0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
108 tayangan22 halaman

Pengolahan Limbah PT Bitratex Semarang

Makalah ini membahas proses produksi dan pengolahan limbah cair di PT Bitratex Industries Semarang. Proses produksi mencakup pembuatan benang, pewarnaan, hingga finishing. Limbah cair dihasilkan terutama dari proses pewarnaan yang menggunakan bahan kimia. PT Bitratex memiliki instalasi pengolahan limbah cair untuk mengolah limbah sesuai baku mutu.

Diunggah oleh

Nofriani Surahman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
108 tayangan22 halaman

Pengolahan Limbah PT Bitratex Semarang

Makalah ini membahas proses produksi dan pengolahan limbah cair di PT Bitratex Industries Semarang. Proses produksi mencakup pembuatan benang, pewarnaan, hingga finishing. Limbah cair dihasilkan terutama dari proses pewarnaan yang menggunakan bahan kimia. PT Bitratex memiliki instalasi pengolahan limbah cair untuk mengolah limbah sesuai baku mutu.

Diunggah oleh

Nofriani Surahman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS MATA KULIAH PBI

SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PT. BITRATEX INDUSTRIES

SEMARANG, JAWA TENGAH

OLEH KELOMPOK 1:

EZRA RAYMOND WAHYU W. 21080113130062

LISA SEPTIANINGSIH 21080113140085

NOFRIANI SURAHMAN 21080113130096

RAHMAT TUBAGUS HAKIEM 21080113130107

DWI ADITIANTO 21080111130064

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

2015
DAFTAR ISI

Cover

Daftar Isi

Bab I. Pendahuluan

Bab II. Identifikasi Proses Industri

Bab III. Identifikasi Limbah dan Pengolahannya

Bab IV. Penutup


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini tantangan dalam dunia industri maupun perdagangan sedemikian pesat,
hal ini menuntut adanya strategi efektif dalam mengembangkan industri, sehingga dapat
bersaing dengan negara-negara lain yang telah maju, terutama dalam hal industri tekstilnya.
Seiring dengan itu, suatu konsep pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development)
mutlak dilakukan. Sustainable Development merupakan strategi pembangunan terfokus pada
pemenuhan kebutuhan saat ini tanpa mengesampingkan kebutuhan mendatang yang mana hal
ini dikaitkan dengan kelestarian dan kesehatan lingkungan alam.

Di Indonesia terdapat banyak industri tekstil. Salah satu industri tekstil yang ada di
Indonesia adalah PT. Bitratex Industries yang berlokasi di Jawa Tengah. Perusahaan ini telah
berdiri lebih dari 20 tahun, menghasilkan gulungan benang dan brokat. Produk yang
dihasilkan oleh perusahaan tekstil ini telah dipasarkan baik di dalam negeri maupun di luar
negeri.

Permasalahan lingkungan saat ini yang dominan salah satunya adalah limbah yang
berasal berasal dari industri. Limbah atau buangan yang tidak dikelola akan menimbulkan
dampak yang luar biasa pada lingkungan di industri tersebut baik dalam jangka pendek
ataupun jangka. Oleh karena itu, perusahaan harus bisa mengolah buangannya dengan
membangun unit pengolahan limbah. Unit tersebut diharapkan dapat mengolah limbah yang
dihasilkan sesuai dengan baku mutu yang ada sehingga aman dibuang ke lingkungan.

Pada makalah ini akan dibahas mengenai proses produksi apa saja yang menghasilkan
limbah dan bagaimana PT. Bitratex Industries mengelola limbah tersebut sehingga aman
untuk dibuang ke lingkungan dan dapat memenuhi baku mutu dari peraturan yang ada.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan permasalahan yang didapat adalah:


1. Bagaimana proses produksi sampai terbentuknya produk di PT Bitratex
Semarang?
2. Limbah apa saja yang dihasilkan dari proses produksi di PT Bitratex Semarang?
3. Bagaimana proses pengolahan buangan industri PT Bitratex semarang?

