dibuka, terutama pada saat
tanaman dalam kondisi pertumbuhan aktif, yakni pada saat berpupus atau
daun-daunnya belum menua. Hal ini berkaitan dengan kondisi fisiologis
tanaman. Sebaiknya okulasi dilakukan saat tanaman dalam kondisi dorman.
Budding dapat menghasilkan sambungan yang lebih kuat, terutama pada
tahun-tahun pertama daripada metode grafting lain karena mata tunas tidak
mudah bergeser. Budding juga lebih ekonomis menggunakan bahan
perbanyakkan, tiap mata tunas dapat menjadi satu tanaman baru (Hartmann et
al, 1997).
9
Metode budding yang sering digunakan antara lain okulasi sisip (chip
budding), okulasi tempel dan sambung T (T-budding). Pemilihan metode
tergantung pada beberapa pertimbangan, yaitu jenis tanaman, kondisi batang
atas dan batang bawah, ketersediaan bahan, tujuan propagasi, peralatan serta
keahlian pekerja (Ashari, 1995).
10
Perbanyakan Vegetatif dengan Cangkok
Mencangkok merupakan salah satu cara pembiakan vegetatif buatan yang
bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang memiliki sifat yang sama dengan
induknya dan cepat menghasilkan. Pencangkokan dilakukan dengan menyayat
dan mengupas kulit sekeliling batang, lebar sayatan tergantung pada jenis tanaman
yang dicangkok. Penyayatan dilakukan sedemikian rupa sehingga lapisan
kambiumnya dapat dihilangkan (dengan cara dikikis). Setelah luka yang dibuat
cukup kering, Rootone-F diberikan sebagai perlakuan agar bahan cangkokan cepat
berakar. Media tumbuh yang digunakan terdiri dari tanah dan kompos dan dibalut
dengan sabut kelapa atau plastik. Bila batang diatas sayatan telah menghasilkan
sistem perakaran yang bagus, batang dapat segera dipotong dan ditanam di lapang.
Menurut Rochiman dan Harjadi (1973), hal yang perlu diperhatikan dalam
melakukan pencangkokan tanaman adalah : (1) waktu mencangkok, sebaiknya
pada musim hujan karena tidak perlu melakukan penyiraman berulang-ulang, (2)
Memilih batang cangkok, pohon induk yang digunakan adalah yang umurnya
tidak terlalu tua atau terlalu muda, kuat, sehat dan subur serta banyak dan baik
buahnya, (3) Pemeliharaan cangkokan, pemeliharaan sudah dianggap cukup bila
media cangkokan cukup lembab sepanjang waktu.
Suatu percobaan dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan Zat
Pengatur Tumbuh (Rootone-F) dan media terhadap cangkokan. Dari Tabel 1
terlihat dilihat bahwa cangkokan dengan perlakuan media tanah dengan
pemberian Rootone-F menyebabkan akar lebih cepat keluar dan jumlahnya lebih
banyak, kondisi yang sama juga dapat dilihat pada media tanah + kompos dengan
Rootone-F. Kondisi sebaliknya terjadi pada kedua media tanpa Rootone-F akar
akan lebih lambat keluar dan jumlahnya sedikit. Hal ini dapat dijelaskan bahwa
Rootone-F merupakan salah satu zat pengatur tumbuh untuk induksi perakaran.
Sedangkan pada media kompos tidak ada pertumbuhan akar pada kedua
perlakuan.
11
Tabel 1. Pengaruh perlakuan Zat Pengatur Tumbuh (Rootone-F) dan media
terhadap cangkokan.
Perlakuan
Media
Dengan Rootone-F Tanpa Rootone-F
Tanah Akar lebih cepat keluar
Jumlah lebih banyak
Akar lebih lambat keluar
Jumlah lebih sedikit
Tanah + kompos Akar lebih cepat keluar
Jumlah lebih banyak
Akar lebih lambat keluar
Jumlah lebih sedikit
Kompos Tidak tumbuh akar Tidak tumbuh akar
12
Daftar Pustaka
Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Universitas Indonesia Press.
Jakarta.
Rochiman, K. dan S. S. Harjadi. 1973. Pembiakan Vegetatif. Departemen
Agronomi Fakultas Pertanian IPB. 72 hal.
Hartmann, H.T., D.E. Kester, F.T. Davies, and R. L. Geneve. 1997. Plant
propagation principles and practices. 6th ed. Prentice Hall, Englewood
Cliffs, N.J.