1.3 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:

1. Mengetahui proses produksi sampai terbentuknya produk di PT Bitratex


Semarang
2. Mengetahui limbah yang dihasilkan dari proses produksi di PT Bitratex Semarang
3. Mengetahui proses pengolahan buangan industri PT Bitratex semarang
BAB II

IDENTIFIKASI PROSES PRODUKSI

2.1 Gambaran Umum PT. Bitratex Industries Semarang

PT. Bitratex Industries merupakan salah satu dari sekian banyak perusahaan tekstil di
Jawa Tengah yang menghasilkan gulungan benang dan mengolah kain mentah (grey) menjadi
kain brokat. Perusahaan ini berlokasi di Jalan Brigjen S. Sudiarto Km. 11, Kelurahan
Plamongan, Pedurungan, Semarang. PT. Bitrates Industries memiliki data lokasi sebagai
berikut:

1. Luas areal : 24 Ha
2. Luas bangunan : 42.000 m2
3. Fasilitas transportasi : Jalan Raya Utama Semarang – Purwodadi
4. Jarak ke terminal bus : 100 meter

PT. Bitrates Industries telah merespon dampak lingkungan dengan menyediakan


instalasi pengolahan limbah cair (IPAL) lengkap. Limbah cair terutama dihasilkan dari proses
penyempurnaan tekstil. Limbah cair aka mengandung bahan-bahan yang dilepas dari serat,
sisa bahan kimia yang ditambahkan pada proses penyempurnaan tersebut, serta serat yang
terlepas dengan cara kimia maupun mekanik selama proses produksi berlangsung.

2.2 Proses Produksi PT. Bitratex Industries

2.2.1 Unit I (Proses Pembuatan Benang)

Unit I memiliki 70.320 spindel dan 1.104 rotor. Peralatan yang digunakan masih ada
yang dioperasikan secara menual. Produk yang dihasilkan berupa benang dengan kualitas
terbaik mencapai 24 ton setiap tahun. Berikut adalah produk yang dihasilkan oleh PT.
Bitratex

Produk Bahan Baku


a. Tempat benang
- 100% polyester 100% polyester semi-dull
- 100% viscose 100% viscose bright
- Polyester 67% polyester semi-dull dan 33% viscose bright
- Polyester 52% polyester semi-dull dan 48% viscose bright
- Polyester rich 65% polyester semi-dull dan 35% viscose bright
- Polyester blended 33% polyester semi-dull dan 67% viscose bright
- Combed cotton rich 48% polyester semi-dull dan 52% viscose bright
b. Gulungan benang
- Open end polyester 100% cotton
- Cotton blended 35% combed cotton
Sumber : PT. Bitrates Industries, 2009

Produk utamanya adalah:

1. 100% polyester slub yarns


2. Polyester/viscose blended slub yarns
3. 100% trilobal polyester yarns
4. 3 denier 100% polyester yarns
5. 2 denier 100% polyester yarns

Mesin yang digunakan antara lain:

1. Toyoda RX 240 King Frame


2. Schlafhorst 338 autoconer
3. Toyoda FL 100 Simplex
4. Toyoda DX 7A Draw Fame
5. Rieter D-35/30 Draw Fame
Berikut diagram alir proses produksi pada unit I:

Bahan Baku

Mixing

Carding Sliver Dijual

Drawing I Sliver Packing Box

Drawing II Sliver Ultra Violet II

Simplex Roving Conditioning Room

Ring Frame Cop Roving Ultra Violet I

Winding Cop Roving Doublewinder Cheese TFO Cone

Limbah Padat

Gambar 2.1 Diagram Alir Proses Produksi I

2.2.2 Unit II

Unit II juga merupakan unit pembuatan benang tetapi peralatan yang digunakan hanya
berupa mesin mekanis saja. Berikut diagram alir proses produksi unit II:
Bahan Baku

Blendomat Dijual

Blowing Packing

Carding Winding

Pre Drawing Steaming

Unilap Ring Flame

Combing Simplex

Drawing I Drawing II

Limbah Padat
Gambar 2.2 Diagram Alir Proses Produksi Unit II

2.2.3 Unit III (Proses Pewarnaan)

Unit III memproduksi kain brokat pada tulle, guipure, organza, satin TC, cottong, dan
lain-lain. Produknya terdiri dari:

a. Renda
b. Motif
c. Allover
d. Perlengkapan rumah

Mesin-mesin yang digunakan di dalam proses produksi adalah:

1. Mesin Jumbo : mesin tidak bertekanan


2. Mesin Ekosoft : mesin bertekanan
3. Mesin Fong’s : mesin bertekanan
4. Mesin Pegg : mesin tidak bertekanan
5. Mesin Beam B : sifat kerjanya kain tidak boleh bergerak
6. Mesin Thies RS : mesin bertekanan
7. Mesin Defrekha 50 : mesin bertekanan
8. Mesin Defrekha 15 : mesin bertekanan
9. Mesin Beam Thies : sifat kerjanya kain tidak boleh bergerak

2.3 Proses Produksi yang Menghasilkan Limbah

A. Proses Pewarnaan Kain (Dyeing)

Berikut ini merupakan contoh proses produksi yang menghasilkan limbah:

Berat kain : 170 kg

Warna : cream

Kain dasar : kain net

Benang : polyester

Mesin : Fong’s

Program Scoring (Pencucian Kain)

Temperatur : 100° C

Waktu : 45 menit

Bahan kimia yang digunakan adalah hostapal (sabun) sebanyak 2 gr/l. Proses
pencucian dilakukan sampai kain bersih. Banyaknya air tergantung dari kain. Cara proses
dyeing:

- Chemical dimasukkan ke dalam mesin (secara sirkulasi) selama kurang lebih 15


menit
- Warna dimasukkan ke dalam mesin (secara sirkulasi) selama kurang lebih 15
menit
- Kemudian dipanaskan dengan suhu 100° C selama 45 menit
- Cek sampel, pengecekan dilakukan apakah sudah sesuai dengan keinginan
customer
- Kalau sudah sesuai, airnya dibuang tetapi kain belum dikeluarkan dari mesin
- Diisi air lagi dan dicuci bersih hingga dua kali
- Kain dinetralkan dengan dyeing acid (acetic acid) agar kain lebih lembut
- Kain dikeluarkan kemudian bersihkan mesin

Dari uraian tersebut diatas dapat dibuat skema sebagai berikut:

Dyeing

Kain TC Kain NET

Bleacing Dyeing Dyeing Scoring

Limbah Cair

Gambar 2.3 Skema Proses Produksi Penghasil Limbah

Sumber: PT. Bitratex Indonesia, 2009

2.4 Instalasi Pengolahan Limbah PT. Bitratex Industries

Instalasi pengolahan limbanya beroperasi dalam waktu 24 jam sehari, sehingga


diperlukan operator untuk mengawasi proses yang terjadi. Ada tiga jadwal shift menurut
peraturan perusahaan yaitu:

1. Shift 1 dimulai pukul 08.00 – 16.00 WIB


2. Shift 2 dimulai pukul 16.00 – 00.00 WIB
3. Shift 3 dimulai pukul 00.00 – 08.00 WIB

2.4.1 Desain Basis

1. Karakter limbah asal

COD = 1000 mg/l - < 1500 mg/l

BOD = 500 mg/l


pH = 9 – 10

total suspended solid (TSS) = < 250 mg/l

total dissolved solid (TDS) = < 1600 ppm

warna = textile dyes (tipe non reaktif)

temperatur limbah yang masuk = < 50° C

2. Karakteristik limbah yang terolah

COD = < 100 mg/l

BOD = < 50 mg/l

pH =6–8

total suspended solid (TSS) = < 50 mg/l

total dissolved solid (TDS) = < 300 ppm

warna = < 10 NTU

3. Kapasitas Sistem

Kapasitas sistem = 6,25 m3/jam x 24 jam

= 150 m3/hari

Kondisi puncak = 8,33 m3/jam

4. Asal limbah = dyeing process


5. Temperatur asal limbah = 50° C

2.4.2 Tahapan

Tahapan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) PT. Bitratex Industries adalah
sebagai berikut:

1. Penyaringan partikel-partikel besar atau serat-serat kain dengan menggunakan bar


screen dan dilanjutkan dengan penstabilan kualitas dan kapasitas limbah.
2. Pemisahan partikel halus dengan penambahan bahan kimia.
3. Aerasi untuk menumbuhkan mikroorganisme yang dapat menurunkan BOD dan
COD.
4. Pengendapan sludge (lumpur) yang terbentuk pada proses aerasi di dalam bak
sedimentasi.
5. Proses filtrasi, proses ini terjadi dalam unit sand filter.
6. Lumpur yang terbentuk dalam jangka waktu tertentu harus dibuang ke sludge dring
bed.

Inlet

Bar Screen

Ekualisasi
Ca(OH)2 0,33 ml/l
Air
Cooling Tower
Fe2(SO4)3 1 ml/l
Koagulasi dan Flokulasi
Polymer 66,7 mg/l

Lumpur Clarifier

Aerasi urea 6,67 mg/l


TSP 3,33 mg/l
Sedimentasi Lumpur
recycle

Lumpur
Sand Filter

Bak Biokontrol

Sludge Drying Bed


Sungai

Gambar 2.4 Diagram Alir Pengolahan Limbah


Sumber: Hasil Analisa, 2009

2.4.3 Deskripsi Proses

1. Bar Screen
Bar screen berfungsi untuk menyaring kotoran berukuran besar dan serat-serat yang
terbawa yang dapat mengganggu proses selanjutnya. Bar screen disusun sedemikian
rupa sehingga hanya partikel-partikel kecil yang akan lolos. Bar screen berukuran
lebar 10 mm dan panjang 30 mm memiliki jarak antar bar sekitar 30 mm dan
kemiringan bar 60°.
Bar screen terbuat dari galvanish steel yang tahan karat sehingga dapat digunakan
dalam jangka waktu yang lama. Bentuknya berupa persegi panjang, agar dapat
menampung kotoran-kotoran pada permukaan yang cukup luas sehingga diharapkan
tidak menghambat aliran air limbah yang masuk ke unit pengolahan limbah.

2. Bak Ekualisasi
Bak ini berfungsi untuk mengekualisasi kuantitas dan kualitas limbah. Kuantitas dan
kualitas air limbah harus seimbang untuk menghindari shock loading bagi
mikroorganisme di dalam tangki aerasi. Pada tangki ini diberi mixer untuk
mencampur limbah, dimana limbah yang telah dicampur akan dipompakan dengan
pompa submersible menuju cooling tower. Kriterianya adalah sebagai berikut:
Dimensi : 9,5 m x 3 m x 5,2 m
Kapasitas : 148,2 m3/hari
Waktu tinggal (td) : 16 jam
Proses pencampuran limbah : baffle channel
Konstruksi material : beton bertulang
Suhu limbah yang masuk : < 60° C
Suhu limbah yang keluar : < 40° C

3. Cooling Tower
Berfungsi untuk menurunkan suhu air limbah yang akan masuk ke dalam bak
koagulasi-flokulasi. Datanya adalah sebagai berikut:
Penjaga temperatur : cooling tower
Merk cooling tower : Liang Chi
Kapasitas cooling tower : 10 m3/jam
Ketinggian cooling tower : 4 meter

4. Koagulasi dan Flokulasi


Saat di bak ini, air limbah mendapatkan penambahan koagulan dan polimer disertai
dengan pengadukan cepat dan pengadukan lambat untuk membentuk flok-flok yang
akan mengalami pengendapan di clarifier. Adapun kriteria desainnya adalah sebagai
berikut:
Dimensi : 5 m x 5 m x 2,5 m
Kapasitas : 62,5 m3

5. Clarifier
Limbah dari bak koagulasi flokulasi dialirkan ke clarifier dengan arah aliran dari
bawah ke atas sehingga partikel tersuspensi akan tertahan oleh lamella yang akan
jatuh ke zona lumpur. Air yang telah bebas dari partikel tersuspensi akan mengalir ke
tangki aerasi. Kriteria desain clarifier adalah sebagai berikut:
Dimensi : 2,4 m x 2,4 m x 4 m
Volume efektif : 23,04 m3
Debit operasi : 6 m3/jam

6. Aerasi dengan bantuan biomassa/mikroorganisme di tangki aerasi


Terdapat biomassa yang telah diaktifkan dalam tangki ini. Biomassa akan memakan
partikel pencemar untuk proses metabolisme dan perkembangbiakannya. Biomassa ini
akan menurunkan nilai COD dan BOD dari limbah secara aerob, karena terdapat
aerator untuk mensuplai oksigen. Kriteria desainnya adalah sebagai berikut:
Dimensi : 9,5 m x 6 m x 3,75 m
Kapasitas : 214 m3
Waktu tinggal : 24 jam
Spesifikasi teknis dari aerator yang digunakan adalah sebagai berikut:
Tipe : surface aerator
Kapasitas motor : 7,8 kW/380 V/3 phase/50 Hz
Jumlah : 2 buah
7. Pengendapan mikroorganisme yang telah mati di dalam bak sedimentasi
Biomassa yang telah aktif akan menjadi tua dan tidak aktif kemudian mati. Biomassa
yang telah mati akan mengendap di dalam bak sedimentasi. Biomassa yang telah mati
akan tertahan oleh lamella yang ada di bak sedimentasi.

8. Proses filtrasi oleh sand filter


Untuk memastikan bahwa air limbah yang telah diolah telah bebas dari partikel
tersuspensi, maka air tersebut akan disaring dengan sand filter. Prinsip kerjanya
adalah menyaring air yang akan mengalir dari atas ke bawah melalui pori media.
Media yang digunakan adalah pasir silika dengan besar butiran tertentu agar
mendapatkan hasil yang efektif.

2.4.4 Spesifikasi Sistem Pengolahan Air Limbah

Sistem pengolahan limbah yang ada di PT. Bitratex Industries mempunyai spesifikasi
sebagai berikut:

1. Kapasitas pengolahan air limbah maksimal : 200 m3/hari


2. Sistem pengolahan air limbah : lumpur aktif
3. Sistem pengikatan air limbah berwarna : koagulasi dan pengendapan

2.4.5 Bahan Kimia Pengolah Air Limbah

Untuk mengolah air limbah dibutuhkan bahan pendukung agar proses berjalan lebih
cepat dan dapat sesuai dengan baku mutu air limbah yang disyaratkan. Bahan pendukung
tersebut antara lain adalah:

1. Kapur
Fungsi : pengatur pH penggumpalan
pH larutan jenuh : 13
bentuk : bubuk halus/powder
2. DCA (Decolourizing Agent)
Berupa Ferro Sulfat (konsentrasi 8%)
Fungsi : koagulan/penggumpal
Bentuk : cairan berwarna hijau
3. Polyelectrolite
Berupa Nalco
Fungsi : sebagai flokulan
Jenis : anionik
BAB III

IDENTIFIKASI LIMBAH DAN PENGOLAHANNYA

3.1 Sumber dan Karakteristik Limbah PT. Bitratex Semarang

3.1.1 Sumber Limbah Cair

Beberapa proses yang dilakukan menghasilkan berbagai limbah, baik limbah cair, gas
maupun limbah padat. Pada proses produksi yang dilakukan oleh unit 3, air limbah dihasilkan
dari pencucian dan pewarnaan.

3.1.2 Debit Limbah Cair

Kapasitas yang diolah WWTP rata-rata 150 m3/hari. Limbah cair tersebut masuk ke
sistem pengolahan air limbah proses produksi, yaitu pada saat jam kerja. Pengukuran debit
dilakukan pada saat limbah cair ke bak ekualisasi, dimana pada bak ini dilengkapi dengan
flow meter yang berfungsi sebagai pengontrol debit air limbah yang akan dialirkan ke bak
selanjutnya. Flow meter ini dilengkapi dengan sebuah valve dan bekerja secara semi-
otomatis. Valve ini akan terbuka jika debit masuk kurang dari 6,25 m 3/jam dan valve ditutup
jika lebih dari 6,25 m3/jam agar limbah tidak masuk ke unit ini lagi. Banyaknya debit limbah
cair dipengaruhi oleh banyaknya proses produksi yang dilakukan.

3.1.3 Karakteristik Air Limbah


Fisik
Temperatur : 50-60 oC
Bau : Bau yang kurang sedap (bau zat kimia dan zat warna)
Warna : Warna-warna yang bervariasi
TSS : 250 mg/L
PH : 9-10
Kimia
COD : 1000-1500 mg/L
BOD : 500 mg/L
3.2 Kualitas Effluen

Parameter yang diukur adalah PH, BOD, COD, dan TSS tanpa mengesampingkan
parameter yang lain. Berdasarkan data hasil pengujian tidak ada parameter yang belum
memenuhi standar baku mutu yang berlaku. Standar baku mutu yang dipakai yaitu Peraturan
Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 10 tahun 2004, dan Mutu Air Limbah.

No Parameter Satuan Hasil Pengujian Hasil Pengujian Baku


Outlet Outlet Mutu*
Bulan Februari Bulan Maret
1 pH - 7 7 6-9
2 TSS mg/L 3 6 50
3 Fenol mg/L < 0,5 < 0,5 0,5
4 Krom Total mg/L 0,0003 0,0277 1
5 Minyak & mg/L 0,12 0,16 3
lemak
6 Amonisak mg/L 0,0408 <0,2 8
total (NH3)
7 Sulfida mg/L 0,0384 0,03339 0,3
(sebagai S)
8 BOD5 mg/L 13 20 50
9 COD mg/L 30,77 46,15 150
Ket : *Perda Provinsi Jawa Tengah No 10 tahun 2004
Sumber: Data Sekunder PT. Bitratex Indutries, 2009

3.3 Unit Pengolahan Limbah Cair


3.3.1 Bar Screen

Air limbah hasil dari proses produksi masuk ke bar screen dimana air limbah tersebut
mempunyai suhu yang tinggi. Di bar screen kotoran yang berukuran besar ( > 12 mm) dan
serat-serat yang terbawa disaring agar tidak mengganggu proses selanjutnya. Sehingga hanya
partikel-partikel kecil yang dapat lolos. Jenis sampah / kotoran lain yang terkumpul di bar
screen antara lain : batu, cabang pohon, potongan kain. Bar screen terbuat dari galvanish steel
yang tahan karat sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Pembersihannya
secara manual (dengan tangan manusia) biasanya dilakukan tiap satu minggu sekali.

3.3.2 Ekualisasi

Dari bar screen air limbah masuk ke bak ekualisasi. Limbah yang telah tercampur
akan di pompakan dengan pompa submersible menuju cooling tower. Karena produksi yang
tidak sama, maka debit limbah yang dihasilkan juga bervariasi / fluktuatif. Bak ekualisasi ini
selain untuk meratakan aliran, juga untuk meratakan beban seperti TSS,TDS, BOD, maupun
COD, sehingga fluktuasinya menjadi lebih kecil. Selain itu bak ekualisasi juga berfungsi
untuk mengurangi bau yang ditimbulkan akibat adanya penambahan zat-zat kimia ketika
proses produksi berlangsung. Bak ekualisasi ditempatkan pada awal proses pengolahan
limbah sebelum proses koagulasi-flokulasi. Hal ini dikarenakan bak ekualisasi merupakan
penyeragam aliran, sehingga diharapkan akan mempermudah pada proses selanjutnya, dan
dapat menghindari terjadinya shock loading.

Jika dilihat dari td yang ada saat ini masih belum memenuhi criteria desin yaitu 2 jam.
Dengan kondisi seperti ini, maka diperlukan pengadukan untuk mencegah terjadinya endapan
dan bau. Pengadukan yang digunakan pada unit ekualisasi IPAL PT. Bitratex adalah dengan
cara hidrolis yaitu dengan baffle channel, penggunaan baffle channel lenih murah dan cukup
efektif jika dibandingkan dengan metode yang lainnya. Dengan baffle channel, oksigen
diharapkan masuk kedalam air limbah sehingga dapat mencegah masalah-masalah yang
mungkin timbul apabila aliran yang masuk ke proses pengolahan tidak seragam dan beban
yang tidak merata.
3.3.3 Cooling Tower

Limbah dari bak ekualisasi kemudian dipompa ke cooling tower. Di cooling tower ini
air limbah diturunkan temperaturnya. Cooling tower dibuat secara pabrikasi dan hanya
berfungsi untuk menurunkan temperature air limbah agar tidak mengganggu pengolahan
selanjutnya. Biasanya penurunan suhu mencapai 38 C- 40 C.

3.3.4 Koagulasi dan Flokulasi

Pada bak berbentuk rectangular ini telah terjadi dua proses pengolahan yaitu proses
koagulasi dan flokulasi. Proses ini digunakan untuk menyisihkan TSS, zat organic, dan juga
menyisihkan warna yang disebabkan oleh molecul organic. Penyisihan partikel-partikel
tersebut dengan cara menggumpalkn koloid dan kemudian mengendapkannya di clarifier.
Bahan yang digunakan sebagai koagulan adalah ferro sulfat FeSO4 dan dengan kapur,
sedangkan polimernya menggunakan Nalco.

3.3.5 Clarifier (Sedimen I)

Primary clarifier merupakan unit pengolahan secara fisika (proses pengndapan) yang
di desain untuk mengurangi kandungan suspended solid yang terdapat dalam air limbah. Pada
bak sedimentasi ini terjadi 2 aliran limbah yaitu lumpur yang akan dialirkan ke sludge drying
bed yang akan dikeringkan dan kemudian lebih dikenal dengan limbah padat. Sedangkan air
yang terkandung pada lumpur kemudian akan dialirkan kembali ke bak ekualisasi untuk
diolah kembali. Hal ini dikarenakan air tersebut belum di proses biologi, sehingga belum
layak buang. Aliran yang kedua adalah aliran air hasil pemisahan dengan partikulat pada bak
sedimentasi 1 ke proses selanjutnya, yaitu bak aerasi.

3.3.6 Bak Aerasi

Bak aerasi memiliki fungsi yang sangat vital, karena merupakan inti pengolahan
secara biologi. Proses ini di perlukan untuk mendegradasi zat organic yang terkandung dalam
air limbah, sehingga menurunkan kadar COD dan BOD. Selain itu, bak aerasi juga dapat
berfungsi untuk menghilangkan bau karena pada bak ini terjadi proses pengadukan dan
penambahan oksigen. Proses yang digunakan oleh PT. bitratex merupakan proses lumpur
aktif konvensional, dimana terdiri dari bak aerasi kemudian diikuti oleh bak pengendap
dengan adanya proses resirkulasi lumpur.

3.3.7 Sedimentasi

Biomassa yang telah aktif pada proses aerasi akan menjadi tidak aktif dan kemudian
mati. Jika biomassa ini mati maka sel mikroorganisme akan menjadi partikel tersuspensi yang
mudah mengendap. Proses pengendapan biomassa yang tidak aktif terjadi di dalam bak
sedimentasi. Bak sedimentasi ini berfungsi untuk mengendapkan padatan yang terdapat di air
limbah setelah pengolahan biologis di bak aerasi. Bak sedimentasi ke 2 ini prinsipnya sama
denga bak sedimentasi 1 yang terdapat pada clarifier, bedany lumpur yang mengendap ada
yang dialirkan kembali ke bak aerasi karena mengandung bakteri dan ke sludge drying bed.
Sedangkan pada bak sedimentasi tipe 1 lumpur yang diendapkan langsung dialirkan ke sludge
drying bed, dan air dari sludge tersebut dialirkan kembali ke bak ekualisasi. Dengan adanya
bak sedimentasi kedua, diharapkan akan terjadi pengendapan partikel-partikel air buangan
serta biological solid yang belum mengendap pada pengolahan sebelumnya.
3.3.8 Rapid Sand Filter (Filter Penyaringan Cepat)

Untuk memastikan bahwa air limbah yang sudah diolah bebas dari partikel tersuspensi
maka partikel akan disaring dalam sand filter. Prinseip kerja dari sand filter ini adalah proses
penyaringan (filtrasi) yang dilakukan dengan cara mengalirkan air dari atas ke bawah melalui
pori media. Dalam hal ini media yang digunakan adalah pasir silica dengan besar butiran
tertentu untuk mendapatkan hasil penyaringan yang baik. Pada kondisi yang baik, kotoran
yang tersaring akan tertahan pada permukaan media penyaring. Bila kotoran yang tertahan
sudah cukup banyak, kapasitas penyaringan akan turun karena aliran air akan terhambat oleh
kotoran (sisa-sisa penyaringan). Pada kondisi ini kotoran yang tertahan harus dibersihkan
dengan jalan di backwash yaitu dengan mengatur aliran air dari bawah ke atas.

3.3.9 Single Drying Bed

Sludge drying bd bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam lumpur. Air yang di
hasilkan pada sludge dryng bed akan dialirkan ke bak ekualisasi, sedangkan lumpur yang
kering di tamping dalam sludge drying bed dan dikeringkan dengan sinar matahari. Lama
pengeringan tergantung dari kondisi , biasanya 2-3 hari. Lumpur kering yang dihasilkan
kemudian dimasukkan ke dalam karung. Sludge drying tersebut mengandung limbah B3
sehingga harus dikirim ke PPLI Cieulengsi Bogor. Pengiriman dilakukan setelah sludge
terkumpul dalam jumlah yang banyak.

3.3.10 Bak Biokontrol Effluen

Bak ini berfungsi sebagai bak kontrol kualitas effluen. Pada bak ini terdapat
organisme berupa ikan dan vegetasi berupa tanaman kangkung air. Hal ini merupakan salah
satu cara untuk menganalisa apakan effluen dari sistem pengolahan limbah PT. Bitratex
Industries layak untuk dibuang ke sungai atau tidak. Apabila ikan dan tanaman kangkung air
tersebut tidak mengalami kerusakan atau kematian maka air limbah tersebut layak untuk
dibuang ke sungai. Namun bila ikan dan tanaman sayur mengalami kerusakan atau kematian
maka air limbah tidak layak untuk dibuang ke sungai sehingga diperlukan pengolahan
kembali.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah diatas adalah:
1.
4.2 Saran

Anda mungkin juga menyukai